Pentinya Memami Teori-teori Kepemimpinan bagi seorang kepsek

TEORI KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN
TEORI KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN (STUDI PERBANDINGAN TENTANG KONSEP KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN TEORI KEPEMIMPINAN DALAM AYAT-AYAT AL-QUR’AN) Oleh: MUHAMMAD ASRORI ARDIANSYAH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepemimpinan merupakan bagian terpenting dari organisasi lembaga pendidikan. Hal ini dapat dilihat pada kenyataannya ketika seorang pemimpin telah menjalankan tugasnya memanej organisasinya dengan baik maka organisasi tersebut akan menjadi baik pula. Bagitu pulan halnya dengan kepemimpinan kepala sekolah, ia merupakan faktor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya yang direalisasikan dengan MPMBS. Kepala sekolah dituntut senantiasa meningkatkan efektifitas kinerja. Dengan begitu, MPMBS sebagai paradigma baru pendidikan yang dapat memberikan hasil yang memuaskan. Kinerja kepala sekolah dalam kaitannya dengan MPMBS adalah segala upaya yang dilakuakan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah dalam mengimplementasikan MPMBS disekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Melihat penting dan strategisnya posisi kepala sekolah dalam mewujudkan tujuan sekolah, maka seharusnya kepala sekolah harus mempunyai nilai kemampuan relation yang baik dengan segenap warga di sekolah, sehingga tujuan sekolah dan tujuan pendidikan berhasil dengan optimal. Ibarat nahkoda yang menjalankan sebuah kapal mengarungi samudra, kepala sekolah mengatur segala sesuatu yang ada di sekolah. Dalam Islam sendiri, kepemimpinan mendapatkan porsi bahasan yang tidak sedikit. Tidak sedikit ayat al-Qur’an dan Hadits yang membincang akan pentingnya kepemimpinan dalam sebuah komunitas. Beberapa istilah al-Quran yang terkait dengan kepemimpinan antara lain, khalifah (khilafah), imam (imamah) dan uli al-Amri. Disamping itu disebutkan juga prinsip-prinsip kepemimpinan, yang mana prinsip tersebut harus dimilki oleh seorang pemimpin walaupun tidak secara totalitasUntuk itulah, penulis merasa penting untuk mengaplikasikan teroi-teori kepemimpinan yang terdapat di dalam al-Qur’an tersebut dalam kaitannya dengan kepemimpinan kepala sekolah di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengetian kepemimpinan? 2. Bagaimana konsep kepemimpinan kepala sekolah?

3. Bagaimana teori kepemimpinan kepala sekolah dalam perspektif al-Qur’an? C. Tujuan Pembahasan Makalah ini bertujuan untuk menjelskan kembali konsep kepemimpinan kepala sekolah dan mengaitkannya dengan teori-teori kepemimpinan dalam ayat-ayat suci al-Qur’an. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kepemimpinan 1. Definisi Kepemimpinan Mengenai definisi kepemimpinan, banyak perbedaan pendapat mengenai definisinya. Hal ini disebabkan berbedanya sudut pendang dari masing-masing peneliti, mereka mendefinisikan kepemimpinan sesuai dengan perspektif-perspektif individual dan aspek dari fenomena yang paling menarik perhatian mereka. Jacobs & Jacques mendefinisikan kepemimpinan sebagai sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran.[1] Sedangkan menurut Tannenbaum, Weschler & Massarik kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi, yang dijalankan dalam suatu sistem situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapain satu tujuan atau bebrapa tujuan tertentu.[2] Dari pengertian di atas ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan suatu hubungan proses mempengaruhi yang terjadi dalam suatu komunitas yang diarahkan untuk tercapainya tujuan bersama. Disamping itu jika melihat rumus kepemimpinan yang diajukan oleh Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard, maka hubungan natara pemimpin dan yang dipimpin tidak harus selalu berada dalam hubungan yang hirarkis. 2. Syarat-Syarat Kepemimpinan Konsepsi mengenai persaratan kepamimpinan itu harus selalu di kaitkan dengan tiga hal pokok yaitu, a. Kekuasaan ialah kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu. b. Kewibawaan ialah kelebihan, keunggulan, keutamaan, shingga orang mampu “mbawani” atau mengatur orang lain, sehingga orang tersebut patuh pada pimpinan dan bersedia melakukakan perbuatan-perbuatan tertentu. c. Kemampuan ialah segala daya, kemampuan, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan/ ketrampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa.[3] 3. Sifat-Sifat Pemimpin Penilaian sukses atau atau gagalnya pemimpin antara lain dilakukan dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas perilakunya. Diantara para penganut teori sifat/ kesifatan dari kepemimpinan (the traitist theory of leadership) adalah Ordway Tead. Menurut Ordway, ada sepuluh sifat-sifat kepemimpinan, yaitu ; a) Energi jasmaniah dan mental (Psysical and nervous energy) b) Kesadaran akan tujuan dan arah (A sense of purpose and direction) c) Antusiame (enthusiasm)

d) Keramahan dan kecintaan (Friendliness and affection) e) Integritas (integrity) f) Penguasaan teknis (technical mastery) g) Ketegasan dalam mengambil keputusan (decisiveness) h) Kecerdasan (intelligence) i) Kepercayaan (faith).[4] B. Konsep Kepala Sekolah 1. Pengertian Kepala Sekolah Keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah. Karena dia sebagai pemimpin dilembaganya, maka dia harus mampu membawa lembaganya kearah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, dia harus mampu melihat adanya berubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan globalisasi yang lebih baik. Kepala sekolah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anak didiknya Kepala sekolah adalah tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat diamana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.[5] Dilembaga persekolahan, kepala sekolah atau yang lebih populer sekarang disebut sebagai ”guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah”, bukanlah mereka yang kebetulan mempunyai nasib baik senioritas, apalagi secara kebetulan direkrut untuk menduduki posisi itu, dengan kinerja yang serba kaku dan mandul. Mereka diharapkan dapat menjadi sosok pribadi yang tangguh, andal dalam rangka pencapaian tujuan organisasi sekolah. Kepala sekolah adalah sebagai padanan dari shcool principal , yang tugas kesehariannya menjalankan principalship atau kekepalasekolahan. Istilah kekepalasekolahan mengandung makna sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah. Penjelasan ini dipandang penting, karena terdapat beberapa istilah untuk menyebut jabatan kepala sekolah, seperti administrasi sekolah (shcool administrator), pimpinan sekolah (shcool leader), manajer sekolah(shcool manajer), dan lain-lain.[6] Dari penjelasan diatas maka, bisa disimpulkan bahwasanya posisi kepala sekolah akan menetukan arah suatu suatu lembaga. Kepala sekolah merupakan pengatur dari program yang ada di sekolah. Karena nantinya diharapkan kepala sekolah akn membawa spirit kerja guru serta kultur sekolah dalam peningkatan mutu belajar siswa. 2. Fungsi dan Tugas Kepala Sekolah Kyte (1972) mengatakan bahwa seorang kepala sekolah mempunyai lima fugsi utama. Pertama bertanggungjawab atas keselamatan, kesejahteraan, dan perkembangan muridmurid yang ada di lingkungan sekolah. Kedua, bertanggungjawab atas keberhasilan dan kesejahteraan profesi guru. Ketiga, berkewajiban memberikan layanan sepenuhnya yang berharga bagi murid-murid dan guru-guru yang mungkin dilakukan melalui pengawasan resmi yang lain. Keempat, bertanggungjawab mendapatkan bantuan maksimal dari semua institusi pembantu. Kelima, bertanggungjawab untuk mempromosikan murid-murid terbaik melalui berbagai cara.

Sebagaimana firman Allah øŒÎ)ur tA$s% š�•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Al-Baqarah (2) ayat 30. Ayat tersebut mengisyaratkan bahwasnya seorang kepala sekolah merupakan amanah, yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan kepada manusia (warga sekolah) atas rakyat yang memberi amanah. Aswarni Sudjud, Moh. Saleh dan Tatang M Amirin dalam bukunya “Administasi Pendidikan” menyebutkan bahwa fungsi kepala sekolah: 1. Perumus tujuan kerja dan pembuat kebijaksanaan (policy) sekolah. 2. Pengatur tata kerja (mengorganisasi) sekolah, yang mencakup: a, mengatur pembagian tugas dan wewenang. b, mengatur petugas pelaksana. c, menyelenggarakan kegiatan (mengkoordinasi). 3. Pensupervisi kegiatan sekolah, meliputi: a. Mengatur kelancaran kegiatan. b. mengarahkan pelaksanaan kegiatan. c. mengevaluasi pelaksaanaan kegiatan. d. membimbing dan meningkatkan kemampuan pelaksana.[7] Tugas pokok dan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan adalah: 1. Perencanaan sekolah dalam arti menetapkan arah sekolah sebagai lembaga pendidikan dengan cara merumuskan visi, misi, tujuan, dan strategi pencapaian. 2. Mengorganisasikan sekolah dalam arti mebuat membuat struktur organiasasi (stucturing), menetapkan staff (staffing) dan menetapkan tugas dan fungsi masing-masing staff (functionalizinng) 3. Menggerakkan staf dalam arti memotivasi staf melalui internal marketing dan memberi contoh external marketing. 4. Mangawasi dalam arti melakukan supervisi, mengendalikan, dan membimbing semua staf dan warga sekolah. 5. Mengevaluasi proses dan hasil pendidikan untuk dijadikan dasar peningkatan dan pertumbuhan kualitas, serta melakukan problem “solving” baik secara analitis sistematis maupun pemecahan masalah secara kreatif, dan menghindarkan serta menanggulangi konflik[8]. Sebagai adamisnistrator kepala sekolah mengandung makna sebagai kepala sekolah dengan tugas pokok dan fungsi di bidang administrasian, pimpinan sekolah mengandung makna sebagai kepala sekolah yang menjalankan tugas pokok dan fungsi menggerakkan dan mempengaruhi guru-guru dan staf sekolah untuk bekerja. Manajer sekolah mengandung makna sebagai kepala sekolah dengan tugas pokok dan fungsi proses dan operatif dari keseluruhan aktivitas instituisinya, sedangkan school principal bermakna menjalankan tugas pokok dan fungsi sebagai principalship.[9] Pada dasarnya tugas kepala sekolah itu sangat luas dan kompleks. Rutinitas kepala sekolah menyangkut serangkaian pertemuan interpersonal secara berkelanjutan dengan murid, guru dan orang tua, atasan dan pihak-pihak terkait lainnya. Bllimberg (1987) membagi tugas kepala sekolah sebagai berikut: (1) Menjaga agar segala program sekolah berjalan sedamai mungkin (as peaceful as possible); (2) Menangani konflik atau menghindarinya; (3) Memulihkan kerjasama; (4) Membina para staf dan murid; (5) Mengembangkan organisasi; (6) Mengimplementasi ide-ide pendidikan

