P. 1
Modus Aceh - Edisi 06, Tahun 6, 2008

Modus Aceh - Edisi 06, Tahun 6, 2008

4.6

|Views: 1,640|Likes:
Published by Indonesia

More info:

Published by: Indonesia on Jun 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2015

pdf

text

original

TABLOID BERITA MINGGUAN

Rp 4000,(Luar Aceh Rp 4.500,-)

NO.06/TH.VI Minggu IV, Mei 2008

M DUS ACEH
BIJAK TANPA MEMIHAK

www.modusaceh-news.com

Foto/Desain Cover: Firmansyah

2

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Redaksi

Haba Haba Peuingat Peuingat
Èk mi èk jén, kurajah ku rajén, puleh nyo teuka laén
APA Karim minta maaf terlebih dahulu karena sudah memakai kata-kata para Pawang Aceh pada saat merajah orang sakit. Tapi kalimat “Èk mi èk jén, kurajah ku rajén, puleh nyo teuka laén” sangat pas untuk keadaan sekarang ini. Baik untuk Nanggroë Endatu itu sendiri atawa di Nanggroë-nanggroë laén man si gom donya. “Puleh nyo teuka laén”, selesai satu masalah muncul masalah lain. Itulah gambaran sekarang, lebih kurang seperti itu. Malahan ada masalah atawa perkara yang tidak bisa diselesaikan dengan satu dua jurus Kambing Hitam, dan akhirnya lahir persoalan-persoalan lain. Tentu saja Kambing Hitam berubah menjadi “Badek klo tulo prip”. Masalah yang ada belum selesai, sudah antri masalah yang baru. Apa boleh buat, tutup mata, tutup telinga, tutup hati,……. habis perkara. La ku lihat wala ku ingat, aku selamat orang sekarat. Inilah hobi orang sekarang, yang penting dirinya sendiri, perkara orang ibarat “ta prak geunthot bak punggong lemo”. Inilah teungku-teungku meutuah, jangan dipikir ini perkara si at dua at, tapi perkara seperti ini yang membuat umat menderita setiap saat. Seperti APBA, sampai saat ini belum selesai-selesai. Teungku Waki Aceh ka mumang ulèè bak piké. Kalau sudah begini, Teungku Waki Aceh harus diajak jalan-jalan naik kapal terbang ke Nanggroë Penang. Dan anggaran naik kapal terbang masih bisa diselipkan ke dalam APBA 2008. Nyan..barou gadoh mumang. Apa Karim tak cukup tinta untuk menulis satu persatu perkara yang ada, semua juga pasti tahu karena setiap hari mengikuti informasi baik dari media lokal atawa luar negeri. Atas nama kebijakan penguasa, sudah tentu hamba sahaya menderita, seolah-olah ini sudah menjadi budaya, apalagi di negeri kita. Lain lagi di luar sana, contohnya saja Negara Adi Kuasa, yang menciptakan politik distribusi bencana. Tentu saja dengan cara menyebarkan ketegangan dalam bentuk program informasi harian yang menyiarkan berbagai krisis pada setiap siaran berita. Perang dulu belum berdamai, muncul lagi perang lain. Ibarat geuken, ”akai Mi agam”, tidak bisa melihat Negara lain maju. Ada-ada saja alasan yang dibuat untuk menekan Negara yang ingin maju.

Pembaca Budiman, Keputusan pemerintah menaikkan harga dasar bahan bakar minyak (BBM), suka atau tidak, membuat para pegiat industri di media cetak menjadi sedikit terpukul.

untuk menaikkan harga bahan bakar minyak, semakin membuat beban industri di media bertambah. Untuk menyikapi beban tersebut, suka tidak suka, para pengusaha industri media

■ MODUS/Rizki Adhar

Bagaimana tidak, setelah sebelumnya harga kertas yang merangsek naik secara drastis, kini keputusan pemerintah

pun melakukan segala cara untuk menyikapinya. Ada yang mengurangi halaman, pengurangan pegawai, hingga

menaikkan harga kertas. Dan cara yang terakhir kami ambil agar bisa tetap bernafas dalam masa yang sulit ini. Seperti yang telah kami sampaikan, terhitung 1 Juni 2008, harga media ini mengalami kenaikan Rp 500 per eksemplar. Dari harga sebelumnya Rp 4000, naik menjadi Rp 4500, untuk pasaran di wilayah Aceh. Sementara di luar Aceh, dari Rp 4.500 menjadi Rp 5000. Tentu saja, beban ini akan kami imbangi dengan pengajian informasi yang tetap tajam, akurat, terpercaya serta independen. Bagi kami pembaca setia, Anda adalah penentu. Sebab, sebagai media lokal yang mandiri, kami tak tergantung pada pemerintah, bantuan donor asing hingga para pejabat atau pengusaha hitam. Kami ada dan tetap bertahan, karena kami percaya bahwa kami adalah media yang memang pantas untuk Anda baca dan miliki. Semoga saja, masa-masa kritis, kenaikan harga BBM ini tidak merembes ke sektor sosial lain sehingga semakin menambah beban inflasi di Aceh, yang rata-rata di atas angka nasional. Semoga.

Tabloid Berita
Penerbit : PT. AGSHA MEDIA MANDIRI. Bank Account: PT Agsha Media Mandiri, Bank BPD Aceh, 01.05.641993.1, Bank BRI 0037.01.001643.30.9, Alamat Redaksi Jl. T. Iskandar No.102 Simpang Anoe Lambhuk Banda Aceh. Tlp. 0651-635322 Fax. 0651-635316, email: modus_aceh@yahoo.com, Biro Lhokseumawe Jl. Teumpok Teurendam No. 17 Pasar Inpres Lhokseumawe. Bijak Tanpa Memihak Tlp. 0645-42312, Pimpinan Perusahaan/Redaksi: Muhammad Saleh, Direktur Usaha: Agusniar, Direktur Operasional: Rizki Adhar Konsultan Hukum : Ansharullah Ida, SH, Sekretaris Redaksi: Risky Penanggung Jawab Foto: Dadang Herianto, Ilustrasi/ Desain Grafis: Firmansyah, Pemasaran/ Sirkulasi: Firdaus, M. Ichsan, Zubir, Iklan: Zainuddin Sekretariat/ADM: Aida Rifni,Putra Erwanda, Abdul Khalik, Iskandar Keuangan: Fitriani. Wartawan: Dadang Heryanto, Fitri Juliana, Martha Andival, Juli Saidi. Daerah: Takengon: Jurnalisa, Bener Meriah, Arsadi Laksamana, Suherdi Win Konadi Bireuen: Suryadi, Ikhwati, Lhokseumawe: Murthalamuddin, Siti Aima, Hamdani, Robi Junaidi, (Sirkulasi).Aceh Besar: Khaidir, Aceh Selatan: Hendri. Z. Simeulue: Rahimuddin
(Redaksi menerima sumbangan tulisan yang sesuai dengan misi tabloid ini. Tulisan diketik dua spasi, maksimal lima halaman kuarto. Redaksi berhak merubah isi tulisan tanpa menghilangkan makna, arti dan substansi dari tulisan tersebut)
Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik, wartawan MODUS dibekali dengan Kartu Pers. Tidak dibenarkan menerima atau meminta apapun dalam bentuk apapun dari siapapun.

MODUS ACEH

Bireuen

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

3

Saat BBM Bersubsidi Untuk Industri
PT. Cipta Karya Aceh (CKA), sebuah perusahaan jasa konstruksi di Bireuen, diduga telah mengkonsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi. Benarkah karena tingginya disparitas harga bersubsidi dengan non subsidi?

B

ila Anda melintasi Jalan Medan-Banda Aceh, persis di Desa Paya Meuneng, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Jangan lupa melirik sejenak ke arah selatan. Pasti mata Anda akan tertuju dengan sebuah bangunan yang megah dan cukup unik. Dikatakan unik, karena di atas atap bangunan itu bertengger sebuah kubah hijau tua. Tapi jangan salah, walaupun ada kubahnya, bangunan yang lumayan luas itu bukanlah mesjid, tempat ibadah ummat Islam. Makanya jangan pernah berhenti dan masuk untuk sembahyang, kalau kebetulan tiba di sana pas waktu shalat lima waktu. Bisa-bisa Anda dicegat Satpam yang selalu siap siaga 24 jam di depan. Ya, siapa sangka bangunan mentereng tadi adalah sebuah rumah. Melihat rumah yang arsitekturnya tak lazim itu pasti Anda bertanya-tanya, siapa pemiliknya? Tidak lain adalah milik H. Saifannur, seorang pengusaha jasa konstruksi yang cukup dikenal di Bireuen, bahkan Nanggroe Aceh Darussalam. Di belakang rumah yang konon berarsitektur gaya Turki tersebut ada kantor PT. Cipta Karya Aceh (CKA), perusahaan jasa konstruksi milik Haji Saifan, begitu panggilan akrab H. Saifannur. Di kantor itulah dia me-manage perusahaan yang sering memenangkan tender pembangunan jasa konstruksi berskala besar di berbagai daerah di provinsi paling ujung barat Indonesia ini. Nah, untuk men-support PT. CKA, Haji Saifan “menyulap” kawasan perbukitan yang letaknya tak jauh dari lokasi tempat tinggalnya itu, menjadi kawasan industri pengolahan bahan material bangunan. Seperti pabrik Asphal Mixing Plant (AMP), Batching Plant, dan Stone Crusher. Selama ini tidak ada masalah dengan pabrik-pabrik pengolah bahan bangunan milik Haji Saifan tadi. Namun belakangan ini tercium aroma tidak sedap dari kawasan perbukitan Paya Meuneng itu. Terendus kabar, untuk mengoperasikan pabrik-pabrik berteknologi tinggi tersebut, Haji Saifan diduga telah melakukan praktik yang kurang terpuji. Yakni, meng-

Kantor PT Cipta Karya Aceh dan PT Mutiara Aceh Lestari milik H. Saifannur. gunakan BBM jenis solar yang telah disubsidi pemerintah kepada masyarakat. Padahal sesuai aturan yang berlaku, BBM bersubsidi tidak dibenarkan dikonsumsi untuk keperluan industri. BBM bersubsidi hanya diperuntukkan untuk bahan bakar kendaraan bermotor atau kebutuhan lainnya bagi kepentingan masyarakat banyak. Sedangkan untuk kebutuhan perindustrian, pemerintah telah menentukan BBM tersendiri yang tidak disubsidi. Celakanya, industri raksasa milik pengusaha sukses itu ditengarai telah menggunakan solar bersubsidi sejak didirikan dua tahun lalu dengan begitu mulus. Sedikitnya membutuhkan 5 ribu liter solar setiap hari kalau beroperasi untuk menghidupkan pabrik-pabrik tersebut. Mencuatnya dugaan tadi, setelah Harian Aceh, edisi Jumat, 23 Mei 2008 lalu, mengendus masalah ini. Sumber media ini yang layak dipercaya menyebutkan, untuk mendukung operasional pabrik Asphalt Mixing Plant (AMP), Batching Plant dan Stone Cruisher, PT CKA telah menggunakan BBM bersubsidi sebagai bahan bakar utama. Dengan harga pasaran selama ini sekitar Rp 4.300 per liter (sebelum kenaikan harga BBM-red). Jauh di bawah harga solar untuk industri berskala besar yang berkisar di atas Rp 9 ribu per liter. Dalam menjalankan usahanya untuk dapat memperoleh solar dengan harga murah itu, Haji Saifan disinyalir berkolaborasi dengan sejumlah pengusaha SPBU yang ada di Bireuen maupun luar Kabupaten Bireuen. SPBU-SPBU itu telah menjalin kontrak kerja sama dan selalu menyediakan solar bersubsidi untuk kebutuhan industri Haji Saifan. Biasanya modus operandi pemasokan solar ke kawasan industri tadi dilakukan pada malam hari, ketika SPBU dan kendaraan di jalan sudah agak sepi. Itu kalau mereka memasoknya dalam partai besar. Tapi kadang-kadang dilakukan juga pada siang hari, kalau persediaan solar di pabrik sudah menipis. Informasi dari beberapa saksi mata, pengangkutan solar dari SPBU menggunakan armada truck yang di dalamya ditaruh drum minyak berisi solar. Selama dalam proses penyuplaian solar bersubsidi, iring-iringan truck tersebut selalu dibawah pengawalan ketat orangorang tertentu. Sehingga tidak ada kendala apapun selama dalam perjalanan menuju kawasan industri Paya Meuneng. Entah kenapa, praktik penyimpangan penggunaan BBM bersubsidi yang diduga dilakukan perusahaan penerima sertifikat International Standar Organization (ISO) 9001:2000 itu, tidak tercium sama sekali oleh aparat keamanan. Sehingga “penyedotan” solar bersubsidi untuk keperluan industri pengusaha sukses itu berjalan mulusmulus saja sampai sekarang. Tentu praktik semacam itu telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebab, telah ikut menikmati pengeluaran keuangan negara untuk mensubsidi BBM, yang seyogyanya diperuntukkan bagi masyarakat. Jelasnya, yang terjadi di lapangan, BBM bersubsidi telah salah sasaran. Sebagian besar bukan lagi dinikmati masyarakat banyak, tapi dinikmati kalangan pengusaha industri. Memang tak dapat disangkal, tingginya disparitas (perbedaan) harga antara BBM bersubsidi dengan non subsidi, salah satu penyebab terjadinya penyelewengan BBM bersubsidi di lapangan. Pengusaha industi akan berusaha dengan berbagai cara agar dapat membeli BBM bersubsidi yang harganya relatif murah. Ketimbang membeli BBM non subsidi untuk kebutuhan industri yang harganya mencapai dua kali lipat dari harga BBM bersubsidi. Lihat saja disparitas harga solar di antara keduanya yang cukup mencolok. Harga solar bersubsidi selama ini Rp 4.300 per liter. Sedangkan harga solar non subsidi untuk kebutuhan industri mencapai Rp 8.550 per liter. Hal inilah yang membuat pengusaha industri enggan membeli solar non subsidi dan lebih memilih menadah solar bersubsidi dari para pelangsir atau SPBU, yang harganya lebih murah. Dari kenyataan itu sangatlah beralasan apabila Haji Saifan lebih memilih membeli solar bersubsidi di sejumlah SPBU untuk menghidupkan pabrik pengolah bahan material bangunan yang dimilikinya. Walau secara aturan yang ditetapkan Menteri Pertambangan dan Energi, hal tersebut tidak dibenarkan. Sebab, BBM bersubsidi hanya untuk kebutuhan masyarakat yang non industri. Menurut M. Fauzi, S.Si, anggota DPRD Bireuen, apa yang telah dilakukan H. Saifan dengan menggunakan solar bersubsidi untuk kebutuhan industrinya, merupakan sebuah penyimpangan. Sebab, kata Fauzi, H. Saifan telah men-

■ MODUS/Suryadi

4

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Bireuen
Melihat kebutuhan solar yang mencapai 50 ton per hari kalau pabrikpabrik Haji Saifan beroperasi, pihak Pertamina juga tidak mungkin tidak mengetahui telah terjadi penyimpangan solar bersubsidi. Sebab, PT. CKA selama ini tidak membeli langsung BBM tersebut ke pihak Pertamina, sebagaimana aturan yang berlaku untuk kebutuhan kalangan industri. Tapi mereka membelinya di SPBU-SPBU yang harganya sudah disubsidi. “Ya, saya heran juga masa Pertamina tidak mengetahuinya dan mendiamkan saja. Saya menduga ada keterlibatan banyak pihak dalam penyimpangan solar bersubsidi ini,” terka Ketua Komisi A DPRD Bireuen tersebut. Kapolres Bireuen, AKBP. T. Saladin, SH, yang dtanyakan tentang masalah tersebut via telepon selularnya pada Sabtu, 24 Mei lalu, sedang dalam perjalanan pulang dari Banda Aceh. Dia mengaku belum menerima informasi dari anak buahnya, sehingga belum dapat berkomentar banyak. “Nanti saya cek dulu ya dari bawahan saya di lapangan,” ujar Saladin, singkat. Diperkirakan penyelewengan BBM bersubsidi akan semakin meningkat, setelah Pemerintah menaikkan harga BBM pada Jum’at malam, 23 Mei lalu. Rata-rata BBM bersubsidi naik sebesar 28,7 persen. Kenaikan harga itu mencakup tiga jenis BBM bersubsidi, yakni premium naik dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter atau naik 33,33 persen. Solar naik dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500 per liter atau meningkat sebesar 27,90 persen dari harga sebelumnya. Serta, minyak tanah menjadi Rp 2.500 per liter atau naik 25 persen dari harga selama ini Rp 2.000. Salah satu kecemasan yang hadir akibat kebijakan tersebut adalah penyelewengan BBM bersubsidi untuk rakyat miskin. Karena persoalan tersebut seakan tak pernah bisa diselesaikan pemerintah. Terlebih BBM untuk industri telah dinaikkan Pertamina mulai awal Mei 2008 sehingga ada disparitas harga yang lebar antara BBM bersubsidi dan industri. Misalnya, harga minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga naik Rp 500, sehingga harga sekarang menjadi Rp 2.500 per liter. Tapi minyak tanah untuk industri telah dinaikkan menjadi Rp 9.424 per liter untuk wilayah I. Selain itu, perbedaan harga solar untuk industri dan transportasi membuka celah untuk terjadinya penyelewengan. Solar bersubsidi yang naik menjadi Rp 5.500, masih cukup murah bila dibandingkan solar untuk industri yang telah dipatok dengan harga Rp 9.227. Dengan komposisi harga baru ini saja, tidak mustahil para spekulan dengan segala cara akan menimbun BBM bersubsidi yang kemudian dijual ke pengusaha industri. Meski ada risiko tertangkap, karena dari praktik demikian pelaku mendapatkan keuntungan yang cukup tinggi. Maka, disamping dampak kenaikan harga yang berimbas terhadap rakyat, ada permasalahan lain yang juga berpengaruh terhadap tata niaga BBM. Penyelewengan tersebut tentu juga akan menjadi beban anggaran. Sehingga konsumsi BBM yang tinggi dan ditopang dengan subsidi demikian besar, tetapi peruntukannya tidak tepat sasaran. ***

gambil alih solar bersubsidi jatah masyarakat bagi keperluan industrinya, yang notabene untuk tujuan komersil. Walaupun, sebut Fauzi, sebagai warga Negara dan bagian dari masyarakat umum, Haji Saifan juga berhak memperoleh BBM bersubsidi. Namun, dikatakan Fauzi, secara etika dan moral, seharusnya dia sebagai pengusaha besar tidak sepantasnya menikmati BBM bersubsidi. Apalagi Haji Saifan menggunakan solar bersubsidi itu untuk menggerakkan roda usaha industrinya yang tergolong besar. Sudah barang tentu kebutuhan bahan bakarnya juga besar. Begitupun, anggota Dewan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu tidak semata-mata menyalahkan Haji Saifan. Dia melihat ada konspirasi dengan sejumlah pengusaha SPBU untuk menyelewengkan solar bersubsidi bagi kebutuhan industri Haji Saifan. Pihak keamanan juga disebutkannya, mustahil tidak mengetahui telah terjadi penyimpangan penyaluran solar bersubsidi itu dalam kurun waktu yang sudah lama.

Suryadi (Bireuen)

H. Saifannur, Direktur PT. Cipta Karya Aceh (CKA)

Saya Tidak Merampas Jatah Rakyat!
Berapa banyak solar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pabrik pengolah material bangunan milik Anda? Kalau full beroperasi dalam sehari membutuhkan sekitar 50 ton. Tapi jangan salah, tidak tiap hari pabrik kami beroperasi. Ada yang seminggu dua hari, seminggu sekali. Bahkan ada sampai sebulan tidak beroperasi. Semuanya tergantung kebutuhan. Selain itu untuk kebutuhan apa lagi? Untuk kebutuhan bahan bakar armada angkutan dan alat-alat berat. Namun kebutuhannya juga tidak menentu, tergantung ada tidaknya alat-alat tersebut bekerja. Kalau lagi tidak ada pekerjaan ya diparkir saja. Dengan begitu tentu tidak diperlukan solar. Solar tersebut di mana Anda beli? Kami membelinya di SPBU Cot Gapu, kadang-kadang kami beli juga di SPBU Paya Meuneng yang letaknya berdekatan dengan lokasi pabrik. Pengangkutannya siang atau malam hari? Biasanya kami mengangkutnya pada malam hari. Tidak ada maksud apa-apa. Ini kami lakukan untuk tidak mengganggu konsumen lain yang sedang mengisi BBM dengan kedatangan armada angkutan kami. Di samping itu untuk menghindari terganggunya lalu-lintas di jalan dan area SPBU. Tapi ada juga yang kami ambil siang hari, kalau kebutuhan solar sangat mendesak. Anda juga mendapat suplai solar dari SPBU-SPBU dari luar nar. Kami memang memakai beberapa orang polisi sebagai pengawal. Tapi jangan salah, mereka bukan membekingi kami untuk memuluskan pendistribusian solar. Kami memakai mereka untuk menghindari tindakan-tindakan kriminal. Semacam perampokan, penculikan dan lain-lain, yang belakangan ini sering terjadi di Aceh. Anda memakai solar bersubsidi untuk keperluan industri, apakah dibenarkan? Saya tidak tahu hal tersebut dibenarkan atau tidak. Kalau memang tidak dibenarkan kenapa polisi tidak menangkapnya. Padahal kami sudah lama melakukannya dan tidak dengan cara sembunyi-sembunyi. Malah polisi selalu bersama kami. Mereka itu intel, Anda tahu kan bagaimana sistem kerja seorang intel. Walaupun mereka bekerja sama kita, tugas pokoknya sebagai intel tetap memantau dan melaporkan kepada atasannya setiap menemukan pelanggaran hukum di mana pun mereka bertugas. Tapi BBM bersubsidikan diperuntukkan untuk masyarakat? Benar untuk masyarakat. Saya masyarakat juga, kan berhak juga memakainya. Lagi pula pabrik pengolah material bangunan milik kami berproduksi untuk kebutuhan sendiri. Kami tidak berproduksi secara terus-menerus untuk menjualnya kepada pihak lain. Kalau sedang tidak ada pekerjaan konstruksi, otomatis pabrik-pabrik itu berhenti memproduksi bahan material bangunan. Jadi saya kira sangat wajar kalau kami memakai dan membeli solar sebagaimana masyarakat umum lainnya. Sebab, pabrik kami tidak sebagaimana industri besar lain yang secara terus-menerus berproduksi dan hasilnya diperjualbelikan kepada pihak lain. Jadi Anda tidak merasa telah melakukan penyimpangan BBM bersubsidi? Seperti saya katakan tadi, saya tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan. Karena saya tidak melakukan perbuatan yang merugikan pihak lain. Saya kira kami tidak merampas jatah rakyat miskin. Saya tidak memperkaya diri dengan mengambil hak-hak orang lain. Apalagi BBM yang kami gunakan adalah jenis solar yang jarang dipergunakan masyarakat kecil. Lain halnya kalau kami gunakan minyak tanah, yang memang kebutuhan masyarakat banyak. Bagaimana kalau pihak polisi menyatakan apa yang telah Anda lakukan selama ini sebuah penyimpangan? Saya siap menerima segala resikonya. Bahkan kalau memang diperlukan, saya siap menutup usaha saya. Bagi saya tidak masalah. Saya bisa pergi ke sawah, saya punya beberapa petak sawah. Cuma bukan itu masalahnya. Kita juga perlu memikirkan bagaimana nasib para pekerja di perusahaan saya yang jumlahnya sekitar tiga ratus orang lebih. Pasti akan bertambah lagi penganggur-penganggur baru. Adakah yang peduli nantinya terhadap nasib mereka? ***

H. Saifannur, Direktur PT Cipta Karya Aceh.
■ MODUS/Suryadi

Bireuen? Tidak ada itu. Kalau pun ada, itu tetap kami beli melalui SPBU tempat biasa kami berlanggganan. Jadi kalau persediaan solar sedang tidak ada, merekalah yang menunjuk SPBU lain. Kami tinggal mengambilnya saja. Kabarnya sewaktu penga-

ngkutan dari SPBU ke lokasi pabrik, armada angkutan dibekingi aparat keamanan? Dibekingi? Ha,,ha,,,ha,,,ha......, (Haji Saifan tertawa terbahak-bahak). Kayak saya melakukan perbuatan ilegal saja pakai dibekingi segala. Tapi kalau dikatakan dikawal aparat keamanan memang be-

Suryadi (Bireuen)

Bireuen
Raibnya Dana Rp 1,2 miliar

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

5

Begitu Mudah Untuk Saling Lempar Bola
Dua bulan sudah kasus dugaan penyelewengan dana pendidikan di Dinas P dan K Bireuen bergulir. Namun, hingga kini belum juga terungkap dengan jelas siapa yang harus bertanggung jawab. Fauzan dan pihak Bagian Keuangan Setdakab Bireuen saling lempar tanggungjawab.
Khusus (DAK) tahun 2007 untuk membayar uang minum. “Semua itu untuk meredam desakan uang minum, nantinya jika uang minum cair dari bagian keuangan akan segera diganti. Ternyata berkas uang minum diketahui belum diproses sampai selesai sehingga pembayaran dari bagian keuangan belum dilakukan. Karena itu saya terpaksa mengalihkan dana DAK untuk uang minum, walau pun mungkin itu salah,” jelas Fauzan. Informasi dari sebuah sumber, jika Fauzan bisa menyelesaikan kasus dugaan penggelapan uang minum dengan bukti administrasi yang tertahan pembayarannya di Bagian Keuangan, Fauzan diduga tidak akan lepas begitu saja, karena ia telah menggelapkan sejumlah dana Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pendapatan(PPn) pegawai yang tidak disetorkan ke kas daerah (kasda) yang nilainya ratusan juta rupiah. Terkait masalah pajak itu Fauzan mengatakan bahwa pajak tersebut langsung dipotong di Bagian Keuangan. Bendahara Umum Daerah (BUD), Muslem Syamaun, S,Sos, kepada media ini, Selasa lalu, membantah kalau pihaknya sengaja mengendapkan uang minum guru. Muslem menyebutkan, hal itu terjadi karena kesalahan Fauzan sendiri. Karena kata Muslem, pihaknya tidak hanya mengurusi belum dikeluarkan bagian keuangan. “Apa salahnya dia datang ke bagian keuangan dan mempertanyakan kenapa dana tersebut belum bisa dicairkan, sehingga kami bisa memprosesnya. Kenyataannya, dia malah terkesan tak perduli apakah berkasnya sudah beres atau belum. Karena bisa saja berkas tersebut terselip mengingat menumpuknya ratusan berkas yang harus kami urus,” ungkap Muslem. Padahal, katanya lagi, kalau saja Fauzan bersungguh-sungguh agar dana tersebut cepat cair, seharusnya dia mendatangi bagian keuangan untuk meminta berkasnya segera diproses, bukannya mendiamkan saja. Karena kalau Surat Perintah Membayar (SPM) dan Surat Perintah Penarikan Dana (SP2D) sudah diproses, selanjutnya hanya tinggal dibuatkan giro untuk pencairan dana. Jadi, bulan Desember atau Januari uang sudah bisa ditarik. Sehingga Fauzan tidak perlu mengambil uang dari DAK untuk membayar uang minum guru. Untuk saat ini, uang minum guru yang mengendap itu tidak bisa diluncurkan pada tahun 2008, kalau pun mau dicairkan lagi mungkin nanti bila masuk dalam APBD perubahan. Sementara itu Sekda Bireuen, Ir Nasrullah Muhammad yang dikonfirmasi Modus Aceh, Selasa

K

asus Raibnya dana Rp 1,2 miliar yang diduga melibatkan mantan bendahara Dinas P dan K Bireuen, tampaknya semakin kabur. Kelanjutan proses hukumnya pun kian tak jelas. Sementara hasil audit dari Bawasda Bireuen, juga tidak dipublikasikan ke publik. Sebaliknya, dilaporkan ke Bupati Bireuen. Setelah melakukan audit, Bawasda menemukan ada dua SP2D yang masih mengendap di Bagian Keuangan Setdakab Bireuen. Dalam SP2D itu diketahui bahwa dana sebesar Rp 903 juta lebih belum dicairkan oleh mantan bendaha Dinas P dan K Bireuen, M. Fauzan. Hal tersebut dibenarkan Kabag Keuangan Setdakab Bireuen, Tarmidi, Senin, 12 Mei lalu. Lalu, sejauhmana perkembangan kasus terbaru, dugaan penggelapan yang dituduhkan kepada Fauzan? Ada sejumlah berkas data administrasi usulan uang minum dan makan PNS tahun 2007 yang mengendap di Bagian Keuangan Setdakab Bireuen, dengan jumlah total Rp 903 juta. Rincinya uang minum guru untuk bulan September-Oktober 2007 serta uang minum guru umum di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN). Tarmidi mengatakan, kesilapan itu terjadi sebelum ia menduduki jabatan sebagai Kabag Keuangan. Menurut Tarmidi, berkas itu ditemukan di antara tumpukan berkas lainnya. Proses administrasi berkas uang minum itu belum diselesaikan sehingga bagian keuangan belum membayar kepada Fauzan. “Administrasi uang minum tersebut tidak dapat dilakukan lagi sekarang, karena kemungkinan uang minum itu sudah masuk dalam Silpa APBK 2008 sehingga tidak bisa diluncurkan tahun 2008,” terang Tarmidi. Fauzan, yang dikonfirmasi sejumlah wartawan, menyebutkan berkas usulan uang minum itu telah diserahkan ke Bagian Keuangan, tetapi proses administrasi tidak diselesaikan. Artinya, Bendahara Umum Daerah (BUD) belum mengeluarkan cek untuk berkas usulan tersebut sehingga untuk menutupi desakan para guru terkait uang minum. Kata Fauzan, ia telah mengalihkan sebagian Dana Alokasi

