P. 1
IKAN BAWAL

IKAN BAWAL

|Views: 6,264|Likes:

More info:

Published by: Putra Harapan Bangsa on Jun 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Bagi sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di daerah pantai, ikan bawal bukanlah barang aneh. Ikan yang ditangkap di laut ini banyak dijual di pasar maupun swalayan. Ikan bawal mempunyai daging yang rasanya enak dan kandungan gizinya tergolong tinggi. Tak lapisan masyarakat mampu membelinya, heran bila ikan bawal sangat terlebih bagi orang yang digemari masyarakat. Namun, karena harganya cukup mahal, tidak semua berpenghasilan pas-pasan. Akhir-akhir ini muncul ikan jenis baru yang namanya sama, tetapi lingkungan hidupnya berbeda. Bawal jenis baru ini hidup di air tawar, bukan di laut. Karena bentuk tubuhnya mirip dengan bawal laut dan hidupnya di air tawar, maka masyarakat menyebutnya bawal air tawar. Di kalangan petani ikan, ikan ini cukup disebut bawal. Rasa daging dan kandungan gizinya tidak kalah dengan bawal laut. Akan tetapi, harganya tidak mahal dan bisa dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat sehingga wajar saja bila ikan ini pun banyak dicari orang. 1.1. Dari Ikan Hias Menjadi Ikan Konsumsi Ikan bawal air tawar di Indonesia mempunyai sejarah sedikit berbeda dengan jenis ikan lainnya. Sebagian besar ikan yang ada di Indonesia, biasanya kalau tidak dijadikan sebagai ikan konsumsi, Ikan tersebut dijadikan ikan hias. Namun, ikan bawal air tawar justru bisa berfungsi kedua-duanya. Pada saat benih, bawal air tawar dijadikan ikan bias, sedangkan ikan yang sudah besar dijadikan ikan konsumsi. Sampai sekarang selain diperjualkan sebagai ikan bias, bawal juga diperdagangkan sebagai ikan konsumsi. Bawal air tawar menjadi ikan bias boleh dibilang wajar karena bentuk tubuhnya cukup unik, pipih seperti ikan discus. Selain itu, warnanya menarik, gerakannya mempesona, dan mempunyai sifat bergerombol bila dipelihara

1

dalam jumlah banyak. Oleh karenanya, ikan ini, terutama yang masih kecil, sering dipelihara dalam akuarium yang dipajang di dalam rumah. Menjadi ikan konsumsi, bawal pun juga boleh dibilang wajar karena pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran besar (500 gram). Dari hasil uji coba di Balai Budidaya Air Tawar Sukabumi dan pengalaman beberapa orang petani di Bogor dan Sukabumi, bawal yang berumur 6 minggu sudah bisa mencapai berat 3 gram, umur 12 minggu bisa mencapai 25 gram, umur 6 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 500 gram. Di habitatnya, ikan bawal dapat mencapai berat 30 kg. 1.2 Ikan Negeri Samba Dilihat asal usulnya, bawal bukanlah ikan asli Indonesia, tetapi berasal dari negeri Samba, Brazil. Ikan ini dibawa ke Indonesia oleh para importir ikan hias dari Singapura dan Brazil pada tahun 1980. Selain ke Indonesia, ikan bawal pun sudah tersebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Di setiap negara, ikan ini mempunyai nama yang berlainan. Di Indonesia ikan ini disebut bawal karena mirip dengan bawal laut; di Amerika dan Inggris disebut red bally pacu karena bagian perutnya berwarna kemerahan; di Peru disebut gamitama; dan di Venezuela disebut cachama. Di negara asalnya, ikan ini disebut tambaqui. Adapun nama ilmiahnya adalah Colossoma macropomum. Meskipun kedudukan ikan bawal belum bisa disejajarkan dengan ikan-ikan konsumsi lainnya, tetapi kehadirannya memiliki arti tersendiri, terutama dalam memperkaya khasanah ikan budidaya di Indonesia. Bila telah populer, tidak menutup kemungkinan ikan bawal dapat mengalahkan kedudukan ikan-ikan lainnya.

