P. 1
Bunuh Diri Dalam Dimensi Patologi Sosial

Bunuh Diri Dalam Dimensi Patologi Sosial

|Views: 520|Likes:
Published by khairul Amin

More info:

Published by: khairul Amin on May 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2012

pdf

text

original

Bunuh diri dalam dimensi patologi sosial Larat belakang Kemajuan IPTEK di dunia ini ternyata tidak diimbangi

dengan kemajuan psikologis dan sosiologis dari setiap kalangan yang ada di setiap negara. Maraknya peristiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri menjadi sebuah fenomena menarik. Bagi bangsa Indonesia, bunuh diri bukanlah hanya sebuah tradisi budaya turun-temurun sebagaimana yang terjadi di Jepang dengan harakirinya. Namun, pada kondisi empirik kita temukan justru pada akhir-akhir ini fenomena mengambil jalan pintas bunuh diri menjadi sebuah alternatif yang banyak dipilih tak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga oleh remaja, bahkan anak-anak yang masih bersekolah di tingkat dasar. Tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50 ribu orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia

melakukan bunuh diri per harinya. Jumlah ini belum ditambah tingkat kematian akibat dari pemakaian obat terlarang (overdosis) yang jumlahnya mencapai 50 ribu orang tiap tahun. Ditambahkan, faktor psikologi yang mendorong orang bunuh diri adalah dukungan sosial kurang, baru kehilangan pekerjaan, kemiskinan, huru-hara psikologi, konflik berat pengunsi dan sebagainya. Data Departemen Kesehatan menyebutkan, beberapa daerah memiliki tingkat bunuh diri tinggi, antara lain Provinsi Bali mencapai 115 kasus selama Januari - September 2005 dan 121 kasus selama tahun 2004. Pada 2004 di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tercatat 20 kasus bunuh diri dengan korban rata-rata berusia 51-75 tahun.

Di Jepang angka kasus bunuh diri lebih dari 30 ribu orang per tahun. Sedangkan di Cina mencapai 250 ribu per tahun. Psikolog Tika Bisono mensinyalir para pelaku bunuh diri memilih keramaian sebagai tempat bunuh diri karena, pelaku ingin terlihat membaur selayaknya orang normal melakukan aktivitas, masih berada di persimpangan antara mau dan tidak mau serta berharap setidaknya ada orang yang berniat mencegah dirinya melakukan usaha bunuh diri. Jika disimak, antara kurun waktu 2004-2007, banyak peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh anak usia belasan tahun dan masih bersekolah di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ironisnya, faktor anak. penyebabnya Kini, bunuh lebih banyak karena sebagian ketidakmampuan diri dipandang

masyarakat sebagai salah satu jalan keluar mengatasi masalah yang dihadapinya. Bunuh diri dipandang potret masyarakat gagal. Fungsi sosialisasi, tata nilai, dan relasi-relasi personal tak lagi mendalam. Manusia dihargai bukan oleh nilai-nilai kemanusiaan, melainkan oleh kedudukan, kekayaan, martabat dan status sosial. Lunturnya penghargan individu menjadi pemicu orang tidak lagi berharga di mata orang lain. Selain itu, tatanan sosial dalam tingkatan yang lebih global dianggap sangat kacau dan malahan cenderung tanpa moralitas, yang mendorong pelaku bunuh diri dijadikan sebagai pilihan terbaik. Dalam bahasa yang lain, corak kapitalisme global yang semakin memiskinkan mereka yang lemah dan terus memperkaya mereka yang berdaya agaknya semakin memojokkan mereka sebagai kelompok sosial yang termarjinalisasikan. Hal tersebut juga sangat mempengaruhi faktor psikologis dan sosiologis bangsa Indonesia yang tak mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar dan diri sendiri. Hasil dari kebimbangan yang tak dapat dikendalikan dapat menghasilkan dan menjadikan

bunuh

diri

sebagai

jalan

keluar

yang

tak

akan

pernah

menyelesaikan masalah.

Rumusan masalah Dari latar belakang diatas maka dapat kami rumuskan bebrapa rumusan maslah sebagai berikut:
1. Apakah bunuh diri termasuk dalam kategori patologi sosial ? 2. Mengapa bunuh diri di identifikasi sebagai sebuah patologi

sosial ?
3. Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi

masalah patologi ini ?

