P. 1
Entrepreneurship

Entrepreneurship

|Views: 1,508|Likes:
Published by wahyudisandy
entrepreneurship
entrepreneurship

More info:

Published by: wahyudisandy on Jun 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
ENTREPRENEURSHIP
Beberapa konsep dan definisi yang akan dibahas di dalam modul ini adalah: 1. History and Concept of Entrepreneurship 2. Definition of entrepreneurship 3. The Role of Entrepreneur 4. The Entrepreneur’s Tasks 5. Entrepreneurial Traits 6. Entrepreneurial Opportunity 7. Kinds of Entrepreneur 8. Entrepreneurial Innovation 9. Entrepreneurial Environment 10. Entrepreneurial Process 11. Contemporary issues in Entrepreneurship: - Technopreneurship - Social entrepreneurship 12. Ir. Ciputra’s 7 questions for a New Entrepreneur

THE HISTORY and CONCEPT OF ENTREPRENEURSHIP Ide mengenai entrepreneurship telah mengalami evolusi sejarah sesuai dengan sudut pandang subyek yang membahasnya (Ricketts, 2006). Konsep entrepreneurship tidak terikat pada satu definisi saja, sebab hal ini bergantung pada waktu dan keadaan pengamatan. Berikut adalah beberapa sejarah perkembangan mengenai konsep entrepreneurship: 1. The entrepreneur in economic history Perkembangan konsep yang terjadi sekitar pertengahan abad 18 masehi. Revolusi industri yang terjadi di Inggris menyebabkan setiap orang berlomba-lomba untuk mendapat peluang terbesar untuk menguasai materi dan manusia. Dari periode ini muncul ide mengenai heroic entrepreneur, pendiri industri yang memiliki prestasi luar biasa dalam pengembangan teknologi. Aktivitas utama seorang entrepreneur pada periode ini adalah peningkatan struktur permodalan yang besar, pengembangan

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
metode organisasional yang baru, koordinasi tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Entrepreneurship didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang sangat membutuhkan pemahaman strategis, kesadaran taktis, energi yang besar, kekuatan kepemimpinan, bakat organisasional, kebengisan, dan penaklukan sumber daya secara militer. 2. The entrepreneur in classical political economy Periode ini terjadi pada pertengahan abad 19 masehi. Perkembangan konsep entrepreneurship banyak diwarnai oleh karya Karl Marx. Seorang entrepreneur didefinisikan sebagai seorang yang mengambil barang mentah dari supplier dengan harga tertentu, kemudian memproduksi dan menjual produk jadi dengan harga yang tidak pasti. Seorang entrepreneur adalah seorang yang berani menanggung resiko. Namun demikian, seorang entrepreneur yang memiliki berbagai sumber daya untuk proses produksi dan penjualan, dikatakan juga sebagai seorang kapitalis. 3. The entrepreneur in neoclassical theory Periode ini terjadi pada awal abad 20 masehi dimana kegiatan perekonomian difokuskan pada penentuan distribusi hasil produksi, harga, dan pendapatan dalam pasar melalui penawaran dan permintaan. Perkembangan konsep banyak diwarnai oleh teori ekonomi Marshall yang menitikberatkan evolusi perubahan lebih besar pada business management daripada entrepreneurship. Marshall berpendapat bahwa ada dua sisi dalam aktivitas bisnis, yaitu sisi administratif dan sisi entrepreneurial. Walaupun demikian, Marshall tidak membedakan dengan jelas definisi kedua terminologi tersebut. Menurutnya, aktivitas bisnis merupakan kegiatan akumulasi pengetahuan akan produk dan proses, prakiraan pergerakan pasar, melihat peluang akan komoditas dan proses produksi yang baru, latihan dalam pengambilan keputusan, pengambilan resiko, dan seni dalam memimpin orang. 4. Entrepreneurship and uncertainty Periode yang terjadi pada tahun 1920-an. Knight adalah salah satu tokoh yang mendekonstruksi teori Marshall. Menurutnya, keuntungan usaha seorang entrepreneur

