P. 1
Edisi 374

Edisi 374

|Views: 1,385|Likes:
Published by Hary Buana
Mingguan Medikom
Mingguan Medikom

More info:

Published by: Hary Buana on Jun 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2012

pdf

text

original

Simak Halaman Khusus

Satu Halaman Untuk Purwakarta - Subang dan Karawang

PURWASUKA
Halaman 5

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

Media Komunikasi Masyarakat Transparan Kom omunikasi Masyarakat ansparan araka

Tepat & Perlu

HARGA ECERAN Rp2.500,- LUAR JAWA + Ongkos Kirim

Penduduk Miskin di Jabar Masih Cukup Besar
Selengkapnya baca Halaman 3

Listrik Naik, Harga Membumbung Tinggi
Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 6-20% mulai Juli mendatang telah menimbulkan keresahan. Walaupun kenaikan ini tidak diberlakukan untuk pelanggan golongan 450 VA-900 VA, namun dipastikan kenaikan TDL akan berdampak luas. Terutama akan diikuti membumbungnya hargaharga kebutuhan pokok masyarakat.
Bukan itu saja, di dunia industri kenaikan juga dikhawatirkan berdampak pada kegiatan ekonomi, terutama bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah. Dipastikan kenaikan ini sangat memberatkan dan bisa berdampak besar yang bisa menjadi gelombang yang mematikan, yang akhirnya bermuara pada pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi buruh dan karyawan di sektor ini. Anehnya kebijakan pemerintah ini tidak memberikan dispensasi bagi dunia usaha sektor usaha mikro kecil dan menengah. Padahal cost produksi yang dikeluarkan pengusaha kecil dan menengah untuk biaya listrik cukup signifikan dalam roda usaha mereka. Menanggapi keputusan pemerintah menaikkan harga tarif dasar litrik, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi yang dihubungi koran ini menganggap, kebijakan pemerintah menaikkan TDL secara terbatas untuk konsumen tertentu dengan alasan alokasi subsidi belum tepat. Karena kebijakan itu tidak berpihak pada kepentingan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Semestinya, kata Tulus, sebelum menaikkan TDL, pemerintah perlu mengkaji implikasi akibat kebijakan itu serta melakukan langkah-langkah penanggulangannya. Bagaimanapun, kata Tulus, kenaikan TDL akan melahirkan pembengkakan kepada seluruh sektor produksi yang tentu akan mengakibatkan kenaikan ongkos produksi. “Bisa dibayangkan akibat multy plier effect-nya pada daya beli masyarakat akan menurun, juga menurunkan tingkat investasi. Pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi,” kata Tulus. Tulus menilai, seharusnya pemerintah melakukan langkah mereformasi kinerja PT PLN secara keseluruhan, terutama untuk mengelola biaya sarana pembangkit, melepaskan ketergantungan biaya energi untuk listrik dari BBM solar. Bila itu sudah ditempuh akan muncul efisiensi. Berbagai kelemahan dan masalah dalam tubuh PT PLN mesti diperbaiki secara komprehensif. Sebab sampai kini, standar pelayanan PT PLN yang diberikan kepada konsumen masih jauh dari harapan. Terutama pemenuhan hak-hak dasar konsumen terkait masih adanya pemadaman bergilir juga belum bisa diperbaiki. Padahal, hal-hal seperti itu, kata Tulus adalah hak-hak dasar konsumen secara normatif. “Pemenuhan hak-hak dasar normatif konsumen semestinya lebih menjadi perhatian pemerintah,” kata Tulus. Hal lain yang menjadi fokus perhatian adalah persoalan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik yang tentu terkait biaya jualnya kepada konsumen. Persoalan efisiensi dan berbagai permasalahan yang menyelimutinya harus diurai terlebih dahulu hingga muncul efisiensi harga yang optimum, dalam biaya energi dan pasokan listrik. Persoalan lain, Tulus juga tidak sepakat adanya diskriminasi tarif dalam penggunaan kapasitas jaringan PLN. Yang akibatnya ada konsumen yang masih disubsidi pemerintah dan ada yang tidak. Hal ini, lanjutnya, bisa menimbulkan dampak buruk secara kehidupan sosial yang melahirkan kecemburuan. Yang akhirnya akan menimbulkan gejolak sosial karena dinilai tidak adil dan diskriminatif. Kenaikan TDL juga dikeluhkan kalangan dunia usaha. Ketua DPN Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Djimanto bisa memahami kebijakan pemerintah dalam menaikkan TDL. Dengan alasan untuk kepentingan pengurangan subsidi yang salah sasaran selama ini. Tetapi, kebijakan ini harus juga diikuti kebijakan terkait agar pertumbuhan ekonomi dan geliat investasi bisa terjaga. Pemahaman kalangan dunia usaha yang melihat subsidi hanya diberikan kepada konsumen kecil dengan tarif dasar penyesuaian harus ditempatkan pada kebijakan strategis makro ekonomi. Tapi jangan sampai kebijakan ini berakibat buruk pada sektor bisnis atau geliat investasi yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan rakyat. Djimanto juga mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan penyangga untuk menjaga laju seluruh sektor ekonomi dalam upaya menjamin daya saing produk nasional dalam pasar domestik maupun pasar internasional. “Kebijakan imbangan harus ditetapkan pemerintah dan disahkan DPR. Terutama pencabutan regulasi biaya perolehan energi listrik yang hingga saat ini serba bermasalah. Seperti tarif ganda, daya listrik maksimal, masih adanya surat keputusan bersama untuk menggerakkan business to business mengenai hibah jaringan,” kata Djimanto. Ia juga tidak membantah bila kebijakan pemerintah menaikkan TDL sebuah kebijakan final maka kebijakan pemerintah selanjutnya, menurut Djimanto, adalah menetapkan TDL untuk seluruh sektor produktif harus lebih rendah dibandingan TDL konsumen rumah tangga. Langkah ini supaya positif untuk menilai produksi dan kesejahteraan masyarakat. Kerisauan adanya kenaikan TDL ini juga dirasakan Menteri Perindustrian Mohammad

Pihak Berwajib Diminta Tindak Lanjuti Dugaan Suap

di hal 4

Jalan Pemda Ditelantarkan
CIAMIS, Medikom–Kondisi Jalan Pemda mulai dari kator Kecamatan Sidamulih Kabupaten Ciamis sampai Desa Cikalong sampai saat ini sangat memprihatinkan. Apalagi saat musim hujan, selain tampak seperti kubangan air layaknya kolam juga ada beberapa titik jembatan gorong-gorong yang sudah rusak. “Jalan Pemda sepanjang kurang lebih 5 km ini, belum juga adanya perbaikan seperti halnya jalan pemda lainnya yang tahun ke tahun mendapatkan perhatian,” celoteh pengemudi angkutan desa jurusan Pangandaran–Cikalong yang tidak mau disebutkan namanya kepada Medikom baru-baru ini. Pantauan Medikom, dari tahun 2004 sampai sekarang jalan pemda tersebut belum pernah diperbaiki oleh Dinas Binamarga, bahkan terkesan terabaikan. Buktinya, sudah empat tahun Pemerintah Desa Cikalong mengupayakan perbaikan jalan pemda ini dengan mengoordinasikan dari tahun ke tahun melalui musrenbangdes dan musrengbang kecamatan. Namun sampai saat ini belum ada titik terang akan perbaikan jalan tersebut. Menurut Kepala Desa Cikalong Maman Suparman, pemerintah desa jauh sebelumnya telah berupaya untuk menanggulangi perbaikan jalan tersebut agar bisa melancarkan roda perekonomian masyarakat. “Sampai-sampai dengan terbentuknya suatu perkumpulan Asosiasi Pengusaha Cikalong (APC) yang barubaru ini mengadakan musyawarah terkait penanggulanagan jalan pemda,” tuturnya. Alhasil, terkumpul 75 m3 batu dari hasil swadaya dan pembuatan gorong-gorong yang memakan anggaran. Maman menegaskan, kalau tidak ada upaya perbaikan dengan pasti, maka tahun yang akan datang roda masyarakat akan lumpuh. Maka dari itu, ia mengharapkan perbaikan jalan pemda

Bukan itu saja, di dunia industri kenaikan juga dikhawatirkan berdampak pada kegiatan ekonomi, terutama bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah.

Dana Hibah Bantuan Gempa Tidak Jelas Alokasinya
CIAMIS, Medikom– Karut marut dana bantuan gempa di Desa Bantardawa, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis menjadi perbincangan warga. Masalahnya, beberapa minggu ke belakang sekelompok warga diundang untuk acara sosialisasi penceceran dana gempa yang sudah cair.
Menurut salah seorang warga Dusun Bantardawa, Desa Bantardawa, dirinya dan masyarakat lainnya menghadiri acara sosialisasi yang dipimpin oleh sekretaris desa sekaligus pokmas tersebut, di balai Yandu Dusun Bantardawa. Sekdes mengatakan dirinya adalah pokmas bukan pamong desa. Di situ, dia menyosialisasikan dana bantuan yang telah dihibahkan oleh 35 orang penerima bantuan korban gempa. Alhasil terkumpul dana hasil hibah yang dipungut langsung oleh masing-masing pokmasnya senilai Rp2.100.000/penerima. Alasannya, untuk membantu warga yang rumahnya rusak dan tidak terdata di desa. Jumlah warga yang tidak terdata awalnya hanya 96 orang, akhirnya bertambah menjadi 278 orang. Namun demikian, ada beberapa warga yang menolak bantuan tersebut. “Saya menolak bantuan itu karena saya kurang mengerti dan rumah saya tidak rusak. Jadi kenapa harus menerima? Apalagi saya enggak mengerti dana yang dipungut sebanyak Rp2.100.000 dari 35 penerima itu, kan jumlahnya banyak kenapa yang disalurkan hanya 110.000.00/KK dari yang jumlahnya 278 KK. Bayangkan saja masih banyak sisa uang tersebut dan mau dikemanakan,” tuturnya kepada Medikom saat dikonfirmasi. Seorang warga penerima bantuan korban gempa juga mengakui telah dipungut sebesar Rp2.100.000. “Ini benar dan yang saya herankan kenapa anggotanya dipungut, sementara pokmasnya yang memungut enggak mengasih sama seperti saya. Ada permainan apa ini? Jangan-jangan dia nakal,” ujarnya kepada Medikom. Karena banyak kesimpangsiuran berita tersebut, Medikom mengkonfirmasi salah seorang anggota BPD melalui HP-nya. Dia pun membenarkan dan menyatakan dirinya mendapat bagian dana yang sebesar Rp110.000. “Namun saya menolaknya dikarenakan saya kurang setuju dan enggak mau dengan nilai uang tersebut, akan menjadi bumerang di akhir kemudian,” katanya kepada Medikom. Namun berbeda dengan AA, seorang pokmas sekaligus Sekdes di Desa Bantardawa. Hanya saja, saat dikonfirmasi melalui HP-nya, dia menyangkal pemberitaan itu. AA menegaskan bahwa semua itu tidak benar. Kepala Desa Bantardawa Hadri yang dijumpai Medikom di kantor Desa, Rabu (16/6) mengatakan, kepala desa tidak mempunyai kewenangan. Karenanya, tidak tahu menahu tentang adanya aturan. “Itu hasil kesepakatan mereka dengan para pokmas juga para ketua RT dan RW. Dan saya pun tidak tahu sisa uang tersebut dikemanakan dan untuk keperluan apa-apanya,” tutur Hadri. (Herman)

Ke Halaman 11

Material Proyek Bina Marga Provinsi Dipertanyakan
SUMEDANG, Medikom-Berbagai kegiatan proyek di lingkungan Balai Pengelolaan Jalan Wilayah IV pada Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, khususnya di wilayah kerja Kabupaten Sumedang, saat ini menjadi sorotan berbagai pihak. Pasalnya, berbagai jenis material yang digunakan di sepanjang ruas jalan SumedangWado, Sumedang-Cikaramas dan Cijelag-Cikamurang, diduga tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Dugaan tersebut sepertinya bukan sekedar mengada-ada. Berdasarkan pantauan Medikom selama sepekan terakhir, fakta yang terlihat di lapangan rasa-rasanya sangat sulit terbantahkan. Hasil penelusuran Medikom di tiga ruas jalan dimaksud, material yang diragukan tersebut, seperti pasir dan batu belah yang tampak di tiga ruas jalan tersebut seperti tumpukan batu “berlipstik” (berwarna mencolok). Pasir berwarna kemerah-merahan didatangkan dari kawasan Gunung Tampomas, Sumedang. Padahal, untuk kegiatan pengelolaan jalan Kabupaten Sumedang saja, sejak tahun 2005 silam, material seperti itu sudah dinyatakan tidak layak. Sejumlah pihak yang berhasil dikonfirmasi Medikom, mengungkapkan, material yang bersumber dari Gunung Tampomas Sumedang, seperti batu belah dan pasir yang berwarna kemerah-merahan tersebut, sangat tidak layak untuk proyek peningkatan jalan, apalagi ruas jalan provinsi. “Untuk ruas jalan kabupaten saja, material seperti itu sudah tidak layak,” ujar sumber Medikom di lingkungan Bina Marga Sumedang, yang tidak bersedia disebutkan identitasnya.

Sebagian Warga Kabupaten Bandung Belum Dapatkan Lisdes
SOREANG, Medikom–Sebagian warga Kabupaten Bandung belum menikmati terangnya listrik. Beberapa warga tidak mampu seperti disampaikan Jajang, Asep, Neneng, dan Agus warga Desa Mangun Jaya, Desa Patropsari, dan Desa Rancaklole Kecamatan Arjasari serta Heri, Adung, Amir, warga Desa Margaluyu Kecamatan Pangalengan. Mereka sangat mendambakan masuknya listrik ke wilayah tempat mereka tinggal. “Abdi tos 70 tahun teu acan ngaraosan caangna listrik sapertos di nusanes tiasa nongton bola di TV, padahal nagara urang parantos merdeka puluhan tahun. Mudahmudahan pemerintah tiasa ngabantos ka warga nu teu mampuh sapertos abdi,” papar Awo, warga Margaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung yang sangat mendambakan penerangan tersebut. Hal itu dibenarkan beberapa kepala desa seperti Kepala Desa Rancakole Tasdik, Kepala Desa Patrolsari Tete Sudarya, Kepala Desa Mangunjaya Kecamatan Arjasari Asep T dan Kepala Desa sangat membutuhkan bantuan tersebut untuk penerangan dan untuk menutupi kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Tete. Kepala Dinas SDAP Kabupaten Bandung Ir Hj Ratna yang didampingi Ir Atun Kasi Energi saat ditemui Medikom di ruangannya membenarkan masih banyak desa di Kabupaten Bandung yang belum mendapatkan penerangan listrik pedesaan. “Tentu saja akan kita upayakan baik dari bantuan pemerintah kabupaten ataupun pemerintah provinsi, tentunya dengan cara bertahap disesuaikan dengan anggaran yang ada. Ya mudahmudahan lama-lama masyarakat nanti akan mendapatkan program tersebut,” ujar Ratna. Ia menegaskan, desa-desa tersebut akan diupayakan pada program tahun 2010 dan tahun yang akan datang. “Jika tidak terkaver tahun sekarang, kita upayakan pada tahun 2011. Silakan buat proposal pengajuan pada Bapak, Bupati, dan Gubernur, nanti akan kita sampaikan sesuai dengan kuota dan anggaran yang ada dari pemerinatah. (Suhendar R)

Garap Istri Orang,

Ke Halaman 11

Ke Halaman 11

Tukang Ojek Didenda Rp5 Juta
BEKASI, Medikom–Apes benar nasib Sonik, tukang ojek yang biasa mangkal di perapatan Poponcol Cibarusah. Minggu (13/6) di siang bolong, ketika sedang asik bercumbu mesra layaknya suami istri dengan perempuan selingkuhannya di Perumahan Taman Firdaus Malaka Cibarusah, tiba-tiba saja didatangi suami selingkuhannya. Ditemani kakak ipar, suami perempuan selingkuhan Sonik, langsung mengetuk pintu. “Buka pintunya,” tegas suami si perempuan. Tanpa curiga, Sonik pun membuka pintu dan keluar. Tak ayal, suami dan kakak ipar dari perempuan itu langsung menjambret baju Sonik. “Di mana istri saya,” tanyanya kepada Sonik. “Engg ada di sini,” jawab Sonik tegas. Tak percaya dengan ucapan

Pelaku Perampokan Mobil Dihadiahi Timah Panas
SUBANG, Medikom–Enam anggota komplotan pencuri kendaraan bermotor (curanmor) diringkus Satuan Reserse Krimial Kepolisian Resort Subang, Jumat dini hari (18/ 6). Dua di antaranya terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas dan satu penjahat lainnya babak belur dihakimi massa karena berusaha melawan saat akan ditangkap. Dua penjahat yang ditembak yakni Agus Santoni (18), warga Desa Sadawarna, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang dan Somad (31), warga Kampung Telukbayur, Desa Karanghaur, Kecamatan Pabayuran Kabupaten Bekasi. Sementara korban yang dihakimi massa adalah Suntama alias Bram (35), warga Desa/Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang dan tiga tersangka lainnya masingmasing Wardani (19) warga Kabupaten Bekasi, Asep Sopian (25), warga Cibogo Subang, serta Cecep Supandi (27) warga Desa Rengasdengklok Selatan, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Medikom, tersangka yang dijahar massa hingga berita ini diturunkan masih tak sadarkan diri di RSUD Ciereng. Demikian pula, satu penjahat yang menderita luka tembak masih dirawat di rumah sakit yang sama. Sementara empat rekan mereka digiring ke Mapolsekta Subang untuk diperiksa lebih lanjut. Menurut Kepala Polres Subang Ajun Komisaris Besar Dadang Hartanto, penangkapan komplotan pejahat itu berlangsung sekitar pukul 04.30 WIB. Waktu itu mereka tengah menyatroni rumah Yongki Sukmawan (27), warga Perumahan Sukarahayu, RT 88/24, Kelurahan Karanganyar Kecamatan Subang. Dua anggota pejahat tersebut yakni Agus Santoni dan Suntama bahkan telah masuk ke halaman rumah korban mengincar Honda Jazz dengan No Pol D 1082 XG yang diparkir di halaman rumah. Mereka masuk ke halaman rumah korban dengan cara menggunting gembok pagar. Namun, sebelum kedua tersangka berhasil membuka pintu mobil, aksi mereka keburu diketahui oleh warga setempat, Hada (19). Saat itu saksi langsung berteriak membangunkan pemilik rumah, sehingga para pejahat terkejut dan berusaha melarikan diri. Selain membangunkan pemilik rumah, teriakan Hada ternyata didengar anggota polisi yang tengah berpatroli. Warga dan polisi itu pun berupaya mengejar para pejahat tersebut. Agus tertangkap setelah paha kanannya tertembus timah panas. Sementara, tersangka Suntama berupaya bersembunyi di atas plafon sebuah rumah kosong di kompleks tersebut. Namun, dia terjatuh dan akhirnya dihakimi massa yang mengejarnya. Berangkat dari keterangan tersangka Agus, polisi kemudian menjebak empat tersangka lainnya yang berada di dalam mobil Suzuki APV B 1145 EFC. Mereka menunggu aksi kedua rekannya sekitar 1 km dari lokasi kejadian. “Agus diperintahkan menelefon mereka minta segera dijemput. Namun

Ke Halaman 11

Margaluyu Kecamatan Pangalengan Edi Mulyadi. Saat ditemui Medikom, mereka membenarkan bahwa sebagian warganya belum tersentuh penergangan listrik. “Makanya kami menyambut baik pada pemerintah baik bapak bupati atau pak gubernur dengan adanya program Jabar Caang, yang diprogramkan oleh Gubernur Jawa Barat. Mudah-mudahan bantuan tersebut bisa sampai pada masyarakat kami dalam waktu secepatnya, karena warga kami

Ke Halaman 11

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

Sisi Lain
HUT Ke-368 Kabupaten Ciamis

2

Jawa Barat
Bos PT Harmoni Utama Textil “Intimidasi” Karyawan
CIMAHI, Medikom–Persoalan yang dianggap sepele bisa membawa petaka. Karenanya, berhati-hatilah dalam bersikap. Hal itu dialami Uci. Karyawan PT Harmoni Utama Textil yang beralamat di kawasan industri Jalan Cibaligo, Kota Cimahi ini, terpaksa harus kehilangan pekerjaan yang sudah ia geluti selama 20 tahun. Pangkal masalahnya, Uci menegur stafnya bernama Min karena bolos bekerja tanpa pemberitahuan. Saat menegur Min, Uci menyentil tubuh wanita tersebut dengan alat yang biasa dipergukan untuk bekerja seharihari. Karena tidak bisa menerima perlakuan Uci, Min lalu melaporkan permasalahan itu kepada suaminya yang kebetulan bekerja di kawasan yang sama namun perusahaan berbeda. Suami Min pun berang dengan sikap Uci terhadap istrinya. Uci tidak menyangka jika persoalan yang dianggapnya sederhana mendapat reaksi yang serius. Sadar akan kesalahannya, Uci meminta maaf kepada Min dan suaminya. Saat itu, permasalahan dianggap sudah selesai. Sebab, permintaan maaf Uci sudah diterima oleh pasangan suami istri tersebut. Hanya saja, berselang beberapa hari kemudian, Uci dipanggil Yud, Kepala Personalia perusahaan tempat Uci bekerja. Menurut penjelasan Uci kepada wartawan, Yud menilai permasalahan Uci dengan Min belum selesai, lantaran Min dan suaminya telah melaporkan Uci kepada pihak berwajib. Untuk itu, daripada ditangkap dan dimasukkan kedalam sel, menurut Yud, dirinya lebih baik mengundurkan diri. “Untuk menghindari permasalahan hukum, Pak Uci lebih baik mengundurkan diri. Kalau sudah mengundurkan diri permasalahan dianggap selesai, karena Min kata Yud tidak mau bertemu dengan Uci,” ujar Uci menirukan pembicaraan Yud. Akhirnya, karena takut dihukum, Uci meminta ke salah seorang rekannya agar dibuatkan surat pengunduran diri. “Teman saya yang bernama Yuniman yang menulis surat pengunduran diri saya. Saya terpaksa mengundurkan diri karena saya takut Pak. Saya ini orang kecil, saya ini orang yang tidak punya apaapa dan saya sangat takut kalau sudah berurusan dengan hukum. Jadi, saya menuruti saja permintaan Bapak Yud,” imbuhnya. Marthin Beny SH, kuasa hukum yang ditunjuk keluarga Uci, kepada wartawan menjelaskan, pihaknya sudah datang ke PT Harmoni dengan baik-baik agar permasalahan diselesaikan secara baik-baik pula. “Tapi pihak perusahaan tetap pada pendirian dengan alasan bahwa klien kami telah mengundurkan diri. Perusahaan malah menantang kita agar permasalahan ini dibawa ke jalur hukum,” ujar Marthin. Marthin menyesalkan perilaku perusahaan yang sulit dihubungi dan selalu menghindar. Ia menegaskan, seharusnya pihak perusahaan tidak boleh mengintimidasi, apalagi menakut-nakuti. “Kalau memang benar Min telah melaporkan Uci kepada pihak kepolisian, saya pikir tidak salah kalau benar dilaporkan. Pertanyaannya sekarang, dalam hal perbutan apa, bukti laporanya mana, saksinya siapa, ya harus jelas dong. Kalau benar terbukti, biarkan saja Pak Uci dihukum. Akan tetapi tidak semudah itu. Hukum kan harus ada pembuktian, ya tidak boleh seenaknya menuduh,” kilahnya seraya menambahkan, permasalahan ini juga telah dilaporkan ke Disnaker Kota Cimahi. Tidak hanya menggunakan pengacara, Uci dan keluarganya telah melaporkan permasalahan tersebut ke DPRD Kota Cimahi. Uci sengaja mendatangi kantor DPRD Cimahi guna melaporkan peristiwa yang dialaminya. Uci langsung diterima oleh Ketua Komisi IV Masrokhan serta beberapa anggota komisi IV. Kepada wartawan, Masrokhan mengatakan, “Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi. Pihak perusahaan tidak boleh memecat begitu saja, apalagi mengintimidasi dan menakut-nakuti. Saya pikir semua harus memakai aturan. Seorang karyawan yang sudah masa kerja 20 tahun, tentunya tidak segampang itu. Untuk itu, hal ini akan segera kita tidak lanjuti. Kita akan konfrontir dulu kepada pihak perusahaan, dan laporan ini secara resmi kami terima.” Sayangnya, beberapa kali pihak perusahaan dihubungi wartawan, selalu tidak berada ditempat. Seseorang yang mengaku bernama Anggi sebagai wakil personalia hanya menjanjikan untuk memberikan klarifikasi terhadap wartawan. Namun, hingga berita ini dibuat, Anggi tidak pernah mengangkat telepon selulernya, walau sudah berulang-ulang dihubungi. (Fredy HS)

PHBN Purwadadi Gelar Turnamen Bola Voli Antardesa

CIAMIS, Medikom–Memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis ke-368, panitia PHBN Kecamatan Purwadadi menggelar turnamen bola voli putra dan putri antardesa se Kecamatan Purwadadi, Minggu (13/6) di lapangan Bola Voli Galuh Cigobang Purwadadi. Turnamen dengan sistem gugur ini, diikuti oleh beberapa tim dari masing-masing desa yang berada di wilayah Purwadadi.Menurut Ketua Penyelenggara Kegiatan Agusman, acara ini sengaja digelar guna mencari bibit-bibit muda berpotensi yang bisa membawa Kecamatan Purwadadi ke tingkat kabupaten atau provinsi. “Ya, setidaknya mempunyai atlet perwakilan daerah dan sekaligus memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis yang ke-368. Acara ini memperebutkan piala tetap, trofi, penghargaan, dan uang pembinaan,” ujar Agusman. Selain perwakilan desa, perwakilan dari kecamatan dan PGRI pun turut menurunkan timnya. Namun sayang, dalam babak penyisihan tim kecamatan dikalah kan oleh tim PGRI dengan skor 2-1. Dari pagi hingga sore acara terus berjalan tanpa ada kendala apapun. Akhirnya muncul juara 1 putri diraih oleh Desa Karang Paningal yang menang telak atas lawannya Desa Purwadadi. Sama juga dengan tim putranya, Desa Karang Paningal berhasil menjadi juara. Bukan hanya itu, guna menyongsong HUT RI yang ke-65, panitia PHBN pun akan menggelar beberapa kegiatan perlombaan dari bidang pendidikan agama dan olahraga lainnya. (Herman)

Seharusnya KUA Disampaikan ke Dewan Bulan Juni
MAJALENGKA, Medikom–DPRD Majalengka mendorong eksekutif untuk segera mengajukan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) tahun 2011 agar pembahasan bisa dilakukan dengan maskimal. Dengan demikian, semua program dilakukan dengan matang di samping pengajuan KUA sesuai tuntutan konstitusi. Menurut pimpinan DPRD Majalengka H Zack Jakaria Iskandar, Nasir serta anggota dewan lainnya Pepep Saepul Hidayat, Jumat (18/6), berdasarkan aturan, KUA harusnya sudah disampaikan ke dewan paling lambat bulan Juni sesuai amanat UU. “Selama ini pengajuan KUA selalu saja telat disodorkan eksekutif sehingga dewan tidak leluasa melakukan pembahasan karena waktu yang selalu mepet. Kondisi tersebut akibat pengajuan KUA yang kerap kali lambat disampaikan kepada DPRD. Saat ini saja kabupaten lain sudah mengajukan sementara Kabupaten Majalengka belum,” ungkap H Zack. Menurut Zack, jika pembahasan KUA kembali dilakukan di akhir tahun, maka kembali dewan akan ikut dipersalahkan oleh masyarakat, karena tidak menutup kemungkinan bakal banyak aspirasi masyarakat yang tidak akan terakomodir. Dan dewan pada akhirnya akan ikut dipersalahkan. Menurut Pepep, sebelum mengajukan KUA harus terlebih dulu melakukan pembahasan dan sinkronisasi antara Rencana Pembangunan Jangka Menengah Negara (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Jika terjadi perbedaan apakah Kabupaten Majalengka akan menyelaraskannya dengan RPJMN atau tidak, atau jika terjadi perbedaan hanya akan membuat catatan saja untuk ditindaklanjuti kemudian. Setelah itu baru melakukan pembahasan KUA. “Saya pikir harus ada kajian antara eksekutif dengan dewan, seberapa besar sinkronisasi antara RPJMN dengan RPJMD, sehingga nanti ada penyelarasan antara RPJMN dan RPJMD,” ungkap Pepep seraya menyebutkan, jika KUA tidak segera diajukan ke dewan, maka akhir tahun akan banyak agenda yang harus dikerjakan yang sama pentingnya dan berpengaruh terhadap pembangunan dan anggaran. Seperti halnya melakukan pembahasan perubahan anggaran dan beberapa persoalan lainnya. “Makanya untuk merancang sebuah kebijakan harus benar-benar matang karena ini menyangkut pembangunan masyarakat,” kata Pepep. Nasir menyebutkan, persoalan tersebut telah dibahas di Banmus, untuk segera ditindaklanjuti, agar pengalaman sebelumnya tidak terus terulang. Pembahasan anggaran kerap kali terlambat sehingga dewan selalu disudutkan pada persoalan yang cukup dilematis. Hingga akhirnya pembahasan anggaran tidak dilakukan secara matang. Akibatnya banyak program yang harusnya menjadi prioritas menjadi terabaikan akibat ketidaktelitian di pembahasan. “Kita seringkali dipaksa untuk menyetujui anggaran-anggaran yang diajukan eksekutif tanpa mengkaji secara matang seberapa besar dampaknya buat masyarakat,” ungkap Nasir. (Jur)

Sebagian sawah siap panen yang terendam banjir di Kampung Situawi Rw 02 Kelurahan Karangtengah Kecamatan Gunungpuyuh Kota Sukabumi

Wakil Wali Kota Sukabumi Tinjau Masyarakat Korban Banjir
SUKABUMI, Medikom–Wakil Wali Kota Sukabumi HM Mulyono MM meninjau korban banjir yang terjadi pada hari Selasa, (15/6). Kedatangan Mulyono bersama Asda II H Deden Solehudin, Kepala Kansostek-PB, Kabag Kesra dan rombongan lainnya langsung meninjau ke rumah penduduk yang terkena musibah banjir. Mulyono bersama rombongan langsung memberikan bantuan secara simbolis berupa lauk pauk, beras dan uang. Sementara itu, di Kampung Situawi, RW 02 Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, hampir semua keluarga rumahnya kebanjiran. Bahkan beberapa sawah yang siap panen di sekitar rumah penduduk tersebut, tampak seperti genangan air sungai, disebakan meluapnya aliran Sungai Ciseupan akibat tingginya volume sampah. Di kecamatan yang sama, kejadian banjir yang lebih memilukan terjadi di Kampung Palasari RT 04 RW 03, rumah keluarga Jendi habis hampir terendam setinggi satu meter. Menurut Jendi, akibat luapan air tersebut semua isi rumahnya habis terendam. Bahkan soundsitem yang harganya Rp15 juta rusak. “Saat air sudah masuk, saya menyelamatkan dulu keluarga. Karena air makin deras dan masuk rumah, akhirnya saya keluar kendati saat mau keluar saya kesulitan. Setelah hujan dan air mulai turun, ternyata barang-barang yang ada di rumah sudah tidak bisa diselamatkan, seperti perabot rumah tangga, elektronik di antaranya TV dan soundsistem milik saya,” tuturnya. Dikatakan, banjir kemungkinan diakbibatkan pintu air tidak bisa menahan arus air yang deras ditambah sampah. Ditambah lagi, di tengah-tengah jemabatan ada pipa PDAM yang menyumbat sampah. “Sampah ini bukan hanya sampah biasa, melainkan seperti sampah batang pohon pisang, ranting kelapa dan lainnya. Itu sebabnya terjadi banjir di Sungai Ciseupan ini,” ujarnya. Jendi berharap, pintu air yang ada pipa PDAM-nya segera dibetulkan atau dicarikan solusi agar tidak menggangu arus air, sehingga kejadian yang memilukan ini tidak terjadi lagi. Tetangganya yang mempunyai nasib yang sama, Cucup Supriatna menerangkan, setelah air masuk ke rumahnya, bukan hanya perabotan rumah tangga saja yang rusak dan sebagian hilang, tembok dapurnya pun jebol karena tidak kuat menahan arus air yang begitu deras. “Ketika air masuk ke rumah saya, yang pertama saya selamatkan dulu dua anak dan istri saya, karena saat itu saya menahan air dengan menggunakan lemari yang ada di rumah. Karena tidak kuat, saya pun keluar rumah, dan yang lebih parah lagi tembok sebagian rumah saya jebol karena tidak kuat menahan tingginya air yang masuk ke rumah,” terangnya. Ia berpesan kepada camat, lurah dan pemerintah setempat secepatnya mencari solusi agar air yang berada di Sungai Ciseupan tidak meluap lagi ketika datang hujan seperti yang terjadi sekarang ini. Banjir juga terjadi bukan hanya di Kecamatan Gungpuyuh, melainkan di Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong. Selain puluhan pemukiman warga, hektaran sawah gagal panen karena terendam banjir dan longsor. Berdasarkan laporan sementara dari dua kecamatan tersebut, tercatat selain musibah banjir juga terjadi tanah longor menimpa belasan RT di dua wilayah tersebut. Wakil Wali Kota Sukabumi didampingi Asda II H Deden Solehudin, Kepala Dinas Sostek-PB, Kabag Kesra, usai memberikan bantuan secara simbolis, mengaku prihatin atas musibah tersebut. “Selain faktor alam, musibah ini terjadi karena minimnya infrastruktur irigasi, penyempitan aliran sungai dan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai. Untuk itu, kita akan membuat kajian untuk penanganan jangka pendek dan jangka panjang,” tandas Mulyono. Ketika disinggung mengenai adanya pipa PDAM yang menghalangi di pintu air Ciseupan, Mulyono mengatakan, pihaknya sudah memanggil PDAM, dan nantinya mereka akan mencari solusi, melibatkan kecamatan, kelurahan, PU, LPM dan masyarakat setempat. (Arya)

Gubernur Akan Bantu Renovasi Masjid Agung Manonjaya
TASIKMALAYA, Medikom–Kondisi fisik Masjid Agung Manonjaya pacagempa bumi pada tanggal 2 September tahun lalu, sampai saat ini belum juga mendapatkan rehabilitasi. Padahal menurut sejarah, masjid yang didirikan pada tahun 1832 ini masuk ke dalam Badan Kepurbakalaan, atau salah satu situs cagar budaya masjid tertua di wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Pada acara kontes ternak tingkat Provinsi Jawa Barat yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heyawan, Bupati Tasikmalaya Drs H Tatang Farhanul Hakikm MPd menyampaikan bahwa di belakang podium acara ini berdiri Masjid Agung Manonjaya yang rusak pascagempa bumi tahun lalu belum diperbaiki. Masalahnya, terbentur dana untuk merenovasi masjid kebanggaan warga Tasikmalaya. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sudah menyiapkan dana sebesar Rp1 miliar dari bantuan APBN dan dari APBD Rp250 juta. Jadi Rp1,25 miliar yang sudah ada dananya. Sementara total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp3 miliar lebih. Jadi masih ada kekurangan dana sekitar Rp1 miliar lebih. Untuk itu, Bupati memohon sisanya dibantu Gubernur Jabar pada tahun ini. Permintaan membantu sisa anggaran Masjid Agung Manonjaya yang memiliki gaya arsitektur khas itu, langsung direspons oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Dia berjanji akan membantu anggaran kekurangan biaya renovasi Masjid Agung Manonjaya itu. Gubernur menargetkan tahun ini renovasi masjid harus rampung. “Terlepas bangunan masjid itu sebagai cagar budaya, yang namanya masjid tetap harus menjadi tanggung jawab umat Islam. Terus terang saya baru tahu sekarang mengenai kondisi yang menimpa Masjid Agung Manonjaya,” katanya. (A Cucu)

Ade Rahmat Dilantik Menjadi Sekda
MAJALENGKA, Medikom-H Ade Rahmat Ali yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan dilantik menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Majalengka, Senin (14/6). Ade menggantikan H Herman Senjaya yang menjalani masa pensiun sejak satu Juni lalu. Kepala Dinas Perhubungan untuk sementara dijabat oleh salah seorang staf ahli bupati Aeron Randi. Hadir pada acara pelantikan seluruh pejabat eselon II dan III, tokoh masyarakat dan muspida serta keluarga dekat H Ade Rahmat Ali. Pada acara pelantikan, Bupati Majalengka H.Sutrisno meminta agar Sekda yang baru dilantik bisa melakukan pembinaan terhadap semua PNS yang ada di Kabupaten Majalengka serta mampu mempererat tali persatuan di antara PNS itu sendiri, serta jangan sampai pegawai menjadi terkotak-kotak. “Satukan dan berdayakan warga organisasi Korps Pegawai Negeri Sipil (Korpri) sebagai organisasi induk pegawai. Sekda sebagai pembina PNS agar membina pegawai untuk mono loyalitas dan tidak ada yang melakukan upaya sub ordinasi trehadap kebijakan pemerintah daerah,” ungkap H Sutrisno pada acara pelantikan Sekda di Gedung Yudha Karya Abdi Negara seraya meminta sekda agar mampu mewujudkan reformasi birokrasi Kabupaten Majalengka. Hal ini dalam rangka membangun aparatur agar lebih berdaya guna mengemban tugas pemerintahan dan pembangunan serta pemenuhan pelayanan publik. “Reformasi ini harus menyeluruh terutama menyangkut aspek kelembagaan, ketatalaksanaan dan sumber daya manusia aparatur. Dengan demikian, birokrasi yang bersih, efisien, efektif, dan produktif bisa tercapai sebagaimana yang diharapkan,” ungkap H Sutrisno. (Jur)

Camat Banjarsari Bahas Masalah Bantuan Gempa
CIAMIS, Medikom–Pembagian dana untuk korban gempa di Kabupaten Ciamis mendapat perhatian DPRD setempat. Karenanya, DPRD Kabupaten Ciamis menggelar pertemuan dengan para camat seKabupaten Ciamis, Rabu (16/6) di gedung DPRD Kabupaten Ciamis. Pascapertemuan tersebut, Camat Banjarsari Drs Uga Yugaswara SSos MSi, Jumat (18/6) mengadakan rapat koordinasi dengan seluruh kepala desa di Kecamatan Banjarsari untuk menyampaikan hasil pertemuan dengan Komisi IV DPRD Ciamis. Sedikitnya 19 kepala desa di Kecamatan Banjarsari menghadiri rapat koordinasi (rakor) yang dilaksanakan, di Aula Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari itu. Hadir pada rakor, Kapolsek Banjarsari AKP Asep KH Baehaqi dan Kapten R Djuhana. Intinya, membahas berbagai permasalahan menyangkut kinerja kepala desa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Camat Banjarsari Drs Uga Yugaswara SSos MSi saat dihubungi Medikom melalui telepon genggamnya, Minggu (20/6) mengatakan, pertemuan tersebut merupakan penyampaian hasil pertemuan seluruh camat dengan pihak DPRD Kabupaten Ciamis. Ada tiga hal pokok yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, khususnya kepada para kepala desa. Pertama, dewan akan menelusuri ke BNPD Provinsi dan BPBD Kabupaten Ciamis, terkait dengan kepastian bantuan tahap kedua untuk Kabupaten Ciamis, baik bantuan untuk termin kedua maupun bantuan lanjutan dan tambahan.

