P. 1
Pembangunan Koperasi dan UMKM

Pembangunan Koperasi dan UMKM

|Views: 718|Likes:
Published by anggaradiva

More info:

Published by: anggaradiva on May 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

Usaha kecil dan menengah (UKM) idealnya memang membutuhkan peran (campur tangan) pemerintah dalam peningkatan kemampuan

bersaing. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan di sini bukan dalam arti kemampuan untuk bersaing dengan usaha (industri) besar, lebih pada kemampuan untuk memprediksi lingkungan usaha dan kemampuan untuk mengantisipasi kondisi lingkungan tersebut. Menurut Staley dan Morse (1965), terdapat karakteristik khusus dari suatu produk yang cocok untuk industri kecil dan ada kelompok produk yang cocok untuk industri besar. Industri kecil tidak akan mampu bertahan pada kelompok produk yang cocok untuk industri besar. Dan sebaliknya, industri besar tidak akan tertarik untuk masuk dan bersaing dalam kelompok produk yang cocok untuk industri kecil, karena pertimbangan efisiensi skala usaha. Peran pemerintah ini juga bukan pada pemberian modal, tetapi lebih pada membina kemampuan industri kecil dan membuat suatu kondisi yang mendorong kemampuan industri kecil dalam mengakses modal. Atau dengan kata lain, pemerintah harus membina kemampuan industri kecil dalam menghitung modal optimum yang diperlukan, kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan ke lembaga-lembaga pemberi modal, serta mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak industri kecil dalam pemberian kredit. Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah dalam upaya pengembangan wirausaha (pengusaha UKM) yang tangguh adalah pemilihan dan penetapan strategi (program) untuk dua kondisi yang berbeda. Kondisi yang dimaksud adalah mengembangkan pengusaha yang sudah ada supaya menjadi tangguh, atau mengembangkan wirausaha baru yang tangguh. Strategi (program) pengembangan untuk kedua kondisi tersebut haruslah berbeda (spesifik). Bahkan strategi pengembangan untuk pengusaha yang sudah ada pun tidak dapat dilakukan dengan “penyeragaman”. Apa yang disebutkan di atas adalah kondisi yang di-generalisasi. Tiap jenis usaha, bahkan tiap pengusaha pada jenis yang sama akan mempunyai permasalahan yang berbeda. Diperlukan suatu studi yang matang dan mendalam (diagnosis) untuk mengetahui apa sebenarnya permasalahan yang dihadapi oleh UKM yang akan dibina. Tanpa studi dan perencanaan yang matang, maka usaha program pengembangan (meski dengan niat yang baik) akan menemui banyak kendala, misalnya salah sasaran, sia-sia (mubazir) dan banyak manipulasi dalam implementasinya. Kasus munculnya koperasi (dan UKM di dalamnya) “dadakan” ketika diluncurkan kebijakan kredit tanpa bunga (kredit dengan bunga yang rendah), dapat dijadikan salah satu contoh kegagalan usaha pengembangan UKM yang dilakukan pemerintah.

