P. 1
Karya Tulis Ilmiah "Teknologi Reproduksi"

Karya Tulis Ilmiah "Teknologi Reproduksi"

|Views: 4,013|Likes:
Published by Eko Pamungkas
...
...

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Eko Pamungkas on Jun 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

TEKNOLOGI REPRODUKSI Fenomena In Vitro Vertilization (IVF) dalam Realitas Kehidupan Diajukan sebagai persyaratan kenaikan kelas

Karya Tulis Ilmiah

Oleh : Eko Pamungkas XI IPA 4 / 10

SMA NEGERI 3 JOMBANG
Tahun Pelajaran 2009 / 2010

TEKNOLOGI REPRODUKSI Fenomena In Vitro Vertilization (IVF) dalam Realitas Kehidupan Diajukan sebagai persyaratan kenaikan kelas

Karya Tulis Ilmiah

Oleh : Eko Pamungkas XI IPA 4 / 10

SMA NEGERI 3 JOMBANG
Tahun Pelajaran 2009 / 2010

ABSTRAKSI

Judul

: Teknologi Reproduksi Fenomena In Vitro Vertilization (IVF) dalam Realitas Kehidupan

Tujuan dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk mengetahui lebih jauh tentang In Vitro Vertilizaion yang lebih dikenal dengan nama bayi tabung dalam kehidupan masyarakat khususnya dimata hukum dan agama. Selama penelitian ini berlangsung menggunakan teknik “Deskriptif Kualitatif “ dimana pengambilan data didalamnya dilakukan dengan studi pustaka. Berdasarkan telaah pustaka yang kami dapatkan ternyata bayi tabung atau In Vitro Vertilizaion bisa menjadi alternatif terakhir yang dilakukan pasangan suami istri yang kesulitan mempunyai keturunan akibatnya adanya kelainan system reproduksi keduanya/salah satu. Proses In Vitro Vertilizaion juga cukup lama dan mengeluarkan biaya yang besar. Namun hal ini tidak masalah jika pasangan suami istri tersebut benarbenar menginginkan keturunan yang memiliki sifat seperti pasutri tersebut. Melihat kenyataaan diatas, maka kami sebagai penulis ingin lebih mengupas secara rinci apa itu bayi tabung, dengan harapan, hal ini bisa dijadikan informsai tambahan bagi suami istri yang belum memiliki keturunan untuk mencobanya.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis kami yang berjudul “Fenomena In Vitro vertilization” (IVF) Dalam Realitas Kehidupan” Penyusunan karya tulis ini dibuat untuk syarat kenaikan kelas siswa. Sebagai penyusun, tidah lupa kami mengucapkan terima kasih kepada: • • • • • Kepala sekolah SMA Negeri 3 Jombang yang telah memfasilitasi kami dalam penyusunan karya tulis ini. Guru pmbimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam peyusunan karya tulis ini. Orang tua kami atas doa restunya. Teman-teman yang telah mendukung kami dalam pembuatan karya tulis ini. Dan semua pihak yang telah membantu kami namun tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyadari keterbatasan kami sebagai penulis yang mana masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan karya tulis selanjutnya.

Jombang, 1 Juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... .........................................................................................................................i ABSTRAKSI .................................................................................................. ........................................................................................................................ii KATA PENGANTAR ................................................................................... .......................................................................................................................iii DAFTAR ISI................................................................................................... .......................................................................................................................iv BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang.................................................................... ..........................................................................................1 Rumusan Masalah............................................................... ..........................................................................................1 Batasan Masalah................................................................. ..........................................................................................2 Tujuan Penulisan ............................................................... ..........................................................................................2 Manfaat Penulisan.............................................................. ..........................................................................................2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 2.2 2.3 2.4 Definisi Bayi Tabung.......................................................... ..........................................................................................3 Alasan Untuk Melakukan Bayi Tabung............................. ..........................................................................................4 Proses Pelaksanaan Bayi Tabung....................................... ..........................................................................................5 Akibat Melakukan Bayi Tabung......................................... ..........................................................................................5

2.5 2.6

Penelitian Risiko Bayi Tabung .......................................... ..........................................................................................6 Masalah Orang Tua Anak Hasil Bayi Tabung atau Legaltas Bayi Tabung ........................................................ ..........................................................................................6

2.7 2.8

Bayi Tabung Dilihat dari Kacamata Syariat Islam............ ..........................................................................................7 Status Hukum Anak Hasil Bayi Tabung............................. ..........................................................................................9

BAB III KERANGKA TEORI...................................................................... 12 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 4.2 Pengertian Bayi Tabung..................................................... ........................................................................................14 Alasan Pasangan Suami Istri Melakukan Proses Bayi Tabung................................................................................ ........................................................................................14 4.3 4.4 4.5 4.6 Teknik Teknik Bayi Tabung............................................... ........................................................................................15 Resiko melakukan bayi tabung .......................................... ........................................................................................17 Hukum Islam Tentang Bayi Tabung................................... ........................................................................................18 Kedudukan Bayi Tabung Secara hukum Negara................ ........................................................................................20 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan......................................................................... ........................................................................................22

5.2

Saran................................................................................... ........................................................................................22

