P. 1
Optimasi Proses Mie Ganyong

Optimasi Proses Mie Ganyong

|Views: 1,384|Likes:
Published by Nadia Hana Soraya
Buat lomba inovasi ITB yang deadlinenya 1 Juni. Hehe. Ngedadak pisan buatnya punten jadinya aneh. Nggak menang pun kami bahagia, karena kerjanya buat uang makan (uang penggantian proposal, hehe :D).

Yang ini ada beberapa yang direvisi tapi kalo mau buat contoh template proposal insya Allah bisa dipake.

Ijin aplod Neng Alin, Neng Lia, Neng Mae, dan Teh Hasnah! :D
Buat lomba inovasi ITB yang deadlinenya 1 Juni. Hehe. Ngedadak pisan buatnya punten jadinya aneh. Nggak menang pun kami bahagia, karena kerjanya buat uang makan (uang penggantian proposal, hehe :D).

Yang ini ada beberapa yang direvisi tapi kalo mau buat contoh template proposal insya Allah bisa dipake.

Ijin aplod Neng Alin, Neng Lia, Neng Mae, dan Teh Hasnah! :D

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Nadia Hana Soraya on May 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

LOMBA PENELITIAN INOVASI SAINS, TEKNOLOGI DAN SENI

Optimasi Proses Produksi Mie Berbahan Baku Ganyong (Canna discolor) Pemanfaatan Bahan Alam

Disusun oleh: LIN HOFA NURUL A. MAE LUTFIYAH NADIA HANA S. HASNAH SAKINAH 10708035 10708082 13008011 13408094 LIA QURRATA AKYUNI 10708015

KANTOR WAKIL REKTOR BIDANG KEMAHASISWAAN LEMBAGA KEMAHASISWAAN 2010

LEMBAR PENGESAHAN 1. Judul Peneletian 2. Bidang Penelitian 3. Ketua Pelaksana Penelitian a. Nama Lengkap b. NIM c. Prodi/Fakultas/Sekolah d. Alamat Rumah dan No. Telp/HP e. Alamat email 1. Anggota Pelaksana Penelitian 2. Biaya Penelitian yang diusulkan 3. Jangka Waktu Pelaksanaan : Lin Hofa Nurul Alifah : 10708035 : Sains dan Teknologi Farmasi/Sekolah Farmasi : Jl. Kiaracondong No. 279 A, Bandung. : linhofana@gmail.com : 4 orang : Rp 4.415.000,00 : 4 bulan Bandung, 31 Mei 2010 Mengetahui: Pembimbing Ketua Pelaksana : Optimasi Proses Produksi Mie Berbahan Baku Ganyong (Canna discolor) : Pemanfaatan Bahan Alam

(Elfahmi, Ph.D) NIP.

(Lin Hofa Nurul Alifah) NIM. 10708035

Menyetujui: Ketua Program Studi,

(Lucy Nurhayati Sasongko, Ph.D.) NIP. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang subur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya varietas tumbuhan yang ditemukan di Indonesia. Selain itu, didukung pula dengan letak Indonesia yang strategis yakni berada di daerah tropis dengan asupan energi matahari yang cukup sehingga menjadikan Indonesia sebagai lahan yang cocok untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Tidak salah jika pada zaman dahulu Indonesia menjadi pusat perniagaan rempah-rempah terbesar di dunia. Salah satu tanaman yang memiliki peluang tinggi untuk tumbuh di bumi pertiwi ini adalah jenis umbi-umbian. Umbi-umbian banyak tumbuh di Indonesia karena tanahnya cocok dan sesuai dengan keadaan fisik untuk berkembangnya tanaman tersebut. Namun, kurangnya pemahaman masyarakat pribumi akan zat yang terkandung dalam tanaman tersebut menyebabkan pemanfaatannya sampai sekarang masih terbilang sangat minim. Sebagai akibatnya, tanaman tersebut hanya mampu diolah secara sederhana tanpa pengolahan lebih lanjut. Padahal kandungan karbohidrat dalam umbi-umbian yang sangat tinggi mampu dijadikan sebagai bahan pangan alternatif pengganti beras dan mie. Salah satu contoh jenis tanaman yang termasuk dalam komoditas umbi-umbian adalah ganyong. Ganyong yang memilki nama ilmiah Canna discolor L. ini belum sepopuler ubi jalar atau ubi kayu. Hal senada diutarakan salah seorang pedagang ketika dilakukan survey ke salah satu pasar tradisional yang ada di kota Bandung. Pedagang tersebut menyatakan bahwa ganyong tidak dijual di pasar-pasar karena pemanfaatannya yang masih sangat minim yakni hanya sebatas direbus atau digoreng kemudian dimakan seadanya. Berbeda dengan umbiumbian yang lain seperti ubi dan singkong yang katanya “pulen”, ganyong mengandung banyak serat sehingga rasanya kurang enak ketika dimakan biasa (ganyong rebus). Itulah penyebab mengapa para pedagang tradisional pun enggan menjual ganyong, selain karena pemanfaatannya yang masih minim, ganyong juga kurang diminati masyarakat. Tidak heran jika sekarang ini sulit sekali ditemukan pedagang umbi-umbian yang menjual ganyong tersebut. Padahal, menurut penelitian ganyong merupakan salah satu bahan pangan non beras yang bergizi cukup tinggi terutama karena kandungan kalsium, fosfor, dan karbohidrat yang terkandung di dalamnya.