2

Warna merah pada perutnya membuat bawal layak dipajang sebagai ikan hias Selain pertumbuhannya cepat, kelebihan lain ikan bawal adalah cara

memeliharanya yang tidak rumit. Ikan ini dapat dipelihara di kolam dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Bawal yang dipelihara dalam kolam pendederan dan pembesaran kelangsungan hidupnya dapat mencapai 90 %. Persentase tersebut Iebih tinggi dibandingkan ikan nila dan ikan mas yang kelangsungan hidupnya paling tinggi 80 %. Selain itu, bawal dapat dipelihara dalam kepadatan tinggi. Walau cara memelihara bawal mudah, tetapi jangan sekali-kali dipelihara di jaring terapung karena ikan ini dapat merobek-robek jaring dan kabur lewat jarring yang robek tersebut. 1.3 Prospek Pasar Bawal Air Tawar Berbeda dengan ikan mas dan lele yang hanya dijual di pasar dalam negeri, ikan bawal selain dapat dipasarkan di dalam negeri juga diekspor ke berbagai negara. Negara-negara yang sudah bisa menampung ikan bawal dari Indonesia di antaranya Hongkong dan

3

Karena pertumbuhannya cepat, bawal air tawar pun dibudidayakan untuk ikan konsumsi Amerika Sebagian besar ikan bawal yang dikirim ke sana ukurannya atau sebagai ikan bias. Jumlah kebutuhan kedua Negara tersebut mencapai puluhan juta. Tetapi yang baru terpenuhi hanya 10 persen saja. Inilah peluang yang sangat besar bagi para peternak bawal untuk mencari dolar. Di dalam negeri sendiri ikan bawal mulai digemari oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah dan jawa Timur. Dari keempat propinsi tersebut Jawa Barat boleh dibilang sebagai pelopor karena di propinsi inilah ikan bawal pertama kali dikembangkan. dalam satu musim tidak kurang 500 juta benih dijual ke berbagai propinsi di Indonesia dan angka tersebut berarti sudah ratusan juta rupiah telah diraih dan komoditas ini. 1.4 Pola Pengembangan Untuk memenuhi kebutuhan benih dan ikan bawal sebagai ikan konsumsi, pola pengembangan bawal dapat dibagi dalam beberapa subsistem. Subsistem ini meliputi pembenihan, pendederan pembesaran, dan subsistem penunjang. Setiap pelaku dapat bergerak dalam masing-masing subsistem tergantung dari modal yang dimiliki dan prasarana budi daya yang tersedia. Dapat pula setiap pelaku bergerak mulai dari pembenihan sampai pembesaran.

4

1). Subsistem pembenihan Pada subsistem pembenihan, pelaku mulai dari kegiatan memelihara induk sampai menghasilkan benih ukuran 2 inci atau seberat 3 gram seriap ekornya. Benih ukuran tersebut dilemparkan ke subsistem pendederan atau langsung di ekspor. Kegiatan ini biasanya dilakukan selama 6 minggu. 2). Subsistem pendederan Pada subsistem pendederan, pelaku memulai dari kegiatan memelihara benih ukuran 2 inci sampai benih mencapai ukuran 4 inci atau seberat 25 gram per ekornya. Benih ukuran ini dilempar lagi ke subsistem Kegiatan ini biasanya dilakukan selama 6 minggu. 3). Subsistem pembesaran Pada subsistem pembesaran, pelaku bertugas membesarkan benih dari hasil pendederan ukuran 4 inci (25 g) sampai menjadi ikan konsumsi. Kegiatan ini biasanya dilakukan selama 3 bulan. Di samping itu, subsistem ini bertugas pula dalam mencari pasar dalam dan luar negeri. pembesaran.

4). Subsistem penunjang Pada subsistem penunjang, pelaku bertugas menyediakan sarana dan prasarana yang dibucuhkan oleh masing-masing subsistem, seperti menyediakan pakan tambahan, peralatan, dan sarana produksi lainnya. Adanya subsistem tersebut diharapkan kegiatan budi daya dapat berjalan lancar karena masing-masing subsistem mempunyai tugas yang berlainan dan akan terjalin suatu kerja sama yang sating menguntungkan.

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Ibarat orang akan memilih pasangan hidup yang harus mengerahui dulu asal-usulnya, memilih ikan yang akan dipelihara juga harus mengetahui seluk beluknya. Ini bukan berarti ikan tersebut harus menuruti kemauan manusia tetapi manusialah yang harus menuruti kemauan ikan agar kehidupannya dan perkembangannya sesuai dengan yang diharapkan. Ada lima hal penting yang harus diketahui dari ikan bawal yaitu silsilah, morfologi, lingkungan hidup, kebiasaan makan, dan kebiasaan berkembang biak. A. Silsilah Seorang Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies ahli perikanan bernama Bryner mengemukakan silsilah (sistematika) ikan bawal air tawar sebagai berikut : : Chordata : Craniata : Pisces : Neoptergii : Cypriniformes : Cyprinoidea : Characidae : Colossoma : Colossoma macropomum

B. Morfologi Bila silsilah ikan bawal sudah diketahui, hal kedua yang perlu diketahui adalah morfologi (bagian luar tubuh). Dari arah samping, tubuh bawal tampak membulat (oval) dengan perbandingan antara panjang dan tinggi 2 : 1. Bila dipotong secara vertikal, bawal memiliki bentuk tubuh pipih (compresed)

