P. 1
5kr1p51_Atreides

5kr1p51_Atreides

|Views: 12,629|Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Categories:Types, Research, Law
Published by: Agung Kurniawan on Jun 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak dalam

Pasal 2 menyebutkan, bahwa pengadilan anak adalah pelaksanaan kekuasaan

kehakiman yang berada di lingkungan peradilan umum. Ketentuan ini sudah

sejalan dengan ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun

1970 (penjelasan), bahwa kemungkinan dibukanya spesialisasi pengadilan anak di

lingkungan peradilan umum, ternyata benar-benar diwujudkan dengan

dibentuknya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak.

Jauh sebelum dibentuknya Undang-Undang Peradilan Anak, Pengadilan

Negeri telah menyidangkan berbagai perkara pidana yang terdakwanya anak-anak

atau remaja dengan menerapkan ketentuan-ketentuan yang ada dalam KUHP dan

KUHAP. Dengan mulai berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997

tentang Peradilan Anak, maka tata cara persidangan maupun penjatuhan hukuman

adalah berdasarkan Undang-Undang tersebut.

Dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak,

disebutkan bahwa pengertian anak nakal adalah :

a. Anak yang melakukan tindak pidana; atau
b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak,
baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan
hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat bersangkutan.

Dalam perundang-undangan tersebut juga diatur mengenai batasan usia

anak atau remaja yang melakukan kenakalan terutama yang menyebabkan

46

terjadinya kejahatan anak atau remaja. Batasan umur anak atau remaja tergolong

sangat penting dalam perkara pidana, hal ini karena dipergunakan untuk

mengetahui seseorang yang diduga melakukan kejahatan termauk kategori anak /

remaja atau dewasa. Mengenai batasan anak atau remaja di dalam Undang-

Undang Nomor 3 Tahun 1997 ini diatur dalam Pasal 4 ayat (1) dan (2), yakni :

1. Batas umur Anak Nakal yang dapat diajukan ke Sidang Anak adalah
sekurang-kurangnya 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapai 18 (delapan
belas) tahun dan belum pernah kawin.
2. Dalam hal anak melakukan tindak pidana pada batas umur sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dan diajukan ke sidang pengadilan setelah anak
yang bersangkutan melampaui batas umur tersebut, tetapi belum mencapai
umur 21 (dua puluh satu) tahun, tetap diajukan ke Sidang Anak.

Adanya penegasan mengenai batasan terhadap usia pelaku tindak pidana

berdasarkan pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak

tersebut akan menjadi pegangan bagi para petugas di lapangan, agar tidak terjadi

salah tangkap, salah tahan, salah sidik, salah tuntut, maupun salah mengadili,

karena menyangkut hak asasi seseorang.

Dalam batasan usia ini, menurut Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor

3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak bagi anak / remaja yang usianya di bawah

8 (delapan) tahun melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, maka bagi

anak / remaja tersebut diserahkan kepada penyidik untuk dilakukan pemeriksaan.

Mengenai ketentuan hasil pemeriksaan ini dijelaskan dalam Pasal 5 ayat (2) dan

(3) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Anak :

Ayat (2). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) masih dapat dibina oleh orang tua,
wali, atau orang tua asuhnya, penyidik menyerahkan kembali anak tersebut
kepada orang tua, wali atau orang tua asuhnya.
Ayat (3). Apabila menurut hasil pemeriksaan, Penyidik berpendapat bahwa anak
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak dapat dibina lagi oleh orang

47

tua, wali, atau orang tua asuhnya, Penyidik menyerahkan anak tersebut
kepada Departemen Sosial setelah mendengar pertimbangan dari
Pembimbing Kemasyarakatan.
Mengenai sanksi hukumnya, Undang-Undang Peradilan Anak telah

mengaturnya sebagaimana ditetapkan secara garis besar. Sanksi tersebut ada 2

(dua) macam berupa pidana dan tindakan. ’Terhadap Anak Nakal hanya dapat

dijatuhkan pidana dan tindakan yang ditentukan dalam Undang-Undang ini’.

Sanksi hukuman yang berupa pidana terdiri atas pidana pokok dan pidana

tambahan.