Tanaman ganyong merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Serikat. Di Indonesia ganyong tersebar dari Sabang sampai Merauke terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, tanaman ini telah diusahakan penduduk walaupun masih secara sampingan. Saat ini, sudah mulai berkembang pembuatan tepung terigu alternatif yang berasal dari umbi ganyong untuk menjawab kesukaran pemerolehan tepung terigu yang kian hari harganya makin meningkat. Tepung ganyong yang dihasilkan pun tak kalah dengan jenis tepung lainnya baik dalam segi kandungan gizi ataupun kualitasnya. Salah satu kelebihan tepung ganyong dibanding tepung lainnya adalah tepung ganyong sangat mudah dicerna sehingga sering digunakan untuk makanan bayi dan orang-orang sakit. Tidak mengherankan jika di negara maju seperti Australia, tepung ganyong diproduksi secara besar-besaran dalam skala pabrik. Untuk Indonesia sendiri pembuatan tepung ganyong umumnya masih dikerjakan secara tradisional. Namun, pada tahun 2009 sebuah industri rumah tangga di Purbalingga yang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, mampu mengangkat status ganyong dari yang awalnya sekadar tanaman budidaya yang kurang diminati menjadi tepung ganyong yang lebih bermanfaat. Ganyong yang disulap menjadi tepung ganyong bergizi tinggi pun membawa dampak positif juga bagi penduduk sekitar hingga terbentuklah industri-industri rumah tangga yang memanfaatkan tepung ganyong tersebut. Dalam bentuk bahan mentah ganyong mempunyai nilai jual komoditas yang sangat rendah yakni sekitar Rp 400,00 sampai Rp. 1500,00 per kilogramnya. Sedangkan ketika telah diolah menjadi tepung ganyong, nilai jual komoditasnya melonjak signifikan menjadi sekitar Rp. 8000,00 per kilogramnya. Pada tahun 1970-an, tidak sedikit dijumpai masyarakat Indonesia yang mengonsumsi langsung ganyong yang diolah alakadarnya seperti direbus. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan banyaknya makanan olahan yang lebih bervariatif dengan tampilan bentuk dan rasanya yang khas, konsumsi tanaman yang dijadikan bahan pangan alternatif ini menjadi berkurang. Ironisnya, banyak generasi muda saat ini yang tidak mengetahui jenis dan bentuk dari tanaman ganyong tersebut. Untuk membuat orang tertarik mengonsumsi tanaman ini, maka ganyong harus dikemas dalam bentuk, rasa dan selera yang tinggi sehingga membuat orang lebih tertarik untuk mengonsumsinya. Oleh karena itu, dalam proposal pengajuan ini akan dibahas tentang pemanfaatan ganyong sebagai bahan tepung terigu dalam pembuatan mie. Mengingat harga tepung terigu yang biasa digunakan untuk bahan olahan makanan didatangkan dari luar negeri (impor), ditambah lagi dengan kenaikan harga yang terus menanjak dari tahun ke tahun, maka sudah saatnya kita kembali bangkit dengan melirik pemanfaatan potensi lokal yang ada yakni dengan mengembangkan dan memaksimalkan

pemanfaatan bahan alam lokal, salah satunya adalah tepung ganyong sebagai bahan pangan alternatif pengganti tepung terigu. Salah satu produk pangan olahan yang umum di negeri ini adalah mie. Di Indonesia mie merupakan makanan utama setelah nasi dan diminati hampir oleh semua kalangan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Akan tetapi, mie belum dapat dianggap sebagai makanan penuh (wholesome food) karena belum mencukupi kebutuhan gizi yang seimbang bagi tubuh. Mie yang terbuat dari terigu mengandung karbohidrat dalam jumlah besar, tetapi kandungan protein, vitamin, dan mineralnya hanya sedikit. Namun, sifat karbohidrat dalam mie berbeda dengan sifat yang terkandung di dalam nasi. Sebagian karbohidrat dalam nasi merupakan karbohidrat kompleks yang memberi efek rasa kenyang lebih lama. Sedangkan karbohidrat dalam mie sifatnya lebih sederhana sehingga mudah diserap. Akibatnya, mie memberi efek lapar lebih cepat dibanding nasi. Meskipun mie belum bisa menggeser posisi nasi, dimana kebanyakan orang Indonesia beranggapan bahwa belum makan kalau tidak dengan nasi, namun mie ini merupakan bahan pangan yang cukup banyak digemari oleh khalayak umum sebagai pengganti nasi dalam hal sumber energi. Di samping itu, keefektifan dan keefisienan tenaga dan waktu dalam penyajiannya inilah yang menjadikan mie sebagai salah satu kandidat pengganti nasi. Di mata anak-anak, mie memiliki daya tarik tersendiri baik dalam hal bentuk penyajian yang relatif mudah dan sederhana ataupun dalam hal rasa yang menggoyang lidah. Tidak heran banyak anak-anak yang lebih suka mengonsumsi mie daripada nasi. Hal itulah yang menjadikan mie sebagai sorotan utama dalam penelitian ini karena potensinya yang besar sebagai salah satu bahan makanan substitusi parsial bagi makanan pokok beras. Beragam jenis mie telah dikenal masyarakat akan tetapi mie instan merupakan ragam mie yang paling popular. Data consult (1995) melaporkan bahwa konsumsi mie instan oleh masyarakat Indonesia pada tahun 1995 sebesar 3.544,5 juta bungkus atau setara dengan 265.838 ton. Pada tahun-tahun berikutnya konsumsi mie instan meningkat dengan laju sekitar 25%, dan pada awal tahun 2000-an sekarang ini, angka ini diperkirakan terus meningkat dengan laju sekitar 15% per tahun. Impor gandum Indonesia tahun 2002 mencapai 4 juta ton dan angka ini akan terus meningkat (World Grain 2003). Sebagian besar gandum tadi dibuat tepung terigu dan digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan mie. Perkembangan konsumsi mie yang pesat memberi pelajaran bahwa mie merupakan jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan atau preferensi konsumen Indonesia. Namun di sisi lain, konsumsi mie seperti saat ini berpeluang menurunkan devisa negara, mengingat tepung terigu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan mie merupakan bahan yang harus diimpor dari luar negeri. Di lain sisi, pembangunan sektor pertanian nasional yang terus

