P. 1
Makalah Aspek Pajak Dalam Bisnis Restoran

Makalah Aspek Pajak Dalam Bisnis Restoran

|Views: 4,899|Likes:

More info:

Published by: septiani silvia mega on May 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia, akan diikuti pula dengan kebijakan- kebijakan dibidang pajak.Oleh karena itu,pajak merupakan fenomena yang selalu berkembang di masyarakat.Masalah perpajakan tidaklah sederhana, dalam era globalisasi inilah cepat atau lambat tidak dapat di tolak dan harus menerima keberadaan globalisasi ekonom serta yang paling penting yaitu mengambil kesempatan yang dapat timbul akibat adanya perubahan ekonomi.Salah satu bagian yang dibahas adalah masalah perpajakan Masalah perpajakan adalah tidaklah hanya sekadar menyerahkan sebagian penghasilan atau kekayaan seseorang kepada Negara, tetapi terlihat bermacam – macam tergantung kepada pendekatannya.dalam hal inilah pajak dapat ditinjau dari berbagai aspek, khusunya aspek bisnis dalam pajak,dan makalah kami akan membahas aspek bisnis dalam pajak restoran Industri Makanan & Minuman(F&B) atau Restaurant adalah sebuah industri yang Luar Biasa & hampir tidak pernah mati. Industri yang penuh potensi, prospek, berkembang dengan sangat cepat, dan merupakan Bisnis pembawa Kesuksesan bahkan Kemakmuran (tentu saja, jika direncanakan, dikelola dan dioperasikan dengan baik). Bagaimanapun juga, sangat sedikit Bisnis Restaurant yang akhirnya Sukses.

1

Kebanyakan Bisnis Restaurant gagal pada tahun pertama operasionalnya. Ada banyak opini dan alasan yang ada seperti mengapa hal ini dapat terjadi? Lebih dari 25-33% dari Industri Restoran menuutup usahanya dan mendeklarasikan kebangrutannya dibawah 12 bulan sejak operasional pertamanya. Tentu saja ini sangat membuat para pebisnis makanan bertanya-tanya mengapa ini terjadi dan apa yang bisa kita lakukan untuk lebih mengerti Resiko, Tantangan, Sebab, Realitas dan Detail-detail yang rumit tentang membuka, menjalankan, dan sampai pada akhirnya mendapatkan Restaurant yang Sukses. Dewasa ini sektor Bisnis Makanan semakin berkembang. Memiliki pengertian & filosofi mendasar dan penghargaan akan makanan, gaya hidup, terlebih ‘Dine Out’ dalam gambaran besar sangatlah penting dalam menuju kesuksesan sebuah Bisnis Restoran. Setiap aspek dari bisnis dan operasional, kepuasan pelanggan, hubungan Profit & Lost, ukuran sistem kendali, standarisasi dan kebanggaan dari pemilik semuanya harus terlihat, sebagaimana kegigihan, ketangguhan, perhatian yang teliti akan detail dan setiap keputusan bahkan pada hal yang kecil sekalipun.

Beberapa dari aspek ini mencakup Manajemen Bisnis Umum (General Business Management), Administrasi, Organisasi, Pengawasan (Supervising), Pengendalian (Controlling), Prosedur Akuntansi, Pricing, Promosi, Kontrak dan Proteksi dan Asuransi, Regulasi Perpajakan dimana bisnis tsb berada & berfungsi

I.2 Maksud dan tujuan Tujuan

2

Tujuan dilaksanakanya studi kelayakan ini adalah untuk mengetahui apakah dana yang akan ditanamkan dalam Bisnis restoran “ Voresto “ini menguntungkan dan Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah perpajakan dan tentunya untuk mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai aspek pajak dalam bisnis Restoran,yang di dalamnya membahas tentang apa itu pajak restoran,tarif yang dikenakan dalam pajak restoran tersebut serta mengetahui kasus-kasus yang terdapat dalam pajak restoran.yang akan kami bahas secara detail dalam makalah ini.dari segi finasial dapat dipertanggungjawabkan dengan baik atau tidak.