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
tidak berkaitan dengan besar resiko yang ditanggung, melainkan berkaitan dengan besarnya situasi ketidakpastian yang dihadapi. Situasi yang tidak pasti menyebabkan sulitnya penerapan model pengambilan keputusan berdasarkan optimalisasi dengan pendekatan neo-classical theory. Seorang entrepreneur perlu mengelola sumber daya secara terus-menerus untuk mengimplementasikan rencana tindakan, dan selama aktivitas manajemen bersifat rutin dan pasti, maka pendapatan entrepreneur akan sama sifatnya dengan gaji karyawan (jumlah tetap). Jika diperhadapkan dengan kondisi yang tidak pasti, selama ada keputusan dan keberuntungan yang baik, seorang entrepreneur akan memperoleh pure profit. 5. Entrepreneurship and innovation Schumpeter adalah tokoh yang paling banyak memberi kontribusi pada periode yang terjadi tahun 1930-an. Menurutnya, ahli ekonomi klasik telah mengabaikan peran terpenting dari seorang entrepreneur. Apabila periode sebelumnya hanya memandang entrepreneur sebagai seorang kapitalis, manajer berpengalaman, dan penanggung resiko, Schumpeter berpendapat bahwa entrepreneur adalah seorang yang melakukan eksplorasi dan inovasi secara dinamis untuk mengenalkan produk dan proses yang baru bagi pasar. Keahlian organisasional seorang entrepreneur lebih dari kompetensi menajerial yang sederhana. Peran seorang entrepreneur adalah mereformasi pola-pola produksi yang ada dengan cara mengeksploitasi temuan-temuan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Definisi entrepreneurship menurut Shumpeter adalah suatu usaha yang dapat mencegah penurunan akan sistem ekonomi dan usaha yang secara berkelanjutan melawan keadaan statis akan pendekatan teori ekonomi klasik. 6. Entrepreneurship and economic efficiency Ide bahwa seorang entrepreneur adalah juga seorang pembuat pasar (market-maker) dan pemimpin atas transaksi ekonomi telah ada sejak tahun 1960-an. Perkembangan konsep entrepreneurship banyak diwarnai oleh karya Kirzner. Pendekatan berbeda yang dilakukan Kirzner adalah penekanan konsep pada kesiagaan (alertness) pengusaha terhadap peluang-peluang yang belum tereksploitasi saat ini. Keuntungan

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
murni (pure profit) sebagai hasil dari situasi tidak pasti yang ditanggung pengusaha, tidak sama besarnya dengan hasil dari kesiagaan. Hasil-hasil dari suatu kegiatan bisnis harus diperhitungkan dengan baik sebelum dapat dicapai. Dengan cara penentuan hasil-hasil yang potensial serta pengelolaan berbagai transaksi untuk mewujudkan hasil tersebut, seorang entrepreneur baru dapat dikatakan sebagai pemrakarsa perubahan yang dapat meningkatkan efisiensi. 7. Entrepreneurship and the theory of the firm Konsep entrepreneurship – theory of the firm diperkenalkan pertama kali oleh Coase pada tahun 1937, selanjutnya diangkat kembali ke permukaan oleh Edwards dan Townsend pada tahun 1967. Perusahaan didefinisikan sebagai hubungan teknologis antara input sumber daya dan output yang berupa hasil produksi. Coase merasionalisasi perusahaan sebagai pusat rangkaian beberapa pekerjaan internal yang mampu menggantikan kontrak dengan pihak luar. Artinya, seorang entrepreneur cenderung menggunakan sumber daya internal untuk proses produksi apabila biaya untuk proses internal tersebut ternyata lebih murah dibandingkan dengan jika pihak luar yang mengerjakannya. 8. Entrepreneurship and economic development Perkembangan konsep entrepreneurship yang berkaitan dengan perkembangan ekonomi dibahas oleh Baumol pada tahun 1970-an. Menurut Baumol, kewirausahaan adalah sebuah talenta yang dimiliki seseorang (given), namun alokasi talenta ini untuk inovasi di satu sisi atau untuk depresiasi di sisi lain, merupakan pilihan bagi seorang entrepreneur. Perekonomian masyarakat yang menggunakan talenta kewirausahaan untuk melakukan kegiatan produktif akan berkembang lebih cepat daripada masyarakat yang melakukan kegiatan redistributif (unproductive). Keseluruhan ratarata pertumbuhan untuk setiap sektor ekonomi bergantung pada adanya talenta terbaik seorang entrepreneur dalam sektor ekonomi tersebut. Ide bisnis seorang entrepreneur akan menjadi arahan perkembangan ekonomi di masa depan.

