P. 1
Membongkar Jamaah Islamiyah - Nasir Abas

Membongkar Jamaah Islamiyah - Nasir Abas

|Views: 1,042|Likes:
Published by Idayu Salafi

More info:

Published by: Idayu Salafi on Jun 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

MEMBONGKAR JAMAAH ISLAMIYAH

Pengakuan Mantan Anggota JI

Penulis: Nasir Abas Tata Letak Isi dan Desain Cover: Studio Kreativa

ISBN 979-3858-05-2 Cetakan I, Juli 2005 Diterbitkan oleh Penerbit Grafindo Khazanah Ilmu

Pasar Minggu, Jakarta Selatan e-mail: grafindoina@yahoo.com.sg Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

Pengantar Penerbit Alhamdulillah, akhirnya kami dapat menerbitkan sebuah karya yang amat
berharga, dan sangat penting untuk diketahui khalayak publik. Dilihat dari segi substansi maupun penulisnya, buku yang ada di hadapan Anda sekalian ini, jelas bukan sembarang karya yang ditulis untuk kepentingan sesaat atau maksudmaksud tertentu. Sebab, karya ini sarat dengan data, sesuai dengan fakta, dan tidak berpretensi menggurui pembaca terhormat. Buku berjudul MembongkarJamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI, ini adalah sebuah penelusuran panjang penulisnya, sejak mulai dari pergumulannya dengan pemahaman tentang Islam, persentuhannya dan pertemanannya dengan para aktivis dan tokoh Jamaah Islamiyah (JI) seperti Imam Samudra, Abu Bakar Baasyir, Hilmi Bakar dan lain sebagainya, hingga pergulatan sang penulis ke belantara negeri seperti Afghanistan, Malaysia (yang notabene adalah negerinya sendiri), Mindanao, Filipina, dan beberapa daerah di Indonesia. Perjalanan panjang ini adalah bagian dari pengabdian Nasir Abas, sang penulis, kepada Jamaah Islamiyah, dengan cita-cita utama mendirikan Negara Islam di Nusantara (meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Filipina). Nasir sendiri adalah mantan petinggi JI, dengan jabatan terakhir sebagai Amir Mantiqi III (meliputi Sabah, Serawak, Brunei, Kalimantan, Sulawesi, dan Filipina Selatan). Kini, ia telah keluar dari JI, yang menurutnya penuh kesesatan dalam memahami Islam yang hanif dan anggun, menjadi Islam yang keras, dan menakutkan publik. Kontroversi tentang Jamaah Islamiyah sendiri dalam beberapa tahun terakhir memang cukup menjadi perhatian dan sorotan publik Indonesia dan dunia internasional. Masalah ini mencuat terutama sejak rentetan aksi kekerasan dan terorisme marak empat tahun terakhir. Tragedi memilukan pemboman WTC di AS pada 2001, Bom Bali tahun 2002, Bom J.W. Marriott pada 2003, Bom Kuningan tahun 2004, dan serentetan kejadian mengenaskan lainnya. Tak ada satu pun agama di dunia ini yang melegitimasi, apalagi mengajarkan bahwa kekerasan sebagai cara yang absah untuk meraih tujuan. Justifikasi terhadap agama atas pelbagai kejadian teror misalnya, oleh sekelompok orang tertentu, jelas salah. Ini tampaknya berpangkal dari kesalahan menangkap dan memahami pesan agama, apa pun namanya, bahwa kekerasan, apapun bentuknya, tak dapat ditolerir dan karenanya mesti dikikis hingga ke akarakarnya. Sebab, ia tak saja merugikan kehidupan sosial manusia dalam jangka pendek, tapi juga dalam jangka panjang seperti trauma psikis yang diderita masyarakat terkena aksi biadab teror.

Sebagai contoh, doktrin jihad misalnya, kerap kali dipahami sekelompok orang, seperti kebanyakan pemahaman anggota JI, secara sempit, yakni sebagai sepongkah kekerasan menghalalkan darah orang berbeda agama (non-Muslim), guna meraih apa yang dicitakannya. Orang kafir adalah musuh utama Islam, dan karenanya mestilah diperangi. Ini suatu pemahaman amat bodoh, mengingat makna jihad sesungguhnya amat luas dan mulia. Menyingkirkan duri dari jalanan, menuntun orang tua menyeberang jalan, tersenyum pada orang yang dijumpai, silaturrahim kepada sahabat dan sanak famili, dan seterusnya, adalah bagian dari jihad. Jadi, jihad membunuh orang tanpa alasan yang jelas dan dibenarkan agama, bukanlah pemahaman ajaran Islam yang tepat. Bukankah Islam menegaskan, membunuh satu nyawa sama artinya menghilangkan nyawa banyak orang? Inilah antara lain yang akan diluruskan dalam buku ini. Masih banyak lagi fakta dan pemahaman menyesatkan kelompok radikal JI dan beberapa kelompok lainnya, yang akan dibongkar dalam karya yang juga akan diterbitkan dalam versi bahasa Inggris ini. Semoga penerbitan buku ini dapat membantu dan memandu kita menyelami ajaran Islam dengan benar, sehingga tidak lagi terjadi aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama tertentu. Sekali lagi, kekerasan selamanya adalah terkutuk, dan karenanya, kita memiliki tanggung jawab untuk mencegahnya. Akhirnya, kritik konstruktif tentu kami butuhkan untuk penyempurnaan penerbitan edisi berikutnya. Selamat membaca. Wallahu Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu Awal Juli A’lam 2005

Sekapur Sirih Dari Penulis

Bom

Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 telah

menimbulkan tuduhan dan prasangka terhadap berbagai pihak. Ada yang menuduh TNI, rekayasa intelijen Indonesia, keterlibatan Amerika dengan 'Mikro nuklir', misi Australia untuk menguasai Indonesia, dan ada juga yang menuding keterlibatan sebuah organisasi Islam yang bekerja sama dengan Al-Qaedah beserta Osama Bin Laden. Sampai-sampai Nordin M.Top dan Dr. Azahari dianggap sebagai tokoh ciptaan polisi belaka yang menjadikan nama tersebut sebagai kambing hitam sasaran di setiap pengejaran, mereka dianggap tidak pernah ada. Malah para terpidana Bom Bali dikatakan sebagai orang-orang teraniaya termasuk para ustaz dan aktivis masjid yang dipaksa mengaku sebagai orang-orang yang terlibat dalam kasus Bom Bali. Siapakah sebenarnya orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut dan bahkan apakah kasus pemboman yang selama ini terjadi adalah benar dilakukan oleh kelompok atau orang-orang tertentu yang mempunyai tujuan tersembunyi? Dan, apakah tidak menyedihkan dan berbahaya apabila sudah timbul suatu fenomena agama Islam identik dengan kekerasan karena pembelaan para pelaku bom yang mengatasnamakan Jihad fie sabilillah? Buku ini mencoba memberikan jawaban atas semua tudingan atau kecurigaan di antara kita. Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah bersama dengan para pelaku Bom Bali di sebuah organisasi, baik di tingkat pimpinan sampai pada tingkat anggota pelaksana di lapangan, memberikan gambaran kepada pembaca tentang latar belakang dan kemampuan mereka dalam menggunakan perlengkapan milker dan bahan kimia. Karena itu, buku ini diupayakan bisa menjawab berbagai pertanyaan yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya adalah, apakah Al-Jamaah Al-Islamiyah alias JI itu? Sejak kapan JI terbentuk dan melakukan aktivitasnya? Apa yang diperjuangkannya? Lalu apa kaitannya dengan Bom Bali? Untuk itulah saya, sebagai seorang mantan pimpinan JI, memberikan jawaban kepada masyarakat, tentang apa yang selama ini masih menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang, baik Indonesia maupun dunia. Juli Nasir Abas 2005

DAFTAR ISI
Halaman Muka Pengantar Penerbit … 5 Sekapur Sirih dari Penulis … 11 Daftar Isi Muqadimah … 13 Bab 1 : Perjalanan ke Afghanistan … 19

Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 Bab 7 Bab 8 Bab 9

: Pejuang-pejuang Afghanistan … 69 : Jamaah Negara Islam Indonesia (NII) … 81 : Al-Jamaah Al-Islamiyah … 87 : Perjalanan ke Mindanao … 139 : Boleh Berbohong … 169 : Kebohongan Imam Samudra … 183 : Bom Bali dan Kesesatan Imam Samudra … 193 : Ghozwah (Peperangan) … 271

Bab 10 : Jihad Membela Agama, Bangsa, dan Negara … 281 Bab 11 : Keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah … 303 Lampiran: Sketsa Sejarah dalam Gambar … 319 Tentang Penulis … 329

Muqadimah
049.013 ‫ﺧ ِﻴﺮ ﻋ ِﻴﻢ اﻟﻠﻪ إن أﺕ َﺎآﻢ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ أآﺮﻣﻜﻢ إن ﻟﺘ َﺎر ُﻮا وﻗ َﺎﺋﻞ ﺷ ُﻮ ًﺎ وﺟﻌﻠ َﺎآﻢ وأﻥ َﻰ ذآﺮ ﻣﻦ ﺧﻠﻘ َﺎآﻢ إ ّﺎ اﻟ ّﺎس أﻳ َﺎ َﺎ‬ ‫َﺒ ٌ َﻠ ٌ َ َ ِ َ َ ْﻘ ُ ْ َ ِ ِ ْ َ َ ْ َ َ ُ ْ ِ َ ِ َﻌ َﻓ َ َﺒ ِ َ ُﻌ ﺑ َ َ َ ْﻨ ُ ْ َُ ْﺜ َ َ ٍ ِ ْ َ َ ْﻨ ُ ْ ِﻥ ﻨ ُ َ ُﻬ ﻳ‬ ّ َ َ ّ ّ ّ ّ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (AlHujurat: 13).
003.103 ‫وآﻨﺘﻢ إﺧ َا ًﺎ ﺑﻨﻌﻤﺘﻪ ﻓﺄﺹﺒﺤﺘﻢ ﻗُﻮﺑﻜﻢ ﺑﻴﻦ ﻓﺄﻟﻒ أﻋ َاء آﻨﺘﻢ إذ ﻋﻠﻴﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻥﻌﻤﺔ َاذآ ُوا ﺕﻔﺮ ُﻮا َﻻ ﺟ ِﻴ ًﺎ اﻟﻠﻪ ﺑﺤﺒﻞ َاﻋﺘﺼ ُﻮا‬ ‫َ ُ ْ ُ ْ ِ ْﻮ ﻥ ِ ِ ْ َ ِ ِ َ َ ْ َ ْ ُ ْ ُﻠ ِ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْﺪ ً ُ ْ ُ ْ ِ ْ َ َ ْ ُ ْ َ ِ ِ ْ َ َ و ْ ُﺮ َ َ َﻗ و َﻤ ﻌ َ ِ ِ َ ْ ِ و ْ َ ِﻤ‬ ّ ّ ّ ّ ‫ﻋ َﻰ‬ ‫َﻠ‬ ‫ﺷ َﺎ‬ ‫َﻔ‬ ‫ﺡﻔﺮة‬ ٍَ ُْ ‫ﻣﻦ‬ َِ ‫اﻟ ّﺎر‬ ِ ‫ﻨ‬ َ ‫ﻓﺄﻥﻘﺬآﻢ‬ ْ ُ َ َ ْ ََ ‫اﻣﻨﻪ‬ َ ِْ ‫آﺬﻟﻚ‬ َ َِ َ ‫ﻳﺒ ّﻦ‬ ُ ‫ُ َﻴ‬ ِ ‫اﻟﻠﻪ‬ َُ ّ ‫ﻟﻜﻢ‬ َُْ ‫ﺁ َﺎﺕﻪ‬ ِِ ‫ﻳ‬ ‫ﻟﻌﻠﻜﻢ‬ ْ ُ ََ َ ّ ‫ﺕﻬﺘ ُون‬ َ ‫َ ْ َﺪ‬

Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahilijah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ajat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (Ali Imran: 103)
009.071 ‫وﻳ ِﻴ ُﻮن اﻟﺰ َﺎة وﻳﺆ ُﻮن اﻟ ّﻼة وﻳ ِﻴ ُﻮن اﻟﻤﻨﻜﺮ ﻋﻦ وﻳﻨﻬﻮن ِﺎﻟﻤﻌ ُوف ﻳﺄﻣ ُون ﺑﻌﺾ أوﻟ َﺎء ﺑﻌﻀﻬﻢ َاﻟﻤﺆﻣ َﺎت َاﻟﻤﺆﻣ ُﻮن‬ َ ‫َ ُﻄ ﻌ َ َآ َ َ ُ ْﺕ َ ﺼ َ َ ُﻘ ﻤ َ ْ ُ ْ َ ِ َ ِ َ َ ْ َ ْ َ ﺑ ْ َ ْﺮ ِ َ ْ ُﺮ َ َ ْ ٍ َ ْ ِﻴ ُ َ ْ ُ ُ ْ و ْ ُ ْ ِﻨ ُ و ْ ُ ْ ِﻨ‬ َ ّ ‫اﻟﻠﻪ‬ ََ ّ ‫ور ُﻮﻟﻪ‬ ُ َ ‫َ َﺳ‬ ‫ُوﻟﺌﻚ‬ َ َِ ‫أ‬ ‫ﺳﻴﺮﺡﻤﻬﻢ‬ ُ ُ ُ َ ْ ََ ‫اﻟﻠﻪ‬ َُ ّ ‫إن‬ َِ ّ ‫اﻟﻠﻪ‬ ََ ّ ‫ﻋ ِﻳﺰ‬ ٌ ‫َﺰ‬ ‫ِﻴﻢﺡ‬ َ ‫ﻜ‬

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka takut kepada Allah dan Rasl-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71) Penulis adalah mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) dan mantan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah (JI) yang mengalami berbagai macam pengalaman selama bersama dengan organisasi tersebut. Kisah pengalaman dapat dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT dan di hadapan manusia. Bagi orang-orang yang mengalami pengalaman yang sama seperti penulis pasti akan mengingat nostalgia dari kisah yang terdapat di buku ini. Nama-nama mereka yang disebut dalam buku ini akan menjadi saksi kebenaran dan Allah

SWT juga akan menjadi saksi atas semua persaksian mereka. Buku tulisan Imam Samudra yang berjudul Aku Melawan Teroris(AMT) memberi saya inspirasi pertama dan dorongan yang kuat untuk menjelaskan kepada masyarakat. Bukan tujuan saya untuk membuka aib seorang Muslim dengan sengaja. Apa yang saya jelaskan dalam buku ini bukanlah untuk menjerumuskan temanteman, tetapi bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat. Saya tidak tega melihat umat Islam mendapatkan informasi yang tidak jelas, apalagi penyesatan informasi. Sebagai jawaban saya di hadapan Allah SWT nanti bahwa saya sudah menyampaikan apa adanya sesuai pengetahuan saya kepada masyarakat umumnya, dan kepada umat Islam khususnya. Cukuplah kita menghadapi musuh Islam yang berusaha menyesatkan umat Islam, jangan pula kita sebagai Muslim menyesatkan sesama umat Muslim. Tujuan saya yang lain dalam menulis buku ini adalah untuk saling mengingatkan sesama Muslim dengan harapan agar teman-teman yang terlibat dalam aksi pemboman di luar medan pertempuran atau mempunyai hasrat dan rencana, agar supaya menghentikan perbuatan mereka yang menurut pengetahuan saya, kegiatan tersebut termasuk dalam kategori berbuat kerusakan di muka bumi. Tiada upaya fisik yang dapat saya lakukan untuk menghentikan operasional pemboman mereka kecuali hanya dengan lisan, semoga dapat membuka hati nurani teman-teman Muslim tersebut. Mengingat sabda Rasulullah SAW yang memerintahkan sahabatnya untuk membantu orang yang telah berlaku zalim dengan cara menghentikan aksi kezalimannya. Artinya: Dari Anas r.a berkata, Sabda Rasulullah Saw: “Bantulah saudaramu yang berbuat zalim dan (bantulah saudaramu) yang dizalimi.” Kemudian berkata seorang sahabat “Aku membantu orang yang dizalimi, lalu bagaimana aku membantu orang yang berbuat zalim?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “kamu menghalanginya dan mencegahnya dari berbuat zalim karena yang demikian itu adalah membantunya.” (Hadis riwayat Bukhari). Dari Jabir r.a, Rasulullah SAW bersabda: “… kamu tidak perlu menyembunyikan persoalan. Seharusnya kamu menolongnya baik yang zalim maupun yang dizalimi. Terhadap yang zalim, maka hendaklah mencegah kezalimannya. Sesungguhnya itu berarti telah menolongnya. Manakala terhadap yang dizalimi hendaklah membelanya.” (Hadis Bukhari dan Muslim) Saya memohon maaf kepada pembaca, karena tulisan ini masih belum cukup sempurna yang pastinya akan ditemukan kekurangan-kekurangan, di antaranya disebabkan oleh kesulitan yang dihadapi dalam memindahkan bahasa percakapan (verbal) kepada bahasa tulisan, ditambah lagi karena faktor human error yaitu kelupaan. Maka saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari teman-teman dan pembaca supaya pada masa mendatang akan dapat memberi penjelasan dengan sedetil-detilnya dengan bahasa yang mudah difahami dan dengan sumber rujukan yang lebih lengkap. Dengan demikian usaha meluruskan penyimpangan faham terhadap orang-orang yang mendahulukan sikap kekerasan dengan aksi pemboman, dapat terlaksana dengan baik dan menaruh perhatian ke hati nurani mereka. Dan, usaha ini juga bertujuan demi mencapai kemaslahatan umat Islam khususnya dan umat

manusia pada umumnya di seluruh dunia, insyaAllah… Amin ya Robbal ‘alamin… Sebenarnya, saya bukanlah orang yang paling layak untuk menjelaskan apa itu Al-Jamaah Al-Islamiyah karena saya dahulunya bukanlah bagian dari pimpinan tertinggi yang mengetahui seluruh kegiatan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Tetapi, oleh karena tidak ada satupun dari kalangan pihak pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah yang mau menjelaskan dan malah mereka memutarbalikkan fakta, maka dalam keterpaksaan saya merasa harus mengambil bagian untuk menjelaskan kepada umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya tentang apa itu Al-Jamaah Al-Islamiyah, sejauh yang saya alami sendiri. Dengan harapan supaya masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan umat Islam tidak bingung melihat perilaku para pelaku bom seperti Imam Samudra, Ali Ghufron, Amrozi (figur Bom Bali) dan orang-orang yang sefaham dengannya. Percaya tidak percaya terserah kepada pembaca yang menilai. Yang paling penting adalah bahwa saya telah menyempurnakan hajat dengan menceritakan apa yang saya alami lalu disuguhkan kepada masyarakat sebagai perbandingan dengan informasi pihak-pihak yang hanya mengumbar opini publik dan menyesatkan. Saya tidak mengetahui perencanaan Bom Bali dan tidak ikut terlibat dengan aksi tersebut, tetapi maksud dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan latar belakang dari sebagian pelaku Bom Bali atau yang terkait dengannya. Sehingga pembaca dapat menilai kemampuan para pelaku Bom Bali yang disangkal oleh setengah pihak akan kemampuan mereka, dan apakah semua orang yang pernah ke Afghanistan adalah sama, keras, dan sadis? Pembaca dapat melihat bahwa hanya segelintir saja yang terlibat dalam aksi pemboman atau yang terkait dengannya. Dari sekian banyak nama orang-orang dari para alumni Afghanistan dan alumni pendidikan kemiliteran di Mindanao Filipina Selatan, kebanyakan tidak menginginkan dan tidak menyetujui aksi pemboman di tempat awam serta sasaran orang sipil, kecuali segelintir dari mereka yang terpengaruh dengan faham Usama Bin Laden dan Imam Samudra yang membolehkan membunuh orang sipil non-Muslim sebagai pembalasan. Silakan rujuk nama-nama para pelaku bom dengan daftar nama-nama yang ada di dalam buku ini. Di dalam buku ini saya tidak menjelaskan tentang teori Jihad secara mendetil, sebab teori-teori tersebut bisa didapatkan dari buku-buku yang banyak tersedia. Apa yang ingin saya sampaikan melalui buku ini adalah tentang Al-Jamaah AlIslamiyah dan anggota-anggotanya yang terlibat dalam aksi kekerasan pemboman sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya semenjak jejak pertama munculnya kelompok ini dan perjalanan Jihad yang telah pernah terlaksana di Afghanistan dan di Mindanao Filipina Selatan. Yang kedua adalah mengenai hukum-hukum Islam terhadap faham Jihad yang diyakini oleh Imam Samudra yang termaktub di dalam buku Aku Melawan Teroris. Jazakumullah khairal jaza dan terima kasih kepada orang-orang yang telah mendidik saya tentang Islam sehingga sampai saat ini saya masih dapat terus istiqomah membela martabat Islam dari dicemar dengan faham-faham yang mengkotorinya, juga membela nasib umat Islam daripada menjadi korban bom yang mengatasnamakan Jihad. Harapan saya semoga dengan tulisan ini dapat menyurutkan niat dan hasrat orang-orang yang ingin melakukan praktek pemboman di tempat orang awam baik keatas warga Muslim ataupun nonMuslim.

Akhir kata, jika kita memahami dengan baik kisah perjalanan Rasulullah SAW, mempelajari tafsir-tafsir Al-Qur’an dan membaca hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, pasti kita akan menemukan bagaimana besarnya toleransi dalam agama Islam terhadap agama-agama yang lain yang dituntun oleh Rasulullah SAW di muka bumi ini sejak kenabiannya hinggalah wafatnya. Sungguh indah dan sungguh benar jika dikatakan Islam adalah agama kesejahteraan untuk sekalian alam. Wassalamualaikum w.w.

Bab 1 : Perjalanan Ke Afghanistan
1.01 Maahad Ittiba'us Sunnah 1.02 Hasrat belajar ke luar negeri 1.03 Antara dua pilihan sekolah 1.05 Pertama kali mengenal kata jihad 1.06 Tawaran ke Afghanistan 1.07 Persiapan keberangkatan ke Afghanistan 1.08 Berbaiat sebelum berangkat ke Afghanistan 1.09 Berangkat ke Pakistan 1.10 Harus belajar dan berlatih 1.12 Berperang ketika liburan kuliah 1.13 Pengalaman 1.04 Orang-2 Indonesia pada pandangan pertama 1.11 Akademi Militer Mujahidin Afghanistan

sebagai Instruktur di Akmil Mujahidin Afghanistan

NAMA Afghanistan mulai saya dengar ketika masih duduk di kelas 2 atau 3 Sekolah Menengah (setingkat SMP), Johor Bahru, Malaysia, sekitar tahun 1983/1984. Berita dan artikel mengenai Jihad Afghanistan sering dimuat di tabloid dan surat kabar harian. Ketika itu orang tua saya biasa membeli surat kabar Berita Harian (Malaysia). Sungguh memprihatinkan keadaan orang-orang Afghanistan yang hampir setiap hari diberitakan diserang oleh pasukan tentara Rusia, disebut juga pasukan Beruang Merah. Seingat saya, semua media pada waktu itu menyebut pejuang Afghanistan yang berperang memperjuangkan tanah airnya sebagai Mujahidin. Sebutan Mujahidin Afghanistan berulang-ulang ditulis, baik di media elektronik maupun cetak. Sebutan Mujahidin tentu terkesan sangat istimewa bagi orang Islam pada waktu itu. Pasalnya, konflik di Afghanistan telah membangkitkan rasa sentimen umat Islam terhadap pemerintah Rusia yang bukan Islam. Fotofoto yang dimuat di surat kabar atau ditayangkan TV dapat membangkitkan rasa haru dan simpati semua orang. Dan, saya yakin umat non-Muslim pun bersimpati terhadap hal-hal yang terjadi di Afghanistan. Sementara itu, sekitar tahun 80-an, berbagai yayasan, persatuan, dan organisasi masyarakat di Malaysia juga menyediakan dana dari para donator untuk membantu para Muhajirin (pengungsi) dan Mujahidin Afghanistan, sebagai rasa solidaritas sesama Muslim. Sempat terbesit niatan dalam hati untuk pergi ke Afghanistan agar bisa turut membela nasib umat Islam di sana. Tapi, niatan itu tak pernah terealisasi karena saya baru berusia 15 tahun dan belum mengetahui prosedur pergi ke Afghanistan, terlebih bagaimana mendapatkan biayanya. Karena itu, kembali saya memusatkan perhatian pada pelajaran sekolah, untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah atau SRP (Sijil Rendah Peperiksaan) yang diadakan setiap bulan Oktober. Peperiksaan itu sekarang dinamakan PMR (Peperiksaan Menengah Rendah).
Maahad Ittiba'us Sunnah

Sekitar pertengahan tahun 1984, orang tua membawa saya jalan-jalan ke Kuala Pilah Negeri Sembilan. Memang saya tidak bisa menolak setiap kali diajak orang tua berjalan-jalan, sebab saya suka bersiar-siar bak kata pepatah Melayu 'Jauh perjalanan luas pandangan'. Rupanya saya dibawa ke sebuah masjid tua bertingkat di tengah sawah di Jalan Seremban Kuala Pilah untuk menghadiri 'Ijtimak', sebuah acara silaturrahmi. Kami mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh para ustadz berpaham Muhammadiyah yang menamakan diri Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dari seluruh Malaysia. Hadir pada waktu itu seorang mubaligh keturunan Cina Muslim, Ustadz Husain Yee yang sangat saya kagumi. Saya sangat terkesan karena keistimewaannya dalam menyampaikan ceramah agama. Bagi saya, seorang keturunan Tiong Hoa menyampaikan Islam dengan fasih dan mudah difahami, sungguh merupakan sesuatu yang istimewa. Bahkan, pada acara itu juga diadakan pembacaan Al-Quran dan diterjemahkan tanpa menggunakan kitab Al-Quran terjemahan. Bagi saya, hal ini merupakan sebuah keajaiban dan keistimewaan tersendiri, sebab ia tidak pernah belajar di sekolah agama tetapi memiliki kemampuan menterjemahkan Al-Quran dengan baik. Saya jadi teringat pada Pak Tambi, teman orang tua saya yang mengajarkan pelajaran harfiah menterjemahkan Al-Quran di rumahnya di Johor Bahru Malaysia. Ketika saya masih di duduk kelas 3 Sekolah Menengah, dua kali dalam seminggu orang tua mengantarkan saya dan Ummu Asma (adik) ke rumahnya. Tetapi sayangnya saya tidak begitu sungguh-sungguh belajar darinya. Rupanya beliau mempunyai pengetahuan yang sama dengan Maahad Ittiba'us Sunnah Kuala Pilah dalam ilmu menterjemahkan Al-Quran. Beliaulah orang tua yang pertama kali mengajarkan dan memperkenalkan kepada saya asas bahasa Arab dan menterjemahkan Al-Quran. Usai mendengar ceramah dari para ustaz pada acara silaturrrahmi di Maahad Ittiba'us Sunnah tersebut, entah bagaimana, tanpa ada orang yang mempengaruhi dan mendorong saya, tiba-tiba timbul niatan untuk mendalami pengetahuan agama Islam. Terbetik keinginan untuk membela paham Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menjelaskan kepada Umat Islam yang telah banyak melakukan amalan-amalan ibadah namun bercampur dengan bid'ah, yaitu amal ibadah yang tidak dituntunkan oleh Syariat Islam. Padahal, bagi saya pelajaran agama Islam di sekolah menengah merupakan pelajaran yang sangat berat. Saya selalu didenda dan dihukum oleh guru agama karena sering tidak mengerjakan atau menyempurnakan PR menulis ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi. Hal itu justru membuat saya tidak suka dengan kelas pelajaran agama Islam di sekolah, bukan tidak suka dengan agama Islam. Kekurangmampuan saya membaca Al-Quran dan menulis Jawi (tulisan Arab) itulah yang membuat pelajaran agama Islam tersebut menjadi beban bagi saya. Paham Muhammadiyah yang saya pahami pada waktu itu adalah sebagaimana yang dipahami orang-orang yang memegang paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tetapi, kebanyakan orang di Malaysia pada waktu itu sering kali mengatakan bahwa paham yang diyakini oleh Muhammadiyah adalah paham Wahabiy atau paham kaum muda. Tak dapat dipungkiri, akibat dari sikap yang keras tanpa toleransi serta menghormati perbedaan pendapat dan paham sesama Muslim,

hanya akan menyebabkan timbulnya kebencian satu dengan yang lain. Padahal tidak ada perbedaan yang mendasar antara kaum tua dan muda yang samasama Muslim. Perbedaan yang terjadi hanyalah di tingkat pendapat (fatwa) dalam masalah furu'iyah (cabang) saja. Wallahu a’lam. Dalam perjalanan pulang ke Johor Bahru usai acara ijtimak di Maahad Ittiba'us Sunnah, saya sampaikan niat untuk berhenti sekolah kepada orang tua saya; hal itu disaksikan oleh Pak Mat Dollah yang berada dalam satu mobil. Saya katakan bahwa saya akan menyelesaikan sekolah sampai akhir tahun tingkatan 3 dan berniat berhenti sekolah setelah peperiksaan SRP (Sijil Rendah Peperiksaan). Lulus atau tidak pada peperiksaan SRP itu, saya tetap mau berhenti sekolah dan belajar di Maahad Ittiba'u Sunnah di Kuala Pilah. Keinginan tersebut disetujui oleh orang tua saya yang memang tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk sekolah. Meski demikian, mereka tidak pernah bosan memberikan nasihat dan dorongan, bahkan pilihan kepada anak-anaknya yang seandainya sudah tidak mau bersekolah lagi agar lebih baik bekerja membantu keluarga. Sehari setelah kertas terakhir peperiksaan SRP di sekolah menengah pada akhir Oktober 1984, saya minta izin kepada orang tua untuk berangkat ke Kuala Pilah Negeri Sembilan. Saya sudah tidak peduli lagi dengan hasil peperiksaan SRP dan lebih terpikat pada Maahad Ittiba'u Sunnah meski tidak pandai membaca AlQuran dan menulis Jawi (arab melayu). Maahad Ittiba'us Sunnah adalah sebuah masjid yang terletak di Bt 1½ Jalan Seremban Kuala Pilah Negeri Sembilan. Sekarang lebih dikenal dengan Jalan Lama ke Seremban. Seremban adalah bandar (ibukota) Negeri Sembilan. Perkampungan di sekitar Maahad Ittiba’u As-Sunnah (Kursus Menterjemah AlFurqan) oleh penduduk di sekitar Kuala Pilah lebih dikenal dengan nama 'Parit'. Maahad Ittiba As-Sunnah adalah sebuah Masjid yang digunakan sebagai tempat belajar menterjemahkan Al-Quran yang disebut juga Kursus Menterjamah AlFurqan. Dipimpin oleh Mudir Maahad bernama Ustaz Hashim A Ghani (guru yang banyak membimbing saya memahami Al-Quran), Maahad itu terkenal dengan pelajaran menerjemahkan Al-Quran dengan cepat. Metodenya itu juga disebut dengan menterjemah Al-Quran secara harfiyah. Sistem pelajaran yang mudah dan cepat tersebut juga menarik perhatian para mahasiswa untuk mengisi waktunya dengan turut belajar menterjemahkan Al-Quran. Mahasiswa perguruan tinggi yang paling banyak datang ke sana pada waktu itu adalah dari UPM, UM, UKM, dan juga dari universitas yang lain. Masjid yang juga maahad itu menampung pelajar yang jumlahnya tidak menentu, terkadang banyak dan terkadang sedikit. Yang paling banyak jika datang musim libur sekolah menengah dan perguruan tinggi, jumlahnya bisa mencapai 60-80 orang atau sedikitnya 25-40 orang. Ukuran masjid tidak terlalu besar sehingga tidak mampu menampung pelajar dalam jumlah besar. Bilik-bilik tidur untuk para pelajar berada di sekeliling masjid tetapi jumlahnya tidak banyak, sehingga sebagian pelajar harus menggunakan ruang shalat untuk tidur. Sementara untuk makan siang dan malam disediakan oleh Ibu Yam, seorang dermawan dari kampung setempat. Khusus makan malam pada hari Kamis, para pelajar mendapat sumbangan dari beberapa orang penduduk kampung sebagai sadaqah. Maahad atau masjid ini memberi peluang belajar kepada semua lapisan umur.

Tidak ada kewajiban mengenakan pakaian seragam, tidak ada program 24 jam bagi yang tinggal di Maahad, dan tidak ada pembagian kelas menurut umur atau tingkat belajar. Siapa saja boleh hadir untuk belajar atau sekadar mendengarkan pelajaran yang diberikan. Bahkan para siswa diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut jika mereka mampu. Dengan begitu, di dalam kelas belajar akan kelihatan siswa dari berbagai umur. Begitu juga tidak ada ketentuan masa waktu belajar yang pasti di Maahad Ittiba As-Sunnah. Sistemnya bak pepatah 'siapa cepat dia dapat'. Pelajaran utama adalah pelajaran Harfiyah yang memerlukan ketekunan pelajar untuk berlatih setiap waktu menerjemahkan Al-Quran dengan bantuan kamus terjemahan Al-Furqan tulisan Mudir Maahad Ittiba'u Sunnah. Selain itu terdapat juga mata pelajaran yang lain seperti Ilmu Nahwu dan Ilmu Saraf (keduanya tatabahasa Arab), Hadis Nabi (buku Bulughul Maram dan Subulus Salam sebagai kajian) dan Kajian hukum-hukum Hadis, Tafsir dan Ushulul Tafsir, Ushul Fikih, Ulumul Quran, dan lain-lain. Kelas di Maahad mungkin dapat diklasifikasikan menjadi kelas senior, kelas junior, dan kelas gabungan. Pada waktu-waktu tertentu setiap minggu diadakan pengajian umum untuk penduduk kampung yang juga dihadiri oleh para pelajar Maahad itu. Saya sendiri sempat mengajar di Maahad Ittiba As-Sunnah itu pada awal tahun 1986 hingga akhir 1987, yaitu setelah setahun belajar. Kemudian pada tahun berikutnya saya mulai mengajar kelas junior sambil belajar di kelas senior. Saya juga diangkat menjadi ketua pelajar di Maahad itu. Dua tahun berada di Maahad Ittiba'us Sunnah tersebut saya ditugaskan untuk mengajar kelas senior dan junior untuk mata pelajaran Harfiyah menterjemah Al-Quran dan tatabahasa Arab (Nahwu dan Saraf). Mengingat kesibukan di siang hari untuk mengajar, maka saya manfaatkan waktu malam hari untuk menambah pengetahuan dengan mendatangi rumah mudir Maahad, Ustadz Hashim A Ghani. Saya belajar dan mempertanyakan kepadanya berbagai permasalahan yang saya dapatkan dari buku-buku. Di samping itu, saya juga mendalami pengetahuan tersebut secara otodidak.
Hasrat

Saya pernah meminta kepada Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah untuk mencarikan peluang melanjutkan belajar ke negara Arab guna memperdalam pengetahuan tentang agama Islam. Sayangnya dia belum mendapatkan akses setelah sekian lama menunggu sehingga saya berniat pergi keluar negeri dengan cara belajar ke sekolah Arab di Johor Bahru, Malaysia. Dengan bantuan orang tua, saya mendaftarkan diri ke sekolah Arab di Kampung Melayu Majidee Johor Bahru Malaysia pada pertengahan tahun 1987. Saya berharap dapat masuk ke kelas 6 dan langsung mengambil ujian. Namun, kenyataannya saya dimasukkan ke kelas 3. Di dalam kelas saya menjadi rujukan pelajaran bagi teman-teman sekelas, sebab saya sudah memahami semua pelajaran di kelas tersebut. Bahkan seandainya diminta mengajarkannya, saya mampu melakukannya. Perasaan bosan dengan suasana sekolah yang berbeda dengan Maahad Ittiba'u Sunnah membuat saya merasa rindu dengan Maahad Ittiba'us Sunnah. Itulah sebabnya saya hanya bertahan sekitar dua bulan di bangku sekolah Arab itu. Sementara itu, teman-teman orang tua saya menyarankan agar saya kembali ke Maahad Ittiba'u Sunnah Kuala Pilah. Pasalnya, mereka mendengar bahwa Ustadz

belajar

ke

luar

negeri

Hashim A Ghani sudah mempunyai akses untuk mengirim pelajar ke luar negeri. Tanpa berpikir panjang, saya menuruti saran mereka dengan harapan dapat dikirim ke negara Arab untuk melanjutkan pendidikan.
Antara

Pada bulan Desember 1984, adik perempuan saya, Ummu Asma, mengingatkan agar saya melihat hasil keputusan SRP (Sijil Rendah Pelajaran) tingkatan 3 yang diumumkan di sekolah. Namun, saran itu tak saya hiraukan karena sudah telanjur jatuh hati pada pelajaran yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah. Saya pun hanya meminta Ummu Asma untuk melihat dan menginformasikan kepada saya hasil keputusan ujian itu. Saya sudah berniat jauh hari untuk tidak melanjutkan sekolah menengah lagi sehingga saya menolak pindah sekolah ke sekolah menengah di Kuala Pilah sambil belajar di Maahad Ittiba'u Sunnah sebagaimana yang disarankan oleh Ustadz Hashim A Ghani setelah ia mengetahui hasil Ujian SRP saya. Saya katakan kepadanya, jika saya belajar di dua sekolah dalam waktu bersamaan, maka pasti salah satunya akan ketinggalan atau menjadi lemah serta mendapatkan prestasi buruk. Pertimbangan dan keputusan itu tentu berdasarkan ukuran kemampuan yang saya miliki. Maka saya lebih memilih berkonsentrasi pada pelajaran yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah. Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah sekali lagi mengingatkan saya agar tidak menyesal di kemudian hari karena tidak melanjutkan pendidikan ke tingkatan 4, seterusnya ke angkatan 5 untuk mengambil peperiksaan SPM (Sijil Peperiksaan Menengah). Saya katakan kepadanya bahwa saya insya Allah tidak akan menyesal di kemudian hari karena yakin Allah SWT tidak akan membiarkan saya tanpa rezeki dari-Nya. Ternyata saya keliru dengan ucapan itu. Memang benar Allah SWT akan memberikan rezeki kepada semua makhluk ciptaan-Nya di dunia, baik kepada yang Muslim maupun yang non-Muslim. Sedangkan Sijil atau sertifikat hasil ujian itu hanyalah salah satu penyebab dan jalan atau alternatif bagi seseorang mendapatkan rezeki yang sewaktu-waktu diperlukan. Wallahu a’lam. Pada awal tahun 1985, setelah tiga bulan saya menuntut ilmu di Maahad Ittiba'u Sunnah, sekitar 50 orang dari Indonesia datang ke Malaysia. Itulah pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengan orang dari Indonesia. Dijelaskan oleh Mudir Maahad Ittiba'u Sunnah dalam Majelis perkenalan bahwa mereka datang untuk mempelajari sistem pendidikan Islam yang ada di Malaysia, atau yang mereka istilahkan dengan studi banding. Peristiwa inilah yang kemudian kelak diakui oleh Hilmy Bakar Almascaty ketua DPP FPI dalam tulisan opininya di Harian Republika edisi 4 Mei 2004, yang berbunyi "Pada awal 1985, penulis dengan beberapa rekan mahasiswa berkunjung ke Pondok Pesantren ini". Saya melihat kebaikan akhlak serta budi pekerti yang ada pada orang-orang Indonesia itu, terutama setelah saya bertemu dengan Ustadz Abdul Halim di Maahad Ittiba'us Sunnah yang biasa disapa oleh anggota rombongan lain dengan panggilan Abah. Pertama kali saya mengira bahwa orang yang memanggilnya Abah adalah anak beliau, tetapi ternyata bukan demikian. Saya kemudian menyadari bahwa Abah adalah panggilan hormat selaku orang tua. Namun saya tidak terbiasa memanggil beliau dengan panggilan Abah, melainkan
Orang-orang Indonesia pada pandangan pertama

dua

pilihan

sekolah

Ustaz. Belakangan, sekitar tahun 1998, saya baru mengetahui nama beliau di Indonesia adalah Abdullah Sungkar. Saya juga bertemu dengan Ustadz Abdus Somad di Maahad Ittiba'us Sunnah, yang biasa dipanggil oleh orang-orang Indonesia pada waktu itu dengan panggilan Ustadz Abu. Sempat terlintas di pikiran saya mengapa orang-orang Indonesia itu memanggil Ustadz Abdus Somad dengan panggilan Ustadz Abu? Hampir semua orang-orang Indonesia yang bersamanya memanggil beliau dengan nama Ustadz Abu. Baru sekitar tahun 1997 saya mengetahui bahwa kebiasaan mereka di Indonesia memanggil Ustadz Abdus Somad dengan singkatan Ustadz Abu. Sebelum menyeberang ke Malaysia pada awal 1985, di Indonesia beliau lebih dikenal dengan nama Ustadz Abu Bakar Baasyir. Sekali lagi, tulisan opini Hilmy Bakar Almascaty, ketua DPP FPI, di Harian Republika edisi 4 Mei 2004 tentang kehadiran Ustadz Abdus Somad di Maahad Ittiba'us Sunnah, berbunyi: “Di antara yang pernah datang pada saat penulis nyantri (di Maahad Ittiba'u Sunnah) adalah tokoh Muhammadiyah Indonesia, Lukman Harun dan beberapa tokoh gerakan Indonesia, termasuk Abu Bakar Ba'asyir.” Perkenalan saya dengan orang-orang Indonesia pada tahun 1985 itu termasuk antara lain:
1.

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Pak Adung, pada sekitar bulan Juni 2004 setelah beliau ditahan oleh pihak Polri. Saya mendengar langsung penjelasan darinya bagaimana beliau menyembunyikan Noordin M. Top dan Azahari sejak sekitar bulan November 2003. Abu Jibril, melalui media saya mengetahui beliau pernah menjadi tahanan ISA di Malaysia tahun 2001 hingga 2003 / 2004. Pak Solihin. Ustadz Afif, hingga sekarang beliau adalah guru di Ponpes Al-Mukmin Ngruki. Pak Agung, melalui media saya mengetahui beliau sekarang tahanan ISA Malaysia. Feri, melalui media saya mengetahui beliau sekarang tahanan ISA Malaysia. Saiful, (almarhum). Pak Ristan (almarhum).

Ternyata mereka semua adalah para mubaligh yang banyak mengetahui tentang agama Islam (penilaian saya pada waktu itu). Mereka ramah dan suka berbincang tentang agama Islam. Malah di antara mereka ada yang membawa buku-buku bacaan untuk dijual. Kebanyakan buku-buku tentang gerakan Islam, seperti buku tulisan Hasan al-Banna, Ikhwanul Muslimin, buku kisah-kisah perjuangan Mujahidin Afghanistan, buku-buku Jihad Islamiy, buku-buku Aqidah dan Tauhid dan berbagai buku fiqih Ibadah. Saya sering membeli dan meminjam buku-buku dari orang-orang Indonesia itu atau dari ustadz (panggilan kepada sebagian dari mereka). Yang menarik perhatian saya adalah kehidupan sehari-hari mereka yang mengaku sebagai mahasiswa, datang untuk studi banding. Tetapi yang saya heran, setelah beberapa hari mereka menginap di Maahad Ittiba'us Sunnah,

mengapa mereka sampai mencari tempat tinggal dan bekerja, dan bahkan tidak pulang-pulang ke Indonesia? Meskipun pada waktu itu saya baru berumur 15 tahun, namun saya dapat memperhatikan dan mempertanyakan 'keanehan' (menurut saya) yang terdapat pada orangorang Indonesia itu. Ustadz Zainun (guru di Maahad Ittiba'u Sunnah) dan Ustadz Hasyim pernah mengatakan bahwa orang-orang Indonesia ini melarikan diri dari Indonesia. Saya sebenarnya tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh kedua orang guru itu yang kemudian saya anggap sebagai angin lalu. Saya berfikir lebih baik mereka tinggal di Malaysia daripada ditangkap di Indonesia. Tetapi kemudian setelah saya berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan bersama-sama dengan orang-orang Indonesia pada akhir tahun 1987, mereka menjelaskan kepada saya bahwa orang-orang Indonesia yang menyeberang ke Malaysia pada awal tahun 1985 itu adalah orang-orang NII yang berusaha menyelamatkan diri dari ditangkap oleh aparat Indonesia. Kisah pelarian dan penyeberangan orang-orang Indonesia ke Malaysia dikuatkan lagi oleh pengakuan Hilmy Bakar Almascaty ketika berdialog di kantor Majalah Gatra Jakarta pada 25 Mei 2004. Ia menceritakan pengalamannya ketika melarikan diri ke Malaysia secara ilegal pada awal tahun 1985, bersama-sama Ustadz Abu Bakar Baasyir menyeberang dalam satu perahu. Saya heran dengan Hilmy Bakar Almascaty sewaktu acara dialog itu yang menantang untuk bermubahalah (ritual pembuktian kebohongan) untuk membuktikan bahwa saya yang berbohong. Sepengetahuan saya, Hilmy Bakar Almascaty telah melakukan penyelewengan istilah mubahalah dari ayat Allah SWT yang digunakannya. Saya teringat dengan firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 61. Artinya: Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imran: 61).
Pertama

Kata jihad sudah saya kenal sejak di bangku sekolah menengah. Tetapi saya tidak tahu arti jihad yang sebenarnya. Seringkali pada waktu itu saya mengartikan jihad sebagai perang dalam Islam. Ketika mulai belajar di Maahad Ittiba'u Sunnah di Kuala Pilah barulah saya mengerti arti jihad itu melalui penjelasan guru tafsir, Ustadz Hashim A Ghani. Setiap malam saya bersama dua atau tiga orang teman datang ke rumahnya dengan membawa berbagai macam buku bacaan pilihan, di antaranya adalah buku Fiqih Jihad yang berdasarkan kepada ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW tentang jihad. Ustadz Hashim A Ghani memberikan penjelasan dengan sejelas-jelasnya, namun ketika ditanya tentang kewajiban berangkat pergi berjihad ke Afghanistan sampai mengorbankan jiwa sendiri, beliau mengatakan bahwa kewajiban itu sudah dilaksanakan oleh rakyat Afghanistan.

kali

mengenal

kata

jihad

Sementara para pendakwah dari Malaysia (santri Maahad Ittiba'us Sunnah) punya kewajiban untuk menjalankan dakwah di Malaysia. Pada saat itu saya hanya menerima jawaban Ustadz Hashim A Ghani sebagai pendapat pribadi. Tetapi saya keliru ternyata beliau seorang yang bijaksana dan banyak pengetahuannya. Pada waktu yang lain saya menyediakan waktu untuk bersilaturrahmi dengan mendatangi ustadz-ustadz dari Indonesia yang berada di Kuala Pilah untuk menimba ilmu pengetahuan yang tidak saya dapatkan penjelasannya di Maahad. Saya ingin mendengar penjelasan dan berguru dari beberapa orang di luar tenaga pengajar yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah. Di antara ustadz (orang Indonesia) yang pernah saya datangi sambil membawa buku untuk berguru dan meminta penjelasan serta bertanya tentang berbagai macam persoalan agama di Kuala Pilah Malaysia adalah Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad, Ustadz Afif, Ustadz Abu Jibril, Ustadz Solihin, dan Ustadz Saiful (alm). Saya meminta mereka menjelaskan berbagai persoalan agama Islam termasuk permasalahan ibadah sehari-hari dan masalah Jihad Fisabilillah. Di antara mereka juga ada yang menjadi pengajar sementara di Maahad Ittiba'u Sunnah, seperti Ustadz Afif yang mengajar tatabahasa Arab (Nahwu dan Saraf). Kemudian jika Hilmy Bakar Almascaty mengatakan pernah mengajar di Maahad Ittiba'u Sunnah pada tahun 1985 karena dia pelajar senior, sebagaimana pengakuannya dalam tulisan opininya di Republika edisi 4 Mei 2004: “… penulis termasuk santri yang senior, kadang kala ditugaskan untuk menggantikan dosen yang berhalangan…” adalah berbeda dengan apa yang saya alami. Seingat saya dia datang pada awal tahun 1985, sedangkan saya datang ke Maahad Ittiba'us Sunnah pada bulan Oktober 1984. Kemungkinan Hilmy Bakar Almascaty terlupa siapa yang senior dan yang junior. Hilmy hanya mengajar selama beberapa hari saja tentang pengetahuan yang pernah dipelajarinya di Indonesia, bukan mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan di Maahad Ittiba'us Sunnah. Karena itu saya tidak begitu ingat Hilmy Bakar Almascaty yang mengaku pernah mengajar di Maahad Ittiba'us Sunnah dan pelajaran apa yang diajarkannya. Yang jelas bukan pelajaran yang diajarkan oleh Mudir Maahad, Ustadz Hashim A Ghani. Sedangkan Hilmy Bakar Almascaty ketika datang ke Malaysia pada awal 1985, memperkenalkan dirinya dengan nama samaran yaitu Haikal bukan Hilmy. Entah mengapa Hilmy Bakar Almascaty tidak berani memperkenalkan namanya yang benar pada waktu itu, mudah-mudahan bukan berniat untuk berbohong. Di samping mendapatkan penjelasan lisan dari para ustadz yang saya datangi, saya juga banyak membaca buku-buku bacaan berbahasa Indonesia dan berbahasa Malaysia. Buku-buku itu menjelaskan tentang hukum-hukum Jihad dan kisah-kisah Jihad Nabi Muhammad SAW serta para Sahabat-sahabatnya (seperti buku Hayatus Sohabah) Saya juga membaca buku kisah Jihad Mujahidin Afghanistan (di antaranya adalah terjemahan dari bahasa Arab). Buku-buku tersebut saya pinjam atau beli dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Kuala Pilah yang di antara mereka menjual berbagai macam buku bacaan Islamiy.
Tawaran ke Afghanistan

Setelah berhenti dari Sekolah Arab Majidee Johor Bahru (hanya sempat belajar sekitar sebulan atau dua bulan) saya datang kembali ke Maahad Ittiba'u Sunnah. Sebelumnya saya mendengar bahwa ada seorang dari teman saya yang bernama Mat Beduh akan berangkat melanjutkan belajar ke luar negeri, tetapi saya tidak tahu negara yang akan ditujunya. Sekitar bulan September 1987, Pak Ristan almarhum (orang Indonesia yang datang ke Malaysia pada awal 1985) berjumpa saya di Maahad Ittiba'u Sunnah. Dia menanyakan apakah Ustadz Hashim A Ghani telah menyampaikan pesan darinya untuk saya. Saya katakan bahwa saya tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Pak Ristan. Dia kemudian meminta saya menemui Ustadz Hashim A Ghani untuk menanyakan isi pesan yang dimaksudkan. Dengan penuh penasaran saya langsung mendatangi rumah Ustadz Hashim A Ghani sebelum waktu Zuhur. Ustadz Hashim A Ghani tidak langsung menjelaskan pesan dari Pak Ristan yang ingin saya ketahui. Dia berdiam diri agak lama. Baru selepas shalat Zuhur berjamaah di rumahnya dan makan siang bersamanya, Ustadz Hashim A Ghani membuka cerita dengan sebuah pertanyaan kepada saya. Katanya, “kamu mau ke Afghanistan atau ke Perlis?” Dengan cepat pikiran saya terbayang kisah Jihad dan Mujahidin Afghanistan dan juga terbayang kisah teman saya yang dikirim bertugas mengajar di Perlis (salah satu negara bagian di Malaysia). Dalam waktu hitungan detik saya tidak percaya akan tawaran dan pertanyaan yang diajukan kepada saya tersebut. Bagaikan bulan jatuh ke riba dan bahkan tidak percaya; seolah mimpi menjadi kenyataan. Dalam hitungan detik saya teringat bagaimana kisah seorang ustadz dari Maahad Ittiba'us Sunnah yang mengajar di sebuah Maahad besar di Perlis (saya lupa nama maahad itu) lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Sebelumnya saya juga pernah berharap supaya dipilih dan dikirim ke Perlis untuk mengajar di Sana. Saya melihat wajah Ustadz Hashim A Ghani sepertinya mengharap agar saya tetap membantunya mengajar di Maahad Ittiba'u Sunnah atau saya berangkat ke Perlis mengajar di Maahad di sana. Tetapi saya sudah tidak dapat menguasai rasa kegembiraan karena nama Afghanistan telah lebih mendominasi pikiran. Terlebih perasaan hati lebih mendorong untuk berangkat ke Afghanistan sebab rasa ingin tahu dan ingin mengalami sendiri suasana Jihad yang selama ini hanya dapat dibaca di buku-buku dan surat kabar harian saja. Saya sudah membayangkan suasana perang bersama Mujahidin Afghanistan yang akan saya alami sendiri dan juga membayangkan bagaimana memegang senjata api serta mulai merasakan kesedihan yang kemungkinan saya tidak akan kembali lagi ke Malaysia karena gugur di medan pertempuran. Menurut Ustadz Hashim A Ghani, seluruh pembiayaan ditanggung oleh Ustadz Abdul Halim. Saya hanya perlu mempersiapkan diri dan mental untuk berjauhan dari keluarga dalam tempo waktu yang lama. Kemudian saya minta izin kepada Ustadz Hashim A Ghani untuk pulang ke Johor Bahru guna menemui orang tua dan meminta izin untuk berangkat ke Afghanistan. Saya tidak boleh berangkat tanpa pamit kepada orang tua; cara saya selama ini untuk meminta pandangan dan izin dari orang tua, yaitu ayah saya. Keinginan untuk keluar negeri akan menjadi kenyataan seandainya saya menerima tawaran ke Afghanistan, tetapi seandainya tawaran itu ditolak belum

tentu akan ada tawaran kali kedua. Terlebih lagi orang tua saya tergolong kurang mampu untuk mengeluarkan biaya guna melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saya pun berpikir ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilepaskan begitu saja. Orang tua saya menerima kenyataan dengan tenang setelah mendengar penjelasan tentang rencana keberangkatan saya ke luar negeri, yaitu Afghanistan. Saya katakan bahwa biaya keberangkatan akan ditanggung oleh Ustadz Abdul Halim, mubaligh asal Indonesia yang juga dikenal orang tua saya. Orang tua saya memberi dukungan moral sepenuhnya dan mendoakan keberhasilan saya di Afghanistan. Niat saya hanyalah ingin bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan membela dan mempertahankan tanah air mereka yang menurut berita yang tersebar pada waktu itu, dikuasai oleh tentera Rusia. Sebenarnya saya bukanlah orang yang punya kemampuan lebih untuk membantu Mujahidin Afghanistan. Apatah lagi umur saya pada waktu itu baru meningkat delapan belas tahun, tetapi semoga dengan kehadiran saya dapat menambah jumlah pasukan Mujahidin Afghanistan. Tiada bekal materi yang dibawa dari rumah melainkan hanyalah bekal doa restu dari ayah. Sementara ibu tidak mengerti tujuan saya ke Afghanistan. Ia hanya mengetahui saya kembali ke Kuala Pilah dan mendoakan selamat tiba di Kuala Pilah. Saya tidak sampai hati memberitahu ibu akan tujuan yang telah dipilih sebab saya khawatir ibu akan merasa sedih. Belakangan ibu hanya mengetahui bahwa saya belajar di Pakistan.
Persiapan

Hanya beberapa hari saja (sekitar awal Oktober 1987) berada di rumah orang tua saya di Johor Bahru yang kemudian saya kembali ke Kuala Pilah menemui Pak Ristan. Saya menyatakan kesiapan diri untuk berangkat dan memberitahukan sudah pamit kepada orang tua. Saya kemudian disuruh pergi ke rumah Saiful (alm) di Kuala Pilah untuk bergabung dengan empat belas orang yang dikatakan akan berangkat bersama-sama ke Afghanistan. Ternyata di rumah itu juga ada orang yang saya kenal dengan baik yaitu Mat Beduh (orang Malaysia) yang juga ikut serta di dalam rombongan saya untuk berangkat ke Afghanistan. Barulah saya ingat bahawa Mat Beduh yang kabarnya mendapatkan peluang melanjutkan pendidikan ke luar negeri itu adalah sebenarnya akan berangkat ke Afghanistan. Saya gembira sebab bukan saya sendiri dari warganegara Malaysia yang akan berangkat. Namun saya tidak mengerti ketika teman-teman Indonesia satu rombongan yang akan berangkat itu mengatakan bahwa kami berdua adalah orang Malaysia pertama yang akan diikutsertakan dalam program Jihad ke Afghanistan. Saya tidak mempertanyakan lebih mendalam mengapa hanya kami berdua orang Malaysia. Sementara tiga belas orang yang lain dari Indonesia dan mengapa kami berdua adalah orang pertama yang dipilih dan ditawarkan untuk berangkat ke Afghanistan. Bagi saya yang paling penting adalah saya dapat berangkat dan menginjakkan kaki di Afghanistan. Kalau saya banyak bertanya dan cerewet (rewel) kemungkinan akan digugurkan dari rombongan (yang akan berangkat) maka sikap yang lebih baik adalah ikuti saja apa yang telah ditetapkan oleh Pak Ristan. Meski sudah saling berkenalan dengan teman-teman yang nantinya menjadi satu

keberangkatan

ke

Afghanistan

rombongan dengan saya, tidak terlintas di pikiran untuk menanyakan kelompok apakah mereka yang datang dari Indonesia ini? Siapakah yang memberangkatkan mereka? Apakah tujuan mereka berangkat? Dari manakah biaya ongkos perjalanan didapatkan? Rasa kegembiraan yang timbul karena dapat berangkat bersama-sama menutupi semua keraguan dan kecurigaan sampai-sampai tidak perlu menanyakan lagi yang macam-macam dan juga kalau dapat secepat mungkin diberangkatkan lalu esoknya tiba di Afghanistan. Dalam hari-hari menunggu keberangkatan, saya dinasihati agar tidak memberitahu kepada sesiapapun tentang rencana pemberangkatan ke Afghanistan serta tidak memberitahu akan keberadaan tiga belas orang Indonesia yang akan menjadi satu rombongan. Saya tidak diberitahu alasan mengapa harus menutup mulut untuk tidak menceritakan kepada siapa saja. Pak Ristan mengingatkan jika rencana pemberangkatan diketahui banyak orang, maka ada kemungkinan akan digagalkan. Saya mencoba memahami apa yang dimaksudkan harus menjaga rahasia, yaitu supaya pemberangkatan nanti ke Afghanistan tidak akan ada halangan yang melintang. Inilah pengalaman pertama saya menghindari berbagai pertanyaan teman-teman di Kuala Pilah serta mengalihkan perhatian mereka terhadap saya yang akan berangkat ke Afghanistan. Dengan kata lain saya mulai diajar berbohong untuk membela kepentingan suatu kelompok (rombongan yang akan berangkat) bukan bohong untuk kepentingan diri sendiri. Ternyata Pak Ristan juga bukan nama yang biasa dikenal di Indonesia, menurut teman-teman serombongan saya mengatakan bahwa nama Ristan adalah kebalikan dari nama Natsir, yaitu namanya di Indonesia. Beliaulah yang mengatur proses pemberangkatan orang-orang NII ke Pakistan lewat Malaysia di bawah pengaturan Ustadz Abdul Halim. Dan beliau jugalah yang memberikan saya nama Sulaiman yang menurutnya setiap orang yang akan berangkat ke Afghanistan harus mengubah nama. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada masa mendatang. Inilah pengalaman saya pertama kali harus mengubah nama. Saya tidak membantah sebab jika memang mengubah nama termasuk persyaratan berangkat ke Afghanistan.
Berbaiat

Pada malam hari sebelum hari keberangkatan ke Subang, Kuala Lumpur, kami semua sebanyak lima belas orang yaitu rombongan yang akan diberangkatkan ke Afghanistan berkumpul di rumah Pak Ristan di Serting Negeri Sembilan. Kami semua duduk membentuk sebuah halaqah (bundaran) bersama Pak Ristan, kemudian tidak berapa lama datang Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad dan Ustadz Hashim A Ghani. Majelis pertemuan dimulai dengan pembukaan oleh Pak Ristan dan kemudian satu persatu dari rombongan yang akan diberangkatkan maju ke hadapan duduk menghadap Ustadz Abdul Halim dengan berjabat tangan sambil menyebutkan kata-kata pendek yang saya tidak begitu ingat susunan tepatnya. Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia ini dan ritual apakah yang sedang berlangsung di hadapan mata saya sebab kebanyakan di antara mereka menangis ketika berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim sambil menyebutkan kata-kata (yang kemudian setelah berada di Afghanistan barulah saya mengetahui bahawa pratik itu adalah berbaiat).

sebelum

berangkat

ke

Afghanistan

Sebelum tiba giliran saya, sempat terdetik di hati saya untuk tidak melakukan hal yang sama, yaitu berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim. Masalahnya, saya tidak pernah melihat guru saya, Ustadz Hashim A Ghani, Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah, menyuruh atau mengajarkan praktik itu kepada saya rnaupun murid-muridnya yang lain. Pak Ristan juga tidak pernah memberitahukan bahwa akan dilaksanakan upacara berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim sebelum berangkat. Tetapi saya berpikir kembali jangan sampai karena tidak melakukan berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim akan menyebabkan saya tidak diberangkatkan ke Afghanistan. Karena itu, saya anggap kecil urusan berjabat tangan itu; bukanlah satu hal yang berat kalau hanya sekadar berjabat tangan. Lagipun prosesi itu tidak lebih dari tiga menit sudah selesai. Seingat saya, perkataan yang saya ucapkan ketika berjabat tangan adalah “Aku berbaiat untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang dan susah” atau dalam bahasa Arabnya “Baya’tuka ‘alas sam’i wat thoah fil ‘usri wal yusri.” Setelah selesai semua peserta yang akan berangkat mendapatkan giliran masing-masing berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim lalu beliau menyampaikan sedikit wejangan sebagai bekal di hati.
Berangkat

Keesokan harinya, pada pertengahan bulan Oktober 1987, kami semua berlima belas orang diantar Pak Ristan dengan menaiki mobil menuju ke perumahan di Subang, Kuala Lumpur. Kami singgah di salah satu ruko (rumah toko) sambil menunggu jam penerbangan. Di antara mereka, saya adalah orang yang paling sedikit membawa pakaian dan membawa tas paling kecil, sampai-sampai saya ditertawakan teman serombongan. Saya heran niengapa teman-teman semua membawa baju banyak dengan jaket yang tebal-tebal. Saya memang tidak pernah melihat orang-orang Afghanistan seperti yang dipublikasikan di surat kabar, majalah, dan televisi memakai pakaian seperti orang-orang di Malaysia maupun Indonesia. Pastinya pakaian yang dikenakan nanti akan disesuaikan dengan para pejuang Afghan, supaya tidak kelihatan asing. Kemudian saya juga heran mengapa teman-teman membawa peralatan tulis dan juga peralatan geometris; bukankah rombongan ini akan berangkat perang? Yang tak kalah mengherankan lagi, mengapa mereka membawa kamus InggrisIndonesia, Indonesia-Inggris, dan kamus Arab. Dalam pikiran saya, apakah ada waktu untuk belajar sedangkan waktu akan disibukkan dengan perang. Ya sudahlah, yang penting saya dapat berangkat. Saya tidak peduli dengan urusan orang yang membawa banyak barang, itu adalah urusan mereka, yang memikul beban juga mereka sendiri. Kemungkinan juga saya salah melakukan persiapan. Tetapi tidak mungkin sebab Pak Ristan tidak pernah menyuruh mempersiapkan perlengkapan itu semua. Pesawat yang dinaiki adalah pesawat Aeroflot, yaitu penerbangan (maskapai) milik negara Rusia. Inilah pengalaman pertama kali menaiki pesawat, begitu juga teman-teman serombongan. Kemudian saya berpikir apakah tidak keliru kami semua dinaikkan ke pesawat Rusia. Bagaimana kalau mereka tahu bahwa kami semua akan berangkat ke Afghanistan menghadapi pasukan tentara negara Rusia, pasukan tentara negara mereka? Syukurlah mereka tidak mengetahui. Kemudian belakangan saya mengetahui dari teman-teman bahwa pemilihan pesawat Aeroflot adalah karena tiket penerbangannya lebih murah

ke

Pakistan

dibandingkan

dengan

pesawat

yang

lain.

Pesawat berangkat dari Airport Subang, Kuala Lumpur, menuju Pakistan yang kemudian mendarat di Karachi. Setibanya di Airport Karachi, kami dijemput oleh orang Indonesia yang fasih berbahasa Pakistan (belakangan saya ketahui bahasa itu adalah bahasa Urdu dan Parsi). Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Saad. Kami semua dibawa ke sebuah rumah yang disebut Maehmon Khana (bahasa Afghan) yang bermakna rumah tamu atau ruang tamu. Rumah itu milik Tanzim Ittihad-e-Islamiy (salah satu organisasi Mujahidin Afghanistan) yang dipersiapkan untuk urusan organisasi Tanzim Ittihad-e-Islamiy di Karachi bagi menjemput para tetamu Mujahidin yang mendarat di Karachi Pakistan. Dalam perkenalan di Maehmon Khana saya mengetahui bahwa Pak Saad adalah orang yang sudah lama di Pakistan dan Afghanistan. Dia berbicara dengan orang-orang Afghan yang berada di rumah itu dengan menggunakan bahasa setempat, sangat menakjubkan sekali. Beliau sudah berada di Pakistan dan Afghanistan sejak akhir 1984 atau awal 1985. (Belakangan saya ketahui sekitar tahun 2002 bahwa Pak Saad biasa dipanggil oleh teman-temannya di Indonesia dengan nama Abu Hadid. Tetapi ketika kasus Bom Bali 12 Oktober 2002 ternyata nama yang tertera di berita adalah Ahmad Roichan).
Harus

Keesokannya dari kota Karachi kami berangkat menuju Peshawar dengan menaiki bus yang memakan waktu dua malam. Kemudian saya dan temanteman dibawa Pak Saad ke perkampungan Muhajirin (pengungsi) Afghanistan di Pabbi, yaitu sebuah kawasan luas bertanah gersang di Pakistan. Di sana kami ditempatkan di sekolah menengah militer milik Tanzim Ittihad-e-Islamiy yang menurut bahasa Afghan dinamakan Harbiy Sohanjay. Rasa sedih dan rasa simpati timbul memuncak ketika melalui kemah-kemah muhajirin yang memprihatinkan dan bangunan-bangunan yang dibangun dari tanah dan tumpukan batu untuk tempat tinggal kebanyakan para muhajirin Afghanistan. Perasaan kasihan membangkitkan semangat untuk membela nasib umat Islam Afghanistan yang terusir dari kampung halaman mereka. Ketika tiba di Harbiy Sohanjay, saya mendengar suara sorakan kegembiraan dan seruan takbir dari orang-orang yang sebangsa dan serumpun yaitu yang berbeda dari orang Afghan. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang telah lama berada di Afghanistan dan Pakistan. Sebagian dari mereka langsung memeluk teman serombongan saya, sepertinya mereka sudah saling kenal ketika di Indonesia dan bahkan di antara mereka menggunakan bahasa yang asing bagi saya yang belakangan saya ketahui bahwa bahasa itu adalah bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan ada juga yang menggunakan bahasa Lombok. Saya dan Mat Beduh terkadang tertawa dan tersenyum sendiri sebab kami anggap lucu dan kami berdua tidak begitu paham dengan bahasa orang Indonesia itu. Tetapi jika mereka berbicara dengan kami berdua, mereka menggunakan bahasa Nasional Indonesia. Saya dan Mat Beduh disambut oleh mereka dengan gembira kerena kami berdua adalah orang Malaysia yang pertama datang ke situ. Semua ingin berkenalan dan mengajukkan (menirukan) bahasa Malaysia seolah-olah di antara mereka pernah tinggal di Malaysia. Saya perhatikan setiap gerak, tingkah, dan mendengarkan orang-orang Indonesia yang saling menanyakan kabar kampung

belajar

dan

berlatih

halaman mereka (Indonesia). Belakangan saya tahu bahwa mereka sudah hampir tiga tahun tidak pulang kampung, betapa rindunya mereka dan betapa gembiranya mereka ketika bertemu dengan orang Indonesia yang baru datang. Mereka adalah angkatan kedua (Daurah Duwom, untuk Akademi Milker Mujahidin Afghanistan) yang diberangkatkan ke Afghanistan pada tahun 1985 yang berjumlah sekitar 59 orang. Mereka juga bercerita tentang alasan yang diberikan kepada keluarga mereka di saat akan berangkat ke Afghanistan. Ada di antara mereka yang memberikan alasan belajar ke negara Arab Saudi sehingga mereka harus mencari kesempatan belajar bahasa Arab di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Dan ada di antara mereka yang beralasan bekerja di Malaysia sehingga mereka mengambil kesempatan menabung dari hasil uang honor yang didapatkan setiap bulan. Bentuk fisik mereka semua tidak sama, ada yang kecil, ada yang gemuk, ada yang kelihatan kurus, jarang sekali yang bertubuh tegap seperti militer. Di Harbiy Sohanjay inilah (akhir 1987) pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengan orang yang bernama Mukhlas (ia menikah dengan adik perempuan saya pada tanggal 1 Juli 1990 di Johor Bahru Malaysia). Mukhlas menikah bukan karena kedekatan hubungan keluarga istrinya dengan para TKI sebagaimana yang di jelaskan oleh Hilmy Bakar Almascaty ketua DPP FPI dalam tulisan opininya di Koran Republika edisi 4 Mei 2004, “… alumni PP Al-Mukmin, Ngruki, yang bekerja sebagai TKI ataupun pengajar di Malaysia seperti Mukhlas (Ali Ghufron) yang akhirnya menikah dengan saudara perempuan Nasir…” Tetapi pernikahan itu terjadi karena orang tua saya yang berkenan dengan akhlak dan budi pekertinya yang bagus serta kemampuannya yang cemerlang dalam memahami agama Islam, dan lagi pula dalam satu jamaah (waktu itu dalam jamaah NII). Mukhlas adalah ustadz yang hebat dalam ilmu pengetahuan Islam dan paling rasional yang pernah saya kenal pada waktu itu. Saya bangga Mukhlas menikah dengan adik saya itu, sampai-sampai saya disuruh pulang ke Malaysia menghadiri majelis pernikahannya untuk meyakinkan adik saya bahwa Mukhlas adalah teman saya yang sepaham dan satu perjuangan di Pakistan dan Afghanistan (saya hanya sempat sebulan di Malaysia antara Juni dan Juli 1990 lalu kembali ke Afghanistan). Saya tidak pernah dan tidak akan menyesal Mukhlas menikah dengan adik saya itu. Adik saya telah mendapatkan suami yang terbaik untuk dirinya, tiada yang dapat sebanding Mukhlas selaku suami kepada adik saya itu. Sebagai suami, ia adalah seorang suami yang teladan di sebagian hal. Hilmy Bakar Almascaty bukan dari kalangan keluarga saya, jadi saya mengira baginya adalah lebih baik tidak berbicara daripada bercerita yang tidak diketahuinya dan menurut saya adalah kurang pantas baginya membicarakan urusan keluarga saya karena beliau tidak mengerti urusan dalaman keluarga saya. Sekitar bulan November atau Desember 2002, barulah saya mengetahui nama Mukhlas melalui media adalah Ali Ghufron. Mukhlas sendiri menyatakan pengakuannya kepada saya pada sekitar akhir bulan Oktober 2002 di rumah kontrakannya di Gresik bahwa beliau dan adik-adiknya yang melakukan pemboman di Bali tanggal 12 Oktober 2002 itu. Saya tidak meragui kemampuan Mukhlas dan adik-adiknya (seperti Ali Imran) karena mereka memang sudah pernah mendapatkan pendidikan kemiliteran di Afghanistan. Hanya saya merasa

cukup kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa, sebab sasaran pemboman mereka itu di luar kebiasaan pertempuran. Dan di Harbiy Sohanjay ini kami (rombongan angkatan saya) diingatkan untuk mengaku berasal dari Filipina jika ditanya oleh orang-orang Afghan atau orangorang Arab, alasannya sebagai cover yaitu berselindung, tanpa membantah kami semua mentaati aturan itu. Dan disini juga (akhir 1987) saya berkenalan dengan orang-orang seangkatan Mukhlas yang berjumlah 59 orang dari angkatan kedua Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (Daurah Duwom). Mereka antara lain:
1.