Untuk memenuhi tugas-tugas di atas, dalam segala hal hendaknya kepala sekolah berpegangan kepada teori sebagai pembimbing tindakannya. Teori ini didasarkan pada pengalamannya, karakteristik normatif masyarakat dan sekolah, serta iklim instruksional dan organisasi sekolah. 3. Kualitas Kepala Sekolah Yang Efektif Kualitas dan kompetensi kepala sekolah secara umum setidaknya mengacu kepada empat hal pokok, yaitu; (a) sifat dan ketrampilan kepemimpinan, (b) kemampuan pemecahan masalah, (c) ketrampilan sosial, dan (d) pengetahuan dan kompetensi profesional. Dalam kaitannya peningkatan kinerja tenaga kependidikan, dan kualitas sekolah, kepala sekolah profesional seperti disarankan Sellis harus memperhatikan hal-hal berikut: 1. Mempunyai visi atau daya pandang yang mendalam tentang mutu yang terpadu bagi lembaganya maupun bagi tenaga kependidikan dan peserta didik yang ada di sekolah. 2. Mempunyai komitmen yang jelas pada program peningkatan kualiatas. 3. Mengkomunikasi pesan yang berkaitan dengan kualitas. 4. Menjaminkan kebutuhan peserta didik sebagai perhatian kegiatan dan kebijakan sekolah. 5. Menyakinakn terhadap para pelanggan (peserta didik, oranng tua, mayarakat,) behwa terdapat “channel” cocok untuk meyampaiakan harapan dan keinginan 6. Pemimpin mendukung pengembangan tenaga kependidikan. 7. Tidak menyalahkan pihak lain jika ada masalah yang muncul tanpa dilandasi bukti yang kuat. 8. Pemimpin melakukan inovasi. 9. Menjamin stuktur organisasi yang menggambarkan tanggungjawab yang jelas. 10. Mengembangkan komitmen untuk mencoba menghilangkan setiap penghalang, baik bersifar oragnisasional maupun budaya. 11. Membangun tim kerja yang efektif. Mengembangkan mekanisme yanng cocok untuk melakukan monitoring dan evaluasi. [10] C. Konsep Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Al-Qur’an 1. Istilah Kepemimpinan dalam Al-Qur’an Al-Qur’an banyak membahas masalah kehidupan salah satunya adalah kepemimpinan. Di dalam Al-Qur’an kepemimpinan diungkapkan dengan berabagai macam istilah antara lain khalifah, Imam, Uli al-Amri, dan masih banyak lagi yang lainnya. a. Khalifah Dalam Al-Qur’an kata yang berasal dari Kh-l-f ini ternyata disebut sebanyak 127 kali, dalam 12 kata kejadian. Maknanya berkisar diantara kata kerja menggantikan, meninggalkan, atau kata benda pengganti atau pewaris, tetapi ada juga yang artinya telah “menyimpang” seperti berselisih, menyalahi janji, atau beraneka ragam.[11] Sedangkan dari perkataan khalf yang artinya suksesi, pergantian atau generasi penerus, wakil, pengganti, penguasa – yang terulang sebanyak 22 kali dalam Al-Qur’an – lahir kata khilafah. Kata ini menurut keterangan Ensiklopedi Islam, adalah istilah yang muncul dalam sejarah pemerintahan Islam sebagai institusi politik Islam, yang bersinonim dengan kata imamah yang berarti kepemimpinan.[12] Adapu ayat-ayat yang menunjukkan istilah khalifah baik dalam bentuk mufrad maupun

jamaknya, antara lain: ‫وإذ قال ربك للملئكة إني جاعل في الرض خليفة، قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك‬ 30 :‫)ونقدس لك، قال إني أعلم ما ل تعلمون )البقرة‬ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." ‫أوعجبتم أن جاءكم ذكر من ربكم على رجل منكم لينذركم واذكروا إذ جعلكم خلفاء من بعد قوم نوح وزادكم في الخلق‬ 69 :‫)بصطة فاذكروا آلء ال لعلكم تفلحون )العراف‬ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. ‫وهو الذي جعلكم خلئف الرض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم في ما ءاتا كم ، إن ربك سريع العقاب وإنه‬ 165 :‫)لغفور الرحيم )النعام‬ Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ‫يا داود إنا جعلناك خليفة في الرض فاحكم بين الناس بالحق ول تتبع الهوى فيضلك عن سبيل ال ، إن الذين يضلون‬ 26 :‫)عن سبيل ال لهم عذاب شديد العقاب )ص‬ Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. ‫هو الذي جعلكم خلئف في الرض ، فمن كفر فعليه كفره ول يزيد الكافرين كفرهم عند ربهم إل مقتا ، ول يزيد‬ 39 :‫)الكافرين كفرهم إل خسارا )فاطر‬ Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. Dari beberapa ayat tersebut di atas menjadi jelas, bahwa konsep khalifah dimulai sejak nabi Adam secara personil yaitu memimpin dirinya sendiri, dan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam juga mencakup memimpin dirinya sendiri yakni mengarahkan diri sendiri ke arah kebaikan. Disamping memimpin diri sendiri, konsep khalifah juga berlaku dalam memimpin umat,

hal ini dapat dilihat dari diangkatnya nabi Daud sebagai khalifah. Konsep khalifah di sini mempunyai syarat antara lain, tidak membuat kerusakan di muka bumi, memutuskan suatu perkara secara adil dan tidak menuruti hawa nafsunya. Allah memberi ancaman bagi khalifah yang tidak melaksanakan perintah Allah tersebut. b. Imam Dalam Al-Qur’an kata imam di terulang sebanyak 7 kali atau kata aimmah terulang 5 kali. Kata imam dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa arti yaitu, nabi, pedoman, kitab/buku/teks, jalan lurus, dan pemimpin.[13] Adapun ayat-ayat yang menunjukkan istilah imam antara lain: 74 :‫)والذين يقولون ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما )الفرقان‬ Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. :‫وإذ ابتلى إبراهيم ربه بكلمات فأتمهن قال إني جاعلك للناس إماما قال ومن ذريتي قال ل ينال عهد الظالمين )البقرة‬ 124) Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". 73 :‫)وجعلناهم أئمة يهدون بأمرنا وأوحينا عليهم فعل الخيرات وإقام الصلة وإيتاء الزكاة وكانوا لنا عابدين )النبياء‬ Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah, 4 :‫)ونريد أن نمن على الذين استضعفوا في الرض ونجعلهم أئمة ونجعلهم الوارثون )القصص‬ Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) Konsep imam dari bebrapa ayat di atas menunjukkan suami sebagai pemimpin rujmah tangga dan juga nabi Ibrahim sebagai pemimpin umatnya. Konsep imam di sini, mempunyai syarat memerintahkan kepada kebajikan sekaligus melaksanakannya. Dan juga aspek menolong yang lemah sebagaimana yang diajarkan Allah, juga dianjurkan. c. Uli al- Amri Istilah Ulu al-Amri oleh ahli Al-Qur’an, Nazwar Syamsu, diterjemahkan sebagai functionaries, orang yang mengemban tugas, atau diserahi menjalankan fungsi tertentu dalam suatu organisasi.[14] Hal yang menarik memahami uli al-Amri ini adalah keragaman pengertian yang terkandung dalam kata amr. Istilah yang mempunyai akar kata yang sama dengan amr yang berinduk kepada kata a-m-r, dalm Al-Qur’an berulang sebanyak 257 kali. Sedang kata amr sendiri disebut sebanyak 176 kali dengan berbagai arti, menurut konteks ayatnya. [15] Kata amr bisa diterjemahkan dengan perintah (sebagai perintah Tuhan), urusan (manusia atau Tuhan), perkara, sesuatu, keputusan (oleh Tuhan atau manusia), kepastian (yang

ditentukan oleh Tuhan), bahkan juga bisa diartikan sebagaia tugas, misi, kewajiban dan kepemimpinan.[16] Berbeda dengan ayat-ayat yang menunjukkan istilah amr, ayat-ayat yang yang menunjukkan istilah uli-al-Amri dalam Al-Qur’an hanya disebut 2 kali. ‫ياأيها الذين أمنوا أطيعوا ال وأطيعوا الرسول وأولى المر منكم ، فإن تنازعتم في شيئ فردوه إلى ال والرسول إن‬ 59 :‫)كنتم تؤمنون بال واليوم الخر ، ذلك خير وأحسن تأويل )النساء‬ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. ‫وإذا جاءكم أمر من المن أو الخوف أذاعوا به ، ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولى المر منهم لعلمه الذين يستنبطونه‬ 83:‫)منهم ، ولول فضل ال عليكم ورحمته لتبعتم الشيطان إل قليل )النساء‬ Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). Adapun maksud dari dua ayat di atas jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan uli al-Amri adalah mereka yang mengurusi segala urusan umum, sehingga mereka termasuk orang-orang yang harus ditaati setelah taat terhadap perintah Rasul. Apabila terjadi persilangan pendapat maka yang diutamakan adalah Allah dan RasulNya. 2. Prinsip-prinsip Kepemimpinan Dalam Al-Qur’an juga menyebutkan prinsip-prinsip kepemimpinan antara lain, amanah, adil, syura(musyawarah), dan amr bi al-ma’ruf wa nahy ‘an al- munkar. a. Amanah Dalam Kamus Kontemporer (al-Ashr) Amanah diartikan dengan kejujuran, kepercayaan (hal dapat dipercaya).[17] Amanah ini merupakan salah satu sifat wajib bagi Rasul. Ada sebuah ungkapan “kekuasan adalah amanah, karena itu harus dilaksanakan dengan penuh amanah”. Ungkapan ini menurut Said Agil Husin Al-Munawwar, menyiratkan dua hal. Pertama, apabila manusia berkuasa di muka bumi, menjadi khalifah, maka kekuasaan yang diperoleh sebagai suatu pendelegasian kewenangan dari Allah SWT. (delegation of authority) karena Allah sebagai sumber segala kekuasaan. Dengan demikian, kekuasaan yang dimiliki hanyalah sekedar amanah dari Allah yang bersifat relative, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Kedua,karena kekuasaan itu pada dasarnya amanah, maka pelaksanaannya pun memerlukan amanah. Amanah dalam hal ini adalah sikap penuh pertanggungjawaban, jujur dan memegang teguh prinsip. Amanah dalam arti ini sebagai prinsip atau nilai.[18] Mengenai Amanah ini Allah berfirman: ‫إنا عرضنا المانة على السماوات والرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن منها وحملها النسان ، إنه كان ظلوما‬ 72 :‫)جهول )الحزاب‬ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-

gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh Menurut Hamka, ayat tersebut bermaksud menggambarkan secara majaz atau dengan ungkapan, betapa berat amanah itu, sehingga gunung-gunung, bumi dan langitpun tidak bersedia memikulnya. Dalam tafsir ini dikatakan bahwa hanya manusia yang mampu mengemban amanah, karena manusia diberi kemampuan itu oleh Allah, walaupun mereka ternyata kemudian berbuat dzalim, terhadap dirinya sendiri, maupun orang lain serta bertindak bodoh, dengan mengkhianati amanah itu. [19] ‫إن ال يأمركم أن تؤدوا المانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل، إن ال نعما يعظكم به، إن ال كان‬ ّ 58 :‫)سميعا بصيرا )النساء‬ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dua ayat di atas jelas menunjukkan perintah Allah mengenai harus dilaksanakannya sebuah amanah. Manusia dalam melaksanakan amanah yang dikaitkan dengan tugas kepemimpinannya memerlukan dukungan dari ilmu pengetahuan dan hidayah dari Allah. Hal ini dapat dilihat firman Allah “Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu”, pengajarannya bisa lewat hidayah yang merupakan anugrah dari Allah, juga bisa melalui ilmu pengetahuan. Dalam Al-Qur’an istilah Amanah juga diungkapkan dengan kata Risalah. 79 :‫)فتولى عنهم وقال يا قومي لقد أبلغتكم رسالة ربي ونصحت لكم ولكن ل تحبون التاصحين )العراف‬ Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat". Dalam ayat datas, kata risalah yang dimaknai amanat. Maksudnya disini Allah telah memberikan amanat kepada nabi Shaleh untuk menyampaikan ajaran Tuhan kepada umatnya dan Nabi disini juga berfungsi sebagai pemimpin bagi umatnya. b. Adil Kata Adil ini merupakan serapan dari bahsa arab ‘adl. Dalam Al-Qur’an istilah adil menggunakan tiga term yaitu ‘adl, qisth dan haqq. Dari akar kata ‘a-d-l sebagai kata benda, kata ini disebut sebanyak 14 kali dalam Al-Qur’an. Sedangkan kata qisth berasal dari akar kata q-s-th, diulang sebanyak 15 kali sebagai kata benda.[20] Sedangkan kata haqq dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 251 kali.[21] Adapun ayat-ayat yang berbicara mengenai keadilan antara lain: 29 :‫)قل أمر ربي بالقسط، وأقيموا وجوهكم عند كل مسجد وادعوه مخلصين له الدين، كما بدأكم تعودون )العراف‬ Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)". Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah menyuruh orang menjalankan keadailan. Secara