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
DEFINITION OF ENTREPRENEURSHIP Entrepreneurship atau dalam bahasa Indonesia anda kenal dengan istilah Kewirausahaan adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk mengejar peluang, menggunakan sumber daya, dan memprakarsai perubahan untuk menciptakan nilai (Kauffman, 2005: 1). Sedangkan Entrepreneur adalah seseorang yang melakukan proses tersebut. Seorang entrepreneur adalah seorang yang biasa namun mampu melakukan sesuatu yang luar biasa. Mereka terus mencari ide setiap hari dan menjalankan ide tersebut dengan baik. Anda tidak perlu membutuhkan pengalaman dan sumber daya (uang, tenaga, mesin, dll) yang banyak untuk menjadi seorang entrepreneur. Anda hanya memerlukan passion dan persistence (Allen, 2001: 10). Entrepreneur adalah juga seorang yang mampu melihat masalah sebagai suatu peluang, mengambil respon tindakan terhadap kebutuhan, dan mau menerima resiko dalam penciptaan nilai yang dilakukan (Kauffman, 2005: 1). Seorang entrepreneur dapat dianggap sebagai tiga sosok berikut (Wickham, 2004: 7). 1. Manager Dalam hal pekerjaan sehari-hari yang dilakukan, seorang entrepreneur juga dapat dikatakan sebagai seorang manajer, namun sebaliknya seorang manajer belum dapat dikatakan sebagai seorang entrepreneur apabila tidak memiliki entrepreneurial mindset (cara berpikir seorang entrepreneur). 2. Agent of economic change Dalam hal pengaruh atau dampak akibat tindakan kerja sehari-hari, seorang entrepreneur dapat dikatakan sebagai agen perubahan ekonomi. David McClelland berpendapat bahwa suatu negara akan menjadi makmur apabila mempunyai entrepreneur sedikitnya sebanyak dua persen dari jumlah penduduk (Ciputra, 2008: 37). 3. Individual Dalam hal psikologis, kepribadian, dan karakteristik, seorang entrepreneur juga dapat dikatakan sebagai seorang individu normal layaknya orang lain.

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
THE ROLE OF THE ENTREPRENEUR Selain beberapa tugas, ada beberapa peran yang harus diemban oleh seorang entrepreneur (Wickham, 2004: 12-14). 1. Combination of economic factors Selama ini dikenal tiga faktor utama ekonomi, yaitu bahan baku (raw material), tenaga kerja (human labour), dan modal (capital). Semua produk barang dan jasa yang dibeli dan dijual dalam sistem ekonomi adalah hasil dari gabungan tiga faktor utama tersebut. Namun demikian, ketiga faktor tersebut tidak akan dapat bergabung sendiri apabila tidak ada individu-individu yang bekerjasama melakukan tugas berbeda dalam satu komando koordinasi. Beberapa pakar ekonomi memandang entrepreneurship sebagai faktor keempat yang dapat melakukan kombinasi terhadap ketiga faktor lain dengan cara produktif. Seorang entrepreneur memiliki peran untuk dapat mengelola dengan baik ketiga faktor ekonomi agar dihasilkan produk barang atau jasa yang inovatif. 2. Providing market efficiency Adanya kompetisi dalam industri yang sama membuat seorang entrepreneur harus melakukan efisiensi pasar. Efisiensi berarti sumber daya dapat didistribusikan secara optimal sehingga kepuasan stakeholder (orang yang berkaitan dengan organisasi) dapat maksimal. Seorang entrepreneur tidak akan mendapat marjin keuntungan besar apabila tidak melakukan efisiensi. Dengan efisiensi, harga produk yang dijual kepada pelanggan dapat menjadi lebih murah. Hal ini akan menjadi daya tarik tersendiri dan tentu saja akan meningkatkan omset penjualan. 3. Accepting risk Tidak ada orang yang dapat melihat masa depan mereka seperti apa. Kurangnya pengetahuan akan masa depan disebut ketidakpastian. Tidak peduli sebaik apapun rencana seseorang, selalu ada kemungkinan bahwa hasilnya tidak sesuai dengan harapan semula. Jika kemungkinan yang akan terjadi dapat diukur probabilitasnya, maka