6

dengan perbandingan antara tinggi dan lebar tubuh 4 : 1. Bentuk tubuh seperti ini menandakan gerakan ikan bawal tidak cepat seperti ikan lele atau gross carp. Tetapi lambat seperti ikan gurame dan tambakan. Sisiknya kecil berbentuk ctenoid, di mana setengah bagian sisik belakang menutupi sisik bagian depan. Warna tubuh bagian atas abu-abu gelap, sedangkan bagian hawah berwarna putih. Pada bawal dewasa, bagian tepi sirip perut, sirip anus, dan bagian bawah sirip ekor berwarna merah. Warna merah ini merupakan dri khusus bawal sehingga oleh orang Inggris dan Amerika disebut red bally pacu. Dibanding dengan badannya, bawal memiliki kepala kecil dengan mulut terletak di ujung kepala, tetapi agak sedikit ke atas. Matanya kecil dengan lingkaran berbentuk seperti cincin. Rahangnya pendek dan kuat serta memiliki gigi seri yang tajam. Bawal memiliki 5 buah sirip, yaitu sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor. Sirip punggung tinggi kecil dengan sehuah jari-jari agak keras, tetapi tidak tajam, sedangkan jari- jari lainnya lemah. Berbeda dengan sirip punggung bawal laut yang agak panjang, letak sirip ini pada bawal air tawar agak ke belakang. Sirip dada, sirip perut, dan sirip anus kecil dan jari-jarinya lemah. Demikian pula dengan sirip ekor, jari-jarinya lemah, tetapi berbentuk cagak. C. Lingkungan Hidup Sama seperti ikan lain, bawal pun menghendaki lingkungan yang baik dan sesuai untuk hidupnya. Untuk mengetahuinya, dilakukan pengamatan di habitat aslinya. Di Brasil, bawal banyak ditemukan di sungai Amazon dan sering juga ditemukan di sungai Orinoco, Venezuela. Hidupnya bergerombol di daerah yang aliran sungainya deras tetapi ditemukan pula di daerah yang airnya tenang, terutama saat benih. Untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi bawal ada banyak hal yang hams diperhatikan, terutama dalam memilih lahan usaha, di antaranya ketinggian tempat, jenis tanah, dan air.

7

BAB III PENYIMPANAN SARANA DAN PRASARANA
S etelah mengenal seluk beluk ikan bawal, mulailah belajar mengenai cara memproduksinya. Pengetahuan mengenai budidaya bawal harus benar-benar dikuasai agar setiap tahapannya dapat dijalankan dengan baik dan tidak menemukan kendala yang dapat menghambat proses produksi keberhasilan dalam budidaya didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang diperlukan baik untuk budi daya ikan konsumsi maupun ikan hias ddak jauh berbeda. Umumnya yang membedakan hanya kapasitasnya. Budidaya untuk ikan Has biasanya dalam skala yang lebih kecil dibandingkan budi daya ikan konsumsi sehingga sarana dan prasarana yang dibutuhkan pun lebih kecil atau lebih sedikit. A. Prasarana Untuk memproduksi ikan bawal diperlukan beberapa prasarana pokok yang memenuhi persyaratan sesuai dengan sifat-sifat biologis ikan bawal. Prasarana ini meliputi hatchery, kolam pemeliharaan induk, kolam pendederan, dan kolam pembesaran. Menyiapkan Sarana dan Prasarana 1. Hatchery Hatchery atau bangsal benih merupakan suatu bangunan yang biasa digunakan untuk melakukan kegiatan pembenihan, terutama mulai dari pemijahan sampai menghasilkan larva. Bangunan im dapat dibuat secara permanen, semi permanen, atau secara sederhana yang penting diberi atap sebagai peneduh. Agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, hatchery harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :

1) Berada dekat dengan sumber air atau memiliki sumber air sendiri.

8

2) Letak sumber airnya lebih tinggi dari lokasi hatchery agar air mudah dialirkan ke dalam hatchery (kecuali bila menggunakan pompa air). 3) Kuantitas kontinu. 4) Kualitas airnya baik, misalnya jernih, kandungan oksigennya tinggi atau sekitar 4 ppm, dan tidak mengandung unsur-unsur yang membahayakan ikan. 5) Lokasinya dekat dengan areal perkolaman. 6) Keamanannya terjamin. 7) Dekat dengan jalan dan tranportasinya lancar. airnya cukup agar kegiatannya dapat berjalan secara

