P. 1
BAHAN ISOLASI

BAHAN ISOLASI

3.0

|Views: 6,199|Likes:
Published by rusdi ariawan
BAHAN ISOLASI
BAHAN ISOLASI

More info:

Published by: rusdi ariawan on Jun 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2015

pdf

text

original

BAHAN ISOLASI

TUGAS BAHAN LISTRIK
Oleh :
PUTU RUSDI ARIAWAN (0804405050)
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA
JIMBARAN-BALI
2009
PUTU RUSDI ARIAWAN ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat rahmat dan petunjuk-Nyalah Paper Bahan Isolasi ini dapat
diselesaikan. Dengan karunia kesehatan dan kesempatan dari-Nya pula, makalah
ini pun dapat rampung tepat pada waktunya.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada semua pihak yang telah
banyak membantu kami dalam penyusunan makalah ini. Khususnya kepada
Bapak Ir. Ketut Wijaya M. Erg selaku dosen Mata Kuliah Bahan Listrik Jurusan
Teknik Elektro dan juga berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan
Listrik. Disamping itu juga untuk memberikan informasi kepada para pembaca
mengenai materi Bahan Isolasi.
Kami menyadari sepenuhnya makalah ini masih jauh dari sempurna,
sehingga kami sebagai penyusun mengharapkan berbagai saran dan kritik yang
bersifat membangun, agar nantinya dapat dijadikan pedoman bagi kami dalam
penyusunan makalah berikutnya.
Denpasar, Februari 2009
Penyusun
PUTU RUSDI ARIAWAN iii
DAFTAR ISI
JUDUL ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................... 2
1.5 Metode Penuisan ............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................. 3
2.1 Bahan Isolasi .................................................................................. 3
2.2 Jenis Bahan Isolasi ........................................................................ .4
2.2.1 Bahan Isolasi Gas .................................................................. .4
2.2.2 Bahan Isolasi Cair.................................................................. .6
2.2.3 Bahan Isolasi Padat................................................................ .7
2.3 Sifat-Sifat Bahan Isolasi ................................................................ .7
2.3.1 Sifat Kelistrikan..................................................................... .7
2.3.2 Sifat Terhadap Panas ............................................................. 10
2.3.3 Sifat Fisis Dan Kimia............................................................. 13
2.3.4 Sifat Mekanis......................................................................... 16
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan........................................................................................... 18
5.2 Saran-saran ....................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan listrik dalam sistem tenaga listrik merupakan salah satu elemen penting
yang akan menentukan kualitas penyaluran energi listrik itu sendiri. Bahan listrik yang
sangat popular selama ini meliputi konduktor, semi konduktor dan isolator.
Bahan listrik sudah digunakan oleh masyarakat luas untuk berbagai macam
aplikasi peralatan listrik dan tentunya peralatan tersebut didukung oleh keamanan
peralatan serta keamanan konsumen atau pengguna. Untuk itu harus pengguna harus
mengetahui bahan isolasi yang ada dan diperhatikan dalam ketepatan pemilihan bahan
oleh para pengguna. Pada kemajuan teknologi tegangan tinggi, isolasi listrik memegang
peranan yang sangat penting dalam teknik tegangan tinggi, Isolasi listrik sangat
diperlukan untuk menunjang keandalan di dalam penyaluran tegangan listrik.
Sifat dan karakteristik bahan pada saat digunakan dalam sistem tenaga listrik
mempunyai besaran yang sangat bervariasi mulia dari sifat fisik, mekanik maupun
elektrik. Yang semuanya sangat berperan guna menganalisis karakteristik sistem secara
keseluruhan. Salah satu sifat yang sangat penting adalah sifat kelistrikan. Namun
demikian sifat mekanis, sifat termal, ketahanan terhadap bahan kimia serta sifat-sifat
lainnya perlu juga diperhatikan. Salah satau bahan listrik yang sangat luas penggunaanya
dalam sitem tenaga listrik adalah isolasi.
Bahan isolasi digunakan untuk memisahkan bagian-bagian yang bertegangan atau
bagia-bagian yang aktif.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan bahan isolasi?
