P. 1
KPK

KPK

4.0

|Views: 1,717|Likes:
Published by taufik nasrul albi

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: taufik nasrul albi on May 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/31/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1. Terminologi

Komisi Korupsi, atau

Pemberantasan disingkat menjadi

KPK, adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada mengenai Undang-Undang Komisi Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Saat ini KPK dipimpin oleh Plt Ketua Tumpak Hatorangan Panggabean. Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan komisi khusus yang dasar pendiriannya diatur dalam pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2. Latar Belakang Tindak pidana Korupsi di Indonesia sudah meluas di masyarakat. Perkembangannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi maupun jumlah kerugian keuangan negara. Kualitas tindak pidana korupsi yang dilakukan juga semakin sistematis dengan lingkup yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama penghambat keberhasilan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketidakberhasilan Pemerintah dalam memberantas korupsi juga semakin memperburuk citra Pemerintah di mata masyarakat yang tercermin dalam bentuk ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum. Apabila tidak ada perbaikan yang berarti, maka kondisi tersebut akan sangat membahayakan kelangsungan hidup bangsa.
1|KPK

Menyadari hal tersebut, maka Ketetapan MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme mengamanatkan pentingnya memfungsikan lembaga-lembaga negara secara proporsional dan tepat, sehingga penyelenggaraan negara dapat berlangsung sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketetapan MPR tersebut juga mengamanatkan bahwa untuk menghindarkan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, setiap Penyelenggara Negara harus bersedia mengumumkan dan diperiksa kekayaannya sebelum dan setelah menjabat. Selanjutnya diamanatkan pula bahwa penindakan terhadap pelaku korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga. Sebagai tindak lanjut dari TAP MPR RI No. XI/MPR/1998, maka telah disahkan dan diundangkan beberapa peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk melakukan pencegahan dan penindakan tindak pidana korupsi. Upaya tersebut diawali dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Konsideran undang-undang tersebut menjelaskan bahwa praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak hanya dilakukan antarPenyelenggara Negara melainkan juga antara Penyelenggara Negara dan pihak lain. Hal tersebut dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta membahayakan eksistensi negara, sehingga diperlukan landasan hukum untuk pencegahannya. Perbaikan di bidang legislasi juga diikuti dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagai penyempurnaan atas Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TPK). Konsideran undang-undang tersebut secara tegas menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada tahun 2001, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 disempurnakan kembali dan diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Penyempurnaan ini dimaksudkan untuk lebih menjamin kepastian hukum, menghindari keragaman penafsiran hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi. Dengan pertimbangan bahwa sampai akhir tahun 2002 pemberantasan tindak pidana korupsi belum dapat dilaksanakan secara optimal dan lembaga pemerintah yang menangani
2|KPK

perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien, maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disingkat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen yang dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bebas dari pengaruh kekuasaan manapun. Berdasarkan Pasal 6 Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002, maka tugas dari KPK ini meliputi: melakukan koordinasi dan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh lembagalembaga yang berwenang, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. Untuk tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan, sejak berdirinya sampai dengan triwulan keempat 2007, dari 479 kasus pengaduan masyarakat dan kasus dari sumber lainnya, KPK berhasil melakukan penyelidikan sebanyak 158 kasus. Dari 158 kasus yang diselidiki, 72 perkara ditingkatkan ke penyidikan, 60 perkara masuk ke penuntutan, 43 perkara telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht) dan 41 diantaranya telah dieksekusi. Untuk tugas pencegahan korupsi, dari 405.766 penyelenggara negara wajib lapor Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), 241.845 PN telah melaporkan LHKPN nya kepada KPK. Sedangkan untuk gratifikasi, terjadi kenaikan yang cukup berarti dalam jumlah uang yang disita dan disetor ke kas negara, yaitu dari Rp0,- pada tahun 2004, menjadi Rp2.887.784.644,pada akhir tahun 2007. Kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat pun terus dilakukan melalui sosialisasi dan pendidikan anti korupsi, serta implementasi good governance. Sedangkan untuk tugas monitoring, sejak tahun 2005 s.d 2007, telah dilakukan pengkajian sistem administrasi pertanahan pada Badan Pertanahan nasional (BPN); pengkajian sistem pelayanan imigrasi pada Kantor Imigrasi; pengkajian sistem administrasi impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; pengkajian sistem penempatan tenaga kerja Indonesia; dan pengkajian sistem pelayanan perijinan di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Untuk meningkatkan keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas KPK tersebut, dan mengingat pada akhir tahun 2007 terjadi perubahan pimpinan KPK, maka KPK perlu memperbaharui Rencana Stratejik (Renstra) sebagai pedoman bagi setiap unit organisasi di KPK untuk melaksanakan tugasnya masing-masing.
3|KPK

Penyusunan Renstra KPK Tahun 2008-2011 menggunakan pendekatan Kartu Kinerja Berimbang (Balanced Scorecard) yang selanjutnya disebut BSC. Pendekatan ini tidak hanya digunakan sebagai alat pencatat kinerja, tetapi juga banyak dimanfaatkan sebagai alat yang efektif untuk perencanaan stratejik, yaitu sebagai alat untuk menerjemahkan visi, misi, tujuan, nilai dasar, dan strategi organisasi ke dalam rencana tindak yang komprehensif, koheren, terukur, dan berimbang.

4|KPK

3.

BAB II PEMBAHASAN
Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dalam seluruh penelitian perbandingan korupsi antar negara, Indonesia selalu menempati posisi paling rendah. Perkembangan korupsi di Indonesia juga mendorong pemberantasan korupsi di Indonesia. Namun hingga kini pemberantasan korupsi di Indonesia belum menunjukkan titik terang melihat peringkat Indonesia dalam perbandingan korupsi antar negara yang tetap rendah. Hal ini juga ditunjukkan dari banyaknya kasus-kasus korupsi di Indonesia. Sejarah KPK Orde Lama Kabinet Djuanda Di masa Orde Lama, tercatat dua kali dibentuk badan pemberantasan korupsi. Yang pertama, dengan perangkat aturan Undang-Undang Keadaan Bahaya, lembaga ini disebut Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran). Badan ini dipimpin oleh A.H. Nasution dan dibantu oleh dua orang anggota, yakni Profesor M. Yamin dan Roeslan Abdulgani. Kepada Paran inilah semua pejabat harus menyampaikan data mengenai pejabat tersebut dalam bentuk isian formulir yang disediakan. Mudah ditebak, model perlawanan para pejabat yang korup pada saat itu adalah bereaksi keras dengan dalih yuridis bahwa dengan doktrin pertanggungjawaban secara langsung kepada Presiden, formulir itu tidak diserahkan kepada Paran, tapi langsung kepada Presiden. Diimbuhi dengan kekacauan politik, Paran berakhir tragis, deadlock, dan akhirnya menyerahkan kembali pelaksanaan tugasnya kepada Kabinet Djuanda. Operasi Budhi Pada 1963, melalui Keputusan Presiden No. 275 Tahun 1963, pemerintah menunjuk lagi A.H. Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kasab, dibantu oleh Wiryono Prodjodikusumo dengan lembaga baru yang lebih dikenal dengan Operasi Budhi. Kali ini dengan tugas yang lebih berat, yakni menyeret pelaku