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
ketidakpastian dapat disebut sebagai resiko. Pakar ekonomi mengatakan bahwa seorang entrepreneur memiliki peran untuk menerima resiko demi orang lain. Setiap orang pada dasarnya suka menolak resiko (risk adverse), oleh sebab itu, seseorang lebih suka membayar sesuatu agar resiko tersebut tidak menimpa mereka. Seorang entrepreneur berperan sebagai penyedia produk barang atau jasa yang mampu menghilangkan resiko yang akan dihadapi orang lain. 4. Maximising investor’s returns Seorang entrepreneur juga berperan untuk menjalankan perusahaan dengan baik agar menghasilkan keuntungan yang besar dalam jangka panjang. Seorang investor yang telah melakukan investasi di bisnis milik entrepreneur, akan meminta kembali hak perolehan atas modal yang telah ditanam. Selain investor, seorang entrepreneur juga harus memperhatikan kebutuhan semua stakeholder perusahaan, seperti karyawan, supplier, pelanggan, kompetitor, masyarakat dan pemerintah. 5. Processing of market information Asumsi dasar ekonomi klasik menyatakan bahwa semua informasi relevan mengenai pasar telah tersedia dan dapat digunakan oleh produsen dan konsumen. Namun demikian, manusia tidak sempurna untuk mengolah informasi. Dalam praktek bisnis, tidak semua informasi tersedia dan langsung dapat digunakan begitu saja. Seorang entrepreneur berperan untuk mencari dan menggali informasi yang belum pernah dieksploitasi. Dengan menggunakan informasi pasar yang relatif sedikit orang yang mengetahuinya, seorang entrepreneur mampu untuk membuat market lebih efisien dan mendapatkan hasil yang jauh lebih besar. Informasi pasar ini disebut peluang. Seorang entrepreneur harus dapat menangkap peluang dan menyediakan efisiensi yang kompetitif. THE ENTREPRENEUR’S TASKS Seorang entrepreneur perlu mengemban beberapa tugas sekaligus di dalam aktivitas kesehariannya. Setidaknya ada enam tugas penting yang perlu dilakukan oleh entrepreneur (Wickham, 2004: 8-11).

