P. 1
Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Elektronika Dasar Melalui Pendekatan Belajar Tuntas

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Elektronika Dasar Melalui Pendekatan Belajar Tuntas

|Views: 3,493|Likes:
Published by nanaka

More info:

Published by: nanaka on Jun 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN ELEKTRONIKA DASAR MELALUI PENDEKATAN

BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING)

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah MKPE

Di susun oleh: Nama : Kurnia Nursyahriati No. Reg : 5215 07 0249

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat dan nikmat-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Elektronika Dasar Melalui Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning)” ini dapat terselesaikan sebagaimana yang telah direncanakan. Tidak lupa salawat serta salam penulis haturkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga akhirzaman yang selelu berada dijalan kebenaran. Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, terutama kepada bapak Dr. Bambang Dharmaputra M.Pd selaku dosen mata kuliah Metodologi Khusus Pengajaran Elektronika (MKPE). Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai suatu telaah terhadap upaya peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Elektronika Dasar dengan menggunakan pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang di pakai dalam makalah ini adalah Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning) yang dapat menjadi acuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di mata pelajaran elektronika dasar dengan memberikan pelajaran tambahan (remedial) pada siswa yang mengalami kesulitan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan agar mereka juga bisa sukses melewati kajian itu dan memberikan pengayaan (enrichment) kepada siswa yang berhasil tuntas menguasai kajian yang telah diajarkan. Pendekatan ini mengupayakan agar siswa yang lamban menyerap kajian tidak merasa rendah diri, dan siswa yang cepat mengusai kajian tidak menjadi tinggi hati, juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca guna menjadi bahan evaluasi bagi penulis dalam pembuatan karya tulis berikutnya. Jakarta, Juni 2010 Penulis

ABSTRAK

Berbicara tentang mutu pendidikan yang rendah salah satunya disebabkan oleh kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk belajar karena rendahnya daya serap atau prestasi belajar, atau belum terwujudnya keterampilan proses dan pembelajaran yang menekankan pada peran aktif peserta didik, inti persoalannya adalah pada masalah “Ketuntasan belajar” yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan. Masalah ketuntasan belajar merupakan masalah yang penting, sebab menyangkut masa depan peserta didik, terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar. Persoalan ini dialami siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung salah satunya pada mata pelajaran Elektronika Dasar di SMK, pada saat proses berlangsung terdapat siswa yang memiliki daya tangkap yang kurang sehingga tertinggal dari temannya yang sudah menguasai maka menyebabkan motivasi dalam dirinya menurun. Sebagai guru yang sabar seharusnya dapat memberikan strategi pembelajaran agar siswa yang memiliki motivasi yang kurang tersebut tidak merasa rendah diri lagi dan timbul percaya diri dalam dirinya. Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Pendekatan ini mengacu pada ketuntasan individual siswa dan memberikan kebebasan pada siswa untuk belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal walaupun dalam kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal).

Kata Kunci: peningkatan motivasi, elektronika dasar, pendekatan belajar tuntas (mastery learning).

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berbagai mata pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis, serta kurang memperhatikan ketuntasan belajar secara individual. Proses

pendidikan dalam sistem persekolahan kita termasuk di SMK, umumnya belum menerapkan pembelajaran sampai peserta didik menguasai materi pembelajaran secara tuntas salah satunya pada mata pelajaran Elektronika Dasar. Akibatnya, banyak peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran meskipun sudah dinyatakan tamat dari sekolah. Tidak heran kalau mutu pendidikan secara nasional masih rendah. Sesuai dengan cita-cita dari tujuan pendidikan nasional, guru perlu memiliki beberapa prinsip mengajar yang mengacu pada peningkatan kemampuan internal peserta didik di dalam merancang strategi dan melaksanakan pembelajaran. Peningkatan potensi internal itu misalnya dengan menerapkan jenis-jenis strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara penuh, utuh dan kontekstual. Pendekatan pembelajaran diarahkan pada upaya mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengelola perolehan belajar (kompetensi) yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan demikian proses pembelajaran lebih mengacu kepada bagaimana peserta didik belajar dan bukan lagi pada apa yang dipelajari. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah menggunakan Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Pendekatan ini mengacu pada ketuntasan individual siswa dan memberikan kebebasan pada siswa untuk belajar, serta untuk mengurangi kegagalan peserta didik dalam belajar, sehingga dengan

penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal dan mengupayakan agar siswa yang lamban menyerap kajian tidak merasa rendah diri, dan siswa yang cepat mengusai kajian tidak menjadi tinggi hati, juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri.

