P. 1
Ekonomi Politik Media- Komodifikasi pada Program Idola Cilik

Ekonomi Politik Media- Komodifikasi pada Program Idola Cilik

|Views: 1,685|Likes:
Published by Ayu Astria R A
Tulisan ini adalah sebuah gambaran secara teoritis mengenai komodifikasi dari program Idola Cilik. Berawal dari pemenuhan tugas dan ujian akhir smt. 4 untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa.
Tulisan ini adalah sebuah gambaran secara teoritis mengenai komodifikasi dari program Idola Cilik. Berawal dari pemenuhan tugas dan ujian akhir smt. 4 untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa.

More info:

Published by: Ayu Astria R A on Jun 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

“Komplikasi Komodifikasi dalam Program Idola Cilik (RCTI)” (Audiens, Konten dan Rating

)
Pendekatan Ekonomi Politik dalam Media Massa Pendekatan ekonomi politik memusatkan kajiannya pada bagaimana hubungan dominasi dan penguasa ekonomi bisa mempengaruhi institusi sosial lain, termasuk media massa. Hingga hubungan kepengaruhan tersebut dapat mempengaruhi sistem produksi, distribusi dan konsumsi media massa. “Political economy is the study of the social relations, particularly the power relations, that mutually constitute the productions, distribution, and consumption of resource, including communication resources”. (Mosco, 1996:2) Terdapat tiga konsep kunci dalam pendekatan ekonomi politik media massa. Yang pertama adalah komodifikasi, kedua spasialisai dan terakhir strukturasi. Spasialisasi memfokuskan pada bagaimana media massa menyebarkan produk-produk mereka (komoditas media massa) kepada seluas-luasnya pasar mereka dengan berbagai cara. Dapat dikatakan aksi ini adalah bentuk perpanjangan tangan dari korporat di dalam industri komunikasi. Spasialisasi dapat dilihat dari perkembangan korporasi tersebut dalam aset, pendapatan, keuntungan, pekerjanya atau pertukaran yang sering dilakukan dengan industry lain, dan lain-lain. Atau contoh yang kian muncul di Indonesia adalah integrasi yang dilakukan para pemilik industri, baik itu vertical, horizontal maupun diagonal sekalipun. Sedangkan strukturasi memaparkan kepada kita bagaimana struktur media dan agen yang dalam hal ini pelaku atau professional media dapat mempengaruhi operasionalisasi media, terutama produksi dan isi. Menurut Giddens, strukturasi merupakan penggabungan antara teori structural dan teori individual (agency). Ia menggambarkan bahwa sebenarnya individu (agen) memang dapat mempengaruhi struktur dengan kemampuannya, tetapi struktur juga dapat mengikat dan menggerakkan agen dengan kuatnya. Jadi sebenarnya tak ada yang paling kuat yang dapat mempengaruhi salah satunya. Inilah yang sering disebut dengan prinsip dualitas, dimana keduanya seperti mata uang yang sling mempengaruhi satu sama lain dan tak dapat dipisahkan. Komodifikasi Komodifikasi merupakan salah satu konsep kunci (entry concept) dalam pendekatan ekonomi poltik, selain konsep spasialisasi dan strukturasi.

1 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Komodifikasi menurut Vincent Mosco digambarkan sebagai cara kapitalisme dengan membawa akumulasi tujuan kapitalnya. Atau dapat pula digambarkan sebagai sebuah perubahan nilai fungsi atau guna menjadi sebuah nilai tukar. Dan sekarang ini telah sangat banyak sekali bentuk komodifikasi yang muncul dalam perkembangan kehidupan manusia. Karena mulai banyak juga yang dijadikan komoditas oleh manusia. Dan sekarang kaitan komodifikasi dan komunikasi, dapat digambarkan dari dua dimensi hubungan. Yang pertama adalah proses komunikasi dan terknologinya memiliki kontribusi terhadap proses umum komodifikasi secara keseluruhan. Kedua adalah proses komodifikasi yang terjadi dalam masyarakat secara keseluruhan menekan proses komunikasi dan institusinya, jadi perbaikan dan bantahan dalam proses komodifikasi sosial mempengaruhi komunikasi sebagai praktik sosial. Terdapat beberapa bentuk komodifikasi menurut Mosco, yakni komodifikasi isi, komodifikasi audiens/khalayak dan komodifikasi pekerja. Kemudian ada dua bentuk komodifikasi lain yang menjadi bagian dari komodifikasi audiens yakni komodifikasi intrinsik dan komodifikasi ekstensif.
• Komodifikasi Isi atau Content