konkret, yang disebut keadilan (qisth) itu adalah: (a) mengkonsentrasikan perhatian dalam shalat kepada Allah dan (b) mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.[22] Dari uraian tersebut dapat ditarik kepada aspek kepemimpinan, yaitu seorang pemimpin harus benar-benar ikhlas dalam menjalankan tugasnya dan juga orientasinya semata-mata karena Allah. Sehingga ketika dua hal tersebut sudah tertanam maka akan melahirkan suatu tingkah laku yang baik. ‫إن ال يأمركم أن تؤدوا المانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إن ال نعما يعظكم به، إن ال كان‬ ّ 58 :‫)سميعا بصيرا )النساء‬ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Ayat di atas juga telah disinggung pada pembahasan amanah, karena ayat tersebut mengajarkan manusia tentang dasar-dasar pemerintahan yang baik dan benar yaitu menjalankan amanah dan menetapkan suatu hukum dengan adil. ‫ولقد أرسلنا رسل من قبلك منهم من قصصنا عليك ومنهم من لم نقصص عليك، وما كان لرسول أن يأتي بأية إل بإذن‬ 78 :‫)ال، فإذا جاء أمر ال قضي بالحق وخسر هنالك المبطلون )المؤمن‬ Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil Ayat ini juga berisi tentang perintah berbuat adil, yang didalmnya digambarkan tentang keadilan yang dijalnkan oleh utusan Allah yang juga berfungsi sebagai pemimpin bagi umatnya. c. Musyawarah Musyawarah, apabila diambil dari kata kerja syawara-yusyawiru, atau syura, yang berasal dari kata syawara-yasyuru, adalah kata-kata yang terdapat dalam Al-Qur’an. Yang pertama merujuk merujuk pada ayat 159 surat Alu Imran, sedangkan istilah syura merujuk kepada Al-Qur’an surat Asy-Syura ayat 38.[23] Selain dua istilah di atas ada juga kata yang maknanya menunjukkan musyawarah yaitu kata i’tamir dalam surat athThalaq ayat 6. Adapun ayat-ayat tersebut di atas yaitu: ‫فبما رحمة من ال لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لنفضوا من حولك، فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في‬ ّ 159 :‫)المر، فإذا عزمت فتوكل على ال، إن ال يحب المتوكلين )ال عمران‬ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Dari kata “wa syawir hum” yang terdapat pada ayat ini mengandung konotasi “saling”

atau “berinteraksi”, antara yang di atas dan yang di bawah.[24] Dari pemahaman tersebut dapat ditarik kesimpulan behwa pemimpin yang baik adalah yang mengakomodir pendapat bawahannya artinya tidak otoriter. 38 :‫)والذين استجابوا لربهم وأقاموا الصلة وأمرهم شورى بينهم ومما رزقناهم ينفقون )الشورى‬ Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Jika pada ayat sebelumya menunjukkan adanya interaksi, maka pada ayat ini yakni istilah syura terkandung konotasi “berasal dari pihak tertentu”. Dari sini juga dapat ditarik pemahaman bahwa tidak selamanya pemimpin harus mendengarkan bawahannya, artinya pemimpin harus bisa memilih situasi dan kondisi kapan dia harus mendengarkan bawahannya dan kapan pula dia harus memutuskan secara mandiri. Jadi pemimpin yang baik adalah pemimpin yang situasional. ‫أسكنوهن من حيث سكنتم من وجدكم ول تضآروهن لتضيقوا عليهن، وإن كن أولت حمل فأنفقوا عليهن حتى يضعن‬ ّ ّ 6 :‫)حملهن، فإن أرضعن لكم فأتوهن أجورهن، وأتمروا بينكم بمعروف، وإن تعاسرتم فسترضع له أخرى )الطلق‬ ّ ّ ّ Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. Ayat ini menceritakan kepamimpinan suami dalam rumah tangga, yang mana diperintahkan kepada suami untuk memusyawarahkan segala sesuatu kepada pihak istri. d. Amr Ma’ruf Nahy Munkar Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia, ada juga entry “amar makruf Nahi Munkar” yang diartikan sebagai “suruuhan untuk berbuat baik serta mencegah dari perbuatan jahat.” Istilah itu diperlakukan dal satu kesatuan istilah, dan satu kesatuan arti pula, seolah-olah keduanya tidak dapat dipisahkan.[25] Istilah amr ma’ruf nahy munkar - seperti ya’muruna bi al-ma’ruf wa yanhawna ‘an al-munkar - ternyata secara berulang disebut secara utuh, artinya tidak dipisahkan antara amr ma’ruf dan nahy munkar. Istilah tersebut berulang cukup banyak, 9 kali, sekalipun hanya dalam 5 surat.[26] Adapun ayat-ayat tersebut antara lain: 104 :‫)ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، وأولئك هم المفلحون )ال عمران‬ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. ‫والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أوليآء بعض، يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلة ويؤتون الزكاة‬ 71 :‫)ويطيعون ال والرسول، أولئك سيرحمهم ال، إن ال عزيز حكيم )التوبة‬ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka

taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ‫الذين إن مكناهم في الرض أقاموا الصلة وأتوا الزكاة وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، ول عاقبة المور‬ 41 :‫))الحج‬ (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. Ketiga ayat di atas menunjukkan perintah amr ma’ruf dan nahy munkar. Dalam AlQur’an dan Terjemahnya yang disusun oleh Hasbi Ashshiddiqi dkk., ma'ruf diartikan sebagai segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.[27] Dengan demikian dapat dipahami bahwa prinsip kepemimpinan amr ma’ruf dan nahy munkar sangat ditekankan oleh Allah karena dari prinsip ini akan melahirkan hal-hal yang akan membawa kebaikan pada suatu kepemimpinan. 3. Sifat-sifat Pemimpin dalam Al-Qur’an Setelah membahas prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Al-Qur’an secara global, maka selanjutnya akan dibahas secara lebih rinci sifat dan tugas pemimpin. Agar mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan sukses, seorang pemimpin harus memiliki beberapa sifat, diantaranya adalah: a. Islam. Islam di sini tentu saja bukan sekedar Islam KTP, namum Muslim yang benarbenar memahami dan menjalankan ajaran agamanya. Allah melarang hamba-Nya untuk menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. ،‫ليتخذ المؤمنون الكافرين أولياء من دون المؤمنين، ومن يفعل ذلك فليس من ال في شيئ إل أن تتقوا منهم تقاة‬ 28 :‫)ويحذركم ال نفسه، وإلى ال المصير )ال عمران‬ Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). b. Ketaqwaan. Dengan ketaqwaan ini akan menjauhkan dari pelanggaran.[28] Allah berfirman: .......197 :‫)وتزودوا فإن خير الزاد التقوى، واتقون يا أولى اللباب )البقرة‬ Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal. c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan perusahaannya. Semakin besar kemampuan dan pengetahuannya terhadap urusan perusahaan, pengaruhnya akan semakin kuat. Allah telah memberikan perumpamaan, 1 :‫)تبارك الذي بيده الملك وهو على كل شيء قدير)الملك‬ Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. d. Mempunyai keistimewaan lebih dibanding dengan orang lain. Hal ini dijelaskan dalam kisah pengangkatan raja Thalut. ‫وقال لهم نبيهم إن ال قد بعث لكم طالوت ملكا، قالوا أنى يكون له الملك علينا ونحن أحق بالملك منه ولم يؤت سعة من‬ :‫الماال، قال إن ال اصطفاه عليكم وزاده بسطة في العلم والجسم، وال يؤتي ملكه من يشاء وال واسع عليم )البقرة‬

247) Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. e. Memahami kebiasaan dan bahasa orang yang menjadi tanggung jawabnya. :‫وما أرسلنا من رسول إل بلسان قومه ليبين لهم، فيضل ال من يشاء ويهدي من يشاء، وهو العزيز الحكيم )إبراهيم‬ 4) Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Selain itu, kebiasaan dan bahasanya juga harus jelas sehingga dapat dipahami oleh orang lain, sebagaimana Musa a.s. memohon kepada Allah 27 :‫)واحلل عقدة من لساني )طه‬ Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, 28. supaya mereka mengerti perkataanku. f. Mempunyai karisma dan wibawa dihadapan manusia sebagaimana perkataan kaum Nabi Syu’aib a.s. :‫قالوا يا شعيب ما نفقه كثيرا مما تقول وإنا لنراك فينا ضعيفا، ولو ل رهطك يرجمناك، وما أنت علينا بعزيز )هود‬ 91) Mereka berkata: "Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami." g. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu. Demikianlah yang diperintahkan Allah kepada Nabi Daud a.s. ketika dia diangkat menjadi khalifah di muka bumi, ‫يا داود إنا جعلناك خليفة في الرض فاحكم بين الناس بالحق ول تتبع الهوى فيضلك عن سبيل ال ، إن الذين يضلون‬ 26 :‫)عن سبيل ال لهم عذاب شديد العقاب )ص‬ Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. h. Bermuamalah dengan (lembut dan kasih sayang, agar orang lain simpatik kepadanya. Kasih sayang adalah salah satu sifat Rasulullah saw. Sebagaimana firman Allah berikut ini, 159 :‫)فبما رحمة من ال لنت لهم، ولو كنت فظا غليظ القلب لنفضوا من حولك، )ال عمران‬ ّ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu., i. Menyukai suasana saling memaafkan antara pemimpin dan pengikutnya, serta membantu mereka agar segara terlepas dari kesalahan. Allah memerintah Rasulullah

saw., ....... 159 :‫)فاعف عنهم واستغفر لهم .......)ال عمران‬ Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka j. Bermusyawarah dengan para pengikutnya serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka, seperti firman Allah berikut ini, ........ 159 :‫)وشاورهم في المر........ )ال عمران‬ dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu k. Menertibakan semua urusan dan memebulatkan tekad untuk kemudian bertawakal (menyerahkan urusan) kepada Allah. Firman Allah, ......... 159 :‫)فإذا عزمت فتوكل على ال، إن ال يحب المتوكلين )ال عمران‬ Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. l. Membangun kesadaran akan adanya muraqabah (pengawasan dari Allah) hingga terbina sikap ikhlas di manapun, walaupun tidak ada yang mengawasinya kecuali Allah. Allah berfirman, 41 :‫)الذين إن مكناهم في الرض أقاموا الصلة )الحج‬ (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang. m. Memberikan takafuul ijtima’ santunan sosial kepada para anggota, sehingga tidak terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan rasa dengki dan perbedaan strata sosial yang merusak. …..41 :‫)أقاموا الصلة وأتوا الزكاة……. )الحج‬ …….niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat. n. Mempunyai power ‘pengaruh’ yang dapat memerintah dan mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control ‘pengawasan’ atas pekerjaan anggota, meluruskan kekeliruan, serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran. …..41 :‫)وأمروا بالمعروف ونهوا عن المنكر، ول عاقبة المور……. )الحج‬ ……..menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. o. Tidak membuat kerusakan di muka bumi, serta tidak merusak ladang, keturunan dan lingkungan. 205 :‫)وإذا تولى سعى في الرض ليفسد فيها ويهلك الحرث والنسل، وال ل يحب الفساد )البقرة‬ Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan p. Mau mendengarkan nasihat dan tidak sombong karena nasihat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh. Oleh karena itu Allah telah mengancam orang yang sombong dengan berfirman, 206 :‫)وإذا قيل له اتق ال أخذته العزة بالثم، فحسبه جهنم، ولبئس المهاد )البقرة‬ Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburukburuknya. [29] D. Analisis Dari uraian di atas, dapat dilihat bahwa antara konsep kepemimpinan secara umum dan