2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas memunculkan beberapa permasalahan terkait dengan proses pembelajaran siswa yang terkait dengan motivasi belajar siswa SMK pada mata pelajaran Elektronika Dasar melalui Pendekatan

Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning). Diantaranya adalah: a. Pemahaman tentang motivasi, mata pelajaran Elektronika Dasar, dan Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) b. Penerapan Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) dalam meningkatkan motivasi belajar siswa SMK pada mata pelajaran Elektronika Dasar.

3. Tujuan Penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk: a. Memberikan solusi kepada para pengajar dalam melakukan proses pembelajaran bisa menggunakan macam-macam strategi pembelajaran dan salah satunya mengunakan Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) . b. Memberitahukan apa itu Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning). c. Meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dengan menguasai mata pelajaran dasar.

4. Metode Pembahasan Penulis menggunakan tinjauan pustaka dan analisis yang mendasar terhadap pembuatan makalah ini.

BAB II PEMBAHASAN

A. Motivasi Secara etimologis, Winardi (2002 : 1, dalam artikel Rasto) menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Selanjutnya Winardi (2002:33) mengemukakan, motivasi seseorang

tergantung kepada kekuatan motifnya. Berdasarkan hal tersebut diskusi mengenai motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan. Steiner sebagaimana dikutip Hasibuan (2003:95, dalam artikel Rasto) mengemukakan motif adalah “suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir”. Ali sebagaimana dikutip Arep dan Tanjung 2004:12, dalam artikel Rasto) mendefinisikan motif sebagai “sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang”. Motivasi (wikipedia.org) adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi.[2] Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya. Sedangkan beberapa pengertian menurut para ahli manajemen sumber daya manusia, diantaranya yaitu: (dalam arikel Anne Ahira) 1. Motivasi menurut Wexley & Yukl adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif.

2. Motivasi menurut Mitchell, motivasi mewakili proses - proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan tertentu. 3. Ray lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Motivasi adalah dorongan psikologis yang mengarahkan seseorang ke arah suatu tujuan. Motivasi membuat keadaan dalam diri individu muncul, terarah, dan mempertahankan perilaku, menurut Kartini Kartono motivasi menjadi dorongan (driving force) terhadap seseorang agar mau melaksanakan sesuatu. Motivasi yang ada pada setiap orang tidaklah sama, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai pengertian dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh individu lain/ organisasi. Pengertian Motivasi Belajar yang paling sederhana

(motivasibelajar.net) adalah sesuatu yang menggerakkan orang baik secara fisik atau mental untuk belajar. Sesuai dengan asal katanya yaitu Motif yang berarti sesuatu yang memberikan dorongan atau tenaga untuk melakukan sesuatu. Karena kita bicara tentang belajar maka ya sesuatu yang mendorong kita untuk belajar untuk mendapatkan sesuatu. Kesimpulan dari beberapa tulisan diatas Motivasi adalah sesuatu dorongan yang berada dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan motivasi belajar adalah sesuatu dorongan dalam diri siswa untuk melakukan suatu pembelajaran agar mendapatkan sesuatu yaitu ilmu, pengalaman, ataupun yang lainnya.

Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya: Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat seksual. Perbedaan rasa aman (safety needs), baik secara mental, fisik, dan intelektual. Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya. Perbedaan harga diri (self esteem needs). Contohnya prestise memiliki mobil atau rumah mewah, jabatan, dan lain-lain. Perbedaan aktualisasi diri (self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata. Terdapat dua faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi untuk belajar, yaitu: Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan. Kedua, motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapat berupa rangsangan dari orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang yang bersangkutan.

B. Elektronika Dasar Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan sirkuit elektroniknya adalah bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi.

