P. 1
Tesis

Tesis

1.0

|Views: 2,847|Likes:
Published by tresna permana
oke..
oke..

More info:

Published by: tresna permana on May 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

text

original

1. Pengertian sikap

Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi atau berinteraksi

terhadap objek. Oleh karena itu sikap merupakan salah satu faktor yang menentukan

bentuk perilaku. Menurut Morgan, sikap adalah tendensi dari seseorang untuk

memberi reaksi yang positif atau negatif terhadap sesuatu, seseorang atau situasi,

sesuai dengan pengalamannya Susanto (1977). Selanjutnya Mar’at (1984),

mengemukakan bahwa sikap merupakan produk dari proses sosialisasi dimana

seseorang bereaksi sesuai dengan rangsang yang diterimanya. Gibson (1990),

mendefinisikan sikap (attitude) adalah kesiap-siagaan mental, yang diorganisasi lewat

pengalaman, yang mempunyai pengaruh tertentu kepada tanggapan seseorang objek

dan situasi yang berhubungan dengannya.

Dari pengertian-pengertian sikap di atas, Rahmat (1994), menyimpulkan beberapa

hal tentang sikap yaitu : (1) Kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan

merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai; (2) Mendorong dan

memotivasi atau pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa-apa yang disukai,

diharapkan dan diinginkan, mengeyampingkan apa yang tidak diinginkan, apa yang

harus dihindari; (3) Cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan; (4)

Mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan; (5) Sikap timbul dari

pengalaman, yaitu tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar.

12

13

2. Karakteristik sikap

Alpplbaum (1974) mengemukakan bahwa sikap mempunyai beberapa

karakteristik :

a) Mengarah pada suatu objek, situasi, peristiwa, issu atau orang,

b) Arah sikap, tingkat dan intensitas yang menunjukkan assosiasi atau disasosiasi

dengan suatu permasalahan. Tingkatan sikap dapat diukur dengan mengajukan

pertanyaan-pertanyaan tentang perasaan individu terhadap suatu objek.

Sedangkan intensitas berhubungan dengan tingkat keyakinan.

c) Suatu respon yang dipelajari. Sikap berkembang melalui pengalaman langsung

dan tidak langsung dari objek atau individu.

d) Stabil dan bertahan lama. Jika pengalaman individu itu adalah pengalaman yang

baik atau pengalaman yang paling berkesan, maka suatu sikap sulit dirubah.

3. Komponen Sikap

Mar’at (1984) mengemukakan bahwa sikap memiliki tiga komponen :

1. Komponen kognitif yang berhubungan dengan beliefs, ide dan konsep,

2. Komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang dan

3. Komponen konatif yang merupakan kecenderungan bertingkah laku.

Sedangkan Applbaum (1974) mengatakan komponen konatif berhubungan

dengan keyakinan terhadap objek, termasuk keyakinan evaluatif yaitu baik atau

buruk, tepat atau tidak tepat. Komponen afektif yaitu komponen yang berkaitan

dengan suka dan tidak suka ( like or dislike ) terdiri dari tipe kuantitas dan kualitas

14

perasaan atau emosi terhadap sebuah objek. Sedangkan komponen konatif

berhubungan dengan kecenderungan berbuat.

Setiap komponen sikap dapat bervariasi terhadap derajat multifleksitas. Hal ini

mengacu pada jumlah dan jenis elemen yang membangun komponen tersebut.

Komponen konatif dapat bergerak dari pengetahuan yang minim sampai

dapat mengetahui objek tersebut , komponen afektif juga bervariasi, dari yang sangat

ekstrim positif sampai perasaan negatif terhadap sesuatu objek. Dan komponen

konatif menunjukkan variasi yaitu tindakan menyerang sampai pada tingkat yang

membantu objek. Ketiga komponen tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain

yang merupakan suatu sistem.

Demikian juga setiap komponen sikap akan berbeda valensinya. Valensi adalah

untuk menggambarkan suatu sikap merasa senang atau tidak senang terhadap sesuatu

objek. Tetapi biasanya tidak cukup menggambarkan begitu saja, perlu juga

mengetahui atau mengukur kuantitatif dari valensi derajat senang atau tidak

senang seseorang. Jadi valensi adalah karakteristik yang dapat dipakai untuk setiap

komponen.

