P. 1
Memelihara Larva Ikan Di Bak Fiberglass

Memelihara Larva Ikan Di Bak Fiberglass

|Views: 1,891|Likes:
Pemeliharaan ikan di kolam / fiberglass pada umumnya dilakukan secara intensif dimana parameter kualitas air, pakan, hama penyakit serta padat penebaran dikontrol dengan baik. Pemeliharaan ikan di bak / fiberglass umumnya untuk benih ikan yang memiliki toleransi kualitas air yang rendah serta memiliki harga relatif mahal.
Ketersediaan pakan pada pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass sangat tergantung pada pemberian pakan dari luar wadah pemeliharaan. Berbeda dengan pemeliharaan larva ikan di kolam, ketersediaan pakan alami di bak / fiberglass tidak tersedia.
Pemeliharaan ikan di kolam / fiberglass pada umumnya dilakukan secara intensif dimana parameter kualitas air, pakan, hama penyakit serta padat penebaran dikontrol dengan baik. Pemeliharaan ikan di bak / fiberglass umumnya untuk benih ikan yang memiliki toleransi kualitas air yang rendah serta memiliki harga relatif mahal.
Ketersediaan pakan pada pemeliharaan larva ikan di bak / fiberglass sangat tergantung pada pemberian pakan dari luar wadah pemeliharaan. Berbeda dengan pemeliharaan larva ikan di kolam, ketersediaan pakan alami di bak / fiberglass tidak tersedia.

More info:

Published by: Putra Harapan Bangsa on Jun 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

Oksigen merupakan salah satu gas yang terlarut dalam perairan. Kadar oksigen
yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas,
turbulensi air dan tekanan atmosfer. Di perairan tawar, kadar oksigen terlarut
berkisar antara 15 mg/l pada suhu 0°C dan 8 mg/l pada suhu 25°C.
Oksigen merupakan zat terpenting dalam kehidupan organisme. Didalam air
oksigen bersumber dari tanaman hijau daun, dengan bantuan sinar matahari
melalui proses fotosintesis, tanaman memproduksi oksigen. Oksigen dapat larut
ke dalam air melalui proses difusi atau persinggungan dengan udara.
Dalam bernafas, organisme memasukkan oksigen dan mengeluarkan
karbondioksida, bagi ikan oksigen diperoleh dari air. Oksigen digunakan ikan
untuk pernapasan, yaitu pertukaran gas yang dilakukna di dalam insang. Pada
proses ini oksigen akan diserap, sedangkan karbondioksida di buang. Oksigen
yang masuk tersebut akan diambil atau diterima oleh pigmen dalam darah, yaitu
haemoglobin, melalui ikatan sementara sebelum digunakan oleh sel-sel tubuh.
Sel-sel tubuh menggunakan oksigen untuk pembakaran bersama dengan bahan

bakar, yaitu makanan. Dari pembakaran ini dihasilkan energi yang akan
digunakan untuk aktivitas tubuh seperti bergerak, tumbuh dan bereproduksi atau
berkembang biak. Kalau kadar oksigen terlarut rendah maka kehidupan ikan
akan terganggu. Jumlah minimal kebutuhan oksigen terlarut setiap jenis ikan
berbeda-beda. Ikan yang gesit lebih banyak membutuhkan oksigen dibanding
ikan yang tenang. Namun sedikitnya air untuk pemeliharaan ikan harus berkadar
oksigen 5 mg/l.
Pengukuran oksigen terlarut pada perairan dapat dilakukan dengan metode
titrasi atau DO meter. Penggunaan DO meter diperlukan kalibarasi terlebih
dahulu untuk menstandartkan nilai ukuran dengan cara penyelupan DO meter
pada media pemeliharaan selama beberapa menit hingga angka terlihat stabil.
Sedangkan pengukuran dengan metode titrasi adalah sebagai berikut :
-Pindahkan air sampel ke dalam botol BOD sampai meluap (jangan sampai
terjadi gelembung udara), tutup kembali.
-Tambahkan 1 ml Sulfida Acid dengan pipet di bawah permukaan, tutp dan
aduk dengan membolakbalik botol.
-Tambahkan 2 ml MnSO4, dan 2 ml NaOH + KI. Penambahan reagen-reagen
dengan memasukkan pipet di bawah permukaan air dalam botol. Tutup
dengan hati-hati dan aduk dengan membolak-balik botol ± 20 kali. Biarkan
bebrapa saat hingga endapan coklat terbentuk dengan sempurna
-Tambahkan 2 ml H2SO4 pekat dengan hati-hati (gunakan ruang asam), aduk
dengan cara yang sama hingga semua endapan larut, bila belum terlarut
semua tambahkan lagi 0,5 ml H2SO4 pekat
-Ambil 100 ml air dari botol BOD tersebut dengan menggunakan pipet Mohr
atau gelas ukur, masukan ke dalam erlemeyer, uasahakan jangan terjadi
aerasi