Untuk menegatasi hal tersebut, dalam presentasi Gues Lecture Bapak Sobroto disebutkan, pembangunan Koperasi dan UMKM menjadi salah satu program prioritas dari Kabinet Indonesia Bersatu, dan telah diformalkan dalam Undang-undang No 17 tahun 2007 tentang RPJP Nasional Tahun 2005 – 2025, Peraturan Presiden Nomor7 tahun 2005 tentang RPJM Nasional Tahun 2004 – 2009, Peraturan Menteri/ Kepala LNPD yang terkait dengan penetapan rencana strategis pada berbagai Kementerian/ Departemen/LPND, Peraturan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 36/PER/M.KUKM/XI/2005 tentang RTJM Pemberdayaan KUMKM, Peraturan Daerahyang berkaitan dengan RPJM Daerah,dan berbagai dokumen perencanaan lainnya,seperti:dokumen Rencana Aksi Pemberdayaan Usaha Mikro,dan lain-lain. Koperasi dan UMKM (KUMKM) diyakini mampu menjadi dinamisator dan penyangga bagi perekonomian nasional. Pembangunan KUMKM di Indonesia telah berjalan secara baik,namun bagi banyak kalangan dirasakan masih berjalan lamban,sehingga upaya percepatan pembangunan UKM selalu dimasukkan dalam berbagai program monitoring yang terkait dengan pinjaman internasional, seperti : ADB, IMF (pada masa lalu), dan selalu menjadi perhatian utama dari Presiden RI yang memasukkan pentingnya perluasan peranan UKM dalam Keppres No 17 Tahun 2006 tentang UKP3R. Masuknya mendatang. Pembangunan KUMKM memerlukan landasan hukum yang jelas dan tegas, serta dipahami secara baik oleh lintas pelaku agar dapat efektif diimplementasikan sebagai dasar memberdayakan KUKM di Indonesia. Landasan hukum pembangunan KUMKM sebenarnya cukup kuat, dimulai dari substansi Undang-undang Dasar yang dijabarkan ke dalam Undangundang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasiandan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil serta berbagai undang-undang lainnya, Peraturan Pemerintah,Keputusan Presiden dan berbagai Keputusan Menteri khususnya Menteri Koperasi dan UKM. Namun, implementasi peraturan dan kebijakan pengembangan KUMKM relative berjalan lamban dan hanya sedikit gerakan koperasi, pelaku usaha dan masyarakat yang memahaminya,dan pada sisi lain perhatian dunia internasional terhadap perkembangan KUMKM sangat besar, sehingga pembangunan KUMKM selalu menjadi focus perhatian dalam berbagai agenda pertemuan internasional seperti: APEC, ASEAN, UNDP dan berbagai forum kerjasama ekonomi lainnya. pembangunan KUMKM dalam agenda percepatan reformasi ekonomi mengindikasikan perlunya upaya percepatan pembangunan KUKM di Indonesiapada masa

Kelambanan dan ketersendatan implementasi berbagai kebijakan pemerintah dibidang KUMKM kemungkinan terjadi akibat beberapa kendala antara lain berkaitan dengan substansi pengaturan kebijakan yang kurang relevan dengan dinamika perkembangan KUMKM; atau ketidak konsistenan kebijakan dari tahun ke tahun; atau kurangnya sosialisasi dan rendahnya pemahaman substansi dikalangan pelakuusaha; atau berkaitan dengan tumpang tindihnya kebijakan satu dengan yang lain sebagai akibat kodifikasi yang kurang jelas; atau substansi pengaturan kebijakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan KUMKM, atau berbagai alasan lainnya. Dalam bagian analisis ini kami akan mencoba mengnalisis terhadap berbagai kebijakan pemerintah dibidang pemberdayaan KUMKM, dan melihat efektivitasnya. Analisis ini dilakukan terhadap kebijakan pemerintah yang tercantum dalam RPJP dan RPJM, untuk itu akan dijelaskan dahulu ulasan singkat mengenai RPJP dan RPJM ini.
A. RPJP Nasional 2005 - 2025

Undang-undang Nomor 17 tahun 2007 tentang RPJP Nasional 2005 – 2025 merupakan dokumen perencanaan pembangunan nasional jangka panjang yang seharusnya menjadi pondasi dari semua dokumen perencanaan pembangunan di Indonesia. Undang-undang ini merupakan dokumen perencanaan pemberdayaan KUMKM yang paling kuat posisinya dari tata urutan peraturan perundang-undangan. Dalam undang-undang ini pemberdayaan KUMKM hanya diatur dalam 3 butir arah kebijakan,yang berkaitan dengan 4 sasaran utama,yaitu:
1) meningkatkan daya saing UKM di berbagai wilayahdi Indonesia, 2) UKM diarahkan menjadi pelaku ekonomi yang makin berbasis IPTEK dan mampu

menyediakan kebutuhan barang dan jasa kebutuhan masyarakat,
3) mendorong pengembangan koperasi sebagai wahana untuk meningkatkan posisi tawar

dan efisiensi kolektifpara anggotanya,
4) memberdayakan untuk meningkatkan pendapatan kelompokmasyarakat berpendapatan

rendah dalam rangka mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan.

