P. 1
Konsep & Paradigma KayaSejati

Konsep & Paradigma KayaSejati

|Views: 456|Likes:
Buku panduan untuk mencapai KayaSejati melalui jalan spiritualitas Islam
Buku panduan untuk mencapai KayaSejati melalui jalan spiritualitas Islam

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jun 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2012

pdf

text

original

Sections

Setiap yang saya tanya: “Maukah kaya?”. Hampir semua menjawab
dengan spontan dan bersemangat: “mau”, “pasti maulah”, “hari gini, siapa
yang ngak pingin kaya?”. Tidak diragukan memang, setiap manusia ingin
menjadi kaya, ingin memiliki kekayaan yang berlimpah ruah agar hidupnya
nyaman penuh kemudahan dan kebahagian tentunya. “Siapa sih yang gak
mau kaya?, kan sekarang dunia serba pake duit”, kata teman saya menimpali
pertanyaan sama. “Mau pergi haji atau berdakwah aja perlu dana, mau
bangun pondok pesantren juga perlu dana”, kata Pak Kiyai saya. Saya
menjadi ingat nasihat orang tua, ketika saya masih kecil dulu.”Orang kaya
lebih banyak kesempatannya untuk beramal saleh, termasuk untuk
membahagiakan diri, keluarga dan orang lain”. ”Kaya itu jalan untuk
mencapai kebahagiaan, bukan tujuan hidup”.
Namun jika kembali kita bertanya, apakah arti kaya, maka mereka
akan memberikan jawaban yang beraneka ragam. Ada yang menunjuk
seperti Pak Pengusaha Kaya itu, atau seperti Pak Pejabat sana, atau seperti
para artis glemour itu dan pribadi-pribadi yang terkenal lainnya. Ada juga
yang menjawab lebih spesifik : ”memiliki banyak uang”, ”memiliki rumah
besar”, ”mobil mewah”, ”sawah-ladang luas”, ”binatang ternak yang
banyak”, ”memiliki saham yang banyak”. Anak saya yang masih di sekolah
menengah menceritakan teman-temannya banyak anak-anak orang kaya,
”karena mainannya barang-barang mahal”. Demikian juga ketika di kampung
saya membangun rumah yang lumayan besar, maka orang menganggap
saya orang kaya. Pandangan orang desa dengan orang kota terhadap kaya
tentu berbeda, tapi ada persamaan, yaitu seseorang dianggap kaya apabila
telah dianggap mampu memenuhi segala keperluan hidupnya di atas rata-
rata. Dengan kata lainnya, seseorang yang dapat memenuhi segala
keinginannya, seperti memiliki rumah besar, mobil mewah, sawah-ladang
luas, saham yang banyak dan berbagai kekayaan lainnya dapatlah dianggap
sebagai kaya.

Sementara jika kita menanyakan orang-orang yang sudah kita anggap
kaya, apakah mereka adalah orang kaya, maka mereka akan menghindar
bahkan kurang senang jika dijuluki sebagai orang kaya. Saya beberapa kali
bertemu dengan orang yang sudah saya anggap kaya, memiliki penghasilan
besar, rumah mewah, mobil bagus dan fasilitas lainnya, namun ketika saya
bertanya apakah mereka menganggap dirinya sebagai orang kaya?. Rata-