2. Bagaimanakah sifat-sifat bahan isolasi?
3. Apa saja jenis-jenis dari bahan isolasi listrik?
PUTU RUSDI ARIAWAN 2
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bahan isolasi
2. Untuk mengetahui bagaimanakah sifat-sifat bahan isolasi
3. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis dari bahan isolasi listrik
1.4 Manfaat
1. Kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan bahan isolasi
2. Kita dapat mengetahui bagaimanakah sifat-sifat bahan isolasi
3. Kita dapat mengetahui apa saja jenis-jenis dari bahan isolasi listrik
1.5 Metode Penulisan
Adapun pembuatan makalah ini ditulis dengan menggunakan metode kajian
pustaka yakni melalui buku-buku dan sumber-sumber tertulis lainnya yang berhubungan
dengan tema yang telah ditentukan. Selain itu, kami juga mengambil bahan dan data-data
yang berhubungan dengan makalah ini melalui media internet.
PUTU RUSDI ARIAWAN 3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bahan Isolasi
Bahan isolasi merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan bagian-bagian
yang bertegangan atau bagian-bagian yang aktif. Bahan isolasi merupakan suatu
peralatan yang digunakan sebagai pembatas dan pengaman pada peralatan listrik yang
mempunyai kekuatan listrik yang cukup untuk menjamin sistem keselamatan yang
diperlukan pada saat peralatan listrik tersebut beroperasi maupun tidak beroperasi. Bahan
isolasi yang digunakan dalam teknik tegangan tinggi dibedakan menjadi: bahan isolasi
gas, bahan isolasi padat, bahan isolasi cair. Pada dasarnya suatu bagian yang aktif
peralatan listrik harus diisolasi sehingga mempunyai sistem keamanan dan kenyamanan
Koordinasi isolasi dapat di definisikan sebagai korelasi antara daya isolasi alat-alat
dan sirkuit listrik disatu pihak, dan karakteristik alat-alat pelindungnya dilain pihak,
sehingga isolasi tersebut terlindung dari bahaya-bahaya tegangan lebih. Koordinasi
isolasi dilakukan dengan menentukan kesesuaian yang diperlukan antara daya isolasi alat-
alat listrik dan karakteristik alat-alat pelindung terhadap tegangan lebih, yang masing-
masing ditentukan oleh tingkat ketahanan impuls dan tingkat perlindungan
impulsnya.koordinasi isolasi mempunyai tujuan untuk perlindungan terhadap peralatan
dan penghematan.
Beberapa sistem yang perlu diperhatikan dalam koordinasi isolasi adalah:
1. Penentuan sifat gangguan
2. Penentuan daya isolasi petralatan seperti: isolator, bushing, dan trafo.
3. Penentuan tegangan impuls standart.
4. Karakteristik alat-alat pelindung seperti CB, Arrester.
5. Penentuan tingkat isolasi impuls dasar ( BIL ) yang disingkat Basic Impuls Insulation
Level. Bil ini merupakan suatu besar tegangan yang masih mampu ditahan oleh
peralatan listrik, atau kemampuan peralatan listrik menahan tegangan maksimum
pada saat terjadi tegangan lebih.
PUTU RUSDI ARIAWAN 4
2.2 Jenis Bahan Isolasi
Ada 3 jenis bahan isolasi yaitu : gas, padat, cair. Berikut ini adalah penjelasan dari
ketiga jenis bahan isolasi tersebut.
2.2.1 Bahan Isolasi Gas
Bahan isolasi adalah digunakan sebagai pengisolasi dan sekaligus sebagai media
penyalur panas. Bahan gas yang biasa digunakan adalah udara dan sulfur hexafluida
(SF
6
).
1. Udara
Udara merupakan bahan isolasi yang mudah didapatkan, mempunyai tegangan
tembus yang cukup besar yaitu 30 kV/ cm. Contoh yang mudah dijumpai antara lain :
pada JTR, JTM, dan JTT antara hantara yang satu dengan yang lain dipisahkan dengan
udara. Hubungan antara tegangan tembus dan jarak untuk udara tidak linier seperti
ditunjukkan pada gambar dibawah ini :
Gambar 2.1 kurva perbandingan
Kalau 2 buah elektroda yang dipisahkan dengan udara mempunyai beda tegangan
yang cukup tinggi yaitu tegangan yang melebihi tegangan tembus, maka akan timbul
PUTU RUSDI ARIAWAN 5
loncatan bunga api. Secara umum, makin besar tekanannya, makin besar pula tegangan
tembusnya. Tetapi untuk keadaan pakem justru tegangan tembus akan menjadi lebih
besar. Keadaan yang demikian inilah yang digunakan atau diterapkan pada beberapa
peralatan listrik.