5|KPK

korupsi ke pengadilan dengan sasaran utama perusahaan-perusahaan negara serta lembagalembaga negara lainnya yang dianggap rawan praktek korupsi dan kolusi. Lagi-lagi alasan politis menyebabkan kemandekan, seperti Direktur Utama Pertamina yang tugas ke luar negeri dan direksi lainnya menolak karena belum ada surat tugas dari atasan, menjadi penghalang efektivitas lembaga ini. Operasi ini juga berakhir, meski berhasil menyelamatkan keuangan negara kurang-lebih Rp 11 miliar. Operasi Budhi ini dihentikan dengan pengumuman pembubarannya oleh Soebandrio kemudian diganti menjadi Komando Tertinggi Retooling Aparat Revolusi (Kontrar) dengan Presiden Soekarno menjadi ketuanya serta dibantu oleh Soebandrio dan Letjen Ahmad Yani. Bohari pada tahun 2001 mencatatkan bahwa seiring dengan lahirnya lembaga ini, pemberantasan korupsi di masa Orde Lama pun kembali masuk ke jalur lambat, bahkan macet. Orde Baru Pada masa awal Orde Baru, melalui pidato kenegaraan pada 16 Agustus 1967, Soeharto terang-terangan mengkritik Orde Lama, yang tidak mampu memberantas korupsi dalam hubungan dengan demokrasi yang terpusat ke istana. Pidato itu seakan memberi harapan besar seiring dengan dibentuknya Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), yang diketuai Jaksa Agung. Namun, ternyata ketidakseriusan TPK mulai dipertanyakan dan berujung pada kebijakan Soeharto untuk menunjuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa, seperti Prof Johannes, I.J. Kasimo, Mr Wilopo, dan A. Tjokroaminoto, dengan tugas utama membersihkan Departemen Agama, Bulog, CV Waringin, PT Mantrust, Telkom, Pertamina, dan lain-lain. Empat tokoh bersih ini jadi tanpa taji ketika hasil temuan atas kasus korupsi di Pertamina, misalnya, sama sekali tidak digubris oleh pemerintah. Lemahnya posisi komite ini pun menjadi alasan utama. Kemudian, ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib, dibentuklah Operasi Tertib (Opstib) dengan tugas antara lain juga memberantas korupsi. Perselisihan pendapat mengenai metode pemberantasan korupsi yang bottom up atau top down di kalangan pemberantas korupsi itu sendiri cenderung semakin melemahkan pemberantasan korupsi, sehingga Opstib pun hilang seiring dengan makin menguatnya kedudukan para koruptor di singgasana Orde Baru.begitu...............

6|KPK

Era Reformasi Di era reformasi, usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B.J. Habibie dengan mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru, seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN), KPPU, atau Lembaga Ombudsman. Presiden berikutnya, Abdurrahman Wahid, membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. Namun, di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini, melalui suatu judicial review Mahkamah Agung, TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN, dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi, tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK, sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Artinya, KPK-lah lembaga pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis. Struktur Organisasi Sesuai dengan Bab IV Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002, KPK mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari: 1. Pimpinan yang terdiri dari seorang Ketua merangkap Anggota; dan 4 (empat) orang Wakil Ketua merangkap Anggota; 1. Tim Penasehat yang terdiri dari 4 (empat) orang; 2. Deputi Bidang Pencegahan; 3. Deputi Bidang Penindakan; 4. Deputi Bidang Informasi dan Data; 5. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat; 6. Sekretariat Jenderal. Sementara struktur yang ada tetap berjalan, sambil berjalan akan dilakukan perubahan pada unit-unit organisasi sesuai dengan hasil evaluasi terhadap proses dan hasil kinerja serta kesulitankesulitan yang dialami dalam pelaksanaan tugas dan koordinasi di lapangan.

7|KPK

Struktur organisasi KPK selengkapnya sebelum dilakukan evaluasi dapat dilihat di bawah ini. KPK (Berdasar Lampiran Peraturan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi No. PER-08/XII/2008 Tanggal Desember 2008)

Rencana Di penetapan perlu kelemahan dalam visi, dan dilakukan.

Strategis perumusan strategi, misi, Untuk dan tujuan KPK
8|KPK

mengetahui

kekuatan

dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan, analisis kekekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman (Strong, Weakness, Opportunity, and Threat/SWOT), perlu dilakukan. Selain itu, analisis SWOT juga dipergunakan sebagai dasar dalam pemilihan strategi.

VISI Visi merupakan gambaran masa depan yang hendak diwujudkan. Visi harus bersifat praktis, realistis untuk dicapai, dan memberikan tantangan serta menumbuhkan motivasi yang kuat bagi pegawai Komisi untuk mewujudkannya. Visi KPK adalah: ”Menjadi Lembaga yang Mampu Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi” Visi tersebut mengandung pengertian yang mendalam dan menunjukkan tekad kuat dari KPK untuk segera dapat menuntaskan segala permasalahan yang menyangkut Tindak Pidana Korupsi.

MISI Misi merupakan jalan pilihan untuk menuju masa depan. Sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan KPK, misi KPK adalah: 1. Pendobrak dan Pendorong Indonesia yang Bebas dari Korupsi

9|KPK

2. Menjadi Pemimpin dan Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari korupsi. Dengan misi ini diharapkan KPK menjadi pemimpin sekaligus mendorong dalam gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal tersebut mempunyai makna bahwa KPK adalah lembaga yang terdepan dalam pemberantasan korupsi di Indonesia serta menjalankan tugas koordinasi dan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pencegahan dan penindakan TPK. Peran yang akan dimainkan KPK adalah pendobrak kebekuan penegakan hukum dan pendorong pemberantasan korupsi pada umumnya.