4. Pengertian Inovasi

Inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal baru, penemuan baru yang

berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik itu gagasan,

metode atau alat ( Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI 1990 ). Hal-hal baru

artinya apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh sipenerima

15

inovasi, meskipun bukan merupakan hal yang baru bagi orang lain ( Hasbullah

2003 ).

Berdasarkan pengertian tersebut, inovasi ( innovation ) adalah hal-hal baru apakah

itu nilai, norma, gagasan atau cara-cara baru. Webster,s New World Dictionary

memberi arti inovasi sebagai : (1) tindakan atau proses pembaruan, (2) Sesuatu yang

baru diperkenalkan, metode, kebiasaan dan cara melaksanakan sesuatu

(Sutisna 1989). Rogers (1983), mengatakan bahwa inovasi adalah sebuah ide,

praktek, atau objek terasa sebagai sesuatu yang baru oleh seseorang atau unit yang

menerapkannya. Sementara itu Timpe (1993) mengatakan bahwa inovasi adalah

metode kerja, produk, proses atau jasa-jasa yang baru dan lebih baik. Selanjutnya

dikatakan bahwa inovasi (pembaruan) adalah suatu kumpulan dari teknologi dan ilmu

yang ada untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu.

Inovasi adalah proses tertentu seseorang dengan melalui pendayagunaan

pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan dan individu yang

mengelilinginya yang berusaha menghasilkan produk baru, baik bagi dirinya sendiri

ataupun bagi lingkungannya (Ahmad 2002). Inovasi merupakan suatu proses

mengubah peluang menjadi gagasan dan ide-ide yang dapat dijual. Inovasi

sesungguhnya bukanlah gagasan yang rumit. Kadang inovasi datang dari ide yang

sepele. Inovasi adalah penerapan praktis dari gagasan-gagasan tersebut.

Dari beberapa pengertian di atas inovasi selalu menunjuk pada suatu perubahan

yang baru secara kualitatif berbeda dengan keadaan semula yang didasarkan atas

pertimbangan yang diteliti dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan guna

mencapai hasil yang lebih baik. Inovasi lebih dari sekedar menambah jumlah unsur

16

bagian yang telah ada, tetapi pada usaha menata kembali misalnya, dalam

pembelajaran dilaksanakan pengelompokan mata pelajaran dan murid, alokasi

pemakaian ruang dan waktu serta cara mengajar, sehingga dengan tenaga , uang dan

fasilitas yang sama dapat dicapai hasil pendidikan yang lebih baik.

5. Sikap Inovatif

Penyesuaian terhadap perubahan dapat dikatakan sebagai sikap inovatif dan untuk

perubahan dibutuhkan suatu kreatifitas dari seseorang, sehubungan dengan itu,

Manan menjelaskan bahwa, orang-orang yang bersikap inovatif adalah orang yang

memiliki kepribadian kreatif dan dinamis (Irawati 2003). Kreatif adalah proses

pengembangan perspektif, alami, inovatif dan imajinatif pada berbagai situasi (Griffin

1986).

Jika seseorang dapat berpikir dengan cerdas dan kreatif, maka orang tersebut akan

mendapat hasil-hasil tertentu. Jika pikiran-pikirannya tidak menentu dan tidak

diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, maka hasilnya pun akan mengecewakan.

Bandingkanlah kalau ada dua orang, yang satu sibuk dan gelisah, namun tidak

menghasilkan sesuatu yang penting. Hal ini karena pikiran-pikiran dan gagasan

gagasannya tidak dipersiapkan dan tidak dipikirkan dengan serius. Yang lain

melaksanakan pekerjaannya sehari-hari dengan tenang dan tertib, memperhatikan

setiap bagian, menjatuhkan keputusan dengan tepat, maka setiap hari akan dapat hasil

yang baik. Kekuatan yang dimiliki oleh setiap manusia yang sering disebut dengan

daya khayal, melalui daya khayal inilah manusia dapat mencapai kemauan yang

tinggi dan kesanggupannya dalam menemukan segala hal. Daya khayal dapat

17

dibedakan menjadi 2, yaitu daya khayal sintesis dan daya khayal kreatif. Daya khayal

sintesis adalah untuk tidak menciptakan hal yang baru, tetapi membentuk dan

menyusun yang lama dalam bentuk kombinasi baru. Sedangkan daya khayal kreatif

adalah menciptakan hal-hal baru terutama apabila daya khayal sintesis tidak bisa

bekerja dalam memecahkan suatu masalah. Melalui daya khayal kreatif ini alam

pikiran manusia yang terbatas dapat berhubungan langsung dengan alam pikiran

halusnya. Barangkali alam pikiran inilah yang menyalurkan inspirasi atau ilham dan

