P. 1
ALARM WITH INFRA RED SENSOR

ALARM WITH INFRA RED SENSOR

|Views: 5,693|Likes:
proyek praktikum elektronika dasar 2
proyek praktikum elektronika dasar 2

More info:

Published by: Muhammad Fatihurrizqi on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2015

pdf

text

original

MAKALAH PROYEK PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR (E2

)
ATA 2007/2008

ALARM WITH INFRA RED SENSOR

Disusun Oleh : 2 KB 01 Hari Kamis Shift 1 Alfi Wahyudi /20106098 Dahron /20106324 M. Fatihurrizqi /20106829

LABORATORIUM DASAR ELEKTRONIKA DAN KOMPUTER PRAKTIKUM ELEKTRONIKA DASAR (E2) JURUSAN SISTEM KOMPUTER (S1) & TEKNIK KOMPUTER (D3) UNIVERSITAS GUNADARMA APRIL 2008

KATA PENGANTAR
Segala puji serta syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi kekuatan sehingga penulis tidak putus asa dalam mengerjakan proyek ini. kegagalan, halangan dan rintangan dalam mengerjakan proyek ini telah diberi petunjuk oleh Allah SWT sehingga penulis dapat mengatasi hal tersebut. Makalah ini disusun dengan perpaduan yang seimbang antara teori dan aplikasi proyek serta dalam praktikum yang kami lakukan. Pada dasarnya makalah ini lebih menekankan tentang proyek Alarm With Infra Red Sensor baik menurut konsep dasar maupun aplikasi dan penerapannya.. Penulis mengawali bagian ini dengan menyajikan teori dengan konsep dasar yang terhubung dengan analisa rangkaian proyek. Pengoperasian dan cara kerja dari proyek ini dapat dijelaskan dalam sub bagian berikutnya. Dan Makalah ini juga merupakan pengantar sebagai dasar untuk mempelajari dan menjelaskan tentang proyek rangkain Alarm With Infra Red Sensor Penulis dapat menyelesaikan makalah ini atas arahan dan dorongan dari semua pihak, Orang tua, rekan, para senior dan para asisten. Untuk itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah memberikan semangat tentang isi cakupan makalah ini. Penulis menyadari makalah dari proyek ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis menerima kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Penulis juga mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya Depok, 25 April 2008

DAFTAR ISI
COVER ..........................................................................................................i LEMBAR PENGESAHAN……………………………………….........................ii KATA PENGANTAR......................................................................................iii DAFTAR ISI ...................................................................................................iv BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1 1.1 Latar Belakang ……………………………………………….…………..1 1.2 Batasan Masalah ………………………………………..……………1 1.3 Tujuan Penulisan ………………………………………………...…...2 1.4 MetodePenulisan ……………………………………………………..2 1.5 Sistematika Penulisan ………………… …………………………....3 BAB II LANDASAN TEORI…………………………………………………..….5 2.1 Alarm With Infra Red Sensor……………………………….…..….5 2.2 Komponen Pendukung Alarm with Infra Red Se………………...5 2.2.1 2.2.2 Operational amplifier………………………………………...5 Resistor…………………………………………………..…..6

2.2.3 Photo Dioda……………………………………………....….11 2.2.4 Buzzer………………………………………………………...12 2.2.5 Dioda…………………………………………………….…...13 2.2.6 Saklar………………………………………………………....16 2.2.7 Transistor……………………………………………….……17 2.3 Langkah-Langkah Pembuatan Alarm With Infra Red Sensor 2.3.1 2.3.2 2.3.3 Merancang Layout..........................................................23 Memindahkan Rancangan Layout ke Papan PCB.........23 Pemasangan Komponen pada papan PCB...................24

BAB III ANALISA RANGKAIAN.....................................................................26

3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram.......................................26 3.2Analisis Rangkaian........................................................................27 BAB IV CARA PENGOPERASIAN ALAT..................................................28 BAB V PENUTUP..........................................................................................29 5.1 Kesimpulan......................................................................................29 5.2Saran...............................................................................................29 DAFTAR PUSTAKA

LEMBAR PENGESAHAN Judul Makalah Nama/NPM : Alarm With Infra Red Sensor : 1. Alfi Wahyudi / 20106098 2. Dahron / 20106324 3. M Fatihurrizqi / 20106829 Kelas Hari/Shift Penguji 1 : 2 KB 01 : Kamis/2 Penguji 2

(…………………) Penguji 3

(…………………) Penguji 4

(………………..) Nama Alfi wahyudi Dahron M.fatihurrizqi Nilai Alat Makalah

(…………………) keterangan Presentasi Total

Depok, …….April2008 PJ Praktikum Elektronika dasar (E2)

(Frans Angga )

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Belakangan yang mendorong diciptakannya Alarm With Infra Red Sensor adalah dari untuk membantu meringankan pekerjaan manusia kemajuan di bidang teknologi seperti untuk keamanan, peringatan dan lain sebagainya, sangat diperlukan alat keamanan pada di setiap tempat yang dianggap tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Teknologi yang menggunakan Infra Red dewasa ini sangat banyak baik untuk transfer data dalam HP, untuk internet serta belakangan yag lagi terkenal adalah alarm antimaling yang digunakan untuk kendaraan sehingga mobil tersebut aman bila di parkirkan di tempat-tempat yang belum diketahui aman atau tidaknya.Untuk komunikasi data atau untuk pengontrolan jarak jauh sekarang banyak infrared sudah banyak ditinggalkan, karena banyak mengalihkan ke Bluetooth yang mempunyai kecepatan transfer data yang lebih cepat. Tetapi infrared tetap masih banyak dipakai untuk remote control yang mempunyai jarak yang dekat seperti TV, mainan anak-anak dan lain sebagainya. Dari pemikiran ini maka ada ide untuk menciptakan sebuah alat Alarm dengan menggunakan Infra Red, yang lebih dikenal dengan nama Alarm With Infra Red Sensor. Karena alat alarm menggunakan inrared mengeluarkan biaya yang lebih murah dari pada menggunakan komponen-komponen sensor yang lain.

1.2 Batasan Masalah Alat alarm with infra red sensor memang mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu : 1. Kelebihannya : Sangat nudah digunakan atau dioperasiakn terutama oleh orang yang awam,dalam pembuatannya membutuhkan waktu yang relatif singkat, serta tidak memerlukan banyak biaya. 2. Kekurangannya : Alarm With Infra Red menggunakan infra merah sehingga penggunanya hanya jarak pendek saja, serta mempunyai keterbatasan jarak, contohnya : pada Alarm With Infra Red yang kami buat adalah dengan infra merah yang sederhana yang hanya dapat berfungsi normal dengan jarak maksimal kurang lebih 700 nm dan 1 mm. 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini mempunyai maksud yaitu untuk memenuhi tugas praktikum elektronika dasar 2 yang dibebankan kepada setiap praktikan dan bisa dikatakan pula untuk pertangguangjawaban dari alat yang penulis buat. 1.4 Metode Penulisan

Makalah

ini disusun berdasarkan petunjuk

dari asisten

Laboratorium Dasar Elektronika dan Komputer serta referensi dari beberapa buku dan internet tentang Alarm With Infra Red Sensor, dan

berdasarkan rangkaian

yang telah penulis buat. Disini penulis

terangkan dari mulai cara kerja pembuatan lay-out hingga rangkaian jadi dan cara kerja rangkaian Alarm With Infra Red Sensor baik secara diagram blok maupun secara detail. Adapun metode atau cara yang kami lakukan dalam menyusun makalah ini yaitu: ☞ Penulis melakukan pengamatan langsung rangkaian Alarm yang telah kami buat untuk kami teliti dan analisis untuk mengambil data pengamatan. ☞ Penulis mencari referensi-referensi yang berhubungan dengan proyek rangkaian yang kami buat yaitu Alarm With Infra Red Sensor. ☞ Melakukan Konsultasi kepada asisten laboratorium tentang bagaimana cara untuk menyusun rangkaian ini. ☞ Konsultasi dengan orang yang lebih berpengelaman mengenai rangkaian alat Alarm ini. 1.5 Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan Pada Bab ini, berisi tenteng Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah, Tujuan Penulisan, Metode, serta Sistematika Penulisan. BAB II Landasan Teori Bab ini membahas tentang teori dasar dan komponen-komponen yang dipergunakan dalam rangkaian dengan analisa tiap-tiap komponen. BAB III Analisa Rangkaian Membahas tentang analisa rangkaian, baik secara blok diagram maupun secara detailnya.

BAB IV Cara Pengoperasian Alat Berisi tentang bagaimana cara kerja dan pengoperasian (pengujian) dari rangkaian Alarm With Infra Red Sensor. BAB V Penutup Membahas tentang kesimpulan dari penjelasan alat yang dibuat serta saran-saran dari keseluruhan rangkaian.

BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Alarm With Infra Red Sensor
Sebuah rangkaian Alarm menggunakan satu infra red yang dapat juga digunakan sebagai menangkap suatu objek yaitu, mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara sehingga dapat disalurkan melalui kabel menuju rangkaian Alarm berikutnya. Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor menerima sinyal dari benda lain akan mengubah lagi sinyal listrik menjadi sinyal suara. Dengan demikian kita dapat mengetahui bila ada benda lain yang melewati sinar infra red atau menghalangi sinar infrared maka alarm akan mengeluarkan bunyi.

2.2

Komponen Pendukung Alarm With Infra Red Sensor
Pada rangkaian Alarm with infrared sensor diperlukan

komponen-komponen yang dirangkai agar rangkaian dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Komponen-komponen yang digunakan bisa dilihat seperti di bawah ini : 2.2.1 Operational amplifier Op-amp (Operational Amplifier) adalah Penguat operasional, komponen elektronik serbaguna yang dirancang dan dikemas khusus, sehingga dengan menambahkan komponen luar sedikit saja, sudah

dapat dipakai untuk berbagai keperluan. Karakteristik terpenting dari sebuah op-amp yang ideal adalah: Penguatan loop terbuka amat tinggi Impedansi masukan yang sangat tinggi sehingga arus masukan dapat diabaikan Impedansi keluaran sangat rendah sehingga keluaran penguat tidak terpengaruh oleh pembeban. Pada op-amp terdapat satu terminal keluaran, dan dua terminal masukan. Terminal masukan yang diberi tanda (-) dinamakan terminal masukan pembalik (inverting), sedangkan terminal masukan yang diberi (+) dinamakan terminal masukan bukan pembalik (noninverting). Operational amplifier atau yang biasa disebut op-amp merupakan suatu komponen elektronika berupa integrated circuit (IC) yang terdiri atas bagian differensial amplifier, common emiter amplifier dan bagian push-pull amplifier. Bagian output Op-amp ini biasanya dikendalikan dengan umpan balik negatif (negative feedback) karena nilai gain-nya yang tinggi. Keuntungan dari penggunaan Op Amp adalah karena komponen ini memiliki penguatan (Av) yang sangat besar, Impedansi input yang besar, (Zin >>) dan Impedansi Output yang kecil (Zout <<). Selain dari itu, kemampuan interval frekuensi dari Komponen ini sangat lebar. Penggunaan dari Op-amp meliputi: amplifier atau penguat biasa (non-Inverting Amplifier), Inverting Amplifier, komputer analog (operasi jumlah, kurang, integrasi, dan diferensiasi), dalam rangkaian yang digunakan penulis untuk membuat rangkaian alarm with infrared sensor adalah Op-amp standar tipe 741 dalam kemasan IC DIP 8 Pin. Saat ini terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakteristik spesifik. Op-amp satndar tipe 741 IC DIP 8 pin sudah dibuat sejak tahun 1960an. Untuk tipe yang sama, tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan

inisial atau nama yang berbeda, misalnya IC MC741 dari motorola, LM741 buatan natioanal Semiconductor, SN741 dari Texas Instrumental dan lain sebagainya. 2.2.2 Resistor Resistor adalah suatu komponen elektronika yang fungsinya untuk menghambat arus dan tegangan listrik. Berdasarkan jenisnya resistor dibagi menjadi dua jenis yaitu : Resistor Tetap dan Resistor Variabel.

Resistor tetap

Resistor variable

Gambar 1. Simbol resistor Dalam rangkaian Alarm yang kami buat menggunakan satu jenis resistor yaitu resistor tetap, jadi kami hanya membahas tentang resistor tetap saja. Resistor tetap adalah resistor yang memiliki hambatan tetap. Resistor memiliki batas kemampuan daya misalnya : 1,16 watt; 1,8 watt; dan sebagainya. Artinya resistor hanya dapat dioperasikan dengan daya maksimal sesuai dengan kemampuan dayanya Sedangkan transistor variabel adalah transistor yang bisa diubah-ubah nilai resistansi dengan menggunakanan pemutar yang telah ohm. disediakan seperti dalam potensiometer. Sedangkan potensiometer yang penulis untuk proyek inni adalah potensio 10 K

Gambar potensiometer

Bentuk fisik resistor tetap

Gambar 2. Resistor tetap Bentuk fisik dari resistor tetap ini terdiri dari dua jenis yaitu ada yang memiliki empat buah gelang dan lima buah gelang seperti gambar diatas, tetapi untuk cara perhitungannya memiliki cara yang sama.

Untuk mengetahui nilai hambatan suatu resistor dapat dilihat dari warna yang tertera pada bagian luar badan resistor tersebut yang berupa gelang warna. Keterangan dari gelang warna yang tertera pada resistor yaitu : ☞ Gelang pertama dan kedua menyatakan angka dari resistor tersebut ☞ Gelang ketiga menyatakan faktor pengali ( banyaknya angka nol ). ☞ Gelang keempat menyatakan toleransi. Misalnya : 1. Resistor dengan warna : hijau biru coklat emas Maka nilainya sebesar 5%. Range hambatan resistor tersebut adalah = 560 ± 5% = 5% x 560 = 28 ohm = 560 – 28 sampai 560 +28 = 532 sampai 528 ohm Pada rangakaian 2 wire intercom yang kami buat menggunakan 4 buah resistor bernilai 1 kiloohm dan 2 buah resistor bernilai 1 megaohm. 2. Untuk resistor bernilai 1 kiloohm Resistor dengan warna : Merah Maka nilainya : 2 Hitam 0 Kuning Emas 104 5% :5 6 101 5% Berarti nilai tersebut adalah = 560 ohm dengan toleransi

Berarti nilai tersebut adalah = 200000 ohm atau 200 kiloohm dengan toleransi sebesar 5%.

Range hambatannya adalah

= 200 kiloohm ± 5% = 5% x 200 = 10 kiloohm = 200 - 10 sampai 200 + 10 = 190 sampai 210 kiloohm

3. Sedangkan untuk resistor 1 megaohm Resistor dengan warna : Coklat Maka nilainya : 1 Range hambatannya adalah Hitam 0 Hijau 105 Emas 5%

= 1.000.000 ± 5% = 5% x 1.000.000 = 50.000 ohm

= 1.000.000– 50.000 sampai 1.000.000 + 50.000 = 950.000 sampai 1.050.000 ohm

Warna Hitam Coklat Merah Jingga Kuning Hijau Biru Ungu Abu-abu Putih Emas Perak Tak berwarna

1, 2, dan 3 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 -

Gelang ke4 X1 X 10 X 100 X 1000 X 10000 X 100000 X 1000000 X 10000000 X 100000000 X 1000000000 X 0.1 X 0.001 -

5 1% 2% 5% 10 % 20 %

Tabel 1. kode warna resistor

Gelang ke-5 Gelang ke-4 Gelang ke-3 Gelang ke-2 Gelang ke-1

Gambar 3. Cincin pada resistor tetap

2.2.3 Photo Dioda Photo Diode adalah jenis dioda yang berfungsi mendeteksi cahaya. Berbeda dengan dioda biasa, komponen elektronika ini akan mengubah cahaya menjadi arus listrik. Cahaya yang dapat dideteksi oleh dioda foto ini mulai dari cahaya infra merah, cahaya tampak, ultra ungu sampai dengan sinar-X. Aplikasi dioda foto mulai dari penghitung kendaraan di jalan umum secara otomatis, pengukur cahaya pada kamera serta beberapa peralatan di bidang medis.

Alat yang mirip dengan Dioda foto adalah Transistor foto (Phototransistor). Transistor foto ini pada dasarnya adalah jenis transistor bipolar yang menggunakan kontak (junction) base-collector untuk menerima cahaya. Komponen ini mempunyai sensitivitas yang lebih baik jika dibandingkan dengan Dioda Foto. Hal ini disebabkan karena elektron yang ditimbulkan oleh foton cahaya pada junction ini di-injeksikan di bagian Base dan diperkuat di bagian Kolektornya. Namun demikian, waktu respons dari Transistor-foto secara umum akan lebih lambat dari pada Dioda-Foto. 2.2.4 Buzzer Buzzer adalah komponen yang dapat mengeluarkan suara yang cukup penting untuk digunakan dalam rangkaian alarm with infrared sensor , karena buzzer merupakan komponen output yang dapat membuktikan bahwa rangkaian tersebut menyala atau tidak. Untuk jenis buzzer yangkita gunakan buzzer 12 volt.tetapi untuk yang lainnya buzzer bisa diganti dengan menggunakan speaker atau Pengeras suara atau juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagai loud speaker atau speaker saja adalah komponen lektronika yang menerima sinyal masukan dan memberikan respon keluaran berupa frekuensi audio (suara) dengan cara enggetarkan komponennya yang berbentuk selaput.

Speaker 2.2.5 Dioda Dioda atau diode adalah sambungan bahan p-n yang berfungsi sebagai penyearah arus. Bahan tipe-p akan menjadi sisi anode sedangkan bahan tipe-n akan menjadi katode. Bergantung pada polaritas tegangan yang diberikan kepadanya, diode bisa berlaku sebagai sebuah saklar tertutup (apabila bagian anode mendapatkan tegangan positif sedangkan katodenya mendapatkan tegangan negatif) dan berlaku sebagi saklar terbuka (apabila bagian anode mendapatkan tegangan negative sedangkan katode mendapatkan tegangan positif). Kondisi tersebut terjadi hanya pada diode idealkonseptual. Pada diode faktual (riil), perlu tegangan lebih besar dari 0,7V (untuk diode yang terbuat dari bahan silikon) pada anode terhadap katode agar diode dapat menghantarkan arus listrik. Tegangan sebesar 0,7V ini disebut sebagai tegangan halang (barrier voltage). Diode yang terbuat dari bahan Germanium memiliki tegangan halang kira-kira 0,3V. Jenis-jenis Dioda, dioda pemancar cahaya atau LED, dioda foto, dioda laser, diode Zener, dioda Schottky (SCR) Dioda cahaya atau lebih dikenal dengan sebutan LED (lightemitting diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju. Gejala ini termasuk bentuk elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor yang dipakai, dan bisa juga dekat ultraviolet, tampak, atau inframerah. Panjang gelombang dari cahaya yang dipancarkan, dan oleh karena itu warnanya, tergantung dari energi bandgap dari bahan yang

membentuk pn junction. Sebuah dioda normal, biasanya terbuat dari silikon atau germanium, memancarkan cahaya tampak dekatinframerah, tetapi bahan yang digunakan untuk sebuah LED memiliki energi bandgap antara cahaya dekat-inframerah, tampak, dan dekatultraungu. Inframerah adalah radiasi elektromagnetik dari panjang gelombang lebih panjang dari cahaya tampak, tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang radio. Namanya berarti "bawah merah" (dari bahasa Latin infra, "bawah"), merah merupakan warna dari cahaya tampak dengan gelombang terpanjang. Radiasi inframerah memiliki jangkauan tiga "order" dan memiliki panjang gelombang antara 700 nm dan 1 mm. Dioda laser adalah sejenis laser di mana media aktifnya sebuah semikonduktor persimpangan p-n yang mirip dengan yang terdapat pada dioda pemancar cahaya. Dioda laser kadang juga disingkat LD atau ILD. Dioda laser baru ditemukan pada akhir abad ini oleh ilmuwan Universitas Harvard. Prinsip kerja dioda ini sama seperti dioda lainnya yaitu melalui sirkuit dari rangkaian elektronika, yang terdiri dari jenis p dan n. Pada kedua jenis ini sering dihasilkan 2 tegangan, yaitu: 1. biased forward, arus dihasilkan searah dengan nilai 0,707 utk pembagian v puncak, bentuk gelombang di atas ( + ). 2. backforward biased, ini merupakan tegangan berbalik yang dapat merusak suatu komponen elektronika. Dioda Zener Sebuah dioda biasanya dianggap sebagai alat yang menyalurkan listrik ke satu arah, namun dibuat sedemikian rupa sehingga arus dapat mengalir ke arah yang berlawanan jika tegangan yang diberikan melampaui batas "tegangan rusak" (breakdown voltage) atau "tegangan Zener".

Dioda yang biasa tidak akan mengijinkan arus listrik untuk mengalir secara berlawanan jika dicatu-balik (reverse-biased) di bawah tegangan rusaknya. Jika melampaui batas tegangan rusaknya, dioda biasa akan menjadi rusak karena kelebihan arus listrik yang menyebabkan panas. Namun proses ini adalah reversibel jika dilakukan dalam batas kemampuan. Dalam kasus pencatuan-maju (sesuai dengan arah gambar panah), dioda ini akan memberikan tegangan jatuh (drop voltage) sekitar 0.6 Volt yang biasa untuk dioda silikon. Tegangan jatuh ini tergantung dari jenis dioda yang dipakai. Sebuah dioda Zener memiliki sifat yang hampir sama dengan dioda biasa, kecuali bahwa alat ini sengaja dibuat dengan tengangan rusak yang jauh dikurangi, disebut tegangan Zener. Sebuah dioda Zener memiliki p-n junction yang memiliki doping berat, yang memungkinkan elektron untuk tembus (tunnel) dari pita valensi material tipe-p ke dalam pita konduksi material tipe-n. Sebuah dioda zener yang dicatu-balik akan menunjukan perilaku rusak yang terkontrol dan akan melewatkan arus listrik untuk menjaga tegangan jatuh supaya tetap pada tegangan zener. Sebagai contoh, sebuah diode zener 3.2 Volt akan menunjukan tegangan jatuh pada 3.2 Volt jika diberi catu-balik. Namun, karena arusnya tidak terbatasi, sehingga dioda zener biasanya digunakan untuk membangkitkan tegangan referensi, atau untuk menstabilisasi tegangan untuk aplikasi-aplikasi arus kecil. Tegangan rusaknya dapat dikontrol secara tepat dalam proses doping. Toleransi dalam 0.05% bisa dicapai walaupun toleransi yang paling biasa adalah 5% dan 10%. Efek ini ditemukan oleh seorang fisikawan Amerika, Clarence Melvin Zener. Mekanisme lainnya yang menghasilkan efek yang sama adalah efek avalanche, seperti di dalam dioda avalanche. Kedua tipe dioda ini sebenarnya dibentuk melalui

proses yang sama dan kedua efek sebenarnya terjadi di kedua tipe dioda ini. Dalam dioda silikon, sampai dengan 5.6 Volt, efek zener adalah efek utama dan efek ini menunjukan koefisiensi temperatur yang negatif. Di atas 5.6 Volt, efek avalanche menjadi efek utama dan juga menunjukan sifat koefisien temperatur positif. Dalam dioda zener 5.6 Volt, kedua efek tersebut muncul bersamaan dan kedua koefisien temperatur membatalkan satu sama lainnya. Sehingga, dioda 5.6 Volt menjadi pilihan utama di aplikasi temperatur yang sensitif. Teknik-teknik manufaktur yang modern telah memungkinkan untuk membuat dioda-dioda yang memiliki tegangan jauh lebih rendah dari 5.6 Volt dengan koefisien temperatur yang sangat kecil. Namun dengan munculnya pemakai tegangan tinggi, koefisien temperatur muncul dengan singkat pula. Sebuah dioda untuk 75 Volt memiliki koefisien panas yang 10 kali lipatnya koefisien sebuah dioda 12 Volt. Semua dioda di atas, tidak perduli berapapun tenganan rusaknya, biasanya dijual dinamakan dioda Zener. 2.2.6 Saklar Saklar adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk memutuskan jaringan listrik, atau untuk menghubungkan antaranya. Secara sederhana, saklar berupa dua bilah logam yang menempel pada rangkaian, dan terpisah untuk memutus rangkaian. Material yang terhubung dipilah agar tahan akan korosi, karena kebanyakan logam terbuat dari oksida akan menyebabkan saklar tidak bekerja. Terkadang pula logam kontak di sepuh dengan logam lain. 2.2.7 Transistor Transistor merupakan komponen semikonduktor yang memiliki sifat khusus. Secara ekivalensi transistor dapat dibandingkan dengan

dua dioda yang dihubungkan dengan suatu konfigurasi. Transistor ada yang unipolar atau UJT ( Unjunction Transistor ) misalnya : FET, dan ada yang bipolar atau BJT misalnya : PNP dan NPN. Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat, pemotong (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inputnya (BJT) atau teganganinputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya. Pada umumnya, transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang di satu terminalnya mengatur arus yang lebih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponen-komponen lainnya. a. Transistor Uni polar Transistor Unipolar adalah transistor yang hanya memiliki satu buah persambungan kutub, dimana kutub tersebut hanya bertipe N dan bertipe P saja. Contohnya JFET

JFET cannel P

JFET cannel N

Gambar 9. Transistor Unipolar

SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier. Adalah Dioda yang mempunyai fungsi sebagai pengendali. SCR atau Tyristor masih termasuk keluarga semikonduktor dengan karateristik yang serupa dengan tabung thiratron. Sebagai pengendalinya adalah gate (G). SCR sering disebut Therystor. SCR sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN (Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda. b. Transistor Bipolar Transistor Bipolar adalah transistor yang memiliki dua persambungan kutub. Transistor Bipolar dapat diibaratkan dengan dua buah dioda yang terdiri dari tiga buah kaki yang masingmasing diberi nama : emitor, basis, dan colector. Untuk mengetahui kaki-kaki transistor tersebut bias dipergunakan AVO Meter untuk menguji.

Transistor NPN

Transistor PNP

Gambar 10. Transistor bipolar Istilah-istilah saklar dari sebuah transistor antara lain:

1)Saklar Tertutup (Saturasi)
a) Untuk Transistor NPN Tegangan pada basis harus lebih positif dari emitor maka arus akan mengalir dari kolektor ke emitor b) Untuk Transistor PNP Tegangan pada basis harus lebih negatif daripada emitor maka arus akan mengalir dari emitor ke kolektor

2) Saklar Terbuka (Cut Off)
a) Untuk Transistor NPN Tegangan pada basis lebih negatif daripada emitor maka arus tidak akan mengalir dari emitor ke kolektor

b)Untuk Transistor PNP
Tegangan pada basis lebih positif daripada emitor maka arus tidak akan mengalir dari kolektor ke emitor. Untuk mengetahui jenis transistor PNP atau NPN dapat pula di uji dengan menggunakan multitester yaitu :

 PNP Saklar multitester diatur pada posisi ohm Letakan probe merah pada salah satu kaki transistor, probe hitam pada kedua kaki lainnya. Jika jarum bergerak pada kedua kaki maka transistor tersebut NPN. Kaki basis terletak pada kabel merah. Untuk menentukan kolektor dan emitor kedua kaki yang belum diketahui diukur dengan dibolak balik.saat perpindahan jarum terbesar maka probe merah adalah kolektor dan probe hitam adalah emitor.  NPN  Saklar multitester diatur pada posisi ohm  Letakan probe hitam pada salah satu kaki transistor, probe merah pada kedua kaki lainnya. Jika jarum bergerak pada kedua kaki maka transistor tersebut NPN. Kaki basis terletak pada kabel hitam.  Untuk menentukan kolektor dan emitor kedua kaki yang belum diketahui diukur dengan dibolak balik.saat perpindahan jarum terbesar maka probe hitam adalah kolektor dan probe merah adalah emitor. Untuk menguji baik buruknya transistor dapat diuji dengan menggunakan multitester. Tabel pengujian Transistor PNP Basis + + Emitor + + Kolektor Kondisi Baik Bergerak Tidak bergerak Bergerak + Tidak bergerak Tidak bergerak Kondisi Buruk Tidak bergerak Bergerak Tidak bergerak Bergerak Bergerak

-

+

Tidak bergerak

Bergerak

Tabel pengujian transistor NPN Basis + + Emitor + + Kolektor Kondisi Baik Tidak bergerak Bergerak Tidak bergerak + Bergerak Tidak bergerak + Tidak bergerak Kondisi Buruk Bergerak Tidak bergerak Bergerak Tidak bergerak Bergerak Bergerak

Dalam pengoperasiannya penggunaan transistor kebanyakan diterapkan sebagai rangkaian penguat, stabilizer tegangan, sakelar elektronik dan lain-lain. Pada makalah ini kami menggunakan transistor BC557 dan BC547

2.3

Langkah-Langkah Pembuatan Alarm With Infra Red Sensor
Dalam pembuatan rangkaian Alarm With Infra Red Sensor diperlukan langkah-langkah pembuatannya, kami akan membahasnya kali ini. 2.3.1Merancang Layout Dalam pembuatan suatu rangkaian pertama yang harus kita lakukan adalah kita harus merancang sebuah layoutnya terlebih dahulu disebuah kertas millimeter blok, sebelum kita membuat atau merancang layout, kita harus melihat dahulu bentuk asli atau gambar rangkaian Alarm With Infra Red Sensor, dengan melihat gambar rangkaian dengan teliti agar hubungan antara komponen yang satu dengan komponen yang lainya sesuai dengan gambar rangkaiannya,

sebab kesalahan dalam penempatan komponennya dapat berakibat fatal, terlebih komponen yang mempunyai polaritas. Merancang layout sebaiknya menggunakan kertas millimeter blok. Setelah layout selesai kita rancang dan kita buat diatas kertas millimeter blok, kita harus meneliti dan memeriksa layout itu, harus mencocokkan dengan gambar asli rangkaian Alarm With Infra Red Sensor sebelum kita memindahkan rancangan layout ke papan PCB Kita juga harus melihat apakah jalur yang kita buat sudah benar atau ada yang salah. Perancangan layout ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam pembuatan suatu rangkaian, karena akan menentukan hasil akhir dari rangkaian yang kita buat. Jika kita benar-benar yakin dengan jalur yang kita buat maka besar kemungkinan hasil akhirnya baik. 2.3.2Memindahkan Rancangan Layout ke Papan PCB Setelah kita merasa yakin bahwa layout yang kita buat sudah benar, maka kita tinggal kita gambar di PCB dengan pertama-tama kita harus membuat lubang dengan menggunakan bor untuk pin IC 741 agar lebih mudah dalam memasang IC tersebut. Selanjutnya kita menggambarnya di PCB sesuai dengan gambar yang telah kita rancang dengan menggunakan spidol permanen secara teliti. Gambar yang kita gambar di PCB harus mirip dengan apa yanga ada layout agar lintasan rangkaian yang kita gambar di PCB tidk terbalik. Misalnya kita membuat lubang pin 1 maka di PCB juga harus menajdi lubang pin 1. Setelah itu kita larutkan PCB itu dalam larutan air panas dengan FeCl (feriklorit) agar Lintasan rangkaian tersebut muncul.cara tinggal dibiarkan tembaga di PCB melapuh sendiri atau digoyang-goyangkan biar cepat selesai. Jika sudah selesai semua, kita bor rangkaian

tersebut dengan minidrill mana saja yang belum dibor untuk komponen-komponen yang digunakan seerti transistor, SCR, relay dan sebagainya.. 2.3.2Pemasangan Komponen pada papan PCB Untuk pemasangan komponen-komponen pada papan PCB kita harus berhati-hati agar jangan sampai ada komponen yang terpasang terbalik, karena dapat mempengaruhi hasil keluarannya terlebih komponen yang berpolaritas. Sebelum dipasang sebaiknya dipastikan dahulu bahwa komponen-komponen yang akan dipasang dalam kondisi baik, dengan diuji terlebih dahulu dengan multitester. Langkah dalam pemasangan komponen adalah pertama pasang komponen yang tidak memiliki polaritas atau dengan kata lain komponen yang tidak memiliki kutub positif – negatif , karena kita dapat dengan mudah memasang tanpa khawatir terbalik dalam penempatan. Komponen yang pertama kali dipasang yaitu IC karena tempat dari pusat dari penyambungan komponen yang lain, Lalu dilanjutkan dengan memasang resistor karena komponen ini juga bebas dalam penempatan kaki-kakinya tanpa khawatir terbalik, namun dalam pemasangan resistor harus diperhatikan warna gelangnya karena memiliki nilai hambatan yang berbeda. Cara melihat nilai hambatannya dapat diketahui dengan melihat warna pada gelang seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, atau bila kita ingin meyakinkan nilai hambatannya secara pasti maka kita dapat menggunakan multitester untuk mengukurnya. Cara mengukur nilai hambatan dengan menggunakan multitester adalah arahkan range selector knob pada bagian daerah

yang diberi lambang ohm (Ω). Dan untuk melihat pada meter covernya maka kita lihat scale yang berada pada bagian paling atas. Setelah kita mengetahui nilai resistansi dari masing-masing resistor yang akan kita gunakan dan kita telah yakin, barulah kita memasang resistor tersebut pada tempatnya masing-masing dan kita solder dengan timah. Perlu diketahui dalam menyolder komponen jangan terlalu lama, karena jika terlalu lama komponen terkena panas solder maka komponen tersebut besar kemungkinan akan rusak. Terutama transistor sebab transistor sangat peka terhadap panas.setelah itu kita pasang transistor, dalam pemasangannya harus diperhatikan agar semua kaki tidak terbalik. Semua komponen kini telah selesai terpasang, lalu sekarang kita pasang kabel-kabel kecil yang akan digunakan untuk menghubungkan jack-jack banana, potensio yang akan ditaruh di Kotak akeliknya. dan juga sebagai penghubung sakla

BAB III ANALISA RANGKAIAN
3.1Analisis Rangkaian Secara Blok Diagram

Pada rangkaian Alarm With Infra Red Sensor, kami akan menerangkan cara kerja atau analisis alat ini secara diagram blok. Cara kerja diagram saat dinyalakan, alarm yang sangat sederhana dan terbatas dengan jarak yang relative pendek yaitu memiliki panjang gelombang antara 700 nm dan 1 mm.

Input(infra Red)

Photo Dioda Alat pengubah cahaya menjadi sinyal listrik

Alat untuk mengubah sinyal listrik menjadi sinyal suara

Output

Gambar 11. Diagram komunikasi Alarm with infrared Sedangkan data pengamatan yang diambil dengan

menggunakan multitester didapat data dengan dua kondisi LED yang berbeda sebagai berikut : Kondisi LED mati PIN 1 2 3 4 0V 5V 5V 0V IC 1 0V 9V 8V 0V IC 2

5 6 7 8 Kondisi LED menyala PIN 1 2 3 4 5 6 7 8

0V 8,5 V 12 V 0V

0V 2V 12 V 0V

IC 1 0V 5V 5V 0V 0V 9V 11 V 0V 0V 9V 8V 0V 0V 10 V 11 V 0V

IC 2

3.2 Analisis Rangkaian Pada pembahasan kali ini kami akan menganalisis rangkaian .Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor dapat menjadi rangkaian IR akan memancarkan sinar apabila diberikan arus pada Anode sebesar kurang lebih 3 volt sinar infra merah tidak dapat dilihat dengan mata telanjang kecuali menggunakan kamera atau dengan potho dioda R1 untuk menghambat arus, Menghambat arus katode dari IR supaya IR mendapat arus kurang lebih 3 volt. T1 adalah Potho Diode Apabila menerima sinar Infra Merah hambatannya akan berkurang. IC1 yaitu (penguat amplitode) Berfungsi sebagai penguat dan Inferter amplitude Input IC1 dari T1 2,5 volt Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar Alarm With Infra Red Sensor seperti dibawah ini:

Gambar 12. Skema Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor

BAB IV CARA PENGOPERASIAN ALAT
4.1 Langkah-Langkah Pengoperasian Alat
Pada bab ini kami akan membahas tentang bagaimana cara mengoperasikan rangkaian Alarm With Infra Red Sensor yang telah kami buat. Untuk mengoperasikan kedua rangkaian yang kami buat maka diperlukan langkah-langkah sebagai berikut: a) Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah hubungkan jack +12V, +5V dan Ground dari rangkaian Alarm With Infra Red Sensor ke power supply. b) Atur posisi potensiometer supaya lampu LED menyala. c) Kemudian kita halangi foto dioda dan infrared dengan menggunakan sesuatu benda sehingga tidak ada sinar infrared yang mengalir ke foto dioda. d) Selanjutnya kita dan sebaliknya. e) Tekan switch untuk mematikan bunyi beep. f) Kemudian catat tegangan pada kaki IC untuk data pengamatan. perhatikan apakah Buzzer berbunyi atau tidak dan jika berbunyi beep panjang maka LED tidak menyala

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Dari Semua bahasan Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor yang kami buat dalam proyek , dapat penulis simpulkan bahwa : 1. Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor yang menggunakan penguat darlingtone sebagai komponen inti. 2. Untuk membuat Alarm with Infra red membutuhkan ketelitian dan kesabaran jika ingin alat yang dibuat berjalan suskses dan berhasil. 3. Rangkaian Alarm With Infra Red Sensor yang penulis buat ini berfungsi dengan baik. 4. Pengaplikasian alat alarm ini digunakan untuk alat pengaman sesuatu seperti Roncar anti maling tapi dalam keadaan dan spesifikasi yang sudah ditingkat kemampuannya. 5.2 Saran

Pada rangkaian Alarm With Infra Red Sensor yang penulis buat ini, dengan segala keterbatasan yang kami miliki, kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam membuat proyek ini.

Sehingga pembuatan alat ini memakan waktu yang lumayan lama oleh karena itu penulis menyarankan : 1. Sebelum mengambar layout di PCB lebih baik membuat lubang dengan bor untuk pin IC agar lebih mudah dan tidak susah memasang IC. 2. Pembuat harus memperhatikan kembali apakah ada kesalahan pada sirkuit PCB sebelum dilarutakan. 3. Gunakan kabel-kabel yang efisien agar alat yang kita buat tidak semrawut. 4. Untuk komponen-komponen polar tertentu seperti yang kebalik mempunyai jangan sampai

pemasangannya agar alat itu berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
Aksin M, Merancang PCB sendiri,(Semarang,Effhar Offset: 2003) Malvino Alber Paul , Prinsip-Prinsip Elektronika 1, (Jakarta : Salemba Teknika, 2003) N Narayan Rao Pantur Silaban, Elemen-elemen Elektronika, edisi pertama, (Jakarta,Erlangga: 2007) Rusmadi, Dedy. Mengenal Teknik Elektronika, (Bandung : Pionir Jaya, 1994) Yohannes, h. c. Dasar-Dasar Elektronika, (Yogyakarta : Ghalia Indonesia, 1979) Zam, Efvy Zamidra. Mudah Menguasai Elektronika, (Surabaya : Indah, 2002),

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->