P. 1
Psikologi Bencana - MerPsy Majalah Psikologi Maret2010

Psikologi Bencana - MerPsy Majalah Psikologi Maret2010

|Views: 1,398|Likes:
Published by Juneman Abraham
Edisi MerPsy ini membahas tentang Psikologi Bencana.
“MerPsy”, ber-ISSN 2085-5486, merupakan sebuah majalah psikologi populer yang bertujuan menyajikan pemberitaan beserta pengkajian dalam kemasan populer terhadap dinamika psikologis kehidupan manusia Indonesia. Eksplisitasi kata “Psychology” dalam nama majalah ini menjadi corak khas yang belum banyak ditawarkan oleh kebanyakan majalah yang lain, yakni pemaknaan psikologis terhadap segala peristiwa kehidupan kita. Pembaca yang ingin mengkontribusikan tulisan orisinalnya, bertanya, mengkritik, berkonsultasi, dan memasang advertensi/advertorial dipersilakan menghubungi Redaksi MerPsy melalui nomor telepon/fax/alamat surat elektronik sebagaimana tercantum di bawah ini.

Pemimpin Redaksi
Erna Multahada, S.H.I., M.Si.

Wakil Pemimpin Redaksi
Juneman, S.Psi., C.W.P.
Edisi MerPsy ini membahas tentang Psikologi Bencana.
“MerPsy”, ber-ISSN 2085-5486, merupakan sebuah majalah psikologi populer yang bertujuan menyajikan pemberitaan beserta pengkajian dalam kemasan populer terhadap dinamika psikologis kehidupan manusia Indonesia. Eksplisitasi kata “Psychology” dalam nama majalah ini menjadi corak khas yang belum banyak ditawarkan oleh kebanyakan majalah yang lain, yakni pemaknaan psikologis terhadap segala peristiwa kehidupan kita. Pembaca yang ingin mengkontribusikan tulisan orisinalnya, bertanya, mengkritik, berkonsultasi, dan memasang advertensi/advertorial dipersilakan menghubungi Redaksi MerPsy melalui nomor telepon/fax/alamat surat elektronik sebagaimana tercantum di bawah ini.

Pemimpin Redaksi
Erna Multahada, S.H.I., M.Si.

Wakil Pemimpin Redaksi
Juneman, S.Psi., C.W.P.

More info:

Published by: Juneman Abraham on May 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/09/2013

pdf

text

original

www.mercubuana.ac.

id

U N I V E R S I T A S

Utama
Psikologi Pelayanan Penyintas Bencana

Lanskap
Penilaian Kognitif akibat Terorisme dan Cinta Tanah Air: Melawan Stres? PTSD; Calon Kriteria baru PTSD

Humaniora
Jangan Depresi karena Berat Badan

Makna Sebuah Ujian
Wawancara Eksklusif dengan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Ragam Sorot Psikologi
Psikologi Kewirausahaan, Psikologi Bencana, Psikologi Sosial Psikologi Agama, Psikologi Komunikasi, Psikologi Biologi, Psikosinema

Cerpen
Melawan Dunia Saat Terjatuh dan Menantang Hari Tuk kembali Berdiri

Tips
Jangan Biarkan Kecemasan Mengendalikan Hidup Anda
ISSN_2085-5486

UMB

24 021-333 80 800 Jam

Fotografi
Alamku
Vol1 No2 Maret 2010

UNIVERSITAS MERCU BUANA
FAKULTAS PSIKOLOGI FAKULTAS (S1) PSIKOLOGI (S1) STAF PENGAJAR
Staf pengajar berlatar belakang STAF PENGAJAR pendidikan S2 dan S3 dari lulusan dalam negeri dan luar negeri, Staf pengajar berlatar belakang antara lain : pendidikan S2 dan S3 dari lulusan dalam negeri Markum, M.Si dan luar negeri, Prof. Dr. M. Enoch antara lain Prof. Dr. Agus Djoko Santoso, SU : Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Si Prof. Dr. M. Enoch Markum, M.Si Dr. Syahrial Syarbaini, M.Si Prof. Dr. Agus dr. Airiza Ahmad SU Dr. Djoko Santoso, Dr. A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Si Erna Multahada, SHI, M.Si Dr. Syahrial Syarbaini, M.Si Filino Firmansyah, M.Psi Dr. dr. Airiza Ahmad Ika Susanti, M.Psi Erna Multahada, SHI, M.Si Lidianti, M.Psi Filino Firmansyah, M.Psi Dra. Nunnie R. Widagdo, MM Ika Susanti, M.Psi Ir. Purwanto SK, M.Si Lidianti, M.Psi Rah Madya Handaya, M.Psi Dra. Nunnie R. Widagdo, MM Sitawaty Tjiptorini, MBA, M.Psi Ir.Sulistiyono, M.Si Purwanto SK, M.Si Drs. S.S. Rah Madya Handaya, M.Psi Dra. Tika Bisono, M.Si Sitawaty Tjiptorini, MBA, M.Psi Zakiyatul Fitri, M.Psi Drs. S.S. Sulistiyono, M.Si Sri Wulandari, S.Psi Dra. Tika Bisono, M.Si dan lain lain Zakiyatul Fitri, M.Psi Sri Wulandari, S.Psi dan lain lain

FASILITAS LEMBAGA PSIKOLOGI TERAPAN FASILITAS Untuk pengabdian masyarakat maka disediakan LEMBAGA PSIKOLOGI TERAPAN
fasilitas layanan Psikologi Terapan sebagai

Untuk berikut: pengabdian masyarakat maka disediakan fasilitas layanan Psikologi Terapan sebagai -Pusat Pelayanan Psikologi Perkembangan berikut: -Pusat Pelayanan Psikologi Industri -Pusat Pelayanan Bisnis -Pusat Pelayanan Psikologi Perkembangan -Pusat Pelayanan Psikologi Industri -Pusat Pelayanan Bisnis PROSPEK PROFESI LULUSAN
Lulusan Program Studi Psikologi dapat berkarir di PROSPEK PROFESI LULUSAN bidang konsultan psikologi perkembangan, pendidikan, klinis, sosial, industri dan organisasi. Lulusan Program Studi Psikologi dapat berkarir di Kemudian dapat juga berkarir sebagai pengelola bidang konsultan psikologi perkembangan, Sumber Daya Manusia (SDM), pendidik, trainer, pendidikan, klinis, sosial, industri dan organisasi. peneliti dan lain-lain. Kemudian dapat juga berkarir sebagai pengelola Sumber Daya Manusia (SDM), pendidik, trainer, Website dan lain-lain. peneliti

Fakultas Psikologi diselenggarakan sebagai pusat unggulan yang bermanfaat bagi pengembangan SDM profesional yang berkualitas. Psikologi diselenggarakan sebagai pusat unggulan Fakultas Dirancang untuk menghasilkan sarjana psikologi yang cerdas emosi, bagi pengembangan SDM profesional yang yang bermanfaat spiritual, dan berhati mulia. Di antara misinya adalah menumbuhkan menghasilkan sarjana psikologi berkualitas. Dirancang untuk jiwa wirausaha dan sikap mental, cerdas emosi, spiritual, dan berhati dalam Di antara yang perilaku beretika bagi mahasiswa mulia. bidang psikologi, serta menyelenggarakan lembaga bantuan psikologi misinya adalah menumbuhkan jiwa wirausaha dan sikap bagi perkembangan beretika bagi mahasiswa masyarakat. mental, perilaku industri, organisasi, dan dalam bidang Menghasilkan sarjana terampil dalam menggunakan psikologi, serta menyelenggarakan lembaga bantuan psikologi pemikiran ilmiah, memiliki kemampuan menganalisis dan bagi perkembangan industri, organisasi, dan masyarakat. merancang kajian psikologi yang sesuai dalam karakteristik Menghasilkan sarjana terampil dengan menggunakan dan kultur organisasi usaha ataukemampuan menganalisis dan pemikiran ilmiah, memiliki industri menjadi kompetensi utama. merancang kajian psikologi yang sesuai dengan karakteristik

http://fpsi.mercubuana.ac.id
BIAYA STUDI :

ORGANISASIRp. 3.000.000,a. Biaya Fasilitas :

Rp. 200.000,Penasihat Akademik c. Uang Paket Buku (hanya 1 kali bayar) : Prof. Dr. M. Enoch Markum, M.Si. Rp. 300.000,-

b. Biaya Uang Kemahasiswaan tahun pertama:

e. BPP SKS : Rp. 100.000,-Per SKS Dekan Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Si. Catatan :

d. BPP Pokok Per Semester : Rp. 2.400.000,-

dan kultur organisasi usaha atau industri menjadi kompetensi FASILITAS LABORATORIUM
Untuk menunjang proses belajar mengajar maka disediakan fasilitas Laboratorium sebagai berikut: FASILITAS LABORATORIUM

Wakil Dekan Biaya Fasilitas diatas untuk yang mendaftar dan membayar S.Psi., Psikolog Sri Wulandari, di Gelombang I, untuk Gelombang II

utama.

Rp.1.000.000,Ketua Program Studi S1 Semua Biaya Studi di atas dapat diangsur sesuai Sitawaty Tjiptorini, M.B.A., M.Psi., Psikolog kemampuan

ditambah Rp.500.000, dan Gelombang III ditambah

Untuk menunjang proses belajar Organisasi -Laboratorium Psikologi Industri danmengajar maka disediakan fasilitas Laboratorium sebagai berikut: -Laboratorium Usia Sekolah dan Remaja
-Laboratorium Klinis Dewasa dan Anak-Anak -Laboratorium Psikologi Industri dan Organisasi - dan lain - lain Usia Sekolah dan Remaja -Laboratorium

di UMB Koordinator Laboratorium Psikologi (TesBiaya Fasilitas dan diangsur selama 1 semester Psikologis bisa Asesmen) BPP Pokok dan SKS bisa diangsur 6 kali dalam 1 Dra. semesterRetna Widagdo, M.M., Psikolog Nunnie

Biaya fasilitas dibayarkan hanya 1 kali selama studi

-Laboratorium Klinis Dewasa dan Anak-Anak - dan lain - lain

a+b+c+d) minimal Rp. 1.000.000,- yang Koordinator Laboratorium Jasa Bisnis dan dibayarkan 14 hari Psikologi Industri setelah dinyatakan lulus seleksi Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Si.

Pembayaran Total Pertama (angsuran pertama

Koordinator Jurnal Ilmiah "Psikobuana" Prof. Dr. Agus Djoko Santoso, S.U. & Juneman, S.Psi. Koordinator Majalah Psikologi "MerPsy" Erna Multahada, S.H.I., M.Si.

25

26

REDAKSI

SUSUNAN DEWAN REDAKSI MEDIA PSIKOLOGI POPULER MERPSY
Penanggung Jawab Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Redaktur Ahli Prof. Dr. M. Enoch Markum Dr. A. A. Anwar Prabu Mangkunegara, M.Si. Sri Wulandari, S.Psi., Psikolog Pemimpin Redaksi Erna Multahada, M.Si. Wakil Pemimpin Redaksi Juneman, S.Psi., C.W.P. Sekertaris Amanda Syafitrie, Mulia Rachmawati Bendahara Ika Susanti, M.Psi., Psikolog Staf Redaksi Meilisha Djati Arum, Muhammad Luthfi, Karina Cyntia Dewi, Jilly Margy Hui Lodera, Made Dwi Cahyaningrum, Anjas Purna Yudha, Siti Hodijah, Husnul Chotimah, Dya Anugrah Pamungkas, Sitawaty Tjiptorini, M.B.A., M.Psi., Agus Mulyana Editor Ida Anggraeni Ananda, M.Si., Juneman, S.Psi., C.W.P. Divisi Riset Muhammad Ifan Fauzi, Meilisha Djati Arum, Dimas Prasada, Karina Cyntia Dewi Divisi Desain, Tata Letak & Fotografi Begeng, Felicia Putri Wacana Mahakita Divisi Iklan dan Promosi Muhammad Luthfi, Rusdi, Agus Mulyana Divisi Cetak, Distribusi, dan Sirkulasi Marsani, S.Kom, Divisi Humas Himpunan Mahasiswa Majalah Psikologi "MERPSY"

Sekilas MerPsy: “MerPsy”, ber-ISSN 2085-5486, merupakan akronim dari “Mercu Buana’s Psychology”, sebuah majalah psikologi populer yang diterbitkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana, Jakarta, yang bertujuan menyajikan pemberitaan beserta pengkajian dalam kemasan populer terhadap dinamika psikologis kehidupan manusia Indonesia. Eksplisitasi kata “Psychology” dalam nama majalah ini menjadi corak khas yang belum banyak ditawarkan oleh kebanyakan majalah yang lain, yakni pemaknaan psikologis terhadap segala peristiwa kehidupan kita. Pembaca yang ingin mengkontribusikan tulisan orisinalnya, bertanya, mengkritik, berkonsultasi, dan memasang advertensi/ advertorial dipersilakan menghubungi Redaksi MerPsy melalui nomor telepon/ fax/alamat surat elektronik sebagaimana tercantum di bawah ini.
Alamat Redaksi: Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana Kampus Menara Bhakti Jl. Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat DKI Jakarta Email: redaksi@merpsy.com Web-1: http://www.merpsy.com Web-2: http://fpsi.mercubuana.ac.id Telp: (021) 5840816, (021) 58903455 Fax: (021) 5861906

Vol1 No2 Maret 2010

1

EDIToRIAL

perasaannya dengan bahasa yang jelas ketika mereka ditinggal oleh ayah mereka. Trauma yang anak rasakan lebih diungkapkan dengan bahasa tubuh, seperti sakit atau cengeng. Ya, INILAH HIDUP ! Trauma tidak hanya terjadi pada anak usia dini. Trauma juga terjadi pada orang dewasa. Sometime kita berfikir, “Apa salahku? Mengapa harus aku yang alami ini?” Mengapa harus menjalani hal yang bukan pilihanku? Bukan impianku? Bicara “Sabar”, mudah. Mengatakan, “Ini cobaan”, gampang. Tetapi, menjalani…..? Memang, hanya lewat berbagai problem hidup seseorang terbentuk menjadi kuat, menjadi lebih baik, lebih bijaksana. Namun, ada juga yang kalah ketika dihadapkan dengan ujian hidup. Rasanya kita merasa takut ketika mengalami musibah atau berbagai peristiwa yang mencekam. Marah dapat saja muncul. Namun, jika perasaan seperti ini terus belangsung, hingga aktivitas terganggu, terbawa sampai alam bawah sadar yang termunculkan melalui mimpi, dan terus berlangsung hingga sampai melampaui 6 bulanan....., sesungguhnya, maukah kita? Boleh kiranya kita pertanyakan ke ahlinya, ada apakah dengan diri kita. Apakah kita terserang PTSD? PTSD adalah suatu gangguan kecemasan yang dapat berkembang setelah mengalami atau melihat peristiwa yang berbahaya, seperti kecelakaan buruk, perang, terorisme, badai, gempa atau berbagai peristiwa alam lainnya. PTSD membuat seseorang merasa tertekan dan takut setelah bahaya berakhir. Ini memengaruhi kehidupan orang tersebut dan orang-orang di sekitarnya. Lalu, bagaimanakah

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera buat kita semua….

A

pabila kita mencermati fenomena yang terjadi di sekitar kita, maka kita akan bersepakat bahwa dalam beberapa tahun terakhir negeri kita cukup sering dihentakkan dengan kejadian-kejadian yang sangat mengiris hati, yang membuat linangan air mata bahkan pelu tak pernah kering. Mulai dari tsunami beberapa tahun silam, gempa bumi di Aceh, Padang dan beberapa kota lainnya, jebolnya Tanggul Situ Gintung, banjir di Karawang dan beberapa kota lainnya. Bahkan tidak ketinggalan, terorisme masih saja terjadi di negara kita tercinta ini. Kondisi yang terjadi menyebabkan berbagai perubahan, mulai dari perubahan status keluarga, kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga, kehilangan anggota tubuh, bahkan kehilangan mental yang sehat karena peristiwa traumatis yang dialami. Dampak yang terjadi pun bervariasi. Ambil contoh, bencana yang terjadi tak pelak menimbulkan rasa kehilangan yang tidak jelas pada seorang anak. Hal ini mengakibatkan anak selalu menunggu dan sering menangis tanpa sebab yang jelas. Seorang anak yang masih berusia dini belum dapat mengungkapkan

2

Vol1 No2 Maret 2010

EDIToRIAL

menyikapinya? Tuhan menuliskan “surat cinta kepada hamba-Nya” bahwa bagi mereka yang mendapatkan pemahaman atas ilmu dari firman-Nya, akan mendapatkan kekuatan dan kesembuhan jiwa. Hal ini berlaku tak terkecuali bagi para korban penderita trauma pasca bencana yang mengalami berbagai reaksi-reaksi ketakutan dan kesedihan. Tuhan melalui Kitab Suci menenangkan jiwa dan hati manusia, menghibur akal pikiran manusia, merupakan kabar gembira yang janji ujianNya paling pasti bagi manusia. Manusia harus tetap berprasangka baik terhadap diri sendiri dan kepada Tuhannya. Pemahaman tentang tujuan awal dan kesudahan atas segala kejadian dan peristiwa bencana yang ada di dalam bumi dan dalam diri manusia itu sendiri adalah suatu perumpamaan yang menjelaskan bahwa Tuhan Maha Berkuasa menciptakan dan menghancurkan serta menciptakan kembali suatu bentuk permulaan dari kematian atau kehancurannya. Simulasi kematian pada dasarnya kita lakukan setap hari, karena kita tidur pada malam hari (kematian sementara) dan bangun pada

Pada penerbitan kedua ini, MerPsy memperkaya sudut pandang dan diskusinya ke dalam beberapa ranah kajian psikologi, seperti psikologi sosial, psikologi agama, psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi komunikasi, bahkan dicerahkan dengan adanya Hidup merupakan suatu hal wawancara dengan penulis yang sangat berharga dan buku “Psikologi Kematian”, harus kita terus maknai karena Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. kita pun akan benar-benar akan menyambut kematian MerPsy juga memberikan komunikasi untuk yang sesungguhnya seperti ruang anggota keluarga dan kawan berbagi dengan pakar pada rubrik-rubrik Konsultasi yang sudah mendahului kita. Psikologi Agama, Psikologi Bagi mereka yang hati, Perkembangan, serta Psikologi pikiran, dan perilakunya Kewirausahaan. Selain itu selalu merasa terikat dengan tetap MerPsy memberikan Tuhan, kematian sama sekali kenyamanan berupa tampilan tidak menakutkan. Mengapa? rubrik fotografi. Karena dengan berakhirnya episode kematian duniawi Akhirnya, selamat membaca! MerPsy dapat berarti seseorang setapak Semoga menjadi lebih dekat pada menjadi sahabat yang dapat Tuhan yang selalu dicintai menghadirkan wacana segar dan dirindukan. Demikianlah yang mengundang pemikiran menurut Prof. Dr. Komaruddin dan refleksi baru dalam Hidayat, seorang Guru Besar memahami keadaan yang terjadi di sekitar kita. Filsafat Islam. dini hari (kehidupan kembali). oleh karena itu, kematian lingkungan sosial, fisik, dan mental sebagai akibat berbagai terpaan musibah ataupun ujian bukanlah akhir segalanya yang harus terus kita ratapi hingga tidak memiliki produktivitas hidup. Sejumlah isu di atas memang kali ini ini menjadi konsen MerPsy. MerPsy peduli untuk memahami PTSD yang terjadi di dalam situasi sosial dan psikologis yang ada. Redaksi

Vol1 No2 Maret 2010

3

DAFTAR ISI

Sajian

5
2 editorial

72

78
116 PSikologi

133 179

1 SuSunan redakSi

keWirauSaHaan: reFlekSi keWirauSaHaan: konSultaSi

5 PSikologi Pelayanan
PenyintaS Bencana

121 PSikologi

38 lanSkaP
38 kognitif dan cinta tanah air 46 PtSd

128 PSikologi koMunikaSi
128 Self disclosure keharmonisan Hubungan 133

56 PSikologi Bencana 64 PSikologi SoSial 72 reFlekSi agaMa :
renungan

137 PSikoSineMa 156 cerPen 167 tiPS 169 PSikologi Biologi 175 Make uP 177 FotograFi 179 tokoH
WaWancara Eksklusif dEngan Prof. dr. komaruddin Hidayat

78 PSikologi agaMa 93 PSikologi agaMa:
konSultaSi

102 HuManiora 110 PSikologi
PerkeMBangan: konSultaSi

4

Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

Psikologi Pelayanan Penyintas Bencana
Juneman, S.Psi.

Pengantar

Indonesia merupakan negeri yang rawan mengalami bencana, baik bencana alam maupun bencana konflik sosial. Indonesia rawan mengalami bencana alam, oleh karena: (1) Pertama, secara geologis, Indonesia terletak pada pertemuan antara tiga lempeng tektonis dan jalur gunung api lingkar pasifik serta lintas Asia; disamping itu, Indonesia juga bercurah hujan cukup tinggi, antara 1.0004.000 milimeter per tahun (Roestam Sjarief, dalam Suara Merdeka, 2007). Menurut Sjarief, 83% wilayah Indonesia rawan bencana alam, dan 98% dari 220 juta warga Indonesia tidak siap menghadapi ancaman bencana. Contoh bencana dalam kategori penyebab ini adalah: tsunami Aceh dan Pangandaran-Yogyakarta;

rangkaian gempa bumi TasikmalayaYogyakarta-Toli-toli-Padang; (2) Kedua, ulah manusia, yang menyebabkan “alam mulai enggan bersahabat dengan kita” (Ebiet G. Ade dalam lagu “Berita Kepada Kawan”), seperti eksploitasi berlebihan terhadap hasil bumi, pembalakan hutan liar, emisi karbondioksida (yang menyebabkan global warming), dsb. Termasuk dalam kategori penyebab ini adalah: Semburan Lumpur Panas di Sidoarjo. Menurut Prof. Dr. R.P. Koesoemadinata (2007), Bapak Geologi Indonesia, bencana lumpur tersebut disebabkan atau dipicu oleh kelalaian/kegagalan operasi pemboran Banjar Panji-1 oleh P.T. Lapindo Brantas. oleh karena disebabkan oleh ulah manusia, maka, menurut Koesoemadinata, semburan mestinya dapat dihentikan
Vol1 No2 Maret 2010

5

UTAMA

dengan pemboran relief well. Untuk memahami peta rawan bencana (hazard maps), pembaca dapat mengunduh dokumen Peta Rawan Bencana (2007) melalui tautan http:// www.sadisun.enggeol.org/pdf/2007_ Hazard_Maps.pdf Indonesia juga rawan bencana konflik sosial, oleh karena, menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (2003, antara lain dalam situs web http://www.sarlito.hyperphp. com), mengambil inspirasi dari teori “Perilaku Kolektif” dari Neil J. Smelser (1963), terdapatnya enam faktor, yakni: (1) ketegangan/keresahan/ tekanan (strain) atau deprivasi relatif (Gurr) yang relatif kronis, misalnya: perasaan miskin, diperlakukan diskriminatif, pengangguran, biaya hidup dan pendidikan yang mahal; (2) suasana kondusif, misalnya: pelanggaran yang tidak dihukum, pelipatan oleh media massa, kelompok minoritas yang menyolok mata kelompok mayoritas, dsb; (3) opini/ keyakinan publik, misalnya: keyakinan bahwa tindakan masal dapat mengubah situasi sesuai kehendak; syiar atau aktivitas keagamaan yang memperkokoh keyakinan keimanan pemeluknya secara internal, tetapi pada sisi lain, mempertipis keterikatan dengan komunitas lainnya dengan membentuk persepsi adanya ancaman dari satu komunitas atas komunitas lainnya; (4) peluang (sarana dan prasarana) mobilisasi masa, yang
6
Vol1 No2 Maret 2010

mencakup kondisi transportasi dan komunikasi yang baik; (5) lemahnya kontrol sosial, misalnya perilaku pemerintah dan aparat keamanan yang tidak profesional dalam menyikapi strain; serta (6) pemicu, yang sulit diterka, dapat terjadi sewaktu-waktu, dan sumbernya sering tidak jelas; misalnya pernyataan politik tertentu, petisi masal, peristiwa pemukulan guru agama oleh oknum polisi (di Tasikmalaya), penusukan tukang becak oleh pemuda China (Solo, 1980), perselisihan antara pengikut almarhum Kyai As’ad dan keponakannya (Situbondo). Kerusuhan Sanggau Ledo, di Kalimantan Barat, misalnya, dipicu oleh kecemburuan seorang pemuda Madura, sebab pacarnya diajak menari oleh seorang pemuda Dayak dalam suatu pesta pernikahan (J.E. Wawa, dalam Kompas, 2001). Kecemburuan itu diluapkan dengan menikam pemuda Dayak hingga tewas sehingga menimbulkan kemarahan keluarga korban. Dua atau lebih dari keenam faktor di atas harus saling berinteraksi. Hanya salah satu faktor saja tidak akan menyebabkan bencana konflik. Berikut ini adalah gambar peta konflik kekerasan komunal di Indonesia sepanjang tahun 2006:

UTAMA

Gambar 1. Peta Konflik Kekerasan Komunal di Indonesia Sepanjang Tahun 2006 (Institut Titian Perdamaian, 2007)

Memperhatikan kondisi objektif di atas, tidak mengherankan bahwa Pendidikan Tinggi di Indonesia menaruh perhatian dengan ikut berpartisipasi dalam memahami dan mengupayakan intervensi terhadap keseluruhan fase dari siklus bencana (Siklus bencana: lihat Gambar 2. Perhatikan bahwa, misalnya, fase “Pasca Bencana” harus selalu dilihat dalam konteks kesinambungannya dengan fase “Persiapan Bencana selanjutnya”). Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan memiliki program studi Magister Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta memiliki prodi Magister Geo-Informasi untuk Manajemen Bencana, bekerjasama dengan ITC Netherlands. Institut Pertanian Bogor dikabarkan menyiapkan lahirnya prodi Magister Manajemen Bencana. Universitas Tarumanagara di Jakarta memiliki prodi Magister Manajemen Bencana. Universitas Indonesia memiliki prodi Magister Psikologi Terapan Trauma dan Bencana (gelar akademik: M.Psi.T.).

Vol1 No2 Maret 2010

7

UTAMA

sudah merupakan suatu badan yang dijiwai!, yang terstruktur berkat jiwa; dia sudah merupakan keseluruhan manusia dari segi badaniahnya (Leahy, 1996). Mengenai perhatian terhadap jiwa, dalam syair lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, kita ketahui juga bahwa “Bangunlah jiwanya” dikumandangkan lebih dahulu, yang kemudian segera disusul dengan “.... bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Sebuah ilmu terbuka (open science) yang mendalami persoalan jiwa adalah Psikologi. Secara etimologis, psikologi berarti “ilmu jiwa” (psyche = jiwa, logos = ilmu). Ironisnya, di Indonesia, pendekatan psikologis seringkali terabaikan dalam pelayanan kepada korban bencana. Padahal, dari pihak filsafat, kita ketahui bahwa meskipun jiwa tidak dapat dilihat atau diverifikasikan dengan pancaindera, jiwa dianggap sebagai sesuatu yang senyata badan, karena jiwa itu dituntut supaya makhluk hidup dapat dimengerti persis sebagaimana adanya; jiwa merupakan “instansi pemimpin” yang menunjukkan bahwa dalam keseluruhan kompleks manusia itu terdapat suatu pusat pimpinan, suatu tempat batin di mana semua diputuskan (Leahy, 1996, 2001). Berdasar pada latar belakang kenyataan di atas, melalui tulisan ini penulis membahas prinsip-prinsip dan praktik-praktik psikologis yang

Gambar 2. [Atas] The Disaster Cycle versus the Relief to Development Spiral (FAO, 2001); [Bawah] The Conflict Helix as a Coil Moving Upward on a Path of Learning (Rummel, 1979)

Dalam setiap peristiwa bencana, seringkali terdapat korban jiwa. Frasa “korban jiwa” dalam bahasa Indonesia ini menarik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Depdiknas, 2001), “korban” berarti: orang, binatang, dsb, yang menjadi menderita (mati, dsb) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, dsb. Penambahan kata “jiwa” dalam frasa “korban jiwa” menekankan arti penting jiwa itu sendiri, meskipun badan yang penuh dengan hidup, yang kita sentuh dan rasakan itu, (sesungguhnya)
8
Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

selayaknya benar-benar diperhatikan dan diimplementasikan dalam konteks pelayanan kepada korban jiwa dari bencana. Tanpa perhatian terhadap segi psikologis penyintas bencana, pengabulan penggunaan dana cadangan bencana tahun 2009 sebesar 1,7 trilyun dan pagu anggaran 2010 Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar 172,062 milyar oleh Komisi VIII DPR RI (Rabu, 9 September 2009) tidak akan bermakna banyak untuk pemulihan korban jiwa bencana yang masih hidup. Di samping itu, sebagai seorang sarjana psikologi, penulis pun teringat akan ungkapan Dreyfus & Rabinow (1983), bahwa ilmu-ilmu yang menyatakan diri mengkaji kegiatan manusia perlu memperhitungkan kegiatan-kegiatan manusia yang telah memungkinkan lahirnya ilmu-ilmu tersebut. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memperlihatkan kontribusi psikologi untuk “kegiatan-kegiatan manusia” itu, khusus dalam konteks bencana. Sebelum menelaah lebih jauh, penting juga dicatat bahwa penulis selanjutnya menghindari kata “korban” (victim) dalam tulisan ini. Sebagai gantinya, penulis menggunakan kata “penyintas” (survivor). Dalam bahasa Inggris (antara lain: Cambridge Advanced Learner’s Dictionary), “victim” (kata benda) berarti: “someone or something which has been hurt, damaged or killed or has suffered, either because of the actions of someone or

something else, or because of illness or chance”; dan “survive” (kata sifat) didefinisikan “to continue to live or exist, especially after coming close to dying or being destroyed or after being in a difficult or threatening situation”. Berdasarkan definisi tersebut, nampak bahwa “survive” (terus bertahan hidup) memiliki perspektif yang lebih aktif, lebih positif, lebih berdaya, daripada kata “victim” (yang lebih pasif: ter/disakiti, dirusak, dibunuh, dibuat menderita). Makna survivor lebih daripada sekadar “korban yang selamat, korban yang tidak meninggal dunia.” Penekanan pemaknaan istilah ini penting untuk memberikan perspektif demi pemulihan psikologis itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (Depdiknas, 2001), kata “sintas” lah yang sepadan dengan kata survive, yang kemudian menjadi akar kata “penyintas”. Meskipun suatu sumber menyatakan bahwa kata “penyintas” digulirkan oleh linguis Anton M. Moeliono, namun Ayu Utami (Koran Sindo, 2007) mengungkapkan

Vol1 No2 Maret 2010

9

UTAMA

bahwa kata “penyintas” muncul pertama kali pada 2005, bukan dari kalangan ahli sastra maupun ahli linguistik, melainkan berasal dari aktivis LSM dalam konteks bencana. Berikut ini, penulis mengupas prinsipprinsip dan praktik-praktik layanan psikologis kepada penyintas bencana sebagaimana disebutkan di atas.

air dan sanitasi. oleh karena itu, perlu ditetapkan standar dan kebutuhan sehubungan dengan pemulihan psikososial penyintas bencana untuk memastikan adanya kesamaan praktik. Standar ini penting untuk memastikan bahwa ada interoperabilitas diantara badan-badan di pusat serta dengan dan antar daerah, serta menjadi pedoman advokasi dan peningkatan layanan psikososial. Sehubungan dengan hal ini, buktibukti ilmiah yang berkenaan dengan layanan kesehatan jiwa dan psikososial yang terbaik dan terefektif masih belum banyak dewasa ini. Kebanyakan riset yang dilakukan dalam area ini dilakukan justru berbulan-bulan atau pun bertahun-tahun setelah berakhirnya fase akut terjadinya bencana. Namun demikian, basisbasis riset mengenai hal ini dan juga basis-basis pengalaman praktisi terus berkembang. Guna mengikutsertakan wawasan-wawasan yang akan terus berkembang, standar-standar tersebut hendaknya diperbarui dan diadaptasikan secara periodik. Bentuklah sebuah kelompok koordinasi dan sub-sub kelompok koordinasi aksi layanan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial, dan secara bersama mengembangkan

Prinsip-Prinsip Pelayanan Psikologis Kepada Penyintas Bencana
1. Koordinasi, fokus sumberdaya, dan integrasi layanan. Program pelayanan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial kepada penyintas bencana yang efektif mensyaratkan koordinasi antarsektor diantara pelakupelaku yang beragam. Semua partisipan respons kemanusiaan memiliki tanggungjawab untuk melindungi dan mempromosikan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial para penyintas. Koordinasi layanan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial harus mencakup segi-segi kesehatan, pendidikan, perlindungan dan layanan sosial, serta representasi dari komunitas yang terimbas. Koordinasi layanan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial ini juga harus melibatkan sektor pangan, keamanan, tenda (shelter), serta

10

Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

sebuah rencana yang menunjukkan hal-hal yang akan dilakukan beserta siapa pelakunya, apabila kelompok semacam itu belum terdapat. Bila sudah ada, gunakan kelompok koordinasi yang ada. Masukkan kedalam kelompok koordinasi itu, bilamana mungkin dan tepat, perwakilan-perwakilan dari pemerintah nasional dan daerah, LSM-LSM, agen-agen PBB, lembaga-lembaga donor, asosiasi-asosiasi profesional dan universitas-universitas, organisasi-organisasi religius atau yang berbasis-komunitas, dan gerakangerakan Palang Merah/Bulan Sabit Merah. Populasi lokal yang terkena bencana memiliki aset atau sumberdaya yang bersifat mendukung kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial mereka. Kekeliruan umum dalam kerja-kerja kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial adalah pengabaian sumberdaya-sumberdaya ini dan hanya berfokus pada defisit (kelemahan, penderitaan, dan patologi) orangorang yang mengalami bencana. Sumberdaya-sumberdaya tersebut dapat berupa: (1) sumberdaya individual: kemampuan dalam pemecahan masalah, komunikasi, negosiasi, dan pencarian nafkah; (2) sumberdaya sosial: keluarga, pemerintah lokal, pemimpin-pemimpin komunitas, penyembuh-

penyembuh tradisional, pekerjapekerja kesehatan komunitas, guru-guru, kelompok-kelompok perempuan, klub-klub anak muda, kelompok-kelompok perencana komunitas; (3) sumber daya ekonomi, pendidikan, kesehatan, religius dan spiritual, praktikpraktik kultural. Guna merencanakan respons yang tepat terhadap bencana, maka penting untuk mengetahui sifat sumberdayasumberdaya lokal, apakah mereka bersifat membantu ataukah justru berbahaya, dan sejauh mana sumberdaya ini dapat dijangkau. Sejumlah praktik lokal ― yang terentang dari praktik-praktik kultural tradisional sampai dengan perawatan dalam panti-panti kustodial ― dapat saja bersifat merugikan dan dapat melanggar prinsip-prinsip hak asasi manusia. Kendati demikian, prinsipnya adalah memaksimalkan partisipasi populasi lokal yang terkena bencana dalam asesmen, perancangan, implementasi, pemantauan, dan penilaian bantuan, untuk menumbuhkan rasa memiliki bersama (sense of belonging) terhadap program-program layanan kesehatan jiwa dan psikososial. Di samping itu, penting diingat bahwa banyak layanan kunci kesehatan jiwa dan psikososial yang seringkali berasal dari komunitas penyintas bencana itu sendiri ketimbang berasal dari pihak-pihak atau badan-badan ekVol1 No2 Maret 2010

11

UTAMA

sternal. Kurangi perbedaan-perbedaan kekuatan diantara anggota-anggota kelompok koordinasi, serta fasilitasi partisipasi dari kelompokkelompok yang tidak terwakilkan atau kurang memiliki kekuatan/ power (misalnya, dengan menggunakan bahasa-bahasa lokal serta mempertimbangkan struktur dan lokasi pertemuan). Kenali dan selalu sadari bahwa dalam setiap bencana, di samping terdapat kerugian (misalnya, tergerogotinya mekanisme dukungan/ bantuan yang bersifat tradisional yang dimiliki sebelumnya oleh masyarakat serta tergerogotinya struktur-struktur komunitas), ada pula populasi yang “diuntungkan”, entah karena kepentingan politik, bisnis bantuan, perbuatan koruptif, dan sebagainya. 2. Hindari ego disiplin ilmu. Dalam pelayanan psikologis kepada penyintas bencana, kita harus menghindari pandangan bahwa profesi dari disiplin ilmu tertentu lebih otoritatif, lebih berwenang, lebih sahih daripada yang lain. Profesi atau relawan dari disiplin ilmu di luar psikologi dan psikiatri merupakan sumberdaya yang harus disambut dan dioptimalkan perannya, seperti dari disiplindisiplin ilmu pendidikan, sosiologi, kesejahteraan sosial (social
12
Vol1 No2 Maret 2010

welfare; lihat paradigma kesejahteraan sosial melalui http://www. policy.hu/suharto/Naskah%20 PDF/UINYogyaParadigmaKesos. pdf), studi agama, keperawatan, antropologi kesehatan (lihat peran umum antropologi kesehatan, antara lain melalui tautan http:// www.papuaweb.org/uncen/dlib/ jr/antropologi/01-01/jurnal.pdf), kesehatan masyarakat, ekonomi/ manajemen, komunikasi massa, dsb; sepanjang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dan beretika. Disiplin-disiplin ini memiliki kontribusinya yang khas dalam menunjang kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial penyintas bencana. Penting diingat, bahwa perilaku manusia tidak hanya dipelajari oleh Psikologi (Irwanto, 2002)! Berbasiskan pernyataan Irwanto tersebut, disiplin-disiplin yang disebutkan di atas dapat dikelompokkan juga ke dalam keluarga besar ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences). Meskipun profesi kesehatan jiwa (mental health professional) ― yang terdiri dari psikiater, psikoterapis, pekerja sosial klinis, perawat jiwa (lihat standar praktik keperawatan jiwa, misalnya http://moveamura. wordpress.com/dsm-1v/mhn), konselor kesehatan jiwa, psikolog klinis, profesi kesehatan jiwa bersertifikasi, dsb ― seyogianya

UTAMA

diberikan kewenangan supervisi dalam konteks layanan spesialisasi psikologis dan psikiatris, namun mereka hanya merupakan bagian dari komunitas profesi disiplin ilmu yang lebih luas yang mengadvokasi dan memberikan intervensi keperilakuan yang tepat terhadap faktor-faktor risiko yang memengaruhi kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial penyintas bencana. Misalnya, Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB, Dr. Ir. Suryahadi (September, 2006) menyampaikan, “Meskipun IPB memiliki ranah kompetensi utama dalam ilmu pertanian dalam arti luas, namun dengan bertambahnya fakultas baru seperti Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), kini IPB bisa lebih mengembangkan perhatian pada sisi manusianya… Ada konsep yang sudah dalam bentuk proposal serta telah diterima oleh LPPM IPB. Proposal itu berisi tentang ‘Penanganan Masalah Tumbuh Kembang Anak Pasca Bencana’, dan ini akan dengan segera direalisasikan dengan melibatkan mahasiswa IPB… IPB sangat peduli terhadap masalah perkembangan anak, pasalnya pada situasi bencana, stress dan tekanan pada anak cukup tinggi. Maka dari itu kita harus cepat menanggulanginya” ?

Dalam sebuah buku yang disunting oleh J. Worell dan N.G. Johnson (1997) dan diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), “Shaping the future of feminist psychology: Education, research, and practice”, praktik psikologis telah didefinisikan secara luas dengan mencakup kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan semua wilayah terapan psikologi, seperti: clinical practice and supervision, pedagogy, research, scholarly writing, administration, leadership, social policy, and any of the other activities in which psychologists may engage. 3. Pertimbangan nuansa permasalahan, populasi rentan, dan bentuk layanan. Permasalahan kesehatan jiwa dan psikososial dalam bencana sangat terkait erat, meskipun dapat saja ada nuansa-nuansa beban utama faktual, yang bersifat psikologis atau sosial, seperti hal-hal berikut ini (diperlukan Diagnostik): • Permasalahan yang sudah ada sebelum terjadi bencana: • Permasalahan psikologis yang telah ada, misalnya: gangguan jiwa yang berat, penyalahgunaan alkohol. • Permasalahan sosial yang telah ada, misalnya: kemiskinan, kelompok
Vol1 No2 Maret 2010

13

UTAMA

terdiskriminasi atau termarginalkan, opresi politis. Permasalahan yang merupakan imbasan dari bencana: • Permasalahan psikologis yang merupakan imbasan bencana, misalnya: duka cita, distress nonpatologis; depresi dan gangguan kecemasan, termasuk gangguan stres pasca-trauma (PTSD). • Permasalahan sosial yang merupakan imbasan bencana, misalnya: keterpisahan dari keluarga; terganggunya jejaring sosial; rusaknya strukturstruktur komunitas, sumberdaya-sumberdaya dan kepercayaan (trust); meningkatnya kekerasan berbasiskan jender. Permasalahan yang merupakan imbasan dari pemberian bantuan: • Permasalahan psikologis yang merupakan imbasan pemberian bantuan, misalnya: kecemasan karena kekurangan informasi mengenai distribusi pangan; • Permasalahan sosial yang merupakan imbasan pemberian bantuan, misalnya: tergerogotinya
Vol1 No2 Maret 2010

mekanisme dukungan/ bantuan yang bersifat tradisional yang dimiliki sebelumnya oleh masyarakat serta tergerogotinya strukturstruktur komunitas. Dengan demikian, permasalahan kesehatan jiwa dan psikososial dalam bencana meliputi jauh daripada sekadar pengalaman gangguan stres pasca-trauma (PTSD) yang sering didengung-dengungkan. Dalam situasi bencana, tidak setiap orang memiliki atau pun mengembangkan permasalahan psikologis yang berarti. Banyak orang menunjukkan ketangguhan (resiliensi), yang merupakan kemampuan untuk menghadapi atau menanggulangi situasisituasi kemalangan secara relatif baik. Terdapat sejumlah faktor sosial, psikologis, dan biologis yang saling berinteraksi serta memengaruhi apakah seseorang mengembangkan permasalahan psikologis ataukah menunjukkan daya tahan dan ketangguhan dalam menghadapi kemalangan. Bergantung pada konteks bencana, kelompok atau orang tertentu memiliki kerentanan risiko yang meningkat untuk mengalami permasalahan sosial dan/atau psikologis. Meskipun banyak

14

UTAMA

yang pasif. Kendatipun orang-orang tersebut memerlukan layanan/ dukungan, seringkali mereka memiliki kapasitas dan jejaring sosial yang memungkinkan mereka untuk berkontribusi terhadap keluarga atau lingkungan mereka dan untuk aktif dalam kehidupan sosial, religius, dan politis. Dalam situasi bencana, oleh karena orangorang terimbas dengan cara yang berbedabeda, maka dibutuhkan layanan yang berbedabeda pula. Kunci untuk mengorganisasikan layanan kesehatan jiwa dan psikososial adalah dengan mengembangkan sebuah sistem berlapis dari layananlayanan yang bersifat komplementaris yang sesuai dengan kebutuhan dari kelompok-kelompok yang berbeda-beda. Misalnya, dengan piramida intervensi, dari lapisan bawah ke atas, sebagai berikut:
Vol1 No2 Maret 2010

bentuk-bentuk dukungan dan layanan kunci secara umum seyogianya tersedia bagi populasi yang terkena bencana, namun perencanaan yang baik secara spesifik mencakup pula penyediaan layanan-layanan yang relevan terhadap orang-orang yang berisiko lebih tinggi (misalnya pengungsi, anak 0-18 tahun, orang dengan gangguan jiwa berat, orang yang sangat miskin, orang-orang dalam panti asuhan dan panti jompo, aktivis politik dan kaum minoritas etnik, orang dalam tahanan, mantan korban pelanggaran HAM, anak jalanan, dsb), yang butuh diidentifikasi dalam masing-masing krisis spesifik. Pengidentifikasian orangorang yang “rentan/berisiko” bukan berarti menunjukkan bahwa mereka adalah korban

15

UTAMA

(1) layanan dasar dan keamanan (makanan, tenda, air, kesehatan dasar, pengendalian penyakit menular); (2) layanan komunitas dan keluarga (pelacakan dan penyatuan kembali keluarga, asistensi terhadap perayaan perkabungan atau penyembuhan komunal, komunikasi massa mengenai metode-metode coping yang konstruktif, programprogram parenting yang suportif, aktivitas-aktivitas pendidikan formal dan non-formal, aktivitasaktivitas mata pencaharian, dan aktivasi jejaring sosial, seperti melalui kelompok-kelompok perempuan dan klub-klub pemuda); (3) layanan terfokus non-spesialistik (contoh: penyintas korban kekerasan berbasis jender sangat mungkin memerlukan layanan majemuk dari para pekerja komunitas, baik layanan yang bersifat emosional maupun yang berkenaan dengan penghidupan/mata pencaharian; (4) layanan spesialistik (misalnya, layanan psikologis dan psikiatris bagi orang-orang dengan gangguan jiwa berat, khususnya bilamana kebutuhan orang-orang ini melampaui kapasitas layanan kesehatan umum). 4. Perlunya estimasi satuan pembiayaan ekonomi dari kerusakan psikologis. Ingat pesan Menteri KesehaVol1 No2 Maret 2010

tan RI, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.J.P.(K.), pada Puncak Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Tahun 2008 di halaman kantor Walikota Bogor, 20 oktober 2008, bahwa “Kesehatan Jiwa adalah bagian integral dari Kesehatan; tidak ada Kesehatan tanpa Kesehatan Jiwa“. Konsekuensinya, khususnya dalam pedoman-pedoman dan SoP-SoP yang dikeluarkan oleh badan-badan Pemerintah maupun badan-badan Asuransi, merupakan suatu urgensi untuk menyusun suatu ukuran-ukuran baku-kuantitatif (meskipun tidak selalu mungkin, namun harus senantiasa diupayakan) mengenai pengaruh bencana terhadap kondisi psikologis penyintas. Sampai dengan saat ini, sejauh penulis ketahui, ukuran-ukuran kerusakan psikologis (psychological damage) yang diakibatkan berbagai jenis bencana, yang elaboratif, akuntabel, dan disepakati, belum ada di Indonesia, padahal ini penting untuk menentukan jenis perlakuan rehabilitatif, rekonstruktif, dan pemeliharaan yang akurat dan tepat guna, beserta rentang-rentang penganggarannya. Dalam rangka penyusunan ukuran ini, rujuk antara lain, paper “Economic Valuation of Catastrophe Risk: Beyond Expected Losses Paradigms” oleh Kobayashi & Yokomatsu (2000).

16

UTAMA

Praktik-Praktik Pelayanan Psikologis Kepada Penyintas Bencana
Sejumlah hal yang sangat penting diperhatikan dalam pelayanan psikologis kepada pelayanan bencana, diinspirasikan oleh Inter-Agency Standing Committee (2007) di Jenewa, adalah sebagai berikut: • Program asesmen harus menghindari pembebanan yang tidak perlu terhadap populasi yang disebabkan asesmen yang bersifat ganda, misalnya: konstruk-konstruk yang sudah diperiksa oleh Departemen Kesehatan kemudian diperiksa lagi oleh Departemen Sosial, atau sebaliknya. Ingat, bahwa kondisi manusia telah mengalami perubahan setelah mengalami setiap asesmen! organisasi-organisasi pemberi bantuan hendaknya menginformasikan kelompok koordinasi mengenai persoalan-persoalan apa sajakah yang telah di-assess, di manakah dan bilamanakah, serta hendaknya bersiap untuk mengadaptasikan asesmen-asesmen mereka apabila diperlukan, dan membagi informasi itu (misalnya, mem-pos/menaruh hasil asesmen di internet dan menyelenggarakan sesi umpan balik dengan komunitas). Populasi yang terimbas bencana hendaknya dilibatkan pula dalam

mendefinisikan apakah “kesejahteraan” (well-being) dan “distress” itu bagi mereka, apakah problem-problem, sumberdayasumberdaya dan solusi-solusi potensial yang terdapat di lingkungan terjadinya bencana. Asesmen berfokus pada identifikasi prioritas tindakan, bukan sekadar pengumpulan dan pelaporan data atau informasi. Asesmen hendaknya menghindari penggunaan istilah-istilah yang dalam konteks kultur lokal dapat memengaruhi stigmatisasi. Prinsip-prinsip etis: privasi, konfidensialitas dan kepentingan terbaik dari orang-orang yang diwawancarai harus dihormati. Sejalan dengan prinsip ”tidak membahayakan/merugikan”, perhatian harus diberikan untuk menghindarkan harapanharapan yang tidak realistis yang berkembang selama asesmen (misalnya, para penyintas yang diwawancarai hendaknya mengerti bahwa asesor mungkin tidak kembali apabila mereka tidak menerima dana yang pernah dijanjikan oleh pihak-pihak tertentu kepada mereka). Asesmen hendaknya cukup cepat untuk diperoleh hasilnya dalam rangka digunakan secara efektif dalam perencanaan program kedaruratan. Proses asesmen terdiri atas dua fase yang dinamis:
Vol1 No2 Maret 2010

17

UTAMA

(a) Asesmen awal (cepat/rapid) yang berfokus pada pemahaman terhadap pengalaman-pengalaman dan situasi saat itu dari populasi yang mengalami bencana, beserta kapasitas komunitas dan organisasional, serta kesenjangan-kesenjangan dalam perencanaan. Normalnya, ini dilakukan dalam 1-2 minggu; (b) Asesmen rinci: asesmen yang lebih ketat yang dilakukan untuk memeriksa persoalan yang beragam yang disajikan dalam informasi kunci di atas, yang dilakukan ketika situasi darurat berkembang. Pemantauan dan evaluasi hendaknya berbasiskan pendekatan partisipatoris. Hal ini berarti bahwa komunitas-komunitas yang terimbas bencana hendaknya berpartisipasi pada jangkauan maksimum dalam semua aspek proses pemantauan dan evaluasi, termasuk diskusi mengenai hasil-hasil dan implikasi-implikasinya. Indikator-indikator proses, kepuasan dan keluaran pelayanan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial hendaknya dirumuskan bersama secara konsisten dengan tujuan-tujuan yang telah didefinisikan sebelumnya. Indikator-indikator hendaknya bersifat SMART (Specific = spesifik, Measurable = Terukur, Achievable = Dapat Diraih, Relevant = relevan, dan Time-bound = memiliki rentang waktu).
Vol1 No2 Maret 2010

Data kuantitatif hendaknya dilengkapi dengan data kualitatif yang relevan (misalnya, kesaksian-kesaksian dari pengalamanpengalaman penyintas bencana mengenai intervensi). Hormati hak para penyintas akan konfidensialitas (kerahasiaan) dan akan persetujuan (informed consent), termasuk hak untuk menolak treatment. Advokasi dan berikan nasihat spesifik untuk membawa legislasi, kebijakan dan programprogram nasional yang relevan untuk sejalan dengan standarstandar HAM internasional dan meningkatkan kepatuhan terhadap standar-standar ini oleh badan-badan pemerintah (institusi-institusi, polisi, tentara, dsb). Problem-problem perlindungan semacam itu menghasilkan penderitaan langsung serta dapat bertentangan dengan pembangunan kembali jejaring sosial serta rasa kebersamaan (sense of community), dalam hal mana keduanya semestinya mendukung kesejahteraan psikososial. Kedaruratan mungkin juga mempertajam perbedaan dalam kekuasaan diantara populasi yang terpengaruh, meningkatkan kerentanan dari orang-orang yang sebelumnya telah termarjinalkan. Perlindungan mensyaratkan baik

18

UTAMA

mekanisme hukum maupun sosial. Perlindungan hukum (legal protection) memerlukan pengaplikasian instrumeninstrumen HAM internasional, hukum-hukum nasional dan internasional. Perlindungan sosial (social protection) berlangsung sebagian besar melalui pengaktifan dan pemerkuatan jejaring sosial dan mekanisme komunitas dalam mengurangi risiko serta memenuhi kebutuhan yang bersifat segera. Identifikasikan dalam suatu rentang berbagai setting (misalnya, kamp-kamp, ruterute yang dilalui oleh orangorang yang mengumpulkan air atau kayu bakar, tempattempat pendidikan non-formal, pasar-pasar) ancaman-ancaman perlindungan, seperti kekerasan berbasis jender, penyerangan terhadap warga sipil, pemindahan paksa, penculikan, rekrutmen kaum minoritas, perdagangan orang (trafficking), eksploitasi, perburuhan yang berbahaya/berisiko, ranjauranjau, paparan terhadap HIV/ AIDS dan pengabaian terhadap orang-orang dalam panti-panti. Namun demikian, hindari menggunakan pendekatan daftar-cek (checklist approach), yang dapat ”membutakan” para asesor akan ancaman-ancaman

perlindungan yang lain atau yang baru muncul. Hindari untuk menjadikan target tunggal atau menargetkan secara spesifik sub-sub kelompok tertentu untuk diberikan asistensi/bantuan, kecuali hal ini penting untuk mencegah terjadinya bahaya lebih jauh. Layanan yang terintegrasi (integrated support) adalah lebih baik, untuk membantu mengurangi diskriminasi dan dapat membangun keterhubungan sosial (social connectedness). Sebagai contoh, pertimbangkan untuk menyediakan bantuan bagi kelompok-kelompok perempuan secara umum, ketimbang pengkhususan/ pemilahan perlakuan (yang dapat menimbulkan stigmatisasi) kelompok-kelompok perempuan yang secara khusus mengalami perkosaan. Tetapkan prosedur-prosedur yang berkenaan dengan akses media oleh orang-orang yang berada dalam risiko, dengan menyadari bahwa atensi/ perhatian media dapat menimbulkan (a) pembalasan dendam terhadap para penyintas perkosaan; (b) distres yang berkaitan dengan pelanggaran konfidensialitas, wawancara berganda atau penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang
Vol1 No2 Maret 2010

19

UTAMA


20

tidak tepat; dan (c) stigma yang disebabkan karena pengkhususan. Kenali bahwa pada sejumlah situasi, mekanisme-mekanisme resmi/ofisial seperti kepolisian merupakan tempat-tempat yang tepat untuk pelaporan, sementara dalam situasi yang lain, pelaporan kepada kepolisian dapat menciptakan risiko bahaya. Identifikasikan dan dukung mekanisme-mekanisme yang mengakhiri pembebasan (impunitas) bagi para pelaku kejahatan serta menuntut tanggung jawab/akuntabilitas tindakan para pelaku kejahatan tersebut. Hal ini mencakup pengakuan bahwa keadilan punitif (yang bersifat menghukum) tidak selalu harus diberlakukan dalam rangka penyembuhan level-komunitas atau sistem keadilan restoratif berbasiskan komunitas yang konsisten dengan standarstandar hukum internasional, serta bahwa hal tersebut hendaknya membawa kepada pemaafan dan rekonsiliasi (misalnya, pembebasan anak dan para kombatan yang rentan secara aman, penelusuran jejak dan reunifikasi, serta promosi langkah-langkah awal dalam proses reintegrasi). Lakukan advokasi dengan
Vol1 No2 Maret 2010

cara yang menghormati konfidensialitas, martabat dan integritas, dan yang menghindari distres lebih jauh. Pemajangan/pemertontonan publik mengenai wajah-wajah para penyintas, sekalipun untuk mengomunikasikan informasi mengenai upayaupaya kemanusiaan, dapat bersifat menghina atau merendahkan. Hindari gambargambar dan citra-citra yang mempertontonkan penderitaan yang berat dan nyata, atau yang memperkuat rasa pengkorbanan (sense of victimization) terhadap para penyintas. Kenali kebutuhan akan sistem rujukan perlindungan hukum bagi orang-orang yang ditemui dalam layanan Kesehatan Jiwa dan Kesejahteraan Psikososial. Sebagai contoh, penyintas

