P. 1
Wudhu' 18-06-2010

Wudhu' 18-06-2010

|Views: 373|Likes:
Published by martakurniawan
Penjelasan A-Z tentang Wudhu
Penjelasan A-Z tentang Wudhu

More info:

Published by: martakurniawan on Jun 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/08/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Wudhu’ ( ) adalah sebuah sunnah (petunjuk) yang berhukum wajib, ketika seseorang mau menegakkan sholat. Sunnah ini banyak dilalaikan oleh kaum muslimin pada hari ini sehingga terkadang kita tersenyum heran saat melihat ada sebagian diantara mereka yang berwudhu‟ seperti anak-anak kecil, tak karuan dan asal-asalan. Mereka mengira bahwa wudhu itu hanya sekedar membasuh dan mengusap anggota badan dalam wudhu‟. Semua ini terjadi karena kejahilan tentang agama, taqlid buta kepada orang, dan kurangnya semangat dalam mempelajari Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Banyak diantara kita lebih bersemangat mempelajari dan mengkaji masalah dunia, bahkan ahli dan pakar di dalamnya. Tiba giliran mempelajari agama, dan mengkajinya, banyak diantara kita malas dan menjauh, sebab tak ada keuntungan duniawinya. Bahkan terkadang menuduh orang yang belajar agama sebagai orang kolot, dan terbelakang. Ini tentunya adalah cara pandang yang keliru. Na‟udzu billahi min dzalik. Para pembaca yang budiman, demi menghilangkan kejahilan dan keraguan kita tentang cara berwudhu‟, maka ada baiknya kami mengajak anda berkeliling menikmati dan memperhatikan hadits-hadits Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang menjelaskan tata cara dan kaifiat wudhu yang benar. Karena pembahasan wudhu‟ ini agak panjang, maka –insya‟ Allah- kami akan menurunkan pembahasan ini secara musalsal (berseri).

DEFINISI DAN BATASAN WUDHU’
Bila menilik kitab-kitab dan manuskripsi klasik dan kontemporer para ulama kita, maka anda akan menjumpai bahwa para ahli ilmu telah membahas definisi dan batasan wudhu‟ ( ) dari sisi bahasa maupun istilah dalam syara‟.

Pengertian Secara Bahasa
Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy -rahimahullah- (Seorang ahli bahasa) menjelaskan bahwa jika dikatakan wadhu‟ ( ), maka yang dimaksud adalah air yang digunakan berwudhu. Bila dikatakan wudhu‟ ( ), maka yang diinginkan disitu adalah perbuatannya. Jadi, wudhu adalah perbuatan, sedang wadhu‟ adalah air wudhu‟. [Lihat An-Nihayah fi Ghoribil Hadits (5/428)] Al-Hafizh Ibnu Hajar Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, "Kata wudhu‟ terambil dari kata al-wadho‟ah/kesucian ( ). Wudhu disebut demikian, karena orang yang sholat membersihkan diri dengannya. Akhirnya, ia menjadi orang yang suci". [Lihat Fathul Bariy (1/306)]

Pengertian Secara Syari’at
Adapun makna wudhu‟ menurut tinjauan syari‟at, kata Syaikh Sholih Ibnu Ghonim AsSadlan -hafizhohullah-,

"Makna wudhu‟ adalah menggunakan air yang suci lagi menyucikan pada anggota-anggota badan yang empat (wajah, tangan, kepala, dan kaki) berdasarkan tata cara yang khusus menurut syari‟at". [Lihat Risalah fi Al-Fiqh Al-Muyassar (hal. 19)] untuk mensucikan badan dari hadats kecil.

HIKMAH WUDHU’
1. Syari‟at wudhu‟ mengandung hikmah yang amat dalam. Diantara hikmah wudhu‟, seorang dibimbing agar ia memulai aktifitas ibadah dan kehidupannya dengan kesucian dan keindahan. Sebab wudhu itu sebenarnya bermakna keindahan, dan kesucian [Lihat Ash-Shihhah fil Lughoh (2/282) karya Al-Jauhariy] 2. Wudhu‟ ( ‫ ) ال و ضوء‬adalah sebuah syari‟at kesucian yang Allah -Azza wa Jalla- tetapkan kepada kaum muslimin sebagai pendahuluan bagi sholat dan ibadah lainnya. Di dalamnya terkandung sebuah hikmah yang mengisyaratkan kepada kita bahwa hendaknya seorang muslim memulai ibadah dan kehidupannya dengan kesucian lahir dan batin. Sebab asal kata ini sendiri berasal dari kata yang mengandung makna kebersihan dan keindahan ( ‫ ) ال ح سن وال نظاف ة‬sebagaimana yang dijelaskan para ahli bahasa Arab. [Lihat AnNihayah (5/428), dan Ash-Shihhah (2/282)]

KEUTAMAAN WUDHU’
Syari‟at Kesucian ini mengumpulkan banyak hikmah, faedah, dan fadhilah (keutamaan) yang menjelaskan urgensi dan kedudukannya di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Sebab suatu amalan jika memiliki banyak faedah dan fadhilah, maka tentunya karena memiliki makanah aliyah (kedudukan tinggi). Wudhu‟ disyari‟atkan bukan hanya ketika kita hendak beribadah, bahkan juga disyari‟atkan dalam seluruh kondisi. Oleh karena itu, seorang muslim dianjurkan agar selalu berada dalam kondisi bersuci (wudhu‟) sebagaimana yang dahulu yang dilazimi oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya yang mulia. Mereka senantiasa berwudhu, baik dalam kondisi senang atau dalam kondisi susah dan kurang menyenangkan (seperti, saat musim hujan dan musim dingin). Kebiasaan berwudhu‟ ini butuh kepada kesabaran tinggi, sebab kita terkadang terserang perasaan malas. Perasaan malas ini akan hilang –Insya Allahsaat kita mengetahui keutamaan wudhu‟. Pembaca yang budiman, keutamaan-keutamaan wudhu‟ kali ini kami akan tuangkan di hadapan kalian agar menjadi penyemangat dan penggerak motor semangat yang selama ini dingin dan tak tergerak. Diantara keutamaan-keutamaan wudhu‟ yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah shohihah dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- :

1. Syarat Memasuki Sholat
Seorang ketika hendak memasuki sebuah rumah atau gedung, maka ia akan melewati pintupintu yang ada padanya. Pintu ini biasanya tak bisa dilewati, kecuali seseorang memiliki kunci untuk membuka pintu-pintu itu. Sebelum seseorang masuk ke dalam rumah tersebut, maka ada syarat yang harus dipenuhi. Demikianlah perumpamaan wudhu‟ bagi sholat; seorang tak mungkin akan masuk dalam sebuah sholat, kecuali ia memenuhi syarat-syarat sholat, seperti wudhu‟. Oleh karena itu, Allah -Azza wa Jalla- berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki". (QS. Al-Maa’idah: 6) Jadi, jika seseorang hendak sholat, maka syaratnya harus berwudhu’ sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah -Azza wa Jalla- dalam ayat ini dan diterangkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam sunnahnya. Bila seorang yang masuk dalam sholat, tanpa wudhu‟, maka sholatnya tak akan diterima, bahkan tak sah, sebab wudhu‟ adalah syarat sahnya wudhu‟, dan tercapainya pahala sholat. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Tak akan diterima sholatnya orang yang ber-hadats sampai ia berwudhu‟" . [HR. AlBukhoriy dalam Shohih-nya (135 & 6954), dan Muslim dalam Shohih-nya (536) dari Abu Hurairah]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini, "Hadits ini dijadikan dalil tentang batalnya sholat disebabkan oleh hadats (seperti, kentut, buang air, junub dan lainnya), baik hadats itu keluar karena pilihan (sadar), maupun terpaksa". [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (1/309), tahqiq Ali Asy-Syibl, cet. Darus Salam, 1421 H] Demikian pula ijma‟ (kesepakatan) para „ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan kecuali dengan berwudhu‟ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan wudhu‟ tersebut (Al Ausath 1/107). Dan disunnahkan berwudhu‟ setiap kali akan sholat meskipun wudhu‟ yang sebelumnya belum batal. Nabi -alaihishshalatu wassalam- berwudhu setiap kali mau shalat (HR. AlBukhari dan Imam Empat). Beliau bersabda, “Seandainya saya tidak menyusahkan umatku niscaya saya akan memerintahkan mereka untuk berwudhu setiap kali mau shalat, dan bersama wudhu ada bersiwak.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Al-Muntaqa)

2. Penghapus Dosa Kecil & Pengangkat Derajat
Perlu kita sadari, bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah subhanahu wata‟ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) mensifati manusia dengan sifat yang sering lalai dan bodoh, sehingga sering terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata‟ala (artinya): “Sesungguhnya manusia itu amat aniaya (zhalim) dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72) Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin Malik:

“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ad Darimi) Akan tetapi, dengan rahmat Allah subhanahu wata‟ala yang amat luas, Allah subhanahu wata‟ala memberikan solusi yang mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa diantaranya dengan wudhu‟. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu‟ maka ia akan bersih dari noda-noda dosa tersebut. Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu‟ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu‟ atau bersama akhir tetesan air wudhu‟. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu‟ atau bersama akhir tetesan air wudhu‟. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu‟ atau

bersama tetesan akhir air wudhu‟, hingga ia selesai dari wudhu‟nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim no. 244). Wudhu adalah amalan ringan, tapi pengaruhnya ajaib dan luar biasa. Selain menghapuskan dosa kecil, wudhu‟ juga mengangkat derajat dan kedudukan seseorang dalam surga. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu (amalan) yang dengannya Allah menghapuskan dosa-dosa, dan mengangkat derajat-derajat?" Mereka berkata, "Mau, wahai Rasulullah!!" Beliau bersabda, "(Amalan itu) adalah menyempurnakan wudhu’ di waktu yang tak menyenangkan (seperti pada keadaan yang sangat dingin, pent.), banyaknya langkah menuju masjid 1 , dan menunggu sholat setelah menunaikan sholat 2 . Itulah ribath (pos penjagaan) 3 ". [HR. Muslim (251;586)] Abul Hasan As-Sindiy -rahimahullah- berkata saat menjelaskan amalan-amalan yang terdapat dalam hadits ini, "Amalan-amalan ini akan menutup pintu-pintu setan dari dirinya, menahan jiwanya dari nafsu syahwatnya, permusuhan jiwa, dan setan sebagaimana hal ini tak lagi samar. Inilah jihad akbar (besar) yang terdapat pada dirinya. Jadi, setan adalah musuh yang paling berat baginya". [Lihat Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa'iy (1/114)] Dari Utsman bin Affan wasallam- bersabda: dia berkata: Rasulullah -shallallahu „alaihi

“Barangsiapa yang berwudhu lalu membaguskan wudhunya 4 , niscaya kesalahankesalahannya keluar dari badannya hingga keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim no. 245) Dari Utsman bin Affan wassalam- bahwa beliau mendengar Nabi -alaihishshalatu bersabda:

1

Setiap langkah kakinya ke masjid akan dihitung sebagai amalan sunnah. Demikian pula shalat (sunnah wudhu) yang dia lakukan setelahnya. Karenanya disunnahkan untuk berjalan kaki ke masjid selama masih memungkinkan dan tidak menaiki kendaraan, demikian pula disunnahkan untuk mengerjakan shalat sunnah wudhu 2 Orang yang berwudhu dalam keadaan dingin yang sangat akan diangkat derajatnya oleh Allah dihapuskan dosa-dosanya dan pahalanya bagaikan dia tengah berjihad di jalan Allah. Pahala seperti ini juga didapatkan oleh orang setelah dia mengerjakan shalat dia tidak pulang ke rumahnya akan tetapi dia menunggu shalat berikutnya di masjid. Karenanya disunnahkan untuk berdiam di masjid -selama memungkinkan- untuk menunggu shalat berikutnya atau melakukan amalan yang menjadi wasilah kepadanya, misalnya mengadakan pengajian antara maghrib dan isya agar para jamaah tidak pulang tapi bisa mengikuti pengajian tentunya disertai dengan niat menunggu shalat isya 3 Ribath adalah amalan berjaga di daerah perbatasan antara daerah kaum muslimin dengan daerah musuh. Maksudnya pahalanya disamakan dengan pahala orang yang melakukan ribath. 4 Maksud memperbaiki wudhu adalah mengerjakannya secara sempurna (mencakup rukun, wajib, dan sunnah wudhu) sesuai dengan petunjuk Nabi -alaihishshalatu wassalam-.

“Barangsiapa berwudhu demikian niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sedangkan shalat dan berjalannya dia ke masjid adalah dihitung sebagai amalan sunnah.” (HR. Muslim no. 228) Jadi, seorang yang melazimi amalan-amalan tersebut dianggap telah melakukan pertahanan untuk menutup pintu-pintu setan. Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari setan, maka hendaknya ia melazimi wudhu‟, menghadiri sholat jama‟ah, dan bersabar menunggu sholat jama‟ah lainnya.

3. Tanda Pengikut Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengabarkan kepada kita bahwa beliau akan mengenali ummatnya di Padang Mahsyar dengan adanya cahaya pada anggota tubuh mereka, karena pengaruh wudhu‟ mereka ketika di dunia.

"Perhiasan (cahaya) seorang mukmin akan mencapai tempat yang dicapai oleh wudhu‟nya". [Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Tablugh Al-Hilyah haits Yablugh Al-Wudhu' (585)] Dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu- berkata,

"Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mendatangi pekuburan seraya bersabda, "Semoga keselamatan bagi kalian wahai rumah kaum mukminin. Aku sangat ingin melihat saudara-saudara kami". Mereka (para sahabat) berkata, "Bukankah kami adalah saudarasaudaramu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Kalian adalah para sahabatku. Sedang saudara kami adalah orang-orang yang belum datang berikutnya". Mereka berkata, "Bagaimana anda mengenal orang-orang yang belum datang berikutnya dari kalangan umatmu wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Bagaimana pandanganmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang putih wajah, dan kakinya diantara kuda yang hitam pekat. Bukankah ia bisa mengenal kudanya". Mereka berkata, "Betul, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Sesungguhnya mereka (umat beliau) akan datang dalam keadaan putih wajah dan kakinya karena wudhu‟. Sedang aku akan mendahului mereka menuju telaga. Ingatlah, sungguh akan terusir beberapa orang dari telagaku sebagaimana onta tersesat terusir. Aku memanggil mereka, "Ingat, kemarilah!!" Lalu dikatakan (kepadaku), "Sesungguhnya mereka melakukan perubahan setelahmu". Lalu aku katakan, "Semoga Allah menjauhkan mereka". [HR. Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Istihbab Itholah Al-Ghurroh (583)] Seorang muslim akan dikenali oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan cahaya pada wajah dan tangannya. Maka hendaknya setiap orang diantara kita menjaga cahaya ini dengan menjaga wudhu, dan sholat. Abdur Ra’uf Al-Munawiy -rahimahullah- berkata, "Barangsiapa yang lebih banyak sujudnya atau wudhu‟nya di dunia, maka wajahnya nanti

akan lebih bercahaya dan lebih berseri dibandingkan selain dirinya. Maka mereka (kaum mukminin) nanti disana akan bertingkat-tingkat sesuai besarnya cahaya". [Lihat Faidhul Qodir (2/232)] Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad Nabi shalallahu „alaihi wasallam akan terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang nampak pada anggota wudhu‟. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu‟.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan Muslim no. 246) dalam riwayat yang lain: Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kudakuda yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu‟ mereka.” (HR. Mslim no. 249) Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:

“Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah, tangan, dan kaki yang bercahaya 5 karena bekas-bekas wudhu mereka. Karenanya barangsiapa di antara kalian yang bisa memperpanjang cahayanya 6 maka hendaklah dia lakukan.” (HR. AlBukhari no. 136 dan Muslim no. 246) Syaikhul Islam Ibnu Taimiah menyatakan bahwa cahaya ini hanya dimiliki karena wudhu merupakan keistimewaan umat ini yang oleh umat Muhammad shallallahu „alaihi wasallam tidak diberikan kepada umat selainnya. Walaupun dalam hal ini -yakni: Apakah wudhu ini disyariatkan pada umat sebelumnya atau tidak- ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Adapun bagi kaum muslimin yang meninggal dalam keadaan belum sempat berwudhu maka dia tidak akan mendapatkan cahaya ini, hanya saja dia tetap akan dikenali oleh Nabi alaihishshalatu wassalam- sebagai umat beliau akan tetapi dengan tanda yang lain.

4. Separuh Iman
Seorang tak akan meraih pahala sholat, selain ia melakukan wudhu‟, lalu mengerjakan sholat. Jadi, wudhu‟ ibaratnya separuh dari iman (yakni, sholat). Ini menunjukkan kepada kita

5

Asal makna ghurrah adalah bulu putih pada kepala kuda yang berbulu hitam, dan makna at-tahjil adalah bulu putih pada kaki-kaki kuda yang berbulu hitam 6 Makna memperpanjang wudhu adalah mengusahakan agar dirinya selalu di atas thaharah dengan cara selalu berwudhu setiap kali wudhunya batal walaupun tidak sedang akan shalat. Bukan maknanya menambah bagian tubuh yang dicuci melebihi apa yang ditetapkan oleh syariat

tentang ketinggian nilai dan manzilah wudhu‟ di sisi Allah -Azza wa Jalla-. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Bersuci (wudhu‟) adalah separuh iman. Alhamdulillah akan memenuhi mizan (timbangan). Subhanallah wal hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi. Sholat adalah cahaya. Shodaqoh adalah tanda. Kesabaran adalah sinar. Al-Qur‟an adalah hujjah (pembela) bagimu atau hujatan atasmu. Setiap orang keluar di waktu pagi; maka ada yang menjual dirinya, lalu membebaskannya atau membinasakannya". [Muslim dalam Ath-Thoharoh, bab: Fadhl Ath-Thoharoh (533)] Al-Hafizh Ibnu Rojab -rahimahullah- berkata, "Jika wudhu‟ bersama dua kalimat syahadat mengharuskan terbukanya pintu surga, maka wudhu menjadi separuh iman kepada Allah dan Rasul-Nya menurut tinjauan ini. Juga wudhu‟ termasuk cabang-cabang keimanan yang tersembunyi yang tak akan dilazimi, kecuali seorang mukmin". [Lihat Iqozhul Himam (hal. 329)]

5. Jalan Menuju Surga
Jalan-jalan surga telah dimudahkan oleh Allah -Azza wa Jalla- bagi orang yang Allah berikan taufiq dan hidayah. Perhatikan Bilal bin Robah -radhiyallahu anhu-, beliau mendapatkan kabar gembira bahwa ia termasuk penduduk surga, sebab ia telah berusaha menapaki sebuah jalan diantara jalan-jalan surga. Dengarkan kisahnya dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda kepada Bilal ketika sholat Fajar, "Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan yang pernah engkau amalkan dalam Islam, karena sungguh aku telah mendengarkan detak kedua sandalmu di depanku dalam surga". Bila berkata, "Aku tidaklah mengamalkan amalan yang paling aku harapkan di sisiku. Cuma saya tidaklah bersuci di waktu malam atau siang, kecuali aku sholat bersama wudhu‟ itu sebagaimana yang telah ditetapkan bagiku". [HR. AlBukhoriy dalam Al-Jum'ah, Bab: Fadhl Ath-Thoharoh fil Lail wan Nahar (1149), dan Muslim (6274)] Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa berwudhu‟ lalu sholat sunnah setelahnya merupakan amalan yang berpahala besar. Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata, "Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk melakukan sholat usai berwudhu‟ agar wudhu tidak kosong (terlepas) dari maksudnya". [Lihat Fathul Bari (4/45)]

6. Pelepas Ikatan Setan

Setan senantiasa mengintai dan mengawasi kita. Bahkan ia selalu mencari jalan untuk menjauhkan kita dari kebaikan yang telah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Diantara makar setan, ia membuat buhul pada seorang diantara kita saat kita tidur agar kita berat bangun beribadah. Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk seorang diantara kalian jika ia tidur. Setan akan memukul setiap ikatan itu (seraya membisikkan), "Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah". Jika ia bangun seraya menyebut Allah (berdzikir), maka terlepaslah sebuah ikatan. Jika ia berwudhu‟, maka sebuah ikatan yang lain terlepas. Jika ia sholat, maka sebuah ikatan akan terlepas lagi. Lantaran itu, ia akan menjadi bersemangat lagi baik jiwanya. Jika tidak demikian, maka ia akan jelek jiwanya lagi malas". [HR. Al-Bukhoriy (1142 & 3269) dan Muslim (1816)] Al-Qodhi Abul Walid Sulaiman bin Kholaf Al-Bajiy -rahimahullah- berkata, "Nabi Shallallahu alaihi wa sallam- memaksudkan dengan hadits ini bahwa dengan dzikrullah, wudhu‟, dan sholat, maka semua ikatan (buhul) setan akan terlepas, dan seorang muslim akan selamat dari makar setan, dan keburukan buhul-buhulnya. Lantaran itu, ia akan bersemangat di waktu pagi, (sedang ia telah terlepas darinya buhul-buhul yang telah membuat dirinya malas), dan jiwanya menjadi baik dengan sebab amalan kebajikan yang ia lakukan semalam". [Lihat Al-Muntaqo (1/434) karya Al-Bajiy] Para pembaca budiman, inilah beberapa buah petikan fadhilah dan keutamaan wudhu. Semoga menjadi pendorong bagi kita semua untuk melazimi wudhu‟ demi meraih keutamaann-keutamaan tersebut di atas. Kami memohon kepada Allah agar Dia menjadikan kita sebagai ummat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang dikenali dengan cahaya wudhu‟.