Pembahasan Apakah bunuh diri termasuk dalam kategori patologi sosial ? Dewasa kini, gejala membunuh diri menjadi pilihan terakhir bagi menamatkan kesedihan dan kekecewaan bagi seseorang yang putus asa. Apatah lagi, krisis ekonomi yang melanda seluruh dunia ini. Maka ramailah ahli perniagaan, pelabur saham, penghutang dan sebagainya, menderita akibat menanggung hutang yang tidak mampu dibayarnya. Oleh itu, jalan keluar permasalahan ini dengan memilih membunuh diri sendiri. Namun, yang lebih mengecewakan lagi, terdapat kesan membunuh diri atas sebab-sebab yang tidak masuk akal. Mungkin atas sebab ketaksuban cinta yang meletakkan cinta kepada seseorang mengatasi segala-segalanya walaupun sanggup mengorbankan nyawa sendiri yang tidak nilai harganya. Orang yang nekad bunuh diri, biasanya karena putus asa diantara penyebabnya adalah penderitaan hidup. Ada orang yang menderita fisiknya (jasmaninya), karena memikirkan sesuap nasi untuk diri dan

keluarganya. Keperluan pokok dalam kehidupan sehari-hari tidak terpenuhi, apalagi pada jaman sekarang ini, pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Adapula orang yang menderita batinnya yang bertakibat patah hati, hidup tiodak bergairah, masa depannya keliatan siuram, tidak bercahaya. Batinnya kosong dari cahaya iman dan berganti dengan kegelapan yang menakutkan. Penderitaan kelompok kedua ini, belum tentu karena tidak punya uang, tidak punya kedudukan, dan tidak punya nama, karena semua itu belum tentu dan ada kalanya tidak dapat membahagiakan seseorang, pada media masa kita baca ada jutawan, artis dan ada tokoh yang memilih mati untuk mengakhiri penderitaanya itu, apakah penderitaan jasmani atau penderitaan batin. Nah, dari berbagai persoalan tersebut, sesunggunhnya

fenomena bunuh diri ini memang benar-benar sebagai patologi, karena melanggar nilai-nilai kemanusiaan, kemudian jika dilihat dari persepektif lain, agama pun melarang umatnnnya untuk bunuh diri. Kemudian tata nilai dan norma yang berkembang dalam sebuah masyarakat tertentu pun melarang tindakan bunuh diri karena merupakan berantas. Mengapa bunuh diri di identifikasi sebagai sebuah patologi sosial ? Beberapa sesungguhnya fakta telah menunjukkan menyebabkan bahwa berbagai upaya bunuh diri sebuah penyakit sosial (patologi) yang harus di

persoalan

dalam

masyarakat, karena seakan-akan bunuh diri merupakan salah satu jalan keluar dari suatu permasalahan yang sedang dihadapi oleh sang actor. Bunuh diri bisa disebut sebagai tindakan a solution permanent to a temporay problem (solusi kekal untuk masalah yang sementara). Untuk masalah-masalah yang sebetulnya ringan seperti

putus cinta, gagal membayar hutang, dan masalah lainnya yang menurut calon pelaku bunuh diri adalah besar karena ia hanya bersikap emosional sesaat dalam menghadapi masalah tersebut. Tindakan mengakhiri hidup (bunuh diri) telah mengalami pergeseran, yang sebelumnya orang bunuh diri merasa malu dan melakukannnya sembunyi-sembunyi, kini malah dilakukan di tempat umum (mal, apartemen, tower). Jika melihat gejala ini, pelaku bunuh diri sebenarnya ingin menunjukkan penderitaannya kepada khalayak, semacam protes kepada lingkungan, sosial-masyarakat yang tak memahami bahwa mereka sebetulnya mengalami masalah yang berat. Bukan hanya masyarakat yang berada di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang akan mengetahui tindakan ini secara langsung, namun juga masyarakat lain, yang tak melihat secara langsung peristiwa ini. Media massa, terutama televisi, menjadi “informan” yang cepat, berupa audio-visual untuk memberitakan perilaku bunuh diri. Pernah saya menonton berita di televisi swasta, detik-detik seseorang menjatuhkan diri dari sebuah tempat yang tinggi. Telah terjadi imitasi perilaku bunuh diri (copycat suicide) di masyarakat 19/12/09). (Nalini Dia, Muhdi, Bunuh Diri Itu Menular, Fu Kompas, dan Yip sebagaimana mengutip