Bentuk pertama yang tentu kita kenali adalah komodifikasi content atau isi media komunikasi. Komoditas pertama dari sebuah media massa yang paling pertama adalah konten media. Proses komodifikasi ini dimulai ketika pelaku media mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi manusia yang penuh makna hingga menjadi pesan yang marketable. Alhasil akan terjadi keseragaman bentuk dan isi media untuk dapat menarik perhatian khalayak. Banyak contoh yang dapat kita ambil dan lihat dari media-media di Indonesia. Namun sayangnya, konten media dibuat sedemikian rupa sehingga agar benar-benar menjadi kesukaan publik meski hal itu bukanlah fakta dan kebutuhan publik. Pengesahan segala cara termasuk cara licik dilakukan demi mendapat perhatian audiens yang tinggi. Kadang inilah yang menjadi ciri dari ideology industry media tertentu, ideology ekonomi misalnya. Dan kemudian jika komodifikasi ini berhasil maka para advertiser akan tertarik untuk membeli waktu jeda dalam program tersebut, inilah logika bisnis industry media.
• Komodifikasi Audiens atau Khalayak

Salah satu prinsip dimensi komodifikasi media massa menurut Gamham dalam buku yang ditulis Mosco menyebutkan bahwa penggunaan periklanan merupakan penyempurnaan dalam proses
2 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

komodifikasi media secara ekonomi. Audiens merupakan komoditi penting untuk media media massa dalam mendapatkan iklan dan pemasukan. Media dapat menciptakan khalayaknya sendiri dengan membuat program semenarik mungkin dan kemudian khalayak yang tertarik tersebut dikirmkan kepada para pengiklan. Konkritnya media biasanya menjual audiens dalam bentuk rating atau share kepada advertiser untuk dapat menggunakan air time mereka. Cara yang paling jitu adalah dengan membuat program yang dapat mencapai angka tertinggi daripada program di station lain. Program tersebut biasanya menjawab kebutuhan audiensnya, programmer media massa akan menggabungkan beragam kebutuhan audiens dalam satu program atau beberapa program. Dengan demikian audiens dapat menikmati beragam kebutuhan hiburan (misalnya) dalam satu program saja. a. Komodifikasi Intrinsik (Intrinsic Commodification) Dan yang terakhir adalah komodifikasi yang terjadi diantara hubungan bentuk-bentuk komodifikasi tersebut. Bagaimana sebuah iklan yang membeli air time atau ruang dalam sebuah media massa kemudian mereka mendapat peningkatan keuntungan dari iklan-iklan yang mereka pasang pada media massa. Perputaran uang-uang hasil dari berbagai transaksi yang berhubungan proses komunikasi antara media dan khalayaknya maka dianggap juga sebagai hasil proses komodifikasi. Dalam hal ini, rating atau share adalah sebuah komoditi yang penting yang juga menghubungkan advertiser, pemilik perusahaan dan audiens sebagai konsumen dari produkproduk para pengiklan. Maka rating menjadi sangat penting, bukan hanya untuk komoditas media tapi juga telah menjadi bagian dari tahapan-tahapan perkembangan komodifikasi komunikasi. b. Komodifikasi Ekstensif (Extensive Commodification) Sedangkan hubungan yang kedua adalah bagaimana nilai-nilai yang telah dikomodifikasikan pada khalayak dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kemudian perubahanperubahan dari kepercayaan masyarakat terhadap sponsorship yang bersifat private atau swasta untuk tempat atau layanan publik. Lalu penggunaan taman-taman atau tempat hiburan umum yang lebih sepi dari pada shopping mall. Dikatakan juga bahwa komodifikasi dalam ekonomi politik bukan mengenai kekuatan tapi hegemoni.