Alat-alat yang menggunakan dasar kerja elektronika ini biasanya disebut sebagai peralatan elektronik (electronic devices). Contoh peralatan/ piranti elektronik ini: Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube, CRT), radio, TV, perekam kaset, perekam kaset video (VCR), perekam VCD, perekam DVD, kamera video, kamera digital, komputer pribadi desk-top, komputer Laptop, PDA (komputer saku), robot, smart card, dll. Elektronika Dasar adalah mata pelajaran yang mempelajari proses terjadinya aliran listrik, elektronika dasar juga mempelajari tentang komponen elektronika serta fungsi-fungsinya. Dalam mempelajari mata pelajaran ini kita akan mengetahui fungsifungsi dari komponen elektronika dan mengetahui sejarah alat elektronika dapat berbentuk seperti saat ini seperti televisi, radio, komputer, dll. Iru semua berawal dari kumpulan komponen yang sangat kecil kemudian dirangkai dan akhirnya dapat mengoperasikan sesuatu yang diinginkan. Pada saat ini komponen elektronika sudah berbentuk lebih ringkas seperti yang kita ketahui yaitu IC (Integrated Circuit) adalah kumpulan dari beribu-ribu bahkan sekarang jutaan transistor berda dalam IC tersebut. Elektronika dasar merupakan mata pelajaran yang sering kali di remehkan oleh siswa karena menganggapnya mudah untuk dipelajari padahal sering kali pada saat ujian nilai elektronika dasar pada jatuh padahal mata pelajaran ini merupakan mata pelajaran produktif. Oleh karena itu sebagai guru seharusnya memikirkan mengapa ketuntasan yang diharapkan terkadang tidak sesuai harapan dan itu perlu dianalisa, sehingga guru dapat melakukan beberapa strategi agar proses pembelajaran sesuai yang diharapakan dan hasil pembelajaran itu tercapai dan tidak hanya bersifat sementara tetapi tetap. Begitu juga dalam mata pelajaran elektronika dasar ini, guru harus memikirkan apa kendala yang dihadapi siswa pada mata pelajaran ini dan bisa menggunakan strategi pembelajaran secara tepat, efektif dan efisien. Strategi guru tersebut juga harus menumbuhkan motivasi belajar siswa dikelas maupun

diluar kelas sehingga mereka benar-benar serius mempelajari pelajaran yang telah disampaikan oleh guru.

C. Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) Belajar tuntas (Mastery learning) adalah proses belajar mengajar yang bertujuan agar bahan ajaran dikuasai secara tuntas, artinya dikuasai sepenuhnya oleh siswa. Belajar tuntas ini merupakan strategi pembelajaran yang diindividualisasikan dengan menggunakan pendekatan kelompok (group based approach). Dengan system belajar tuntas diharapkan program belajar mengajar dapat dilaksanakan sedemikian rupa agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dan diperoleh secara optimal sehingga proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Secara operasional perwujudannya adalah : Nilai rata-rata seluruh siswa dalam satuan kelas dapat ditingkatkan dan jarak antara siswa yang cepat dan lambat belajar menjadi semakin pendek. Belajar tuntas (mastery learning) (wikipedi.org) adalah filosofi pembelajaran yang berdasar pada anggapan bahwa semua siswa dapat belajar bila diberi waktu yang cukup dan kesempatan belajar yang memadai. Selain itu, dipercayai bahwa siswa dapat mencapai penguasaan akan suatu materi bila standar kurikulum dirumuskan dan dinyatakan dengan jelas, penilaian mengukur dengan tepat kemajuan siswa dalam suatu materi, dan pembelajaran berlangsung sesuai dengan kurikulum. Dalam metoda belajar tuntas, siswa tidak berpindah ke tujuan belajar selanjutnya bila ia belum menunjukkan kecakapan dalam materi sebelumnya. Pembelajaran tuntas (mastery learning) dalam proses pembelajaran berbasis kompetensi dimaksudkan adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar

kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi. Tetapi jika peserta didik tidak diberi cukup waktu atau dia tidak dapat menggunakan waktu yang diperlukan secara penuh, maka tingkat penguasaan kompetensi peserta didik tersebut belum optimal. 1. Dasar – Dasar Belajar Tuntas Landasan konsep dan teori belajar tuntas (Mastery Learning Theory ) adalah pandangan tentang kemampuan siswa yang dikemukakan oleh John B. Carroll pada tahun 1963 berdasarkan penemuannya yaitu “Model of School Learning” yang kemudian dirubah oleh Benyamin S. Bloom menjadi model belajar yang lebih operasional. Selanjutnya oleh James H. Block model tersebut lebih disempurnakan lagi. Sedangkan menurut Carroll bakat atau pembawaan bukanlah kecerdasan alamiah, melainkan jumlah waktu yang diperlukan oleh siswa untuk menguasai suatu materi pelajaran tertentu. Benyamin melaksanakan konsep belajar tuntas itu ke dalam kelas melalui proses belajar mengajar pelaksanaaannya sebagai berikut : a. Bagi satuan pelajaran disediakan waktu belajar yang tetap dan pasti. b. Tingkat penguasaan materi dirumuskan sebagai tingkat penguasaan tujuan pendidikan yang essensial. Untuk lebih menggalakkan konsep belajar tuntas James H. Block mencoba mengurangi waktu yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran di dalam waktu yang tersedia, yaitu dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin kualitas pengajaran. Jadi pelaksanaan oleh James H Block mengandung arti bahwa : a. Waktu yang sebenarnya digunakan diusakan diperpanjang semaksimal mungkin. b. Waktu ytang tersedia diperpendek sampai semaksimal mungkin dengan cara memberikan pelayanan yang optimal dan tepat.