M. Fauzan, mantan bendahara P dan K Bireuen.
kan tersebut cukup besar. Namun katanya, kalau pemegang kas dinas P dan K teliti, dia kan bisa meminta prosesnya segera diselesaikan, sehingga uang minum tersebut bisa dicairkan dan tidak merugikan banyak orang, terutama guru. Maka wajar saja kalau selama ini guru marah karena ada hak-haknya yang belum dibayar. Mengenai pengakuan Fauzan yang menyebutkan kalau dia menggunakan uang DAK untuk membayar uang minum guru, Nasrullah mengaku kalau dia tidak mengetahuinya. Karena sepengetahuannya, DAK biasanya digunakan untuk pembangunan fisik. ”Kalau dia memang mengambil uang DAK, belum ada kepala sekolah atau guru yang protes dan keberatan, jadi mungkin saja dana itu bukan diambil dari DAK,” sebut Nasrullah. Sejauh ini Nasrullah belum bisa memastikan apakah hal itu terjadi karena kesilapan semata atau memang suatu kesengajaan. Namun dia mengakui kalau administrasi di hampir semua bagian, khususnya Bagian Keuangan Setdakab Bireuen, tidak tertib. Sehingga bisa merugikan banyak pihak. Karena itu dia sudah meminta agar administrasi ditertibkan, sehingga lebih mempermudah dan memperlancar semua pengurusan berkas-berkas di semua dinas dan bagian dalam lingkungan Pemkab Bireuen. Menanggapi berlarut-larutnya penyelesaian dan saling lempar tanggung jawab antara Bagian Keuangan Setdakab Bireuen dengan Fauzan. Sejumlah aktivis LSM anti korupsi di Bireuen meminta dan berharap agar persoalan tersebut segera diselesaikan sehingga tidak menimbulkan polemik di masyarakat. Koordinator Gabungan Solidaritas anti Korupsi (Gasak), Mukhlis Munir, kepada media ini, Rabu, 21 Mei lalu mengatakan. Kini bukan saatnya saling lempar tanggung jawab, melainkan dugaan penyelewengan tersebut harus segera dituntaskan dan dipertanggungjawabkan kepada publik. Alasannya, hal itu telah merugikan masyarakat dan juga

MODUS / Ikhwati

Sekda dan Kadis P dan K Bireuen.
administrasi dan perintah pembayaran dana untuk dinas P dan K, melainkan semua dinas dan bagian di Pemkab Bireuen. “Kami mana mungkin bisa mengingat satu persatu berkas administrasi yang mereka urus, apalagi bila bulan Desember, semua berkas menumpuk. Seharusnya mereka yang ingin dananya segera cair mendatangi kami untuk mengingatkan, bukan dibiarkan saja, bahkan sampai lima bulan,” terang Muslem beralasan. Ditambahkannya, selama ini sebelum kasus dugaan penyelewengan dana di Dinas P dan K Bireuen yang diduga melibatkan Fauzan itu mencuat, Bendahara Dinas P dan K itu terlihat tenangtenang saja dan tidak pernah mempertanyakan tentang berkas administrasi pencairan dana yang

MODUS / Ikhwati

pekan lalu mengaku heran dengan mengendapnya berkas data administrasi uang minum guru tersebut di Bagian Keuangan Setdakab Bireuen. Apalagi sampai lima bulan. Menurut Nasrullah, hal itu terjadi karena kurang telitinya bendahara Dinas P dan K Bireuen. “Saya tak habis pikir kenapa bisa terjadi seperti itu, logikanya kalau SPM dan SP2D sudah ada, kan cuma tinggal menunggu gironya saja. Jadi tidak perlu sampai mengendap selama lima bulan. Lebih aneh lagi mengendapnya berkas tersebut justru tidak diketahui oleh bendahara Dinas P dan K,” ujar Nasrullah heran. Disebutkan, pada bulan Desember memang banyak berkas yang menumpuk dan kemungkinan terselip diantara tumpu-

mencoreng dunia pendidikan di Bireuen. “Ini saatnya menyelesaikan masalah tersebut sampai tuntas, karena masyarakat menanti bagaimana akhir dugaan penyelewengan tersebut,” ujar Mukhlis. Mukhlis juga berharap agar Bupati Bireuen dan pihak birokrasi mempertanggungjawabkan masalah tersebut dengan menindak tegas semua pihak yang diindikasikan terlibat dalam dugaan penyelewengan di Dinas pendidikan. Karena itu, aktivis anti korupsi ini berharap agar Bupati Bireuen, Nurdin AR, mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan kasus tadi. ”Sejak kasus tersebut mencuat tak ada tindakan nyata dari Bupati maupun pejabat berwenang lainnya untuk segera menuntaskan persoalan, sehingga terkesan dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian,” sesal Mukhlis. Ditambahkannya, meski sebagian dana dari Rp 903 juta tersebut mengendap di Bagian Keuangan, namun tetap saja masalah itu harus dipertanggungjawabkan dan tidak dibiarkan begitu saja. Timbulnya kasus itu mengindikasikan adanya ketidakberesan di Pemkab Bireuen dengan amburadulnya administrasi yang diterapkan selama ini. Nuruzzahri, Koordiantor Simpul mahasiswa Anti Korupsi (SIMAK) Universitas Almuslim, Peusangan Bireuen juga menyatakan hal yang sama. Menurut Nuruzzahri, dugaan penyelewengan dan raibnya dana di Dinas P dan K Bireuen harus segera dituntaskan. Dan, siapa pun yang terlibat harus ditindak tegas. Maklum, berlarut-larutnya penyelesaian kasus tersebut telah menimbulkan teka-teki dan tanda tanya dikalangan masyarakat. ”Saya berharap pejabat dan birokrasi di Pemda Bireuen dengan jiwa besar mengumunkan kepada publik apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus tersebut sehingga semua menjadi jelas dan tidak ada lagi saling tuding diantar mereka,” harap Nuruzzahri.***

Ikhwati (Bireuen)

6

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Aceh Singkil

Terkait Tanah Reklamasi Pusong

Lahan Diharap, Penahanan Didapat
Karena menuntut hak, beberapa petani di Subulussalam, Aceh Singkil justru dimasukkan ke dalam sel. Itukah yang disebut keadilan?
airun (35), warga Subulussalam, Aceh Singkil, tak mengenal pasrah. Dia tetap menuntut pengembalian lahan miliknya, yang diduga telah beralih menjadi milik PT Ubertraco. Untuk perjuangan itu, Sairun harus menanggung resiko. Bersama lima warga lainnya, dia terpaksa mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Singkil selama sebelas hari. Selain Sairun, ada Jalil, Ali, Mudo Cibro, Rahmat PS, Demu serta Sidin. Penahanan Sairun Cs terkait tuduhan bahwa mereka telah merusak tanaman sawit milik PT Ubertraco. Akibatnya, perusahaan itu melapor ke aparat penegak hukum. Kasus ini kemudian berjalan di Pengadilan Negeri Singkil. Hasilnya, majelis hakim PN setempat memutuskan hukuman buat mereka. Kepada media ini, Sairun menjelaskan. Berawal dari aksi penyerobotan lahan warga yang dilakukan Ubertraco. Padahal, lahan yang digarap perusahaan itu masih berstatus quo atau belum menjadi milik para pihak. ”Tapi, Ubertraco memaksakan diri melakukan penanaman sawit di lokasi KM 10. Padahal, sebelumnya telah ada kesepakatan bersama bahwa warga dan Ubertraco tidak diperkenankan menggarap lahan itu sebelum ada kejelasan atas kepemilikan lahan itu,” ujar Sairun. Nah, PT Ubertraco rupanya tidak memperdulikan kesepakatan yang telah dibuat tadi dan bertindak secara sepihak serta terus melakukan penanaman

Ustad Sairun

S

■ Foto-Ist

Beberapa warga saat ditahan di LP Singkil. sawit. Kebijakan inilah yang membuat warga marah dan keberatan. Akibatnya terjadilah pengrusakan tanaman kelapa sawit di lahan sengketa tadi. “Kami ditahan karena dianggap merusak sawit Ubertraco. Ini akibat belum tegaknya keadilan di negeri ini,” kata Sairun, yang juga salah seorang guru agama Islam di sana. Menurut dia, penegak hukum tidak melihat penyebab dari semua itu tapi hanya melihat akibat dari yang mereka lakukan. “Ini jelas tidak adil,” katanya lagi. Sairun menjelaskan, sengketa lahan antara masyarakat dan Ubertraco ini cukup rumit. “Dengan penahanan ini mungkin Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil dan Pemerintahan Aceh, akan lebih memperhatikan persoalan yang dialami masyarakat,” ujar dia. Sejak ditahan, Sairun mengaku ada dikunjungi Wakil Ketua dan Komisi A DPRK Aceh Singkil serta Pj. Walikota Pemko Subulussalam. “Kami sampaikan kepada mereka jangan hanya masyarakat yang menjadi korban serta hak mereka terus dirampas. Sementara PT Ubertraco leluasa menguasai lahan masyarakat, tanpa ada yang berani bertindak,” tegasnya. Menariknya, setelah Sairun dan teman-temannya dibebaskan dari tahanan. Dia sempat juga di tahan di Mapolres Singkil. Saat itu, 24 April 2008, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar hadir ke Singkil untuk meresmikan lapangan terbang Hamzah Fansuri yang baru selesai dibangun. Jajaran kepolisian di Singkil menahan Sairun. Alasannya, Sairun telah melakukan perbuatan yang menganggu ketertiban umum. Begitupun, ayah dari tiga orang putra ini tetap bersabar. Kenyataan ini membuat sejumlah kalangan mengecam tindakan aparat penegak hukum di sana. “Ini sudah keterlaluan.

■ Foto-Ist

PT Ubertraco terlalu arogan. Kita akan membantu masyarakat untuk mendapatkan haknya kembali,” ujar Jaminuddin, Ketua Gempa, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sana. Hal yang sama juga dinyatakan Manager Program LSM Singkil People, Asrul. Kata dia, persoalan sengketa lahan yang terjadi antara Ubertraco dengan warga sampai hari ini belum ada penyelesaian secara arif dan bijaksana. “Ubertraco selaku perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit seharusnya merangkul masyarakat untuk dapat bekerja sama,” katanya. Menurut Asrul, sejauh ini masyarakat memiliki bukti kuat bahwa tanah itu milik mereka. Surat tersebut berasal dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Singkil. “Nah, kalau kemudian lahan mereka dihargai seperti kacang goreng, tentu saja warga menolak,” tegas Asrul. “Lahan saya sudah ditawarkan perusahaan untuk ganti rugi, saya tidak akan melepaskannya,” ujar Sairun. Alasannya, bagi dia menerima ganti rugi, sama dengan melepaskan penderitaan sesaat dan mewariskan penderitaan selama-lamanya bagi anakanak dan keluarganya.***

Martha Andival

Aceh Singkil

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

7

Benarkah PT UBERTRACO Merampas?
S
Wakapolres Aceh Singkil Kompol Donyar Kusumadji SIK. Kenyatannya, sampai hari ini, menurut Sairun, salah seorang warga yang tanahnya ikut diserobot, PT Ubertraco masih terus melakukan perluasan dan penanaman kelapa sawit di tanah yang masih disenengketa lahan antara Hak gketakan masyarakat Singkil. Guna Usaha (HGU) PT Masih menurut Sairun, sengketa Ubertraco dengan tanah masyarakat dengan lahan masyarakat Kemukiman HGU PT Ubertraco terjadi karena Pemuka, Kecamatan Singkil, Aceh pada waktu pengukuran yang dilakuSingkil hingga kini belum juga sekan BPN, tidak mengacu kepada peta lesai. penglepasan hutan untuk lahan Perusahaan milik Malaysia ini HGU PT Ubertraco yang dikeluarkan dianggap menyerobot lahan Menhut tahun 1986. masyarakat di 24 Desa, 5 KecamaNamun begitu, Manager tan dalam Kabupaten Aceh Singkil. Pengembangan Perkebunan PT Ubertraco Unit Ujung Bawang, Ir H Hasmi Adami, di hadapan Komisi A DPRD NAD Januari 2007 lalu, secara tegas membantah telah menyerobot lahan masyarakat seperti yang ditudingkan itu. Menurutnya, lahan yang selama ini digarap merupakan areal HGU perusahaan tersebut. “Kita tidak pernah menyerobot tanah warga. Semua yang digarap itu dalam wilayah HGU kami. Namun, benar atau tidak, ya kita tunggu hasil tim nantinya,” ujar Hasmi. Hasmi juga menjelaskan, luas areal HGU perusahaannya berdasarkan sertifikat tahun 1988 Martha Andival Bertemu Gubernur Irwandy Yusuf, meminta bantuan untuk menyelesaikan sengketa adalah 10.917 hektar, dan sertifikat tahun 1994 tanah dengan PT Ubertraco. 3.007 hektar. Sehingga total lahan PT Ubertraco Kemarahan masyarakat bukannya namun masyarakat tidak dibenar- seluas 13.924 hektar. Dari luas tersetidak beralasan. Sebab, sebelumn- kan lagi membuka lahan baru sam- but, katanya, Ubertraco baru membuya pihak Ubertraco sudah membuat pai ada kepastian pengukuran luas ka sekira 8.000 hektar, sementara sikesepakatan bersama dengan Mus- HGU PT Ubertraco. sanya sekitar 5.924 hektar lagi. Dalam pida Aceh Singkil bahwa untuk seKetiga, pemerintah akan men- pertemuan dengan warga, sejumlah mentara mereka menghentikan keg- gukur/mendata/mengembalikan keterangan yang disampaikan secara iatan perluasan lahan, sebelum tun- batas HGU PT Ubertraco sesuai bergantian, masing-masing Jaminudtasnya sengketa dengan warga. dengan izin HGU tahun 1988 den- din B,S.PdI (Ketua LSM Gempa), H Gerakan Masyarakat Pembe- gan menurunkan tim yang diben- Syamsuddin, dan Sabar Siregar menbasan (Gempa) Aceh Singkil dan tuk oleh Muspida. Jika ada lahan gaku mempunyai bukti kuat atas penysejumlah kepala desa dari Aceh masyarakat di dalam HGU, maka erobotan lahan mereka. Singkil, Rabu, 14 Maret 2007 tahun dikeluarkan karena lahan tersebut Malah, Syamsuddin yang juga lalu, mendatangi DPR Aceh untuk sudah ditelantarkan selama 20 mantan Kades Samardua dengan mengadukan nasib tanah perke- tahun. Keempat, PT Ubertraco tegas membantah tanah adat di bunan mereka yang digarap PT berkewajiban mempekerjakan enam desa, yakni Samardua, Muara Ubertraco. masyarakat daerah setempat di pe- Pea, Ladang Bisik, Butar, Lapahan “Perusahaan itu pada 30 Agus- rusahaan tersebut sesuai dengan Buaya, dan Lentong sebesar Rp 600 tus 2006 telah menandatangani pern- kemampuannya. juta telah diganti rugi oleh PT Uberyataan di hadapan Muspida untuk Empat poin pernyataan ini telah traco pada 1999. menghentikan sementara kegiatan ditandatangani oleh perwakilan PT Dalam SK Menhut, sebut Sairun, perluasan kebun, menunggu sengke- Ubertraco Medan, Bahagia Bukti areal hutan yang dilepas untuk lata lahan HGU-nya dengan lahan ga- SH, dan Manajer PT Ubertraco han HGU kelapa sawit PT Ubertrarapan pertanian masyarakat ditun- Singkil, Ir Hasmi Adami, bersama co sekitar 10.924 ha. Tersebar di dua taskan. Faktanya di lapangan, peru- Pj Bupati Aceh Singkil, saat itu Ir kecamatan, yaitu Simpang Kiri dan sahaan tersebut terus melakukan per- Hasdaruddin BRE, Ketua DPRD Simpang Kanan. Tapi dalam sertiluasan kebun kelapa sawitnya,” ujar Aceh Singkil Chalidin Munte. Se- fikat HGU yang diterbitkan BPN Ketua Gempa Aceh Singkil, bagai saksinya adalah Kajari Tapaktuan, luas arealnya menjadi Jaminuddin saat itu. Singkil Sadarih Tarigan SH dan 10.917 ha, tersebar di tiga kecama-

PT Ubertraco menolak tuduhan telah merampas tanah milik warga. Namun bukti di lapangan justru berbeda.

Pertemuan antara perwakilan masyarakat Aceh Singkil dengan DPR Aceh itu dipimpin Wakil Ketua Komisi A, Abdullah Saleh, dihadiri sejumlah anggota Komisi A dan B, serta pejabat BPN Provinsi Aceh dan Aceh Singkil. Sebelumnya, pada 30 Agustus 2006, PT Ubertraco dengan Muspida Aceh Singkil telah menandatangani pernyataan. Isinya, PT Ubertraco tak dibolehkan lagi melakukan kegiatan perluasan, penebangan, dan penanaman baru terhadap tanah masyarakat Aceh Singkil. Kedua, lahan yang telah dikuasai masyarakat di atas areal HGU PT Ubertraco disetujui dikembalikan/ diserahkan kepada masyarakat,

tan, yaitu Simpang Kiri, Simpang Kanan, dan Singkil. “Perbedaan ini yang perlu diusut DPR Aceh,” ujar Sairun. Sepertinya apa yang dihadapi masyarakat Singkil ini mulai menampakkan titik terang. Sabtu, 10 Mei 2008 lalu, Sairun beserta masyarakat yang menjadi korban, menghadap Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, di Meuligo Aceh, Banda Aceh. Kepada kepala Pemerintah Aceh ini, mereka mengadukan nasibnya dan mendapat respon positif. Sebaliknya, Pemda dan DPRK Aceh Singkil justru terlihat seperti sengaja membiarkan kasus ini berlarut-larut. Sairun menambahkan, Pemerintahan Aceh telah berkomitmen menanggapi pernyataan LSM Gempa (selaku pedamping masyarakat yang tanahnya di serobot Ubertraco). Setelah selesai pembahasan APBA 2008, masalah ini akan dibahas. “Kasus Ubertraco akan kita tindaklanjuti. Tapi setelah pembahasan dan pengesahan RAPBA,” ucap Irwandi Yusuf saat bertemu langsung dengan Sairun Cs. Kata Sairun, dalam waktu dekat, PT Ubertraco dan LSM Gempa akan diundang kembali untuk menyelesaikan permasalahan ini secara formal. Koordinator LSM Gempa, Jaminuddin mengatakan. Penyelesaiannya kasus ini terpaksa ditarik dari Aceh Singkil, sebab sudah dua tahun tak ada penyelesaian. ”Bukannya kami tidak percaya kepada pejabat di sana, tapi sudah dua tahun kok sepertinya tambah hari, tambah hilang,” ujar Hasanuddin Ginja, salah seorang anggota LSM Gempa yang juga mantan Kepala Desa Muara Pea. Lalu, apa komitmen Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf? Pertama, persoalan PT. Ubertraco diambil alih oleh Kepala Pemerintahan Aceh dan akan ditindaklanjuti setelah pembahasan APBA 2008 selesai pada bulan ini. Kedua, Gubernur akan segera memanggil pimpinan Ubertraco. Ketiga, Gubernur mendukung upaya hukum yang dilakukan masyarakat dan yang keempat, penerapan sistem plasma akan segera diberlakukan di PT. Ubertraco yang sekarang berganti nama PT. Nafasindo, setelah di ukur ulang oleh Kepala Pemerintah Aceh dengan melibatkan DPRA, LSM, wartawan, masyarakat dan mahasiswa. Terkait keputusan dan kebijakan yang akan diambil Pemerintah Aceh. Humas PT. Ubertraco, Yudi, tak berhasil dimintai tanggapannya. Sejak Rabu, 21 Mei hingga Jum‘at, 23 Mei, nomor telepon selulernya tidak bisa dihubungi wartawan media ini.***

Martha Andival

Minggu IV, Mei 2008

8

Utama

Sekali Lagi, Cerita Khalwat di Negeri Syariat
Seakan berkejaran dengan waktu. Praktik khalwat terus terjadi di Aceh. Mulai dari mahasiswa, pejabat hingga anggota dewan. Adakah yang salah dari sistem penerapan syariat Islam?
umat Islam. ”Luar biasa kalau itu dibiarkan. Hukumannya harus berat, karena dengan demikian akan berdampak jera bagi pelaku dan contoh bagi yang lain,” kata salah satu sumber media ini. Tak hanya itu, Drs M Natsir Ilyas Mhum, Kepala Dinas Syariat Islam dan Keluarga Sejahtera Banda Aceh, sangat menyayangkan terjadinya masalah ini. Dia mengatakan, tak seharusnya mahasiswa melakukan perbuatan seperti itu. ”Mahasiswa kan seharusnya menjadi panutan bagi masyarakat,” katanya singkat. Terlepas dari itu, sebenarnya sejak diberlakukannya syariat Islam tahun 2001 lalu, kesadaran masyarakat tentang penegakan syariat di bumi Serambi Mekah sudah terbilang cukup baik. Buktinya, peran masyarakatlah yang lebih besar dalam membongkar praktek-praktek haram selama ini. Sedangkan Dinas Syariat Islam, tak lebih dari sekedar mengawasi dan sosialisasi. Termasuk tertangkapnya MD dan RR, beberapa waktu lalu. Ini tak lepas dari sigapnya jajaran satuan pengaman (Satpam) IAIN Ar- Raniry. Ceritanya begini. Minggu, 11 Mei lalu, Seperti biasa, tim Satpam IAIN Ar-Raniry Banda Aceh melakukan patroli rutin di kawasan kampus. Saat itulah MD dan RR mendatangi mereka dan bertanya dimana lokasi tempat mengakses internet. Anggota Satpam tadi mengarahkan mereka ke titik lokasi yang biasa ramai dikunjungi peselancar dunia maya ini. ”Silahkan ke depan Bank BPD Syariah. Biasanya di sana banyak orang mengakses internet,” kata seorang Satpam tadi.

D

imana ada kemauan disitu ada jalan. Bisa jadi, motto inilah yang dipegang MD (22) dan RR (21). Hanya saja, implementasinya yang tak tepat sasaran. Jika sejumlah kalangan, motto tadi dipakai sebagai daya motivasi untuk meraih berbagai peluang positif menuju sukses. Berbalik dengan MD dan RR. Justru motto itu dipakai untuk memotivasi mereka hingga terjerembab ke jurang nista. Bayangkan, demi memuaskan syahwat, sepasang mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan di Universitas Syiah Kuala ini, nekat melakukan perbuatan melanggar Qanun No. 14 tahun 2003 tentang khalwat. Celakanya, mereka diduga melakukan perbuatan tak senonoh di gedung yang biasanya digunakan sebagai tempat ibadah (mushala-red). ”Ini sudah keterlaluan,” kata Firman, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah kepada media ini pekan lalu. Reaksi yang timbul tak hanya dari kalangan mahasiswa. Berbagai pihak pun mengutuk keras tindakan sepasang mahasiswa tadi. Mereka dianggap bukan hanya melanggar Qanun tentang khalwat. Tapi sudah menodai tempat ibadah

■ MODUS / Juli Saidi

Bekas Mushala, Tarbiyah Baru, tempat yang pernah di gunakan untuk Berkhalwat oleh Mahasiswa Unsyiah Minggu, 11 Mei 2008. pam tadi terjawab sudah. Mereka menemukan pasangan nonmuhrim itu sedang bersenggama (zina-red) di dalam mushala. ”Mereka sedang melakukan hubungan intim,” kata Satpam yang juga saksi hidup ini. Selanjutnya, kedua anak manusia tadi digelandang ke kantor Wilayatul Hisbah Banda Aceh. Bersama mereka turut diamankan satu unit laptop dan celana dalam milik RR, yang basah oleh darah. Diduga, darah tersebut adalah selaput dara RR yang telah koyak. Selesaikah masalah? Tidak juga. Akibat perbuatannya itu, MD dan RR terpaksa berurusan dengan polisi. Sehari setelah diamankan oleh anggota WH regu IV Banda Aceh, akhirnya, 12 Mei lalu, mereka diserahkan ke Poltabes Banda Aceh untuk diproses secara hukum. Begitupun, bagaimana proses hukumnya, belum ada tanggapan resmi dari Kapoltabes. Sejurus dengan itu, fenomena khalwat memang bukan sesuatu yang tabu di Aceh. Kasus MD dan RR adalah setitik dari sekian banyak kasus khalwat yang terjadi di Aceh. Ambil contoh Kota Sabang. Sepanjang tahun 2007 saja, tercatat ada 127 kasus dari 254 yang terjaring Pelanggaran Qanun Nomor 14 Tahun 2003, tentang Khalwat. Ini belum lagi sejumlah kabupaten/kota yang ada di seluruh Provinsi Aceh. Anehnya, meski sebagian kasus sudah ada yang dieksekusi. Tapi tak sedikit yang proses hukumnya hingga kini masih tak jelas. Sebut saja, kasus dugaan khalwat yang dilakukan mantan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Sabang, Puji Wijayanto SH. Polisi akan memanggil paksa Puji. Sayangnya, pria yang kini menjadi hakim nonpalu di Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta ini, tak mengindahkan surat panggilan tersebut. Hanya itu? Tunggu dulu. Masih ingat kasus dugaan khalwat yang dilakukan anggota dewan Kota Lhokseumawe, TZA (48). Hingga sekarang belum jelas juntrungannya. Yang lebih menggelikan lagi, kasus khalwat yang dilakukan anggota dewan Aceh Tamiang, IS. Sosok wakil rakyat ini telah divonis sembilan kali cambuk di muka umum karena berkhalwat (mesum) dengan wanita yang bukan muhrimnya. Tapi faktanya, hingga saat ini, mantan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu belum juga dicambuk. Padahal hukuman cambuknya sudah diputuskan Mah kamah Syar´iyah (MS) Kuala Simpang yang diperkuat putusan Mahkamah Agung (MA). Kenyataannya, pelaksanaan vonis cambuk tersebut hingga kini belum terlaksana. Nah, dugaan selama ini bahwa penegakan hukum, termasuk hukum syariah hanya berlaku bagi rakyat biasa, tidak untuk pejabat dan oknum aparat, bisa jadi ada benarnya juga.***

Anehnya, MD menolak rekomendasi itu. Dia justeru memilih untuk browsing internet di Fakultas Tarbiyah yang memang sedang sepi saat itu. Itu sebabnya, anggota Satpam sedikit curiga. Begitupun, Satpam tetap melanjutkan tugasnya berpatroli. Sementara MD dan RR berlalu menuju Fakultas Tarbiyah. Pendeknya, kedua mudamudi yang sedang dimabuk cinta itu sampai di kawasan kampus Tarbiyah. Mereka memarkirkan sepeda motornya di sebuah gang sepi, masih di kawasan tadi. Tim Satpam yang memang sudah melihat glagat mencurigakan ini, terus memantau gerak-gerik sepasang kekasih yang sedang kasmaran itu. ”Dari kejauhan, hanya MD yang terlihat, gadis itu menghilang entah kemana,” kata Satpam yang tak ingin namanya diseSEJUMLAH KASUS KHALWAT but ini. Celakanya, hanya beDI ACEH SEPANJANG TAHUN 2008 berapa saat setelah itu, MD pun ikut menghilang No Tanggal/bulan Nama/Inisial Kabupaten/Kota dari pantauan. Karena penasaran, tim Satpam pun 1 21 Mei Mul (26), HY (22) Banda Aceh memutuskan untuk meli2 11 Mei MD (22), RR (21) Banda Aceh hat langsung ke lokasi 3 28 April Lie Hui Ping alias tempat kedua mahasiswa Wati (24), Zul (38) Langsa yang katanya ingin 4 24 April And (25), Wln (26) Banda Aceh browsing internet terse5 20 Maret MH (29), WD920) Banda Aceh but. ”Tapi, jejak mereka 6 9 Maret Mar (20), Lin (23) Langsa benar-benar telah hilang,” 7 8 Maret SL (28), ZH (20) Aceh Utara timpa salah seorang Sat8 7 Maret Ar (28), RH (32) Langsa pam lain. Tak patah 9 10 Februari M (29), F (22) Sabang arang. Mereka, merengsek 10 8 Februari SA (19), SI (18) Sabang masuk ke dalam mushala. 11 1 Januari YU (32), MI (16) Aceh Utara Hasilnya? Masya Al12 1 Januari IR (32), Nur (20) Banda Aceh lah! Rasa penasaran SatTim Riset Modus

