P. 1
I

I

|Views: 1,975|Likes:
Published by agam sukmana

More info:

Published by: agam sukmana on May 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/16/2013

pdf

text

original

Stuktur Organisasi Proyek Rehab Pelebaran dan Pengaspalan Laston jalan
Jenderal Sudirman kota Prabumulih adalah sebagai berikut.

STRUKTUR ORGANISASI PELAKSANAAN DINAS PEKERJAAN UMUM
PROYEK REHAB PELEBARAN DAN PENGASPALAN LASTON
JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA PRABUMULIH

Pengguna Barang/Jasa

Ir. H. Akhmad Fauzi, MCE

Pelaksana Kegiatan

Pemegang Keuangan

Ir. Dullah Riyanto

Pardiah, ST

Pemb. Pemegang Keuangan

Monalia, ST

Pengawas

Pengawas

Aslimi, ST

M. Supi, ST

Gambar 2.3 Struktur organisasi proyek DPU kota Prabumulih

Organisasi proyek adalah sebuah sistem kerjasama antara kelompok manusia
untuk mencapai suatu sasaran yang dikehendaki serta dapat menjadi wadah bagi

5

bergeraknya administrasi. Tujuan organisasi akan tercapai apabila para
pemimpin dari organisasi tersebut dapat menciptakan serangkaian hubungan
kerjasama diantara masing-masing barang di dalam organisasi itu maupun
dengan pihak luar yang ada hubungannya dengan tujuan organisasi.

STRUKTUR ORGANISASI KEGIATAN PT. BINTANG SELATAN AGUNG
PROYEK PERBAIKAN/REHAB PELEBARAN DAN PENGASPALAN LASTON
JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA PRABUMULIH

Gambar 2.4 Struktur organisasi pelaksana proyek

Struktur organisasi proyek mutlak diperlukan untuk menjamin kelancaran dan
kesuksesan suatu proyek. Struktur ini merupakan suatu kelengkapan yang sangat
penting karena menyangkut tentang pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan
dengan pembangunan suatu proyek.

6

Pengawas I

MH Dedi
Lesmana

Ir. Aria
Kurniawan

Pengawas II

Aguscik

Ir. Aria
Kurniawan

Surveyor

Kariyadi

Ir. Aria
Kurniawan

Quality

Kariyadi

Ir. Aria
Kurniawan

Laboratorium

Nursyamsul

Penanggung Jawab Teknik

Ir. Aria Kurniawan

Pelaksana Kegiatan

Wahyudi, ST
Ir. Aria Kurniawan

Pelaksana

Mahfudin

Secara garis besar pihak-pihak pelaksana proyek dibagi menjadi empat
bagian besar. Berikut ini merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam
pelaksanaan suatu proyek :

1.

Pemilik Proyek (owner)
Pemilik Proyek ialah pihak yang menghendaki suatu pekerjaan dilaksanakan
oleh pihak lain sehubungan dengan kepentingannya atas hasil pekerjaan
tersebut. Pemberi tugas harus mempunyai cukup dana untuk merealisasikan
proyek yang diinginkannya. Dalam proyek ini yang bertindak sebagai
pemilik proyek adalah DPU Kota Prabumulih.

2.

Kontraktor

Kontraktor adalah pihak yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk
melaksanakan pekerjaan pemborongan sesuai dengan gambar-gambar kerja,
peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh pihak bersama. Yang
bertindak sebagai kontraktor utama di proyek ini adalah PT Bintang Selatan
Agung

3.

Perencana

Konsultan perencana adalah pihak yang ditunjuk oleh owner untuk bertindak
selaku perencana, baik merencanakan gambar arsitektur, perhitungan
konstruksi, gambar kerja maupun syarat-syarat pekerjaan dan uraian
pelaksanaannya. Dalam proyek ini yang bertindak sebagai perencana adalah
DPU Kota Prabumulih

4.

Pengawas

Konsultan pengawas adalah pihak yang diangkat oleh pemberi tugas (owner)
untuk mewakili pemberi tugas dalam memimpin, mengkoordinir dan
mengawasi pelaksanaan di lapangan pada batas-batas yang telah ditentukan
baik teknis maupun administratif. Yang bertindak sebagai pengawas adalah
DPU Kota Prabumulih

7

Adapun tugas dan wewenang pihak-pihak tersebut antara lain :

1.

Pemilik Proyek (owner)
Tugas dan wewenang pemilik proyek antara lain :

a.

Menyediakan dan membayar semua biaya proyek sesuai dengan

kontrak

b.

Mengangkat kontraktor yang lulus dari tender / pelelangan tersebut.

c.

Menetapkan pekerjaan tambah / kurang, perpanjangan waktu
pelaksanaan, denda serta memberi instruksi kepada kontraktor baik secara langsung
maupun melalui konsultan pengawas

d.

Meninjuk konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontraktor

e.

Menghentikan sebagian atau seluruh pekerjaan bila terjadi kesalahan

atau penyimpangan dalam pelaksanaan

f.