2. Sulphur Hexa Fluorida
Sulphur Hexa Fluorida (SF6) merupakan suatu gas bentukan antara unsur
sulphur dengan fluor dengan reaksi eksotermis :
S + 3 F2 ---------------- SF6 + 262 kilo kalori
Molekul SF6 seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini :
Gambar. 2.2 Molekul sulphur hexa fluoride
Sampai saat ini SF6 merupakan gas terberat yang mempunyai massa jenis 6,139
kg/m3 yaitu sekitar 5 kali berat udara pada suhu 00 celsius dan tekanan 1 atmosfir. Sifat
lainnya adalah : tidak terbakar, tidak larut pada air, tidak beracun, tidak berwarna dan
tidak berbau. SF6 juga merupakan bahan isolasi yang baik yaitu 2,5 kali kemampuan
isolasi udara.
Tabel 1 Sifat beberapa Gas
Gas Massa jenis (kg/m3) Konduktivitas panas
(W/ . m)
Tegangan Tembus
kV/ cm
Udara 1,228 5 . 10-6 30
SF6 6,139 1,9 . 10-5 75
Nitrogen (N 2) 1,191 5,4 . 10-6 30
Karbon dioksida 1,867 3,2 . 10-6 27
Hidrogen 0,086 3,3 . 10-5 18
PUTU RUSDI ARIAWAN 6
2.2.2 Bahan Isolasi Cair
Bahan isolasi cair merupakan bahan pengisi pada beberapa peralatan listrik.
Bahan isolasi cair ini biasanya digunakan pada peralatan seperti transformator, pemutus
beban, rheostat. Bahan isolasi cair memiliki dua fungsi yaitu sebagai pemisah antara
bagian yang bertegangan atau pengisolasi dan juga sebagai pendingin. Persyaratan agar
bahan cair dapat digunakan sebagai bahan isolasi adalah mempunyai tegangan tembus
dan daya hantar panas yang tinggi.
Beberapa alasan digunakannya bahan isolasi cair adalah sebagai berikut:
1. Isolasi cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan dengan isolasi gas,
sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi menurut hukum Paschen.
2. Isolasi cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi dan secara serentak
melalui proses konversi menghilangkan panas yang timbul akibat rugi energi.
3. Isolasi cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing) jika terjadi
pelepasan muatan (discharge). Namun kekurangan utama isolasi cair adalah mudah
terkontaminasi.
Adapun sifat-sifat listrik yang menentukan unjuk kerja cairan sebagai isolasi
adalah:
1. Withstand Breakdown
Yaitu kemampuan untuk tidak mengalami ketembusan dalam kondisi tekanan listrik
(electric stress ) yang tinggi.
2. Kapasitansi Listrik per unit volume yang menentukan permitivitas relatifnya. Minyak
petroleum merupakan subtansi nonpolar yang efektif karena merupakan campuran
cairan hidrokarbon. Minyak ini memiliki permitivitas kira-kira 2 atau 2.5 .
Ketidakbergantungan permitivitas subtansi nonpolar pada frekuensi membuat bahan
ini lebih banyak dipakai dibandingkan dengan bahan yang bersifat polar. Misalnya air
memiliki permitivitas 78 untuk frekuensi 50 Hz, namun hanya memiliki permitivitas
5 untuk gelombang mikro.
3. Faktor daya
Faktor dissipasi daya dari minyak dibawah tekanan bolak balik dan tinggi akan
menentukan unjuk kerjanya karena dalam kondisi berbeban terdapat sejumlah rugi-
rugi dielektrik. Faktor dissipasi sebagai ukuran rugi-rugi daya merupakan parameter
9
PUTU RUSDI ARIAWAN 7
yang penting bagi kabel dan kapasitor. Minyak transformator murni memiliki faktor
dissipasi yang bervariasi antara 10
-4
pada 20
o
C dan 10
-3
pada 90
o
C pada frekuensi 50
Hz.
4. Resistivitas
Suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolasi cair bila resitivitasnya lebih besar dari
10
9
W-m. Pada sistem tegangan tinggi resistivitas yang diperlukan untuk material
isolasi adalah 10
16
W-m atau lebih.
2.2.3 Bahan Isolasi Padat
Bahan isolasi padat adalah bahan isolasi yang berbentuk padat. Ada beberapa
jenis bahan isolasi padat seperti : kayu, kertas, mika, porselin, kaca, sitol, dan lain-lain.
2.3 Sifat-Sifat Bahan Isolasi
2.3.1. Sifat Kelistrikan
Terdapat 3 hal pokok yang dibahas di dalam sub-bab ini yaitu resistivitas,
permitivitas dan sudut kerugian dielektrik. Dari 3 hal tersebut akan memberikan
gambaran sifat kelistrikan suatu bahan isolasi di samping sifat-sifat yang lain.