UTAMA

kekerasan seksual seringkali menerima layanan medis dan psikososial, namun mungkin berlanjut untuk berada atau merasa dalam bahaya dan tidak dapat sembuh secara penuh apabila mereka mengetahui bahwa pelaku kejahatan tidak akan dihukum. Distres yang dialami oleh populasi yang terpengaruh bencana dapat menjadi semakin diperburuk oleh arus masuk para pekerja kemanusiaan apabila para aktor kemanusiaan tersebut tidak memiliki kompetensi teknis atau mereka tidak mampu untuk menangani stres-stres yang diprediksi muncul dari pemberian bantuan. Staf lokal dan para sukarelawan mungkin mengenal dengan baik kulturkultur dan tradisi-tradisi lokal, namun masih dapat terdapat

perbedaan-perbedaan sosiokultural, seperti misalnya antara populasi perkotaan dan pedesaan dan antar kelompokkelompok etnis. Terdapat prinsip-prinsip yang hendaknya diikuti dalam pengelolaan pekerja kemanusiaan. Tujuan dari rekrutmen adalah untuk memperoleh orang yang tepat (staf dan sukarelawan) pada tempat yang tepat pada saat yang tepat. Pada kebanyakan situasi darurat, hal ini merupakan tantangan yang hebat, dan kompetisi untuk memperoleh staf lokal merupakan hal yang biasa. Tunjuk personil-personil yang mengetahui dan bertanggung jawab untuk menyelenggarakan rekrutmen. Personil tersebut hendaknya mengerti persyaratan minimum kesehatan dan kesehatan jiwa bagi penugasan berisiko tinggi dan berstres tinggi (berdasarkan pengalaman organisasi sendiri dan agen-agen serupa). Cegah atau kurangi kabur/ mengalir keluarnya tenaga ahli (brain drain) dari organisasi lokal sampai dengan internasional. Pelaku-pelaku kemanusiaan internasional hendaknya (a) berkolaborasi dengan pelaku-pelaku lokal untuk menyelenggarakan tugas-tugas
Vol1 No2 Maret 2010

21

UTAMA

peredaan/penenangan yang esensial, mengurangi kebutuhan untuk mempekerjakan jumlah yang besar dari staf organisasi internasional; serta (b) menghindari untuk menawarkan gaji yang sangat besar yang membuat staf lokal meninggalkan organisasi-organisasi yang telah bekerja di wilayah tersebut. Ketika mempekerjakan para profesional, periksa kualifikasi formal (bukti kelengkapan pelatihan profesional, bukti keanggotaan organisasi profesional). Apabila waktu memungkinkan, periksa rekam jejak kriminal. Pertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (1) Dalam situasi-situasi represi politis, orang-orang mungkin memiliki rekam jejak bahwa dirinya telah ditahan tanpa melakukan kejahatan apapun; (2) Jangan mempekerjakan orang-orang yang memiliki sejarah melakukan jenis kekerasan apapun. Perkecualian dengan sengaja dapat diberikan dalam kasus mantan pejuang/ tentara, dengan tujuan untuk mempromosikan reintegrasi mereka kedalam masyarakat. Secara berhati-hati, evaluasi penawaran bantuan dari para profesional kesehatan jiwa asing individual (non-afiliasi). Para pekerja kesehatan jiwa asing yang memiliki niat yang baik
Vol1 No2 Maret 2010

(yang tidak berafiliasi kepada organisasi apapun) hendaknya dihindari dan dijaga agar mereka tidak melakukan perjalanan ke wilayah terpengaruh bencana, kecuali mereka memenuhi kriteria, antara lain: (1) Mereka memiliki kompetensi dasar dalam sejumlah intervensi ; (2) Mereka memiliki pemahaman mengenai psikologi komunitas atau prinsip-prinsip kesehatan publik; (3) Mereka diundang untuk bekerja sebagai bagian dari suatu organisasi yang berkemungkinan memelihara kehadiran komunitas yang berkelanjutan dalam wilayah kedaruratan; (4) Mereka tidak memfokuskan kerja mereka pada implementasi intervensi oleh diri mereka sendiri (misalnya, dalam pekerjaan klinis), melainkan memberikan layanan kepada program-program pada level yang bersifat umum/general, yang mencakup transfer keahlian kepada staf lokal, sedemikian sehingga intervensiintervensi dan layanan-layanan diimplementasikan oleh staf lokal. Keberadaan kode etik atau standar etis yang disepakati tidak dengan sendirinya mencegah penyelewengan atau eksploitasi. Akuntabilitas mensyaratkan bahwa semua staf dan komunitas diinformasikan mengenai

22

UTAMA

standar-standar dan bahwa mereka mengerti relevansi dan aplikasi standar-standar tersebut. Harus terdapat budaya organisasi yang mendukung dan melindungi para pengungkap fakta (whistle-blowers) dan yang mematuhi mekanismemekanisme yang aksesibel dan terpercaya melalui mana orangorang, termasuk mereka yang paling terisolasi dan/atau paling rentan (dan dengan demikian paling berisiko terhadap bahaya), dapat melaporkan persoalanpersoalan secara rahasia. Berikan tindakan disiplin yang tepat terhadap staf yang terbukti melakukan pelanggaran kode etik. Pelihara rekam jejak tertulis dari para pekerja yang telah ditemukan melakukan pelanggaran kode etik, guna meningkatkan efektivitas dari perujukan atau rekrutmen berikutnya. Para pekerja pemberi bantuan nasional dan internasional memainkan sebuah peran kunci dalam penyelenggaraan Kesehatan Jiwa dan Kesejahteraan Psikososial dalam situasi darurat. Dalam rangka itu, dipersyaratkan bahwa semua pekerja memiliki pengetahuan dan keahlian yang penting/dibutuhkan. Pelatihan hendaknya mempersiapkan para

pekerja untuk menyediakan respons-respons kedaruratan yang diidentifikasikan dalam asesmen kebutuhan Meskipun isi pelatihan akan memiliki sejumlah keserupaan lintas situasi darurat yang beragam, isi pelatihan ini wajib dimodifikasi sesuai dengan kultur, konteks, kebutuhan dan kapasitas dari tiap-tiap situasi, dan tidak dapat ditransfer secara otomatis dari satu situasi darurat ke situasi lainnya. Keputusan-keputusan mengenai siapa yang berpartisipasi dalam pelatihan serta mengenai modus, isi dan metodologi pembelajaran adalah bervariasi bergantung kepada kondisi-kondisi kedaruratan dan kapasitas-kapasitas dari para pekerja. Pekerja yang tidak terlatih serta tanpa sikap dan motivasi yang tepat dapat membahayakan populasi yang dibantu. Seminar-seminar pelatihan hendaknya partisipatoris, hendaknya diadaptasikan pada kultur dan konteks lokal, serta hendaknya menggunakan model-model pembelajaran dalam hal mana para peserta berfungsi baik sebagai pelajar (learner) maupun pembelajar (educator). Gunakan gaya pengajaran partisipatoris (misalnya, permainan peran, dialog, drama, pemecahan masalah kelompok, dan sebagainya) yang melibatkan partiVol1 No2 Maret 2010

23

UTAMA

sipasi trainee secara aktif. Di samping kelas-kelas teoritis, gunakan pelatihan berbasis-lapangan yang bersifat praktis dan langsung guna mempraktikkan keahlian di lokasi yang berada dalam atau menyerupai wilayah yang terkena bencana. Setelah tiap-tiap pelatihan, tentukan sistem tindak lanjut untuk pemantauan, layanan, umpan balik dan supervisi terhadap semua trainee, sepanjang tepat terhadap situasinya. Anggota-anggota staf yang bekerja dalam situasi darurat cenderung untuk bekerja dalam banyak jam di bawah tekanan serta dalam kendala keamanan yang sulit. Banyak pekerja pemberi bantuan mengalami dukungan manajerial dan organisasional yang tidak memadai, dan mereka cenderung melaporkan hal ini sebagai stresor terbesar bagi mereka. Lebih dari itu, konfrontasikonfrontasi dengan kengerian, bahaya, dan kesengsaraan manusia secara emosional bersifat menuntut (demanding) dan secara potensial memengaruhi Kesehatan Jiwa dan Kesejahteraan Psikososial dari para sukarelawan maupun para pekerja, baik untuk mereka yang berasal dari wilayah/region/negara yang terpengaruh bencana maupun dari luar negeri.
Vol1 No2 Maret 2010

Implementasikan kebijakan layanan staf organisasi, termasuk penyediaan relaksasi dan penyembuhan (R & R = rest and recuperation). Latih sejumlah staf dalam menyediakan dukungan sejawat, termasuk manajemen stres umum dan pertolongan pertama yang bersifat psikologis (PFA = psychological first aid) dasar. Jamin back-up spesialis dan senantiasa siap sedia bagi keluhankeluhan psikiatris yang bersifat mendesak dalam staf (misalnya, perasaan-perasaan bunuh diri, psikosis, depresi berat dan reaksi-reaksi kecemasan akut yang memengaruhi fungsi sehari-hari, kehilangan kontrol emosional yang signifikan, dan sebagainya). Pertimbangkan pengaruh dari stigma terhadap kemauan staf untuk mengakses bantuan kesehatan jiwa serta sesuaikan dukungan back-up seturut dengan hal tersebut (misalnya, staf internasional mungkin takut bahwa mereka akan dikirim pulang ke negara mereka apabila mereka mencari bantuan). Dalam komunitas cenderung ada banyak sub-sub kelompok yang berbeda-beda kebutuhannya dan sering saling bersaing untuk memengaruhi dan memperoleh kekuasaan. Agar komunitas dapat berperanserta sungguhsungguh, diperlukan pemaha-

24

UTAMA

man akan struktur kekuasaan setempat dan pola-pola konflik komunitas, bagaimana bekerja dengan sub-kelompok yang berbeda-beda dan menghindari menganakemaskan kelompokkelompok tertentu. Proses eksternal sering mendorong komunitas menyesuaikan diri dengan agenda organisasi pemberi bantuan. Ini adalah suatu masalah sendiri, terutama saat pekerja kemanusiaan dari luar bekerja secara tidak terkoordinasi. Misalnya, setahun setelah tsunami 2004 di Asia Tenggara, suatu komunitas yang terdiri dari 50 keluarga di utara Sri Lanka, yang diwawancara dalam suatu survey psikososial dari rumah ke rumah, mengidentifikasi ada 27 LSM berbeda yang menawarkan atau memberikan bantuan. Salah

satu yang diwawancarai mengatakan: ”Kami tidak pernah memiliki ketua disini. Sebagian besar orang yang ada adalah saudara. Kalau ada yang mempunyai masalah, para tetangga datang menolong. Tapi sekarang beberapa orang bertindak seolah mereka adalah pemimpin, untuk menegosiasikan donasi. Para saudara ini tidak lagi saling menolong.” Contoh di atas menunjukkan efek merusak bila peran serta komunitas dalam tingkat tinggi dipermudah oleh adanya agensi atau badan yang datang dengan membawa agenda tawaran bantuan sendiri, namun agensi itu tidak mempunyai ikatan kuat atau pemahaman tentang komunitas tersebut. oleh karena itu penting untuk menciptakan kondisi dimana komunitas
Vol1 No2 Maret 2010

25

UTAMA

mengorganisasi tindakan bantuan sendiri, ketimbang mendorong komunitas mengikuti agenda dari luar. Pendekatan bantu-diri (self-help) menjadi pendekatan penting dalam situasi bencana karena dengan mengendalikan sendiri berbagai aspek kehidupannya, maka kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial penyintas akan terpacu. Stres kolektif yang dialami penyintas bencana seringkali dapat dikurangi dengan melakukan kegiatan budaya, spiritual dan keagamaan yang tepat. Kematian atau upacara penguburan dapat mengurangi stress dan membebaskan kesedihan dan rasa duka. Di beberapa tempat, upacara kebersihan dan penyembuhan dapat membantu pemulihan dan reintegrasi. Bagi masyarakat yang amat religius, keyakinan atau kegiatan seperti berdoa membantu dan memberi makna akan situasi yang sulit. Memahami dan memberdayakan atau membantu kegiatan penyembuhan secara budaya dapat meningkatkan kesejahteraan psikososial bagi banyak penyintas. Mengabaikan kegiatan penyembuhan semacam itu dapat memperpanjang stres dan mungkin merugikan bila menepiskan cara pengatasan
Vol1 No2 Maret 2010

masalah yang berpendekatan budaya. Dalam beberapa konteks, bekerja dengan pimpinan agama dan SDM lain merupakan bagian penting dari bantuan psikososial dalam situasi darurat. Keterlibatan dalam agama setempat atau budayanya sering mendorong para pekerja pemulihan yang berasal dari luar untuk mempertimbangkan pandangan orang setempat yang amat berbeda dari pandangan mereka sendiri. Karena beberapa kegiatan lokal dapat merugikan (misalnya, dalam konteks dimana spiritualitas dan agama dipolitisasi), para pekerja kemanusiaan harus berpikir kritis dan membantu kegiatan lokal dan sumberdayanya bila kegiatan itu cocok dengan standar internasional tentang HAM. Masa kanak-kanak (0-8 tahun) adalah periode paling penting dalam kehidupan manusia bagi perkembangan kognitif, sosial dan emosional. Selama masa ini, bagian otak yang penting berkembang pesat dan bergantung pada perlindungan, stimulasi dan perawatan ekstensif. Kehilangan pada masa kanakkanak (misalnya kematian orangtua), menyaksikan kekerasan fisik atau seksual, dan kejadian menakutkan

26

UTAMA

lainnya dalam bencana alam maupun konflik sosial dapat mengacaukan perkembangan dan melemahkan perkembangan sosial dan emosionalnya dalam jangka panjang. Namun, sebagian besar anak pulih dari pengalaman semacam itu, terutama bila mereka diberi bantuan dan pengasuhan tepat. Jaga anak-anak bersama ibu, ayah, keluarganya atau pengasuh lain yang dikenal. Bantulah pengaturan alternatif pengasuhan. Dalam situasi krisis dimana tidak tersedia pilihan lain dalam masalah pengasuhan, mungkin perlu untuk mengelola pusat pengasuhan sementara untuk melindungi anak yang terpisah hingga ada solusi jangka panjang. Sambil menunggu disatukan kembali dengan keluarganya, anak yang terpisah dapat diasuh orang atau keluarga yang dapat memberikan pengasuhan memadai dan perlindungan. Panti asuhan harus dipandang sebagai tempat terakhir. Dorong keberlanjutan menyusui. Menyusui adalah kegiatan optimal bagi perkembangan fisik, psikososial dan kognitif bayi dan anak. Menyusui mendorong perkembangan kognitif anak, membuat anak merasa nyaman, dan memperkuat ikatan ibu dan anak, dan mudah dilakukan, bebas dan biasanya sangat aman.

oleh karenanya: (1) Dorong kegiatan menyusui melalui dialog perorangan dan dengan masyarakat; (2) Hindari tekanan berlebihan bagi ibu menyusui. Ibu yang menolak menyusui, yang mengalami kesulitan atau tidak dapat menyusui harus menerima bantuan memadai. Berikan bantuan agar anak dapat bermain, mendapat pengasuhan dengan kasih sayang dan dukungan sosial. Para pengasuh hendaknya bertemu secara periodik di sebuah tempat yang aman untuk membahas persoalan dan saling membantu Staf kesehatan umum harus mengetahui bagaimana melindungi dan mendorong hak pasien akan martabatnya melalui pemberian persetujuan, kerahasiaan dan privasi. Staf kesehatan umum harus mampu memberi pertolongan psikologis pertama (PFA = psychological first aid) kepada pasien sebagai bagian dari perawatan. Banyak orang mengalami stres mental akut setelah dihadapkan pada kejadian yang menimbulkan stres berat, dan mereka ini paling baik mendapat bantuan yang tidak menggunakan obat-obatan. Semua pekerja pemberi bantuan dan terutama pekerja kesehatan, harus mampu memberikan
Vol1 No2 Maret 2010

27

UTAMA

Pertolongan Psikologis Pertama (PFA) yang sangat mendasar, yang sering disalahartikan sebagai intervensi psikiatris klinis atau darurat. Sebenarnya, PFA adalah gambaran respons yang suportif dan manusiawi kepada orang yang menderita dan butuh bantuan. PFA sangat berbeda dari wawancara psikologis. PFA tidak selalu berisi pembahasan akan suatu kejadian yang menyebabkan distress. PFA mencakup: • Melindungi penyintas bencana dari penderitaan lebih dalam (dalam sejumlah kecil situasi, orang yang sangat tertekan akan mengambil keputusan yang membuat mereka berisiko mengalami penderitaan lebih dalam). Bila dirasa tepat, beritahukan
28
Vol1 No2 Maret 2010

• • • •

kepada penyintas yang sedang tertekan itu, hak mereka untuk menolak membicarakan kejadian dengan pekerja bantuan (lainnya) atau dengan reporter. Beri kesempatan kepada penyintas untuk membicarakan kejadiannya dengan bebas. Hormati keinginan mereka untuk tutup mulut, dan jangan mendesak mereka untuk mendapat informasi lebih dalam dari yang ingin disampaikan oleh penyintas itu. Dengarkan dengan sabar, dengan cara penuh penerimaan dan tidak menilai. Tunjukkan perhatian yang tulus Identifikasi kebutuhan dasar dan pastikan bahwa kebutuhan itu terpenuhi. Tanyakan apa yang dikhawatirkan dan berusahalah mengatasinya. Tidak mendorong cara-cara negatif menghadapi masalah. Utamanya, jangan mendorong cara menghadapi masalah melalui penggunaan alkohol dan zat-zat lain. Jelaskan bahwa orang yang sedang amat tertekan berisiko tinggi mengalami masalah penggunaan napza.

UTAMA

Dorong peran serta dalam rutinitas normal sehari-hari (bila mungkin) dan menggunakan cara positif menghadapi masalah (misalnya metode relaksasi yang tepat secara kultural, mendapat akses bantuan kultural dan spiritual). • Dorong, namun tidak memaksa, adanya pendamping yang berasal dari satu atau lebih anggota keluarga atau teman penyintas. • Bila perlu, tawarkan kemungkinan kembali untuk mendapatkan bantuan lebih intensif. • Bila perlu, rujuk ke mekanisme bantuan yang tersedia di lingkungan sekitar atau ke klinisi terlatih. Sudah diperkirakan bahwa dalam situasi bencana, ratarata persentase penyandang gangguan jiwa parah (misalnya, psikosis dan gangguan suasana hati yang parah dan kecemasan) bertambah satu persen melebihi data dasar yang sebesar 2 sampai 3 persen. Selain itu, persentase penyandang gangguan jiwa ringan atau sedang, termasuk gangguan suasana hati dan kecemasan (seperti gangguan stres pasca trauma) dapat meningkat 5 sampai 10 persen di atas perkiraan data dasar sebesar 10 persen. Pada umumnya

proses penyembuhan bagi para penyintas dari gangguan jiwa ringan dan sedang, berlangsung seiring dengan berjalannya waktu (sembuh sendiri tanpa intervensi dari luar), namun memang tidak semua terjadi demikian. Gangguan jiwa parah yang dialami penyintas boleh jadi merupakan gangguan yang telah dialami sebelum bencana atau terpicu situasi darurat bencana. Mereka yang mengalami gangguan jiwa pertama kali akan datang ke layanan kesehatan utama (PHC = primary health care) untuk mencari bantuan atas keluhan somatis yang secara medis tidak dapat dijelaskan. Namun, orang dengan gangguan jiwa parah barangkali tidak sanggup mencari bantuan karena masalah isolasi, stigma, ketakutan, pengabaian diri sendiri, ketidakmampuan dan akses yang buruk. Mereka menjadi amat rentan, baik karena gangguannya parah maupun karena situasi darurat yang terjadi menjauhkan mereka dari bantuan sosial yang sebelumnya telah diperoleh. Dalam situasi normal saja, keluarga seringkali merasa tertekan dan mendapat stigma oleh beban perawatan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Situasi ini membuat penyandang
Vol1 No2 Maret 2010

29

UTAMA

itu berisiko lebih tinggi untuk ditinggalkan dalam situasi darurat yang memerlukan perpindahan tempat. Namun jika telah teridentifikasi, maka dapat diambil langkah-langkah perlindungan dan pemulihan segera, dan membantu mereka yang selama ini merawat. Perlu ada prioritas bagi mereka yang menyandang risiko besar untuk bertahan hidup atau yang tinggal di tempat dimana martabat dan hak asasi mereka diremehkan, atau dimana minim dukungan sosial dan anggota keluarga berjuang mengatasi masalahnya. Beberapa gangguan jiwa dapat efektif ditangani oleh intervensi psikologis saja, dan tidak perlu menggunakan pengobatan kecuali bila intervensi psikologis tidak tersedia atau gagal. Usahakan menghindari terbentuknya layanan kesehatan jiwa yang terfokus pada diagnosa khusus tertentu (misalnya PTSD = Post-Traumatic Stress Disorder) atau pada kelompok kecil (misalnya para janda). Hal ini berpotensi berakibat pada layanan yang mengelompok, yang tidak berkelanjutan, dan pengabaian yang terus menerus terhadap mereka yang tidak sesuai dengan kategori diagnostik tertentu atau kelompok tertentu. Cara ini juga mungkin akan mengakiba-

tkan pelabelan dan stigmatisasi pada mereka, termasuk pada kelompok jangkauan yang menjadi target ke populasi lebih luas (seperti klinik jangkauan bagi anakanak di sekolah) sebagai bagian dari layanan terpadu. Penyandang gangguan jiwa parah sering mendapat stigma dan prasangka, yang berakibat pada pengabaian, ditinggalkan dan pelanggaran hak asasi. Tinggal dalam institusi atau panti membuat mereka jauh dari perlindungan dan bantuan keluarga, yang barangkali amat perlu bagi mereka untuk bertahan dalam situasi genting. Beberapa penyandang gangguan jiwa parah yang tinggal dalam panti (amat) bergantung pada perawatan dari panti, agar dapat mudah pindah ke tempat lain selama bencana. Ketergantungan total pada perawatan dari lembaga dapat menimbulkan kecemasan lebih dalam, pergolakan dan tindak pengucilan diri total. Kesulitan dalam memberikan reaksi tepat terhadap situasi darurat yang cepat berubah-ubah dapat membatasi mekanisme perlindungan diri dan bertahan hidup. Para pekerja profesional setempat seharusnya membimbing mereka berespons terhadap situasi darurat bilamana mungkin. Intervensi yang diberikan harus

30

Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

terpusat pada perlindungan dan diterapkannya lagi perawatan yang sebelumnya sudah ada (existing) sebelum bencana. Namun, apabila sistem perawatan sebelumnya berada di bawah standar, maka intervensi darurat harus terfokus bukan pada membangun kembali perawatan seperti semula, melainkan pada upaya memenuhi standar minimum, bahkan lebih baik, secara umum dan standar praktek perawatan psikiatri. Pada banyak negara, segera setelah fase terburuk dari bencana berlalu, layanan kesehatan jiwa komunitas memberikan intervensi yang layak. Perawatan kesehatan jiwa secara medis (istilah yang dipakai untuk menjelaskan perawatan kesehatan jiwa model Barat yang konvensional dan bersifat biomedis) cenderung berpusat pada rumah sakit, klinik, namun makin lama makin banyak bersandar pada komunitas. Layanan perawatan kesehatan jiwa ini diberikan staf terlatih dalam bidang pengobatan, ilmu keperilakuan dan psikoterapi formal atau pekerja sosial. Namun, semua anggota masyarakat termasuk kelompok non medis, seperti sistem penyembuhan yang terdapat dalam lingkungan setempat, yang sifatnya informal,

tradisional, indigenous (ulayat, keperibumian), baik yang bersifat melengkapi atau yang merupakan alternatif dari perawatan kesehatan, juga bermakna besar. Sebagai contoh, di India, Ayurdeva adalah sistem pengobatan tradisional, yang populer dan berkembang baik (termasuk para dokter yang melatih praktisi), sementara di Afrika Selatan, posisi para penyembuh tradisional diakui secara hukum. Di masyarakat Barat, banyak orang menggunakan obat pelengkap, termasuk psikoterapi non-ortodok dan penanganan lain (akupuntur, homeopathi, penyembuhan berbasis keyakinan, dan berbagai macam pengobatan mandiri lain), meskipun bukti ilmiahnya masih sangat lemah. Di banyak masyarakat pinggir kota, di kalangan mereka yang berpenghasilan rendah, sistem informal dan tradisional seolah merupakan cara pokok mendapatkan perawatan kesehatan. Bahkan ketika layanan kesehatan medis telah tersedia, masyarakat setempat lebih suka menggunakan layanan kesehatan di wilayahnya yang bersifat tradisional bila ada masalah kesehatan jiwa dan fisik. Layanan semacam itu memang lebih murah, lebih mudah diperoleh, juga mungkin lebih dapat diterima secara so-

Vol1 No2 Maret 2010

31

UTAMA

sial dan tidak mengakibatkan ada stigma, dan dalam beberapa kasus tertentu, kemungkinan juga efektif. Seringkali layanan kesehatan setempat ini menggunakan pendekatan sebab-akibat yang dapat diterima masyarakat setempat. Contoh kegiatannya antara lain penyembuhan yang dilakukan tokoh agama, dengan menggunakan doa-doa atau mantra; para penyembuh spesialis yang diijinkan komunitas agama dengan menggunakan metode serupa; atau penyembuhan oleh penyembuh khusus yang bergerak dalam kerangka budaya setempat. Mereka ini mungkin menggunakan herbal atau zat alami lain, pijat atau kegiatan fisik lain, ritual tertentu dan atau sihir, serta ritual yang melibatkan roh-roh. Meskipun beberapa tokoh agama barangkali tidak menghukum atau secara aktif melarang kegiatan tersebut, para penyembuh lokal seringkali populer dan kadang juga berhasil menyembuhkan. Dalam beberapa budaya, keyakinan dan praktik kesembuhan ini bercampur dengan kelompok agama besar. Selain itu, farmasi setempat barangkali menyediakan layanan kesehatan dengan menggunakan pengobatan medis dan tradisional sekaligus. Beberapa kelompok agama memberikan penyembuhan
Vol1 No2 Maret 2010

berbasis keyakinan. Perlu dicatat bahwa praktek penyembuhan tradisional kadang bersifat merugikan. Misalnya, memberikan informasi salah, melakukan metode penyiksaan, perpanjangan masa puasa, perpanjangan penahanan fisik, atau ritual pembersihan secara sosial dimana para tukang magis dienyahkan dari komunitas itu. Selain itu, beberapa ritual berbiaya amat mahal dan dulu beberapa penyembuh memanfaatkan situasi darurat untuk mengubah keyakinan pasien dan mengeksploitasi populasi rentan. Tantangan yang dihadapi dalam kasus semacam ini adalah mendapatkan cara efektif dan konstruktif mengatasi praktek-praktek merugikan, selama cara ini dapat diwujudkan dalam situasi darurat. Sebelum membantu atau bekerjasama dengan praktek penyucian atau penyembuhan tradisional, lebih dulu perlu ditentukan obat apa yang digunakan dalam praktekpraktek itu dan apakah obat itu menguntungkan atau merugikan atau justru tidak berefek apaapa. Beberapa penyembuh tradisional mungkin mencoba membuat “jarak” secara fisik dan simbolik dengan praktisi medis, dan mungkin menghindari kerjasama. Pada saat yang sama,

32

UTAMA

staf kesehatan yang terlatih dalam pengobatan medis dapat bersikap tidak simpati atau ketus atau tidak peduli terhadap praktisi tradisional. Meskipun dalam beberapa situasi, menjaga jarak dapat menjadi cara terbaik menghadapi mereka, namun perlu dibangun jembatan antara kedua sistem perawatan yang berbeda. Tunjukkan penghargaan pada peranan penyembuh dan tanyakan apakah mereka dapat menjelaskan kegiatannya dan bagaimana kegiatan itu terpengaruh oleh situasi bencana (misalnya, ada peningkatan jumlah pasien, atau kesulitan menjalankan kegiatannya karena kekurangan bahan atau kehilangan fasilitas?). Undang para penyembuh dalam pertemuan komunitas untuk berbagi informasi dan sesi pelatihan. Pertimbangkan untuk memberikan para penyembuh itu peranan dalam pelatihan, misalnya dengan menjelaskan pemahaman mereka bagaimana penyakit disebabkan oleh definisi mereka tentang penyakit. Bila kegiatan ini tidak sesuai dengan pendekatan organisasi setempat atau internasional yang turut dalam respon terhadap situasi darurat, maka tetap diperlukan pemahaman terhadap model yang digunakan para penyembuh

setempat mengenai perawatan pasien yang baik karena barangkali hal itu mendasari pemahaman pasien sendiri tentang masalahnya. Bila mungkin, bentuklah layanan kerjasama, antara lain rujukan silang, misalnya: masalah seperti stres, kecemasan, kehilangan, reaksi kejang, dan stres eksistensial, mungkin lebih baik ditangani oleh penyembuh tradisional, sementara penyembuh medis lebih baik mengatasi gangguan jiwa parah dan epilepsi. Dalam situasi darurat bencana, pendidikan adalah salah satu intervensi psikososial utama. Pendidikan memerlukan lingkungan aman dan stabil dan dapat mengembalikan perasaan normal, bermartabat dan membangun harapan dengan adanya kegiatan terstruktur, tepat dan mendukung. Banyak anak dan orangtua memandang partisipasi dalam pendidikan sebagai dasar masa kanak-kanak yang sukses. Pendidikan yang dirancang juga baik untuk membantu masyarakat yang terkena bencana menghadapi situasinya dengan menyebarkan pesanpesan penting untuk bertahan hidup, memberdayakan proses belajar tentang perlindungan diri, dan mendukung strategi
Vol1 No2 Maret 2010

33

UTAMA

masyarakat setempat memahami kondisi darurat. Kegiatan pendidikan formal dan non formal perlu segera dimulai lagi dengan menjadikan keamanan dan kesejahteraan sebagai prioritas bagi semua anak dan pemuda, termasuk bagi mereka yang risikonya bertambah dengan adanya bencana atau mereka yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus. Hilangnya kegiatan pendidikan sering menjadi stresor terbesar bagi para siswa dan keluarganya, yang memandang pendidikan sebagai jalur menuju masa depan lebih baik. Pendidikan dapat menjadi alat utama membantu masyarakat membangun ulang kehidupannya. Akses terhadap pendidikan formal dan nonformal dalam lingkungan yang mendukung dapat membangun intelektualitas siswa dan kompetensi emosinya, memberikan dukungan sosial melalui interaksi dengan sebaya dan pendidik dan memperkuat perasaan siswa tentang masalah kendali diri dan harga diri. Akses itu juga membangun keterampilan hidup yang memperkuat strategi mengatasi masalah, seperti masalah pekerjaan di masa datang dan mengurangi stres ekonomi. Para pendidik (guru kelas formal, instruktur kegiatan belajar nonformal dan fasilitator kegiatan
Vol1 No2 Maret 2010

pendidikan) berperan penting dalam kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial siswa. Seringkali, para pendidik berjuang mengatasi tantangan yang mereka dan para muridnya hadapi, termasuk kesehatan jiwa mereka sendiri terkait dengan bencana dan masalah psikososial. Pendidik dapat menyediakan bantuan psikososial bagi siswa dengan menyesuaikan cara mereka berinteraksi dengan siswa, menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif, dimana para siswa dapat menyatakan emosi dan pengalamannya, dan dengan memasukkan kegiatan psikososial terstruktur dalam proses pengajaran/belajar. Namun, pendidik tidak perlu berusaha melakukan terapi, yang memerlukan keterampilan khusus tertentu. Aktifkan bantuan psikososial yang tersedia bagi pendidik. Misalnya, membawa para pendidik bersama-sama dengan fasilitator terampil untuk mulai berbicara tentang masa lalu, sekarang dan masa depan, atau bentuk mekanisme bantuan masyarakat untuk membantu pendidik menghadapi situasi krisis. Bantu staf sekolah, seperti administrator, konselor, guru dan pekerja kesehatan agar paham kemana merujuk anak penyandang gangguan kesehatan jiwa parah dan kesulitan psikososial

34

UTAMA

(termasuk anak yang tidak secara langsung terpengaruh bencana namun yang sebelumnya telah menunjukkan gangguan) ke layanan kesehatan jiwa yang tepat, layanan sosial dan bantuan psikososial dalam komunitas, dan ke layanan kesehatan, bila perlu. Pastikan bahwa siswa, orangtua dan anggota masyarakat memahami bagaimana menggunakan sistem rujukan ini. Sistem informasi dan komunikasi dapat dirancang untuk membantu masyarakat berperan dalam proses pemulihan dan menjadi penyintas yang aktif, bukannya korban yang pasif. Teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dan metode tradisional dalam

komunikasi dan hiburan (seperti sketsa, lagu dan drama) berperan penting dalam penyebaran informasi tentang hak dan kewajibannya, sementara informasi tepat tentang pemulihan dan keberadaan orang yang dipindahkan dapat membantu mempersatukan keluarga. Pastikan bahwa tidak perlu ada pengulangan tayangan tidak mendesak tentang kejadian menakutkan yang telah lewat, di media setempat (misalnya, menghindari pengulangan video klip momen terburuk dalam bencana) dengan mengadakan jumpa pers dan kunjungan ke lokasi. Doronglah organisasi media dan jurnalis menghindari penggu35

Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

naan gambar yang tidak perlu yang mungkin menimbulkan stres berat untuk pemirsa. Selain itu, dorong media untuk tidak hanya menyampaikan gambar dan cerita tentang mereka yang putus asa, tetapi juga tentang mereka yang tabah dan kegiatan para penyintas, selama dalam upaya pemulihan. Imbangi kepentingan media setempat dengan mengambil berita dari sudut berbeda, seperti berbagai dimensi dari kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial, kisah pemulihan penyintas, keterlibatan kelompok-kelompok berisiko dalam upaya pemulihan dan prakarsa tanggapan terhadap bencana. Sebarkan pesan akan hak dan kewajiban para penyintas, seperti hukum kecacatan, hukum kesehatan masyarakat, kewajiban terkait dengan tanah untuk rekonstruksi, program pemulihan, dsb. Dalam kaitan dengan informasi yang disebarkan, jangan menggunakan bahasa yang rumit atau teknis (misalnya istilah psikologi atau psikiatri), jangan menjanjikan secara khusus kerangka waktu untuk pemulihan (misalnya, „Anda akan merasa lebih baik dalam 3 minggu“) dan jangan menyarankan untuk mencari bantuan profesional bila me-

mang tidak tersedia. Meskipun bahan cetak (seperti brosur dan poster) adalah metode paling umum menyebarkan informasi, mekanisme lain seperti radio, televisi, lukisan/gambar, lagu, drama, atau teater jalanan, berpotensi lebih efektif. Bersama-sama masyarakat dan pimpinan agama, cobalah menggali cara-cara menyampaikan informasi tak tertulis. Cara paling tepat menyampaikan pesan adalah bergantung pada sasarannya, tingkat kemampuan baca dan konteks budaya. Misalnya, bahan non-tulis (misalnya buku komik yang menggambarkan tokoh, drama) mungkin lebih efektif dalam berkomunikasi dengan anak-anak. Pemahaman mengenai keterkaitan antara kesejahteraan psikososial dan keamanan pangan/gizi membuat pekerja kemanusiaan mampu meningkatkan kualitas dan efektifitas program bantuan pangan dan gizi seraya mendukung martabat kemanusiaan. Pengabaian terhadap interaksi ini dapat merugikan, berakibat pada program yang membuat orang mengantri selama berjamjam untuk menerima makanan, memperlakukan penerimanya secara tidak manusiawi, menjadi konsumen pasif atau mencipta-

36

Vol1 No2 Maret 2010

UTAMA

kan kondisi kekerasan di dalam dan sekitar pembagian makanan. Pengelolaan tempat penampungan dan tenda (shelter) berdampak besar pada kesejahteraan. Kesejahteraan dapat berkurang bila tempat terlalu sesak dan kurang privasi dan hal ini umum dijumpai dalam tempat penampungan atau tempat lain. Masalah kesehatan jiwa dan psikososial dapat timbul bila orang terisolasi dari keluarganya atau dari kelompok komunitasnya, atau terpaksa tinggal di sekitar orang tak dikenal, yang berbicara dengan bahasa berbeda atau yang menimbulkan ketakutan atau kecurigaan. Konflik di kalangan pengungsi atau antara pengungsi dengan masyarakat penampung, karena berebut sumberdaya yang minim, seperti tempat atau air, seringkali menjadi masalah besar, dan karena itu kegiatan perencanaan tempat penampungan harus dapat mengurangi masalah-masalah itu. Bergantung pada cara bagaimana penyediaannya, air dan sanitasi dapat meningkatkan atau merugikan kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikososial. Pada beberapa situasi darurat, toilet yang remang-remang,

tidak terkunci, telah menjadi tempat kekerasan berbasis gender, termasuk perkosaan, sedangkan di tempat lain, konflik karena sumber air, telah menjadi sumber stres besar. Sebagian dari stress yang dialami karena terkait dengan penyediaan air dan sanitasi, berasal dari masalah budaya. Misalnya di Afganistan anak perempuan dan wanita melaporkan bahwa kurangnya toilet yang terpisah untuk wanita telah menjadi kekhawatiran besar karena jika menunjukkan bagian badannya, maka ia akan dihukum dan malu dan membuat keluarga merasa terhina.

Penutup

Demikian telah penulis diskusikan prinsip-prinsip dan praktik-praktik layanan psikologis kepada para penyintas bencana. Penulis berharap, seluruh bahasan di atas berguna bagi segenap pemangku kepentingan (stakeholders) terkait bencana. Jikalau benar bahwa kita mencintai dan menyayangi bangsa kita sendiri, maka kita tidak akan melupakan atau sengaja mengabaikan pelayanan optimal terhadap dimensi psikologis kawan-kawan kita sebangsa yang tengah berjuang sebagai penyintas-penyintas bencana. Psikologi Bencana? Ayo dong, ah!

Vol1 No2 Maret 2010

37

LANSKAP

“terorisme” dan cinta tanah air
dapat Membuat Mereka Stres ataukah tetap Berkembang dengan Baik???
erna Multahada, M.Si
Manusia memiliki banyak sisi kehidupan, namun kita sering hanya melihat segala sesuatu secara "hitam-putih". Karena itulah rubrik Lanskap ini diadakan. Dalam rubrik ini, pembaca diajak untuk melihat bebagai hal maupun peristiwa dari cakrawala "yang lain"- yang membantu kita menyusun "puzzle-puzzle kehidupan" dalam sebuah keutuhan pandangan.

apakah Penilaian kognitif Penduduk pada Situasi yang Penuh dengan Bahaya akibat

MerPsy dalam kolom ini ingin berbagi informasi mengenai permasalahan psikologis melalui penelitian yang dilakukan oleh Rachel Dekel and orit Nuttman-Shwartz, yang dipublikasikan pada bulan Mei tahun 2009, Penelitian mereka mengenai Stres pasca trauma dan perkembangan: Suatu kontribusi kognitif dan cinta tanah air (Health & Sosial Work; May 2009; 34 (20; Proquest Sociology pg. 87). Diketahui bahwa situasi yang berbahaya---akan menjadi bahaya dan menambah stress kita ataukah memberikan peluang perkembangan yang positif sangat, tergantung pada bagaimana kita dapat memberikan penilaian kita secara kognitif pada situasi yang berbahaya tersebut terlebih akibat terorisme atau pun gempa. Jika kita memberikan penilaian kognitif sebagai suatu ancaman, maka kita akan semakin stres akibat peristiwa traumatis. Sebaliknya, jika penilaian kognitif kita terhadap situasi yang berbahaya akibat terorisme ataupun gempa sebagai suatu tantangan,
38
Vol1 No2 Maret 2010

LANSKAP

maka kita akan tetap berkembang dengan mental yang tetap sehat. Di sisi lain, dalam penilaian kognitif---apakah suatu situasi menjadi suatu ancaman ataukah suatu tantangan---tidak terlepas dari rasa cinta kita terhadap tanah air. So… bagaimana cerita selanjutnya? Hal ini dapat terjadi dalam kondisi seperti apa? Bagaimana ya gambaran permasalahannya?? Rachel Dekel and orit Nuttman-Shwartz menjelaskan penelitiannya dengan beberapa tujuan sebagai berikut: (1) penelitian dilakukan untuk membandingkan dampak serangan Qassam pada tipe penduduk kota yang berkembang, Sderot dan Kibbutz; (2) untuk menguji hubungan antara stres pasca trauma (PTS) dan perkembangan pasca trauma (PTG); dan (3) untuk menguji kontribusi tingkatan terpaan teror (terorisme), penilaian kognitif, dan cinta tanah air terhadap Negara, dalam hal sumbangsihnya terhadap PTS dan PTG.

terhadap tanah air pada Sderot lebih rendah daripada Kibbutz yang melakukan perjuangan pada situasi yang penuh dengan tekanan, di samping adanya solidaritas dan loyalitas serta komitmen yang tinggi terhadap suatu negara. Adapun sumbangsih atau prediktor dari penilaian kognitif dan cinta tanah air pada stres pasca trauma dan perkembangan pasca trauma dapat kita ketahui melalui hasil beberapa kali perhitungan sebagai berikut. Tahap pertama dijelaskan kontribusi dari beberapa variasi seperti tingkat terpaan/ eksposur, tempat tinggal penduduk, dan usia ternyata diketahui signifikansinya terhadap perkembangan pasca trauma sebesar 23,1%. Sedangkan untuk stress pasca trauma kontribusinya sebesar 8,1%. Pada tahap kedua, terdapat kontribusi terpaan, tempat tinggal penduduk, usia, cinta tanah air, penilaian ancaman, penilaian tantangan, perkembangan diketahui signifikansinya terhadap perkembangan pasca trauma sebesar 21,6%, sedangkan kontribusi stress pasca trauma sebesar 21%. Tahap ketiga, kontribusi dari beberapa hasil interaksi penduduk x cinta tanah air, cinta tanah air x ancaman, cinta tanah air x tantangan, ancaman x perkembangan diketahui signifikansinya terhadap perkembangan sebesar 10,1%. Deskripsi singkat atas dinamika yang terurai dari hasil penelitian berikut ini.

Ternyata ditemukan bahwa penduduk di kota berkembang Sderot memiliki stress pasca trauma lebih dari pada penduduk Kibbutz, meskipun pada kenyataannya Sderot adalah kota yang lebih makmur dibandingkan dengan Kibbutz; dan asosiasi antara stress pasca trauma dan pertumbuhan pasca trauma adalah positif. Semakin individu melakukan penilaian kognitif terhadap distres sebagai suatu ancaman, maka akan semakin distres. Sebaliknya, semakin penilaian kognitif terhadap distres memandangnya sebagai suatu tantangan maka distres akan rendah. Diketahui pula bahwa penilaian Terorisme???? Mungkin kata-kata ini kognitif yang negatif karena rasa cinta sudah sangat tidak asing lagi di telinga

Vol1 No2 Maret 2010

39

LANSKAP

kita. Bagaimana tidak? Ternyata gembong terorisme untuk Asia Tenggara menetap dan melancarkan aksi serangan di Indonesia. Ironisnya, banyak individu yang tak berdaya di negara kita yang merupakan penduduk asli pribumi pun ikut terhempas merasakan penderitaan akibat aksi terorisme. Bagi negara Indonesia mungkin terorisme merupakan suatu hal yang masih sangat menakutkan yang akan cenderung dapat menimbulkan akibat pascatrauma tersendiri dan berkepanjangan bagi sebagian individu. Namun, hal ini kemungkinan tidak berlaku bagi sebagian negara asing Lebih dari sepuluh dasawarsa, terorisme menjadi suatu masalah yang bermacam-macam. Beberapa peneliti memaparkan adanya kekerasan politik di Bosnia dan Croasia (Grgric, Mandic, Koic, & Knezevic, 2002), Palestin dan Israel (Baker & Kevorkian, 1995; Bleich, Gelkopf, & Solomon, 2003), dan US (Galea, dkk, 2002; Silver; Holman, McIntosh, Poulin, & GilRivas, 2002). Para peneliti tersebut menyampaikan hal serupa bahwa teror politik rata-rata berdampak negatif berupa kecemasan yang tinggi; depresi; berkurangnya rasa aman; dan meningkatnya penggunaan tembakau, alcohol dan obat-obatan (drugs); dan umumnya banyak mengalami stress pasca trauma. Stress pasca trauma (PTS) dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, pengalaman traumatis, seperti mimpi
40
Vol1 No2 Maret 2010

yang terus berulang dan ingat ke masa lalu. Kedua, tidak ingin membuka diri dengan lingkungan maupun secara pribadi, seperti enggan untuk berfikir, beraktivitas, tidak memiliki minat, sikap yang kaku (tidak dapat dipengaruhi), perasaan terbatas di dalam melihat ke depan. Stres yang dialami dan terus meningkat pada akhirnya, menyebabkan individu mengalami sulit tidur, suka marah, tidak dapat berkonsentrasi, kewaspadaan meningkat, dan respon mengejutkan berlebihan (American Psychiatric Association, 1994). Sebaliknya, sebagian individu yang selamat dari trauma mengalami perubahan psikologis ke arah yang positif. Perkembangan pasca trauma digambarkan sebagai pengalaman subjektif berupa perubahan psikologis positif sebagai hasil dari perjuangan melawan trauma. Perkembangan pasca trauma berhubungan dengan berbagai perubahan psikologis positif, meliputi adanya kemampuan untuk mengapresiasi kehidupan, dapat menata kehidupan dengan prioritas yang baru, kepribadian yang bertambah kuat, kemampuan mengidentifikasi hal-hal yang baru, memperbaiki hubungan yang lebih intim, atau bahkan adanya perubahan spiritual (Tedeschi, Park, & Calhoun, 1998). Selain Rachel dan Shwartz, Butler, dkk pada tahun 2005 juga menemukan bahwa teror merupakan peristiwa traumatis. Untuk kali ini kita dapat memperha-

LANSKAP

tikan stres dan perkembangan pasca trauma yang dialami oleh penduduk Negev Barat Israel diteliti oleh Rachel dan Shwartz. Diketahui bahwa terdapat kekerasan yang mematikan, dan kekerasan berupa ancaman, pemberontakan bersenjata yang dimulai pada bulan September 2000. Peristiwa ini masih berlangsung dan belum reda hingga saat ini. Negev Barat masih menjadi target serangan roket Qassam secara terus menerus sepanjang tahun. Pada tahun 2007 lebih dari 2.300 roket terlihat menyerang seluruh wilayah. Roket Qassam yang diluncurkan tidak ada batasnya dan ketepatannya pun rendah. Frekuensi penembakan mereka sepanjang waktu (sehari semalam), dengan tanpa adanya waktu yang pasti dalam serangan. Hal ini ternyata menimbulkan kecemasan tersendiri bagi penduduk, yang nampak dalam sinyal fisik dan emosional. Kondisi ini menyebabkan mereka sulit untuk melakukan perlindungan diri. Individu-individu secara tiba-tiba menghentikan aktivitas, lari ke beberapa daerah meskipun tidak cukup aman untuk berlindung, dan tetap menunggu ledakan. Qassam sesekali menembus rumah penduduk. Banyak kerusakan pada tanah milik mereka, dan, tidak hanya itu, sejumlah individu (diantaranya anakanak) terbunuh.

Shwartz (2009) ingin membandingkan dampak dari serangan Qassam di dalam dua tipe penduduk yang berbeda di Negev Barat. Satu tipe penduduk bernama Sderot, kota berkembang. Sderot telah dibangun pada tahun 1950, beberapa tahun setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaan, untuk mengentaskan besarnya rakyat jelata dari kehidupan menjadi imigran miskin selama tahun-tahun tersebut, dan untuk penduduk di sekeliling wilayahnya. Pemerintah memberikan perhatian di dalam pembangunan, namun fondasi kota tidak cukup kuat, demikian pula dengan fondasi ekonomi, sehingga sepanjang tahun dialami kerugian dan kemiskinan. Kota-kota di Sderot dicirikan dengan tingginya pengangguran, rendahnya tingkat pendidikan, dan penduduk merasakan bahwa mereka sangat diabaikan oleh pemerintah dan diabaikan oleh individu-individu kaya, serta adanya pandangan bahwa penduduk di negara lain lebih beruntung.

Kibbutz adalah tipe penduduk pembanding. Kota dibangun untuk bercocok tanam dan memiliki keseimbangan di dalam perekonomian dan sosial. Penduduk di dalamnya saling membantu dan bertanggung jawab. Sampai tahun 1980, penduduk Kibbutzim adalah individu menengah ke atas. Mereka beranggotakan militer senior dan petugas pemerintahan. Sejak itu, situasi ekonomi dari Kibbutz menjadi Pada dasarnya tujuan pertama pene- memburuk, wibawa mereka menurun litian Rachel Dekel and orit Nuttman- secara drastis, pendapatan mereka
Vol1 No2 Maret 2010

41

LANSKAP

menurun, dan mereka kehilangan hubungan sosial. Namun demikian, meskipun terjadi peperangan, Kibbutzim secara relatif masih mampu merajut atau bersatu dengan penduduk lainnya secara harmonis, dan tetap memelihara elemen di dalamnya berdasarkan pada ideologi suatu kelompok dan kebangsaan. Kibbutzim berbeda dengan Sderot. Kibbutzim kurang makmur, namun kualitas kehidupannya relatif tinggi, sekalipun tidak ada pemandangan yang hijau dan indah. Tingkat pendidikannya dan aktivitas budayanya baik, dan angka kriminalitas rendah. Benyamin, dkk pernah melakukan penelitian pada tahun 2004. Diketahui bahwa penduduk Kibbutz memiliki emosi yang lebih baik meskipun di bawah kondisi yang penuh dengan tekanan daripada penduduk dari penduduk lain. Namun yang ingin diketahui lebih jauh apakah Kibbutzim masih mampu menjaga kondisi psikologis di masa lalu.
42
Vol1 No2 Maret 2010

Tujuan kedua penelitian adalah untuk menguji hubungan antara hasil patologi dan kesehatan dari serangan yang terjadi pada dua tipe penduduk--secara spesifik lebih untuk menguji asosiasi pengukuran antara stress pasca trauma dan perkembangan pasca trauma. Beberapa peneliti seperti Updegraff, Taylor, Kemeny, & Wyatt (2002) menyatakan bahwa stres dan perkembangan adalah lawan yang tepat; semakin individu mengalami stres dalam suatu peristiwa traumatis maka pertumbuhannya akan semakin lambat. Namun, pada tahun 2005, Buttler, dkk menemukan bahwa semakin individu mengalami stres pasca trauma dilaporkan pertumbuhannya lebih tinggi. Tujuan ketiga ingin mengetahui sumbangsih dari terpaan, penilaian kognitif, dan cinta tanah air negara terhadap PTS dan PTG akibat serangan Qassam. Tingkatan terpaan, baik dalam hal peperangan maupun dalam teror, secara berulang ditemukan dapat mempengaruhi stres psikologis terhadap peristiwa traumatis, termasuk peperangan (Dekel, Solomon, Ginburg, & Neria, 2003; Tucker, Pfefferbaum, Nixon, & Dickson, 2000). Lazarus dan Folkman (1984) berargumentasi bahwa stresor-stresor dapat dipersepsi sebagai ancaman-ancaman atau tantangan-tantangan. Kecenderungan kebanyakan individu merasakan situasi yang berbahaya sebagai an-

LANSKAP

caman. Jika hal ini yang dialami, maka individu-individu ini akan semakin mengalami keadaan yang berbahaya; sedangkan jika keadaan yang berbahaya dianggap sebagai suatu tantangan, maka keadaan yang berbahaya akan semakin berkurang. Banyak penelitian yang mendukung pernyataan ini, termasuk dalam masalah peperangan (Solomon, Mikulinier, & Brannen, 1989) dan terror (Piotrkowski & Brannen, 2002). Beberapa penelitian juga menemukan bahwa ternyata ada hubungan positif antara penilaian kognitif dengan perkembangan (Armeli, Gunthert, & Cohen, 2001; Cordova, Cunningham, Carlson, & Andrykowski, 2001). Cinta tanah air mengacu kepada perasaan individu untuk menjadi bagian dari kelompok (Newbrough & Chavis, 1986). Kelompok itu dapat berupa tetangga, penduduk langsung, negara, beberapa kelompok atau tempat. Cinta tanah air dicirikan dengan perhatian, hubungan, loyalitas penduduk, dan kepercayaan yang bersifat mutual di mana kebutuhan individu akan dipenuhi dengan adanya komitmen terhadap kelompok sebagai satu keseluruhan (Chavis, Hogge, McMillan, & Wandersman, 1986). Manifestasi lain dari cinta tanah air adalah memiliki suatu harapan yang menetap terhadap penduduk dan menganjurkan individu lain untuk bergabung dalam satu penduduk (Itzhaky, 1995). Sebuah penemuan menunjukkan bahwa nilai stres dengan kondisi adanya pertempuran

pada komunitas tentara lebih rendah. Hal ini dapat terjadi karena adanya solidaritas dan kekompakkan yang tinggi, dibandingkan dengan apabila tentara memiliki cinta tanah air lebih rendah (Streiner & Neumann, 1987). Penemuan baru-baru ini di Israel menunjukkan suatu asosiasi antara cinta tanah air yang tinggi dengan tingkat keadaan berbahaya yang lebih rendah ketika teror dialami secara terus menerus di dalam suatu negara (Kovatz, Kutz, Rubin, Dekel, & Shenkamn, 2006). Rachel Dekel and orit Nuttman-Shwartz dalam penelitian ini mengambil sampel terdiri dari 134 penduduk dari Negev Barat; 67 tinggal di dua Kibbutzim dan 67 di Sderot dari kota berkembang, di mana jender dan usia kemudian dicocokkan. Kuesioner yang terisi secara lengkap hanya 122 individu, termasuk analisis dan gambaran. Perbandingan menunjukkan bahwa tidak ada kelompok yang berbeda secara signifikan di dalam usia, gender, negara kelahiran, status keluarga, jumlah anak, laporan situasi ekonomi. Hanya di atas setengah dari partisipan, 53 persen, adalah laki-laki. Usia partisipan berkisar dari 18 tahun hingga 76 tahun. Lebih dari setengah, 55 persen, lahir di Israel. Enam puluh persen telah menikah, 26 persen memiliki pendapatan di atas rata-rata, dan 21 persen memiliki pendapatan rata-rata. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa perbedaan signifikan ditemukan di dalam pendidikan dan terpaan. Rata-rata
Vol1 No2 Maret 2010

43

LANSKAP

penduduk Kibbutz dilaporkan lebih dari setahun mendapat pendidikan di sekolah daripada penduduk Sderot. Penduduk Kibbutz dilaporkan memiliki terpaan yang lebih rendah terhadap Qassam daripada penduduk Sderot. Setelah Rachel Dekel and orit Nuttman-Shwartz mendeskripsikan tujuan penelitian, diketahui bahwa pada penelitian pertama---yang menelaah perbandingan tingkat stress pasca trauma dan perkembangan pasca trauma, penduduk Sderot ternyata mengalami stress pasca trauma yang lebih besar daripada Kibbutz. Meskipun Kibbutz tidak seindah, semakmur, bahkan lebih banyak mengalami tekanan keadaan berbahaya dibandingkan dengan Sderot, namun ternyata penduduk Kibbutz mampu melakukan perlawanan terhadap gangguan psikologis dari teror. Namun demikian, perbedaan keduanya dalam menghadapi tekanan relatif rendah. Hal ini dapat terjadi dengan karena tembakan berlangsung terus menerus sepanjang tahun. Artinya, mereka telah terbiasa dengan keadaan yang penuh bahaya dan teror (Bleich, dkk, 2003). Rendahnya keadaan yang berbahaya juga menggambarkan adanya ketabahan dan kemampuan dalam mengatasi ancaman terorisme dengan baik oleh mayoritas penduduk. Jika hal di atas cenderung dilakukan pada setiap keadaan yang penuh trauma, maka tidak menutup kemungkinan bahwa perkembangan akan tetap
44
Vol1 No2 Maret 2010

berlangsung dengan baik. Calhoun dan Tedeschi (1998), menyatakan bahwa perkembangan adalah suatu hasil psikologis akan peristiwa “yang berkaitan dengan gempa bumi (seismic)” yang ditunjang perjuangan dalam melawan keadaan yang ada. Sejak peristiwa yang berkaitan dengan gempa, oleh alam, tekanan, tuntutan/hak, keadaan yang berbahaya secara aktual dipandang sebagai suatu pemicu pertumbuhan. Sepanjang garis linier, Butler, dkk (2005) memandang kunci stres pasca trauma perlu dihindari tidak hanya dalam penilaian keadaan yang berbahaya, tetapi perlu adanya pembuktian adanya usaha individu untuk mengasimilasi dan mengakomodasi peristiwa traumatis. Semakin serangan Qassam dipandang sebagai suatu hal yang mengancam, semakin besar stress pasca trauma. Menurut teori Taylor mengenai adaptasi kognitif terhadap peristiwa (Taylor & Amor, 1996), penerimaan perkembangan pasca trauma merupakan suatu bentuk “ilusi positif” dari suatu fungsi adaptasi akan penyesuaian psikologis. Persepsi tentang perkembangan pasca trauma dimungkinkan untuk mempertinggi penilaian diri, dan hal ini akan membantu dalam mengatasi ancaman. Jadi, kita akan beranjak pergi dari persepsi adanya suatu ancaman dengan melakukan persepsi perkembangan. Bagaimanapun, karena penilaian ancaman adalah karakter delusi (khayalan), penilaian akan adanya ancaman menyebabkan keadaan

LANSKAP

yang berbahaya menjadi lebih tinggi. Ditemukan bahwa cinta tanah air adalah sumber untuk mengurangi keadaan yang berbahaya pasca trauma. Di samping itu, perkembangan (positif) pasca trauma dapat semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari peran perjuangan lingkungan sosial di dalam mengatasi masalah teror. Hasil penemuan bahwa cinta tanah air adalah sumber untuk mengurangi keadaan yang berbahaya pasca trauma. Di samping itu, perkembangan (positif) pasca trauma dapat semakin meningkat. Hal ini tidak terlepas dari peran perjuangan lingkungan sosial di dalam mengatasi masalah teror. Penduduk membantu mengatasi permasalahan individu yang mengalami stres dengan menghindari pengisolasian, meminimalisasi penderitaan, dan mendukung percepatan penyembuhan. Penduduk juga dapat memberikan kontribusi penting dalam konteks persiapan mengatasi masalah terkait ancaman terorisme ke depan. Suatu penduduk dapat menjadi sumber dan rencana untuk tindakan ke depan, yang akan dapat mengurangi ketakutan individu (Maguen, dkk, 2008). Hasil penelitian menemukan bahwa cinta tanah air memberikan kontribusi terhadap stres dan perkembangan pasca trauma. Pada kota Kibbutz, diketahui tingkatan stress lebih rendah dari Sderot. Hal ini dikarenakan ada-

nya rasa cinta tanah air. Cinta tanah air ternyata mampu mengurangi stres pasca trauma anggota Kibbutz (dibandingkan dengan penduduk Sderot). Temperamen yang ada di antara penduduk Sderot memberi kontribusi penilaian kognitif akan adanya ancaman, sehingga penduduk mengalami stres pasca trauma. Cinta tanah air pada penduduk Kibbutz dibuktikan dengan adanya komitmen yang bersifat mutual antara satu dengan lainnya, dan membangun komitmen serta mempertahankan negara sesuai dengan ideologi Kibbutz. Penemuan serupa dari penelitian terdahulu menunjukkan bahwa cinta tanah air mengurangi keadaan yang berbahaya siswa-siswa Israel, bila dibandingkan dengan keadaan berbahaya yang dialami rekan Yahudi Amerika (Kovatz, dkk, 2006). Demikianlah, kita dapat memahami bahwa ternyata cinta tanah air yang kuat mampu melahirkan mental yang sehat, meskipun dalam keadaan yang penuh dengan bahaya dan tekanan.