2.

3.

4.

5.

6. 7.

8. 9. 10.

Hamzah. Waktu itu ia masih bujang, tetapi setelah menikah di Indonesia dan mempunyai anak laki-laki, lalu ia biasa dipanggil dengan nama Abu Rusdan yang berarti bapaknya Rusdan. Diketahui namanya Ustadz Thoriqudin setelah beliau ditahan oleh Polri pada sekitar bulan April 2003 yang dicurigai menyembunyikan informasi pelaku Bom Bali. Mustapha. Waktu itu ia masih bujang tetapi setelah mempunyai anak di Indonesia yang bernama Tolut, maka ia memperkenalkan dirinya dengan nama Abu Tolut. Pada sekitar akhir tahun 1999 ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Mindanao, Filipina Selatan, ia memperkenalkan dirinya dengan menggunakan nama Hafid Ibrahim yang berarti cucunya Ibrahim. Kemudian saya mengetahui namanya Pranata Yuda melalui media setelah ia ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api di rumahnya. Muhammad Qital. Waktu itu ia masih bujang, tetapi sekitar tahun 1999 ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Mindanao Filipina Selatan, dia memperkenalkan dirinya dengan nama Humam atau Abu Humam karena memiliki anak lelaki yang bernama Humam. Kemudian setelah ditahan oleh Polri pada tahun 2004 barulah saya mengetahui namanya Adi Suryana. Menurut kabar yang saya terima ia dicurigai melakukan perencanaan bom. Ustadz Mustaqim, atau dikenal juga di Malaysia dengan nama Abu Hawari (karena anaknya bernama Hawari) dan dengan nama Muzayyin di Indonesia yang sekarang adalah salah seorang guru di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki. (Saya tidak tahu kalau dia sudah berhenti mengajar di Ponpes itu). Pernah menggunakan nama Ustadz Muslih Ahmad ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Filipina pada tahun 1998-1999, selaku ketua kamp Hudaybiyah dan ketua Akademi Militer Al-Jamaah AlIslamiyah bagi semester I angkatan pertama. Wahyudin, dikenal juga dengan nama Muhammad Yunus ketika melaksanakan tugas sebagai salah seorang instruktur di Kamp Hudaybiyah pada akhir tahun 1999 hingga pertengahan tahun 2000. Ikhsan Miarso. Mukhlas, dikenal juga dengan nama Abu Zaid di Malaysia dan dikenal dengan nama Ali Ghufron di Indonesia. Mengaku merencanakan dan melaksanakan aksi pemboman di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Fahim, sewaktu itu masih bujang dan saya mengetahui namanya Usman setelah ditahan oleh pihak Polri pada sekitar bulan Juni 2004. Zaid, yang juga dikenal dengan nama Samean. Nasrullah.

11. Shamsudin. 12. Syakir, sekitar tahun 2003 baru saya mengetahui namanya Abu Faruq

13.

14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28.

atau Utomo, setelah di tahan oleh pihak Polri yang menurut kabar dicurigai terlibat perencanaan bom. Faruq, sekitar tahun 2003 saya mengetahui namanya Surono setelah ditahan oleh pihak Polri yang menurut kabar diduga terlibat pemilikan amonisi. Usman, sekitar April 2003 ditahan oleh Polri dan divonis di Surabaya atas kasus pemilikan senjata api. Ziad. Saiful, dikenal dengan nama Bambang Setiono ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2002 atas kasus menyembunyikan pelaku Bom Bali. Jibril. Zaid, yang juga dikenal dengan nama Nur. Abdul Hakim. Idris. Abdus Salam. Mukmin. Firdaus. Fazlul Ahmad. Naim. Maskur. Syuja. dan lainnya yang saya lupa nama mereka. mengurusi orang-orang Indonesia di Peshawar adalah diganti oleh Zulkarnain sebagai mas’ul (ketua) orangdan Afghanistan. Zulkarnain pulang ke Indonesia dan Isttinya ke Peshawar pada sekitar 1988/1989.

Kemudian orang yang Utbah yang kemudian orang NII di Pakistan kembali membawa

Sementara angkatan pertama (Daurah Awal) dari anggota NII berjumlah hanya 5 orang di tempat pendidikan Akademi Milker Mujahidin Afghanistan. Mereka adalah Syawal (pernah ditahan oleh Polri di Manado pada sekitar akhir tahun 1999 atau awal 2000 atas kasus pemilikan senjata api), Zulkarnain, Mohamad Faiq, Idris alias Solahudin dan Saad alias Ahmad Roichan. Mereka lebih senior setahun dari angkatan Mukhlas di antara orang-orang NII yang berada di Afghanistan pada waktu itu. Ada satu perkataan yang menarik perhatian saya di Harbiy Sohanjay ketika mendengarkan orang-orang Indonesia saling berbicara antara satu sarna yang lain yaitu perkataan Pohantun. Setiap kali perkataan Pohantun disebut, mereka akan berbicara tentang belajar dan berlatih. Pada awalnya saya tidak ingin memperhatikan apa yang mereka bicarakan sebab apa yang ada dalam benak saya adalah kapan saya dan yang lain akan diberangkatkan ke medan pertempuran, hanya itu saja yang ditunggu-tunggu. Tetapi oleh kerana perkataan Pohantun semakin sering kedengaran di telinga ketika hari-hari menantikan acara atau tujuan berikutnya sehingga memancing saya untuk bertanya. Sebab seolah-olah Pohantun adalah tempat yang akan kami tuju. Salah seorang di antara mereka belakangan saya ketahui bahwa dia adalah angkatan Mukhlas yang sudah lulus belajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan bagi angkatan kedua (Daurah Duwom, bhs Parsi) menjelaskan

kepada saya dan Mat Beduh. Menurutnya, nanti saya dan teman-teman serombongan akan diberangkatkan ke sebuah tempat pelatihan yang dinamakan Harbiy Pohantun tetapi lebih sering dipanggil Pohantun saja. Harbiy Pohantun berarti Akademi Militer, sedangkan Pohantun berarti Akademi. Anak-anak Afghan yang telah tamat pendidikan dan lulus ujian di Harbiy Sohanjay (Sekolah Menengah Milker) akan melanjutkan pendidikan ke Harbiy Pohantun (Akademi Militer). Keberadaan orang-orang Indonesia di Harbiy Sohanjay pada waktu kedatangan saya dan rombongan adalah sebagai tempat penginapan sementara, sebelum mereka (yang sudah selesai berlatih di Akademi Militer, Daurah Duwom angkatan kedua) dikirim pulang ke Malaysia atau ke Indonesia. Tempat itu juga dijadikan penginapan sebelum saya serta rombongan diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil ke Harbiy Pohantun (Akademi Militer), yaitu tempat pendidikan yang sebenarnya bagi orang-orang Indonesia yang bercampur dengan orang Afghan. Lama waktu pendidikan di Harbiy Pohantun adalah selama tiga tahun. Mendengar penjelasan tentang tempat pendidikan itu, jiwa saya menjadi lemah dan perasaan menjadi tidak bersemangat. Begitu juga Mat Beduh langsung termenung memikirkan betapa lamanya harus belajar sebelum dapat pergi bertempur di medan pertempuran. Apalagi Mat Beduh sudah berkeluarga dan jauh lebih tua, dua kali umur saya. Timbul rasa kekecewaan dalam diri saya dan ingin menyalahkan orang-orang yang tidak memberi penjelasan dengan sejelasjelasnya sebelum berangkat dari Malaysia. Tak heran jika teman-teman serombongan saya membawa berbagai macam perlengkapan belajar dan alat tulis, karena mereka sudah mengetahui lebih dulu akan tujuan keberangkatan mereka sejak dari di Indonesia. Terlebih lagi untuk berlatih di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Saya tidak siap belajar di sebuah kampus pendidikan seperti Akademi, saya sudah meninggalkan bangku sekolah sejak akhir tahun 1984 dan sekarang akhir 1987 (apalagi Mat Beduh yang sudah berumur) disuruh masuk ke Akademi untuk belajar selama tiga tahun. Padahal saya juga sudah lama meninggalkan matematika dan geografi, dua pelajaran yang sangat berat bagi saya sewaktu di sekolah menengah dulu. Belum lagi bahasa Indonesia yang tidak dipahami dengan banyaknya istilah-istilah asing. Dan menurut mereka, yang akan mengajar serta melatih adalah orang Indonesia. Saya dan Mat Beduh merasa dibohongi, sebab tawaran awal berangkat ke Afghanistan adalah untuk berjihad membela umat Islam Afghanistan, sedangkan kami berdua tidak dijelaskan harus belajar dan berlatih untuk jangka waktu yang lama. Kemudian orang-orang Indonesia yang senior itu membujuk saya dan memberikan nasihat untuk bersabar dan juga menasihati bahwa harus memiliki ilmu sebelum `beramal. Demikian juga untuk berperang ke medan pertempuran haruslah mempunyai ilmu pertempuran. Saya coba menenangkan diri dengan menerima nasihat dan siap untuk belajar serta berlatih. Sekali lagi saya berpikir jangan sampai dengan tidak mengikuti program untuk belajar di Akademi Militer akan dipulangkan ke Malaysia selanjutnya musnahlah impian untuk berjihad bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan. Maka kalaulah dengan belajar di Akademi Militer itu adalah sebagai syarat boleh ikut berjihad dan berperang di medan pertempuran maka lebih baik saya bersabar sehingga dapat berperang bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan.

Akademi (Harbiy

Pemberangkatan saya dan rombongan dari Harbiy Sohanjay menuju ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan diatur oleh orang-orang Indonesia yang bertugas seperti Utbah, Saad, dan Zulkarnain yang mengurus semua orang-orang Indonesia di Pakistan dan Afghanistan. Mereka tidak tinggal di Harbiy Sohanjay, tetapi di sebuah rumah, di perumahan Pabbi, yaitu kawasan Muhajirin yang mereka sebut 'Perwakilan'. Dengan kata lain mereka adalah sejumlah orang yang dipilih untuk bertugas setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Sayangnya teman saya satu-satunya orang Malaysia, Mat Beduh, hanya sempat berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan, sekitar sebulan saja. Tidak diketahui dengan jelas alasan dipulangkannya ke Malaysia. Ada kabar bahwa Mat Beduh tidak tahan dengan sistem yang ada di Akademi Militer, sebab fisiknya yang tidak mendukung. Namun ada juga kabar bahwa Mat Beduh tidak cocok (tidak serasi) dan tidak sepaham dengan orang-orang Indonesia yang berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu. Kebenaran alasan kembalinya Mat Beduh ke Malaysia hanya dia sendiri yang lebih tahu. Memang Mat Beduh ada kalanya mengeluhkan kepada saya rasa tidak nyamannya terhadap sikap dan perilaku orang-orang Indonesia. Menurut pengamatan saya secara pribadi memang budaya, kebiasaan, dan paham yang dimiliki oleh orang Malaysia dengan orang Indonesia terdapat perbedaan, baik dari segi penggunaan bahasa, selera rasa lidah, pendidikan, maupun ideologi. Tetapi bagi saya berbagai macam perbedaan itu seharusnya tidak perlu menjadi masalah sebab manusia adalah makhluk Tuhan teristimewa yang seharusnya dapat beradaptasi dengan lingkungan. Bagi saya perbedaan itu tidak memberi beban pikiran. Saya mengambil sikap untuk cepat beradaptasi sehingga cepat memahami pelajaran yang diberikan dengan bahasa Indonesia. Di samping juga supaya saya dapat bergaul dengan baik sehingga tidak merasa asing di tengah-tengah orang Indonesia dan malah seolah-olah saya menjadi seperti, tidak ada bedanya. Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah milik organisasi Tanzim Ittihad-eIslamiy Afghanistan di bawah pimpinan Prof Ustadz Abdur Robbir Rasul Sayyaf. Tanzim Ittihad-e-Islamiy adalah salah satu dari tujuh organisasi orang-orang Afghan yang berjuang di Afghanistan hingga Kabul, ibukota Afghanistan, jatuh di tangan Mujahidin sekitar tahun 1992 (pada masa itu belum ada organisasi atau kelompok yang menamakan diri mereka Taliban). Kawasan Akademi Militer yang pertama adalah terletak di Pabbi, Peshawar, Pakistan, yaitu di sekitar lokasi penampungan para Muhajirin (pengungsi) dan Mujahidin Afghanistan. Setahun kemudian, sekitar tahun 1986 Akademi Militer berpindah ke perbatasan, yaitu di Sadda Pakistan berdekatan dengan Paracinar atau perbatasan dengan Khowst Utara (Shamali Khowst). Akademi Militer itu pada asalnya adalah untuk anak-anak Afghan yang dididik dan dilatih untuk menjadi komandan pasukan dan orang lapangan yang akan mengendalikan peperangan di medan pertempuran Afghanistan dalam menghadapi tentara Rusia atau pemerintah Komunis Kabul yang dipimpin oleh

Militer Mujahidin Pohantun Mujahidin-e-Afghanistan

Afghanistan Ittihad-e-Islamiy)

Najibullah, Presiden Afghanistan. Karena situasi di tanah Afghanistan pada waktu itu dalam kondisi peperangan, maka sangat tidak kondusif untuk diadakan sebuah kamp pelatihan atau tempat pembelajaran seperti sebuah Akademi Militer. Maka, Tanzim Ittihad-e-Islamiy mendirikan Akademi Militer di tanah Pakistan atas izin pemerintah Pakistan waktu itu di tempat yang aman dan tidak terganggu oleh suasana peperangan. Lokasi Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu terletak di sebuah lembah di perkampungan Kheldan Sadaa Pakistan berdekatan dengan perbatasan ke Afghanistan yaitu Khowst Utara. Perjalanan menuju ke Akademi Militer itu harus menaiki kendaraan angkutan darat dari Peshawar Pakistan yang mengarah ke Parachinar Pakistan. Menurut keterangan para instruktur berketurunan Afghan yang pernah mengikuti pendidikan di Akademi Militer India, bahawa sistem pelajaran yang diterapkan di wilayah Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ini sama seperti Akademi Militer yang lain. Para instruktur senior yang bertugas di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu semuanya adalah bekas komandan-komandan tentara pemerintah Afghanistan yang berpihak kepada Mujahidin di bawah organisasi atau Tanzim Ittihad-e-Islamiy Afghanistan. Ada juga di antara instrukturnya yang bukan lulusan Akademi Militer India yaitu instruktur junior yaitu pilihan terbaik dari lulusan angkatan pertama (1986) dan lulusan angkatan kedua (1987) Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang di antara mereka adalah orang-orang Indonesia. Tetapi, para instruktur orang-orang Indonesia itu tidak mengajar siswa Afghan. Mereka hanya mengajar dan melatih orang-orang Indonesia saja. Padahal orang-orang Indonesia angkatan pertama dan kedua menerima pendidikan dan pelatihan dari instruktur berketurunan Afghan, hanya saja kelas pembelajarannya tidak bercampur dengan orang Afghan sebab penggunaan bahasa yang berbeda ketika mengajar. Di dalam kelas, orang-orang Afghan menggunakan bahasa Poshtun atau bahasa Parsi. Sementara itu, instruktur Afghan yang mengajar orang-orang Indonesia menggunakan bahasa Inggeris. Kemudian ketika instruktur pelantikan baru mulai mengajar yang terdiri atas orang-orang Indonesia pilihan dari lulusan angkatan pertama (lulusan 1986, disebut Daurah Awwal) dan angkatan kedua (lulusan 1987, disebut Daurah Duwom), mereka menerjemahkan buku pelajaran dari bahasa Inggris kepada bahasa Indonesia supaya angkatan berikutnya dapat memahami pelajaran dan pelatihan dengan baik. Kebijakan ini diambil karena sangat sedikit sekali orang Indonesia yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang memahami bahasa Inggeris. Beruntunglah saya dan angkatan serombongan saya yang diajar dan dilatih oleh orang-orang Indonesia, membuat pendidikan saya dan teman-teman seangkatan menjadi lebih efektif. Saya dan teman-teman serombongan (lulusan tahun 1990) masuk dalam angkatan kelima yang disebut Daurah Phanjum dalam bahasa Parsi di Akademi Militer itu. Akademi Infantery Fakultas Fakultas Militer Mujahidin Afghanistan memiliki lima fakultas, yaitu Fakultas (Pohanzay Piyadah), Fakultas Engineering (Pohanzay Engineering), Artillery (Pohanzay Tupciy), Fakultas Logistic (Pohanzay Logistik), Communication (Pohanzay Mukhobarat) dan Fakultas Kavalery

(Pohanzay Zahridor). Semua siswa keturunan Afghan dibagi ke semua fakultas dan mereka mendapatkan pendidikan sesuai bidang fakultas yang ditetapkan kepada mereka. Sementara orang-orang Indonesia tidak mengkhususkan pendidikan pada fakultas tertentu yang ada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tersebut. Pendidikan yang diberikan bersifat umum, tetapi lebih berkonsentrasi kepada pelajaran Infantery. Kamar barak istirehat bagi siswa orang-orang Indonesia digabungkan dengan siswa orang Afghan yang dipisah-pisahkan ke semua fakultas. Angkatan saya dibagikan ke barak fakultas yang berbeda, di mana saya dan beberapa siswa Indonesia yang lain mendapat bagian tinggal di barak fakultas Artillery (Pohanzay Tupciy) yang dipimpin oleh komandan Fakultas Artillery, yaitu Komandan Dziarat Shah Khan. Seluruh administrasi keperluan siswa diatur sesuai tempat tinggal di fakultas yang ditentukan, termasuk siswa Indonesia yang bertempat tinggal di fakultas itu. Begitu juga jadwal kegiatan 24 jam yang telah diatur di Akademi Militer, secara umum harus diikuti oleh semua siswa dan tidak terkecuali siswa Indonesia. Hanya saja kelas belajar yang terpisah dari siswa Afghan, semua siswa Indonesia yang bertempat tinggal terpisah di berbagai barak fakultas akan berkumpul di dalam satu kelas menurut tingkatan kelasnya masing masing. Selain dari kegiatan di dalam kelas belajar mengajar itu, semua siswa Indonesia mendapat bagian dan melakukan kegiatan yang sama dengan siswa Afghan. Masa pendidikan di Akademi Militer adalah tiga tahun. Adapun pembagian kelas adalah, kelas satu (Sinfi Awwal), kelas dua (Sinfi Du atau Sinfi Duwom), kelas tiga (Sinfi Say atau Sinfi Suwom). Di setiap tingkatan kelas terdapat siswa orang-orang Indonesia sebab setiap tahun ada pengiriman siswa dari Indonesia dan terkadang juga terdapat siswa dari Malaysia. Materi pelajaran militer yang utama diberikan adalah: 1. Tactic, yaitu seni pertempuran infanteri. 2. Map Reading, yaitu kemahiran seputar peta dan navigasi. 3. Weapon Training, yaitu kemahiran seputar berbagai macam senjata infanteri dan artileri. 4. Field Engineering, yaitu kemahiran seputar ranjau standar buatan pabrik, bahan peledak, penempatan bom, dan penggunaannya sebagai alat penghancur. Termasuk pengetahuan peracikan bahan kimia dan juga bahan dapur yang dapat diolah menjadi bahan peledak. Disebut juga Materi pelajaran 'Mine and Destruction'. Selain materi pelajaran militer terdapat juga materi pelajaran agama Islam, seperti Tafsir Al-Quran, Hadis Nabi SAW, Fiqih Sirah, Fiqih Harakiy, Fiqih Ibadah, Kepimpinan Islamiy, dan Fiqih Jihad. Angkatan pertama dan kedua dilatih oleh para instruktur orang Afghanistan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sementara untuk pelajaran agama Islam diajarkan oleh ustadz dari orang Arab yang berlatih atau melatih di kamp latihan orang arab (Muaskar Kheldan) yang letaknya berdekatan dengan Akademi Militer itu. Untuk angkatan selanjutnya (angkatan ketiga hingga kesembilan) para

instrukturnya adalah orang-orang Indonesia (anggota jamaah) yangbertugas melatih orang-orang jamaah Darul Islam (Negara Islam Indonesia) itu sendiri. Dengan begitu proses pembelajaran menjadi lebih lancar dan cepat dipahami karena kebanyakan orang Indonesia yang dikirim belajar di Akademi Militer itu tidak memahami bahasa Inggris ataupun bahasa Arab. Dan tidak perlu lagi disediakan waktu untuk menterjemahkan setiap pelajaran yang diajarkan oleh instruktur Afghan atau Arab. Ketika angkatan saya (angkatan kelima/Daurah Phanjum) sedang duduk di kelas satu (Sinfi awal/Sinfi Yak), terdapat angkatan keempat (Daurah Chorrum) dari orang-orang Indonesia yang menduduki kelas dua (Sinfi Duwom/Sinfi Du), mereka adalah angkatan Hambali. Sementara tidak ada orang Indonesia pada waktu itu dari angkatan ketiga (Daurah Suwom) yang menduduki kelas tiga (Sinfi Suwom/Sinfi Say) di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (Harbiy Pohantun). Orang-orang Indonesia yang berada di angkatan keempat (Daurah Chorrum) di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang pernah saya kenal sejak di Malaysia adalah para ustadz Indonesia yang pernah saya kenal di Kuala Pilah pada awal tahun 1985. Di antaranya adalah Ustadz Abu Jibril yang menggunakan nama Abdurrahman di Akademi Militer itu dan Ustadz Solihin. Saya agak terperanjat dengan keberadaan mereka di Akademi Militer itu. Tak heran jika saya tidak menemukan mereka di Kuala Pilah Malaysia, selama hampir setahun yang dikabarkan telah pulang ke Indonesia. Ternyata mereka berdua berangkat ke Pakistan/Afghanistan pada akhir tahun 1986, kurang lebih setahun sebelum saya ke sana. Siswa Indonesia di Daurah Chorrum (angkatan keempat) berjumlah sekitar 20 orang, di antaranya: 01. Hambali (menurut kabar di media, telah ditangkap oleh aparat Thailand lalu sekarang dalam tahanan aparat Amerika). 02. Abu Jibril, dikenal juga dengan nama Abdurrahman (pernah ditahan di Malaysia, tahanan ISA). 03. Hasan. 04. Shihabuddin. 05. Fazlullah. 06. Ali. 07. Daud. 08. Husain. 09. AbdulQohar. 10. Solihin. 11. Abdul Somad. 12. Abdul Manaf. 13. Yunus. 14. Taufiq. Sayangnya, peluang belajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ini, di antara para anggota yang dikirim oleh Jamaah Darul Islam (akan dijelaskan pada bab: NII dan DI/TII) tidak melalui proses seleksi yang baik. Praktik Nepotisme telah mengakibatkan banyak di antara siswa (orang Indonesia) yang dikirim di antaranya yang sudah lewat umur, sehingga efektifitas belajar atau tingkat kecerdasannya di bawah standard.

Maka lulusan dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan pada setiap angkatan tersebut akan diseleksi oleh pimpinan orang-orang Indonesia di Peshawar. Bagi mereka yang terpilih akan diberikan tambahan dari sudut pengembangan pengetahuan kemiliteran, kemahiran, keterampilan, dan menambah pengalaman tempur. Selain yang ditugaskan sebagai instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, maka yang lainnya akan dipulangkan ke Malaysia atau Indonesia. Pendidikan lanjutan ini dibiayai dan diajarkan oleh orang-orang Arab di tempat latihan orang Arab di Afghanistan (pada waktu itu belum ada Kamp Latihan AlQaedah). Di antara pendidikan dan pelatihan lanjutan yang diberikan kepada yang terpilih adalah seperti:
1. 2. 3. 4. 5. 6.

Latihan komando. Perbengkelan senjata dan amonisi. Keterampilan menembak dengan pistol. Sniper atau markmanship. Mengendalikan tank tempur Rusia. Memperdalam pengetahuan elektronik untuk kegunaan pemicu (Firing Devices). 7. Pengolahan bahan-bahan kimia sebagai bahan peledak, racun dan untuk kegunaan membunuh.

Pada setiap akhir tahun pembelajaran terdapat acara praktik lapangan yang diprogramkan oleh Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Acara ini disebut Tathbiqot dalam bahasa Parsi, yaitu praktik menembak dan penerapan taktik infantery dalam peperangan menurut teori yang telah didapatkan di kelas. Pelaksanaan praktik lapangan (Tathbiqot) dilakukan di daerah tanah Afghanistan yang berdekatan dengan lokasi Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, yaitu wilayah Khowst Utara (Shamali Khowst). Bagi siswa-siswa Fakultas Artillery yang akan melaksanakan praktik penembakan dapat mengarahkan langsung ke musuh Mujahidin Afghan di wilayah Khowst dengan memanfaatkan senjata berat yang sudah tersedia bersama Mujahidin ataupun membawanya sendiri, jika siswa mampu memikulnya. Setelah acara Tathbiqot, diadakan ujian akhir tahun di Akademi Militer, pengumuman hasil ujian, dan selanjutnya liburan akhir tahun. Pada liburan akhir tahun inilah saya dan teman-teman yang lain (orang Indonesia) diprogramkan oleh mas’ul (ketua/penanggungjawab) orang Indonesia untuk berangkat ke medan pertempuran di wilayah-wilayah Afghanistan secara bergantian selama waktu liburan, sekitar dua bulan. Pernah pada awal tahun pembelajaran (akhir tahun 1987) ketika saya berada di kelas satu, kami semua (hanya kelompok orang-orang Indonesia) baik instruktur, kelas satu dan kelas dua, disuruh pindah dulu untuk sementara pergi dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda sebab Akademi itu akan diperiksa oleh pemerintah Pakistan. Seingat saya semua orang Indonesia dipindahkan ke salah satu tempat yang dijadikan markaznya Tanzim Ittihad-e-Islamiy yaitu di Khowst Utara (Shamali Khowst). Dalam masa pelatihan di Khowst ini, ada sejumlah sepuluh orang

Indonesia yang baru datang dan digabungkan dengan angkatan saya yaitu angkatan kelima (Daurah Phanjum), menjadikan jumlah dalam angkatan saya yang asalnya 15 orang menjadi 25 orang. Sempat sekitar 2 bulan pendidikan diadakan di tempat itu yang berlangsung di medan pertempuran, walaupun jarak ke musuh Mujahidin (kota Khowst) agak jauh tetapi bombardir dari jet pesawat tempur terkadang jatuh di kemah-kemah, tempat pendidikan yang baru bagi orang-orang Indonesia ini. Setelah sekitar dua bulan dan kondisi pemeriksaan yang dilakukan pemerintah Pakistan terhadap Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda dianggap selesai, maka semua orang-orang Indonesia kembali ke lokasi akademi tersebut. Pada waktu masih bertempat tinggal di Khowst Utara ini sempat didatangi oleh orang-orang yang tergolong sebagai pimpinan Jamaah Darul Islam (NII) pada awal tahun 1988 yaitu Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad dan Ajengan Masduki untuk melihat kegiatan anggota NII di program pendidikan dan pelatihan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Angkatan kelima Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dari orang NII adalah: 01. Saya sendiri. 02. Nuaim dikenal juga dengan nama Abu Irsyad. 03. Huzaifah, dikenal juga dengan nama Taufik. 04. Abdul Ghoni. 05. Abu Hurairah. 06. Walid. 07. Hilal. 08. Furson (almarhum). 09. Mughirah. 10. Bilal 11. Khoidir. 12. Usman, dikenal juga dengan nama Abbas (kabarnya ia divonis atas kasus Bom Atrium Jakarta). 13. Abdul Rosyid. 14. Firdaus, dikenal juga dengan nama Azzam atau Nyong Ali. 15. Qodri. 16. Daud. 17. Abdul Aziz. 18. Imadudin. 19. Ikrimah. 20. Syafiee. 21. Kholil. 22. Usamah. 23. Uzair. 24. Yasir, dikenal juga dengan nama Farihin. 25. Jamaluddin (almarhum). Selama saya menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu sebanyak tiga kali dilakukan program pemberangkatan ke medan pertempuran, yaitu pada masa liburan, tahun 1987-1990. Karena statusnya masih menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, maka kami semua tidak boleh
Berperang ketika liburan kuliah

berangkat ke medan tempur untuk seterusnya. Kami semua harus berkonsentrasi pada pendidikan dan latihan. Waktu yang diperbolehkan hanyalah ketika libur sekolah saja dan itupun secara bergantian karena ada juga program tambahan di Akademi Militer selama liburan sekolah. Kecuali siswa Afghan yang langsung pulang ke kampung halaman mereka di Afghanistan yang terkadang ada di antara mereka yang tidak lagi kembali ke Akademi Militer ketika masuk sekolah. Sebab mereka sudah mati syahid atau gugur menjadi korban peperangan di medan pertempuran. Selama beberapa kali mengikuti pertempuran ketika liburan sekolah Akademi Militer, terdapat siswa Indonesia yang mati syahid atau gugur tewas di medan pertempuran, seingat saya seperti Sofyan (angkatan ketujuh) yang ketika itu dia masih menduduki siswa kelas 2 (1991) dan Jamaluddin (angkatan kelima) ketika itu baru lulus dari pendidikan Akademi Militer, dia seangkatan saya. Biasanya orang-orang Indonesia yang berada di bawah Tanzim Ittihad-e-Islamiy, tidak dibenarkan untuk mengikuti pertempuran di barisan paling depan (pasukan infantery). Artinya, mereka ditempatkan di bagian belakang yaitu di pasukan senjata artillery. Sebab sudah ada pesan amanat dari pimpinan Tanzim Ittihade-Islamiy yaitu Ustadz Abdur Robbir Rasul Sayyaf yang tidak membenarkan mereka di infantery. Menurut dia, orang-orang Indonesia harus berjuang di Indonesia. Saya tidak mengerti apakah sudah ada kesepakatan dengan pimpinan NII yaitu Ustadz Abdul Halim sehingga dilarang. Sebab, orang-orang Indonesia yang berangkat dari Indonesia sudah mengetahui keberangkatan mereka ke Afghanistan adalah untuk berlatih. Karena itu dalam satu tahun, siswa-siswa Indonesia di Akademi Milker Mujahidin Afghanistan hanya memiliki peluang sekali selama sekitar sebulan untuk dapat bergabung dengan Mujahidin Afghanistan di medan pertempuran. Jika melewati peluang tersebut, maka dia harus menunggu hingga liburan Akademi Militer pada tahun berikutnya. Sungguh sangat beruntung bagi siswa Akademi Militer Mujahidin Afghanistan asal Indonesia yang dapat bergabung dengan pasukan Infantery Mujahidin Afghanistan. Meski itu pernah terjadi tapi sangat jarang sekali, saya dan beberapa orang (sekitar 8 orang) dari angkatan saya pernah mendapatkan kesempatan itu bersama instruktur kami yaitu Syawal dan Mohamad Qital di Samarkhil Jalalabad di Propinsi Nangrahar untuk selama sebulan, pada liburan di kelas dua. Setelah lulus dari pendidikan Akademi Militer pada tahun 1990 dan selanjutnya bertugas sebagai instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tersebut, saya sempat beberapa kali mengikuti pertempuran pada masa liburan sekolah. Pada tahun 1992 setelah ibukota Afghanistan, Kabul, dapat dikuasai oleh Mujahidin, saya tidak lagi berangkat ke wilayah-wilayah medan perang di Afghanistan. Ini disebabkan pertempuran tersebut bukan lagi antara Mujahidin dengan pasukan pemerintahan Komunis Afghanistan, melainkan perkelahian dari oknum masing-masing organisasi mujahidin. Begitulah yang pernah saya alami pada waktu masih berada di sana. Negara Afghanistan pada tahun 1992 dipimpin oleh Pemerintahan Mujahidin di bawah Presiden pilihan yang pertama (pilihan menurut kesepakatan tujuh organisasi mujahidin di Afghanistan) yaitu Prof Mujaddidiy. Setahun kemudian Presiden Afghanistan dipimpin oleh Prof Ustadz Burhanuddin Robbani.

Siswa Akademi Militer asal Indonesia yang berangkat ke medan pertempuran di Afghanistan bergabung dengan Mujahidin dari organisasi Tanzim Ittihad-eIslamiy. Selama berada di medan pertempuran, berbagai macam senjata ringan diberikan sebagai amanah yang harus dijaga dan dipakai sewaktu-waktu terjadi kontak senjata. Dan ketika bergabung dengan pasukan Artillery Mujahidin dari Ittihad-e-Islamiy, mereka dapat sekalian mempraktikkan pengetahuan sesuai dengan tingkat pengetahuan yang telah didapatkannya di Akademi Militer. Kecuali orang-orang Indonesia yang bukan lagi berstatus siswa di Akademi Militer, maka program keterlibatan mereka di medan pertempuran di Afghanistan diatur oleh Zulkarnain di perwakilan mereka di Peshawar, Pakistan, sehingga dapat bergabung dengan orang-orang Arab selain orang Afghan. Sebab orang-orang Arab menyusun pasukannya sendiri ketika melakukan perlawanan dengan pasukan Rusia maupun pasukan pemerintah komunis Afghanistan. Selain orang-orang Indonesia (dari NII) yang diberangkatkan ke Pakistan/Afghanistan untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, terdapat juga anggota NII yang diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan kursus singkat selama satu atau dua bulan. Di antaranya adalah Ashim (belakangan diketahui di Indonesia dengan nama Holisudin), Abdul Matin yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama Dul Matin, Agung Riyadi, Suhaimi, Faiz Bafana, dan lain-lain yang berjumlah sekitar 20 orang. Terdapat juga orang-orang Indonesia di Afghanistan yang di luar jalur Ustadz Abdul Halim yang bergabung dengan Mujahidin Arab di Afghanistan. Biasanya orang-orang Indonesia dari jalur Ustadz Abdul Halim akan menghindarkan diri dari bertemu dengan orang-orang Indonesia itu. Dan jika pun bertemu pasti akan mengaku sebagai orang Malaysia bukan orang Indonesia. Sikap berbohong ini dilakukan adalah karena di medan pertempuran di Afghanistan sangat dikhawatirkan kemungkinan kehadiran personel intelijen pemerintah Indonesia.
Pengalaman (Harbiy sebagai Instruktur Pohantun di Akmil Mujahidin Afghanistan Mujahidin-e-Afghanistan).

Di antara yang pernah berpengalaman bertugas sebagai instruktur untuk orangorang Indonesia (NII) di Harbiy Pohantun Sadda adalah: * Zulkarnain (1), * Syawal (1), * Hamzah (2), * Mustapha (2), * Ziyad (2), * M.Qital (2), * Mustaqim (2), * Ikhsan (2), * Hambali (4), * Husain (4), * Nuaim (5), * Saya sendiri (5), * Mughirah (5), * Tamim (7), * Habib (7), * Qotadah (7),

*

Ukasyah

(7).

Pengalaman saya sebagai instruktur bermula sekitar tahun 1989 ketika duduk di kelas 2 (Sinfi Duwom) Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Waktu itu sedang liburan akhir tahun kelas 2. Pada masa-masa menunggu giliran saya ke medan pertempuran di Afghanistan, saya ditugaskan untuk mengajar dan melatih orang-orang yang mengaku dari Bangladesh. Waktu latihannya hanya sekitar 2 minggu, dan materinya berkisar pengenalan senjata api dan penggunaannya. Saya diminta untuk menggunakan bahasa Inggris yang kemudian oleh salah seorang dari mereka menterjemahkan ke bahasa yang dipahami oleh mereka. Walaupun ada instruktur yang berada di Akademi pada waktu itu, namun para instruktur itu memberikan tugas kepada saya sebagai latihan dan kegiatan ekstra selama liburan akhir tahun kelas 2. Kegiatan melatih orang Bangladesh yang berjumlah sekitar 40 orang itu diadakan di wilayah Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Pengalaman kedua ketika saya duduk kelas 3 di Akademi Militer tersebut. Saya ditugaskan untuk merangkap sebagai instruktur bantuan mengajar kelas 1 (Sinfi Awal) orang-orang Indonesia di Akademi Militer (angkatan ketujuh), di bidang persenjataan (small arms). Dan kegiatan sebagai instruktur bantuan ini berjalan sekitar 3 bulan sebab saya merasa terbebani dengan banyaknya pelajaran yang saya anggap banyak ketinggalan akibat waktu yang diluangkan untuk mengajar kelas 1. Bukan hanya saya sendiri yang ditugaskan untuk menjadi instruktur bantuan, tetapi ada dua orang teman seangkatan saya, Nuaim dan Mughirah (keduanya adalah warga Indonesia) yang ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran yang lain. Pengalaman ketiga ketika liburan kelas 3 sebelum upacara wisuda (Rasmi Gojas). Pada waktu liburan itu juga saya mendapat giliran sebagai rombongan kedua untuk berangkat ke medan pertempuran di Afghanistan. Saya dan dua orang seangkatan, yaitu Nuaim dan Mughirah ditugaskan untuk bersama-sama dengan salah seorang instruktur asal Indonesia, Syawal (lulusan angkatan pertama), untuk melatih orang-orang Kashmir di Khowst Utara (Shamali Khowst) Afghanistan di sebuah kamp latihan orang Mesir. Sekali lagi saya diberi tugas untuk melatih bidang persenjataan, meliputi berbagai jenis senjata api berkaliber ringan dan senjata yang berkaliber besar (artillery). Sementara Nuaim mengajarkan mata pelajaran 'Map Reading and Navigation', sedangkan Mughirah mengajarkan 'Field Engineering' atau disebut juga 'Mine and Destruction'. Mereka adalah orang-orang Kashmir yang sempat melarikan diri dari kampung halamannya karena diserang oleh tentara pemerintah India. Mujahidin Kashmir itu bermaksud berlatih kemiliteran dan ingin memisahkan wilayah Kashmir yang mayoritas beragama Islam untuk tujuan bergabung dengan Pemerintah Pakistan. Begitulah salah seorang dari sekitar 100 orang yang mengikuti pelatihan selama 1 bulan itu menjelaskan kepada saya. Sebelum Rasmi Ghojas (meminjam istilah orang Afghan yang berarti wisuda), yaitu setelah angkatan saya selesai program pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (1990), maka saya diperintahkan pulang oleh Zulkarnain ke Malaysia pada pertengahan Juni 1990 untuk menghadiri acara pernikahan adik saya dengan Mukhlas yang berlangsung pada 1 Juli 1990.

Tinggal di Johor Bahru Malaysia selama satu bulan, saya harus kembali ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan untuk menghadiri wisuda angkatan saya dan selanjutnya mengemban tugas menjadi instruktur tetap di Akademi. Saya hanya mengajar bidang persenjataan untuk semua tingkat kelas kuliah, yaitu kelas 1, 2 dan 3 bagi orang-orang NII angkatan keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya hingga angkatan kesepuluh. Begitu juga siswa-siswa selain Afghan, jika ada yang mengikuti pelatihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Berikut adalah 9 nama dari 10 orang angkatan keenam yang masuk tahun 1988: 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. Robi’. Yazid. Arkam. Muaz. Rofi. Nu’man. Rifa’ah. Haris. Sofwan.

Sementara dari 22 orang angkatan ketujuh yang masuk tahun 1989 adalah: 01. Sofyan (alm), 02. Habib. 03. Tamim, ditahan oleh Polri tahun 2003. 04. Zubair, ditahan oleh Poki tahun 2003. 05. Urwah yang dikenal juga dengan nama Pepen, ditahan oleh Polri tahun 2003. 06. Jabir (alm). Meninggal dunia ketika kecelakaan disaat mempersiapkan bom rakitan di Antapane, Bandung pada akhir tahun 2000. 07. Usaid (alm). Belakangan ia diketahui di Indonesia bernama Zainal, meninggal di Ambon dalam kecelakaan ketika mempersiapkan bom rakitan. 08. Umair. Belakangan saya ketahui di Indonesia bernama Abdul Ghani atau Suramto ketika dicurigai terlibat dengan aksi Bom Bali tahun 2002. 09. Abu Dujanah. 10. Qotadah, dikenal dengan nama Baasyir ketika berada di Mindanao Filipina. 11. Suhail. 12. Ukasyah, dikenal juga dengan nama Zuhair. 13. Auf, warga Malaysia. 14. Qois, warga Malaysia. 15. Aqil, warga Malaysia. 16. Suhaib. 17. Anas. 18. Adi. 19. Dzakwan. 20. T. Furqan. 21. T. Abdul Fattah. 22. T. Abdul Hafiz.

Adapun 22 orang angkatan kedelapan yang masuk tahun 1990 adalah: 01. Said, warga Malaysia yang belakangan di Indonesia diketahui bernama Farhan, terlibat kasus imigrasi di Indonesia tahun 2003. 02. Saad, belakangan di Indonesia diketahui bernama Faturrahman Al-Ghozi (alm). 03. Bara’, pernah bertugas di Kamp Hudaybiyah Mindanao Filipina pada tahun 1996 dengan menggunakan nama Amin. Kemudian belakangan diketahui di Indonesia bernama Mubarak atau Utomo Pamungkas melalui media setelah terlibat peristiwa Bom Bali 2002. 04. Salim. 05. Ismail. 06. Saib. 07. Muktib, pernah divonis atas kasus pemboman di Batam pada tahun 2000. 08. Makmar. 09. Abdullah. 10. MuBaasyir. 11. Ilyas, pernah bertugas di Kamp Hudaybiyah pada 1995-1997 dengan menggunakan nama Hanif. 12. Hatib. 13. Aus. 14. Robi’ah. 15. Unais, pernah dihukum di Jawa Barat atas kasus pemboman di Pangandaran pada bulan Desember 2000. 16. Abdul Hamid, belakangan diketahui bernama Muh Musyafak setelah ditahan dan divonis terlibat menyembunyikan pelaku Bom Bali. 17. Abu Yasar. 18. Sahal. 19. T. Hamzah. 20. T. Silahullah. 21. T. Yusuf. 22. T. Zahid. Angkatan kesembilan yang masuk tahun 1991 berjumlah 23 orang yang di antara mereka: 01. Zaid, belakangan diketahui di Indonesia bernama Ali Imran (melalui media) setelah dinyatakan terlibat dalam peristiwa Bom Bali. 02. Sawad, belakangan diketahui di Indonesia bernama Sarjiyo (melalui media) setelah dinyatakan terlibat peristiwa Bom Bali. 03. Abu Syekh, belakangan diketahui di Indonesia yang disebut-sebut bernama Umar Patek dan dicurigai terlibat peristiwa Bom Bali. 04. Qudamah atau Kudama, belakangan diketahui di Indonesia bernama Imam Samudra atau Abdul Aziz yang mengaku bertanggungjawab dalam peristiwa Bom Bali 12 Oktober 2002. 05. Syuja. 06. Abu Lubabah. 07. Syuraqah. 08. Sobih alias Aris Munandar. 09. Mus’ab. 10. Masood. 11. Abu Aqil, warga Malaysia.

12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. T. Zubair.

Ubadah,

T.

Abu T. T. T. T. T. T. T.

warga

Abu

Munzir. Malaysia. Ayub. Solahudin. Hizbullah. Huzaifah. Kholabah. Ziyaudin. Anas. Tohir. Umar.

Terakhir, enam nama dari sekitar 10 orang angkatan kesepuluh yang masuk tahun 1992: 01. Abu Ubaidah, belakangan di Indonesia diketahui bernama Toni Togar atau Indra Warman, yang ditahan oleh pihak Polri karena kasus perampokan di Medan pada sekitar bulan Mei tahun 2003 dan juga dikatakan terlibat dengan kasus pemboman Hotel JW Marriott, Jakarta. 02. Muhajir. 03. Ashim. 04. Kaab. 05. Haris. 06. Auf. Saya sempat mengajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda itu hingga akhirnya lembaga itu ditutup dan dipindahkan ke Kabul, ibukota Afghanistan pada akhir tahun 1992. Sedangkan siswa-siswa Indonesia (yang masih dalam pendidikan) bersama para instrukturnya tidak ikut serta ke Akademi Militer Afghanistan di Kabul. Sebab, mereka dipindahkan oleh pihak perwakilan Indonesia (NII) di Peshawar ke kamp latihan yang dibangun oleh orang Indonesia (NII) di Towrkham, Afghanistan, yang disebut juga Khyber Pass (pintu masuk perbatasan Afghanistan-Pakistan). Di kamp latihan itu sistem pendidikan untuk kursus Akademi Militer dilanjutkan oleh para instruktur dengan perlengkapan dan fasilitas yang tidak sesempurna di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda. Namun, program pendidikan yang dilaksanakan sama bentuknya termasuk pakaian seragam serta peraturan-peraturan yang diberlakukan. Di antara orang-orang yang pernah bertugas menjadi instruktur di Kamp Jamaah Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada awal tahun 1993 menjadi Kamp Al-Jamaah Al-Islamiyah di Towrkham Afghanistan adalah: 01. Mustapha (2). 02. Mughirah (5), hanya sebentar sebab pada January 1993 ia dipulangkan karena tidak memilih Ustadz Abdullah Sungkar sebagai pimpinannya yang baru. 03. Saya sendiri (5). 04. Nuaim (5). 05. Qotadah (7).

06. Habib 07. Tamim 08. Saad als Faturrahman Al-Ghozi (almarhum) 09. Abu Syekh (9), dikenal juga dengan nama Umar 10. Baro’ alias Mubarak 11. Abu Dujanah 12. Usaid (almarhum) (7).

(7). (7). (8). Patek. (8). (7).

Kemudian pada tahun 1995, saya mendengar dari Zulkarnain bahwa kamp latihan di Towrkham itu ditutup akibat penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Taliban terhadap Mujahidin Afghanistan dan siapa saja di Afghanistan yang tidak tunduk dan bergabung dengan Taliban. Abu Dujanah sendiri pernah menceritakan kepada saya bagaimana ia orang yang terakhir ditugaskan di Kamp Al-Jamaah Al-Islamiyah di Towrkham itu melakukan pemusnahan dokumen dan perlengkapan supaya tidak dirampas oleh kelompok Taliban yang misterius dan tidak dikenal itu.

Bab 2. Pejuang-pejuang Afghanistan
ADA PERBEDAAN antara Mujahidin Afghanistan dengan pejuang Taliban, keduanya adalah kelompok yang terdiri dari orang Afghan yang terlibat dalam pertempuran di Afghanistan. Tujuan mereka sama, menegakkan syariat Islam dan menjadikan Afghanistan sebagai Negara Islam atau Daulah Islamiyah. Perbedaannya terletak pada waktu keterlibatan mereka dalam pertempuran di Afghanistan dan siapakah kelompok yang menjadi lawan mereka untuk mencapai tujuan. Mujahidin Afghanistan bermula pada tahun-tahun akhir 1970-an sampai Mujahidin Afghanistan dapat merebut Kabul, ibukota Afghanistan, sekitar awal atau pertengahan tahun 1992 dan melaksanakan pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan. Sedangkan pejuang Taliban baru kedengaran namanya pada akhir tahun 1993 yang kemudian melakukan penyerangan terhadap pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan hingga pertengahan tahun 1995 (jika tidak keliru) dapat merebut Kabul ibukota Afghanistan. Oleh karena itu, apabila Mujahidin Afghanistan saya sebut dan tulis, itu berarti adalah orang-orang Afghan yang berjuang untuk memerdekakan negara mereka dari penguasaan faham komunis sampai berdirinya Negara Islam Mujahidin Afghanistan pada tahun 1992. Adapun pejuang Taliban dimaksudkan untuk membedakan dengan kelompok pejuang Afghan yang sebelumnya. Afghanistan dahulunya termasuk wilayah yang dipanggil dengan nama Khurasan yaitu wilayah yang pertama kali didatangi oleh pasukan tentara Muslimin di bawah pimpinan Sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Saad Bin Abi Waqas r.a untuk menyerukan agama Islam. Kemudian pada waktu terjadinya konflik, negara Afghanistan adalah negara yang dipimpin oleh Presiden Najibullah seorang Muslim yang berfaham komunis. Menurut Mujahidin Afghanistan, awal terjadinya konflik atau kebangkitan rakyat karena pemerintahan Afghanistan mempunyai program penerapan faham komunis untuk merubah faham dan keyakinan rakyat Afghanistan yang mayoritas beragama Islam menjadi rakyat yang berfaham komunis.
Mujahidin Afghanistan

Pemerintah Afghanistan mengawali penerapan faham tersebut di sekolah-sekolah yang kemudian disadari oleh para Mullah atau Maulawi (bahasa Afghan yang berarti guru agama atau ulama) dan juga para aktivis Muslim dari kalangan mahasiswa dan dosen di perguruan tinggi. Sekitar akhir tahun tujuh puluhan (1970an) terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen universitas yang kemudian diikuti oleh para maulawi di daerah-daerah pendalaman yang bertujuan menentang kebijakan-kebijakan pemerintah. Demonstrasi tersebut kemudian berujung dengan pemberontakan bersenjata yang dimulai dengan senjata-senjata lama dan senjata-senjata yang dirampas dari aparat. Perkataan ‘Mujahidin’ diperkenalkan oleh para maulawi dan para mullah sebagai julukan dan panggilan bagi siapa saja yang berjuang membela agama Islam. Mereka meyakini bahawa apa yang mereka perjuangkan adalah mempertahankan faham Islam dan mereka berkeyakinan bahawa pemerintah Afghanistan ingin memurtadkan rakyat Afghanistan dengan cara penerapan faham komunis. Lebih menguatkan lagi keyakinan mereka apabila pemerintah Afghanistan diberi bantuan militer dari pemerintah Rusia berupa pasukan tentara dan persenjataan. Dengan demikian mereka bertambah yakin bahawa di balik penerapan faham komunis di Afghanistan ada pemerintah Rusia yang menjadi dalangnya. Lalu mereka mengatakan bahwa pemerintah Rusia ingin menguasai Afghanistan atau menjajah. Perjuangan Mujahidin Afghanistan bukan lagi menghadapi kekuatan pasukan tentara pemerintah Afghanistan tetapi mereka menghadapi pasukan tentara Rusia yang biasa dijuluki dengan istilah 'Beruang Merah'. Mujahidin Afghan terdiri dari tujuh organisasi atau tujuh kelompok yang dalam bahasa Afghan (Poshtun atau Parsi) disebutkan dengan kata 'Tanzim' yang berarti organisasi atau ormas. Tanzim-tanzim ini adalah perwakilan dari semua suku yang ada di seluruh Afghanistan yang majoritas suku bagi belahan Utara Afghanistan adalah berbangsa Parsi dan di belahan Selatan berbangsa Poshtun. Di antara yang saya masih ingat nama-nama pimpinan dan Tanzimnya adalah: 01. Prof. Ust. Abdur Robbir 02. Maulawi Yunus 03. Prof. Ust. Burhanuddin 04. Insinyur Gulbuddin 05. Prof. Mujaddidiy, 06. Maulawi Jailani 07. Maulawi Muhammad Nabi. Rasul Sayyaf (Tanzim Ittihad-e-Islamiy). Kholis (Tanzim Hizbi-e-Islamiy). Robbani (Tanzim Harakatul Islamiy). Hekmatyar (Tanzim Hizbi-e-Islamiy). (Tanzim Harakat-e-Jihad-e-Islamiy). (Tanzim Harakul Jihad-e-Inkilabiy).

Sejak awal gerakan Mujahidin Afghanistan di Afghanistan, ketujuh kelompok ini mengadakan perlawanan terhadap musuh yang sama yaitu tentara Rusia dan Pemerintah komunis Kabul dan dengan tujuan yang satu yaitu membela Islam dan menegakkan Syariat Islam dalam sebuah Negara Islam. Seringkali operasi penyerangan dilakukan secara gabungan, yaitu terkadang kesemua tujuh Tanzim dan terkadang gabungan beberapa Tanzim saja. Pada sekitar tahun 1989, setelah

tentara Rusia mengambil keputusan meninggalkan Afghanistan, Mujahidin Afghanistan melanjutkan perjuangannya menghadapi pasukan pemerintah komunis Afghanistan. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan pemerintahan Najibullah (Presiden Afghanistan). Dengan kesungguhan semua pihak dari seluruh Tanzim Mujahidin Afghanistan, maka sekitar awal atau pertengahan tahun 1992, Kabul ibukota Afghanistan telah dapat direbut oleh pasukan gabungan Mujahidin Afghanistan. Dan, dengan kesepakatan pimpinan dari seluruh Tanzim maka dipilihlah salah satu dari pimpinan tujuh Tanzim untuk menjadi Presiden pertama Pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan. Prof. Mujaddidiy dipilih untuk menjadi Presiden pertama untuk waktu satu atau dua tahun (saya tidak ingat pasti). Setelah terbentuknya pemerintahan baru untuk Afghanistan, pemerintahan Pakistan meminta kepada semua Tanzim Mujahidin Afghanistan untuk memindahkan semua perlengkapan persenjataan di gudang-gudang dan mengosongkan kantor administrasi Tanzim yang berada di Pakistan, perbatasan ke Afghanistan. Pernyataan pemerintah Pakistan ini diceritakan oleh Ust. Abdur Robbir Rasul Sayyaf kepada saya dan rekan-rekan lain ketika kami bersilaturrahmi ke kediamannya. Setelah masa jabatan Prof. Mujaddidiy selesai maka Presiden kedua yang diangkat oleh pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan (bukan dari hasil pemilu) adalah Prof. Ust. Burhanuddin Robbani untuk waktu empat tahun (jika saya tidak keliru). Tetapi pada masa pemerintahan Presiden Prof. Ust. Burhanuddin Robbani telah terjadi penyerangan dan perampasan kekuasaan yang dilakukan kelompok yang menamakan diri Taliban yang berarti pelajar. Sehinggalah Presiden pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan harus mundur ke utara Afghanistan. Pertama kali nama Taliban saya dengar sekitar akhir tahun 1993. Dan, pada kesempatan melakukan silaturrahmi ke tempat kediamannya Prof. Ust. Abdur Robbir Rasul Sayyaf di Towrkham Afghanistan (di dalam gua buatan) bersama teman-teman yang lain, kami sempat bertanya tentang satu kelompok yang disebut-sebut dengan nama Taliban yang baru melakukan aksi penyerangan ke beberapa pos-pos Mujahidin Afghanistan di sekitar propinsi Kandahar, wilayah selatan Afghanistan. Ust. Abdur Robbir Rasul Sayyaf yang lebih dikenal dengan nama Ust. Sayyaf juga menyatakan tidak mengerti akan asal usul kelompok yang bernama Taliban tersebut, dan beliau merasa heran dengan kekuatan kemiliteran yang dimiliki oleh Taliban. Padahal kelompok yang bernama Taliban itu tidak pernah muncul sejak awal perjuangan Mujahidin Afghanistan sampailah Futuh Kabul (Kemenangan menguasai Kabul). Pada usia kelompok pejuang yang masih muda, Pejuang Taliban telah menggunakan pesawat tempur dan tank tempur di periode awal penyerangan ke pos Mujahidin Afghanistan di wilayah Selatan Afghanistan. Dan yang lebih mengherankan lagi, menurut Ust. Sayyaf, bagaimana Taliban boleh mendapat tempat di utara Pakistan (perbatasan yang berdekatan kota Quetta) sebagai 'Starting Line' penyerangan, padahal pemerintah Pakistan telah melarang semua Tanzim Mujahidin Afghanistan menyimpan perlengkapan kemiliteran sejak Kabul dikuasai Mujahidin Afghanistan. Pakistan memerintahkan untuk mengosongkan kantor-kantor administrasi di wilayah
Pejuang Taliban

Utara Pakistan perbatasan Afghanistan yang dulunya adalah wilayah pengungsian warga Afghanistan. Mayoritas Pejuang Taliban berbangsa Poshtun dan mayoritas pada awalnya para pejuang Taliban adalah terdiri atas para pelajar dan para guru di maahad/madrasah serta dosen di universitas di Pakistan, kesemua anggota Taliban adalah berbangsa Afghan. Apa yang saya mengerti tentang tujuan pejuang Taliban melakukan penyerangan adalah karena rasa tidak puas hati dengan pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan. Di antara hal yang saya ketahui dari salah seorang komandan dari Tanzim Ittihad-eIslamiy ketika dia menjelaskan tentang Taliban, bahawa Taliban menyesali sikap pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan terutama Presiden Mujaddidiy yang antara lain: Telah memberi ampunan (amnesty) kepada mantan Presiden pemerintahan Komunis Afghanistan yaitu Najibullah sehingga Najibullah bebas tidak dikenakan hukuman. 2. Dan Taliban mengatakan bahwa pemerintah Islam Mujahidin Afghanistan tidak melaksanakan hukum Syariat Islam yang benar. 3. Serta Taliban menyesali dengan prilaku tujuh Tanzim Mujahidin Afghanistan yang menurut Taliban tidak pernah bersatu (tidak pernah akur) dan saling berperang untuk merebutkan jabatan dan wilayah.
1.

Maka Taliban meyakini bahawa menurut Islam yang benar dan yang seharusnya hanya ada satu kelompok saja yang bisa mengatur umat Islam untuk menghindarkan perpecahan umat. Oleh karena itu pejuang Taliban ingin menjadikan Afghanistan dipimpin oleh satu organisasi dan satu pimpinan guna terlaksananya syariat Islam. Taliban menyerukan ajakan menyerah diri kepada pejuang Mujahidin Afghanistan untuk bergabung dengan pejuang Taliban. Jika menolak maka Taliban akan melakukan penyerangan, memerangi siapa saja yang tidak mau bergabung dengan kelompok pejuang Taliban termasuk orang-orang asing (Mujahidin bukan orang Afghan). Oleh karena pejuang Taliban adalah kelompok baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh orang-orang asing selain orang Afghan, hal itu mengakibatkan semua orang asing –orang Arab dari berbagai negara dan orangorang Asia seperti orang Indonesia dan Malaysia– meninggalkan muaskar (kem latihan) yang mereka bangun menuju Pakistan untuk pulang ke tanah air mereka atau ke negara lain yang dianggap lebih aman. Mereka pergi bukan karena takut untuk menghadapi pejuang Taliban tetapi menghindarkan diri dari fitnah memburiuh sesama Muslim.

Pasukan Taliban Memasuki Kabul

Sementara nama Al-Qaidah di bawah pimpinan Osama bin Laden seingat

saya baru kedengaran pada sekitar setahun setelah Taliban menguasai Kabul, ibukota Afghanistan, sekitar tahun 1996 atau 1997. Orang-orang Arab kembali ke Afghanistan setelah melihat sikap Pemerintahan Taliban yang welcome terhadap pejuang Arab. Sedangkan pada waktu perjuangan Mujahidin Afghanistan yaitu sebelum zamannya pejuang Taliban memerintah Afghanistan, nama Al-Qaidah tak pernah kedengaran di Afghanistan. Tempat latihan yang dibangun oleh Osama Bin Laden sendiri dahulunya sebelum Mujahidin Afghanistan menguasai Kota Kabul berlokasi di Joji sekitar Provinsi Paktia, yang biasanya dipanggil dengan nama Muaskar Joji. Nama Osama Bin Laden tak terkenal pada waktu itu, tetapi Ust.Abdullah Azzam yang lebih masyhur dan dihormati oleh berbagai kalangan karena ilmu pengetahuannya. Di antara budaya orang awam Afghanistan adalah patuh dan percaya serta sangat hormat ketika bersikap di hadapan seorang yang dikenal atau mempunyai ciri-ciri sebagai Mullah atau Maulawi, yaitu guru agama atau ulama. Dengan datangnya pejuang Taliban yang majoritas adalah para guru agama, yaitu Mullah dan Maulawi, membuat hati orang Afghan menjadi dilematis jika melakukan perlawanan menghadapi para guru agama. Oleh karena itu Taliban mendapat simpati dengan sangat cepat dari kalangan suku Poshtun termasuk para komandan yang pernah ikut berjuang bersama dengan Mujahidin Afghanistan dari berbagai Tanzim. Kecuali orang-orang Afghan yang kuat dengan perjuangan Tanzim-nya tidak terpengaruh dengan ajakan Taliban dan bersedia menghadapi perlawanan dengan pejuang Taliban. Ketika Kabul ibukota Afghanistan dapat direbut oleh pejuang Taliban, Presiden Burhanuddin Robbani terpaksa mengamankan dirinya berpindah ke wilayah Utara Afghanistan, tetapi tetap melakukan perlawanan. Dalam waktu yang sama Taliban memproklamirkan pemerintahan Taliban atau disebut Daulah Taliban. Eksekusi yang pertama yang dilakukan oleh pejuang Taliban di Kabul adalah membunuh mantan presiden Afghanistan yaitu Najibullah dan adiknya yang lalu digantung di pasar untuk menjadi tontonan orang awam. Berita Najibullah dan adiknya dibunuh dan digantung oleh Taliban diberitakan oleh media massa (sekitar 1995 jika tidak keliru) di seluruh dunia, yang pada ketika itu saya berada di Filipina Selatan bersama dengan Mujahidin Bangsa Moro.

Ya Allah bukankah Najibullah sudah diberi amnesty oleh Prof. Mujaddidiy presiden pertama Pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan? Siapa tahu Najibullah sudah bertaubat dan bersikap baik selama sekian tahun berada di bawah pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan? Peristiwa menguasai Kabul oleh Mujahidin Afghanistan pada tahun 1992 berbeda dengan apa yang dilakukan oleh pejuang Taliban. Kalau diingat-ingat kepada sejarah perjuangan Rasulullah SAW dan dibandingkan antara etika Mujahidin Afghanistan dan Taliban maka saya mendapati bahwa Mujahidin Afghanistan lebih mendekati kepada Sunnah Rasulullah SAW, dimana seingat saya Mujahidin Afghanistan ketika memasuki kota Kabul dalam keadaan tenang tanpa pertempuran yang sengit, sebab kekuatan Kabul telah menyerah diri kepada Mujahidin Afghanistan. Kembali membuka kisah sirah (perjalanan) Nabi Muhammad SAW, pada waktu sebelum Fathu Makkah (Kemenangan menguasai Makkah Al-Mukarramah), Rasulullah Saw memberi perintah dan pemberitahuan: Kepada para panglima dan pasukan Muslimin agar tidak menyerang atau memerangi orang yang tidak memulai penyerangan, kecuali terhadap orang yang memulai menyerang dan terhadap enam orang lelaki (Ikrimah bin Abi Jahal, Habbar bin Al-Aswad, Abdullah bin Saad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhahabah al-Laitsi, Huwairits bin Nuqaid dan Abdullah bin Hilal) dan empat orang wanita (Hindun binti 'Utbah, Sarah mantan budak Amer bin Hisyam, Fartanai dan Qarinah), mereka adalah orang yang boleh dibunuh di mana saja dan kapan saja ditemui. 2. Kepada sesiapa saja yang memasuki rumah Abu Sofyan, akan selamat. 3. Kepada sesiapa saja yang menutup pintu rumahnya, akan selamat.
1.

4.

Kepada sesiapa saja yang masuk ke Masjidil Haram, akan selamat.

Pasukan Muslimin tidak membunuh dengan sesuka hati pada waktu menguasai Makkah al-Mukarramah, jumlah yang menjadi korban tewas kurang dari 40 orang, itupun karena pihak Quraish Makkah yang memulai. Dan orang-orang yang pernah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk dibunuh juga tidak semua yang terbunuh, hanya Huwairits, Abdullah bin Hilal, Muqis bin Dhahabah dan seorang wanita. Sementara yang lain telah diberikan ampunan oleh Rasulullah SAW, antara lain seperti orang-orang yang pernah diperintahkan untuk dibunuh juga mendapatkan ampunan yaitu Abdullah bin Saad, Ikrimah bin Abi Jahal, Habbar bin al-Aswad dan Hindun binti 'Utbah. Kemudian Rasulullah SAW mengumpulkan orang-orang Quraish yang belum memeluk agama Islam dan memberikan kebebasan serta jaminan tidak akan dilukai, dengan kata-kata beliau Rasulullah SAW, “Pergilah kalian semua, sebab kalian semua sudah bebas.” Betapa indahnya perilaku Rasulullah dalam memperlakukan orang-orang yang pernah memusuhinya dan memeranginya. Dan dengan senang hati memberikan ampunan kepada orang yang pernah di perintahkan untuk dibunuh di mana saja ditemukan. Begitu juga dengan cepat memberikan kebebasan kepada kaum Quraish yaitu kaum yang membencinya serta memeranginya sejak awal kenabian dirinya tanpa tersirat rasa dendam dan benci. Kisah dibunuhnya mantan presiden Afghanistan, Najibullah dan adiknya, sempat membuat saya kaget. Dimana kedua-duanya telah dibunuh dan kemudian digantung di pasar untuk supaya Taliban memperlihatkan apa yang mereka sebut sebagai tindakan yang ‘adil’ dan pantas sebagai sikap pembelaan kepada rakyat Afghanistan. Saya berfikir bagaimana seandainya kalau Najibullah sudah bertaubat dan menjadi seorang Muslim yang baik sejak setelah pengampunan yang diberikan kepadanya oleh Prof. Mujadidiy dan selama masa pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan sekitar dua tahun lebih. Jadi bagaimanalah pertanggungjawaban Taliban di hadapan Allah SWT nanti? Bukan hanya itu, Taliban juga harus mempertanggungjawabkan penyerangannya terhadap umat Islam di Negara Islam Mujahidin Afghanistan. Sehingga sekarang saya masih menyimpan beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab yang di antaranya adalah: Siapakah gerangan Taliban yang sebenarnya? Mengapa pada saat pemerintahan Najibullah yang jelas-jelas berfaham komunis, Taliban tidak ikut serta dalam memperjuangkan nasib umat Islam Afghanistan? Mengapa ketika Afghanistan telah dikuasai oleh Mujahidin dan melaksanakan pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan, Taliban muncul dan melakukan penyerangan yang selanjutnya diikuti dengan perampasan kuasa pemerintahan? Dari manakah kekuatan kemiliteran yang dimiliki Taliban ketika awal gerakan menyerang Mujahidin Afghanistan? Apakah Taliban tidak termasuk orang atau kelompok yang melakukan perencanaan dan pembunuhan dengan sengaja terhadap umat Islam dalam

pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan? Apa bedanya penyerangan Taliban dengan Amerika? Mengapa Taliban tidak ikut bergabung dengan pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan dan memperbaiki sistem pemerintahan yang ada seandainya Taliban melihat ada penyimpangan di tubuh pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan dalam melaksanakan Syariat Islam? Dan seandainya perjuangan Taliban adalah benar di dalam memperjuangkan syariat Islam, mengapa para pimpinan Mujahidin Afghanistan dari ketujuhtujuh Tanzim (organisasi) tidak ikut bergabung dengan Taliban, bukankah para pimpinan tersebut adalah dari kalangan cendekiawan Islam? Dari dulu saya masih belum dapat menerima kehadiran Taliban dan masih belum dapat membanggakan apa yang telah dilakukan oleh Taliban di Afghanistan dengan mewujudkan sebuah 'Pemerintahan Islam Taliban'. Sebab apa yang mereka anggap sebagai mengikuti sunnah Rasulullah ternyata sebaliknya menurut pengetahuan saja. Mujahidin Afghanistan yang telah bersusah payah sejak belasan tahun be.rjihad memperjuangkan keyakinan mereka adalah lebih utama dari Taliban menurut penilaian kacamata pengetahuan saya. Pemerintahan Islam Mujahidin Afghanistan lebih mengarah kepada tuntunan Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan pemerintahan Taliban walaupun mereka terdiri dari para pelajar dan dosen.

