1.

Dari yang saya ketahui tentang hukum, pengertian hukum adalah suatu ketentuan atau aturan yang
bersifat memaksa dan akan dikenai sanksi bagi yang melanggar, yang berada pada suatu
wilayah/daerah/Negara yang telah menjadi kesepakatan bersama dari seluruh unsure yang ada di
wilayah/daerah/Negara tersebut. Hukum adalah sekumpulan peraturan yang berisi perintah dan
larangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang sehingga dapat dipaksakan pemberlakuannya
berfungsi untuk mengatur masyarakat demi terciptanya ketertiban disertai dengan sanksi bagi
pelanggarnya. Hukum merupakan sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan
kelembagaan. Dari bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat
dalam berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat
maupun antar pemerintah. Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum-hukum
Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun
pidana, berbasis pada hukum Eropa continental/lama, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah
masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda. Hukum
Agama, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau
Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di
Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat yang diserap dalam perundang-undangan yang merupakan
penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah
Nusantara. Unsur-unsur hukum (gegevens van het recht) terdiri dari unsur idiil dan riil. Dikatakan
unsur idiil, karena hal tersebut terletak dalam bidang yang sangat abstrak yang tidak dapat diraba
dengan panca indera, namun kehadirannya dapat dirasakan. Unsur ini terdapat dalam diri setiap pribadi
manusia, yang terdiri dari: Unsur cipta yang harus diasah yang dilandasi logika dari beraspek kognitif
sehingga unsure ini menghasilkan ilmu tentang pengertian. Unsur karsa, harus diasah, yang dilandasi
etika dan beraspek konatif. Unsur rasa, harus diasih, yang dilandasi estetika dan beraspek afektif.
Sedangkan unsur riil terdiri dari manusia, alam dan kebudayaan yang akan melahirkan ilmu tentang
kenyataan. Unsur ini mencakup aspek ekstern-sosial dalam pergaulan hidup dalam masyarakat.
Sumber hukum yaitu segala sesuatu yang berupa tulisan, dokumen, naskah, dan sebagainya yang
dipergunakan oleh suatu bangsa sebagai pedoman hidupnya pada masa tertentu. C.S.T. Kansil
menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sumber hukum ialah, segala apa saja yang menimbulkan
aturan-aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang kalau
dilanggar mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata. Yang dimaksudkan dengan segala apa saja,
adalah faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya hukum. Sedang faktor-faktor yang
merupakan sumber kekuatan berlakunya hukum secara formal artinya ialah, dari mana hukum itu dapat
ditemukan , dari mana asal mulanya hukum, di mana hukum dapat dicari atau di mana hakim dapat
menemukan hukum sebagai dasar dari putusannya. Menurut Achmad Ali sumber hukum adalah
tempat di mana kita dapat menemukan hukum. Namun perlu diketahui pula bahwa adakalanya sumber
hukum juga sekaligus merupakan hukum, contohnya putusan hakim. Pada umumnya sumber hukum
dibedakan menjadi 2, yaitu sumber hukum formal dan sumber hukum material. Menurut Sudikno
Mertokusumo , Sumber Hukum Materiil adalah tempat dari mana materiil itu diambil. Sumber hukum
materiil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya hubungan sosial,

hubungan kekuatan politik, situasi sosial ekonomis, tradisi (pandangan keagamaan, kesusilaan), hasil
penelitian ilmiah (kriminologi, lalulintas), perkembangan internasional, keadaan geografis, dan lainlain. Sumber Hukum Formal, merupakan tempat atau sumber dari mana suatu peraturan memperoleh
kekuatan hukum. Hal ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum itu
formal berlaku. Yang diakui umum sebagai sumber hukum formal ialah UU, perjanjian antar Negara,
yurisprudensi dan kebiasaan. Sumber-sumber hukum formal membentuk pandangan-pandangan
hukum menjadi aturan-aturan hukum, membentuk hukum sebagai kekuasaan yang mengikat. Jadi
sumber hukum formal ini merupakan sebab dari berlakunya aturan-aturan hukum. Yang termasuk
sumber-sumber hukum adalah Undang-Undang, Kebiasaan, Traktat atau perjanjian internasional,
Yurispudensi, dan doktrin. Jenis-jenis hukum pada umumnya adalah hukum perdata, hukum publik,
hukum pidana, hukum acara, hukum tata negara, dan hukum internasional. Hukum perdata disebut
pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur
hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum seperti politik dan pemilu (hukum tata
negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan
(hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara seharihari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta
benda, kegiatan usaha dan tindakan-tindakan yang bersifat perdata lainnya. Hukum Perdata meliputi
antara lain hukum keluarga, hukum harta benda, hukum perikatan, dan hukum waris. Sementara itu
hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara subjek hukum dengan orang lain.atau