15

rata dengan tersenyum mereka menjawab dengan rendah hati, mereka
belum merasa dirinya sebagai orang kaya. Orang lain saja yang telah
menganggap mereka kaya. Seorang teman yang sudah saya anggap kaya
pernah berkata, ”jika kamu tanya orang terkayapun di muka bumi ini, tentu
mereka tidak mau mengaku disebut kaya, jika mereka sudah menganggap
dirinya kaya, maka mereka akan berhenti dari mencari kekayaan. Ukuran
kaya adalah ketika mereka sudah mati, berapa kekayaan yang
ditinggalkannya” katanya dengan nada yakin.
Kaya biasanya disandangkan kepada orang yang memiliki kekayaan
berlimpah, yang telah memiliki kebebasan dari masalah kehidupan sehingga
tidak memerlukan bantuan ekonomi dari orang lain. Menurut Kamus
Kontemporer Arab-Indonesia karya Atabik Ali, kaya dapat disepadankan
dalam bahasa Arab sebagai ghina’ sementara jamaknya adalah aghniya’
yang dapat diartikan sebagai kecukupan. Huwa fi ghina anhu, maknanya dia
merasa cukup atau tidak perlu lagi. Dengan pengertian ini, maka dalam
pandangan Islam, seseorang dapat dikategorikan sebagai kaya, apabila telah
terbebas dari keperluan-keperluan asasi manusia, tidak memerlukan bantuan
orang lain dalam kehidupannya, mampu berdiri sendiri memenuhi keperluan
hidupnya, lepas dari jerat kemiskinan dan hutang serta yang paling penting
telah mampu mengeluarkan kekayaannya di jalan Allah, baik untuk zakat,
infaq, sedekah dan seumpamanya. Pada dasarnya seseorang yang telah
mampu mengeluarkan hak-hak Allah dari kekayaannya, maka dapatlah
dikategorikan sebagai kaya.
Kaya adalah naluri kemanusiaan yang telah menjadi sifat bawaannya.
Manusia manapun di muka bumi ini tidak ada yang tidak ingin kaya. Apakah
mereka berkulit putih, merah, hitam kuning ataupun sawo. Manusia kapitalis
di dunia Barat bahkan menciptakan berbagai metode untuk meraup
kekayaan berlimpah ruah dengan semboyan ”dengan modal sekecil-kecilnya
untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya”. Para petinggi Republik
Rakyat Cina (RRC) atau Rusia yang awalnya adalah pemeluk fanatik idiologi
komunisme-sosialisme sejati yang memiliki semboyan ”sama rata sama rasa”
(biar miskin yang penting sama-sama miskin), kini menukar kebijakannya
untuk memberikan peluang kaya raya tanpa batas kepada rakyatnya yang
mampu, sehingga melahirkan banyak orang kaya baru (okb) yang memiliki
kekayaan melimpah ruah, bahkan menjadi deretan orang kaya dunia yang
melampaui kekayaan orang di negara kapitalis. Manusia telah mewariskan
watak mencintai kekayaan bahkan sebagiaannya berbentuk keserakahan
yang telah mendorong peperangan, penjajahan dan eksploitasi berlebihan
terhadap alam. Generasi tua juga menasihatkan kepada generasi mudanya
agar selalu bekerja keras, rajin belajar, meniti karir dengan baik, menjadi
pegawai yang cemerlang dan sebagainya agar dapat hidup kaya.
Kaya bagi masyarakat modern adalah lambang dari sebuah
kesuksesan dalam meniti karir kehidupan. Jika ada yang mengaku sukses tapi
belum menunjukkan dirinya sebagai orang kaya, maka masyarakat belum
menganggapnya sebagai orang yang sukses. Masyarakat yang bersifat
materialistis akan mencemooh orang yang menganggap dirinya sukses,
namun masih menggantungkan keperluan hidup dan kehidupannya pada
belas kasihan orang lain, walaupun telah mencapai kesuksesan pada bidang
lain, pada bidang akademis misalnya. Seorang profesor yang miskin akan
ditertawakan oleh kebanyakan orang, karena ukuran keberhasilannya dinilai

16

dari kekayaan yang dikumpulkannya. Itulah sebabnya, banyak orang saat ini
melambangkan diri dengan kekayaan untuk mendapat penghargaan atau
penghormatan masyarakat. Saya terkejut ketika berkunjung ke rumah
beberapa orang ustadz terkenal, walaupun mereka adalah penceramah
agama dan pejuang Islam, namun rumah mereka besar dan tergolong
mewah. Sebagiannya dibangunkan oleh murid atau pengikutnya yang kaya
tentunya, dengan alasan untuk menjaga kehormatan sang ustadz dengan
menunjukkannya setatusnya sebagai orang kaya.
Kaya bukan hanya mengangkat status dan derajat seseorang di tengah
masyarakat, namun dengan kekayaan yang dimilikinya mereka bisa merebut
kekuasaan, dapat menjadi wakil rakyat di parlemen, mendapat jabatan
empuk seperti Bupati, Gubernur, Menteri bahkan Wakil Presiden. Dalam
masyarakat, orang-orang kaya biasanya mendapat kedudukan terhormat dan
memiliki percaya diri yang tinggi. Kekayaan juga dapat menjadi ladang amal
saleh bagi pemiliknya, dengan hartanya mereka bisa membayar zakat,
mengeluarkan infak dan sedekah, pergi umrah dan naik haji, membangun
masjid, pesantren, panti asuhan dan sarana sosial lainnya. Kekayaan dapat
menjadi sarana untuk mencapai kebahagian bagi pemiliknya di dunia dan di
akhirat. Kekayaan dapat membawa perdamaian, namun juga menjadi
penyebab peperangan di antara umat manusia. Kekayaan juga telah
menimbulkan penjajahan dan penindasan bangsa terhadap bangsa lainnya.
Dalam dunia modern sekarang, tidak mengherankan apabila manusia
berlomba-lomba menjadi kaya. Karena kaya akan memberikan banyak
keistimewaan kepada penyandangnya. Orang yang miskin kurang mendapat
perhatian dari keluarga sendiri, bahkan banyak yang menjauhi mereka,
namun berbeda halnya dengan orang kaya, semua orang akan mengakuinya
sebagai keluarga dan mendekat kepadanya dengan berbagai harapan. Kaya
telah membius sebagian besar manusia modern, bahkan untuk mencapai
tujuannya banyak yang menempuh berbagai cara yang bertentangan dengan
nilai-nilai agama dan negara. Itulah sebabnya, orang akan memandang aneh
terhadap mereka yang tidak mau dan tidak ada keinginan untuk menjadi
kaya.