Bab 3 Jamaah Negara Islam Indonesia Di antara kegiatan mingguan selama di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di
Sadda Pakistan adalah menghadiri Majelis pengajian yang diadakan oleh orangorang Indonesia. Semua orang Indonesia di Akademi Militer itu harus mengikuti kegiatan ini dan tidak ada yang terkecuali. Acara dilaksanakan pada hari Jumaat setelah solat Asar di masjid Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran pilihan yang kemudian diterjemahkan, lalu wejangan (nasihat) dan siraman rohani diberikan oleh mas’ul (panggilan untuk pimpinan) atau orang yang ditunjuk oleh mas’ul. Saya baru mengerti bahwa orangorang Indonesia ini adalah kelompok yang bernama Jamaah Negara Islam Indonesia atau lebih dikenal dengan panggilan Jamaah NII dan terkadang disebut juga dengan nama Jamaah DI (Darul Islam). Pada setiap kesempatan di Majelis pengajian itu sering diingatkan kepada setiap orang yang telah menjadi anggota Jamaah harus selalu bersikap As-Sam'u wat Tho'ah (mendengar dan taat) kepada pimpinan Jamaah, merujuk kepada baiat yang telah diucapkan atau telah dilakukan. Dan setiap orang yang telah menjadi anggota jamaah biasanya dipanggil dengan panggilan A.khi (saudaraku) atau Ikhwan (saudara). Saya jadi teringat ketika berjabat tangan dengan Ust. Abdul Halim dan menyatakan untuk sedia mendengar dan taat, baik dalam waktu susah maupun senang, yang ternyata pada waktu itu saya telah sah sebagai anggota Jamaah NII. Peristiwa itu terjadi sewaktu akan berangkat ke Afghanistan, (Baca Bab: Perjalanan ke Afghanistan) padahal saya tidak pernah tau dan tidak pernah dijelaskan tentang

Jamaah ini dan untuk tujuan apa jamaah ini dibentuk. Mau tidak mau walaupun belum pernah berniat, saya adalah salah seorang yang sudah sah sebagai anggota Jamaah NII yang harus melaksanakan kewajiban untuk mendengar dan mentaati semua program yang telah diatur dan disusun untuk saya dan teman-teman di Pakistan dan Afghanistan. Saya difahamkan sekiranya tidak setia dengan baiat maka akan berdosa dan telah berkhianat kepada Jamaah NII. Ternyata semua orang Indonesia dan Malaysia (orang-orang Malaysia yang diberangkatkan setelah saya) yang mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu adalah anggota NII yang telah dibaiat. Saya tidak mengerti mengapa kelompok yang menisbahkan kelompok mereka dengan Indonesia merekrut orang-orang selain warga Indonesia seperti warga Malaysia? Yang pantas untuk menjawab pertanyaan ini adalah orang Indonesia sendiri yang datang ke Malaysia secara ilegal pada awal tahun 1985 seperti Ust. Abu Bakar Baasyir, Hilmy Bakar Almascaty, Ust. Abu Jibril, Ust. Solihin, dan lain-lain yang bersama mereka yang melaksanakan dakwah NII di Malaysia. Tetapi apa yang pernah saya difahamkan bahwa mereka meyakini bahwa Islam tidak terbatas kepada status kewarganegaraan. Perekrutan tetap dilaksanakan terhadap siapa saja tanpa merubah misi untuk berjuang di Indonesia. Dan mereka mengkonsentrasikan kegiatan yang mengarah untuk Indonesia. Begitulah yang selalu dilaung-laungkan bahwa Negara Islam Indonesia (NII) harus dimerdekakan lebih duluan pada setiap tausiyah di setiap hari Jumat di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Tidak ada kelompok lain dari orang Indonesia atau Malaysia yang mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu (Harbiy Pohantun). Saya tidak tahu mengapa, sepertinya sudah ada kesepakatan antara Jamaah NII dengan Tanzim Ittihad-e-Islamiy Afghanistan untuk membatasi para calon siswa Akademi Militer itu yang hanya dari kelompok Jamaah NII dari faksi Ust. Abdul Halim saja. Orang-orang Indonesia yang datang ke Afghanistan yang bukan melalui jalur Ust. Abdul Halim (baik ketika masih NII atau Al-Jamaah Al-Islamiyah) akan mengikuti latihan kemiliteran di bawah kamp-kamp latihan milik orang Arab di Afghanistan dan berperang bersama-sama orang Arab di medan pertempuran di Afghanistan. Saya yakin bahwa semua orang Indonesia dan Malaysia yang mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah anggota Jamaah NII sebab semuanya ikut hadir dalam acara Majelis pengajian yang diadakan pada setiap hari Jumat selepas solat Asar yang memang khusus untuk anggota Jamaah NII yang pernah dibaiat sebelum berangkat ke Afghanistan. Seminggu sekali pada kesempatan waktu pengajian hari Jumaat itu, sejarah Negara Islam Indonesia (NII, DI/TII) diceritakan secara seperingkat-seperingkat sampailah saya tahu perjalanan sejarah perjuangan NII di Indonesia. Dan kemudian saya juga memahami akan tujuan NII yang ingin mengembalikan kegemilangan Kartosuwiryo memproklamirkan Negara Islam Indonesia di sebuah wilayah Jawa Barat pada 7 Agustus 1949. Begitulah yang pernah dijelaskan kepada saya pada waktu itu sehingga Negara Islam yang telah diproklamir oleh Kartosuwiryo itu diserang oleh pemerintah Sukarno yang kemudian mengeksekusi Kartosuwiryo dan dikuburkan di tempat yang tidak diketahui rimbanya. Negara Islam Indonesia yang dianggap sah itu, diyakini telah dijajah oleh pemerintahan Sukarno (Presiden RI pertama), oleh karena itu adalah menjadi kewajiban bagi anggota Jamaah NII untuk memerdekakan tanah yang diyakini

pernah diterapkan Hukum Allah yaitu Syariat Islam. Karena saya adalah warga Malaysia, maka saya harus membantu untuk melaksanakan tujuan itu walaupun saya bukan warga Indonesia, sebab saya difahamkan bahwa Islam tidak mengenal status warganegara dan batas negara. Begitulah alasan anggota NII yang telah merekrut umat Islam yang bukan berwarganegara Indonesia. Seringkali diingatkan kepada anggota Jamaah NII untuk tetap menjaga diri dan siap berjuang di Indonesia. Alasan mengapa tidak mempunyai rencana pelaksanaan Jihad berjuang di Malaysia pada waktu itu, adalah karena Indonesia lebih banyak anggota, lebih dulu memulai perjuangan Islam dan lebih utama dimerdekakan, demikian juga disebabkan sejarah Negara Islam pernah tercatat di Indonesia. Pada awalnya saya tidak begitu tertarik dengan apa yang diperjuangkan oleh orangorang Indonesia ini sebab saya adalah warga Malaysia. Sedangkan apa yang saya inginkan sudah tercapai, berjihad di bumi Afghanistan dan membantu umat Islam. Saya tidak pernah berniat untuk pergi ke Indonesia, malah ingin tinggal di Afghanistan lebih lama untuk berkhidmat dan membantu umat Islam Afghanistan, berkenaan dengan keinginan mati Syahid, hanya Allah SWT saja yang dapat menentukan. Dan jika berpeluang untuk berkeluarga maka saya akan mencari pasangan dari gadis Afghan, pada waktu itu. Tetapi oleh karena semua anggota berada di bawah pengaturan sebuah Jamaah yaitu Jamaah NII maka saya tidak boleh berbuat sesuka hati, segala hal yang ingin diperbuat haruslah atas pengetahuan dan izin dari mas’ul setempat. Sebagai tanda kesetiaan kepada ucapan baiat maka harus mentaati pimpinan Jamaah NII di mana pun saya berada. Semakin lama bersama dengan orang-orang NII membuat saya menjadi simpati dengan perjuangan Jamaah NII di Indonesia tetapi rasa simpati tersebut sebatas ingin mendidik dan melatih anggota Jamaah NII yang berada di Akademi Milker Mujahidin Afghanistan pada waktu itu. Saya difahamkan bahwa Jamaah NII sudah pernah memiliki panduan kenegaraan yang pernah diterapkan semasa pemerintahan. Pada sekitar tahun 1992, Ust. Abdus Somad pernah datang bersama Pak Harits ke Kamp Towrkham (NII) memberi penjelasan tentang NII dan memberikan penjelasan tentang buku panduan kenegaraan NII yaitu yang berjudul 'Pedoman Dharma Bhakti' dan 'Qanun Asasi'. Beliau menjelaskan bahwa Indonesia adalah tempat pertama yang harus dimerdekakan dan diperjuangkan, bukan negara Malaysia atau Singapura. Tetapi kemudian pada suatu waktu di Towrkham Afghanistan, sekitar bulan January 1993, saya dipanggil oleh Zulkarnain ke Peshawar, yang kemudian saya di beritahukan tentang Ust. Abdul Halim dan Ust. Abdus Somad yang memisahkan diri mereka dari Jamaah NII. Sehingga saya diberi peluang untuk memilih salah satu pemimpin sebagai pimpinan yang diikuti yaitu Ust. Abdul Halim atau Ajengan Masduki. Dengan penjelasan bahwa seandainya saya memilih Ust. Abdul Halim maka saya masih berpeluang untuk tetap tinggal di Afghanistan tetapi seandainya saya memilih Ajengan Masduki, maka akan diuruskan pemulangan saya ke Malaysia secepatnya. Menurut Zulkarnain, semua teman-teman akan ditanya dan ditawarkan dengan hal yang sama. Supaya pendirian sikap seorang tidak dipengaruhi oleh yang lain maka Zulkarnain hanya melakukan penjelasan dan penawaran itu secara berempat mata saja, demikianlah praktek yang selalu dilakukan oleh para pemimpin Jamaah NII dan juga oleh Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dan beliau mengingatkan untuk tidak memberitahu siapapun dari teman-teman tentang keputusan dan pilihan yang telah dibuat.

Oleh karena saya masih ingin berada di Afghanistan dan saya tidak begitu cenderung bertanya lebih dalam tentang konflik yang terjadi di peringkat pimpinan atasan, maka saya memilih Ust. Abdul Halim sebagai pimpinan saya, yang memang juga saya sudah lama mengenali beliau. Selanjutnya saya diminta untuk berbaiat terhadap pemimpin saya yang baru yaitu kepada Ust. Abdul Halim yang diwakili oleh Zulkarnain, maka dengan demikian saya sudah bukan lagi anggota Jamaah NII. Dalam arti kata lain bahwa saya sudah menjadi anggota sebuah jamaah baru di bawah pimpinan Ust. Abdul Halim. Sekali lagi peristiwa berbaiat yang saya lakukan dengan tujuan agar dapat tinggal lebih lama di Afghanistan, niatan ini tidak pernah saya ungkapkan. Kurang lebih sama dengan baiat yang saya setujui laksanakan ketika pemberangkatan ke Afghanistan tahun 1987. Sejak itu, awal tahun 1993 orang-orang Indonesia yang berada di kamp latihan Towrkham, baik yang mengikuti program Akademi Militer ataupun kursus singkat hanyalah terdiri dari orang-orang yang memilih Ust. Abdul Halim selaku pimpinan mereka yang baru di bawah organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah, baik siswanya maupun para instrukturnya.

Bab 4 Al-Jama'ah Al-Islamiyah
4.01 4.02 PUPJI Al Jamaah Al Islamiyah 4.03 Amir dan Majelis-Majelis Pembantu 4.04 Mekanisme Kerja Al-Jamaah AlAmir Islamiyah 4.05 Mempersiapkan Kekuatan Personal

AL-JAMAAH AL-ISLAMIYAH dibentuk pada sekitar Januari 1993, ketika itu saya sedang bertugas sebagai salah seorang instruktur kemiliteran di kamp latihan milik jamaah NII dari jalur Ust. Abdul Halim di Towrkham Afghanistan. Setelah jamaah NII infishol (berpecah) maka saya melanjutkan profesi saya di bawah kepimpinan jamaah yang baru yaitu Al-Jamaah Al-Islamiyah, dan bertugas melatih di tempat yang sama di Towrkham yang sudah berpindah milik menjadi kamp latihan milik AlJamaah Al-Islamiyah. Setelah kembali ke Malaysia pada akhir tahun 1993 atau awal tahun 1994, tiada tugas yang dibebankan kepada saya, hanya sesekali diminta untuk memberi tausiyah (nasehat) kepada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di Johor Bahru Malaysia. Pada sekitar bulan September atau Oktober 1994, saya ditugaskan untuk berangkat ke Mindanao Filipina Selatan bersama 4 orang anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain. Pemberian tugas itu hanya disampaikan oleh Ust. Mustaqim secara lisan sebagai pesan dari Ust. Zulkarnain kepada saya. Ust. Mustaqim menyampaikan amanat itu adalah dengan cara memanggil saya sendirian ke rumahnya di sekitar Madrasah Luqmanul Hakim tanpa disaksikan oleh orang lain, menurut Ust. Mustaqim bahwa perintah ini juga dari Ust. Abdul Halim. Tujuan berangkat ke Filipina Selatan itu adalah untuk melatih kemiliteran anggota-anggota Pejuang Bangsa Moro yang berlokasi di tengah-tengah pulau Mindanao Filipina Selatan.

Dari awal pelaksanaan tugas melatih Pejuang Bangsa Moro sampai kamp latihan kemiliteran, kamp Hudaybiyah, dapat dibuka pada sekitar bulan Desember 1994. Sejak itu saya bertugas selaku ketua kamp Hudaybiyah dan instruktur kemiliteran di kamp Hudaybiyah itu hingga sekitar akhir tahun 1996. (detilnya akan dijelaskan pada bab Perjalanan ke Mindanao) Pada awal tahun 1997, setelah kembali dari Mindanao Filipina Selatan, saya bertugas mengajar bahasa arab di Madrasah Luqmanul Hakim di Johor Bahru Malaysia. Posisi saya di dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah selaku anggota staf di Wakalah Usman Bin Affan (disebut juga Wakalah Johor) yang dipimpin oleh Mukhlas alias Ali Ghufron. Wakalah itu adalah salah satu Wakalah di Mantiqi I dibawah pimpinan Hambali yaitu yang meliputi Semenanjung Malaysia dan Singapura. Awalnya Mukhlas mengatakan bahwa dia perlukan seseorang untuk menduduki posisi sebagai Ketua Kirdas (pleton) yang membawahi 3 Fiah (regu), yang sebelum ini belum pernah dijabat oleh siapapun. Oleh karena beliau mengetahui pengalaman saya, maka beliau mengharapkan saya mampu membentuk satu sistem dalam sebuah Kirdas. Pelantikan dilakukan di rumah Mukhlas yang terletak di sekitar Madrasah Lukmanul Hakim Johor Bahru, yang kemudian ketika dalam suatu rapat wakalah saya diundang untuk diperkenalkan kepada anggota stafnya yang lain. Pada waktu itu (1997) Noordin M.Top adalah salah satu Ketua Fiah di wakalah itu dan Azahari adalah anggota fiah-nya. Noordin M.Top membawahi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang berada di sekitar Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor Bahru. Fiah Noordin M.Top ketika itu dibawah Kirdas saya. Ketika itu Noordin M.Top adalah salah seorang mahasiswa di UTM sedangkan Azahari adalah dosen di UTM. Di Madrasah Lukmanul Hakim ini, masih sekitar tahun 1997, saya kenal Ismail Datam yang duduk di Muallimin 1 madrasah tersebut. Ismail Datam kemudian saya ketahui mengaku terlibat bom Hotel JW Marriott di Jakarta pada 5 Agustus 2003 bersama Tohir yang juga pernah mengajar di Madrasah Lukmanul Hakim sekitar tahun 2000/2001. Sekitar bulan Agustus 1997, saya dilantik sebagai Ketua Wakalah dibawah Mantiqi III. Pelantikan saya ditunjuk oleh Mustapha yang datang ke Madrasah Lukmanul Hakim untuk menemui saya. Kami duduk berdua di masjid di Madrasah Lukmanul Hakim, beliau memberitahu saya bahwa beliau telah diangkat selaku Ketua Mantiqi III yang meliputi Sabah Malaysia, Mindanao Filipina, Tarakan, Nunukan Indonesia dan Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia. Saya percaya dengan apa yang dikatakannya itu, sebab tidak pernah ada dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang berani mengaku-ngaku punya jabatan dalam jamaah. Itulah etika yang ada pada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu saling percaya. Beliau langsung mengatakan bahwa beliau perlu orang-orang untuk membantunya dalam melaksanakan tugas selaku Ketua Mantiqi III, yaitu diperlukan seorang ketua wakalah yang akan ditempatkan di Sabah Malaysia. Beliau mengambil keputusan memilih saya karena saya telah bernikah dengan orang Sandakan Sabah yang diperkirakan tidak akan mendapat kesulitan seandainya saya bertempat tinggal di Sandakan Sabah Malaysia dan ditambah lagi pengalaman saya yang pernah melewati Tawi-tawi Filipina Selatan untuk menyeberang ke Mindanao Filipina akan sangat membantu beliau dalam melaksanakan tugasnya.

Saya menerima tawaran beliau itu (tanpa disaksikan oleh orang lain), kemudian ia mengatakan bahwa pelantikan adalah wewenangnya setelah calon ketua wakalah itu menyetujui, karena beliau hanya tinggal menginformasikan kepada Amir Jamaah AlJamaah Al-Islamiyah yaitu Ust. Abdul Halim untuk disetujui. Mustapha juga akan menginformasikan kepada Mukhlas, Ketua Wakalah Usman Bin Affan di Johor Bahru (Wakalah Johor), karena saya adalah salah satu anggota Mukhlas pada waktu itu. Sejak itu saya dianggap sah selaku Ketua Wakalah di Sabah walaupun tanpa surat pelantikan, dan Mustapha menghendaki saya segera berpindah ke Sandakan, Sabah. Pada 30 Agustus 1997 saya bersama isteri berpindah ke Sandakan, Sabah, Malaysia, dengan biaya yang diberikan oleh Mustapha. Sekitar awal atau pertengahan tahun 1998, sebagai Ketua Wakalah Badar (di Sabah) saya ditugaskan oleh Mustapha untuk mengurus perjalanan para anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang akan berangkat berlatih kemiliteran dan berjihad di Filipina Selatan bersama para Pejuang Bangsa Moro. Segala urusan keluar masuk anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah tersebut dari Indonesia ke Filipina Selatan diatur baik secara legal ataupun secara ilegal. Sejak itu kegiatan keluar masuk anggota Al-Jamaah AlIslamiyah ke (atau dari) Filipina Selatan berjalan lancar hingga akhir tahun 2002. Perintah untuk mengurus anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah menyeberang ke Filipina Selatan adalah dari Mustapha karena beliau-lah yang mempunyai wewenang selaku Ketua Mantiqi Tsalis (III). Begitu juga setelah Mustapha menjabat sebagai Bidang Diklat di level Markaziyah, beliau juga lah yang menginstruksikan saya untuk mengurus penyeberangan. Mustapha selalu berjabatan di atas jabatan saya dalam struktural Al-Jamaah Al-Islamiyah dan saya selalu berposisi bawahannya. Akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000, saya ditugaskan oleh Mustapha (Ketua Mantiqi III) sebagai salah satu instruktur untuk semester ketiga dari angkatan pertama program latihan Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah yang bertempat di kamp Hudaybiyah, dengan jangka waktu selama 6 bulan saja. Sekitar bulan Mei 2000 saya sudah kembali ke Sabah Malaysia. Perencanaan tugas bagi saya untuk bertugas sebagai salah seorang instruktur di kamp Hudaybiyah pada semester ketiga dari angkatan I Akademi Milker Al-Jamaah Al-Islamiyah telah saya ketahui di Manado pada akhir tahun 1999 dimana Mustapha menunjukkkan daftar nama para instruktur yang direncanakan untuk setiap semester bagi angkatan I Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah yang telah dipilihnya. Nama-nama tersebut menurut Mustapha sudah disetujui oleh Amir Jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu Ust. Abdul Halim. Sekali lagi saya harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mustapha yang memang begitulah kebiasaan yang terjadi harus selalu percaya kepada pimpinan. Pada sekitar akhir tahun 2000 saya diberitahu oleh Mustapha bahwa ada kemungkinan saya akan menggantikannya untuk menjabat sebagai Ketua Mantiqi III. Pergantian itu disebabkan karena beliau memegang dua tugas sebagai pimpinan yaitu pimpinan Mantiqi III dan pimpinan projek Uhud (program pembinaan teritorial di Poso) yang dibentuk pada pertengahan tahun 2000. Kesibukan beliau dalam mengurusi pengiriman anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah ke Poso membuat beliau tidak bisa memberi perhatian optimal dalam urusan Mantiqi III. Menurut beliau, saya diusulkannya ke pihak Markaziyah dan Amir Jamaah Al-Jamaah AlIslamiyah yaitu Ust. Abdus Somad untuk menggantikannya menjabat Ketua Mantiqi III. Menurut Mustapha sesuai dengan ketentuan di PUPJI bahwa yang berwenang untuk melantik Ketua Mantiqi III adalah Amir Al-Jamaah AlIslamiyah maka saya harus bertemu dengan Ust. Abdus Somad yang juga dikenal dengan nama Ust.Abu Bakar Baasyir.

Sekitar bulan April 2001, saya diundang Mustapha untuk datang ke Indonesia yang menurutnya bahwa saya akan dibawa bertemu dengan Ust. Abdus Somad. Setibanya saya dan Mustapha di Solo, bertempat di Maahad 'Ali (Gading Solo), Ust. Abdus Somad sudah berada di salah satu kantor Maahad Ali. Setelah Ust. Abdus Somad selesai menghadiri acara rapat, saya dipanggil masuk menemuinya lalu diajak berbicara di kamar yang hanya saya dan Ust. Abdus Somad saja tanpa kehadiran Mustapha di kamar itu dan tanpa ada yang lain ikut menyaksikan. Ust. Abdus Somad langsung mengatakan bahwa saya sekarang menggantikan posisi Mustapha selaku Ketua Mantiqi III. Saya menerima dengan tanpa bantahan karena sepengetahuan saya sejak wafatnya Ust. Abdul Halim sekitar akhir 1999 Ust. Abdus Somad adalah Amir Jamaah yang berikutnya yaitu pimpinan paling tertinggi dalam organisasi yang saya berada di dalamnya yaitu Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dan saya juga mengetahui bahwa orang yang mempunyai wewenang untuk melantik ketua Mantiqi adalah Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Sementara Mustapha berjabatan sebagai Bidang Diklat di tingkat Markaziyah. Kemudian sekitar pertengahan tahun 2003 saya berhenti dari aktif bersama AlJamaah Al-Islamiyah karena sebab-sebab tertentu yang timbul dari sikap dan tindakan sebahagian dari kalangan pemimpin dan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah, baik menurut hukum manusiawi maupun menurut hukum syar'ie (akan saya jelaskan pada bab Keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah), oleh sebab itulah saya tidak setuju dan tidak mau bergabung lagi di dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Berikut ini penjelasan tentang organisasi atau Jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah seperti yang saya fahami dahulunya selaku anggota organisasi tersebut.
Apakah

Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah pecahan dari Jamaah Darul Islam atau dikenal dengan nama NII, yaitu kelompok yang melanjutkan perjuangan Negara Islam Indonesia. Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah Organisasi/Jamaah yang terdiri dari orang-orang Muslim yang memiliki seorang pemimpin yang disebut sebagai Amir Jamaah. Jamaah ini bukanlah Jama'atul Muslimin tetapi merupakan Jama'atun minalMuslimin, maksud dari minal-Muslimin adalah kelompok atau organisasi ini terdiri dari sebagian orang-orang Muslim saja, yaitu bukan bermaksud umumnya semua umat Muslim di seluruh dunia. Jamaah ini atau kelompok ini di namakan dengan nama Al-Jamaah Al-Islamiyah. Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah JAMAAH atau ORGANISASI dengan alasan bahwa Al-Jamaah Al-Islamiyah memiliki pimpinan jamaah yang ditaati, anggota jamaah dan struktural kepimpinan (jalur komando). Dalam arti kata lain, terdapat orang yang mentaati dan orang yang ditaati, terlebih lagi apabila pemimpinnya sudah jelas yaitu seorang yang disebut sebagai Amir Jamaah. Asal usul pemberian nama ini tidak diketahui, sementara saya mengetahuinya dari anggota senior dalam jamaah ini seperti Ust. Zulkarnain, Ust. Mukhlas, Ust. Mustapha, Hambali, Ust. Mustaqim, Ust. Afif dan banyak lagi dari pimpinan atasan saya. Dan, nama Jamaah Islamiyah singkatan dari Al-Jamaah Al-Islamiyah sudah menjadi buah mulut (pribahasa melayu) di antara sesama anggota jamaah. Menurut yang difahamkan kepada saya, bahwa jamaah ini sama seperti kelompok atau organisasi Islam yang lain yang menggunakan nama Islam atau yang identik dengan Islam. Sebagai contoh nama sebuah kelompok atau organisasi yang memberi nama

Al-Jamaah

Al-Islamiyah

itu?

dengan nama Partai Islam, tidak berarti selain anggota Partai Islam bukan Muslim. Begitu juga sebagai contoh yang lain, kelompok bernama Majelis atau Partai Mujahidin, dengan pemberian nama tersebut bukan berarti mereka adalah mujahidin dan bukan berarti selain mereka bukan mujahidin. Tetapi nama itu adalah sebagai pembeda atau sebagai tanda untuk menunjuk wujudnya sebuah kelompok yaitu gabungan orang-orang tertentu. Nama Jamaah Islamiyah berbeda dengan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Berbeda karena Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah jamaah atau kelompok tertentu sementara Jamaah Islamiyah adalah umat Islam keseluruhan sebagaimana jika disebutkan perkataan 'Jamaah' di dalam hadis-hadis selain yang bermaksud jamaah salat, maka 'Jamaah' itu berarti khilafatul Muslimin atau umat Islam. Oleh sebab itu, seperti apa yang difahamkan bahwa Al-Jamaah Al-Islamiyah diberi nama dengan menggunakan kata ‘Al’ yang berarti khusus atau makrifah menurut tata bahasa Arab. Secara lisan (sebutan) memang agak kesulitan untuk menyebut kata Al-Jamaah AlIslamiyah secara berulang kali sehingga menjadi kebiasaan bagi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk memperpendek sebutannya menjadi 'Jamaah Islamiyah' saja (kebiasaan memendekkan sebutan adalah merupakan bagian dari budaya orang Indonesia yang suka memperpendek istilah/nama). Kata Al-Jamaah Al-Islamiyah telah diperpendek secara lisan dan tulisan menjadi dua macam kata yaitu Jamaah Islamiyah dan JI. Sementara apabila kata 'JM' dan perkataan 'Tanzim' disebutkan di antara sesama kalangan anggota maka perkataan itu bukanlah singkatan kata namun adalah sebuah kode rahsia yang bermaksud Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ini adalah dua contoh kode dari sekian banyak kode yang diperlakukan didalam AlJamaah Al-Islamiyah. Anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah telah terbiasa dengan penggunaan kode (kata yg tidak beraturan) dan penggunaan istilah yang diambil dari bahasa asing seperti Parsi, Poshtun, Tagalog, Maguindanaon, Arab dan Inggeris. Sehingga istilah tersebut menjadi kegunaan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan sesama anggota AlJamaah Al-Islamiyah dan menjadi istilah administrasi di dalam organisasi. Memang sengaja dicari kata-kata yang tidak difahami oleh orang awam dan ada kalanya tidak difahami oleh anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain karena mereka belum pernah berlatih. Semua kegiatan ini adalah bertujuan melaksanakan prinsip Tanzim Sirri. Pemberian nama untuk sesebuah kelompok dibenarkan di dalam Islam dan seandainya sesuatu kelompok tidak memberikan namanya sendiri maka pihak lain yang akan memberikannya nama, suka atau tidak pasti diberikan jika tidak pernah memiliki nama. Begitu juga sudah naluri alam bahawa sesuatu benda itu memiliki nama dan jika tidak ada nama atau kita tidak tahu namanya maka pasti akan kita namakan sesuatu itu. Apabila di dalam sekelompok orang, ada orang yang ditaati dan ada orang yang mentaati maka otomatis mereka adalah sebuah kelompok atau jamaah, baik mereka menamakan diri mereka atau tidak, yang jelas pasti terlihat berbentuk sekelompok orang yang bersatu. Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah salah satu dari sekian banyak jamaah atau organisasi yang ada di dunia sekarang ini. Itulah sebabnya Al-Jamaah Al-Islamiyah mengakui akan keberadaan jamaah Islam yang lain yang memiliki Aqidah dan tujuan yang sama biarpun metode yang digunakan berbeda serta di bawah kepimpinan orang tertentu dan dengan nama yang tersendiri. Pengakuan itu tentunya sepanjang

perjuangan mereka berlandaskan petunjuk Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana yang difahami oleh Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ada orang yang mengartikan Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan arti Umat Islam dan selanjutnya mengakui bahawa dirinya juga adalah Al-Jamaah Al-Islamiyah. Bagi saya silahkan saja mengakui demikian karena sah-sah saja bagi sesiapa yang ingin membuat pengakuan dengan nama tersebut, karena semua umat Islam baik individu atau organisasi adalah Jamaah Islamiyah. Mereka punya hak untuk membuat pengakuan itu tetapi belum tentu mereka adalah merupakan bagian dari kelompok Al-Jamaah Al-Islamiyah, apabila proses untuk menjadi anggota kelompok Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak dilalui dan tidak memenuhi persyaratan, maka seseorang tersebut belum dikatakan sebagai salah seorang anggota dari jamaah atau kelompok atau organisasi yang dimaksud dengan nama Al-Jamaah Al-Islamiyah, walaupun dia telah mengaku-ngaku sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Untuk mengetahui seseorang itu adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah apabila ada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain yang memperkenalkannya, tanpa perlu pembuktian tertulis atau diuji, hanya dengan diperkenalkan itu sudah cukup bagi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain untuk mempercayai anggota yang memperkenalkan itu karena etika saling mempercayai antara sesama sangat kuat. Biasanya dalam memperkenalkan itu bahasa yang digunakan adalah "ini ikhwan kita" atau "mereka ikhwan-ikhwan kita". Dan juga apabila orang tersebut mengikuti kegiatan yang khusus untuk kalangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah seperti Majelis-Majelis pengajian untuk kalangan anggota, rapat, kegiatan latihan fisik indoor atau outdoor, rekreasi, perkemahan dan tempat-tempat latihan kemiliteran yang hanya disediakan untuk kalangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Sebenarnya tidak semua umat Islam diperlukan menjadi anggota Al-Jamaah AlIslamiyah, oleh karena itu tidak semua orang Islam ditawarkan untuk menjadi anggota meskipun orang Islam tersebut adalah seorang ustaz, kiyai, pendakwah dan ulama Islam. Tetapi bukan berarti jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak memerlukan para ustaz, kiyai, pendakwah dan ulama Islam sebagai anggota namun keterlibatan mereka akan diseleksi dan dipertimbangkan sesuai penempatan fungsi mereka untuk gerakan dakwah Al-Jamaah Al-Islamiyah. Maka jika ada orang yang merasa tidak pernah ditawarkan untuk terlibat menjadi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah bukan berarti orang tersebut tidak diperlukan atau tidak diajak untuk beramal saleh. Namun, orang tersebut jika telah akrab dan dekat dengan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah maka dengan tanpa disadarinya dia telah masuk ke dalam lingkungan gerakan dakwah Islam Al-Jamaah Al-Islamiyah, yang berkedudukan sebagai suporter atau simpatisan bagi organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah. Secara bahasa kasarnya bahwa mereka telah 'dimanfaatkan' atau 'difungsikan' untuk tujuan dakwah Islam Al-Jamaah Al-Islamiyah. Jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak pernah menjanjikan orang Islam yang telah menjadi anggota akan masuk syurga. Masuk atau tidaknya seseorang ke dalam syurga adalah tergantung dari amal pribadinya yang baik dan saleh yang dilaksanakan sepanjang hidupnya dan diterima oleh Allah SWT, biarpun orang tersebut bukan dari kalangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dan, anggota AlJamaah Al-Islamiyah juga dapat masuk ke Neraka Jahanam jika mereka melakukan dosa dan melanggar larangan Allah SWT. Tetapi apa yang menyedihkan adalah ada sebagian anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang telah menggunakan ayat-

ayat Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW untuk mendorong seseorang untuk siap mengorbankan dirinya menjadi pelaksana bom bunuh diri di tengah kerumunan orang awam dengan alasan mati syahid dan masuk syurga. Sebagian dari umat Islam yang telah menjadi anggora Al-Jamaah Al-Islamiyah setelah melalui proses pembinaan dan tarbiyah, diharapkan mampu menjadi tulang punggung untuk menyebarkan dakwah Islam dan melaksanakan misi Islam yaitu tertegaknya Syariat Islam. Sementara kebanyakan umat Islam yang lain atau masyarakat awam (non-Muslim) akan di kategorikan dan dikondisikan menjadi umat pendukung (supporter), umat simpatisan (simpatizer) dan umat netral (tidak mengganggu atau memusuhi dan tidak berpihak kepada pihak lawan). Sehingga masyarakat awam yang terdiri atas umat Islam dan umat non-Muslim dapat berpotensi melancarkan urusan terlaksananya misi Islam yaitu tertegaknya Syariat Islam yang selanjutnya otomatis menjadi Negara Islam.

Menentukan persyaratan keanggotaan untuk menjadi anggota adalah hal yang wajar bagi sesebuah institusi atau organisasi. Organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah menetapkan persyaratan itu adalah untuk mendapatkan personal yang sudah

terseleksi sesuai dengan sifat organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Persyaratanpersyaratan itu sebagai berikut:
1. 2. 3.

4.

5.

Harus beragama Islam, karena organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah organisasi Islam. Harus memahami ajaran Allah dan Rasul-Nya tentang perlunya berjamaah. Sebelum ditawarkan untuk iltizam (bergabung kedalam jamaah), umat Islam diberikan program tholabul 'ilmi (menuntut ilmu pengetahuan) berupa pengajian-pengajian dan kursus-kursus agama selama kurang lebih satu setengah tahun hingga dua tahun, supaya orang-orang yang ikut bersama organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah dalam keadaan sadar dan faham berdasarkan pengetahuan yang ada menurut Al-Quran dan As-Sunnah, harus menerima Ushulul Manhaj Al-Harakiy Li-Iqomatiddin, karena itu adalah prinsip gerakan Al-Jamaah Al-Islamiyah. (akan dijelaskan di bawah), bermubaya’ah atau berbai’at dengan Amir Jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah, adalah sebagai sebuah pernyataan ikatan setia untuk beramal solih sesuai syariat Islam. Bai'at (disebut juga Bai'ah) yang diucapkan adalah Bai'at Amal bukan yang dimaksudkan bai'at janji setia kepada Amir Al-Jamaah AlIslamiyah dan bukan pula seperti bai'at kepada Khilafah. Baiat ini dapat dilakukan secara langsung dengan berjabat tangan kepada Amir Jamaah ataupun secara tidak langsung kepada Amir Jamaah (yaitu dengan cara Amir Jamaah mewakilkan pengangkatan baiat itu kepada orang yang ditunjuknya). Harus aqil baligh. Organisasi ini diperuntukkan kepada orang dewasa saja sebab anak-anak belum layak untuk bergiat atau beraktivitas di dalam organisasi. Dan, akhirnya harus melewati tahapan Tamhish (penseleksian) supaya terseleksi dan diyakini bahawa seseorang itu masuk ke dalam organisasi AlJamaah Al-Islamiyah secara sadar serta bersungguh-sungguh untuk memperjuangkan Islam dan supaya dapat dipastikan bahwa ianya bukan bagian dari penyusupan musuh.

Tholabul 'ilmi (menuntut ilmu) yang dimaksud adalah program pendidikan kepada masyarakat baik Muslim maupun non-Muslim yang dilaksanakan secara bertahap. Tahapan-tahapan pendidikan tersebut adalah sbb: Pertama: Tahapan Tabligh. yaitu pendidikan yang diberikan ini bersifat kepada masyarakat umum tanpa batas jumlah dan tempat seperti sekolah, pesantren, universitas, masjid, tabligh akbar dan media cetak/elektronik. Kedua: Tahapan Taklim. yaitu pemberian materi pendidikan dalam bentuk kursuskursus yang terbatas jumlah partisipan. Seperti kursus bahasa Arab, Haji dan Umrah dan lain-lain. Ketiga: Tahapan Tamrin. partisipan terdiri dari orang-orang tertentu yang ditawarkan untuk mengikuti pengajian tertutup yang terdiri dari kenalan-kenalan yang pernah mengikuti program-program pada tahapan Tabligh dan Taklim. Pada tahapan ini para partisipan mula diberikan materi (subjek) islamiy secara berurut yaitu Usuluts Tsalasah, Aqidah, Islam, Iman, Akhlak, Ibadah dan Sirah Nabi. Keempat: Tahapan Tamhish. yaitu tahapan lanjutan dari Tahapan Tamrin. Partisipan yang masih tersisa dan tetap istiqomah (setia) mengikuti pengajian di Tahapan Tamrin akan diberikan materi lanjutan yaitu Hijrah, Jihad, Jama'ah,

Imamah dan Bai'ah. Sekaligus pada tahapan ini disampaikan juga materi 10 prinsip Ushulul Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien, yaitu prinsip gerakan Al-Jamaah AlIslamiyah. Pada tahapan ini ada orang yang ditugaskan untuk mempelajari latar belakang partisipan agar partisipan tersebut benar-benar ikhlas dan bersungguhsungguh. Partisipan yang telah dinilai lulus pada Tahapan Tamhish akan diberi tawaran untuk bergabung di dalam jamaah (komunitas) tanpa menyebutkan nama jamaah yang akan dia bergabung. Orang yang akan menilai seseorang itu lulus untuk diberikan tawaran iltizam (bergabung) adalah pembinanya yaitu ustaz dalam sebuah pengajian dan biasanya orang-orang yang telah melewati tahapan-tahapan seperti yang di atas akan menerima tawaran tersebut. Maka mereka akan menjalankan praktikal berbai'at untuk bergabung sebagaimana prosedur yang telah ditetapkan di dalam aturan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Orang yang berwenang menerima pengangkatan bai'at adalah Amir Jamaah AlJamaah Al-Islamiyah, dan boleh juga Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah mewakilkan kepada orang lain untuk menerima baiat seseorang. Dan lafaz bai'at yang menjadi akad ijab qabul yang diucapkan sebagai persyaratan keanggotaan adalah seperti berikut (sambil berjabat tangan):

Amir Jamaah (atau orang yang diwakilkan menerima baiat) akan menyebutkan: “Wajib keatas Anda untuk memenuhi janji Allah dan Mitsaq-Nya, yaitu hendaklah Anda berwala' kepada orang yang berwala' kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hendaklah anda memusuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, dan hendaklah Anda saling bantu-membantu di atas kebenaran dan ketakwaan, dan janganlah Anda saling bantu-membantu dalam (urusan) dosa dan permusuhan. Dan apabila kebenaran ada bersamaku (Amir Jamaah) maka hendaklah Anda membantu kebenaran itu dan sekiranya aku di atas kebatilan maka janganlah Anda membantu kebatilan itu.” Lalu orang yang berbai'at mengucapkan, “Aku menerima bai'at ini semampuku.” Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seseorang yang telah diakui sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebagai berikut:
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Mendengar dan taat kepada Amir menurut kemampuannya dalam halhal yang tidak maksiat. Mentaati peraturan Jamaah. Meminta izin kepada Amir dan/atau Mas'ulnya masing-masing bagi yang bertugas dalam urusan jamaah apabila ada uzur. Tidak melakukan sesuatu yang mengakibatkan madharat kepada jamaah. Membantu Amir bila benar dan meluruskannya bila berbuat salah. Membela Amir dan melindungi Amir. Saling membela dan melindungi anggota yang lain.

Keanggotaan dan aktivitas organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak terbatas di sebuah negara saja, tetapi Jamaah ini bersifat 'alamiy, maksud 'alamiy adalah internasional, yaitu keanggotaan, pergerakan dan aktivitas organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah bisa dilaksanakan di mana-mana, di dalam dan di luar negeri yang tidak ditentukan. Sebagaimana di dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah terdapat 4 Mantiqiy, yaitu 4 wilayah gerakan dakwah tanpa dibatasi wilayah rasmi sesebuah negara. (Fungsi Mantiqi akan dijelaskan pada keterangan tentang PUPJI). Pada Al-Jamaah Al-Islamiyah terdapat 10 prinsip Islam (Ushulul Manhaj Al-Harakiy Li-Iqomatiddin) yang harus menjadi pegangan anggota Al-Jama'ah Al-Islamiyah dalam hidupnya dan mengajak umat Islam yang lain untuk memiliki pegangan yang sama. (akan dijelaskan pada keterangan tentang PUPJI). Untuk mencapai sasaran terbentuknya sebuah Negara Islam atau Daulah Islam yang menjadi tujuan akhir, maka Al-Jamaah Al-Islamiyah menentukan cara dan langkah yang harus ditempuh yaitu:
1. 2. 3. 4.

Dakwah Islam (seruan dan ajakan). Tarbiyah (pendidikan). Amar ma'aruf dan Nahi 'anil Munkar (teguran dan perbaikan). Hijrah (berpindah untuk menyelamatkan Iman dan Aqidah ke suatu tempat atau wilayah yang aman), dan jihad fi Sabilillah (mempertahankan dengan kekuatan akan kedaulatan wilayah Negara Islam yang sudah dibentuk).

Langkah-langkah yang disebutkan ini adalah berlandaskan tuntunan Rasulullah SAW dan perintah Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Quran. Dan apa yang saya mengerti tentang tujuan Al-Jamaah Al-Islamiyah dari Jihad fie Sabilillah dengan penggunaan kekuatan bukan berarti digunakan untuk membuat kerusakan di muka bumi dengan melakukan aksi-aksi kekerasan seperti pengeboman di tempat awam (publik) dan pembunuhan tanpa hak. Tetapi pengetahuan dan kemahiran tersebut adalah untuk membela Agama (Islam), Umat Islam, Umat manusia dan Negara.
PUPJI

Jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah memiliki sebuah buku panduan organisasi yang bernama Pedoman Umum Perjuangan Al-Jamaah Al-Islamiyah atau sebutan pendeknya adalah PUPJI. Buku PUPJI tidak pernah dicetak, tetapi buku PUPJI disusun dari hasil ketikan yang kemudian diperbanyak dengan cara di-photocopy.

Salinan atau photocopy buku PUPJI (Pedoman Umum Perjuangan Al-Jamaah AlIslamiyah) itu bukanlah buku bacaan biasa yang bisa didapatkan di toko-toko, dan buku PUPJI itu juga bukanlah buku pedoman ritual, PUPJI adalah buku pedoman yang disusun secara umum dalam rangka ‘memberikan gambaran sistematik gerak langkah jamaah yang terpadu antara nilai prinsipil (Islam) dan langkah-langkah kegiatan yang cermat, terarah dan teratur’ (kutipan dari PUPJI) yang diperuntukkan bagi organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Buku PUPJI adalah buku pegangan bagi para pengurus organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah, seperti: Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah, Pelaksana harian Amir, (orang yang punya wewenang seperti Amir Jamaah), Anggota Markaziy (Majelis Qiyadah Markaziyah) atau Badan Pekerja Amir, Pimpinan Mantiqiy dan anggota stafnya (Majelis Qiyadah Mantiqiyah), dan pimpinan Wakalah serta anggota stafnya (Majelis Qiyadah Wakalah).

Segala langkah pergerakan dalam organisasi di setiap tingkat pengurus harus disesuaikan dengan ketentuan yang telah ditetapkan di dalam PUPJI, dengan harapan supaya prinsip dasar pentadbiran jamaah/organisasi menjadi seragam dan wujud ketertiban yang sempurna. Disamping itu pelaksanaan PUPJI disesuaikan menurut keadaan setempat dan kebijakan pimpinan setempat karena PUPJI adalah pedoman yang bersifat garis besar sehingga kesempatan inisiatif diberikan kepada pengurus di lapangan. Dan PUPJI berlaku untuk seluruh jajaran pengurus di dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah. Namun pengetahuan tentang PUPJI ini hanya terbatas di tingkat pimpinan atasan saja, sementara anggota yang lain dituntun dan diberi pengarahan tanpa mengetahui bahwa tuntunan dan pengarahan itu bersumber dari buku pedoman gerakan dakwah Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu PUPJI, malah tidak pernah mengetahui PUPJI. Begitu juga tidak semua anggota organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah pernah melihat akan bentuk wujud buku PUPJI ini namun ada juga yang pernah mengetahuinya atau pernah mendengarnya tetapi tidak pernah melihatnya sama sekali. Asas, Sasaran dan Jalan Perjuangan yang ditentukan di dalam PUPJI untuk AlJamaah Al-Islamiyah adalah bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah dan sejarah Islam sejak kenabian Nabi Muhammad SAW, dan dapat dirujuk pada sumber yang berasal dari buku-buku rujukan. Isi kandungan atau judul yang ada di dalam buku PUPJI adalah sebagai berikut: Muqoddimah (pembukaan) Dalam pembukaan kata buku PUPJI, dijelaskan secara ringkas bahwa ada 3 poin mendasar yang menjadi ketentuan pokok hidup umat Islam dan juga menjadi dorongan kepada organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk menyusun buku PUPJI yaitu; Hidup adalah untuk beribadah di muka syariat kepada Allah SWT. untuk SWT.

Keberadaan manusia melaksanakan

bumi

ini adalah Allah

Hidup di dunia adalah ujian kepada manusia, yang menjadi ajang penseleksian hamba Allah yang paling baik amalannya. Mengingat kepada misi diutusnya para nabi ke muka bumi adalah untuk menegakkan agama Islam.

Ushulul Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien Artinya adalah pokok-pokok pedoman/metode berharokah untuk menegakkan Agama. Di dalam Ushulul Manhaj Al-Harokiy LiIqomatid Dien terdapat 10 prinsip yang harus menjadi pegangan anggota Al-Jama'ah Al-Islamiyah dalam hidupnya. Prinsip-prinsip itu harus menjadi landasan dalam setiap kali sebuah konsep dan manhaj akan dilahirkan.

Prinsip Pertama: Tujuan kita hanyalah untuk mencari keredhaan Allah SWT dengan cara yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Prinsip Kedua: Aqidah kita adalah Aqidah Ahli Sunnah wal Jama'ah 'ala Minhajis Salafis Solih. Prinsip Ketiga: Pemahaman kita tentang Islam adalah Syumul, mengikuti pemahaman As-Salafis Solih. Prinsip Keempat: Sasaran perjuangan kita adalah memperhambakan manusia kepada Allah saja dengan menegakkan kembali Khilafah di Muka Bumi. Prinsip Jalan kita adalah Iman, Hijrah dan Jihad Kelima: Fie-Sabilillah.

Prinsip Keenam: Bekal kita adalah : Ilmu dan Takwa. Yakin dan Tawakkal. Syukur dan Sabar. Hidup Zuhud dan mengutamakan Akhirat, Cinta Jihad Fie-Sabilillah dan Cinta Mati Syahid. Prinsip Ketujuh: Wala' kita kepada Allah SWT, Rasulullah SAW dan Orang-orang yang beriman. Prinsip Musuh kita adalah Syaitan Jin dan Kedelapan: Syaitan Manusia.

Prinsip Kesembilan: Ikatan Jama'ah kita berdasarkan atas kesamaan Tujuan, Aqidah dan Pemahaman terhadap Ad-Dien (agama). Prinsip Kesepuluh: Pengamalan Islam kita adalah secara murni dan kaffah, dengan sistem Jama'ah, kemudian Daulah, kemudian Khilafah. Yang dimaksud dengan sesuai pemahaman ‘ala Minhajin Salafis Solih adalah bahawa pemahaman Al-Quran dan As-Sunnah berdasarkan penjelasan para ulama Islam yang berada di dalam kurun waktu 300 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, sebab menurut sebuah hadis bahawa umat Islam yang terbaik adalah umat Islam yang berada di dalam kurun waktu 3 kurun sejak zaman kenabian dan setelah wafatnya Nabi Muhammad

SAW. Al-Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien Artinya adalah Pedoman/Metode berharokah untuk menegakkan Agama. Dalam Al-Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan menegakkan Agama secara bertahap dalam bentuk garis besar. Tahapan-tahapan itu disusun berdasarkan dari Ushulul Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien. Maksud dari menegakkan Agama adalah melaksanakan Syariat Islam. Maka organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah menyusun tahapan-tahapan gerakan organisasi secara garis besar yang bertujuan menjadi wacana yang mengarah kepada pembentukan sebuah Negara Islam atau Daulah Islam bermula dengan melaksanakan Syariat Islam. Dengan terbentuknya susunan tahapan-tahapan operasional akan berguna untuk menjadi patokan selangkah demi selangkah dalam perjuangan menegakkan Syariat Islam dan Daulah Islam. Tahapan-tahapan secara garis besar di dalam Al-Manhaj Al-Harokiy Li-Iqomatid Dien terbagi tiga: Persiapan untuk Menegakkan Daulah Ada tiga hal yang harus dilaksanakan di dalam tahapan ini yaitu Takwinul Jama'ah (pembentukan Jamaah), Takwinul Quwwah (pembentukan kekuatan) dan Istikhdamul Quwwah (penggunaan kekuatan). Pembentukan Jamaah diarahkan kepada perekrutan pimpinan dan tulang punggung Jamaah yang akan melanjutkan perjuangan. Pembinaan kerahasiaan organisasi dan pembinaan loyalitas (ketaatan) dan ketegasan dalam berorganisasi. Pembentukan Al-Qiyadah Ar-Rosyidah adalah salah satu dari kegiatan Pembinaan Personal yaitu para anggota Al-Jamaah AlIslamiyah diberikan pengetahuan dan pendidikan agar terbina dan terbentuk sehingga memiliki jiwa kepemimpinan yang bertanggungjawab dan amanah, dimana akan bermanfaat untuk dirinya, keluarganya, bangsanya dan umat Islam. Hasilnya nanti di antara anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang terpilih akan siap kapan-kapan saja diberikan tanggungjawab sebuah jabatan kepimpinan. Pembentukan Al-Qiyadah Ar-Rosyidah dilakukan karena setiap manusia pada dasarnya adalah pemimpin. Pembentukan Qiyidah Solabah juga adalah salah satu dari bentuk kegiatan Pernbinaan Personal. Pengetahuan dan pemahaman yang diberi diharapkan dapat memperkokoh pendirian dan prinsip hidup anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang dimana dengan sendirinya akan kelihatan tokoh-tokoh penerus atau anggota yang bisa diandalkan untuk membela perjuangan dan dakwah Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang kuat. Tiada tim khusus atau

orang-orang tertentu yang dipilih dan dilantik untuk menjadi Qoidah Solabah. Sedangkan Qoidah Solabah lahir atau tumbuh dan terbentuk dengan sendirinya tanpa diperintah dan direkayasakan. Qoidah Solabah itu boleh terdiri dari seorang, sekelompok kecil dari massa atau sebuah jamaah dan dapat juga dalam bentuk sebuah organisasi. Pernbinaan Tandzim Sirri, Tandzim berarti organisasi dan Sirri berarti rahsia, maksudnya adalah bahawa organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah organisasi rahsia dan tertutup. Dengan begitu semua kegiatan dan penataan organisasi haruslah memiliki unsur rahsia dan setiap kegiatan yang dilaksanakan tidak lepas dari pengamanan dan kerahsiaan. Antara sesama anggota juga dilaksanakan prinsip kerahsiaan, begitu juga informasi dan penjelasan sesuatu urusan tidak diberikan kepada sembarangan anggota, bukan karena mencurigai akan dikhianati tetapi yang dikhawatirkan adalah takut kalau terlepas bicara atau ceroboh dalam berbicara tanpa disadari akibat setelah itu. Pembentukan kekuatan adalah pernbinaan personal (anggota Jamaah) dan pembinaan teritori (masyarakat) yang bersifat dakwah, pendidikan dan hubungan antar organisasi (jamaah) mulai dijalin lalu dilakukan kerjasama antar jamaah. Tahapan ini dilakukan sebelum tertegaknya Daulah Islam. Pembinaan Tajnid, Tajnid diambil dari kata Jannada-Yujannidu yang berarti menjadikan seseorang itu tentara. Program Tajnid adalah bagian daripada program pembinaan Jihad. Para anggota Al-Jamaah Al-lslamiyah diberikan program Tajnid bagi mendidik kedisiplinan dan ketertiban dalam mekanisme kerja organisasi, dan juga dengan program tajnid maka anggota Al-Jamaah Allslamiyah akan memiliki pemikiran dan watak seorang tentara yang teguh kepada perjuangannya. Di antara kegiatan Tajnid yang diberikan kepada anggota Al-Jamaah Al-lslamiyah antara lain adalah, berkhemah, olahraga, kegiatan indoor/outdoor, pengkajian materi kemiliteran, latihan kemiliteran tanpa menggunakan peralatan militer/perang dan pengiriman anggota yang terseleksi ke tempat-tempat konflik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tamwil berarti pendanaan. Yaitu Al-Jamaah Al-lslamiyah berusaha untuk memiliki sumber pendanaan bagi menunjang misi perjuangan organisasi. Kegiatan ekonomi dan kutipan sumbangan dari anggota, pendukung dan simpatisan diatur sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk kegiatan perjuangan organisasi Al-Jamaah Al-lslamiyah. Al-Amnu wal Istikhbarah, Al-Amnu secara harfiyah diterjamahkan dengan arti aman, tenteram dan keamanan, sedangkan arti Al-Istikhbarah berarti mencari informasi dan

memata-matai (ada juga yang memberi istilah Jasus tetapi kata Jasus tidak tepat untuk digunakan bagi pihak sendiri, selalunya kata Jasus adalah istilah yang diberikan kepada mata-mata dari pihak musuh). Tujuan dilaksanakan kegiatan Al-Amnu wal Istikhbarah adalah untuk pengamanan organisasi dan menjaga kesinambungannya. Begitu juga bagi menghindari dari ancaman bahaya dari pihak yang tidak menyenangi organisasi Al-Jamaah Al-lslamiyah. Secara praktikalnya sikap Al-Amnu wal Istikhbarah harus dimiliki oleh anggota Al-Jamaah Al-lslamiyah terlebih lagi bagi para pengurusnya. Penggunaan kekuatan di dalam tahapan persiapan penegakan Daulah ini dilaksanakan di tempat-tempat konflik bagi membela umat Muslim yang diserang, di mana saja tempatnya di dunia ini, dan penggunaan kekuatan juga dilakukan setelah ada perintah (pernyataan) dari Amir Jamaah untuk berjihad dengan menggunakan senjata di daerah atau wilayah tertentu. Ad-Dakwah Al-lndzariyah diterjamahkan dengan arti Seruan Peringatan, yaitu sebelum dilakukan aksi peperangan atau Jihad maka sebuah seruan/ajakan atau pemberitahuan diberikan sebagai peringatan. Hal ini dilakukan mengingat akan cara yang dituntun didalam syariat Islam, bahawa Rasulullah SAW tidak pernah menyerang suatu kaum kecuali setelah diperingatkan. Pelaksanaan Jihad Fie-Sabilillah, Jihad secara bahasa diartikan "bersungguh-sungguh" dan Fie-Sabilillah artinya "Di Jalan Allah". Setiap perkataan Jihad Fie Sabilillah disebut, artinya adalah Perang di Jalan Allah mcmerangi musuh Allah dan RasulNya dengan jiwa, harta, lisan dan lain-lain yang bisa digunakan. Yang dimaksudkan dengan Musuh Allah SWT dan Rasul-Nya adalah orang-orang yang memulakan peperangan memerangi Agama Islam. Dan Jihad Fie Sabilillah juga dilakukan bagi membela nasib umat Islam di mana saja, yaitu umat Islam yang diserang dan dianiaya. Urutan kegiatan jihad Perang adalah I'dad (Latihan), Ribath (berjaga-jaga di perbatasan) dan Qital (Perang). Jihad Musalah berarti berjihad dengan menggunakan senjata yaitu yang bermakna Perang. Ketika Amir Al-Jamaah AlIslamiyah sudah mengiklankan atau mendeklarasikan perang atau membenarkan untuk ikut berperang membantu umat Islam maka kegiatan Jihad Musalah harus dilaksanakan, dan pelaksanaannya diatur sedemikian rupa sehingga kegiatan Jihad Musalah dapat terlaksana sesuai syariat Islam dan sesuai strategi perang. Kegiatan Jihad Musalah dapat dilaksanakan di tempat-tempat tertentu yang telah difatwakan boleh berjihad dengan bersenjata bagi membela Islam. Tanpa ijin Amir AlJamaah Al-Islamiyah dan Fatwa dari Majelis Fatwa Al-Jamaah Al-Islamiyah maka anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak boleh menggunakan pengetahuan dan kemampuan berperang, dan

juga

tidak

boleh

melakukan

sesuatu

aksi

kemiliteran.

Pembinaan Qoidah Aminah, Qoidah berarti basis dan Aminah berarti aman. Maksud dari Pembinaan Qoidah Aminah adalah Mewujudkan Basis yang Aman, sebagaimana Nabi Muhammad SAW pernah menjadikan Madinah sebagai Qoidah Aminah. Yaitu bahwa Al-Jamaah Al-Islamiyah berusaha untuk mendapatkan sebuah wilayah yang dapat dijadikan basis yang aman dari kekuasaan musuh, atau boleh dikatakan bebas dari kekuasaan pemerintahan yang ada. Qoidah Aminah yang direncanakan bertujuan menjadi basis dan pusat kegiatan Al-Jamaah AlIslamiyah yang bermula dari bentuk perkampungan dengan lingkungan yang islamiy dan pelaksanaan syariat Islam . Tetapi sehingga kini belum ada satu wilayah yang masuk kategori menjadi Qoidah Aminah. Penegakan Daulah Penegakan Daulah adalah tahapan setelah suatu wilayah dapat diterapkan atau dilaksanakan Syariat Islam dan proses selanjutnya membangun administrasi kenegaraan, yang kemudian melakukan hubungan diplomatis antar negara. Sebuah Negara yang berlandaskan Syariat Islam otomatis menjadi sebuah Daulah Islam atau sebuah Negara Islam yang selanjutnya dapat melangkah untuk menuju pembentukan sebuah Khilafah. Penegakan Khilafah Penegakan Khilafah dibentuk dari gabungan beberapa negara Islam yang bersatu dan bersepakat di bawah satu kepimpinan. Maksud dari Khilafah 'ala Minhajin Nubuwah adalah sebuah gabungan pemerintahan Islam yang melaksanakan Syariat Islam sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Wallahu 'alam. Al-Manhaj Al-Amaliy Li-Iqomatid Dien Al-Manhaj Al-Amaliy Li-Iqomatid Dien mengandung pengertian Pedoman Umum Operasi atau diterjemahkan oleh PUPJI sebagai 'Manajemen operasional untuk menegakkan Agama '. Al-Manhaj Al-Amaliy Li-Iqomatid Dien menjelaskan cara-cara dan langkah-langkah pengurusan (managemen) di dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Maka dalam mempertimbangkan sistem yang akan digunakan haruslah dijelaskan sumber-sumber pikiran dan rujukan ketika penyusunan yang dilengkapi dengan batas-batas. Dan harus senantiasa melengkapi pelaksanaan suatu kegiatan dengan sistem administrasi dan managemen organisasi yang sempurna. Perkataan Strata Qperasi adalah kependekan dari kata Strategis dan Taktis Operasi, maksud dari Strata Operasi memberi penjelasan bahawa aktivitas yang ingin dilakukan haruslah direncanakan dulu sesuai dengan keperluan untuk

jangka

masa

pendek

ataupun

jangka

masa

panjang.

Perkataan 'Operasi' yang dimaksudkan didalam buku PUPJI tersebut adalah bermakna kegiatan dan aktivitas, dan apa yang saya fahami dari perkataan 'Operasi' di dalam buku PUPJI itu bukanlah bermaksud sesuatu aksi operasi tindak kekerasan, seperti aksi pengeboman yang menjadikan orang awam sebagai sasaran. Rumusan (teori) manajemen yang disusun di dalam Al-Manhaj Al-Amaliy Li-Iqomatid Dien 'Manajemen operasional untuk menegakkan Agama' berguna untuk segala bidang kegiatan yang dijalankan didalam Al-Jamaah Al-Islamiyah, artinya perencanaan sesuatu aktivitas untuk bidang kegiatan apapun didalam Al-Jamaah Al-Islamiyah haruslah diatur berdasarkan metode management yang sempurna. Sepertimana yang Rasulullah Saw katakan ketika ditanya tentang pengurusan bercucuk tanam: Artinya: Sabda Rasulullah Saw: "Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.” (Hadis Sohih Muslim). Begitu juga Sayyidina Ali r.a pernah mengatakan: “Pihak yang Hak (benar) yang tidak memiliki Nidzom (management) pasti akan dikalahkan oleh Pihak yang Batil yang memiliki Nidzom.” Tidak ada satu pun bentuk operasional (program dan kegiatan) Al-Jamaah Al-Islamiyah yang berbentuk baku atau permanen yang pernah dijelaskan, dan juga tidak pernah ada teori permanent untuk cara pelaksanaannya. Yang dapat dimengerti bahawa sesebuah kegiatan itu direncanakan sesuai situasi dan kondisi yang ada pada tubuh sendiri dan luaran, dan bentuknya dapat berubah-ubah (flexible), tetapi yang paling penting, misi dan tujuan diperkirakan dapat dicapai dengan baik. An-Nidhom Al-Asasi Artinya adalah Peraturan Dasar/Asas. Peraturan-peraturan itu disusun dalam rangka membangun kerapian dan ketertiban dalam berorganisasi. Peraturan ini harus dipatuhi oleh setiap anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan cara dibimbing oleh pimpinan atasannya. Nidhom Asasi adalah peraturan berorganisasi yang berlaku untuk organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah saja. Dan tujuan peraturan itu diwujudkan adalah supaya pergerakan Organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah berjalan dengan tertib dan rapi dengan batas-batas. Struktur Organisasi Setelah Al-Jamaah Al-Islamiyah berpisah dari jamaah Negara

Islam Indonesia (Darul Islam), maka Al-Jamaah Al-Islamiyah telah membentuk suatu sistem administrasi dan struktur organiasi yang baru. Anggota Al-Jamaah Al-lslamiyah di kelompok-kelompokkan sesuai dengan wilayah gerakan aktivitas dan jumlah personal, dan pembagian tugas juga berdasarkan peran atau tugas yang diberikan. Struktur omanisasi tersebut adalah:

Amir Jamaah = Pimpinan Tertinggi. Majelis Syura = Anggota penyusun aturan organisasi. Majelis Fatwa = Anggota cendekiawan Islam. Majelis Hisbah = Anggota kontrol kegiatan. Majelis Qiyadah Markaziyah = Anggota pimpinan pusat/Markaziy. Mantiqi/Mantiqiyah = Wilayah gerakan dakwah. Wakalah = Perwakilan. Saroyah/Sariyah = Batalion. Katibah = Kompi. Kirdas = Pleton. Fiah = Regu. Toifah = Squad (kelompok yang lebih kecil dari Regu)
Amir dan Majelis-Majelis Pembantu Amir (dalam kondisi normal)

Tetapi, dalam kondisi darurat, pengurusan organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak dapat dilaksanakan secara normal disebabkan oleh gangguan dan ancaman, maka tiga Majelis pembantu Amir Jamaah akan dinon-aktifkan yaitu Majelis Syuro, Majelis Fatwa dan Majelis Hisbah. Namun, tugas dan wewenang dari masing-masing Majelis itu dibebankan kepada Majelis Qiyadah Markaziyah. Sepanjang pengetahuan saya selaku anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah pernah ada Majelis-Majelis pembantu Amir

itu pada awal pembentukan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Tetapi kemudian belakangan saya tidak mendengar lagi apalagi mengetahui Majelis-Majelis pembantu Amir itu aktif kecuali Majelis Qiyadah Markaziyah. Oleh karena Majelis-Majelis pembantu Amir adalah dipersiapkan untuk membantu pekerjaan Amir maka anggota Al-Jamaah AlIslamiyah yang dilantik dalam Majelis tersebut tidak diekspos kepada anggota bawahan, sebagai pelaksanaan prinsip Sirri (Organisasi Rahasia).
Amir dan Majelis-Majelis Pembantu Amir (dalam kondisi Darurat)

a. Amir Jamaah Amir adalah pimpinan tertinggi dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah yang mengatur gerakan organisasi. Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah yang pertama adalah Ust. Abdul Halim (atau dikenal di Indonesia dengan nama Ust.Abdullah Sungkar). Tawaran dari Ust. Zulkarnain untuk membuat pilihan pimpinan sudah pun saya kisahkan dalam bab Jamaah NII, yang menjadikan saya mengetahui buat pertama kali bahawa Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah Ust. Abdul Halim. Berikutnya dari kegiatan organisasi atau Jamaah yang memperlihatkan posisi beliau selaku Amir AlJamaah Al-Islamiyah. Kemudian setelah Ust. Abdul Halim wafat pada akhir tahun 1999, lalu jabatan selaku Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah diganti dengan Ust. Abdus Somad (atau dikenal di Indonesia dengan nama Ust.Abu Bakar Baasyir). Pertama kali saya mengetahui beliau menjabat selaku Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah dari Hambali yang telah menyampaikan kepada saya melalui telfon untuk disampaikan kepada anggota AlJamaah Al-Islamiyah yang lain terutama kepada Ketua Mantiqi III yaitu Mustapha alias Abu Tolut yang pada ketika itu sedang bertugas selaku ketua Kamp Hudaybiyah di pulau Mindanao Filipina Selatan. Mustapha tidak dapat dihubungi langsung dari Indonesia sebab keberadaannya di tengah hutan yang tidak terjangkau talian komunikasi telfon. Sementara saya yang berkedudukan di Sandakan Sabah Malaysia diberi tugas oleh Ketua Mantiqi III (yaitu Mustapha) sebagai perantara penghubung antara ketua Mantiqi III dengan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah sesuai

pengarahannya. Oleh karena itu setelah saya mendapatkan kabar pergantian Amir Al-jamaah AlIslamiyah langsung saya sarnpaikan kepada Mustapha. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Mustapha di persidangan bahawa pengetahuannya pertama kali yang mengatakan Ust. Abdus Somad adalah Amir Al-Jamaah Al-[slamiyah berasal dari saya. Berikutnya dari kegiatan keorganisasian Al-Jamaah Al-Islamiyah memperlihatkan beliau berposisi selaku Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Hanya anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang menjabat selaku pimpinan mengetahui akan status beliau selaku Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah selama melaksanakan tugas sebagai Amir, dibantu oleh Majelis Syura, Majelis Fatwa, Majelis Hisbah dan Majelis Qiyadah Markaziyah. Masa jabatan Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah bisa berakhir dikarenakan wafat, udzur syar'i (spt tua renta, pikun, cacat, gila), diberhentikan oleh Majelis Syura karena terbukti mengamalkan kekafiran dan masa jabatannya juga bisa berakhir apabila mendapat tekanan dari luar (luar organisasi) sehingga lemah untuk mengurus organisasi, seperti ditangkap atau di penjarakan dalam tempoh waktu yang tertentu atau tidak tertentu. Maka tidak mustahil jika Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah mengundurkan diri sebagai Amir apabila dia merasakan dirinya mendapatkan tekanan sehingga tidak mampu lagi mengurus organisasi. Dengan demikian akan cepat dapat digantikan dengan pemimpin yang lain sebab Al-Jamaah Al-Islamiyah mengamalkan praktek flexibility sepertimana yang dijelaskan dalam Al-Manhaj AlAmaliy Li-Iqomatid Dien. b. Majelis Syura Majelis Syura dilantik oleh Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah dan kalangan anggota yang memiliki kepakaran dan berpendidikan tinggi. Majelis Syura inilah yang menyusun peraturan dan mengajukan rancangan perubahan Nidhom Asasi. Dan Majelis Syura juga mengadakan evaluasi secara global tentang kepengurusan organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Majelis Syura juga bertanggungjawab untuk mengangkat dan memberhentikan Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dalam kondisi yang dianggap darurat oleh Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah maka Majelis Syura akan dibubarkan, sementara fungsinya akan diambil alih oleh Majelis Qiyadah Markaziyah. c. Majelis Fatwa Majelis Fatwa dilantik oleh Amir Al-Jamaah Al-lslamiyah dari kalangan anggota yang berpendidikan tinggi tentang agama Islam dan dipastikan berpegang teguh dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Majelis Fatwa berfungsi menguatkan dan meluruskan keputusan-keputusan Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dalam kondisi yang dianggap darurat oleh Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah maka Majelis Fatwa akan dibubarkan, sementara fungsinya akan diambil alih oleh Majelis Qiyadah Markaziyah. d. Majelis Hisbah Majelis Hisbah dilantik oleh Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah dari kalangan anggota yang berfungsi untuk melakukan kontrol tethadap Amir Jamaah dan seluruh anggota AlJamaah Al-Islamiyah dalam hubungan dengan kepengurusan jamaah ataupun amalamal pribadi. Majelis Hisbah bisa memberikan usulan hukuman kepada Amir AlJamaah Al-Islamiyah bagi anggota yang didapati telah melakukan pelanggaran. Dalam kondisi yang dianggap darurat oleh Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah maka Majelis Hisbah akan dibubarkan, sementara fungsinya akan diambil alih oleh Majelis

Qiyadah

Markaziyah.

e. Majelis Qiyadah Markaziyah/Markaziy. Majelis Qiyadah Markaziyah adalah sekelompok orang yang menjadi pusat pengurusan Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu terdiri anggota. Al-Jamaah Al-Islamiyah yang menjadi para stafnya melaksanakan tugas sebagai pembantu Amir Jamaah bagi menjalankan bidang-bidang kegiatan tertentu. Tidak ada tempat yang tetap sebagai kantor pentadbiran Majelis Qiyadah Markaziyah, di mana saja letak posisi (keberadaan) Amir Jamaah maka di sekitar tempat itu boleh atau akan diadakan rapat Markaziy jika diperlukan. Bidang-bidang tugas dalam Markaziyah adalah :

Pelaksana tugas Amir = Orang yang melaksanakan tugas Amir di ketika Amir Jamaah ber-halangan. (tugas ini baru di bentuk pada bulan April 2002). Aminul Khozin Dakwah Tarbiyah Diklat Askariy latihan I’lam wal Irsyad = = Bidang Bidang Bidang Am = Dakwah, Pendidikan; pembinaan maahad, rohani = Sekretaris Bendahara dan aqidah. sekolah. Militer. seperti konflik. (Humas).