Syarat-syarat wudhu
Syarat-syarat wudhu ada delapan :

1. Islam,
Berdasarkan pembuka ayat wudhu dengan menggunakan seruan yang mulia ini,

“Wahai orang-orang yang beriman.” Allah mengarahkan pembicaraan kepada orang yang disifati dengan keimanan; karena dialah yang mau mendengarkan perintah¬-perintah Allah dan mengambil manfaat dari padanya. Karena inilah Nabi Shalallahu „alahi wa sallam bersabda : “Dan tidaklah menjaga wudhu kecuali orang yang beriman. (Dikeluarkan dari hadits Tsauban oleh: Ahmad (22429) [5/355]; Ibnu Majah (278) [1/178] dan dikeluarkan pula oleh imam yang lainnya dari shahabat lain.)

2. Berakal, 3. Tamyiz
Maka wudhu tidak sah apabila dilakukan oleh orang kafir, orang gila, anak kecil yang belum mumayyiz

4. Niat;
Niat, berdasarkan sabda Nabi yang masyhur, “Sesungguhnya setiap amalan -syah atau tidaknya- tergantung dengan niat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Berniat untuk berwudhu di dalam hati dengan tidak mengucapkannya. Karena Nabi Shallallahu „alaihi wa sallam tidak pernah melafadzkan niatnya baik di dalam wudhu maupun shalatnya, dan juga seluruh ibadahnya. Begitu pula karena Allah Subhanahu wa Ta‟ala mengetahui apa yang ada di dalam hati sehingga tidak ada perlunya untuk diberitakan lewat lisannya. Maka wudhu tidak sah apabila dilakukan oleh orang yang tidak berniat untuk berwudhu; seperti berwudhu untuk mendinginkan anggota badan atau membasuh anggota wudhu untuk menghilangkan najis atau kotoran.

5. Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang suci sebagaimana yang telah lewat.
Apabila air tersebut najis, maka tidak memenuhi syarat.

6. Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang mubah (boleh untuk dipergunakan).

Apabila air tersebut adalah hasil rampasan atau memperolehnya dengan cara yang tidak syar‟i, maka tidak sah wudhunya menggunakan air tersebut.

7. Wudhu disyaratkan untuk didahului dengan istinja‟ dan istijmar
sebagaimana yang telah lewat perinciannya.

8. Wudhu disyaratkan juga untuk menghilangkan hal-hal yang menghalangi sampainya air kekulit.
Maka orang yang berwudhu harus menghilangkan apa yang ada pada anggota wudhu, seperti: tanah, pasta, lilin, kotoran yang menumpuk atau cat yang tebal; agar air bisa mengalir mengenai kulit anggota wudhu secara langsung tanpa adanya penghalang

MEMBERSIHKAN NAJIS
Sebelum berwudhu‟ hendaklah terlebih dahulu membersihkan seluruh najis yang ada pada badannya, pakaiannya, atau lingkungan sekitarnya. Asal pembersihan terhadap perkara najis adalah dengan menggunakan air. Allah berfirman: “Dia menurunkan kepada kalian air dari langit (hujan) agar Dia mensucikan kalian dengannya…”. ( Al-Anfal: 11) ”Dan Kami menurunkan air dari langit sebagai pensuci” . (Al-Furqan: 48) Pembersihan najis dengan air ini dapat berpindah kepada sarana lain, seperti hadits Abu Said Al Khudri yang menyebutkan sabda Nabi pembersihan najis pada sandal dengan digosokkan ke tanah atau hadits tentang istijmar (bersuci dengan menggunakan batu). Oleh karena itu, kita lihat pembersihan beberapa perkara najis yang datang penjelasannya di dalam hadits Rasulullah.

1. Kencing
Ketika ada seorang A„rabi (Arab gunung) kencing di salah satu sudut masjid. Para shahabat yang ada di tempat tersebut berteriak mencerca orang tersebut, namun Rasulullah melarang mereka. Rasulullah berbuat demikian dan setelahnya beliau bersabda : “Tuangkan di atas kencingnya itu satu timba penuh yang berisi air1…”. (HR. Bukhari no. 220, 6128 dan Muslim no. 285) Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa tanah yang terkena najis dapat disucikan dengan menuangkan air di atasnya dan tidak disyaratkan tanah itu harus digali. Ini merupakan pendapat kami dan jumhur ulama”. (Syarah Muslim, 3/190191). Ibnu Daqiqil Ied rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan, tanah dapat disucikan dari najis dengan menuangkan air yang banyak tanpa harus memindahkan tanah yang terkena najis ke tempat lain. (Ihkamul Ahkam, 1/83). Tanah ini bisa disucikan dengan cara tersebut, sama saja apakah tanah itu lembek atau padat, demikian dikatakan Imam Shan„ani (Subulus Salam, 1/42) Adapun kalau kencing tersebut mengenai pakaian maka dicuci bagian yang terkena najis sebagaimana mencuci sesuatu yang kotor/najis. Tidak seperti perbuatan orang-orang Yahudi yang menggunting pakaian mereka bila terkena kencing, sebagaimana disebutkan haditsnya dalam Shahih Bukhari (no. 226) dan Shahih Muslim (no. 273).

2. Kotoran Manusia
a. Najis Pada Sandal

Rasulullah bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia membalikkan dan melihat sandalnya. Apabila ia melihat ada kotoran manusia padanya, hendaknya digosokkan ke tanah kemudian dipakai untuk shalat.” (HR. Imam Ahmad, 3/20. Hadits ini shahih kata Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al Jami‟ush Shahih 1/526) Dalam hadits di atas, Rasulullah mengajarkan cara membersihkan alas kaki (sandal ataupun sepatu) yang menginjak kotoran yaitu dibersihkan dengan menggosokkannya ke tanah. Ini menunjukkan tanah itu bisa sebagai pensuci dari najis selain air.
Tanah Itu Bisa Sebagai Pensuci Dari Najis Selain Air

Berkata Imam Syaukani rahimahullah : “Dzahir hadits ini menunjukkan tidak ada perbedaan antara berbagai jenis najis, bahkan setiap yang menempel pada sandal yang dianggap sebagai kotoran maka pensuciannya dengan mengusapkannya ke tanah”. (Nailul Authar, 1/76) b. Istinja’ (Bersuci Dari Buang Air Kecil/Besar) i. Dengan menggunakan air ii. Rasulullah juga mengajarkan cara bersuci dari buang air kecil dan buang air besar selain dengan air, yaitu dengan menggunakan batu yang diistilahkan dengan istijmar, sebagaimana datang haditsnya dari Abu Hurairah z bahwasanya Rasulullah bersabda: “Dan siapa yang bersuci dengan menggunakan batu, mengganjilkannya” . (HR. Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278) hendaklah ia

Hal ini biasa dilakukan oleh Rasulullah sebagaimana beliau memerintahkan Abdullah ibnu Mas‟ud z untuk mencari batu (HR Bukhari no.156) dan juga perintah beliau kepada Abu Hurairah untuk mengambil batu yang hendak beliau gunakan untuk bersuci (HR Bukhari no. 155). Kedua riwayat ini mengandung perintah sehingga menunjukkan bahwasanya istijmar bisa dilakukan dalam keadaan apa pun walaupun ada air, karena akan meminta diambilkan air Rasulullah apabila beliau memang ingin bersuci dengan air. Dikatakan pula oleh Al Hafidz ketika menerangkan bab Istinja’ bil Hijarah (bersuci dari buang air besar dan kecil dengan menggunakan batu) bahwa bab ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang berpandangan bahwa istinja‟ hanya khusus menggunakan air. (Fathul Bari 1/321) Hitungan ganjil yang dimaksud dalam hadits ini minimal dengan tiga batu sebagaimana dalam hadits Salman z, di antaranya ia berkata: “Sungguh melarang kami untuk Rasulullah istinja (cebok) dengan menggunakan kurang dari tiga batu”. (HR. Muslim no. 262) Demikian pula pendapat Imam Syafi‟i, Imam Ahmad dan ashabul hadits, bahkan mereka mensyaratkan tidak boleh kurang dari tiga batu agar najis itu bersih. Apabila belum tercapai pembersihan itu hanya dengan tiga batu, maka dia boleh menambahnya sampai bersih, dan dalam hal ini disenangi untuk mengganjilkan jumlah batu tersebut. (Fathul Bari 1/323)

iii. Dibolehkan pula untuk mengganti ketika tidak ada batu dengan selainnya, kecuali tulang dan kotoran (tahi) kering karena telah datang larangan pemakaian keduanya dari Rasulullah . Ini pendapat jumhur ahlul ilmi. (Syarah Muslim 3/157)

3. Wadiy
Pembersihannya hanya dengan mencuci kemaluan dengan air seperti halnya bersuci dari kencing dan buang air besar.

4. Madzi
Ketika „Ali z menyuruh seorang shahabat, Miqdad ibnul Aswad, menanyakan tentang tata cara kepada Rasulullah membersihkan madzi yang mengenai kemaluan. Beliau menjawab: “Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303) Nabi memerintahkan untuk mencuci kemaluan bila keluar madzi. Yang dimaksud dengan mencuci di sini menurut pendapat Imam Syafi`i dan jumhur ulama adalah mencuci bagian yang yang terkena madzi saja (dari kemaluan dan anggota badan lainnya yang terkena) tidak perlu mencuci seluruh kemaluan (Syarah Muslim, 3/213) Ibnu Hazm berkata: “Mewajibkan pencucian kemaluan secara keseluruhan adalah pensyariatan yang tidak ada dalil padanya”. (Al Muhalla,1/107)

5. Darah haid yang mengenai pakaian
Asma‟ bintu Abi Bakr x menceritakan : : “Ya Rasulullah, jika “Seorang wanita bertanya kepada Rasulullah salah seorang dari kami terkena darah haid pada pakaiannya, apa yang bersabda, „Apabila darah haid harus ia lakukan?‟ Maka Rasulullah mengenai pakaian salah seorang dari kalian, hendaknya dia mengeriknya lalu membasuhnya, kemudian ia boleh shalat memakai pakaian tersebut.‟ ” (HR. Bukhari no. 227, 307 dan Muslim no.291 ) Imam Shan„ani mengatakan: “Wajib untuk mencuci pakaian yang terkena darah haid dan bersungguh-sungguh untuk menghilangkan bekasnya berdasarkan apa yang disebutkan dalam hadits dengan dikerik memakai jari, dikucek dengan air dan dicuci untuk menghilangkan bekas darah tersebut. Dan dzahir hadits menunjukkan tidak wajibnya melakukan selain hal tersebut. Kalau masih terlihat bekas darah maka tidak wajib menggosoknya dengan menggunakan benda yang keras/kesat karena tidak disebutkan hal demikian dalam hadits Asma‟ x sementara hadits ini merupakan tempat keterangan dan juga karena datang riwayat pada selain hadits ini dengan lafadz : “Tidak bermasalah bagimu bekas darah tersebut (setelah berusaha menghilangkannya dengan tata cara yang disebutkan)” (Subulus Salam, 1/60) Disenangi mencuci darah haid yang terkena pada pakaian dengan menggunakan air dan daun bidara2 serta dikerik dengan ranting karena hal ini bisa menghilangkan bekas darah dari pakaian tersebut daripada sekedar dicuci dengan air saja3. Demikian dikatakan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (1/141) dengan membawakan hadits Ummu Qais bintu

Mihshan tentang darah haid yang yang bertanya kepada Rasulullah mengenai pakaian. Sedangkan hadits Ummu Qais ini dikatakan oleh Ibnul Qaththan: “Sanadnya benar-benar shahih dan saya tidak mengetahui padanya ada cacat”. (Talkhis Habir, 1/52)

6. Kulit bangkai
Bangkai hewan termasuk perkara najis, demikian pula kulitnya. Oleh karena itu bila kulit bangkai itu hendak dimanfaatkan harus disucikan terlebih dahulu dengan cara disamak. Rasulullah bersabda : “Apabila kulit telah disamak maka itu merupakan pensuciannya” . (HR. Muslim no. 366) Yang dimaksud dengan menyamak adalah menghilangkan bau busuk dan lendir (cairan) yang najis dengan mengunakan benda-benda atau obat-obatan tertentu dan selainnya. Kata Ibrahim An Nakha„i: “Penyamakan adalah segala sesuatu yang mencegah rusaknya kulit.” (Tuhfatul Ahwadzi , 5/327). Berkata Syaikh Abul Qasim sebagaimana dinukil dalam Al Muntaqa Syarah Muwaththa Imam Malik: “Kulit bangkai sebelum disamak itu najis namun setelah disamak menjadi suci dengan kesucian yang khusus”. Dengan penyamakan ini kulit tersebut menjadi suci, luar dan dalamnya, sama saja apakah kulit itu berasal dari hewan yang dimakan dagingnya ataupun tidak. Setelah kulit disamak boleh dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan benda-benda yang kering dan yang cair. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/327)

7. Air liur anjing pada bejana
Nabi bersabda: “Apabila anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian hendaklah ia mencuci bejana tadi sebanyak tujuh kali”. (HR. Bukhari no. 172 dan Muslim no. 279) Dalam riwayat Muslim ada tambahan: “cucian yang pertama dicampur dengan tanah”. Hadits di atas menunjukkan bejana yang dijilat anjing dicuci dengan air sebanyak tujuh kali dan cucian yang pertama dicampur dengan tanah. Kita mengambil riwayat: “cucian yang pertama dicampur dengan tanah”. Sementara di sana ada riwayat-riwayat lainnya, karena riwayat ini lebih kuat dari sisi banyaknya, lebih terjaga dari keganjilan dalam periwayatannya dan juga lebih kuat dari sisi makna, demikian kata Al Hafidz Ibnu Hajar. (Fathul Bari , 1/346) Imam Shan„ani mengatakan: “Riwayat yang menyebutkan pencucian pertama dengan tanah lebih kuat karena banyak yang meriwayatkannya, juga karena dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Yang demikian ini dipakai ketika mentarjih (menguatkan) riwayat-riwayat yang berselisih”. (Subulus Salam, 1/39) Dan pencucian sebanyak tujuh kali ini hukumnya wajib, demikian pendapat Syafi„i, Ahmad dan jumhur ulama. (Aunul Ma„bud, 1/94)

Pembersihan jilatan anjing ini bisa dengan cara menuangkan air ke atas tanah atau menuangkan tanah di atas air atau bisa pula dengan cara mengambil tanah yang telah bercampur dengan air lalu digunakan untuk mencuci bejana tersebut. Adapun sekedar mengusap bekas najis dengan tanah maka tidaklah mencukupi. (Taisirul „Allam, 1/35). Mungkin muncul pertanyaan, apakah tanah bisa digantikan oleh pembersih yang lain seperti sabun/deterjen. Perkara ini diperselisihkan oleh ulama, namun yang kuat adalah tanah tidak bisa digantikan oleh yang lain. Karena apabila telah datang nash yang menunjukkan terhadap makna tertentu dan dimungkinkan makna yang khusus terhadap makna tertentu tersebut maka tidak boleh mengesampingkan ataupun membuang nash tersebut. Demikian dinyatakan oleh Al-Imam Ibnu Daqiqil Ied dalam Ihkamul Ahkam, 1/31. Wallahu ta‟ala a‟lamu bish-shawab.