-Titrasi dengan Na-thiosulfat hingga terjadi perubahan warna dari kuning tua
ke kuning muda. Tanbahkan 5 – 8 tetes indikator amylum hingga terbentuk
warna biru. Lanjutkan titrasi dengan Na-thiosulfat hingga tepat tidak berwarna
(bening)
-Perhitungan :

O2 mg/l = (ml titran) (normalitas thiosulfat) (8) (1000)
(ml sampel) (ml botol BOD – ml reagen terpakai)
(ml botol BOD)

b.Karbon dioksida (CO2)

Keberadaan karbondioksida di perairan terdapat dalam bentuk gas
karbondioksida bebas (CO2), ion bikarbonat (HCO3-

), ion karbonat (CO32-

) dan
asam karbonat (H2CO3). Proporsi dari keempat bentuk karbon tersebut berkaitan
dengan nilai pH perairan. Karbondioksida yang terdapat di perairan dapat
berasal dari :

-difusi dari atmosfer secara langsung

-

air hujan, secara teoritis air hujan yang jatuh ke
permukaan bumi memiliki kandungan karbondioksida sebesar 0,55 – 0,60
mg/l

-air yang melewati tanah organik dari proses
dekomposisi
-respirasi tumbuhan, hewan, dan bakteri aerob
maupun anaerob
Karbondioksida dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan atau fitoplankton pada
perairan untuk fotosintesis sehingga menghasilkan oksigen. Istilah
karbondioksida bebas digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam air,
juga menggambarkan CO2 di perairan yang membentuk kesetimbangan dengan
CO2 di atmosfer. Di perairan tawar, ion bikarbonat berperan sebagai sistem
penyangga (buffer) dan penyedia karbon untuk keperluan fotosintesis. Kadar
karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan, bahkan hilang, akibat
proses fotosintesis, evaporasi dan agitasi air.

Karbondioksida sangat mudah larut dalam pelarut, termasuk air. Dalam jumlah
atau kadar tertentu, karbondioksida dapat merupakan racun. Ikan mempunyai
naluri yang kuat dalam mendeteksi kadar karbondioksida dan akan berusaha
menghindari daerah atau area yang kadar CO2nya tinggi. Dengan kadar CO2
mencapai lebih dari 10 mg/l sudah bersifat racun bagi ikan karena ikatan atau
kelarutan oksigen dalam darah terhambat. Pada kondisi ini ikatan CO2 dalam
darah menjadi lebih kuat dibanding ikatan O2. tanda visual pada ikan budidaya

yang kadar CO2 dalam air tinggi adalah berkumpulnya ikan dengan kondisi
susah bernafas. Perairan yang diperuntukan bagi kepentingan perikanan
sebaiknya mengandung kadar karbondioksida bebas < 5 mg/l. Kadar
karbondioksida bebas sebesar 10 mg/l masih dapat ditolerir oleh organisme
akuatik, asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup.

c.pH air

pH adalah derajat keasaman yang manggambarkan konsentrasi ion hidrogen
pada perairan. pH bekaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Semakin
tinggi pH maka semakin tinggi nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar
karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH rendah) bersifat korosif.

pH juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang
dapat terionoisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki pH rendah.
Amonium bersifat tidak toksik, namun pada suasana alkali (pH tinggi) lebih
banyak deitemukan amonia yang tak terionisasi dan bersifat toksik. Amonia tak
terionisasi ini lebih mudah terserap ke dalam tubuh organisme akuatik
dibandingkan dengan amonium.

Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH
sekitar 7–8,5. Proses reproduksi atau perkembangbiakan ikan biasanya akan
baik pada pH 6,5. hubungan keasaman air dengan kehidupan ikan sangat besar.
Titik kematian ikan pada pH asam adalah 4 dan pada pH basa adalah 11. Ikan
dewasa akan lebih baik toleransinya terhadap pH dibandingkan ikan ukuran
kecil, larva atau telur. Perubahan pH secara mendadak akan menyebabkan ikan
meloncat-loncat atau berenang sangat cepat dan tampak seperti kekurangan
oksigen hingga mati mendadak. Sementara perubahan pH secara perlahan akan
menyebabkan lendir keluar berlebihan, kulit menjadi keputihan dan mudah kena
bakteri. Biasanya bakteri akan tumbuh baik pada pH basa, sedangkan jamur
tumbuh baik pada pH asam. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi
perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas
logam memperlihatkan peningkatan pada pH rendah.