Rosmiyah = = dan wal

madra¬sah, Akademi kemiliteran tempat Masyarakat

Pendidikan

Bidang Pelaksanaan Program pengiriman anggota ke A’laqot = Bidang Hubungan

Siyasiyah = Bidang Pengamat Politik. f. Mantiqi/Mantiqiyah. Mantiqi berarti wilayah, yaitu wilayah gerakan dakwah Islam Al-Jamaah AlIslamiyah, bukan bermaksud wilayah kekuasaan. Dan Mantiqi adalah pelaksana keputusan-keputusan yang telah digariskan oleh Markaziyah secara global. Pihak Mantiqi akan menterjamahkan keputusan-keputusan Markaziy menurut keadaan setempat di wilayah gerakan Mantiqi tersebut. Terkadang jika administrasi Mantiqi dalam keadaan lemah maka pihak Markaziy akan membantu untuk merumuskan teknis pelaksanaannya. Pembentukan dan penentuan wilayah gerak (wilayah kegiatan) Mantiqi ditentukan oleh pihak Markaziy. Sebatas pengetahuan saya, pada awal pembentukan Al-Jamaah Al-Islamiyah pada awal tahun 1993 hanya terdapat 2 Mantiqi saja yaitu: Mantiqi Ula (I) yang dipimpin oleh Hambali. Wilayah gerak kegiatan dakwahnya pada waktu itu meliputi Malaysia (termasuk Sabah) dan Singapura. Mantiqi Tsani (II) yang dipimpin oleh Abu Fateh. Wilayah gerak kegiatan dakwah-

nya pada waktu itu meliputi Indonesia, termasuk Kalimantan dan Sulawesi. Sedangkan kamp latihan Hudaybiyah yang dibangun pada akhir 1994 di Mindanao berada di bawah kendali langsung Markaziyah Al-Jamaah Al-Islamiyah di bawah tanggungjawab Ust. Zulkarnain. Sekitar tahun 1997, terjadi perubahan wilayah gerak dakwah bagi mantiqi yaitu: Mantiqi Ula (I) yang dipimpin oleh Hambali. Wilayah gerak kegiatan dakwahnya meliputi Malaysia Barat (Semenanjung) dan Singapura. Mantiqi Tsani (II) yang dipimpin oleh Abu Fateh. Wilayah gerak kegiatan dakwahnya meliputi Indonesia, yaitu Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali, NTB dan NTT. Mantiqi Tsalis (III) yang dipimpin oleh Mustapha bermula pada sekitar 1997. Wilayah gerak kegiatan dakwahnya meliputi Sabah Malaysia, Kalimantan Timur Indonesia, Palu Sulawesi Tengah Indonesia dan Mindanao Filipina Selatan (termasuk Kamp latihan Hudaybiyah). Daerah Poso, baru dimasukkan ke dalam wiayah Mantiqi Tsalis (III) pada bulan Oktober 2002, yang sebelumnya kegiatan dakwah di Poso dikendalikan langsung oleh Markaziyah Al-Jamaah Al-Islamiyah di bawah tanggungjawab Mustapha sejak tahun 2000. Mantiqi Ukhro (yang berarti Mantiqi yang lain, belum sempurna), yang dipimpin oleh Abdurrahim bermula pada akhir tahun 1997. Wilayah gerak dakwahnya meliputi sebagian dari Australia saja. Pada sekitar bulan April 2001, terjadi perubahan kepimpinan mantiqi dimana : Mantiqi Ula (I) = Mukhlas dilantik menggantikan Hambali. Mantiqi Tsani (II) = Nuaim dilantik menggantikan Abu Fateh. Mantiqi Tsalis (III) = Saya dilantik menggantikan Mustapha. Mantiqi Ukhro = (tiada perubahan). Belum pernah ada wilayah dakwah yang dinamakan Mantiqi (IV), seperti yang selalu menjadi keliru adalah Australia yang dikatakan Mantiqi (IV). Pernah diusulkan oleh Mustapha untuk mewujudkan wilayah Mantiqi (IV) pada sebuah rapat Markaziyah yang diadakan pada tanggal 17 Okt 2002 di Tawangmangu Solo. Dalarn kesempatan itu, Mustapha mengusulkan wilayah gerak dakwah bagi wilayah itu adalah Sulawesi keseluruhan yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah (termasuk Poso) dan Sulawesi Utara. Berarti sebagian dari wilayah Mantiqi Tsalis (III) akan dikurangi. Tetapi usulan itu tidak mendapat dukungan dari hadirin rapat Markaziyah tersebut. Mantiqi-mantiqi yang telah dibentuk ini beserta seluruh wilayah gerakan dakwahnya bukan berarti pembatasan wilayah yang bakal menjadi Negara Islam. Menurut yang saya fahami bahawa pembagian Mantiqi bukan memberi arti bahwa gabungan Malaysia, Singapura, Indonesia, Australia, dan Filipina akan dibentuk menjadi sebuah Negara Islam. Bukan itu yang dimaksudkan dengan pembahagian wilayah Mantiqi

menurut Al-Jamaah Al-lslamiyah, tetapi pembagian ini adalah untuk kelancaran administrasi dakwah Islam dan pembinaan teritorial. Oleh karena wilayah dakwah Islam Al-Jamaah Al-lslamiyah tidak terbatas pada satu negara menjadikan pembagian wilayah gerak dakwah Mantiqi terhasil dari gabungan dua atau tiga negara. Maka tidak mustahil jika ada pihak yang keliru memahami pembagian Mantiqi dengan memberi arti bahwa Al-Jamaah Al-lslamiyah ingin membangun 'Negara Islam Nusantara'. Menurut saya sungguh mustahil....Wallahu 'alam. g. Wakalah Wakalah berarti perwakilan, yaitu perwakilan bagi pentadbiran Mantiqi di wilayah gerakan dakwah. Jumlah wakalah di bawah Mantiqi tidak terbatas tetapi di setiap pembentukan wakalah baru pada sesebuah mantiqi haruslah mendapatkan persetujuan dari Markaziy. Penentuan nama untuk wakalah adalah pilihan pihak Mantiqi yang juga harus dipersetujui oleh pihak Markaziy. h. Saroyah Saroyah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Batalion yang terdiri atas tiga Katibah. i. Katibah Katibah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Kompi yang terdiri atas tiga Kirdas. j. Kirdas Kirdas adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Platon yang terdiri atas tiga Fiah. k. Fiah Fiah adalah nama bagi sebuah kesatuan seperti Regu yang terdiri atas enam hingga sepuluh orang. l. Toifah Toifah adalah nama bagi kesatuan/kelompok yang lebih kecil dari Regu, kelompok ini dibentuk jika diperlukan.
Mekanisme Kerja Al-Jamaah Al-Islamiyah pada tahun 2003

Masing-masing dari satuan tersebut dipimpin oleh seorang yang dinamakan Qoid yang berarti komandan atau ketua, dan memiliki beberapa pembantu (staf). Ketua dan anggota staf-nya disebut sebagai Majelis Qiyadah (MQ) yang berarti satuan kepimpinan atau Headquarters, kecuali satuan Fiah yang tidak memiliki Majelis Qiyadah. Tidak semua wakalah memiliki satuan hingga ketingkat Saroyah (Batalion) atau Katibah (Kompi), tergantung kepada jumlah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang berada di dalam wakalah tersebut. Ada sebagian wakalah yang memiliki beberapa fiah saja, dan ada juga wakalah yang memiliki satuan hingga ke tingkat Kirdas (Pleton). Masyarakat awam yang belum menjadi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah akan dibina dan ditarbiyah melalui kelas-kelas pengajian atau kursus-kursus pendidikan, maahad dan sekolah yang diatur oleh bidang Dakwah wal Irsyad Wakalah. Tempoh pembinaan dan tarbiyah sebelum menjadi anggota adalah sekitar setahun hingga dua tahun, lalu mereka akan diseleksi (Tamhish} dan ditawarkan untuk ikut bergabung (iltizam) ke dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah. Kemudian akhirnya mereka di bai'at dan mereka akan digabungkan ke Fiah yang ada atau mereka dibentuk menjadi satu fiah yang baru. Tujuan dibentuknya struktur organisasi Al-Jamaah Al-

Islamiyah seperti struktur kemiliteran adalah: Kegiatan dan gerakan anggota dapat dikawal dan dapat dikerahkan dengan satu komando. Terbentuknya sistem sel-sel yang tidak saling kenal. Supaya sikap dengar dan taat (As-Sam'u wat Thoatu) akan tetap terjaga. Pembinaan anggota Jama'ah dan Pembinaan Teritori (masyarakat awam Muslim dan non-Muslim) dapat terlaksana dengan baik. Pembentukan Wilayah Mantiqi Berdasarkan Fungsi Strategis Dalam rangka untuk membentuk suatu kerja yang konkrit dan saling menopang maka wilayah mantiqi yang sudah dibentuk diarahkan untuk melaksanakan tugastugas yang berfungsi secara strategis bagi Al-Jamaah Al-Islamiyah, yaitu: Mantiqi Mantiqi Mantiqi Mantiqi Ula Tsani Tsalis Ukhro (I) (II) (III) = = Wilayah Pendukung Wilayah Garap = Wilayah Pendukung Wilayah Pendukung = Ekonomi. Utama. Askariy. Ekonomi.

Mantiqi Ula (I), Wilayah Pendukung Ekonomi Mantiqi Ula yang berwilayah di Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat) dan juga Singapura mempunyai potensi ekonomi yang Iebih baik jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Peluang bisnis dan peluang pekerjaan bagi perorangan yang dapat dikatakan terhitung banyak, menjadikan wilayah ini adalah wilayah yang makmur. Dengan begitu adalah sangat pantas jika Al-Jamaah Al-Islamiyah menetapkan fungsi strategis Mantiqi Ula sebagai sumber pendapatan dan pendanaan bagi kegiatan Al-Jamaah Al-Islamiyah secara keseluruhannya. Ini disebabkan karena penghasilan/pendapatan yang diperoleh dari hasil bekerja atau usaha bisnis di dua negeri itu lumayan besar jika dibandingkan dengan tempat lain, dan begitu juga peluang-peluang untuk usaha niaga lebih banyak di wilayah Mantiqi Ula.

Mantiqi

Tsani

(II),

Wilayah

Garap

Utama

Wilayah Mantiqi Tsani (II) terdiri atas Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Bali dan Nusa Tenggara. Mantiqi Tsani dikatakan sebagai Wilayah Garap Utama adalah karena; wilayah Mantiqi Tsani berpotensi sebagai Daulah Islam, tercatat sejarah di Indonesia pernah wujud wilayah yang diproklamirkan sebagai Negara Islam. paling paling cepat dan banyak memiliki cepat dapat merekrut memperoleh simpati mudah mendapatkan dukungan anggota masyarakat masyarakat masyarakat jamaah, Muslim, Muslim, Muslim.

Maka adalah sangat kondusif untuk mencapai hasrat menegakkan Daulah Islam yang dibantu/ditopang oleh fungsi dari tiga Mantiqi yang lain, dimana secara sumber dana keuangan bagi Mantiqi Tsani (II) akan dapat dibantu dari pihak Mantiqi Ula dan Mantiqi Ukhro, sedangkan secara sumber perekrutan dan pengembangan kemiliteran akan dapat dibantu dari Mantiqi Tsalis (Wilayah Pendukung Askari). Teori gerakan menegakkan Daulah Islam ini diperkirakan akan berhasil di Indonesia karena undang-undang dan sistem yang ada di Indonesia dianggap sangat mendukung. Sebab kebebasan berdakwah di Indonesia dan kebebasan menganut faham keagamaan dapat memperlancarkan proses perekrutan dan pelaksanaan program pembinaan teritori. Ditambah lagi peraturan pembangunan tempat pendidikan yang dianggap longgar memberi peluang untuk membangun tempat rnelahirkan kader-kader penerus. Begitulah perencanaan dan harapan jamaah AlJamaah Al-Islamiyah, wallahu a’lam. Terdapat 9 wakalah di bawah Mantiqi Tsani (II) yaitu;

Keterangan: Sumbagut Jabotabek Jabar Jateng

=

= Jakarta, = =

Sumatera Bogor,

Bagian Tangerang dan Jawa Jawa

Utara Bekasi Barat Tengah

Jatim Nusra

= =

Jawa Nusa

Timur Tenggara

Mantiqi Tsalis (III), Wilayah Pendukung Askariy Pada sekitar tahun 1997 Mantiqi Tsalis (III) dibentuk. Wilayah gerakannya meliputi Sabah Malaysia, Kalimantan Timur (Indonesia), Sulawesi Utara (Indonesia), Sulawesi Tengah (Indonesia) dan Mindanao Filipina Selatan. Ketua Mantiqi III yaitu Mustapha membentuk tiga wakalah di bawah kepimpinannya dan pada awalnya beliau memberikan nama: 1. Wakalah Salat (singkatan dari Sabah, Labuan dan Tarakan) yang kemudian dinamakan Wakalah Badar. 2. Wakalah Supal (singkatan dari Sulawesi Utara dan Palu) yang kemudian dinamakan Wakalah Uhud. 3. Wakalah Hudaybiyah (merujuk kepada Kamp Hudaybiyah pusat kegiatan di wilayah Mindanao). Mantiqi Tsalis (III) diarahkan supaya mampu menjadi Wilayah Pendukung Askariy bagi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Maksud dari Wilayah Pendukung Askariy adalah wilayah yang dapat digunakan untuk Diklat Akademi Militer dan Kursus Kemiliteran jangka waktu pendek, dan juga sebagai wilayah yang mampu menjadi sumber kekuatan militer. Pada bulan Oktober 2002, program Uhud yaitu program pembinaan teritorial di daerah Poso yang ditangani oleh Markaziyah melalui kepimpinan Mustapha dihentikan. Namun daerah konflik tersebut dimasukkan ke dalam wilayah Mantiqi III yang kemudian dibentuk menjadi dua wakalah yaitu: 1. Wakalah Khaibar, meliputi daerah kota Poso dan sekitar. 2. Wakalah Tabuk, meliputi daerah Pandajaya, Pendolo dan Palopo (Sulawesi Tengah dan Selatan) Sejak Oktober 2002, terdapat lima wakalah di bawah Mantiqi Tsalis (III).

Wilayah Sabah Malaysia, Kalimantan Timur Indonesia dan Sulawesi Utara adalah berfungsi sebagai jalur penyeberangan. Jalur penyeberangan tradisional menjadi jalur utama yang digunakan, karena orang-orang tempatan/lokal sangat menguasai jalur ilegal. Sedangkan wilayah konflik yang terdapat di Mindanao, Filipina dan Sulawesi Tengah menjadikan wilayah tersebut berpeluang untuk sebagai tempat latihan dan sekalian terlibat sama dengan konflik setempat. Dan juga wilayah konflik menjadi sumber perlengkapan kemiliteran yang diperlukan. Filipina adalah sumber utama perlengkapan kemiliteran karena sepanjang pengalaman di daerah tersebut begitu mudah untuk mendapatkan peralatan, amonisi, senjata dan bahan peledak serta detonatornya, asalkan punya uang yang mencukupi sesuai kesepakatan dengan penjual dari penduduk lokal. Apalagi penyeberangan di perbatasan antar dua negara yaitu Indonesia dan Filipina masih relatif aman untuk dilewati secara ilegal.
Mempersiapkan Kekuatan Personal

Perekrutan Penambahan jumlah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah bukan hanya ditugaskan kepada para pendakwah yang diatur di bawah bidang Dakwah wal Irsyad, tetapi pembinaan personal yang solid dari sudut pemahaman agama dan aqidah dimulai sejak umur remaja atau umur anak-anak, yaitu melalui maahad-maahad, madrasah dan pondok pesantren yang diatur di bawah bidang Tarbiyah Rosmiyah (pendidikan) Markaziyah. Para lulusan dari pondok-pondok pesantren ini akan diajak atau ditawarkan untuk bergabung di dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah dan di-bai'at. Kemudian bagi yang sudah bergabung akan diberi tugas untuk berdakwah dan tugas mengajar di pondok-pondok, dan ada juga di antara mereka yang akan diseleksi dari lulusan yang terbaik untuk dikirim melanjutkan pelajaran keluar negeri yaitu ke universitas Islam, atau di antara mereka dikirim untuk mengikuti program Diklat Akademi Milker.

Selain siswa dan pelajar di Pondok Pesantren, para anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain diarahkan agar tetap menjaga kesungguhan menuntut pengetahuan agama, di mana sebelum bergabung ke dalam jamaah, mereka telah diberikan pengetahuan agama yang patut/harus diketahui dan difahami melalui kelas-kelas pengajian dan kursus-kursus, ini adalah karena kekuatan pengetahuan agama amat ditekankan. Begitu juga pengetahuan militer secara teori diatur di bawah program Tajnid (bidang kemiliteran) tingkat wakalah atau Mantiqi, sebab peluang untuk berlatih keluar negeri adalah sangat terbatas, maka program Tajnid (kemiliteran) dilaksanakan di wakalah masing-masing agar anggota yang terpilih dan layak saja yang boleh memiliki pengetahuan kemiliteran, semua itu dilaksanakan sebatas kemampuan fasilitas, ruang, tenaga pangajar dan dukungan situasi. Berjihad dan berlatih di tempat konflik Al-Jamaah Al-Islamiyah melanjutkan kegiatan pengiriman personal ke tempat konflik di Afghanistan sejak pecah kepimpinan jamaah Negara Islam Indonesia (Darul Islam) yaitu pada awal tahun 1993. Kegiatan pengiriman berlangsung akhir tahun 1994. Kem latihan yang dibangun oleh Organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah berlokasi di Towrkham Afghanistan yaitu di perbatasan dengan Pakistan. Pada November 1994, Al-Jamaah Al-Islamiyah membuka kem latihan yang diberi nama kamp Hudaybiyah. Kamp latihan Hudaybiyah berlokasi di Barera Mindanao selatan Filipina, yang dikuasai oleh Pejuang Bangsa Moro. Mulai sekitar pertengahan tahun 1997 sudah ada pengiriman personal untuk berlatih kemiliteran di kamp Hudaybiyah yaitu dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di Mantiqi Ula (I). Lalu pada sekitar akhir tahun 1998 dimulailah program latihan Diklat AKADEMI MILITER AlJamaah Al-Islamiyah di Kamp Hudaybiyah dan program latihan jangka waktu pendek atau kursus kemiliteran (Daurah Asasiyah Askariyah) yang kebanyakannya adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah kiriman dari Mantiqi Tsani (II). Pada sekitar tahun 1999 anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dikirim ke Ambon ketika sedang hangatnya konflik bersenjata yang diyakini pada waktu itu adalah akibat konflik antara suku beragama. Tujuan keberangkatan ke Ambon adalah untuk membantu dan membela nasib masyarakat Islam yang menurut informasi yang beredar di masyarakat bahwa warga Muslim dizalimi dan dibunuh tanpa hak oleh pihak warga kristen. Dan sekitar tahun 1999/2000 konflik bersenjata antar suku beragama juga terjadi di Poso, yang menurut informasi yang beredar pada waktu itu bahwa konflik tersebut bermula dari pembantaian terhadap masyarakat Muslim yang dilakukan oleh masyarakat Kristen. Maka sebuah program pengiriman anggota Al-Jamaah AlIslamiyah disusun dan diberi nama "Program Uhud" bermula sekitar tahun 2000 yang bertujuan membantu warga Muslim di Poso membangun sikap mempertahankan diri dari serangan warga kristen dan disamping itu juga membangun pendidikan Islam dan menyebarkan para pendakwah Islam di kalangan masyarakat Muslim Poso. Program Uhud ini dipimpin oleh Mustapha sebagai bagian dari program pembinaan teritorial Al-Jamaah Al-Islamiyah. Tetapi kemudian program ini dihentikan pada sekitar bulan Oktober 2002. Kesemua program pengiriman anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah ke tempat-tempat konflik adalah pada dasarnya untuk membantu dan membela nasib umat Islam yang diketahui memperjuangkan hak-hak mereka dan disamping itu pada kesempatan yang ada dimanfaatkan untuk mempelajari ilmu-ilmu kemiliteran yang diajar dan

dilatih sendiri oleh para instruktur dari kalangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Kesemua tempat latihan akan dipertahankan kesinambungan operasionalnya kecuali tempat-tempat latihan yang tidak mungkin dipertahankan atau tidak layak untuk dipertahankan karena sebab-sebab tertentu. Para partisipan yang dikirim berlatih ke tempat konflik akan menghabiskan waktunya dengan mengikuti latihan di dalam kem latihan daripada mengikuti orang tempatan (seperti orang Afghan dan Bangsa Moro) untuk pergi ikut serta berperan di dalam jihad atau peperangan, karena waktu yang tersedia untuk berada di tempat latihan adalah sangat terbatas kecuali jika daerah tempat latihan tersebut mendapat tekanan dari pihak musuh dan memerlukan tenaga tambahan untuk mempertahankan wilayah tersebut. Paling tidak, para partisipan/peserta latihan akan mendapatkan jatah untuk "Ribath" yang artinya berjaga-jaga di perbatasan, untuk jangka waktu tiga hari atau seminggu sebelum diberangkatkan pulang. Bagi para partisipan, para senior dan para instruktur yang mernang punya jatah waktu untuk tinggal lebih lama, maka mereka inilah yang lebih berpeluang untuk terlibat langsung berperan dalam kontak senjata antara pihak mujahidin dengan pihak lawannya (pasukan tentara pihak pemerintah). Pendidikan Akademi Militer I. Afghanistan Untuk strategis jangka panjang dan untuk melabirkan calon-calon pemimpin yang berkualitas dalam organisasi maka Al-Jamaah Al-Islamiyah membuat pendidikan kemiliteran pada awal tahun 1993 di Towrkham Afghanistan. Program pendidikan adalah program Pendidikan dan Latihan Akademi Militer (DikLat AKMIL) tersebut adalah lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang pernah diwujudkan atau diupayakan oleh Ust. Abdul Halim bagi pihak jamaah NII. Setelah lulus dari pendidikan Akademi Militer, para lulusan AKMIL tersebut yang terseleksi diperintahkan untuk bertugas dan memperdalam pengetahuan tambahan, yang antara lain adalah: -Menjadi instruktur dan tenaga pengajar. -Mengikuti latihan (kursus) yang diadakan di Kamp latihan milik orang Arab, seperti : • Sniper (Rifle Markmanship). • Kemahiran menembak pistol dan revolver. • Kursus bahan-bahan kimia dan peracikan bahan peledak. • Perbengkelan senjata dan amonisi. • Kemahiran merakit sirkuit elektronik. • Kursus Tank Tempur (seperti, T-60, T-59, T-72 ). • Latihan tempur infanteri di berbagai bentuk lapangan, sekaligus ikut bertempur kontak senjata melawan musuh., Dan lain-lain. -Mengikuti latihan intensif sebagai juru dakwah di Kamp Latihan Arab, atau di maahad yang dimiliki oleh orang Arab di kota Peshawar Pakistan, seperti Maahad Salman dan Universitas Dakwah wal Jihad. -Dan kursus lainnya yang diatur oleh pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah di Afghanistan yang berposisi di Peshawar Pakistan.

II. Mindanao, Filipina Selatan Setelah pendidikan kemiliteran di Towrkham Afghanistan sudah tidak dapat dilanjutkan lagi gara-gara serangan yang dilancarkan oleh Pejuang Taliban dan banyak perlengkapan yang dirampas, maka Al-Jamaah Al-Islamiyah sudah tidak memiliki tempat latihan kemiliteran. Pada sekitar bulan Oktober 1994, beberapa tenaga instruktur dari anggota AlJamaah Al-Islamiyah dikirim untuk membantu perjuangan para Pejuang Bangsa Moro di Mindanao Filipina, yaitu dengan cara memberikan pelatihan kemiliteran. Sebuah tempat pelatihan dibuka bagi memperlancarkan kegiatan pelatihan Pejuang Bangsa Moro. Tempat pelatihan tersebut dinamakan Kamp Hudaybiyah yang berlokasi di daerah hutan pergunungan di tengah-tengah hutan Pulau Mindanao. Yaitu sekitar perbatasan propinsi Lanao dan North Cotabato. Pada asalnya Kamp Hudaybiyah ini dibuka bukan atas rencana dan kebijakan Markaziyah tetapi oleh karena orang yang membukanya adalah inisiatif dari anggota Al-Jamaah AlIslamiyah dan mendapat bantuan operasional pelatihan dari Markaziyah maka kegiatan di kamp Hudaybiyah dikhususkan untuk anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan dilaksanakan program pendidikan kemiliteran yang direncanakan oleh pihak Markaziyah. Pada sekitar akhir tahun 1998, program pendidikan dan pelatihan Akademi Militer (selama 18 bulan setiap angkatan) itu dilaksanakan di Kamp Hudaybiyah tersebut. Tujuan diadakan pelatihan tersebut adalah untuk mencipta para pemimpin yang akan melanjutkan perjuangan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Akademi Militer ini milik organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah yang seratus persen diurus sendiri oleh anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah hanya saja perlengkapan belajar mengajarnya tidak selengkap sebagaimana yang pernah dimiliki di Afghanistan, namun bentuk administrasinya hampir mirip dengan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Proses penseleksian calon kadetnya dilakukan dengan harus memenuhi kualifikasi yang telah ditentukan, karena pengalaman pengiriman siswa ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang dahulu menjadi pelajaran supaya tidak terulang mengirim siswa yang tidak memenuhi persyaratan pelatihan dan tujuan yang dikehendaki. Antara persyaratan yang harus dipenuhi adalah: • Anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah (sekitar 1 hingga 2 tahun). • Status belum kawin. (bujang) • Umur sekitar 18-23 tahun. • Sihat fisik. • Tiada penyakit dalam. • Tingkat pendidikan, SMA atau sejenisnya dengan nilai rapor rata-rata minimal bernilai 7. • Kemampuan berbahasa Inggeris (minimal pasif). • Siap untuk berada di suasana perang. • Siap tidak pulang kampung jika diperlukan bertugas. • dan siap mati syahid. Tempoh latihan Akademi Militer di kamp Hudaybiyah di Cotabato Mindanao Filipina Selatan adalah tiga semester saja yaitu sekitar satu setengah tahun dan bisa mencapai sehingga dua tahun proses lengkapnya, lalu program pendidikan ini

ditutup dengan upacara wisuda (Graduation Ceremonial atau disebut dengan istilah Afghan yaitu Rasmi Gojas). Lulusan Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah di kem latihan Hudaybiyah tidak diberikan jurusan kemahiran tambahan khusus karena fasilitas yang tersedia tidak mencukupi, hanya kelebihan istimewa yang dimiliki oleh lulusan Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah di Hudaybiyah adalah memiliki pengalaman tempur karena mereka belajar dan berlatih sambil terlibat langsung dalam perang kontak senjata. Biarpun masih berusia yang cukup muda tetapi para lulusan Akademi Militer Al-Jamaah Al-lslamiyah punya cukup keterampilan militer serta mampu memimpin pasukan. Mereka dibekali dengan pengetahuan yang cukup, daya kreatif yang tinggi, ketabahan dan kemampuan untuk penyelesaian masalah (problem solving). Para lulusan Akademi Militer itu (bujang, rata-rata berumur sekitar 21 hingga 24 tahun) diberi tugas antara lain: Sebagai tenaga pengajar (Instruktur) di Karnp Hudaybiyah dan di Kamp Jabal Quba (kamp latihan baru yang dibangun pada awal tahun 2001 setelah kamp Hudaybiyah tidak kondusif sebagai tempat latihan). Sebagai tenaga administrasi kegiatan Al-Jamaah Al-Islamiyah di Filipina Selatan. Bergabung dengan kelompok Pejuang Bangsa Moro dalam operasi pertahanan wilayah. Dipulangkan ke Indonesia untuk bertugas di Mantiqi Tsani (II). Bertugas di perbengkelan senjata dan amonisi milik Pejuang Bangsa Moro di Mindanao. Berusaha Mewujudkan Basis Yang Disebut "Qoidah Aminah”. Sehingga sekarang masih belum didapatkan sebuah wilayah yang dapat dijadikan sebagai "Qoidah Aminah". Qoidah Aminah berarti Pusat Administrasi yang aman. Maksudnya adalah bahawa di tempat tersebut akan berkumpul semua pimpinan dari tingkat Amir Jamaah dan para anggota stafnya (Qiyadah Markaziy). Dan juga sebagai basis pertahanan yang akan dipertahankan oleh penduduk setempat yang sudah direkrut menjadi pendukung dan ditambah dengan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang bertempat tinggal di wilayah itu. Penetapan area/wilayah garap sebagai Qoidah Aminah sering menjadi tanda tanya dan tebakan dari kalangan para anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Pernah didengar bahawa lokasi Qoidah Aminah adalah di Malaysia Barat (Semenanjung) sebab kedua pimpinan tertinggi Al-Jamaah Al-Islamiyah berada disitu yaitu Ust. Abdul Halim dan Ust. Abdus Somad. Pernah juga diusulkan oleh salah seorang pimpinan agar Qoidah Aminah itu di wilayah yang dikuasai oleh Pejuang Bangsa Moro di Mindanao Filipina, tetapi usulan ini tidak ditanggapi. Sebagian besar anggota dan para senior menginginkan agar Qoidah Aminah itu berada di Indonesia. Sebab anggota AlJamaah Al-Islamiyah yang terbanyak adalah di Indonesia yaitu di Mantiqi Tsani (II), bersesuaian dengan fungsi strategis wilayah Mantiqi Tsani (II) yaitu Wilayah Garap Utama. []

Bab 5 Perjalanan ke Mindanao

Pertama kali mendengar perjuangan Bangsa Moro didapatkan dari berita surat kabar
lokal Malaysia sekitar tahun 80-an ketika saya masih di bangku sekolah menengah di Malaysia, tetapi berita tentang perjuangan Bangsa Moro tidaklah sepopuler berita tentang perjuangan Mujahidin Afghanistan. Sehingga kurang menarik perhatian saya, sedangkan berita tentang Afghanistan sangat mendominasi seluruh berita tentang tempat-tempat konflik yang ada pada waktu itu. Ketika sudah berada di Pakistan/Afghanistan barulah saya memahami dengan lebih banyak asal usul perjuangan Bangsa Moro dari majalah Arab yang memuat kisah perjuangan Umat Islam di Pulau Mindanao Filipina. Ditambah lagi terdapat para Pejuang Bangsa Moro yang ikut berjihad di Afghanistan yang menceritakan tentang apa yang terjadi dan apa yang mereka perjuangkan di tanah air mereka. Apa yang saya fahami dari kisah asal usul perjuangan Bangsa Moro yang diceritakan adalah bermula sejak penjajahan Sepanyol sekitar abad ke-16 dan selanjutnya perlawanan terhadap Amerika sekitar abad ke-18, tetapi puncak panasnya pergolakan perlawanan adalah apabila pemerintahan Presiden Republik Filipina yaitu Ferdinand Marcos membuat kebijakan mengisytiharkan keadaan perang 'Martial Law' yang telah mengakibatkan perang sipil yaitu konflik antar suku Muslim dan suku non-Muslim di Filipina Selatan, peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1972. Perang tersebut telah membumi-hanguskan perkampungan warga Muslim serta merampas harta dan tanah milik warga Muslim di Filipina Selatan. Untuk membela nasib kaum Muslimin yang dizalimi dan timbul rasa tidak percaya serta tidak aman berada di bawah pemerintahan Republik Filipina maka umat Islam di Filipina Selatan bangkit menuntut hak mereka untuk merdeka, pisah dari pemerintahan Republik Filipina. Dukungan dari luar negeri Filipina (Internasional) sangat diutamakan dan didahulukan sebagai langkah pertama dalam strategis pihak Pejuang Bangsa Moro daripada tergesa-gesa berusaha untuk menegakkan sebuah negara yang terpisah dari Republik Filipina. Hal tersebut telah pun mereka laksanakan seperti negara Malaysia sekitar tahun 1969 sehingga sekitar tahun 1975 yang pertama kali memberikan dukungan dan bantuan membela nasib umat Islam di Filipina Selatan, kemudian berikutnya adalah dukungan negara Libya sekitar 1972, yaitu kesan dari pendekatan yang dilakukan oleh para pelajar Muslim yang mendapatkan pendidikan Islam di luar negeri.

Pada asalnya perjuangan Bangsa Moro di bawah satu organisasi yaitu Moro National Liberation Front (MNLF) di bawah pimpinan Prof. Nur Misuari tetapi kemudian sekitar tahun 1984 berpecah dan terbentuk satu organisasi baru dari MNLF yaitu Moro Islamic Liberation Front (MILF) di bawah pimpinan Ust. Salamat Hashim yang mayoritas dari Bangsa Moro suku Maguindanaon, Maranao dan Iranon. Kemudian berpecah dari MNLF lagi menjadi sebuah kelompok baru yaitu Abu Sayyaf Group (ASG) yang terdiri dari Bangsa Moro suku Taosug dan Yakan (Basilan) di bawah pimpinan Ust. Abdur Rozak Janjalani. Sekian tahun perjuangan Pejuang Bangsa Moro telah menghasilkan berbagai usaha dan kesepakatan dengan pemerintahan Republik Filipina untuk mencari jalan penyelesaian masalah mereka. Menurut sejarah yang diceritakan kepada saya, bahwa umat Islam di Filipina Selatan dahulunya diperintah oleh sebuah Pemerintahan Kerajaan Kesultanan Sulu yang terdiri dari Pulau Mindanao, Kepulauan Tawi-Tawi, Kepulauan Palawan, Kepulauan Sangihe dan juga Sabah. Oleh karena terjadi era penjajahan dari berbagai negara berkuasa seperti Sepanyol, Amerika, Inggeris dan Jepang menjadikan Kerajaan Kesultanan Sulu terbagi-bagi yang di antaranya menjadi bagian dari Malaysia yaitu Sabah, sebagian menjadi bagian dari wilayah Indonesia yaitu Kepulauan Sangihe dan sebahagiannya lagi menjadi bagian dari wilayah Filipina yaitu Pulau Mindanao, Kepulauan Tawi-Tawi dan Palawan. Menurut yang pernah difahamkan kepada saya bahawa Sabah menjadi bagian dari Malaysia adalah hasil kesepakatan antara Sultan Kerajaan Kesultanan Sulu dengan pemerintah Inggris yang menjajah Malaysia, sebuah kesepakatan yang tiada batas waktu. Menurut Bangsa Moro suku Taosug mengatakan asal usul nama Sandakan (nama sebuah kota di Sabah Malaysia Timur) diberi karena tanah itu telah di 'gadai'. Sandak dalam bahasa Suluk (Taosug) berarti gadai, maka Sandakan berarti digadaikan. Persiapan ke Mindanao, Filipina Selatan Sepengetahuan saya hubungan Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan pejuang Bangsa Moro telah lama terjalin sejak di Pakistan dan Afghanistan, bermula sekitar tahun 1985. Dimana Ust. Zulkarnain selaku pimpinan orang-orang NII (sebelum wujud Al-Jamaah Al-Islamiyah) di Pakistan melakukan kerjasama belajar mengajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, Pakistan. Hubungan ini berlanjut hingga melaksanakan Jihad bersama-sama dengan Mujahidin Bangsa Moro di Afghanistan. Bahkan anggota NII (kemudian Al-Jamaah Al-Islamiyah) mengaku berasal dari Filipina atau mengaku dengan nama sebagai Mujahidin Filipina kepada orang-orang Afghan dan orang-orang Arab di Afghanistan, kecuali hanya

beberapa pimpinan orang arab antara lain seperti Ust. Abdullah Azzam, Abu Burhan, Umar Abdurrahman yang mengetahui asal sebenar yaitu Indonesia., dan juga dari kalangan pimpinan Tanzim Mujahidin Afghanistan hanya Ust. Abdur Rabbit Rasul Sayyaf yang mengetahui asal sebenar. Selain mereka itu semua mengetahui dari pengakuan orang-orang NII berasal dari Filipina. Untuk tujuan apa berselindung di balik nama Mujahidin Filipina tidak diketahui dengan pasti, dan mengapa pimpinan Pejuang Bangsa Moro membenarkan orang-orang NII menggunakan nama mereka juga tidak diketahui sebab urusan itu adalah urusan tingkat pimpinan tertinggi. Awal mulanya instruksi pemberangkatan ke Mindanao Filipina Selatan adalah perintah dari Ust. Abdul Halim melalui perantara Ust. Zulkarnain yang selanjutnya menyampaikan perintah kepada saya adalah Ust. Mustaqim (alias Muzayyin) supaya berangkat ke Filipina Selatan untuk melatih para Pejuang Bangsa Moro dan membantu perjuangan Jihad Bangsa Moro. Saya menerima tugas tersebut sebab yang memerintahkan saya adalah Ust. Mustaqim yang berposisi sebagai pimpinan alumnus yang pernah ke Afghanistan di Mantiqi Ula (I), saya percaya dengan apa yang disampaikannya kepada saya bahwa ini adalah perintah dari Ust. Abdul Halim. Perintah verbal sudah mencukupi bagi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah tanpa diperlukan pembuktian, sebab semua itu dilandaskan kepada budaya saling percaya. Dengan perasaan yang senang menerima tugas tersebut sekaligus menambah pengalaman saya dalam berjihad di suasana yang baru, sebabnya geografis Filipina berbeda dengan geografis Afghanistan. Dan saya juga gembira dapat membantu umat Islam Bangsa Moro yang menurut berita dizalimi dan memperjuangkan hak mereka yang dirampas. Pada waktu itu saya berada di Johor Bahru Malaysia dan diinformasikan bahwa keberangkatan nanti akan bersama beberapa orang yang dipimpin oleh Mustapha yaitu pada sekitar bulan September atau Oktober tahun 1994. Menurut Ust. Mustaqim bahwa saya harus belajar empat bahasa percakapan untuk perjalanan ke Cotabato ke tempat Pejuang Bangsa Moro di Pulau Mindanao Filipina Selatan, yaitu: -Sandakan Sabah ke Kepulauan Tawi-Tawi (Bongao) menggunakan bahasa Bajjao. -Kepulauan Tawi-Tawi ke Zamboanga menggunakan bahasa Suluk (Bangsa Taosug). -Zamboanga ke Cotabato menggunakan bahasa Tagalog. -Cotabato ke tempat para Pejuang Bangsa Moro menggunakan bahasa Maguindanaon.

Perjalanan ke Kamp Hudaybiyah Dalam waktu seminggu saya mempelajari keempat-empat bahasa percakapan tersebut dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang pernah berpengalaman tinggal di Mindanao, Filipina Selatan bersama Bangsa Moro, sekadar untuk digunakan dalam perjalanan. Dahulunya sekitar tahun 1991, sebelum terbentuknya organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah, sudah ada sekitar 5 orang Indonesia yang dikirim dari Jamaah Negara Islam

Indonesia (NII) faksi Ajengan Masduki yang bertempat tinggal bersama dengan Bangsa Moro yaitu Hambali, Fahim, Nasrullah, Shamsudin dan Akram tetapi keberadaan mereka di sana tidaklah untuk melatih melainkan hanya sebatas menimba pengalaman hidup. Namun kemudian setelah terjadinya Infisol (pisah) pada awal tahun 1993 antara pihak Ust. Abdul Halim dari pimpinan Jamaah NII menyebabkan tiga orang dari lima orang yang berada di Filipina Selatan mengundurkan diri pulang ke Indonesia yaitu mereka yang berpihak kepada Ust. Abdul Halim, mereka adalah Hambali, Fahim dan Nasrullah. Orang yang mengajarkan saya keempat-empat bahasa tersebut adalah Nasrullah yang mempunyai pengalaman bahasa dengan fasih, dan sekalian memberikan pengarahan sebagai bekal perjalanan yang akan ditempuh nanti. Melatih Pejuang Bangsa Setelah siap untuk berangkat ke Filipina Selatan, sekitar bulan September atau Oktober 1994, Ust. Mustaqim (alias Muzayyin) mengarahkan untuk berangkat ke Sandakan Sabah Malaysia dan bertemu dengan Mustapha (alias Abu Tolut). Dengan menggunakan pesawat MAS, saya berangkat dari Bandara Senai Johor Bahru menuju ke Bandara kota Kota Kinabalu Sabah dan kemudian dengan menaiki Bas ekspress menuju ke Sandakan Sabah. Moro

Di Sandakan Sabah, Mustapha bersama anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain sudah menunggu kedatangan saya, mereka adalah Nasrullah, Qotadah, Ukasyah dan Husain, kesemuanya adalah warga Indonesia. Menurut Mustapha bahawa kami semua yaitu keenam-enam anggota ini akan berangkat ke Cotabato Mindanao Filipina Selatan bertujuan melatih Pejuang Bangsa Moro yang dikabarkan telah siap menunggu untuk di latih. Pada asalnya semua akan berangkat melalui jalur tidak rasmi (ilegal) melalui Kepulauan Tawi-Tawi dengan bantuan Nasrullah selaku penunjuk jalan yang sudah berpengalaman melewati jalur ilegal dan tinggal bersama Pejuang Bangsa Moro, tetapi setelah semalaman berbincang tentang teknis keberangkatan maka Mustapha memutuskan untuk membagi rombongan kepada dua kelompok, dimana Mustapha dan Nasrullah berangkat secara rasmi menggunakan pasport ke Filipina Selatan dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandara kota Kota Kinabalu Sabah menuju Manila ibukota Filipina yang kemudian melanjutkan penerbangan ke kota Cotabato Mindanao Filipina Selatan. Sementara saya, Qotadah, Ukasyah dan Husain berangkat melalui Kepulauan Tawi-Tawi secara ilegal. Rencana berubah karena Mustapha mengatakan bahwa dia harus menaiki pesawat agar kepulangannya ke Indonesia berjalan dengan lancar dan jikapun diperlukan untuk diperpanjang maka dia akan meminta bantuan pihak pejuang Bangsa Moro untuk memperpanjangkan visa arrival-nya nanti. Perjalanan kami berempat secara ilegal dengan menggunakan kapal dagang tradisional rasmi milik warga Kepulauan Tawi Tawi yang biasanya mengangkut barang-barang dagangan dari Sabah Malaysia menuju ke Bongao di Kepulauan Tawi-Tawi Filipina. Nasrullah yang mempunyai pengalaman jalur ilegal dan fasih berbahasa lokal seharusnya menjadi penunjuk jalan bagi rombongan kami untuk melewati jalur laut yang ilegal, tetapi dia malah dibawa menemani satu orang menaiki pesawat, sungguh sebuah kebijakan pimpinan yang harus diterima. Selama perjalanan kami semua mengaku sebagai tenaga kerja Filipina yang ingin pulang ke kampung halaman, dan saya sebagai jurubicara di sepanjang perjalanan karena saya telah mempelajari empat bahasa

percakapan setempat. Terasa agak kesulitan karena tidak didampingi Nasrullah (penunjuk jalan) seperti yang direncanakan, namun rasa gembira mendapatkan tugas membantu Pejuang Bangsa Moro menghilangkan segala macam rasa kesulitan. Dari Bongao Kepulauan Tawi-Tawi menuju ke Zamboanga mengambil masa satu malam dengan menaiki kapal feri penumpang antar pulau yang biasa digunakan untuk keperluan domestik di Filipina. Begitu juga setelah mendarat di kota Zamboanga, selanjutnya mencari tiket kapal feri yang lain untuk berangkat ke kota Cotabato, perjalanan laut ditempuh selama satu malam. Setibanya kami di pelabuhan kota Cotabato, Mustapha dan Nasrullah sudah menunggu untuk menjemput kedatangan kami. Dari kota Cotabato kami berenam berangkat ke Parang dengan menggunakan kendaraan angkutan umum yang disebut 'Jeepney' oleh orang Filipina, perjalanan ditempuh sekitar tiga jam. Kemudian dari Parang ke perkampungan yang bernama Langkung dengan menggunakan 'Jeepney' yang lain, ditempuh sekitar satu jam setengah. Lalu dari Langkung dengan berjalan kaki sekitar tiga jam menuju ke perkampungan Pejuang Bangsa Moro. Setibanya kami di perkampungan Pejuang Bangsa Moro yang berlokasi di tengah-tengah hutan di Barera berdekatan dengan pergunungan Pulau Mindanao langsung ditempatkan di 'Guest House' (rumah tamu) atau orang setempat menyebutnya 'Green House' untuk kami dapat beristirehat semalam sebelum dapat bertemu dengan pimpinan Tertinggi Pejuang Bangsa Moro pada esok harinya. Setelah mendapat kesempatan bertemu dengan pemimpin tertinggi Pejuang Bangsa Moro maka Mustapha selaku pimpinan rombongan menyampaikan maksud tujuan kedatangan rombongan yang dikirim untuk melatih Pejuang Bangsa Moro. Ternyata Pejuang Bangsa Moro belumpun menseleksi dan mempersiapkan pasukannya yang akan dilatih, dengan demikian diperlukan waktu yang agak lama untuk mengumumkan dan mengumpulkan pasukan yang layak terseleksi untuk dilatih. Kabar tersebut ternyata membuat Mustapha kecewa karena informasi yang didapatkannya dari Ust. Zulkarnain sebelum berangkat ke Mindanao Filipina mengatakan bahwa orang-orang yang akan dilatih sudahpun menunggu sehingga ketika tim instruktur datang langsung dapat melaksanakan tugas mereka. Setelah pertemuan, kami langsung berbincang membicarakan tentang situasi yang ada, hasil keputusan yang dibuat oleh Mustapha adalah beliau pulang kembali ke Indonesia bersama Nasrullah dengan menggunakan pesawat karena dikhawatirkan Visa arrival-nya yang 21 hari itu tidak dapat diperpanjang. Saya berfikir kenapakah tidak dibuang saja paspor itu, bukankah tujuan asal adalah untuk melatih bukan untuk bersiar-siar naik pesawat terbang? Pastinya kegiatan melatih diperlukan masa yang cukup lama bukan hanya sehari dua saja. Tetapi oleh karena saya adalah anggota biasa dan Mustapha adalah orang yang membuat keputusan maka saya hanya bersikap menerima saja. Keputusan Mustapha mengundang ketidakpuasan dari Husain dan Ukasyah, dimana Husain juga ingin pulang seandainya Mustapha dan Nasrullah pulang. Husain pulang melalui jalur yang sama ketika berangkat yaitu melalui Kepulauan Tawi-Tawi, sedangkan Ukasyah menuntut untuk berada di Mindanao Filipina Selatan hanya sebulan saja dan

pulang

melalui

jalur

ilegal

di

Kepulauan

Tawi-Tawi.

Tinggallah saya dan Qotadah yang masih tetap bersyukur dapat berada di tanah air Bangsa Moro setelah sekian lama berhasrat untuk membantu umat Islam yang menurut kabar yang tersebar dizalimi di Pulau Mindanao Filipina. Mustapha menunjuk saya sebagai pimpinan di antara kami berdua (saya dan Qotadah) dan beliau hanya meninggalkan bekal pesan lisan untuk kami berdua yaitu supaya harus bertahan hidup dengan keadaan sekeliling sebagaimana Hambali dan Nasrullah yang pernah bertempat tinggal di situ dahulu. Alhamdulillah berbekalkan pesan tersebut kami pegang sehinggalah kami dapat melatih orang-orang pilihan dari Pejuang Bangsa Moro dengan bantuan material dari pihak Pejuang Bangsa Moro. Qotadah kemudian memperkenalkan dirinya bernama Baasyir kepada Pejuang Bangsa Moro, sejak itu beliau lebih dikenal dengan nama Baasyir di kalangan Pejuang Bangsa Moro. Hubungan antara Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan Pejuang Bangsa Moro dijalin atas dasar kepercayaan tanpa dokumen tertulis, sehingga terjadi saling mengunjungi dan saling bertukar fasilitas pelatihan. Aset yang ditukarkan kepada Pejuang Bangsa Moro adalah pengetahuan dan pelatihan kemiliteran kepada anggota Pejuang Bangsa Moro. Pada bulan pertama ketibaan sempat dijalankan program pelatihan singkat untuk anggota Pejuang Bangsa Moro selama dua gelombang dalam waktu satu bulan, setiap satu gelombang berjumlah sekitar 20 orang, tetapi lokasi tempat latihan yang disediakan oleh pihak setempat adalah berada di tengah-tengah perkampungan simpatisan Pejuang Bangsa Moro, sehingga menimbulkan gangguan kepada penduduk. Dan begitu juga kehadiran penduduk kampung yang menyaksikan pelatihan juga mengganggu kelancaran proses belajar mengajar. Lalu setelah mempertimbangkan akan keefektifan belajar mengajar maka saya usulkan kepada pimpinan tertinggi Pejuang Bangsa Moro untuk berpindah lokasi. Membuka Kamp Latihan Hudaybiyah Perintisan awal tempat latihan untuk melatih Pejuang Bangsa Moro dilakukan tanpa direncanakan dan tanpa perintah dari pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah dan tidak juga dari Mustapha selaku pimpinan tim. Sebab misi awal pengiriman personal (tim instruktur) adalah untuk melatih saja bukan membangun Kamp latihan. Oleh karena saya dan Baasyir berada di tengah hutan jauh dari kota dan tidak diberikan pengarahan untuk menghubungi jika mempunyai kesulitan maka saya dan Baasyir mengambil keputusan sendiri berlandaskan kepada bekal yang ditinggalkan Mustapha yaitu "harus bertahan hidup" dalam kata lain mempraktekkan teori Jungle Survival. Saya memandang bahwa tempat latihan yang sesuai adalah salah satu fasilitas yang harus disediakan dalam pelatihan maka saya mengambil keputusan bahwa apa yang saya lakukan tidak menyalahi misi untuk melatih Pejuang Bangsa Moro, dan malah saya menganggap membuka Kamp latihan yang baru adalah bagian dari latihan kemiliteran yang tidak kurang pentingnya. Saya berfaham bahwa kamp latihan tidak harus lengkap dengan fasilitas, tetapi bagaimana fungsinya sebagai sebuah tempat latihan dapat diwujudkan. Mungkin pihak Pejuang Bangsa Moro tidak mempersiapkan tempat sebelum kedatangan tim instruktur (dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah) karena mereka belum memahami selera dan bentuk tempat latihan yang dikehendaki oleh para instruktur.

Sekitar bulan Desember 1994, bermodalkan pengetahuan yang ada maka saya dan Baasyir (alias Qotadah) memohon izin dari pimpinan tertinggi Pejuang Bangsa Moro untuk berjalan melihat disekeliling hutan yang dikuasai oleh Pejuang Bangsa Moro. Dengan ditemani oleh seorang penunjuk jalan kami bertiga mendaki gunung dan meredah ke dalam hutan yang pada dasarnya mencari lokasi yang sesuai dengan kualifikasi yang dikehendaki, sempat kami tersesat di dalam hutan walaupun didampingi penunjuk jalan. Antara lain kualifikasi yang diperlukan adalah: • berdekatan dengan sungai yang banyak air dan mudah pengambilan airnya, • berlokasi di tempat tinggi dan dingin, supaya stamina lebih terjaga, • harus area yang agak datar atau memungkinkan untuk didatarkan dengan alat yang dipegang tangan, • Berjauhan dari penduduk dan pasar. • dan betjauhan dari jalan umum. • Terjangkau sinyal komunikasi wireless Handy Talky dengan pihak Pejuang Bangsa Moro. Akhirnya sebuah tempat di tengah hutan yang kemudian dipilih sebagai tempat latihan. Lokasi tersebut berada di titik ketinggian sekitar 950m dari paras permukaan laut dan di area perhutanan perbatasan antara propinsi Lanao, propinsi Maguindanaon dan propinsi Cotabato Utara. Berdekatan sumber mata air dingin yang deras muncul dari celah batubatu besar dan berdekatan dengan air terjun setinggi sekitar 30 meter. Bentuk geografis area dimana Kamp latihan berada telah menjadi tantangan latihan bagi para siswa yang mengikuti pelatihan di kamp Hudaybiyah. Jarak perjalanan berjalan kaki mendaki wilayah perhutanan melalui jalan setapak dari rumah warga terakhir di perkampungan Pejuang Bangsa Moro menuju Kamp Hudaybiyah memakan masa satu setengah jam (1½ jam hingga 2 jam) waktu normal, dan pastinya pakaian orang yang datang ke Kamp Hudaybiyah akan basah dengan keringat yang banyak. Area hutan dibuka dan dibersihkan oleh siswa dari anggota Pejuang Bangsa Moro, yang sudah bersedia untuk berlatih sambil bekerja. Saya membangkitkan semangat untuk bekerja membabat hutan karena tempat tersebut akan digunakan untuk jangka waktu yang lama. Waktu kerja adalah dua kali sehari yaitu pagi hari setelah olahraga dan sore setelah solat Asar. Berbekalkan kapak dan parang sedikit demi sedikit area Kamp latihan dibuka. Oleh karena Kamp latihan ini dibangun bukan atas perencanaan dari pihak AlJamaah Al-Islamiyah maka persediaan makanan hanya berupa beras yang disediakan oleh pihak Pejuang Bangsa Moro untuk jatah perorang dua kali sehari. Setiap 3 hari sekali para siswa yang berlatih turun mengambil jatah logistik berupa beras, kegiatan tersebut sekaligus latihan naik turun gunung, begitu juga kegiatan bersih membersih serta membabat hutan dijadikan sebagai latihan fisik dan mental. Kamp latihan itu saya dan Baasyir sepakat untuk menamakannya dengan nama Kamp Hudaybiyah, dan kami yakin punya wewenang untuk memberikan nama sebab kami berdua yang membukanya. Hudaybiyah adalah nama sebuah perjanjian pada zaman Nabi Muhammad SAW yang disebut juga sebagai sebuah Ghozwah (peperangan). Sesuai dengan cara perjuangan Pejuang Bangsa Moro yang selalu membuat ikatan perjanjian damai dengan pemerintah Republik Filipina. Mustapha (alias Abu Tolut) tidak mengetahui siapa yang pertama kali memberikan nama Kamp latihan tersebut sebab beliau sudah pulang ke Indonesia dan tidak pernah melatih anggota Pejuang Bangsa Moro, terlebih lagi ketika kedatangannya pada pertama kali itu

tidak pernah merencanakan untuk membuka Kamp latihan sebab itu bukan misi yang dibawanya. Misi yang dibawa Mustapha pada awal pemberangkatan tim instruktur pada akhir tahun 1994 termasuk saya bersamanya adalah untuk melatih Pejuang Bangsa Moro tetapi misi tersebut gagal dilaksanakan Mustapha alias Abu Tolut. Saya difahamkan oleh pimpinan tertinggi Pejuang Bangsa Moro bahwa di wilayah itu bagi siapa saja yang telah membuka lahan baru di hutan yang belum pernah dibuka oleh orang lain maka tanah itu adalah miliknya, dalam arti kata lain saya dan Baasyir memahami bahwa Kamp Hudaybiyah yang telah dibuka oleh kami berdua adalah milik Al-Jamaah Al-Islamiyah sebab kami adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dan kedatangan kami ke Mindanao Filipina Selatan adalah penugasan dari organisasi AlJamaah Al-Islamiyah. Terlebih lagi ketika kehadiran Ust. Zulkarnain dari pihak Markaziyah Al-Jamaah Al-Islamiyah yang mendukung dan memberikan dana pembangunan dua buah barak untuk Kamp Hudaybiyah ketika beliau datang melawat dan melihat perkembangan kegiatan kami bersama Pejuang Bangsa Moro. Begitu juga pihak Pejuang Bangsa Moro tidak pernah mengungkit serta mempersoalkan kepemilikan Kamp latihan Hudaybiyah dan mereka selalu menghormati batas wilayah kamp latihan Hudaybiyah yang memiliki aturan-aturan bagi tetamu yang datang. Kegiatan melatih anggota Pejuang Bangsa Moro di Kamp Hudaybiyah bermula dari sekitar pertengahan bulan Desember 1994 dengan jumlah siswa sebanyak 60 orang. Kemudian berlanjut hingga sekitar akhir tahun 1996 atau pertengahan tahun 1997 dengan setiap kelompok berjumlah sekitar 40-60 orang untuk selama dua bulan. Sekitar dua minggu hingga satu bulan harus vacum latihan sebab menunggu kedatangan anggota Pejuang Bangsa Moro yang baru yang akan dilatih. Bahasa yang digunakan untuk melatih dan mengajar adalah bahasa Inggeris dan bahasa Arab, lalu kemudian diterjemahkan oleh kelompok belajar anggota Pejuang Bangsa Moro karena kebanyakan mereka tidak memahami bahasa Inggeris atau Arab. Tetapi dalam kesempatan hidup bersama dengan para siswa dari Bangsa Moro, sedikit demi sedikit bahasa lokal (Maguindanaon) dan bahasa nasional (Tagalog) dapat dikuasai dengan lancar. Sehingga pada kelompok belajar berikutnya pengarahan dan komunikasi dengan siswa menggunakan bahasa lokal, walaupun pada saat di kelas bahasa tetap menggunakan bahasa Inggeris atau Arab terutamanya tulisan, yang diterjemahkan oleh salah seorang siswa yang punya kemampuan bahasa supaya tidak terjadi kesalahfahaman dalam menerima dan memberi pelajaran. Anggota Pejuang Bangsa Moro yang berlatih di kamp Hudaybiyah menyebutkan diri mereka yang mengikuti program latihan di kamp itu dengan sebutan 'Elite Force'. Sebutan nama itu adalah dikarenakan tidak semua anggota Pejuang Bangsa Moro dapat mengikuti pelatihan di Kamp Hudaybiyah, karena mereka diseleksi terlebih dulu sebelum berangkat ke Kamp Hudaybiyah. Ditambah lagi instruktur yang mengajar mereka adalah orang asing (Indonesia) lulusan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Peraturan yang ketat dikenakan keatas Pejuang Bangsa Moro yang berlatih di Kamp Hudaybiyah sehingga ada sebagian dari partisipan yang di Drop Out (DO) karena tidak berdisiplin dan melanggar aturan di Kamp Hudaybiyah. Pada pertengahan tahun 1995, Ust. Zulkarnain datang melihat perkembangan kegiatan saya dan Baasyir bersama Pejuang Bangsa Moro dan berikutnya setelah saya keluhkan kekurangan tenaga pengajar, beliau mulai mengirim anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang ditugaskan sebagai instruktur tambahan untuk membantu kegiatan belajar mengajar (melatih) Pejuang Bangsa Moro di Kamp Hudaybiyah. Di antara mereka yang

dikirim oleh Ust. Zulkarnain secara berkala dari pertengahan tahun 1995 hingga akhir 1996 adalah: • • • • • • • Amin, nama bagi Mubarak, datang sekitar pertengahan Hanif, nama bagi Ilyas, datang sekitar pertengahan Abdullah, nama bagi Sawad, datang sekitar pertengahan Umar, nama bagi Abu Syekh, datang sekitar akhir Syuja, datang sekitar akhir Ubadah, nama bagi Abdur Rozak, datang sekitar awal Abu Saad, nama bagi Faturrahman Al-Ghozi, datang sekitar akhir 1995. 1995. 1995. 1995. 1995. 1996. 1996.

Faturrahman Al-Ghozi pertama kali masuk ke Mindanao Filipina Selatan pada akhir tahun 1996, melalui jalur Manado ke Pulau Sangihe. Atas perintah Ust. Zulkarnain saya menjemput Faturrahman Al-Ghozi dengan menggunakan 'pumpboat' istilah orang Filipina dari General Santos secara ilegal merentasi laut Sulawesi menuju Pulau Sangihe. Pumpboat itu hanya muat 4 atau 5 orang saja dan perjalanan mengambil masa satu malam (sekitar 20 jam) untuk tiba di Pulau Sangihe. Sedangkan Faturrahman Al-Ghozi dihantar oleh Usaid alm yang dikenal juga dengan nama Zainal dari Manado ke Pulau Sangihe (Sulawesi Utara) untuk bertemu dengan saya. Pada sekitar akhir tahun 1996, saya diperintahkan pulang oleh Ust. Zulkarnain ke Malaysia dan pengganti saya yang memimpin Kamp Hudaybiyah adalah Baasyir yang akan melanjutkan pelatihan melatih anggota Pejuang Bangsa Moro. Menurut Ust. Zulkarnain yang saya temui di Malaysia mengatakan bahwa masa tugas saya di Mindanao bersama Pejuang Bangsa Moro sudah selesai. Keputusan yang diberikan kepada saya tersebut dengan demikian memberikan peluang untuk menamatkan masa bujang saya. Pada bulan April 1997 saya menikah di Sandakan, Sabah, Malaysia. Anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang pernah menjabat selaku ketua kamp Hudaybiyah setelah kepulangan saya adalah: 1. Baasyir: akhir 1996 pertengahan 1997. 2. Hanif (Ilyas): pertengahan 1997 awal 1998. 3. Umar (Abu Syekh): pertengahan 1997 akhir 1998. 4. Muslih Ahmad (Mustaqim/Muzayyin) (Semester I, angkatan I Akmil): akhir 1998pertengahan 1999. 5. Faris (Mukhlas alias Ali Ghufron) (Semester II, angkatan I Akmil): pertengahan 1999akhir 1999. 6. Abu Tolut (Mustapha) (Semester III, angkatan I Akmil): akhir 1999 - pertengahan 2000. 7. Abu Irsyad (Nuaim) (Semester I, angkatan II Akmil): pertengahan 2000 - akhir 2001. Ketua Kamp Jabal Quba adalah :

1. Hudzaifah (Semester II dan III, angkatan II Akmil): awal 2002 - akhir 2002. 2. Muadz (Semester I - II - III, angkatan III Akmil): awal 2003 - (tidak ada khabar) Antara sekitar akhir tahun 1996 dan tahun 1997 (saya sudah tidak bertugas di Kamp Hudaybiyah), saya mengetahui bahwa ada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dari Mantiqi I mulai dikirim untuk berlatih di Kamp Hudaybiyah dan berjihad membantu Pejuang Bangsa Moro, namun jumlah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang dikirim hanya sekitar 3-6 orang di setiap angkatan untuk jangka waktu latihan yang sangat pendek yaitu

sekitar dua minggu sampai sebulan. Imam Samudra juga pernah ke Kamp Hudaybiyah selama seminggu yaitu sekitar akhir tahun 1997, kebetulan saya yang menunjukkan jalan kepadanya atas permintaan Hambali. Lalu dari Sandakan Sabah Malaysia, Imam Samudra berangkat ke Filipina dengan cara rasmi menggunakan pasport. Sedangkan Amran, Muslim, Ali Fauzi, Noordin M.Top dan Azahari juga adalah di antara anggota AlJamaah Al-Islamiyah di Mantiqi Ula (I) yang dikirim Hambali ke Kamp Hudaybiyah untuk mendapatkan latihan kemiliteran kursus singkat pada akhir tahun 1997 yang dilatih oleh Abu Saad yang juga dikenal sebagai Faturrahman Al-Ghozi (alm). Sekitar tahun 1997, Pejuang Bangsa Moro di Barera Cotabato kedatangan tetamu dari orang-orang Arab berjumlah sekitar 15 orang yang dipimpin oleh Umar Al-Faruq dengan maksud ingin membantu dan sekaligus membuka tempat latihan bagi orang-orang Arab. Pejuang Bangsa Moro meminta bantuan instruktur dari Kamp Hudaybiyah untuk melatih orang-orang Arab tersebut. Faturrahman Al-Ghozi adalah orang yang ditugaskan oleh pihak Kamp Hudaybiyah untuk melatih orang-orang Arab tersebut di kawasan yang dinamakan Kamp Vietnam (bekas tempat latihan Pejuang Bangsa Moro) yang berdekatan dengan kamp Hudaybiyah, sekitar 30 menit waktu yang ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kamp latihan orang Arab itu (di kamp Vietnam) hanya bertahan sekitar 2 atau 3 bulan saja sebab orang Arab kecewa dengan cara perjuangan Pejuang Bangsa Moro yang dianggap suka berunding dengan pemerintah Filipina. Mereka datang ke Filipina dengan harapan mendapatkan suasana yang sama seperti Afghanistan yang senantiasa ada pertempuran. Akademi Militer di Kamp Hudaybiyah Pada pertengahan tahun 1997 kegiatan belajar mengajar di Kamp Hudaybiyah menurun karena terjadinya perubahan struktural di dalam tubuh organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah yaitu dengan dibentuknya sebuah Mantiqi yang baru (Mantiqi III), hasil keputusan rapat Markaziyah. Setelah dibentuknya kepimpinan Mantiqi III pada pertengahan tahun 1997 yang diketuai oleh Mustapha maka barulah pembaharuan bentuk kegiatan latihan di Kamp Hudaybiyah dilakukan dengan tidak lagi melatih anggota Pejuang Bangsa Moro. Kebijakan itu diputuskan oleh Ketua Mantiqi III pada tahun 1998 karena adanya rencana program yang baru dari Markaziyah Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu program Diklat Akademi Militer selama 3 semester dan Kursus Asas Kemiliteran yaitu program latihan kemiliteran untuk jangka waktu pendek selama 2 minggu, 1 bulan, 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan. Kursus Asas Kemiliteran ini pernah diberi nama dengan istilah "Takhasus" pada akhir tahun 1998 ketika Ust. Mustaqim menjabat ketua Kamp Hudaybiyah yang menggunakan nama Ust.Muslih Ahmad, kemudian berganti nama dengan istilah "Tajnid 'Am" pada pertengahan tahun 1999 ketika Ust. Mukhlas menjabat ketua Kamp Hudaybiyah yang menggunakan nama Ust. Faris dan terakhir berganti nama dengan istilah "DAA" yaitu "Daurah Asasiyah Askariyah" yang berarti Kursus Asas Kemiliteran, istilah ini bermula pada akhir tahun 1999 ketika Mustapha yang menggunakan nama Hafid Ibrahim menjabat selaku ketua Kamp Hudaybiyah merangkap ketua Mantiqi Tsalis (III). Kamp Hudaybiyah telah berubah dengan bertambah fungsinya, kamp latihan tersebut menjadi semakin sibuk dengan berbagai macam bentuk kelompok training dan kegiatan. Namun program utama yang menjadi tumpuan dan perhatian pendidikan adalah Diklat Akademi Militer, dimana pembangunan barak diperbanyak, fasilitas belajar mengajar ditingkatkan dan bentuk landskap pertamanan (landscaping) diperindah sehingga terwujud suasana sebuah Akademi Militer, sampai-sampai pintu gerbang masuk ke Kamp Hudaybiyah bertuliskan "Military Academy of Al-Jamaah Al-Islamiyah" dan di

bawah tulisan itu terdapat khat Arab yang berbunyi "Kuliah Harbiyah A.l-]amaah AlIslamiyah". Kuliah Harbiyah berarti Akademi Militer adalah istilah yang dipakai oleh orang Arab ketika menyebutkan nama Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda. Di dalam laporan tulisan terkadang disebutkan KHD-1 yang berarti Kuliah Harbiyah Dauroh-1 (Akademi Militer angkatan pertama). Begitu juga sistem pentadbiran (administrasi) Kamp Hudaybiyah diatur sedemikian rupa sehingga dapat menyerupai dengan sistem pentadbiran di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan. Baik program harian jadwal 24 jam, administrasi, kedisplinan, sistem pendidikan, materi pelajaran hinggalah pakaian berseragam. Seragam lengkap yang dipakai adalah pakaian seragam milik ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang dibeli di Indonesia atau dibeli di General Santos Filipina buatan Indonesia, dari baret hingga sepatu lars. Berbagai fasilitas belajar mengajar yang disediakan oleh kamp Hudaybiyah setelah terlaksana program Diklat Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah, seperti mesin generator untuk penerangan di malam hari dan keperluan listrik bagi alat-alat listrik seperti komputer, televisi, video player, tape player, alat komunikasi dan lain-lain peralatan listrik yang diperlukan untuk kegiatan pelatihan. Peralatan pembangunan juga dilengkapi di kamp Hudaybiyah seperti mesin gergaji (chainsaw) dan alat-alat pertukangan. Partisipan Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah yang disebut juga dengan istilah KHD (Kuliah Harbiyah Daurah) di Kamp Hudaybiyah secara berurutan adalah berjumlah sebagai berikut: (nama yang tertera adalah nama yang dipakai di Kamp Hudaybiyah Mindanao Filipina, bukan nama asal mereka). KHD-I (bermula akhir 1998) berjumlah 17 orang, mereka adalah: 01. Zulkifli, dikenal juga dengan nama Dony Afrasio. Ditahan di Malaysia di bawah tahanan ISA. 02. Hudzaifah, menggunakan nama Ibrahim Ali ketika ditahan di Malaysia di bawah tahanan ISA. 03. Abu Ubaidah, dikenal juga dengan nama Taufik Rifki. Ditahan di Filipina, belum diketahui atas kasus apa. 04. Mustaqim, dikenal juga dengan nama Kamaruddin. Ditangkap oleh Polri pada sekitar akhir bulan Juni 2004. 05. Abdurrahman, dikenal juga dengan nama Yudi Lukito. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan April 2003 atas kasus pemilikan senjata. 06. Zaid, dikenal juga dengan nama Astha. 07. Said alm. 08. Ibnu Sirin alm. 09. Usman. 10. Muadz. 11. Anwar Rozaly. 12. Hamzah. 13. Ibrahim Ali. 14. Mustapha. 15. Sulaiman. 16. Tolhah. 17. Zubair. KHD-II (bermula awal 2000) berjumlah 21 orang, mereka adalah:

01. Aqil, dikenal juga dengan nama Rohmat. Ditahan di Filipina pada sekitar bulan Maret 2005 karena dicurigai terlibat dalam aksi pemboman di Filipina. 02. Soifiy, dikenal juga dengan nama Siswanto. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api dan bahan peledak. 03. Amir, dikenal juga dengan nama Yusuf. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api dan bahan peledak. 04. Mukhriz (alm), dikenal juga dengan nama Arsyadana. Meninggal di Tacurung Mindanao, Filipina, karena kecelakaan bom yang dibawanya dalam ransel meledak pada saat dia sedang mengemudi sepeda motor. 05. Mus’ab alm. Meninggal di Mindanao Filipina, karena kecelakaan bom rakitan saat pelatihan di Kamp Jabal Quba. 06. Ukasyah (alm). Meninggal di Mindanao Filipina, karena kecelakaan bom rakitan saat pelatihan di Kamp Jabal Quba. 07. Khollad. 08. Mudjazir. 09. Abu Salamah. 10. Kaisan. 11. Zakwan. 12. Dhomroh. 13. Waqid. 14. Tsaqof. 15. Abu Hubairoh. 16. Abu Aiman. 17. Ibnu Gholib. 18. Kholid. 19. Ibnu Jahsin. 20. Ibnu Syuroqoh. 21. Bilal. KHD-III 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. (bermula awal 2002) berjumlah 20 orang, mereka adalah: Anas Amru Harun Husain Jaafar Kholil Sholih Saad Mutsanna Mughirah Miqdad Qotadah Ghozwan Zuhair Ziyad Yazid Ahmad Umair

Partisipan Kursus Singkat Kemiliteran Al-Jamaah Al-Islamiyah yang disebut juga dengan istilah DAA (Daurah Asasiyah Askariyah) di Kamp Hudaybiyah dibagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut: DAA Yarmuk, nama bagi kelompok training yang dikirim oleh

Mantiqi Tsani (II). Sejak awal tahun 1999 sudah dimulakan program DAA Yarmuk I dan selanjutnya berkesinambungan hingga DAA Yarmuk IV. Setiap angkatan berjumlah sekitar 15 hingga 20 orang. Di antara mereka yang mengikuti program DAA Yarmuk antara lain adalah: DAA Yarmuk I: 13 orang, pendidikan selama 4 bulan bermula 26 Maret 1999 hingga 22 Juli 1999 (9 Dzulhijjah 1419 11 R.Akhir 1420). 01. Abbas Ismail 02. Abdul Hamid 03. Abu Bakar 04. Auf 05. Hanifah 06. Jaafar Sodiq 07. Kaab 08. Kholid 09. Masud, dikenal juga dengan nama Tohir. Ditangkap pada akhir tahun 2003 atas kasus keterlibatannya dalam pemboman Hotel JW Marriott Jakarta tanggal 5 Agustus 2003. 10. Mutsanna 11. Sofwan 12. Suhaib 13. Umar, dikenal juga dengan nama Bambang Tutuko. DAA Yarmuk II: 22 orang, pendidikan selama 4 bulan bermula tanggal 5 November 1999 hingga 28 Februari 2000 (27 Rajab 1420-23 Dzulqoddah 1420). 01. Abbas 02. Sulaim 03. Uneis 04. Subai’, dikenal juga dengan nama Herlambang. Ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2002 atas kasus menyembunyikan pelaku Bom Bali. 05. Yazid. 06. ‘Iyas, dikenal juga dengan nama M. Saifuddin. Ditangkap pada awal tahun 2004 di Pakistan tetapi kemudian diadili di Indonesia. 07. Malik, dikenal juga dengan nama Ahmad Budi Wibowo. Ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2002 atas kasus menyembunyikan pelaku Bom Bali. 08. Sinan, dikenal juga dengan nama Makmuri. Ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2002 atas kasus menyembunyikan pelaku Bom Bali. 09. Hanzolah. 10. Khoitsamah. 11. Qois, dikenal juga dengan nama Dahlan. 12. Aus. 13. Utbah. 14. Habib. 15. Ubaid, dikenal juga dengan nama Lutfi Haidaroh. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2004 yang dicurigai menyembunyikan pelaku Bom hotel JW Marriott Jakarta yaitu Noordin M.Top dan Azahari. 16. Ubadah. 17. Naufal. 18. Nu’man. 19. Tsa’labah, dikenal juga dengan nama Yasir. Ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2003 dan divonis atas kasus pemalsuan dokumen.

