P. 1
Kacang Hijau.deasy

Kacang Hijau.deasy

|Views: 5,262|Likes:
Published by Erick Bria

More info:

Published by: Erick Bria on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2013

pdf

text

original

Kacang Hijau, Antioksidan yang Membantu Kesuburan Pria Men's Health Mon, 26 Jan 2004 14:53:00 WIB Meskipun mudah

didapat dan murah harganya, kacang hijau bukan makanan murahan. Biji yang mudah tumbuh di seluruh Indonesia ini kaya zat gizi dan mengandung antioksidan. Kecambahnya dipercaya membantu menambah kesuburan bagi pria. Lebih dari 65 persen kebutuhan protein dan 80 persen kebutuhan energi dalam pola makan penduduk di negara-negara sedang berkembang, dipenuhi oleh sumber pangan nabati. Pemenuhan makanan berprotein yang bersumber dari bahan hewani pada umumnya terbatas, karena harganya relatif mahal sehingga tanaman pangan masih merupakan sumber utama energi dan protein. Kacang-kacangan merupakan komoditas yang umumnya mudah diperoleh dan harganya relatif murah, dibandingkan pangan hewani. Kacang-kacangan sebagai bahan pangan sumber energi dan protein sudah banyak dimanfaatkan oleh penduduk Asia, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara lainnya. Komoditas ini termasuk dalam kelas Leguminosae, yaitu merupakan tanaman dikotiledon (memiliki dua keping biji) yang kaya akan zat gizi sebagai cadangan makanan bagi lembaga (embrio) selama germinasi (proses perkecambahan). Sayangnya, masyarakat luas masih menganggap bahwa kacang-kacangan adalah 'daging' bagi kaum miskin. Padahal sesungguhnya kacang-kacangan adalah sumber protein yang sangat berharga. Kacang hijau dikenal dengan beberapa nama, seperti mungo, mung bean, green bean dan mung. Tanaman kacang hijau merupakan tanaman yang tumbuh hampir di seluruh tempat di Indonesia, baik di dataran rendah hingga daerah dengan ketinggian 500 meter dari permukaan laut. Di Indonesia, kacang hijau juga memiliki beberapa nama daerah, seperti artak (Madura), kacang wilis (Bali), buwe (Flores), tibowang cadi (Makassar). Buah kacang hijau merupakan polong bulat memanjang antara 6-15 cm. Warna buahnya hijau ketika masih muda dan ungu tua setelah cukup tua. Di dalam setiap buah terdapat 5-10 biji kacang hijau. Biji tersebut ada yang mengkilap dan ada pula yang kusam, tergantung jenisnya. Biji kacang hijau berbentuk bulat atau lonjong, umumnya berwarna hijau, tetapi ada juga yang berwarna kuning, coklat atau berbintik-bintik hitam. Dua jenis kacang hijau yang paling terkenal adalah golden gram dan green gram. Golden gram merupakan kacang hijau yang berwarna keemasan, dalam bahasa botaninya disebut Phaseolus aureus. Sedangkan yang berwarna hijau atau green gram, disebut Phaseolus radiatus. Biji kacang hijau terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulit biji (10 persen), kotiledon (88 persen) dan lembaga (2 persen). Kotiledon banyak mengandung pati dan serat, sedangkan lembaga merupakan sumber protein dan lemak.

Dalam perdagangan kacang hijau di Indonesia hanya dikenal dua macam mutu, yaitu kacang hijau biji besar dan biji kecil. Kacang hijau biji besar digunakan untuk bubur dan tepung, sedangkan yang berbiji kecil digunakan untuk pembuatan taoge. Kacang hijau termasuk tanaman pangan yang sudah lama dibudidayakan secara tradisional di Indonesia. Beberapa varietas unggul kacang hijau yang telah banyak ditanam di Indonesia adalah: Bhakti (No. 116). No 129, Merak, Nuri, Manyar, Gelatik, Betet, Walet, SP 83051, Kenari, Sriti, dan lain-lain. Pentingnya Perkecambahan Di Indonesia, tauge sangat populer karena proses pembuatannya sangat sederhana. Proses perkecambahan dipengaruhi oleh kondisi tempat kacang dikecambahkan. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh adalah: air, gas, suhu dan cahaya. Temperatur optimum untuk perkecambahan adalah 34 derajat C. Kandungan zat gizi pada biji sebelum dikecambahkan, berada dalam bentuk tidak aktif (terikat). Setelah perkecambahan, bentuk tersebut diaktifkan sehingga meningkatkan daya cerna bagi manusia. Peningkatan zat-zat gizi pada tauge mulai tampak sekitar 24-48 jam saat perkecambahan. Melalui germinasi, nilai daya cerna kacang hijau akan meningkat, sehingga waktu pemasakan atau pengolahan menjadi lebih singkat. Pada saat perkecambahan, terjadi hidrolisis karbohidart, protein dan lemak menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna. Selama perkecambahan, terjadi peningkatan jumlah protein, sedangkan kadar lemaknya mengalami penurunan. Peningkatan pada vitamin B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), piridoksin, dan biotin, juga terjadi selama proses perkecambahan. Proses perkecambahan juga meningkatkan kandungan vitamin E (tokoferol) secara nyata. Vitamin E memiliki fungsi antara lain sebagai antioksidan untuk menangkal serangan radikal bebas, sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai penyakit infeksi. Vitamin E juga sering dijuluki sebagai vitamin untuk meningkatkan kesuburan (fertilitas), sehingga kekurangan vitamin E merupakan salah satu penyebab kemandulan. Ragam Pemanfaatan Di Indonesia pemanfaatan kacang hijau menurut banyaknya pemakaian bahan adalah sebagai: kecambah, bubur, makanan bayi, kue dan penganan tradisional, minuman sari kacang, tahu, soun, tepung hunkwe, sayuran dan sup. Kacang hijau juga dapat diolah menjadi protein isolat dan tepung kacang hijau. 1. Kecambah Cara pembuatan kecambah/tauge yang digunakan sebagai sayur adalah sebagai berikut:

kacang hijau direndam air selama satu malam, kemudian ditebarkan pada tempat yang mempunyai lubang dan diberi daun/kain/kertas merang sebagai substrat untuk menjaga kelembaban agar kacang-kacangan tidak busuk. Setiap hari kacang disiram dengan air sebanyak 4-5 kali. Setelah satu hari germinasi akan dihasilkan kecambah dengan panjang sekitar satu sentimeter, setelah dua hari akan mencapai sekitar empat sentimeter, dan setelah 3-5 hari panjangnya akan mencapai 5-7 sentimeter. 2. Tepung Kecambah Mengingat potensi gizi tauge yang cukup besar, tetapi daya tahan simpannya sangat rendah perlu upaya penyelamatan untuk memperbesar daya gunanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara pembuatan tepung kecambah. Pembuatan tepung kecambah kedelai dapat dilakukan dengan cara mengeringkan kecambah pada suhu 75oC sampai diperoleh derajat kekeringan yang tepat. Kecambah kering kemudian dilepas kulitnya, disangrai, digiling dan diayak menjadi tepung. Penambahan 10 persen tepung kecambah untuk menggantikan tepung terigu dalam pembuatan roti, dapat menghasilkan roti yang bernilai gizi lebih baik, dengan warna, bau dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain pada roti, tepung tauge juga dapat ditambahkan pada makanan bayi dan anak balita. 3. Tepung Kacang Hijau Pembuatan tepung kacang hijau dilakukan dengan merendam biji di dalam air selama tujuh jam. Selanjutnya ditiriskan, dikeringkan dan disosoh. Penyosohan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin penyosoh beras. Kacang hijau tanpa kulit (dhal), selanjutnya digiling dan diayak untuk memperoleh tepung kacang hijau. Tepung kacang hijau dapat digunakan untuk membuat aneka kue basah (cake), cookies dan kue tradisional (kue satu), produk bakery, kembang gula dan makaroni. 4. Makanan Tradisional Berbagai makanan tradisional yang menggunakan bahan baku kacang hijau adalah koci, gandasturi, kue ku, bakpia dan onde-onde. Kacang hijau direndam, ditiriskan, dicampur dengan gula, garam dan lain-lain, kemudian dibuat adonan. Adonan tersebut kemudian diisi ke dalam adonan lain yang terbuat dari terigu atau ketan. Proses selanjutnya adalah pengukusan (koci dan kue ku), penggorengan (gandasturi dan onde-onde) atau pemanggangan (bakpia). 5. Pati Kacang Hijau (Tepung Hunkwe) Pati kacang hijau diperoleh melalui proses ekstraksi basah, yaitu penumbukan biji supaya terbelah, perendaman dalam air selama tiga jam, penghilangan kulit, kemudian penggilingan (ekstraksi) dengan penambahan air (rasio kacang hijau : air = 1 : 3) dan

penyaringan. Bagian filtratnya dibiarkan selama 30 menit supaya terjadi pengendapan pati. Pati yang diperoleh dicuci 2-3 kali supaya bersih, kemudian dikeringkan. Tepung hunkwe yang diperoleh dapat dijadikan bahan baku pembuatan aneka kue dan soun. ,i>6. Protein Isolat Bagian yang tidak mengendap pada proses pembuatan pati dapat diolah lebih lanjut menjadi protein isolat. Proses pembuatannya dilakukan dengan cara mendidihkan (suhu 100oC selama 10 menit) cairan hasil samping pati, kemudian proteinnya diendapkan dengan penambahan asam asetat glasial hingga pH mencapai 4,5. Endapan protein yang diperoleh dipisahkan melalui proses penyaringan dan dikeringkan pada suhu 80-90oC selama 8 jam. Kadar protein pada isolat dapat mencapai 70-85 persen dan lemaknya 1,01 persen. Protein isolat dapat digunakan untuk meningkatkan kadar protein dan mutu gizi produk bakery (roti) dan makanan bayi. 7. Makanan Bayi Tepung kacang hijau, tepung tauge dan pati kacang hijau dapat juga digunakan sebagai bahan baku makanan bayi dan anak balita. Dalam hal ini kacang hijau yang banyak mengandung lisin digunakan sebagai pelengkap bahan makanan yang kekurangan asam amino lisin, misalnya beras dan jagung. Kombinasi tepung kacang hijau dengan tepung-tepungan lain (serealia, beras, gandum, dan lain-lain) dapat digunakan sebagai bahan makanan bayi dan anak balita yang bergizi dan bermutu tinggi. Kualitas protein dari bahan makanan campuran tersebut akan meningkat dibandingkan protein bahan-bahan aslinya. Hal ini disebabkan oleh terjadinya efek komplementasi, yaitu efek saling melengkapi kekurangan pada masing-masing bahan. Tepung kacang hijau sangat kaya akan asam amino lisin, tetapi miskin asam amino metionin dan sistein. Sebaliknya tepung beras dan sereal lainnya sangat miskin lisin tetapi kaya metionin dan sistein. Dengan memadukan kedua bahan tersebut, maka terjadi sinergi yang sangat menguntungkan bagi kesehatan tubuh. @ Prof.Dr. Made Astawan Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi - IPB