Manfaat Manfaat yang diharapkan dari studi kelayakan ini adalah: 1. tersusunya hasil studi kelayakan dan rekomendasi studi atas rencana investasi dalam Bisnis restoran sehingga dapat digunakan sebagai alat pengambilan kebijakan dan keputusan-keputusan sehubungan dengan rencana investasi tersebut; 2. tersusunya konsep operasional Bisnis restoransebagai langkah awal operasional usaha.

BAB II PEMBAHASAN PAJAK RESTAURANT
A. Dasar Hukum 1. UU. No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah & Retribusi Daerah

2. UU. No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas UU. No.18 Tahun 1997 3. PP No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah
3

4. KMDM No. 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah 5. Perda No. 16 Tahun 2003 tentang Pajak Restoran B. Obyek Pajak Obyek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan dengan pembayaran di restoran, rumah makan, depot, bar, kafe dan atau nama lainnya. Termasuk penyedia makanan/minuman yang diantar atau dibawa pulang C. Subyek Pajak dan Wajib Pajak 1. Subyek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan Restoran 2. Wajib pajak restoran adalah pengusaha restoran

D. Kewajiban Wajib Pajak 1. Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD (Surat Pemberitahuan Pajak Daerah) 2. SPTPD harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak 3. SPTPD setelah diisi harus disampaikan kepada Dinas Pendapatan Kab. Gresik

E. Pengenaan Pajak 1. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah pembayaran yang dilakukan kepada Restaurant 2. Tarip pajak ditetapkan sebagai berikut : a. Penerimaan pembayaran setiap bulan 0 s/d Rp. 250.000 sebesar 0%
4

b. Penerimaan pembayaran setiap bulan 251.000,- s/d Rp. 1.000.000 sebesar 5% c. Penerimaan pembayaran setiap bulan diatas 1.000.000 sebesar 10% 3. Rumus perhitungan pajak adalah tarip pajak kali jumlah pembayaran yang dilakukan pada restaurant F. Masa Pajak dan Pajak Terutang 1. Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan Takwin 2. Pajak Terutang dalam masa pajak, terjadi saat pelayanan Hotel dan Restoran G. Sistem Pembayaran Pembayaran dilakukan di Kas Daerah melalui Bendaharawan Khusus Penerima Dinas Pendapatan Kab. Gresik dengan ketentuan : 1. Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas

2. Pembayaran dilakukan paling lama 30 hari sejak ketetapan diterima 3. Pembayaran dilakukan sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD H. Sanksi Administrasi 1. Tidak atau kurang dibayar dikenakan bunga 2% sebulan, setelah lewat 30 hari sejak ketetapan diterima 2. Kekurangan pajak terutang dikenakan kenaikan 100% dari tambahan jumlah pajak apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap. 3. Kekurangan atau keterlambatan pembayaran dikenakan bunga 2% per bulan dari pokok pajak untuk jangka waktu 24 bulan sejak terutangnya pajak 4. Tidak menyampaikan SPTPD dalam jangka waktu tertentu dikenakan bunga 2% sebulan dari pokok pajak tahun lalu dengan melakukan pemeriksaan lapangan untuk jangka waktu paling lama 24 bulan sejak saat terutangnya pajak

5

A. Sanksi Pidana 1. Wajib Pajak karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipidana dengan pidana kurungan 3 bulan atau denda paling banyak 2 kali jumlah pajak yang terutang. 2. Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar dapat dipenjara 3 tahun atau denda paling banyak 4 kali jumlah pajak yang terutang.

