P. 1
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI VETERINER SISTEM RESPIRASI, THERMOREGULASI DAN PERHITUNGAN PULSUS

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI VETERINER SISTEM RESPIRASI, THERMOREGULASI DAN PERHITUNGAN PULSUS

|Views: 5,621|Likes:
Published by Prima Santi
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI VETERINER
SISTEM RESPIRASI, THERMOREGULASI
DAN PERHITUNGAN PULSUS
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI VETERINER
SISTEM RESPIRASI, THERMOREGULASI
DAN PERHITUNGAN PULSUS

More info:

Published by: Prima Santi on Jun 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI VETERINER
SISTEM RESPIRASI, THERMOREGULASI DAN PERHITUNGAN PULSUS

Oleh : Nama NIM Kelompok Kelas Asisten : Prima Santi : 0911310056 :A : PKH 09 A : drh. Rahadi S.

Tanggal Praktikum : 25 Maret 2010

PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Setiap makhluk hidup mempunyai ciri-ciri antara lain bergerak bernafas, makan, dan berkembang biak. Ciri-ciri tersebut nampak karena ada sistem yang bekerja yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Sistem tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan maupun organisme lain. Hal tersebut juga terjadi pada hewan. Oleh karena itu hewan mempunyai kecocokan tertentu terhadap lingkungan untuk bertahan hidup. Lingkungan hidup hewan terdiri dari lingkungan darat dan air. Dua jenis lingkungan tersebut memiliki pengaruh berbeda terhadap sistem pada tubuh hewan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tersebut akan menginisiasi tubuh hewan dan sistem tubuh akan menanggapi dengan cara tertentu dan berbeda yang bersifat khusus. Oleh karena itu setiap tubuh hewan akan selalu menjaga kondisi homeostasis tubuhnya dengan berbagai macam cara, tergantung pada jenis hewan dan lingkungan habitatnya. Sistem tubuh hewan akan bekerja untuk menjaga kondisi homeostasisnya agar tetap dapat bertahan hidup. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi homeostasis pada tubuh hewan salah satunya yaitu kerja dari tubuh, misal jalan, lari, dan loncat-loncat yang bisa mempengaruhi sistem respirasi, thermoregulasi dan sistem sirkulasi hewan. Kondisi homeostasis tubuh hewan dapat dicapai dengan cara beradaptasi terhadap lingkungan. Tujuan :
1. Praktikum I : Mempelajari gerakan-gerakan nafas dan perubahan-perubahannya yang

disebbakanoleh beberapa faktor seperti kerja fisik, kadar CO2, pengaruh sikap tubuh dan rangsangan sensoris yang kuat. 2. 3. Praktikum II : Mengetahui cara pengukuran suhu tubuh hewan dan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan atau penurunan suhu. Praktikum III : Menghitung denyut nadi (pulsus) pada arteri femoralis.

Manfaat
1. Praktikum I : Untuk mempelajari gerakan-gerakan nafas dan perubahan-perubahannya