3 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

• Komodifikasi Pekerja (Labour)

Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi. Bukan hanya produksi sebenarnya, tapi juga distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengkonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa, walaupun dengan upah yang tak seharusnya. Idola Cilik (ICIL) Idola Cilik adalah suatu program reality show yang juga sebuah ajang pencarian bakat penyanyi cilik. Program ini disiarkan oleh RCTI mulai
Figure 1. Gambar Logo Idola Cilik

tahun 2008. Idola Cilik merupakan kontes menyanyi terbesar kedua yang tayang di RCTI setelah Indonesian Idol. Dan tahun 2010 merupakan tahun atau musim

ketiganya. Seluruh Kontestan Idola Cilik yang telah di audisi dari beberapa kota besar di Indonesia akan diseleksi lagi secara ketat dengan melalui babak-babak yang telah ditentukan oleh pihak RCTI. Selama mengikuti program, para finalis akan dikarantina di
Figure 2. Gambar Logo RCTI (Rajawali Citra Televisi)

sebuah asrama dan diberikan banyak pelatihan misal koreografi, olah vokal, perfomance, personality dan tata busana.

Finalis yang telah memasuki babak final akan tampil di panggung Idola Cilik dan akan selalu di komentari oleh artis-artis yang telah senior yaitu Ira Maya Sopha, Winda Viska Ria, Duta (Sheila On 7), dan Dave Hendrik. Penampilan mereka akan ditayangkan di RCTI pada setiap hari Sabtu pukul 1 siang hingga 5 sore dan Minggu pukul 1 siang hingga 3 sore. Hari Sabtu merupakan tayangan penampilan mereka atau biasa disebut Pentas Idola Cilik, kemudian hari Minggu merupakan penayangan acara pengumumamn hasil voting dan eliminasi. Kecuali pada babak penyisihan, penampilan mereka akan ditayangkan tiap Senin hingga Sabtu pada pukul 1 hingga 5 sore. Sedangkan sistem dukungan mereka konon murni dari SMS (Short Message Service) dari pemirsa atau pendukung-pendukung para finalis. Bagi yang mendapat dukungan SMS paling sedikit pada hari Pembagian Raport maka ia harus keluar dari kompetisi dan pulang kerumahnya. Namun ia tetap menjadi finalis dan mendapat predikat Idola Cilik. Selain itu juga biasanya mereka memiliki kontrak dengan Manajemen khusus RCTI.
4 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Para finalis berasal dari beragam status sosial dan daerah. Sebagian dari mereka memang merupakan pengamen jalan dan sebagian lain adalah anak yang memang sudah mendapat banyak bekal hasil pendidikan vocal. Pihak RCTI sendiri sepertinya sengaja memperkaya jenis finalis dengan sebisa mungkin merepresentasikan beragam status sosial dan asal peserta dari hampir seluruh daerah di Indonesia. Berikut adalah beberapa gambar dari Program Idola Cilik:

Isi program Idola Cilik Isi dari program ini tentu saja adalah kontes emnyanyi. Mereka akan diminta untuk menyanyikan lagu-laguyang sudah ditentukan oleh RCTI. Selain untuk mencari dukungan mereka juga dinilai oleh para komentator dan menjadi hiburan untuk penonton baik studio maupun dirumah. Komponen lain yang ditampilkan adalah unjuk bakat. Finalis akan menampilkan bakat mereka diluar bakat menyanyi, misalkan menari atau olah raga. Ketika tayangan acara ditayangkan biasanya

ditampilkan pula profil dari para finalis. Misal saja
Figure 3. Beberapa apa yang menjadi rutinitas peserta atau, bagaimana kehidupan sehari-harinya, Gambar dari Program Idola Cilik 1 dan 3 bagaimana keadaan

keluarga finalis. Jika ada finalis yang memang memiliki profil lebih dramatis atau menyentuh maka akan ditambahkan pula sesi dramatis di panggung. Sisipan lain adalah tayangan-tayanagn finalis dalam keseharian selama dikarantina. Akan ditayangkan bagaimana proses mereka dalam menjalani latihan, dari mulai latihan vocal sampai dengan koreografi.