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Di zaman yang semakin modern ini, banyak teknologi yang ditemukan oleh para manusia. Teknologi ini digunakan untuk mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Seperti halnya teknologi in Vitro Vertilizaion atau dikenal dengan nama bayi tabung, yang mana bisa dijadikan alternatif terakhir para pasangan suami istri yang menginginkan keturunan. Dengan teknik ini, pembuahan dapat dilakukan tanpa persetubuhan. Teknik bayi tabung ini telah menjadi metode yang membantu pasangan subur yang tidak mempunyai anak akibat kelainan pada organ reproduksi. Namun terdapat beberapa kelemahan dalam teknologi ini misalnya jika tidak ada sperma yang menembus sel telur sang istri maka mau tidak mau, harus dilakukan sperma donor. Hal diatas aknirnya menimbulkan kontroversi dan masalah medatang seperti nasib/status sang anak. Melihat kenyataan diatas, kami mengangkat tema diatas untuk bisa menjelaskan dan dan memberi informasi sedikit tentang bayi tabung. Agar para suami istri bisa menilai baik buruknya sebelum merreka memutuskan untuk melakukan bayi tabung selain itu sebagai bahan diskusi tentang bagaimana kedudukan bayi tabung dikalangan masyarakat saat ini. ditinjau dari sisi hukum negara dan agama.
1.2

Rumusan Masalah Apakah pengertian bayi tabung? Apakah alasan Pasutri melakukan bayi tabung? Bagaimana proses bayi tabung? Bagaimana resiko melakukan bayi tabung? Bagaimana hukum agama terutama Islam tentang bayi tabung? Bagaimana status hukum Negara untuk anak hasil bayi tabug?


• • • •

1.3 Batasan masalah

Dalam hal ini kami hanya menjelaskan tentang bayi tabung dan kedudukan secara hukum negara dan syariat islam. 1.4 Tujuan penulisan
• •

Untuk mengetahui pengertian bayi tabung. Untuk mengetahui apa alasan suami istri melakukan bayi tabung. Untuk mengetahui proses bayi tabung. Untuk mengetahui resiko melakukan bayi tabung. Untuk mengetahui hukum islam mengenai bayi tabung. Untuk mengetahui status hukum negara untuk anak hasil bayi tabung.

• • •

1.5 Manfaat penulisan •

Agar kita bisa mengetahui pengertian bayi tabung Agar kita bisa mengatahui alasan pasangan suami istri melakukan bayi tabung Agar kita bisa mengetahui proses bayi tabung Agar kita bisa mengetahui hukum islam tentang bayi tabung. Agar kita bisa mengetahui status hukum untuk anak hasil bayi tabung.

• •

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bayi Tabung Bayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi diluar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal, pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. Jenis-jenis Bayi Tabung Berdasarkan sperma, ovum dan tempat embrio ditransplantasikan, bayi tabung dapat dibedakan menjadi beberapa jenis diantaranya adalah: • • Bayi tabung menggunakan sperma dan ovum dari pasangan suami istri, kemudian embrionya ditransplantasikan kedalam rahim istri. Bayi tabung menggunakan sperma dan ovum dari pasangan suami istri lalu embrionya ditransplantasikan kedalam rahim ibu penganti (surrogate mother). • • • • • • Bayi tabung yang menggunakan sperma dari suami, ovum dari donor lalu embrionya ditransplantasikan kedalam rahim ibu. Bayi tabug yang menggunakan sperma dari donor, sedang ovumya dari istri, embrionya ditransplantasikan kedalam rahim istri. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari donor, ovumnya dari istri embrionya ditransplantasikan kedalam rahim surrogate mother. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari suami, ovumnya dari donor, embrionya ditransplantasikan kedalam rahim istri. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari ovum dari donor, lalu embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim istri. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari ovum dari donor, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim surrogate mother. 2.2 Alasan Untuk Melakukan Bayi Tabung

Terdapat beberapa alasan mengapa orang mengikuti program bayi tabung. Beberapa di antaranya karena terjadi berbagai indikasi. Indikasi tersebut menurut Drs. Harris Harlianto, embriologis Klinik Fertilitas Aster Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, antara lain karena saluran tuba falopi istri tersumbat. Akibatnya, meskipun pasangan suami istri (pasutri) itu melakukan hubungan intim, sel telur tidak bertemu dengan sperma sehingga tidak terjadi pembuahan. Indikasi lain karena kualitas sperma menurun. Indikasi ini bisa terjadi karena adanya infeksi saluran sperma sehingga sperma tersumbat dan sulit untuk bertemu dengan sel telur. Kehamilan pun tidak pernah terjadi. Indikasi berikutnya unexplained indication (indikasi yang tidak terjelaskan). Disebut unexplained karena bisa saja kualitas spermanya normal, tuba falopi juga tidak tersumbat, tetapi tetap tidak terjadi pembuahan. Salah satu faktor indikasi ini adalah adanya imunologi yang berupa reaksi antibodi dari istri yang menyerang kepala sperma sehingga tidak pernah bisa bertemu sel telur. Semua indikasi tersebut dapat diketahui apabila pasutri memeriksakan diri kepada dokter spesialis ginekologi atau dokter spesialis andrologi. Sehingga, diperoleh sebuah rekam medik untuk mengambil langkah program bayi tabung atau tidak. Menjalani proses bayi tabung, kata Harris, pada umumnya merupakan langkah terakhir dari setiap cara yang dilakukan dalam memperoleh keturunan. Sehingga, banyak pasutri yang datang tidak didukung faktor usia yang tepat. Padahal, semakin tua usia si pemohon kian memperkecil peluang keberhasilan proses bayi tabung.Persentase usia dengan peluang keberhasilan memperoleh keturunan lewat program bayi tabung adalah, usia di bawah 30 tahun peluang keberhasilannya mencapai 40-50%, usia di atas 30-35 tahun peluang keberhasilannya 30-40%, usia di atas 35-39 tahun peluang keberhasilannya hanya 20-30%, dan usia 39-40 tahun peluang keberhasilannya hanya mencapai 15%. 2.3 Proses Pelaksanaan Bayi Tabung