TUJUAN Tujuan merupakan penjabaran dari visi dan misi yang telah ditentukan dan menggambarkan kondisi yang diinginkan pada akhir periode Renstra. Tujuan yang ingin dicapai oleh KPK dalam periode Tahun 2008 – 2011 adalah: Meningkatnya integritas aparat penegak hukum dan aparat pengawasan dalam pemberantasan korupsi, disertai dengan berkurangnya niat dan peluang untuk melakukan korupsi, sehingga korupsi di Indonesia berkurang secara signifikan; Penetapan tujuan ini dilandasi oleh fakta bahwa tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sangat meluas dan dilakukan secara sistematis dengan cakupan yang telah memasuki

berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perkembangannya juga terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi maupun dari jumlah kerugian negara. Berdasarkan kondisi tersebut, pemberantasan TPK harus dilakukan secara optimal, intensif, efektif, profesional, dan berkesinambungan. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara KPK dengan instansi penegak hukum dan instansi lain serta seluruh komponen bangsa dan negara. Peran KPK sebagai pemimpin dan pemicu memungkinkan terciptanya kerjasama tersebut, sehingga timbul suatu gerakan pemberantasan korupsi yang masif, dinamis, dan harmonis.
10 | K P K

KEBIJAKAN Kebijakan pemberantasan korupsi periode 2008-2011: 1. Korupsi adalah kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan semua pihak (everyone business), konsisten, dan berkesinambungan. 2. KPK sebagai institusi pendorong upaya pemberantasan korupsi merupakan lembaga yang disegani dan dihormati, bukan ditakuti. 3. Pemberantasan korupsi mengedepankan upaya preemtif (penangkalan/menangani hulu permasalahan) dan preventif (pencegahan) sehingga mampu menekan kebocoran keuangan negara. 4. Upaya represif untuk menimbulkan efek jera dan pengembalian kerugian keuangan negara secara optimal. Kebijakan dalam penentuan prioritas pelaksanaan tugas KPK adalah sebagai berikut: 1. Kebijakan di Bidang Koordinasi dan Supervisi: a. Menindaklanjuti MoU yang sudah dibuat antara KPK, Kejagung, dan POLRI dengan tindakan nyata di lapangan: • • Mengadakan pertemuan rutin dengan POLRI dan Kejagung Mengevaluasi proses penanganan kasus yang ditangani oleh Polri dan Kejagung b. Mendorong penanganan kasus-kasus korupsi ke daerah (Polda dan Kejati) dengan alternatif tindakan: • • daerah. c. Memantau penanganan kasus-kasus korupsi yang ditangani oleh Polri dan Kejagung: • • secara administratif check on the spot Diserahkan sepenuhnya sesuai kewenangan Polri dan Jaksa dalam penanganan perkara Digunakan kewenangan KPK namun dilaksanakan oleh instansi penegak hukum di

11 | K P K

d. Mengambil alih penanganan kasus yang krusial atau yang tidak dapat ditangani oleh Polri dan Kejagung. 2. Kebijakan di Bidang Penindakan: a. Penindakan korupsi dilakukan bersama-sama dengan aparat penegak hukum lainnya. b. Menangani kasus-kasus yang belum selesai dikerjakan oleh Pimpinan KPK yang lama. c. Menanganani kasus-kasus yang menimbulkan dampak ikutan kumulatif yang tinggi, sedangkan kasus-kasus yang ber-scope lokal dilimpahkan kepada aparat penegak hukum daerah. d. Menangani kasus-kasus korupsi di lingkungan aparat penegak hukum, pemasukan dan pengeluaran keuangan negara, serta sektor pelayanan publik. e. Menindaklanjuti MoU dengan Dephan untuk mendorong penanganan kasus-kasus korupsi di lingkungan TNI. 3. Kebijakan di Pencegahan a. Mendorong segenap instansi dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran anti korupsi dan peran sertanya dalam pencegahan korupsi di lingkungan masing-masing. b. Melakukan proaktif investigasi (deteksi) untuk mengenali dan memprediksi kerawanan korupsi dan potensi masalah penyebab korupsi secara periodik untuk disampaikan kepada instansi dan masyarakat yang bersangkutan. c. Mendorong lembaga dan masyarakat untuk mengantisipasi kerawanan korupsi (kegiatan pencegahan) dan potensi masalah penyebab korupsi (dengan menangani hulu permasalahan) di lingkungan masing-masing. 4. Kebijakan di Bidang Pengawasan terhadap Penyelenggaraan Negara: a. Melakukan kajian sistem administrasi negara dan sistem pengawasan terhadap lembaga negara/pemerintah secara selektif untuk mendorong dilaksanakannya perubahan sistem dan reformasi birokrasi pada tingkat nasional. b. Meningkatkan integritas dan efektifitas fungsi pengawasan pada masing-masing instansi melalui restrukturisasi kedudukan, tugas dan fungsi unit/lembaga pengawasan,

12 | K P K

agar pelaksanaan tugas dan fungsinya dapat dilaksanakan secara independen dan bertanggung jawab. SASARAN A. Sasaran Internal KPK Pemantapan Kelembagaan KPK, berupa: 1. Pemantapan soliditas organisasi KPK yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan strategis 2. Pemantapan mekanisme kerja KPK, baik tata kerja internal maupun tata hubungan kerja dengan lembaga/instansi lain 3. Pemantapan sumber daya KPK yang rasional dan memiliki integritas yang tinggi/handal B. Sasaran Eksternal KPK Sasaran Jangka Panjang (2008-2011): 1. bangsa 2. Terdeteksi dan tertanganinya korupsi dan akar masalahnya pada sektor pemasukan keuangan negara, pengeluaran keuangan negara, pelayanan publik, penegakan hukum, dan lembaga pengawasan. 3. Terbangunnya wacana reformasi di bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, administrasi, dan birokrasi. Terpeliharanya dan meningkatnya semangat anti korupsi pada segenap komponen

Rincian Sasaran: 1. Bidang Koordinasi: a. Koordinasi bidang penindakan, dengan fokus pada: 1. Kegiatan koordinasi bidang penyelidikan, penyidikan dan penuntutan dengan instansi penegak hukum dengan tujuan agar proses hukum masing-masing tahapan berjalan dengan cepat; 2. Menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan korupsi yang difokuskan kepada penataan pelaporan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan;

