P. 1
Kilang Minyak

Kilang Minyak

|Views: 1,942|Likes:
Published by 紳一 Wijaya
Sekilas Tentang Industri Kilang Minyak
Sekilas Tentang Industri Kilang Minyak

More info:

Published by: 紳一 Wijaya on Jun 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2013

pdf

text

original

Industri Kilang Minyak Lepas Pantai

Industri yang bergerak dalam bidang minyak dan gas bumi memiliki resiko tinggi di sektor hulu, yaitu pada kegiatan pengelolaan dan pengeboran. Selain itu pada sector hilir yaitu pada kegiatan pengolahan dan distribusi juga memiliki resiko yang hamper sama dengan sektor hulu. Resiko ini meliputi aspek finansial, kecelakaan, kebakaran, ledakan maupun penyakit akibat kerja dan dampak lingkungan. Saat ini terdapat 9 kilang minyak yang tersebar di Sumatera (Pangkalan Brandan, Dumai, Sungai Pakning, dan Musi), Jawa (Cilacap, Cepu, dan Balongan), Kalimantan (Balikpapan), dan Irian Jaya (Kasim). Total kapasitas produksi kilang tersebut mencapai 1.057 MBSD yang menyebar di Sumatera (29%), Jawa (45%), Kalimantan (25%), dan sisanya Kesembilan kilang minyak tersebut menghasilkan BBM dan Non BBM. Produksi Non BBM, khususnya lubrican, hanya dihasilkan oleh kilang minyak Cilacap untuk keperluan domestik menggunakan minyak mentah timur tengah. , sedangkan kilang minyak Balikpapan ± karena kekurangan pasokan minyak mentah domestik ± memerlukan minyak mentah impor. terdapat di Irian Jaya (1%). Produksi BBM akan didistribusikan ke sekitar 25 depot darat menggunakan truk dan ke 98 seafed depot menggunakan kapal tanker yang menyebar di seantero nusantara. Distribusi BBM tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan BBM di pulau dimana terdapat kilang, maupun pada pulau yang tidak terdapat kilang. Di sisi lain, lebih dari 60% kebutuhan BBM nasional dipasok untuk memenuhi BBM di Jawa. Mengingat lokasi kilang dan kebutuhan BBM nasional, PERTAMINA dalam ³Kondisi Normal´ menempuh pola distribusi BBM dari kilang ke inland depot/seafed depot. Melihat kompleksnya permasalahan dalam pengadaan BBM nasional seperti dikemukakan di atas, dalam makalah ini akan dianalisis aktifitas kilang tersebut di kemudian hari

terhadap kasus-kasus yang ditinjau. Beberapa kasus yang diambil adalah kapasitas kilang dibatasi atau tidak, impor minyak mentah ke kilang Cilacap dibatasi atau tidak, perlu impor lubrican atau tidak. Anjungan lepas pantai adalah struktur atau bangunan yang di bangun di lepas pantai untuk mendukung proses eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang. Biasanya anjungan lepas pantai memiliki sebuah rig pengeboran yang berfungsi untuk menganalisa sifat geologis reservoir maupun untuk membuat lubang yang memungkinkan pengambilan cadangan minyak bumi atau gas alam dari reservoir tersebut. Kebanyakan anjungan tersebut terletak di lepas pantai dari landas kontinen, meskipun dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya harga minyak mentah, pengeboran dan produksi di perairan yang lebih dalam telah menjadi lebih baik, layak dan ekonomis. Sebuah anjungan yang khas mungkin memiliki sekitar tiga puluh mata bor, pengeboran yang terarah memungkinkan sumur bor dapat diakses pada dua kedalaman yang berbeda dan juga pada posisi terpencil sampai 5 mil (8 kilometer) dari platform. Sumur bawah laut yang jauh juga dapat dihubungkan ke anjungan dengan garis aliran dan koneksi pusar. Solusi bawah laut dapat terdiri dari sumur tunggal ataupun dengan pusat manifold (pipa dengan mulut lubang yg banyak) untuk digunakan pada beberapa pengeboran.