Berdasarkan sasaran tersebut,maka strategi dan kebijakan pemberdayaan KUMKM antara lain mencakup:
1) pengembangan iklim usaha yang sehat dan mengembangkan perizinan usaha yang

efisien dan efektif,
2) peningkatan kompetensi kewirausahaan dan SDM UKM, 3) perkuatan basis produksi dan daya saing industri dan agrobisnis melalui

pengembangan rumpun industri dan percepatan alih teknologi,
4) peningkatan kualitas kelembagaan dan usaha koperasi, 5) peningkatan kapasitas usaha mikro dan ketrampilan pengelolaan usaha mikro,serta

mendorong adanya kepastian, perlindungan dan pembinaan usaha mikro. RPJP dinilai memberi arah kebijakan untuk pemberdayaan KUMKM dalam jangka panjang secara memadai, namun sifatnya sangat global dan tidak menetapkan milestone sasaran pemberdayaan dalam beberapa periode waktu, sehingga sulit dijadikan sebagai basis evaluasi untuk pemberdayaan KUMKM pada tataran kebijakan operasional. Di samping itu,RPJP tersebut baru ditetapkan sebagai undang-undang pada tahun 2007, sehingga perencanaan dan pelaksanaan pemberdayaan KUMKM selama tahun 2004–2007 (periode yang dikaji) dinilai belum didasarkan pada RPJP tersebut. B. RPJM Nasional2004 – 2009 RPJM Nasional 2004 – 2009 merupakan perencanaan pembangunan nasional yang komprehensif dan bersifat lintas instansi,dan merupakan formalisasi dari visi pembangunan Presiden Susilo Bambang Yudhoyonno selama kampanye pemilihan presiden pada tahun 2004. Perencanaan pemberdayaan KUMKM selama periode tahun 2004 – 2009 diatur secara lugas dalam bab 20RPJM. Sasaran pemberdayaan KUMKM selama periode tahun 2004 – 2009 adalah:
1) Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju

pertumbuhan produktivitas nasional;
2) Meningkatnya proporsi usaha kecil formal;

3) Meningkatnya nilai ekspor produk UKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju

pertumbuhan nilai tambahnya.;
4) Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis IPTEK;

5) Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai jati diri koperasi. RPJM telah menetapkan 5 program pemberdayaan KUMKM untuk mencapai 5 sasaran di atas,yaitu:
1) Program penciptaan iklim usaha bagi UMKM; 2) Program pengembangan sistem pendukung; 3) Program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UKM; 4) Program pemberdayaan usaha skala mikro; 5) Program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi.

Jika diamati kelima program pemberdayaan KUMKM dalam RPJM telah selaras dan merupakan penjabaran dari RPJP Nasional. Program-program yang ditetapkan dalam RPJM dijabarkan dalam bentuk berbagai kegiatan strategis untuk pemberdayaan KUMKM. RPJM merupakan landasan bagi berbagai instansi pemerintah dalam menyusun rencana stratejik instansi atau bidang urusannya, baik berupa rencana stratejik instansi maupun RTJM untuk suatu bidang. RPJM dinilai sebagai dokumen perencanaan pemberdayaan KUMKM yang paling lengkap dan bersifat lintas instansi,serta dapat dijadikan sebagai basis evaluasi pelaksanaan kebijakan pada tataran operasional, karena perencanaan kegiatan strategis dalam RPJM dinilai cukup detail. C. Analisis Kebijakan RPJM dan RPJP Dalam anlisis ini kami akan mencoba untuk menganalisis mengenai program pemberdayaan UMUKM yang telah dibuat.
1. Analisis Kebijakan Perbaikan Iklim Usaha