Sumber: Klinikpria.com

lap bio1 - AMONIA MENGHAMBAT PERKECAMBAHAN BIJI KACANG HIJAU

I. TUJUAN 1. Mengamati pengaruh penambahan amonia terhadap perkecambahan biji kacang hijau 2. Mengamati pengaruh pH tinggi terhadap perkecambahan biji kacang hijau 3. Mengamati pengaruh unsur nitrogen dalam ammonia terhadap perkecambahan biji kacang hijau II. METODE Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode sampel. Sedangkan analisanya menggunakan metode kuantitatif dengan merujuk pada berbagai referensi yang ada. Pemilihan sampel dengan standar berikut: 1. Biji dengan kandungan air sekitar 7-10% (tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah) 2. Daun biji berwarna hijau bersih (tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua) 3. Biji dalam masa dormansi Pemilihan sampel dengan standar tersebut dimaksudkan agar didapatkan perkecambahan maksimum dari setiap kategori percobaan. Dalam penelitian ini digunakan sampel berupa 5 biji kacang hijau untuk setiap kategori (kelompok). Hal ini dengan pertimbangan bahwa peluang tumbuh setiap benih kacang hijau antara 80-100% Untuk menjawab rumusan masalah, dalam percobaan ini dilakukan pengelompokan sampel kedalam empat kategori. Keempat kategori tersebut merupakan variable bebas penelitian. 1. Kategori A Menggunakan 15 ml Air Murni

2. Kategori B Menggunakan 10 ml Air Murni + 5 ml NH4OH Pekat 3. Kategori C Menggunakan 5 ml Air Murni + 10 ml NH4OH Pekat 4. Kategori D Menggunakan 15 ml NH4OH Pekat Sementara variable-variabel yang dibuat sama antara lain: 1. Tempat media tanam. Tempat media tanam yang digunakan adalah gelas plastik bekas air minum kemasan, karena sifatnya transparan sehingga memungkinkan cahaya masuk dengan bebas, serta diameternya cukup luas untuk perkecambahan kacang hijau 2. Untuk media tanam digunakan kapas sintetis karena mampu menahan akar-akar kecambah muda, serta cukup transparan untuk memudahkan pengamatan. 3. Pola tanam. Setiap biji ditanam dalam substrat kapas dengan pola berikut dilihat dari samping dan dari atas.

4. Volume air pada setiap kategori 15 ml (sampai kapas terendam) 5. Intensitas cahaya dibuat sama dengan Menempatkan semua gelas di bawah jendela Yang memungkinkan cahaya mengenai biji, tetapi tidak langsung. 6. Suhu optimal diberikan dengan menutup rapat bidang yang sejajar mulut gelas dengan kain (mirip kain handuk). Sehingga udara lembab tetap di dalam gelas. 7. Tidak diberikan pupuk apapun. Dalam hal ini hanya pemberian amonia dengan kadar tertentu. III. HASIL

IV. PEMBAHASAN Dalam penelitian selama tujuh hari tersebut, didapati bahwa semakin lama waktu perendaman biji dalam kadar amonia yang tinggi, maka warna daun biji dan daun lembaganya semakin gelap. Hal ini karena terjadinya peristiwa osmosis pada daun biji yang mengakibatkan konsentrasi amonia dalam kotiledon semakin lama semakin pekat. Pekatnya kandungan amonia dalam kotiledon menghambat penyerapan sari-sari yang seharusnya diambil kecambah dari kotiledon,hingga tidak terjadi penyerapan sama sekali. Akhirnya pada hari kedua kecambah tidak lagi dapat hidup. Sehingga betapapun amonia mengandung zat-zat yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman, justru menghambat pada masa perkecambahan Dari penelitian dapat dilihat bahwa perkecambahan dengan air murni terlihat lebih normal dari yang lain. Diameter batang +/- 2mm. warna putih susu. Pertumbuhan serta imbibisi cepat.

Dapat dilihat, bahwa semakin hari kecambah semakin berambah pajang. Ada kemungkinan lain yang dapat menyebabkan biji B,C, dan D tidak dapat tumbuh, yaitu potensi gas metan (CH4) dalam ammonia yang bersifat toksik / racun. V. SIMPULAN Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa “Menambahkan amonia dapat menghambat proses perkecambahan.” Dengan demikian, hipotesis aawal bahwa “amonia akan membantu proses perkecambahan” bernilai nol, atau salah sama sekali.