Vol1 No2 Maret 2010

45

LANSKAP

apakah itu PtSd ?
Meilisha djati arum

P

Stres Pasca-Trauma dapat diderita pada orang-orang yang pernah mengalami peristiwa mengerikan. Namun bagaimana seseorang dapat didiagnosis memiliki PTSD? Tidak semua orang yang mengalami pengalaman traumatis juga memiliki PTSD. Apa sebenarnya PTSD? Siapa saja yang rentan terkena PTSD? Bagaimana gejala-gejala yang muncul? Apa saja cara penanganan PTSD? Dan apa dampak lain dari peristiwa traumatis seperti bencana alam pada penyedia layanan kesehatan? Berikut ini adalah penjelasannya.

eristiwa buruk yang mengerikan tidak pernah kita harapkan untuk menimpa pada diri kita atau orang terdekat kita, seperti tsunami Aceh pada 2004 atau konflik di Maluku pada 1999. Namun kita tidak ada daya untuk meramalkan kapan bencana atau peristiwa buruk akan terjadi. Kecelakaan, bencana alam, berada dalam situasi konflik atau peristiwa berbahaya dan traumatis lainnya akan menimbulkan rasa takut, sedih, cemas, stres, dan trauma pada orang yang mengalaminya. Perasaan-perasaan yang muncul seperti itu adalah hal yang wajar terjadi pada orang yang mengalami peristiwa berbahaya atau mengerikan. Perasaan-perasaan tersebut menjadi tidak wajar dan menjadi gangguan mental apabila terjadi berkelanjutan. Post-Traumatic Stress Disorder atau Gangguan
Vol1 No2 Maret 2010

Apa itu Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau Gangguan Stres Pasca-Trauma?
PTSD adalah gangguan kecemasan yang didapatkan seseorang atau beberapa orang setelah melihat atau mengalami langsung peristiwa yang berbahaya. Ketika dalam bahaya, wajar apabila merasa takut. Ketakutan ini dalam sepersekian detik memicu banyak perubahan

46

LANSKAP

pada tubuh untuk mempersiapkan pertahanan atau menghindari bahaya. Respons “fight or flight” (bertahan atau menghindar) adalah reaksi yang sehat dimaksudkan untuk melindungi seseorang dari bahaya. Tapi dalam PTSD, reaksi ini akan berubah atau rusak. orang yang memiliki PTSD mungkin merasa stres atau takut bahkan ketika mereka tidak lagi dalam bahaya.

Siapa yang mengalami PTSD?

Siapapun dapat menderita PTSD pada usia berapa pun. Ini termasuk veteran perang dan korban yang selamat dari serangan fisik dan seksual, pelecehan, kecelakaan, bencana, dan banyak kejadian-kejadian serius lainnya. Tidak semua orang dengan PTSD telah melalui peristiwa yang berbahaya. Beberapa orang mendapatkan PTSD setelah seorang teman atau anggota keluarga mengalami bahaya atau peristiwa yang merusak. Kematian seseorang yang dicintai secara tiba-tiba dan tak terduga juga dapat menyebabkan PTSD.

Apa saja gejala PTSD?

PTSD dapat menyebabkan banyak gejala. Gejala-gejala ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori: 1. Gejala mengalami-kembali (reexperiencing): • Kilas balik—menghidupkan kembali trauma berulang kali, termasuk gejala-gejala fisik seperti jantung berdegup

kencang atau berkeringat • Mimpi buruk • Pikiran-pikiran yang mengerikan. Gejala-gejala mengalami-kembali dapat menimbulkan masalah dalam rutinitas harian seseorang. Hal ini dapat dimulai dari pikiran dan perasaan orang itu sendiri. Kata-kata, benda, atau situasi yang mengingatkan peristiwa tersebut juga dapat memicu mengalami-kembali. 2. Gejala menghindar (avoidance): • Menjauhi tempat, kejadian, atau benda-benda yang mengingatkan pengalaman buruk tersebut • Merasa mati rasa secara emosional • Merasakan rasa bersalah yang besar, depresi, atau khawatir • Kehilangan minat dalam kegiatan-kegiatan yang menyenangkan di masa lalu • Memiliki kesulitan mengingat peristiwa yang berbahaya. Hal-hal yang mengingatkan seseorang tentang peristiwa traumatik dapat memicu gejala penghindaran. Gejalagejala ini dapat menyebabkan seseorang untuk mengubah rutinitas pribadinya. Misalnya, setelah kecelakaan mobil yang parah, orang yang biasanya mengemudikan mobil mungkin akan menghindari mengemudi atau naik mobil.
Vol1 No2 Maret 2010

47

LANSKAP

3. Gejala hyperarousal: • Menjadi mudah kaget • Merasa tegang • Memiliki kesulitan tidur, dan/ atau memiliki ledakan marah. Gejala hyperarousal biasanya konstan, bukannya dipicu oleh hal-hal yang mengingatkan salah satu dari peristiwa traumatik. Gejala-gejala ini dapat membuat seseorang merasa tertekan dan marah. Gejala-gejala ini dapat membuat sulit untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari, seperti tidur, makan, atau berkonsentrasi. Merupakan hal yang wajar memiliki beberapa gejala ini setelah peristiwa yang berbahaya. Kadang-kadang orang memiliki gejala yang sangat serius menghilang setelah beberapa minggu. Hal ini disebut gangguan stres akut, atau acute stress disorder (ASD). Bila gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu dan menjadi masalah yang berkelanjutan, gejala ini mungkin PTSD. Beberapa orang dengan PTSD tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan.

belajar cara menggunakan toilet sebelumnya • Melupakan bagaimana atau tidak mampu berbicara • Bertindak seperti peristiwa yang menakutkan selama jam istirahat • Menjadi sangat lekat dengan orang tua atau orang dewasa lainnya. Anak-anak dan remaja yang lebih tua biasanya menunjukkan gejala seperti yang terlihat pada orang dewasa. Mereka mungkin juga mengembangkan perilaku disruptif, tidak hormat, atau perilaku destruktif. Anak-anak dan remaja mungkin merasa bersalah karena tidak mencegah cedera atau kematian. Mereka mungkin juga punya pikiran untuk membalas dendam.

Bagaimana PTSD terdeteksi?

Apakah anak bereaksi secara berbeda daripada orang dewasa?
Anak-anak dan remaja dapat memiliki reaksi yang ekstrim terhadap trauma, namun gejala mereka mungkin tidak sama dengan orang dewasa. Pada anak-anak yang masih sangat muda, gejala-gejala ini dapat termasuk: • Mengompol, ketika mereka sudah
48
Vol1 No2 Maret 2010

Seseorang yang memiliki pengalaman membantu orang dengan penyakit mental, seperti psikiater atau psikolog dapat mendiagnosis PTSD. Untuk dapat didiagnosis dengan PTSD, seseorang harus memiliki semua gejala berikut ini untuk sekurang-kurangnya 1 bulan: • Setidaknya ada satu gejala mengalami-kembali (re-experiencing) • Sekurang-kurangnya tiga gejala penghindaran (avoidance) • Paling tidak dua gejala hyperarousal • Gejala yang membuatnya sulit untuk menjalani kehidupan seharihari, pergi ke sekolah atau bekerja, baik dengan teman-teman, dan

LANSKAP

mengurus tugastugas penting.

Mengapa beberapa orang mengalami PTSD dan yang lainnya tidak?
Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang yang mengalami peristiwa yang berbahaya terkena PTSD. Bahkan, sebagian besar tidak akan terkena gangguan ini. Banyak faktor yang memainkan peranan dalam apakah seseorang akan terkena PTSD. Beberapa di antaranya adalah faktor risiko yang membuat seseorang lebih mungkin untuk terkena PTSD. Faktorfaktor lain, yang disebut faktor ketahanan (resilience factors), dapat membantu mengurangi risiko gangguan ini. Beberapa dari faktor-faktor risiko dan ketahanan yang ada sebelum trauma dan lain-lain menjadi penting selama dan setelah peristiwa traumatik.

Faktor risiko untuk PTSD meliputi: • Mengalami peristiwa berbahaya dan trauma • Mempunyai sejarah penyakit mental • Terluka • Melihat orang-orang yang terluka atau terbunuh • Merasa ngeri, tidak berdaya, atau ketakutan yang ekstrim • Memiliki sedikit atau tidak ada dukungan sosial setelah peristiwa terjadi • Berurusan dengan stres tambahan setelah peristiwa, seperti kehilangan orang yang dicintai, rasa sakit dan cedera, atau kehilangan pekerjaan atau rumah. Faktor ketahanan yang dapat mengurangi risiko PTSD meliputi: • Mencari dukungan dari orang lain, seperti teman-teman dan keluarga • Menemukan kelompok pendukung setelah peristiwa traumatik • Merasa baik tentang tindakan sendiri

dalam menghadapi bahaya • Memiliki strategi menghadapi atau cara melewati peristiwa buruk dan belajar dari hal tersebut • Mampu bertindak dan merespons secara efektif meskipun merasa takut. Para peneliti sedang mempelajari pentingnya berbagai faktor risiko dan ketahanan. Dengan studi yang lebih banyak, maka memungkinkan suatu hari nanti untuk memprediksi siapa yang akan terkena PTSD dan mencegahnya.

Bagaimana PTSD disembuhkan?

Perawatan utama bagi orang-orang dengan PTSD adalah psikoterapi (terapi “berbicara”), obat-obatan, atau keduanya. Setiap orang berbeda, sehingga pengobatan yang bekerja untuk satu orang mungkin tidak bekerja bagi orang lain. Penting bagi siapa pun dengan PTSD harus dirawat oleh penyedia layanan
Vol1 No2 Maret 2010

49

LANSKAP

kesehatan jiwa yang berpengalaman dengan PTSD. Beberapa orang dengan PTSD perlu untuk mencoba perawatan yang berbeda untuk menemukan apa yang bekerja untuk gejala mereka. Jika seseorang dengan PTSD mengalami trauma yang berkelanjutan, seperti berada dalam sebuah hubungan yang penuh kekerasan, maka kedua masalah tersebut perlu diobati. Masalah-masalah lain yang berkelanjutan dapat termasuk gangguan panik, depresi, penyalahgunaan obat, dan merasa ingin bunuh diri.

biasanya berlangsung 6-12 minggu, tetapi dapat berlangsung lebih lama. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan dari keluarga dan teman-teman dapat menjadi bagian penting dari terapi. Banyak jenis psikoterapi dapat membantu orang dengan PTSD. Beberapa jenis menargetkan secara langsung gejala PTSD. Terapi lainnya berfokus pada sosial, keluarga, atau masalah yang berkaitan dengan pekerjaan. Terapis dapat menggabungkan terapi berbeda-beda tergantung pada kebutuhan masing-masing orang. Salah satu terapi yang membantu disebut terapi perilaku kognitif, atau cognitive behavioral therapy (CBT). Ada beberapa bagian untuk CBT, termasuk: • Terapi eksposur (exposure therapy). Terapi ini membantu orang menghadapi dan mengontrol ketakutan mereka. Terapi ini memperlihatkan mereka ter-

Psikoterapi

Psikoterapi bagi PTSD adalah terapi “berbicara”. Maksudnya melibatkan berbicara dengan seorang profesional kesehatan mental untuk menyembuhkan penyakit mental. Psikoterapi dapat terjadi secara diadik atau dalam kelompok. Perawatan terapi bicara untuk PTSD
50
Vol1 No2 Maret 2010

hadap trauma yang mereka alami dalam cara yang aman. Menggunakan imajeri mental, menulis, atau kunjungan ke tempat peristiwa terjadi. Terapis menggunakan cara-cara ini untuk membantu orangorang dengan PTSD mengatasi perasaan mereka. • Restrukturisasi kognitif (cognitive restructuring). Terapi ini membantu orang memahami kenangan buruk. Terkadang orang mengingat peristiwa secara berbeda daripada bagaimana hal itu terjadi. Mereka mungkin merasa bersalah atau malu tentang apa yang bukan kesalahan mereka. Terapis membantu orang dengan PTSD melihat apa yang terjadi dalam cara yang realistis. • Pelatihan stres inokulasi (stress inoculation training). Terapi ini mencoba untuk mengurangi gejala PTSD dengan

LANSKAP

mengajari orang bagaimana untuk mengurangi kecemasan. Seperti restrukturisasi kognitif, perawatan ini membantu orang melihat memori mereka dengan cara yang sehat. Jenis perawatan lain juga dapat membantu orang-orang dengan PTSD. orang dengan PTSD harus berbicara tentang semua pilihan perawatan dengan terapis mereka.

Bagaimana Terapi Bicara Membantu Orang Mengatasi PTSD
Terapi bicara mengajari orang caracara yang bermanfaat untuk bereaksi terhadap peristiwa-peristiwa menakutkan yang memicu gejala PTSD mereka. Berdasarkan tujuan umum ini, berbagai jenis terapi dapat berupa: • Ajarkan tentang trauma dan dampaknya. • Gunakan relaksasi dan keterampilan pengendalian amarah. • Sediakan tips untuk tidur lebih baik, diet, dan kebiasaan berolahraga. • Membantu orang mengidentifikasi dan mengatasi rasa bersalah, malu, dan perasaan lain tentang peristiwa tersebut. • Fokus pada mengubah bagaimana orang bereaksi terhadap gejala PTSD mereka. Sebagai contoh, terapi membantu orang-orang mengunjungi tempat-tempat dan orang-orang yang mengingatkan trauma.

Kadang-kadang banyak orang yang dipengaruhi oleh peristiwa yang sama. Sebagai contoh, banyak orang yang membutuhkan bantuan setelah gempa-tsunami Aceh pada 2004. Kebanyakan orang akan memiliki gejala PTSD dalam beberapa minggu pertama setelah peristiwa seperti ini. Hal ini adalah normal dan respon yang diharapkan terhadap trauma yang serius, dan bagi kebanyakan orang, umumnya gejala berkurang seiring dengan waktu. Kebanyakan orang dapat dibantu dengan dukungan dasar, seperti: • Memperoleh tempat yang aman • Menemui dokter jika terluka • Mendapatkan makanan dan air • Menghubungi orang-orang tercinta atau teman-teman • Belajar apa yang sedang dilakukan untuk membantu. Tetapi beberapa orang tidak menjadi lebih baik pada diri mereka sendiri. Sebuah studi pada penyintas dari Badai Katrina menemukan bahwa, seiring waktu, semakin banyak orang yang memiliki masalah dengan PTSD, depresi, dan gangguan-gangguan mental yang berhubungan. Pola ini berbeda dengan pemulihan dari bencana alam lainnya, di mana jumlah orang yang memiliki masalah kesehatan mental secara bertahap berkurang. Ketika masyarakat mencoba untuk membangun kembali setelah trauma massal, orang dapat mengalami stres
Vol1 No2 Maret 2010

Perawatan massal

setelah

trauma

51

LANSKAP

yang berkelanjutan dari kehilangan pekerjaan dan sekolah, dan kesulitan membayar tagihan, menemukan perumahan, dan mendapatkan perawatan kesehatan. Keterlambatan ini dalam pemulihan masyarakat pada gilirannya dapat menunda pemulihan dari PTSD. Dalam beberapa minggu pertama setelah trauma massal, versi singkat CBT dapat membantu pada beberapa orang yang memiliki distress berat. Terkadang perawatan lain digunakan, namun efektivitasnya tidak diketahui. Sebagai contoh, ada minat yang tumbuh dalam sebuah pendekatan yang disebut pertolongan pertama psikologis (psychological first aid). Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk membuat orang merasa aman dan aman, menghubungkan orang-orang kepada pelayanan kesehatan dan sumber daya lainnya, dan mengurangi reaksi stres. Ada panduan-panduan untuk melakukan perawatan, namun para ahli belum tahu apakah itu membantu mencegah atau mengobati PTSD. Dalam sesi tunggal pembekalan psikologis (psychological debriefing), jenis lain dari perawatan trauma massal, penyintas berbicara tentang peristiwa dan mengungkapkan perasaan mereka secara diadik atau dalam kelompok. Studi-studi menunjukkan bahwa tidak mungkin untuk mengurangi bahaya atau risiko untuk PTSD, dan mungkin sebenarnya meningkatkan distres dan risiko PTSD.

Trauma Massal Mempengaruhi Rumah Sakit dan Penyedia Lainnya
Rumah sakit, sistem perawatan kesehatan, dan penyedia layanan kesehatan juga dipengaruhi oleh trauma massal. Jumlah orang yang membutuhkan bantuan fisik dan psikologis dengan segera mungkin terlalu berat bagi sistem kesehatan untuk menanganinya. Beberapa pasien mungkin tidak menemukan bantuan ketika mereka membutuhkannya karena rumah sakit tidak punya cukup staf atau persediaan. Dalam beberapa kasus, penyedia layanan kesehatan itu sendiri mungkin berjuang untuk memulihkan diri juga. Studi yang dilakukan oleh para ilmuwan National I Mental Health meneliti pada masalah ini. Sebagai contoh, para peneliti menguji bagaimana memberikan terapi kognitif behavioral (CBT) dan perawatan lainnya menggunakan telepon dan internet. Dalam sebuah studi, orang-orang dengan PTSD bertemu dengan seorang ahli terapi untuk mempelajari tentang gangguan, membuat daftar hal-hal yang memicu gejala mereka, dan mempelajari caracara dasar untuk mengurangi stres. Setelah pertemuan ini, partisipan dapat mengunjungi situs Web dengan lebih banyak informasi tentang PTSD. Peserta dapat menyimpan log gejala mereka dan melatih keterampilan mengatasi gejala. Secara keseluruhan, para peneliti menemukan perawatan berbasis internet membantu mengu-

52

Vol1 No2 Maret 2010

LANSKAP

rangi gejala PTSD dan depresi. Efek ini berlangsung setelah perawatan berakhir. Peneliti akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah pendekatan lain untuk terapi semacam itu dapat membantu setelah trauma masal.

calon kriteria Baru diagnosis PtSd
Sumber: http://www.dsm5. org/ProposedRevisions/Pages/ proposedrevision.aspx?rid=165

Upaya apa yang sedang dilakukan untuk meningkatkan deteksi dan pengobatan PTSD?

Para peneliti telah belajar banyak dalam dekade terakhir tentang rasa takut, stres, dan PTSD. Ilmuwan mereka juga belajar tentang bagaimana orangorang membentuk memori. Hal ini penting karena menciptakan memori yang berkaitan dengan rasa takut yang tampaknya merupakan bagian utama dari PTSD. Para peneliti juga menggali bagaimana orang dapat menciptakan memori ”keamanan” untuk menggantikan memori buruk yang terbentuk setelah trauma.
* Disadur dari: http://www.nimh.nih.gov/ health/publications/post-traumatic-stressdisorder-ptsd/

Posttraumatic Disorder*

Stress

A. The person was exposed to the following event(s): death or threatened death, actual or threatened serious injury, or actual or threatened sexual violation, in one or more of the following ways:** 1. Experiencing the event(s) him/ herself 2. Witnessing the event(s) as they occurred to others 3. Learning that the event(s) occurred to a close relative or close friend 4. Experiencing repeated or extreme exposure to aversive details of the event(s) (e.g., first responders collecting body parts; police officers repeatedly exposed to details of child abuse)

Vol1 No2 Maret 2010

53

LANSKAP

NOTE: Witnessing or exposure to aversive details does not include events that are witnessed only in electronic media, television, movies or pictures, unless this is part of a person’s vocational role. Exposure to aversive details of death applies only to unnatural death. B. Intrusion symptoms that are associated with the traumatic event(s) (that began after the traumatic event(s)), as evidenced by 1 or more of the following: 1.Spontaneous or cued recurrent, involuntary, and intrusive distressing memories of the traumatic event(s). Note: In children, repetitive play may occur in which themes or aspects of the traumatic event(s) are expressed. 2. Recurrent distressing dreams in which the content and/or affect of the dream is related to the event(s). Note: In children, there may be frightening dreams without recognizable content. *** 3. Dissociative reactions (e.g., flashbacks) in which the individual feels or acts as if the traumatic event(s) were recurring (Such reactions may occur on a continuum, with the most extreme expression being a complete loss of awareness of present surroundings.) Note: In children, trauma-specific reenactment may occur in play. 4. Intense or prolonged psychological

distress at exposure to internal or external cues that symbolize or resemble an aspect of the traumatic event(s) 5. Marked physiological reactions to reminders of the traumatic event(s) C. Persistent avoidance of stimuli associated with the traumatic event(s) (that began after the traumatic event(s)), as evidenced by efforts to avoid 1 or more of the following: 1. Thoughts, feelings, or physical sensations that arouse recollections of the traumatic event(s) 2. Activities, places, physical reminders, or times (e.g., anniversary reactions) that arouse recollections of the traumatic event(s) 3. People, conversations, or interpersonal situations that arouse recollections of the traumatic event(s) D. Negative alterations in cognitions and mood that are associated with the traumatic event(s) (that began or worsened after the traumatic event(s)), as evidenced by 3 or more of the following: Note: In children, as evidenced by 2 or more of the following:**** 1. Inability to remember an important aspect of the traumatic event(s) (typically dissociative amnesia; not due to head injury, alcohol, or drugs). 2. Persistent and exaggerated negative

54

Vol1 No2 Maret 2010

LANSKAP

expectations about one’s self, others, or the world (e.g., “I am bad,” “no one can be trusted,” “I’ve lost my soul forever,” “my whole nervous system is permanently ruined,” "the world is completely dangerous"). 3. Persistent distorted blame of self or others about the cause or consequences of the traumatic event(s) 4. Pervasive negative emotional state -- for example: fear, horror, anger, guilt, or shame 5. Markedly diminished interest or participation in significant activities. 6. Feeling of detachment or estrangement from others. 7. Persistent inability to experience positive emotions (e.g., unable to have loving feelings, psychic numbing) E. Alterations in arousal and reactivity that are associated with the traumatic event(s) (that began or worsened after the traumatic event(s)), as evidenced by 3 or more of the following: Note: In children, as evidenced by 2 or more of the following:**** 1. Irritable, angry, or aggressive behavior 2. Reckless or self-destructive behavior 3. Hypervigilance 4. Exaggerated startle response 5. Problems with concentration 6. Sleep disturbance -- for example, difficulty falling or staying asleep, or restless sleep.

F. Duration of the disturbance (symptoms in Criteria B, C, D and E) is more than one month. G. The disturbance causes clinically significant distress or impairment in social, occupational, or other important areas of functioning. Specify if: With Delayed Onset: if diagnostic threshold is not exceeded until 6 months or more after the event(s) (although onset of some symptoms may occur sooner than this). * Developmental manifestions of PTSD are still being developed. The term ‘developmental manifestation’ in DSM-V refers to age-specific expressions of one or another criteria that is used to make a diagnosis across age groups. ** For children, inclusion of loss of a parent or other attachment figure is being considered. *** An alternative is to retain the DSM-IV criterion **** The optimal number of required symptoms for both adults and children will be further examined with empirical data

Vol1 No2 Maret 2010

55

PSIKoLoGI BENCANA

PtSd

(Post traumatic Stress disorder)
Pasca gempa Jogja
leila Fatmasari, S.Psi

B

encana, sesuatu yang akrab pada kehidupan masyarakat Indonesia beberapa tahun belakangan. Hampir seluruh wilayah di Indonesia pernah merasakan bencana. Menurut WHo, bencana adalah peristiwa atau kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian fisik dan non-fisik pada kehidupan manusia, seperti memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak lain. UNHCR mendefinisikan bencana sebagai peristiwa atau kejadian berbahaya pada suatu daerah yang
Vol1 No2 Maret 2010

mengakibatkan penderitaan manusia dan kerugian material yang besar. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bencana berarti sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Berdasarkan faktor penyebabnya bencana dikategorikan menjadi dua jenis yaitu bencana alam (natural disaster); seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, gunung berapi, kekeringan, dan angin puting beliung, serta bencana yang disebabkan oleh manusia (human-caused disasters); seperti terorisme, kecelakaan

56

PSIKoLoGI BENCANA

transportasi, kecelakaan industri, dan perang. Salah satu bencana alam yang dialami di beberapa daerah di Indonesia beberapa tahun belakangan ini adalah gempa bumi (earth quake). Daerah yang pernah mengalami gempa bumi cukup parah adalah Pulau Jawa; salah satunya Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah diguncang gempa bumi berkekuatan 5,8 Skala Richter, pada hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006, pukul 05.55 WIB. Setelah gempa itu, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas raksasa. BMG Departemen Perhubungan mencatat gempa berkekuatan 5,8 SR pada kedalaman 60 Km, 49 Km di selatan Yogyakarta. Sedangkan BMG Amerika mencatat 6,1 SR pada kedalaman 17,1 Km, 25 Km di selatan Yogyakarta (Kompas, 27 Mei 2006). Menurut keterangan Suharjono, Kepala Pusat Gempa Nasional BMG, perbedaan ini dikarenakan perbedaan gelombang yang diukur. Namun, jika dikonversikan hasilnya ekuivalen. Menurut Amin Widodo, Ketua Pusat Studi Bencana ITS, Gempa Jogja disebabkan tumbukan lempengan tektonik samudera Hindia dengan lempeng benua Asia dan merupakan gempa siklus 20 tahunan yang sifatnya tidak dapat diperkirakan. Gempa ini dapat memicu aktivitas Gunung Merapi. Gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta

dan sekitarnya menyebabkan bangunan dan infrastruktur hancur luluh lantak dan jaringan komunikasi putus untuk Yogyakarta dan Bantul. Korban tewas berasal dari berbagai wilayah di DIY, seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Korban tewas juga berasal dari Klaten dan Boyolali. Isu tsunami menyebabkan kepanikan warga, sehingga lalu lintas kacau, kecelakaan banyak terjadi, dan berakibat menambah jumlah korban. Rumah Sakit baik milik pemerintah maupun swasta penuh korban meninggal dan luka-luka hingga tidak dapat lagi menampung dan korban terpaksa ditempatkan di selasar dan halaman. Warga kesulitan mendapatkan makanan. Warga panik karena adanya isu tsunami dan gempa susulan yang lebih besar. Warga merasa takut akibat gempa besar yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Warga tidak berani masuk rumah dan sempat panik saat isu gempa terlebih saat gempa susulan dirasakan. Meskipun diguyur hujan deras, warga memilih untuk tidur di luar rumah dengan alas tikar atau tenda seadanya karena mereka masih takut terjadi gempa. “Mau bagaimana lagi, saya masih takut gempa lagi,” tutur RP, salah seorang warga yang bersama keluarganya tidur di teras rumah meskipun rumahnya tidak rusak. Warga berinisiatif meminta bantuan di tepi jalan karena bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah
Vol1 No2 Maret 2010

57

PSIKoLoGI BENCANA

belum sampai. Mereka mendirikan tenda-tenda di pinggir jalan karena rumah mereka roboh atau retak. Dampak bencana bagi korban selamat (survivor) dapat terdiri dari: 1. Dampak Fisik Kerusakan dan kerugian materi (kerusakan bangunan rumah, sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan sebagainya). 2. Dampak Sosial-Ekonomi - Terputusnya silaturahmi karena kematian, perpisahan, pengucilan, dan kehilangan lainnya. Hancurnya keluarga dan komunitas, kerusakan pada nilai-nilai sosial dan hancurnya fasilitas umum (pasar, balai desa) maupun fasilitas sosial (tempat ibadah, sekolah, dan sebagainya). - Kehilangan status sosial, posisi, dan peran dalam masyarakat - Kehilangan sumber penghasilan. 3. Dampak Psikologis Dampak Psikologis itu pada prinsipnya ada dua, yaitu: - Dampak jangka pendek (gejala muncul pada periode satu bulan setelah bencana), yaitu Acute Stress Disorder (ASD). ASD merupakan suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata, sebagai respon terhadap stres fisik maupun mental yang luar biasa dan yang
58
Vol1 No2 Maret 2010

biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari. - Dampak jangka panjang (gejala muncul setelah tiga bulan hingga satu tahun setelah bencana), yaitu Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Dampak psikologis pada survivor gempa Jogja bertambah dengan adanya tekanan dari luar, seperti kemunculan orang-orang asing yang ingin melihat-lihat kondisi daerah dan korban gempa atau yang biasa dikatakan sebagai ”wisata bencana” yang menambah rasa takut karena khawatir terhadap tindakan penjarahan, kondisi pengungsian yang tidak kondusif, informasi yang simpang-siur dan tidak dapat dipertanggungjawabkan, kekecewaan terhadap janji-janji pemerintah yang tidak ditepati, dan juga kecemasan terhadap masa depan. Survivor gempa Jogja terdiri dari berbagai tingkatan usia, mulai dari bayi, anak-anak hingga lanjut usia. Mereka menunjukkan respon yang berbeda-beda. Ada yang dapat menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada, ada pula yang merasa takut dan trauma. Gejala reaksi stress dapat terjadi setelah peristiwa atau beberapa hari bahkan beberapa bulan setelah gempa. Berikut adalah gejala perilaku yang mengindikasikan adanya

PSIKoLoGI BENCANA

dampak psikologis setelah bencana, berdasarkan tingkatan usia, yang nampak pada survivor gempa Jogja berdasarkan hasil studi Crisis Recovery Center Fakultas Psikologi UGM: 1. Bayi (0-2 tahun) Karena belum memiliki kemampuan bicara yang baik, bayi belum bisa menceritakan perasaan dan pengalaman mereka. Gejalagejala yang biasanya ditunjukkan oleh bayi antara lain: • Sering mengalami ketakutan dalam berbagai situasi • Ketakutan saat berada dalam situasi khusus, misalnya berada dalam lingkungan yang ramai. • Mengalami gangguan tidur, sulit untuk ditidurkan, atau tidur tidak nyenyak, mudah terbangun. • Bayi tidak mau lepas dari ibu atau pengasuhnya • Bayi tidak menunjukkan ekspresi sedih, senang, dan takut 2. Anak Beberapa masalah mental dan emosional yang bisa ditemui pada anak-anak yang menjadi korban bencana adalah sebagai berikut: • Sering memikirkan peristiwa traumatis, yang pernah disaksikan atau dialaminya. • Sangat takut mendekati tempat-tempat tertentu dimana anak mengalami bencana, misalnya takut masuk rumah.

• Anak merasa cemas dan sedih, namun tidak ingin membicarakan perasaan tersebut • Menjadi tidak peduli terhadap orang lain dan apa yang terjadi di sekitarnya • Ingin selalu dekat dengan orang dewasa. • Merasa sedih dan kehilangan, khawatir akan kehilangan lagi. • Merasa kesepian dan kehilangan kepercayaan diri. • Merasa lemas, kurang bersemangat, kurang nafsu makan, sakit kepala, sakit di seluruh tubuh dan detak jantung menjadi cepat. • Masalah tidur seperti mimpi buruk, mudah terbangun. • Gelisah, tidak dapat duduk tenang. • Kembali mengompol • Perubahan pada kegiatan belajar, karena sulit berkonsentrasi. Seperti Menolak untuk kembali bersekolah. • Kehilangan minat terhadap permainan atau kegiatan yang biasa dilakukan. • Anak-anak menjadi memberontak, hiperaktif, dan sulit diatur, padahal sebelumnya mereka tidak seperti itu. • Anak tidak mempercayai orang lain lagi karena merasa orang tua atau orang dewasa lainnya
Vol1 No2 Maret 2010

59

PSIKoLoGI BENCANA

tidak bisa melindungi mereka. • Memiliki keraguan terhadap masa depan. 3. Remaja dan Dewasa a. Kondisi emosi • Munculnya perasaan khawatir (yang berlebih) akan keselamatan • Kekecewaan/ kesedihan yang mendalam akibat kehilangan • Bingung, kehilangan arah dan kehilangan pegangan hidup (disorientasi) • Rasa curiga • Mudah tersinggung, marah • Kecemasan • Mimpi buruk • Depresi, hilang semangat, dan pesimis b. Tingkah laku • Menarik diri dan memisahkan diri dari lingkungan sosial • Keterbatasan ruang gerak • Masalah-masalah penyesuaian diri pada tempat baru • Menghindari aktivitas dan tempat yang memicu ingatan terhadap bencana. • Ketidakmampuan untuk merelakan dan menerima apa yang telah terjadi. c. Fisik • Bertambah parahnya penyakitpenyakit kronis (yang sudah diidapnya) • Sulit tidur, mimpi buruk • Keluhan fisik (pusing, mual dan muntah, kelelahan, dsb) • Suhu badan tidak normal
60
Vol1 No2 Maret 2010

(sering panas dingin) • Tekanan darah meningkat dan jantung berdebar d. Cara Berpikir • Was-was yang berlebihan • Teringat peristiwa bencana yang telah terjadi. • Mudah lupa • Sulit konsentrasi 4. Lanjut Usia (Lansia) Beberapa masalah psikologis yang dialami lansia akibat bencana adalah : a. Masalah perilaku • Menarik diri dan memisahkan diri dari lingkungan sosial • Keterbatasan mobilitas • Masalah-masalah penyesuaian diri pada tempat baru • Menghindari aktivitas atau tempat yang dapat memicu ingatan terhadap bencana. • Ketidakmampuan untuk merelakan/ menerima apa yang telah terjadi. b. Masalah fisik • Bertambah parahnya penyakitpenyakit kronis • Gangguan tidur • Gangguan ingatan • Simtom somatis • Lebih sensitif terhadap hypothermia (suhu badan yang terlalu rendah; di bawah 36oC dan hyperthermia (suhu badan yang terlalu tinggi; diatas 37oC). • Keterbatasan sensoris dan fisik (penglihatan, pendengaran)

PSIKoLoGI BENCANA

dapat mengganggu proses penyembuhan • Kelelahan • Meningkatkan tekanan darah dan jantung berdebar c. Masalah Emosional dan Psikologis • Khawatir akan keselamatan • Kekecewaan/ kesedihan yang mendalam akibat kehilangan • Hilang semangat dan simpati • Bingung, kehilangan arah dan kehilangan pegangan hidup (disorientasi) • Rasa curiga • Mudah tersinggung, marah • Kecemasan pada lingkungan yang belum dikenal (lingkungan baru) • Mimpi buruk • Rasa percaya diri yang rendah • Depresi Berikut adalah beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintah, para relawan dan beberapa pihak luar yang diharapkan dapat membantu para survivor menjadi lebih tenang dan tercukupi kebutuhannya: • Memberikan bantuan berupa makanan dan perlengkapan untuk tinggal sementara (misalnya tenda dan tikar) • Mengadakan penjagaan keamanan di barak pengungsian dan daerah tempat tinggal survivor yang ditinggalkan secara bergilir • Membantu evakuasi survivor

• Membantu dengan melayani kebutuhan survivor selama di barak pengungsian • Memberikan informasi mengenai situasi terakhir, misalnya mengenai status merapi dan memberikan peringatan bahaya • Menemani aktivitas survivor untuk menjaga dan memastikan mereka dalam keadaan yang aman • Menjalin hubungan yang akrab dengan survivor, sehingga survivor merasakan nyaman. Menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan • Menyadari bahwa sikap, pandangan, dan kondisi relawan mempengaruhi survivor, relawan lebih menjaga sikap dan kondisi emosinya Berbagai hasil studi menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak merupakan golongan yang rentan terhadap PTSD. Survivor yang umurnya lebih tua umumnya lebih mampu bertahan dibanding korban yang berumur lebih muda. Akan tetapi, anak-anak yang umurnya lebih tua lebih berisiko dibanding anak-anak yang umurnya lebih muda. Fakta di lapangan pasca gempa Jogja menunjukkan banyak anak yang mengalami ketakutan saat masuk rumah atau takut ketika mendengar suara keras seperti suara pesawat
Vol1 No2 Maret 2010

61

PSIKoLoGI BENCANA

atau truk yang melewati jalan. Hal ini menunjukkan bahwa anak masih sering mengalami kecemasan serta ketakutan meskipun gempa telah lama berlalu. Kondisi ini kemudian diperparah dengan munculnya berbagai ancaman bencana pasca gempa seperti kondisi gunung merapi dan angin puting beliung yang juga terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa anak mendapat tanggung jawab tambahan di luar kapasitas usianya akibat gempa. Beberapa anak sepulang sekolah harus membantu orang tua membangun rumah, dan beberapa anak dibebani tanggung jawab menjaga adik selama orang tua memperbaiki rumah. Kondisi ini jelas memberi pengaruh tersendiri bagi perkembangan psikologis anak yang sebenarnya belum memiliki tugas perkembangan seberat itu. Banyak anak yang tidak dapat tidur nyenyak karena takut akan terjadi gempa lagi. Di sebuah sekolah darurat di daerah Bantul, beberapa anak mendadak menjadi pendiam padahal menurut guru mereka anak-anak tersebut tidak seperti itu sebelum gempa. Ada seorang anak (Sr) yang menyaksikan kematian kedua orangtua dan adiknya karena tertimpa reruntuhan rumah. Sr menjadi pendiam dan agresif (pasif agresif) di sekolah. Sr tidak
62
Vol1 No2 Maret 2010

bersemangat di sekolah, bahkan sering menyendiri menjauh dari teman-temannya. Pada saat ada wartawan yang mewawancarainya, Sr lebih banyak diam, hanya menjawab dengan isyarat seperti anggukan dan gelengan kepala. Sr menangis ketika wartawan menanyakan tentang perasaannya ketika menyaksikan orangtuanya meninggal dunia. Sr juga menunjukkan sikap tidak bersahabat dan curiga terhadap para relawan yang mendekatinya dan mengajaknya untuk bermain bersama teman-temannya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara untuk deteksi dini pasca gempa Jogja di sekolah darurat, Sr dan beberapa anak lain yang mengalami trauma kemudian mendapatkan bantuan dan pendampingan psikologis demi pemulihan diri dan menghilangkan simtom PTSD yang terdapat pada diri mereka. Simtom PTSD dapat menetap beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Dukungan dan semangat dari keluarga, sekolah, teman, lingkungan sekitar, serta ahli psikologi dan psikiater akan sangat membantu. Rasa empati harus dikedepankan untuk menciptakan rasa aman bagi survivor yang mengalami PTSD, khususnya pada anak-anak. Psikoterapi (individu, kelompok, atau keluarga) dengan mengajak anak menggambar, berbicara, menulis, atau bermain (semacam drama) tentang kejadian yang dialami dan terapi kognitif bisa

PSIKoLoGI BENCANA

membantu mengurangi ketakutan dan masyarakat survivor gempa, dan saat kekhawatiran yang dirasakan. ini masyarakat DIY dan Jawa Tengah survivor gempa Jogja sudah dapat Hal tersebut dilakukan terhadap Sr menjalankan aktivitasnya sehari-hari dan teman-temannya. Sr dan teman- seperti sedia kala. teman diberikan kegiatan-kegiatan Survivor yang mengalami PTSD positif yakni olah raga seperti brain berat masih ada yang mendapatkan gym, berbagai permainan dan pendampingan, terutama simulasi (play therapy), menyanyi, pendampingan dari keluarga yang menulis puisi dan cerita, menonton telah dilatih sebelumnya oleh para ahli film bersama, berdo’a dan membuat dan relawan. pohon harapan, serta relaksasi, dan * Penulis adalah Relawan Pendampingan sebagainya. Usaha yang dilakukan terhadap Sr dan teman-temannya kian hari menunjukkan hasil yang progresif. Hal tersebut didukung oleh tindakan langsung dan cepat terhadap deteksi dini permasalahan psikologis yang dialami Sr dan teman-temannya sehingga simtom PTSD yang mereka alami tidak menetap secara permanen. Kini mereka dapat kembali semangat bersekolah, dan dapat ceria bermain bersama teman-temannya. Guruguru dan keluarga juga menjadi pihak yang sangat penting dalam menjaga stabilitas psikologis Sr dan teman-teman sebagai sustainability program yang telah dilaksanakan oleh para ahli dan relawan terhadap Sr dan teman-temannya. Program dan sustainability pemulihan pasca gempa Jogja tidak hanya dilakukan terhadap Sr dan teman-temannya di sekolah, tetapi juga di berbagai tempat di sekitar wilayah DIY dan Jawa Tengah. Program seperti ini sangat membantu

Psikologis Program Sekolah Darurat Pasca Gempa Yogyakarta, DEPDIKNAS; Relawan dalam Aksi Cepat Tanggap Pendampingan Psikologis R.S. Dr. Sardjito

Vol1 No2 Maret 2010

63

PSIKoLoGI SoSIAL

Pengantar

S

eringkali kita mendengar atau pun menghadapi sendiri bahwa orang yang didiagnosis mengalami gangguan stres pascatraumatis (Posttraumatic Stress Disorder/PTSD) memerlihatkan simtom/gejala otomatis. Gejala (semi) otomatis PTSD, menurut Carvajal (2006), merupakan struktur kualitatif dari PTSD, yang mencakup otomatisitas

hal apa (pikiran, perasaan, perilaku)? Bilamana terjadi otomatisitas? Pembahasan otomatisitas secara populer seringkali dikaitkan dengan perspektif Psikoanalisis Klasik, khususnya mengenai perilaku yang dilatarbelakangi oleh motif tak sadar dan mekanisme defensif diri. Dalam tulisan ini, penulis justru menelaah otomatisitas dari keragaman perspektif besar lain dalam psikologi, yakni dari

tiga kelompok gejala utama PTSD, yakni (1) mengalami kembali simtom (reexperiencing symptoms), (2) “mati rasa” (numbing symptoms), dan (3) keterbangkitan (arousal symptoms). Simtom pertama, misalnya mengalami kilas balik (flashbacks) peristiwa secara otomatis; simtom kedua, misalnya, kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya menyenangkan; simtom ketiga, misalnya, kewaspadaan otomatis yang sangat tinggi.

pendekatan kognitif dan sosiokognitif, humanistik, serta biologis.

otomatisitas merupakan prosesproses psikologis internal seseorang yang dikontrol oleh stimuli dan peristiwa eksternal dalam lingkungan yang dihadapi orang tersebut saat itu (immediate environment), seringkali tanpa otonomi, pengetahuan, atau kesadaran subjek mengenai kontrol Guna memahami secara lebih tepat tersebut (Bargh & Williams, 2006). mengenai apakah “otomatisitas” itu, tulisan ini mengkaji secara Sebuah proses menjadi otomatis ilmiah fenomena ini, meskipun tidak melalui praktik, repetisi, dan mengaitkannya langsung dengan kebiasaan. Demikianlah, akar konsep PTSD. Apa yang dimaksud dengan otomatisitas dapat dirunut dari konsep otomatisitas? Otomatisitas dalam William James (1890/1950) tentang
64
Vol1 No2 Maret 2010

Genealogi, Konseptualisasi, dan Prospek Riset

PSIKoLoGI SoSIAL

habit (kebiasaan): “Dalam sebuah tindakan habitual, sensasi sematamata merupakan pemandu yang cukup terhadap tindakan, dan wilayahwilayah otak yang lebih tinggi serta mind ter-set bebas secara komparatif”. Lebih jauh lagi, perunutan dapat sampai kepada perspektif evolutif Darwin (1872/1998) yang menggagas bagaimana perilaku kompleks awalnya dilakukan secara sadar kemudian terutinkan (routinized)/terkonversi menjadi tindakan refleks melalui habit dan asosiasi, serta lebih lanjut menetap (firmly fixed) dan diturunkan (inherited) sekalipun sudah tidak fungsional. Menurut epistemologinya, otomatisitas berakarkan filsafat empirisme, dalam hal mana lingkungan merupakan originator dari representasi kognitif. Komitmen implistik Bargh dan Chartrand (1999) terhadap empirisme ini jelas, ketika menyatakan “Lingkungan langsung menyebabkan aktivitas mental”. Tanda-tanda otomatisitas merupakan indikasi aktivasi dan determinasi lingkungan. Representasi kognitif diasumsikan “teraktivasi otomatis oleh fitur-fitur lingkungan”. Namun, Smith dan Slife (2000) mengritik Bargh dan Chartrand karena otomatisitas juga memiliki alternatif akar filosofis, yakni rasionalisme dan hermeneutika ontologis. Menurut filsafat rasionalisme, lingkungan sudah dan selamanya merupakan

lingkungan yang diorganisasikan dan diinterpretasikan ketika orang mengalaminya. Setiap determinasi lingkungan atau pengaruh stimulus memiliki elemen-elemen dari organisasi/evaluasi mind yang implisit di dalamnya. Maka, sebuah stimulus hanyalah sebuah stimulus, karena ia sudah sebelumnya bermakna (already meaningful) bagi orang tersebut. Elemen mental yang bersifat a priori ini secara bebas diperluas kepada hal-hal dalam dirinya sendiri (sadar/ tak sadar), sehingga otomatisitas bukanlah automatically involuntary melainkan automatically voluntary. Artinya, pilihan-pilihan dan evaluasievaluasi telah direpresentasikan (betapapun baik/buruknya hal itu diingat) yang mem-predisposisi orang untuk memersepsi situasi sedemikian sehingga mereka bereaksi otomatis. Reaksi otomatis ini dapat terasa involunter (tak disengaja) karena reaksi ini tak terduga (unexpected) dan/atau karena komponen mental volunter telah dilupakan. Namun, otomatisitas bukanlah involuntary, melainkan nonconsciously voluntary. Menurut filsafat hermenutik ontologis, aksi-aksi otomatis orang secara simultan berkaitan dengan jejaring makna yang lebih luas. Tidak ada pembagian yang nyata (kecuali secara teoretis) antara subjek (minda) dengan objek (lingkungan). Hal ini karena makna memiliki syarat perlu (necessary condition) keduanya. oleh
Vol1 No2 Maret 2010

65

PSIKoLoGI SoSIAL

karena orang terarah secara volunter (rela, sengaja) kepada pola-pola makna dan perilaku yang lebih besar (tujuan-tujuan kompleks, pandangan dunia/worldviews), maka komponenkomponen yang lebih kecil dari pola ini nampaknya otomatis. Namun, perilaku-perilaku otomatis tidak involunter—meskipun dapat tidak sadar (nonconscious)—karena perilaku ini secara paripurna melayani sasaran dan pandangan dunia yang lebih besar. Penggunaan peristilahan “pemrosesan otomatis” dalam persepsi sosial dapat dirunut akarnya dari penelitian psikologi sosial 1970-an yang memeluk metodologi psikologi kognitif. Dalam psikologi kognitif, “otomatisitas” dan “kontrol” secara tradisional diperlawankan dan diperlakukan sebagai fenomena “semua-atau-tidak sama sekali” (all or none) (Posner & Snyder, 1975; Shiffrin & Schneider, 1977). Proses-proses otomatis dianggap bersifat tidak dikehendaki (involuntary), tidak mengonsumsi sumber-sumber daya kognitif umum, serta resisten terhadap campur tangan dari aktivitas yang tengah dijalani atau aktivitasaktivitas otomatis lainnya (Johnson & Hasher, 1987). Proses-proses terkontrol bersifat sebaliknya: dikehendaki, mengganggu (interfering), dan berada di bawah pengaruh interferensi (subject to interference). Namun, pandangan di atas ditentang
66
Vol1 No2 Maret 2010

para peneliti kognisi sosial, khususnya Bargh (1994). Bargh menyatakan bahwa setiap proses kompleks yang dipelajari oleh para psikolog sosial tersusun atas komponenkomponen yang berbeda, sejumlah tertentu otomatis dan sejumlah tertentu terkontrol oleh subjek. Ia mengidentifikasi empat “empat penunggang kuda dari otomatisitas” (four horseman of automaticity). Penunggang kuda pertama adalah kesadaran (awareness). Dalam proses-proses otomatis, subjek sangat mungkin tidak sadar. otomatisitas pada level ini mencakup efek-efek dari stimuli yang disajikan secara subliminal, seperti dalam priming subliminal dari sikap atau aktivasi stereotip (Bargh & Pietromonaco, 1982). Kedua, intensionalitas: apakah subjek perlu secara sukarela/ volunter menghasut atau memancing dimulainya (instigate) proses tersebut. Contohnya, efek-efek Stroop dianggap otomatis karena terjadi tidak peduli apakah subjek menginginkannya atau tidak (spontan) (Bargh, 1997; Pratto & John, 1991). Ketiga, efisiensi. Prosesproses otomatis lebih efisien daripada proses-proses terkontrol. Prosesproses ini lebih cepat, mensyaratkan lebih sedikit atensi terfokus. Pun proses ini menggunakan sedikit/tanpa sumberdaya kognitif (Bargh, 1997). Keempat, kontrolabilitas. Dalam proses-proses otomatis, subjek tidak dapat dengan mudah mengontrol dalam arti menyetop, interupsi, atau

PSIKoLoGI SoSIAL

memodifikasi proses awal tentang apakah tersebut begitu sekali pengaruh-pengaruh nonberlangsung. sadar eksis. Misalnya, riset-riset laboratorium Para “penunggang kuda” telah menunjukkan dari Bargh ini terkadang bahwa stimulus priming berjalan bersamaan, dapat memprovokasi namun kadang tidak. secara paralel berbagai Misalnya, Fiske dan Neu- respons-respons berg (1990) menunjuk- otomatis segera dalam kan bahwa stereotip persepsi, dalam motivasi, diakses secara tidak in- dan sebagainya. tensional, namun peng- Namun, dalam setting gunaan stereotip untuk dunia nyata yang menyokong sebuah pe- kaya stimulus yang nilaian (judgment) ter- tak memiliki batasan kait dengan sejumlah (unconstrained), orang derajat kontrol tertentu. dibombardir dengan Karenanya, otomatisi- ribuan stimuli semacam tas merupakan suatu itu setiap hari, dari iklan konsep yang bertingkat sampai aitem-aitem (graded) dan bervariasi. dalam jendela-jendela Ada otomatisitas pra- toko. Pertanyaannya, sadar—dengan ukuran “Manakah yang akan psikometrik antara lain menjadi pengaruhlexical decision dan at- pengaruh non-sadar, titude priming, pasca- dan mana yang tidak?” sadar—ukuran antara Selanjutnya, riset lain response time la- juga ingin menjawab tencies in surveys dan pertanyaan bagaimana implicit association test, berbagai jenis dan bergantung-tujuan) otomatisitas saling (Burdein, Lodge, & Ta- berinteraksi. ber, 2006; Moskowitz, 2005). Pendekatan Kognitif

mengonseptualisasikan respons-respons otomatis dengan lebih hemat/efisien (parsimoniously) sebagai stimuli yang diproses pada sejumlah rate konstan pada saat yang sama dengan informasi yang disimpan dalam “hard drive mental”, menyerupai kerja sebuah modem (Tate, 2000). Dengan analogi modem, ketika orang “belajar” informasi baru (misalnya, mengendarai mobil), informasi ini memiliki ukuran file tertentu yang sudah tetap.