Hukum publik adalah hukum yang mengatur kepentingan masyarakat. Hukum publik adalah hukum
yang mengatur tentang hal-hal yang berhubungan tentang masyarakat dan menjadi hukum
perlindungan publik, misalnya hukum administrasi dan tata usaha negara, hukum pidana, dan hukum
tata negara. Hukum pidana adalah hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh
undang-undang dan berakibat diterapkannya hukuman bagi barang siapa yang melakukannya dan
memenuhi unsur-unsur perbuatan yang disebutkan dalam undang-undang pidana. Seperti perbuatan
yang dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang Korupsi, UndangUndang HAM dan sebagainya. Dalam hukum pidana dikenal 2 jenis perbuatan yaitu kejahatan dan
pelanggaran, kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi
juga bertentangan dengan nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, contohnya mencuri,
membunuh, berzina, memperkosa dan sebagainya. Sedangkan pelanggaran ialah perbuatan yang hanya
dilarang oleh undang-undang, seperti tidak pakai helem, tidak menggunakan sabuk pengaman dalam
berkendaraan, dan sebagainya. Hukum acara adalah ketentuan yang mengatur bagaimana cara agar
hukum (materiil) itu terwujud atau dapat diterapkan/dilaksanakan kepada subyek yang memenuhi
perbuatannya . Tanpa hukum acara maka tidak ada manfaat hukum materiil. Untuk menegakkan
ketentuan hukum pidana diperlukan hukum acara pidana (hukum yang mengatur tentang tata cara
beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana), untuk hukum perdata maka
ada hukum acara perdata (hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan
peradilan) dalam lingkup hukum perdata). Hukum acara ini harus dikuasai para praktisi hukum, polisi,
jaksa, pengacara, hakim. Contoh hukum acara yaitu bentuk-bentuk surat di bidang kepengacaraan

perdata. Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu antara lain dasar
pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembaga-lembaga negara, hubungan hukum (hak dan
kewajiban) antar lembaga negara, wilayah dan warga negara. Hukum Internasional adalah hukum yang
mengatur tentang hubungan hukum antar negara satu dengan negara lain secara internasional Universa,
yang mengandung dua pengertian dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit meliputi : Hukum
publik internasional. Dalam arti luas meliputi : Hukum publik internasional dan hukum perdata
internasional.contohnya adalah hukum perdagangan antar negara.
2. Dari yang saya ketahui tentang hukum perjanjian adalah hukum perjanjian terdapat dalam pasal 1313
KUH Perdata yang berisikan pengertian bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan di mana satu orang
atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih. Perjanjian disebut juga dengan
persetujuan karena di dalamnya terdapat persetujuan kedua belah pihak atau lebih untuk melakukan
sesuatu. Di dalam perjanjian harus terdapat interaksi aktif yang bersifat timbal balik di kedua belah
pihak untuk melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing. Untuk itu secara sederhana perjanjian
dapat dirumuskan sebagai sebuah perbuatan dimana kedua belah pihak sepakat untuk saling
mengikatkan diri satu sama lain. Menurut Pasal 1320 KUHPerdata perjanjian harus memenuhi 4 syarat
agar dapat memiliki kekuatan hukum dan mengikat para pihak yang membuatnya. Hal tersebut
adalah : (1). Adanya kesepakatan untuk mengikatkan diri, yaitu bahwa semua pihak menyetujui materi
yang diperjanjikan, tidak ada paksaan atau di bawah tekanan, (2). Para pihak mampu membuat suatu
perjanjian, kata mampu maksudnya adalah bahwa para pihak telah dewasa, tidak dibawah pengawasan
karena perilaku yang tidak stabil dan bukan orang yang dalam undang-undang dilarang membuat
perjanjian, (3). Ada hal yang diperjanjikan, dalam hal ini maksudnya adalah perjanjian menyangkut
hal/objek yang jelas (4). Dilakukan atas sebab yang halal/iktikad baik bukan untuk sebuah kejahatan.
Dua hal yang pertama disebut sebagai syarat subyektif dan dua hal yang terakhir disebut syarat
obyektif. Suatu perjanjian yang mengandung cacat pada syarat subyektif akan memiliki konsekwensi
untuk dapat dibatalkan. Dengan demikian selama perjanjian yang mengandung cacat subyektif ini
belum dibatalkan, maka ia tetap mengikat para pihak layaknya perjanjian yang sah. Sedangkan
perjanjian yang memiliki cacat pada syarat obyektif, maka secara tegas dinyatakan sebagai batal demi
hukum. Akibat timbulnya perjanjian tersebut, maka para pihak terikat didalamnya dituntut untuk
melaksanakannya dengan baik layaknya undang-undang bagi mereka. Hal ini dinyatakan Pasal 1338
KUHPerdata, yaitu: (1) perjanjian yang dibuat oleh para pihak secara sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya. (2) perjanjian yang telah dibuat tidak dapat ditarik kembali
kecuali adanya kesepakatan dari para pihak atau karena adanya alasan yang dibenarkan oleh undangundang. (3) Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikat baik. Setelah perjanjian timbul dan mengikat
para pihak, hal yang menjadi perhatian selanjutnya adalah tentang pelaksanaan perjanjian itu sendiri.