Proses Operasi di dalam Kilang Minyak

RESIKO PADA LINGKUNGAN KERJA Resiko yang terjadi dalam aktivitas kerja manusia berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Setiap kecelakaan tidak terjadi begitu saja, tetapi terdapat faktor penyebabnya. Apabila faktor tersebut dapat kita ketahui, maka kita dapat melakukan pencegahan ataupun penanggulangan terhad kecelakaan tersebut. Penyebab utama kecelakaan adalah : a. Kondisi tidak aman (unsafe condition) Hal ini berkaitan dengan mesin/ alat kerja seperti mesin yang rusak ataupun tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu kondisi tidak aman juga dapat berupa kondisi lingkungan kerja yang kurang mendukung, seperti 7 penerangan yang kurang, keadaan bising, kebersihan maupun instalasi yang kurang baik. Kondisi tidak aman juga dapat diakibatkan oleh metode / proses produksi yang kurang baik. Hal ini dilihat dari sistem pengisian bahan kimia yang salah, pengangkutan beban secara manal /menggunakan tenaga manusia. b. Tindakan tidak aman (unsafe action). Tindakan tidak aman ini lebih berkaitan terhadap personal pekerja, antara lain menggunakan peralatan yang kurang baik, sembrono dalam bekerja, tidak menggunakan alat pelindung diri maupun menjalan sesuatu tanpa wewenang. c. Kelemahan sistem manajemen. Kelemahan sistem manajemen ini seringkali terkait dengan sistem prosedur kerja yang tidak jelas ataupun tidak adanya standar yang dapat menjadi acuan bagi pekerja dalam melakukan kegiatan kerjanya. Dari penyebab kecelakaan di atas, tentunya akan berpengaruh pula pada lingkungan kerja dan lingkungan hidup sekitarnya. Kecelakaan kerja khususnya di bidang industri seringkali diikuti dengan adanya kerusakan lingkungan terlebih jika kecelakaan industri tersebut berskala besar. Bagi para pekerja sendiri tentunya akan berakibat cedera bahkan kematian jika kecelakaan yang terjadi sangat fatal, sedangkan bagi lingkunganhidup akan terjadi gangguan keseimbangan ekosistem bahkan penurunan kualitas

lingkungan hidup. Penurunan kualitas lingkungan ini biasanya disebabkan oleh adanya bahan sisa proses produksi yang masih mengandung zat kimia berbahaya. Zat kimia berbahaya ini tidak hanya terjadi akibat dari kecelakaan

industri, namun bahkan lebih sering sebagai akibat dari sistem pengolahan limbah industri yang tidak baik. Suatu lingkungan kerja meliputi : 1. Faktor Mekanis. 2. Faktor Fisik. 3. Faktor Kimia. 4. Faktor Biologi. 5. Faktor Ergonomi. Lingkungan kerja yang kondusif mendukung terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja, terpelihara sumber produksi dan tercapainya produktivitas kerja yang tinggi Lingkungan kerja yang baik dan cara kerja yang baik disamping faktor-faktor lain di masyarakat akan menciptakan lingkungan umum / hidup yang terjamin secara komprehensif.

POTENSI BAHAYA PADA KILANG MINYAK Secara umum bahaya yang timbul pada kilang minyak terdiri dari : 1. Jenis Pekerjaan, berhubungan dengan bahaya mekanik dan bahan kimia. 2. Crude Oil, berhubungan dengan bahaya uap gas, cairan yang mudah meledak keracunan sulfur. 3. Cuaca, misalnya petir, badai, gelombang besar.

Bahaya Bahan Kimia Pada Kilang Minyak
Kilang minyak menggunakan bahan ± bahan kimia yang terkadang berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan manusia serta lingkungan hidup. Penangangan bahan ± bahan kimia tersebut harus dilakukan dengan serius. Untuk membantu pekerja dalam memperlakukan bahan ± bahan kimia tersebut, maka diberikan suatu sistem labeling yang dapat menunjukan jenis dan bahaya dari bahan kimia yang mereka gunakan.

Pengaturan Keselamatan dan Kesehatan Lingkungan Bahan Kimia
Usaha untuk menjaga keselamatan dan kesehatan lingkungan terutama yang berkaitan dengan bahan ± bahan kimia berbahaya dilakukan mulai dari persiapan personal yang menggunakan bahan kimia tersebut hingga perlakuan pada bahan kimia selama proses produksi. Hal pertama yang perlu dilakukan : 1. Gunakan peralatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki. 2. Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak karena bahan Kimia. 3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi. 4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN BAHAYA DI KILANG MINYAK 1. Mengurangi faktor resiko kebakaran dari sumber, misalnya hubungan listrik Pencegahan ini harus dilengkapi dengan peralatan pemadam kebakaran yang memadai. 2. Penanggulangan kedaruratan termasuk fasilitas komunikasi dan medis. 3. Pengawasan kesehatan dan mempertahankan personal hygiene yang baik disamping pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat,

termasukpenyediaan fasilitas pencegahan keracunan dan pengadaan pertolongan pernafasan. 4. Mematuhi peratran K3 5. Pelatihan K3 bagi semua pekerja sesuai dengan bidang kerja dan produk masing-masing.

Jenis kecelakaan di kilang minyak:
1. Terjepit, terlindas. 2. Teriris, terpotong, tergores. 3. Jatuh terpeleset.