Ketika seseorang pertama memelajari informasi ini, waktu yang dibutuhkan 10 jam (36.000 detik) guna memproses semua informasi pada rate pemrosesan konstan 56 kbps. Sesuai dengan teori kognitif yang lain, informasi yang diproses ini dapat meninggalkan jejas memori (yakni sejumlah informasi dan Sosiokognitif Arah riset otomatisitas Dengan model komputer disimpan dalam hard mutakhir bergerak tentang penjelasan drive mental). Jadi, melampaui pertanyaan psikologis, orang dapat pada waktu berikutnya
Vol1 No2 Maret 2010

67

PSIKoLoGI SoSIAL

file “mengendaraimobil” dibuka, waktu yang dibutuhkan untuk memproses informasi tersebut lebih sedikit, karena sejumlah hal darinya telah berada pada hard drive mental. Di samping itu, seseorang dapat mem-“bookmark” file mengendarai-mobil (yakni, menyimpan mayoritas informasi dalam hard drive mental), sehingga file tersebut berjalan (loads) sangat cepat (karena membutuhkan lebih sedikit informasi eksternal dibandingkan sebelumnya). Jadi, otomatisitas merupakan jumlah data dalam hard drive mental serta waktu pemrosesan yang diambil untuk mengintegrasikan informasi tambahan— bilamana diperlukan untuk melengkapi sejumlah fungsi tertentu. Kritiknya, model komputer menitikberatkan “kognisi dingin” (cold cognition) yang banyak bersifat skematis-rutin. Lalu, bagaimana dengan otomatisitas terkait
68
Vol1 No2 Maret 2010

“kognisi panas” (hot cognition)? Eksperimen Lodge dan Taber (2005) menguji hipotesis kognisi panas, komponen kunci teori motivated political reasoning. Hipotesis ini menyatakan bahwa semua pemimpin, kelompok, isu, simbol, dan gagasan yang bersifat politis yang telah dipikirkan dan dievaluasi di masa lampau menjadi konsep-konsep bermuatan afek positif atau negatif, dan afek ini berkaitan langsung dengan konsep-konsep tersebut dalam memori jangka panjang. Afek ini selanjutnya datang secara otomatis dan takterhindarkan ke minda (pikiran) ketika terdapat presentasi objek yang berhubungan (heuristik “how-do-I-feel?”). Perasaan (feelings) menjadi informasi. Afek memengaruhi secara kuat proses penilaian dari paling awal sampai akhir—dari pengkodean informasi, penemukembalian dan komprehensi, sampai ekspresinya sebagai

pilihan. Teori otomatisitas afek ini merupakan penjelasan terhadap bagaimana orang secara rutin berpikir mengenai objek-objek politis. Lodge dan Taber menemukan bukti kuat bahwa kebanyakan—bila tidak semua—konsep politis membawa asosiasiasosiasi afektif otomatis. Implikasinya, orang tidak mampu (unable) melepaskan diri dari sentimen-sentimen mereka sebelumnya ketika mengevaluasi argumen mengenai isu-isu politis, bahkan ketika mereka memotivasi dirinya untuk adil dan imparsial. Namun, terdapat kajian kognitif-sosial yang mengritik kekakuan (fixedness) dan sifat tak-terhindarkan (inescapable) dari otomatisitas, dalam hal ini dikaitkan dengan stereotip dan prasangka. Terdapat eviden bahwa otomatisitas itu lentur (malleable) dan dipengaruhi (a) motif diri dan motif sosial, (b) strategi-strategi spesifik, (c) fokus atensi perseptor, dan (d) konfigurasi pe-

PSIKoLoGI SoSIAL

Gambar 1. Model pemrosesan informasi sosial otomatis (Blair, 2002) tunjuk stimulus (Blair, 2002). Maka, dibangun model generik pemrosesan informasi sosial (Gambar 1). Contohnya: (a) orang dengan gambaran diri (self-image) yang terancam secara otomatis mengaktifkan stereotip negatif untuk membuat dirinya nampak lebih baik, (b) Petunjuk kategori sosial yang berada di luar fokus perhatian perseptor dapat tidak secara otomatis mengaktifkan informasi kategoris. Di samping itu, karakteristik keanggotaan individu dalam kelompok berpengaruh pula. Misalnya, anggota kelompok yang memiliki lebih sedikit ciri dari fitur fisik distingtif (khas) kelompok kurang mungkin menimbulkan stereotip dan prasangka otomatis yang berasosiasi dengan kelompoknya.

Maleabilitas dari otomatisitas sejalan dengan argumen Moskowitz (2005) bahwa otomatisitas justru merupakan respons yang cukup pragmatis dan rasional terhadap tantangan unik dari proses persepsi. Menurutnya, “Having the will and our goals automated does not make us automata… Not all processes that lack conscious awareness are irrational.” orang menurunkan (relegate) sebanyak mungkin pemrosesan yang dapat dilakukannya ke level prasadar atau ketidaksadaran, bahkan yang relevan dengan pengejaran tujuan terpenting. Hal ini membuatnya menjadi makhluk yang lebih efisien. otomatisitas tidak membuat orang mengabaikan informasi yang relevan, melainkan justru menjadi “terlatih” (so skilled) secara invisible dalam mendeteksi informasi yang relevan dalam lingkungan. Inisiator konsep otomatisitas, Bargh dan Chartrand (1999), dengan konsep dual-process mengontraskan pemrosesan otomatis (nonconscious) versus pemrosesan terkontrol (conscious), antara lain berdasarkan pandangannya mengenai perspektif stimulus-respons versus perspektif humanistik. Menurut mereka, perspektif S-R berada di pihak otomatisitas, dan perspektif humanistik menawarkan suatu “diri penyebab” (causal self) sebagai
Vol1 No2 Maret 2010

Pendekatan Humanistik

69

PSIKoLoGI SoSIAL

mediator antara lingkungan dengan respons orang terhadapnya. Tate (2000) mengritik bahwa Bargh dan Chartrand telah keliru memahami perspektif humanistik dan menempatkannya justru sebagai subordinat dari “behaviorisme mediasional” (formulasi stimulusorganisme-respons/S-o-R); karena “diri kausal” itu tidak lain merupakan aspek Organisme (intensi, kemauan) dari rumus S-o-R yang dibentuk dan disebabkan dari luar atau dari dalam oleh determinan lingkungan dan/ atau biologis. Perspektif humanistik justru menentang model mediasional yang memandang manusia sebagai makhluk yang pertama-tama berespon terhadap—dan dibentuk oleh—berbagai pengaruh tersebut. Berdasarkan perspektif humanistik yang benar, otomatisitas dikonsepkan sebagai intensi-intensi (niat-niat) untuk bertindak (yakni, untuk berpikir, merasa, bertindak) yang menunjukkan secara jelas waktuwaktu bertindak (action times) yang lebih cepat dibandingkan dengan intensi-intensi lain (Tate, 2000). Dalam hal ini, terdapat perbedaan dalam derajat/kuantitatif dalam hal rangkaian waktu yang dilalui (time’s passage), namun bukan perbedaan kualitatif dalam jenis kegiatan yang dilakukan. Aktivitas-aktivitas otomatis juga masih intensional. Jadi, tidak benar bahwa ada pemrosesan kognitif yang berbeda-beda bergantung pada
70
Vol1 No2 Maret 2010

rangkaian waktu, seolah-olah bahwa apabila tidak ada (atau sangat sedikit) jeda waktu antara presentasi stimulus dengan responnya maka tidak ada proses kognitif yang terjadi atau ada jenis pemrosesan kognitif yang berbeda (dalam hal ini: otomatisitas). Pendekatan humanistik sejalan dengan filsafat hermenutik ontologis tentang hubungan antara otomatisitas dan makna sebagaimana dipaparkan dalam bagian sebelumnya di atas, karena keterlibatan hermeneutik merupakan hal lazim dalam kreasi teori-teori psikologi humanistik (Rennie, 2007).

Pendekatan Biologis

Telah dinyatakan bahwa dalam derajat tertentu terdapat kemampuan kontrol orang terhadap perilaku otomatis. otomatisitas dan kontrol tidaklah dikotomis. Hal ini dikonfirmasi penelitian neurosains kognitif. Kübler, Dixon, dan Garavan (2006) menyajikan tugas pencarian visual yang memungkinkan partisipan mengotomatisasikan responnya; hal ini berlangsung tiga jam praktik. Partisipan selanjutnya diminta untuk menekankan lagi kontrol tanpa mengubah set stimulusnya. Dari hasil fMRI (Gambar 2), Kübler et al. menemukan aktivasi kortikal tersebar luas pada awal praktik. Aktivasi dalam semua area frontal dan lobus parietal inferior menurun signifikan (tanda proses otomatis) berkat praktik.

PSIKoLoGI SoSIAL

Area prefrontal (area Brodmann/BAs 9/46/8) dan parietal (BAs 39/40) tertentu secara spesifik teraktifkan kembali ketika kontrol eksekutif dibutuhkan. Riset memberikan basis penjelasan biologis bagi perilaku, seperti ketika supir terkontrol sewaktu kondisi lalu lintas tibatiba memburuk.

nyak jenis perilaku. Studi tunggal tidaklah memadai, melainkan harus diperlengkapi bukti lain yang mendukung yang menggunakan teknik lain. Kedua, bentuk-bentuk perilaku dan kognisi yang bahkan nampaknya sederhana bergantung pada jejaring struktur otak yang berinterrelasi. Tidak ada organ politis tunggal di otak, dan harus dilakukan komputasi integral. Signifikansi jejaring ini diperkuat lagi dalam riset termutakhir dari Chong dan Mattingley (2009) yang menunjukkan bahwa mirror neuron system—jejaring dari wilayah parieto-promotor yang menyokong fenomena sosiokognitif kompleks (observational learning, theory of mind, sosialisasi, dan evolusi bahasa manusia)—bertanggungjawab Kritik terhadap bagi otomatisitas. pendekatan biologis adalah bahwa seringkali data tidak tepat ditafsirkan. Lieberman, Schreiber, dan ochsner (2003) menyontohkan: Peneliti mengidentifikasi basis neural dari sikapsikap politis dan menemukan amigdala teraktivasi ketika partisipan mengekspresikan sikap Gambar 2. Citra fMRI dari otomatisitas dan pemulihan kontrol eksekutif tersebut. Apabila peneliti menyimpulkan bahwa amigdala merupakan pusat dari sikap politis di otak, maka konklusi ini keliru. Alasannya: Pertama, riset neurosains kognitif telah menunjukkan bahwa setiap struktur otak (amigdala, dan sebagainya) dapat saja berpartisipasi dalam baVol1 No2 Maret 2010

71

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

Berfikir Sejenak…
Hj. dzaatil Husni Binti ali, M.a.

Mungkin biasanya naik kendaraan, milik sendiri ataupun bukan. Namun tak jarang terpaksa jalan kaki. Sebaliknya, walau biasanya kemanamana on foot atau mengandalkan angkot, namun pasti ada momen dimana ada yang mengantar dengan kendaraan pribadi. Biasanya langit cerah mengiringi hari, pakaian terjaga bersih dan mood stabil. Namun ada kalanya hujan turun saat payung tidak terbawa, sehingga kerapihanpun jadi kusut diacak-acak hujan. JUGA, terkadang jalan begitu mulus hingga langkah jadi ringan dan tujuan tercapai tanpa keluhan, namun kadang ada yang menusuk kaki, sehingga kita menjerit kecil: AUU!!!, what’s going on?? ow..!! mungkin kerikil tajam atau paku payung yang tidak pada tempatnya, telah menusuk tapak sepatu, sakit memang, tapi hanya sedikit, lalu melangkah lagi.

B
72

agi saya, menjalani hidup tak ubahnya laksana menyusuri luasnya jalan raya, terbentang lurus dan bercabang. Sesekali bisa melenggang santai, lain kali harus menepi karena disalip orang lain. Kadang lancar-lancar saja, lain waktu terjebak kemacetan. Terkadang ada orang yang membantu perjalanan, lain waktu justru langkah kita dijegal orang dengan sengaja, dan kita hanya bisa termangu.
Vol1 No2 Maret 2010

Namun kadang, sebagian orang pergi dengan dandanan sempurna, persiapan matang lahir batin, namun di perjalanan takdir berkata lain, tiba-tiba saja ada yang menabraknya walau ia telah hati-hati, ada saja yang membuatnya terluka, tersakiti walaupun ia tidak salah. Akhirnya ia harus menanggung sakitnya badan karena kecelakaan, juga sakitnya perasaan karena hidupnya jadi tidak nyaman, merasa dirugikan, kegiatannya jadi terbengkalai, target

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

hidupnya jadi mundur karena harus berdamai dulu dengan rasa sakit yang diterimanya bukan dari akibat perbuatannya secara langsung. INILAH HIDUP. Sometime kita berfikir, apa salahku? Mengapa harus aku yang alami ini? Mengapa harus menjalani hal yang bukan pilihanku? Bukan impianku? So what now? Bicara “sabar”, mudah. Mengatakan bahwa “ini cobaan”, gampang. Tapi menjalani…..? Sungguhnya tubuh kita memiliki sistem penyembuhan alami. Seberat apapun luka pada raga, dengan dibantu obat ia akan perlahan sembuh, begitu pulalah hendaknya jiwa, hendaknya jiwa-jiwa yang merasa terluka mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Caranya? Secara rasional, haruslah disadari bahwa UJIAN/MUSIBAH itu sifatnya it must. Tekanan hidup merupakan sarana penguatan jiwa. Setiap manusia MEMBUTUHKAN tekanan. Tapi tekanan yang dibutuhkan adalah yang seimbang dengan kemampuannya. Bila tekanan itu melewati ambang batas kemampuan maka saraf otak dan serat jiwanya akan putus, di sinilah akan timbul akibat fatal dari stres. Tay Swee Noi dan Peter J. Smith (1990), peneliti tingkat stres di Asia, menjelaskan stres dari sisi fisika. Dalam buku mereka, “Managing Stress: A Guide to Asian Living”, dijelaskan bahwa stres fisik timbul bila suatu kekuatan atau tekanan ditimpakan

pada suatu obyek. Para insinyur menghitung jumlah tekanan yang ditimpakan kepada obyek, (obyek ini semacam karet tebal, yang ditimpakan batu besar di atasnya). Kemudian menghitung ”toleransi stres” yakni besarnya tekanan atau kekuatan yang mampu DITAHAN obyek karet, sebelum akhirnya obyek tersebut melengkung dan selanjutnya PUTUS. Beberapa benda karet ada yang ketahanan/elastisitasnya lebih baik, dalam arti hanya melengkung tetapi tidak putus. Naah.. sekali lagi diulang: obyek yang memiliki ketahanan lebih baik ia tidak mudah putus, ini ibaratnya diri kita yang tertimpa kemalangan: banjir bandang, diputusin kekasih secara sepihak, kebakaran yang tidak kita sebabkan, tsunami yang tak pernah disangka, kematian anak tercinta, dikhianati suami tercinta, ditipu puluhan juta oleh sahabat sendiri, atau banyak lagi kepahitan hidup yang lain. Usahakanlah agar saraf otak dan serat jiwa kita tidak putus, walau tertimpa batu ujian seberat apapun. Bila penyadaran diri secara rasional gagal, maka tidak ada yang bisa menenangkan jiwa selain kembali padaNYA. Semua agama memiliki tuntunan ajarannya sendiri, namun ada satu kesamaan: ketika jiwa manusia terasa kosong dan hampa -materi yang dicari dengan setengah mati ternyata hilang tak tersisa, orang yang dicintai dan menjadi belahan hati bertahun-tahun
Vol1 No2 Maret 2010

73

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

ternyata tak lagi di sisi, atau ketika semua usaha yang dilakukan untuk menjadi bahagia ternyata justru membuat luka-, apapun itu, maka tak ada pilihan lain selain mengharapkan cinta Tuhan, menghamba belas kasih Tuhan, karena hanya Sang Pencipta-lah yang selalu hidup dan senantiasa memberi kehidupan pada semua kita. Dalam iman katolik, dikenal 4 tugas pokok manusia, dimana tugas pertamanya adalah: membuka diri pada Yang Transenden (Konferensi Waligereja Indonesia, 1996, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi, Catholic Church, Yogyakarta: Kanisius, h. 7-8). Ajaran Sang Buddha mengatakan, satu-satunya jalan untuk memurnikan makhluk, agar bebas dari kekecewaan akan hasrat duniawi yang tidak tersampaikan, hendaklah ia meluruskan jalan kepada Yang Tak Mati dan Tak Berubah, Yang Suci dan Profan (Mariasusai Dhavamony, 2006; ”Fenomenologi Agama”, Kanisius, h. 94). Tiga prinsip nafas dalam tuntunan meditasi Hindu: merelakan masa lalu, menerima masa kini, dan menerima kebenaran/fakta (Miranda Holden, 2002; Boundless Love, London: Random House, h. 205). Sedang bagi yang merasa umat Nabi Muhammad SAW, hanya Allah SWT satu-satunya tempat kembali, perhatikanlah salah satu firmanNYA: Q.S at Thuur: Washbir lihukmi rabbika fa innaka bi a’yunina (dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan TUHANmu, maka sungguhnya engkau dalam pan74
Vol1 No2 Maret 2010

dangan Kami). Ini dimaksudkan agar manusia bersabar, karena walaupun ada derita dan luka, bukan berarti Allah SWT tidak memperhatikan, namun Allah memiliki tujuan di balik itu, maka hendaklah mereka yang mengaku beriman pada Allah dan rasulnya senantiasa bersabar dan tetap berdoa dalam menanti ketetapan Allah Ta’ala atas kelanjutan hidup. Bahkan dalam kepercayaan animisme dan dinamisme (sebelum datangnya agama), ketika menghadapi kematian anggota keluarga yang pergi berburu, maka anggota keluarga yang ditinggalkan mengadakan tari-tarian untuk dipersembahkan kepada kekuatan ghaib yang mereka percayai bisa memberikan ketenangan, lepas dari kesedihan karena kehilangan anggota keluarga (Thom Hartmann, 2006, Walking Your Blues Away, Vermont: Inner tradition, h. 5). So, jelaslah sudah, bahwa: Hidup tak akan pernah totally free dari musibah, cobaan, kesedihan. Manusia harus bisa survive dalam keadaan apapun, bila ia ingin mencapai kebahagiaan sejati. Untuk survive, manusia membutuhkan kedekatan yang lebih dengan penciptanya, bahwa rasio saja tidak cukup untuk menyelamatkan kekeruhan jiwa, tetapi membutuhkan keterikatan yang kuat dengan Sang Maha Pengatur hidup ini. Jangan biarkan keluhan mewarnai hari-hari kehidupan... sehingga yang ada wajah akan bertambah muram,

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

senyum jadi kusam, dan masa depan terasa kelam... walau ada pelita yang padam hari ini, namun yakinlah.. TUHAN MENYEDIAKAN PELITA-PELITA LAIN YANG AKAN MENYINARI LANGKAH DI KEMUDIAN HARI... Pelita yang kita miliki saat ini, bisa keluarga, bisa sahabat, bisa si dia, bisa perkerjaan yang menjadi sumber hidup, bisa anak yang lucu, suami yang setia, atau hidup yang terasa sempurna..... atau apapunlah... semua PELITA ITU BISA PADAM TIBA-TIBA JUSTRU DI SAAT PELITA ITU SANGAT KITA HARAPKAN UNTUK BERSINAR... hanya satu pelita yg tak pernah padam... yaitu pelita kasih sayang TUHAN YME. Maka menghadaplah pada pelita itu... berjalanlah di bawah cahaya pelita yang ESA itu... mendekatlah pada pelita itu.. maka hati kita akan selalu bercahaya... langkah kita akan tenang walau menyusuri jalan yang gelap gulita, karena pelita itu telah bersarang di kalbu kita... PENJARAKANLAH PELITA CINTA TUHAN DI KALBU... AGAR TAK ADA APAPUN ATAU SIAPAPUN ISI DUNIA YANG MAMPU GELAPKAN JALAN HIDUP INI..... Jangan pernah lelah berdo’a saudaraku, karena Ia Maha Mendengar. Namun ada satu hal yang hendaknya kita camkan, bahwa Tuhan memiliki otorisasi penuh dalam mengabulkan permintaan kita. Kadang bisa saja: 1. Doa kita dikabulkan sesuai dengan apa yang kita ingin, pada waktu yang kita mau.
Vol1 No2 Maret 2010

75

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

2. Doa kita dikabulkan sesuai dengan apa yang kita ingin, tetapi ditunda waktunya 3. Doa kita dikabulkan tetapi diberikan bukan yang kita ingin, Tuhan mengganti pemberianNya 4. Mungkin yang kita ingin tidak diberikan sama sekali, tetapi digantiNya dengan pengampunan dosa

hanya ¼ yang terpakai. Yang 2/4 nya adalah cadangan untuk hidup seterusnya. Bahwa juga, otak kita ini mengandung 1500 cc cairan, terlindung di dalam rangka ”batok” kepala yang sangat keras ini, agar tidak mudah rusak karena cairan itu melumuri jaringan otak dan menunjang pekerjaan otak. Bahwa semua anggota tubuh kita ikut membesar bila kita bertambah usia atau bertambah berat badan, namun apakah kepala kita ikut membesar? Bila kepala ikut membesar seiring melebarnya pinggul bagaimana jadinya kita?

Mengapa demikian? Karena kita hanya tahu apa yang kita ingin, sementara Tuhan lebih faham apa yang kita butuhkan. Ingatlah... yang kita INGIN belum tentu yang kita BUTUHKAN, karena keinginan berbeda dengan kebutuhan. KEINGINAN kadang datang dari nafsu duniawi yang bisa Bahwa Tuhan juga menciptakan sifat saja TIDAK DISANDARKAN pada rasio ”lupa” untuk kita. Andainya kita tidak punya sifat lupa, sistem syaraf otak dan nilai-nilai keimanan. kita akan merekam semua kejadian Just Keep on praying... believe it dari awal kita keluar dari rahim ibu, works!! Cause GOD luv us!! Karena bernafas pertama kali, menyusu ke kita adalah ciptaan Tuhan yang paling ibu pertama kali, melihat objek benda istimewa dari semua isi jagad raya ini. pertama kali, telungkup, merangkak, Buktinya? Sedikit paparan dari Prof. berjalan pertama kali, terjatuh Tadjudin, mantan rektor UI, guru besar pertama kali, menangis pertama di bidang kedokteran, bahwa: hati itu, kali,tumbuh gigi susu yang pertama, yang bentuknya kecil, ternyata hanya sampai hari-hari, bulan ke bulan, dipakai 1/4nya untuk menjaga sistem tahun ke tahun kita membesar dan metabolisme tubuh dan itu cukup meninggi, andainya semua itu teringat untuk sepanjang usia kita apabila tidak dalam sistem otak kita, bagaimana terkena penyakit fungsi hati. Kalaupun jadinya? Seperti harddisk komputer, satu hari terjangkiti hepatitis, maka bukankah ada batasnya besaran giga hati itu bisa dipotong di bagian yang memory penyimpanan data?? sakit, dan sisanya yang ¾ masih bisa menjaga sistem metabolisme tubuh, Bisa dibayangkan banyaknya data yang dan dari ¾ bagian yang sehat itupun harus dijaga otak kita andainya Tuhan
76
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: REFLEKSI

tidak menganugrahi kita sifat lupa?? Mungkin bisa membengkak otak kita, meradang sarafnya, atau .....?? So, do we See??? Bukankah Tuhan telah memberikan segalanya untuk kebahagiaan kita?? Bahwa kita ini sempurna?? Adakah yang diciptakan lebih baik dari kita?? Tuhan telah begitu mencintai kita dengan segala nikmat dan anugrah yang terdapat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bahkan juga masalah dan musibah, itupun dianugrahkan Tuhan agar kita bisa lebih menghargai anugrah hidup. Ketika disakiti maka cinta akan terasa berharga, ketika bangkrut maka kita belajar mensyukuri rezeki, ketika sakit kita mengakui nikmatnya sehat. Ketika dicoba dengan apapun, kita akan menyadari, bahwa diri ini hanyalah hamba, yang pasti terbatas dan berkekurangan. Yakinlah, bahwa Ia tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan kita menghadapinya. Ia yang menciptakan kita, Ia Maha Tahu batas ketahanan dan kekuatan kita, maka Ia tidak akan pernah memberi beban di luar kesanggupan hamba menanggungnya, (laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha: Q.S: al Baqarah, 286). Lalu mengapa kita merasa tidak sanggup??? Sungguhnya bukan kita tidak sanggup, itu hanya karena kita kurang erat hubungan dengan Sang Kuasa, karena Dia lah sumber kesanggupan itu, Dialah sumber kekuatan itu. Jadi mintalah kekuatan

itu kepadaNya. Bahwa hanya ikatan yang kuat dengan Tuhanlah yang mampu mengalirkan kekuatan, untuk menghadapi gelombang hidup. Menyembuhkan luka yang terperih sekalipun, dan membangkitkan semangat jiwa yang telah terpuruk hancur. So, dalam keadaan apapun.. janganlah pernah menjauh dariNYA.... Sekedar penutup catatan sederhana ini, Saya nukilkan petuah Socrates: ”Hidup yang teruji, adalah hidup yang bermakna” ..... * Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana (S3) UIN Syarif Hidayatullah dan Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIDA)

Vol1 No2 Maret 2010

77

PSIKoLoGI AGAMA

Media ujian audio Visual imagery
Sejarah PtSd Manusia di Planet Bumi
dan

dalam Berita al Qur’an
Siti nur aisyiyah

Riset Empiris tentang PTSD

Rintisan pertama untuk mendeskripsikan definisi PTSD dibuat oleh sejarawan Yunani yaitu Herodotus pada tahun 490 SM. Ia menjelaskan bahwa selama pertempuran Marathon, seorang tentara Athena yang tidak mengalami luka fisik akibat perang tetapi menjadi buta permanen setelah menyaksikan gambaran visual dari kematian seorang prajurit sesamanya. Data sejarah juga menjelaskan bahwa manusia baru
78
Vol1 No2 Maret 2010

dapat mengidentifikasikan adanya keterkaitan antara reaksi stres dan gambaran visual dari suatu peristiwa yang menakutkan serta kesedihan mendalam karena kehilangan kematian orang-orang terdekat dalam peristiwa pertempuran di medan perang, yaitu pada awal abad 6 SM. Pada Agustus 2000, American Psychiatric Association, dengan para penelitinya, Xiangdong Wang, M.D., Lan Gao, M.D., Naotaka Shinfuku,

PSIKoLoGI AGAMA

M.D., Ph.D., Huabiao Zhang, M.D., Chengzhi Zhao, M.D., dan Yucun Shen, M.D., Ph.D., melaporkan hasil penemuan penelitiannya mengenai gempa di Cina. Hasil penemuan penelitian mereka dikenal dengan nama studi “Longitudinal Study of Earthquake-Related PTSD in a Randomly Selected Community Sample in North China.” Pendekatan studi mereka digambarkan sebagai berikut: “This study longitudinally described rates of posttraumatic stress disorder (PTSD) in two groups with different levels of severity of exposure to an earthquake in North China. The effects of diagnostic criteria on the frequency of detected PTSD were also examined.” Hasil penelitian mereka menemukan gambaran bahwa pengalaman suatu kawasan atau desa yang akan level tertinggi peringatan awal eksposur bahaya gempa dan dukungan lebih atas kejadian paska gempa telah memperkecil kemungkinan frekuensi gejala PTSD, demikian juga sebaliknya. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah rekomendasi untuk penanganan sigap sejak awal bagi para korban paska gempa di Cina dan bagi dunia, agar para korban gempa tidak berpotensi mengalami reaksi gejala PTSD. Berdasarkan penelitian ini didapatkan gambaran bahwa pengalaman bencana (disaster experiences) yang hidup dalam gambaran visual imagery mental

mereka adalah faktor ancaman penting bagi harapan kehidupan masadepan para korban paska gempa. Jenis ancaman tersebut, misalnya (1) jenis dan banyaknya kehilangan yang mereka alami secara kuantitas dan kualitas (the type and amount of losses they experienced); (2) tingkat level stress yang mereka rasakan (their perceived level of stress); (3) kepuasan mereka atas dukungan materi dan kesehatan mental (their satisfaction with material and mental health support); dan (4) tingkat reaksi munculnya ketakutan atas gempa (their level of fear of earthquake recurrence). Kehilangan yang melukai memori pikiran biasanya berhubungan dengan (1) rasa kehilangan yang menyakitkan karena kematian anggota keluarga (deaths of family members), saudara, orang-orang terdekat yang dikasihi, dicintai dan para sahabat; (2) kegelisahan yang menakutkan akan harapan masadepan karena kehilangan bisnis usaha, inventaris harta benda dan rumah tempat tinggal bersama keluarga (damage to one’s house and other property losses). Para peneliti gempa di China melukiskan gambaran stress kepedihan duka cita para korban gempa berhubungan dengan konsep “Kehilangan”. Kehilangan orangorang yang dicintai karena kematian dan kehilangan harta benda yang luput untuk diselamatkan. “The perceived
Vol1 No2 Maret 2010

79

PSIKoLoGI AGAMA

level of stress associated with deaths of relatives and friends and with the loss of one’s house and property and the perceived level of overall stress were evaluated.”

Pada tahun 2008, dunia dibuat heran dengan berita yang didapatkan dari hasil studi penelitian yang didanai oleh “The Collaborative Neuroscience Network” untuk “The UCLA Department of Psychiatry and Biobehavioral Sciences within the David Geffen School of Medicine.” Di tempat ini berkumpul para dosen yang ahli dalam asal-usul dan perawatan untuk kelainan perilaku manusia yang kompleks dan sebab-sebab serta konsekuensi dari gangguan Para peneliti menemukan bahwa neuropsikiatrik. Hasil penemuan para korban yang selamat mengalami penelitian mereka dilaporkan dalam jurnal Psychiatric Genetics di edisi bulan Desember 2008. Ini merupakan penelitian pertama di dunia yang berhubungan dengan pendekatan “Multigenerational Study”. Penelitian mereka berjudul “Research Finds Genetic Connection Between PTSD, Depression And Anxiety.” Penelitian ini masuk dalam kategori utama Anxiety dan Stress, dan juga berhubungan dengan konsep-konsep di dunia keilmuan Psychology/ Psychiatry; Depression dan Genetics. Hasil penelitian diketahui setelah mereka mempelajari para korban yang selamat dari bencana gempa bumi tahun 1988 yang menewaskan
80
Vol1 No2 Maret 2010

17.000 orang dan menghancurkan hampir setengah kota Gumri di Armenia. Mereka mempelajari 200 orang dari 12 multigenerasi keluarga yang memiliki pengalaman ingatan tentang gempa. Semua indera mereka melihat gambaran visual dari bangunan hancur di seluruh kota Gumri, 90 persen dari mereka telah menyaksikan mayat yang ditinggalkan di jalan-jalan, dan 92 persen menyaksikan dan mendengar suara orang-orang terluka parah. Gambaran visual dari apa yang mereka saksikan dengan indera mereka telah menjadi gambaran mental yang hidup dalam imageri ingatan pikiran mereka.

PSIKoLoGI AGAMA

kerentanan terhadap PTSD, kegelisahan dan gambaran depresi telah mengendalikan kehidupan suatu keluarga. Mereka mengalami penderitaan dengan berbagai derajat gangguan mental.Hasil penemuan mereka digambarkan sebagai berikut, “Earthquakes have aftershocks, not just the geological kind but the mental kind as well. Just like veterans of war, earthquake survivors can experience post-traumatic stress disorder, depression and anxiety.” Penemuan ini menggambarkan secara imajeri bahwa peristiwa bencana gempa bumi dengan aftershocks-nya berupa efek gempa susulan sesudahnya, tidak hanya menggambarkan suatu kejadian geologis tapi juga menggambarkan bagaimana mental manusia juga mengalami aftershocks sebagai akibat dari pengaruh setelah peristiwa gempa. Fenomena ini sama halnya seperti veteran perang, korban gempa dapat mengalami post-traumatic stress disorder, depresi dan kecemasan. Anak-anak adalah sasaran ancaman paling potensial untuk mengalami dampak PTSD paska gempa.

Penelitian secara mendalam juga menemukan bahwa sebagian besar kemampuan gangguan genetik pada para penderita PTSD gempa ini telah diturunkan didalam generasi suatu keluarga, karena mereka telah menjadi individu-individu yang lebih rentan untuk mengembangkan PTSD, kecemasan dan gejala depresi. Kasus-kasus

Penemuan didapatkan pada gambaran persentase terbesar dari suatu gen telah diturunkan di antara sesama penderita gangguan. Pembuktiannya berdasarkan hasil laporan praktik klinis para terapis yang sering menemukan kasus dari para pasien yang datang untuk pengobatan depresi paska gempa. Para pasien ini diketahui telah hidup secara kebersamaan dalam suatu kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari kesamaan ini menjelaskan suatu alasan yang mendasar untuk berbagi gen PTSD, dan bukan hanya karena faktor lingkungan dan pendidikan yang dapat mempengaruhi gejala dan reaksi PTSD. Peneliti menemukan bahwa 41 persen gejala variasi dari PTSD ini disebabkan oleh faktor-faktor genetik, 61 persen dari gejala variasi depresi, dan 66 persen lainnya merupakan gejala kecemasan yang disebabkan oleh faktor genetika. Tema penelitian ini adalah rekaman peta pengalaman klinis terapi pertama bagi dunia, untuk memahami gejala dan penderita PTSD gempa secara genetik dalam suatu keluarga. Temuan ini menjanjikan untuk langkah berikutnya dalam memahami konsep biologi yang mendasari gangguan PTSD paska gempa, khususnya dalam upaya untuk menemukan gen-gen tertentu yang terlibat dalam gejala PTSD paska gempa. ganguan emosi dan
81

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA

kejiwaan berhubungan dengan kejadian yang menimbulkan reaksireaksi trauma yang telah lama terjadi namun masih mempengaruhi seorang manusia. Hal ini dikenal dengan sebutan PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. PTSD berhubungan dengan konsep “Vivid Visual Imagery” atau pengalaman ingatan pendengaran dan penglihatan yang hidup didalam pikiran seorang penderita PTSD. Psychology Today Magazine, dalam artikelnya, “The risks of PTSD following the 2010 earthquake in Haiti”, 21 Januari, 2010, menyebutkan, “The flashbacks and trauma recollections experienced by the earthquake victims were dominated by the vivid visual imagery they had experienced.”

bumi alam semesta beserta segala isinya dengan tujuan tidak untuk siasia dan beribadah kepada Allah SWT. Semua memori audio yang terdengar oleh telinga, dan memori visual yang terlihat oleh mata, direkam oleh otak yang memiliki milyaran sel. Setiap pergerakkan sel dan perkembangan DNA adalah peta memori penciptaan jenis mental jiwa manusia yang ada dalam pengetahuan dan kendali Allah SWT sebagai Maha Pencipta segala kejadian dan peristiwa dilangit, bumi dan didalam diri manusia itu sendiri. Rekaman memori audio visual ini menjadi data memori ingatan secara ilmu dan pengalaman ingatan emosi yang disimpan dalam keunikan struktur otak dan DNA dalam memprosesnya. Data memori ingatan ini menjadi referensi bagi berbagai jenis jiwa dan tipe karakteristik manusia, karena apa yang dilihat dan didengarnya, secara bersamaan telah ditetapkan juga sebagai perintah kepada akal untuk memikirkan dan memerintah tubuh untuk memprosesnya, demikian juga halnya dengan hati nurani yang telah ditetapkan untuk menemukan kebenaran dari apa yang dilihat dan didengarnya. Ada dua faktor yang turut mempengaruhi manusia secara kejiwaan yaitu: (1) faktor “bisikan dan pengaruh tipu daya negatif” dari mahluk ghaib sebagai musuh

Perspektif Al Qur’an

Maha Benar Allah SWT dengan segala firman Nya. Al Qur’an adalah media sumber pengetahuan lintas ilmu multidisipliner dengan berbagai muatan data informasi berita tentang masa lalu, masa kini dan masa depan yang telah dan akan terjadi bagi manusia di Planet bumi. Media Al Qur’an telah menjelaskan bahwa ide besar di balik penciptaan manusia yang memiliki indera pendengaran dan penglihatan secara audio visual, bahwa tujuannya adalah untuk mengujinya dengan berbagai ujian yang terlihat dan terdengar oleh inderanya. Ide ini juga berhubungan dengan ide awal penciptaan langit
82
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA

“bisikan dan pengaruh tipu daya negatif” ini sebagai “Parasit dalam pikiran.” Setiap manusia mempunyai bisikan dari musuh ini (QS6:12-23:97). Faktor kedua yaitu pemahaman atas ilmu Allah SWT dalam Al Qur’an. Hal ini menjadi utama bagi manusia karena musuh alami manusia secara absolut telah ditetapkan adalah mahluk yang justru tidak dapat terlihat dan terdengar oleh indera manusia, tetapi ia adalah musuh yang paling nyata dalam setiap tarikan nafas, aliran darah, getaran rasa hati, dan akal pikiran manusia. Ia adalah musuh yang dampak akibatnya paling nyata terlihat dan terdengar kerusakan dan bencananya bagi diri manusia itu sendiri. Karena Al Qur’an telah menjelaskan bahwa syeitan juga menguji manusia dengan berbagai bisikan pikiran buruk, seperti kecemasan, ketakutan, pikiran buruk, gejala-gejala seperti reaksi-reaksi stres, depresi, trauma, prasangka buruk kepada diri sendiri dan kepada Allah SWT, hingga putus asa dari rahmat, pengampunan dan kasih sayang Allah SWT. Sebagian dari gejalagejala ini juga dialami oleh manusia pertama di planet bumi, yaitu Nabi Adam AS, dan juga oleh para nabi dan para rasul dalam perjuangan mereka menegakkan keimanan, seperti dikisahkan dalam berita Al Qur’an.

yang paling nyata (devil); (2) faktor memahami ilmu Al Qur’an bersama ilmu dunia untuk dapat menyadari adanya Maha Pencipta segala hal yang berhubungan dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar oleh manusia dengan berbagai kapasitas akal pikirannya. Kedua faktor ini saling bekerja untuk merebut pengaruh yang paling kuat pada diri jiwa manusia, khususnya bagi mereka yang mengalami peristiwa traumatik. Faktor pertama yaitu bisikan “musuh” manusia, yaitu syeitan. Musuh ini telah ditetapkan secara absolut tidak dapat berkuasa untuk mengendalikan akal pikiran dan emosi perasaan jiwa manusia yang bertaqwa dengan keimanan yang tidak setengah hati. Sejarah PTSD Pada Manusia Dunia sains-psikologi menyebut Pertama Di Planet Bumi
Vol1 No2 Maret 2010

83

PSIKoLoGI AGAMA

Pengalaman ingatan audio visual yang hidup dalam pikiran, menimbulkan reaksi-reaksi traumatik, stress, depresi hingga putus asa pada manusia di planet bumi, dalam perspektif Al Qur’an sebenarnya sama tuanya dengan sejarah pertama kali manusia diciptakan. Sejarah ini terekam dalam kesaksian media kitab suci Al Qur’an yang menceritakan tentang sebab akibat turunnya Nabi Adam AS dan Siti Hawa dari surga ke planet bumi sebagai akibat dari perbuatannya sebagai manusia yang zalim (QS 2 :35). Peristiwa turunnya kedua manusia ini ke planet bumi menjadi awal sejarah bagaimana konsep-konsep PTSD akan berkembang peta model dan pola “Traumatic Stress Disorder”-nya, karena secara bersamaan turunlah ketetapan Allah SWT, yaitu, “Sebagian manusia akan menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi manusia ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (QS 2: 36). Ayat ini memiliki isyarat muatan makna yang sangat dalam guna memahami kecenderungan pola dari ingatan kejadian peristiwa traumatik yang mempengaruhi perilaku, perasaan emosi dan pikiran manusia. Ketika berada pertama kalinya di planet bumi, secara imajeri dapat digambarkan bahwa indera Nabi Adam AS mengalami penyesuaian
84
Vol1 No2 Maret 2010

atas pemandangan visualisasi bumi yang berbeda sekali dengan visualisasi surga. Pada saat itu, manusia pertama di planet bumi ini mengalami pikiran dan perasaan penyesalan yang mendalam, rasa kehilangan nikmat surga, dan kehancuran harga diri yang mendalam. Nabi Adam AS mengalami perasaan tidak berdaya, kesedihan yang memilukan, ketakutan dan ketegangan akan masadepan, dan ia merasa tidak berarti karena rasa malu dan dosa atas perbuatannya yang zalim atas dirinya sendiri. Semua ini adalah akibat dari ketidaktaatannya kepada perintah Maha Penciptanya untuk tidak memakan buah dari suatu pohon di surga. Allah SWT menyebut pelanggaran ini sebagai perbuatan durhaka dan sesat. Sesat karena mengikuti arah petunjuk dan bisikan Iblis/Syeitan melalui pikirannya (QS 20:120-121). Imajeri “buah” dari suatu pohon adalah suatu godaan dan ujian visual pertama bagi indera manusia pertama, Nabi Adam AS. Pengalaman indera mata yang melihat secara visual buah yang sangat menggoda dan penuh ujian bagi nabi Adam AS ini kemudian ditambah dengan tekanan pengaruh syeitan yang membisikkan pikiran jahat kepadanya (QS 20:120). Hal ini telah menjadikan Adam AS durhaka dan sesat, hingga akhirnya Allah mengampuninya, menerima taubatnya, memilihnya dan memberinya petunjuk (QS 20 : 122).

PSIKoLoGI AGAMA

Sejarah data ingatan traumatik Nabi Adam AS ini kemudian berlanjut dalam berita hadis yang menyebutkan bahwa ia tetap merasa malu kepada Allah SWT dan merasa tidak pantas untuk memberi syafaat kepada manusia pada hari kebangkitan manusia untuk kedua kalinya. Apa yang terjadi pada manusia pertama ini dengan pengalaman perjuangan menghadapi konsep “bisikan pikiran jahat” Iblis adalah suatu “tipu daya” bagi pertahanan kesadaran pikiran manusia dan menjadi “pola pertarungan kesadaran” abadi hingga akhir jaman yang sering ditemui pada penderita PTSD, khususnya bagi mereka yang gagal secara mental mengatasi pola dari peta “ketidaksadaran dan bisikan pikiran jahat” atau dalam bahasa para ahli PTSD menyebutnya sebagai “Parasit dalam pikiran yang mempengaruhi ruang-ruang kesadaran manusia”. Itulah sebabnya mengapa ketika manusia memiliki kesadaran atas faktor kedua yaitu pemahaman ilmu agama dan ilmu masa depan dalam Al Qur’an adalah jiwa yang paling ditakuti oleh para musuh (devil advocate/lingkaran setan) dibandingkan manusia ahli ibadah tetapi tidak paham atas ilmu dari ibadahnya.

untuk berpihak kepada kebenaran dari apa yang dilihat dan didengarnya, sebagai suatu ilmu pengetahuan, petunjuk bagi arah berpikir, bersikap, merasa dan bertindak terhadap segala kejadian dan peristiwa, dalam kesedihan dan kebahagiaan yang ada dan menimpa dirinya di atas planet bumi. Namun demikian, semua itu hanya dapat berproses menjadi berarti ketika jiwa manusia itu dilengkapi dengan keimanan dan ketaqwaan untuk ikhlas, ridha, bersabar, bersyukur dan berprasangka baik kepada yang menciptakan nikmat penglihatan dan nikmat pendengaran pada diri manusia itu sendiri sebagai hal yang secara bersamaan juga dapat berpotensi berdampak positif atau negatif kepada dirinya sendiri, kepada sesama manusia, mahluk, bumi dan alam semesta. Kemampuan manusia untuk melihat dan mendengar secara audio visual adalah bukti bahwa Allah SWT Maha Berkehendak untuk menunjukkan Maha Kebesaran Ide Penciptaan Nya atas segala apa yang dilihat dan didengar manusia.

Allah SWT juga Maha Berkehendak dengan Maha Kekuatan-Nya untuk menunjukkan kepada mata hati dan akal pikiran manusia akan Maha Kekuatan Kendali-Nya atas segala Manusia secara spirit dari roh kejadian dan peristiwa yang menimpa kejiwaannya sebenarnya telah planet bumi bersama segala elemen ditetapkan secara “Absolute By Design” dan unsur di dalamnya, seperti tanah,
Vol1 No2 Maret 2010

85

PSIKoLoGI AGAMA

gunung, besi, api, air, awan dan angin. Semua elemen di planet bumi ini, arah perggerakan dan perjalanannya ada dalam Maha Kendali-Nya. Allah SWT dapat memerintahkan gunung untuk bergerak dan berjalan bersama bumi di suatu titik tertentu hingga terjadilah tabrakan (lempengan bumi) yang menimbulkan gempa besar dan berakibat sebagai pengalaman ingatan kejadian traumatik bagi sebagian jiwa manusia yang menyaksikan kehebatan-Nya Yang Maha Perkasa. Ketakutan, kepanikan, kesedihan dan ketidak berdayaan yang dirasakan pada peristiwa kejadian bencana alam seperti gempa adalah ujian bagi
86
Vol1 No2 Maret 2010

indera penglihatan dan pendengaran manusia untuk secara sukarela atau terpaksa mengakui bahwa “Ada yang menggerakkan semua ciptaan yang terlihat dan terdengar oleh mata hati dan akal pikiran manusia itu.” Itulah sebabnya setiap ayat Al Qur’an yang menjelaskan kisah dan peristiwa bencana alam dan juga kekuatan gempa selalu berarah pada isyarat makna dalam matriks imajeri perumpamaan tentang hal-hal sebagai berikut. Pertama, peringatan untuk kembali kepada konsep keimanan, perintah dan larangan. Kedua, pertunjukkan kekuatan tanda-tanda kebenaran kebesaran kekuasaan kehendak Allah SWT bagi mata hati dan akal pikiran yang ada di dalam jiwa manusia yang tunduk untuk beriman secara ikhlas

PSIKoLoGI AGAMA

atau terpaksa. Ketiga, suatu Ilmu Pengetahuan yang Absolute dan tidak dapat didebat oleh dunia sains bahwa “Ada yang Maha Menggerakkan dan Maha Mengendalikan langit bumi alam semesta beserta segala isinya”. Keempat, Allah SWT Maha Pencipta mengendalikan segala pergerakkan para langit bersama pintu-pintunya, para planet galaksi bersama misterinya, para gunung bersama kandungannya, para api bersama panasnya, para air bersama rasanya, para awan bersama isinya, para halilintar bersama energinya, para angin bersama arahnya, dan para gempa bersama peringatannya yang menjadi suatu tanda-tanda bagi akal tentang adanya mahluk lain selain manusia dialam semesta ini yang taat pada perintah Maha Penciptanya. Kelima, manusia telah dikepung dari segala penjuru oleh Maha Kekuatan Yang Maha Perkasa. Tidak ada satupun manusia yang akan lepas dari janji absolut yaitu bahwa Allah SWT pasti akan menguji manusia dengan apa yang dilihat dan didengarnya untuk mengetahui kualitas akal dan jiwa manusia yang baik keimanannya atau buruk keimanannya. Keenam, ada hubungan peristiwa fenomena kejadian bencana alam, khususnya bencana gempa dan tsunami berkaitan dengan faktor kesombongan dan kebanggaan manusia dengan apa yang telah mereka pikirkan dan mereka usahakan. Allah SWT menyebutnya dengan perumpamaan secara imajeri,

yaitu, “Maka hancurlah apa yang mereka dirikan, mereka bangun, mereka sembah, mereka miliki, karena manusia itu sendiri; dan Allah SWT tidak sekalipun mendzalimi manusia. Adakah yang mengambil pelajaran dari apa yang dilihat dan didengar oleh mata hati dan akal pikiran manusia?” Ketujuh, Al Qur’an adalah sumber utama ilmu pengetahuan yang menjelaskan kabar berita gembira dan kabar berita peringatan yang menjadi tanda-tanda petunjuk secara audio visual imajeri tentang apa yang harus direncanakan dan dilakukan manusia dengan pengetahuannya diberbagai disiplin ilmu. Isyarat makna Ini bukanlah mitos, tahayul, konsep gila, atau fiksi. Ini adalah bukti bahwa manusia dengan segala peristiwa yang dialaminya dalam planet bumi adalah perumpamaan bagi ujian itu sendiri. Isyarat makna ini adalah tantangan bagi suatu gerakan lintas disiplin ilmu multidisipliner dalam melakukan pendekatan dan tinjauan berbagai kajian ilmiah yang tidak dapat mengingkari adanya faktor keterlibatan Ilmu Maha Pencipta. Untuk mengetahui ilmu Maha Pencipta maka pelajarilah firman-Nya.

Aplikasi Al Qur’an untuk Kasus PTSD

Al Qur’an menjelaskan bahwa bagi mereka yang mendapatkan pemahaman atas ilmu dari firman Nya, akan mendapatkan kekuatan
Vol1 No2 Maret 2010

87

PSIKoLoGI AGAMA

dan kesembuhan jiwa, khususnya bagi para korban penderita trauma paska bencana alam yang menyebabkan berbagai reaksi-reaksi ketakutan dan kesedihan, karena Al Qur’an menenangkan jiwa dan hati manusia, menghibur akal pikiran manusia, merupakan kabar gembira yang janji ujian Nya paling pasti bagi manusia, nasehat yang menjelaskan segala sesuatu bagi mata hati manusia, peringatan yang menyiapkan segala sesuatu bagi akal pikiran manusia, ilmu yang menjadikan manusia menyadari bahwa tidaklah sia-sia dalam beriman dan bertaqwa. Tidaklah sia-sia dalam mensyukuri nikmati dan menyabari ujian atas segala yang dialami, terasa, terlihat dan terdengar oleh indera manusia.

adalah menjadi tanggungjawab dan kembali kepada Allah SWT. Hal-hal tersebut di atas sangat bermanfaat untuk dikomunikasikan kepada para korban paska bencana alam dan semua manusia yang menyaksikan kekuasaan dan kehebatan kekuatan Allah SWT yang menggerakkan berbagai bencana alam seperti gempa dan tsunami yang mereka lihat dan mereka dengar di media massa cetak, televisi hingga dunia hypermedia news on line. Harapannya agar sesama manusia dapat saling mengingatkan dan saling menasehati, dengan tujuan agar mereka yang beriman akan makin bertambah keyakinannya, dan mereka yang dzalim dan sesat keimanannya akan mendapatkan petunjuk, karena Allah SWT Maha Pengasih Tidaklah sia-sia dalam berprasangka dan Maha Penyayang dengan Maha baik atas diri sendiri dan kepada Allah PengampunNya. SWT. Pemahaman tentang tujuan awal dan kesudahan atas segala kejadian Mengingat kemajuan ilmu dunia dan peristiwa bencana yang ada dengan teknologi sains yang didalam bumi dan didalam diri manusia fenomenal bersama ilmu ekonomi itu sendiri adalah suatu perumpamaan politik sosial dan budaya di abad ini, yang menjelaskan bahwa Allah SWT dengan biaya trilyunan dollar untuk Maha Berkuasa menciptakan dan berbagai penelitian, ternyata pada menghancurkan serta menciptakan akhirnya hanya untuk membuktikan kembali suatu bentuk permulaan dari kebenaran berita ilmu Al Qur’an; untuk kematian atau kehancurannya. Secara itu, tidaklah pantas untuk menjadi logika dan audio visual imagery, maka sombong dengan tidak memikirkan kepada yang menciptakanlah manusia pengetahuan yang ada didalam Al dan semua mahluk yang terlihat dan Qur’an. terdengar atau ghaib sekalipun akan kembali. Hal itu adalah mudah bagi Itulah sebabnya mengapa ada Allah SWT. Mengingat segala urusan kecenderungan beberapa disiplin
88
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA

versi Yusuf peraih nobel semakin mendunia. Konsep kembali kepada “Etika Moral Politik Berdasarkan Sikap Keyakinan Spiritual” bagi seorang calon kandidat presiden di negara-negara besar seperti Amerika dan Indonesia semakin sensitif dan strategis untuk menjadi pertimbangan kebijakan agenda media dan agenda publik selama kampanye pemilihan presiden. Demikian pula halnya dalam kajian Ilmu kedokteran di Amerika dan Eropa. Maurice Bucaille menjelaskan dalam kajian kedokteran bahwa Al Qur’an, yang berasal dari abad ke enam Masehi saat Perancis diperintah oleh raja Dagobert, telah mengandung konsep-konsep dasar dunia kedokteran yang baru ditemukan pada masa-masa terakhir dari perjalanan sejarah peradaban manusia. Pernyataan Maurice ini sama dengan sikap pemikiran Keith L. Moore yang melakukan kajian bersama A. Majid az-Zindani tentang perkembangan janin. Ilmu Allah SWT didalam Al Qur’an telah mendahului ilmu manusia. Seperti bagaimana kita dapat memahami makna surah Al Insaan 76:2: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” Ayat ini memberikan isyarat mengenai proses penciptaan manusia berhubungan
Vol1 No2 Maret 2010

ilmu mulai bergerak menuju suatu arah yang disebut “Kembali kepada semangat manusia sebagai mahluk spiritual”. Misalnya, pemikiran Antonio Syafei dan Herman Kertawijaya mengenai konsep-konsep “Bisnis dan Marketing Syariah” menjadi isu internasional. Pemikiran konsep-konsep “Ekonomi Kerakyatan Berdasarkan Konsep Syariah”

89

PSIKoLoGI AGAMA

dengan berbagai ujian yang akan diperlihatkan dan diperdengarkan kepada tubuh dan jiwanya sebagai mahluk yang sempurna karena telah didesain dan dilengkapi dengan berbagai rekaman data DNA, pengalaman emosi, hati nurani dan akal pikirannya. Kesempurnaan ini bertujuan untuk diuji. Jadi, Al Qur’an telah menjelaskan bahwa manusia adalah media bagi ujian secara audio dan visual dari rekaman data pengalaman memori apa yang dilihat dan didengarnya. Namun demikian, dunia sains, khususnya disiplin ilmu kedokteran, psikologi, sosial budaya dan ilmu komunikasi baru dapat menjelaskan konsep ayat tersebut secara signifikan pada abad 21, dalam teori-teori dan definisi-definisi yang berhubungan dengan konsep-konsep dan istilah tentang: “Transfer of Affect”, “Thinking And Language”, “Imagery and Language in Productive Thinking”, “The Role of Images in Though”, Imageless Though”, “Memory Image”, “Eidetic Image”, “Vivid Visual Imagery” hingga “PTSD-Post Traumatic Stress Dissorder”, dan sebagainya. Istilah dan definisi ilmiah tersebut lahir dari berbagai penelitian dan kajian yang berhubungan dengan konsep-konsep dan fungsi indera penglihatan dan pendengaran yang ada di diri manusia. Al Qur’an telah mengisyaratkan hal ini jauh sebelum manusia mendapatkan dukungan kemajuan dari teknologinya.
90
Vol1 No2 Maret 2010

Dengan kesadaran pemahaman ini, maka dunia sains-kedokteran dan psikologi akan lebih berarti dan bermanfaat jika dapat mengembangkan konsep kesembuhan secara fisik juga berkaitan dengan konsep kesembuhan dari kekuatan jiwa, dengan kembali kepada semangat manusia sebagai mahluk spiritual, khususnya untuk penanganan korban dari kejadian traumatik paska bencana alam seperti gempa dan tsunami. Konsep “kehilangan” orang-orang yang dicintai karena kematian dan kehilangan harta benda yang luput untuk diselamatkan sebelumnya telah

PSIKoLoGI AGAMA

dijelaskan oleh Al Qur’an QS Al Hadiid 57:22-23, “……….(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang hilang (luput) dari kamu,….” Sejarah PTSD pada dalam diri manusia yang berhubungan dengan peristiwa “traumatic event” telah dijelaskan oleh Al Quran. Bahwa para penderita trauma paska bencana alam dan paska tragedi dalam diri manusia itu sendiri, akan mengalami pola pengalaman yang sama yaitu kesedihan dan kehilangan yang mendalam. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan dalam surah QS Al Hadiid 57 : 22-23, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat di atas memberikan isyarat mengenai metode dan pola pendekatan penanganan pada kasuskasus PTSD paska bencana alam. Ayat ini juga menegaskan kembali ayat sebelumnya tentang ide awal penciptaan manusia (QS Al Insaan 76:2), yaitu bahwa manusia adalah

media bagi ujian secara audio dan visual dari rekaman data pengalaman memori apa yang dilihat dan didengar oleh tubuh dan jiwanya sebagai mahluk yang sempurna karena telah didesain dan dilengkapi dengan sains data DNA, pengalaman emosi, hati nurani dan akal pikiran. Namun dunia sains, khususnya disiplin ilmu psikologi baru dapat menjelaskan kebenaran arah konsep ayat ini dalam kajian dan penemuan penelitian penting di abad 21. Jelaslah kebenaran firman Allah SWT didalam Al Qur’an yang menegaskan dan menjelaskan tentang ide awal penciptaan manusia yaitu bahwa manusia adalah media bagi ujian secara audio dan visual dari rekaman data pengalaman memori apa yang dilihat dan didengarnya oleh tubuh dan jiwanya sebagai mahluk yang sempurna karena telah didesain dan dilengkapi dengan berbagai data DNA, pengalaman emosi, hati nurani dan akal pikiran. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS Al Insaan 76:2). Maha Benar ilmu Allah SWT didalam Al Qur’an yang diimagerykan tiada terhingga kedalaman dan keluasannya, dan seandainya semua pohon-pohon di planet bumi menjadi pena dan semua air lautan menjadi menjadi tinta untuk
Vol1 No2 Maret 2010

91

PSIKoLoGI AGAMA

digunakan menulis ilmu Allah SWT, maka tidaklah dapat menuliskan dan melukiskan kebesaran dan kekuasaan Ilmu Maha Pencipta segala kisah dan cerita gembira dan sedih didalam setiap kejadian dan peristiwa diatas bumi dan didalam diri jiwa manusia (QS 18:109-31:27). QS: An Najm 53:4243: “….dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), “…dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” (karena apa yang dilihat, didengar, dirasa dan diingat didalam pikirannya)

* Penulis adalah akademisi, peneliti dan praktisi dibidang kajian ilmu seni komunikasi media audiovisual. Email: asiaaudiovisual@gmail.com

92

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

agi orang Indonesia yang pluralistik, agama adalah aspek yang inheren (melekat) dalam kehidupan sehari-hari. Paradoksnya, banyak masalah dan konflik yang muncul karena benturan-benturan diantara para pemeluk agama, baik yang seagama maupun yang berbeda agama. Yang seringkali terjadi, bukan ajaran agamanya yang teramat problematis, melainkan jauh lebih banyak dan kompleks tingkah laku beragama orang lah yang perlu ditinjau ulang. Rubrik ini mencoba mengupas secara kritis permasalahan yang dihadapi individu-individu pemeluk agama dan menawarkan sejumlah alternatif pemikiran dari ilmu psikologi guna diaplikasikan terhadap permasalahan yang dihadapi pembaca dalam praksis hidup keagamaan. Pengasuh: Sari Narulita, Lc., M.Si.