yang disebbakanoleh beberapa faktor seperti kerja fisik, kadar CO2, pengaruh sikap tubuh dan rangsangan sensoris yang kuat. 2. 3. Praktikum II : Untuk mengetahui cara pengukuran suhu tubuh hewan dan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan atau penurunan suhu. Praktikum III : Untuk menghitung denyut nadi (pulsus) pada arteri femoralis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Respirasi Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang digunakan untuk pertukaran gas. Pada hewan berkaki empat, sistem pernapasan umumnya termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas. Diafragma menarik udara masuk dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi sistem pernapasan ditemukan pada berbagai jenis makhluk hidup (Anonimous, 2010). Sistem respirasi memiliki fungsi utama yaitu memasok kebutuhan oksigen ke dalam tubh serta membuang CO2 dari dalam tubuh sedangkan fungsi sekundernya antara lain untuk mengendalikan suhu tubuh, regulasi keasaman, membuang air dan pembentukkan suara. Oksigen yang diperoleh hewan dari lingkungan digunakan dalam proses respirasi untuk menghasilkan ATP. Terdapat dua jenis organ respirasi yang didasarkan oleh jenis lingkungan hidupnya yaitu : a. Organ respirasi terrestrial atau aerial Organ respirasi ini dimiliki oleh hewan yang hidup di darat berupa paru-paru difusi yang merupakan modifikasi dari insang, paru-paru buku dan paru-paru alveolar. b. Organ respirasi aquatik Organ respirasi ini dimiliki oleh hewan yang hidup di air berupa kulit yang terdapat diseluruh permukaan tubuh dan insang (Tim Fisiologi, 2010). Sistem pernafasan terdiri dari sistem pernafasan dada dan pernafasan perut. Dalam pernafasan proses respirasi terdiri dari berupa fase inspirasi dan fase ekspirasi. Pada pernafasan dada fase inspirasi yaitu peristiwa berkontraksinya otot antar tulang rusuk (diagfragma) sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk. Sedangkan fase ekspirasi merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar (Anonimous, 2000). Pada pernafasan perut fase inspirasi adalah fase dimana otot diafragma berkontraksi sehingga diafragma mendatar, akibatnya rongga dada membesar dan tekanan menjadi kecil sehingga udara luar masuk.Sedangkan fase ekspirasi merupakan fase berelaksasinya otot diafragma (kembali ke posisi semula, mengembang) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan menjadi lebih besar, akibatnya udara keluar dari paru-paru (Anonimous, 2000).

Tabel 1. Frekuensi Respirasi pada Beberapa Hewan dalam Kondisi Normal : No. Hewan 1. Kuda 2. Kucing 3. Kelinci 4. Anjing 5. Sapi 6. Kambing 7. Domba & Babi 8. Ayam (Tim Fisiologi, 2010). Thermoregulasi Thermoregulasi adalah kemampuan makhluk hidup untuk mempertahankan panas tubuhnya sebagai bagian dari proses homeostatis. Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu : a. b. Hewan homeoterm Suhu tubuh hewan selalu konstan, tidak berubah walaupun suhu lingkungannya berubah. Hewan poikiloterm Suhu tubuh hewan yang selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan sekitarnya (Tim Fisiologi, 2010). Mekanisme perubahan panas tubuh terjadi dengan 4 proses : 1. 2. 3. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. 4. Evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya (Fredi, 2009). Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals) atau istilah ektoterm Frekuensi respirasi (per menit) 8 – 10 20 – 30 32 – 60 20 – 25 (muda), 14 – 16 (dewasa) 10 – 30 25 – 35 10 – 20 17 -27

dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok aves, dan mamalia (Fredi, 2009). Untuk mengukur suhu tubuh harus dilakukan pada bagian tubuh yang dapat merefleksikan suhu organ internal secara tepat yaitu rektum, mulut, axilla, dahi dan telingga. Pengukuran suhu rektum atau melalui anus digunakan untuk mendapatkan suhu tubuh yang lebih akurat karena tidak terpengaruh suhu lingkungan sekitar (Arief R. S. et.all, 2006).
Tabel 2. Suhu tubuh normal pada beberapa hewan :

No. Hewan Suhu tubuh (oC) 1. Kuda 37,5 – 385 2. Kucing 38 – 39,5 3. Kelinci 38 – 40 4. Anjing 37,5 – 39 5. Sapi 37,5 – 39,5 6. Kambing 38,5 – 40,5 7. Unggas 39 – 41 8. Domba 39,2 – 40 9. Babi 39 – 39,5 10. Hamster 38,4 – 39 11. Cavia 36 – 40,5 (Tim Fisiologi, 2010). Sistem Sirkulasi Sistem sirkulasi tersusun atas berbagai komponen utama yaitu jantung, pembuluh darah dan cairan tubuh yang beredar (darah, cairan limfe). Denyut nadi (pulsus) dapat dirasakan pada hampir seluruh arteri yang merupakan manifestasi jantung. Denyut nadi (pulse) adalah getaran/ denyut darah didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut ini dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat tonjolan tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri. Pada umumnya ada 9 tempat untuk merasakan denyut nadi yaitu temporalis, karotid, apikal, brankialis, femoralis, radialis, poplitea, dorsalis pedis dan tibialis posterior (Agung, 2008) Tabel 3. Pulsus beberapa jenis hewan dalam kondisi normal No. Hewan Pulsus (per menit)

