P. 1
AWAL JUNI

AWAL JUNI

|Views: 1,084|Likes:
Published by Identitas Unhas

More info:

Published by: Identitas Unhas on Jun 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Penerbitan Kampus Universitas Hasanuddin

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas
Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat
Simak Berita Terbaru di

Awas! Millah Abraham Merambah ke Unhas
Aliran kepercayaan baru mencuat di Unhas. Aliran itu diduga menyesatkan. Untung, penyebarannya cepat diamputasi.
eberapa tahun lalu, media massa diwarnai dengan munculnya aliran kepercayaan yang bernama Millah Abraham (MA). Aliran ini dianggap sesat karena sejumlah ajarannya tidak sesuai dengan syariat Islam. Salah satu ajaran MA yakni tidak mewajibkan pelaksanaan sholat lima waktu dan Sholat Jumat. Mereka juga tidak meyakini hadits Nabi Muhammad SAW, dan beranggapan bahwa akan muncul nabi baru bernama Ahmad Musadek. Ajaran ini didasari keyakinan bahwa umat manusia sekarang berada dalam zaman Makkiyah atau zaman penantian pemimpin. Ajaran yang disebarkan Nabi Muhammad SAW dianggap masih memiliki banyak kekurangan. Sehingga Islam membutuhkan sistem baru yang akan dipimpin oleh pemimpin baru. Konon, pemimpin baru tersebut adalah Ahmad Musadekh. Pemimpin Milah Abraham ini hingga sekarang masih mendekam dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Jakarta. Tak disangka, aliran ini telah merambah ke Unhas sejak 2009 lalu, dan telah menjaring beberapa mahasiswa. Awal terciumnya aliran ini berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), khususnya di Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (Himahi). Di dalam Himpunan inilah MI (inisial), salah seorang mahasiswa angkatan 2006 yang telah menganut aliran MA menyebarkan aliran itu kepada teman-temannya, terutama kepada mahasiswa baru angkatan

www.identitasonline.net

jendela
GHS, antara Konsep dan Realita

UNHAS sedang bersiap menggodok konsep baru, Greener, Healthier, and Safer (GHS). Akan seperti apa wajah Unhas jika GHS betul-betul terealisasi?

B

hal 11
Tawuran, Tantangan PR III Terpilih

SALAH satu agenda yang belum pernah dituntaskan PR III manapun yakni menghilangkan tawuran sesama mahasiswa. Tentunya Pekerjaan rumah itu telah menunggu PR III terpilih

IDENTITAS / SATRIANI M

hal 8
Sistem Keuangan Butuh Reformasi

MESKi tata kelola keuangan Unhas telah berubah. Namun pengelolaan keuangan dan penyediaan sarana dan prasana masih kerap terkendala

hal 10

2008. Hasilnya delapan orang mahasiswa angkatan 2008 berhasil terjaring. Mereka direkrut melalui proses pembaiatan. Pembaiatan dilakukan dengan pembacaan ayat Al-quran, dan pemberian siraman rohani bahwa dunia itu dalam keadaan membutuhkan sistem yang lebih bagus. Dalam proses pembaiatan itu mereka diberi nama baru. Kala hari ketika proses ini berlangsung dianggap sebagai hari kelahiran mereka. LD (inisial) salah satu Anggota Himahi yang pernah mengikuti aliran MA mengakui, tertarik menganut ajaran ini setelah me-

ngikuti pertemuan-pertemuan dan kajian yang diselenggarakan di sekitar kampus. Yang mengejutkan, kajian aliran ini sudah sampai ke himpunan. “Saya mengikuti pertemuan pertama Milah Abraham di Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) yang diikuti sekitar 400 orang dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa dari Unhas,” ungkap Mahasiswa Fisip Angkatan 2008 Jurusan Hubungan Internasional ini. Lebih lanjut LD menjelaskan, “memang masuk akal, setelah membaca surat dalam Al-Quran memang tidak diwajibkan untuk sholatt lima waktu. Dari surat itu

saya mulai menekuni ajaran ini.” Merasa resah, pengurus Himahi tidak tinggal diam. Atas saran dari beberapa temannya, Ketua Himahi, Hasrul, membentuk tim untuk melakukan investigasi terkait aliran ini. Dialog pun diadakan. Himahi membuka forum dan mendatangkan Pengurus Majelis Pencinta Mushallah (MPM) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Makassar untuk melakukan diskusi dengan lima penganut kepercayaan MA, serta tiga orang mantan penganut ajaran ini. Diskusi dilaksanakan di koridor depan Sekretariat Himahi, Rabu (12/5). Hasil dari forum selama tujuh jam ini menyebutkan, ajaran yang dianut tersebut tergolong sesat. Karena banyak yang menyimpang. Ajaran ini berangkat dari salah satu surat dalam ALQuran tentang cara beribadah. Sehingga di dalam forum muncul pertentangan bagaimana sebenarnya beribadah dengan benar. Setelah diskusi usai, para penganut Aliran MA yang hadir dalam forum tersebut pun ditaubatkan. “Untuk antisipasi, sementara yang sudah dinyatakan keluar dari aliran ini, kami rangkul dan diberikan pengajaran tentang Islam. Karena kami yakin, mereka adalah orang-orang yang mau belajar tentang agama. Namun yang ia dapatkan adalah hal yang keliru,” ujar Khaerul Arifin Ketua MPM saat ditemui di Masjid Kampus Unhas, Selasa (25/5). Hasrul selaku Ketua Himahi mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan lima orang anggota himpunan yang masih kukuh dengan pendapatnya sehabis forum yang membahas ajaran MA tersebut. Kasus ini pun dilaporkan ke MUI dan Kepolisian, dan hingga saat ini kasusnya masih ditangani pihak kepolisian. “Kami takut ajaran tersebut disebarkan melalui himpunan, karena mereka melakukannya atas nama himpunan,” tegas Hasrul saat di temui di Himahi, Selasa (25/5). Mai/Nay

CMYK

tajuk
Mahasiswa Tawuran Terus, Rektorat?
MAHASISWA Fakultas Teknik (FT) versus Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) kembali bentrok, di tengah-tengah momentum ujian akhir semester, Selasa (25/05). Tawuran itu dipicu oleh tindakan pemukulan antara mahasiswa teknik dengan mahasiswa FISIP yang kemudian melebar melibatkan pertentangan antarfakultas. Aksi lempar batu antara mahasiswa FISIP dengan teknik sudah menjadi fenomena sekaligus ironis. Sebab kejadian tawuran di antara kedua Sejauh ini rektorat belah pihak seolah tak pernah usai dalam sejarah ke-Unhas-an. Sejak hanya mengobati “luka luarnya,” tetapi dari “tahun satu” lalu hingga sekarang, kedua fakultas selalu cekcok. “luka dalam” atau Fenomena itu seakan telah akar-akar penyebab menjadi tradisi dengan pola perilaku tawuran itu lingkaran setan yang tidak pernah putus. Tawuran – damai, tawuran sendiri tidak pernah lagi. Apa yang sebenarnya terjadi “diobati” secara total dengan kedua kelompok mahasiswa tersebut? Setiap tahun nyaris ada adegan lempar batu. Apa perlu dibuatkan kesepakatan tertulis siapa yang menjadi dalang sekaligus pelaku dipecat jadi mahasiswa Unhas baik secara individu maupun kolektif? Hal itu untuk mempertegas dan mengancam mahasiswa yang memulai serta mengobarkan perang batu. Tindakan pemecatan terhadap mahasiswa yang menjadi dalang serta terlibat tawuran tentu bukan langkah bijak yang dapat menyelesaikan masalah. Betapun aksi tawuran disebabkan oleh mahasiswa tertentu yang berasal dari teknik atau FISIP, pihak birokrat khususnya rektorat tidak bisa serta merta memecatnya karena dianggap dalang atas bentrokan itu. Sebab bagaimanapun mereka anak didik Unhas yang harus mendapat pendidikan dan pengajaran. Sikap rektorat pasca tawuran beberapa minggu lalu, terkesan hanya memburu dalang dan pemicu awal tawuran dengan membentuk tim inverstigatif. Meski masalahnya bukan sekedar mencari-cari kambing hitam di pihak mahasiswa tetapi kultur dan kebijakan sistemik kampuslah yang harus diredesain demi keakuran dan keharmonisan elemen mahasiswa yang terpecah terkhusus teknik-FIS (Fakultas Ilmu Sosial). Kalau diamati, rektorat sesungguhnya tidak serius menuntaskan masalah tawuran hingga ke akar-akarnya. Sejauh ini rektorat hanya mengobati “luka luarnya,” tetapi “luka dalam” atau akar-akar penyebab perilaku tawuran itu sendiri tidak pernah “diobati” secara total. Sehingga tawuran mahasiswa khususnya mahasiswa FT versus FISIP selalu berulang dengan pola yang sama dipicu oleh hal sepele seperti masalah pribadi, ketersinggungan pribadi dan sebagainya yang kemudian memacu semangat kolektif, solidaritas buta fakultas untuk melakukan penyerangan ke fakultas lain. Kalau demikian adanya, rektorat selama ini seolah membiarkan permusuhan maupun ketegangan antara mahasiswa FT dan FISIP. Usaha rektorat untuk menuntaskan perilaku tawuran hanya sebatas menghilangkan gejala tawuran yang muncul di atas permukaan seperti “pemadam kebakaran”. Namun akar masalah seperti benih-benih permusuhan, ketegangan dan arogansi sektoral yang selalu menjadi sentimen antara mahasiswa FT dan FISIP tidak pernah “disembuhkan”. Hubungan permusuhan misalnya, antara mahasiswa FT dan FISIP sebenarnya sudah terlampau lama tertanam karena terwariskan dari tahun ke tahun tapi tidak pernah direkonsiliasi dengan menciptakan atmosfir dan ruang yang bersahabat antara keduanya. Lembaga kemahasiswaan baik BEM maupun himpunan pun dilibatkan agar semangat kebersamaan dan hubungan yang harmonis kedua belah pihak dapat tercipta. Meramu Resolusi UNTUK bisa melakukan hal itu, pihak rektorat mesti menyelami dan memahami penuh masalah ini secara tuntas agar kejadian tawuran tidak berulang terus bak tradisi. Dari pemahaman yang dalam tersebut, pihak rektorat dapat mengambil pendekatan yang holistik dengan merekonsiliasi semua elemen kemahasiswaan. Upaya rekonsiliasi dan dialog intens lintas elemen penting untuk membuka dan mengihlaskan semua pengalaman serta sentimen buruk yang selama ini terpendam diantara mahasiswa. Upaya damai dan pengharmonisan antara teknik dan FISIP hanya dapat ditempuh dengan pendekatan struktural maupun kultural. Secara struktural, pihak rektorat mesti mengeluarkan kebijakan yang dapat menyatukan kembali mahasiswa Unhas atau paling tidak membangun semangat dan nasionalisme ke-Unhas-san. Dari segi kultural, pihak rektorat perlu merevitalisasi iklim intelektual di Unhas dengan menyokong serta menyemarakkan panggung-panggung kemahasiswaan yang berbau intelek.

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

2

karikatur

wall facebook
KABARNYA Dlm Waktu Dkt Unhas akan Menerapkn Greener Healthier Safer (GHS) untuk kalangan Sivitas Akademika UH. bagaimana pendapat Rekan Pembaca identitas dengan adanya Rencana Unhas tersebut???

Radit Kuchiki
KENAPA harus memulai memecahkan maslah dgn maslah yg bru.. bgmn dgn yg rmhx jauh bgmn dgn yg g pux speda bgmn mngendaraix dluar kmpus dgn speda x tnpa weser tnpa klakson.. klo pngn mlakukan hal x b’sfat mncintai lingkungan knp tdk memulai dr dri sndr dgn TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN, hal x dmkian remeh x sring t’lupakan skaligus sgt mmbhyakan..

Milanasti Eka Ramadani

dari redaksi

RENCANA brilian!!! Dengar2 juga akan disediakan sepeda bagi yg ga punya. TAPI BAGAIMANA NASIB YANG GAK BISA MENGENDARAI SEPEDA KODONG??? Ada kursus kilat mungkin?? Hehehe

Daeng Mudrikan Nacong
SARAN saya, bangun terlebih dahulu infrastruktur pendukung, dan yang menggunakan kendaraan pribadi(motor & mobil) disiapkan parkiran khusus didepan atau dekat pintu 1 dan 2 baru kemudian melanjutkan menggunakan sepeda(sepeda pun harus disiapkan oleh kampus).

Muh Ahyani Rakib
Blogshop: Panitia (identitas) dan peserta blogshop berfoto bersama dalam Makassar Blogshop di library net gedung perpustakaan Unhas, sabtu (12/6).
IDENTITAS /

Pulang Kampung atau Tidak ?
Salam identitas! FINAL test baru saja usai, tak heran kondisi kampus nampak lenggang. Ya, kini mungkin saja banyak diantara teman-teman pembaca telah menikmati liburan panjangnya. Padahal masih banyak nilai matakuliah yang belum keluar. Selain itu, saat ini jika terdapat nilai Eror (E ),maka akan langsung diremedial pada saat itu juga. Begitupun dengan nilai Tunda (T), harus diselesaikan dalam 30 hari pasca nilai keluar. Jadi bagi mahasiswa yang telah pulang kampung, mudahmudahan saja tidak terkendala dengan nilai matakuliahnya kelak. Berbeda dengan kru identitas yang belum bisa pulang kampung. Bukan karena persoalan pengurusan nilai. Tetapi sederet agenda kegiatan menanti diselesaikan pada bulan ini. Belum lagi, setiap dua kali dalam sebulan kami juga terus hadir menyapa pembaca. Tak pernah bosan apalagi mengeluh, karena ini adalah amanah. Ya, pada edisi ini kami terbit agak sedikit molor. Pasalnya beragam tantangan kian menerjang kru identitas. Mulai dari final test hingga persiapan dan pelaksaan acara Makassar Blogshop, Sabtu (12/06). Tentunya itu semua cukup menguras waktu dan tenaga kami. Meski begitu, kami tetap berupaya menghadirkan suguhan informamsi teraktual terkait seputar dunia kampus. Pada edisi awal Juni ini, tim redaksi kami berhasil menghimpun berita terkait aliran sesat yang mulai merambah ke Unhas, kasus pencurian yang marak terjadi belakangan ini dan trend baru mahasiswa dalam mencontek. Ada juga informasi terkait mesin penyapu jalan yang diciptakan Mahasiswa Unhas. Tak lupa pada edisi ini, sebelum mengakhiri kepengurusan Pembantu Rektor Unhas periode 2006-2010, kami menyuguhkan laporan utama terkait evaluasi kinerja pembantu rektor. Selamat membaca

SEMOGA wacana tersebut tidak menjadi konsumtif belaka.... klo subtansinya jelas dan dapat diterima, mengpa tidak??? namun klo itu di jadikan alat untuk lain hal... sebagai warga kampus “Harus Menolak”...

Kunjungi Grup ‘Pembaca identitas’ Untuk Berbagi Informasi, Sharing dan Diskusi.

sms inbox
085656362xxx
ASS, kenapa air di ramsis unit 2 sering tidak mengalir airnya. Maslahx bak pnmpungan airx ksong. Wass warga ramsis unit 2.
Bila anda memiliki informasi, harapan, dan saran mengenai kondisi Unhas silahkan kirim sms ke nomor: 08991525659

identitas diterbitkan Universitas Hasanuddin berdasarkan STT Departemen Penerangan RI No: 012/SK/Dirjen PPG/SIT/1975/tanggal 20 Januari . ISSN:0851-8136. Beredar di lingkungan sendiri (non komersial) Ketua Pengarah: Idrus A Paturusi Wakil Ketua Pengarah: Nasaruddin Salam Anggota Pengarah: Dadang Achmad Suriamiharja, Wardihan Sinrang, Dwia Aries Tina Pulubuhu Penasehat Ahli: Ishak Ngeljaratan, Atja Razak Thaha, SM Noor, Aidir Amin Daud, M Darwis, Husain Abdullah, Sapri Pamulu, Sukriansyah S. Latief Ketua Penyunting: M. Dahlan Abubakar Ketua Penerbitan: Fajar S Juanda Penyunting Pelaksana: Hidayat Doe Koordinator Liputan: Sindbad Okstanza Y, Syamsul Marlin Staf Litbang: Armansyah Rachim Staf Penyunting: Aniswati Syahrir, Firmansa, Hardianti, Icha Dian Nurcahyani Reporter: Fadli, Hery S Pasaribu, Atrasina Adlina Fotografer: Muh Syukri (Koordinator), Ilham A M Artistik dan Tata Letak: Kun Agung Sumarmo (Koordinator), Ummul Masir Sekretaris: Satriani M Bendahara: Mifda Hilmiyah Iklan/Promosi: Hadrianti H D Lasari (Koordinator), Hasdinar Sirkulasi: Saimun Tim Supervisor: Maqbul Halim, M Arifuddin, Jupriadi, Dahlan, Amiruddin PR, Muchlis Amans Hadi, Muh Ishak Zaenal, Sayid Alwi Fauzy, Arif Fuddin Usman, Gunawan Mashar, Rasyid Al Farizi, Ahmad Khatib Syamsuddin, Munandar Kasim, Abdul Haerah, Supa Atha`na, Dahlan, Andi Fauziah Astrid, Abdul Chalid Alamat Penerbitan: Kampus Unhas Tamalanrea, Gedung UPT Perpustakaan Lt 1 Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Telp (0411) 589899, Fax 510088-Telex 71179, Makassar 90245. Website: www.identitasonline.com, E-mail: identitas.unhas@kompascyber.com Tarif Iklan: (Hitam/Putih) Rp 250 mm/kolom (Mahasiswa), Rp 500,- mm/kolom (Umum), (Warna) Rp 500,- mm/kolom (Mahasiswa), Rp 1000,- mm/kolom (Umum). Redaksi identitas menerima tulisan berupa opini, esai, cerpen, puisi, ringkasan skripsi,/tesis/disertasi/penelitian & karikatur. Pihak redaksi identitas berhak mengedit naskah sepanjang tak mengubah nilai/makna tulisan. Tulisan yang termuat mendapat imbalan secukupnya (sebulan setelah terbit bisa diambil).

opini
Oleh: Daeng Matutu

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

3

Menghadang Rezim Al Aql

T

ulisan ini dibuat dengan maksud mengajukan keberatan epistemologis atas tulisan Khusnul Yaqin di Penerbitan Kampus Identitas Unhas terbitan akhir mei lalu. Ini saya lakukan agar dialektika keilmuan kita tetap berjalan dinamis, sehingga khasanah pengetahuan menjadi kaya dan beragam. Dalam tulisannya berjudul “Catatan kecil tentang hati dan akal”, Khusnul Yaqin mengemukakan, “ada tiga perangkat untuk meraih ilmu atau persepsi yang benar yaitu indera empiris, indera perantara empiris dan nonempiris dan indera non empiris. Indera empiris adalah panca indera kita, sedangkan indera antara empiris dan non-empiris adalah al qalb dan terakhir indera non-empiris adalah al aql”. Khusnul Yaqin mengkritik mereka yang dalam kehidupan sehari-hari seringkali meletakkan hati dan akal pada domain yang berbeda bahkan mempertentangkannya secara diametral. Pada akhirnya, Khusnul Yaqin menyodorkan sebuah pemahaman bahwa dari ketiga perangkat berpengetahuan yang ada, panca indera, al qalb dan al aql, maka yang paling bisa menghasilkan pengetahuan yang shahih adalah al aql dan panca indera. Al qalb ditempatkan dalam posisi sub-ordinat di bawah al aql. Ia menulis, “keimanan yang merupakan hasil pengaktifan al aql untuk mengikat hasil olahan al qalb yang benar akan menjadi semacam cahaya untuk menguatkan domain-domain lain seperti domain empiris maupun al qalb untuk lebih siap dan mampu menganalisis obyek-obyek lain yang akan diteruskan dan diikat oleh al aql”. Berbicara tentang perangkat untuk meraih ilmu memang penting, karena kebenaran sebuah pengetahuan sangat dipengaruhi oleh perangkat yang dipakai dalam memperoleh ilmu tersebut. Bila alat berpengetahuannya bermasalah, tentu pengetahuan yang dihasilkan bermasalah pula. Tapi yang tak kalah penting lagi adalah membincang bagaimana perangkat itu bekerja, bagaimana mekanismenya dalam meraih ilmu. Kedua perbincangan ini tidak bisa dipisahkan, yang dalam perbincangan filsafat ilmu diwakili oleh istilah yang sama, epistemologi. Apa yang dikemukakan oleh Khusnul dalam tulisannya ini menimbulkan problem epistemologis karena Khusnul hanya mengemukakan perangkat untuk meraih ilmu tanpa