B

Poligami orangtua awal ujian kehidupanku
Aku osie, sudah lulus kuliah S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Dari kecil orang tuaku mendidikku dengan cukup agamis, sehingga sampai kini pun aku insyallah masih mengingat dan menjalankan nilainilai yang diajarkan kedua orang tuaku. Dari segi finansial, syukur aku ga pernah kekurangan, juga soal hubungan sosial dan pribadi, aku punya sahabat yang baik dan orang-orang yang sayang padaku di sekitarku.. Tapi.. waktu kecil ayahku menikah lagi, ibuku dimadu. Sejak itu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam kebersamaan kami.. Waktu itu aku masih SD, aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaan. Yang ku tahu hidup terasa berbeda karena ada seorang yang harus kupanggil mama (karena ibu kandungku kupanggil ibu). Sedari kecil memang aku sering melihat orang tuaku bertengkar, bahkan aku juga melihat ayah memukuli ibuku.. osie kecil hanya bisa berteriak ketakutan, seakan turut merasakan tamparan yang mendarat di pippi ibuku tercinta..

Vol1 No2 Maret 2010

93

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

Aku sayang ayahku, aku tidak bisa memilih salah satu dari keduanya.. hingga hatiku sering terasa hampa bila melihat mereka adu mulut bahkan sampai memukul. Ayah membentak dengan suara keras dan ibu juga menjerit karena kesakitan dan menahan emosi.. Aku hanya menonton semuanya sambil merekam adegan itu dalam pita memori balitaku... hingga semua tergambar jelas sampai detik ini.... Hidup benar-benar bagai dua mata uang yang berbeda buatku.. Bila dalam keadaan “normal”, ayahku begitu periang dan sering bercAnda dengan ibu, shalat berjama’ah, mengajari aku mengaji bergantian, dan di akhir pekan kami pergi ke taman kota atau tempat mainan anak-anak. Aku puas dengan banyak mainan dan kedua orang tuaku mengobrol di pinggir arena permainan. Saat-saat seperti itu, aku merasa dunia hanya milik kami bertiga. Namun bila badai mengamuk, aku seakan merasa ayahku begitu benci dengan ibu. Bahkan juga sebaliknya. ibu bisa kasar pada ayah, mengucapkan protes dengan nada tinggi dan sangat berang, seakanakan mereka tidak pernah saling menyayangi.. Di saat melihat yang seperti ini, aku seakan merasa ditiadakan di tengah-tengah mereka. Sampai akhirnya ada pihak ketiga menjadi bagian hidup kami... Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, aku tahu sosok ini telah berusaha untuk cocok denganku.. juga dengan adikku (kelas 6 SD aku baru punya adik).. Hidup berlanjut, aku makin besar, pindah belajar ke pesantren ternama di Jakarta. jarang pulang, hanya satu kali sebulan, dan aku tidak terlalu merasakan badai itu pada masa-masa pubertas dan memasuki masa remajaku. Di pesantren, ada banyak pengajaran yang kuterima. Berbakti pada orang tua, ikhlas dalam menjalani hidup, sampai belajar tabah pada cobaan. Semua ajaran yang kudapatkan kubawa masuk dalam real life-ku.. Hingga ketika sesekali ibu datang ke pesantren, dan aku melihat pipinya yang merah sebelah karena “dicintai” ayah, maka aku hanya bisa menangis.. Karena norma bakti pada orang tua, membuatku selalu menyanjung mereka, ikhlas dan sabar pada cobaan membawaku pada air mata yang kadang turun sambil mengaji, atau saat sendirian di pojokan masjid, saat semua jemaah shalat isya sudah pulang ke asramanya masing-masing.
94
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

Sekarang makin kudalami paham agama, makin kutahu bahwa hidup bukanlah tempat bersenang-senang bagi umat Nabi Muhammad. Hidup adalah tempat berjuang, menahan nafsu dunia. Nafsu jangan terlalu diperturutkan. Sebaliknya, ini masa untuk menanam benih yang bisa dituai untuk modal ketika dihisab Allah nanti di padang Mahsyar. Aku tahu, untuk membuktikan diri menjadi hambanya yang kuat batin dalam menghadapi gelombang hidup, tidaklah mudah. Aku tahu teorinya... Aku tahu caranya. Aku tahu harus bagaimana dan melakukan apa... karena aku hampir menyelesaikan doktoral di bidang agama. Tapi aku tidak tahu kemana kucari motivasi untuk melakukannya.. Aku merasa hidupku ini seperti mengalir yang tidak tentu arah. Ada orang berkata, biarkan hidup ini mengalir sebagaimana adanya. Namun bila “sebagaimana adanya” itu adalah air mata dari waktu ke waktu, bagaimana? Apa hanya menangis yang bisa aku lakukan? Aku tahu jawabannya tidak. Toh sekarang aku pun pengajar di salah satu universitas swasta yang cukup dikenal di Jakarta. Aku melakukan semua dengan baik. Tidak jarang mahasiswa datang padaku dengan membawa segudang masalah mereka dan berharap aku mampu menyelesaikannya. Lalu aku pun berusaha menjadi pendengar yang baik, sahabat bagi mahasiswa-mahasiswaku. Mereka jalankan nasihatku sehingga mereka, dengan kuasa Allah, bisa lepas dari tekanan yang mereka rasakan. Namun aku? Bagaimana agar aku bisa bebas dari tekanan yang kurasakan? Bahwa bayang-bayang ketakutan akan diduakan? Bahwa aku mungkin akan bernasib sama dengan ibu? Aku sampai saat ini masih sendiri. Di usiaku yang hampir 31, tak ada seorangpun yang bisa kupanggil kekasih. Bukan aku tak ingin bersuami, tetapi aku merasa terlalu muluk mengharapkan itu. Dengan penuh kesadaran kukatakan aku tidak cantik. Mungkin aku mudah mengajak orang tertawa dan mendengarkan mereka, namun aku sangat jauh dari menarik secara fisik. Dengan keadaanku yang seperti ini dan masa lalu yang kualamai, aku merasa hidupku ke depan begitu hambar.. Ada keyakinan dalam diri bahwa Allah tidak akan memberi hambanya
Vol1 No2 Maret 2010

95

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

cobaan di luar kekuatan hamba menerimanya. Hanya itulah modalku, walau dalam hati aku tidak tahu kekuatan apa yang kupunya untuk bertahan? Mungkin rubrik ini bisa memberi aku sedikit sinar cerah... Wassalam, ossie… di Jakarta

Jawaban
Dear ossie…. Tampaknya Anda menjadi ragu untuk melangkah menuju masa depan; selain disebabkan kurang percaya diri Anda akan fisik Anda, juga karena Anda merasa bahwa masa lalu Anda menjadi satu bentuk trauma dan penghalang tersendiri bagi Anda. Suatu prestasi luar biasa, di kala dengan trauma yang Anda alami, namun Anda masih bisa mengeyam jenjang pendidikan tinggi, yang dengannya Anda pun masih bisa menyelesaikan masalah orang lain. Namun sayangnya, Anda merasa bahwa Anda belum mampu menyelesaikan masalah Anda sendiri. Tampaknya Anda masih belum menerima kenyataan bahwa orangtua Anda punya masalahnya sendiri; masalah yang mungkin telah mereka selesaikan dengan caranya tersendiri. Anda merasa bahwa Ibu Anda seolah mengalami kekerasan dalam rumah tangga setelah Ayah yang Anda banggakan menikah kembali; namun disisi lain, Anda pun menyadari bahwa sebelum menikah pun, Ibu pernah mengalami hal yang sama dan seseorang yang Anda panggil mama pun tetap berusaha beradaptasi baik dengan Anda dan adik-adik Anda. Langkah awal sebelum melangkah yang sebaiknya Anda lakukan tampaknya adalah menerima kenyataan yang ada dan mencoba menjadikannya sebagai suatu cambuk untuk bisa melangkah ke masa depan yang lebih baik. Ketahuilah, Lemon adalah minuman yang asam rasanya. Namun dengan tambahan sedikit gula, ia akan menjadi manis rasanya. orang yang cerdik dan pandai adalah mereka yang mampu mengubah semua kerugian, musibah, kesengsaraan, penyakit menjadi suatu keuntungan. Sedangkan

96

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

mereka yang bodoh adalah mereka yang membuat musibah menjadi lebih sulit dihadapi. Kita bisa belajar dari Imam Ibnu Hambali yang dipenjara, namun demikian ia mampu menulis buku yang terkenal; juga dari Ibnu Taimiyah yang juga dipenjara dan ketika keluar dari penjara, ia telah menjadi orang yang berilmu sangat banyak. Pelajari juga bagaimana Malik bin Raib tertimpa penyakit ganas, namun ia tetap mampu menyusun banyak syair indah yang bila dikumpulkan melebihi syair yang ada di Daulah Abbasiyah. Bila Anda tertimpa musibah. Lihatlah sisi positifnya dan optimalisasikan sisi tersebut dengan mengindahkan sisi negatifnya. Bila seseorang menghadiahkan Anda serigala, maka ambil kulitnya dan buatlah sepatu darinya; sedang yang lainnya, buanglah! Bila Anda tertimpa penyakit, maka katakanlah bahwa hal tersebut merupakan satu kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas doa kepada Allah. Bila Anda miskin, maka katakanlah Anda beruntung bisa memahami kondisi para orang miskin dan tengadahkan tangan Anda kepada Yang Maha mengetahui segala sesuatunya. Sesungguhnya tidak semua yang ada di dunia ini hanya kebaikan ataupun hanya keburukan. Allah berfirman, ” Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,” (QS. Al-Baqarah: 216). Atas dasar itulah, maka katakanlah, ’Ya Allah, setiap kali Kau memberikan nikmat padaku, sedikit sekali rasa syukurku; dan setiap kali Kau memberikanku musibah, sedikit sekali kesabaranku. Wahai Dzat yang sedikit sekali kusyukuri atas nikmat yang telah diberikan namun tidak menjerumuskanku; Wahai Dzat yang sedikit sekali kutampakkan padaNya kesabaran atas musibah yang diturunkan namun tidak menghukumku atas itu; Wahai Dzat yang melihatku melakukan kemaksiatan namun tidak memberikan skandal padaku; Wahai Dzat yang mengungkap segala bahaya yang ada pada diriku, bagi-Mu lah segala pujian; Engkau lah Maha pemberi nikmat dan bagi-Mu lah segala keistimewaan. Dale Carniege, mengungkapkan bahwa seorang lelaki di kota Brooklyn Amerika serikat mengalami infeksi berat pada usus dua belasnya dan bahkan tiga orang dokter telah memvonis mati dengan memintanya membuat surat wasiat bagi ahli warisnya. Mendengarnya, lelaki tersebut

Vol1 No2 Maret 2010

97

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

pun lalu meninggalkan pekerjaannya selama ini dan lebih banyak berdiam diri di rumah menanti saat-saat kematiannya. Tiba-tiba, ia memutuskan suatu hal yang membuat keluarganya terperangah. Ia memutuskan untuk merealisasikan segala asanya dalam hidup, yakni berkeliling dunia dan mengemukakan bahwa itulah yang bisa dilakukannya selama ia masih memiliki kesempatan hidup beberapa bulan kedepan sebagaimana yang diprediksikan oleh dokternya. Ia lalu memesan keberangkatan pertama melalui kapal laut berkeliling dunia dengan tak lupa meninggalkan wasiat dan harta kekayaannya. Ia juga memutuskan untuk memakan apapun yang disukainya selama hidupnya, yang selama ini dilarang oleh dokternya. Kenyataannya, lelaki tersebut menikmati perjalanan –yang dipikirnya adalah perjalanan terakhirnya dan kembali dari perjalanannya dengan kondisi yang sangat baik; bahkan dinyatakan telah sembuh. Ia lalu kembali kepada pekerjaan semulanya dan hidup dalam waktu yang cukup lama. Dengan demikian, pahamilah bahwa sesungguhnya Allah memahami semua kondisi Anda dan mempertimbangkan segala aduan serta mendengarkan segala rintihan. Karenanya, tenangkan diri Anda dan berpikir positiflah pada Tuhan Anda! Sesungguhnya segala solusi atas segala permasalahan yang Anda hadapi sangatlah dekat. oleh karena itu, janganlah bersedih dan mulailah lembaran hidup baru. Giatlah bekerja dan berbuat baik kepada sesama. Sesungguhnya Allah tidak akan mengindahkan semua perbuatan baik yang telah Anda lakukan. Tetap semangat dan semoga sukses....

kakak laki-laki Meninggal dunia
Assalamualaikum, Wr. Wb. Saya memiliki masalah yang terus saya pendam dan saya jalani tanpa mengetahui jalan keluarnya. Sebenarnya masalah ini saya pendam selama 1 tahun. Masalah yang sampai saat ini selalu menghantui saya. Satu tahun yang lalu, kakak laki-laki saya satu-satunya meninggal karena kecelakaan mobil. Setelah kejadian kecelakaan itu, sejujurnya saya sendiri bingung untuk mengatakan apakah saya depresi atau hanya stress berat. Karena saat itu saya benar-benar shok dan terpukul kehilangan kakak lelaki satu-

98

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

satunya yang sangat saya sayangi. Saya tidak percaya bahwa kakak saya telah meninggal. Apalagi beberapa jam sebelum kejadian kecelakaan itu, saya sempat bercAnda dengan beliau. Butuh waktu yang cukup lama bagi saya untuk bisa menerima kenyataan ini. Hampir setiap hari saya habiskan waktu dengan menangis, menangis, dan menangis. Karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Gairah belajar saya menjadi turun karena selalu memikirkan kakak. Kejadian itulah yang menyebabkan Indeks Prestasi (IP) saya merosot drastis di bawah 3. Saya percaya bahwa setiap manusia akan meninggal dan berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Saya melihat, bahwa saya yang paling tegar diantara yang lainnya. Dan memang itu yang harus saya lakukan. Meskipun sulit untuk menerima keadaan pahit ini, namun semuanya sudah kehendak Allah Swt. Tugas saya selanjutnya adalah mengirim doa pada beliau setiap hari dan menjaga ponakan saya yang merupakan amanah dari kakak saya tercinta. Dengan begitu, saya masih tetap bisa menjadi kebanggaan bagi kakak meskipun sekarang kakak telah tiada. Naluri saya sebagai seorang adik tidak akan pernah lepas. Terkadang, kalau saya lagi kangen sekali pada kakak, malamnya saya mimpi bertemu kakak. Saya senang sekali bertemu kakak meskipun hanya dalam mimpi. Di dalam mimpi itu, kakak sering menitipkan pesan dan nasihat untuk saya. Insya Allah, sekarang saya sudah jauh lebih tegar kehilangan kakak lelaki satu-satunya yang saya cintai dibandingkan satu tahun yang lalu. Mba yang terhormat… Namun ada sedikit masalah dengan ibu saya… Sampai hari ini beliau masih belum bisa menerima keadaan ini. Singkatnya, beliau masih belum mengikhlaskan sepenuhnya kepergian kakak saya. Terkadang, ibu suka memanggil-manggil nama kakak pada waktu malam. Dan beliau kerap kali berkata bahwa kakak sering mengunjunginya dan berbincang-bincang dengan ibu. Yang ingin saya tanyakan adalah… Apa yang harus saya untuk membantu ibu menjadi lebih ikhlas menerima keadaan sekarang ini..? Meskipun saya tahu, bahwa belajar untuk ikhlas itu tidak mudah. Terima kasih, Mba… Wassalam Mrs. L, Jakarta

Vol1 No2 Maret 2010

99

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

Jawaban
Teruntuk Mrs. L Saya berduka cita atas meninggalnya kakak Anda. Namun demikian, tampaknya kita harus meyakini, bawa semua yang terjadi sudah menjadi ketetapan Tuhan; ketetapan yang sudah tersusun di Lauh Mahfudz. Allah berfirman, ”Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadiid: 22). Semoga kita tidak menjadi manusia yang paling sengsara, yakni mereka yang jauh dan tidak memiliki iman dalam dirinya. Keimanan kepada Allah dan keimanan kepada qadha dan qadharnya bila berasimilasi dengan hati akan mampu menjadi filter baginya. Jangan pernah beranggapan bahwa apapun yang terjadi adalah suatu kebetulan belaka. Sesungguhnya semua itu telah diaturnya dalam kehidupan ghaib dan tidak ada seorang pun yang memahami hikmah dibaliknya.

Nampaknya Anda sudah cukup bisa meyakini bahwa kepergian kakak Anda adalah sudah menjadi skenario-Nya. Anda pun tetap mencoba melakukan yang terbaik bagi kakak yang telah meninggalkan Anda dengan selalu mendoakannya dan mengingat kebaikannya. Namun terkait dengan Ibu Anda, tampaknya Anda sebagai seorang anak yang baik bisa membantunya menyadari kenyataan yang terjadi. Untuk langkah awal, berikan pemahaman, bahwa setiap orang akan mati. Namun demikian, kesedihan yang berlebih dalam diri ibu Anda, tentunya disebabkan ada sisi positif dalam diri kakak Anda yang belum bisa dilepaskan dalam diri Ibunda. Pelajari hal tersebut dan cobalah menjadi anak terbaik bagi ibu Anda; hingga beliau menyadari bahwa beliau masih memiliki anak lain yang masih bisa dibanggakan dan mesti mendapatkan perhatian.

100

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI AGAMA: KoNSULTASI

Ingatkanlah...betapa banyak orang yang tertimpa musibah. Untuk itu, tegarlah dalam menjalani kehidupan. Ingatkanlah untuk menjadikan Rasulullah saw. sebagai panutan. Kakinya berdarah, wajahnya terluka, ia terkepung hingga harus memakan tumbuhan, ia dibuang dari tanah kelahirannya sendiri-Makkah, istrinya tertimpa fitnah, 70 (tujuh puluh) sahabatnya terbunuh, ia kehilangan anak yang disayanginya selama hidupnya dan beliau harus mengikatkan batu pada perutnya untuk mengganjal rasa laparnya. Juga, banyak orang menuduhnya gila, seorang penyair, penyihir dan pembohong. Namun demikian, beliau tetap tenang dengan keimanannya. Semua ujian hendaknya mampu membuat kita meneladai Rasulullah saw. Dunia mencakup dua sisi; baik dan buruk; miskin dan kaya; senang dan sedih; konstruksi dan destruksi; hidup dan mati. Hiduplah dengan penuh realitas. Terima posisimu dan beradaptasilah dengannya. Bantulah kerabat dan lakukan hal yang mudah dengan tidak mempersulit diri. Semua itu membutuhkan proses, namun saya yakin, Anda pasti bisa melakukannya demi ibu yang Anda cintai. Sesungguhnya, tidak akan ada ketenangan kecuali dengan mengingat-Nya. Semoga sukses!!!

Vol1 No2 Maret 2010

101

S

HUMANIoRA

Jangan
karena

depresi

Berat Badan!
Made dwi cahyaningrum
Aspek-aspek kehidupan manusia tidak cukup untuk dinyatakan dalam rangkuman fakta-fakta. Di sela-sela, di sekeliling peristiwa dan masalah faktual tersebut, tersimpan nilainilai humaniora, misi-misi edukatif, potensi-potensi heroik, koreksi-koreksi kritis, dan refleksi-refleksi psikologis. Ternyata orang memang dapat membangun dan mewarnai “cerita”nya sendiri. Mari kita temukan makna-makna yang terserak, mengapresiasinya, dan menjadikannya “harta hidup” kita yang sejati.

aya adalah seorang yang sempat mengalami depresi akibat kelebihan berat badan (obesitas). Banyak hal yang membuat saya menjadi tidak percaya diri akibat postur tubuh yang tidak normal seperti kebanyakan orang pada umumnya. Saya lahir dengan berat dan panjang yang normal seperti pada kebanyakan bayi pada umumnya. Dari kecil bakat bertubuh besar memang sudah terlihat. Hal ini dikarenakan mama saya juga memiliki bobot tubuh yang besar. Pada usia 3-4 tahun belum banyak hal yang saya pikirkan atau masalah yang saya hadapi mengenai bentuk tubuh yang tidak normal seperti kebanyakan orang. Masa-masa yang sangat pahit muncul ketika saya memulai aktivitas untuk sekolah di TK. Masa yang sangatsangat menyedihkan telah terjadi pada masa ini, banyak teman yang mengejek dan menghina saya dengan perkataan yang kasar. Mereka selalu memberikan saya julukan si Atun yang terkenal

102

Vol1 No2 Maret 2010

HUMANIoRA

bertubuh besar di sinetron Si Doel. Sungguh hal yang sangat menyakitkan. Di usia yang begitu muda dan masih dini, mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari lingkungan sekitar. Saya merasa sangat sedih dan selalu menyalahkan diri sendiri kenapa saya berbeda dengan teman-teman yang lain. Secara psikologis saya merasa tertekan dengan berbagai omongan teman-teman saya yang menyakitkan, namun saya tidak berdaya karena di usia yang sedini itu hanya menangislah yang bisa saya lakukan. Hampir setiap hari saya selalu menangis dan mengeluh, bahkan saya ogah-ogahan masuk sekolah hanya karena takut diejek oleh teman-teman. Perasaan itu amat sangat menyiksa diri saya yang pada saat itu masih berusia 5 tahun. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan yang ada, maka timbulah sebuah perubahan yang cukup membantu diri saya untuk dapat menjadi pribadi yang kuat. Setelah saya memasuki masa SD, banyak perubahan yang terlihat. Dulu waktu masa TK saya adalah orang yang pendiam dan malu karena kekurangan yang ada pada diri saya. Tetapi perasaan malu nampaknya sudah tidak sedalam atau sebanyak pada saat saya TK dulu. Mulai memasuki masa SD saya mulai berani menyerang perkataan teman saya yang menyakitkan yang selalu membuat saya kesal dengan apa yang dikatakannya kepada saya. Pernah suatu

ketika saya berkelahi dengan teman laki-laki saya hanya karena sebuah ejekan yang menyinggung perasaan saya. Saya pernah membanting teman saya hingga terpental dan karena sikap saya tersebut saya dipanggil oleh guru saya untuk berlapang dada menerima segala kekurangan dan kelebihan kita. Anak kecil mana yang sudah tahu apa artinya berlapang dada, yang ada pada saat itu hanyalah emosi ingin melawan siapa saja yang menghina atau mengejek saya. Masa SD adalah masa dimana saya belum tahu bagaimana caranya menyikapi segala tindakan yang ada apalagi untuk menenangkan emosi yang meluap. Pada saat itu hanya emosi dan kebencianlah yang ada dan selalu membuat saya terluka. Barulah ketika saya memasuki masa SMP saya baru menyadari bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah yang indah yang telah diberikan oleh Tuhan untuk kita syukuri apapun pemberian yang telah Tuhan beri untuk kita. Pada SMP pun bobot tubuh saya masih tetap berkisar diantara orang yang tidak normal untuk usia saya. Saya masih gemuk dan sangat gemuk untuk ukuran anak SMP seperti kebanyakan orang pada umumnya. Pada saat saya SMP saya belum memiliki dorongan seks untuk tertarik pada lawan jenis saya. Tidak seperti teman-teman sebaya saya yang sudah mulai puber dan genit-genit pada masa itu. Masa SMP saya adalah masa dimana saya mulai menyenangi pelajaran-pelajaran yang
Vol1 No2 Maret 2010

103

HUMANIoRA

ada pada masa SMP. Secara akademis saya mendapatkan banyak pengalaman dan kesempatan untuk bias terus-menerus menjadi juara kelas. Pada masa itu fokus saya hanya pada sekolah, les dan sekolah. Tidak ada waktu untuk berleha-leha seperti kebanyakan orang pada umumya. Berat yang besar membuat saya tidak PD dalam bergaul di lingkungan social saya. Saya merasa tertekan dan tersiksa dengan keadaan ini. Pernah terlintas dibenak saya bahwa aya tidak terima dengan kenyataan ini. Saya pernah kecewa pada Tuhan dengan keadaan saya seperti ini. Saya merasa Tuhan tidak adil dan sangat-sangat tidak adil. Pelampiasan yang lakukan hanyalah menangis dan terus menangis. Selain menagis saya hanya menyendiri dari teman-teman saya. Sungguh hal yang sangat menyedihkan mengalami keadaan yang tidak normal seperti ini. Bobot tubuh saya masih sangat besar ketika saya memasuki masa SMA, yakni di angka lebih dari 100 kg. saat mulai memasuki masa inilah barulah saya mengalami masa-masa yang sangat indah seperti kebanyakan orang pada umumnya. Saat itu saya mulai merasa tertarik pada lawan jenis saya. Salah seorang kakak kelas telah membuat saya jatuh hati dengan kepintaran dan penampilannya itu. Sungguh hal yang indah dan menyenangkan bisa mengaggumi seorang pujaan hati. Saatnya untuk mulaimelakukan perubahan, perubahan terjadi setelah saya ber104
Vol1 No2 Maret 2010

libur ke Bali. Saat saya berlibur saya berkunjung ke salah satu obyek pariwisata yang terkenal dengan keindahannya, yaitu Tanah Lot. Di sana lah saya memegang ular suci yang katanya akan mengabulkan permohonan kita setelah kita memegang serta meminum air suci (tirta). Percaya ga percaya saya mulai menumbuhkan sugesti yang kuat pada diri saya untuk mempercayai hal tersebut. Permohonan yang saya pinta pada saat itu adalah saya ingin berubah menjadi cantik seperti teman-teman saya dan adik sepupu saya yang mana merupakn seorang model di Bali. Sungguh hal yang konyol yang terlintas dibenak kebanyakan orang pada umumnya yang meminta permohonan yang muluk-muluk seperti permohonan saya. Saya tahu apa yang saya minta itu adalah hal yang sulit terwujud walaupun tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Saya sempat merasa bahwa apa yang saya pinta disana adalah permohonan yang tidak masuk akal logika. Entah mengapa saya selalu berusaha optimis dalam memandang sesuatu hal termaksud pada permohonan ini. Saya

HUMANIoRA

yakin Tuhan dan para Dewa yang berstana di pura Tanah Lot mendengar doa saya. Alhasil saya memiliki kekuatan yang lebih yang memacu saya untuk terus menerus menguatkan tekad untuk melakukan perubahan. Sekembalinya saya dari Bali, saya mulai mencoba menanyakan dan mencari program diet yang sesuai dengan kemampuan saya. Saya sempat tergoda dengan program yang instan yang mampu menurunkan berat badan dalam jangka waktu yang relative singkat. Banyak dari teman saya telah membuktikan kemanjuran program tersebut yakni dengan menyodot lemak yang dapat menurunkan berat badan sesuai keinginan kita. Siapa yang tidak tergiur untuk dapat menurunkan berat badan secara cepat dan singkat. Saya merasa beruntung diberi rasa takut akan jarum sntik, kalau tidak pasti saya juga akan melakukan hal yang sama seperti teman saya. Apa yang terjadi dengan teman saya yang melakukan program diet secara instan?? Jawabannya adalah sangat disayangkan mereka memilih program yang instan. Awalnya mereka memang mengalami keberhasilan yang luar biasa dan sangat-sangat berubah, namun hal tersebut hanya mampu bertahaan dengan waktu yang relatif singkat seperti hasil yang mereka terima. Alhasil tubuh mereka mengalami kenaikan yang sangat banyak seperti sebelum mereka melakukan sedot lemak tersebut. Kondisi seperti inilah yang menye-

babkan saya sangat berhati-hati dalam memilih program diet yang tepat yang sesuai kemampuan saya baik secara finansial maupun secara fisik. Secara finansial saya tidak mungkin memilih sedot lemak, karena sekali saja kita melakukan treatment tersebut kita harus mengeluarkan budget ± 2 jutaan. Mungkin hanya satu kali treatment saja saya mampu membayar, selebihnya saya akan mengalami hal yang sama seperti teman-teman saya yang melakukan program diet tersebut. Selain financial saya juga mempertimbnagkan kemapuan fisik, karena banyak sekali orang yang berhasil melakukan diet dengan berolahraga secara keras dan sangat rutin, namun untuk saya pribadi saya tidak bisa menjalankannya secara rutin maupun sekeras yang ada pada program tersebut. Maka dari itu saya selalu berusaha menacari program diet apa yang sesuai dengan kemampuan saya. Hasilnya adalah program diet sehat berdasarkan golongan darah. Secara tidak sengaja pada waktu saya pergi ke Gramedia saya membaca sebuah buku tentang program diet yang menurut saya sesuai dengan kemampuan finansial maupun fisik saya. Program tersebut ternyata memang tepat dan sesuai dengan apa yang saya cari selama ini. Saya memulai program tersebut ketika saya berada di semester 2 akhir pada masa SMA. Dalam menjalankan program tersebut orang yang paling berperan ialah mama. Sebelum melaVol1 No2 Maret 2010

105

HUMANIoRA

kukan diet saya memberitahukan mama bahwa selama menjalankan diet makanan yang saya makan tidak boleh sama seperti sebelumnya. Saya memberitahukan kepada mama makanan apa saja yang boleh saya makan dan yang tidak boleh saya makan. Saya memberitahukan dari mulai sayur-sayuran, buah-buahan, daging-dagingan, kacang-kacangan serta beberapa macam bumbu masakan yang juga ada pada list tersebut. Saya tidak tahu apa cara yang saya lakukan ini akan berhasil apa tidak, tapi yang pasti saya yakin dengan kekuatan doa serta permohonan pada saat saya di Tanah Lot saya yakin bahwa Tuhan akan membantu saya dalam menjalankannya. Mama adalah orang yang sangat berperan dalam membantu saya menjalankan diet ini. Setiap pagi mama selalu menyiapkan makanan yang sesuai dengan aturan main yang ada pada list tersebut. Setiap hari juga saya selalu membawa bekal yang disediakan oleh mama. Mama menyiapkan bekal-bekal yang akan menjadi menu makan siang saya pada saat itu. Semuanya telah mama siapakan setiap hari demi membantu program diet tersebut. Banyak kendala yang terjadi pada saat menjalankan diet tersebut, sungguh hal yang sulit dan tidak seperti apa yang dibayangkan. Awal yang buruk dari program yang saya jalani adalah hawa nafsu yang sulit untuk dikendalikan. Rasanya sangat-sangat tak
106
Vol1 No2 Maret 2010

biasa dengan menu-menu yang aneh ini. Makanan yang ingin dimakan kini tidak boleh dimakan. Apa boleh buat, semua itu harus dijalani dengan sepenuh hati. Selain makanan yang dipantang ada beberapa informasi yang saya dapatkan yakni ternyata mengkonsumsi nasi memilki kadar glukosa yang sangat besar melebihi gula serta minum air dingin sangat berpotensi memicu mengembangnya badan kita serta saya tidak makan malam melewati jam tujuh malam. Maka dari itu saya juga berusaha mengurangi porsi makan nasi saya yang biasanya empat kali menjadi tiga kali sampai saya benar-benar tidak makan nasi selama enam bulan. Makan nasi sehari ternyata membawa perubahan yang tidak terlalu jelek. Berat badan saya bisa turun 1 kg setiap dua minggu berkat mengurangi porsi nasi saya. Maka dari itu saya mencoba perlahan-lahan untuk tidak memakan nasi sampai waktu 6 bulan. Alhasil saya mengalami perubahan yang luar biasa, yakni berat badan saya bisa turun sebanyak 35 kg dalam waktu 6,5 bulan. Semua informasi yang saya dapatkan saya gabung menjadi satu, dari program diet berdasarkan golongan darah sampai pada pengurangan porsi makan nasi serta membatasi waktu makan malam. Ternyata hasilnya luar biasa, saya benar-benar telah mencapai berat badan yang ideal seperti teman-teman saya serta seperti adk sepupu saya.

HUMANIoRA

Selain tubuh yang besar, saya juga memilki masalah dengan keadaan kulit muka saya. Saya memliki jenis kulit yang berminyak yang memicu timbulnya jerawat serta bekas noda jerawat yang sulit dihilangkan. Saat saya menjalankan program diet berdasarkan golongan darah banyak manfaat yang saya dapatkan. Semenjak mama menyediakan bekal untuk saya bawa, uang jajan yang mama berikan kepada saya tidak terasa bertambah banyak. Mulai saat itu saya tidak pernah jajan di kantin maupun ingin makan di restoran favorit saya. Hasrat untuk makan sudah tidak sekuat dulu. Saya sempat merasa bingung ketika memiliki banyak uang dari hasil uang jajan saya, karana saya tidak biasa memegang uang

dalam jumlah besar maka dari itu saya berusaha memikirkan solusi apa yang paling tepat untuk bisa menggunakan uang ini dengan sebaiak mungkin. Akhirnya sampai juga pada keputusan yang sangat tepat, yakni berkat salah seorang teman saya, saya menemukan klinik kecantikan yang tepat sebagai solusi dalam mengatasi masalah saya tersebut. Hampir setiap hari saya mengunjungi klinik tersebut untuk melakukan treatment maupun berkonsultasi mengenai kondisi muka saya tersebut. Untungnya saya selalu bersemangat dan terus percya bahwa Tuhan akan membantu saya dalam mewujudkan mimpi serta permohonan saya. Investasi yang cukup memuaskan sambil menyelam
Vol1 No2 Maret 2010

107

HUMANIoRA

minum air. Pepatah inilah yang selalu terkait mengenai diri saya. Saya merasa mendapatkan hasil yang maksimal tidak hanya dari program diet tetapi juga dari perawatan kulit. Semua yang saya capai dan saya rasakan saat ini adalah karena hasil kemauan saya serta dukungan doa dari orang-orang sekitar saya terutama Tuhan sebagai pencipta dn segalanya buat saya.

kan kembali diet yang sama namun tidak seketat pada proses yang pertama. Dari 5 kali kenaikan berat badan, ada kenaikan yang sangat besar yakni mencapai 10 kg pada Mei 2007, sungguh sangat menyeramkan. Saya sangat merasa khawatir dan hampir frustasi dengan keadaan ini. Bagaimana jika saya kembali menjadi Aya yang seperti dulu, bertubuh gemuk yang menakutkan?? Sungguh sangat memprihatinkan. Apa yang harus saya lakukan dengan berat badan yang naik ini?? Huft saya harus bisa mengontrol dan mengembalikannya ke posisi 61 kg. usaha serta kerja keras ternyata telah membuahkan hasil yang cukup baik. Saya mulai program diet dengan teratur namun kapasitasnya tidak seketat dulu. Cukup dengan membatasi makan malam dan tidak meminum air dingin serta mengurangi porsi makan dan banyak mengkonsumsi sayuran serta buah-buahan. Hasilnya saya dapat menstabilkan berat badan ke posisi yang ideal. Dengan berhasilnya saya mengembalikan berat badan sesuai yang saya harapkan, maka dari pengalaman tersebut saya tidak akan panik apabila berat badan saya sewaktu-waktu akan meningkat, karena saya tahu bagaimana cara mengatasi masalah saya tersebut.

Setelah saya berhasil melaksanakan program tersebut, banyak sekali kehawatiran yang berlebih, yang saya rasa membuat saya selalu harus berhati-hati. Perasaan cemas yang menghantui saya adalah ketika saya merasa khawatir akan klembali gemuk dan saya juga takut jika hal-hal yang menjengkelkan dating kepada saya. Saya sangat amat takut. Kenaikan berat badan selalu saya alami disaat saya menginginkan suatu masakan yang sudah lama tidak pernah saya makan. Selama 4 tahun sudah hampir 5 kali saya mengalami trauma akan kenaikan berat namun ada rasa takut membayangkan akan menjadi diri saya yang dulu. Saya selalu mensiasati apa saja yang telah saya peroleh dari proses yang pertama. Jika saya sudah merasa agak gemukan dan tidak nyaman untuk bergerak berarti itu tandanya saya harus melakukan diet untuk mengembalikan berat badan saya seperti target pertama. Saat ini berat yang ideal untuk diri Tips-tips mencegah depresi dari berat saya adalah berkisar dari 61-65 kg. jika badan yang kembali gemuk: berat badan saya melewati standar ini, 1. optimis dan yakin bahwa Anda itu artinya saya sudah harus menjalandapat meraihnya kembali;
108
Vol1 No2 Maret 2010

HUMANIoRA

2. Review program diet yang sudah pernah Anda lakukan; 3. Pilih cara yang sesuai dengan kemampuan Anda baik materi maupun fisik; 4. Tekuni apa yang telah Anda jalani, jangan berhenti dengan berbagai alasan yang ada; 5. Lakukan dengan niat yang tulus dan bukan merupakan suatu paksaan yang berat; 6. Rileks dalam menjalankan dan meraih kembali berat yang ideal yang sesuai dengan harapan Anda; 7. Lakukan olahraga secara teratur jika Anda memilki niat dan waktu untuk bisa melaksanakannya; 8. Semangat dan terus semangat untuk bisa meraihnya kembali. * Penulis adalah mahasiswa S1 Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta.
tanggapan dra. nunnie retna Widagdo, M.M., Psikolog
(koordinator laboratorium Psikologi, fakultas Psikologi, universitas mercu Buana, Jakarta)

menggangu keseimbangan dirinya, yaitu ialah selalu berada dalam suasana hati yang diliputi kebencian. Namun sewaktu di SMP, ia menyadari bahwa hidup ini adalah suatu anugerah, ia menerima diri apa adanya sebagai anugerah Tuhan. Dengan kesadaran ini, MD menggunakan cara penyesuaian yang bertujuan menghadapi tuntutan secara sadar (ia menyadari kegemukannya dengan tulus ikhlas), realistis, obyektif, dan rasional. Cara-cara yang digunakan MD adalah salah satu dari mekanisme pembelaan EGo (pribadi). Mekanisme ini penting karena memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak enak, dan juga untuk mempertahankan perasaan layak serta harga diri. Beberapa cara dari berbagai mekanisme pembelaan ego yang MD lakukan antara lain ada dua hal. Pertama, rasionalisasi, yakni dengan menyadari anugerah Tuhan ia dapat menerima kegemukannya (dapat menerima cemoohan/ejekan/hinaan teman-temannya) dan selanjutnya disiplin melakukan “diet”. Kedua, identifikasi. Dengan seorang saudara sepupunya yang cantik, MD membayangkan akan bisa menjadi seperti sepupunya, dapat meningkatkan rasa harga dirinya. Salut untuk MD.

Akibat kelebihan berat badan MD sejak usia 5 tahun sering dicemooh atau diejek, dihina dengan perkataan yang kasar, sehingga ia merasa tertekan perasaan. Dalam kondisi ini, MD berada dalam keadaan stress. Stress ini ialah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri yang

Vol1 No2 Maret 2010

109

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

rah Madya Handaya, M.Psi., Psikolog

Pengasuh:

Pacar Meninggal dunia
Assalamu’alaikum Wr. Wb Saya sangat senang MerPsy memiliki ruang psikologi perkembangan. Karena kebetulan ada yang ingin saya konsultasikan berkaitan dengan masalah saya. Saya seorang mahasiswi semester 2 fakultas psikologi. Beberapa bulan yang lalu, saya baru kehilangan pacar yang sangat saya sayangi. Dia meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Meskipun kami baru pacaran selam 4 bulan, namun dia sungguh berarti bagi saya. Setelah dia pergi untuk selamanya, hidup saya galau dan tidak bergairah. Saya kehilangan sosok yang selalu ada di saat saya membutuhkannya. Kecelakaan itu terjadi saat saya sedang mengurus surat kelakuan baik di Polres Ciledug bersama teman saya. Salah satu teman saya di kampus menelepon dan memberi kabar bahwa pacar saya kecelakaan dan meninggal dunia. Saya lemas dan shok. Lalu saya menangis histeris di Polres tersebut. Karena melihat saya histeris, beberapa Polisi menghampiri saya. Mereka menanyakan mengapa saya menangis. Akhirnya teman saya mencoba menjelaskan semuanya. Tidak lama kemudian, salah seorang Polisi memberi informasi yang membuat saya nyaris tidak percaya. Ternyata kecelakaan motor yang dialami pacar saya baru saja ia tangani, dan motor pacar saya yang sangat saya kenal berada di luar Polres. Dunia itu begitu sempit. Setelah kejadian kecelakaan itu, saya menjadi orang yang bimbang antara percaya dan tidak percaya… Saya merasa kalau dia tetap ada di dekat saya. Karena

110

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

masih tidak percaya kalau dia sudah meninggal, hampir setiap saat saya membuka facebooknya. Terkadang saya membuat status yang kata-katanya saya sendiripun tidak mengerti. Saya seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Selama satu bulan saya menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kamar. Memandangi foto-foto kebersamaan kita. Terkadang saya ngomong sendiri. Dan sama sekali saya tidak merasa lapar karena tidak nafsu makan. Bahkan beberapa hari setelah dia meninggal, saya tidak memperhatikan makan. Saya sadar kalau saya terus menerus seperti ini akan menyiksa diri saya sendiri. Tapi saya beruntung karena memiliki teman-teman yang tidak pernah lelah untuk mensupport saya setiap saat. Mereka yang membuat hari-hari saya kembali cerah. Namun, sampai saat ini saya masih belum bisa melupakan dia sepenuhnya. Bapak yang baik hati… Dapatkah bapak membantu saya agar terlepas secara perlahan dari masalah ini..? Saya sangat membutuhkan saran dan masukan dari bapak… Terimakasih bapak … Saya tunggu jawabannya… Wassalam Mrs. D, Jakarta

Jawaban

Hi Mrs D, Pertama-tama saya ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya pacar Anda. Apa yang Anda alami setelah meninggalnya pacar Anda merupakan suatu hal yang sangat wajar dimana Anda merasa sulit untuk mempercayai bahwa pacar Anda telah meninggal dan sekarang Anda kehilangan minat untuk melanjutkan hidup Anda. Saat ini Anda merasa sangat terpukul atas perginya seseorang yang sangat Anda sayangi dan yang Anda harapkan untuk menjalani hidup bersama-sama. Dalam menghadapi suatu peristiwa yang menyedihkan, khususnya peristiwa meninggalnya seseorang yang dekat dengan kita, tidak perlu memaksakan diri untuk cepat-cepat menerima peristiwa tersebut. Dari cerita Anda, dimana Anda masih mengirimkan

Vol1 No2 Maret 2010

111

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

pesan-pesan untuknya melalui facebook seakan-akan dia masih hidup, terlihat bahwa Anda masih berada pada tahap penyangkalan. Mungkin Anda juga merasakan kemarahan kepada Allah karena telah begitu cepat mengambil orang yang Anda sayangi. Untuk sampai pada tahap menerima peristiwa menyedihkan ini secara ikhlas, Anda memerlukan waktu yang mungkin tidak sebentar. Jangan paksakan diri Anda untuk melupakannya. Semakin Anda berusaha melupakannya, maka perasaan Anda akan semakin tersiksa. Anda merasa tidak rela untuk melupakannya, dan memang kenangan bersamanya merupakan suatu kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakan. Anda perlu melanjutkan hidup dan yang perlu Anda lakukan adalah mengingat kehidupannya dan jangan mengingat bagaimana peristiwa kecelakaan tersebut terjadi. Secara perlahan Anda juga perlu menanamkan dalam pikiran Anda bahwa peristiwa tersebut memang benar-benar telah terjadi dan ia telah tenang berada di sisi-Nya. Yakinkan diri Anda bahwa ia tidak mau melihat Anda selalu bersedih dan tidak mengurus diri Anda sendiri. Mrs D, saya yakin Anda mampu untuk melewati masa-masa sulit ini karena Anda mempunyai dukungan dari teman-teman dan Anda bisa menghargai usaha mereka untuk membantu Anda melewati hari-hari yang sulit ini. Anda dapat membicarakan mengenai kebaikan-kebaikannya dengan teman-teman Anda. Anda juga perlu menimbulkan sara syukur bahwa Anda telah memiliki kesempatan, yang walaupun hanya sesaat, untuk mengenalnya secara mendalam. Jangan terlalu keras pada diri Anda sendiri. Biarkan diri Anda berkabung dan bersedih karena Anda memang baru saja mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan dalam hidup Anda. Sejalan dengan berlalunya waktu dan dengan pola pikir yang tepat, Anda akan mampu melalui masa-masa yang terasa berat ini. Satu hal yang tentu saja tidak boleh Anda lupakan adalah berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menghadapi kehidupan Anda selanjutnya. Semoga Anda dapat menjalani hari-hari Anda dengan lebih bahagia………

112

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

ditinggal Pergi oleh Sahabat Sejati Waktu kecil
Hallo MerPsy… Saya sudah tidak sabar menunggu berita-berita menarik yang selalu dihadirkan MerPsy. Perkenalkan, saya seorang mahasiswi sekaligus aktivis pers mahasiswa. Saya ingin berbagi cerita pada MerPsy, sekaligus berharap dapat membantu saya untuk keluar dari masalah saya ini. Saya akan mulai bercerita tentang hubungan persahabatan saya dengan seseorang. Sebut saja Ani, sahabat sejati saya waktu kecil yang telah berhasil mengubah hidup saya menjadi lebih berwarna. Namun, kisah manis itu tidak berlangsung lama. Hanya 3 tahun persahabatan yang kami bina. Dia teman saya yang paling baik. Kita berteman dari kelas 2 SD sampai kelas 5 SD. Hampir setiap hari kita habiskan waktu bersama dengan bermain di pematang sawah. Akan tetapi, tiba-tiba dia meninggalkan saya tanpa sepatah kata atau sebuah pesan. Dia beserta keluarganya pindah rumah dan tidak meninggalkan alamat rumah barunya. Saat itu, saya benar-benar sedih dan terpukul. Sahabat sejati saya pergi meninggalkan saya tanpa memberitahu saya terlebih dahulu. Hidup saya terasa hampa tanpanya. Meskipun kami masih kecil, tapi kami sudah mengerti arti dari sebuah persahabatan. Saya lebih memilih untuk berdiam diri di kamar, membayangkan saat-saat indah bersama dia, dan tanpa terasa air mata saya meleleh setiap kali merindukannya. Bagi saya, dia adalah sosok sahabat yang tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Untuk itu, saya menutup diri dari pergaulan dan enggan untuk memiliki sahabat dekat. Masih ada perasaan takut jika saya memiliki sahabat baru dan kemudian dia meninggalkan saya lagi seperti Ani. Meskipun sulit bagi saya untuk melupakan sosok Ani, namun saya terus mencoba untuk melupakannya. Satu-satunya cara adalah saya menyibukkan diri di organisasi sekolah saat masuk SMP.

Vol1 No2 Maret 2010

113

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

Menghabiskan waktu di perpustakaan dan menulis cerita pendek. Dengan begitu, membantu saya mengurangi intensitas kerinduan saya pada sahabat tercinta saya. Ani akan selalu ada di hati saya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi dia di hati saya. Bahkan sampai saat ini, saya masih berharap besar untuk bertemu dengannya meskipun kemungkinannya kecil. Setelah Ani pergi, saya menjadi takut untuk bersahabat. Yang saya takuti adalah, ketika saya sudah mulai menyayangi sahabat, tiba-tiba dia meninggalkan saya tanpa pesan yang jelas. Itu yang akan membuat saya sakit, terpukul, dan trauma. Untuk itu, sampai sekarang saya sangat menjaga jarak dengan teman. Saya mempersiapkan diri sedini mungkin apabila teman tercinta saya harus pergi meninggalkan saya. Itulah yang menjadi hambatan saya untuk menemukan sahabat baru… Saya sering dihantui oleh perasaan takut kecewa jika ditinggalkan oleh sahabat saya lagi. Bapak… Apa yang harus saya lakukan agar trauma masa kecil saya bisa hilang dan tidak mengganggu aktivitas saya sehari-hari? Terima kasih, Bapak… Wassalam Mrs. S, Jakarta

Jawaban
Hi Mrs S, Sahabat memang memegang peranan penting dalam hidup kita dan memang sangat menyedihkan apabila kita ditinggal oleh sahabat. Menurut pemahaman Anda, sahabat Anda di masa kecil telah mengkhianati diri Anda, yaitu dengan meninggalkan Anda tanpa memberikan pesan apapun. Peristiwa tersebut telah menimbulkan luka di batin Anda sehingga Anda kehilangan kepercayaan terhadap orang lain dan tidak mau lagi memiliki seorang sahabat karena takut terluka kembali. Walaupun persahabatan Anda dengan Ani saat itu hanya bertahan selama 3 tahun, namun pengalaman tersebut telah memberikan

114

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI PERKEMBANGAN: KoNSULTASI

banyak pelajaran yang sangat berharga kepada Anda mengenai bagaimana rasanya memiliki seorang sahabat. Anda perlu memfokuskan diri pada proses persahabatan Anda dengan Ani, bukan kepada bagaimana Ani meninggalkan Anda tanpa pesan. Hubungan antar manusia adalah hubungan dua arah, dimana tidak semua hal bisa kita kendalikan. Kadangkala kita sudah melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan hubungan tersebut, namun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Hal ini merupakan suatu hal yang sangat wajar terjadi dalam hubungan antar manusia. Keputusan Anda untuk menjaga jarak dengan teman-teman dan tidak mau lagi memiliki sahabat akan lebih banyak merugikan dibandingkan menguntungkan diri Anda. Di satu sisi, nda merasa bahwa perilaku tersebut menguntungkan bagi Anda karena kemungkinan Anda akan terhindar dari rasa sakit dan kecewa apabila persahabatan tersebut berakhir sama dengan persahabatan Anda dengan Ani. Namun, di lain pihak, Anda sebenarnya menghambat diri Anda sendiri untuk berbagi dan merasakan kebahagiaan dengan seorang sahabat. Anda perlu ingat bahwa ketika kita takut untuk merasakan kekecewaan, maka kita juga tidak akan merasakan kebahagiaan. Anda tidak perlu berusaha keras untuk melupakan Ani, karena walaupun ia telah menimbulkan luka di hati Anda, namun Ani telah memberikan masa-masa yang menyenangkan dalam hidup Anda. Bersyukurlah bahwa Anda pernah memiliki seorang sahabat yang telah bersama-sama melewati 3 tahun yang indah dalam hidup Anda. Untuk saat ini, Anda perlu menanamkan dalam pikiran Anda bahwa Anda tidak bisa mengendalikan orang lain untuk tetap selalu bersama Anda, dan mulailah untuk membuka diri Anda terhadap orang-orang yang ingin menjadi sahabat Anda. Anda tidak akan mengetahui hasilnya apabila Anda tidak pernah mencoba. Selamat menemukan sahabat baru yang dapat mengisi hari-hari Anda………

Vol1 No2 Maret 2010

115

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: REFLEKSI

kiat Sukses dan Selalu optimis

Menjalani usaha
dalam Situasi krisis

rian Muhammad Mufti

Di tengah-tengah ombak krisis dalam berbagai bidang kehidupan, banyak orang kehilangan asa dan cenderung dilanda frustrasi. Namun dalam perspektif orangorang yang berjiwa kewirausahaan atau entrepenuership, banyak dan ruwetnya krisis-krisis yang muncul justru menjadi “lahan subur” untuk mengembangkan dan mengepakkan sayap-sayap usahanya, baik usaha yang tengah dijalani maupun usaha yang hendak dirintis. Rubrik ini mencoba menawarkan tips-tips dan strategi-strategi dalam menggarap beraneka ragam bidang usaha (tidak terbatas dalam bidang bisnis) dengan bermodalkan jiwa kewirausahaan.