Dadang Heryanto

Utama
Dibalik Pelanggaran Syariat

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

9

Pengawasan Lemah atau Protes Moral Masyarakat?
Praktik maksiat terus meningkat dan memprihatinkan di Aceh. Pelanggaran Syari’at Islam mulai menjadi wabah dimanamana. Bukti pengawasan lemah dan ”perlawanan” rakyat semakin besar?
syari’at, telah merajalela dan hampir menjadi budaya di Aceh. Berita pelanggaran syari’at yang dulunya tabu bagi masyarakat, sekarang justru hal yang biasa dan menjadi konsumsi publik tanpa batas dan pengawasan. Beberapa kemaksiatan yang sempat tercatat, diawali November 2006. Seorang oknum PNS berpangkat Kasie, berzina dengan stafnya dan merekam adegan tersebut melalui handphone (HP) di Blangpidie, Aceh Barat Daya. Namun baru ketahuan awal 2007. ya” adalah oknum aparat. Ada lagi, anggota DPRD yang tak mau ketinggalan. Oknum DPRD Aceh Tamiang dan Kota Lhokseumawe, ketahuan diduga berkhalwat namun karena power yang dimilikinya, divonis 9 kali cambuk. Tapi, Mahkamah Syar’iyah di sana tak bisa melakukan eksekusi. Di Takengon, staf BRR digerebek oleh aparat di rumah penginapan BRR dengan sangkaan khalwat dan pemakaian shabu-shabu. Tanggal 1 Juli 2007, mahasiswa IAIN Ar-Raniry yang sedang asytampaknya menjadi fenomena sosial tersendiri. Sebab, yang paling banyak mendapat perhatian WH. Belum jelas alasannya kenapa praktik khalwat meningkat, yang pasti menangani kasus khalwat mungkin paling mudah, dan tidak berisiko. Terlebih lagi, masyarakat Aceh tampaknya cukup antusias untuk ‘menjebak’ warganya yang melakukan khalwat. Istilah ‘menjebak’ sebenarnya berangkat dari kenyataan bahwa hampir semua kasus penangkapan pelaku khalwat, sebelumnya sudah dimata-matai oleh masyarakat. Saat momentum yang ditunggu tiba, biasanya masyarakat menggerebek oknum pelaku khalwat yang bersangkutan, tentu setelah berkoordinasi dengan WH. Lihat saja modus operandinya. Pada setiap kasus hampir seragam, meski ada beberapa perkecualian. Misalnya, kasus muda-mudi pacaran yang kemalaman. Sebagian orang menyayangkan kasus penangkapan khalwat itu. Bahkan, pada suatu kesempatan, seorang khatib Jum’at di salah satu masjid di Banda Aceh menyatakan keprihatinannya. Sang khatib menggugat, mengapa masyarakat termasuk WH, baru melakukan tindakan setelah pelaku khalwat berbuat terlalu jauh. “Mengapa tidak jauh hari sebe■ MODUS/Rizki Adhar lumnya mereka melakukannya, diingatkan,” gugat khatib itu. Begitupun, khalwat tetap saja terjadi, meski berkali-kali ada penangkapan. Beberapa kasus diantaranya, para pelaku telah dikenai hukuman cambuk di depan umum. Apakah ini suatu bentuk ’perlawanan’ masyarakat Aceh terhadap pemberlakuan syariat Islam? Entahlah, yang pasti sampai hari ini peristiwa-demi peristiwa khalwat terus terjadi. Hubungan asmara antara dua insan yang bukan muhrim, terkesan mulai menjadi lumrah. Tak ada aturan atau perangkat hukum yang bisa menghilangkan sama sekali kecenderungan itu, di manapun di muka bumi ini. Sekedar ilustrasi saja. Jangankan di ruang terbuka, di pondok pesantren sekalipun sering ditemui santriwati yang menjalin hubungan gelap dengan santriwan. Singkatnya, asmara tak bisa dikekang oleh aturan pondok, ataupun syariat Islam seperti di Aceh atau di muka bumi mana pun.***

B

ayangkan saja, sejak ditetapkan secara formal melalui Undangundang Nomor 44/1999, tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Diperkuat dengan Undang-undang Nomor 18/ 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan terakhir disempurnakan dengan UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Syari’at Islam hanya menjadi lambang dan aturanaturan tertulis tanpa makna. Ulama dan tokoh masyarakat hanya menghasilkan deklarasi dan pesan-pesan moral dalam forum-forum silaturrahmi. Sebaliknya diam-diam, Aceh menjadi cibiran daerah lain di Indonesia. Betapa tidak, karena dianggap ”gagal” menjadi proyek percontohan penerapan Syari’at Islam di negeri yang jumlah penduduk Islamnya terbesar di dunia. Belum lagi faktor historis Pelanggar Syariat yang terjaring WH beberapa waktu lalu. bahwa Islam tersebar di nusantara, bermula dari Akhir Februari 2007, sejumlah war- ik bercumbu rayu di kampus, digelanAceh. ga Kota Langsa menangkap basah sep- dang Satpam. Secara statistik, Dinas Syari’at Islam Maksiat seakan tak mengenal agaasang remaja yang sedang berzina di Provinsi Aceh mencatat dari Januari- sebuah kantor instansi pemerintah. ma dan etnis. Masih ada lagi, 10 Juli Desember 2005, ada 107 perkara jinayat. Tanggal 14 April 2007, seorang hakim 2007, di malam yang gelap, seorang Diantaranya khamar 20 kasus (41 terdan Ketua Pengadilan Negeri di Sa- dara Aceh “berkaraoke” dengan remadakwa), maisir 79 kasus (151 terdakwa), bang, ketahuan berduaan saat tengah ja Tionghoa di sebuah gudang tua di dan khalwat 8 kasus (16 terdakwa). Unmalam dengan wanita bukan istrinya Bireun. tuk Januari-Desember 2006 tercatat 85 Dari fakta di atas, pelaku maksiat di sebuah mess di Kota Sabang. Tangkasus, antara lain 20 kasus khamar (33 gal yang sama di dekat bandara di agaknya tak pandang bulu dan terjadi terdakwa), 44 kasus maisir (59 terdakBlangpidie, seorang oknum polisi di hampir seluruh wilayah Aceh. Sewa), dan khalwat 21 kasus (36 terdakkepergok pencari kayu saat sedang rangkaian peristiwa ironis ini belum wa). membersihkan ceceran darah perawan akan berakhir dan terus membuat batin Dari keseluruhan jumlah kasus dengan pasangannya setelah bercinta masyarakat menangis, kecuali yang beryang ditangani itu, terdapat 6 kasus hati batu. dalam mobil. yang terdakwanya tidak dihukum camFenomena ini sebenarnya bukan hal Berselang lima hari berikutnya, sebuk, 5 kasus dihukum kurungan, dan 1 orang anggota Wilayatul Hisbah (WH) baru di Aceh serta tempat lain di Indokasus dihukum denda. tertangkap basah di MCK Desa Ie Mas- nesia. Hanya saja, menjadi menarik, Setelah enam tahun berjalan, legali- en, sekitar pukul 01.30 pagi bersama karena Aceh tidak lepas dari ketas penerapan hukum Islam tersebut pasangan mesumnya. Dan tanggal 13 beradaan WH (wilayatul hisbah) atau hanya menjadi macan kertas. Aturan Mei di Bireun, pasangan remaja kembali polisi syariah. Satu-satunya aparat kuat dalam bahasa tapi lemah dalam ditemukan berkhalwat di sebuah WC penegak hukum yang cuma bisa ditepenegakan. Belum lagi, jika ada oknum meunasah. Peristiwa tak masuk akal mui di Nanggroe Aceh Darussalam aparat penegak hukum yang jadi pionjuga terjadi di Aceh Besar, pasangan (NAD). ir dalam pelanggaran syari’at. WH lah yang menjadi ujung tombak bintang video panas dinikahkan di Rentang tahun 2007 saja, berita tenMapolsek. Camat setempat menghadi- penegakan syariat Islam di Aceh. Dari tang zina, judi, khamar (minuman keras), ri acara itu karena salah satu “aktorn- banyak kasus yang ditangani, khalwat khalwat dan pelanggaran aqidah dan

Fitri Juliana

10

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Utama
Kepala Dinas Syariat Islam NAD, H Ziauddin, Sag.

■ REPRO/Serambi Indonesia

Penegakan Hukum Bukan Tugas Kami!
Fenomena pelanggaran syariat Islam kian marak terjadi di Aceh. Bisa jadi, fakta ini merupakan sinyal mulai bergesernya nilai-nilai budaya dan etika sosial yang berkembang dalam masyarakat yang kadung disebut Serambi Mekkah. Kecuali itu, lemahnya penegakan hukum bagi para pelanggaran Qanun Syariat Islam, menjadi salah satu faktor mengapa aksi maksiat seakan kian mendapat tempat di masyarakat. Inikah yang sebut tebang-pilih? Tentu saja pendapat ini dibantah Kepada Dinas Syariat Islam Aceh, H. Ziaudin,S.Ag. Lalu, apa kata dia? Berikut petikan wawancaranya.
ya. Makanya, sejak tahun 2005 sudah mulai diberikan sanksi terhadap pelanggaran syariat Islam. Dukungan masyarakat? Positif, saya melihat mulai ada kepedulian masyarakat. Dimanapun ada pelanggaran syariat Islam, masyarakat mulai berani mengambil sikap, meski ada yang anarkis juga, dan itu tidak kita harapkan. Lepas dari semua itu, masyarakat sudah menunjukkan partisipasinya terhadap penegakan syariat Islam dengan menangkap dan memberi laporan kepada aparatur desa maupun penegak hukum. Jadi saya melihat kepedulian masyarakat sudah sangat tinggi. Sejauh ini, masih adakah langkah sosialisasi yang dilakukan? Saya kira itu sudah selesai. Apa yang tidak bisa mereka lakukan dan apa yang boleh dilakukan, dan batasan-batasan mana yang tidak boleh mereka langgar itu sudah kita sosialisasikan.. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan-pelatihan imam desa. Bagaimana dengan sosialisasi ke instansi pemerintah dan swasta? Ya untuk semua lapisan sudah kami sampaikan. Begitu juga dengan instansi pemerintahan dan swasta, bahkan aparat penegak hukum, bupati, walikota dan perangkat pemerintah lainnya. Seperti beberapa waktu lalu, selama dua hari berturut-turut kami sampaikan sosialisasi syariat Islam ke jajaran pegawai negeri dalam lingkup Kota Banda Aceh. Jadi, lebih memberi penyadaran? Ya, sebenarnya itulah yang kita harapkan. Syariat Islam merupakan sebuah nilai yang harus dimiliki masyarakat muslim, khususnya Aceh. Mereka secara sadar melaksanakan syariat Islam itu. Artinya, mereka bukan karena dipaksa, tapi kesadaran sendiri sehingga dia dapat melaksanakan syariat Islam. Baik, soal proses hukumnya sejauhmana berjalan? Sudah banyak pelanggaran syariat Islam yang sudah diproses di Mahkamah Syar’iah. Begitu juga dengan hal-hal yang dianggap melanggar dan telah diselesaikan oleh tokoh masyarakat di desa-desa. Tapi, ada kesan tebang – pillih? Sebenarnya tidak tebang pilih. Semua diberlakukan sesuai dengan hukum syariat. Barang kali dalam pandangan masyarakat seperti itu. Dan, wajar saja. Tapi realitanya tidak seperti itu. Kenyataan di Lhokseumawe seperti itu? Yang terjadi di Lhokseumawe, pada saat dieksekusi tidak ada orangnya. Itu lain persoalan, tapi yang jelas secara hukum tetap dilakukan. Barangkali qanun yang belum membuat sebuah acara yang mereka (pelanggar syariat——red), ketika sudah di proses atau belum sampai pada proses eksekusi, belum bisa dilepaskan. Semestinya seperti itu. Mungkin, disitu orang melihat seakan-akan tidak ada kejelasanya. Maka dari itu saya katakan tadi sekarang orang sudah memahami tentang syariat Islam. Orang sudah melihat kalau dulu sama sekali tidak perduli. Di desa juga orang sudah tahu ini maisir, ini khalwat. Dan itu salah satu hal yang positif dan patut di berikan apresiasi terhadap masyarakat Aceh. Realitanya ada kasus hakim di Sabang, anggota DPRK Langsa dan Lhokseumawe, berlalu begitu saja? Artinya begini. Jalur hukumnya berjalan sama kepada siapapun, walaupun pelanggaran hukum pidana atau hukumhukum lain itu larinya kepada penegak hukum juga. Tapi satu hal, mengenai eksekusi hukum, itu bukan tugas dan kapasitas kami. Kenapa? Kami hanya sebatas menyampaikan, begitu juga dengan WH hanya sebatas mengambil (mengamankan) barang bukti untuk disampaikaan kepada pihak penegak hukum (polisi dan jaksa——red). Selanjutnya, penegak hukum lah yang berwenang. Lantas, dimana kewenangan Dinas Syariat Islam? Tugas pertama mensosialisasikan, selanjutnya membantu pemerintah daerah dalam membuat qanun yang menyangkut dengan syariat. Selain itu, memberikan bimbingan dan pembinaan kepada masyarakat. Kalau dilihat secara sistematis, Dinas Syariat Islam itu hanya merencakan pelaksanaan syariat Islam. Kedua, menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan syariat Islam dan ketiga, memberi dukungan, fasilitas, sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam. Misalnya, mesjid tidak ada, tempat shalatnya tidak ada, kemudian meunasah juga tidak ada bahkan guru yang mengajarkan tentang keagamaan tidak ada. Jadi, hal-hal seperti itu yang akan kita siapkan. Jadi sebenarnya pada kapasitas itu kita sedang menjalani, dan aparat penegak hukum pada posisi yang lain.
■ ■

Apa kesan dan pendapat Anda tentang pelaksanaan syariat Islam saat ini? Sejak dideklarasikan Maret 2002, bukan berarti kita melaksanakan terus semua keputusan itu. Sebaliknya, ada tahapan sosialisasi. Tujuannya, menegakkan kembali syariat Islam di Aceh. Lalu? Kita laksanakaan setahap demi setahap. Bahwa setiap pelanggaaran syariat itu harus diberi sanksi

Fitri Juliana

reuters

Utama
Khalwat dan Penegakan Syariat

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

11

Maaf, Perempuan Masih Menjadi Objek
Benarkah penerapan syariat Islam di Aceh bisa menjadi obat mujarab dalam memberantas berbagai penyakit masyarakat seperti khalwat, maisir dan khamar?
2001 menyatakan, pelpamflet “wilayah waaksanaan SI meliputi: jib jilbab”. Seluruh inakidah, ibadah, muastansi pemerintah/ malah, akhlak, penswasta, sekolah dan didikan dan dakwah perguruan tinggi islamiyah/amar mengharuskan mahama’ruf nahi munkar, siswinya mengbaitul mal, kegunakan jilbab sebagai masyarakatan, syiar bagian dari pakaian Islam, pembelaan Isperempuan. Akibatlam, qadha, jinayat, nya, mulai terjadi kekmunakahat, dan erasan dalam bentuk mawarits. Bagi orang main hakim sendiri awam sulit memahakarena tidak ada lemminya, karena dalam baga formal berlandasPerda hanya disebutkan hukum. kan, “semua harus diSweeping dan razia laksanakan sesuai perempuan tidak berdengan SI”. Namun jilbab dilakukan oleh awal tahun ini, DPRD kelompok santri yang Aceh telah mensahkan bergabung dalam selima qanun menbuah organisasi, mahayangkut syariat, yaitu siswa, Polwan, atau Qanun No.10/2002 kelompok bersenjata Reuters/Stinger tentang Peradilan SI; tanpa identitas. Wanita yang di eksekusi hukuman cambuk. No. 11/2002, tentang Setiap laki-laki atau orang yang mempunyai Fenomena yang terjadi pada Pelaksanaan SI Bidang “power” merasa berhak untuk saat sosialisasi SI, mengingat- Aqidah, Ibadah, dan Syiar Ismengadili perempuan. Beber- kan pada pengalaman perem- lam; No. 12/2003 tentang Miapa bentuk kekerasan dialami puan Iran yang mengalami numan Khamar dan sejenisnperempuan, antara lain: me- pembatasan bergerak di ya; No.13/2003 tentang Maisir mangkas paksa ataupun meng- wilayah publik, setelah ke- (perjudian); serta Qanun gunduli rambut, memukul, menangan revolusi Islam No.14/2003 tentang Khalwat mengarak korban di depan dibawah pimpinan Khomeini. (mesum). Dari 5 qanun, terlihat umum, melempar tomat atau Padahal pada saat revolusi ber- konsen utama penerapan SI telur di pasar, menyoraki bera- langsung, perempuanlah kel- menyangkut aturan ibadah individual, yaitu hubungan mai-ramai, merobek pakaian ompok pendukung terkuat. Begitu juga di Afganistan, manusia dengan Tuhan ketat dan memotong celana (Hablulminallah). Mungkin perempuan “dirumahkan” setjeans di atas lutut. Mungkinkah penerapan SI elah Taliban berkuasa, tanpa hal ini yang menyebabkan kehanya dimaknai dengan selu- pengecualian termasuk pen- tika SI diterapkan, tetap meniruh perempuan Aceh “WAJIB” cari nafkah keluarga. Bahkan tik beratkan pada hal-hal yang berjilbab? Ada yang percaya detak sepatu perempuan me- bersifat simbolik. Misalnya para perempuan Aceh akan langkahpun dianggap aurat menjilbabkan perempuan dengan rela hati meng- yang dapat merusak tatanan kembali menjadi isu utama. Pada upacara mencananggunakannya. Tapi, apa betul, hidup bermasyarakat, akibatidentitas SI hanya semata-mata nya mereka “dipasung” di ru- kan pengamalan SI, Gubernur terlihat ketika perempuan di mah. Akankah hal itu terulang Aceh, Abdullah Puteh mengadalam pola yang berbeda, bagi takan. “Sebagai momentum Aceh menutupi kepalanya? awal pelaksanaan SI sejak 1 Sejak masa kolonial, diam- perempuan Aceh? Kekhawatiran muncul dis- Muharram 1423 H (15 Maret diam atau di front terdepan, perempuan Aceh selalu membic- ebagian masyarakat, mereka 2002), saya menetapkan bahwa arakan soal gerakan perem- takut penerapan SI di Aceh perkantoran NAD sebagai kapuan atau upaya membantu hanya berupa pemaksaan pan- wasan tutup aurat”. Sebelumnya Gubernur Abpara suami berjuang. Mereka dangan satu kelompok Islam membicarakan, merumuskan pada kelompok lainnya. SI dullah Puteh, juga memerintahmasalah ketatanegaraan serta hanya diwujudkan sebatas pe- kan agar shalat dilaksanakan hal lainnya untuk memperbai- rempuan berkerudung atau secara berjamaah dengan menki nasib bangsa. Tidak ada hal-hal lain yang bersifat sim- geluarkan instruksi secara tercatatan sejarah yang meng- bolik, sementara ruh syariat itu tulis (Intruksi Gubernur gambarkan pertentangan soal sendiri menjadi terlupakan. Propinsi Nanggroe Aceh “tutup kepala” perempuan Padahal konsep seperti itu, jus- Darussalam no:06/instr/2002 pada masa lalu. Atau tru semakin mengukuhkan tentang pelaksanaan shalat barangkali para ahli sejarah pandangan, bahwa SI tidak berjamaah di lingkungan kantor/instansi/lembaga/dinas lupa untuk menuliskan? Cut berpihak pada perempuan. Pada masa kepemimpinan dalam propinsi Nanggro Aceh Nyak Dien, Cut Meutia dan deretan nama besar perem- Abdurrahman Wahid sebagai Darussalam), dan pelarangan puan lain tetap diterima eksis- Presiden RI, SI dikukuhkan segala bentuk perbuatan maktensinya ditengah perjuangan, melalui undang-undang No. siat di Aceh, misalnya judi, peldengan gaya rambut tergulung 44/1999 tentang penyelengga- acuran serta minuman keras. khas Aceh dan selendang men- raan keistimewaan Aceh. Salah satu upaya pencegahanjuntai serta menutupi hanya Megawati memperkuat dengan nya dengan larangan meneriUU No 18/2001 tentang Oto- ma tamu berlainan jenis yang “sebagian” rambut. Bentuk sanggul tersebut, nomi Khusus sebagai Provinsi bukan muhrim di hotel atausampai sekarang masih terke- Nanggroe Aceh Darussalam pun salon serta melakukan nal dengan istilah “ok sang- (NAD); dilanjutkan dengan “razia”. Kantor-kantorpun goi Cut Nyak Dien” (Bahasa dukungan legislatif lewat Qa- kembali menambahkan tulisan Aceh yang artinya “rambut nun (Peraturan Daerah), No. Arab Melayu di samping tetap sanggul Cut Nyak Dien”). 5/2001. Ayat 2, Perda No.5/ memakai bahasa Indonesia. Benarkah perempuan selalu menjadi objek? Simak sejumlah peristiwa yang muncul. Tanggal 24 Januari 2004, ratusan polisi dari Polresta Banda Aceh terdiri dari Polwan, satuan intel, Satlantas, Reserse dan Unit Shabara Perintis melakukan razia penegakan SI. Kabid Humas Polda Aceh mengatakan razia digelar sebagai rangkaian sosialisasi tata cara berbusana yang baik sesuai dengan tuntunan agama Islam bagi perempuan. Tanggal 2 dan 3 Maret 2004, Wilayatul Hisbab (WH) Dinas SI Aceh, bersama aparat keamanan dari Polresta Banda Aceh menggelar razia jilbab, di enam tempat di Banda Aceh. Dari hasil razia, diperkirakan sekitar 200 perempuan “tertangkap” karena tidak memakai jilbab dan berpakaian ketat. Selain itu masih banyak razia jilbab lain dilakukan oleh istri pejabat (istri) Gubernur, istri wakil Gubernur dll) dengan melakukan pembagian jilbab di jalanan atau di lapangan bagi perempuan tak berjilbab yang lewat di depan umum. Dari berbagai kejadian tadi, tentu saja dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada perubahan signifikan dari proses sosialisasi ke penerapan SI di Aceh. Simbol fisik Islam tetap ditonjolkan, terutama proses “menjinakkan” perempuan dengan isu jilbab. Hanya saja, sekarang perempuan dikejar oleh “penegak hukum” bernama polisi syariah atas landasan hukum SI. Ketika proses sosialisasi, kekerasan yang terjadi belum terlembaga, sehingga masih dapat diprotes. Saat ini, kekerasan yang terjadi telah terlembaga, masih dapatkah ditolak? Apalagi kalau kekerasan yang terjadi diatasnamakan agama atau kepercayaan. Jilbab bagi perempuan, dalam konsep SI di Aceh dianggap sebuah kebenaran absolut yang tak boleh digugat . Berdasarkan hukum SI di Aceh, ada tiga langkah diambil untuk kasus yang sama dan dilakukan secara berulang (misalnya kasus perempuan tidak pakai jilbab). Tahap awal, teguran tertulis, berikutnya mendapatkan peringatan tertulis lebih keras, terakhir pelimpahan kasus ke Mahkamah Syariah. Seluruh data pelanggar, meliputi nama, umur dan alamat dimasukkan ke dalam database, sebagai dasar pengecekan agar dapat dilakukan proses hukum selanjutnya, dengan konsekwensi hukuman cambuk atau denda.***

P

ertanyaan ini kian menarik dibicarakan, apalagi pasca konflik bersenjata yang selama 30 tahun melanda Aceh. Maklum sajalah, ada diantara masyarakat di bumi Serambi Mekkah ini, yang menyimpan harapan besar terhadap penerapan SI di Aceh. Sebaliknya, tak sedikit pula yang memaknai penerapan syariat Islam (SI) berdasarkan intepretasi serta kepentingan sendiri, termasuk kepentingan politik. Bayangkan saja, sejak penerapan SI, tak sedikit pejabat di Pemda Aceh yang kebagian jabatan dan kursi. Tentu saja, lengkap dengan fasilitas seperti kendaraan roda empat. Begitupun, amat sangat ironi, kalau SI kemudian menjadi ”palu” untuk mendiskreditkan kaum perempuan, sekaligus sebagai legitimasi tindak kekerasan terhadap kaum hawa tersebut. Celakanya, berbagai tindak kekerasan serta ketidakadilan yang terlembaga itu, dilakukan dengan memakai bendera agama sebagai legitimasinya. Sebenarnya, pada kepemimpinan BJ Habibie sebagai Presiden RI, pemerintah mengangkat kembali status Daerah Istimewa Aceh lewat pemberian kado politik penerapan SI, sebagai salah satu solusi penyelesaian konflik. Pemberian SI ketika itu diharapkan dapat menyembuhkan luka ketidakadilan yang selama ini dialami rakyat Aceh. Berbagai reaksi kemudian muncul dari masyarakat. Ada sebahagian tidak perduli, sebagian lainnya menanggapi dengan kegembiraan berlebihan. Ada kesan, SI yang ditawarkan belum memiliki konsep jelas dan tidak menyentuh akar persoalan. Kenapa? Sebab, sejak masa sosialisasi, makna SI sudah dipersempit. Isu yang ditonjolkan tidak substansial, karena lebih menonjolkan simbul-simbul fisik Islam (Arab) seperti menggantikan papan nama di kantor pemerintah/swasta dengan huruf Arab (Melayu) dan penjilbaban perempuan. Di beberapa kawasan dicantumkan spanduk atau

Rizki Adhar

12

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Utama

Khalwat Dimata Mahasiswa
Maraknya praktik khalwat, termasuk yang terjadi di salah satu gedung yang biasa dipakai untuk tempat ibadah (mushala) di Kampus Darussalam, memancing pendapat sejumlah aktivis mahasiswa. Mayoritas, mereka menyesalkan terjadinya praktik tak senonoh tadi. Apa saja pendapat mereka. Ini dia penuturannya.