Setiap hatchery harus mempunyai fasilitas yang lengkap agar bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, tata letaknya harus diatur secara tepat. Fasilitas yang harus dibuat untuk hatchery ikan bawal yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) bak penampungan air bersih, bak pemberokan, bak pemijahan, tempat penetasan telur, bak penampung benih, tempat blower (aerator), gudang, kantor, dan listrik

a. Bak penampungan air bersih Bak penampung air bersih merupakan tempat untuk menampung air agar air selalu tersedia, terlebih ketika dibutuhkan. Letak bak ini harus lebih rendah dari sumber air agar air mudah dialirkan, Bak penampungan air harus kuat dan kokoh sehingga dapat menampung air dalam volume yang besar. Oleh sebab

9

itu, sebaiknya bak ini dibuat dari beton atau tembok. Bentuk bak bisa empat persegi panjang atau bujur sangkar, tergantung kondisi setempat. Ukurannya pun tergantung besarnya hatchery. Untuk hatchery skala kecil (produksinya 200.000 ekor benih), bak cukup dibuat dengan panjang 2 m, lebar 2 m, dan tinggi 1 m. Bak ini dihubungkan langsung ke

Bak penampungan

sumber air dengan menggunakan paralon yang ukarannya disesuaikan dengan besarnya debit air. Selain itu, pada bagian lain dihubungkan ke masing-masing bagian hatchery. Bak ini harus dibuat juga lubang pengeluaran untuk mengeringkan atau menguras bila sudah lama digunakan. b. Bak pemberokan Bak pemberokan merupakan tempat untuk menyimpan induk-induk yang sudah matang gonad (dari bak pemeliharaan) sampai jelang induk tersebut dipijahkan. Bak ini dapat pula dikatakan sebagai tempat untuk mengadaptasikan induk-induk dari kolam yang lingkungannya lebih luas ke tempat pemijahan yang lebih sempit. Bentuk pemberokan ini bisa bermacam-macam tergantung dan keadaan tempatnya. Namun, bentuk yang paling balk adalah empat persegi panjang. Bak ini sebaiknya tidak terlalu luas sebab akan menyulitkan pada waktu menangkap induk yang akan dipijahkan Luas bak bisa berkisar antara 8 - 12 m 2

10

(2 m x 4 m atau 3 m x 4 m) dengan tinggi antara 1,25 - 1,5 m. Bak ini dapat diairi maksimal setengah bagiannya agar induk yang diberok tidak loncat keluar. Bak pemberokan harus dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran air untuk memudahkan dalam mengisi maupun mengeringkan bak. Pintu-pintu ini dibuat di bagian tengah dari panjang atau lebar bak agar sirkulasi airnya baik. Pintu pemasukan air bias dibuat dari pipa peralon berdiameter 2 inci yang dilengkapi dengan keran untuk mengatur debit air yang masuk dalam bak. Pintu pengeluaran juga dibuat dari paralon yang berdiameter 4 inci. Ukuran paralon pengeluaran lebih besar tujuannya agar bak dapat dikeringkan dengan cepat. Pada pintu pengeluaran, umumnya dipasang keni sebagai tempat memasukan paralon pengatur tinggi air. Hal lain yang paling penting pada bak pemberokan ini adalah kondisi airnya. Air yang masuk ke dalam bak pemberokan harus kontinyu dan bersih (tidak mengandung zat makanan). c. Bak pemijahan Pembenihan bawal dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu induced breeding dan induced spawning. Pemijahan secara induced breeding artinya dalam bak pemijahan diisi dengan induk-induk yang sudah disuntik hingga menjelang induk akan mengeluarkan telurnya. Adapun dalam pemijahan secara induced spawning, bak pemijahan dapat diartikan sebagai tempat mempersatukan induk jantan dan induk betina yang sudah disuntik agar terjadi pemijahan. Kondisi bak pemijahan harus baik untuk mendukung terjadinya pemijahan. Bentuk dan konstruksi bak pemijahan, termasuk pintu pemasukan dan pengeluarannya, sama dengan bak pemberokan. Ukuran bak pemijahan lebih luas dibanding bak pemberokan, yaitu 20 - 24 m2. (4 m x 5 m atau 4 X 6 m) dan tinggi 1,25 - 1,5 m. Bak pemijahan harus dipasang kawat dan paku di bagian atasnya untuk tempat mengikat tali hapa pemijahan. Bak ini juga dihubungkan ke bala penampungan air dengan paralon dan untuk mengatur debit air dipasang keran.