N

ama saya Rian Muhammad Mufti. Saya lahir di Sukabumi, 24 Desember 1984. Sekarang saya sekarang kuliah di Universitas Mercu Buana. Saya mempunyai usaha sendiri di bidang opticion yang letaknya di Sukabumi (Jl. Cagak Cibaraja Rt 01/01 No. 189, Cisaat, Sukabumi, ”Optik Hilman”) dan Jakarta. Ilmu optik ini saya dapatkan dari ayah yang selalu mengajarkan saya bagaimana tata cara pemeriksaan mata dengan baik agar dapat memenuhi kebutuhan customer. Keseriusan dan pengalaman saya dalam menggeluti bidang optik mungkin sudah hampir 6 tahun, sejak 2003 sampai sekarang. Cukup banyak pengalaman yang saya miliki dari bisnis optic ini. Suka dan dukanya
Vol1 No2 Maret 2010

seorang entrepreneur adalah dapat melayani konsumen dengan baik dalam pemeriksaan mata sampai memilih kacamata yang konsumen inginkan, apalagi bila sedang banyak konsumen yang membeli kacamata. Tak terelakkan, apabila sudah jarang konsumen yang datang untuk periksa dan membeli kacamata, maka hal itu disebabkan persaingan harga pasar yang semakin meningkat. Namun, saya tidak patah semangat dan terus berusaha dan berpromosi, karena dalam berwirausaha sudah semestinya begitu; mungkin kadang ramai pembeli, kadang sepi. Dibutuhkan kesabaran dalam menghadapi semua itu. Sebagai seorang entrepreneur, kedekatan dengan Tuhan menjadi

116

hal yang tak bisa dinafikan. Kedekatan dengan Tuhan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Ini wajar mengingat medan kerja seorang pengusaha yang demikian keras, penuh dengan tantangan, penuh kejutan, baik kejutan yang diharapkan maupun yang sama sekali tak kita inginkan. Bisnis seringkali penuh ketidakpastian. Kendati telah kita hitung secara matang semua rencana, telah dibuat presisif semua strategi, tetap saja hal-hal di luar dugaan seringkali terjadi. Dalam keadaan seperti ini, hanya Tuhan yang mampu menjawab berbagai pertanyaan yang terbersit di benak kita. Dan kita hanya bisa bersandar pada kekuasaan-Nya yang mampu membalikkan keadaan. Kita berharap ia akan memberikan pencerahan di benak kita, dan mengucurkan ide ke pikiran kita.

saya yang letaknya di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, yang disebabkan kecurangan yang dilakukan oleh beberapa karyawan saya, sehingga saya harus melakukan pemecatan. Namun, dengan kejadian itu saya tidak menjadi mundur, malahan saya berpikir mungkin ini hanya cobaan yang diberikan Allah kepada saya. Walaupun optic mengalami penyusutan tapi saya tetap tegar dan sabar, berusaha mengembangkannya lagi, dan memperluas pemasaran dengan kemampuan yang saya miliki. Alhamdulillah, dengan keyakinan dan berusaha serta dan tak lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa, akhirnya optik saya yang ada di Jakarta Selatan, walaupun sekarang hanya cuma hanya ada satu, berjalan maju dan lancar sampai sekarang. Untuk itu, apabila kita mengalami musibah atau kejadian Suatu ketika saya pernah mengalami apapun, janganlah kita mundur dan penyusutan beberapa cabang optic
Vol1 No2 Maret 2010

117

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: REFLEKSI

tak berani menghadapi kenyataan karena semua itu hanyalah cobaan yang di berikan Allah untuk mencoba kesabaran kita agar kita selalu ingat dan bersyukur kepada-Nya. Lingkungan kerja saya di Departemen Agama, yang letaknya di Jakarta Selatan. Konsumen kebanyakan adalah guru-guru sekolah. Namun, ada juga dari masyarakat. Menanggapi keluhan konsumen harus dengan prinsip pelayanan prima, karena dampak dari keluhan kosumen, apabila tidak segera diatasi, akan menimbulkan citra buruk bagi perusahaan. Perusahaan

akan kehilangan konsumen, misalnya, jika konsumen merasa barang yang diterimanya terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan yang dipesan, barang cacat / rusak, dsb. Konsumen dapat saja mengajukan tuntutan. Menghadapi keluhan semacam ini, saya berupaya bijaksana, karena bila keliru dalam menangani, akan berakibat fatal. Konsumen merupakan media promosi yang paling jitu. Jika konsumen merasa tidak puas, mereka akan menyebarkan hal yang jelek-jelek tentang perusahaan / toko kita, dengan demikian perusahaan di ambang kehancuran. oleh karena itu, dalam menghadapi tuntutan semacam ini harus hati-hati. Kita perlu memeriksa lagi apa betul barang tidak sesuai dengan contoh atau cacat/rusak. Apabila barang cacat/ rusak, harus kita periksa lagi, apa betul rusak, apa betul cacatnya itu dari penjualan kita atau karena sebab-sebab lain. Setelah semuanya jelas, baru kita menanganinya. Bila cacat atau rusaknya berasal dari kita (perusahaan), maka perusahaan yang harus menggantinya. Dengan penanganan yang baik, semua akan merasa puas. Pada dasarnya setiap orang memliki masalah, apalagi bila mengalami kesulitan keuangan. Semua orang ingin bebas dari masalah, persoalan dan kesulitan. Kita berupaya bangkit dari kekecewaan menuju

118

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: REFLEKSI

kegembiraan, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan lahir dan batin. Masalah kesulitan dan penderitaan itu sebenarnya perlu karena akan memberi peluang untuk menyesuaikannya. Jika kita dapat menyelesaikan, masalah itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengerikan. Setiap kali ada masalah, sebenarnya di situ terdapat peluang. Tinggal bagaimana kita mampu melihatnya dan menggarapnya menjadi sebuah kesempatan. Apabila melamar menjadi karyawan/pegawai adalah sangat sulit, ini berarti ada peluang untuk mencari pekerjaan di luar. Apa itu…? Jawabnya adalah menjadi wirausaha atau menjadi pengusaha. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 menjadikan orang berpikir bagaimana ia hidup. Ada yang memutuskan berganti profesi sebagai pengusaha demi mengatasi masalah perekonomian keluarga. Menjadi pengusaha juga bukan hal yang sederhana, apalagi orang tua kita menasehati putra-putrinya dengan nasehat yang sebenarnya membuat anak tidak kreatif dan mampu bersaing dengan orang lain. Anak disuruh rajin belajar agar indeks prestasi/IPnya tinggi, sehingga kelak melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan swasta. Jarang orang tua mendorong anaknya agar menjadi pengusaha seperti saudara–saudara dari etnis Tionghoa. Untuk menjadi pengusaha, biasanya orang takut gagal, cemas akan diolokolok orang, karena budaya kita masih menganggap wiraswasta adalah pekerjaan yang kurang terhormat. Dan, yang paling ditakuti adalah faktor resiko. Karena sekali gagal, bagi orang yang tidak berjiwa wirausaha, biasanya akan putus asa. Tetapi bagi orang yang berjiwa wiraswasta, gagal merupakan ujian dan sekaligus wahana latihan untuk mengetahui apa yang salah dari kita dan tidak kita ulangi lagi. Jangan mengukur berapa kali seorang wirausahawan jatuh, tetapi berapa kali dia bangkit. Sebenarnya tidak ada orang yang benar-benar jatuh atau gagal, tetapi dia hanya gagal untuk

Vol1 No2 Maret 2010

119

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: REFLEKSI

mencoba lagi. Apabila ia mau mencoba lagi, pasti ia tidak gagal. Banyak sekali orang terpelajar yang tidak sukses. Hanya kemauan dan ketabahan saja yang paling ampuh. Jangan melihat krisis sebagai masalah yang tidak bisa diatasi. Meskipun bisnis kita perlu dirampingkan atau kita perlu berganti segmen pasar untuk merespon situasi ekonomi yang sulit ini, tetaplah berpegang pada visi kita. Percayalah bahwa kemunduran ini hanya sementara. Bergeraklah ke arah tujuan kita. Pengusaha umumnya sangat berorientasi pada tujuan, tetapi kadang-kadang pasar yang membuat mereka mati langkah. Buatlah tujuan yang realistik dan lakukan sesuatu langkah maju secara teratur. Meskipun langkah maju itu kelihatannya sangat kecil, tetapi langkah-langkah itu akan mendekatkan kita pada tujuan kita. Ambil keputusan dan jalankan. Situasi yang sulit seringkali membuat orang menghindari masalah dan tekanan yang ditimbulkannya, sambil berharap masalah itu akan hilang sendiri dengan berjalannya waktu. Memecahkan masalah adalah sesuatu kegiatan aktif yang akan berlangsung terus. Membiasakan diri untuk menghadapi masalah dan memecahkannya akan meningkatkan ketegaran kita. Setiap pengusaha bisa punya banyak cara untuk membangun ketegaran bagi dirinya dan bagi perusahaan

yang dibangunnya. Kuncinya adalah menemukan cara yang paling efektif. Jangan putus harapan. Pandangan yang optimis akan membantu kita berpikir jernih dan memberikan kekuatan untuk menghadapi tantangan demi tantangan. Bila rencana bisnis kita memang bagus, kita pasti bisa melalui setiap krisis dan kembali tumbuh sehat. Amien!

120

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

dr. a. a. anwar Prabu Mangkunegara

Pengasuh :

dampak menjamurnya mini market
Assalamu’alaikum Wr. Wb Saya sangat senang MerPsy memiliki ruang psikologi wirausaha. Karena kebetulan ada yang ingin saya konsultasikan berkaitan dengan usaha saya. Saya seorang pendidik, yang memiliki usaha sampingan meneruskan toko sembako orangtua. orangtua merintis toko sejak tahun 1984. Alhamdulillah sangat maju. Karena toko sembako tersebut, orangtua bisa pergi haji dan semua anaknya kuliah dengan hasil usaha toko sembako. Namun sangat disayangkan, sejak tahun 2003, beberapa mini market berdiri dekat dengan usaha kami dan anehnya dalam satu gang saja ada dua mini market yang berbeda berdiri. Dengan berdirinya mini market tersebut, ternyata berdampak luar biasa pada pendapatan kami. Sekitar 50% menyusut. Terlebih saya melanjutkan usaha orangtua sejak 2005 tahun yang lalu. Berat rasanya kondisi yang ada sekarang ini. Usaha orangtua yang saya pegang memang besar. Namun ya… namanya sembako paling pembelian kecil-kecilan. Sedangkan mini market disain ruang juga luar biasa, ada AC dan sebagainya. Pertanyaan saya, bagaimana, Pak, saya bisa terus mengembangkan

Vol1 No2 Maret 2010

121

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

usaha orangtua ini, mengingat persaingan sangat ketat dan yang sudah saya terima saja omset menurun sampai 50%? Mohon penjelasannya agar kami pun memiliki motivasi dan kepuasan di dalam wirausaha. Wassalam Karnali, Jakarta

Jawaban
Bapak Karnali, Saya bangga Anda pendidik dan berwirausaha. Pendidik yang berprofesi wirausaha, tentunya akan memiliki kemampuan empati dan memahami situasi lingkungan serta tidak pernah kalah dalam menghadapi tantangan bisnisnya. Bahkan senantiasa mengambil hikmah terhadap kegagalan dan berusaha keras untuk tidak gagal pada permasalahan yang sama atau gagal kedua. Menjamurnya mini market di lingkungan bisnis Anda, tentu perlu disadari karena ada pengaruhnya, tetapi haruslah membangkitkan kesadaran diri Anda, kreativitas, dan berinovasi. Bahkan peluang untuk bekerjasama dalam pemasokan barang (Coba Anda pikirkan produk/barang apa yang belum ada di mini market, tetapi Anda bisa mengisinya. Misalnya, kue-kue tradisional, kacang mente, kue-kue kering khas daerah, atau produk/barang lainnya yang disukai masyarakat). Keberhasilan orangtua Anda dengan toko sembakonya perlu Anda analisis secara ekonomi dan spiritual. Mungkinkah karena orangtua Anda memberikan pelayanan sepenuh hati kepada masyarakat? Menentukan harga yang lebih murah dibandingkan toko sembako lainnya? Memberi peluang kepada masyarakat (konsumennya) dengan pembayaran sistim kredit tanpa bunga? orangtua Anda dikenal sebagai orang yang baik hatinya, orang yang suka menolong, mengambil keuntungan yang wajar dan

122

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

dekat dengan Tuhannya? Rekomendasi : 1. Jika Anda tetap mengembangkan usaha orangtua, maka Anda perlu mengambil pembelajaran INTI atau KUNCI Sukses Bisnis dari orangtua Anda. Selain itu, Anda perlu menentukan harga yang lebih murah dibandingkan mini market, khususnya barangbarang pokok seperti gula, kopi, minyak goreng dan terigu. Hal ini akan memberi kesan bahwa toko Anda ”Murah” sekalipun barang-barang lainnya relatif sama atau lebih mahal sedikit daripada mini market. 2. Karena Anda Pendidik dan tentunya mampu berpikir perspektif. Coba analisis kemampuan khusus yang Anda miliki(termasuk istri Anda), kira-kira bisnis apa yang paling menguntungkan bagi kehidupan Anda untuk periode saat ini dan masa yang akan datang. Hal ini karena salah satu keberhasilan bisnis adalah ”Minat Yang ditekuni dan Jiwa Bisnis Yang Menyenangkan Diri”. Sebaiknya Anda mengikuti training tentang ”Business Plan and Entrepreneur Leadership”.Semoga Anda Sukses untuk masa mendatang.

merombak Pola Pikir lama dengan manajemen yang Baik
Assalamu’alaikum Wr.Wb Saya memiliki masalah yang terus saya pendam dan saya jalani tanpa mengetahui jalan keluarnya. Saya berlatar belakang keluarga yang sangat berpendidikan dan kebetulan orangtua saya juga seorang yang sangat berpengaruh di masyarakat. Beliau juga seorang pegawai yang juga punya jabatan penting sebagai abdi negara. Saya adalah anak pertama. orangtua menginginkan saya menjadi pegawai. Namun saya tidak suka bekerja di atur orang

Vol1 No2 Maret 2010

123

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

lain. Saya lebih suka menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Pada tahun 2004, saya membuka rental komputer di lahan orangtua saya, dan di tempat yang sangat strategis sekali. Dana yang di keluarkan tidak sedikit. Saya tentunya mendapatkan bantuan dana pinjaman dari orangtua. Meskipun dipinjamkan saya merasa dukungan orangtua belum maksimal. Karena mereka menginginkan saya menjadi pegawai. Awal usaha, masih dipertanyakan bahwa sarjana tekhnik yang memiliki yayasan pendidikan kok kerjanya buka Rental komputer. Imbas dukungan yang tidak maksimal yang disebabkan saya yang tidak memenuhi keinginan orangtua, saya rasakan sampai sekarang. Kami memiliki perbedaan pola pikir yang sangat signifikan. Saya katakan sangat signifikan, karena orangtua memiliki manajemen usaha yang ingin diterapkan di dalam usaha saya. Contohnya, perlu adanya pengaturan keuangan secara ketat uang masuk dan keluar. orangtua memang memiliki usaha sampingan toko yang cukup besar sejak saya masih sangat kecil. Toko tersebut dirasakan sangat membantu kehidupan ayah di dalam menafkahi keluarga. Tetapi saya merasa tidak nyaman dengan segala sarannya yang harus diterapkan di Rental saya. Usaha kami berbeda, tentu manajemen di dalam keuangan pun berbeda. orangtua menginginkan adanya pembayaran secara ketat. Sedangkan saya sangat membebaskan pegawai untuk melakukan aktivitas apa saja di Rental saya dengan alasan bahwa di Rental ada billing yang mengatur ketat keuangan, secara teknis melalui mesin komputer. Perbedaan yang sangat signifikan ini tak pelak membuat kami mengalami konflik. Alhamdulillah, seiring perjalanan waktu dengan kegigihan dan perjuangan, usaha yang saya jalani terus berkembang, yang tadinya cuma 1 lokal yang hanya Rental sekarang menjadi 3 lokal dengan dibukanya Warnet dan Toko Komputer yang sedang menanjak ke tahun ketiga. Saya tinggal dibelakang toko dan bersebelahan dengan orang tua.

124

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

Permasalahan lain, adalah di dalam manajemen pengembangan usaha. Pada dasarnya usaha Komputer yang saya kelola memiliki penghasilan yang sangat besar, kurang lebih 25 juta kotornya dan bersihnya adalah 10 juta. 15 juta tentunya diantaranya untuk operasionalisasi peralatan komputer dan memutar modal, serta membayar 4 karyawan. Pendapatan bersih yang saya pegang saya rencanakan untuk pengembangan toko. Namun orangtua “memaksa” saya kredit mobil yang harga cicilannya sangat tidak sedikit. Uang pembayaran cicilan mobil pada awalnya saya rencanakan untuk dialokasikan ke pengembangan usaha, khususnya Toko. Sekarang saya merasa bahwa saya adalah orang yang boros dan belum mampu memanajemen uang dengan sangat baik. Cicilan mobil ditambah ada kebutuhan keluarga kecil saya menjadi kendala demi pengembangan usaha saya selanjutnya, khususnya Toko Komputer yang masih membutuhkan modal untuk menjadi sebuah toko yang komplit/lengkap. Jadi, pertanyaan saya adalah bagaimana manajemen usaha yang baik agar tidak boros, sehingga saya dapat mengembangkan usaha saya, sedangkan orangtua selalu ikut campur padahal pola pikir kami sangat bertentangan dengan saya? Di mata orang tua, saya merasa, saya tidak pernah dipercaya dan selalu salah dalam manajemen usaha. Bagaimana cara meyakinkan orang tua? Mohon bantuan jalan keluarnya, Pak,… Terima kasih. Salam, Kurniawan, Jakarta

Vol1 No2 Maret 2010

125

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

Jawaban
Saudara Kurniawan, Saya senang Anda Sarjana Teknik dan menekuni Wirausaha. Apalagi Anda lebih suka menciptakan lapangan kerja sendiri. Pemuda terpuji seperti Anda sudah saatnya bermunculan di Indonesia. Kasihan bangsa ini sudah terlalu banyak pengangguran intelektual. Permasalahan Anda sebenarnya lebih bersifat psikologis, ”Perbedaan persepsi dan komunikasi dengan orangtua”. Saudara Kurniawan, Anda harusnya bersyukur punya orangtua yang ”Sangat Menyayangi dan Mendambakan Kesuksesan Hidup Anda”. Anda anak pertama dari orangtua pegawai negeri yang punya jabatan penting dan punya bisnis toko relatif besar. Tentu saja Beliau sangat kecewa kepada Anda. Mereka mendambakan kesuksesan Anda pada bisnis besar bukan rental komputer. Atau, kalau mungkin Anda juga pegawai yang punya jabatan penting. Pada umumnya orangtua menginginkan anaknya ”harus lebih sukses” atau paling tidak relatif sukses seperti orangtuanya. Rekomendasi : 1. Anda mulai membuka komunikasi kepada orangtua dengan cara sikap hormat, tutur kata sopan, dan mau menjadi pendengar yang baik tanpa debat. Kalaupun Anda mau berpendapat mintalah terlebih dahulu izin berpendapat. Hal ini akan memberikan perasaan senang orangtua Anda (Ingat, orangtua Anda itu sangat sayang dan memiliki harapan yang besar kepada Anda sebagai anak pertamanya. Secara psikologis Beliau sangat sensitif terhadap anak kesayangannya. Jadi rasa sayang yang berlebihan dari orangtua sering juga dilampiaskan dengan Sikap Mudah Marah, Sikap seperti tidak percaya kepada Anda). orangtua ”memaksa” Anda mengambil kredit mobil di sisi positifnya sebenarnya dimaksudkan agar Anda bekerja keras untuk berpenghasilan relatif besar sekalipun cukup memberatkan Anda. 2. Cobalah Anda terbuka dan yakinkan kepada orangtua bahwa
126
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KEWIRAUSAHAAN: KoNSULTASI

Anda juga punya upaya keras untuk sukses seperti Bapak (orangtua Anda) dan tunjukkan perencanaan program bisnis Anda untuk 5 sampai dengan 10 tahun yang akan datang. Jelaskan rental komputer yang lengkap dan ideal yang akan Anda wujudkan itu. Jika masih terjadi perbedaan pendapat dengan orangtua, secara sopan dan santun mintalah kepada orangtua, ”Izinkan Ananda dalam waktu 3-5 tahun ini menekuni bisnis rental komputer.” Kalau memungkinkan, Anda juga buat rencana bisnis lain (CV, PT) yang jangka panjang bisa menjadi bisnis besar selain rental komputer. Untuk bisnis lain itu harus diawali dengan analisis SWoT dan mintalah orangtua Anda berpendapat melalui dialog yang saling mau mendengarkan. Begitu pula kemukakan kepada orangtua bahwa Anda mempunyai planning untuk mengikuti training tentang ”Manajemen Bisnis, Sukses Hidup, Wirausaha Sukses, Behaviour Managerial Skills, Kepemimpinan Bisnis”. Bahkan jika memungkinkan, Anda juga punya program untuk melanjutkan studi S2 program manajemen bisnis agar memiliki perspektif berpikir luas dan memiliki jaringan bisnis (networking) dengan pelaku bisnis di dalam dan luar negeri. 3. Anda perlu pula memberikan pemahaman kepada istri bahwa keuangan bisnis harus terpisah dengan keuangan keluarga. Bahkan upayakan istri menjadi kawan dialog dalam membangun bisnis dan membangun keluarga. 4. Upayakan Anda berhasil menjadi ”Partner Dialog” dengan orangtua Anda, maka Anda akan menjadi orang kepercayaannya. Tentu Anda akan mendapat support untuk melakukan bisnis besar pada masa yang akan datang. Jadilah anak sholeh dan mampu mengangkat derajat orangtua serta meneruskan cita-cita mereka.

Vol1 No2 Maret 2010

127

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

Pengungkapan diri
Berstatus orangtua tunggal

dalam interaksi antara

anak usia dini dan ibu
Meni Handayani, S.S., M.Si.

I
128
Vol1 No2 Maret 2010

bu lebih banyak menjalankan peran orangtua tunggal daripada ayah karena ikatan emosi yang begitu kuat dengan sang anak (Paras, Maret, 2004). Menjadi orangtua tunggal berarti memikul dua beban yang seharusnya ditanggung dua orang. Jelas ini bukanlah hal yang mudah. Pada saat bersamaan seorang ibu harus dapat memainkan peran sebagai ayah. Hingga pukulan keras dari kenyataan ini tidak hanya mengenai sang ibu tapi juga sang anak yang terkejut dengan kehidupan barunya. Seorang anak yang masih berusia dini belum dapat

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

mengungkapkan perasaannya dengan bahasa yang jelas ketika mereka ditinggal oleh ayah mereka. Trauma yang anak rasakan lebih diungkapkan dengan bahasa tubuh, seperti sakit atau cengeng.Peran ibu pada anak usia di bawah 5 tahun sangat besar pengaruhnya. orangtua tunggal walaupun dengan keterbatasannya harus tetap mengasuh dan mendidik anaknya agar dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik. Anak pada usia dini bebas untuk mengeksplorasi berbagai rasa ingin tahu yang ada dalam pikirannya, dengan bantuan dari lingkungan dan orangtua. Pada usia tersebut bentuk komunikasi mendapat peran yang sentral, artinya keluarga sangat diharapkan peran sertanya sebagai model untuk ditiru oleh anak. Carol Seefeld dan Nita Barbour (1986) mengelompokkan perkembangan anak usia dini dalam kategori: bayi (infancy) lahir sampai 1 tahun; toddler 1-3 tahun; prasekolah 3-4 tahun; kelas awal Sekolah Dasar 5–6 tahun; kelas lanjut Sekolah Dasar 7–8 tahun. Tahap dari lahir sampai sebelum anak memasuki usia sekolah atau awal sekolah disebut anak usia dini. Periode dari mulai akhir tahun pertama di dalam kehidupan anak sampai dengan anak berusia 5 tahun, kemajuan yang dicapai anak dalam perkembangan sosial dan kognitif cukup pesat (Monks, Knoers, & Haditono, 1994). Ini menunjukkan bahwa di usia 1-5 tahun terjadi banyak

pertumbuhan kemampuan anak. Anak usia prasekolah umumnya memiliki rasa ingin tahu yang besar, dengan mengajukan pertanyaan terusmenerus. Reduksi Ketidakpastian Untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dirasakan oleh anaknya, maka orangtua berusaha untuk mencari informasi. Usaha mencari informasi yang dilakukan orangtua untuk mereduksi ketidakpastian karena ketidaktahuan orangtua membuat dirinya menjadi bingung apa yang harus dilakukan. Menurut Charles R. Berger (1975), proses reduksi ketidakpastian ada dua, yaitu: (1) Proses eksplanasi sebagai atribusi yang retroaktif, yaitu proses yang menginterprestasikan arti tindakan-tindakan yang telah dilakukan dalam suatu hubungan tertentu dan menyiapkan informasi atas dasar interpretasi tersebut, untuk dijadikan dasar bagi suatu interaksi di masa mendatang; (2) Prediksi sebagai atribusi yang proaktif, yaitu memformulasikan atau mendefinisikan pilihan-pilihan perilaku dimana tersedia respon secara luas dan beragam bagi individuindividu yang berinteraksi, jadi mitra bicara sudah menyiapkan formula untuk mengantisipasi perilakunya. Untuk mengurangi ketidakpastian hubungan antara orang tua dan anak biasanya orang tua bertanya
Vol1 No2 Maret 2010

129

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

langsung kepada sang anak untuk mencari informasi yang sebenarnya atau dengan pengungkapan diri (self disclosure) dari orangtua dan anak. Pengungkapan Diri Dalam komunikasi antarpribadi, self disclosure (pengungkapan diri) digunakan sebagai salah satu cara untuk mendapatkan informasi dari orang lain agar kita dapat mempelajari bagaimana perasaan dan pikiran orang lain. Sekali seseorang terlibat self disclosure, berarti juga bahwa orang lain akan membuka informasi personalnya. Hal ini diketahui sebagai norma timbal balik. Dalam hubungan antarpribadi yang berkembang, saling mengungkapkan diri cenderung bersifat timbal balik dan membuat suasana menjadi lebih akrab dari waktu ke waktu. Pengungkapan diri biasanya terjadi diantara dua orang (dyads). Dalam pengungkapan diri terjadi dalam hal sebagai berikut (Jourard, 1959, Jourad & Landsman, 1960, Jourad & Richman, 1963, Chittick & Himelstein, 1967): (1) Individu biasanya selektif memilih orang kepada siapa ia mengungkapkan sesuatu mengenai dirinya; (2) Sahabat yang kita percaya, yang kecil kemungkinan untuk berkhianat. Biasanya lakilaki mengungkapkan dirinya kepada orang yang dia percaya. Perempuan mengungkapkan dirinya kepada orang yang dia merasa simpatik; (3) dalam
130
Vol1 No2 Maret 2010

berinteraksi antara dua orang dalam pengungkapan diri biasanya bersifat simetris. Terjadi keseimbangan antara dua partisipan. Tidak mungkin yang satu bercerita tentang dirinya sedangkan yang lain menampung. orang biasanya mau mengungkapkan sesuatu kalau dia merasa aman; (4) Pengungkapan diri menjadi konteks hubungan sosial yang positif, jadi tidak mungkin terjadi pada hubungan sosial yang negatif dimana orang saling mencurigai. Seorang ibu yang berstatus orangtua tunggal memiliki strategi yang berbeda dalam memberi penjelasan terhadap anak-anak tentang bapak mereka yang sudah tiada atau keberadaan bapak mereka yang sudah berpisah. Pengungkapan tentang keadaan ayah dilakukan oleh ibu sebagai strategi agar anak-anak dapat mengerti keadaan yang sebenarnya. Informasi dari pengungkapan keadaan diri orangtua tentu diperlukan oleh anak-anak agar mereka tidak merasa ada hal yang disembunyikan dan akan menjadi bom waktu. Ibu sebagai

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

orangtua tunggal berpendapat bahwa anak-anak yang memang sudah dapat diajak berkomunikasi kurang lebih pada umur dua tahun keatas maka sudah selayaknya diberikan penjelasan tentang ketidakberadaan ayah mereka. Self disclosure yang dilakukan secara tepat bisa menaikkan kesehatan fisik dan mental. Johnson (1981, dalam Borchers, 2000; dalam www.mentalhelp.net) menyatakan bahwa orang yang melakukan self disclosure lebih self–content, lebih adaptif dan kompeten, lebih terbuka, lebih percaya dan mempunyai pandangan yang lebih positif terhadap orang lain daripada orang yang tidak melakukan self–disclosure. Namun demikian self disclosure juga memiliki efek yang kurang baik terhadap seseorang. Anak usia dini yang masih berumur antara 2 – 5 tahun, belum paham mengapa seseorang meninggal atau harus berpisah (cerai). Terdapat kasus pada dua orang anak usia dini kakak dan adik. Pada saat ayahnya meninggal, sang kakak berumur 5 tahun dan adiknya berumur 2 tahun. “Ayah kenapa, Bu?” “Ayah sudah gak ada,“ jawab ibunya. Mendengar hal tersebut, anak menjadi bingung karena kenyataannya ayahnya masih ada terbaring di hadapannya. Setelah Ibu menjelaskan kalau ayahnya sudah meninggal dan tidak bisa bangun lagi, maka sang anak menjadi ketakutan. Reaksi anak terhadap keterbukaan

Ibu adalah anak menjadi sakit panas beberapa hari. Jika kenyataan tentang kematian dalam hal ini kematian seorang ayah tidak diberitahukan secara terbuka pada saat yang tepat maka anak juga akan merasa bingung mencari sosok ayahnya yang biasanya selalu berada disisinya. Rasa kehilangan yang tidak jelas pada sang anak mengakibatkan anak selalu menunggu dan anak menjadi sering menangis tanpa sebab yang jelas. oleh karena itu, self disclosure yang dilakukan secara tepat antara orangtua tunggal dan anak dapat memberikan ketenangan batin pada keduanya. Terdapat perbedaan tanggapan antara anak usia dini yang usianya sudah 5 tahun ke atas dengan anak usia dini yang berumur 2 tahun ke bawah ketika mereka ditinggal oleh ayahnya. Perbedaan ini disebabkan intensitas waktu bertemu. Anak pertama sebagian besar merasa kehilangan dengan kenyataan kematian (dalam hal ini ayah) atau perceraian orangtua, karena mereka sudah lebih banyak merasakan kasih sayang ayahnya. Rata–rata umur anak pertama ketika ditinggal ayahnya adalah 4 tahun sampai 8 tahun. Sedangkan anak kedua atau anak paling kecil yang ditinggal ayahnya berumur antara satu bulan sampai satu setengah tahun. Anak kedua ini tidak
Vol1 No2 Maret 2010

131

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

merasa kehilangan yang mendalam karena mereka mengganggap hanya ibunyalah orangtua mereka. Sehingga anak pertama yang ditinggal tetap mengharapkan kehadiran ayah kembali. Untuk menjalin suatu komunikasi antarpribadi yang efektif, self disclosure selayaknya juga dibarengi dengan menerapkan sikap mendengarkan karena dengan mendengarkan, kita memberikan perhatian, memahami, mengevaluasi suatu stimuli yang kita terima (o’Hair, Friedrich, Wieman, & Wieman, 1997). Pada kasus lainnya, yaitu ibu E yang berumur 34 tahun dan berpendidikan sarjana, juga memperoleh informasi dari anak perempuannya yang berumur 8 tahun tentang perasaan dirinya terhadap ketidakberadaan ayahnya. Sebelumnya ibu E berterus terang dulu tentang ketidakberadaan ayah. Ibu E sekarang bekerja sebagai guru yang berangkat jam 6 pagi dan pulang pada sore hari. Ibu E mengungkapkan kepada anaknya tentang perceraian ibu E dengan suaminya. Ibu E bertanya kepada anaknya apakah dia mau ikut ayahnya dengan seorang ibu tiri. Sang anak menjawab dia tidak mau ikut ayahnya, dia mau ikut ibunya saja. Pengungkapan diri anak adalah ungkapan yang keluar dari hati nuraninya. Ketika masih berumur 2 tahun, sang anak sudah sering melihat perlakuan kasar ayahnya terhadap ibunya. Anaknya lebih memilih ibu E
132
Vol1 No2 Maret 2010

daripada ayahnya. Berbeda dengan tanggapan sang adik yang berumur 3 tahun. Pengungkapan diri Ibu E ditanggapi sang adik tidak sesuai dengan keinginan ibu E. Adik tidak mau menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tidak satu rumah lagi dengannya. Ia masih selalu mencaricari ayahnya. Ibu E sudah mencoba berterus terang kepada adik, namun sang adik belum dapat menerimanya. Berdasarkan pengalaman adik, dapat dilihat bahwa self disclosure tidak selalu berdampak sesuai dengan keinginan. Terdapat risiko dimana orang yang mendengarkan informasi mungkin tidak akan memberikan respon yang menyenangkan terhadap informasi tersebut (Borchers, 2000; dalam www.mentalhelp.net). Self disclosure tidak secara otomatis mengarah pada impresi yang menyenangkan. Alasannya, berdasarkan pengalaman di atas, karena sang adik tidak ingin kehilangan sosok ayahnya.
* Penulis adalah dosen dan peneliti

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

S

ecara umum komunikasi dapat dilihat dari kehidupan seorang manusia. Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi, dipastikan orang terlibat dalam hubungan sosial, salah satunya dalam bentuk komunikasi, sebagai konsekuensi dari hubungan sosial tadi.

sosial. Interaksi sosial disebabkan interkomunikasi.

Terjadinya interkomunikasi karena tiap manusia memiliki pikiran, pandangan, gagasan, sikap, kemauan, bahkan memiliki perasaan. Faktor-faktor inilah yang dikomunikasikan. Misalnya seorang komunikator punya pendaKomunikasi adalah upaya untuk pat tentang politik. Buah pikirannya membuat pendapat, menyatakan atau pandangan, gagasan dan sikapperasaan, menyampaikan informasi, nya tentang politik itu pula lah yang

Menjaga

keharmonisan Hubungan
adi Badjuri

dan sebagainya, agar diketahui atau dipahami oleh orang lain, “To make opinions, feelings, information etc, known or understood by others” (Longman). Kemampuan berkomunikasi adalah kemampuan untuk mengungkapkan keinginan, ide, perasaan, pikiran atau pendapat seseorang sehingga dapat mengerti dan dimengerti oleh orang lain. Atau tegasnya, komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan melalui saluran/media dengan harapan mendapatkan umpan balik Masyarakat kecil, paling sedikit dua orang, terdiri dari komunikator dan komunikan, saling berhubungan. Hubungan itu menimbulkan interaksi

dikomunikasikan. Sementara lawan bicaranya, yakni komunikan, bereaksi mendengarkan, menanggapi dan menyikapinya pula. Terjadilah apa yang disebut dialog dari kedua belah pihak, antara komunikator dan komunikan, tentang masalah politik. Faktor lain terjadinya komunikasi adalah faktor perasaan. Katakanlah perasaan cinta. Sudah jadi kodrat manusia memiliki rasa cinta. Cinta, kata pujangga, berawal dari mata turun ke hati. Ketika mata seorang melihat sosok wanita cantik atau pria tampan, maka mata merespon ke otak dan otak menghasilkan hormon yang merangsang otak untuk merasakan atau menikmati keindahan sosok yang dilihatnya.
Vol1 No2 Maret 2010

133

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

Hal itu terjadi karena adanya serangkaian perubahan kimia yang membuat darah dan otak sang pencinta banyak terisi oleh sejenis zat yang dapat digolongkan amphetamine. Zat-zat ini merangsang kerja otak dan menyebabkan seseorang merasa bahagia, rileks, dan bergairah. Keindahan itu terekam oleh otak dan otak pun ingin merasakan keindahan tersebut berulang-ulang, jadi perasaan cinta itu dihasilkan oleh zat tersebut. Keindahan akan rasa itu membuat rangkaian komunikasi yang intens mencerminkan rasa kasihsayang antara dua orang manusia yang berlainan jenis.

tu kurang lebih satu tahun. Pada saat itu, rasa cinta bergulat dengan logika. Cinta tidak selamanya indah ketika perasaan bercampur logika. Bisa jadi akan terjadi kesenjangan komunikasi antara kedua pasangan hingga lahir perselisihan. Perselisihan itu sendiri adalah komunikasi yang sarat dengan pesan-pesan evaluasi dan sikap-sikap egoistis. Bila itu terjadi maka salah satu pasangan harus mengalah demi pasangannya. Di sini memang ada pengorbanan. Pengorbanan akan serasa berat apabila tidak didasari dengan keikhlasan. Di sinilah diperlukan adanya humanitas yang kuat pada diri seseorang yang memungkinkan Permasalahannya kemudian, penga- adanya komunikasi yang menjembataruh zat-zat kimia ini sifatnya tidak aba- ni perselisihan. di karena lama kelamaan tubuh akan menjadi kebal. Sehingga dalam kondisi Adapun faktor-faktor yang seperti ini dibutuhkan zat kimia yang membuat hubungan tetap serasi , jumlahnya besar untuk mendapatkan yaitu: reaksi fisik yang sama. Terjadilah fenomena timbulnya siklus rasa cinta ter- 1. Tetap terlibat satu sama lain. hadap pasangan seseorang. Hubungan dalam hidup berdampingan secara damai akan terjaga Selain keterlibatan zat kimia semacam manakala kedua pihak tetap teramphetamine, zat endorphin yang libat satu sama lain dan bekerja dihasilkan otak juga berpengaruh bebersama-sama dengan suatu kesasar dalam menimbulkan rasa cinta daran. Terkadang ada dan terjadi yang lebih tenang dan sifatnya lebih hubungan yang kelihatannya stabil langgeng. Rasa cinta ternyata juga di permukaan, namun karena kumelibatkan sejenis hormon bernama rangnya keterlibatan dan komunioksitosin yang dihasilkan oleh otak, kasi yang berjarak, di sanalah terjayang memberi rasa tenang serta mendi hubungan semu. Suatu saat bisa dorong tercapainya kepuasan fisik. terjadi ledakan hebat dan memHormon oksitosin tersebut akan hiporakporandakan sebuah hubunlang seiring dengan berjalannya wakgan, yang sebenarnya tidak perlu
134
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

terjadi. Membangun hubungan cinta yang sehat dan kuat dapat menjadi faktor penentu dalam hidup berdampingan dengan sesama. Membangun hubungan yang baik dengan siapa saja merupakan investasi. Semakin banyak investasi yang ditanam, semakin kuatnya jati diri seseorang 2. Berterus terang. Hidup berdampingan tidak harus berpura-pura; sesuatu yang terjadi seakan-akan tidak terjadi. Pasangan yang serasi adalah pasangan yang dapat berbicara seapa adanya disampaikan dengan tenang, sementara yang lain mungkin menyampaikannya dengan suara yang tinggi dan bergairah dan pesannya yang keluar merupakan hal yang tidak setujui. Kunci dalam hubungan yang

kuat ini: tidak boleh takut konflik. Sampaikan atau ungkapkan hal-hal yang mengganggu tanpa merasa takut akan pembalasan, dan selesaikan konflik tanpa penghinaan, degradasi atau bersikeras untuk menjadi yang benar. 3. Jangan teralu banyak berharap. Jika berharap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan 100% dalam sebuah hubungan, pasti akan kecewa karena tidak akan mungkin terwujud. Tidak ada satu orang pun yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita, dan mengharapkan terlalu banyak dari seseorang dapat menempatkan banyak tekanan yang tidak sehat pada suatu hubungan. Memiliki teman-teman dan kepentingan luar tidak hanya memperkuat jaringan sosial, tetapi
Vol1 No2 Maret 2010

135

PSIKoLoGI KoMUNIKASI

juga membawa pemahaman baru dan stimulasi ke hubungan juga. 4. Berkomunikasi. Jujur, komunikasi langsung adalah bagian penting dari setiap hubungan. Ketika kedua orang merasa nyaman mengekspresikan kebutuhan mereka, ketakutan dan keinginan, kepercayaan dan ikatan diperkuat. Penting untuk komunikasi nonverbal-isyarat bahasa tubuh seperti kontak mata, membungkuk ke depan atau menjauh, atau menyentuh lengan seseorang. 5. Jangan pernah berhenti berkomunikasi. Komunikasi yang baik adalah bagian mendasar dari sebuah hubungan yang sehat. Ketika orang berhenti berkomunikasi dengan baik, mereka berhenti berhubungan dengan baik. Selama kita berkomunikasi, tentu dapat bekerja tentang masalah apa pun yang kita hadapi. Banyak komunikasi yang dapat sampaikan tanpa harus kita katakan. Isyarat nonverbal seperti kontak mata, membungkuk ke depan atau menjauh, menyentuh lengan merupakan cara seseorang berkomunikasi yang jauh lebih bermakna daripada kata-kata. Untuk hubungan kerja dengan baik, setiap orang harus dapat mengirim dan menerima isyarat-isyarat nonverbal. Belajar untuk memahami ”bahasa tubuh” dapat membantu
136
Vol1 No2 Maret 2010

memahami lebih baik apa yang ingin dikatakan oleh setiap pasangan. Hubungan yang sehat dibangun di atas kompromi. Namun, dibutuhkan suatu suatu kearifan pada masing-masing pasangan untuk memastikan bahwa ada komunikasi yang masuk akal.
* Penulis adalah Dosen Psikologi Media, Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta

PSIKoSINEMA

genosida rwanda 1994

dalam kajian Psikologi kelompok

—tinjauan analitis terhadap Film “Sometimes in april”

Juneman, s.Psi.

Esai ini dimulai dengan sinopsis film, dua kerangka teoritis besar yang digunakan untuk menganalisis film Sometimes in April, yakni Teori Perilaku Kolektif dari Smelser, serta Teori Identitas Sosial dan Kategorisasi Diri dari Tajfel dan Turner, analisis, dan diakhiri dengan kesimpulan, refleksi, dan saran. Penulis menggunakan pendekatan analisis dinamika yang secara simultan mengintegrasikan penekanan variabelvariabel teoretis di dalam analisis tersebut. Esai ini meninjau genosida April 1994 di Rwanda dengan perspektif psikologi kelompok. Dua buah posisi dasar tulisan ini adalah bahwa pertama, faktor-faktor psikokultural dan psikopolitik merupakan faktor yang penting dalam terjadinya genosida. Jadi, esai ini hendak menepis anggapan bahwa genosida di Rwanda April 1994 merupakan permasalahan permusuhan antar-suku. Seluruh esai ini menunjukkan bahwa tribalisme Hutu lawan Tutsi (sebagaimana pandangan

Pendahuluan

umum dan dilansir kebanyakan media massa) bukan pokok persoalannya. Di samping itu, kedua, esai ini juga mengambil posisi bahwa genosida 1994 bukanlah kejahatan karena kebencian (crime of hate) sebagaimana pandangan umum; melainkan genosida tersebut merupakan peristiwa kejahatan identitas (crime of identity).

Sinopsis Sometimes in April

Isi film Sometimes in April adalah genosida orang Rwanda yang membunuh lebih dari 800.000 orang pada 1994. Augustin, seorang Hutu, dan keluarganya mencoba untuk mencari jalan setelah terjadinya serangan yang memuncak setelah pesawat Presiden Habyarimana ditembak jatuh. Honoré, saudara kandung Augustin dan anggota partai Hutu Power, merupakan seorang jurnalis radio yang menginspirasikan orang-orang Hutu untuk membunuh “cecunguk” (cockroach) Tutsi. Hal yang rumit adalah adanya fakta bahwa Augustin menikah dengan seorang Tutsi
137

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoSINEMA

yang ingin disingkirkan oleh kelompok Hutu garis keras. Guna menyelamatkan istri dan anak-anaknya, Augustin memohon kepada saudara kandungnya, Honoré, untuk menggunakan selebritasnya untuk menolong mereka menghindari roadblocks (penghadang jalan) dan mencari tempat berlindung yang aman. Honoré, istri Augustin dan anak-anaknya serta seorang tetangga meninggalkan Augustin dan temannya, melewati roadblocks yang dibuat oleh orang-orang Hutu yang mabuk dan memegang senjata otomatis serta pisau besar. Namun Honoré diberhentikan oleh Tentara ofisial roadblock. Honoré mencoba untuk menggunakan popularitasnya namun ternyata tidak efektif. Mobil yang digunakan Honoré diserang, dan nasib istri Augustin dan anak-anaknya selanjutnya tidak diketahui. Film juga menampilkan perjalanan Augustin menuju ladang pembantaian Kigali tahun 1994 dan juga pergulatan batinnya apakah akan pergi ke Tanzania untuk mengikuti pengadilan saudaranya, Honoré. oleh karena Augustin penasaran akan nasib istri dan anak-anaknya, Augustin akhirnya pergi juga ke pengadilan tersebut. Namun demikian, prosiding pengadilan tidak memuaskan Augustin; malah membuat ia frustrasi. Seorang teman dengan nada bijaksana menyatakan pada Augustin bahwa adanya pengadilan ini adalah lebih baik daripada tidak ada pengadilan sama sekali, bahwa
138
Vol1 No2 Maret 2010

orang Rwanda membutuhkan sesuatu untuk memulihkan mereka dari luka dan bergerak melintasi tragedi genosida. Augustin memang frustrasi dan meragukan bagaimana mungkin pengadilan yang terdiri atas kirakira 80 orang, sepuluh tahun setelah terjadinya genosida, sungguh-sungguh akan mampu menolong mereka yang telah kehilangan semua hal untuk dapat memaafkan. Honoré, saudara kandung Augustin, yang ditahan dan diadili karena kejahatan perang, merupakan host radio populer RTLM (radio yang populer di Rwanda sebelum dan setelah genosida). Sampai dengan Genosida April 1994, RTLM menyiarkan secara konstan komentar-komentar yang menggambarkan ketidakadilan yang ditimbulkan terhadap orang Hutu oleh “cecunguk” Tutsi. Kekuatan dari stasiun radio ini sangat nyata nampak sepanjang film ini. Pemimpin Hutu garis keras, oleh karena mengerti potensi radio ini sebagai sarana komunikasi massa, membagi-bagikan secara gratis radio kepada semua orang Hutu guna memastikan bahwa semua orang Hutu dapat mendengar pesan yang sama dan memperoleh informasi yang sama. Tidak ada radio lain yang memberikan perspektif yang berbeda. Film ini juga memperlihatkan perjalanan Martine, seorang guru di sebuah sekolah Katolik di mana anak perempuan Augustin, Anne-Marie bersekolah.

PSIKoSINEMA

Perjalanan Martine menunjukkan pergulatan berhadapan dengan senjata demi senjata dan menemui perjumpaanperjumpaan yang mengerikan. Film ini juga menampilkan respons pemerintah Amerika Serikat, dalam hal mana mereka tidak ingin terlibat. Namun demikian, politik dan hukum internasional serta menguatnya peristiwa genosida memaksa aksi AS untuk terlibat dalam intervensi. Menariknya, terdapat episode di mana Assistant Secretary of State mengancam pemimpin Tentara Rwanda dengan “konsekuensi” apabila mereka tidak mengakhiri pembunuhan, yang direspons secara kalem, “Rwanda tidak memiliki minyak, mineral; kami tidak memiliki apa-apa yang Anda inginkan”. Hal ini menunjukkan bahwa AS sebagai sebuah negara pada dasarnya sebenarnya memang tidak memiliki interest untuk terlibat dalam situasi di Rwanda. Pada akhir film, terdapat pesan bahwa pada tahun 2004 hanya kira-kira 20 orang yang telah dihukum oleh UN International Criminal Tribunal for Rwanda.

Teori Value-Added dari Smelser

N. J. Smelser dalam bukunya Theory of Collective Behavior (1963) mengemukakan enam prasyarat (determinan) yang secara bertahap harus dipenuhi untuk terjadinya suatu perilaku massa. Secara logis (walaupun

tidak selalu harus secara kronologis) keenam prasyarat itu berurutan. Artinya, pertama sekali diperlukan adanya determinan pertama terlebih dahulu. Selanjutnya, determinan kedua menambah nilai (value added) determinan pertama, determinan ketiga menambah nilai determinan pertama dan kedua, dan seterusnya, sehingga pada akhirnya terjadilah kumulasi nilai pada determinan keenam, sehingga meletuslah aksi massa itu. Keenam determinan itu berturut-turut adalah sebagai berikut: Pertama, situasi yang memungkinkan timbulnya aksi massa (social/structural conduciveness) yang disebabkan oleh struktur sosial tertentu, seperti tidak adanya sistem tanggung jawab yang jelas dalam masyarakat, tidak adanya saluran untuk mengungkapkan kejengkelankejengkelan, adanya sarana untuk saling berkomunikasi antar mereka yang jengkel itu; kelompok minoritas yang menyolok mata kelompok mayoritas, pelanggaran yang tidak dihukum, peliputan oleh media massa, dsb. Kedua, ketegangan/keresahan/ tekanan (structural strain) atau deprivasi relatif (bila memakai konsep Gurr) yang relatif kronis yang dirasakan sejumlah besar anggota masyarakat (kelompok besar atau massa), misalnya: perasaan miskin, diperlakukan diskriminatif, pengangguran, biaya hidup dan pendidikan yang mahal, banyaknya pelanggaran nilai dan norma. Strain dapat muncul ketika pengetahuan baru secara tiba-tiba memungkinkan
Vol1 No2 Maret 2010

139

PSIKoSINEMA

orang untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya selalu didambakan, namun sebelumnya mustahil karena tidaknya pengetahuan/keterampilan yang dibutuhkan. Strain itu sendiri tidak cukup untuk mencetuskan kerusuhan. Akan tetapi, determinan ini menambah ”nilai” yang sudah ada pada determinan pertama sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya kerusuhan. Ketiga, berkembangnya keyakinan yang meluas (generalized belief), opini/ keyakinan publik, yang mencakup tentang (a) diagnosis mengenai kekuatan-kekuatan dan agen-agen yang menyebabkan strain itu, (b) keyakinan mengenai sebuah program, yang apabila dilembagakan/dilakukan, akan menghapus/meniadakan sumber/ penyebab strain. Misalnya, keyakinan bahwa tindakan masal dapat mengubah situasi sesuai kehendak. Keempat, faktor pencetus (precipitating factor), yaitu peristiwa tertentu yang mengawali atau memicu suatu kerusuhan. Pemicu ini sulit diterka, dapat terjadi sewaktu-waktu, dan sumbernya sering tidak jelas; misalnya pernyataan politik tertentu, petisi masal, peristiwa pemukulan guru agama oleh oknum polisi (di Tasikmalaya), penusukan tukang becak oleh pemuda China (Solo, 1980), perselisihan antara pengikut almarhum Kyai As’ad dan keponakannya (Situbondo). Kerusuhan Sanggau Ledo, di Kalimantan Barat, misalnya, dipicu oleh kecemburuan seorang pemuda Madura, sebab pacarnya diajak menari oleh seorang
140
Vol1 No2 Maret 2010

pemuda Dayak dalam suatu pesta pernikahan (J.E. Wawa, dalam Kompas, 2001). Kelima, mobilisasi massa untuk beraksi (mobilization for action), yaitu adanya tindakan nyata dari massa mengorganisasikan diri mereka untuk bertindak. Keenam, kontrol sosial, yaitu kemampuan aparat keamanan dan petugas untuk mengendalikan situasi dan menghambat kerusuhan. Determinan ini merupakan determinan lawan dari determinan-determinan sebelumnya. Semakin kuat determinan kontrol sosial ini, semakin kecil kemungkinan meletusnya kerusuhan.

Teori Identitas Sosial dan Kategorisasi-Diri dari Tajfel dan Turner
Meskipun Tajfel (1970) meletakkan dasar-dasar teori identitas sosial 40 tahu yang lalu, pengaruhnya meningkat secara dramatis dalam dasawarsadasawarsa terakhir. Sementara psikologi sosial diwarnai dominan dengan topik stereotip dan prasangka, gagasan bahwa orang merepresentasikan dirinya dan orang lain dalam berbagai tingkatan telah membantu untuk menjelaskan sejumlah pola perilaku yang dahulunya membingungkan. Teori identitas sosial dan turunannya, teori kategorisasidiri (Turner, 1985) menyatakan bahwa orang merepresentasikan dirinya dan orang lain dalam berbagai level berdasarkan idenya tentang keanggotaannya dalam kelompok. Teori

PSIKoSINEMA

identitas sosial menyatakan bahwa orang memiliki identitas yang multipel, mulai dari sebagai individu unik sampai dengan anggota dari berbagai kelompok. Turner mengambil gagasan ini dan memformalisasikannya dalam terminologi kategorisasi. Hampir sama seperti kita mengategorikan objek-objek, maka kita juga mengategorisasikan orang-orang, termasuk diri kita sendiri. Kelompok (dalam mana kita menjadi anggotanya) membentuk basis-basis kategorisasi yang kita gunakan untuk mengidentifikasi orang lain dan diri kita sendiri. Meskipun motivasi di balik kategorisasi semacam itu masih tidak dapat dipahami secara penuh, dua hal yang sementara ini dianggap mampu menjelaskannya dan memperoleh sejumlah dukungan empiris adalah peningkatan harga diri (self-esteem enhancement) (Tajfel & Turner, 1979) serta reduksi ketidakpastian (uncertainty reduction) (Hogg & Mullin, 1999). Sebagai contoh, menjadi anggota sebuah tim pertandingan yang menang (winning team) membuat seseorang menjadi pemenang (winner). Jadi, aspek positif dari sebuah kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan perasaan berharga seseorang. Di samping itu, dalam situasisituasi di mana kita tidak pasti mengenai kelayakan atau ketepatan perilaku kita, identitas kelompok dapat membantu untuk mengurangi ketidakpastian itu. Definisi/batasan-batasan kelompok dan norma-norma kelompok dapat

digunakan untuk memandu persepsi dan perilaku ketika petunjuk-petunjuk situasional tidak ada (absen) atau ambigu. Brewer (1991) menyatakan bahwa kita memiliki motif baik untuk sesuai, menjadi bagian dari orang-orang lain (belonging) maupun untuk berbeda dari orang-orang lain (distinctiveness). Ada pertukaran dialektis antar motifmotif ini yang memandu ketika kita melihat diri kita sebagai anggota dari sebuah kelompok atau sebagai individu unik. Aspek tambahan lain dari orientasi teoretis SIT (teori identitas sosial) adalah bahwa perbandingan kelompok (group comparisons) berfungsi baik untuk mengaktifkan identitas kelompok maupun mengklarifikasikan identitas kelompok. Guna mengetahui apa (atau siapa) kelompok kita sesungguhnya, sangatlah membantu untuk mengetahui apa (atau siapa) yang bukan kelompok kita. Memiliki sebuah outgroup dengan siapa kita membandingkan ingroup kita akan membantu untuk mengklarifikasikan proses kategorisasi. Dengan demikian, kategorisasi level-kelompok menjadi lebih lazim terjadi (prevalensi lebih tinggi) dalam situasi-situasi antarkelompok. Sekali kategori-kategori level-kelompok teraktivasi, anggotaanggota kelompok mencoba untuk mendiferensiasikan/membedakan kelompok mereka dari kelompok perbandingan. Sekali lagi, dimotivasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan
Vol1 No2 Maret 2010

141

PSIKoSINEMA

harga diri (self-esteem), hampir semua perbandingan antarkelompok cenderung untuk menguntungkan ingroup, menempatkan outgroup pada dimensi komparasi yang lebih negatif. Teori kategorisasi-diri juga menyatakan bahwa anggota-anggota kelompok berupaya untuk memposisikan diri mereka lebih dekat ke mayoritas anggota “prototipikal” dari kelompok. oleh karena hampir semua anggota prototipikal dari kelompok cenderung menjadi anggota yang paling berbeda dari outgroup, hal ini menimbulkan posisi-posisi atau sikap-sikap yang lebih ekstrim oleh anggota-anggota ingroup ketika konteks intergroup (antarkelompok) dibuat menonjol (salient).

Analisis

Media membuat stereotip tentang genosida, hampir sesaat setelah pembunuhan demi pembunuhan April di Rwanda terjadi. Media menyebutnya “suku-suku yang bertengkar tak habishabisnya” (feuding tribes). Misalnya, beberapa hari setelah genosida berlangsung, Reuters menyebutnya “perkelahian berusia panjang antara mayoritas Hutu dan minoritas Tutsi” (dalam Longman, 1995). The New York Times menyebutnya “perang kesukuan” (tribal warfare) yang berasal dari “pertengkaran berabad-abad” (dalam omaar & de Wall, 1995). Implikasi dari pernyataan tersebut adalah: persoalan disederhanakan sebagai peristiwa di mana orang-orang Tutsi dan Hutu
142
Vol1 No2 Maret 2010

saling membunuh satu sama lain ketika mereka memiliki peluang dan mampu melakukan; kebencian/permusuhan mereka bersifat bebuyutan (ancient), keras (violent), sebanding (equivalent), dan tak dapat dikoreksi lagi (incorrigible). Dengan perkataan lain, analisis tersebut menyatakan bahwa ada kebencian yang tak dapat direpresi/ditekan lagi di antara musuh-musuh bebuyutan (Hutu dan Tutsi). Tanggul represi ini jebol dan selanjutnya meledak sebagai kekerasan katastrofik pada 7 April 1994, sehari setelah Presiden Rwanda (orang Hutu), Habyarimana meninggal dalam peledakan pesawat. [Penembakan ini merupakan Determinan Keempat, PRECIPITATING FACTOR, Teori Smelser]. Disebutkan dalam media bahwa hampir semua pelaku pembunuhan pasca peledakan pesawat Presiden adalah para petani Hutu yang secara spontan membunuh tetangga-tetangga Tutsi mereka. Pernyataan ini selanjutnya berimplikasi bahwa karakter orang Rwanda ditenun oleh air mata kolektif. Sejumlah ahli juga menyatakan bahwa orang-orang Rwanda memiliki karakter yang dikondisikan oleh “dinamika sosial otoritarian”, yang disebut sebagai “dehumanisasi total terhadap orang lain (dalam hal mana orang lain/Tutsi dianggap setan) serta legitimasi absolut pada otoritas”. Dengan perkataan lain, menurut penggambaran media, orangorang Rwanda, baik dalam kelompok Hutu maupun dalam kelompok Tutsi, nampaknya “menginginkan adanya pembantai-pembantai”.