13 | K P K

3. Melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi untuk menyusun strategi bersama pemberantasan korupsi. b. Koordinasi bidang pencegahan, dengan fokus pada: • • Meminta informasi tentang kegiatan pencegahan kepada instansi pemerintah secara periodik; Melaksanakan pertemuan dengan instansi pemerintah dan swasta untuk menyusun konsep dan strategi pelaksanaan reformasi administrasi sektor publik dan swasta. 2. Bidang Supervisi: a. Melaksanakan supervisi bidang penindakan: • melakukan pengawasan, penelaahan terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi dengan maksud mendorong lancarnya penanganan kasus korupsi serta membantu mencarikan solusi apabila terdapat hambatan; • mengambil alih kasus korupsi strategis yang sulit ditangani oleh instansi penegak hukum lain sesuai ketentuan yang berlaku. b. Melakukan supervisi bidang pencegahan: • melakukan pengawasan terhadap instansi yang melaksanakan layanan publik untuk mendorong konsistensi pelaksanaan reformasi sistem dan prosedur administrasi layanan masyarakat; • membantu mencarikan solusi dalam bentuk advokasi dan bimbingan teknis terhadap instansi yang mengalami hambatan dalam melaksanakan reformasi layanan publik. 3. Bidang Penindakan: a. Melaksanakan penindakan pada korupsi strategis kerah putih dengan modus operandi yang canggih meliputi sektor pelayanan publik, sektor pemasukan dan pengeluaran keuangan negara, BUMN, swasta, dan proses penegakan hukum; b. Penindakan terhadap kebocoran APBN, transaksi pencucian uang dengan fokus pada pengembalian keuangan negara dan peningkatan kualitas hidup masyarakat; 1. Bidang Pencegahan:
14 | K P K

a. mendorong pelaksanaan prinsip-prinsip tatakelola pemerintahan yang baik meliputi perbaikan sistem anggaran, administrasi, sistem layanan masyarakat bagi sektor publik dan swasta. b. meningkatkan integritas dan efektifitas fungsi pengawasan pada masing-masing instansi melalui restrukturisasi kedudukan tugas dan fungsi unit/lembaga pengawasan. c. peningkatan integritas pegawai negeri melalui penciptaan bersama sistem pengukuran kinerja, penegakan kode etik pegawai; d. membentuk budaya masyarakat yang anti korupsi, melalui pendidikan yang profesional baik sektor formal maupun informal secara bertahap. e. peningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pemberantasan korupsi melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan serta kegiatan sosial lainnya. 4. Bidang Monitoring: a. melaksanakan kajian sistem administrasi negara kepada lembaga Negara/Pemerintah secara profesional sebagai pemicu untuk dilaksanakannya reformasi birokrasi; b. memberikan saran kepada pimpinan lembaga negara/pemerintah untuk melakukan perubahan sistem administrasi dan prosedur layanannya bila sistem sebelumnya berpotensi menimbulkan tindak pidana korupsi. c. Menginformasikan/menyampaikan laporan kepada Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Badan Pemeriksa Keuangan jika saran Komisi Pemberantasan Korupsi atas usulan perubahan tersebut tidak diindahkan.

Sasaran Jangka Pendek (2008) A. Sasaran Internal KPK Pemantapan Kelembagaan KPK, berupa: 1. Pemantapan soliditas organisasi KPK yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan lingkungan strategis 2. Pemantapan mekanisme kerja KPK, baik tata kerja internal maupun tata hubungan kerja dengan lembaga/instansi lain

15 | K P K

3. Pemantapan sumber daya KPK yang rasional dan memiliki integritas yang tinggi/handal B. Sasaran Eksternal KPK Sasaran Umum: 1. Menyelesaikan tunggakan perkara yang ada, baik di tingkat penyelidikan, penyidikan, penututan, dan eksekusi. 2. 3. Mendeteksi dan menangani permasalahan permasalahan korupsi yang memiliki Meneruskan upaya penerapan tata kelola kepemerintahan yang baik, reformasi

dampak kumulatif pada tingkat nasional dan lokal. birokrasi, peningkatan integritas sektor publik, pembentukan budaya anti korupsi dengan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat. 4. Koordinasi dan supervisi lembaga negara instansi dalam pencegahan korupsi pada sektor pelayanan publik, pemasukan, dan pengeluaran keuangan negara.

Rincian Sasaran:
1.

Bidang Penindakan: melaksanakan penindakan pada bidang strategis yang

mempunyai efek jera terhadap para penegak hukum, berdampak peningkatan efisiensi dan transparansi pada layanan publik serta berdampak optimal pada pengembalian keuangan negara;
2.

Bidang Pencegahan: melaksanakan pencegahan yang berdampak optimal kepada

perbaikan meyeluruh pada layanan publik, peningkatan integritas pegawai negeri, efektifitas pengawasan, membentuk budaya masyarakat yang anti korupsi, serta meningkatkan partisi aktif masyarakat dalam pemberantasan korupsi.
3.

Bidang Koordinasi dan Supervisi: melaksanakan peningkatan kualitas dan supervisi bidang penindakan dan pencegahan dengan instansi

koordinasi

pemerintah/lembaga negara baik pusat maupun daerah untuk membangun kapasitas kelembagaan; 4. Bidang Monitoring: melaksanakan monitoring pada instansi pemerintah pusat pada sektor yang berpengaruh pada peningkatan Indeks Persepsi Korupsi (IPK).

STRATEGI PENCAPAIAN
16 | K P K

Berdasarkan analisis SWOT, potensi peluang yang ada lebih besar dibandingkan dengan ancaman yang dihadapi, sedangkan kekuatan yang dimiliki juga lebih besar dibandingkan kelemahan. Berdasarkan pertimbangan tersebut dan memperhatikan visi, misi, tujuan, dan sasaran, grand strategy yang dikembangkan dalam rangka mencapai visi, misi, tujuan, dan sasaran adalah sebagai berikut: 1. Pelibatan semua pihak dalam pemberantasan korupsi, dimana KPK menempatkan diri sebagai pemicu dan pendorong dalam pemberantasan korupsi; 2. Pemberantasan korupsi dilakukan secara komprehensif menggunakan pola deteksi - aksi dengan kegiatan: proaktif investigasi (deteksi), preemtif, preventif, represif, dan rehabilitasi. Adapun strategi operasional yang dipakai adalah sebagai berikut: 1. hukum; 2. Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak

negara/pemerintah pusat dan daerah; 3. 4. 5. Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik; Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat; Strategi Pembangunan Kelembagaan

Implementasi Strategi Berdasarkan perumusan strategi yang diuraikan pada Bab III dan sesuai dengan semangat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002, KPK menetapkan 5 (lima) strategi untuk mewujudkan Visi dan Misi serta meraih keberhasilan organisasi di masa depan. Kelima strategi tersebut adalah: Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum, Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan pemerintah provinsi/kabupaten/kota, Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik, Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat, serta Strategi Pembangunan Kelembagaan.

17 | K P K

Jika dikaitkan dengan pendekatan BSC, kelima strategi tersebut dapat dipetakan sebagai berikut: Gambar 3.1 Peta Strategi KPK

SASARAN STRATEJIK, PENGUKURAN, DAN TARGET Sasaran stratejik KPK, pengukuran, dan targetnya dibangun dengan menggunakan pendekatan BSC. Pendekatan BSC membagi sasaran stratejik KPK kedalam empat perspektif, yaitu: 1. 2. 3. Perspektif Pemangku Kepentingan; Perspektif Internal; Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan; dan
18 | K P K

4.