5 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Selain para finalis, program ini juga menampilkan para bintang tamu yang juga merupakan penyanyi atau grup atau grup band. Biasanya bintang tamu adalah penyanyi yang sudah dewasa, jarang sekali bintang tamu cilik dalam acara ini. Host dalam program ini adalah Okky Lukman. Ia merupakan mantan pelenong dan penyanyi cilik tapi juga seorang pelawak. Maka kektika dipanggung, ia sering melakukanm beragam adegan atau sikap yang mengundang banyak tawa. Atau biasanya ia menggunakan kostum yang memang mencolok dan terkadang “aneh”. Dengan demikian unsur komedi juga terdapat dalam program ini. Terakhir adalah saat acara pengunguman hasil polling SMS. Maka akan tercipta suasana panggung yang dramatis dan mendebarkan. Finalis akan memegang sebuah rapot yang didalamnya terdapat bintang yang menjadi simbol pengunguman. Jika mendapat bintang merah maka mereka berada dalam posisi tidak aman dan berpotensi tidak lolos keminggu depan. Jika mendapat bintang biru maka mereka mendapat posisi yang aman dan lolos ke minggu berikutnya. Isu awal kemunculan Idola Cilik Banyak yang beranggapan bahwa program hiburan untuk keluarga memang sudah tersedia banyak namun sayangnya tidak semuanya aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Karena ternyata muatan program-program tersebut tetap saja bukan untuk konsumsi anak-anak. Kemudian dibuat program yang sedapat mungkin benar-benar untuk anak-anak. Menurut data dari AGB Nielsen sendiri, audiens anak-anak mencapai 21,1% dari seluruh audiens tv. Seperti isu yang tersebar ketika Idola Cilik muncul. Program ini dianggap menjadi program yang paling aman untuk anak-anak dan akan menjadi program favorit keluarga. Program Idola Cilik juga menjadi program alternative bagi siapapun ditengah program-program untuk dewasa yang hampir seragam. Isu lain yang konon dijawab oleh program ini adalah melawan anggapan bahwa dunia musik anakanak Indonesia kini mulai sepi dan mati. Tidak seperti jaman 90an dimana artis dan penyanyi cilik sangat popular dan membanjir. Kita tentunya mengenal, Sherina, Joshua, Maisy, atau Chiquita Meidi. Semuanya adalah penyanyi cilik popular, namun setelah mereka hampir kita tidak mendenganr lagi seorang penyanyi cilik yang sukses seperti mereka yang kini sudah tumbuh dewasa.

6 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Satu lagi yang menjadi visi utama mereka yakni member jalan kepada anak-anak Indonesaia yang memang ebrbakat dalam dunia menyanti untuk dapat meraih mimpinya. Tentu saja jalan untuk menjadi penyanyi yang sukses dan popular, dengan banyak hits yang terkenal. Indikasi awal komodifikasi Jam tayang dari program ini adalah tiap weekend atau hari Sabtu dan Minggu dari suang hingga sore hari. Hari Sabtu dimulai pada pukul pukul 1 siang hingga 5 sore dan Minggu pukul 1 siang hingga 3 sore. Waktu tayang seperti ini merupakan jam tayang sangat tepat karena dianggap efektif dalam menjangkau penonton sebanyak-banyaknya. Karena hari Sabtu dan Minggu merupakan hari istirahat bagi keluarga, anak libur sekolah dan orangtua juga libur. Jika dihitung-hitung maka seluruh keluarga dapat menonton program ini, bayangkan jika sekitar ___ keluarga menonton program ini. Namun ini juga yang merupakan indikasi awal, yakni target audiens. Target audiens yang awalnya adalah anak-anak, tapi sesungguhnya tetap saja para stakeholder dari anak-anakpun menjadi target besar yang sangat “menjanjikan”. Lihat saja jam tayang yang sangat strategis yang mampu ditonton oleh siapapin dalam anggota keluarga. Acara yang serupa dengan Icola Cilik ini juga pada akhirnya menjadi kontroversi karena target audiens yang tak jelas. Dalam pengamatan sayapun demikian, penggemar setia program ini bukanlah anak-anak melainkan remaja putri hingga ibu rumah tangga. Kemudian indikasi komodifikasi dari isi program Idola Cilik. Yang pertama adalah, banyaknya varian unsur dalam program. Seperti yang saya paparkan diatas, dimulai dengan penampilan olah vocal dari finalis dan bintang tamu, kemudian komedi dari host dan pengisi lain seperti komentator dan bintang tamu, juga sesi dramatis dan tayangan profil yang merupakan unsur drama dalam program ini. Dengan demikian pengisi program juga sangat variatif, mulai dari penyanyi, komedian, dan aktris. Yang kedua, yakni para finalis yang memang sangat dipersiapkan dengan matang hingga benarbenar dapat memukau audiens. Mereka sengaja dilatih vocal dan koreografi serta pakaian yang menarik agar dapat memuaskan dan memanjakan penontonnya. Idola Cilik dalam Komodifikasi Analisa ini akan disesuaikan dengan teori komodifiaksi. Hal-hal yang saya analisa adalah sebagai berikut :

7 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

1. Audiens need & want: a. Mencari dan menjawab keinginan audiens

Seperti isu awal yang disebarkan adalah memberikan alternative tontonan bagi keluarga yang aman bagi anak. Dan tentu saja tetap memiliki banyak unsure, bukan hanya hiburan. Seolaholah program ini memang menjawab kebutuhan dari audiens.
b.