4. Tindakan yang tidak benar. 5. Tertabrak 6. Terkena benturan keras. 7. Berkontak dengan bahan berbahaya.

PENCEGAHAN KECELAKAAN
Setelah melihat proses yang terjadi pada suatu kilanh minak dan potensi bahaya yang terjadi pada kilang minyak, maka secara keseluruhan pencegahan kecelakaan yang diperlukan adalah : 1) Peraturan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan perencanaan industri. 2) Standarisasi, baik dalam perlakuan bahan baku industri, pengadaan alat pengamanan, maupun dari hasil limbah yang dihasilkan agar tidak mengganggu kualitas lingkungan. 3) Dilakukan pelatihan dan tindakan persuasif bagi pengusaha dan pekerja sehingga diharapkan dapat lebih berhati ± hati dalam melakukan pekerjaan terutama yang menggunakan peralatan ataupun bahan kimia yang dapat membahayakan diri sendiri maupun lingkungan.

Pencemaran
Dampak pencemaran lumpur minyak ini langsung terasa. Berbagai biota laut yang hidup di pinggiran pantai, seperti ikan kecil, kerang, dan kepiting, mati karena terjebak lumpur minyak-atau masyarakat nelayan menyebutnya lantung. Tubuh biota laut ini berwarna hitam diselimuti lumpur minyak sehingga tak mungkin lagi bergerak. Nelayan yang sehari-hari bekerja juga merasakan dampaknya. Kapal penangkap ikan, yang kebetulan sedang melintas dan terjebak gumpalan minyak mentah di tengah laut, dikotori tumpahan minyak. standar operasional prosedur (SOP) dalam menangani limbah minyak mentah yang diawasi secara ketat dan terus-menerus, sesuai Peraturan Peraturan Pemerintah Nomor 18 juncto 85 Tahun 2000. Limbah minyak mentah yang berupa kerak dan mengendap di bagian paling bawah kapal tanker minyak, saat dibuang harus dimasukkan ke dalam bak penampungan yang terbuat dari beton

dan dilapisi plastik. Pengamanan berlapis ini untuk mencegah limbah minyak merembes ke dalam tanah di sekitarnya.

Penanganan Limbah Minyak
Lumpur minyak merupakan suatu yang produk sampingan yang dihasilkan dari kegiatan eksploitasi minyak bumi. Lumpur minyak ini dihasilkan mulai saat pengeboran di sumur minyak di lepas pantai hingga di kilang-kilang minyak. Proses terjadinya menyerupai air ledeng yang meninggalkan lumpur tipis di dasar bak atau ember. Bedanya, lumpur minyak ini mengandung berbagai logam berat yang berbahaya. Jika menumpuk di tanah, bisa merembes dan mencemari sumber air tanah. Itulah sebabnya, perusahaan minyak biasanya menangani sludge dengan menampungnya dalam sebuah tangki penampung, atau ditimbun dalam lubang raksasa yang dilapisi beton dan plastik agar tidak merembes ke dalam tanah. Sludge dianggap sebagai limbah yang dibuang percuma karena kandungan padatan serta kandungan airnya lebih dari 5 persen. Kalaupun diolah, kurang bernilai ekonomis, bahkan kandungan airnya yang terlampu tinggi bisa merusak kilang. Tidak heran jika beberapa perusahaan di sejumlah negara, dulu melakukan langkah pragmatis dengan membakar sludge di insenerator. Namun, langkah ini banyak ditentang karena mencemari udara sehingga dianggap tidak ramah lingkungan. Sebuah perusahaan raksasa Amerika Serikat pernah mengusulkan agar lumpur minyak disuntikkan ke dalam sumur tua agar tidak mencemariudara. Namun, langkah ini pun banyak ditentang karena khawatir limbah berbahaya itu mencemari air tanah. Ditemukannya teknologi pengolah sludge di Amerika Serikat pada tahun 1950-an, mendorong negara adidaya ini untuk mengolah sludge menjadi bahan yang bermanfaat. Sludge yang didaur ulang bisa menghasilkan sekitar 60 persen minyak mentah dengan kualitas yang sama dengan minyak hasil pengilangan. Negara-negara Arab bahkan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina sejak awal 1990-an juga melakukan langkah serupa. Dalam proses daur ulang ini, mula-mula dilakukan pemisahan minyak, bahan padat, dan air dengan mesin pengocok atau shaker. Setelah minyak terpisah, bahan padat kemudian diolah lebih lanjut dengan

memberi bakteri hidrokarbon. Proses bio-remediasi ini menghasilkan bahan yang bisa digunakan untuk pupuk dan sangat aman untuk tanaman. Bahan ini bisa pula digunakan untuk pembuatan batako serta untuk pengeras jalan. Adapun kandungan airnya diproses lebih lanjut sehingga kandungan logam beratnya sangat minim dan dinyatakan aman untuk dibuang ke lingkungan. Proses pengolahan seperti ini yang paling aman. Namun, sayangnya biayanya cukup mahal sehingga tidak semua perusahaan minyak melakukannya. Meski demikian, langkah apa pun yang dilakukan, mestinya kepentingan masyarakatlah yang paling utama. Jangan sampai saat terjadi bencana tumpahan minyak, semua pihak saling menyalahkan dan tak ada yang mau bertanggung jawab.