Pajak Restoran Naik 300%

SERANG – Sejumlah pengelola rumah makan di Jalan Ahmad Yani mempertanyakan kenaikan pajak restoran yang mencapai 300 persen. Kusnanto, seorang pemilik salah satu rumah makan, mengungkapkan, bulan Januari lalu membayar pajak restoran sebesar Rp 150 ribu. Saat masih dikelola Pemkab hanya Rp 50 ribu. “Saya bingung kenapa saat menjadi kota malah jadi mahal. Mereka juga tak bisa menjelaskan soal kenaikan itu. Saya tak mengerti bagaimana perhitungannya,” ujar Kusnanto di rumah makan miliknya, Senin (2/3). Dengan kenaikan pajak yang mencekik, ia mengaku, keberatan. Ia juga pernah melayangkan surat permohonan keringanan pajak ke Pemkot, namun tak ditanggapi. Kepada sejumlah wartawan, Kusnanto membeberkan, surat tanda pembayaran pajak antara yang dikelola Pemkot dan Pemkab Serang. Surat dari Pemkab tercantum aturannya, sementara dari Pemkot tidak ada. Selain membayar pajak, setiap bulannya harus membayar uang retribusi sampah ke Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Serang sebesar Rp 25 ribu. “Saya juga harus

6

membayar uang kebersihkan kampung sebesar Rp 30 ribu. Belum lagi gaji pegawai dan lainnya. Bisa-bisa gulung tikar,” ungkapnya. Lugina Kusuma, pemilik rumah makan Damai, juga mengaku keberatan dengan nilai pajak restoran saat ini. Saat masih dikelola Pemkab membayar Rp 75 ribu. Namun, bulan Februari harus mambayar Rp 300 ribu. Padahal, bulan Januari lalu Rp 200 ribu. “Bagaimana perhitungannya. Saya tak mengerti,” ungkapnya.

Saat ia dan Kusnanto menanyakan ke Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD) Kota Serang, mereka mendapat penjelasan dari pejabat DPKD bahwa saat ini sedang masa transisi dan Kota Serang sedang membutuhkan anggaran. Kepala Seksi Pendaftaran dan Pendataan DPKD Kota Serang Rachmatullah menjelaskan, sesuai dengan Perda No 15 Tahun 2008 tentang Pajak Retoran, pajak restoran sebesar 10 persen dari omzet. Yang dimaksud restoran adalah kantin, warung makan, atau kafe. Idealnya, menurut dia, para pengusaha restoran menghitung, melaporkan, serta membayarkannya. Tapi pada kenyataannya, ada juga beberapa pengusaha yang membandel tak melaporkan omzet dan nilai pajaknya. “Kalau sudah seperti itu, omzet akan ditetapkan sesuai jabatan,” ujarnya. Setiap restoran ditenggat hingga tanggal 15 setiap bulannya untuk melaporkan omzet serta besaran pajak. Apabila hingga tanggal 15 tak ada laporan, Pemkot akan membuat besaran pajak restoran tersebut dengan 3 cara penetapan, yakni hasil kas opname, hasil pengamatan langsung di lokasi usaha wajib pajak, serta data pembanding. Diungkapkan, ada sejumlah restoran yang besaran pajaknya harus dihitung DPKD. “Oleh karena itu, kami meminta kesadaran dari para pengusaha restoran untuk melaporkan,” pinta Rachmatullah. Terkait besaran pajak yang berubah, ia menjelaskan, besaran pajak setiap restoran tiap bulannya fluktuatif disesuaikan dengan omzet.
7

Kepala Bidang Pendapatan DPKD Kota Serang Ahmad Yani mengatakan, para pengusaha telah masuk menjadi wajib pajak bukan wajib pungut, sehingga mereka mempunyai tiga kewajiban, yakni menghitung, melapor, serta menyetorkan. “Memang secara langsung mereka tak merasakan manfaatnya, tetapi masyarakat luas yang tidak mampu. Dengan adanya pajak, maka pemerintah dapat memberikan subsidi bagi masyarakat,” ujarnya.