AIR YANG SUCI LAGI MENYUCIKAN
Ulama berselisih tentang pembagian air, penjelasan lebih lanjut sebagai berikut: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t ketika ditanya tentang pembagian air, beliau menjawab: Yang rajih, air itu terbagi dua, thahur (suci dan mensucikan -red) dan najis. Air yang berubah karena masuknya benda najis maka air itu najis. Sedangkan air yang tidak berubah dengan masuknya benda najis maka air itu suci. Adapun menetapkan jenis air yang ketiga, yaitu air yang thahir (suci tapi tidak mensucikan -red) maka tidak ada asalnya dalam syariat. Dalil dalam hal ini adalah karena tidak adanya dalil. Kalau memang ada dalam syariat pembagian air yang thahir, niscaya akan diketahui dan dipahami dengan hadits-hadits yang menjelaskan. Karena perkara ini sangat dibutuhkan penerangannya dan hal ini bukanlah perkara yang remeh, permasalahannya berkaitan dengan pilihan apakah seseorang bisa menggunakan air tersebut untuk bersuci atau tidak, sehingga ia harus tayammum. (Majmu` Fatawa wa Rasail, Fadlilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/85 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar'ah Al Muslimah, 1/187)

NAJIS YANG DIPERSELISIHKAN
Kesalahpahaman tentang ini najis, dan itu bukan najis banyak kita jumpai di masyarakat. Misalnya, sebagian orang ketika kakinya terluka karena jatuh atau tertusuk paku, maka sertamerta tak mau sholat, karena alasan bahwa ia harus bersihkan dulu darahnya yang ia yakini sebagai najis, padahal bukan najis!! Darah (selain darah haidh, dan nifas), seperti luka yang keluar dari tubuh kita, tidaklah membatalkan wudhu‟, dan bukan pula najis. Selain itu , ada orang yang tak mau bersentuhan dengan orang yang junub (orang yang habis mimpi basah atau habis jimak), dengan dalih orang junub itu najis. Benarkah?? Ikuti pembahasan manis berikut ini:

1. air liur anjing, 2. mani, 3. orang kafir, 4. khamar, dan 5. Darah -selain Haidh, dan Nifas- adalah Suci
Darah yang keluar dari tubuh seseorang bukanlah najis, selain darah haidh, dan nifas. Dahulu kaum muslimin di zaman Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- sering melakukan jihad fi sabilillah, dan terluka oleh sabetan pedang, tusukan panah, dan tombak. Namun mereka tetap sholat dengan memakai pakaian mereka yang berlumuran darah. Ini juga menunjukkan bahwa darah yang keluar tersebut tidaklah membatalkan wudhu‟ dan shalat kita. Jabir bin Abdillah Al-Anshoriy-radhiyallahu „anhu- berkata,

-

-

.
"Kami pernah keluar bersama Rasulullah -Shallallahu „alaihi wa sallam-, yakni waktu Perang Dzatur Riqo. Maka ada seorang sahabat yang membunuh istri seorang musyrikin. Kemudian sang suami bersumpah, "Aku tak akan berhenti (melawan) sampai aku menumpahkan darah sebagian sahabat-sahabat Muhammad". Maka ia pun keluar mengikuti jejak Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam-. Lalu Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- (waktu itu) berhenti pada suatu tempat seraya bersabda, "Siapakah yang mau menjaga kita?. Maka bangkitlah seorang laki-laki dari kalangan Muhajirin, dan seorang dari kalangan Anshor. Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda, "Tetaplah kalian di mulut (gerbang) lembah. Tatkala dua orang itu keluar ke mulut lembah, maka berbaringlah laki-laki muhajirin itu, sedang laki-laki Anshor berdiri melaksanakan sholat. Kemudian datanglah orang musyrik tersebut. Tatkala ia melihat sosok tubuhnya sang Anshor, maka si musyrik tahu bahwa sang Anshor adalah penjaga pasukan. Kemudian si musyrik pun membidiknya dengan panah, dan

mengenai sasaran dengan tepat. Sang Anshor mencabut anak panah itu sampai ia dibidik dengan 3 anak panah, lalu bersujud. Kemudian temannya (sang Muhajirin) tersadar. Tatkala si musyrik tahu bahwa mereka telah mencium keberadaannya, maka ia pun lari. Ketika sang Muhajirin melihat darah pada tubuh sahabat Anshor, maka ia berkata, "Subhanallah, Kenapa engkau tidak mengingatkan aku awal kali ia memanah?" Sang Anshor menjawab, "Aku sedang berada dalam sebuah surat yang sedang kubaca. Maka aku tak senang jika aku memutuskannya". [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (198). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1/1/606)] Al-Allamah Abu Ath-Thoyyib Syamsul Haq Al-Azhim Abadiy-rahimahullah- berkata dalam Aunul Ma’bud (1/231-232), "Hadits ini menunjukkan dengan jelas tentang dua perkara. Pertama, keluarnya darah dari selain dua lubang (dubur & kemaluan) tidaklah membatalkan wudhu‟, baik ia mengalir atau tidak. Itu adalah pendapat kebanyakan ulama‟, sedang itulah yang benar…Kedua, darah luka adalah suci, dimaafkan bagi orang yang terluka. Ini adalah madzhab Malikiyyah, sedang inilah pendapat yang benar. Hadits-hadits telah datang secara mutawatir bahwa para mujahidin fi sabilillah mereka dahulu berjihad, dan merasakan sakitnya luka-luka lebih dari yang tergambar. Tak seorang yang bisa mengingkari adanya aliran darah dari luka-luka mereka, dan terlumurinya pakaian mereka. Sekalipun demikian, mereka tetap sholat dalam kondisi begini, dan tidak ternukil (suatu hadits) dari Rasulullah -Shallallahu „alaihi wa sallam- bahwa beliau memerintahkan mereka untuk melepas baju mereka yang berlumuran darah dalam ….lalu para sahabat kondisi sholat. Sungguh Sa‟d -radhiyallahu „anhu- telah mendiamkan hal itu, terkena musibah pada waktu perang Khondaq. Kemudian tanpa ada dibuatkan kemah baginya dalam masjid. Jadi, ia berada dalam masjid, sedang darahnya mengalir dalam masjid. pengingkaran. Ini tiada Senantiasa darahnya mengalir sampai ia meninggal". lain, kecuali karena Diantara dalil yang menunjukkan bahwa darah luka bukan najis, atsar tentang kondisi Umar bin Al-Khoththob radhiyallahu „anhu- saat menjelang wafat. Al-Miswar bin Makhromah -radhiyallahu „anhu- berkata,
keluar pada luka. sucinya darah yang

"Aku pernah masuk masuk bersama Ibnu Abbas menemui Umar ketika beliau ditikam. Maka kami berkata, "Waktu sholat telah tiba". Umar berkata, "Sesungguhnya tak ada bagian dalam Islam untuk orang yang menyia-nyiakan sholat". Maka beliau sholat, sedang lukanya mengucurkan darah". [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (579), Ad-Daruquthniy dalam As-Sunan (1), dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (37067) dengan sanad yang shohih] Sudah dimaklumi bahwa luka yang mengalir pasti akan melumuri pakaian, dan mustahil Umar -radhiyallahu „anhu- melakukan sesuatu yang tidak boleh menurut syari‟at, lalu para sahabat mendiamkan hal itu, tanpa ada pengingkaran. Ini tiada lain, kecuali karena sucinya darah yang keluar pada luka. [Lihat Aunul Ma'bud (1/232)] Qotadahbin Di’amah As-Sadusiy-rahimahullah- berkata,

"Jika seorang mimisan, lalu belum berhenti, maka ia menutup hidungnya, dan sholat. Jika ia khawatir kalau darahnya masuk ke dalam rongga tubuhnya, maka hendaknya ia (tetap) sholat, walaupun darahnya mengalir, karena Umar sungguh telah sholat, sedang ia mengucurkan darah". [HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (574)]

6. Muntah Manusia adalah Suci
Muntah yang kita keluarkan juga bukan najis, karena tak ada dalil yang menjelaskan bahwa ia adalah najis. Sedangkan hukum asalnya sesuatu adalah suci. Ahli Fiqih Negeri Syam, Syaikh Al-Albaniy-rahimahullah- berkata dalam kitabnya Tamamul Minnah (hal.53) saat membantah Sayyid Sabiq, "Penulis (Sayyid Sabiq) tidak menyebutkan dalil tentang hal itu (yakni, najisnya muntah), kecuali ucapannya yang berbunyi, "disepakati kenajisannya". Ini adalah pengakuan yang terbatalkan. Sungguh Ibnu Hazm telah menyelisihi dalam hal itu ketika beliau menyatakan sucinya muntah seorang muslim. Silakan rujuk Al-Muhalla (1/183). Ini adalah madzhab Al-Imam Asy-Syaukaniy dalam Ad-Duror Al-Bahiyyah, dan Siddiq Hasan Khan dalam syarahnya terhadap terhadap kitab ini (1/18-20) ketika keduanya tidak menyebutkan muntah manusia dalam golongan najis secara muthlaq. Inilah pendapat yang benar". Jadi, muntah manusia bukanlah najis yang membatalkan sholat atau wudhu‟ kita, sebab tak ada dalil yang jelas menunjukkan kenajisannya. Andai ada, maka akan dinukil oleh para ulama‟.

7. Keringat dan Ludah adalah Suci
Orang yang junub dan wanita haidh bukanlah orang yang najis sehingga harus menjauh atau dijauhi sebagaimana keyakinan orang-orang Yahudi. Adapun dalam agama kita, maka Allah dan Rasulullah -Shallallahu „alaihi wa sallam- telah menjelaskan bahwa mereka suci badannya, sekalipun memang mereka diwajibkan mandi junub saat hendak sholat. Dari Abu Hurairah -radhiyallahu „anhu-,

"Bahwa Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- pernah menemuinya pada sebagian jalan-jalan kota Madinah, sedang ia (Abu Hurairah) junub. Maka aku mundur dari Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam. Kemudian Abu Hurairah pergi mandi, lalu ia datang. Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda, "Dimana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?" Ujar Abu Hurairah, "Aku tadi junub, maka aku benci kalau aku menemani Anda duduk, sedang aku tidak suci". Nabi -Shallallahu „alaihi wa sallam- bersabda, "Subhanallah, sesungguhnya seorang muslim tidak najis". [HR. Al-Bukhoriy (283), dan Muslim (372)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, "Al-Bukhoriy berdalil dengan hadits ini tentang sucinya keringat orang yang junub, karena badannya tidak najis disebabkan oleh junub". [Lihat Al-Fath (1/391)] Para ulama’ telah menjelaskan bahwa keringat, dan ludah orang yang junub, haidh, dan nifas adalah suci. Al-Imam Ibnu Abdil Barr-rahimahullah- berkata dalam AlIstidzkar (1/299), "Adapun ludah, dan keringat, maka ia jelas permasalahannya dari semua ulama‟ (bahwa ia suci), baik dari segi penukilan, dan amaliah". Bahkan dalam permasalahan ini sebagian ulama‟ telah menukil adanya ijma‟ dari seluruh ulama‟ kaum muslimin. Al-Imam Al-Ainiy-rahimahullah- berkata, "Diantara konsekuensi kesucian seorang manusia adalah kesucian keringatnya. Tapi tidak khusus keringat seorang muslim. Kondisi yang ada bahwa keringat seorang kafir juga suci". [Lihat Umdah Al-Qori (3/237)] Al-Imam Al-Ainiy-rahimahullah- berkata, "Semua ahlul ilmi (ulama‟) sepakat bahwa keringat orang junub adalah suci. Hal itu (kesucian keringat) telah nyata dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan A‟isyah bahwa mereka menyatakan hal itu (suci)".[Lihat Umdah Al-Qori (3/240)] Muhaddits Negeri India, Al-Imam Al-Mubarokfuri y -rahimahullah- berkata, "Mereka sepakat tentang kesucian keringat orang junub, dan keringat wanita haidh. Dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya menangguhkan mandi bagi orang yang junub, dan menyelesaikan hajatnya".[Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (1/325)] Inilah pernyataan para ahlul ilmi bahwa keringat orang-orang junub, haidh, dan nifas, bukanlah najis, karena badan mereka suci. Maka sesuatu yang keluar dari badan mereka berupa keringat atau ludah juga suci berdasarkan ijma‟. Inilah yang harus kita yakini demi menyelisihi orang-orang Yahudi !!

8. Daging Babi adalah Suci
Ulama berselisih tentang najis atau tidaknya daging babi, namun yang rajih (kuat) daging babi ini suci bukan najis. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan Daud Adz Dhahiri. (Tahqiq fi Ahaditsil Khilaf, 1/70). Mereka yang mengatakan daging babi najis berdalil dengan firman Allah dalam surat AlAn„am ayat 145 : Katakanlah; Dari apa yang diwahyukan kepadaku, aku tidak mendapatkan sesuatu yang diharamkan untuk memakannya kecuali bila makanan itu berupa bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena dia merupakan rijs atau merupakan sebab kefasikan dan keluar dari ketaatan atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah…”. Rijs dalam ayat di atas mereka maknakan dengan najis. Tapi yang benar maknanya adalah haram, karena memang demikian yang ditunjukkan dalam konteks ayat ini, di mana ayat ini datang untuk menjelaskan perkara yang diharamkan untuk memakannya bukan perkara yang najis. Dan sesuatu yang haram tidak berarti ia najis, bahkan terkadang didapatkan sesuatu

yang haram itu suci seperti firman Allah yang menyatakan haramnya menikahi ibu dan yang seterusnya dari ayat ini, sementara seorang ibu tidaklah najis. Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Tsa„labah Al Khasyani yang menunjukkan perintah untuk mencuci bekas bejana ahlul kitab dengan alasan mereka menggunakan bejana tersebut untuk memasak babi dan untuk minum khamar. Maka dalil mereka ini dijawab bahwa perintah mencuci bejana di sini bukan karena najisnya tapi untuk menghilangkan sisa makanan dan minuman yang diharamkan untuk mengkonsumsinya. Demikian dijelaskan oleh Imam Syaukani dalam Sailul Jarrar (1/38).

9. Bekas makanan dan minuman hewan adalah Suci
Berkata Ibnul Mundzir t: “Seluruh yang kami hapal dari ahlul ilmi berpandangan bahwa bekas makanan/minuman hewan yang dimakan dagingnya itu suci. Di antara yang kami hafal berpendapat demikian ini Ats Tsauri, Syafi`i, Ahmad dan Ishaq. Ini merupakan pendapat ahlul Madinah dan ashabur ra‟yi dari ahlul Kufah”. (Al Ausath 1/313). Bahkan dinukilkan dari beliau adanya ijma` (kesepakatan) dalam masalah ini. Adapun hewan yang tidak dimakan dagingnya diperselisihkan oleh ahlul ilmi, namun kebanyakan dari mereka, di antaranya Imam Syafi„i dan Malik, berpendapat suci bekas makanan/ minuman tersebut. Dan pendapat ini yang rajih, dengan alasan bahwasanya secara umum sulit untuk menghindar dari hewan-hewan ini, karena penduduk di pedesaan bejanabejana mereka terbuka sehingga didatangi oleh hewan-hewan liar ini dan minum darinya. Seandainya kita mengharuskan mereka untuk menumpahkan air tersebut dan mewajibkan mereka untuk mencuci bejana bekas jilatan hewan tersebut niscaya hal itu sulit bagi mereka. (Syarhul Mumti‘, 1/396). Pendapat ini berpegang dengan hukum asal, karena sesuatu itu dihukumi suci selama tidak berubah salah satu dari tiga sifatnya (bau, warna, atau rasa).

RUKUN DAN KEWAJIBAN WUDHU’
Dalil sifat wudhu Nabi -alaihishshalatu wassalam-.
Perlu diketahui bahwa dalam mengetahui sifat wudhu Nabi -alaihishshalatu wassalam-, kebanyakan para ulama bersandarkan pada hadits Utsman bin Affan dan hadits Abdullah bin Zaid yang keduanya adalah riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Karena itu ada baiknya kalau kami menyebutkan kedua hadits ini: 1. Hadits Utsman bin Affan

bahwa dia melihat Utsman meminta air wudhu: Lalu dia menuangkan air dari bejana ke dua telapak tangannya lalu mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudhu lalu berkumur-kumur, istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan istintsar (mengeluarkannya). Kemudian dia mencuci wajahnya tiga kali lalu kedua tangan sampai ke siku sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengusap kepalanya lalu mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian setelah selesai dia (Utsman) berkata, “Saya melihat Nabi -alaihishshalatu wassalam- berwudhu seperti yang saya lakukan ini.” (HR. Al-Bukhari no. 164 dan Muslim no. 226) 2. Hadits Abdullah bin Zaid,

Dimana beliau juga memperagakan sifat wudhu Nabi. Dia meminta baskom berisi air lalu menuangkan air ke dua telapak tangannya dan mencuci keduanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia memasukkan tangannya kedalam baskom lalu berkumur-kumur, istinsyaq dan istintsar sebanyak tiga kali dari tiga kali mengambil air. Kemudian dia mengambil air lalu mencuci wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengambil air lalu mencuci tangan sampai sikunya sebanyak dua kali. Kemudian dia mengambil air lalu mengusap kepalanya -ke belakang dan ke depan- sebanyak satu kali. Kemudian dia mencuci kedua kakinya. Dalam sebagian riwayat: Beliau memulai mengusap pada bagian depan kepalanya kemudian mendorong kedua tangannya sampai ke tengkuknya, kemudian kedua tangannya kembali ke bagian depan kepalanya. (HR. Al-Bukhari no. 186 dan Muslim no. 235)

Rukun Wudhu’
Rukun wudhu adalah semua yang diperintahkan oleh syariat dalam berwudhu, yang kalau ditinggalkan -sengaja maupun tidak sengaja- maka akan membatalkan wudhu. Hanya saja

kalau dia sengaja maka dia berdosa. Rukun wudhu meliputi niat dan empat anggota wudhu‟, yaitu semua yang tersebut dalam firman Allah Ta‟ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. Al-Maidah: 6) 1. Mencuci/Membasuh 7 wajah 2. Mencuci kedua tangan sampai kepada dua siku. 3. Mengusap 8 sebagian kepala berlaku umum bagi yang memakai penutup kepala dan selainnya, termasuk telinga. Mengusap telinga sama seperti mengusap kepala, cukup sebagian saja sudah syah. Hanya saja tidak cukup hanya mengusap jilbabnya, tapi harus mengusap telinganya. Wallahu a‟lam 4. Mencuci kedua kaki sampai melewati mata kaki 5. Melakukannya secara berurutan sesuai yang disebutkan dalam Al-Qur‟an (QS. AlMaa‟idah : 6) Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala,

“Hai orang-orang yang beriman , apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki...”(Q.S Al-Maidah:6) Dan Nabi Shalallahu „alahi wa sallam mengurutkan wudhu beliau sebagaimana cara ini dan beliau bersabda : “Ini adalah wudhu yang Allah tidak akan menerima shalat kecuali dengannya.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan lainnya) (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadits Ibnu Umar (419)[1/250];Abu Ya‟la didalam Al Musnad nomor (5598); dan Ad Daruqutni (257)[1/83] 6. Terus menerus ; yaitu membasuh anggota-anggota tersebut secara terus-menerus artinya tidak ada yang memisahkan antara membasuh satu anggota dengan satu anggota sebelumnya. Bahkan berkesinambungan dalam membasuh anggota-anggota dari pertama dan seterusnya menurut kemampuan

Wajib Wudhu’
Wajib wudhu, adalah semua yang diperintahkan oleh syariat dalam berwudhu, tapi tidak disebutkan dalam surah Al-Maidah ayat 6. Hukumnya: Kalau ditinggalkan -sengaja maupun tidak sengaja- maka tidak membatalkan wudhu, tapi kalau dengan sengaja maka pelakunya berdosa. Para ulama fiqih telah menerangkan bahwa wudhu memiliki kewajiban-kewajiban ( ), yakni anggota-anggota badan yang harus dan wajib dibasuh (dicuci). Kewajibankewajiban ( ) tersebut adalah: 1. Mencuci hidung (istinsyaq dan istintsar) 2. Mengusap kepala (termasuk kepala, adalah kedua telinga kita)
7

Mencuci anggota wudhu, Yakni menyiramnya dengan air dimana semua bagian anggota wudhu yang dicuci harus terkena siraman air, kalau tidak maka mencucinya tidak syah dan secara otomatis wudhunya pun tidak syah. 8 Mengusap anggota wudhu, Ini hanya berlaku bagi kepala, yaitu sekedar mengenakan air pada seluruh bagian kepala atau sebagiannya dan tidak perlu menyiramnya

3. Mencuci kedua kaki sampai kepada kedua mata kaki 4. Melakukannya secara berurutan sesuai yang disebutkan dalam Al-Qur‟an (QS. AlMaa‟idah : 6) 5. Dilakukan secara beruntun, tanpa selang waktu yang lama. Inilah enam furudh (kewajiban) bagi wudhu‟ yang harus anda penuhi. Kapan ada salah satunya yang tak terpenuhi, maka wudhu‟ kita tak sah, walaupun berwudhu‟ beribu-ribu kali. Enam perkara ini telah disebutkan oleh Allah dan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.9