konsep kepemimpinan dalam Al-Qur’an ada perbedaaanya. Hal ini dapat dilihat dari pengertian kepemimpinan secara umum yang merupakan suatu hubungan proses mempengaruhi yang terjadi dalam suatu komunitas yang diarahkan untuk tercapainya tujuan bersama. Sedangkan konsep kepemimpinan dalam Al-Qur’an yaitu khalifah, imam, dan uli al-Amri dengan segala nsyarat-syaratnya dinilai lebih komprehensif dalam memaknai sebuah kepemimpinan yang akhirnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang handal dan dapat membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Selain itu, kedua konsep tersebut dalam mengemukakan sifat-sifat pemimpin yang ideal, sama-sama menyentuh sisi materialisme dan sisi idealisme. Misalnya dalam konsep kepemimpinan umum, sifat pemimpin antara lain, mempunyai energi jasmaniah dan mental, mempunyai kesadaran akan tujuan dan arah, mempunyai antusiame dan lain sebagainya. Sedangkan konsep pemimpin dalm Al-Qur’an antara lain memiliki sifat-sifat yaitu, Islam, bertaqwa, memahami situasi dan kondisi masyarakatnya, mempunyai karisma dan wibawa dihadapan manusia, konsekuen dengan kebenaran, ikhlas, dan bertingkah laku yang baik. Dari dua konsep tentang pemimpin ideal di atas, dapat dilihat bahwa, walaupun kedua konsep tersebut sama-sama menyentuh sisi materialisme dan sisi idealisme, namun konsep yang ditawarkan oleh Al-Qur’an lebih ditekankan pada aspek idealisme. Karena aspek idealisme merupakan kunci dari semua tingkah laku yang ada. Misalnya ikhlas, dari orang yang ikhlas tidak akan pernah ada penyelewengan karena orang yang ikhlas hanya berniat mencari ridla Allah semata. Lain halnya dengan konsep kepemimpinan umum, dalam konsep ini aspek materialisme lebih dikedepankan. Misalnya mempunyai energi jasmaniah dan mental serta mempunyai kesadaran akan tujuan dan arah. Sifat ini sangat jelas orientasinya lebih pada materialisme. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa konsep kepemimpinan dalam Al-Qur’an lebih komprehensif jika dibandingkan dengan konsep kepemimpinan secara umum. Karena AlQur’an merupakan firman Allah yang tentu saja sangat jauh dari kekurangan. Disamping itu, Allah adalah pencipta manusia yang lebih tahu terhadap hal-hali yang dibutuhkan oleh manusia. BAB III PENUTUP Kepala sekolah merupakan faktor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya. Kepala sekolah dituntut senantiasa meningkatkan efektifitas kinerja. Melihat penting dan strategisnya posisi kepala sekolah dalam mewujudkan tujuan sekolah, maka seharusnya kepala sekolah harus mempunyai nilai kemampuan relation yang baik dengan segenap warga di sekolah, sehingga tujuan sekolah dan tujuan pendidikan berhasil dengan optimal. Ibarat nahkoda yang menjalankan sebuah kapal mengarungi samudra, kepala sekolah mengatur segala sesuatu yang ada di sekolah.Dalam al-Quran telah terdapat nilai-nilai agung tentang arti pentingnya kepemimpinan. Di samping itu, konsep-konsep bagaimana seharusnya seorang pemimpin berbuat telah terdapat dalam banyak penulis jelaskan dalam makalah ini. Akhirnya penulis hanya berharap semoga makalah ini dapat menjadi pencerahan baru bagi para kepala sekolah dan calon-calon manajer lembaga pendidikan di masa yang akan datang. [1] Gary Yukl, Kepemimpinan Dalam Organisasi, terj. Jusuf Udaya, Prenhallindo,

Jakarta, 1994, hlm: 2 [2] Ibid [3] Kartini Kartono, Pemimpin Dan Kepemimpinan; Apakah Pemimpin Abnormal itu?, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998, hlm.: 28-31 [4] Ibid, hlm: 37-43 [5] Wohjosumidjo, Kepimpinan Kepala Sekolah, Jakarta: Raja Grafindo Persada: cetakan ke3, hlm. 83. [6] Sudarwan. Menjadi Komunitas Pembelajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 56. [7] Daryanto, Administarsi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hlm. 81. [8] Hari Suderadjat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, ( Bandung: Cipta Cekas Grafika, 2004), hlm. 112. [9] Sudarwan, Menjadi Komunitas Pembelajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 57. [10]Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 86. [11] M. Dawam Raharjo, Ensiklopedi Al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsepkonsep Kunci, Paramadina, Jakarta, 2002, Cet. II, hlm: 349 [12] Ibid, hlm: 357 [13] Said Agil Husin Al-Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Ciputat Press, Jakarta, 2002, hlm: 197-199 [14] M. Dawam Raharjo, Op.Cit., hlm: 466 [15] Ibid [16] Ibid [17] Atabik Ali & Ahmad Zuhdi Mudlor, Kamus Kontemporer Arab Indonesia, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, tt, hlm: 215 [18] Said Agil Husin Al-Munawar, Op.Cit., hlm: 200 [19] M. Dawam Raharjo, Op.Cit., hlm: 195 [20] Ibid., hlm: 369 [21] Jumlah dari kalimat haqq penulis temukan di dalam program Holy Qur’an. [22] M. Dawam Raharjo, Op.Cit., hlm: 370 [23] Ibid..,hlm: 441-442 [24] Ibid., hlm: 443 [25] Ibid., hlm: 619 [26] Ibid., hlm: 624 [27] Hasbi Ashshiddiqi et.al., Al-Qur’an Dan Terjemahnya,, Departemen Agama RI, Jakarta, tt, hlm: 93 [28] M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, Mizan, Bandung, 1999, Cet. XV, hlm: 383 [29] Ali Muhammad Taufiq, Praktik Manajemen Berbasis Al-Qur’an, terj. Abdul Hayyie al-Kattani & Sabaruddin, Gema Insani Press, Jakarta, 2004, hlm: 37-41 http://alumnigontor.blogspot.com/2008/04/teori-kepemimpinan-dalam-perspektif-al.html

PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SEKOLAH DASAR NEGERI CEPOKO 01 KECAMATAN GUNUNGPATI.
• •

View clicks

Posted July 17th, 2009 by galihjoko

Proposal Skripsi

I. JUDUL PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KINERJA GURU DI SEKOLAH DASAR NEGERI CEPOKO 01 KECAMATAN GUNUNGPATI. II. LATAR BELAKANG Rendahnya kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional Penataan sumber daya manusia perlu diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui sistem pendidikan yang berkualitas baik pada jalur pendidikan formal, informal, maupun non formal, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi (Mulyasa 2004:4). Dikatakan lebih lanjut oleh Mulyasa tentang pentingnya pengembangan sistem pendidikan yang berkualitas perlu lebih ditekankan, karena berbagai indikator menunjukkan bahwa pendidikan yang ada belum mampu menghasilkan sumber daya sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan pembangunan. Sardiman (2005:125) mengemukakan guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahkan dan menuntun siswa dalam belajar. Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana (Mulyasa 2004:25). Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi yang sangat berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah harus memiliki kemampuan administrasi, memiliki komitmen tinggi,

dan luwes dalam melaksanakan tugasnya. Kepemimpinan kepala sekolah yang baik harus dapat mengupayakan peningkatan kinerja guru melalui program pembinaan kemampuan tenaga kependidikan. Oleh karena itu kepala sekolah harus mempunyai kepribadian atau sifat-sifat dan kemampuan serta keterampilan-keterampilan untuk memimpin sebuah lembaga pendidikan. Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga. Dalam pelaksanaan tugasn mendidik, guru memiliki sifat dan perilaku yang berbeda, ada yang bersemangat dan penuh tanggung jawab, juga ada guru yang dalam melakukan pekerjaan itu tanpa dilandasi rasa tanggung jawab, selain itu juga ada guru yang sering membolos, datang tidak tepat pada waktunya dan tidak mematuhi perintah. Kondisi guru seperti itulah yang menjadi permasalahan di setiap lembaga pendidikan formal. Dengan adanya guru yang mempunyai kinerja rendah, sekolah akan sulit untuk mencapai hasil seperti yang diharapkan dan guru. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru di SD Negeri Cepoko 01 Kecamatan Gunungpati”. III. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah : 1) Adakah pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati ? 2) Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati ? IV. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati. 2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati. V. MANFAAT PENELITIAN Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Teoritis a. Dapat menambah ilmu pengetahuan sebagai hasil dari pengamatan langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang diperoleh selain studi di perguruan tinggi. b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pembaca dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas kerja terhadap kinerja guru. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan sumbangan pemikiran dan perbaikan dalam kepemimpinan kepala sekolah. b. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai input bagi pimpinan dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan peningkatan kinerja guru.

c. Sebagai bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran guna meningkatkan kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati. VI. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 6.1 Tinjauan Kinerja Guru 6.1.1 Pengertian Kinerja Mangkunegara (2004: 67) mendefinisikan kinerja adalah hasil kerja yang secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Sulistiyani dan Rosidah (2003: 223) menyatakan kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha, dan kesempatan yang dapat dinilai dari hasil kerjanya. Secara definitif Bernandin dan Russell dalam Sulistiyani dan Rosidah (2003) juga mengemukakan kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan, serta waktu. Penilaian kinerja adalah menilai rasio hasil kerja nyata dari standar kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan setiap karyawan. (Hasibuan, 2005: 87). Menurut Andrew F. Sikula dalam Hasibuan (2005), penilaian kinerja adalah evaluasi yang sistematis terhadap pekerjaan yang telah dilakukan oleh karyawan dan ditujukan untuk pengembangan. Dale Yoder dalam Hasibuan (2005) mendefinisikan penilaian kinerja sebagai prosedur yang formal dilakukan di dalam organisasi untuk mengevaluasi pegawai dan sumbangan serta kepentingan bagi pegawai. Sedangkan menurut Siswanto (2003: 231) penilaian kinerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan manajemen atau penyelia. Penilai untuk menilai kinerja tenaga kerja dengan cara membandingkan kinerja atas kinerja dengan uraian atau deskripsi pekerjaan dalam suatu periode tertentu biasanya setiap akhir tahun. Berdasarkan pengertian tentang kinerja di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah hasil atau taraf kesuksesan yang dicapai seseorang dalam bidang pekerjaannya menurut kriteria tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu terutama atasan pegawai yang bersangkutan. 6.1.2 Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Penilaian kinerja sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan. Melalui penilaian tersebut, maka dapat diketahui bagaimana kondisi riil pegawai dilihat dari kinerja dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Adapun tujuan penilaian menurut Sulistiyani dan Rosidah (2003: 224) adalah : 1) Untuk mengetahui tujuan dan sasaran manajemen dan pegawai. 2) Memotivasi pegawai untuk memperbaiki kinerjanya. 3) Mendistribusikan reward dari organisasi atau instansi yang berupa kenaikan pangkat dan promosi yang adil. 4) Mengadakan penelitian manajemen personalia. Secara terperinci manfaat penilaian kinerja bagi organisasi, masih menurut Sulistiyani dan Rosidah (2003: 224) adalah : 1) Penyesuaian-penyesuaian kompensasi 2) Perbaikan kinerja 3) Kebutuhan latihan dan pengembangan 4) Pengambilan keputusan dalam hal penempatan promosi, mutasi, pemecatan,

pemberhentian dan perencanaan pegawai. 5) Untuk kepentingan penelitian pegawai 6.1.3 Kinerja Guru Kinerja guru adalah kemampuan dan usaha guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran sebaik-baiknya dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Kinerja guru yang dicapai harus berdasarkan standar kemampuan profesional selama melaksanakan kewajiban sebagai guru di sekolah. Berkaitan dengan kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, terdapat Tugas Keprofesionalan Guru menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Kinerja Guru yang baik tentunya tergambar pda penampilan mereka baik dari penampilan kemampuan akademik maupun kemampuan profesi menjadi guru artinya mampu mengelola pengajaran di dalam kelas dan mendidik siswa di luar kelas dengan sebaikbaiknya. Unsur-unsur yang perlu diadakan penilaian dalam proses penilaian kinerja guru menurut Siswanto (2003: 234) adalah sebagai berikut : 1) Kesetiaan Kesetiaan adalah tekad dan kesanggupan untuk menaati, melaksanakan dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab. 2) Prestasi Kerja Prestasi kerja adalah kinerja yang dicapai oleh seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya. 3) Tanggung Jawab Tanggung jawab adalah kesanggupan seorang tenaga kerja dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu serta berani membuat risiko atas keputusan yang diambilnya. Tanggung jawab dapat merupakan keharusan pada seorang karyawan untuk melakukan secara layak apa yang telah diwajibkan padanya. (Westra 1997: 291) Untuk mengukur adanya tanggung jawab dapat dilihat dari: a. Kesanggupan dalam melaksanakan perintah dan kesanggupan kerja. b. Kemampuan menyelesaikan tugas dengan tepat dan benar. c. Melaksanakan tugas dan perintah yang diberikan sebaik-baiknya. 4) Ketaatan Ketaatan adalah kesanggupan seseorang untuk menaati segala ketetapan, peraturan yang berlaku dan menaati perintah yang diberikan atasan yang berwenang. 5) Kejujuran Kejujuran adalah ketulusan hati seorang tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan serta kemampuan untuk tidak menyalahgunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya. 6) Kerja Sama Kerja sama adalah kemampuan tenaga kerja untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas dan pekerjaan yang telah ditetapkan sehingga mencapai daya guna dan hasil guna yang sebesar-besarnya. Kriteria adanya kerjasama dalam organisasi adalah:

a. Kesadaran karyawan bekerja dengan sejawat, atasan maupun bawahan. b. Adanya kemauan untuk membantu dalam melaksanakan tugas. c. Adanya kemauan untuk memberi dan menerima kritik dan saran. d. Tindakan seseorang bila mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas. 7) Prakarsa Prakarsa adalah kemampuan seseorang tenaga kerja untuk mengambil keputusan langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dan bimbingan dari atasan. 8) Kepemimpinan Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk meyakinkan orang lain sehingga dapat dikerahkan secara maksimal untuk melaksanakan tugas pokok. Kepemimpinan yang dimaksud adalah kemampuan kepala sekolah dalam membina dan membimbing guru untuk melaksanakan KBM terutama kegiatan merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran mengarah pada tercapainya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa terkait dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. 6.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru Kinerja Guru akan menjadi optimal, bilamana diintegrasikan dengan komponen sekolah baik kepala sekolah, fasilitas kerja, guru, karyawan, maupun anak didik. Pidarta (1995) dalam Saerozi (2005: 2) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu : 1) Kepemimpinan kepala sekolah, 2) Fasilitas kerja, 3) Harapan-harapan, dan 4) Kepercayaan personalia sekolah. Dengan demikian nampaklah bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan fasilitas kerja akan ikut menentukan baik buruknya kinerja guru. 6.2 Tinjauan Kepemimpinan Kepala Sekolah 6.2.1 Pengertian Kepemimpinan Menurut Soetopo & Soemanto (1984: 1) Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama. Kartini Kartono (1992: 49) dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” mengemukakan definisi kepemimpinan dari berbagai tokoh, antara lain : T. Hani Handoko (1995: 294) mendefinisikan kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai sasaran. Sedangkan menurut Stoner dalam Handoko (1995) Kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya. Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi manusia baik perorangan maupun kelompok. (Miftah Thoha 2004: 264) Dari berbagai pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpian untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk bekerjasama mencapai suatu tujuan kelompok.