A. DASAR TEORI 1. Pengertian tanaman dikotil dan monokotil Magnoliopsida adalah nama yang dipakai untuk menggantikan nama yang dipakai sistem klasifikasi yang lebih lama, kelas Dicotyledoneae (kelas "tumbuhan berdaun lembaga dua" atau "tumbuhan dikotil"). Sedangkan tanaman monokotil adalah tanaman yang berdaun lembaga satu. 2. Ciri-ciri dan contoh tanaman dikotil dan monokotil Pada tumbuhan kelas / tingkat tinggi dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tumbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil / monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dengan dikotil / dicotyledonae. Ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil hanya dapat ditemukan pada tumbuhan subdivisi angiospermae karena memiliki bunga yang sesungguhnya (http://organisasi.org/ciri_ciri_dan_perbedaan_tumbuhan_pohon_monokotil_dan_ dikotil_biji_berkeping_satu_dan_dua_ilmu_sains_biologi) Perbedaan ciri pada tumbuhan monokotil dan dikotil berdasarkan ciri fisik pembeda yang dimiliki : a. Bentuk akar - Monokotil : Memiliki sistem akar serabut - Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

b. Bentuk sumsum atau pola tulang daun - Monokotil : Melengkung atau sejajar - Dikotil : Menyirip atau menjari c. Kaliptrogen / tudung akar - Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra - Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar d. Jumlah keping biji atau kotiledon - Monokotil : satu buah keping biji saja - Dikotil : Ada dua buah keping biji e. Kandungan akar dan batang - Monokotil : Tidak terdapat kambium - Dikotil : Ada Kambium f. Jumlah kelopak bunga - Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga - Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima g. Pelindung akar dan batang lembaga - Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza - Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil h. Pertumbuhan akar dan batang - Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar - Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar Tumbuhan monokotil dikelompokan menjadi 5 suku, yaitu : a. Rumut-rumputan (Graminae), ex : jagung, padi b. Pinang-pinangan (Palmae), ex : kelapa, sagu c. Pisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, raja d. Anggrek-angrekan (Orchidaceae), ex : anggrek, vanili e. Jahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit Tumbuhan dikotil dikelaompokan menjadi 5 suku, yaitu : a. Jarak-jarakan (Euphorbiaceae), ex : jarak, ubi, karet b. Polong-polongan (Leguminoceae), ex : pete, kacang c. Terung-terungan (Solanaceae), ex : terong, cabe, tomat d. Jambu-jambuan (Myrtaceae), ex : jambu biji, jambu air e. Komposite (Compositae), ex : bunga matahari B. Perkecambahan Perkecambahan (Ing. germination) merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan. Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga). Dua kelas dari tumbuhan berbunga dibedakan dari cacah daun

lembaganya: monokotil dan dikotil. Tumbuhan berbiji terbuka lebih bervariasi dalam cacah lembaganya. Kecambah pinus misalnya dapat memiliki hingga delapan daun lembaga. Beberapa jenis tumbuhan berbunga tidak memiliki kotiledon, dan disebut akotiledon. Kecambah sering digunakan sebagai bahan pangan dan digolongkan sebagai sayur-sayuran. Khazanah boga Asia mengenal tauge sebagai bagian dari menu yang cukup umum. Kecambah dikatakan makanan sehat karena kaya akan vitamin E namun dikritik pula karena beberapa kecambah membentuk zat antigizi. Kecambah jelai yang dikenal sebagai malt digunakan sebagai salah satu bahan baku bir. Malt juga digunakan sebagai bagian dari minuman sehat karena mengandung maltosa yang lebih rendah kalori daripada sukrosa. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti "minum"). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel biologi. sel-sel embrio membesar dan biji melunak. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya, sementara giberelin meningkat. Berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana diketahui bahwa pada perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio, seperti ABSCISIC ACID INSENSITIVE 3 (ABI3), FUSCA 3 (FUS3), dan LEAFY COTYLEDON 1 (LEC1) menurun perannya (downregulated) dan sebaliknya lokus-lokus yang mendorong perkecambahan meningkat perannya (upregulated), seperti GIBBERELIC ACID 1 (GA1), GA2, GA3, GAI, ERA1, PKL, SPY, dan SLY. Diketahui pula bahwa dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin (disebut Auxin Response Factors, ARFs) diredam oleh miRNA. Perubahan pengendalian ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah. Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah (http://www.wikipedia.com/perkecambahan.) B. METODOLOGI 1. Waktu dan Tempat Praktikum anatomi dan perkecambahan biji dikotil dan monokotil dilaksakan pada hari Selasa, 14 Juli 2009 - 28 Juli 2009. Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Tanaman dan Green House Politeknik Negeri Jember. 2. Alat dan Bahan Alat dan dan bahan yang dalam praktikum anatomi dan perkecambahan dikotil dan monokotil yaitu, pensil, ballpoint, cutter, lup, bak semai, media pasir, air kran, gembor, pengaris, penghapus, dan kertas HVS.

3. Prosedur Pelaksanaan a. Anatomi o Menyiapkan alat dan bahan o Membelah biji dalam keadaan melintang dan membujur o Mengamati struktur anatomi secara utuh, dibelah melintang dan membujur biji monokotil (jagung, padi dan kelapa sawit) dikotil (kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau dan kacang kedelai) o Menggambar biji tersebut secara utuh, dibelah melintang dan membujur di dalam kertas HVS o Diperiksa oleh dosen praktikum b. Perkecambahan o Menyiapkan alat dan bahan o Mengamati hasil perkecambahan biji monokotil (jagung, padi dan kelapa sawit) dikotil (kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau dan kacang kedelai) selama semainggu kemudian menggambarakannya di dalam kertas HVS. o Diperiksa oleh dosen praktikum C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Anatomi Dari hasil praktikum anatomi tanaman dikotil dan monokotil diperoleh bahwa biji tanaman dikotil dan monokotil mempunyai bagian-bagian biji yaitu cadangan makanan, kulit biji, epikotil, kotiledon, hipokotil dan radikuala. Kecuali untuk kelapa sawit mempunyai daging buah, kulit biji dan embrio. Menurut sutopo (2002), bagian-bagian biji terdiri dari 3 bagian dasar : 1. Embrio Embrio adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang berkembangnya sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut : epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), kotiledon (calon daun) dan radikula (calon akar). Tanaman di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya jumlah kotiledon. Tanaman monokotiledon mempunyai satu kotiledon misalnya : rerumputan dan bawang. Tanaman dikotiledon mempunyai dua kotiledon misalnya kacang-kacangan sedangakan pada kelas Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2 kotiledon misalnya pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada rerumputan (grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum, kuncup embrioniknya disebut plumulle yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut koleoptil, sedangkan pada bagian bawah terdapat akar embrionik yang disebut ridicule yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut coleorhiza. 2. Jaringan penyimpan cadangan makanan Pada biji ada beberapa struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu : a. Kotoledon, misalnya pada kacang-kacangan, semangka dan labu. b. Endosperm, misal pada jagung, gandum, dan golongan serelia lainnya. Pada

kelapa bagian dalamnya yang berwarna putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya. c. Perisperm, misal pada famili Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae d. Gametophytic betina yang haploid misal pada kelas Gymnospermae yaitu pinus. Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan presentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi mengandung banyak karbohidrat. 3. Pelindung biji Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta. Dalam hal penggunaan cadangan makanan terdapat beberapa perbedaan diantara sub kelas monokotiledon dan dikotiledon dimana pada : • Sub kleas monokotiledon: cadangan makanan dalam endosperm baru akan dicerna setelah biji masak dan dikecambhakan serta telah menyerap air. Contoh jagung, padi, gandum. • Subkelas dikotiledon : cadangan makanan yang terdapat dalam kotileodon atau perisperm sudah mulai dicerna dan diserap oleh embrio sebelum biji masak. Contoh kacang-kacangan, bunga matahari dan labu. C. Perkecambahan Biji yang dilakukan perkecambahan pada tanaman dikotil yaitu jagung dan padi sedangkan pada biji dikotil yaitu : kacang tanah, kacang panjang, kacang kedelai dan kacang hijau. biji jagung pada hari pertama sudah menunjukkan pembengkakan sedangkan padi pembengkakan ditunjukan pada hari kedua. Pada hari kedua jagung sudah muncul akar dan tunas, sedangkan padi pada hari ketiga. Tipe perkecambahan pada tanaman tersebut yaitu tipe hipogeal. Biji dari tanaman dikotil yang lambat perkecambahnnya yaitu kacang tanah, dimana pada umur 7 hari baru menunjukan panjang radikula 1,5 cm. Kacang Hijau menunjukan perkecambahan yang tercepat pada umur 7 hari mencapai 10 cm dan 2 daun. Tipe perkecambhan pada tanaman dikotil ini yaitu tipe perkecambahan epigeal. Menurut Sutopo (2002) tipe perkecambahan epigeal adalah dimana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah. Sedangkan tipe hipogeal dimana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah. Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari

perubahan-perubahan morfologi, fisologi, dan biokimia. Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma. Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah asimililasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi baru. Kegiatan pembentukan komponen dan pertumbuhan sel baru. Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh. Sementara penyerapan air oleh benih terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 – 60 % (atau 67 – 150 % atas dasar berat kering). Dan akan meningkat lagi pada saat munculnya radikula sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang tumbuh mempunyai kandunga air 70 - 90 %. Metabolisme sel-sel mulai setelah menyerap air yang meliputi reaksi-rekasi perombakan yang biasa disebut katabolisme dan sintesa komponen-komponen untuk pertumbuhan disebut anabolisme. Proses metabolisme ini akan berlangsung terus dan merupakan pendukung dari pertumbuhan kecambah sampai tanaman dewasa. Pada proses perkecambahan ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi : tingkat kemasakan benih, ukuran benih, dormasni, dan penghambat perkecambahan. Sedangkan faktor luar meliputi : air, temperatur, oksigen, cahaya dan medium. Tingkat kemasakan benih. Biji yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai, tidak mempunyai viabilitas tinggi, bahkan pada beberapa jenis tanaman benih demikian tidak akan dapat berkecambah. Di duga pada tingkatan tersebut benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan embrio terjadi sempurna. Ukuran benih : di dalam jaringaa penyimpananya benih memiliki karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Di mana bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi pada saat perkecambahan. Di duga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingkan yang kecil, mungkin pula embrionya lebih besar. Ukuran benih menunjukkan korelasi positif terhadap kandungan protein pada benih sorgum, makin besar/berat ukuran benih maka kandungan proteinnya makin meningkat pula. Dormansi : suatu benih dikatakan dorman apabila benih itu sebenarnya viable (hidup) tetapi tidak mau berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahannya. Periode dormansi ini dapat berlangsung musiman atau dapat juga selama beberapa tahun, tergantung pada jenis benih dan tipe dormansinya. Dormansi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lin : impermiabilitas kulit biji baik terhadap gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio yang rudiameter, dormnsi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan. Tetapi dengan perlakuan khusus maka benih yang dorman dapat dirangsang untuk berkecambah, misal : perlakuan stratifikasi, direndam dalam laruta sulfat, dan lain lain.

Penghambat perkecambahan : banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat perkecambahan benih yaitu : larutan dengan tingkat osmotik tinggi, misal larutan manitol, larutan NaCl, bahan-bahan yang mengganggu lintasan metabolisme, herbisida, auksin, coumarin dan bahan-bahan yang terkandung dalam buah. Air : air merupakan salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan. Dua fakor yang mempengaruhi penyerapan air oleh benih adalah sifat dari benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan junlah air yang tersedia pada medium di sekitarnya. Banyaknya air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benih. Tetapi umumnya tidak melampaui dua atau tiga kali dari berat keringnya. Tingakat pengambilan air juga dipengaruhi oleh temperatur, temperatur yang tinggi menyebabkan meningkatknya kebutuha air. Temperatur : temperatur merupakan syarat penting kedua bagi perkecambahan benih. Temperatur optimum adalah temperatur yang paling menguntungkan bagi berlangsungnya perkecambahan. Pada kisaran temperatur ini terdapat persentase perkecambahan yang tertinggi. Temperatur optimum bagi kebanyakan benih tanaman benih antara 26,5 – 35oC. Di bawah itu pada temperatur minimum terendah 0 – 5oC kebanyakan jenis benih akan gagal untuk berkecambah atau terjadi kerusakan yang mengakibatkan terbentuknya kecambah abnormal. Oksigen : pada proses respirasi akan berlangsung selama benih masih hidup. Pada saat perkecambahan berlangsung proses respirasi akan meningkat disertai pula dengan meningakatnya pengambilan oksogen dan pelepasan karbondioksida, air dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan mengakibatkan terhambatnya proses perkecambhan benih. Cahaya : hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan benih dikontrol oleh suatu sistem pigmen yang dikenal sebagai phytochrome yang tersusun dari chromophore dan protein. Chromophore adalah bagian yang peka pada cahaya. Benih yang dikecambahakan dalam kedaan gelap dapat menghasilkan kecambah yang mengalami etiolasi yaitu terjadinya pemanjangan yang tidak normal pada hipokotil atau epikotilnya, kecambah berwarna pucat serta lemah. Medium : medium yang baik untuk perkecambahan haruslah mempunyai sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyimpan air dan bebas dari organisme penyebab penyakit utama cendawan ”damping of”. Tanah dengan tekstur lempung berpasir dan dilengkapi dengan bahan-bahan organik merupakan medium yang baik untuk kecambah yang ditransplantingkan ke lapangan. Pasir dapat digunakan sebagai medium dipersemaian. Kondisi fisik dari tanah sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan berkecambah menjadi tanaman dewasa. Benih akan terhambat perkecambahnnya pada tanah yang padat, karena benih berusaha keras untuk menembus ke permukaan tanah. Selain medium, tingkat kedalaman penanaman benih juga dapat mempengaruhi perkecambahan benih. Hal ini juga mempunyai hubungan erat dengan kondisi fisik tanah. Pada tanah gembur benih yang ditanam sedikit dalam tidak akan banyak mempengaruhi perkecambahan. Berbeda dengan tanah yang lebih padat dimana sebaiknya benih ditanam tidak terlalu dalam untuk memudahkan kecambah muncul ke permukaan tanaman. Tatapi harus diingat jangan sampai menanam benih terlalu dangkal. D. DAFTA PUSTAKA

http://www.wikipedia.com./perkecambahan http://www.wikipedia.com./kecambah http://organisasi.org/ciri_ciri_dan_perbedaan_tumbuhan_pohon_monokotil_dan_ dikotil_biji_berkeping_satu_dan_dua_ilmu_sains_biologi Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW

Teknologi Produksi Kacang Hijau
Oleh: infotech25 Pendahuluan Kebutuhan kacang hijau dalam negeri diperkirakan 290.000 ton pertahun, sedangkan produksinya diperkirakan 261.280 ton per tahun sehingga untuk memenuhi diperlukan impor sebesar 28.720 ton per tahun. Peluang ini ditunjang dengan sifat tanaman kacang hijau yang berumur pendek, tahan kekeringan, dapat ditanam di tanah yang kurang subur, mudah dibudidayakan, serta harga jual hasil panennya stabil. Keberhasilan usaha tani kacang hijau dipengaruhi oleh tersedianya benih bermutu dan varietas unggul dan teknologi produksi yang mudah diterapkan petani. Teknologi Produksi 1. Persiapan Lahan • Apabila lahan yang akan ditanami kacang hijau berupa lahan kering, pengolahan tanah diupayakan tidak terlalau basah dan juga tidak terlalu kering. Tanah dibajak atau di cangkul, kemudian digaru hingga strukturnya gembur. Setelah itu, tanah diratakan sambil dibersihkan dari sisa – sisa rumput atau kotoran lain. • Apabila dilahan sawah, tanam kacang hijau dilakukan setelah tanaman padi sehingga

tidak diperlukan pengolahan tanah. Hanya yang diperlukan yaitu pembuatan saluran drainase untuk membuang kelebihan air pada fase awal pertumbuhan (gambar 1). • Struktur tanah ringan, drainase baik, dan pH sekitar 5,8 – 6,5. 2. Tanam • Dilahan sawah, kacang hijau ditanam pada marengan (akhir musim hujan), dilahan sawah tadah hujan ditanam pada musim hujan dan marengan, sedangkan dilahan kering (tegal) ditanam pada awal musim hujan (labuhan) sampai marengan. • Dibuat lubang tanam dengan cara ditugal sedalam 3–4 cm pada jarak tanam 25–40 cm x 15–25 cm. • Benih 2- 3 butir diletakkan dalam masing – masing lubang tanam. • Permukaan tanah ditutup dengan mulsa jerami untuk menjaga kelembaban tanah, menekan pertumbuhan gulma dan menstabilkan suhu tanah. 3. Pemeliharaan Kegiatan pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah : a. Penyulaman Sebelum umur 1 minggu setelah tanam, benih yang tidak tumbuh, tanaman yang tumbuh tidak normal, atau tanaman yang tumbuh tidak seragam, diganti dengan benih yang baru. b. Penyiangan • Penyiangan dilakukan 1 – 2 kali, tergantung keadaan gulmanya. • Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur 2 minggu dan kedua pada tanaman umur 4 minggu. • Apabila keadaan tanah terlalu lembab saat penyiangan, sebaiknya penyiangan ditunda beberapa hari sampai tanah tidak basah, untuk menghindari rusaknya akar tanaman kacang hijau akibat penyiangan. c. Pemupukan • Untuk dapat tumbuh baik, tanaman kacang hijau membutuhkan pupuk 50 kg Urea, 50 – 75 kg SP36, dan 50 – 75 kg KCl per ha. • Setengah takaran urea dan seluruh takaran SP36 dan KCl diberikan pada saat tanam sebagai pupuk dasar dengan cara meletakkanya disamping lubang tanam dengan jarak 5 cm. • Sisa takaran urea diberikan saat tanaman berumur 4 minggu, setelah penyiangan kedua. d. Pengairan • Tanaman kacang hijau lebih tahan terhadap kekeringan dari pada kedelai. Namun demikian, ketersediaan air sangat dibutuhkan, terutama pada fase perkecambahan, fase pembungaan, dan fase pengisisan polong. • Pengairan diberikan secukupnya dan tidak sampai tergenang. • Pada musim kemarau, pengairan dilakukan terutama pada fase pembungaan dan pengisian polong. e. Pengendalian Hama Dan Penyakit • Hama yang biasa menyerang kacang hijau antara lain lalat kacang (Agromyza phaseoli), penggerak polong (Etiella zinckenella), Ulat jengkal (Plusia chalcites), kepik hijau (Nezara viridula), dan ulat penggulung daun (Lamprosema indicate). Penggendalian hama secara kultur teknis dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan tanaman kacang – kacangan dan tanam serempak dalam satu hamparan. Apabila cara – cara ini

kurang berhasil, pengendalian dilakukan dengan menggunakan insektisida sistemik seperti Furadan 3G yang diberikan saat tanam atau menyemprot tanaman dengan insektisida anjuran. • Penyakit yang selalau dijumpai pada tanaman kacang hijau antara lain bercak daun (Cercospora crenta), layu (Sclerotium rolfsili), kudis (Elsinoe iwatal), embun tepung (Oidium sp), dan virus mozaik. Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas tahan penyakit, sanitasi lapangan untuk mengendalikan tanaman inang, serta eradikasi tanaman sakit. Apabila cara ini kurang berhasil, tanaman disemprot dengan fungisida anjuran. 4. Panen • Saat panen ditandai dengan polong berwarna cokelat dan biji telah keras. • Waktu pemasakan polong umumnya tidak serempak (kecuali varietas bhakti), sehingga panen dilakukan 2 – 3 kali dengan cara memetik polong. • Ketepatan panen untuk kacang hijau sangat penting karena polongnya mudah pecah kalau kering sehingga banyak biji yang hilang dilapang. • Waktu panen sebaiknya tidak dilakukan saat hujan atau pagi hari (masih ada embun) karena akan meningkatkan kadar air biji. 5. Perlakuan Pasca Panen a. Pengeringan polong Polong dikeringkan dibawah sinar matahari ditempat yang diberi alas terpal atau anyaman bambu karena sebagaian besar polong akan pecah selama proses pengeringan. Apabila kadar air biji sudah 15 % (lama pengeringan 2 – 4 hari tergantung cuaca) yang ditandai oleh pecahnya sebagaian besar polong, maka pengeringan dihentikan. b. Perontokan Polong yang telah kering selanjutnya dirontok secara manual dengan dipukul menggunakan alat pemukul dari kayu atau dirontok dengan mesin perontok (threser). Setelah itu biji dipisahkan dari kotoran fisik dengan menggunakan tampi atau alat pembersih awal (scalper) yang yang terdiri dari satu ayakan dan blower. Teknologi Produksi Benih Jika kebutuhan benih per ha adalah 25 kg/ha, maka kebutuhan benih kacang hijau nasional diperkira – kirakan 6.042 ton. Di Indonesia belum ada industri benih yang mengusahakannya, bahkan penagkar benih pun masih jarang yang mengusahakannya melalui proses sertifikasi. Oleh karena itu, peluang usaha untuk produksi benih kacang hijau bersertifikat masih sangat terbuka. Teknologi produksi benih pada prinsipnya sama dengan teknologi produksi kacang hijau untuk konsumsi, hanya perlu memperhatikan beberapa hal berikut : 1. Pemilihan Lokasi Kacang hijau termasuk tanaman yang menyerbuk sendiri sehingga lokasi – lokasi perbenihan diisolasi minimal 3 m dari pertanaman kacang hijau untuk konsumsi, atau isolasi waktu 15 hari dari saat tanam kacang hijau untuk konsumsi (tabel 1). • Lahan yang digunakan adalah bekas tanaman kacang hijau yang varietasnya sama, atau bekas bukan tanaman kacang hijau, atau bekas lahan yang diberakan. Apabila menggunakan bekas tanaman kacang hijau varietas berbeda, maka lahan diberakan

dahulu selama 3 bulan. • Struktur tanah ringan, berdrainase baik, dan pH sekitar 5,8 – 6,5 2. Benih Sumber Benih sumber harus dari kelas yang lebih tinggi dan dari varietas yang dianjurkan seperti walet dan sriti. 3. Pemeliharaan a. Penyulaman Apabila sebelum umur 1 minggu setelah tanam dijumpai benih yang tidak tumbuh, tanaman yang tumbuh tidak normal, atau tanaman yang tumbuh tidak seragam, maka tanaman – tanaman ini dicabut dan pada lubang tanamannya ditanami benih baru. b. Roguing (seleksi) • Roguing dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu setelah tanam, pada fase berbunga dan saat menjelang panen. • Roguing pertama dilakukan terhadap warna hipokotil tanaman. Tanaman yang memiliki warna hipokotil yang tidak sesuai dengan deskripsi varietas, dicabut. 4. Perlakuan Pasca Panen • Polong dan hasil panen ditampung ditenpat penerimaan unit pengolahan benih. Polong – polong yang terserang hama dan penyakit serta polong muda dipisahkan dari polong baik. Selanjutnya polong dikeringkan sampai kadar air biji 14 – 15 %, atau lama pengeringan 2 – 4 hari tergantung cuaca. • Polong yang telah kering selanjunya dirontok untuk mendapatkan benih. Setelah itu benih dipisahkan dari kotoran fisik dengan menggunakan tampi atau alat pembersih awal (scalper) yang terdiri dari satu ayakan dan blower. • Selanjutnya benih dikeringkan kembali untuk mendapatkan kadar air 11 – 12 %, sesuai untuk penyimpanan atau penyaluran benih. • Penentuan kadar air benih selama pengeringan dapat dilakukan di laboratorium dengan menimbang secara periodik bobot sample benih. Bila bobot sampel benih telah mencapai bobot yang konstan, pengeringan dapat dihentikan. • Benih dibersihkan dengan ayakan atau tampi sehingga dapat dipisahkan dari kotoran benih varietas lain, maupun biji gulma yang mungkin ada. Selanjutnya benih yang telah bersih dipilah untuk mendapatkan benih yang seragam ukuran dan bobotnya dengan menggunakan alat air screen cleaner. Benih yang telah bersih dan terpilah siap diambil contohnya untuk pengujian di laboratorium pengujian mutu bersih. Selama menunggu hasil pengujian, benih dikemas dan disimpan sementara. Standar pengujian laboratorium benih kacang hijau bersertifikat disajikan pada tabel 2. • Benih disimpan dalam wadah kaleng atau drum yang bersih serta bebas hama penyakit atau cara sederhana disimpan dengan wadah simpan yang berupa botol yang ditutup rapat, bila perlu diberi parafin. Kemasan benih diletakkan dalam rak – rak atau lantai beralas kayu agar tidak langsung berhubungan dengan lantai.

Kecambah kacang hijau (Taoge)

Taoge dari biji kacang hijau Taoge adalah sayuran yang merupakan tumbuhan muda yang baru saja berkecambah dan dilindungi dari cahaya. Kata taoge sendiri adalah serapan dari dialek Hokkian, istilah Mandarin-nya adalah douya (豆芽) yang secara harfiah berarti kecambah kacangkacangan, umumnya berasal dari kacang hijau dan sering disajikan dalam menu makanan dari Asia Timur. Taoge segar sangat kaya akan vitamin E, dan merupakan menu yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. Dengan mengonsumsi taoge, tubuh akan terobati dan tercegah dari kekurangan vitamin E[3].

Germination is the process whereby growth emerges from a period of dormancy. The most common example of germination is the sprouting of a seedling from a seed of an angiosperm or gymnosperm. However, the growth of a sporeling from a spore, for example the growth of hyphae from fungal spores, is also germination. In a more general sense, germination can imply anything expanding into greater being from a small existence or germ. terjemahan gaya bebas : pengecambahan pertumbuhan mana cara muncul dari periode musim dingin . paling umum contoh pengecambahan mulai tumbuh semaian dari bibit angiosperm atau gymnosperm . bagaimanapun , pertumbuhan sporeling dari sepora , untuk contoh pertumbuhan hyphae dari fungal sepora , juga pengecambahan . di lebih merasakan jend , pengecambahan dapat menyiratkan apapun ber;kembangkan ke dalam lebih besar menjadi dari adanya kecil atau kuman

b. Perkecambahn hipogeal adalah tumbuhnya epikotil yang memanjang sehingga plumula keluar menembus kulit biji dan muncul diatas permukaan tanah, sedangkan kotiledon tertinggal dalam tanah contoh perkecambahan kacang kapri, kacang ercis, jagung dan rumput-rumputan. ahapidin.blogspot.com/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->