Menurut KUHPerdata, bila salah satu pihak tidak menjalankan, tidak memenuhi kewajiban
sebagaimana yang tertuang dalam perjanjian atau pun telah memenuhi kewajibannya namun tidak
sebagaimana yang ditentukan, maka perbuatannya tersebut dikategorikan sebagai wanprestasi. Dalam
prakteknya untuk menyatakan seseorang telah melanggar perjanjian dan dianggap melakukan
wanprestasi, ia harus diberi surat peringatan terlebih dahulu (somasi). Surat somasi tersebut harus

menyatakan dengan jelas bahwa satu pihak telah melanggar ketentuan perjanjian (cantumkan pasal dan
ayat yang dilanggar). Disebutkan pula dalam somasi tersebut tentang upaya hukum yang akan diambil
jika pihak pelanggar tetap tidak mematuhi somasi yang dilayangkan. Somasi yang tidak diindahkan
biasanya akan diikuti dengan somasi berikutnya (kedua) dan bila hal tersebut tetap diabaikan, maka
pihak yang dirugikan dapat langsung melakukan langkah-langkah hukum misalnya berupa pengajuan
gugatan kepada pengadilan yang berwenang atau pengadilan yang ditunjuk/ditentukan dalam
perjanjian. Mengenai hal ini Pasal 1238 KUHPerdata menyebutkan: “debitur dinyatakan lalai dengan
surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari perikatan sendiri, yaitu
bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang
ditentukan.” Sebagai konsekwensi atas perbuatannya, maka pihak yang telah melakukan wanprestasi
harus memberikan ganti rugi meliputi biaya-biaya yang telah dikeluarkan berkenaan dengan
pelaksanaan perjanjian, kerugian yang timbul akibat perbuatan wanprestsi tersebut serta bunganya.
Dalam Pasal 1243 KUHPerdata disebutkan bahwa penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak
dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai
untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat
diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui tenggang waktu yang telah ditentukan.
Selanjutnya ditegaskan kembali oleh Pasal 1244 KUHPerdata bahwa debitur harus dihukum untuk
mengganti biaya, kerugian dan bunga, bila ia tidak dapat membuktikan bahwa tidak dilaksanakannya
perikatan itu atau tidak tepatnya waktu dalam melaksanakan perikatan itu disebabkan oleh suatu hal
yang tak terduga, yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya, walaupun tidak ada itikad buruk
padanya. Berbeda halnya jika terjadi dalam keadaan memaksa atau hal-hal yang secara kebetulan satu
pihak tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka keharusan untuk mengganti segala biaya, kerugian
dan bunga sebagaimana dinyatakan di atas tidak perlu dilakukan (Pasal 1245 KUHPerdata).
Hubungan antara hukum perjanjian dengan hukum perikatan adalah sangat erat kaitannya,
perjanjian secara umum adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lainnya atau
dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa itulah maka
timbul suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Dalam bentuknya,
perjanjian merupakan suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang
diucapkan atau ditulis. Sedangkan definisi dari perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua
orang atau dua pihak, berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang
lain, dan pihak yang lain berkewajiban untuk memenuhi tuntutan. Pihak yang menuntut disebut
sebagai kreditur sedangkan pihak yang dituntut atau berkewajiban memenuhi tuntutan disebut debitur.
Perikatan adalah suatu pengertian yang abstrak, sedangkan perjanjian adalah suatu hal yang konkret
atau suatu peristiwa. Perikatan lahir karena suatu persetujuan atau karena undang-undang. Semua
persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah
pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh undang-undang. Tiap perikatan dapat dipenuhi
oleh siapa pun yang berkepentingan, seperti orang yang turut berutang atau penanggung utang. Suatu
perikatan bahkan dapat dipenuhi oleh pihak ketiga yang tidak berkepentingan, asal pihak ketiga itu

bertindak atas nama dan untuk melunasi utang debitur, atau asal ia tidak mengambil alih hak-hak
kreditur sebagai pengganti jika ia bertindak atas namanya sendiri. Jadi hubungan antara perikatan dan
perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan perikatan. Perjanjian adalah salah satu sumber
perikatan. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu setuju untuk melakukan
sesuatu. Sebagai contohnya yaitu A membuat perjanjian untuk meminjamkan mobil kepada B dengan
syarat B membayar biaya sewa kepada A, dari perjanjian itu, muncul hak dan kewajiban. A memiliki
hak untuk mendapatkan uang sewa mobil dari pihak B, sedangkan B berkewajiban untuk melunasi
uang sewa dan mengembalikan mobil tersebut sesuai perjanjian kepada A. dari contoh tersebut dapat
diketahui bahwa Perjanjiannya adalah A dengan B, sedangkan perikatannya adalah hak dan kewajiban
yang timbul antara A dan B setelah terjadi perjanjian tersebut.