Yang pertama akan kami analisis adalah mengenai pengembangan iklim usaha yangmana dalam penegembangan iklim usaha yang kiranya berpengaruh adalah kebikan mengenai peran serta dunia usaha dan masalah perizinan usaha. a) Peran serta dunia usaha Pemerintah telah mengupayakan peran aktif dunia usaha dan masyarakat dalam pemberdayaan KUMKM melalui pengembangan sistem insentif. Pemerintah telah melibatkan perbankan untuk mendukung pelaksanaan program perkuatan kepada KUMKM, dengan harapan perbankan dapat memberikan perkuatan lanjutan kepada KUMKM pada masa mendatang sehingga dapat memperbaiki iklim usaha yang ada. Pemerintah telah meminta BUMN untuk berperan aktif dalam pemberdayaan KUMKM melalui program pembinaan lingkungan dan kemitraan usaha, namun skalanya relative masih sangat terbatas. Pemerintah juga telah mendorong dunia usaha untuk memberdayakan KUMKM melalui program CSR dan kemitraan usaha yang berbasis rantai nilai, meskipun skalanya relative masih sangat kecil, dan baru dilakukan oleh perusahaan public dan perusahaan di bidang pertambangan. Kami melihat upaya pemerintah untuk mendorong dunia usaha masih perlu ditingkatkan pada masa mendatang. Pemerintah telah mengupayakan keterlibatan dari perguruan tinggi dan penyedia jasa pengembangan bisnis (BDS) untuk membantu pengembangan usaha KUMKM Pengembangan penyedia BDS dan sistem insentifnya telah dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM selama periodetahun 2001 – 2005 dalam kaitannya dengan pengembangan sentra UMKM, namun mulai tahun 2006 Kementerian Koperasi dan UKM menurunkan dukungan terhadap penyedia BDS. Kami melihat penyedia BDS dapat dioptimalkan untuk pengembangan KUMKM, tapi pola insentif yang diterapkan Kementerian Koperasi dan UKM kurang mampu menstimulan kinerja penyedia BDS dalam pemberdayaan KUMKM. Departemen Perindustrian mulai tahun 2006 justru mengembangkan penyedia jasa BDS bagi IKM dengan pola Shindan, dan telah dilatih 200 orang dengan kualifikasi shindan bersama-sama dengan JICA pada tahun 2006 dan 2007, dan program tersebut akan dilanjutkan pada masa mendatang, dengan harapan setiap kabupaten/ kota tersedia tenaga shindan yang memadai dan konsultan IKM spesialis. Departemen Perindustrian juga telah mengembangkan sistem

insentif untuk mendorong pengembangan shindan dan menstimulan IKM untuk menggunakan jasa BDS, dengan membiayai 100 dari biaya pelaksanaan diagnostic permasalahan IKM, serta membiayai 90% dari biaya konsultan spesialis. Bank Indonesia tengah giat mengembangkan KKMB dan melaksanakan sertifikasi Direktur BPR yang jumlahnya lebih dari 2.400 orang. Departemen Kelautan dan Perikanan mengembangkan tenaga pendamping program perkuatan yang dicanangkan; Departemen Pertanian mulai giat mengembangkan tenaga penyuluh pertanian. Beberapa kementerian dan departemen, serta pemerintah daerah mulai mengembangkan jasa BDS untuk memberdayakan KUMKM pada bidang urusannya, hanya skalanya masih terbatas. Fasilitasi untuk mengurangi hambatan akses KUMKM terhadap sumberdaya produktif, terutama yang berkaitan dengan akses pembiayaan usaha, pemasaran informasi bisnis, teknologi dan Diklat SDM. Akses KUMKM kepada sumberdaya alam juga terus ditingkatkan terutama pada sektor perikanan tangkap melalui penyediaan kapal penangkap ikan,pabrik es,dan infrastruktur pendukungnya. Laporan dari berbagai daerah mengindikasikan beberapa industri kecil mengalami tekanan yang kuat dari kelangkaan bahan baku dan kenaikan harga bahan baku,sedang industri kecil sulit menyesuaikan harga produknya, seperti: industri cor, industri tahu–tempe, dan lain-lain. Kami melihat akses KUMKM kepada sumberdaya alam masih sangat terbatas, karena sektor perkebunan, pertambangan, perikanan, peternakan dan sektor lain yang mengandalkan sumberdaya alam masih didominasi oleh usaha besar dan BUMN. b) Masalah perizinan UMUKM Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 tahun 2006 telah memberikan landasan untuk kemudahan penyelenggaraan perizinan terpadu bagi KUMKM di daerah, namun implementasinya masih jauh dari harapan. Dalam beberapa kasus di Jawa Timur masih ditemukan SIUP harus diketahui dan ditandatangani olehBupati/Walikota, sehingga perizinan usaha menjadi lama. Di beberapa propinsi (misalnya: DKI Jakarta), pemerintah daerah (dinas perdagangan) melarang pemberian SIUP untuk wilayah perumahan, yang umumnya dijadikan sebagai basis produksi dan kantor KUMKM.

