P. 1
makalah kepemimpinan

makalah kepemimpinan

|Views: 15,165|Likes:
Published by alifaze

More info:

Published by: alifaze on Jun 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan Kepala Sekolah ialah
dengan mempelajari pendekatan kepemimpinan yang digunakan dan tipe atau gaya
kepemimpinan yang diterapkan di sekolah. Sepanjang pengamatan para ahli, maka cara
seseorang pemimpin melakukan kepemimpinan itu dapat digolongkan atas beberapa
golongan antara lain :

a. Secara otokratis
b. Secara militeristis
c. Secara Paternalistis
d. Secara Kharismatis
e. Secara ‘laisses Faire’ atau secara bebas
f. Secara Demokrasi

a. Secara Otokratis
1. Kepemimpinan secara otokratis artinya pemimpin menganggap organisasi sebagai
milik sendiri.
2. Ia bertindak sebagai diktator terhadap para anggota organisasinya dan menganggap
mereka itu

sebagai bawahan dan merupakan alat, bukan manusia. Cara menggerakkan para

anggota organisasi

dengan unsur-unsur paksaan dan ancaman-ancaman pidana.
3. Bawahan adalah hanya menurut dan menjalankan perintah-perintah atasan serta tidak
boleh

membantah, karena pemimpin secara ini tidak mau menerima kritik, saran dan

pendapat.

4. Rapat-rapat atau musyawarah tidak dikehendaki. Berkumpul atau berapat hanya
untuk

menyampaikan instruksi-instruksi atau perintah-perintah.
5. Kepemimpinan yang bersifat otokratis dikendalikan oleh seorang pemimpin yang
mempunyai

perasaan harga diri yang besar sekali. Bawahannya dianggap bodoh, tidak

berpengalaman dan

selayaknya dituntun dengan sebaik-baiknya. Pemimpin merasa dirinya orang

yang terpandai dalam
bagiannya.

b. Secara Militeristis

Seorang pemimpin yang bersifat militeristis, yaitu pemimpin yang memiliki sifat-sifat
antara lain seperti dibawah ini :
1. Untuk menggerakkan bawahannya ia menggunakan system perintah yang biasa
digunakan dalam

ketentaraan.
2. Gerak-geriknya senantiasa tergantung kepada pangkat dan jabatannya
3. Senang akan formalitas yang berlebih-lebihan
4. Menuntut disiplin keras dan kaku dari bawahannya
5. Tidak menerima kritik dari bawahannya
6. Senang akan upacara-upacara untuk berbagai-bagai keadaan
7. Dan lain sebagainya

c. Secara Paternalistis

1. Cara ini boleh dikatakan untuk seorang pemimpin yang bersifat ‘Kebapakan’, ia
menganggap anak

buahnya sebagai ‘anak’ atau manusia yang belum dewasa yang dalam segala

hal masih

membutuhkan bantuan dan perlindungan, yang kadang-kadang perlindungan

yang berlebih-lebihan.
2. Dengan demikian maka pemimpin macam ini jarang atau tidak memberikan sama
sekali kepada

anak buahnya untuk bertindak sendiri, untuk mengambil inisiatif atau

mengambil keputusan. Anak-

anak buahnya jarang sekali diberi kesempatan untuk mengembangkan daya

kreasi dan fantasinya.
3. Pemimpin semacam ini tidak ada sifat keras atau kejam terhadap mereka yang
dipimpin, bahkan

hampir dalam segala hal sikapnya baik dan ramah, walaupun ada sifat yang

negative padanya yang

bersifat sok maha tahu.
4. Seorang pemimpin seperti ini dalam hal-hal yang tertentu amat diperlukan, akan
tetapi sebagai

pemimpin pada umumnya kurang baik.

d. Secara Kharismatis

“Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan ‘menjalankan kepemimpinan secara
kharismatis’, atau pemimpin yang kharismatis.
Sulit untuk menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki charisma,
yang jelas adalah bahwa pemimpin itu mempunyai ‘daya tarik’ yang amat besar,
sehingga pengikutnya amat besar pula jumlahnya, akan tetapi susah dijelaskan mengapa
mereka itu menjadi pengikut pemimpin tersebut. Kepatuhan dan kesetiaan para pengikut
rupa-rupanya timbul dari kepercayaan yang penuh kepada pemimpin yang dicintai,
dihormati, disegani dan dikagumi, bukan semata-mata benar tidaknya tindakan-tindakan
yang dilakukan pemimpin.

e. Secara ‘laisses Faire’ atau secara bebas.

1. Melaksanakan pimpinan secara ini dapat diartikan “membiarkan anak-anak buahnya
untuk berbuat

sekehendak sendiri-sendiri”
2. Petunjuk-petunjuk, pengawasan dan control kegiatan dan pekerjaan anak buahnya
tidak diadakan.

Pembagian tugas, cara bekerjasama saran-saran dari pimpinan tidak ada,

sedangkan kekuasaan dan

tanggung jawab jalannya simpangsiur, sehingga keadaannya tidak mudah

dikendalikan dan akibatnya
terjadi kekacauan.
3. Melakukan kepemimpinan secara ini biasanya tidak kelihatan ada organisasi dan
segala sesuatu

dilakukan tanpa rencana dari pimpinan.
4. Pada hakikatnya disini pemimpin itu tidak memimpin tetapi membiarkan bawahan
bekerja sesuka-

sukanya. Pemimpin hanya mempunyai tugas representative : untuk dunia luar

ia adalah kepala

bagian, tetapi pada umumnya ia tidak memberi sesuatu bentuk kepala bagian

yang dipimpinnya itu.

Pemimpin tidak mempunyai kepribadian yang kokoh. Ia kurang cakap

memimpin bahkan dapat
dipengaruhi.
5. Para anggota diberikan kebebasan sepenuhnya, maka proses pengembalian keputusan
menjadi

lambat bahkan sering tidak berkeputusan.

f. Secara Demokrasi

1. Cara ini lazimnya dipandang sebagai kebalikan daripada cara kepemimpinan yang
otokratis.

2. Cara demokratis perlakuannya bersifat kerakyatan atau persaudaraan, mengharapkan
kerjasama

dengan anak buahnya yang tidak dipandang sebagai alat, tetapi dianggap

sebagai manusia.
3. Mau menerima saran-saran dari anak buah dan bahkan kritik-kritik dimintanya dari
mereka demi

suksesnya pekerjaan bersama.
4. Ia memberi kebebasan yang cukup kepada anak buahnya, karena menaruh
kepercayaan yang cukup

bahwa mereka itu akan berusaha sendiri menyelesaikan pekerjaannya dengan

sebaik-baiknya.

Segala usaha ditujukan untuk membuat bawahannya senantiasa mencapai hasil

yang lebih baik dari
ia sendiri
5. Cara untuk mencapai hasil baik ini seorang pemimpin demokrasi senantiasa berusaha
memupuk

kekeluargaan dan persatuan, membangun semangat dan kegairahan bekerja

pada anak buahnya.

Pada dasarnya seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas atau
kepemimpinannya, pemilihan tipe kepemimpinan tidak terbatas, seorang boleh
menggunakan tipe-tipe kepemimpinan yang sesuai kebutuhan motivasi kerja guru, sesuai
dengan nilai-nilai kemanusiaan maupun sesuai dengan pemecahan masalah yang hendak
diatasi. Biasanya terdapat kesatuan corak kepemimpinan yang diantanya dapat dipilih
masih-masing dengan kombinasi perubahan otoritas pemimpin dan bahawan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->