3. Hubungan kerja adalah merupakan suatu hubungan yang timbul akibat adanya perjajnjian atau
interaksi antar pihak yang membutuhkan dalam dunia kerja. Ada 2 macam hubungan kerja secara
besar yaitu hubungan kerja internal dan hubungan kerja eksternal. Hubungan kerja internal adalah
hubungan yang terjadi di dalam perusahaan itu sendiri. Sedangkan hubungan kerja eksternal yaitu
hubungan ke luar perusahaan itu sendiri. Yang terpenting dari hubungan kerja tersebut adalah sifat,
karakter maupun jenis hubungan kerja. Pembagian jenis hubungan kerja ini bisa bersifat fungsional,
instruksional, koordinasi, informasi, konsultaasi, kemitraan maupun rekomendasi. Dalam hubungan
kerja internal terkait pula dengan hak dan kewajiban pekerja dan pengusaha, hal ini disebabkan
keduanya terikat perjanjian yang menyebabkan timbulnya hubungan kerja. Hak pekerja antara lain
pekerja berhak atas upah dan tunjangan, kejelasan status pekerja, dan hak atas perlakuan yang baik
oleh atasan. Kewajiban pekerja antara lain melaksanakan tugas dengan baik sesuai perjanjian, mentaati
segala peraturan kerja, dan melaksakan tugas tanpa bantuan orang lain kecuali atas izin dari atasan.
Sedangkan hak bagi pengusaha adalah memiliki hak sepenuhnya atas hasil kerja, hak atas ditaatinya
aturan yang diberikan kepada pekerja, berhak atas perlakuan yang sopan dan wajar dari pekerja, dan
berhak untuk melaksanakan peraturan yang dibuat oleh pengusaha. Kewajiban pengusaha meliputi
wajib memberi upah sesuai ketentuan yang disepakati, wajib mengatur segala sesuatu yang berada di
bawah tanggung jawabnya, berkewajiban menyediakan fasilitas-fasilitas kerja, tempat kerja, dan alat
kerja, berkewajiban memberi jaminan sosial baik diberikan sendiri maupun melalui Asuransi Sosial
Tenaga Kerja, dan juga berkewajiban memberikan surat keterangan yang menerangkan bahwa pekerja
benar bekerja di perusahaan apabila diminta pekerja. Di dalam hubungan kerja internal terdapat 3
unsur yaitu kerja, upah, dan perintah. Contoh dari hubungan kerja internal yaitu hubungan dengan
perwakilan managemen dalam hal sistem manajemen korporasi, SPI dalam hal pengawasan internal,
dan hubungan lain yang bersifat struktural. Sedangkan untuk hubungan kerja eksternal meliputi
hubungan kerja dengan badan/lembaga/organisasi lain yang berada di luar perusahaan itu sendiri
namun masih memiliki keterkaitan karena keduanya saling berinteraksi untuk operasional perusahaan.
Sebagai contoh yaitu hubungan perusahaan dengan lembaga penyedia tenaga kerja dalam hal
memenuhi tenaga kerja, perusahaan dengan Kantor Departemen Tenaga Kerja yang terkait
kepegawaian, dan perusahaan dengan biro penyelenggara tes kepegawaian dalam hal evaluasi dan
pengembangan SDM. Antara Pengusaha dengan pimpinan perusahaan yaitu jika pengusaha adalah

pemilik/pendiri dari suatu badan usaha dimana ia berhak untuk menentukan apakah dia menjadi
pimpinan perusahaan atau menunjuk orang lain sebagai pimpinan perusahaan. Sedangkan pimpinan
perusahaan adalah orang yang diberi kuasa oleh pengusaha, baik oleh sebab ditunjuk menjadi
pemimpin perusahaan ataupun karena keinginan sendiri (jika berlaku sebagai pemilik perusahaan).
Sebagai contoh yaitu perusahaan X didirikan oleh Mr A, ia bisa saja menjadi pemimpin perusahaan itu
akan tetapi Mr A memilih menunjuk Mr B yang bukan pendiri tetapi memiliki kemampuan untuk
memimpin perusahaan sebagai pimpinan perusahaan. Dari kasus ini jelas bahwa pimpinan perusahaan
belumlah tentu pendiri perusahaan.