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
1. Owning organizations Memiliki suatu organisasi atau perusahaan sendiri bukan menjadi keharusan bagi seseorang agar dapat disebut sebagai seorang entrepreneur. Seorang yang bekerja di perusahaan orang lain juga dapat dikatakan sebagai seorang entrepreneur apabila dia memiliki entrepreneurial mindset dalam setiap tindakannya. Begitupula seorang yang memiliki perusahaan juga belum sepenuhnya dikatakan sebagai seorang entrepreneur apabila produk yang dihasilkan merupakan replikasi dari produk lain yang sudah ada, atau dengan kata lain tidak terjadi penciptaan nilai. 2. Founding new organizations Tugas entrepreneur yang kedua adalah mendirikan organisasi atau perusahaan yang baru. Namun demikian tidak semua entrepreneur harus memulai usahanya dari nol, anda dapat memulai usaha anda sendiri dengan cara membeli usaha orang lain atau masuk ke dalam suatu organisasi dan membawa perubahan besar disana. McDonalds yang sangat ternama dan cabangnya ada dimana-mana bukan dikembangkan oleh dua founder yaitu McDonalds bersaudara, melainkan oleh Ray Kroc yang membeli hak paten dari dua bersaudara tersebut. 3. Bringing innovations to market Inovasi adalah bagian paling krusial bagi seorang entrepreneur. Inovasi pada produk atau model bisnis tidak cukup hanya unik dan kreatif tetapi juga harus dapat menjawab kebutuhan pasar. Produk yang inovatif harus dapat diproduksi dengan menguntungkan dan bertahan untuk jangka panjang, tahan terhadap serangan dan tiruan yang dilakukan oleh kompetitor. Tugas entrepreneur adalah selalu melakukan inovasi terus-menerus agar pelanggan tetap setia untuk membeli produk dan puas terhadap layanan perusahaan. 4. Identification of market opportunity Seorang entrepreneur memiliki tugas untuk selalu jeli melihat peluang yang ada di pasar. Entrepreneur harus dapat menemu-kenali masalah dalam bisnis dan mencari jawaban atas

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
masalah tersebut. Peluang bisnis dapat muncul saat jawaban-jawaban atas masalah tersebut ternyata sesuai dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki oleh seorang entrepreneur. 5. Application of expertise Keahlian dan kemampuan seorang entrepreneur dalam berbisnis harus terus diasah dan diaplikasikan ke dalam kegiatan bisnis sehari-hari. Tugas seorang entrepreneur adalah menjadi seorang pembelajar dan praktisi atas ilmu yang telah dipelajari. Contoh: Ir. Ciputra yang telah belajar arsitektur menerapkan keahlian dan kemampuan manajemen organisasi di dalam usaha properti yang dimilikinya. 6. Provision of leadership Seorang entrepreneur juga bertugas sebagai pemimpin. Tanpa kepemimpinan yang baik, perusahaan tidak dapat berjalan dengan lancar. Kerjasama tim harus dijalin dengan baik sedemikian rupa agar cita-cita pemilik perusahaan (entrepreneur) juga dapat menjadi citacita seluruh karyawan.

THE ENTREPRENEURIAL TRAITS Salah satu sifat seorang entrepreneur adalah memiliki hasrat kuat untuk sukses. Selain itu masih banyak sifat lain yang menjadi atribut seorang entrepreneur. Berikut adalah sifat-sifat entrepreneur ditinjau dari karakteristik, kemampuan, dan pengetahuan (Kauffman, 2005: 6-7; Wickham, 2004: 153). A. Entrepreneurial Characteristics 1. Desire and passion, memiliki semangat luar biasa untuk sukses dan antusias untuk melakukan suatu pekerjaan 2. Energy, memiliki stamina kuat untuk menghadapi masalah 3. Ability to thrive on uncertainty, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki banyak pertanyaan, sedikit jawaban.