ILUSTRASI / UMMUL MASIR

mencoba membincang lebih jauh bagaimana perangkat berpengetahuan itu bekerja. Selain itu, pilihan untuk mensubordinatkan fungsi al qalb di bawah al aql juga merupakan sebuah kecerobohan fatal, terutama dalam jagad keilmuan Islam. Karena dalam sejarah panjang keilmuan Islam, dialektika antara berbagai model epistemologi berlangsung demikian dinamis. Episteme dan mekanisme kerjanya Sebelum melangkah jauh, perlu kiranya dikemukakan beberapa pendapat yang mencoba memberi eksplanasi terhadap apa yang dimaksud dengan epistemologi dan bagaimana mekanisme kerjanya. Dengan adanya pemahaman dasar ini, maka pembahasan selanjutnya akan lebih mudah. Bila mengacu kepada pemikiran Muhammad Abid Al Jabiri, beliau mendefenisikan epistemologi sebagai kumpulan kaidah berfikir yang siap di gunakan dalam berbagai kondisi kemasyarakatan. Lebih jauh beliau menekankan bahwa bahasa lain dari epistemologi adalah

“nalar” sebagai kumpulan konsep dan prosedur yang menjadi struktur bawah sadar dari pengetahuan dalam fase sejarah tertentu. Pengertian Al Jabiri tersebut mirip dengan apa yang apa yang di kemukakan Hasan Hanafi dengan mengikut pada Foucault. Hanafi mengatakan episteme merupakan kerangka berfikir yang melahirkan pertanyaan, menjawabnya sendiri, kemudian membenar-kannya sekaligus. Definisi dari Al Jabiri, Hanafi, maupun Foucault menggariskan dengan jelas bahwa episteme tidak pernah bekerja secara netral. Setiap episteme di bentuk dan bekerja sebagai hasil konstruksi sosial-politik-ideologis bangunan masyarakat tertentu dimana al aql itu tumbuh dan berkembang. Jadi, episteme bukanlah sesuatu yang netral melainkan sangat ideologis. Pilihan Khusnul Yaqin menempatkan al aql sebagai satu-satunya sandaran terkuat dalam berpengetahuan dengan mensub-ordinasi al qalb bukanlah sesuatu yang netral dan islami an sich. Belum lagi, kalau menilik pada masalah bagaimana episteme atau al aql itu bekerja, sebuah pembahasan yang tidak terlalu disinggung oleh Khusnul Yaqin. Dalam konteks Islam, menurut Al Jabiri, setidaknya ada tiga model episteme atau nalar yang bekerja di tengahtengah umat, yaitu nalar bayani, nalar burhani dan nalar irfani. Ketiga model nalar ini eksis dan saling melengkapi dalam membangun kekuatan tradisi (termasuk keimanan, keilmuan dan kebudayaan) Islam. Pertama, nalar bayani (eksplanatif), sebuah episteme yang berakar dari tradisi berfikir Arab pra Islam. Perlu difahami bahwa berfikir dalam tradisi Arab berarti tindakan atau penjelasan tentang bagaimana seseorang berbuat sesuatu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap karakter pengetahuan yang dihasilkan oleh episteme ini. Secara etimologis, bayani dapat diartikan sebagai penjelasan atau eksplanation, sementara secara terminologi, bayani difahami sebagai sekumpulan aturanaturan penafsiran wacana dan syarat-syarat memproduksi wacana (dalam hal ini wacana fiqh-syariat). Olehnya itu, episteme ini sangat menekankan otoritas teks (nash), baik secara langsung maupun tidak, kemudian dijustifikasi oleh akal kebahasaaan yang digali lewat inferensi (istidlal). Kedua, nalar burhani (demonstratif) merupakan episteme yang menekankan pada kekuatan rasio yang dilakukan lewat dalil-dalil logika. Nalar ini berakar pada

tradisi Yunani yang memahami bahwa berfikir berkaitan dengan upaya mencari sebab dari sesuatu. Pengetahuan dihasilkan melalui prinsip-prinsip logika atas pengetahuan sebelumnya yang telah diyakini kebenarannya. Nalar burhani sendiri dapat difahami sebagi suatu aktivitas berfikir melalui penerapan kebenaran proposisi (qadliyah) melalui pendekatan deduktif (al-istintaj) dengan mengaitkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain yang telah terbukti kebenarannya secara aksiomatik (badihi). Kehadiran model nalar ini untuk mengatasi kekakuan nalar bayani yang terlalu tergantung pada teks. Tapi model ini juga dikritik oleh para penganut irfan karena burhani dianggap tidak mampu mengantar manusia untuk menyingkap kebenaran yang bersifat intuitif atau pengetahuan kehadiran (hudhuri atau knowledge by present), nalar burhani hanya bersifat deskriptif-analitik semata. Ketiga, nalar irfani merupakan model episteme yang tidak didasarkan atas analisa teks sebagaimana bayani, ataupun runtutan logika sebagaimana burhani, irfani lebih menekankan kesucian hati. Model episteme ini, menurut Sabara Nuruddin tidak memisahkan aspek pengetahuan dengan spiritualitas, akal dan hati serta mensinergikan pencapaian mistikal dengan pemahaman rasional-filosofis mengenai pengalaman spiritual tersebut. Secara etimologis, irfan berasal dari bahasa arab arafa yang sedarah dengan kata ma’rifat yang berarti pengetahuan atau pengenalan. Secara terminologis, irfan bisa dimaknai sebagai pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh melalui penyinaran kebenaran oleh Tuhan kepada hambaNya (kasyf) setelah sang pencari ilmu melakukan latihan (riyadhah) atas dasar cinta (mahabbah). Ketiga model epistemologi ini, tidak sesederhana yang dijelaskan oleh Khusnul yaqin bahwa apa yang telah di analisa oleh al qalb dengan baik “diteruskan ke al aql agar diikat atau ditahan”. Dalam epistemologi yang berkembang secara historis dalam dunia Islam sebagaimana difahami Al jabiri, tidaklah netral. Panca indera, al qalb dan al aql terjadi dialektika, tak ada superioritas yang satu dibanding yang lain, tergantung konteks dan bangunan keilmuan yang diolahnya. Tabik. * Penulis adalah Penggiat Networking for Education and Transformation (NET) Institute

dari pembaca
Dosen Malas Mengajar Sebelumnya saya ingin mengucapakan terima kasih kepada Identitas yang telah memuat surat saya.Saya adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi (FE). Surat ini saya tujukan kepada Pembantu Dekan I FE .Pada Fakultas Ekonomi ada beberapa dosen yang jarang masuk mengajar dan ada juga kadang tidak masuk mengajar. Tak heran mereka hanya hadir setengah dari seluruh pertemuan perkuliahan dalam satu semester. Selain itu juga selalu datang terlambat untuk masuk mengajar, sampai-sampai satu jam keterlambatan. Hal ini sangat merugikan kami sebagai mahasiswa.Mohon penjelasannya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Angkatan 2007 Tanggapan TERIMA kasih atas surat anda. Berdasarkan hasil monitoring, persentase kehadiran dosen secara keseluruhan semester ini sebanyak 89%.Namun tidak dapat dipungkiri bila ada dosen terlambat hadir untuk mengajar.Kadang kala bila ada perkuliahan pada pukul 07.30 pagi, dosen pun akan hadir pada pukul 08.00.Ada beberapa faktor menyebabkan hal tersebut seperti: jauhnya tempat tinggal dosen yang kadang terjebak kemacetan di jalan. Bahkan ada yang bertempat tinggal di Pangkep dan juga faktor ruangan kelas. Memang ada beberapa dosen yang jarang masuk mengajar dan saya pun telah memanggil dan menyurati dosen itu untuk diberi teguran. Dosen tersebut pun memberi alasan yang masuk akal seperti, kemacetan yang terjadi ketika berangkat dari rumah ke kampus dan juga alasan sakit hingga masuk rumah sakit. Namun dari monitoring yang dilakukan dua kali dalam seminggu di tempat perkuliahan, tetap ada dosen yang hadir mengajar hingga 80% kehadiran dalam satu semester. DR Darwis Said SE Ak MSA Pembantu dekan I Fakultas Ekonomi Perkuliahan Kurang Kondusif TERIMA kasih kepada PK identitas karena telah memuat surat saya. Surat saya ini saya tujukan kepada Kepala Bagian Tata Usaha(KTU) Fakultas Farmasi (FF). Saya adalah mahasiswa Fakultas Farmasi angkatan 2008. Saya mengeluhkan proses perkuliahan di FF yang kadangkala pada matakuliah tertentu jumlah mahasiswa begitu banyak dan digabung dalam satu kelas yang kecil .Hal ini membuat keadaan perkuliahan kurang kondusif . Selain itu, peralatan laboratorium hanya menjadi pajangan dan tidak dimanfaatkan. Padahal kami sebagai mahasiswa sangat membutuhkannya. Mahasiswa Fakultas Famasi Angakatan 2008 Tanggapan TERIMA kasih atas surat anda. Hal seperti itu tidak terjadi di Fakultas Farmasi. Kami sudah membagi jumlah mahasiswa dalam satu kelas maksimal sebanyak 40 orang. Kalaupun ada hal seperti itu akan dialihkan ke kelas lain yang lebih besar, seperti Aula. Selain itu, selama ini semua alat laboratorium sudah digunakan. Untuk alat laboratorium yang tidak dipakai itu disebabkan kondisi laboratorium di Fakultas Farmasi yang belum bagus dan juga belum memadai. Serta memang ada beberapa alat laboratorium yang belum digunakan karena masih baru. Bahtiar Sappaile ST Kasubag Tata Usaha Fak. Farmasi Nilai Rapor Jadi Nilai E TERIMA kasih kepada PK identitas karena telah memuat surat saya. Saya adalah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2008. Surat ini saya tujukan kepada Kasubag Akademik Fak. Pertanian. Hal ini terkait adanya nilai E yang keluar pada rapor saya . Nilai tersebut adalah nilai pada rapor semester III. Padahal nilai tersebut yang dulunya merupakan nilai Tunda telah saya urus dan seharusnya nilai yang keluar adalah A. Hal ini pun sangat meresahkan dan berpengaruh langsung pada IPK yang saya dapatkan pada semester III. Mohon penjelesannya. Mahasiswa Fakultas Pertanian Angkatan 2008 Tanggapan TERIMA kasih atas surat anda. Harus ada kejelasan dari si pengirim mengenai kapan dia mengurus nilai tundanya. Karena batas waktu pengurusan nilai tunda hanya selama 30 hari. Sesuai dengan peraturan akademik pasal 33 ayat 8 yang isinya batas waktu pengurusan nilai T adalah pada akhir semester, jika tidak diurus maka otomatis berubah jadi Eror.Ada kemungkinan mahasiswa itu terlambat mengurus nilai tundanya.Selain itu juga kami memberi kebijaksanaan ketika dicetak nilai T akan menjadi E. Kamaruddin Kasubag Akademik Fak. Pertanian VDMS Belum Diumumkan Assalamualaikum TERIMA kasih kepada PK identitas karena telah memuat surat saya. Saya adalah mahasiswa yang menjadi calon penerima beasiswa The van Deventer Maas Stiching (VDMS). Saya mengeluhkan belum ada pengumuman dari beasiswa VDMS. Terhitung sudah tiga bulan beasiswa ini belum ada pengumumannya. Mohon penjelasannya. Mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2008 Tanggapan WAALAIKUMSALAM.Terima kasih atas surat yang anda kirimkan. Belum diumumkannya beasiswa VDMS disebabkan belum adaanya konfirmasi dari pihak pemberi beasiswa atau donatur. Kami dari bagian kesejahteraan mahasiswa hanya bertugas menyalurkan dan akan segera mengumumkan jika telah ada informasi dari pemberi beasiswa. Penerima beasiswa dapat melihat pengumumannya di bagian kesejahteraaan mahasiswa atau akan dihubungi via handphone jika memang beasiswanya telah ada. Terima kasih. Drs Hasanuddin Kepala Bagian Kesejahteraan Mahasiswa

wansus

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

4

ITE vs Kebebasan Berekspresi
Kebebasan tidak selamanya tanpa batasan, kebebasan yang sesungguhnya adalah kebebasan yang dipenuhi dengan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terkait. Hal inilah yang coba dijelaskan Roy Suryo, pakar Teknologi Informasi dan Multimedia. Berikut petikan wawancara Icha Dian Nurcahyani, reporter identitas pada Sabtu siang (15/05) di Baruga AP Pettarani Unhas.
Bagaimana sebenarnya mengenai undangundang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang marak diperbincangkan? Saya termasuk salah satu perancang undangundang ITE (Informasi dan transaksi elektronik). Awalnya, undang-undang ini dirancang untuk menjamin keamanan transaksi dan informasi melalui internet, jadi kepastian hukum bagi pengguna internet terkait datanya yang ada di dunia maya bisa terjamin dan dilindungi. Sejauh ini, bagaimana tanggapan dari masyarakat sejak UU ITE ini disahkan tahun 2008 silam? Masyarakat kita ada yang mendukung ada pula yang tidak, pro dan kontra itu wajar-wajar saja dalam terbitnya aturan. Toh pada akhirnya aturan tersebut masyarakat juga yang akan menjalankannya, jadi wajar juga kalau masyarakatnya kontra. Tapi berbeda pula dari sisi yang setuju, banyak pula masyarakat yang datang dan mengadu terkait pencemaran nama baik lewat dunia maya dan jumlahnya bisa dibilang cukup banyak juga. Menurut Anda, bagian mana dari undangundang ITE yang selalu menjadi penolakan dari beberapa pihak? Undang-undang no 11 tahun 2008 ini, yang menjadi pusat perhatian adalah pasal 27, menurut beberapa pihak dinilainya terlalu melampaui wewenang dari UU ITE itu sendiri. Isinya mengenai hal-hal yang dilarang dan atau yang dapat dikenakan tindak pidana dalam dunia maya, seperti pencemaran nama baik, pengancaman, penistaan sampai pornografi. Saya rasa tujuan awalnya sangatlah bagus tapi ternyata sekarang keterbukaan dalam rangka globalisasi sudah sangat absolute sehingga undang-undang ini dirasa tidak pas lagi dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Saat ini kami di komisi satu DPR tengah menggagas UU Tipiti (Undang-Undang Tindak Pidana Teknologi Informasi) yang akan lebih mengatur secara spesifik mengenai tindakan yang bisa dipidanakan alam dunia maya. Bagaimana pula tanggapan Anda dengan kasus Prita Mulyasari, yang banyak juga menjadi sorotan publik? Kasus Prita sebenarnya sudah masuk dalam aturan UU ITE. Prita adalah seorang Public Relations jadi Prita pun tahu bahwa yang dia lakukan itu salah menurut undang-undang. Jadi wajar saja jika hakim ditengah desakan dari banyak pihak, berani menjatuhkan vonis bersalah. Yang kurang dari undang-undang ini adalah didalamnya tidak mencantumkan prasyarat bahwa untuk kepentingan yang lebih meluas lagi maka akan ada pertimbangan kembali. Apakah hal itu tidak membatasi dan bahkan mengekang kebebasan berekspresi? Sebenarnya dunia nyata dan dunia maya tidak ada bedanya, semua komponen yang ada di dalamnya haruslah bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, Tentunya ini bukanlah sesuatu yang membatasi dari sebuah ekspresi diri. Namun, ekspresi diri yang dimaksud adalah yang tidak mengganggu kepentingan orang lain. Bagaimana pula dengan Kebebasan Pers? Saya yakin bahwa kebebasan pers di Indonesia adalah kebebasan yang bertanggung jawab, bukan absolute, walau ada aturan terkait kebebasan pers , tetap saja jika pers ingin menulis harus juga ada data dan faktanya. Jadi pada prinsipnya pers boleh menulis, walau awalnya hanya asumsi belaka. Namun ketika telah ada fakta yang tersaji, maka harus juga ada hak jawabnya. Tapi ini yang perlu dikritisi biasanya dentuman publikasi hak jawab tidaklah sama saat tulisan yang masih berupa pengiraan terbit. Lantas, jika dirasa UU ITE masih ada yang kurang bagaimana langkah selanjutnya? Saya di komisi satu DPR menuntut agar undangundang ini direvisi agar dapat bermanfaat lagi di masyarakat. Sehingga semua hal yang kurang dan perlu dibenarkan dapat dibenahi kembali. Oleh karena itu, kami telah merancang undang-undang Tipiti (Tindak Pidana Teknologi Informasi) yang nantinya akan dijadikan acuan yang benar dan khusus untuk tindak pidana di dunia maya. Saat ini rancangannya masih dalam tahap penyusunan makalah untuk kemudian dirapatkan secara bersama. Bagaimana nantinya penerapan dari UU Tipiti? Contoh penerapan UU Tipiti misalnya saja terjadi pada pencurian kartu kredit lewat internet, pencuriannya sendiri saja sudah salah. Namun Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang dianut oleh kepolisian kita tidak mengatur soal dunia maya. Terlebih jika ingin diproses di kepolisian, harus ada bukti fisiknya, ada tempat kejadian perkara dan harus ada bukti. Nah, bagaimana jika hal tersebut terjadi di dunia maya, semua komponen tersebut pastinya tidak bisa terpenuhi. Untuk itu akan dibuatkan aturan khusus terkait tindak pidana di dunia maya. Menurut Anda, kebebasan seperti apa dalam dunia maya yang dianut oleh masyarakat Indonesia? Masyarakat Indonesia sudah terlanjur menganut kebebasan yang absolut, dalam artian sudah terlanjur bebas sebebas-bebasnya. Contohnya saja di situs jejaring sosial facebook ataupun email anda biasanya menggunakan identitas palsu padahal kalau di dunia nyata orang harus memiliki identitas yang asli. Malahan di Indonesia jika ada yang menggunkan akun dengan nama asli malah dirasa aneh. Bagaimana pula dengan undang-undang rahasia Negara? Saat ini RUU rahasia negara sudah bukan lagi menjadi prioritas pembahasan kami di dewan. Lantas saat ini, hal apa yang menjadi perhatian ekstra pada komisi 1 di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)? Sejauh ini yang menjadi pembahasan di komisi satu DPR terkait dengan UU Rahasia negara, yang diatur nantinya adalah mengenai bagaimana bentuk intelegent di Indonesia. Negara-negara maju pun sudah menerapkan undang-undang untuk intelegentnya masing-masing. Hal ini dimaksudkan agar nantinya masyarakat tidak dirugikan dan kita tahu mana yang sebenarnya menjadi batasa-batas kerja dari intelegent negara itu. Bagaimana harapan Anda dengan kebebasan berekspresi saat ini? Harapan saya adalah bagaimana seseorang mampu berekspresi di dunia nyata atau dunia maya tanpa mengganggu orang lain dan yang pasti haruslah bertanggungjawab

data diri
Nama Asli : Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo Tempat, tanggal lahir: Yogyakarta, 18 Juli 1968 Pendidikan: Jurusan Ilmu Komunikasi UGM (1991-2001) Pakar Teknologi Informasi dan Multimedia Anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Komisi Satu DPR
IDENTITAS/MUH SYUKRI

civitas

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

5

RSP Diperluas, PKL dan Lahan Kavaleri Digusur

bundel
Edisi Awal Juni 1981

Unhas Terima 2.254 Mahasiswa Baru
TAHUN 1981 / 1982 Unhas menerima 2254 mahasiswa baru. 213 orang diantaranya diterima tanpa test. Berarti jumlah calon mahasiswa baru yang gagal 9110. Mereka yang tidak lulus masih diberikan kesempatan mendaftar pada Kelas Sore mulai tanggal 17 hingga 22 Juni 1981. Kelas sore yang masuk dalam “Proyek Perintis V” itu tahun ini tetap menerima mahasiswa untuk program Ekonomi, Sosial dan Sastra. Jumlah sedikit naik, sekitar 600 orang. Hukum Favorit Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar di Unhas tahun ini 11.364 orang, yakni 5.998 orang memilih program eksakta dan 5.566 orang memilih program pendidikan noneksakta. Sedangkan yang ikut test masuk 11.085 orang, terdiri atas 5.677 orang yang memilih eksakta dan 5.408 noneksakta. Berdasarkan angkah pendaftaran ternyata banyak calon mahasiswa yang memilih Fakultas Hukum sebagai pilihan pertama, yakni 2. 179 orang, menyusul Fakultas Ekonomi 2.145 orang, Pertanian 1.823 orang, Teknik 1.642 orang, Kedokteran Umum 1.471 orang, Sosial Politik 855 orang, Sains 517 orang, Sastra 264 orang, Kedokteran Gigi 250 orang, dan Program Pendidikan Sarjana yang paling sedikit diminati adalah Peternakan 9 orang. PAPP merupakan program diploma yang banyak diminati calon mahasiswa, yakni 58 orang, PAAP 53 orang, PAK 28 orang, PAT 24 orang, PAB 6 orang, Program Pertanian mencatat angka tertinggi sebagai pilihan kedua (2.580 orang), menyusul Sosial Politik (1.624 orang).