Berhak menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan dokumen standar.

2.

Kontraktor

Tugas dan wewenang kontraktor antara lain :

a.

Melaksanakan seluruh pekerjaan sesuai dengan ketentuan yang telah

ditetapkan dalam kontrak

b.

Mematuhi dan menjalankan semua perintah konsultan pengawas dan

pemilik proyek dengan penuh tanggung jawab

c.

Melaksanakan setiap program kerja (time schedule)

d.

Mengkoordinir subkontraktor agar bekerja sesuai dengan jadwal

pelaksanaan

e.

Mengajukan gambar dan metode kerja pada konsultan pengawas
sebelum pekerjaan dimulai untuk diperiksa atau diperbarui

f.

Melaporkan rencana kerja yang dilaksanakan dan hasil pelaksanaan
setiap pekerjaan pada waktu yang telah ditentukan

g.

Membuat perubahan yang diperlukan pada bagian yang dikehendaki

konsultan pengawas maupun pemimpin proyek

h.

Membuat laporan mengenai banyaknya biaya yang telah dikeluarkan

kepada pihak pemberi tugas

8

3.

Perencana

Tugas dan wewenang konsultan perencana adalah :

a.

Merencanakan proyek secara lengkap sesuai kehendak pemilik proyek
dengan memperhatikan faktor estetika, ekonomi, teknis, sosial dan peraturan pemerintah

b.

Bertanggung jawab secara penuh atas segala hasil perencanaan bila
dalam pelaksanaan terjadi kegagalan atau hal lainnya yang merugikan perencanaan yang
dibuat

c.

Memberikan penjelasan mengenai hal-hal arsitektur, struktural,
mekanikal dan elektrikal jika terdapat keraguan mengenai ketentuan dalam dokumen
konstruksi

d.

Dapat menyelesaikan persoalan apabila terdapat masalah teknis di

lapangan

4.

Pengawas

Tugas dan wewenang konsultan pengawas adalah :

a.

Mengawasi pelaksanaan pekerjaan yang sesuai dengan spesifikasi yang

telah ditentukan

b.

Mempersiapkan revisi rencana kerja, gambar rencana dan

spesifikasinya

c.

Mencatat kemajuan pekerjaan sebagai masukan bagi laporan bulanan

dan pembayaran termin

d.

Mengkoordinir, mengarahkan serta mengontrol pelaksanaan proyek
yang menyangkut mutu, waktu dan biaya selaku direksi dan penasehat pemilik

e.

Memerintahkan pemeriksaan kepada bagian pekerjaan yang tidak
sesuai dengan dokumen kontrak dan memerintahkan perbaikan atas biaya kontraktor

f.

Menolak gambar detail pelaksanaan (shop drawing) yang tidak

memenuhi syarat

g.

Menyelenggarakan administrasi umum mengenai kontrak

9

dalam sebuah pelaksanan pembangunan konstruksi dibutuhkan pelaksana proyek agar
dapat selesai dengan baik, tugas peleksana proyek adalah:

10

•Memahami gambar desain dan spesifikasi teknis sebagai pedoman dalam
melaksanakan pekerjaan dilapangan.
•Bersama dengan bagian enginering menyusun kembali metode pelaksanaan
konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan.
•Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan dilapangan sesuai dengan
persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah ditetapkan.
•Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan kegiatan harian
kepada pelaksana pekerjaan.
•Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan pekerjaan
dilapangan.
•Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila terjadi
keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan.
•Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan memproses berita
acara kemajuan pekerjaan dilapangan.
•Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan program kerja mingguan, metode kerja,
gambar kerja dan spesifikasi teknik.
•Menyiapkan tenaga kerja sesuai dengan jadwal tenaga kerja dan mengatur
pelaksanaan tenaga dan peralatan proyek.
•Mengupayakan efisiensi dan efektifitas pemakaian bahan, tenaga dan alat di
lapangan.
•Membuat laporan harian tentang pelaksanaan dan pengukuran hasil pekerjaan
dilapangan.
•Mengadakan pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan dilapangan.
•Membuat laporan harian tentang pelaksanaan pekerjaan, agar selalu sesuai
dengan metode konstruksi dan instruksi kerja yang telah ditetapkan.
•Menerapkan program keselamatan kerja dan kebersihan di lapangan.