Sunnah Wudhu’
Sunnah wudhu, Yaitu semua amalan wudhu yang tidak diperintahkan oleh syariat, tapi hanya sebatas anjuran atau hanya disebutkan bahwa Nabi melakukannya tapi tidak memerintahkannya. Hukumnya: Tidak berdosa meninggalkannya dan tidak pula membatalkan wudhu -sengaja maupun tidak sengaja-. 1. Bersiwak atau Sikat Gigi. 2. Membaca basmalah. Tasmiah ini tidak terdapat dalam ayat wudhu (almaidah ayat 6) dan tidak juga terdapat dalam sifat wudhu nabi yang tersebut dalam hadits Utsman, Abdullah bin Zaid, dan Ali bin Abi Thalib. Karenanya hukum perintah di situ hanya menunjukkan hukum sunnah. wallahu a‟lam. 3. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali dan hukumnya adalah sunnah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin 4. Kemudian berkumur-kumur, dan hukumnya adalah sunnah karena tidak adanya hadits shahih yang memerintahkannya, 5. Ketika mencuci wajah untuk menyelang-nyelingi jenggot 6. Mengusapkan kedua tangan pada bagian depan kepala kemudian mendorong keduanya sampai ke tengkuk kemudian dikembalikan lagi ke kepala bagian depan, seperti tersebut dalam hadits Abdullah bin Zaid di atas. 7. Disunnahkan memulai dengan bagian kanan dalam mencuci semua anggota wudhu yang berjumlah sepasang, kecuali telinga karena keduanya diusap secara bersamaan. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Kalau kalian memakai pakaian dan kalau kalian berwudhu, maka mulailah dengan bagian kanan kalian.” (HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih) Dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata: “Nabi shallallahu „alaihi wasallam suka memulai dari sebelah kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam seluruh urusan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268) 8. Sunnah mencuci dua kali dan tiga kali pada tiap anggota wudhu‟ kecuali ketika mengusap kepala dan telinga. Nabi -alaihishshalatu wassalam- pernah berwudhu dengan mencuci setiap anggota wudhu sebanyak satu kali-satu kali,

9

Penjelasan lebih lanjut akan dibahas pada masing-masing kewajiban wudhu‟

“Dari Ibnu „Abbas beliauberkata, “Nabi shallallahu „alaihi wasallam berwudlu‟ sekalisekali.” (Al-Bukhari no. 153) juga pernah dua kali-dua kali dan juga tiga kali-tiga kali. Dan beliau bersabda, “Barang siapa yang menambah lebih dari itu maka sesungguhnya dia telah berbuat jelek, melampaui batas dan berbuat zhalim.” 9. Membaca do‟a setelah wudhu‟. 10. Berhemat dalam menggunakan air untuk wudhu‟: “Dahulu Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam ketika berwudhu hanya menggunakan air sebanyak satu mud (secakupan 2 telapak tangan).” (Muttafaqun „alaih)

MENCUCI TELAPAK TANGAN
Mencuci Tangan adalah bagian tata cara wudhu‟ yang disunnahkan. Akan tetapi, sebelum itu, ada baiknya dilakukan beberapa perkara yang dianjurkan sebelum berwudhu‟ di antaranya:

1. Didahului dengan bersiwak atau menyikat gigi.
Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam bersabda:

“Sekiranya aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, sungguh akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.” (HR. Ahmad, dan Malik dalam beberapa tempat dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 70) sebelum wudhu, seseorang juga disunnahkan untuk bersiwak. Siwak secara bahasa mempunyai dua makna: Akar kayu yang sudah ma‟ruf (diketahui bersama) yang digunakan untuk membersihkan gigi. Pekerjaan membersihkan gigi. Karenanya semua pekerjaan membersihkan gigi itu dinamakan bersiwak walaupun tidak menggunakan kayu siwak, menurut pendapat yang paling kuat. Maka jika seseorang tidak mempunyai kayu siwak, dia tetap bisa mengerjakan sunnah yang mulia ini dengan cara membersihkan giginya dengan pasta gigi, atau sekedar dengan sikat gigi atau dengan menggosok giginya dengan kain atau jari, dan seterusnya dari bentuk pekerjaan membersihkan gigi. Walaupun demikian, tentu saja lebih utama seseorang itu bersiwak dengan kayu siwak, karena inilah yang datang dalam nukila perbuatan Nabi , bahwa beliau bersiwak dengan menggunakan kayu siwak. Hadits Abu Hurairah tentang siwak di atas juga sebagai sanggahan kepada sebagian ulama yang memakruhkan atau melarang seseorang yang berpuasa untuk bersiwak/menggosok gigi setelah zuhur. Hal itu karena hadits di atas datang dalam bentuk umum „setiap kali wudhu‟, tanpa ada pembedaan dari Nabi -alaihishshalatu wassalamantara sedang puasa dengan tidak puasa. Karenanya tetap disunnahkan seseorang yang berpuasa untuk bersiwak, dan bagi yang menggunakan pasta gigi harus tetap menjaga jangan sampai ada pasta yang tertelan olehnya.

2. Lalu membaca basmalah
Disebutkan dalam hadits yang lainnya, Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta‟ala ketika melakukannya.” (HR. Ahmad dan yang lainnya dan dihasankan oleh Al-Albani rahimahullahu di dalam kitabnya Al-Irwa`) Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsamin rahimahullah ketika ditanya: "Apakah mengucapkan tasmiyah (membaca bismillah) itu wajib di dalam berwudhu?". Beliau menjawab: "Tasmiyah saat mulai berwudhu' tidaklah wajib akan tetapi sunnah karena hadits masalah tasmiyah ini ada pembicaraan di dalamnya (fihi nazhar). Al Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Tidak ada satu hadits pun yang kokoh dalam masalah ini." Padahal telah diketahui oleh semua orang bahwa Al Imam Ahmad termasuk salah seorang imam dalam perkara hadits dan salah seorang yang mencapai puncak hafalan dalam hadits. Apabila beliau mengatakan "tidak ada satu hadits pun kokoh dalam masalah ini.", maka keberadaan hadits tasmiyah menyisakan ganjalan di hati. Dan apabila penetapan terhadap hadits ini ada pemicaraan tentangnya maka tidak boleh seseorang mengharuskan/memaksakan orang lain berpegang dengan sesuatu yang tidak pasti datangnya dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Karena itulah aku memandang tasmiyah dalam wudhu' itu sunnah. Akan tetapi, orang yang menetapkan kokohnya hadits tasmiyah ini wajib untuk berpendapat dengan apa yang dikandung oleh hadits tersebut yaitu bahwa tasmiyah ini wajib karena ucapan nabi "tidak ada wudhu'" yang shahih maknanya adalah menafikan kesempurnaan wudhu'." (Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 116-117) Sumber : www.asysyariah.com

-dan hukumnya adalah sunnah-, dengan dalil sabda beliau -alaihishshalatu wassalam-, “Berwudhulah kalian dengan membaca bismillah.” (Dihasankan oleh Al-Albani)

3. Sunnah Mencuci Tangan
Sebelumnya perlu diketahui, para ulama bersepakat bahwa mencuci kedua tangan hukumnya hanya sunnah, bukan wajib, apalagi rukun wudhu. Maka, asalnya tidak ada masalah, jika tangan tidak dicuci. Dalam artian, walaupun dia tidak mencuci kedua tangannya maka wudhunya tetap syah dan juga dia tidak berdosa. Hanya saja, mencuci kedua tangan termasuk dari kesempurnaan wudhu, sementara Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- telah bersabda dalam hadits Laqith ibnu Shoburoh radhiyallahu anhu-:

"Sempurnakanlah wudhu." (HR. Imam Empat, lihat Bulughul Marom no. 44)

Memutar Cincin Ketika Mencuci
Karenanya, jika air wudhu bisa mengenai seluruh tangannya tanpa melepas cincinnya, maka tidak mengapa tetap dipakai. Tapi jika cincinnya menyebabkan ada kulit jarinya yang tidak terkena air, maka afdholnya (tidak wajib) dia melepaskan cincinnya terlebih dahulu, guna kesempurnaan wudhunya. Wallahul Muwaffiq.

MEMBASUH WAJAH
Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman : “Maka basuhlah mukamu.” (Al-Maidah-6). Allah memerintahkan untuk membasuh seluruh wajah. Maka barang siapa meninggalkan sedikit saja dari wajah, berarti dia tidak menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Termasuk dari wajah adalah hidung dan mulut Perkara lain yang perlu ditoleh ketika berwudhu‟ –khususnya saat membasuh wajah-, berkumur-kumur, dan menghirup air ke dalam hidung dari satu telapak tangan, lalu menyemburkannya. Berkumur dan menghirup air ke hidung merupakan kewajiban yang masuk dalam kewajiban membasuh wajah, sebab mulut dan hidung bagian dari wajah. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

"Jika seorang diantara kalian berwudhu‟, maka hendaknya memasukkan air dalam hidungnya, lalu semburkanlah". [Muslim dalam Ath-Thoharoh (237)] Beliau juga bersabda dalam memerintahkan berkumur,

"Jika engkau berwudhu‟, maka berkumur-kumurlah". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (144). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (1/48/no. 144), cet. Maktabah Al-Ma'arif, 1421 H] Di dalam hadits ini terdapat perintah berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, lalu menyemburkannya. Ini menunjukkan wajibnya kedua perkara itu, sebab segala yang diperintahkan beliau hukumnya wajib, kecuali jika ada dalil lain yang memalingkan hukumnya menjadi mustahab atau mubah, sedang dalam perkara ini tak ada dalil yang memalingkannya. Jadi, hukumnya tetap wajib. Wallahu a‟lam bish showaab. Selanjutnya melakukan istinsyaq dan istintsar dan kedua amalan ini hukumnya adalah wajib. Berdasarkan sabda Nabi -alaihishshalatu wassalam-, “Kalau salah seorang di antara kalian berwudhu maka hendaknya dia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian mengeluarkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Beliau menggabungkan antara kumur-kumur dan istinsyaq dengan cara setengah dari air yang beliau ambil, beliau masukkan ke dalam mulut dan setengahnya lagi ke dalam hidung. Beliau istinsyaq dengan tangan kanan dan istintsar dengan tangan kiri, berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib. Dan beliau memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam istinsyaq kecuali dalam keadaan berpuasa dengan sabdanya, “Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air

ke hidung kecuali kalau kamu dalam keadaan berpuasa.” (HR. Abu Daud dari Laqith bin Saburah)

MENCUCI KEDUA TANGAN
Firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala :

“ Dan tanganmu sampai dengan siku.” (Al-Maidah – 6) Artinya : Beserta siku-siku. Dikarenakan Nabi Shalallahu „alahi wa sallam membasuhkan air dengan memutar pada kedua siku-siku beliau (Dikeluarkan dari hadits Jabir oleh : Daruquthni (268)[1/86]; dan Al-Baihaqi (256)[1/93] Dan didalam hadits lainnya: (Yang) Artinya : “Beliau membasuh kedua tangan hingga lengan beliau.” (Dikeluarkan dari hadits Nuaim bin Al-Mujammir (578)[21/158]) Hadits ini termasuk yang menunjukkan bahwa kedua siku-siku termasuk didalam anggota yang harus dibasuh.

Hukum Wudhu bagi Wanita yang Berkuteks
Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullahu: “Kuteks yang dipakai oleh wanita di kukunya memiliki lapisan/cat yang menempel, sehingga tidak boleh dipakai bila hendak shalat karena menghalangi sampainya air ke bagian jarinya dalam wudhu. Segala sesuatu yang mencegah sampainya air ke anggota wudhu tidak boleh dipakai oleh orang yang berwudhu atau orang yang mandi wajib. Karena Allah Subhanahu wa Ta‟ala berfirman, “…Maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian.” (Al Maidah:6) Kuteks yang dipakai oleh seorang wanita pada kukunya akan menghalangi air mengenai kuku/jarinya sehingga tidak bisa dikatakan ia telah mencuci tangannya. Dengan begitu ia telah meninggalkan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban wudhu atau mandi. Adapun wanita yang sedang tidak shalat karena haid tidak mengapa memakai kuteks ini. Hanya saja memakai kuteks termasuk kekhususan wanita-wanita kafir. Karena alasan ini maka tidak boleh memakainya, agar tidak jatuh dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir. Aku pernah mendengar sebagian orang berfatwa bahwa memakai kuteks bisa dikiaskan dengan memakai khuf (sementara ada pensyariatan mengusap di atas khuf dan ada ketentuan waktunya), dengan begitu seorang wanita boleh memakainya sehari semalan bila ia sedang tidak safar/bepergian dan tiga hari tiga malam bila ia musafir. Namun ini fatwa yang salah. Karena tidak setiap yang menutupi tubuh seseorang disamakan dengan memakai khuf. Kalau khuf dibolehkan oleh syariat untuk mengusapnya karena umumnya ada kebutuhan. Kedua

telapak kaki ini butuh dihangatkan dan butuh ditutup karena keduanya bersentuhan dengan tanah, kerikil, rasa dingin, dan selainnya, maka syariat ini pun mengkhususkan pengusapan di atas keduanya. Terkadang mereka juga mengkiaskan dengan sorban dan ini pun tidak benar. Karena sorban itu tempatnya di kepala, sementara kepala dari asalnya memang diringankan. Kepala hanya wajib diusap dalam amalan wudhu, beda halnya dengan tangan, kedua tangan harus dicuci. Karena itulah, Nabi Shallallahu „alaihi wasallam tidak memperkenankan wanita mengusap kaos tangannya ketika wudhu, padahal kaos tangan tersebut menutupi tangannya. Ini menunjukkan tidak bolehnya seseorang mengkiaskan segala penghalang/penutup yang menghalangi sampainya air ke anggota wudhu dengan sorban dan khuf. Yang wajib dilakukan oleh seorang muslim adalah mencurahkan segala kesungguhan dan upayanya untuk mengetahui al haq serta janganlah berfatwa melainkan dalam keadaan ia menyadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta‟ala kelak akan menanyakan kepadanya tentang fatwa tersebut (meminta pertanggungjawabannya), karena ia memberikan penggambaran tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta‟ala. Allah Subhanahu wa Ta‟ala lah yang memberi taufik, yang membimbing kepada ash-shirath al- mustaqim. (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Fadhilatusy Syaikh, 11/148-149)

MEMBASUH KEPALA DAN TELINGA
Firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala,

“Dan sapulah kepalamu.” (Al-Maidah-6)

Mengusap Sebagian Kepala Sudah Mencukupi
Mengusap sebagaian kepala adalah rukun dan sudah syah.

Mengusap Kepala Seluruhnya Lebih Mengikuti Sunnah
Adapun cara yang disunnahkan dalam mengusap kepala adalah: Mengusapkan kedua tangan pada bagian depan kepala kemudian mendorong keduanya sampai ke tengkuk kemudian dikembalikan lagi ke kepala bagian depan, seperti tersebut dalam hadits Abdullah bin Zaid di atas. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam:

“(Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam dalam mengusap kepala) memulai dari bagian depan kepalanya dan kemudian menjalankan kedua telapak tangannya sampai ke (batas) tengkuknya, kemudian mengembalikan lagi kedua telapak tangannya ke tempat memulai mengusapnya (bagian depan kepala).” (Muttafaqun „alaih) Boleh hanya mengusap sebagian kepala kalau dia menggunakan imamah (kain yang dililitkan di kepala) dan boleh juga hanya mengusap di atas imamah. Demikian pula halnya jilbab bagi kaum wanita

Telinga Wajib Diusap Seperti Halnya Mengusap Kepala dengan Air Sisa Usapan Kepala
Para pembaca yang budiman, ketika seseorang berwudhu, maka ada beberapa perkara yang perlu diingat bahwa saat mengusap kepala, hendaknya jangan lupa mengusap kedua telinga karena keduanya termasuk kategori kepala. Oleh karenanya, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda usai mengusap kepala dan telinganya,

"Kedua telinga termasuk kepala". [HR. Abu Dawud (134), At-Tirmidziy (37), dan Ibnu Majah (444). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (36)]

Ahli Hadits Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullahberkata saat menjelaskan faedah-faedah dari hadits ini, "Jika hadits ini sungguh telah shohih, maka ia menunjukkan tentang dua perkara yang berselisih di dalamnya pendapat para ulama‟. Adapun perkara yang pertama, yaitu bahwa mengusap kedua telinga, apakah wajib atau sunnah (mustahab)? 1. Pendapat pertama (wajibnya mengusap telinga) didukung oleh orang-orang Hanabilah. Hujjah mereka adalah hadits ini, karena sesungguhnya hadits ini tegas dalam memasukkan kedua telinga dalam kategori kepala. Tidaklah demikian, kecuali untuk menjelaskan bahwa hukum keduanya dalam pengusapan seperti hukum kepala dalam hal itu. 2. Jumhur condong menyatakan bahwa mengusap kedua telinga adalah sunnah (mustahab) saja sebagaimana yang tertera dalam kitab Al-Fiqh ala Al-Madzahib AlArba’ah (1/56). Namun kami belum pernah menemukan hujjah yang boleh dipegangi dalam menyelisihi hadits ini (yakni, hadits di atas), kecuali ucapan An-Nawawiy dalam Al-Majmu‟ (1/415), "Sesungguhnya hadits itu dho‟if (lemah) dari seluruh jalur-jalur periwayatannya". Jika anda telah mengetahui bahwa masalahnya tidaklah demikian, dan bahwa sebagian jalur-jalur periwayatan hadits itu adalah shohih, belum pernah ditelaah oleh An-Nawawiy; sebagiannya lagi shohih li ghoirih, maka anda mampu mengenal kelemahan hujjah ini (yakni, pernyataan An-Nawawiy), dan wajibnya berpegang teguh dengan pendapat yang ditunjukkan oleh hadits di atas berupa wajibnya mengusap kedua telinga, dan bahwa keduanya dalam hal itu seperti kedudukan kepala. Cukuplah sebagai teladan bagi kalian dalam pendapat ini Imam Sunnah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Sedang pendahulu beliau dalam pendapat tersebut adalah sekelompok sahabat yang telah berlalu penyebutan nama sebagian diantara mereka di sela-sela mentakhrij hadits ini (yakni hadits di atas). Sedang An-Nawawiy sungguh telah mengembalikan pendapat ini (1/413) kepada mayoritas salaf". [Lihat Ash-Shohihah (1/1/95/no. 36)] Jadi, pendapat tentang wajibnya mengusap kedua telinga , sebab ia adalah bagian dari kepala adalah pendapat yang terkuat berdasarkan hadits di atas. Oleh karenanya, kebanyakan salaf (sahabat dan tabi‟in) menguatkan pendapat ini. Al-Imam Al-Hafizh Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidziy -rahimahullah- berkata tentang hadits yang menyatakan bahwa telinga termasuk kepala, "Amalan adalah berdasarkan hadits ini di sisi mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, dan orang-orang setelahnya bahwa kedua telinga termasuk bagian dari kepala. Pendapat inilah yang dinyatakan oleh Sufyan Ats-Tsauriy, Ibnul Mubarok, Asy-Syafi‟iy, Ahmad, dan Ishaq". [Lihat Sunan At-Tirmidziy (1/152), cet. Dar Ihya' At-Turots Al-Arobiy, 1422 H]

Mencuci Kedua Kaki
Firman Allah Subhanahu wa Ta‟ala;

“ Dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki.” (Al-Maidah-6) sampai dengan “bermakna: beserta” hal itu berdasar hadits –hadits yang menerangkan tentang sifat wudhu. Hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang masuknya dua mata kaki pada anggota yang dibasuh.