IDENTITAS / ILHAM A M

Gusur: Suasana lalu lintas di jalan raya depan pintu 2 Unhas beberapa waktu lalu. PKL yang berjualan di pinggir jalan kini tak tampak lagi akibat penggusuran.

Pihak universitas berupaya mengosongkan lahan RSP di pintu dua. Menggusur pedagang kaki lima (PKL) dan melobi pihak kavalari menjadi agenda universitas dalam proses itu.
erita ini tentunya mengingatkan pada peristiwa penggusuran Mei 2005 silam yang terjadi di pintu dua. Setelah beberapa kali dihimbau mengosongkan tempat itu, 39 kios dan 149 jiwa didepak, tanpa ada solusi yang diberikan pihak universitas. Kini, Unhas kembali menggusur di lokasi yang sama. Pihak universitas kembali menghimbau agar kios yang berada di sebelah Timur Jln. Perintis Kemerdekaan lekas dibersihkan, Kamis (22/4). Alasannya, kelak lahan itu akan dibangun untuk lahan parkir Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Unhas. Nyatanya, Walau Unhas telah mengupayakan pembersihan lokasi, tecatat empat kios yang masih bertahan. Meski sudah di rubuhkan, mereka berinisiatif untuk mendirikan tenda. “Kami hanya pasrah, kami lihat belum ada aktivitas pembangunan. Makanya kami mendirikan tenda,” ucapTini PKL yang masih bertahan. Ternyata, bukan hanya PKL yang dibersihkan. Mengantongi persetujuan Departemen Pertanahan dan izin Menteri Pen-

B

didikan Nasional (Mendiknas) dua lahan kavaleri seluas 36 hektar akan di alih fungsikan untuk pembangunan RSP. Nantinya lahan ini akan dibangun cardiac center dan berbagai laboratorium untuk menunjang RSP sebagai rumah sakit bertaraf internasional. Mengenai masalah tukar guling ini, Pembantu Rektor IV Dwia A Tina angkat bicara, “nantinya akan dicarikan lahan untuk menggantinya (lahan kavalari,red), kalau tidak salah lahan yang di Moncong Loe. Jadi semua fasilitas seperti di kavalari akan kembali dibangun disana.” Untuk pembangunan dan perluasan RSP, saat ini Unhas telah mendapat kucuran dana sebesar 77 milyar. Sebesar 65 milyar berasal dari Anggaran Pembelanjaan Negara Bukan Pajak (APNBP) dan 12 milyar dari Daftar Isian Pembelanjaan Anggaran (DIPA). Jika kelak lahan ini ditukar gulir, mau dibawa kemana penghuni kavalari? Menurut Dwia A Tina, pembangunan di lahan negara itu akan dilakukan secara bertahap. Direncanakan pembangunannya dimulai tahun 2010. Sedang penghuni yang ada di Kavalari akan ditempatkan di rusunawa. “Penghuni kavalari untuk sementara akan tinggal di rusunawa, ada dua puluh kepala keluarga kan,” tambahnya. Dari perluasan RSP itu, ternyata bukan cuman puluhan kepala keluarga yang bakal tergusur. Tetapi ratusan rumah

penghuni kavalari. Baik yang sedang menjalani pendidikan maupun yang telah hidup menetap, turut dibersihkan. Alihalih, para penghuni ini harus merelakan rumahnya menjadi gedung dari RSP. Namun karena belum jelas kapan pemerataan lahan itu, membuat para penghuni tetap bertahan ditempat. “Akan ada pembangunan bertahap, tahun ini lahan yang sebelah timur Jalan Perintis kemerdekaan yang akan dibangun duluan. Penghuni kavaleri untuk sementara akan tinggal di rusunawa,” tutur Dwia. Menurut Dwia, Lahan itu merupakan aset kementrian Departemen Pertanahan, jadi tidak ada alasan dari pihak kavaleri untuk menolak tukar gulir tesebut. Sisa menunggu penandatanganan MoU antara Rektor Unhas dengan pihak kavaleri untuk dimulainya pembangunan. Pihak Kavaleri membenarkan adanya pernyataan itu, namun pembicaraan terkait tukar gulir tersebut telah berlalu setahun lalu. Artinya belum ada tindak lanjut dari pihak Unhas ke Pangdam. “Kita (Pangdam Makassar,red) tidak keberatan adanya tukar gulir ini karena untuk kepentingan umum. Hanya saja kami berharap tukar gulirnya harus disesuaikan. Artinya tanah, bangunan dan fasilitas harus sesuai dengan yang telah ada di kavaleri,” ungkap Mayor Inf Yaya Nurwijaya, Ka Seksi Penerangan Umun Pangdam VII/Wirabuana. Arm/Hdl

Edisi Awal Juni 1989

UMPTN Berakhir, Hasil Ujian Diumumkan 12 Juli
UJIAN masuk perguruan tinggi yang berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 6-7 Juni 1989 di seluruh Indonesia secara serentak, telah berakhir. Khusus Ujung Pandang, pendaftar sekitar 37.000. (IPA-Unhas 17.000, IPS-IKIP 20.000) berarti melampaui target panitia sekitar 36.000 dan naik 3.000 dari tahun 1988 yangh hanya 34.000 orang. “di Unhas akan diterima sekitar 3.000 orang yang terbagi dalam 11 fakultas. Sedang pengumuman hasil ujian diperkirakan tanggal 12 Juli mendatang,” ucap Ketua Panitia PUML Ujung Pangdang, Prof. Dr. H. Basri Hasanuddin ketika ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Dikatakannya, pengumuman itu akan mendahului pertemuan Rektor pada pertengahan Juli mendatang. Persiapan Panitia Ujian Masuk Lokal Ujung pandang, telah melaksanakan berbagai upata sehingga pelaksanaan pendaftaran dan ujian dapat berjalan sesuai yang dikehendaki. Terlihat dengan pertemuan dan rapat-rapat teknis yang membicarakan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bagian informasi yang sibuk sebelum pendaftaran dimulai, untuk dipublikasikan segala persyaratan dan ketentuan-ketentuan baik umum maupun persyaratan interen, melalui media cetak dan media massa lainnya, sehingga diharapkan nantinya berjalan dengan lancar.

Ucapan Terima Kasih Kepada:
UPT Perpustakaan Pusat Unhas American Corner Unhas Komunitas Bloger Anging Mammiri Makassar

atas partisipasinya dalam acara Makassar Blogshop: “Kiat Menulis Cepat di Blog dan workshop design Web/online” yang dilaksanakan oleh Penerbitan Kampus identitas, Sabtu, 12 Juni 2010

civitas
Sebagian kalangan menganggap Kebiasaan mencontek bukan hal yang tabu dilakukan. Kini seiring perkembangan teknologi, tindakan tak terpuji itu modusnya semakin canggih.

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

6

Trend Menyontek di Kampus Merah
Hasil Polling yang dilakukan oleh 100 Mahasiswa Unhas

kronik
Ujian di Hari Libur?
MINGGU, (23/5) Lantai I Perpustakaan Umum terlihat lebih ramai dibanding hari-hari libur lainnya. Sekelompok mahasiswa nampak serius menulis di lembaran kertas. Mereka sedang mengerjakan soal mid semester Metodologi Penelitian yang merupakan salah satu mata kuliah jurusan TLK Fakultas Farmasi Unhas. Naasnya, ujian tersebut diselenggarakan tanpa ruangan dan tanpa fasilitas bangku seperti selayaknya, sehingga mahasiswa harus mengerjakan soal dengan melantai. Ujian yang dilaksanakan di hari libur ini disinyalir karena jadwal final yang sudah sangat dekat, yakni mulai Senin (24/5). Nawir, salah seorang peserta ujian menyesalkan keadaan ini, “minggu merupakan hari libur, dosen seharusnya lebih konsisten terhadap jadwal dan pembagian waktu,” ujarnya. Mahasiswa TLK 2007 ini juga menuturkan bahwa mati lampu yang sempat terjadi selama sekira dua minggu juga menjadi penyebab molornya jadwal ujian. Namun, Aminullah selaku dosen mata kuliah tersebut menuturkan bahwa kegiatan tersebut hanya merupakan persiapan ujian. “Sebenarnya rencananya diadakan kemarin (Sabtu,red). Namun karena tidak sempat, diadakan Minggu sebab Senin sudah mulai final. Tempatnya pun sebenarnya di laboratorium Biofarmasi lantai I. Namun, karena laboratorium sedang digunakan dan tidak ada ruangan kelas yang terbuka di hari libur, terpaksa diadakan di lantai I perpustakaan,” tandas dosen muda Farmasi tersebut.

udaya mencontek memang tidak patut dicontoh, namun mahasiswa terkadang memiliki banyak alasan untuk membenarkan tindakan tak terpuji tersebut. Mulai dari alasan kurang persiapan menghadapi ujian, kepepet, kebiasaan, tidak punya bahan ujian atau sederet alasan lain yang membuat mahasiswa terpaksa harus mencontek agar memperoleh nilai ujian yang bagus. Teknik yang digunakan dalam mencontek pun semakin beragam seiring berkembangnya teknologi. Mahasiswa yang cenderung mengupayakan berbagai kecurangan dalam ujian pun memanfaatkan teknologi untuk memuluskan aksi mereka. Dari hasil Polling yang dilakukan identitas, 89 % Mahsiswa Unhas mengaku pernah mencontek dan 54 % Mahasiswa Unhas menggunakan Handphone (HP) pada saat ujian, baik digunakan mengambil foto dari materi ujian, Bluetooth jawaban dari HP teman, pesan singkat dengan teman, download dari internet, bahkan ada pula yang nekat menelpon teman untuk meminta jawaban saat ujian berlangsung. Sebut saja Mahasiswa Hukum angkatan 2008 berinisial CP. Saat ujian berlangsung (semester ganjil tahun ajaran 2009/2010, red), ia menunggu saat situasi pengawasan lengah dan mulai melancarkan jurusnya dengan merogoh handphone (HP) yang ada di sakunya dan mulai browsing jawaban melalui google mobile. Walaupun mencontek telah membudaya, namun harus diusahakan agar tidak menjadi kebiasaan apalagi kebutuhan. Mencontek akan berpengaruh pada kemampuan peserta ujian dalam menjawab dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan pada saat ujian berlangsung. Menanggapi trend mencontek yang semakin maju dengan pemanfaatan teknologi, Prof Dr Ir Effendi Arif ME, dosen Fakultas Teknik menuturkan bahwa “modus baru contekan yang dilakukan mahasiswa tetap merupakan suatu pelanggaran yang tentu saja sangat merugikan mahasiswa itu sendiri,” Ungkapnya Senin (24/5). Menurutnya, langkah awal untuk berperang melawan tradisi mencontek dimulai dengan berhenti menganggap mencontek sebagai suatu perbuatan sepele. Melainkan dapat menimbulkan dampak yang serius. Effendi menambahkan, sebelumnya harus disadari latar belakang yang menggerakkan seorang mahasiswa untuk mencontek. Alasan utama yang jadi motivasi untuk mencontek adalah keinginan untuk memperoleh nilai yang lebih baik. Sehingga perlu mengubah cara pandang mahasiswa agar tidak selalu berorientasi kepada nilai, melainkan berorientasi kepada studi dan proses pencarian ilmu itu sendiri. Hal senada diungkapkan Ishak Ngejalaratan yang mengatakan bahwa mencontek adalah suatu bentuk ketidakpercayaan diri yang muncul ketika banyak yang belum terselesaikan saat pembelajaran. Terkadang dosen tidak mengikuti silabus yang tertera dalam GBRP (Garis Besar Rencana Pembelajaran). Sehingga banyak mahasiswa yang kebingungan dengan soal yang belum pernah ia peroleh saat proses pembelajaran di kelas. Tak ayal timbullah keinginan untuk mencontek. Menanggapi transformasi mencontek yang telah mengikuti kemajuan teknologi, Salah seorang budayawan Makassar ini pun menuturkan, “di zaman modern ini teknologi digunakan untuk mengakses apa saja tanpa ada batasan. Termasuk menjadi alat contek saat ujian. Kalau sudah seperti ini,

B

Berdasarkan modus
A. Smsan dengan teman B. Download dari internet C. Bluetooth dari HP teman D. Mengambil foto materi E. Membawa Catatan F. Menulis di kertas G. Lain-lain H. Menelpon teman 19 % 17 % 4% 12 % 7% 14 % 25 % 2%

Berdasarkan Pengalaman Menyontek

Berdasarkan alasan Menyontek
A. Kepepet B. Tidak Belajar 36 % C. Tidak menjawab 1 % 1% 12% D. Lainnya 12 % 5% E. Kebiasaan 5 % 46 % 36 %

Berdasarkan alasan Tidak Menyontek

46 % 31% 23 %

Tertipu Undian Berhadiah
Percaya diri Takut Ketahuan idealisme

HASNAH, seorang pedagang makanan dan minuman ringan serta pulsa di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Kamis (16/5), melaksanakan rutinitasnya seperti biasa. Tidak pernah terpikirkan olehnya akan mendapatkan musibah hari itu. Pasalnya sekira pukul 11.00 wita, Hasnah memperoleh telepon dari seseorang yang mengatasnamakan provider Telkomsel yang menyatakan bahwa ia memenangkan hadiah sebesar Rp. 5 juta dari hasil pengundian pihak Telkomsel dan pengambilan hadiah dapat diambil di Kopma pintu II Unhas. Tanpa curiga sedikit pun ia bersama keponakannya pergi ke Kopma pintu II seperti yang dikatakan oknum tersebut. Namun untuk dapat memperoleh hadiah tersebut Hasnah diharuskan mengirimkan pulsa 20 ribu di empat nomor Handphone yang ditentukan. Dengan polos si ibu mengikuti perintah Oknum penipu tersebut. Kecurigaan mulai dirasakan wanita 53 tahun ini saat oknum penipu kembali memintanya mengirimkan voucher pulsa senilai Rp. 50 ribu sebanyak lima buah melalui pesan singkat. Akhirnya setelah lama menunggu si penipu tak kunjung datang, dengan perasaan marah tertahan, ibu Hasnah menelepon dan memarahi penipu tersebut. Ia tidak melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib dan mengikhlaskan uang pembeli pulsanya tidak kembali. “Biarmi, diikhlaskan saja mi itu uang,” kata ibu Hasnah dengan senyum polosnya ketika di wawancarai Identitas.n

UMMUL/IDENTITAS, FOTO:ILHAM A MUHAMMAD

lebih baik HP dilarang penggunaanya saat ujian, itu solusi paling bagus untuk menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa,” tegasnya saat ditemui di Rumahnya, Selasa, (1/6). Pemberantasan kebiasaan buruk yang sudah membudaya ini tentu tidak mudah. Apalagi dengan dukungan kemajuan tek-

nologi saat ini. Maka untuk memberantasnya sebaiknya dimulai dari diri sendiri, komunitas kecil, dan secara bersama-sama, sehingga bebeapa tahun ke depan mencontek di kalangan mahasiswa hanya tinggal sejarah. Semoga! Hsp/Kas

Tawuran: Sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik-Fisip terlibat tawuran di depan gedung perpustakaan beberapa waktu lalu. Kejadian ini menjadi sorotan masyarakat akan budaya mahasiswa di Makassar.

laporan utama
anggal 7 april lalu, Unhas bereforia karena rektor terpilih akhirnya dilantik di Baruga A. Pettarani. Tentunya, Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpB SpBO sebagai rektor yang akan menahkodai unhas selama lima tahun kedepan, memilki gebarakan baru untuk universitas kita. Berbagai pekerjaan rumah yang sedang dicanangkan olehnya, kini menunggu untuk melanjutkan kepemimpinanya di priode lalu. Salah satu pekerjaan berat yang dihadapi belakangan ini adalah perihal pemilihan Pembantu Rektor (PR) yang akan mendampinginya kelak. Berbagai persepsi di kalangan sivitas akademika mulai bermunculan mengenai sosok keempat PR tersebut. Hingga berita ini diturunkan, keempat sosok tersebut masih menjadi rahasia dan masih berada di benak Sang rektor. Bila tak ingin penasaran dengan gebrakan dan sosok PR yang menjadi tanda tanya bagi sivitas akademika, simak kutipan wawancara Khusus identitas berikut dengan Prof Idrus pada hari Kamis, 3 Juni 2010 di ruangannya. Setelah anda terpilih tuk kedua kalinya, menurut anda apa pekerjaan berat di periode ini di banding periode sebelumnya ? Pastinya melanjutkan program yang belum selesai seperti Green Healty Safer, dan pembangunan di Fakultas Teknik di Gowa. Selain itu menurut DIKTI dari segi peringkat kita (Unhas, red) masih urutan 13. Target sekarang kita bisa masuk lima besar dalam Potensi Karya Ilmiah Perguruan Tinggi dan untuk mencapai itu ada tujuh unsur yang dijadikan dasar perhitungan, seperti paten/varietas/desain industri, publikasi ilmiah, teknologi tepat guna, buku, prototipe/model pembelajaran/ karya seni, pertemuan ilmiah dan laporan Penelitian. Lalu, Gebrakan seperti apa yang akan anda lakukan diperiode ini ?. Sebenarnya kalau mau dibilang gebrakan, bukan gebrakan tetapi memang harus dilaksanakan. Seperti pembangunan FakultasFarmasi, jika ada dana pasti akan di bangun. itu semua menunjang untuk menuju peringkat itu tadi. Kalau ada dana tetap akan ada pembangunan dan pengembangan. Bukan hanyaFakultas Farmasi tapi semua fakultas. Kan unhas bercita-cita menjadi urutan ke lima dalam hal potensi karya ilmiah, lalu bagaimana nasib cita-cita Word Class University ? Target besar sekarang adalah masuk dalam lima besar dari 78 Perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Bagaimana mau Wold Class Univercity (WCU) kalau di dalam saja masih kurang. Namun, cita-cita tetap mengarah ke WCU.