. 1. SEKILAS TENTANG BAHAN KONSTRUKSI SIPIL

Beberapa konstruksi sipil dapat menggunakan tanah dan agregat, yaitu :
a. bendungan tanah
b. tanggul sungai
c. kolam limbah
d. waduk air
e. bahan jalan raya
f. bahan jalan kereta api
g. timbunan tanah
Masalah yang dapat dijumapai bila menggunakan tanah sebagai bahan
konstruksi , al :
a. penimbunan tanah
b. stabilitas tanah
c. pemadatan tanah
Konstruksi sipil yang menggunakan bahan-bahan bertulang yaitu :
a. pondasi, sloof, kolom dan balok gedung biasa (non bertingkat)
b. pondasi, sloof, kolom dan balok serta lantai gedung bertingkat
c. jembatan jalan raya
d. tembok penahan tanah
e. bangunan lainnya

11

Konstruksi sipil yang menggunakan Bahan Beton Pracetak yaitu :
a. Pondasi tiang pancang
b. Sheet piles
c. Rioling
d. Jembatan prestress

2. PEMERIKSAAN SIFAT-SIFAT BAHAN UNTUK PEKERJAAN SIPIL

Sifat-sifat tanah (Soil Properties) yang perlu diperiksa di laboratorium dan
dilapangan untuk kepentingan perencanaan pondasi gedung, jembatan, tanki
dan pekerjaan pondasi lainnya :
a. sifat-sifat fisis :
kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah
b. sifat-sifat teknis :
kohesi, sudut geser tanah, kekuatan geser, index kompresi, koefisien
konsolidasi, koefisien permeability, letak muka air tanah
Sifat-sifat tanah yang perlu diperiksa untuk perencanaan kestabilan lereng
yaitu :
a. sifat-sifat fisis :
kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah
b. sifat-sifat teknis :
kohesi, sudut geser tanah
Sifat –sifat tanah untuik perencanaan timbunan :
a. untuk landasan/tanah dasar :
sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah
sifat teknis : kohesi, sudut geser tanah, kekuatan geser, index kompresi,
koefisien konsolidasi, koefisien permeability, letak muka air tanah
b. untuk bahan timbunan :
sifat fisis : kadar air, berat isi, berat jenis, jenis tanah, klasifikasi tanah
sifat teknis : kohesi, sudut geser, kadar air optimum, berat isi kering
maksumum.
Sifat-sifat phisis bahan pondasi jalan raya perkerasan lentur :
a. sifat fisis : berat jenis tanah, berat jenis dan penyerapan agregat halus,
berat jenis dan penyerapan agregat kasar, gradasi butiran, batas cair,
batas plastis, ekivalensi pasir.
b. Sifat teknis : kehil;angan berat karena keausan agregat kasar, standar
proctor, CBR terendam.

3. BEBERAPA METODE PENGUJIAN UMUM DALAM PEKERJAAN SIPIL

Pengujian untuk perencanaan pondasi :
percobaan kadar air, percobaan berat isi, percobaan berat jenis, analisa
saringan, analisa hidrometer, percobaan batas atterberg, percobaan tekan
bebas, percobaan geser langsung, percobaan geser tiga sumbu,
percobaan konsolidasi.
Pengujian tanah untuk timbunan :
percobaan berat jenis, percobaan analisa saringan, percobaan
hidrometer, percobaan batas atterberg, percobaan kepadatan standar,
percobaan geser langsung.
Pengujian bahan beton :

12

- pengujian semen : percobaan berat isi, percobaan berat jenis, kehalusan
semen, waktu pengikatan.
- Pengujian agregat halus : percobaan berat isi, percobaan berat jenis dan
penyerapan agregat halus, analisa saringan, kotoran organik, ekivalensi
pasir.
- Pengujian agregat kasar : percobaan berat isi, percobaan berat jenis dan
penyerapan agregat kasar, analisa saringan, keausan agregat kasar.
- Pengujian campuran beton : pembuatan dan perawatan sampel, berat isi
campuran beton, test kekantalan, test kekuatan hancur beton.
Pengujian bahan tanah dasar perkerasan :
Pemeriksaan berat jenis, pemeriksaan analisa saringan, pemeriksaan
analisa hidrometer, pemeriksaan batas cair, pemeriksaan plastis,
pemeriksaan kepadatan standar, CBR laboratorium.
Pengujian bahan pondasi perkerasan lentur :
Percobaan berat jenis (tanah, agregat halus + penyerapan, agregat kasar
+ penyerapan), analisa saringan bahan gabungan, batas cair, batas plstis,
test keausan, test kepadatan, CBR laboratorium.
Pengujian aspal dan agregat sebagai lapis penutup type Lapen :
- Berat jenis aspal, penetrasi aspal, destilasi aspal, pengaruh panas dan
udara pada bahan aspal, titik letak aspal.
- Analisa saringan, ketahanan terhadap keausan.
Lapisan penutup hotmix :
Berdasarkan rancangan campuran bahan aspal yang lebih dikenal
dengan istilah Job Mix Design atau Job Mix Formula.
Job Mix Formula :
Fraksi agregat kasar (>2.36 mm), fraksi agregat halus (2.36-0.075 mm),
fraksi filler (bukan pengisi), kandungan aspal efektif, kandungan aspal
diserap, total kandunmgan aspal sebenarnya + tebal film aspal,
kandungan rongga udara campuran padat, stabilisasi marshall + kuosien
marshall, stabilitas marshall terendam.

BAB III
LANDASAN TEORI

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->