4. Antar PT (NV) dengan PT (persero) yang GO PUBLIK tidaklah sama, PT merupakan badan usaha
yang permodalannya sepenuhnya swasta/pribadi. Sedangkan persero sebagian besar modalnya dimiliki
oleh pemerintah. Selain itu, PT jika merujuk dari namanya merupakan badan usaha yang memiliki
jumlah tanggung jawab yang terbatas dari jumlah nominal saham. Dalam pasal 1 butir (1) UUPT
disebutkan bahwa perseroan/PT adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha denga modal dasar yang seluruhnya terbagi dalm saham, dan memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang serta peraturan pelaksanaannya. Perseroan harus
didirikan dengan akta otentik sesuai ketentuan pasal 7 ayat (1) UUPT yaitu pendirian perseroan harus
dibuat dengan akta otentik di mua notaries mengingst perseroan termasuk badan hukum. Menurut
organ perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi, dan komisaris. RUPS adalah
organ perseroan yang memegang kekuasaan tertinggi dalam perseroan dan memegang segala
wewenang yang tidak diserahkan kepada direksi atau komisaris. Sedangkan persero merupakan badan
usaha dimana permodalannya sebagian besar berasal dari pemerintah dan modal swasta dibatasi.
Modal yang berasal dari swasta dibatasi hingga maksimal 49% dan sebesar 51% adalah milik negara
dari kekayaan negara yang dipisahkan, selain itu pendirian persero harus diusulkan oleh menteri
kepada presiden, pendirian dilakukan oleh mentri dengan memperhatikan perundang-undangan,
menteri yang ditunjuk memiliki kuasa sebagai pemegang saham milik pemerintah, dan pegawainya
berstatus pegawai negeri. Fungsi RUPS dalam persero pemerintah ialah memegang segala wewenang
yang ada dalam perusahaan tersebut. RUPS juga berwenang untuk mengganti komisaris dan direksi.
Direksi persero adalah orang yang bertanggung jawab atas pengurusan persero baik didalam maupun
diluar pengadilan. Pengangkatan dan pemberhentian dilakukan oleh RUPS. Komisaris adalah organ
persero yang bertugas dalam pengawasan kinerja persero itu, dan melaporkannya pada RUPS. Untuk
perusahaan yang GO PUBLIK merupakan perusahaan yang menjual sahamnya ke masyarakat, seperti
yang dilakukan oleh Pertamina, manfaat yang dapat diperoleh dari Go Publik antar lain mendapat
tambahan modal dari masyarakat, risiko ditanggung bersama dengan investor, perusahaan menjadi
lebih bonafit, karena sebelum go public, perusahaan harus menjalani proses yang ketat terlebih dahulu,
dan perusahaan go public akan mendapatkan potongan PPh sebesar 5%.
5. Ditinjau dari segi hukum bisnis, arti penting dari nama perusahaan adalah sangat penting. Nama
perusahaan dari aspek hukum bisnis di Indonesia memiliki arti penting sebab dengan nama perusahaan
itu suatu peusahaan bisa menlakukan hubungan hukum dengan pihak lain serta bisa melakukan
kewajiban hukumnya, seperti memperoleh perizinan pendirian usaha, pendaftaran perusahaan,

pembayaran pajak, dan pembayaran utang. Selain itu nama perusahaan itu akan menjadi identitas
khusus atau sebutan bagi perusahaan berangkutan, sehingga untuk berbagai keperluan hukum dan
bisnis akan mempermudah proses pengurusannya, contoh: PT Gudang Garam Tbk., PT Sampoerna
Tbk., PT Unilever Tbk., dan lain sebagainya. Merk dagang merupakan investasi jangka panjang
perusahaan yang apabila dikelola dengan maksimal akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan yang
mengelolanya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa merek-merek global yang sudah bertahan puluhan tahun
beberapa diantaranya kini berhasil menjadi merek-merek termahal karena dikelola oleh perencanaan manajemen
merk yang sukses. Ada kalanya perusahaan berpikir bahwa berinvestasi pada aset seperti gedung, tanah dan
mesin adalah investasi riil yang memberikan suatu manfaat bagi perusahaan dibandingkan berinvestasi pada
merek. Dalam jangka waktu yang lebih lama sebenarnya dapat dilihat bahwa berinvestasi pada merk
memberikan hasil yang lebih menguntungkan. Ada kalanya perusahaan akan dijual oleh pemiliknya beserta
merek yang menjadi portofolio perusahaan kepada investor untuk mendapatkan keuntungan. Walau berganti
pemilik setelah bisnis / perusahaan tersebut dibeli, perusahaan dapat melanjutkan langkah perjalanan merk yang
panjang dan terencana, sehingga dapat menghasilkan keuntungan lebih besar bagi perusahaan, terlebih lagi bagi