Dalam Pasal 23 diatur mengenai macam-macam pidana pokok yang dapat

dijatuhkan kepada Anak Nakal ialah :

a. pidana penjara;
b. pidana kurungan;
c. pidana denda; atau
d. pidana pengawasan.

Mengenai pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasal 23 ayat (3),

terdiri dari dua macam, yaitu :

1. Perampasan barang-barang tertentu, dan atau

2. Pembayaran ganti rugi.

Berdasarkan pada Undang-Undang No 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan

Anak, kepada anak / remaja nakal yang melakukan tindak pidana dapat pula

dijatuhkan tindakan :

a. mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuh;

b. menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan

latihan kerja; atau

48

c. menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial

Kemasyarakatan yang bergerak dibidang pendidikan, pembinaan, dan

latihan kerja.

Tindakan yang dijatuhkan sebagaimana putusan yang ditetapkan diatas

dapat disertai pula dengan memberikan teguran dan syarat tambahan yang

ditetapkan oleh hakim. Mengenai penjatuhan pidana, Undang-Undang Nomor 3

Tahun 1997 menetapkan bahwa penjatuhan pidana terdiri dari Pidana penjara,

Pidana Kurungan, Pidana Denda, dan penjatuhan Pidana Bersyarat.

Pasal 26 mengatur mengenai penjatuhan pidana penjara, sebagai berikut :

(1) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak Nakal sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf a, paling lama ½ (satu per dua) dari
maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa.
(2) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf
a, melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup, maka pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada
anak tersebut paling lama 10 (sepuluh) tahun.
(3) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf
a, belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana
yang diancam pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, maka
terhadap Anak Nakal tersebut hanya dapat dijatuhkan tindakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b.
(4) Apabila Anak Nakal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 huruf
a, belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun melakukan tindak pidana
yang diancam pidana mati atau tidak diancam pidana penjara seumur
hidup, maka terhadap Anak Nakal tersebut dijatuhkan salah satu tindakan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24.

Penjatuhan pidana kurungan berdasarkan putusan hakim yang dapat

dijatuhkan kepada anak / remaja yang melakukan kejahatan, hanya dapat

dijatuhkan paling lama ½ (satu per dua) dari maksimum ancaman pidana

kurungan yang ditetapkan bagi orang dewasa. Berbeda dengan penjatuhan Pidana

denda, dimana penjatuhan pidana denda ini paling banyak ½ (satu per dua) dari

49

maksimum ancaman pidana denda bagi orang dewasa. Apabila pidana denda

tersebut tidak dapat dibayar, maka diganti dengan wajib latihan kerja sebagai

pengganti denda paling lama 90 (sembilan puluh) hari kerja tidak lebih dari 4

(empat) jam sehari serta tidak dilaksanakan pada malam hari.

Pidana bersyarat dapat dijatuhkan oleh hakim, apabila pidana penjara yang

dijatuhkan terhadap anak nakal tersebut paling lama 2 (dua) tahun, dan

diberlakukan syarat umum dan syarat khusus. Dalam Pasal 29 Undang-Undang

Nomor 3 Tahun 1997 memberlakukan jangka waktu masa pidana bersyarat adalah

paling lama 3 (tiga) tahun, selama menjalani pidana bersyarat ini anak / remaja

nakal tersebut diawasi oleh jaksa dan dibimbing oleh Balai Pemasyarakatan yang

berstatus sebagai Klien Pemasyarakatan.

Dalam hal hakim menjatuhkan Pidana pengawasan, dapat dilakukan

kepada anak / remaja nakal tersebut paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama

2 (dua) tahun. Putusan mengenai penjatuhan Pidana penjara, Pidana kurungan,

Pidana denda, Pidana bersyarat, dan Pidana pengawasan ini disesuaikan dengan

ketentuan dalam Pasal 1 angka 2 huruf a mengenai anak nakal yang melakukan

tindak pidana. Mengenai penempatan anak / remaja nakal yang diputus oleh

hakim untuk diserahkan kepada negara, maka anak / remaja yang melakukan

tindak pidana tersebut ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak sebagai

Anak Negara.

50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->