1. Kucing 100 - 120 (Dewasa), 130-140 (muda) 2. Kelinci 130 - 325 3. Anjing 60 – 80 (Besar), 80 – 120 (kecil) 4. Sapi 40 – 60 5. Kambing 70 – 80 (dewasa), 80 – 120 (muda) (Tim Fisiologi, 2010). Tinjauan Alat dan Bahan
1. Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur),ataupun

perubahan suhu (Suparni, 2009).
2. Stopwatch adalah alat yang digunakan untuk mengukur lamanya waktu yang diperlukan

dalam kegiatan (Anonimous, 2010)
3. Kambing merupakan binatang memamah biak yang berukuran sedang.

4.

Kapas adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (Anonimous, 2010)

Gambar 1. Termometer, Stopwacth dan Kambing (dari berbagai sumber)

Langkah Kerja Praktikum I Kambing Dihitung frekuensi respirasinya selama 15 detik sebelum exercise kemudian dikalikan 4 lalu dicatat di tabel data dan hasil praktikum Dilakukan perhitungan sebanyak 3 kali kemudian dirata-rata. Diajak melakukan exercise berupa jalan dan naik turun tangga selama 10 menit. Dihitung frekuensi respirasi setelah exercise selama 15 detik kemudian dikalikan 4 lalu dicatat di tabel data dan hasil praktikum Dilakukan perhitungan sebanyak 3 kali kemudian dirata-rata. Data Dibandingkan hasilnya dengan kelompok pada pagi dan siang hari.

Praktikum II

Kambing Diapit oleh salah satu praktikan agar tidak bergerak dan tenang. Praktikan lain memasukkan termometr yang telah dibersihkan dengan kapas beralkohol 70% ke dalam rectum. Ditunggu hingga raksa di dalam termometr berhenti bergerak dan menunjukkan sebuah angka. Dicatat suhu tubuh sebelum exercise pada tabel data dan hasil praktikum Dilakukan perhitungan sebanyak 3 kali kemudian dirata-rata. Diajak melakukan exercise berupa jalan dan naik turun tangga selama 10 menit. Diukur suhu tubuh setelah exercise sebanyak 3 kali kemudian di catat pada tabel data dan hasil praktikum kemudian dirata-rata. Data Dibandingkan hasilnya dengan kelompok pada pagi dan siang hari.

Praktikum III Kambing

Dihitung denyut nadi (pulsus) cara menempelkan ketiga jari pada arteri femoralis dengan sedikit tekanan kemudian kurangi tekanan tersebut sampai pulsus terasa selama 15 detik sebelum exercise kemudian dikalikan 4 lalu dicatat di tabel data dan hasil praktikum Dilakukan perhitungan sebanyak 3 kali kemudian dirata-rata. Diajak melakukan exercise berupa jalan dan naik turun tangga selama 10 menit. Dihitung frekuensi respirasi setelah exercise selama 15 detik kemudian dikalikan 4 lalu dicatat di tabel data dan hasil praktikum Dilakukan perhitungan sebayak 3 kali kemudian dirata-rata.

Data Dibandingkan hasilnya dengan kelompok pada pagi dan siang hari.

BAB III DATA HASIL PRAKTIKUM Kambing yang menjadi hewan coba dari kelompok kami yaitu kambing yang berwarna putih, berjenis kelamin betina dengan usia dua tahun. Praktikum I : Sistem Respirasi No. Frekuensi respirasi sebelum exercise (per menit) Frekuensi respirasi sesudah exercise (per menit)

1. 2. 3.