Ketentuan ini menghambat pengembangan formalisasi usaha KUMKM dan menyulitkan proses perizinan usahanya dan jika KUMKM dipaksakan berkantor di daerah niaga atau perkantoran akan meningkatkan biaya produksi,yang berarti menurunkan produktivitas dan daya saingnya. Selain itu unit pengaduan umumnya belum terbentuk di daerah, dan jika telah terbentuk dinilai kurang efektif dalam membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi KUMKM. Kementerian Koperasi dan UKM telah memiliki Inspektur yang bertugas mengelola dan menindak lanjuti pengaduan masyarakat. Namun, pengaduan yang diterima umumnya masih sangat terbatas. Hal ini disebabkan masyarakat khususnya KUMKM belum memahami kemana harus melakukan pengaduan dan bagaimana caranya. Untuk itu, perlu adanya sosialisasi unit pengaduan masyarakat yang intensif dalam kegiatan pemberdayaan KUMKM, baik pada skala nasional maupun skala daerah. Penyediaan jasa mediasi bagi KUMKM juga belum melembaga, dan umumnya dilakukan secara persuasif. 2. Analisis Kebijakan Pengembangan Kewirausahaan dan SDM Berdasarkan tinajuan kami terhadap RPJP dan RPJM diatas salah satu program pentingnya adalah dalam hal pengembangan kewirausahaan dan SDM, melalui penegmbangan tersebut program dapat mendukung peningkatan proporsi usaha kecil formal. Kewirausahaan merupakan sumber inovasi perekonomian nasional, dan menjadi motor utama pertumbuhan yang berkelanjutan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemerintahtelahmenerbitkan Inpres Nomor 4 tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan KUMKM. Pemerintah telah mendorong pertumbuhan wirausaha baru melalui jalur pendidikan formal dan informal. Pendidikan formal dari tingkat menengah sampai perguruan tinggi telah mulai mengenalkan konsepsi dan praktik kewirausahaan. Hasil evaluasi kurikulum pada berbagai perguruan tinggi dan SMK mengindikasikan dan Membudayakan Kewirausahaan. RPJM menempatkan pengembangan kewirausahaan KUMKM sebagai program prioritas dalam pemberdayaan

pendidikan kewirausahaan masih ditekankan pada ranah kognitif, padahal pengembangan kewirausahaan seharusnya lebih diarahkan pada mengubah mindset siswa didik menjadi pengusaha, yang berarti ranah afektif jauh lebih penting dibandingkan pengembangan ranah kognitifnya. Ranah psikomotorik berupa ketrampilan berwirausaha dan menghasilkan produk/jasa telah mulai diajarkan pada berbagai SMK, namun masih jarang ditemui pada kurikulum pendidikan tinggi. Namun demikian, pada saat ini kewirausahaan telah menjadi fokus dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia, dan jika ini terus dapat ditingkatkan, maka potensi tumbuhnya wirausaha baru yang berbasis Iptek akan semakin besar pada masa mendatang. Kementerian Koperasi dan UKM juga telah mendorong pertumbuhan unit usaha dikalangan masyarakat terdidik melalui TPUSK opontren (untuk kelas madya-bawah) dan program Prospek Mandiri (untuk lulusan perguruan tinggi). Kedua program ini memiliki tujuan dan desain program yang memadai, namun implementasinya masih perlu banyak ditingkatkan. Proses sosialisasi, seleksi, diklat, dan pendampingan masa startupbisnis perlu ditingkatkan. Program Prospek Mandiri belum dapat dievaluasi hasil dan dampaknya, karena peserta dalam program ini tengah melakukan persiapan untuk memulai usaha. Waktu penantian yang lama dan vakum mengakibatkan banyak peserta yang mengalami demotivasi. Pada masa mendatang, koordinasi dan integrasi program ini perlu ditingkatkan, dan sebaiknya sosialisasi ditekankan pada upaya penciptaan wirausaha yang handal, dan bukan ditekankan pada upaya mengentaskan pengangguran pada tingkat sarjana, karena berdampak pada pengembangan perilaku kewirausahaan peserta program. Upaya mempermudah perizinan usaha, lokasi usaha, akses pendanaan, perpajakan dan informasi pasar belum efektif, karena masalah-masalah tersebut masih menjadi kendala bagi wirausaha baru. Beberapa daerah (misalnya: DKI Jakarta) menyediakan lokasi usaha bagi UMKM dalam batasan waktu tertentu kami lihat membantu upaya pengembangan akses pasar dan pengembangan kewirausahaan KUMKM.