Proses mendapatkan bayi tabung dijalani melalui beberapa tahap. Tahap pertama pasutri melakukan pemeriksaan lengkap. Bila pasutri itu dinyatakan dapat menjalani proses bayi tabung, istri akan mendapat suntikan FSH (folikel stimulating hormon) atau suntikan hormon perangsang sel telur. Suntikan ini diberikan selama 12 hari berturut-turut sampai sel telur tumbuh sebanyak lebih kurang 8-10 sel telur. Sel telur ini kemudian dipanen. Cara memanennya dilakukan di kamar operasi dengan menggunakan jarum khusus yang dapat menyedot sel telur dari ovarium. Hasil panen ini dimasukkan ke tabung dan segera dibawa ke laboratorium embriologi lalu diperiksa di bawah mikroskop. Usai itu, sel telur dicuci dan dipisahkan dari darah-darah yang menyertainya. Lalu disimpan dalam tetesan (drop) medium. Drop ini dilapisi oil (minyak) khusus yang tidak toksik terhadap embrio. Sel telur yang sudah dibersihkan kemudian disimpan dalam inkubator.Sedangkan untuk memperoleh sperma yang akan membuahi sel telur yang kini sudah dalam inkubator, suami melakukan masturbasi. Sperma yang dihasilkan dari suami tersebut kemudian disimpan dalam kontainer sperma, dicuci, dan dipisahkan dengan cara seleksi. Usai transfer zygot ke rahim, pasien diberi suntikan penguat rahim pada hari keempat, delapan, dan dua belas. Bila proses ini bagus, porses selanjutnya masuk pada proses implantasi zygot ke dalam dinding rahim. Bila proses ini berhasil dilakukan dan zygot sudah menempel pada dinding rahim, dokter ataupun embriolog dapat melihat apakah bayinya kembar atau tidak. "Jadi, sejak awal pemilihan sperma dan sel telur sampai semua tahap yang kita lakukan, kita dapat memilih calon-calon janin yang terbaik menurut kriteria kedokteran. 2.4 Akibat Melakukan Bayi Tabung Selain terjadi efek samping akibat induksi, dengan makin banyaknya jenis obat baru pemacu hormon untuk induksi ovulasi seperti produk mutakhir rancangan teknologi rekombinan, dan jenis bahan habis pakai, menyebabkan

biaya penanganan bayi tabung menjadi makin mahal. Komponen terbesar biaya tersebut adalah terutama untuk pengadaan obat pemacu hormon dan bahan habis pakai untuk induksi ovulasi, yang diperkirakan dapat mencapai hingga 70 persen dari biaya keseluruhan untuk setiap bayi tabung. Biaya tersebut akan bertambah apabila penanganan bayi tabung gagal dan harus diulang pada siklus haid berikutnya.
2.5

Penelitian Risiko Bayi Tabung Bayi tabung pertama Louis Brown dari Inggris lahir 30 tahun lalu. Kini

program bayi tabung merupakan hal rutin, terutama di negara-negara maju. Akan tetapi tidak banyak diketahui dampak jangka panjang dari program ini. Pembuahan buatan sudah merupakan prosedur standar kedokteran, untuk menolong pasangan yang sulit punya anak secara alami. Jumlah pasangan suami-istri yang melaksanakan program bayi tabung dari tahun ke tahun juga meningkat. Sebuah pemecahan praktis yang juga harus disadari mengandung risiko. Prosedurnya saja sudah amat menegangkan, melelahkan dan bahkan sering memicu rasa frustrasi. Belum lagi mengintai bahaya kecacatan pada bayi dan dampak lainnya. Seberapa besar risiko program bayi tabung itu, kini menjadi tema penelitian sejumlah dokter dan ilmuwan Jerman. 2.6 Masalah Orang Tua Anak Hasil Bayi Tabung atau Legaltas Bayi Tabung Bayi yang benihnya berasal dari pasangan suami – istri namun dikandung dan dilahirkan oleh wanita sewaan dapat menimbulkan persoalan siapakah orang tua dari bayi itu. Bisa dikatakan bahwa bayi orang tua itu adalah pasangan yang memiliki benih tadi. Tetapi wanita sewaan juga telah menyumbangkan darah dan dagingnya selama mengandung bayi tersebut. Sudah pernah terjadi bahwa seorang wanita sewaan tidak mau mengembalikan bayi yang telah dikandung dan dilahirkannya. Orang tua bayi tersebut menuntut di pengadilan, namun hukum yang dipakai untuk menyelesaikan masalah tersebut belum dibuat.

Kalau benih diambil dari seorang donor, maka timbul persoalan juga tentang siapakah orang tua bayi itu. Secara biologis orang tua bayi itu adalah donor yang telah memberikan benihnya, tetapi secara legal, orang tua anak itu adalah orang tua yang menerima dan membesarkannya dalam keluarga. Mana yang disebut orang tua? Orangtua biologis atau orang tua legal. Sebelum ada teknik bayi tabung, maka orang tua biologis adalah orang tua legal. [qondio.com]
2.7