20. 21. 22.

Atik. Abdullah. Anas.

DAA Yarmuk III-IV. antara lain adalah: 01. Thoriq, dikenal juga dengan nama Lulu’. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api dan bahan peledak. 02. Suyatno. Ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api dan bahan peledak. 03. Dr. Abu Baasyir, dikenal juga dengan nama Dr. Agus. 04. Dr. Imarah. 05. Ikhwanuddin (alm). Meninggal bunuh diri pada saat ditahan setelah ditangkap oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 di Jakarta. DAA Hithin, nama bagi kelompok training yang dikirim oleh Mantiqi Ula (I)

Hithin I: 10 orang, pendidikan selama 2 bulan bermula tanggal 18 Februari 1999 hingga 12 April 1999 (2 Dzulqo'dah 1419-26 Dzulhijjah 1419). 01. Abu Buraidah 02. Abu ‘Iyas 03. Abu Jandal 04. Amru 05. Ashim 06. Khabbab 07. Khiras 08. Miqdad 09. Mughiroh 10. Yasir Hithin II: 5 orang, pendidikan selama 2 bulan bermula tanggal 20 April 1999 hingga 13 Juni 1999 (4 Muharram 1420-29 Safar 1420). 01. Amir 02. Harits 03. Rofi 04. Salim 05. Suhail Hithin III dan IV: + 1,5 bulan bermula 12 Juni 1999 hingga 22 Juli 1999 (28 Safar 1420-11 KAkhir 1420). 01. Abu Ayub 02. Hatib 03. Khallad 04. MuBaasyir 05. Tamim 06. Ubaid 07. Unais Hithin V: 8 orang, pendidikan selama 15 hari bermula tanggal 17 Juli 1999 hingga 2 Agustus 1999 (6-21 R. Akhir 1420). 01. Abbas 02. Hilal 03. Nu’man

04. 05. 06. 07. 08.

Qais Rifa'ah Rib'i Uqbah Yazid

Hithin VI: 7 orang, pendidikan selama 2 bulan bermula tanggal 11 September 1999 hingga 16 November 1999 (2 Jumadil Akhir - 8 Syaban 1420). 5 orang peserta dari Mantiqi Ula (I), 1 orang peserta dari Mantiqi Tsani (II ), 1 orang peserta dari Mantiqi Tsalis (III). Terdapat juga Kursus Singkat Kemiliteran yang lain seperti: DAA Uhud: 5 orang, pendidikan selama satu setengah bulan, 5 Januari 2000 hingga Awal Maret 2000 (29 Romadhan 1420-DzulHijjah 1420), yaitu terdiri dari orang-orang Ambon. (Data dari buku laporan semester III Akmil Al-Jamaah Al-Islamiyah Angkatan I, hal.3 dan 85): 01. Atho’ 02. Hasan Basri 03. Ibnu Musayyab 04. Nafi’ 05. Thowus. 06. Abdurrahman dan Abul Khair, Arab Al-Jazaer. Pelatihan selama 2 minggu bermula 14 November 1999 hingga 28 November 1999 (6 Syaban-20 Syaban 1420). 07. Isa Al-Hindi, keturunan India warga Inggris. Pelatihan selama 2 minggu bermula sekitar awal bulan Oktober 1999 (Akhir Jumadil Akhirah 1420). 08. Ali, anggota Mantiqi Ukhro warga Australia. Pelatihan selama 1 bulan setengah bermula tanggal 4 Desember 1999 hingga 21 Januari 2000 (27 Syaban - 15 Syawal 1420). Latihan gabungan di lapangan juga dilaksanakan bagi semua kelompok pelatihan yang terdiri atas AKMIL, DAA Yarmuk, DAA Hithin, dan beberapa orang Arab yang ada pada waktu itu berjalan serentak. Jumlah penghuni kamp Hudaybiyah waktu itu seluruhnya mencapai sekitar 80 orang. Pelaksanaan Program Diklat Akademi Milker Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk Angkatan pertama (Daurah I) bermula pada tanggal 22 Agustus 1998 (bertepatan dengan 1 Jumadil Ula 1419, data dari buku laporan semester III Akmil Al-Jamaah Al-Islamiyah Angkatan I, hal.1). Sempat diadakan upacara wisuda (Graduation Ceremonial) yang disebut juga dalam bahasa arab Haflah Takhrij Kulliyah Harbiyah bagi lulusan angkatan pertama Akademi Militer pada 28 Februari 2000 (bertepatan dengan 23 Dzul Qo'dah 1420, data didapatkan dari buku laporan semester III Akmil Al-Jamaah Al-Islamiyah Angkatan I, dengan istilah dari bahasa Parsi Rasmi Ghojaz hal. l, 59, 84), dimana pada waktu itu Ust. Abdus Somad hadir meresmikan upacara dan memeriksa barisan pasukan para wisudawan. Beliau sempat bermalam di Kamp Hudaybiyah sekitar 2 malam. Acara wisuda itu juga dihadiri oleh 64 orang para tetamu yang terdiri atas kalangan pimpinan Pejuang Bangsa Moro, orang-orang Indonesia dari kelompok NII dari kamp latihan Ash-Syabab dan kelompok Wahdah Islamiyah (Sulawesi) dari kamp latihan AlFatah, kedua-duanya berada di sekitar wilayah Pejuang Bangsa Moro tidak jauh dari kamp Hudaybiyah yaitu sekitar 1,5 jam perjalanan kaki.

Karena lupa saya sempat keliru dalam memberikan tanggal wisuda yaitu pada akhir Maret atau awal bulan April 2000, tetapi setelah meneliti dan mengkaji buku laporan semester III Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah Angkatan I, barulah saya mendapati tanggalnya yang sebenar yaitu 28 February 2000 sesuai jadwal pendidikan yang dipersiapkan. Buku laporan Diklat di kamp Hudaybiyah dibuat setiap semester, oleh instruktur yang bertugas seperti sepengetahuan saya untuk semester II angkatan I disusun oleh Ust. Humam alias. M. Qital yang disetujui oleh Mukhlas alias Ali Ghufron. Sementara buku laporan untuk semester III angkatan I disusun oleh Ust. Abu Ahmad abas Ziyad yang disetujui oleh Mustapha alias Abu Tolut. Pada awal tahun 2001, Kamp latihan milik Al-Jamaah Al-Islamiyah di Mindanao Filipina Selatan terjadi perpindahan, sebabnya Kamp Hudaybiyah sudah tidak lagi kondusif untuk dilaksanakan kegiatan pelatihan. Itu adalah akibat dari penyerangan besarbesaran Operasi "All-Out War" yang dilancarkan oleh pihak Tentara Filipina (AFP) pada sekitar bulan Juli 2000 hingga akhir tahun 2000 terhadap semua wilayah yang dikuasai oleh Pejuang Bangsa Moro terutamanya di wilayah Maguindanao dan Lanao del Norte. Operasi Militer "All Out War" itu diperintahkan oleh Presiden Filipina Joseph Ekstrada yang membuat posisi pertahanan Pejuang Bangsa Moro mundur hingga ke area berdekatan dengan Kamp Hudaybiyah. Situasi semakin berbahaya seandainya Kamp Hudaybiyah tidak mengambil tindakan berpindah tempat karena pihak Tentara Filipina (AFP) sudah semakin mendekat. Lokasi baru ditemukan oleh anggota staf Kamp Hudaybiyah di dalam area perhutanan dan pegunungan di tengah-tengah Pulau Mindanao. Kamp latihan tersebut masih di dalam wilayah Pejuang Bangsa Moro, lokasinya berada di ketinggian sekitar 1500m dari paras permukaan laut. Kegiatan program Diklat Akademi Militer Al-Jamaah Al-Islamiyah dan Kursus Asas Kemiliteran (Daurah Asasiyah Askariyah) dilanjutkan di Kamp latihan yang baru itu, yaitu yang diberi nama Kamp Jabal Quba. Berperang bersama Pejuang Bangsa Moro Semua partisipan (siswa) di Kamp Hudaybiyah mendapatkan bagian untuk berperang bersama dengan pejuang Bangsa Moro. Terutamanya jatah mempertahankan perbatasan wilayah yang dikuasai Pejuang Bangsa Moro di sekitar perbatasan Lanao del Norte dan Maguindanaon, operasi ini di sebut dengan istilah Ribath yang berarti berjagajaga di perbatasan. Sementara saya dan Baasyir pernah mengikuti perlawanan yang terjadi antara Pejuang Bangsa Moro dengan pasukan militer Filipina (AFP) sekitar tahun 1995 di wilayah Sultan Sa Barongis dan Pagalungan. Begitu juga sekitar tahun 1996 di sekitar Buldon Propinsi Maguindanaon. Pengerahan paling banyak penghuni Kamp Hudaybiyah adalah ketika ikut terlibat dalam konsentrasi mempertahankan wilayah Pejuang Bangsa Moro dari serangan 'Operasi AllOut War' yang dilancarkan oleh tentara Filipina (AFP) pada sekitar bulan Juli 2000. Pengalaman membela nasib Bangsa Moro bersama Pejuang Bangsa Moro memberikan semangat juang yang baru bagi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah beserta kelompok orang-orang Indonesia yang lain. Tidak sering terjadi pertempuran di bumi Bangsa Moro yaitu Mindanao. Selalunya Pejuang Bangsa Moro akan membalas serangan setiap kali pasukan tentara Filipina (AFP) melakukan penyerangan atau memasuki wilayah yang dikuasai oleh Pejuang Bangsa Moro. Pejuang Bangsa Moro lebih mendahulukan perundingan damai bagi

menyelesaikan masalah daripada mengarnbil sikap bertempur. []

Bab 6 Boleh Berbohong Sebenarnya tak seorang pun anggota yang mau mengaku sebagai anggota dari
organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ini karena prinsip asas yang menjadi pegangan organisasi, yaitu organisasi bergerak dalam keadaan rahasia, yang diberikan istilah Tanzim Sirri (Organisasi Rahasia). Terlebih lagi sekarang ini, apabila di antara anggota dari organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah ternyata ada yang terlibat dalam aksi-aksi kekerasan atau terorisme. Dan, ada juga di antara anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang punya hubungan dengan kelompok Al-Qaedah pimpinan Usamah Bin Laden. Operasi penangkapan telah dilancarkan di berbagai negara sebelum dan setelah PBB memasukkan nama Jamaah Islamiyah ke dalam daftar kelompok teroris. Akibat dari operasi di negara-negara tersebut, sesuai dengan undang-undang yang berlaku, penangkapan demi penangkapan dilakukan terhadap orang yang dicurigai sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah atau orang yang telah melakukan tindak pidana terorisme (istilah hukum Indonesia). Anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah sejak awal perekrutan sebelum menjadi anggota telah ditanamkan doktrin saling membantu, menyayangi, membela, dan melindungi sesama Muslim yang disebutkan dengan istilah Islam yaitu Al-Wala'. Ditambah lagi dengan kuwajiban yang telah ditetapkan kepada seluruh anggota Al-Jamaah AlIslamiyah untuk saling membela dan melindungi sesama, serta membela dan melindungi Amir Jamaah. Pernyataan Baiat itu sebenarnya ada batas sesuai dengan lafaz pada pengakuan Bai'at yang diucapkan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah ketika pertama kali menjadi anggota, yaitu di antara potongan lafaz baiat tersebut berbunyi “… Hendaklah Anda saling membantu atasdasar kebajikan dan ketakwaan. Dan janganlah Anda saling membantu atas dasar berbuat dosa dan permusuhan...” Namun, seringkali pembatasan tersebut terlupakan atau tidak dipedulikan karena berbenturan dengan kuwajiban anggota yang dianggap tiada batas. Menjadikan kesalahan apapun yang dilakukan oleh anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah, tetap tidak akan diserahkan kepada pihak berwajib yaitu aparat penegak hukum sebuah negara untuk diadili, karena hukum sekular yang berlaku di Negara tersebut tidak diakui. Maka anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah berkeyakinan, daripada diserahkan untuk diadili dengan hukum selain Syariah Islam (atau diyakini sebagai hukum thoghut), lebih baik diamankan dalam lingkungan sesama anggota dan diberi bimbingan supaya tidak mengulangi perbuatannya yang berdosa. Terdapat tuntunan di dalam Islam yang membolehkan seseorang memberikan perlindungan kepada orang yang meminta perlindungan kepadanya. Hal ini dijadikan pegangan sebagai alasan untuk melindungi teman-temannya yang dicari oleh aparat penegak hukum. Padahal, syariat perlindungan itu adalah membolehkan memberi perlindungan jika ada orang yang datang ke rumahnya meminta perlindungan, dan

batasnya adalah hanya memberikan perlindungan di dalam rumahnya saja. Sementara apa yang dilakukan oleh anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah memberikan perlindungan dengan segala daya upaya dan fasilitas yang dimiliki, tanpa membatasi di dalam rumahnya saja. Yang paling penting bagi mereka adalah tidak menyerahkan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang telah berbuat kesalahan kepada aparat penegak hukum, apapun kesalahan yang dilakukan termasuk kesalahan dalam pembunuhan. Tidak ada yang dapat memberi kesadaran kepada mereka yang memberikan perlindungan kecuali jika target penyerangan dan target pemboman mengenai keluarga mereka (anak isteri dan keluarga terdekat). Hanya itu yang dapat memberi kesadaran dan membangkitkan semangat kepada mereka untuk menyerahkan para pelaku pemboman kepada aparat penegak hukum. Apakah orang-orang yang melindungi pelaku pemboman itu tidak mengetahui bahwa orang yang dilindunginya itu adalah orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Pelaku bom di tempat awam tersebut tidak layak untuk diberikan perlindungan walaupun di rumahnya sendiri karena pelaku bom yang berbuat kerusakan di muka bumi dibenci oleh Allah SWT sampai-sampai Allah SWT memberinya syariat hukuman di dunia dengan hukuman yang menghinakan dan di Akhirat diberikan siksaan yang besar sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 33; Artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dart negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Al-Maidah: 33) Menurut para mufasirin yang dinukil dari tafsir Departemen Agama: "Orang-orang yang mengganggu keamanan dan mengacau ketenteraman, menghalangi berlakunya hukum, keadilan dan syariat, merusak kepentingan umum seperti membinasakan ternak, merusak pertanian dan lain-lain, mereka dapat dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya dengan bersilang atau diasingkan. Menurut jumhur, hukuman bunuh itu dilakukan terhadap pengganggu keamanan yang disertai dengan pembunuhan, hukuman salib sampai mati dilakukan terhadap pengganggu keamanan yang disertai dengan pembunuhan dan perampasan harta, hukuman potong tangan bagi yang melakukan perampasan harta dengan hukuman terhadap pengganggu keamanan yang disertai ancaman dan menakut-nakuti. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hukum buangan itu boleh diganti dengan penjara. Hukuman pada ayat ini ditetapkan sedemikian berat, karena dari segi gangguan keamanan yang dimaksud itu selain ditujukan kepada umum juga kerap kali mengakibatkan pembunuhan, perampasan, pengrusakan dan lain-lain. Oleh sebab itu kesalahan-kesalahan ini oleh siapapun tidak boleh diberi ampunan. Orangorang yang mendapat hukuman sebagaimana dimaksud pada ayat ini selain dipandang hina di dunia, mereka di akhirat nanti diancam dengan siksa yang amat besar.” Di dalam tafsir Ibnu Katsir juga memberikan penjelasan yang kurang lebih sama mengenai tafsiran ayat 33 surah Al-Maidah tersebut. Hampir semua anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah rnengambil sikap berbohong dan menghindar dengan berbagai alasan untuk tidak mengaku sebagai anggota

organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Di antara alasannya adalah karena takut ditangkap dan dianggap sebagai teroris karena nama organisasi Al-Jamaah AlIslamiyah telah distempel buruk. Dan kebanyakan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah tidak mau dilibatkan dalam aksi pemboman yang telah terjadi, karena umumnya mereka tidak mengetahui apa pun perencanaan dan tidak terlibat. Hal ini disebabkan karena praktek Tanzim Sirri di dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah, yaitu saling menjaga informasi walaupun kepada sesama anggota organisasi. Ada juga anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang terlibat dengan aksi kekerasan berbentuk operasi pemboman, pembunuhan atau perampokan. Namun mereka semua tidak mau mengaku sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah walaupun teman-teman mereka membenarkan bahwa mereka (para pelaku) adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Alasan mereka berbohong adalah karena ingin menyelamatkan organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah dari tuduhan terlibat dengan aksi-aksi kekerasan tersebut seperti aksi pemboman, sebagaimana prinsip dasar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah yaitu Tanzim Sirri. Mereka sebenarnya bukan hanya berbohong kepada polisi, bukan kepada jaksa dan juga bukan kepada hakim, tetapi mereka berbohong kepada umat Islam. Umat Islam disesatkan dengan semua kebohongan tersebut, mereka berlindung di balik kebohongannya karena tidak berani bertanggungjawab dengan apa yang diperjuangkan. Berjuang membela Islam dengan kebohongan itulah kenyataan yang diperlihatkan mereka. Apakah mereka tidak ingat dengan ancaman Rasulullah SAW terhadap orang yang berbohong? Sampai-sampai Rasulullah SAW tidak mengakui sebagai umatnya jika berbohong. Sebagaimana dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW: Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “arang siapa yang mengarahkan senjata (mengancam/menyerang) kepada kami, maka ia bukan termasuk golongan kami. Dan barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan tertnasuk golongan kami.” Hadis riwayat Muslim: 146) Hal yang sama terjadi di pengadilan sidang untuk kasus-kasus terorisme di mana para anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah akan tidak ragu-ragu berbohong untuk menyangkal dan menolak segala tuduhan, termasuk menyangkal mengenali seseorang atau mengenali terdakwa dan memutarbalikkan serta menyesatkan keterangan. Dasar mereka untuk berbohong adalah karena melaksanakan kuwajiban yang dibebankan pada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah, yaitu wajib saling membela dan melindungi sesama, dan wajib membela dan melindungi Amir Jamaah. Buku Imam Samudra itu dibaca oleh banyak orang, dan membuat mereka terpengaruh. Saya akan berusaha menjelaskan kedudukan perkara yang sebenarnya berlaku walaupun saya pernah dianggap dan digembar-gemborkan sebagai seorang pembohong. Strategi yang dilaksanakan terhadap saya dari pihak pengacara (lawyer) dan salah satu ormas Islam di Indonesia adalah berupa pembentukan opini publik, sehingga terkesan bahwa pembohong yang sebenarnya adalah saya. Silahkan saja dan lakukan apa saja yang diinginkan mereka, karena itu adalah hak mereka untuk percaya dan tidak percaya, tetapi saya punya hak juga untuk menyampaikan suara saya kepada masyarakat. Dan saya yakin dengan Allah SWT yang senantiasa akan membuktikan yang Hak adalah Hak dan yang Batil adalah Batil. Artinya: Dan katakanlah: “Beramal-lah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah: 105)

Seperti buku tulisan Irfan Awwas Pengadilan Teroris yang dengan lihai menulis tuduhan bohong terhadap orang-orang yang menjelaskan tentang keberadaan Al-Jamaah Al-Islamiyah yang menurutnya, mereka memberikan kesaksian palsu di depan publik. Padahal, Irfan Awwas tidak pernah bertabayyun kepada orang-orang tersebut, dan dia juga mengetahui kakaknya yaitu Mohamad Iqbal yang lebih dikenali dengan nama Ust. Abu Jibril adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ust. Abu Jibril adalah anggota wakalah Selangor bagi Mantiqi Ula (Semenanjung Malaysia dan Singapura), dia juga bertempat tinggal di kalangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain di Jalan Manggis Banting Selangor bersebelahan dengan rumah Ust. Abu Bakar Baasyir, Imam Samudra, Hambali dan beberapa anggota Al-Jamaah AlIslamiyah yang lain. Pernyataan Irfan Awwas di buku tersebut seolah-olah berusaha untuk menyesatkan umat. Begitu juga ketua DPP FPI Hilmy Bakar Almascaty yang menulis sebuah artikel tuduhan bohong terhadap saya yang kemudian diterima oleh koran harian Republika dan dimuat pada hari Selasa, 04 Mei 2004. Hilmy Bakar tak menyadari akibat dari tulisan tersebut yang berlanjut dengan dialog di kantor GATRA Jakarta telah membuka ketidaktahuannya akan permasalahan yang sebenar. Malah dia sendiri berbohong memperkenalkan diri kepada orang-orang Malaysia pada awal tahun 1985 itu dengan menggunakan nama Haikal (nama ini tidak disangkal oleh Hilmy ketika dialog di kantor Majalah Gatra, Jakarta), dan dia juga berbohong tentang tujuan kedatangannya ke Malaysia pada waktu itu. Padahal dia adalah pelarian yang melarikan seorang terpidana Ust. Abu Bakar Baasyir masuk secara ilegal ke Malaysia (pengakuannya sendiri di kantor GATRA pada tanggal 25 Mei 2004). Astaghfirullah......bohong dilegalkan dengan sewenang-wenang! Apakah harus berbohong dalam berdakwah dan mencari pengikut? Begitu juga skenario yang dibuat oleh para penasihat hukum Pengacara Muslim dengan menghadirkan saksi yang sudah pernah diperiksa untuk diperiksa ulang bersamaan dengan waktu giliran saya memberikan kesaksian pada salah satu persidangan seorang tokoh. Di mana fungsi Mustapha yang dikenali dengan nama Abu Tolut hanya hadir duduk untuk menyangkal semua yang saya ucapkan dengan berkata “iya” dan “tidak” tanpa ada penjelasan lanjutan, kebalikan dari apa yang saya katakan, seperti robot yang sudah disetel dengan jawaban dari pertanyaan yang seolah-olah sudah dikemas oleh penasihat hukum Pengacara Muslim? Saya sangat terkesan dengan sikap agresif dan ekstrim para penasihat hukum Pengacara Muslim yang hadir di gedung Pertanian Jakarta, pada saat sidang Ust. Abu Bakar Baasyir sikap belasan orang tersebut seolah-olah ingin menutupi 'orang mereka' yang berbohong dengan tergesa-gesa menuding saksi berbohong dan mengondisikan bentuk pertanyaan dan jawaban sehingga terbentuk opini bahwa saksi yang diperiksa berbuat kebohongan. Seperti pertanyaan pengacara “Apakah Kamp Hudaybiyah di Moro?” Saya menjawab “Tidak.” Langsung saya dituding berbohong tanpa memberi saya kesempatan untuk menjelaskan perbedaan antara Moro dan Mindanao. Dengan cepat pengacara Ust. Abu Bakar Baasyir meneriaki “Anda bohong dan berbolak balik dalam menjawab!”

Moro adalah nama suku sedangkan Mindanao adalah nama tempat, yaitu salah satu pulau di Filipina Selatan, lokasi Kamp Hudaybiyah berada. Salahkah saya menjawab Kamp Hudaybiyah bukan di Moro? Bagaimana mungkin kamp Hudaybiyah di sebuah nama suku yaitu Moro? Sebagai contoh pertanyaan, Apakah Bandung di Sunda? Sudah pasti pembaca akan menjawab “tidak” kecuali pengacara pembela Ust. Abu Bakar Baasyir yang kemungkinan akan menjawab “ya”. Bukankah Bandung berlokasi di Jawa Barat, Indonesia? Sangat lihai sekali para penasihat hukum Pengacara Muslim menjalankan karirnya dan memimpin keributan dalam ruang sidang bersama para hadirin yang bagaikan 'penonton pesanan'. Saya kagum dan terkesan sehingga banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman di ruang sidang tersebut. Saya memahami aturan syariat Islam dalam memberikan kesaksian harus jujur, karena Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa kesaksian palsu adalah termasuk dosa besar. Hadis riwayat Abdurrahman bin Abu Bakrah ra., ia berkata: Kami sedang berada di dekat Rasulullah SAW ketika beliau bersabda: “Tidak inginkah kalian ku beritahu tentang dosa-dosa besar yang paling besar? (beliau mengulangi pertanyaan itu tiga kali) yaitu; menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua dan persaksian palsu.” Semula Rasulullah SAW bersandar, lalu duduk. Beliau terus mengulangi sabdanya itu, sehingga kami membatin: Mudah-mudahan beliau diam. (Hadis Sohih Bukhari dan Muslim). Hadis riwayat Anas ra.: Dari Nabi SAW tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: "Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orang tua, membunuh manusia dan persaksian palsu." (Hadis Sohih Bukhari dan Muslim) Syukur Alhamdulillah dan Allah yang Maha Mengetahui segalanya. Memang benar apa yang digembar-gemborkan Imam Samudra dalam bukunya Aku Melawan Teroris bahwa sekarang sudah mendekati hari kiamat dengan berbagai tanda-tandanya. Tetapi jangan lupa bahwa salah satu pertanda hari kiamat juga adalah orang yang berbohong akan dianggap benar oleh orang banyak sedangkan orang yang berkata benar akan dianggap berbohong, persis sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sabda Rasulullah SAW: “Saat itu adalah tahun-tahun yang membingungkan, orang-orang akan meyakini pendusta dan mengingkari orang yang jujur.” (Hadis Riwayat Ahmad). Dan Sabda Rasulullah SAW, lagi: "Sesungguhnya di saat hari akhir, akan ada ... persaksian palsu dan penyembunyian bukti.” (Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Hakim) Saya teringat akan nasihat pada salah satu ceramah Ust. Abdul Halim alm. pernah berpesan, “Musibah yang paling besar adalah apabila seseorang sudah sampai kepada suatu Maqam (level/posisi), di mana setiap yang diucapkannya dibenarkan orang.” (walaupun yang dikatakan itu adalah bohong). Ucapan dan nasihat ini sangat terkesan bagi saya sehingga itu selalu menjadi rambu-rambu dalam hidup saya, dengan berharap tidak termasuk di antara orang yang berada di level tersebut. Mengenai kisah kecil Imam Samudra, pada awalnya saya tidak menghiraukan kisah

pacarannya dengan ketua OSIS di sekolahnya sejak sekolah dasar (SD) sehinggalah kemudian menjadi ratu istana dunianya. Hanya saya menjadi bertanya-tanya, apakah kisah pacarannya itu benar dengan sebenar-benarnya setelah saya membaca kisah perjalanannya ke Afghanistan lalu mendapati banyak penyelewengan, kebohongan, dan diada-adakan? Saya kemudian menjadi ragu kemungkinan kisah pacarannya itu juga diberikan bumbu-bumbu penyedap sehingga terkesan sebuah novel. Saya menjadi bertambah bingung dan bertanya-tanya, apakah maksud yang diinginkan oleh Imam Samudra mengisahkan kisah pacarannya kepada orang banyak. Padahal bukankah dulunya Imarn Samudra orang yang sangat tabu menceritakan perihal wanita, sebagaimana yang saya kenal? Sepengetahuan saya bukanlah kebiasaan aktivis Muslim menceritakan kisah pacarannya kepada orang lain dengan terbuka. Tetapi, terserah kepada Imam Samudra yang ada kemungkinan juga isterinya malah merasa berbangga jika kisah pacaran mereka berdua diekspos kepada orang banyak dan siapa tahu kemungkinan memang itu adalah pilihan atau keinginan mereka berdua suami isteri. Saya menolak dan tidak setuju jika seandainya ada orang yang berfikiran atau berpendapat bahwa seandainya ada kekeliruan pada Imam Samudra dalam menceritakan kisah hidupnya itu adalah karena dia lupa. Bagaimana kita bisa lupa akan suatu tempat yang kita pernah tinggal di situ untuk sekian tahun? Bagaimana Imam Samudra bisa mengingat kisah pacaran masa kecilnya dengan sedetil-detilnya sementara lupa dengan kisah perjalanan jihadnya di Afghanistan yang dianggap paling istimewa dalam hidupnya? Menurut saya kita bisa saja terlupa nama seseorang atau nama tempat atau kemungkinan kita tidak mengingat secara keseluruhan perjalanan apabila kita mengalaminya dalam waktu yang relatif singkat. Tetapi apabila kita punya niat dengan sengaja ingin menyelewengkan atau mengelirukan maka kita akan menggantikannya dengan nama orang lain atau nama tempat lain yang menurut kebanyakan orang pasti tidak mengerti kecuali orang tertentu saja yang diperkirakan tidak mungkin protes. Sungguh saya tidak mengerti mengapa Imam Samudra menyembunyikan cerita perjalanannya di Afghanistan padahal bukunya (AMT) akan dibaca oleh banyak orang yang ingin mengetahui kebenaran, dan juga terdapat teman-teman Imam Samudra yang pernah bersamanya di Afghanistan yang pasti membaca kisahnya itu. Bagaimana pertangungjawaban Imam Samudra di hadapan Allah SWT nanti? Sepatutnya hal kebohongan seperti itu tidak boleh terjadi sebab seharusnya buku itu menceritakan kisah perjalanan perjuangannya dengan sebenar-benarnya sebagaimana Imam Samudra menjelaskan pendapatnya tentang aksi pemboman dengan penuh keyakinan walaupun dengan keyakinan yang sesat. Terlihat juga ketidakjujuran Imam Samudra dalam memberikan alasan keyakinan akan apa yang diperjuangkannya, sehingga saya menjadi ragu dengan keyakinannya akibat dari kebohongan yang ditulis dan disuguhkan kepada umat Islam untuk dibaca, terutama kepada kalangan aktivis Muslim yang sebagian mengagumi dan

mengidolakan Imam Samudra. Saya menjadi sangat khawatir seandainya praktek yang dilakukan Imam Samudra menjadi contoh panutan oleh sebagian aktivis Muslim. Kekhawatiran saya terbukti setelah saya diberi kesempatan untuk mewawancara dan berdiskusi dengan sebagian orang yang menjadi tersangka kasus pemboman dan aksi kekerasan yang lain. Sebagian besar dari mereka tidak memahami fikih jihad dan malah baru mendengar istilah fikih Jihad, padahal mereka melakukan aksi pemboman karena ingin berjihad. Dan, di antara mereka ada yang tidak memahami Islam dengan baik. Sifat taklid buta menjadi penyakit yang menghinggapi sebagian besar aktivis Muslim sekarang ini sehingga di bodoh-bodohkan oleh aktivis Muslim lain yang mengikuti hawa nafsu. Dengan semangat yang berkobar-kobar ingin berjihad melawan orang kafir, bagi mereka sudah mencukupi syarat untuk melakukan jihad tanpa perlu pengetahuan atau mengkaji dan mempelajari fikih jihad atau membaca pendapat ulama-ulama Islam tentang amal yang mulia itu. Bahkan perkara yang lebih menyedihkan lagi apabila saya mengetahui orang yang dipegang kata-katanya dan diikuti, yaitu Noordin M.Top, orang yang hanya membaca satu dua buku yang sudah diterjemahkan oleh orang lain, kemudian malah mencela dan melecehkan ulamaulama Islam yang menurut mereka tidak mau berjihad. Orang yang suka bertaklid buta seperti inilah yang sangat mudah dimanfaatkan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri yang bersedia menewaskan dirinya di tengahtengah kerumunan orang awam tanpa mempedulikan hak manusia. Mereka tidak peduli untuk menambah pengetahuan pada diri mereka, karena bagi mereka yang penting adalah beramal dengan menyediakan diri untuk siap mati. Beginilah yang dialami oleh Heri Gulun menurut cerita empat orang temannya yang tertangkap di Luewiliang, Bogor. Pengalaman yang sama juga dilakukan oleh Asmar Latin Sani pelaku Bom Hotel JW Marriott Jakarta. Demikian juga Isa dan Iqbal di Bom Bali. Mereka adalah orang-orang yang tidak banyak ngomong, tidak suka membantah, orang yang bersifat mentaati (nurut), pendiam dan juga kurang pendidikan. Saya tidak dapat mengingkari takdir ajal yang sudah ditentukan oleh Allah SWT, tetapi saya sangat mengasihani kepada orang Islam atau aktivis Muslim yang hanya dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu yang menuruti hawa nafsu seperti Imam Samudra, Nordin M. Top, Azahari dan kawan-kawan yang sefaham dengannya, baik yang sedang di’istirahat’kan maupun yang masih mempunyai niat membangun perencanaan baru.

Bab 7 Kebohongan Imam Samudra
oleh Imam Samudra di dalam bukunya Aku Melawan Teroris. Hal ini karena ketika membaca buku tersebut saya menjadi ragu dengan apa yang diperjuangkan oleh Imam Samudra dan orang-orang yang sefaham dengannya. Imam Samudra telah mencemarkan nama Islam dengan faham Jihad dan aksi-aksi pengeboman yang dilakukan bersama teman-temannya.

Saya merasa perlu membuat sedikit kritikan terhadap apa yang telah dikisahkan

Saya mengambil sikap menegurnya karena saya tidak rela melihat hal-hal yang menurut pengetahuan saya, di dalam buku tersebut dengan sengaja ada kisah yang diselewengkan atau diada-adakan oleh Imam Samudra. Silahkan Imam Samudra tidak mengungkap nama, tempat dan lain-lain, tetapi apabila dia berbohong menceritakan pengalaman dan menyelewengkan faham Islam maka sama artinya berbohong kepada para pembaca serta menyesatkan umat manusia umumnya, dan umat Islam khususnya. Saya akan jelaskan kebohongan-kebohongan Imam Samudra dalam penjelasan kisah perjalanannya ke Afghanistan sesuai dengan kata per kata yang saya kutip di halaman buku Aku Melawan Teroris (AMT). Imam Samudra berbohong menceritakan kisahnya menuju ke destinasi (Afghanistan) sejak jalur perjalanan, orang yang bersamanya selama perjalanan, nama wilayah, nama tempat latihan kemiliteran dan tempat pertempuran di Afghanistan. Amat tega sekali berbohong kepada pembaca yang sangat ingin tahu kisah perjalanan hidupnya di Afghanistan. Dengan bumbu-bumbu penyedap kata membuat pembaca terkesan Imam Samudra seolah-olah bertempur di Afghanistan, padahal tidak pernah. Maehmon khana yang disebutkan oleh Imam Samudra “Sehari semalam kami bermalam di maehmon khana (ruang tamu) sebuah masjid Karachi” (AMT Hal. 46), adalah berarti rumah tamu (dalam bahasa Parsi, Maehmon khana) yang disediakan oleh salah satu organisasi Jihad di Afghanistan yang bernama Tanzim Ittihad-e-Islamiy Afghanistan pimpinan Ustaz Abdur Rabbir Rasul Sayyaf atau lebih dikenali dengan nama Ustaz Sayyaf. Maehmon berarti tamu dan Khana berarti rumah atau ruang. Maehmon khana (rumah tamu) sebagai rumah perwakilan tanzim (organisasi) Ittihad-e-Islamiy Afghanistan di Karachi. Maehmon khana yang dimaksudkan adalah sebuah rumah bukan sebuah ruangan di sebuah masjid seperti yang diceritakan oleh Imam Samudra, karena tiada maehmon khana yang disediakan di masjid di Pakistan. Masjid-masjid di Pakistan selalu digunakan sebagai tempat i’tikaf oleh umat Islam terutama oleh Jamaah Tabligh di mana mereka bermalam dan beristirahat di dalam masjid yaitu di ruang yang digunakan untuk shalat. Oleh karena itu tiada ruang khusus yang disediakan untuk tamu, sebab masjid itu sendiri terbuka untuk semua macam tamu 24 jam. Bukankah orang yang datang ke Masjid adalah tetamu Allah di masjid itu? Inilah keyakinan orang Pakistan yang memberikan kebebasan kepada orang-orang yang ingin bermalam dan menginap untuk sekian waktu yang tidak ada batasnya. Sampai-sampai para Jamaah Tabligh membawa peralatan memasak yang lengkap dengan kompor (dapur minyak tanah), panci dan lain-lain ke dalam masjid. Artinya masjid-masjid di Pakistan tidak perlu menyediakan ruang khusus untuk para tetamu. Berbeda dengan masjid-masjid di Malaysia ataupun di Indonesia yang terkadang memberikan peraturan larangan menginap di masjid, sehingga kita biasa nielihat tersedianya kamar dan ruangan untuk orang-orang yang ingin menginap. Sedangkan sepengetahuan saya, pengalaman orang-orang Indonesia (dari kelompok NII) sejak tahun 1985 hingga sekitar tahun 1992 menggunakan cara menjemput
Pertama:

para calon partisipan yang baru datang ke Pakistan. Semua yang mendarat dari pesawat di kota Karachi akan dibawa ke Maehmon Khana milik Tanzim Ittihad-eIslamiy di Karachi sambil menunggu jadwal bus atau kereta api ke Peshawar. Oleh karena para partisipan latihan kemiliteran dan jihad ini adalah orang yang baru di Pakistan maka mereka akan di’sembunyi’kan dulu untuk bermalam di Maehmon Khana supaya tidak terekspos dan menghindari pertanyaan banyak orang. Dalam rangka menjaga keamanan dan kerahasiaan para partisipan itu, maka mereka tidak dibiarkan untuk melakukan perjalanan sendiri tanpa ada penunjuk jalan. Kecuali bagi para angkatan pertama dari orang-orang Indonesia calon partisipan latihan dan Jihad di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang tidak dijemput di Karachi, artinya jalan sendiri tidak mampir di Maehmon Khana di Karachi. Imam Samudra menyebutkan seorang yang bernama Jabir, Dia (Jabir) berkata, "Tahun ini ada pemberangkatan, mau ikut nggak?" (AMT. Hal. 43), yaitu Jabir yang menawarkannya berangkat ke Afghanistan. Dan pengakuan Imam Samudra berangkat dengan menggunakan biayanya pribadi, padahal semua partisipan yang akan berangkat ke Afghanistan ditanggung pembiayaannya oleh organisasi Negara Islam Indonesia (NII/DI). Dalam keterangan Imam Samudra bahwa yang menawarkannya berangkat ke Afghanistan adalah Jabir yaitu orang yang telah meninggal dunia akibat kecelakaan bom di sebuah rumah toko/ruko di Antapane Bandung. Menurut Imam Samudra juga bahwa Jabir waktu itu pertama kali berangkat ke Afghanistan seangkatan dengan Imam Samudra. Nama Jabir yang disebutkan oleh Imam Samudra dalam bukunya (AMT) sudah langsung dapat difahami oleh orang yang pernah mengenali sosok si Jabir. Seandainya Imam Samudra hanya menyebutkan nama Jabir saja tanpa menambah penjelasan dengan perkataan 'almarhum' dan keterangan 'As-Syahid di Antapane' (AMT hal. 42), sudah pasti orang tidak akan dapat menebak (menerka) siapakah orang yang bernama Jabir yang dimaksudkan oleh Imam Samudra, sebab seseorang terkadang memiliki nama lebih dari satu (selain dari yang diberikan oleh orangtuanya). Dengan demikian, Jabir yang dimaksudkan oleh Imam Samudra langsung dapat diidentifikasi berdasarkan ciri-ciri yang diberikan oleh Imam Samudra itu tadi. Dua ciri itu sudah mencukupi bagi saya dan teman-teman yang pernah mengenali Jabir serta mengetahui kisah akhir hidupnya. Seandainya Imam Samudra hanya menyebutkan nama Jabir saja belum tentu saya dapat mengenalinya sebab bisa jadi Jabir yang disebutkan Imam Samudra adalah orang lain, bukanlah Jabir yang pernah saya kenal. Menurut Imam Samudra, Jabir menawarkannya di masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Jakarta untuk berangkat ke Afghanistan. Padahal pada waktu itu sekitar tahun 1990, Jabir sedang kuliah di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan Sadda Pakistan (baca penjelasan tentang Akademi Militer) yang sedang menduduki kelas dua (tahun dua). Sepengetahuan saya yang pada ketika itu selaku salah seorang instrukturnya, Jabir (alm) tidak pernah pulang ke Indonesia sampai dia menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tahun 1991.
Kedua:

Jadi bagaimana mungkin Jabir (alm) menawarkan Imam Samudra di Indonesia dan malah berangkat bersama-sama dari Indonesia ke Afghanistan? Di antara mantan siswa saya yang mengenal Jabir di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, sempat saya tanya tentang Jabir yang meninggal dunia di Antapane. Mereka adalah teman-teman seangkatan Imam Samudra di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan seperti Ali Imran, Mubarak dan juga teman yang tinggal di fakultas Kavalery (Pohanzay Zahridor) yang sama dengan Jabir seperti Farhan. Lihat kembali nama-nama partisipan yang pernah mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dalam bab Perjalanan ke Afghanistan. Pada waktu Imam Samudra menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu, saya berprofesi sebagai instruktur untuk materi pelajaran kemahiran menembak (Hirbak) atau biasa dikenal dengan sebutan Weapon Training bagi orang-orang Indonesia yang kuliah di situ. Ketika Imam Samudra menduduki kelas satu di pendidikan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan, si Jabir sedang menduduki kuliah kelas tiga. Sementara saya bertugas mengajar dan melatih untuk ketiga tingkatan kelas orang-orang NII di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan.
Ketiga:

Perjalanan Imam Samudra, bukan seperti yang dikisahkan oleh Imam Samudra yang berangkat langsung ke Khowst dari Peshawar "Perjalanan sepenuhnya dipimpin oleh Asy-syahid Jabir dan dua orang Arab." (AMT Hal. 46.) dan "Kbost, nama tempat itu" (AMT Hal. 48.), tetapi sebenarnya Imam Samudra berangkat dari Peshawar langsung menuju ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, Pakistan. Seingat saya Imam Samudra tidak datang sendirian ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dari Peshawar. Semua pengalaman siswa Indonesia atau Malaysia yang baru (dari anggota NII) akan diantar oleh seorang guide (yang juga mantan siswa di Akmil tersebut) yang berangkat dari rumah perwakilan kelompok NII-DI/TII di Pabbi Peshawar Pakistan menuju Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan yaitu daerah utara Pakistan di perbatasan Afghanistan. Imam Samudra bukan langsung ke Khowst Afghanistan, tetapi ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan. Dengan diantar oleh petugas dari perwakilan NII di Peshawar, mobil angkot yang dinaiki dari Peshawar akan berhenti di pinggiran jalan aspal yang kemudian para calon siswa yang baru harus berjalan kaki kurang lebih 30 menit untuk masuk ke area Akademi Militer, sebab jalannya berpasir batu (sirtu) masuk ke kawasan lembah. Kebiasaan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ketika setiap kali ada siswa yang baru datang harus dibawa ke barak instruktur orang Indonesia. Setelah itu pasti siswa senior di Akademi Militer itu akan bersilaturrahmi ke tempat penginapannya yang sudah ditentukan oleh pihak instruktur Indonesia di Akademi Militer tersebut. Tujuan silaturrahmi itu tidak lain adalah untuk bertanya kabar 'kampung' yaitu sebuah istilah untuk nama Indonesia yang digunakan ketika mengobrol (bercakapcakap). Kebetulan Imam Samudra mendapat bagian akomodasi berbentuk tenda (kemah) di fakultas Logistik (Pohanzay Logistik) yang pada waktu itu belum dibangun dengan

bangunan batu untuk barak penginapan para siswa. Oleh karena itu, Imam Samudra hanya bisa menceritakan pengalamannya tinggal di dalam tenda (AMT hal. 48). Kemah yang digunakan sama bentuknya dengan kemah yang dipakai oleh Mujahidin dan Muhajirin (lihat foto hiasan). Sedangkan Jabir pula adalah siswa senior yang berada di fakultas Kavaleri (Pohanzay Zahridor), tempatnya juga belum memiliki bangunan untuk siswa. Jarak antara fakultas Logistik dengan fakultas Kavaleri di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah sekitar dua ratus meter. Oleh karena Imam Samudra mendapatkan pengalaman di Pakistan/Afghanistan dalam suasana sebuah kampus yaitu di Akademi Militer maka Imam Samudra teringat akan nostalgianya di Akademi Militer dengan menyebut kata-kata bahwa 'Khowst' yang didatanginya bukanlah sebuah kampus sepertimana kampus-kampus biasa yang lainnya di Indonesia. Perhatikan kata-katanya 'Khost bukanlah kampus biasa' (AMT hal. 50).
Keempat:

Imam Samudra menyebutkan nama tempat yang didatanginya di Afghanistan yaitu Khowst (AMT Hal. 48. ‘Khost, nama tempat itu’), padahal Khowst adalah nama sebuah kota yang pada sekitar tahun 1990 masih dikuasai oleh pemerintah komunis Afghanistan dengan pasukannya. Bagaimana mungkin tempat latihan berada di dalam kota Khowst, mustahil sekali. Apakah Imam Samudra benar-benar tahu apa itu Khowst? Tidak ada tempat lain yang bernama Khowst kecuali nama sebuah kota di Provinsi Paktia, Afghanistan. Imam Samudra menyebut nama sebuah tempat yang 'didatangi' di Khowst yang menurutnya bernama Muaskar Khilafah. (AMT Hal.46. 'Muaskar Khilafah'), padahal tidak ada pada waktu itu tempat latihan yang bernama Muaskar Khilafah di Khowst Afghanistan. Wilayah yang dikuasai oleh pihak Mujahidin Afghanistan adalah di wilayah yang orang Afghan menyebutnya Shamali Khowst (Khowst Utara) berada di Provinsi Paktia, Afghanistan yang berbatasan dengan Sadda, Pakistan. Di Shamali Khowst terdapat 2 buah kamp latihan milik orang Arab, yaitu Muaskar Abu Turki yang menampung orang-orang Arab dari berbagai negara dan Muaskar Jihad. Muaskar Jihad menamakan kelompok mereka yang terdiri atas orang Arab berwarganegara Mesir dengan nama Jamaah Islamiyah di Mesir. (bhs Arabnya Jama'ah Islamiyah bi Misr). Sekali lagi saya katakan bahwa tidak ada kamp latihan yang bernama Muaskar Khilafah di Khowst Afghanistan. Dan, Imam Samudra juga tidak mendapatkan pendidikan di kem latihan tersebut. Hanya Imam Samudra pernah sekali pergi ke Shamali Khowst Afghanistan (yaitu Shamali Khowst yang berarti wilayah Khowst Utara) dalam rangka mengikuti program latihan perang (Tathbiqot) dan praktek penembakan ke sasaran musuh di medan konflik, yang disediakan untuk para siswa Akademi Militer Mujahidin Afghanistan termasuk angkatan Imam Samudra. Siswa Indonesia (NII) termasuk Imam Samudra mendapatkan tempat untuk membangun tenda (kemah) selama program praktek (Thatbiqot) di kawasan kem latihan orang Arab Mesir yaitu Muaskar jihad untuk jangka waktu beberapa hari saja. Perkataan muaskar adalah satu kata dari bahasa Arab yang berarti Kamp latihan kemiliteran. Asal kata Muaskar adalah ‘askara-yu’askiru (diambil dari wazan fa’lalayufa’lilu) yang berarti menjadi askar atau menjadi tentara. Kemudian kata muaskar

adalah bentuk dari isim makan yang berarti menunjukkan nama tempat (diambil dari wazannya, mufa'lalun), jadi kata muaskar berarti tempat menjadi askar atau tempat menjadi tentara atau bisa juga dinamakan tempat latihan. Semua kamp, muaskar dan tempat latihan kemiliteran di Afghanistan ada pemiliknya pada waktu itu. Keterangan Imam Samudra tidak menjelaskan nama pemilik Muaskar Khilafah itu, apakah milik orang Arab atau Afghan ataupun Indonesia (NII). Muaskar yang dimiliki oleh orang Arab pada waktu itu juga terdapat di berbagai belahan negara Arab, begitu juga muaskarnya orang Afghan yang didirikan oleh berbagai organisasi (Tanzim) Mujahidin Afghanistan. Suasana tersebut berbeda dengan zamannya Taliban yang hanya ada satu nama saja yaitu Taliban, sedangkan Muaskar Arab hanya ada satu juga yaitu kem Al-Qaidah milik Osama bin Laden. Dulu sebelum zaman Taliban, Osama bin Laden memiliki kem latihan yang biasa disebut dengan nama 'Muaskar Joji' yaitu yang terletak di Joji propinsi Paktia. Sementara berdekatan dengan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan pada waktu itu, juga terdapat kem latihan milik orang Arab yang biasa dipanggil dengan nama Muaskar Kheldan yang di pimpin oleh orang Arab warga Syria yaitu Abu Burhan. Dan Imam Samudra juga tidak pernah berlatih di Muaskar Kheldan itu walaupun lokasinya bersebelahan dengan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Ketika Kabul ibukota Afghanistan telah dapat dikuasai oleh Mujahidin Afghanistan pada sekitar pertengahan atau akhir tahun 1992, Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ditutup. Akibatnya semua orang-orang NII (warga Indonesia dan Malaysia) dipindahkan ke kem latihan milik orang Indonesia (NII) yang berlokasi di Towrkham Afghanistan, kamp latihan tersebut awalnya dibuka sekitar tahun 1991. Para instruktur Indonesia (NII) itu melanjutkan pendidikan bagi siswa yang belum selesai dengan rnateri pelajaran yang sama seperti di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, Pakistan, dengan sistem yang sama juga. Pada Januari tahun 1993, terjadi penawaran kepada orang-orang NII (Indonesia dan Malaysia) di Pakistan dan Towrkham Afghanistan untuk memilih bergabung dengan salah seorang dari dua orang pimpinan NII. Saya juga mendapat bagian untuk memilih sepertimana yang lain. Bagi sesiapa yang memilih Ust. Abdul Halim sebagai pimpinannya (Amir Jamaah) maka dia masih dapat melanjutkan program latihan dan jihadnya di Afghanistan, sementara bagi sesiapa yang memilih Ajengan Masduki sebagai pimpinannya (Amir Jamaah) maka dia akan segera dipulangkan ke Malaysia atau Indonesia. Ini disebabkan karena Ust. Abdul Halim adalah pimpinan yang pertama kali merintis program pengiriman personal ke Afghanistan, maka kem latihan orang Indonesia di Towrkham, Afghanistan, itu hanya diperuntukkan untuk personal yang memilih Ust. Abdul Halim sebagai pimpinannya. Saya melihat Imam Samudra adalah di antara teman-teman yang dipulangkan ke Malaysia pada waktu itu, berarti Imam Samudra tidak sempat menyelesaikan pendidikan Akademi Militer, dalam arti kata lain adalah tidak lulus. Maka dengan diberangkatkan pulang sudah cukup sebagai jawaban yang jelas bahwa Imam Samudra tidak memilih Ust. Abdul Halim sebagai pimpinan jamaahnya sehingga dia harus dipulangkan. Berkenaan apakah Imam Samudra memilih Ajengan Masduki atau tidak memilih kedua-duanya, secara pribadi saya tidak tahu. Benar Imam Samudra pada awalnya tidak menerima Ust. Abdul Halim sebagai pemimpinnya sewaktu penawaran yang

diberikan ketika masih berada di Peshawar, Pakistan. Tetapi kemudian setelah bertetangga dengan Hambali yang bersebelahan rumah dengan Ust. Abu Bakar Baasyir di Jalan Manggis, Banting, Selangor, Malaysia, Imam Samudra sudah berubah fikiran lalu terlihat mengikuti kegiatan dan acara (aktivitas) anggota AlJamaah Al-Islamiyah di Malaysia, Indonesia, dan di Filipina. Lebih jelasnya lagi bahwa Imam Samudra pernah berangkat ke Kem latihan Hudaybiyah atas izin Hambali pada akhir tahun 1997 yang memang hanya diperbolehkan kepada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah pada waktu itu. Selain ucapan bai’at, seseorang itu dapat diketahui sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah ikut serta dalam kegiatan yang khusus untuk organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah.

Bab 08 Bom Bali & Kesesatan Imam Samudra
Kondisi dan Sasaran Perang Pemahaman dan tindakan Imam Samudra dan temantemannya mengantarkan mereka senantiasa dalam sikap berperang. Mereka meyakini, tahapan gerakan yang harus dilakukan sekarang adalah tahapan menyerang (offensive). Mereka juga berpendapat bahwa sekarang sudah bukan zamannya lagi bagi orang-orang Islam bersikap bertahan (defensive), seperti yang dijelaskan di dalam buku Aku Melawan Teroris. Adanya lafazh (ayat) tentang perintah berperang dan membunuh yang tertera dalam Al-Quran, yang telah diwahyukan sejak sekitar 1426 tahun silam, membuat Imam Samudra dan kawan-kawan menjadikannya sebagai dalil atas tindakan ofensifnya. Padahal, jika diteliti lebih jauh, ayat-ayat Al-Quran tersebut dipotong-potong sesuai keinginan Imam Samudra sehingga maknanya tidak sempurna lagi. Potongan ayat perang Al-Quran di dalam buku Aku Melawan Teroris: QS. At-Taubah:5 : Artinya: “… bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka.” QS. At-Taubah:14 : Artinya: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu.” QS. At-Taubah:29 : Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula kepada hari kemudian.” QS. At-Taubah:36 : Artinya: “dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” QS Al-Anfal: 39 : Artinya: “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” QS. Al-Baqarah:191 : Artinya: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai.”

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Aku diperintahan untuk memerangi manusia sampai ia mau mengucapkan dua kalimat syahadah, mendirikan shalat, dan membayar zakat. Jika mereka melaksanakannya maka darah dan hartanya terjaga dariku. Kecuali hak-hak Islam yang mana hal itu hitungannya adalah kepada Allah.” (Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim). Sungguh akan sadis sekali ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an jika hanya dibaca secara sepotong-sepotong. Namun, tampaknya dengan dalil-dalil di atas, Imam Samudra meng-isytihar-kan bahwa kini saatnya untuk melakukan aksi penyerangan, membalas balik tindakan orang-orang Musyrik dan Kafir (non-Muslim). Itulah sebabnya, setiap penjelasan dalam buku Aku Melawan Teroris tentang aksi pemboman yang dilakukannya seringkali diakui sebagai pembalasan terhadap perbuatan orang-orang Musyrik dan Kafir bagi membela umat Islam di seluruh belahan bumi. Keyakinan Imam Samudra untuk memerangi orang-orang Kafir dan Musyrik terlihat jelas dalam bukunya:
1. 2. 3. 4.

5.

“Tahap IV: Kuwajiban Memerangi Seluruh Kaum Kafir/Musyrik” (baca: AMT, hal: 129-134). “Tahap keempat (terakhir) pensyariatan perang dalam Islam dapat dikatakan sebagai tahapan perang ofensiv (hujumi, menyerang).” (AMT, hal: 133). “Operasi Jihad Bom Bali dimaksudkan pula sebagai jihad ofensif.” (AMT, hal: 163) “Yang menjadi target kita adalah personalnya, individunya, manusianya, bukan tempatnya… ayat di atas dengan jelas tidak membatasi tempat memerangi orang kafir.” (AMT, hal:120). “Pada periode ini, seluruh kaum Musyrikin diperangi, kecuali jika mereka bertaubat, masuk Islam, mendirikan shalat dan membayar zakat.” (AMT, hal. 130).

Itulah sebabnya, berbagai operasi yang dilakukan oleh Imam Samudra dan para pelaku pemboman yang sefaham dengannya, adalah antara lain:
1. 2.

3. 4. 5.

Membunuh dan menghancurkan 'musuh' dengan segala cara, termasuk mengorbankan diri (seperti teknis bom bunuh diri). Merampas harta benda 'musuh', dengan cara merampok; mereka sebut sebagai Fai. Seperti perampokan toko mas yang dilakukannya di Serang Banten sekitar tahun 2002. Berbohong terhadap orang atau pihak yang dianggap 'musuh', walaupun dalam memberikan persaksian di persidangan. Bermegah diri di hadapan 'musuh' dengan menampakkan sikap keras. Memberikan propaganda bohong terhadap 'musuh', seperti membentuk opini publik.

Perbandingan Dalil Al-Qur’an Imam Samudra Dengan Ayat-ayat Al-Qur’an Kemudian, apakah benar ayat-ayat Al-Qur’an tentang perang itu seperti apa yang difahami oleh Imam Samudra? Ayat-ayat Al-Qur’an yang saya garis bawahi di bawah ini adalah potongan ayat yang dicomot oleh Imam Samudra sebagai perbandingan pengambilan dalil untuk dijadikan sandaran berhujah. Saya tampilkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut secara utuh tanpa dipotong-potong supaya pembaca dapat membaca lafazh aslinya dan melihat di manakah potongan ayat yang diambil oleh Imam Samudra. Tentu, akan terlihat perbedaan faham yang mencolok jika ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dipotong-potong lalu dijadikan alasan keyakinan. QS. At-Taubah: 5. Artinya: “Kecuali orang-orang Musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa (4). Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang Musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (5). Dan jika seorang di antara orang-orang Musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (6).” Pemahaman ayat: Ayat ini diturunkan di Madinah (ayat Madaniyyah). Ayat 5 surah At-Taubah berhubungan dengan ayat sebelumnya (At-Taubah: 4) dan sesudahnya (At-Taubah: 6) tentang orang-orang Musyrikin, yaitu mengenai orang yang melanggar perjanjian damai dan orang yang setia dengan perjanjian damai. Perintah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tersebut adalah untuk memerangi orang-orang Musyrikin yang melanggar perjanjian damai. Ayat ini dialamatkan kepada orang-orang Musyrik (animisme), bukan kepada orang-orang Kafir. Arti kebalikan dari ayat ini, orang-orang Musyrik yang tetap setia dengan perjanjian damai dan tidak membantu orang-orang yang memusuhi kaum Muslimin, maka tidak boleh diperangi dan tidak oleh dibunuh. Orang-orang Musyrikin ini dapat bebas berjalan ke mana-mana. Dan, Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar memenuhi masa waktu ikatan perjanjian serta hak keamanan sampai batas waktu tertentu (ayat 4 surah At-Taubah). Perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin untuk memberikan jaminan keamanan bagi orang-orang Musyrikin yang meminta perlindungan (ayat 6 surah At-Taubah).

Bulan-bulan haram (kata 'haram' di sini berarti suci) yang dalam tahun Arab adalah bermula dari tanggal 10 Zulhijjah hingga tanggal 10 Robiul Akhir. Urutan bulan tersebut adalah Zulhijjah, Muharram, Safar, Robiul Awal, dan Robiul Akhir/Tsani. Masa waktu 4 bulan yang ditentukan itu tidak boleh berperang karena dikatogerikan bulan haram. Pasukan Muslimin harus menahan diri dari memerangi orang-orang Musyrikin (di bulan haram) yang melanggar perjanjian damai dan juga yang punya maksud serta persiapan memerangi kaum Muslimin. Kecuali jika musuh mulai menyerang di bulan haram, maka pasukan Muslimin dibolehkan berperang membalas serangan, meski di bulan Haram (bulan suci). Orang-orang Musyrikin yang diperangi lalu kalah dan menerima Islam maka mereka mendapatkan kebebasan dan hak seperti Muslim yang lain. Mereka menjadi Muslim sesaat setelah mengucap dua kalimah syahadah, tanpa perlu diuji. Wallahu a'alam bis showab. QS. At-Taubah: 14. Artinya: "Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti (12). Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yangmerusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman (13). Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan~tansanmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman (14).” Pemahaman ayat: Ayat ini diturunkan di Madinah (Ayat Madaniyyah). Asbabun Nuzul (sebab-sebab diwahyukan) ayat ini, hanya diwahyukan ketika perjanjian Hudaybiyah. Yaitu kaum Quraish telah melanggar perjanjian Hudaybiyah dengan secara diam-diam membantu Bani Bakar (ketika itu sedang berlangsung peperangan antara Bani Bakar dengan Bani Khuza’ah). Suku Khuza’ah adalah sekutu Rasulullah SAW (Riwayat Abus Syaikh, bersumber dari Qatadah dan Ikrimah). Demikian juga keterangan di dalam tafsir Ibnu Katsir. Asbabun Nuzul, yang dimaksudkan “serta melegakan hati orang-orang yang beriman” adalah ditujukan kepada Bani Khuza’ah. (Riwayat Abus Syaikh, bersumber dari as-Suddi). Ayat 14 surah At-Taubah berhubungan dengan ayat sebelumnya (AtTaubah: 12 dan 13), yaitu menjelaskan tentang orang-orang Kafir (di zaman Rasulullah SAW) yang telah melanggar perjanjian damai dan berencana memerangi kaum Muslimin. Perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW agar memerangi orangorang Kafir adalah dikarenakan mereka melanggar perjanjian damai dan mengancam keamanan kaum Muslimin. Menurut tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT memerintahkan berperang karena untuk memperoleh hikmah dari pensyariatan jihad, padahal Allah SWT adalah mahakuasa untuk membinasakan musuh (dari makhluknya) dengan perintah-Nya sendiri. Janji Allah SWT akan membantu kaum Muslimin memenangkan peperangan jika Rasulullah SAW bersikap membela kehormatan hak kaum Muslimin. Dan,

memberikan ketenangan dalam hati-hati orang-orang yang beriman dari gangguan orang yang mernusuhi. Wallahu a'alam bis showab. QS. At-Taubah: 29. Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al KItab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” Pemahaman ayat: Ayat ini diturunkan di Madinah (ayat Madaniyyah). Perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk memerangi orang-orang Kafir (Ahlul Kitab) karena adanya niat permusuhan dalam diri mereka pada waktu itu untuk memerangi kaum Muslimin. Mereka adalah di antara Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang sejak dahulu sebelum kedatangan Islam telah menyelewengkan agama. Jika orang-orang Kafir membayar jizyah maka tidak diperangi, walaupun mereka tidak menerima Islam. Menurut Imam Syafi'e dan Imam Ahmad bahwa jizyah hanya diambil dari Ahlul Kitab saja. Sementara menurut Imam Malik bahwa jizyah dipungut dari seluruh orang Kafir. Wallahu a'alam bis showab. QS. At-Taubah: 36. Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah duabelas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agamayang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum Musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” Pemahaman ayat: Ayat ini diturunkan di Madinah (ayat Madaniyyah). Dalam setahun ada 12 bulan, 4 bulan di antaranya adalah bulan Haram (suci) yang dilarang terjadinya peperangan, sesuai dengan budaya Arab sejak sebelum kenabian Muhammad SAW. Allah SWT melarang kaum Muslimin menganiaya diri sendiri dengan berperang di bulan Haram. Karena keharamannya (kesuciannya) mengakibatkan dosa yang berlipat ganda dibandingkan dengan bulan yang lain, (lihat tafsir Ibnu Katsir). Perintah Allah SWT kepada kaum Muslimin untuk berperang melawan orang-orang Musyrikin di bulan Haram. Karena mereka telah memulai perang di bulan Haram, yaitu pada bulan Muharram. Praktek yang terjadi, Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin melakukan penyerangan terhadap Bani Hawazin dan Bani Tsaqif (Ghozwah Hisoru Thaif) yang ketika itu telah memasuki bulan haram yaitu bulan Dzul Qo’idah. (Tafsir Ibnu Katsir). Wallahu a'alam bis showab. QS. Al-Anfal: 39. Artinya: “Katakanlah kepada orang-orang yang Kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguknya akan berlaku (kepada

mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu" (38). Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan (39). Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (40)” Pemahaman ayat: Ayat ini diturunkan di Madinah (ayat Madaniyyah). Ayat ini ada hubungan dengan ayat sebelumnya (Al-Anfal: 38), yaitu ancaman bagi orang-orang Kafir yang akan kembali mengulangi penyerangan terhadap kaum Muslimin (di zaman Rasulullah SAW). Perintah Allah SWT untuk memerangi orangorang Kafir yang berniat dan mempersiapkan kekuatan untuk mengulangi penyerangan terhadap kaum Muslimin. Perkataan 'Fitnah' pada ayat ini berarti ancaman serangan dan gangguan dari musuh (pada zaman Rasulullah SAW) terhadap umat Islam, Agama Islam dan Negara Islam. Fitnah kemusyrikan merupakan salah satu bentuk gangguan terhadap mentauhidkan Allah dan Aqidah Islam. Menurut tafsir Jalalain, perkataan 'Fitnah' berarti syirik (menyekutukan Allah SWT). Menurut tafsir Qurtubiy, 'Fitnah' adalah syirik dan yang meyerupainya dengan menyakiti orang-orang Mukmin. Sementara itu, Ibnu Abbas (dalam tafsir Ibnu Katsir) menafsirkan 'Fitnah' dalam ayat ini adalah tiada lagi kemusyrikan. Wallahu a’alam bis Showab. QS. Al-Baqarah: 191. Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas (190). Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekkah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang Kafir (191). Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), makasesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (192). Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan sehingga agama (ketaatan) itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim (193).” Pemahaman ayat: Asbabun Nuzul ayat ini adalah berkenaan dengan pelanggaran perjanjian Hudaybiyah yang dilakukan kaum Quraish dengan memulai penyerangan dan menghalangi kaum Muslimin melaksanakan ibadah Umrah. (Riwayat al-Wahidi dari al-Kalbi dari Abu Shalih, bersumber dari ibnu Abbas). Ayat 191 surah Al-Baqarah ini ada hubungan dengan ayat sebelumnya, yaitu memerangi orang-orang yang lebih dulu memulai peperangan. Sasaran perang adalah orang-orang Kafir yang memulai peperangan di mana saja ditemui. Perkataan ‘fitnah’ dalam ayat ini (fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan) berarti ancaman permusuhan, ancaman penyerangan, ancaman timbulnya

kekacauan, menyakiti, mengganggu kebebasan beragama, ancaman pemaksaan orang Islam kembali kepada agama yang dulu dan juga ancaman pengusiran. Semua itu adalah akibat dari emosi kemusyrikan yang ada pada orang-orang yang memusuhi kaum Muslimin seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW. Menurut tafsir Ibnu Katsir, perkataan 'fitnah' dalam ayat ini bahwa syirik lebih kejam dari pembunuhan. Tafsir Jalalain juga menafsirkan perkataan 'fitnah' dengan arti syirik. Tafsir Qurtubiy menjelaskan, kemusyrikan dan kekufuran mereka lebih besar dosanya dari dosa pembunuhan. Karena syirik yang terdapat pada waktu itu sangat membahayakan umat manusia, di mana kezaliman merajalela dengan bertindak melampaui batas-batas hak manusia dan hak Tuhan. Larangan berperang di Masjidil Haram, kecuali musuh yang memulai peperangan di situ. Perintah berperang sehingga tidak ada lagi 'fitnah' adalah perintah kepada kaum Muslimin dan pasukan Rasulullah SAW agar memerangi ancaman, gangguan, dan serangan dari musuh, sehingga kaum Muslimin mendapatkan keamanan. Wallabu a'alam bis showab. Nabi Muhammad SAW, bersabda: Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra., ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat. Barang siapa melaksanakannya berarti ia telah melindungi diri dan hartanya dariku kecuali dengan sebab syara, sedang perhitungannya (terserah) pada Allah Taala.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Pemahaman Hadis: Pernyataan Rasulullah SAW itu memberitahu bahwa ia diperintahkan untuk berperang. Sasaran perang bersifat umum, yaitu manusia, yang berarti siapa saja, Muslim ataupun non-Muslim. Masih perlu dipertanyakan maksud yang sebenarnya dari hadis tersebut. Yang jelas hadis tersebut tidak diarahkan khusus untuk memerangi orangorang yang bukan Islam (non-Muslim) secara keseluruhan untuk menjadi Muslim, tetapi juga perintah perang bagi Muslim yang tidak melaksanakan shalat dan tidak menunaikan Zakat. Alasan memerangi adalah untuk mengarahkan orang tersebut agar bersyahadat (mengucapkan dua kalimah syahadah), mendirikan shalat dan membayar zakat. Penggunaan kata “Uqaatila” dalam Hadis itu diambil dari kata "Qatala- YaqtuluQatlan" yang berarti 'dia membunuh'. Sedangkan apabila kata tersebut ditambah huruf alif sesudah huruf pertama, maka bunyinya akan menjadi lebih panjang "Qaatala-Yuqaatilu-Qitaalan" yang berarti ‘dia memerangi’ atau‘dia berperang’. Maksudnya perbuatan dalam hadis tersebut menunjukkan aksi menindak balas yang mengakibatkan terjadinya saling berbunuhan atau baku bunuh dari kedua belah pihak secara berpasukan dan bersenjata. Jika hadis ini digunakan untuk membunuh orang-orang sipil yang tidak punya kekuatan melawan maka sangat keliru sekali menggunakan hadis ini sebagai sandaran perbuatannya. Wallahu a’alam bis Showab. Mengapa hadis ini selalu diarahkan atau difahami untuk memerangi orang yang tidak /belum bersyahadah yaitu orang-orang non Muslim? Mengapa hadis ini tidak dimaksudkan juga memerangi orang-orang yang tidak shalat yang sekarang ini sedemikian banyak orang yang tidak shalat bahkan dari kalangan keluarga aktivis

Muslim

juga

ada

yang

tidak

shalat?

