P. 1
Dalam Menelaah Novel Keindahan Dan Kesedihan

Dalam Menelaah Novel Keindahan Dan Kesedihan

|Views: 162|Likes:
Published by evrades

More info:

Published by: evrades on Jun 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

Dalam menelaah novel Keindahan dan Kesedihan (Utsukushisa To Kanashimi To) ini, saya mengacu pada teori dan konsep

yang ada. Untuk menganalisis novel ini saya menggunakan teori pendekatan intrinsik dengan memfokuskan pembahasan penokohan. Untuk mengkaji penelitian ini, saya menggunakan teori – teori tentang Feminisme Radikal. Istilah Feminisme1 pada dasarnya terkait dengan kritik Marxis2. Kedua pendekatan ini yang dianggap Radikal. Feminisme sebagai suatu pemikiran dan gerakan lahir di sekitar abad ke-18, tepatnya setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792. Adapun pemikiran ini karena pada saat itu posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan , berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan. Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki di hadapan hukum. Memasuki era 1990-an, kritik feminisme masuk dalam institusi sains yang merupakan salah satu struktur penting dalam masyarakat modern. Termarginalisasinya peran perempuan dalam institusi sains dianggap sebagai dampak dari karakteristik patriarkal yang menempel erat dalam institusi sains. Tetapi, kritik kaum feminis terhadap institusi sains tidak berhenti pada masalah termarginalisasinya peran perempuan. Kaum feminis telah berani masuk dalam wilayah epistemologi sains untuk membongkar ideologi sains yang sangat patriarkal. Dalam kacamata eko-feminisme, sains modern merupakan representasi kaum laki-laki yang dipenuhi nafsu eksploitasi terhadap alam. Alam merupakan representasi dari kaum perempuan yang lemah, pasif, dan tak berdaya. Dengan relasi patriarkal demikian, sains modern merupakan refleksi dari sifat maskulinitas dalam memproduksi pengetahuan yang cenderung eksploitatif dan destruktif. Masalahnya, kritik sastra tentang tokoh wanita selalu berada dalam sudut pandang atau bayangan pria. Kaum feminis tidak setuju bila karya sastra seakan-akan menghakimi perilaku tokoh wanita yang mana si pria sendiri tidak terlalu paham mengenai wanita.

1

Albertine Minderop, Kritik Sastra : Universitas Darma Persada, 2000. http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme#Feminisme_Marxis

2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->