Bayi Tabung di lihat dari kacamata syariat islam Pada dasarnya pembuahan yang alami terjadi dalam rahim melalui cara

yang alami pula (hubungan seksual), sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Akan tetapi pembuahan alami ini terkadang sulit terwujud, misalnya karena rusaknya atau tertutupnya saluran indung telur (tuba Fallopii) yang membawa sel telur ke rahim, serta tidak dapat diatasi dengan cara membukanya atau mengobatinya. Atau karena sel sperma suami lemah atau tidak mampu menjangkau rahim isteri untuk bertemu dengan sel telur, serta tidak dapat diatasi dengan cara memperkuat sel sperma tersebut, atau mengupayakan sampainya sel sperma ke rahim isteri agar bertemu dengan sel telur di sana. Semua ini akan meniadakan kelahiran dan menghambat suami isteri untuk berbanyak anak. Padahal Islam telah menganjurkan dan mendorong hal tersebut dan kaum muslimin pun telah disunnahkan melakukannya. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan suatu upaya medis agar pembuahan –antara sel sperma suami dengan sel telur isteri– dapat terjadi di luar tempatnya yang alami. Setelah sel sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur isteri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami rahim, maka sel telur yang telah terbuahi itu lalu diletakkan pada tempatnya yang alami, yakni rahim isteri. Dengan demikian kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses seperti ini merupakan upaya medis untuk mengatasi kesulitan

yang ada, dan hukumnya boleh (ja’iz) menurut syara’. Sebab upaya tersebut adalah upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam, yaitu kelahiran dan berbanyak anak, yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan. Diriwayatkan dari Anas RA bahwa Nabi SAW telah bersabda : “Menikahlah kalian dengan perempuan yang penyayang dan subur (peranak), sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada Hari Kiamat nanti.” (HR. Ahmad) Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA bahwa Rasulullah saw telah bersabda : “Menikahlah kalian dengan wanita-wanita yang subur (peranak) karena sesungguhnya aku akan membanggakan (banyaknya) kalian pada Hari Kiamat nanti.”(HR. Ahmad) Dalam proses pembuahan buatan dalam cawan untuk menghasilkan kelahiran tersebut, disyaratkan sel sperma harus milik suami dan sel telur harus milik isteri. Dan sel telur isteri yang telah terbuahi oleh sel sperma suami dalam cawan, harus diletakkan pada rahim isteri. Hukumnya haram bila sel telur isteri yang telah terbuahi diletakkan dalam rahim perempuan lain yang bukan isteri, atau apa yang disebut sebagai “ibu pengganti” (surrogate mother). Begitu pula haram hukumnya bila proses dalam pembuahan buatan tersebut terjadi antara sel sperma suami dengan sel telur bukan isteri, meskipun sel telur yang telah dibuahi nantinya diletakkan dalam rahim isteri. Demikian pula haram hukumnya bila proses pembuahan tersebut terjadi antara sel sperma bukan suami dengan sel telur isteri, meskipun sel telur yang telah dibuahi nantinya diletakkan dalam rahim isteri. Ketiga bentuk proses di atas tidak dibenarkan oleh hukum Islam, sebab akan menimbulkan pencampuradukan dan penghilangan nasab, yang telah diharamkan oleh ajaran Islam. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa dia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ketika turun ayat li’an : “Siapa saja perempuan yang memasukkan kepada suatu kaum nasab

(seseorang) yang bukan dari kalangan kaum itu, maka dia tidak akan mendapat apa pun dari Allah dan Allah tidak akan pernah memasukkannya ke dalam surga. Dan siapa saja laki-laki yang mengingkari anaknya sendiri padahal dia melihat (kemiripan)nya, maka Allah akan tertutup darinya dan Allah akan membeberkan perbuatannya itu di hadapan orang-orang yang terdahulu dan kemudian (pada Hari Kiamat nanti).” (HR. Ad Darimi). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” (HR. Ibnu Majah) Ketiga bentuk proses di atas mirip dengan kehamilan dan kelahiran melalui perzinaan, hanya saja di dalam prosesnya tidak terjadi penetrasi penis ke dalam vagina. Oleh karena itu laki-laki dan perempuan yang menjalani proses tersebut tidak dijatuhi sanksi bagi pezina (hadduz zina), akan tetapi dijatuhi sanksi berupa ta’zir*, yang besarnya diserahkan kepada kebijaksaan hakim (qadli). Rangkuman : • • Bila ingin melakukan bayi tabung secara halal lakukanlah dengan pasangan anda sendiri (suami- isteri). Bila dilakukan secara beda pasangan / bukan suami – isteri maka hukumnya haram. 2.8 Status Hukum Anak Hasil Bayi Tabung Dan menurut UU No.39 Tahun 99 pasal 10 ayat 1, Tentang HAM “Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui pernikahan yang sah”. Jika benihnya berasal dari suami istri, dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status

sebagai anak sah (keturunan genetik)dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainya. Jika ketika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya disaat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari, maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. Dasar hukum ps. 255 KUHPer. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami, maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sahnya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. (Biasanya dilakukan perjanjian antara kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah secara perdata barat, sesuai dengan ps. 1320 dan 1338 KUHPer.) Jika salah satu benihnya berasal dari donor maka aturannya adalah: Jika Suami mandul dan Istrinya subur, maka dapat dilakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. Sel telur Istri akan dibuahi dengan Sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan diimplantasikan ke dalam rahim Istri. Anak yang dilahirkan memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si Suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes DNA. Dasar hukum ps. 250 KUHPer. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Jika semua benihnya dari donor maka aturannya adalah: Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang yang tidak terikat pada perkawinan, tapi embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan maka anak yang lahir mempunyai