Selain dari maksud bermalas-malasan dalam shalat ada di antara Muslim yang menganggap shalat menjadi tidak fardhu sekarang ini karena perjuangan jamaah mereka berada dalam fase Makkiyah, apakah orang-orang Muslim ini tidak diperangi? Begitu juga ada di antara orang Muslim yang menganggap shalat sudah bukan kuwajiban bagi dirinya sebab dia sudah mencapai makam hakiki seperti keyakinannya 'Aku adalah Dia dan Dia adalah Aku’ salat dianggapnya adalah kulit sementara dia sudah mencapai ke isi atau inti dari Islam itu. Orang yang berkuwajiban shalat adalah orang yang baru mencapai tingkat kulit dari Islam. Apakah orang Muslim ini tidak patut diperangi? Bahkan orang-orang Muslim yang beranggapan shalat dan zakat tidak wajib dilaksanakan lebih berhak diperangi dibandingkan memerangi orang non-Muslim yang belum bersyahadah, dan hal ini telah dilaksanakan oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq r.a ketika beliau melancarkan peperangan terhadap orang yang tidak membayar zakat, bukan karena mereka kikir atau bermalas-malasan dalam membayar zakat, tetapi mereka diperangi karena berfaham zakat bukanlah kuwajiban lagi yang harus dilaksanakan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Begitu juga Sayyidina Abu Bakar r.a memerangi Musailamah Al-Kazzab dan pengikutnya yang mengaku sebagai Nabi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka mengapa orang-orang yang mengaku Nabi seperti Lia Aminuddin (di Indonesia) dan Ghulam Mirza Ahmad serta pengikut Qadiyani tidak diperangi? Kalau seandainya ayat-ayat Al-Qur’an dan sebuah Hadis tersebut (lihat judul Potongan ayat perang Al-Quran di dalam buku Aku Melawan Teroris) adalah perintah untuk memerangi dan membunuh seluruh orang-orang non-Muslim tanpa batas dan memaksa mereka menjadi Muslim, maka akan berlawanan dengan ayat-ayat AlQur’an yang berisi perintah tidak memaksa serta memberikan jaminan keamanan kepada orang-orang non-Muslim tanpa memaksa mereka memeluk agama Islam, sebagaimana berikut; QS. At-Taubah: 4: Tentang jaminan keamanan jika setia dengan perjanjian. Artinya: “kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian) mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang jang bertakwa.” QS. At-Taubah: 7: Tentang jaminan keamanan jika setia dengan perjanjian. Artinya: "Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidi Hharam? Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang jang bertakwa.” QS. Al-Mumtahanah: 8: Tentang jaminan keamanan jika tidak memusuhi dan tidak memerangi. Artinya: “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

QS. At-Taubah: 29: Tentang jaminan keamanan jika membayar Jizyah. Artinya: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” QS. Al-Kahfi: 29: Tentang tiada paksaan menganut agama Islam. Artinya: “Dan Katakanlah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kaftr.” QS. Al-Baqarah: 256: Tentang tiada paksaan menganut agama Islam. Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” Lantas, apakah benar Rasulullah SAW memperlakukan orang-orang kafir dan musyrikin (non-Muslim) seperti apa yang dilakukan oleh Imam Samudra? Tiga Sebab Terjadinya Perang Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis di atas, ada tiga poin yang penting untuk difahami bersama. Saya bandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang berlaku pada saat Rasulullah SAW ketika melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin pasukan perang, karena dalil-dalil tersebut (diwahyukan) seputar permasalahan perang. Dan, bermula dari pemahaman yang salah terhadap perjalanan dakwah Rasulullah SAW, maka menjadi titik awal kekeliruan untuk kelanjutan gerakan dakwah umat Islam, baik di masa kini dan

masa

lampau.

Tiga poin penting yang dapat diambil dari ayat-ayat yang dikemukakan di atas adalah: 1. Perang karena terjadi pelanggaran perjanjian damai. 2. Perang karena ada pihak yang mulai menyerang. 3. Perang karena wujudnya 'Fitnah' yaitu ancaman perang. Ad.1. Perang karena terjadi pelanggaran perjanjian damai Terdapat dua ayat yang berisi perintah berperang karena terjadi pelanggaran perjanjian damai oleh kabilah dari kalangan orang-orang Musyrik (At-Taubah: 5) dan orang-orang Kafir (At-Taubah: 14). Akibat dari pelanggaran perjanjian damai itu menjadikan orang-orang Kafir dan Musyrik sebagai ancaman bagi kaum Muslimin. Mereka memusuhi dengan melakukan penyerangan terhadap kaum Muslimin dan atau berpihak kepada kabilah yang memerangi kaum Muslimin. Dalam tuntunannya, Nabi Muhammad Saw mencontohkan dengan memberi hak kemanusiaan (hak hidup) kepada orang-orang non-Muslim ketika berperang. Sejak awal, Rasulullah SAW tidak sewenang-wenang membunuh orang-orang non-Muslim dan memaksa mereka menerima Islam. Nabi juga tidak pernah berniat membalas dendam terhadap perlakuan buruk musuh kepada kaum Muslimin. Dalam berperang,

Rasulullah SAW memberikan aturan, larangan, dan peringatan kepada pasukan Muslimin. Allah SWT juga melarang keras tindakan-tindakan yang melampaui batasbatas ketentuan-Nya: Artinya: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190). Melanggar perjanjian damai adalah juga berarti telah melakukan tindakan melampaui batas. Artinya: “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu'min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (At-Taubah: 10). Namun, Rasulullah SAW tidak menjadikan pelanggaran perjanjian tersebut sebagai alasan untuk melakukan tindakan menghabisi pasukan musuh yang kalah karena telah berkhianat dan tidak juga melakukan balas dendam atas perlakuan yang diterima pasukan Muslimin yang menjadi korban di medan pertempuran. Sekian banyak musuh yang kalah atau menyerah dibebaskan tanpa dipaksa untuk menerima Islam. Bahkan, ada di antara mereka yang diusir keluar (daerah/wilayah) dan bebas menganut kepercayaan agama mereka, selain Islam. Contoh-contoh dari sikap Nabi Muhammad SAW ini dapat dilihat dari peristiwa perang (perhatikan Bab. 9 Ghozwah) yang dipimpin Rasulullah SAW seperti pada: Ghozwah Badar Al-Kubra Ghozwah Bani Qainuqa (Kaum Ghozwah Bani Nadhir Ghozwah Bani Ghozwah Bani Quraizah Ghozwah Khaibar (kaum Yahudi Yahudi Wadil Ghozwah Fathu Ghozwah Ghozwah Hisoru Thaif . (Kafir Yahudi) (Kaum (Kaum Yahudi Quraish) Madinah, Yahudi), Musthaliq, Yahudi), Khaibar), Fadak, Qura, Makkah, Hunain,

di

Sejak sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, tanah Arab masih belum berbudaya. Budaya nomaden yang berlaku di tanah Arab tidak memberikan jaminan hidup bagi individu yang bermukim. Sistem hak kemanusiaan tergantung kepada adat istiadat atau hukum adat yang terdapat pada setiap kabilah dan suku beragama. Bahkan terkadang hak hidup anak perempuan tidak ada, dan malah boleh ditanam secara hidup-hidup pada saat kelahirannya di muka bumi ini. Pasalnya, hal demikian dibenarkan oleh adat kabilah tersebut yaitu Arab Quraish. Bunuh-membunuh dan membalas dendam sering terjadi di kalangan bangsa Arab pada waktu itu. Peperangan antar kabilah adalah fenomena biasa di kalangan masyarakat Arab, karena membela nasib anggota kabilahnya yang teraniaya. Jaminan keamanan individu suatu kaum menjadi tergantung kepada kepala suku (pemimpin kabilah) masing-masing; pemimpin kaum itulah yang mengatur segala undang-undang adat dan keadilan sosial. Keadilan dalam hidup diatur oleh pemimpin kabilah dan juga hubungan damai yang dijalin dengan kabilah yang lain.

Perjanjian damai adalah budaya bangsa Arab untuk menjamin keamanan antar kabilah. Jika salah seorang anggota kabilah mereka dibunuh dan dianiaya, maka pemimpin kabilah akan mengambil tindakan membalas sebagai sikap pembelaan dan menghukum, serta menganggap kesepakatan perjanjian telah dikhianati. Jika kabilah merasa lemah untuk membalas, maka kabilah tersebut akan berusaha membuat kekuatan gabungan dengan kabilah yang lain guna membalas tindakan lawannya. Sebab, Jika tidak dilakukan pembalasan maka pihak lawannya akan merasa bebas melakukan pembunuhan dan penganiayaan tanpa khawatir akan dihukum. Sudah menjadi hukum (aturan) di kalangan bangsa Arab (kabilah-kabilah) bahwa pihak yang dikhianati boleh melakukan penyerangan terhadap pihak yang mengkhianati perjanjian. Rasulullah SAW berposisi sebagai pemimpin kaum Muhajirin yang kemudian menjadi pemimpin Muhajirin dan Anshor. Selaku pemimpin kaum Muslimin di Madinah (Negara), Nabi SAW memanfaatkan budaya Arab dengan melaksanakan perjanjian damai terhadap kabilah-kabilah yang berdekatan. Dengan perjanjian damai itu maka Rasulullah dapat menjamin keamanan Agama Islam, Umat Islam, dan wilayah (Negara) di mana umat Islam berada, yaitu Madinah. Dengan ikatan perjanjian damai, kengerian perang antara kabilah dan kesadisan penyiksaan atau penganiayaan dapat dihindarkan. Dengan demikian, peristiwa pembunuhan, penyiksaan, dan ketidak-adilan yang pernah terjadi di Makkah sebelum hijrah ketika kaum Muslimin masih berjumlah sedikit, tidak akan berulang lagi. Karena tidak ada hukum yang adil mengatur sistem jaminan hak dan keamanan untuk seluruh kabilah di tanah Arab, maka budaya kesepakatan perjanjian damai masih tetap diperlukan untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah yang dilakukan dengan sewenang-wenangnya oleh kabilah-kabilah yang bermusuhan. Sikap serta akhlak karimah Rasulullah SAW dalam menjaga hak perjanjian, hak di medan pertempuran, dan tidak sewenang-wenang membumi-hanguskan suatu kaum yang melanggar perjanjian damai itu, membuat seluruh anggota kabilah menerima Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dan Islam sebagai agama. Sikap menerima Islam itu bukan karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin, tetapi lebih disebabkan oleh akhlak Rasulullah SAW yang memberikan hak manusia sesuai dengan batas yang telah ditentukan oleh Allah SWT; inilah bagian dari dakwah Islam. Apabila seluruh kabilah sudah di bawah satu hukum dan pimpinan, maka tidak diperlukan lagi perjanjian damai antar kabilah, karena sudah ada aturan yang menjaga hak-hak individu, yaitu Islam. Kecuali pihak yang masih belum menerima Islam, maka perjanjian damai masih diperlukan guna menjamin keamanan Agama, Bangsa, dan Negara. Ad.2. Perang karena ada pihak yang mulai menyerang Terdapat empat ayat yang berisi perintah berperang karena kaum Muslimin diserang oleh pihak lain. Satu ayat Al-Qur’an (At-Taubah: 36) berisi tentang penyerangan yang dimulai oleh kabilah dari kalangan orang-orang Musyrik terhadap kaum Muslimin. Dan, tiga ayat Al-Qur’an (At-Taubah: 29, Al-Anfal: 39, dan Al-Baqarah: 191) yang berisi tentang penyerangan yang dimulai oleh kabilah dari kalangan orang-orang Kafir terhadap kaum Muslimin. Apapun motif mereka melakukan penyerangan tersebut, maka kaum Muslimin berhak menghadapi serangan tersebut. Sikap demikian adalah perintah Allah SWT

Jika ayat-ayat perang yang dikemukakan oleh Imam Samudra itu difahami, tidak satu pun yang mengarah kepada perang ofensive. Sebagaimana yang dia yakini, berikut ini adalah sejumlah catatan yang patut dicermati: 1. “tahap keempat (terakhir) pensyariatan perang dalam Islam dapat dikatakan sebagai tahapan perang offensive (hujumi, menyerang).” (AMT, hal: 133). 2. “Pada periode ini, selurub kaum musyrikin diperangi, kecuali jika mereka bertaubat, masuk Islam, mendirikan shalat dan membayar zakat.” (AMT, hal: 130). Apa yang saya fahami adalah bahwa penyerangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama pasukan Muslimin adalah karena terjadi pelanggaran perjanjian damai yang dibarengi dengan sikap permusuhan. Akibat dari pelanggaran itu, penyerangan adalah sebagai hukuman yang diakui dan disetujui oleh hukum yang berlaku di kalangan bangsa Arab pada masa itu. Begitu juga sikap permusuhan dan persiapan langkah menyerang terhadap kaum Muslimin, maka langkah yang diambil oleh Rasulullah adalah menyerang sebelum diserang. Bukankah pertahanan yang baik adalah menyerang? Jadi tidak ada syariat Islam yang membolehkan menyerang perorangan atau suatu kaum karena kekufurannya atau kemusyrikannya. Wallahu a'alam. Penyampaian dakwah yang dilaksanakan oleh para Sahabat setelah wafatnya Rasulullah SAW selalu didampingi dengan sejumlah pasukan perang untuk menjaga keamanan. Hal ini dilakukan karena para Sahabat tidak ingin pengalaman buruk yang dikenal dengan Tragedi Ar-Raji pada tahun ketiga Hijriyah akan kembali terulang. Yaitu, ketika enam mubaligh (pendakwah Islam) yang dikirim, kemudian dikhianati dan dibunuh di perjalanan. Pengkhianatan itu dilakukan oleh Bani Lihyan. Sementara itu, Tragedi Bi’ir Ma’unah pada tahun keempat Hijriyah mengorbankan 70 pendakwah setelah tiba di Bi’ir Ma’unah. Pengkhianatan itu dilakukan oleh Kabilah Najed (Nejd). Padahal para pendakwah tersebut diutus oleh Rasulullah SAW atas permintaan kabilah atau suku non-Muslim (Bani Amir) yang ingin mengetahui Islam. Tetapi, sebelum tugas dakwah dapat dilaksanakan di tempat, para pendakwah tersebut diserang dan dibunuh oleh suku non-Muslim yang lain. Ini terjadi akibat kebencian mereka yang sangat terhadap Islam, agama baru pada waktu itu. Meski surah At-Taubah diturunkan (diwahyukan), pelaksanaan dakwah Islam oleh para Sahabat tetap tidak dilakukan dengan kekerasan. Orang yang tidak menerima Islam tidak langsung dibunuh atau dibumi hanguskan hingga mereka menerima Islam secara sukarela. Penawaran Islam secara halus dilakukan kepada non-Muslim adalah sebagai langkah dakwah bil-hikmah (dengan bijaksana) yang mengajak manusia untuk menjadikan Islam sebagai agama dalam hidupnya. Namun, jika dakwah Islam tersebut tidak diterima, maka Islam tetap dengan dasar prinsipnya sebagaiman termaktub di dalam Al-Quran: Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al-Baqarah: 256). Artinya: “Dan Katakankah, Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kaftr) biarlah ia kafir.” (Al-Kahfi: 29)

Tetapi, menurut undang-undang Negara Islam yang berlaku pada waktu itu, jika seseorang tidak menerima Islam maka akan dikenakan peraturan membayar jizyah sebagaimana Muslim dikenakan peraturan membayar zakat. Pembayaran zakat bagi Muslim adalah untuk membersihkan nilai harta yang dimilikinya di sisi Allah SWT Namun, jizyah yang dikenakan kepada non-Muslim adalah sebagai ikatan jaminan keamanan untuk dirinya, juga menjadikan darah dan harta mereka sama nilainya seperti darah dan harta kaum Muslimin yang terjamin haknya. Hasil pembayaran jizyah dan zakat itu juga nanti akan kembali dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, baik Muslim ataupun non-Muslim. Tidak ada ketentuan ukuran besar kecilnya jizyah. Namun dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar mengambil jizyah dari seorang Yahudi yang miskin berupa sebuah batu. Orang non-Muslim yang mau membayar jizyah disebut sebagai Kafir Dzimmiy, yaitu orang yang menerima pemerintahan Islam tetapi tidak menerima agama Islam. Kafir Dzimmiy mendapat hak yang sama seperti warga Muslim yang lain dan diperlakukan dengan adil sesuai hukum yang berlaku (Syariat Islam), dan dapat melakukan amalan peribadatan sesuai agama yang dianuti. Tetapi, seandainya orang nonMuslim tersebut (Kafir Dzimmiy) menggugurkan status dzimmiy-nya dan tidak menerima pemerintahan Islam, maka dia tidak dibunuh (sebab dia tidak mengangkat senjata melawan pemerintah), tidak menjadi tawanan dan harta mereka tidak dirampas. Meski demikian, mereka tidak dibenarkan untuk bertempat tinggal di dalam negara Islam (artinya diusir dengan aman). Karena orang yang tidak menerima pemerintahan negara yang ada adalah berbahaya bagi keamanan sebuah negara (pemerintah) di manapun. Orang-orang yang membahayakan keamanan negara Islam akan diusir dari negara atau dikurung. Kemudian jika Kafir Dzimmiy mengangkat senjata melawan kaum Muslimin dan bergabung dengan Kafir Harbiy (musuh) memerangi pemerintah (negara Islam) maka status dzimmiy-nya secara otomatis gugur, haknya tidak terlindungi, dan bahkan dia akan diperangi karena sudah berpihak kepada musuh. Lain halnya bagi non-Muslim yang “musta’man” (artinya Orang yang diamankan), yaitu bukan berwarganegara Negara Islam, mereka adalah orang-orang yang datang ke negara Islam dan mengakui pemerintahan Islam yang ada. Mereka adalah duta negara, turis, pedagang, orang yang punya keperluan, bersilaturrahmi (ziarah) dan lain-lain. Kafir “musta’man” ini tidak diperangi, tidak diusir dari negara Islam, dan tidak kena jizyah. Mereka aman di negara Islam setelah mendapat izin tinggal (visa), selama mereka tidak mengangkat senjata memusuhi Islam dan memata-matai. Dan, hak-hak mereka terjamin aman hingga kembali ke tempat asal mereka. Seandainya dakwah Islam dilakukan di sebuah negara non-Islam maka seperti halnya dakwah kepada perorangan, ia 'diminta' menerima Islam sebagai agama yang dianut dan aturan yang diberlakukan dalam hidup. Tetapi, sekiranya negara tersebut ddak menerima Islam maka kembali kepada pegangan dasar, yaitu tidak memaksa untuk menerima Islam. Selanjutnya sebagai langkah jaminan keamanan maka negara tersebut diminta untuk membayar jizyah sebagai ikatan perjanjian damai. Jika jizyah diberikan kepada negara Islam, maka negara tersebut berstatus A.hlul Hudnah (gencatan senjata), mereka bebas dengan pimpinannya yang nonMuslim dan dengan undang-undang negaranya yang bukan Islam. Dalam keadaan gencatan senjata, dapat dilaksanakan dakwah Islam dengan memberi mereka kesempatan mendengar tentang Islam. Jika negara tersebut melanggar perjanjian damai dengan tidak mau membayar jizyah atau mengangkat senjata terhadap

negara Islam maka status negara tersebut menjadi Negara Kafir Harbiy (Negara Kafir yang diperangi). Dengan demikian, negara Islam akan mengirim pasukan tempurnya untuk menyerang negara yang telah mengancam keamanan negara Islam. Istilah defensive atau offensive, dan tahapan-tahapannya bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan dan dipertentangkan. Pasalnya, setiap peperangan dan pertempuran terkadang dapat berarti defensive, offensive, dan dapat berarti keduaduanya. Istilah defensive dan offensive tidak dapat dielakkan atau dihapus salah satunya dari kamus perang, selama peperangan sedang berlangsung. Apa yang penting dalam Islam adalah bahwa perang (jihad) itu dibenarkan karena untuk membela dakwah Islam yang terancam diserang atau dimusnahkan. Dengan kata lain, kalimah Allah (Laa ilaha illallah) harus dibela dan dipertahankan. Apapun penetapan kemaslahatan operasi perang yang akan dimulai dengan mengambil langkah defensive atau offensive, haruslah di bawah kendali keputusan pimpinan tertinggi Negara atau panglima tertinggi pasukan kemiliteran, seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW selaku pemimpin tertinggi. Penetapan tersebut bukan kebijakan perorangan anggota biasa atau seorang Muslim biasa. Penetapan dilakukannya sebuah peperangan atau tidak, haruslah diputuskan oleh Muslim yang berwenang (selaku pimpinan tertinggi). Ghozwah dan Sariyah yaitu perang yang pernah terjadi selama masa Rasulullah SAW, pada umumnya adalah sebagai operasi defensive sekaligus offensive: Disebut sebagai operasi defensive, karena mempertahankan keamanan Agama Islam, Umat Islam, dan Negara Islam dari ancaman pihak yang memusuhi dan membenci Islam. Dikatakan operasi offensive, karena pasukan Muslimin-lah yang selalu memulai penyerangan terhadap pasukan lawan yang telah memulakan mendeklarasi permusuhan. Jika orang-orang non-Muslim telah melanggar perjanjian damai, maka itu berarti mereka telah lebih dulu mendeklarasikan permusuhan dan peperangan. Dengan demikian kaum Muslimin melakukan tindakan pertahanan (defensive) dengan melaksanakan penyerangan (offensive). Karena orang-orang non-Muslim menghalang-halangi dakwah dan mengancam keamanan, maka sikap pertahanan (defensive) diterapkan untuk membela agama Islam. Sementara sikap menyerang (offensive) dilakukan guna memulai penyerangan sebelum musuh siap berperang. Demikianlah sikap yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sehingga musuh selalu didahului oleh pasukan Muslimin. Pasukan musuh seringkali kalah karena mereka belum siap akibat dari sikap offensive yang dilakukan oleh pasukan Muslimin secara mendadak (surprise). Jadi, tidak ada gunanya mempertahankan istilah fase defensive ataupun fase offensive. Tidak perlu saling mencela karena kedua-duanya benar dan diperlukan dalam saat menghadapi peperangan, yang membedakan hanyalah niat. Apakah berniat membela dakwah Islam dan mempertahankan kalimah Allah SWT sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ataukah untuk menuruti hawa nafsu yang suka membunuh, menyerang, dan tanpa hati nurani menghantam umat manusia yang lemah? Ad.3. Perang karena wujudnya 'Fitnah' yaitu ancaman perang Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang berisi perintah memerangi kaum lain agama. Demikian juga tak ada satu ayat pun yang secara jelas menyebut nama

agama lain untuk diperangi. Tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan berperang ke sasaran yang bersifat umum. Dan tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk memerangi suatu kaum semata-mata karena kekufurannya atau karena kemusyrikannya. Tetapi, ayat-ayat Al-Qur’an yang ada adalah akibat kekufuran dan kemusyrikannya yang dibarengi dengan rasa benci, dendam, dan memusuhi kaum Muslimin yang ditampakkan dengan usaha-usaha nyata menyakiti kaum Muslimin dengan serangan (perang), maka Allah SWT perintahkan kepada Rasul-Nya untuk berperang menyambut tantangan tersebut. Dalam konteks memerangi non-Muslim (Musyrik atau Kafir) yang saya fahami dilakukan oleh Rasulullah SAW hanya terhadap mereka-mereka yang memusuhi Islam, kaum Muslimin dan mengkhianati perjanjian damai saja, yaitu yang menjadi ancaman keamanan kaum Muslimin, inilah yang dikatakan fitnah. Jadi ternyata saya berbeda faham dengan apa yang dikatakan oleh Imam Samudra berdasarkan ayatayat Al-Qur’an itu dan menurut yang saya fahami bahwa pemahaman Imam Samudra untuk membenarkan aksi kekerasannya adalah Tidak Benar terhadap ayat-ayat perang (Al-Qur’an itu). Menurut yang saya fahami berdasarkan dalil-dalil yang dijadikan alasan oleh Imam Samudra itu semua (di AMT), bahwa kaum Muslimin harus dan wajib mengadakan perlawanan untuk mempertahankan diri, yaitu mempertahankan agama Islam, umat Islam, dan kedaulatan negara. Dengan kata lain three in one, satu aksi untuk mempertahankan tiga kepentingan. Non-Muslim yaitu orang-orang Kafir dan Musyrik tidak diperintahkan oleh Allah SWT untuk dimusnahkan seluruhnya dari muka bumi ini jika mereka tidak menginginkan Islam. Sirah perjalanan Rasulullah SAW mengisahkan, kaum Muslimin menghadapi serangan dari orang-orang non-Muslim yang selalu memulai lebih dulu, melanggar perjanjian damai, memusuhi, atau menyerang. Baik dari kabilah yang tidak pernah mengadakan perjanjian damai ataupun kabilah yang sudah pernah mengadakan ikatan perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Rasulullah dan pasukan Muslimin menyerang kabilah yang mengancam keamanan Islam dan umat Islam dengan tujuan supaya mereka berhenti dari memusuhi kaum Muslimin dan berhenti dari menghalangi dakwah Islam. Termasuk mengancam keamanan adalah apabila musuh telah melangkah sejengkal (menguasai) masuk ke tanah wilayah kekuasaan pemerintahan Islam dan apabila orang Islam ditawan. Jika Hadis Nabi; “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai ia mau mengucapkan kalimat syabadah…” bermaksud memerangi seluruh non-Muslim hingga mereka menerima Islam, maka ucapan Nabi Muhammad itu bertentangan dengan perbuatannya. Sepengetahuan saya, perbuatan Nabi lebih diutamakan diambil menjadi pegangan hukum daripada ucapannya, jika ditemukan bertentangan. Wallahu a’lam. Contoh praktek perang yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW baik sebelum maupun sesudah diwahyukan surah At-Taubah ayat 5, tetap sama bagi Rasulullah. Hanya penundaan waktu empat bulan saja (bulan haram) yang membedakannya. Sebelum menerima wahyu tersebut, ketika ada kabilah yang melanggar perjanjian damai, maka dengan segera Rasulullah memimpin pasukan tempur untuk menyerang

kabilah

yang

berkhianat

atau

memusuhi

tersebut.

Tetapi, pada surah At-Taubah ayat 5, Allah SWT melarang Rasulullah melakukan penyerangan terhadap kabilah Musyrikin yang telah melanggar perjanjian damai, karena hampir mendekati bulan Haram dan juga larangan penyerangan terhadap kabilah yang akan habis masa perjanjian bertepatan pada bulan Haram. Dengan demikian mereka diberikan waktu empat bulan bebas tidak diganggu (diserang). Jika masa empat bulan tersebut berakhir, maka barulah Rasulullah boleh memimpin atau mengirim pasukan melakukan penyerangan terhadap kabilah musyrikin yang melanggar perjanjian damai dan terhadap kabilah yang telah selesai masa perjanjian damai (kecuali bagi yang memperpanjang masa perjanjian tersebut). Mengapa kabilah-kabilah yang pada waktu dahulu mengkhianati perjanjian damai tidak diberikan tempo empat bulan, dan mengapa pula baru sekarang turun wahyu yang memberikan tempo waktu kepada kabilah musyrikin? Sebab Allah SWT ingin Rasulullah SAW mempraktekkan di hadapan bangsa Arab bahwa Islam menghormati budaya. Karena itu, Nabi diperintahkan untuk menghormati bulan haram sebagaimana budaya bangsa Arab kuno (Jahiliyah) menghormati bulan haram. Yaitu, dengan menahan diri tidak melakukan aksi pertempuran walaupun dikhianati (terjadi pelanggaran perjanjian damai). Menghormati budaya adalah termasuk dari akhlak karimah (perilaku yang mulia). Apabila Rasulullah tidak melakukan aksi penyerangan di bulan haram, maka itu berarti ia telah melakukan dakwah Islam dengan akhlak karimah. Maka orang-orang Musyrik yang melanggar perjanjian damai dibiarkan bebas (tidak diserang walaupun diketahui mengadakan persiapan menyerang), hingga bulan haram berakhir. Kecuali jika orang-orang Musyrik yang memulai menyerang kaum Muslimin di bulan haram, maka kaum Muslimin boleh membalas meski di bulan haram. Budaya bangsa Arab kuno sangat menghormati bulan haram, maka Allah SWT tidak menginginkan kaum Muslimin mencemari bulan haram walaupun mereka berhak menyerang orang-orang Musyrik yang telah berkhianat. Menghormati budaya yang tidak melanggar syariat Islam adalah lebih utama sekaligus dapat mengedepankan urusan dakwah Islam bil-hikmah (dengan bijaksana). Praktek yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelum dan sesudah turun surah AtTaubah ayat 5 ini adalah sama: Memerangi kabilah yang berkhianat (mengkhianati perjanjian damai) yang kemudian menjadi ancaman keamanan Islam, kaum Muslimin dan wilayah Muslimin. Memberikan jaminan keamanan terhadap orangorang Musyrikin yang setia kepada perjanjian damai. Tidak membunuh orang-orang Musyrik atau Kafir yang tidak memusuhi Islam dan tidak memerangi Islam. Dan mereka tidak dipaksa untuk menerima Islam. Perlakuan yang baik terhadap musuh yang mengalami kekalahan, seperti para tawanan yang dibebaskan. Sunnah fi’liyah yaitu sebab musabab perbuatan, tindakan, dan sikap Rasulullah ketika berperang adalah hal yang paling penting untuk diikuti dan dijadikan dasar pegangan yang kuat dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an tentang perang. Penyampaian ajakan perang, kobaran semangat perang, dan kabar gembira bagi yang berperang termasuk janji syurga, mati syahid, dan ancaman neraka bagi yang tidak mau berperang adalah apabila status dan sasaran perang sudah jelas, dan peperangan sedang terjadi. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW ketika memberi

semangat mati syahid dan janji syurga semuanya diucapkan pada masa-masa pertempuran, bukan di Madinah atau di dalam masjid. Bukankah perilaku Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, sebagaimana Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. menjawab tentang perilaku Nabi Muhammad: “Akhlaknya (perilaku Rasulullah SAW) adalah Al-Qur’an.” Sabda Rasulullah SAW: “Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlak yang soleh.” (Hadis riwayat Ahmad). Dan pernyataan Allah SWT mensifati Akhlak Rasulullah SAW:

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21). Apa yang dilakukan oleh Rasulullah sebenarnya praktek riil memerangi 'fitnah' sehingga kaum Musyrikin yang memerangi kaum Muslimin menjadi tunduk dan menerima Islam sebagai penguasa yang memiliki sistem penjagaan hak-hak kemanusiaan yang sangat diperlukan pada waktu itu. Menjamin keamanan, keadilan, dan memberikan hak-hak manusia, baik kepada Muslim maupun yang non-Muslim. Namun, apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berperang setelah zaman Nabi Muhammad SAW yang memerangi sesama Muslim atau dengan sengaja menyerang penduduk awam Muslim dengan alasan jihad memerangi 'fitnah' adalah sebenarnya membawa fitnah kepada umat Islam. Peristiwa ini bukan hanya terjadi pada zaman sekarang tetapi juga dialami oleh para Sahabat dan zaman-zaman kekhalifahan. Sebagaimana kisah yang terdapat pada sebuah hadis; Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata: Rasulullah SAW mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi SAW. Rasulullah bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah SAW bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang Muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: “Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah.” Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah. (Hadis Sahih Bukhari dan Muslim).
Golongan yang memusuhi dan memerangi kaum Muslimin pada zaman Nabi Muhammad SAW

Non-Muslim yang boleh diperangi bagi sebuah Negara Islam.

Menghadapi 'Fitnah' dengan niatan dakwah, cara yang adil dan tidak memaksa memeluk Islam demi menegakkan Kalimah Allah. Langkah strategis perang defensive atau perang offensive bukanlah fase yang diatur oleh Rasulullah SAW, tetapi bagaimana setia pada niat untuk berdakwah dan tercapainya maksud dakwah Islam dengan cara yang benar. Itulah hal terpenting sehingga Rasulullah SAW mendefinisikan tujuan perang dengan sabdanya: Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy’ari ra.: Bahwa seorang lelaki Arab badui datang kepada Nabi SAW dan bertanya: Wahai Rasulullah! Seorang lelaki berperang untuk memperoleh harta rampasan, seorang lagi berperang untuk dipuji (dikenang) dan seorang lagi berperang agar bisa diperlihatkan kedudukannya. Siapakah yang berada di jalan Allah? Rasulullah SAW menjawab: “Barang siapa yang berperang demi tegaknya kalimat Allah, maka ia adalah Fie Sabilillah (berada di jalan Allah).” (Hadis Sohih Bukhari dan Muslim). Menempatkan Kalimah Allah (Laa ilaha illallah) berada pada posisi tertinggi di mata manusia, dijunjung dan diagungkan oleh manusia, tentu tidak dapat dipaksakan. Hati manusia tidak dapat dipaksa dengan kekerasan untuk menerima Kalimah Allah SWT, dan jika tetap dipaksakan maka penerimaan itu tidak bertahan lama. Tetapi, Kalimah Allah itu akan dijunjung dan diagungkan serta menjadi tegak disebabkan orang-orang menerima dengan sukarela dan senang hati karena melihat kemuliaan akhlak, budi bicara yang sopan dan keadilan yang ditampakkan oleh orang-orang yang membawa dakwah Islam atau memimpin negara Islam. Kalimah Allah SWT ditegakkan bukan dengan cara berperang. Sekali-kali tidak. Dan, hadis di atas tidak mengandung maksud demikian. Perang dan pertempuran yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan kaum Muslimin yang bersamanya adalah hak yang diakui kebenaran untuk melakukannya. Dan, umat manusia juga melihat bahwa Rasulullah dan kaum Muslimin tidak berbuat kezaliman dalam pertempuran. Adalah Hak bagi kaum Muslimin di Madinah untuk mempertahankan wilayah yang telah Allah karuniakan sebagai pemerintahan Islam.

Maksud hadis di atas adalah pemberitahuan dari Rasulullah SAW kepada umat Islam yang sedang berperang di jalan Allah. Yaitu, harus mempunyai niat dakwah untuk mempertahankan kalimah Allah. Artinya, dalam perang harus ada misi dakwah Islam. Berakhlak ketika memerangi musuh, tidak membunuh karena dendam dan marah. Jika membunuh musuh dalam pertempuran haruslah dengan cara yang baik, membunuh dengan tidak mencacah-cacah, tidak membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dan berbagai lagi aturan-aturan lain dalam perang yang ditaati oleh pasukan Muslimin. Semua itu adalah bagian dari sikap berdakwah yang ditunjukkan kepada musuh betapa Islam memiliki aturan yang sempurna dalam berperang dan berlaku adil. Begitu juga ketika pasukan Muslimin dapat menawan musuh yang kalah. Para tawanan diperlakukan dengan baik tanpa tersirat rasa benci hingga mereka dibebaskan, meski masih belum menerima Islam. Berlaku adil ketika perang Pertumpahan darah dan saling membunuh terjadi hanya pada waktu bertemunya dua pasukan. Ketika kondisi sudah tenang dan pasukan musuh kalah lalu menyerahkan diri, maka pasukan Muslimin tidak dengan sewenang-wenang membunuh orang yang lemah, sudah kalah dan menyerah. (Kecuali pada peristiwa tertentu pernah ada yang dijatuhi hukuman yaitu diadili karena punya kesalahan). Tidak adanya paksaan dan kekerasan yang ditampakkan oleh pasukan Muslimin dalam mengajak kepada Islam, membuat mereka (musuh dan non-Muslim) bertambah yakin betapa sempurnanya agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, sesuai dengan tuntunan Allah SWT kepada Rasul-Nya. Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An-Nahl: 90) Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-Hadid: 25). Perang yang dialami oleh Rasulullah SAW adalah bagian dari dakwah Islam, tetapi perang bukanlah bagian yang terutama dalam berdakwah menyebarkan Islam. Pada asalnya perang tidak dinginkan namun perang akan menjadi diperlukan jika keamanan dakwah Islam, umat Islam, dan Negara Islam terancam. Ketika sedang berdakwah lalu terdapat pihak yang menghalang-halangi dakwah Islam dan mengancam keselamatan dakwah Islam, agama Islam, umat Islam dan Negara, maka perang akan terpaksa dilakukan untuk membela dan mempertahankan kehormatan Islam. Jika dakwah dapat dilaksanakan dengan aman tanpa adanya ancaman dan gangguan, maka perang tidak diperlukan. Dalam kesempatan berperang terdapat misi dakwah Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin, yaitu sikap tidak melampaui batas dan berlaku adil dalam pertempuran. Dan setiap kali peperangan yang dimenangkan oleh pasukan Muslimin, maka pasukan musuh yang kalah menjadi kagum dengan perilaku serta akhlak pasukan Muslimin. Selanjutnya, di antara mereka menerima Islam, bukan karena dipaksa melainkan perlakuan manusiawi dan adil yang diterima. Bahkan, kebanyakan

tawanan

dibebaskan.

Di antara keadilan yang mereka lihat dari kaum Muslimin adalah sikap yang tidak menyakiti anak-anak, isteri, dan juga kaum kerabat mereka yang tidak ikut berperang. Kaum Muslimin mempunyai disiplin bahwa seseorang tidak dapat memikul dosa orang lain. Jika yang bersalah adalah bapaknya, maka anaknya tidak terkena dosa bapaknya, begitu juga isteri dan yang lain. Pelajaran berharga itu termaktub di dalam Al-Quran: Artinya: “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (An-Najm: 38) Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maaidah: 8). Namun, tidak dapat dipungkiri jika di antara mereka ada juga yang mengucap dua kalimah syahadah (menerima Islam) karena takut. Tetapi, lambat laun mereka juga akan memahami Islam setelah mengetahui kandungan Al-Qur’an, akhlak, dan perilaku orang-orang di sekelilingnya dari kalangan kaum Muslimin yang benar-benar berakhlak dengan Akhlakul Karimah. Tidak ada paksaan masuk Islam Jika memang Islam harus menjadi satu-satunya agama di dunia ini, mengapa Rasulullah SAW membiarkan para tawanan bebas tanpa memaksa mereka untuk menerima Islam? Dan, seandainya orang-orang Kafir dan Musyrik harus diperangi hingga mereka menerima Islam, mengapa pasukan Muslimin menghentikan peperangan dan menerima perundingan damai (gencatan senjata) ketika pasukan musuh mengalami kekalahan dan membiarkan mereka bebas dengan agama mereka tanpa dipaksa untuk menjadi Muslim? Demikian juga mengapa disyariatkan adanya status kafir Dzimmiy dalam Negara Islam? Jika memang semua non-Muslim di muka bumi ini harus menjadi Muslim dan harus Islam saja di muka bumi ini, mengapa Nabi SAW melakukan hal di atas? Lantas bagaimana dengan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan untuk bermuamalah dengan non-Muslim yang akan tetap berlaku hingga hari kiamat? Sebenarnya, atas dasar “Tidak, ada paksaan dalam agama (Islam)” (Al-Baqarah: 256), itulah yang membuat Rasulullah berakhlak karimah sepanjang masa hayatnya. Nabi juga senantiasa berakhlak baik terhadap musuh-musuhnya, baik ketika aman bersama masyarakat Muslim dan non-Muslim maupun ketika berperang. Dengan begitu, praktek dakwah Rasulullah SAW terwujud di medan peperangan, antara lain meliputi: larangan-larangan dalam berperang dan aturan-aturan membunuh, tidak sewenang-wenang menjatuhkan hukuman kecuali yang sesuai dengan hukum dan berlaku adil, tawanan diperlakukan dengan baik, tawanan dibebaskan, dengan syarat dan ada juga yang tanpa syarat, tawanan tidak dipaksa untuk menerima Islam, memberi kesempatan tawanan untuk membawa harta benda mereka ketika diusir. Merampas harta kekayaan musuh bukanlah tindak pemaksaan, tetapi adalah hak bagi pihak yang menang, hamba sahaya milik musuh dimerdekakan.

Selain itu, juga terjadinya perundingan damai (gencatan senjata), tidak menyerang kecuali apabila diserang dan dimusuhi (karena hak), tidak memulai melanggar perjanjian damai, ddak melanggar budaya Arab yang dihormati, seperti larangan berperang pada bulan Haram (suci), memberi hak kafir Dzimmiy yang diperlakukan sama sebagaimana hak Muslim, walaupun tidak menerima Islam, memberikan pengampunan kepada orang-orang yang telah masuk daftar wanted (dibunuh), memberi kesempatan kepada musuh untuk melarikan diri (lari dari terjadi kontak senjata), sebelum penyerangan, memberi pemberitahuan kepada musuh untuk berlindung dan tidak mengambil sikap melawan, tidak memiliki niat dan hasrat untuk membalas dendam terhadap kaum yang pernah memusuhi Islam. Demikianlah cara dakwah Islam yang ditunjukkan Rasulullah SAW secara fi’liyah (sunnah perbuatan ketika berperang) kepada umat manusia yang diterjemahkan dari ajaran Al-Qur’an secara riil di muka bumi. Al-Hak (Kebenaran) yang menjadi pembeda dengan agama-agama yang lain juga sudah Rasulullah SAW tampakkan di hadapan mata manusia. Maka biarlah manusia itu sendiri memilih yang hak atau yang batil sesuai pemahaman dan keyakinannya, tanpa unsur paksaan. Apa gunanya memaksa orang menganut Islam sedangkan orang tersebut belum dapat membedakan yang hak (kebenaran) dengan yang batil? Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Al-Baqarah: 256). “Dan katakankah, kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al-Kahfi:29). Dan begitu jugalah praktek Rasulullah SAW serta kaum Muslimin di Madinah (Negara Islam) yang dimusuhi dan terancam diserang oleh kabilah-kabilah Arab. Keseluruhan ayat yang memerintahkan memerangi orang-orang kafir dan musyrikin adalah terbatas kepada mereka yang memusuhi Islam dan diketahui mengadakan rencana penyerangan terhadap kaum Muslimin. Adalah hak dan kuwajiban kaum Muslimin untuk mengadakan pembelaan diri dari gangguan. Jika diserang, maka perlawanan dilakukan tanpa perlu menunggu komando, tetapi jika akan melakukan penyerangan terhadap musuh maka harus menunggu keputusan (komando) dari pimpinan negara atau panglima tertinggi pasukan. Pelaksanaan penyerangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah hak kaum Muslimin untuk melakukan demikian karena telah dikhianati atau diserang. Pelaksanaan bertahan juga hak kaum Muslimin dan malah berstatus harus karena menghindari, mempertahankan diri, dan menyelamatkan diri dari ancaman serta gangguan musuh. Kedua hak tersebut dimaksudkan untuk tujuan dakwah Islam, karena ketika non-Muslim melihat Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin berperang dengan penuh disiplin serta beretika maka pihak non-Muslim melihat kemuliaan Islam. Dan ketika pasukan musuh kalah lalu kaum Muslimin melepaskan para tawanan tanpa berbuat zalim (melampaui batas), menyiksa, dan tidak memaksa mereka menerima Islam, maka itu juga adalah melaksanakan misi dakwah Islam. Sikap menyerang adalah hak kaum Muslimin karena dikhianati, yang memang diketahui

dan diakui oleh pihak musuh, tetapi perlakuan baik yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW ketika berperang dan sesudah perang membuat non-Muslim yakin dengan Rasulullah SAW sebagai seorang Nabi. Dengan sukarela mereka menerima Islam yang menghormati hak-hak kemanusiaan dan berlaku adil. Itulah tujuan dakwah Islam. Dalam kondisi apapun Rasulullah SAW tetap menjaga prinsip perang yaitu “Maintenance of Object” yang berarti 'setia pada tujuan'. Tujuan utama Rasulullah SAW diutus sebagai Nabi adalah untuk mengajak manusia beribadah kepada Allah SWT dan mentauhidkan-Nya, dengan bijaksana (hikmah) dan dengan memberi pelajaran yang baik (mau’izoh hasanah). Wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw; Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa: 36). Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl:l25). Dalam berperang, baik ketika defensive ataupun offensive adalah juga sebuah kesempatan untuk mendakwahkan Islam kepada pasukan musuh dengan menunjukkan atau menonjolkan akhlak karimah dan memberikan hak-hak kemanusiaan yaitu adil serta tidak memaksa menerima Islam. Di dalam Al-Quran termaktub: Artinya: “Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "A.ku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNyalah kembali (kita).” (Asy-Syuura: 15). Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis yang dikemukakan oleh Imam Samudra (di buku AMT), bahwa perang yang dimaksudkan akan tetap terus berlangsung sehingga agama yang menang dan berkuasa hanyalah agama Islam. Yaitu dengan menggambarkan berulangkalinya Rasulullah SAW melakukan pertempuran untuk menyebarkan dan memaksa orang lain menerima Islam. Perhatikan kutipan berikut ini: “agar tidak ada lagi kesyirikan, agar dienullah saja yang menang dan berkuasa atas dunia ini ... Rasulullah SAW memimpin langsung pertempuran sebanyak 28 kali. Sedangkan Sariyah (ekspedisi) yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebanyak 55 kali.” (AMT. Hal. 162). Kemudian, Imam Samudra juga mengancam orang-orang yang tidak mau mempercayai ayat-ayat perang dan menaati perintah ayat itu. Menurut

pemahamannya bahwa perintah perang tersebut adalah untuk memerangi seluruh orang yang bukan Islam (non-Muslim), dan hukumnya adalah wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim. Menurutnya, asal perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an adalah wajib ditaati. Imam Samudra berperan laksana seorang Nabi yang mendapat wahyu langsung dari Allah SWT, dari ayat Al-Qur’an dengan cepat dia memberi perintah perang kepada umat Islam dan mengancam “Siapa yang berani menyangkal bahwa itu adalah perintah Allah?...Status perintah Allah adalah wajib.” (AMT. Hal. 103). Bukan hanya memaksa dan mengancam, malah ayat yang dibawanya tidak sempurna dan tidak seperti yang dimaksudkan oleh Allah SWT ketika menurunkan ayat itu. Ayat tersebut dicomot dan dipotong-potong sehingga terbentuk sedemikian rupa menjadi dalil untuk membenarkan perbuatannya yang keji. Bukankah amal harus benar sesuai tuntunan dalil dan bukannya dalil (dijadikan alat) membenarkan amal? Wallahu a'alam bis Showab. Bagi yang tidak menaati perintah Allah, ia bukan hanya mendapat dosa tetapi malah dicela dan dimaki-maki oleh Imam Samudra. Begitukah akhlak seorang Muslim yang mengaku sebagai 'Mujahid' dan 'Ustaz' yang dengan begitu mudah mencaci-maki orang lain setelah habis metode dakwahnya untuk mengajak manusia berjihad membela Islam? “Hanya manusia-manusia yang tolol, bodoh, idiot, dan mati hati sajalah yang tidak takut akan ancaman Allah.” (AMT, hal:103). Dan “O, Muslim? Are you chicken? La haula wa la quwwata illa billah.” (AMT, hal:106) Apakah begini teladan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi pegangan Imam Samudra untuk menyebarkan Islam? Pastinya bukan dan tidak. Karena itu, saya sangat bersedih ketika membaca setiap kalimat Imam Samudra yang menggambarkan Rasulullah SAW adalah seorang pemimpin yang aktif berperang untuk menghancurkan kaum lain yang bukan Islam (AMT, hal:162), dan seorang yang selalu memaksa orang atau kabilah yang bukan Islam untuk menerima Islam. Dengan demikian, menurut Imam Samudra, Islam harus disebarkan dengan perang. Sungguh Imam Samudra telah menggambarkan Islam adalah faham agama yang sadis dan tidak manusiawi. Sungguh dia telah menempatkan Rasulullah SAW sebagai orang yang haus darah sehingga akan memerangi dan membunuh orang-orang yang tidak mau menerima Islam. Dia membayangkan perbuatan Rasulullah SAW itu sama seperti langkah awal Pejuang Taliban (yang dibangga-banggakannya) yang memerangi semua kelompok Mujahidin di Afghanistan, bermula pada sekitar akhir 1993 dan memaksa orang untuk mengikuti Taliban dan harus menghilangkan keanggotaan pada organisasi yang lain, jika tidak maka akan diperangi dan dibunuh. Sebab hanya satu organisasi saja yang dibenarkan berada, yaitu Taliban. Sementara tanzim (organisasi) Jihad Mujahidin Afghanistan yang lain harus musnah. Bukankah sirah Rasulullah SAW itu (praktek perang) yang saya jelaskan di atas sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Imam Samudra dalam Aku Melawan Teroris tentang pengertian jihad menurut Syar’i? “jihad berarti berperang melawan kaum kafir yang memerangi Islam dan kaum Muslimin.” (AMT, hal:108). Dengan kata lain, dari definisi itu bahwa seandainya orang kafir itu (non-Muslim) tidak memerangi Islam dan kaum Muslimin, maka dilarang melakukan aksi militer terhadap mereka. Demikianlah yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW selama

hayatnya sebagai seorang Nabi dan Rasul, pemimpin negara dan panglima tertinggi pasukan tempur. Saya tidak ragu-ragu dan tidak khawatir untuk mengatakan bahwa Imam Samudra telah sesat dan menyesatkan umat Islam serta berlaku zalim terhadap dirinya sendiri serta terhadap sesama umat manusia. Dia telah melampaui batas-batas hukum Allah SWT, bahwa orang-orang kafir dan musyrik yang tidak memusuhi dan tidak berencana menyerang Islam maka tidak dibenarkan untuk dibunuh atau diperangi dengan sewenang-wenang. Inilah peringatan dari Allah SWT terhadap orang yang bertindak melampaui batas-batas ketentuan hukum Allah SWT: Artinya: “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orangorang yang zalim.” (Al-Baqarah: 229) Artinya: “dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (At-Thalaq: 1). Tetapi saya khawatir, jangan-jangan jihad yang diserukan oleh Imam Samudra bukanlah Jihad Fie-Sabilillah, melainkan ‘Jihad gaya Imam Samudra’. Membunuh warga sipil Saya kaget dan heran ketika membaca penjelasan Imam Samudra tentang dua ayat Al-Qur’an yang dipotong-potong untuk membenarkan aksi pembomannya, (AMT, hal:116) yaitu: Artinya: “barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu.” (Al-Baqarah: 194). Dan, ayat 126 Surah An-Nahl: Artinya: “dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan jang ditimpakan kepadamu.” (An-Nahl: 126). Dengan tegas dan bangga, Imam Samudra mengatakan bahwa membalas balik dengan membunuh wanita, anak-anak, dan warga sipil adalah tindakan yang 'wajar', 'adil' dan 'seimbang'. Karena itu, menurut Imam Samudra, Amerika dan sekutunya telah melampaui batas-batas perang dengan membunuh banyak warga sipil Muslim, maka dia berniat membalas dengan cara membunuh warga sipil Amerika dan sekutunya. Begitulah katanya “sipil dibalas sipil! Itulah keseimbangan.” Dengan yakinnya ia mengatakan “Dan dengan demikian, jihad Bom Bali tidak dilakukan secara asal-asalan dan serampangan.” (AMT, hal: 116). Astaghfirullah! Padahal wisatawan asing yang berada di Legian Bali pada waktu itu terdapat banyak juga orang-orang non-Muslim yang bukan warga Amerika atau Australia, kalau memang benar Amerika dan Australia adalah musuh Imam Samudra! Kalaupun wisatawan asing yang berada di Bali itu adalah warga Amerika ataupun warga Australia dan sekutunya maka belum tentu mereka dari pihak yang setuju dengan tindakan pemerintah mereka yang menyerang Afghanistan dan Iraq. Bukankah kebohongan alasan pemerintah Amerika menyerang Iraq dibongkar sendiri oleh warga Amerika? Bagaimana kalau yang tewas dalam aksi bom Bali itu adalah dari warga Amerika yang tidak setuju dan anti dengan kebijakan pemerintah Amerika dalam penyerangan Afghanistan dan Iraq? Sungguh Imam Samudra sendiri telah mengeneralisir warga Amerika dengan prasangkanya, “ini berarti pula mereka terlibat dalam proses pembiayaan perang.” (AMT, hal: 147). Sebuah prasangka dan

tuduhan

yang

tidak

berdasar.

Bagaimana Imam Samudra boleh memahami potongan ayat Qishosh tersebut (AlBaqarah: 194) yang ditafsirkannya sendiri menurut arti harfiyah lalu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi sekarang ini di luar Indonesia yang kemudian dibalas di Indonesia? Jika diperhatikan kedua ayat tersebut dalam bahasa Arab, akan didapati perkataan bi mitsli ma yang artinya secara harfiyah “dengan seumpama apa (benda) yang.” Bermakna ada sesuatu yang digunakan serupa dengan yang terdahulu, baik itu berbentuk perkataan maupun material. Dan menurut para mufasirrin (Ulama penafsir Al-Qur’an) bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang hukum Qishosh yaitu hukum membalas kejahatan. Di dalam syariat Islam diatur tentang cara-cara pelaksanaan hukum Qishosh. Dalam tafsir Qurtubiy, penjelasan terhadap ayat ini adalah bahwa Rasulullah memerintahkan dalam pelaksanaan hukum Qishosh harus menggunakan alat yang sama terhadap pelaku seperti yang digunakan oleh pelaku kepada korban. Tidak boleh melakukan tindakan yang melampaui batas dengan membalas kepada selain pelaku, seperti terhadap kedua orangtuanya, anaknya dan kerabatnya. Begitu juga tidak boleh berbohong kepada pelaku seandainya pelaku berbohong kepadanya. Sebab, kemaksiatan tidak boleh dibalas dengan kemaksiatan. Sekarang, hukum pelaksanaan Qishosh tidak boleh dilakukan secara pribadi tetapi harus atas izin pemerintah (artinya Mahkamah Islam). Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini bahwa Allah SWT memerintahkan untuk berlaku adil dalam melaksanakan hukum Qishosh walaupun terhadap kaum yang bukan Islam (non-Muslim). Untuk membalas kejahatan orang lain, maka sikap sabar si korban adalah lebih baik bagi orang-orang yang mau bersabar. Terdapat empat hal dan satu catatan penting yang perlu diperhatikan dari ayat tersebut (Al-Baqarah: 194 dan An-Nahl: 126), yaitu: Pertama : Alat dari jenis yang sama. Kedua : Teknis pembalasan dengan cara yang sama. Ketiga : Pembalasan dilakukan hanya terhadap si pelaku. Keempat : Pelaksanaannya dilakukan oleh si korban atau wali si korban. Catatan: Tidak boleh melakukan pembalasan terhadap kedua orangtua pelaku, anaknya dan kerabatnya. Apalagi terhadap bangsanya yang tidak ada hubungan darah. Sebab tindakan demikian adalah melampaui batas hukum Allah. Keadilan ditegakkan biarpun kepada non-Muslim. Jika Imam Samudra salah satu pengagum Ustadz Abdullah Azzam (alm), maka saya ingin menceritakan sebuah tafsir dari salah satu ceramah Ustadz Abdullah Azzam yang pernah saya dengar langsung pada majlis ta’lim beliau di Afghanistan. Ketika itu ia menjelaskan penggunaan senjata api menurut syariat Islam. Senjata api yang digunakan oleh pasukan bersenjata mujahidin Afghanistan dan pasukan bersenjata di seluruh dunia mempunyai efek api dan panas. Padahal di dalam Islam terdapat larangan membunuh dengan api. Sabda Rasulullah SAW: “Tidak boleh menyiksa (membunuh) dengan (menggunakan) api kecuali pemilik api (yaitu Allah SWT).” (Hadis Riwayat Abu Daud).

Kemudian

Ust-Abdullah

Azzam

menyebutkan

sebuah

ayat

Al-Qur’an

:

Artinya: “Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishosh. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 194) dan ayat yang lain:

Artinya: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl:126). Selanjutnya Ust. Abdullah Azzam (alm) menjelaskan bahwa dengan ayat ini maka dibolehkan menggunakan senjata api yang sama seperti yang digunakan musuh ketika memerangi mujahidin. Jika musuh menggunakan api untuk membunuh maka dibolehkan menggunakan api untuk membunuh musuh (pasukan bersenjata musuh). Begitu juga seandainya musuh menggunakan senjata api (dari berbagai jenis) maka dibolehkan juga menggunakan peralatan yang sama. Sebab bagaimana mungkin pedang dan tombak menghadapi senjata api dalam perang zaman modern ini? Maka keterangan Ust. Abdulah Azzam bersesuaian dengan maksud ayat Al-Qur’an tersebut. Demikian lah yang saya dengar langsung dari beliau. Selanjutnya mengenai penyerangan keatas orang-orang sipil atau membunuh mereka, menurut yang saya fahami adalah kebijakan pimpinan perang. Rasulullah SAW adalah pemimpin negara dan panglima tertinggi pasukan Muslimin, maka beliau mempertimbangkan matang-matang dalam memberikan perintah yang membawa kemaslahatan peperangan bagi mengalahkan musuh. Perintah larangan membunuh sipil seperti wanita, anak-anak, orang tua bangka, larangan memotong pohon, membunuh binatang ternak dan lain-lain, tetap berlaku di manapun pertempuran berlangsung. Hanya panglima tertinggi dan pemimpin negara yang boleh membuat keputusan atau kebijakan setelah proses kajian dan pertimbangan yang matang untuk mencapai kemaslahatan perang walau kadang terlihat melanggar aturan larangan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW di masa pertempuran, tanpa niyat kesengajaan. Kebijakan yang dibuat oleh Rasulullah pada masa itu adalah dalam kapasitas beliau sebagai pemimpin tertinggi negara dan panglima perang, dan pelaksanaannya juga dilaksanakan secara selektif. Contoh kisah penebangan pohon Perintah Rasulullah SAW untuk menebang pohon kurma milik Bani Nadhir bukanlah dikarenakan Bani Nadhir pernah merusak atau menghancurkan pohon kurma milik kaum Muslimin sehingga Rasulullah SAW melakukan tindak pembalasan terhadap sikap Bani Nadhir yang dianggap telah melampaui batas menebang pohon. Tetapi perintah Rasulullah SAW itu adalah siasat perang untuk melumpuhkan pasukan lawan, yang tiada cara lain kecuali dengan cara itu dapat melemahkan mental pasukan lawan yaitu Bani Nadhir. Dan tindakan Rasulullah SAW itu dibenarkan oleh Allah SWT. Asal kisah peristiwa itu adalah bermula ketika Ghozwah Bani Nadhir (kaum Yahudi) yang melarikan diri dari pengejaran pasukan Muslimin pimpinan Rasulullah SAW.

Mereka melakukan persekongkolan jahat (makar) untuk membunuh Nabi Muhammad SAW dan siap melakukan perlawanan. Bani Nadhir menjadikan perkampungan mereka sebagai kubu pertahanan yang lengkap dengan benteng yang kuat. Mereka menyediakan logistik yang cukup untuk sekitar setahun, termasuk air bersih jika dikepung hingga datang bantuan pihak yang memusuhi kaum Muslimin datang membantu mereka. Mengingat kuatnya pertahanan Bani Nadhir dalam menghadapi pasukan Muslimin maka Rasulullah SAW menggunakan sebuah taktik baru untuk menjatuhkan mental mereka yang sangat sayang kepada harta benda dan ingin hidup. Sebagai pimpinan tertinggi, juga dengan alasan kebijakan dan siasat perang, Rasulullah SAW memerintahkan pasukan Muslimin untuk memotong pohon kurma milik Bani Nadhir dan membakarnya sehingga timbul rasa kekecewaan pihak Bani Nadhir untuk mempertahankan perkebunan yang dianggap sebagai harta kekayaan mereka. Khusus tentang siasat dan tindakan Rasulullah SAW selaku pemimpin tertinggi pasukan ini dibenarkan oleh Allah SWT. Hal itu dijelaskan di dalam Surah Al-Hasyr, mengisahkan tentang sikap Bani Nadhir (kaum Yahudi) yang melanggar perjanjian damai. Artinya: “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.” (Al-Hasyr: 5). Dengan penebangan dan pembakaran pohon kurma serta lamanya menunggu bantuan pasukan yang memusuhi kaum Muslimin, maka Bani Nadhir menyerahkan diri dan meminta perlindungan jaminan keselamatan jiwa, serta bersedia untuk keluar dari Madinah. Permintaan mereka kemudian diperkenankan oleh Rasulullah SAW. Motif asal terjadi pertempuran dengan Bani Nadhir disebabkan karena mereka-lah yang sebenarnya telah bertindak melampaui batas dengan melanggar perjanjian damai dan mengancam keamanan kaum Muslimin. Dengan demikian Rasulullah SAW melakukan penyerangan terhadap mereka karena mereka telah berkhianat terhadap perjanjian yang telah disepakati bersama. Wahyu Allah SWT kepada Rasulullah SAW: Artinya: “Mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mu’min dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Dan mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (At-Taubah: 10). Contoh kisah penyerangan terhadap sipil Bani Hawazun dan Bani Tsaqif tidak pernah menyerang atau membunuh warga sipil kaum Muslimin. Jadi sebenarnya tiada hak bagi Rasulullah SAW membalas tindakan Bani Hawazun dan Bani Tsaqif dengan menyerang warga sipil mereka atas alasan mereka telah melampaui batas. Tetapi sebenarnya Rasulullah lah yang telah memulai penyerangan keatas sipil mereka namun penyerangan tersebut bukan atas perencanaan dan kesengajaan. Secara ringkas saya kisahkan sedikit peristiwa tersebut yang terjadi pada Ghozwah Hunain. Dalam Ghozwah Hunain, Bani Hawazun sengaja membawa serta anak-anak dan isteri-isteri mereka ke medan pertempuran untuk meningkatkan moral mereka ketika berperang. Maka tidak mustahil dan tidak dapat dielakkan ketika panah-panah yang diluncurkan oleh pasukan Muslimin akan mengenai warga sipil yang bersama-

sama

di

dalam

pasukan

bersenjata

musuh.