Wilda, mahasisiwi Fakultas Ekonomi Unsyiah

Ayam Kampus Memang Ada!
Pendapat Anda tentang penerapan Syariat Islam di Aceh? Secara Undang-Undang sudah diatur, tapi dalam pelaksanaan sehari-hari belum sesuai. Kalau dilihat dari sisi peng-sosialisasiannya, ini masih kurang. Contohnya bisa melihat di sekitar kita. Betapa banyak orang yang melanggar syariat. Kenapa? Bisa jadi ada masyarakat Aceh yang
bangga. Contoh, cewek memakai jilbab, itu karena takut ditanggkap WH, bukan karena takut kepada Allah. Kalau kita lihat di daerahdaerah luar Aceh, mereka benar-benar memakai jilbal karena dari hati nurani mereka sendiri. Di Aceh, kita tidak bisa membedakan mana PSK dengan yang bukan, karena semuanya berjilbab. Apakah di Aceh juga ada pergaulan seperti itu? Ya ada, kita tidak bisa mempungkiri itu, PSK, waria semua ada di Aceh tapi terselubung. Itu sebenarnya permasalahan, dan penegakan hukum sangat lemah dalam mengungkap masalah ini. Di kampus? Di Unsyiah, dari dulu memang sudah ada, dan itu tidak bisa dipungkiri. Dan sering disebut ayam kampus, dan dulu itu sangat heboh. Memang dulu ada satu kampus yang dijuluki dengan kampusnya ayam kampus. Tapi semenjak diberlakukan syariat Islam dan tidak ada lagi kuliah malam, maka ayam kampus pun sudah berkurang. Bagaimana pandangan Anda terhadap khalwat? ■ MODUS/Khaidir Kita tidak bisa memungkiri fakta ini, hampir sebagian besar pelaku khalwat adalah dari kalangan muda. Dan itu kembali ke lingkungannya, keluarganya dan pendidikannya. Gebrakan kampus untuk mencegah khalwat? Dikampus sering sekali dilakukan bimbingan pencegahan khalwat, seperti yang sering dilakukan lembaga dakwah kampus, baik berupa himbauan lewat spanduk dan ceramah singkat setelah salat berjamaah di Mushala kampus. Apakah ada yang menentang ajakan tersebut? Setiap perbuatan baik itu pasti ada yang kontra, dan itu tidak bisa dihindari. Bagi mahasiswa yang pro, jelas mereka pasti mendukung. Tapi bagi yang kontra, mereka jelas nggak senang ketika ada peraturan yang mereka anggap mengusik kebebasan. Biasanya yang kontra itu, ketika ada aksi dari LDK, mereka tidak secara langsung menampakkan sikap kontra mereka, paling dibelakang terdengar protes-protes akan aksi tersebut. Bagaimana dengan saling dempet saat boncengan di atas sepeda motor? Dulu sebelum syariat Islam itu ada, fenomena seperti itu sudah ada. Nah, bagi yang berboncengan tersebut merasa itu sudah hal biasa. Mungkin kebanyakan muda-mudi suka nyontek akan hal-hal yang tidak baik. “Kalau orang lain bisa kenapa kita tidak!” Ketika perbuatan itu tidak ada yang melarang, maka yang lainnya pada ikutan melakukan hal seperti itu dan akhirnya menjamur gaya boncengan dempet tersebut. Kalau memang ingin menegakkan syariat Islam. Ya harus ke akar-akarnya, seperti boncengan dempet dengan yang bukan muhrim, itu jelas-jelas tidak boleh. Tapi pemerintah tidak pernah mempersoalkan itu, ini ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu. Berbicara syariat Islam, apa yang terbayang oleh Anda? Yang terbayang adalah cara berpakaian wanita. Dan orang pun ketika berbicara syariat Islam maka yang terbayang adalah wanita sebagai objeknya. Sementara yang lainnya masih banyak. Misalnya tentang pelarangan berpakaian ketat, tapi pemerintah tidak memberantas tempat-tempat penjualan pakaian ketat itu sendiri. Itu yang saya maksud harus diberantas sampai ke akarnya. Dasar terjadi khalwat? Itu semua karena pengaruh budaya luar yang kemudian dicontohkan oleh anak-anak Aceh. Coba kita lihat siaran televisi sekarang, hampir seluruh acara itu mengajarkan cara berpacaran malahan sampai ke pergaulan bebas. Padahal disini orang tua si anak punya peran penting dalam memilih siaran-siaran yang boleh untuk ditonton, tapi apa yang kita lihat. Malahan orang tuanya sering nonton sinetron bareng dengan anaknya. Tanpa sadar, berpengaruh negatif kepada prilaku anaknya tersebut. Terkait penangkapan mahasiswa Ekonomi yang berkhalwat di Musalla IAIN. Pendapat Anda? Semua pihak, baik itu mahasiswa maupun akedemik sangat menyayangkan hal itu. Pasti kita semua tidak menharapkan itu terjadi, apalagi di kampus yang menjadi kebanggaan rakyat Aceh. Informasi yang didapat, pasangan tersebut akan dikeluarkan sebagai mahasiswa Unsyiah. Jangan sampai karena kejadian ini bisa mencoreng nama baik kampus. Dan sanksi tegas ini bisa menjadi contoh bagi mahasiswa lainnya.***

Wilda dan Suryani

memang belum tahu bagaimana aturan dalam syariat Islam tersebut. Ada juga yang tahu tapi acuh. Ada juga masyarakat yang membandel dengan peraturan sehingga dengan gampang dia melanggar aturan yang sudah dibuat. Anehnya, penegak hukum itu sendiri juga melanggar. Bagaimana penegakan hukum syariat? Penegakan hukumnya masih pandang bulu, artinya ada kalangan-kalangan tertentu yang melanggar syariat tapi tidak terlalu digubris. Kalau kasusnya menimpa kalangan atas atau pejabat, banyak kasusnya yang hilang begitu saja. Tapi ketika orang-orang kecil yang melanggar, baru hukum ditegakkan. Fenomena apa ini? Fenomenanya adalah, mereka itu takut dengan peraturan yang manusia buat. Tragisnya, ketika tidak terlihat oleh penegak hukum, mereka dengan berani melanggarnya dengan

Khaidir

Utama
Hendra Koesmara, Presiden Mahasiswa Unsyiah

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

13

Banyak Belum Terungkap
Bagaimana pandangan Anda tentang Khalwat di Negeri Syariat? Saya rasa pemahaman masyarakat terutama pemuda terhadap agama sangat kurang, sehingga pemuda-pemudi tanpa merasa salah dengan begitu nyaman melakukan khalwat. Baik itu di kampus atau di tempat-tempat lain. Dan khalwat itu ibarat sebuah penyakit ketagihan, ketika sudah berbuat sekali pasti mereka ingin melakukan lagi. Ada indikasi kampus sudah menjadi tempat berkhalwat alternatif? Kalau ada yang mengatakan bahwa pelanggar Syariat Islam (berkhalwat) dari kalangan muda yaitu mahasiswa dan pelajar, itu sudah tidak bisa dipungkiri. Contohnya yang terjadi baru-baru ini, sepasang muda-mudi ditangkap berkhalwat di Musalla IAIN. Belum lagi yang tidak terjaring di tempattempat gelap di lingkungan kampus. Bagaimana merubah citra ini? Kalau dari level kemahasiswaan, harus ada yang fundamen dari sisi pembinaan mental spiritual mahasiswa itu sendiri. Seperti yang saya dengar, di Unsyiah akan membuat sistem seperti di kampus IPB, yaitu untuk tahun pertama (semester I dan II), mahasiswa-mahasiswi wajib tinggal di asrama. Selama di asrama, malam harinya akan diberikan pembinaan mental spriritual. Bagaimana dengan khalwat yang terjadi di mushala IAIN?
Kita sangat menyayangkan, apalagi terjadi di tempat ibadah, kami dari Pemerintahan Mahasiswa Unsyiah, meminta kepada Rektorat, kalau memang benar pasangan tersebut adalah mahasiswa dan mahasiswi Unsyiah, maka harus ada tindakan tegas dari Rektorat. Dan kita menginginkan mereka di DOkan dari Unsyiah. Kedua, apabila nantinya sudah diproses di Makamah Syariah, untuk eksekusinya kita minta diadakan di kampus, biar teman-teman bisa melihat dan menjadikan efek jera bagi yang lainnya, sehingga tidak terulang lagi kejadian seperti ini. Apakah hanya mereka yang berkhalwat di kampus? Kalau kita lihat, ini ibarat gunung es, dimana yang terlihat dipermukaan sangatlah kecil, tapi dibawahnya itu kejadian-kejadian lain (khalwat) lebih banyak dan itu belum terungkap. Artinya? Coba kita keliling dan melihat di sekitar kampus pada malam hari, banyak yang berkhalwat, baik dengan sepeda motor maupun mojok, dan belum ada pihak keamanan kampus yang melarang. Apakah tidak ada patroli kampus? Kalau patroli sih ada, tapi masih kurang, dan dengan kejadian ini kita harapkan pihak keamanan kampus harus bekerja lebih ektra lagi. Bila perlu adanya kerjasama dengan pihak keamanan lain, baik dengan Polsek ataupun dengan WH. Atau mungkin saja kalau bisa di kampus juga dibuat pos WH. Di tempat kos pun, walaupun kita tidak bisa memastikan, tapi saya yakin perbuatan khalwat tersebut juga terjadi, jadi pihak keamanan haruslah bekerja ektra dalam mengungkap kasus ini. Kalau di tempat rekreasi? Semua orang mungkin sudah melihat, kalau hari Sabtu dan Minggu, sepanjang pantai dari Lhoknga sampai Krueng Raya, dipenuhi orang-orang yang ingin berekreasi. Tapi sangat disayangkan, tempat tersebut oleh muda-mudi dijadikan tempat memadu kasih. Saya heran juga, kenapa di pantai tidak dibuat pos WH. Bagaimana dengan penggabungan Satpol PP dengan WH? Saya pikir ini harus ditinjau ulang, karena saya lihat bahwa hari ini masyarakat sangat negatif melihat Satpol PP. Dari segi pencitraan sudah cukup jelek Satpol PP di mata masyarakat. Jangan sampai WH yang bertugas menegakkan syariat Islam juga ikut tercemar

■ MODUS/Khaidir

karena penggabungan tersebut. Saya berpikir ini akan berdampak negatif dalam penerapan syarit Islam di Aceh. Solusi mencegah khalwat? Pembinaan spiritual dari tingkat pelajar harus ditingkatkan, ya pembinaan itu kan bisa di rumah, lingkungan dan disekolah. Dihidupkan kembali kegiatan-kegiatan di mesjid. Pembinaan kegiatan ibu-ibu seperti majelis taklim. Bila perlu pemerintah bisa menganggarkan itu dalam APBD. Sekarang kalau kita lihat dana untuk kegiatan spiritual sangatlah sedikit.

Khaidir

Oksa Hakiki S, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsyiah

Belum Ada Sikap Tegas
Berarti tidak ada yang berani mencegah, karena khalwatnya berjamaah? Itulah, karena masyarakat sekarang sudah menganggap hal itu biasa, jadi mereka tidak pernah ambil pusing. Intinya, masyarakat yang menentang khalwat sangat minim dibandingkan dengan masyarakat yang cuek dan ditambah lagi dengan para pembuat khalwat itu sendiri. Bagaimana dengan pemerintah? Kalau kita lihat, pemerintah sudah membentuk Wilayatul Hisbah (WH). Tapi sampai sekarang WH belum efektif atas apa yang dilakukan salama ini. Bagaimana di kampus? Di kampus pun kalau kita lihat juga ada yang berkhalwat. Dan itu bukan sebuah kewajaran, walaupun seperti terkesan “diizinkan”. Maksud diizinkan? Karena sangat sedikit orang kampus yang peduli akan hal ini. Paling Cuma Lembaga Dakwah Kampus. Contohnya? Adanya Unit Program Pendamping pendidikan Agama Islam (UP3AI), dan disitu diperkenalkan bagaimana Islam sebenarnya. UP3AI ini berkaitan dengan mata kuliah agama yang mereka dapat. Tujuannya? Untuk membentuk generasi baru yang tahu dan menjalankan Syariat Islam, paling tidak, generasi kedepan tidak lagi mengganggap bahwa khalwat itu adalah hal biasa. Bagaimana sikap para akademisi? Bisa dibilang tidak ada, karena sampai sekarang belum ada sanksi tegas, paling cuma himbauan agar berpakaian sesuai dengan syariat. Kenapa mahasiswa suka juga berkhalwat? Itu relatif, karena tergantung pribadi seseorang. Kalau spiritualnya lemah, ya sudah barang tentu perbuatannya nggak jauh-jauh dengan pelanggaran syariat. Ditambah lagi pergaulan sekarang seperti hasil copy paste dari budaya barat. Faktornya? Salah asuh waktu kecil itu merupakan faktor pertama. Kemudian didukung lingkungan dan tempat dia mengecam pendidikan. Tontonan media elektronik pun sekarang ini sudah sangat merusak aqidah, dimana pacaran dan seks bebas sudah menjadi hal biasa dan itu dicontoh bulat-bulat oleh masyarakat Aceh. Bagaiman volume khalwat di negeri syariat sekarang? Saya sangat setuju kalau ada yang bilang bahwa volume khalwat sekarang lebih meningkat dari sebelumnya. Ini drastis sekali peningkatannya bila perbandingan sebelum tsunami dengan pasca tsunami. Bisa jadi ini akibat pengaruh dengan pergaulan lembaga asing. Solusinya? Pemahaman agamanya yang harus kuat dan kontroling dari penguasa. Kalau hanya sebatas himbauan, ya tidak akan tercapai apa yang diharap yakni tegaknya Syariat Islam di Aceh.***

Menurut Anda, apa itu Khalwat? Berdua-dua dengan bukan muhrim ditempat yang sepi, dan dalam keadaan seperti itu pasti akan berbuat zina. Bagaimana berboncengan dengan sepeda motor? Itu bisa dibilang perbuatan maksiat karena melakukannya di depan umum, yang sekarang sering disebut khalwat berjamaah, dan itu fenomena yang terjadi saat ini. Apakah fenomena tersebut sudah menjadi kebiasaan? Ya, hal itu sudah dianggap biasa di Aceh, tapi belum tentu itu benar, yang haram ya tetap haram.

Minggu IV, Mei 2008

MODUS ACEH

16

Parlementaria

Terkait Hasil Verifikasi Partai Lokal Verifikasi Partai

Saatnya Menetapkan Raqan
Setelah melalui kajian dan amatan lapangan yang mendalam. Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Depkumham) Aceh, akhirnya menetapkan 12 partai lokal yang lolos verifikasi sebagai peserta Pemilu, April 2009 mendatang.
eputusan itu disampaikan, Jumat, 23 Mei pekan lalu. Selanjutnya, parlok yang lolos verifikasi ini akan segera dikeluarkan status badan hukumnya dan didaftarkan secara resmi dalam berita negara melalui Sekretaris Negara (Sekneg) RI. Dari 14 parlok yang mendaftar untuk diverifikasi, 2 diantaranya, Partai Serambi Persada Nusantara Serikat (PSPNS) dan Partai Nahdatul Ummah Aceh, dinyatakan gugur dan tidak dapat mengikuti Pemilihan Umum 2009 mendatang. Sesuai ketentuan, untuk bisa ikut Pemilu 2009, setiap partai politik lokal dan nasional harus lolos verifikasi yang dilakukan Departemen Hukum dan Hak Azazi Manusia. Selanjutnya, verifikasi faktual akan dilakukan KIP. “Dalam konsi PKS ini, seluruh teks Aceh, pihak yang berproses pembahasan wenang melakukan veriqanun di DPR Aceh fikasi Parpol berhak ikut saat ini dihentikan. pemilu atau tidak adalah Agar pembahasan qaKIP. Karena komisi ini yang nun parlok ini bisa dipercaya sebagai penyeberjalan baik dan selelenggara Pemilu di Aceh. sai sesuai harapan. Artinya, Parlok akan diverJika jadwal pemifikasi lagi nantinya oleh bahasan ini berjalan KIP,” jelas Kakanwil Deptepat waktu, maka kumham Aceh, Razali Ubit pada tanggal, 5 Juni SH. 2008 mendatang, Nah, untuk keperluan raqan parlok ini bisa inilah, rancangan qanun diusul untuk di(raqan) partai lokal (parparipurnakan kepada lok) yang telah diserahkan Razali Ubit Khairul Amal pimpinan DPRA, jelas eksekutif kepada DPRA Khairul Amal. bulan lalu, menjadi salah Menurut Khairul Amal, 12 parsatu raqan prioritas dewan yang berapa waktu lalu. Maka, rancanakan dituntaskan pada awal Juni gan qanun ini dibuat merupakan lok yang lulus verifikasi bukanlah 2009 mendatang. Penegasan itu dis- perwujudan dari pelaksanaan UU sedikit sehingga untuk tidak mereampaikan Ketua Komisi A DPR Pemerintah Aceh Nomor 11 tahun potkan tugas KIP, DPRA harus se2006 (UUPA). Alasannya jelas, kare- gera menyiapkan raqannya supaya Aceh, Khairul Amal. Menurut Khairul Amal, target na parlok hanya ada untuk wilayah parlok yang telah mendapat badan secepat itu dibuat, karena qanun hukum Provinsi Aceh. “Maka, hukum partainya dari Kanwil Dep Partai Lokal ini sangat dibutuhkan aturannya juga harus dibuat secara Hukum dan HAM Aceh, pengurus Komisi Independen Pemilihan Aceh khusus dan hanya berlaku untuk partainya bisa mendatangi KIP Aceh dan kabupaten/kota untuk (KIP). Tujuannya, untuk menjadi daerah ini,” lanjut Khairul Amal. Pun begitu, saat ditanya kemu- mendaftar ulang menjadi peserta dasar hukum dalam memproses partai lokal bisa ikut menjadi peserta ngkinan qanun ini tidak selesai te- pemilu pada tahun depan dan pemilu legislatif 2009 yang akan pat waktu dan tidak sempurna, guna mengetahui berbagai aturan karena proses pembahasannya lainnya. datang. Parlok-parlok yang lolos veriPihak eksekutif yang akan ikut yang terkesan dipercepat hanya membahas draft rancangan qanun dalam waktu kurang sebulan. fikasi tersebut adalah Partai Darusparlok tersebut tambah Ketua Komi- Khairul Amal memastikan qanun salam (PD), Partai Rakyat Aceh si A ini, adalah biro hukum, biro ini selesai tepat waktu. Karena, sub- (PRA), Partai Pemersatu Muslimin tansi yang dibahas dalam qanun ini Aceh (PPMA), Partai Aceh (PA), Parpemerintah serta Kesbang Linmas. Jika aturan main partai nasion- tidak terlalu banyak dan tidak se- tai Generasi Atjeh Beusaboh Tha´at dan Taqwa (Partai Gabthat), Partai al sudah ada dalam UU Parpol dan rumit qanun-qanun lainnya. Bahkan, lanjut politisi dari Frak- Aliansi Rakyat Aceh Peduli PeremPemilu telah disahkan DPR RI bepuan (PARA), Partai Aceh Meudaulat (PAM), Partai Lokal Aceh (PLA), Partai Daulat Atjeh (PDA), Partai Aceh Aman Seujahtera (PA), Partai Bersatu Atjeh (PBA), dan Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA). Ketua Komite Independen Pemilihan (KIP) Aceh, M Jafar SH MHum menyatakan, qanun tentang partai politik lokal (parlok) di Aceh harus sudah disahkan paling lambat pada akhir Mei ini. Jika tidak selesai, maka akan mengganggu pelaksanaan tahapan Pemilu di Aceh. Sebab, pada Selasa, 3 Juni 2008 mendatang, secara nasional akan dimulai pendaftaran, penetapan, dan verifikasi partai politik sebagai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, termasuk untuk parlok di Aceh. “Kami yakin, raqan Partai Lokal ini akan selesai tepat waktu,” ujar Khairul Amal. Karena itu, lanjut Khairul, saat ini pihak eksekutif dan legislatif sedang memfokuskan pembahasan raqan tersebut secara marathon, dari tanggal 24 Mei hingga 5 Juni 2008.***
■ MODUS/Dok

K

Semarak bendera Parlok

■ MODUS/Dok

Martha Andival

Minggu IV, Mei 2008

MODUS ACEH
Terkait APBA 2008

17

Parlementaria

Jadwal Terlambat, Kebijakan Minta Diperluas
■ MODUS/Dok

Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sepakat menggelar sidang siang dan malam, guna mengejar pengesahan APBA 2008. Kendati tak sempurna, tapi itulah pilihan sulit.
ejak dibukanya sidang paripurna dewan, Rabu (21/5) malam, hingga Jum’at (23/5) malam, anggota dewan sudah memasuki rapat paripurna ketiga. Agendanya, pemandangan umum anggota dewan. Melihat kecepatan laju pembahasan itu, diperkirakan akhir Mei 2008, target RAPBA 2008 sudah bisa disahkan. Para wakil rakyat telah menyepakati percepatan pengesahan APBA 2008 melalui sidang paripurna selama delapan hari kerja efektif yang dimulai 2130 Mei 2008. “Insya Allah tepat sesuai jadwal,” ujar Wakil Ketua DPRA, Raihan Iskandar Lc. Sebagaimana diketahui, Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) telah melakukan proses rasionalisasi terhadap draf Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (RAPBA). Draf hasil penyempurnaan sesuai dengan permintaan Panmus DPRA tersebut, telah diserahkan kembali oleh Gubernur Aceh, melalui Sekda Husni Bahri TOB selaku Ketua Tim TAPA Aceh, Senin 19 Mei Pekan lalu. Hasil penyempurnaan tersebut disampaikan Gubernur dalam bentuk nota pengajuan RAPBA tahun 2008. “Dalam draf RAPBA yang kami serahkan ke DPRA tersebut, total belanja Rp 8.518.747.595.768 dan total pendapatan Aceh Rp 6.644.765.416.264,” jelas Husni yang didampingi sejumlah pejabat Pemerintah Aceh. Dan akhirnya, nota RAPBA itu secara resmi disampaikan Pemerintah Aceh dalam rapat paripurna DPRA pada Rabu malam, 21 Mei pekan lalu. Menurut Raihan, adanya warning dan ancaman finalti terhadap Dana Alokasi Umum (DAU) Rp 11,6 miliar itu justru memacu

S

motivasi semua anggota dewan dalam rapat paripurna. Jadwal rapat paripurna selama delapan hari akan menjadi padat, karena bersidang dari pagi s a m p a i malam. “Idealnya, masa persidangan paripurna itu selama dua belas hari, tetapi kita sepakat untuk merapatkan masa s i d a n g - s i - Irwandi Yusuf saat membacakan APBA di hadapan Anggota DPR Aceh, pekan lalu. dang parisan. Apa yang diminta Gubernur politisi dari Fraksi Golkar ini. purna,” tambah Raihan lagi. Permintaan Irwandi Yusuf ini Untuk itu kata dia, sesuai juga bertentangan dengan UU Nomor 32 dengan tatib dewan, dalam delapan tahun 2004 tentang Pemerintahan disampaikan dalam Pidato Pengahari, seluruh rangkaian materi Daerah, terutama pasal 183 ayat 1 ntar Nota Keuangan pada Sidang paripurna, penyampaian pendap- dan ayat 2, dimana perubahan Paripurna I Pembahasan Rencana at panggar, pemandangan umum APBA hanya boleh dilakukan mela- Anggaran Pendapatan dan Belanlui Perda atau Qa- ja Aceh (RAPBA) 2008, yang beranggota dewan, pennun. “Jadi, jika Gu- langsung di gedung utama DPRA, dapat komisi, jawaban bernur ingin mem- Rabu (21/5) malam lalu. “PerGubernur serta pendabuat kebijakan mintaan ini kami ajukan pada pat akhir fraksi, sudah khusus melalui Per- sidang paripurna dewan, menginterhimpun di dalamgub, tentu akan gat masa kerja APBA 2008, efeknya. bertentangan dengan tifnya tinggal lima bulan lagi dan Menariknya, GuUU Nomor 32 Tahun tahun ini tidak mungkin dilakubernur Aceh, Irwandi 2004 itu,” jelas Iskan- kan perubahan,” kata Irwandi. Yusuf, sempat memindar. Dasar pertimbangan lainnya, ta pihak DPRA agar Iskandar juga me- sebut Gubernur Irwandi Yusuf, setmengizinkan dirinya nambahkan, ber- elah pengesahan RAPBA 2008 membuat kebijakan dasarkan Permenda- menjadi APBA 2008, pada akhir khusus terhadap halgri Nomor 13 Tahun bulan ini, eksekutif bersama legishal yang mendesak 2006 tentang Pe- latif harus menyelesaikan pemdan memerlukan doman Pengelolaan bahasan pelaksanaan perhitunH. Iskandar penyesuaian dalam Keuangan Daerah gan APBA 2007, yang kemudian bentuk pergeseran anggaran secara terbatas, dalam satu pasal 160 ayat 4 menyebutkan, dilanjutkan dengan pembahasan Daftar Pengguna Anggaran Satuan meskipun pergeseran antar rincian Rancangan Qanun (Raqan) KUA, Kerja Pemerintah Aceh (DPA- objek belanja dibenarkan sesuai PPAS dan RAPBA 2009. “Atas SKPA). Namun, upaya ini diten- dengan kewenangan Sekda, namun dasar itu, sidang paripurna DPRA tang sebagian besar anggota dew- tetap harus dianggarkan dalam dapat mempertimbangkan hal tersebut, agar pelaksanaan APBA an. Alasannya jelas, keinginan Gu- Perda Perubahan APBD/APBA. “Waktu sudah sangat terjepit. 2008 yang waktunya tinggal lima bernur tersebut dianggap bertentanSungguh sangat tidak memungkin- bulan lagi ini bisa berjalan efektif gan dengan Undang-undang. Ketidaksepakatan itu salah sat- kan untuk dilakukan perubahan dan efisien,” ujarnya. unya datang dari Ir Iskandar. Ang- APBA 2008. Untuk itu kami menoMartha Andival. gota Panggar DPR Aceh ini berala- lak dilakukan pergeseran,” ungkap
■ MODUS/Dok ■

Pelindung/Penasehat: H. Said Fuad Zakaria, SE, H. Tgk. Waisul Qarany Ali, H. Zainal Abidin, H. Raihan Iskandar, Lc, Pengarah: Muhammad Saleh Penanggung Jawab: Drs. H. Hasan Basry A. Thaleb, Pimpinan Redaksi: H. Burhanuddin, SE, Wakil Pimpinan Redaksi: Mahyar, SH, M.hum, Penyunting/Staf Redaksi: T. Ismedi Ansyah, S.Sos, Hj. Ervi Usriya, SE, M.Si, Wartawan modus, Alamat Redaksi: Gedung DPRD Provinsi NAD, Jl. Tgk. H.M. Daud Beureueh.

Informasi ini terlaksana atas kerjasama Tabloid Hukum dan Politik Modus Aceh dengan Sekretariat DPRD NAD.

18

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Dibalik Berita

Kisah di Balik Damai Aceh
PENGANTAR Pembaca Budiman. Tanpa terasa, 15 Agustus 2008 mendatang, usia perdamaian (MoU Helsinki) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah RI genap berusia tiga tahun. Banyak hal menarik dan kisah menegangkan dalam proses panjang itu. Begitupun, tidak semua tokoh dan rakyat Aceh mengetahui serta paham secara jelas tentang apa yang terjadi dibalik perjalanan sejarah yang maha penting ini. Padahal, pemaparan detik per detik pencapaian perdamaian GAM-RI sangatlah penting, terutama pada kaum muda Aceh. Sebuah catatan perjalanan sejarah tersebut, akhirnya muncul ke publik, melalui buku: To See The Unseen (Kisah di Balik Damai di Aceh). Buku ini ditulis oleh Farid Husain dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Farid merupakan salah seorang anggota tim perundingan dari Pemerintah Indonesia. Bersama Hamid Awaluddin, Sofyan Djalil dan beberapa anggota tim lainnya, Farid yang juga seorang dokter spesialis bedah dan putra Bugis ini, merupakan orang kepercayaan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Dia memang ditugaskan untuk meretas jalan damai bagi RI-GAM. Nah, mulai edisi ini, atas izin penulisnya, Farid Husain. Buku setebal 291 yang diterbitkan oleh Healt & Hospital Indonesia, dengan editor Salim Shahab dan E.E Siadari, akan kami siarkan ulang di Tabliod Modus Aceh. Publikasi ini bertujuan, untuk memberikan gambaran yang jelas dan tuntas tentang perjalanan panjang dari sebuah proses damai RI-GAM. Seperti apa kisah itu. Ini dia catatannya.

To See The Unseen P
agi itu udara dingin di luar gedung Konigstedt Mansion, Helsinski, mencapai minus 21 derajat Celsius. Bukan hanya untuk ukuran orang Indonesia, untuk ukuran orang Finlandia pun cuaca demikian sudah di anggap tidak bersahabat. Tapi, bagi saya, itu tidak jadi masalah. Yang penting hari itu 27 Januari 2005 perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan GAM dimulai. Ini adalah perundingan baru setelah perundingan sebelumnya yang diprakarsai oleh Henry Dunant Center (HDC) di Tokyo, gagal. Saya merasa beruntung dan bangga mendapat kepercayaan sebagai penanggungjawab tim perunding dari Pemerintah Indonesia. Dalam tim juga bergabung Hamid Awaluddin (Ketua), Sofyan Djalil, Usman Basyiah, dan I Gusti Agung Wesaka Pudja, saya katakan merasa beruntung dan bangga, karena cuaca yang tidak bersahabat itu ternyata di kemudian hari jadi awal dari berakhirnya konflik di Aceh yang telah berkepanjangan sejak tahun 1976. Sebagaimana sudah kita ketahui, perundingan yang berlangsung lima tahap itu membuahkan sukses. Pemerintah dan GAM menandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) perdamaian pada 15 Agustus 2005. Hasilnya sudah mulai dapat kita nikmati sekarang ini, terutama oleh orang Aceh sendiri. Pembangunan ekonomi mulai berjalan. Keamanan makin terasa. Pemilihan Umum Langsung Kepala Daerah (Pilkada) berjalan lancar dan tertib. Bahkan telah pula mendapatkan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru. Di kalangan umum, termasuk kalangan diplomat, muncul apresiasi pada langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah dalam penyelesaian konflik di Aceh. Model penyelesaian ini pernah diseminarkan di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sebagai alternatif penyelesaian bagi konflik di wilayah-wilayah lain. Yuli Mumpuni, diplomat dari Departemen Luar Negeri yang berbicara pada seminar itu, antara lain, mengatakan bahwa metode, praktek maupun prosedur yang dilakukan Pemerintah dalam menyelesaikan konflik Aceh merupakan sebuah terobosan baru. Menurutnya, penandatangan MoU Helsinski pada dasarnya merupakan pengakuan bahwa suatu upaya damai hanya mungkin dilakukan bila disertai perbaikan kesejahteraan rakyat, penegakan HAM dalam konteks yang luas, termasuk ekonomi, politik dan sosial. Hal serupa dikemukakan Martti Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia, yang melalui Crisis Management Initiative (CMI) menjadi penengah dalam perundingan itu. Martti mengatakan bahwa penyelesaian konflik di Aceh merupakan salah satu contoh menciptakan perdamaian dunia. “Saya akui, perundingan di Helsinski tidak selalu mudah. Tetapi saya dikelilingi oleh orangorang yang ingin menghentikan penderitaan rakyat Aceh.” katanya, seperti yang dikutip kantor berita Antara. Tentu semua orang mafhum bahwa proses perdamaian di Aceh merupakan perjuangan banyak orang, tak hanya oleh yang berada di dalam, tetapi terlebih lagi diluar meja perundingan. Sama jelasnya dengan mengatakan bahwa proses perdamaian tersebut adalah perjalanan yang panjang, jauh lebih panjang dari pada masa perundingan di Helsinski yang ‘hanya’ berlangsung lima putaran selama enam bulan. Jauh sebelum perundingan di Helsinski, yakni sejak Juni 2003, saya telah turut dalam upaya perintisan embrio perdamaian itu. Hal ini merupakan perintah Bapak Jusuf kalla (JK), sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang kemudian Wakil Presiden. Pandangan beliau soal Aceh dan penyelesaiannya sangat jelas, seperti yang beliau katakan berikut ini : Pertama, saya percaya persoalan Aceh adalah masalah keadilan, keadilan di bidang ekonomi, awalnya, bukan masalah ideologi. Kedua, saya yakin selama ini berkomunikasi langsung, sesama bangsa,

berdasarkan pengalaman saya dan keyakinan saya, itu bisa diselesaikan. Ketiga, kalau kita terus menerus begini, akan ‘jatuh’ korban lebih banyak. Saya berkeyakinan harus ada dialog langsung dengan solusi yang bermartabat dan berkeadilan. Berdasarkan keyakinan itu, Pak JK memerintahkan saya untuk menjajaki kontak dengan pihak GAM. Pak Farid saya minta untuk menjalin kontak. Harus berdialog langsung, tidak melalui perantara. Dulu, CoHA kan melalui perantara, tidak berdialog langsung. Karena itu, (kita) harus mencari kontak langsung. Harus diusahakan bagaimana berbicara langsung. Perintah tersebut barangkali tidak terpisahkan dengan pengalaman beliau sebelumnya dalam memberi penugasan-penugasan. Sebab, sejak tiga tahun terakhir, saya juga telah turut membantu beliau dalam menangani konflik di Poso dan di Ambon. Pak JK tampaknya memberikan kepercayaan kepada saya sebagai operator di lapangan karena berbagai pertimbangan. Pertama, (Farid) orang mudah kerja. Tidak pernah menolak perintah. Kedua, dia berani. Ketiga, dia bisa menjaga kerahasiaan. Keempat, mampu improvisasi dalam saya bisa percaya dia punya data. Menurut Pak JK, semua yang saya kerjakan adalah sepengetahuan Presiden meskipun tidak secara rinci. Semua langkah Farid itu saya laporkan kepada Presiden. Semua langkah yang saya ambil itu saya laporkan Presiden. Jadi, walaupun secara detail tidak diketahui langkah-langkahnya, tetapi secara umum langkah itu diketahui.