6.2.2 Sifat-Sifat Kepemimpinan Upaya untuk menilai sukses tidaknya pemimpin itu dilakukan antara lain dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas atau mutu perilakunya, yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai kepemimpinannya. Teori kesifatan atau sifat dikemukakan oleh beberapa ahli. Dalam Handoko (1995: 297) Edwin Ghiselli mengemukakan teori mereka tentang teori kesifatan atau sifat kepemimpinan. Edwin Ghiselli mengemukakan 6 (enam) sifat kepemimpinan yaitu : 1) Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksana fungsi-fungsi dasar manajemen. 2) Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan keinginan sukses 3) Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif, dan daya pikir 4) Ketegasan, atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat. 5) Kepercayaan diri, atau pandangan pada diri sehingga mampu menghadapi masalah. 6) Inisiatif, atau kemampuan untuk bertindak tidak tergantung, mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inofasi. Berbagai teori kesifatan juga dikemukakan oleh Ordway Tead dan George R. Terry dalam Kartono (1992: 37). Teori kesifatan menurut Ordway Tead adalah sebagai berikut: 1) Energi jasmaniah dan mental Yaitu mempunyai daya tahan, keuletan, kekuatan baik jasmani maupun mental untuk mengatasi semua permasalahan. 2) Kesadaran akan tujuan dan arah Mengetahui arah dan tujuan organisasi, serta yakin akan manfaatnya. 3) Antusiasme Pekerjaan mempunyai tujuan yang bernilai, menyenangkan, memberikan sukses, dan dapat membangkitkan antusiasme bagi pimpinan maupun bawahan 4) Keramahan dan kecintaan Dedikasi pemimpin bisa memotivasi bawahan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan semua pihak, sehingga dapat diarahkan untuk mencapai tujuan. 5) Integritas Pemimpin harus bersikap terbuka; merasa utuh bersatu, sejiwa dan seperasaan dengan anak buah sehingga bawahan menjadi lebih percaya dan hormat. 6) Penguasaan teknis Setiap pemimpin harus menguasai satu atau beberapa kemahiran teknis agar ia mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin. 7) Ketegasan dalam mengambil keputusan Pemimpin yang berhasil pasti dapat mengambil keputusan secara cepat, tegas dan tepat sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya. 8) Kecerdasan Orang yang cerdas akan mampu mengatasi masalah dalam waktu yang lebih cepat dan cara yang lebih efektif. 9) Keterampilan mengajar Pemimpin yang baik adalah yang mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong, dan menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu. 10) Kepercayaan

Keberhasilan kepemimpinan didukung oleh kepercayaan anak buahnya, yaitu percaya bahwa pemimpin dengan anggota berjuang untuk mencapai tujuan. Teori Kesifatan menurut George R. Terry adalah sebagai berikut: 1) Kekuatan Kekuatan badaniah dan rokhaniah merupakan syarat yang pokok bagi pemimpin sehingga ia mempunyai daya tahan untuk menghadapi berbagai rintangan. 2) Stabilitas emosi Pemimpin dengan emosi yang stabil akan menunjang pencapaian lingkungan sosial yang rukun, damai, dan harmonis. 3) Pengetahuan tentang relasi insani Pemimpin memiliki pengetahuan tentang sifat, watak, dan perilaku bawahan agar bisa menilai kelebihan/kelemahan bawahan sesuai dengan tugas yang diberikan. 4) Kejujuran Pemimpin yang baik harus mempunyai kejujuran yang tinggi baik kepada diri sendiri maupun kepada bawahan. 5) Obyektif Pemimpin harus obyektif, mencari bukti-bukti yang nyata dan sebab musabab dari suatu kejadian dan memberikan alasan yang rasional atas penolakannya. 6) Dorongan pribadi Keinginan dan kesediaan untuk menjadi pemimpin harus muncul dari dalam hati agar ikhlas memberikan pelayanan dan pengabdian kepada kepentingan umum. 7) Keterampilan berkomunikasi Pemimpin diharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, mahir mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda-beda untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan. 8) Kemampuan mengajar Pemimpin diharapkan juga menjadi guru yang baik, yang membawa orang belajar pada sasaran-sasaran tertentu untuk menambah pengetahuan, keterampilan agar bawahannya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya. 9) Keterampilan sosial Dia bersikap ramah, terbuka, mau menghargai pendapat orang lain, sehingga ia bisa memupuk kerjasama yang baik. 10) Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial Penguasaan kecakapan teknis agar tercapai efektifitas kerja dan kesejahteraan. Berdasarkan teori-teori tentang kesifatan atau sifat-sifat pemimpin diatas, dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat kepemimpinan kepala sekolah adalah : 1) Kemampuan sebagai pengawas (supervisory ability) 2) Kecerdasan 3) Inisiatif 4) Energi jasmaniah dan mental 5) Kesadaran akan tujuan dan arah 6) Stabilitas emosi 7) Obyektif 8) Ketegasan dalam mengambil keputusan 9) Keterampilan berkomunikasi 10) Keterampilan mengajar

11) Keterampilan sosial 12) Pengetahuan tentang relasi insani 6.2.3 Tugas-tugas Kepemimpinan 1) Berdasarkan pengertian bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi tingkah laku yang mengandung indikasi serangkaian tugas penting seorang pemimpin yaitu (Wahjosumidjo 2002: 40) : 1) Mendefinisikan misi dan peranan organisasi Misi dan peranan organisasi dapat dirumuskan dengan baik apabila seorang pemimpin lebih dulu memahami asumsi struktural sebuah organisasi. 2) Pemimpin merupakan pengejawantahan tujuan organisasi Dalam tugas ini pemimpin harus menciptakan kebijaksanaan ke dalam tatanan atau keputusan terhadap sarana untuk mencapai tujuan yang direncanakan. 3) Mempertahankan keutuhan organisasi Pemimpin bertugas untuk mempertahankan keutuhan organisasi dengan melakukan koordinasi dan kontrol melalui dua cara, yaitu melalui otoritas, peraturan, literally, melalui pertemuan, dan koordinasi khusus terhadap berbagai peraturan. 4) Mengendalikan konflik internal yang terjadi di dalam organisasi 6.2.4 Kepemimpinan yang Efektif Agar proses pengembangan para personalia pendidikan berjalan dengan baik, antara lain dibutuhkan kepemimpinan yang efektif. Ialah suatu kepemimpinan yang menghargai usaha para bawahan, yang memperlakukan mereka sesuai dengan bakat, kemampuan, dan minat masing-masing individu, yang memberi dorongan untuk berkembang dan mengarahkan diri ke arah tercapainya tujuan lembaga pendidikan. Pemimpin yang efektif menurut Made Pidarta (1988: 173) ialah pemimpin yang tinggi dalam kedua dimensi kepemimpinan. Begitu pula pemimpin yang memiliki performan tinggi dalam perencanaan dan funngsi-fungsi manajemen adalah tinggi pula dalam kedua dimensi kepemimpinan. Dua dimensi kepemimpinan tersebut adalah : 1) Kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas Ialah kepemimpinan yang hanya menekankan penyelesaian tugas-tugas kepada para bawahannya dengan tidak mempedulikan perkembangan bakat, kompetensi, motivasi, minat, komunikasi, dan kesejahteraan bawahan. Para personalia akan bekerja secara rutin, rajin, taat dan tunduk dalam penampilannya. Pemimpin ini tidak mengikuti perkembangan dan kemajuan lingkungan sehingga organisasi menjadi usang dan ketinggalan jaman. 2) Kepemimpinan yang berorientasi kepada antar hubungan manusia Kepemimpinan ini hanya menekankan perkembangan para personalianya, kepuasan mereka, motivasi, kerja sama, pergaulan dan kesejahteraan mereka. Pemimpin ini berasumsi bila para personalia diperlakukan dengan baik, maka tujuan organisasi kependidikan akan tercapai. Tetapi pada kenyataannya manusia tidak selalu beritikad baik, walaupun ia diperlakukan dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan kemunduran suatu organisasi. Oleh sebab itu kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mengintegrasikan orientasi tugas dengan orientasi antar hubungan manusia. Dengan mengintegrasikan dan meningkatkan keduanya kepemimpinan akan menjadi efektif, yaitu mampu mencapai tujuan organisasi tepat pada waktunya. Sebab kepemimpinan yang efektif dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen dengan baik termasuk malaksanakan

perencanaan dengan baik pula. Kepemimpinan yang efektif selalu memanfaatkan kerja sama dengan bawahan untuk mencapai cita-cita organisasi. Dengan cara seperti itu pemimpin akan banyak mendapat bantuan pikiran, semangat, dan tenaga dari bawahan yang akan menimbulkan semangat bersama dan rasa persatuan, sehingga akan memudahkan proses pendelegasian dan pemecahan masalah yang semuanya memajukan perencanaan pendidikan. 6.3 Kerangka Berpikir Guru memiliki tugas sebagai pengajar yang melakukan transfer pengetahuan. Selain itu, guru juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Untuk itu guru harus berperan aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, yang bekerja dengan kinerja yang tinggi. Kinerja guru akan menjadi optimal, bila diintegrasikan dengan komponen sekolah, baik kepala sekolah maupun sarana prasarana kerja yang memadai. Kepemimpinan yang efektif dapat tercipta apabila kepala sekolah memiliki sifat, perilaku dan keterampilan yang baik untuk memimpin sebuah organisasi sekolah. Dalam perannya sebagai pemimpin, kepala sekolah harus mampu untuk mempengaruhi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan yaitu guru dan fasilitas kerja yang akhirnya mencapai tujuan dan kualitas sekolah. 6.4 Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul setelah menentapkan anggapan dasar maka lalu membuat teori sementara yang kebenarannya masih perlu diuji . (Arikunto, 1998: 67) Dalam penelitian ini yang menjadi hipotesis kerja (Ha) yaitu “ada pengaruh positif kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati”. VII. METODE PENELITIAN 7.1 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. (Arikunto 1998: 115). Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua guru SMP Negeri 8 Semarang. Berdasarkan data sekolah, diketahui jumlah guru SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati keseluruhan berjumlah 12 orang. Karena populasi jumlahnya sedikit, maka seluruh guru SD Negeri Cepoko 01 Gunungpati dijadikan sampel penelitian. 7.2 Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu penelitian. (Arikunto 1998: 99). 7.2.1 Variabel Bebas (Independent Variable) (X) Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kepemimpinan Kepala sekolah (X), indikator Kepemimpinan Kepala Sekolah ialah: a) Kemampuan sebagai pengawas, b) Stabilitas emosi, c) Ketegasan dalam mengambil keputusan, d) Keterampilan mengajar, e) Keterampilan sosial, f) Pengetahuan tentang relasi insani 7.2.2 Variabel Terikat (Dependent Variable) (Y) Dalam penelitian ini variabel terikat (Y) adalah variabel kinerja guru, yaitu kemampuan