Setelah berkecamuknya peperangan Hunain, pasukan Muslimin memperoleh kemenangan, maka pasukan musuh yaitu Bani Hawazun dan kabilah-kabilah lain yang kalah melarikan diri ke lembah Authas dan lembah Nakhlah. Sementara Bani Tsaqif ketika melarikan diri mengarah ke Thaif, yaitu sebuah kota yang sangat kuat benteng pertahanannya. Ketika Bani Hawazun dan kabilah yang lain dapat dikalahkan di lembah Nakhlah dan Authas, kota Thaif tempat kubu pertahanan Bani Tsaqif masih tetap belum dapat dikuasai oleh pasukan Muslimin disebabkan kuatnya perlawanan dari dalam benteng Thaif. Dengan menggunakan Dabbabah (seperti kenderaan pelindung pasukan yang terbuat dari balok-balok kayu), pasukan Muslimin berlindung di bawahnya untuk mendekati benteng pertahanan kota Thaif, tetapi Bani Tsaqif menggunakan lelehan besi panas yang dituangkan dari atas benteng untuk membakar Dabbabah tersebut. Dan, dengan menggunakan Manjanik (seperti ketapel berskala besar) yang berfungsi untuk melempar batu besar. Pasukan Muslimin mengarahkan incaran ke dalam benteng pertahanan pasukan musuh, dan memang tidak dapat dielakkan seandainya batu besar itu akan menimpa penduduk sipil yang berada di dalam kota Thaif. Sekali lagi penyerangan keatas warga sipil bukan atas rencana dan kesengajaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tetapi kejadian itu terjadi karena Bani Tsaqif telah menjadikan kota Thaif yang penuh dengan warga sipil sebagai tempat pertempuran. Warga sipil bukanlah sasaran pasukan Muslimin, namun ada kemungkinan mereka (sipil seperti anak-anak dan wanita Bani Tsaqif) akan menjadi korban perang karena keberadaan mereka di dalam benteng pertahanan musuh yang diserang. Walaupun begitu, teknis Manjanik tidak terus-menerus digunakan, karena Rasulullah menggunakan taktik perang atau siasat perang dengan memberikan penawaran dan jaminan kepada setiap hamba sahaya (budak) yang mau lari dari Bani Tsaqif akan dimerdekakan. Pengepungan berlangsung selama sebulan saja setelah sedikit demi sedikit orang-orang dari Bani Tsaqif menyerah diri dan menerima Islam. Motif asal terjadinya pertempuran Ghozwah Hunain adalah dikarenakan kabilah Bani Hawazun, Bani Tsaqif dan kabilah yang lain telah berkumpul ingin melakukan penyerangan keatas kaum Muslimin. Akibat ancaman serangan itu Rasulullah SAAW memimpin pasukan untuk menghadapi kabilah-kabilah tersebut. Sepengetahuan saya, Rasulullah SAW tidak menggunakan senjata yang bernama Mortar untuk menghadapi Bani Hawazun sebagaimana yang ditulis oleh Imam Samudra dalam bukunya (AMT, hal:119). Sebab, senjata Mortar belum ada pada waktu itu, semoga ini bukanlah satu lagi kebohongan terhadap pembaca yang disengaja. Contoh kisah membunuh wanita Pernah Rasulullah SAW memerintahkan pasukannya untuk membunuh wanita, tetapi wanita yang tertentu saja. Pada perang Ghozwah Bani Quraizah, setelah pengepungan dan Bani Quraizah ingin menyerah diri pada pihak pasukan Muslimin terjadi perundingan damai atas permintaan Bani Quraizah dan meminta Saad Bin

Mua’dz r.a yang membuat keputusan. Salah satu di antara keputusan Saad Bin Mua’dz adalah menjatuhkan hukuman mati keatas seorang wanita yang telah membunuh seorang Muslim. Silahkan rujuk bab Ghozwah. Ketika Ghozwah Fathu Makkah di mana terdapat empat orang wanita (Hindun binti ‘Utbah, Sarah mantan budak Amer bin Hisyam, Fartanai dan Qarinah) yang diperintahkan Rasulullah untuk dibunuh. Ini adalah karena wanita-wanita itu telah mengobarkan semangat permusuhan terhadap Rasulullah dan Muslimin, serta mencaci maki Islam. Tetapi ternyata pelaksanaannya hanya satu wanita saja yang terbunuh ketika pertempuran, selain itu (tiga wanita yang lain) mendapatkan pengampunan dari Rasulullah SAW, Hindun termasuk yang mendapatkan pengampunan. Seandainya Rasulullah adalah seorang yang suka membunuh dan berniat membalas dendam, sudah pasti Hindun binti ‘Utbah tidak diberikan pengampunan karena mengingat perbuatannya membelah-belah mayat paman Rasulullah, Saiyidina Hamzah, yang kemudian memakan hatinya. Tiada rasa kebencian pada diri Rasulullah terhadap orang-orang yang memusuhinya. Selama orang tersebut tidak menampakkan permusuhan yang dilanjutkan dengan langkah-langkah yang nyata, maka selama itu Rasulullah akan membiarkannya bebas dan aman walaupun orang itu bukan beragama Islam. Dan, sekiranya Rasulullah memberikan perintah membunuh musuh Islam, maka dia akan menyebutkan namanya dan keterlibatannya dengan jelas, tidak secara membabibuta sehingga siapa saja boleh dibunuh serta dianggap sama. Sebagai pemimpin negara dan panglima perang, Rasulullah berkuwajiban menjaga keamanan rakyatnya dengan penuh bijaksana. Imam Samudra mengatakan bahwa larangan-larangan yang dikatakan oleh Rasulullah SAW di medan pertempuran itu hanya berlaku terhadap pasukan musuh atau terhadap musuh yang tidak bertindak melampaui batas, sebagaimana katanya “Hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang larangan melampaui batas yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 190 dan hal itu berlaku ketika musuh Islam tidak bertindak melampaui batas terhadap kaum Muslimin.” (AMT, hal: 119). Padahal hadis-hadis tersebut bersifat umum yang berlaku untuk semua kondisi, yaitu larangan bagi kaum Muslimin dari bersikap melampaui batas dalam berperang. Jika benar apa yang dikatakan oleh Imam Samudra bahwa Rasulullah SAW hanya melakukan tindakan melampaui batas karena membalas musuh yang melampaui batas, maka bagaimana pula halnya dengan pohon-pohon kurma Bani Nadhir, mereka tidak pernah merusak tanaman kaum Muslimin, demikian juga warga sipil Bani Hawazun dan warga sipil Bani Tsaqif, mereka tidak pernah membunuh warga sipil kaum Muslimin? Dan malah Imam Samudra mensifatkan Rasulullah SAW dengan sewenangwenangnya membunuh wanita dan anak-anak Bani Hawazun, sebagaimana penjelasannya “Rasulullah melakukan penyerangan terhadap kaum Bani Hawazun dengan menembakkan mortar dan tidak membedakan target laki-laki, wanita ataupun anak-anak.” (AMT, hal: 119) Di halaman yang sama (AMT, hal: 119) Imam Samudra mengatakan bahwa alasan Rasulullah SAW melakukan itu karena berdasarkan ayat Al-Quran; (Terjamahan di AMT) Artinya: “barang siapa yang melampaui batas terhadap kamu,

maka balaslah serangan mereka, sebanding dengan yang mereka lakukan terhadap kamu.” (Al-Baqarah: 194). Saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa bukan berdasarkan ayat ini terjadinya pertempuran dengan Bani Hawazun. Menurut buku sirah yang saya baca dan pelajari ternyata Imam Samudra menyalahi kata-katanya sendiri yaitu bagaimana mungkin Rasulullah membalas tindakan melampaui batas Bani Hawazun padahal Bani Hawazun tidak melakukan tindakan melampaui batas keatas kaum Muslimin. Saya tidak ragu-ragu mengatakan bahwa Imam Samudra sangat 'serampangan' (pinjam istilah Imam Samudra di AMT, hal. 116) menggunakan ayat tersebut (AlBaqarah: 194) sebagai dalil untuk membunuh warga sipil di Bali dengan alasan jihad. Penyimpangan tafsir Al-Qur’an yang berakibat fatal menyesatkan orang banyak. Arti ayat Al-Qur’an telah tercemar oleh tindakan Imam Samudra yang mengatasnamakan dalil tersebut. Padahal apa yang dimaksudkan oleh ayat AlQur’an tersebut adalah Hukum Qishosh. Ternyata Imam Samudra telah menyalahartikan ayat Al-Qur’an menurut hawa nafsunya sendiri. Alasan membunuh warga sipil non-Muslim dengan dalil ayat AlQur’an tersebut (Al-Baqarah: 194) telah mencemarkan kesucian ayat tersebut dan keadilan hukum Allah SWT, Astaghfirullah..... Dan, Imam Samudra juga telah berburuk sangka dan mencemarkan nama baik Ibnu Katsir dengan mengatasnamakan tafsirnya untuk membenarkan pembunuhan yang dilakukannya terhadap orang-orang sipil di Bali. Padahal, dalam keterangan Tafsir Ibnu Katsir tidak menyebutkan penjelasan dibolehkan membalas dengan melaksanakan hukum Qishosh terhadap selain pelaku. Ibnu Katsir tidak menyebutkan bahwa kejahatan yang sama diperlakukan terhadap jenis sasaran yang sama (sipil dengan sipil). Tetapi yang benar adalah perbuatan yang sepadan dilakukan terhadap pelaku kejahatan tersebut sebagai hukuman kepada pelaku. Itupun yang melaksanakan hukum itu adalah korban atau walinya, dan jika korban memaafkan pelaku, maka hukum Qishosh otomatis gugur dilaksanakan. Hukuman atas kejahatan hanya diperlakukan terhadap pelaku kejahatan, jika hukuman tersebut dijatuhkan kepada selain pelaku maka itu berarti telah melampaui batas hukum Allah SWT yang adil. Tetapi Imam Samudra dengan tegasnya menyatakan, bahwa korban tewas dari kalangan sipil di Bali adalah 'reaksi seimbang', sebagai balasan (Qishosh) untuk korban sipil Muslim di seluruh dunia, sesuai dengan ayat Al-Qur’an. (AMT, hal. 143). Astaghfirullah! Mahasuci Allah dari apa yang mereka (Imam Samudra) sifatkan!!! Tafsir Qurtubiy menjelaskan tentang hukum Qishosh bahwa kemaksiatan tidak dibalas dengan kemaksiatan, seperti kebohongan tidak dibalas dengan kebohongan. Dengan begitu juga sama artinya jika kezaliman adalah praktek kemaksiatan, maka berarti tidak boleh kezaliman dibalas dengan kezaliman. Dan seandainya pembunuhan orang-orang sipil Muslim juga adalah sebuah praktek kemaksiatan, maka tidak boleh juga pembunuhan sipil dibalas dengan pembunuhan sipil. Biarlah orang lain (musuh) yang berbuat kemaksiatan, namun kita sebagai umat Islam tetap dengan batas serta aturan yang telah Allah SWT syariatkan. Seumpama keluarga kita dibunuh dengan tanpa hak, maka kita tidak boleh membalas terhadap keluarga pelaku, tetapi kita menuntut hukum pembalasan (Qishosh) dilaksanakan hanya terhadap pelaku saja. Karena, jika kita membalas

membunuh keluarga pelaku maka itu berarti kita telah membunuh tanpa hak (menghakimi sendiri) dan masuk ke dalam kategori melampaui batas ketentuan (hukum) Allah SWT. Yang salah adalah si pelaku, bukan keluarganya. Dosa pelaku tidak turun kepada keluarganya atau bangsanya. Inilah keadilan yang dituntunkan dalam Islam. Jika kita telah berlaku adil terhadap sesama umat manusia, maka berarti kita telah melaksanakan dakwah Islam dan bertakwa. Peringatan Allah SWT termaktub di Al-Quran:

Artinya: “(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (An-Najm: 38). Artinya: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Maaidah: 8). Sungguh Imam Samudra adalah orang yang telah melampaui batas dengan melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang tidak melakukan kezaliman. Aksi pembomannya itu telah melampaui batas hukum Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, makhluk ciptaaan-Nya di muka bumi ini. Pemboman di Bali telah mengorbankan sekian banyak jiwa yang tidak mengerti akan apa yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya di Afghanistan, Iraq dan tempat-tempat lain. Patutkah mereka (orang-orang sipil) yang bukan pelaku menerima hukuman Qishosh atas kesalahan orang lain ???? Inilah peringatan dari Allah SWT terhadap orang yang bertindak melampaui batas ketentuan hukum Allah SWT : Artinya: “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orangorang yang zalim.” (Al-Baqarah: 229). Artinya: “dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (At-Thalaq: 1). Bom Bali buatan aktivis masjid dan ustaz? Menurut Imam Samudra bahwa Bom Bali adalah salah satu operasi yang direncanakan dan dilaksanakan dalam rangka berperang. Masih banyak orang yang tidak percaya bahwa Bom Bali yang dahsyat itu dilakukan oleh Imam Samudra dan kawan-kawannya. Tetapi, bagi orang-orang yang pernah mengenali Imam Samudra dan kawan-kawannya, itu pasti mengetahui dan tidak meragukan akan kemampuan mereka. Seperti yang diakui oleh Imam Samudra serta teman-teman yang sefaham dengannya bahwa Bom Bali memang dirancang dan dipersiapkan bertujuan memerangi Amerika dan sekutunya. Ust. Mukhlas sendiri pada sekitar antara tanggal 20 dan 23 Oktober 2002 mengaku kepada saya bahwa dia dan adik-adiknya yang melakukan aksi Bom di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. ketika itu saya sedang bersilaturrahmi menemui adik saya (istrinya) di rumah kontrakannya di Gresik Surabaya. Saya sempat bingung memikirkan nasib dan keselamatan adik saya, tetapi Ust. Mukhlas minta saya tidak usah berfikir tentang dirinya walaupun saya menawarkan bantuan tempat untuk adik saya.

Malah Imam Samudra mensyukuri hasil bom yang mereka ledakkan di Bali sesuai efek kerusakan yang diinginkan. Seperti katanya, “Maka terjadilah apa yang telah terjadi” (AMT, hal: 120). Banyak kata-kata Imam Samudra yang mengarah kepada pengakuannya atas peristiwa Bom Bali yang terencana, tetapi di sini hanya beberapa patah kata yang saya kutip dari bukunya (AMT), antara lain: “Bom Bali adalah satu di antara perlawanan yang ditujukan terhadap penjajah Amerika dan sekutunya.” (AMT, hal: 115). “12 Oktober 2002, Alhamdulillah, terjadi serangan berikutnya terhadap Uncle SAM dan gerombolannya di Bali.” (AMT, hal: 94). “Coretan-coretan berikut barangkali dapat membantu memahami konsep jihad yang kuyakini sehingga terlahirlah peristiwa jihad di Bali.” (AMT, hal: 107). “nyatalah bahwa target homogen terbesar didapati di Bali, tepatnya di Sari Club dan Paddy's Pub. Maka terjadilah apa yang telah terjadi.” (AMT, hal: 120). “Jawaban yang sama akan diperoleh dariku jika seseorang atau banyak orang bertanya kepadaku tentang peperangan yang telah aku dan kawan-kawanku lakukan di Sari Club dan Paddy’s Pub.” (AMT, hal: 196). Orang yang tidak mengetahui cara pembuatan bom dan tidak tahu sifat-sifat bahan yang digunakan, apalagi kadar kekuatan bahan peledak asli atau bahan kimia yang telah diracik, dan tidak tahu latar belakang Imam Samudra dan kawan-kawannya, maka pasti akan timbul berbagai kecurigaan dan rasa tidak percaya bahwa Bom Bali telah direncanakan, dipersiapkan, dan dilaksanakan di Bali oleh 'aktivis masjid', pendakwah Islam dan para guru pondok pesantren, yaitu Imam Samudra dan kawan-kawannya yang juga sudah diadili (Ust. Mukhlas alias Ali Ghufran, Ust. Alek alias Ali Imran, Ust. Bara alias Mubarak, Ust. Idris alias Gembrot, Ust. Sawad, Abdul Ghoni dan Ust. Hernianto). Kata Imam Samudra “Berhentilah memanggilku Ustaz.” (AMT, hal: 202). Wajar saja bagi orang yang tidak percaya ustaz atau guru pondok mampu buat bom yang biasanya diketahui hanya memegang Al-Qur’an, kitab, dan mengajar mengaji. Ternyata mereka adalah ustaz yang berusaha untuk mengamalkan keyakinan mereka tentang makna dari perintah ayat Al-Qur’an. Padahal mereka mengamalkan ayat tersebut dengan implementasi yang keliru, menuruti hawa nafsu mereka sendiri. Wajar saja kalau seorang ustaz atau aktivis masjid berbuat salah, karena mereka juga adalah seorang manusia biasa. Atau apakah mereka tidak mungkin berbuat salah?? Menurut salah satu media di Indonesia yang memuat pernyataan Imam Samudra bahwa dia kaget dan tidak menyangka ketika mengetahui akibat dari kekuatan bom tersebut. Bagaimana Imam Samudra bisa kaget ketika mengetahui begitu dahsyatnya kerusakan yang terjadi akibat bom yang dibuatnya? Mungkin Imam Samudra sengaja mengalihkan perhatian dengan menyatakan rasa tidak percaya, bahwa bom yang dibuatnya dapat memberi efek yang sedemikian rupa. Memang, Imam Samudra sendiri tidak pernah punya pengalaman tempur di Afghanistan, dan tidak pernah melihat efek ledakan bom atau rudal yang sekaliber Bom Bali, karena dia tidak pernah ikut pertempuran di Afghanistan dan tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Sampai-sampai ada di antara beberapa orang yang terkenal mengatakan bahwa Bom Bali itu tidak mungkin dilakukan oleh Imam Samudra dan kawan-kawannya, aktivis masjid, orang yang

tidak berpendidikan tinggi, dan lain-lain lagi analisa yang tidak mungkin, yang semuanya serba kemungkinan. Apakah ada kepentingan lain di balik pernyataan itu? Apakah ada maksud di balik pernyataan itu dengan menganalisa ketidak-mungkinan itu semua? Bahkan, ada yang mengatakan bahwa itu adalah 'mikro nuklir', intervensi dari pihak luar, tanpa pembuktian dengan diadakan pengujian bahan kimia di laboratorium, hanyalah omong kosong bertujuan membentuk opini publik dan menyesatkan umat. Pengamatan mata bisa salah, tetapi pemeriksaan di laboratorium adalah fakta. Ada seorang pengacara juga mengatakan bahwa dia masih tidak percaya bahwa Bom Bali adalah hasil kerja tangan Imam Samudra. Padahal isi buku (Aku Melawan Teroris) itu sudah cukup jelas memuat pengakuan Imam Samudra. Belum lagi pengakuan para pelaku Bom Bali yang lain di persidangan yang memiliki latar belakang pengalaman di medan konflik bersenjata. Kalau pengakuan para pelaku saja tidak cukup untuk meyakinkan, maka apakah perlu para pelaku itu membuat bom dan meledakkannya lagi? Mungkin kalau keluarga pengacara itu yang menjadi korban bom, barulah akan percaya. Sungguh mengherankan sekali. Wallahu 'alam bis showab.

Untuk

membuat bom tidaklah sulit. Banyak orang yang tidak pernah ke tempat konflik juga mampu membuat bom. Besar atau kecil bom tergantung kepada kemampuan fasilitas, dana, personel, tujuan, dan niat. Pasti di antara kita ada yang pernah mendengar di Indonesia, nelayan membuat bom untuk mencari nafkah dengan meledakkan sungai atau laut dan ada juga yang mengkomersilkan bom buatan tangan. Dan, pasti kita pernah membaca atau mendengar berita seorang anak putus jari atau buntung tangannya karena petasan buatan sendiri. Pernah juga ada berita di Indonesia, seorang suami mengebom isterinya di rumah yang dituduh telah berbuat selingkuh, dan macam-macam lagi. Membuat bom dan meraciknya tidak ada bedanya dengan membuat kue (istilah 'kue' panggilan untuk bom, dipakai oleh pelaku Bom Kuningan) untuk makan sendiri, jualan, atau menjamu tamu. Sebelum kue siap terhidang perlu langkah-langkah persiapan bahan, peralatan, menimbang sukatan (yaitu takaran, sesuai besar atau kecil bentuk yang diinginkan) dan cara menguli adonan yang benar. Oleh karena itu, membuat bom tidaklah sesulit yang dibayangkan orang, asal ada keinginan dan kesempatan. Kekuatan ledakan bom dan efek penghancuran tergantung kepada; jenis bahan peledak atau bahan kimia yang digunakan (kualitas bahan baku dan atau kualitas racikan), kuantitas bahan yang digunakan, efek yang dikehendaki (dilengkapi shrapnel/serpihan terlempar atau tanpa shrapnel seperti efek bakar), sekitar calon penempatan bom (bangunan atau lapangan). Sebagai ilustrasi, sebuah granat tangan buatan pabrik yang berbentuk nanas, kurang lebih sebesar telur bebek, dan berisi bahan peledak (standar TNT). Dengan berat sekitar 350 gr dan 400 gr, granat memiliki radius bahaya (mematikan) jika terkena serpihan atau terlempar sekitar 20 hingga 25 meter. Menurut pengakuan para pelaku Bom Bali, bahan peledak yang dimuat di mobil L300 seberat sekitar 950 kg atau mendekati 1 ton. Dipersiapkan untuk membom, seperti yang diperagakan salah seorang pelaku Bom Bali, Ust. Ali Imran, teman Imam Samudra sendiri. Hal itu dibenarkan oleh Imam Samudra, “Maka terjadilah apa yang telah terjadi.” di Bali akibat bom yang sebesar itu.

Sepengetahuan saya sebuah warhead (hulu ledak rudal) yang kecil paling minim berisikan bahan peledak seberat 500 kg yang dibawa oleh sebuah rudal (roket), sementara bahan peledak (Bom Bali) yang beratnya hampir 1 ton ini dibawa oleh sebuah mobil L300. Begitu juga bahan peledak untuk Bom di depan kedutaan Australia sekitar 500 kg. Maka bagi sesiapa yang tidak pernah melihat ledakan bom atau bahan peledak yang sebesar itu pasti akan terheran-heran dengan gumpalan asap yang menyerupai gumpalan asal rudal. Mudah-mudahan tidak ada orang atau pihak yang cuba membodoh-bodohkan masyarakat dengan mengatakan gumpalan asap yang seperti itu pasti adalah sebuah rudal apalagi nuklir tanpa alasan dan bukti yang jelas. Tiada beda bentuk ledakan dua buah bom yang sama beratnya (contoh) yang masing-masing dibawa oleh alat yang berbeda, yaitu yang satu dibawa oleh rudal sementara yang satu lagi dibawa oleh mobil. Sekarang mari kita bayangkan, apakah tidak sebanding jumlah bahan peledak yang digunakan jika melihat radius kerusakan di Sari Club, Paddy's Pub dan sekitarnya di Legian Bali? Apakah tidak sebanding juga kerusakan yang terjadi di Kuningan terhadap bangunan-bangunan yang berada di depan kedutaan Australia? Mereka memahami sifat-sifat serta kekuatan bahan peledak yang dimiliki dan bahkan tahu cara membuat bom sehingga mereka juga mampu menakar bahan-bahan peledak yang dibutuhkan untuk efek kerusakan yang dikehendaki. Kata Imam Samudra “Maka terjadilah apa yang telah terjadi.” (AMT, hal: 120), sesuai dengan yang diniyatkan dan direncanakan. Militer dan sipil Amerika, sasaran Bom Bali Banyak keterangan Imam Samudra tentang alasan pemboman di Bali. Namun, semua keterangannya membuat saya meragukan kejujuran alasan Imam Samudra tersebut, memerangi Amerika dan sekutunya. Padahal keterangan yang diberikan di dalam bukunya (AMT), semua sudah cukup memberi kesan bahwa Imam Samudra memerangi non-Muslim, sampai-sampai harus memaksa mereka menerima Islam. Terlebih lagi bukti keterlibatan Imam Samudra dalam aksi pemboman di berbagai tempat sebelum peristiwa Bom Bali. Dengan sekian kali terlibat dalam aksi pemboman di berbagai sasaran di Indonesia, menunjukkan bahwa Imam Samudra bukan hanya membenci serta memerangi Amerika dan sekutunya, yang menyerang Afghanistan, Iraq, dan tempat lain, melainkan juga terbukti sangat membenci umat Kristen dan non-Muslim yang lain. Alasan saya, setidaknya itu terbukti dengan peristiwa pemboman malam Natal tahun 2000 yang dilakukan oleh Imam Samudra dan teman-temannya di Batam dan Pekan Baru. Pada hari dan waktu yang sama, di tempat lain di seluruh Indonesia juga terjadi pemboman serupa dan gereja yang menjadi sasaran. Kejadian Bom malam Natal secara bersamaan waktunya itu menunjukkan adanya unsur kesepakatan dan kesengajaan yang direncanakan oleh Imam Samudra dan kawan-kawannya yang pada waktu itu juga bersama Hambali, dengan keyakinan yang sama pula. Dia mengetahui persis peristiwa itu dan menamainya “Operasi Jihad Natal 2000” (AMT, hal: 188). Sekitar tahun 2002, Imam Samudra juga pernah melakukan aksi perampokan di toko emas milik warga non-Muslim di Serang, Banten, dengan alasan membolehkan merampas harta milik orang Kafir (non-Muslim). Harta benda hasil rampokan dari non-Muslim itu mereka sebut Fa’i yang berarti ‘Harta Rampasan Perang’. Padahal Fa’i

dalam syariat Islam diperoleh bukan dengan cara merampok. Ini tentu merupakan salah satu bentuk penyelewengan istilah syariat Islam. Saya tak habis pikir dengan kemampuan Imam Samudra yang mengatakan bahwa seluruh turis, wartawan, dan lain-lain yang datang ke Indonesia adalah militer Amerika dan sekutunya. Bagaimana cara dia mengumpulkan informasi sehingga dengan mudah langsung menetapkan bahwa ‘bule’ yang ada di Bali adalah militer? Seperti anak-anak kecil yang hanya mengenali kulit kemudian langsung menganggap mereka semua sama, orang Barat. Saya juga tidak percaya seandainya ada orang yang mengatakan kalau Imam Samudra menggunakan bantuan para supranatural untuk menentukan ‘bule’ (turis) itu adalah militer. Dan tidak mungkin, sebab Imam Samudra berfaham salafi. Ternyata Imam Samudra hanya mampu berandai-andai berdasarkan informasi burung dengan mengatakan “Bisa saja mereka menyamar sebagai turis biasa, wartawan, bussinessman, pelajar, dan lainnya.” (AMT, hal: 136). Imam Samudra barangkali lupa dengan peringatan Allah SWT yang menjelaskan kedudukan berprasangka dalam Islam, sebagaimana termaktub di dalam Al-Quran: Artinya: “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (Yunus: 36). Sesuatu yang diperoleh dengan persangkaan sama sekali tidak bisa menggantikan sesuatu yang diperoleh dengan keyakinan. Jika demikian, mungkinkah Imam Samudra seorang yang ceroboh, tanpa mengetahui dengan jelas identitas dan pekerjaan seseorang langsung menganggap seseorang itu militer, baik lelaki maupun wanita? Bagaimana pula dengan anakanak? Bahkan sebenarnya Imam Samudra bukan hanya ceroboh, tetapi dengan sengaja mengarahkan sasaran pemboman yang dilakukannya bersama teman-temannya di Bali, yang memang ditujukan kepada orang sipil non-Muslim! “Maka memerangi warga sipil (kalau memang benar sipil) dari bangsa-bangsa penjajah adalah tindakan yang wajar dilakukan.” (AMT, hal: 116). Jadi, mengapa Imam Samudra berbohong dan tidak langsung saja mengatakan bahwa dia bersama teman-temannya melakukan pemboman di Bali adalah karena sedang berperang memerangi orang yang dianggap mereka musuh permanen, yaitu non-Muslim secara keseluruhan? Dengan demikian, jawabannya menjadi lebih jelas sebab musabab dilakukan aksi pemboman selama ini, dan tidak perlu berbohong dengan beralasan bahwa sasaran pembomannya adalah Amerika dan sekutunya. Apakah alasan Imam Samudra tersebut sekadar ingin meraih simpati umat Islam setelah melihat penyerangan yang telah Amerika dan sekutunya lakukan terhadap Afghanistan, Iraq, dan di tempat-tempat lain? Ataukah dia ingin mengalihkan perhatian umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan terhadap kezaliman yang dilakukannya dengan mengajak umat Islam membenci Amerika dan sekutunya yang berbuat zalim? Sekecil apapun kezaliman yang dilakukan Imam Samudra tetap

merupakan

kezaliman

yang

dilarang

dalam

Islam

dan

berdosa.

Imam Samudra juga tidak perlu beralasan dengan berbagai macam dalil yang dianggapnya membolehkan membunuh warga sipil, wanita, anak-anak dan orang tua, dll. Karena menurut faham yang dianut oleh Imam Samudra, siapa saja yang tidak memeluk agama Islam harus diperangi dan dibunuh tanpa perlu disampaikan dakwah. Sungguh kebencian dan permusuhan yang ada pada dirinya tanpa dasar dan alasan. Astaghfirullah! Allahummahdinaa Astaghfirullah! ila sirothikal Astaghfirullah!!! mustaqiim!!

Peringatan Allah SWT yang termaktub di dalam Al-Qur’an: Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia (satu jiwa), bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.” (Al-Maaidah: 32). Hadis riwayat Anas ra.: Dari Nabi SAW tentang dosa-dosa besar, beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, mendurhakai kedua orangtua, membunuh manusia dan persaksian palsu.” (Hadis Sohih Bukhari dan Muslim) Jika saya bertanya kepada pembaca, apakah orang-orang non-Muslim yang berada di Bali itu memerangi Islam dan kaum Muslimin? Apakah mereka telah melampaui batas sehingga harus dibalas? Atau, apakah orang-orang non-Muslim di Bali itu sedang mengadakan persiapan kekuatan kemiliteran di Bali untuk menyerang kaum Muslimin? Tentu jawaban pembaca adalah tidak dan tidak tahu karena tidak melihat bukti yang nyata yang dilakukan oleh orang-orang sipil non-Muslim itu. Bom Istisyhadah Kekeliruan Imam Samudra dan teman-temannya dalam menentukan sasaran dan status 'perang' melawan musuh Islam di Bali tidak bisa disamakan dengan berperang di medan perang. Karena itu, teman Imam Samudra yang berada di dalam mobil pengangkut bom dan yang menggunakan bom ransel yang kemudian semuanya juga menjadi korban tewas, tidak dapat dikatakan melaksanakan praktek isytisyhadah atau istimaata. Meski niatnya benar untuk mati syahid, namun karena cara pelaksanaannya salah, maka tetap salah. Mereka juga tidak dapat memenuhi persyaratan terkabulnya Amal, yaitu ikhlasun niyah (niat yang ikhlas) dan Mutaba’atu rasul (mengikuti contoh Rasulullah). Wallahu a'alam. Istilah istimaata berasal dari bahasa Arab, diambil dari kata maata - yamuutu yang berarti dia mati. Apabila kata tersebut ditambah dengan alif, sin dan ta’ maka akan berbunyi istamaata – yastamiitu - istimaata yang berarti meminta mati atau menjadikan mati, sementara isytisyhadah berarti menjadi mati syahid. Istimaata atau isytisyhadah adalah permintaan dari anggota pasukan (perajurit) kepada

pimpinannya untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam menghadapi musuh. Dengan mengorbankan dirinya, si prajurit memperkirakan akan memberikan peluang kemenangan bagi pasukannya. Tetapi itupun setelah dipertimbangkan oleh pimpinan dan menurut hematnya tidak ada cara lain yang dapat digunakan untuk meminimalisasi risiko pasukannya. Dua orang yang terlibat dalam Bom Bali itu, menurut Imam Samudra dan kawankawan adalah mati syahid. Tentu, kebenaran hal itu masih dipertanyakan. Bukankah tak satu orang pun yang dapat menjamin dirinya atau siapa saja yang mati akan masuk syurga. Dikisahkan, sewaktu Sayyidina Umar Al-Khattab r.a nazak, ia berbaring menangis menunggu detik-detik ajalnya. Lalu, seseorang yang mendampinginya menanyakan mengapa beliau menangis. Umar r.a menjawab: “Apakah amalku akan diterima oleh Allah SWT?” Sebagai khalifah dan sahabat Nabi yang termasuk dijanjikan syurga oleh Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Umar masih mempertanyakan tentang amal kebaikan yang dilakukannya di dunia. Betapa mulianya akhlak Sayyidina Umar r.a yang meyakini syurga dan neraka ditentukan oleh Allah SWT. Tak ada yang dibawa oleh seseorang ketika maut menjemput, kecuali amalnya sewaktu hidup. Jika amal kebaikannya diterima oleh Allah SWT maka berbahagialah dia di syurga dan seandainya amalnya ditolak oleh Allah SWT maka celakalah dia di dalam neraka. Sungguh manusia tak sedikit pun memiliki pengetahuan apalagi menjamin seseorang masuk syurga. Kita hanya diperintahkan untuk berbuat amal kebaikan sebanyakbanyaknya selama hidup, sedangkan penentuan syurga atau neraka adalah milik Allah SWT. Siapakah yang dapat menjamin seseorang yang mati langsung masuk syurga? Hanya Rasulullah SAW saja yang pernah langsung menyebut nama di antara kalangan sahabatnya yang akan masuk syurga. Hanya Rasulullah lah yang diberikan Allah SWT kemampuan serta mukjizat. Sementara sebagai manusia biasa, kita tidak mampu menjamin diri sendiri masuk syurga. Bagaimana kita dapat menjamin orang lain masuk syurga? Kita hanya mampu berharap dimasukkan ke dalam syurga dan berharap amal kebaikan kita diterima oleh-Nya. Dikisahkan, seorang dari pasukan Muslimin tewas dalam pertempuran. Para sahabat mengatakan orang tersebut mati syahid dan akan menjadi penghuni syurga. Namun, Rasulullah SAW mengatakan orang tersebut bakal menghuni neraka karena niatnya yang tidak benar, meski dia tampak berjihad bersama Nabi Muhammad SAW. Dilihat dari sisi kacamata kemiliteran, jika memang Imam Samudra menganggap mereka sedang berperang, maka saya katakan anggapan itu Salah. Begitu juga kondisi dan kesempatan yang ada pada waktu itu tidak memenuhi kualiflkasi untuk membenarkan dua orang temannya melaksanakan praktek bom bunuh diri. Imam Samudra dan kawan-kawannya tega membiarkan kedua temannya, Isa dan Iqbal, menjadi korban bom yang tak sebanding dengan kemaslahatan yang diperoleh. Secara teknis, dalam meledakkan bom sebenarnya masih ada cara lain yang lebih aman bagi anggota timnya sehingga dapat menghindari jatuhnya korban tewas. Jika itu dilakukan, tak akan ada korban tewas bunuh diri di antara mereka, seperti Iqbal dan Isa pada Bom Bali, Asmar Latin Sani pada Bom Hotel JW Marriott, dan Heri Gulun pada Bom Kuningan. Namun, tak perlu saya sampaikan cara-cara pelaksanaannya sebab saya tidak setuju Bali dijadikan 'medan perang' sehingga

orang-orang sipil menjadi sasaran. Begitu juga dengan pemboman Hotel JW Marriott dan di depan kedutaan Australia, Jakarta, dan juga aksi bom di tempat umum yang lain, saya tidak setuju. Di antara contoh istimaata yang pernah dilakukan oleh para Sahabat adalah Baro' Bin Malik ra, yaitu pada saat terjadinya pertempuran Yamamah. Melihat pasukan Muslimin dalam kesulitan, Baro' Bin Malik meminta dilemparkan dengan menggunakan Manjanik, alat pelempar, ke dalam benteng pertahanan musuh agar dapat membuka pintu gerbang benteng dari dalam, meski itu sangat membahayakan keselamatan dirinya. Keputusan Baro' Bin Malik itu tidak berdasarkan inisiatifnya pribadi, tetapi atas pertimbangan dari pasukan Muslimin. Setelah mempertimbangkan kemampuan fisik dan tempur yang dimiliki Baro' Bin Malik dan keuntungan militer yang akan diperoleh, pimpinan pasukan membolehkan hal itu dilakukan. Dan, ternyata sesampainya di dalam benteng musuh, ia mampu menghadapi lawan dengan satu tangan sementara tangan satunya lagi membuka pintu gerbang. Dengan demikian pasukan Muslimin dapat memasuki benteng pertahanan musuh dan memenangkan pertempuran. Dari kisah di atas, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan sebelum mengambil keputusan membenarkan anggota pasukan untuk melakukan istimata terhadap pasukan bersenjata musuh, yaitu: Kemampuan fisik dan keterampilan anggota pasukan itu. Memperkirakan kemungkinan-kemungkinan akibat yang timbul dan hasil yang diperoleh setelah dilaksanakan aksi istimata itu. Apakah memberikan manfaat yang lebih besar kepada pasukan ataupun hanya mendapatkan keuntungan kecil saja dibandingkan dengan harus kehilangan jiwa anggota pasukannya. Jika keadaan memang sangat mendesak harus melakukan istimaata dan tidak cara lain. Seorang komandan perang harus senantiasa menjaga sikap security (pengamanan) pada saat di lapangan dan pertempuran. Tindakan pengamanan itu harus meliputi informasi, perlengkapan perang, dan anggota pasukan. Pengamanan terhadap anggota pasukan yaitu tidak akan membiarkan mereka menjadi korban tewas dalam pertempuran atau menjadi tawanan musuh. Kecuali dalam kondisi tertentu dan diperlukan pengorbanan anggota pasukan sehingga dapat menyelamatkan pasukan yang lebih banyak atau untuk menyelamatkan rakyat. Terkadang, pada prakteknya di lapangan ada di antara anggota pasukan yang sudah ingin mati syahid. Sebagai contoh, Rasulullah SAW pernah mengizinkan beberapa orang tertentu saja, bukan kepada keseluruhan pasukan, untuk melakukan istimaata. Ketika terjadi perang Mu’tah, Kholid Bin Walid adalah seorang Sahabat Nabi yang pertama kali menjadi komandan perang pasukan tempur Muslimin. Pengangkatan Kholid Bin Walid bukan dilantik oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi diangkat oleh para Sahabat di medan pertempuran setelah tewasnya ketiga komandan yang dilantik oleh Rasulullah SAW di Madinah, sebelum berangkat ke medan perang. Kebijakan pertama dan utama yang diputuskan oleh Kholid Bin Walid setelah menerima mandat tersebut dari para Sahabat adalah menarik pasukan Muslimin mundur kembali ke Madinah. Hal ini mengingat telah banyaknya jatuh korban dari pasukan Muslimin dan juga banyaknya yang terluka. Pasukan berhasil dibawa kembali ke Madinah dengan selamat tanpa sepengetahuan pasukan musuh. Setibanya pasukan di Madinah, kaum Muslimin mencela dan menghina mereka yang

dianggap telah melarikan diri dari medan pertempuran. Kecuali Rasulullah SAW yang membenarkan tindakan Kholid Bin Walid itu dan langsung digelari Saifullah, yang berarti pedang Allah. Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut adalah, jika mati menjadi tujuan perang dan mati syahid menjadi keinginan pasukan Muslimin, mengapa Kholid Bin Walid membawa pasukan Muslimin mundur ke Madinah dan tidak meneruskan perang saja sehingga mereka seluruhnya mati syahid? Bukankah para Sahabat sangat memahami fadhillah syuhada (keistimewaan mati syahid)? Tentu, semuanya itu karena mati bukanlah tujuan perang, tetapi keberanian dan siap matilah yang diperlukan dalam berperang. Praktek yang dilaksanakan Imam Samudra dan kawan-kawannya bukanlah praktek yang dibenarkan dalam Islam, sangat jauh jika ingin dimirip-miripkan dengan langkah yang ditempuh para Sahabat, malah berlawanan. Pasalnya, para Sahabat melakukan isytihadah (menjadi mati syahid) terhadap musuh yang bersenjata lengkap di medan pertempuran. Perhatikan contoh yang diberikan Imam Samudra, semuanya dalam suasana peperangan yang terjadi antara dua pasukan lengkap bersenjata. Contoh peristiwa yang Imam Samudra uraikan dalam bukunya (AMT, hal: 175-179) adalah kisah pertempuran di medan peperangan, seperti: AMT, hal: 175, tentang kisah Ibnu Syaibah dalam Al Mushannif, yaitu mengisahkan seorang lelaki yang menerobos masuk berkali-kali ke sejumlah pasukan lawan yang bersenjata. 2. AMT, hal: 175, tentang kisah Imam Tarmidzi, Abu Daud, Al Hakim, dan Ibnu Hibban, yaitu mengisahkan bagaimana seorang perajurit pasukan Muslimin menyerbu sendirian ke pasukan Romawi. 3. AMT, hal: 179, tentang kisah Baro' Bin Malik r.a. yang dilemparkan ke dalam benteng musuh di perang Yamamah. 4. AMT, hal: 178, tentang Hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah yang mengisahkan Muadz Bin Ufra r.a. yang menanggalkan pakaian perang (baju besi) ketika menyerbu ke pasukan musuh.
1.

Semua kisah tersebut adalah sebagian dari contoh peristiwa yang dialami para Sahabat Nabi di medan peperangan. Bagaimana mungkin contoh-contoh itu digunakan sebagai model yang dapat diikuti di masa kini, bukan di medan peperangan. Terlebih yang diserang adalah masyarakat awam, lemah, dan tidak bersenjata. Perbuatan Imam Samudra telah melampaui batas dan mencemarkan nama baik para Sahabat Nabi. Padahal para Sahabat r.a adalah orang-orang pemberani di medan pertempuran menghadapi pasukan bersenjata. Sementara Imam Samudra dan teman-temannya hanya berani secara sembunyi menyerang di tengah pasar orang sipil yang lemah dan tak bersenjata. Sungguh malu dan memalukan!! Wallahu a'alam. Pasukan Muslimin yang berangkat ke medan pertempuran, pada umumnya adalah orang-orang yang sudah siap menerima risiko apapun, termasuk mati. Namun, jika ada di antara mereka yang lemah mental dan tidak siap tempur, Nabi Muhammad SAW membangkitkan semangat mereka dengan mengingatkan bahwa Allah SWT

berjanji akan menempatkan para syuhada di syurga-Nya. Kisah ini sama sekali bukan untuk melecehkan Sahabat Nabi, karena bagaimanapun mereka juga manusia biasa yang mempunyai perasaan berani dan takut (baca sirah Nabi dan Hayatus Sohabah). Di antara Sabda Nabi Muhammad SAW ketika membangkitkan semangat tempur para Sahabat di medan pertempuran, seperti: “Bangunlah menuju Syurga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi.” (Hadis Sohih Riwayat Muslim). “Ketahuilah sesungguhnya Syurga itu di bawah bayang-bayang Pedang.” (Hadis Sohih Riwayat Bukhori). “Kamu di Syurga.” (Hadis Sohih Riwayat Bukhori dan Muslim dari Jabir), perkataan Rasulullah SAW itu adalah ketika menjawab seorang yang menanyakan posisinya jika dia terbunuh di pertempuran. Di kala Allah SWT melihat tangan hamba menebas (musuh) ke sana ke mari dalam suatu pertempuran tanpa memakai baju besi.” (Riwayat Ibnu Ishaq dalam kitab AlMaghaziy dari Ashim bin ‘Umar bin Qotadah). Cerita ini mengisahkan Auf bin al-Harits ketika Ghozwah Badar bertanya kepada Rasulullah tentang apa yang membuat Allah SWT tertawa melihat hamba-Nya yang sedang berperang. Setelah mendengar jawaban Nabi SAW dia membuang baju besinya dan langsung menyerang musuh hingga mati syahid. Dalam sebuah peperangan, diperlukan sejumlah perajurit pemberani yang mampu menerobos ke pertahanan lawan. Dengan demikian akan dapat menambah semangat tempur pasukan secara keseluruhan. Dan, pemberian semangat di medan pertempuran dapat membangkitkan serta memperkuat keyakinan seseorang sehingga dia bangkit untuk maju bertempur demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Keinginan masuk syurga mampu mendorong anggota pasukan sehingga berani dan siap mati-matian menyerang meski belum tentu juga akan mati. Sebab, pemahaman bahwa ajal adalah ketentuan dari Allah swt sudah tertanam dalam jiwa para Sahabat.

Bab 9 Ghozwah ( Peperangan ) Berikut
ini dijelaskan secara ringkas tentang sebab-sebab terjadinya 28 kali Ghozwah (peperangan) di mana Rasulullah SAW terlibat di dalamnya. Sebuah pertempuran atau gerakan pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW disebut Ghozwah, yang dapat diartikan juga Perang. 01 Ghozwah Waddan, tidak terjadi pertempuran sebab tidak bertemu dengan pasukan Quraish. Ikatan perjanjian damai dilakukan dengan Bani Dhamrah.

02. Ghozwah Buwath, tidak dapat menyusul kafilah Quraish. 03. Ghozwah Dzul ‘Usyairah, tidak terjadi kontak senjata, Rasulullah SAW mengadakan ikatan perjanjian damai di jalur kafilah dagang itu dengan kabilah Bani Mudlij dan sekutu-sekutu Bani Dhamrah. 04. Ghozwah Badar pertama, tidak terjadi kontak senjata sebab pasukan Muslimin tidak dapat mengejar pasukan Quraish yang telah menyerang dan merampok/menjarah tempat-tempat penggembalaan di daerah pinggiran Madinah. 05. Ghozwah Badar Al-Kubra terjadi karena Quraisy menginginkan terjadinya kontak senjata (perang) dengan pasukan Muslimin, walaupun kafilah dagang mereka telah memasuki jalur yang aman. Akhir pertempuran pasukan Muslimin memenangkan peperangan Badar Al-Kubra ini. Terdapat sekitar 68 orang tawanan perang (Suku Quraish) yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk diperlakukan dengan baik, sabdanya SAW: "Perlakukanlah tawanan itu dengan baik." Sebahagian tawanan menebus kebebasan mereka dengan membayar antara 1000 Dirham sampai 4000 Dirham karena mereka orang kaya. Sementara ada sebahagian tawanan yang dibebaskan tanpa membayar tebusan karena mereka tergolong miskin. Dan ada sebahagian lagi yang dibebani mengajar anak-anak kaum Muslimin sebelum dibebaskan karena mereka adalah di antara orang-orang yang terpelajar. 06. Ghozwah Bani Qainuqa (Kaum Yahudi) di Madinah adalah dikarenakan Kabilah Bani Qainuqa telah melanggar perjanjian dengan pihak Rasulullah dan membantu Quraisy untuk memusuhi Islam. Tidak terjadi pertempuran karena Bani Qainuqa telah keluar dari Madinah. Bani Qainuqa kalah dalam peperangan tanpa pertumpahan darah setelah dikepung oleh pasukan Muslimin selama 15 hari. Keputusan Rasulullah SAW terhadap Bani Qainuqa yang kalah adalah diusir keluar dari Madinah dengan meninggalkan senjata-senjata dan peralatan tukang pengrajin (kraft) emas, tetapi boleh membawa anak-anak, isteri dan harta benda mereka bersama. 07. Ghozwah Bani Sulaim, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Sulaim dan Bani Ghatafan melarikan diri dan meninggalkan harta benda mereka. 08. Ghozwah Sawiq, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab lepasnya pasukan musuh yaitu kaum Quraisy Makkah dari kejaran pasukan kaum Muslimin. 09. Ghozwah Dzu Amar, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Tsalabah dan Bani Muharib telah melarikan diri, dan pasukan kaum Muslimin menempati (menguasai) perkampungan mereka sekitar sebulan. 10. Ghozwah Bahran, terjadi karena Rasulullah SAW mengetahui persiapan yang mereka lakukan untuk menyerang Muslimin di Madinah tetapi tidak terjadi pertempuran sebab Kabilah Bani Sulaim melarikan diri dan pasukan kaum Muslimin menempati (menguasai) perkampungan mereka sekitar dua bulan. 11. Ghozwah Uhud dikarenakan Quraisy ingin membalas kekalahan mereka pada peperangan Badar Al-Kubra. Dengan persiapan pasukan perang Quraisy yang sudah berangkat ke arah Madinah, menjadi alasan bagi pihak Muslimin untuk mempertahankan kedaulatan Madinah. Korban tewas dan kerugian besar di

pihak pasukan Muslimin di bukit Uhud tetapi dari sekian episod pertempuran yang akhirnya dimenangi oleh pasukan Muslimin pada Ghozwah Hamra’ul Asad walaupun banyaknya korban di pihak Muslimin akibat pertempuran. 12. .. 13. Ghozwah Bani Nadhir (Kaum Yahudi) terjadi karena Bani Nadhir telah melanggar perjanjian damai yang disepakati dengan pihak Muslimin dan Bani Nadhir diketahui berencana untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Ghozwah ini tidak terjadi pertempuran karena Bani Nadhir lari ke perkampungan mereka yang sudah dipersiapkan benteng yang kuat untuk menghadapi pasukan Muslimin. Dengan kepungan yang dilakukan oleh pasukan Muslimin mengakibatkan mereka menyerah lalu keluar dari Madinah. Terjadi kekalahan yang tertimpa Bani Nadhir akibat dikepung oleh pasukan Muslimin selama sekitar 20 hari. Keputusan Rasulullah SAW setelah diadakan perundingan damai (gencatan senjata) adalah bahwa Bani Nadhir harus keluar dari Madinah, untuk setiap 3 orang hanya boleh membawa harta kekayaan yang dimuatkan pada seekor unta saja tanpa membawa senjata. 14. Ghozwah Dzatur Riqa terjadi karena Bani Tsa'labah dan Bani Muharib (dari Kabilah Najed) yang berkonsentrasi untuk memerangi Madinah dan juga membalas Kabilah Najed (Nejd) terhadap peristiwa Tragedi Bi’ir Ma’unah yang telah membunuh 70 utusan pendakwah Islam di Bi’ir Ma’unah Nejd. Tetapi Ghozwah ini tidak terjadi pertempuran sebab kedua Kabilah itu melarikan diri sebelum bertemu dengan pasukan Muslimin. 15. Ghozwah Badar terakhir terjadi dikarenakan keinginan pihak Quraisy bersama kaum Yahudi untuk membalas Ghozwah Uhud, tetapi setelah pasukan Muslimin menunggu selama 8 hari pasukan Quraisy tidak muncul. 16. Ghozwah Daumatul Jandal terjadi karena ingin menumpaskan kabilah-kabilah di Daumatul Jandal yang hendak melakukan penyerangan ke Madinah. Tetapi kabilah-kabilah itu telah bersembunyi dan melarikan diri. 17. Ghozwah Bani Musthaliq terjadi dikarenakan Bani Musthaliq sedang mengkonsentrasikan kekuatan untuk menyerang Madinah. Pasukan Muslimin mengepung Bani Musthaliq setelah terjadi pertempuran kecil yang berakibatkan 10 orang dari Bani Musthaliq yang tewas. Kemudian mereka menyerah diri lalu menjadi tawanan pasukan Muslimin. Sementara kabilah-kabilah lain yang menjadi sekutu Bani Musthaliq melarikan diri. 18. Ghozwah Khandak adalah pertahanan (defensive) dalam bentuk pembuatan parit di sekeliling Madinah. Pasukan Muslimin membuat pertahanan parit bagi menghambat kekuatan pasukan musuh yang terdiri dari Kabilah Quraisy, kaum Yahudi dan kabilah-kabilah Arab lainnya menjadi satu aliansi kekuatan. Pertempuran terjadi dalam waktu yang relatif sebentar setelah niereka merasa kaget dengan parit yang dibuat oleh pasukan Muslimin Madinah. Kemenangan di tangan pasukan Muslimin setelah Rasulullah SAW berhasil memberikan isu kebencian dan memicu kekacauan di tubuh aliansi, yang akhirnya mereka saling memusuhi dan kemudian meninggalkan Madinah. 19. Ghozwah Bani Quraizah terjadi karena pelanggaran perjanjian damai yang dilakukan oleh Bani Quraizah (Kaum Yahudi) dengan ikut sertanya mereka di pihak aliansi pada Ghozwah Khandak. Pasukan Muslimin mengadakan pengepungan terhadap benteng pertahanan di pemukiman Bani Quraizah sekitar 25 hari tanpa terjadinya pertempuran. Hanya terdapat seorang Muslim yang menjadi korban tewas karena dibunuh oleh seorang wanita dari Bani Quraizah. Bani Quraizah menyerah diri ke pasukan Muslimin lalu mereka meminta Saad

Bin Mu’adz r.a untuk membuat keputusan perundingan damai (permintaan ini dipersetujui oleh Rasulullah SAW), maka diputuskan oleh Saad Bin Mu’adz r.a: Pejuang-pejuang dari Bani Quraizah yang ikut berperang pada pasukan Ahzab (pasukan musuh di Ghozwah Khandak), akan dihukum mati. Bani Quraizah keluar dari Madinah, selain yang dihukum mati. Harta benda milik Bani Quraizah dirampas dan dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin yang ikut berperang. Anak-anak dan wanita Bani Quraizah tidak dibunuh, kecuali seorang saja yaitu wanita yang membunuh seorang Muslim ketika terjadinya pengepungan. 20. Ghozwah Bani Lihyan terjadi karena membalas Kabilah Bani Lihyan (Tragedi Ar-Raji’) yang telah melakukan pengkhianatan dengan pembunuhan terhadap 4 orang juru dakwah Islam dan menjual 2 orang juru dakwah Islam kepada Quraisy yang kemudiannya dibunuh juga. Tidak terjadi pertempuran sebab Bani Libyan telah melarikan diri. 21. Ghozwah Dzi Qarad dilakukan oleh Rasulullah SAW karena sekelompok penjarah dari Bani Ghatafan telah membunuh seorang Muslim dan membawa lari seorang wanita Muslimah bersama onta-onta ternakan. Tidak terjadi pertempuran, hanya pengejaran yang berhasil menyelamatkan wanita Muslimah itu dan kawanan onta ternakan. Sementara sekelompok penjarah dapat melarikan diri. 22. Ghozwah Hudaibiyah direncanakan oleh Rasulullah SAW karena mengambil kesempatan musim Haji ke Baitul Haram Makkah, di mana bangsa Arab berkumpul untuk berhaji (budaya Arab). Rasulullah SAW meyakini bahwa tidak akan terjadi pertempuran sebab budaya Arab melarang (tidak boleh) berperang pada bulan haji. Misi Hudaybiyah adalah misi dakwah dengan menampakkan eksistansinya umat Islam yaitu pengikut Rasulullah SAW kepada bangsa Arab, dengan harapan mereka menerima Islam. Dengan kesempatan ini Rasulullah SAW mengadakan perjanjian damai dengan kabilah Quraisy, perjanjian ini dinamakan Hudnah Hudaybiyah yang berarti gencatan senjata Hudaybiyah. 23. Ghozwah Khaibar adalah pertempuran antara pasukan Muslimin dengan kaum Yahudi Khaibar yang ada di Madinah. Penyebab terjadinya pertempuran ini adalah karena Kaum Yahudi Khaibar menghasut kabilah-kabilah Arab untuk memusuhi kaum Muslimin. Pertempuran sengit terjadi di kawasan perbentengan Yahudi Khaibar selama 3 hari yang akhirnya Yahudi Khaibar tertekan dan menyerahkan diri dengan syarat kaum Muslimin melindungi keselamatan jiwa mereka (tidak membunuh). Permintaan tersebut dipersetujui oleh Rasulullah SAW dan menyerahkan perkebunan wilayah Khaibar kepada Yahudi Khaibar dengan kesepakatan setengah hasil panen diperuntukkan untuk kaum Muslimin. Terdapat pertempuran-pertempuran lain dengan kaum Yahudi yang memusuhi kaum Muslimin yaitu; Yahudi Fadak, terjadi pertempuran dengan pasukan Muslimin, yang kemudian Yahudi Fadak menyerah diri dan berdamai dengan persyaratan yang sama seperti Yahudi Khaibar. Yahudi Wadil Qura, terjadi pertempuran beberapa jam dengan pasukan Muslimin yang kemudian terjadi perundingan damai, hasil perundingan sama seperti kepada Yahudi Khaibar. 24. Ghozwah ‘Umratul Qadha tidak terjadi pertempuran, tetapi Rasulullah SAW memimpin pasukan kaum Muslimin ke Makkah (sebelum fathu Makkah) untuk

menampakkan kekuatan kaum Muslimin dan persiapan mereka kepada kaum Quraish Makkah jika kaum Muslimin ditantang untuk berperang. Ghozwah ini lebih bersifat perang urat saraf. 25. Ghozwah Fathu Makkah dipicu oleh pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pihak Quraisy. Dengan demikian Rasulullah SAW mempunyai alasan untuk mengerahkan pasukan Muslimin untuk menguasai Makkah, tanahair Rasulullah dan para muhajirin, dan yang lebih utama adalah Baitul Haram yang disucikan oleh Islam. Hanya terjadi pertempuran kecil yang tak berarti pada satu sisi Makkah (itu disebabkan Kaum radikal Quraisy yang memulai), sementara pasukan Muslimin memasuki Makkah dengan aman tanpa terjadi pertumpahan darah. Sebelum masuk ke Makkah, Rasulullah SAW memerintah pasukan Muslimin untuk tidak memulai kontak senjata ketika bergerak masuk ke Makkah sebelum Quraish memulai, dan beliau membuat pernyataan untuk disampaikan kepada penduduk Makkah. Sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang masuk ke rumah Abu Sofyan ia selamat, barangsiapa yang menutup pintu rumahnya ia selamat dan barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram ia selamat." Setelah Makkah telah dapat dikuasai oleh Rasulullah SAW dan kaum Muslimin, maka kaum Quraisy seluruhnya dikumpulkan, lalu beliau SAW membebaskan mereka yang kemudiannya mereka semua memeluk agama Islam tanpa dipaksa. Begitu juga pengampunan diberikan kepada orang-orang yang telah diperintahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh sebelum memasuki Makkah, ada 10 orang tetapi hanya 3 lelaki dan seorang wanita saja yang terbunuh. Di antara yang masih hidup di saat pemberian pengampunan adalah, Abdullah bin Saad, Ikrimah bin Abi Jahal, Al-Haris bin Hisham, Zuhair bin Abu Umayyah, seorang hamba sahaya Ibnu Khattal, Sarah maula Bani Abdul Muthalib dan Hindun bin ‘Utbah. Pernah seorang dari pasukan Muslimin dari kabilah Khuza’ah membunuh seorang lelaki karena membalas kematian saudaranya, tetapi malah Rasulullah SAW marah dan mengatakan seandainya terjadi lagi maka akan dilaksanakan hukum Qishosh ke atas pelaku (dari pasukan Kaum Muslimin). Pada waktu penaklukan Makkah, diketika Rasulullah SAW sedang melakukan Thawaf di Baitullah, ada seorang musyrik yang mendekati beliau dan bermaksud membunuh Rasulullah SAW. Sebagai seorang Nabi, Rasulullah SAW mengetahui niat orang musyrik itu namun beliau tidak memperlakukan kasar atau membunuhnya tetapi beliau ajak berbicara dan sambil tersenyum beliau meletakkan tangannya di dada orang musyrik tersebut. Kemudian pergilah orang musyrik tersebut yang kemudian mendapat hidayah menerima Islam. 26. Ghozwah Hunain diakibatkan oleh Kabilah Bani Hawazun, Kabilah Tsaqif dan kabilah yang lain yang hendak melakukan penyerangan terhadap kaum Muslimin di Makkah. Pertempuran terjadi dengan hasil kabilah Bani Hawazun dapat dikalahkan dan dapat mengusir Kabilah Tsaqif mundur ke pemukiman mereka. Bani Hawazun kalah sehingga kebanyakan mereka menjadi tawanan perang. Namun kemudian seluruh tawanan yang terdiri dari lelaki, anak-anak dan wanita Bani Hawazun dibebaskan oleh Rasulullah SAW kembali ke kaum mereka Bani Hawazun (masih dengan agama asal). Tetapi mereka semua kemudian menerima Islam tanpa dipaksa. 27. Ghozwah Hisoru Thaif adalah pengepungan yang dilakukan oleh pasukan

Muslimin terhadap kabilah Tsaqif setelah melarikan diri kalah di pertempuran Ghozwah Hunain. Sempat terjadi pertempuran ketika pengepungan tetapi karena benteng pertahanan di pemukiman Kabilah Tsaqif sangat kuat maka pasukan Muslimin hanya dapat melakukan pengepungan saja. Terhadap Bani Tsaqif yang berlindung di balik benteng pertahanan mereka, ditinggalkan oleh pasukan Muslimin setelah terjadi pertempuran dan pengepungan selama sekitar sebulan. Pertimbangan ditinggalkan pengepungan tersebut antara lain karena kuatnya pertahanan benteng dan karena diketahui sudah mulai semakin banyak dari kalangan Bani Tsaqif yang menerima Islam maka diperkirakan lambat-laun seluruh Bani Tsaqif akan menerima Islam. 28. Ghozwah Tabuk terjadi karena pasukan Romawi telah bersiap sedia di bagian utara perbatasan Arab untuk melakukan penyerangan terhadap pihak Muslimin. Tetapi tidak terjadi pertempuran karena setelah pasukan Muslimin tiba di Tabuk ternyata pasukan Romawi tidak ada, sebab mereka telah mundur ke arah utara. Selama menunggu kehadiran pasukan Romawi selama 20 hari, kegiatan Rasulullah SAW adalah mengadakan ikatan perjanjian damai dengan kabilahkabilah dan penduduk yang berada di sekitar perbatasan Hijaz dan Syam.

Bab 10 Jihad Membela Agama, Bangsa & Negara
seperti filem dokumentari tentang perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Dua pasukan yang lengkap bersenjata saling tembak menembak antara satu sama lain, dan kalau ingin dibandingkan dengan mujahidin Afghanistan terdapat sedikit perbedaan, yaitu pasukan Mujahidin Afghanistan tidak memakai pakaian seragam. Pertama kalinya saya melihat mujahidin hanya melalui foto-foto, di mana Mujahidin Afghanistan (bukan Pejuang Taliban) ketika bertempur dan melakukan tembak menembak yang dapat saya lihat di majalah dan surat kabar hanya memakai pakaian kebiasaan sehari-hari seperti pakaian di kampung halaman mereka. Begitu juga foto-foto Pejuang Bangsa Moro di Filipina Selatan (Mindanao). Pejuang Bangsa Moro pada kebanyakan mereka hanya memakai sandal jepit dan bercelana jeans juga berbajukan kaos oblong membawa senjata memerangi pasukan tentera pemerintah Filipina (AFP). Bayangan tersebut saya bandingkan dengan kisah-kisah perang Nabi Muhammad SAW dan para sahabat-sahabatnya r.a., yang pernah saya baca di buku Sirah Nabi (sejarah hidup Nabi Muhammad SAW) dan buku Hayatus Sohabah, kisah hidup para sahabat Nabi Muhammad SAW. Ada dua hal yang dapat saya katakan bahwa pelaksanaan Jihad perang yang dilakukan oleh Mujahidin Afghan di Afghanistan adalah sama seperti Jihad perang zamannya Rasulullah SAW yaitu yang pertama jika dipandang dari sudut bertemunya dua pasukan sebagaimana dikisahkan Allah SWT di dalam Al-Qur’an.

Suasana peperangan di sebuah medan pertempuran, terbayang di fikiran saya

‫اﻷد َﺎر ﺕﻮّﻮهﻢ َﻼ زﺡ ًﺎ آﻔ ُوا اﻟ ِﻳﻦ ﻟ ِﻴﺘﻢ إ َا ﺁﻣ ُﻮا اﻟ ِﻳﻦ أﻳ َﺎ َﺎ‬ ‫َﺬ َ َ ُﻬ ﻳ‬ ّ ّ ‫َﺬ َ َﻘ ُ ُ ِذ َﻨ‬ ّ ‫ْﺑ َ ُ َﻟ ُ ُ ﻓ َ ْﻔ َ َﺮ‬ ُ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang

yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (Al-Anfal:15) Perkataan 'orang-orang Kafir' di dalam ayat ini adalah pasukan musuh (Quraisy) bukan Islam yang sedang dalam pertempuran dengan pasukan Muslimin. Keadaan orang-orang kafir dalam ayat itu adalah berposisi menyerang, maka larangan kepada pasukan mujahidin (pasukan Muslimin) dalam peperangan dari berpaling atau mundur jika sudah berhadapan dengan musuh, yaitu orang kafir (non-Muslim) yang memerangi Islam. Lebih meyakinkan lagi penilaian saya terhadap Mujahidin Afghan ketika berpeluang melihat langsung di bumi Afghanistan sekitar tahun 1987. Peperangan yang nyata di hadapan mata di saat melihat pasukan musuh yaitu tentara Rusia bersama dengan pasukan tentara pemerintah komunis Afghanistan. Begitu juga setelah tentara Rusia mundur kembali ke negara Rusia, pasukan Mujahidin bertempur menghadapi pasukan tentara pemerintah komunis Afghanistan di bawah pimpinan Presiden Najibullah. Dan begitu pula ketika pengalaman saya bersama Mujahidin Bangsa Moro di Filipina Selatan sejak akhir tahun 1994 hingga akhir tahun 1996, dan kemudian datang lagi pada tahun 2000. Dengan demikian bertambah kuat lagi keyakinan saya akan teknis pelaksanaan Jihad Perang yang benar, yaitu bertemunya dua pasukan dalam keadaan bersiap siaga dan bertempur lengkap bersenjata. Pasukan Mujahidin Pejuang Bangsa Moro juga menghadapi pasukan tentara Filipina yang datang menyerang ke wilayah yang dikuasai oleh Mujahidin Bangsa Moro. Mujahidin Bangsa Moro menuntut wilayah yang mayoritas penduduk Muslim di Pulau Mindanao Filipina Selatan supaya dipisahkan dari pemerintah Filipina. Sesuai dengan sejarah Bangsa Moro, mereka berhak untuk merdeka. Sekitar tahun 1972 ketika Republik Filipina di bawah pemerintahan presiden Marcos, pemerintah Filipina membuat kebijakan membumi-hanguskan Bangsa Moro di Pulau Mindanao melalui kebijakannya yang disebut 'Martial Law'. Bermula dari saat itu Mujahidin Bangsa Moro dalam sikap bertahan menghadapi pasukan tentara Filipina yang menyerang ke kawasan pendudukan Mujahidin Pejuang Bangsa Moro. Musuh Mujahidin Pejuang Bangsa Moro tampak nyata di hadapan mata Mujahidin, dan diketahui posisi keberadaan musuh sehingga peluru meriam atau roket dapat diarahkan ke sasaran yang tepat, yaitu ke lokasi pasukan musuh yang bersenjata. Walaupun di sekitar tempat pertempuran terdapat perkampungan non-Muslim namun perkampungan itu tidak diganggu oleh pihak Mujahidin Pejuang Bangsa Moro. Yang demikian itu adalah bentuk Jihad Perang seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, jika dipandang dari sudut bertemunya dua pasukan. Sementara hal kedua yang boleh dikatakan Mujahidin Afghanistan dan Pejuang Bangsa Moro melaksanakan praktek yang sama dengan Jihad perang Rasulullah SAW adalah sikap mempertahankan Hak. Menurut pengakuan salah seorang pemimpin Mujahidin Afghanistan yaitu Ustaz Abdur Rabbir Rasul Sayyaf (Pemimpin Tanzim Ittihad-e-Islamiy) menjelaskan bahwa pertama kali terjadinya konflik adalah ketika masyarakat menyadari program pemerintah yang menginginkan penerapan unsurunsur komunis yang bermula dari pendidikan dan budaya hidup. Demonstrasi dan bantahan dilakukan oleh masyarakat namun kemudian pemerintah melakukan tindakan kekerasan terhadap masyarakat, sampai pemerintah

mendatangkan bantuan kemiliteran dari Rusia yang berupa pasukan bersenjata Rusia. Rakyat Afghanistan menganggap Rusia benar-benar ingin menguasai Afghanistan dan menganggap bahwa perlawanan yang mereka lakukan adalah mengusir pasukan tentara Rusia dan juga fahaman komunisnya. Itulah yang dikatakan mempertahankan Hak, mempertahankan negara dan mempertahankan agama (faham dan budaya). Jadi pada dasarnya, rakyat Afghanistan bukanlah pihak yang pertama kali memulai permusuhan dan peperangan namun mereka menyikapi dengan sikap bertahan mempertahankan Hak. Penyerangan yang dilakukan oleh Mujahidin Afghanistan adalah sikap pertahanan dalam peperangan. Jihad Rasulullah SAW, Membela Agama, Berperang untuk memperjuangkan tanah air adalah Jihad yang paling mulia karena hal yang demikian adalah mempertahankan maruah (kehormatan) Agama, Bangsa dan Negara. Jihad yang demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sejak setelah hijrah ke Madinah hingga beliau wafat. Jihad perang ini juga disebutkan sebagai Jihad Defensive (pertahanan), sebuah kuwajiban yang dibebankan ke atas seluruh penduduk negara (Madinah) tersebut baik terhadap lelaki maupun wanita. Bangsa dan Negara

Jihad Defensive inilah juga yang dipraktekkan oleh Mujahidin Afghanistan (bukan Pejuang Taliban) dan Mujahidin Bangsa Moro (bukan Abu Sayyaf Group) seperti yang pernah saya alami bersama para Mujahidin-mujahidin tersebut. Fase-fase Jihad yang diterapkan oleh Mujahidin Afghanistan dan Mujahidin Bangsa Moro bersesuaian dengan fase-fase Jihad perang Rasulullah SAW. Pada dasarnya sifat Jihad Defensive inilah yang diterapkan di seluruh ghozwah dan peperangan yang terjadi dalam Islam. Kalaupun terkadang pada suatu peperangan terlihat pasukan Muslimin yang pertama kali melakukan penyerangan terhadap pasukan lawan, ini adalah dikarenakan pasukan lawanlah yang telah memicu permusuhan dan atau telah melakukan persiapan untuk menyerang wilayah kaum Muslimin. (Mujahidin Afghanistan yang saya sebutkan di sini bukanlah Pejuang Taliban yang pernah menyerang Mujahidin Afghanistan. Pejuang Taliban tidak melakukan sikap Jihad Defensive pada awal perjuangannya tetapi Taliban langsung melakukan Offensive ke atas Negara Islam Mujahidin Afghanistan, jelas langkah itu menyalahi sunnah Rasulullah SAW). Di antara orang-orang Islam dari kalangan aktivis Muslim, ada yang berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang selalu berfikir untuk berperang, melawan kelompok/bangsa lain yang bukan Islam dan memaksa mereka untuk memeluk

agama Islam. Sebab, menurut mereka, Rasulullah SAW tidak membenarkan adanya orang bukan Islam (non-Muslim) wujud di muka bumi ini. Dengan alasan dari dalil Al-Qur’an dan Hadis yang memerintahkan memerangi orang yang bukan Islam (seperti keterangan dalam buku Aku Melawan Teroris karya Imam Samudra). Namun saya katakan bahwa itu tidak benar, dan sekali-kali tidak benar jika seandainya kita mempelajari dengan detil sirah (perjalanan hidup) Rasulullah SAW dan memahaminya dengan baik. Sebagai seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menyebarkan dakwah Islam, maka sudah sayogyanya bagi Allah SWT membimbing Rasul-Nya sepanjang yang dilakukan sejak pengangkatan sebagai seorang Nabi. Dan Nabi Muhammad SAW pula selaku utusan Allah senantiasa bersikap, berakhlak dan bertindak sesuai dengan apa yang dituntun oleh wahyu Ilahi yang diturunkan kepadanya. Sampaisampai isteri Rasulullah SAW, ‘Aisyah r.a mengatakan "Akhlak kepribadiannya adalah Al-Qur’an.” ketika menjawab pertanyaan salah seorang sahabat Nabi tentang akhlak kepribadian Rasulullah SAW. Oleh karena itu boleh dikatakan jika mau, cukuplah bagi kita untuk membenarkan segala yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tanpa melihat dalil-dalil yang ada di dalam Al-Qur’an. Dan Allah SWT juga dalam Al-Qur’an mensifatkan Nabi Muhammad SAW yang memiliki contoh teladan yang baik untuk diikuti,

‫اﻵﺧﺮ َاﻟﻴﻮم اﻟﻠﻪ ﻳﺮ ُﻮ َﺎن ﻟﻤﻦ ﺡﺴﻨﺔ أﺳﻮة اﻟﻠﻪ ر ُﻮل ِﻲ ﻟﻜﻢ َﺎن ﻟﻘﺪ‬ ْ َ َ َ ‫ِ َ و ْ َ ْ َ َ َ َ ْﺟ آ َ ِ َ ْ َ َ َ ٌ ُ ْ َ ٌ َ ِ َﺳ ِ ﻓ َ ُ ْ آ‬ ّ ّ ‫وذآﺮ‬ َ َََ ‫اﻟﻠﻪ‬ ََ ّ ‫آ ِﻴ ًا‬ ‫َﺜ ﺮ‬
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21). Sebab kita percaya bahwa tidak mungkin Rasulullah SAW akan berbuat sesuatu yang menyalahi wahyu Allah SWT Tetapi seandainya ada kekeliruan dan kekhilafan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW (karena beliau adalah manusia) sudah pasti Allah SWT akan menegurnya dan Beliau SAW langsung dengan cepat akan merubah. Semua kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW sejak lahir hingga wafat terdapat di dalam buku-buku sirah. Allah SWT menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa apa yang diucapkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW adalah wahyu, bukan menuruti hawa nafsunya.