1. Resistivitas
Sesuai dengan fungsinya, bahan isolasi yang baik adalah bahan isolasi yang
resistivitasnya besar tak terhingga. Tetapi pada kenyataannya bahan yang demikian itu
belum bisa diperoleh. Sampai saat ini semua bahan isolasi pada teknik listrik masih
mengalirkan arus listrik (walaupun kecil) yang lazim disebut arus bocor. Hal ini
menunjukkan bahwa resistansi bahan isolasi bukan tidak terbatas besarnya.
Besarnya resistansi bahan isollasi sesuai dengan Hukum Ohm adalah :
Ri = v / Ib
Dengan variabel sebagai berikut :
Ri = resistansi isolasi (ohm)
V = tegangan yang digunakan (volt)
Ib = arus bocor (ampere)
PUTU RUSDI ARIAWAN 8
diperhatikan lebih jauh, terdapat 2 macam resistansi yaitu resistansi volume (Rv) dan
resistansi permukaan (Rp).
Resistansi volume mengakibatkan mengalirnya arus bocor Iv, sedangkan resistansi
permukaan menyebabkan mengalirnya arus bocor lp, seperti ditunjukkan pada Gb. 2.3
Gambar 2.3 Arus bocor Iv dan Ip pada bahan isolasi
Seperti terlihat pada Gb.3.1 RY dan Rp adalah paralel. Sehingga berdasarkan Hukum
Kirchoff 1 :
Ib= v + ip
Dan 1/ Ri =1/ Rv + 1/ Rp
Ri = (Rv . Rp)/ (Rv + Rp)
Resistivitas volume pada umumnya disebut resistivitas saja.
Besarnya resistivitas volume adalah :
Rv = py 1 / S
Dengan variabel sebagai berikut :
pv - adalah resistivitas volume dengan (ohm - meter)
1 - adalah panjang bagian yang dilewati arus (m)
S - adalah luas penampang (m2)
Besarnya resistivitas permukaan di antara 2 bidang selebar b pada jarak a adalah :
Rp = ps (a/ b)
Dengan variabel sebagai berikut :
PS adalah resistivitas permukaan dengan satuan ohm.
Derinisi darl resistivitas permukaan PS adalah resistansi pada permukaan persegi suatu
bahan waktu arus mengalir di sisi lain dari penampang tersebut.
PUTU RUSDI ARIAWAN 9
Gambar 2.4 llustrasi perhitungan resistansi
Beberapa hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan resistivitas adalah :
a. Baik resistivitas volume maupun resistivitas permulaan akan berkurang besarnya jika
suhu dinaikkan. Banyak bahan yang mempunyai pv dan pp yang besar pada suhu
kamar, tetapi turun drastis pada suhu 100
0
C.
b. Untuk bahan isolasi yang higroskopis, di daerah-daerah yang lembab resistivitasnya
akan turun secara mencolok.
c. Resistivitas akan turun jika tegangan yang diberikan naik
Dari 3 hal tersebut diatas, maka pada pemakaian sehari-hari dalam pemakaian bahan
isolasi misaInya untuk daerah kerja yang suhunya tinggi atau lembab, harus dipilih bahan
yang sesuai baik bahan maupun tegangan kerjanya.
2. Permitivitas
Setiap bahan isolasi mempunyai permitivitas. Hal ini bagi bahan -bahan yang
digunakan sebagai elektrik kapasitor. Kapasitansi suatu kapasitor tergantung beberapa
faktor yaitu : luas permukaan, jarak antara keping-keping kapasitor serta dielektriknya.
Besarnya kapasitansi C (farad) dapat dihitung dengan :
h
S
C × × =
÷


9
36
10
Dengan variabel sebagai berikut :
 adalah permitivitas bahan elektrik (F/m)
h adalah jarak keping-keping kapasitor (m)
S adalah luas permukaan keping-keping kapasitor (m2)
Besarnya permitivitas udara hampir 1 yaitu 1.000.589, sedangkan besarnya
permitivitas untuk zat padat dan zat cair selalu lebih besar dari 1.
PUTU RUSDI ARIAWAN 10
3. Sudut Kerugian Dielektrik
Pada saat bahan isolasi diberi tegangan bolak balik, maka terdapat energi yang
diserap oleh bahan tersebut. Akibatnya terdapat faktor kapasitif. Hubungan vektoris
antara tegangan dan arus pada bahan isolasi adalah seperti ditunjukkan pada Gb. 3.3.