Ironisnya, kita menyaksikan ada sebagian manusia yang mendapatkan
kekayaan berlimpah ruah dengan fasilitas yang serba lengkap, namun belum
juga mendapat kebahagian yang dirasakannya. Seorang teman menceritakan
bahwa Bapaknya punya seorang teman yang memiliki kekayaan berlimpah
ruah, dari rumah mewah sampai pesawat terbang dengan pengangkat
tuasnya berlapis emas, saking kayanya. Namun setiap ujung minggu dia
menghabiskan hidupnya di apartemen sendirian sambil menyantap mie
instan, jauh dari keluarga dan masyarakatnya. Hidupnya sepi, gundah dan
frustasi. Seperti inilah gambaran masyarakat super metropolis yang
mengalami krisis spiritual sebagaimana digambarkan Danah Zohar, dalam

Spiritual Quatient.

Tentang pentingnya kaya ini akan saya ceritakan pengalaman pribadi
saya ketika memimpin lebih seribu orang relawan kemanusiaan ketika
bencana tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Organisasi relawan kami
adalah salah satu organisasi nekat yang berangkat menuju lapangan tanpa
perlengkapan dan logistik yang mencukupi untuk melaksanakan tugas-tugas
kemanusian. Karena kami memang tidak berpengalaman sebagai sebuah
organisasi kemanusian yang menghadapi bencana dahsyat seperti ini. Saya

17

berangkat dari lapangan terbang Halim di Jakarta tanpa membawa bekal
apapun, dengan uang di dompet yang sangat terbatas. Sampai di Banda
Aceh yang porak poranda, saya kebingungan, harus berbuat apa dan
bagaimana. Pada saat yang sama saya melihat organisasi-organisasi
kemanusiaan lainnya datang dengan perlengkapan canggih dan logistik
cukup. Apa yang saya lakukan dengan para relawan adalah perjuangan di
jalan Allah yang mulia, namun tanpa ditopang oleh fasilitas memadai
sehingga hasilnya kurang maksimal. Pada tahap-tahap awal, kami mengalami
kekurangan makanan, minuman dan juga alat. Untuk mengevakuasi mayat
yang membusuk, relawan kami hanya memakai sarung tangan yang
biasanya digunakan untuk mencuci piring. Pada saat tersulit itu saya
berguman “andaikan saya orang kaya, maka keadaan seperti ini tidak akan
terjadi”. Seperti yang dilakukan pengusaha kaya dermawan dari Arab, yang
dengan kekayaannya dia memberikan sumbangan kepada para korban
bencana dengan tangannya sendiri. Pada saat-saat seperti itulah saya
menyadari pentingnya menjadi orang kaya untuk menopang sebuah
pekerjaan mulia, sebagaimana disebutkan Rasulullah: “sebaik-baik kekayaan
adalah pada seorang yang saleh”.
Artinya bila kekayaan dimiliki oleh orang
saleh, maka dapat dimanfaatkan untuk keperluan amal saleh.