Perspektif Keuangan.

Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum, Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah, Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik, serta Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat diletakan pada perspektif pemangku kepentingan dan perspektif internal. Sedangkan Strategi Pembangunan Kelembagaan diletakkan pada perspektif pembelajaran & pertumbuhan serta keuangan. Keterkaitan antara keempat perspektif dengan kelima strategi dan sasaran-sasaran stratejik dapat dijelaskan sebagai berikut:

PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN Strategi Pencapaian: Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum, Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah, Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan

19 | K P K

publik, Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat, serta Strategi Pembangunan Kelembagaan. Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “berkurangnya korupsi” pada perspektif pemangku kepentingan merupakan hasil (outcome) paling utama yang diharapkan KPK. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil indeks persepsi korupsi dari KPK dan indeks integritas nasional. Keberhasilan sasaran stratejik ini didukung dengan keberhasilan sasaran-sasaran stratejik dari perspektif pemangku kepentingan lainnya, yaitu: efektivitas koordinasi & supervisi Bidang Penindakan, efektivitas koordinasi & supervisi Bidang Pencegahan, keberhasilan penegakkan hukum kasus korupsi, kepercayaan publik terhadap KPK, terbentuknya sikap masyarakat anti korupsi, dan percepatan reformasi layanan sektor publik. 2. Sasaran stratejik “efektivitas koordinasi dan supervisi Bidang Penindakan” pada perspektif pemangku kepentingan merupakan salah satu sasaran stratejik hasil penjabaran tidak langsung dari Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum, untuk mendukung percepatan berkurangnya korupsi di Indonesia. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil Indeks Integritas Lembaga Penegakan Hukum & Pengawasan. Keberhasilan sasaran stratejik ini didukung oleh keberhasilan sasaran stratejik lainnya pada perspektif internal, yaitu: koordinasi penindakan TPK dan supervisi penindakan TPK 3. Sasaran stratejik “Efektivitas Koordinasi & Supervisi Bidang Pencegahan” pada perspektif pemangku kepentingan merupakan salah satu sasaran stratejik hasil penjabaran tidak langsung dari Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah, serta Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil Indeks Integritas Lembaga Negara/Pemerintah yang memberikan Layanan Publik. Keberhasilan sasaran stratejik ini didukung oleh keberhasilan sasaran stratejik lainnya pada perspektif internal, yaitu: sistem pelaporan kegiatan pemberantasan korupsi, koordinasi pencegahan TPK, dan supervisi instansi pelayanan publik yang terdapat pada perspektif internal. 4. Sebagaimana halnya sasaran stratejik “efektivitas koordinasi dan supervisi Bidang Penindakan”, sasaran stratejik “keberhasilan penegakan hukum kasus korupsi” juga merupakan salah satu penjabaran tidak langsung dari Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi
20 | K P K

dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil % keberhasilan penanganan perkara yang diputuskan pada tingkat Pengadilan Negeri (PN). Keberhasilan sasaran stratejik ini ditentukan oleh keberhasilan sasaran stratejik penyelidikan, penyidikan, penuntutan yang kuat & proaktif dan sasaran stratejik penyelamatan kerugian keuangan negara yang terdapat pada perspektif internal. 5. Sasaran stratejik “kepercayaan publik terhadap KPK” merupakan penjabaran tidak langsung dari keseluruhan strategi untuk mendukung percepatan berkurangnya korupsi di Indonesia. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil rata-rata peningkatan indeks dari angka dasar tahun 2007 yang akan diperoleh melalui survey persepsi. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditentukan oleh keberhasilan seluruh sasaran stratejik di perspektif internal, pembelajaran dan pertumbuhan, serta keuangan. 6. Sasaran stratejik “Terbentuknya Perilaku Masyarakat Anti Korupsi” merupakan penjabaran tidak langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil Indeks Integritas Nasional. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditentukan oleh keberhasilan sasaran-sasaran stratejik masyarakat anti gratifikasi, transparansi PN kepada publik, pemahaman masyarakat terhadap anti korupsi, dan studi tentang korupsi yang berada di perspektif internal. 7. Sasaran stratejik “Percepatan Reformasi Layanan Sektor Publik” merupakan penjabaran tidak langsung dari strategi monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil Indeks Integritas Lembaga Negara/Pemerintah yang memberikan Layanan Publik. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditentukan oleh keberhasilan sasaran stratejik perbaikan sistem pengelolaan administrasi lembaga dan pemerintah pada perspektif internal. PERSPEKTIF INTERNAL Strategi Pencapaian: Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah, Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum, Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik, serta Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat. 1. 1) Strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah

21 | K P K

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Terselenggaranya Koordinasi Pencegahan TPK” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil % peningkatan jumlah wilayah percontohan pelaksanaan Perbaikan layanan publik. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh efektifnya kegiatan bimbingan teknis tentang tata kelola pemerintahan yang baik kepada pemerintah di daerah. 2. Sasaran stratejik “Sistem Pelaporan Kegiatan Pemberantasan TPK” pada

perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil % Partisipasi Lembaga Pemerintah terkait & LSM dalam memasukkan informasi tentang pemberantasan TPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh keberhasilan terbentuknya Pusat Informasi Pemberantasan Korupsi.
22 | K P K

3.

Sasaran stratejik “Supervisi Instansi Pelayanan Publik” pada perspektif internal

merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan menggunakan ukuran hasil % daerah percontohan yang melaksanakan perbaikan layanan publik yang disupervisi. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh sasaran stratejik koordinasi pencegahan TPK dan perbaikan sistem pengelolaan administrasi lembaga & pemerintah, serta efektifnya kegiatan bimbingan teknis tentang tata kelola pemerintahan yang baik kepada pemerintah di daerah. 4. Sasaran stratejik “Masyarakat Anti Gratifikasi” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil Indeks Penyuapan Nasional (National Bribery Index). Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh keberhasilan kegiatan-kegiatan pelaporan gratifikasi dan sosialisasi gratifikasi. 5. Sasaran stratejik “Terbangunnya Transparansi PN Kepada Publik” pada Perspektif Internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % jumlah PN yang melaporkan LHKPN dengan benar. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis pengisian LHKPN serta proses pendaftaran dan pengelolaan LHKPN yang didukung dengan pemeriksaan LHKPN. 6. Sasaran stratejik “tersedianya informasi PN yang handal” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Keberhasilan sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % Peningkatan jumlah dan kualitas informasi LHKPN yang dapat digunakan pihak internal dan eksternal. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh pelaksanaan kegiatan sosialisasi dan bimbingan teknis pengisian LHKPN serta proses pendaftaran dan pengelolaan LHKPN yang didukung dengan pemeriksaan LHKPN. 7. Sasaran stratejik “Pemahaman Masyarakat Terhadap Anti Korupsi” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan % peningkatan Indeks survei pemahaman masyarakat terhadap TPK. Keberhasilan