Besarnya kerugian yang diserap bahan isolasi adalah berbanding lurus dengan tegangan
V volt, frekuensi f hertz, kapasitansi C farad, dan sudut kerugian dielektrik tanc , seperti
ditunjukkan pada persamaan berikut.
Gambar 2.5 Hubungan IC = f (Ir)
P = V . 2π . f . C . tan c
Sehingga
C f V
P
. . 2 .
tan
2

= c
Dari persamaan di atas terlihat bahwa makin besar tegangan, frekuensi dan
kapasitansi untuk kerugian yang sama, maka makin kecil harga tan c atau makin kecil
sudut antara arus kapasitif IC dengan arus total I dan makin besar sudut antara arus
resistif Ir dengan arus total I.
2.3.2 Sifat Terhadap Panas
Pada penghantar yang dilewati arus listrik selalu terjadi kerugian daya. Kerugian
daya ini selanjutnya didesipasikan dalam bentuk energi panas. Untuk itu perlu dipelajari
pengaruh panas terhadap bahan-bahan isolasi karena panas dapat mempengaruhi bahan
isolasi dalam hal : sifat kelistrikan, kekuatan mekanis, kekerasan, viskositas, ketahanan
terhadap pengaruh kimia dan sebagainya. Suatu bahan isolasi dapat rusak disebabkan
oleh panas dalam kurun waktu tertentu. Waktu tersebut dikatakan sebagai umur panas
bahan isolasi. Sedangkan kemampuan bahan menahan suatu panas tanpa terjadi
Ic
Ir
V
PUTU RUSDI ARIAWAN 11
kerusakan disebut ketahanan panas (heat resistance). Klasifikasi bahan isolasi menurut
IEC (International Electrotechnical Commission) didasarkan atas batas suhu kerja bahan.
Tabel 2 kelas bahan isolasi
KELAS BAHAN SUHU KERJA MAKS
Y Katun, sutera alam, wolsintetis, rayon, serat,
poliamid, kertas, prespan, kayu ,poliakrilat,
polietilen, polivinil, karet.
90
0
C
A Bahan kelas Y yang diimpregnasi dengan
vernis, aspal, minyak trafo.
Email yang dicampur dengan vernis dan
poliamid.
105
0
C
E Email kawat yang terbuat dari : polivinil
formal, poli urethane dan damar , bubuk
plastik, bahan selulosa pengisi pertinaks,
tekstolit triasetat, polietilen tereftalat.
120
0
C
B Bahan anorganik (mika, fiberglass, asbes)
bitumen, bakelit, poli monochloro tri flour
etilen, poli etilen tereftalat, polikarbonat, sirlak
130
0
C
F Bahan – bahan anorganik yang diimpregnasi
atau direkat dengan epoksi, poliurethan, atau
vernis dengan ketahanan panas yang tinggi
155
0
C
H Mika, fiberglass dan asbes yang diimpregnasi
dengan silicon tanpa campuran bahan berserat,
karet silicon, email kawat poliamid murni
180
0
C
C Bahan – bahan anorganik tanpa diimpregnasi
atau diikat dengan substansi organik yaitu :
mika, mikanit tahan panas, mikaleks, gelas,
keramik, Teflon (politetra fluoroetilen) adalah
satu – satunya substansi organik
Di atas 180
0
C
PUTU RUSDI ARIAWAN 12
1. Ketahanan terhadap suhu rendah
Ketahanan terhadap suhu rendah ialah kemampuan bahan isolasi untuk digunakan
pada suhu rendah dalam hal ini -60
0
hingga -70
0
C.
Hal ini perlu diperhitungkan bagi bahan isolasi yang digunakan untuk penghantar pada
pesawat terbang, pegunungan dan sebagainya.
Umumnya bahan isolasi jika terkena suhu yang rendah akan menjadi keras dan
regas. Untuk itu biasanya bahan isolasi juga diuji pada suhu rendah dengan diberi vibrasi.
2. Konduktivitas Panas
Panas yang didesipasikan oleh penghantar atau rangkaian magnetic pada medan
listrik melalui bahan isolasi diterusakan ke udara sekelilingnya.
Untuk menghitung besarnya resistansi panas dapat digunakan rumus yang mirip dengan
hokum ohm sebagai berikut :
Rp
t
P =
Dengan variabel sebagai berikut :
P : adalah panas yang lewat melalui bahan isolasi setiap detik dalam satuan watt.
t : adalah beda suhu antara bagian yang panas dengan bagian yang dingin dalam satuan
0
C.