Saya tak pernah dapat menolak perintah Pak JK karena hubungan kami sudah sangat dekat. Beliau sudah memberi kebanggan kepada saya dengan berbagai kepercayaannya. Karena itu, saya selalu berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas yang diperintahkannya. “maka perintah beliau dalam mencoba menjajaki upaya perdamaian di Aceh, saya jawab dengan mengatakan : Insya Allah saya coba Pak.” Jawaban itu merupakan cerminan dari kesadaran bahwa itu adalah soal berat, jadi saya harus minta izin kepada Allah, yang artinya, dengan izin-Mu ya Allah. Kekecewaan sebagai pemicu konflik. Kebanyakan masyarakat Indonesia mempunyai pengetahuan yang sangat umum tentang konflik di Aceh. Saya tahu konflik di Aceh saat itu hanyalah melalui bacaan bukubuku sejarah. Ini tidak perlu diherankan karena saya adalah dokter, lebih spesifik lagi, dokter bedah, terlebih spesifik lagi sebagai dokter spesialis bedah, konsultan bedah disegtif yang sebagian besar kariernya

Dibalik Berita
adalah menjadi dokter praktek dan sebagai akademisi di Universitas Hasanuddin di Makassar. Penugasan ini menyebabkan saya berusaha turun kelapangan untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi sesungguhnya. Barangkali profesi dan keahlian sebagai dokter turut mendorong saya untuk tidak pernah langsung percaya hanya dari membaca suatu masalah. Dokter tidak dapat mengetahui penyakit pasien hanya dari membaca laporan diagnosanya atau sekedar mendengar keluhannya. Dokter harus melihat langsung dan memeriksa kondisi si pasien. Demikian pula halnya dalam melaksanakan tugas menangani berbagai konflik, termasuk di Aceh, saya berusaha mendengar dan melihat langsung persoalan-persolan yang ada. Misalnya, dalam menangani konflik di Aceh saya mendengar bahwa Tentara Nasional Aceh (TNA) mengatakan tunduk sepenuhnya pada keputusan para perunding GAM di Helsinski, saya tidak langsung percaya. Harus dibuktikan dengan mendengar dan melihat langsung apakah mereka memang benar-benar akan menyetujui keputusan Helsinski. Karena itu saya datang ke gunung dan hutan, mencari dan menemui panglima GAM. Begitu juga pertemuan-pertemuan dengan para petinggi GAM yang saya lakukan di berbagai kota diluar negeri sebelum itu. Semuanya adalah dalam kerangka mendengar dan melihat persoalan sesungguhnya. Dari pendalaman dengan mendengar dan melihat persoalan Aceh serta wilayah konflik lainnya secara langsung dengan mata kepala sendiri, saya dapat simpulkan beberapa hal. Bahwa bukan hanya konflik di Aceh, tetapi konflik di berbagai wilayah di Indonesia, pada umumnya, pemicunya sederhana. Konflik didorong oleh kekecewaan akibat kepentingan individu atau kelompok yang tidak terpenuhi. Tidak ubahnya seperti yang kerap terlihat didalam tubuh partai-partai politik di Indonesia. Kalau ada pihak yang kecewa karena tidak terpilih menjadi ketua, mereka akan mendirikan partai baru. Kekecewaan demi kekecewaan yang dibiarkan berlarut-larut, pada waktunya muncul sebagai konflik dengan berbagai anasir yang membungkusnya. Konflik di Poso misalnya, awalnya adalah karena persoalan keseimbangan dalam pemerintahan antara pihak Kristen dan pihak Islam. Dulunya pihak Kristen menganggap punya tempat dalam jajaran elit pemerintahan, tetapi kemudian digantikan oleh muslim. Begitupula di Ambon, jabatan-jabatan yang dulunya diisi oleh kelompok Kristen, karena memang mereka lebih dulu belajar berkat dekatnya mereka dengan pendidikan yang disediakan Belanda, lama-lama tergeser karena kaum muslim juga meningkat pendidikannya, sementara orang Kristen banyak yang menerjuni bisnis dan pindah ke Jakarta. Akhirnya, banyak jabatan strategis di Ambon ditempati oleh kaum Muslim. Dengan demikian, cukup jelas bahwa dalam konflik ini, sebenarn-

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

19

ya tidak ada pertentangan agama. Tetapi karena ada orang-orang yang memasukkan unsur agama kedalamnya dengan tujuan agar persoalannya jadi panjang, jadi panjang jualah persoalan tersebut. Dalam analisis para akademisi tentang konflik di Aceh, umumnya disebutkan bahwa pemicu munculnya organisasi separatis seperti GAM tidak pernah tunggal. Ini sedikit banyak dapat ditelusuri dari ideologi GAM, yang sesungguhnya diambil dari sari tulisan, pidato dan kuliah Hasan di Tiro sebagai wali GAM. Bila diringkas, empat dasar ideologi itu adalah keinginan untuk membangkitkan kembali identitas kebangsaan Aceh, sentimen anti-Jawa dan anti Indonesia yang diartikulasikan sebagai antikolonialisme, kemudian antikapitalisme, dan yang berakhir Islam. Namun berdasarkan pengalaman dan penglihatan saya, kekecewaan rakyat Aceh terutama adalah dalam hal kekecewaan akibat ketidakadilan ekonomi. Rakyat Aceh sangat kecewa dalam soal pembagian kekayaan alam daerah ini. Hasil bumi mereka sebagian besar tidak mereka nikmati, tetapi mengalir ke daerah lain, dan terutama ke Pusat. Jadi, kekecewaan mereka terhadap Jakarta sangat besar. Membangun Rasa Saling Percaya Kekecewaan yang berkepanjangan di Aceh telah memunculkan ketidak percayaan yang memuncak terhadap Pemerintah. Masalahnya makin berat karena hampir 30 tahun berkonflik, tidak ada upaya yang signifikan untuk membangun saling percaya itu. Bahkan dalam perundingan sebelumnya yang diprakarsai oleh Henry Dunant Center (HDC), kedua belah pihak tidak saling bertemu dan tidak saling bicara. Padahal, semakin dalam kita memahami permasalahan di Aceh, yang paling penting sesungguhnya adalah kedua belah pihak harus saling bertemu dan saling membangun rasa saling percaya sehingga apa yang diucapkan oleh

kedua belah pihak dapat diyakini. Secara sederhana dapat dibuat analogi normatif dalam hal ini. Sebagai contoh, kalau seorang pria X mencintai wanita Y, tetapi si wanita hanya mendengar kabar dari seseorang yang bukan X, pastilah si Y tidak langsung menerimanya, si gadis harus mendengar langsung dari mulut sang pria, barulah ia dapat memberikan jawaban. Inilah yang mendorong saya berkesimpulan bahwa membangun rasa saling percaya merupakan salah satu tantangan berat dalam merintis upaya perdamaian di Aceh, hal ini harus dilakukan jauhjauh hari sebelum duduk dibelakang meja. Sebab, apa gunanya duduk berunding bila perundingan tersebut dibangun di atas sikap saling curiga. Bahkan lebih jauh untuk mengajak duduk berundingpun sangat mustahil bila kepercayaan diantara masing-masing pihak tidak terjalin. Hal ini telah terbukti dari betapa panjangnya proses perdamaian di Aceh sejak GAM pertama kali dideklarasikan hingga kemudian dapat mendudukkan kedua belah pihak dalam satu ruang bersama. Dalam membangun rasa saling percaya tersebut, tidak pernah saya hitung dan catat telah berapa tempat yang saya jalani, didalam maupun diluar negeri, dalam upaya merintis perdamaian di Aceh. Juga tak dapat saya ingat lagi satu per satu orang-orang Aceh yang saya temui untuk menyelami dan mendalami aspirasi mereka. Betapa banyaknya orang yang telah saya ajak berbicara dan berdiskusi, baik di Aceh maupun di luar Aceh, di kota maupun di desa, di hutan maupun di warung. Dari orang-orang kebanyakan seperti pedagang buah hingga para tokoh GAM yang bermukim di luar negeri. Namun, satu hal yang menjadi mata rantai sikap mereka adalah kekecewaan demi kekecewaan terhadap Pemerintah Indonesia. Kekecewaan itu kerap kali disampaikan dengan nada tinggi, penuh emosi dan amarah yang membuat

telinga dan wajah saya memerah. Tugas mengharuskan saya mendengar itu semua. Semua itu harus saya selami. Saya juga memasukkan diri saya sebagai orang yang ikut kecewa. Saya memperlihatkan empati dengan mengatakan bahwa mereka dan saya adalah sama-sama orang yang juga kecewa. Sebagai orang Bugis saya menjelaskan bahwa kami dulu dua kali mengobarkan pemberontakan untuk memperjuangkan Negara Federal melalui pemberontakan Andi Azis dan pemberontakan Kahar Muzakkar. Tetapi, saya katakan lagi bahwa kami menyadari kalau berontak tanpa adanya dukungan dari luar akan sia-sia. Dengan kata lain kita harus masuk bersama-sama dalam perahu untuk berjalan bersama. Jika sudah berada dalam perahu, niscaya kita dapat membangun secara bersama-sama dan melakukan perubahan secara bersama-sama pula. Hal seperti itu berulang-ulang saya katakan setiap kali bertemu dengan para petinggi GAM. Itulah prinsip saya yang pertama dalam menjalankan tugas merintis perdamaian di Aceh, yakni selalu berusaha membayangkan diri sebagai orang Aceh dan sedapat mungkin memposisikan diri diposisi mereka. Bahwa apa yang tidak kita suka, pasti juga tidak mereka sukai. Jangan sampai kita berbuat hal yang tidak kita sukai itu kepada mereka. Prinsip yang kedua adalah kita harus mempercayai orang dari apa yang dikatakannya langsung kepada kita dan tidak melalui perantara atau orang lain. Ketiga seperti yang berulang kali dipesankan oleh Pak JK, jika kita berbicara, lihatlah mata lawan bicara, sebab jika kita saling pandang, akan muncul ikatan emosional sebagai gambaran saling menghargai. Dalam sebuah tulisan Roy J. Lewicky yang saya baca baru-baru ini, disebutkan bahwa kepercayaan seseorang terhadap orang lain bisa muncul tergantung dari seberapa besar tiga hal mendasar dalam diri orang tersebut. Ketiga hal itu adalah kompetensi, integritas dan

20

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Dibalik Berita
ka tidak khawatir akan keselamatan saya. Ini semua adalah perjalanan yang sering kali hanya dapat dikenang sebagai petualangan tanpa rencana, diputuskan tibatiba demi melihat dan mengeksplorasi hal-hal yang tidak terlihat dalam mengupayakan perdamaian di Aceh. Pencarian bibit perdamaian itu menemukan hasilnya ketika GAM setuju untuk berunding dengan mengirimkan lima wakilnya dan satu penasehat politiknya. Mereka adalah Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bakhtiar Abdullah, Nur Djuli, Nurdin Abdul Rahman dan penasehatnya, Damien Kingsbury. Kisah bagaimana berkali-kali upaya saya gagal bertemu dengan mereka sebelum akhirnya kami bergaul rapat layaknya sebagai sahabat adalah bagian yang tidak dapat saya lupakan dalam perjalanan menempuh perdamaian di Aceh. Bila ada orang yang berpendapat bahwa perundingan di Helsinski sebagai sebuah proses bertukar kata di atas meja perundingan dalam melakukan tawar menawar substansi negosiasi, itu tidak sepenuhnya benar. Perundingan sebenarnya terjadi jauh lebih berwarna daripada itu. Terdapat banyak sekali kontak-kontak diluar meja perundingan baik melalui pembicaraan telepon maupun melalui SMS. Tetapi yang tak kalah penting, adalah lobi-lobi informal di sela-sela acara rehat. Rekan saya Juha Christensen, mengatakan bahwa peranan saya dalam perundingan itu adalah semacam fixer, yang memastikan semuanya berjalan lancar karena saya memang tidak ingin bibit perdamaian yang didapatkan dengan bersusah payah itu, layu sebelum sempat tumbuh. Harian The Jakarta Post mengatakan saya sebagai troubleshooter. Untuk itu saya harus berani menempuh cara-cara yang tak lazim, cara yang barang kali tidak dilihat oleh orang lain. Saya bahkan pernah mendapat kritik dari rekan-rekan satu tim karena mengeluarkan pernyataan yang dinilai melemahkan posisi pemerintah. Namun kelak dikemudian hari, momen itu turut menjadi penentu berlanjutnya proses menuju damai. Harian the straits times tak luput mencatat peristiwa deadlock yang hampir membuat perundingan berakhir sebelum waktunya pada putaran pertama. The first three days of talks went smoothly before GAM negotiators dropped a bombshell demanding the right to set up a local political party in Aceh. They argued that it the demand was in line with the democratizations of the country. But the issue became a sticking point because under the current election law, all parties must headquatered in Jakarta and have branches in at least half of the country’s provinces. For two days, there was an impasse as Indonesian official consulted Jakarta on the rebels demand. At a round this time, Dr. Yudhoyono reiterated the government’s rejections of the GAM’s de-

Sumber foto- To See The Unseen

kepedulian atau empati. Tinggi rendahnya saling percaya ditentukan oleh kombinasi ketiga hal tersebut. Ability refers to an assessment of the others knowledge, skill or competency. This dimension recognizes that trurt requires some sense that the others is able to perform in a manner that meets our expectations. Integrity, is the degree to which the trustee adheres to principles that are acceptable to the trustor. This dimension leads to trust based on consistency of past action, credibility of communication, commitment to standards of fairness, and the congruence of the others word and deed. Benevolence is our essesment that the trusted individual is concerred enough about our weifare to other advance oru interest, or at least not impede them. The others perceived intations ort motives of the trustee are most are most central. Honest and open communication,delegating decisions, and sharing contol indicate evidence of one’s benevolence. Belakang ini baru saya sadar, ternyata pendekatan personal yang telah saya lakukan selama ini memang didasari oleh ketiga hal tersebut. Saya merasa diterima oleh orang Aceh sebagai orang yang dapat dipercaya, peduli terhadap masalah yang mereka hadapi, dan mempunyai kapasitas untuk ikut mengupayakan solusi. Hal-hal ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pihak GAM akhirnya bersedia duduk di meja perundingan, meskipun harus melalui proses interaksi yang panjang. Perundingan tersebut dapat terlaksana karena sudah ada pondasi saling percaya yang kuat sebelumnya. Mencari bibit, menanam, dan menumbuhkembangkan perdamaian Dipandang dari sudut proses mencapai perdamaian, saya melihat ada tiga tahap yang krusial dalam menangani konflik diberb-

agai daerah di Indonesia, termasuk di Aceh. Yakni mencari bibit perdamaian, menanam, memelihara dan menumbuhkembangkannya. Perintah Pak JK untuk menjajaki kontak dan membangun rasa saling percaya dengan tokoh-tokoh GAM adalah dalam kerangka mencari dan memilih bibit perdamaian. Mencari dan memilih bibit perdamaian dalam prakteknya adalah mencari sebanyak mungkin pihak atau tokoh yang turut serta mempengaruhi dan menyuarakan aspirasi pihak yang berkonflik. Dalam menengahi konflik di Poso, misalnya, Pak JK memerintahkan untuk mencari komandan-komandan lapangan dari pihak-pihak yang bertikai. Beliau ingin bertemu dengan orang yang benar-benar menjadi penentu dilapangan, yang mempunyai senjata dan yang mempunyai pengikut. Perintah-perintah itu sering kali turun secara tiba-tiba dan dalam waktu yang merndesak. Hanya berkat jejaring (networking) yang telah terbangun dan terpelihara dengan baik sejak lama, tugas itu dapat berhasil terlaksana. Bahkan komandan-komandan yang berhasil saya temukan sering kali berbeda dengan yang ditemukan oleh pihak lain yang bertugas itu. Dan karena benar-benar terjun kelapangan, Pak JK lebih mempercayai data yang saya sampaikan. Dalam menangani konflik di Aceh, langkah saya bermula dari sebuah warung makan di kawasan Benhil di Jakarta. Pencarian bibit itu kemudian membawa saya kepada tokoh-tokoh dan cara-cara yang mungkin sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya sendiri. Segala upaya untuk melakukan dialog saya usahakan, kadang-kadang dengan melibatkan Pak JK sendiri. Michael Morfit dalam makalahnya berjudul Staying on the road to Helsinski menulis sebagai berikut : ….Kalla turned to his trusted assistant, Farid Husein, charging him to find a way to talk the GAM leadership. Over the next eighteen month, Husein (and

sometimes Kalla personality) pursued opportunities to re-establish a dialog with GAM. Upaya itu tidak terlalu mulus. Antara lain karena pihak GAM masih kerap menaruh curiga dan belum sepenuhnya bisa diyakinkan. Re-establishing a dialogue, however, was clearly not easy sell, even forirrepresible Farid Husain or energetic (jusuf) Kalla. After all, there was every reason for GAM to believe that the real strategy of the government was pursuit of complete military victorym not resurrecting peace negotiations. Dalam proses jatuh bangun menjalin kembali hubungan dengan GAM, saya menemukan pengalaman-pengalaman baru yang kadang-kadang jika saya bayangkan sekarang ini, membuat saya tersadar betapa sudah terlalu berani dan terlalu konyolnya saya ketika melaksanakannya tempo hari. Bila tidak mengingat bahwa tugas ini saya laksanakan demi Negara, demi orang yang saya hormati, dan demi perdamaian di Aceh, barang kali saya tidak akan bersedia menempuh langkah-langkah itu, yang kerap kali hampir bersentuhan dengan maut. Sebagaimana nanti pembaca dapat melihatnya pada bab demi bab buku ini, pencarian bibit perdamaian tersebut telah mengantarkan saya pada petualangan yang menyebabkan saya, misalnya harus naik truk dengan memakai t-shirt ala bajaj bajuri, untuk menemui panglima GAM di daerah yang sama sekali tidak saya kenal. Kala lain saya pernah berangkat ke Singapura dengan kaki di perban karena tendo saya terputus akibat terjatuh disebuah kedutaan besar Negara sahabat. Saya juga pernah marah besar kepada sahabat yang orang bule dinegara lain. Dan yang sering memunculkan rasa bersalah pada diri saya, saya harus merahasiakan kemana saya pergi kepada istri dan anak-anak demi menjaga agar mere-

Dibalik Berita

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

21

Sumber foto- To See The Unseen

mand of the party and this cretaed some confusion because a spokesman had told reporters that jakarta had a greed to the creation of local party. During the deadlock, Dr. Farid broke away from the givernment team and meet a rebel negotiator secretly to get GAM back to conference table. Harian the Jakarta Post juga mencatatnya, dan mengatakan itu sebagai ujian akhir bagi misi yang saya jalankan. The final test for Farid Husein was to act as a troubleshooter to save what could be a historic deal. As the talks were almost deadlocked o July 15, he dissapeared from the Ambassador’s house where the delegates rested or chatted with journalists. It turned out he had gone to the city to meet a GAM representative. The next day, the parties had an accord. Bahkan setelah MoU antara pemerintah dan GAM ditandatangaini, masih terdapat proses panjang yang merupakan bagian dari langkah-langkah menjaga dan menumbuhkembangkan perdamaian. Termasuk diantaranya adalah melakukan pendekatan personal pada petinggi GAM untuk tidak lagi menggunakan simbol-simbol GAM dalam perayaan hari-hari bersejarah di Aceh, sekali lagi banyak langkah yang harus saya tempuh dengan mengambil jalan diluar standar baku. Konsep Saya adalah Tujuan Saya Barangkali ketika buku ini tiba dihadapan pembaca, mereka akan berusaha mencari apa konsep saya

dalam turut serta merintis dan kemudian melahirkan perdamaian di Aceh. Pertanyaan serupa juga sering dilontarkan oleh sejumlah wartawan, dan, barang kali pembaca akan kecewa karena tidak menemukan konsep-konsep rumit, karena saya sering kali bicara normatif dengan analogi yang sederhana. Belum lama ini saya diundang ke sebuah konferensi perdamaian dan diminta menceritakan pengalaman dalam menangani konflik diberbagai tempat di Indonesia. Disana dengan jelas saya katakan bahwa saya tidak mempersiapkan makalah yang panjang lebar seperti yang sudah lazim dilakukan oleh pakar dibidang ini. Cara pandang saya sangat sederhana, bahwa konflik dapat diatasi seperti layaknya merujukkan kembali sepasang suami istri yang hampir berpisah. Seperti yang sudah sering saya katakan kepada wartawan, saya yakin bahwa pihak yang berkonflik dapat disatukan apabila keduanya mampu duduk bersama dan menceritakan masalahnya. ”We where exploring the possibilities of engaging in dialog,” said Farid, ”it doesn’t matter how long (it would take). What is important is there should be a willingness to talk. In any conflict resolution, we have to believe that as long as there is a willingness, there should be good intentions and purpose.” Farid loves the metaphor of familiy life. As with family problems, he believes a dialog is necessary; so are brokes, sometimes. Farid wouldbe brokers were Acehnese in Aceh and elsewhere in Indonesia and abroad. He patienly built relation-

ships with close relatives of GAM leaders Malik Mahmud, Zaini Abdullah and others. Sebangun dengan itu, saya dengan jujur mengatakan tidak mempunyai konsep dalam menjalankan tugas ini. Langkah-langkah saya rumuskan begitu saja pada saat melangkah. Tidak ada konsep yang sistematis bila ang dimaksudkan adalah rencana aksi tahap demi tahap. Improvisasi dan kreatifitas adalah bagian paling penting dalam tugas-tugas lapangan seperti yang ditugaskan kepada saya, yang menyebabkan rencana dapat berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu. Dan justru dengan begitulah, saya kerapkali dapat melihat hal-hal yang sebelumnya tak dapat saya bayangkan, bahkan oleh para perumus kebijakan sekalipun. Bagi seorang yang bergerak dilapangan, terjebak untuk turut serta dalam perdebatan mengenai substansi dalam proses perdamaian adalah hal yang harus dihindari. Hal ini benar-benar saya pegang teguh, baik ketika saya terlibat dalam penanganan konflik di Poso, Ambon maupun Aceh. Walaupun dapat bicara mengenai hal itu, saya tidak mau menyentuhnya, karena urusan substansi pada dasarnya ada ditangan sang pemberi perintah. Satu-satunya konsep,bila hal itu dapat dikatakan konsep, adalah bagaimana agar tujuan saya tercapai sesuai dengan waktu yang diberikan. Konsep saya adalah tujuan (goal) saya. Langkah-langkah saya tidak boleh dibatasi oleh konsep, apalagi jika ia kemudian mengurung upaya-upaya selanjutnya.