Dalil wajibnya
Dari sebagian sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berkata,

"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah melihat seseorang melakukan sholat, sedang pada punggung kakinya terdapat lum‟ah (bagian yang tak tercuci) seukuran uang dirham yang tak terkena air wudhu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pun memerintahkannya untuk mengulangi wudhu‟ dan sholatnya". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1/216), dan Ahmad (14948). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (86)]

Kewajiban mencuci bukan mengucap
Dari sebagian sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah berkata,

"Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah melihat seseorang melakukan sholat, sedang pada punggung kakinya terdapat lum‟ah (bagian yang tak tercuci) seukuran uang dirham yang tak terkena air wudhu. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pun memerintahkannya untuk mengulangi wudhu‟ dan sholatnya". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (1/216), dan Ahmad (14948). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa' (86)] Muhaddits Negeri India, Syamsul Haqq Al-Azhim Al-Abadiy -rahimahullah- berkata saat memetik faedah agung dari hadits ini, "Hadits ini di dalamnya terdapat dalil yang gamblang tentang wajibnya muwaalat (melakukan wudhu secara beruntun, tanpa selang waktu yang lama). Karena perintah mengulangi wudhu‟ sebab membiarkan adanya lum‟ah (bagian yang tak tercuci). Perintah itu tak terjadi, kecuali karena wajibnya muwaalaat. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, Al-Auza‟iy, Ahmad bin Hanbal, dan Asy-Syafi‟iy dalam sebuah pendapat beliau". [Lihat Aunul Ma'bud (1/192)]

Hadits ini adalah hujjah atas orang-orang Syi‟ah-Rofidhoh, sebab hadits ini menjelaskan wajibnya mencuci kaki, bukan diusap sebagaimana yang disangka oleh orang-orang jahil dari kalangan Syi‟ah-Rofidhoh. Barangsiapa yang tidak mencuci alias membasuh kaki saat berwudhu‟, maka wudhu‟nya tak sah, dan juga sholatnya tak sah. Bahkan boleh jadi ia berdosa dengan perbuatannya tersebut, sebab ia menganggap sesuatu yang haram sebagai ibadah dan ketaatan!! Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, "Barangsiapa (seperti, kalangan Syi‟ah) yang mewajibkan mengusap kedua kaki sebagaimana khuff (sepatu selop) diusap, maka sungguh ia sesat, dan menyesatkan!! Demikian pula barangsiapa yang membolehkan untuk mengusap kedua kakinya, dan membolehkan mencuci keduanya, maka sungguh ia telah keliru juga. Barangsiapa yang menukil dari Abu Ja‟far Ibnu Jarir bahwa beliau mewajibkan mencuci keduanya berdasarkan hadits-hadits tersebut, dan mewajibkan pengusapan keduanya berdasarkan ayat ini, maka ia belumlah mendudukkan madzhab Ibnu Jarir dengan benar dalam perkara itu. Karena ucapan beliau dalam Tafsir-nya hanyalah menunjukkan bahwa yang beliau maksudkan bahwa wajib menggosok kedua kaki dibandingkan anggota badan lainnya, sebab kedua kaki menyentuh tanah, lumpur, dan lainnya. Lantaran itu, beliau mewajibkan untuk menggosok kedua kaki agar hilang sesuatu yang ada di atasnya. Cuma beliau mengungkapkan tentang menggosok dengan kata "mengusap". Maka orang yang tidak merenungi ucapan beliau meyakini bahwa beliau menginginkan wajibnya menggabungkan antara mencuci dan mengusap kedua kaki!!". [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Karim (3/53)] Diantara dalil dari As-Sunnah An-Nabawiyyah yang menunjukkan wajibnya mencuci kaki, hadits dari Abdullah bin Amr -radhiyallahu anhu- beliau berkata,

"Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah tertinggal dari kami dalam suatu safar yang kami lakukan. Kemudian beliau pun menjangkau kami, sedang sungguh sholat telah menjumpai kami –yaitu sholat Ashar-. Kami berwudhu‟, lalu kami mulai menggosok kedua kaki kami. Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berteriak dengan sekeras-kerasnya, "Sempurnakanlah wudhu‟!! Kecelakaan bagi tumit-tumit dari neraka". [HR. Al-Bukhoriy (60), dan Muslim (241)]

DOA SETELAH WUDHU’
Dari Umar dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, lalu bersungguh-sungguh atau menyempurnakan wudhunya kemudian dia membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAN ABDULLAHI WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya) melainkan kedelapan pintu surga akan dibukakan untuknya. Dia masuk dari pintu manapun yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 234) Dalam riwayat lain dengan lafazh:

“Barangsiapa yang berwudhu lalu membaca: ASYHADU ALLA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ABDUHU WARASULUH (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” riwayat lainnya yang dishahihkan oleh Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ada tambahan:

ALLAHUMMAJ‟ALNI MINAT TAWWABINA WAJ‟ALNI MINAL MUTATHAHHIRINA (Ya Allah jadiknlah saya termasuk golongan orang-orang yang telah bersuci).” Atau membaca, “Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

PEMBATAL WUDHU’ YANG SAHIH
Telah kita ketahui bersama bahwa hadats adalah suatu keadaan yang mengharuskan seseorang untuk bersuci, baik itu hadats besar maupun hadats kecil. Dan telah dijelaskan bahwa hadats besar adalah hadats yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub dan yang semacamnya, sementara hadats kecil adalah yang bisa dihilangkan cukup dengan wudhu, walaupun bisa juga dihilangkan dengan mandi. Sebelum kami mulai, maka di sini ada satu kaidah yang perlu diperhatikan, yaitu: Asal seseorang yang telah berwudhu adalah wudhunya tetap syah sampai ada dalil shahih yang menyatakan wudhunya batal.

1. Semua yang keluar dari qubul dan dubur
a. Buang Air Besar dan Buang Air Kecil
Berdasarkan firman Allah Ta‟ala, “Atau salah seorang di antara kalian datang dari buang air atau kalian menyentuh wanita lalu dia tidak menemukan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik.” (QS. Al-Maidah: 6) Juga hadits Shafwan bin Assal radhiallahu anhu dia berkata,

“Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membuka sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam kecuali ketika kami junub. Dan tetap boleh untuk mengusap sepatu karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur.” (HR. At-Tirmizi no. 96, An-nasai no. 127, Ibnu majah no. 471 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 104)

b. Keluar Wadhi
Semisal dengannya wadi, dia adalah air yang keluar setelah seseorang melakukan suatu pekerjaan yang melelahkan atau sesaat setelah selesai kencing. Hukumnya sama seperti kencing.

c. Keluar Madzi,
Madzi yaitu cairan yang keluar dari kemaluan ketika sedang melakukan percumbuan dengan istri atau ketika mengkhayalkan hal seperti itu. Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu- dia berkata:

“Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya Nabi shallallahu‟alaihiwasallam- karena puteri beliau adalah istriku. Maka aku menyuruh Al-Miqdad bin Al-Aswad supaya bertanya beliau, maka beliau menjawab, “Hendaklah dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303)

d. Kentut (Keluar Angin dari Dubur)
Dari Abdullah bin Zaid bin Ashim -radhiallahu anhu- dia berkata:

“Seorang lelaki mengadukan kepada Nabi -shallallahu‟alaihiwasallam, bahwa dia seolah-olah mendapati sesuatu (kentut) ketika shalatnya. Beliau bersabda, “Dia tidak perlu membatalkan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Al-Bukhari no. 137 dan Muslim no. 361) Dari Hammam bin Munabbih bahwa dia mendengar Abu Hurairah Rasulullah -shallallahu „alaihi wasallam- bersabda: berkata:

“Tidak akan diterima shalat seseorang yang berhadats hingga dia berwudhu.” Seorang laki-laki dari Hadhramaut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan hadats wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah menjawab, “Kentut baik dengan suara atau tidak.” (HR. Al-Bukhari no. 135 dan Muslim) Sementara perkataan Abu Hurairah ini dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar AlAsqalani rahimahullah, beliau berkata: “Abu Hurairah menjelaskan tentang hadats dengan perkara yang paling khusus (yaitu angin dari dubur) sebagai peringatan bahwa angin dari dubur ini adalah hadats yang paling ringan sementara di sana ada hadats yang lebih berat darinya. Dan juga karena angin ini terkadang banyak keluar di saat seseorang melaksanakan shalat, tidak seperti hadats yang lain.” (Fathul Bari, 1/296) Hadits ini dijadikan dalil bahwa shalat seseorang batal dengan keluarnya hadats, sama saja baik keluarnya dengan keinginan ataupun terpaksa. (Fathul Bari, 1/269) Aisyah radhiallahu „anha berkata: Salma, maula Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam atau istrinya Abu Rafi„ maula Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam, datang menemui Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam. Ia mengadukan Abu Rafi‟ yang telah memukulnya. Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pun bertanya kepada Abu Rafi‟: “Ada apa engkau dengan Salma, wahai Abu Rafi„?” Abu Rafi„ menjawab: “Ia menyakitiku, wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Dengan apa engkau menyakitinya wahai Salma?” Kata Salma: “Ya Rasulullah, aku tidak menyakitinya dengan sesuatupun, akan tetapi ia berhadats dalam keadaan ia sedang shalat, maka

kukatakan padanya: „Wahai Abu Rafi„, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam telah memerintahkan kaum muslimin, apabila salah seorang dari mereka kentut, ia harus berwudhu.‟ Abu Rafi„ pun bangkit lalu memukulku.” Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam tertawa seraya berkata: “Wahai Abu Rafi„, sungguh Salma tidak menyuruhmu kecuali kepada kebaikan.” (HR. Ahmad 6/272, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/521) Adapun orang yang terus menerus keluar hadats darinya seperti penderita penyakit beser (kencing terus menerus) (Al-Fatawa Al-Kubra, Ibnu Taimiyah rahimahullahu, 1/282) atau orang yang kentut terus menerus atau buang air besar terus menerus maka ia diberi udzur di mana thaharahnya tidaklah dianggap batal dengan keluarnya hadats tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/221) Fatawa Lajnah Daimah V/256. Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta, Dewan Tetap Arab saudi untuk riset-riset ilmiyah dan fatwa: Apabila seseorang mendengar suara angin dalam perutnya setelah berwudhu' maka wudhu'nya tidaklah batal jika tidak keluar sesuatu dari perutnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Jika seseorang dari kamu merasakan sesuatu dalam perutnya sehingga ia ragu apakah keluar sesuatu darinya ataukah tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid hingga ia mendengar suara atau mencium baunya."(H.R Muslim I/190)

e. Keluar hadats besar
1) Keluar Darah Haid dan Nifas Darah haid dan nifas yang keluar dari kemaluan (farji) seorang wanita adalah hadats besar yang karenanya membatalkan wudhu wanita yang bersangkutan. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah di atas tentang batalnya wudhu karena hadats. Dan selama masih keluar darah haid dan nifas ini diharamkan baginya mengerjakan shalat, puasa dan bersenggama dengan suaminya sampai ia suci. Dikecualikan bila darah dari kemaluan itu keluar terus menerus di luar waktu kebiasaan haid dan bukan disebabkan melahirkan, seperti pada wanita yang menderita istihadhah, karena wanita yang istihadhah dihukumi sama dengan wanita yang suci sehingga ia tetap mengerjakan shalat walaupun darahnya terus keluar. Asy-Syaikh Ibnu „Utsaimin rahimahullah berkata: “Bila si wanita yang menderita istihadhah itu ingin berwudhu untuk shalat hendaknya ia mencuci terlebih dahulu kemaluannya dari bekas darah dan menahan keluarnya darah dengan kain.” (Risalah fid Dima’ Ath-Thabi’iyyah Lin Nisa, hal. 50) 2) Jima’ (senggama) Abu Hurairah radhiallahu „anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu „alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Apabila seorang suami telah duduk di antara empat cabang istrinya kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (menggauli istrinya), maka sungguh telah wajib baginya untuk mandi (janabah).” (HR. Al-Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348) Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

“Sekalipun ia tidak keluar mani.” Dari hadits di atas kita pahami bila jima„ (senggama) sekalipun tidak sampai keluar mani menyebabkan seseorang harus mandi, sehingga jima„ perkara yang membatalkan wudhu. Dan tentunya semua perkara yang mewajibkan mandi (hadats akbar) juga merupakan pembatal wudhu, seperti keluar darah haid dan nifas, keluarnya mani, jima‟. Insya Allah pembahasan pada mandi wajib.

2. Kehilangan Akal
Ada dua bentuk hilangnya akal seseorang: 1. Hilangnya akal secara keseluruhan sehingga seseorang tidak waras lagi dalam berpikir, seperti gila. 2. Tertutupnya akal seseorang dalam beberapa saat karena suatu sebab seperti pingsan, mabuk, tidur, dan semisalnya. Hilangnya akal disebabkan gila, pingsan dan mabuk karena minum khamr atau karena minum obat, membatalkan wudhu seseorang, sebentar ataupun lama. Sehingga bila seseorang gila kemudian waras kembali, atau mabuk, atau jatuh pingsan kemudian siuman, maka wajib baginya memperbarui thaharahnya. (Al-Mughni, 1/114, Syarah Shahih Muslim, 4/74, Al-Majmu‟, 2/25). Inilah pendapat rajih (yang kuat) menurut kami, wallahu a‟lam bish-shawab. Adapun Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah dan yang sependapat dengan beliau memandang bahwa semua perkara di atas selain tidur tidaklah membatalkan wudhu dan perkara tersebut tidak dapat di-qiyas-kan dengan tidur.(Al-Muhalla, 1/212)

a. Tidur
Ulama berbeda pendapat dalam masalah tidur ini sampai 8 pendapat: 1. Tidur tidak membatalkan wudhu bagaimana pun keadaannya. Dinukilkan pendapat ini dari Abu Musa Al-Asy‟ari, Ibnul Musayyab, Abu Mijlaz, Syu‟bah dan Humaid Al-A‟raj. 2. Tidur membatalkan wudhu bagaimana pun keadaannya. Ini merupakan pendapat Al-Hasan Al-Bashri, Al-Muzani, Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam, Ishaq dan satu pendapat yang gharib dari Imam Syafi‟i. Ibnul Mundzir rahimahullah berkata: “Aku berpendapat demikian.” Diriwayatkan juga pendapat yang semakna dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan Anas.

3. Tidur yang banyak/nyenyak membatalkan wudhu bagaimanapun posisinya, sedangkan tidur yang sedikit tidak membatalkan. Demikian madzhab Az-Zuhri, Rabi‟ah, Al-Auza‟i, Malik, dan Ahmad dalam satu riwayat darinya. 4. Tidur dalam posisi duduk dan pantatnya mapan menempel ke tanah tidaklah membatalkan wudhu. Selain dari posisi ini membatalkan wudhu sama saja tidurnya sedikit ataupun banyak, di dalam shalat ataupun di luar shalat. Demikian madzhab Asy-Syafi‟i rahimahullah. 5. Tidur dalam posisi orang yang sedang shalat seperti dalam posisi ruku, sujud, berdiri, dan duduk tidaklah membatalkan wudhu, sama saja apakah itu terjadi di dalam shalat ataupun di luar shalat. Apabila tidurnya itu dalam keadaan berbaring atau terlentang di atas tengkuknya maka akan membatalkan wudhunya. Demikian madzhab Abu Hanifah, Dawud dan satu pendapat yang gharib dari Asy-Syafi‟i. 6. Tidur tidak membatalkan wudhu kecuali tidurnya orang yang ruku dan sujud. Diriwayatkan pendapat ini dari Ahmad. 7. Tidur tidak membatalkan wudhu kecuali tidurnya orang yang sujud. Diriwayatkan pendapat ini juga dari Ahmad. 8. Tertidur ketika sedang shalat tidak membatalkan wudhu. Adapun di luar shalat membatalkan wudhu. Ini merupakan pendapat yang lemah dari Al-Imam AsySyafi‟i. (Syarah Shahih Muslim, 4/73) Yang rajih dari pendapat yang ada 10 adalah tidur yang nyenyak/pulas membatalkan wudhu (pendapat ketiga –ed). Adapun tidur yang ringan/ hanya sekedar terkantukkantuk, di mana orang yang tidur ini masih mendengar suara di sekitarnya, tidaklah membatalkan wudhu. (Al-Mughni, 1/116) Dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu, ia berkata: “Diserukan iqamah untuk shalat sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang berbicara pelan (berbisik-bisik) dengan seseorang. Maka beliau terus berbisik-bisik dengan orang tersebut hingga para shahabat beliau tertidur. Kemudian beliau datang lalu shalat bersama mereka.” Kata Anas: “Mereka tertidur, kemudian mereka shalat dan tidak berwudhu.” (HR. Muslim no. 376) Dalam riwayat Abu Dawud juga dari Anas, ia berkata: “Para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menanti dilaksanakannya shalat Isya yang akhir, dalam keadaan kepala mereka terangguk-angguk (karena rasa kantuk yang berat) kemudian mereka bangkit mengerjakan shalat tanpa berwudhu.” (Sunan Abu Daud hadits no.172 dan dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Irwaul Ghalil, 1/149) Al-Imam Ash-Shan‟ani rahimahullah menyatakan bahwa hadits Shafwan 11 yang menggandengkan tidur dengan hadats (kencing dan BAB) dibatasi dengan tidur
10

Walaupun penulis (Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari –ed) menyadari bahwa pendapat yang mengatakan tidur secara mutlak (membatalkan wudhu) juga kuat dalam masalah ini sebagaimana pendapat tersebut dikuatkan oleh Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah di dalam Al-Muhalla (1/213) dan Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah hal.99-103 dan silahkan pembaca melihatnya. Namun yang menenangkan hati penulis adalah pendapat yang penulis rajihkan. Wallahu ta‟ala a‟lamu bish-shawab wal ilmu „indallah. 11 Hadits Shafwan yang dimaksud adalah:

nyenyak yang membuat orang tidak mengerti apa-apa (hilang kesadaran). Adapun apa yang disebutkan Anas berupa mendengkurnya (beberapa) shahabat ketika dibangunkan, mereka membaringkan/ merebahkan tubuh mereka hingga mereka dibangunkan untuk mengerjakan shalat, ditakwilkan (dinyatakan) dengan tidur yang tidak nyenyak. Terkadang memang ada orang yang mendengkur di awal tidurnya sebelum ia pulas, demikian pula ada orang tidur dalam posisi berbaring tetapi tidak mesti menunjukkan tidur yang nyenyak. Dan juga seseorang yang baru tertidur bisa saja ia dibangunkan agar ia tersadarkan dan tidak pulas dalam tidurnya. (Kami nukilkan secara makna dan ringkas sebagaimana di dalam Subulus Salam, 1/97) Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Pingsan membatalkan wudhu, karena pingsan itu lebih dari sekedar tidur sementara tidur yang nyenyak itu membatalkan wudhu, di mana orang yang tidur tersebut tidak tahu seandainya ada sesuatu yang keluar dari (kemaluan)-nya. Adapun tidur yang ringan di mana bila orang yang tidur itu berhadats dia bisa merasakannya maka tidur seperti ini tidak membatalkan wudhu, sama saja apakah tidur itu berbaring, duduk bersandar atau duduk tanpa bersandar atau satu keadaan dari keadaan-keadaan yang ada. Selama ia bisa merasakan keluarnya hadats tersebut (seandainya ia berhadats).” Beliau juga menyatakan: “Tidur itu sendiri bukanlah pembatal wudhu 12 , hanya saja tidur ini merupakan satu keadaan yang diperkirakan/ diduga bisa terjadinya hadats pada keadaan tersebut. Dengan demikian bila hadats tersebut dapat ditolak, di mana orang tersebut dapat merasakan bila keluar hadats darinya, maka tidurnya tidaklah membatalkan wudhu.” (Majmu‟ Fatawa wa Rasail, 4/195, 200, 201) Ada dua jenis dalil yang lahiriah nya bertentangan di sini. Yang pertama adalah hadits Shafwan bin Assal:

“Jika kami sedang bepergian, Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam memerintahkan agar kami tidak membuka sepatu-sepatu kami selama tiga hari tiga malam kecuali ketika kami junub. Dan tetap boleh untuk mengusap sepatu karena buang air besar, buang air kecil, dan tidur.” (HR. At-Tirmizi no. 96, An-nasai no. 127, Ibnu majah no. 471 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 104) , yang menunjukkan bahwa tidur adalah pembatal wudhu. Yang kedua adalah dalildalil yang menunjukkan bahwa para sahabat pernah lama menunggu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- untuk keluar melaksanakan shalat isya, sampai-sampai sebagian di antara mereka tertidur kemudian bangun kemudian tertidur lagi kemudian tertidur lagi, baru setelah itu Nabi keluar untuk mengimami mereka. (Hadits Ibnu Umar serta hadits Ibnu Abbas yang keduanya riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dan hadits selainnya) . Bahkan dalam sebuah riwayat Abu Daud dari Anas disebutkan,

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami, bila kami sedang safar agar tidak melepaskan khuf-khuf kami selama tiga hari tiga malam kecuali bila ditimpa janabah. Namun bila hanya buang air besar, kencing, dan tidur (tidak perlu melepaskannya).” (HR. At-Tirmidzi no. 96. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami‟us Shahih, 1/538) 12 Seperti kencing misalnya, banyak ataupun sedikitnya kencing tetaplah membatalkan wudhu

“Kemudian mereka mengerjakan shalat dan mereka tidak berwudhu.” Maka hadits ini menujukkan bahwa tidurnya mereka tidak membatalkan wudhu mereka. Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang membedakan antara tidur yang nyenyak dengan tidur yang tidak nyenyak atau sekedar terkantuk-kantuk. Yang pertama membatalkan wudhu -dan tidur inilah yang dimaksudkan dalam hadits Shafwan-, sedang tidur yang kedua tidak membatalkan wudhu -dan inilah yang dimaksudkan dalam hadits Anas-, wallahu a‟lam. Ini adalah pendapat Malik, AzZuhri, Al-Auzai, Rabiah, dan Al-Auzai, dan inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Ibnu Abdil Barr, dan dari kalangan belakangan: Al-Lajnah Ad-Daimah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Muqbil, Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi, dan selainnya -rahimahumullah-. [Lihat An-Nail: 1/190, Syarh Muslim karya An-Nawawi: 4/74 dan Al-Ausath: 1/142]

b. Pingsan, mabuk, dan gila
Diikutkan kepada hukum tidur, pingsan dan hilangnya akal (karena mabuk dan gilaed) berdasarkan kesepakatan para ulama, sebagaimana yang dinukil oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni: 1/113.

3. Makan Daging Unta
Ada dua pendapat dalam hal ini: (1) Makan daging unta membatalkan wudhu‟ Dari Jabir bin Samurah -radhiallahu anhu- dia berkata:

“Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu‟alaihiwasallam, “Apakah aku harus berwudhu karena makan daging kambing?” Beliau menjawab, “Jika kamu mau maka berwudhulah, dan jika kamu mau maka janganlah kamu berwudhu.” Dia bertanya lagi, “Apakah aku harus berwudhu disebabkan (makan) daging unta?” Beliau menjawab, “Ya. Berwudhulah disebabkan (makan) daging unta.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang kambing?” Beliau menjawab, “Ya boleh.” Dia bertanya, “Apakah aku boleh shalat di kandang unta?” Beliau menjawab, “Tidak.” (HR. Muslim no. 360) Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Asy-Syafi‟i, Muhammad bin Ishaq, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Abu Khaitsamah, Yahya bin Yahya, Ibnul Mundzir, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi dan dinukilkan pendapat ini dari Ashabul Hadits, sahabat Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhu, dan sekelompok shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. (Syarah Shahih Muslim, 4/48; Al-Mughni, 1/122; Al-Muhalla, 1/226; Subulus Salam, 1/106).

Mereka berdalilkan dengan hadits Samurah di atas dan juga hadits Al-Barra` secara marfu‟, “Berwudhulah kalian karena makan daging onta dan janganlah kalian berwudhu karena makan daging kambing.” (HR. Imam Empat kecuali An-Nasai). Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhu berkata: “Kami berwudhu dari makan daging unta dan kami tidak berwudhu karena makan daging kambing.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 1/46, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh AlAlbani rahimahullah dalam Tamamul Minnah, hal. 106) (2) Makan daging unta tidak membatalkan wudhu‟ Pendapat lain menyatakan bahwa makan daging unta tidaklah membatalkan wudhu dengan dalil hadits Jabir: “(Di antara) dua perintah yang akhir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tidak perlu berwudhu karena memakan makanan yang disentuh api (dimasak).” (HR. At-Tirmidzi no. 80 dan An-Nasai no. 185). Mereka yang berpendapat seperti ini adalah jumhur tabi‟in, Malik, Abu Hanifah, AsySyafi‟i dan murid-murid mereka dan dihikayatkan pula dari Ibnu Mas‟ud, Ubay bin Ka‟ab, Abud Darda, Abu Thalhah, Amir bin Rabi‟ah, Abu Umamah. (Syarah Shahih Muslim, 4/48; Al-Mughni 1/122; Subulus Salam, 1/106) Dari dua pendapat yang ada, maka yang rajih dalilnya adalah pendapat pertama. Adapun hadits Jabir: “(Di antara) dua perintah yang akhir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah tidak perlu berwudhu karena memakan makanan yang disentuh api (dimasak)”, hadits ini dinyatakan oleh Abu Hatim mudhtharib pada matannya. Dan sangat dimungkinkan seorang rawinya yakni Syu‟aib telah salah di dalam menyampaikan haditsnya. (Al-‟Ilal Ibnu Abi Hatim, 168) . Juga telah ada pembicaraan terhadap hadits ini di kalangan para imam Ahlul Hadits, lihat At-Talkhisul Habir, 1/174-176. Hadits ini juga merupakan hadits yang lafadz dan hukumnya umum, sementara hadits yang menunjukkan wudhu karena makan daging unta adalah hadits yang khusus. Dan kaidah yang masyhur sebagaimana diterangkan ulama ahli ushul, ketika ada dalil yang khusus maka dikedepankan pengamalannya daripada dalil yang umum, wallahu a‟lam. Juga, makan daging unta itu membatalkan wudhu bukan karena ia disentuh api, namun karena keberadaannya sebagai daging unta sehingga ia dimasak (dengan api) ataupun dimakan dalam keadaan mentah tetap keberadaannya membatalkan wudhu. (Syarah Shahih Muslim, 4/49; Al-Mughni, 1/122-123; Al-Majmu 2/670; I‟lamul Muwaqqi‟in 1/298-299; Ijabatus Sail hal. 36)

PEMBATAL WUDHU’ YANG DIPERSELISIHKAN
1. Menyentuh Wanita Tidak Membatalkan Wudhu‟
Masalah batal atau tidaknya wudhu' seorang laki-laki yang menyentuh wanita memang diperselisihkan di kalangan ahlul ilmi. Ada diantara mereka yang berpendapat: (1) menyentuh wanita membatalkan wudhu‟ membatalkan wudhu'. Ini adalah pendapat Imam Az-Zuhri, Asy-Sya'bi, dan yang lainnya. (2) Tidak batal wudhu' seseorang yang menyentuh wanita –secara mutlak, yang mahram maupun yang bukan-, dan ini yang rajih (kuat) dalam permasalahan ini. Ini adalah pendapat Daud Azh-Zhahiri dan mayoritas ulama muhaqqiqin, seperti: Ibnu Jarir AthThabari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnu Katsir, dan dari kalangan muta`akhkhirin: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil dan selainnya Dalil-dalilnya sebagai berikut: a. Sebagian ulama yang berdalilkan dengan firman Allah Ta‟ala,

“Atau kalian menyentuh wanita …,” (QS. Al-Maidah: 6) bahwa menyentuh wanita adalah membatalkan wudhu. Maka bisa dijawab dengan dikatakan bahwa arti kata „menyentuh‟ dalam ayat ini, terdapat dua pendapat di kalangan ulama, yaitu: i. Sebagian mereka menafsirkan “menyentuh” dengan jima‟ (senggama), seperti pendapat Ibnu „Abbas, „Ali, „Ubay bin Ka‟b, Mujahid, Thawus, Al-Hasan, „Ubaid bin „Umair, Sa‟id bin Jubair, Asy-Sya‟bi, Qatadah dan Muqatil bin Hayyan. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227) ii. ahlul ilmi yang lain berpendapat “menyentuh” di sini lebih luas/ umum daripada jima‟ sehingga termasuk di dalamnya menyentuh dengan tangan, mencium, bersenggolan, dan semisalnya. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Mas‟ud dan Ibnu „Umar dari kalangan shahabat. Abu „Utsman An-Nahdi, Abu „Ubaidah bin Abdillah bin Mas‟ud, „Amir Asy-Sya‟bi, Tsabit ibnul Hajjaj, Ibrahim An-Nakha‟i dan Zaid bin Aslam. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/227) Dari dua penafsiran di atas yang rajih adalah penafsiran yang pertama bahwa yang dimaksud dengan menyentuh dalam ayat di atas adalah jima‟ sebagaimana hal ini ditunjukkan dalam Al-Qur‟an sendiri, pada ayat: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi wanita-wanita mukminah kemudian kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, maka tidak ada kewajiban bagi mereka untuk menjalani iddah.” (Al-Ahzab: 49)

Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa menyentuh yang dikaitkan dengan wanita maka yang dimaksudkan adalah jima‟. “Bagaimana mungkin saya akan mempunyai seorang anak sementara saya belum pernah disentuh oleh seorang manusia pun dan saya bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 20) Dan kata „disentuh‟ di sini juga tentu saja bermakna jima‟ sebagaimana yang bisa dipahami dengan jelas. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Yang dimaukan (oleh ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala ini) adalah jima‟, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu „Abbas radhiallahu 'anhuma dan selainnya dari kalangan Arab. Dan diriwayatkan hal ini dari „Ali radhiallahu 'anhu dan selainnya. Inilah yang shahih tentang makna ayat ini. Sementara menyentuh wanita (bukan jima‟) sama sekali tidak ada dalilnya dari AlQur‟an maupun As-Sunnah yang menunjukkan bahwa hal itu membatalkan wudhu. Adalah kaum muslimin senantiasa bersentuhan dengan istri-istri mereka namun tidak ada seorang muslim pun yang menukilkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau memerintahkan kepada seseorang untuk berwudhu karena menyentuh para wanita (istri).” Beliau juga berkata: “Telah diriwayatkan dari Ibnu „Umar dan Al-Hasan bahwa menyentuh di sini dengan tangan dan ini merupakan pendapat sekelompok salaf. Adapun apabila menyentuh wanita tersebut dengan syahwat, tidaklah wajib berwudhu karenanya, namun apabila dia berwudhu, perkara tersebut baik dan disenangi (yang tujuannya) untuk memadamkan syahwat sebagaimana disenangi berwudhu dari marah untuk memadamkannya. Adapun menyentuh wanita tanpa syahwat maka aku sama sekali tidak mengetahui adanya pendapat dari salaf bahwa hal itu membatalkan wudhu.” (Majmu‟ Al-Fatawa, 21/410) Asy-Syaikh Ibnu „Utsaimin rahimahullah berkata: “Pendapat yang rajih adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak, sama saja baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat kecuali bila keluar sesuatu darinya (madzi atau mani). Bila yang keluar mani maka wajib baginya mandi sementara kalau yang keluar madzi maka wajib baginya mencuci dzakar-nya dan berwudhu.” (Majmu‟ Fatawa wa Rasail, 4/201, 202) b. Dalil dari As-Sunnah yang menunjukkan bahwa bersentuhan dengan wanita (selain jima‟) tidaklah membatalkan wudhu di antaranya: Berdasarkan hadits Aisyah dia berkata, “Sesungguhnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah mencium sebagian istrinya kemudian beliau keluar mengerjakan shalat dan beliau tidak berwudhu lagi.” (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmizi dan Ibnu Majah) Aisyah radhiallahu 'anha berkata:

“Aku pernah tidur di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam keadaan kedua kaki di arah kiblat beliau (ketika itu beliau sedang shalat, pen) maka bila beliau sujud, beliau menyentuhku (dengan ujung jarinya) hingga aku pun menekuk kedua kakiku. Bila beliau berdiri, aku kembali membentangkan kedua kakiku.” (HR. Al-Bukhari no. 382 dan Muslim no. 512) Aisyah radhiallahu 'anha juga mengabarkan:

:
“Suatu malam, aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dari tempat tidurku. Maka aku pun meraba-raba mencari beliau hingga kedua tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan. Ketika itu beliau di tempat shalatnya (dalam keadaan sujud) dan sedang berdoa: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaanMu dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji terhadap diri-Mu.” (HR. Muslim no. 486) Seandainya menyentuh wanita membatalkan wudhu, niscaya beliau -shallallahu alaihi wasallam- akan membatalkan shalatnya ketika menyentuh Aisyah. c. Orang-orang yang mengatakan bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu' berdalil dengan riwayat yang datang di dalam as-Sunan dari hadits Mu'adz bin Jabal radliyallahu 'anhu bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah mencium seorang wanita”. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terdiam sampai Allah 'azza wa jalla turunkan: Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang hari dan pada pertengahan malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapuskan kejelekan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya : Berdirilah, kemudian wudhu' dan shalatlah dua rakaat. Syaikh Muqbil menjelaskan dalam Ijabatus Sa-il hal. 32-33 tentang hadits ini: Pertama, hadits ini tidak tsabit (kokoh) karena datang dari jalan 'Abdurrahman bin Abi Laila, dan dia tidak mendengar hadits ini dari Mu'adz bin Jabal. Ini satu sisi permasalahan.

Kedua, seandainya pun hadits ini kokoh, tidak menjadi dalil bahwa menyentuh wanita membatalkan wudhu', karena bisa jadi orang tersebut dalam keadaan belum berwudhu'. Ini merupakan sejumlah dalil yang menyertai ayat yang mulia bagi orang-orang yang berpendapat membatalkan wudhu', dan engkau telah mengetahui bahwa Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhuma menafsirkan ayat ini dengan jima'. Wallahul musta'an. Sehingga jelaslah disini bahwa yang dimaukan dari ayat tersebut bukanlah „menyentuh‟ secara umum, akan tetapi dia adalah „menyentuh‟ yang sifatnya khusus, yaitu jima‟ (hubungan intim). [Lihat An-Nail: 1/195, Fathu Al-Qadir: 1/558, Al-Muhalla: 1/244, Al-Ausath: 1/113 dan Asy-Syarh Al-Mumti‟: 1/286-291] Catatan: Menyentuh wanita -baik yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, hanya saja ini bukan berarti boleh menyentuh wanita yang bukan mahram. Karena telah shahih dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda, “Seseorang di antara kalian betul-betul ditusukkan jarum besi dari atas kepalanya dalam sebagian riwayat: Sampai tembus ke tulangnya-, maka itu lebih baik bagi dirinya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dari Ma‟qil bin Yasar) Diriwayatkan pula oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam Shahih keduanya dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina, senantiasa dia mendapatkan hal itu dan tidak mustahil, kedua mata zinanya adalah melihat, kedua telinga zinanya adalah mendengarkan, tangan zinanya adalah menyentuh, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati cenderung dan mengangankannya, dan yang membenarkan atau mendustakan semua itu adalah kemaluan. Maka dari sini diketahui bahwa menyentuh wanita ajnabiyah tanpa keperluan tidak diperbolehkan. Adapun bila ada keperluan seperti seseorang yang menjadi dokter atau wanita itu sendiri adalah dokter, yang tidak didapati dokter lain selain dia, dan untuk suatu kepentingan, maka hal ini tidak mengapa, namun tetap disertai kehati-hatian yang sangat dari fitnah

2. Tidur yang tidak nyenyak tidak membatalkan wudhu‟
Pembahasannya telah berlalu pada tidur yang nyenyak pembatal wudhu‟.