berkembang, telah mampu menghasilkan beragam komoditas sumber karbohidrat yang perlu ditingkatkan pemanfaatannya terutama dalam rangka penyediaan pangan alternatif bagi masyarakat. Jika hal tersebut dikaji lebih dalam, tentu dapat dijadikan solusi bagi masalah pangan yang dihadapi negara kita. Oleh sebab itu, pemikiran yang paling sering muncul dan paling urgent adalah perlunya pengembangan teknologi mie berbahan baku tepung selain terigu, salah satunya adalah dengan menggunakan tepung dari ganyong. Fenomena lain yang sangat disayangkan adalah fakta mengenai kandungan bahan pengawet yang cukup tinggi pada mayoritas mie yang beredar di pasaran saat ini yang bisa berakibat negatif jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebih. Kandungan yang berbahaya yang terdapat dalam mie instan diantaranya adalah sodium glutamat yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Kandungan pewarna kuning (tartrazin) yang terdapat dalam mie instan lebih berbahaya bagi kesehatan. Pewarna tersebut dapat menyebabkan kekambuhan pada penderita penyakit asthma dan efek-efek negatif lainnya pada kesehatan seperti kanker dan penyakit lambung lainnya. Selain itu dalam mie instan terdapat juga bahan pengawet dan MSG yang dapat memicu timbulnya penyakit kanker jika dikonsumsi secara belebihan. Selain itu, pada umumnya banyak di antara konsumen lebih memilih mie karena rasa dan bentuk yang lebih menarik dibanding dengan kandungan yang terkandung didalamnya. Atas pertimbangan tersebut maka dalam penelitian ini, akan diupayakan untuk membuat mie sehat bergizi tinggi dengan bahan baku berupa tepung terigu dari umbi ganyong yang mengandung mineral yang baik untuk tubuh, terutama kandungan kalsium dan fosfornya. Namun, seperti yang telah diutarakan pada paragraf awal bahwa usaha pembuatan mie dari ganyong ini mulai dikelola oleh pihak industri rumah tangga di daerah Purbalingga. Mengingat proses produksi yang telah diupayakan oleh pihak industri rumah tangga di Purbalingga tersebut masih terbilang sederhana maka hal ini dapat dijadikan salah satu sarana yang potensial untuk membuat mie ganyong dengan nilai kandungan kalsium dan fosfor yang lebih tinggi. Dalam penelitian ini akan dilakukan optimalisasi mie ganyong dengan kandungan fosfor dan kalsium yang lebih tinggi sehingga mampu mengubah image mie yang pada awalnya berbahaya bagi kesehatan menjadi mie yang bergizi tinggi. Dikatakan bergizi tinggi karena kandungan fosfor dan kalsium yang terkandung dalam mie ganyong, baik untuk masa pertumbuhan dan perkembangan anak terutama dalam pertumbuhan tulang. Untuk orang dewasa, kandungan fosfor dan kalsium berperan untuk mempertahankan kekuatan tulang dan gigi serta mencegah osteoporosis. Melihat peranan penting fosfor dan kalsium bagi tubuh, sudah sepantasnya kita memanfaatkan potensi dari ganyong yang mengandung

fosfor dan kalsium tinggi terutama sebagai bahan pangan alternatif yang diminati masyarakat luas. Program penelitian ini muncul dari keinginan kami untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku alam (dalam hal ini ganyong) yakni dengan memanfaatkan kadar kalsium dan fosfor ganyong yang cukup tinggi menjadi bahan pangan olahan (mie ganyong) yang bernilai ekonomi tinggi dan bergizi tinggi yang baik untuk kesehatan masyarakat. Selain itu, diharapkan program penelitian ini pun merupakan salah satu upaya kami untuk mengoptimalkan peran ganyong sebagai bahan pangan alternatif sehingga mampu dijadikan solusi pemecahan masalah kekurangan kebutuhan pangan di Indonesia. I.2 Perumusan Masalah Tanaman ganyong (Canna edulis Ker.) yang konon berasal dari Amerika Selatan telah dimanfaatkan oleh masyarakat di beberapa daerah. Pemanfaatan tersebut bervariasi tergantung bagian tanaman yang digunakan seperti umbinya untuk dimakan dengan cara direbus atau dibakar, sisa umbi yang tertinggal untuk dijadikan kompos, pucuk dan tangkai daun muda untuk pakan ternak, serta bunga daunnya yang cukup indah dapat digunakan sebagai tanaman hias. Adapun kami disini memfokuskan pada pemanfaatan umbi (rhizoma) ganyong sebagai bahan pangan alternatif non-beras. Dibandingkan dengan jenis umbi-umbian lain, ganyong memiliki keunggulan dalam hal kandungan fosfor, kalsium, dan karbohidratnya dimana kandungannya lebih besar jika dibandingkan dengan yang lain. Untuk itu kami disini ingin memanfaatkan kandungan fosfor dan kalsium yang tinggi pada tanaman ganyong serta kandungan karbohidratnya yang juga tidak kalah tinggi dibandingkan umbi-umbian lain, untuk dijadikan sebagai pangan alternatif pengganti beras yang bergizi. Perkembangan konsumsi mie yang pesat pada masyarakat Indonesia khususnya, memberi pelajaran bahwa mie merupakan jenis makanan yang sesuai dengan kebutuhan atau preferensi konsumen Indonesia. Saat ini mayoritas produk mie yang diproduksi berbahan dasar tepung terigu (gandum) yang merupakan suatu komoditas impor. Oleh karena itu pengkonsumsian mie yang melonjak di negara kita dapat berpeluang dalam menurunkan devisa negara. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dipikirkan bahan dasar pembuatan mie pengganti gandum yang dapat dilakukan dengan pemanfaatan tanaman lokal di negara kita sehingga tidak perlu mengimpor dari luar. Melihat tanaman ganyong yang tumbuh melimpah di negara kita namun masih kurang dalam pemanfaatannya, maka kami berusaha untuk membudidayakan tanaman ganyong sebagai tanaman lokal kita sekaligus sebagai