‫و َﺎ‬ ‫َﻣ‬

Artinya: “dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4) Dengan demikian sejak pertama kali saya memahami Jihad perang Rasulullah SAW bukanlah dari pemahaman dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadis Nabi, tetapi saya mempelajari sejarah perjalanan hidup Rasulullah SAW, sehingga saya dapat membandingkan praktek yang dilakukan oleh Mujahidin Afghanistan (bukan Pejuang Taliban) dan Mujahidin Bangsa Moro (bukan Abu Sayyaf Group), sehingga dapat saya katakan memenuhi persyaratan jika dipandang dari dua sudut yaitu membela tanah air/wilayah yang menjadi Hak mereka sebagaimana Rasulullah SAW membela tanah kurniaan Madinah dan bertemunya dua pasukan bersenjata yaitu pelaksanaan Jihad perang menghadapi pasukan bersenjata sebagaimana pasukan Rasulullah SAW juga menghadapi pasukan bersenjata yang menjadi lawannya. Saya berani mengatakannya karena saya mengalami sendiri langsung bersama Mujahidin

‫ﻳﻨﻄﻖ‬ ُ ِ َْ

‫ﻋﻦ‬ َِ

‫اﻟﻬ َى‬ ‫ْ َﻮ‬

-

‫إن‬ ِْ

‫هﻮ‬ َُ

‫ِﻻ‬ ‫إ‬

‫وﺡﻲ‬ ٌَْ

‫ُﻮ َﻰ‬ ‫ﻳ ﺡ‬

Afghanistan

dan

Mujahidin

Pejuang

Bangsa

Moro

suatu

waktu,

dahulu.

Saya percaya bahwa wahyu Allah SWT (dalil-dalil Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasulullah SAW ada kaitannya dengan apa yang dilakukan oleh beliau bersama para sahabat pada waktu itu. Maka oleh yang demikian sepantasnya-lah memahami sirah Nabi Muhammad SAW sebelum berbicara tentang ayat Jihad Perang dalam AlQur’an. Saya khawatir, dengan tidak memahami sirah Nabi Muhammad SAW akan mengakibatkan pemahaman dalil-dalil menurut fikiran sendiri dan mengikuti hawa nafsu. Dan yang lebih berbahaya lagi apabila mencoba memaksakan dalil-dalil AlQur’an dan Hadis tersebut supaya bersesuaian dengan apa yang dilakukannya. Wallahu a’lam. Akan timbul bahaya yang sangat membahayakan banyak orang, apabila seseorang memahami ayat Al-Qur’an dengan arti zahir saja (terjemahan harfiyah), sehingga dia menjadikan perintah urusan perang atau menyerang tidak perlu lagi menunggu keputusan dari hasil kebijakan seorang pemimpin tertinggi sebuah negara seperti Perdana Menteri, Presiden (dalam bahasa Arab disebut Amir Daulab Islamiyah) atau seorang Kholifah. Karena dia menganggap Al-Qur’an itu adalah kitab tuntunan untuk setiap pribadi Muslim yang punya kuwajiban melaksanakan setiap ayat di dalam AlQur’an. Akibatnya pelaksanaan perintah Al-Qur’an itu semua akan dianggap sama yang dibebankan terhadap setiap individu Muslim, pemahaman ini adalah jelas tidak benar. Pemahaman yang muncul sekarang ini dari kalangan sebagian aktivis Muslim adalah bahwa perintah perang dari dalil Al-Qur’an tersebut sudah cukup menjadi beban tanggungjawab kepada setiap individu yang beragama Islam, karena Al-Qur’an adalah panduan untuk semua umat Islam. Maka setiap perintah yang ada di dalam ayat Al-Qur’an adalah wajib untuk dilaksanakan, sebab perintah itu adalah perintah yang diberikan langsung oleh Allah SWT Oleh karena itu, jika tidak melaksanakannya akan berdosa. Padahal Jihad yang berarti perang yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW tidak pernah terjadi dengan hanya dilakukan oleh satu orang atau 2-3 orang saja tetapi Jihad Perang yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah sebuah pasukan yang terorganisir rapi di bawah satu komando. Bagaimana dapat dikatakan perang kalau hanya sendirian saja? Dan bagaimana dapat dikatakan perang kalau tidak terorganisir di bawah satu kepimpinan? Dan bagaimana dapat berperang jika kepemimpinannya tidak jelas? Apakah Jihad Perang adalah Kewajiban Fardiy (perorangan) ? Sungguh keliru kalau ada orang yang menggunakan dalil ayat Al-Qur’an (An-Nisa: 84) untuk memulai perang secara sendirian tanpa melibatkan orang lain;

‫أن اﻟﻠﻪ ﻋ َﻰ اﻟﻤﺆﻣ ِﻴﻦ وﺡﺮض ﻥﻔﺴﻚ ِﻻ ﺕﻜّﻒ ال اﻟﻠﻪ ﺳ ِﻴﻞ ِﻲ ﻓ َﺎﺕﻞ‬ ْ ِ ‫َ ِ َﺒ ِ ﻓ َﻘ‬ ّ ُ ‫َ ْ َ ُ َﺴ ْ ُ ْ ِﻨ َ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ إ ُ َﻠ‬ َ ّ ّ ‫َاﻟﻠﻪ آﻔ ُوا اﻟ ِﻳﻦ ﺑﺄس ﻳﻜﻒ‬ َ ُ َ َ ْ َ َ ‫َﺬ‬ ّ ّ ‫ﺕﻨ ِﻴﻼ وأﺷﺪ ﺑﺄ ًﺎ أﺷﺪ و َ ُ َ َﺮ‬ ّ َّ َ ُ ‫َ َ َ ّ َ ْﺳ‬ ُ ‫َ ْﻜ‬
Artinya: “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (An-Nisa: 84). Menurut tafsir Qurtubiy, asbabun nuzul ayat ini adalah sesaat sebelum terjadinya

Ghozwah Badar pertama. Dan perintah yang ada pada ayat ini adalah kuwajiban Rasulullah SAW untuk melakukan Jihad Perang secara sendirian jika para sahabatnya tidak mau ikut mempertahankan wilayah dari serangan musuh. Dan ayat ini juga perintah kepada setiap mukmin untuk melakukan Jihad Perang biarpun sendirian jika tiada orang lain yang mau berjuang mempertahankan hak dan membela hak (setelah berusaha mengajak namun tidak ada satu pun yang menerima). Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat tersebut sebagai kabar gembira kepada Rasulullah SAW untuk tetap berperang biarpun sendirian sebab Allah SWT akan membantu mengalahkan Quraisy yang berniat mengadakan penyerangan. Ayat ini juga berlaku kepada selain Rasulullah SAW yang berperang biarpun secara sendirian menghadapi pasukan musuh yang datang menyerang. Pernah Baro’ Bin ‘Azib r.a. ditanya tentang seorang sahabat yang menghadapi sendirian menerobos ke arah sepasukan musuh berjumlah seratus orang. Apakah tindakan itu tidak menyalahi larangan Allah SWT dalam Al-Qur’an dari membinasakan diri sendiri?

‫اﻟﻬ َى ﻣﻦ وﺑﻴ َﺎت ِﻠ ّﺎس ه ًى اﻟﻘﺮْﺁن ِﻴﻪ أﻥﺰل اﻟ ِي رﻣ َﺎن ﺷﻬﺮ‬ ُ ْ َ َ ‫ْ ُ ُ ﻓ ِ ُ ْ ِ َ َﺬ َ َﻀ‬ ّ ‫ْ ُﺪ ِ َ َ َ ِﻨ ٍ ﻟ ﻨ ِ ُﺪ‬ َ ّ ‫ﺳﻔﺮ ﻋ َﻰ أو ﻣ ِﻳ ًﺎ َﺎن وﻣﻦ ﻓﻠﻴﺼﻤﻪ اﻟﺸﻬﺮ ﻣﻨﻜﻢ ﺷﻬﺪ ﻓﻤﻦ َاﻟﻔﺮ َﺎن‬ ِ ‫َ َ ٍ َ ﻠ َ ْ َﺮ ﻀ آ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ ْ ُ َ ْ َ ِ ْ ُ ُ َ ِ َ َ َ ْ و ْ ُ ْﻗ‬ ّ ‫اﻟﻌﺪة وﻟﺘﻜﻤُﻮا اﻟﻌﺴﺮ ﺑﻜﻢ ﻳ ِﻳﺪ َﻻ َاﻟﻴﺴ ﺑﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻳ ِﻳﺪ أﺧﺮ أ ّﺎم ﻣﻦ ﻓﻌﺪة‬ ٌ َ ِ َ ْ ِ ٍ ‫ْ ِ َ َ َ ِ ُ ْ ِﻠ ْ ُ ْ َ ِ ُ ُ ُﺮ ُ و ﺮ ْ ُ ْ ِ ُ ُ َ ُ ُﺮ ُ ُ َ َ َﻳ‬ ّ َ ّ ّ ‫وﻟﺘﻜﺒ ُوا‬ ‫َ ِ ُ َ ِﺮ‬ ّ ‫اﻟﻠﻪ‬ ََ ّ ‫ﻋ َﻰ‬ ‫َﻠ‬ ‫َﺎ‬ ‫ﻣ‬ ‫ه َاآﻢ‬ ْ ُ ‫َﺪ‬ ‫وﻟﻌﻠﻜﻢ‬ ْ ُ ََ ََ ّ ‫ﺕﺸﻜ ُون‬ َ ‫َ ْ ُﺮ‬
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah:195). Tetapi Baro’ Bin ‘Azib menjawab bahwa apa yang dilakukan oleh sahabat itu adalah bersesuaian dengan ayat “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kuwajiban kamu sendiri.” (An-Nisa: 84). Dalam riwayat yang lain Baro’ Bin ‘Azib menjelaskan bahwa ayat “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (Al-Baqarah:195) itu adalah berkenaan dengan harta yang diinfakkan. Dalam riwayat lain, Baro’ Bin ‘Azib menjelaskan ketika ayat “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kuwajiban kamu sendiri." diturunkan, langsung Rasulullah SAW berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya "Sesungguhnya Robbku memerintahkanku untuk berperang maka berperanglah kamu semua.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, ayat, "Kobarkanlah semangat para mu'min" (An-Nisa: 84) itu bermaksud, buatlah pasukan Muslimin menjadi siap bersedia untuk perang dan bangkitkan semangat berani, seperti ucapan Rasulullah SAW "Bangkitlah menuju syurga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi.” dan ucapan Rasulullah SAW yang lain dalam beberapa riwayat lagi pada waktu itu tentang fadhilah (keutamaan) orang yang berperang dan mati di medan perang. Ibnu Katsir menjelaskan, ayat, "Mudah-mudahan Allah menolak serangan orangorang yang kafir itu." (An-Nisa: 84) itu bermaksud, dengan usaha Rasulullah SAW membangkitkan semangat pasukan Muslimin menghadapi musuh, membuat mereka bersemangat ingin mempertahankan kemuliaan Islam dan umat Islam, membuat mereka menjadi kokoh pendirian dan sabar, maka dengan sebab yang demikian akan menghambat atau mengalahkan musuh yang datang menyerang.

Saya katakan bahwa tidak pernah ada sunnahnya Rasulullah SAW berperang dengan menyerang secara sendirian. Konteks ayat 84 surah An-Nisa itu adalah konteks ayat pertahanan, makanya Allah perintahkan berperang dalam rangka mempertahankan walaupun harus melakukan itu secara sendirian. Praktek di lapangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah mengadakan persiapan kekuatan personil dan kekuatan moril. Perintah perang langsung diberikan kepada para sahabat r.a seusai menerima wahyu dari Allah SWT itu, dan Rasulullah SAW membangkitkan semangat dengan memberikan janji syurga kepada sesiapa saja yang mati di medan pertempuran demi mempertahankan Hak yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT yaitu berupa wilayah Islam (Madinah), bangsa Islam (Umat Islam), dan Agama Islam. Peristiwa seorang sahabat yang maju menyerang sendirian menghadapi seratus orang pasukan bersenjata musuh itu memang dibenarkan, karena apa yang dilakukan oleh sahabat itu masih/sudah berada di medan pertempuran, yaitu dalam keadaan bertemunya dua pasukan perang. Dia boleh maju menyerang secara sendirian menghadapi pasukan yang sudah berhadapan dengannya jika perlu, dan sikap itu dibenarkan kepada perajurit. Allah SWT memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad SAW dengan ayat itu, yang seandainya Rasulullah SAW hanya melaksanakan perang secara sendirian pun akan dibantu oleh Allah SWT. Rasulullah SAW melakukan perang itu karena pertahanan dan pembelaan terhadap apa yang telah Allah karuniakan yaitu Negara Islam, Agama Islam dan komunitas Muslim. Tetapi sebagai teladan kepada para sahabat serta umatnya, maka Allah SWT perintahkan Rasulullah SAW untuk membangkitkan semangat perang para sahabat, sebab dengan ketabahan pasukan, persatuan yang solid, berdedikasi tinggi serta sabar menghadapi pasukan musuh, yang akan menjadi sebab-musabab pertolongan Allah SWT. Karena Allah SWT tidak akan merubah nasib seseorang atau suatu kaum kecuali mereka berusaha merubah sebab-sebab kemunduran mereka sendiri, sebagaimana termaktub di dalam AlQuran.

‫ﻳﻐ ّﺮ ال اﻟﻠﻪ إن اﻟﻠﻪ أﻣﺮ ﻣﻦ ﻳﺤﻔ ُﻮﻥﻪ ﺧﻠﻔﻪ وﻣﻦ ﻳﺪﻳﻪ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﻣﻌﻘ َﺎت َﻩ‬ ُ ٌ ‫َ َ ِ َ َ ِ َ ْ ِ ِ ْ َ ْ َﻈ َ ُ َ ْ ِ ِ َ ِ ْ َ َ ْ ِ َ ْ ِ ِ ْ ُ َ ِﺒ‬ ّ ّ ّ ّ ُ ‫ُ َﻴ‬ ِ ‫و َﺎ ﻟﻪ ﻣﺮد َﻼ ُﻮ ًا ﺑﻘﻮم اﻟﻠﻪ أ َاد وإ َا ﺑﺄﻥﻔﺴﻬﻢ َﺎ ﻳﻐﻴ ُوا ﺡ ّﻰ ﺑﻘﻮم َﺎ‬ ‫َﻣ َ ُ َ َ َ ﻓ ﺳ ء ِ َ ْ ٍ َ ُ َر َ َِذ ِ َ ْ ُ ِ ِ ْ ﻣ ُ َ ِﺮ َﺘ ِ َ ْ ٍ ﻣ‬ َ ّ ّ ّ ‫ﻟﻬﻢ‬ َُْ ‫ﻣﻦ‬ ِْ ‫ُوﻥﻪ‬ ِِ ‫د‬ ‫ﻣﻦ‬ ِْ ‫َال‬ ٍ ‫و‬
Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d: 11) Jihad perang harus dilaksanakan secara bersama-sama, berkelompok, berpasukan dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang jelas, termasuk juga adalah pasukan bersenjata musuh yang jelas dihadapi. Maka contoh Jihad perang yang Rasulullah SAW tunjukkan adalah bersesuaian dengan maksud ayat Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 84, yaitu contoh jihad perang (Defensive) membela Agama, Bangsa dan Negara Islam (Madinah). Sebagaimana pada ayat itu mengatakan “Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu.”

‫أن اﻟﻠﻪ ﻋ َﻰ اﻟﻤﺆﻣ ِﻴﻦ وﺡﺮض ﻥﻔﺴﻚ ِﻻ ﺕﻜّﻒ ال اﻟﻠﻪ ﺳ ِﻴﻞ ِﻲ ﻓ َﺎﺕﻞ‬ ْ ِ ‫َ ِ َﺒ ِ ﻓ َﻘ‬ ّ ُ ‫َ ْ َ ُ َﺴ ْ ُ ْ ِﻨ َ َ َ ِ ِ َ ْ َ َ إ ُ َﻠ‬ َ ّ ّ ‫َاﻟﻠﻪ آﻔ ُوا اﻟ ِﻳﻦ ﺑﺄس ﻳﻜﻒ‬ َ ُ َ َ ْ َ َ ‫َﺬ‬ ّ ّ ‫ﺕﻨ ِﻴﻼ وأﺷﺪ اﺑﺄس أﺷﺪ و َ ُ َ َﺮ‬ ّ ّ َ َ ً َْ ُ ّ َ ََ ُ ‫َ ْﻜ‬
Artinya: “Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kuwajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)." (An-Nisa: 84)

Ayat ini tidak boleh digunakan dengan sewenang-wenangnya untuk dijadikan dalil bagi melakukan serangan (Jihad) dalam keadaan sendirian di luar misi mempertahankan kedaulatan wilayah. Apalagi di luar medan pertempuran dengan melakukan penyerangan terhadap orang-orang sipil atau selain pasukan bersenjata musuh, yang demikian adalah keliru sekali. Sunnah Rasulullah SAW Dalam Berperang Rasulullah SAW bukanlah seorang Nabi yang suka dengan pertumpahan darah. Sebanyak 28 kali pemberangkatan pasukan Muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW (disebut dengan istilah Ghozwah) itu adalah karena mempertahankan keamanan Islam dan pengikutnya dari pihak-pihak yang telah menampakkan permusuhan dan mengadakan langkah-langkah nyata (persiapan) untuk menyerang Madinah yang mayoritasnya penduduk beragama Islam, secara otomatis dikuasai penduduk Muslim. Sebagai pemimpin negara (Madinah), Rasulullah SAW menjaga keamanan umat Islam seperti golongan muhajirin (pengungsi dari Makkah) di Madinah, suku asli di Madinah yaitu kabilah Aus dan Khazraj dan keamanan suku non-Muslim lainnya yang memiliki ikatan perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Pertahanan yang dilakukan adalah menyelamatkan diri daripada dianiaya oleh pihak kabilah Quraisy yang nonMuslim. Kafir Quraisy di Makkah masih menyimpan rasa dendam dengan adanya agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW sehingga mereka tetap berusaha untuk menghapuskan agama baru (Islam) itu, serta mencari orangorang yang melarikan diri (berhijrah) dari Makkah. Setelah hijrah, Kabilah Quraisy bukan hanya membenci kaumnya yang lari (hijrah ke Madinah) tetapi memusuhi semua orang yang mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena hampir mayoritas penduduk Madinah telah mengikuti ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, maka menjadi kuwajiban Rasulullah SAW untuk menjaga keamanan agama Islam yang dibawanya. Lagi pula masyarakat Muslim di Madinah adalah masyarakat Muslim yang pertama diorganisir dalam sebuah kepimpinan kenegaraan setelah hijrah dari Makkah. Sedangkan pemimpin tertinggi mayoritas penduduk (penganut agama Islam) di Madinah adalah Rasulullah SAW, yang diatur dalam tatanan kenegaraan. Kabilah Aus dan kabilah Khazraj di Madinah telah memberikan tempat dan dukungan untuk membela agama Islam dan muhajirin yang datang dari Makkah, mereka dipanggil dengan istilah Anshor (artinya Penolong). Hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat r.a (muhajirin) ke Madinah adalah karena: ingin menyelamatkan iman dan keyakinan (aqidah) terhadap agama yang baru mereka anuti yaitu Islam, menyelamatkan diri mereka dari disiksa dan dibunuh oleh kabilah Quraisy, dan menyelamatkan diri dari dipaksa kembali kepada agama lama yaitu kesyirikan (fitnah), sebagaimana yang pernah terjadi di Makkah sebelum berpindah ke Madinah (Hijrah). Gabungan antara Rasulullah SAW dan para sahabatnya muhajirin dari Makkah bersama pihak Anshor yang bertempat tinggal di Madinah adalah sebuah kekuatan baru bagi Rasulullah SAW untuk menghadapi penghalang dakwah Islam yaitu Kabilah Quraisy yang kafir. Kabilah Quraisy adalah suku Arab yang disegani di antara kabilah-kabilah Arab yang ada di tanah Jazirah karena mereka adalah kabilah terkuat dan penjaga Baitul

Haram di Makkah yaitu tempat semua kabilah Arab berkumpul untuk menunaikan ibadah haji (haji zaman jahiliyah). Kabilah Quraisy merasa terganggu dengan pengakuan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah yang menyerukan kalimah Tauhid (Laa ilaha illallah, artinya Tiada Tuhan selain Allah) sehingga sejak awal lagi para pemuka Quraisy telah melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap para penganut Islam yaitu pengikut Nabi Muhammad Rasulullah SAW di Makkah. Oleh karena kabilah Quraisy telah meng-isytihar-kan permusuhan dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya serta menghalang-halangi jalannya dakwah Islam, bahkan berniat untuk menghancurkan agama Islam yang baru diserukan itu, maka sejak di Makkah lagi sebelum berhijrah Rasulullah SAW senantiasa bersiap siaga dan berhati-hati dalam mengambil langkah bagi melanjutkan dakwah Islam yang diwahyukan serta diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia. Kabilah Quraisy adalah musuh utama yang menghalangi dakwah Islam pada waktu itu. Rasulullah SAW selaku pimpinan tertinggi di sebuah komunitas yang baru (di Madinah) bertanggungjawab merencanakan langkah strategis bagi menjaga keamanan para pengikutnya yang relatif masih sedikit dan juga penerus dakwah Islam. Misi utama Rasulullah SAW adalah menegakkan kalimat Tauhid (Laa ilaha illallah) dengan tetap menjaga eksistensinya di muka bumi. Menjaga Agama, Bangsa dan Negara Langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan sahabatnya r.a, adalah berpindah dari Makkah, menjauh dari Kaum Quraish yang menyiksa dan membunuh pengikut Nabi Muhammad SAW. Para sahabat Nabi Muhammad SAW, yang keluar dari Makkah untuk menyelamatkan keyakinan Islam (aqidah Islam) dan dirinya disebut sebagai Muhajirin. Tempat pertama yang pernah diperintahkan oleh Rasulullah kepada beberapa orang sahabatnya r.a., adalah ke Habsyah (Abessina atau Eriteria) negeri yang diperintah oleh seorang penganut agama Nasrani (Kristen) bernama raja Najashi, dengan mengatakan bahwa di negara itu dipimpin oleh penganut agama Nasrani yang patuh. Tempat perlindungan yang dipilih oleh Nabi Muhammad SAW adalah negara Kristen dan memerintahkan kepada beberapa pengikutnya untuk ke negara itu meminta perlindungan kepada orang Kristen. Dan memang Raja Najashi memberikan perlindungan dan tidak mahu menyerahkan kepada utusan Quraish yang datang menyusul meminta kepada Raja Najashi untuk menyerahkan pengikut Nabi Muhammad SAW itu. Sementara Rasululah SAW, dan para sahabatnya r.a yang lain berhijrah ke Madinah setelah diundang dan setelah ada tawaran jaminan keamanan dari penduduk Yatsrib (Madinah). Mungkin perlu diperhatikan bahwa hijrah ke Madinah bukan pilihan Nabi Muhammad SAW. Dan hijrah ke Madinah terjadi sekian waktu setelah hijrahnya sebagian sahabat ke negara Kristen yaitu Habsyah. Langkah kedua. Rasulullah SAW melakukan perjanjian damai dengan kabilah-kabilah Arab (musyrikin, bukan Islam) termasuk kaum Yahudi yang berada di Madinah yang belum menerima Islam dengan meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dan mengakui kalimat Tauhid. Tujuan Rasulullah SAW mengadakan perjanjian damai adalah supaya tidak saling mengganggu dan terjamin keamanan pengikutnya serta lancarnya dakwah Islam. Praktek mengikat perdamaian selalu didahulukan oleh Rasulullah SAW, bukan praktek kekerasan.

Langkah ketiga. Rasulullah SAW mengikat perjanjian damai dengan kabilah-kabilah (musyrikin, bukan Islam) yang di luar Madinah. mulai dari yang berdekatan dengan Madinah dan sekitarnya. Tindakan tersebut bertujuan bagi menjamin keamanan umat Islam dari ancaman yang datang dari luar Madinah dan juga menjamin keamanan berlangsungnya dakwah Islam di dalam dan di luar Madinah. Langkah keempat yang dilakukan Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin (para sahabatnya r.a.) bagi menghadapi kemungkinan penyerangan dari pihak kabilah Quraisy adalah dengan menguasai jalur ekonomi yang dilalui oleh kafilah dagang milik Quraisy. Dengan demikian kafilah dagang Quraisy dan pasukan pengiringnya akan mengambil jalur yang menjauh dari Madinah. Dan juga mengadakan perjanjian damai dengan kabilah-kabilah yang berada di jalur kafilah dagang tersebut. Langkah kelima. Rasulullah SAW dan kaum Muslimin di Madinah melakukan persiapan kekuatan (pasukan dan perlengkapan perang) dengan tujuan bersiap-siap menghadapi kemungkinan penyerangan dari luar Madinah yang memusuhi Islam. Sikap ini adalah langkah pertahanan bagi menjaga keselamatan jiwa penduduk Muslim di Madinah dan teritorial. Hal demikian adalah budaya Arab yang selalunya dilakukan oleh kabilah-kabilah pada masa itu, karena kondisi lingkungan menuntut sesuatu kelompok, suku, kaum dan kabilah untuk memiliki kekuatan sendiri bagi mempertahankan hak dan menjamin keamanan kaumnya. Langkah keenam. Rasulullah SAW akan mengirim pasukan tempur untuk menyerang pihak-pihak atau kabilah-kabilah yang melanggar perjanjian damai, baik yang melakukan (memulai) sikap dan tindakan permusuhan maupun yang mempersiapkan kekuatan untuk menyerang Madinah dan kaum Muslimin. Tindakan Rasulullah SAW itu adalah karena mempertahankan kedaulatan negara, menjaga keamanan pengikutnya dan keberlangsungan dakwah Islam (Demi Negara, Bangsa dan Agama). Dengan demikian saya memahami bahwa pengiriman pasukan Muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW (disebut juga Ghozwah) bertujuan pertahanan bagi menjamin keamanan kaum Muslimin (komunitas baru) dan dakwah Islam. Ghozwah bukan untuk penghancuran massa (atau penghapusan etnis) dan Ghozwah bukan untuk memaksa orang untuk menerima Islam, tetapi Ghozwah adalah untuk menjamin keamanan. Secara ringkas langkah-langkah strategis yang saya jelaskan di atas adalah, menjaga Iman dan keyakinan Tauhid (Agama), menjaga umat Islam (Bangsa), dan menjaga wilayah Madinah (Negara), yaitu negara karuniaan Allah SWT kepada umat Islam yang telah terbentuk pada waktu itu. Jika seandainya perjanjian damai dapat dilakukan, jaminan keselamatan disepakati, hak-hak tidak dikhianati dan peperangan dapat dielakkan maka itulah yang dikehendaki oleh Rasulullah SAW, karena dengan demikian manusia dapat hidup dengan aman serta dapat terpenuhinya hak kemanusian, serta dakwah Islam dapat diajarkan dan disebarkan dengan aman tanpa diperlukan unsur paksaan. Tetapi oleh karena terdapat ancaman dari pihak yang mempersiapkan kekuatan untuk menyerang, maka Rasulullah SAW tidak berdiam diri. Sebelum kekuatan musuh membengkak kuat, langkah strategis Rasulullah SAW adalah menghentikan pasukan musuh di tempat musuh tersebut berada.

Oleh karena itu, hampir semua Ghozwah Rasulullah SAW dilakukan di luar Madinah dan ditempat musuh yang sedang mempersiapkan kekuatan. Dengan demikian Rasulullah SAW selalu dimenangkan dengan taktik 'surprise' yaitu langsung muncul secara tiba-tiba sebelum musuh memulai fase penyerangan. Sifat Rasulullah SAW ini menunjukkan, beliau bukan tipe pemimpin yang menunggu musuh di 'kandang' sendiri, tetapi menghentikan musuh sejak di pintu gerbang musuh walaupun diketika operasi defensive (pertahanan). Dan jika dipelajari kisah peperangan Rasulullah SAW, maka akan didapatkan bahwa tidak semestinya pada setiap kali Ghozwah akan terjadi pertempuran (kontak senjata) dan pertumpahan darah, tetapi kebanyakan yang terjadi adalah Rasulullah SAW dan pasukan Muslimin membiarkan lawannya lari menyelamatkan diri, menyuruh pergi atau menyerahkan diri sebelum pasukan tempur Muslimin datang. Pertempuran yang boleh dianggap besar yang terjadi ketika Rasulullah SAW sebagai pemimpin pasukan Muslimin (Ghozwah) hanya sebanyak 6 kali saja dari 28 kali yang dipimpin langsung. Saya tidak menyangkal keterlibatan Allah SWT dalam setiap langkah dan kebijakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, sebab Nabi Muhammad adalah utusan-Nya yang diperintahkan untuk menyebarkan kalimat Tauhid (Laa ilaha illallah) serta menjaganya. Tetapi aspek manusia yang tampak pada diri Rasulullah SAW itulah yang menjadi panduan untuk umatnya. Segala keberhasilan dan langkah-langkah yang diambil, menjadi contoh kepada manusia yang lain karena Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia. Rasulullah SAW melaksanakan perintah Allah SWT (wahyu/Al-Qur’an), seperti halnya umat Islam semua melaksanakan perintah AlQur’an sesuai dengan fiqih-fiqihnya. Akhlak Rasulullah SAW dan kepribadiannya adalah Al-Qur’an sebagaimana yang diakui oleh isteri beliau Aisyah r.a, yang pastinya apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak bercanggah dengan AlQur’an. Rasulullah SAW melaksanakan semua wahyu Allah SWT tanpa wujud saling berlawanan, maksud saya antara ayat perintah dakwah dan ayat perintah perang dapat dilaksanakan sesuai tempat dan masanya. Dalam kondisi aman. Rasulullah SAW mengikat perjanjian damai tanpa memaksa suatu kaum menerima Islam yang di dakwahkannya. Perjanjian damai atau jaminan keamanan hak tersebut sama artinya membiarkan seseorang atau kaum itu tetap dengan agama yang dianuti (bukan Islam). Dalam kondisi terancam. maka Rasulullah SAW berangkat bersama pasukan Muslimin dengan berani siap mati menghadapi pihak yang mengancam keamanan dan keselamatan. Tindakan Beliau SAW adalah demi membela agama Islam, umat Islam dan Madinah sehinggalah fitnah (ancaman) itu dapat dikalahkan. Keputusan Ada Pada Pemimpin Tertinggi Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia yang pernah berperan dengan berbagai macam peran manusia di dunia yang dapat dijadikan contoh (uswah hasanah) kepada manusia seluruhnya. Beliau adalah seorang bapa, ketua rumah, suami, imam shalat, ‘abid, sufi, teman, tetangga, pemimpin pasukan, pemimpin negara, hakim dan lain-lain lagi peran selaku manusia. Setiap tindakan yang dilakukan Rasulullah SAW menunjukkan posisi yang diperankan sesuai kondisi. Maka saya katakan bahwa setiap perbuatan, langkah kebijakan dan perintah yang Rasulullah SAW berikan berkaitan dengan Jihad Perang, adalah karena Rasulullah

SAW selaku pemimpin tertinggi pasukan, bukan selaku perajurit biasa. Saya tekankan lagi bahwa setiap keterlibatan Rasulullah SAW di dalam pasukan yang diberangkatkan untuk berperang maka beliau SAW adalah seorang pemimpin tertinggi kaum Muslimin. Contoh tauladan (uswah hasanah) yang dapat diambil di setiap langkah perjalanan Jihad perangnya adalah contoh yang diperuntukkan kepada Komandan Perang. Sedangkan kepada sesiapa yang bukan komandan perang atau bukan selevel dengan komandan sebuah pasukan yang besar, maka harus mengikuti contoh para sahabat r.a yang memberikan contoh terbaik selaku perajurit, kecuali sahabat-sahabat r.a yang berperan selaku komandan pasukan perang. Dalam konteks Ghozwah yang dibicarakan maka saya lebih setuju untuk memandang Rasulullah SAW sebagai sosok seorang pemimpin tertinggi dalam pasukan yang sedang beroperasional. Segala perintah, kebijakan dan segala tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah karena beliau seorang Pemimpin Tertinggi Negara dan Panglima Tertinggi pasukan bersenjata. Sebagai contoh sekiranya Rasulullah SAW memerintahkan untuk menebang pohon kurma, maka itu berarti adalah kebijakan dari wewenang beliau selaku seorang pemimpin tertinggi pasukan untuk memberi perintah. Bukanlah itu pertanda dibolehkannya kepada semua orang (anggota biasa/Perajurit) yang ikut berperang untuk membuat keputusan menebang pohon sembarangan menurut kebijakannya masing-masing. Larangan menebang pohon tetap berlaku kepada semua perajurit, begitu juga larangan-larangan yang lain yang tidak diperbolehkan sewaktu bertempur (Jihad). Contoh yang lain, seandainya Rasulullah SAW memerintahkan untuk menggunakan Manjanik (seperti ketapel besar) dalam penyerangan ke sebuah desa atau pemukiman yang dijadikan benteng pertahanan padahal di dalamnya terdapat warga sipil, maka itu adalah kebijakan Rasulullah SAW selaku Panglima tertinggi pasukan dan itu juga adalah wewenang pemimpin tertinggi Negara. Sekiranya tiada perintah dari Panglima tertinggi pasukan maka perajurit dilarang untuk melakukan apa-apa tindakan yang akan membahayakan warga sipil sesuai larangan yang berlaku di dalam Jihad Perang (peperangan). Pastinya, selaku pemimpin tertinggi pasukan telah mempertimbangkan persoalan dengan matang menurut hukum syar’ie dan hukum manusiawi bahwa yang akan diselesaikan membawa keuntungan kepada pasukan sendiri. Bayangkan bagaimanakah kacaunya pertempuran sekiranya setiap perajurit atau orang yang bukan pada level Pemimpin membuat kebijakan seperti wewenang pemimpin tertinggi? Kesimpulan Rasulullah SAW tidak pernah mempersiapkan kekuatan pasukan untuk merebut atau menguasai suatu wilayah bagi mendirikan Negara Islam. Rasulullah SAW mendapatkan negara (Madinah) adalah karena diundang oleh penduduk Madinah yang telah beriman dengannya yang mengajak berpindah (hijrah) ke Madinah. Lalu kemudian dengan dakwah Rasulullah SAW menjadikan mayoritas penduduk Madinah menganut agama Islam, terutama, kabilah suku Aus dan Khazraj. Setelah Allah SWT memberi karunia sebuah wilayah (Madinah) dan ternyata mendapat tantangan dari pihak yang tidak menyukainya, barulah Allah SWT mensyariatkan jihad perang kepada kaum Muslimin untuk mempertahankan apa

yang telah Allah Munawwarah.

karuniakan

kepada

mereka

yaitu

Negara

Islam

Madinah

Jika sebuah wilayah yang menjadi hak kaum Muslimin belum diperoleh maka Allah SWT belum mensyariatkan Jihad Perang, dan jika memang jihad perang adalah untuk mendapatkan sebuah wilayah yang dikuasai kaum Muslimin maka mengapa Allah SWT tidak mensyariatkan jihad Perang ketika masih di Makkah (sebelum terjadinya peristiwa hijrah)?? Semua perjalanan kehidupan Rasulullah SAW mempunyai hikmah yang menjadi perkara yang harus dikaji dan dipelajari sehingga penerapan nilai-nilai Islam dan juga memperjuangkan dakwah Islam sesuai dengan ketentuan syariat. Pada 28 kali ghozwah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW bukanlah untuk menghancurkan agama lain, sekali lagi bukan itu tujuan Rasulullah SAW. Akan tetapi 28 kali ghozwah itu adalah langkah pengamanan bersiri yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama pasukan Muslimin untuk membela Agama Islam dan Negara dari ancaman musuh. Di antara sela-sela 28 kali ghozwah itu, Rasulullah SAW juga ada melakukan perjanjian damai terhadap kabilah-kabilah yang bukan Islam. Kalau memang misi utama Rasulullah SAW memimpin langsung pasukan tempur adalah untuk menyerang kaum kafir dan musyrik (non Muslim) yang tidak memeluk agama Islam, lalu mengapa Rasulullah SAW mengadakan kesepakatan mengikat perjanjian damai dengan kabilah-kabilah yang non-Muslim? Mengapa Rasulullah SAW membiarkan pasukan musuh pergi meninggalkan Madinah setelah musuh menyerahkan diri dan mengakui kekalahan? Mengapa Rasulullah SAW menerima tebusan dari kabilah musuh yang datang untuk membebaskan para tawanan? Dalam keadaan mereka masih tetap menganut agamanya yang bukan Islam !!! Maka jika demikian sangat berlawanan sekali, dan sangat tidak benar jika ada yang menjadikan dalil 28 Ghazwah (pertempuran) yang dipimpin oleh Rasulullah SAW adalah bertujuan memerangi orang-orang musyrik atau non-Muslim ! Biarpun sesudah turun surah At-Taubah (Al-Bara’ah), masih juga terdapat orangorang musyrikin yang tetap dalam agama asal mereka, tetapi tidak dibunuh oleh Rasulullah SAW. Itu adalah disebabkan karena ketika sesudah habis tempo 4 bulan yang diberikan, masa perjanjian damai yang ada padanya masih berlaku dan dibenarkan di dalam syariat untuk memperpanjangkan tempo perjanjian damai tersebut pada praktek di waktu itu. Begitu juga selama tenggang waktu 28 kali ghozwah terdapat beberapa kaum Yahudi di Madinah, namun Rasulullah SAW membiarkan sehinggalah mereka melanggar perjanjian damai yang diketahui berniat memerangi kaum Muslimin. Maka Rasulullah SAW memerangi kaum Yahudi itu bukan karena mereka beragama Yahudi, tetapi karena mereka sudah bersiap sedia untuk memerangi kaum Muslimin.

Bab 11 Keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah

MULANYA, saya merasa tabu untuk tidak aktif dari jamaah Al-Jamaah Al-Islamiyah
(JI) ini dan bahkan saya adalah orang yang selalu memberikan motivasi kepada anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk tetap istiqomah di dalam jamaah. Walaupun berbagai konflik dan perselisihan yang terjadi di tingkat pimpinan, namun saya tetap menjaga keutuhan kesatuan di antara anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah khususnya yang berada di dalam lingkungan wilayah Mantiqi Tsalis (III). Terlebih lagi posisi saya selaku ketua Mantiqi Tsalis (III) yang bertanggungjawab untuk menjaga kelestarian organisasi. Setiap informasi yang saya dapatkan dari senior seperti Ust. Mustapha, Ust. Abu Rusdan, Ust. Abu Fateh dan beberapa senior lain tentang keadaan dan perkembangan dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah saya tampung dan berusaha menetralkan di tingkat bawahan di Mantiqi Tsalis (III). Ini semua saya lakukan agar para anggota tidak bingung dengan apa yang terjadi dalam kepengurusan Al-Jamaah Al-Islamiyah di tingkat pimpinan. Usaha saya itu ada batasnya, sebagaimana usaha para senior saya yang mencoba tetap istiqomah namun di antara mereka ada yang telah meninggalkan Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan cara mengasingkan diri. Artinya, mereka non aktif walaupun lidahnya tidak pernah mengatakan keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah. Fenomena non-aktif ini bermula sejak wafatnya Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah yang pertama yaitu Ust. Abdul Halim atau dikenal dengan nama Ust. Abdullah Sungkar sekitar akhir tahun 1999. Menurut seorang senior yang menceritakan kepada saya bahwa Ust. Abdul Halim wafat dalam keadaan sedang tidur di sela-sela waktu istirahat menunggu sesi rapat Markaziyah pada jam berikutnya. Setelah mengurusi proses pemakaman beliau lalu para senior mulai membicarakan tentang Amir yang berikut, sebagai penggantinya. Dalam proses pemilihan calon Amir terjadi perbedaan pendapat yang akhirnya memilih Ust. Abdus Somad (Ust.Abu Bakar Ba’asyir). Senior yang menceritakan kepada saya itu tidak menceritakan bagaimana proses pengangkatan Ust.Abu Bakar Ba’asyir. Sementara dari sisi lain ada di antara senior dan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di tingkat pimpinan pada waktu itu yang kurang setuju dengan pengangkatan Ust. Abu Bakar Ba’asyir selaku Amir, sehingga terjadi keluhan dan pembicaraan di belakang yang kurang enak didengar. Apa yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa inilah pertama kali saya sangat terkesan ketika mendengar perselisihan di kalangan pimpinan, padahal pada waktu itu sekitar akhir tahun 1999 saya berada di Sandakan Sabah Malaysia. Secara pribadi saya tidak setuju dengan sikap anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah baik anggota biasa ataupun pimpinan yang tidak setuju dan mempergunjingkan atas pengangkatan Ust. Abu Bakar Ba’asyir selaku Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Hal tersebut menjadi pertanyaan saya, yang seharusnya bagi anggota Al-Jamaah AlIslamiyah siapapun dia harus menerima keputusan tersebut, dengar dan taat dalam keadaan suka atau tidak, dan harus membantu menjalankan tugasnya. Karena jabatan Amir tersebut bukan keinginan Ust. Abdus Somad serta bukan ambisinya. Saya menyesali dengan perselisihan ini karena saya teringat akan firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:

‫إن َاﺹﺒ ُوا ِﻳﺤﻜﻢ وﺕﺬهﺐ ﻓﺘﻔﺸُﻮا ﺕ َﺎز ُﻮا َﻻ ور ُﻮﻟﻪ اﻟﻠﻪ وأ ِﻴ ُﻮا‬ ‫ِ َ و ْ ِﺮ ر ُ ُ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َﻠ َﻨ َﻋ و َ َﺳ َ ُ َ َ ََﻃ ﻌ‬ ّ ّ ‫اﻟﻠﻪ‬ ََ ّ ‫ﻣﻊ‬ ََ ‫اﻟ ّﺎﺑ ِﻳﻦ‬ َ ‫ﺼ ِﺮ‬ َ
Artinya: “Daan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantahbantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46) Peristiwa yang lain ketika Ust.Abu Bakar Ba’asyir diangkat menjadi Amir yaitu pimpinan tertinggi bagi organisasi Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) pada bulan Agustus 2000. Di sini dari kalangan tingkat pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah terpecah menjadi dua yaitu kepada yang setuju dengan keterlibatan Ust. Abu Bakar Ba’asyir di dalam MMI dan pihak yang tidak setuju. Pihak yang tidak setuju meminta Ust. Abu Bakar Ba’asyir untuk segera menarik balik kesediaannya menjabat selaku Amir Majlis Mujahidin Indonesia, sementara Ust. Abu Bakar Ba’asyir tidak ingin melakukan demikian. Terjadilah perselisihan tentang status Amir beliau selaku Amir Al-Jamaah AlIslamiyah atau Amir Majlis Mujahidin Indonesia. Pada asalnya beliau bersedia mundur dari jabatan Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah tetapi di antara pimpinan dan senior tidak menginginkan Ust. Abu Bakar Ba’asyir meletakkan jabatannya tersebut, sehingga sempat mengancam akan keluar dan tidak aktif di dalam Al-Jamaah AlIslamiyah seandainya Ust.Abu Bakar Ba’asyir dihentikan jabatannya. Untuk menjaga keutuhan organisasi maka Ust. Abu Bakar Ba’asyir mengambil keputusan untuk tetap sebagai Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah dan dalam waktu yang sama juga ia adalah Amir Majlis Mujahidin Indonesia. Dalam melaksanakan kuwajibannya ternyata Ust. Abu Bakar Ba’asyir menghadapi kesulitan memimpin dua organisasi yang besar, sehingga beliau menunjuk Ust. Zulkarnain sebagai Pelaksana Tugas Amir Al-Jamaah Al-Islamiyah. Kemudian digantikan oleh Ust. Abu Rusdan pada April 2002 dalam pilihan langsung di sebuah rapat Markaziyah yang diadakan di Bogor, Indonesia. Sementara Amir Al-Jamaah AlIslamiyah tetap Ust. Abu Bakar Ba’asyir sampai ditentukan adanya pergantian Amir yang baru. Posisi Ust. Abu Bakar Ba’asyir selaku Amir Majlis Mujahidin Indonesia adalah bibit bencana di dalam tubuh Al-Jamaah Al-Islamiyah. Sebab, pada saat itu loyalitas anggota kepada pimpinan menjadi hilang lalu mereka keluar dari jamaah (Al-Jamaah Al-Islamiyah). Ada beberapa senior yang mengundurkan diri karena merasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh Ust. Abu Bakar Ba’asyir. Sebagian dari kalangan senior mengikuti langkah Ust. Abu Bakar Ba’asyir menjadi anggota Majlis Mujahidin Indonesia, dan bahkan ada di antara mereka yang dengan tega mengeluarkan pernyataan bohong dengan mengatasnamakan Ust. Abu Bakar Ba’asyir memerintah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk ikut menjadi anggota Majlis Mujahidin Indonesia, padahal Ust. Abu Bakar Ba’asyir tidak pernah mengeluarkan perintah tersebut. Kebingungan terjadi di kalangan anggota bawahan melihat tingkah laku para pimpinan mereka yang berbeda sikap. Akibatnya, perpecahan dan ketidakpercayaan muncul di kalangan anggota AlJamaah Al-Islamiyah, terutama di wilayah Mantiqi Tsani (II). Ada di antara anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang masuk menjadi anggota MMI, ada di antara anggota yang tetap bersama Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dan ada di antara mereka yang tidak

lagi ingin bersama Al-Jamaah Al-Islamiyah, apalagi menjadi anggota MMI, karena kecewa dengan sikap Ust. Abu Bakar Ba’asyir dan sebagian senior serta pimpinan AlJamaah Al-Islamiyah yang ikut MMI. Malah di antara mereka ada yang mengatakan bahwa, “Sekarang kita tidak perlu berjamaah dan berjihad tidak perlu ikut jamaah, siapapun yang ingin berjihad dapat gabung bersama.” Anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lepas kendali dan mengambil sikap sendiri ini akan bergabung dengan orang-orang yang mereka anggap punya faham dan misi yang sama. Maka tidak mustahil seandainya anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah bersama-sama dengan anggota NII atau bersama dengan anggota-anggota dari kelompok Wahdah Islamiyah, Jundullah, Kompak dan MMI. Hubungan ini bukan antara kelompok atau.organisasi (Jamaah) tetapi hubungan antar personal. Kebingungan dan kemarahan dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah baik dari tingkat pimpinan hingga ke tingkat bawahan kembali terjadi ketika peristiwa bom pada malam Natal tahun 2000. Karena di antara yang terlibat di dalam aksi pemboman itu terdiri atas anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dan anggota NII yang dipengaruhi dan diajak oleh Hambali. Hambali telah mempengaruhi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di wilayah Mantiqi Tsani (II) dan anggota NII untuk melakukan tindak balas pada umat Kristen yang diyakininya telah melakukan penyerangan terhadap umat Islam di Ambon. Hambali berniat membangkitkan konflik nasional antara agama Islam dan Kristen se Indonesia, sebagai pembalasan dengan apa yang terjadi di Ambon. Tindakan Hambali tersebut membuat anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain, terutama di kalangan pimpinan Mantiqi Tsani (II), tidak dapat membendung beberapa anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang secara diam-diam telah bergabung dengan kelompok-kelompok kecil yang dibentuk oleh Hambali. Lebih dari 30 gereja di seluruh Indonesia menjadi sasaran pemboman pada malam Natal tahun 2000 itu. Pada dasarnya kemarahan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di Mantiqi Tsani (II) terhadap Hambali dan orang-orang yang bersamanya adalah karena Hambali telah melakukan kesalahan yang dilarang oleh Nabi Muhammad SAW, merusak tempat ibadah agama lain dan melukai serta membunuh orang sipil. Akibat dari tindakan Hambali itu secara organisasi telah merusak sistem di Mantiqi Tsani (II), di mana Hambali ketika itu adalah Ketua Mantiqi Ula (I) telah berbuat sesuatu di wilayah dakwah Mantiqi Tsani (II). Akibat yang kedua dari tindakan Hambali itu telah menabur doktrin di kalangan orang-orang yang bersamanya dengan prasangka buruk serta membenci anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang dikatakan tidak mahu berjihad karena tidak mahu mengikuti faham jihad Hambali yang membenci orang Kristen. Inilah bibit-bibit perpecahan di Mantiqi Tsani (II). Kekacauan bertambah lagi di tubuh Al-Jamaah Al-Islamiyah ketika pemerintah Malaysia melakukan penangkapan terhadap mereka yang melakukan perampokan atas nama Jihad pada pertengahan tahun 2001. Hasil dari pemeriksaan polisi Malaysia menghasilkan sebuah jaringan yang dipimpin oleh Hambali yang berencana melakukan beberapa operasi di Malaysia dan Singapura. Sekali lagi Hambali melibatkan beberapa anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah dan orang-orang dari kelompok lain seperti NII dan KMM (Kumpulan Mujahidin Malaysia) di Malaysia. Begitu juga selanjutnya penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia dan Singapura pada akhir tahun 2001. Kekacauan dan ketakutan melanda anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di Malaysia dan Singapura yang mengakibatkan sebagian mereka bersembunyi atau melarikan diri ke Thailand atau ke Indonesia.

Sementara bagi yang belum begitu dikenali sebagai anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah mengambil sikap berbaur dengan masyarakat dan menjauh dari lingkungan AlJamaah Al-Islamiyah, dalam arti kata keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah. Dalam keadaan pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah di Mantiqi Tsani (II) sibuk mengamankan anggota Mantiqi Ula (I) warganegara Malaysia dan Singapura yang lari dari negara mereka, ternyata terjadi sesuatu yang memperburuk lagi keadaan, yakni, peristiwa Bom Bali. Pemerintah Indonesia yang pada awalnya menyangkal warganya terlibat dengan kelompok teroris di Singapura dan Malaysia, seperti pernyataan mantan wapres Hamzah Haz, menjadi terbuka dengan kejadian Bom Bali pada 12 Oktober 2002. Sekali lagi anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah di Mantiqi Tsani (II) menjadi marah dengan peristiwa tersebut, sebab kejadian besar itu mengulangi peristiwa Bom di malam Natal tahun 2000. Hanya pelaku Bom Bali saja yang tahu siapa-siapa dari mereka yang berencana dan melakukan aksi pemboman itu. Sementara kebanyakan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang lain tidak mengetahui dan merasa was-was dan khawatir kalau-kalau di antara mereka menjadi tertuduh karena pernah ke Afghanistan atau ke Mindanao, Filipina, padahal mereka tidak pernah berniat untuk mencelakakan orang-orang awam atau sipil. Ketika para pelaku Bom Bali itu datang meminta perlindungan dari orang-orang yang mereka kenal yang di antaranya adalah anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah, hanya sebagian kecil yang menerima untuk melindungi. Sebagian besar justru menolak untuk membantu melindungi sampai-sampai ada yang mengatakan, “Mereka yang (Maaf..) berak kita yang membersihkan?” Ada di antara mereka yang menutup pintu tidak mau menerima kedatangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah karena merasa curiga dengan setiap orang. Ada yang meminta perlindungan tetapi terang-terangan ditolak dan menyarankan cari yang lain saja. Akibat dari operasi Polisi Indonesia mengungkap para pelaku pemboman Bali, terjadilah penangkapan-penangkapan pelaku Bom Bali dan orang-orang yang melindungi mereka, sampai-sampai disangkakan bahwa Polri ingin menangkap semua orang yang terlibat di dalam organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah sebagaimana nama Jamaah Islamiyah telah tercatat masuk di dalam daftar PBB nama-nama kelompok Teroris. Termasuk akibat dari peristiwa Bom Bali adalah dapat diketahui Mukhlas (Ali Ghufran) selaku ketua Mantiqi Ula (I), dana yang diterima dari Wan Min Wan Mat selaku Ketua Wakalah Johor, Wan Min sendiri menerima perintah tersebut dari Hambali (mantan Ketua Mantiqi Ula), Imam Samudra anggota wakalah Selangor, Amrozi anggota wakalah Johor, Azahari anggota wakalah Johor dari informasi Polisi yang didapatkan dari anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang tertangkap di Malaysia dan Singapura. Dengan informasi tersebut telah membuat kecurigaan akan keterlibatan Al-Jamaah Al-Islamiyah di balik Bom Bali. Tetapi, apakah semua anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah mengetahui perencanaan Bom Bali itu? Bahkan sebenarnya kebanyakan tidak setuju dan membenci terjadinya kejadian Bom di Bali serta aksi-aksi yang mencelakakan orang awam. Anggapan saya bahwa Mukhlas, Imam Samudra dan orang-orang yang bersamanya dari pelaku Bom Bali tidak mewakili Al-Jamaah Al-Islamiyah, kecuali di luar pengetahuan saya kalau memang itu direncanakan oleh Al-Jamaah Al-Islamiyah.

Gara-gara diketahui latar belakang para pelaku Bom Bali, sempat menjadi sorotan serta isu bahwa Al-Jamaah Al-Islamiyah di balik peristiwa Bom Bali. Akibatnya semua kegiatan dakwah Al-Jamaah Al-Islamiyah menjadi terhenti dan anggotaanggotanya menghindar dari aktivitas dakwah atau pembinaan yang berkelompok. Orang-orang yang merasa dekat atau pernah bersama dengan orang-orang yang termasuk daftar pencarian polisi, mengambil sikap berpindah tempat atau menyembunyikan diri dan mengganti nama serta identitas. Kecurigaan antara sesama anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah menjadi semakin meningkat yang asalnya saling percaya menjadi saling curiga. Bom Bali telah merusak hubungan antara sesama anggota dan merusak kegiatan dakwah, demikian lah yang dianggap kebanyakan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah sekarang ini. Mereka lebih cenderung mengambil sikap sendiri-sendiri, di antaranya tidak mengikuti kegiatan pengajian perkumpulan, menjadi anggota ormas Islam lain, dan seterusnya. Gara-gara sikap dan tindakan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah sendiri telah mencemarkan nama organisasi dan menyusahkan anggota yang lain. Bukan saya yang pertama kali membuka nama Al-Jamaah Al-Islamiyah tetapi akibat perbuatan mereka (yang terlibat dengan aksi kekerasan di Malaysia, Singapura dan Indonesia) telah memunculkan nama Al-Jamaah Al-Islamiyah, yang selanjutnya menambah jumlah daftar nama-nama kelompok teroris di PBB. Sementara saya hanya melanjutkan dengan memberi penjelasan dengan sejelas-jelasnya tentang AlJamaah Al-Islamiyah supaya masyarakat umum, terutamanya umat Islam, mengetahui apa sebenarnya Al-Jamaah Al-Islamiyah. Saya tidak ingin dan tidak tega umat Islam diberi informasi yang tidak benar atau pun yang dusta. Kekacauan di dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah saya ketahui dari satu peristiwa ke satu peristiwa yang lain membuat saya ingin mundur sebagai anggota maupun pengurus. Tetapi saya membatalkan niat saya itu dengan mencoba berusaha untuk menjaga anggota-anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang ada di dalam wilayah dakwah Mantiqi Tsalis (III) agar tidak terpengaruh dengan melakukan sesuatu yang mencelakakan orang awam atau melakukan sesuatu yang dianggap Jihad padahal bukan Jihad. Namun sebagai manusia biasa saya punya keterbatasan. Singkat cerita, akhirnya saya tertangkap di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, pada 18 April 2003 dalam sebuah operasi pencarian pelaku Bom Bali oleh pihak Polisi RI (Polri). Berdasarkan informasi yang dimiliki Polri, saya tidak terlibat dalam peristiwa pemboman di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Tetapi, oleh karena saya adalah salah satu anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah maka saya diperiksa sehubungan pengetahuan saya mengenai peristiwa Bom Bali sebagaimana anggota Al-Jamaah AlIslamiyah yang lain. Karena saya adalah warganegara Malaysia yang menggunakan identitas palsu dan memasuki Indonesia tanpa pasport, maka saya harus ditahan yang kemudian saya diadili di Pengadilan Negeri Palu dan dijatuhi hukuman 10 bulan. Hukuman itu berakhir pada 18 Februari 2004. Saya menyadari bahwa saya harus ikut serta dalam menghentikan aksi-aksi kekerasan yang bertentangan dengan Islam. Dan saya harus jelaskan kepada pihak kepolisian bahwa tidak semua alumni Afghanistan dan Filipina adalah orang yang berfikiran seperti pelaku Bom Bali. Hal yang paling utama dan paling penting yang ingin saya ungkapkan di sini adalah tidak sependapatnya saya dengan faham yang diyakini oleh beberapa orang dari

anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang telah menyimpang dari tuntunan Islam dengan melakukan aksi penyerangan dan pemboman atas orang-orang awam. Di antara mereka terdiri dari kalangan pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah dan juga dari kalangan anggota biasa. Pemahaman dan keyakinan berperang dalam Islam yang disalahartikan menjadi bentuk penyerangan terhadap orang-orang yang bukan musuh Islam. Aksi pemboman yang terjadi pada malam Natal tahun 2000, pemboman Bali, pemboman Hotel JW Marriott dan pemboman di depan Kedubes Australia adalah akibat dari orang-orang yang mempunyai kefahaman yang sama dengan Imam Samudra, yaitu memerangi orang-orang non-Muslim tanpa batas, sebagaimana telah kita bahas. Pemahaman menghalalkan darah dan harta non-Muslim tanpa alasan yang hak telah menyebabkan umat Islam keliru dan sesat. Pemahaman ini telah mempengaruhi kegiatan Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan mengakibatkan misi dakwah Islamiyah yang dilakukan mengarah kepada tujuan membawa umat Islam membenci non-Muslim dan memerangi mereka. Padahal Syariat Islam bukanlah seperti itu yang digambarkan oleh Imam Samudra dan orang-orang yang sefaham dengannya. Keluarnya saya dari Al-Jamaah Al-Islamiyah bertujuan ingin menyelamatkan umat Islam, sebatas kemampuan saya, agar tidak terpengaruh dengan faham yang keliru, dan agar umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya tidak menjadi sasaran pemboman dan penyerangan yang dilakukan tanpa alasan syar’i dan manusiawi. Kebiasaan anggota yang keluar dari organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah bermula dengan tidak bersikap aktif mengikuti acara pengajian atau kegiatan sosial yang lain. Dengan kata lain, berhenti mengikuti apa saja kegiatan dakwah atau acara bersama yang diadakan oleh organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Apakah alasan mereka yang sebenar menjadi tidak aktif, saya tidak mengetahuinya, namun sudah sekian banyak orang sebelum saya yang mengambil keputusan keluar, yang pastinya dengan berbagai alasan pribadi dan keyakinan. Ada juga penyebab di mana anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah masuk ke dalam organisasi Islam yang lain sehingga kesibukannya di dalam organisasi Islam itu menjadikannya tidak lagi tertarik dengan program atau kegiatan yang diadakan oleh organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ada hal yang saya tidak setuju tentang pemahaman sebagian anggota Al-Jamaah AlIslamiyah yang mencela mereka yang keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah. Ini karena mereka sudah pernah menyatakan (membuat pengakuan) baiat, seolah-olah menakut-nakuti orang yang tidak aktif lagi dalam Al-Jamaah Al-Islamiyah. Seseorang yang telah berbaiat dan menyatakan kesediaannya untuk mematuhi inti dari isi baiat (baca baiat bab Al-Jamaah Al-Islamiyah) akan selamanya diminta pertangungjawaban tentang baiat yang telah diucapkannya. Pertanggungjawaban itu bukan hanya akan dipertanyakan di dunia tetapi akan ditanya juga dihadapan Allah SWT. Karena keyakinan yang diberikan dan difahamkan bahwa baiat amal (kesetiaan beramal) yang diucapkan seseorang itu ketika berbaiat kepada Amir Al-Jamaah AlIslamiyah (atau kepada orang yang diwakilkan) adalah baiat yang disaksikan oleh Allah SWT, seperti yang selalu diingat-ingatkan oleh pimpinan dan para pendakwah Al-Jamaah Al-Islamiyah dengan dalil dari ayat Al-Quran;

‫ﻓﺈﻥ َﺎ ﻥﻜﺚ ﻓﻤﻦ أﻳ ِﻳﻬﻢ ﻓﻮق اﻟﻠﻪ ﻳﺪ اﻟﻠﻪ ﻳ َﺎﻳ ُﻮن إﻥ َﺎ ﻳ َﺎﻳ ُﻮﻥﻚ اﻟ ِﻳﻦ إن‬ َ ِ َ ‫َ ِ َﻤ َ َ َ َ َ ْ َ ْﺪ ِ ْ َ ْ َ َ ِ َ ُ َ َ ُﺒ ِﻌ َ ِ َﻤ ُﺒ ِﻌ َ َ َﺬ‬ ّ ّ ّ ّ ّ ّ ‫ﻋ ِﻴ ًﺎ أﺟ ًا ﻓﺴﻴﺆ ِﻴﻪ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ َﺎهﺪ ﺑ َﺎ أو َﻰ وﻣﻦ ﻥﻔﺴﻪ ﻋ َﻰ ﻳﻨﻜﺚ‬ ُ ُ ْ َ ‫َﻈ ﻤ َ ْﺮ َ َ ُ ْﺕ ِ َ َ َ َ ْ ُ ﻋ َ َ ِﻤ َ ْﻓ َ َ ْ َ ْ ِ ِ َﻠ‬ ّ
Artinya: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Al-Fatah: 10) Tiada salahnya pada ayat Al-Quran di surah Al-Fatah itu, maha benarlah apa yang telah termaktub di dalam Al-Quran yang menegaskan tindakan Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabatnya dalam peristiwa Baiatur Ridwan. Silahkan lihat tafsirnya di buku-buku tafsir, apa yang ingin saya katakan adalah bahwa ayat ini seringkali digunakan bagi memperingatkan para anggota organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah untuk tetap setia mentaati kepimpinan. Yaitu dalam arti kata adalah untuk kepentingan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Padahal tafsir ayat itu bermaksud kepada kepimpinan tertinggi kaum Muslimin keseluruhan yaitu kepada seorang yang berstatus Nabi atau Khalifah bukan kepada pimpinan jamaah atau pimpinan kelompok. Lebih parahnya lagi ada di antara pimpinan dan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang berfaham bahwa keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah berarti keluar dari Islam. Berdasarkan dari hadis yang dipakai untuk mengingatkan anggota jamaah supaya tetap menjaga ketaatan dan kesetiaan. Padahal hadis ini adalah bermaksud kepada pimpinan tertinggi kaum Muslimin seperti seorang Nabi atau Khalifah, bukan kepada pimpinan organisasi atau Al-Jamaah Al-Islamiyah. Artinya: “Barangsiapa yang telah melepaskan ketaatan pasti akan bertemu Allah SWT (pada hari Akhirat) dalam keadaan berdosa, dan barangsiapa yang tiada ikatan baiat (pada dirinya) maka matinya nanti dalam keadaan mati jahiliyah.” (Hadis Riwayat Muslim: 1443) Keyakinan seperti ini, meskipun pada dasarnya keliru, tapi membuat sebagian umat Islam dapat dirangkul dan direkrut serta dimanfaatkan hanya dengan memberi peringatan yang mengancam kehidupannya di dunia dan di akhirat berdasarkan hadis ini. Mereka takut dianggap kafir atau mati dalam keadaan kafir atau jahiliyah. Maka bagi siapa yang sangat berharap akan kesempurnaan hidup dalam Islam tanpa mendahulukan ilmu, pasti tertarik untuk melakukan baiat demi mengharap kesejahteraan hidupnya di Akhirat nanti, karena ia mendahulukan taklid buta setelah tertegun dengan orang yang menyampaikan hadis tersebut. Saya dapati perjuangan anggota-anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah sudah tidak murni untuk kemaslahatan umat dan kemaslahatan Islam. Perjuangan di balik kebohongan dan tanpa punya keberanian untuk menyatakan kebenaran yang sebenar. Prinsip Tandzim Sirri (organisasi rahsia) telah membuat anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah menjadi penakut untuk berkata jujur dan dengan sengaja membiarkan umat Islam yang jumlahnya ratusan juta di Indonesia, Malaysia dan Singapura dalam kebingungan dengan sikap perilaku orang Islam sendiri. Perjuangan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah yang keliru dalam pemahaman Jihad itu bukan lagi untuk menghilangkan 'fitnah', tetapi perjuangan mereka adalah mendatangkan 'fitnah', dan perjuangan mereka menimbulkan 'fitnah' kepada

umat

Islam.

Perhatikan

hadis

berikut

ini;

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata: Rasulullah SAW mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi SAW. Rasulullah SAW bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah SAW bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang Muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: "Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah". Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang. agar timbul fitnah. (Hadis Sohih Bukhari dan Muslim) Yaitu 'fitnah' kepada Agama Islam, yang Islam adalah agama yang sadis dan kejam SWT, serta menyesatkan segelintir umat Astaghfirullah menyebabkan non-Muslim menganggap terhadap sesama makhluk ciptaan Allah Islam dengan faham Jihad mereka… al adzim…

Ya Allah aku berlepas diri dari segala kezaliman yang mereka lakukan terhadap hamba-hamba-Mu. Ya Allah ampunilah kami, bimbinglah kami dan tunjukilah kami jalan yang lurus.

Artinya “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orangorang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Mumtahanah: 5) Marilah kita bersama-sama menjelaskan misi dakwah Islam yang benar dan membongkar kesesatan faham yang diyakini oleh anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah seperti Imam Samudra dan kawan-kawannya. Saya mengimbau dan menyerukan kepada semua teman-teman dan semua orangorang yang masih mempunyai niat untuk melakukan aksi pemboman dengan sasaran apapun dan siapapun, agar dihentikan dan segera bertaubat kepada Allah SWT. Seruan saya ini adalah seruan yang mengharapkan keselamatan dan kebersamaan antara sesama Muslim, agar Islam benar-benar diamalkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Dan juga agar martabat Islam segera kembali disegani dan dimuliakan karena persatuan dan kebersamaan antara sesama umat Islam serta kesefahaman yang satu terhadap Islam. Wallahu 'alarn bis sowab

‫اﻟﺤ ِﻴﻢ اﻟﻌ ِﻳﺰ أﻥﺖ إﻥﻚ رﺑ َﺎ ﻟ َﺎ اﻏﻔﺮو آﻔ ُوا ﻟﻠ ِﻳﻦ ﻓﺘﻨﺔ ﺕﺠﻌﻠ َﺎ ال رﺑ َﺎ‬ ‫َ َﻨ‬ ّ ‫ْ َﻜ ُ ْ َﺰ ُ َ ْ َ ِ َ َ َ َﻨ َﻨ ْ ِ ْ َ َ َﺮ ِ َﺬ َ ِ ْ َ ً َ ْ َ ْﻨ‬ ّ ّ ّ

Tentang Penulis

NASIR Abas adalah warganegara Malaysia yang lahir di Singapura, pada 06 Mei
1969. Putra keenam –dari sembilan bersaudara– ini lahir dari Ibu Saemah yang bersuamikan Abas. Pendidikan dasar sampai kelas 2 ditempuhnya di Singapura, lalu dilanjutkan di Johor Bahru, Malaysia, hingga kelas tiga Sekolah Menengah. Setelah itu melanjutkan pendidikan agama di Maahad Ittiba'us Sunnah di Kuala Pilah, sekitar dua tahun setengah. Pada akhir tahun 1987, Nasir mendapat pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, milik Mujahidin Afghan, selama tiga tahun. Setelah lulus pendidikan, ia ditugaskan di Akademi Militer sebagai tenaga pelatih (instruktur) selama tiga tahun. Selama enam tahun bersama Mujahidin Afghan, di sela-sela pendidikan dan tugas melatih, ikut terlibat dalam pertempuran menentang tentara Rusia dan tentara pemerintah komunis Kabul. Selama dua tahun, akhir 1994 sampai akhir 1996, dengan Pejuang Bangsa Moro, Mindanao, Filipina membuka tempat latihan yang dinamakan Kamp digunakan untuk melatih Pejuang Bangsa Moro dan Islamiyah. Nasir ikut berjuang bersama Selatan. Bahkan ia sempat Hudaybiyah. Kamp tersebut para anggota Al-Jamaah Al-

Sebagai aktivis organisasi Al-Jamaah Al-Islamiyah dilakoninya sejak awal dibentuknya pada awal tahun 1993 hingga pertengahan tahun 2003. Selain bertugas sebagai pelatih (instruktur), Ketua Qirdas di bawah Wakalah Usman Bin Affan (sekitar Johor Bahru) pada awal tahun 1997, Ketua Wakalah Badar Al-Kubra di bawah Mantiqi Tsalis (III) pada akhir tahun 1997, dan menjabat Ketua Mantiqi Tsalis (III) sejak April 2001. Pada tanggal 18 April 2003 Nasir ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, oleh pihak Polri dalam rangka mengejar pelaku Bom Bali. Ia diadili di PN Palu, Sulawesi Tengah, dan divonis hukuman selama 10 bulan. Hukuman tersebut ia jalani dan berakhir pada 18 Februari 2004.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->