Pengukuran nilai pH dapat dilakukan dengan Ph test kit yang berbentuk cairan,
dengan meneteskan pada air sampel sehingga air berubah warna yang
kemudian dicocokkan dengan komparator standart. Cara lain pengukuran pH
dengan menggunakan alat digital (pH meter) yang lebih akurat hingga dapat
membeca hingga nilai persepuluhan.

d.Alkalinitas

Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam, atau dikenal
dengan sebutan acid netralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air
yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas juga diartikan sebagai
kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH perairan. Kation
utama yang mendominasi perairan tawar adalah kalsium dan magnesium. Anion
utama pada perairan tawar adalah bikarbonat dan karbonat. Kalsium karbonat
merupakan senyawa yang memberi kontribusi terbesar terhadap nilai alkalinitas
dan kesadahan di perairan tawar. Kelarutan kalsium karbonat menurun dengan
meningkatnya shu dan meningkat dengan keberadaan karbondioksida. Nilai
alkalinitas perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 500 mg/l CaCO3.
Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh
organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi
atau kadar garam natrium yang tinggi. Perairan dengan alkalinitas tinggi lebih
produktif daripada perairan dengan alkalinitas rendah. Tingkat produktifitas
perairan ini sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan nilai alkalinitas,
tetapi berkaitan dengan fosfor dan elemen esensial lain yang kadarnya
meningkat dengan meningkatnya nilai alkalinitas.

e.Kadar amonia

Amonia di perairan dapat berasal dari proses dekomposisi bahan organik yang
banyak mengandung senyawa nitrogen (protein) oleh mikroba (amonifikasi),
ekskresi organisme, reduksi bakteri oleh bakteri dan pemupukan. Setiap amonia
yang terbebas ke suatu lingkungan akan membentuk reaksi kesetimbangan
dengan ion amonium.
Amonia merupakan gas buangan terlarut hasil metabolisme ikan oleh
perombakan protein, baik dengan ikan sendiri yang berupa kotoran (feces dan

urin) maupun dari sisa pakan. Kelarutan amoniak sangat besar dan merupakan
kompetitor kuat dalam ikatannya ke darah dengan O2. substansi inipun sangat
beracun, terutama pada pH tinggi. Selain amoniak dan nitrit dalam air juga
terdapat nitrat (NO3) yang merupakan hasil oksidasi amoniak dan terutama nitrit
yang sangat mudah larut. Hanya saja pengaruh dan daya racunnya terhadap
ikan sangat kecil.

Secara kimia, amoniak berada dalam dua bentuk, yaitu Unionized Ammonia atau
UIA (NH3) dan Ionized Ammonia atau IA (NH4+

). Keberadaan UIA membuat ikan
mabuk atau keracunan kalau kadarnya dalam air tinggi. Sementara daya racun
IA kurang kuat. Pengukuran amonia tersebut umumnya hanya dapat dilakukan
terhadap total amonia (NH3 + NH4+

). Makin tinggi pH dan suhu maka makin tinggi

konsentrasi NH3 sehingga makin kuat daya racunnya.

Kadar amonia terukur yang dapat membuat ikan mati adalah lebih dari 1 ppm
dan nitrit lebih dari 0,1 ppm. Bila kadarnya kurang dari kadar tersebut, tetapi
lebih dari setengahnya maka dalam jangka panjang ikan akan stres, sakit dan
pertumbuhannya kurang bagus, namun kondisi demikian masih tergantung dari
jenis, stadia, dan ukuran ikan. Umumnya ikan dalam stadia telur, larva dan benih
lebih sensitif dibanding ikan remaja dan dewasa.

Pengukuran amoniak dan nitrit dapat dilakukan dengan ammonium test kit yang
berbentuk cairan. Pengukuran amoniak sebaiknya dilakukan sore hari karena
pada saat itu nilai pH dan presentase amonianya paling tinggi. Berikut dibawah
ini prosedur pengukuran amonia nitrogen total (metode phenate) :

-saring 25 – 50 ml air sampel dengan kertas saring
whatman no 42 (jangan menggunakan vacum pum
agar tak ada amonia yang hilang)
-pipet 10 ml air sampel yang telah disaring, masukkan ke dalam gelas piala
-sambil diaduk (sebaiknya dengan magnetic stirer), tambahkan 1 tetes
MnSO4, 0,5 ml chlorox (oxidizing solution) dan 0,6 ml phenate. Phenate
ditambahkan dengan segera menggunakan pipet tetes yang sudah dikalibrasi.