upaya mengurangi laju impor terigu dengan memanfaatkan tanaman ganyong ini sebagai pangan alternatif, khususnya sebagai bahan dasar pembuatan mie pengganti gandum. Terdapat berbagai jenis mie seperti mie mentah (fresh /raw noodle), mie basah (wet noodle), mie kering (dry noodle) dan mie instan (instant noodle), bihun, kwetiau, sohun, dan sebagainya yang semuanya tergantung dari proses pembuatannya dan bahan dasarnya. Adapun disini kami memfokuskan pada produksi mie basah dengan bahan dasar ganyong. Untuk menghasilkan mie yang tidak kalah kualitasnya dibandingkan mie yang berbahan dasar gandum, diperlukan optimasi dalam proses pembuatan mie yang berbahan dasar non-gandum ini. Pada program penelitian ini, kami menaruh perhatian pada perancangan proses produksi untuk menghasilkan mie dari ganyong dengan kualitas yang baik serta mengoptimasi kandungan posfor dan kalsium dari tanaman ganyong pada produk jadi mie tersebut. I.3 Tujuan Penelitian Dengan dilaksanakannya penelitian ini, kami berharap dapat mencapai tujuan berikut: 1. 2. Pembuatan mie dari tepung terigu berkalsium dan fosfor yang tinggi yang berasal dari umbi ganyong agar bernilai ekonomis dan bermanfaat. Memperoleh kondisi optimum proses pembuatan mie dari tepung terigu ganyong agar mengandung kalsium dan fosfor yang tinggi untuk menghasilkan produk mie yang memiliki karakteristik sesuai dengan keinginan. 3. Mewujudkan program pemanfaatan bahan alam yang ada di Indonesia terutama yang tumbuh di sekitar dan potensi yang terkandung didalamnya belum tergali secara maksimal. I.4 Luaran yang Diharapkan Dengan dilaksanakannya penelitian ini, luaran yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Masyarakat sadar bahwa seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini memiliki nilai kegunaannya masing-masing, termasuk umbi ganyong selain sebagai bahan pangan tradisional, umbi yang satu ini memiliki kelebihan yang lain yaitu sebagai bahan pembuatan mie sehat bergizi tinggi. 2. Masyarakat mengetahui dan menerapkan cara pengolahan umbi ganyong menjadi mie sehat bergizi tinggi.

3.

Umbi ganyong dimanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin menjadi bahan pangan, dengan mempertimbangkan zat yang terkandung didalamnya yang berguna bagi kesehatan tubuh konsumen.

4.

Umbi ganyong memberikan keuntungan ekonomis bagi masyarakat desa, karena dengan mengubah umbi menjadi tepung terigu yang kaya akan kalsium dan fosfor sebagai bahan pangan dalam pembuatan mie, menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat sekitar, sebab meningkatkan penghasilan masyarakat desa yang umumnya tanahnya lebih subur dan lebih memungkinkan untuk tumbuhnya umbi-umbian termasuk umbi ganyong.

5.

Pihak yang berhubungan dalam produksi pangan dapat memperhatikan potensi yang terkandung dalam umbi ganyong, karena umbi ini memiliki kandungan fosfor dan kalsium yang tinggi dan memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan dan bersaing dengan produk yang lainnya di pasaran.

I.5 Manfaat Penelitian 1. Masyarakat mendapat pengetahuan mengenai cara mengolah umbi ganyong dengan cara yang lebih baik, yaitu sebagai produk berupa mie dengan kandungan kalsium dan fosfor yang bernilai tinggi. 2. Menyadarkan masyarakat bahwa umbi ganyong ini memiliki potensi yang tinggi dalam hal kandungan mineral yang sangat vital diperlukan oleh tubuh, sehingga sangat disayangkan apabila umbi ini hanya dibiarkan tumbuh tanpa pengolahan yang lebih lanjut. 3. 4. Mendapatkan keuntungan ekonomi dari hasil pemasaran pengolahan umbi tersebut. Mendapatkan suatu teknologi pengolahan umbi yang sederhana namun melahirkan produk bahan pangan yang maksimal.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Deskripsi Ganyong Ganyong (Canna discolor L. syn. C. edulis, suku kana-kanaan atau Cannaceae) adalah sejenis tumbuhan penghasil umbi yang cukup populer namun kelestariannya semakin terancam karena tidak banyak orang yang menanam dan mengonsumsinya. Umbi ganyong mengandung pati, meskipun tidak sebanyak ubi jalar. Umbi yang dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya lebih dulu atau untuk diambil patinya. Sisa umbinya yang tertinggal setelah diambil patinya dapat digunakan sebagai kompos. Sementara pucuk dan tangkai daun muda dipakai untuk pakan ternak. Bunga daunnya yang cukup indah dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Ganyong dikenal dengan banyak nama daerah. Ada yang menyebut sebagai “buah tasbih”, “ubi pikul”, “ganyal”, “ganyol”, ataupun “sinetra”. Sedangkan nama asingnya quennsland arrowroot. Sementara ini, sekurangnya ada dua provinsi sebagai sentral ganyong, yakni Jawa Tengah (Klaten, Wonosobo, dan Purworejo), dan Jawa Barat (Majalengka, Sumedang, Ciamis, Cianjur, Garut, Lebak, Subang, dan Karawang). Pemanenan ganyong bergantung tujuan penggunaannya. Bila untuk umbi rebus yang langsung dimakan, maka digunakan ganyong muda berumur 6-8 bulan. Sebaliknya, jika akan digunakan untuk pembuatan produk pati atau tepung bisa dipanen tua (15-18 bulan). Di tengah kondisi ekonomi yang semakin terpuruk menjadi faktor kemampuan daya beli masyarakat menjadi turun, sudah seyogyanyalah masyarakat menggalakkan kembali pemanfaatan sumber pangan lokal yang justru lebih murah, mudah dijangkau dengan kandungan gizi yang tidak kalah baiknya. Dalam dunia tumbunhan, umbi ganyong memiliki taksonomi sebagai berikut: Kingdom : Plantae (tumbuhan) Subkingdom : Tracheobiota (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisio Kelas Sub-kelas Ordo Familia Genus Spesies : Magnoliophyta (berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Cannaceae : Canna : Canna edulis Ker.

