P. 1
ANALISIS KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI KORBAN KONFLIK ANTAR-ETNIS DI SAMBAS

ANALISIS KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI KORBAN KONFLIK ANTAR-ETNIS DI SAMBAS

|Views: 805|Likes:
Published by thefebsmypoetz
bagaimana memahami kebijakan relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap korban konflik antar-etnis di sambas kalimantan barat
bagaimana memahami kebijakan relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap korban konflik antar-etnis di sambas kalimantan barat

More info:

Published by: thefebsmypoetz on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Konflik antar-etnis yang terjadi di Sambas merupakan konflik yang kompleks sehingga sangat sulit bagi Pemerintah untuk menyelesaikan konflik tersebut secara tuntas. Kompleksitas permasalahan yang timbul pada konflik tersebut dimulai pada krisis moneter yang mulai terasa dampaknya di Indonesia pada saat itu, dilanjutkan dengan sub-kultur etnis dayak yang beringas dan dipicu lagi dengan perilaku masyarakat pendatang, yang menurut masyarakat lokal, yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat lokal. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemda sebagai birokrasi yang berwenang pada sektor lokal, harus mengeluarkan kebijakan yang berjangka panjang atau

berkesinambungan. Dari gambaran yang dipaparkan Achmad Ridwan, penulis mengutip bahwa ada beberapa karakteristik kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah dalam rangka penyelesaian konflik yang sustainable atau berjangka panjang, diantaranya adalah: pertama, Kebijakan harus bersifat Participation, keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsung maupun tidak langsung atau melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkan aspirasi. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif. Kedua, Kebijakan harus berlandaskan Rule of Law, kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu. Consensus Orientation, berorientasi pada kepentingan masyarakat yang lebih luas dan tidak berpihak pada satu golongan saja. Equity, setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dan keadilan. Faktor ini sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia (Kalbar) yang majemuk, karena hukum ditempatkan pada tingkat paling tinggi.1

1

Achmad Ridwan Blog, ³Refleksi Sepuluh Tahun Konflik Sambas´, http://achmadridwan.blogspot.com/2009/01/tiga -waktu-tiga-peristiwa.html, diakses pada tanggal 3 April 2009.

1

Terdapat beberapa faktor yang secara umum menyebabkan terjadinya konflik etnik di Sambas, faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut. Pertama, meningkatnya angka kriminalitas yang diyakini dilakukan oleh bagian tertentu kelompok pemuda Madura, dan ketidak mampuan aparat keamanan dalam mengatasi tindak kriminalitas tersebut. Kedua, Tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat lokal. Tekanan ini disebabkan oleh masuknya pemilik modal besar dalam pengelolaan produksi jeruk dan hasil laut. Ketiga, tekanan kependudukan yang dirasakan oleh masyarakat lokal akibat membanjirnya migran Madura ke Sambas. Dua tekanan ini mengakibatkan menciutnya sumber ekonomi mereka. Suku Madura, dipandang oleh masyarakat lokal, yaitu suku Melayu dan Dayak, sebagai kelompok yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan tradisi lokal, khususnya dalam kegiatan ekonomi, menjadi target kemarahan mereka. Pandangan ini telah mengubur kohesi sosial di tingkat komuniti antara masyarakat lokal dengan Madura yang telah lama hidup di sambas. Tingkat kemarahan masyarakat lokal yang sudah memuncak tersebut menimbulkan stereotipe tentang masyarakat Madura oleh masyarakat lokal sebagai ³masyarakat yang berkarakter kasar, arogan, keras, mudah tersinggung dan mau menang sendiri´, apalagi ditambah dengan kebiasaan unik masyarakat Madura yang selalu membawa celurit dan sering menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan.2 Hal itu menyebabkan masyarakat lokal memiliki anggapan bahwa dimanapun masyarakat Madura berada mereka akan menyebabkan kekacauan, sehingga akibatnya pascakonflik antar-etnis di Sambas masyarakat lokal cenderung tidak mau menerima kehadiran masyarakat Madura di daerah mereka. Hal ini ditegaskan dengan pernyataan empat suku yang bermukim di Sambas, yaitu Melayu, Dayak, Bugis dan Cina, yang menolak warga suku Madura berada di wilayah mereka (Kompas edisi Jumat, 26 Mar 1999 ³Pangab: Sambas Tak Akan Jadi DOM´). Hal ini menimbulkan persoalan baru dalam penanganan korban konflik Sambas. Persoalan yang muncul yaitu bagaimana kebijakan pemerintah baik pada level lokal maupun pusat merelokasi pengungsi korban konflik Sambas dalam kondisi
2

Setiadi, ³Korban Menjadi Korban: Perempuan Madura Pascakonflik Sambas (Seri Laporan no. 161) ´, PSKK UGM dan Ford Foundation, Yogyakarta:2005, h al. 37-40.

2

masyarakat lokal yang tidak mau menerima kehadiran masyarakat Madura sebagai korban konflik?. Salah satu kebijakan yang penting dalam tahapan penyelesaian konflik adalah kebijakan relokasi pengungsi. Kebijakan relokasi harus didukung dengan pemilihan tempat relokasi yang tepat. Pada konteks relokasi pengungsi Sambas yang kehadirannya tidak diterima oleh masyarakat lokal, seperti yang telah dipaparkan di atas, pemerintah harus menyiapkan tempat pengungsian yang masyarakatnya lebih bersahabat dengan para pengungsi. Usaha relokasi juga harus menyertakan pendapat masyarakat lokal yang bersangkutan. Jika masyarakat tidak dilibatkan untuk menerima kehadiran pengungsi tersebut, relokasi hanya akan memindahkan masalah ke tempat yang baru. Penolakan terhadap etnis pendatang ini juga terjadi di kabupaten Ketapang, yang ditunjukkan dengan pernyataan menolak menerima kehadiran transmigran yang sebelumnya pengungsi dari Kabupaten Sambas oleh 120 tokoh masyarakat, pemuda dan mahasiswa di Kabupaten Ketapang, Kalbar. Akibatnya, satu-satunya solusi untuk relokasi pengungsi korban konflik Sambas adalah memindahkan para pengungsi tersebut ke sebuah pulau atau kawasan lain yang belum berpenduduk. 3 Hal itu menegaskan kepada pemerintah provinsi agar bersikap hati-hati dan bijaksana dalam memilih tempat pengungsian, hal itu penting agar tidak terjadi permasalahan baru di tempat pengungsian yang baru. Dan hal tersebut ditanggapi pemerintah provinsi dengan menyiapkan dua pulau yang memiliki potensi sebagai tempat relokasi pengungsi. Pada umumnya kebijakan pemerintah terhadap masalah relokasi korban konflik Sambas, menurut penulis, sebagian besar telah benar. Kebijakankebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada umumnya antara lain, yaitu: Keputusan cepat yang diambil oleh pemerintah pusat untuk mengerahkan kapalkapal TNI-AL dan PELNI untuk mengangkut korban-korban konflik etnis yang ingin mengungsi keluar Kalbar, terutama kembali ke tanah Madura di Jawa Timur, merasa keberatan dengan membanjirnya pengungsi ke daerahnya. Selanjutnya kebijakan Pemerintah Daerah melalui Surat Keputusan Gubernur
3

Kompas edisi Jumat 26 Mar 1999 hal. 7, ³Pangab: Sambas Tak Akan Jadi DOM´,

3

Kalimantan Barat Nomor : 143 Tahun 2002 tentang Pembentukan Team Gabungan Penanggulangan Pengungsi Pasca Kerusuhan Sosial di Kalimantan Barat dan Perda No. 10 tahun 2005 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Barat tahun 2006 ± 2008 tanggal 31 Oktober 2005; khususnya pada Bab tentang Agenda Mewujudkan Kalimantan Barat Harmonis dalam Etnis. Selain itu, dalam penanganan pengungsi, pemprov menyiapkan anggaran 5 Milyar untuk relokasi sementara di stadion Sultan Syarief Abdurrachman, Gedung Olah Raga (GOR) Pangsuma, GOR Bulutangkis Bumi Khatulistiwa, Stadion Universitas Tanjung Pura, Asrama Haji, gudang Sei. Jawi dan rumah-rumah penduduk di kawasan Siantan, Pontianak Utara. Dan menyiapkan tempat pengungsian tetap di empat kecamatan di Kabupaten Pontianak dan dua pulau yaitu Tebangkacang dan Padang Tikar yang masih banyak memiliki lahan tidur untuk digarap oleh pengungsi dengan bantuan donatur. Permasalahan yang muncul pada kebijakan relokasi korban konflik Sambas tersebut terletak pada kebijakan yang terlambat diambil, terutama kebijakan pada level Pemerintah daerah, yang menyebabkan banyak korban konflik tersebut terabaikan, ditambah lagi dengan masyarakat lokal yang menolak masyarakat Madura kembali ke Sambas dan kantung-kantung konflik lain di wilayah Kalbar. Permasalahan lain yaitu para pengungsi yang terabaikan di pengungsian sementara tersebut menolak rencana relokasi mereka ke Tebangkacang, alasannya, selain kawasan yang jauh dari kota, masyarakat yakin bahwa lahan tidur di pulau tersebut tidak cocok untuk bercocok tanam. Jika dilihat hubungannya pada relokasi pengungsi konflik Sambas, terdapat ketentuanketentuan dalam merelokasi pengungsi, dalam ketentuan dari UNHCR tahun 2006, kebijakan relokasi pengungsi hendaknya memenuhi tiga persyaratan, yaitu: (1) mempromosikan kebebasan dan Hak Azasi Manusia; (2) membangun indikasi terhadap fleksibilitas kebijakan pemerintah dalam penanganan pengungsi, seperti akses terhadap pendidikan, baik formal maupun non-formal; (3) mempromosikan akses pengungsi pada peluang untuk mendapatkan penghasilan. Sekadar informasi yang dikutip dari Kompas edisi Selasa, 06 Jul 1999 Halaman: 17, praktik relokasi pengungsi di pengungsian sementara yang disediakan pemerintah belum

4

memenuhi ketentuan UNHCR tersebut, kondisi di pengungsian benar-benar memperihatinkan, hal ini ditunjukkan dengan mulai mewabahnya penyakit paruparu, diare, dan tifus, Keadaan ini diperparah dengan kurangnya perhatian terhadap sanitasi, kesehatan individu, serta buruknya gizi dan kebersihan lingkungan di pengungsian, akibatnya, total 163 pengungsi di seluruh lokasi pengungsian di Kalbar meninggal dunia. Belum lagi ditambah akses pendidikan yang hanya mengandalkan LSM-LSM dan masyarakat sekitar yang prihatin serta kurangnya akses pekerjaan yang mengharuskan para pengungsi mengemis di jalan-jalan dan rumah-rumah sekitar untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Jadi, meskipun perencanaan pemerintah cukup bagus dalam kebijakan relokasi, penulis menilai implementasi kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah daerah dalam menangani program relokasi ini cenderung kurang berhasil. Hal tersebut menarik perhatian penulis untuk menganalisa mengapa kebijakan-kebijakan relokasi pengungsi yang dikeluarkan dan diimplementasikan oleh Pemprov tidak berhasil secara efektif. Sebagai asumsi awal dari penulis, hal ini ditunjukkan dengan adanya indikator-indikator kurangnya efektivitas implementasi kebijakan relokasi tersebut, antara lain yaitu: Pertama, lambatnya respon dan tanggapan pemerintah pada level provinsi dalam proses relokasi pengungsi korban konflik Sambas. Kedua, para pengungsi Madura dan masyarakat lokal tidak diikut sertakan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program relokasi, sehingga kebijakan tersebut tidak transparan dan partisipatif. Ketiga, adanya bias etnis yang terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam pemilihan tempat relokasi, yang sebagian besar masyarakat lokal tidak mau menerima para pengungsi Madura. Keempat, lemahnya koordinasi antar lembaga pemerintah provinsi dan lembaga independen lain dalam proses implementasi kebijakan, sehingga masing-masing lembaga memiliki agenda sendiri. Tujuan penelitiannya yaitu untuk membuat rekomendasi kebijakan relokasi alternatif yang efektif dalam permasalahan relokasi pengungsi korban konflik antar-etnis di Sambas.

5

RUMUSAN PERMASALAHAN Dari paparan diatas, batasan permasalahan dan pertanyaan penelitian yang akan diteliti antara lain, yaitu: Mengapa implementasi kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas yang dikeluarkan oleh pemprov tidak berjalan secara efektif?

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teoritis Dalam permasalahan µkebijakan relokasi koban konflik antar-etnis di Sambas yang tidak berjalan secara efektif ini¶, abstraksi permasalahan yang didapat adalah µanefektifitas kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas¶. Anefektifitas yang dimaksud adalah tidak efektifnya kebijakan relokasi pengungsi yang ditunjukkan dengan adanya indikator-indikator tertentu. Indikator-indikator tersebut ditunjukkan di dalam kerangka konseptual di bawah.

Framework / kerangka konseptual: ANEFEKTIFITAS KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI KORBAN KONFLIK SAMBAS anefektifitas kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas

Lambatnya respon dan tanggapan dari pemprov dalam proses relokasi

Sistem penanganan pengungsi yang tidak transparan dan partisipatif

Bias etnis yang terjadi pada seluruh lapisan masyarakat lokal

Lemahnya koordinasi antar-lembaga pemerintah dan lembaga independen lain pada level lokal

Dari kerangka konseptual tersebut, permasalahan anektifitas kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas sangat dipengaruhi oleh lambatnya respon pemerintah dalam penanganan pengungsi dan kebijakan pemerintah pada level lokal yang tidak melibatkan masyarakat Kalbar. Hal ini menyebabkan 7

pemerintah gagal mencegah terjadinya penolakan-penolakan yang dilakukan oleh masyarakat lokal terhadap para pengungsi yang ingin mengungsi di wilayah mereka hal ini juga menyebabkan lemahnya koordinasi antara pemerintah dan lembaga-lembaga independen lain. Permasalahan umum yang terjadi adalah persoalan tata pemerintahan yang baik. Kebijakan yang seharusnya diambil untuk menyelesaikan permasalahan relokasi pengungsi ini adalah kebijakan yang sesuai dengan tahapan kebijakan Good Governance. Dari tahapan kebijakan yang didapat penulis dari mata kuliah Tata Pemerintahan yang diampu oleh Dr. Purwo Santoso dan Riza Noer Arfani, MA. Tipe kebijakan Domestik ini merupakan salah satu dari tiga tipe kebijakan lain, yaitu: tipe Kebijakan Pertahanan Keamanan dan Luar negeri dan tipe Kebijakan Krisis. Tipe kebijakan Domestik adalah Kebijakan yang dibuat untuk memecahkan persoalan di dalam negeri, yang terdiri dari empat tipe kebijakan, diantaranya yaitu:
y y y y

Distributive Competitive regulatory Protective regulatory Redistributive

y

Distributive Policy Adalah kebijakan dan program-program yang dibuat oleh pemerintah

dengan tujuan untuk mendorong kegiatan di sektor swasta atau kegiatan-kegiatan masyarakat yang membutuhkan intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi atau sejenisnya di mana kegiatan tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya campur tangan pemerintah tersebut. Subsidi yang diberikan oleh pemerintah bisa mengambil beberapa bentuk: Cash atau in-kind (hadiah, pinjaman dengan bunga lunak, penurunan pajak, dsb.). Subsidi yang diberikan oleh pemerintah dapat dimaksudkan untuk mendatangkan efek: (1) Positif (masyarakat mau melakukan aktivitas yang dikendaki pemerintah); (2) Negatif (masyarakat tidak melakukan aktivitas yang tidak disukai pemerintah).

8

Persoalan yang muncul dalam pembuatan kebijakan distributif adalah asumsi yang dipakai selama ini seolah antara kebijakan distributif yang satu dengan yang lain tidak berhubungan. Persoalan lain yang muncul adalah dalam kenyataannya anggaran pemerintah sangat terbatas, sehingga kebijakan distributif yang dibuat oleh pemerintah dapat bersifat zero sum game di mana pembuatan kebijakan yang satu akan berimplikasi pada hilangnya kebijakan yang lain.

y

Kebijakan Kompetitif Regulatif

Kebijakan atau program yang dimaksudkan untuk membatasi siapa yang boleh menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Asumsi yang dipakai adalah: Barang dan jasa yang dibutuhkan merupakan barang langka sehingga tidak mungkin mengijinkan semua masuk di dalamnya contoh frekuensi radio. Asumsi lain yaitu ada keperluan untuk menstandardisasi jenis barang/jasa demi keselamatan konsumen.

y

Kebijakan Protektif Regulatif

Kebijakan atau program-progran yang bersifat protektif dibuat oleh pemerintah dengan maksud untuk melindungi masyarakat dengan mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh sektor swasta. Aktivitas-aktivitas yang dapat merugikan atau membahayakan masyakarat tidak akan diijinkan untuk dijual di pasar oleh sektor swasta. Kondisi yang dipertimbangan sangat diperlukan untuk melindungi kepentingan masyarakat harus diatur oleh pemerintah.

y

Kebijakan Redistributif

Kebijakan redistributif adalah kebijakan atau program yang dibuat oleh pemerintah dengan tujuan dapat meredistribusikan kekayaan, hak kepemilikan, dan nilai-nilai yang lain diantara berbagai klas sosial masyarakat atau etnisitas di dalam masyarkat. Tujuan kebijakan redistributif adalah untuk mencegah ketimpangan yang makin lebar pada masyarakat. Asumsi yang dipakai dalam pembuatan kebijakan ini adalah bahwa kompetisi yang terjadi di dalam masyarakat akan menghasilkan ³pemenang´ dan ³pecundang´.

9

Hubungan tipe kebijakan ini dengan permasalahan kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas ada pada tahapan kebijakan redistributif. Pada permasalahan yang dibahas, kebijakan pemerintah untuk meredistribusikan nilainilai etnisitas dalam rangka menyelesaikan konflik Sambas ini sampai tuntas. Ketimpangan yang terjadi adalah tidak diterimanya kembali etnis pendatang yang dalam tipe ini disebut sebagai ³pecundang´ oleh masyarakat lokal. Disini pemerintah pada level lokal dituntut untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan menerapkan kebijakan yang dapat meminimalisasikan ketimpanganketimpangan tersebut, sehingga konflik susulan dapat dihindari. Anektifitas kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas ini disebabkan karena tata kelola pemerintahan yang tidak cukup baik. Teori-teori yang sesuai dengan permasalahan ini yaitu: 1. Teori Good Governance4

A. United Kingdom Overseas Development Administration (UK/ODA), 1993 UK/ODA menjelaskan karakteristik good governance, yaitu: legitimasi, akuntabilitas, kompetensi, penghormatan terhadap hukum/ hak-hak asasi manusia. Pengertian dari karakteristik-karakteristik yang dimaksud, ialah :
y

Legitimasi Menekankan pada kebutuhan terhadap sistem pemerintahan yang mengoperasikan jalannya pemerintahan dengan persetujuan dari yang diperintah (rakyat), dan juga menyediakan cara untuk memberikan atau tidak memberikan persetujuan tersebut.

y

Akuntabilitas Mencakup eksistensi dari suatu mekanisme (baik secara konstitusional maupun keabsahan dalam bentuknya) yang meyakinkan politisi dan pejabat pemerintahan terhadap aksi perbuatannya dalam penggunaan sumber-sumber publik dan performan perilakunya. Akuntabilitas

4

Indo Skripsi Online, ³Beberapa Pemikir Tentang Good Governance´, www.indoskripsi.com, diakses pada tanggal 26 Juni 2009.

10

membutuhkan keterbukaan dan kejelasan serta keterhubungannya dengan kebebasan media.
y

Kompetensi Pemerintah harus menunjukkan kapasitasnya untuk membuat kebijakan yang efektif dalam setiap proses pembuatan keputusannya, agar dapat mencapai pelayanan publik yang efisien. Pemerintah yang baik membutuhkan kapabilitas manajemen publik yang tinggi, dan menghindari penghamburan dan pemborosan, khususnya pada anggaran militer yang tinggi. Pemerintah harus menunjukkan perhatiannya pada biaya

pembangunan sosial seperti: anti-kemiskinan, kesehatan, dan programprogram pendidikan.
y

Penghormatan terhadap hukum/hak-hak asasi manusia Pemerintah memiliki tugas (bukan hanya yang terdapat pada konvensikonvensi internasional) untuk menjamin hak-hak individu atau kelompok dalam mengekspresikan hak-hak sipil dan politik yang berhubungan dengan kemajemukan institusi. Dalam pandangan UK/ODA, istilah good governance atau good government

tidak dibedakan. Keduanya dianggap sama-sama merujuk aspek-aspek normatif pemerintahan yang digunakan dalam menyusun berbagai kriteria dari yang bersifat politik hingga ekonomi. Kriteria tersebut digunakan dalam merumuskan kebijaksanaan pemberian bantuan luar negeri, khususnya kepada negara-negara berkembang.

B. United Nations Development Program (UNDP) UNDP merekomendasikan beberapa karakteristik governance, yaitu: legitimasi politik, kerjasama dengan institusi masyarakat sipil, kebebasan berasosiasi dan partisipasi, akuntabilitas birokratis dan keuangan (finansial), manajemen sektor publik yang efisien, kebebasan informasi dan ekspresi, sistem yudisial yang adil dan dapat dipercaya. Karakteristik yang dibangun UNDP melalui anggapan dasar sebagai berikut :

11

Gejala-gejala dari kegagalan pemerintah terlihat sebagai keseluruhan yang sama, yaitu: pelayanan yang rendah, kapabilitas kebijakan yang rendah, manajemen keuangan yang lemah, peraturan yang terlalu berbelit-belit dan sewenang-wenang, alokasi sumber-sumber yang tidak tepat. Tetapi UNDP kurang menekankan pada asumsi mengenai superioritas majemuk, multipartai, sistem orientasi pemilihan umum, dan pemahaman bahwa perbedaan bentuk kewenangan politik dapat dikombinasikan dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas dengan cara-cara yang berbeda.
o Hal-hal tersebut juga berkaitan terhadap argumentasi mengenai nilai-nilai

kebudayaan yang relatif; sistem penyelenggaraan pemerintahan yang mungkin bervariasi mengenai respon terhadap perbedaan kumpulan nilai-nilai ekonomi, politik, dan hubungan sosial, atau dalam hal-hal seperti: partisipasi, individualitas, perintah dan kewenangan.
o UNDP menganggap bahwa good governance dapat diukur dan dibangun dari

indikatorindikator tujuannya.

yang

komplek

dan

masing-masing

menunjukkan

Berdasarkan Dokumen Kebijakan UNDP dalam ³Tata Pemerintahan Menunjang Pembangunan Manusia Berkelanjutan´, Januari 1997, yang dikutip dari buletin informasi Program Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia (Partnership for Governance Reform in Indonesia), 2000, disebutkan: Tata pemerintahan adalah penggunaan wewenang ekonomi, politik dan administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga di mana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan kepentingan mereka, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan menjembatani perbedaan-perbedaan di antara mereka. Tata Pemerintahan yang baik (good governance) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
y y

Mengikutsertakan semua; Transparan dan bertanggung jawab;

12

y y y

Efektif dan adil; Menjamin adanya supremasi hukum; Menjamin bahwa prioritas-prioritas politik, sosial dan ekonomi didasarkan pada konsensus masyarakat;

y

Memperhatikan kepentingan mereka yang paling miskin dan lemah dalam proses pengambilan keputusan menyangkut alokasi sumber daya pembangunan.

C. World Bank (Bank Dunia) World Bank, ³Development in Practice, Governance: The World Bank Experience, World Bank Publication, Washington D.C, 1994´ Bank Dunia mengungkapkan sejumlah karakteristik good governance, yaitu: masyarakat sipil yang kuat dan partisipatoris; terbuka; pembuatan kebijakan yang dapat diprediksi; eksekutif yang bertanggung Jawab; birokrasi yang profesional; dan aturan hukum. Karakterisik yang dimaksud Bank Dunia memiliki perbedaan dengan

ODA/UNDP. Bank Dunia menghindari pernyataan mengenai sistem politik dan hak-hak, dan lebih mengacu kepada manajemen ekonomi suatu negara, sumbersumber sosial untuk pembangunan, dan kebutuhan untuk kerangka kerja aturan dan institusi yang dapat diperhitungkan dan jelas (terbuka). Hal demikian banyak ditempatkan untuk manajerial pemerintah dan kapabilitas kebijakan, serta sebagai sumbangan penting terhadap pembangunan ekonomi dan sosial. Meskipun demikian, Bank Dunia juga memberikan catatan terhadap kebutuhan untuk masyarakat sipil yang kuat dan partisipatoris dan pelaksanaan terhadap aturan hukum. Bank Dunia lebih suka menggunakan istilah good (public) governance. Dalam perspektif Bank Dunia, governance adalah sifat dari kekuasaan yang dijalankan melalui manajemen sumber ekonomi dan sosial negara yang digunakan untuk pembangunan. Bank Dunia mengidentifikasi tiga aspek yang terkait dengan governance, yaitu:

13

y y

Bentuk rejim politik (the form of political regime); Proses dimana kekuasaan digunakan di dalam manajemen sumber daya sosial dan ekonomi bagi kegiatan pembangunan;

y

Kemampuan pemerintah untuk mendisain, memformulasikan, melaksan akan kebijakan, dan melaksanakan fungsi-fungsinya.

Dari ketiga aspek tersebut, Bank Dunia memfokuskan pada aspek kedua dan ketiga sesuai dengan kapasitas kelembagaannya. D. OECD¶s Development Assistance Committee (DAC) Good governance memiliki kriteria yang mencakup ruang lingkup sebagai berikut:
y y y

Pembangunan partisipatoris (participatory development); Hak-hak azasi manusia (human rights); Demokratisasi (democratization).

Secara lebih spesifik, ketiganya dijabarkan dalam tolok ukur sebagai berikut: a) Pemerintahan yang mendapat legitimasi (legitimacy of government mencerminkan degree of democratization) ; b) Akuntabilitas politik dan perangkat pejabat pemerintahan (tercermin dari kebebasan pers, pengambilan keputusan yang transparan, mekanisme akuntabilitas); c) Kemampuan pemerintah untuk menyusun kebijakan dan mendistribusikan pelayanan yang baik; d) Komitmen yang nyata terhadap masalah hak asasi manusia dan aturan hukum (baik yang berkaitan dengan hak-hak individu dan kelompok, keamanan, aktivitas sosial dan ekonomi, serta partisipasi masyarakat). E. Ir. Erna Anastasjia Witoelar Dikutip dari bulletin informasi Program Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia (Partnership for Governance Reform in Indonesia), kerja sama antara UNDP, World Bank, ADB beserta negara-negara sahabat, masyarakat madani dan pemerintah Indonesia. Dalam pandangan Erna Witoelar, 14

governance atau tata pemerintahan mempunyai makna yang jauh lebih luas dari pemerintahan. Tata pemerintahan menyangkut cara-cara yang disetujui bersama dalam mengatur pemerintahan dan kesepakatan yang dicapai antara individu, masyarakat madani, lembaga-lembaga masyarakat, dan pihak swasta. Ada dua hal penting dalam hubungan ini:
y y

Semua pelaku harus saling tahu apa yang dilakukan oleh pelaku lainnya. Adanya dialog agar para pelaku saling memahami perbedaan-perbedaan di antara mereka. Melalui proses di atas diharapkan akan tumbuh konsensus dan sinergi di

dalam masyarakat. Perbedaan yang ada justru menjadi salah satu warna dari berbagai warna yang ada dalam tata pengaturan tersebut. Ukuran tata pemerintahan yang baik adalah tercapainya suatu pengaturan yang dapat diterima sektor publik, sektor swasta dan masyarakat madani.
y

Pengaturan di dalam sektor publik antara lain menyangkut keseimbangan kekuasaan antara badan eksekutif (presiden), legislatif (DPR dan MPR), dan yudikatif (pengadilan). Pembagian kekuasaan ini juga berlaku antara pemerintah pusat dan daaerah.

y

Sektor swasta mengelola pasar berdasarkan kesepakatan bersama, termasuk mengatur perusahaan dalam negeri, besar maupun kecil, perusahaan multinasional, koperasi, dan sebagainya.

y

Masyarakat madani mencapai kesepakatan bersama guna mengatur kelompok-kelompok yang berbeda seperti kelompok agama, kelompok olahraga, kelompok kesenian, dan sebagainya. Menurut Erna, masyarakat dapat terlibat dalam tata pemerintahan yang baik,

antara lain: Pertama, dengan mengawasi sektor publik dan sektor swasta, dan juga memberikan masukan-masukan yang konstruktif pada pemerintah dan sektor swasta demi berlangsungnya pelayanan yang baik bagi masyarakat luas. Kedua, terlibat langsung dalam proses-proses pembangunan yang menyangkut diri sendiri dan masyarakat. Warga masyarakat misalkan saja dapat membentuk paguyuban paguyuban lokal atau bergabung dengan LSM-LSM yang ikut ambil bagian aktif dalam pembangunan di daerah setempat. 15

F. Prof. Bintoro Tjokroamidjojo Prof.Bintoro Tjokroamidjojo, ³Good Governance, (Paradigma Baru

Manajemen Pembangunan)´, Jurnal Manajemen Pembangunan No.30 Tahun IX, Mei 2000. Bintoro Tjokroamidjojo memandang good governance sebagai suatu bentuk manajemen pembangunan, yang juga disebut administrasi pembangunan, yang menempatkan peran pemerintah sentral yang menjadi agent of change dari suatu masyarakat berkembang/developing di dalam negara berkembang. Agent of change dan karena perubahan yang dikehendakinya, menjadi planned change (perubahan yang berencana), maka disebut juga agent of development. Agent of development diartikan pendorong proses pembangunan dan perubahan masyarakat bangsa. Pemerintah mendorong melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan dan program-program, proyek-proyek, bahkan industri-industri, dan peran

perencanaan dan anggaran penting. Dengan perencanaan dan anggaran juga menstimulusi investasi sektor swasta. Kebijaksanaan dan persetujuan penanaman modal di tangan pemerintah. Dalam good governance peran pemerintah tidak lagi dominan, tetapi juga citizen, masyarakat dan terutama sektor usaha/ swasta yang berperan dalam governance. Pemerintah bertindak sebagai regulator dan pelaku pasar untuk menciptakan iklim yang kondusif dan melakukan investasi prasarana yang mendukung dunia usaha. Usaha pembangunan dilakukan melalui

koordinasi/sinergi (keselarasan kerja) antara pemerintah-masyarakat-swasta). Masyarakat dan dunia usaha mempunyai peran lebih dalam perubahan masyarakat.

G. Drs. Setia Budi, M.A. ³Aparatur Pemerintah yang Profesional: Dapatkah diciptakan?´, hal. 7 -9, Jurnal Perencanaan Pembangunan, No.17, Oktober 1999. Setia Budi

mengungkapkan bahwa sedikitnya terdapat lima ciri sebagai prinsip utama yang harus dipenuhi dalam kriteria good public governance sebagai prinsip yang saling terikat, yaitu:

16

y

Akuntabilitas

(accountabilty),

ialah

kewajiban

untuk

mempertanggungjawabkan;
y y y

Keterbukaan dan transparan (openess and transparency); Ketaatan pada aturan hukum; Komitmen yang kuat untuk bekerja bagi kepentingan bangsa dan negara, dan bukan pada kelompok atau pribadi;

y

Komitmen untuk mengikutsertakan dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Penjabaran kelima prinsip tersebut sebagai berikut:

a) Akuntabilitas Aparatur pemerintah harus mampu mempertanggung-jawabkan pelaksanaan kewenangan yang diberikan di bidang tugas dan fungsinya. Aparatur pemerintah harus dapat mempertanggung -jawabkan kebijaksanaan, program dan kegiatannya yang dilaksanakan atau dikeluarkannya termasuk pula yang terkait erat dengan pendayagunaan ketiga komponen dalam birokrasi pemerintahan, yaitu

kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan, dan sumber daya manusianya. Prinsip akuntabilitas mensyaratkan adanya perhitungan cost and benefit analysis (tidak terbatas dari segi ekonomi, tetapi juga sosial, dan sebagainya tergantung bidang kebijaksanaan atau kegiatannya) dalam berbagai kebijaksanaan dan tindakan aparatur pemerintah. Selain itu, akuntabiltas juga berkaitan erat dengan pertanggungjawaban terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian sasaran atau target kebijaksanaan atau program. Dengan demikian, tidak ada satu

kebijaksanaan, program, dan kegiatan yang dilaksanakan oleh aparatur pemerintahan yang dapat lepas dari prinsip ini.

b) Keterbukaan dan transparan (openess and transparency) Masyarakat dan sesama aparatur pemerintah dapat mengetahui dan memperoleh data dan informasi dengan mudah tentang kebijaksanaan, program, dan kegiatan aparatur pemerintahan baik di tingkat pusat maupun daerah, atau data dan informasi lainnya yang tidak dilarang menurut peraturan perundang-undangan 17

yang disepakati bersama. Keterbukaan dan transparan juga dalam arti masyarakat atau sesama aparatur dapat mengetahui atau dilibatkan dalam perumusan atau perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan dengan pengendalian pelaksanaan kebijaksanaan publik yang terkait dengan dirinya. Data dan informasi yang berkaitan dengan tugas/fungsi aparatur pemerintah (instansi) yang bersangkutan harus disediakan secara benar, misalnya data PNS oleh BAKN, data guru oleh Depdiknas, data realisasi panen padi oleh Departemen Pertanian, dan sebagainya. Perlunya dihindari adanya data dan informasi yang bersifat ³menyenangkan´ tetapi menutupi yang sebenarnya. Sebab keputusan atau kebijakan publik (public policy) yang diambil pimpinan yang tidak didasarkan pada data dan informasi yang sebenarnya, maka keputusan atau kebijaksanaan tersebut akan menimbulkan masalah baru seperti masalah lingkungan, anggaran (pemborosan), dan penderitaan transmigran yang ditempatkan di sana.

c) Ketaatan pada aturan hukum Aparatur pemerintah menjunjung tinggi dan mendasarkan setiap tindakannya pada aturan hukum, baik yang berkaitan dengan lingkungan eksternal (masyarakat luas) maupun yang berlaku terbatas di lingkungan internalnya, misalnya: aturan kepegawaian dan aturan pengawasan fungsional. Prinsip ini juga mensyaratkan terbukanya kesempatan kepada masyarakat luas untuk terlibat dan berpartisipasi dalam perumusan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masyarakat.

d) Prinsip komitmen yang kuat untuk bekerja bagi kepentingan bangsa dan negara, dan bukan pada kelompok, pribadi atau partai yang menjadi idolanya. Prinsip ini merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh aparatur pemerintahan. Hal ini sesuai dengan tugas dan fungsi pemerintah, sebagai pembina, pengarah, dan penyelenggara pemerintahan umum dan pembangunan (dalam batas -batas tertentu).

18

e) Prinsip komitmen untuk mengikutsertakan dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan Prinsip ini menegaskan bahwa tanpa komitmen ini, maka yang timbul bukan partisipasi masyarakat tetapi antipati dan ketidaksukaan dalam diri masyarakat terhadap perilaku dan kebijaksanaan aparatur pemerintah. Pada saat yang sama, dalam diri aparatur pemerintah akan tumbuh secara perlahan tetapi pasti sikap mendominasi, anggapan atau perasaan paling tahu, paling bisa dan paling berkuasa, dan cenderung tidak mau tahu kondisi dan pendapat orang lain, yang pada akhirnya menimbulkan arogansi birokrasi pemerintah. 2. Teori Bias5 Teori ini dikemukakan oleh Gunnar Myrdal (1944) dalam tulisan klasiknya An American Dillemma. Pada dasarnya tulisan Myrdal ini bahasannya terbatas pada konflik antar-ras kulit hitam dan kulit putih yang terjadi di Amerika sampai pada akhir tahun 1960-an. Menurut teori ini, stratifikasi sosial ras atau etnis muncul karena kelompok minoritas, dalam permasalahan konflik Sambas yaitu etnis Madura, seolah-oleh menerima kekurangan mereka atas tekanan yang dilakukan oleh pihak mayoritas, dalam hal ini masyarakat lokal Kalbar. Tekanan atau intimidasi pihak mayoritas diperkuat dengan adanya stereotipe yang diberikan kepada pihak minoritas tersebut. Proses intimidasi tersebut terjadi secara terus menerus sehingga membentuk persepsi yang permanen pada pihak mayoritas kepada pihak minoritas. Dalam kaitannya dengan permasalahan anfektifitas kebijakan relokasi korban konflik Sambas terletak pada bias etnis yang sudah sampai pada level birokrasi lokal. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Hidden Agenda Pemda Sambas kepada masyarakat lokal untuk menolak datangnya kembali masyarakat Madura. Kebijakan yang bias etnis seperti ini seharusnya dapat dihindari oleh pemerintah pada level manapun. Apabila bias tersebut masih melekat pada

5

Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S., ³Prasangka Dan Konflik´, PT. LKiS Printing Cemerlang, Yogyakarta: 2005 (hal: 169-171).

19

masyarakat, persepsi negatif yang permanen pada masyarakat pendatang bisa saja muncul dan melekat erat pada masyarakat lokal sampai beberapa generasi. 3. Teori Diskriminasi Struktural6 Teori ini merupakan kritik dari teori Bias, dalam teori ini salah satu sosiolog Parenti (1978) memaparkan bahwa masalah-masalah yang terjadi antar-etnis sebenarnya dibentuk oleh masyarakat mayoritas dalam pola intitusionalisasi yang salah dari masyarakat mayoritas yang berkuasa. Karena kekuasaannya, mereka mendominasi sehingga memperbesar potensi konflik. Hal ini kemudian sebut dengan ³Institusionalisasi rasisme´ atau ³Institusionalisasi etnisitas´, yang menyebabkan persepsi pada kaum mayoritas tentang subordinasi masyarakat minoritas. Pandangan lain yang masih dalam cakupan teori diskriminasi struktural dikemukakan oleh Carmichael dan Hamilton (1967). Menurut mereka, ada dua tipe diskriminasi, yaitu diskrimasi individual dan diskriminasi institusional. Diskriminasi individual terjadi ketika seseorang yang berasal dari etnis atau ras tertentu membuat aturan yang merugikan atau bertidak kasar dan keras kepada orang dari etnis atau ras lain, karena orang dari etnis atau ras lain tersebut berada dalam kekuasaannya. Sedangkan diskriminasi institusional adalah tindakan kelompok mayoritas terhadap minoritas yang dilembagakan atau

diintitusionalkan. Dalam dua tipe diskriminasi ini masyarakat secara keseluruhan, baik mayoritas maupun minoritas, terikat dan berada dalam suatu sistem masyarakat yang sudah dikolusi oleh keadaan prasangka antar-ras atau antar-etnis. Dalam hubungannya dengan diskriminasi institusional, terdapat pandangan yang dikemukakan oleh Benokraitis dan Feagin (1974). Menurut mereka ada empat tema yang berkaitan erat dengan diskriminasi intitusional, diantaranya yaitu:
y

Sejarah hidup suatu masyarakat yang mempengaruhi atau membentuk persepsi atau prasangka dalam suatu sistem sosial.

6

Ibid, (hal: 171-177).

20

y

Adanya dukungan dari masyarakat itu sendiri, dengan kata lain, masyarakat dan pemerintah sadar dengan adanya diskriminasi tersebut, namun tidak ada tindakan pencegahan dari masyarakat tersebut.

y

Kekuatan diskriminasi yang melemahkan intitusi yang telah ada. Dalam hal ini dengan adanya diskriminasi dalam sebuah institusi masyarakat akan melemahkan kinerja instituusi tersebut.

y

Batasan yang ditetapkan oleh diskriminasi itu. Dalam hal ini, masyarakat mayoritas membatasi ekspresi dan hak dari masyarakat minoritas karena adanya diskriminasi tersebut.

Dari teori-teori yang telah dipaparkan diatas menurut penulis, teori yang sesuai dan efektif untuk menjelaskan permasalahan analisis kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas adalah Teori Good Governance dari UK/ODA dan dari UNDP. Asumsi dasar permasalahan dalan penelitian ini adalah tidak efektifnya implementasi kebijakan relokasi dari pemerintah provinsi yang diindikasikan dengan adanya tata pemerintahan (Governance) yang tidak baik dan beberapa indikasi lain yang menyangkut faktor Bias pada masyarakat lokal. Untuk itu dalam penyelesaian permasalahan ini diperlukan Good Governance yang

benar-benar menjangkau seluruh lapisan masyarakat termasuk birokrasi-birokrasi kecil dan lembaga-lembaga independen lain sehingga koordinasi antara lembagalembaga tersebut dapat terlaksana secara efektif.

Tinjauan Empiris Dalam permasalahan kebijakan relokasi pengungsi korban konflik Sambas pernah ada satu penelitian yang dilakukan yang di ketahui oleh penulis. Laporan penelitian yang pertama di tulis oleh Setiadi dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (PSKK UGM) pada tahun 2005 dengan judul ³Korban Menjadi Korban (Perempuan Madura Pascakonflik Sambas)´.

Peneltiannya sendiri dilakukan pada tahun 2003 dengan adanya kerjasama antara PSKK UGM dengan Ford Foundation. Laporan penelitian ini memiliki fokus penelitian pada nasib perempuan Madura di lokasi pengungsian korban konflik

21

Sambas. Di sini dibahas bentuk-bentuk eksploitasi perempuan Madura di pengungsian baik oleh masyarakat sekitar maupun oleh sesama pengungsi. Bentuk eksploitasi ini dapat berupa prostitusi di pengungsian, warung-warung remangremang, prostitusi anak dibawah umur dan lain-lain. Penelitian ini juga mengkalkulasi jumlah pengungsi korban konflik Sambas yang tersebar di Kalimantan Barat. Tiga tabel persebaran pengungsi dibawah ini merupakan sebagian dari data kalkulasi penelitian terdahulu.

Tabel Jumlah dan Persebaran Pengungsi Korban Kerusuhan Sambas Per 30 Maret 1999
Lokasi pengungsi Kota Pontianak y Asrama Haji y Gudang Sei. Jawi y GOR Pangsuma y Stadion Sultan Syarif Abdurrahman y GOR Bulutangkis y GOR Untan y Rumah Penduduk Kabupaten Pontianak y K1-B Arang Limbung y Zenibang y Ton Intel y Gedung Wajok Hulu y Gg. Jariah y Kompi B 643 Kota Sambas y K1-B Pemangkat y K1-B Sambas y Lanud Sanggau Ledo y PMI Singkawang y Luar Kamp y Marhaban Total terdata Jumlah jiwa 1999 3.297 243 5.622 6.350 2000 4.321 2002 7.179 5.028 5.886 1.081 848 -

246 101 56 2.204 -

5.705 434 315

53 5.931 1.438 8 -

26.772 3.684

32.451

56.932

Sunber : Dokumentasi Arsip Posko Tk I Kalimantan Barat / Maret 1999. Posko penanggulangan Pengungsi (data 23 April 2002)

22

Tabel Kamp Penampungan dan Data Pengungsi Kerusuhan Sambas Januari-April 1999
Lokasi pengungsi Kabupaten Sambas Barak: Marhaban Nonbarak (Masyarakat) y Kecamatan Tujuh Belas y Kecamatan Pasiran y Kecamatan Roban Kabupaten Pontianak Barak y Wajok y Denzibang/Kompi B Nonbarak (masyarakat) y Sei. Pinyuh y Mempawah Hilir y Sei. Kunyit y Siantan y Sei. Raya y Sei. Kakap y Sebangki y Kuala Mandor B y Sei. Ambawang Kota Pontianak Barak y Gg. Jariayah y Gudang Sei. Jawi y Asrama Haji y GOR Pangsuma y Sultan Abdurrahman y GOR Bumi Khatulistiwa* y GOR Untan Nonbarak (masyarakat) y Kec. Pontianak Utara y Kec. Pontianak Barat y Kec. Pontianak Timur y Kec. Pontianak Selatan Jumlah Pengungsi di Kota Pontianak Jumlah Pengungsi di Kabupaten Pontianak Jumlah Pengungsi di Kabupaten Sambas Jumlah Keseluruhan Sumber : Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, 2001. *. Dibakar massa pada kerusuhan 24 Juni 2001 jumlah jiwa 4.227 3.338 611 2.145 KK 905 554 131 284

6.385 370

1.202 71

2.354 1.213 593 808 5.000 900 56 100 1.099

430 136 136 161 902 172 18 16 303

249 228 5.979 7.412 6.043 1.792 1.190

59 59 1.121 1.178 1.017 343 257

10.013 2.315 1.494 3.020 39.735 18.878 10.321 68.934

1.977 440 145 455 7.051 3.547 1.874 12.472

23

Tabel Daerah Relokasi dengan Pola Sisipan
Lokasi Tb. Kacang SP.2 Parit Haji Ali P. Sabar Bahagia P. Sido Mulyo Pulau Nyamuk Tanjung Saleh Puguk jumlah Target (KK) 500 300 400 200 200 150 250 2.000 Realisasi Penempatan (KK) (KK) 333 111 333 36 869 (jiwa) 1.692 537 1.720 161 4.379

Sumber: Dinas Tenaga Kerja & Kependudukan, Prov. Kalimantan Barat, 2003.

24

BAB III METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian Metode penelitian digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian dan metode penelitian yang digunakan harus tepat dan sesuai dengan masalah penelitian. Namun demikian, karena setiap metode pasti memiliki kelemahan dan kelebihan, maka untuk menjawab permasalahan penelitian menggunakan beberapa metode yang berbeda untuk saling mengisi dan melengkapi. Untuk menggali informasi yang dibutuhkan dalam upaya menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana telah diformulasikan di atas, penulis menggunakan metode evaluasi deskripif dengan mengkombinasikan pendekatan kualitatif, analisis data sekunder dan wawancara mendalam secara langsung (indepth interview) untuk menggali data-data primer. Menurut Nawawi (1998 : 63) metode deskiptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subyek/obyek penelitian (seorang, lembaga, masyarakat dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Sedangkan Moleong (1989) mengemukakan bahwa metode deskriptif adalah penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya. Metode deskriptif ini terdiri dari dua jenis analisis penelitian, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Dalam permasalahan ini penulis tertarik untuk menggunakan teknik penelitian analisis deskriptif kualitatif, yaitu teknik analisis yang dilakukan dengan mengumpulkan data dan fakta, kemudian berdasarkan kerangka teori disusun secara sistematis sehingga dapat memperlihatkan korelasi antara fakta yang satu dengan yang lainnya. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan berdasarkan pertimbangan sebagai berikut : 1) Menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan; 2) Metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan responden; dan 3) 25

Metode ini lebih peka dan dapat lebih menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi. Namun, pada batasan-batasan kualitatif yang lemah terhadap data statisik, penulis juga tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan teknik analisis kuantitatif terhadap data-data statistik yang penting dalam penelitian ini.

Pemilihan Lokasi Penelitian Penelitian ini pada rencananya akan dilaksanakan di beberapa lokasi pengungsian di Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, sebagai lokasi tujuan utama relokasi pengungsi korban konflik antar-etnis di Sambas. Pemilihan lokasi penelitian ini juga didasarkan pada keputusan Gubernur Provinsi Kalimantan Barat melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor : 143 Tahun 2002 tentang Pembentukan Team Gabungan Penanggulangan Pengungsi Pasca Kerusuhan Sosial di Kalimantan Barat yang menetapkan Kabupaten dan Kota Pontianak sebagai lokasi pengungsian sementara dan lokasi pengungsian tetap korban pascakonflik Sambas. Pemilihan lokasi pengungsian tetap tersebut oleh Pemprov didasarkan pada banyaknya lahan tidur yang dapat digarap oleh para pengungsi dan sebagian besar lokasi pengungsian tersebut belum banyak yang menghuni, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya konflik di masa yang akan datang.

Penentuan Sumber dan Jenis Data Data primer penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara terhadap beberapa informan dan pengungsi yang masih ada dilokasi penelitian. Selain itu, dilakukan pula observasi lapangan untuk melengkapi data yang diperlukan. Data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dari instansi terkait, literatur dan bahan referensi lainnya. Instansi-instansi tersebut meliputi: Kantor Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Sambas, Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Sambas, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalimantan Barat dan Kabupaten Sambas, Sahbandar dan Administrasi Pelabuhan Pontianak, Kepolisian

26

dan TNI Daerah yang terkait dengan penelitian, dan Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam dan Pengungsi (PBP) Propinsi Kalimantan Barat dan PBP Kabupaten Sambas. Penentuan Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah sebagai berikut. Untuk data primer dilakukan wawancara mendalam terhadap informan dengan menggunakan tape recorder atau video camera recorder dan interview guide dan pada pengungsi yang masih berdomisili di lokasi pengungsian, penulis akan menyebarkan kuisioner sederhana kepada beberapa pengungsi (sampel) yang dipilih dengan cara sistem acak sederhana (simple random sampling) untuk kemudian diisi dan dianalisis oleh penulis. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dari instansi terkait. Selain dari kedua cara tersebut, peneliti melakukan pula observasi lapangan untuk melengkapi data yang diperlukan.

Metode Pencakupan Data Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pencakupan data yang meliputi data primer dan sekunder yaitu menggunakan teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan menggunakan kuisioner. Yang dimaksud data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data untuk tujuan khusus. Sedangkan data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh seseorang diluar peneliti sendiri, walaupun data yang dikumpulkan itu adalah data yang asli. Adapun penjelasan teknik pencakupan data yang digunakan antara lain : 1. Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan untuk mendapatkan informasi dengancara bertanya langsung kepada informan. Wawancara dilakukan dengan cara tatap muka dengan menggunakan daftar pertanyaan dalam kaitannya dengan penelitian ini. Menggunakan teknik wawancara mendalam (indepth intervieuw) yaitu mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung atau komunikasi langsung kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan permasalahan yang akan diteliti.

27

Maksud mengadakan wawancara, seperi ditegaskan oleh Lincoln dan Guba (Moleong, 1989 : 135) antara lain : ³Mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motiasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan; merekonstruksi kebulatan-kebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu; memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang; memverifikasi, mengubah dan memperluas informasi dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (trianglasi); dan memverifikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota´. Keuntungan menggunakan wawancara mendalam dalam suatu penelitian dapat menghasilkan data yang kaya, rinci, penuh hal-hal baru, memungkinkan tatap muka dengan informan, memungkinkan dilakukan eksplorasi topik secara mendalam dan memungkinkan klarifikasi atas jawaban yang kurang/tidak jelas. 2. Observasi merupakan teknik pengumpulan informasi melalui pengamatan pada saat proses penelitian sedang berjalan. Observasi dalam penelitian ini meliputi data tentang proses pemilihan lokasi pengungsian dan proses relokasi pengungsi korban konflik Sambas. 3. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekunder, yakni dengan cara menelaah dokumen dan kepustakaan yang dikumpulkan dari berbagai dokumen. Dalam penelitian ini penulis menggunakan data statistik mengenai jumlah korban yang direlokasi pada tiap-tiap lokasi pengungsian serta datadata lainnya yang berkaitan dengan tujuan penelitian. 4. Kuisioner merupakan metode dalam wawancara yang menggunakan daftar pertanyaan untuk disebarkan kepada para responden. Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuisioner pada para pengungsi yang ada di lokasi pengungsian.

Manajemen Pengolahan Data Setelah data terkumpul, manajemen data yang digunakan oleh penulis antara lain yaitu:

28

1. Data cleaning, yaitu mengedit data-data yang telah diperoleh. Pada data primer, yang berbentuk interview video dan interview audio, cleansing data dilakukan dengan menghilangkan bagian-bagian yang rusak dan tidak perlu. Pada data sekunder cleansing dilakukan dengan menghilangkan data-data atau dokumen-dokumen yang rusak dan tidak perlu. 2. Data sorting, yaitu tahapan setelah data cleansing yang dilakukan dengan menyortir atau mengelompokkan data-data tersebut menurut fungsi dan manfaatnya pada analisis yang akan dilakukan. 3. Data storing, yaitu tahapan terakhir yang dilakukan penulis sebelum menganalisis data yang telah disortir, dilakukan dengan menyimpan dan mengamankan data-data tersebut dengan cara membuat data back up sehingga data tersebut dapat terus dimanfaatkan walaupun terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 4. Pengolahan data digunakan penulis pada data-data statistik diperoleh penulis dari Badan Pusat Statistik. Diproses dengan menggunakan tabel dan ditampilkan dalam bentuk tabel maupun grafik.

Metode Analisis Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuntitatif pada data-data statistik. Pada metode kualitatif analisis yang digunakan adalah dengan cara melakukan interpretasi terhadap data, fakta dan informasi yang telah dikumpulkan melalui pemahaman intelektual dan pemahaman empiris, berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Penilaian data, yang dilakukan berdasarkan prinsip validitas, obyektivitas, reliabilitas melalui cara mengkategorikan data dengan sistem pencatatan yang relevant dan melakukan kritik atas data yang telah dikumpulkan dengan teknik triangulasi. 2. Interpretasi data, yang dilakukan dengan cara menganalisis data dengan pemahaman intelektual yang dibangun atas dasar pengalaman empiris terhadap data, fakta, dan informasi yang telah dikumpulkan dan

disederhanakan dalam bentuk tabel dan grafik.

29

3. Penyimpulan terhadap hasil interpretasi data. Sedangkan metode kuantitatif, data statistik yang diperoleh penulis akan dianalisis dengan menggunakan software SPSS 17.0 dan Microsoft Excel 2007. Namun penulis tidak menutup kemungkinan lain untuk menggunakan metode analisis dan software-software lain dalam menganalisis data yang telah didapat dalam penelitian.

Batasan Operasional Dalam membahas dan menganalisis kebijakan relokasi pengungsi korban konflik, operasionalisasi dibutuhkan untuk mengurangi ketidakjelasan makna. Dasar dari operasionalisasi adalah definisi yang konsisten dan jelas dari variabel yang akan diteliti, karena definisi memungkinkan pengguna informasi atau hasil penelitian dapat memahami dan mengambil manfaat dari penelitian yang dilakukan. 1. Implementasi kebijakan relokasi. Apakah ada kesesuaian antara mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan dalam kebijakan Pemerintah Daerah melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor : 143 Tahun 2002 tentang Pembentukan Team Gabungan Penanggulangan Pengungsi Pasca Kerusuhan Sosial di Kalimantan Barat dan Perda No. 10 tahun 2005 tentang RPJMD Provinsi Kalimantan Barat tahun 2006 ± 2008 tanggal 31 Oktober 2005; khususnya pada Bab tentang Agenda Mewujudkan Kalimantan Barat Harmonis dalam Etnis dengan kenyataan di lapangan. Indikatornya antara lain : a. Pemenuhan prosedur dalam proses relokasi apakah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. b. Proses relokasi apakah sudah dilakukan secara terbuka dan transparan. c. Dampak pelaksanaan relokasi secara langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat sekitar.

30

2. Keterlibatan Pemerintah dalam proses relokasi. Yang menjadi fokus perhatian adalah bagaimana keterlibatan birokrasi pemerintah daerah yang terkait dalam proses relokasi pengungsi korban konflik Sambas di Kabupaten Pontianak. Indikatornya antara lain : a. Peran langsung birokrasi dalam proses relokasi, khususnya dalam pengawasan proses relokasi. b. Jumlah personil birokrat yang terlibat dalam proses relokasi dan periode pengawasan yang dilakukan oleh personil birokrat tersebut. 3. Sikap masyarakat non-pengungsi di sekitar lokasi pengungsian. Adalah sikap dan perilaku masyarakat non-pengungsi di sekitar lokasi pengungsian dalam memperlakukan pengungsi. Indikatornya antara lain : a. Perbandingan jumlah masyarakat yang menolak dan menerima adanya relokasi di kawasan tempat tinggal mereka. b. Sikap dan perlakuan yang dilakukan oleh masyarakat tersebut kepada para pengungsi. c. Penyimpangan dan tindak kriminalitas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kepada para pengungsi. 4. Sikap pengungsi terhadap masyarakat di sekitar lokasi pengungsian. Adalah kebalikan dari batasan di atas yang merupakan sikap dan perilaku pengungsi kepada masyarakat yang berdomisili di sekitar lokasi pengungsian. Indikatornya antara lain : a. Perbandingan tingkat kriminalitas di lingkungan sekitar lokasi

pengungsian sebelum dan setelah ada relokasi pengungsi. b. Perilaku pengungsi terhadap warga dan lingkungan sekitar lokasi pengungsian. 5. Tingkat kesejahteraan pengungsi Yang menjadi fokus perhatian adalah bagaimana tingkat kesejahteraan pengungsi selama tinggal di lokasi pengungsian. Indikatornya antara lain :

31

a. Tingkat asupan gizi dan makanan, tingkat pendidikan, penghasilan, dan kedekatan dengan akses birokrasi pengungsi. b. Tingkat kematian ibu dan anak, tingkat kebersihan tempat, dan ketersediaan fasilitas penunjang di lokasi pengungsian.

Pertimbangan Etis Dalam melakukan penelitian, penulis juga mempertimbangkan faktor etis yang termasuk di dalamnya pertimbangan terhadap karakteristik etnis dan stereotipe yang berkembang terhadap suatu etnis, yang dalam permasalahan relokasi pengungsi korban konflik Sambas ini yaitu etnis Madura dan etnis-etnis lain yang terlibat dalam permasalahan ini, pertimbangan tersebut antara lain:7 1. Stereotipe dan karakteristik etnis Dayak Dalam kehidupan sehari-hari etnis ini yang mayoritas beragama Nasrani, dikenal bersikap toleran terhadap pemeluk agama lain. Orang Dayak juga dikenal penyabar, tetapi kesabaran mereka akan hilang bila harga diri dan adat-istiadat mereka terinjak-injak oleh orang lain. Apabila hal itu terjadi, etnis ini dapat berbuat apa saja, termasuk anarkis dan sadisme, untuk memperoleh kembali harga diri dan mempertahankan adat-istiadat suku mereka. 2. Stereotipe dan karakteristik etnis Melayu Stereotipe yang berkembang pada etnis Melayu adalah pengalah, pemalu, patuh pada adat-istiadat dan taat beragama. Stereotipe yang lain adalah penakut (Petebang dan Sutrisno, 2000). Pada sisi lain, mereka dikenal santun budi bahasanya dan tidak terpengaruh oleh hasutan. Sifat gotong-royong sesama warga baik sesama etnis maupun antar-etnis sangat tinggi. Demikian juga halnya rasa solidaritas antarsuku mereka juga tinggi. Mereka juga dikenal sebagai pekerja keras dan penyabar sehingga jika marah cukup berekspresi melalui pantun. Secara umum, masyarakat Melayu menguasai sektor politik (birokrasi).
7

Setiadi, ³Korban Menjadi Korban (Perempuan Madura Pascakonflik Sambas)´, seri laporan no. 161, PSKK UGM dan Ford Foundation, Yogyakarta: 2005, hal: 33-37.

32

3. Stereotipe dan karaktersitik etnis Madura Stereotipe yang berkembang pada etnis Madura adalah berkarakter kasar, keras, mudah tersinggung, arogan dan mau menang sendiri. Hal ini dikuatkan oleh kesan beberapa pengamat (Royce, 1980, Tim Peneliti UNAIR, 1982) yang menggambarkan mereka sebagai orang kasar (crude), kurang sopan (illmannered), gugup (nervous), selalu ingin tahu (curious), dan keras kepala (stubborn) (lihat Alqadri, 1999: 53). Kesan atau karakter tersebut disebabkan dan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan daerah asal mereka di pulau Madura yang keras. Dalam kesehariannya, masyarakat Madura yang tinggal di Kabupaten Sambas dikenal memiliki kebiasaan unik, seperti suka membawa celurit dan mudah tersinggung. Pertimbangan-pertimbangan stereotipe dan karaktersitik etnis tersebut menurut penulis sangat penting dalam penelitian ini karena dengan adanya hal itu, penulis dapat mempersiapkan bagaimana cara menghadapi informan -informan yang berasal dari berbagai etnis.

Kelemahan Penelitian Kelemahan-kelemahan dari penelitian ini adalah pemaparan yang kemungkinan bias etnis. Dalam hal ini, penulis akan banyak memaparkan sisi negatif dari etnis Madura. Hal ini tidak dapat dihindari oleh penulis mengingat hampir semua referensi yang digunakan oleh penulis menyudutkan etnis Madura sebagai µbiang keladi¶ konflik antar-etnis di Sambas.

33

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->