Peraturan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 109 TAHUN 2006 TENTANG PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT TUMPAHAN MINYAK DI LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa kegiatan di laut yang meliputi kegiatan pelayaran, kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, serta kegiatan lainnya mengandung risiko terjadinya kecelakaan yang dapat mengakibatkan terjadinya tumpahan minyak yang dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan laut sehingga memerlukan tindakan penanggulangan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi; b. bahwa dengan telah diundangkannya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut), Pemerintah Indonesia berkewajiban mengembangkan suatu kebijakan dan mekanisme yang memungkinkan tindakan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi dalam penanggulangan tumpahan minyak di laut dan penanggulangan dampak lingkungan - 2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut.

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2994); 3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang ZonaEkonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3260); 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on the Law of the Sea (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3319); 5. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran - 3 6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 7. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak danGas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) sebagaimana telah berubah dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 002/PUU-I/2003 pada tanggal 21 Desember 2004 (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005);

Undang-Undang ...
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian

Pencemaran dan/atau Perusakan Laut (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor - 4 3. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4145); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 95, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4227); 5. Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1978 tentang Mengesahkan International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage, 1969 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1978 Nomor 28); 6. Keputusan Presiden Nomor 46 Tahun 1986 tentang Pengesahan International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973, beserta Protokol (the Protocol of 1978 relating to the International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor 59); 7. Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1999 tentangPengesahan Protocol of 1992 to Amend the International Convention on Civil Liability for Oil Pollution Damage, 1969 (Protokol 1992 tentang Perubahan terhadap Konvensi Internasional tentang Tanggung Jawab Perdata untuk Kerusakan Akibat Pencemaran Minyak, 1969) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 99);..

. Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG

PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT TUMPAHAN MINYAK DI LAUT. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan: 1. Penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut adalah tindakan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi untuk mencegah dan mengatasi penyebaran tumpahan minyak di laut serta menanggulangi dampak lingkungan akibat tumpahan minyak di laut untuk meminimalisasi kerugian masyarakat dan kerusakan lingkungan laut. 2. Tumpahan minyak di laut adalah lepasnya minyak baik langsung atau tidak langsung ke lingkungan laut yang berasal dari kegiatan pelayaran, kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, atau kegiatan lain. 3. Minyak adalah minyak bumi dan berbagai hasil olahannya, dalam bentuk cair atau padat, mudah berubah bentuk atau tidak mudah berubah bentuk. - 6 - fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi. 4. Laut adalah perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. 5. Dampak lingkungan laut adalah pengaruh perubahan pada kualitas lingkungan laut akibat tumpahan minyak. 6. Pelayaran adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan di perairan, kepelabuhanan, serta keamanan dan keselamatannya. 7. Pengusahaan minyak dan gas bumi adalah kegiatan usaha hulu dan/atau kegiatan usaha hilir minyak dan gas bumi. 8. Kegiatan lain adalah kegiatan di luar kegiatan pelayaran dan kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi. 9. Koordinator Misi adalah pejabat yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan operasi penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut. 10.Administrator Pelabuhan, yang selanjutnya disebut ADPEL, adalah kepala unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada pelabuhan laut yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Pelabuhan. - 7 -

11. Kepala Kantor Pelabuhan, yang selanjutnya disebut KAKANPEL, adalah kepala unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada pelabuhan laut yang tidak diselenggarakan oleh Badan Usaha Pelabuhan. 12. ADPEL Koordinator adalah ADPEL tertentu yang bertugas selaku koordinator dalam rangka pengawasan dan pembinaan serta mempertanggungjawabkan kinerja pelaksanaan tugas dari segi keselamatan pelayaran. 13. Pusat Komando dan Pengendali Nasional Operasi Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut, yang selanjutnya disebut

PUSKODALNAS, adalah pusat komando dan pengendalian operasi dalam penanggulangan tumpahan minyak di laut dan penanggulangan

dampaklingkungan akibat tumpahan minyak di laut. 14. Prosedur Tetap Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak di Laut, yang selanjutnya disebut PROTAP, adalah pengaturan mengenai struktur, tanggung jawab, tugas, fungsi dan tata kerja organisasi operasional, sistem pelaporan dan komunikasi, serta prosedur dan pedoman teknis operasi penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->