II.2 Kandungan Gizi dalam Ubi Ganyong

Berdasarkan sumber dari Direktorat Gizi Depkes RI, 1981, setiap 100 gram ubi ganyong mengandung komponen-komponen sebagai berikut. Tabel 1. Kandungan Senyawa per 100 g Ganyong Komponen Kalori Protein Lemak Karbohidrat Kalsium Fosfor Besi Vitamin B1 Vitamin C Air Jumlah 95,00 kal 1,00 g 0,11 g 22,60 g 21,00 g 70,00 g 1,90 mg 0,10 mg 10,00 mg 75,00 g

Sementara apabila dibandingkan dengan jenis umbi-umbian yang lain, maka perbandingan kadar kandungannya dapat dilihat dari tabel berikut. Tabel 2. Kandungan Gizi Umbi-umbian Jenis Makanan Ubi jalar Singkong Kentang Tepung ganyong Tepung singkong Tepung kentang Al (g ) 75 63 78 14 9 13 Protein (g) 1,0 1,2 2,0 0,7 1,1 0,3 Lemak (g) 0,1 0,3 0,1 0,2 0,5 0,,1 Karbohidrat (g) 22,6 34,7 19,1 85,2 88,2 85,6 Kalsium (mg) 21 33 11 8,0 84 21 Fosfor (mg) 70 40 56 22 125 30 Besi (mg) 20 0,7 0,7 1,5 1,0 0,5 Vit A (IU) 0 0 0 Vit B 0,1 0,0 6 0,1 1 0,0 9 0,4 0,0 4 Vit C 10 30 17 0 0 0

Sumber: Data Komposisi Bahan Makanan, Dep. Kes. RI.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kandungan kalsium dan fosfor dalam umbi ganyong cukup tinggi. Oleh karena itu dalam penelitian ini lebih ditekankan pada optimalisasi kandungan kalsium dan fosfor tersebut dalam bentuk pangan hasil olahan ganyong. Kalsium dan fosfor memiliki banyak fungsi. Manfaat fosfor antara lain:  Memiliki peranan utama dalam mempertahankan kalsium, tulang dan gigi.  Membantu mempertahankan pH darah sedikit basa, komponen penting DNA, serta merupakan bagian dari semua membran sel terutama dalam jaringan otak.
 Berfungsi untuk penunjang perkembangan disaat pertumbuhan anak.

 Meningkatkan ketahanan dari para atlet dan memberikan keunggulan kompetitif yang lebih baik. Sementara manfaat kalsium antara lain:  Membentuk serta mempertahankan tulang dan gigi yang sehat.  Mencegah osteoporosis.  Membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka.  Menghantarkan signal ke dalam sel-sel saraf.  Mengatur kontraksi otot.  Membantu transport ion melalui membran.  Sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencernaan, energi dan metabolisme lemak. II.3 Kandungan Gizi Mie Umumnya jenis mie berupa mie instan terbuat dari bahan yang sudah distandarisasi. Oleh karena itu, apabila dilihat komposisi berbagai produk mie instan, terlihat bahwa berbagai produk mie instan tersebut mengandung bahan yang lebih kurang sama. Komposisi Mie : Tepung terigu, minyak sayur, tepung tapioka, garam, pengatur keasaman, pewarna makanan (Tartrazin CI 19140). Bumbu : Garam, penguat rasa (mononatrium glutamat), gula, perisa ayam, bubuk lada, bubuk kair, perisa bawang putih, bubuk cabe, vitamin (A, B1, B5, B6, B12, Niasin, Asam Folat). Berikut tabel perbandingan nilai gizi dari beberapa produk mie instan.

Tabel 3. kandungan gizi dalam mie

Supermi Rasa Kaldu Ayam Energi Total Energy dari Lemak Lemak Total Lemak Jenuh Kolesterol Protein Karbohidrat Total Serat makanan Gula Natrium 300 kkal 90 kkal 10 g | 17% AKG 6 g | 31% AKG 0 mg | 0% AKG 6 g | 10% AKG 46 g | 15% AKG 2 g | 7% AKG 2g

Mie Sedap Rasa Kari Ayam 340 kkal 130 kkal 14 g | 23% AKG 7 g | 41% AKG 0 mg | 0% AKG 8 g | 14% AKG 44 g | 15% AKG 2 g | 8% AKG 3g

Indomie Rasa Soto Mie 340 kkal 110 kkal 12 g | 22% AKG 4 g | 19% AKG 0 mg | 0% AKG 7 g | 15% AKG 50 g | 15% AKG 2 g | 9% AKG 2g

870 mg | 38% AKG 980 mg | 43% 600 mg | 25% AKG AKG Di kemasan mie instan tertulis : “Persen AKG berdasarkan kebutuhan energi 2000 kkal. Kebutuhan energi Anda mungkin lebih tinggi atau lebih rendah.” Nilai AKG yang digunakan ini mengacu pada The Percent Daily Value yang menjadi patokan pada pelabelan nutrisi yang dianjurkan oleh The US Food and Drug Administration Center for Food Safety and Applied Nutrition. II.4 Produksi Mie Mie adalah salah satu produk makanan yang digemari oleh berbagai masyarakat mulai dari masyarakat perkotaan sampai masyarakat pedesaan. Hal ini disebabkan tidak hanya oleh karena rasanya yang cukup enak, tetapi juga cara penyajiannya yang praktis dalam waktu singkat. Secara garis besar jenis-jenis mie dapat dibedakan menjadi mie mentah (fresh/raw noodle), mie basah (wet noodle), mie kering (dry noodle), dan mie instan (instant noodle). Namun pada penelitian ini jenis mie yang akan dibuat adalah mie basah sehingga hanya dibahas proses pembuatan mie basah dari ganyong. Proses pembuatan mie basah dari ganyong adalah sebagai berikut.  Pembuatan Pati Ganyong Ganyong yang sudah berumur (cukup tua) dipanen, diambil umbinya. Umbi ganyong dicuci bersih, dikupas kulitnya kemudian diparut. Ganyong parut selanjutnya diperas hingga hanya tersisa ampas/seratnya. Saring air perasan tadi dengan kain penyaring. Diamkan air dalam wadah hingga pati ganyong mengendap. Pisahkan air dengan pati ganyong. Keringkan pati ganyong dengan dijemur sinar matahari atau dioven.

 Pembuatan Minyong (Mie Ganyong) Panaskan 5 s/d 6 liter air hingga hampir mendidih. Masukkan 1 kg pati ganyong ke dalam air panas tersebut sambil terus diaduk supaya jangan menggumpal. Jika terlalu kental, dapat ditambahkan air panas hingga menjadi bubur encer. Tambahkan 75 gram minyak goreng (agar mie ganyong tidak lengket). Didihkan selama 10 s/d 15 menit agar tanak. Angkat, lalu lapiskan tipis-tipis pada daun pisang yang sudah disiapkan. Jemur di bawah sinar matahari hingga 5 s/d 6 jam. Jika sudah nampak kering, pisahkan lapisan mie ganyong dari daun pisang. Diamkan lembaran mie ganyong tersebut selama 10 hingga 15 jam. Iris lembaran mie ganyong tersebut hingga membentuk mie. Jemur di bawah sinar matahari hingga kering. Ikat dengan tali, atau langsung dapat dikemas.

BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian kami akan terbagi menjadi beberapa tahap: 1. Survey ke Purbalingga untuk mendapatkan data jumlah produksi mie ganyong per harinya, kondisi proses produksi mie ganyong serta pengaruhnya terhadap kualitas mie ganyong yang diproduksi, kelayakan ekonomi mie ganyong, dan minat pasar terhadap mie ganyong. 2. Analisis kualitas mie ganyong produksi Purbalingga untuk mengetahui kandungan gizi (terutama kalsium dan fosfor) dan sifat organoleptis mie ganyong. Analisis ini dilakukan menggunakan instrumen kimia dan uji organoleptis dengan responden masyarakat kota Bandung. 3. Percobaan skala laboratorium yang diawali dengan pembuatan tepung dari ganyong, kemudian dilanjutkan dengan pembuatan mie untuk mengetahui proses produksi yang menghasilkan mie ganyong dengan kualitas terbaik. 4. Melakukan analisis akhir terhadap mie ganyong yang optimum, baik secara kualitas maupun kelayakan ekonominya. A. Alat dan Bahan 1. Bahan a. Mie ganyong Purbalingga Mie ganyong yang berasal dari Purbalingga ini kami jadikan sebagai patokan awal. b. Umbi ganyong Umbi ganyong yang akan kami gunakan dalam penelitian kami adalah umbi ganyong yang berasal dari Pangandaran. c. Bahan baku pendukung mie Semua bahan baku yang kami gunakan di dalam penelitian kami adalah bahan-bahan food grade dengan kualitas standar yang dijual di pasaran. • • • • Telur Minyak goreng Air Garam

a. Sampel mie ganyong yang sudah diproduksi

Mie ganyong yang akan dianalisis kualitasnya ini sudah diproduksi di Purbalingga. b. Bahan-bahan pendukung Bahan-bahan pendukung ini adalah bahan-bahan sekali pakai seperti air, plastik, dan lain-lain. 2. Alat a. Peralatan pembuatan pati ganyong Pembuatan pati ganyong ini akan menggunakan peralatan-peralatan sederhana seperti pemarut, pisau, dan lain-lain. b. Peralatan pembuatan mie ganyong • • • • • Panci sebagai media tempat pencampuran. Pengaduk sebagai agitator yang mempercepat pembentukan adonan sesuai keinginan. Kompor sebagai pemanas yang mempercepat pembentukan adonan sesuai keinginan. Oven sebagai pengering adonan mie ganyong. Alat penggiling dan pemotong adonan berfungsi untuk membentuk mie sesuai keinginan. a. Peralatan pendukung lainnya Peralatan yang mendukung penelitian kami misalnya adalah ember, wadah untuk menyimpan ganyong, dan lain-lain. A. Variabel Percobaan Beberapa variasi yang akan kami lakukan dalam percobaan kami adalah: 1. Variasi umbi ganyong Mie ganyong asal Purbalingga yang kami analisis ini menggunakan pari dari umbi ganyong asal Purbalingga. Karena itu, pada variasi ini, kami hanya akan mengganti umbinya menjadi umbi yang berasal dari Pangandaran. 2. Variasi penambahan telur Mie ganyong asal Purbalingga yang kami analisis ini tidak menambahkan telur di dalam adonanannya. Karena itu, variasi yang akan kami lakukan adalah: a. Resep lama dengan penambahan telur sebanyak 1 butir b. Resep lama dengan penambahan telur sebanyak 2 butir c. Resep lama dengan penambahan telur sebanyak 2 kuning telur dan 1 putih telur

3. Variasi penambahan minyak goreng Mie ganyong asal Purbalingga yang kami analisis ini menambahkan sebanyak 75 gram minyak goreng per 1 kg pati ganyong. Karena itu, variasi yang akan kami lakukan adalah: a. Resep lama dengan penambahan 25 gram minyak goreng b. Resep lama dengan penambahan 50 gram minyak goreng c. Resep lama dengan penambahan 100 gram minyak goreng 4. Variasi metode pengeringan Mie ganyong asal Purbalingga yang kami analisis ini melakukan pengeringan dengan sinar matahari selama 15-16 jam. Karena itu, variasi yang akan kami lakukan adalah: a. Resep lama dengan pengeringan langsung menggunakan oven b. Resep lama dengan pengeringan sinar matahari selama 9-10 jam dilanjutkan dengan pengeringan oven c. Resep lama dengan pengeringan sinar matahari selama 2-3 jam dilanjutkan dengan pengeringan oven A. Tahap-Tahap Penelitian 1. Survey Untuk memperoleh data yang terbaru dan akurat, penelitian ini membutuhkan survey ke beberapa tempat, antara lain: a. Tempat Pembuatan Mie Ganyong di Purbalingga Survey ke tempat pembuatan mie ganyong di Purbalingga dilakukan untuk memperoleh data berupa: • • • Jumlah produksi rata-rata mie ganyong per hari Kondisi produksi mie ganyong Keuntungan produksi mie ganyong per hari

a. Pasar Tradisional Purbalingga Survey ke beberapa pasar tradisonal di Purbalingga ini bertujuan untuk memperoleh data: • • Minat masyarakat Purbalingga terhadap mie ganyong Konsumsi rata-rata per bulan mie ganyong

a. Supermarket di Bandung Survey ke sejumlah supermarket di kota Bandung ini bertujuan untuk memperoleh data:

• •

Konsumsi masyarakat terhadap produk dengan bahan baku yang lain dari biasanya Kesiapan supermarket untuk mendistribusikan mie ganyong