status anak sah dari pasangan Suami Istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika diimplantasikan ke dalam rahim seorang gadis maka anak tersebut memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah dan pada hakekatnya anak tersebut bukan pula anaknya secara biologis kecuali sel telur berasal darinya. Jika sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya. Menurut kode etik kedokteran: Menurut FIGO beberapa ketentuan etik tentang teknik reproduksi buatan antar lain : (1) Preconceptional sex selection untuk maksud diskriminasi seks tidak dibenarkan namun untuk menghindari penyakit tertentu, seperti seks linked genetik disorder, penelitiannya dapat dilajutkan , (2) Reproductive cloning atau duplikasi manusia dilarang , (3) Therapeutic Cloning dapat disetujui ,Penelitian pada embrio manusia, sampai dengan 14 hari pasca fertilisasi (preembrio) tidak termasuk periode simpan beku, (4) Dapat diterima apabila tujuannya bermanfaat untuk kesehatan manusia, (5) Harus mendapat izin khusus pada pemilik pra embrio tersebut, (6) Harus disyahkan oleh sebuah komisi khusus atau badan tertentu yang mengatur untuk hal-hal tersebut, (7) Tidak boleh ditransfer kedalam uterus, kecuali apabila penelitian tersebut untuk mendapatkan out come kehamiloan yang baik, (8)Tidak untuk tujuan komersial.

BAB III KERANGKA TEORI

Kita pasti pernah mendengar tentang bayi tabung. Walaupun secara jelas masalah bayi tabung belum banyak muncul. Namun dengan kemajuan teknologi saat ini semua hal bisa dilakukan oleh manusia. Seperti halnya bayi tabung. Bayi tabung bisa menjadi alternative bagi pasutri yang tidak bisa memiliki keturunan karena beberapa faktor. Bayi tabung juga cukup jarang dilakukan oleh masyarakat karena dimata mereka pelaksaannya membutuhkan banyak biaya. Itupun tidak 100% akan berhasil. Lalu apa sebenarnya bayi tabung itu. Bayi tabung adalah proses pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh wanita dengan cara pengambilan ovum dan sperma dari pasangan suami istri yang menginginkan keturunan namun tidak bisa mewujudkan karena kelainan pada organ reproduksi. Kami mengangkat tema bayi tabung karena sampai saat ini proses pelaksanaan bayi tabung belum menyebar ke semua lapissan masyarakat. Hanya kalangan tertentu yang bisa melaksanakannya karena biaya pelaksanaan yang tinggi. Apakah yang membuat bayi tabung setinggi langit, akan kami bahas dalam bab pembahasan. Selain itu bagaimana nanti status anak yang dilahirkan jika ternyata ovum/sperma tidak berasal dari pasangan yang legal artinya tidak terikat perkawinan. Adanya proses bayi tabung banyak disebabkan karena terdapat pasangan suami istri yang tidak bisa menghasilkan keturunan. Mereka telah berusaha untuk mengatasi problem tesebut namun banyak mengalami kegagalan sehingga pilihan terakhir adalah melakukan bayi tabung dengan biaya yang tinggi. Apakah biaya tersebut bisa ditekan sehingga tidak hanya kalangan atas yang bisa menikmati bayi tabung. Tetapi semua kalangan terutama menengah kebawah. Itulah yang menjadi tugas peneliti bidang kedokteran untuk bisa menciptakan teknlogi baru dibidang reproduksi yang hemat biaya, tidak mengandung banyak resiko kegagalan dan menghasilkan keturunan yang sehat (tidak mengalami cacat) Para peneliti bisa berupaya untuk mencari jalan keluar tentang biaya bayi tabung. Dengan tetap berdasarkan nilai-nilai hukum dan agama yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun bayi tabung masih menjadi kontroversi atas

bagaimana status anak jika sperma dan ovum berasal dari pasangan yang tidak legal manfaatnya telah bisa dirasakan oleh pasutri yang melakukannya

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Bayi Tabung

Bayi tabung atau pembuahan in vitro(bahasa inggris : in vitro fertilization) adalah sebuah teknik pembuatan dimana sel telur (ovum) dibuahi diluar tubuh wanita. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovariom dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. Menurut kami Bayi tabung adalah pembuatan ovum dan sperma diluar tubuh wanita dan pemasukan hasil pembuahan tersebut kedalam endometrium agar rerjadi kehamilan.
4.2 Alasan pasangan suami istri melakukan proses bayi tabung •

Pasangan suami isteri melakukan proses bayi tabung karena adanya kerusakan alat reproduksi pada wanita yaitu tersumbatnya tuba falopi sehingga meskipun pasangan suami istri itu melakukan hubungan intim, sel telur tidak bertemu dengan sperma sehingga tidak terjadi pembuahan.

Selain itu bisa juga kualitas sperma yang menurun karena tersumbatnya saluran sperma,sehingga sperma tersumbat dan sulit untuk bertemu dengan sel telur.

• •

Adanya imunologi yang berupa reaksi antibody dari istri yang menyerang kepala sperma sehingga tidak pernah bisa bertemu sel telur. Kondisi kandungan wanita yang mempengaruhi kehamilan misalnya endometrium yang mempunyai kelainan sehingga pembuahan ovum dan sperma tidak bisa menempel akhirnya tidak terjadi kehamilan. Keputusan untuk melakukan proses bayi tabung perlu

dipertimbangkan. Secara matang mengingat biaya untuk melakukan bayi tabung sangat mahal. Itupun tidak menjamin 100% sukses. Usia juga sangat

mempengaruhi kesuksesan bayi tabung. Semakin tua usia si pemohon bayi tabung maka memperkecil peluang keberhasilan proses bayi tabung. Berdasarkan tinjauan pustaka kami, usia dibawah 30 tahun peluang keberhasilan mencapai 40-50%, usia diatas 30-35 tahun peluang keberhasilannya 30-40%, usia diatas 35-39 tahun peluang keberhasilanya hanya 20-30%, dan usia 39-40 tahun peluang keberhasilannya hanya mencapai 15%. 4.3 Teknik Teknik Bayi Tabung Adapun prosedur dari teknik bayi tabung, terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Pengobatan merangsang indung telur.