23 | K P K

sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan pendidikan, kampanye, dan sosialisasi anti korupsi. 8. Sasaran stratejik “Studi Tentang Korupsi” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi Pencegahan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga negara/pemerintah pusat dan daerah. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah rekomendasi hasil studi yang di gunakan dalam kebijakan pemberantasan korupsi. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh efektivitas perencanaan dan diseminasi hasil studi. 2) Strategi Penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum

24 | K P K

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Koordinasi Penindakan TPK” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah penerimaan SPDP. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh keberhasilan sasaran stratejik penyelidikan, penyidikan, penuntutan yang kuat & proaktif. 2. Sasaran stratejik “Supervisi Pemberantasan TPK” pada perspektif internal

merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan % peningkatan jumlah perkara TPK yang disupervisi yang dapat diselesaikan oleh Kejaksaan dan Kepolisian. Keberhasilan sasaran stratejik ini, ditopang oleh keberhasilan sasaran stratejik penyelidikan, penyidikan, penuntutan yang kuat dan proaktif. 3. Sasaran stratejik “Penyelidikan, Penyidikan, Penuntutan yang kuat dan Proaktif”

pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran % peningkatan jumlah proses penegakan hukum terhadap TPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini, didukung oleh sasaran stratejik informasi PN yang handal, pemeriksaan LHKPN yang efektif, pemeriksaan dumas yang efektif, terselenggaranya pemeriksaan gratifikasi yang efektif, dan dukungan informasi dan data.
25 | K P K

4.

Sasaran stratejik “Penyelamatan Kerugian Keuangan Negara” pada perspektif

internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah kerugian keuangan negara yang disetor ke kas negara (dari hasil penyelidikan, penyidikan dan penuntutan). Keberhasilan sasaran stratejik ini didukung oleh keberhasilan sasaran stratejik penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan yang kuat dan proaktif serta sasaran stratejik dukungan informasi dan data. 5. Sasaran stratejik “Pemeriksaan LHKPN yang Efektif” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah hasil pemeriksaan LHKPN yang dapat dilimpahkan ke direktorat penyelidikan, gratifikasi, dan instansi lain. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan analisis LHKPN PN, pemeriksaan substantif, dan pemeriksaan khusus. 6. Sasaran stratejik “Pemeriksaan Pengaduan Mayarakat yang Efektif” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah hasil pemeriksaan Direktorat Dumas yang dapat dilimpahkan ke Direktorat Penyelidikan. Keberhasilan sasaran stratejik ini dipengaruhi oleh keberhasilan sasaran stratejik tersedianya informasi Penyelenggara Negara yang handal dan kegiatan-kegiatan koordinasi penanganan pengaduan masyarakat dengan instansi berwenang, penanganan pengaduan masyarakat, serta pengumpulan bahan keterangan dan pembangunan kasus dari pengaduan masyarakat. 7. Sasaran stratejik “Pemeriksaan Gratifikasi yang Efektif” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % peningkatan jumlah hasil pemeriksaan Gratifikasi yang dapat dilimpahkan ke Direktorat Penyelidikan. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan analisis LHKPN tentang penerimaan hibah, Pengaduan Masyarakat tentang penerimaan gratifikasi, dan pengumpulan bahan keterangan tentang gratifikasi. 8. Sasaran stratejik “Dukungan Informasi dan Data” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penindakan dan koordinasi serta supervisi dengan lembaga penegak hukum. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil indeks kepuasan
26 | K P K

pengguna. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan intelijen, kehandalan TI, terjaminnya keamanan TI, kegiatan asset tracing, dan kegiatan proaktif investigasi. 3) Strategi Monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Perbaikan, Sistem Pengelolaan Administrasi Lembaga Negara dan Pemerintah” pada perspektif internal merupakan pelaksanaan fungsi monitoring dan penjabaran langsung dari strategi monitoring dan supervisi instansi pelayanan publik. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % rekomendasi yang dilaksanakan instansi pemerintah yang dilakukan pengkajian. Keberhasilan sasaran stratejik ini didukung oleh terlaksananya studi tentang korupsi, kegiatan pengkajian sistem, pengkajian literatur, pengkajian kasus dan kegiatan pemicu percepatan reformasi birokrasi 4) Strategi Penggalangan Keikutsertaan Masyarakat

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Kerjasama Daerah, Nasional & Internasional” pada perspektif internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penggalangan keikutsertaan masyarakat. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % informasi yang diterima dari pihak partner kerjasama dalam merespon permintaan KPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan pembinaan jaringan daerah, nasional dan internasional.

27 | K P K

2.

Sasaran stratejik “Citra Lembaga yang Baik di Mata Media” pada perspektif

internal merupakan penjabaran langsung dari strategi penggalangan keikutsertaan masyarakat. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil Indeks kepuasan media atas layanan kehumasan KPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan pengelolaan dan penyebaran informasi.

28 | K P K

PERSPEKTIF PEMBELAJARAN & PERTUMBUHAN Strategi Pencapaian: Strategi Pembangunan Kelembagaan

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Tersedianya Fasilitas” pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil indeks kepuasan layanan internal dan % tingkat pemenuhan kebutuhan. Kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran ini adalah pengelolaan aset internal, pelayanan gedung, pengadaan barang/jasa, dan layanan internal. 2. Sasaran stratejik “Infrastruktur TI” pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil indeks kepuasan pengguna internal KPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh ketersediaan anggaran.