Hukum Kaya Menurut Fiqih Islam

Adapun hukum kaya bagi seorang muslim menurut fiqih Islam, apakah
termasuk wajib, sunat, haram, boleh (jaiz) atau lainnya. Sebagaimana hukum
umum yang berkaitan dengan mua’amalah, maka para ulama memberikan
patokan, ”al-Aslu fie al-Muamalat al-Ibahah illa maa dalla al-dalil ala
tajrimiha”
artinya Hukum pokok dari muamalah adalah boleh, kecuali ada
dalil yang mengharamkannya.
Hukum kaya pada dasarnya adalah dibolehkan (ibahah/jaiz) kepada
mereka yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk meraihnya
dengan cara-cara yang digariskan syari’at. Namun pada waktu keadaan
tertentu dapat jatuh kepada hukum wajib atau haram. Misalnya ada seorang
yang memiliki kemampuan dan kesempatan lalu bercita-cita kaya, dengan
kekayaannya dia akan berbuat maksiat, menentang Islam, berkeinginan
untuk mencelakakan kaum muslimin ataupun dengan kekayaannya akan
melaksanakan yang diharamkan agama, maka kepada orang ini hukumnya
diharamkan kaya atasnya, karena niat dan tujuannya kaya adalah untuk
melakukan yang diharamkan.
Demikian pula sebaliknya, jika seseorang yang memiliki kemampuan
dan kesempatan, memiliki aqidah yang lurus, akhlak mulia lalu bercita-cita
kaya, kemudian bekerja sesuai dengan perintah Allah dan kelak dengan
kekayaannya akan bertujuan untuk menegakkan amal saleh untuk dirinya
dan orang lain, serta menegakkan kewajiban agama, seperti jihad fi sabilillah,
maka jelas hukumnya adalah wajib, merujuk kepada kaidah fiqih: ma la
yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib
(segala sesuatu yang dengannya
tidak tertegak yang wajib, maka hukumnya wajib pula). Kaya (mampu)
adalah jalan untuk menegakkan kewajiban agama, maka kaya menjadi wajib
pula hukumnya bagi seseorang yang bercita-cita menegakkan agama Allah.
Menurut pandangan ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-
Qardhawy misalnya, bahwa pada zaman modern ini diperlukan sebuah fatwa-
fatwa baru yang berkaitan dengan hukum sosial yang berdasarkan pada fiqh

18

al-Aulawiyah (fiqih prioritas). Jika ditinjau dari fiqih prioritas, maka kaya
adalah sebuah kewajiban yang menjadi prioritas kaum muslimin. Karena
pada saat ini kebanyakan kaum muslimin dalam keadaan terbelakang dan
fakir-miskin yang telah melemahkan keadaan kaum muslimin terhadap
bangsa-bangsa lainnya, yang telah menempatkan posisi kaum muslimin
sebagai ummah yang lemah dari semua sisi. Untuk membangkitkan kembali
kaum muslimin, diperlukan perjuangan yang menyeluruh, baik dalam
perjuangan pendidikan, perjuangan ekonomi, perjuangan sains-teknologi
sampai kepada perjuangan militer yang semuanya memerlukan pendanaan.
Artinya perjuangan akan berjalan apabila ada tersedia banyak dana (mal)
pada kaum muslimin. Tentu dana hanya dimiliki oleh orang-orang yang
memilikinya, yaitu orang kaya. Maka dengan pandangan ini seorang muslim
pada zaman sekarang menurut fiqih prioritas adalah wajib.
Jika kita perhatikan keadaan kaum muslimin secara menyeluruh saat
ini, terutama dari sisi ekonomi atau kekayaan, maka keadaan kaum muslimin
adalah di antara orang-orang yang mengalami kekurangan dan kemiskinan,
walaupun ada sebagian kecil yang kaya, namun tidak mencukupi
kekayaannya untuk menegakkan Islam secara sempurna. Kekayaan
melimpah terkumpul pada orang-orang bukan Islam bahkan ada yang
memusuhi Islam dan kaum muslimin dengan kekayaan yang mereka miliki.
Orang-orang kaya dari musuh Islam telah melancarkan berbagai serangan
terhadap kaum muslimin, baik secara terang-terangan ataupun melalui
kekuatan yang dibiayainya, sementara orang-orang kaya kaum muslimin
tidak menjalankan kewajibannya untuk menegakkan Islam sebagaimana
diperintahakan karena takut ataupun bakhil. Maka mengambil fiqih prioritas,
adalah wajib ada dikalangan kaum muslimin yang bercita-cita kaya dan
berusaha kaya di jalan Allah yang akan menjadikan kekayaannya sebagai
sarana untuk mempertahankan dan menegakkan Islam, sehinggalah kalimat
Allah tegak di muka bumi dan kaum muslimin menjadi sebuah ummat yang
termulia dan teragung.