MAKIN Adakan Sembahyang di Pantai Pangandaran
CIAMIS, Medikom– Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) mengelar acara sembahyang. Acara rutin tahunan kali ini, dilaksanakan di pingir pantai, tepatnya di ujung tol (tol gate) Pantai Barat Pangandaran, Rabu (16/6).
Yang Maha Esa. “Di sini kita mengenalnya dengan nama perayaan Go Gwee Cee Go atau Hari Raya Tanggal 5 Bulan Khongculik/Imlek. Hari raya ini juga disebut Twan Ngo, yang artinya saat tengah hari, yaitu pada pukul 11,00 sampai dengan pukul 13.00. Jadi perayaan ini tepatnya saat tengah hari, makanya acara ini dilakukan pada tengah hari,” terang Lucki Halim. Dikatakan, saat Twan Yang, yaitu saat matahari benar-benar melambangkan curahnya rahmat, Tuhan Cahaya Matahari adalah sumber kehidupan, lambang rahmat dan kemurahan Tuhan atas manusia dan segenap makhluk di dunia. Maka Twan Yang, adalah saat yang sangat tepat untuk bersuci, bermandi, bersujud, dan menyampaikan sembah syukur kepadanya. Saat Twan Yang, jelas dia, umat Tiong Hoa juga berkeyakinan sebagai puncak rahmat Tuhan, melalui pancaran cahaya matahari yang paling keras, sehingga timbul kepercayaan, saat Twan Ngo, segala mahluk dan benda akan mendapatkan curahan, karunia yang paling besar, dan percaya bahwa daun ramuan obat-obatan yang dipetik saat itu, sangat besar khasiatnya. Telur ayam pun yang ditegakkan, saat itu akan dapat berdiri tegak lurus. Maka saat Twan Yang, banyak melaksanakan lomba mendirikan telur ayam. Masih menurut Yucki , hari raya ini juga dinamakan Pek Cun, yang artinya merengkuh dayung atau mengayuh perahu. Makanya di hari itu banyak diadakan lomba perahu hias dan lomba perahu dayung. Yucki menuturkan, terkait dengan sebuah kisah, pada hari Twan Yang di zaman Cian Kok (zaman setelah wafat nabi Khongchu) bertepatan dengan hari Twan Yang, pada tanggal 5 bulan 5 Imlek, Khut Gwan (seorang menteri yang patriotik) mendayung perahunya ke tengah Sungai Bik loo, sambil dan selalu menyanyikan lagu dan sajak ciptaannya. Lagu dan sajak ciptaannya itu banyak dikenal masyarakat sekitar, yaitu ungkapan kecintaannya kepada tanah air, dan rakyatnya, yang membuat orang tertengun dan simpati. Di sana ia menerjunkan dirinya ke dalam danau yang berair deras. Rekan-rekannya mencari, namun jenazahnya tidak dapat diketemukan. Maka pada tahun berikutnya, di saat Twan Yang, rekan-rekan dan masyarakat setempat bersama para nelayan beramai-ramai mendayung prahunya ke tengah danau Bik loo untuk mengenang Khut Gwan, sang patriotic sejati, sang menteri setia yang sangat bersahaja. Mereka juga membuang kue dari beras ketan berisi daging babi yang dibungkus daun bamboo (bakcang) yaitu kesukaan sang menteri. Sehingga, tradisi ini terus berlangsung dari tahun ke tahun setiap tanggal 5 Go Gwee, diperingati sebagai hari kehidupan yaitu pengenangan kepada Khut Gwan. “Dan karena juga sering diadakan lomba perahu naga dan lomba mendayung perahu, maka disebut juga Hari Pek Cun,” urainya. Ia berharap, dengan dirayakan hari raya ini akan membawa berbagai berkah bagi umat Konghucu, terutama anggota MAKIN. Salah satunya berkah keselamatan, kesehatan, kesejahteraan, kedamaian, dan akan menanamkan rasa cinta serta semangat terhadap tanah air yang harus tumbuh dan berkembang juga subur dalam hati. (Ipan)

“Sedang untuk besaran bantuan untuk termin kedua nanti, itu pun belum bisa diketahui berapa besarannya dan kepastian kapan waktunya,” ujar Uga.
Untuk hal ini, nantinya pihak BPBD Kabupaten Ciamis yang akan menjelaskan. “Sedang untuk besaran bantuan untuk termin kedua nanti, itu pun belum bisa diketahui berapa besarannya dan kepastian kapan waktunya,” ujar Uga. Kedua, untuk data yang saat ini belum tersentuh dengan bantuan harus lebih diakuratkan lagi. Bahkan, jelas Uga, Komisi IV DPRD Kabupaten Ciamis menyarankan guna validasi data ke depan harus dilakukan dor to dor. Harapannya, ke depan tidak terjadi lagi masalah seperti yang saat ini muncul. “Ketiga saya menyampaikan kepada kepala desa, untuk data-data yang belum terbantu untuk ditertibkan kembali, sambil menunggu juknis dari BPBD Kabupaten selanjutnya. Sementara jika ada persoalan yang berkait dengan pelanggaran hukum, apabila diketahui ada pemotongan, saya sarankan kepada masyarakat untuk langsung melaporkannya ke pihak kepolisian,” tegas Uga Yugaswara. (Herz)

Kepengurusan BMI se-Kabupaten Majalengka Siap Dikukuhkan
MAJALENGKA, Medikom-Banteng Muda Indonesia (BMI) adalah salah satu organisasi kepemudaan yang terlahir bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan tujuan membina generasi muda Indonesia agar bisa berkarya secara partisipatif dan inovatif dan mengerti apa arti dari demokrasi dan bisa memberikan suri tauladan kepada generasi yang lainnya maupun ke generasi yang akan datang. Menurut Ketua DPC Banteng Muda Indonesia, Tarsono, untuk Kabupaten Majalengka, pengurus DPC maupun pengurus lainnya, seperti PAC (pengurus anak cabang) dan anak ranting, susunan kepengurusannya semua sudah beres sehingga sudah siap untuk dilakukan pengukuhan sesuai yang direncanakan. Dijelaskan Tarsono, untuk daerah pemilihan 1, pengurus PAC dan anak ranting sudah dikukuhkan. Sedangkan pada bulan Juni ini, dikukuhkan dua daerah pemilihan, yakni dapil 3 dan dapil 4 yang meliputi Kecamatan Cigasong, Majalengka, Panyingkiran, Kadipaten, Kasokandel Dawuan, sebagai dapil 3. Sedangkan Kecamatan Kertajati, Ligung, Jatitujuh, dan Kecamatan Jatiwangi sebagai dapil 4. “Tiap-tiap desa mengirimkan 11 orang pengurus PAC dan 9 orang pengurus anak ranting. Pengukuhan dilakukan di Jatiwangi sekaligus memperingati Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni, Hari Jadi Majalengka yang ke 520,” jelas Tarsono. Lebih lanjut Tarsono mengatakan, selain tiga agenda disatukan juga dilakukan pemberian sembako terhadap 700 orang tukang becak seJatiwangi, dan sunatan massal kepada 10 orang anak dari keluarga yang kurang mampu. Hal tersebut sebagai kadeudeuh dari keluarga besar Banteng Muda Indonesia atau kepedulian terhadap masyarakat, walaupun nilainya tidak seberapa. “Untuk pengukuhan Dapil 2 dan 5, Insya Allah akan dilaksanakan antara bulan Juli-Agustus tahun ini. Walaupun Banteng Muda Indonesia umurnya belum genap satu tahun, anggota sudah tersebar di tiap-tiap desa di Kabupaten Majalengka. Kami berharap kepada semua anggota Banteng Muda Indonesia bisa menjaga nama baik organisasi dan bisa menjaga kesatuan dan persatuan bangsa demi keutuhan Republik Indonesia yang kita cintai, dan bisa menjunjung tinggi demokrasi yang sedang berjalan,” pesannya. (Tang/Jur)

Ratusan umat Khonghucu anggota MAKIN dari Ciamis, Banjar, dan Tasikmalaya dengan hikmat mengikuti sembahyang. Berbagai sesaji unik khas Konghucu tampak memenuhi pantai. Sesaji tersebut, dibuang sedikit ke laut, dan sesaji yang lain dibagikan untuk umat MAKIN. Beberapa perlombaan dan pertunjukan juga digelar. Salah satunya tarian khas Tiong hoa, barongsai. Ketua MAKIN Yucki Halim kepada Medikom mengatakan, tanggal 5 Juni ini bertepatan dengan perayaan Pek Cun/Twan Yang. Tanggal 5 bulan 5 Imlek, saat tengah hari yaitu pukul 11.00 sampai dengan 13.00, bagi masyarakat Tionghoa khususnya umat agama Khonghucu merupakan saat suci untuk bersujud ke hadirat Hian, Tuhan

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

3

Lintas Kota

Penduduk Miskin di Jabar Masih Cukup Besar
BANDUNG, Medikom–Permasalahan kemiskinan yang cukup kompleks membutuhkan penanganan yang terkoordinasi setiap pelaku kegiatan di lapangan. Namun penanganannya selama ini cenderung parsial dan tidak berkelanjutan. Peran dunia usaha dan masyarakat pada umumnya belum optimal. Kerelawanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber penting pemberdayaan dan pemecahan akar permasalahan kemiskinan juga mulai luntur. Untuk itu, diperlukan perubahan yang bersifat sistemik dan menyeluruh dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Demikian disampaikan Sekretaris Daerah dan sekaligus Ketua Tim Koordinasi PNPMMandiri Lex Laksamana, dalam sambutannya dibacakan Asisten Hukum dan HAM Heri Hudaya dalam acara pembukaan rapat tim koordinasi pelaksana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, belum lama ini di Aula Mutawali BPMPD Provinsi Jawa Barat Jln Soekarno-Hatta No 466 Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kata Lex telah menetapkan indeks pembangunan manusia (IPM) sebagai alat ukur. Realisasi IPM tahun 2007 baru mencapai 70,67 dari target 76,60 sementara itu jumlah penduduk Jawa Barat tahun 2007 sebanyak 41.700.000 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 10.751.380 KK, jumlah rumah tangga miskin tahun 2007 menurut data BPS sebanyak 3.019.571 KK atau sebesar 10.800.935 jiwa. Dilihat dari data tersebut, penduduk miskin di Jawa Barat jumlahnya cukup besar. Ini merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama di dalam mengakselerasi pengurangan penduduk miskin dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, pemerintah meluncurkan PNPM Mandiri diaktualisasikan kembali mekanisme penanggulangan kemiskinan yang melibatkan unsur masyarakat, mulai tahap perencanaan, pelaksanaan hingga pemantauan dan evaluasi. Melalui proses pembangunan partisipatif, kesadaran kritis dan kemandirian masyarakat terutama masyarakat miskin dapat ditumbuhkembangkan sehingga mereka bukan sebagai objek melainkan sebagai subjek upaya penanggulangan kemiskinan. Sejalan dengan hal ini, lanjut Lex di Provinsi Jawa Barat telah membentuk tim koordinasi program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri melalui keputusan Gubernur Nomor 147.05/KEP.758BPMD/2010 tentang Tim Koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Provinsi Jawa Barat yang bertugas untuk merumuskan kebijakan, program percepatan penanggulangan kemiskinan, pengkoordinasian, mensinergikan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi serta pengendalian pada instansi/lembaga yang ada di Provinsi Jawa Barat. Dikatakan, pada tahun 2007 mulai diluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M) sebagai dasar pelaksanaan pemberdayaan masyarakat dengan program pendukungnya, seperti; PNPM-Mandiri Perdesaan, PNPM-M Generasi, PNPM-M Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP), PNPM percepatan pembangunan daerah tertinggal dan khusus (P2DTK). Tahun 2008 PNPMMandiri diperluas dengan diluncurkannya program pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah (Pisew) untuk mengintegrasikan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dengan daerah sekitarnya. Yang menjadi tantangan saat ini kata Lex menambahkan, adalah isu yang berkembang bahwa PNPMMandiri yang telah dicanangkan pemerintah belum mampu menanggulangi kemiskinan, meski dana yang dikucurkan sudah cukup besar. Isu ini yang harus dijawab dengan kerja keras, sungguh-sungguh dan meningkatkan koordinasi di antara pelaku/pelaksana program/ kegiatan. Sekalipun upaya-upaya penanggulangan kemiskinan belum memenuhi target yang diharapkan, namun Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap memberikan perhatian besar terhadap masyarakat miskin. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan kebijakan penggunaan anggaran pembangunan tahun 2010, untuk diarahkan terhadap penanggulangan kemiskinan. (Laures)

Pos Dukung Pelestarian Lingkungan Hidup Melalui Prangko
BANDUNG, Medikom–Untuk mendukung program pemerintah dan sebagai bukti nyata perwujudan kepedulian pada lingkungan hidup, PT Pos Indonesia menerbitkan prangko seri Peduli Lingkungan Hidup tahun 2010. Dalam prangko ini ditampilkan obyek desain “Anak dan Lingkungan, Dampak Perusakan Lingkungan, dan Memelihara Keanekaragaman Hayati”. Peluncuran prangko seri “Peduli Lingkungan” dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia yang diperingati pada 5 Juni 2010 lalu. Presiden Republik Indonesia Soesilo Bambang Yudhoyono menandatangani Sampul Hari Pertama menandai peluncuran prangko seri “Peduli Lingkungan”. Hadir pada acara tersebut para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, anggota Watimpres yang juga mantan Menteri LH Emil Salim, gubernur se-Indonesia, dan duta besar negara-negara sahabat. Presiden menyampaikan, pentingnya pengendalian lingkungan untuk memelihara kualitas keanekaragaman hayati dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara global posisi Indonesia yang berada pada kawasan hutan hujan tropis, selain Amazon di Amerika Selatan dan Kongo di Afrika, merupakan kawasan yang menjadi paruparu dunia. Untuk mendapatkan paru-paru dunia yang sehat dari pencemaran dan perusakan lingkungan tentu tidak bisa dipikul sendirian. Presiden menyatakan, negara-negara maju yang memiliki sumber daya berupa uang, teknologi, dan pengalaman berkewajiban memberikan bantuan kepada pemilik hutan hujan tropis. Keanekaragaman hayati menjadi isu sentral pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia kali ini. Ini sejalan dengan penetapan tahun 2010 sebagai “Tahun Internasional Keragaman Hayati” oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tema ini pun menjadi penting mengingat Bangsa Indonesia yang dikaruniai Tuhan kekayaan keanekaragaman hayati, harus mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Pendeklarasian tahun 2010 sebagai Tahun Internasional Keanekaragaman Hayati digunakan sebagai ajang kampanye pemanasan global yang menjadi isu hangat di seluruh dunia akhir-akhir ini. “Bagaimana kita telah berulang kali diingatkan bahwa menjaga serta melestarikan lingkungan hidup bukan hanya tugas pemerintah saja, tetapi tugas kita semua sebagai warga Negara yang baik,” ujar Presiden. Eksploitasi yang berlebihan terhadap keanekaragaman hayati berdampak mengancam kelestarian tatanan dan fungsi ekosistem. Dengan mengadopsi semangat seluruh bangsa di dunia, Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup pada peringatan hari lingkungan hidup se-dunia tahun 2010 mengusung tema “Keanekaragaman hayati, Masa Depan Bumi Kita”. Sementara United Nations Environment Programme (UNEP) sendiri mengangkat tema Many Species, One Planet, One Future. (IthinK)

Pemkot Kembali Kucurkan Rp7,5 Miliar untuk Bawaku Makmur
BANDUNG, Medikom–Sebagai wujud keberlanjutan kebijakan dan program pengembangan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, sekaligus melaksanakan amanat Perda Kota Bandung No 8 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 dan Perda Kota Bandung No 9 Tahun 2009 tentang RPJMD, di Tahun Anggaran (TA) 2010 Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali kucurkan Rp7,5 miliar untuk 14.245 proposal dana hibah Bantuan Wali Kota Khusus Kemakmuran (Bawaku Makmur). Bantuan dalam bentuk fasilitasi permodalan itu, diberikan kepada 14.168 pemohon perorangan, 57 pemohon kelompok dan 20 koperasi. Diserahkan Wali Kota Bandung H Dada Rosada di Pendopo Jalan Dalem Kaum Bandung, sekaligus launching Bawaku Sehat 2010, Jumat (18/6). Dada menyatakan, pemohon yang belum kebagian tidak perlu khawatir, Pemkot secara bertahap akan terus berupaya merealisasikannya. Karena Bawaku Makmur merupakan upaya pemkot meringankan beban masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar hidupnya terutama ekonominya. Bantuan diharapkan, dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, minimal dapat menunjang kebutuhan dasar lainnya baik pendidikan anak-anaknya maupun kesehatan keluarga. Iding (75) warga Cijawura saat dialog dengan Dada menyatakan, dirinya merasakan berat beban hidup sebagai tukang beca dengan rata-rata penghasilan Rp20.000/ hari. Terlebih diusianya yang senja, diakuinya kadang narik kadang tidak. Bantuan Rp500.000 yang diterimanya akan dibelikan becak second untuk disewakan sehingga bisa menambah penghasilan. Itu pun tidak cukup karena harga becak second paling murah Rp600.000. Mendengar hal ini, Dada langsung mengeluarkan dompet dan menambahkan dari uang pribadinya. Sementara Rika (25) warga Antapani, dengan modal awal Rp2,5 juta termasuk pembuatan roda dorong, membuka usaha jualan nasi kuning berkeliling. Dari modal Rp100.000 per harinya, mendapat keuntungan Rp50.000. Bantuan yang diterimanya akan dimanfaatkan sebagai tambahan mengembangkan usahanya. Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Kota Bandung H Ubad Bakhtiar menuturkan, Pemkot Bandung di 2008 sebelumnya telah menyalurkan Bawaku Makmur Rp36,5 miliar yang dialokasikan bagi 51.019 pemohon. Pada 2009 disalurkan Rp11 miliar untuk 20.516 pemohon. Ditambah penyaluran di 2010, maka Bawaku Makmur hingga kini telah disalurkan lebih dari Rp47,529 miliar dengan 71.535 penerima bantuan. Ubad menambahkan, di 2009 diakuinya terjadi lonjakan pemohon mencapai 139.061 yang dinyatakan lolos penilaian verifikasi dengan total nilai rekomendasi Rp764,09 miliar lebih. Masih terdapat calon penerima sebanyak 118.545 pemohon dengan nilai rekomendasi Rp69,03 miliar. Terkait kriteria penerima, Ubad menjelaskan, pelaku usaha mikro maupun kelompok usaha diutamakan yang belum pernah menerima Bawaku Makmur. Juga dipersyaratkan harus warga yang memiliki KTP Kota Bandung, lokasi usaha tidak melanggar Perda K3, kegiatan usaha berada di Kota Bandung dan tidak bertentangan dengan ketentuan umum serta mempunyai prospek baik. Besaran bantuan bervariatif minimal Rp500.000 disesuaikan dengan jenis dan prospek usahanya. Sedangkan untuk koperasi, diutamakan koperasi primer yang telah berbadan hukum, belum pernah menerima Bawaku Makmur, koperasi aktif yang melakukan RAT sedikitnya 2 tahun berturut-turut, berkedudukan di Kota Bandung, menyerahkan hasil laporan pemeriksaan pengawas internal. Besaran bantuan minimal Rp5 juta. Terkait Bawaku Sehat, Ubad menuturkan, Pemkot Bandung di TA 2010 juga mengalokasikan dana Rp20 miliar. Diperuntukan khususnya bagi warga miskin di luar kuota Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk mendapatkan pelayanan kesehatan pada tingkat dasar, rujukan di seluruh puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kota Bandung. Untuk itu, kepada 12 rumah sakit, 4 puskesmas dan 1 balai kesehatan, Dada menyerahkan pula Bawaku Sehat senilai Rp6,343 miliar untuk pembayaran klaim pelayanan kesehatan masyarakat miskin Kota Bandung tahap II. Di antaranya simbolis diserahkan kepada RS Hasan Sadikin, RS Bungsu, RS Al Islam, RS Kebon Jati, RS Muhammadiyah, RS Rajawali, RS Immanuel, RS Advent, RS Santosa International, Puskesmas Citarip, Puskesmas Ibrahim Adjie, Puskesmas Caringin, dan Puskesmas Garuda. (Dudi)

Komisi C Terus Pantau Kinerja BUMD
BANDUNG, Medikom–DPRD Provinsi Jawa Barat akan terus memantau perkembangan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi C DPRD Jabar Robby Suganda saat mengunjungi Bank Jabar Banten Cabang Bogor dan Hotel Salak Bogor baru-baru ini. Pada kunjungan tersebut, rombongan Komisi C diterima langsung oleh Direktur PD Jawi Teni Wisramwan. Pada kesempatan itu, Anggota Komisi C Yoga Santosa dan Agus Welianto menanyakan kemungkinan PD Jawi akan memperpanjang kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengelola Hotel Salak yang kerja samanya berakhir pada tahun 2018. Menjawab pertanyaan tersebut, Agung dari pihak pengelola Hotel Salak mengatakan, memang perkembangan perhotelan dan pariwisata di Bogor sangat maju. Orang yang semula berbondongbondong ke daerah Puncak, sekarang melirik Hotel Salak dan pariwisata di Bogor. Namun untuk memperpanjang kerja sama tersebut akan dibicarakan kemudian karena masih lama. Sementara Teni mengatakan, walaupun belum bisa menguntungkan, tetapi PD Jawi sudah bisa mandiri dan tidak mempunyai utang perusahaan. Dalam hal ini PD Jawi sudah menekan biaya operasional seminimal mungkin. Selain mengelola Hotel Salak, PD Jawi pun menangani masalah Gedung Rumentang Siang dan Palaguna di Bandung. Penyelesaian masalah Palaguna sangat alot dan lamban. Karena berkaitan dengan pihak Pemerintah Kota Bandung serta masalah administrasi. Mengenai masalah rencana Palaguna sebagai ruang terbuka hijau (RTH), pihak PD Jawi sudah menghadap DPRD Kota Bandung dan melobi semua fraksi. Menurut Teni, nantinya Palaguna ini tidak BOT, tapi joint venture, menanam saham sendiri dan tidak akan menganggu APBD. Pada kunjungan ke Bank JabarBanten Cabang Bogor, Komisi C diterima oleh Direktur Bank JabarBanten. Direktur Bank JabarBanten menjelaskan, Bank Jabar Banten Cabang Bogor mempunyai banyak saingan di kota Bogor dan harus berkompetisi dengan75 bank lain sehingga nasabah pun makin lama makin sedikit. Anggota Komisi C Ineu Purwadewi Sundari SSos pada kesempatan tersebut menanyakan penyebab nasabah di Bank Jabar Banten Cabang Bogor banyak yang pindah ke Cibinong. Pihak Bank Jabar menjelaskan, sejak ada pemisahan antara Kota dan Kabupaten Bogor, para nasabah banyak yang pindah ke Bank Jabar Cibinong karena di Kabupaten Bogor banyak didirikan perusahaan dan pabrik sehingga kantong-kantong bisnis lebih banyak berada di Kabupaten Bogor. Sementara itu, Asyanti Rozana Thalib SE menyatakan, Bogor mempunyai potensi yang sangat baik. Oleh sebab itu, Bank Jabar Banten Cabang Bogor harus dapat memasuki berbagai sektor. Direksi Bank Jabar-Banten pun mengakui, di Bogor apapun yang dijual akan laku. Oleh karena itu, pihaknya akan berusaha berperan dalam mendorong para pengusaha untuk mengalihkan usaha ke sektor produktif yang nanti akan sangat dominan. Terkait dengan data yang disampaikan kepada DPRD, Yoga Santosa berpendapat bahwa data Bank Jabar-Banten sekarang sama dengan data tiga bulan yang lalu ketika pihak Pansus BUMD DPRD melakukan evaluasi, sehingga menurut Yoga laporan yang diberikan saat ini kurang akurat dengan situasi aktual. (IthinK)

Wow, Pemeliharaan 11 Unit Mobil Rp2,6 M

Kantor DPRD Dipenuhi Mobil Baru
CIMAHI, Medikom-Akhir tahun 2009 lalu, DPRD Kota Cimahi membeli mobil Nissan X-Trail yang harga per unitnya Rp300 juta melalui anggaran biaya tambahan (ABT). Konon, mobil berplat hitam tersebut adalah kendaraan dinas ketua DPRD serta wakil ketuanya. Mengawali tahun anggaran 2010 ini, DPRD Kota Cimahi kembali belanja mobil. Tidak tanggungtanggung, kali ini Dewan yang terhormat dan dipercaya rakyat ini membeli 16 unit Toyota Rush. Mobil yang akan dipakai ketua, wakil ketua, komisi beserta sekretaris, ini per unitnya berharga Rp196 juta untuk jenis automatic dan Rp173 juta jenis manual. Menurut Wakil Ketua DPRD Kota Cimahi Achmad Zulkarnaen, dalam APBD 2010 terdapat anggaran untuk membeli mobil. Karena mobil yang lama sebanyak 11 unit, untuk biaya pemeliharaannya sebesar Rp2,6 miliar per tahun, maka menurutnya, sudah lebih baik membeli kendaraan baru. Menanggapi pembelian mobil baru untuk DPRD Kota Cimahi, Ketua Umum LSM Pemantau Kinerja Aparatur Negara (Penjara) Achmad Fahry, mengatakan, saat ini rakyat hanya bisa melihat dan mendengar janji-janji para politikus yang sudah duduk di singgasana, kursi DPRD. Mereka tidak malu ketika meminta dukungan dari masyarakat agar bisa menjadi anggota DPRD. “Hati-hati terhadap janji. Jangan sampai rakyat bertindak. Buat apa beli kendaraan, apa yang sudah diperbuat oleh DPRD Kota Cimahi terhadap masyarakat, khususnya masyarakat Kota Cimahi, terlebih terhadap konstituennya,” kata Achmad. “Yang terpenting saat ini adalah wujud nyata dari apa yang pernah dijanjikan. Toh kendaraan yang lama masih sangat layak untuk dipergunakan. Apalagi Kota Cimahi yang hanya tiga kecamatan. Mau dibawa ke mana mobil semahal itu! Mau gagah-gagahan, atau supaya bisa dipergunakan oleh kelurganya!” sindirnya. Informasi yang diterima oleh wartawan Medikom, Ketua DPRD Kota Cimahi Ade Irawan meminta agar salah satu mobil yang baru dibeli dipakai untuk keperluan keluarganya. Uniknya, mobil dinas ketua dan wakil ketua, jenis Nissan X-Trail sampai saat ini masih menggunakan plat hitam. Demikian juga ke-16 mobil Toyota Rush yang baru dibeli, saat ini semuanya menggunakan plat hitam. (Fredy HS)

Pekerja Di-PHK Diduga Ada Kesalahan Administrasi
BANDUNG, Medikom – Ayi Mulyani, seorang pekerja sebagai Sales Canvas Distributor Food (mie bihun-Red) sekaligus kolektor penagihan pada toko yang membeli barang barang PT Tata Makmur Sejahtera yang berlokasi di Jalan Ibrahim Adji– Kiaracondong No 177 Bandung, di-PHK oleh perusahaan hanya karena diduga terjadi kesalahan pencatatan dalam memasukkan data oleh pihak administrasi. Pengusaha menganggap pekerja telah melakukan kesalahan berat berupa penggelapan uang sebesar Rp831.500. Hal ini telah diklarifikasi oleh Ayi dengan pihak perusahaan melalui Head of Territorial M Fazri dan supervisornya Elly Yakib, agar si pekerja membayarnya, tetapi pihak perusahaan tidak menanggapi. Justru pekerja Ayi Mulyani langsung di-PHK secara lisan tanpa ada surat peringatan 1, 2 dan 3, dan tanpa adanya skorsing. Demikian diungkapkan kuasa hukum pekerja, Rafael Situmorang SH, di sela sela gugatan pekerja (Ayi Mulyani) di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung, belum lama ini. Menurut Rafael, PT Tata Makmur Sejahtera yang mem-PHK kliennya dengan alasan penggelapan dan belum menempuh prosedur serta belum memperoleh keputusan pengadilan pidana yang mengikat, menurutnya dapat diartikan hubungan kliennya dan pihak pengusaha masih ada hubungan kerja. Dan tanpa adanya prosedur penyelesaian di pengadilan juga masih tergolong kesalahan ringan/indisipliner. Di sisi lain, Pasal 158 UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyangkut kesalahan berat pasca-dianulirnya Pasal 158 oleh putusan Mahkamah Konstitusi atas hak uji materil tentang ketenagakerjaan terhadap UUD 1945 dalam poin 3 butir A Surat Edaran Menakertrans Nomor 13/Men/57-HK/I/2005, telah dinyatakan secara tegas bahwa pengusaha (tergugat) melakukan PHK setelah ada putusan hakim pidana yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Jadi, menurut Rafael, pihak pengusaha mem-PHK pekerja diduga melakukan kesalahan penggelapan hanyalah akal-akalan untuk menghindari membayar pesangon sesuai UU No 13 Tahun 2003. “Tetapi lebih tepatnya diduga untuk efisiensi atau pengurangan pekerja,” ujarnya. Sementara itu kuasa hukum PT Tata Makmur Sejahtera, Hartono Permadi SH, saat ditemui di kantornya Jalan Lodaya 14 Bandung, Jumat (11/6) membenarkan pekerja diduga telah melakukan penggelapan uang dan hal ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian, tanpa bersedia menyebutkan wilayah kepolisian mana. Hartono menjelaskan, pihaknya mendampingi pihak PT Tata Makmur Sejahtera hanya sebatas laporan dugaan pidana oleh pekerja. Sedangkan untuk perdata di PHI, hanya memonitoring saja. Hartono juga menerangkan, ia advokat yang lurus-lurus saja, tanpa neko-neko, tanpa dibayar jasanya oleh PT Tata Makmur Sejahtera, walaupun hal ini tidak ditanya oleh Medikom. Menyangkut dugaan PT Tata Makmur Sejahtera tidak mengikutsertakan pekerja menjadi peserta Jamsostek, yang juga merupakan tindak pidana kejahatan, sebagaimana Pasal 35 ayat (2), (3) UU No 13 Tahun 2003, dikatakan, hal ini bukan urusannya. (Laures)

Ribuan Umat Muslim Ikuti Bandung Berzikir
BANDUNG, Medikom–Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Bandung, yang ke-200, ribuan umat muslim Kota Bandung memadati lapangan Gasibu untuk mengikuti Bandung Berzikir, Sabtu (19/6). Kegiatan berzikir atau mengingat asma Allah, menurut Wali Kota Bandung adalah bagain dari penghambaan kepada Khaliq, karena manusia tidak mempunyai daya upaya dan kekuatan, apalagi keuasaan, selain karena kehendak Allah. “Berzikir harus dilakukan setiap saat, bukan saja untuk memenuhi kewajiban kepada zat yang menciptakan alam semesta, tetapi suatu kebutuhan setiap individu, terlebih dalam Alquran disebutkan bahwa berzikir dapat menenangkan qalbu,” ungkap Dada. Menurutnya, berzikir bisa disebut sebagai pengembaraan spritual untuk meraih derajat kehidupan yang lebih paripurna, baik sebagai insan yang takwa di mata Allah SWT maupun sebagai insan yang teladan menurut pandangan manusia. “Untuk dapat menjalani aktivitas tersebut, seseorang dituntut memiliki bekal intelektual yang diperoleh melalui pendidikan, sehat jasmani dan rohani, makmur secara ekonomi agar tidak terlalu memikirkan kebutuhan hidup dan merasa nyaman karena lingkungan di sekitarnya tertata dengan baik,” ujar Dada. Pengembaraan tersebut, tambahnya, harus disertai perjuangan memenuhi pendidikan untuk mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, memelihara kualitas kesehatan, meningkatkan kemampuan ekonomi, dan merawat lingkungan hidup. “Bahkan akan lebih indah jika upaya ini disertai dengan pemeliharaan seni budaya yang dapat merangsang lahirnya kreativitas, membiasakan diri berolahrga, menjadikan nilai-nilai ajaran agama sebagai ruh atau jiwa dari setiap aktivitas kita,” katanya. Dada pun berharap perjalanan spiritual tersebut menjadi bagian dari kebutuhan dan kebiasaan warga kota, karena hal tersbut dapat memperkokoh Bandung sebagai kota agamis. “Saya pun berharap kegiatan Bandung Berzikir menjadi sarana untuk memperkokoh tali silaturahmi di antara kita dalam rangka memupuk semangat ukhuwwah islamiyah guna menyongsong hari esok yang lebih baik,” pungkas Dada. (Dudi)

Merekatkan Kekayaan Budaya dengan Masyarakat
BANDUNG, Medikom–Kemajuan sebuah bangsa ditentukan perkembangan taraf peradaban dalam rangka pelestarian budaya dan kekayaan sejarah tradisi para leluhur. Oleh karena itu, pengayaan, perlindungan dan pelestariannya sebagai jati diri mesti terus dilakukan secara berkesinambungan. Pernyataan ini dikemukakan Kadisparbud Jabar Ir Herdiwan MM dalam keterangan persnya baru-baru ini. Menurut Herdiwan, wahana pembelajaran seluruh kekayaan budaya menjadi kewajiban pemerintah sebagai fasilitator dan regulator untuk merangsang apresiasi masyarakat terhadap nilai kesejarahan dan budaya bangsa. Salah satu kebijakan strategis yang dilakukan adalah memfasilitasi segala sarana prasarana yang dibutuhkan. Semua itu, untuk mendukung upaya merekatkannya dengan masyarakat sebagai sebuah jati diri dalam merespons segala perkembangan budaya. “Penyempurnaan secara fisik dalam bentuk sarana dan prasarana yang dibutuhkan seperti pengucuran dana secara langsung terus menjadi anggaran prioritas seperti yang dianggarkan dalam APBD Jabar 2010,” ungkapnya seraya menambahkan, gerakan cinta budaya dan benda purbakala diharapkan bisa merangsang partisipasi dan tanggung jawab seluruh stakeholder baik pelaku usaha maupun masyarakat. Sebab, peran serta masyarakat menjadi lokomotif dalam memberikan kontribusi pengembangan dan revitalisasi seperti wisata edukatif ke museum. Sehingga secara sinergis harus terus diupayakan, agar sejalan dengan kebutuhan masyarakat berbudaya yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral. Karena, perkembangan teknologi informasi (IT) sebagai budaya global saat ini mesti dilakukan seleksi dengan memperkuat jati diri budaya misalnya dengan perhatian terhadap peran benda kepurbakalaan sebagai media informasi. “Sinergisitas antara pemerintah dengan masyarakat sangat mendukung peningkatan standardisasi pelayanan sekaligus perkuatan budaya untuk memperkuat kekuatan dan kesatuan bangsa,” tuturnya. (Zaz)

Telkom Resmikan Pusat Pelatihan Internet Masyarakat Baduy
BANDUNG, Medikom–Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah didampingi General Manager PT Telekomunikasi Indonesia Regional Barat Mas’ud Khamid meresmikan Pusat Pelatihan Internet di SD Negeri II Bojong Menteng, Desa Ciboleger, Leuwi Damar, Kabupaten Lebak. Kegiatan ini dilanjutkan dengan peresmian pelatihan internet bagi masyarakat Baduy, guru-guru, siswa dan masyarakat di Kabupaten Lebak. Menurut Mas’ud, pelatihan internet yang sepenuhnya difasilitasi oleh Telkom tersebut dimaksudkan memberikan pengetahuan dan keterampilan memanfaatkan internet. “Masyarakat Baduy dan seluruh warga Lebak hendaknya bisa menjalankan dan memanfaatkan internet. Bila digunakan secara benar, internet sangat bermanfaat baik untuk pendidikan, membuka wawasan, maupun menunjang berbagai aktivitas kehidupan lainnya,” tambahnya. Meskipun kawasan Baduy relatif terpencil, tetapi tidak harus ketinggalan informasi. Masyarakat Baduy memiliki hak yang sama dengan warga negara lain. Masyarakat Baduy dan juga warga Lebak lainnya berhak memperoleh sarana telekomunikasi yang memadai. Untuk itu Telkom akan berusaha menghadirkan sarana telekomunikasi termasuk internet ke Lebak maupun wilayah terpencil lainnya. Dijelaskan Mas’ud, Telkom memberikan perhatian kepada wilayah-wilayah terpencil. Contohnya, Telkom baik melalui layanan seluler maupun internet cepat Speedy saat ini sudah hadir di pulau-pulau terpencil seperti di Kepulanan Natuna dan Pulau Miangas. “Telkom akan terus mengembangkan layanannya di mana pun di Indonesia ini,” jelas Mas’ud. Bersamaan dengan peresmian Pusat Pelatihan Internet tersebut, Telkom menyerahkan bantuan berupa 10 buah komputer beserta koneksi gratis internet cepat Speedy selama 1 bulan. Selain itu, Telkom juga menyumbangkan 2.000 bibit pohon albasiah, 100 bibit pohon jati, dan 500 bibit pohon kelapa, paket sembako dan karpet masjid kepada masyarakat Baduy. (IthinK)