investor yang memilikinya. Sejumlah contoh penentuan posisi merek (brand positioning) yang sukses adalah
Toyota (dapat dipercaya, berorientasi keluarga), Raffles Hotel (dewasa, aristokratis), Sony (kreatif), Tiger Balm
(kuat sekaligus lembut) dan Lexus (kualitas). Sangat pentingnya merk dagang tersebut hingga ada ungkapan
yang terkenal ” Gedung-gedung termakan oleh usia dan menjadi rusak. Mesin-mesin menjadi aus. Manusia
Meninggal. Namun merek tetap bertahan ”- Sir Hector Laing – (CEO United Biscuits plc). Sebagai contoh di
Indonesia yaitu pada merk kartu seluler, meskipun merupakan produk berjenis sama, antara IM3, AXIS,

AS, 3, KartuHalo, Fren, maupun FLEXI memiliki perbedaan baik dalam pemilihan ukuran tulisan,
bentuk (jenis), dan warnanya. Hal ini masih berbeda juga jika dibandingkan dengan produk-produk
yang lain. Sedangkan logo dagang merupakan suatu bentuk gambar atau sekedar sketsa dengan arti
tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, perkumpulan, produk, negara, dan hal-hal
lainnya yang dianggap membutuhkan hal yang singkat dan mudah diingat sebagai pengganti dari nama
sebenarnya. Logo menjadi “wakil” perusahaan dalam otak masyarakat. Ketika masyarakat dihadapkan
pada suatu bentuk grafis tertentu sebagai sebuah stimulus, otak akan memberi makna melalui asosiasi
dengan atribut-atribut tertentu. Inilah yang membentuk citra (image), jika logo itu merupakan wakil
sebuah perusahaan. Itulah yg disebut corporate image. Corporate identity adalah sesuatu yang
disodorkan oleh perusahaan, dan corporate image adalah persepsi khalayak terhadap identitas yang
disodorkan. Logo diharapkan menjadi jendela untuk masuk ke dalam persepsi masyarakat dan pada
kondisi tertentu dapat digunakan untuk mengubah citra, seperti ketika BNI kesandung kasus lantas
mengganti logonya dengan angka 46.
6. Dalam mendirikan perusahaan kadangkala perusahaan merasa kesulitan dalam pembiayaan financial
sehingga harus melakukan pinjaman kepada lembaga kreditur semacam bank. Bank selaku kreditur
sebelum memberikan pinjaman harus mendapatkan informasi yang akurat seperti karakter calon
peminjam, pengaruh kondisi ekonomi saat ituu dengan pendapatan calon debitur, jaminan yang
ditawarkan dan lain sebagainya. Setelah bank menyatakan calon debitur lolos seleksi tersebut, bank
memberikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon debitur, adapun syarat dan prosedur
pengajuan kredit ke bank yang dilakukan perusahaan antara lain : (1) Kopi identitas diri dari para

pengurus perusahaan (direktur & komisaris), (2) Kopi NPWP (Nomor Pokok wajib pajak), (3) Kopi
SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan ), (4) Kopi Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris, (5) Kopi TDP
(Tanda Daftar Perusahaan), Poin nomor 1 s/d 5 akan digunakan oleh bank untuk memeriksa
keabsahan/ legalitas antara apa yang tercantum di akte pendirian dengan bidang usahanya, segala surat
perizinannya dan kewajiban pajaknya terhadap negara. (6) Kopi rekening koran/giro atau buku
tabungan di bank manapun selama 6 s/d 3 bulan terakhir. (7) Data keuangan lainnya, seperti neraca
keuangan, laporan rugi laba, catatan penjualan & pembelian harian, dan data pembukuan lainnya. Poin
nomor 6 dan 7 digunakan Bank untuk melakukan berbagai analisa keuangan terhadap calon
debiturnya. Kesanggupan debitur dalam membayar kembali hutangnya akan dianalisa dari berbagai
sisi, seperti: kesanggupan dalam membayar kembali hutang jangka pendeknya, kemampuan dan
efektivitas manajemen dalam mengelola sumber-sumber yang dimilikinya, kemampuan dalam
mencetak laba, dan sebagainya. Untuk Kredit Usaha dan Kredit Serba Guna, jaminan yang diminta
biasanya bervariasi seperti tanah, rumah tinggal, ruko, apartemen, kendaraan, pabrik dan lain–lain.
Untuk menilai apakah jaminan yang diajukan layak untuk dijaminkan maka Bank akan menilai
kembali jaminan yang diajukan, biasanya Bank memiliki tim penilai sendiri dalam menilai jaminan
tersebut, walaupun terkadang bank juga sesekali memakai tim penilai jaminan dari luar.
7. Pembukuan perusahaan erat kaitannya dengan sistem akuntansi, sistem akuntansi adalah metode dan
prosedur untuk mencatat dan melaporkan informasi keuangan yang disediakan bagi perusahaan atau
suatu organisasi bisnis. Sistem akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan besar sangat kompleks.