3. Analisis Kebijakan Pemberdayaan UKM ( Usaha Mikro )

Kebijakan pemberdayaan UKM ini menurut bapak Subroto dalam presentasinya, dilakukan dengan peningkatan kapasitas UKM hingga mencapai 6 juta wirausaha baru pada tahun 2009. Menurut kami peningkatan kapasitas UKM seyogianya dilakukan dengan pendekatan kelembagaan, karena dampaknya akan lebih permanen dan mampu dikembangkan secara mandiri oleh UKM. Kelembagaan yang dinilai sesuai untuk UKM adalah kelompok usaha bagi UKM pemula yang dikembangkan oleh Departemen Sosial (program KUB),KelompokTani olehDepartemen Pertanian,dan BKKBN,dan selanjutnya kelembagaan tersebut dapat dikembangkan menjadi koperasi. Kelembagaan koperasi dinilai ideal, karena sesuai dengan wadah usaha bersama yang diperlukan oleh usaha mikro untuk meningkatkan skala ekonomi usahanya, serta telah diakui sebagai badan hukum oleh negara. Pembinaan kelembagaan usaha mikro secara langsung dinilai belum optimal dilakukan, dan umumnya pembinaan kelembagaan dilakukan melalui pemberian perkuatan kepada koperasi,dengan harapan koperasi dapat tumbuh berkembang membantu anggotanya,dan pada akhirnya koperasi dapat membina usaha anggotanya. Di beberapa daerah, usaha mikro PKL diorganisasikan dalam wadah Koperasi OKL atau Koperasi Pasar. Penyediaan infrastruktur dan jaringan pendukung bagi usaha mikro serta kemitraan usaha telah mulai dilakukan oleh pemerintah, dalam bentuk penataan dan pemberdayaan PKL, dan revitalisasi pasar-pasar tradisional. Jaringan pendukung usaha mikro kurang optimal, karena belum efektifnya kerjasama antar koperasi, koperasi sekunder dengan koperasi primer, serta belum efektifnya asosiasi mempersuasi pemerintah daerah. Penyelenggaraan Diklat dan bimbingan teknis pengembangan kewirausahaan juga telah dilakukan oleh pemerintahdan pemerintah daerah. Berbagai kegiatan penyuluhan juga telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memberdayakan usaha mikro. Upaya pemerintah dinilai kurang memadai, dan masih perlu ditingkatkan skalanya, mengingat jumlah usaha mikro yang belum memperolehperkuatan usaha masihsangat banyak. Pengembangan sentra usaha mikro kerajinan, agrobisnis dan industri pengolahan melalui program sentra dan klaster telah dilakukan oleh pemerintah. Kementerian Koperasi dan UKM telah memberikan dukungan perkuatan untuk pengembangan sekitar

1.000 sentra usaha mikro dan kecil selama periode tahun 2001 – 2005, namun program ini tidak berkelanjutan mulai tahun 2006. Pengembangan sentra dilakukan dengan memberikan perkuatan pembiayaan usaha berupa Modal Awal dan Padanan, penyedia BDS, dan pengembangan informasi bisnis. Beberapa sentra menunjukkan perkembangan yang dinamis, meskipun sebagian besar cenderung tumbuh secara gradual, bahkan ada yang stagnan karena siklus usaha memasuki tahapan jenuh, tanpa inovasi produkyang memadai. Kurangnya berkembangnya sentra-sentra yang memperoleh perkuatan secara cepat dan berkelanjutan,karena beberapa sebab,antara lain:belum tumbuhnya budaya kerjasama di kalangan usaha mikro dan kecil di dalam sentra,belum adanya kelembagaan yang mampu menjadi perekat dan wahana untukmeningkatkan skala ekonomi dari usaha mikro dalam sentra, kurang memadainya dana perkuatan yang diberikan (misalnya:sentra sapi hanya diberikan MAP sebesar Rp 200 juta); dan semakin hilangnya dukungan perkuatan kepada sentra setelah tahun pertama pelaksanaan program perkuatan (BDS-P mulai tidak aktif, dana MAP tersendat perputarannya, dan bahkan macet pada beberapa anggota),serta keterbatasan pasar produk sentra UMK, karena kurangnya inovasi produk dan keterbatasan jaringan pemasarannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->