1. Analisis Kualitas Mie Ganyong Purbalingga a. Pembelian bahan baku Bahan baku yang digunakan adalah sampel mie ganyong asal Purbalingga. b. Analisis kandungan gizi Beberapa kandungan yang akan dianalisis di antaranya adalah kandungan kalsium dan fosfor. Analisis dilakukan secara kuantitatif menggunakan analisis spektrofometri di laboratorium LIPI. c. Analisis kualitas tekstur dan rasa Analisis kualitas tekstur dan rasa mie ganyong sampel dilakukan menggunakan uji organoleptis menggunakan responden yang berasal dari kota Bandung. 2. Percobaan Skala Laboratorium a. Pembelian bahan baku Untuk umbi ganyong didapat dengan pemesanan langsung dari daerah Pangandaran yang masih banyak menanam umbi tersebut. Sementara itu, bahan-bahan lain seperti minyak goreng, telur, dan garam dapat dibeli di supermarket dan pasar tradisional di Bandung. b. Pembuatan pati Umbi ganyong diparut kemudian dilarutkan dalam sejumlah tertentu, kemudian diendapkan lalu filtrat disaring dan dikeringkan dengan pemanasan matahari. c. Perebusan mie ganyong Selanjutnya, dilakukan pembuatan mie ganyong. Tepung ganyong yang berasal dari pati ganyong ini dicampurkan ke dalam air mendidih dan diaduk hingga mencapai kekentalan tertentu. d. Penambahan minyak goreng Saat dilakukan pendidihan, dilakukan penambahan minyak goreng. Hal ini dilakukan agar mie ganyong tidak lengket. Jumlah minyak goreng yang ditambahkan divariasikan untuk kemudian dianalisis kualitas mie ganyong berdasarkan variasi tersebut. e. Penambahan telur

Saat dilakukan pendidihan, dilakukan pula penambahan telur. Hal ini dilakukan agar mie ganyong memiliki kandungan gizi dan elastisitas yang lebih baik. Jumlah telur yang ditambahkan divariasikan untuk kemudian dianalisis kualitas mie ganyong berdasarkan variasi tersebut. f. Pengeringan adonan mie Setelah adonan selesai direbus, adonan tersebut dibuat tipis-tipis dan dikeringkan. Pengeringan ini divariasikan metodenya untuk kemudian dianalisis kualitas mie ganyong berdasarkan variasi tersebut. g. Pembentukan mie Adonan mie yang sudah kering kemudian diiris sesuai bentuknya. Pengirisan ini menggunakan pisau dan cetakan mie. 3. Analisis produk-produk mie ganyong akhir Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan data kondisi produk-produk akhir sebagai pembanding dengan kondisi awal. Beberapa analisis yang akan kami lakukan adalah: a. Analisis kandungan gizi Seperti analisis sampel, analisis kandungan gizi ini juga dilakukan di laboratorium LIPI Bandung. b. Analisis tekstur dan rasa Analisis ini juga dilakukan dengan uji organoleptik menggunakan responden yang berasal dari kota Bandung. c. Analisis kelayakan ekonomi Selain dua analisis lain, dilakukan pula analisis kelayakan ekonomi dari produk-produk mie ganyong.

BAB IV BIAYA PENELITIAN
1. Survey (pulang-pergi): • Supermarket • Posdaya Majasari Purbalingga • Pasar tradisional Purbalingga

: Rp 100.000,00 : 3 x Rp 300.000 = Rp 900.000,00 : Rp 100.000,00

1. Percobaan Skala Lab a. Penyiapan bahan baku
• • •

Pembelian umbi ganyong Transport dari Pangandaran Pembelian mie ganyong sampel

: 100 kg x Rp 5.000 = Rp 500.000,00 : Rp 150.000,00 : Rp. 200.000,00 : Rp 200.000,00 : 6 x Rp 50.000 = Rp 300.000,00 : 5 x Rp 20.000,00 = Rp 100.000,00 : Rp 300.000,00 : Rp 250.000,00 : Rp 100.000,00

a. Pencucian • Air (80 L) • Ember

a. Pengupasan kulit
• Pisau • Sewa mesin parut a. Pengambilan Pati b. Pembuatan Tepung

c. Pembuatan Mie • Laboratorium Teknologi Pangan : Rp 200.000,00 1. Analisis Kualitas Mie Ganyong Purbalingga dan Mie Ganyong yang Divariasikan a. Analisis Kandungan Gizi di LIPI • • • • • • • Mie Ganyong Purbalingga Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3 Variasi 4 Fotokopi kuesioner responden Distribusi kuesioner : Rp 50.000,00 : Rp 50.000,00 : 3 x Rp 50.000,00 = Rp 150.000,00 : 3 x Rp 50.000,00 = Rp 150.000,00 : 3 x Rp 50.000,00 = Rp 150.000,00 : Rp 50.000,00 : Rp 100.000,00

a. Analisis Tekstur dan Rasa

1. Dokumentasi dan Laporan
• Kertas (untuk analisis dan pengumpulan data) : 1 rim x Rp40.000,00

• Pencetakan laporan • Penjilidan laporan • Penggandaan laporan • Dokumentasi

: 50 lembar x Rp500,00/lembar = Rp25.000,00 : 5 x Rp10.000,00 = Rp50.000,00 : 5 x Rp10.000,00 = Rp50.000,00 : Rp 150.000,00

Total Biaya Untuk Penelitian ini adalah Rp 4.415.000,00

BAB V PELAKSANAAN PROGRAM 1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu dan tempat pelaksanaan program penelitian ini akan disajikan dalam tabel berikut ini dan diurutkan sesuai dengan tahap-tahap penelitian pada bab III. No. 1 Rincian Kegiatan Survey Posdaya Majasari Purbalingga dan pembelian mie ganyong sampel serta bahan baku mie Supermarket 2 Percobaan skala lab 2 juli 2010 3-5 juli 2010 Bandung Waktu 29-30 juni 2010 Tempat Purbalingga Keterangan

• • • • • • •

a. Pembelian bahan ganyong pemesanan a. Pembuatan pati 1-5 Agustus Pencucian Pengupasan Pemarutan Penambahan air Penyaringan Pengeringan a. Analisis kandungan gizi sampel dan kualitas tekstur mie ganyong sampel b. Pembuatan mie 20 September ganyong dengan beberapa variabel 14 Oktober 2010 9-11 Agustus 2010 2010