Kompleksitas sistem tersebut disebabkan oleh kekhususan dari sistem yang dirancang untuk suatu
organisasi bisnis sebagai akibat dari adanya perbedaan kebutuhan akan informasi oleh manajer, bentuk
dan jalan transaksi laporan keuangan. Sistem akuntansi terdiri atas dokumen bukti transaksi, alat-alat
pencatatan, laporan dan prosedur yang digunakan perusahaan untuk mencatat transaksi-transaksi serta
melaporkan hasilnya. Pembukuan yang diwajibkan adalah pembukuan yang sesuai dengan prinsipprinsip akuntansi yang berlaku secara umum dan dilaporkan berdasarkan Standar Akuntansi
Keuangan Indonesia, Pengertian pembukuan sesuai dengan penjelasan pasal 16 UU 39/2007 tentang
Cukai berbunyi "Suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data
dan informasi yang meliputi dan mempengaruhi keadaan harta, hutang, modal dan pendapatan, dan
biaya yang secara khusus menggambarkan jumlah harga perolehan dan penyerahan barang atau jasa
yang kemudian diikhtisarkan dalam laporan keuangan”. Mereka yang mempunyai kepentingan
terhadap perkembangan suatu perusahaan sangatlah perlu untuk mengetahui kondisi keuangan
perusahaan tersebut, dimana kondisi keuangan suatu perusahaan tercermin dalam laporan
keuangannya. Pembukuan berguna sebagai alat kontrol, yaitu untuk mengetahui dan mengatur
pemasukan serta biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan. Pembukuan perusahaan dalam hukum
bisnis di Indonesia memiliki arti yang penting. Pembukuan perusahaan berfungsi sebagai pencatat
kekayaan, kewajiban, modal, dan segala sesuatu menyangkut laporan keuangan perusahaan. Maka
pembukuan perusahaan ini memungkinkan perusahaan untuk mengetahui tingkat ketercapaian dan
kebijakan yang hendak diambil. Pembukuan perusahaan juga memungkinkan penyelesaian urusan
administrasi perusahaan terkait secara tertib dan rapi. Selain itu biasanya nilai dari laporan pembukuan

perusahaan ini nantinya juga mempengaruhi pada pemenuhan kewajibannya dalam pembayaran pajak
pada negara. Manfaat lain dari pembukuan yang tertib adalah dalam hal pengambilan keputusan,
dengan melihat data-data keuangan, seorang pengusaha bisa menilai bahwa usahanya tengah
berkembang dan memerlukan ekspansi, Tapi, bisa juga sebaliknya, usaha tersebut sudah tidak bisa
dipertahankan lagi dan lebih baik ditutup agar tidak menyebabkan kerugian lebih parah. Manfaat
pembukuan yang berikutnya berkaitan erat dengan urusan perpajakan, tanpa pembukuan, penghitungan
pajak akan sangat sulit dilakukan. Ada lagi manfaat penting dari pembukuan, yaitu ketika perusahaan
harus berhubungan dengan pihak ketiga. Biasanya menyangkut permodalan perusahaan. Misalnya saja,
ketika perusahaan akan dijual kepada pihak ketiga. Dari laporan keuangan itu bisa diketahui berapa
nilai perusahaan. Pembukuan laporan keuangan juga sangat diperlukan ketika mengajukan kredit
kepada bank. Sedangkan tujuan dari pembukuan menurut Prinsip akutansi Indonesia 1984 adalah
memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban serta modal suatu perusahaan, memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai
perubahan dalam sumber ekonomi neto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul
dari aktivitas perusahaan dalam rangka memperoleh laba, memberikan informasi keuangan yang
membantu para pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba,
memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi dan
kewajiban seperti informasi mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman, dan yang terakhir
adalah untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan
keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan, seperti informasi mengenai kebijaksanaan
akutansi yang dianut perusahaan.
8. Hak Cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil
penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin
suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi
penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku
tertentu yang terbatas. Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau "ciptaan".
Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis
(tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto,
perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.
Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara
mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas
penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu,
melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya. Berdasarkan Undang-undang Nomor
19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi
pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan
izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1). Sedangkan Hak Paten hak eksklusif yang diberikan oleh
Negara kepada Inventor (penemu) atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu
tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain

untuk melaksanakannya. Yang dimaksud inventor adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa
orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang
menghasilkan Invensi, invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan
pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau
penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses. Secara umum, ada tiga kategori besar
mengenai subjek yang dapat dipatenkan: proses, mesin, dan barang yang diproduksi dan digunakan.
Proses mencakup algoritma, metode bisnis, sebagian besar perangkat lunak (software), teknik medis,
teknik olahraga dan semacamnya. Mesin mencakup alat dan aparatus. Barang yang diproduksi
mencakup perangkat mekanik, perangkat elektronik dan komposisi materi seperti kimia, obat-obatan,
DNA, RNA, dan sebagainya, sedangkan kebenaran matematika, termasuk yang tidak dapat dipatenkan.