Dalam tahap ini istri diberi obat yang dapat merangsang indung telur, sehingga dapat mengeluarkan banyak ovum dan cairan ini berbeda dengan cara biasa, hanya satu ovum yang berkembang dalam setiap siklus haid. Obat yang diberikan kepada istri dapat berupa obat makanan atau obat suntik yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan baru dihentikan setelah ternyata sel-selnya matang. Pematangan sel-sel telur dipantau setiap hari dengan pemeriksaan darahistri dan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Proses pembuatan bayi tabung bukanlah perkara mudah alias tergolong cukup sulit. Untuk itu, sebelum melakukan program bayi tabung, biasanya pasien (suami dan istri) melakukan beberapa rangkayan prosedur dari dokter atau rumah sakit yang bersangkutan. Sebab, tidak semua wanita mempunyai sel telur yang subur setiap bulanya. Berikut tahapan-tahapn yang harus dilakukan:  Dokter akan melakukan seleksi pasien terlebih dahulu, apakah masih layak melakukan program bayi tabung atau tidak. Bila layak, barulah pasien bias ,masuk dan mengikuti program bayi tabung.  Kemudian, dilakukan stimulasi dengan mmerangsang indung telur si calon ibu untuk memastikan banyaknya sel telur.

Kemudian secara alami, sel telur hanya satu. Namun untuk bayi tabung, diperlukan sel telur lebih dari satu untuk memproleh embrio.  Pemantawan pertumbuhan folikel berupa suatu cairan berisi sel telur di indung telur yang bias dilihat dengan USG. Pemantawan tersebut bertujuan untuk melihat apakah sel telur tersebut sudah cukup matang untuk dipanen.    Menyuntikkan obat untuk mematangkan sel telut yang Setelah itu dokter atau tenaga medis akan melakukan proses Pengambulan sperma dari suami pada hari yang sama. Bagi belum dipanen agar siap. pengambilan sel teluruntuk diproses di laboratorium. suami yang tidak memiliki masalah dengam spermanya, maka pengambilan sperma umumnya dilakukan dari hasil masturbasi. Tapi jika ternyata ada masalah dengan sperma atau masturbasi, sperma diambil dengan cara oprasi untuk mengambil sperma langsung dari buah zakar.    Baru dilakukan proses pembuahan (fertilisasi) di dalam Setelah menghasilkan embrio, baru dokter akan melakukan Penunjang fase luteal untuk mempertahankan didinding media kultur di laboratorium untuk menghasilkan embrio. transfer embrio kembali kedalam rahim untuk bias terjadi kehamilan. rahim. Pada tahap ini, biasanya dokter akan memberikan obat untuk mempertahankan dinding rahim ibu supaya bias terjadi kehamilan.  Yang terakhir proses simpan beku embrio untuk waktu tertentu. Hal ini dilakukan jika ada embrio yang lebih sehinga bisa dimanfaatkan kembali bila diperlukan untuk kehamilan selanjutnya.
2. Pengambilan telur

Apabila sel telur istri suda banyak, maka dilakukan pengambilan sel telur yang akan dilakukan dengan suntikan lewat vagina dibawah bimbingan USG.

3. Pembuahan atau fertilisasi sel telur. Setelah berhasil mengeluarkan beberapa sel telur, suami diminta untuk mengeluarkan sendiri spermanya. Sperma akan diproses, sehingga sel-sel sperma suami yang baik saja yang akan dipertemukan dengan selsel telur istri dalam tabung gelas dilaboratorium. Sel-sel telur istri dan selsel sperma suami yang sudah dipertemukan itu kemudian dibiarkan dalam pengeram. Pemantawan berikutnya dilakukan 18-20 jam kemudian pada pemantawan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembelahan sel. 4. Pemindahan embrio. Kalau terjadi fertilisasi sebuah sek telur dengan sebuah sperma, maka terciptalah hasil pembuahan yang akan membelah menjadi beberapa sel, yang disebut embrio. Embrio ini akan dipindahkan melalui vagina kedalam rongga rahim 2-3 hari kemudian. 5. Pengamatan terjadinya kehamilan. Setelah implitasi embrio, maka tinggal menunggu apakah akan terjadi kehamilan. Apabila 14 hari setelah pemindahan embrio tidak terjadi haid, maka dilakukan pemeriksaan kencing untuk menentukan adanya kehamilan. Kehamilan baru dipastikan dengan pemeriksaan USG seminggu kemudian. 4.4 Resiko melakukan bayi tabung Menurut tinjauan pustaka, dampak dari melakukan bayi tabung adalah terjadi efek samping akibat induksi, dengan makin banyaknya jenis obat baru pemacu hormon untuk induksi ovulasi seperti produk mutakhir rancangan teknologi rekombinan dan jenis bahan habis pakai, menyebabkan biaya penanganan bayi tabung menjadi makin mahal. Komponen terbesar biaya tersebut adalah terutama utuk pengadaan obat pemacu homon dan bahan habis pakai untuk induksi ovelasi yang diperkirakan dapat mencapai hingga 70% dari biaya keseluruhan untuk setiap