dan usaha guru untuk melaksanakan tugas-tugas yang diembannya, baik pembelajaran maupun tugas kelembagaan lainnya. Indikator kinerja guru ialah: a) prestasi kerja, b) tanggung jawab, c) ketaatan, d) kejujuran, dan e) kerjasama. 7.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data merupakan suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilaksanakan secara sistematis dengan prosedur yang standar (Arikunto 1998: 225). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah: 7.3.1 Metode Dokumentasi Dalam hal ini metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui jumlah guru, presensi guru, serta data tentang fasilitas sekolah. 7.3.2 Kuesioner Dalam penelitian ini mengungkap aspek psikologi yaitu sikap responden. Kuesioner berwujud kumpulan pernyataan-pernyataan sikap yang ditulis, disusun dan dianalisis sedemikian rupa sehingga respon seseorang terhadap pernyataan tersebut dapat diskor angka dan dapat diinterprestasikan (Azwar, 2000:105). XI. DAFTAR PUSTAKA Burhanudin. 1990. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara Handoko, T. Hani. 1995. Manajemen. Yogyakarta: BPFE Hasibuan, H. Malayu S. P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara Kartono, Kartini. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005. Pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen. Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sastrohadiwiryo, B. Siswanto. 2003. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional. Jakarta: Bumi Aksara Soetopo, Hendiyat dan Wasty Soemanto. 1984. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara Thoha, Miftah. 2004. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Burhanudin. 1990. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara Handoko, T. Hani. 1995. Manajemen. Yogyakarta: BPFE Hasibuan, H. Malayu S. P. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Bumi Aksara Kartono, Kartini. 1992. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005. Pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen. Mulyasa, E. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional Dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Sastrohadiwiryo, B. Siswanto. 2003. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional. Jakarta: Bumi Aksara Soetopo, Hendiyat dan Wasty Soemanto. 1984. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT. Bina Aksara Thoha, Miftah. 2004. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Wahjosumidjo. 2002. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah
Posted by: Abied on: 24 Desember 2009
• •

In: Pengembangan Diri| Pengetahuan Umum Comment!

Pengertian Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah

Konsep kepemimpinan Kepala Sekolah selaku pemimpin pendidikan tidak dapat dilepaskan dari konsep kepemimpinan secara umum. Istilah kepemimpinan yang diterjemahkan dari kata leadership sesungguhnya merupakan istilah yang kita jumpai. Berikut ini dikemukakan beberapa definisi yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk memahami mengenai pengertian kepemimpinan. Menurut Nawawi (1996 : 24) pengertian kepemimpinan adalah : Kemampuan menggerakkan dan memberikan motivasi untuk mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambi keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan. Sedangkan menurut Winardi (1996 : 286), pengertian kepemimpinan adalah : seni mengkoordinaksikan dan memotivasi individu dan kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dari kedua pendapat diatas maka pengertian kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah adalah suatu kemampuan atau teknik Kepala Sekolah untuk mempengaruhi orang-orang agar mau melakukan kerjasama dengan berbagai pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang dimilikinya. Bertolak dari pengertian tersebut, ada tiga unsur yang berkaitan yaitu unsur manusia, unsur sarana dan unsur tujuan. Untuk dapat memperlakukan ketiga unsur tersebut secara seimbang, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pengetahuan, kecakapan dan keterampilan dapat diperoleh dari pengalaman belajar secara teori ataupun dari pengetahuan di dalam praktek selama menjadi pemimpin. Pendekatan Kepemimpinan Pola perilaku pemimpin dapat berbeda-beda tergantung dari persoalan-persoalan yang dihadapi. Carrol dan Tosi dalam (Purwanto 1992 : 31) merangkum pendapat dari beberapa ahli menjadi tiga pendekatan atau teori kepemimpinan yaitu : pendekatan sifat, pendekatan perilaku, pendekatan situasional. 1. Pendekatan Sifat Pendekatan sifat ini, seorang pemimpin sejak lahir telah memiliki sifat-sifat atau garis keturunan yang dimilikinya sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam memimpin. 1. Pendekatan perilaku Pendekatan perilaku (behavioral Approach) adalah pendekatan yang mengatakan bahwa keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang ditampakkan oleh pemimpin yang bersangkutan dalam kegiatan

sehari-hari, misalnya tentang cara memimpin itu memberi perintah, memberi tugas dan wewenang, cara berkomunikasi dan sebagainya. 1. Pendekatan Situasional Pendekatan situasional atau pendekatan kontigensi memiliki asumsi bahwa keberhasilan pemimpin dari suatu organisasi atau lembaga tidak hanya tergantung atau dipengaruhi oleh pendekatan kepemimpinan sebelumnya, tetapi pendekatan ini melihat bahwa tiap organisasi atau lembaga mempunyai ciri khusus dan unik, juga masalah yang dihadapi berbeda, semangat dan watak juga berbeda. Syarat-syarat Kepemimpinan Kepala Sekolah Syarat yang dimaksud disini adalah sifat-sifat atau sikap-sikap yang seyogyanya dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjalankan kepemimpinan dengan sukses. Untuk menjabat sebagai seorang kepala dalam lingkungan pendidikan, ditetapkan beberapa persyaratan yaitu : pendidikan yang dimiliki, pengalaman yang sering dinyatakan dalam bentuk golongan/pangkat, umur. Adapu syarat-syarat khusus yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin (Kepala Sekolah) adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memiliki kecerdasan/intelegensi yang baik Percaya diri sendiri dan membership Memiliki keahlian/keterampilan dalam bidangnya Cakap bergaul dan ramah tamah Disiplin Suka menolong dan memberi petunjuk Memiliki semangat pengabdian yang tinggi Sehat jasmani dan rohani

Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia. Salam … Tag: Kepala Sekolah, Konsep Kepemimpinan http://meetabied.wordpress.com/2009/12/24/kualitas-kepemimpinan-kepala-sekolah/ KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH OLEH SUWARDI AGUSTINUS, S. Pd. GURU SD MARIA FRANSISKA BEKASI SELATAN

PANDAHULUAN Latar Belakang Masalah Kemajuan dalam dunia Pendidikan selain membawa dampak positif bagi Perkembangan Sumber Daya Manusia, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan pendidikan politik dan social budaya masyarakat. Pendidikan mempunyai peranan yang amat penting untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa. Melalui pendidikan kita dapat mencerdaskan bangsa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional, yang berbunyi : “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu menusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Dengan demikian perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilan para pelaksana pendidikan. Kepala Sekolah sebagai pemimpin dalam suatu lembaga pendidikan hendaknya memiliki pengetahuan yang luas dan ketrampilan kempemimpinan agar mampu mengendalikan, mempengaruhi dan mendorong bawahannya dalam menjalankan tugas dengan jujur, tanggung jawab, efektif dan efisien. Kepincangan system persekolahan di suatu negara dewasa ini adalah disebabkan pelaksanaan asas pendidikan yang kurang sempurna. Menurut Tajul Ariffin Noordin, dalam bukunya pendidikan suatu pemikiran semula mengemukakan, “Di sekolah telah terdapat tanda-tanda kucar-kacir yang berpuncak daripada ramainya guru-guru yang telah kehilangan minat untuk mengajar. Yang anehnya, walaupun guruguru itu mempunyai ilmu dan pengalaman yang lengkap dalam teori-teori pengajaran, tetapi ramai daripada mereka yang telah lari daripada tenggung jawab pendidikan. Terdapat ramai guru yang tidak mengindahkan disiplin bekerja. Murid–murid dibiarkan saja bebas melakukan apa saja yang mereka mau. Di setengah-setengah sekolah, keadaan ini berlaku sepanjang hari. Akibatnya ramai murid lemah dalam masalah berfikir, membaca, mengira, dan menulis. Guru-guru ini biasanya sibuk dengan aktivitas mereka sendiri”. Dilihat dari pernyataan di atas, guru merupakan sosok kepemimpinan di kelas yang bertanggung jawab penuh dalam pengelolaan kelas, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih baik, serta tercapai tujuan pembelajaran khusus. Oleh itu guru hendaklah memiliki dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas mulianya. Dalam pada itu pemerintah hendaklah menyelenggarakan suatu pendidikan formal, yangmana bertujuan mencerdaskan bangsa dan menunjang kemajuan Negara. Drs. Ismet Syarif mengemukakan peran dan tugas sekolah : “ Sekolah merupakan alat untuk menciptakan ketrampilan social, sebagai wiyata mandala, lembaga antisipasi, pusat pengembangan budaya professional, sebagai lembaga penyiapan sumber daya manusia dalam kerangka pembangunan”. Pendangan penulis di atas menggambarkan bahwa sekolah mempunyai peranan dan tugas

yang beragam dan kompleks dalam masyarakat. Seluruh kemampuan kepemimpinan kepala sekolah perlu di manfaatkan seoptimal mungkin untuk menggerakkan semua kegiatan pendidikan. Sekolah harus banyak berkomunikasi, berinteraksi dengan masyarakat, baik melalui instansi resmi maupun tidak resmi, sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dan dapat memberi kesadaran kepada mereka tentang pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan. YB Menteri Pendidikan Encik Anwar Ibrahim menjelaskan tentang pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan di dalam Berita Harian 12 September 1986, yang dikutip oleh Tajul Ariffin Noordin, bukunya Pendidikan Suatu Pemikiran Semula, mengemukakan : “Kita perlu ingat bahwa pendidikan itu bukan hanya untuk menimba ilmu pengetahuan tetapi untuk membentuk INSAN yang baik, penuh dengan adab sopan dan berahlak tinggi karena ilmu pengetahuan tanpa disiplin dan moral bukanlah ilmu dalam ertetika yang sebenarnya. Apa artinya pendidikan kalau kita tidak dapat membentuk manusia”. Berdasarkan pernyataan di atas jelas bahwa tugas kepala sekolah sebagai pemimpin harus mempunyai kepandaian menganalisa apa yang baik dan dapat diterima oleh guruguru atau masyarakat sekolah. Apa yang dilaksanakan mestinya memberi penjelasan, kekuatan bertuan, saran, hubungan, motivasi dan sebagainya. Menurut R. Iyeng Wiraputra menyatakan : “ Sekolah hendaknya merupakan lokakarya dimana demokrasi dibangun. Titik berat terletak pada tugas-tugas kepemimpinan pendidikan yang di teruskan kepada orang-orang demokratis, karena kebebasannya dan kewajiban untuk melakukan kegiatan yang bertanggungjawab, yang lahir dari kebebasan itu. perhatian terhadap kesulitan-kesulitan, gagasan baru untuk organisasi dan struktur situasi sekolah dan akhirnya beberapa aspek problem dengan keperluan-keperluan mendesak untuk penyelidikan selanjutnya”. Kepala sekolah sebagai pemimpin, hendaklah memperhatikan motivasi karyawannya termasuk motivasi guru. Dalam hal ini kualitas kepemimpinan mestilah dimanfaatkan sepenuhnya. Bantuan tenaga dan pemikiran dari guru sangatlah dibutuhkan oleh kepala sekolah di dalam tugas dan fungsinya sebagai pemimpin. Menurut Koontz, dikutip oleh Wahjosumidjo, tentang fungsi kepemimpinan : “Fungsi kepemimpinan adalah mengajak atau menghimbau semua bawahan atau pengikut agar dengan penuh kemauan untuk memberikan sumbangan dalam mencapai tujuan organisasi sesuai dengan kemampuan para bawahan itu secara maksimal”. Sedangkan Tajul Ariffin Noordin, mengemukakan bahwa pemberian motivasi hendaklah diikuti dengan disiplin yang kuat : “ Motivasi dan disiplin adalah dua sifat yang perlu ada dalam setiap diri ahli masyarakat yang sedang membangun khususnya. Motivasi dan disiplin bolehlah diibaratkan sebagai irama dan lagu yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Motivasi tanpa disiplin hanya akan menghasilkan manusia-manusia buas, bernafsu binatang. Manakala disiplin sahaja tanpa motivasi akan melahirkan generasi robot, pasif, kaku, lemah dan senantiasa akan ditindas.” Berdasarkan pendapat di atas, ada tiga perkara pokok yang memberikan ciri kepemimpinan dalam hubungannya dengan motivasi, yaitu : 1. Kecakapan untuk memahami bahwa dalam manusia itu pada hakikatnya memiliki kekuatan motivasi

dalam waktu yang bervariasi dan situasi yang berbeda-beda. 2. Memiliki kecakapan dan disiplin untuk membangkitkan atau menimbulkan kemangat kerja yang tinggi. 3. Memiliki kecakapan untuk berbuat dengan cara tertentu, sehingga menimbulkan suasana yang merangsang lahirnya suatu respond an motivasi. Mengingat pentingnya motivasi dan pelaksanaannya secara penuh disiplin, maka disiplin ilmu seperti manajemen sumber daya manusia, mempelajari bagaimana penyediaan sumberdaya manusia yang dibutuhkan serta bagaimana mendayagunakan sumberdaya manusia tersebut sehingga dapat mencapai produktivitas kerja kerja guru yang optimal. Kualitas kepemimpinan yang efektif adalah sesuatu yang perlu dimiliki oleh kepala sekolah diakui oleh semua guru, memungkinkan guru dengan kesadaran yang tinggi akan melaksanakan instruksi yang berkenaan pada tugasnya dengan baik, ikhlas dan perasaan senang serta penuh rasa tanggung jawab. Oleh yang demikian kepala sekolah harus mampu menciptakan suasana kerja, iklim organisasi serta kepemimpinan yang menyenangkan sehingga dapat memberi dorongan kerja guru, mewujudkan motivasi kerja guru yang tinggi kea rah pencapaian tujuan belajar mengajar atau tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya. KUALITAS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH A. Pengertian Kualitas Kepemimpinan