menyampaikan gagasan baru sebagai hasilnya menjadi alat bagi manusia untuk

menyesuaikan getaran dalam dirinya dengan getaran dalam diri orang lain. Daya

khayal biasanya bekerja secara otomatis dan hanya bekerja jika alam pikiran yang

sadar bergerak dengan kecepatan yang luar biasa seperti mendapatkan dorongan dari

suatu emosi yang ditimbulkan oleh keinginan yang kuat. Dalam hubungan ini,

berpikir kreatifnya seseorang dapat merombak dan kemudian mendorongnya dalam

pengembangan lingkungan menjadi berhasil.

Kreatif merupakan proses pemikiran yang membantu dalam mencetuskan

gagasan-gagasan

Sifat-sifat yang menimbulkan kreatif, akan menghasilkan kepribadian yang

inovatif yaitu:

a. Terbuka terhadap pengalaman baru,

b. Imajinasi yang kreatif,

c. Kesadaran dan tanggungjawab untuk berhasil,

d. Memiliki persepsi bahwa dunia mempunyai tantangan.

18

Respon individu terhadap perubahan, merupakan keputusan terhadap inovasi,

apakah individu menerima atau menolak inovasi tersebut.

Rogers (1983) mengemukakan lima tahapan keputusan terhadap inovasi yaitu :

a. Pengenalan terjadi apabila individu (unit pengambilan keputusan) mengetahui

adanya motivasi dan memperoleh beberapa pengertian tentang bagaimana inovasi

itu berfungsi,

b. Persuasi adalah disaat seseorang membentuk sikap senang atau tidak senang

terhadap inovasi,

c. Keputusan terjadi apabila disaat seseorang terlibat dalam kegiatan yang

membawanya dalam pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi,

d. Implementasi pada saat tampak ada perubahan perilaku nyata dalam bentuk

menerapkan inovasi pada kegiatan sehari-hari,

e. Konfirmasi dimana seseorang mencari penguat bagi keputusan inovasi yang

telah dibuatnya. Pada tahap ini kemungkinan seseorang untuk merubah

keputusannya jika ia memperoleh informasi yang bertentangan.

Pada umumnya respon negatif yang berupa kecenderungan dari individu maupun

kelompok dalam organisasi untuk menolak perubahan. Namun tidak semua

perubahan ditolak. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Davis (1993) mengemukakan

bahwa ada tiga jenis penolakan terhadap perubahan, yaitu:

a. Penolakan logis yang timbul dari waktu dan upaya yang diperlukan untuk

menyesuaikan diri dengan perubahan, termasuk tugas pekerjaan yang baru

yang harus dipelajari.

19

b. Penolakan psikologis berkaitan dengan sikap dan perasaan secara individu

tentang perubahan.

c. Penolakan sosiologis yang berkaitan dengan kepentingan dan nilai yang

disandang kelompok.

Selain respon negatif, ada juga beberapa kategori penerima inovasi sebagai tipe

yang ideal yang dikemukakan oleh Rogers (1983), yaitu:

a. Innovators: venturesome. Pada kategori ini, penerima inovasi berhasrat untuk

mencoba ide-ide baru. Keinginan tersebut membawa mereka keluar dari

lingkungan lokal dan lebih menuju pada hubungan yang lebih global.

b. Early adopter: Respectable. Penerima inovasi lebih berintegrasi pada sistem sosial

lokal. Sebelum ia memutuskan untuk menerima ide-ide baru, terlebih dahulu

mereka mengecek informasi tentang inovasi tersebut.

c. Early Majority : Deliberate. Kategori ini adalah seseorang atau unit adopsi

menerima ide-ide baru, sebelum mayoritas dari anggota sistem sosial

menerimanya.

d. Late Majority. Pada kategori ini, seseorang atau unit adopsi menerima ide-ide baru

setelah rata- rata dari anggota sistem sosial menerimanya.

e. Laggards:Traditional. Adalah seseorang atau unit adopsi menerima perubahan

paling akhir atau terlambat. Mereka hampir tertutup (terisolasi) pada jaringan

sosial dan berorientasi tradisional. Proses keputusan terhadap inovasi bergerak

lamban, disamping kurangnya kesadaran pengetahuan tentang ide-ide baru

6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi adalah:

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->