P. 1
KIK toksikologi industri

KIK toksikologi industri

|Views: 3,309|Likes:
Published by dr. M.F. Romdhoni

More info:

Categories:Types, Research
Published by: dr. M.F. Romdhoni on May 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

Dalam upaya pemeliharaan kesehatan, berbagai macam cara
pembayaraan dipergunakan pada waktu sehat maupun sakit. Pada umunya
orang baru membiayai pemeliharaan kesehatannya pada saat sakit saja. Hal ini
tentu menambah kerugian karena pada saat sakit penghasilan kemungkinan
menurun demikian pula produktivitasnya. Untuk masyarakat berpenghasilan
rendah hal ini akan manjadi beban yang sangat berat dan suatu lingkaran tanpa
henti. Sistem pemeliharaan yang kompetitif terutama melalui pembayaran
dimuka (Prepaid), adalah jika pelanggan sebelum sakit atau sebelum
memperoleh pelayan medis dari dokter atau rumah sakit telah membayarnya
melalui asuransi kesehatan. Hal ini tentu berbeda dengan free for service
dimana pelanggan atau asuranssi kesehatan langsung membayar setelah
memperoleh pelayanan medis. Dengan system pprepaid pelanggan dapat
memilih fasilitas medis (dokter, rumah sakit, asuransi kesehatan) yang
dikehendakinya, berdasarkan informasi terbukayang diperolehnya tentang
mutu, harga pelayanan, dan lain-lain yang ditawarkan. Dengan sisitem tersebut
dapat didorong upaya-upaya preventif dari penyakit dan memberi kesempatan
pelayanan kesehataan dasar kepada bidan dan paramedic yang tidak mahal
(Azwar,1996).

31

Dengan program asuransi kesehatan atau jaminan pemeliharaan
kesehatan (managed care) diharapkan akan membantu mengatasi hal tersebut.
Dimana seseorang telah membiayai kesehatannyapada saat masih sehat atau
sebelum sakit. Beberapa bentuk cara pembayaran pemeliharaan kesehatan
antara lain:
1.Dengan cara pembayaran konvensional , pasien membayar langsung dari
sakunya out of pocket) kepada dokter. Terjadi hubungan transaksi
langsung dokter pasien atas jasa yang telah diberikan oleh dokter yang
biasanya berupa tindakan kuratif. Biaya ini cenderung selalu meningkat
dan membebani pasien apalagi pada saat pasien sedang sakit, yang bahkan
mungkin tidak memiliki biaya.
2.Pemeliharaan kesehatan dengan system asuransi kesehatan ganti rugi ,
dalam sistem ini pasien membayar iuran /premi kepada asuransi
kesehataan secara pra upaya. Pada saat sakit setelah mendapat pengobatan
dan dokter, pasien langsung membayar tunai pada dokter, selanjutnya
pasien mengajukan klaim kepada kepada asuransi kesehatan dan
mendapatkan penggantian. Pada system ini perusahaan asuransi tidak
berhubungan langsung dengan provider.

Skema1. Sistem asuransi ganti rugi

3.

Pemeliharaan kesehatan dengan system tagihan provider , dalam system
ini terjadi hubungan antara provider-pasien melalui pihak ketiga.
Pasien membayar iuran (premi) dengan cara bayar dulu dimuka
kepada asuransi, kemudian asuransi membayar klaim provider setelah
memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien sesuai dengan tarif
provider. Disini pasien tidak klaim kepada perusahaan asuransi.
Dalam system ini pelayanan kesehatan cenderung kuratif dengan
pelayanan kesehatan yang cenderung meningkat karena provider akan
memberikan jasa secara berlebihan, bahkan kurang diperlukan pasien

Perusahaan
asuransi

pasien

Provider
/
PPK

Bayar tunai

pelayanan

premi

Klaim

Ganti rugi

32

dengan maksud agar dapat klaim yang sebesar-besarnay dari
perusahaan asuransi. Demikian pula dengan pasien akan meminta
pelayanan berlebihan bahkan yang sesungguhnya tidak perlu.

Skema 2. Sistem asuransi dengan sistem tagihan provider

4.

System jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM)
Didalam sistem JPKM (managed care) terdapat hubungan
setara yang saling menguntungkan bagi 3 elemen, yaitu peserta,
provider, dan perusahaan asuransi (badan penyelenggara JPKM).
Pasien membayar premi kepada BAPEL JPKM secara bayar dimuka
(prepaid) atau membayar dulu sebelum sakit atau belum membutuhkan
pelayanan kesehatan. Kemudian BAPEL JPKM membayar kapitasi
sesuai jumlah peserta JPKM yang dipercayakan dan memberikan
pembayaran dimuka kepada provider sebelum pemberian pelayanan
jasa oleh provider yang bersangkutan setiap bulan atau sesuai
perjanjian. Selanjutnya provider diwajibkan untuk memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien atau peserta tanpa memungut biaya
(Wijono,2000)

Pasien/peserta
askes

Provider/PPK

Asuransi
kesehatan

pelayanan

Bayar klaim

Klaim

premi

33

Skema 3. Sistem JPKM

2.4.2 Sejarah singkat tentang penerapan sistem JPKM di indonesia:
Pada tahun 1980 pemikiran tentang suatu anggaran dana kesehatan
semakin dimantapkan pengelolaannya, hal ini dibuktikan dengan perubahan
status badan penyelenggara dana pemeliharaan kesehatan menjadi perum
husada bakti PHB berdasarkan PP nomor 23/1984, kemudian seiring dengan
waktu PHB menjadi makin berkembang dan mandiri menjadi perusahaan
swasta berbentuk perseroan terbatas yang dikenal sebagai PT Askes indonesia.
Pemeliharaan kesehatan tenaga kerja (PKTK) yang dikelola oleh PT
Astek-depnaker bekerjasama dengan depkes yang diatur dalam SKB menaker
dan menkesyang selanjutnya berkembang mandiri menjadi PT jamsostek yang
lebih dimantapkan dengan keluarnya UU No.3/1992.
Pada masa 1990, JPKM ditujukan untuk pemerataan peningkatan mutu
dan kendaloi biaya kesehatan. Keterpaduan pembiayaan kesehatan dengan
pelayanannya harus terjalin dalam hubungan antara badan penyelenggara
dengan pemberi pelayanan kesehatan dan pesertanya yang perlu diikuti dengan
pengelolaan upaya lainnya(managed care)agar terjamin pemeliharaan
kesehatan yang diharapkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->