Rp : adalah resistansi panas delam satuan derajat per watt atau ohm meter panas (  p).
Untuk menghitung besarnya resistansi panas (Rp) digunakan rumus :
s
h
p Rp  =
Dengan varibel sebagai berikut :
p  : adalah resistivitas panas (o/W atau m Ω panas ).
h : adalah jarak antara bagian yang panas dan dingin (m).
S : adalah penampang (m
2
).
PUTU RUSDI ARIAWAN 13
Besar konduktivitas panas ( p) adalah :
 p =
p 
1
Bahan – bahan tersebut di udara mempunyai p  yang tinggi dan p  tersebut akan turun
bila bahan diimpregasi atau bila bahan menjadi lembab.
Tabel 3 konduktivitas beberapa bahan
No. Nama Bahan Konduktivitas Panas
(W/o.m)
1 Uadara (celah yang sempit) 5 . 10
-6
2 Aspal 7 . 10
-6
3 Kertas 10
-5
4 Kain yang divernis 13 . 10
-6
5 Pertinaks 35 . 10
-6
6 Kuarsa 12,5 . 10
-5
7 Porselin 16 . 10
-5
8 Steatit 22 . 10
-5
9 Titanium dioksid 65 . 10
-5
10 Silikon dioksid 12,5 . 10
-4
11 Grafit 18,2 . 10
-4
12 Karborundum 20,5 . 10
-4
13 Alumina 3 . 10
-3
14 Magnesium 3,6 . 10
-3
15 Besi 6,8 . 10
-3
16 Berilium 2,18 . 10
-2
17 Aluminium 2,26 . 10
-2
18 Tembaga 3,9 . 10
-2
2.3.3 Sifat Fisis dan Kimia
Beberapa sifat fisis dan kimia yang akan dibahas di sini adalah; sifat kemampuan
larut, resistansi kimia, higroskopisitas, permeabilitas uap, pengaruh tropis dan resistansi
radio aktif.
PUTU RUSDI ARIAWAN 14
a. Sifat kemampuan Larut
Sifat ini adalah diperlukan ketika menentukan macam bahan pelarut untuk suatu
bahan, misalnya : vernis, plastik, dan sebagainya. Juga ketika menguji bahan isolasi atas
kemampuannya tetap tahan di dalam cairan selama diimpregnasi dan selama
pemakaiannya (bahan isolasi trafo minyak). Kemampuan larut bahan padat dapat
dievaluasi berdasarkan banyaknya bagian permukaan bahan yang dapat larut setiap
satuan waktu jika diberi bahan pelarut. Kemampuan larut suatu bahan akan lebih besar
jika suhunya dinaikkan. Umumnya bahan pelarut komposisi kimianya sama dengan
bahan yang dilarutkan. Contohnya : hidro karbon (parafin, karet alam) dilarutkan dengan
cairan hidro karbon atau phenol formaldehida.
b. Resistansi Kimia
Bahan isolasi mempunyai kemampuan yang berbeda ketahanannya terhadap
korosi yang disebabkan oleh : gas, air, asam, basa dan garam. Hal ini perlu diperhatikan
untuk pemakaian bahan isolasi yang digunakan di daerah yang kosentrasi kimianya aktif,
suhu di atas normal. Karena kecepatan korosi dipengaruhi pula oleh kenaikkan suhu.
Bahan isolasi yang digunakan pada instalasi tegangan tinggi harus mampu menahan
terjadinya ozon. Artinya, bahan tersebut harus mempunyai resistansi ozon yang tinggi.
Karena ozon dapat menyebabkan isolasi berubah menjadi regas. Pada prakteknya, bahan
isolasi anorganik mempunyai ketahanan terhadap ozon yang baik.
c. Higroskopisitas
Beberapa bahan isolasi ternyata mempunyai sifat higroskopisitas, yaitu sifat
menyerap air sekelilingnya. Uap air ternyata dapat mengakibatkan perubahan mekanis fisik
(physico mechanical) dan memperkecil daya isolasi.
Untuk itu selama penyimpanan atau pemakaian bahan isolasi agar tidak terjadi
penyerapan uap air oleh bahan isolasi, maka hendaknya bahan penyerap uap air yaitu
senyawa P2O5 atau Ca Cl2. Bahan dielektrik yang melekulnya berisi kelompok hidroksil
(OH), higroskopisitasnya relative besar. Sedangkan bahan dielektrik seperti : parafin,
polietilin dan politetra fluoro etilen adalah bahan -bahan nonhigroskopis.