3. Menyentuh Kemaluan Tidak Membatalkan Wudhu
Dalam masalah ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama.

(1) Menyentuh kemaluan membatalkan wudhu seperti pendapatnya Umar, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Aisyah, Saad bin Abi Waqqash, Atha, Urwah, Az Zuhri, Ibnul Musayyab, Mujahid, Aban bin Utsman, Sulaiman bin Yasar, Ibnu Juraij, AlLaits, Al-Auza‟i, Asy-Syafi‟i, Ahmad, Ishaq, Hanabilah, Zhahiriah, Malik dalam pendapatnya yang masyhur dan selain mereka. Mereka berdalil dengan hadits Busrah. (Sunan Tirmidzi 1/56; Al-Mughni 1/117; Al-Muhalla, 1/223; Nailul Authar, 1/282). Hadits Busroh bintu Shafwan -radhiyallahu anhu-, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian menyentuh dzakarnya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 154, dishahihkan Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Ma‟in dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah: “Hadits ini paling shahih dalam bab ini.” Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 174) Dalam riwayat At-Tirmidzi rahimahullah disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang menyentuh kemaluannya maka janganlah ia shalat sampai ia berwudhu.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Hadits shahih di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Jami‟ush Shahih, 1/520) Dalam riwayat lain,

"Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka hendaknya dia berwudhu." (HR. Ahmad: 6/406 dan 407, Abu Daud no. 181, At-Tirmidzi no. 82, An-Nasa`i no. 163, dan Ibnu Majah no. 479) Hadits ini dishohihkan oleh Imam: Ahmad, Yahya bin Ma‟in, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan yang lainnya -rahimahumullah-. (2) Menyentuh dzakar tidaklah membatalkan wudhu. Hadits ini dijadikan pegangan oleh mereka, seperti „Ali, Ibnu Mas‟ud, „Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Abud Darda, „Imran bin Hushain, Al-Hasan Al-Bashri, Rabi‟ah, Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan murid-muridnya (madzhab Hanafiyah) dan selain mereka. (Sunan Tirmidzi, 1/57; AlMughni, 1/117; Nailul Authar, 1/282) Hadits Tholq bin Habib -radhiyallahu anhu-, bahwa beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam- mengenai seseorang yang menyentuh kemaluannya di dalam shalat, apakah wajib baginya untuk berwudhu? Maka beliau menjawab:

"Tidak perlu, dia hanyalah bagian dari tubuh kamu." (HR. Ahmad: 4/23, Abu Daud no. 182 dan 183, At-Tirmidzi no. 85, An-Nasa`i no. 165, dan Ibnu Majah no. 483) Haditsnya dishahihkan oleh Imam: Amr bin Ali Al-Fallas, Ali ibnul Madini, AthThahawi, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahumullah-. Dalam riwayat lain, Thalaq bin Ali radhiallahu 'anhu mengabarkan bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:

“Bukankah dzakar itu tidak lain kecuali sebagian daging dari (tubuh)nya?” (HR. AtTirmidzi no. 85 dan kata Ibnul Madini rahimahullah: “Hadits ini lebih baik daripada hadits Busrah.” Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan sanadnya dalam Al-Misykat) Kedua pendapat ini lemah. Karena sepanjang kedua haditsnya shahih, maka tidak boleh mengambil salah satunya lalu meninggalkan yang lainnya, selama kedua hadits itu masih bisa dikompromikan. Dan itulah yang terjadi di sini. (3) Menyentuh kemaluan hanya membatalkan wudhu apabila disertai dengan syahwat. Ini merupakan pendapat sebagian Malikiyah. (4) Menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhunya secara mutlak (baik dengan syahwat atau tidak), hanya saja disunnahkan baginya untuk mengulangi wudhunya, tapi tidak wajib. Ini adalah pendapat Imam Malik –dalam satu riwayat, dan inilah wallahu A‟lam- pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran. Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin adalah pendapat yang memadukan kedua hadits ini dengan menyatakan: Menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu akan tetapi disunnahkan -tidak diwajibkanbagi orang yang menyentuh kemaluannya untuk berwudhu kembali. Jadi perintah yang terdapat dalam hadits Busrah bukanlah bermakna wajib tapi hanya menunjukkan hukum sunnah, dengan dalil Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak mewajibkan wudhu padanya -sebagaimana dalam hadits Thalq-. Wallahu a‟lam bishshawab. [Lihat Al-Ausath: 1/193, A-Mughni: 1/180, An-Nail: 1/301, Asy-Syarh Al-Mumti‟: 1/ 278-284 dan As-Subul: 1/149, Lihat: Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd hal. 28-29 dan Asy-Syarhul Mumti' karya Syaikh Ibnu Utsaimin: 1/279-284] Pendapat inilah (yang keempat-ed) yang penulis pilih dan memandangnya sebagai pendapat yang rajih, walaupun pendapat yang pertama menurut pandangan penulis adalah pendapat yang juga kuat di mana pendapat ini banyak dipilih dan dibela oleh ahlul ilmi seperti di antaranya Al-Imam Ash-Shan‟ani (di dalam Subulus Salam, 1/104), Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah (Nailul Authar, 1/283; Ad-Darari Al-Mudhiyyah hal. 36) dan yang lainnya. Namun penulis lebih condong pada pendapat yang ketiga, wallahu ta‟ala a‟lam bish-shawab wal ilmu „indallah. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata:

“Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam “Hanyalah dzakar itu bagian dari (tubuh)mu”, di dalamnya ada isyarat yang lembut bahwa menyentuh dzakar yang tidak dibarengi syahwat tidak mengharuskan wudhu, karena menyentuh dalam keadaan yang seperti ini sama halnya dengan menyentuh anggota tubuh yang lain. Berbeda keadaannya apabila ia menyentuh dengan syahwat maka ketika itu tidak bisa disamakan dengan menyentuh anggota tubuh yang lain. Karena secara kebiasaan menyentuh anggota tubuh yang lain tidaklah dibarengi dengan syahwat. Perkara ini adalah perkara yang jelas sebagaimana yang kita ketahui. Berdasarkan hal ini maka hadits: “Hanyalah dzakar itu bagian dari (tubuh)mu” tidak bisa dijadikan dalil oleh madzhab Al-Hanafiyyah untuk menyatakan bahwa menyentuh dzakar tidaklah membatalkan wudhu secara mutlak. Namun hadits ini merupakan dalil bagi orang yang berpendapat bahwa menyentuh dzakar tanpa disertai syahwat tidaklah membatalkan wudhu. Adapun bila menyentuhnya dengan syahwat maka dapat membatalkan wudhu, dengan dalil hadits Busrah. Dengan demikian terkumpullah di antara dua hadits tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya berdasarkan apa yang aku ketahui. Wallahu a‟lam.” (Tamamul Minnah, hal. 103) Asy-Syaikh Ibnu „Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila seseorang menyentuh dzakarnya maka disenangi baginya untuk berwudhu secara mutlak 13 , sama saja apakah ia menyentuhnya dengan syahwat ataupun tidak. Apabila menyentuhnya dengan syahwat maka pendapat yang mengatakan wajib baginya berwudhu sangatlah kuat 14 , namun hal ini tidak ditunjukkan secara dzahir dalam hadits. Dan aku tidak bisa memastikan akan kewajibannya namun demi kehatihatian sebaiknya ia berwudhu.” (Syarhul Mumti‟, 1/234). Wallahu ta‟ala a‟lam bishshawab wal ilmu „indallah.

4. Muntah Tidak Membatalkan Wudhu‟
Ulama berselisih pendapat dalam masalah muntah ini: (1) Muntah mengharuskan seseorang untuk berwudhu. Di antara mereka yang sependapat adalah Abu Hanifah dan pengikut mazhab Abu Hanifah, dengan syarat muntah itu berasal dari dalam perut, memenuhi mulut dan keluar sekaligus. (Nailul Authar, 1/268). Mereka berdalil di antaranya: Hadits Ma‟dan bin Abi Thalhah dari Abu Ad-Darda bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah muntah, lalu beliau berbuka dan berwudhu. Kata Ma‟dan: “Aku berjumpa dengan Tsauban di masjid Damaskus, maka aku sebutkan hal itu padanya, Tsauban pun berkata: “Abu Ad-Darda benar, akulah yang menuangkan air wudhu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.” (HR. AtTirmidzi no. 87)
13 14

Juga disenangi wudhu di sini dalam rangka kehati-hatian, wallahu ta„ala a„lam bish-shawab Karena dalam keadaan demikian ini sangat memungkinkan keluarnya madzi.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini diperselisihkan (mukhtalaf) pada sanadnya. Kalaupun hadits ini shahih maka dibawa pemahamannya pada muntah yang sengaja.” Di tempat lain Al-Baihaqi berkata: “Isnad hadits ini mudhtharib (goncang), tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya.” (Nailul Authar, 1/268). Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah di dalam ta‟liq beliau terhadap kitab ArRaudhatun Nadiyyah mengatakan: “Hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah batalnya wudhu karena muntah adalah lemah semuanya, tidak dapat dijadikan hujjah.” (ta‟liq beliau dinukil dari Ta‟liqat Ar-Radhiyyah, 1/174) 15 Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan selain mereka dari kalangan tabi‟in berpandangan untuk berwudhu disebabkan muntah dan mimisan. Demikian pendapat Sufyan Ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad dan Ishaq. Sementara sebagian ahlul ilmi yang lainnya berpendapat tidak ada keharusan berwudhu karena muntah dan mimisan, demikian pendapat Malik dan Asy-Syafi‟i. (Sunan At-Tirmidzi, 1/59) Sementara hadits „Aisyah radhiallahu 'anha bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

...
“Siapa yang ditimpa (mengeluarkan) muntah, mimisan, qalas 16 atau madzi (di dalam shalatnya) hendaklah ia berpaling dari shalatnya lalu berwudhu.” (HR. Ibnu Majah no. 1221) Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Hadits ini dinyatakan cacat oleh sebagian Ahlul Hadits karena setiap periwayatan Isma‟il ibnu „Iyasy dari orang-orang Hijaz semuanya dinilai lemah. Sementara dalam hadits ini Isma‟il meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang dia itu orang Hijaz. Juga karena para perawi yang meriwayatkan dari Ibnu Juraij –yang mereka itu adalah para tokoh penghapal– meriwayatkannya secara mursal (menyelisihi periwayatan Isma‟il yang meriwayatkannya secara ittishal (bersambung) – pen.), sebagaimana hal ini dikatakan oleh penulis kitab Muntaqal Akhbar. Terlebih lagi riwayat yang mursal ini dinyatakan shahih oleh Adz-Dzuhli, AdDaruquthni dalam kitab Al-‟Ilal, begitu pula Abu Hatim dan beliau mengatakan telah terjadi kesalahan dalam periwayatan Isma‟il. Ibnu Ma‟in berkata hadits ini dha‟if. (Nailul Authar, 1/269) Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa Al-Imam Ahmad dan selain beliau men-dha‟if-kan hadits ini (Bulughul Maram hal. 36). Begitu pula melemahkannya Al-Baihaqi.

15

Di antara imam ahlul hadits ada juga yang menguatkan hadits ini seperti Ibnu Mandah dan Asy-Syaikh AlAlbani di Tamamul Minnah, beliau mengatakan sanadnya shahih (hal. 111) 16 Qalas adalah muntah yang keluar dari tenggorokan, bukan dari perut. (Subulus Salam, 1/105)

(2) Muntah, baik memuntahkan sesuatu yang sudah ada di dalam perut atau yang masih berada di tenggorokan, tidak membatalkan wudhu‟. Ini pendapat Asy-Syafi„i (imam yang faqih dari Madinah), Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, dan orang-orang yang mengikuti mazhab Asy-Syafi‟i, juga satu riwayat dari Al-Imam Ahmad menunjukkan bahwa keluar sesuatu dari tubuh selain qubul dan dubur tidaklah membatalkan wudhu, baik sedikit ataupun banyak, kecuali bila yang keluar dari tubuh itu kencing ataupun tahi. (Nailul Authar, 1/268, AsySyarhul Mumti‟, 1/234). Inilah pendapat yang rajih dan menenangkan bagi kami. Mereka berdalil sebagai berikut: a. Hukum asal perkara ini tidaklah membatalkan wudhu. Sehingga barangsiapa yang menyatakan suatu perkara menyelisihi hukum asalnya maka hendaklah ia membawakan dalil. b. Sucinya orang yang berwudhu dinyatakan dengan pasti oleh kandungan dalil syar„i, maka apa yang telah pasti tidaklah mungkin mengangkat kesuciannya (menyatakan hilang/ membatalkannya) kecuali dengan dalil syar„i. c. Hadits yang dijadikan dalil oleh pendapat pertama telah dilemahkan oleh mayoritas ulama. d. Apa yang ditunjukkan dalam hadits ini adalah semata-mata fi„il (perbuatan) sedangkan yang semata-mata fi„il tidaklah menunjukkan suatu yang wajib. (AsySyarhul Mumti„, 1/224-225) Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Tidaklah batal wudhu dengan keluarnya sesuatu dari selain dua jalan (qubul dan dubur) seperti pendarahan, darah yang keluar karena berbekam, muntah dan mimisan, sama saja baik keluarnya banyak ataupun sedikit. 17 Demikian pendapat Ibnu „Abbas, Ibnu „Umar, Ibnu Abi Aufa, Jabir, Abu Hurairah, „Aisyah, Ibnul Musayyab, Salim bin Abdillah bin „Umar, Al-Qasim bin Muhammad, Thawus, „Atha, Mak-hul, Rabi‟ah, Malik, Abu Tsaur dan Dawud. Al-Baghawi berkata: “Ini merupakan pendapat mayoritas shahabat dan tabi`in.” (Al-Majmu‟, 2/63) Adapun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu‟atur Rasail Al-Kubra, beliau berpendapat hukumnya di sini adalah sunnah sebagaimana dinukilkan oleh Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah. Demikian juga beliau menyatakan sunnahnya berwudhu setelah muntah. (Tamamul Minnah, hal. 111, 112)

5. Darah yang keluar dari Tubuh (termasuk Mimisan) Tidak Membatalkan Wudhu‟
Darah yang keluar dari tubuh seseorang, selain kemaluannya tidaklah membatalkan wudhu, sama saja apakah darah itu sedikit ataupun banyak. Demikian pendapat Ibnu „Abbas, Ibnu Abi Aufa, Abu Hurairah, Jabir bin Zaid, Ibnul Musayyab, Mak-hul,
17

Adapun permasalahan yang disebutkan di sini juga merupakan perkara yang diperselisihkan ahlul ilmi sebagaimana disebutkan sendiri oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu„ (2/63).

Rabi‟ah, An-Nashir, Malik dan Asy-Syafi‟i. (Nailul Authar, 1/269-270). Dan ini pendapat yang rajih menurut penulis. Wallahu ta‟ala a‟lam bish-shawab. Dari kalangan ahlul ilmi ada yang membedakan antara darah sedikit dengan yang banyak. Bila keluarnya sedikit tidak membatalkan wudhu namun bila keluarnya banyak akan membatalkan wudhu. Hal ini seperti pendapat Abu Hanifah, Al-Imam Ahmad dan Ishaq. (Nailul Authar, 1/269) Adapun dalil bahwa darah tidak membatalkan wudhu adalah hadits tentang seorang shahabat Al-Anshari yang tetap mengerjakan shalat walaupun darahnya terus mengalir karena luka akibat tikaman anak panah pada tubuhnya (HR. Al-Bukhari secara mu„allaq dan secara maushul oleh Al-Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan AsySyaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 193) Seandainya darah yang banyak itu membatalkan wudhu niscaya shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam itu dilarang untuk mengerjakan shalat dan akan disebutkan teguran dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atas shalat yang ia kerjakan tersebut dan akan diterangkan kepadanya atau siapa yang bersamanya. Karena mengakhirkan penjelasan/penerangan pada saat dibutuhkan penerangannya tidaklah diperbolehkan. Mereka para shahabat radhiallahu 'anhum sering terjun ke dalam medan pertempuran hingga badan dan pakaian mereka berlumuran darah. Namun tidak dinukilkan dari mereka bahwa mereka berwudhu karenanya dan tidak didengar dari mereka bahwa perkara ini membatalkan wudhu. (Sailul Jarar, 1/262, Tamamul Minnah, hal. 51-52) Wallahu ta„ala a„lam bish-shawab wal ilmu „indallah.

a. Mimisan
Syaikh Muqbil rahimahullah menjawab pertanyaan, apakah mimisan (keluarnya darah dari hidung) membatalkan wudhu: “Mimisan tidaklah membatalkan wudhu, tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa dia membatalkan wudhu. Telah warid (datang) satu hadits dho‟if (lemah) yang menyatakan bahwa dia membatalkan wudhu dan tidak warid dari Nabi Shollallahu „alaihi wa „ala alihi wasallam dan para shahabat Rasulullah Shollallahu „alaihi wa „ala alihi wasallam, mereka sholat dalam keadaan berdarah luka-luka mereka. Maka (mimisan) tidak membatalkan (wudhu), akan tetapi jika dia takut mengotori mesjid, maka hendaknya dia keluar dan mencucinya kemudian kembali dan mengulang sholatnya, wallahul musta‟an”.

6. Darah Istihadhah Tidak Membatalkan Wudhu‟.
Dia adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita, bukan pada waktu haidnya dan bukan pula karena melahirkan. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah bahwa darah istihadhah tidaklah membatalkan wudhu, karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan hal itu. Dan hukum asal pada wudhu adalah tetap ada sampai ada dalil yang menetapkan batalnya.

Asy-Syaukani berkata dalam An-Nail, “Tidak ada satu pun dalil yang bisa dijadikan hujjah, yang mewajibkan wudhu bagi wanita yang mengalami istihadhah.” Di antara dalil lemah tersebut adalah hadits Aisyah tentang sabda Nabi kepada seorang sahabiah yang terkena istihadhah, “Kemudian berwudhulah kamu setiap kali mau shalat.” Hadits ini adalah hadits yang syadz lagi lemah, dilemahkan oleh Imam Muslim, An-Nasai, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dan selainnya. [Lihat Al-Fath: 1/409, As-Sail: 1/149 dan As-Subul: 1/99]

7. Mengangkat dan memandikan jenazah Tidak Membatalkan Wudhu‟
Ada beberapa hadits dalam permasalahan ini, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu‟, “Barangsiapa yang memandikan mayit maka hendaknya dia juga mandi, dan barangsiapa yang mengangkatnya maka hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad, AnNasai dan At-Tirmizi) Akan tetapi hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Az-Zuhri, Abu Hatim, Ahmad, Ali bin Al-Madini dan Al-Bukhari. Adapun hadits-hadits lainnya, maka kami sendiri pernah mentakhrij jalan-jalannya dan kami menemukannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -rahimahullah-, “Tidak ada satu pun hadits shahih yang ada dalam permasalahan ini.” Ada beberapa pembatal lain yang tidak sempat kami sebutkan karena tempat yang terbatas, wallahul musta‟an. Memandikan jenazah tidaklah membatalkan wudhu dan inilah pendapat yang rajih dari sebagian ahlul ilmi seperti Ibnu Qudamah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kebanyakan fuqaha. Abul Hasan At-Tamimi berkata: “(Bagi orang yang memandikan jenazah) tidak harus berwudhu.” (Al-Mughni 1/124, Syarhul Umdah, 1/341) Mereka menyatakan bahwa menetapkan sesuatu sebagai pembatal wudhu itu membutuhkan dalil syar‟i sementara tidak ada dalil dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah ataupun ijma yang menunjukkan memandikan jenazah itu membatalkan wudhu. Adapun atsar dari ketiga shahabat yang disebutkan dari Ibnu „Umar, Abu Hurairah dan Ibnu „Abbas (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya no. 1601, 6107) bahwa mereka memerintahkan orang yang memandikan jenazah untuk berwudhu maka dimungkinkan berwudhu di sini bagi orang yang memandikan jenazah adalah perkara yang mustahab (sunnah). Sehingga kalau dianggap wajib maka butuh dalil syar‟i yang menenangkan jiwa, karena mewajibkan sesuatu yang tidaklah wajib sama dengan mengharamkan sesuatu yang tidak haram. (Asy-Syarhul Mumti‟, 1/247) Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Yang wajib bagi kita adalah berhatihati dalam masalah pembatal wudhu, sehingga jangan sampai ada di antara kita yang berani mengatakan perkara ini adalah pembatal wudhu kecuali apabila ia mendapatkan

dalil yang jelas yang akan menjadi hujjah (argumen) baginya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.” (Asy-Syarhul Mumti‟, 1/247) Adapun yang lain dari kalangan ahlul ilmi berpendapat bahwa memandikan jenazah membatalkan wudhu sebagaimana atsar dari Ibnu „Umar, Abu Hurairah, dan Ibnu „Abbas di atas dan pendapat seperti ini dipegangi oleh Ishaq dan An-Nakha‟i. (Al-Mughni, 1/124)

8. Berbekam (Hijamah) Tidak Membatalkan Wudhu‟
Madzhab Al-Hanafiyyah berpendapat keluarnya darah dikarenakan berbekam (hijamah) merupakan salah satu dari pembatal wudhu. As-Sarkhasi berkata: “Menurut kami, seseorang yang berbekam maka wajib baginya berwudhu dan mencuci bagian tubuh yang dibekam. Karena, wudhu itu wajib dengan keluarnya najis (yaitu darah bekaman (dianggap) najis di sisi mereka). Bila dia berwudhu namun tidak mencuci bagian tubuh yang dibekam, maka bila bagian itu lebih besar dari ukuran dirham, ia tidak boleh mengerjakan shalat. Namun bila kurang dari itu boleh baginya mengerjakan shalat.” Adapun madzhab Al-Malikiyyah dan Asy-Syafi‟iyyah berpendapat bahwa berbekam atau sengaja mengeluarkan darah dengan merobek kulit atau urat dan dikeluarkannya segumpal darah dengan cara diisap tidaklah membatalkan wudhu. Az-Zarqani berkata: “Berbekam tidaklah membatalkan wudhu, baik orang yang membekam maupun orang yang dibekam. Demikian pula sengaja mengeluarkan darah dengan merobek kulit atau urat.” Dalam kitab Al-Umm disebutkan: “Tidak wajib berwudhu karena muntah, mimisan dan berbekam.” (Al-Mausu‟ah Al-Fiqhiyyah, 17/14). Inilah pendapat yang rajih, karena tidak adanya dalil yang bisa dijadikan hujjah bahwa berbekam itu membatalkan wudhu. Adapun hadits 18 yang menyatakan dukungan penguatan bahwa berbekam itu tidak membatalkan wudhu pada sanadnya ada pembicaraan terhadap salah seorang rawinya yaitu Shalih ibnu Muqatil. Al-Imam Ad-Daraquthni rahimahullah mengatakan tentang Shalih: “Bukan seorang yang kuat.” Dan hadits ini didhaifkan oleh para imam seperti AlBaihaqi, An-Nawawi dan Al-Hafidz Ibnu Hajar. (Al-Majmu 2/63, At-Talkhisul Habir, 1/171) (Sehingga kembali kepada hukum asal atau bara‟ah ashliyah-red)