2. Strategi Belajar Tuntas

Benyamin S. Bloom (1968) di dalam kertas kerjanya “learning for mastery theory and practice” mengembangkan atau mengoperasionalkan “model of school learning” konsep John B Carroll (1963). Pengembangan itu berupa penyusunan suatu strategi belajar tuntas dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Pada pokoknya satrategis itu ialah “jika kepada siswa diberikan waktu yang cukup (sufficient) dan mereka diperlakukan secara tepat (appropriate treatment), maka mereka akan mampu dan dapat belajar sesuai dengan tuntutan dan sasaran (obyektives) yang diharapkan”. Selanjutnya menurut Bloom beberapa implikasi belajar tuntas dapat disebutkan sebagai berikut : a. Dengan kondisi optimal, sebagian besar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas (mastery learning). b. Tugas guru adalah mengusahakan setiap kemungkinan untuk menciptakan kondisi yang optimal, meliputi waktu, metode, media dan umpan yang baik bagi siswa. c. Yang dihadapi guru adalah siswa-siswa yang mempunyai

keanekaragaman individual. Karena itu kondisi optimal mereka juga beraneka ragam. d. Perumusan tujuan instruksional khusus sebagai satuan pelajaran mutlak diperhatikan, agar supaya para siswa mengerti hakikat tujuan dan prosa dan belajar. e. Bahan pelajaran dijabarkan dalam satuan-satuan pelajaran yang kecilkrcil dan selalu diadakan pengujian awal (pretest) pada permulaan pelajaran dan penyajian akhir (posttest) pada akhir satuan akhir pelajaran. f. Diusahakan membentuk kelompok-kelompok yang kecil (4-6 orang) yang dapat berteman secara teratur sehingga dapat saling membantu. g. dalam memecahkan kesulitan-kesulitan belajar siswa secara efektif dan efisien.

h. Sistem

evaluasi

berdasarkan

atas

tingkat

penguasaan

tujuan

instruksional khusus bagi materi pelajaran yang bersangkutan yaitu menggunakan “criteria referenced test” bukannya “norm referenced test”. Strategi pembelajaran tuntas sebenarnya menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi juga mengakui dan

memberikan layanan sesuai dengan perbedaan-perbedaan individual peserta didik, sehingga pembelajaran memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal. Adapun langkahlangkahnya adalah :
• •

mengidentifikasi prasyarat (prerequisite), membuat tes untuk mengukur perkembangan dan pencapaian kompetensi,

mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. Metode pembelajaran yang sangat ditekankan dalam pembelajaran

tuntas adalah pembelajaran individual, pembelajaran dengan teman atau sejawat (peer instruction), dan bekerja dalam kelompok kecil. Berbagai jenis metode (multi metode) pembelajaran harus digunakan untuk kelas atau kelompok. Pembelajaran tuntas sangat mengandalkan pada pendekatan tutorial dengan sesion-sesion kelompok kecil, tutorial orang perorang,

pembelajaran terprogram, buku-buku kerja, permainan dan pembelajaran berbasis komputer (Kindsvatter, 1996).

3. Ciri-ciri belajar/mengajar dengan prinsip Belajar Tuntas Pada dasarnya ada enam macam ciri pokok pada belajar/mengajar dengan prinsip belajar tuntas, yaitu : a. Berdasarkan atas tujuan instruksional yang hendak dicapai yang sudah ditentukan lebih dahulu.

b. Memperhatikan perbedaan individu siswa (asal perbedaan) terutama dalam kemampuan dan kecepatan belajarnya. c. Menggunakan prinsip belajar siswa aktif. d. Menggunakan satuan pelajaran yang kecil. e. Menggunakan system evaluasi yang kontinyu dan berdasarkan atas kriteria, agar guru maupun siswa dapat segera memperoleh balikan. f. Menggunakan program pengayaan dan program perbaikan.