Langkah saya hanya dibatasi waktu. Tujuan saya adalah harus mengerjakan tugas hingga selesai mencapai akhir. Sesudah itu, saya melaporkannya kepada si pemberi perintah. Bagaimana tujuan itu akan tercapai, saya selalu menemukan cara sambil saya melakukannya. Ada lagi analogi untuk menjelaskan hal ini. Tugas yang diberikan kepada seoarang striker dalam pertandingan sepak bola adalah membuat bola masuk ke gawang lawan hingga tercipta gol dalam waktu tertentu. Tentang bagaimana menciptakan gol, itu sepenuhnya menjadi urusan sang striker. Langkah-langkahnya dalam mewujudkan gol sangat ditentukan oleh improvisasi dan kreatifitasnya dilapangan. Tatkala akhirnya MoU Helsinski ditandatangani, lalu diikuti oleh berbagai kalangan atas terciptanya perdamaian di Aceh, saya kira sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang merindukannya, saya juga dapat tersenyum bahwa salah satu tugas telah selesai saya jalankan. Mission a complished. Ibarat seorang petani yang sudah bekerja dilapangan mulai dari mencari bibit, menanam dan menumbuhkembangkannya, kini saya dapat bernafas lega bahwa semuanya beakhir dengan baik. Buku ini saya antarkan kepada saudaraku para pembaca sebagai semacam laporan dari lapangan sekaligus pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugas pengabdian yang saya jalankan secara ikhlas.*** (bersambung)

22

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Dibalik Berita

Satu Lagi, Foto Syur Made in Senayan
Setelah sempat dihebohkan dengan video mesum Yahya Zaini dan Maria Eva. Kini, muncul foto syur Max Moein, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan bersama teman lamanya.
tidur dengan dinding berwarna krim dan ada terlihat selimut berwarna kuning di atasnya. Namun Max yang dimintai konfirmasi membantah telah melakukan tindakan asusila bersama perempuan muda itu. Max menegaskan bahwa sepanjang hidupnya, dirinya tidak pernah merasa berfoto tanpa mengenakan busana. Ia mengaku kaget dengan kemunculan fotonya di internet. Ia juga meminta jangan menyamakan fotonya itu dengan video mesum Yahya Zaini dan pedangdut Maria Eva yang menghebohkan Indonesia dua tahun silam. “Jangan samakan dengan kejadian (kasus Yahya Zaini) yang dulu. Ini kan hanya foto biasa. Tidak perlu dipermasalahkan lah. Saya juga tidak tahu mengapa tiba-tiba ada foto seperti itu ada di internet. Tapi yang jelas, saya tidak pernah melakukan tindakan asusila seperti itu,” ujar Max Moein saat dihubungi Surya (grup Tribun), di Jakarta, Kamis (22/5) sore. Hanya itu saja kah? Tidak juga. Seperti diberitakan detik.com, 2305/2008. Anggota DPR tersebut mengakui foto syur yang beredar di tengah publik itu adalah foto dirinya. “Ya itu benar,” ujar Max yang ditemui di ruang kerjanya di ruang 0611 gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (25/4/2008). Max juga menuturkan, bahwa foto itu diambil 8 atau 9 tahun lalu. “Itu sudah lama sekali,” ujarnya. Lalu mbak yang dipeluk itu siapa? “Itu teman-teman pada waktu itulah. Kan sudah lama sekali. Saya tidak pernah ketemu lagi. Saya sudah lupa,” kilah politisi kawakan ini. Max menyatakan, foto itu diambil di kolam renang. Pakaian yang dikenakannya, yang kebetulan tak terlihat, adalah baju renang. Tapi kok tidak terlihat ada gambar kolam renangnya? “Kita difoto kan mungkin saja di tempat ganti pakaian di bagian belakang, nggak pasti kolam renang,” ujarnya. Lalu, bagaimana foto tersebut bisa beredar di internet? Max mengaku selama ini tidak punya musuh, karena dirinya bersikap baik kepada semua orang. Meski, kata dia, tidak menutup kemungkinan ada orang yang antipati kepada dirinya. Baik itu statusnya sebagai pribadi, anggota partai, dan juga anggota DPR. Dan orang yang antipati itulah lanjut dia, yang kemudian melakukan segala cara untuk melakukan pembunuhan karakternya. “Saya tidak tahu apa tujuannya. Tapi saya pikir ada pihak yang tengah berupaya menjatuhkan citra saya, partai, dan juga DPR. Tidak menutup kemungkinan seperti itu,” sambung dia. Dikatakan Max, banyak sekali sekarang ini upaya perusakan citra terhadap DPR. Yang paling gampang, kata dia, adalah dari kabar yang diterima masyarakat seolah hanya mengabarkan buruknya saja. Ia mengatakan, sisi yang diangkat adalah ketika kursi-kursi DPR yang kosong saat sidang. “Atau juga ke luar negeri demi kepentingan negara, tetapi kemudian disebut sebagai nglencer dan menghabiskan uang negara,” ujarnya. Yang jelas, pasca kemunculan foto itu, Max harus lebih sering menjawab pertanyaan rekanrekan sesama anggota dewan yang sering mencecar dirinya dengan pertanyaan seputar foto tersebut. Namun, Max mengaku tidak merasa tertekan karena tidak merasa telah melakukan tindakan asusila. Ia juga menyebut bahwa sejauh ini, keluarganya tidak terlalu terganggu. “Saya pikir hampir semua orang punya foto seperti itu. Maksud saya, foto close up dengan telanjang dada. Tapi karena saya anggota DPR akhirnya ramai,” lanjut dia. Lebih jauh, Max juga mengaku tidak gentar jika polemik soal foto dirinya di internet itu kemudian bergulir bak bola salju. Akan terus membesar yang berujung dirinya bakal dimintai keterangan oleh Badan Kehormatan (BK) DPR. “Kalaupun akan seperti itu saya siap saja. Saya siap menjelaskan duduk perkaranya, bahwa saya memang tidak merasa telah melakukan tindakan asusila. Jangan samakan dengan foto yang dulu-dulu,” ujarnya. Namun, Max mengaku tidak bisa berbuat banyak karena fotofoto itu kini sudah tersebar dan masyarakat luas bisa melihatnya. “Ya, bagaimana menempuh upaya-upaya, lha wong saya tidak tahu orangnya. Siapa yang melakukan ini? Kita kan tidak tahu wujudnya bagaimana,”sambung anggota Dewan yang sempat bersilang pendapat dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal calon Gubernur Bank Indonesia ini. Tidak hanya itu, seperti berita yang dikutip dari Persda Network menuliskan, bahwa anggota Fraksi PDI Perjuangan Max Moein ternyata pernah dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPR karena dugaan pelecehan seksual. Informasi ini diperoleh dari anggota Komisi III DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) Nursjahbani Katjasungkana. Nursjahbani yang tengah berada di New York mengirimkan pesan singkat kepada wartawan di Gedung DPR/MPR, Jumat (23/5) lalu. Nursjahbani dikonfirmasi wartawan karena wanita yang berpose syur bersama Max Moein disebut-sebut pernah menjadi sekretarisnya. Dalam pesan singkat yang dikirimkan oleh Nursjahbani terungkap, kasus ini pernah dilaporkan ke Badan Kehormatan setahun lalu namun tidak juga ditindak lanjuti. Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR Gayus Lumbuun yang dikonfirmasi mengenai hal ini kemudian menjelaskan, bahwa kasus ini sudah ditangani kepolisian. “Memang ada dulu. Akan tetapi, kasus itu sudah diproses di kepolisian. Kuasa hukumnya yang meminta agar diselesaikan di pengadilan,” singkat Gayus Lumbuun yang dikonfirmasi melalui telepon selulernya. Adaada saja.***

S

enayan kembali dihebohkan atas beredarnya foto syur salah satu anggota DPR RI. Kejadian kali ini menimpa Wakil Ketua Komisi XI Bidang Keuangan dan Perbankan, Max Moein. Wajah anggota DPR asal Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) tersebut dalam sepekan ini, beredar luas di internet dan menjadi buah bibir masyarakat. Dalam foto tersebut, Max Moein yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004, tampak bertelanjang dada sambil tangan kirinya mendekap erat perempuan muda yang tampaknya juga tidak mengenakan pakaian. Lengan kanannya terlihat setengah terangkat. Berat dugaan, Max sendirilah yang menjepret pelukan mesranya dengan perempuan itu. Foto tersebut tampaknya diambil dari dalam sebuah kamar. Latar belakangnya terlihat tempat

Rizki Adhar/dbs

Dibalik Berita
Soal Aset Aceh Utara

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

23

Sekdako Bilang: Saya “No Comment”
Pemerintah Kota Lhokseumawe diduga telah menyerobot aset milik Pemerintah Daerah Aceh Utara. Anehnya, Sekdako Lhokseumawe hanya bisa bilang: saya no comment!
su penyerobotan aset milik Pemda Aceh Utara oleh Pemko Lhokseumawe kian meluas ke publik. Siapa sangka, masyarakat dalam wilayah Aceh Utara, ikut menuai emosi dan protes. Lihat saja, Selasa, 13 Mei 2008 lalu. Sekitar 3000 lebih rakyat Aceh Utara, tumpah ke Lhokseumawe, menuntut Pemda Aceh Utara, agar menyelematkan seluruh asset yang ada di Lhokseumawe. Aksi tuntutan masyarakat itu bangkit, ketika terkuaknya kasus penyeborotan aset milik pemerintah Aceh Utara yang ada di Lhokseumawe. Sebut saja lahan penimbunan di Jalan Pase seluas 2,5 hektare. Lahan itu sudah beralih tangan menjadi aset Pemko Lhokseumawe. Kemudian, Pasar Los Lhokseumawe, Terminal Bus dan Labilabi. Terakhir, lahan Reklamasi Pusong seluas 2 hektare. Kepala Bagian Perlengkapan Sekdakab Aceh Utara, Drs. Amiruddin, membenarkan banyak aset milik Pemda Aceh Utara, telah beralih tangan menjadi milik aset Pemko Lhokseumawe. Padahal pihak Pemda Aceh Utara, sudah melayangkan surat larangan atau teguran kepada Pemko Lhokseumawe, atas sejumlah lokasi tadi. Dalam surat itu disebutkan adanya larangan untuk mendirikan bangunan tanpa izin Pemda Aceh Utara. Namun larangan itu hingga hari ini tidak pernah diindahkan. Malah, Pemko Lhokseumawe terus mendirikan bangunan untuk pasar buah meski tanpa izin dari pihak yang bersangkutan. Begitu juga dengan terminal Bus dan Labi-labi, Pasar Los. Sejak terbentuknya Pemko Lhokseumawe tahun 2001, sudah mulai dikuasai tanpa berpedoman kepada aturan. Kemudian, lahan reklamasi Pusong seluas 2 hektare, juga mulai diserobot. Di lokasi itu terlihat sudah dipasang pamplet untuk pembangunan SD 12 Lhokseumawe. Padahal, lokasi itu sedang ada konflik antara mahasiswa se-Aceh Utara dan Lhokseuamwe dengan anggota DPRK Aceh Utara. Itu disebabkan, harga pembebasan dinilai, dibawah standar. “Tapi pihak Pemko Lhokseumawe berani memasang pamplet ditengah suasana demikian”. Kepala Daerah Aceh Utara, telah melayangkan surat teguran yang ditujukan kepada Walikota Lhokseumawe. Surat bernomor 027/6368/PLKP/2006 tertanggal 12 Juni 2006 itu berisi. Kami beritahukan kepada saudara bahwa tanah lokasi Reklamasi Pusong, tanah timbun di Jalan Pase Desa Pusong Lama, Pusong Baru, Keude Aceh dan kelurahan Kota Lhokseumawe, yang saudara klaim sebagai milik Pemerintah Kota Lhokseumawe yang direncanakan akan dibangun fasilitas umum, sampai saat ini tanah tersebut masih milik sah Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dengan nomor sertifikat 1 (HPL) Pemerintah Kabupaten Aceh Utara tahun 1986 yang dikeluarkan Kantor Agraria Kabupaten Aceh Utara. Surat tersebut yang ditandatangani Penjabat Bupati Aceh Utara, H. Teuku Pribadi. “Namun surat larangan itu sampai memasuki tahun 2008 tanpa balasan (tidak diindahkan-red) oleh Walikota Lhokseumawe. “Bahkan, secara sadar Pemko Lhokseumawe mendirikan gedung atau bangunan di atas lahan tadi,” ungkap Amiruddin, Kabag Perlengkapan.

I

Karena tak mendapat tanggapan dari Walkot Lhokseumawe. Tanggal 14 April 2008 Pemerintah Aceh Utara kembali melayangkan surat kedua kepada Walikota Lhokseumawe. Surat bernomor 590/6939/ 2008 berisi larangan pembangunan gedung di atas tanah aset Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Poin keempat dari surat itu adalah: Diminta kepada saudara untuk segera menghentikan pembangunan gedung tersebut maupun kegiatan lainnya di lokasi yang merupakan asset Pemerintah Aceh Utara, baik asset dalam HPL No. 1 tahun 1985 maupun Asset lainnya tanpa seizin Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Surat tersebut ditandatangani Bupati Aceh Utara, Ilyas A. Hamid. Tembusanya ikut disampaikan Mendagri, Cg. Dirjen Otonomi Daerah di Jakarta, Gubernur Prov. NAD, Pimpinan DPRK Aceh Utara, DPRK kota Lhokseumawe, Kepala BPN Aceh Utara, Kepala Inspektorat Aceh Utara. Menyangkut surat teguran yang kedua kalinya itu, Walikota Kota Lhokseumawe, Munir Usman memberi jawaban melalui suratnya tanggal 15 April 2008. Surat itu bernomor. 590/146/2008, perihal: Larangan Pembangunan Gedung di atas tanah aset Pemkab Aceh Utara. Mau tahu isinya? Ini dia: UU RI No. 2 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Lhokseumawe pasal 14 ayat 1, untuk kelancaran penyelenggarakan Pemerintah Kota Lhokseumawe, Menteri/Kepala Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait, Gubernur NAD, Bupati Aceh Utara sesuai dengan kewewenangan menginventarisasi dan menyerahkan kepada Pemko Lhokseumawe meliputi antara lain: Poin (b) barang/milik kekayaan daerah berupa tanah, bangunan, barang bergerak, tidak bergerak yang dimiliki Pemda Aceh Utara yang berada di wilayah Kota Lhokseumawe sesuai PP ayat 2

pelaksanaan penyerahan sebagai dimaksud pada ayat 1 selambat-lambatnya diselesaikan dalam waktu 1 tahun sejak pelantikan Penjabat Walikota Lhokseumawe. Begitupun, alasan Walkot tadi disanggah Kepala Bagian Perlengkapan Pemkab Aceh Utara, Amiruddin. Kata Amiruddin, PP yang dipegang Walikota Lhokseumawe itu ada penjelasanya. Namun, dalam UU RI No. 2 Tahun 2001 yang diambil pasal 14 ayat 1 dan 2, sedangkan uraiannya poin berikutnya tidak digunakan sebagai penjelasan lebih mendalam. Sumber di Kabag Perlengkapan Aceh Utara itu menjelaskan, berdasarkan surat yang ditandatangani Menteri Dalam Negeri H. Moh. Ma’ruf, SE, tertanggal 19 Oktober 2006 No. 028/2529/SJ, Perihal: Penyerahan Barang, Hutang dan Piutang dari Kabupaten Induk kepada kota (Eks. Kota Administratif) pada poin ke-4 menyebutkan. Selanjutnya untuk pemenuhan sarana dan prasarana perkantoran di kedua pemerintah, perlu ditempuh kebijakan “win-win solution” sebagai berikut: (a) asset berupa tanah atau bangunan yang dipergunakan untuk pelayanan umum supaya ditentukan asset yang diserahkan secara murni kepada Pemko dan asset yang diserahkan dengan pola kompensasi dari Pemerintah Kota Lhokseumawe kepada Kabupaten Induk. (b) untuk membantu pembangunan sarana dan prasarana di ibukota Kabupaten Induk di tempat yang baru, asset berupa tanah/bangunan milik Kabupaten Induk yang tidak dipergunakan untuk pelayanan umum oleh pemerintah kota, dilakukan pelepasan hak baik dengan ganti rugi maupun tukar guling dengan pihak ketiga sesuai Kepmendagri No. 152 tahun 2004 tentang pedoman pengelolaan barang daerah. Kabag Perlengkapan Pemkab Aceh

Utara, Amiruddin melanjutkan. Peraturan Perundang-undangan yang dipegang Walikota Lhokseumawe sifatnya, apabila melakukan pemekaran wilayah kecuali letak geografinya terasing. Misalnya, pemekaran Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Bireuen yang telah dilakukan. Waktu itu seluruh asset milik Aceh Utara yang berada di daerah tersebut semuanya diserahkan kepada Kabupaten baru karena letak geografinya terasingkan. “Sedangkan Pemerintah baru Kota Lhokseumawe wilayahnya terletak ditengah-tengah Kabupaten Induk Aceh Utara dan beda dengan Bireuen yang telah kita lakukan pemekaran. Pola itulah yang dipegang Pemko Lhokseumawe,” tambahnya. Dia menceritakan, terbentuknya Kota Lhokseumawe tahun 2001 lalu, Pemda Aceh Utara langsung menyerahkan aset kepada Pemko Lhokseumawe yang bersifat kepentingan umum yakni, aset investaris Dinas Kesehatan berupa pukesamas, asset/investaris Dinas Pendidikan berupa sekolah, Kantor Camat, Kantor Ex Perdagangan, Gedung Diklat, asset Dinas Kebudayaan dan Parawisata, RSUCD, termasuk sejumlah aset lainnya seperti mobil dan lainnya yang berada di wilayah Pemko Lhokseumawe. Namun penyerahan asset tersebut sesuai Keputusan DPRK Aceh Utara No. 07/ tahun 2006, tentang persetujuan penyerahan asset/barang milik Pemerintah Aceh Utara kepada Pemko Lhokseumawe. Begitupun, sampai saat ini belum ada progres dari Walikota Lhokseumawe. Menurut Amiruddin, acara progres enggan dilakukan karena tujuan Pemko Lhokseumawe seluruh asset Pemda Daerah Aceh Utara harus diserahkan. Dan kondisi Pemerintah Daerah Aceh Utara sebagai Kabupaten induk harus keluar dengan tangan kosong. Mungkinkah? Lantas, apa kata Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Lhokseumawe, Safwan SE. Saat dikonfirmasi media ini. Dia bilang: Saya No Comment! Menariknya, Safwan mengucapkan itu tanpa alasan apapun. Reaksi dingin Safwan, memancing komentar banyak pihak. “Dia mau bilang apa, mana tahu dia soal Aceh Utara dan Lhokseumawe. Dia itukan pejabat droping dari Bireuen. Makanya dia tak mau berkomentar,” kata salah seorang anggota DPRK Aceh Utara kepada media ini. Hasil investigasi media ini menyebutkan, sejak berdirinya Pemko Lhokseumawe tahun 2001 sampai sekarang atau memasuki usia 7,5 tahun belum ada pembangunan yang dibangun kecuali gedung Walikota di Jalan Merdeka Lhokseumawe. Sedangkan untuk melaksanakan fasilitas perkantoran seperti dinas dan badan, pihak Pemko menumpang di ruko-ruko yang berstatus sewa. Terkesan, Pemko Lhokseumawe hingga hari ini belum berniat atau memikirkan untuk membangun gedung atau kantor baru. Bisa jadi, berharap dapat mengalihkan aset milik Pemkab Aceh Utara. Makanya Pemko Lhokseumawe melegalkan seribu satu cara agar aset Pemda Aceh Utara dapat diserobot. Sekedar mengulang saja. Beberapa waktu lalu malah sempat terjadi bentrok antara DPRK Lhokseumawe versus pengawai Dinas PU Aceh Utara, terkait penguasaan kantor PU Aceh Utara di Jalan Merdeka. Kantor tersebut akan digunakan anggota dewan Kota Lhokseumawe, sementara para pegawai Dinas PU, masih beraktifitas. Akibatnya, para pengawai Dinas PU marah dan membuang sejumlah data yang dimiliki DPRK Lhokseumawe.***

M. Daud (Lhokseumawe)

24

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Reportase

Kisah Ekploitasi Anak

Menjual Yayasan, Meraup Rupiah
Iswahyudi. Siapa Iswahyudi? Apakah dia pemain tunggal dalam kasus ini? Menurut pengakuannya dihadapan penyidik Polres Bireuen. Dia mengaku mahasiswa Universitas Almuslim, Fakultas Ilmu Komputer (FIKOM). Sehari-hari, kalau tidak kuliah, pekerjaannya berjualan di kios kecil yang epala Satuan (Kasat) diberi nama “Plaza Raksasa”. Reskrim Polres Bireuen, Kios itu terletak di Jalan Pasar AKP. Trisna Safari mengaIkan Lama Bireuen. Dan, disittakan. Kesakitan Iswahulah Iswahyudi dicokok poliyudi karena dipukul oleh tahanan si pada tengah malam buta. lain. “Dia dihajar teman satu sel “Sejauh ini memang ada indalam kasus narkoba. Tahanan itu dikasi keterlibatan pihak lain marah dengan perbuatan Iswahyudalam kasus ini,” jelas Trisna. di,” jelas Trisna, sambil menunjuk Begitupun, Iswahyudi ke muka Iswahyudi yang dimembantah telah menyiksa tangkap, Sabtu, 17 Mei 2008, sekidan memukul anak-anak tar pukul 11.30 Wib lalu. jalanan tadi. “Saya tidak perSaat diciduk, polisi menemukan nah memukul mereka, malah ■ MODUS/Suryadi barang bukti satu stempel, amplop, Kios Iswahyudi, koordinator pengemis saya beri makan dan pekerdan bukti setoran sejumlah uang. jaan,” jelasnya sambil menunDia diduga telah melakukan kejaduk lesu. hatan eksploitasi terhadap anak- tentang pemalsuan dengan anca- hingga menyulut tubuh anak-anak Rektor Universitas Almuslim anak. man hukuman minimal 5 tahun itu dengan puntung rokok. Matangglumpangdua melalui Pria asal Desa Cureh, Kecama- penjara. Lalu, Undang - Undang Salah seorang korban, Nasir (11), Pembantu Rektor III Bidang Kematan Kota Juang Bireuen ini, telah Perlindungan Anak dibawah umur dari Jaba, Kecamatan Peudada, hasiswaan Anwar MD, SH ketika menjadikan anak jalananan untuk nomor 23 tahun 2003 ancaman hu- mengaku. “Saya disulut dengan dikonfimasi oleh media ini, Mingmemperkaya diri sendiri. Caranya, kuman tujuh tahun penjara. “Ironis- puntung rokok waktu tidur,” ujarn- gu, 18 Mei 2008 mengakui menyuruh anak-anak tadi untuk nya lagi, dia sebagai mahasiswa, ya, sambil mengangkat celana yang Iswahyudi memang mahasiswa mencari derma dan mengemis. Lalu, malah tega memperalat anak-anak telah lusuh dan robek, untuk mem- mereka. Menurut Anwar, Iswahuang yang diperoleh, disetor kepa- untuk mengemis,” ujar Kasat perlihatkan luka akibat disulut yudi adalah mahasiswa FIKOM da Iswahyudi, sore harinya. Reskrim Polres Bireuen, AKP Tris- puntung rokok. Sedikitnya, ada tiga Semester VI. Hal ini dipastikan Dalam operasionalnnya, setiap na. titik bekas luka yang telah sembuh Anwar setelah mengecek dan anak dibekali amplop yang telah Kasus ini baru terungkap, kare- akibat sulutan puntung rokok berkomunikasi dengan Drs. tertera stempel sebuah yayasan. na anak-anak merasa sudah tidak Iswahyudi. Syarkawi, M. Ed Dekan III, FIKOM Namanya: Yayasan Anak Yatim Al- tahan lagi diperalat oleh tersangka. Menurut pengakuan Iswahyudi, dan Kabag Pengajaran Munar, ST. Ikhlas Bireuen. Pada stempel lain- Bahkan, mereka mengaku sering aksi ini baru dilakukan selama satu Mengenai tindakan apa yang nya tertera MIRA yang berisi bantu- disiksa akibat setoran minim. Kec- bulan. Tapi pengakuan itu dibanakan diambil pihak universitas, an untuk fakir miskin. Ternyata, se- uali itu, ada anggota kepolisian se- tah oleh anak-anak jalanan tadi. Anwar MD, SH yang juga pengacmua itu hanya fiktif dan rekayasa. cara tidak sengaja mendengar pel- “Kami sudah dua bulan bekerja ara di Kota Bireuen dengan tegas Kapolres Bireuen AKBP. T. Sala- aku kerap mengancam anak-anak dengan dia. Kami takut kalau sammengatakan. Tidak akan ada tolerdin, SH kepada media ini mengata- jalanan tersebut, sehingga menim- pai dia lepas, nanti kami dipukul,” ansi, dan mahasiswa tersebut menkan. “Kita menghimbau kepada bulkan kecurigaan dan akhirnya ujar seorang anak. jurus untuk dikeluarkan setelah masyarakat untuk mencurigai bila sampai ke polisi. Ada lima dari enam anak yang adanya sebuah kekuatan hukum menemukan indikasi seperti ini dan Beberapa anak-anak jalanan dihadirkan ke Mapolres setempat tetap dari majelis hakim. “Sekarang melapor ke pihak berwajib,” him- tadi, kepada media ini mengaku untuk dimintai keterangan. Tapi, kan baru terduga nanti setelah terbau Saladin. kerap disiksa bila tidak mau me- seorang lagi, Rizaldi (12), asal Su- bukti Iswahyudi akan langsung Terkait kasus ini, Iswahyudi da- nyetor. Misalnya, dengan cara mem- ngai Raya, Aceh Timur, telah dulu- kami keluarkan,” tegas Anwar. pat dijerat dengan pasal 378 KUHP bakar rambut, mengikat tangan an melarikan diri dari cengkraman Sebagai praktisi hukum, Anwar mengaku, dugaan perbuatan Iswahyudi itu mengarah pada perIswahyudi (23), Tersangka Eksploitasi Anak Jalanan buatan kriminal. “Itu jelas kriminal dan melawan rasa keadilan masyarakat,” ujarnya geram. Oleh sebab itu, lanjut Anwar. “Kita berharap tersangka mendapat hukuman seberat-beratnya, sesuai denDarimana Anda dapat ide untuk membuat stempel tersegan hukum yang berlaku,” ucap but? Anwar. Hal ini untuk memudahkan orang percaya. Karena ada indikasi pengaKenapa Anda merekrut anak-anak jalanan? niayaan, menurut Anwar si pelaku Daripada tidak ada pekerjaan dan luntang-lantung di termikasus ini bisa dijerat pasal berlanal. Lebih baik saya berdayakan. pis. “Ini ada sindikat, ada tokoh inKabarnya, Anda kerap menyiksa anak-anak itu? telektual, maka polisi harus menTidak, malah saya sayang sama mereka dan saya beri magusut tuntas kasus ini,” harap Ankan. war. Sejak kapan Anda melakukan pekerjaan ini? Anwar juga berharap agar DiSudah sebulan. nas Sosial Bireuen dapat mengataApakah uang hasil mencari derma tadi, Anda ambil sesi persoalan anak-anak jalanan di mua? daerah ini. Sebab, kebijakan itu, terTidak! Sebagian memang saya ambil untuk tabungan merekait dengan harga diri pemerintah ka, yang lain saya beri juga untuk mereka, tapi mereka habisdaerah Bireuen sendiri.*** kan untuk beli jajan dan main game PS.***

Iswahyudi (23) hanya bisa tertunduk lesu. Sesekali dia meringis seperti kesakitan, di ruang konferensi pers Kapolres Bireuen, Minggu, 18 Mei 2008 lalu, sekitar pukul 13.30 WIB.

K

Percaya! Memudahkan Orang Percaya!

Hamdhani
■ MODUS/Hamdani

Hamdhani

Reportase

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

25

Antara Eksploitasi dan Pembiaran Orang Tua

Anak-anak jalanan korban eksploitasi saat di Mapolres Bireuen.

■ MODUS/Hamdani

Kasus eksploitasi anak jalanan (di Aceh sering disebut Aneuk Kleung— anak elang), kini semakin memprihatinkan. Pemerintah daerah diharapkan lebih pro-aktif untuk menekan bahkan menuntaskan kasus yang menimpa anak bangsa ini.

K

asus yang diungkapkan Polres Bireuen, Minggu, 18 Mei 2008 lalu, mungkin hanyalah ibarat puncak gunung es. Padahal, kasus ini sudah sangat mencemaskan dan perlu penanganan serius dari berbagai pihak terkait dengan penyakit sosial yang semakin merembet itu. Pengamatan media ini, sepanjang jalur utara mulai dari Lhokseumawe sampai ke Banda Aceh, praktik mengemis anak-anak jalanan kerap terjadi. Ada secara personal, ada pula dengan modus operandi mengedarkan amplop. Anak-anak yang seharusnya sekolah itu, malah tanpa canggung menjalani profesi tadi. Di Lhokseumawe, keberadaan

pengemis cilik tersebut, biasanya mangkal di seputaran kawasan Cunda. Cara mereka mengemis terkesan sudah sangat profesional dan seperti ada yang mengarahkan. Sasaran mereka para penumpang bus berbadan lebar atau disebut BE. Caranya, dengan mengedarkan amplop yang sudah distempel dan biasanya bertuliskan. “Bantulah anak yatim” dan sebagainya pada setiap penumpang. Kemudian setelah menunggu sesaat, mereka ambil lagi sambil memeriksa isi amplop yang mereka edarkan apakah ada rupiah yang diselipkan penumpang bus dalam amplop yang mereka edarkan tadi atau tidak. Keberadaan para pengemis cilik ini sangat terkontrol dan terkoordinir, tetapi salah seorang pengemis cilik yang mengaku bernama Aldi membantah, kalau mereka ada yang mengatur dan mengkoordinir. “Saya mengemis hanya iseng-iseng karena mudah mendapatkan uang. Dengan begini tidak ada yang menyuruh dan memimpin kami, tidak ada bos, semua anak buah,” ujarnya cuek dan tertawa ringan sambil menyapu peluh di wajahnya yang legam. Tapi jujurkah pengakuan Aldi tersebut? Kasus yang terjadi di

Bireuen tampaknya membuktikan bahwa mereka memang dikoordinir. Simak saja kisah pengakuan Mulyadi (14) kepada wartawan media ini yang mengaku berasal dari Juli, Bireuen. Mulyadi melakukan pekerjaan mengemis sejak setahun yang lalu, setelah ibunya meninggal dunia waktu ia masih kecil. Ayahnya yang bernama M. Yusuf kawin lagi. Pekerjaan ayahnya adalah petani, dan dia mengaku sangat miskin sehingga dari ayahnya tidak pernah mendapatkan uang jajan. Bangku sekolah sudah lama ditinggalkannya, ia hanya sempat mengecap pendidikan sampai kelas II SMP. Setelah itu sekolah hanya menjadi barang mewah buat anak-anak seperti Mulyadi, walau ia mengaku sebagai anak tunggal, tapi ayahnya tetap tidak sanggup memenuhi Mulyadi. Lain pula kisah M. Nasir (11). Dia mengaku hanya sempat sekolah sampai kelas II SD, setelah itu karena ketiadaan biaya, ia hanya bisa melihat teman-temannya dari jauh berlarian dengan gembira memakai seragam merah putih, berlarian di pamatang sawah desanya, di Jaba, Peudada. Ayahnya bernama Mustafa dan tidak mampu

membiayai sekolahnya lagi. Nasir mengaku sudah setahun menjadi pengemis, tapi sejak dua bulan ini ia mengaku “bekerja” dengan Iswahyudi. Nasib malang menimpanya, meski masih kecil ia kerap disiksa “majikannya” Iswayudi. Setidaknya ada tiga bekas titik luka yang sudah mengering, karena sulutan puntung rokok. “Ini dilakukan saat saya sedang tidur,” ungkapnya sambil memperlihatkan bekas luka di betis dekilnya. Hari itu yang bersaksi di Mapolres Bireuen tidak hanya Mulyadi dan M. Nasir saja, tapi ada juga Saiful Bahri (13), yang mengaku berasal dari Sawang Aceh Utara, Basri (11), Blang Jreun, Aceh Utara dan Aziz Mustafa (12), yang berasal dari Ulee Gle Pidie. Mereka mengaku sudah beberapa bulan menjadi pengemis di Kota Bireuen, dan mengaku kerap mengalami siksaan. Sementara seorang anak lainnya bernama Rizaldi (12), beralamat di Sungai Raya Aceh Timur, berhasil kabur dan kembali ke kampung asalnya karena tidak tahan dengan siksaan Iswahyudi. Terkait kasus ini, masyarakat menunding bahwa Pemkab Bireuen, khususnya Dinas Sosial tidak peka dengan keberadaan anak-anak jalanan tersebut. Salah seorang pendidik, Sriwahyuni (30) di Kabupaten Bireuen mengatakan. “Sekarang banyak sekali pengemis anakanak usia sekolah di Kota Bireuen, tapi pemerintah seakan menutup mata dan tidak punya kepedulian untuk membina mereka.” Tapi tudingan itu dibantah oleh Kepala Dinas Sosial dan Kesatuan Bangsa Kabupaten Bireuen, Drs. Ridwan AR, MM. Menurutnya, selama ini Dinas Sosial ada melakukan pembinaan terhadap anak-anak jalanan. Tetapi masalahnya baru beberapa hari dibawa untuk dibina mereka telah dijemput oleh orangtuanya untuk dibawa pulang. Dari pengakuan Ridwan, ada kesan orangtua anak-anak jalanan ini juga ikut mengeksploitasi anak-anaknya, setidaknya dugaan tersebut diungkapkan Zulkifli (31) penduduk Bireuen. “Mereka terkesan telah menjual kemiskinan untuk mengharap belas kasihan orang lain dengan cara menjadi pengemis dan memanfaatkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk mencari sedekah,” duga Ridwan. Ridwan mengaku, pihaknya menghadapi kendala dalam menangani anak-anak jalanan. Misalnya, tak adanya rumah singgah. “Kami telah memikirkan, tapi tidak ada anggaran, mungkin tahun ini bisa terwujud.” Lebih lanjut menurut Ridwan, Mulyadi Cs saat ini telah ditampung oleh lembaga yang dia pimpin. “Ya, mereka telah kami tampung dan selanjutnya akan kami bina,” ujarnya.***