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

7

Gebrakan Rektor Terpilih Unhas
T
Untuk di Fakultas Kedokteran, sebenarnya bukan international class, tapi English class. Tapi tidak menutup kemungkinan, hal itu tidak hanya di Fakultas Kedokteran saja, di Fakultas lain juga ada. Di Fakultas Sastra ada dua orang Amerika yang datang belajar bahasa daerah. Di Fakultas Kedokteran Gigi juga ada mahasiswa dari luar negeri (bukan berkebangsaan Indonesia, red), di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan beberapa fakultas lain. Di Pasca Sarjana juga ada. Itu semua menjadi penunjang WCU ? Hal yang menjadi sorotan adalah manajemen keuangan. Banyak pihak yang menilai system keuangan Unhas lamban. Bagaimana anda melihat ini ?. Bukankah hal itu bertolak belakang dengan Good university gocernance yang anda usung sebelumnya ?. Lalu, Bagaimana dengan peran komisi lima senat yang seharusnya mengevaluasi anggaran ?. Saya rasa ini Cuma persoalan teknis. Kalau ada yang mengajukan proposal, tidak semua permintaan bisa dicairkan. Karena itu semua sudah di atur dalam rancangan anggaran. Misalnya kegiatan ilmiah atau kontes robot. Itukan semua sudah dianggarkan sebelumnya, jadi bisa lansung dicairkan. Harus disesuaikan prosedur yang ada. Kita ini jalan merujuk pada sistem yang ada .Terkait evaluasi anggaran bukan hanya komisi lima tapi komisi dua serta semua anggota senat ikut mengevaluasi. Anggaran yang keluar semua akan ada laporan pertanggungjawabannya. Dari berbagai pekerjaan berat yang menanti anda,salah satu yang mendesak adalah memilih PembantuRektor (PR).Lalu seperti apa sosok keempat PR yang akan mendampingi anda kelak ? Yang jelas harus jujur, bertanggungjawab, amanah, searah dengan tujuan yang ingin dicapai dan tentunya terbaik sesuai bidangnya. Pertimbangan dari masing-masing calon tentu ada. Misalnya calon pembantu rektor III, Pak Cido, dia kan menjadi pembantu bidang III di FIKP. Pak Hasrullah memang bukan pembantu bidang III tapi bagus komunikasinya dengan mahasiswa. Begitu juga calon pembantu rektor yang lain semua punya kelebihan sesuai bidangnya Mengapa pemilihan PR di periode ini dilakukan dengan berbagai tes?Apa yang melatar belakangi? Sudah menjadi ketentuan yang dibuat oleh pusat.Kita mengikuti ketentuan yang ada. Psikotes, tes kesehatan juga sudah selesai, meminta pertimbangan senat juga sudah. Hasil Itu semua yang akan menjadi penilaian. Untuk penentuannya, itu hak prerogative dari rektor. Nanti akan dipilih secara objektif, siapa yang terbaik sesuai bidangnya masing-masing. Kan percuma tesnya panjang kalau dipilih tidak sesuai hasilnya. Harapan anda terhadap keempat pembantu rektor terpilih kelak? Semua bisa melakukan tanggungjawabnya dengan baik, amanah dan selaras dengan tujuan bersama. Kalau untuk mahasiswa sendiri, harapannya kita ini sudah berusaha membangun citra, kalau mau citranya baik harus citranya (mahasiswa,red) bagus juga.Jangan selalu tawuran, itu perbuatan yang kurang beradab. Yang rugi mahasiswa sendiri.

Tim Laput
Koordinator :

Hadrianti D Lasari Icha Dian Nurcahyani
Anggota : Atrasina Adlina, Satriani Muliyadi, Fadli, Hery S Pasaribu, Ummul Masir, Mifda Hilmiyah, Ilham A M

IDENTITAS / MUH SYUKRI

8

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

8 LAPORAN

“PR” Bagi PR I Berikutnya
Sudah empat tahun pergesaran pola pembelajaran dari teaching ke learning di Unhas. Penerapannya perlahan-lahan mulai nampak, namun khasiatnya belum terasa.
tribut utama Citra Unhas 2010 yaitu memiliki sistem pendidikan yang handal, menyelenggarakan penelitian dan pemberdayaan masyarakat, manajemen organisasi yang efektif serta lingkungan kampus yang asri dan bersahabat. Tonggak utama dalam menciptakan sebuah sistem pendidikan yang handal dapat dicapai dengan metode Student Center Learning (SCL). Tanggung jawab ini diemban Prof Dr Dadang A Suriamiharja selaku Pembantu Rektor (PR) Bidang Akademik Unhas. Salah satu program utamanya menekankan pada perubahan pola pembelajaran dari teaching ke learning. Sebelum memberlakukan metode ini, maka terlebih dahulu para dosen Unhas mendapatkan pelatihan penyelenggaraan pendidikan metode SCL. Sampai saat ini, tercatat 61,3 persen dari sekitar 1700 dosen yang ada di Unhas telah mengikuti pelatihan SCL. Dr Ir Prastawa Budi M Sc, Dosen Kimia, FMIPA yang juga calon PR I Unhas periode 2010-2014 menilai, sistem SCL sangat cocok diterapkan di Unhas, agar kedepannya waktu luang mahasiswa yang kerap digunakan untuk tawuran hilang. Karena sibuk dengan urusan akademiknya. Sistem pembelajaran yang telah diterapkan empat tahun silam, rupanya mahasiswa masih belum mampu mengikuti pola pembelajaran ini. Terbukti dari hanya beberapa mahasiswa yang aktif dalam proses diskusi. Bahkan terkadang sistem yang semula SCL, jika suasana diskusi menjadi vakum ujung-ujungnya akan kembali ke metode ceramah dari dosen. Berdasarkan pantauan identitas, Garis-garis Besar Haluan Pembelajaran (GBHP) tekadang kurang didengungkan dosen kala pertamakali kuliah. Padahal hal itu menjadi acuan dan pedoman bagi mahasiswa dalam mengenal dan memahami, mengapa mereka harus mempelajari matakuliah itu. Tak hanya itu, terkadang dosen salah paham terkait metode SCL. Dengan memberi tugas, hal itu telah dianggap cukup dalam menerapkan sistem SCL. Jadi tak jarang terdapat seorang dosen dalam mengajar hanya menyuruh mengumpul tugas, tanpa ada proses dialogis dengan mahasiswa. “Dengan sistem SCL tugas semakin banyak. Bahkan terkadang dosen yang mengajar hanya sebagai juri dalam diskusi atau malah hanya datang absen dan memberi tugas,” ungkap Ratnawati, mahasiswi angkatan 2007 Prodi Ilmu Gizi FKM Unhas. Berbeda pula yang diutarakan Dwi Adi Nugroho, mahasiswa angkatan 2007 Jurusan Sastra Inggris ini mengakui, “melalui sistem SCL mahasiswa dituntut untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait mata kuliah, jadi mahasiswa bisa lebih kreatif lagi.” Saat ditanya mengenai keluhan mahasiswa ini, Prof Dr Ir Lellah Rahim MSc, Fasilitator Pelatihan SCL menerangkan, “pihak LKPP menyiapkan SDM, dengan memberi pelatihan selebihnya dosen dituntut untuk berkreasi agar suasana SCL menjadi nyaman buat mahasiswa.” Dadang pun tak menapik beragam anggapan miring seputar sukses tidaknya SCL, “walau metode ini sudah banyak dipahami, namun aplikasinya masih belum maksimal”. Beliaupun mengakui bahwa penerapan sistem SCL merupakan kelemahan semasa dia menjabat, dan dengan ini kiranya PR I yang terpilih nantinya dapat membenahi teknis penerapannya. Ya, Untuk menerapkan SCL secara merata bukanlah perkara mudah, semudah membalikan telapak tangan. PR I periode berikutnya harus lebih memaksilkan peran dosen dalam menyuguhkan sesuatu yang baru dalam mengajar. Sehingga mahasiswa juga lebih bergairah. Ruang perkuliahan yang sesuai kapasitas jumlah mahasiswa juga menjadi faktor suskes tidaknya penerapan SCL. Pasalnya semakin banyak jumlah mahasiswa yang tidak diiringi peningkatan kapaisitas ruangan akan membuat suasana perkuliahan menjadi sumpek, gerah dan fungsi kontrol dari dosen terhadap mahasiswa kurang maksismal. Tim Laput

A

Tawuran, Tantangan PR II
Salah satu agenda yang belum pernah dituntaskan PR III manapun yakni menghilangkan tawuran sesama mahasiswa. Tentunya Pekerjaan rumah itu telah menunggu PR III terpilih

G

aung pemilihan pembantu rektor telah lama terdengar. Namun dari tiga calon yang telah ada, Unhas belum menetapkan sosok Pembantu Rektor (PR) III Bidang Kemahasiswaan. Ketiga calon itu, Ir Nasaruddin Salam MT dari Fakultas Teknik (FT), Ir Abd Rasyid MSi dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) dan Dr Hasrullah dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Tanda tanya besar kemudian bergelayut di benak sivitas akademika. Padahal berbagai tes seperti wawancara, psikotest, kesehatan, dan toefl telah dilakoni oleh ketiga calon ini. Meski begitu, bagi sivitas akademika, siapapun PR III yang akan mendampingi rektor, diharapkan dapat menekan kejadian tawuran mahasiswa di Unhas. Harapan ini diungkapkan Prof Halide, mantan PR III Unhas. Ia mengatakan, Yang perlu dibenahi PR III

terpilih adalah mencegah agar tidak terjadi tawuran lagi. Sangat urgennya masalah ini membuat PR III kelak memiliki beban tanggung jawab yang lebih berat. Karena masalah tawuran tak hanya menodai citra universitas. Tapi juga telah berdampak pada alumni Unhas di dunia kerja. Melihat kondisi mahasiswa Unhas saat ini, Prof Basri Hasanuddin memberikan tanggapannya. Mantan Rektor Unhas tahu 1989-1997 ini sedih dengan aksi anarkis seperti demo-demo yang merusak citra unhas. “Saya sangat sedih dengan permasalahan ini, padahal hanya beberapa puluh orang melakukan dan mewakili Unhas,” tambahnya ketika ditemui di rumah pribadinya, Senin (31/05). Tawuran, kata ini tentu menjadi momok bagi Unhas. Dari data sepuluh tahun terakhir (lihat tabel, red) tawuran mahasiswa skala fakultas kerap terjadi dan selalu terekpose oleh media. Tawuran yang terjadi Mei silam antara FISIP dan FT menjadi tamparan keras bagi seluruh sivitas akademika dan alumni. Menurut Jumadi, Pembantu Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar, mengatakan, tawuran umumnya dipicu oleh berbagai hal. Dalam bukunya yang berjudul Tawuran Mahasiswa, salah satunya disebabkan oleh hilangnya ikatan-ikatan secara universal mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi.

Sumber : Jumadi, Tawuran Mahasiswa ; Konflik sosial di Makassar, 2009

N UTAMA

NO TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010 NO 729 l729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010 Kandidat PR I Terfavorit

identitas identitas

9 8

Research University Minim Kerjasama
Menjadi universitas riset merupakan obsesi Unhas. Namun upaya realisasinya kurang ditopang dengan kerjasama
ulawesi Selatan memiliki potensi besar untuk pengembangan hasil-hasil pertanian. Namun berbagai kegiatan pertanian yang ada, belum ditopang industri prosesing yang kuat. Sehingga hampir seluruh ekspor hasil pertanian masih dalam bentuk mentah seperti kakao, mete dan kelapa sawit. Karena itu, Unhas akan mendorong penelitian dan pemanfaatan teknologi yang tidak hanya mengekstraksi sumberdaya pertanian dan kelautan. Tetapi juga meningkatkan nilai tambah dan kebermanfaatannya. Pada periode kepemimpinan Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpB SpBO Jilid 1, telah banyak kerjasama yang terjalin dan melahirkan MOU. Banyak pihak beranggapan, kerja sama yang dilakukan cukup berhasil dengan melihat kuantitas. Baik dengan perguruan tinggi dalam negeri mapun luar negeri. Sejak Maret 2006 hingga Juli 2009, tercatat 43 daftar kerjasama luar negeri yang melibatkan Unhas dan 84 daftar kerjasama dalam negeri. Peran dari bidang kerjasama hanya sebagai payung hukum dari kerjasama yang akan terjalin. Dimulai dari pembuatan piagam kesepakatan (MOU) lalu beralih ke perjanjian kerjasama (kontrak) dan selanjutnya, teknis kegiatan akan dilakukan penerima kerjasama. Data yang kami peroleh, antara tahun 2008 sampai 2009 rupanya penerimaan hasil kerjasama unhas merosot tajam di semua bidang. Dari angka yang mencapai 53 milyar menjadi hanya 14 Milyar. Ini berarti kerjasama yang dilakukan Unhas pun menurun sesuai dengan menurunnya jumlah dana yang mengalir ke rekening Unhas. Penerimaan hasil kerjasama bidang pendidikan menurun, dari 35 M manjadi hanya 6 M. Bidang penelitian juga seperti itu, dari 14 M ke 5 M. Begitupun di bidang pengabdian masyarakat, penerimaan turun dari 3 M menjadi 2 M. Memuluskan langkah Unhas menuju research university rupanya sulit untuk tercapai. Apalagi jika kerjasama di semua bidang, seperti pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat semuanya menurun. Utamanya dalam bidang penelitian, dua tahun terakhir, penerimaan hasil kerjasama penelitian yang diretas universitas menurun. “Hal ini terjadi karena pihak lain tak lagi bekerjasama dengan Unhas, seperti perusahaan swasta ataupun daerah. Bisa jadi karena mereka telah mendapat mitra kerja lain,” ujar Prof Dr Amran Razak SE MSc, selaku Pejabat Sementara (PJS) Lembaga Penelitian Unhas. Meski risearch university terkendala pada minimnya kerjasama, Unhas juga seyogyanya berupaya mencari pundi-pundi dana lainnya. Misalnya dengan mencari danah Hibah. Tak hanya itu membuat peraturan yang menstimulasi peneliti Unhas untuk terpacu meneliti, juga hal yang perlu dilakukan. Tahun ini pascasarjana memperoleh dana hibah penelitian dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (DIKTI) sejumlah 780 juta rupiah. Selain itu, telah ada aturan baru yang mewajibkan semua guru besar Unhas menghasilkan penelitian, sesuai disiplin ilmu mereka masingmasing. Dengan adanya perangkat-perangkat penunjang ini seharusnya dapat lebih menutupi sisi minimnya kerja sama. Hanya saja yang perlu diperhatikan yakni pengelolaan dana hibah. Dana ini tidak hanya diberikan pada peneliti-peneliti yang memilki kedekatan dengan birokrasi. Tetapi juga kepada peneliti-peneliti muda berbakat. Tak hanya itu yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan research university yaitu tindak lanjut dari hasil-hasil penelitian yang dapat diaplikasikan kemasyarakat. Karena selama ini hal itu kurang diperhatikan. Jadi bagi Lembaga Penelitian dan Lembaga Pengabdian Masyarakat Unhas sebaiknuya lebih berkoordinasi. Pasalnya selama ini ke dua lembaga ini berjalan sendiri-sendiri. Tim Laput

S

IDENTITAS/MUH SYUKRI

PELANTIKAN REKTOR, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh disambut sejumlah guru besar saat tiba di Baruga A Pangeran Pettarani, Rabu (7/04). Kedatangan M Nuh untuk melantik Rektor Unhas Periode 20102014 Prof Idrus A Paturusi SpB SpBO

Kandidat PR II Terfavorit

II Berikutnya
Mereka terkelompok-kelompok pada kajian-kajian keilmuan dan organisasi intra dan ekstra bahkan kedaerahan yang cenderung kurang menerima perbedaan-perbedaan. Tak hanya itu, Tidak berkembangnya institusi kemahasiswaan yang lebih efektif yang berfungsi mengelola konflik yang lebih rumit. Selain itu, Tidak berfungsinya lembaga kemahasiswaan secara efektif sebagai lembaga integrasi untuk menyatukan nilai, norma atau peraturan yang berperan sebagai katup pengamanan konflik. Tak ingin berdiam diri dengan fenomena tawuran, PR III periode lalu, Ir Nasaruddin Salam MT, telah melakukan berbagai upaya. Ia mengatakan, aktifitas pengkaderan berbau penganiyaan telah dihapus pada tahun 2006. Namun sistemnya masih berjalan hingga kini. Tak hanya itu, diadakannya beberapa program yang memiliki nilai kecintaan terhadap Unhas seperti Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) dan Basic Study Skill (BSS) serta mengembangkan kegiatan-kegiatan UKM yang bisa menghilangkan arogansi fakultas. Menyikapi masalah Tawuran Prof Halide menawarkan solusi. Ia mengatakan PR III terpilih harus bisa berani melakukan sanksi. Jika ada orang-orang yang merusak fasilitas kampus, kan orang seperti ini bukan mahasiswa tapi preman. Jadi keluarkan saja, tidak usah ditahan-tahan. “Ditata kembali aturan-aturan yang sudah diciptakan. Sesuaikan dengan aturan yang ada. Buatkan program yang diikuti oleh mahasiswa tapi minus kekerasan,” tambahnya. Walaupun fokus kerja PR III terpilih adalah Meredam Tawuran mahasiswa. Namun berbagai program lain tak dapat diabaikan begitu saja. Pengembangan kecerdasan emosi dan soft skill mahasiswa menjadi program berkesinambungan dalam meredam tawuran. “Jadi sekarang kami berusaha membuat kegiatan yang banyak bagi mahasiswa untuk mengisi waktu luangnya. Kegiatan-kegiatan yang bersifat soft skill dan bisa memperbaiki karakter mahasiswa” jelas Nasaruddin via telepon. Ketika universitas mampu melakukan pengembangan keceradasan emosi yang bermakna, maka secara tidak langsung perilaku tawuran mahasiswa dapat dicegah.

Kandidat PR III Terfavorit

Kandidat PR IV Terfavorit

Kerjasama Unhas Skala Besar
Kerjasama antara Unhas (Fakultas Pertanian), PT. Indofood dan pemerintah Kabupaten Bantaeng dan Gowa untuk Produksi Kentang dengan kultur jaringan (2007) Kerjasama Unhas (Fakultas Pertanian) dengan PT MARS dan Pemerintah Kabupaten Mamuju untuk peningkatan produksi Cacao (2007) Kerjasama Unhas (Fakultas Farmasi) dengan Perusda Sulawesi Selatan untuk produksi Bassang Instant Cereal rasa rumput laut (2008) Kerjasama Unhas (Fakultas Farmasi) dengan Perusda daerah Sulawesi Selatan untuk produksi obat-obatan (Sumber : Laporan Kinerja Rektor, Januari 2006- Juli 2009)
Penerimaan Hasil Kerjasama (Rupiah) Kegiatan 2007 2008 Kerjasama Pendidikan 12.896.139.732 35.294.341.539 Kerjasama Penelitian 14.438.588.219 14.484.634.957 Kerjasama PPM 4.632.592.4793 .949.762.208 Total 31,967,320,430 53,728,738,704 Sumber : Laporan Kinerja Rektor, Januari

Tim Laput

2009 6.679.828.500 5.178.766.083 2.247.512.413 14,106,106,996 2006- Juli 2009

POLLING ini dilakukan selama 2 hari yakni tanggal 910 Juni 2010 dengan metode accidental. Sampel polling ini didapatkan dengan teknik kluster random sampling dari jumlah populasi mahasiswa Unhas 2009/2010 yakni 210 sampel. Hasil polling ini diolah dengan menggunakan epidata dan SPSS.

laporan utama

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

10

Sistem Keuangan Butuh Reformasi

Parade Pendapat
Sedikit Asa Bagi Para PR
Empat tahun telah berlalu, masing-masing Pembantu Rektor (PR) Unhas telah menggoreskan pena dalam mengisi lembaran kinerjanya. Setiap PR tentunya meninggalkan jejak kinerja yang masih berbekas. Misalnya dalam bidang akademik sistem SCL belum maksimal penerapannya. Sementara pada bidang keuangan, masih banyak yang mengeluhkan mengenai lambatnya pencairan dana. Untuk bidang kemahasiswaan sendiri, tawuran masih menjadi agenda yang mesti dihilangkan di kampus merah ini. Dan untuk bidang kerjasama, tindak lanjut dari puluhan MoU yang telah disepakati, sebaiknya harus lebih diperhatikan. Menjelang pengumuman hasil pemilihan PR Unhas periode 2010-2014, nampaknya sejumlah PR yang bakal terpilih kelak memilki banyak tugas yang mesti diselesaikan. Berikut tanggapan sivitas akademika terkait hal-hal yang mesti dibenahi bagi PR terpilih nantinya.