Diamkan selama ± 15 menit, sampai pembentukan warna stabil (warna akan
tetap stabil sampai beberapa jam)
-buat larutan blanko dari 10 ml akuades, lakukan prosedur no 3
-buat larutan standar dari 10 ml larutan standar amonia (0,30 ppm),
-dengan larutan blanko pada panjang gelombang
630 nm, set spektrofotometer pada absorbance
0,000 (atau transmittance 100%), kemudian
lakukan pengukuran sampel dan larutan standar

-hitung konsentrasi amonia-N total dengan persamaan :
TAN mg/l sebagai N = ppm NH3-N = Cat x Aa
Aat
Cat = konsentrasi larutan standar (0,30 mg/l)

Aat = nilai absorbance (transmittance) larutan standar

Aa = nilai absorbance (transmittance) air sampel

Konsentrasi amonia yang terukur tersebut dinyatakan dalam kadar nitrogen
(N) yang terdapat dalam amonia (NH3). Untuk mengetahui konsentrasi amonia
yang dinyatakan dalam mg NH3/l (=ppm NH3), nilai TAN di atas dikalikan dengan
faktor seperti pada persamaan berikut :

Mg NH3/l = ppm NH3-N x BM NH3 = ppm NH3-N x 1,216
BA N

BM : Berat molekul

BA : Berat atom

Air dari alam atau natural water secara fundamental akan berbeda kondisinya
dengan air dari tempat budidaya, terutama sistem tertutup yang menggunakan
akuarium atau bak, berdasarkan sifat kimia maupun biologi. Jumlah ikan
ditempat budidaya umumnya jauh lebih banyak dibanding jumlah air. Akibatnya
material hasil sisa metabolisme (metabolit) yang dikeluarkan ikan (berupa
kotoran dan urin) tidak dapat seimbang mengurai. Artinya waktu penguraian
metabolit secara alami tidak mencukupi karena jumlahnya cukup banyak. Oleh

karena itu, air tidak dapat atau sulit kembali menjadi baik atau cederung
enghasilkan substansi atau bahan metabolit yang berbahaya bagi ikan.

Tingkat penurunan kualitas air dalam pebudidayaan atau kadar material hasil
metabolisme ikan tergantung pada beberapa faktor, antara lain :

a.jumlah dan kepadatan ikan, kalau kepadatan ikan lebih besar dari patokan
maka ikan akan stres. Hal ini disevbablkan keadaan lingkungan menjadi tidak
nyaman ataupun air cepat jelek, kepadatan ikan juga bergantung pada jenis
ikan

b.jenis dan stadia ikan, pengeluaran metabolit per satuan waktu oleh
masing-masing jenis ikan tidak sama. Ikan yang bergerak aktif penggunaan
energi (mengkonsumsi makan) dan menghasilkan metabolit lebih banyak
dibandingkan jenis ikan yang tenang sehingga kualitas airpun lebih cepat
jelek. Stadia ikan remaja atau dewasa memiliki aktifitas yang lebih banyak
dan cenderung mengeluarkan kotoran lebih banyak bila dibandingkan dengan
larva atau benih, demikian juga terhadap ketahanan tubuhnya terhadap
kualitas air lebih baik. Oleh karena itu , pemantauan atau perawatan kualitas
media pada stadia larva dan benih harus secara khusus. Umumnya
penggantian air pada stadia larva dan benih dilakukan lebih hati-hati dan
lebih sering agar kualitas airnya selalu terjaga.

c.Jumlah dan jenis pakan, pemberian pakan yang terlalu banyak akan cepat
mengotori air, karena sisa pakan yang membusuk akan sangat
membahayakan kehidupan ikan.

d.Air hujan dan musim, penurunan kua;litas air karena faktor hujan
merupakan faktor khusus, umumnya terjadi pada pembudidayaan ikan diluar
ruangan seperti bak atau kolam. Hujan yang terus menerus dapat
berpengaruh pada perubahan suhu yang drastis yang kemudian berpengaruh
terhadap oksigen terlarut pH dan amonia dalam air.

Nilai parameter kualitas air optimal yang dibutuhkan setiap jenis ikan tidak sama,
tergantung asal-usul, genetis dan kemampuan beradaptasi, sehingga terkadang

pada suatu nilai tertentu menjadi jelek bagi beberapa ikan tapi belum tentu jelek
untuk jenis ikan lainnya. Namun, pada tingkat ekstrim semua jenis ikan akan
mendapatkan pengaruh yang hampir sama.