(2007) ,menjelaskan bahwa media memiliki andil besar terhadap perilaku bunuh diri. Remaja dan dewasa muda menjadi pihak yang paling rentan berisiko untuk mengimitasi cara-cara bunuh diri yang diberitakan media. Ungkapan bahwa bad news is good news (berita buruk adalah berita baik) seperti bunuh menemukan diri. Karena bentuknya sifatnya dalam kasus pemberitaan yang sensasional,

dramatis, tak lazim, dan suspensif (daya kejut) membuat pelaku media berpikir bahwa berita seperti ini akan laku “dijual”. Reportase

yang “berlebihan” terhadap kasus bunuh diri, diduga memicu proses imitasi ini.

Apa saja upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah patologi ini ? Demokrasi tidak boleh dilepaskan dari kebebasan, sebab kebebasan merupakan prasyarat agar rakyat dapat melaksanakan kedudukannya sebagai sumber kedaulatan dan sumber kekuasaan. Kebebasan harus diwujudkan bagi setiap individu rakyat. Dengan itu, mereka dapat sendiri, melaksanakan serta kedaulatannya haknya dan dengan menjalankannya melaksanakan

sebebas-bebasnya tanpa ada tekanan atau paksaan. Banyak yang lingkungan terkecilnya tidak memberi rasa aman, lingkungan keluarganya menolak dan tidak hangat, sehingga anak yang dibesarkan di dalamnya merasakan kebingungan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Orang tua, karena ikut larut dalam kompetisi hidup di masyarakat, hanya memiliki sedikit waktu untuk anak-anaknya. Antar elemen keluarga seperti tidak ada waktu untuk saling membicarakan masalah-masalah yang dihadapinya. Sekadar berkumpul atau bercengkerama mengenai obrolan-obrolan yang ringan pun mulai jarang. Kebanyakan renggangnya komunikasi dalam keluarga karena tidak adanya kesalingterbukaan antar anggota keluarga. Terlebih seorang anak yang menginjak usia remaja, cenderung bersikap apatis dan menjauhi komunikasi sedekat mungkin dengan orang tua. Mereka takut jika membicarakan masalahnya, semisal pacar atau teman yang nakal, akan dianggap belum saatnya pacaran dan jangan bergaul dengan anak nakal. Akibatnya anak menjadi enggan curhat kepada orang tua.

Penutup Keluarga dan agama menjadi oase di tengah kegersangan dan ketatnya persaingan hidup karena patologi sosial. Lewat keluarga, segala masalah yang berkaitan dengan lingkungan sosial (teman, tempat kerja, pacar, sekolah) bisa dituangkan dalam suasana hangat dan solutif. Keterbukaan antar anggota keluarga menjadi penting, agar semua saling mengetahui masalah masing-masing dan bersama-sama mencari solusi. Agama mengajarkan ada kekuatan yang maha tinggi di atas segala-segalanya. Kedekatan pada Tuhan akan membuat manusia senantiasa tunduk dan pasrah serta memiliki sandaran ketika menghadapi masalah yang berat. Tuhan tidak akan membebani (suatu masalah) kepada hambaNya di luar kemampuannya. Selalu ada jalan keluar terhadap masalah yang sedang dihadapi. Dari beberapa fakta diatas, dapat dikatakan bahwa

keluarga,lingkungan, pemerintah dan agama memeliki peranan yang penting dalam menangani kasus bunuh diri ini. Artinya harus ada upaya atau treatmen yang dilakukan untuk mengatasai maraknya bunuh diri ini. Karena fenomena bunuh diri merupakan slah satu patologi yang ada dalam masyarakat yang mungkin nantinya akan menjadi penyakit menular sehingga dibutuhkan pencegahan dini,

Referensi: http://www.bicaramuslim.com/bicara7/viewtopic.php? p=234781&sid=c7b18d962e420d428b44914afec74d99 diakses pada 13 maret 2010 http://en.wordpress.com/tag/jepang-bunuh-diri/ diakses pada 13 maret 2010 http://www.scribd.com/doc/14355614/makalah?secret_password=&autodown=doc diakses pada 13 maret 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->