P. 1
Dimensi Best Practice

Dimensi Best Practice

2.0

|Views: 8,038|Likes:
Published by isfan1

More info:

Published by: isfan1 on Jun 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2015

pdf

text

original

Sections

Pengertian Best Practice

BEST PRACTICE adalah suatu ide atau gagasan mengenai suatu
teknik, metode, proses, aktivitas, insentif atau penghargaan (reward)
yang lebih efektif dalam mencapai keberhasilan yang luar biasa
dibandingkan dengan tehnik, metode, proses lain. Ide atau gagasan yang
dengan pengawasan dan pengujian yang sesuai, dapat memberikan hasil
yang diharapkan dengan lebih sedikit permasalahan dan komplikasi yang
tidak terduga. BEST PRACTICE dapat juga didefinisikan sebagai cara yang
paling efisien (emerlukan usaha minimum) dan paling efektif
(menghasilkan hasil terbaik) untuk menyelesaikan suatu tugas/pekerjaan,
berdasarkan prosedur yang berulang-ulang (disampaikan di berbagai
tempat) dengan memberikan bukti nyata yang dapat mengubah perilaku
sejumlah orang.

Meskipun kebutuhan akan peningkatan terus berproses sejalan
dengan perubahan waktu dan perkembangan berbagai hal, Best Practice
dipertimbangkan oleh beberapa orang sebagai konsep istimewa yang
biasa digunakan untuk menggambarkan proses perkembangan dan
mengikuti tata cara standar yang telah ditetapkan dalam melakukan
berbagai hal yang dapat digunakan oleh berbagai organisasi untuk
kepentingan menajemen, kebijakan dan terutama sistem pembinaan.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup Best Practice mencakup pelaksanaan tugas yang
dilakukan oleh kepala sekolah/pengawas sekolah dalam mengelola
sekolah/KKG/MGMP, yang mencakup keterlaksanaan 8 Standar Nasional
Pendidikan, yaitu:
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Isi
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Kelulusan
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Proses
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Tenaga Pendidik/Tenaga
Kependidikan
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Sarana/Prasarana
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Pengelolaan Sekolah
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Pembiayaan
• Keberhasilan pelaksanaan Standar Penilaian Pendidikan
Disamping itu, juga mencakup keberhasilan Pengelolaan KKG/MGMP,
pengelolaan sekolah, pembinaan sekolah, pembinaan kepala sekolah, dan
pembinaan guru.

Program BERMUTU

37

Diseminasi Best Practice

Dari sekian banyaknya cakupan, yang terkait dengan pengelolaan
KKG/MGMP adalah keberhasilan pelaksanaan standar isi, standar kelulusan,
standar proses, dan standar penilaian. Sedangkan standar tenaga
pendidik/tenaga kependidikan, standar sarana/prasarana, standar pengelolaan
sekolah, dan standar pembiayaan berkaitan dengan pengelolaan sekolah,
pembinaan sekolah, dan pembinaan guru/staf/kepala sekolah.

Ciri-Ciri Best Practice

1. pengembangan praktik pembelajaran/pengelolaan pendidikan;
2. didiseminasikan di berbagai tempat secara berulang-ulang;
3. peningkatan kualitas pendidikan;
4. meingkatkan profesionalisme guru, kepala sekolah, dan pengawas
dalam pengelolaan pendidikan;
5. mengubah hambatan dan ancaman menjadi kekuatan dan peluang
untuk berinovasi secara kreatif;
6. menghasilkan output yang lebih bermanfaat bagi semua pihak (siswa,
guru, kepala sekolah, pengawas, orang tua, komite, dan masyarakat
pada umumnya);
7. terkendali, kejelasan program baik jangka pendek, menengah,
maupun panjang;
8. berdasarkan temuan masalah nyata yang terjadi di lapangan;
9. dapat dilakukan dalam berbagai bentuk (bimbingan dan konseling,
supervisi klinis, supervisi manajerial, kunjungan kelas, lesson study,
dan lain-lain);
10. mengacu pada program sekolah untuk mencapai tujuan yang
dicanangkan;
11. adanya pengakuan bahwa keberhasilan tersebut bisa ditiru, diadopsi
oleh orang lain;
12. meningkatkan kualitas, mudah, murah, bisa dilaksanakan, memotivasi,
memberikan hasil yang bermanfaat, dan berkelanjutan.

Situasi

Motivasi

Situasi sebelum
program:
• apa yang
menjadi
persoalan;
• bagaimana
persoalan
dipecahkan;
• bagaimana
kondisi sekolah
(sosial,ekonomi,

• apa motivasi di balik pelaksanaan program:
• bagaimana peran stakeholder;
• bagaimana prioritas program ditentukan;
• apa yang dianggap inovasi dari program;
• tindakan apa yang telahdilakukan;
• bagaimana tindakan tersebut dipilih;
• bagaimana dukungan sumber daya yang ada;
• dari mana sumber dana, dan bagaimana
melaksanakan mobilisasi dana dan dukungan
teknis;

Panduan Belajar Manajemen

38

Diseminasi Best Practice

Situasi

Motivasi

lingkungan).

• siapa yang memegang peran kepemimpinan
dalam perumusan tujuan dan implementasi
jaringan;
• persoalan apa yang dihadapi selama
pelaksanaan program;
• bagaimana mengatasi persoalan, dan apakah
inovasi dapat membantu kebutuhan sekolah.

Hasil dan Dampak

Berkelanjutan

Pengukuran hasil dan dampaknya:
• apakah tujuan program cukup realistis;
• apa yang terjadi setelah prakarsa inovasi
dijalankan;
• bagaimana hasilnya secara kualitatif dan
kuantitatif;
• apakah menggunakan indikator untuk
mengukur hasil/dampak;
• apakah koordinasi dan integrasi menjadi lebih
baik;

• bagaimana dampak terhadap strtegi/kebijakan
di tingkat lokal/daerah/nasional dan
kelembagaan;
• adakah kesempatan (opporttopikies)
perubahan;
• bagaimana memanfaatkan kesempatan;
• apa dampak program terhadap penggunaan
dan pengelolaan sumberdaya manusia dan
sumber daya lingkungan.

• apakah
program sudah
menjadi
kebutuhan dan
kebiasaan
dalam
kegiatan;
• apakah
program
tersebut sudah
dilembagakan.