Hamdhani

26

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Politik

Verifikasi Parlok Aceh Diumumkan

Pertama Urusan Negara, Selanjutnya Terserah Rakyat
Kanwil Departemen Hukum dan HAM Nanggroe Aceh Darussalam, akhirnya mengumumkan sejumlah nama partai politik lokal yang lulus verifikasi tahap akhir dan akan disahkan sebagai badan hukum. Babak awal atau akhir perjuangan partai politik lokal?
tai-partai lokal Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tersebut dimulai sejak Februari 2008 dan ditutup hingga 25 Maret 2008. Pada saat penutupan tersebut, tercatat 14 partai politik yang telah terdaftar. Tiga diantaranya telah diverifikasi oleh Kanwil Dephum HAM Aceh. Sedangkan 11 lainnya akan di verifikasi pada tahap II, 3 April 2008 untuk Banda Aceh serta 7 dan 21 April 2008 untuk kabupaten/kota. Verifikasi parlok yang dilakukan tim verifikasi yang terdiri dari unsur Pemda, Polda, Universitas (Universitas Syiah Kualared) dan anggota Kanwil ■ MODUS/Rizki Adhar Kakanwil Departemen Hukum dan HAM Kanwil Nanggroe Aceh Darussalam Razali Dephum HAM tersebut, Ubit SH, sedang mengumumkan nama partai politik lokal yang lulus verifikasi tahap hanya diperuntukkan bagi parlok yang telah meakhir . menuhi seluruh persyarasyukur karena telah berhasil menye- Banda Aceh, Rabu, 21 Mei lalu, men- tan sebagaimana diatur dalam UU lesaikan beberapa verifikasi sampai gatakan. Perubahan nama dan lam- Nomor 11 tentang Pemerintahan akhirnya pengumuman disahkan bang partai yang didirikan para Aceh dan Peraturan Pemerintah beberapa partai lokal menjadi mantan kombatan Gerakan Aceh Nomor 20 Tahun 2007 tentang ParMerdeka (GAM) itu, merupakan tai Politik Lokal di Aceh. badan hukum. Verifikasi parlok tersebut antKetika ditanya, apakah selama perubahan kedua. ”Pada saat kita pelaksanaan pendaftaran partai deklarasikan dulu namanya Partai ara lain meliputi verifikasi susupolitik hingga berakhirnya veri- GAM (tanpa kepanjangan), kita nan kepengurusan di tingkat pufikasi ada persoalan yang meng- ubah menjadi Partai Gerakan Aceh sat (provinsi) hingga kecamatan, hambat, dengan tenang Razali Mandiri (GAM). Sekarang kita ubah kesekretariatan di tingkat yang mengatakan. Hambatan itu pasti lagi menjadi Partai Aceh,” kata sama atas keterangan surat domisili dan bukti kepemilikan kantor, ada, namun itu bukan suatu Adnan. Seiring dengan perubahan papan nama, dan sarana komunimasalah yang dapat menghambat nama itu, lambang Partai GAM juga kasi berikut inventaris kantor yang proses verifikasi itu sendiri. Razali mencontohkan, per- diubah dan disesuaikan dengan dimiliki oleh partai. Hal menarik pada saat itu justmasalahan pada partai GAM. Sete- nama baru partai ini, yaitu Partai lah mengalami perubahan nama Aceh. Perubahannya antara lain ru disaat verifikasi akan dilakuhingga dua kali. Permasalahan kata atau tulisan GAM yang terda- kan, permohonan dana yang diayang menghambat partai yang kini pat di tengah lambang partai itu jukan ke pemerintah pusat melalui mengubah nama menjadi Partai juga telah diubah menjadi tulisan Dephum HAM untuk tahun ini Aceh itu, akhirnya selesai setelah Aceh, dan tulisan Partai Gerakan ternyata tak tersedia anggarannya. dilakukan musyawarah. ”Peker- Aceh Mandiri dicantumkan di sisi Dan keadaan tersebut semakin jaan kami untuk saat ini telah sele- kiri lambang partai tersebut diubah diperparah dengan tidak tersedianya pos dana untuk verifikasi parsai, mungkin Insya Allah dalam menjadi tulisan Partai. Masih menurut Juru Bicara Par- lok tahun 2007 pada Pemerintah minggu ini tim dari Kanwil Dephum HAM akan berangkat ke Jakarta tai Aceh, Adnan Beuransah, pe- Aceh. Sedangkan verifikasi parlok guna melapor pada pemerintah rubahan nama dan lambang partai itu mendesak harus dilakukan. pusat dalam hal ini menteri De- adalah suatu proses politik dan Sebab, bila tidak, maka keikutserphum HAM dan didaftarkan dalam memenuhi persyaratan nasional taan parlok dalam Pemilu 2009 keyang tertulis di dalam poin 1.2.1 mungkinan bisa terancam, mengBerita Negara,” ujar Razali Ubit. Seperti diberitakan berbagai me- MoU Helsinki dan UUPA Nomor 11 ingat waktu yang tersisa tinggal dia cetak sebelumnya. Dewan Tahun 2006 tentang Pemerintahan setahun lagi (2007-2008-red). Di tengah tak jelasnya sumber Pimpinan Pusat Partai Gerakan Aceh, serta menyahuti peraturan Aceh Mandiri (DPP Partai GAM), pemerintah Nomor 20 Tahun 2007 dana untuk kegiatan verifikasi parkembali mengubah nama dan lam- tentang Partai Politik Lokal di Aceh. tai politik lokal (parlok) di Aceh, Seperti diketahui, pendirian par- akhirnya Badan Rehabilitasi dan bang partainya menjadi Partai Aceh. Nama dan lambang Partai lok merupakan amanat MoU Hel- Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias Aceh ini, secara resmi telah sinski dan UU Nomor 11 Tahun memberi lampu hijau, dengan didaftarkan ke Kantor Wilayah De- 2006 tentang Pemerintahan Aceh. berkenan membantu biaya kegiapartemen Hukum dan Hak Asasi Teknis pendirian organisasi politik tan yang bernilai sekitar Rp 540 Manusia (Kanwil Depkumham) tersebut merujuk pada PP 20/2007 juta. Hingga dipastikan verifikasi yang melimpahkan kewenangan parlok dapat dilaksanakan sampai Aceh pada April bulan lalu. Jurubicara Partai Aceh, Tgk Ad- kepada Kanwil Dephum HAM disahkannya partai politik lokal nan Beuransah yang didampingi Aceh untuk menerima pendaftaran, menjadi badan hukum. *** Jurubicara Komite Peralihan Aceh melakukan verifikasi, dan mensahRizki Adhar (KPA) Pusat Ibrahim KBS, kepada kan partai lokal. Pendaftaran dan penyerahan sejumlah wartawan pada acara temu pers, di DPP Partai Aceh, di administrasi untuk verifikasi par■

S

ejumlah politisi dari beberapa partai politik lokal di Aceh, kini bisa sedikit bernafas lega. Perjuangan agar disahkan partai politik yang mereka gawangi selesai sudah. Kantor Wilayah Dephum HAM Nanggroe Aceh Darussalam, Jumat pagi, 22 Mei 2008 lalu, mengumumkan nama-nama partai politik lokal yang lulus verifikasi tahap akhir dan akan disahkan menjadi badan hukum. Pengumuman nama-nama partai politik tersebut disampaikan langsung Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Nanggroe Aceh Darussalam, Razali Ubit, SH, di ruang kerja Kakanwil Dephum HAM, Jalan Teuku Nyak Arief No 185, Banda Aceh. Disampaikan Razali Ubit. Dari 14 partai yang mendaftar, dua diantaranya, Partai Serambi Persada Nusantara Serikat (PSPNS) dan Partai Nahdhatul Ummah (PNU), dinyatakan tidak lulus verifikasi sehingga tidak bisa disahkan menjadi badan hukum. Kedua partai lokal tersebut ujar Razali dikarenakan belum memenuhi syarat-syarat administrasi seperti belum mencapainya 50% kepengurusan di kabupaten/kota serta 25% di tingkat kecamatan. Sebaliknya, 12 partai lokal lain dinyatakan lulus dan akan disahkan menjadi badan hukum adalah. Partai Darussalam, Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Pemersatu Muslimin Aceh (PPMA), Partai Aceh, Partai Gabthat, Partai PARA, Partai Aceh Meudaulat (PAM), Partai Lokal Aceh (PLA), Partai Daulat Atjeh (PDA), Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS), Partai Bersatu Atjeh (PBA), dan Partai SIRA. Setelah ditandatangani akta pengesahan, untuk selanjutnya kedua belas partai tersebut bisa langsung mendaftar ke Komisi Independen Pemilihan guna dilakukan verifikasi selanjutnya. Razali Ubit yang saat itu ditemani dua staf dari Dephum HAM yakni Kepala Bidang Pelayanan Hukum, Jailani M Ali dan Kepala Divisi Bidang Pelayanan Hukum Syamsul Bahri, kepada sejumlah wartawan mengaku sangat ber-

Politik
Seleksi KIP Aceh Utara

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

27

Anggota KIP: Ternyata Masih Menarik Juga
P
transparansi, kejujuran, serta objektif. Begitupun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, bau busuknya pasti tercium juga. Berbagai masalah akhirnya mencuat kepermukaan. Ada indikasi sejumlah calon anggota KIP yang lolos hingga ke tahap uji kelayakan tersebut, diduga pernah menjadi calon legislatif dari partai tertentu pada pemilihan umum tahun 2004 lalu. Sebut saja Agt. Salah seorang calon angroses seleksi calon anggota Komite gota KIP yang lolos uji kelayakan ini disinIndependen Pemilihan (KIP) Aceh yalir pernah ikut mencalonkan diri sebagai Utara, tinggal selangkah lagi. 15 caleg pada pemilu 2004 lalu. “Dia meorang peserta yang lolos dari tangusung Partai Patriot waktu itu,” kata hap sebelumnya (seleksi administrasi, uji sumber media ini. tertulis serta psikotes-red) kini sedang berPadahal dalam Undang-Undang No 22 siap-siap untuk mengikuti tahap penentutahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilian akhir: uji kelayakan (fit & propher test ). han Umum, pada bagian Keempat, PerDari 15 calon tadi, nantinya hanya tinggal syaratan, pasal 11 poin (i) disebutkan bahlima orang untuk menjadi anggota KIP wa mereka: tidak pernah menjadi anggota Aceh Utara periode tahun 2008-2013. partai politik yang dinyatakan dalam surat Sejauh ini, proses penjaringan yang dipernyataan yang sah atau sekuranglakukan oleh tim Ad hoc bentukan Komisi kurangnya dalam jangka waktu 5 (lima) A DPRK Aceh Utara itu memang berjalan tahun tidak lagi menjadi anggota partai lancar. Bahkan, disebut-sebut, proses ini politik yang dibuktikan dengan surat ketdilakukan melalui mekanisme yang katanerangan dari pengurus partai politik yang ya menjunjung tinggi prinsip-prinsip bersangkutan dan poin (k) : tidak sedang menduduki jabatan politik, jabatan struktural, dan jabatan fungTIM INDEPENDEN PENJARINGAN DAN PENYARINGAN sional dalam jabatan negeri. CALON ANGGOTA KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN (KIP) Tak hanya itu, menurut sumber ACEH UTARA PERIODE 2008-2013 media ini, ada juga bakal calon angDAFTAR HASIL SELEKSI WAWANCARA CALON ANGGOTA gota KIP yang disinyalir bermasalah KIP KABUPATEN ACEH UTARA PERIODE 2008 – 2013 dengan status kependudukan. MereTanggal 28 S/D 29 April 2008 ka diduga memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) ganda. Sebut saja Ayi NoUrut NoUjian Nama Ket. Jufridar, menurut sumber tadi, kandidat ini berdomisili di Jalan TU 1 024 AYI JUFRIDAR, A.Md Agam, Desa Kutabalang, Kecamatan 2 012 JUFRI SULAIMAN, S.Sos 3 036 MUHAMMAD, SE, AK Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. 4 017 HASMUNI BANTA Tapi ketika mencalonkan diri men5 034 ZAINAL ABIDIN BADAR,SH,M.Hum jadi anggota KIP, yang digunakan6 015 AGUSTIAR nya adalah KTP dari salah satu desa 7 019 LAILAN FAJRI, S.Sos di Kecamatan Muara Batu, Aceh 8 013 AGUS SARMIN Utara. “Jika ini benar, hal ini jelas9 008 ASYARI, S.T jelas mengangkangi ketentuan ad10 026 HAMDANI, S.E ministrasi negara, yang tidak mem11 018 FITRIANUR, S.Pd bolehkan warga negara memiliki 12 033 T. HIDAYATUDDIN, S.E 13 014 SYAHRIAL AMIR KTP ganda, sehingga orang tersebut 14 035 ASY’ARI BAKAR, S.Pt dapat dikenai ancaman pidana,” kata 15 003 JAMALUDDIN, S.E juru bicara Aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat Zulfikar SH beberapa waktu lalu. Sayangnya, ketika wartawan media ini melakukan konTIM INDEPENDEN PENJARINGAN DAN PENYARINGAN CALON ANGGOTA KOMISI INDEPENDEN PEMILIHAN (KIP) firmasi, Ayi Jufridar memilih untuk ACEH UTARA PERIODE 2008-2013 tidak berkomentar. Hanya itu? Tunggu dulu. Masih DAFTAR HASIL SELEKSI WAWANCARA kata sumber tadi: dari 15 bakal calon CALON ANGGOTA KIP KABUPATEN ACEH UTARA PERIODE 2008 – 2013 anggota KIP tadi, beberapa diantTanggal 28 S/D 29 April 2008 aranya adalah pengurus partai politik tertentu. Ambil contoh, Jufri Sulaiman S Sos. dan Hasmuni Banta. NoUrut NoUjian Nama Ket “Kedua calon ini merupakan pengu1 024 AYI JUFRIDAR, A.Md rus Partai Golkar peride 2004,” kata 2 012 JUFRI SULAIMAN, S.Sos sumber tadi. 3 036 MUHAMMAD, SE, AK 4 017 HASMUNI BANTA Nah, oleh berbagai pihak, ang5 034 ZAINAL ABIDIN BADAR,SH,M.Hum gota tim independen penyaringan 6 015 AGUSTIAR dan penjaringan disebut-sebut se7 019 LAILAN FAJRI, S.Sos bagai yang paling bertanggung 8 013 AGUS SARMIN 9 008 ASYARI, S.T jawab dalam hal ini. Tim yang diket10 026 HAMDANI, S.E uai Dr. Muklir, S.Sos. S.H., M.AP ini 11 018 FITRIANUR, S.Pd disinyalir melakukan penyaringan 12 033 T. HIDAYATUTDIN dan penjaringan tidak memenuhi 13 014 SYAHRIAL AMIR 14 035 ASY’ARI BAKAR, S.Pt persyaratan. Bukan itu saja, Menu15 003 JAMALUDDIN, S.E rut Zulfikar, salah seorang anggota 16 031 SAMSUL BAHRI, SE.MM tim Ad hoc benaman Husna, yang 17 030 AHMAD ANDIB, B.A dipilih oleh Komisi A DPRK Aceh 18 025 FUADI USMAN 19 023 SAMSUL BAHRI, S.Sos Utara, diduga belum memiliki gelar 20 032 NASRUDDIN kesarjanaan. Padahal, dijelaskan 21 016 Ir. BAHRUM AMRI dalam qanun Aceh nomor 7 tahun 22 011 SAIFUL ADHAR ALSA 2007 tentang penyelenggaraan pe23 037 NASRUDDIN, S.E 24 028 MAULUDI S.Sos milihan umum di Aceh, pasal 14 ayat 25 006 USMAN M. AMIN (3) Anggota tim independen se26 001 IMRAN KAMIL bagaimana dimaksud pada ayat (2) 27 021 MUHAMMAD RIZA harus memenuhi syarat sebagai 28 005 JAILANI ABDULLAH.ST 29 038 FAISAL berikut : pendidikan sekurang30 027 SAIFUL ARDI kurangnya sarjana atau sederajat.

Proses penjaringan anggota Komite Independen Pemilihan (KIP) Aceh Utara dinilai sarat masalah. Benarkah ada skenario belakang layar?

Zulfikar
Terkait berbagai permasalahan di atas, Zulfikar menilai bahwa tim independen yang bersifat Ad hoc tersebut, bekerja tidak profesional dalam melakukan penjaringan dan penyaringan terhadap 15 orang calon anggota KIP Aceh Utara. “Ini menjadi tanda tanya, sudah kompetenkah tim independen yang dipilih oleh DPRK Aceh Utara itu?” kata pria yang akrab di sapa Adun ini. Dia juga menambahkan, permasalahan tersebut harus menjadi perhatian semua pihak. “Jika sekarang saja tim Independen dan calon anggota KIP sudah bermasalah, bagaimana pada pemilu tahun 2009 nanti?” timpalnya. Menyikapi permasalahan tersebut, Aliansi Lembaga Swadaya Masyarakat, yang didalamnya tergabung sejumlah LSM diantaranya: LBH Banda Aceh Pos Lhokseumawe, MaTA, Serampak Aceh, Jari Aceh menyatakan. Kinerja Tim Ad hoc untuk proses penyaringan terhadap calon anggota KIP diragukan kredibilitasnya karena meloloskan calon yang melanggar administrasi sebagai calon. Kedua, meminta kepada Komisi A DPRD Aceh Utara supaya lebih selektif dalam melakukan Fit & Proper test terhadap 15 orang calon anggota KIP Aceh Utara tahun 2008-2013 karena terindikasi banyak caleg dan calon yang memiliki KTP ganda. Berdasarkan hasil tracking (penelusuran–red) yang dilakukan media ini terhadap ke 15 (lima belas) calon anggota tersebut, diantara mereka yang sudah terindikasi bermasalah adalah: AGUS SARMIN, pada Pemilu 2004 mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) melalui Partai Amanat Nasional (PAN) daerah pemilihan Aceh Utara – 6, FITRIANUR, S.Pd pada Pemilu 2004 mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (caleg) melalui Partai Pelopor daerah pemilihan Aceh Utara – 2 serta ASY’ARI BAKAR, S.Pt pada Pemilu 2004 mencalonkan diri sebagai Calon Legislatif (caleg) melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS) daerah pemilihan Aceh Utara – 4. Namun, saat media ini melakukan konfirmasi dengan Ketua KPU Aceh Utara Tahun 2004, Muhammad SE AK, tidak berhasil ditemui. ”Bapak (Muhammad -red) baru saja keluar dari kantor,” jelas salah seorang staf di sana, saat di temui di ruang kerjanya, Jumat pekan lalu. Sementara itu, seorang sumber lain yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan. Tim Independen yang dibentuk DPRK Aceh Utara ini memang harus diperjelas. Ini dikarenakan masih lemahnya kinerja mereka dalam menjalankan tugas fungsi utamanya, melakukan penyaringan dan penjaringan seleksi calon KIP 2009.

Artinya Tim ini tidak melakukan cross cek lebih lanjut. Terutama dalam proses klarifikasi mencari tahu alamat dan tempat tinggal para calon KIP yang mengikuti seleksi. Akibatnya, keraguan ataupun indikasi-indikasi adanya para calon KIP yang memiliki KTP ganda itu bisa dibuktikan dari hasil investigasi tim tersebut. “Mereka cuma melakukan proses seleksi administrasi, uji tertulis, psikotes dan fit & proper test,” ujar sumber kepada media ini, saat di temui Jumat, 23 Mei Lalu. Selain itu, ia juga menyinggung proses pemilihan calon anggota Komisi Independen Pemilihan (KIP) periode 2008–2013 mendatang. Khususnya Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menjabat pada tahun 2004 terdiri dari Muhammad SE Ak yang menjabat sebagai ketua, sedangkan anggotanya adalah Yusriani Spd, Ayi Jufridar Amd, Drs Wiryadi dan Usman Amin. “Seharusnya mereka tahu siapa saja nama yang pernah mencalonkan diri menjadi calon Legislatif pada masa 2004 lalu,” kata sumber tersebut. Nah, seharusnya tim independen inilah yang bertugas menyeleksi nama calon anggota KIP yang diduga telah melanggar aturan sebagaimana telah di tetapkan. Apabila terbukti pihaknya (Tim Independen-red) bisa mengambil tindakan sesuai UndangUndang dan Qanun Aceh, dalam konteks pemilihan calon anggota KIP. Akan tetapi sumber juga mengatakan, bahwa KPU tidak terbuka terhadap penjaringan dan penyaringan terhadap para calon KIP untuk periode tahun 2009 nanti. “Bila pola-pola seperti ini terus dibiarkan, masyarakat menjadi khawatir serta akan berdampak terhadap proses demokrasi untuk pemilihan calon legislatif tahun 2009 nanti akan sangat besar,” kata sumber tadi. ”Kita lihat pada tingkat penyaringan dan penjaringan KIP saja sudah rawan terjadi masalah yang sangat serius. Bahkan sampai saat ini, masalah tersebut belum di tanggapi sesuai aturan yang berlaku,” lanjut sumber menambahkan. Menurutnya, fenomena ini sangat berbahaya, terutama menyangkut integritas. Kedua, terhadap proses parlemen, bagaimanakah Aceh di masa yang akan datang? ”Ini sangat penting untuk dipahami dalam mengambil langkah-langkah yang konkrit, agar orang-orang yang melanggar hukum tidak perlu lagi dipertahankan sekaligus hilangkan. Maka Pihak DPRK Aceh Utara perlu segera mengambil langkah yang konkrit demi menghindari hal–hal terjadi di luar dugaan,” tegas sumber tersebut. Masyarakat berharap supaya kinerja DPRK Aceh Utara, terutama bagian komisi A yang membidangi hal tersebut harus mempunyai integritas guna menjunjung tinggi proses pemilihan legislatif tahun 2009. Selain itu, sumber yang tak ingin namanya dipublikasikan ini, juga mengharapkan kepada DPRK setempat untuk tidak mengintervensi. ”Karena kita tahu dalam proses seleksi peran DPRK cukup besar. Sehingga Mereka jangan memanfaatkan anggota-anggota KIP ini untuk kepentingan partai mereka masing-masing dan ini akan sangat berbahaya. Jadi kita minta mereka menjunjung tinggi prinsip integritas serta transparansi, agar proses pemilihan kedepan benar-benar bersih dan jurdil (jujur dan adilred ),” harap sumber. Terhadap hal ini, sumber tersebut juga mengatakan, kalau memang ingin pesta demokrasi pemilihan legeslatif 2009 berjalan sukses, pihak DPRK harus bersikap jujur, transparan, serta mengedepankan proses integritas DPRK dalam menyeleksi calon KIP kedepan.***

■ MODUS/Robby Junaidi

Robi Junaidi ( Aceh Utara)

28

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Hukum

Kantor operasional Years Group yang sepi tanpa aktifitas.

■ MODUS/Robby Junaidi

Cut Yetti Diciduk Lagi
Anggota Reserse Mobil (Resmob) Satreskrim Polres Lhokseumawe, menangkap Cut Yetti, di rumah kontrakannya di Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Saat ditangkap, Cut Yetti bersembunyi dalam selimut.
Resmob mendatangi rumah kontrakan yang ditempati Cut Yetti. “Pertama kami ketuk pintu depan setelah memberitahukan bahwa kami polisi, tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah,” kata Ricky. Karena diyakini rumah itu ada penghuninya, tapi tidak ada yang membukakan pintu depan, petugas Resmob mencoba mencari pintu lain. “Kebetulan ada pintu samping. Kami panggil dan gedor pintu itu, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya kita dobrak,” kata Ricky. Ternyata, yang didobrak itu pintu ruangan tidur Cut Yetti. Awalnya, karena ruangan itu tampak gelap, petugas Resmob tidak mengetahui Cut Yetti bersembunyi di situ. “Di antara bayangan cahaya, kita hanya melihat ada selimut di atas ranjang. Eh, tiba-tiba ada kepala orang yang melongok dari balik selimut itu,” kata Ricky. Sambil membuka selimutnya, orang yang bersembunyi itu, yaitu Cut Yetti, menyapa petugas Resmob. “Itu siapa ya”. “Mendengar suara perempuan yang muncul tiba-tiba, ada anggota saya yang sempat terkejut, karena suasana gelap, kok ada orang tiba-tiba,” kata Ricky. Ketika lampu ruangan itu dinyalakan, baru diketahui ternyata Cut Yetti sudah bersiap-siap melarikan diri. Buktinya, petugas menemukan beberapa tas milik Cut yeti yang sudah berisi pakaian. “Saat bersembunyi dalam selimut, Cut Yetti juga tampak dengan pakaian seperti orang mau berpergian, memakai celana jeans, bukan pakaian orang yang mau istirahat,” kata Ricky. Selanjutnya, Cut Yetti digiring ke Mapolres Lhokseumawe untuk pemeriksaan lebih lanjut. Petugas juga memagari rumah kontrakan Cut Yetti itu dengan garis polisi. Kasat Reskrim AKP Ricky didampingi Kanit Pidum Aiptu Freddy Herlambang mengatakan. Hasil pemeriksaan sementara, tersangka Cut Yetti mengakui ada 620 unit mobil berbagai jenis yang sudah diterima dari rekan bisnisnya, yaitu para korban dugaan penipuan dan penggelapan bisnis Year’s Group. “Tersangka mengaku mobil itu dijadikan sebagai jaminan utang sesuai kontrak per tahun yang nilainya bervariasi, sesuai jenis mobil. Tersangka mengaku bukan untuk menipu, tapi untuk bisnis Year’s Group. Tentunya, kita tidak langsung percaya dengan keterangan tersangka,” kata Ricky. Tersangka Cut Yetti juga mengakui dari 620 unit mobil itu, dia sempat mengantongi uang senilai Rp 30 miliar. “Katanya, setiap bulan dia membayar kontrak mobil rekan bisnisnya Rp 6 miliar. Tersangka mengaku uang itu sudah habis dibayarkan kepada pemilik mobil. Itu kata dia, kita akan terus melakukan penyelidikan dan penyidikan,” kata Ricky. Menurut dia, terkait bisnis mobil tersebut, hasil pemeriksaan sejauh ini, tersangka mulai terindikasi melakukan penipuan dan penggelapan. Karena, dalam perjanjian tertulis dengan rekan bisnisnya, dinyatakan bahwa mobil itu dipinjamkan untuk instansi. “Kenyataannya, mobil itu dipinjamkan kepada perseorangan,” kata Ricky. Dia mengatakan, sejauh ini baru Cut Yetti yang menjadi tersangka kasus bisnis mobil tersebut. “Tapi, tidak tertutup kemungkinan akan ada tersangka lainnya,” kata Ricky. Ia menghimbau kepada warga yang masih mempergunakan mobil bisnis Cut Yetti Year’s Group itu agar segera menyerahkan mobil itu ke Mapolres Lhokseumawe, sebelum terkena dampak hukum lainnya. Mungkin masih melekat di ingatan kita tentang modus operandi Cut Yetty dengan bisnis rental mobilnya yang mampu mengelabui sejumlah kalangan. Mulai dari anggota DPR Aceh, pengusaha, TNI, Polri sampai kalangan KPA. Awalnya, bisnis ini memang berjalan sangat mulus dan rapi, sehingga banyak kalangan pengusaha dan pengamat ekonomi dibuat kehabisan teori untuk mengkajinya. Bayangkan, hanya bermodal puluhan juta. Seseorang sudah dapat mengendarai mobil jenis apa saja dalam jangka waktu satu tahun. Sebaliknya, para pemilik mobil, dengan rela menyerahkan begitu saja mobilnya kepada Cut Yetti dengan bendera Year’s Group untuk direntalkan. Seperti jaringan bisnis lazimnya. Usaha ini persis Multi Level Marketing atau MLM. Si pelaku bisnis, hanya cukup menjadi perantara. Sementara modal berasal dari para anggota. Kecuali itu, pada tahap awal, keuntungan yang dijanjikan pun lumayan besar dan mudah. Sehingga, secara tanpa sadar, mampu mematahkan logika setiap barang. Begitupun, kedok hitam bisnis ini baru terungkap, ketika masalah muncul. Banyak pemilik (baik penyewa maupun pemilik mobil) sudah merasa ada yang ganjil dari bisnis tersebut. Misalnya, setoran menjadi macet atau sebaliknya, uang sudah diserahkan, namun mobil tak juga kunjung tiba. Dan kini Cut Yetti meringkuk di ‘hotel prodeo’ Polres Lhokseumawe. Akankah sampai ke pengadilan? Kita lihat saja.***