Menyesuaikan keinginan audiens dalam satu program

Program Idola Cilik yang menampilkan nyanyian, tarian, komedi dan drama menjadi indikasi dalam komodifikasi. Dengan membuat program yang “all in one” maka RCTI dapat mengklain bahwa inilah program yang benar-benar diinginkan oleh audiens. Dan akan selalu mendapat perhatian yang tinggi dari audiens. 2. Program sebagai andalan a. Penciptaan audiens dengan program semenarik mungkin

Program Icil ini dianggap menjadi program favorit oleh anggota keluarga dan telah mendapat angka rating yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa memang penonton program ini bukanlah sedikit, dibuktikan dengan angka ratingnya yang cukup tinggi. b. Tetap terjadi komodifikasi konten

Dengan membuat program yang semenarik mungkin berarti telah jelas bahwa terjadi komodifikasi konten. Isi program sengaja memenuhi unsur-unsur hiburan yang paling banyak dibutuhkan oleh audiens.
3. Audiens sama dengan komoditas, dalam hal ini tentu saja audiens adalah sumber pemasukan

yang sangat menggirukan bagi medianya a. Khalayak yang tertarik berjumlah banyak

Kita tahu jika rating tinggi maka jumlah penontonnya termasuk tinggi. Dan para pengiklan akan sangat tertarik dengan program ber-rating tinggi unutk memasang iklannya. b. Pemasukan melalui SMS polling

8 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Selain dari rating, pemasukan lain adalah dari kiriman SMS yang masuk untuk mendukung para finalis. Tarifnya adalah Rp. 2000,- dan angka tersebut pastilah sangat menguntungkan karena SMS dukungan yang masuk tidak akan sedikit.
4. Komodifikasi Intrinsik

Untuk memaparkan dengan mudah, saya membuat rumusan seperti dibawah ini : Program (Isi+ Pengisi) = Khalayak tinggi= Rating tinggi = Iklan banyak Maksudnya adalah yang terdir dari isi dan pengisinya dibuat sedemikian menariknya agar menarik audiens. Dan jika berhasil, audiens yang tinggi menghasilkan rating yang tinggi. Sedangkan rating yang tinggi akan menarik advertiser untuk membeli spot-spot iklan yang ada dalam selingan program atau dalam program itu sendiri. Karena dalam komodifikasi intrinsik, ratinglah yang menjadi komoditas media untuk mencari sumber dana. 5. Komodifikasi Ekstensif a. Banyak iklan di ruang publik/umum

Program unggulan seperti ini pastilah tidak ingin kehilangan audiensnya, maka mereka biasanya akan memasang iklan-iklan di ruang-ruang umum seperti di jalan atau di halte. Tujuannya jelas untuk selalu mengingatkan masyarakat untuk selalu menonton dan mendukung finalis favoritnya. b. Sponsor atau wardrobe

Indikasi ini terlihat dalam tayangan program, banyak sekali produk yang menjadi pendukung dalam acara ini. Mulai dari kostum sampai multivitamin anak. Dan kesemuanya dapa terlihat jelas dalam layar jika kita menonton. Apalagi terkadang mereka menyangkan tayangan yang murni iklan untuk pengantar menuju break. Keberhasilan Program Idola Cilik Keberhasilan yang pertama tentunya adalah meang program ini telah mencetak anak-anak yang benar-benar berbakat dan memukau dalam dunia menyanyi. Hingga dirasa anak-anak ini memang sangat menghibur dan memenuhi kebutuhan hiburan untuk anak-anak. Padahal ternyata menurut pandangan saya, audiens mereka sebagian besar bukanlah anak-anak. Terbukti dengan hasil
9 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

wawancara saya dengan beberapa teman yang merupakan penggemar berat Idola Cilik. Selain itu, grup Idola Cilik di jejaring sosial maupun websitenya memiliki anggota yang bukan anak-anak, melainkan remaja putrid. Dalam sisi media, keberhasilan Idola Cilik dapat dibuktikan dalam beberapa hal:
1. Data AGB Nielsen menunjukkan memang program ini selalu mendapat rating yang cukup