11

Air yang masuk ke bak pemijahan harus tetap kontinu karena pada waktu pemijahan airnya harus tetap mengalir. Dengan demikian, sirkulasi air menjadi baik dan oksigen dapat terus tersuplai sesuai yang dibutuhkan ikan bawal. Selain itu, bila telur yang sudah dikeluarkan akan dapat teraduk. Keadaan airnya juga harus bersih agar telur-telur tidak kotor dan tidak terbungkus lumpur yang dapat menurunkan daya tetas telur. d. Tempat penetasan telur Telur hasil pemijahan perlu ditampung di dalam suatu tempat yang dikenal dengan nama tempat penetasan telur. Ada tiga macam tempat penetasan yang dapat digunakan, yaitu corong dari kain terilin, diuraikan sebagai berikut. 1). Corong penetasan Telah dijelaskan bahwa telur-telur ikan bawal sifatnya tenggelam dan tidak menempel. Beberapa menit setelah cerjadi pembuahan, telur-telur akan mengembang sampai 3 - 4 kali lipat diameter telurnya. Untuk menetaskannya, diperlukan kondisi lingkungan yang sesuai agar telur yang sudah mengembang tidak pecah. Salah satu tempat yang bisa digunakan untuk menetaskan telur adalah corong penetasan. Corong penetasan telur ikan bawal dibuat dari kain terilin atau kain lainnya yang halus dan tipis. Kain ini bisa dibeli di toko tekstil. Corong penetasan berbentuk kerucut dengan garis tengah bagian atas 40 - 60 cm dan tinggi 50 m. Agar berbentuk bulat, bagian atas diberi kawat ukuran 0,5 cm. Bagian atas atau kawat tersebut diberi tali untuk mengikat corong tersebut agar kedudukannya tidak berubah. Pada bagian dasar corong atau bagian moncongnya diberi selang kecil ukuran 1/4 inci sebagai tempat mengalirkan air. Jumlah corong yang harus dibuat tergantung jumlah induk yang akuarium, dan konikel. Ukuran dan daya tampung ketiga macam tempat penetasan telur tersebut

12

Bak penetasan

akan dipijahkan. Untuk sacu ekor induk ukuran 4 kg, dibutuhkan 15 - 20 buah corong. Selain corong penetasan, dalam menetaskan telur bawal perlu dibangun pula baknya untuk memasang atau menempatkan corong tersebut. Bak ini dibuat dari tembok atau beton. Bak mempunyai ukuran panjang 6 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 1 m. Untuk mengalirkan air Ice masing-masing corong penecasan, bak ini dihubungkan langsung dengan bak penampungan air dengan menggunakan paralon 1,5 inci. Pada bagian tepi bak, dipasang keran-keran sebagai pengatur debit air yang dialirkan ke setiap corong penetasan. Jumlah keran yang dipasang tergantung jumlah corong. Bak ini juga dilengkapi dengan batang-batang besi yang sudah dipasang memanjang

13

sebagai tempat mengikatkan corong-corong tersebut agar kedudukannya tidak goyang. Untuk memudahkan pengeringan setelah digunakan, bak penetasan dilengkapi pula dengan pintu yang dipasang di bagian ujung dan tengah bak. Pintu pengeluaran air dibuat dari pipa paralon 3 inci. Untuk mengatur ketinggian airnya, paralon tersebut dipasang secara tegak lurus. Paralon ini juga digunakan untuk pembuangan air sehari-hari. 2). Akuarium Akuarium yang sering digunakan untuk memelihara ikan hias di dalam rumah, dapat pula digunakan dalam kegiatan pembenihan ikan, terutama saat penetasan dan pemeliharaan larva. Bentuk akuarium sebaiknya empat persegi panjang dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 40 cm acau panjang 80 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 60 cm. Jumlah akuarium yang dibutuhkan tergantung dari jumlah induk yang akan dipijahkan. Biasanya untuk seekor induk yang beratnya 4 kg membutuhkan akuarium sebanyak 30 buah ukuran 60 x 40 x 40 (cm) atau 20 buah ukuran 80 x 60 x 60 (cm). 3). Konikel Tempat penetasan telur bawal juga bisa menggunakan konikel. Konikel ini terbuat dari fiber gloss berwarna putih. Garis tengahnya 150 cm dan tingginya 120 cm. Bagian atas setinggi 100 cm mempunyai tepi tegak lurus, sedangkan 20 cm ke bawahnya membentuk kerucut. Dengan bentuk seperti ini, sirkulasi air akan berjalan baik dan penyebaran telur yang ditetaskan bisa merata. Konikel ini dilengkapi pula dengan lubang pengeluaran air yang dibuat di tengahnya atau moncongnya. Lubang pengeluaran air ini disambung dengan paralon ukuran 1 inci dan panjang 90 cm. Fungsi lubang ini untuk mengeluarkan air atau mengeringkan konikel bila sudah digunakan serta pembuangan air sehari-hari. Untuk mensuplai air ke dalam konikel, konikel ini dihubungkan ke bak penampungan air dengan peralon ukuran 1 inci dan keran untuk mengatur debit airnya. Paralon tersebut kedudukannya sejajar dengan pipa pengeluaran air.