4. Variabel-variabel Belajar Tuntas a. Bakat siswa (aptitude) : Hasil penelitian menunjukan bahwa ada korelasi yang cukup tinggi antara bakat dengan hasil pelajaran. b. Ketekunan belajar (perseverance) : Ketekunan erat kaitannya dengan dorongan yang timbul dalam diri siswa untuk belajar dan mengolah informasi secara efektif dan efisien serta pengembangan minat dan sikap yang diwujudkan dalam setiap langkah instruksional. c. Kualitas pembelajaran (quality of instruction) : Kualitas pembelajaran merupakan keadaan yang mendorong siswa untuk aktif belkajar belajar dan mempertahankan kondisinya agar tetap dalam keadaan siap menerima pelajaran.Kualitas pembelajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan, dan pengaturan unsure-unsur tugas belajar. Kesempatan waktu yang tersedia (time allowed for learning) : Penyediaan waktu yang cukup untuk belajar dalam rangka mencapai tujuan instruksional yang ditetapkan dalam suatu mata pelajaran, bidang studi atu pokok bahasan yang berbeda-beda sesuai dengan bobot bahan pelajaran dan tujuan yang ditetapkan.

5. Peran Guru dalam Belajar Tuntas Strategi pembelajaran tuntas menekankan pada peran atau tanggung jawab guru dalam mendorong keberhasilan peserta didik secara individual. Pendekatan yang digunakan mendekati model Personalized System of Instruction (PSI) seperti dikembangkan oleh Keller, yang lebih

menekankan pada interaksi antara peserta didik dengan materi/objek belajar. Peran guru harus intensif dalam hal-hal berikut: a. Menjabarkan/memecah KD (Kompetensi Dasar) ke dalam satuansatuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya. b. Mengembangkan indikator berdasarkan SK/KD. c. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi. d. Memonitor seluruh pekerjaan peserta didik. e. Menilai perkembangan peserta didik dalam pencapaian kompetensi (kognitif, psikomotor, dan afektif). f. Menggunakan teknik diagnostik. g. Menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan. 6. Peran Siswa dalam Belajar Tuntas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memiliki pendekatan berbasis kompetensi sangat menjunjung tinggi dan menempatkan peran peserta didik sebagai subjek didik. Fokus program pembelajaran bukan pada “Guru dan yang akan dikerjakannya” melainkan pada ”Peserta didik dan yang akan dikerjakannya”. Oleh karena itu, pembelajaran tuntas memungkinkan peserta didik lebih leluasa dalam menentukan jumlah waktu belajar yang diperlukan. Artinya, peserta didik diberi kebebasan dalam menetapkan kecepatan pencapaian kompetensinya. Kemajuan peserta didik sangat bertumpu pada usaha serta ketekunannya secara individual.

7. Evaluasi Penting untuk dicatat bahwa ketuntasan belajar dalam KTSP ditetapkan dengan penilaian acuan patokan (criterion referenced) pada setiap kompetensi dasar dan tidak ditetapkan berdasarkan norma (norm referenced). Dalam hal ini batas ketuntasan belajar harus ditetapkan oleh guru, misalnya apakah peserta didik harus mencapai nilai 75, 65, 55, atau

sampai nilai berapa seorang peserta didik dinyatakatan mencapai ketuntasan dalam belajar. Asumsi dasarnya adalah: a. Bahwa semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda, b. Standar harus ditetapkan terlebih dahulu, dan hasil evaluasi adalah lulus atau tidak lulus. (Gentile & Lalley: 2003) Sistem evaluasi menggunakan penilaian berkelanjutan, yang ciricirinya adalah: a. Ulangan dilaksanakan untuk melihat ketuntasan setiap Kompetensi Dasar b. Ulangan dapat dilaksanakan terdiri atas satu atau lebih Kompetensi Dasar (KD) c. Hasil ulangan dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan program pengayaan. d. Ulangan mencakup aspek kognitif dan psikomotor e. Aspek afektif diukur melalui kegiatan inventori afektif seperti pengamatan, kuesioner, dsb. Sistem penilaian mencakup jenis tagihan serta bentuk

instrumen/soal. Dalam pembelajaran tuntas tes diusahakan disusun berdasarkan indikator sebagai alat diagnosis terhadap program