Adapun kewajiban ini temasuk wajib ’ain (fardhu a’in) atau wajib
kifayah (fardhu kifayah), adalah tergantung pada kondisi dan keadaan kaum
muslimin. Jika kekayaan digunakan untuk mempertahankan kaum muslimin
dari ancaman musuh secara nyata yang telah menguasai kaum muslimin,
maka mayoritas ulama memberikan fatwa bahwa hukum jihad menjadi
fardhu ’ain atau menjadi kewajiban terhadap seluruh kaum muslimin untuk
menggunakan kekayaannya membela Islam. Jika kekayaan akan
dipergunakan untuk perjuangan secara umum, maka hukumnya menjadi
fardhu kifayah, yaitu kewajiban ini terbebani kepada kelompok tertentu yang
mampu melakukannya. Namun apabila tidak ada kelompok tertentu yang
melaksanakannya, maka kewajiban ini menjadi fardhu ’ain sampai ada
sekelompok tertentu yang telah melaksanakannya.
Menurut pemahaman dan tinjauan maqasid al-syari’at, tujuan syar’i
dari jihad ekonomi untuk menjadi kaya adalah sama dengan tujuan jihad fi
sabilillah pada umumnya, yaitu untuk menegakkan kalimah Allah (Islam) di
muka bumi, memberikan rahmat, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh
umat manusia (rahmat lil alamin). Sebagaimana jihad militer (jihad askari),
yang memerlukan pelatihan dan persiapan sempurna, demikian pula halnya
dengan jihad ekonomi ini, diperlukan seperangkat pengetahuan (ulum wa
ma’rifah)
, strategi, pelatihan, persiapan, kiat-kiat dalam persaingan dalam

19

mencapai kemenangan sesuai dengan keperluannya. Jika kemenangan dalam
jihad militer adalah memenangkan peperangan, maka tujuan dari jihad
ekonomi adalah terkumpulnya sebanyak-banyaknya aset pada orang-orang
beriman yang akan dijadikan sebagai sarana menegakkan kalimah Allah.
Artinya tujuan syar’i dari jihad ekonomi adalah melahirkan sebanyak-banyak
muslim yang kaya raya, yang memiliki aset kekayaan. Maka pengetahuan
(ma’rifah) tentang jihad ekonomi ini adalah sama wajib hukumnya dengan
mempelajari ilmu pengetahuan jihad militer. Pelatihan (tarbiyah) jihad
ekonomi adalah sama wajib hukumnya dengan pelatihan kemiliteran
(tarbiyah jundiyah). Sementara seluruh ulama sepakat dan telah
memutlakkan hukum wajib untuk pelatihan jihad militer ini, sementara
kurang kita dengar fatwa yang mewajibkan pelatihan jihad ekonomi dan
pelatihan yang akan menjadi wasilah kayanya seorang muslim.
Maka dengan dasar pemikiran ini, bagi saya, pelatihan jihad ekonomi
atau segala sesuatu pelatihan yang akan menjadikan seorang muslim
menjadi kaya adalah wajib hukumnya, sebagaimana wajibnya pelatihan
militer dalam hukum Islam. Hal ini sudah saya bahas panjang lebar dalam
buku saya Panduan Jihad. Implikasinya bahwa segala sesuatu pengetahuan
yang berhubungan dengan jihad ekonomi, pelatihan dan metode
memperoleh kekayaan yang halal adalah wajib pula hukumnya, mengambil
kaidah fikih “ma la yatimmu al-wajib illa bihi, fa huwa wajib”.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “sebaik-baik harta kekayaan
adalah yang dimiliki oleh orang saleh”.
Artinya orang-orang yang saleh
diperintahkan untuk mencari harta benda sebanyak-banyaknya untuk
digunakan menegakkan Islam. Karena punya harta atau kaya adalah jalan
untuk memenuhi kewajiban jihad, maka dengan demikian menjadi kaya
adalah sebuah kewajiban pula. Sebagaimana disebutkan di atas, kewajiban
jihad menjadi kaya ini memerlukan sebuah pengetahuan yang membahas
tata cara tentang kaya. Sebuah fiqih atau ajaran-ajaran yang bersumber
pada Islam yang membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan
kaya, baik makrifat, hakikat, syariat, manhaj maupun tariqatnya.
Pengetahuan ini bukan hanya dapat memahamkan tentang kaya dengan
segala seluk beluknya, tapi yang paling penting adalah bagaimana cara
menggapai kaya, sehingga pembacanya diharapkan dapat menemukan jalan
menjadi orang kaya menurut ajaran Islam.