IDENTITAS/ILHAM MUHAMMAD

BAK: seorang mahasiswa memperhatikan tabel sasaran mutu bagian anggaran masyarakat Biro Administasi Keuangan (BAK)yang terpampang di lantai 3 rektorat, jumat (18/6)

Meski tata kelola keuangan Unhas telah berubah. Namun pengelolaan keuangan dan penyediaan sarana dan prasana masih kerap terkendala

S

ejak 2009 lalu, pengaturan keuangan sudah menganut pola keuangan Badan Layanan Umum (BLU). Dalam pola BLU, universitas diberikan kekuasaan dalam pengelolaannya. Seluruh penerimaan kini tak lagi disetor ke kas negara, melainkan disimpan di rekening universitas dan dikelola sendiri. Untuk sistem ini tentunya ada Standar Operasional Prosedur (SOP), dan tiap tiga bulan sekali, selalu dibuatkan laporan keuangannya, rencana kegiatanpun disusun berdasarkan aturan diknas, dikti maupun renstra unhas. Setelah menyusun rencana kegiatan yang berbasis kinerja, selanjutnya diusulkan ke kementrian pendidikan nasional agar memperoleh persetujuan. Nantinya akan terbit Daftar Pengisian Anggaran (DIPA). Sekarang ini, ada tiga mekanisme penganggaran yang dilaksanakan oleh pihak fakultas. Pertama, digunakan sistem penganggaran untuk keperluan sehari-hari. Kedua, mekanisme penambahan uang bila ada kegiatan

yg ingin dilakukan, dan uang persediannya tidak mencukupi, maka dapat mengajukan permintaan secara khusus yaitu tambahan uang persediaan sesuai dengan apa yang akan dilakukan. Ketiga, yakni pencairan anggaran secara langsung yaitu seluruh belanja dan non belanja pegawai, kecuali honor-honor pegawai. Utamanya untuk pembelian barang-barang dengan pihak lain, “misalnya saja fakultas mau beli meja guna penyediaan barang. Jika nilainya dibawah 50 juta, pihak fakultas bisa menunjuk rekanan. Namun, aliran dana tidak kucur ke fakultas, melainkan dari universitas langsung ke rekanannya” ujar Dr Wardihan sindrang, Pembantu Rektor Bidang K euangan periode 2006-2010. Namun dengan ketiga sistem pencairan dana tersebut, kucuran gaji pegawai masih sering terhambat. Sebab pengajuan rencana keuangannya ditentukan waktunya sehingga menjadi kendala tersendiri. “Karena tak dapat mengambil dana begitu saja, kucuran dana sering terlambat turun. Untuk itu perlu dilakukan reformasi keuangan termasuk permintaan dana honor dan dicarikan teknis yang tidak menghambat” ujar Prof Muh Ali MS, dosen Fakultas Ekonomi Unhas.

Realisasi Belanja Untuk Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan, Universitas Hasanuddin, Tahun 2006-2009 (Juta Rupiah)
Uraian 2006 2007 Pengadaan Peralatan 18.214.070.000 63.159.830.000 Renovasi dan Rehabilitasi 7.995.410.000 10.310.860.000 Pembangunan Gedung 73.160.000.000 10.511.860.000 Jumlah 26.281.640.000 83.982.550.000 Sumber : Laporan Kinerja Rektor, Januari 2006- Juli 2009 2008 26.325.270.000 19.693.240.000 50.093.300.000 96.111.810.000 2009 3.009.450.000 1.656.430.000 16.804.270.000 21.470.150.000

Ralat
PADA edisi No.727/tahun XXXVI/EDISI AWAL Mei 2010 hal 10 dengan judul Mengendus Aroma Plagiat di Jajaran Dosen , terdapat potongan kalimat di paragraf satu, “Senin (10/05) usai pengukuhan gelar profesornya.” Kalimat ini tidak benar sebab SM baru menerima SK gelar guru besar dan belum ada pengukuhan gelar profesor. Masih dalam berita yang sama, pada kutipan dari SD yang berbunyi, “isi disertasi yang paling diingatnya (SD, red) diplagiati adalah halaman 225 , 226 , 277 serta halaman 75”. Halaman yang diduga diplagiati tersebut sudah diperbaiki oleh SM selepas acara promosi doktor.

Infrastruktur Akademik SEBAGAI universitas ternama, Unhas mesti memiliki sarana dan prasarana akademik yang lengkap, mulai dari laboratorium, studio, fasilitas internet hingga ruang kelas yang memadai untuk belajar. Sampai pertengahan tahun 2009, Unhas telah memiliki 349 laboratorium dan 7 studio yang kualitasnya masih jauh dari harapan. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah jumlah ruang kelas yang tersedia dengan mahasiswa yang ada sangat tidak memadai. Sejauh ini total ruang kelas hanya berjumlah 172 dari 19.150 mahasiswa S1 Reguler yang harus diakomodasi. Artinya rasio ruang kelas dengan jumlah mahasiswa hanya berbanding 1: 100. Suatu rasio yang masih jauh dari ideal, apalagi untuk pelaksanaan SCL. Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu adalah bergabungnya mahasiswa program regular sore (ekstensi) dengan mahasiswa regular pagi di kampus Tamalanrea. Akibatnya terjadi kepadatan yang drastis di ruang kelas yang berdampak pada kualitas belajarmengajar. Bayangkan saja dengan kapasitas ruangan yang hanya untuk 30-40 mahasiswa, terkadang malah diisi sampai 60 mahasiswa. Jika masalah ini tidak dipikirkan lebih jauh, kedepannya akan menjadi ancaman terbesar bagi terselenggaranya mutu pendidikan yang berkualitas. Pihak rektorat harus lebih dini mengantisipasinya, misalnya dengan membatasi membludaknya mahasiswa Unhas. Dalam hal sarana dan prasarana akademik, penyediaan fasilitas internet barangkali cukup menggembirakan mahasiswa dan dosen meski kapasitasnya masih rendah untuk diakses. Sebab tidak jarang akses loading internetnya selalu terseok-seok. Tapi paling tidak ada peningkatan kapasitas layanan internet yang semula ditargetkan 30 Mbps kini menjadi 40 Mbps, dan dana yang diperluhkan untuk itu sebesar Rp 176.000.000,- perbulan. Tim Laput

Inayah yasir, Dosen Jurusan Ilmu Kelautan UNTUK bidang akademik siapapun yang menjabat nantinya harus tegas dalam menjalankan aturan akademik. Sementara PR II, masih kurangnya dana untuk perbaikan alat laboratorium menjadi tantangan kedepannya. PR Bidang Kemahasiswaan sebaiknya bisa lebih bekerjasama dengan pembantu rektor yang lain untuk menghadapi masalah kemahasiswaan. Terkait kerjasama dalam penelitian, menurut beberapa peneliti, Unhas terlalu longgar dalam memberikan izin kepada peneliti-peneliti luar untuk melakukan penelitian di Unhas. Dalam penelitian itu sama sekali tidak menyinggung nama Unhas. Ini sangat tidak menguntungkan dan menjadi pekerjaan rumah buat PR IV. Ade rosmana Phd, Dosen Fakultas Pertanian UNTUK bidang akademik seharusnya dapat mengakomodasi bidang pendidikan dan penelitian. sementara dapat merealisasikan dana untuk meningkatkan penelitian dan pendidikan itu tugas yang harus dibenahi PR II terpilih nantinya. Terkait bidang kemahasiswaan sebaiknya mengakomodasi mahasiswa agar lebih kompetitif dalam hal yang positif. Dan untuk bagian kerjasama, PR IV terpilih sebaiknya mengembangkan jaringan agar bisa memperoleh dana kerjasama dalam mengembangkan Unhas. Irwan, Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil 2006 SAYA melihat permasalahan utama dalam akademik, khususnya di Fakultas Teknik, mahasiswa terlalu banyak disajikan teori namun minim praktek. PR I seharusnya bisa menangani masalah-masalah ini. Sementara buat PR II terpilih, sarana dan prasarana harus lebih ditingkatkan. Wajib memperbaiki hubungan dengan mahasiswa atau lembaga kemahasiswaan, saya rasa itu yang perlu dibenahi bagi PR III berikutnya. Sementara untuk PR IV terpilih, hubungan dengan pihak luar agar dapat diperbaiki, selama ini hubungan yang ada masih kurang difollow up.
Umar, Mahasiswa Prodi Ilmu Administrasi 2007

BIDANG akademik harus membuat format sistem pendidikan Unhas atau kurikulum yang baik. Sementara bagi bidang keuangan, perlu adanya pembenahan dalam sarana dan prasarana akademik dan pemanfaatan keuangan yang lebih baik. PR III komunikasi dengan lembaga mahasiswa harus menjadi prioritas. Agar kejadian-kejadian seperti kemarin (tawuran, red) tidak terulang. kerjasama dengan universitas yang lebih maju patut dikembangkan bagi PR IV terpilih. Bakri, Pegawai Rektorat ORANG yang memegang tanggung jawab ini tentunya harus kapabel dalam bidang akademik, termasuk perancangan kurikulum. Tentunya piawai dalam hal keuangan, pandai mengatur pendanaan dan distribusinya itulah hal yang mesti dilakuakn PR II berikutnya. Sementara untuk PR, harus punya pengalaman dalam kelembagaan, khusunya lembaga kemahasiswaan agar tawuran-tawuran mahasiswa tidak terjadi lagi. Dan buat PR IV terpilih nantinya, sebaiknya memilki komunikasi yang baik sehingga dapat memperbanyak jaringan, akses dengan pihak luar.

civitas
Unhas sedang bersiap menggodok konsep baru: Greener, Healthier, and Safer (GHS). Akan seperti apa wajah Unhas jika GHS betul-betul terealisasi?

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

11

koridor
Catatan seminar Pasca Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat, dengan tema “Pendidikan Seks Dini Sebagai control Pergaulan Dunia Maya dan Pencegahan HIV-AIDS” Yang dilaksanakan di Gedung A P Pettarani, Sabtu (19/05).

Pendidikan Seks dan Pencegahan HIV-AIDS untuk Remaja
MEDIA online merupakan informasi multimedia yang memiliki banyak kelebihan dibandingkan media massa lain. Kelebihanya pun sangat banyak yaitu mudah mengakses informasi, cepat dan bisa menjangkau seluruh dunia. Jika ditelusuri lebih jauh, Indonesia merupakan urutan nomor 16 pengguna Internet terbanyak setiap harinya setelah Thailand. Namun hal ini berbanding terbalik dengan adanya riset dari sebuah situs internet (Clearcommorce.com) pada tahun 2002 yang menyatakan bahwa persentase penyalahgunaan internet terbanyak ke-2 jatuh ketangan Indonesia setelah Ukraina. Dalam catatan seminar ini pemabahansanya mengenai mudahnya seseorang tertular virus HIV-AIDS. berawal dari akses gambar jahil dari internet dan akhirnya mempraktekkanya kemudian ketagihan dan menjadi candu. Sehingga seks bebas dijadikan jalan keluar, yang kemudian tertularlah HIV-AIDS. Banyak para ahli membuat sebuah langkah yang praktis untuk menghindari seks dini pada remaja, yang ditakuti oleh seluruh masyarakat Indonesia yaitu HIV-AIDS. Salah satunya adalah dengan adanya pendidikan seks (Sex Education). pendidikan mengenai kesehatan reproduksi sudah seharusnya diberikan kepada anak-anak yang sudah beranjak dewasa atau remaja, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Ini penting untuk mencegah biasnya pendidikan seks maupun pengetahuan tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja. Berdasarkan kesepakatan internasional di Kairo 1994 (The Cairo Consensus) tentang kesehatan reproduksi yang berhasil ditandatangani oleh 184 negara termasuk Indonesia, diputuskan tentang perlunya pendidikan seks bagi para remaja. Dalam salah satu butir konsensus tersebut ditekankan tentang upaya untuk mengusahakan dan merumuskan perawatan kesehatan seksual dan reproduksi serta menyediakan informasi yang komprehensif termasuk bagi para remaja. Sementara meninjau berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia, agaknya masih timbul pro kontra di masyarakat, lantaran adanya anggapan bahwa membicarakan seks adalah hal yang tabu dan pendidikan seks akan mendorong remaja untuk berhubungan seks. Sebagian besar masyarakat masih awam dengan pendidikan seks seolah sebagai suatu hal yang vulgar. Ketidakpahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di lingkungan sosial masyarakat merupakan sebuah faktor menunjang seks bebas. Hal lain ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, salah satunya internet. Bahkan tayangan televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakpahaman remaja tentang sex education ini, yaitu banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah, kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya. Ada beberapa sekolah yang sudah memberikan pelajaran tentang sex education yang disisipkan ke dalam pelajaran Biologi, Agama dan Bimbingan Konseling. Namun hanya dapat bekal dari sekolah tentu nggak cukup. Bahkan seharusnya dipahami oleh setiap mahasiswa yang ada di perguruan tinggi. Komunikasi dari orang tua dan anak pun perlu juga. Kalau kita tanya dimana mereka bisa tahu tentang Love, Sex dan Dating, banyak yang jawab dari teman. Bisa jadi cerita dari teman lebih banyak yang seru-serunya. Akhirnya, karena ketidak tahuannya banyak yang merelakan mahkotanya hanya karena empat huruf tadi “Gaul”, kemudian juga tidak kepikiran melakukan hubungan suami istri di luar nikah bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan. Hery S Pasaribu

GHS, antara Konsep dan Realita
IDENTITAS/ILHAM A M

Foto Siluet: Seorang mahasiswa nampak mencoba membawa sepeda baru sumbangan Bank BTN untuk Unhas di sekitar gedung PKM. Unhas menyediakan sejumlah sepeda untuk mahasiswa dalam program GHS.

A

da hal berbeda yang tampak di pelataran Gedung Rektorat, Kamis (20/5). Di sana berjajar rapi seratus buah sepeda baru. Akan diapakan semua sepeda itu? Ya, inilah bentuk keseriusan Unhas mewujudkan program Greener, Healthier, and Safer (GHS) yang rencananya akan mulai dijalankan 2012 nanti. Dengan konsep GHS ini, Unhas 2012 mendatang akan ramai oleh sepeda dan terbebas dari kendaraan mesin. Peraturan ini berlaku untuk seluruh sivitas akademika, baik mahasiswa maupun dosen. Rektor Unhas, Prof Dr dr Idrus A Paturusi SpB SpBO mengatakan, hal ini merupakan langkah yang baik untuk menciptakan lingkungan kampus yang lebih baik. “Kampus kita sudah green, dengan bersepeda orang akan lebih sehat. Sekarang tinggal bagaimana menciptakan konsep transportasi umum yang lebih aman,” ujarnya. Di setiap fakultas akan dibangun Standplast (tempat penitipan sepeda, red) yang terhubung dengan fakultas lainnya. Sementara pete-pete, hanya sampai di depan workshop dan pengguna kendaraan akan mengambil sepeda di sana. Menurut Idrus, jumlah sepeda akan ditambah hingga lima ratus buah. Sementara seratus buah sepeda yang dimiliki Unhas saat ini dapat dipergunakan oleh sivitas akademika dengan mengajukan peminjaman ke rektorat. Koordinator program, Dr techn Yashinta Kumala Dewi Sutopo ST MIP mengatakan, “Konsep ini sejalan dengan visi Unhas menuju World Class Universit.” Yashinta pun membentuk tim Sustainable Building and City (Subuicy) untuk melakukan presentasi awal di depan rektor dan para pembantu rektor, Selasa (4/5). Pada pertemuan awal tersebut, dibahas mengenai konsep GHS yang akan diterapkan di Unhas. Menurut Yashinta sendiri, GHS bukan hanya soal bersepeda di dalam kampus. GHS dicanangkan dengan tujuan menciptakan lingkungan yang lebih asri, menciptakan komunitas kampus yang menghasilkan emisi dan polusi yang rendah dengan bersepeda dan menciptakan layanan public transportation yang lebih aman dan beresiko rendah seperti shuttle bus. Kedengarannya cukup menarik. Di

samping Unhas akan terbebas dari polusi akibat asap kendaraan, bukankah bersepeda juga dapat membuat kita sehat? Jika program ini benar-benar terealisasi, Unhas patut diacungi jempol. Di Indonesia, baru dua universitas yang menerapkan konsep GHS, yakni Universitas Indonesia (UI) dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Dengan demikian, Unhas akan menjadi yang ketiga dan pelopor GHS di Indonesia bagian Timur. Namun yang patut diingat, mewujudkan program ini membutuhkan banyak kerja keras di samping anggaran yang tentu saja tak sedikit. Paling tidak, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membangun jalur untuk shuttle bus, jalur sepeda, dan pedestrian untuk pejalan kaki. Juga Unhas butuh lebih banyak lagi sepeda, mengingat sepeda yang dimiliki saat ini baru seratus buah sementara jumlah mahasiswa Unhas mencapai 30 ribu orang. Semoga saja waktu dua tahun cukup untuk mempersiapkan segalanya, agar di Tahun 2012 nanti semuanya bisa teralisasi tanpa kendala. Sayangnya, hingga saat ini belum ada konsep yang jelas mengenai mekanisme peminjaman sepeda. Menurut Yashinta, ia dan timnya masih menggodok tiga alternatif yang akan ditawarkan kepada rektor Juni ini. Konsep-konsep tersebut yakni peminjaman sepeda secara manual dengan mencatat identitas peminjam, konsep semiotomatis dengan cara mengenali peminjam dengan mesin dan mencatatnya di setiap pemberhentian, serta menggunakan metode otomatis dengan kartu mahasiswa. Metode manual, menurut Yashinta, memiliki satu keuntungan yakni biaya yang dibutuhkan relatif murah. Universitas hanya mengeluarkan biaya untuk penitipan sepeda. Selain itu, sivitas akademika bisa melakukan peminjaman dengan lebih mudah tanpa terbelit aturan-aturan yang menyulitkan. Namun satu hal

yang perlu diingat, konsep ini bisa saja rawan menimbulkan kehilangan sepeda, mengingat sepeda hanya bisa dilacak berdasarkan catatan peminjaman yang kadang kurang akurat. Konsep otomatis tentu saja lebih elit dan lebih menjamin keamanan. Peminjaman sepeda dapat dilakukan dengan menggunakan kartu mahasiswa yang merangkap ATM, dan untuk melacaknya pun demikian. Efisiensi konsep ini tentu saja sangat tinggi dan regulasi sepeda bias lebih teratur. Namun, mewujudkan konsep ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, di samping waktu yang dibutuhkan untuk merealisasikannya juga tidak singkat. Konsep lainnya adalah semiotomatis yang menggunakan petugas untuk mengenali mahasiswa atau dosen yang akan memakai sepeda dengan mesin untuk mencatatnya di setiap pemberhentian. Meski efisiensinya juga terjamin, namun konsep ini masih menggunakan tenaga manusia sehingga dapat dipastikan dana yang dibutuhkan juga tidak sedikit. Tugas utama Unhas saat ini adalah melakukan sosialisasi kepada seluruh sivitas akademika mengenai konsep tersebut, agar tak ada lagi yang bertanyatanya mengenai GHS. Terlepas dari persoalan bagaimana nantinya GHS ini akan diterapkan, Unhas perlu memikirkan segala hal yang akan mempengaruhi pelaksanaan konsep ini nantinya. Termasuk perlu memikirkan apakah konsep brilian ini memang butuh diterapkan dalam lingkungan kampus Universitas Hasanuddin. Jangan sampai konsep ini dibuat hanya sekedar ikutikutan dengan universitas lain yang telah menggunakan konsep serupa. Selain itu, kepentingan warga yang tinggal di perkampungan dalam area kampus juga harus dipikirkan. Ada dua perkampungan masyarakat yang mengelilingi Unhas, Kera-kera dan Asalmula. Jalur kampus merupakan satu-satunya akses untuk mereka keluar masuk area pemukiman. Tentunya mereka akan kebingungan. Apakah peminjaman sepeda juga berlaku untuk mereka? Ali/Nay

civitas

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010
malam hari. Sehingga memuluskan jalan sang pencuri untuk beraksi membobol kantor-kantor jurusan, maupun fakultas yang dianggap sepi dan gelap. Serta tidak menjadi jalur patroli pihak keamanan kampus. “Kita melakukan aksi di tempat gelap, yang tidak memiliki pengaman seperti terali. kita cuma beraksi di FISIP saja, karena kalau daerah kedokteran kita tidak berani. Soalnya lebih terang dan ketat penjagaanya,“ ungkap UN (21) salah seorang pelaku pencurian yang telah tertangkap, saat ditemui identitas di Polsek Tamalanrea, Sabtu (12/06). Hal yang wajar, jika sang pencuri dengan sangat mudahnya membobol beberapa lokasi di Unhas. Karena pola penjagaan malam satpam yang hanya berpatroli saja. Sementara tidak adanya personil yang bertangung jawab berjaga di setiap fakultas ataupun jurusan pada malam hari. “Sebagai pimpinan satpam kami telah beberapa kali sudah berusaha meminta penambahan anggota untuk penjagaan malam pada tiap-tiap fakultas. Namun tidak pernah di tindak lanjuti,” tukas Bambang. Mai / Fmn