Program BERMUTU

39

Diseminasi Best Practice

Pengalaman

Potensi
Pengembangan

Studi Banding

Pengalaman yang perlu
dipelajari (lesson learned)
dan action plan:
• adakah lesson learned dari
program;
• bagaimana lesson learned
memberi sumbangsih pada
pembentukan
berkelanjutan program;
• bagaimana lesson learnd
menjadi salah satu
pertimbangan dalam
perumusan/penentuan
kebijakan, strategi, dan
tindak lanjut (action plan).

Potensi
pengembangan:
• penerapan
program untuk

transferabilit;

• apa hikmah
atau teladan
yang dapat
dipelajari atau
ditiru dari
pengalaman
orang lain;
• sudahkan
program
inisiatif ini
diterapkan;

Best Practice

dapat dijadikan
studi banding;
• dikunjungi oleh
KKG/MGMP/
Sekolah lain;
• mengunjungi
KKG/MGMP/
Sekolah lain

Panduan Belajar Manajemen

40

Diseminasi Best Practice

Lampiran 2

CONTOH BEST PRACTICE KEPALA SEKOLAH

Judul: Membina Guru dan Rekan Sejawat dalam Peningkatan Kinerja
Oleh : Kepala SDN Bandungkulon IV Jawa Barat (2007-2008)

Saya adalah seorang kepala sekolah yang baru diangkat beberapa
bulan yang lalu melalui promosi tanggal 27 Maret 2007. Saya berasal dari
guru SD Percobaan yang merupakan etalase di wilayah kecamatan dan
kota, yang merupakan sekolah percontohan dalam berbagai hal yang
berkaitan dengan perubahan dalam kurikulum. Di sekolah dari mana
saya berasal, saya mempunyai jabatan sebagai wakil kepala sekolah
(wakasek) bidang kesiswaan. Saya pernah meraih beberapa prestasi
dalam kaitan saya sebagai guru yaitu peringkat 10 besar dari 500 peserta
di tingkat nasional dalam pelatihan penggunaan alat peraga KIT IPA.
Pernah meraih peringkat pertama di tingkat propinsi dalam inovasi
pembelajaran tematik.

Saya memiliki kompetensi bukan karena sering mengikuti
pelatihan tetapi melalui diskusi dengan teman sejawat dan jemput bola
dalam pembaharuan yang berkaitan dengan PBM dalam pendidikan
dengan mendatangi narasumber yang kompeten dan dapat dijadikan
sumber belajar dan informasi.
Saat ini saya ditempatkan di sebuah SD, di wilayah yang sama
dengan sekolah sebelumnya, tepatnya di SD Bangdungkulon IV sebagai
kepala sekolah. Saya sama tidak menyangka, ternyata di wilayah
kecamatan di mana saya berada adalah SD yang memprihatinkan baik
segi Fisik sekolah, personil (guru, kepala sekolah, dan komite), juga
keadaan siswa-siswanya.
Fisik sekolah jauh dari kelayakan.

Contoh:
1. masih ada siswa yang belajar tanpa menggunakan bangku (duduk di
lantai) sementara lantainya pun sudah rusak;
2. ruangan kelas yang tidak layak pakai. Bocor jika hujan dan dinding
tanpa jendela;
3. sarana/prasarana untuk PBM kurang lengkap;
4. ekonomi orang tua siswa jauh di bawah standar. Sebagian besar
mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap. Mereka adalah pengamen
yang lebih tertarik membawa anaknya menjadi pengamen daripada
mendukung belajar di sekolah.
5. guru-guru yang sudah senior tidak kreatif. Sangat pasif. Kualifikasi
pendidikan 80% adalah lulusan SPG/SGO. Hanya 20% yang berizasah
sarjana.

Saya merasa sangat sedih pertama kali datang ke tempat itu.
Bertanya-tanya dalam hati mengapa “masih ada sekolah yang seperti
ini”? Saya tidak bisa duduk diam, kemudian melakukan tindakan sebagai

Program BERMUTU

41

Diseminasi Best Practice

berikut.
1. memotret keadaan fisik sekolah;
2. mencari donatur dari beberapa tempat;
3. mengajukan proposal ke dinas kota dengan membawa bukti fisik
dengan melampirkan bukti fisik foto-foto yang saya buat agar
diberikan bantuan untuk perbaikan ruangan;
4. membina para guru dan rekan sejawat dalam membuka wawasan
melalui Whorkshop maupun In Hause Training dalam gugus;
5. mengadakan pertemuan dengn orang tua siswa secara bergiliran dan
bertahap agar orang tua siswa lebih memperhatikan anaknya dalam
pendidikan.

Pertama kali saya melakukan pertemuan dengan guru-guru
disambut dengan baik dan mereka mengatakan belum pernah ada binaan
yang dilakukan seperti yang saya lakukan ( maaf dalam hal ini saya tidak
menyalahkan siapapun tetapi mari kita merefleksi bersama mengapa
sampai terjadi hal seperti ini, di mana keadaan guru dan fisik sekolah
yang sangat terbelakang dibandingkan dengan sekolah di mana saya
berada sebelunnya).

Segera saya membuat program untuk disosialisaskan secara
bersama-sama dalam satu komplek sekolah yang terdiri dari 4 sekolah.
Program didukung. Tetapi dalam praktiknya tidak dilaksanakan
sebagaimana mestinya. Karena mereka merasa terlalu dibebani dengan
aturan-aturan dan pembiasaan yang merupakan kewajiban bagi guru dan
kepala sekolah.

Guru-guru dalam menlaksanakan PBM terbiasa:
1) keluar kelas untuk mengobrol dengan rekan sejawat;
2) tanpa membuat persiapan
3) administrasi dan pengelolaan kelas kurang diperhatikan
Dengan keadaan seperti ini tentunya dapat dibayangkan apakah
program pemerintah untuk peningkatan kualitas pendidikan akan
tercapai?