PUTU RUSDI ARIAWAN 15
d. Permeabilitas Uap
kemapuan bahan isolasi untuk dilewati uap disebuat permeabilitas uap bahan
tersebut. Factor ini perlu diperhatikan bagi bahan yang digunakan untuk : isolasi kabel,
rumah kapasitor.
Banyak uap M dalam satuan mikro-gram, selama t jam, melalui permukaan S meter persegi,
dengan beda tekanan pada kedua sisi bahan p dalam satuan mm-Hg, adalah
M =
P t S
h A
. .
10 . .
2
A : adalah permeabilitas uap yang juga disebut konstansi difusi
g : adalah permeabilitas uap air dengan satuan
mmHg jam cm
g
. .
Tabel 4 permeabilitas uap beberapa bahan
No. Nama Bahan
A
mmHg jam cm
g
. .
1 Parafin 0,0007
2 Polistirin 0,03
3 Karet 0,03 s/d 0,08
4 Selulose triasetat 1
5 Cellophane 5
6 Kaca atau logam 0
e. Pengaruh Tropis
Terdapat 2 macam daerah tropis yaitu daerah tropis yang basah dan daerah tropis
yang kering.
Didaerah tropis yang basah memungkinkan tumbuhnya jamur dan serangga dapat hidup
dengan baik. Suhu yang cukup tinggi disertai kelmbaban yang terjadi dalam waktu lama
dapat menyebabkan turunnya resistivitas isolasi, menambah permitivitas dan mengurangi
kemampuan kelistrikan bahan.
Pada penggunaan bahan isolasi di daerah tropis harus diperhatikan2 hal yaitu : perubahan
sifat kelistrikan setelah bahan direndam dan kecepatan pertumbuhan jamur pada bahan
tersebut. Karena hal-hal tersebut maka bahan isolasi sebaiknya dilapisi dengan anti jamur,
antara lain : paranitro phenol, pentha chloro phenol.
PUTU RUSDI ARIAWAN 16
f. Resistansi Radiasi
Pemakaian bahan isolasi sering dipengaruhi bermacam-macam energy radiasi.
Pengaruh ini dapat mengubah sifat bahan isolasi. Radiasi sinar matahari mempengaruhi umur
bahan isolasi, khusunya jika bahan tersebut bersinggungan langsung dengan oksigen. Sinar
ultraviolet dapat merusak beberapa bahan organik yaitu menurunnya kekuatan mekanik,
elastisitas dan retak – retak.
Sinar X, sinar – sinar dari reactor nuklir, misalnya : sinar o. | dan ¸ partikel – pertikel
radio isotop, mempunyai pengaruh sangat besar pada bahan isolasi. Bahan polimer organik
akan menjadi lebih keras dan akan menjadi lebih tahan terhadap panas jika terkena sinar –
sinar tersebut, misalnya : politetraflouroetilen. Kemampuan suatu bahan isolasi untuk
menahan pengaruh radiasi tanpa mengalami kerusakan disebut resistansi radiasi.
2.3.4 Sifat – Sifat Mekanis
Kekuatan mekanis bahan-bahan listrik maupun logam adalah kemampuan menahan
beban dari dalam atau luar, pada prakteknya adalah beban tarik dan geser. Jika suatu bahan
dengan penampang A cm2 ditarik dengan suatu gaya tarik yang bertambah secara perlahan,
maka bahan tersebut akan putus pada gaya tarik tertentu sebesar Pt kg.