Kata dia, tak ada salahnya apabila harga makanan ditambah pajak seperti restoran yang mencantumkan pajak pada bill. “Kan tak ada bedanya, antara Rp 11.000 , misalnya dengan Rp 10.000 ribu plus pajak 10 persen,” terang Yani. Untuk itu, ia berharap kepada para wajib pajak mempunyai kesadaran untuk melaporkan, bukan DPKD yang menetapkan pajak sesuai jabatan. Yani mengungkapkan, pihaknya telah membuat banner atau alat peraga sosialisasi pajak restoran. Terpisah, Kepala Bagian Hukum Pemkot Serang Ipiyanto mengungkapkan, sosialisasi perwal serta perda tentang pajak restoran memang belum dilakukan kepada wajib pajak. Dikatakan, alasan utama belum disosialisasikan kedua peraturan itu yakni karena belum adanya anggaran. Kata dia, setelah anggaran turun, maka kedua peraturan tersebut akan disosialisasikan langsung tatap muka dengan para pengusaha dan masyarakat, serta melakukan sosialisasi baik itu melalui koran atau radio. “Sebenarnya para pengusaha tak perlu cemas membayar pajak, karena pajak tersebut dibebankan kepada masyarakat yang membeli makanan,” urai Ipiyanto. Sebelum anggaran turun, pihaknya akan bekerjasama dengan Satpol PP serta DPKD untuk memasang iklan layanan masyarakat di papan reklame yang belum terpakai untuk sosialisasi.

8

BAB III PEMBAHASAN PAJAK HOTEL DAN RESTORAN ( Perda No.9 Th 1998 ) A. Pengertian Restoran adalah tempat menyantap makanan atau minuman yang disediakan dengan pungutan bayaran, tidak termasuk usaha jasa boga atau katering. B. Objek Pajak Pajak Hotel dan Restoran dipungut atas pembayaran pelayanan di Hotel atau Restoran. Objek Pajak hotel dan Restoran adalah pelayanan yang disediakan dengan pembayaran pelayanan di Hotel dan atau Restoran meliputi : 1. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek. 2. Fasilitas pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan. 3. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel dan bukan untuk umum 4. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. 5. Penjualan makanan dan minuman ditempat yang disertai dengan fasilitas penyantapannya, termasuk yang di bawa pulang. A. Subjek Pajak Subyek Pajak adalah Orang Pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada Restoran . B. Persyaratan Pembayaran Bulanan/Setoran Masa Pajak hotel dan Restoran : 1. Mengisi formulir Surat Setoran pajak Daerah ( SSPD ) 2. Mengisi formulir Surat Pemberitahuan Pajak Daerah ( SPTPD ) bulan.... tahun... 3. Wajib Pajak membayar Pajak Hotel dan Restoran ke Kas Daerah.
4. Melaporkan ke Kantor Suku Dinas Pendapatan Daerah yang bersangkutan

pada seksi penagihan dengan melampirkan bukti penerimaan bulanan.
9

A. Tarif Pajak Tarif pajak hotel dan restoran ditetapkan sebesar 10 %. B. Cara Menghitung Pajak Pajak Hotel dan Restoran dihitung dengan mengalikan tarif pajak 10% dengan dasar pengenaan pajak C. Wajib Daftar Usaha Wajib pajak wajib mendaftarkan usahamya kepada Dinas Pendapatan Daerah dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 hari sebelum dimulainya kegiatan usaha untuk dikukuhkan dan diberi Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) D. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) • • • Setiap wajib pajak wajib mengisi SPTPD, kecuali ditetapkan lain oleh Gubernur Kepala Daerah SPTPD diisi dengan benar, jelas dan lengkap serta ditanda tangani wajib pajak atau kuasanya. SPTPD harus disampaikan kepada Dinas Pendapatan Daerah selambatlambatnya 15 hari setelah berakhirnya masa pajak. Pajak yang terutang harus dilunasi selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya dari masa pajak. Pembayaran dilakukan pada Kantor Kas Daerah.