Hal inilah yang menggerakkan hati saya untuk bisa mengubah situasi
dan iklim sekolah yang kurang baik ini. Langkah berikutnya yang saya
lakukan adalah: menata sekolah, membina guru-guru dengan
membenahi administrasi secara terus-menerus, dan akhirnya
membuahkan hasil. Saat itu guru merasa terbebani. Tetapi dalam suatu
kesempatan latihan kerja di gugus guru-guru dari SDN Bandungkulon
dapat memimpin dan menjadi panutan bagi guru-guru sekolah lain
dalam wilayah gugus.
Kemudian saya memberikan perintah yang lebih tegas dalam setiap
pengarahan. Hal ini saya lakukan berdasarkan pengalaman di sekolah
sebelumnya. Untuk meraih suatu keberhasilan maka sekolah harus:
1. membentuk wakasek (kurikulum, kesiswaan, sarana/prasarana,

humas);
2. memberikan arahan dalam membuat program-program;
3. mendiskusikan berbagai dana yang berkaitan dengan keterlaksanaan

program;
4. mengawasi, mengevaluasi setiap kegiatan agar ada tindak lanjut;

Panduan Belajar Manajemen

42

Diseminasi Best Practice

5. memberikan contoh mengajar yang benar ke setiap jenjang kelas
secara bergiliran;
6. mengajar di kelas tematik di kelas 1,2,3, untuk mata pelajaran
bahasa inggris.

Saya selalu mengarahkan kepada guru-guru bahwa kemauan
merupakan faktor yang pertama dan utama sebab kemampuan akan
mengikuti sejalan dengan kemauan itu.
Pada saat ini guru-guru yang berada di komplek SDN Bandungkulon
menyadari akan kebutuhan adanya perubahan melalui binaan-binaan
yang saya berikan, apalagi sekarang refitalisasi gugus benar-benar
sedang diberdayakan di wilayah kami. Bahkan permintaan tidak hanya
diminta oleh gugus saya sendiri, tetapi guru-guru dan kepala sekolah
dari gugus lain pun meminta untuk diberikan binaan dan arahan.

Program BERMUTU

43

Diseminasi Best Practice

Lampiran 3

CONTOH BEST PRACTICE PENGAWAS SEKOLAH
(telah didiseminasikan dalam Pembinaan Peserta Seleksi Pengawas
Berprestasi Propinsi Jawa Barat di LPMP Jawa Barat dan dalam Forum Diklat
Pengawas Bahasa di P4TK Bahasa Srengseng Jakarta Selatan)

DISEMINASI BEST PRACTICE PENGAWAS BERPRESTASI TAHUN 2007

Oleh:
Pengawas SMP Kota Sukabumi Propinsi Jawa Barat (2001-2007)

Disampaikan dalam pembekalan peserta seleksi
pengawas berprestasi Propinsi Jawa Barat tanggal 30 Mei 2008
di LPMP Jawa Barat

Sering saya diminta menceritakan kisah keberhasilan saya setelah
berhasil meraih juara I Pengawas SMP Berprestasi Tingkat Jawa Barat
dan juara III di Tingkat Nasional tahun 2007. Mereka yang meminta
kebanyakan dari guru dan kepala sekolah, dan birokrat pendidikan di
daerah saya bekerja Kota Sukabumi Jawa Barat.
Selain itu, ada juga permintaan khusus dari panitia seleksi
pengawas berprestasi Tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 2008 yang
meminta saya untuk memaparkannya di hadapan para calon peserta
seleksi tahun 2008. Atas permintaan itulah saya buatkan naskan kisah
sukses dalam bentuk power point. Selanjutnya ketika saya menjadi
peserta diklat pengawas bahasa di P4TK Bahasa Srengseng Jakarta
Selatan bulan Juli 2008, mantan Sekjen APSI (Sofyan Salim,MM) juga
meminta saya untuk menceritakan di hadapan para peserta diklat yang
jumlahnya sekitar 60 orang yang berasal dari 13 propinsi seluruh
Indonesia. Apa yang telah saya tulis dalam PowerPoint, saya paparkan
kembali di hadapan mereka.
Dalam kesempatan ini, saya salin kembali sebagai contoh Best
Practice pengawas SMP berprestasi yang pernah saya alami. Mudah-
mudahan memotivasi para pembaca untuk lebih berprestasi dalam
meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia pada umumnya.
Adapun kisah itu, sebagai berikut.
Surat Keputusan (SK) saya sebagai pengawas sekolah, saya terima
bulan September 2001. Sebelum itu saya adalah guru dan kepala
sekolah. Pengawas merupakan jabatan karier.
Mengawali tugas sebagai pengawas saat itu, sungguh sangat berat.
Karena periode tersebut adalah periode perubahan sistem pemerintahan
dari sentralisisasi ke desentralisasi. Otonomi pemerintahan mulai
dilaksanakan yang berpengaruh terhadap pengelolaan pendidikan di
daerah. Pencitraan masyarakat terhadap jabatan pengawas pun mulai
bergeser. Dari yang semula pengawas merupakan jabatan strategis

Panduan Belajar Manajemen

44

Diseminasi Best Practice

sebagai kepanjangtanganan Pemerintahan Tingkat Propinsi di daerah
Kota/Kabupaten, berubah menjadi pengawas sebagai jabatan transit
untuk memperpanjang usia dinas menunggu pensiun. Sehingga kesan
masyarakat terhadap jabatan pengawas adalah jabatan menunggu waktu
yang tidak jelas arah tugas pokok dan tanggung jawabnya. Hal ini benar-
benar membuat hati saya gundah, tidak nyaman berada pada posisi
jabatan pengawas.

Untuk mengatasi kondisi tersebut saya berusaha membaca buku-
buku tentang kepengawasan. Dari buku tersebut timbul niat saya untuk
melaksanakan tugas sesuai peraturan-perundang-undangan yang berlaku
tentang tugas pokok, fungsi (Tupoksi), dan peran pengawas. Saya susun
program kerja, jadwal pembinaan guru dan kunjungan sekolah,
instrumen supervisi, dan saya laksanakan tugas kepengawasan sesuasi
dengan yang tertuang dalam Tupoksi pengawas. Banyak kalangan yang
pro dan kontra. Diantaranya para kepala sekolah dan guru-guru. Sering
ketika saya akan melaksanakan tugas sesuai dengan jadwal
supervisi/pembinaan, tanggapan mereka kurang baik. Saya diacuhkan.
Jika menanyakan kesulitan apa yang perlu dibantu, seolah-olah mereka
tidak punya masalah dan tidak punya kesulitan.
Ketika saya menyodorkan instrumen supervisi untuk diisi, hampir
semua komponen yang saya tanyakan dijawab ada atau ya. Tetapi
setelah saya lanjutkan dengan studi dokumen untuk mengetahui
keberadaan komponen yang ditanyakan dalam instrumen, saya temukan
adanya ketidaksesuaian. Beberapa komponen belum lengkap dan tidak
ada (program jangka panjang-menengah-pendek, pengembangan
kurikulum sekolah, program pengembangan diri, analisis hasil evaluasi
belajar, program perbaikan/pengayaan, laporan praktikum). Di saat
itulah saya mulai berkomentar.Diskusi pun berlanjut. Karena hal ini saya
lakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan, lama-lama para guru
dan kepala sekolah menunjukkan reaksinya dengan memperbaiki
komponen yang sudah dibuat. Membuat dan mengerjakan yang belum
ada. Bahkan lama-kelamaan saya diminta untuk memberikan pembinaan
kepada seluruh guru di sekolah binaan. Kadang-kadang juga diminta
memberikan pembinaan di sanggar MGMP mata pelajaran yang bukan
binaan saya, seperti MGMP Pendidikan Agama Islam SMP/SMA dan
Matematika SMP.