Pagi 36 32 40 36

Siang 72 76 56 68

Pagi 144 180 160 161,3

Siang 160 184 176 173,3

Praktikum II : Thermoregulasi No. 1. 2. 3. Suhu tubuh sebelum exercise (oC) Pagi Siang 39,7 39,8 39,5 39,8 39, 5 39,8 39,56 39,8 Suhu tubuh sesudah exercise (oC) Pagi Siang 40 40,1 40,2 40,3 40,3 40,2 40,16 40,2

Praktikum III : Sistem Sirkulasi (Perhitungan Pulsus) No. 1. 2. 3. Pulsus sebelum exercise (per menit) Pagi Siang 88 52 48 52 50,67 Pulsus sesudah exercise (per menit) Pagi Siang 152 68 152 76 162 72 155,33 72

BAB IV PEMBAHASAN Praktikum I Dari data hasil pratikum dapat dilihat rata-rata frekuensi respirasi sebelum exercise pada kambing pada pagi hari yaitu 36 kali permenit dengan rincian yaitu 36, 32 dan 40 permenit. Sedangkan pada siang hari rata-rata frekuensinya respirasi sebelum exercise 69 kali permenit dengan data anatara lain 72, 76 dan 56. Data frekuensi respirasi pada pagi hari terlalu jauh dari frekuensi respirasi normal kambing yaitu 25-35 kali permenit. Tetapi untuk siang hari kenaikan frekuensinya sudah sangat signifikan. Kenaikan ini dapat dipicu karena beberapa hal misalnya disebabkan terlalu banyak mahasiswa yang melakukan praktikum dalam waktu yang bersamaan. Hal tersebut menyebabkan rasa kaget, takut pada kambing sehingga memacu sekresi hormon adrenalin yang menyebabkan kerja jantung meningkat dengan cepat. Kadar oksigen di udara yang lebih sedikit pada siang juga dapat menjadi

penyebabnya, karena dalam waktu bersamaan oksigen diperebutan oleh sekian banyak mahasiswa begitu pula kambing. Sedangkan frekuensi respirasi setelah exercise pada pagi hari yaitu 144, 180 dan 160 dengan rata-rata 161,3 kali permenit. Sedangkan data pada setelah exercise pada siang hari yaitu 160, 184 dan 176 dengan rata-rata 173,3 kali permenit. Kenaikan tersebut dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan terhadap frekuensi respirasi. Faktor-faktor tersebut yaitu kerja fisik yang dilakukan kambing berupa jalan dan naik turun tangga, kadar CO2, pengaruh sikap tubuh dan rangsangan sensoris yang kuat. Kerja fisik yang dilakukkan kambing menyebabkan laju metabolisme meningkat sehingga kadar karbondioksida dalam darah meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan laju ventilasi dan pelepasan CO2 dan sekaligus meningkatkan pemasukan oksigen dalam tubuh. Praktikum II Dari data hasil praktikum didapatkan rata-rata data suhu tubuh kambing pada pagi hari sebelum exercise yaitu 39,56 oC sedangkan pada siang hari sebelum exercise yaitu 39,8oC. Data dari suhu tubuh tersebut masih dalam ambang normal karena masih ada disekitar 38,5 – 40,5 oC sehingga kambing dalam keadaan sehat. Sedangkan rata-rata data suhu tubuh kambing pada pagi hari sesudah exercise yaitu 40,16 oC dan rata-rata data suhu tubuh kambing pada siang hari sesudah exercise yaitu 40,2 oC. Adapun perbedaan suhu tersebut sebelum dan sesudah exercise disebabkan oleh faktor kerja fisik sehingga temperature tubuh kambing meningkat.Peningkatan produksi panas metabolik dalam otot, meningkatnya sekresi hormon tyroid yang dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dalam sel, melepasnya panas ke lingkungan melalui vasodilatasi pembuluh darah perifer dan meningkatnya penguapan air melalui berkeringat atau terengah-engah. Praktikum III Data hasil praktikum menunjukkan pulsus atau denyut nadi kambing pada pagi hari sebelum exercise yaitu 88 kali permenit sedangkan kambing pada siang hari sebelum exercise yaitu 52,48, 52 dengan rata-rata 50,67 kali permenit. Data pada pagi hari pulsus per menit yang diperoleh ter golong jumlah pulsus per menit kambing dalam keadaan normal (80-120 pulsus per menit). Sedangkan pada siang hari jauh lebih rendah dari ambang normal. Hal tersebut dapat diakibatkan kambing sudah terlalu capek karena telah melakukan exercise pada sesi pagi hari, udara semakin panas, daun makanan telah kering dan tak nikmat lagi dimakan kemudian harus dikerumuni begitu banyak mahasiswa (pasrah) dan keadaan tersebut dapat dinyatakan terjadi keadaan patologis.