9. Makan Makanan yang Dimasak Tidak Membatalkan Wudhu‟
Ulama berselisih pendapat dalam masalah memakan makanan yang dimasak, apakah membatalkan wudhu atau tidak? Dalam hal ini mereka terbagi dalam tiga pendapat: (1) Wajib berwudhu karena memakan makanan yang dimasak yang disentuh api, demikian pendapat Umar bin Abdul Aziz, Al-Hasan, Az-Zuhri, Abu Qilabah, Abu
18

Diberitakan dari hadits Anas radhiallahu 'anhu: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbekam dan shalat setelahnya tanpa berwudhu.” (HR. AdDaraquthni, 1/157 dan Al-Baihaqi, 1/141)

Mijlaz, dan dihikayatkan Ibnul Mundzir dari jama‟ah shahabat: Ibnu Umar, Abu Thalhah, Abu Musa, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan Aisyah radhiallahu „anhum. (2) Tidak wajib berwudhu karena memakan makanan yang dimasak apa pun, termasuk di dalamnya makan daging unta dan sama saja apakah makanan itu disentuh api (dimasak) atau pun tidak. Demikian pendapat jumhur ulama dan dihikayatkan dari Ibnu Mas‟ud, Ubay bin Ka‟ab, Abu Thalhah, Abu Darda, Amir bin Rabi‟ah dan Abu Umamah. Juga pendapat jumhur tabi‟in, Malik, dan Abu Hanifah. Berkata Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah: “Mayoritas ahlul ilmi dari kalangan shahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi‟in dan orang-orang setelah mereka berpendapat tidak perlu berwudhu karena memakan makanan yang dimasak.” (Sunan Tirmidzi, 1/53) Ucapan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim dan di dalam Al-Majmu‟: “Mayoritas ulama berpendapat (makan daging unta) tidaklah membatalkan wudhu, di antara mereka yang berpendapat demikian adalah Al-Khulafa‟ur Rasyidun yang empat…” Ini merupakan anggapan yang keliru dari beliau rahimahullah. Kesalahan beliau ini telah diperingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Qawa‟id An-Nuraniyyah (hal. 9) beliau menyatakan: “Adapun yang dinukilkan dari Al-Khulafa Ar-Rasyidun atau jumhur shahabat bahwa mereka tidak berwudhu karena makan daging unta, maka sungguh orang yang menukilkan demikian telah keliru dalam anggapannya terhadap mereka. Kesalahan anggapan tersebut dikarenakan adanya riwayat dari mereka bahwa mereka tidaklah berwudhu karena memakan sesuatu yang dimasak. Padahal yang diinginkan di sini menurut mereka adalah keberadaan sesuatu yang dimasak bukan sebagai satu sebab diwajibkannya berwudhu. Sementara Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan berwudhu karena makan daging unta bukan disebabkan daging unta ini telah dimasak. Sebagaimana dikatakan: Fulan tidak perlu berwudhu karena menyentuh kemaluannya, walaupun dalam satu keadaan wajib baginya untuk berwudhu setelah menyentuh kemaluannya apabila keluar madzi dari kemaluannya.” (Sebagaimana dinukilkan dari Tamamul Minnah hal. 105) (3) Tidak wajib berwudhu karena memakan makanan yang dimasak apa pun, kecuali makan daging unta secara khusus, demikian pendapat Ahmad, Ishaq, Yahya bin Yahya dan Al-Mawardi menghikayatkan pendapat ini dari jamaah shahabat seperti Zaid bin Tsabit, Abu Musa, Ibnu Umar, Abu Thalhah, Abu Hurairah dan Aisyah radliallahu anhum. Ibnul Mundzir menghikayatkan dari Jabir bin Samurah radhiallahu 'anhu, Muhammad bin Ishaq, Abu Tsaur, Abu Khaitsamah dan ia memilih pendapat ini, demikian pula Ibnu Khuzaimah. (Al-Majmu‟, 2/68) Pendapat (terakhir, yang ketiga–ed) inilah yang rajih dengan hadits Jabir ibnu Samurah radhiallahu 'anhu yang telah terdahulu penyebutannya dan perkataan beliau: “Kami berwudhu dari makan daging unta dan kami tidak berwudhu karena makan daging kambing.” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/46, dishahihkan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah, hal. 106)

WAKTU UNTUK BERWUDHU’
Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu‟. Dengan ini kita akan mengetahui betapa tinggi peranan dan pengaruh dari sebuah amalan wudhu‟. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng. Diantara waktu yang disunnahkan untuk berwudhu‟, yaitu:

1. Berwudhu‟ Ketika Hendak Pergi ke Masjid
Termasuk sunnah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam berwudhu‟ sebelum berangkat shalat berjama‟ah ke masjid. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak berwudhu‟ sebelumnya. Yaitu Allah subhanahu wata‟ala menjadikan barakah pada setiap langkah kaki kanan maupun kiri berupa pengahusan dosa dan penambahan pahala. Sebagaimana Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang dari kalian berwudhu‟, lalu ia menyempurnakan wudhu‟nya, kemudian ia pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu‟jam Al Kabir dari shahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami‟ no. 454)

2. Menyentuh Mushaf Al Qur‟an
Al Qur‟an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memulikan Al Qur‟an sebagai kalamullah (firman Allah) maka disunnhakan berwudhu‟ sebelum memegang kitab suci Al Qur‟an ini. Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dari shahabat Hakim bin Hizam radhiallahu „anhu:

“Janganlah kamu menyentuh Al Qur‟an kecuali dalam keadaan suci”. Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam? Ya, hal itu disunnahkan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Sebagaimana sabdanya: “Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Daud dan An Nasa‟i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani). Tentunya, membaca Al Qur‟an adalah semulia-mulia dzikir kepada Allah subhanahu wata‟ala. Berwudhu’ Ketika Hendak Tidur

Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu‟ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam keadaan suci. Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih Muslim 17/27) Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari sahabat Al Barra‟ bin „Azib, bahwasanya beliau berkata: “Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu‟lah sebagaimana wudhu‟mu untuk shalat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710) Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu‟adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berdzikir dan bersuci, kemudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124) Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ketika hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu‟ lagi sebelum kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas radhiallahu „anhuma: “Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu‟) lalu kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217) Berwudhu’ Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam juga memberikan bimbingan bagi para pasutri (pasangan suami istri) ketika hendak bersetubuh. Hendaknya bagi pasutri berdo‟a sebelum melakukannya, dengan doa‟ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam:

“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan (gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rezikan kepada kami.” (HR. Al Bukhari no. 141) Kemudian ketika sudah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya keduanya berwudhu‟ terlebih dahulu. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang telah berhubungan denga istrinya, kemudia ingin mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu‟ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no 308, At Tirmidzi, Ahmad dari Abu Sa‟id Al Khudri dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ats Tsamarul Mustathob hal.5) Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini dan bila dikarunia anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya. Para pembaca, bila kita baca biografi para „ulama, maka kita dapati mereka amat bersungguhsungguh menjaga wudhu‟nya dalam setiap keadaan. Sebagai contoh, Al Imam Asy Syathibi.

Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk disuatu majlis ilmu, kecuali beliau selalu dalam keadaan suci. Bahkan diantara „ulama ada yang tidak mau membaca hadits-hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam hingga mereka berwudhu‟ terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu‟ ketika hendak membaca hadits, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu‟. Akhir kata, wudhu‟ bukanlah amalan yang remeh bahkan amalan yang besar disisi Allah subhanahu wata‟ala. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci (berwudhu‟) dan berupaya bagaimana berwudhu‟ dengan sempurna yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Maka ikutilah pada edisi-edisi mendatang yang insya Allah akan menampilkan sebuah tema menarik tentang taca cara wudhu‟ yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam.

PERMASALAHAN LAIN SEPUTAR WUDHU’
1. Wudhu’ Makmum Yang Tidak Benar Bukan Penyebab Kacaunya Bacaan Imam
Seorang imam terkadang salah dalam bacaannya. Jika ia salah, maka muncullah beberapa persangkaan yang buruk. Ada diantara mereka berpendapat bahwa kacaunya bacaan imam disebabkan adanya diantara jama‟ah yang tak beres melaksanakan wudhu‟ atau mandi junub. Ini didasari oleh hadits palsu yang bukan hujjah,seperti hadits yang berbunyi:

"Jika kalian sholat di belakang imam kalian, perbaikilah wudhu‟ kalian, karena kacaunya bacaan imam bagi imam disebabkan oleh jeleknya wudhu‟ orang yang ada di belakang imam". [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/63)] Hadits ini palsu, sebab di dalamnya terdapat rowi yang majhul, seperti Abdullah bin Aun bin Mihroz, Abdullah bin Maimun. Rowi lain, Muhammad bin Al-Furrukhon, ia seorang yang tak tsiqoh. Dari sisi lain, sudah dimaklumi bahwa jika Ad-Dailamiy bersendirian dalam meriwayatkan hadits dalam kitabnya Musnad Al-Firdaus, maka hadits itu palsu. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy menyatakan palsunya hadits ini dalam AdhDho’ifah (2629).

Contents
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 1 DEFINISI DAN BATASAN WUDHU’ ........................................................................................................... 2 Pengertian Secara Bahasa ................................................................................................................... 2 Pengertian Secara Syari’at .................................................................................................................. 2 HIKMAH WUDHU’ ................................................................................................................................... 3 KEUTAMAAN WUDHU’............................................................................................................................ 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. Syarat Memasuki Sholat ............................................................................................................. 4 Penghapus Dosa Kecil & Pengangkat Derajat ............................................................................. 5 Tanda Pengikut Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. ................................................................... 7 Separuh Iman .............................................................................................................................. 8 Jalan Menuju Surga ..................................................................................................................... 9 Pelepas Ikatan Setan ................................................................................................................... 9

Syarat-syarat wudhu ............................................................................................................................. 11 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Islam, ......................................................................................................................................... 11 Berakal, ..................................................................................................................................... 11 Tamyiz ....................................................................................................................................... 11 Niat; ........................................................................................................................................... 11 Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang suci sebagaimana yang telah lewat. ............ 11 Wudhu disyaratkan juga menggunakan air yang mubah (boleh untuk dipergunakan). .......... 11 Wudhu disyaratkan untuk didahului dengan istinja’ dan istijmar ............................................ 12

8. Wudhu disyaratkan juga untuk menghilangkan hal-hal yang menghalangi sampainya air kekulit................................................................................................................................................ 12 MEMBERSIHKAN NAJIS ......................................................................................................................... 13 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kencing ...................................................................................................................................... 13 Kotoran Manusia ....................................................................................................................... 13 Wadiy ........................................................................................................................................ 15 Madzi......................................................................................................................................... 15 Darah haid yang mengenai pakaian .......................................................................................... 15 Kulit bangkai.............................................................................................................................. 16 Air liur anjing pada bejana ........................................................................................................ 16

AIR YANG SUCI LAGI MENYUCIKAN ...................................................................................................... 18 NAJIS YANG DIPERSELISIHKAN .............................................................................................................. 19 1. air liur anjing, ............................................................................................................................ 19

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

mani, ......................................................................................................................................... 19 orang kafir, ................................................................................................................................ 19 khamar, dan .............................................................................................................................. 19 Darah -selain Haidh, dan Nifas- adalah Suci ............................................................................. 19 Muntah Manusia adalah Suci.................................................................................................... 21 Keringat dan Ludah adalah Suci ................................................................................................ 21 Daging Babi adalah Suci ............................................................................................................ 22 Bekas makanan dan minuman hewan adalah Suci ................................................................... 23

RUKUN DAN KEWAJIBAN WUDHU’ ....................................................................................................... 24 Dalil sifat wudhu Nabi -alaihishshalatu wassalam-. ......................................................................... 24 Rukun Wudhu’ .................................................................................................................................. 24 Wajib Wudhu’ ................................................................................................................................... 25 Sunnah Wudhu’ ................................................................................................................................ 26 MENCUCI TELAPAK TANGAN ................................................................................................................ 28 1. 2. 3. Didahului dengan bersiwak atau menyikat gigi. ....................................................................... 28 Lalu membaca basmalah........................................................................................................... 28 Sunnah Mencuci Tangan ........................................................................................................... 29

Memutar Cincin Ketika Mencuci ....................................................................................................... 30 MEMBASUH WAJAH.............................................................................................................................. 31 MENCUCI KEDUA TANGAN ................................................................................................................... 33 Hukum Wudhu bagi Wanita yang Berkuteks .................................................................................... 33 MEMBASUH KEPALA DAN TELINGA ...................................................................................................... 35 Mengusap Sebagian Kepala Sudah Mencukupi ................................................................................ 35 Mengusap Kepala Seluruhnya Lebih Mengikuti Sunnah .................................................................. 35 Telinga Wajib Diusap Seperti Halnya Mengusap Kepala dengan Air Sisa Usapan Kepala ................ 35 Mencuci Kedua Kaki .............................................................................................................................. 37 Dalil wajibnya .................................................................................................................................... 37 Kewajiban mencuci bukan mengucap .............................................................................................. 37 DOA SETELAH WUDHU’......................................................................................................................... 39 PEMBATAL WUDHU’ YANG SAHIH ........................................................................................................ 40 1. a. b. c. Semua yang keluar dari qubul dan dubur ................................................................................. 40 Buang Air Besar dan Buang Air Kecil.................................................................................. 40 Keluar Wadhi ........................................................................................................................ 40 Keluar Madzi, ....................................................................................................................... 40

d. e. 2. a. b. 3.

Kentut (Keluar Angin dari Dubur) ........................................................................................ 41 Keluar hadats besar ............................................................................................................... 42 Kehilangan Akal ......................................................................................................................... 43 Tidur...................................................................................................................................... 43 Pingsan, mabuk, dan gila ...................................................................................................... 46 Makan Daging Unta................................................................................................................... 46

PEMBATAL WUDHU’ YANG DIPERSELISIHKAN...................................................................................... 48 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Menyentuh Wanita Tidak Membatalkan Wudhu’ .................................................................... 48 Tidur yang tidak nyenyak tidak membatalkan wudhu’ ............................................................. 51 Menyentuh Kemaluan Tidak Membatalkan Wudhu ................................................................. 51 Muntah Tidak Membatalkan Wudhu’ ....................................................................................... 54 Mimisan Tidak Membatalkan Wudhu’ ...................................................................................... 56 Darah Istihadhah Tidak Membatalkan Wudhu’. ....................................................................... 57 Mengangkat dan memandikan jenazah Tidak Membatalkan Wudhu’ ..................................... 58 Berbekam (Hijamah) Tidak Membatalkan Wudhu’ .................................................................. 59 Makan Makanan yang Dimasak Tidak Membatalkan Wudhu’ ................................................. 59

WAKTU UNTUK BERWUDHU’................................................................................................................ 62 1. 2. Berwudhu’ Ketika Hendak Pergi ke Masjid ............................................................................... 62 Menyentuh Mushaf Al Qur’an .................................................................................................. 62

PERMASALAHAN LAIN SEPUTAR WUDHU’ ........................................................................................... 65 1. Wudhu’ Makmum Yang Tidak Benar Bukan Penyebab Kacaunya Bacaan Imam ..................... 65

REFERENSI ............................................................................................................................................. 69 10. HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU’, Oleh: admin : Di: Fiqih, http://www.assalafy.org/mahad/?p=39 .......................................................................................... 69

REFERENSI
1. Sumber : Beginilah Cara Wudhu dalam Sunnah, Buletin Jum‟at At-Tauhid edisi 118 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te‟ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa‟izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa‟izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma‟had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa‟izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)
2. Sumber : Menguak Keutamaan Wudhu, Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 115 Tahun II

3. Sumber : Jurnal Al-Atsariyyah Vol. 01/Th01/2006, http://almakassari.com/artikelislam/fiqh/apakah-mimisan-membatalkan-wudhu.html 4. Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=69, INDAHNYA KESUCIAN, Penulis:
Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari, Syariah, Seputar hukum Islam, 29 - Juni - 2003, 14:45:15

5. http://almakassari.com/artikel-islam/fiqh/ternyata-bukan-najis-bag-ii.html, Buletin Jum‟at Al-Atsariyyah edisi 73 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te‟ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa‟izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa‟izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma‟had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa‟izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp) 6. http://almakassari.com/tanya-jawab/memakai-cincin-saat-wudhu.html. (Dijawab oleh Ust.
Hammad Abu Mu’awiyah)

7. http://almakassari.com/tanya-jawab/menyentuh-kemaluan-membatalkan-wudhu.html,
Dijawab oleh Ust. Hammad Abu Mu’awiyah)

8. http://almakassari.com/artikel-islam/hadits/sebab-kacaunya-bacaan-imam.html, Sumber :
Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,/exp)

9. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=7, Selasa, 27 April 2003 - 20:18:09, Penulis : Ustadz Abu Ishaq : Problema AndaMenyentuh Wanita Membatalkan Wudhu’? 10. HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU‟, Oleh: admin http://www.assalafy.org/mahad/?p=39

MuslimKategori : Di: Fiqih,

11. http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/hukum-wudhu-bagi-wanita-yangberkuteks/, Sumber: Asy Syariah No. 49/V/1430 H/2009, Katagori: Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, Halaman 89 s.d. 90. Hukum Wudhu bagi Wanita yang Berkuteks, posted in Fatwa Ulama, Fiqh Ibadah | Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al Utsaimin rahimahullahu 12. http://al-atsariyyah.com/?p=522, Sifat Wudhu, [Asal sifat wudhu ini kami nukil dari kitab AtsTsamar Al-Mustathab fi Fiqih As-Sunnah wa Al-Kitab karya Asy-Asyaikh Al-Albani: 1/10-11 dengan beberapa perubahan] 13. Keutamaan Wudhu, http://al-atsariyyah.com/?p=1800, 14. Sifat Wudhu Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, http://al-atsariyyah.com/?p=1805,

15. http://www.asysyariah.com/syariah.php?id_online=689&menu=detil, Berwudhu dan Tata
Caranya, Jum'at, 20 Juni 2008 - 02:27:26, Penulis : Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.Kategori : Khutbah

16. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=565, Wajibkah membaca bismillah ketika akan wudhu', Kamis, 01-Februari-2007, Penulis: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 17. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=648, BAB Tentang Hukum-Hukum Wudhu,
Dikutip dari Buku “Ringkasan Fiqih Islami” Terbitan Pustaka Salafiyyah 18. http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/pembatal-pembatal-wudhu/, http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=237, Pembatal-Pembatal Wudhu, Penulis : Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari

19.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->