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

Hukum
Gara-Gara Tabung Gas, Nyawa Istri Jadi Tumbal
BANDUNG, Medikom-Reaksi korban Ny Sukini alias Tini terhadap perbuatan suaminya Suryana Bin Amir Hamzah (27) mengambil tabung gas tanpa izin memicu terjadinya prahara. Reaksi korban meluap berupa kemarahan yang menjadi-jadi saat mereka berada di kamar kos di Kampung Margaluyu, Kecamatan Margasari, Kawasan Buah Batu, Bandung. Kemarahan istrinya yang dinilai berlebihan akhirnya menyalakan api emosi Suryana hingga akhirnya bergelora tak terkendali. Karena sang istri tercinta terus memberontak kala kedua tangannya dipegang, terdakwa pun menjadi gelap mata. Akhirnya terdakwa mencekik leher korban hingga meregang nyawa. Dalam acara pemeriksaan saksi-saksi Ani, Erna, Sri Hertati dan tiga saksi lainnya, Kamis (10/6), saat menjawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU) Jannes Sihombing SH, di hadapan majelis hakim yang diketuai Eris Sujarwanto SH, semakin jelas peristiwa yang terkait dengan kematian Tini. Begitu juga dalam acara pemeriksaan saksi-saksi, Kamis (17/6), fakta hukum mengenai peristiwa penghilangan nyawa korban juga dipaparkan di hadapan majelis hakim PN Bandung. Jaksa senior Kejari Bandung itu mendakwa, dalam register perkara: PDM 498/BDUNG/04/2010, kejadian penghilangan nyawa itu berlangsung hari Jumat tanggal 26 Februari 2010 sekitar pukul 21.30 WIB. Didahului sehari sebelumnya terdakwa meminjam kunci kamar kos kepada saksi Sri Hertati, lalu mengambil satu tabung gas warna biru ukuran 15,76 kg dengan terlebih dahulu mencopot regulatornya. “Waktu terdakwa makan bersama dengan korban (istri terdakwa) dalam kamar kos, korban memarahi karena terdakwa ambil tabung gas miliknya tanpa izin. Marah-marah korban semakin menjadi sampai nasi yang dimakan oleh terdakwa ditumpahkan korban. Setelah nasi yang dimakan ditumpahkan, lalu timbul emosi terdakwa dengan memegang kedua tangan korban dengan dua tangan terdakwa dan posisinya saling berhadapan, hingga terjadi peristiwa pencekikan yang berakibat hilangnya nyawa korban,” papar jaksa beberapa waktu yang lalu di hadapan majelis hakim. Perbuatan terdakwa yang menjalani tahanan rutan sejak penyidikan tanggal 3 Maret 2010 ini, didakwa secara alternatif dengan sejumlah jeratan atau tuduhan. Pertama dengan Pasal 44 ayat (3) UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, atau kedua dengan dakwaan pembunuhan sebagaimana ketentuan Pasal 338 KUHP, atau ketiga dengan dakwaan melakukan pencurian yang diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan sebagaimana ketentuan Pasal 365 ayat (3) KUHP, atau penganiayaan yang menyebabkan matinya korban sebagai dakwaan alternatif, dan yang terakhir sebagaimana ketentuan Pasal 351 ayat (3) KUHP. Dalam bagian surat dakwaan itu diuraikan bahwa karena korban terus berontak, padahal kedua tangannya sudah dipegang, hingga akhirnya terdakwa mencekik bagian leher korban dari arah depan. Akibatnya mata korban melotot. Setelah tidak berdaya dan tidak bergerak lagi, lalu terdakwa menutup muka korban dengan bantal. Dalam kesempatan mendengarkan keterangan saksi-saksi, jaksa juga memaparkan bahwa setelah korban tak berdaya, terdakwa seperti lupa diri dan kehilangan rasa kemanusiaannya, dengan sengaja mengambil dua buah handphone merek Nokia 2330 dan Fren ZTE, tanpa seizin korban. Perbuatan terdakwa dengan sengaja telah menghilangkan nyawa istrinya diperkuat dengan surat keterangan dokter sebagaimana visum et repertum mayat dari RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. (Zaz)

4

Putusan PA Subang Terkesan Dipaksakan

Pihak Berwajib Diminta Tindak Lanjuti Dugaan Suap
SUBANG, Medikom-Putusan Pengadilan Agama (PA) Subang dalam menangani perkara gugatan cerai dari Nining Rohayatin terkesan dipaksakan sehingga tidak tertutup kemungkinan ada suap yang mempengaruhinya. Demikian dugaan Didi Suhendar, warga Jalancagak RT 11, RW 02 Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang digugat cerai dalam perkara ini. Didi mengaku ada beberapa hal yang belum bisa dimengerti terkait putusan itu. Dirinya pun sampai saat ini belum menerima akta cerai itu, sedangkan Nining sudah menerima akta cerai sejak 16 Oktober 2009 lalu. Bahkan, dalam jangka waktu 12 hari sejak itu, tepatnya 28 Oktober 2009, telah menikah lagi dengan H Ibrohim, seorang pengusaha kaya, pemilik Lembah Sarimas Ciater yang sekarang telah dipegang anakanaknya. Saat ditemui di ruang kerjanya di penginapan Pajar Indah Jalancagak, beberapa waktu lalu, Didi masih meragukan putusan PA Subang terhadap dirinya, yang berakibat dirinya terpaksa menyandang status duda. Apalagi gugatan itupun diajukan saat rumah tangganya yang telah dikaruniai tiga orang anak tersebut, tidak dalam keadaan bermasalah. Dirinya pun merasa tidak pernah melakukan hal-hal yang keluar dari norma-norma rumah tangga sejak pernikahan tahun 1989 lalu, sehingga sebenarnya tidak ada alasan kuat dari istrinya untuk mengajukan gugatan cerai selain dari faktor H Ibrohim. “Masalah akta cerai, sampai saat ini saya benar-benar belum menerima, sedangkan Nining sejak 28 Oktober 2009 telah menikah lagi dengan H Ibrohim. Padahal waktu idah belum habis dengan waktu 12 hari sejak penerimaan akta cerai, tepatnya 16 Oktober 2009 lalu. Padahal dirinya titel haji, apakah tidak melanggar aturan agama? Kan, masa idah itu tiga bulan 10 hari. Dan apakah nggak ada wanita single atau janda, nggak usah sampai menikahi istri orang!” ungkap Didi. Apalagi, lanjut Didi, sebelum akta cerai diterima oleh Nining sekitar 16 Oktober 2009 lalu, dirinya pun pernah melayangkan surat banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung dan Mahkamah Agung, sekitar 30 September 2009. Didi menuturkan sambil memperlihatkan bukti pengiriman surat banding tersebut. “Pada saat itu saya pernah mendatangi Ketua PA Subang, tapi sayang, saat ditemui Kepala PA Subang malah bilang “tidak bisa menangani masalah ini karena telah ditangani majelis hakim,” kata Didi, sembri menirukan perkataan Kepala PA waktu itu. Lebih jauh Didi menuturkan, surat nikah antara dirinya dengan Nining kedua-duanya masih ada di tangannya. “Karena saya tidak pernah menandatangani gugat cerai ini, termasuk bikin ikrol pun tidak. Atas kejadian ini saya merasa dilecehkan oleh PA Subang. Terbukti surat pengajuan banding ke PT Agama Bandung maupun ke MA tidak dihiraukan. Selanjutnya untuk menyikapi masalah ini saya minta pihak berwajib mengusut sampai tuntas,” pintanya. Saat ditanyakan apa yang menjadi dasar dugaan PA Subang telah kena suap dalam menangani kasus ini, Didi menjawab hal tersebut atas ucapan yang pernah dilontarkan Nining. “Karena saat itu Nining, pernah bilang pada saya ‘sudah, kamu jangan bolak-balik ke PA Subang, sudah saya beli sepenuhnya’,” kata Didi, menirukan ucapan Nining itu. Dalam kesempatan tersebut Didi menegaskan itu juga diperkuat menurut keterangan anak-anak H Ibrohim pada dirinya bahwa dalam menangani kasus ini, pihaknya saat itu telah menghabiskan uang sekitar Rp10 juta ke PA Subang. “Yang lebih anehnya, saat sidang ke tiga, Nining bawa saksi sekitar 6 orang, sedangkan saya tidak ada saksi, tapi tidak dipertanyakan. Padahal dalam kesempatan tersebut saya minta keputusan yang seadil-adilnya karena saya tidak ada yang dekat di PA. Yang dekat dengan saya hanya aturan atau hukum,” tegasnya. Didi pun menambahkan, dirinya pun pernah menemui Drs Jajang, petugas PA Subang yang menangani masalah ini. Kepada Jajang dipertanyakan kenapa PA Subang sampai pada kesimpulan mengabulkan gugatan ini. “Pada waktu itu tidak ada jawaban yang pasti, dan selalu menyepelekan saya. Bahkan ucapan Jajang masih terngiang di telinga saya. Mau lapor ke mana pun tidak ada kekuatan!” kata Didi, menirukan ucapan Jajang. Lebih jauh Didi pun menerangkan bahwa kasus gugat cerai ini pernah juga dimuat di salah satu media nasional sekitar 14-20 Desember 2009, edisi 302. Didi pun masih mengingat keterangan Jajang yang dimuat saat itu bahwa putusan PA Subang sudah benar dan melalui prosedur. “Mengenai akta cerai diakui Jajang masih di PA Subang. Dan sampai kini akta cerai itu belum keterima oleh saya. Walau ada akta cerai itu, akan saya tolak karena saya nggak pernah menceraikan istri saya,” pungkasnya. Jajang, saat mau dikonfirmasi sedang tidak ada di tempat. Begitu pula Kepala PA Subang. Menurut penjaga, mereka sedang beristirahat. Tapi tak lama kemudian penjaga tersebut meralat dengan mengatakan Jajang selaku Wakil Sekretaris dan Kepala PA sedang dinas luar. Akhirnya, Senin (14/6), Drs Jajang berhasil ditemui di kantornya. Saat dikonfirmasikan segala keterangan yang diungkapkan Didi, Jajang membantah. “Sebetulnya pihak PA Subang telah melaksanakan tugas sesuai prosedur. Sedangkan masalah banding yang dikatakan Pak Didi itu tidak benar, sebab yang dilayangkan ke PA Tinggi Bandung maupun MA itu semacam pengaduan. Seharusnya banding sesuai prosedur melalui PA Subang,” jelas Jajang. “Sedangkan masalah pernyataan suap, itu tidak benar, karena pihak kami tidak pernah menerima suap. Sedangkan pernyataan Didi untuk melaporkan permasalahan ini ke mana pun, kami siap untuk memberikan keterangan,” pungkasnya. Sementara H Ibrohim, saat mau dikonfirmasi di rumahnya menolak berkomentar. “Saya tidak menerima,” ucapnya. (tim)

Mayat Terbungkus Karung di LangitLangit Rumah
CIAMIS, Medikom-Warga Desa Langkapsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, terutama di RT 28 RW 06 Dusun Karang Mulya, digegerkan oleh temuan satu mayat dari langitlangit sebuah rumah, Minggu (13/6). Atas kejadian tersebut, pemilik rumah yang bernama Kaslan, terpaksa berurusan dengan polisi karena dia ataupun anggota keluarganya diduga terkait dengan peristiwa pembunuhan terhadap korban yang kemudian diketahui bernama Ngadman (35). Informasi yang diperoleh Medikom, di antaranya dari beberapa warga sekitar, dua hari sebelum kejadian, sekitar pukul 11.00 WIB, Inem (50), istri Kaslan pulang dari kebun. Setibanya di rumah, Inem terkaget melihat bercak darah berceceran di lantai rumahnya. Karena penasaran, tetesan darah itu diikutinya dan ternyata berasal dari atas plafon rumahnya. Setelah diperhatikan, di atas plafon terlihat ada karung yang terus-menerus mengeluarkan darah segar. Dengan diliputi ketakutan, Inem kemudian mencari suaminya untuk melaporkan penemuan tersebut. Kaslan pun segera melakukan pengecekan berdasarkan laporan dari istrinya. “Ternyata benar, di plafon rumah ada karung yang penuh darah,” kata Kaslan seperti ditirukan petugas Polsek Banjarsari kepada Medikom. Kaslan pun segera melapor ke polisi desa dan babinsa Odang soal penemuan karung berdarah itu. Lantas, polisi desa, babinsa, bersama sejumlah anggota masyarakat lainnya, segera mendatangi rumah Kaslan. Ternyata benar, di plafon rumahnya ada karung berdarah. Tak lama kemudian, petugas Polsek Banjarsari datang ke lokasi setelah memperoleh laporan dari warga. Menurut Kapolsek Banjarsari Ajun Komisaris Asep KH Baehaqi didampingi Wakapolsek Inspektur Dua Safe’i, setelah dilakukan proses identifikasi, jasad korban dilarikan ke RSUD Kota Banjar untuk diautopsi. “Di TKP kami menemukan batu dan kayu berdarah. Korban diketahui bernama Ngadman,” katanya. Menurut Kaslan, pada Sabtu malam korban memang datang ke rumahnya untuk menemui Otong (30), anak Kaslan, yang berteman akrab dengan korban. Karena itu kedatangan Ngadman ke rumah Kaslan telah dianggap biasa. Dijelaskan, pada sekitar pukul 06.00 WIB pagi anaknya masih ada di rumah. Namun, setelah Ngadman ditemukan menjadi mayat, Otong tidak ada di rumah. “Saya tidak tahu Otong ke mana. Saya juga tidak tahu apakah Otong ada kaitannya dengan kasus pembunuhan tersebut atau tidak,” kata Kaslan. Namun, menurut informasi yang diperoleh, sebelum ditemukan menjadi mayat, Ngadman yang tercatat sebagai warga Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, diketahui tengah berselisih dengan Otong. Mereka berselisih soal sepeda motor, karena Ngadman bergerak dalam usaha jual beli sepeda motor. Hingga Jumat (18/6) petang, saat berita ini disusun, pelaku masih dinyatakan buron dan masih dilacak keberadaannya oleh tim buser Polres Ciamis yang dipimpin Kanit Aiptu Jojon. “Pelaku dimungkinkan lari ke arah timur, yakni antara arah Jawa Tengah maupun ke Jawa Timur,” ujar Ipda Safe’I, kepada Medikom, Jumat (18/7), saat dihubungi Medikom melalui telepon genggamnya. (Herman/Herz)

Menuntut Tiga Tahun, Pengacara Kritik Jaksa
BANDUNG, Medikom-Jaksa penuntut umum (JPU) Dodi Junaidi SH menilai terdakwa Andri H terbukti menguasai dokumen negara secara melawan hukum sebagaimana yang diatur dalam perundang-undangan tentang kearsipan. Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, jaksa Kejari Bandung ini, Kamis (17/ 6), menuntut terdakwa dijatuhi hukuman selama tiga tahun dikurangi selama berada dalam tahanan sementara. Menurut jaksa, berdasarkan sejumlah pendapat ahli hukum atau teori hukum pidana, seperti Prof Dr Sahetapy SH, adanya perubahan peraturan perundang-undangan terkait perbuatan tersangka/ terdakwa, maka yang dipergunakan ketentuan yang paling menguntungkan. Oleh karena itu, perbuatan terdakwa menguasai arsip-arsip negara dalam bentuk berkas-berkas wajib pajak, seperti dokumen wajib pajak PT Pikiran Rakyat dan sejumlah wajib pajak lainnya, sejak tahun 2006 hingga ditangkap tanggal 3 April 2006, tetap tunduk pada ketentuan dalam UU No 7 Tahun 1971 tentang Kearsipan. Begitu juga yang diatur dalam peraturan perundang-undangan secara khusus sebagaimana ketentuan yang tercantum dalam Pasal 103 KUHP, dengan petikan, “Ketentuan yang dari delapan bab yang pertama dari Buku ini (KUHP) ini berlaku juga terhadap perbuatan yang dapat dihukum menurut peraturan perundang-undangan lain, kecuali kalau ada undangundang (Wet) tindakan pemerintah Algemene maatregelen van bestuur) atau ordonansi menentukan peraturan lain”. Berdasarkan sejumlah teori hukum pidana sebagaimana dengan asas legalitas, tambah jaksa, maka bisa disimpulkan terdakwa sebagai pegawai kantor pajak telah terbukti secara sah dan meyakinkan menguasai data atau catatan, rekaman peristiwa untuk kepentingan atau tujuan pribadi atau sendiri. Oleh karena perbuatan terdakwa telah memenuhi seluruh unsur sebagaimana yang didakwakan dengan ketentuan Pasal 81 UU/43/2009 tentang Kearsipan, maka dakwaan alternatif lainnya tidak perlu dibuktikan lagi. Menanggapi surat tuntutan jaksa, Saim Aksinudin SH dkk, selaku pengacara, mempersoalkan dan mengkritik seluruh paparan jaksa, terutama ketidakkonsistenan dalam surat dakwaan. Menurut advokat Saim Aksinudin SH, kepada para wartawan di ruang utama PN Bandung, usai pembacaan surat tuntutan, dalam surat dakwaan jaksa tidak dicantumkan ketentuan mengenai UU/7/1971, tetapi dalam surat tuntutan dipaparkan. Pemaparan itu seperti jaksa memberikan tawaran kepada majelis hakim bahwa meski ketentuan lama yang tidak didakwakan tetapi dinilai bisa digunakan majelis hakim untuk menimbang aturan yang paling meringankan hukuman. Itu sebagai bukti ketidakkonsistenan JPU untuk membuktikan dakwaan alternatif tentang UU/43/2009 atau pencurian dokumen sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHP. Menurut advokat Saim, nota pembelaan secara lengkap diuraikan, Senin (21/6), sesuai dengan desakan majelis hakim. Padahal dia meminta penundaan seminggu atau hingga Selasa (22/ 6). “Perlu diketahui oleh JPU, berkas atau dokumen wajib pajak PT Pikiran Rakyat (harian PR) ada di terdakwa karena ada disposisi dari pimpinan (kepala kantor) terkait dengan adanya permohonan SKB Impor dari PT PR itu,” tegas Saim. Begitu juga mengenai bukti-bukti dalam berkas atau dicantumkan dalam surat dakwaan tidak dikenal terdakwa, apalagi bukan hasil sitaan dari terdakwa. Pelapor Edward Hermawan, berdasarkan Laporan Polisi No.Pol: LP/703/VI/2009/Bag.Ops tanggal 4 Juni 2009 melaporkan tuduhan pencurian (Pasal 362 KUHP) dan pemalsuan (Pasal 263 KUHP), tetapi dalam surat dakwaan adalah Pasal 81 jo Pasal 33 UU No 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan dan Pasal 362 KUHP jo Pasal 65 (1) KUHP. Dakwaan tentang kearsipan, tambah Saim, terkait berkas yang ada pada terdakwa merupakan bagian ruang lingkup pekerjaan kliennya yang rutin membawa pulang berkas dengan tujuan pertanggungjawaban pekerjaan cepat selesai dan bukan tujuan lain. Oleh karena perbuatan tidak terbukti, maka memohon kepada majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala hukuman sekaligus memulihkan harkat dan martabatnya seperti sediakala. Secara terpisah, kronologi kasus ini, dimulai dengan peristiwa pidana 2006-2009 kala terdakwa bekerja di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Bandung Cibeunying (saat ini bernama KPP Pratama Bandung Cibeunying) sebagai pelaksana Seksi PPh Badan, Seksi PPN. Terdakwa membawa keluar satu bundel asli rumah berkas yang berisi empat map/anak berkas dokumen wajib pajak PT PR hingga ditemukan di kediamannya di Kompleks Taman Melati Cimenyan Kabupaten Bandung. Selanjutnya, 3 April 2009 saksi Sandy Irawan dkk menemukan berkas atau dokumen perpajakan itu dari dalam mobil Kijang Innova yang sedang dikendarai terdakwa. Juga diketemukan ratusan bundel wajib pajak pribadi di kantor rental terdakwa Jalan Terusan Kiaracondong No 95 Bandung, tiga lembar neraca PT Panorama Alam Parahyangan, bundel fotokopi konfirmasi faktur pajak PKPM, pajak keluaran PT Adityadasa Cipta Manunggal, satu bundel fotokopi print out komparasi pembayaran pajak 3 tahun berturut-turut (PPN) KPP Cirebon, dan lain-lain. Jaksa Kejari Bandung menuduh terdakwa menguasai berkas-berkas atau dokumen-dokumen tersebut tanpa seizin pimpinan di kantornya atau setidaknya pejabat berwenang, sehingga bertentangan (dakwaan kesatu) dengan sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 81 jo Pasal 33 UU/43/2009 tentang Kearsipan atau diatur dengan ketentuan Pasal 362 KUHP jo Pasal 65 (1) KUHPidana. (Zaz)

Polsek Kadipaten Merazia Warnet
MAJALENGKA , Medikom–Kepolisian Sektor (Polsek) Kadipaten menggelar razia terhadap sejumlah warung internet (warnet) di wilayahnya, Senin (14/6). Kegiatan yang juga melibatkan petugas dari Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Kadipaten inil, selain memeriksa keberadaan situs porno di layar komputer, telepon selular (ponsel) yang dibawa pengunjung warnet juga ikut menjadi sasaran.
warnet di ruas Jln Raya Timur Kadipaten. Kapolsek Kadipaten Ajun Komisaris Polisi Wagiyono D, mengemukakan, operasi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya peredaran video porno yang diduga pelakunya mirip artis Ariel Peterpen, Luna Maya dan Cut Tari dan penyalahgunaan situs porno lainnya di dunia maya. Karena dipastikan gambar video tersebut sudah beredar luas di wilayah Kadipaten dan sekitarnya. “Tayangan tidak senonoh yang beredar di dunia maya saat ini, dapat merusak moral generasi muda. Karena itu menjadi tugas kami untuk menertibkan warnet tersebut,” katanya. Menurutnya, selain membawa pengelola warnet ke Mapolsek untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, pihaknya juga mengamankan satu unit perangkat komputer sebagai barang bukti. Jika terbukti menyediakan video porno, kata dia, tersangka akan dijerat dengan Undang-Undang Pornografi dengan ancaman mulai 6 bulan hingga 12 tahun kurungan penjara atau pasal 533 KUHP tentang pelanggaran kesusilaan, diancam dengan pidana kurungan paling lama dua bulan. “Kami masih melakukan penyelidikan hasil razia ini, dan tidak menutup kemungkinan jika terbukti bersalah mereka bisa dijerat dengan aturan hukum yang berlaku,” tandasnya. (Jur)

Kasus KONI: Saksi Ahli dari Auditor Provinsi
CIAMIS, Medikom-Sebagaimana diberitakan Medikom beberapa waktu lalu, akhirnya jaksa penuntut umum (JPU) Billy SH dan dua anggota JPU lainnya, menghadirkan saksi ahli dari auditor Provinsi Jawa Barat, Kamis (17/6), pada persidangan lanjutan kasus dugaan penyimpangan bantuan pemerintah dari APBD Kabupaten Ciamis ke KONI Ciamis. Sidang tersebut digelar oleh Pengadilan Negeri Ciamis, bertempat di Mapolres Ciamis. Antara lain Ade Hermana SE, salah satu auditor muda dari Provinsi Jawa Barat, bidang pemeriksaan di Jawa Barat. Di hadapan majelis hakim yang diketuai Heru Prakosa SH, Ade Hermana, mengatakan, teknis audit mengumpulkan buktibukti dan analisis serta hasil pemeriksaan KONI di lapangan dapat disimpulkan ada selisih anggaran yang signifikan penggunaannya dan tidak tepat sasaran. Dikatakan, perbedaaannya pada bantuan masing-masing cabang olah raga terindikasi kerugian mencapai Rp700 juta. Pada enam cabang olah raga, ada selisih yang fatal. Di antaranya banyak selisih anggaran pada tiap-tiap cabang olah raga yang berimbas kerugian pada keuangan negara. Menurut Ade Hermana, secara keseluruhan pengelolaan kegiatan tidak tercatat pada kas buku yang dikeluarkan. Selebihnya pihak KONI tidak bisa mempertanggungjawabkan bantuan tersebut. Di antaranya pembelian satu unit mobil seharga Rp110 juta untuk operasional KONI dan pemberangkatan pengurus KONI ke Thailand senilai Rp114 juta. “Sehingga dengan hal tersebut timbul kerugian pada keuangan negara,” jelasnya. Saat ditanya jaksa penuntut umum (JPU) secara spesifik tentang yang melanggar aturan, Ade Hermana menjawab, “Secara keseluruhan bantuan KONI yang diberikan dari APBD Ciamis terjadi penyimpangan dari masing-masing hak cabang olah raga (cabor). Salah satu contohnya, hak cabor tidak diberikan secara utuh oleh pihak KONI. Yang seharusnya menerima bantuan Rp125 juta, pada kenyataannya hanya Rp50 juta saja. Jelas unsur itu sudah meyimpang.” JPU Billy SH bertanya kesimpulan apa yang didapat dari hal ini, Ade Hermana menjawab, “Kesimpulan yang didapat, hasilnya menimbulkan keuangan negara mencapai Rp455 juta.” Untuk diketahui, kasus KONI Ciamis melibatkan Ketua Harian KONI Muztahidin sebagai terdakwa dan Sekretaris 2 KONI Dede Sunandar juga sebagai terdakwa. (Herz/Ipan)

Penolakan atas Kesaksian Direktur BPR Dikritik
BANDUNG, Medikom-Kesaksian yang hendak dikemukakan Prayitno Yoga Prabowo selaku Direktur BPR Karyadjatnika Sadaya tentang kebijakan insentif dalam bisnis perbankan, ditolak tergugat dan majelis hakim. Menurut majelis hakim yang diketuai H Suprapto SH MH, Kamis (10/6), saksi tersebut pada saat peristiwa yang disengketakan dalam gugatan ini menjabat sebagai direksi dan penggugat sebagai komisaris utama, sehingga memiliki hubungan hukum atau kerja. Hal senada kembali mengemuka dalam persidangan, Kamis (17/6), karena saksi yang dihadirkan penggugat masih dari PT BPR KS selaku pejabat/karyawan yang mengetahui persis kebijakan insentif itu. Dalam acara pembuktian itu Penggugat Ny Selmi Kusuma Dewi Syamsudin (SKDS) beralasan kehadiran saksi-saksi yang berkompeten itu menunjukkan bukti-bukti bahwa insentif yang diterimanya berdasarkan prestasinya sebagai karyawan. Meski saksi-saksi fakta itu ditolak majelis hakim, tetapi haknya untuk menghadirkan saksi-saksi sebagai bukti Penggugat, masih diberikan kesempatan dalam persidangan dua pekan berikutnya, Kamis (1/7). Dalam acara pembuktian, sebelumnya, diuraikan sejumlah bukti tertulis yang dikemukakan para pengacara Penggugat, yaitu Nur Kholim SH MH, Nona Idar Dartika SH, Zainudin SH, untuk menguatkan gugatan. Secara prinsip, menurut Penggugat, insentif diterima Ny SKDS dari PT BPR KS sejak Februari 2006–Oktober 2009 sebesar Rp717,8 juta, karena didasarkan prestasi dan loyalitas yang dimilikinya. “Penggugat sebagai kapasitas karyawan, Ny SKDS, berhasil menghimpun dana deposito dari masyarakat, bukan sebagai komisaris utama,” papar Nur Kholim di ruang persidangan. Penggugat sejak bekerja pada PT BPR KS (Turut Tergugat II) memperoleh penghasilan cukup besar yang menjamin kehidupannya bersama keluarga. Penggugat menunjukkan bukti pendukung bahwa insentif diterimanya dari Turut Tergugat II sesuai dengan yang sudah ditentukan dalam RUPS. Sebab uang insentif yang diberikan Turut Tergugat II diterima Ny SKDS sebagai prestasi dalam menghimpun dana di luar tugas utamanya sebagai komisaris utama. Oleh karena itu, kata pengacara Penggugat, kalaupun BI tetap bersikukuh dengan pendapatnya pemberian insentif kepada komisaris utama itu salah, sekalipun dalam kapasitas sebagai karyawan, maka seharusnya BI mengedepankan pencegahan, pengawasan sekaligus pembinaan, bukan mencari-cari kesalahan. Sehingga penggugat merasa ditekan pihak tergugat, berakibat harus mengundurkan diri dan mengalami kerugian secara materiil sebesar Rp1,697 miliar disertai kerugian immateriil Rp1 miliar. Senada dikemukakan advokat Purnama Sutanto SH, Kamis (17/ 6), kepada Medikom, bahwa kesaksian dari direksi dan pejabat/ karyawan itu beralasan secara hukum. Sebab yang hendak diterangkan ialah kebijakan perusahaan (PT BPR KS) mengenai dasar pemberian insentif. Sebab yang mengetahui persis adalah direksi atau pejabat yang terkait. Dengan demikian, menurutnya, penolakan atas saksi yang dihadirkan Penggugat oleh tergugat dan majelis hakim, patut dikritik. Menurut pimpinan kantor advokat Purnama Sutanto SH dan Rekan itu, sebagaimana bukti dihadirkan dalam persidangan silam, penghargaan yang diberikan PT BPR KS dalam bentuk insentif kepada Ny SKDS sudah sesuai dengan ketentuan hukum. Prestasi atau penghargaan yang diterima Penggugat dari Turut Tergugat II (PT BPR KS), itu jelas dan tegas sesuai dengan ketentuan yang diamanatkan dalam kegiatan operasional perbankan, yakni Pasal 29 UU No 23 Tahun 1999 tentang BI yang telah diubah dengan UU No 3 Tahun 2004, dan Pasal 30–33 UU No 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan

Setelah menyusuri sejumlah titik ruas jalan, mulai dari Jln Pasar Balong Desa Kadipaten, Jln Siliwangi Desa Lingjulang, Jln Raya Timur Kadipaten dan sekitar kawasan Pasar Kadipaten, petugas menemukan adanya situs video porno di dua warnet, yakni salah satu warnet di blok Teluk Jambe Desa Kadipaten berupa situs porno, dan tayangan video mesum mirip ketiga artis, Ariel Peterpen, Luna Maya, dan Cut Tari di salah satu

Terdakwa Mansur Saman Palsukan Surat Nikah

JPU Menuntut 7 Bulan Penjara
SUMBER, Medikom–Setelah terdakwa Mansur Saman Kaur Kesra Desa Asem, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon mengakui segala perbuataannya memalsukan persyarat surat nikah, akhirnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Sumber menuntut 7 bulan penjara. JPU, Samsul Arif SH menjelaskan perbuatan terdakwa sudah terungkap dalam persidangan, terdakwa mengakui semua perbuatannya, karena sangat tergoda kecantikan janda muda. Selain terpikat kemolekan Dewi Octavia, juga ia (Dewi) seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas menjadi seorang guru TK di Kabupaten Kuningan. Menurut JPU, perbuatan terdakwa dijerat pasal 263 KUHPidana dan sesuai dari fakta dalam persidangan terdakwa dituntut hukuman selama tujuh bulan penjara. Adapun putusan hukuman semua bagaimana keyakinan majelis hakim. Sebelumnya diberitakan perkara Saman sampai dimeja hijaukan karena diadukan oleh istri tuanya. “Saya menyesal Pak hakim, untuk itu mohon diringankan hukumannya dan saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya,” kata Mansur S. Sebelumnya diberitakan “Saya tidak akan menceraikan Dewi, karena ia sudah menjadi pilihan yang sangat dicintai. Adapun Mustira istri pertama akan diselesaikan setelah keluar dari penjara,” kata Mansur Saman dalam sidang Pengadilan Negeri Sumber Rabu pekan kemarin. Sementara saksi Dewi Oktavia SPd berharap suaminya menceraikan, karena kasihan kepada istri pertamanya yang sudah dikarunia anak. Sedang perkawinan dirinya yang masih seumur jagung sampai sekarang belum ada tanda-tanda kehamilan. Dewi mengaku perkenalan dengan Mansur saat prajabatan, itu pun dikenalkan melalui teman. Kemudian berlajut melalui sms, hingga ia meminta kepada keluarga dan saat ditanya ia mengaku duda mati. “Saya juga heran tidak boleh main ke rumahnya tapi tiba-tiba mau dengan dia, padahal tidak cinta,” kata Dewi. Sedang saksi Kepala KUA Kadugede Kabupaten Kuningan, Toto Sartono menyatakan tidak teliti memeriksa berkas persayaratan nikah (surat andon kawin) milik Mansur S. ”Saya percaya saja karena sepintas melihat surat-surat itu asli karena ada cap instansi berwenang,” papar Toto. Sidang yang dipimpin Malelis Hakim MS Giri Basuki SH Rabu mendatang mengagendakan penuntutan terhadap terdakwa. Sementara Jaksa Penuntut Umum, Suharja SH mendakwa terdakwa melanggar pasal 263 KUHPidana, karena diduga telah memalsukan surat-surat yakni pemalsuan surat untuk menikahi Dewi Oktavia. Adapun yang diduga dipalsukan yaitu surat andon kawin dari Desa Sindang Laut, Surat Keterangan Duda Mati, Surat Keterangan Kantor Urusan Agama (KUA). “Intinya Mansur S melakukan pemalsuan surat untuk persyaratan nikah mulai dari desa sampai KUA,” ungkap JPU Suharja SH. (Mulbae)

Ke Halaman 11

Halaman Khusus

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

PURWASUKA
Purwakarta - Subang - Karawang
SUBANG, Medikom–Kepala Bagian Ekonomi Setda Kabupaten Subang Tri Harjatmo mengatakan, Pemerintah Kabupaten Subang hingga kini masih belum memiliki data akurat mengenai jumlah agen elpiji yang ada di Kabupaten Subang. Karena, pihak Pertamina belum memberikan data dimaksud. “Hingga saat ini kami masih belum mendapatkan data tentang jumlah pengusaha elpiji di Kabupaten Subang, baik pihak Hiswana Migas, maupun pihak PT Pertamina masih belum menyerahkan data tersebut,” jelas Tri. Dijelaskan, walaupun salah satu syarat menjadi agen harus memiliki SIUPP, hingga kini pihak dinas atau badan yang menanganinya, yakni Badan Penanaman Modal dan Perijinan belum menyerahkan jumlah pengusaha yang mengajukan untuk menjadi agen gas. “Seharusnya, untuk membuat pelaporan kepada Bupati itu, melalui bagian ekonomi terlebih dulu, namun kenyataannya sampai saat ini koordinasi tersebut tidak berjalan, kalau pihak kami terus yang harus meminta, kan tidak etis juga, masa orang lain yang menangani secara teknis, harus kita minta-minta laporannya. Idealnya kan mereka yang harus melaporkan,” ungkap Tri. Saat dilaksanakan pertemuan beberapa waktu yang lalu, menurut Tri, data pengusaha gas di Kabupaten Subang sudah diminta secara lisan, sementara secara tertulisnya sudah diminta sejak lama. “Sejak digulirkannya program pengalihan dari minyak ke gas, sudah secara resmi diminta, namun hingga kini tidak juga ada tindak lanjut,” katanya. Menurut Tri, guna melakukan perlindungan kepada konsumen, pihaknya akan memberikan perlindungan yang maksimal, namun untuk menjaga terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, pihak pemerintah sudah melaksanakan sosialisasi terkait dengan penggunaan gas. “Itu pun, sifatnya hanya membantu, sebab yang melaksanakan sosialisasi ke lapangan adalah pihak konsultan yang ditunjuk oleh PT Pertamina,” jelas Tri. Berdasarkan keterangan dari Hiswana Migas, lanjut Tri, data para agen tersebut belum bisa dilaporkan kepada pihaknya karena masih belum seluruhnya terekap oleh Hiswana Migas. “Untuk bisa menjadi agen terserbut, salah satunya juga harus menjadi anggota Hiswana Migas, dan untuk hal itu, mereka harus memiliki kartu anggota, ini menurut keterangan Hiswana Migas, yang belum selesai,” pungkas Tri . (Loy)

5
Purwasuka diolah oleh wartawan daerah yang dikepalai Endang Kosasih, penanggung jawab Ridwan Abdulah dengan wartawan Lodewyk Butar-Butar, Slamet SP, dan Asep Oloy.