Mendengar dari satu dan yang lain, kepala SMA dan SD pun sering
mengundang saya untuk memberikan materi (sebagai narasumber) dalam
workshop maupun in hause training.
Rasa percaya diri saya sebagai pengawas mulai muncul. Hal itu
dipertajam ketika saya diundang juga oleh daerah lain (luar
Kota/Kabupaten) tempat saya bekerja. Wuuahhh bangga menyandang
jabatan sebagai pengawas sekolah. Dapat perbagi pengetahuan dengan
guru maupun kepala sekolah, dapat memberikan kontribusi positif dunia
pendidikan.

Semua hasil pembinaan saya arsipkan, dan setiap akhir semester
saya rangkum untuk disimpulkan, direkomendasikan kepada pimpinan,
dan dijilid untuk menambah koleksi isi rak buku saya yang jumlahnya
sangat minim.

Meskipun awalnya banyak hambatan, namun secara berkelanjutan
hal itu saya lakukan. Selesai melaksanakan supervisi klinis guru yang

Program BERMUTU

45

Diseminasi Best Practice

satu, pindah ke guru lainnya. Selesai sekolah satu, pindah ke sekolah
lainnya. Bahkan tidak jarang saya pun melakukan penilaian terhadap
guru dan kepala sekolah, terutama ketika mereka akan mengusulkan
kenaikan pangkat. Termasuk melaksanakan penelitian. Namun penelitian
yang saya lakukan saat itu masih seputar penelitian deskriptif,
komparatif, dan asosiatif. Baru satu yang berupa penelitian tindakan
yang saya lakukan di salah satu sekolah binaan saya yaitu SMPN 6 Kota
Sukabumi. Itupun belum sempat saya tulis laporannya.
Ketika Tahun 2007 saya direkomendasi oleh teman pengawas se-
Kota Sukabumi untuk mewakili peserta seleksi pengawas berprestasi
tingkat Propinsi Jawa Barat, saya menulis laporan Penelitian Tindakan
Sekolah (PTS) tersebut.

Adapun beberapa penelitian lainnya yang pernah saya tulis adalah:
• Analisis Hubungan antara Diklat, Motivasi, dan
Kepemimpinan terhadap Kinerja Pengawas Sekolah pada
Lembaga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota/Kabupaten
Sukabumi Tahun 2003;
• Analisis Hubungan antara Kepemimpinan Kepala Sekolah
dengan Kinerja Guru pada SMPN I Kota Sukabumi Tahun 2005;
• Analisis Kecepatan Efektif Membaca (KEM) Guru Bahasa
Indonesia SMA Kota Sukabumi Tahun 2005;
• Analisis Penyebab Ketidakhadiran Siswa SMP Kota Sukabumi
pada Ujian Nasional Utama Tahun 2005;
• Analisis Program Kelas Percepatan Belajar SMAN I Kota
Sukabumi Tahun 2006;
• Analisis Program Kelas Percepatan Belajar SMAN I Kota
Sukabumi Tahun 2006.
Laporan PTS “Upaya Meningkatkan Mutu Manajerial Sekolah
melalui Pembinaan Terfokus pada SMPN 6 Kota Sukabumi Tahun 2007”
inilah, yang saya lampirkan sebagai perlengkapan seleksi di tingkat
propinsi. Dan laporan ini juga yang saya presentasikan di tingkat
nasional. Alhamdulillah bukti fisik lainnya yang berupa laporan hasil
pengawasan selama 4 tahun, dan bukti-bukti fisik lainnya dapat saya
siapkan secepatnya karena berkas-berkas tersebut memang sudah
terarsipkan. Tinggal menyusun dan melengkapi dengan pengesahan.
Dengan berbekal telaten dan berkelanjutan dalam melaksanakan
tugas pengawasan, doa dan dukungan berbagai pihak, alhamdulillah saya
dapat masuk nominasi walaupun hanya sebagai juara III di tingkat
nasional.

Adapun langkah-langkah yang saya lakukan khusus menjelang
seleksi tahun 2007 adalah sebagai berikut.
• membaca buku panduan seleksi pengawas berprestasi tahun 2007;
• melengkapi persyaratan;
• mengumpulkan penilaian dari guru, kepala sekolah, dan teman
sejawat;
• mengisi curiculum vitae dan melengkapi lampirannya;
• menyusun karya tulis dan mengumpulkan yang sudah ada;

Panduan Belajar Manajemen

46

Diseminasi Best Practice

• menyusun portofolio;
• membaca buku dan perundang-undangan yang berhubungan
dengan pendidikan dan kepengawasan;
• belajar bahasa Inggris dan komputer dengan berbagai variasinya;
• berkonsultasi dengan orang-orang yang lebih tahu.

Isi Portofolio:

• Program pengawasan sesuai persyaratan (selama 2 th/4 th);
• Laporan hasil pengawasan sesuai persyaratan (selama 2 th/4 th)
yang berisi laporan supervisi manajerial, akademik, evaluasi
pendidikan (kinerja kepala sekolah, guru, staf).

Jenis Berkas yang Dikumpulkan :

• Curiculum Vitae beserta lampirannya;
• Hasil penilaian guru, kepala sekolah, dan teman sejawat;
• Karya tulis hasil penelitian tindakan sekolah (PTS);
• Portofolio.

Materi Tes :

• Psycho test 10%;
• Tes kompetensi 15 %;
• CV & kemitraan 10%;
• Karya tulis unggulan 20%;
• Program kerja 15 %;
• Laporan program kerja 15%;
• Instrumen supervisi 15%.