14

2. Kolam pemeliharaan induk Kolam pemeliharaan induk merupakan tempat yang digunakan untuk memelihara induk atau calon induk yang sudah matang kelamin sampai induk siap dipijahkan. Kolam pemeliharaan induk bisa pula disebut sebagai tempat pematangan gonad. Jumlah kolam pemeliharan induk yang harus disediakan tergantung dari jumlah induk yang ada. Sebaiknya kolam pemeliharaan induk dibuat beberapa buah, minimal dua buah. Tujuannya untuk memudahkan seleksi induk yang akan dipijahkan dan induk yang sudah dipijahkan. Apabila lahan tidak memungkinkan, kolam ini bisa dibuat satu buah. Hal ini tidak akan mempengaruhi perkembangan gonad karena ikan bawal tidak akan mijah secara alami atau tidak akan mijah bila tidak disuntik terlebih dahulu. Namun, sebaiknya kolam tersebut disekat dengan pagar bambu. Bentuk kolam pemeliharaan induk bisa bermacam-macam, tergantung keadaan lokasinya. Namun, sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang sebab sirkulasi airnya lebih merata. Kolam ini sebaiknya tidak terlalu luas agar mudah dalam pengelolaannya. Luas kolam yang ideal antara 100 - 200 m . Dengan luas tersebut, akan memudahkan dalam pengeringan kolam maupun penangkapan induk yang akan diseleksi. Kedalaman kolam ini juga harus diperhatikan karena ada pengaruhnya terhadap proses pematangan gonad. Di habitat asalnya, induk atau calon induk banyak ditemukan di perairan yang agar dalam. Oleh sebab itu, kedalaman kolam pemeliharaan induk sebaiknya 80 - 100 cm. Dengan demikian, kolam harus mempunyai ketinggian minimal 125 m sehingga jarak antara permukaan air kolam dan bagian atas pematang 25 cm. Kolam pemeliharaan induk juga harus memiliki sistem pengairan yang baik, Maksudnya, kolam mempunyai sistem sirkulasi air yang baik. Sistem pengairan yang baik adalah secara paralel. Dengan sistem ini, setiap kolam akan mendapat air baru dan bila dikeringkan tidak mengganggu kolam yang lainnya. Kolam ini juga harus dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran air agar memudahkan pada waktu pengeringan dan pengisian air kembali. Letak

15

pintu-pintu berada di tengah-tengah pada lebar kolam dalam posisi sejajar. Pintu pemasukan bisa dibuat dari paralon 4 inci, sedangkan pintu pengeluaran sebaiknya dibuat secara permanent (tembok). Pintu pengeluaran seperri ini terkenal dengan istilah monik. 3. Kolam pendederan Kolam pendederan bawal merupakan tempat untuk memelihara larva-larva sampai benih dengan ukuran yang siap dipelihara di tempat pembesaran. Biasanya, pendederan ikan bawal ini dilakukan dalam beberapa tahap, yakni pendederan pertama, dan pendederan kedua. Jadi, kolam pendederan ini harus dibuat beberapa buah atau tergantung dari jumlah dan ukuran induk yang dipijahkan. Bentuk kolam ini sama seperti kolam pemeliharaan, yakni empat persegi panjang. Pintu pemasukan airnya dibuat dari pipa paraIon ukuran 5 inci. Adapun pintu pengeluarannya dibuat dalam bentuk monik. Pintu pengeluaran air seperti ini akan mempercepat proses pengeringan kolam. Selain itu, kolam ini harus mernpunyai luas ideal agar mudah dalam pengelolaannya. Luasnya antara 500 - 1.000 m2. 4. Kolam pembesaran Kolam pembesaran ikan bawal merupakan tempat untuk memelihara benih yang berasal dari kolam pendederan hingga benih menjadi ikan ukuran konsumsi atau calon induk. Bentuk kolam pembesaran sama dengan kolam pendederan, ukurannya antara 200 - 500 m. Namun, jumlah kolam harus lebih banyak dibandingkan dengan jumlah kolam pendederan. Kegiatan dalam pembesaran bawal biasanya akan memerlukan waktu yang lebih lama, minimal 4 - 5 bulan. Oleh sebab itu, kondisi kolam haras betul-betul baik. B. Sarana Produksi Dalam membudidayakan ikan bawal, selain prasarana harus memadai, sarana produksinya pun harus tersedia agar kegiatan produksi dapat berjalan lancar dan target produksi pun dapat tercapai. Sarana produksi budi daya ikan bawal yang harus disediakan meliputi induk jantan dan induk betina, pakan