tinggi, yakni dengan selalu masuk ke dalam 10 program yang selalu ditonton oleh anak-anak. Dan ratingnya sekitar 2.1-2.2 pada bulan Januari 2010 lalu 5.2 untuk acara Idola Cilik Seleb pada bulan Maret 2008.
2. Sudah dilaksanakan tiga tahun berturut-turut atau tiga musim. Hal ini menunjukkan bahwa

memang audiensnya masih menginginkan program ini berlanjut. Dan media ini juga berhasil membuat audiens menginginkan hal tersebut. 3. Program Idola Cilik ini selalu mendapat penghargaan sebagai Program Anak terfavorit dalam beberapa ajang penghargaan seprti Panasonic Gobel Award selama beberapa tahun. Termasuk pula host Okky Lukman yang menjadi host acara anak terfavorit.
4. Pada break tayangan, durasi iklan cukup lama dan sangat variatif. Sayangnya saya tidak

dapat mengukurnya karena program telah berakhir.
5. Banyanya produk yang menjadi wardrobe atau pendukung acara. Dapat dilihat ketika finalis

tampil, atau pengisi lainnya sedang muncul. Selain itu, pada running text penutupan juga kita dapat melihatnya dengan jelas seberapa banyak pendukung acara ini. Kritik terhadap Program Idola Cilik Setelah memahami dan menganalisa program ini, maka muncul beberapa kritik terhadap program yang mungkin dapat menjadi acuan dalam memperbaiki program lain atau program ini sendiri.
1. Penampilan finalis yang tidak anak-anak, terlihat dari pakaian dan lagu yang dibawakan

(mendewasakan anak sebelum waktunya). Hal ini sangat disayangkan, karena mestinya jika Idola Cilik adalah program untuk anak-anak, maka segala unsurnya tentunya disesuaikan dengan anak-anak. Bukan hanya demi menarik audiens sebanyak-banyaknya, unsur anak-anak malah menjadi hilang.

10 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

2. Pengisi acara atau bintang tamu tetap sama dengan program remaja dan dewasa pada

program lain, contohnya acara-acara musik seperti “dahsyat” atau “inbox”. Hampir senada dengan point pertama, hal ini juga tidak memberikan nuansa program anak-anak yang seharusnya.
3. Penggambaran gaya hidup yang mewah ketika dalam masa karantina. Hal ini bukanlah hal

yang baik untuk anak-anak karena dapat mendidik anak menajdi konsumtif dan manja.
4. Budaya massa. Dimaksudkan ketika gaya hidup, gaya berpakaian, dan gaya bicara para

fimalis yang dianggap mewah dapat mempengaruhi audiensnya untuk meniru dan mengurangi budayanya khasnya sendiri. Hal ini juga bukanhal yang baik, karena budaya akan dikendalikan oleh emdia tentunya. Paham bahwa hidup yang baik adalah dalam ketersediaan materi saja.
5. Sponsorship untuk wardrobe dan pendukung acara yang cukup banyak. 6. Durasi program yang (makin) lama karena ditambah iklan pada break dan beragam konten

lain. Selain selingan dalam iklan pada break, dalam tayangan ini juga terdapat iklan langsung dalam gambar.
7. Tarif

polling yang tinggi Rp. 2.000/SMS yang tentunya sangat menguntungkan

penyelenggara. Saya yakin bahwa tarif yang begitu besar ini tidak murni untuk providernya tapi juga untuk pihak media. Dan angkanya tidak mungkin sedikit.
8. Terlalu singkat dalam membentuk bintang yang benar-benar bintang. Muncul anggapan

bahwa acara pencarian bakat seperi ini hanya mencetak bintang “karbitan” dan belum benarbenar professional. 9. Penilaian yang murni dari SMS:
-

Tidak objektif terkadang. Hal ini fakta yang saya dapat dari pengamatan dan hasil wawancara saya. Mereka memilih unutk mendukung salah satu finalis bukanlah murni karena suara dan kemampuan bernyanyi. Melainkan karena unsur kesamaan dalam daerah atau agama, dan karena kasihan, barulah alsana berikutnya karena suara. Rasa kasihan muncul ketika sesi dramatis dan profile finalis lebih ditonjolkan untuk menarik perhatian audiens. Cara ini berhasil dan terbukti untuk dapat membuat finalis yang memiliki profil ”berbeda” mendapat

11 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

banyak dukungan, seperti Kiki dan Debo yang memiliki cerita sedih dari hidup mereka, keduanya berhsil mendapat juara.
-

Dapat dimanipulasi oleh pihak tertentu. Karena system yang sesungguhnya tidak

pernah disampaikan dengan jelas, dengan demikian siapa yang dapat mengira jika terdapat hal-hal yang dimanipulasi dalam proses polling.
-

Bagi finalis yang bagus dapat kalah dengan finalis yang punya modal. Hal ini terjadi

terdapat finalis yang memang berasal dari kelas atas atau mendapat dukungan khusus dari orang yang sangat bermodal.
10.