M

alam belum begitu larut. Jarum jam masih menunjukkan pukul 19.30 WIB, Sabtu, 17 Mei 2008. Mayoritas warga Desa Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, masih asyik nonton televisi, menanti tampilnya Cut Niken di TPI. Cut Niken adalah gadis asal Lhokseumawe yang menjadi kontestan pada Kontes Dangdut Indonesia (KDI-5) di Jakarta. Penangkapan Cut Yetti dipimpin langsung Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe, AKP Ricky P Kertapati. “Kita menangkap Cut Yetti dengan sangkaan yang bersangkutan melanggar Pasal 372 dan 378 KUHAP tentang penipuan dan penggelapan,” kata Ricky Kertapati, Kamis (22/5). Ricky mengatakan, penangkapan terhadap Cut Yetti berawal dari laporan warga kepada petugas bahwa Direktur CV Year’s Group Trade & Enggineering (YGT&E) itu berada di rumah kontrakannya di Paloh Lada. “Sebelumnya, kita sudah mendapat pengaduan dari 75 pelapor yang mengaku korban penipuan dan penggelapan oleh Cut Yetti,” katanya. Dengan membawa surat perintah penangkapan dan ditemani aparat Desa Paloh Lada, petugas

Khaidir

Hukum

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

29

Polisi Enggan Menindak Si Ahli Nujum
Pasal 545-547 KUHP mengatur tindak pidana bagi para peramal. Namun pihak aparat membiarkan ramalmeramal kian menjamur. Selain masyarakat sendiri abai, hukumannya pun ringan nian. Klausul ini akan dianulir dan digantikan pasal santet dalam KUHP anyar.
nda tentu akrab dengan iklan yang berserak di media massa. Entah koran, bahkan televisi. “Ketik Reg Spasi Ramal”, “Ketik Reg Spasi Hoki”, “Ketik Reg Spasi Zodiak”, dan sebagainya. Di era yang kebanyakan orang percaya modern ini, masih marak pula dunia pernujuman alias ramal-ramalan. Tapi, tahukah Anda, bahwa sebenarnya ihwal ramal-ramalan ini ada ancaman pidananya? Cobalah tengok Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) peninggalan Belanda, tepatnya Pasal 545-547. Beleid itu menyatakan seorang yang berprofesi sebagai ahli nujum dapat dikriminalisasi. Selain mengancam peramal, klausul ini hendak menindak para pedagang azimat maupun dukun yang dapat mentransfer kekuatan jarak jauh. Bentuknya memang bukan kejahatan, tetapi hanya sebuah pelanggaran kesusilaan dengan sanksi kurungan ringan serta denda kecil. Jika kita tinjau menjamurnya praktek jual-beli jasa ramalan itu, “keampuhan” pasal ini patut dipertanyakan. Publikasi besar-besaran di media tidak juga mengundang tindak lanjut aparat. Pembiaran yang dilakukan aparat ini sebagai upaya dekriminalisasi terhadap profesi yang dalam KUHP dianggap sebagai pelanggaran ringan. Klausul ini tidak mengenal delik aduan. Artinya, pihak aparat dapat segera menindak jika mengetahui adanya praktek klenik tersebut. Sayang, kenyataannya tidak ada penindakan yang berarti. Ariyanto Sutadi, Kepala Divisi Bidang Hukum Mabes Polri, mengakui hal itu. Aparat menjadi malas menindak karena telah terjadi pergeseran nilai di masyarakat. “Masyarakat menilai itu tidak penting. Untuk apa juga dipermasalahkan,” ujarnya. Ariyanto menganggap Pasal 545-547 KUHP sudah tidak cocok pada kondisi sekarang, sehingga implementasinya diabaikan oleh penegak hukum maupun masyarakat. Masyarakat sendiri sudah menganggap ramal-ramalan, bahkan transfer kesaktian, sebagai suatu tindakan yang tidak perlu dihukum. “Ketika pelanggaran ringan itu tidak ada efeknya bagi masyarakat, penegak hukum juga jadi malas menindaknya,” kata Ariyanto. Polisi membenarkan telah terjadi pembiaran. Hanya, pembiaran tersebut lantaran masyarakat sendiri sudah menerima itu bukan lagi sebagai barang yang aneh. Lagipula, aparat juga memiliki dalih tersendiri untuk menindak sesuatu. Jika penindakan terhadap pelanggaran (Pasal 545-547) sudah tidak lagi menjadi kebutuhan masyarakat, maka aparat juga tidak menjadikannya sebagai prioritas. Jadi, menurut Ariyanto wajar saja kalau aparat tidak menindak. Sebagai perbandingan, Ariyanto mengatakan kasus majalah Playboy kemarin, kemudian publikasi premium call cabul, dan praktek rentenir. Aparat juga tidak menindak pelanggaranpelanggaran itu, “Malah ditinggalkan,” imbuhnya. Harus Tetap Ditindak Prof Andi Hamzah Pengajar Hukum Pidana Universitas Trisak-

A

Pasal 545

Pasal 546

Pasal 547

ti menilai bahwa pelanggaran ringan yang dilakukan si ahli nujum ini patut ditindak. Apalagi pelakupelaku itu sudah terang-terangan memasang iklan di media. “Buktinya sudah sangat jelas. Harusnya ditertibkan. Walaupun sanksi terlalu ringan, kurungan atau denda,” tukasnya. Ia menyarankan aparat menindak pelaku pelanggaran, tetapi melalui pembayaran denda karena akan menguntungkan bagi negara. “Tidak bisa dipenjara, tapi bisa dengan denda. Setidaknya, akan menambah pemasukan negara.” Rudi Satrio juga sependat dengan Prof Andi. Pengajar Hukum Pidana Universitas Indonesia ini menganggap pembiaran yang dilakukan aparat merupakan bentuk ketidak(1) Barang siapa menjadikan sebagai pencariannya untuk menyatakan perunpekaan aparat. Sudah jelastungan seseorang, untuk mengadakan peramalan atau penafsiran impian, dijelas terjadi pelanggaran ancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari atau pidana denda hukum di depan mata kepaling banyak tiga ratus rupiah. (2) Jika ketika melakukan pelanggaran belum pala mereka, tetapi tidak lewat satu tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena pelangdilakukan apa-apa. “Yang garan yang sama, pidananya dapat dilipatduakan. enteng-enteng tidak diperDiancam dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda hatikan. Ini kan menunjupaling banyak empat ribu lima ratus rupiah: 1. Diancam dengan pidana kurunkan ketidakpekaan sosial si gan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima aparat,” katanya. ratus rupiah: 2. barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan, membagiPadahal, kalau dilihat kan atau mempunyai persediaan untuk dijual atau dibagikan jimat-jimat atau dampaknya, sambung benda-benda yang dikatakan olehnya mempunyai kekuatan gaib; 3. barang Rudi, masyarakat cukup siapa mengajar ilmu-ilmu atau kesaktian-kesaktian yang bertujuan menimbuldibuat resah. Menawarkan kan kepercayaan bahwa melakukan perbuatan pidana tanpa kemungkinan ramalan, jimat-jimat, menbahaya bagi diri sendiri. gajarkan kesaktian, “Itu Seorang saksi, yang ketika diminta untuk memberi keterangan di bawah sumpah kan mengajak orang untuk menurut ketentuan undang-undang, dalam sidang pengadilan memakai jimatberbuat jahat,” pungkas jimat atau benda- benda sakti, diancam dengan pidana kurungan paling lama Rudi. sepuluh hari atau pidana denda paling banyak tujuh ratus lima puluh rupiah. Sebenarnya ada alasan

historis Pasal 545-547 ini tetap dicantumkan dalam KUHP. Pasal ini hendak memberikan porsi penghormatan kepada agama. Maksudnya, supaya orang tidak menawarkan hal-hal yang merugikan, mengancam, dan membahayakan. Rudi mencontohkan, “Orang mengajari melet. Itu bahaya sekali”. Rudi khawatir, jika hal ini dibiarkan, “akan berbahaya. Masyarakat akan lebih mengedepankan mistis. Praktek ini akan membangun manusia menjadi tidak realistis.” Akan Dianulir, Diganti Pasal “Santet” Kekhawatiran Rudi memang sempat menjadi perdebatan dalam perombakan KUHP yang sedang digodok Prof Andi dan tim. Ada beberapa kalangan yang tidak setuju pasal itu dihilangkan. Namun, Tubagus Ronny Nitibaskara yang diminta merumuskan kembali pasal ini mengatakan dalam revisi KUHP nanti nampaknya pasal itu akan dieliminir. Akan ada dekriminalisasi pada si ahli nujum karena tindakan yang mereka lakukan tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran. Walaupun faktanya fenomena sosial seperti ini masih ada, pasal peninggalan Belanda itu akan dianulir dan digantikan pasal “santet”. “Santet ini nantinya akan diklasifikasikan sebagau tindak pidana, bukan hanya pelanggaran,” jelasnya.***

hukumonline.com

www.geocities

30

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

Opini

Kenapa Mahathir Tinggalkan UMNO?
Oleh: Efendi Hasan* Beberapa hari ini, suasana politik di Malaysia menjadi panas kembali setelah pengumuman mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir keluar dari UMNO.
tik menjadi Wakil Perdana Menteri sekaligus Wakil Presiden Partai. Sedangkan pada 31 Oktober 1981 merupakan hari bersejarah buat Mahathir di mana dia dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia ke empat dan juga sebagai Menteri Pertahanan. Selama memimpin Malaysia, Mahathir dikenal dengan gelaran “ Bapak Pemodenan Malaysia” ia merupakan pemimpin yang paling lama berkuasa selama 22 tahun dari 16 Juli 1981 sampai 31 Oktober 2003. Mahathir telah membawa Malaysia menjadi sebuah Negara maju di Asia Tenggara. Sebagai bukti pembangunan pusat pemerintahan di Putra Jaya merupakan salah satu pusat pemerintahan yang moderen. Pembangunan menara Petronas salah satu menara yang tertinggi di dunia. Demikian juga pembangunan jembatan Pulau Penang salah satu jembatan yang sangat panjang dan menakjubkan bila dilihat pandangan mata. Ide-ide pembangunan yang bernas ini telah meletakkan beliau sebagai orang yang paling dihormati dan berkuasa di Asia sebagaimana penilaian yang dilakukan oleh majalah Asiaweek tahun 1977. Walapun demikian gelaran dan penghormatan yang pernah diterima oleh Mahathir tidak pernah membuat ia lupa diri, tetapi gelaran dan penghormatan tersebut menjadi spirit bagi beliau untuk terus memartabatkan bangsa Melayu di persada dunia. Kini UMNO telah kehilangan Mahathir salah seorang bapak pemodenan Malaysia, kehilangan tersebut bukanlah disebabkan beliau meninggal dunia. Tetapi beliau meninggalkan UMNO karena kekecewaan terhadap kiprah dan masa depan UMNO yang tidak membela orang Melayu. Mahathir rela mengundurkan diri demi menyadarkan anggota UMNO hakikat perjuangan sebenarnya. Walaupun sebahagian penganalisa politik melihat pengunduran diri Mahathir sebagai salah satu strategi mempressure Pak Lah untuk meletakkan jabatan Perdana Menteri Malaysia, setelah kekalahan UMNO pada pemilihan Umum ke 12 yang lalu. Kekalahan ini merupakan kekalahan yang paling besar yang pernah dialami oleh UMNO selama pemilihan umum di Malaysia. Kekalahan tersebut telah menyebabkan UMNO kehilangan beberapa buah negeri seperti Selangor, Perak Kedah dan Pulau Penang dan telah dikuasai oleh Partai Oposisi. Demikian juga negeri Kelantan yang gagal direbut serta masih kekal dibawah kekuasaan partai Oposisi PAS. Mahathir ingin kekalahan tersebut harus dipertanggung jawabkan oleh Pak Lah. Pak Lah harus berani mengambil sikap untuk mengundurkan diri sebagai pimpinan UMNO demi masa depan partai UMNO. Dalam hal ini Mahathir sering mengibaratkan Pak Lah sebagai pemimpin yang lembek (lemah). Sebenarnya hubungan tidak mesra antara Mahathir dengan Pak Lah telah terjadi sebelum pemilihan Umum 8 Maret 2008 lalu, ini bukan rahasia umum lagi di kalangan rakyat Malaysia. Pembatalan proyek pembangunan “jembatan bengkok” yang melintasi antara Johor dan Singapura menjadi punca keretakan hubungan mereka. Semenjak dihentikan proyek tersebut Mahathir tidak pernah berhenti menyerang Pak Lah. Mahathir selalu mengatakan menyesal melantik Abdullah Badawi sebagai penggantinya. Malah beliau pernah meminta maaf kepada rakyat Malaysia atas kesilapan melantik Pak Lah yang telah membawa Malaysia ke arah kehancuran. Demikian juga faktor menantu Pak Lah yang terlalu ikut campur mengatur kebijakan Negara. Mahathir pernah menyindir Khairy Jamaluddin sebagai anakanak SD atau “budak tingkat empat” menguasai Pak Lah. Apabila Mahathir ditanya oleh wartawan tentang kemungkinan Khairy akan memainkan peranan penting dalam mengatur negara setelah pemilihan umum. Mahathir menjawab apabila hal itu terjadi maka Malaysia akan menjadi musnah. Mahathir sangat sadar Pak Lah dan menantunya akan dapat disingkirkan jika UMNO mengalami prestasi yang buruk dalam pemilihan umum. Sehingga Mahathir menyeru kepada anggota UMNO untuk membersihkan partai tersebut melalui pemilihan umum. Beliau menyarankan kepada anggota UMNO untuk memilih berdasarkan kredibilitas calon dan bukannya atas dasar partai. Dengan kata lain anggota UMNO disarankan untuk tidak memilih orang-orang Pak Lah (Malaysiakini.Com 13 Maret 2008). Itulah penyebab kebencian Mahathir kepada Pak Lah sehingga mencapai klimaknya pada 19 Maret 2008, apabila Mahathir mengumumkan keluar dari partai UMNO. Bagaimana sikap masyarakat Malaysia merespon tindakan mantan orang yang pernah berjasa terhadap Negara Malaysia tersebut? Tentu ada pro dan kontra, tapi penulis menarik untuk melihat tindakan Mahathir dari perspektif anggota Partai UMNO dan Oposisi. Bagi Pak Lah sendiri, beliau tidak terpengaruh dengan pengunduran diri Mahathir, walaupun beliau merasa terkejut dengan tindakan tersebut. Pak Lah merespon tindakan Mahathir dengan menjelaskan bawah dia tidak akan meletakkan jabatan sebagai Perdana Menteri dan Presiden UMNO. Beliau menasehatkan anggota UMNO untuk tidak ikutikutan terhadap tindakan Mahathir. Beliau menyerukan kepada anggota untuk tetap setia kepada partai guna memastikan partai UMNO menjadi partai yang kuat dan akan mampu meneruskan perjuangan. Beliau menyadarkan anggota partai dengan katanya “apa yang akan terjadi jika kita tidak ada partai UMNO? UMNO telah banyak berjasa kepada rakyat Malaysia” (Utusan Malaysia 20 Mei 2008). Tun Musa Hitam mantan wakil Perdana Menteri Malaysia melihat tindakan Mahathir tersebut bagaikan “duri dalam daging sudah keluar”. Walaupun beliau sedih atas pemergian Mahathir pada saat UMNO sedang menghadapi masa-masa yang kritis. Beliau mengingatkan anggota UMNO untuk menerima dengan hati yang lapang dan tenang dibalik mundurnya Mahathir dari UMNO. Pemimpin UMNO harus memberi perhatian kepada dua aspek politik, pertama menerima hakikat bahwa UMNO tidak sekuat dulu atau diterima sepenuhnya oleh rakyat terutama orang Melayu. Kedua, menerima realita bahwa konsep “ Mahathirisme” sudah berlalu dan UMNO harus kembali kepada manifesto “Bersih, Cakap, Amanah”, yang pada awal tahun 80-an begitu positif diterima oleh rakyat ( Sinar Harian 20 Mei 2008). Adapun Nik Abdul Aziz merupakan orang kuat partai oposisi PAS Malaysia yang juga Menteri Besar negeri Kelantan merespon. “Saya orang yang paling bahagia apabila mengetahui Mahathir mundur dari UMNO”. Mahathir seharusnya telah lama memilih untuk mundur dan memilih perjuangan Islam sebagai gantinya. Mahathir telah dikaruniakan nikmat besar oleh Allah yaitu pandai, berpandangan luas dan tajam pikirannya tetapi ia telah menyalahgunakan kemampuannya itu bukan untuk Islam tetapi untuk sekuler. Sepatutnya semakin tua semakin tenang dan bahagia, akan tetapi pikirannya semakin tidak tenang. Akhirnya Nik Aziz mengajak Mahathir untuk masuk partai PAS Malaysia (Utusan Malaysia 20 Mei 2008). Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat (PKR) Datuk Seri Anwar Ibrahim mantan musuh kebuyutan Mahathir merespon tindakan tersebut dengan berkata. “Keputusan mantan perdana menteri Tun Dr Mahathir Mohammad untuk keluar daripada UMNO suatu pertanda krisis dalam partai tersebut semakin parah dan tidak ada harapan untuk sembuh. Pemimpin UMNO saling merebut dan bertengkar sehingga nasib rakyat semakin tidak ada yang bela. Akhirnya beliau mengajak seluruh rakyat Malaysia yang peduli terhadap kestabilan, kemajuan dan persatuan untuk menyertai PKR dan Pakatan rakyat (partai Oposisi) untuk merealisasikan visi bersama untuk menstabilkan keadaan Negara Malaysia (Malaysiakini.Com 20 Mei 2008). Kini, Mahathir telah menjadi api dalam sekam bagi partai UMNO, keluarnya Mahathir akan menambah perpecahan yang menyebabkan UMNO semakin lemah. Mahathir punya pengaruh yang kuat dan pengikut yang masih setia dalam UMNO. Sekiranya langkah Mahathir diikuti oleh anggota teras partai terutama komponen Barisan Nasional (BN) dalam parlemen untuk menekan Pak Lah supaya mundur. Bisa kita bayangkan bagaimana perpecahan dalam partai UMNO akan terjadi sehingga akan memberi efek kepada kestabilan politik Negara Malaysia. Bila kemungkinan ini terjadi maka UMNO akan hilang kekuasaannya di Dewan rakyat dan kepemimpinan Negara akan diambil alih oleh Partai Oposisi (PAS, PKR dan DAP) atau pemilihan umum ke 13 Malaysia akan dipercepat. Dengan demikian dapat diibaratkan kekuatan UMNO adalah kekuatan Negara secara umum, sementara bangsa Melayu adalah tunjang kepada kekuatan politik UMNO. Orang Melayu dengan UMNO dan pemerintahan saling memerlukan antara satu sama lain (Norjidah 1992:47). Akankah kepergian Mahathir menjadikan UMNO semakin dilema atau partai UMNO akan terus menjadi tongkat bagi perjuangan orang Melayu? Hanya waktu yang akan menjawabnya. Wallahu’alam.***
* Effendi Hasan, Mahasiswa program S3 Universiti Kebangsaan Malaysia dan Direktur Lembaga Kajian, Sosial, Budaya Dan Politik Aceh.

P

engumuman ini sempat membuat beberapa kalangan di Malaysia terkejut, terutama elit politik UMNO dan partai Oposisi. Kepergian Mahathir dari UMNO tidak pernah diperhitungkan sebelumnya, beliau membuat pengumuman secara tiba-tiba. Itupun dalam satu seminar di Alor Star Kedah. Mahathir menjelaskan beliau keluar dari UMNO disebabkan telah hilang kepercayaan kepada pemimpin UMNO sekarang yang telah gagal membela nasib orang Melayu. Beliau berjanji akan kembali bergabung dengan UMNO apabila Perdana Menteri Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang juga presiden UMNO mau meletakkan jabatan dan tidak lagi memimpin Negara Malaysia serta partai UMNO ( Sinar Harian, 20 Mei 2008). Partai UMNO yang pernah disertainya dari tahun 1946 tidak berperan sebagai satu partai politik untuk membela nasib Melayu sebagaimana landasan pendiriannya. UMNO telah dijadikan partai politik untuk melegitimasi kepentingan Abdullah Badawi dan kroni-kroninya serta telah meninggalkan kepentingan Negara (Utusan Malaysia 20 Mei 2008). Beberapa pernyataan Mahathir tersebut menunjukkan beliau sangat kecewa dengan UMNO yang dipimpin oleh Abdullah Ahmad Badawi. Sehingga beliau rela memutuskan untuk keluar dari UMNO sebagai partai yang pernah disayanginya. Keputusan Mahathir tentu mempuyai alasan-alasan kuat setelah melihat posisi UMNO dan kinerja Pak Lah selama ini. Keputusan ini sekaligus telah menjadi suatu tanda pertentangan politik yang telah diistiharkan oleh beliau kepada Abdullah Badawi yang merupakan seorang murid yang pernah di besarkan oleh beliau. Sebenarya kiprah politik Mahathir dalam UMNO telah mulai sejak tahun 1954 ketika beliau terlibat dalam kampanye menentang Malayan Union. Tahun 1964 Mahathir bertanding dalam pemilihan umum untuk merebut kursi Parlemen Kota Setar Kedah dan berhasil memenangi kursi Parlemen tersebut. Sedangkan tahun 1969 beliau dikalahkan oleh Partai Islam Seluruh Malaysia (PAS). Tahun 1974 Mahathir meletakkan jabatan sebagai Senator untuk bisa bertanding dalam pilihan umum Malaysia 1974, Mahathir menang dalam pilihan umum tersebut tanpa bertanding. Setelah kemenangan itu dia beliau dilantik menjadi Menteri Pendidikan. Tahun 1975 Mahathir menang untuk merebut salah satu kursi Wakil Presiden UMNO dalam pemilihan partai tersebut. Apabila Tun Abdul Razak meninggal dunia secara mengejutkan Tun Hussein Onn dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia ke tiga dan Presiden UMNO, sedangkan Mahathir dilan-

Tarikh

MODUS ACEH MINGGU IV, MEI 2008

31

Erah Gayo: Pengumpul Aset Reje Linge
Erah Linge, salah seorang keturunan Raja Linge berusaha mengumpulkan kembali berbagai barang peninggalan Kerajaan Gayo. Dia menghabiskan waktu 29 tahun dan menyimpan barangbarang tersebut dalam museum pribadinya.
nilai jualnya sangat tinggi. Dan, berkat Erah, sejumlah benda-benda peninggalan Kerajaan Linge, yang punya nilai sejarah tinggi ini dapat terselamatkan. Untuk berburu berbagai benda sejarah itu, Erah harus merambah Aceh tengah, Gayo Lues, Kutecane dan daerah lain di Aceh. Entah berapa juta rupiah, telah dihabiskan Erah, untuk membeli aset Reje Linge tersebut. Kendati dalam darahnya mengalir keturunan Raja Linge, tapi Erah tetap am, berasal dari Kerajaan Islam Linge. Nah, disela-sela pekerjaan rutinnya sebagai pegawai Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Gayo Lues, Erah terus mengumpulkan aset Reje Linge dengan cara memberli dari masyarakat yang menyimpannya. Pilihannya sebagai kolektor barang-barang peninggalan Raja Linge itu bukan tanpa resiko. Dia, pernah menerima kenyataan pahit dan sempat di tinggal kabur oleh isterinya, Indah Novita. Maklum, gajinya tidak dibawa ke rumah, tapi seringkali habis membeli benda-benda bersajarah saat ada yang menjualnya. Begitupun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Dia tetap menjadi kolektor sejati. Rumahnya yang sederhana, sesak oleh benda-benda tua tersebut. Erah juga mengaku, ada sebagian lainnya yang ia simpan di tempat tersembunyi, bahkan sebagian ada yang ditanam demi keamanan dan keselamatan bendabenda tersebut. Selain menjadi PNS, Erah ternyata mahir membuat tahu. Untuk menambah penghasilan, Erah menjual tahu hasil buatanya ke pasar-pasar di Gayo Lues. Menariknya, keahlian itu ia dapat saat merantau di Sumatera Barat dari seorang Cina. Profesi ini jarang dilakukan oleh masyarakat suku Gayo. Sebagai satusatunya orang Gayo yang menjual tahu, Erah Linge mengaku lebih suka disebut sebagai penjual tahu daripada kolektor barang antik yang berasal dari Kerajaan Linge. Dari bukti-bukti sejarah yang ada, Kerajaan Linge merupakan salah satu kerajaan yang besar dan megah. Hal itu terbukti, dengan asset yang dikumpulkan Erah Linge. Sebut saja ada perisai dari besi yang diperkirakan berasal dari Rumawi. “Seperti halnya baju perang besi milik Rasulullah. Baju tersebut berasal dari Rumawi” ujar Iwan Gayo, yang juga salah seorang pemerhati Kerajaan Linge. Dengan asset itu menunjukkan, betapa dahulunya Kerajaan Linge sudah terjalin hubungan diplomatik yang luas. Baik dengan kerajaan-kerajaan di nusantara, Cina maupun Eropa. Iwan Gayo ber-argument. Logikanya, bagaimana cara hubungan diplomatik tersebut terjadi? Kerajaan Linge berada di pedalaman Aceh yang jauh dari pesisir dimana hubungan diplomatik dari nusantara dan luar negeri jamak terjadi melalui hubungan laut. Menurut Iwan Gayo diperlukan penelitian dari para Arkeolog dan Antropolog. Namun yang pasti, kata Iwan, dari asset yang terkumpul milik Kerajaan Linge telah menunjukkan betapa besar dan megahnya Kerajaan Linge, tempoe doeloe. Lalu apa kata Erah, tentang bagaimana sesungguhnya Kerajaan Islam Linge Tempoe Doeloe itu? Menuurut Erah Linge, pertapakan bekas Kerajaan Linge ada di Buntul Linge, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Tidak kurang dari dua kilometer dari Takengon.***

Aset-Reje-Linge
sumber foto Fajriboy wordpress

Untuk mewujudkan semua itu, 73 kerbau dan 18 kaleng bibit sawah miliknya ludes untuk biaya pengumpulan aset raja Linge tadi. Erah Linge, sosok yang benar-benar menghargai sejarah. Dia lahir di Lumut, Kecamatan Linge tahun 1957. Banyak hal menarik dari bapak enam putra dan satu putri ini. Suami dari Indah Novita itu, lebih 29 tahun menghabiskan waktu, tenaga serta uang pribadinya, hanya untuk mengumpulkan berbagai jenis barang yang ia yakini sebagai peninggalan Kerajaan Linge di Gayo. Ada senjata tradisional seperti bawar, rencong, keris. Ada pula miniatur meriam, perisai , piring cap naga, cerek anti racun, pedang berkunci yang ke sohor di Gayo hingga pistol dan berbagai bentuk barang lainnya yang kini disebut barang antik. Tentu saja, Erah harus ”bertarung” dengan para kolektor benda antik. Sebab,

tampil sebagai pria biasa, layaknya kaum petani lainnya di tanah Gayo. Pria berkulit putih ini, memiliki mata agak sipit. Erah merupakan alumni IAIN ArRaniry Banda Aceh. Sejak kuliah, dia gemar mempelajari tentang sejarah Kerajaan Linge, terutama raja-raja di Kerajaan Aceh Darussalam. Salah seorang dosennya, almarhum Aly Hasjmi (mantan Gubernur Aceh—red) tak pernah menceritakan bahwa salah satu raja Aceh itu berasal dari Gayo. Dari sanalah, semangatnya terpacu untuk mencari tahu tentang silsilah endatunya. Dia sempat penasaran, apakah benar nama-nama yang tersebut sebagai Raja Aceh di Kutaradja (Banda Aceh), tidak ada yang berasal dari Kerajaan Linge? Berawal dari rasa penasarannya itulah, lalu Erah melanglang buana. Maklum, menurut Erah Linge, pernyataan Ali Hasjmi sangat berbeda dengan sejarah yang pernah didengarnya versi Gayo, bahwa sebagian Raja di Aceh Darussal-

Arsadi Laksamana (Gayo Lues)

TABLOID BERITA MINGGUAN

Rp 4000,(Luar Aceh Rp 4.500,-)

NO.06/TH.VI Minggu IV, Mei 2008

M DUS ACEH
BIJAK TANPA MEMIHAK

www.modusaceh-news.com

Desain Cover: Firmansyah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->