Dalam hal ini stres atau tegangan tarik bahan o t adalah seperti ditunjukkan pada
persamaan berikut :
o t =
S
Pt
Penambahan panjang bahan sebelum putus A1 dibagi dengan panjang mula-mula 1
disebut penambahan panjang relatif bahan atau strain c adalah :
c = % 100
1
x
l
A
Setelah titik Y penambahan panjang tanpa memerlukan penambahan gaya atau mungkin
hanya kecil saja. Gejala ini terjadi sekitar 5 hingga 7 % dari panjang mula-mula 1. Titik
Y disebut titik lumer (yield point) suatu bahan, sedangkan tegangan yang menjadikan
bahan lumer disebut tegangan lumer (yield stress) yang besarnya adalah :
o y =
S
Py
PUTU RUSDI ARIAWAN 17
Py : adalah gaya yang menyebabkan bahan menyerah (kg)
S : adalah luas penampang mula-mula (m2)
1. Pengujian derajat kekerasan
Pengujian derajat kekerasan dapat dilakukan dengan penggoresan atau
penumbuhan dengan benda lancip terhadap bahan yang dapat mengalami deformasi
plastis yaitu logam dan plastik. Derajat kekerasan suatu bahan perlu diperhatikan
terutama untuk gawai yang bergesekan seperti : mata bor, komutator, bantalan. Pengujian
derajat kekerasan untuk keramik dilakukan dengan penggoresan. Satuan derajat
kekerasan bahan dengan penggoresan
adalah Moh dengan intan sebagai bahan terkeras nilainya 10 dan kapur sebagai yang
terlunak dengan nilai 1 Sedangkan untuk mengukur derajat kekerasan berdasarkan
tumbukan digunakan metode-metode : Brinell, Rockwell dan Vickres. Pada cara
pengujian dengan metode Brinell, sebuah bola baja dengan diameter 10 mm dan sudah
diperkeras, ditekankan ke permukaan bahan yang diuji dengan beban statis sehingga
menimbulkan lekukan pada permukaan bahan yang diuji. Derajat kekerasan dapat
dihitung dengan persamaan :
kekerasan =
) (
) (
2
mm lekukan bidang Luas
kg diberikan yang gaya
Derajat kekerasannya dinyatakan dengan satuan Brinell (HG). Pada pengujian
derajat kekerasan metode Vickres menggunakan intan yang berbentuk piramid.
Pengujian dengan cara ini lebih menguntungkan dibanding dengan metode Brinell,
karena pada intan tidak akan terjadi deformasi plastik. Untuk menentukan derajat
kekerasannya digunakan persamaan di atas. Yang membedakan di sini, lekukannya tidak
berbentuk bidang bola. Pada pengujian dengan metode Vickres satuannya adalah Vickres
(HD).
Pada pengujian kekerasan dengan metode Rockwell hasil pengujiannya dapat
langsung terbaca pada alat pengujian. Sehingga pengujian dengan metode ini lebih
mudah dan cepat. Mata penumbuk yang digunakan adalah intan berbentuk kerucut untuk
bahan yang keras atau bola baja jika bahan yang diuji lunak.
PUTU RUSDI ARIAWAN 18
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Adapun simpulan yang didapat dari hasil pembahasan diatas adalah sebagai
berikut :
1. Bahan isolasi merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan bagian-bagian
yang bertegangan atau bagian-bagian yang aktif. Bahan isolasi merupakan suatu
peralatan yang digunakan sebagai pembatas dan pengaman pada peralatan listrik
yang mempunyai kekuatan listrik yang cukup untuk menjamin sistem keselamatan
yang diperlukan pada saat peralatan listrik tersebut beroperasi maupun tidak
beroperasi.
2. Adapun sifat-sifat dari bahan isolasi tersebut adalah :
a) Sifat kelistrikan yang meliputi : resistivitas, permitivitas, sudut kerugian
dielektrik
b) Sifat terhadap panas
c) Sifat fisis dan kimia
d) Sifat mekanis
3. Ada 3 jenis bahan isolasi listrik yaitu : bahan gas, bahan cair, dan bahan padat.
3.2 Saran
Bahan isolasi merupakan bahan listrik yang sering digunakan dan berguna bagi
masyarakat. Yang perlu kita lakukan sebagai generasi muda adalah meningkatkan
pengetahuan kita mengenai bahan isolasi baik yang terbuat dari gas, cair, maupun padat.
Dan diperlukan juga pengembangan dan riset yang lebih lanjut mengenai bahan isolasi
supaya ditemukan lagi bahan isolasi yang lebih bagus dan efektif.
PUTU RUSDI ARIAWAN
DAFTAR PUSTAKA
Muhaimin. 1993. Bahan-Bahan Listrik Untuk Politeknik. Jakarta : PT Pradnya
Paramita.
2007. Energi. Diakses dari http://www.elektroindonesia.com. Tanggal 11 Juli
2007, 09:34.
John Vernon, 1979, Introduction to Engineering Materiual, English Leanguage
Book, Society & Mac Millan, London
Herman Polack, 1981, Material Science and Metalurgy, 3rd Edition, Reston
Publishing Company, Virginia.
PUTU RUSDI ARIAWAN
BIODATA PENULIS
Nama : Putu Rusdi Ariawan
TTL : Denpasar. 19 April 1990
Agama : Hindu
Mahasiswa Teknik Elektro Unv. Udayana
Email : turusdi.info@gmail.com
www.facebook.com/turusdi

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->