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
4. Determination and resiliency, kemampuan bertahan dalam situasi sulit dan cepat dalam pemulihan. 5. Accountability, memiliki tanggung jawab pribadi untuk kesuksesan. 6. Persuasiveness, ketidakraguan untuk berkomunikasi dengan orang lain – bankers, vendors, suppliers, karyawan, pelanggan, dll. 7. Self-discipline, kemampuan untuk melakukan pekerjaan sampai selesai, baik menyenangkan maupun tidak. 8. Self-confidence, memiliki kepercayaan diri untuk memecahkan semua masalah yang ada. 9. Social responsibility, memiliki perhatian sosial dengan membagikan hasil kekayaan pada orang yang membutuhkan. 10. Ethics, memiliki sikap kejujuran dan integritas saat berhubungan dengan orang lain. B. Entrepreneurial Skills 1. Strategy skills = kemampuan melihat suatu bisnis sebagai sistem menyeluruh, memahami kesesuaian antara perusahaan dengan pasar, kemampuan untuk mengelola perusahaan untuk dapat memberikan nilai lebih bagi pelanggan, kemampuan untuk tampil lebih baik dibandingkan kompetitor. 2. Planning skills = kemampuan untuk melihat sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan, yang akan berdampak pada bisnis dan mengetahui kebutuhan apa saja yang harus disiapkan mulai dari sekarang. 3. Marketing skills = kemampuan melihat apa saja fitur keunggulan yang seharusnya diberikan oleh perusahaan. Memahami bagaimana keunggulan tersebut dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan melakukan sesuatu agar pelanggan dapat tertarik. 4. Financial skills = kemampuan untuk mengelola keuangan. Mampu untuk mengontrol pengeluaran dan memantau arus kas. Mampu menilai potensi dan resiko dari sebuah investasi. 5. Project management skills = kemampuan untuk mengorganisasi proyek. Menetapkan tujuan objektif, penjadwalan, dan memastikan bahwa sumber daya yang diperlukan ada di tempat dan waktu yang tepat. 6. Time management skills = kemampuan untuk menggunakan waktu secara produktif, mampu untuk memprioritaskan pekerjaan yang penting dan melakukan segalanya tepat sesuai jadwal. 7. Leadership skills = kemampuan menginspirasi orang lain agar bekerja secara spesifik untuk kesuksesan bisnis. Kepemimpinan bukan hanya seni mengarahkan orang,

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
namun juga mendukung dan memberi bantuan pada orang lain untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. 8. Motivation skills = kemampuan mengobor semangat dan mendapatkan komitmen orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan. Mampu untuk memotivasi orang lain dan dirinya sendiri untuk melakukan pekerjaan dengan keras dan cerdas (hard-work & smart-work). 9. Delegation skills = kemampuan untuk mengalokasikan tugas untuk beberapa orang yang berbeda. Delegasi yang efektif melibatkan sesuatu yang lebih dari sekedar instruksi. Diperlukan pemahaman yang baik atas kemampuan yang dimiliki orang lain, agar pembagian tugas dan pekerjaan sesuai dengan kapasitas masing-masing orang. 10. Communication skills = kemampuan menggunakan bahas lisan dan tulisan untuk mengekspresikan ide dan pendapat. Komunikasi yang baik tidak sekedar menyampaikan sebuah informasi, melainkan menggunakan bahasa untuk mempengaruhi tindakan orang lain. 11. Negotiation skills = kemampuan untuk mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh sebuah situasi. Mengetahui hal-hal apa saja yang memotivasi orang lain dalam situasi tersebut dan menemukan beberapa cara yang mungkin dapat memuaskan semua pihak dengan maksimal. Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) sendiri merumuskan tujuh karakteristik seorang entrepreneur, yaitu passion, independent, market sensitivity, creative & innovative, persistent, risk taker, high ethical standard.

ENTREPRENEURIAL OPPORTUNITY Subtopik berikut adalah kutipan dari buku 7 Principles of Entrepreneurship Base Learning Ciputra Way oleh Tim Kurikulum Yayasan Ciputra Entrepreneur yang disusun oleh Antonius Tanan, Isti, Margiman, Ferry Yang. Untuk memahami apa syarat menjadi Pencipta Peluang kita perlu melihat peluang dari dua kondisi utama yang menentukan sejauh mana peluang dapat kita raih yaitu permintaan (demand) dan pasokan (supply). Opportunity Recognition

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
Ketika peluang berhasil kita raih dalam situasi permintaan dan pasokan yang sudah jelas maka dapat kita namakan proses ini sebagai Opportunity Recognition. Dalam situasi ini kita tidak perlu menciptakan produk untuk pasar dan juga tidak perlu pusing pasar yang mana yang membutuhkan produk, baik produk atau pelanggan sudah terdefinisi dengan jelas. Sebagai contoh adalah di dalam bisnis ritel. Seorang pedagang menemukan bahwa satu jenis barang dagangan tertentu ternyata sering sekali dicari pelanggan. Entrepreneur yang memiliki kemampuan Opportunity Recognition dengan segera akan menyediakan barang ini dengan jumlah banyak dan dengan pilihan yang lebih beragam. Sang entrepreneur cukup dengan mendeteksi kebutuhan prospek konsumen lalu mencari pasokan kemudian melakukan transaksi dengan konsumen.