bayi tabung. Biaya tesebut akan bertambah apabila penanganan bayi tersebut gagal dan haus diulang pada siklus haid berikutnya.sampai saat ini tidak banyak diketahui dampak jangka panjang dari program ini. Prosedur bayi tabung yang menegangkan, melelahkan dan bahkan sering memicu rasa frustasi. Belum lagi megintai kecacatan pada bayi dan dampak lainnya. Seberapa besar resiko program bayi tabung itu, kini masih masih menjadi tema penelitian sjumlah dokter dan ilmuan Jerman. Namun secara teori, program bayi tabung membuat mental sang ibu down apabila prosesnya gagal dan harus mengulang. Padahal biaya untuk melakukan sekali bayi tabung sangat tinggi. Hal ini bisa membuat kondisi pasangan suami istri semakin labil. Untuk itu, para peneliti seharusnya bisa mengupayakan obat-obatan untuk bayi tabung yang relatif terjangkau. Selain itu upaya mencapai keberhasilan kehamilan sampai kelahiran harus ditingkatkan agar usaha yang dilakukan pasangan suami istri tidak sia-sia.
4.5 Hukum Islam Tentang Bayi Tabung

Berdasarkan tinjauan pustaka yang ada, ada beberapa pendapat ulama berkaitan bayi tabung ini. ada yang memperbolehkan dengan beberapa syarat, ada juga yang menganggap itu haram karena seolah-olah mengubah takdir Tuhan. Ulama yang membenarkan berpendapat bahwa bayi tabung bukan merubah takdir/ciptaan tuhan sebab manusia atau dokter bukannya membuat sesuatu yang baru, tetapi hanya megubah sedikit proses daripada yang biasa dan proses itu tidak keluar dari apa yang disebutkan Allah dalam surat AlMukminun ayat 13, yang artinya: “kemudian kami jadikan manusia itu daripada air mani dalam tempat yang kukuh (rahim )lalu air mani tadi kami jadikan segumpal darah, darah itu kami jadikan sepotong daging, daging itu kami jadikan tulang, tulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami ciptakan makhluk yang sempurna (manusia)”

Proses penciptaan manusia yang dikatakan dalam surah al-Mukminun ini tidak dapat dibantah oleh pakar-pakar ilmu dan tidak mungkin dapat mengubah proses ini. Secara khusus, permasalahan bayi tabung uji tidak disentuh dalam al-Quran maupun hadis. Oleh karena itu, permasalahan ini adalah medan ijtihad agar umat Islam tidak jumud dalam berfikir dan dapat menjawab permasalahan manusia moden. Mayoritas ulama berpendapat, bayi tabung uji dibenarkan dan hukumnya mubah (harus), dengan syarat, ia mesti dilakukan oleh suami dan isteri yang sah menurut syariah Islam. Ini berdasarkan hadis Ibnu Abbas, yang bermaksud: Bahawa dosa yang paling besar di sisi Allah selepas syirik, adalah seorang lelaki yang meletakkan air maninya di rahim perempuan yang tidak halal baginya. Pertemuan ulama fikah Islam sedunia di Amman, Jordan pada 11 sehingga 16 Oktober 1986, membincangkan masalah bayi tabung uji ini dan menghasilkan beberapa keputusan mengenai pembahagian proses pembuatan bayi tabung uji ini.
1. Apabila kesalahan ada pada pihak isteri, sehingga mereka mengambil

ovum wanita lain untuk dicampurkan dengan air mani suaminya (ke dalam tabung uji atau langsung). Kemudian dimasukkan ke dalam rahim isteri lelaki itu.
2. Apabila kesalahan ada pada pihak suami, sehingga keluarga ini terpaksa

mengambil air mani lelaki lain untuk dicampurkan dengan ovum isterinya (dalam tabung uji atau langsung), lalu kemudian disuntikkan ke dalam rahim isterinya.
3. Air mani suami dan ovum isteri dalam keadaan baik, akan tetapi mereka

ingin melahirkan bayi melalui rahim perempuan lain, dengan cara mengambil air mani suami dan ovum isterinya dan disatukan (ke dalam tabung uji atau langsung), kemudian disuntik ke dalam rahim wanita lain (sewa rahim).
4. Air mani suami dan isteri tidak baik atau inginkan benih orang lain,

sehingga mereka mengambil air mani dan ovum orang lain untuk disimpan di (tabung uji atau langsung) disuntikkan ke dalam rahim isterinya

5. Apabila lelaki itu memiliki dua isteri, di mana air mani suami dan ovum

isteri pertama disatukan dalam tabung uji, kemudian disuntikkan ke dalam rahim isteri yang kedua.
6. Percampuran air mani suami dan ovum isteri ke dalam tabung uji lalu

disuntikkan ke dalam rahim si isteri. 7. Air mani suami disuntikkan secara langsung ke rahim isteri sehingga berlaku pembenihan langsung di rahim isteri tanpa proses persetubuhan. Ulama yang bermusyawarah ketika itu, sepakat bahawa proses pertama hingga keempat adalah haram secara syariah. Proses kelima, keenam dan tujuh dibolehkan. Bagaimanapun, mereka berkesimpulan proses kelima adalah yang terbaik. Wallahu a'lam. Kami setuju dengan keputusan para ulama tersebut karena dengan mempertemukan sperma dan ovum dari individu yang legal secara hukum dan agama maka hasil pembuahanya pun tidak dipermsalahkan karena setatus sang anak akan ikut menjadi legal scara hukum dan agama.
4.6 Kedudukan Bayi Tabung Secara hukum Negara