PSIKoSINEMA

Klaim tersebut sesungguhnya keliru. Meskipun otoritarianisme dan sejenis kuasi-etnosentrisme berkontribusi terhadap genosida, banyak orang Rwanda bukanlah kedua-duanya pada dasarnya (otoritarian maupun etnosentris). Namun, lebih tepatnya, kebangkitan gerakan otoritarian lah yang mendorong rezim saat itu kepada kekerasan ekstrim pertama kalinya. Jadi guna memahami genoside, semua faktor yang relevan harus dipertimbangkan: antiotoritarianisme dan otoritarianisme, kelas dan etnisitas, kultur dan politik. Genosida April terbukti sebagai peristiwa kompleks yang mengejutkan. Sumber peristiwa tersebut secara spesifik bersifat modern, jauh dari “tribalisme” dan “kebencian primordial”. Meskipun ada pemisahan Tutsi-Hutu, namun pemisahan itu bukan sungguh-sungguh pemisahan “etnik” dan bukan pemisahan final. Utamanya, pemisahan tersebut merupakan

sebuah konstelasi dari faktor-faktor sosiopolitis dan psikokultural yang mendasarinya. Mengapa? Sebab, pada kenyataannya, banyak orang Hutu dan Tutsi yang bersama-sama melawan para pembunuh dari mayoritas Hutu. Banyak orang Hutu yang mengambil risiko untuk menyelamatkan teman-teman dan tetangga mereka yang merupakan suku Tutsi. Banyak orang Hutu yang menolak untuk diperintah membunuh orang Tutsi, lalu orang Hutu itu dibunuh (aktual atau pun potensial, sebagaimana ditunjukkan episode Augustin disuruh membunuh kawannya) karenanya oleh sesama Hutu. Intensitas kekerasan sangat bervariasi di wilayah-wilayah yang berbeda. orang-orang oposan Pemerintah merupakan korban-korban pertama genosida. Yang menimbulkan tanda tanya: mengapa banyak orang, termasuk orang awam Rwanda, yang mengikutkan diri dalam pembantaian? Banyak orang Tutsi dibunuh semata-mata karena mereka adalah orang Tutsi, meskipun orang Tutsi dan Hutu secara umum sangat mirip satu sama lain. Masing-masing kelompok Hutu dan Tutsi utamanya terdiri atas para petani/ peternak miskin yang menikahi sanak keluarganya sendiri (intermarry), tinggal
Vol1 No2 Maret 2010

143

PSIKoSINEMA

tersebar bersama pada bukit/gunung yang sama, nampak sama, memiliki kultur bersama, dan memanen serta memelihara lembu yang sama. Tidak ada satu pun dari kelompok orang Tutsi maupun Hutu yang merupakan orang-orang fanatik suku (tribal) selama berabad-abad. Sebelum abad ini, antagonisme antara Hutu dan Tutsi itu jarang (kata ”etnis” tidak begitu mengental maknanya). Sepanjang sejarah, Rwanda merupakan masyarakat tri-etnis yang damai (Hutu, Tutsi, Twa); ketiganya hidup koeksis secara damai. Meskipun demikian, terdapat sebuah bias yang mengambil wujud ”etnosentrisme” yang memainkan peran kunci dalam genosida. Etnosentrisme ini sedemikian mengental sehingga konsen diarahkan ke sana, dan mengaburkan konsen terhadap situasi politik-ekonomi yang mendominasi periode pra-genosida. Di sinilah terletak Paradoksnya. Pertanyaan utamanya: (a) mengapa orang Tutsi secara khusus menjadi objek hostilitas pada 1994?, dan (b) mengapa hostilitas ini berubah menjadi sangat mematikan?

Tulisan ini menawarkan dua penjelasan, yakni (1) faktor struktural dan (2) faktor psikokultural di seputar genosida April 1994. Faktor struktural berkenaan dengan konflik ”siapa melawan siapa”. Faktor psikokultural merupakan hal yang memengaruhi intensitas konflik (tingkat sejauh mana konflik menyebabkan Pemisahan Tutsi-Hutu dalam masyarakat amuk dan kekerasan. Dalam film, Rwanda merupakan contoh nyata
144
Vol1 No2 Maret 2010

nampak bahwa banyak faktor struktural yang krusial yang berkonvergensi dalam genosida, yang merupakan warisan dari masa pra-kolonial, kolonial, dan pascakolonial Rwanda. Faktor-faktor struktural ini misalnya perubahan strukturstruktur politik dan stratifikasi sosial, pemekerjaan paksa, pertumbuhan populasi yang mantap padahal dalam kondisi paceklik, kemiskinan, orangorang Rwanda (Tutsi) di Uganda menjadi kekuatan yang besar, invasi Rwandan Patriotic Front (RPF), tekanan PBB/ IMF, efek konflik di Burundi sebelum genosida April (di mana Pemerintah Tutsi secara keras menyerang oposisi Hutu), serta bangkitnya gerakangerakan akar rumput (arus bawah) melawan ketidakadilan stratifikasi baru. [Semua hal ini merupakan Determinan Pertama, SOCIAL/STRUCTURAL CONDUCIVENESS, Teori Smelser]. Faktor kultural menyertai faktor-faktor struktural itu. Misalnya, perubahan dalam struktur pemerintahan menyebabkan perubahan dalam struktur politik. Setiap transisi suksesi pemerintahan (dari Rwabugiri ke Musinga, penguasa Belgia, Parmehutu dan Habyarimana), terjadi kehilangan atau pemerolehan legitimasi. Yang lebih utama lagi, ikatan-ikatan religi dan kultur patrimonial yang dahulunya mengunifikasi (menyatukan) penguasa dengan warga sepenuhnya rusak atau berakhir.

PSIKoSINEMA

dari bergabungnya faktor struktural dan kultural. Di satu sisi, konflik TutsiHutu memang memiliki dimensi struktural yang berakar dalam sejarah. Namun demikian, pemisahan ini juga memperoleh energi psikologis dan kultural. Sesungguhnya, antagonisme Tutsi-Hutu pada tahun 1994 kurang memiliki akar struktural apabila dibandingkan dengan kebanyakan konflik lain yang terjadi di Rwanda pada awal-awal tahun 1990-an. Meskipun demikian, antagonisme tersebut justru menjadi tanda dan simbol dari genosida. Pembagian/pemisahan Tutsi-Hutu menjadi sedemikian akut yang memicu genosida. Inilah yang menjadi pertanyaan utamanya. Mengapa? Pemisahan Tutsi-Hutu adalah ”aneh”, karena, sesungguhnya ”Hutu” dan ”Tutsi” bukanlah terminologi kesukuan (tribal). ”Hutu” bukanlah satu kelompok tunggal yang unik (unique ethnic group) yang sudah ada sejak dulu; demikian pula ”Tutsi”. ”Tutsi” secara linguistik berarti ”pendatang” atau ”imigran” (Kagame, 1956), ”outsider” yang datang ke Great Lakes Afrika. Ketika para pendatang ini tiba di Great Lakes, mereka juga tidak lantas bertemu dengan orang ”Hutu”. Yang mereka temui adalah kelompok-kelompok besar petani yang tersebar. Para petani itu disebut ”Hutus” (etimologinya berarti ”penyewa/budak tanah”/”vassals”) ketika ditaklukkan oleh prajurit ”Tutsi” penggembala lembu, utamanya setelah abad ke-15 (Newbury, 1991). Jadi, Hutu dan Tutsi lebih merupakan terminologi

sistem kelas (class system) yang memposisikan orang yang kaya lembu di atas budak tanah (pembayar pajak tanah), sehingga lebih mengandung muatan kualitas politik-ekonomi, bukan muatan etnisitas/rasial. Bahkan, Hutu dapat di-”Tutsi”-kan melalui proses ”deHutuisasi” (Kagame, 1972). Sejak raja Gahindiro memerintah di abad ke-19, relasi kelas menjadi paralel, di mana ada dua otoritas, yakni ”pemimpin tanah” (orang-orang kaya Hutu) dan ”pemimpin lembu” (orang-orang Tutsi); namun pemimpin tanah menjadi kaya karena pajak, upeti serta kekuasaan di atas Tutsi. Pada tahun 1916, Belgia, sepeninggal Jerman, menguasai Rwanda. Belgia lah yang menggagas bahwa Hutu dan Tutsi secara elementer berlawanan, bukan hanya secara sosial melainkan juga secara rasial. Hutu-Tutsi yang semula adalah klasifikasi/kategorisasi kelas sosial, lalu diubah menjadi klasifikasi sosial dan rasial. Tutsi sebagai ”Kaukasian perunggu” (bronze Caucasians) ditempatkan oleh penguasa Belgia di atas Hutu (yang semula adalah petani Bantu). Jadi, ada politik apartheid yang diterapkan Belgia. Semua hak orang Hutu disangkal. Belgia sendiri sesungguhnya tidak memiliki basis ”rasial” yang dapat diandalkan untuk kebijakan apharteid ini. Yang dipakai sebagai “kriteria Tutsi” adalah orang-orang yang memiliki sepuluh atau lebih lembu. Terjadilah eksploitasi, pemekerjaan paksa, dan pengambilan keuntungan terhadap
Vol1 No2 Maret 2010

145

PSIKoSINEMA

petani Hutu. Padahal Hutu mayoritas di Rwanda. Sementara itu, orang-orang kaya Tutsi menikmati privilise berupa pendidikan, presitise, dan kesejahteraan materi. Terjadilah ketidakadilan (injustice) yang dipersepsi Hutu. Dengan demikian, terdapat fenomena polarisasi antarkelompok Tutsi-Hutu. Polarisasi ini pada gilirannya berimplikasi pada konflik-konflik baru, yang sebelumnya jarang terjadi. Pada 1959, Belgia memberikan kekuasaan kepada Hutu yang merupakan penduduk mayoritas Rwanda. Mengapa? Hal ini karena otoritas Belgia sebenarnya berupaya mematahkan keinginan orang-orang elit Tutsi yang mendesak meminta kemerdekaan segera dari Belgia. Dimulailah dekade segregasi anti-Tutsi yang melembaga. Ratusan dari ribuan orang-orang Tutsi yang kaya (dan juga orang moderat Hutu) dibuang/ diasingkan oleh chauvinist/ekstrimis Hutu. Namun demikian, sampai kira-kira hampir 20 (dua puluh) tahun ke depan, kehidupan di Rwanda cukup harmonis antara Hutu dan Tutsi. Meskipun dalam keharmonisan itu, Tutsi menjadi warga kelas dua; kekayaan dan kekuasaan terletak di tangan penduduk mayoritas Hutu. Keharmonisan itu bertahan hingga pada 1988, pengungsi Tutsi membentuk gerakan perlawanan untuk merebut kembali tanahnya, dengan mendirikan Rwandan Patriotic Front (RPF).
146
Vol1 No2 Maret 2010

Pada 1990, dari Uganda, RPF Tutsi meluncurkan serangan ofensif melawan rezim Hutu, yang berhasil distop oleh dukungan militer Perancis dan Belgia. Namun demikian, siklus perang dan pembantaian berlanjut hingga 1993, PBB menegosiasikan perjanjian pembagian kekuasaan (power sharing) antar kedua belah pihak. Peristiwa ini dipandang berawal dari krisis legitimasi akut yang diderita oleh pemerintah Rwanda (yang dipegang orang Hutu). Krisis legitimasi akut ini sebenarnya bersumber dari dipertanyakannya akuntabilitas publik Pemerintah Rwanda saat itu, dalam hal mana pemerintahan Presiden Habyarimana dipandang sebagai pemerintahan yang hanya melayani diri sendiri, menyebabkan krisis kopi, paceklik, sehingga menyebabkan pemerintahan dipaksa menerima program IMF PBB dengan devaluasi mata uang Franc Rwanda sebanyak 40%. orang miskin semakin menderita, kelaparan, kehilangan rumah, serta sakit tanpa perawatan. [Semua hal ini merupakan Determinan Kedua, STRUCTURAL STRAIN, Teori Smelser]. Lingkar pemerintah Presiden Habyarimana sendiri tidak solid. Sementara itu, gerakan dan tekanan arus bawah semakin gencar (sebagai hasil dari KERESAHAN STRUKTURAL). Terjadi kecemasan masal, sehingga praktis sepanjang 1989-1994 rezim Habyarimana harus berupaya mempertahankan legitimasi dalam krisis ini, dan ditempuhlah jalan genosida (setelah dipicu oleh kematian

PSIKoSINEMA

Presiden dalam penembakan pesawat). Penjelasannya dari sisi politis dan sosiohistoris; bahwa untuk melindungi kekuasaannya, ekstrimis Hutu garis keras menolak implementasi perjanjian power sharing Hutu-Tutsi serta merencanakan satu dari genosida yang paling menyeramkan dalam sejarah. Yang menimbulkan pertanyaan: Di samping keharmonisan Hutu-Tutsi sampai kira-kira dua dasawarsa; namun ketika genosida dimulai, banyak orang awam Rwanda yang ikut dalam pembantaian. Mengapa? Sebagian jawabnya dapat ditarik ke relasi-relasi yang tidak menyenangkan pada era kolonial, sebagaimana dijelaskan di atas. Kendati demikian, relasi-relasi ini merupakan ingatan/memori kolektif lama yang kemungkinan sudah memudar di tahun 1993. Jadi, tentulah ada permasalahan lain yang jauh lebih nyata/riil dan segera di seputar waktu genosida. Memang benar bahwa pernah ada stereotip kelas dan etnis/ rasial yang menyebut orang Tutsi sebagai ”setan” (evil) atau ”cecunguk” (cockroach). Namun, pertanyaannya, mengapa banyak sekali orang Rwanda (Hutu) ingin sekali mengusir ”setan penguasa masa lalu”? Jawabnya antara lain adalah karena terdapatnya faktor-faktor struktural, sebagaimana disebutkan sebelumnya di atas. Namun demikian, faktorfaktor struktural tidak akan melahirkan suatu genosida, kecuali orang telah dikondisikan untuk membenci orang

Tutsi. Masalahnya adalah, mengapa ”etnisitas” yang menurut sejarah tidak terlalu kentara lalu berkembang menjadi etnosentrisme? Jawabannya adalah karena faktor psikokultural. Faktor-faktor psikokultural tersebut antara lain propaganda, proyektivitas seksual, aspek-aspek religi tradisional, otoritarinisme dalam pengasuhan anak, kondisi anomi bagi para pemuda yang tak memiliki pekerjaan dalam di wilayah urban/kota. Kombinasi dari faktor-faktor ini lah yang memacu genosida April. Propaganda dilakukan melalui radio. Radio-Télévision Libre des Mille Collines (RTLM), milik ekstrimis Hutu, menyebut orang Tutsi sebagai ”cecunguk” (social labeling), menyalahkan RPF, oposisi pemerintah. RTLM saat itu merupakan jejaring radio resmi yang menjadi sumber pengetahuan mengenai dunia bagi para petani Rwanda (dalam film tersebut, nampak bahwa kebanyakan dari penduduk memiliki radio). Hal yang dikatakan oleh radio merupakan hal yang didengar oleh para petani. Yang dikatakan oleh radio adalah kekasaran, kekerasan, lelucon, yang bersifat anti-Tutsi. Tutsi digemborgemborkan sebagai pembantai orangorang Hutu yang tak berdosa. Radio memprograndakan terus bahwa temanteman, tetangga, bahkan keluarga yang merupakan orang-orang Tutsi tidak boleh dipercaya, tidak boleh ditoleransi. Bahwa orang-orang Tutsi, secara aktual maupun potensial, merupakan pengkhianat (traitors) dan pembunuh
Vol1 No2 Maret 2010

147

PSIKoSINEMA

massa. [Semua hal ini merupakan Determinan Ketiga, GENERALIZED BELIEF, Teori Smelser]. Pernyataan ini dipaparkan berulang-ulang. Meskipun tidak semua penduduk Rwanda meyakini hal yang disebut radio, namun ini dipandang sebagai penanaman emosi negatif kepada orang Tutsi (outgroup-nya Hutu). Propaganda ini cukup berhasil memfasilitasi terjadinya genosida karena dilakukan melalui media sebagai jejaring sosial (social network, communication network), di mana sejumlah pendengar sebagai simpul (nodes) dan gagasan/ideologi RTLM tersebar atau tertular sangat cepat. Mengapa disebut ”memfasilitasi” (facilitating, reinforcing)? Sebab, sebenarnya, RTLM tidak akan sepopuler itu tanpa sebelumnya sudah terdapat ketegangan dan kemarahan di antara penduduk Rwanda. RTLM menguatkan tensi sosial dengan komentar seperti, “Masses, be vigilant (Waspadalah!) - Your property is being taken away. What you fought for in ’59 [period of decolonization] is being taken away.” Faktor kedua adalah kecemburuan seksual proyektif. Banyak propaganda dan banyak kesaksian pribadi menunjukkan bahwa perempuan Tutsi merupakan fokus fantasi seksual yang bersifat kekerasan. Perempuan Tutsi disebut-sebut dalam propaganda sebagai perempuan yang unik kecantikannya, mengundang hasrat, namun juga sombong dan sudah didekati. Padahal, kenyataannya, orang Tutsi (baik pria maupun
148
Vol1 No2 Maret 2010

perempuan) seringkali menikahi orang Hutu juga (seperti Augustin-Hutu dan Jeanne-Tutsi). Namun, banyak perempuan Tutsi diperkosa dengan tuduhan proyektif yang demikian. Pelaku memproyeksikan/melempar kesalahannya pada perempuan Tutsi. Simak Episode: Perempuan korban pemerkosaan bersaksi di Pengadilan/ Tribunal. Dalam religi tradisional (yang masih hidup di Rwanda, bahkan di antara orang Katolik ortodoks), kematian jarang dipandang sebagai sesuatu yang penyebabnya natural. Sebagaimana dalam banyak kultur Afrika Timur, kematian orang Rwanda seringkali diatribusikan sebagai keinginan jahat dari para musuh yang ”menyihir” korbannya hingga mati. Keyakinan ini membawa tiap-tiap orang takut akan peristiwa terburuk yang mungkin terjadi yang berasal dari musuh mereka, oleh karenanya orang dapat hidup dalam ketakutan itu (misal: Hutu menakuti Tutsi) atau menetralisasikan ketakutannya dengan penyerangan balik, pembalasan kepada yang ditakuti (Tutsi). [Semua hal ini merupakan Determinan Ketiga, GENERALIZED BELIEF, Teori Smelser]. Terdapat bukti sejumlah kasus, dalam hal mana penyerangan-penyerangan semacam itu bereskalasi menjadi pembantaian berskala besar dan menjadi kekerasan massa. Sebagaimana diungkap oleh Hamelink (2008), bahwa di Rwanda “ordinary people turned into crazed

PSIKoSINEMA

killing machines – because they were made to believe that a dangerous and hideous enemy lived next door.” orang awam dapat berubah menjadi mesin pembunuh yang mematikan karena adanya keyakinan mengenai adanya musuh yang berbahaya serta adanya efikasi bersama bahwa mereka perlu dan dapat dimusnahkan. Para orang awam pelaku genosida juga didorong oleh impuls otoritarianisme buta untuk mematuhi pemimpin mereka. “Sebuah perintah lebih berat daripada batu” (omaar & de Waal, 1995). Antiotoriatrianisme dan otoritarianisme sama-sama tersebar luas di Rwanda. Sementara itu, kultur keluarga dalam pengasuhan anak yang bersifat dingin (cold), keras secara fisik maupun emosi, menyangkal afeksi anak, kasar cenderung secara signifikan lebih keras daripada norma masyarakat. Anak-anak yang diasuh dalam kultur yang demikian cenderung menjadi agresif luar biasa dan dapat berkelanjutan hingga dewasa. Signifikansi poin penjelasan ini adalah bahwa sentralisasi dalam keluarga (sebagaimana juga dalam keluarga Augustin) seringkali dipenuhi dengan ketegangan-ketegangan (tensi) yang tinggi, dan keluarga-keluarga di Rwanda, khususnya pada masa prakolonial, sangatlah tersentralisasi. Dengan demikian, kekakuan (rigiditas), adanya faksi-faksi dalam satu keluarga (seperti Augustin vs Honoré), dan konflik merupakan hal-hal yang normal dalam kondisi keluarga normal di

Rwanda. Keluarga-keluarga dalam kultur yang seperti itu menghargai anak-anak sebagai pembantu/pelayan, namun sangat menekankan kepatuhan terhadap otoritas (Kagitçibasi, 1996). Di atas telah dianalisis dinamika genosida Hutu-Tutsi dari pendekatan teoretis Smelser. Selanjutnya, akan dianalisis dinamika genosida dengan menggunakan teori identitas sosial dan kategorisasi diri (Tajfel dan Turner). Berbasiskan teori ini, genosida merupakan hasil ekstrim dari proses identitas sosial normal. Konsep identitas sosial merupakan konsep yang sangat krusial dalam menjelaskan setiap peristiwa genosida, termasuk genosida April di Rwanda. Genosida dalam konteks identitas sosial dipandang sebagai tindakan atau proses destruksi yang ditujukan pada kelompok orang yang didefinisikan secara abstrak. Dalam genosida, bisa terdapat banyak pelaku (perpetrators), namun aksi-aksi mereka dikoordinasikan untuk menyusun sebuah tindakan atau proses tunggal. Tindakan-tindakan destruktif ditujukan kepada individu-individu berdasarkan basis mereka (baik basis aktual maupun basis yang dipersepsikan) yang terkait asosiasi keanggotaan individu dengan kelompok kebangsaan, kelompok etnis, ras, religi, politik, sosioekonomis atau definisi-definisi abstrak kekelompokan lainnya. Kelompok korban genosida disasar dengan sengaja. Jadi, genosida merupakan suatu konsepsi ”destruksi/ penghancuran kelompok”. Genosida lebih merupakan kejahatan identitas
Vol1 No2 Maret 2010

149

PSIKoSINEMA

(crime of identity) ketimbang kejahatan kebencian (crime of hate) (Moshman, 2007). Penjelasan psikologis konvensional yang menerangkan genosida sebagai kejahatan kebencian, sebagaimana saya temukan dalam Piramida Kebencian (Hicks, 2006) berikut ini, adalah tidak memadai menurut teori identitas sosial.

dehumanisasi, dan kemudian destruksi (genosida) serta penyangkalan. Dikotomisasi (Kategorisasi) memberikan perhatian dimensi identitas ingroup / outgroup, dan membuat perbedaan dua kategori yang tajam, yaitu “kami” dan mereka”. Hal ini dapat membawa kepada dehumanisasi, dalam hal mana “mereka” dilihat tidak hanya berbeda dari “kita”, tetapi juga bahwa mereka berada di luar himpunan manusia. Destruksi selanjutnya dihasilkan dari dehumanisasi ini dan diiringi dengan penyangkalan yang memungkinkan pelaku genosida untuk memelihara harga diri atau konsepsi diri moral mereka. Sepanjang periode kolonial di awal abad ke-20, Belgia mengeksploitasi pembedaan tegas (distingsi) Hutu/ Tutsi untuk mengendalikan negara dengan memungkinkan orang Tutsi untuk mensolidkan dan meningkatkan dominasi tradisional mereka terhadap orang Hutu. Kartu identitas merupakan sesuatu yang wajib dimiliki dan mengklasifikasikan setiap orang sebagai Hutu atau Tutsi (atau Twa, 1% populasi). Dengan demikian, dimensi identitas ini berada di atas keragaman identitas lainnya dan men-dikotomisasi (kategorisasi)-kan populasi. Jauh sebelum genosida, orang-orang Rwanda dapat melihat diri mereka multipel identitas sebagai orang Rwanda, dan/ atau orang Hutu atau orang Tutsi, dan/atau orang yang berafiliasi dengan religi, profesi, partai politik, aktivitas,

Berdasarkan kerangka teori identitas sosial yang dipaparkan sebelumnya, mengenai kebutuhan belonging dan distinctiveness individu, maka genosida dilihat sebagai sebuah tindakan kelompok melawan kelompok namun tanpa melepaskan pengertian bahwa individu pun secara kausal dan moral bertanggungjawab terhadap aksi-aksi genosidal mereka. Premis dasarnya adalah bahwa cara melihat individu dalam relasinya dengan berbagai kelompok adalah cara melihat individu dengan pola-pola relasi sosial, afiliasi, peran, dan komitmen-komitmen yang unik. Jalur logis genosida berdasarkan SIT adalah bahwa sebuah proses dalam hal mana pilihan-pilihan identitas secara drastis menyempit menjadi dua, dan kemudian menjadi satu identitas, melalui proses-proses dikotomisasi,
150
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoSINEMA

ideologi, dsb, yang beragam. Apabila kita ambil sampel dua orang Rwanda secara acak, kita akan memperoleh secara umum bahwa mereka berdua adalah Katolik (warisan kolonial), menggunakan bahasa Kinyarwanda (bahasa prakolonial) dan sangat mungkin memiliki aspek-aspek identitas potensial lainnya juga. Jalur menuju genosida 1994 melibatkan pilihanpilihan yang terbatas. oleh karena ideologi Kekuatan Hutu disebarkan melalui radio dan sarana lain, orangorang Rwanda meningkatkan konsennya untuk melihat diri mereka dan orang lain sebagai pertama-tama dan utamanya Hutu atau Tutsi, sementara identifikasi lainnya menjadi sekunder. Pada awalawal terjadi genosida, korban genosida mencakup juga sepuluh (dari ribuan) orang Hutu Moderat yang dianggap oleh ekstrimis Hutu sebagai pengkhianat identitas Hutu. Dikotomisasi tidak harus meletakkan identitas kelompok seseorang di atas kelompok lain. Seseorang dapat meyakini bahwa orang-orang secara fundamental didefinisikan secara rasial tanpa harus meyakini bahwa suatu ras superior di atas ras yang lain. Namun, orang seringkali memiliki preferensi yang kuat untuk meletakkan identitas sosial tertentu di atas identitas sosial lain, khususnya yang menyangkut halhal yang dipertimbangkan sebagai set kategori yang paling mendasar. Dalam sejumlah kasus, identitas sosial yang dianggap inferior dapat secara aktif

distigmatisasi atau, lebih ekstrim lagi, didehumanisasi. Dalam dehumanisasi dan self-esteem enhancement, mereka yang dianggap sebagai anggota outgroup disangkal/direndahkan statusnya. Ketimbang dilihat sebagai anggota komunitas manusia dengan identitas individual, anggota-anggota outgroup dipandang sebagai unsurunsur subhuman, nonhuman, atau antihuman. Dalam periode jelang genosida 1994, orang Tutsi secara persisten digambarkan dalam metafora oleh propaganda ekstrimis Hutu sebagai inyenzi, cockroaches (cecunguk). Tidak hanya bahwa orang Tutsi berbeda dari orang Hutu, namun juga orang Tutsi dikonstruksikan sebagai sebuah kelompok yang berbeda dari manusia, tidak bermakna bahkan sebagai identitas individual. Jadi, pembunuhan terhadap orang Tutsi bukan lagi pelanggaran hakhak individu seorang manusia, karena yang dibunuh bukan manusia melainkan cecunguk (serangga). obligasi moral berlaku bagi sesama orang, bukan bagi “mereka” (outgroup) yang tidak memenuhi ekspektasi legitimate ingroup. Kelompok-kelompok saling mempersepsikan satu dengan yang lain sebagai “mengancam” (threatening); ancaman tersebut bisa sungguh ada atau hanya ilusi. Dalam situasi seperti ini, orang-orang Hutu, bahkan orangorang awam, merasa secara moral wajib untuk bergabung melawan “mereka yang mengancam/menghambat kita”. Apabila ingroup dan outgroup memiliki kekuatan yang setara, maka
Vol1 No2 Maret 2010

151

PSIKoSINEMA

hasilnya adalah perang. Bila salah satu lemah, maka hasilnya adalah genosida. Genosida merupakan sebuah destruksi. Dalam genosida April, 800.000 orang dari delapan juta populasi dibunuh, sebagian besar dengan pisau besar (machetes) dan sejenisnya [Ini juga sekaligus merupakan Determinan Kelima, MOBILIZATION FOR ACTION, Teori Smelser]. Setelah destruksi, maka terjadi penyangkalan (denial), sebagai fase normatif. Hal ini terjadi pada diri Honoré, penyiar RTLM, saudara kandung Agustin selama bertahun-tahun. Di Rwanda, penyangkalan menjadi faktor penting bagi orang-orang di sekitar (penonton, bystanders) untuk tidak melakukan intervensi apapun. Penyangkalan ini terjadi ketika upaya-upaya internasional kolaboratif yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Pada saat terjadi genosida, PBB memiliki kekuatan penjaga perdamaian yang berasal dari ribuan tentara Rwanda di bawah komando Letjen Roméo Dallaire. Dallaire meyakinkan bahwa dengan penambahan beberapa ribu tentara dan memperluas mandat dirinya, maka ia dapat menghentikan genosida. Dari sudut pandang AS, Rwanda merupakan negara Afrika kecil tanpa sumberdaya spesial dan tidak memiliki sesuatu yang penting secara strategis. Namun intervensi di Rwanda memang diperlukan. Kendati demikian, moral AS menyatakan bahwa tidak mengintervensi juga tidak dapat diterima. Uniknya, PBB tidak
152
Vol1 No2 Maret 2010

hanya gagal menyediakan Dallaire dengan penguatan dan otoritas yang ia perlukan, tetapi juga PBB menarik mundur hampir semua tentaranya. [Ini juga sekaligus merupakan Determinan Keenam, SOCIAL CONTROL yang tidak beroperasi, Teori Smelser]. Setelah ratusan sampai ribuan orang Tutsi dan puluhan dari ribuan orang Hutu dibunuh, dalam hal mana genosida hampir selesai, barulah AS mengakui bahwa “telah terjadi aksi genosida”. Di antara orang-orang Rwanda pun terjadi penyangkalan ini. Sebagian pelaku genosida memilih untuk melupakan peristiwa itu. Ignace Rukiramacumu (dalam Hatzfeld, 2005), salah seorang pelaku genosida, mengatakan bahwa “Bahkan dari dalam hati yang paling dalam, lebih berisiko untuk mengingat ketimbang melupakan. Jadi saya mencoba untuk tetap diam dengan diri saya sendiri.”

Kesimpulan dan Refleksi

Esai ini secara keseluruhan menunjukkan bahwa teori Smelser dan Tajfel sangat sesuai (fit) guna menjelaskan genosida Rwanda, dengan unit analisis prosesproses psikokultural, psikopolitik, dan identitas sosial intrakelompok dan interkelompok. Gabungan penjelasan ini mampu menjelaskan mengapa kelompok atau individu dapat melakukan tindakan seekstrim genosida terhadap kelompok lain. Menyadari bahwa genosida merupakan suatu proses psikososiologis, maka penting untuk mewaspadai tumbuh dan

PSIKoSINEMA

berkembangnya keenam determinan perilaku kolektif sebagaimana diterangkan Smelser. Determinandeterminan tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara gradual, terakumulasi tanpa disadari, yang apabila muncul pemicu (trigger)-nya, terjadilah kerusuhan massa. Seolaholah rusuh massa dan pembantaian terjadi tiba-tiba, padahal tidak. Maka, seluruh komponen masyarakat harus berupaya agar strain, dll, itu tidak dibiarkan, melainkan segera diatasi, dicari penyelesaiannya. Mengenali bahwa genosida berakar identitas sosial berarti juga mengakui bahwa kita semua berpotensi untuk menjadi pelaku genosida, baik sebagai individu maupun sebagai anggota beragamnya kolektivitas. Mengapa? Sebab kita semua memiliki identitas sosial, dan identitas sosial yang kita pegang dapat menjadi poin untuk mendikotomisasi, menstigmatisasi, mendehumanisasi mereka yang berbeda identitas sosialnya dengan kita, serta menyangkal destruksi yang dapat kita buat pada masa yang lalu maupun masa kini. Namun demikian, dengan mengenali hal ini, kita juga belajar banyak dari proses ini untuk berkontribusi mengeliminasi genosida. Yang menjadi catatan penting dalam dinamika genosida dalam tinjauan teori identitas sosial adalah bahwa apabila kita menerima premis bahwa genosida berakar dari identitas sosial, maka tidak ada cara yang sederhana untuk mengeliminasi genosida. Apabila

genosida berakar dari kebencian, maka kita dapat berupaya mengeliminasi kebencian atau mengelola/memitigasi kebencian itu. Namun, kita tidak dapat mengeliminasi identitas sosial, atau pun orang bahkan tidak ingin mengeliminasi identitas sosialnya. Hal yang dapat dilakukan adalah mempromosikan identitas multidimensional yang berakar dalam koordinasi yang aktif terhadap multipel/beragam afiliasi dan komitmen, ketimbang rekognisi sederhana terhadap sebuah kelompok serta mengadopsi semua keyakinan dan nilai-nilainya.

Saran: Pemahaman Bersama Memori Kolektif sebagai Sarana Rekonsiliasi
Perlu adanya upaya-upaya untuk mempertimbangkan luka, kerugian yang dialami oleh kedua kelompok, baik Hutu maupun Tutsi, bahkan meskipun luka/ kerugian yang dialami tidak berimbang/ tidak sama beratnya. Pertimbangan ini akan mengembangkan suatu memori kolektif (shared collective memories) atau sejarah bersama (shared history) atau memori superordinat. Apabila kelompok-kelompok yang bertikai memiliki pendapat masing-masing yang saling bertentangan satu sama lain mengenai akar kekerasan, maka konflik akan terus berlanjut. Namun, apabila pandangan-pandangan yang berbeda mengenai sejarah kekerasan ini dibuatkan suatu kesepahaman bersama, meskipun sulit, akan membawa banyak manfaat. Mengapa sulit? Sebab anggota
Vol1 No2 Maret 2010

153

PSIKoSINEMA

dari kelompok pelaku genosida bahkan dapat memberikan penekanan yang berlebihan mengenai luka/kerugian yang dialami kelompok mereka, dan menggunakannya sebagai justifikasi/ pembenaran tindakan mereka. Maka, diperlukan pembangunan memori kolektif sebagai hasil dari re-eksaminasi dan re-interpretasi sejarah, dan proses ini melibatkan negosiasi-negosiasi, dalam kelompok-kelompok dialog, seminar-seminar, dan bentuk-bentuk resolusi konflik lainnya. Pembangunan memori kolektif bersama ini dapat sangat difasilitasi dengan pemahaman mengenai bagaimana tindakantindakan merugikan/melukai baik dari ingroup maupun outgroup mulamulanya terjadi. Pemahaman ini akan memfasilitasi akseptansi/penerimaan. Pembangunan memori kolektif dan sejarah bersama ini dapat difasilitasi oleh suatu Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dengan melibatkan para penyintas (survivor), ahli trauma, jurnalis, pimpinan pemerintahan, dan pihak lain. Misalnya saja, dapat ditawarkan sebuah narasi untuk membangun pemahaman bersama mengenai adanya pembunuhpembunuh muda (yang menjadi bagian dari kelompok paramiliter teroris Hutu, Interahamwe) dalam genosida April, sebagai berikut (level sosial dan individual): Sejak 1980-an, Rwanda berada dalam situasi ekonomi yang sangat buruk. Banyak pemuda tanpa pekerjaan, tanpa prospek. Dengan invasi RPF
154
Vol1 No2 Maret 2010

pada tahun 1990, sebuah perang sipul dimulai. Tiba-tiba terdapat kegiatan politis substansial dengan partai-partai politik baru. Hal ini merupakan sebuah situasi yang tidak biasa bagi Rwanda, serta memerlukan penyesuaian terhadap kondisi masyarakat yang tidak biasa dan menjadi sangat hierarkis serta nampak kacau. Partai-partai politik mulai membentuk kelompokkelompok pemuda, dan merekrut pengikut-pengikut muda. Pada waktuwaktu tertentu, partai-partai tersebut mulai memberikan para pemuda ini pelatihan militer, menjadikannya prajurit-prajurit yang dapat dipanggil saat dibutuhkan. Dengan bergabung, pemuda-pemuda ini telah memperoleh keamanan materi, komunitas, dan rasa diri penting. Kebutuhan para pemuda akan keamanan, identitas, koneksi, dan komprehensi realitas, yang sebelumnya mengalami frustrasi, setidak-tidaknya menjadi terpuaskan. Di Amerika Serikat, para pemuda dalam situasi serupa bergabung dalam geng-geng. Para pemuda ini bergabung bukan untuk menjadi pembunuh. Kalaupun mereka menjadi pembunuh, itu karena suatu proses evolusi. Bagaimana bisa? Para pemuda ini telah belajar bertahuntahun untuk menilai rendah orang Tutsi. Rangkaian peristiwa menjelang genosida sungguh-sungguh memengaruhi mereka, misalnya: kemenangan invader Tutsi, propaganda yang intensif anti-Tutsi di radio dan surat kabar, pengingatan akan ”perbudakan Hutu” yang dulu pernah terjadi, eksposur tentang

PSIKoSINEMA

ideologi Hutu serta ”sepuluh perintah” (tend commandments) Hutu yang mengharuskan tindakan keras terhadap orang Tutsi. Juga terjadi pembunuhan terhadap Presiden Hutu di Burundi yang dipilih secara demokratis oleh sebagian tentara Tutsi, sehingga menyebabkan Hutu takut bahwa orang Tutsi tidak akan berbagi kekuasaan dengan orang Hutu. Semua otoritas yang menaungi para pemuda (dari pimpinan kelompok teroris Hutu/Interahamwe sampai dengan pimpinan yang lebih tinggi) mengatakan kepada mereka bahwa kekerasan melawan orang Tutsi adalah tindakan yang benar. Mereka menyaksikan kekerasan terhadap orang Tutsi, sebelum terjadinya genosida, dan kekerasan ini tidak dihukum oleh otoritas. Perkembangan-perkembangan ini menyebabkan bangkitnya nilai, spirit membunuh, dan komitmen dalam kelompok pemuda. Semua hal ini membuat dapat kita pahami secara psikologis, mengapa para pemuda dapat berpartisipasi dalam genosida yang begitu mengerikan. Menjadi bagian paramiliter Interahamwe membuat mereka sulit untuk menolak apa yang diperintahkan kepada mereka. Tentu saja penting untuk tidak menjadikan pemahaman ini sebagai dalih pembenaran terhadap apa yang mereka lakukan, karena orang selalu memiliki pilihan. Namun, untuk mencgah kekerasan, untuk memungkinkan orang secara praktis membuat pilihan-pilihan yang berbeda, maka esensial juga untuk menghambat perkembangan sistem

sosial dan proses sosial sebagaimana yang saat itu terjadi di Rwanda yang bersifat memfasilitasi terjadinya kekerasan. Implikasi dari kegiatan di atas adalah penegakan kebenaran, keadilan, serta juga pemaafan antar kelompok. Hal ini karena keadilan (justice) merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi para penyintas (survivor) genosida. Keadilan mensyaratkan kebenaran, pengakuan bahwa telah terjadi tindakan merugikan terhadap korban. Hal ini membantu korban untuk pulih. Namun demikian, perlu diingat bahwa hukuman hanya berfokus pada sejumlah terbatas pelaku genosida. Sementara pelaku genosida banyak sekali. Genosida merupakan proses sosial yang, sekali lagi, memiliki akar psikokultural dan psikopolitik. Pendekatan hukuman tidak akan efektif tanpa menyentuh akarnya dan membangun proses sosial berupa pemaafan serta rekonsiliasi. Pemaafan di sini maksudnya adalah pengubahan emosi dan pikiran negatif terhadap pelaku genosida (seperti kemarahan, dll) maupun bystander (mereka yang tidak membunuh/ memperkosa namun bersikap pasif membiarkan terjadinya pembunuhan/ pemerkosaan) ke emosi dan pikiran yang lebih positif. Di samping itu, perlu dioptimalkan penggunaan media massa untuk mengurangi prasangka serta membangun kepercayaan, kerjasama, dan empati antarkelompok.

Vol1 No2 Maret 2010

155

CERPEN

Melawan dunia Saat terjatuh dan Menantang Hari tuk kembali Berdiri
anjas Purna yudha

I

ni adalah sebuah kisah nyata dari seorang anak manusia. Waktu menunjukkan jam 10 pagi, ketika dia terbangun dari tidurnya, hari itu dia bangun siang karena sekolahnya sedang libur, tiba-tiba ada perasaan yang mengganjal dalam diri seorang remaja, suatu perasaan yang menghadirkan kerisauan dalam jiwanya, dia adalah seorang anak lakilaki yang berusia jalan 18 tahun yang bernama Andha yang duduk di bangku SMA kelas 12 IPA, karena ada perasaan yang tidak enak dalam dirinya maka dengan bergegas dia mandi, setelah itu dipakailah kemeja pendek berwarna putih dan celana panjang bahan berwarna abu-abu yang tak lain adalah baju seragam sekolah SMA-nya. Dengan memakai sepatu berwarna hitam bertali putih dan
Vol1 No2 Maret 2010

memakai tas yang berwarna serupa dengan sepatunya dia sudah siap pergi ke sekolahnya. Kemudian dengan bergegas dia mengambil kunci motor yang terletak di atas kulkas dan mengambil helm yang terletak tak jauh dari kulkas tersebut, lalu dia berpamitan sambil mencium tangan ibunya yang sedang memasak di dapur rumahnya. Andha hanya berpamitan kepada Ibunya karena sang Ayah sudah pergi ke kantor sekitar jam 8 pagi. Tanpa banyak melakukan sesuatu langsung saja dia mengambil motor dan berangkatlah di ke sekolah SMA-nya dengan hati yang cemas, di sepanjang perjalanan dia selalu berdoa agar tidak terjadi hal buruk pada dirinya. Setelah sekitar 10 menit sampailah

156

CERPEN

dia ke sekolah SMA-nya tersebut, pada saat itu pintu gebang masih terbuka karena hari itu memang semua Anak kelas 12 di sekolahnya diliburkan karena telah melaksanakan ujian nasional. Setelah memarkir motornya, dia melangkahkan kakinya dengan perlahan perasaan khawatir, risau, dan cemas berkecamuk di dalam dirinya, tidak lama kemudian dia melihat 3 orang gurunya yang sedang berada di dekat tukang bakso yang berada di dalam sekolahnya tersebut, lalu dia berlari menghampiri ke tiga gurunya tersebut, seorang guru melihat siswanya yang berjalan menghampirinya yang tak lain adalah Andha. “Ada apa Ndha” tanya guru tersebut yang sedang berdiri di samping gerobak bakso, tetapi tanpa menjawab pertanyaan gurunya sambil menangis dia langsung mencium tangan guru yang tadi bertanya kepadanya, (guru tersebut adalah guru agamanya) dan meminta maaf apabila selama sekolah disana dia sering berbuat salah dan membuat gurunya kesal, dia juga melakukan hal yang sama kepada guru biologi dan Bahasa Inggrisnya yang sedang duduk. Karena melihat siswanya tersebut menangis guru-gurunya pun menenangkannya dan bertanya, “Ada apa Ndha, ko’ kamu sedih?” tanya guru Biologinya. “Entah kenapa perasaan saya tidak enak Bu, saya takut tidak lulus ujian nasional,” pungkas Andha. “Ibu dan guru-guru yang lain akan doain kamu serta teman-teman kamu yang lain

agar lulus ujian nasional, tapi kamu juga jangan berdoa juga,” pungkas guru Biologinya tersebut. Mendengar perkataan gurunya tersebut perasaan Andha pun sudah sedikit tenang walau di hati kecilnya masih ada perasaan khawatir, mengingat pengumuman ujian nasional itu akan di lakukan 3 hari lagi). Tak lama kemudian terdengarlah suara adzan zuhur di sekolahnya tersebut, dan diapun salat zuhur berjamaah bersama guruguru dan adik-adik kelasnya. Seusai salat dia berdoa agar dia bisa lulus bersama teman-temannya yang lain. Selesailah dia salat dan berdoa dan melangkahlah dia keluar dari masjid, kemudian memakai sepatunya. Seusai memakai sepatu Andha pergi ke ruang guru, yang terletak di lantai 2 dekat tangga. Sampailah Andha di ruang guru, diketuklah pintu dan diucapkanlah, “Assalamualaikum”, terdengarlah jawaban “Waalaikumusalam” dari dalam ruang guru tersebut. Masuklah Andha ke ruang guru tersebut. Diciumlah tangan gurunya satu persatu seraya mengatakan, “Doain saya ya Pak/Bu supaya saya dan teman-teman yang lain supaya lulus”. Pinta Andha kepada gurunya. “Iya Andha Ibu dan guru-guru yang lain pasti akan doain agar kalian semua bisa lulus dan kamu juga harus optimis ya” salah satu jawaban dari seorang guru B.Inggrisnya. setelah itu salah seorang gurunya-pun menyuruhnya
Vol1 No2 Maret 2010

157

CERPEN

duduk di bangku yang berada di depan meja guru tersebut. Sekitar 3 menit kemudian masuklah seorang guru laki-laki dengan tinggi sekitar 165 cm berkulit putih, memakai kacamata min, dan berkemeja rapi berwarna hijau muda, dan memakai celana panjang bahan berwarna coklat yang tak lain adalah guru ekonomi-nya ketika duduk di kelas 10, berdirilah Andha dan dihampirilah gurunya tersebut. ”Eh Andha, ada apa Ndha datang ke sekolah? Dan gimana perasaan kamu menunggu hasil pengumuman UAN?“ tanya guru ekonominya tersebut. “Saya sedang ingin main saja pak ke sekolah, kalau masalah perasaan si saya deg-degan Pak,” jawab Andha. “Yah kamu harus yakin aja kalau kamu bisa lulus, jangan lupa juga salat, berdoa dan minta doa dari orang tua kamu,” pungkas guru ekonomi tersebut menanggapi jawaban Andha. Setelah pembicaraan itu Andha pamit pulang kepada guru-gurunya, satu persatu Andha salaman kepada gurunya seraya mencium tangan gurugurunya tersebut. Dengan perasaan tenang Andha melangkahkan kaki keluar dari ruang guru tersebut karena telah mendapat dukungan dari gurugurunya. Berjalanlah Andha menuju parkiran untuk mengambil motornya, tak lama Andha sampai di parkiran, dihidupkanlah motor tersebut dan dinaikilah. Lalu dia kendarai motornya menuju kerumahnya, setelah sekitar 10 menit sampailah di rumah,
158
Vol1 No2 Maret 2010

diparkirkanlah motor tersebut di depan rumahnya, kemudian dengan mengucapkan salam dia masuk ke rumahnya, di dalam rumah terdapat ibunya dam adiknya yang baru saja pulang dari sekolah, ketika di dalam rumah Andha langsung istirahat di kamarnya, dia berbaring di tempat tidur di dalam kamar tidur yang hanya berukuran 3 x 2 meter, saat berbaring di tempat tidur terlintas di kepalanya kata-kata dari guru-gurunya yang menyuruh Andha harus optimis dan yakin bahwa dia akan bisa, karena sebenarnya Andha termasuk pelajar yang cukup pintar karena dia bisa masuk kelas unggulan. Seketika itu Andha langsung tersentak dan bangun dari tempat tidurnya, dihampirilah sebuah cermin yang tergantung di tepat di depan tempat tidurnya, lalu di cermin Andha berkata kepada dirinya sendiri, “Lu harus bisa, lu pasti lulus, jangan pesimis, lu mesti yakin kalau lu tu bisa, keyakinan itu penting Ndha, kalau lu melakukan sesuatu tanpa keyakinan lebih baik lu gak usah melakukan hal itu, seperti lu ingin mengikuti sebuah kejuaraan, turnamen dan lomba apapun lu mesti yakin lu harus menang, sama ketika lu melaksanakan ujian lu musti yakin lu bisa dapat nilai yang bagus, jangan nyerah Cuma karena hal yang belum pasti, dan pula waktu sebelum UAN lu kan udah belajar jauh-jauh hari, lu dah les dan lu udah latihanlatihan soal dan lu juga udah berdoa, udah solat nah sekarang lu tinggal

CERPEN

tawakal (menyerahkan semuanya kepada sang Tuhan), tanam di dalam hati lu keyakinan untuk menjalankan suatu hal yang harus lu lakukan saat ini adalah berdoa, berdoa dan berdoa.“ Setelah berkata seperti itu, Andha mulai yakin kalau dia pasti akan lulus bersama dengan temantemannya yang lain. Dan kembalilah dia berbaring di tempat tidurnya. tak lama kemudian di tertidur. Kring…kring…kring…kring… bunyi suara handphone milik Andha yang berada di tempat tidurnya, Andha-pun terbangun mendengar suara handphone-nya. Diambillah handphone tersebut dan di lihat nama Phie-phie yang menelponnya (Phie-phie adalah kekasih Andha yang baru saja 1 bulan belakangan ini mereka menjalin kasih. Phiephie juga merupakan teman sekelas dengan Andha di sekolahnya. Phiephie merupakan seorang siswi yang sangat pintar karena ketika di SMA di selalu mendapat peringkat pertama dan menjadi siswi terbaik di SMAnya tersebut. Selain itu Phie-phie juga berasal dari keluarga yang bisa dibilang sangat mapan, beda sekali dengan Andha yang berasal dari keluarga sederhana, bahkan terkadang Andha menjadi tukang parkir bersama teman SMP-nya di sebuah mini market dekat dengan rumahnya). Diangkatlah telpon tersebut. “Halo ada apa, Phie? Tanya Andha dengan suara pelan karena dia masih mengantuk. “Gak

Ndha, aku nelpon aja, kamu lagi apa kok suaranya pelan sih?” jawab Phiephie, seraya bertanya lagi kepada Andha. “ Aku baru bangun tidur Phie, kamu sendiri lagi apa?” jawab dan tanya Andha lagi kepada pujaan hatinya tersebut. ”Aku lagi nonton tv aja, oh iya Maaf yah aku ganggu tidur kamu” jawab phie-phie dengan suara yang menunjukkan permintaan maafnya. (Pembicaran pun di teruskan selama hampir setengah jam). Waktu semakin sore dan berganti malam. Andha masih memikirkan bagaimana nasibnya apakah dia akan lulus atau tidak, walaupun dia sudah dapat dukungan dari guru, orang tua, keluarga dan teman-temannya tapi isi hatinya masih menghadirkan kebimbangan, karena di suatu dirinya mengatakan dia pasti bisa tapi di sisi lain dirinya penuh dengan kecemasan, ketakutan akan sebuah kegagalan. Konflik itu terus terjadi dalam dirinya. Hari semakin malam tetapi dia masih memikirkan hal tersebut. “Tinggal 3 hari lagi, lulus gak yah?!”. Hatinya selalu berkata demikian. Karena tidak mau memikirkannya terlalu lama Andha pun tidur berharap besok perasaannya menjadi lebih tenang. Pagi-pun datang menggantikan malam, mentari dengan gagahnya menyinari pagi ini memberikan harapan dan semangat yang baru di hari ini. Andha pun terbangun dari tidurnya berharap hari ini lebih baik dan indah. Andha melakukan aktivitas seperti biasanya.
Vol1 No2 Maret 2010

159

CERPEN

Seperti mandi, sarapan, nonton tv dan membantu orang tuanya, setelah melakukan itu semua, waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi, Andha pun bersiap-siap pergi ke sekolah SMA-nya lagi untuk mencari informasi tentang apakah sudah ada bocoran tentang siapa-siapa saja yang lulus. Setelah bersiap-siap Andha-pun segera pergi, seperti biasanya dia berpamitan kepada Ibunya seraya meminta doa agar dia bisa lulus. Lalu pergilah Andha dengan naik sepeda motor. Kali ini dia menuju ke sekolahannya dengan perasaan yang cukup tenang tidak seperti kemarin. Setelah sekitar 10 menit Andha tiba di sekolahnya, dan Andha pun berjalan menuju ruang guru. Sesampainya di sana masuklah Andha ke ruang guru tersebut lalu satu-persatu Andha bersalaman dengan gurunya sambil mencium tangan gurunya. Saat itu ruang guru begitu ramai karena sekarang adalah jam istirahat. Andha pun menanyakan kepada gurunya tentang apakah ada informasi tentang pengumuman ujian nasional. Tetapi ternyata belum informasi tentang ada pengumuman UAN. Dia pun kembali ke rumah. Esok harinya dia melakukan hal yang sama. Dia ke sekolah untuk mencari apakah sudah ada informasi tentang ujian nasional. Dan dia-pun mendapat informasi bahwa jam 12 malam nanti sudah ada pengumuman tentang hasil UAN. Dan dia bisa melihatnya melalui internet. Setelah mendapat informasi tersebut maka pulanglah Andha ke
160
Vol1 No2 Maret 2010

rumahnya. Sesampainya di rumah hatinya kembali cemas, perasaan takut hadir dalam dirinya lagi. Seperti biasa sisi lain dirinya mengatakan, “Andha itu pasti bisa, jangan takut gagal”. Tetapi sisi lain satunya lagi berkata, “Gue udah coba untuk tenang tapi gak bisa.” Hari itu pun dilalui dengan pertengkaran yang ada di dalam dirinya tersebut dan dia hanya bisa berdoa. Ketika malam hari diapun tertidur, tetapi sekitar jam 1 dia bangun untuk melihat informasi kelulusan UAN lewat internet yang ada di handphone-nyapada saat itu badannya terasa dingin, seperti ada tanda-tanda akan ada hal buruk pada dirinya, di buka lah handphone tersebut dan dia langsung membuka internet. Dan ternyata apa yang terjadi, hal yang tidak dia inginkan pun terjadi pada dirinya, ternyata dia tidak lulus. Seketika itu dia langsung menangis, dia tidak kuat menerima kalau dirinya gagal. Langsung saja dia membangunkan ibunya yang kamarnya berada di samping kamarnya, dibangunkanlah

CERPEN

ibunya. “Bu, bangun,” rintih Andha sambil menangis, ibunya-pun terbangun. Ketika ibunya terbangun Andha langsung memeluk ibunya, sambil menangis dia berkata, “Bu, Andha gak lulus”. Seketika itu ibunya langsung lemas mendengar bahwa anaknya itu tidak lulus. Tetapi ibunya coba menenangkan Andha agar dia lihat pengumumannya langsung ke sekolahnya, karena takut ada kesalahan pada informasi lewat internet tersebut, setelah itu Andha dan ibunya pergi ke bawah, karena ayahnya tidur di bawah, karena ayah dan ibunya sedang ada masalah, mendengar bahwa Andha tidak lulus ayahnya pun hanya terdiam dan mencoba menenangkan Andha. Dan menyuruhnya untuk tidur agar besok paginya dia mengecek langsung ke sekolahnya apakah pengumuman itu benar apa tidak. Setelah kejadian itu Ayah dan Ibunya pun kembali baikan lagi. Andha-pun mencoba untuk tidur dengan perasaan sedih. Pagipun tiba, Andhapun terbangun dari tidurnya, yang ada di benaknya hanyalah pergi ke sekolah untuk memastikan tentang pengumuman UAN tersebut, bersiap-siaplah Andha lalu dia berpamitan dan memohon doa kepada kedua orang tuanya, dengan penuh perasaan galau dia pergi ke sekolahnya berharap pengumuman itu salah. Setibanya di sekolah Andha langsung ke ruang guru bertanya tentang pengumuman UAN tersebut,

pada saat itu di ruang tersebut hanya terdapat seorang guru( karena pada saat itu hari masih terlalu pagi). Andha bertanya kepada gurunya tersebut. “Bu, saya mau pengumuman tentang UAN,” tanya Andha kepada gurunya dengan hati yang tidak tenang. “Ndha kamu harus sabar ya, sebenarnya Ibu tidak mau ini terjadi sama kamu dan teman-teman kamu yang lain. Maaf, Ndha, kamu dan ke 13 teman kamu harus berusaha lagi di ujian Paket C (ujian Paket C adalah ujian bagi mereka yang belum berhasil di UAN),” Jawab guru tersebut dengan sedih karena melihat siswanya harus gagal dalam UAN. Andha pun tidak bisa menahan air mata dan menutupi kesedihannya tersebut. Gurunya-pun mencoba menenangkan Andha dan memberi semangat kepada Andha Tak lama kemudian guru-guru yang lainpun datang dan memberi dukungan kepada Andha agar kuat setiap masing-masing guru mnceritakan dan memberikan nasihat kepada Andha. “Sebagai lakilaki kamu harus kuat, Ndha. Allah memberikan ini bukan karena Allah benci sama kamu, bukan karena kamu lemah tapi karena kamu kuat, jangan jadi kecil saat kesulitan datang, semua orang juga pernah gagal. Semua orang pernah menghadapi saat-saat sulit dalam hidupnya, dan sekarang bagaimana kamu bisa bangkit dari masalah itu, karena hal ini bisa buat kamu menjadi lebih kuat,“ nasihat guru agamanya tersebut. Selama di sekolah Andha mendapat dukungan
Vol1 No2 Maret 2010