Hujjah Tentang Kewajiban dan Keutamaan Kaya

Untuk memperkuat hujjah tentang kewajiban dan keutamaan kaya,
maka di bawah ini akan disampaiakan beberapa hujjah, di antaranya adalah:

1. Hujjah Dari al-Qur’an

- Surat al-Shaff ayat 10-11

”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu
perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu)
Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui”.

- Surat Ali Imran ayat 133-134

20

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik
di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebajikan.”

- Surat al-Hadid ayat 7

"Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah
sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya.
Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan
(sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

- Surat al-Baqarah ayat 261

”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih
yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

- Surat al-Nur ayat 33

Dan berikanlah kepada mereka sebagian harta yang dikaruniakan

kepadamu”

- Surat al-Taubah ayat 103

”Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka

- Surat al-Baqarah ayat 267
Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (pada jalan Allah)
sebahagian daripada hasil usaha kamu yang baik-baik, dan sebahagian dari
apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.”

Perintah untuk membelanjakan harta di jalan Allah, baik berupa zakat,
infaq, sadaqah dan sejenisnya pada dasarnya merupakan perintah agar kaum
muslimin memiliki harta kekayaan atau mereka menjadi orang yang kaya.
Jika mereka bukan orang kaya yang memiliki kekayaan, maka mana mungkin
dapat menjalankan perintah Allah ini. Artinya hanya orang-orang kayalah
yang mampu menjalankan perintah Allah untuk membelanjakan harta
kekayaan sesuai dengan yang telah digariskannya. Jika kaum muslimin dalam
keadaan miskin semua, maka tentu ayat ini akan sulit dijalankan, maka itulah
sebabnya secara tidak langsung Allah memerintahkan kepada kaum
muslimin yang mampu untuk kaya agar mencari kekayaan dan menjadi
orang kaya. Pendapat ini diperkuat oleh beberapa ayat di bawah ini:

- Surat al-Qashas ayat 77

”Carilah apa yang diberikan oleh Allah kepada kamu di negeri Akhirat
dan jangan kamu lupa bahagian kamu di dunia ini. Berbuat baiklah
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kamu dan janganlah kamu

21

membuat kerusakan di atas bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan.”

- Surat al-Jumu’ah ayat 10

”Apabila selesai mengerjakan salat (Jum’at) maka bertebaranlah di
atas bumi dan carilah karunia Allah dan banyaklah berzikir kepada Allah,
mudah-mudahan kamu mendapat kejayaan.”

2. Hujjah Dari Hadits Nabi Muhammad saw

- Hadits Riwayat Muslim

”Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang kaya lagi
menyembunyikan (kekayaannya).”

- Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar
Bahwasanya orang-orang dari sahabat Rasulullah saw datang
menemui beliau. Mereka berkata: “ Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah
memiliki banyak pahala, mereka salat seperti kami; mereka puasa seperti
kami; dan mereka bersedekah dengan harta mereka”.

Hadits ini menerangkan bahwa para sahabat yang miskin merasa
cemburu dengan para sahabat yang kaya, yang dapat bersedekah dengan
harta yang mereka miliki, sementara mereka tidak memiliki harta untuk
disedekahkan. Demikianlah keutamaan orang yang memiliki kekayaan,
mereka dapat lebih banyak beramal saleh dengan kekayaannya.

- Hadits Riwayat Tabrani dari Ibn Umar

”Sesungguhnya Allah SWT memiliki hamba-hamba yang dikhususkan
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hamba-hamba yang lainnya (orang
kaya). Dan orang-orang (miskin) selalu berdatangan untuk meminta
pertolongan kepada mereka (orang kaya) untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhannya. Mereka itu (orang kaya) adalah orang-orang yang selamat
dari adzab Allah SWT.”

- Hadits Riwayat Bukhari

“Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian mengambil
beberapa utus tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memikul
seikat kayu baker dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah
mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta
kepada sesame manusia, baik mereka memberi maupun tidak.”

- Hadits Riwayat Muslim

“Bekerjalah kamu untuk dunia seolah-olah engkau akan hidup selama-
lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat, seolah-olah kamu akan mati esok
hari.”

- Hadits Riwayat Tabrani

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa terdapat dosa-dosa yang tidak
terhapuskan dengan salat, sedekah dan haji. Dan ia terhapuskan dengan
jerih payah untuk mencari penghidupan (rezeki).”

22

- Hadits Riwayat al-Dailami

“Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hamba-Nya letih dan
payah karena bekerja mencari (rezeki) yang halal”.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->