A. Pembayaran Pajak • •

A. Sanksi Administrasi Dalam jangka waktu lima tahun sesudah saat terutangnya pajak, Gubernur Kepala Daerah dapat menerbitkan:

A. Surat Ketetapan pajak Daerah Kurang Bayar ( SKPDK ) dengan sanksi administrasi berupa bunga 2 % sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau lambat dibayar untuk paling lama 24 bulan sejak terutangnya pajak, apabila :

10

1. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak terutang,

tidak atau kurang dibayar 2. SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu 15 hari setelah berakhirnya masa pajak dan setelah ditegur secara tertulis.
B. SKPDKB secara jabatan dengan dikenakan sanksi administrasi berupa

kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak ditambah bunga 2% sebulan, dihitung dari pajak yang kurang dibayar atau terlambat dibayar untuk paling lama 24 bulan sejak saat terutangnya pajak, apabila : kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. C. SKPDKBT apabila ditemukan data baru dan atau datayang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang dengan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

A. Sistem Pajak Restoran :

Self assessment atau wajib pajak wajib menghitung, melaporkan dan membayar pajak yang terutang sendiri. B. Kasus Pajak Masih Ada Restoran yang akan Disegel Jakarta–Menyusul penyegelan enam restoran karena menunggak pajak Rp 3,4 miliar, Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jakarta mengisyaratkan kemungkinan masih adanya restoran lain yang akan disegel dalam waktu dekat. “Kemungkinan ada restoran lain yang akan menyusul disegel,” kata Kepala Subdinas Pemeriksaan Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Jakarta Iwan Djumhana di Jakarta, Kamis (20/11) siang.

Hanya saja, katanya, pihaknya masih dalam tahap pendataan dan penelitian. “Pada saatnya, kalau ada yang harus disegel, akan dilaksanakan dan disampaikan secara terbuka,” katanya.

11

Dia mengungkapkan, enam restoran disegel karena menunggak pajak Rp 3,4 miliar. Tragisnya lagi, izin usaha restoran tersebut sudah dua tahun tidak diperpanjang dan Undang-undang Gangguan (UUG) sudah habis masa berlakunya. Iwan menyebutkan, enam restoran yang merupakan kelompok Gang-gang Sulai yang disegel itu berlokasi di Tis Square MT Haryono Jakarta Selatan, Pondok Indah Plaza I Jakarta Selatan, Auto Mall SCBD Sudirman Jakarta Selatan, Jalan Cideng Timur 65 Jakarta Pusat, Mangga Dua Square Jakarta Pusat, dan La Piazza Kelapa Gading Jakarta Utara. Menurutnya, selama ini berbagai upaya dan usaha sudah dilakukan sesuai dengan ketentuan. Bahkan, penagihan tunggakan pajak melalui kejaksaan pun sia-sia. Langkah yang sudah dilakukan tidak memberikan hasil dan yang bersangkutan tetap tidak membayar tunggakan sehingga akhirnya disegel. Secara keseluruhan, tunggakan keenam restoran itu berjumlah Rp 3,4 miliar, terdiri dari tunggakan tahun 2004 dan 2005 sebesar Rp 1,2 miliar, serta tahun 2007 dan 2008 sekitar Rp 2,2 miliar. Alasan yang dikemukakan pemilik usaha adalah tidak mempunyai uang. Padahal, usaha bisa jalan terus. Ketika dilakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata serta Dinas Ketenteraman dan Ketertiban (Tramtib) Jakarta, ternyata izin usaha keenam restoran itu telah mati selama dua tahun dan belum diperpanjang. Begitu juga dengan izin UUG. Tunggakan pajak tidak dibayar. Selain itu, izin usaha yang sudah habis tidak diperpanjang sehingga tidak ada pilihan lain selain disegel,'' kata Iwan. Ketika akan disegel, pemilik mulai membayar hampir Rp 1 miliar. Meski demikian, tidak membuat rencana segel dibatalkan atau tidak dilaksanakan. Segel jalan terus dan di lapangan terlaksana dengan baik tanpa ada hambatan.