Balubur

LIPI

Laboratorium Teknologi Pangan

c. Analasis kandungan gizi sampel dan kualitas tekstur mie ganyong

3-21 Oktober 2010

LIPI

DAFTAR PUSTAKA http://www.deptan.go.id/ditjentan/admin/rb/Ganyong.pdf David, Harvey. Modern Analytical Chemistry. 2000. USA: The McGraw Hills Company. Day, R.A.. & Underwood, A.L. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. 2001. Jakarta: Penerbit Erlangga. Fellows, P. Food Processing Technology: Principles and Practice Second Edition. 2000. Boca Raton, FL: CRC Press

LAMPIRAN BIODATA KETUA KELOMPOK Nama NIM TTL Alamat Asal Alamat Bandung No Telp Program Studi Fakultas/Sekolah Semester : Lin Hofa Nurul Alifah : 10708035 : Garut, 6 September 1990 : Jl. Hasan Arif No.425 Desa Sukaratu Kec. Banyuresmi Garut : Jl. Kiaracondong No. 279 A Bandung : 085221509509 : Sains dan Teknologi Farmasi, ITB : Farmasi : IV SLTPN I Banyuresmi SMAN I Tarogong Kidul Sains dan Teknologi Farmasi ITB

Riwayat Pendidikan : SDN Sukaratu II

BIODATA ANGGOTA KELOMPOK Nama NIM TTL Alamat Asal Alamat Bandung No Telp Program Studi Fakultas Semester : Lia Qurrata Akyuni : 10708015 : Medan, 14 Maret 1991 : Jl. H. Komarudin Gg. Nitiuda No. 24 Rajabasa, Bandar Lampung : Jl. Pelesiran No. 24 Bandung : 085664930819 : Sains dan Teknologi Farmasi, ITB : Farmasi : IV SLTPN 2 Bengkulu SMAN 2 Bengkulu SMAN 2 Bandar Lampung Sains dan Teknologi Farmasi ITB

Riwayat Pendidikan : SDN 1 Langsa, Aceh Timur

BIODATA ANGGOTA KELOMPOK

Nama NIM TTL Alamat Asal Alamat Bandung No Telp Program Studi Fakultas Semester

: Mae Lutfiyah : 10708082 : Cirebon, 20 Mei 1990 : Desa Sibubut No.20 Rt.05 Rw.02 Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon 45164 : Jl. Taman Hewan No. 164/56 Kelurahan Lebak Siliwangi Kecamatan Coblong, Bandung 40132 : 087829506795 : Sains dan Teknologi Farmasi, ITB : Farmasi : IV SLTP N 1 Gegesik SMA N 1 Cirebon Sains dan Teknologi Farmasi, ITB

Riwayat Pendidikan : SDN Sibubut, Kabupaten Cirebon

BIODATA ANGGOTA KELOMPOK Nama : Nadia Hana Soraya

NIM TTL Alamat Asal Alamat Bandung No Telp Program Studi Fakultas Semester

: 13008011 : Jakarta, 5 Januari 1992 : Jl. Niaga 7 G-15, Kemang Pratama 1, Bekasi 17116 : Jl. Pamagersari no 4, Bandung 40252 : 08572012214 : Teknik Kimia : Fakultas Teknologi Industri : IV SMPI Al Azhar 8, Bekasi SMAN 3 Bandung Teknik Kimia, ITB

Riwayat Pendidikan : SD Bani Saleh 2, Bekasi

BIODATA ANGGOTA KELOMPOK Nama NIM : Hasnah Sakinah : 13408094

TTL Alamat Asal Alamat Bandung No Telp Program Studi Fakultas Semester

: Bandung, 16 Juni 1990 : Jl. Cijerah I No. 41 RT 01 RW 05 Bandung 40213 : Jl. Cijerah I No. 41 RT 01 RW 05 Bandung 40213 : 08986467025 : Teknik Industri : Fakultas Teknologi Industri : IV

Riwayat Pendidikan : SDN Perumnas Cijerah V, Bandung SDN Tunas Harapan II, Badnung SMP Negeri 1, Bandung SMA Negeri 3, Bandung

PERSONALIA PENELITIAN (LAMPIRAN) 1. Biodata Peneliti • Ketua Pelaksana Penelitian

a. Nama Lengkap b. NIM c. Prodi/Fakultas/Sekolah d. Waktu untuk kegiatan Peenelitian • Anggota Pelaksana Anggota 1 a. Nama Lengkap b. NIM a. Prodi/Fakultas/Sekolah a. Waktu untuk kegiatan Peenelitian Anggota 2 a. Nama Lengkap b. NIM a. Prodi/Fakultas/Sekolah a. Waktu untuk kegiatan Peenelitian Anggota 3 a. Nama Lengkap b. NIM c. Prodi/Fakultas/Sekolah d. Waktu untuk kegiatan Peenelitian Anggota 4 a. Nama Lengkap b. NIM c. Prodi/Fakultas/Sekolah d. Waktu untuk kegiatan Peenelitian

: Lin Hofa Nurul Alifah : 10708035 : Sains Teknologi Farmasi/Sekolah Farmasi : 16 jam/minggu

: Lia Qurrata Akyuni : 1070815 : Sains Teknologi Farmasi/Sekolah Farmasi : 16 jam/minggu : Mae Lutfiyah : 10708082 : Sains Teknologi Farmasi/Sekolah Farmasi : 16 jam/minggu : Nadia Hana Soraya : 13008011 : Teknik Kimia/Fakultas Teknologi Industri : 16 jam/minggu

: Hasnah Sakinah : 13408094 : Teknik Industri/Fakultas Teknologi Industri : 16 jam/minggu

BIODATA DOSEN PEMBIMBING 1. Nama lengkap dan gelar 3. Jabatan fungsional 4. Jabatan struktural 5. Fakultas/Program studi 6. Perguruan tinggi : Elfahmi, Ph.D : Dosen Sekolah Farmasi ITB : : Farmasi : Institut Teknologi Bandung

2. Golongan, pangkat dan NIP :

7. Bidang keahlian

: biologi Farmasi

8. Waktu untuk kegiatan PKM :

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->