Secara hukum bayi tabung diperbolehkan namun terdapat aturanaturan yang mengatur status bayi tabung tersebut. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjadi kericuan tentang kelegalan sang bayi. Adanya kasus wanita sewaan untuk mengandung anak menimbulkan berbagai kontroversi dalam masalah tersebut. Wanita sewaan akan ingin mempertahankan bayi itu dan menolak untuk menerima uang pembayaran. Jika merasa sudah terlanjur sayang dengan bayi tersebut, dan hal itu belum ada ketentuan hukumnya. Adapun menurut uu no.9 th 1999 pasal 10 ayat 1, tentang HAM “setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui pernikahan yag sah”. Jika benihnya berasal dari suami istri, dilakukan proses fertilasi. In vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status

sebagai anak sah (keturunan gentik) dari pasangan tersebut. Namun jiika diimplantasikan ke dalam rahim ibunya disaat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari, maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. Dasar hukum ps. 255 KUHPer. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami, maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sah-nya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. (Biasanya dilakukan perjanjian antara kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah secara perdata barat, sesuai dengan ps. 1320 dan 1338 KUHPer.) Jika salah satu benihnya berasal dari donor aturannya adalah Jika Suami mandul dan Istrinya subur, maka dapat dilakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. Sel telur Istri akan dibuahi dengan Sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan diimplantasikan ke dalam rahim Istri. Anak yang dilahirkan memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si Suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes DNA. Dasar hukum ps. 250 KUHPer. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut. Dasar hukum ps. 42 UU No. 1/1974 dan ps. 250 KUHPer. Aturan-aturan diatas dibuat untuk melindungi dan memperjelas status anak hasil bayi tabung. Mungkin jika bayi tabung telah hidup dalam masyarakat,permasalahannya tidak semudah ini atau juga malah tidak menimbulkan permasalahan apa-apa. Kita sebagai generasi penerus harus bisa membuat teknologi bayi tabung ini semakin lebih baik.

BAB V PENUTUP Kesimpulan

Bayi tabung merupakan pembuahan ovum dan sperma diluar tubuh wanita dan dimasukkan ke dalam endometrium agar terjadi kehamilan. Kebanyakan pasangan suami istri melakukan bayi tabung karena faktor intern seperti kerusakan pada saluran reproduksi (tubuh falofi’i) pada wanita. Dan lemahnya sperma sehingga tidak bisa membuahi ovum.

Teknik-teknik bayi tabung ternyata sangat rumit dan panjang. Selain itu alat-alat yang digunakan juga terkesan mahal. Hal itu yang membuat biaya bayi tabung juga melambung tinggi.

Resiko yang dihadapi adalah ketika terjadi kegagalan dalam pembuahan, maka biaya yang dikeluarkan akan sia-sia. Selain ini pemasukan induksi hormon juga mempengaruhi mental sang ibu. Sehingga umur menjadi tolak ukur dalam keberhasilan bayi tabung.


Agama memperbolehkan melakukan bayi tabung dengan syarat ovum dan sperma berasal dari pasangan suami istri yang legal dalam pernikahan. Negara menjamin status anak yang berasal dari ovum yang legal dalam pernikahan juga mengatur status anak yang berasal dari wanita sewaan atau sperma donor asal prosesnya sesuai dengan ketentuan yang ada.

Saran

Berbagai usaha bisa dilakukan untuk mendapatkan keturunan, namun jika semuanya gagal, bayi tabung bisa dijadikan alternatif terakhir. Sebelum memutuskan melakukan bayi tabung, perlu dipertimbangkan kelebihan dan kekurangan agar tidak terjadi penyesalan, mengingat biaya bayi tabung yang tidak sedikit.

Perlu dilakukan upaya-upaya baru agar teknik-teknik bayi tabung bisa sedikit sederhana, tidak membutuhkan alat dan obat-obatan yang biayanya tinggi namun hasilnya tetap maksimal. Sehingga semua kalangan bisa mengambil alternatif bayi tabung untuk mendapatkan keturunan.

Perlu dilakukan penelitian ulang untuk meminimalkan resiko yang terjadi jika pasangan suami istri melakukan bayi tabung mengingat sampai saat ini, dampak terhadap bayi hasil bayi tabung belum diketahui misalnya apakah bayi tersebut terkena cacat bawaan atau tidak.

Jika telah memutuskan untuk melakukan bayi tabung seharusnya sesuai dengan syariat agama yaitu ovum dan sperma dari pasangan suami istri yang terikat pernikahan legal agar status anaknya jelas. Bukan melalui wanita sewaan atau sperma donor.

Melakukan bayi tabung sesuai dengan ketentuan hukum dan undangundang yang mengatur agar status anak nantinya jelas.

DAFTAR PUSTAKA (http://www.malajaya.blogspot.com). 2009/09 tugas nepa.html. (http://www.anisadewinusa.blog.frendster.com). Pengertian Bayi Tabung Menurut Islam. (http://www.wikipedia.bayitabung.com). (http://www.bayi.tabung.org). Bayi Tabung dalam Negara. 2005. (http://www.suara_karya.online.com/news.html). Apa Sih Bayi Tabung?. 2007. (http://www.prosesbayitabung.com). 2008. (http://www.suara_pembaharuan.com/News/2006/08/06/Jabotebe/job_is.htm). \

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama TTL NIS Kelas Alamat Rumah No. Telp Alamat Sekolah

: Eko Pamungkas : Jombang, 26 Juni 1993 : 084731 : XI IPA 4 : Ds Japanan, Gudo - Jombang : 085231948936 : SMAN 3 Jombang Jl. Dr. Soetomo 75

Karya Tulis yang pernah di buat : -

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->