Ketika Seleksi

• Hadir tepat waktu;
• Menyerahkan berkas-berkas yang disyaratkan;
• Memahami soal-soal yang disodorkan;
• Menjawab soal mulai dari yang termudah;
• Meneliti kembali sebelum berkas jawaban dikumpulkan;
• Mengikuti seluruh tata tertib dan aturan yang berlaku (baik dalam
tes akademik maupun non akademik).

Usai Seleksi

• Menerima hadiah dari Kota, Propinsi, PGRI Jawa Barat, harian
Pikiran Rakyat, dan Nasional.
• Menerima hadiah perjalanan Umroh dari Gubernur Jabar.
• Studi banding ke Guanxy Normal University Guilin China.
• Menghadiri berbagai undangan sebagai penyaji materi dalam diklat
guru, workshop kepala sekolah, maupun in hause training guru-
guru di persekolahan.

Program BERMUTU

47

Diseminasi Best Practice

Gambar 1. Pemberian penghargaan Best Practice pengawas SMP
berprestasi Tahun 2007 oleh Depdiknas.

Gambar 2. Studi banding ke Guanxy Normal University Guilin China
sebagai paket penghargaan Best Practice pengawas SMP
berprestasi Tahun 2007 oleh Depdiknas.

Kunci keberhasilan:
1. Memahami dan melaksanakan peraturan dan perundang-undangan
yang berlaku.
2. Melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab.
3. Mengarsipkan dokumen-dokumen penting.

Panduan Belajar Manajemen

48

Diseminasi Best Practice

Lampiran 4

STRATEGI PENYUSUNAN BEST PRACTICE

Langkah-langkah Pengembangan Strategi Best Practice

Keunggulan organisasi yang terpelihara secara terus-menerus
menurut LANCE A. BERGER dan DOROTHI R. BERGER yakni melalui tiga
strategi pengelolaan SDM (Sumberdaya Manusia). Ketiga strategi tersebut
adalah:

1. mengidentifikasi, menyeleksi, dan mengembangkan superkeeper
(personal yang mampu mengembangkan kinerja unggul, yang
memberi inspirasi kepada personal lainnya untuk menghasilkan
kinerja unggul juga);
2. mendapatkan, mengembangkan dan menempatkan personal yang
berkualifikasi tinggi pada posisi kunci. Posisi kunci ini sangat penting
untuk kelangsungan suatu organisasi, tidak boleh kosong pada waktu
yang lama dan tidak boleh diisi oleh personal yang tidak
berkualifikasi;
3. mengalokasikan sumber daya (balas jasa, pelatihan, dan lain-lain)
kepada para personal berdasarkan realisasi/potensi kontribusi pada
keunggulan organisasi. Dengan demikian investasi kepada para
personal berdasarkan urutan kontribusinya dilakukan mulai dari
superkeeper, berikutnya keeper, lalu solid citizen dan terakhir
misfit.

Untuk mengoptimalkan kemampuan dalam mencapai keunggulan
yang langgeng, organisasi harus memiliki manajemen talenta yang
proaktif dan memiliki cara yang sistematik untuk melakukan aktifitas-
aktivitas tersebut.
Dalam kontek pendidikan strategi yang terkait dengan Best Practice
adalah:

1. mengidentifikasi permaslahan-permasalahan yang ada (need
assesment) di KKG/MGMP dan sekolah yang dikelola;
2. menyeleksi dan mengembangkan guru inti (personal yang mampu
mengembangkan kinerja unggul, yang memberi inspirasi kepada
personal lainnya untuk menghasilkan kinerja unggul juga) yang
berperan sebagai motor dalam KKG/MGMP dan sekolah yang
dikelola;
3. menempatkan guru inti (personal yang berkualifikasi tinggi) pada
posisi kunci. Posisi kunci ini sangat penting untuk keberlangsungan
KKG/MGMP/sekolah, sehingga tidak boleh kosong pada waktu yang
lama dan tidak juga diisi oleh guru yang tidak berkualifikasi;
4. mengalokasikan sumber daya melalui seminar, In House Training
(IHT) dan workshop kepada para guru inti serta guru lainnya
berdasarkan

realisasi/potensi/kontribusi

sebagai

inpestasi

refitalisasi gugus;

Program BERMUTU

49

Diseminasi Best Practice

5. pembimbingan (coathcing) untuk mempertahankan kinerja guru di
KKG/MGMP/sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan
yang akan berdampak pada out put siswa;
6. menjalin kemitraan (partnership) dalam melaksanakan kegiatan
antar KKG/MGMP/sekolah dalam satu gugus dan antar gugus dengan
pemangku pemberi kebijakan supaya terjadi legalitas yang
diharapkan;
7. berkelanjutan (sustainability), harus membawa perubahan dasar di
wilayah permasalahan antara lain; legalitas, kebijakan dan sosial
yang memiliki potensi replikasi, kerangka institusional, efisien,
transparan, dan sistem manajemen yang akuntabel serta dapat
membuat lebih efektif terhadap pengembangan SDM dalam
KKG/MGMP/sekolah;
8. kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat (leadership and
commtopiky improvement):

a. kepeminpinan yang mempunyai inspirasi untuk terjadinya
tindakan dan perubahan;
b. sebagai pemberdaya masyarakat KKG/MGMP;
c. dapat mempertanggungjawabkan terhadap peningkatan mutu;
d. dapat mentransfer perkembangan pengetahuan lebih lanjut;
e. tepat bagi kondisi dan situasi sekolah sesuai dengan tingkatan;
f. pihak lain dapat belajar dari inisiatif serta cara yang
digunakan untuk membagi dan mentransfer pengetahuan juga
keterampilan sehingga dapat dipelajari dan diterapkan.
9. menciptakan iklim yang kondusif di lingkungan KKG/MGMP gugus
(kondisi lingkungan kerja yang nyaman);
10. meningkatkan perhatian kinerja para guru di KKG/MGMP dengan
keterlibatan langsung agar berkesinambungan untuk mencapai
sasaran-sasaran yang diharapkan keberhasilannya;
11. mengubah pola pikir/cara pandang (mind set) dalam menerima
segala bentuk perubahan yang terjadi;
12. memberikan penghargaan (reward) bagi guru yang berkompeten,
mempunyai komitmen dan tingkat konsisten yang tinggi, serta
penuh akuntabilitas dalam melaksanakan tugas, juga memberi
sanksi (punishment) bagi guru yang tidak kompeten, tidak
mempunyai komitmen, tingkat konsistensinya rendah, dan tidak
akuntabel;
13. Senantiasa memperhatikan kesejahteraan personal (guru).