29 | K P K

3. Sasaran stratejik “Produktifitas SDM yang Tinggi” pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil Rasio pegawai yang memiliki penilaian kinerja A, B, dan C/D/E serta indeks kepuasan pegawai melalui hasil survei kepuasan pegawai terhadap Service Level Agreement dan sistem kepegawaian. Kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran ini adalah: 1) Ketersediaan Pegawai baik dari sisi kualitas dan kuantitas melalui tingkat persentase pemenuhan pegawai terhadap formasi jabatan yang tersedia 2) Kesesuaian kompetensi SDM terhadap persyaratan kompetensinya melalui pengukuran tingkat kesenjangan kompetensi pegawai terhadap persyaratan pekerjaan 3) Ketersediaan Profile Kompetensi SDM melalui penyusunan profile jabatan per Direktorat/Biro yang digunakan sebagai dasar perencanaan SDM 4. Sasaran stratejik “Tranparansi dan Integritas” pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan empat ukuran hasil, yaitu opini audit laporan keuangan, ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan, ketepatan waktu penyampaian laporan kinerja, dan jumlah pelanggaran/ penyimpangan internal. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan verifikasi, akuntansi, evaluasi pelaksanaan kegiatan, pengelolaan aset, dan pengadaan barang/jasa, untuk sasaran stratejik transparansi dan kegiatan audit dan review, audit khusus, konsultasi, serta review pengendalian mandiri untuk sasaran stratejik integritas. 5. Sasaran stratejik “Tersedianya Dukungan Hukum” pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil % dukungan hukum yang dimanfaatkan oleh KPK. Keberhasilan sasaran stratejik ini ditopang oleh kegiatan-kegiatan pemberian pendapat hukum, kajian hukum, litigasi, dan perencanaan perundangan yang diperlukan untuk kegiatan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi maupun kepentinganan kelembagaan KPK.

30 | K P K

PERSPEKTIF KEUANGAN Strategi Pencapaian: Strategi Pembangunan Kelembagaan

Berikut ini penjelasan hubungan antara peta strategi, sasaran stratejik dengan tolok ukur kinerja: 1. Sasaran stratejik “Tersedianya Anggaran” pada perspektif keuangan merupakan penjabaran langsung dari strategi pembangunan kelembagaan yang akan mempengaruhi keberhasilan capaian sasaran stratejik organisasi pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dan internal. Sasaran stratejik ini diukur dengan ukuran hasil tingkat perolehan anggaran. Keberhasilan pencapaian sasaran stratejik ini didukung oleh akurasi perencanaan anggaran yang melibatkan partisipasi aktif seluruh unit organisasi dan tingkat penyerapan anggaran pada tahun anggaran sebelumnya.

31 | K P K

Profil Pimpinan

32 | K P K

2007 - 2011

Sejumlah peraturan perundang-undangan yang terkait dengan KPK antara lain:

 

Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negera yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme

 

Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Peraturan Pemerintah Tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat dan Pemberian Penghargaan Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

 

Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

33 | K P K

 

Undang-Undang No. 15 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2005 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia KPK

Penanganan Kasus Korupsi oleh KPK 2008

16 Januari Mantan Kapolri Rusdihardjo ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua. Terlibat kasus dugaan korupsi pada pungli pada pengurusan dokumen keimigrasian saat menjabat sebagai Duta Besar RI di Malaysia. Dugan kerugian negara yang diakibatkan Rusdihardjo sebesar 6.150.051 ringgit Malaysia atau sekitar Rp15 miliar. Rusdiharjo telah di vonis pengadilan Tipikor selama 2 tahun.

14 Februari Direktur Hukum BI Oey Hoey Tiong di Rutan Polda Metro Jaya dan Rusli Simanjuntak ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua. Kedua petinggi BI ini ditetapkan tersangka dalam penggunaan dana YPPI sebesar Rp 100 miliar. Mantan Direktur Hukum BI Oey Hoey Tiong dan mantan Kepala Biro BI Rusli Simanjuntak yang masing-masing empat tahun penjara.

10 April Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah ditahan di Rutan Mabes Polri. Burhanuddin diduga telah menggunakan dana YPPI sebesar Rp 100 miliar. Burhanuddin sudah di vonis pengadilan tipikor lima tahun penjara,

27 November Aulia Pohan, besan Presiden SBY. Dia bersama tersangka lain, Maman Sumantri mendekam di ruang tahanan Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Sementara Bun Bunan Hutapea dan Aslim Tadjuddin dititipkan oleh KPK di tahanan Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Mereka diduga terlibat dalam pengucuran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp100 miliar.

2 Maret Jaksa Urip Tri Gunawan ditahan di Rutan Brimob Kelapa Dua dan Arthalita Suryani ditahan di Rutan Pondok Bambu. Jaksa Urip tertangkap tangan menerima 610.000 dolar AS dari Arthalita Suryani di rumah obligor BLBI Syamsul Nursalim di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Urip di vonis ditingkat pengadilan Tipikor dan diperkuat ditingkat kasasi di Mahkamah Agung selama 20 tahun penjara. Sedangkan Arthalita di vonis di Tipikor selama 5 tahun penjara.

34 | K P K

12 Maret Pimpro Pengembangan Pelatihan dan Pengadaan alat pelatihan Depnakertrans Taswin Zein ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Taswin diduga terlibat dalam kasus penggelembungan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) Depnakertrans tahun 2004 sebesar Rp 15 miliar dan Anggaran Daftar Isian sebesar Rp 35 miliar. Taswin telah di vonis Pengadilan Tipikor selama 4 tahun penjara.

20 Maret Mantan Gubernur Riau Saleh Djasit (1998-2004) ditahan sejak 20 Maret 2008 di rutan Polda Metro Jaya. Saleh yang juga anggota DPR RI (Partai Golkar) ditetapkan sebagai tersangka sejak November 2007 dalam kasus dugaan korupsi pengadaan 20 unit mobil pemadam kebakaran senilai Rp 15 miliar. Saleh Djasit telah di vonis Pengadilan Tipikor selama 4 tahun penjara.

10 November Mantan gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Dirjen Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri Oentarto Sindung Mawardi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Damkar ditahan di rutan Bareskrim Mabes Polri. KPK juga menahan mantan Kepala Biro Pengendalian Program Pemprov Jabar Ijudin Budhyana dan mantan kepala perlengkapan Wahyu Kurnia. Ijudin saat ini masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Jabar. Selain itu KPK telah menahan Ismed Rusdani pada Rabu (12/12/08). Ismed yang menjabat staf biro keuangan di lingkungan Pemprov Kalimantan Timur ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Damkar juga menyeret Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Depok Yusuf juga ditetapkan sebagai tersangka pada Senin 22 September 2008

9 April Anggota DPR RI (PPP) Al Amin Nur Nasution dan Sekda Kabupaten Bintan Azirwan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya, Sekda Bintan Azirwan ditahan di Rutan Polres Jakarta Selatan. Al Amin tertangkap tangan menerima suap dari Azirwan. Saat tertangkap ditemukan Rp 71juta dan 33.000 dolar Singapura. Mereka ditangkap bersama tiga orang lainnya di Hotel Ritz Carlton.

17 April Anggota DPR RI (Partai Golkar) Hamka Yamdhu dan mantan Anggota DPR RI (Partai Golkar) Anthony Zeidra Abidin. Anthony Z Abidin yang juga menjabat Wakil Gubernur Jambi ditahan di Polres Jakarta Timur, Hamka Yamdhu ditahan di Rutan Polres Jakarta Barat. Hamda dan Anthony Z Abidin diduga menerima Rp 31,5 miliar dari Bank Indonesia.