Demi Selingkuhannya,

Oknum Staf Dinsos Diduga Palsukan Tanda Tangan dan Stempel
SUBANG, Medikom–Suratno SE, oknum Staf Dinsos Kabupaten Subang diduga kuat telah memalsukan tanda tangan dan stempel Kepala BKD Subang untuk membuat Surat Izin Penceraian pasangan selingkuhnya, Neneng Kaniawati SSos, pengajar di SMAN I Purwadadi Subang. Surat No 900/745-BKD itu, ditujukan ke Kepala Pengadilan Agama (PA) Sumedang tanggal 24 Juni 2009. Waktu itu, Suratno.masih bekerja sebagai pegawai BKD Subang. Neneng sendiri akan bercerai dengan suaminya, Tatang Sudrajat, warga Sumedang. Terungkapnya permasalahan ini berdasarkan keterangan langsung dari Yeni Hamidayani, istri sah Suratno yang beralamat di Jln Otista Gg Jambu RT 93 RW 26 Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Subang,,Kabupaten Subang sekitar pertengahan Mei 2010. Dikatan Yeni, kasus pemalsuan tanda tangan dan stempel Kepala BKD Subang yang dilakukan Suratno, demi memperjuangkan Neneng Kaniawati, selingkuhannya supaya cerai dengan Tatang Sudrajat, suaminya warga Pasir Dog-Dog, Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong, Sumedang. “Dengan bukti fotokopi, berkas Surat Izin Penceraian Neneng Kaniawati SSos ditujukan ke PA Sumedang yang saya dapatkan di kantongnya saat Suratno di rumah saya,” tutur Yeni sambil memperlihatkan salinan surat tersebut serta sekaligus memberikan beberapa surat lain termasuk salinan laporan pengaduan yang ditujukan kepada Bupati Subang serta salinan surat pernyataan perkara perselingkuhan antara Suratno dan Neneng Kaniawati yang tertangkap basah oleh Yeni sekitar 7 September 2009 lalu. Yeni menjelaskan, saat kejadian membuat tanda tangan dan setempel palsu, Suratno sedang berdinas sebagai Pegawai BKD dengan jabatan pelaksana pada Bidang Pengadaan, Pengembangan, dan Pensiun Pegawai BKD. Suratno bekerja di Dinsos Subang sejak 19 Oktober 2009 sebagai tenaga Staf Seksi Pengembangan TKSM dan Karang Taruna Dinsos. Lanjut Yeni, pindahnya Suratno ke Dinsos, mungkin karena pihak BKD merasa dicemarkan nama baiknya. “Bahkan saya pernah menemui Kepala BKD. Pada saat dipertanyakan tentang tanda tangan dan stempel izin penceraian Neneng Kaniawati yang ditujukan ke PA Sumedang, beliau mengelak karena tidak pernah melakukannya. Selain itu, pindahnya Suratno ke Dinsos saya kira karena banyaknya wartawan yang menemui Kepala BKD, karena saya telah menginformasikan masalah ini kepada wartawan termasuk waktu tertangkap basahnya Suratno saat beselingkuh dengan Neneng di kontrakannya Purwadadi disaksikan wartawan dari Pantura,” tutur Yeni. Namun Yeni menyayangkan, walau telah diselesaikan secara kekeluargaan dan keduanya berjanji tidak akan bersatu lagi, Suratno tetap saja melanggarnya. Karena, mereka masih tetap berhubungan. “Bahkan saudara saya pernah melihat keduanya berboncengan di sekitar Kalijati,” tuturnya. Yeni pun merasa dilecehkan sehingga pernah memberikan surat pengaduan ke Bupati Subang dan Bawasda pada 7 Mei 2010. Intinya, berkenaan dengan tindakan sang suami yang telah membuat surat penceraian palsu atas nama Neneng Kaniawati, guru SMU I Purwadadi dengan Tatang Sudrajat, berselingkuh atau memacari perempuan yang masih berstatus syah pernikahan, dan tidak memberi nafkah lahir batin pada anak istri selama kurang lebih 8 bulan dari bulan Oktober 2009 sampai dengan Mei 2010. “Selain itu saya pernah didatangi Tatang, suami Neneng yang meminta pertanggungjawaban. “Seandainya Neneng hamil akan minta pertanggungjawaban Suratno,” paparnya menirukan Tatang. Dikatakan Yeni, dirinya pernah mendatangi Ayi Darajat, Kepala BKD Subang. Pihak BKD menyatakan tidak pernah membikin surat izin cerai atas nama Neneng Kaniawati yang ditujukan ke PA Sumedang. “Nomor register dan tanda tangan itu bohong atau palsu, karena segala macam kop surat BKD banyak di rumah saya, termasuk barang lain yang dimiliki BKD yang dibawa Suratno ke rumah, di saat terjadi pencurian di BKD dulu,” tambahnya. Yeni bertekad akan menuntut keduanya, baik Suratno maupun Neneng Kaniawati. Makanya, pada 25 Mei 2010, Yeni melaporkannya ke Polres Subang. Dalam kesempatan tersebut, pihak kepolisian menerima pengaduan secara lisan dan pihaknya meminta adanya surat pernyataan dari Kepala BKD atas pemalsuan itu, maupun pernyataan dari Tatang, suami Neneng di Sumedang terkait dengan status perceraiannya. Kepala BKD Subang saat mau dikonfirmasi, Senin (14/6) kebetulan sedang tidak ada di tempat. Begitu pula Kepala Dinsos Subang maupun Suratno sedang tidak ada. (Asep Nasa)

Pemkab Subang Belum Miliki Data Agen Elpiji

Polres Belum Terima Hasil Puslabfor
SUBANG, Medikom–Tim Forensik Pusat Laboratorium Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, turun kembali ke lokasi pembangunan pabrik bakal garmen yang ambruk di Kampung Babakan Gembor, Desa Gembor, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang. Kapolres Subang AKBP Dadang Hartanto mengatakan, pihaknya hingga kini (saat dikonfirmasi-Red) belum menerima hasil dari puslabfor. Tim forensik direncanakan datang juga. “Kemungkinan kedatangan tim puslabfor untuk meyakinkan hasil pemeriksaan. Mereka bisa datang lebih dari dua kali jika kejadian itu memang luar biasa. Hingga hari ini kita belum menerima laporan dari tim forensik mengenai hasilnya. Biasanya hasil baru diketahui seminggu atau dua minggu,” kata Kapolres. Hingga hari ini pihak Polres Subang masih memberlakukan status bahaya untuk lokasi pabrik. Pita police line masih membentang di beberapa pintu masuk lokasi pabrik. Masih seperti pascakejadian tepat seminggu yang lalu yang menewaskan empat pekerja, rangka-rangka besi baja masih terongok dengan beberapa alat berat dan kendaraan proyek yang tertimpa reruntuhan. Berikan santunan Bupati Subang Eep Hidayat menyampaikan supaya keluarga korban tetap tabah dan sabar. Atas nama pemerintah dan pribadi Bupati menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya. Hal tersebut disampaikan Bupati ketika menyerahkan santunan kepada keluarga korban atas insiden runtuhnya rangka besi bangunan Pabrik Garment PT Kwanglim Yh Indah yang terjadi pada 8 Juni lalu. Penyerahan dilakukan oleh Bupati dengan disaksikan oleh pemilik/ owner perusahaan (Mr Ho) yang didampingi oleh Manager PT Kwanglim Otok Byantoro di Ruang Rapat Bupati baru-baru ini. Selanjutnya Bupati menyampaikan simpati sedalamdalamnya kepada keluarga korban dan berdoa semoga korban mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan YME. Kepada pihak perusahaan, tidak menyurutkan untuk melanjutkan investasi di Kabupaten Subang. Santunan diberikan kepada keluarga almarhum Aman, Ana, Asep Sulaeman, dan Adeng Hudaya yang diterima oleh keluarga korban. Atas nama perusahaan Mr Hur Myeon Young (Mr Ho) melalui Otok Byantoro menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Subang yang turut memberikan perhatian atas insiden yang menimpa perusahaannya. Pihak perusahaan menyatakan bertanggung jawab atas insiden ini dan kepada korban yang tengah dirawat, pihak perusahaan akan menanggung biaya hingga sembuh. Menurut Otok, nilai total santunan kepada korban meninggal yang diberikan sebesar Rp55 juta per orang. “Yang 10 juta rupiah kami berikan pada hari kejadian dan sisanya diberikan sekarang dalam bentuk cek,” jelas Otok. Hingga kini, lanjut Otok, penyelidikan oleh kepolisian masih dilakukan dan pihaknya tengah menunggu hasilnya. Hasanudin (31) perwakilan keluarga korban mengatakan, dana santunan tersebut ia terima di aula Pemerintah Kabupaten Subang. “Penerimaan santunan secara bertahap dan yang terakhir tadi siang kami terima di aula Pemerintah Kabupaten Subang. Total yang kami terima berjumlah Rp55 juta,” kata Hasanudin. (Loy)

Bupati Lepas Kontingen Pospeda Karawang
KARAWANG, Medikom-Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar melepas kontingen Kabupaten Karawang yang akan berlaga di Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Daerah (Pospeda) Jawa Barat Tahun 2010. Kontingen tersebut dilepas secara resmi oleh Bupati Dadang S Muchtar melalui sebuah upacara pelepasan yang berlangsung di Plaza Pemda Karawang, Senin pekan lalu. Bupati dalam kesempatan tersebut berharap Kontingen Kabupaten Karawang dapat meraih hasil terbaik dalam Pospeda Jabar 2010 yang akan digelar di Kota Bandung. “Terutama untuk cabang sepakbola yang pada event Pospeda Jabar sebelumnya berhasil menjadi juara pertama dua kali berturutturut,” ujarnya. Untuk itu, ia berterimakasih kepada jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang, sebagai lembaga yang membina para anggota kontingen yang akan dilepas hari ini. “Terimakasih kepada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang, terlebih kontingen sepakbola Kabupaten Karawang telah dua kali juara,” imbuhnya. Di sisi lain, terkait keberadaan pondok pesantren di Kabupaten Karawang, Bupati Dadang S Muchtar berharap Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karawang dapat terus menigkatkan pembinaan serta sarana pondok pesantren yang ada. “Karena pondok pesantren merupakan lembaga yang cukup bersih dari pengaruh negatif, seperti narkoba maupun pornografi,” jelasnya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan moralitas generasi muda, Bupati Dadang S Muchtar mengimbau para orangtua untuk memasukkan anak-anaknya ke pondok-pondok pesantren yang baik. “Sehingga mereka dapat terhindar dari pengaruh negatif globalisasi,” pesannya. Sementara itu, Wakil Bupati Karawang Hj Eli Amalia Priatna menjelaskan, kontingen Pospeda Kabupaten Karawang yang akan berangkat ke Bandung beranggotakan 42 orang, terdiri dari tim qasidah sebanyak 13 peserta, 1 pelatih, 1 manajer, dan 1 ofisial. “Sedangkan tim sepakbola terdiri dari 18 peserta, 1 pelatih, 1 manajer, dan 1 ofisial,” jelasnya. Eli Amalia menambahkan, para anggota kontingen tersebut telah melalui pembinaan dan latihan yang dilaksanakan sejak bulan Februari lalu. Pembinaan dan latihan tim sepakbola berlangsung di Lapangan Pinayungan dan Tanjungpura, sedangkan pembinaan dan latihan tim qasidah berlangsung di SMP Negeri 1 Telukjambe. (Andy Nugroho)

Empat Pilar Kinerja Pemerintahan Kabupaten Subang
SUBANG, Medikom–Wakil Bupati Subang Ojang Sohandi berharap, Apel Kesadaran Nasional yang dilaksanakan tanggal 17 setiap bulan dijadikan sebagai tahapan untuk penegasan kedisiplinan aparatur pemerintah dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Karena sebagai abdi masyarakat dalam pengabdiannya, harus memberikan manfaat yang nyata. Dikatakan Ojang, dalam rangka mengefektifkan pelayanan harus mampu meningkatkan kinerja pelayanan yang dibangun atas empat pilar, yakni kinerja keras artinya kinerja yang dilakukan ada standar dan target yang dicapai. Sehingga mengupayakan segenap kemampuan yang dimiliki untuk memberikan manfaat. “Jangan sampai kita mendapat imbalan tetapi tidak memberikan manfaat atas kinerja yang dilaksanakan, kinerja keras mutlak dilakukan karena ini merupakan amanat yang harus dilaksanakan,” ujar Ojang. Hal lainnya, lanjut Ojang, kinerja cerdas, maksudnya ialah kerja yang dilakukan dengan memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) secara jelas. Sehingga tugas yang dilaksanakan sesuai dengan aturan. “Tidak terjadi tumpang tindih antara satu dengan lainnya atau lebih jauhnya terjadi saling menyalahkan antara satu dengan yang lain,” tambahnya. Sementara, tambah Ojang, kinerja kebersamaan, maksudnya kerja yang dilaksanakan dibangun atas dasar kebersamaan antara satu sama lain. Ada hubungan komunikasi yang harmonis. Bawahan menghormati atasan, sebaliknya atasan menyayangi bawahan sehingga timbul semangat kerja. “Dengan hubungan komunikatif antara bawahan dan atasan seperti ini mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif,” jelasnya. Dan yang terakhir, menurut Ojang kinerja ikhlas, kerja dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa harus ingin dilihat oleh atasan. Dengan adanya atasan atau tidak, bekerja dengan segenap kemampuan. Tidak ada harapan untuk dipuji, apalagi mengharapkan pujian atau ingin dilihat oleh atasan. Aparatur yang tetap bekerja sesuai dengan aturan dan tetap mengupayakan segenap kemampuan. Dalam dirinya merasa diawasi oleh Tuhan. “Dengan kerja yang dilaksanakan secara ikhlas, hasilnya akan lebih menunjukkan kerja yang nyata. Pengawasan semata hanya oleh Tuhan. Sehingga kinerja dibangun atas dasar kejujuran, sesuai dengan yang dilaksanakan,” tegas Ojang. (Loy)

Forki Subang Optimistis Raih Prestasi
SUBANG, Medikom–Tantangan yang dihadapi seyogianya dijadikan motivasi untuk mencetak prestasi. Seperti yang tengah dihadapi oleh Tim Karate Kabupaten Subang yang akan berlaga di Porda Jawa Barat. Karena jika semua telah tersedia dan berhasil mencetak prestasi, itu mah biasa,” ujar Ketua Federasi Olah Raga Karate Indonesia (Forki) Kabupaten Subang Stepanus Mahuri dalam sambutannya pada Rapat Forki Kabupaten Subang di Ruang Rapat Markas Kodim 0605/Subang, Selasa (15/6). Prestasi yang dilalui dengan tantangan sudah pasti akan memberikan kesan mendalam. Mengenai tantangan yang dihadapi sekarang, selaku pengurus Forki akan berupaya keras mencari solusi terbaik. Guna meyakinkannya, lanjut Stepanus, maka harus mampu mencetak prestasi yang baik. Sehingga bisa meyakinkan semuanya bahwa prestasi olahraga sangat penting untuk dikembangkan. Menurut Sekretaris Forki Kabupaten Subang Drs Asep Setia Permana MSi, pihaknya menargetkan perolehan 1 medali emas, 1 medali perak, dan 2 medali perunggu. Tim Karate Subang yang akan bertanding pada 6, 7, dan Juni 2010 di Bandung jelas Asep, menurunkan 14 atlet didampingi oleh 3 orang untuk mengikuti 12 kelas kumite dan kata dari 14 kelas yang dipertandingkan. (Hms)

Serangan Simonyong Semakin Merajalela
SUBANG, Medikom–Serangan hama tikus di wilayah Pantura Subang, Jawa Barat, semakin parah. Sedikitnya 530 haktare sawah di tiga kecamatan porak poranda diserbu ribuan tikus yang memakan bulir tanaman padi milik petani. Di Kecamatan Paburan, lahan yang terserang tikus telah mencapai 468 hektare, hanya dalam waktu satu bulan. Sebab kelompok tani di sana gagal melokalisasi areal serangan hama, sehingga merembet ke petak sawah lainnya. Tanaman padi yang terserang rata-rata berusia 25 hingga 30 hari. Akibatnya, tumpun padi yang seharusnya sudah ditumbuhi tunas-tunas baru, kini malah terlihat gundul. Menurut Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Subang Ani Sofiani, serangan tikus gagal diantisipasi karena para petani kurang berkoodinasi saat hendak memberantas binatang pengerat tersebut. Sebab semakin lama waktu pemusnahan massal, tikus akan cepat kembali berkembang biak. Sementara, kesalahan lain yang dilakukan petani korban serangan tikus di antaranya tidak mensterilkan lahannya dari larva tikus sebelum dilakukan proses penanaman. Sehingga mereka kalang kabut ketika hama tersebut menyerang di saat tanaman padi mulai tumbuh. “Kami sudah mengimbau kepada para kepala desa terutama yang wilayahnya berbatasan dengan lahan terserang hama agar segera mengamankan produksi padinya. Caranya dengan memasang plastik bagian pinggir luar setiap petak sawah,” ungkap Ani. Ani mengatakan, pihaknya memperkirakan, kerugian sementara para petani karena gagal panen yang diakibatkan serangan hama tikus tersebut mencapai lebih dari Rp6 miliar. Jumlah tersebut bisa terus bertambah bila serangan hama terus meluas. (Lbb)

Pengamen Laporkan Pedagang Miras
SUBANG, Medikom– Seorang pengamen jalanan, Dede Ohim (25), warga Blok Darmasuka Jln Sompi Kelurahan Cigadung, Kecamatan Subang melaporkan pedagang minimuan keras, Yanti (Yan), ke Markas Kepolisian Sektor Kota (Mapolsekta) Subang. Dede marasa tidak terima atas perlakuan Yan yang telah menuduhnya mencuri HP, hingga dia ditelanjangi dan dipukuli.
langsung dituduh telah mencuri HP. Karena tidak merasa melakukan perbuatan tersebut, Dede membantahnya mati-matian,” kata Bobby. Akan tetapi Yan tetap tidak percaya. Dia sempat memukul Dede beberapa kali dan membuka paksa pakaian Dede hingga telenjang bulat. Padahal, di sekitar lokasi kejadian banyak pedagang dan konsumen yang hilir mudik. “Sejumlah pedagang wanita bahkan ada yang menutup mata menyaksikan hal itu,” kata Bobby. Selain menelanjangi Dede, Yan juga sempat sesumbar jika dirinya tidak takut oleh polisi atau tentara. Dia bahkan mengaku memiliki beking dari kalangan yang disebutnya itu. Dikatakan juga, awalnya Dede tidak akan melaporkan kejadian tersebut. Namun setelah mendapat dukungan dari rekan-rekannya dan sejumlah tokoh masyarakat Subang, Dede akhirnya berubah pikiran dan melapor ke Mapolsekta Subang. Kepala Polsekta Subang Ajun Komisaris Agus Sobri melalui Kepala Unit Reserse Kriminal Ajun Inspektur Satu Didin membenarkan pihaknya telah menerima laporan tersebut. “Laporan Dede tercatat bernomor : LP/1112/VI/2010/PLD JBR/WIL PWK/ RES SBG/SEK Subang. Hingga kini kami masih berupaya mencari keterangan dari saksi-saksi yang lain,” kata Kapolsek. (Loy)

Bupati Karawang Lantik Pengurus Komisi Daerah Lanjut Usia
KARAWANG, MedikomBerdasarkan SK Bupati Karawang No 460.05/ Kep.265.Huk/2010 tentang Pembentukan Komisi Daerah Lanjut Usia Kabupaten Karawang, Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar melantik pengurus Komisi Daerah Lanjut Usia (Komda Lansia) Kabupaten Karawang, Senin pekan lalu. Pelantikan yang dipadukan dengan apel pagi PNS tersebut berlangsung di Plaza Pemda Karawang. Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengucapkan terima kasih kepada jajaran pengurus Komda Lansia yang meskipun baru dilantik pada hari ini, namun sebenarnya telah bekerja efektif sebelum masa pelantikan. “Termasuk di antaranya adalah dalam menyambut pelaksanaan kegiataan peringatan Hari Lanjut Usia Tingkat Kabupaten Karawang Tahun 2010,” ujarnya. Lebih lanjut Bupati mengatakan, seiring dengan waktu, maka semua manusia tentu akan menjadi lansia. Oleh karena itu, perlu ada suatu wadah untuk menjamin kesejahteraan lansia, sekaligus tempat untuk saling bersilaturahmi. “Oleh karena itu, saya titip kepada jajaran Komda Lansia untuk meneruskan dan melanjutkan pembinaan lansia,” imbuhnya. Di sisi lain, Bupati menilai bahwa keberadaan Komda Lansia sendiri sejalan dengan apa yang disebut dengan pemerintahan yang baik, di mana ketiga komponen dasarnya yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat dapat saling bersinergis. “Mudah-mudahan dengan dibentuknya Komda Lansia dapat semakin meningkatkan kepedulian masyarakat kepada para lansia,” tambahnya. Ketua Komda Lansia yang baru dilantik, Hj Eli Amalia Priatna sebelumnya menjelaskan, pembentukan Komisi Daerah Lanjut Usia didasari oleh Undang-Undang No 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Lansia. “Salah satu maksud dan tujuannya adalah untuk mengembangkan nilai sosial masyarakat agar memiliki kepedulian terhadap lansia,” jelasnya. Eli Amalia, yang juga Wakil Bupati Karawang tersebut menambahkan, sebelum dilantik para pengurus Komda Lansia telah aktif dan mengadakan sejumlah kegiatan sosial terkait peringatan Hari Lansia. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di antaranya bakti sosial di panti sosial, senam pagi, memberikan kaedeudeuh kepada lansia, serta mengadakan gerak jalan santai lansia. Di antara para pengurus Komda Lansia tersebut terdapat sejumlah pejabat aktif, di antaranya adalah Kepala Dinas Sosial Banuara Nadeak, Kepala BPMPD Momon Sudirman, Dirut PDAM Open Supriadi, serta Kepala Bagian Kesra Setda E Soemantri. Selain para pejabat, terdapat pula nama-nama yang menjadi sesepuh di Karawang seperti Djoko SA, H Omo, H Sukarman, dan beberapa sepuh lainnya. (Andy Nugroho)

Depnakertrans Gelar TOT
SUBANG, Medikom–Departemen Tenagakerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) memelopori pelatihan wira usaha bagi masyarakat di Kabupaten Subang dengan melatih para pengelola kursus dan para sarjana fasilitator desa. Kepala Balai Besar Peningkatan Produksi Depnakertrans Nora Ekaliana menjelaskan program pelatihan bagi pelatih atau training of trainer (ToT) itu merupakan kerja sama dengan mitra BLK Subang. “Kali ini kami menggandeng Himpunan Lembaga Latihan Seluruh Indonesia (HLLSI) Subang,” katanya. Menurut Nora, selama ini yang dilatih di Lembaga Pelatihan Ketrampilan (LPK) baru keterampilan saja. Oleh karena itu, pihaknya berharap bahwa konsep pelatihan yang baru dan .. selama ini yang dilatih di Lembaga Pelatihan Ketrampilan (LPK) baru keterampilan saja. Oleh karena itu, pihaknya berharap bahwa konsep pelatihan yang baru dan pertama untuk Subang dapat mengubah mindset masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja bukan pencari kerja. pertama untuk Subang dapat mengubah mindset masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja bukan pencari kerja. Sedikitnya 50 peserta mengikuti pelatihan Training of Trainer (ToT) Ciputra Entrepreneurs Center, di gedung Gapensi, Subang Jawa Barat. Peserta merupakan masyarakat pemilik lembaga kursus yang menjadi mitra Balai Latihan Kerja (BLK) Depnakertrans. Mereka sebagian besar pemilik lembaga kursus seperti menjahit, komputer, bengkel, konveksi, peternak dan salon kecantikan. President Ciputra Entrepreneurs Center Antonius Tanan mengatakan pelatihan ToT ini dilaksanakan tiada lain hanya untuk membantu menyebarluaskan kepada masyarakat. Pihaknya melatih para pelatih (training of trainer selama 5 hari sehingga para instruktur atau pengelola kursus tidak hanya melatih, tetapi juga memiliki kecakapan untuk menjadi entrepreneurs. “Akan berbeda bila lembaga pelatihan ketrampilan (LPK) juga melatih sumber daya manusianya. Siswa binaan tidak hanya diajarkan menjadi penjahit saja. Namun dimodali wawasan wira usaha untuk menciptakan lapangan usaha baru,” kata Antonius. (Loy)

Menurut pengurus Komunitas Pengamen Jalanan (KPJ) Subang, Bobby, pelecehan yang dilakukan terhadap Dede terjadi, Selasa (15/6) lalu. Kejadiannya bermula saat Dede membeli sebotol miras ke kios milik Yan yang terletak di pertokoan Pujasera Subang. Waktu itu, Dede membayar miras dengan uang recehan hasil mengamen. Selanjutnya, masih menurut Bobby, Dede membawa minuman itu ke sebuah sudut Pujasera untuk dinikmati bersama rekan-rekannya. Namun, sebelum Dede menenggak miras tersebut, tiba-tiba Yan datang menyusulnya. “Dede diseret ke kios Yan dan

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

6

OPINI

PLN, Perusahaan Byar Pet
Kebijakan pemerintah yang akan menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 6-20% mulai Juli mendatang membuat perusahaan plat merah milik negara ini menjadi pembicaraan hangat masyarakat. Sebab selama ini, perusahaan pemasok tunggal listrik bagi kepentingan konsumen kinerjanya telah lama dikeluhkan masyarakat. Di samping berbagai persoalan internal, performa PLN dalam memberikan pelayanan standar normatif kepada konsumen pun sering kali masih dikeluhkan. Karenanya, ketika pemerintah melahirkan kebijakan menaikkan TDL, walaupun kenaikan itu tidak berlaku untuk pelanggan 450 VA-900 VA, tak pelak kebijakan ini menjadi ajang kritisi banyak kalangan. Kenaikan listrik tidaklah sebuah persoalan sederhana. Karena sudah menjadi biasa bila listrik naik akan juga diikuti kenaikan-kenaikan berbagai kebutuhan hidup masyarakat lainnya. Kenaikan listrik, di samping berdampak seperti yang diungkapkan, ternyata bisa melahirkan dampak yang cukup luas. Seperti juga kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kali ini. Berbagai kekhawatiran terkait dampaknya bermunculan. Terutama bagi sektor industri mikro kecil dan menegah. Karena bagaimanapun, dampak kenaikan TDL bagi usaha mikro kecil dan menegah sangat terasa. Bahkan berbagai kalangan mengkhawatirkan kenaikan TDL bagi sektor dunia mikro kecil dan menegah akan menimbulkan dampak negatif domino yang bisa melahirkan kolaps masal yang tentu akhirnya akan menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perusahaan bisa gulung tikar. Inilah persoalan-persoalan yang menghadang saat kebijakan pemerintah menaikkan TDL ini diberlakukan. Karena itu, diharapkan pemerintah juga membarengi kebijakannya dengan kebijakan lain. Terutama bagaimana industri mikro kecil dan menengah ini dapat diprotek setidak-tidaknya membebaskan dari kenaikan tarif dasar listrik yang diberlakukan. Karena pada faktanya, industri usaha mikro kecil dan menengah adalah industri-industri yang menggunakan listrik pada skala kecil juga antara 1.300 VA. Melihat kenyataan ini, tentu pemerintah perlu juga berpihak karena indutri kecil dan menengah ini memiliki karyawan dan menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Tetapi tidak bisa dipungkiri, cost produksi kebutuhan biaya listrik cukup signifikan. Persoalan lain, tingginya tarif listrik juga telah menghambat industri-industri kecil ini untuk bersaing. Yang secara otomatis menghambat tumbuhnya laju perekonomian di sektor industri kecil. Pada sisi lain, persoalan listrik bagaikan tiada habisnya. Berbagai persoalan internal PT PLN telah sering dikritisi banyak kalangan. Terutama dari sisi inefisiensi, tingginya biaya pokok penyediaan (BPP) listrik yang akhirnya membuat biaya satuan jualnya kepada konsumen pun masih tinggi. Di luar itu, persoalan monopoli PLN pun digugat. Membuat varian harga pasokan kepada konsumen sepertinya hanya diberlakukan sepihak oleh PLN. Tetapi dalam pelayanan standar-standar normatif pun kepada konsumen, PLN masih sangat mengecewakan. Pemadaman bergilir dan berbagai persoalan lain menjadi keluhan yang mewarnai pelayanan PLN. Tapi anehnya, persoalan ini terlihat tidak tuntastuntas. Belum lagi, PLN dituding sebagai salah satu perusahaan yang sangat inefisiensi. Inilah berbagai persoalan PLN yang terus mewarnai dalam kiprahnya memberikan pelayanan kepada masyarakat. Berbeda kali ini, kenaikan tarif dasar listrik yang dilakukan, pemerintah berargumentasi bahwa telah terjadi salah sasaran dalam pemberian subsidi. Kita bisa pahami, bila dalam kebijakannya ini pemerintah lebih berfokus menyangkut persoalan ekonomi makro. Tetapi tidak bisa dilupakan bahwa dampak ekonomi mikronya pun harus dihitung dari bagian kebijakan pemerintah. Kita berharap kenaikan TDL ini juga diikuti adanya perbaikan performa terutama dalam hal pemberian pelayanan standar kepada konsumen. ***

Tulalit
+ Penyidik Mabes Polri temukan duit Gayus di Safety Box Rp74 miliar. - Kejar terus Pak.

+ Rumah Ariel di Antapani Bandung didemo ormas Islam. - Mengingatkan perilaku senonoh mengganggu orang lain.

Mengapa Penyelesaian Kasus Hotel Grand Aquila Bandung Masih Berlarut-larut?
Oleh Laures Sipayung SH
BANDUNG, Medikom–Sebagian besar mantan pekerja Hotel Grand Aquila Bandung, masih menunggu kepastian nasibnya. Dari 137 orang mantan pekerja, sebanyak 102 orang masih berjuang untuk memperoleh haknya untuk kembali bekerja, atau menunggu upah yang belum dibayarkan sejak November 2008. Terakhir, perundingan bipartit antara Serikat Pekerja dan pemilik Hotel Grand Aquila difasilitasi oleh Pemkot Bandung, langsung dipimpin oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada. Hadir saat itu, pemilik hotel, pengurus SP Hotel Aquila, Wakil Wali Kota, Sekretaris Daerah dan sejumlah pejabat Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD), perwakilan Komisi D DPRD Kota Bandung. Namun, perundingan bipartit pada Kamis (10/6) itu mengalami kebuntuan. Para pihak bersikukuh untuk mempertahankan keinginannya masing-masing sehingga tidak menimbulkan kata sepakat. Dalam perjalanan penyelesaian permasalahan ini, pihak Disnaker Kota Bandung telah mengeluarkan anjuran agar pekerja dipekerjakan kembali, tetapi pihak pengusaha tidak memberikan jawaban. Di pihak lain, pekerja telah melaporkan pengusaha ke penyidik Polwiltabes Bandung dengan dugaan adanya tindak pidana menghalang-halangi pendirian serikat pekerja berdasarkan pasal 28 UU No 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/ Serikat Buruh. Konon menurut sumber, Polwiltabes Bandung telah mengeluarkan SP3 karena dianggap kurang bukti dan menurut penyidik masalah perdata harus diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Berawal pendirian serikat pekerja/ serikat buruh di Hotel Grand Aquila mengakibatkan pengurus serikat pekerja dan anggotanya tidak dibenarkan masuk kerja dan upah tidak dibayarkan. Karena upah tidak dibayarkan oleh pengusaha, maka Disnaker Kota Bandung turun tangan untuk mediasi dan pengawasan tentang dugaan pelanggaran aturan ketenagakerjaan yang terjadi di Hotel Grand Aquila. Pengawas dan sekaligus PPNS Disnaker Kota Bandung M Suryahadi SH dalam penyidikannya melakukan BAP terhadap Hotel Grand Aquila dan melimpahkan ke pihak Kejari Bandung. Akan tetapi, pihak Jaksa Kejari Bandung telah empat kali mengembalikan berkas ke penyidik/PPNS (P19-Red) karena dianggap kurang lengkap. Yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah (Disnaker Kota Bandung, Disnaker Jabar) dan penegak hukum (kepolisian dan kejaksanaan) tidak ada kemauan politik untuk menyelesaikan permasalahan ini, atau begitu rumit atau jelimetkah permasalahan yang dialami mantan pekerja Hotel Grand Aquila? Pasal 28 UU No 21 Tahun 2000 menyebutkan “siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/buruh dengan cara seperti, pertama melakukan PHK, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi. Kedua, tidak membayar upah atau mengurangi uapah pekerja/buruh. Ketiga, melakukan intimidasi dalam bentuk apapun. Dan keempat, melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh. Dalam pasal 43 ayat (1), bagi yang menghalangi pendirian serikat pekerja/serikat buruh sesuai Pasal 28 UU No 21 Tahun 2000 dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling sedikit 100 juta dan paling banyak 500 juta rupiah. Hal ini merupakan tindak pidana kejahatan. Dalam laporan serikat pekerja ke Polwiltabes tentang tindak pidana UU No. 21 tahun 2001, dengan keluarnya SP3 apakah ada kesalahan dalam menerapkan subyek hukum / tersangka atau kasus ini adalah perdata, menurut Polwiltabes dengan didaftarkannya pendirian serikat pekerja ke instansi terkait (Disnaker Kota BandungRed). Padahal ada ketentuan umum UU No. 21 tahun 2000, dijelaskan bahwa pengusaha adalah pertama, orang perorangan, persekutuan atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri. Kedua, orang seorangan, persekutuan atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya. Menurut informasi/sumber Medikom ditetapkan sebagai subyek hukum/tersangka adalah GM Grand Aquila dan HRD yakni Mahendra Shivaguru dan Sherry Iskandar. Yang menjadi pertanyaan apakah GM dan HRD mempunyai kewenangan untuk mengangkat dan memberhentikan karyawan, memberhentikan sementara ataupun tidak membayar upah. Apakah penyidik telah melakukan penyidikan untuk mencari bukti adanya perjanjian kerja antara pemilik hotel dan GM tersebut. Dan bila tidak ditemukan perjanjian kerja antara GM dan pemilik hotel, maka pengusaha dapat diartikan adalah pemilik Hotel Aquila merupakan PT (Perseroan Terbatas), maka pengurus PT dapat dijadikan tersangka dalam pelanggaran pasal 28 dan pasal 43 UU No 21 Tahun 2000. Pengurus PT dapat dijadikan tersangka dengan mempelajari akte pendirian PT, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab untuk memberhentikan sementara, memutuskan hubungan kerja dan membayar upah. Pertanyaannya apakah penyidik Polwiltabes Bandung telah sampai ke Akte Pendirian PT Grand Aquila. Dalam kasus Grand Aquila ada korbannya yaitu si pekerja tetapi masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab untuk membayar upah, berkewenangan memberhentikan dan mengangkat karyawan. Menyangkut tindak pidana upah tidak dibayar oleh pengusaha, menurut Kasubsi Pra Penuntutan Kejari Bandung Dodi Junaedi SH saat ditemui Medikom belum lama ini, pengembalian berkas ke penyidik Disnaker Kota Bandung (PPNS) telah terjadi empat kali pengembalian, karena dianggap kurang lengkap. Salah satu petunjuk belum lengkap lanjut Dodi mengenai kapasitas tersangka GM Mahendran Shivaguru, apakah punya kewenangan untuk mem-PHK atau membayar upah kepada pekerja atau Dirut Utama yang bertanggung jawab. Mengenai empat kali pengembalian berkas ke pihak penyidik, menurut aturan kata Dodi tidak ada batas pengembalian berkas. Penanganan kasus ini ditangani langsung oleh jaksa Tommi Kristianto SH dan Emmanuel Ahmad SH, agar lebih jelas pihak Medikom konfirmasi ke pihak jaksa kata Dodi. Menurut PPNS Disnaker Kota Bandung M Suryahadi SH dalam kesempatan lain kepada Medikom, pihaknya telah bekerja optimal untuk memenuhi petunjuk yang harus dilengkapi dengan pengembalian berkas dari pihak Kejari Bandung (P19) yang sudah empat kali. Ditegaskan oleh Suryahadi yang lebih akrab dipanggil Beni, dalam aturan memang tidak ada batas berapa kali pengembalian berkas, akan tetapi menurutnya dalam kutipan buku HMA Kuffal SH dalam buku karangannya “penerapan KUHAP dalam praktek hukum” dinyatakan dalam praktek hukum pengembalian berkas dari penuntut hukum ke penyidik hanya tiga kali. Hal ini berdasarkan kepatutan dan konsensus dalam Forum BigampolMenkeh Japol. Setelah penuntut umum mengembalikan berkas sebanyak tiga kali ke penyidik, ternyata juga belum lengkap maka dalam terciptanya kepastian hukum dan upaya menghormati hak asasi tersangka, seyogianya penyidik mengeluarkan hal, pertama penyidik segera menerbitkan SP3 sesuai yang diatur dalam pasal 109 ayat (2) KUHAP yaitu SP3 karena tidak cukup kuat bukti atau peristiwa tersebut bukan tindak pidana atau penghentian demi hukum. Pada bagian kedua penyidik memberitahukan secara tertulis kepada penuntut umum bahwa penyidikan tambahan yang dilakukan sudah optimal/maksimal dan oleh karena itu menyerahkan tindakan hukum lebih lanjut kepada penuntut umum. Dalam kapasitasnya selaku penyidik (PPNS) tidak mungkin mengeluarkan SP3 karena dianggap telah ada tindak pidana tidak membayar upah. Menurutnya dalam hal ini penuntut umum/Kejari Bandung berwenang untuk melakukan pemeriksaan tambahan sesuai berdasarkan UU No 16 Tahun 2004 pasal 30 ayat (1) huruf e yang tata caranya telah diatur berdasarkan Surat Edaran Jaksa Agung No SM 003 JA 12 Tahun 1961, tanggal 14 September 1961, apabila hasil pemeriksaan tambahan oleh penuntut umum, telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan penuntutan maka penuntut umum harus segera melimpahkan ke pengadilan. Dan apabila penuntut umum telah melengkapi, masih juga dianggap belum lengkap maka penuntut umum dapat mengeluarkan SP3 berdasarkan

pasal 142 ayat (2) KUHAP. Jadi berdasarkan penyidikan di Disnaker Kota Bandung terhadap kasus Grand Aquila sudah optimal. “Dari barang bukti yakni keterangan saksi sebanyak 16 orang, keterangan ahli oleh mantan Dirjen Binawas Prof Payaman Simanjuntak, bukti surat dan dokumen lainnya. Pada pemberkasan P19 yang ketiga oleh jaksa, hal ini sudah dilengkapi, tetapi pihak jaksa mengembalikan kembali keempat kalinya,” kata Suryahadi. Menurut sumber Medikom permasalahan kasus Grand Aquila bisa secepatnya diselesaikan apabila ada koordinasi antara pemerintah (Disnaker Kota Bandung dan Disnakertrans Jabar) dengan pihak penegak hukum, pihak kepolisian maupun kejaksaan. Di satu sisi anggaran APBD Disnakertrans Jabar proyek pembinaan dan pengawasan norma ketenagakerjaan berkisar Rp750 juta dan 120 juta dari anggaran ini digunakan untuk undangan agenda rutin dari ILO yang digunakan pejabat perlindungan dan pengawasan Disnakertrans Jabar dan Kepala Disnaker Kota Bandung ke Jenewa-Swiss baru-baru ini. Di sana dibahas juga kebebasan berserikat, termasuk kasus Grand Aquila. Karena hak berserikat bagi pekerja/buruh Indonesia sendiri telah meratifikasi konvensi ILO No 87 dan konvensi ILO Nomor 98 mengenai berlakunya dasar-dasar hak berorganisasi dan untuk berunding. Kebijakan pengawasan ketenagakerjaan, lanjut sumber merupakan bagian integral dari sistem perlindungan tenaga kerja yang mempunyai peranan penting dan strategis bagi pelaksanaan perlindungan tenaga kerja dalam

menjamin pelaksanaan perundangundangan ketenagakerjaan sebagai prasyarat adanya kepastian hukum dan keadilan sosial melalui pembentukan, penerapan dan penegakan hukum ketenagakerjaan. Pengawasan ketenagakerjaan merupakan suatu sistem yang berlaku secara universal dan diterapkan sebagian besar di negara di dunia yang berciri independen, tidak memihak dan impelemtasi sama dan seragam, tetapi dalam realita sangat sulit dilaksanakan terlebih dengan adanya otonomi daerah saat ini. Dari dulu Visi dan Misi dari strategi perlindungan tenaga kerja di atas kertas cukup bagus yakni visinya terciptanya hubungan industrial yang harmonis berkeseimbangan dalam kemajuan usaha dengan tegaknya kepastian hukum, misinya menciptakan hubungan industrial yang harmonis berkeseimbangan dalam kemajuan usaha dengan tegaknya kepastian hukum. Misinya menciptakan hubungan industrial yang harmonis, dinamis, berkeseimbangan untuk mencapai kemajuan. Usaha dan menjamin kepastian dalam bekerja dan berusaha untuk mencapai kehidupan yang layak. Sedangkan strateginya antara lain mendorong peran masyarakat, desentralisasi kewenangan, memberdayakan lembaga dan organisasi ketenagakerjaan, reformasi peraturan perundangundangan, profesionalisme aparat dan penegakan hukum. Terlebih dengan keluarnya Perpres No 21 Tahun 2010 tentang Pengawasan Ketenagakerjaan, apakah implementasi di lapangan bisa dijalankan dengan baik? “Kita tunggu saja,” kata Sumber. ***