Panduan Belajar Manajemen

50

Diseminasi Best Practice

Model pendekatan yang disampaikan di sini disebut Best Practice
(praktik terbaik) yang dikemukakan oleh Boven dan Morohashi (2002)
dalam Panduan Penulisan Best Practice. Menurutnya praktik terbaik
merupakan suatu ide/langkah-langkah baru yang memberikan kontribusi
luar biasa, berkesinambungan, dan inovatif dalam memperbaiki terhadap
pengembangan proses dan kualitas sekolah. Dengan demikian ’’Praktik
Terbaik‘’ juga merupakan refleksi akumulasi tingkat kompetensi tenaga
kependidikan, dalam merespon tuntutan perubahan lingkungan dan
dinamika permasalahan yang dihadapi sekolah di abad globalisasi ini.

Program BERMUTU

51

Diseminasi Best Practice

Lampiran 5

SEMINAR

Pengertian

Suatu pertemuan ilmiah yang membahas suatu masalah tertentu dengan
prasaran dan tanggapan melalui diskusi untuk memperoleh keputusan bersama
mengenai masalah tersebut adalah seminar. Masalah yang dibahas dalam
pertemuan itu mempunyai ruang lingkup yang terbatas dan terfokus. Misalnya :
Seminar tentang: “Upaya Meningkatkan Kinerja Guru melalui Supervisi
Akademik”, “Bunga Pustaka, Walking Book, Eksplorasi dan Kolaborasi sebagai
Wahana Membuka Jendela Dunia”.
Seminar diselenggarakan dengan tujuan untuk memperoleh solusi
tentang masalah yang diseminarkan. Oleh karena itu peserta seminar adalah
orang-orang yang berkecimpung dalam masalah tersebut. Jika hal yang dibahas
adalah masalah kinerja guru, peserta seminar adalah orang-orang yang
berkecimpung dalam bidang pendidikan. Karena kinerja guru dan supervisi
akademik adalah masalah yang ada pada dunia pendidikan. Akan sangat kurang
bermanfaat jika masalah tersebut dihadiri/dibahas oleh para pelaut maupun
petani.

Meskipun masalah yang dibahas tentang masalah-masalah sosial, seminar
merupakan pembahasan ilmiah yang bertujuan mencari pemecahan. Dengan
demikian seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan dan rekmendasi.
Karena seminar yang sedang dibahas sebagai salah satu diseminasi Best
Practice maka yang disebarluaskan adalah bagaimana solusi yang telah
dipraktikkan oleh pembicara/pembawa kertas kerja. Penulis kertas kerja
berperan sebagi narasumber. Dalam presentasi, narasumber menjelaskan
parmasalahan apa yang dihadapi, siapa yang terlibat, mengapa masalah
tersebut muncul, strategi apa yang digunakan, bagaimana mengatasinya, dan
bagaimana keberhasilan itu dapat diimbaskan kepada peserta seminar.
Sehingga dalam seminar ini bukan mencari solusi, melainkan menjelaskan
pengalamannya kepada peserta seminar. Dalam diskusi/tanya jawab, bukan
kesepakatan akhir yang harus diperoleh melainkan penjelasan narasumber,
contoh-contoh, dan argumentasi yang mendukung Best Practice tersebut.
Dengan penjelasan, contoh, dan argumentasi yang pernah dialami diharapkan
peserta seminar dapat memahami isi kertas kerja dan selanjutnya akan
termotivasi untuk mencoba lebih kreatif dan inovatif dalam mengatasi setiap
permasalahan yang dihadapi di sekolahnya dengan metode ilmiah.

Panduan Belajar Manajemen

52

Diseminasi Best Practice

Penyelenggaraan Seminar

Seminar yang baik perlu dipersiapkan dengan baik, dengan langkah-

langkah sebagai berikut.

• Persiapan Seminar

Hal penting yang yang harus ditentukan adalah topik masalah dan
tujuan. Tema hendaknya dipilih yang menarik perhatian para peserta yaitu
masalah-masalah yang penting dan hangat untuk dibahas (current isues).
Penentuan waktu sebaiknya dikaitkan dengan hari-hari besar/peristiwa
nasional/peristiwa penting. Misalnya: yang berkaitan dengan hari
pendidikan nasional; hari guru; hari-hari pertemuan organisasi K3S, MKS,
KKPS, MKPS, APSI, dan lain-lain. Waktu/hari/tanggal (titimangsa)
pelaksanaan hendaknya dipertimbangkan yang sekiranya para peserta
dapat hadir. Sedangkan mengenai tempat, piihlah tempat yang strategis
(mudah dijangkau, cukup tempat parkir, kapasitas ruangan, dan lain-lain).
Fasilitas lain yang perlu dipersiapkan adalah: tempat duduk yang memadai;
sirkulasi udara dan cahaya yang masuk ruangan cukup; alat peraga (audio
visual); listrik; serta penataan interior yang nyaman. Hal lain yang amat
penting adalah publikasi. Publikasi kepada masyarakat/calon peserta
seminar perlu menginformasikan mengenai: tujuan seminar; tema atau
topik yang akan dibahas; pendaftaran dan persyaratan peserta; serta
narasumber dalam seminar tersebut.

• Pelaksanaan Seminar

Seminar dilaksanakan oleh panitia, moderator, narasumber, dan
peserta. Masing-masing mempunyai peran yang satu sama lain saling
berkaitan/sinergis dalam mewujudkan keberhasilan seminar.

Peranan Panitia

Panitai seminar setidaknya terdiri atas: ketua, sekretaris, dan
bendahara. Namun untuk hal tertentu dapat ditambah dengan beberapa
bagian (akomodasi, konsumsi, dokumentasi, dan lain-lain). Tugas panitia
adalah mempersiapkan segala keperluan seminar mulai dari penentuan
topik, waktu, tempat, narasumber, peserta, pendanaan, konsumsi,
sertifikat, dan perizinan).