16

tambahan, pupuk, kapur, hormon perangsang, dan obat-obatan. Banyaknya sarana produksi yang harus disediakan tergantung dari skala usaha dan target produksi yang akan dicapai. 1. Induk jantan dan induk betina Sarana produksi pertama yang harus disediakan adalah induk jantan dan induk betina. Untuk saat ini, induk bawal memang sulit diperoleh karena masyarakat belum banyak yang membudidayakannya. Beberapa sumber yang dapat menyediakan bibit yaitu balai penelitian perikanan, balai benih ikan, dinas perikanan, atau petani pembenih di daerah tertentu. Walaupun induk sudah diperoleh dari instansi yang sudah dipercaya keberadaannya, tetapi kualitasnya harus dilihat dulu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih induk yaitu :

Induk betina yang matang gonad terlihat bagian perut yang membesar 1) bentuk tubuh harus normal, 2) induk jancan dan induk bctina bukan satu kcturunan, 3) induk tersebut harus sudah mcncapai umur dewasa, yaitu 4 tahun untuk induk hctina dan 3 tahun untuk induk jantan, serta 4) induk yang akan dipijahkan tersebut harus matang gonad. Dengan dipilihnya induk yang berkualitas haik, diharapkan akan diperoleh benih-benih yang berkualitas baik pula. Selain itu. induk yang berkualitas baik akan menghasilkan telur-telur yang banyak jumlahnya. Apabila induk diperoleh dari hasil budi daya sendiri maka induk tersebut juga harus berkualitas baik. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperolah induk-induk

17

yang berkualitas baik. Salah satu di antaranya adalah dengan mengadakan seleksi. Seleksi ini dimulai sejak ikan berupa benih dan dilakukan dalam beberapa tahap, 1) Tahap pertama yaitu dilakukan dengan pada memilih benih-benih benih dalam yang pendederan cepat pertama, paling

pertumbuhannya, bentuk normal, dan tidak cacat.

Induk jantan mempunyai tubuh lebih langsing dan warna mwrah kurang menyala 2) Benih-benih pilihan tersebut kemudian dipelihara dalam kolam khusus. Setelah dipelihara 6 - 8 minggu, benih-benih hasil seleksi ini dipanen dan dilakukan seleksi tahap kedua. 3) Benih-benih hasil seleksi tahap kedua ini, dipelihara lagi di kolam khusus dalam waktu antara 8 - 10 minggu. Setelah itu, anakan ini dipanen dan diseleksi lagi untuk tahap ketiga. 4) Demikian seterusnya, seleksi dilakukan dalam tahap berikutnya sampai benih tersebut mencapai ukuran calon induk. Dengan demikian, caloncalon induk yang diperoleh kualitasnya akan baik. Terkadang orang seenaknya saja dalam memilih induk, tanpa berpikir akibat negatif yang akan timbul. Misalnya, dengan mengawinkan induk-induk yang berasal dari satu keturunan. Kejadian ini akan berakibat kurang baik terhadap anak-anaknya. Perkawinan sel kerabat (inbreeding) akan menghasilkan keturunan yang kualitasnya menurun, misalnya benihnya mempunyai pertumbuhan yang lambat dan mudah terserang penyakit.

18

2. Pakan tambahan Sarana produksi kedua yang hams disediakan dalam membudidayakan ikan bawal adalah pakan. Seperti pada manusia, pakan akan digunakan oleh ikan unmk sumber energi, memperbaiki sel-sel yang rusak, pertumbuhan, dan perkembangbiakan (reproduksi). Pada tahap pertama pakan akan digunakan untuk energi, terutama pergerakan tubuh. Bila energi sudah cukup, zat makanan akan digunakan untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Bila hal ini sudah terpenuhi maka zat makanan akan digunakan untuk membangun tubuh atau pertumbuhan. Kemudian, zat makanan yang masih tersisa baru akan digunakan untuk reproduksi. Jadi, bila menginginkan produksi ikan yang tinggi maka makanan harus tersedia setiap saat. Pakan untuk ikan bawal bisa berasal dari dua sumber, pakan alami dan pakan tambahan. 3. Pupuk Pupuk adalah bahan yang digunakan untuk menyuburkan air kolam. Kolam yang subur akan banyak mengandung pakan alami yang bermacam-macam jenisnya dan beragam ukurannya. Pakan alami akan dimanfaatkan terutama oleh larva dan benih ikan sebagai makanan sehingga ikan dapat hidup dengan baik dan tumbuh dengan cepat. Salah satu cara untuk menyuburkan kolam adalah dengan mengadakan pemupukan. 4. Kapur Sarana produksi lainnya yang cukup penting adalah kapur. Kapur digunakan pada saat persiapan kolam. Pengapuran pada umumnya memiliki beberapa tujuan, di antaranya untuk menaikan pH (derajat keasaman), meningkatkan alkalinitas, serta memberantas hama dan penyakit. Jenis kapur yang umum digunakan yaitu kapur rohor (CaC03) - kapur yang biasa digunakan sebagai pencampur bahan bangunan. Kapur ini dapat diperoleh di toko bahan bangunan. Jumlah yang hams disediakan terganrung dari kebutuhan, kolam yang luasnya 1.000 m2 membutuhkan rata-rata 5 kg kapur.