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

7

Sudut
Menjalin Kerja Sama dengan Perusahaan Besar

Serentak PPDB 2010/2011 Dibuka

Yang Memenuhi Syarat Memiliki Hak Sama
BANDUNG, Medikom-Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) TK SD/ SLB dan SMP/SMPLB diselenggarakan untuk merealisasikan upaya peningkatan pemerataan pelayanan pendidikan yang bermutu dalam koridor pelaksanaan wajib belajar pendidikan dasar dan Rintisan Wajib Belajar 12 Tahun di Kota, terkait program Peningkatan Aksesibilitas dan Kualitas Layanan Pendidikan. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Moh Wahyudin Zarkasy melalui press release yang dikeluarkan pada jumpa pers, Rabu (16/6) di Aula Disdik Jabar, terkait jadwal pelaksanaan PPDB TK SD/SDLB, SMP/SMPLB, SMA/SMALB SMK Reguler dan SD, SMP, SMA, SMK Rintisan SBI Tahun Pelajaran 2010/2011. Selanjutnya Kadisdik mengatakan, prinsip penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru yaitu mudah, lancar, semua tersalurkan untuk melanjutkan, serta tidak dipungut biaya, kecuali bagi sekolah RSBI/SBI. Biaya pendaftaran/ penerimaan calon peserta didik baru diatur dengan tidak menutup kesempatan bagi peserta didik cerdas dan berprestasi yang mengalami hambatan ekonomi. Zarkasyi juga mengatakan, pada dasarnya semua calon peserta didik yang memenuhi syarat, memiliki hak yang sama untuk dapat diterima sebagai peserta didik di sekolah negeri atau swasta pada jenjang berikutnya, selama daya tampung memungkinkan. Jika sekolah yang bersangkutan tidak mungkin menerima seluruh calon peserta didik karena terbatasnya daya tampung, maka sekolah tersebut dapat mengadakan seleksi dan cara lain di antaranya memprioritaskan jarak domisili terdekat yang dikoordinasikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Jumlah peserta didik untuk SD/ MI, SMP/MTs maksimal 40 orang dalam setiap rombongan belajar. Sementara peserta didik setiap rombongan belajar untuk SD RSBI berkisar antara 24-28 orang dan SMP RSBI sebanyak 24-30 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk calon peserta didik cerdas dan berpotensi cerdas dan berpotensi dari keluarga kurang mampu. Bagi peserta didik pemilik ijazah tahun pelajaran 2009/2010 pendaftaran dilakukan secara kolektif melalui kepala sekolah yang bersangkutan. Bagi warga belajar yang memiliki ijazah paket A dan B dapat mendaftar ke sekolah formal. Zarkasyi kembali menegaskan, sekolah tidak dibenarkan memungut biaya pendaftaran penerimaan peserta didik, karena biaya tersebut sudah dialokasikan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kecuali RSBI/SBI dengan tidak menutup kesempatan bagi peserta didik cerdas dan berprestasi yang mengalami hambatan ekonomi. PPDB di Jawa Barat serentak dimulai pada tanggal 21 Juni sampai 12 Juli 2010 untuk tingkat TK, SD dan SMP. Sedangkan untuk tingkat SMA dan SMK dimulai pada tanggal 21 Juni sampai dengan 10 Juli. Khusus untuk SMP Terbuka, SDSMP Satu Atap, SMP Kelas Jauh dan Paket B dilaksanakan sampai dengan 9 Agustus dan khusus Paket C dilaksanakan sampai dengan 7 Agustus 2010. Untuk sleksi SMP dilaksanakan mulai 3 s.d. 5 Juli dan 5 s.d. 6 Juli untuk SMA, SMK dan Paket C. Pengumuman yang diterima dilakukan pada tanggal 10 Juli , sedangkan pengumuman untuk SMA, SMK pada 7 Juli 2010. Daftar ulang dilaksanakan pada tanggal 8 s.d. 12 Juli. Harti pertama masuk sekolah dilakukan pada 12 Juli, yang dimulai dengan masa orientasi dari 12 s.d. 14 Juli. Untuk seleksi dan pengumuman yang diterima di RSBI maupun SBI sudah dilakukan sejak bulan April 2010 lalu. Kabupaten Bandung Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung pada pelaksanaan PPDB 2010/2011 ini telah mengeluarkan kebijakan baru dalam sistem pendaftaran peserta didik tahun pelajaran 2010/2011 ini. Kebijakan tersebut di antaranya penentuan pilihan I dan II bagi calon peserta didik. Bagi calon siswa yang akan mendaftar harus menentukan pilihan I di sekolah negeri, sedangkan pilihan II harus memilih sekolah swasta. Kebijakan ini mulai berlaku pada PPDB tahun ini berdasarkan SK Bupati Bandung No 422/Kep2010.Disdikbud/2010. Hal tersebut diungkapkan Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Junjunan saat jumpa pers di Aula Disdik Jabar, Rabu (16/6). Junjunan menambahkan, kebijakan tersebut berlaku untuk jenjang SMP dan sederajat serta SMA dan SMK yang ada di Kabupaten Bandung. Dikatakannya kebijakan tersebut dimaksudkan untuk pemerataan jumlah siswa baru antara sekolah negeri dan swasta. Selama ini banyak sekolah swasta di Kabupaten Bandung yang mengalami kekurangan siswa. “Mudah-mudahan dengan kebijakan ini nantinya tidak ada lagi sekolah swasta yang kekurangan siswa. Namun resikonya akan terjadi persaingan yang sangat ketat,” ujarnya. (ediens)

SMK Teknologi Modern Utamakan Mutu Lulusan

Siswa Baru Tandatangani Persyaratan

Aksi Tawuran Pelajar Menurun Drastis
SUKABUMI, Medikom–Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Siliwangi Kota Sukabumi berupaya terus membina peserta didiknya agar terhindar dari aksi tawuran antar pelajar. Para guru dan orang tua siswa berharap agar pada tahun pelajaran 2010/ 2011 sekarang ini sekolah tersebut tidak lagi dicap sebagai sekolah yang identik dengan aksi tawuran. Tenaga pengajar yang ada di SMK Siliwangi telah sepakat akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengarahkan keberanian para siswanya ke arah yang positif, dengan berbagai kegiatan yang melibatkan banyak siswa. Kepala SMK Siliwangi Kota Sukabumi Drs Dasita Juju mengatakan, berbagai upaya telah dilakukan agar para siswa tidak terpancing pada hal-hal yang berkaitan dengan kenakalan remaja, termasuk aksi tawuran. Upaya tersebut di antaranya, tambah Dasita, dengan mendorong siswa agar lebih aktif dan kreatif di sekolah dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Selain itu, pihak sekolah juga telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan pihak-pihak terkait lainnya. “Kita sudah berupaya menekan aksi tawuran pelajar dengan beberapa kegiatan positif di sekolah, selain itu kita juga sudah berkoordinasi dengan Binamitra Polresta Sukabumi, Disdik Kota Sukabumi dan beberapa sekolah lainnya,” ujarnya. Dasita mengungkapkan, memasuki tahun pelajaran baru, sekolah yang dipimpinnya telah mengantisipasi agar siswa baru tidak terpengaruh dengan aksi tawuran di kalangan pelajar. Caranya dengan memberlakukan ketentuan yang ditandatangani oleh calon siswa baru. “Siswa baru harus menandatangani ketentuan yang di antaranya tidak akan terlibat aksi tawuran,” tegasnya. Upaya tersebut kata Dasita, cukup jitu. Jika sebelumnya aksi tawuran yang dilakukan siswanya cukup tinggi, kini menurun drastis. “Dua tahun lalu, kami pernah mengeluarkan uang hingga Rp5 juta per bulan hanya untuk mengganti kerusakan angkot karena menjadi korban aksi tawuran. Tapi sekarang, menurun drastis,” jelasnya. Sebenarnya, kata Dasita, sekolah memberlakukan sanksi yang cukup tegas jika siswanya kedapatan melakukan aksi tawuran. Siswa yang kedapatan tawuran, diberi sanksi secara bertahap. Dengan cara itu diharapkan, siswa menjadi jera dan tidak mengulangi perbuatannya. “Sanksinya sudah ada. Bahkan kalau sudah tidak bisa dinasihati, siswa akan diistirahatkan,” katanya. Semerntara menjelang tahun pelajaran baru sekarang ini, sebanyak 125 orang lulusan SLTP telah mendaftarkan diri sebagai calon siswa baru SMK Siliwangi. “Angka ini sudah mendekati kapasitas ruangan yang ada,” ujar Dasita. (Ane)

CIAMIS, Medikom-Salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang pekembangannya cukup pesat namun peduli terhadap masyarakat tidak mampu yakni SMK Teknologi Modern Kalipucang. Sekolah yang telah berdiri sejak tahun 2007, di bawah Yayasan Pendidikan Sinar Baru ini semakin mendapat kepercayaan masyarakat sekitar. Hal ini terbukti dengan semakin bertambahnya siswa baru yang mendaftar ke sekolah ini dari tahun ke tahun. Saat ini saja SMK Teknologi Modern Kalipucang sudah memiliki 274 siswa, yang berasal dari lulusan SMP/MTs di Kalipucang, Banjarsari, Pangandaran, Cigugur, Cimerak, dan sebagian lagi berasal dari luar Kabupaten Ciamis, seperti dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Untuk menyiapkan generasi muda yang siap kerja atau membuka lapangan kerja baru, SMK Teknologi Modern Kalipucang berusaha meningkatkan mutu lulusannya dengan didukung 20 orang tenaga pengajar yang profesional di bidangnya masing-masing, dan rata-rata sarjana dari berbagai bidang keilmuan. Kepala SMK Teknologi Modern Kalipucang Drs Jaman Solih MM di kantornya belumlama ini kepada Medikom mengatakan, pihaknya berupaya mendukung program pemerintah meningkatkan mutu SDM melalui SMK dan menyongsong wajib belajar (Wajar) 12 tahun di Kabupaten Ciamis. Menurutnya, pihaknya dan pengelola yayasan sangat memahami keberadaan masyarakat di sekitar sekolahnya yang rata-rata dari golongan masyarakat menengah ke bawah, sehingga pihaknya tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan siswa dalam membayar SPP. “Saya menyadari kondisi perekonomian para orang tua siswa saat ini relatif sulit, SPP masuk 60% pun saya anggap itu sudah bagus,” ujarnya. Sekalipun demikian, tambahnya, SMK Teknologi Modern terus menerus berupaya meningkatkan kualitas lulusannya dan selalu menyesuaikan kurikulum dengan mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia kerja. Mungkin itulah yang menyebabkan daya saing lulusan siswa/siswi SMK Teknolodi Modern selalu siap untuk bekerja, apalagi di mata perusahaan yang telah bermitra selama ini tetap terjaga dan sulit untuk disaingi dan ditiru oleh lembaga lain. SMK Teknologi Modern sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan ternama di Indonesia seperti Tunas Daihatsu, AHM Astra, PT Astra Motor, PT Yamaha Bekasi, PT Mitsubisi Bekasi, PT Mercedes Bens Ciputat, dan perusahaan ternama lainnya di Indonesia. Di bidang akademis SMK Teknologi Modern Kalipucang tidak diragukan lagi mutunya. Hal ini dapat dilihat dari keseriusan para tenaga pengajar yang mampu menghantar para siswanya hingga tahun ini bisa lulus Ujian Nasional (UN) 100%. Walaupun menurut Jaman Solih, terkait sarana prasarana yang dimiliki SMK Teknologi Modern masih ada kekurangan gedung, namun bukan menjadi halangan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Ditempat terpisah, Hendra Lesmana selaku pengajar Bahasa Inggris di SMK Teknologi Modern mengatakan kepada Medikom, bahwa SMK Teknologi Modern memiliki ekstrakurikuler khusus yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas siswa siswi SMK yaitu program English Native Speaker, di mana SMK Teknologi Modern merupakan satu-satunya SMK atau SMA di Kabupaten Ciamis yang memiliki ekstrakurikuler ini, yakni program khusus pengembangan bahasa. “Ekstrakurikuler ini bisa meningkatkan nilai bahasa Inggris para siswa yang cukup tinggi,” ujar Hendra. (Agus S)

Sekolah Wajib Memasang Papan RKAS Pengeluaran Dana BOS
BEKASI, Medikom-Penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) harus transparan dan jelas, bahkan papan RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggran Sekolah) pengeluaran BOS harus dipasang di dinding sekolah bagian luar. Hal ini bertujuan agar masyarakat mengetahui dengan jelas tentang penggunaan dana BOS pada setiap sekolah baik SD dan SLTP Negeri maupun swasta yang mendapat bantuan BOS. RKAS pengeluaran BOS yang sudah dipasang didinding sekolah sebagai upaya adanya transparansi dari pihak sekolah sudah dilaksanakan oleh SDN Jaya Mulya 01 yang berada di bawah UPTD PAUD SD Kecamatan Serang Baru Kabupaten Bekasi. Sekolah tersebut sudah melakukan kewajiban memasang papan RKAS pengeluaran BOS, yang dipasang pada dinding sekolah bagian luar. Hal seperti itu seharusnya diikuti oleh semua sekolah yang mendapat bantuan BOS sebagai bentuk adanya transparansi dari pihak sekolah sebagai pengelola dana BOS tersebut. Pada papan RKAS pengeluaran BOS juga tercantum sumber dana dan penggunaan lalu ada uraian pengeluaran operasional, belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan/rehab ringan, mengetahui dan ditandatangani oleh kepala sekolah dan bendahara sekolah. Menyangkut RKAS pengeluaran BOS yang harus dipasang di dinding sekolah bagian luar sebagai bentuk adanya transparansi penggunaan dana BOS tersebut kepada mayarakat, Dg Karaeng MHK AS Ketua LSM LPPMD (Lembaga Pemberdayaan Potensi Masyarakat Daerah) mengatakan kepada Medikom, sebaiknya setiap sekolah yang mendapat bantuan BOS melakukannya seperti itu, karena semuanya sudah diatur dalam panduan pelaksanaan BOS untuk pendidikan gratis dalam BAB V tentang tata tertib pengelolaan dana. “Dalam penggunaan dana BOS harus jelas dan transparan, jangan sampai ada penyimpangan karena dana BOS tersebut untuk kemajuan dunia pendidikan, maka jangan sampai disalahgunakan apalagi dikorupsi,” tegas Daeng. (Ign/Stef)

Ketua Organisasi Barak Nana Sudiana,

Demi Supremasi Hukum Usut Tuntas Kasus DAK
KUNINGAN, Medikom–Berjalannya pengungkapan kasus dugaan penyimpangan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Pendidikan tahun anggaran 2007 terus disikapi banyak pihak karena diduga melibatkan banyak kalangan, baik pihak eksekutif maupun legislatif. Demi penegakan supremasi hukum banyak pihak berharap agar kasus ini dapat dituntaskan. Apalagi dalam perjalanan pengungkapan kasus ini muncul pengakuan-pengakuan para saksi yang mengatakan di balik kejadian ini akan menyeret semua yang terlibat. Demikian diungkapkan Ketua Organisasi Barisan Rakyat Kuningan (Barak) Nana Sudiana kepada wartawan di Kuningan baru-baru ini. Dikatakan, bahwa dengan kejadian ini kita jangan terfokus kepada putusan akhir. Namun sikapi masalah ini yang melibatkan pihak-pihak tertentu. Apakah nanti akan ditindak lanjut atau memang tidak? Kalau saja supremasi hukum di Kuningan berjalan baik, tanpa ada pandang bulu dalam mengambil keputusan setidaknya akan memupus pandangan masyarakat bahwa hukum hanya berlaku bagi masyarakat kecil saja. Sedangkan mereka yang berdasi dan berkantong tebal dengan leluasa mempermainkan hukum dan bisa bebas begitu saja. “Saya sangat prihatin melihat fenomena yang terjadi selama ini. Maka dari itu sudah saatnyalah para penegak hukum menjalankan fungsinya dengan benar, agar yang salah bisa dipersalahkan dan yang benar diperjuangkan, bukan malah sebaliknya,” kata Nana. Ditambahkannya, pernyataan para saksi tentang adanya keterlibatan pihak tertentu yang tercatat di pengadilan, hendaknya menjadi acuan untuk terus dilakukan pengusutan, bukan hanya dijadikan sebuah syarat. Dipersidangan harus dibuktikan semua. Bahkan DAK tahun 2008/ 2009 juga perlu diusut tuntas, karena terindikasi penuh dengan intrik dan rekayasa, baik dalam pekerjaan fisik bangunan, pemasangan baja ringan maupun pengadaan meubelair. Terlebih lagi dengan ambruknya SDN 1 Cipondok Kecamatan Cibingbin baru-baru ini, tentunya ini membuat keprihatinan kita selaku masyarakat terhadap kecerobohan yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab. “Dengan kejadian tersebut membuktikan bahwa pengadaan yang dilakukan pihak ketiga juga asal saja. Maka sepatutnyalah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kuningan agar lebih selektif menentukan perusahaan pemenang dalam pengadaan baja ringan,” pintanya. Kalau ambruknya baja ringan di sekolah tanpa segera disikapi, akan mengakibatkan munculnya permasalahan yang semakin krusial. Tidak menutup kemungkinan berakibat merugikan keuangan negara yang mengarah kepada tindak KKN. Kejadian tersebut tentunya membuat trauma bagi guru, murid dan masyarakat. Bahkan kepercayaan tentang penggunaan baja ringan akan berkurang. (Ys)

SDN Megamendung 03 Minta Direlokasi

Memasuki Musim Penghujan, Guru dan Murid Waswas
CIBINONG, Medikom-Kecemasan yang muncul akibat tewasnya salah seorang guru pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Megamendung, Kabupaten Bogor, Sukaesih dalam satu kecelakaan bencana alam yakni tertimbun tanah longsor kembali muncul. Trauma berkepanjangan bagi guru dan siswa sekolah itu beralasan apalagi saat musim penghujan tiba. Kejadian pada tanggal 2 Maret tahun 2007 lalu ketika kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, tiba-tiba turun hujan deras. Seketika sang guru mengambil inisiatif dengan memulangkan siswanya lebih awal. Namun sial bagi Sukaesih, ia tertimbun tanah longsor. Kepala SDN 03 Muksin Setiawan kepada koran ini menuturkan trauma yang mereka alami sekarang ini akibat datangnya musim penghujan. Kejadian yang menimpa salah seorang guru pada sekolah itu kata Muksin, adalah suatu bencana atau takdir dari Sang Pencipta. Dengan upaya mengatasi, semua bencana bisa dihindari. “Trauma itu kembali menghantui kami, para guru dan orang tua siswa,” kata Muksin. Tragedi menimpa Sukaesih tertimbun tanah longsor saat melaksanakan tugas sebagai seorang pendidik adalah tragedi yang harus diperhatikan aparat terkait di Kabupaten Bogor. Ia dengan bijak, demi keselamatan anak didiknya, menyuruh anak-anak menjauh dari lokasi sekolah. Seketika para siswa menjauh dari lokasi sekolah itu demi keselamatan jiwa. Karena masih ada yang harus diselesaikan di sekolah sehubungan dengan tugasnya itu, Sukaesih tibatiba kembali masuk ke ruang sekolah. Saat itulah suara gemuruh dari atas tebing, beriringan dengan tanah dan batu menghantam sekolah. Satu ruang kelas yakni kelas 4 hancur termasuk Sukaesih yang berada di ruang kelas itu tertimbun. Usai kejadian kisah Muksin, pejabat Pemkab Bogor turun ke lokasi bencana. Kala itu muncul wacana jika 3 SDN yang terletak di Kampung Sirna Galih, Desa Megamendung yakni SDN Megamendung 01, 02, dan 03 perlu segera direlokasi. Sekolah yang dibangun oleh Pertamina tahun 1983 hingga sekarang belum pernah direhab. Muksin berharap sekolahnya berikut 2 SDN yang juga rawan bencana itu segera direlokasi ke tempat yang lebih aman. Apalagi SDN 03 dengan siswa sebanyak 300 lebih adalah tanggung jawab Muksin sebagai orang nomor satu di sekolah itu akan menjadi beban jika terjadi bencana lagi. “Kami selalu dihantui bencana tanah longsor,” ucapnya. Informasi yang dihimpun Medikom di lapangan menyebutkan bahwa dana untuk lahan peruntukan relokasi bagi SDN 03 Megamendung itu telah disampaikan dinas dalam satu sosialisasi. Dana untuk pembebasan lahan tersebut dianggarkan pada tahun 2009 sebesar Rp1,2 miliar. Selanjutnya pembangunan akan dilaksanakan tahun 2010. Tapi kenyataan lapangan, pembangunan untuk SDN Megamendung hingga kini belum terealisasi. “Saya sudah mendengar jika akan ada anggaran pembebasan untuk relokasi,” kata sumber Medikom. Selain Muksin, ketua komite sekolah Sugiyanto juga berharap sama. Ia mengatakan jika kondisi bangunan sekolah sudah tidak layak. Apalagi dengan lokasi yang rawan bencana, perlu secepatnya dipikirkan untuk relokasinya. “ Kami sangat berharap kepada Pemkab Bogor dan instansi terkait untuk memperhatikan permasalahan yang kami hadapi yaitu terancam bencana tanah longsor,” kata Sugiyanto. Anggota DPRD Kabupaten Bogor Suprijanto SE membenarkan adanya bencana tanah longsor yang menimpa salah seorang guru di Megamendung itu. Namun dirinya belum mengetahui jika anggaran untuk relokasi bangunan telah dianggarkan, termasuk pembangunan sekolah dimaksud. “Saya tahu ada guru yang tertimbun tanah longsor tapi belum mengetahui jika telah dianggarkan pada periode sekarang,” pungkas Suprijanto melalui telpon cellularnya. (Soeft)

Agar Tidak Fatal Pengisian Ijazah Perlu Hati-hati
KUNINGAN, MedikomDalam pengisian ijazah perlu kehati-hatian, karena kalau saja terjadi kesalahan maka akan cukup rumit memperbaikinya, karena harus mondar mandir ke provinsi. Demikian dikatakan Kepala Kantor Kementrian Agama Kuningan Drs H Agus Abdul Kholik SAg MSi yang disampaikan Kasubag TU Drs H Yusron Kholid MSi pada acara pengarahan dan penyerahan SKHUN kepada Kepala MTs negeri maupun swasta di Kuningan belum lama ini, yang juga dihadiri Ketua MK2MTS Uhandi SAg MSi.
Negeri mendapat peringkat baik di tingkat nasional. Tentunya ini perlu dijadikan pemacu bagi sekolah lain di lingkup Kementerian Agama guna meningkatkan prestasi yang lebih baik lagi. “Kami berharap terus tingkatkan kemampuan dan beri bimbingan yang kontinu kepada anak didik, dan tolong hatri-hati dalam pengisisn ijazahnya,” ujar Yusron berharap. Hal lain pun yang perlu disikapi, tambahnya, berkaitan dengan berbagai permasalahan yang terjadi di sekolah masing-masing, hendaknya setiap permasalahan supaya diselesaikan dengan cara baik, jangan sampai muncul dan dibawa ke tingkat atas selagi mampu menanganinya. Banyak contoh yang harus dijadikan pengalaman dengan kasus-kasus yang terjadi. Kita perlu hati-hati dalam melangkah agar tidak terjadi kesalahan. Karena sekolah di lingkup Kementerian Agama masih sangat kekurangan sarana dan prasarana, beda dengan sekolah pada umumnya. Mereka tinggal menggunakan semua fasilitas yang telah diberikan dan dirawat baik-baik. Sedangkan sekolah kita tentunya harus mencari dan mengumpulkannya, sebab dananya bukan turun dari langit. “Kendati demikian, kita sudah membuktikan bahwa sekolah di lingkup Kementerian Agama mampu bersaing dengan sekolah pada umumnya,” ujarnya lagi. (Yoyo Suhendar)

Telah Dilantik Rektor Unsika 2010-2014
KARAWANG, Medikom-Drs H Harun Firdaus MSi secara resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) untuk masa jabatan 2010-2014, menggantikan Drs H Dadang Fakhruddin MM yang habis masa jabatannya. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Yayasan Dewan Pengurus Yayasan Pembina Perguruan Tinggi Pangkal Perjuangan (PPTPP), H Tayo Tarmadi SH MM, bertempat di Aula Kampus Unsika, Selasa pekan lalu. Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menilai, penetapan Harun Firdaus sebagai Rektor Unsika yang baru adalah tepat. “Terlebih saat ini Unsika tengah dalam proses untuk menjadi universitas negeri, sehingga dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki network dan hubungan dengan pihak luar yang baik,” ujarnya. Selain itu, Bupati Dadang S Muchtar juga menilai Harun Firdaus merupakan sosok pemimpin yang profesional dan selalu aktif di bidang pendidikan. Oleh karena itu, Bupati percaya bahwa dengan dilantiknya sebagai rektor yang baru, beliau akan mampu membawa Unsika menjadi universitas negeri dan semakin maju. Di sisi lain, Bupati menjelaskan bahwa perhatian Pemerintah Kabupaten Karawang terhadap keberadaan Unsika cukup tinggi. Salah satunya adalah dengan memberikan beasiswa regular bagi mahasiswa asli Karawang untuk kuliah di Unsika. Bila dahulu Unsika tidak dilirik para lulusan, maka saat ini minat masuk Unsika sangat tinggi. “Bahkan mendaftar pun

Pada kesempatan penyerahan SKHUN, Yusron juga menyampaikan bahwa Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan sedikit berbangga dengan keberhasilan dalam pelaksanaan ujian baru-baru ini, karena tingkat Madrasah Aliyah

harus melalui proses seleksi,” jelasnya. Ketua Dewan Pembinan Yayasan PPTPP Letjen Purn H Kiki Syahnakri mengatakan tugas dan pekerjaan rumah rektor baru Unsika sangat berat, salah satunya adalah mensukseskan proses perubahan status Unsika menjadi universitas negeri. “Karena dalam perjalanannya menjadi universitas negeri masih banyak proses yang harus diselesaikan,” jelasnya. Kiki menambahkan, permasalahan berat lainnya adalah kondisi mahasiswa drop out di Unsika yang saat ini masih tinggi. Untuk itu, rektor baru Unsika harus dapat mereduksi jumlah mahasiswa drop out secara signifikan. “Tugas lainnya adalah untuk mewujudkan visi dan misi Unsika untuk menjadi universitas yang sejajar dengan universitas lain di Indonesia,” ujarnya. Usai pelantikannya sebagai rektor, Harun Firdaus memohon dukungan serta doa restu kepada semua pihak terkait, terutama kepada Dewan Pembina Yayasan Unsika, Bupati

Karawang, serta Ketua dan Anggota DPRD Karawang. “Khususnya terkait proses perubahan menjadi universitas negeri karena salah satu syaratnya adalah surat persetujuan dari DPRD,” tambahnya. Sementara itu, Rektor Unsika lama, Dadang Fakhrudddin menjelaskan bahwa dirinya saat ini telah dua kali menjabat sebagai Rektor Unsika. Kali pertama menjabat sebagai rektor pada tahun 2002, Unsika hanya memiliki 1.200 mahasiswa dan 9 program studi. Namun saat ini, Unsika telah memiliki 3.707 mahasiswa dan 18 program studi. Menurut Dadang Fakhruddin, terdapat dua tokoh yang berperan besar dalam perkembangan Unsika, yaitu Bupati Karawang terdahulu, Opon Sopanji yang berinisiatif mendirikan Unsika pada tahun 1982, serta Bupati Karawang saat ini, Drs H Dadang S Muchtar yang turut memberikan sumbangsih besar kepada Unsika. “Salah satunya adalah dengan memberikan beasiswa bagi mahasiswa Unsika,” ujarnya. (Andy Nugroho)

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

Lintas
Puskesmas Kalipucang Beri Pelayanan Terbaik
CIAMIS, Medikom–Puskesmas Kalipucang di Kabupaten Ciamis berkomitmen untuk memberikan pelayanan medis sebaik mungkin, baik pelayanan umum maupun pelayanan darurat. Kepala Puskesmas Kalipucang dr Aang Kurniawan kepada Medikom mengatakan, mengedepankan pelayanan merupakan tujuan utama. Puskesmas Kalipucang, jelasnya, terbagi dari enam ruang inap, satu ruangan IGD 24 jam, dan ruangan pelayanan medis lainnya. Hal itu, sudah dianggap cukup bagi Puskesmas Kalipucang ketimbang puskesmas lainnya. Apalagi ditambah lima Puskesmas Pembantu (Pustu), sudah dianggap lebih dari cukup. Untuk pelayanan medis, tambah Aang, diserahkan kepada staf karyawan sesuai tugas masing-masing. Hal ini demi memberikan rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugasnya. Terkait dengan pemberian pelayanan medis terhadap msayarakat kurang mampu, ia menjamin tidak membeda-bedakannya. “Saya tidak membeda-bedakan mana si miskin mana si kaya. Apalagi untuk katagori masyarakat miskin ada rujukan dari desa setempat dan mempunyai surat Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin. Saya akan berusaha sebaik mungkin agar pelayanan kami diterima oleh masyarakat,” katanya. (Agus S)

8

Bantuan Rekompak Seyogianya Buntut Berita Jual-Beli Motor, Wartawan Ekspos Wartawan Tidak Dimanipulasi
CIAMIS, Medikom-Segala bentuk bantuan keuangan, termasuk yang melibatkan negara sahabat, seharusnya dikelola sebaik-baiknya sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang paling membutuhkan. Seperti dana bantuan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pemukiman Masyarakat yang Berbasis Komunitas (Rekompak) yang berasal dari lima negara, pada tahun 2010 ini dikucurkan melalui lembaga sosial Java Reconstruction Founds (JRF). Berarti bantuan tersebut harus dikelola sebagaimana yang telah diprogramkan dan dilaksanakan menurut petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang telah dipersiapkan. Maka sangat disayangkan jika dilaksanakan secara menyimpang dan tidak tepat sasaran. Hal seperti ini diduga terjadi pada bantuan Rekompak yang disalurkan ke Desa Putra Pinggan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dalam penerapannya di lapangan, oleh oknum di BKM (badan keswadayaan masyarakat) di desa tersebut, diduga dilakukan menyimpang dari mekanisme juklak/juknis yang telah ditetapkan. Bahkan diduga ada manipulasi yang telah dilakukan. Dugaan ini, di antaranya diungkapkan oleh Agna (nama samaran), salah satu tokoh masyarakat sekitar, Kamis (17/6). Salah satunya, dalam pengerjaan jalan lingkungan di Dusun Ciratel Desa Putra Pinggan sepanjang 1.100 meter. “Dalam ajuan pengalokasian cuma ada satu jalan lingkungan yang diajukan. Namun pada kenyataannya, di tempat lain dilakukan pengerjaan. Ini terbukti sudah melanggar ajuan semula,” jelasnya. Padahal menurutnya, dana bantuan Rekompak yang berasal dari negara/lembaga sosial itu, dalam petunjuk pelaksanaannya tidak memperbolehkan adanya manipulasi, tapi harus dikerjakan dengan benar sesuai mekanisme. Namun kenyataannya, dana bantuan JRF tersebut ada yang dibagi-bagikan kepada aparat desa, seperti untuk sekdes, aparat desa, LPM, BPD, dan perangkat desa lainnya nominal yang bervariasi. “Mencapai jutaan rupiah kalau digabungkan. Tentu ini menandakan adanya indikasi penyelewengan pada dana bantuan Rekompak itu,” katanya, seraya menambahkan, cara pembagian dilakukan secara diam-diam melalui amplop. Agna mengungkapkan, untuk termin ke satu Desa Putra Pinggan menerima bantuan Rekompak/ Bantuan Dana Luar (BDL) sebesar Rp249 juta, dan termin ke dua BDL sebesar Rp450 juta. Namun diduga bantuan yang ke dua ini paling bermasalah, sehingga perlu dilakukan audit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dan modus seperti ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi di desa lainnya. Perlu diketahui, kata dia, bahwa untuk wilayah Ciamis selatan ada 17 desa yang mendapatkan dana bantuan Rekompak, sehingga kalau digabungkan nilainya mencapai angka miliaran rupiah. Di tempat terpisah, Koordinator BKM Desa Putra Pinggan, Aef didampingi Pujarsono selaku bendahara, Kamis (17/6), mengatakan, bantuan dari Rekompak tahun 2010 ini adalah amanah yang diberikan. “Kami selaku masyarakat di sini sekaligus BKM Desa Putra Pinggan tidak akan melakukan hal demikian. Apalagi ada semacam tuduhan manipulasi dan sebagainya, itu tidak benar. Dana bantuan yang didapat sebesar Rp249 juta dan Rp450juta, tidak bocor sekecil apapun. Dan dana yang tersisa tetap kami akan pertanggung jawabkan,” jelasnya. Aef menambahkan bahwa penyusunan laporan pertanggungjawaban (LPJ) Rekompak pun sudah beres dan tidak ada kendala. Pembangunan jalan lingkungan pun sudah selesai dilaksanakan sepanjang 1.100 meter, walaupun diakui kurang sedikit. “Adapun bagi-bagi amplop kepada pihak aparat desa yang dilontarkan oleh sumber tersebut, itu tidak benar adanya begitu. Dana bantuan Rekompak tidak dibagibagikan kepada siapa pun,” sangkalnya seraya menambahkan, pembangunan jalan lingkungan di desanya itu sudah diperiksa BPKP RI. (Tim) SUBANG, Medikom-Jual-beli satu unit motor Suzuki Shogun antara Irwan (selaku pembeli) dan Budi (penjual), warga Patrol, Desa Tambakmekar, Jalancagak Subang telah menjadi bahan berita salah satu media terbitan Jakarta berjudul “Menantu Seorang Guru SD Diduga Mau Coba Gelapkan 1 Unit Motor” pada edisi 138, masa edar 15-22 Juni 2010. Berita tersebut memuat keterangan dari Budi, bahwa Irwan selaku pembeli telah ingkar janji dan terkesan mengulur waktu. Jika dihitung sejak dilakukan transaksi sampai 15 Juni 2010, telah mencapai waktu satu tahun, namun belum juga dilunasi. Saat itu Irwan memberikan tanda jadi sebesar Rp5 juta dan sisanya sekitar Rp6 juta dijanjikan dibayar secepat mungkin. Sebagai konsekuensinya, sebelum lunas dibayar BPKB motor tetap dipegang oleh Budi. Satu hari pasca-pemberitaan, tepatnya 16 Juni 2010, Irwan mengembalikan motor tersebut kepada Budi di rumahnya (malam hari) seraya minta maaf atas kelalaiannya dengan alasan motor tersebut sedang dipakai ke Garut. Dalam kesempatan tersebut Irwan juga mengatakan dirinya tidak terima karena telah diekspos di media dikaitkan dengan dugaan mau coba gelapkan satu unit sepeda motor. “Saya tidak terima diberitakan mau coba gelapkan satu unit motor, karena keberadaan motor jelas di Bandung, di kantor saya, digunakan sebagai alat transportasi. Sedangkan pada saat itu tidak tepat janji, karena motor sedang dipakai ke Garut,” ungkap Irwan. Begitu pula dengan Ma’mun, mertua Irwan, tidak terima jika dikaitkan dengan jual-beli motor tersebut. Apalagi dikaitkan dengan profesinya selaku seorang guru SD yang sama sekali tidak ada urusannya dengan jual-beli motor tersebut. Karena telah terlanjur ikut diberitakan, maka Ma’mun merasa nama baiknya tercemari. Walaupun sebelumnya wartawan sudah melakukan konfirmasi kepadanya, namun ketika Ma’mun menegaskan bahwa itu urusan Irwan sendiri. Atas dasar tersebut Ma’mun meminta agar nama baiknya dijernihkan di media-media yang telah memberitakan dirinya. Terkait pemberitaan tersebut, 17 Juni 2010 sekitar pukul 15.00, Asep Nasa, wartawan Medikom mendapat SMS dari KH Maraganel, Ketua Umum LPPI, yang berbunyi, “Assalamualaikum Pa Asep sy ketua umum LPPI bapaknya Irwan. Sekarang dugaan pa Asep yang sudah diekspos tdk terbukti anak saya menggelapkan 1 unit sepeda mtr. Nah skrg sy minta ke pa Asep dijernihkan lg nama pa Irwan, pa Ma’mun, dan bu Ai. Caranya terserah pa Asep. Baru sekarang ada kejadian PERS mengekspos PERS (Wartawan mengekspos Wartawan). Dari dulu blm prnah ada kejadian seperti ini. wasalam. KH.Margareni.” Atas dasar SMS dari Ketua LPPI tersebut, ternyata baru diketahui jika Irwan itu seorang wartawan juga. Tapi muncul pertanyaan: apakah wartawan tidak bisa diekspos? Yang menjadi pedoman dalam hal ini ialah peraturan perundangan yang berlaku, di antaranya UU Pers. Menyikapi permintaan Pak Ma’mun, seorang Guru SD di UPTD Cisalak agar nama baiknya dijernihkan, Asep Nasa atas nama wartawan Medikom demikian juga rekan-rekan dari wartawan MD maupun Info Tipikor, dalam kesempatan ini meminta maaf yang sebesar-besarnya baik ke Pak Ma’mun maupun Irwan sekeluarga, atas adanya pemberitaan yang ternyata di kemudian hari tidak terbukti kebenarannya. Para wartawan tersebut dengan berbesar hati menyampaikan permohonan maaf demi menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan melalui profesi/dunia jurnalistik atau pers. Selanjutnya kami pun, baik wartawan Medikom, MD dan Info Tipikor berharap agar kita samasama sebagai wartawan tetap saling menjaga nama baik profesi ini. (asep nasa)