Data hasil praktikum menunjukkan pulsus atau denyut nadi kambing pada pagi hari sesudah exercise yaitu 155,33 kali permenit sedangkan kambing pada siang hari sesudah exercise yaitu 68, 76, 72 dengan rata-rata 72 kali permenit. Hasil perhitungan pulsus setelah melakukan exercise pada pagi hari meningkat karena adanya laju metabolisme meningkat, kadar karbondioksida dalam darah meningkat sehingga kontraksi kerja jantung meningkat untuk segera mengeluarkan CO2 dalam darah dan segera menggantinya dengan O2. Sedangkan pada siang hari pulsusnya memang mengalami kenaikan tetapi kenaikannya belum mencapai ambang normal. Sehingga dapat dinyatakan pada siang hari kambing ini mengalami keadaan pathologis setelah dilakukan seretetan exercise.

BAB V KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil praktikum sistem respirasi, termoregulasi, dan perhitungan pulsus pada hewan coba kambing yaitu frekuensi respirasi pada tubuh kambing sangat dipengaruhi oleh kerja fisik atau exercise, kadar CO2 dalam darah, sekresi hormon adrenalin yang menyebabkan kerja jantung meningkat dengan cepat, pengaruh sikap tubuh serta rangsang sensoris yang kuat. Suhu tubuh kambing dipengaruhi oleh meningkatnya produksi panas metabolik dalam otot, meningkatnya sekresi hormon tyroid yang dapat meningkatkan aktivitas metabolisme dalam sel, melepasnya panas ke lingkungan melalui vasodilatasi pembuluh darah perifer dan meningkatnya penguapan air. Sedangkan untuk denyut nadi (pulsus) dipengaruhi oleh laju metabolisme meningkat, kadar karbondioksida dalam darah meningkat sehingga kontraksi kerja jantung meningkat untuk segera mengeluarkan CO2 dalam darah dan segera menggantinya dengan O2.

DAFTAR PUSTAKA Agung R. 2008. Panduan Pemeriksaan Fisik Umum Bagi Petugas Kesehatan Bag.III. http://agungrakhmawan.wordpress.com/2008/08/20/panduan-pemeriksaan-fisik-umumbagi-petugas-kesehatan-bagiii/ Anonimous. 2000. Mekanisme Pernafasan. http://opensource.telkomspeedy.com/repo/abba/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/0077%20Bio%202-8d.htm. Anonimous. 2010. Kapas. http://id.wikipedia.org/wiki/Kapas Anonimous.2010. Sistem Pernafasan. http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pernafasan Aninomous. 2010. Stopwatch. http://id.wikipedia.org/wiki/Stopwatch Arief R. S., Dinny A.Z.,Andre N. et.all. 2006 . Autopsi Forensik. http://www.freewebs.com/reef_forensik/autopsi.htmFredi W. 2009. termoregulasi. http://fredi-36-a1.blogspot.com/2009/11/termoregulasi.html

Suparni S.R. 2009. Alat Pengukur Suhu (Termometer). http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia-industri/instrumentasi-dan-pengukuran/alat-pengukur-suhutermometer/. Tim Fisiologi Veteriner. 2010. Buku Penuntun Praktikum Fiosiologi Veteriner. Program Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->