Peranan Moderator

Meskipun persiapan telah dilakukan dengan baik, tidak menjamin
bahwa seminar dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Karena
keberhasilan sangat ditentukan oleh para fungsionaris dan peserta seminar.
Sebagai fungsionaris, pimpinan/moderator seminar sangat penting
peranannya. Ia mewarnai seluruh situasi seminar. Oleh karena itu,
diperlukan moderator yang baik dengan kriteria: (1) Mampu berpikir jelas
dan cepat. Jelas maksudnya agar ide dan gagasannya mudah dipahami
orang lain, sedangkan cepat artinya mampu mengikuti cara berpikir para
peserta yang beraneka ragam; (2) Bersikap luwes. Artinya, ia harus mampu
mengutarakan pikirannya secara jelas dengan bahasa yang lancar serta
mampu berkomunkasi dengan para peserta; (3) Mempunyai kemampuan
dan kesanggupan menganalisis. Ia harus mampu menganalisis masalah,

Program BERMUTU

53

Diseminasi Best Practice

mampu menganalisis pendapat para peserta yang akhirnya sampai pada
kesimpulan; (4) Berpandangan obyektif. Tidak memihak dan obyektif
terhadap permasalahan. Ia harus yakin bahwa setiap tanggapan
memperoleh perhatian dari seluruh paserta lainnya; (5) Tidak
berprasangka. Terutama dalam menarik titik temu bagi pihak yang
bertentangan; (6) Sabar. Ia harus dapat menahan emosi jika terjadi
kendala dalam proses pembicaraan; (7) Cerdik dalam menangani masalah
yang timbul pada peserta, tanpa menyinggung perasaan salah seorang
peserta; (8) Mempunyai keseimbangan dan pengendalian diri. Tidak
menonjolkan diri, tidak mendominasi pembicaraan, dan tidak berlebihan;
(9) Mempunyai rasa humor. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi
ketegangan, sehingga para peserta bebas mengemukakan pendapat.

Peranan Sekretaris

Tidak kalah pentingnya dengan moderator, sekretaris pun memegang
peranan penting. Adapun tugas sekretaris adalah: mencatat proses atau
prosedur selama seminar berlangsung; membantu moderator dalam
menyimpulkan dan merumuskan hasil seminar; mencatat simpulan/hasil
seminar yang dicapai.

Peranan Peserta

Selain pada fungsionaris, dinamika dan aktivitas seminar terletak
pada para peserta. Peran dan tugas peserta sangat menentukan berhasil
tidaknya sebuah seminar. Oleh karena itu, untuk menjadi peserta seminar
yang baik hendaknya: (1) Menguasai masalah yang diseminarkan. Hal ini
dapat diperoleh melalui mempelajari buku-buku sumber maupun hasil
kreativitas dan inovasi yang pernah dialami. Menguasai masalah berarti
mempunyai bahan dalam pembicaraan; (2) Menyimak pembicaraan dengan
penuh perhatian; (3) Menunjukkan sikap simpati dan empati yang tinggi; (4)
Terampil menangkap gagasan utama pembicaraan dan gagasan penunjang;
(5) Dapat mengajukan usul maupun persuasi; (6) Dapat meminta pendapat
dan informasi sebanyak mungkin; (7) Dapat meminta pendapat dan
argumen pendapat seseorang; (8) Jika mengajukan penolakan hendaknya
ditunjang dengan argumen yang kuat dan mampu mengemukakan contoh-
contoh konkret; (9) Ikut menyimpulkan pembicaraan.

Peranan Narasumber

Narasumber adalah pembicara utama dalam seminar. Ia harus
mempersiapkan kertas kerja atau makalah berupa pandangan umum
tentang tema yang akan dibahas. Dalam kertas kerjanya narasumber harus
mampu mengungkapkan permasalahan dengan alternatif pemecahan yang
sudah dilaksanakan, lengkap dengan argumentasi yang bisa
dipertanggungjawabkan beserta contoh-contoh konkret dan bukti nyata.
Dengan adanya argumen tersebut narasumber dapat membuktikan
kebenaran pendapat/pengalamannya yang sangat mendukung dalam
meyakinkan para peserta seminar. Data, fakta, dan informasi yang
diperlukan dalam argumentasi dapat diperoleh melalui observasi,
penelitian, dan bibliografi (studi pustaka) yang telah terbukti. Peserta

Panduan Belajar Manajemen

54

Diseminasi Best Practice

akan lebih simpatik apabila contoh dan bukti-bukti itu dilengkapi dengan
data-data nyata. Kertas kerja/makalah tersebut hendaknya dibagikan
kepada peserta sebelum seminar dimulai yaitu pada waktu pendaftaran
peserta.
Berikut ini disajikan contoh kerangka kertas kerja:
1) Judul
2) Identitas Penulis
3) Abstraksi
4) Tema
5) Latar Belakang
6) Permasalahan
7) Solusi-Bukti-Alasan-Contoh-Fakta-Data
8) Kesimpulan dan Saran
Penyampaian pandangan umum dilakukan pada sidang pleno. Segera
setelah sidang pleno berakhir, dilanjutkan dengan tanya
jawab/pembahasan/diskusi. Moderator dengan bantuan sekretaris atau tim
perumus menyusun rumusan hasil seminar dan melaporkan kepada sidang
untuk mendapat pengakuan/keabsahan.
Dalam diseminasi Best Practice dikenal dengan sebutan seminar
institusi. Seminar ini bertujuan untuk mengkomunikasikan dan
mendiskusikan hasil penelitian tindakan atau pengalaman terbaik yang
telah dilakukan dan masalah-masalah yang akan diteliti/dilakukan pada
masa berikutnya. Dalam seminar tersebut peserta dapat tukar-menukar
hasil penelitian, studi, tindakan, ide, pengalaman, dan saling membantu
dalam pemecahan masalah. Dengan demikian antara penelitian dan
seminar merupakan suatu siklus yang tidak bisa dipisahkan. Karena
penelitian mendorong adanya seminar, dan seminar mendorong adanya
penelitian-penelitian berikutnya.
Secara garis besar seminar diseminasi Best Practice bertujuan:
1. saling memberikan andil penemuan yang diperoleh dari penelitian
institusi, yang mengaitkan dengan pembinaan dan pengembangan
institusi;
2. melalui pertukaran pengalaman, mengidentifikasi masalah-masalah
kelembagaan, mengkajinya dalam penelitian dan pengembangan
institusi berikutnya;
3. mengembangkan rencana dan metodologi penelitian institusional baru,
yang sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang terjadi pada
masing-masing institusi (sekolah);
4. mempertimbangkan cara-cara dan rekomendasi yang dapat dijadikan
masukan bagi usaha pembinaan dan pengembangan.