Kaminvecad Perjuangkan Para Pejuang
MAJALENGKA, Medikom-Upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meningkatkan kesejahteraan para pejuang dan veteran di antaranya diwujudkan melalui pemberian bantuan kehormatan kepada para pejuang veteran yang telah berjuang membela Tanah Air Republik Indonesia. Berkat perjuangan merekalah hingga kemerdekaan sekarang ini dapat dinikmati oleh semua rakyat dan bangsa Indonesia. Tunjangan tambahan diberikan kepada Veteran Kemerdekaan Republik Indonesia (VKRI) ,Veteran Pembela Trikora, Veteran Pembela Dwikora dan Veteran Pembela Timor Timur. Bantuan kehormatan ialah salah satu bentuk penghormatan kepada pelaku sejarah yang sudah rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawanya, demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa. Maka sudah seyogianya semua elemen bangsa menghormati jasa-jasa mereka yang sesungguhnya tidak ternilai harganya. Menurut Kepala Kantor Administrasi Veteran dan Cadangan (Kaminvecad) Kabupaten Majalengka Mayor (Purn) B Nasution melalui Peltu (Purn) Tukiyo, veteran yang ada di Kabupaten Majalengka berjumlah 1.500 orang. Yang masih hidup berjumlah 1.020 orang, sisanya janda veteran. Dalam mengurus administrasinya, Kaminvecad terus berupaya memberikan pelayanan yang optimal. “Apalagi melayani para pensiunan veteran yang usianya rata-rata sudah tua, memerlukan kesabaran. Karena untuk mendapatkan bantuan kehormatan ada persyaratan yang perlu dipenuhi, baik dari desa maupun dari kantor Kaminvecad,” tuturnya. (Tang/Jur)

Keponakan Bupati Obok-Obok Disdik, Aparat Hukum Diminta Bertindak
SUMEDANG, Medikom-Tahun 2010 dapat dikatakan tahun kelabu Dinas Pendidikan Sumedang. Mengapa? Sebuah pertanyaan panjang, penuh liku dan intrik, antara premanisme, muatan politis dan aroma korupsi, campur-aduk saling telikung. Ironis, aparat hukum yang seyogianya menjadi ujung tombak dalam berbagai permasalahan yang menggerogoti lembaga yang membidani generasi bangsa tersebut, terkesan mandul. Patut menjadi keprihatinan semua pihak. Betapa tidak, hampir bersamaan, tatkala mantan pejabat setingkat kepala seksi pada Dinas Pendidikan Sumedang, Agus Rahmat resmi ditahan Polda Jawa Barat terkait dengan proyek DAK tahun 2008, Jumat (11/6) lalu, keponakan Bupati Sumedang, Alto bikin ulah. Menurut informasi yang berkembang, ketika itu, di ruangan Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Unep Hidayat, Alto marah-marah dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada jajaran pejabat Disdik sembari diwarnai ancaman. Tidak tanggung-tanggung, dalam aksinya, sang keponakan Bupati dikabarkan didampingi pengawal pribadi Bupati. Sontak, selama dua pekan terakhir, ulah sang keponakan Bupati, Don Murdono tersebut menjadi berita menghebohkan di seantero Sumedang. Tidak ayal, berbagai elemen masyarakat angkat bicara. Secara umum, ulah Alto tersebut dinilai telah menghina sekaligus melecehkan lembaga Dinas Pendidikan Sumedang. Salah satunya, Ketua PGRI Sumedang, Endang Suhandi yang akrab disapa Kang Andi, dengan tegas mengatakan kekecewaan yang mendalam atas ulah Alto tersebut. Kepada sejumlah wartawan Kang Andi mengungkapkan, perbuatan tersebut meupakan tindakan premanisme yang telah berani menghina dan mengobok-obok lembaga negara, Ibarat bola api yang menggelinding, tindakan pongah sang keponakan bupati tersebut menjadi pertanyaan panjang: ada apa gerangan di balik semua itu? Beredar kabar, tindakan tersebut konon tidak lepas dari urusan berbagai proyek di lingkungan Disdik Sumedang. Di lain pihak, rumor yang berkembang menyebutkan, tindakan tidak terpuji tersebut sangat erat kaitannya dengan komposisi jabatan (baca: SOTK) di lingkungan Disdik Sumedang. “Ini sebab akibat. Bak ungkapan lama, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Lebih tepatnya, insiden memalukan tersebut merupakan buah dari lingkaran setan yang terbangun selama ini di lingkungan Disdik Sumedang,” ujar sumber Medikom yang tidak bersedia disebut jatidirinya di lingkungan Disdik Sumedang. Mengingat insiden tersebut merupakan penghinaan terhadap lembaga negara, Bupati Sumedang, Don Murdono, lewat berbagi media langsung meminta maaf kepada semua pihak. Menurut sang Bupati, ulah keponakannya tersebut di luar sepengetahuannya. Namun, permintaan maaf tersebut langsung mendapat reaksi dari berbagai elemen masyarakat yang peduli Sumedang. Sejumlah elemen masyarakat mengungkapkan, persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan permintaan maaf semata. “Permintaan maaf itu sah-sah saja, akan tetapi, tidak cukup kalau hanya minta maaf. Ada persoalan hukum yang harus ditegakkan. Untuk itu, aparat hukum Sumedang harus segera bertindak. Jangan sampai insiden tersebut diarahkan menjadi persoalan pribadi. Disdik itu lembaga negara yang harus dihormati semua pihak,” ujar Chevy Lubis, Ketua LSM Penjara, Sumedang. (Aidin Sinaga)

Membangun Deliserdang Perlu Tekad yang Kuat
LUBUK PAKAM, Medikom–Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan melalui Sekdakab Drs H Azwar S MSi, selaku Irup pada Upacara Apel Kesadaran Nasional Pemkab Deliserdang, Kamis (17/6) di halaman Kantor Bupati Deliserdang, Lubuk Pakam, mengajak jajaran aparatur Pemerintah Kabupaten Deliserdang untuk mempersiapkan berbagai kegiatan menyongsong Hari Jadi Kabupaten Deliserdang yang ke 64 pada 1 Juli 2010. Dengan demikian, peringatan tahun ini memberi nuansa yang penuh kegembiraan dan kebersamaan dan mampu memberi makna khusus bagi upaya memelihara dan menjaga momentum semangat membangun. “Harus disadari bahwa dalam membangun daerah Deliserdang yang cukup luas dan kompleks ini, kita memerlukan tekad yang kuat karena tantangannya juga cukup besar terutama jika dikaitkan dengan kondisi bangsa kita dewasa ini yang terus dilanda berbagai permasalahan yang menyangkut dengan tatanan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara,” tutur Bupati. Dikatakan, kondisi ini akan menuntut semua aparatur pemerintah daerah dapat bekerja secara sungguh-sungguh dan mengambil peran sekecil apapun yang dapat diberikan, melaui kekuatan semangat dan etos kerja yang tinggi dengan selalu menempatkan kepentingan tugas dan tanggung jawab di atas kepentingan yang lain. Karenanya, seorang aparatur akan dapat meningkatkan kinerjanya apabila benar-benar mampu memahami tugas dan fungsinya dengan baik, menguasai potensi yang dimiliki, baik yang menjadi hambatan maupun potensi yang tersedia di samping mengusai peraturan dan perundangan yang ada. Pada upacara yang diikuti PNS di jajaran Pemkab Deliserdang ini bertindak sebagai Danup Drs M Ali Yusuf Siregar Kadis Kependudukan dan Capil serta pembaca Panca Prasetya Korpri Eko Sapriadi, staf BKD Pemkab Deliserdang. (R David Sagala)

Plotting Proyek APBD Kota Bogor Menggila
BOGOR, Medikom-Dugaan plotting (pengaturan secara tersembunyi) proyek APBD Kota Bogor semakin menggila. Artinya, program E-proc yang konon dapat mengatasi adanya penyimpangan dan pelanggaran terhadap Keppres 80 semakin jelas dipermainkan. Dengan kondisi ini sangat berpeluang besar untuk terjadinya main mata antara oknum pejabat terkait dengan pengusaha peserta lelang. Berbagai kejanggalan terjadi, seperti selisih nilai pagu proyek dengan nilai penawaran hanya berkisar ± 5%. Selisih angka penawaran antarperusahaan pun hanya sedikit. Hal ini mengindikasikan perusahaan pemenang sudah direncanakan, dan yang lainnya sebagai pelengkap supaya persyaratan pelelangan terpenuhi. Praktek pembohongan publik seperti ini sudah membudaya. Praktek suap antara pengusaha dengan oknum pejabat sangat sulit dibuktikan. Mereka sangat piawai untuk menentukan tempat dan waktu untuk transaksi suap. Demikian dikatakan Mahmudin Nurdin, Ketua Umum LSM KOBRA di sekretariatnya kepada Medikom minggu lalu. Kita sebagai rakyat, lanjut Didin (panggilan akrabnya-red), tidak dapat berharap banyak dari pihak hukum Kota Bogor. “Kenyataan bahwa sampai dengan hari ini pihak lembaga yudikatif tidak pernah menyelidiki hal ini. Pastilah mereka tahu karena mereka bukan orang bodoh,” katanya. Ketua umum LSM KOBRA juga berjanji pihaknya akan bekerjasama dengan Komisi Yudisial agar pihak yudikatif Kota Bogor dapat bekerja secara maksimal. Ir H Indra Sjafei MSi, Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bogor menanggapi persoalan plotting proyek, saat ditemui Medikom, di ruang kerjanya, Selasa (15/6), mengatakan, pelaksanaan lelang merupakan tanggung jawab panitia lelang karena sudah diserahkan sepenuhnya kepada mereka. “Silahkan Anda tanya saja kepada Ketua Panitia Lelang Nana Yudiana ST. Sebab saya ingin terbebas dari persoalan yang terkait dengan pelelangan, I want to be free,” ungkapnya. Nana Yudiana ST, belum berhasil ditemui Medikom. Diperoleh informasi dari stafnya Nana sedang sibuk ke Jakarta. Ir H Indra Mufardi Roesli MM, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota Bogor beberapa kali berusaha ditemui oleh Medikom, namun orang yang bersangkutan selalu saja sibuk rapat. (rangga)

Menutup Jalan Atas Nama Warga,

Bantuan PPK–IPM di Ciamis Diduga Bermasalah
CIAMIS, Medikom–DPRD Kabupaten Ciamis berencana melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menelusuri kebenaran data yang disampaikan Satlak terkait aliran dana PPK-IPM (Program Percepatan Kenaikan-Indeks Pembangunan Manusia) yang diterima Pemkab Ciamis selama dua tahun beruturt-turut, masingmasing Rp25 miliar tahun 2007 dan Rp22,5 miliar tahun 2008. Ditambah lagi total dana pendamping Rp18 miliar dan biaya manajemen Rp1 miliar. Rencana itu bergulir karena laporan tentang PPK-IPM yang diterima DPRD disinyalir tidak sesuai dengan data dan fakta di lapangan. Karenanya, diperlukan investigasi langsung ke lapangan oleh tim independen. “Tim independen bukan berarti mereka yang pernah terlibat dalam PPK-IPM seperti eks penajngung jawab program (PJP) atau pun eks tim monev (monitor dan evaluasi). Tim indenpenden ini bisa saja KPK yang akan menilai netral di mana letak kesalahan ataupun penyelewengannya,” ujar Ketua Komisi II DPRD Ciamis Ahmad Irfan Alawi kepada wartawan beberapa waktu lalu. Diakuinya, dana senilai Rp65,5 miliar plus dana manajemen Satlak Rp1 miliar bukan dana sedikit. “Jika tidak bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, kita telusuri di mana terjadi kemacetannya,” tandas Ahmad. Wakil Bupati Ciamis H Iing Syam Arifin saat dimintai tanggapannya, Selasa (15/6) mengakui, pihaknya belum mempunyai data pasti terkait PPK-IPM. Namun diakui keberadaan Satlak masih berfungsi dan pihaknya belum merencanakan melakukan hibah aset PPKIPM. (Herz)

Kades Dayeuh Dianggap Putar Balik Fakta
CILEUNGSI, Medikom-Kepala Desa (Kades) Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor Jaelani oleh warganya dianggap memutarbalikkan fakta. Pemutarbalikan fakta oleh kades itu terlihat dalam surat yang dikirim Jaelani kepada PT Sigap/Astra bernomor 474.4-186V-2010 tertanggal 02 Mei 2010 perihal Pemberitahuan Penutupan Pagar PT Sigap. Kades berdalih, penutupan jalan oleh perusahaan itu sesuai hasil musyawarah dengan warga masyarakat pengguna jalan yang melintas di areal tersebut.
Dalam surat itu, masyarakat meminta beberapa persyaratan seperti kompensasi berupa dana tunai sebesar Rp10 juta. Dana tersebut diperuntukkan kepada warga di RT 03/04 dan 03/05 Kp Rawa Jamun dan Kp Babakan. Warga juga meminta perbaikan gang di Kampung Rawa Jamun RT 03 RW 04 Desa Dayeuh dengan kompensasi Rp10 juta. Atas surat kades yang dituangkan dalam persetujuan bersama (PB) antara perusahaan PT Sigap Prima Astrea selaku pihak pertama dan Kades Dayeuh atas nama masyarakat selaku pihak kedua sepakat menutup akses jalan desa yang sering dilewati warga sekitar. Pemblokiran akses jalan desa tersebut oleh PT Sigap Prima ditanggapi serius Komisi A DPRD Kabupaten Bogor. Mereka mengunjungi lokasi jalan desa yang diblokir perusahaan jasa penyuplai tenaga sekuriti itu. Tak ayal, kesempatan itu pun dimanfaatkan ratusan warga di dua kampung dengan menggelar aksi unjuk rasa. Sedikitnya 9 wakil rakyat yang datang ke lokasi dipimpin langsung ketua komisi Junedi Sirait. Mereka berinteraksi dengan masyarakat terkait penutupan jalan tersebut. Kedatangan dewan itu menyusul surat warga kepada pimpinan perusahaan tertanggal 27 Mei 2010 yang ditembuskan kepada dewan perihal pernyataan keberatan dan penolakan tentang ditutupnya akses jalan kekawasan. Setibanaya di lokasi para anggota dewan ini disambut warga dua kampung, Rawajamun dan Kampung Babakan dengan berbagai orasi. Warga menuntut PT Sigap Prima Astrea membuka kembali akses jalan desa. Warga beralasan bahwa jalan yang ditutup itu adalah satu-satunya akses cepat, lancar dan relatif lebih aman sangat berguna bagi sarana transport menuju kawasan dan tempat lain. Kedatangan dewan untuk melihat langsung apa yang terjadi di masyarakat di mana sebelumnya perwakilan dari masyarakat sudah mendatangi kantor DPRD. Disebutkan jika jalan tersebut ditutup akan menimbulkan dampak negatif terhadap warga. Rumah kontrakan akan ditinggal penghuninya karena merasa terisolir. Para pedagang akan kehilangan langganan karena tidak adanya pengontrak. Bahkan ongkos menuju lokasi yang sudah terisolir tadi akan menaikkan ongkos bagi pengguna jasa ojek. “Kita seperti dikurung dengan tembok besar ini, keluar kampung pun harus memutar dan menempuh jarak jauh,” kata salah seorang perwakilan warga. Sementara itu Jamhali juru bicara warga mengatakan warga menyangkal keras adanya persetujuan tentang penutupan akses jalan desa seperti yang digemborkan PT Sigap Prima. Warga tidak pernah diajak musyawarah oleh kades. Padahal kabar yang berembus menyebutkan PT Sigap Prima dan perwakilan warga sudah melakukan musyawarah dan menyetujui bahwa akses jalan desa itu ditutup. “Kami tidak pernah diajak musyawarah oleh kades,” kata Jamhali seraya berharap kepada Komisi A agar dapat membantu warga menyelesaikan persoalan tersebut sehingga perusahaan membuka kembali akses jalan desa tersebut. Sementara itu ketua Komisi A DPRD setempat Junedi Sirait berjanji akan segera memanggil semua pihak. “Kita akan panggil pihak perusahaan, Kades Dayeuh, Kadus dan perwakilan warga,” kata Sirait. (Soeft)

Wakil Bupati Tasikmalaya Kukuhkan Kotingen Porda XI
TASIKMALAYA, Medikom–Wakil Bupati Tasikmalaya H E Hidayat SH MH mengukuhkan dan melepas secara resmi kontingen Kabupaten Tasikmalaya yang akan mengikuti Porda XI dan Porcada III Jawa Barat tahun 2010, di Pendopo, Kamis (17/ 6). Pada pengukuhan yang ditandai dengan penyerahan bendera kontingen kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya selaku Chief De Mission, hadir unsur Muspida, Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya, para asisten sekda, para staf ahli bupati, para kepala OPD di lingkup Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, Ketua TP PKK beserta anggota, dan Ketua KONI beserta pengurus. Wakil Bupati mengatakan, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya bersama seluruh lapisan masyarakat mendukung sepenuhnya kontingen Kabupaten Tasikmalaya untuk meraih prestasi terbaik di setiap nomor pertandingan yang diikuti. Pembinaan dan latihan yang telah dilakukan secara intensif di masa persiapan, seyogianya menjadi bekal berharga dalam mengahadapi pertandingan. “Jangan minder apalagi takut mengahadapi lawan, hadapi dengan penuh percaya diri tapi juga jangan takabur dan menganggap enteng lawan sehingga kita lengah dan akhirnya jadi kalah. Tunjukan bahwa kalian adalah pendekar Tatar Sukapura dan jawara dari Galunggung yang siap tandang makalangan, tong kumeok memeh dipacok,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Ketua Umum KONI Kabupaten Tasikmalaya drs H Eddy Herdiman dalam laporannya mengatakan Pekan Olah Daerah (PORDA) XI dan Pekan Olahraga Penyandang Cacat Daerah (PORCADA) III Jawa Barat, diselenggarakan setiap empat tahun sekali, merupakan titik kulminasi pembinaan olehraga prestasi di tingkat provinsi. Kontingen Kabupaten Tasikmalaya, jelasnya, akan mengikuti 21 cabang olahraga dan empat cabang olahraga BPOC, yang terdiri dari 229 atlet dan official serta didukung oleh satgas kontingen, tim kesehatan, masseur, pengemudi sebanyak 78 orang, sehingga jumlah kontingen seluruhnya 307 orang. “Kami pun tentunya mohon doa restu dan dukungannya agar selama mengikuti kegiatan Porda XI dan Porcada III Jawa Barat 2010, senantiasa mendapat kekuatan lahir batin, mampu mengikuti semua kegiatan dengan baik dan akhirnya meraih prestasi terbaik untuk kejayaan olahraga dan kebesaran serta nama baik Tatar Sukapura Kabupaten Tasikmalaya,” harapnya. (A Cucu)

“Jangan minder apalagi takut mengahadapi lawan, hadapi dengan penuh percaya diri tapi juga jangan takabur dan menganggap enteng lawan sehingga kita lengah dan akhirnya jadi kalah. Tunjukan bahwa kalian adalah pendekar Tatar Sukapura dan jawara dari Galunggung yang siap tandang makalangan, tong kumeok memeh dipacok,” ungkapnya.

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

9

Sedap Rasa

PLTU di Langkat Diharapkan Atasi Krisis Listrik
MEDAN, Medikom–Ketua Komisi D DPRD Sumut H Ajibshah dalam kunjunganya ke proyek PLTU 2 X 20 MW di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Sumut, Kamis (17/6) mengharapkan proyek ini dapat selesai untuk mengatasi krisis listrik di Sumut. “Kami berharap proyek ini dapat selesai, tidak seperti proyek PLTU Labuhan Angin,” kata Ajibshah sambil mengingatkan agar perusahaan listrik tersebut dapat memenuhi harapan masyarakat dengan meningkatkan kinerja untuk mengatasi krisis energi listrik di Sumut. Para anggota Komisi D DPRDSU, di antaranya Fadly Nurzal, Hamaisul Bahsan, Maratua Siregar, pada pertemuan itu meminta manajemen PT PLN Sumut untuk terbuka mengungkapkan apa yang menjadi kendala selama ini. GM PLN Pembangkit Sumbagut K Matondang menyatakan, sejauh ini masalah perizinan seperti lokasi pembangunan Amdal, IMB, HO serta prinsip pengunaan kawasan hutan izin pinjam pakai kawasan hutan dari Menhut sudah diperoleh. Namun masalahnya pembebsan lahan ganti rugi dengan warga sekitar belum mendapat kesepakatan. Matondang meyatakan, pihaknya siap melaksanakan percepatan pembangunan proyek 10.000 MW di wilayah Sumatera I menjadi pembangkit yang handal, ramah lingkungan dan dapat dioperasikan secara efisien, optimal serta memastikan proyek pembangkit PLTU dapat selesai tepat waktu. (SS)

Sahabat Medikom di manapun Anda berada, Dapur SEDAP RASA kali ini akan menyuguhkan resep masakan yang sangat simpel dan mudah dibuat, yakni memasak dengan bahan dasar telur asin. Selamat mencoba.

Telur Asin Masak Bumbu Merah
Bahan 6 butir telur asin 2 lembar daun salam 2 cm lengkuas dimemarkan 1 btg sereh dimemarkan 350 ml santan (dari ½ kelapa) 3 sdm minyak goreng Bumbu halus 4 bh cabe merah 6 btr bawang merah 4 siung bawang putih 1¼ sdt garam ¼ sdt gula pasir merica secukupnya Cara Membuat Tumis bumbu halus, cabai merah, daun salam, sereh dan lengkuas sampai bau harum dan matang. Masukkan telur asin yang sudah digoreng, aduk rata. Tambahkan santan dari ½ kelapa lalu didihkan. Aduk dan diamkan hingga matang, lalu sajikan dengan taburan bawang goreng di atasnya.

Si Jago Merah Lalap Habis Pasar Perumnas
CIREBON, Medikom–Mendung sejak pagi hari di Kota Cirebon, Rabu (16/ 6) seolah menjadi pertanda buruk. Benar saja, beberapa jam sebelum waktu magrib tiba, kebakaran hebat melanda Pasar Perumnas di Kecamatan Harjamukti. Tiupan angin yang kencang membuat api semakin cepat melahap apa saja. Panas api begitu terasa. Masyarakat pun mulai menjauh. Kios di jajaran terdepan perlahan segera dilumat si jago merah. Tak ketinggalan kantor layanan simpan pinjam Teras BRI. Saat azan magrib berkumandang, seluruh bangunan utama pasar andalan masyarakat Cirebon di kawasan selatan itu habis. Atapatap mulai roboh, termasuk kantor pengelola pasar perumnas, hancur. Sementara 3 armada mobil pemadam kebakaran terlihat kewalahan menjinakkan api. Kepala Pasar Perumnas Iwan Wawan Gunawan (42), terlihat kaget melihat keadaan. Terbata ia menjawab pertanyaan beberapa wartawan dan petugas polisi yang mencari keterangan awal. Diterangkan Iwan, dirinya mendapat kabar pasar terbakar pukul 17.24 dari SMS seorang pedagang. Saat tiba di lokasi kebakaran sudah sangat parah. “Dari informasi bawahan saya, api pertama kali terlihat di sebuah toko sembako. Api sudah cukup besar. Dugaan awal karena konsleting arus listrik,” katanya. Iwan yang bertugas sebagai kepala pasar selama 2 tahun meyebutkan, Pasar Perumnas memiliki total 196 kios dan 142 lapak. Ia menyebutkan menjelang sore aktivitas di banguan utama pasar memang mulai sepi. Namun begitu masih ada pedagang yang mebuka kiosnya. Sementara di halaman depan pasar, para pedagang makanan bersiap membuka tenda-tenda. Kios yang tak tersentuh api terletak di pinggiran sebelah selatan dan utara. Sedangkan bagian tengah, atau bagian utama bengunan pasar, hanya menyisakan puing. Terkait beberapa jumlah kerugian yang ada, Iwan belum dapat memberi penjelasan. “Wah, belum tahu angka kerugian ini. Saya juga masih kaget sekali,” ujarnya. Beberapa pejabat Pemkot Cirebon juga terlihat di lokasi. Ada Wakil Wali Kota Sunaryo HW, Kapolresta AKBP Ary Laksamana Widjaya dan Sekda Hasanudin Manap. Wali Kota Subardi datang belakangan. Hasanudin Mengaku prihatin atas musibah kebakaran ini. “Iya mas, saya kaget mendengar kejadian ini. Kasihan para pedagang dan masyarakat,” ucapnya. Ketika disinggung bagaimana langkah cepat pemkot terhadap nasib para pedagang, Sunaryo HW menegaskan, pihaknya akan segera memikirkan cara tercepat agar para pedagang bisa tetap berjualan. Didesak apakah pemkot siap memberikan bantuan ganti rugi, politisi gaek asal Partai Golkar itu tak eksplisit mengiyakan. “Yang terutama adalah bagaimana pedagang bisa berjualan kembali, walaupun dalam keadaan darurat. Bila perlu ada akses jalan yang ditutup sementara untuk dipakai berdagang,” tuturnya. Terkait adanya kios yang menjual emas, Kapolres AKBP Ari Laksamana Widjaya mengungpakan pihaknya telah meminta pemilik untuk tidak membuka kios dan selama kobaran api menyelimuti memang tidak goyah dan tetap terkunci. Sementara untuk penjagaan khusus, penempatan personel kapolisian menyesuaikan dengan perkembangan keadaan. (Rudi)

Aksi Korporasi Telkom Melalui Sinergi Divisi TELKOM Flexi
BANDUNG, Medikom–Sehubungan pemberitaan di media massa mengenai sinergi TELKOM Flexi dengan operator sejenis, khususnya dengan Bakrie Telecom, Vice President Public and Marketing Communication PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Eddy Kurnia menjelaskan, sebagai bagian dari penataan portofolio bisnis perusahaan, Telkom berencana melakukan aksi korporasi melalui sinergi Divisi TELKOM Flexi. Terdapat berbagai pilihan aksi korporasi yang dipertimbangkan, salah satu di antaranya adalah konsolidasi dengan operator lain melalui beberapa alternatif seperti partnership, penggabungan bisnis dan akuisisi. Berkaitan dengan rencana tersebut, Telkom telah memperoleh respons positif secara informal dari Menteri BUMN sebagai pemegang saham mayoritas untuk meneruskan program aksi korporasi tersebut. Saat ini terdapat beberapa partner potensial yang telah dipertimbangkan dan berdiskusi dengan Telkom. Salah satu partner potensial yang sedang dipertimbankan secara serius adalah Bakrie Telecom (BTEL). Lanjut Eddy, Telkom akan mempelajari secara saksama terlebih dahulu setiap pilihan aksi korporasi yang akan diambil dengan mempertimbangkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku dan tetap mengikuti proses yang lazim dalam setiap aksi korporasi, seperti due diligent, internal approval process, dan hal-hal lain yang bersifat operasional. Langkah Telkom akan senantiasa mengacu pada kaidahkaidah good corporate governance. “Sampai dengan saat ini belum ada keputusan formal apapun terkait alternatif maupun mitra bisnis yang dipilih untuk berkonsolidasi dengan Flexi. Telkom akan segera mengumumkan kepada publik setelah keputusan formal terkait dengan konsolidasi ini benarbenar diambil,” ujar Eddy. Mengenai spin off Divisi TELKOM Flexi, Eddy menambahkan, langkah tersebut hanya dilakukan jika proses konsolidasi yang akan dilakukan nanti memang mensyaratkannya. Sampai dengan saat ini, belum ada keputusan formal untuk melakukan spin off Divisi TELKOM Flexi. (IthinK)

Tantangan Semakin Kompleks

Pemimpin Kadin Kota Tangerang Harus Berkualitas
TANGERANG KOTA, Medikom-Kadin seyogianya berperan besar dalam meningkatkan sektor pendapatan daerah serta mampu memberi “kepastian dan rasa aman” bagi para investor asing untuk menanamkan modalnya sekaligus mengupayakan terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya kepada para pedagang kelas kecil dan menengah, dalam rangka menyelamatkan nasib kehidupan ekonomi rakyat kecil. Berkaitan dengan rencana pemilihan Ketua Kadin Kota Tangerang mendatang, tentu masyarakat maupun kalangan dunia usaha berharap jabatan Ketua Kadin periode berikutnya diisi (dibutuhkan) oleh figur yang benar-benar berkualitas serta memiliki kompetensi dengan latar belakang bidang perdagangan, industri serta teknologi maju. Namun, hasil Raker kadin Kota Tangerang yang diselenggarakan di rumah makan Pondok Selera, 15 Juni 2010, sangat disayangkan. Acaranya sendiri seperti kurang persiapan sehingga banyak keganjilan yang sangat merendahkan nilai raker tersebut. Apalagi Raker Kadin itu tidak mendapat respons positif dari kalangan pelaku bisnis maupun para pemborong lokal. Baik yang menjadi anggota maupun pengurus, banyak yang tidak hadir. Bahkan tidak sedikit peninjau dan undangan satu per satu meninggalkan ruangan. Memang organisasi Kadin segera dibenahi, baik itu menyangkut manajemen maupun kinerja para pengurusnya. Jangan maunya saja jadi pengurus, tapi SDM-nya rendah. Seharusnya setiap anggota Kadin, baik kapasitasnya sebagai peninjau maupun panitia, wajib datang dan mengikuti jalannya raker dari awal hingga penutupan, dan menyimak hasil yang sudah diputuskan. Demikian hambar acara tersebut, karena begitu salah satu peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangannya, ternyata ditolak oleh pimpinan sidang karena materi usulan yang disampaikan tidak nyambung alias salah masuk kamar, maka muncullah kegaduhan. Apalagi ketidakhadiran Wali Kota Tangerang yang membuat acara Raker Kadin semakin tidak memiliki bobot, hambar dan tak semarak. Melengkapi suasana Raker Kadin Kota Tangerang yang berjalan alot dan monoton, tidak ada terobosan yang signifikan/menonjol yang muncul. Maka dari itu, kinerja panitia perlu ditingkatkan pada masa yang akan datang. (AgsS)

HIPMI Sumut:

Gubsu H Syamsul Arifin Cukup Berhasil
MEDAN, Medikom–Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sumatera Utara (HIPMI) Said Agil mengatakan, kepemimpinan Gubernur Sumut Dato H Syamsul Arifin SE selama genap dua tahun ini cukup berhasil dan dari segi perekonomian secara perlahanlahan mulai naik. Selama dua tahun kepemimpinan Gubsu, Agil berharap dapat terjalin hubungan baik dan bersinergi dengan HIPMI Sumut. “Sesuai dengan Visi Misi Gubsu Rakyat jangan lapar dan Rakyat punya masa depan, pihak HIPMI juga turut membantu salah satu program Gubsu tersebut dengan menciptakan dan membuka seluasluasnya lapangan pekerjaan bagi rakyat,” tutur Agil kepada Medikom baru-baru ini di lantai 8 kantor Gubernur di Medan. Dia beraharap Gubsu dapat mempermudah segala pengurusan perizinan bagi para pengusaha muda yang bergabung di HIPMI Sumut. Pengurusan perizinan bagi para investor muda sangat dibutuhkan untuk menunjang laju perekonomian di Sumut. Sebab, akan meningkatkan laju pertumbuhan dunia usaha di Sumut, jika pengurusan perizinan tidak berlarut-larut dan berbelit-belit. Maka para investor muda dan pengusaha muda dapat berkembang. Pihaknya juga mengatakan hubungan baik antara Pemerintah Sumut dan DPD HIPMI Sumut masih terjalin dengan baik dan harmonis. (Sul)

Gubernur Buka Kontes Ternak Bibit Tingkat Provinsi
TASIKMALAYA, Medikom–Bupati Tasikmalaya Drs H T Farhanul Hakim MPd menghadiri acara Kontes Ternak Bibit Tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2010 yang dibuka oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan Lc di Alun-alun Manonjaya Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (15/6). Acara pembukaan tersebut dihadiri Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Prof Dr Ir Tjeppy Soedjana MSc beserta jajarannya, Muspida Provinsi Jawa Barat, perwakilan DPRD Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Ir H Koesmayadie TP, Ketua DPRD beserta unsur Muspida Kabupaten Tasikmalaya, Wakil Wali Kota Tasikmlaya, Sekretaris Daerah, para asisten dan kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, para camat dan unsur muspika kecamatan, para peserta kontes ternak se-Jawa Barat, KTNA, para petani peternak, pengurus organisasi profesi, tokoh masyarakat, alim ulama serta tamu undangan lainnya. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, Kontes Ternak Tingkat Provinsi Jawa Barat ini merupakan salah satu agenda tahunan Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya, guna menghasilkan bibit ternak (sapi perah, sapi potong, domba dan kambing) berkualitas. Kontes ini pun diharapkan dapat memberikan motivasi bagi para peternak untuk lebih meningkatkan kualitas serta kuantitas ternak, sehingga memberikan manfaat ekonomis bagi para peternak maupun bagi daerah. Bupati Tasikmalaya mengatakan, peternakan merupakan salah satu pilar sangat penting dalam kehidupan ekonomi nasional maupun daerah, karena pembangunan peternakan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan pertanian. Jadi, peranan petani peternak sangat menentukan keberhasilan pembangunan tersebut. Tantangan utama yang dihadapi dewasa ini, jelas Bupati, adalah bagaimana menghasilkan produk peternakan yang berdaya saing tinggi baik dalam aspek kuantitas, kualitas, ragam produk, kontinuitas, pelayanan maupun harga, sehingga

Desa Paledah Juara Program CLCC-MBS Akan Pelunasan PBB Pengaruhi Penentu Kebijakan
CIAMIS, Medikom–Desa Paledah, Kecamatan Padaherang, mendapat penghargaan dari Bupati Ciamis H Engkon Komara. Desa terisolir yang memiliki luas wilayah 872,55 hektare, terbagi dari 47 RT dan 15 RW dari 6 dusun ini, keluar sebagai juara pelunasan PBB tingkat kabupaten. Untuk itu, selain mendapatkan trofi bergilir Bupati Ciamis mendapatkan hadiah roda dua sebanyak 2 unit, Desa Paledah memperoleh bantuan sumbangan keuangan sebesar Rp15,5 juta dan . Kepala Desa Paledah Sano mengatakan, pelunasan pajak yang ditargetkan Rp82 juta tersebut merupakan kewajiban masyarakat. “Alhamdulillah kesadaran masyarakat cukup meningkat, mengingat pembayaran pajak merupakan wajib bagi warga masyarakat. Dan tentunya tidak akan ada pembangunan baik di tingkat pusat, daerah maupun desa, kalau pajak tersebut tidak dibayar. Karena itulah masyarakat kami sangat memperhatikan kewajiban pajak PBB,” ujar Sano. Dia berharap, ke depannya masyarakat Paledah yang 90% sebagai petani bisa optimal menanam padi. Sebab, sekarang ini penanaman padi tidak begitu maksimal, karena Desa Paledah merupakan waduk aliran air dari desa tetangga seperti Desa Maruyungsari dan Desa Kertajaya Kecamatan Mangunjaya. Air dari waduk pesawahan Paledah, jelas Sano, tidak boleh dibuang ke Desa Sukanagara. Beberapa tahun ke belakang, pembuangan air sudah ditutup oleh SUBANG, Medikom - Kegiatan Advokasi Program CLCC-MBS (Managemen Berbasis Sekolah) pemerintah RI yang bekerjasama dengan UNICEF Tahun 2010, telah dilaksanakan Kamis (17/6) lalu, di Ruang Rapat Bupati Subang. Yang mendasari dilakukannya kegiatan tersebut yakni pertama UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 51 ayat (1) yang menyebutkan Pengelolaan Satuan Pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis Sekolah/Madrasah. Kedua, PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar nasional Pendidikan yang memuat 8 standar, yaitu standar isi proses, kompetensi kelulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, saranan dan prasaranan, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidik. Dan yang ketiga adalah MOU/ Kerjasama RI-UNICEF. Menurut Kabid PJOK yang juga pengurus kegiatan UNICEF di Kabupaten Subang Drs Wawan MPd mengatakan, tujuan diadakannya Kegiatan Advokasi Program CLCCMBS adalah melanjutkan Impelementasi MBS-PAKEM di SD/ MI Kabupaten Subang, serta merupakan suatu proses terencana, terorganisir dan sistematik yang dilakukan untuk menuntut dan mendukung pembaharuan atau perubahan kebijakan publik dengan jalan mempengaruhi para penentu kebijakan. Wawan menambahkan bahwa alokasi anggaran untuk pelaksanaan MBS dapat diakomodir dalam APBD dan telah terdapat nomenklatur untuk itu. Nomenklatur MBS, lanjutnya, diatur dalam Permendagri 13/2006 yang telah disempurnakan oleh Permendagri 59/2007, dan dibiayai oleh UNICEF. Pelatihan Kegiatan tersebut berlangsung sekitar 60 menit dan diikuti oleh 40 orang peserta dari Dinas terkait, dengan narasumber fasilitator dari Propinsi Jawa Barat yang dipimpin oleh Totong, dan dihadiri oleh Kadisdik, Ketua DPRD, Ka.Bapeda, UPTD, Para Kepala Sekolah dan dari Dinas Instansi terkait. (Loy/Lbb)

Sano masyarakat Desa Sukanagara sebab dianggap mengganggu pesawahan mereka. “Selaku pemerintah desa dan masyarakat mengharakpan solusi pembuangan air dari Desa Paledah jangan sampai menjadi waduk yang tentunya tidak bisa diperguanakan sebaik mungkin untuk lahan pertanian. Kami sempat berupaya kepada Balai Besar Sungai Citanduy untuk segera menanggulangi masalah ini. Adapun realisasinya kami sangat mengharapkan,” tutur Sano. Ditempat terpisah, Camat Padaherang Drs Muhlis mengatakan kepada Medikom, prestasi dari Desa Paledah merupakan eksistensi sebuah kinerja. Terkait pembuangan air waduk di Desa Paledah, Camat mengatakan, sudah dikoordinasikan baik melalui lisan maupun tulisan dan bentuk permohonan melalui proposal agar pihak Balai Besar Citanduy secepat mungkin merespons keinginan masyarakat Desa Paledah. (Agus S/Herz)

Telkom Bagikan Dividen Tunai Rp5,6 Triliun
BANDUNG, Medikom–Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2010 PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) menetapkan penggunaan Laba Bersih Perseroan Tahun Buku 2009 mencapai Rp11.332.140.073.581. Laba bersih ini diperuntukkan bagi dividen tunai sebesar 50% dari laba bersih tahun buku 2009 atau Rp5.666.070.036.791 termasuk jumlah dividen sementara (dividen interim) yang telah dibayarkan pada tanggal 28 Desember 2009 sebesar Rp524.190.170.387 atau sebesar Rp26,25 per saham.
Jadi jumlah dividen final yang masih akan dibayar sebesar Rp5.141.879.866.404 atau minimal Rp261,4149 per saham berdasarkan jumlah sahan yang telah dikeluarkan, tidak termasuk saham yang dibeli oleh Perseoan per tanggal Rapat sebesar 490.574.500 saham. Dividen akan dibagikan pada 26 Juli 2010. Menurut Vice President Public and Marketing Communication PT Telekomunikasi Indonesia Eddy Kurnia, laba bersih juga dialokasikan untuk dana Progran Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2010, dengan rincian Program Kemitraan sebesar 0,25% dari laba bersih Perseroan Tahun Buku 2009 atau sebesar Rp28.330.350.184; Program Bina Lingkungan sebesar 0,79% dari laba bersih Perseroan Tahun Buku 2009 atau sebesar Rp90 miliar. Kemudian sisa laba bersih Tahun Buku 2009 sebesar Rp5.666.070.036.791 ditempatkan sebagai Laba Ditahan yang digunakakan untuk pengembangan usaha. RUPST ini juga memutuskan memperpanjang masa penugasan Komisaris dan Direksi sampai dengan RUPS Luar Biasa pada kesempatan berikutnya. Pembagian Dividen Tunai Tahun Buku 2009 dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: penerima Dividen Tunai adalah para pemegang saham yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan per tanggal 12 Juli 2010 sampai dengan pukul 16.00 WIB; Dividen Tunai akan dibayarkan secara sekaligus pada tanggal 26 Juli 2010 dengan memperhitungkan dividen interim yang telah dibayarkan pada tanggal 28 Desember 2009 sejumlah Rp524.190.170.387; Direksi diberikan wewenang untuk mengatur lebih lanjut tata cara pembagian dividen tersebut dan mengumumkannya dengan memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku terutama di bidang pasar modal di mana saham Perseroan tercatat. (IthinK)

dapat memenuhi tuntutan pasar domestik maupun pasar global. Sementara Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Prof dr Ir Tjeppy Soedjana MSc mengatakan, tantangan pembangunan peternakan saat ini cukup berat, terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak, seperti daging, telur dan susu. Kemeterian Pertanian telah merespons tantangan tersebut melalui pencanangan program Swasembada Daging Sapi 2014 sebagai salah satu dari program utama Kementerian Pertanian. Program ini juga diharapkan dapat mendorong untuk mengembalikan posisi Indonesia sebagai negara pengekspor sapi seperti pada tiga dekade sebelumnya, walaupun hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. “Karena, sampai saat ini komponen impor kita masih cukup besar, namun keinginan tersebut harus dapat didukung dan kita wujudkan bersama,” ungkap Tjeppy.