19

5. Hormon perangsang Seperti kebanyakan ikan yang berasal dari negara lain, ikan bawal pun sampai saat ini belum bisa dipijahkan secara alami. Pemijahan baru dapat dilakukan dengan pemijahan buatan. Untuk pemijahan buatan ini, diperlukan hormon yang dapat merangsang terjadinya ovulasi telur. Ada beberapa hormon yang sering digunakan, di antaranya LHRH (luteinizing hormone releasing hormon), PG (pituary gland) atau lebih dikenal dengan hipofisa, HCG (human choironic gonadotropin), dan Ovaprim (merk dagang). Aktivitas biologi LHRH analogue yang biasa dijual adalah dalam bentuk serbuk berwarna putih. Hormon tersebut dapat larut dalam air dan harus disimpan dalam tempat yang kering, teduh, dan tidak lembab. Hipofisa (PG) merupakan suatu kelenjar dalam tubuh yang dapat digunakan sebagai hormon perangsang dalam pembenihan buatan ikan. Pada ikan mas, kelenjar ini terletak di bawah otak. Bila otak ikan diangkat maka kelenjar hipofisa secara mudah dapat terpisah dari hipothalamus. Kelenjar hipofisa mengandung dua hormon, yaitu LH (Utilizing hormone) dan FSH. LH akan berfungsi sebagai pengatur ovulasi, sedangkan FSH berfungsi untuk meningkatkan perkembangan dan kematangan telur. Hipofisa yang digunakan dalam pembenihan buatan dapat berasal dari ikan sejenis atau dapat pula dari ikan mas. Kelenjar hipofisa ikan mas merupakan kelenjar yang dapat digunakan untuk semua jenis ikan (universal).

20

BAB V PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Dalam budidaya ikan, adanya serangan hama dan penyakit merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi. Kendala inilah yang paling ditakuri petani karena harapan untuk memperoleh keuntungan bisa pudar. Walaupun sama-sama merugikan, tetapi kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit lebih besar dibanding kerugian karena hama. Ada dua cara pengendalian hama dan penyakit yang bisa dilakukan, yaitu pencegahan dan pengobatan. Pencegahan merupakan upaya untuk menjaga agar tidak terjadi serangan, sedangkan pengobatan merupakan upaya untuk mengobati ikan-ikan yang sakit agar sembuh. Dari kedua cara tersebut, pencegahan merupakan cara yang paling efektif dibanding pengobacan karena biayanya lebih murah dan tidak ada efek sampingan terhadap ikan dan orang yang mengonsumsi ikan.  Pencegahan dan Pengobatan Secara Umum Meski tidak begitu besar kerugian akibat hama, tetapi adanya hama tetap harus dicegah. Ada beberapa cara untuk mencegah hadirnya hama, di antaranya yaitu : 1) kolam dikeringkan sampai tanah dasarnya retak-retak, 2) dilakukan pengapuran saat persiapan kolam, 3) pada pintu pemasukan air dipasang saringan. Adapun cara mencegah serangan penyakit dapat dengan beberapa cara, di antaranya yaitu 1) mengeringkan kolam untuk memotong siklus hidup penyakit, 2) melakukan pengapuran saat persiapan kolam agar penyebab penyakit bisa mati, 3) menjaga kondisi ikan agar tetap sehat dan tidak stress, 4) menjaga kondisi lingkungan hidup agar sesuai kebutuhan ikan

21

5) mengurangi kepadatan ikan untuk mencegah kontak langsung antarikan, menghindari terjadinya penurunan kadar oksigen dalam air, serta mengikatnya kadar NH3, 6) memberi pakan tambahan yang cukup, tetapi tidak berlebihan 7) mencegah terjadinya luka pada tubuh ikan dengan penanganan yang baik, 8) mencegah masuknya binatang pembawa penyakit, seperti burung, siput, dan lain-lain.

22

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, Beberapa Penyakit pada Ikan Air Tawar dan Cara Penanggulangannya (Bogor: International Development Research dan Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, 1990). _____, "Colossoma si Bawal Air Tawar", Techner, No. 03, Tahun I, 1992. _____, "Membesarkan Benih Bawal Air tawar", Techner, No. 03, Tahun I, 1992. _____, 'Mengatasi Penyakit pada Ikan", Suara Karya, 1 Juli 1997. _____, "Moina, Pakan Alternatil Pengganti Artemia", Suara Karya, 7 Okcober 1998. _____, "Pembenihan Bawal Airfl'awar", TecfinCT, No. 03, Tahun 1992. Zonevelt N. et al, Prinsif-prinsif Budidaya Ikan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991)

23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->