identitas

12

cermin
Skeptisme Generasi Muda dalam Perekonomian Bangsa
KEYAKINAN atas kemampuan diri adalah modal utama dalam menjalani hidup demi menggapai cita-cita bangsa. Namun agar mampu menjadi manusia berguna tentu saja tidak semudah membalikkan telapak Kun Agung S tangan. Banyak tantangan yang harus dilalui untuk mencapainya, bahkan tak sedikit orang yang malah menjadi manusia ‘perusak’ dunia. Seperti kondisi Negara Indonesia yang penuh tantangan dari berbagai hal. Bukan hanya derita yang dilalui saat harus berperang mempertahankan kedaulatan bangsa dari ancaman para penjajah, tetapi juga Indonesia masih bermasalah dalam penegakan hukum, politik dan tentu saja peperangan dalam menjamin keberlangsungan perekonomian bangsa yang semakin terpuruk. Terlebih dengan adanya berbagai tindakan politik yang terselubung dalam pelaksanaan perekonomian bangsa. Seperti yang pernah dipaparkan John Perkins dalam bukunya “Confessions of An Economic Hit Man” yang menceritakan Pengalaman pribadinya sebagai ekonom perusak yang disajikan terus terang. Perkins bercerita tentang perannya sebagai agen terselubung hasil rekrutmen National Security Agency (NSA), organisasi spionase Amerika yang paling sedikit diketahui orang tapi terbesar. Perkins telah berkelana ke berbagai pelosok dunia, seperti Indonesia, Panama, Ekuador, Kolombia, Arab Saudi, Iran, dan negara dunia ketiga yang derajat kemiskinannya tinggi. Namun kaya akan Sumber Daya Alam (SDA). Tugas utama Perkins sebagai Economic Hit Man (EHM) adalah menerapkan kebijakan yang mempromosikan kepentingan corporatocracy Amerika (koalisi bisnis dan politik antara pemerintah, perbankan, dan korporasi). Perkins dan EHM lainnya membuat economics forecast untuk suatu negara klien corporatocracy, seperti yang dilakukan di Indonesia dalam proyek elektrifikasi Pulau Jawa sejak 1970-an. Serta membantu penerapan skema ekonometrik yang akan mengucurkan dana jutaan dolar. Melalui buku peraih New York Times Best Seller ini, pria kelahiran Hanover, New Hampshire 28 Januari 1945 silam ini menyajikan sedikit kesannya ketika ditugaskan di Indonesia, sebuah negeri di Asia Tenggara yang disebutnya “di Timur yang eksotik” (halaman 22-56). Sebagai ekonom EHM, Perkins memperoleh tugas untuk membuat model ekonometrik bagi negara kita. Di saat itulah para agen EHM memanipulasi data statistik untuk menghasilkan sebuah asumsi ekonomis demi memperkuat kesimpulan yang direkayasa oleh para analis bagi kepentingan corporatocracy. Sebuah pertanyaan penting pun muncul dari berbagai kalangan atas terbitnya buku Confessions of an Economic Hit Man ini, benarkah IMF pada masa krisis moneter di Indonesia (1997/1998) berperan ganda sebagai agen ‘perusak’? Nah, Sebagai pemuda harapan bangsa tentu saja sikap Skeptisme menjadi salah satu komponen penting agar tak terjebak atau bahkan menjadi bagian dari ‘Perusak’ kondisi perekonomian. Betapa tidak, Indonesia yang kaya akan SDA hingga saat ini belum mampu mensejajarkan diri dengan negara maju seperti Amerika, China dan Jepang. Bahkan kejanggalan demi kejanggalan dalam perekonomian mulai muncul di permukaan. Termasuk kasus Bank Century yang menjadi isu hangat hingga saat ini. Kasus yang mulai terkuak akibat gagalnya mengikuti kliring pada tanggal 13 November 2008 silam membuka celah kebobrokan bank ini. Misalnya, saat dana cadangan bank ini di Bank Indonesia (BI) sudah di bawah saldo minimal. Proses merger tiga bank menjadi Bank Century, dan tidak tegasnya BI terhadap pelanggaran Century selama tahun 2005-2008, hingga pengucuran dana bailout. Di samping itu, Century melakukan penjualan reksadana tanpa izin resmi Badan Pengawas Penanaman Modal (Bapepam). Reksadana tersebut dijual dengan nama Investasi Dana Tetap Terproteksi (IDTT) dan dikeluarkan oleh PT Antaboga Delta Sekuritas. Bahkan belakangan dikabarkan, sekitar Rp 1 triliun - 1,5 triliun uang nasabah yang bermasalah akibat penjualan produk yang terjual sejak tahun 2001 silam itu mengalir ke rekening Robert Tantular sebagai pemilik bank dan rekannya di Antaboga (Sumber: kompas.com). Modus kasus pembobolan secara sistematis ini dilakukan dengan cara mengiming-imingi para nasabah dengan bunga tinggi di atas bunga deposito yang berlaku saat itu. Nasabah yang percaya, akhirnya memindahkan dananya dari Bank Century ke rekening Antaboga yang ada di Century. Kemudian ditarik oleh Robert. Bahkan hingga saat ini kasus tersebut masih terus berlanjut dan semakin alot dan sulit diuraikan (Sumber: jakarta45.wordpress.com). Namun selain kasus Century, masih banyak lagi kasus yang baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perekonomian bangsa. Oleh sebab itu, sebagai calon ekonom dan penerus bangsa tentu saja ada beban berat yang harus ditanggung. Mulai dari kecurigaan sebagai penerus ‘Mafia Kasus’ hingga julukan penerus ‘Ekonom Nakal’. Mampukah kita megubah opini buruk tersebut? Semoga suatu saat nanti kita mampu mebuktikan generasi penerus yang lebih baik bagi bangsa dan dunia. * Penulis adalah Staff Penyunting PK identitas Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Angkatan 2007

Mencuri di Rumah Sendiri
Pelaku pembobolan aset Unhas beberapa waktu lalu akhirnya tertangkap basah juga oleh Satpam. Mirisnya, pelaku itu adalah Mahasiswa Unhas AKSI si panjang tangan Selasa malam, (08/ 06), nyaris saja membawa kabur sejumlah fasilitas elektronik milik Lembaga Penelitian (LP) Unhas. Untungnya pelaku pencurian yang kesekian kalinya beraksi di beberapa lokasi di Unhas termasuk FISIP, berhasil digagalkan pihak Satpam Unhas yang berjaga sekira pukul 20.30 Wita. Awalnya, Asrul salah seorang personil satpam yang tengah berjaga dengan berkeliling kampus, curiga dengan gerak-gerik dua orang yang berkeliaran di Gedung LP pada malam hari. Kecurigaan itu akhirnya terungkap, setelah pelaku menawarkan Asrul hasil curiannnya untuk dinikmati bersama. Namun Asrul menolak, kemudian menghubungi satpam lainnya yang tengah berjaga di malam itu. Akhirnya, kedua pelaku dibawa ke pos penjagaan satpam dan diintrogasi perihal pencurian ini. Kejadian ini sungguh mencoreng nama baik sivitas akademika Unhas. Pasalnya ternyata kedua pelaku pencurian itu tercatat sebagai salah seorang mahasiswa Unhas pada salah satu fakultas tertentu. Hasil curian yang diperoleh kemudian dijual dengan harga yang murah. Satu unit CPU saja, bisa dibeli dengan harga Rp 600 ribu. Sedangkan laptop dijual Rp 600 ribu hingga Rp 1 Juta. Duitnya pun digunakan tidak lain untuk membiayai uang perkuliahan pelaku. Atas rekomendasi dari pimpinan Satpam Unhas, dua pelaku itu yakni, JS (20) dan UN (21) diserahkan ke Polsekta Tamalanrea untuk penyelidikan lebih mendalam. “Kuat kemungkinan kalau kedua orang ini adalah pelaku utama pencurian di Unhas dan kami memiliki beberapa barang bukti yang dapat digunakan untuk menjerat kedua tersangka ini,” ujar Alimin, Wakil Kepala Satpam. Mai / Fmn

IDENTITAS /MUH SYUKRI

Siaga: Seorang satpam siaga berdiri di depan pos penjagaan pintu 1 Unhas beberapa waktu lalu. Maraknya aksi pencurian di beberapa fakultas menjadi perhatian petugas pengamanan.

Aksi Mulus Si Panjang Tangan
Akhir-akhir ini kasus pencurian di beberapa fakultas marak terjadi. Kurang ketatnya pola penjagaan di sebagian wilayah Unhas menarik perhatian si pelaku untuk beraksi.

P

etugas Satuan keamanan (Satpam) Kampus Unhas pagi itu terlihat berjaga-jaga di sekeliling Kantor Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Selasa (12/05). Sekejab ruangan yang terletak di lantai satu perpustakaan itu jadi fokus perhatian sivitas akademika yang tengah melintas di pelatarannya. Pasalnya, ruang Jurusan Arkeologi ini pada Senin malamnya, (11/05) jadi sasaran aksi tangan jahil. Beberapa fasilitas elektronik yang berada di ruang sekertaris jurusan seperti LCD, handycam, komputer dan sekira sejuta uang tunai raib dilahap si panjang tangan. Serupa halnya dengan Arkeologi, kejadian malang juga dialami Bagian Keuangan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Selasa (13/04). Muh Nasir selaku Bendahara FIKP mengaku kehilangan uang tunai sebesar Rp 57 juta, berupa uang hibah penelitian dosen. Tak hanya itu, pada waktu yang sama, uang tunai sebesar tiga juta rupiah yang ada di kantor Jurusan Kelautan menjadi santapan aksi tangan jahil itu. Parahnya lagi, dalam beberapa bulan terakhir ini, bangunan sementara Kantor Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), telah tiga kali kebobolan maling. “Banyak pihak yang menyayangkan karena lokasi stratgis bangunan pin-

jaman pasca renovasi (FISIP) tidak dalam keadaan aman,” ujar Munsi Lampe selaku Ketua Jurusan Antropologi FISIP. Setelah dikonfirmasi, Pimpinan Satpam Unhas Bambang Hariyanto S Sos mengaku sangat kekurangan personil untuk mengamankan lahan seluas 3500 Ha. Dari sekira 80-an satpam, untuk satu kali penjaga malam sebanyak 21-24 angota yang kemudian terbagi di beberapa pos di Unhas. Tujuh hingga delapan anggota berpatroli keliling kampus, dua sampai tiga personil berjaga di rumah jabatan rektor dan sisanya bergantian setiap 12 jam. Satpam yang bekerja di Unhas terbagi atas dua jenis, yaitu pegawai Unhas yang bertindak sebagai satpam dan satpam outsourcing (kontrak, red ). Jumlah keseluruhan satpam yang ada di Unhas yaitu 82 orang. 30 di antaranya adalah sastpam outsourcing yang pengelolaannya diserahkan pada Pimpinan Satpam Unhas. Maraknya kasus pencurian yang terjadi di sekitaran Kampus Unhas Tamalanrea akhir-akhir ini, menunjukan penambahan 30 satpam outsoursing yang berasal dari CV Adipura di tahun lalu, sepertinya belum memberikan kontribusi besar bagi berkurangnya kasus pencurian yang terjadi. Harapan sivitas akademika dengan adanya penambahan Satpam ternyata tidak membuahkan hasil. Mengenai lokasi pencurian, para pelaku melihat situasi dan kondisi. Lokasi yang gelap dan tanpa adanya pengaman (terali besi, red). Seperti di bagian Kantor Jurusan FISIP, yang tidak dilengkapi dengan pengaman, dindingnya sudah mulai keropos dimakan rayap, dan kurang ketat penjagaan pada

Data Kasus Pencurian Tahun 2010
29/03. Pencurian di lantai 2 sastra. VCD Player, uang + Rp 750000 09/04. Sospol sekitar FIS lantai 2, ruang kajur administrasi. CPU, 1 Unit computer, Modem (WIFI), Taape Combo Simba dan printer. 13/04. FIKP. Lt 2 ruang administrasi (bendahara). Rp 50 juta untuk hibah penelitian dosen 26/04. Pembobolan (pencurian di lantai 1 Perpust FISIPOL, Ilmu Pemerintahan). Yang hilang 1 unit computer, 2 unit LCD. 08/06. Pencurian di Lembaga Penelitian (LP), LCD Proyektor, Laptop dan DVD.

kampusiana
Merajut Mimpi dalam Inaugurasi MIPA
BADAN Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas MIPA menggelar inaugurasi dengan mengusung tema “Optimis Melangkah Merajut Mimpi Satu Harapan Mipaku”, Senin (24/5). Acara Inaugurasi mahasiswa baru angkatan 2009 ini dimulai pukul 13.30–17.30 Wita di Baruga A P Pettarani Unhas. Acara ini merupakan puncak dari serangkaian prosesi pengkaderan BEM FMIPA Unhas. Kegiatan ini diresmikan oleh Pembantu Dekan FMIPA, Drs Muhammad Zakir MSi dan Koordinator Kemahasiswaan Unhas H Massapeary SH MH. Afriansyah selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa keberhasilan acara ini tidak lepas dari kerjasama dari semua pihak di jajaran lembaga mahasiswa yang sedari akhir Februari mulai mempersiapkan acara ini. “Melalui kegiatan ini pula diharapkan mampu menghimpun mahasiswa MIPA dari segala bentuk kesenjangan antar mahasiswa baru dengan menggali bakat dan kreatifitasnya melalui ajang ini,” tambah Mahasiswa Jurusan Biologi angkatan 2009 ini saat diwawancara. (M29)

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

13

akademika
Penemu Kromosom Asal Indonesia
Dia seorang penemu dan ilmuwan. Laki-laki kewarganegaraan Indonesia yang ternyata penemu 46 jumlah kromosom. Dia adalah Joe Hin Tjio. Sosok yang pernah dianugerahi Penghargaan International Prize Award winner of Joseph P. Kennedy, Jr Foundation oleh John F. Kennedy. Penghargaan itu diberikan kepadanya atas risetnya Joe Hin Tjio mengenai keterbalakangan mental. Pria kelahiran 27 November 1919 ini, menjalani pendidikan awalnya di sekolah kolonial Belanda, yang menuntut agar ia belajar bahasa Perancis, Jerman dan Inggris. Tak hanya itu ia juga menguasai beberapa bahasa daerah di Indonesia. Dia sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang fotografer professional. Namun, Ia kemudian memutuskan mendalami agronomi dan terlibat dalam budidaya dan pemuliaan kentang. Profesi itu membuatnya matang sebagai ilmuwan. Tiga tahun masa penjajahan Jepang Joe pernah dipenjara yang membuatnya trauma. Ketika perang berakhir, Tjio menumpang kapal Palang Merah yang kemudian membawanya ke Belanda. Di negeri Kincir Angin itu, ia menerima beasiswa untuk belajar ke Eropa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik (studi tentang kromosom) tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemudian Tjio menghabiskan waktu 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman. Ilmu yang diperolehnya bisa membuatnya mandiri karena memperoleh pekerjaan sebagai pemulia tanaman di Copenhagen dan Swedia. Di Swedia, Tjio bertemua dengan Inga, wanita Eslandia yang kemudian dinikahinya pada 1946. Selama satu setengah tahun ia bekerja di Royal Danish Academy di Copenhagen, kemudian pindah ke Universitas Lund di Swedia. Di sana, Tjio berasosiasi dengan Institute of Genetics yang dipimpin oleh Dr. Albert Levan. Penelitian sejak itu makin meluas hingga ke jaringan hewan mamalia. Di sela-sela liburannya, Tjio pun nyambi riset di Institute of Genetics di Lund Swedia dan tertarik untuk meneliti jaringan sel mamalia. Pada tahun 1955, Tjio menggunakan suatu teknik yang baru ditemukan untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel. Ia merupakan salah satu peletak pondasi cytogenetik modern ilmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas sebagai sebuah cabang utama ilmu genetika. Penelitiannya yang lain pada tahun 1959 membawa pada penemuan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome memiliki tambahan kromosom dalam sel-sel mereka. Tjio sedang mencoba mempelajari kromosom manusia dan tanpa sengaja pada pagi hari 22 Desember 1955 terjadi penemuan luar biasa. Dengan menggunakan teknik untuk pemisahan kromosom pada sediaan gelas yang dikembangkan Dr. T.C. Hsu dari Universitas Texas di Galveston, Tjio melakukan perbaikan bagi teknik itu. Ternyata metode barunya itu mampu menghitung dengan tepat jumlah kromosom manusia yang ada pada jaringan embryonic paru-paru manusia sebanyak 46 bukan 48 seperti yang diperkiraan para ilmuwan pada masa itu. “Saya sangat terkejut bahwa jumlahnya 46 tidak seperti perkiraan orang di masa itu yakni 48 buah,” ujarnya dalam memoar yang ditulis di NIHrecord. Temuan revolusionernya itu kemudian dipublikasikan di sebuah jurnal Skandinavia bernama Heriditas pada 26 Januari 1956 hanya dalam waktu satu bulan empat hari hari sejak temuannya itu. Tjio pensiun pada tahun 1992 dan akhirnya wafat tahun 2001. Kita boleh berbangga sekaligus prihatin, bangga karena ilmuwan kelahiran Indonesia mampu memberi sumbangsih besar untuk ilmu pengetahuan. Tapi juga prihatin karena di negeri kita ‘belum’ menjadi tempat bagi ilmuwan luar biasa. Tentu sayang jika orang hebat seperti Joe-Hin Tjio yang lahir di Jawa pada akhirnya dikenal sebagai ahli genetik Amerika. Mifda Hilmiyah

IDENTITAS /MUH SYUKRI

Pekan Budaya Bersama FIB
SENAT Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) mengadakan Pekan Budaya dengan tema “Kujadikan Budayaku Spirit Gerak Bangsa”, (18-19/5). Kegiatan ini dilaksanankan dalam rangka memperingati hari jadi senat mahasiswa yang kedua. Ada dua item acara dalam perayaan ini, pertama, Sema Cup yang terdiri dari delapan lomba seperti balap sarung, asing-asing, pensil botol, catur, domino,tarik tambang, lomba masak, dan lari kelereng. Kedua, Pagelaran budaya yang diadakan pada malam puncak, Rabu (19/5). Menurut Saifullah selaku ketua panitia, “tujuan Pekan Budaya ini, selain untuk memperingati hari jadi senat mahasiswa, juga untuk mempererat ikatan kekerabatan antar lembaga di FIB. Sehingga keberhasilan acara ini diukur dari berbaurnya mahasiswa dalam kegiatan tersebut.” (M29)

Penyuluhan: Ketua Forum Mahasiswa Biostatistik (FORMASTIK), Masriadi membawa kata sambutan pada kegiatan penyuluhan bahaya HIV/AIDS di SMA Candrakirana beberapa waktu lalu. Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa akan bahaya HIV/AIDS.

diikuti oleh anggota muda dan anggota biasa. Kegiatan yang mengusung tema “Latram Water Rescue” ini menitikberatkan agenda pada latihan skill menyelam dan evakuasi korban. “Kegiatan Latram Water Rescue ini hanya merupakan salah satu kegiatan latihan keterampilan yang diadakan oleh Pusat Diklat SAR, masih terdapat beberapa kegiatan lain yang diharapkan dapat meningkatkan skill anggota,” tutur Sitti Nurjannah, Mahasiswi angkatan 2006 Fakultas Ilmu Budaya selaku Kepala Pusat Diklat. (M07)

digawangi oleh Ekstrakulikuler Seni FKG, Minggu (23/5), di Auditorium Prof. Amiruddin FK Unhas. Pementasan Tarian tradisional, Live music, Modern Dance, dan Teater disuguhkan secara apik dalam balutan filosofi From Village to City. “Melalui acara ini kami ingin menjalin silaturahmi dengan mahasiswa FKG se-Indonesia. Selain itu, kami juga ingin memperlihatkan bahwa kreativitas lewat seni bisa menjadi wadah untuk menyuarakan spirit sosial,” tutur Chandra Sentosa Mahasiswa FKG angkatan 2007 selaku Koordinator Acara Kampung Seni. (M04)

Donor Darah UKM Carefa FH-UH
BERTEMPAT di ruangan Moot Court Fakultas Hukum Unhas, UKM Pecinta Alam Recht Faculty (Carefa) bekerjasama dengan UTD PMI Kota Makassar mengadakan kegiatan donor darah, Rabu (26/5). Acara yang diikuti 23 pendonor darah ini dilakukan dalam rangka memperingati ulang tahun UKM Carefa ke-XV. “Terselenggaranya kegiatan ini semoga dapat menggugah rasa peduli sesama manusia dan sekaligus dapat menarik respon sivitas akademika terhadap UKM Carefa,” ungkap Firman, Ketua Panitia kegiatan ini. (M28)