Gubernur pada kesempatan yang sama memberikan bantuan berupa 490 ekor ternak sapi potong untuk kelompok di 12 kabupaten di Jawa Barat, yang secara simbolis dilakukan dengan penyerahan 35 ekor sapi kepada GAPOKTAN Al Hasanah Kelompok Cipetir, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi. Selain itu, diberikan juga 2.365 ekor ternak domba untuk 37 Kelompok Pengembangan Usaha Domba di 15 kabupaten/kota di Jawa Barat, masing-masing menerima 55 ekor dan 1 Kelompok Kawasan Percontohan Usaha Ternak domba menerima 220 ekor yang secara simbolis diterima KUBE Peternak Garut “Sentra Rame Darussalam”, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut sebagai kawasan percontohan usaha ternak domba. Kemudian disampaikan 13 unit Pos IB untuk 13 kabupaten di Jawa Barat dan 1 unit Pos Keswan. (A Cucu)

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

sorot
Netralitas PNS Pemkot Depok Dipertanyakan
DEPOK, Medikom–Netralitas para pegawai negeri sipil (PNS) di Kota Depok, dalam pemilukada belakangan menjadi bahan sorotan. Tidak sedikit masyarakat yang melihat bahwa banyak PNS terlihat ikut melakukan manuver politik dan mengarahkan masyarakat dari tingkatan RT, RW, LPM, lurah dan camat agar memilih salah satu calon kandidat yang dijagokannya. Bahkan ada yang berani pada jam-jam kerja terlihat ikut dalam sebuah kegiatan deklarasi calon. JS, kepada wartawan belum lama ini di Balai Kota Depok mengatakan, Nurmahmudi Ismail (incumbent) melalui tim suksesnya seringkali mengintervensi lurah dan camat agar mengarahkan warga untuk mau memilih kembali Nurmahmudi menjadi Wali Kota Depok yang kedua kali. “Saya kerap kali melihat tim sukses Nurmahmudi mengadakan berbagai pertemuan dengan para camat, lurah, LPM hingga para ketua RT dan RW. Mereka disuruh memilih Nurmahmudi agar duduk kembali menjadi orang nomor satu,” kata JS tanpa menyebutkan siapa-siapa saja nama lurah dan camat serta di mana pertemuan itu berlangsung. “Bicara memilih kata JS, hanya hati nurani yang menentukan. Tapi jika PNS diintervensi dan tidak netral, itu namanya melanggar peraturan pemerintah tentang PNS, dan sanksinya berat lho,” tandas JS. (Lucy/FR Ambarita)

10

Oknum Mengaku Hakim MA Minta Uang Ahli Waris
JAKARTA, Medikom-Warga Kapuk, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara mempertanyakan surat jawaban dari Komisi Yudisial (KY). Surat permohonan rekomendasi Peninjauan Kembali (PK) itu dikirimkan ke KY terkait dengan kesalahan administrasi proses PK yang dilakukan oleh panitera sekretaris di Mahkamah Agung (MA). Padahal, surat permohonan itu telah dilayangkan oleh ahli waris Kani Binti Sapeng maupun Mena Bin Lamat, 4 Januari 2010. Namun, hingga kini KY tidak juga memberikan jawaban. “Padahal, kami sangat berharap KY dapat membantu, dalam usaha untuk memperoleh keadilan. Tetapi hingga saat ini KY tak juga memberi jawaban,” keluh H Dani, kuasa ahli waris. H Dani mengatakan, usaha warga Kapuk, Kecamatan Penjaringan, untuk memperoleh keadilan telah melalui jalan yang sangat panjang dan berliku. Setidaknya telah menempuh perjuangan itu sejak tahun 1976, hingga proses hukum pada tingkat PK. “Biro Hukum telah memberikan nota dinas ke Gubernur Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan ganti rugi kepada ahli waris. Bahkan dalam Rapat Kerja DPRD Provinsi DKI Jakarta akhir tahun 2006, Komisi A merekomendasikan ke Gubernur segera memberikan ganti rugi. Hal tersebut dibahas dalam forum sidang paripurna DPRD Provinsi DKI Jakarta,” kata H Dani. Masih H Dani, mengatakan, pengadilan negeri hingga kasasi, majelis hakim telah memutus Neit Onvankerlijk Velkray. Keputusan seri itu muncul setelah dan sebelum ada orang yang mengaku-ngaku sebagai salah satu majelis hakim dan meminta sejumlah uang kepada para ahli waris. Tapi dari pihak ahli waris tidak menyanggupi karena tidak memiliki uang sepeser pun. “Padahal, informasi sebelumnya dari pihak MA akan memenangkan putusan tersebut,” papar H Dani. Majelis hakim PK MA telah memutuskan untuk menolak gugatan warga Kapuk, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, dengan argumentasi bahwa bukti baru (novum) dari warga tidak dikuatkan dengan sumpah. Padahal, jelas-jelas dalam memori PK tersebut telah disertakan Berita Acara Sidang Penyumpahan dengan No. 20/ Pdt.G/2005/PN Jkt Ut jo No 578/ Pdt/2005/PT DKI jo 1966/K/Pdt/ 2006. “Dalam berita acara tersebut dijelaskan bahwa 4 dari 7 bukti baru yang diberikan oleh warga Kapuk, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara sesuai dengan aslinya,” ujar H Dani. (slamet supriyadi)

Ketua TP PKK Deliserdang Hj Anita Amri Tambunan menyerahkan tali kasih kepada 200 petugas kebersihan, Rabu (16/6).

RSUD Deliserdang Membanggakan

Raih Adipura 5 Kali,

LUBUK PAKAM, Medikom–Begitu besar perhatian Bupati Deliserdang terhadap kesehatan masyarakat dan pengentasan kemiskinan. Karenanya, Bupati dan DPRD Kabupaten Deliserdang menyetujui besarnya anggaran perbelanjaan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Deliserdang. Adapun besaran anggaran 2009 untuk RSUD tersebut sebagai berikut, belanja alat listrik dan elektronika Rp43.343.000, penyediaan peralatan kantorRp26.400.000, biaya pemasangan telepon central Rp75.000.000, kursi tamu, perawatan dan perbaikan AC Rp31,930.000, renopasi rumah dinas lama Direktur RSUD Rp156.430.778, biaya pembuatan stan pameran pembangunan RSUD Rp25.000.000, pemeliharaan halaman gedung kantor Rp15.000.000, biaya renopasi dan pengembangan ruang ICCU Rp296.142.000. Ketika hal ini dikonfirmasi, Kepala RSUD Deliserdang Hj Aidah Harahap membenarkan dan mengatakan semuanya telah terlaksana dengan baik. Seluruh anggaran yang disetujui pada tahun 2009 tersebut telah terlaksana sepenuhnya tanpa yang ada tertunda sehingga kemajuan RSUD dapat menggembirakan masyarakat Deliserdang. Bahkan ketika dipertanyakan kemungkinan adanya penyimpangan anggaran yang bisa saja dilakukan anak buahnya, dengan enteng Aidah menjawab, “Siap diperiksa.dan membuktikan bahwa RSUD Deliserdang akan menjadi contoh bagi dinas lain yang mana dinas ini bisa lebih bersih dan transparan dalam penggunaan anggaran dan tidak merugikan Negara.” (Tim)

Bupati Berikan Tali Kasih kepada 200 Petugas Kebersihan
LUBUK PAKAM, Medikom– Keberhasilan masyarakat Lubuk Pakam meraih piala Adipura kategori kota kecil yang kelima kalinya diperingati dengan acara syukuran yang diwarnai dengan pemberian tali kasih berupa bahan sembako kepada 200 orang petugas kebersihan Kota Lubuk Pakam. Sembako diserahkan Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan melalui Sekdakab Drs H Azwar S MSi, Rabu (16/6) di kompleks Kantor Camat Lubuk Pakam. Acara syukuran yang diawali dengan doa bersama itu, juga dihadiri Ketua TP PKK Deliserdang Hj Anita Amri Tambunan, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny Fauziah Azwar, Camat Lubuk Pakam Drs Sariguna Tanjung MSi bersama muspika, dan tokoh masyarakat. Bupati dalam sambutan tertulisnya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas doa restu dan dukungan kerja keras masyarakat Lubuk Pakam khususnya bagi petugas kebersihan yang tidak mengenal lelah sehingga piala Adipura diraih secara terus menerus. Keberhasilan mendapatkan Piala Adipura sesungguhnya bukanlah keberhasilan pemerintah saja, akan tetapi keberhasilan seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Lubuk Pakam. Ia berharap, Kota Lubuk Pakam terus berbenah dan menata dirinya, agar menjadi kota yang indah, rapi, bersih dan nyaman. Sebab, Kota Lubuk Pakam adalah pusat pemerintahan Deliserdang. Camat Lubuk Pakam Drs Sariguna Tanjung mengatakan, keberhasilan meraih kembali Piala Adipura tidaklah sekadar tujuan, tetapi bagaimana membangun kebersamaan untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat termasuk di pekarangan sekolah. Kebiasaan ini diharapkan berlangsung secara berkesinambungan. Meskipun Lubuk Pakam telah berulangkali meraih piala Adipura, namun diakuinya masih banyak lagi yang harus ditata dan diperhatikan. Oleh karenanya, perlu dukungan dan partisipasi masyarakat untuk berbuat lebih baik lagi. (R David Sagala)

Kejati dan Kejagung:

Tidak Ada Indikasi Korupsi Proyek Pengerukan Kali di PU DKI
JAKARTA, Medikom-Belum lama ini Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa laporan dari salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) tidak bisa untuk ditindaklanjuti (Medikom Edisi 373). Walaupun sudah tidak bisa ditindaklanjuti, tak bosan-bosannya LSM yang satu ini mendatangi lembaga hukum Kejaksaan Agung (Kejagung), walaupun data-data yang dimiliki tidak kuat untuk ditindaklanjuti ke ranah hukum. Baru-baru ini Ketua LSM beserta rombongannya mendatangi Kejagung untuk menanyakan laporan dugaan korupsi pengerukan kali di Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi DKI Jakarta yang dianggap telah merugikan keuangan negara/ daerah sebesar Rp200 miliar. Kepala Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, HM Amari SH MH, saat dikonfirmasi Medikom, mengatakan, coba hal ini ditanyakan kepada tim penyidik. “Karena saya belum melihat aduan/laporan dari LSM tersebut,” singkat HM Amari, saat akan memasuki ruang kerjanya di Gedung Bundar Kejagung, Jakarta Selatan, Kamis (17/6). Salah satu tim penyidik Kejagung saat ditemui Medikom, mengatakan, membenarkan sudah menerima aduan/laporan dari/atas nama salah satu LSM dan itu sudah lama. “Tapi, aduan/laporan LSM tersebut tidak cukup/tidak kuat untuk ditindaklanjuti, karena saya terima hanya satu lembar seperti surat biasa. Tidak disertai dengan data/ bukti yang akurat adanya dugaan

Pemkab Gelar Diklat Kepemimpinan Tingkat IV
LUBUK PAKAM, Medikom–Pemkab Deliserdang menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Kepemimpinan Tingkat IV angkatan XIV. Diklat yang dibuka secara resmi oleh Bupati Deliserdang Drs H Amri Tambunan, diwakili Sekdakab Drs H Azwar S MSi Senin, (14/6) di Aula Cendana Kantor Bupati Deliserdang Lubuk Pakam ini, dihadiri seluruh SKPD jajaran Pemkab Deliserdang. Bupati dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekdakab mengatakan, diklat kepemimpinan diharapkan meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan untuk dapat melaksanakan tugas pada jabatan struktural eselon IV secara profesional dilandasi kepribadian dan etika pegawai negeri sipil. Kepada para peserta Diklat, Bupati berpesan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan perlu terus dikembangkan, baik melalui pendidikan formal maupun memperluas pengalaman di bidang masingmasing. Kaban Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Sumut Mangasing Mungkur SH MM yang diwakili Syahminan SH, mengatakan dengan terpenuhinya profesionalisme di lingkungan PNS, diharapkan dapat lebih pasti melangkah dalam mengaktualisasikan nilai dan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. Sehingga dapat meningkatkan daya saing dan mewujudkan cita-cita bangsa. Kaban Kepegawaian Deliserdang Sahnan SH dalam laporannya menjelaskan, diklat kepemimpinan tingkat IV yang dilaksanakan bersama Badan Diklat Provinsi Sumut diikuti 40 orang peserta dan berlangsung hingga 23 Juli 2010 . (R David Sagala)

Dinilai Individualis dan Merasa Paling Benar

korupsi di Dinas PU Provinsi DKI Jakarta,” ucap salah satu tim penyidik Kejagung yang memohon namanya tidak dipublikasikan. Di tempat terpisah, anggota Komisi D juga Ketua Fraksi Gerindera DPRD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Sanusi pun ikut bicara. Seharusnya LSM tersebut jangan memaksakan kehendak jika tidak ada data/bukti yang akurat. “Aduan atau laporan dugaan korupsi itu harus disertai atau ditunjang dengan data dan bukti akurat, agar bisa ditindaklanjuti ke ranah hukum,” ujar Mohamad Sanusi di ruang Fraksi Gerindera DPRD Provinsi DKI Jakarta, Kebon Sirih, Jakarta Pusat. “Saya sering dan berulang kali mengatakan bahwa anggaran

pengerukan kali sebesar Rp200 miliar sesuai dengan mekanisme. Seluruh anggota Komisi D DPRD selalu mengawasi dan mengevalusi kinerja PU Provinsi DKI Jakarta. Gunanya, agar tidak terjadi penyelewengan anggaran APBD DKI. Alat yang disewa PU Provinsi DKI Jakarta benar-benar bekerja dan sesuai dengan kontrak. Dan sesuai antara biaya alat dengan lumpur yang dibuang dalam hitungan. Pantauan kami sebagai mitra kerja Dinas PU DKI Jakarta tidak ada masalah. Ery Basworo dan Kukuh Hadi Santoso berkomitmen tinggi dalam pelaksanaan program yang menyentuh kepentingan masyarakat DKI Jakarta,” tegas Mohamad Sanusi. (slamet supriyadi)

Massa Minta KPK Periksa Nur Mahmudi Ismail
DEPOK, Medikom-Akibat Kota Depok gagal meraih prestasi bergengsi, yaitu Adipura, puluhan LSM Kota Depok yang tergabung dalam Gerakan Untuk Pemuda (Gapura), Kamis (17/6/), melakukan aksi demo di depan halaman kantor Wali Kota. Mereka menuntut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk mengaudit dana Adipura dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memeriksa Wali Kota Depok Dr Ir H Nur Mahmudi Ismail dan Wakil Wali Kota Drs H Yuyun Wirasaputra bersama kroninya, karena gagal merebut Adipura. “Ini bentuk perjuangan bersama antara pemerintah dengan masyarakat. Tanpa kolektivitas yang terjalin simultan dan berkesinambungan antara seluruh elemen, baik pemerintah dan masyarakat, rasanya tahun depan Kota Depok bakal kembali meraih gelar kota terkotor di Indonesia,” demikian yel-yel dari massa pendemo. Koordinator aksi massa, Fikri yang didampingi Cahyo Putranto, Bayu dan Rahman Tiro menegaskan, sekalipun sudah didukung dengan anggaran yang cukup besar setiap tahunnya, terutama dengan program sensasional 100, unit pengolahan sampah (UPS) hingga 2011, termasuk di dalamnya layanan angkutan, tetap saja Adipura itu tidak bisa diboyong. “Ini bukti kegagalan Wali Kota Depok dalam hal pengelolaan kebersihan,” tegas Fikri. Fikri menambahkan, di tahun 2009-2010, misalnya, untuk tempat pembuangan akhir sampah (TPA) dianggarkan Rp4 miliar, UPS Rp10,8 miliar, pengelolaan sampah Rp5,3 miliar, dan layanan angkutan sampah Rp8,8 miliar. “Tentu akan menjadi bahan pergunjingan masyarakat jika angagaran sebesar itu tidak secuil pun menyentuh ke masyarakat bawah. Bahkan hanya kegagalan yang didapat, malahan permasalahan sampah belum juga teratasi,” jelas Fikri. Dukungan program sensasional dengan dukungan dana yang besar serta ribuan kali imbauan yang diteriakkan wali kota hingga ke jajaran RW/RT, kata Fikri, rasanya seperti tak berguna lagi karena Pemerintah Kota Depok tidak pernah membangun kebersamaan yang utuh dengan seluruh lapisan masyarakat Kota Depok dalam memperjuangkan target meraih Adipura,” kata Fikri. Nur Mahmudi Ismail, tegas Fikri, sebagai Wali Kota Depok jelas menjadi faktor utama penyebab tidak terciptanya kebersamaan tersebut di Kota Depok. Nur Mahmudi malah membentuk masyarakat Depok menjadi individualis yang memaksakan kehendak, arogan dan sombong, serta merasa paling benar sendiri. Karena apa? Karena Nur Mahmudi sendirilah yang selama lima tahun ini terus mempertontonkan sikapsikap tersebut kepada publik dengan sangat vulgar. “Nur Mahmudi jelas gagal total dalam mewujudkan berbagai program kebersihan kepada masyarakat Depok. Oleh karena itu pihak kami akan melaporkan Nur Mahmudi Ismail ke BPK untuk diaudit, dan KPK agar Nurmamudi Ismail diperiksa,” tandas Fikri. (Lucy/FR A)

Melalui Dana PNPM Mandiri, Bangun Jembatan di Bogor Selatan
BOGOR, Medikom-Pembangunan jembatan yang akan dilaksanakan Kelurahan Muarasari dan Kelurahan Genteng, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor melalui Dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, ditanggap positif oleh masyarakat kedua kelurahan tersebut. Pasalnya, jembatan penghubung yang selama ini dipergunakan masih menggunakan bahan bambu, dan penggunaannya dikhawatirkan masyarakat.Menurut Wawan Budi, Sekertaris Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) didampingi Lurah Muarasari Mahdar dan Sekertaris Kelurahan Dani Swara, pembangunan jembatan yang akan dilaksanakan tahun ini harus terealisasi dan dilaksanakan dengan baik karena masyarakat sudah mengharapkan pembangunan jembatan tersebut. “Di samping itu juga, dana swadaya dari masyarakat sudah terkumpul, sebagai pendamping dari dana PNPM Mandiri. Partisipasi masyarakat yang ada di kelurahan ini sangat membantu,” katanya. Hal yang sama juga dialami oleh Kelurahan Genteng Bogor Selatan, seperti yang berada di lingkungan RW 01 dan 03, dengan penduduk yang cukup padat dengan mobilitas masyarakat ramai tetapi tidak ditunjang oleh infrastuktur yang memadai, karena jalur penghubung masyarakat masih mempergunakan jembatan bambu.Untuk itu, menurut pihak Kelurahan Genteng dengan LPM setempat tahun 2010 ini, dalam usulan dana PNPM Mandiri lebih mempriorotaskan pembangunan jembatan. Hal ini dilakukan karena banyaknya permintaan masyarakat

DS Sosialisasikan Program PPSP
LUBUK PAKAM, Medikom– Menindaklanjuti Surat Mendagri Nomor 050/2615/ Bangda tanggal 5 November 2009 perihal Petunjuk Pelaksanaan Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan (PPSP), dibentuk Kelompok Kerja PPSP di Tingkat Kabupaten Deli Serdang melalui Surat Keputusan Bupati No 508 Tahun 2010 tertanggal 29 April 2010. Selanjutnya dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada 24 orang tim survei (enumerator) dari 7 kecamatan di Kabupaten Deliserdang, Senin (14/6) di Aula Kantor Bappeda Deliserdang, Lubuk Pakam. Hadir pada pembukaan sosialisasi, Ketua Tim Pelaksana Ir Hadirian Parulian Napitupulu yang juga Kabid Penanggulangan Kebakaran dan Penyehatan Lingkungan Dinas Ciptakarya Kabupaten Deliserdang, Sekretaris Tim Koordinasi Ir Syamsul Bahri, Kabid Fisik Pembangunan Bappeda Deliserdang, Tim Pokja Provinsi Sumut dari Dinas PU Cipta Karya Herianto selaku Satker Penyehatan Lingkunagan Pemukiman Sehat, para nara sumber dan juga anggota Tim Koordinasi dan Tim Pelaksana Kabupaten Deliserdang. Ir Hadirian Parulian Napitupuli mengatakan, setelah terbentuk Kelompok Kerja Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman di tingkat kabupaten dilakukan sosialisasi sekaligus memberi pelatihan kepada 24 orang tim survei kader desa. Untuk mengetahui kondisi sarana dan prasarana sanitasi, kesehatan/higienes serta perilaku masyarakat, maka dilakukan survei yang disebut EHRA(Environmental Health Risk Assessment). Hasil survei dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program sanitasi dan advokasi di tingkat kota hingga kelurahan dan desa dengan metode pengumpulan data, sampling dan analisis. Dijelaskan, program PPSP merupakan sebuah roadmap pembangunan sanitasi di Indonesia yang diterapkan secara bertahap di 330 kabupaten/kota di seluruh Indonesia mulai 20102014 termasuk Kabupaten Deliserdang. Hal itu, sebagai upaya memenuhi tiga sasaran yakni menghentikan perilaku buang air besar sembarangan (BABS) pada tahun 2014, pengurangan timbunan sampah dari sumbernya dan penanganan sampah yang ramah lingkungan, serta pengurangan genangan air di 100 kabupaten/kota seluas 22.500 hektare. “Sosialisasi yang berlangsung selama dua hari untuk pelatihan tim survei/enumerator ini diharapkan mampu dan siap melaksanakan survei ke lapangan. Diharapkan kedatangan tim survei ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat,” tutur Hadirian. (R David Sagala)

Pledoi Aries HR dalam Kasus Kajian Setwan DKI

Carlo: Kabag Umum DPRD Jatmiko Harus Jadi Tersangka
JAKARTA, Medikom-Tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) juga sebagai jaksa penuntut umum (JPU) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dikomandoi Victor Antonius tetap menuntut Aries Halawani Rowiyan dihukum tiga tahun enam bulan penjara dan denda sebesar Rp500 juta, dalam kasus korupsi program kajian di Sekretariat Dewan (Setwan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta yang dianggap oleh Kejagung telah merugikan keuangan negara/daerah sebesar Rp27,5 miliar. “Dalam hal ini tim panitia pemeriksa barang (Jatmiko, red) ialah yang harus bertanggung jawab. Karena terdakwa (Aries Halawani Rowiyan) tidak mungkin melaksanakan suatu perbuatan yang melampaui dari tugas wewenang dan tanggung jawabnya. Selain itu, tanggung jawab atas keakuratan dan kevalidan data yang dituangkan data laporan hasil pemeriksaan (LHP) yang dilakukan oleh tim panitia pemeriksa barang merupakan tanggung jawab dari tim pemeriksa barang (Jatmiko). Sedangkan ketua panitia pengadaan hanya menjalankan fungsi manajerial,” bunyi pledoi/pembelaan Aries Halawani Rowiyan di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dalam sidang kasus korupsi program kajian. Penasihat hukum/pengacara terdakwa Aries Halawani Rowiyan, Charles Carlo Lesiasel mengatakan, fakta-fakta yang terungkap di persidangan, sekretaris pemeriksa barang dan juga ketua pemeriksa barang program kajian, Jatmiko, yang saat ini menjabat Kepala Bagian Umum DPRD Provinsi DKI Jakarta, tidak pernah melakukan pengecekan sama sekali. “Ini jelasjelas kesalahan Saudara Jatmiko,” kata Carlo, Kamis (17/6). Semua ini, kata Carlo, tidak akan terjadi apabila Jatmiko melakukan pengecekan dengan baik dan benar, juga kalau tidak main mata. “Lelang/ tender program kajian itu bisa dibatalkan oleh Saudara Jatmiko, karena sebagai ketua dan sekretaris pemeriksa barang berhak membatalkan/menggagalkan program kajian. Dalam kasus korupsi program kajian yang telah melawan hukum dan merugikan keuangan negara/daerah, Saudara Jatmiko harus jadi tersangka,” tegas Carlo. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung HM Amari dalam waktu dekat akan memanggil kembali saksi-saksi korupsi program kajian. Saksi-saksi (panitia lelang/tender, red) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tersebut, antara lain Nuripah, Nooriza, Wawan Setiawan, Sri Wiyono, Hendi Kurniawan, Anja Indra, Irwan Sudaryanto, Budi Rahman, dan Kartawi. Sedangkan anggota Dewan, antara lain HM Firmansyah (Partai Demokrat), Inggard Joshua/Wakil Ketua DPRD (Partai Golkar), dan Prya Ramadhani/ Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta. Di antara mereka kini ada yang kesulitan untuk tidur nyenyak dan bermimpi indah. (slamet s)

yang ingin agar segera dilakukan pembangunan di beberapa jembatan yang ada di lingkungan Kelurahan Genteng. Seketaris Kecamatan Aef Saefudin mengungkapkan, dari pihak kecamatan sudah menyosialisasikan terhadap para ketua dan pengurus LPM yang ada di 16 kelurahan, dalam pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan harus berkoordinasi dengan pihak BKM juga.”Soalnya pembangunan infrastruktur sarana fisik dari BKM juga mendapatkan dana bantuan untuk wilayah

kelurahan, selain bantuan yang melalui PNPM Mandiri, maka pihak LPM dan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dalam pelaksanaan pembangunan sarana jalan maupun jembatan, agar memberikan tanda yang telah disosialisasikan d ikecamatan, peruntukannya agar bentuk bantuan yang dikucurkan tidak tumpang tindih, dan perencanaan pembangunan tingkat kecamatan dapat terlaksana dengan baik,” jelasnya. (Wan/GN)

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

11

Menanti Putusan

Mobil Pintar Polda Metro Jaya Datangi SDN Sukaragam 01
BEKASI, Medikom-Kedatangan mobil pintar dari Polda Metro Jaya beserta personelnya Aiptu Nani S, Bripda Boy, Tri Edi Nugro Hadi (dari sipil) dan Aiptu Karseno Babinkamtibmas Desa Sukaragam Polsek Serang ke SDN Sukaragam 01, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, Rabu (16/6), disambut dengan gembira baik oleh siswa-siswi maupun kepala sekolah dan juga guru. Kedatangan mobil pintar dan personelnya ini ternyata mampu menambah pengetahuan para guru dan siswa, karena apa yang disampaikan sangat berguna bagi mereka. Seperti para siswa kelas IV dan V, mereka sangat antusias mendengarkan apa yang disampaikan oleh Aipu Nani S, terutama tentang bahaya terhadap penculikan anak dan pelecehan seksual, artinya anak-anak jangan jadi korban pemerkosaan, tentang bahaya narkoba terhadap anakanak. Aipu Nani S juga mengajak para siswa agar tidak membuka situs internet yang dapat merusak moral anak. Edi Nugro Hadi mengatakan kepada Medikom di dalam mobil pintar dibawa juga peralatan sebagai pendukung yang akan diperkenalkan kepada para siswa di antaranya centra bola dan perpustakaan, Centra Audio Visual, Centra Permainan dan Centra Komputer. Selain itu, tambah Edi lagi, kedatangan mobil pintar Polda Metro Jaya ke sekolah yaitu dengan tujuan memberi motivasi dan semangat yang tinggi kepada para siswa, karena misi Polmas adalah membangun mitra kecil dengan anak sekolah. Edi Suherman Kepala SDN Sukaragam 01 mengatakan, kedatangan mobil pintar Polda Metro Jaya ke sekolahnya, dirasakan sangat bermanfaat, terutama bagi para siswa, karena para siswa mendapat pelajaran yang sangat berharga dari Polisi secara langsung. “Walaupun kedatangan Mobil Pintar tersebut hanya beberapa jam saja, tapi para siswa telah mendapat pelajaran yang sangat bermanfaat, terutama mengenai bahaya penculikan terhadap anak, narkoba, pemerkosaan,” ujar Edi. (Iwan G)

Dituntut Tiga Tahun, Bersikukuh Tak Bersalah
BANDUNG, Medikom-Terdakwa Yayu Wahyuningsih (YW) bersikukuh merasa tidak bersalah sebagaimana tuntutan jaksa yang dikaitkan dengan penggelapan ratusan juta yang didakwa telah dilakukannya. Dalam acara duplik, Rabu (9/6), yang dikemukakan para pengacaranya, H Kuswara S Taryono SH MH dkk, ditegaskan bahwa terdakwa YW hanya bersifat membantu kepentingan proyek saksi pelapor Tb Indra, dalam hal ini tentang spesifikasi lift. Sedangkan untuk penyelesaian proyek pengadaan lift di Pustekmira dan kewajiban proyek, itu bukan urusan dan tanggung jawabnya. Dengan demikian tidak beralasan YW dituntut pertanggungjawaban, sebab terdakwa bukan subjek hukum yang bisa dimintai pertanggungjawaban, atau error subjekto. Terkait pencairan uang yang dikuasakan saksi pelapor kepada terdakwa, sebesar Rp691 juta, hal itu dikatakan sebagai penyelesaian atas pinjaman yang pernah diberikannya sebesar Rp650 juta. Selisih lebih sekitar Rp41 juta dikuasai terdakwa, sangat beralasan sebagai bagiannya atas pinjaman uang yang telah dialokasikannya sebelumnya kepada saksi pelapor. Oleh karena itu, semestinya kasus ini diselesaikan secara perdata. “Apalagi sebelum kasus ini dilaporkan secara pidana, kuasa hukum pelapor pernah mengirimkan somasi (peringatan) tentang penyelesaian kewajiban terdakwa,” tegas pengacara terdakwa. Berdasarkan fakta itu para pengacara terdakwa memohon kepada majelis hakim agar dalam putusannya membebaskan atau setidaknya melepaskan terdakwa dari segala dakwaan atau hukuman, sekaligus memulihkan harkat dan martabatnya seperti sediakala. Dalam acara persidangan sebelumnya, dalam replik JPU Dian Herdiman SH, Siti Fadila SH, ditegaskan bahwa terdakwa YW telah terbukti menggelapkan uang hingga Rp691 juta. Replik atau tanggapan jaksa yang dibacakan di hadapan majelis hakim yang diketuai R Matras Supomo SH MH, mengkritisi pembelaan terdakwa YW yang disebut telah terbukti melakukan tindak pidana penggelapan, tetapi masih bersikukuh tidak bersalah dan bukan sebagai subjek hukum dalam kegiatan yang dibiayai dari APBN 2007 itu. Replik itu menguatkan surat tuntutan JPU atas terdakwa dengan hukuman tiga tahun penjara, karena didakwa terbukti menggelapkan hak perusahaan saksi pelapor Tb Indra. Berdasarkan fakta persidangan, perbuatan yang terbukti dilakukan terdakwa adalah dakwaan pertama sebagaimana dalam ketentuan Pasal 372 KUHP, sehingga diwajibkan untuk mengembalikan uang ratusan juta yang sudah dinikmati itu. Dalam analisis hukumnya jaksa bersikukuh surat tuntutan yang dibacakan dalam persidangan silam memaparkan perbuatan terdakwa YW melakukan pencairan uang proyek Pustekmira dalam pengadaan dua unit lift sebesar Rp691 juta (diperolehnya dari pencairan cek atas nama PT Pilar dengan modus sebagai bentuk pengembalian atas hutang yang diberikan sekitar Rp650 juta kepada perusahaan), sudah terbukti secara sah dan meyakinkan. Mengenai pengakuan terdakwa bahwa pencairan Rp691 juta itu dilakukan untuk menyelesaikan piutangnya, yang disebut disepakati secara lisan alias tanpa bukti tertulis dan saksi-saksi, untuk penyelesaian pekerjaan pengadaan lift karena PT Pilar pada saat itu membutuhkan modal, menurut JPU adalah bentuk bahwa telah terjadi tindak pidana. Sementara jika mengutip nota pembelaan atau pledoi keterangan terdakwa dalam acara pemeriksaan terdakwa, dikatakan bahwa penyerahan pinjaman itu dilakukannya lebih dikarenakan hubungan baik yang sudah berlangsung selama ini. Sedangkan keterlibatannya dalam berhubungan dengan perusahaan Mitsubshi, dikatakan itu hanya membantu Tb Indra selaku pimpinan PT Pilar. Perbuatan terdakwa yang di satu sisi mengatakan hubungannya dengan saksi pelapor Tb Indra adalah hubungan kerjasama (penyertaan modal) di mana dia terlibat dalam pengurusan spek atau berhubungan dengan Mitsubshi, di sisi lain mengaku memberi pinjaman sebesar Rp650 juta tetapi menerima Rp690 juta, hal itu menurut jaksa, memperjelas adanya perbuatan/tindak pidana terdakwa. Rangkaian kebohongan terdakwa dipaparkan jaksa. Di antaranya bahwa terdakwa mengakui uang yang dicairkannya lebih besar dari pengakuan pinjaman yang diberikan dengan dalih dianggap uang lebih itu wajar diterima, meski di awal persidangan mengatakan memberikan uang lebih pada hubungan uang dan bukan bisnis. Dalam persidangan juga terungkap kebohongan bahwa terdakwa sempat melakukan transaksi pembayaran beberapa kali kepada Mitsubshi, termasuk mengetahui kontrak sekitar US$55.000 saat kontrak dilakukan pada akhir 2007, padahal YW berargumentasi dirinya hanya membantu. Selanjutnya, pencairan uang proyek yang sudah dikuasai terdakwa tidak dialokasikan untuk menyelesaikan kewajiban PT Pilar (perusahaan saksi pelapor) kepada Mitsubshi, dengan dalih hanya membantu saja. Acara pembacaan putusan majelis hakim yang beranggotakan Arifin Doloksaribu SH MH, Gusti Lanang Daud SH MH, yang dijadwalkan pada, Rabu (16/6), dimundurkan sepekan menjadi, Rabu (23/6). Amar putusan majelis hakim, kalau sependapat dengan jaksa maka terdakwa dihukum. Tinggal menentukan mengenai berat ringannya hukuman yang dijatuhkan. Sebaliknya, terdakwa dapat juga dibebaskan hakim. (Zaz)