Pengaruh suhu sangat nyata dan umumnya cepat karena berhubungan langsung
dengan metabolisme dalam tubuh ikan. Untuk pH, selain dapat menjadikan ikan
stres, dapat juga mempengaruhi reaksi air media dalam perombakan amonia,
nitrit dan karbondioksida. Daya racun dari substansi tersebut akan makin
meningkat pada kekerasan, pH dan suhu yang lebih tinggi.

Bila peruraian atau oksidasi amonia (NH3) dan amonium (NH4+

) tidak sempurna,
akan timbul suatu hasil samping yang sangat beracun. Ini terjadi bila pasok
oksigen untuk menguraikan secara oksidasi kurang atau tidak mencukupi.
Parameter kualitas air sangat kompleks, saling berhubungan dan saling
mempengaruhi vitalitas ikan. Bila salah satu parameter tidak optimal maka hal ini
akan dapat memicu parameter lainnya ke arah negatif sehingga menimbulkan
kesulitan yang lebih berat bagi ikan.

Larva sangat peka terhadap perubahan kualitas air. Kematian total lebih sering
terjadi pada stadia ini, sehingga penanganannya juga harus secara khusus.
Induk yang sedang memijah juga sangat peka terhadap perubahan kualitas air.

Pengelolan kualitas air yaitu usaha untuk menjaga kualitas air agar tetap pada
kondisi optimal untuk pembudidayaan dengan cara pemberian aerasi, sirkulasi
air, penggunaan pemanas air, penggantian air segar dan filtrasi.

Pemberian aerasi dalam kolam atau akuarium sangat besar pengaruhnya
terhadap kulitas air. Tanpa aerasi, kualitas air akan cepat menjadi jelek, terutama
penurunan kadar oksigen. Gelembung-gelembung udara yang masuk ke air,
terutama pada bak atau akuarium yang airnya dalam, akan memudahkan
terjadinya difusi ke seluruh kolom air. Makin kecil gelembung udaramaka makin
cepat terjadinya difusi. Hal ini disebabkan permukaan udara yang bersinggungan
dengan air akan lebih luas.

Sirkulasi adalah upaya untuk perputaran dan pergerakan pada media
pemeliharaan yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan biologi dalam air
(berkumpulnya ikan atau pakan pada satu tempat), menjaga kestabilan suhu
pada saat pemakaian heater, membantu mendistribusikan oksigen ke segala
arah serta menjaga akumulasi atau mengumpulnya hasil metabolit beracun
sehingga kadar atau daya racun dapat ditekan. Sirkulasi air dapat dibuat dengan
bantuan aerasi, head pump atau dengan pengucuran air ke dalam wadah
pemeliharaan.

Pemanas air (water heater) digunakan untuk meningkatkan suhu, hal ini sangat
efektif dilakukan pada saat musim dingin/hujan maupun membantu memperbaiki
vitalitas ikan yang sedang sakit. Penggunaan akan lebih efektif lagi kalau disertai
dengan perputaran atau sirkulasi air karena pada dapat menyebar merata ke
segala arah.

Pergantian air sebagian atai total sangat berperan pada pengelolaan kualitas air
karena mampu menghilangkan kotoran dan mampu memperbaiki kualitas air
secra nyata. Mengganti atau mengurangi air dilakukan dengan cara menyifon
menggunakan selang, kemudian air segar diisi kembali ke dalam wadah
pemeliharaan sebanyak air yang diinginkan. Pergantian air merupakan cara
paling sederhana, pasti, praktis dan aman selama dilakukan dengan hati-hati.
Penyifonan diawali dengan mematikan aerasi terlebih dahulu agar partikel koloid
atau debu mengendap sehingga mempermudah pengambilan oleh selang.
Kegiatan ini sebaiknya dilakukan setiap hari dalam jumlah sedikit atau dengan
interval waktu tertentu. air pengganti hendaknya disiapkan terlebih dahulu
dengan pengendapan selama semalam untuk menyamakan suhu air baru
dengan suhu lingkungan. Pemasukan air ke dalam wadah pemeliharaan secara
perlahan dan hati-hati untuk mengurangi goncangan hingga ikan tidak stres
akibat pergantian air. Pada pemeliharaan benih pergantian air dilakukan setiap 1
– 2 hari dengan jumlah tidak lebih dari sepertiga bagian. Sedangkan pergantian
air pada pemeliharaan larva jangan terlalu sering karena larva rentan terhadap
goncangan kualitas air, interval pergantian airnya bisa lebih jarang (3-7 hari)
dengan jumlah seperlima sampai seperempat bagian) tergantung kondisinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->