• Pasca Seminar

Setelah seminar institusi selesai, panitia diwajibkan membuat laporan
keputusan seminar. Laporan tersebut dapat disusun dengan menggunakan salah
satu contoh format laporan sebagai berikut.

Program BERMUTU

55

Diseminasi Best Practice

LAPORAN HASIL SEMINAR

Judul Seminar

....

Tema Seminar

....

Tujuan Seminar

....

Topik Masalah

....

Narasumber

....

Waktu Penyelenggaraan

....

Penyelenggara

....

Panitia a. Ketua

b. Sekretaris
c. Bendahara

....
....
....

Jumlah Peserta

....

Jadwal Acara (lampirkan)

....

Sumber dan Penggunan Biaya

....

Hasil/simpulan dan Rekomendasi
(lampirkan semua makalah dan
samputan penting)

....

Tempat, tanggal ....

Mengetahui
Ketua Panitia Sekretaris

--------------------- -----------------------

Panduan Belajar Manajemen

56

Diseminasi Best Practice

Lampiran 6

PENILAIAN

Bentuk: Non Tes
Jenis: Penugasan

a) Perhatikan gambar berikut, selanjutnya berilah komentar sesuai
permintaan!

Gambar 3. Narasumber sedang menyajikan materi dalam
seminar pendidikan

Gambar 4. Jumlah peserta seminar sekitar 700 orang

Gambar 5. Peserta seminar sekitar 30 orang dengan posisi duduk
yang berbeda

Program BERMUTU

57

Diseminasi Best Practice

(1) Berdasarkan Gambar 3, benarkah narasumber menyajikan
materi dengan berdiri atau berjalan di ruangan seminar?
Berikan alasan Saudara!
(2) Berdasarkan Gambar 4. Bagaimana mempersiapkan seminar
dengna jumlah peserta 700 orang?
(3) Jelaskan perbedan antara Gambar 4 dan Gambar 5 dilihat
dari segi keefektifan seminar!

Lembar jawaban

Komentar tentang
Gambar 4

Komentar tentang
Gambar 5

....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....

....
....
....
....
....
....
....
....
....
....
....

b) Identifikasi permasalahan yang Saudara hadapi di sekolah selama
bulan ini baik yang berhubungan dengan SDM (guru, staf, komite),
peserta didik, sarana/prasarana, kurikulum, pembiayaan,
pengelolaan sekolah, maupun proses dan penilaian proses belajar
mengajar. Selanjutnya kelompokkan menurut kepentingannya, dan
cobalah berikan alternatif pemecahan masalah tersebut sesuai
dengan keyakinan Saudara bahwa teknik tersebut adalah yang paling
efektif.

c)

Komponen

Permasalahan

Tingkat
Kepentingan

Alternatif
Solusi

Kurikulum

....

....

....

Proses
Pembelajaran

....

....

....

Kompetensi
Lulusan

....

....

....

Panduan Belajar Manajemen

58

Diseminasi Best Practice

Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan

....

....

....

Sarana/Prasarana ....

....

....

Pengelolaan

....

....

....

Pembiayaan

....

....

....

Penilaian PBM

....

....

....

d) Pilihlah salah satu masalah terpenting (krusial) yang telah Saudara
identifikasi. Tentukan pula alternatif solusi yang telah Saudara pilih.
Selanjutnya buatlah rencana implemtasi sesuai dengan langkah-
langkah yang mantap. Tentukan waktu dan tempat, dan lakukanlah.
Amati dan buatlah catatan-catatn kemajuan selama pelaksanaan
berlangsung. Bagaimana kondis awal, perubahan yang terjadi, dan
hasil akhir.
e) Buatlah laporan hasil pelaksanaan pemecahan masalah yang telah
Saudara lakukan dalam bentuk kertas kerja.
f) Seminarkan kertas kerja tersebut dan Saudara berperan sebagai
narasumber
g) Lakukan hal (e) secara bergiliran dalam forum MKS/MKPS
Selamat Mencoba !

Program BERMUTU

59

Diseminasi Best Practice

REFLEKSI

A. Pertanyan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut.
1. Apa yang Saudara rasakan setelah mengikuti seminar, baik yang
berperan sebagai panitia (ketua, sekretaris, bendahara); narasumber
dan moderator; serta anggota? Mengapa demikian, jelaskan!
2. Ungkapkan kesan dan pesan Saudara dalam tulisan di selembar kertas,
kumpulkan dan rangkum ke dalam sebuah rubrik.
3. Manfaat apa yang Saudara peroleh dari seminar tersebut?
4. Apa dampak positif bagi Saudara?
5. Bagaimana renccana Saudara ke depan, berkaitan dengan seminar
tersebut?

B. Dampak

Dampak positif dari terselenggaranya seminar diseminasi Best Practice
memungkinkan berbagai hal diantaranya:
• meningkatkan wawasan, pemahaman, dan profesionalisme panitia,
narasumber, moderator, dan peserta seminar dalam mengelola
pendidikan;
• meningkatkan inovasi dan kreativitas panitia, narasumber, moderator,
dan peserta seminar dalam menangani permasalahan yang terjadi di
sekolahnya;
• memotivasi peserta untuk mendesiminasikan Best Practice-nya dalam
seminar-seminar maupun forum lainnya.
C. Kegiatan Keberlanjutan
1. Lombakanlah menulis makalah Best Practice dalam forum MKS/MKPS
dengan persyaratan:
• Peserta berstatus sebagai kepala sekolah atau pengawas;
• Naskah ditulis berdasarkan Best Practice di sekolah/MGMP/KKG
binaan masing-masing;
• Naskah asli, sebagai pengalaman langsung sesuai dengan masalah
urgen yang dihadapi;
• Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, dan komunikatif;
• Panjang naskah maksimal 10 halaman termasuk bibliografi mutakhir;
• Ukuran kertas: A4;
• Font teks: Times New Roman:12;
• Margin : 4 cm (kiri dan atas), 3 cm (kanan dan bawah);
• Spasi: 1 spasi.

Panduan Belajar Manajemen

60

Diseminasi Best Practice

2. Seminarkan seluruh makalah peserta terbaik, selanjutnya dari hasil
seminar tersebut ditentukan urutan pemenang dengan memperhatikan
kriteria penulisan karya tulis ilmiah dan teknik presentasi.
3. Libatkan kelompok independent untuk menjadi dewan juri dalam
penilaian karya tulis dan seminar tersebut.

Program BERMUTU

61

Diseminasi Best Practice

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->