161

CERPEN

dan motivasi dari pada guru-gurunya. Ketika itu guru Bahasa Inggrisnya bertanya kepadanya. “Ndha, Phie-phie mana? Dia udah tau pengumumannya? Kok, dia tidak datang ke sini?”. “Dia ninggalin saya! Dia udah gak peduli sama saya lagi mungkin karena saya tidak lulus, “ jawab Andha sambil menangis. “Lah kok Phie-phie tega banget sih berbuat itu ke kamu? Seharusnya saat ini dia itu memberi support ke kamu,” kata guru Bahasa Inggrisnya Andha. (Pembicaraanpun di lakukan sangat panjang). Ketika itu datanglah temannya Andha yang bernama Ernie (Ernie adalah teman dekat Andha di kelas). “Ndha gua turut sedih, yang kuat ya lu Ndha,” kata Ernie kepada Andha. “Thankz ya nie dah ngasih semangat ke gue,“ jawab Andha. “oh iya, Phie-phie ke sini gak Ndha?” tanya Erni kepada Andha. “Gue dah putus Nie. Dia ninggalin gue, mungkin gara-gara gue gak lulus,” jawab Andha. “Parah banget tu anak. Cowonya lagi susah, bukannya di dukung malah ditinggalin. Awas aja tu, ntar kalo ketemu, gue marahmarahin,” pungkas Ernie dengan hati yang kesal karena tidak terima temannya di perlakukan demikian. Tak lama teman-temannya Andha pun datang. Ada yang lulus dan ada juga yang bernasib sama seperti Andha. Mereka yang lulus memberi semangat ke pada Andha. “Lu bukannya gagal Ndha tapi Karena Allah tu punya jalan lain buat lu. Dan pula lu ma gue juga masih pintaran lu. Ya walaupun gue
162
Vol1 No2 Maret 2010

lulus bukan berarti gue akan berhasil di banding lu, malah gue yakin lu yang lebih berhasil dari pada yang lulus,“ pungkas teman-temannya seraya memberikan semangat kepada Andha. ”Thankz ya, lu semua emang temen-teman terbaik gue,” sambut Andha menanggapi perkataan temantemannya. Lalu Wakil Kepala Sekolah pun datang untuk memberikan informasi tentang ujian Paket C yang akan diadakan dua minggu lagi. Banyak informasi yang diberikan Wakil Kepala Sekolahnya tersebut. Untuk menghadapi ujian Paket C tersebut, sekolah akan memberikan pelajaran tambahan untuk menghadapi ujian Paket C. Esok hari pun tiba. Andha bersama teman-teman yang mengalami ketidakberuntungan pada UAN menjalani pelajaran tambahan. Tetapi dia dan teman-teman lainya masih belum bisa menerima pelajaran dengan baik karena masih trauma dengan ketidak lulusannya. Merekapun takut gagal di ujian Paket C, karena waktu yang sangat singkat untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian tersebut. Guruguru pun mengerti mereka tidak membebankan murid-muridnya agar serius dalam mengikuti pelajaran. Yang mereka lakukan adalah berusaha dengan cepat menenangkan hati murid-muridnya tersebut. Sang guru pun heran ketika memberi pelajaran tambahan, kenapa yang tidak lulus

CERPEN

malah anak yang baik-baik yang notabenenya mereka termasuk anak yang pintar. Sebenarnya Andha dan teman-temannya pun tidak terima dengan hasil UAN yang meluluskan beberapa temannya karena mereka merasa lebih pintar dari yang lulus tersebut. Hari demi hari berlangsung seperti demikian dan tibalah waktu ujian Paket C. Andha sebagai satusatunya anak laki-laki yang tidak lulus memimpin teman-temannya agar semangat dalam ujian Paket C tersebut. Guru Matematika, guru Bahasa Inggris dan Wali Kelas Andha pun mengantar Andha dan kawankawan untuk melakukan ujian Paket C tersebut yang bertempat di sekolah lain. Setibanya di tempat ujian Andha dan teman-temannya dan dibantu gurunya mencari ruangan tempat mereka ujian. Sebelum ujian di mulai, guru-gurunya pun selalu memberi motivasi kepada Andha dan temantemannya. Bel pun berbunyi dan ujian pun dimulai. Mereka semua berdoa agar diberi kemudahan dalam menjawab soal-soal tersebut. Ujian pun dimulai. Empat hari mereka melaksanakan ujian Paket C tersebut, berharap dapat hasil yang baik. Usai sudah ujian Paket C. kini mereka tinggal menunggu hasil yang akan diumumkan bulan depan. Mereka pun saling berkomunikasi untuk bertukar informasi tentang hasil ujian Paket C tersebut. Andha menunggu waktu satu bulan tersebut dengan penuh tanda tanya. Selain itu dia juga memikirkan

mantan kekasihnya yang secara tega meninggalkannya. Diapun menangisi sepanjang hari karena memikirkan hal tersebut dan juga melihat Ibu, Ayah, kakak dan adiknya sedih melihat bahwa Andha tidak lulus. Tetapi Andha terus berdoa agar mendapatkan nilai dan baik. Dia beribadah sangat tekun agar Allah memberikan dia sebuah kebahagiaan, walaupun dirinya selalu menyalahkan Allah karena padahal dia sudah melakukan ibadah wajib ibadah sunnah tapi kenapa dia tidak lulus. Setelah lama menunggu tibalah hari pengumuman tersebut, Andha berkumpul di depan sekolahnya bersama teman-temannya menunggu hasil pengumuman, dan datanglah seorang guru yang tak lain adalah guru Matematikanya. “Ayo anak-anak kita duduk dulu,” kata gurunya dengan ekspresi yang begitu datar. “Gimana, Pak, sudah ada pengumamnya belum?” tanya salah seorang teman Andha yang bernama Via. “Begini, anak-anak. Tadi Bapak sudah dapat nama-nama yang lulus. Ternyata dari ujian kemarin banyak sekolah yang murid-muridnya gagal. Dan di sekolah kita hanya dua orang saja yang lulus ujian: Via dan Dian,” kata guru tersebut dengan perasaan yang sedih dan tidak sanggup melihat anak didiknya gagal lagi. Seketika itu mereka yang kembali menelan pil pahit karena harus gagal untuk kedua kalinya merasa tidak percaya dan menangis, tak terkecuali Andha yang langsung lari dari tempat
Vol1 No2 Maret 2010

163

CERPEN

itu dan ingin bunuh diri. Tapi dengan cepat sang guru mengejar Andha dan memarahi Andha sambil menangis, “Kamu jangan begitu donk, Ndha. Bapak juga sedih. Bapak capek setelah tahu kalian gagal lagi.” Melihat gurunya menangis dan berkata demikian, Andha merasa bersalah dan meminta maaf kepada gurunya. Dan teman-temannya-pun menenangkan Andha. Lalu Andha pulang dengan hati yang sedih. Sesampainya di rumah dia langsung mencium tangan ibunya dan berkata, “Bu, Andha gak lulus lagi”. Panjang sekali pembicaraan Andha kepada ibunya. “Sekarang, bagaimana lagi, apa masih ada ujian ulang?” tanya si Ibu kepada Andha. “Ada, Bu, nanti 2 bulan lagi, tapi ngurusnya sendiri bukan dari sekolahan. Tapi tadi ada teman, namanya Ayu (Ayu adalah temannya Andha yang bernasib sama seperti Andha). Kata Ayu, teman Ibunya merupakan orang dari Dinas Pendidikan. Jadi, nanti daftarnya lewat dia,” kata Andha kepada Ibunya. “Memang, rumahnya Ayu di mana?” tanya ibunya lagi. “Di Batu Sari,“ jawab Andha. Karena rumahnya Ayu tidak jauh Andha, Ibunya merencanakan akan ke rumah Ayu keesokan harinya. Sore pun tiba. Ayahnya Andha pulang dari kantor. ”Bagaimana pengumumannya?” tanya ayahnya kepada Andha. Tetapi yang menjawab adalah Ibunya. “Andha gagal lagi,” pungkas ibunya. “Bagaimana sih kok bisa gagal lagi?” tanya sang Ayah
164
Vol1 No2 Maret 2010

dengan nada kecewa.” “Udah, udah, sekarang jangan salahkan dia lagi. Biarkan dia tenangin diri dulu. Nanti 2 bulan lagi akan ada ujian ulang lagi,“ pungkas sang ibu seraya membela anaknya. Hari berganti malam Andha merenungkan kesalahannya. Kali ini dia langsung belajar. “Udah dua kali gue gagal, dan jangan sampai ada yang ke tiga kali. Udah cukup gue buat orang tua gue, keluarga gue, guru-guru gue dan teman-teman gue kecewa. Sekarang gue harus bangkit, gue harus lawan dunia ini walaupun saat ini gue lagi terjatuh. Gue harus menantang hari supaya gue bisa kembali berdiri. Kali ini gue gak boleh menyalahkan siapa-siapa. Gue harus tanggung jawab dengan apa yang gue lakukan ini. Bodoh kalau nanti gue harus jatuh lagi.” Andha-pun memotivasi dirinya sendiri dia percaya, hidupnya gak akan berubah kalau dia sendiri yang gak ngerubahnya. Dan sekarang saatnya untuk menunjukkan kalau dirinya itu bisa. Dirinya bukan pecundang. Akhirnya, dia sadar dia harus merubah hidupnya. Sekarang dalam dirinya Andha, tertanam untuk menyerahkan hidupnya dan apapun yang terjadi kepada Allah. Dia percaya bahwa apa yang Allah berikan kepadanya adalah yang terbaik buat dia. Karena selama dia berusaha, selama itu Allah pasti akan ngasih jalan ke dia. Dia percaya kalau satu pintu itu tertutup pasti akan ada pintu lain yang dibukakan untuk dirinya. Sejak saat itu, Andha menjadi pribadi yang optimis dan

CERPEN

bersemangat. Esok hari-pun tiba. Andha bersama Ibunya pergi ke rumah Ayu, sesampainya di sana Andha bersama Ibunya ngobrol bersama Ayu dan ibunya Ayu menanyakan tentang ujian tersebut. (Pembicaraan panjang pun di lakukan oleh mereka). Tibalah hari di mana ujian akan di lakukan. Andha bersama temantemannya ke tempat ujian. Kali ini mereka datang tanpa gurunya, karena ujian tersebut di luar tanggung jawab sekolah. Empat hari Andha melaksanakan ujian tersebut. Kali ini mereka sangat optimis bahwa mereka akan lulus, karena rasa pesimis hanya akan menyakiti hatinya sendiri. Pengumuman kelulusan akan di lakukan 1 bulan setelah ujian. Andha pun menunggu hasil ujian dengan perasaan yang optimis. Ketika menunggu hasil ujian, Andha mendapat surat panggilan dari sebuah universitas internasional di Malaysia, yang ternyata waktu pendaftarannya akan dilaksanakan 2 bulan lagi. Saat itu Andha merasa bahwa di tempat itulah Allah menunjukkan jalan kepadanya. Hari pengumuman pun tiba. Andha dan teman-temannya berkumpul di rumah Ayu. Alhamdulillah, ternyata Andha dan teman-temannya pun lulus ujian tersebut. Mereka pun sangat senang dan tanpa henti mengucapkan syukur kepada Allah SWT. Setelah lulus, beberapa minggu kemudian

Andha mendaftar ke universitas Malaysia tersebut (universitas tersebut merupakan milik Malaysia yang berada di Indonesia, yang setelah 2 tahun belajar di Jakarta, Andha akan meneruskan kuliahnya di Malaysia, bahkan di Inggris). Andha mendaftar di sana dengan mengambil jurusan Teknik Informatika. Beberapa hari kemudian, Andha sudah mulai mengikuti kuliah disana. Selama belajar di sana, Andha hanya belajar B.Inggris dulu. Ini karena ketika perkuliahan di mulai, perkuliahan akan di lakukan menggunakan B.Inggris. Dengan sangat senang Andha melaksanakan kuliah di sana, karena kali ini dia merasa tidak mengecewakan orang tuanya lagi. Tetapi ternyata ada perubahan di kampusnya Andha, yang mengharuskan dia bersama teman-teman yang lain ke Malaysia 3 bulan mendatang. Kemudian Andha dan temannya pun mengurus paspor untuk kepindahannya kuliah di Malaysia. Tetapi di sinilah ada hal yang cukup menyedihkan terhadap Andha. Dia sakit dan harus di rawat di rumah sakit karena terkena DBD. Karena kejadian itu, Andha gagal ke melanjutkan studinya ke Malaysia. Tetapi setelah dia sembuh, dia tidak putus asa. Dia tetap optimis dan dia berpikir kalau Allah ngasih jalan lain buat dia, dan dia yakin bahwa itu adalah jalan yang terbaik. Andha pun kembali daftar kuliah di sebuah kampus. Dia melanjutkan studinya di
Vol1 No2 Maret 2010

165

CERPEN

sana. Dan dia juga menyembunyikan masa lalunya kepada teman-teman barunya di kampus barunya tersebut, Di sana Andha menjalani hidupnya yang baru dan menemukan jati dirinya. Dia juga sedang membuat sebuah karya seni. Dia mempunyai cita-cita besar untuk membahagiakan kedua orang tuanya, keluarga guru-guru, teman-temannya dan semua orang yang telah membuatnya kembali berdiri setelah dia terjatuh dalam kisah lalu. `Apa yang akan terjadi pada Andha, tidak seorang pun yang tahu. Dan bahkan sang penulis cerita ini pun tidak tahu akhir cerita perjalanan Andha. Mungkin saat ini kita belum melihat dia menjadi seorang yang sukses, tapi si penulis yakin bahwa tidak lama lagi Andha akan menjadi orang yang sukses. Karena sekarang dia menjadi orang yang kuat, dia tidak takut gagal, dia selalu optimis dengan apa yang dilakukannya, dan dia percaya bahwa apa yang Tuhan berikan kepada dia karena Tuhan itu sayang kepadanya. Dia juga telah melupakan sang mantan kekasih yang bernama Phie-phie. Sekarang hidupnya lebih hati-hati, bukan berarti dia takut, tapi dia mempertimbangkan sesuatunya secara matang. Banyak pelajaran yang kita ambil dalam kisah seorang Andha. Dalam hidup itu kita harus menjadi orang yang kuat dan optimis, jangan takut gagal karena kegagalan itu akan menjadikan manusia yang lebih kuat lagi, dan saat kita terjatuh kita harus cepat bangkit. Jangan
166
Vol1 No2 Maret 2010

jadikan hal buruk di masa lalu menjadi beban dalam hidup kita, tetapi jadikan sebagai semangat dalam hidup kita. Jangan pernah menyalahkan siapapun saat kita ada masalah, tapi rubahlah selesaikanlah masalah tersebut. Kita juga harus yakin saat kita ingin melakukan sesuatu. Percayalah apa yang Tuhan berikan kepada kita itu semata-mata untuk kebaikan kita. Dan selalu percaya bahwa setiap kejadian buruk itu selalu ada hikmahnya. Jangan pernah lagi tanamkan sifat pesimis, takut dan putus asa dalam hidup kita, BECAUSE YOU WILL HATE YOURSELF IN THE END. * Anjas, mahasiswa program studi S-1 Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Mercu Buana, Jakarta

TIPS

Jangan Biarkan

kecemasan

bisa membantu tetapi juga mungkin memerlukan terapi dan obat-obatan. Latihan-latihan ini dapat dilakukan sendiri-sendiri atau dalam kelompok:

Mengendalikan Hidup anda
ecemasan akrab bagi setiap orang akibat dari banyaknya tekanan dan kompleksitas kehidupan modern. Namun sebagian orang dewasa memiliki masalah yang serius dengan kecemasan di suatu saat dalam kehidupannya.

Ambil nafas menenangkan Latihan ini dengan cepat mengganggu momentum gejala kecemasan. Bernafas dari perut Anda, tarik nafas melalui “Tidak seperti rasa takut, yang biasanya diarahkan hidung perlahan-lahan pada hal atau peristiwa yang konkret, seperti geraman hingga hitungan lima. anjing atau tidak memenuhi tenggat waktu, kecemasan Berhenti dan tahan kerap kali tidak spesifik dan dapat terjadi karena nafas hingga hitungan mengkhawatirkan mengenai masa depan, keadaan lima. Hembuskan nafas kesehatan atau keuangan secara general,” menurut perlahan-lahan hingga Edmund Bourne, Ph.D., penulis dari Coping with Anxiety. hitungan lima. Ambil dua “Kecemasan dapat muncul dalam bentuk dan tingkat nafas normal, lalu ulangi intensitas yang berbeda-beda, dan beratnya dapat siklus tersebut tiga terbentang dari hanya sengatan ketidaknyamanan sampai lima menit. sampai ledakan serangan panik.” Berhenti memperbesar Penyebab dari kecemasan yang beragam dan termasuk masalah gangguan di dalam kimia otak, hereditas, trauma masa Melebih-lebihkan kecil, pelecehan, stres kronis, kehilangan orang yang masalah dengan dicintai dan penyalahgunaan obat dan alkohol, misalnya. membuat mereka Strategi mengatasi kecemasan tampak lebih besar Latihan-latihan berikut sangat membantu bagi siapa dan lebih serius pun dengan kecemasan dan mungkin semua itu daripada kenyataannya diperlukan jika tingkat kecemasan Anda ringan dan tidak dapat menimbulkan mengganggu hidup Anda. kecemasan. Untuk memerangi cara berpikir orang dengan kecemasan yang lebih parah, termasuk semacam ini, berhenti siapa pun berurusan yang dengan panik atau gangguan menggunakan kata-kata stres pasca-traumatis, cara-cara latihan ini akan masih seperti mengerikan,
167

K

Vol1 No2 Maret 2010

TIPS

Memerangi self-talk yang negatif Afirmasi yang positif dapat membantu Anda mengatasi kecemasan pada saat dan selama jangka panjang dengan membantu Anda mengubah kepercayaan lama yang cenderung Berhenti mengkhawatirkan pikiran untuk mengaktifkan kecemasan. Untuk Gunakan strategi ini jika Anda membuat pikiran Anda lebih konstruktif menemukan diri Anda terjebak dalam dan mendukung, ganti atau sangkal spiral pemikiran yang mengkhawatirkan setiap pernyataan negatif seperti yang terus terbayang. “Jika Anda yang diilustrasikan di bawah ini dalam sendirian dan ingin menghentikan huruf miring dengan pernyataan yang rantai pemikiran cemas, berteriaklah mengikutinya. dengan cara yang keras dan kuat,” Stop! “ atau ‘Hentikan!’ “kata Dr Misalnya, ganti “Ini tak tertahankan” Bourne. “Jika Anda dengan orang dengan “Saya bisa belajar untuk lain, berteriak secara internal seperti mengatasi hal ini.” Atau, ganti Anda membayangkan ada suatu “Bagaimana kalau hal ini berlangsung tanda berhenti yang besar.” Setiap kali tanpa henti?” dengan “Saya akan pikiran mengkhawatirkan itu kembali, menangani hal ini pada suatu waktu.” ulangi perintah yang diucapkan atau pengucapan secara internal kepada diri “Bertahan atau melawan kecemasan kemungkinan akan membuatnya lebih Anda sendiri. buruk,” kata Dr Bourne. “Pendekatan yang lebih konstruktif adalah dengan Ganti sudut pandang Anda mengembangkan sikap yang mengatakan, Ketika kecemasan atau kekhawatiran “oK, ini dia lagi. Saya bisa menangani tentang kemungkinan atau masalah ini. Saya sudah pernah melakukannya.” yang aktual menghadang sisi terbaik Dalam kebanyakan kasus, kecemasan dari Anda, cobalah berpikir mengenai memuncak dan mulai mereda dalam situasinya dengan cara berikut: • Katakan pada diri sendiri beberapa menit. Itu akan berlalu Anda dapat meringankan hal lebih cepat jika Anda berlatih strategi mengatasi kecemasan secara teratur tersebut. • Memastikan “ini juga akan ketika Anda mulai merasa cemas. (mdj) berlalu.” Sumber: NIMH • Sadarilah bahwa itu tidak
168

kacau atau menghebohkan dalam kaitannya dengan peristiwa atau situasi dalam hidup Anda. Daripada berkata kepada diri sendiri, “Itu tak tertahankan,” atau “Saya tidak tahan,” cobalah mengatakan, “Saya bisa mengatasinya” dan “Saya bisa menghadapi dan bertahan dari hal ini.”

mungkin menjadi seburuk dari pikiran terburuk Anda mengenai hal tersebut.

Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI BIoLoGI

adiksi Sebagai Penyakit otak
dr. dharmawan ardi Purnama, Sp.k.J.

S

etiap kali menangani pasien dengan ketergantungan obat, selalu saja pihak keluarga mengatakan bahwa kalau mau sembuh dari ketergantungan obat tergantung dari diri pasien sendiri. Masyarakat awam banyak yang menganggap bahwa masalah ketergantungan obat ini hanyalah masalah perilaku biasa yang sederhana mekanismenya dan belum memahami bahwa masalah perilaku sangat bergantung dengan kondisi medik otak dengan segudang mekanismenya yang rumit. Boleh dikata, hampir mustahil pendapat yang menyederhanakan bahwa lepas dari adiksi/ketergantungan adalah cukup mengandalkan diri sendiri si penderita. Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas dan ketika membaca judul tulisan ini, akan muncul pertanyaan bagaimana mungkin adiksi adalah penyakit otak sedangkan sejauh pengetahuan kita, penyakit otak itu

seperti stroke, tumor otak, infeksi otak, ayan/epilepsi, dll. Lalu, bagaimanakah menjelaskan bahwa adiksi (apapun bentuk adiksinya, termasuk adiksi belanja, seksual, judi, dan narkoba) adalah penyakit otak? Adiksi Seperti Penyakit Infeksi Sebenarnya dari banyak cara pandang, adiksi mirip dengan penyakit infeksi. Virus atau bakteri yang menginfeksi beberapa orang tetapi tidak semua orang, tergantung derajat kekebalan tubuh orang tersebut. Belum lagi pengaruh genetic dan faktor-faktor lingkungan. Hal-hal ini menyangkut kerentanan genetik individu, etnis, kepadatan penduduk, sanitasi
Vol1 No2 Maret 2010

169

PSIKoLoGI BIoLoGI

lingkungan, status kekebalan tubuhnya, dan kecukupan gizi. orang yang menjadi pembawa agen infeksius dapat menularkannya kepada orang lain yang belum terinfeksi. Mekanisme penularan ini sama saja dengan penyalahguna narkoba yang baru terkena menularkan kepada temanteman sebaya dan sepergaulannya. Melalui pendekatan kesehatan masyarakat seperti penegakan hukum, kita mencoba memusnahkan agenagen infeksi; hal ini analog dengan pemberantasan suplai narkoba di sekitar kita. Bersamaan dengan hal ini, kita juga melakukan penyuluhan masyarakat tentang perilaku hidup sehat tanpa narkoba, pencegahan perilaku dan gaya hidup yang mudah terpapar dengan narkoba atau dalam hal penyakit infeksi adalah menyuluh masyarakat agar mempertahankan daya tahan tubuh (imunitasnya). Ahli-ahli biologi molekular dan genetik saat ini terus menerus melakukan penelitian dan mengembangkan suatu vaksin untuk mencegah penyalahgunaan dan perilaku adiksi terhadap narkoba (narkotika dan zat psikoaktif). Di saat yang bersamaan, para ahli juga berjuang dalam mengurangi pusat-pusat penyebaran adiksi ini (sama seperti penyakit infeksi) agar tidak menyebar menjadi epidemi. Beberapa pihak mengatakan bahwa
170
Vol1 No2 Maret 2010

analogi penyakit infeksi tidak sama dengan adiksi karena pada adiksi ada faktor perilaku aktif dalam mencari obat-obatan penyebab adiksi. Walaupun demikian, alasan ini dapat dibantah dengan kenyataan bahwa banyak juga penyakit infeksi yang didapatkan secara aktif oleh penderitanya seperti perilaku minum dari sumber air yang tidak bersih sehingga menyebabkan penyakit kolera, disentri, hepatitis, dll. Perilaku seksual bebas tanpa perlindungan primer yang menyebabkan penularan virus AIDS dan masih banyak perilaku lain yang berkontribusi pada penyebaran penyakit infeksi. Sindrom Adiksi Adiksi atau ketergantungan menurut bidang medis adalah suatu kumpulan gejala ketergantungan atau yang disebut sindrom ketergantungan menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III yang digunakan di Indonesia adalah: Tiga atau lebih dari gejala di bawah ini terjadi bersamaan paling sedikit satu bulan lamanya, atau bila kurang dari satu bulan, harus terjadi berulangulang secara bersamaan dalam kurun waktu 12 bulan: 1. Ada keinginan yang kuat atau merasa harus menggunakan zat psikoaktif 2. Gangguan kemampuan untuk mengendalikan perilaku menggunakan zat psikoaktif dalam hal onset, terminasi, atau

PSIKoLoGI BIoLoGI

tingkat penggunaan, sebagaimana dapat dibuktikan dengan adanya penggunaan zat psikoaktif dalam jumlah yang lebih banyak atau lebih lama dari waktu yang semula dikehendaki, atau adanya keinginan yang menetap atau usaha yang gagal untuk mengurangi atau mengendalikan penggunaan zat psikoaktif. 3. Adanya keadaan putus zat secara fisiologis bila zat psikoaktif yang digunakan dikurangi atau berhenti menggunakan, sebagaimana dapat dibuktikan dengan adanya sindrom putus zat yang khas untuk setiap jenis zat psikoaktif, atau menggunakan zat psikoaktif yang sama (atau yang sangat mirip) dengan maksud menghilangkan atau menghindari gejala putus zat. 4. Adanya bukti toleransi terhadap zat psikoaktif, seperti adanya kebutuhan yang jelas meningkat terhadap zat psikoaktif agar tercapai keadaan intoksikasi atau efek yang diinginkan, atau berkurangnya secara jelas efek zat psikoaktif itu bila terus menggunakan zat psikoaktif tersebut dalam jumlah yang sama. 5. Adanya preokupasi terhadap zat psikoaktif, seperti yang tampak dengan terhentinya atau berkurangnya kesenangan dan minat yang penting lainnya, akibat menggunakan zat psikoaktif, atau menghabiskan waktu berkaitan dengan aktivitas yang diperlukan

untuk mencari, menggunakan, dan habisnya efek zat psikoaktif. 6. Tetap menggunakan zat psikoaktif tanpa menghiraukan adanya bukti nyata terdapat efek merugikan akibat menggunakan zat psikoaktif, yang diperlihatkan dengan terus menggunakan zat psikoaktif walaupun mengetahui atau diduga patut mengetahui sifat dan luasnya kerugian akibat penggunaan zat tersebut. Sistem Kenikmatan pada Otak (Brain Reward System) Kalau kita mengamati perilaku manusia yang selalu ingin mencari enaknya sendiri dan juga cenderung mengulangi pengalaman yang enak maka saat ini telah terbukti bahwa perilaku ini sangat erat hubungannya dengan struktur dalam otak yang disebut sistem hadiah otak. Sistem inilah yang mendorong perilaku manusia untuk selalu mengulangi pengalaman yang enak dan secara naluriah menVol1 No2 Maret 2010

171

PSIKoLoGI BIoLoGI

cari hal-hal yang dipersepsi ’enak’ ter- teknik-teknik modern dari biologi sebut. molekular telah dapat menjelaskan mengapa sindrom adiksi ini dapat Sistem kenikmatan ini dimulai dengan terjadi. Para ahli menemukan bahwa proses penguatan (reinforcing) di da- ada agen-agen kimiawi dalam tubuh lam otak yang memegang peranan manusia yang mempengaruhi fungsi penting dalam perilaku adiksi. Ter- biologisnya. Zat/agen kimiawi ini jadinya penguatan yang positif (po- diproduksi oleh tubuh sendiri untuk sitif reinforcing) dan adiksi terhadap mempengaruhi metabolisme dalam opioida, kokain, nikotin, amfetamin, sel tubuh. Diantara zat kimiawi yang alkohol, dan ganja disebabkan oleh terkenal itu adalah hormon. Apabila pengaruh senyawa tersebut pada ven- tubuh kekurangan produksi hormon tral tegmental area (VTA) yang terle- ini maka perlu diberikan hormon tak pada bagian ventral otak tengah, dari luar tubuh untuk membantu dan pada nucleus accumbens (NAc) kelancaran metabolisme di dalam selyang terletak pada bagian ventral sel tubuh tersebut dalam bentuk obat. otak depan. Lokus sereleus (LC) dan periaqueductal grey (PAG, substansia Di dalam otak ditemukan zat yang diberi grisea periaqueduktus) yang terletak nama neurotransmitter, yang adalah pada dasar ventrikel quartus berkaitan zat yang dihasilkan oleh sel syaraf dengan terjadinya ketergantungan fi- (neuron) dan kemudian dikeluarkan sik dan gejala putus obat. dari neuron untuk bereaksi pada neuron lain atau pada otot atau pada Struktur otak yang disebut talamus kelenjar. Ketika kita takut, kelenjar juga berperan dalam terjadinya adiksi adrenalin kita menghasilkan hormon kokain. Pada mesolimbic dopamine adrenalin yang akan membuat detak pathway terdapat medial fore-brain jantung kita berdetak lebih cepat dan bundle yang berisi serabut saraf dopa- ketika kita melihat/ mencium bau minergik. Serabut saraf ini menyebar makanan yang enak, syaraf-syaraf kita dari VTA menuju NAc dan berlanjut ke akan mengeluarkan neurotransmiter korteks prefrontal. Jalur neural yang sering dijuluki sebagai ’jalur kenikmatan’ ini disebut sebagai brain reward system atau brain pleasure system, sedangkan depamin mendapat julukan ’neurotransmiter kenikmatan’. Neurotransmiter dan Adiksi Saat ini, dengan menggunakan
172
Vol1 No2 Maret 2010

PSIKoLoGI BIoLoGI

ke kelenjar liur kita sehingga kelenjar di korteks serebri, serebelum, liur kita akan memproduksi air liur. hipokampus, kolikuli superior, dan kolikuli inferior, serta amigdala. VTA Ada beberapa macam neurotransmiter dan NAc mengandung beberapa tipe yang mempunyai fungsi berlainan sel dan tiap sel bereaksi berbeda dalam tubuh kita. Neurotransmiter terhadap zat psikoaktif yang berbeda. yang penting diketahui dalam kaitan dengan penggunaan zat psikoaktif Faktor Genetik adalah dopamine, serotonin, Tidak semua orang pernah mencoba asetilkolin, adrenalin dan noradrenalin, zat psikoaktif dan bagi yang pernah gama-amino-butyric acid (GABA), mencoba pun tidak semuanya akan glisin, glutamate, dan asam aspartat. mengalami ketergantungan. Bagi yang Neurotransmiter dopamine pada jaras telah mengalami ketergantungan ada mesolimbik di otak akan memberikan yang bisa berhenti menggunakan rasa nikmat atau puas, dari menikmati zat psikoaktif tersebut, sementara konser sampai memperoleh orgasme. sebagian lainnya sulit atau bahkan Untuk memperoleh kenikmatan yang tidak bisa melepaskan diri dari alami ini, mesolimbik dibantu oleh ketergantungan itu. senyawa alami yang terdapat dalam otak, yaitu endorphin (bentuk alami Tidak dapat diingkari bahwa faktor dari morfin/heroin), anandamida lingkungan sangat berpengaruh (mariyuana), asetilkolin (nikotin), penting dalam ikut menentukan dan dopamine sendiri (kokain dan apakah seseorang menjadi amfetamin). ketergantungan atau tidak. Di lain pihak, faktor genetik lebih memegang Zat psikoaktif menyebabkan peranan penting dalam hal terjadinya perubahan perilaku, perasaan, pikiran ketergantungan zat psikoaktif. dan persepsi karena berpengaruh Sebagai contoh adalah keterganpada satu atau lebih neurotransmitter. tungan alkohol. Di dalam tubuh kita, Semua zat psikoaktif mempengaruhi alkohol akan diubah oleh enzim di dopamine pada VTA, NAc, dan korteks hati menjadi asetaldehid yang sangat prefrontal. Selain ketiga tempat beracun bagi tubuh kita. Pada orangtersebut, opioida bekerja pada nucleus orang tertentu yang memiliki enzim arkuatus, amigdala, lokus sereleus, asetaldehid-dehidrogenase, mereka dan substansia grisea periakueduktus. dapat mengubah asetaldehid yang beracun tersebut menjadi asam Pada alkohol, selain mempengaruhi asetat dalam tubuh yang dapat ketiga hal tersebut, alcohol juga digunakan sebagai sumber energi. bekerja pada neuron GABA-ergik Ada atau tidaknya enzim asetaldehidVol1 No2 Maret 2010

173

PSIKoLoGI BIoLoGI

dehidrogenase pada diri kita adalah tergantung genetik kita apakah dapat menyediakan/ memproduksi enzim tersebut atau tidak? Apabila secara genetik tubuh kita dapat memproduksi enzim tersebut, maka perilaku kita akan lebih dapat menerima minuman beralkohol dalam jumlah yang lebih banyak daripada individu yang tidak dapat menghasilkan enzim tersebut sehingga meminum sedikit alkohol saja sudah menimbulkan reaksi keracunan. Itulah sebabnya kalau kita bicara genetik maka kita akan bicara soal ‘bibit’ dan lebih mudah menemukan ayah yang pemabuk dengan anaknya yang juga memiliki ‘bibit’ untuk menjadi pemabuk. Hal ini bukanlah suatu kebetulan belaka tetapi suatu mekanisme biologis yang berhubungan dengan penurunan sifat/ genetik. Simpulan Setelah memperhatikan bahwa ada struktur otak tertentu yang berperan penting dalam memberikan kenikmatan dan neurotransmitter tertentu yang bekerja secara spesifik terhadap zat psikoaktif yang berbeda dalam otak kita maka jelaslah sudah bahwa masalah adiksi adalah masalah di dalam otak kita. Mudah atau sulitnya sistem dalam otak kita itu dipengaruhi oleh zat adiktif juga telah terbukti berhubungan dengan sifat genetik yang diwariskan dari orang tua kita.

Jadi kalau kita melihat secara menyeluruh masalah adiksi ini maka adiksi bukan hanya masalah lingkungan, budaya atau pendidikan agama untuk menjadikan seseorang beriman dan lebih tahan terhadap godaan zat-zat adiktif melainkan ada peran serta factor otak yang apabila sudah dipengaruhi maka melibatkan banyak mekanisme. Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa perilaku adiksi ini adalah ‘penyakit otak’ yang dapat bersifat kronik menahun.
• •

Daftar Rujukan

Goldstein, A. (2001). Addiction: From biology to drug policy (Ed.2, h. 12-13). oxford University Press. Joewana, S. (2003). Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif. (Ed.2, h.39-54). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kalat, J. W. (2004). Biological psychology (Ed. 8). Thomson International.
* Penulis adalah seorang Psikiater, Dosen Tidak Tetap pada Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara & Universitas Bhayangkara Jaya, Jakarta

174

Vol1 No2 Maret 2010

MAKE UP

Mengatasi

Wajah kucel

Friday night, pasangan ngajak kencan.. Seharian ngantor bikin wajah kucel…
Tidak perlu menghapus make up yang dipakai ke kantor. Cukup tambahkan sentuhan shimmer atau glitter. 1. Gunakan bedak tabur (loose powder) atau finishing powder. Biasanya bedak jenis demikian mengandung glitter. 2. Untuk eye shadow, gunakan warna-warna yang ekspresif. Misalnya hitam, deep denim, grey (sesuaikan dengan baju yang dipakai). Baurkan eye shadow pada kelopak mata. Gunakan eye shadow berbentuk liquid, cream atau pensil yang lebih mudah digunakan dan tahan lama. Jika tidak ada jenis demikian, bisa diakali dengan mengoleskan eye primer atau face primer pada kelopak mata sebelum pengaplikasian eye shadow.

Vol1 No2 Maret 2010

175

MAKE UP

3. oleskan mascara warna hitam (lebih baik jika waterproof). Dan gunakan eye liner tepat pada garis di atas bulu mata atas untuk kesan dramatis (optional). 4. Sapukan blush on warna peach pada tulang pipi. Warna peach akan memberi-kan kesan segar pada wajah, baik yang berkulit putih atau gelap. 5. Terakhir oleskan lipstick. Gunakan warna orange/ coral/beige jika ingin memusatkan tata rias pada mata. Atau gunakan warna merah maroon jika ingin memusatkan tata rias pada bibir. Tambahkan lip gloss untuk shimmering.

Model: Mia dan Dya Lokasi: Pizza Hutt Ciledug Kostum: EDGINA BOUTIQUE&SALON Ruko Puri Botanical, Jl. Joglo Raya Blok H7/23, Jakarta Barat. Telp:58906385 Make up by: Jilly (Oriflame Independent Beauty Consultant) HP: 08999 0262 99

(Model menggunakan: OB matte CONTROL foundation-Natural Beige, OB matte CONTROL Pressed Powder-Medium, air SOFT Powder-Clear, GG Luxury Suite, eye LINER stylo Black, blush TOUCH duo-Peach Blush, midnight colour L/S-Vibrant Beige)

176

Vol1 No2 Maret 2010

FoToGRAFI

Vol1 No2 Maret 2010

177

FoToGRAFI

178

Vol1 No2 Maret 2010

ToKoH

Makna Sebuah ujian
(Sebuah Wawancara dengan Prof. dr. komaruddin Hidayat, rektor universitas islam negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)
Pewawancara: M. luthfi dan agus Mulyana

Rubrik Tokoh memuat perjalanan hidup dan karier seseorang, kumpulan karya-karya yang pernah dihasilkan seseorang, maupun renungan dan pemikiran seseorang. Rubrik ini mencoba untuk menjadi partner kritis dalam menguak kisah pasang-surut di balik kehidupan manusia. Mudah-mudahan dapat dipakai sebagai cermin bagi kita dalam menapaki langkah-langkah kehidupan yang penuh dengan pelbagai kemungkinan dan pilihan.

Pengantar Redaksi Akhir-akhir ini Bangsa kita mengalami berbagai cobaan yang sangat memprihatinkan. Seolah penderitaan silih berganti menghampiri kita. Suatu saat media sibuk dengan peliputan konflik antar putra bangsa yang menimbulkan ribuan korban jiwa yang tak berdosa, kita harus menyaksikan korban-korban teror yang mengguncang Ibukota. Tak lama kemudian media haru-biru dengan pemberitaan kelaparan dan kematian yang disusul dengan bencana alam yang dahsyat. Bencana alam ini seolah tak pernah berhenti; banjir, longsor, gempa bumi, tsunami dan gunung meletus. Di sela-sela itu, banyak sekali pemberitaan mengenai kekerasan terhadap anak; pemerkosaan, pemukulan bahkan pembunuhan. Kepahitan bangsa ini tak berhenti di situ karena kenyataan juga menunjukkan bahwa anak-anak juga mengalami trauma karena seksual abused yang terjadi di salah satu
Vol1 No2 Maret 2010

179

ToKoH

pulau cantik yang sangat terkenal di dunia. Berbagai peristiwa yang terjadi kemungkinan besar akan meninggalkan efek psikologis yang luar biasa bagi si korban. Beberapa waktu lalu, MerPsy menyambangi ruang kerja Prof. Komaruddin Hidayat, seorang tokoh nasional penulis buku best seller Psikologi Kematian, di Rektorat Universitas Islam Negeri Jakarta. Kedatangan MerPsy tentunya ingin mendapatkan informasi berharga akan “makna sebuah ujian”. Prof. Komaruddin di dalam beberapa tulisannya seringkali memberikan penyadaran kepada kita akan arti sebuah hidup sekalipun kita dihadapkan dengan suatu masalah ataupun ujian, bahwa hidup adalah bermakna. Karena ujian adalah satu paket dengan kehidupan, dan yang memberikan rasa dan warna di dalam memaknai arti sebuah hidup. Optimisme selalu diusung karena ada hidup setelah kematian. Bagi sebagian orang pasti pernah terlintas pemikiran kenapa ya kita selalu di uji? Apa sih sebenarnya, makna sebuah ujian….? Beberapa untaian kalimat yang tertata dari hasil pemikiran brilian Prof. Komaruddin Hidayat tertuang di dalam wawancara kami berikut ini.

Bagaimana Bapak melihat fenomena mulut manusia. Banyak contoh dari berbagai musibah yang terjadi dan ujian hidup sehari-hari diantaranya menimpa saudara-saudara kita? yang sangat sederhana. Ada orang yang sedang terburu-buru ke bandara Prof. Komaruddin Hidayat (KH): Saya agar tidak tertinggal. Namun ketika melihat fenomena berbagai macam sampai di bandara ternyata ia musibah yang terjadi dan dialami terlambat. Di balik keterlambatannya oleh sebagian besar di pelosok tanah ada maknanya, yaitu pesawat yang air adalah sebagai suatu ujian. Setiap seharusnya ditumpangi mengalami manusia yang hidup di dunia pasti akan kecelakaan. mengalami ujian. Hidup takkan lepas dari ujian. Jika ingin naik tingkat … ya, Bagaimana Bapak melihat dampak kita harus mampu menghadapinya, dari ujian yang terjadi di sekitar kita? untuk mencapai tahap hidup yang lebih tinggi. Ujian takkan usai hingga nafas KH: Ujian dapat berupa kesenangan tidak berhembus lagi dari hidung dan hidup maupun kegetiran bahkan
180
Vol1 No2 Maret 2010

ToKoH

penderitaan di dalam hidup. Ujian itu terdiri dari dua sisi, dari sudut pandang mana kita bisa menyikapinya dua sisi tersebut, Pertama, kembali pada diri sendiri atau harus menilai pada diri sendiri apakah musibah itu datang dari diri kita sendiri atau mungkin kesalahan kita. Kedua, untuk dirinya berubah peluang naik kelas/pangkat, karena dari setiap ujian itu pasti ada makna tersembunyi yang membuat kita lebih mandiri. Musibah artinya suatu kejadian yang tidak diinginkan menimpa seseorang. Sebagai contoh, jika lempengan perut bumi patah lalu terjadi gempa, di situ berlaku takdir Tuhan, bahwa daya tahan lempeng bumi ada batasnya. Batas atau ukuran adalah takdir. Di situ berlaku hukum sebab-akibat. Yang menjadi persoalan adalah ketika sudah mengetahui bahwa kita berada di lokasi yang rawan gempa atau musibah, namun kita tidak mau menghindarinya, maka seseorang berada dalam waktu dan tempat yang secara lahiriah salah, sehingga terkena musibah. Gempanya sendiri merupakan fenomena alam, berlaku hukum sebab-akibat mengapa terjadi gempa. Tetapi jika manusia sudah tahu di situ dikenal sebagai daerah gempa, namun tidak mau pindah, maka anugerah kebebasan yang dimiliki tidak dimanfaatkan untuk menjauhi musibah gempa. Jika seseorang sama

sekali tidak tahu, atau sudah berusaha maksimal namun musibah terjadi, maka di situlah kita mesti bersangka baik pada takdir dan musibah yang menimpa seseorang. Di situ ada hukum sebab-akibat yang kita tidak tahu, dan sebaiknya kita sikapi dengan pasrah dan ikhlas; semuanya dikembalikan pada Tuhan Pemilik kehidupan. Manusia tidak bisa keluar dari takdir, karena semua ciptaan Tuhan telah ditentukan sifatnya sehingga manusia diminta memahaminya agar tidak terjadi musibah. Kalau pun terjadi musibah, itu pun ada hukum sebab-akibatnya, namun ada yang kita ketahui dan ada yang kita tidak sanggup mengetahui penyebabnya. Ada dua kemungkinan yang terjadi di dalam bencana atau musibah yaitu “kehidupan dan kematian”, bagaimana pandangan Bapak untuk menyikapi orang yang masih hidup sebagai korban bencana atau musibah? Apakah mereka akan mengalami trauma? KH: Musibah adalah sesuatu yang akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya. Kematian merupakan suatu fenomena alam yang sudah pasti dan akan datang pada setiap makhluk yang memiliki nyawa dan hidup. Karena pada dasarnya bagi kita yang hidup telah melakukan perjanjian khusus dengan Sang Khalik bahwa setelah kita dihembuskan
Vol1 No2 Maret 2010

181

ToKoH

nafas kehidupan maka akan diambil optimis dan mampu memaknai hidup. kembali. Kekuatan hidup juga akan tumbuh kalau yang mengalami peristiwa Adapun orang yang menjadi korban traumatik memiliki tekad untuk tetap bencana atau musibah, ada sebagian hidup. dari mereka memiliki kecenderungan mengalami trauma, karena tubuh Bagi mereka yang ditinggal mati, kita dapat merekam peristiwa- maka perlu adanya kepedulian dari peristiwa atau situasi yang dialami. lingkungan untuk dapat melakukan Jadi, peristiwa traumatik dapat saja ta’ziyah (yaitu mengunjungi mereka menimbulkan trauma bagi mereka yang ditinggal mati). Hal tersebut yang mengalaminya dan tak akan dilakukan karena semata-mata mudah terlupakan karena tubuh ini untuk berdo’a, merasa dirinya untuk merekam secara kuat apa yang pernah didekatkan oleh Tuhan. Secara dialami. psikologis, acara ini banyak manfaatnya. Pertama, dapat menghibur keluarga Bagaimana cara kita dapat yang terkena musibah. Kedua, sebagai membantu mereka yang mengalami ajang silaturrahmi sesama tetangga trauma? Atau bahkan ditinggal mati dan teman dekat. Jadi, sebagai oleh keluarganya? keluarga atau teman karib harus selalu membantu dan mendorongnya agar KH: Banyak cara untuk dapat mereka bisa menjalankan kehidupan membantu mereka yang mengalami dengan baik. Lebih dari itu, bagi kita trauma. Untuk individu itu sendiri yang berkunjung sebagai peringatan bahwa agama adalah penolong utama akan kematian. seseorang ketika mengalami ujian. Terkadang ada orang yang sudah Agama mampu meredam penderitaan berusaha dalam berbagai cara di yang menimpa manusia. Dengan dalam menghadapi ujian, namun kekuatan iman dan rasa kedekatan orang cenderung berprasangka dengan Tuhan, seorang yang terkena bahwa Tuhan belum berpihak musibah, sebesar apa pun akan kepadanya, sedangkan kematian sanggup menanggungnya. Mereka tidak kunjung juga dia temukan? mampu menerima kenyataan bahwa dirinya sedang diuji. Dukungan dari KH: Di dalam menghadapi ujian, luar juga (kerabat, keluarga, teman, kita perlu belajar dari anak kecil, dokter) sangat membantu individu bagaimana anak kecil belajar naik yang sedang diuji untuk dapat sepeda kemudian jatuh, mencoba memandang masa depan secara lagi dan jatuh lagi tanpa merasa perlu jaim (red: “jaga image”). Begitu pula,
182
Vol1 No2 Maret 2010

ToKoH

sebagai ladang menuai amal shaleh. Memanfaatkan waktu yang diberikanNya hingga menuai berkah kehidupan paripurna (dunia dan akhirat). Seperti V. Frankl; meskipun berada di dalam situasi dan kondisi yang tidak dapat lagi melakukan pilihan ---hidup dipenjara dan akan dihukum mati oleh Nazi-- namun ia memiliki tekad, bahwa hidupnya harus memberikan makna bagi orang lain. Dalam pengertian lain, ketika kita dihadapkan dengan ujian apapun bentuknya, kita sendiri yang dapat memberikan arti penuh terhadap makna kehidupan sekalipun dalam keadaan terhimpit. Yakin ada hikmah di balik semua ujian, karena Tuhan adalah pembuat skenario yang hebat. kita di dalam menghadapi berbagai ujian tergantung dari cara pandang kita. Dari situ kita belajar memaknai sebuah ujian, di mana dalam sebuah ujian kita harus bersikap positif untuk menyikapinya. Jika kita memaknai secara negatif, maka kita akan tersiksa dan itu akan menyiksa diri kita. Sebaliknya, kita perlu menghadapi dengan penuh keikhlasan. Hanya ada dua jalan keluar di dalam mencapai kemenangan dalam ujian sekaligus kebahagiaan yaitu Tuhan dan kematian. Kita harus kembalikan secara ikhlas kepada Tuhan. Bagi individu itu sendiri, mereka yang mampu menghargai hidupnya akan membuat kehidupan Adapun kematian, meskipun benar adanya tetapi tak hanya diratapi dengan sikap pesimis melainkan mengisi kehidupan dengan sikap optimis. Karena dengan sikap optimisme hidup kita yakin bahwa setelah kematian ada kehidupan yang sungguh amat nyata kehadirannya. Life after life. Pada dasarnya manusia percaya sesudah kehidupan ini ada kehidupan lain. Dalam diri (jiwa) setiap orang (orang suci dan juga orang bejat) memiliki harapan yang sama tentang hidup setelah kematian. Kegelisahan pada akhirnya membawa manusia kepada kecemasan dan ketakutan. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah proses berupa penolakan bahwa masingmasing kita tidak mau mati. Setiap
Vol1 No2 Maret 2010

183

ToKoH

orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan ke pintu kematian. Banyak orang bersikap demikian, karena tak memahami apa sesungguhnya kematian. Kematian bagi mereka adalah misteri yang tiada pemecahannya. Dalam pandangan Imam Ghazali, ada beberapa alasan mengapa manusia takut terhadap kematian. Pertama, karena ia ingin bersenang-senang dan menikmati hidup ini lebih lama lagi. Kedua, ia tidak siap berpisah dengan orang-orang yang dicintai, termasuk harta dan kekayaannya yang selama ini dikumpulkannya dengan susah payah. Ketiga, karena ia tidak tahu keadaan mati nanti seperti apa. Keempat, karena ia takut pada dosa-dosa yang ia lakukan selama di dunia ini. Kematian kerapkali menjadi dramatis, apalagi kalau peristiwa itu melibatkan diri kita, orang yang kita cintai, orang yang sangat kita butuhkan, orang yang mempengaruhi atau menentukan jalur hidup kita. Akibatnya, meskipun kita (manusia) hidup di alam dimana semua makhluk lahir, tumbuh dan mengalami kematian, tidak begitu mudah menerima kematian itu sendiri, atau menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Esensi sikap penolakan akan kematian karena kematian selalu diindentikkan dengan tragedi, sakit, ketidakberdayaan, kehilangan, dan kebangkrutan hidup.

Saya dapat analogikan dengan orangtua saya. Ketika belum tahu Jakarta, takut datang ke Jakarta. Apa yang mesti ditakutkan? Datang saja belum. Begitu juga dengan kematian. Sudah selayaknya kita menyambut kematian dengan kebahagiaan, karena berarti kita meninggal dengan damai, bagaikan pulang mudik dan bertemu dengan kekasih kita yaitu Tuhan. Karena segala yang berkaitan dengan pulang pasti menyenangkan; “pulang sekolah, pulang ke rumah, pulang mudik?” Semuanya menyenangkan, tentunya bagi anak yang memiliki orangtua yang penuh cinta dan kasih sayang kepadanya. Sebaliknya jika tidak ada cinta dan kasih sayang dari orangtua, maka anak akan takut pulang ke rumah. Ketika mudik tentunya ada yang perlu dipersiapkan. Tidak akan sama orang yang hidup di dunia melakukan kejahatan dengan orang yang berusaha berjuang di dalam menghadapi ujian dengan penuh keikhlasan. Setelah kehidupan di dunia tidak berarti tutup buku. Kalau begitu enak dong orang yang melakukan kejahatan tidak mendapatkan hukuman? Jadi kita sendiri yang menentukan hasil akhir; yakni bagaimana kita memerankan dan memaknai ujian dan peran dalam kehidupan.

184

Vol1 No2 Maret 2010

ToKoH

Sebagai penutup kami meminta peluang untuk mengikuti ujian lalu ia pandangan Bapak pemahaman tidak memanfaatkan peluang tersebut “Makna Sebuah Ujian”? secara optimal sehingga tidak lulus. Hidup memiliki makna, karena hidup KH: Pada hakikatnya ujian itu sendiri mengajari kita tentang kematian sebenarnya adalah sesuatu hal yang (pintu keabadian). Selalu ada hikmah sangat positif. Yang tidak positif dari setiap peristiwa dan kejadian yang adalah jika seseorang yang telah diberi kita alami sebagai bentuk sunnatullah.

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat
Lahir Muntilan, Pabelan, Magelang, 18 oktober 1953 Agama Islam Jabatan Rektor UIN Jakarta, 2006-2010 Pendidikan • Pondok Pesantren Pabelan, Magelang (1969) • Sarjana Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta (1981) • M.A. dan Ph.D. bidang Filsafat pada Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1995) • Post Doctorate Research Program di McGill University, Canada (1995) • Post Doctorate Research Program di Hartfort Seminary, Connecticut, AS, selama satu semester (1997) • International Visitor Program (IVP) ke Amerika Serikat (2002) Pengalaman • Direktur Eksekutif Yayasan Paramadina (1996-2000) • Associate Trainer/Consultant bidang HRD pada Vita Niaga Consultant (1999) • Dosen Institut Bankir Indonesia (2000-sekarang)

Vol1 No2 Maret 2010

185

tokoh

• • • • • • • • • • • • • •

Advisory Board Member of Common Ground Indonesia (2001-sekarang) Guru Besar Filsafat Agama, UIN Jakarta (2001-sekarang) Pendiri dan Penasihat Madania Islamic School di Bogor (2001-sekarang) Ketua Indonesia Procurement Watch (IPW) (2002-sekarang) Dosen Pascasarjana Universitas Gajah Mada (2003-sekarang) Ketua Panitia Pengawas Pemilu Pusat (2004) Dewan Pertimbangan Pendidikan DKI Jakarta (2004-sekarang) Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan RI (2005-sekarang) Direktur Indonesia Institute for Civic Education (ICCE) (2005-sekarang) Kepala Divisi Pendidikan Yayasan Sukma untuk pemulihan pendidikan di Aceh dan Nias pasca-Tsunami (2005) Anggota Pendiri Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA) (2006) Rektor UIN Jakarta, 2006-2010 Anggota Tim Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (2007) Telah berkeliling hingga 30 negara dalam rangka seminar dan studi komparatif untuk masalah kebudayaan dan pengembangan keagamaan dengan berbagai universitas dan NGO.

Karya Tulis • Agama Masa Depan (1995, sebagai co-author) • Memahami Bahasa Agama (1996) • Passing Over (1998, sebagai co-editor) • Tragedi Raja Midas (1998) • Tuhan Begitu Dekat (2000) • Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi (2002) • Pesan Damai Idul Fitri (2003, sebagai kontributor) • Manuver Politik Ulama (2004, sebagai co-author) • Islam, Negara, dan Civil Society (2005, sebagai co-editor) • Politik Panjat Pinang: Di Mana Peran Agama? (2006) • Menafsirkan Kehendak Tuhan (2003) • Psikologi Kematian (2005) • Psikologi Beragama, Menjadikan Hidup Lebih Nyaman dan Santun (2006) • The Wisdom of Life: Menjawab Kegelisahan Hidup dan Agama (2008) • Reinventing Indonesia (2008; sebagai Editor bersama Putut Widjanarko) • Berdamai dengan kematian (2009)

186

Vol1 No2 Maret 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->