Pandangan mengenai kualitas kepemimpinan ini tidak terbatas, melainkan mencakup seluruh kehidupan masyarakat, situasi, alokasi dan dilaksanakan menurut tujuan seseorang maupun suatu organisasi tertentu, baik pemerintah atau swasta menginginkan kualitas. Oleh yang demikian perlulah kita memahami maksud kualitas itu. Dalam kamus dewan, terbitan dewan bahasa dan pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, “Kualiti/kualitas diartikan dengan mutu yang baik, baik buruk mengenai sesuatu benda, ukuran kadar, atau derajat.” Sedangkan pengertian kepemimpinan menurut wahjosumidjo mengatakan: “Kepemimpinan adalah proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan yang sudah ditetapkan “. Pengertian tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan sebagai tindakan yang membuat seseorang atau kelompok bekerja untuk mencapai tujuan. James J. Scribbin mengungkapkan pengertian kepemimpinan sebagai berikut : “Kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh consensus dan keikatan pada sasaran bersama, melampaui syarat-syarat organisasi yang dicapai dengan pengalaman sumbangan dan kepuasan di pihak kelompok kerja”. Dari definisi kepemimpinan di atas dapat terlihat bahwa kepemimpinan mengandung istilah pokok tertentu, antara lain:

1. Kemampuan memperoleh. Kepemimpinan merupakan proses pengaruh yang memungkinkan manajer membuat orang-orangnya bersedia mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. 2. Konsensus dan keikatan. Kepemimpinan merupakan proses untuk mendapatkan konsensus dan keikatan pada sasaran bersama dari anggota kelompok untuk secara antusias merealisasikan tujuan atau sasaran tersebut. 3. Syarat-syarat organisasi. Di dalam pencapaian sasaran bersama perlu didukung wewenang, kaidah, peraturan dan syarat-syarat. 4. Pengalaman sumbangan dan kepuasan. Anggota harus dirangsang oleh mutu kepemimpinan untuk memberikan pengalaman dan sumbangan terhadap organisasi. Pemimpin harus memperlihatkan pemuasan kebutuhan-kebutuhan penting mereka. Jadi pemimpin adalah orang yang memungkinkan atau mempermudah sesuatu. Supaya kita lebih memahami pengertian sebenar mengenai kepemimpinan di bawah ini diberikan beberapa definisi kepemimpinan. Menurut Paul Heresy dan Ken Blan Chard mengemukakan definisi kepemimpinan yang dikutip dari pendapat Robert Tannenbaum, Irving Weschler, Fred Messarik dan George Terry : “Kepemimpinan merupakan pengaruh antar pribadi yang dikalukan dalam suatu situasi dan diarahkan melalui proses komunikasi pada pencapaian tujuan. Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan kelompok secara sukarela dan kpemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu” Menurut dr. Buchari Zainun : pengertian kepemimpinan ini lebih dipertegaskan lagi, dimana seseorang pemimpin itu harus mempunyai kemampuan, keberanian mengambil resiko untuk mencapai tujuan. “Leadership atau kepemimpinan dapat diartikan sebagai satu kekuatan atau ketangguhan yang bersumber dari kemampuan untuk mencapai cita-cita dengan keberanian mengambil resiko yang bakal terjadi.” Dari pengertian di atas terlihat bahwa pengertian kepemimpinan mudah diberikan, tetapi sukar untuk benar-benar didalami. Seorang dapat disebut pemimpin jika ia dapat mempengaruhi orang lain untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu, meskipun tidak ada ikatan-ikatan yang formal dalam organisasi. Dengan demikian pengertian kepemimpinan akan timbul di manapun, asalkan unsur-unsur di bawah ini ada : a. Adanya orang yang dipengaruhi. b. Adanya orang yang mempengaruhi. c. Orang yang mempengaruhi mengerahkan kepada tercapainya sesuatu tujuan.

Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan atau memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu terlihat di dalam proses memimpin, adanya hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lain, antara individu satu dengan kelompok individu yang berorganisir secara temporer atau tetap dalam suatu wadah tertentu. Dari berbagai definisi kepemimpinan di atas terdapat beberapa unsur yang bersamaan yang terdapat dalam proses kepemimpinan, yaitu : 1. Kepemimpinan merupakan suatu proses 2. Adanya tujuan 3. Adanya orang yang mempengaruhi dan dipengaruhi 4. Kepemimpinan berlangsung dalam situasi yang tertentu 5. Kepemimpinan berlangsung dengan menggunakan teknik tertentu 6. Fungsi kepemimpinan adalah untuk mempengaruhi atau menggiatkan orang lain. 7. Dalam merealisasikan tujuan terdapat proses interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi tindakantindakan orang-orang tertentu dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai dan dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan matlamat atau sasaran yang telah dirancang sebelumnya secara sukarela. Kegiatan-kegiatan kepemimpinan ini boleh dilaksanakan diberbagai bidang kehidupan manusia termasuklah di bidang Pendidikan. Dalam hal ini, Hadari Nawawi mengemukakan pengertian kepemimpinan pendidikan dan kepemimpinan sekolah sebagai berikut : “Kepemimpinan sekolah adalah proses mempersatukan buah pikiran dan pendapat untuk mewujudkan menjadi kesatuan gerak yang terarah pada pencapaian tujuan lingkungan, personel sekolah, yang didalamnya terkandung makna menggerakkan, memotivasi orang lain dan kelompok agar bersedia melakukan tugas-tugas sebagai rekan kerja di sekolah” Ahmad Rohani H.M dan H. Abu Ahmadi mendefinisikan kepemimpinan Pendidikan sebagai berikut : “Kepemimpinan Pendidikan yaitu proses kegiatan mempengaruhi, menggerakkan dan mengkoordinasikan individu-individu organisasi atau lembaga pendidikan tertentu untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan”. Burhanuddin mengemukakan : “Kepemimpinan pendidikan adalah merupakan suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran, agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang telah ditetapkan”. Bagi memperjelaskan pengertian kepemimpinan pendidikan, dirawat dan kawan-kawan

merumuskan definisi kepemimpinan pendidikan sebagai berikut : “Kepemimpinan pendidikan merupakan satu kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan dijalankan dapat lebih efektif dan efisien di dalam pencapaian tujuantujuan pendidikan dan pengajaran”. Dari beberapa difinisi kepemimpinan pendidikan diatas, dapat dirumuskan bahwa setiap usaha untuk mempengaruhi orang-orang, yang bersifat positif ada hubungannya dengan pekerjaan mendidik dan mengajar, sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai dengan lebih berkesan, maka dapat dikatakan bahwa usaha itu melakukan perbaikan kualitas kepemimpinan pendidikan atau meningkatkan Sumber Daya Manusianya. Berdasarkan uraian di atas, kualitas kepemimpinan Kepala Sekolah dapat diartikan sebagai kecakapan atau kemampuan yang dimiliki seseorang di dalam mempengaruhi sekelompok orang atau kecakapan mengkoordinir, menggerakkan dan membimbing personel sekolah mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. B. Tipe-tipe Kepemimpinan Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengetahui kesuksesan Kepala Sekolah ialah dengan mempelajari pendekatan kepemimpinan yang digunakan dan tipe atau gaya kepemimpinan yang diterapkan di sekolah. Sepanjang pengamatan para ahli, maka cara seseorang pemimpin melakukan kepemimpinan itu dapat digolongkan atas beberapa golongan antara lain : a. b. c. d. e. f. Secara otokratis Secara militeristis Secara Paternalistis Secara Kharismatis Secara ‘laisses Faire’ atau secara bebas Secara Demokrasi

a. Secara Otokratis 1. Kepemimpinan secara otokratis artinya pemimpin menganggap organisasi sebagai milik sendiri. 2. Ia bertindak sebagai diktator terhadap para anggota organisasinya dan menganggap mereka itu sebagai bawahan dan merupakan alat, bukan manusia. Cara menggerakkan para anggota organisasi dengan unsur-unsur paksaan dan ancaman-ancaman pidana. 3. Bawahan adalah hanya menurut dan menjalankan perintah-perintah atasan serta tidak boleh membantah, karena pemimpin secara ini tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat.

4. Rapat-rapat atau musyawarah tidak dikehendaki. Berkumpul atau berapat hanya untuk menyampaikan instruksi-instruksi atau perintah-perintah. 5. Kepemimpinan yang bersifat otokratis dikendalikan oleh seorang pemimpin yang mempunyai perasaan harga diri yang besar sekali. Bawahannya dianggap bodoh, tidak berpengalaman dan selayaknya dituntun dengan sebaik-baiknya. Pemimpin merasa dirinya orang yang terpandai dalam bagiannya. b. Secara Militeristis Seorang pemimpin yang bersifat militeristis, yaitu pemimpin yang memiliki sifat-sifat antara lain seperti dibawah ini : 1. Untuk menggerakkan bawahannya ia menggunakan system perintah yang biasa digunakan dalam ketentaraan. 2. Gerak-geriknya senantiasa tergantung kepada pangkat dan jabatannya 3. Senang akan formalitas yang berlebih-lebihan 4. Menuntut disiplin keras dan kaku dari bawahannya 5. Tidak menerima kritik dari bawahannya 6. Senang akan upacara-upacara untuk berbagai-bagai keadaan 7. Dan lain sebagainya c. Secara Paternalistis 1. Cara ini boleh dikatakan untuk seorang pemimpin yang bersifat ‘Kebapakan’, ia menganggap anak buahnya sebagai ‘anak’ atau manusia yang belum dewasa yang dalam segala hal masih membutuhkan bantuan dan perlindungan, yang kadang-kadang perlindungan yang berlebih-lebihan. 2. Dengan demikian maka pemimpin macam ini jarang atau tidak memberikan sama sekali kepada anak buahnya untuk bertindak sendiri, untuk mengambil inisiatif atau mengambil keputusan. Anakanak buahnya jarang sekali diberi kesempatan untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya. 3. Pemimpin semacam ini tidak ada sifat keras atau kejam terhadap mereka yang dipimpin, bahkan hampir dalam segala hal sikapnya baik dan ramah, walaupun ada sifat yang negative padanya yang bersifat sok maha tahu. 4. Seorang pemimpin seperti ini dalam hal-hal yang tertentu amat diperlukan, akan tetapi sebagai

pemimpin pada umumnya kurang baik. d. Secara Kharismatis “Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan ‘menjalankan kepemimpinan secara kharismatis’, atau pemimpin yang kharismatis. Sulit untuk menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki charisma, yang jelas adalah bahwa pemimpin itu mempunyai ‘daya tarik’ yang amat besar, sehingga pengikutnya amat besar pula jumlahnya, akan tetapi susah dijelaskan mengapa mereka itu menjadi pengikut pemimpin tersebut. Kepatuhan dan kesetiaan para pengikut rupa-rupanya timbul dari kepercayaan yang penuh kepada pemimpin yang dicintai, dihormati, disegani dan dikagumi, bukan semata-mata benar tidaknya tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin. e. Secara ‘laisses Faire’ atau secara bebas. 1. Melaksanakan pimpinan secara ini dapat diartikan “membiarkan anak-anak buahnya untuk berbuat sekehendak sendiri-sendiri” 2. Petunjuk-petunjuk, pengawasan dan control kegiatan dan pekerjaan anak buahnya tidak diadakan. Pembagian tugas, cara bekerjasama saran-saran dari pimpinan tidak ada, sedangkan kekuasaan dan tanggung jawab jalannya simpangsiur, sehingga keadaannya tidak mudah dikendalikan dan akibatnya terjadi kekacauan. 3. Melakukan kepemimpinan secara ini biasanya tidak kelihatan ada organisasi dan segala sesuatu dilakukan tanpa rencana dari pimpinan. 4. Pada hakikatnya disini pemimpin itu tidak memimpin tetapi membiarkan bawahan bekerja sesukasukanya. Pemimpin hanya mempunyai tugas representative : untuk dunia luar ia adalah kepala bagian, tetapi pada umumnya ia tidak memberi sesuatu bentuk kepala bagian yang dipimpinnya itu. Pemimpin tidak mempunyai kepribadian yang kokoh. Ia kurang cakap memimpin bahkan dapat dipengaruhi. 5. Para anggota diberikan kebebasan sepenuhnya, maka proses pengembalian keputusan menjadi lambat bahkan sering tidak berkeputusan. f. Secara Demokrasi 1. Cara ini lazimnya dipandang sebagai kebalikan daripada cara kepemimpinan yang otokratis.