Ada beberapa pemahaman dasar, mengapa Bisnis Restoran biasanya gagal. Dibawah ini hanyalah sebagian kecilnya :

12

- Ketidakmampuan beradaptasi terhadap Perubahan dan mengoptimalkan Peluang serta Persaingan - Kurangnya Pengalaman - Kurangnya Pengetahuan akan Bisnis Makanan dan Manajemen Operasional - Kurangnya Pemahaman akan diri sendiri dan dan orang lain, kesulitan-kesulitan hubungan kerja, jiwa kepemimpinan dan Kemampuan Interpersonal yang sangat diperlukan dalam pekerjaan. Bisnis Restoran selalu berubah, kompleks dan bukan tidak mungkin bisa “memakan” dan mengalahkan banyak pendatang baru yang tidak siap secara tak terduga. Banyak perusahaan makanan pendatang baru yang mencoba bergelut di bidang ini gagal dalam tahun pertamanya. Seperti yang diwartakan sebelumnya bahwa setiap penyedia jasa makanan yang memungut biaya jasa dari konsumen, bakal dikenakan pajak restoran. Tarifnya sebesar 10 persen, sebagaimana diatur dalam peraturan daerah (Perda) nomor 3 Tahun 2003. Dasar pemungutan pajak adalah jumlah yang dibayarkan kepada restoran atau omzet penjualan. Namun terkadang, banyak pengusaha rumah makan yang salah pengertian dalam pembayaran pajaknya. Kerap terjadi, jumlah pembayaran yang diterima dari konsumen terlebih dahulu dikurangi biaya operasional, setelah itu baru dikenakan pajak. Menurut Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Balikpapan Drs Fauzi, yang seperti itu tidak sesuai dengan aturan Perda, karena tarif sebesar 10 persen itu dasar pengaliannya merujuk jumlah yang dibayarkan konsumen tanpa ada potongan. Misalkan, kata Fauzi, konsumen menyantap makanan di suatu rumah makan dengan rincian : nasi putih Rp 2.000, ayam penyet Rp 15.000, jeruk hangat Rp
13

5.000. Jumlahnya Rp 22.000. Nah, pajak restorannya berarti 10 persen dari Rp 22.000, yakni Rp 2.200. Jadi konsumen yang kena beban pajak restoran itu harus membayar Rp 24.200. “Yang Rp 2.200 tadi yang harus disetorkan ke Dispenda sebagai kas daerah,” jelas Fauzi, kemarin. Karena itu, Fauzi berharap, untuk penetapan pajak secara taksasi dan penetapan pajak secara jabatan, maka sebaiknya pengusaha restoran sebagai wajib pajak memasukkan komponen pajak sebesar 10 persen dalam menetapkan harga makanan atau minumannya. Dengan demikian, pajak tidak menjadi beban, karena sesuai Perda pajak tersebut dibebankan ke konsumen.

BAB IV PENUTUP

IV. I Kesimpulan Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan pada makalah kami dapat kami simpulkan,bahwa pajak restoran memiliki tarif pajak 10% yang subjek pajaknya terdiri dari orang pribadi atau Badan yang melakukan pembayaran kepada Restoran wajib membayar pajak. Apabila subjek pajak tidak membayar pajak akan dikenakan sanksi administrasi dan sanksi pidana sesuai UndangUndang pajak dalam restoran. Pajak restoran sebagai sumber penerimaan Negara untuk menerima pengeluaran rutin dan juga digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Berarti, dengan pembangunan ini dibiayai masyarakat. Oleh

14

karena itulah upaya untuk meningkatkan penerimaan Negara dari sektor pajak sangatlah penting.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/aspek pajak dalam bisnis/ http://www.dispendabalikpapan.com/ http://www.wikipedia.com/ http://www.google.com/sistem pemungutan pajak/ http://www.google.com/kasus pajak restoran/

15

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->