Penolakan atas Kesaksian Direktur BPR Dikritik ........................................Hal 4
UU No 10 Tahun 1998. Purnama menambahkan, dalam bukti-bukti tertulis yang dikemukakan dalam persidangan, bisa disimpulkan Penggugat sudah menjalankan perannya sebagai pribadi, di luar ruang lingkup komisaris utama. Sebagai bentuk komitmen pribadi sebagai karyawan untuk menunjang operasional PT BPR KS, di luar tugas komisaris utama yang sudah dilakukan dengan baik. Ny SKDS berhasil menghimpun dana deposito dari masyarakat. Dengan demikian tidak ada satupun aturan yang dilanggar sesuai kebijakan intern Turut Tergugat II. Sehingga penyerahan insentif itu beralasan secara hukum dan keberatan dengan argumentasi para Tergugat dari Bank Indonesia sebagai bentuk pelanggaran hukum. Kali ini para advokat mewakili PT BPR KS juga menyoal tindakan Tergugat I–IV dan Turut Tergugat I dalam menjalankan pengawasan langsung tidak mengedepankan pendekatan preventif dan represif yang bersifat membina. Apalagi itu berlangsung sejak tahun 2006 hingga 2009. BI yang memiliki kewenangan, mestinya melakukan tanggung jawab dan kewajiban pengawasan secara utuh dan komprehensif, agar pengelolaan bank itu tetap sesuai koridor. “Kalau BI berpendapat pemberian insentif itu melanggar hukum, mestinya bukan mendesaknya untuk mengembalikan, tetapi mengingatkan supaya dalam kesempatan berikutnya tidak dilakukan kembali,” tandas Purnama di hadapan majelis hakim. Dengan demikian bisa dicegah penghimpunan dana itu berjalan lebih jauh. Bukan sebaliknya, setelah beberapa tahun berjalan, baru kemudian dinilai dan didesak seluruh uang insentif itu dikembalikan kepada Turut Tergugat II. Sementara, Arjaya Dwi Raya SE, Belly Harry Tjong, selaku kuasa hukum Tergugat I–IV dan Turut Tergugat I, kembali menegaskan bahwa gugatan itu tidak jelas, termasuk mengenai kewajiban hukum, kepatutan dan kesusilaan mana yang dilanggar. Juga tidak jelas ketentuan hukum mana yang dilanggar pihak tergugat dalam gugatan perbuatan melawan hukum itu. Dengan demikian, secara prinsip kebijakan pengawasan BI sudah tepat secara hukum. (Zaz)

Material Proyek Bina Marga Provinsi Dipertanyakan ...................................Hal 1
Sementara itu, Kepala Balai Pengelolaan Jalan Wilayah IV, Eson S, hendak dikonfirmasi Medikom berulang kali, orang yang bersangkutan tidak ada di tempat. Informasi yang diperoleh dari stafnya, Kepala Balai dan para Kepala Seksi sangat sibuk di Dinas Bina Marga Provinsi. Sejumlah pihak berharap, terkait kualitas material dalam kegiatan Bina Marga Provinsi tersebut menjadi perhatian semua pihak. “Bila memang terbukti materialnya tidak layak, proyek tersebut harus dibongkar dan aparat hukum diminta segera bertindak,” ujar Chevy Lubis, Ketua LSM “Penjara” Sumedang, seraya mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan menurunkan tim investigasi. (Aidin S)

Jalan Pemda Ditelantarkan .....................................................................Hal 1
segera direspons. “Kalau tidak segera direspons, darimana kami selaku pemerintah desa untuk memperbaiki jalan tersebut, sekalipun swadaya masyarakat kami relatif cukup baik,” tutur kepala desa yang mendapatkan piagam penghargaan dari Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat dinas BPKBM Kabupaten Ciamis karena berhasil menjadi juara ketiga perlombaan desa tingkat kabupaten. Ditempat terpisah, Camat Sidamulih Drs Apip Winayadi mengatakan, upaya untuk perbaikan jalan pemda telah dilakukan sebaik mungkin. Dirinya sudah berkoordinasi dengan Dinas Binamarga Kabupaten Ciamis untuk tahun yang akan datang agar bisa segera diperbaiki. “Perihal dibangun atau tidaknya kami selaku koordinator kecamatan sudah memberikan keterangan,” jelasnya. (Agus S/Ipan)

Pelaku Perampokan Mobil Dihadiahi Timah Panas ......................................Hal 1
begitu sampai di sekitar lokasi, mobil APV tersebut malah tancap gas ke arah Perumahan Sidodadi. Mungkin, penjahat itu melihat ada mobil polisi,” kata Kapolres. Dikatakan, melihat buruannya kabur, polisi langsung mengejar hingga akhirnya mobil milik tersangka menemui jalan buntu di sekitar Perumahan Sidodadi. Para penjahat langsung loncat dari dalam mobil dan berhamburan masuk ke dalam kebun. “Anggota saya tetap mengejar mereka, hingga tertangkap semua. Seorang di antaranya terpaksa ditembak kakinya,” kata Kapolres. Dikatakan juga, dari dalam mobil yang ditinggalkan tersangka, polisi menemukan puluhan kunci T berbagai ukuran. Selain itu, ada satu buah senjata tajam yang telah dilempar tersangka ke luar mobil. Dari komplotan sindikat curanmor “Subang-Karawang-Bekasi” itu, polisi merampas barang bukti sejumlah kuci T berbagai ukuran, clurit, sepeda motor Yamaha Mio dan Honda Beat dan sejumlah kendaraan roda empat. Berdasarkan hasil pengembangan pemeriksaan, lanjut Kapolres, para tesrangka mengaku telah berkalikali melakukan aksinya di daerah Bekasi, Karawang, dan Subang. Rata-rata mereka memetik kendaraan roda dua dan menjualnya ke daerah Karawang. (Ssp)

Garap Istri Orang, Tukang Ojek Didenda Rp5 Juta ..........................................Hal 1
Sonik, suami si perempuan langsung mencari ke dalam rumah. Semua pintu dibukanya. Begitu membuka pintu kamar mandi ketahuan istrinya sedang ngumpet. “Ini istri saya kamu sembunyikan di kamar mandi. Kamu sudah berbohong dan telah berselingkuh dan menjinahi istri saya yang sah. Saya gak terima,” tegasnya kepada Sonik. Saking kesalnya, Sonik ditinju pada bagian muka, sehingga menyebabkan luka berdarah di pelipis mata bagian kanan dan telinga. Tak puas sampai di situ, Sonik pun diseret keluar rumah ditarik lagi bajunya. Pakain Sonik pun hendak dipreteli dan ditelanjangi dengan maksud akan diarak berkeliling. “Tak pantas, orang seperti ini hendaknya mendapat hukuman yang setimpal sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya. Namun niat untuk menelanjangi Sonik untuk diarak berkeliling tak kesampaian. Karena tak lama kemudian, datang tetangga dekat dan Agus Kusmana selaku Ketua RT 034/006 Blok A Perumahan Taman Firdaus Malaka Cibarusah untuk melerainya. “Jangan ribut di wilayah saya. Ini wilayah RT saya, kamu harus menghargai dan menghormatinya,” tegur Ketua RT. Agus Kusmana berusaha mendamaikan agar permasalahan bisa selesai. Namun suami si perempuan tetap ngotot. Perbuatan Sonik tegasnya, harus dilaporkan ke polisi. Akhirnya, semua diserahkan kepada suami si perempuan. Namun, Sonik pun berinisiatif menawarkan kata damai pada suami si perempuan. “Sudah saya bersedia memberi uang damai Rp2 juta tapi tidak sekarang, karena sekarang saya tidak punya uang sepeser pun,” ujar Sonik seraya mengakui secara terus terang bahwa perselingkuhannya sudah dilakukan selama kurang lebih empat tahun. “Enak amat kamu Nik, telah mencicipi istri saya, lalu kamu ngajak damai dengan memberi uang Rp2 juta kepada saya, Rp2 juta juga dihutang lagi. Sok kamu, baru aja jadi tukang ojek, kamu sudah banyak tingkah,” jawab suami si perempuan kesal. Ia pun menanyakan motor ojek yang dipakai Sonik milik siapa? Hanya saja, Sonik keberatan jika motornya diambil. Lantaran, milik orang lain. “Jangan kalau motor itu bukan punya saya, jangan diambil,” jawab Sonik. Namun suami si perempuan tetap ngotot mengambil motor yang biasa dipakai ngojek Sonik. “Tidak, pokoknya saya ambil motor itu sebagai jaminannya. Kamu harus ada uang Rp5 juta, sekaligus sebagai dendanya atas perbuatan kamu yang telah berselingkuh dan menjinahi istri saya,” tegas suami si perempuan. Motor Sonik berikut STNK dan KTP dibawa sebagai jaminan. Si perempuan teman selingkuhan Sonik pun dibawa pulang ke rumah oleh suaminya di Kampung Kujang Jonggol Kabupaten Bogor. (Ign/Stef)

LK2BS dan Yayasan Karampuang Sulawesi Studi Banding ke Karawang
KARAWANG, MedikomLembaga Kajian Kawasan Barat Sulawesi (LK2BS) dan Yayasan Karampuang melakukan studi banding ke Kabupaten Karawang, Selasa pekan lalu. Kunjungan mereka terkait program Keaksaraan Fungsional (KF) Metode Inova Kreatif 32 Hari yang digunakan dalam penuntasan buta aksara di Kabupaten Karawang. Dengan harapan keberhasilan tersebut dapat diterapkan pula di wilayah Provinsi Sulawesi Barat.
berdiskusi secara langsung dengan Bupati Karawang Drs H Dadang S Muchtar beserta para kepala dinas di Gedung Singaperbangsa Lt II Pemda Karawang. Sebelumnya, mereka juga sempat melakukan kunjungan ke sejumlah Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) dan berdialog dengan para peserta pelatihan KF Inova Kreatif 32 hari. Dalam diskusi tersebut, mereka sangat mengapreasiasi terhadap pelaksanaan program KF Inova Kreatif 32 Hari di Kabupaten Karawang. Mereka menilai metode tersebut sangat simpel, namun efektif untuk menuntaskan buta aksara dalam waktu singkat. Khususnya mengenai biaya transport yang dapat memotivasi warga belajar, sekaligus pengganti mata pencaharian mereka saat mengikuti pelatihan. Salah satu anggota rombongan, Sri Ayuningsih mengatakan, kelebihan lain dari penuntasan buta aksara di Karawang adalah upaya untuk meningkatkan taraf hidup kaum perempuan. Para buta aksara yang didominasi oleh kaum perempuan, selain diberikan pelatihan membaca, menulis dan berhitung, juga diberikan bantuan modal usaha. “Ini sangat simpel, namun dapat membuat kita sadar, bahwa dari sebuah hal kecil dapat memberikan efek yang besar dan positif di masyarakat,” tambahnya. Sri Ayuningsih juga menyampaikan rasa penghargaan yang tinggi terhadap Bupati Dadang S Muchtar atas gagasannya membentuk pola pelatihan yang singkat. Selain itu, ia pun turun langsung untuk mengawasi dan memonitor pelaksanaan pelatihan di desadesa. “Kami sangat salut terkait bagaimana konsep tersebut bisa ada dan berjalan baik,” imbuhnya. Hal senada disampaikan oleh Kabid Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sulawesi Barat yang ikut serta dalam rombongan tersebut. Setelah melihat langsung mekanisme yang ada, ia mendapatkan banyak hal yang positif. “Selain itu, program tersebut memang tidak ada masalah, dan jalinan kerjasama dengan pihak legislatif terkait program tersebut pun berjalan baik,” ujarnya. Di sisi lain, Bupati Dadang S Muchtar menjelaskan bahwa kunci dari keberhasilan programprogram pembangunan berada di tangan Bupati, di mana seorang Bupati hendaknya tidak menempatkan dirinya sebagai raja, melainkan pelayan masyarakat yang harus mau turun langsung ke lapangan. “Akan tetapi bila Bupati kerjanya hanya main golf, ya mau bagaimana jalannya pemerintahan,” kelakarnya. (Andy Nugroho)

Listrik Naik, Harga Membumbung Tinggi .....................................................Hal 1
Solaeman Hidayat. Ia mengatakan akan memperjuangkan agar industri kecil atau industri rumahan terbebaskan dari kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) per 1 Juli mendatang. Pasalnya, sebagian besar industri kecil atau UMKM termasuk pengguna daya 1.300 volt ampere yang terkena kenaikan TDL sekitar 18%. “Itu yang saya mau perjuangkan melalui lobi ke PLN. Sebagai Menteri Perindustrian saya mesti (melakukan itu),” katanya di Jakarta, kepada wartawan baru-baru ini. Hidayat mengatakan akan segera bertemu dengan PT PLN (Persero) untuk membahas hal tersebut dalam minggu ini. Meskipun, dia juga berterima kasih karena PT PLN telah menghapus tarif multiguna, beban puncak dan lainnya yang menjadi beban industri. Hidayat menambahkan, dampak kenaikan TDL terhadap industri termasuk UMKM memang tidak sampai menimbulkan PHK. Namun, kenaikan TDL ini akan berdampak pada pelemahan daya saing industri dalam negeri. “Padahal tadi aspirasi rakyat menyebut kita bisa survive kalau daya saing kita bagus. Jadi, Kementerian Perindustrian hari ini nggak usah banyak bicara karena DPR sudah mendukung penuh kita,” tandasnya. Menurutnya, Kementerian Perindustrian juga akan melobi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selain dengan PT PLN untuk membebaskan biaya kenaikan listrik bagi sektor industri tertentu. “Kalau industri saya lihat rata-rata semua naik, ini yang saya lihat harus dikoreksi. Paling tidak, bagi industri kecil dan home indstry dibebaskan pula. Seperti konsumen kecil,” ujarnya. Sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memastikan kenaikan tarif dasar listrik telah melalui kajian mendalam. Rakyat diminta mengerti. “Saya minta perhatian rakyat, itu kebijakan sudah ditelaah dan dipertimbangkan secara matang,” kata Presiden dalam jumpa pers di Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat. Kenaikan tarif dasar listrik, kata Presiden, semula direncanakan pada 1 Januari lalu tetapi pemerintah melihat perkembangan situasi dulu dan berkonsultasi dengan parlemen. Presiden mengatakan sepertiga APBN dihabiskan untuk subsidi dan membayar bunga utang. Dari Rp1.126 triliun APBN, Rp201 triliun habis untuk subsidi. Presiden mencontohkan subsidi bahan bakar minyak dan gas elpiji hampir Rp90 triliun, listrik Rp55 triliun. “Belum termasuk subsidi untuk pupuk dan lainnya,” ujarnya. Presiden mengatakan Rp105 triliun dari total APBN juga dialokasikan untuk membayar bunga utang. “Jadi, Rp306 triliun habis untuk subsidi,” kata dia. Kalau ini bertambah terus, kata dia, APBN akan jebol. Kalau APBN jebol, “Kita tidak bisa membiayai yang lain.” Karena itu, kata Presiden, untuk kepentingan besar serta sambil melindungi konsumen kecil, tarif dasar listrik terpaksa disesuaikan. “Maka terpaksa kita lakukan penyesuaian dengan kenaikan ratarata 10 persen,” kata dia. Presiden memastikan kenaikan harga akibat naiknya tarif dasar listrik masih akan rasional. Ia menyebutkan, komponen listrik di sebuah industri dan perusahaan hanya sekitar 4,5 persen. “Jadi, kalau dinaikkan 12 persen dari 4,5 persen cost of production yang berangkat dari biaya listrik, tentu ada tambahan sedikit,” kata dia. ***

Kedatangan rombongan berjumlah 20 orang tersebut untuk

Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks 022 7233856 Email : skmmedikom@yahoo.com Perusahaan : Jl. Peta No.149 A (Lingkar Selatan) Bandung Telp/Faks. 022 - 6001506
Diterbitkan : CV WIYATA PURNAKARYA. Berdasarkan UU No. 40/1999. Terdaftar pada Direktorat Merk Ditjen Hak & Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman dan HAM RI No. 556756/22 Desember 2003 Penasehat : Yodi Setiawan EDD, EDS Pendiri : LH Rahardja Pemimpin Perusahaan : HA Damini Wakil Pemimpin Perusahaan : Teddy Subarsyah SH SSos CN Dewan Redaksi : Yahya Siregar - HA Damini - Edie Nirwan S - HA Soleh Hidayat - H Rochadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi : Yahya Siregar Wakil Pemimpin Umum : Edie Nirwan S Wakil Pemimpin Redaksi : HA Soleh Hidayat Konsultan Hukum : Iwan Suwandhito SH - David Roesyidi Konsultan Kesehatan : dr Henry S Ibrahim - dr Isnindiary Sandra Dungga Manajer Keuangan : D Muliaman SE MBA Manajer Produksi : H Rochadi Manajer Iklan & Sirkulasi : Rudy Janto Soelaiman Litbang: Teddy Subarsyah SH SSos CN - Drs Heriyadi TS Redaktur Eksekutif : Dadan Supardan Redaktur Pelaksana : Hiskia Milala Redaktur Hukum : Sastrianta Sembiring Redaktur Politik: Drs A Basa MSc Redaktur Khusus : Bambang Wisono Staf Redaksi : Taryana SSos - Hary Buana - Nina Nurlinawati - Slamet Raharjo - Dudun Hamidullah - Desi Kurnia - Zulkifli SDP Lubis - Dudi Hendayat - Drs Eka Wirawan - Endang Kosasih - Kaka Suminta Koordinator Liputan/Wartawan : Kgs Dedi Iskandar Marketing : Edy Herwansyah Sekretaris Redaksi : Sulastiyah Desain Grafis : Hary Buana Sirkulasi : Sandi Lesmana Jaya - Angga Agus Junarsa - Nanang Johansyah Alamat Redaksi : Jalan Pratista Utara II No 12 Antapani Bandung Telp/Faks: 022 7233856 Perwakilan Jakarta : Jl Dr Muwardi I/37 Grogol Jakarta Barat Marketing Iklan : Jl Blitar No 13 Antapani Bandung 40291 Telp/Fax: (022) 7207988 Bank BNI 46 Cabang Kantor Unpad Bandung No Rek 6404937-3 a.n. Bpk Amin Damini H. Percetakan : CV WIYATA PURNAKARYA - Isi diluar tanggung jawab percetakan

Medikom Hadir di: Jl BKR depan Alifa, Jl BKR Depan PT INTI, Jl Peta Depan Tegalega, Jl Peta Depan RS Imanuel, Jl Peta Perempatan Jl Kopo, Jl Kopo Samping RS Imanuel, Jl Kopo Depan Alfamart, Jl Kopo Depan Bank BCA, Jl Astanaanyar, Jl Pasteur depan RSHS, Jl Pasteur Depan Yogya, Jl Pasteur samping Universitas PASIM, Jl Garuda Deket Lampu Merah, Jl Garuda, Jl Cihampelas Depan SDN Cihampelas 1,2, Jl Cihampelas Depan Pom Bensin,Jl Cihampelas Depan SMU Pasundan, Depan Alunalun, Jl Rajawali, Depan RS Rajawali, Terminal lewipanjang (dalam), Jl Terminal Leuwipanjang ( luar), Jl Tegalega Depan Museum Sri Baduga, Jl Buah Batu, Jl Buah Batu, Jl Gatot Subroto, Jl Gatot Subroto, Jl Kiaracondong, Jl Kiaracondong, Jl Soekarno Hatta, Jl Soekarno Hatta /Pasar Gede Bage, Jl Cipadung, Jl Raya Ujung Berung, Jl Raya Sumedang. Jl Padjadjaran (Depan Toko HWK), Jl Cihampelas (Depan STHB Bandung), Jl Cipaganti (Simpang Jl Dr Curie), Depan Jl Cipaganti No.37, Jl Sampurna (Depan Primajasatour), Jl Cipaganti (Depan Rumah-Praktek Prof Dr.Julianto W dan Dr Imelda A Widjojo SpPD), Jl Cipaganti (Depan Kantor Pos Cipaganti), Jl Cipaganti (Yayasan Bakti Sosial Santoso PSAA Santoso Cipaganti), Jl Setiabudhi (Depan Pizza Hut), Jl Ciumbuleuit (Depan Apotek Waringkas), Jl Ciumbuleuit (Depan Alfamart Ciumbuleuit), Jl Ciumbuleuit (Depan RSAU dr Salamun), Jl Siliwangi (Depan Siliwangi Billiards), Jl Ir H Juanda (Depan Dago Tea House), Jl Ir H Juanda Depan ITSB (Institute Tekhnologi dan Sains Bandung), Simpang Dago (Depan RM Pondok Kapau). WARTAWAN BANDUNG Kota : Mbayak Ginting - Iwan Herdiawan - Yusuf Suryaman - Laures - Eva - Akbar Kab Bandung : Suhendar R Kab Bandung Barat : K fauzi R CIMAHI : Zaenal Abidin - Fredy HS DKI Jakarta : Slamet Supriyadi - Ahmad Taufik Nawawi TASIKMALAYA : Agus Cucu SB - Anwar SB, Lukman Nurhakim CIAMIS : Heru Pramono (Kabiro) - Ipan Panuju Supriadi - Agus Supriyatman - Suherman BANJAR : Handri Martandangi CIREBON Kota : Yuyun W Kurnia BBA SE - Rudi Mulyana Indra Sunawar Kab : M Suratman - KUNINGAN : Yoyo Suhendar SUKABUMI : Anne Mustikasari - Ilham Septian B.W - Ariya Gumelar PURWAKARTA: - CIANJUR : Asep Kurnia - Rizal BOGOR : M Yusuf - Eka Wirawan - A Gani DJ - Rangga Anggoro TR Putra - Edison Nizar Jt DEPOK: FR. Ambarita - Lucia S. Andreeni Perwakilan KARAWANG : Andi Nugroho BEKASI : Iwan Gunawan - Dedi Sukandi - Stefanus Lung, Agus Nuryadin MAJALENGKA: Isa Ansori P - Juremi SUMEDANG : Aidin Sinaga INDRAMAYU : H. Yonif Fatkhurony SUBANG : Loy - Slamet Supuwijara - Lodewyk Butar-butar - Asep Nasa PANTURA : Ridwan Abdullah GARUT : Engkus K - Yudi K - NIK NIK - AGUS TEGAL : Dodi Yahya PANDEGLANG : - KABUPATEN LEBAK : - TANGERANG: Agus Salim - H. Bainul Amin - H. Syaiful Perwakilan JAWA TIMUR : Drs Albert PS JL Jaga Raga No 18 Surabaya (Tlp: 031 3557655/08165430289) Perwakilan YOGYAKARTA : - Perwakilan LAMPUNG BARAT : Suhardin (Kabiro) - Joniyawan Sumatera Utara : (Ka Perwakilan)-Jonpery Sinulingga Medan : Syamsul - Maradona Deli Serdang : R David Sagala - Paulus Butar Butar, HILDE TIURMA TAMPUBOLON Simanlungun/Siantar: Sailan Tarigan Langkat/Kota Binje : Sagin, Hendra Sinaga, Rusmajam Kabupaten DAIRI : Amin Sitanggang

Edisi 374 Tahun VII 21 s.d. 27 Juni 2010

12

Monopoli Usaha Dipayungi Kepmen ESDM 1567
Oleh Maulana Hardjadilaga SS
Tenaga listrik mempunyai peranan yang sangat bermanfaat untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan perekonomian dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Karena tenaga listrik menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan, maka biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi listrik menjadi salah satu biaya hidup seseorang.
Begitu pula dengan sektor industri, biaya produksi mencakup biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan listrik dalam proses produksi. Listrik sebagai prasarana dasar dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kegiatan usaha. Sebagai prasarana dasar, selain bermanfaat juga mengandung potensi bahaya terhadap keselamatan umum, harta benda dan lingkungan, maka instalasi listrik harus memenuhi kesesuaian instalsi listrik terhadap standar instalasi yang berlaku. Menyadari pentingnya kesesuaian instalasi listrik terhadap standar instalasi, maka ketentuan perundang-undangan yang berlaku menyatakan bahwa semua instalasi listrik sebelum dioperasikan harus memiliki Sertifikat Laik Operasi sebagai bukti kesesuaian terhadap standar instalasi. Untuk mendapatkan instalasi yang sesuai dengan standar, maka penginstalisasian ketenagalistrikan harus diberikan kepada ahlinya. Ahli di sini memiliki arti kata seluasluasnya yaitu mampu mempertanggungjawabkan terhadap kegagalan instalasi. Berdasarkan Undang-Undang Ketenagalistrikan Nomor 30 Tahun 2009 pasal 11 ayat 1, para pelaku usaha ketenagalistrikan merupakan usaha penyedia tenaga listrik untuk kepentingan umum yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Badan Usaha Swasta, Koperasi, dan Swadaya Masyarakat yang berusaha di bidang ketenagalistrikan serta diberi tanggung jawab untuk memperkecil risiko gagal instalasi sehingga tercipta instalasi yang andal, aman dan akrab lingkungan. Dalam rangka memperkecil risiko gagal instalasi tersebut, diperlukan adanya inspektorat independen yang senantiasa menjaga kualitas instalasi sehingga terpenuhi ketentuan andal, aman dan akrab lingkungan bagi instalasi ketenagalistrikan. Berdasarkan data dari Departemen ESDM pada tahun 2007, lembaga inspektorat instalasi listrik terbagi menjadi dua, yaitu instalasi tegangan menengah dan instalasi tegangan rendah. Inspoktorat instalasi yang terdaftar ada tiga belas lembaga, dua belas merupakan lembaga inspektorat untuk instalasi pembangkit, tegangan tinggi dan tegangan menengah, sedangkan untuk instalasi tegangan rendah hanya ada satu lembaga inspektorat yaitu KONSUIL pada tahun 2010. Data yang berhasil dikumpulkan di lapangan mengatakan bahwa inspektorat untuk instalasi pembangkit, tegangan tinggi dan tegangan menengah sudah menjadi dua puluh dua badan usaha, namun inspektorat instalasi tegangan rendah tetap hanya ada satu lembaga yaitu KONSUIL. Lembaga Inspektorat KONSUIL berdri berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 1109 K/ 30/MEM/2005 tentang Penunjukan KONSUIL dan diperpanjang masa berlakunya dengan Kepmen ESDM Nomor 1567 K/20/MEM/2010 yang tidak cermat dan cacat hukum. Analisa hukum yang dilakukan Lasser Indonesia atas Kepmen ESDM Nomor 1567 K/20/MEM/2010 terbagi menjadi dua bagian yaitu ditinjau dari perspektif teori penyusunan perundang-undangan dan dari perspektif undang-undang yang berlaku. Ditinjau dari perspektif teori penyusunan perundang-undangan, dalam konsideran menimbang, disebutkan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Listrik pasal 21 ayat 7, padahal dalam peraturan tersebut pasal 21 hanya sampai ayat 3. Selanjutnya konsideran mengingat 1, yang isinya bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pasal 1 ayat 1. konsideran mengingat 2, isinya sangat bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan pasal 16 ayat 4. Dan dalam konsideran mengingat 3, isinya sudah dibatalkan berdasarkan UndangUndang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan pasal 57 ayat 2. Ditinjau dari perspektif undang-undang yang berlaku, Kepmen ini bertentangan dengan tiga undang-undang yang notabene memiliki strata hukum lebih tinggi, yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat yang bertentangan dengan Kepmen ini adalah pasal 1 huruf a yang mendefinisikan monopoli adalah penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha; huruf b yang mengartikan praktek monopoli adalah pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum; dan huruf c menjabarkan pemusatan kekuatan ekonomi adalah penguasaan yang nyata atas suatu pasar bersangkutan oleh satu atau lebih pelaku usaha sehingga dapat menentukan harga barang dan atau jasa. Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal yang tidak sesuai dengan Kepmen ini adalah pasal 1 huruf a yang menerangkan bahwa perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Undang-undang terakhir yang bertentangan dengan Kepmen ini adalah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Adapun pasal-pasal yang bertentangannya adalah pasal 57 ayat 2 menyatakan peraturan pelaksanaan di bidang ketenagalistrikan yang telah ada berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti berdasarkan undang-undang ini; pasal 16 ayat 2 berisi usaha penunjang tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, badan usaha swasta, dan koperasi yang memiliki sertifikasi, klasifikasi, dan kualifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan pasal 16 ayat 4 menyebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi, klasifikasi, dan kualifikasi usaha jasa penunjang tenaga listrik diatur dengan peraturan pemerintah. Pertanyaan besar muncul ketika sebuah lembaga yang memegang peranan penting dalam sektor ketenagalistrikan harus dipayungi oleh Keputusan Menteri yang cacat hukum, dengan akibat hukum dari pemberlakuan Kepmen nomor 1567 K/20/MEM/2010 ini melalui pemberian kewenangan kepada KONSUIL sebagai satu-satunya inspektorat instalasi listrik tegangan rendah dapat dikualifikasikan melanggar dan atau mengabaikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 sehingga terjadi praktek monopoli. Namun sangat disayangkan, lembagalembaga Negara seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan lembaga terkait lainnya seakan mandul menghadapi Keputusan Menteri ini. Indikasi dari kemandulan aparatur di Indonesia adalah berjalannya terus praktek monopoli usaha inspektorat tegangan rendah KONSUIL dengan berbekal payung hukum Keputusan Menteri yang cacat hukum. *** Maulana Hardjadilaga SS adalah Ketua Dewan Pengurus Lasser Indonesia

KPK Tidak Cukup Berantas Pelaku Korupsi
Oleh Yusuf Asyid SH MH
Ketika berbicara masalah hukum, seketika orang akan teringat kepada masalah korupsi di Indonesia. Terutama bagi masyarakat awam, penegakan hukum identik dengan pemberantasan korupsi. Meskipun mengandung nilai-nilai positif, namun fenomena semacam ini sesungguhnya memiliki dampak yang tidak baik terhadap penegakan hukum itu sendiri. Karena, dapat menghasilkan opini bahwa keberhasilan penegakan hukum di Indonesia tergantung kepada seberapa banyak kasus korupsi dapat diungkap. Padahal ada banyak masalah yang telah menyebabkan keterpurukan bangsa dan pemicu kemiskinan, seperti kejahatan psikotropika, kejahatan ekonomi, kriminalitas, dan pelanggaran terhadap norma adat dan agama.
Kejahatan korupsi telah menyebabkan negara Indonesia terpuruk dan miskin adalah bukti nyata yang tentu saja dapat diterima akal sehat. Pemerintah bukannya tidak serius memberantas kejahatan korupsi, dengan banyak lembaga, banyak ketentuan, banyak program, dan banyak cara yang telah ditempuh untuk mengikisnya. Namun berdasarkan hasil survei internasional, Indonesia termasuk ke dalam kelompok negara paling korup di dunia. Bahkan tidak sedikit pula lembaga swadaya masyarakat yang getol berburu data-data kejahatan korupsi. Akan tetapi, lembagalembaga ini lebih menyukai cara ofensif terhadap setiap individu atau lembaga yang suspect. Sehingga sering terjebak di dalam berbagai konflik dan kepentingan, tanpa memberi kontribusi terhadap pemberantasan korupsi itu sendiri. Banyak lembaga lebih berorientasi kepada pengungkapan kasus daripada pencegahan, bahkan sudah merasa puas ketika berhasil membuat top rank orang atau lembaga terkorup di Indonesia. Namun demikian, Indonesia lebih membutuhkan metoda jangka panjang untuk menangkal, mencegah, mengeliminasi, bahkan menghentikan syahwat dan libido berlebihan untuk melakukan kejahatan korupsi bagi warga negaranya sejak dini. Tanpa mencegah, menangkal, mengeliminasi, dan menghentikan munculnya keinginan untuk melakukan praktik-praktik korupsi, maka institusi penegak hukum akan semakin keteteran menyelesaikan berbagai kasus yang akan muncul setiap saat. Bayangkan, begitu matahari terbit di pagi hari, ketika segala aktivitas dimulai, ketika itu pula kejahatan korupsi akan dimulai. Sayangnya, kejahatan korupsi selalu cenderung dipandang sebagai kejahatan eksklusif, karena diduga hanya dapat dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Ini sebuah pandangan yang sangat keliru. Pada hakikatnya, kejahatan ini dan paling umum terjadi adalah pembenaran secara nurani (justifikasi) perbuatan “memberi secara ikhlas dan menerima pemberian tanpa meminta”. Bahkan tidak jarang seorang atasan akan berpesan kepada stafnya, “Jangan meminta imbalan, tetapi terima jika diberi.” Ini adalah perbuatan korupsi dalam tekstur yang sangat santun. Bagi penegak hukum, memang bukan pekerjaan mudah untuk membuktikan dan menghukum para pelaku kejahatan korupsi. Namun sesungguhnya, memberantas kejahatan korupsi adalah jauh lebih sulit dibandingkan menghukum pelakunya. Karena menghukum pelaku kejahatan korupsi ternyata tidak menyurutkan niat pelaku lain untuk melakukan kejahatan yang satu ini. Orang Indonesia mengatakan bahwa korupsi sudah membudaya di negara ini. Ketika rendahnya gaji pegawai dituding sebagai faktor penyebab terjadinya praktik korupsi, anggapan ini terbantahkan sendiri, karena pelaku kejahatan korupsi sebahagian besar adalah orang berstatus sosial tinggi, yang memiliki kewenangan dan tergolong berkecukupan. Ketika moral dan martabat yang rendah ditengarai menjadi ciri para pelaku kejahatan ini, ternyata banyak di antara pelakunya adalah para intelektual dan tokoh agama. Ketika masalah rendahnya wawasan dan kesadaran hukum dituding sebagai penyebab kejahatan korupsi, ternyata para pelakunya bahkan aparat penegak hukum itu sendiri. Lantas mengapa orang Indonesia melakukan kejahatan korupsi, mungkinkah karena falsafah, “...jangan meminta imbalan, tetapi terima jika diberi” dianggap sebagai bagian dari tata krama dan rasa saling menghargai. Orang akan selalu menganggap sebuah kewajaran bila menerima sesuatu tanpa merugikan orang lain. Segala pemberian, dalam bentuk dan jumlah berapapun, tetap dianggap sebagai rezeki yang menimbulkan rasa bangga dan puas. Itu terjadi di mana-mana, di semua strata kehidupan. Bahkan sekumpulan panitia amil zakat, masih menganggap sebuah kewajaran, ketika menerima imbalan sebagai panitia. Meskipun jumlah yang diterima oleh mereka jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan yang disalurkan kepada yang berhak menerima. Dan prakiek itu terjadi di rumah ibadah. Apatah lagi di tempat yang jauh dari kontrol moral itu. Itulah sebabnya kemudian menjadi sebuah ironi, di negara berkategori terkorup ini ternyata sulit untuk membuktikan perbuatan korupsi itu, karena hanya pelaku dan Tuhan saja yang tahu. Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, agar tidak terjadinya tindak pidana korupsi harus dilakukan pencegahan secara maksimal kepada instansi maupun departemen serta lembagalemabaga yang ada dengan cara monitoring serta melakukan penyuluhan hukum kepada mereka. Penyuluhan dilakukan pada saat jam santai atau waktu olahraga, agar jam kerja tidak terganggu, karena dengan mengganggu jam kerja sama hal korupsi waktu. Selain itu yang lebih penting lagi, upaya pengembalian uang negara dari hasil penyitaan ataupun pengembalian dana yang dikorupsinya seharusnya dikembalikan di mana tempat terjadinya tindak pidana korupsi, bukan semuanya ditumpukkan di pusat, sedangkan dana tersebut merupakan dana yang dianggarkan ke daerah oleh pusat. Untuk kemaslahatan daerah tersebut, jika dana ditarik ke pusat maka anggaran daerah akan terjadi kekosongan yang akhirnya dana tersebut tidak dapat diperuntukkan kemaslahatan daerah, sehingga pemerintah daerah tidak stabil karena adanya kekosongan anggaran yang telah di korupsi. Dan sampai saat ini pun KPK tidak dapat merinci secara jelas ataupun melaporkan uang negara yang telah disita itu berasal. ***

dapat dilakukan oleh siapa saja. Negara kita memang sedang mengidap penyakit yang dinamakan korupsi itu. Berbagai survei internasional telah menempatkan negara Indonesia pada peringkat negara terkorup di dunia. Hingga saat ini, peringkat itu seakan tidak mau beranjak. Kita mungkin tidak akan menyangkal hasil survey itu, karena kita menyaksikan, bahkan mungkin menjadi pelaku dari kejahatan itu. Betapa tidak, jika merujuk kepada definisi korupsi sebagaimana disebutkan dalam undang-undang, maka mungkin saja kita bukan hanya sekadar menyaksikan perbuatan korupsi di negara kita, tetapi boleh jadi kita sebagai pelakuknya. Itulah sebabnya, ketika orang Indonesia berteriak mengenai korupsi, ia seakan meneriakkan dirinya sendiri. Lihat saja praktik itu telah terjadi sejak dari strata sosial paling bawah hingga level paling atas. Ketika mengurus suratsurat dan dokumen di kelurahan, atau ketika berurusan di kantorkantor pemerintah, kita mungkin tidak menyadari bahwa kita telah menjadi pelaku kejahatan itu, sekali lagi mungkin kita tidak menyadari. Meskipun berskala kecil, namun kita telah menjadi bagian dari kejahatan itu. Modus yang sangat sederhana

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->