Civil Games 2010
CIVIL Games yang bertemakan “My Game is Fairplay” merupakan kegiatan tahunan yang digelar Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik (HMSFT) periode 2010/2011. Acara ini digelar di gedung Jurusan Teknik Sipil dan lapangan FT (26/5-19/6). Ajang kreativitas berupa perlombaan seni dan olahraga ini terdiri dari lomba sepak bola, voli, takrow, tenis meja, catur, fotografi dan pementasan musik akustik. Acara ini dibuka di Lapangan FT, Rabu (26/5). Muhammad Rizal selaku Ketua Panitia Civil Games menuturkan, “acara ini diselenggarakan untuk menyalurkan hobi dan meningkatkan solidaritas antar mahasiswa. Selain itu, agar kejenuhan karena padatnya ujian bisa berkurang.” (M04)

Seminar Nasional HMSC-FKM
HOSPITAL Manajemen Student Community Fakultas Kesehatan Masyarakat (HMSC-FKM) mengadakan seminar nasional dengan mengusung tema “Tantangan Rumah Sakit dan Tenaga Kesehatan dalam Pelayanan Mutu Tenaga Kesehatan di Era Pasar Bebas”, Minggu (23/5). Kegiatan yang merupakan program kerja tahunan HMSC digelar di Baruga AP Pettarani Unhas. Kegiatan ini mampu menyerap minat sekira 300 orang dari berbagai universitas di Makassar. Hadid\r sebagai pembicara, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Zainal Abidin MH Kes, Dekan FKM Prof Dr dr HM Alimin Maidin MPh, dan Wakil Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan dr Ihsan. “Kami harap dengan diadakannya seminar ini pengetahuan kita tentang pelayanan kesehatan di Indonesia bertambah dan bisa lebih maju. Sehingga ke depannya bisa go internasional,” harap Maliha Ramadhani Mahasiswa FKM Jurusan Manajemen Rumah Sakit angkatan 2008. (M07)

Dialog Akademik Agroteknologi
FORUM Kerjasama Himpunan Mahasiswa Agronomi (Himagro), Himpunan Mahasiswa Ilmu Tanah (Himti) dan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HMPT) mengadakan dialog akademik, Kamis (20/5). Kali ini tema yang diangkat adalah “Telaah Titik Terang Kebijakan Pembentukan Agroteknologi”. Dialog ini diadakan di LT VI Fakultas Pertanian. Hadir dalam dialog ini, Dekan Fakultas Pertanian, Prof Yunus Musa, Pembantu Dekan I Prof Munir, Pembantu Dekan III Prof Dr Ir Idji Diana Daud MS, Ketua Program Studi Agroteknologi Dr Ir Elkawakib, Ketua Jurusan Agronomi Ir H Amin Ishak, dosen dan mahasiswa pertanian. Dialog ini diadakan karena mahasiswa ingin mengetahui kejelasan dari terbentuknya Program Studi Agroteknologi yang konon katanya tidak transparan. “Semoga dengan adanya acara dialog ini makin memperjelas status dari Agroteknologi,” ungkap Harlindah Harun, Mahasiswa Agroteknologi Angkatan 2008 saat dimintai keterangan. (Hsp)

Diskusi Panel Tentang Indonesia
“INDONESIA dalam Perspektif Sosial Ekonomi, Politik, Budaya dan Hukum Hari Ini” merupakan tema yang diangkat oleh panitia diskusi panel dari Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas. Acara yang digelar, Rabu-Jum’at (25-27/5) selain di isi dengan kegiatan diskusi, diadakan pula berbagai kegiatan seperti musikalisasi puisi, orasi ilmiah, teatrikal, pantomindan musik akustik pada hari kedua (26/5). Kegiatan ini pun dihadiri sejumlah keluarga mahasiswa FIB dan partisipan. Nasrullah, selaku koordinator panitia mengatakan, “kegiatan ini untuk memberikan pendidikan tentang realitas kehidupan dalam melihat hubungan antara persfektif yang ada di dunia dan hubungannya dengan Indonesia.”(M08)

Latihan Gabungan SAR
TIM Savety And Rescue (SAR) Unhas bekerjasama dengan Tim SAR Tamalanrea mengadakan latihan gabungan di Pulau Samalona, Sabtu-Minggu (15-16/ 5). Kegiatan yang merupakan program kerja dari Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat) Tim SAR Unhas ini

agenda
Solidarity Fun
Penyelenggara : UKMF, KIFO, identitas

Sosialisasi Pengamanan SNMPTN 2010
BERTEMPAT di lantai satu Gedung Rektorat Unhas, Panitia lokal SNMPTN mengadakan sosialisasi pengamanan SNMPTN,Sabtu (27/5). Sekira 80 peserta yang terdiri dari satuan pengamanan (Satpam) dan Resimen Mahasiswa (Menwa) Unhas hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Pihak Unhas rencananya akan mengerahkan 85 personil Satpam dan dibantu 40 orang Menwa serta sepuluh orang polisi. Kepala Satpam Unhas menuturkan bahwa hasil dari sosialisasi tersebut akan ia koordinasikan ke jajarannya. “Kami harap kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar, aman dan tertib,” tutur Drs Bambang H selaku Kepala Satpam Unhas. (M13)

Hasanuddin Dentistry Fiesta
BEM Fakultas Kedokteran Gigi (BEM FKG) Unhas mengadakan kegiatan nasional bertajuk “Hasanuddin Dentistry Fiesta”, Jum’at-Minggu (2123/5). Pesertanya berasal dari mahasiswa FKG se-Indonesia seperti BEM Universitas Indonesia, Universitas Hang Tuah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Airlangga. Dalam kegiatan ini ada empat rangkaian acara yang diusung oleh BEM FKG. Pertama dibuka dengan Seminar Kesehatan yang diadakan di PKP, Jumat (21/5). Selanjutnya, digelar Pekan Ilmiah dan Dental Expo, Jumat-Sabtu (21-22/5). Terakhir ditutup dengan penyelengaraan Kampung Seni yang

Pecinen
20 Juni 2010 Gedung Kesenian

Pel Paotere
27 Juni 2010 Pelataran Paotere

Pagar Terang
4 Juli 2010 Al Markaz

cerpen

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

14

Ketika Tinta Menagih
Oleh: Muhammad Milito
eratai. Kecipak air baru saja mengganggu meditasimu yang serasa kaku. Kenapa kau biarkan berlalu? Tidakkah kau ingin ia tahu kesibukanmu? ataukah kau malu karena pernah mencintainya di masa lalu? Teratai, bau amis itu tercium lagi. darah mengalir sepanjang pedang, mengulur cerita dendam tak berkesudahan. Penggalan kepala, Teratai? Kau lihat kan kemarin? Penggalan kepala yang menebar angkara saat kita takut bersuara, dan aku hampir saja mengadu pada Dewa jika sewa tanah tidak mau disepakati dengan seksama. Teratai…andai kau tak melawan waktu itu, pastilah kita tak berjumpa kali ini. Kalau saja kau bereinkarnasi menjadi batu, pastikan kau ada menemani genggaman bocah-bocah intifada, tak jua gentar menghadapi serdadu, walau logika meringis kala batu bertemu peluru. Teratai…arghhhh, kini ku lihat jelas warna darahku. Inilah akhir cerita kita. Ku tunggu kau di lain dunia…. Terbata-bata tapi ia tetap mencoba. Tak tega rasanya jika gagal lagi kali ini sehingga seraut ekspresi kecewa menyeruak dari wajah keriput Nenek Minah, manusia uzur yang sebentar lagi mungkin akan menyatu dengan tanah. Sosok pengajar yang masih getol mendedikasikan hidupnya untuk mereka yang tak punya cukup rupiah. Sang adik yang meraung-raung tak tahan sengat matahari, tak lagi dipedulikannya. Kali ini ia harus selesai. Empat hari sudah papan itu dipelototi, menyingkronkan antara informasi sebelumnya dengan fakta yang terindera, menyelaraskan gerak langkah otak dan lidah sehingga menghasilkan kaul yang dikehendaki dalam kaidah bahasa kita. “P…e…PE!, l…u…LU! r…u…RU!” ia masih ngotot mengeja, sebuah Sajak Teratai seorag pujangga gila yang konon betah bercengkerama dengan teratai di penghujung purnama dan ditemukan tewas di danau ini puluhan tahun silam. Tak lama kemudian, tangis sang adik terhenti. Matanya menutup. Entah pingsan atau ketiduran, itu hal biasa. Biasa terjadi saat hilir mudik di traffic light, rumah ke rumah, kantin-kantin kampus ternama, hingga kediaman elit para dewan. Hoho…untuk yang terakhir ini, sudah tidak pernah lagi. Ia kapok karena pernah nyaris celaka kena serempet mobil sang anggota dewan terhormat. Sudah begitu, dapat makian pula. Seakan ia dipandang sebagai sampah yang harus segera enyah, padahal atas nama kasta-nyalah sehingga si dewan naik tahta. Oh ya, namanya Ina. I-N-A. gampang kan mengingatnya? Singkatan nama negara kita. Asal jangan saja kau samakan kondisi Ina dengan negerimu ini. Atau, jangan-jangan seperti itu? yalah..yalah…maybe benar… Ina lelah. Di emperan toko Koh Ahong ia singgah berteduh. Adiknya kini terbahak. Entah sisi kelucuan mana yang baru ditafsirkannnya. Padahal Ina cuma menggelindingkan sekeping koin hasil jerih payahnya hari ini. Hari memang cerah dan suhu selalu saja meminta peluh. Ina harus pergi. Sepasang mata bejat sedang mengintai gelagatnya. Seteru dalam hatinya kembali beradu, mencabik-cabik perasaan yang sudah terlanjur kelam oleh dendam yang masih tergenggam. Mata itu membelalak, pemilik tubuh kekar dengan tato di sana-sini mengirim isyarat mematikan. Kalau disambut dengan perlawanan, maka urusan akan runyam. Ina mengalah. Si mungil adiknya kembali menempel di balik tubuh. Langkahnya tak tentu arah, matanya masih membara di bawah terik yang membuat hari semakin gerah. sesaat kemudian, sisi-sisi koin senggolmenyenggol membentuk irama yang sekilas merdu dalam gelas plastik yang masih baru. “Kak…uang ta’, kak. Seratus mo kodoongg…” Penghuni Honda Jazz merah menoleh. Sebuah pertanda baik. Kaca mobil

puisi
Sajaksajak Lee Alan Aktivis
Sosok ego itu penuh nurani Warna intelektualnya berbias aura Menjadi padanan sesuai dengan cinta Misi gelap dari visi yang benderang Berhadapan dengan lubang hitam kemunafikan Terkadang… Ideal dan tidak ideal Hal yang lumrah dalam istananya Ruang-ruang yang memuat cita di antara kata Membuatnya kaya tanpa dana Mimpi –mimpinya bergandeng bumi Dan aksinya menjadi bukti

T

ILUSTRASI / SATRIANI M

membuka, jemari lentik khas kelas atas melepaskan uang ke atas gelas. Benar-benar seratus rupiah! Ina terpaku. Diperhatikannya lagi wanita itu lebih lama. “Kak, limbi’ mo Kak… Kak! Limb…” lampu berubah hijau. Si wanita melesatkan mobilnya tak ambil pusing. Ia masih ada janji dengan klien siang ini. Tidakkah Ia ingin tahu, kalau adik Ina belum makan sejak tadi malam hingga sore yang hampir menjelang kini? *** Malam. Sebatang lilin hidup di tengah ruangan. Denting piano mengalun lembut, menemani suara merdu Melly Goeslow ketika lirik Bunda mematisurikan selera humor. Ina menghela, mencoba mengingat-ingat kembali wajah ibunya. Gelombang eksodus telah mengombang-ambingkan tubuhnya hingga ke tanah tempat ia berpijak kini, meninggalkan pusara sang bunda di seberang pulau sana. Sketsa akurat baru saja terangkai dalam ingatan ketika dengan segera tersapu oleh gemerisik kertas di hadapannya. Buku lusuh yang tak pernah lagi tersentuh, teraih oleh tangan cacatnya mengisyaratkan keinginan menggebu untuk mengasah ejaannya kembali. Di sebuah lembaran ia berhenti, Dingin. Di sini dingin, Ayah. Hembus angin ini tak henti menampar wajah saat kami sudah terlalu sadar akan kenyataan hari esok yang kian mengenaskan. Perang ini, Ayah. Kebisuan yang menjangkiti penguasa, kepurapuraan kala mata kami menemukan sosok mereka bersembunyi di balik proyek pembantaian demi amannya kepentingan imperialis di negeri ini. Ayah, mengapa sebagian umat ini terlelap saat mata kami tak bisa terpejam oleh kedzaliman? Bukankah Nabi telah menyatukan kami dalam ikatan ideologis, jauh melampaui kualitas persaudaraan biologis? Ayah, tahukah engkau? Adikku menggelandang di luar sana dan tak ada satupun kabar tentang dirinya. Adakah ia telah memanggul senjata atau malah sudah di sampingmu kini, di alam sana? Ayah, tentara keparat itu muncul lagi. Sampai jumpa. Aku sudah siap... Srebrenica, 1995 “I…d..e..IDE!... o…IDEO! l…o...g…i…LOGI!!...s…LOGIS!!” Ina sudah agak lancar, pastilah nenek Minah sedikit bahagia. Adiknya terlelap lagi. Syukur pagi ini ia bisa makan roti. Waktu menyulap secuil kebahagiaan saat adiknya terlihat begitu lahap. Sebagian uang hasil jerih payahnya sudah raib dari tangannya saat hendak membeli sebungkus nasi tadi malam. Berubah menjadi sebotol arak lokal dan kacang goreng. Menguap di atas meja judi orang-orang bejat yang merasa punya kuasa atas hidup bocah 10 tahun itu. Mengacuhkan Ina yang lagi-lagi

terpaksa hanya menikmati senandung bising dari usus, mengayun-ayunkan kelopak matanya hingga semaput di atas kardus. Saat yang sama, prosesi serah terima baru saja terjadi oleh makelar kasus. Desas-desus penyelewengan uang negara pun mengudara. Penjarahan, pengkhianatan, penipuan dan penindasan. Semua langgeng di atas sistem bebal hari ini. “Eh, Ecceng! Ini ada roti lagi. Makan nah?” Ecceng mendesah, terima nasib. Persis orang yang sudah paham betul akan kerasnya kehidupan. Sedikit demi sedikit perut Ecceng membuncit. Lalu bagaimana dengan Ina? Sudahlah, yang tua mengalah. Paling-paling sebentar lagi kenyang sendiri oleh tontonan kuliner yang selalu bikin iri. Setiap sajian makanan yang tertangkap kamera, dengan segera akan di transformasikan oleh otak, diramu sedemikian rupa menjadi bulatan-bulatan sugesti yang akan meledak pada waktu yang tepat. Lalu tipu daya sendawa menggema saat host acara kuliner berkata, “Oke pemirsa…sampai disini dulu sajian kuliner yang bikin ngiler, saksikan terus acara ini dan sampai jumpa minggu depan. Bye! Bye!” Klik. Senandung bising yang sama, dari perut yang sama. Jangan sedih! Ina sudah kenyang… *** “Hidup rakyat!! Hidup!!! Hidup rakyat!! Hidup!! Hidup rakyat!! Hidup!!!!” Yel-yel yang menarik perhatian, tak terkecuali Ina. Kelompok itu berhenti, membentangkan sebuah spanduk bertuliskan kata-kata perlawanan terhadap kebijakan negara. Ragam komunitas merapatkan barisan untuk satu kata penolakan. Di sana semua warna mahasiswa sedang unjuk gigi, menguji seberapa besar mereka punya nyali. Ada yang terlihat bak legenda kombatan hutan Bolivia, reinkarnasi aktivis 98, dan banyak lagi. Begitulah seharusnya, di pundak siapa pun mestilah tersemat harapan orang-orang papa. Saat masa, massa dan suasana telah sedia, Ina maju mencoba peruntungan. “Kak, limbi’ dulu, Kak. Belum pa makan, kodong!” “Hah! Limbi-limbi! Pembeli rokokku lagi ndada.” Sang mahasiswa mengacuhkan tawaran pahala, kembali asyik bercanda dengan seorang wanita yang mungkin saja pacarnya. Wajahnya memang bersih, pakaian khas distro, rambut gaya Emo, dan kunci mobil menggantung begitu saja di saku celana. Sinis mata Ina menebar sinyal ketidakpercayaan pada seonggok tulang di hadapannya itu. Dan benar saja. Kepulan asap Marlboro menjadi saksi pengkhianatan atas kata-katanya barusan. Orator masih sibuk meluruskan penguasa dan Ina belum mau kalah dengan

keadaan. Pertanyaan yang sama kembali meluncur dan segera disambut oleh makian wanita pujaan si rambut Emo. Mahasiswa rambut Emo memandang remeh, melempar asap ke wajah Ecceng. Selang beberapa saat barisan mahasiswa telah membara oleh orasi yang semakin menggumulkan energi perlawanan. “Kawan-kawan, negeri ini sejak dulu diklaim berdaulat. Tapi sesungguhnya kita tidak pernah berdaulat! Berapa banyak rakyat yang turun ke jalan, meneriaki penguasa agar segera merubah kebijakan ini, tapi tidak pernah didengarkan. Hidup rakyat! Hidup rakyat!! Hidup rakyat!!!” “Hidup!...Hiduupp!..Hiduuuppp!!!” Pekikan menggelora saat pria rambut Emo menyambut teriakan yang sama. Ina mendesis, sepertinya ia sedikit paham. Sosok imajiner pria rambut Emo bersembunyi di balik dusta wajah filantropi. Kelihatan sekali kalau kehadirannya bukan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas sehingga penjajahan di atas dunia terhapuskan. Hah…basa-basi! bisa dipastikan kalau pria rambut Emo tidak ikut rapat konsolidasi sehingga apa yang ia lakukan di sini tak lebih dari gaya-gayaan ala playboy letoy. Beginilah harta, tahta dan wanita membuat lupa akan jelata. Ketika kesamaan platform perjuangan menjadi alasan yang lebih menggiurkan dalam rangka mengakomodir titik-titik perjuangan yang berserakan dibanding kekuatan ideologi gerakan. Maka sebanyak apapun massa, saat gelombang besar mulai menggertak di ujung sana, kekuatan massa hanya akan terlihat bagai kesatuan yang rapuh yang bagianbagiannya akan lari satu-persatu. Elemen revolusi bukan hanya massa tetapi juga kekuatan visi. Sehingga lautan massa dari berbagai kasta hendaknya tidak dimanfaatkan untuk sekedar unjuk kekuatan yang pada akhirnya tetap membiarkan mereka menjadi massamassa mengambang, tetapi harus ada pendidikan politik untuk membentuk massa yang cerdas. Yakni massa yang tahu persis dari dan untuk apa ideologi gerakannya ada, yang mana ideologi itu telah teruji kebenarannya secara pasti, bukan ideologi yang bersembunyi di balik topeng manusiawi. *** Tak perlu menunggu lama. Cukuplah menghabiskan tiga batang rokok saja untuk mengatakan, “Wow…Ecceng sudah besar.” Jarinya gesit menekan strings ukulele. It’s show time! Ina mulai berdendang ketika lampu merah memberikan tanda dan Ford Fiesta berhenti tepat di depan mata. Sepotong reff gubahan meluncur begitu saja. Entah siapa yang mengajar, …Ketika tinta menagih harapku sungguh menggebu… Kembang kempis dadaku meredam sakit hati… Kepal tangan tergambar inginku segera menentang… Semua kebohonganmu, atas segala janji… Kaca mobil membuka. Ah, wanita itu lagi. bukannya segera memberi uang malah asyik melihat bekas tinta di jemari kiri. Dia bukan Ungu Cliquers tapi sudah pasti Ungu klingkingers. “Lima puluh ribu, cukup?” katanya. Senyum Ina 2-2-7. Ina mengangguk, lega. Hore!! Ya… Ketika tinta menagih hadirnya kehidupan yang damai. ketika tinta menagih janji yang terkhianati. Ketika tinta menagih gerak intelektual negeri yang hilang bak ditelan bumi. Ketika… Tinta… Menagih… * Penulis adalah Mahasiswa Fakultas MIPA, Angkatan 2007

Demonstrasi
Teriak… Rakyat… Teriak… Di saat matahari menjadi sengat Senja dan malam memberi peluh Aku ingin berteriak Rakyat… Tak peduli lidah menghunuskan seribu nada serapah Tak peduli hitam putih kepulan asap membuat jalan terbelah Aku ingin berteriak Rakyat… Di balik ketidakbecusan mereka Ku yakin ini harus berubah Untukku dan untukmu Teriak… Rakyat… Teriak… Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Kehutanan Angkatan 2004

Sivitas Akademika
Kunjungi & Bergabunglah

di Grup Facebook

“Pembaca Identitas”
Tempat Diskusi, Berbagi Pengetahuan & Informasi Lewat Facebook

iptek
Lebih Efektif dengan Mesin Penyapu Jalan

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010
akan dibawa ke bak penampungan yang terbuat dari baja menggunakan mesin lipat. Sampah dibawa ke bak penampungan dengan bantuan belt conveyor. Untuk memutar sapu digunakan motor bensin yang ditransmisikan oleh puli dan sabuk. Setelah melalui proses pengujian, ternyata alat ini mampu mengangkat 0,268 kg sampah setiap detik atau 964,8 kg setiap jamnya. Sedangkan berat maksimum sampah yang mampu diangkut adalah 149 g. Sebenarnya Firman dan Asty merencanakan akan membuat alat dengan kapasitas angkut ratarata 1 ton/jam atau 0,278 kg/s. Namun perkiraan tersebut sedikit meleset, hasil akhirnya tidak sesuai perkiraan. Alat ini hanya mampu mengangkat 96,4% sampah. Menurut Firman, hal ini bisa saja terjadi karena tidak konstannya putaran motor. Motor yang tidak berputar konstan akan menyebabkan sapu radial juga tidak berputar secara konstan. Putaran yang tidak konstan mengakibatkan putaran tinggi sampah akan terseret oleh sapu ke arah yang berlawanan. Sehingga sampah sulit terangkat. Sebaliknya jika putaran rendah, jenis sampah yang berat dan besar tidak dapat terangkat. Untuk itu usaha untuk perbaikan alat ini terus dilakukan. Walaupun pengerjaannya sudah melalui tahap akhir, anak muda kreatif ini berniat akan menambahkan sebuah mobil mini. Nantinya, mobil mini tersebut akan disambungkan di bagian depan alat penyapu jalan. Dengan begitu, pekerjaan penyapu jalan akan lebih efisien lagi karena akan dikendalikan oleh mesin layaknya mobil ukuran mini.

identitas

15

Tenaga mesin kini mampu menggeser tenaga manusia dalam menjalankan beragam kegiatan. Hal ini terjadi seiring pesatnya perkembangan teknologi.