Anak-anak menjadi objek penghibur. Sadar atau tidak, kita telah memanfaatkan anak-

anak untuk dapat menghibur kita semua. Hal ini dapat dikatakan menjadi komodifikasi anak juga, karena media mengandalkan anak-anak untuk menarik perhatian audiens. Kesimpulan Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas, sudah jelaslah bahwa Program ICIL ini telah melakukan komodifikasi audiens jika ditinjau dari teori yang saya gunakan. Beberapa indikasi yang digunakan adalah rating yang selalu tinggi dengan program yang unggulan, dan spot iklan yang sangat banyak. Namun sebenarnya bukanhanya komodifikasi audiens yang dilakukan. Terdapat indikasi komodifikasi konten dan komodifikasi anak dalam program ini. Semuanya menjadi komplikasi komodifikasi, all in one coomdification menurut saya. Hingga kini komodifikasi masih kerap kali digunakan oleh media karena orientasi media kini masih kepada keuntungan semata (profit oriented). Hal ini dapat kita analisa lagi dengan menggunakan teori yang saya gunakan kepada program-program lain. Dan kita akan tercengang ketika kita sendiri menjadi komoditas bagi media. Dan tentu saja media juga tidak ingin kehilangan audiensnya begitu saja ketika program berakhir. Maka media membuat program lain yang akan memegang kesetiaan audiens ICIL. Yakni dengan membuat Idola Cilik Seleb, Idola Cilik Duet, dan yang lainya. Selaini itu juga mereka akan membuat website penggemar atau grup dalam situs jejaring sosial agar mereka tetap dapat berinteraksi dengan bintang favoritnya atau hanya sekedar membuat berita di media-media lainnya.

12 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

Meskipun ICIL hadir sebagai alternatif program tontonan untuk keluarga yang cukup baik dan aman, tapi tetap saja masih terlalu banyak motif dan indikasi yang tidak memihak pada audiens. Seperti pemenuhan tingginya angka rating dan iklan. Selain itu, tetap saja program ini juga hampir seragam dengan program lain yang memiliki pengisi acara “itu-itu saja” dan tidak anak-anak sekali. Maka dari itu, dalam penayangan program seperti ini penting sekali bagi orang tua atau institusi lain yang dekat dengan anak untuk melakukan pendampingan. Penting sekali bagi anak untuk dapat memahami dengan benar dan baik segala apa yang mereka tonton. Agar tidak terjadi kesalahpahaman atau perubahan yang terjadi pada anak hingga membuat kita menajdi resah. Ingat pula bahwa anak mudah menerima sesuatu tanpa benar-benar menyaringnya. Satu hal lagi yang mungkin dapat memperbaiki kondisi media yang seperti ini adalah adanya media alternatif. Media yang dapat dianggap lebih netral dari motif-motif yang tidak bersahabat dengan audiens terutama anak-anak. Juga diharapkan bahwa semua pihak dan lapisan masyarakat termasuk pula pemerintah dapat berperan aktif dalam hal menjawab dan memperbaiki kualitas penyiaran di Indonesia. Sumber-sumber • Teori-teori:  The Political Economy of Communication, Vincent Mosco
 Bahan mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa oleh Bpk. Eriyanto

Data-data:

AGB Nielsen Newsletter Indonesia AGB Nielsen News Release Indonesia

 • Wawancara:

 EP, mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah beserta teman-temannya • Video dan gambar:
 www.wikipedia.org/idolacilik  www.rcti.tv/sinopsis/idolacilik  www.idolacilik.ning.com  www.okezone.com  www.youtube.com  www.facebook.com/idolacilik3

13 Makalah Akhir untuk mata kuliah Ekonomi Politik Media Massa Ayu Astria R A ( 208 0000 33)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->