Permintaan sudah jelas Pasokan sudah jelas Pasokan tidak jelas Opportunity Recognition Opportunity Discovery

Permintaan tidak jelas Opportunity Seeking Opportunity Creation

Opportunity Seeking Dalam situasi ini entrepreneur telah memiliki produk yang hendak ia pasarkan namun ia belum tahu siapa yang akan memerlukan produk ini, berapa harga yang dapat diterima dan bagaimana berkomunikasi secara efektif kepada prospek pengguna produk. Sebagai contoh adalah Kiss Me Meter (Bad Breath Checker). Di Korea produk ini telah dikenal namun belum kita dapatkan dengan mudah di Indonesia. Apabila Anda menjadi importirnya maka sebagai seorang entrepreneur Anda melakukan opportunity seeking. Opportunity Discovery Seorang entrepreneur melakukan Opportunity Discovery bila ia memulainya dengan kebutuhan pasar yang sangat nyata. Misalnya pada saat ini dibutuhkan obat kanker yang mujarab tapi murah, bahan bakar pengganti bensin, alat transportasi bebas polusi. Seorang entrepreneur

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
yang melakukan investasi untuk menemukan solusi-solusi diatas sedang melakukan opportunity discovery. Opportunity Creating Ini adalah tingkatan tertinggi dari kreatifitas seorang entrepreneur. Entrepreneur menemukan gagasan bukan karena ada permintaan pasar atau sebuah produk sudah hadir terlebih dahulu namun belum ada gagasan bagaimana memasarkannya. Dalam situasi ini entrepreneur bertekad secara sengaja untuk menemukan sebuah produk blue ocean yang belum ada contohnya dan belum ada kesadaran dari manusia bahwa mereka membutuhkannya. Sebagai contoh adalah walkman yang diciptakan oleh Sony atau I-Pod dari Steve Jobs. Ako Norita mantan CEO of Sony memang pernah mengatakan “I do not serve markets. I create them”. Prinsip utama adalah imajinasi kreatif. Innovator Langkah inovasi tentunya sudah ada dalam proses kelola Peluang (Opportunity) diatas namun kenapa diulang lagi disini? Jawabannya inovasi tidak hanya terjadi dalam pengembangan produk (product discovery misalnya) atau di dalam pemasaran (opportunity seeking misalnya) namun inovasi harus terjadi disetiap unsur. Kita patut mengembangkan inovasi di bidang keuangan, bagaimana mendapatkan pendanaan yang cepat dan murah misalnya. Kita juga bisa mengembangkan inovasi di bidang sumber daya manusia bagaimana menggerakkan setiap karyawan untuk bekerja dengan maksimal dengan gembira. Pesan utamanya jangan batasi lingkup pengaruh dari inovasi. Calculated Risk Taker Bila Opportunity Creating dan Innovating telah kita lalui barulah kita melakukan perhitungan resiko. Kata Calculated sengaja ditempatkan bersama Risk Taker karena yang dimaksud adalah bukan sembarang mengambil resiko. Resiko kita ambil setelah kita berhitung mempertimbangkan berbagai kemungkinan model bisnis sehingga kita berhasil mencapai tingkat resiko yang minimal namun mampu memberikan hasil akhir yang maksimal.

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

SERI MODUL PEMASARAN

doktormarketing.com
THE KINDS OF ENTREPRENEUR …………………………..,

STILL A LOT OF TOPIC…….YOU

CAN GET…………

doktormarketing.com Copyright © 2010.

Dr(c).Sandy Wahyudi,MM,MA. Universitas Ciputra

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->