B

erkeliling kampus, hingga menengok kerja petugas kebersihan yang terus menyingkirkan gunungan sampah, membuatnya berfikir dalam menciptakan sebuah alat. Alat ini nantinya mampu meringankan beban para petugas kebersihan. Firman, Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Unhas angkatan 2006, mencoba menuangkan idenya dalam menciptakan sebuah mesin sebagai tugas akhirnya dalam meraih gelar sarjana.

Dalam menyelesaikan tugas akhirnya ini, Firman tak sendirian, dia ditemani Asty, teman seangkatannya yang juga dalam tahap penyelesaian studi. Mereka pun menuangkan ide itu dalam sebuah proposal. Januari 2010 proses perancangan alat ini dimulai dengan menggambar desainnya pada program Autocad 2008 dan Corel Draw 12. Selama proses pengerjaan alat ini, Redesign atau pendesainan ulang menjadi salah satu hambatannya. Acak ulang design tidak dapat mereka hindari. Karena harus menyesuaikan dengan konsep awal rancangan. Dengan sabar mereka pun mengutak-atik desain. Tercatat kurang lebih sepuluh kali perubahan desain dilakukan sampai akhirnya menemukan desain yang sesuai

dengan rancangan dan bahan baku alat yang tersedia. Setelah menemukan desain yang sesuai dengan rancangan, maka untuk mendapat alat yang efisien dengan beban angkutan yang sesuai, mereka menghitung daya motor penggerak. Penghitungan daya ini dilakukan dengan memperhitungkan beban yang dialami oleh sapu dan belt conveyor. Salah satu bagian terpenting pada alat ini adalah sapu radial. Sapu ini terdiri dari lima puluh buah sapu yang digabungkan menjadi sebuah sapu yang dinamakan sapu radial. Sapu ini disatukan oleh sebuah pengait yang disambungkan pada poros. Jadi ketika poros bergerak, sapu radial juga akan bergerak menyapu sampah. Sampah yang disapu dari jalan

Selama hampir empat bulan pasangan ini mengerjakan alat tersebut walaupun beberapa hal menghambatnya. Kesulitan yang utama tentu saja persoalan dana. Ketika ditemui di Laboratorium Teknologi Mekanik Jurusan Mesin, Rabu (26/5), mahasiswa angkatan 2006 ini bertutur, “kesulitan utama kami dalam pengerjaan alat ini adalah masalah dana.”Setelah dihitunghitung, alat pembersih jalanan ini menghabiskan tidak kurang dari delapan juta rupiah. Untuk menutupi biaya pembuatan alat, mereka menggunakan uang dari beasiswa yang diperolehnya dari fakultas. Bukan hanya itu, barang-barang bekas layak pakaipun dijadikannya komponen untuk pembersih jalan ini. Firman, mencontohkan sebuah peleg yang diperolehnya dari toko barang bekas milik temannya. Untuk sebuah peleg baru ia bisa menghabiskan uang satu juta rupiah, namun dengan memanfaatkan barang bekas, maka biayanya dapat ditekan sampai kurang dari setengahnya. Saat ini alat tersebut telah selesai melalui proses pengerjaannya. Firman dan Asty mengakui alat itu masih harus melalui banyak perbaikan. Namun mereka berdua meyakinkan bahwa alat ini telah bisa digunakan. Firman memiliki harapan yang besar terhadap alat hasil kerja kerasnya ini. Ia berharap pihak universitas bisa meliriknya dan menggunakan untuk kepentingan kebersihan Unhas. Bahkan saat ini, Pemerintah Baubau dan salah satu perusahan swasta telah mengadakan pembicaraan untuk produksi alat ini dalam jumlah massal. Semoga alat ini betul bisa mendatangkan manfaat bagi penyapu jalan. Ali / Dia

resensi
Berpikir Kreatif ala Michalko
BAGAIMANA Einsten menemukan teori relativitas? Atau Darwin dengan teori evolusinya? Darimana datangnya ide-ide brilian tersebut hingga bisa mengubah dunia? Kebanyakan dari kita dididik untuk berpikir reproduktif, yaitu berpikir dengan cara berpikir yang telah diajarkan sebelumnya, tidak dengan cara produktif. Memandang suatu persoalan dari kacamata yang berbeda. Saat mendapati sebuah masalah, pikiran kita menghubungkan kejadian itu dengan pengalaman masa lalu, kemudian dengan cara berpikir yang sama diterapkan dalam pemecahan masalah tersebut. Intinya, berpikir tentang “apa” yang dipikir ketimbang “bagaimana” berpikir. Ini yang coba dikupas tuntas oleh Michael Michalko dalam bukunya The Secrets of Creative Genius, Bussines, Education & Personal. Dalam buku setebal 380 halaman ini seluruh isinya menjelaskan suatu strategi berpikir kreatif. Michalko menunjukan bagaimana strategi tersebut bekerja pada jenius-jenius kreatif. Tidak lupa pula dalam buku ini ia memasukkan latihan-latihan bagaimana menerapkan strategi tersebut dalam kehidupan bisnis dan kehidupan pribadi. Pada bab pertama buku ini, Michalko membahas tentang melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Michalko menjelaskan secara mendetail tentang bagaimana cara melihat dan membuat pikiran Anda kelihatan. Memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain yang terdiri dari beberapa sub bab diantaranya: berpikir dengan lancar, membuat kombinasikombinasi baru, menghubungkan yang saling terlepas, melihat sisi lain, melihat dunia lain, menemukan yang tidak anda cari dan membangkitkan semangat kolaborasi, mengenai ini dikupas tuntas di bab II. Penulis buku popular Thinkertoys ini juga tidak lupa membahas bagaimana mengatur kembali pemikiran. Strategi yang menghasilkan ide akan merevolusi cara memandang berbagai hal dan membuka pintu solusi inovatif untuk berbagai tantangan yang dihadapi setiap hari. Masingmasing strategi berpikir kreatif mencakup teknik-teknik spesifik dan praktis, disertai instruksi yang jelas, tentang bagaimana menerapkannya . Anekdot dan contoh-contoh dari para jenius terkenal dan orang-orang awam mengisi buku ini. Buku ini adalah hasil dari penelitian atas lebih dari seratus pemikir besar-dari Leonardo Davinci hingga Walt Disney, Pablo Picasso, Thomas Edison, Charles Darwin dan Martha Graham. Secara sederhana, Michalko memaparkan teknik-teknik berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Mengajak kita untuk berpikir dengan cara yang betul-betul menakjubkan. Sementara itu, penjelasan buku ini dibuat sesederhana mungkin dengan bantuan gambar, permainan angka dan simbolsimbol. Buku yang membahas berpikir kreatif tak seperti buku lainnya, tak sedikit pun terkesan ‘berat’. Sepak terjang Michalko di bidang ini diawali saat mengoordinasi sebuah tim elit di U.S Army yang terdiri atas para pakar intelijen dan peneliti NATO. Tujuan dibentuknya tim elit tersebut adalah untuk meneliti, mengumpulkan dan menggolong-golongkan semua metode berpikir yang berdaya cipta. Michalko dengan latar belakang sebagai pakar kreatifitas, telah mengadakan seminar dan lokakarya hampir di seluruh dunia. Ia sanggup memaparkan berbagai permasalahan dan strategi dalam mengolah pikiran dengan contoh objek sejumlah penemu-penemu genius. Untuk pembaca ‘ulung,’ buku ini patut di beli. Saya yakin anda tak akan beranjak dari tempat duduk saat membaca buku ini. Sebab penjelasannya sangat gamblang, penuh dengan anekdot-anekdot menarik. Ilham A M

Judul Buku: Cracking creativity, The secrets of creative genius Bussines, Education & Personal Pengarang: Michael Michalko Penerjemah: Dwi Prabantini Penerbit: Penerbit ANDI Tebal: 308 hlm

jejak langkah

NO 729 l TAHUN XXXVI l EDISI AWAL JUNI 2010

identitas

16

“Makin Dekat dengan Api, Makin Panas”

M

Prof Dr Drs Natsir Djide MS

alam kian kelam, suasana jalan makin sepi. Rumah berpagar tinggi yang menjadi sasaran reporter rubrik jeklang tampak lengang dari luar. Tapi berbeda dengan kehangatan kecil di dalam rumah itu. Sesekali terdengar suara televisi yang ditimpali suara cekikan anak kecil. Saat memberi salam, pintu pun dibuka oleh gadis remaja yang langsung mempersilahkan masuk. “Ada prof?” tanya Hasdinar dari identitas kala itu. Menit berikutnya, lelaki berperawakan sederhana muncul dari dalam dan kembali mempersilahkan masuk. Setelah mengutarakan maksud Hasdinar untuk menjadikannya sosok Jeklang, sontak lelaki berperawakan sederhana ini berkata, “saya ini biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa.” Dialah salah satu dosen favorit Mahasiswa Fakultas Farmasi, Prof Dr Drs Natsir Djide MS. Natsir, begitu sapaanya, sangat lekat dimata mahasiswa dengan sosoknya yang begitu tegas dan disiplin. Sikapnya yang demikian membuatnya tak hanya menjadi tenaga pengajar di Unhas, ia pun kerap menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi lain. Bahkan ia pernah tercatat sebagai Pembantu Rektor I pertama Universitas Indonesia Timur. Natsir memang dibesarkan dengan kedisiplinan yang ditularkan oleh kedua orang tuanya. Ayahnya yang seorang petani selalu tegas pada jadwal kegiatanya. Di subuh hari ayahnya yang hanya seorang petani, kerap memarahi pekerjanya. “Kalau dia (ayahnya,red) bilang kasi keluar kerbau jam lima, ya kasi keluar jam lima,” ucap

Natsir mengenang ayahnya. Kedisiplinan ini juga yang membuat Natsir dan keenam saudara lainnya berhasil. Hingga kini ia masih memegang teguh hal itu. Kedisiplinan ini pulalah yang ia terapkan kala berhadapan dengan mahasiswa. Persoalan absensi tak ada tawar menawar baginya. Bahkan secara khusus ia membuatkan daftar absensi khusus untuk dirinya di luar absensi yang disediakan fakultas. “Keluar rumah cari yang baik dan jangan keluar pekarangan kalau mau cari yang buruk,” inilah petuah yang Natsir pegang hingga kini. Natsir kecil mendapat dukungan besar dari kedua orang tuanya untuk menempuh pendidikan. Di usia lima tahun, Natsir telah dibonceng oleh sang kakak mengikuti Sekolah Rakyat yang berjarak 4 km. Walau seorang petani, sang ayah sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Ini karena Sang Ayah pernah mendapat pengalaman semasa muda. Sang ayah pernah dikeroyoki oleh tentara Jawa karena beliau tak tahu berkomunikasi dengan tentara Jawa yang berbahasa Indonesia. Karena pengalaman buruk inilah, Ayah bertekad menyekolahkan anak-anaknya. Natsir memulai karirnya sebagai Asisten dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Jurusan Farmasi (1976). Kemudian, melanjutkan pendidikan apotekernya selama dua tahun. Ia diangkat menjadi seorang dosen pada Fakultas tersebut di tahun 1979. Tahun 1986 mendapat gelar masternya di Institut Pertanian Bogor Jurusan Ilmu Pangan. Dengan disertasi tentang pemanfaatan susu kedelai terhadap penurunan kadar kolestrol yang ia cobakan

pada hewan pengerat, seperti tikus, kelinci , dan marmut ia mendapat gelar doktornya di Unhas di tahun 2007. Basic ilmunya inilah ia kemudian dikenal sebagai ahli mikrobiologi, biotekhnologi, dan pangan. Peneliti yang banyak menggunakan bahan-bahan alami menghasilkan obat-obat tradisional, seperti salah satu temuannya kapsul kunyit putih. Ia juga tak segan membagi ilmunya pada narapidana. Rutin setiap minggunya ia memberi pengajaran skill untuk para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sari. Awalnya ia hanya dipanggil untuk memberi ceramah. Setelah lama ia memberi ceramah, ia kemudian berinisiatif memberi praktek skill kepada para narapidana tersebut, seperti pembuatan nugget dari kedelai dan pembuatan pupuk organik. “Saya ingin mereka sudah punya skill jika sudah keluar nanti,” harap Kepala Laboratorium Mikrobiologi Farmasi ini. Jangan duduk di paling belakang jika ia mengajar karena ia paling suka mahasiswa yang selalu duduk paling depan mendengar kuliah. “Makin dekat kamu di api semakin panas kau”, itulah prinsip yang ayah dari empat anak ini tanamkan pada mahasiswanya. Tak salah jika ia pernah dinobatkan sebagai Dosen Teladan. Kecintaanya akan dunia pendidikan membuat ia sangat mencintai pekerjaannya ini. Kecintaannya ini ia buktikan dengan mentransferkan segala ilmu yang ia miliki kepada mahasiswanya. Tak hanya itu, berbagai keterampilan ilmu terapan ia ajarkan, seperti pembuatan teh rosella, chicken nugget berbahan kedelai termasuk sirup Rosella, penemuan yang baru ia uji coba.

Dokter Ahli Kependudukan
enang dan tak banyak bicara. Kesan ini yang melekat pada sosok dr H Mukhsen Sarake MS. Tak hanya itu, Kepribadiannya yang merakyat membuat Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat ini sangat disenangi banyak mahasiswa. Saat memberi kuliah, beliau cenderung menciptakan ruang yang menyenangkan dengan sikapnya yang low profile. Raut tidak percaya tergambar di wajahnya, ketika Mifda Hilmiyah dari identitas berkunjung ke ruang kerjanya di lantai tiga Jurusan Biostatistik. “Saya yang mau diwawancarai, tidak salah orang?” ujarnya dengan nada heran. Tak salah bila beliau menjadi sosok jeklang di edisi kali ini karena ternyata beliau juga, salah satu ahli biostatistik dan rekam medik. Rekam medik yang dimaksud adalah dokumen yang menyimpan kumpulan peristiwa pasien secara lengkap. Jadi, ketika dibutuhkan, data-data tersebut mudah diperoleh dan memudahkan pihak administrasi rumah sakit dalam menangani data pasien. Masa mudanya ia habiskan di Kabupaten Wajo. Selesai Sekolah Menengah Atas, ia berniat untuk menjadi tentara. Namun impiannya itu harus pupus dan tuhan berkehendak lain. Sebagai gantinya, setiba di Makassar ia dapat menembus Fakultas Kedokteran walau sebelumnya tak pernah bercita-cita menjadi dokter. Meski terhitung lama dalam meraih gelar

T

dokter, yakni selama tiga belas tahun, pria berdarah Sengkang ini tak patah semangat. Ia sadar, terlambatnya menyelesaikan studi telah menjadi ketentuan-Nya. Kecelakaan yang menimpanya di tingkat dua perkuliahan mengharuskan tangan kanannya cidera dan ia harus beristirahat selama tiga tahun di kampung halamannya. Walaupun musibah menjambanginya, tapi keberuntungan suami St Komarian SE ini, masih setia menemaninya. Ia diterima menjadi dosen di FKM tahun 1988. Lagi-lagi keberuntungan tenyata tak pernah jauh darinya. Tak lama kemudian, beliau diterima sebagai mahasiswa pascasarjana studi antar kependudukan Universitas Gajah Mada. Tak ayal, statistik dan kependudukan adalah bidang yang sangat beliau kuasai. Kini kependudukan dan statistik menjadi bagian dari ilmu yang dikuasainya. Ketika disinggung mengenai meningkatnya jumlah penduduk ia pun mulai menuturkan banyak hal. Menurutnya, laju pertambahan penduduk tiap tahun, salah satunya disebabkan oleh nikah muda. Selain itu, faktor kelahiran yang rapat juga termasuk mendukung kepadatan penduduk. Dosen yang pernah menjadi penyuluh HIV/AIDS di Panti Asuhan Mattiro Deceng juga menuturkan, banyak anak juga mempengaruhi tingkat harapan hidup di suatu wilayah. Di Sulawesi Selatan sendiri tingkat harapan hidup penduduk masih pada level 66 tahun, berbeda dengan Jogjakarta yang pada level 68 tahun. Hal ini seharusnya

menjadi motivasi untuk memperbaiki kualitas hidup termasuk fisik dan cara berpikir. Memang banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas hidup, termasuk kemiskinan, miskin materi dan miskin pengetahuan. Miskin materi sehingga tidak mampu menggunakan fasilitas kesehatan. Miskin pengetahuan dalam memperoleh informasi tentang kesehatan. “Jadi perlu perbaikan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin tidak hanya berkedok kesehatan gratis, tapi nyata gratis secara utuh,” ungkap mantan anggota bastra Himpunan Mahasiswa Islam ini. Menekan laju pertambahan penduduk ternyata tidak mudah. Menurutnya, diperlukan sinergi antara pemerintah dan penduduk. Seperti program keluarga berencana yang ternyata sempat vakum, namun saat ini mulai digalakkan. “Program keluarga berencana sangat bagus karena setiap keluarga mempunyai planning ke depan untuk mengatur jumlah kelahiran anggota keluarganya,” ujar Mukhsen. Diakhir wawancara, sosok yang satu ini lagi-lagi menekankan agar setiap orang, khususnya mahasiswa melakukan perencanaan yang matang dalam menjalani hidup. “Saya senantiasa menyampaikan kepada mahasiswa untuk selalu merencanakan hidupnya, tidak seperti kehidupan saya yang serba tiba-tiba ingin jadi tentara tahunya malah jadi dosen,” ujarnya menutup pembicaraan.

dr H Mukhsen Sarake MS

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->