pembelajaran. Dengan menggunakan tes diagnostik yang dirancang secara baik, peserta didik dimungkinkan dapat menilai sendiri hasil tesnya, termasuk mengenali di mana ia mengalami kesulitan dengan segera. Sedangkan penentuan batas pencapaian ketuntasan belajar, meskipun umumnya disepakati pada skor/nilai 75 (75%) namun batas ketuntasan yang paling realistik atau paling sesuai adalah ditetapkan oleh guru mata pelajaran, sehingga memungkinkan adanya perbedaan dalam penentuan batas ketuntasan untuk setiap KD maupun pada setiap sekolah dan atau daerah. Mengingat kecepatan tiap-tiap peserta didik dalam pencapaian KD tidak sama, maka dalam pembelajaran terjadi perbedaan kecepatan belajar

antara peserta didik yang sangat pandai dan pandai, dengan yang kurang pandai dalam pencapaian kompetensi. Sementara pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi untuk seluruh kompetensi dasar secara perorangan. Implikasi dari prinsip tersebut mengharuskan dilaksanakannya program-program remedial dan pengayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari penerapan sistem pembelajaran tuntas.

D. Penerapan Belajar Tuntas (Mastery Learning) dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Elektronika Dasar Penerapan metode ini dalam pembelajaran elektronika dasar adalah pada saat pengenalan komponen-komponen dasar siswa diberikan kelompok belajar tetapi setiap individu juga harus mengetahui komponen-komponen dasar serta kegunaannya. Guru memperbolehkan siswa belajar dari berbagai sumber. Penerapan lainnya ketika ada siswa yang tidak paham guru membimbing siswa tersebut dengan perlahan agar siswa tidak merasa rendah diri terhadap teman yang lain, sedangkan yang lain diberikan evalusi lainnya yang lebih beragam, sehingga semua siswa belajar dan tidak saling mengganggu satu sama lain. Pada metode ini sekolah juga harus menyiapkan berbagai macam sarana prasarana yang dibutuhkan oleh siswa agar siswa dapat belajar dengan efektif dan memudahkan mereka untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Siswa dituntut untuk menguasai materi yang diajarkan guru dan boleh beralih ke materi berikutnya kalau mereka sudah mengusai materi sebelumnya. Guru juga harus menggunakan strategi-stategi agar semua murid dapat menuntaskan materi yang siswa hadapi dengan mengetahui setiap karakter peserta didik.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan Penerapan Pendekatan Pembelajaran Tuntas (Mastery Learning) sangat baik dilakukan untuk menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar dan dapat menyerap pelajaran pada saat pembelajaran sedang berlangsung tetapi mereka menguasai mata pelajaran tersebut sampai sepanjang masa. Pendekatan ini juga mengatasi kesenjangan antara murid yang pandai dengan murid yang kurang pandai dalam menguasai suatu kompetensi pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, misalnya pada mata pelajaran Elektronika Dasar.

2. Saran a. Guru harus melakukan pendekatan individu kepada setiap murid atau melalui guru BK menanyakan masalah-masalah yang dihadapi murid. Sehingga proses pembelajaran tidak terganggu. b. Guru harus lebih menguras pikiran mereka, memikirkan tentang stategi apa yang akan dipakai bila dengan strategi yang satu tidak berhasil. c. Guru harus membiasakan murid untuk mencari ilmunya sendiri dan membimbing bila ada yang kurang dimengerti murid atau salah asumsi.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Muhammad Zainal. (2009). Pembelajaran Tuntas (Masteri Learning). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari http://meetabied.wordpress.com/2009/11/22/pembelajaran-tuntas-masterilearning/ Ahira, Anna. (2009). Pengertian Motivasi. Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari http://www.anneahira.com/motivasi/pengertian-motivasi.htm Irfan, Andie. (2007). Model Mastery Learning. Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari http://andieirfan.multiply.com/journal/item/5/Model_Mastery_Learning. Mastery Learning. (2010). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari

http://sweetir1s.multiply.com/journal/item/15. Rasto. (2010). Pengertian motivasi. Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-motivasi.html Sudrajat, Akhmad. (2009). Pembelajaran Tuntas (Mastery-Learning) Dalam KTSP. Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari http://arabsmanza.co.cc/?p=112. Suhadi. (2009). Motivasi Belajar - Gunakan Pendekatan Belajar Tuntas (Mastery Learning). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari

http://suhadinet.wordpress.com/2009/03/26/motivasibelajar%E2%80%94gunakan-pendekatan-belajar-tuntas-mastery-learning/. Wikipedia.org. (2010). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Belajar_tuntas. Wikipedia.org. (2010). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi. Wikipedia.org. (2010). Diunduh tanggal 13 Juni 2010 dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronika

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->