35 | K P K

2006 Desember

27 Desember - Menetapkan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani H.R. sebagai tersangka dalam kasus korupsi Bandara Loa Kulu yang diperkirakan merugikan negara sebanyak Rp 15,9 miliar. Tribun Kaltim

22 Desember - Menahan Bupati Kendal Hendy Boedoro setelah menjalani pemeriksaan Hari Jumat (22/12). Hendy ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi APBD Kabupaten Kendal 2003 hingga 2005 senilai Rp 47 miliar. Selain Hendy, turut pula ditahan mantan Kepala Dinas Pengelola Keuangan Daerah Warsa Susilo. Tempo Interaktif

21 Desember - Menetapkan mantan Gubernur Kalimantan Selatan H.M. Sjachriel Darham sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi penggunaan uang taktis. Sjachriel Darham sudah lima kali diperiksa penyidik dan belum ditahan. Tempo Interaktif

Desember 2008, menahan BUPATI Garut 2004-2009 Letkol.(Purn) H. Agus Supriadi SH, yang tersangkut penyelewangan dana bantuan bencana alam sebesar 10 milyar negara dirugikan,Bupati Agus dikenakan hukuman 15 tahun penjara dan denda 300 juta. November

30 November - Jaksa KPK Tuntut Mulyana W. Kusumah 18 Bulan dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kotak suara Pemilihan Umum 2004. Tempo Interaktif

30 November - Menahan bekas Konsul Jenderal RI di Johor Baru, Malaysia, Eda Makmur. Eda diduga terlibat kasus dugaan korupsi pungutan liar atau memungut tarif pengurusan dokumen keimigrasian di luar ketentuan yang merugikan negara sebesar RM 5,54 juta atau sekitar Rp 3,85 miliar. Tempo Interaktif

30 November - Menahan Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004. Rokhmin diduga terlibat korupsi dana nonbujeter di departemennya. Total dana yang dikumpulkan adalah Rp 31,7 miliar. Tempo Interaktif

September

2 September - Memeriksa Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan selama 11 jam di gedung KPK. Pemeriksaan ini terkait kasus pembelian alat berat senilai Rp 185,63 miliar
36 | K P K

oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dianggarkan pada 2003-2004. Tempo Interaktif Juni

19 Juni - Menahan Gubernur Kalimantan Timur, Suwarna A.F. setelah diperiksa KPK dalam kasus ijin pelepasan kawasan hutan seluas 147 ribu hektare untuk perkebunan kelapa sawit tanpa jaminan, dimana negara dirugikan tak kurang dari Rp 440 miliar. Tempo Interaktif

2005
• •

Kasus penyuapan anggota KPU, Mulyana W. Kusumah kepada tim audit BPK (2005) Kasus korupsi di KPU, dengan tersangka Nazaruddin Sjamsuddin, Safder Yusacc dan Hamdani Amin (2005)

Kasus penyuapan panitera PT Jakarta oleh kuasa hukum Abdullah Puteh, dengan tersangka Teuku Syaifuddin Popon, Syamsu Rizal Ramadhan, dan M. Soleh. (2005)

Kasus penyuapan Hakim Agung MA dalam perkara Probosutedjo, dengan tersangka Harini Wijoso, Sinuhadji, Pono Waluyo, Sudi Ahmad, Suhartoyo dan Triyadi

Dugaan korupsi perugian negara sebesar 32 miliar rupiah dengan tersangka Theo Toemion (2005)

Kasus korupsi di KBRI Malaysia (2005)

2004

Dugaan korupsi dalam pengadaan Helikopter jenis MI-2 Merk Ple Rostov Rusia milik Pemda NAD (2004). Sedang berjalan, dengan tersangka Ir. H. Abdullah Puteh.

Dugaan korupsi dalam pengadaan Buku dan Bacaan SD, SLTP, yang dibiayai oleh Bank Dunia (2004)

Dugaan korupsi dalam Proyek Program Pengadaan Busway pada Pemda DKI Jakarta (2004)

Dugaan penyalahgunaan jabatan oleh Kepala Bagian Keuangan Dirjen Perhubungan Laut dalam pembelian tanah yang merugikan keuangan negara Rp10 milyar lebih. (2004). Sedang berjalan, dengan tersangka tersangka Drs. Muhammad Harun Let Let dkk.
37 | K P K

Dugaan korupsi pada penyalahgunaan fasilitas preshipment dan placement deposito dari BI kepada PT Texmaco Group melalui Bank BNI (2004)

Dugaan telah terjadinya TPK atas penjualan aset kredit PT PPSU oleh BPPN. (2004)

38 | K P K

BAB III KESIMPULAN
Komisi Pemberantasan Korupsi, atau disingkat menjadi KPK, adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Saat ini KPK dipimpin oleh Plt Ketua Tumpak Hatorangan Panggabean. Komisi Pemberantasan Korupsi merupakan komisi khusus yang dasar pendiriannya diatur dalam pasal 43 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. VISI ”Menjadi Lembaga yang Mampu Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi” MISI 1. Pendobrak dan Pendorong Indonesia yang Bebas dari Korupsi 2. Menjadi Pemimpin dan Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari korupsi.

TUJUAN Meningkatnya integritas aparat penegak hukum dan aparat pengawasan dalam pemberantasan korupsi, disertai dengan berkurangnya niat dan peluang untuk melakukan korupsi, sehingga korupsi di Indonesia berkurang secara signifikan.

39 | K P K

BAB IV DAFTAR PUSTAKA
http://www.pemantauperadilan.com/ http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi http://agusthutabarat.wordpress.com/2009/01/06/peran-kpk-dalam-pemberantasankorupsi-di-indonesia/ http://kpk.go.id/ http://tunas63.wordpress.com/2009/10/07/fungsi-dan-tugas-kpk/ http://www.facebook.com/pages/KPK-Komisi-PemberantasanKorupsi/56763136612 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jln. HR Rasuna Said Kav C-1 Jakarta 12920 Telp: (021) 2557 8300 www.kpk.go.id Pengaduan Dugaan Tindak Pidana Korupsi: Direktorat Pengaduan Masyarakat PO BOX 575 Jakarta 10120 Telp: (021) 2557 8389 Faks: (021) 5289 2454 SMS: 08558 575 575 Email: pengaduan@kpk.go.id Informasi LHKPN: Telp: (021) 2557 8396 Email :informasi.lhkpn@kpk.go.id Informasi Gratifikasi: Telp: (021) 2557 8440 Hubungan Masyarakat: Telp: (021) 2557 8498 Faks: (021) 5290 5592 Email: informasi@kpk.go.id
40 | K P K

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->