2. Cara demokratis perlakuannya bersifat kerakyatan atau persaudaraan, mengharapkan kerjasama dengan anak buahnya yang tidak dipandang sebagai alat, tetapi dianggap sebagai manusia. 3. Mau menerima saran-saran dari anak buah dan bahkan kritik-kritik dimintanya dari mereka demi suksesnya pekerjaan bersama. 4. Ia memberi kebebasan yang cukup kepada anak buahnya, karena menaruh kepercayaan yang cukup bahwa mereka itu akan berusaha sendiri menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya. Segala usaha ditujukan untuk membuat bawahannya senantiasa mencapai hasil yang lebih baik dari ia sendiri 5. Cara untuk mencapai hasil baik ini seorang pemimpin demokrasi senantiasa berusaha memupuk kekeluargaan dan persatuan, membangun semangat dan kegairahan bekerja pada anak buahnya. Pada dasarnya seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugas atau kepemimpinannya, pemilihan tipe kepemimpinan tidak terbatas, seorang boleh menggunakan tipe-tipe kepemimpinan yang sesuai kebutuhan motivasi kerja guru, sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan maupun sesuai dengan pemecahan masalah yang hendak diatasi. Biasanya terdapat kesatuan corak kepemimpinan yang diantanya dapat dipilih masih-masing dengan kombinasi perubahan otoritas pemimpin dan bahawan. C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah. Sesungguhnya kepemimpinan adalah suatu proses alamiah dan harus dipenuhi. Dapat kita katakana bahwa untuk mengembangkan atau memelihara kerjasama secara sukarela, diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang bijaksana memperlengkapi diri dengan ilmu manajemen dan administrasi serta kepemimpinan yang berkualitas. Seorang pemimpin pendidikan seperti kepala sekolah mestilah banyak fleksibilitas dalam menjalankan fungsinya sebagai administrator pemimpin dan pengurus yang baik Herbert G. Hicks dan Gray Gullet mengemukakan factor-faktor yang mempengaruhi kualitas kepemimpinan yang dikutip dari pendapat Tannenbaum dan Scmidt, yaitu : 1. Motivasi internal pemimpin dan kekuatan lainnya yang ada padanya. Hal ini meliputi system penilaian, kepercayaan, terhadap para bawahan, kecenderungan kepemimpinan dan perasaan aman dalam suatu situasi yang tidak menentu 2. Motivasi eksternal yang disalurkan oleh pimpinan dan kekuatan lain yang terdapat pada diri bawahan 3. Kekuatan dalam situasi.

Hendiyat S. dan Wasty S. berpendapat bahwa kepemimpinan kepala sekolah dipengaruhi oleh : 1. Faktor legal, seseorang yang menduduki jabatan pemimpin akan berhadapan dengan peraturanperaturan formal dari instansi struktur yang berada di atasnya. 2. Kondisi social ekonomi dan konsep-konsep kependidikan 3. Hakikat dan atau ciri sekolah. Hal ini berkaitan dengan ciri dan atau hakikat para staf, para murid dan jenis sekolah 4. Kepribadian pemimpin dan latihan-latihan, factor ini berkaitan dengan aspek pendidikan dan pengalaman 5. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam teori pendidikan, tugas-tugas kepemimpinan dipengaruhi oleh berbagai perubahan teori dan metode aktivitas belajar. D. Fungsi dan Tugas Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan Kepala Sekolah sebagai pemimpin di bidang pendidikan haruslah mengetahui dan memahami serta mengaplikasikan fungsi dan tugasnya dengan baik. Apa yang saya maksudkan disini ialah agar ia dapat lebih mampu mencipta suatu kondisi dimana segala sumber daya yang ada di lingkungan yang dipimpinnya dapat berfungsi dalam mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Garis-garis dalam aspek menjalankan peranan, tugas, fungsi serta tanggung jawab kepala sekolah akan mempengaruhi corak komunikasi atau public relations yang berbagai cara. Dalam hal ini konsep interpersonal competence yang bermaksud berhubung dengan keupayaan kita menerima tanggung jawab, segala saran dan tindakan yang kita lakukan, senantiasa mempunyai sikap terbuka untuk ‘mendengar’ masalah orang-orang dibawah kita serta bersedia dan terbuka kepada sentiment orang lain. Sondang P. Siagiar, mengemukakan lima fungsi kepemimpinan, yaitu : 1. Pemimpin selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan. 2. Wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak luar organisasi 3. Pimpinan selaku komunikator yang efektif 4. Mediator yang handal, khususnya dalam hubungan ke dalam terutama dalam menangani situasi konflik 5. Pimpinan selaku integrator yang efektif, rasional, objektif dan netral Ahmad Rohani H.M dan H. Abu Ahmadi mengemukakan fungsi utama pemimpin adalah: 1. Memenuhi kegiatan sebagai pengambil inisiatif 2. Mengatur kegiatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

3. Memberitahu (informing) kepada pihak yang berkepentingan 4. Mengendalikan seluruh kegiatan 5. Menilai keberhasilan pemimpin Meningkatkan dan mewujudkan kualitas kepemimpinan kepala sekolah efektif, tidaklah mudah. Tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sangat luas dan berat sekali. Ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelancaran administratif dan pengurusan pendidikan di sekolah. Dirawat dan kawan-kawan menggolongkan keseluruhan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah dua bidang, yaitu : 1. Tugas kepala sekolah dalam bidang administrasi tugas ini berhubungan dengan kegiatan-kegiatan menyediakan, memelihara, mengatur dan melengkapi fasilitas material dan tenaga-tenaga personal sekolah 2. Tugas kepala sekolah dalam bidang supervise. Tugas ini berhubungan dengan peranan kepala sekolah sebagai supervisor. R. Iyeng Wiraputra mengatakan bahwa kegiatan kepemimpinan pendidikan mempunyai tugas sebagai berikut : Membantu masyarakat menetapkan tujuan pendidikan Memperlancar proses belajar dan mengajar sehingga lebih efektif Menyusun kesatuan organisasi yang produktif 4. Mengkreasikan iklim perkembangan dan kesempatan tumbuhnya kepemimpinan. 5. Menyediakan sumber-sumber yang baik untuk mengajar dengan efektif. Peranan kepala sekolah sebagai pemimpin, administrasi, dan ‘pendamai’ atau pemberi motivasi bukan sata terbatas di sekitar kawasan sekolah, tetapi juga luar dari sekolah. Ini disebabkan ruang lingkup sekolah itu sendiri sebagai komuniti kecil telah diwujudkan dalam sebuah masyarakat yang lebih besar dengan system organisasinya yang unit dan kompleks. Kepala sekolah perlu mengantisipasi elemen luar sekolah yang turut mengganggu kelancaran dan kestabilan perjalanan organisasi sekolah. Kepala sekolah harus memiliki kepribadian, pengetahuan dan kecakapan yang memadai agar mereka dapat berfungsi dan menjalankan tugas dengan baik yang memungkinkan mereka dapat memberikan sumbangan yang besar bagi pencapaian tujuan pendidikan dan pengajaran disekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah harus sensitive kepada perubahan keadaan sekeliling serta sanggup melengkapkan diri dari semasa ke semasa untuk sama-sama mengikuti arus perubahan zaman yang sangat pesat. Para kepala sekolah harus berkemampuan untuk berfikir secara rasional dalam setiap tindakannya. E. Syarat-syarat dan sifat Kepemimpinan Kepala Sekolah Seseorang yang bertugas di bidang pendidikan atau sedang memangku jabatan 1. 2. 3.

pemimpin seperti kepala sekolah, dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya dituntut pemenuhan persyaratan-persyaratan baik jasmani maupun rohani. Dirawat dan kawan-kawan mengemukakan syarat-syarat pemimpin pendidikan yang berdasarkan Pancasila, yaitu : 1. Persyaratan kepemimpinan yang berdasarkan Pancasila. Pendidikan di Indonesia adalah pribadi yang mampu mengamalkan ke 32 nilai-nilai luhur di dalam Pancasila. 2. Persyaratan kualitas kemampuan pribadi, yaitu berwibawa (terutama karena integritas pribadinya yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur Pancasila), jujur, terpercaya, bijaksana, mengayomi, berani, mawas diri, mampu melihat jauh ke depan, berani dan mampu mengatasi kesulitan, bersikap wajar, tegas dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil, sederhana penuh pengabdian pada tugas, berjiwa besar dan mempunyai sifat ingin tahu (suatu pendorong untuk kemajuan). Persyaratan lain yang diiktisarkan dan digolongkan oleh dirawat dan kawan-kawan, yaitu: 1. Karakter dan moral yang tinggi 2. Semangat dan kemampuan intelek 3. Kematangan dan keseimbangan emosi 4. Kemampuan kepemimpinan 5. Kematangan dan penyesuaian social 6. Kemampuan mendidik-mengajar 7. Kesehatan dan penampakan jasmaniah Sifat kepemimpinan dan pengetahuan dan pengalaman seorang pemimpin harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam kepemimpinan di sekolah. Kepala sekolah harus memiliki keterampilan, dapat memilih dan bertindak sesuai tata kerja, atau prosedur kerja, sikap, kondisi yang sebenarnya, serta mampu berkomunikasi dengan cepat dan baik. Burhanuddin menyebutkan empat kualitas kepemimpinan kepala sekolah yang penting dan berhubungan satu sama lain, yaitu : 1. Personality (kepribadian) 2. Purposes (pemahaman terhadap tujuan pendidikan) 3. Knowledge 4. Profesional skill. Willard S. Usbree dalam bukunya Elementary School Administration and Supervision yang diterjemahkan oleh Dirawat dan kawan-kawan mengatakan bahwa kepala sekolah dituntut lima keterampilan atau skill pokok, yaitu : 1. Kecakapan di dalam mengatur atau mengadministrasikan tenaga-tenaga personil sekolah, baik guruguru maupun tenaga-tenaga personil sekolah lainnya. 2. Kecakapan didalam mengatur atau mengadministrasi alat-alat perlengkapan sekolah dan kecakapan di dalam menggunakan dan memelihara school plant secara efisien dan efektif

3. Kecakapan di dalam mengadministrasi keuangan atau pembiayaan sekolah berdasarkan prinsip praktek administrasi keuangan modern. 4. Kemampuan untuk bekerja sama dan menjalin kerja sama untuk sekolah dengan masyarakat 5. Kemampuan untuk memimpin dan memplopori perbaikan dan pelaksanaan kurikulum sekolah atau perbaikan pengajaran bersama dengan staf yang dipimpinnya. Menurut Ordway Tead y Terakhir di-edit oleh suwardi agustinus (2009-10-08 03:00:08) http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/forum/viewtopic.php?id=89

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful