P. 1
HCT AntiHipertensi Baru NEW RESEARCH

HCT AntiHipertensi Baru NEW RESEARCH

|Views: 2,992|Likes:
tinjauan pustaka
tinjauan pustaka

More info:

Published by: Mietha Ferdiana Putri on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2015

pdf

text

original

TINJAUAN KEPUSTAKAAN PENYAKIT HIPERTENSI DAN HYDROCHLOROTHIAZIDE SEBAGAI SALAH SATU TERAPINYA

Pembimbing : dr. Haryanto Husein, MS, AFK

Disusun oleh : 1. Agus Budianto 2. Kadek Yuris Wira Artha 3. Aan Wahyudi 4. Rendy Septada 5. Mietha Ferdiana Putri ( 1998.04.0.0030 ) ( 2005.04.0.0009 ) ( 2005.04.0.0012 ) ( 2005.04.0.0013 ) ( 2005.04.0.0015 )

LABORATORIUM FARMASI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA 2010

LE B T E L T TE T Z

E E

E T

E TE E EB L T

Judul Ti j uan Kepustakaan ³ Penyakit Hipertensi dan Hydrochlorothiazide Sebagai Salah Satu Terapinya ³ telah diperiksa dan disetujui sebagai salah sa tugas dalam tu rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda I di bagian Ilmu Farmasi Klinik.

Surabaya, 5 Juni 2010 Mengetahui, Pembimbing

i

2

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESA AN DAFTAR ISI KATA PENGANTAR PENDA ULUAN HIPERTENSI DEFINISI PENGENDALIAN TEKANAN DARAH PENYEBAB GEJALA DIAGNOSA PENGOBATAN PENCEGAHAN HYDROCHLOROTHIAZIDE FARMAKODINAMIK FARMAKOKINETIK INDIKASI KONTRA INDIKASI INTERAKSI OBAT EFEK SAMPING DOSIS DAN CARA PEMBERIAN PENELITIAN KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

2 3 4 5 6 6 7 8 9 10 11 13 14 14 15 15 16 16 16 18 19 20 21

3

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan kuasanya yang dilimpahkan kepada kami semua, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami ini yang berjudul ³ Penyakit Hipertensi dan Hydrochlorothiazide Sebagai Salah Satu Terapinya ³. Penulisan Tinjauan Kepustakaan ini kami susun dengan tujuan untuk menambah wawasan tentang obat anti hipertensi, khususnya hydrochlorothiazide serta memberi pengalaman dalam penulisan dan penyajian suatu karya ilmiah. Kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. dr. Haryanto Husein, MS, AFK 2. Staf dosen Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah 3. Rekan-rekan dokter muda yang membantu sehingga karya tulis ini dapat teselesaikan dengan baik. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan untuk itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata, atas segala perhatian dan dukungannya, kami ucapkan terima kasih.

Surabaya, 5 Juni 2010

Penyusun

4

PENDAHULUAN Hipertensi sebagai salah satu dari lima penyakit teratas di Indonesia yang paling sering ditemukan, dan apabila tidak mendapat terapi yang tepat dapat mengakibatkan kematian. Hipertensi sebenarnya dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup yang sehat. Namun apabila hal ini tidak memberikan hasil yang memuaskan dan terjadi peningkatan tekanan darah maka dapat diberikan terapi medika mentosa yang tepat. Adapun obat penurun tekanan darah yang umum dikenal hingga saat ini adalah penghambat ACE (ACEI), antagonis angiotensin (ARB), antagonis Ca (CCB), penyekat beta (BB), dan diuretika. Diuretik golongan thiazide dianjurkan sebagai terapi awal hipertensi. Bisa digunakan sebagai obat tunggal atau kombinasi, karena golongan ini meningkatkan efikasi obat anti hipertensi lain. Kombinasi dua obat yang ternyata efektif dan dapat ditoleransi dengan baik misalnya adalah diuretik dengan beta blocker, diuretik dengan ACEI atau ARB, Ca antagonist (dehidropiridin) dengan beta blocker, Ca antagonist dengan ACEI atau ARB, Ca antagonist dan diuretik, serta alfa blocker dan beta blocker. Pengobatan hipertensi secara tepat dan efektif sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pemilihan obat yang tepat dan sesuai dengan penderita juga perlu diperhatikan. Dalam makalah ini, akan hydrochlorothiazide (HCT) sebagai salah satu terapi anti hipertensi mengingat HCT merupakan obat yang murah dan mudah didapat di masyarakat.

5

HIPERTENSI

Definisi Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama) di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai kead aan darah tinggi. Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan puluh. Dikatakan tekanan darah tinggi jika pada saat duduk tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih, atau keduanya. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal.

Tabel I. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO Kategori Optimal Normal Tingkat 1 (hipertensi ringan) Sub grup : perbatasan Tingkat 2 (hipertensi sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) Hipertensi sistol terisolasi Sub grup : perbatasan Sistol (mmHg) < 120 < 130 140-159 140-149 160-179 • 180 • 140 140-149 6 Diastol (mmHg) < 80 < 85 90-99 90-94 100-109 • 110 < 90 < 90

Tabel II. Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 Kategori Normal Pre hipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Sistol (mmHg) <120 120-139 140-159 • 160 Dan/atau Dan Atau Atau Atau Diastole (mmHg) <80 80-89 a90-99 • 100

Pengendalian Tekanan Darah Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara : 1. Jantung memompa lebih kuat sehingga mengalirkan lebih banyak cairan pada setiap detiknya. 2. Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis. Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi, yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena perangsangan saraf atau hormon di dalam darah. 3. Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat.

Jika terjadi aktivitas memompa jantung berkurang, arteri mengalami pelebaran dan banyak cairan keluar dari sirkulasi maka tekanan darah akan menurun dan penyesuaian terhadap faktor-faktor tersebut dilaksanakan oleh perubahan di dalam fungsi ginjal dan sistem saraf otonom (bagian dari sistem saraf yang mengatur berbagai fungsi tubuh secara otomatis).

7

Tabel III. Perubahan fungsi ginjal Tekanan Darah Naik Turun Mekanisme Pengeluaran garam dan air ditingkatkan Pengeluaran garam dan air diturunkan

Ginjal juga bisa meningkatkan tekanan darah dengan menghasilkan enzim yang disebut renin, yang memicu pembentukan hormon angiotensi, yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon aldosteron. Ginjal merupakan organ penting dalam mengendalikan tekanan darah; karena itu berbagai penyakit dan kelainan pada ginjal bisa menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi. Misalnya penyempitan arteri yang menuju ke salah satu ginjal (stenosis arteri renalis) bisa menyebabkan hipertensi. Peradangan dan cedera pada salah satu atau kedua ginjal juga bisa menyebabkan naiknya tekanan darah.

Penyebab Penyebab hipertensi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu : 1. Hipertensi esensial atau primer Penyebab pasti dari hipertensi esensial sampai saat ini masih belum dapat diketahui. Namun, berbagai faktor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya umur, stres psikologis, dan hereditas (keturunan). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong Hipertensi primer sedangkan 10% nya tergolong hipertensi sekunder. 2. Hipertensi sekunder Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui. Pada sekitar 5 - 10 % penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1 - 2 %, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya penyakit kelenjar adrenal / hiperaldosteronisme, penggunaan pil KB).

8

Tabel IV. Beberapa penyebab terjadinya hipertensi sekunder : Penyebab Penyakit Ginjal Contoh 1. Stenosis arteri renalis. 2. Pielonefritis. 3. Glomerulonefritis. 4. Tumor-tumor ginjal. 5. Penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan). 6. Trauma pada ginjal (luka yang mengenai ginjal). 7. Terapi penyinaran yang mengenai ginjal. Kelainan Hormonal 1. Hiperaldosteronisme. 2. Sindroma Cushing. 3. Feokromositoma. Obat-obatan 1. Pil KB. 2. Kortikosteroid. 3. Siklosporin. 4. Eritropoietin. 5. Kokain. 6. Penyalahgunaan alkohol. 7. Kayu manis (dalam jumlah sangat besar) Penyebab lainnya 1. 2. 3. 4. Koartasio aorta. Preeklamsi pada kehamilan. Porfiria intermiten akut. Keracunan timbal akut.

Gejala Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Jika hipertensi berat atau menahun dan tidak diobati maka akan bisa menimbulkan sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah dan pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Kadang penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak. Keadaan ini disebut 9 ensefalopati

hipertensif, yang memerlukan penanganan segera. Meningkatnya tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya gejala pada hipertensi essensial. kadang-kadang hipertensi essensial berjalan tanpa gejala dan baru timbul gejala setelah komplikasi pada organ sasaran seperti pada ginjal, mata,otak, dan jantung. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai adalah : Gangguan penglihatan, Gangguan saraf, Gagal jantung, Gangguan fungsi ginjal, Gangguan serebral (otak), yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, gangguan kesadaran hingga koma. Sebelum bertambah parah dan terjadi komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, stroke. Gejala yang timbul akibat menderita darah tinggi tidak sama pada setiap orang.Hal ini disebabkan karna tekanan darah seseorang bisa saja tinggi disatu saat karena faktor emosi dan hal ini sering dikait-kaitkan bahwa orang yang sering marah karena menderita darah tinggi. Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala yang baru dapat diketahui dengan pemeriksaan menggunakan alat bernama

sphygmomanometer. Gejala lain yang sering ditemukan antara lain sakit kepala, mimisan (keluar darah dari hidung), telinga berdengung, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang dan pusing.

Diagnosa Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit. Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran. Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi. Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal. Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Petunjuk awal adanya kerusakan 10

ginjal bisa diketahui terutama melalui pemeriksaan air seni Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air seni bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal. Penyebab lainnya bisa ditemukan melalui pemeriksaan rutin tertentu. Misalnya mengukur kadar kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya koartasio aorta. Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong).

Pengobatan Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu : 1. Pengobatan non obat (non farmakologis). 2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis). Pada hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Pengobatan non obat (non farmakologis) Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurangkurangnya ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik. Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita: 1 Menurunkan berat badannya sampai batas ideal. 2 Merubah pola makan. 3 Olah raga aerobik yang tidak terlalu berat. 4 Berhenti merokok.

11

Pemberian obat-obatan (farmakologis) 1. Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah. Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium. Diuretik sangat efektif kepada penderita lanjut usia, kegemukan dan penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun. 2. Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfablocker, beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis. Dan beta-blocker efektif kepada penderita usia muda, penderita yang pernah mengalami serangan jantung, penderita dengan denyut jantung yang cepat, angina pektoris (nyeri dada), sakit kepala migren. 3. Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor). Obat ini efektif diberikan kepada penderita usia muda, penderita gagal jantung, penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal menahun atau penyakit ginjal diabetik dan pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain. 4. Angiotensin-II-bloker 5. Antagonis kalsium sangat efektif diberikan kepada penderita lanjut usia, penderita angina pektoris (nyeri dada), denyut jantung yang cepat, sakit kepala migren. 6. Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Obat dari

golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat antihipertensi lainnya. 7. Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera. Obat-obatan seprti Diazoxide, Nitroprusside, Nitroglycerin, Labetalol bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah).

12

Contoh Kombinasi Obat pada Pengobatan Hipertensi : 1 Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan. 2 Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah. 3 Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga memperlebar pembuluh darah.

Pencegahan Untuk mencegah darah tinggi dan mengatasi darah tinggi ataupun yang sudah memiliki tekanan darah tinggi, bias dilakukan pencegahab sebagai berikut: 1. Kurangi konsumsi garam 2. Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. 3. Kurangi minum minuman atau makanan beralkohol. 4. Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. 5. Makan sayur dan buah yang berserat tinggi. 6. Jalankan terapi anti stress. 7. Berhenti merokok. 8. Kendalikan kadar kolesterol. 9. Kendalikan diabetes. 10. Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah.

13

HYDROCHLOROTHIAZIDE

Farmakodinamik Efek farmakodinamika thiazide yang utama ialah meningkatkan ekskresi natrium, clorida dan sejumlah air. Efek natriuresis dan klororesis ini disebabkan oleh penghambatan mekanisme reabsorbsi elektrolit pada hulu tubuli distal (early distal tubule). Mekanisme Hydrochlorothiazide sebagai antihipertensi masih belum jelas, dan pemberian Hydrochlorothiazide pada tekanan darah yang normal tidak berefek seperti pada penderita hipertensi. Thiazide menurunkan tekanan darah bukan saja karena efek diueretiknya, tetapi juga karma efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi. Pada penderita diabetes insipidus, thiazide justru mengurangi diuresis. Mekanisme antidiuretiknya belum diketahui dengan jelas dan efek ini kita jumpai baik pada diabetes insipidus nefrogen maupun yang disebabkan oleh kerusakan hipofisis posterior. Pada ginjal, thiazide dapat mengurangi kecepatan filtrasi glomerolus, terutama bila diberikan secara intravena. Efek ini mungkin disebabkan oleh pengurangan aliran darah ginjal. Tempat kerja utama thiazide adalah dibagian hulu tubuli distal seperti diketahui mekanisme reabsorbsi Na+ di tubuli distal masi belum jelas benar, maka demikian pula cara kerja thiazide. Laju ekskresi Na+ maksimal yang ditimbulkan oleh thiazide relative lebih rendah dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh beberapa diuretic lain, hal ini disebabkan 90 % Na+ dalam cairan filtrate telah direabsorbsi lebih dulu sebelum ia mencapai tempat kerja thiazide. Efek kaliuresis disebabkan oleh bertambahnya natriuresis sehingga pertukaran antara Na+ dan K+ menjadi lebih aktif pada penderita dengan oedem pertukaran Na+ dan K+ menjadi lebih aktif karena sekresi aldosteron bertambah. Pada manusia, thiazide menghambat ekskresi asam urat sehingga kadarnya dalam darah meningkat. Ada 2 mekanisme yang terlibat dalam hal ini: a. Thiazide meningkat reabsorbsi asam urat ditubuli proximal

14

b. Thiazide mungkin sekali menghambat ekskresi asam urat oleh tubuli karena thiazide tidak dapat menghambat reabsorbsi kalsium oleh sel tubuli distal. Ekskresi Mg+ meningkat, sehingga dapat menyebabkan hipomagnesemia. Pada cairan ekstrasel, thiazide dapat meningkatkan ekskresi ion K+ terutama pada pemberian jangka pendek, dan mungkin efek ini menjadi kecil bila penggunaannya berlangsung dalam jangka panjang. Ekskresi natrium yang berlebihan tanpa disertai jumlah air yang sebanding dapat menyebabkan hiponatremia dan hipokloremia, terutama bila penderita tersebut mendapat diet rendah garam.

Farmakokinetik Semua thiazide diabsorbsi dengan baik melalui saluran cerna termasuk Hydrochlorothiazide. Hanya ada perbedaan dalam metabolismenya. Umumnya efek obat tampak setelah satu jam. Hydrochlorothiazide didistribusikan keseluruh ruang ekstrasel dan dapat melalui sawar uri, tetapi hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja. Hydrochlorothiazide diekskresi oleh sel tubuli proksimal ke dalam cairan tubuli dengan suatu proses aktif. Jadi bersihan ginjal obat ini, biasanya dalam 3 ± 6 jam, dan diekskresi dari badan. Selain itu Hydrochlorothiazide tidak mengalami perubahan metabolic dalam tubuh.

Indikasi Hydrochlorothiazide adalah suatu "water pill" (diuretic) yang membantu ginjal mencegah penyerapan garam berlebih dan cairan yang tidak diinginkan dalam tubuh. Hal ini menyebabkan produksi urin lebih meningkat.Hydrochlorothiazide ini digunakan untuk mengurangi edema yang disebabkan pada kegagalan jantung congestive, cirrhosis hati, kegagalan ginjal kronis, pengobatan korticosteroid, sindrom nephrotik, serta hipertensi. Hydrochlorthiazide juga dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terkena diabetes insipidus dan untuk mencegah batu ginjal pada pasien dengan kadar kalsium yang tinggi dalam darah.

15

Kontra indikasi Tabel V. Kontra indikasi HCT Terapi Kontra Indikasi 1. Hypokalemia 2. Hypomagnesemia Hydrochlorothiazide 3. Hyponatremia 4. Mild Pre-Eclampsia 5. Hipertensi pada kehamilan

Interaksi Obat Hydrochlorothiazide diekskresi melalui ginjal dengan cepat kemungkinan dosis akan berkurang apabila mengalami kelainan ginjal. Selama penggunaan

hydrochlorothiazide kadar asam urat kemungkinan akan meningkat, dan jarang terjadi encok. Hydrochlorothiazide akan mengurangi ekskresi litium yang dikeluarkan melalui ginjal dan dapat meningkatkan kadar ketoksikan dari lithium itu sendiri. Hydrochlorothiazide dapat meningkatkan efek alkohol. Maka janganlah mengkonsumsi alkohol selama memakai obat ini. Apabila hydrochlorothiazide ini digunakan dengan obat tertentu maka dapat meningkatkan efek obat ini sendiri, walaupun demikian hal in dapat pula mengakibatkan efek obatnya menjadi menurun.

Efek Samping Sebagaimana obat lain, selain mempunyai efek yang menguntungkan hydrochlorothiazide juga memiliki efek yang merugikan. 1. Alkalosis Metabolik Hipokalemik dan Hiperurikemia Hydrochlorothiazide meningkatkan penghantaran garam dan air ke duktus pengumpul, sehingga meningkatkan sekresi K+ dan H+ ginjal yang diakibatkan alkalosis metabolic hipokalemik. Keadaan tersebut dapat diatasi dengan penggantian K+ dan koreksi hipovolemia. Hydrochlorothiazide disekresi asam urat oleh sistem tersebut. Akibatnya kecepatan sekresi asam urat dapat menurun, dengan diikuti peningkatan kadar serum asam urat pada steady state, produksi asam urat tidak dipengaruhi Hydrochlorothiazide.

16

2. Gangguan Toleransi Karbohidrat Pada pasien diabetus atau dengan uji toleransi glukosa tidak normal dapat terjadi hiperglikemi. Berkaitan dengan hambatan pelepasan insulin pankreatik dan penurunan penggunaan glukosa oleh jaringan. Keadaan ini dapat disembuhkan sebagian dengan perbaikan hipokalemia. 3. Hiperlipidemia Hydrochlorothiazide menyebabkan peningkatan 4-15% kolesterol serum dan menurunkan LDL. Keadaan ini dapat kembali pada pemakaian jangka panjang. 4 Hiponatremia Merupakan efek yang tidak diinginkan walaupun jarang terjadi. Keadaan ini disebabkan oleh kombinasi induksi hipovolemia pada peningkatan AND, penurunan kapasitas pengenceran oleh ginjal dan peningkatan rasa haus, Hiponatremia dicegah dengan penurunan dosis obat atau hambatan asupan air. 5. Hipokalemia Walaupun hipokalemia ringan dapat ditoleransi oleh banyak pasien, tetapi akan berbahaya pada pasien yang menggunakan digitalis, pasien dengan aritmia kronis, pada Infark Miocard akut atau disfungsi ventrikel kiri. Kehilangan kalium diimbangi dengan reabsorbsi natrium, oleh karenanya pembatasan asupan natrium dapat meminimalkan kehilangan kalium. 6. Reaksi Alergi Hydrochlorothiazide merupakan sulfonamide dan mempunyai reaktivitas silang dengan anggota lain dari kelompoknya. Sensitivitas terhadap cahaya atau dermatitis menyeluruh jarang terjadi. 7. Toksisitas lain Kelemahan, kelelahan, dan penetrasi dapat menyerupai penghambat carbonic anhydrase lain. Impotensi telah dilaporkan, tetapi diduga berkaitan dengan deplesi volume. Efek metabolic tersebut dapat diminimalkan dengan penggunaan dosis rendah tanpa menggunakan efek antihipertensinya.

17

Dosis dan Cara Pemberian Tabel VII. Dosis pemberian terapi hydrochlorothiazide. Nama Obat Dosis Catatan CP : Diminum pagi bersamaan D: 25-100mg/dosis, diberikan setiap 12-24 jam diturunkan mungkin, Maks. 100 mg/24 Hydrochlorothiazide Tab. 25 mg Tab. 100 mg A: 0.5-1.0 mg/kg/dosis, diberikan setiap 12-24 jam KI: jam dengan makanan. ESO: - Hipokalemia Hiperurikemia Hiponatremia Hipokhloremia alkolosis Hipomagnesia

- Anuria Terapi bersama lithium

Pada umumnya penderita hipertensi memerlukan dua atau lebih obat anti hipertensi dalam mencapai target tekanan darah. Pada tekanan darah 20/10 mmHg di atas tekanan darah optimal atau hipertensi stage 2 (JNC 7) pengobatan awal dipertimbangkan untuk menggunakan dua macam kelas obat sebagai kombinasi tetap atau masing-masing tetap diberikan tersendiri. Pemberian kombinasi obat anti hipertensi memang lebih cepat mencapai target tekanan darah, namun harus tetap diwaspadai kemungkinan terjadinya hipotensi ortostatik, terutama pada penderita diabetes, disfungsi saraf otonom dan penderita geriatrik. Jika sudah terjadi efek samping hipotensi ortostatik, agar obat diturunkan dosisnya dan penderita tidak langsung berdiri setelah berbaring. Penderita harus dievaluasi setiap bulan untuk penyesuaian obat agar target tekanan darah tercapai. Evaluasi bisa dilakukan tiap tiga bulan jika target telah tercapai. Sebaliknya pada penderita diabetes dan payah jantung memerlukan evaluasi yang lebih sering.

18

PENELITIAN

Efek Antihipertensi dari kombinasi obat Metoprolol dan Hydrochlorothiazide Untuk mencapai tekanan darah yang diinginkan, beberapa pasien hipertensi membutuhkan kombinasi terapi antihipertensi. Studi klinis mengenai diuretik tiazid/beta bloker menunjukkan bahwa obat-obat tersebut dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler akibat hipertensi. Pemilihan dosis yang tepat untuk kombinasi obat-obat tersebut akan mempermudah pencapaian tujuan dari terapi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode randomized, double blind, placebo controlled, dengan unbalanced factorial study (N=1571) untuk meneliti bagaimana efek Hydrochlorothiazide (HCT) dan extended release (ER) metoprolol yang dikombinasikan sebagai obat antihipertensi. Penderita hipertensi dewasa dimana mempunyai tekanan darah diastole 95-114 mmHg dan tekanan darah systole <180 mmHg menerima salah satu dari tiga dosis HCT (6,25 mg, 12,5 mg, 25 mg), dan salah satu dari empat dosis ER-metoprolol (25mg, 50mg, 100 mg, 200 mg), sehingga akan didapatkan 9 kombinasi dosis dan placebo selama 8 minggu. Hasil : Tekanan darah tampak menurun pada semua kombinasi dosis (P < 0,001 v placebo); penurunan tekanan darah tergantung dosis yang diberikan, mulai dari 8,7 ± 15,7 mmHg (diastol) dan 9,7 ± 18,9 mmHg (systole). Penurunan dengan placebo 5,3 mmHg diastole dan 4,2 mmHg systole. Kedua obat ini tampak memberikan efek pada kombinasi ( P= 0,0015 untuk diastole dan P = 0,0006 untuk systole). Kombinasi dosis rendah tampak memberikan kefektivitasan yang sama dengan dosis tinggi pada pengobatan tunggal (berbeda 1 hingga 2,5 mmHg). Kadar potassium serum menurun dan kadar asam urat meningkat seiring dengan peningkatan dosis HCT. Kesimpulan : Kombinasi ER-metoprolol dan HCT efektif dalam mengatasi hipertensi.

19

KESIMPULAN Hipertensi sebagai salah satu dari lima penyakit teratas di Indonesia yang paling sering ditemukan, dan apabila tidak mendapat terapi yang tepat dapat mengakibatkan kematian. Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal atau kronis (dalam waktu yang lama) di dalam arteri. Etiologi hipertensi digolongkan menjadi dua yaitu hipertensi essential atau primer dan hipertensi sekunder. Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu pengobatan farmakologis dan nonfarmakologis. Terdapat beberapa macam obat antihipertensi sesuai dengan mekanisme kerjanya dan pada Tinjauan Kepustakaan ini dijelaskan mengenai penggunaan HCT pada penderita hipertensi mengingat obat ini merupakan obat yang murah dan mudah didapatkan. Tidak jarang pengobatan hipertensi membutuha\kan dua atau lebih obat antihipertensi yang dikombinasikan untuk mendapat hasil yang optimal. Pada Tinjauan Kepustakaan ini disertakan pula penelitian tentang efek antihipertensi HCT bila dikombinasikan dengan ER-metoprolol. Dan hasilnya efek antihipertensi kombinasi kedua obat tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik daripada penggunaan keduanya sebagai obat tunggal.

20

DAFTAR PUSTAKA CBN.penyakit-penyakit yang mengintai pria,2009

http//www.cybershoping.cbn.net.id// cbprtl/cyberman/pda/detail.aspx?x=hot+topic&y=cyberman%7co%7co%7c4% 7c16 Gunawan Gan Sulistia, Rianto Setiabudy Nafrialdi, Elysabeth, 2007. Farmakologi dan Terapi edisi 5 Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapeutik ± Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hipertensi, http//www.rsbk/batam.co.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi= lihat&id=25 http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi http://ilmu-kedokteran.blogspot.com/2007/11/hydrochlorothiazide.html http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17161766 Katzung G. Bertram, 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi I Jakarta : Salemba Medika. RSU Dr. Soetomo, 2008. Formularium RSU Dr. Soetomo Surabaya : RSU Dr. Soetomo Sudoyo W. Aru, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marsellus Simadibrata, Siti setiati, 2006. Ilmu Penyakit Dalam edisi IV jilid I Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam ± Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tjokroprawiro Askandar, Poernomo Boedi Setiawan, Djoko Santo, Gatot Soegiarto, 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi I Surabaya : RSU Dr. Soetomo ± Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 2009

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->