Syarat hasil temuan yang akan dipatenkan di Indonesia adalah baru (belum pernah diungkapkan
sebelumnya), mengandung langkah inventif (tidak dapat diduga sebelumnya), dan dapat diterapkan
dalam industri. Jangka waktu perlindungan untuk paten ‘biasa’ adalah 20 tahun, sementara paten
sederhana adalah 10 tahun. Paten tidak dapat diperpanjang. Untuk memastikan teknologi yang diteliti
belum dipatenkan oleh pihak lain dan layak dipatenkan, dapat dilakukan penelusuran dokumen paten.
Ada beberapa kasus khusus penemuan yang tidak diperkenankan mendapat perlindungan paten, yaitu
proses / produk yang pelaksanaannya bertentangan dengan undang-undang, moralitas agama,
ketertiban umum atau kesusilaan; metode pemeriksaan, perawatan, pengobatan dan/atau pembedahan
yang diterapkan terhadap manusia dan/atau hewan; serta teori dan metode di bidang matematika dan
ilmu pengetahuan, yakni semua makhluk hidup, kecuali jasad renik, dan proses biologis penting untuk
produksi tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologis atau proses mikro-biologis. Hak paten dan
hak cipta pada umumnya sulit dibedakan, akan tetapi dapat kita kenali, hak cipta pada umumnya
terdapat pada suatu produk yang memiliki tanda c ditengah lingkaran/ ©.
9. Transaksi dengan sistem Kredit adalah suatu mekanisme pembayaran yang memungkinkan seseorang
atau badan usaha untuk meminjam uang untuk membeli produk dan membayarnya kembali dalam
jangka waktu yang ditentukan. Transaksi kredit ini sangat membantu bagi orang yang ingin
mendapatkan suatu barang akan tetapi masih belum dapat melakukan pembayaran secara tunai
dikarenakan suatu hal. Metode pembayaran kredit ada yang berbunga potongan dan ada pula yang
tidak, resiko yang ditanggung bagi penjual relative kecil karena pada umumnya sistem kredit
mengharuskan pembeli untuk memberi jaminan atau membayar beberapa persen terlebih dahulu. Dalm
transaksi kredit pembayaran biasa dilakukan dengan membayar secara angsuran, jual beli dengan
angsuran adalah jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara
menerima pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran atas
harga barang yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik
atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barangnya diserahkan oleh penjual
kepada pembeli Sedangkan untuk transaksi sewa-beli/hire-purchase adalah jual beli barang dimana
penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang
dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga barang yang telah disepakati bersama dan yang
diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada

pembeli setelah jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual. Cara pembayarannya
yaitu pihak pembeli mengangsur barangnya dengan tempo atau waktu yang disepakati,transaksi model
sewa beli ini biasanya berhasil dijalankan jikalau pihak penjual telah mensurvay si pembeli sesuai dari
persyaratan data pribadi pembeli (KTP & KK), kepemilikan atas nama barang tersebut selama masih
dalam masa mengangsur belum menjadi milik pembeli dengan demikian selama masa tersebut barang
atau produk tidak boleh diperjualkan kembali. Sejak dikeluarkan peraturan pemerintah no.34/KP/II/80
pemerintah tidak pernah lagi merevisi ataupun mengevaluasi aturan tersebut bahkan belakangan ini KP
sewa beli(hire purchase) telah dihilangkan atau dihapuskan, pemerintah memandang perkembangan
industri sewa beli di Indonesia tidak berkembang dengan baik. Dalam hal sewa beli dikelompokkan
pada jual beli ataukah sewa-menyewa, perjanjian tersebut merupakan perjanjian campuran di mana
dalam ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian khusus diterapkan secara analogis, sehingga setiap
unsur dari perjanjian khusus tetap ada. Umumnya sewa beli menggunakan bentuk perjanjian baku
(standard form contact) yang mengikat penjual dan pembeli. Klausul-klausul dalam perjanjian tersebut
telah dibuat sebelumnya oleh pihak penjual tanpa melibatkan pihak pembeli dan pembeli hanya tinggal
menandatanganinya. Dalam standard form contract, pembeli disodori perjanjian dengan syarat-syarat
yang ditetapkan sendiri oleh penjual, sedangkan pembeli hanya dapat mengajukan perubahan pada halhal tertentu saja, seperti tempat penyerahan barang dan cara pembayaran, di mana hal ini pun bila
dimungkinkan oleh penjual. Salah satu contoh persoalan yang timbul adalah klausul hari jatuh tempo
pembayaran, yaitu persyaratan mengenai hak penjual menarik obyek perjanjian, apabila pembeli
mengalami kemacetan dalam pembayaran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful