P. 1
Pembiasaan Membaca Asmaul Husna Dan Akhlak

Pembiasaan Membaca Asmaul Husna Dan Akhlak

|Views: 1,612|Likes:
Published by M Fitri Maulana
Asma'ul Husna dan Akhlak
Asma'ul Husna dan Akhlak

More info:

Published by: M Fitri Maulana on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2015

pdf

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Penelitian Sebagai mana dikutip dari Muhammad Safii Antonio (2009:3) bahwa

seiring perjalanan sejarah, sebuah peradaban yang begitu mengagungkan logika dan kapabilitas kini beralih ke era wisdom dan value. Meraka sadar bahwa kesuksesan seseorang sangat tergantung kepada sistem nilai dan kepribadian yang di yakininya. Keberhasilan finansial dan kecanggihan manajemen teknis ternyata mengalami keruntuhan ketika jiwa dan mentalnya ambruk. (Muhammad Syafii Antonio, 2009:3) Penyebab dari fenomena tersebut sebagaimana diungkapkan Sofyan Sauri (2007:41) bahwa sejak memasuki abad ke-21 yang ditandai dengan

perkembangan Ilmu Pengetahuan serta Teknologi Infomasi dan komunikasi (TIK) amat mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai-nilai , baik nilai budaya, adat istitiadat maupun nilai agama. Perkembangan iptek tersebut nyaris menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga dunia seakan menyatu dalam suatu kampung (global Village). Pertukaran informasi termasuk nilai antar bangsa berlangsung secara cepat dan dinamis, sehingga mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahan terkikisnya nilai asli yang menjadi identitas suatu komunitas yang bersifat sakral, kini tengah berada di persimpangan jalan. Pada saat nilai nilai advantage dari idiologi globalisasi mengalir deras ke segala penjuru dunia yang dihembuskan oleh para pencetus dan pendukungnya,

pada saat itu pula terjadi proses aleanasi nilai sehingga mengakibatkan kegamangan (split personality). Kegamangan nilai muncul karena kecenderungan manusia era global lebih mengutamakan kemampuan akal dan memarginalkan peranan nilai-nilai ilahiyah (agama). Akibatnya manusia kehilangan ruh kemanusiaan dan hampa dari nilai-nilai spirritual. Kemampuan daya nalar

(rasionalitas) yang telah mencapai puncaknya yang tidak dibarengi dengan kekuatan ruhaniyah, berakibat hidup menjadi kekosongan makna. Akibat fatal lebih dari dari kondisi tersebut kini sumber-sumber nilai yang menjadi panutan menjadi sangat beragam, tidak jelas dan berubah dari waktu ke waktu karena rujukan moral yang dikembangkan hanya berorientasi kepada nilai masyarakat dan memarginalkan nilai transendental yang bersumber dari agama. Atas dasar hal tersebut beberapa ahli melakukan riset untuk mencari jawaban dari fenomena ini hingga sampailah pada satu titik solusi dengan penemuan pertamakali tentang Kecerdasan Spiritual Quotion (SQ) yang di gagas oleh Danah Zohar dan Ian Marsall, masing-masing dari Oxford University melalui riset yang komprehesif. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual yang dipapakan Danah Zohar dan Ian Marsall dalam SQ (spiritual Quotion), The Ultimate Intelligence (London, 2000), dua diantaranya adalah, pertama riset ahli psikologi /syaraf, Michael Persinger pada awal tahun 1990-an dan lebih mutakhir lagi tahun 1997 oleh ahli syaraf V.S Ramachandrandan timnya dari California University , yang menemukan eksistensi God-Spot dalam otak mansia. Ini sudah built-in sebagai pusat spiritual (spiritual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.

Kemudian bukti kedua adalah riset ahli syaraf Austria , Wolf Singer (1990) atas Binding Problem yang menunjukan adanya proses saraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan yang

terkosnsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup manusia. Suatu jaringan syaraf secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup menjadi lebih bermakna . Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Akan tetapi Penemuan SQ tersebut belum bahkaan tidak menjangkau dimensi ketuhanan karena pemaparan baru sebatas tataran biologis atau psikologis semata dan tidak bersifat transendental. Mereka tidak menyadari dari mana datangnya nilai-nilai luhur tersebut, dan siapa pemilik hakiki value yang mulia itu. Sampai pada pemahaman asma'ul husna yang yang sangat mencengangkan para lmuwan pengkaji nilai tersebut tak terkecuali bagi Danah Johar yang sempat terperanjat ketika mengetahui bahwa 12 nilai yang dikembangkannya dalam Spiritual Capital tidak se-komprehensif value yang terdapat dalam asma'ul husna. (Antonio syafii, 2009:4) Penemuan tentang God Spot yang berperan sebatas hardware yang menjadi spiritual center pada otak manusia kini dilengkapi dengan pengkajian Asma'ul husna sebagai sofware dari Emosional Spiritual Quotion (Ary Ginanjar, 2001:11) juga sebagai tool dalam pembentukan dan pengembangan nilai ketuhanan yang bersifat transendental yang diyakini sebagai suara hati yang universal dan mampu mengungkap kebenaran hakiki. (Antonio syafii, 2009: 7)

Hal yang paling urgen sekarang adalah pelatihan sepanjang waktu (continuously improvement) yang mampu membentuk karakter dengan tingkat kecerdasan emosi yang tinggi dalam rangka internalisasi nilai. Lebih lanjut hal ini diperkuat oleh kutipan seorang psikologis terkemuka yang menyatakan “Taburlah gagasan petiklah perbuatan, taburlah perbuatan petiklah kebiasaan, taburlah kebiasaan peiklah karekter, taburlah karakter petiklah nasib. Artinya untuk membangun karakter perlu sebuah kebiasaan yang dibentuk dari latihan/pembiasaan.” (Stephen Robert Covey, 1990:46). Pada tatanan dunia pendidikan agama akhlak dan nilai, pembiasaan menjadi sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Hal ini beranjak dari tujuan utama pendidikan agama adalah menggugah “fitrah insaniyah” dan memunculkan kembali potensi kebaikan yang sudah ada pada diri setiap orang (Wahyuni Nafis, 2003) yang selanjutnya ditanamkembangkan melalui kebiasaan dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlaq mulia (Darajat, 2001: 174) melalui pembiasan dan latihan (Pangarsa: 21-25) sesuai sasaran pendidikan nilai dalam rangka civilizing , baik dalam pola pikir, pola dzikir dan pola prilaku (Djahiri, 2006) Latihan dan pengulangan yang merupakan metode praktis untuk menghafalkan atau menguasai suatu materi pelajaran termasuk ke dalam metode ini, bahkan secara teknis metode pembiasaan dam pengulangan ini telah digariskan oleh Allah secara tersirat diantaranya di dalam Al Quran ayat pertama surah Al-Alaq. Secara implisit metode ini menggambarkan dari cara turunnya

wahyu pertama ( ayat 1-5 ). Malaikat Jibril menyuruh Muhammad Rasulullah SAW dengan mengucapkan “‫“ (”إقرا‬bacalah !” ) dan Nabi menjawab: ‘‫”ما انا بقارئ‬ َ ِْ ِ َ ِ ََ َ

( “saya tidak bisa membaca “), lalu malaikat Jibril mengulanginya lagi dan Nabi menjawab dengan perkataan yang sama. Hal ini terulang sampai 3 kali. Kemudian Jibril membacakan ayat 1-5 dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi tentang apa yang disampaikan Jibril tersebut ( Erwati Aziz, 2003: 81). Dengan demikian metode pembiasaan dan pengulangan yang digunakan Allah dalam mengajar Rasul-Nya amat efektif sehingga apa yang disampaikan kepadanya langsung tertanam dengan kuat di dalam kalbunya. Di dalam surat Al-A’la ayat 6, secara implisit Allah menegaskan lebih lanjut bahwa: 6 :‫)سنقرئك فل تنسي )العلى‬ ْ َ َ َ َ ُ ِ ْ َُ “ Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa”. (Departemen Agama Repubik Indonesia, 1987:1051) Ayat ini menegaskan bahwa Allah membacakan Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW., kemudian Nabi mengulanginya kembali sampai ia tidak lupa apa yang telah diajarkan-Nya. Dalam ayat 1 – 5 Surah Al Alaq, Jibril membacakan ayat tersebut dan Nabi mengulanginya sampai hafal (Erwita Aziz, 2003: 82). Perintah membaca dalam surah Al Alaq tersebut terulang sebanyak dua kali, yaitu pada ayat pertama dan ketiga. Hal ini menjadi indikasi bahwa metode pembiasaan dalam pendidikan sangat diperlukan agar dapat menguasai suatu ilmu.

Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pendidikan dan pembinaan anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan seorang pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didiknya. ”Kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi” ( Edi Suardi, tt. : 123 ). Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu sangat penting, karena banyak orang yang berbuat atau bertingkah laku hanya karena kebiasaan sematamata. Tanpa itu hidup seseorang akan berjalan lambat sekali, sebab sebelum melakukan sesuatu ia harus memikirkan terlebih dahulu apa yang akan dilakukan. Sebagai ilustrasi bila seseorang sudah terbiasa shalat berjamaah, ia tak akan berpikir lama ketika mendengar kumandang adzan, langsung akan pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Demikian halnya, orang yang pernah bertekad menurut hati nurani untuk membantu orang lain akan lebih cepat menilai bahwa oran lain perlu bantuannya dan ia akan berfkir dan bersikap sebagai penolong serta berusaha membuat gagasan dengan cepat dan memecahkan masalah setepat mungkin. Secara sebagai bahan kajian, hal ini dapat diilustrasikan pada kutipan berikut: “Dalam suatu perjalanan , anda melihat seorang pemuda sedang berusaha mengambil dengan paksa sebuah tas mlik seorang wanita tua, apa yang anda rasakan? Namun ketika anda sadari bahwa pemuda tersebut membawa sepucuk pistol, apa yag anda rasakan?” (Ary Ginanjar, 2001:9) Pada kondisi fitrah kita menjawab dengan suara hati untuk “menolong” wanita tersebut tapi pada keadaan berikutnya adalah suara hati untuk menolong sekaligus “berhitung” ketika anda harus berfikir dua kali untuk menolong wanita tua tersebut dan menghindari bahaya. (Ary Ginanjar, 2001:9)

Pada ilustrasi diatas adalah contoh dari membaca dan implementasi kalimat an-nasir (penolong) dan al-muhshi (penuh perhitungan )“. Teori membaca seperti ini senada dengan teori membaca yang dikemukakan oleh Chambers dan Lowry (Burn, Roe dan Ross, 1984) bahwa membaca bukan hanya mengenali katakata yang akan tetapi membawa ingatan yang tepat, merasakan dan mendefinisikan beberapa keinginan, mengidentifikasi sebuah solusi untuk memunuhi keinginan, memilih cara alternatif, percobaan dengan memilih,

menolak atau menguasai jalan atau cara yang dipilih, memikirkan beberapa cara dari hasil yang evaluasi. Pada pelaksanaannya pembisaan dimulai sejak dini, hal ini diperjelas oleh sebuah perintah rasul dalam hal pembiasaan shalat, yang hendaknya dimulai sedini mungkin. Rasulullah SAW. memerintahkan kepada para orang tua dan pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat, ketika berumur tujuh tahun, sebagimana sabdanya yang diriwayatkan Imam Tirmidzi yang diungkapkan Nurcholish Majid (2001: 64) : ‫)مروا الصبي بالصلة اذا بلغ سبع سنين و اذا بلغ عشر سنين فاضربوهُعليها )رواه الترمذي‬ َ ْ ََ ْ ُ ِ ْ َ َ ْ ِ ِ َ ْ َ َ ََ َ ِ َ َ ْ ِ ِ َ ْ َ َ ََ ِ ِ ِ َ ّ ِ ّ ِ ّ ُُْ “Suruhlah olehmu anak-anak itu shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun, dan apabila ia sudah berumur sepuluh tahun, maka hendaklah kamu pukul jika ia meninggalkan shalat”.( Nurcholish Majid (2001: 64) Berawal dari pembiasaan sejak kecil itulah, peserta didik membiasakan dirinya melakukan sesuatu yang baik. Menumbuhkan kebiasaan yang baik ini tidaklah mudah, akan memakan waktu yang panjang, tapi bila sudah menjadi kebiasaan, akan sulit pula untuk berubah dari kebiasaan tersebut.

Proses penanaman kebiasaan yang baik tentu membutuhkan metode yang tepat. Hal ini senada dengan sebuah pernyataan bahwa: ”Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih dan digunakan dalam pendekatan pembiasaan antara lain ialah Latihan (Drill)”.( Ramayulis, 2005 : 129 ) Adapun keuntungan dari pendekatan metode pembiasaan berdasarkan pendapat Zuhairini, 1983: 107) menguraikan hal tersebut sebagai berikut: 1. Dalam waktu relatif singkat, cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan 2. 3. Para murid akan memiliki pengetahuan siap. Akan menanamkan pada anak-anak kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin. Dengan memperhatikan latar belakang penelitian yang di ungkapkan diatas maka penelitian ini dinilai mungkin untuk dilakukan mengingat pembiasaan membaca asma'ul husna yang telah dilakukan oleh siswa MTs Az-Zain Kabupaten Sukabumi sejak tahun 2007 ketika siswa diwajibkan untuk membaca, berdoa, menghafal, menyelami makna dan menteladani (takholluq) melalui asma'ul husna. metode

BAB II ANALISA TEORITIK TENTANG PEMBIASAAN MEMBACA ASMA’UL HUSNA DAN AKHLAK

A. Pembiasaan dan Permasalahannya Secara etimologis kata “pembiasaan” berasal dari kata “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata biasa berati lazim, biasa dan umum, seperti sediakala sebagaimana yang sudah-sudah, sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sudah menjadi adat, sudah seringkali. Jadi, kata pembiasaan berasal dari kata dasar “biasa” yang memperoleh imbuhan prefiks “pe” dan sufiks “an”, yang berarti proses membiasakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu kebiasaan atau adat. Pembiasaan adalah sebuah upaya sehingga terjadinya sebuah kebiasaan. Kebiasaan adalah sesuatu yang biasa dikerjakan, pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama (http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php) Pada konteks pembiasaan sebagai upaya menjadikan kebiasaan, maka kebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi” ( Edi Suardi, tt.123). Kata “kebiasaan” berarti sesuatu yang telah biasa dilakukan, atau adat (Poerwadarminta, 2007: 153). Adapun istilah pembiasaan dilihat dari dimensi Pendidikan memiliki beberapa indikator. Adapun indikator tersebut adalah:

1.

Pembiasaan mengandung unsur Tuntutan Kebiasaan Dalam proses pembiasaan, unsur tuntutan kebiasaan berperan penting dalam hal pendidikan Akhlak. Dalam kajian pendidikan akhlaq bentuk tuntutan ini lebih dikenal dengan dressur /pendidikan bersifat paksaan. (Fadil Yani; 2007 : 17). Dalam proses pendidikan perlu adanya sebuah latihan dan pembiasaaan dengan konsisten dan disiplin. Hal ini berdasar pada sebuah kutipan: “ berdisiplin selain akan membuat seorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses ke arah pembentukan watak yang baik.watak yang baik dalam diri seseorang akan mencipatakan suatu kepribadian yang luhur.” (The Liang Gie, 1985 : 59) Seperti dari layaknya seorang prajurit yang terampil (professional) dalam menggunakan senjata berat, ternyata sebelumnya mereka dilatih dengan metode drill dan penuh disiplin. Sehingga ketika menghadapi musuh di medan tempur mereka sangat mudah dan tanpa pemikiran yang lambat bahkan terjadi karena spontanitas (http://www.kodam-jaya.mil.id/arsif-artikel-kontribusi/967). Dengan alasan tersebut, begitu pentingnya disiplin hingga Allah

berfirman pada Surah Ash-Shaaf:4 yang di tuturkan pula oleh seorang panglima besar yakni imam Ali bin Abi Thalib r.a mengingatkan bahwa "Kebenaran yang tidak terorganisasi dengan rapi, dapat dikalahkan oleh kebatilan yang diorganisasi dengan baik". (Muhammad Syakir Sula:610) Dengan demikian tampaklah bahwa tuntutan akan nilai kedisiplinan, sangat penting dalam proses pendidikan.

Hal lebih lanjut tentang kedisiplinan dijelaskan Merriam pada Webster’s New Dictionary (1984:248) sebagai berikut: 1) Latihan yang mengembangkan pengendalian diri, karakter atau keadaan serba teratur dan efisiensi. 2) 3) 4) 2. Hasil latihan serupa itu mengembangkan diri, perilaku tertib Penerimaan atau ketundukan kepada kekuasaan dan kontrol Suatu cabang ilmu pengetahuan. Bersifat Lazim. Sebuah pembiasaan berarti pula sebagai pelaziman. lazim berarti sedia kala dan umum adanya (KBBI:2010). Konsep pembiasaan berarti pula membiasakan kembali atau melanjutkan sesuatu yang menjadi kelaziman bagi komunitas tertentu. Bagi seluruh ummat muslim membaca asma’ul husna adalah hal yang lazim, sedangkan pembiasaan membaca asma’ul husna juga lazim dilakukan di kalangan ummat muslim (ESQ 165 Magazine : 2010). Perintah Allah mengenai Pengamalan Asma’ul husna dapat ditemukan pada Al-Quran: َ َُ ْ َ ْ ُ َ َ َ ْ َ ْ ُ َ ِ ِ َ ْ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ِ ّ ْ ُ َ َ َ ِ ُ ُ ْ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ِ َ ‫ول السلماء الحسلنى فللادعوه بهللا وذروا اللذين يلحلدون فلي أسلمآئه سليجزون مللا كللانوا يعملللون‬ ّ 180 : ‫))العراف‬ Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Departemen Agama Republik Indonesia,1987:252)

Lebih lanjut tentang pembiasaan dalam membaca asma’ul husna berdasarkan hadits rasulullah SAW : “‫”إن أسماء ال تسعة وتسعون اسما من أحصاها دخل الجنة‬ ً “Sesungguhnya nama-nama Allah ada 99 nama, barangsiapa yang membaca menghafalkannya akan masuk surga.”(.Sa'id Qahthani, 2005) Dalam penafsiran hadits di atas Syaikh Al‘Alaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menegaskan pendapatnya pada kitab Qowa’idul fi Shifatillahi wa Asmail Husna bahwasanya “Makna yang terkandung dalam hadist tersebut adalah barangsiapa yang menjaga (menghafalkan dan memahami) 99 nama tersebut maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (Syaikh Al‘Alaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin) Pengamalan Asma’ul husna sebagai bagian yang telah digariskan dalam Al-Quran dan As-Sunnah adalah sebuah kelaziman mengingat pembiasaan Al

membaca asma’ul husna adalah bagian ibadah bagi setiap muslim dan memiliki dasar hukumnya jelas dari Al-Quran dan Sunah nabi. Sedangkan Al-Quran dan As-Sunnah adalah hal yang lazim adanya di kalangan ummat muslim. Hal ini berdasar pada hadits nabi yang ditemukan pada kitab Muwattha Malik Juz 5 halaman 381 yang berbunyi:

‫و حدثني عن مالك أنه بلغه أن رسول ال صلى ال عليه وسلم قال تركْت فيكم أمرين لن تضلوا ما‬ َ ِّ َ ْ َ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ ِ ُ َ َ َ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ َ ُ َ ّ َ ُ َ ََ ُ ّ َ ِ َ ْ َ ِ َ ّ َ ُ ِ ‫)تمسكتم بهما كتاب ال وسنة نبيه )رواه الحاكم وذار القطن‬ ِ ِّ َ َ ُّ َ ّ َ َ ِ َ ِ ِ ْ ُْ ّ َ َ ِ

“Telah ku tinggalkan bagi kalian dua perkara sehingga kalian tak akan sesat selagi kalian berpegang teguh kepada keduanya yakni kitab Allah dan sunnah nabi-Nya.” (Syekh M. Hisyam Kabbani, 2008:182) Dengan demikian Pembiasaan membaca asma’ul husna adalah hal yang lazim, mengingat ia bersumber dari Al-Quran dan sunnah rasul, adanya perintah untuk membiasakannya dan pembiasaan ini telah dilakukan oleh ummat muslim. 3. Pembiasaan Terjadi Berulang-ulang Pengulangan ini telah digariskan oleh Allah secara tersirat diantaranya di dalam Al Quran ayat pertama surah Al-Alaq. Secara implisit metode ini

menggambarkan dari cara turunnya wahyu pertama (ayat 1-5). Malaikat Jibril menyuruh Muhammad Rasulullah SAW dengan mengucapkan “‫“( ”إقرا‬bacalah!”) َ ِْ dan Nabi menjawab: ‘‫“ ( ”ما انا بقللارئ‬saya tidak bisa membaca“), lalu malaikat ِ َ ِ ََ َ Jibril mengulanginya lagi dan Nabi menjawab dengan perkataan yang sama. Hal ini terulang sampai 3 kali. Kemudian Jibril membacakan ayat 1-5 dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi tentang apa yang disampaikan Jibril tersebut ( Erwita Aziz, 2003: 81). Mengenai pentingnya pengulangan dan kesinambungan dalam pembiasaan sebagai mana Dikutip dari buku Ajengan Cipasung (K.H Moh. Ilyas Ruhiyat) mengenai hadits rasul yang berbunyi ‫احب العمال الى ال ادوامها وان قل‬ “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara rutin walaupun sedikit.” (Iip Yahya, 2006:12)

Ungkapan hadits yang sederhana namun syarat makna ungkapan sederhana ini bila dikaitkan dengan konsep tiga tujuan pembaelajaran yaitu knowing (mengetahui), doing (keterampilan melaksanakan yang diketahui) dan being (pengetahuan yang menjadi satu dengan kepribadiannya) (Iip D. Yahya, 2006: 12) Adapun kaidah pengulangan dalam ibadah lebih menekankan hitungan ganjil. Hal ini seperti telah digariskan oleh Allah pada hitungan satu rakaat pada shalat witir, tiga kali pada wudlu, lima waktu pada shalat fardu, tujuh keliling pada thawaf dan sebelas pada shalat witir. adalah perumpamaan keutamaan pada wudlu (www..rwa2an.net./vb/showthread.php?t=10098). Berkaitandengan pengulangan dengan bilangan ganjil Nabi Muhamad SAW. pun bersabda: ‫من توضأ مرتين مرتين أتاه ال أجره مرتين، وتوضأ ثلثا ثلثا وقال: هذا وضوئي ووضوء‬ ً ً ‫النبياء من قبلي ووضوء خليل الرحمن إبراهيم عليه السلللللللم‬ “Barang siapa yang berwudlu dua kali dua kali, maka Allah memberikan pahal abaginya dua kali dan berwudlunya seseorang dengan tiga kali-tiga kali inilah wudlu ku dan wudlunya para nabi sebelumku dan wudlunya kekasih Alllah yang maha pengasih yakni nabi Ibrahim a.s.” (Imam Al-Ghazali, tt: 1/145)

Kajian lebih lanjut Allah mengisyaratkan bahwa Sebuah amal yang baik selalu dianjurkan untuk diulang dengan hitungan ganjil. Sebagai mana sabda rasulullah SAW dalam sebuah hadits : ‫)أن ال وتر يحب الوتر )متفق عليه‬

“sesungguhnya allah itu esa dan menyukai yang ganjil.” (Muslim ibn al-Hajjaj al-Qushayri: 1994) 4. Pembiasaan Bersifat Praktis Dalam hal pembiasaan sebagai hal yang bersifat praktis maka rasulullah Syeikh Ibrahim ibn Ismail menegaskan pada kitab Syarh Ta'lim al-Muta'allim: ‫افضل العلم علم الحال وافضل العمل حفظ الحال‬ “Ilmu yang paling utama adalah ilmu perbuatan dan sebaik-baiknya perbuatan adalah menjaga tingkah laku.” (Syeikh Ibrahim ibn Ismail:tt:4) Penanaman kebiasaan yang baik , sebagaimana sabda Rasulullah SAW di atas, sangat penting dilakukan sejak awal kehidupan anak. Agama Islam sangat mementingkan pendidikan kebiasaan, dengan pembiasaan itulah diharapkan peserta didik mengamalkan ajaran agamanya secara berkelanjutan. Bahkan nabi sendiri yang memerintahkan kepada para orang tua, dalam hal ini para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan sholatsejak dini ( Ramayulis, 2005 : 129 ). Hal tersebut berdasarkan hadits di bawah ini: ‫مروا أولدكم باالصلة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر سنين، وفرقوا‬ ْ ُ ّ َ َ َ ْ ِ ِ ِ ْ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َ َ ْ ََ ْ ُ ْ ُ ِ ْ َ َ ْ ِ ِ ِ ْ َ ُ َ ْ َ ْ ُ َ ِ َ ّ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ُ ُ ‫)بينهم فيِالمضاجع )رواه أبوداوود‬ ِِ َ َ ْ ُ َْ َ “Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”( Maktabah Syamillah) 5. Pembiasaan dalam upaya pendidikan dan pembinaan Pendidikan Islam adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik berdasarkan aturan islam (http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php). Pendidikan islam merupakan kebutuhan mutlak untuk dapat

melaksanakan islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, berasarkan makna ini, maka pendidikan yang diterapakan islam yaitu mempersiapkan diri manusia guna melaksanakan amanat yang dipikulkan kepadanya, ini berarti sumbersumber islam dan pendidikan islam itu sama yakni yang terpenting, Al-qur’an dan sunnah rasulullah (Abdurrahman An-Nahlawi, 1992: 41 ) Berkaiatan dengan pendidikan, D. Marimba mengatakan: “ Pendidikan Agama Islam pada prinsipnya adalah untuk membentuk kepribadian muslim (1980: 46) Pendapat senada dikatakan oleh arief Ichwani adalah: “Tujuan Pendidikan Islam adalah untuk membina mental spritual dalam rangka mengabdi kepada Allah sesuai dengan ajaran islam” (1986: 4). Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nilai. Karena lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan, yang hendak ditanamkan atau ditumbuhkembangkan ke dalam diri peserta didik sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya (Muhaimin: 159). Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya

tersebut adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, karena kegiatan–kegiatan keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara baik kepada peserta didik. Nilai adalah suatu penetapan atau kualitas obyek yang menyangkut suatu jenis aspirasi atau minat (Nur Syam: 133). Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai di mana peserta didik diharapkan dapat bertindak, bergerak dan berkreasi dengan nilai-nilai tersebut. Nilai ajaran Islam merupakan sistem yang diwujudkan dalam amal perilaku para pemeluknya, termasuk dalam hal ini anak, peserta didik maupun masyarakat pada umumnya. Sistem nilai agama Islam adalah suatu keseluruhan tatanan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling mempengaruhi dan mempunyai keterpaduan yang bulat yang berorientasi pada nilai Islam. Jadi bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu Pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak hanya membekali anak dengan pengetahuan agama, atau mengembangkan intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan menyuburkan perasaan (sentimen ) agama saja, akan tetapi ia menyangkut keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latihanlatihan (amaliah) sehari-hari, yang sesuai dengan ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan dirinya sendiri (Darajat: 107).

Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan nilai. Karena lebih banyak menonjolkan aspek nilai, baik nilai ketuhanan maupun nilai kemanusiaan, yang hendak ditanamkan atau ditumbuhkembangkan ke dalam diri peserta didik sehingga dapat melekat pada dirinya dan menjadi kepribadiannya (Muhaimin: 159). Proses Internalisasi nilai ajaran Islam menjadi sangat penting bagi peserta didik untuk dapat mengamalkan dan mentaati ajaran dan nilai-nilai agama dalam kehidupannya, sehingga tujuan Pendidikan Agama Islam tercapai. Upaya dari pihak sekolah untuk dapat menginternalisasikan nilai ajaran Islam kepada diri peserta didik menjadi sangat penting, dan salah satu upaya tersebut adalah dengan metode pembiasaan di lingkungan sekolah. Metode pembiasaan tersebut adalah dengan menciptakan suasana religius di sekolah, karena kegiatan–kegiatan keagamaan dan praktik-praktik keagamaan yang dilaksanakan secara terprogram dan rutin (pembiasaan) diharapkan dapat mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam secara baik kepada peserta didik. Pendidikan Iislam berorientasi pada pendidikan nilai sehingga perlu adanya proses internalisasi tersebut. Jadi internalisasi merupakan ke arah pertumbuhan batiniah atau rohaniah peserta didik. Pertumbuhan itu terjadi ketika siswa menyadari sesuatu “nilai” yang terkandung dalam pengajaran agama dan kemudian nilai-nilai itu dijadikan suatu “ sistem nilai diri” sehingga menuntun segenap pernyataan sikap, tingkah laku, dan perbuatan moralnya dalam menjalani kehidupan ini. Menurut Muhaimin, tahap-tahap dalam internalisasi nilai adalah:

a.

Tahap

transformasi

nilai,

pada

tahap

ini

guru

sekedar

menginformasikan nilai-nilai yang baik dan yang kurang baik kepada siswa, yang semata-mata merupakan komunikasi verbal. b. Tahap transaksi nilai, yaitu suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara siswa dan guru bersifat timbal balik. Dalam tahap ini tidak hanya menyajikan informasi tentang nilai yang baik dan yang buruk, tetapi juga terlibat untuk melaksanakan dan memberikan contoh amalan yang nyata, dan siswa diminta memberikan respons yang sama, yakni menerima dan mengamalkan nilai itu. c. Tahap transinternalisasi, yakni bahwa tahap ini lebih dalam daripada sekedar transaksi. Dalam tahap ini penampilan guru di hadapan siswa bukan lagi sosok fisiknya, melainkan sikap mentalnya (kepribadiannya). Demikian juga siswa merespons kepada guru bukan hanya gerakan/penampilan fisiknya, melainkan sikap mental dan kepribadiannya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam transinternalisasi ini adalah komunikasi dua kepribadian yang masing-masing terlibat secara aktif.

Jadi, internalisasi nilai sangatlah penting dalam pendidikan agama Islam karena pendidikan agama Islam merupakan pendidikan nilai sehingga nilai-nilai tersebut dapat tertanam pada diri peserta didik, dengan pengembangan yang mengarah pada internalisasi nilai-nilai ajaran Islam merupakan tahap pada manifestasi manusia religius. Sebab tantangan untuk arus globalisasi dan

transformasi budaya bagi peserta didik dan bagi manusia pada umumnya adalah difungsikannya nilai-nilai moral agama. Pada tahap-tahap internalisasi ini diupayakan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Thoha: 94): a. Menyimak, yakni pendidik memberi stimulus kepada peserta didik dan peserta didik menangkap stimulus yang diberikan. b. Responding, peserta didik mulai ditanamkan pengertian dan kecintaan terhadap tata nilai tertentu, sehingga memiliki latar belakang teoritik tentang sistem nilai, mampu memberikan argumentasi rasional dan selanjutnya peserta didik dapat memiliki komitmen tinggi terhadap nilai tersebut. c. Organization, peserta didik mulai dilatih mengatur sistem

kepribadiannya disesuaikan dengan nilai yang ada. d. Characterization, apabila kepribadian sudah diatur disesuaikan dengan sistem nilai tertentu dan dilaksanakan berturut –turut, maka akan terbentuk kepribadian yang bersifat satunya hati, kata dan perbuatan. Teknik internalisasi sesuai dengan tujuan pendidikan agama, khususnya pendidikan yang berkaitan dengan masalah aqidah, ibadah, dan akhlak. Metode Pembiasaan sebagai Upaya Internalisasi Nilai Ajaran Islam Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benarbenar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit

ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.

Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulangulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter. Pendidikan agama Islam sebagai pendidikan nilai maka perlu adanya pembiasaan-pembiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter yang Islami. Nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi karakter merupakan perpaduan yang bagus (sinergis) dalam membentuk peserta didik yang berkualitas, di mana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebajikan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta untuk melakukannya. Pembentukan karakter seseorang (terutama peserta didik) bersifat tidak alamiyah, sehingga dapat berubah dan dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kaidah umum dalam pembentukan karakter seperti diutarakan oleh Anis Matta adalah sebagai berikut : a.Kaidah kebertahapan, proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap.

b.Kaidah kesinambungan, anda harus tetap berlatih seberapapun kecilnya porsi latihan tersebut, nilainya bukan pada besar kecilnya, tetapi pada kesinambungannya. c.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya. d.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu. e.Kaidah pembimbing, pembiasaan mungkin bisa dilakukan seorang diri, tetapi itu tidak akan sempurna. Jadi, pembiasaan kawan yang berfungsi sebagai guru/ pembimbing. membutuhkan

Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang

berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan

Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam mencapai tujuan tertentu. Banyak para tokoh yang mengemukakan definisi pendidikan, tetapi pada intinya pendidikan mempunyai beberapa unsur utama, yaitu: a.Usaha (kegiatan) yang bersifat bimbingan, pimpinan, atau pertolongan yang dilakukan secara sadar b.Ada pendidik, pembimbing atau penolong c.Ada yang dididik atau si terdidik d.Adanya dasar atau tujuan dalam bimbingan tersebut Dari unsur pendidikan di atas dapat diketahui bahwa fungsi metode sangat penting dalam proses belajar mengajar. Karenanya terdapat suatu prinsip yang umum dalam memfungsikan metode, yaitu prinsip agar pengajaran dapat disampaikan dalam suasana menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan motivasi, sehingga pelajaran atau materi pendidikan yang akan disampaikan itu dapat dengan mudah diberikan. Beberapa metode dapat diaplikasikan dalam pembiasaan ini seperti kata Ramayulis. ”Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan untuk dipilih dan digunakan dalam pendekatan pembiasaan antara lain ialah Latihan (Drill) ”( Ramayulis, 2005 : 129 ) Alasan penggunaan metode drill yang dikutip dari pendapat Zuhairini, dkk, (1983: 107) menguraikan hal tersebut sebagai berikut: 1.Dalam waktu relatif singkat, cepat dapat diperoleh penguasaan dan keterampilan yang diharapkan 2.Para murid akan memiliki pengetahuan siap. metode

3.Akan menanamkan pada anak-anak kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin. Dari uraian diatas maka dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan tahapan proses, unsur utama kegiatan pendidikan, serta metotode yang digunakan maka pembiasaan adalah hal yang sangat efektif dalam pendidikan agama, nilai dan akhlak pada dimensi pendidikan Islam. B. Membaca dan Permasalahannya Kata “membaca” artinya mengenali kata, (Chambers dan Lowry: 1984), berdoa, (Kamus Besar Bahasa indonesia : 2010) menghafal, menyelami makna (Burns, dkk., 1996: 6), Meneladani (Petty & Jensen, 1980). Maka membaca asma’ul husna dipandang berpengaruh terhadap akhlak siswa. Perintah Allah untuk membaca dalam konteks membaca adalah berdasarkan ayat Allah dalam Al-Quran berikut ini: 1:3 ‫)اقرأ باسم ربك الذي خلق)1(خلق النسان من علق)2(اقرأ وربك الكرم )3( )العلق‬ ُ َ ْ َ ّ َ َ ْ َ ْ ٍ ََ ْ ِ َ َ ْ َ ََ َ ََ ِ ّ َ ّ َ ِ ْ ِ ْ َ ْ "Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakan (1) Allah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) bacalah dan tuhamnu yang maha pemurah." (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:1079) Dari devinisi yang diungkapkan diatas maka pada penelitian ini kegiatan membaca memliki indikator sebagai berikut: 1. Mengenali kata-kata

Pengetian membaca yang dikutip dari pendapat Burn, Roe dan Ross (1984) adalah membaca dengan arti mengenali kata-kata. Mengenali berasal dari kata kenal yang berarti tahu dan teringat kembali. Sedangkan mengenali berarti mengetahui tanda-tanda atau ciri-ciri. Adapun pengertian “kata-kata” adalah bentuk jama dari “kata” yang berarti unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa (http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php). Dari uraian diatas maka mengenali kata dapat diartikan sebagai usaha untuk mengetahui dan mengingat kembali berbagai tanda atau ciri yang menjadi unsur bahasa yang diucapkan atau yang dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat di gunakan dalam berbahasa. Maka dari pengertian mengenali kata dapat kita simpulkan beberapa point penting yang harus ada dalam mengenali kata ketika membaca asma’ul husna adalah: a. Upaya mengetahui dan mengingat (menghfal) Mengetahui dan mengingat Asmaulhusna sebagai kajian utama berarti mengetahui asma’ul husna dan mengingat kembali. Pada tingkatan ini membaca asma’ul husna berati pula sekaligus memahami arti yang dibacanya. Farris (1993: 304) Mengemukakan bahwa membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh bila pembaca mempunyai

pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan b. Identifikasi Simbol dan ciri sebagai unsur bahasa Simbol dan ciri sebagai unsur bahasa dalam membaca asma’ul husna adalah asma-asma Allah yang terdapat dalam asma’ul husna yang menggunakan hufuf hjaiyah berbahasa arab baik secara langsung ataupun secara tidak langsung. Damarjati Supadjar menjelaskan bahwa pada hakekatnya membaca adalah suatu aktivitas membatin dari suatu hal yang lahir. . Maksud dari lahir disini adalah benda dalam artian fisik, kongkrit maupun abstrak yang dapat diindera oleh panca indra manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Langsung dalam pengertian melalui penglihatan, perabaan, penciuman, pengecapan, maupun pendengaran. Sedangkan tidak langsung dapat diartikan melalui ciri-ciri suatu benda atau keadaaan, ataupun dengan peralatan bantu tertentu. Sebagai Contoh adalah membaca tulisan. Tulisan adalah suatu bentuk fisik kongkrit yang melalui indra penglihatan, atau bisa juga melalui perabaan bagi saudara kita yang tuna netra, kita jadikan sebagai input untuk diolah oleh otak berdasarkan referensi pengetahuan yang pernah diajarkan (pelajaran mengenai abjad) untuk kemudian disimpan dalam memori. Dari memori tersebut kemudian tersusunlah kata dan kalimat yang dapat kita keluarkan melalui ucapan, atau bisa jadi kita hentikan sampai tahapan penyimpanan makna dalam memori jika kita membaca secara batin.

c. Unsur bahasa yang dibaca dapat diucapkan atau dituliskan Asma’ul husna yang berbahasa arab sebagai bahasa Al-quran dapat diucapkan atau dituliskan. Untuk itu tentu kemampuan membaca tulis berbahasa arab ini merupakan syarat pokok bagi seseorang dalam membaca asma’ul husna, mengingat kegiatan membaca adalah suatu proses komunikasi antara pembaca dan penulis dengan bahasa tulis, hal tersebut dikemukakan oleh Kolker (1983: 3). Unsur tulisan ini secara tersirat 5) ‫)ؤ)4( علم النسان ما لم يعلم‬ ْ َْ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َّ Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam(4) Dia

mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5). (Departemen Agama Republik Indonesia:1989: 1079) Baik membaca secara langsung atau tidak langsung atau membaca secara lahir atau batin seperti diungkapkan Damarjati Supadjar, tetap pada prosesnya membaca berasal dari sesuatu yang dapat dibaca dan di ucapkan. d. Membaca Merupakan Perwujudan Kesatuan Perasaan dan Pikiran Dari pendapat para ahli tentang membaca maka bagi orang yang membaca asma’ul husna, maka perwujudan kesatuan, perasaan dan fikiran adalah hal yang urgen karena tanpa itu ia hanyalah sebuah pelafalan dan tidak mencapai arti membaca yang sempurna. Fredick Mc Donald (dalam Burns, 1996: 8) mengatakan bahwa membaca merupakan rangkaian respon yang kompleks, di antaranya mencakup respon

kognitif, sikap dan manipulatif. Membaca tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sub keterampilan, yang meliputi: sensori, persepsi, sekuensi, pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, afektif, dan konstruktif. Menurutnya, aktiivitas membaca dapat terjadi jika beberapa sub keterampilam tersebut dilakukan secara bersama-sama dalam suatu keseluruhan yang terpadu Membaca Menurut Klein, dkk. (dalam Farida Rahim, 2005: 3), Pertama, membaca merupakan suatu proses. Maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Kedua, membaca adalah strategis. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka meng-kontruksi makna ketika membaca. Strategi ini bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Ketiga, membaca merupakan interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks Dengan uraian diatas mengenai membaca, baik dipandang sebagai respon yang kompleks (melibatkan emosional) atau membaca dipandang sebagai proses, strategis dan interaktif (bentuknya logis) semuanya adalah perwujudan Kesatuan Perasaan dan Pikiran karena tanpa perwujudan perasaan dan fikiran maka membaca dipandang tidak sempurna. 2. Berdoa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berdoa adalah sub makna dari melafalkan sebagai makna dari membaca. Dengan kata lain berdoa adalah membaca kalimat doa berbentuk pemintaan dan permohonan kepada tuhan (Allah) Pengertian Membaca yang diungkapkan Damarjati Supadjar adalah suatu aktivitas batin dari suatu hal yang lahir. Dimensi lahir (yang di indera) kita jadikan sebagai input untuk diolah oleh otak berdasarkan referensi pengetahuan yang pernah diajarkan (pelajaran mengenai abjad) untuk kemudian disimpan dalam memori. Dari memori tersebut kemudian tersusunlah kata dan kalimat yang dapat kita keluarkan melalui ucapan, atau bisa jadi kita hentikan sampai tahapan penyimpanan makna dalam memori jika kita membaca secara batin. Dalam konteks membaca adalah doa maka asma’ul husna adalah isi dari doa tersebut. Seperti firman Allah dalam Al-Quran : ‫قل ادعوا ال أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله السماء الحسنى ول تجْهر بصلتك ول تخافت بها‬ َ ِ ْ ِ َ ُ َ َ ِ َ َ ِ ْ َ َ َ َ َ ْ ُ ْ ُ َ ْ َ ُ ََ ُ ْ َ َ ّ َ َ َ ْ ّ ُ ْ َِّ ُ ْ ِ ُ َ 110:‫}وابتغ بين ذلك سبيل}السرا‬ ِ َ َ َِ َ ْ َ ِ َ ْ َ Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa'ul husna (namanama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:440) Dalam konteks asma’ul husna sebagai doa, berikut adalah fadhilah dari pembacaan doa dengan asma’ul husna yang dipetik dari tajuk buku Khasiat

Asmaul-Husna & Himpunan Ayat-Ayat Al-Quran, susunan Abu Nur Husnina, terbitan Pustaka Ilmi : 1. “Ya Allah!” apabila dizikirkan 500 x setiap malam, lebih-lebih lagi selepas solat tahajjud atau solat sunat 2 rakaat mempunyai pengaruh yang besar di dalam mencapai segala yang dihajati. 2. “Ya Rahman!” apabila dizikirkan sesudah solat 5 waktu sebanyak 500x, maka hati kita akan menjadi terang, tenang & sifat-sifat pelupa & gugup akan hilang dengan izin Allah. 3. “Ya Rahim!” apabila dizikirkan sebanyak 100 x setiap hari, InsyaAllah kita akan mempunyai daya penarik yang besar sekali hingga manusia merasa cinta & kasih serta sayang terhadap kita. 4. “Ya Malik!” apabila dizikirkan sebanyak 121 x setiap pagi atau setelah tergelincirnya matahari, segala perkerjaan yang dilakukan setiap hari akan mendatangkan berkat & kekayaan yang diredhai Allah. 5. “Ya Quddus!” apabila dizikirkan sebanyak 100 x setiap pagi setelah tergelincir matahari, maka hati kita akan terjaga dari semua penyakit hati seperti sombong, iri hari, dengki dll. 6. “Ya Salam!” apabila dizikirkan sebanyak 136 x, InsyaAllah jasmani & rohani kita akan terhindar dari segala penyakit sehingga badan menjadi segar sihat & sejahtera. 7. “Ya Mukmin!” apabila dizikirkan sebanyak 236 x, InsyaAllah diri kita, keluarga & segala kekayaan yang dimiliki akan terpelihara & aman dari segala macam gangguan yang merosakkan. 8. “Ya Muhaimin!” apabila dizikirkan sebanyak 145 x sesudah solat fardhu Isyak, Insyaallah fikiran & hati kita akan menjadi terang & bersih. 9. “Ya ‘Aziz!” apabila dizikirkan sebanyak 40 x sesudah solat subuh, InsyaAllah, kita akan menjadi orang yang mulia, disegani orang kerana penuh kewibawaan. 10.”Ya Jabbar!” apabila dizikirkan sebanyak 226 x pagi & petang, semua musuh akan menjadi tunduk & patuh dengan izin Allah. 11. “Ya Mutakabbir!” apabila dizikirkan sebanyak 662 x, maka dengan kebijaksanaan bertindak, kita akan dapat menundukkan semua musuh, bahkan mereka akan menjadi pembantu yang setia.

12.”Ya Khaliq!” dibaca mengikut kemampuan atau sebanyak 731x, InsyaAllah yang ingin otak cerdas, cepat menerima sesuatu pelajaran , amalan ini akan memberikan otak kita cerdas dan cepat tangkap (faham). 13.”Ya Baarii’!” sekiranya kita berada didalam kesukaran atau sedang sakit, dibaca sebanyak 100 x selama 7 hari berturut-turut, InsyaAllah kita akan terlepas dari kesukaran & sembuh dari penyakit tersebut. 14.”Ya Musawwir!” sekiranya seorang isteri yang sudah lama belum mempunyai anak, maka cubalah ikhtiar ini dengan berpuasa selama 7 hari dari hari Ahad hingga Sabtu. Di waktu hendak berbuka puasa, ambil segelas air & dibacakan “Ya Musawwir” sebanyak 21 x, kemudian diminum air tersebut untuk berbuka puasa. Bagi sang suami, hendaklah berbuat perkara yang sama tetapi hanya dengan berpuasa selama 3 hari. Kemudian pada waktu hendak berjimak, bacalah zikir ini sebanyak 10 x, InsyaAllah akan dikurniakan anak yang soleh. 15.”Ya Ghaffaar!” sambil beri’tikaf (diam dalam masjid dalam keadaan suci) bacalah zikir ini sebanyak 100 x sambil menunggu masuknya waktu solat Jumaat, InsyaAllah akan diampunkan dosa-dosa kita. 16.”Ya Qahhaar!” dizikir menurut kemampuan atau sebanyak 306 x, maka hati kita akan dijaga dari ketamakkan & kemewahan dunia & InsyaAllah orang-orang yang selalu memusuhi kita akan sedar & tunduk akhirnya. 17. “Ya Wahhaab!” dizikir sebanyak 100 x sesudah solat fardhu, barang siapa yang selalu didalam kesempitan, Insya Allah segala kesulitan atau kesempitan dalam soal apa pun akan hilang. 18. “Ya Razzaq!” dizikir mengikut kemampuan sesudah solat fardhu khususnya solat subuh, Insya Allah akan dipermudahkan rezeki yang halal & membawa berkat. Rezeki akan datang tanpa diduga!! tetapi perlulah dilakukan dengan ikhtiar yang zahir. 19. “Ya Fattah!” dizikir sebanyak 71 x sesudah selesai solat subuh, InsyAllah hati kita akan dibuka oleh Allah, sehingga mudah menerima nasihat agama. 20. “Ya ‘Aalim!” dizikir sebanyak 100 x setiap kali selesai solat Maktubah, Insya Allah akan mendapat kemakrifatan yang sempurna. 21. “Ya Qaabidhu!” dizikirkan 100 x setiap hari, maka dirinya akan semakin dekat dengan Allah & terlepas dari segala bentuk ancaman. 22. “Ya Baasithu!” Bagi mereka yang berniaga atau mempunyai usaha2 lain, kuatkanlah usaha & berniaga itu dengan memperbanyakkan membaca zikir ini setiap hari, InsyaAllah rezeki akan menjadi murah.

23. “Ya Khaa’fidh!” dizikirkan sebanyak 500 x setiap hari, dalam keadaan suci, khusyuk & tawaduk, InsyaAllah segala maksud akan ditunaikan Allah. Juga apabila mempunyai musuh, musuh itu akan jatuh martabatnya. 24. “Ya Raafi!” dizikirkan setiap hari, baik siang atau malam sebanyak 70 x, InsyaAllah keselamatan harta benda di rumah, di kedai atau di tempat-tempat lain akan selamat & terhindar dari kecurian. 25. “Ya Mu’izz!” dizikirkan sebanyak 140 x setiap hari, Insya Allah akan memperolehi kewibawaan yang besar terutama ketua-ketua jabatan atau perniagaan. 26. “Ya Muzill!” Perbanyakkanlah zikir ini setiap hari, sekiranya ada orang berhutang kepada kita & sukar untuk memintanya, InsyaAllah si penghutang akan sedar & membayar hutangnya kembali. 27. “Ya Samii’!” Sekiranya inginkan doa kita makbul & pendengaran telinga kita tajam, biasakanlah zikir ini setiap hari menurut kemampuan, lebih-lebih lagi sesudah solah Dhuha, InsyaAllah doa akan mustajab. 28. “Ya Bashiir!” Dizikirkan sebanyak 100 x sebelum solat Jumaat, InsyaAllah akan menjadikan kita terang hati, cerdas otak & selalu diberikan taufik & hidayah dari Allah. 29. “Ya Hakam!” dizikirkan sebanyak 68 x pada tengah malam dalam keadaan suci, InsyaAllah dapat membuka hati seseorang itu mudah menerima ilmu-ilmu agama & membantu kecepatan mempelajari ilmuilmu agama. 30. “Ya Adllu!” dizikirkan sebanyak 104 x setiap hari sesudah selesai solat 5 waktu, InsyaAllah diri kita selalu dapat berlaku adil. 31. “Ya Lathiif!” Dengan memperbanyakkan zikir ini mengikut kemampuan, InsyaAllah bagi para peniaga, ikhtiar ini akan menjadikan barangan jualannya menjadi laris & maju. 32. “Ya Khabiir!” Dengan memperbanyakkan zikir ini setiap hari, terkandung faedah yang teramat banyak sekali sesuai dengan maksud zikir ini antara lain faedahnya ialah dapat bertemu dengan teman atau anak yang telah terpisah sekian lama. 33. “Ya Haliim!” Dizikirkan sebanyak 88 x selepas solat lima waktu, bagi mereka yang mempunyai kedudukan di dalam pemerintahan, syarikat atau apa saja, InsyaAllah dipastikan kedudukannya tidak akan dicabar atau diungkit-ungkit atau tergugat.

34. “Ya ‘Aziim!” dizikirkan sebanyak 12 x setiap hari untuk orang yang sekian lama menderitai sakit, InsyaAllah akan sembuh. Juga apabila dibaca 12 x kemudian ditiupkan pada tangan lalu diusap-usap pada seluruh badan, maka dengan izin Allah akan terhindar dari gangguan jin, jin syaitan & sebagainya. 35. “Ya Ghafuur!” bagi orang yang bertaubat, hendaklah memperbanyakkan zikir ini dengan mengakui dosa-dosa & beriktikad untuk tidak mengulanginya, InsyaAllah akan diterima taubatnya oleh Allah. 36. “Ya Syakuur!” dizikirkan sebanyak 40 x sehabis solat hajat, sebagai pengucapan terima kasih kepada Allah, InsyaAllah semua hajat kita akan dimakbulkan Allah. Lakukanlah setiap kali kita mempunyai hajat yang penting & terdesak. 37. “Ya ‘Aliy!” Untuk mencerdaskan otak anak kita yang bebal, tulislah zikir ini sebanyak 110 x (** di dalam bahasa Arab bukan Bahasa Malaysia!!) lalu direndam pada air yang dingin & diberikan si anak meminumnya, InsyaAllah lama kelamaan otak si anak itu akan berubah cemerlang & tidak dungu lagi. InsyaAllah mujarab. 38. “Ya Kabiir!” Bagi seseorang yang kedudukannya telah dirampas atau dilucut gara-gara sesuatu fitnah, maka bacalah zikir ini sebanyak 1,000 x selama 7 hari berturut-turut dalam keadaan suci sebagai pengaduan kepada Allah. Lakukanlah sesudah solat malam (tahajud atau hajat). 39. “Ya Hafiiz!” dizikir sebanyak 99 x, InsyaAllah diri kita akan terlindung dari gangguan binatang buas terutamanya apabila kita berada di dalam hutan. 40. “Ya Muqiit!” Sekiranya kita berada di dalam kelaparan seperti ketika sesat di dalam hutan atau di mana sahaja sehingga sukar untuk mendapatkan bekalan maknan, maka perbanyakkan zikir ini. InsyaAllah badan kita akan menjadi kuat & segar kerana rasa lapar akan hilang. 41. “Ya Hasiib!” Untuk memperteguhkan kedudukan yang telah kita jawat, amalkan zikir ini sebanyak 777 x sebelum matahari terbit & selepas solat Maghrib, InsyaAllah akan meneguhkan kedudukan kita tanpa sebarang gangguan. 42. “Ya Jaliil!” Barangsiapa mengamalkan zikir ini pada sepertiga malam yang terakhir, InsyaAllah kita akan mendapati perubahaan yang mengkagumkan – perniagaan akan bertambah maju. Andai seorang pegawai, maka tanpa disedari kedudukan kita akan lebih tinggi dan terhormat & begitulah seterusnya dengan izin Allah.

43. “Ya Kariim!” Untuk mencapai darjat yang tinggi & mulia di dunia mahupun di akhirat kelak, maka amalkan zikir ini sebanyak 280 x ketika hendak masuk tidur. Nescaya Allah akan mengangkat darjat mereka yang mengamalkan zikir ini. 44. “Ya Raqiib!” Bagi meminta pertolongan kepada Allah terhadap penjagaan barang yang dikhuatirkan, maka zikirkan sebanyak 50 x setiap hari dengan niat agar barang-barang yang dikhuatirkan yang berada di tempat yang jauh & sukar dijaga terhindar dari sebarang kecurian mahupun gangguan lainnya. Bertawakkal & yakinlah kepada Allah. InsyaAllah…. 45. “Ya Mujiib!” Sesungguhnya Allah adalah Zat yang menerima doa hambaNya & agar doa kita mustajab & selalu diterima Allah, hendaklah mengamalkan zikir ini sebanyak 55 x sesudah solat subuh. Insyaallah Tuhan akan mengabulkan doa kita. 46. “Ya Waasi!” Apabila di dalam kesulitan maka amalkan zikir ini sebanyak 128 x setiap pagi & petang, InsyaAllah segala kesulitan akan hilang berkat pertolongan Allah. Andai zikir ini sentiasa diamalkan, InsyaAllah Tuhan akan menjaga kita dari hasad dengki sesama makhluk. 47. “Ya Hakiim!” Bagi pelajar atau sesiapa sahaja yang memperbanyakkan zikir ini setiap hari, InsyaAllah akalnya akan menjadi cerdas & lancar didalam menghafal & mengikuti pelajaran. Amalkanlah sekurang-kurangnya 300x setiap hari. 48. “Ya Waduud!” Amalkan zikir ini sebanyak 11,000 x pada setiap malam. InsyaAllah kita akan menjadi insan yang sentiasa bernasib baik, disayangi & rumahtangga kita akan sentiasa berada didalam keadaan harmoni. 49. “Ya Majiid!” Untuk ketenteraman keluarga di mana setiap anggota keluarga sentiasa menyayangi & menghormati & khasnya kita sebagai ketua keluarga, maka amalkan zikir ini sebanyak 99 x, sesudah itu hembuskan kedua belah tapak tangan & usap ke seluruh muka. InsyaAllah semua anggota keluarga kita akan menyayangi & menghormati kita sebagai ketua keluarga. 50. “Ya Baa’its!” Zikirkan sebanyak 100 x dengan meletakkan kedua tangan ke dada, InsyaAllah akan memberi kelapangan dada dengan ilmu & hikmah. 51. “Ya Syahiid!” Apabila ada di kalangan anggota keluarga kita yang suka membangkang dan sebagainya, maka zikirkan sebanyak 319 x secara berterusan setiap malam sehingga si pembangkang akan sedar & berubah perangainya.

52. “Ya Haq”! Perbanyakkan zikir ini, InsyaAllah ianya sangat berfaedah sekali untuk menebalkan iman & taat di dalam menjalankan perintah Allah. 53. “Ya Wakiil” Sekiranya terjadi hujan yang disertai ribut yang kuat, atau terjadi gempa, maka ketika itu perbanyakkan zikir ini, InsyaAllah bencana tersebut akan menjadi reda & kembali seperti sediakala. 54. “Ya Qawiy!” Amalkan zikir ini sebanyak mungkin agar kita tidak gentar apabila berdepan dengan sebarang keadaan mahupun berdepan dengan si zalim. 55. “Ya Matiin!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin kerana ianya mempunyai fadhilat yang besar sekali, antaranya untuk mengembalikan kekuatan sehingga musuh merasa gentar untuk mengganggu. 56. “Ya Waliy!” Barangsiapa yang menjawat sebarang jawatan atau kedudukan, maka amatlah elok sekali mengamalkan zikir ini sebanyak mungkin kerana dengan izinNya,kedudukan kita akan kukuh & terhindar dari sebarang gangguan oleh orang-orang yang bersifat dengki. 57. “Ya Hamiid!” Perbanyakkan zikir ini sebagai pengakuan bahawa hanya Allah sahaja yang paling berhak menerima segala pujian. 58. “Ya Muhshiy!” Sekiranya kita inginkan diri kita digolongkan didalam pertolongan yang selalu dekat dengan Allah (muraqabah), maka amalkan zikir ini sebanyak mungkin sesudah solat 5 waktu. 59. “Ya Mubdiu!” Agar segala apa yang kita rancangkan akan berhasil, maka zikirkan sebanyak 470 x setiap hari. InsyaAllah…. 60. “Ya Mu’id!” Andai ada anggota keluarga yang menghilangkan diri dan sebagainya, amalkan zikir ini sebanyak 124 x setiap hari sesudah solat. InsyaAllah dipertunjukkan akan hasilnya. 61. “Ya Muhyiy!” amalkan zikir ini sebanyak 58 x setiap hari, InsyaAllah kita akan diberikan kemuliaan darjat dunia & akhirat kelak. 62. “Ya Mumiit!” Barangsiapa memperbanyakkan zikir ini, InsyaAllah akan dipermudahkan didalam perniagaan, berpolitik dan sebagainya. 63. “Ya Hayyu!” Untuk mencapai kekuatan mental/batiniah didalam menjalani kehidupan, perbanyakkanlah zikir ini. 64. “Ya Qayyuum!” Telah berkata Imam Ghazali bahawa barangsiapa yang ingin memperolehi harta yang banyak lagi berkat, ingin dikasihi oleh setiap manusia, ingin berwibawa, ditakuti musuh & ingin menjadi insan yang terhormat, maka berzikirlah dgn “Ya Hayyu Ya Qayyuum…”

sebanyak 1,000 x setiap malam atau siang hari. Hendaklah melakukannya secara berterusan, Insya Allah akan tercapai segala hajat. 65. “Ya Waajid!” Andai berkeinginan keperibadian yang kukuh, tidak mudah terpengaruh & teguh pendirian, maka perbanyakkan zikir ini. 66. “Ya Maajid!” Demi kecerdasan otak dan agar dipermudahkan hati untuk menerima pelajaran, maka hendaklah pelajar tersebut memperbanyakkan zikir ini setiap hari. 67. “Ya Waahid!” Bagi pasangan yang belum mempunyai cahayamata & tersangat ingin untuk menimangnya, amalkanlah zikir ini sebanyak 190 x setiap kali selesai menunaikan solat 5 waktu selama satu bulan & selama itu juga hendaklah berpuasa sunat Isnin & Khamis, Insya Allah… 68. “Ya Somad! Ketika dalam kelaparan akibat sesat atau kesempitan hidup, maka pohonlah kepada Allah dengan zikir ini sebanyak mungkin. InsyaAllah, diri akan berasa segar & sentiasa. 69. “Ya Qaadir!” Apabila kita berhajatkan sesuatu namun ianya selalu gagal, maka amalkan zikir ini sebanyak 305 x setiap hari, Insya Allah segala hajat akan berhasil. 70. “Ya Muqtadir!” Agar tercapai tujuan yang dikehendaki, selain dari berikhtiar secara lahariah, maka berzikirlah dengan zikir ini seberapa mampu sehingga ikhtiar kita itu berhasil kerana zikir ini akan mempercepatkan keberhasilan hajat kita. 71. “Ya Muqaddim!” Menurut Imam Ahmad bin Ali Al-Buuniy, beliau berkata “Barangsiapa yang berzikir dengan zikir ini sebanyak 184 x setiap hari, InsyaAllah, nescaya segala usahanya akan berhasil.” 72. “Ya Muahkhir”! Bagi meninggikan lagi ketaatan kita kepada Allah, perbanyakkanlah zikir ini. 73. “Ya Awwal!!” Barangsiapa yang mengamalkan zikir ini sebanyak 37 x setiap hari, InsyaAllah segala apa yang dihajati akan diperkenankan Allah. 74. “Ya Aakhir!” Amalkan berzikir sebanyak 200 x sesudah solat 5 waktu selama satu bulan, InsyaAllah Tuhan akan membuka pintu rezeki yang halal. 75. “Ya Dhaahir!” Amalkanlah zikir ini sebanyak 1,106 x selesai solat waktu di tempat yang sunyi (khalwat), nescaya Allah akan membuka hijab padanya dari segala rahsia yang pelik & sukar serta diberi kefahaman ilmu.

76. “Ya Baathinu!” Seperti no. 75 jugak, tetapi amalkan sebanyak 30 x sesudah solat fardhu. 77. “Ya Waaliy!” Memperbanyakkan zikir ini setiap pagi & petang boleh menyebabkan seseorang itu menjadi orang yang ma’rifat, iaitu hatinya dibuka oleh Allah. Difahamkan para wali Allah selalu memperbanyakkan zikir ini 78. “Ya Muta’aAliy!” Sekiranya kita akan berjumpa dengan mereka yang berkedudukan tinggi atau mereka yang sukar untuk ditemui, maka bacalah zikir ini sebanyak mungkin sewaktu mengadap. InsyaAllah dengan mudah kita akan berjumpa dengannya & segala hajat yang penting-penting akan berhasil. 79. “Ya Bar!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin setiap hari, InsyaAllah segala apa yang kita hajati akan terlaksana dengan mudah. 80. “Ya Tawwaab!” Bagi orang yang selalu membuat dosa & ingin bertaubat maka hendaklah memperbanyakkan zikir ini supaya dengan mudah diberikan petunjuk kembali ke jalan yang lurus. 81. “Ya Muntaqim!” Jika kita berhadapan dengan orang yang zalim, supaya dia tidak melakukan kezalimannya terhadap kita, maka hendaklah kita memperbanyakkan zikir ini setiap kali sesudah solat fardhu. Insyaallah, kita akan mendpt pertolongan Allah. 82. “Ya ‘Afuww!” Barangsiapa memperbanyakkan zikir ini, nescaya dia akan diampuni segala dosanya oleh Allah. 83. “Ya Rauuf!” Bagi sesiapa yang inginkan dirinya disenangi oleh teman atau sesiapa sahaja yang memandangnya, amalkan zikir ini seberapa mampu samada pada waktu siang mahupun malam. 84. “Ya Maalikul Mulki!” Seseorang pengarah atau ketua yang ingin kedudukan yang kekal & tetap tanpa diganggu gugat, hendaklah selalu mengamalkan zikir ini sebanyak 212 x sesudah solat fardhu & 212 pada setiap malam selama sebulan. InsyaAllah akan mendapat pertolongan Allah. 85. “Ya Zul Jalaali wal Ikraam!” Amalkanlah zikir ini sebanyak 65 x setiap hari selama sebulan, InsyaAllah segala hajat kita akan tercapai dengan pertolongan Allah. 86. “Ya Muqsith!” Berzikirlah dengan zikir ini mengikut kemampuan, InsyaAllah Tuhan akan menganugerahkan sifat adil kepada mereka yang mengamalkannya.

87. “Ya Jaami’!” Sekiranya ada dikalangan keluarga kita atau isteri kita yang lari dari rumah, maka amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin pada setiap hari dengan niat semoga Allah menyedarkan orang tersebut. Dengan izin Allah orang yang lari itu akan pulang dalam jangka waktu yang singkat. 88. “Ya Ghaniy!” Amalkanlah zikir ini pada setiap hari sebanyak mungkin, InsyaAllah apa yang kita usahakan akan cepat berhasil & kekayaan yang kita perolehi itu akan mendapat berkat. 89. “Ya Mughniy!” Mintalah kekayaan yang bermanfaat untuk kehidupan dunia & akhirat kepada Allah dengan memperbanyakkan zikir ini, InsyaAllah segala hajat kita akan tercapai. 90. “Ya Maani’!” Andai kita selalu mengamalkan zikir ini sebanyak 161 x pada waktu menjelang solat subuh setiap hari, InsyaAllah kita akan terhindar dari orang-orang yang zalim & suka membuat angkara. 91. “Ya Dhaarr!” Asma ini sangat berguna didalam ikhtiar kita untuk menyembuhkan sesuatu penyakit yang mana sudah lama dihidapi & telah puas dihidapi & telah puas diubati. Amalkanlah zikir ini sebanyak 1001 x pada setiap hari, InsyaAllah dengan ikhtiar ini penyaki itu akan cepat sembuh. 92. “Ya Naafi’ “! Menurut Imam Ahmad Al-Buuniy, barangsiapa mengamalkan zikir ini setiap hari, maka bagi orang yang sakit, sakitnya akan sembuh, & bagi orang yang susah akan dihilangkan kesusahannya dengan izin Allah. 93. “Ya Nuur!” Menurut Sheikh Ahmad bin Muhammad As Shawi, barangsiapa yang menghendaki kemuliaan yang agung & memperolehi apa yang dimaksudkan baik kebaikan dunia mahupun kebaikandi akhirat kelak, maka hendaklah selalu berzikir dengan zikir ini setiap pagi & petang. 94. “Ya Haadiy!” Bagi sesiapa yang dalam perjalanan ke suatu tempat tertentu, kemudian ia tersesat, hendaklah ia memohon petunjuk Allah dengan memperbanyakkan zikir ini, Insya Allah akan diberikan pertolongan Allah akan cepat lepas dari kesesatan tersebut. 95. “Ya Baadii!” Andai kita mempunyai rancangan yang sangat penting & bagi memastikan rancangan kita itu berjaya & berjalan lancar, maka berzikirlah dengan zikir ini sebanyak 500 x selepas solat fardhu. InsyaAllah Tuhan akan memberikan pertolongan hingga rancangan kita berjaya & berjalan lancar. 96. “Ya Baaqy!” Amalkanlah zikir ini sebanyak mungkin tanpa mengira batas waktu, InsyaAllah dengan ikhtiar ini semua perkerjaan yang telah

menjadi punca rezeki tidak akan mudah terlepas, perniagaan tidak akan rugi atau bankrap dengan berkat zikir ini. 97. “Ya Waarits!” Sekiranya kita berzikir sebanyak 500 x selepas solat fardhu atau sebagainya, supaya segala urusan kita itu berjalan lancar, maka hendaklah pada setiap malam berzikir dengan zikir ini sebanyak 707 x. InsyaAllah berkat zikir ini Allah akan memberi petunjuk sehingga usaha kita akan berhasil dengan baik & memberangsangkan. 98. “Ya Rasyiid!” Walaupun kita tergolong didalam golongan yang cerdas otak, namun biasakanlah zikir ini sebanyak mungkin, nescaya otak kita akan menjadi bertambah cerdas. 99. “Ya Shabuur!” Agar kita diberi kesabaran oleh Allah dalam segala hal, maka perbanyakkanlah zikir ini menurut kemampuan. Dengan sifat sabar & penuh pengharapan kepada Allah, maka segala usaha & upaya akan mencapai kejayaan. Fadhilah membaca asma’ul husna lebih lanjut diungkapkan oleh Yusuf Ibn Ismail An-Nahani pada kitab Sa’adah Ad-Daroin pada bab “khowashil Asma’il Ilahiyah yang terdapat di lembar lampiran. Berdoa dengan asma’ul husna juga dianjurkan rasulullah SAW. dalam hadist yang terkenal dengan hadist syafa’at yang diriwayatkan imam Bukhari, dalam shahihnya, “Kitabut Tauhid”, Bab “Kalamurrabi ‘Azza Wa Jalla Yaumal Qiyamati Ma’al Anbiyai Wa Ghairihim.” (hadist no. 7510), yang berbunyi: ‫.…...ويلهمني محامد أحمده بها ل تحضرني الن, فأحمدهبتلك المحامد, أخر له ساجدا‬ ّ (‫)رواه البخارى‬ “ ….Akan diilhamkan kepadaku (pada hari kaimat), pujian-pujian (kepada Allah), yang pada saat ini aku tidak memuji dengan pujian tersebut. Aku akan memuji Allah dengan pujian-pujian tersebut, dalam keadaan aku bersungkur sujud kepada Allah,….”(Imam Al-Bukhari) 3. Membaca Mengandung Unsur Menghafal

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “menghafal” berasal dari kata “hafal” yang berarti telah masuk di ingatan (tentang pelajaran), dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain). Menghafal adalah devinisi membaca tanpa symbol-sismbol atau lambing materil akan tetapi menggunakan symbol non materil. Membaca seperti ini adalah bagian dari produk membaca (Burns, dkk. (1996: 6) lebih lanjut ia mengatakan membaca adalah mengingat apa yang dipelajari sebelumnya dan memasukkan gagasan-gagasan dan fakta-fakta baru, membangun asosiasi, menyikapi secara personal kegiatan/tugas membaca sesuai dengan interesnya, mengumpulkan serta menata semua tanggapan indera untuk memahami materi yang dibaca. Sebuah penegasan tentang adanya hubungan kausal antara membaca dengan menghafal adalah melalui firman Allah SWT yang berbunyi: 6:‫)سنقرئك فل تنسي )العلى‬ ْ َ َ َ َ ُ ِ ْ َُ “ Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.” (Departeman Agama Republik Indonesia, 1987:1051) Secara implisit pengertian membaca dengan makna menghafal juga terjadi saat wahyu pertama diturunkan Allah lewat malaikat jibril kepada nabi Muhammad di Goa Hira yang persisnya nabi membaca tanpa tulisan dan ia membaca setelah di ulang sebanyak 3 kali. Singkat ceritanya adalah ketika Malaikat Jibril menyuruh Muhammad Rasulullah SAW dengan mengucapkan

‫( إقرا‬baca!) dan Nabi menjawab: ‫ ( ما انلا بقلارئ‬saya tidak bisa membaca ), lalu َ ِْ ِ َ ِ ََ َ malaikat Jibril mengulanginya lagi dan Nabi menjawab dengan perkataan yang sama. Hal ini terulang sampai 3 kali. Kemudian Jibril membacakan ayat 1-5 dan mengulanginya sampai beliau hafal dan tidak lupa lagi apa yang disampaikan Jibril tersebut ( Erwita Aziz, 2003: 81) Membaca asma’ul husna berarti pula mengafal hal ini diperkuat oleh kutipan tentang penafsiaran ulama ahlussunah waljamaah mengenai asma’ul husna yakni: ‫" "احترام معاني تلك السماء وحفظ مالها‬ “memulyakan makna dari asma’ul husna dan menghafal apa yang ada di pada asma’ul husna”(Muhammad bin Khalifah bin Ali:1999) 4. Menyelami makna Penjabaran arti membaca lebih lanjut oleh Burns, dkk. (1996: 6) bahwa aktifitas membaca terdiri atas dua bagian, yaitu proses membaca dan produk membaca. Dalam proses membaca ada sembilan aspek yang jika berpadu dan berinteraksi secara harmonis akan menghasilkan komunikasi yang baik antara pembaca dan penulis. Komunikasi antara pembaca dan penulis itu berasal dari pengkonstruksian makna yang dituangkan dalam teks dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Maka pengertian membaca dalam kontes menyelami makna asma’ul husna berarti membaca adalah memberi arti kepada asma’ul husna itu sendiri sedangkan Makna asma’ul husna lebih lengkap dalam tafsir-tafsir para ulama seperti pada

kitab Sa’adah Ad-Daroin karangan Yusuf Ismail An-Nahani pada bab As-Saadah fi Khoasi Al-asmail Ilahiyah hal: 519, namun secara sederhana daftar makna terjemah dari asma’ul husna dengan menggunakan dua bahasa sebagai bahan komparasi konteks makna akan di bahas pada Bab II sub bahasan asma’ul husna sebagai sifat Allah.

5. Meneladan Kata “meneladan” berasal dari kata “teladan” yang berarti sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya) meneladan berarti meniru atau mencontoh.

(http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php). Hakekat meneladan memlalui membaca pun diungkapkan oleh Adib Susila Siraj bahwa, ada tiga hal yang akan terjadi ketika seseorang sebagai

produk membaca yakni afektif, kognitif, dan bahasa. Perilaku afektif mengacu pada perasaan, perilaku kognitif mengacu pada pikiran, dan perilaku bahasa mengacu pada bahasa pembaca. Membaca diartikan didevinisikan oleh Chambers dan Lowry (Burn, Roe dan Ross, 1984) bahwa membaca lebih dari sekedar mengenali kata-kata tetapi juga membawa ingatan yang tepat, merasakan dan mendefinisikan beberapa keinginan, mengidentifikasi sebuah solusi untuk memunuhi keinginan, memilih cara alternatif, percobaan dengan memilih, menolak atau menguasai jalan atau cara yang dipilih, dan memikirkan beberapa cara dari hasil yang evaluasi. hal tersebut secara keseluruhan termasuk respon dari berpikir.

Stauffer (Petty & Jensen, 1980) menganggap bahwa membaca, merupakan transmisi pikiran dalam kaitannya untuk menyalurkan ide atau gagasan. Selain itu, membaca dapat digunakan untuk membangun konsep, mengembangkan perbendaharaan kata, memberi pengetahuan, menambahkan proses pengayaan pribadi, mengembangkan intelektualitas, membantu mengerti dan memahami problem orang lain, mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan. Dari uraian diatas maka membaca asamul husna (asma dan sifat Allah) adalah kegiatan meneladan karena yang di baca adalah perbuatan, kelakuan, sifat, Allah yang patut diteladani oleh makhluknya seperti yang di ungkapkan imam Al-Ghazali dengan istilah “tahkolluq”. Meneladani ini melalui proses afektif, kognitif, dan bahasa sehingga mampu membangun konsep dalam dirinya sehingga perbuatannya telah menjadi konsep dan watak pada dirinya.

3.

Asma’ul husna dan Kandungan maknanya Secara etimologis asma'ul husna berasal dari bahasa arab yakni ‫السللماء‬

dalam bentuk jamak dari kata ‫ اسم‬artinya nama-nama dan ‫ الحسنى‬artinya baik (AlMarbawi,1927:21). Secara terminology kata ini dapat ditemukan pada beberapa tafsir surat Al-A’raf ayat 180, Asma’ul husna berasal dari kata ‫ السماء‬artinya nama-nama dan ‫ الحسنى‬artinya baik berjumlah 99 nama (Tafsir Al-Jalalein), yang merupakan lafadz bahkan sifat (Tafsir Al-Baidhawi) yang sebagiannya wajib di implementasikan dalam akhlak (Tafsir Nasfi). Secara lugas asma’ul husna diartikan sebagai seluruh asma Allah yang maha indah, berbentuk asma dan sifat, menunjukan pelbagai sifat, memiliki dilalah dalam dzat dan sifat-Nya yang ditetapkan berdasarkan wahyu yang bukan

menjadi ranah akal, yang tidak terbatas pada jumlah tertentu dan tidak boleh diselewengkan dan diingkari kebenarannya (M. Syafei Antonio, 2008: 22). Dari uraian di atas dapat kita fahami bahwa asma’ul husna diindikasikan pada beberapa indikator:

a. Asma’ul husna adalah Seluruh Asma Allah Yang Maha Indah Dalam Hal ini Antonio Syafei (2008:23) mengungkapkan: Makna “husna” adalah puncak kebaikan dan keindahan . Asma-Nya maha indah dan sempurna, karena di dalamnya tidak terknadung kekurangan sedikit pun, baik secara eksplisit maupun secara implisit. Sebagai contoh kata hayy (yang maha hidup) merupakan dalah satu nama Allah yang mengandung pengertian kehidupan sempurna, yang tidak sidahului dengan ketiadaan, dan tidak diikuti dengan sirnanya.” (2008:23) b. Asma’ul husna Terdiri dari Asma dan Sifat, Dalam kajian nama Allah maka nama diandang dari indikasinya (dalalah) kepada dzat dan sifat dipandang dari indikasinya kepada makna. Berdasarka pengertian pertama maka seluruh asma adalah mutharodif (sinonim) karena indikasinya hanya kepda satu dzat, Allah. Sedangkan dari pengertian kedua, semua asma Allah adalah mutabayinah (diferensial), karena setiap asma

mempunyai indikasi (dalalah) makna tersendiri. Sebagai contoh : Al-Hayy, Ar-Rahim, Ar-Rahman , Al-Bashir, As-Sami’ semuanya adalah asma untuk yang satu, Allah. Akan tetapi makna Al-Hayy tidak

‫,‪sama dengan makna Al-A’lim, dan Al-Alim tidak sama dengan Al-Qodir‬‬ ‫‪demikianlah seterusnya, demikianlah seterusnya. Asma Allah disebut sebagai‬‬ ‫.‪nama dan sifat-Nya merupakan petunjuk dari Al-Quran‬‬ ‫‪Berikut ini adalah pendapat ulama tentang pembagian asma’ul husna yang‬‬ ‫‪berdasarkan pendapat Al-Sa'id Al-Sayyid Ibadah (1983) pada kitab yang‬‬ ‫:‪dicetakan asli dari University Of California berikut ini‬‬

‫أقسام السماء الحسنى : السماء الحسنى تنقسم باعتبار إطلقها على ال إلى ثلثةأقسام‬ ‫السلللللماء المفللردة ,وضللابطها: مللا يسللوغ أن يطلللق عليلله مفللردا. وهللذا يقللع فللي غللالب .1‬ ‫السملللللللللاء مثالها: الرحمن، السميع، الرحيم، القدير،الملك‬ ‫السملللاء المقترنة ,وضابطها: ما يطلق عليه مقترنا بغيره مللن السللماء. وهللذا أيضللا يقللع فللي .2‬ ‫ُ‬ ‫غالب السملاء. مثالها: العزيز الحكيللم، الغفللور الرحيللم، الرحمللن الرحيللم، السللميع البصللير. وفللي‬ ‫القرآن جاءت أسملللاء ال الحسنى غالبا مقترنة.)أسملللاء ال الحسنى كما جاءت في القرآن( وكلللل‬ ‫من القسم الول والثاني يسوغ أن يدعى به مفردا، ومقترنا بغيره، فتقول: يا عزيللز، أو يللا حكيللللم،‬ ‫ُ‬ ‫أويا غفور، أويا رحيلللم. وهكلعذا في حال الثنلللاء عليه أو الخبر عنه بمللا يسوغ لللك الفللراد أو‬ ‫الجم‬ ‫السملللاء المزدوجة, وضابطها: ما ل يطلق عليه بمفرده بل مقرونا بمقابله؛ لن الكملللللال فللي .3‬ ‫ُ‬ ‫اقتران كل اسم منها بما يقابله: المعطي المانع, الضار النافع, المعز المذل‬ ‫السماء المضافة, ذهب جمع من أهل العلللم إلللى اعتبللار السللماء المضللافة وعلدها مللن ضللمن .4‬ ‫ّ‬ ‫السماء الحسنى، قال شيخ السلم ابن تيمية: "وكذلك أسماؤه المضافة مثل أرحم الراحميللن, خيللر‬ ‫الغافرين, رب العالمين, مالك يللوم اللدين, أحسللن الخللالقين, جللامع النللاس ليللوم ل ريللب فيلله مقلللب‬ ‫ّ‬ ‫ّ‬ ‫ّ‬ ‫القلوب وغير ذلك مما ثبت في الكتاب والسنة، وثبت في الدعاء بها بإجماع المسلمين‬ ‫ّ‬ ‫ّ‬ ‫ّ‬

c.

menunjukan pelbagai sifat, Jika asma Allah menunjukan keberbagaian sifat (transitif atau muta’addi),

maka asma-Nya mengandung tiga hal : 1. ketetapan asma terebut untuk Allah 2. ketetapa sifat yang terkadung oleh asma ini untuk Allah. 3. ketetapan hukum-Nya dan tuntunan-Nya dari sifat tersebut Mengacu pada kaidah ini para ahli ilmu menetapkan gugurnya hudud pada perampok, misalnya yang telah mengungkapkan pertaubatan secara sungguhsungguh (Q. S. Almaidah : 34) pemahaman untuk contoh tersebut dapat difahami dari makna As-Sami’ (maha mendengar), yang mengandung ketetapan bahwa nama ini hanya untuk Allah (mendengar kesungguhan orang yang bertaubat) sekaligus menetapkan bahwa Allah juga memiliki sifat sama’ (mendengar). “Dan Allah mendengar antara percakapanmu berdua. Sesungguhnya Allah maha mendengar dan maha melihat .”(Ary Ginanjar,2009) Jika nama Allah menunjukan makna intransitif (lazim), maka nama-namaNya hanya mengandung dua hal, Pertama: ketetapan makna tersebut untuk Allah Kedua, ketetapan sifat yang terkandung oleh makna ini untuk Allah . Sebagai contoh nama Al-Hayy (yang maha hidup) menandung ketetapan bahwa nama tersebut untuk Allah, sekaligus ketetapan adanya sifat “Hayyah” (hidup) bagi Allah. Yang paling penting dalam memahami sifat Allah adalah berpatokan pada kaidah :

1. Semua sifat Allah sempurna tanpa kekurangan (Q.S.An-Nahl : 60) 2. Pembahasan sifat Allah lebih luas dari pada maknanya.(Q.S. Lukman : 26, Al-Fajr : 22, Al Baqarah: 210, Ali-Imran : 11, AlHajj: 65, Al Buruj : 22, Al-Baqarah : 185) 3. Sifat Allah terbagi dalam Tsubutiyah dan Salbiyah. (Syeik Ibrahim Al-Bajuri : 1) 4. 5. 6. Sifat Tsubutiyah adalah sifat terpuji dan sempurna Sifat Tsubutiyah terbagi kepada dzatiyah dan Fi’liyah Penetapan sifat Allah harus terlepas dari tamtsil dan takyif (Q.S.Al-Ikhlash : 4 dan Thaha : 110) 7. Sifat sifat Allah adalah tauqifi dan tidak dapat diperdebatkan.

d. Asma’ul husna Memiliki Dilalah dalam Dzat dan Sifat-Nya Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat Muslim tidak akan mudah menulis "Allah adalah ...", karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah, akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keteranga Al-Qur'an tentang Allah ta'ala. Pembahasan berikut hanyalah pendekatan yang disesuaikan dengan konsep akal kita yang sangat terbatas ini. Semua kata yang ditujukan pada Allah harus dipahami keberbedaannya dengan penggunaan wajar kata-kata itu. Allah itu tidak dapat dimisalkan atau dimiripkan dengan segala sesuatu, seperti tercantum dalam surat Al-Ikhlas berikut ini :

-1 : ‫قل هو ال أحدٌ)1( ال الصمد )2( لم يلد ولم يولد )3( ولم يكن له كفوا أحد )4( )الخلص‬ ٌ َ َ ً ُ ُ ُ َ ْ ُ َ ْ ََ ْ َ ُ ْ ََ ْ َِ ْ َ َُ ّ ّ ُ َ َّ َُ ْ ُ ُ 4) "Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:1118) Adapun dzilalah sifat dari asma’ul husna yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah sebagia berikut : Tabel 2. Dilalah Sifat Allah pada Asma’ul Husna

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

1

Ar Rahman

‫الرحمن‬

Yang Memiliki Mutlak The All Beneficent sifat Pemurah

2

Ar Rahiim

‫الرحيم‬

Yang Memiliki Mutlak The Most Merciful sifat Penyayang

3

Al Malik

‫الملك‬

Yang Memiliki Mutlak The King, sifat Sovereign Merajai/Memerintah

The

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

4

Al Quddus

‫القدوس‬

Yang Memiliki Mutlak The Most Holy sifat Suci

5

As Salaam

‫السلم‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Peace and Blessing Kesejahteraan

6

Al Mu`min

‫المؤمن‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi The Guarantor Keamanan

7

Al Muhaimin

‫المهيمن‬

Yang Memiliki Mutlak The Guardian, the sifat Pemelihara Preserver

8

Al `Aziiz

‫العزيز‬

Yang Memiliki Mutlak The Almighty, the Kegagahan Self Sufficient

9

Al Jabbar

‫الجبار‬

Yang Memiliki Mutlak The Powerful, the sifat Perkasa Irresistible

10

Al Mutakabbir

‫المتكبر‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang The Tremendous Memiliki Kebesaran

11

Al Khaliq

‫الخالق‬

Yang Memiliki Mutlak The Creator sifat Pencipta

12

Al Baari`

‫البارئ‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, The Maker Membentuk, Menyeimbangkan)

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

Al 13 Mushawwir Al Ghaffaar

‫المصور‬

Yang Memiliki Mutlak The Fashioner sifat Yang Membentuk Forms Rupa (makhluknya)

of

14

‫الغفار‬

Yang Memiliki Mutlak The Ever Forgiving

sifat Pengampun

15

Al Qahhaar

‫القهار‬

Yang Memiliki Mutlak The All Compelling sifat Memaksa Subduer

16

Al Wahhaab

‫الوهاب‬

Yang Memiliki Mutlak The Bestower sifat Pemberi Karunia

17

Ar Razzaaq

‫الرزاق‬

Yang Memiliki Mutlak The Ever Providing sifat Pemberi Rejeki

18

Al Fattaah

‫الفتاح‬

Yang Memiliki Mutlak The Opener, sifat Pembuka Rahmat Victory Giver

the

19

Al `Aliim

‫العليم‬

Yang Memiliki Mutlak The All Knowing, sifat Mengetahui the Omniscient (Memiliki Ilmu)

20

Al Qaabidh

‫القابض‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang The Restrainer, the Menyempitkan Straightener (makhluknya)

21

Al Baasith

‫الباسط‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang The Expander, the Melapangkan Munificent (makhluknya)

No.

Nama Al Khaafidh

Arab

Indonesia

Inggris

22

‫الخافض‬

Yang Memiliki Mutlak The Abaser sifat Yang Merendahkan

(makhluknya)

23

Ar Raafi`

‫الرافع‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang The Exalter Meninggikan (makhluknya)

24

Al Mu`izz

‫المعز‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan The Giver of Honor (makhluknya)

25

Al Mudzil

‫المذل‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang The Giver Menghinakan Dishonor (makhluknya)

of

26

Al Samii`

‫السميع‬

Yang Memiliki Mutlak The All Hearing sifat Maha Mendengar

27

Al Bashiir

‫البصير‬

Yang Memiliki Mutlak The All Seeing sifat Maha Melihat

28

Al Hakam

‫الحكم‬

Yang Memiliki Mutlak The Judge, sifat Maha Menetapkan Arbitrator

the

29

Al `Adl

‫العدل‬

Yang Memiliki Mutlak The Utterly Just sifat Maha Adil

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

30

Al Lathiif

‫اللطيف‬

Yang Memiliki Mutlak The Subtly Kind sifat Maha Lembut

31

Al Khabiir

‫الخبير‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui The All Aware Rahasia

32

Al Haliim

‫الحليم‬

Yang Memiliki Mutlak The Forbearing, the sifat Maha Penyantun Indulgent

33

Al `Azhiim

‫العظيم‬

Yang Memiliki Mutlak The Magnificent, the sifat Maha Agung Infinite

34

Al Ghafuur

‫الغفور‬

Yang Memiliki Mutlak The All Forgiving sifat Maha Pengampun

35

As Syakuur

‫الشكور‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas The Grateful Budi (Menghargai)

36

Al `Aliy

‫العلى‬

Yang Memiliki Mutlak The sifat Maha Tinggi Exalted

Sublimely

37

Al Kabiir

‫الكبير‬

Yang Memiliki Mutlak The Great sifat Maha Besar

38

Al Hafizh

‫الحفيظ‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga

The Preserver

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

39

Al Muqiit

‫المقيت‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi The Nourisher Kecukupan

40

Al Hasiib

‫الحسيب‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat The Reckoner Perhitungan

41

Al Jaliil

‫الجليل‬

Yang Memiliki Mutlak The Majestic sifat Maha Mulia

42

Al Kariim

‫الكريم‬

Yang Memiliki Mutlak The Bountiful, the sifat Maha Pemurah Generous

43

Ar Raqiib

‫الرقيب‬

Yang Memiliki Mutlak The Watchful sifat Maha Mengawasi

44

Al Mujiib

‫المجيب‬

Yang Memiliki Mutlak The Responsive, the sifat Maha Answerer Mengabulkan

45

Al Waasi`

‫الواسع‬

Yang Memiliki Mutlak The Vast, the All sifat Maha Luas Encompassing

46

Al Hakiim

‫الحكيم‬

Yang Memiliki Mutlak The Wise sifat Maka Bijaksana

47

Al Waduud

‫الودود‬

Yang Memiliki Mutlak The Loving, sifat Maha Pencinta Kind One

the

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

48

Al Majiid Al Baa`its

‫المجيد‬

Yang Memiliki Mutlak The All Glorious sifat Maha Mulia

49

‫الباعث‬

Yang Memiliki Mutlak The Raiser of the sifat Maha

Membangkitkan

Dead

50

As Syahiid

‫الشهيد‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha The Witness Menyaksikan

51

Al Haqq

‫الحق‬

Yang Memiliki Mutlak The Truth, the Real sifat Maha Benar

52

Al Wakiil

‫الوكيل‬

Yang Memiliki Mutlak The Trustee, sifat Maha Memelihara Dependable

the

53

Al Qawiyyu

‫القوى‬

Yang Memiliki Mutlak The Strong sifat Maha Kuat

54

Al Matiin

‫المتين‬

Yang Memiliki Mutlak The Firm, sifat Maha Kokoh Steadfast

the

55

Al Waliyy

‫الولى‬

The Protecting Yang Memiliki Mutlak Friend, Patron, and sifat Maha Melindungi Helper

56

Al Hamiid

‫الحميد‬

Yang Memiliki Mutlak The sifat Maha Terpuji Praiseworthy

All

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

57

Al Mushii

‫المحصى‬

Yang Memiliki Mutlak The Accounter, the sifat Maha Numberer of All Mengkalkulasi

58

Al Mubdi`

‫المبدئ‬

Yang Memiliki Mutlak The Producer, sifat Maha Memulai Originator, and

Initiator of all

59

Al Mu`iid

‫المعيد‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha The Reinstater Who Mengembalikan Brings Back All Kehidupan

60

Al Muhyii

‫المحيى‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha The Giver of Life Menghidupkan

61

Al Mumiitu

‫المميت‬

Yang Memiliki Mutlak The Bringer of sifat Maha Mematikan Death, the Destroyer

62

Al Hayyu

‫الحي‬

Yang Memiliki Mutlak The Ever Living sifat Maha Hidup

63

Al Qayyuum

‫القيوم‬

Yang Memiliki Mutlak The Self Subsisting sifat Maha Mandiri Sustainer of All

64

Al Waajid

‫الواجد‬

Yang Memiliki Mutlak The Perceiver, the sifat Maha Penemu Finder, the Unfailing

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

65

Al Maajid

‫الماجد‬

Yang Memiliki Mutlak The Illustrious, the sifat Maha Mulia Magnificent

66

Al Wahiid

‫الواحد‬

The One, Yang Memiliki Mutlak Unique, sifat Maha Tunggal Manifestation Unity

The of

67

Al `Ahad

‫الحد‬

The One, the All Yang Memiliki Mutlak Inclusive, the sifat Maha Esa Indivisible

68

As Shamad

‫الصمد‬

The Self Sufficient, Yang Memiliki Mutlak the Impregnable, the sifat Maha Dibutuhkan, Eternally Besought Tempat Meminta of All, the Everlasting

69

Al Qaadir

‫القادر‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha The All Able Menentukan, Maha Menyeimbangkan

70

Al Muqtadir

‫المقتدر‬

Yang Memiliki Mutlak The All Determiner, sifat Maha Berkuasa the Dominant

71

Al Muqaddim

‫المقدم‬

Yang Memiliki Mutlak The Expediter, He sifat Maha who brings forward Mendahulukan

Al 72 Mu`akkhir

‫المؤخر‬

Yang Memiliki Mutlak The Delayer, He sifat Maha who puts far away Mengakhirkan

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

73

Al Awwal

‫الول‬

Yang Memiliki Mutlak The First sifat Maha Awal

74

Al Aakhir

‫الخر‬

Yang Memiliki Mutlak The Last sifat Maha Akhir

75

Az Zhaahir

‫الظاهر‬

Yang Memiliki Mutlak The Manifest; the sifat Maha Nyata All Victorious

76

Al Baathin

‫الباطن‬

Yang Memiliki Mutlak The Hidden; the All sifat Maha Ghaib Encompassing

77

Al Waali

‫الوالي‬

Yang Memiliki Mutlak The Patron sifat Maha Memerintah

78

Al Muta`aalii

‫المتعالي‬

Yang Memiliki Mutlak The Self Exalted sifat Maha Tinggi

79

Al Barri

‫البر‬

Yang Memiliki Mutlak The Most Kind and sifat Maha Penderma Righteous

80

At Tawwaab

‫التواب‬

Yang Memiliki Mutlak The Ever Returning, sifat Maha Penerima Ever Relenting Tobat

81

Al Muntaqim

‫المنتقم‬

Yang Memiliki Mutlak The Avenger sifat Maha Penyiksa

82

Al Afuww

‫العفو‬

Yang Memiliki Mutlak The Pardoner, the sifat Maha Pemaaf Effacer of Sins

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

83

Ar Ra`uuf

‫الرؤوف‬

Yang Memiliki Mutlak The Compassionate, sifat Maha Pengasih the All Pitying

84

Malikul Mulk

‫مالك الملك‬

Yang Memiliki Mutlak The Owner of All sifat Penguasa Sovereignty Kerajaan (Semesta)

Dzul Jalaali ‫ذو الجلل‬ 85 Wal Ikraam ‫و الكرام‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik The Lord of Majesty Kebesaran dan and Generosity Kemuliaan

86

Al Muqsith

‫المقسط‬

Yang Memiliki Mutlak The Equitable, the sifat Maha Adil Requiter

87

Al Jamii`

‫الجامع‬

Yang Memiliki Mutlak The Gatherer, sifat Maha Unifier Mengumpulkan

the

88

Al Ghaniyy

‫الغنى‬

Yang Memiliki Mutlak The All Rich, the sifat Maha Independent Berkecukupan

89

Al Mughnii

‫المغنى‬

Yang Memiliki Mutlak The Enricher, sifat Maha Memberi Emancipator Kekayaan

the

90

Al Maani

‫المانع‬

The Withholder, the Yang Memiliki Mutlak Shielder, the sifat Maha Mencegah Defender

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

91

Ad Dhaar

‫الضار‬

Yang Memiliki Mutlak The Distressor, the sifat Maha Memberi Harmer Derita

92

An Nafii`

‫النافع‬

Yang Memiliki Mutlak The Propitious, the sifat Maha Memberi Benefactor Manfaat

93

An Nuur

‫النور‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya The Light (Menerangi, Memberi Cahaya)

94

Al Haadii

‫الهادئ‬

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi The Guide Petunjuk

95

Al Baadii

‫البديع‬

Yang Memiliki Mutlak Incomparable, sifat Maha Pencipta Originator

the

96

Al Baaqii

‫الباقي‬

Yang Memiliki Mutlak The Ever Enduring sifat Maha Kekal and Immutable

97

Al Waarits

‫الوارث‬

Yang Memiliki Mutlak The Heir, sifat Maha Pewaris Inheritor of All

the

98

Ar Rasyiid

‫الرشيد‬

The Guide, Infallible Yang Memiliki Mutlak Teacher, and sifat Maha Pandai Knower

99

As Shabuur

‫الصبور‬

Yang Memiliki Mutlak The Patient, sifat Maha Sabar Timeless

the

Sumber penerjemahan Asma’ul husna pada tabel diatas diambil dari sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/asmaul_husna Sebagian referensi tentang pengalihan bahasa ke bahasa Indonesia dan bahasa Inggris mengenai asma’ul husna diatas adalah berasal dari Muhammad Syafiie Antonio (2008 37-454)

pendiri Lembaga Pendidikan Ekonomi Islam TAZKIA dan Agustian (2001: 69-71) Pendiri ESQ leadership Center. e. Ditetapkan berdasarkan wahyu.

Ary Ginanjar

Permasalahan mengenai nama dan sifat Allah merupakan perkara tauqifiyah, artinya tidak ada tempat bagi akal seseorang untuk berijtihad menentukan nama dan sifat Allah. Tidaklah kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah, melainkan dengan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya, baik berdasarkan Al Quran Al Kariim maupun berdasarkan dengan apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Nama dan sifat Allah adalah termasuk dalam perkara ghaibiyah, sehingga seseorang tidak akan bisa mengetahui dan menerka-nerka dengan akal dan pikiran semata. Allah menegaskan melalui firmannya : 36 :‫)ول تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئول )السراء‬ ً ُْ َ ُ ْ َ َ َ َ َِ ُ ّ ُ َ َ ُ ْ َ َ َ َْ َ َ ْ ّ ّ ِ ٌ ْ ِ ِ ِ َ َ َ ْ َ َ ُ ْ َ َ َ “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” ( Q.S Al Isra : 36)

Adapun referensi Asma’ul husna dari wahyu Allah (Al-Quran Al-Karim) adalah sebagai berikut :

Tabel 3 Referensi Asma’ul husna dalam Al-Qur’an

Antara lain No Nama terdapat dalam 1 2 ‫الرحمن‬ ‫الرحيم‬ Al-Faatihah: 3 Al-Faatihah: 3 Al3 ‫الملك‬ Mu’minuun: 11 4 5 6 7 8 9 10 11 12 ‫القدوس‬ ‫السلم‬ ‫المؤمن‬ ‫المهيمن‬ ‫العزيز‬ ‫الجبار‬ ‫المتكبر‬ ‫الخالق‬ ‫البارئ‬ Al-Jumu’ah: 1 37 ‫الكبير‬ ‫الحفيظ‬ ‫المقيت‬ ‫الحسيب‬ ‫الجليل‬ ‫الكريم‬ ‫الرقيب‬ ‫المجيب‬ ‫الواسع‬ 36 ‫العلى‬ 34 35 ‫الغفور‬ ‫الشكور‬ No Nama

Antara lain terdapat dalam Aali ‘Imran: 89 67 Faathir: 30 68 ‫الحد‬ ‫الصمد‬ No Nama

Antara lain terdapat dalam Al-Ikhlaas: 1 Al-Ikhlaas: 2 Al-Baqarah: 20 Al-Qamar: 42 Qaaf: 28 Ibraahiim: 42 Al-Hadiid: 3 Al-Hadiid: 3 Al-Hadiid: 3 Al-Hadiid: 3 Ar-Ra’d: 11 Ar-Ra’d: 9 Antara lain No Nama terdapat dalam ‫البر‬ ‫التواب‬ ‫المنتقم‬ ‫العفو‬ ‫الرؤوف‬ Ath-Thuur: 28 An-Nisaa’: 16 As-Sajdah: 22 An-Nisaa’: 99 Al-Baqarah:

An-Nisaa’: 34 69

‫القادر‬

Ar-Ra’d: 9 Huud: 57

70 71

‫المقتدر‬ ‫المقدم‬ ‫المؤخر‬ ‫الول‬ ‫الخر‬ ‫الظاهر‬ ‫الباطن‬ ‫الوالي‬ ‫المتعالي‬

Al-Hasyr: 23 38 Al-Hasyr: 23 39 Al-Hasyr: 23 40 Aali ‘Imran: 62 41

An-Nisaa’: 85 72 An-Nisaa’: 6 Ar-Rahmaan: 27 An-Naml: 40 Huud: 61 Al-Baqarah: 268 Antara lain terdapat dalam 73 74 75 77 78

Al-Hasyr: 23 42 Al-Hasyr: 23 43 Ar-Ra’d: 16 44 Al-Hasyr: 24 45 Antara lain

Al-Ahzaab: 52 76

No

Nama

terdapat dalam

No

Nama

13 14 15 16 17

‫المصور‬ ‫الغفار‬ ‫القهار‬ ‫الوهاب‬ ‫الرزاق‬

Al-Hasyr: 24 46 Al-Baqarah: 235 47

‫الحكيم‬ ‫الودود‬ ‫المجيد‬ ‫الباعث‬ ‫الشهيد‬

Al-An’aam: 18 79 Al-Buruuj: 14 80 Al-Buruuj: 15 81 Yaasiin: 52 Al-Maaidah: 82 83

Ar-Ra’d: 16 48 Aali ‘Imran: 8 Adz49 50

Dzaariyaat: 58 18 19 20 21 22 23 24 25 ‫الفتاح‬ ‫العليم‬ ‫القابض‬ ‫الباسط‬ ‫الخافض‬ ‫الرافع‬ ‫المعز‬ ‫المذل‬ Sabaa’: 26 Al-Baqarah: 29 Al-Baqarah: 245 51 52 53 ‫الحق‬ ‫الوكيل‬ ‫القوى‬ ‫المتين‬ ‫الولى‬ ‫الحميد‬ ‫المحصى‬ ‫المبدئ‬

117 Thaahaa: 114 Al-An’aam: 102 84 85 ‫مالك الملك‬ ‫ذو الجلل و‬ ‫الكرام‬ ‫المقسط‬ ‫الجامع‬ ‫الغنى‬ ‫المغنى‬ ‫المانع‬ ‫الضار‬

207 Aali ‘Imran: 26 ArRahmaan: 27 An-Nuur: 47 Sabaa’: 26 Al-Baqarah: 267 An-Najm: 48 Hadits atTirmizi Al-An’aam: 17 Antara lain No 92 93 Nama ‫النافع‬ ‫النور‬ ‫الهادئ‬ ‫البديع‬ ‫الباقي‬ ‫الوارث‬ ‫الرشيد‬ ‫الصبور‬ terdapat dalam Al-Fath: 11 An-Nuur: 35 Al-Hajj: 54 Al-Baqarah: 117 Thaahaa: 73 Al-Hijr: 23 Al-Jin: 10 Al-Fathir : 45

Al-Anfaal: 52 86 AdzDzaariyaat: 58 87

Ar-Ra’d: 26 54 Hadits atTirmizi Al-An’aam: 83 Aali ‘Imran: 26 Aali ‘Imran: 26 Antara lain terdapat dalam Al-Israa’: 1 55 56 57 58

An-Nisaa’: 45 88 An-Nisaa’: 131 89 Maryam: 94 90

Al-Buruuj: 13 91 Antara lain

No 26 27 28 29 30 31 32 33

Nama ‫السميع‬ ‫البصير‬ ‫الحكم‬ ‫العدل‬ ‫اللطيف‬ ‫الخبير‬ ‫الحليم‬ ‫العظيم‬

No 59

Nama ‫المعيد‬ ‫المحيى‬ ‫المميت‬ ‫الحي‬ ‫القيوم‬ ‫الواجد‬ ‫الماجد‬ ‫الواحد‬

terdapat dalam Ar-Ruum: 27 Ar-Ruum: 50

Al-Hadiid: 4 60 Al-Mu’min: 48 Al-An’aam: 115 Al-An’aam: 18 Al-Baqarah: 235 Asy-Syuura: 4 61 62

Al-Mu’min: 68 94 Thaahaa: 111 Thaahaa: 11 Adh-Dhuhaa: 6-8 Huud: 73 Al-Baqarah: 133 95 96 97 98 99

Al-Mulk: 14 63 64 65 66

Keterangan: tabel referensi asma’ul husna diatas diambil dari sumber : http://www.artislam.com/esma/ayetler Referensi lebih lanjut pada penelitian ini akan dilampirkan pada lembar lampiran

f. Asma’ul husna Tidak Terbatas Pada Jumlah Tertentu dikutip dari pendapa seorang ulama masyhur dari madzhab hambali yang bernama Ibnul Qayim rahimahullah dari kitabnya “Faidatun Jaliilatun fi

Qowa’idil Asmail Husnaa, Ibnu Qayim Al Jauziyah.” yakni: ‫أسماء ال الحسنى ل تدخل تحت حصر ول تحد بعدد، فإن ل أسللماء وصفات استأثر بها في علم‬ ‫الغيب عنده ل يعلمها ملك مقرب ول نبي مرسل‬ “Sesungguhnya nama-nama yang baik bagi Allah tidaklah dibatasi oleh batasan dan bilangan tertentu, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala masih merahasiakan nama-nama-Nya yang ada dalam ilmu ghaib di sisi-Nya. Nama-nama tersebut tidak diketahui oleh malaikat yang terdekat dengan Allah sekalipun dan tidak diketahui oleh nabi yang diutus-Nya.” Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam Hadist ini merupakan hadist shohih, merupakan penggalan dari hadits panjang dari shahabat Ibnu Mas’ud r.a: ….‫أسألك بكل اسم سميت به نفسك، أو أنزلته في كتابه، أوعلمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في‬ ّ ‫.… علم الغيب عندك‬ “…Aku memohon kepada-Mu dengan perantara seluruh Nama yang dengannya Engkau namai Diri-Mu, Nama yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, Nama yang Engkau ajarkan kepada salah satu diantara

makhluk-Mu dan juga Nama yang Engkau sembunyikan pengetahuannya dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…..” (HR. Imam Ahmad, dalam musnadnya dan yang lainnya.)

Berdasarkan hadist tersebut, Ibn Al-Qayim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Faidatun Jaliilatun fi Qowa’idil Asmail Husnaa, Ibnu Qayim Al Jauziyah mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama-namaNya menjadi tiga jenis. 1.Nama-nama yang Allah menamakan dirinya dengan nama tersebut dan Allah memberitahukan nama-nama tersebut kepada para malaikat yang dikehendaki-Nya. Nama jenis pertama ini tidak Allah kabarkan dalam Kitab-Nya. 2.Nama-nama yang dikabarkan oleh Allah kepada hamba-Nya dalam Kitab-Nya yang mulia. Nama-nama ini diketahui oleh para hambahamba-Nya. Dan yang 3.Nama yang Allah bersendirian (dalam pengetahuan-Nya) tentang nama tersebut dalam ilmu ghaib di sisi-Nya, dan tidak ada satu pun dari hamba-Nya yang mengetahui nama-nama tersebut” Hal senada juga diutarakan oleh Imam An-Nawawi pada pada Kitab Syarh Shahih Muslim yang memberikan komentar tentang hadits nabi berikut ini : "‫"إن ل تسعة وتسعين اسما، مائة إل واحدا، من أحصاها دخل الجنة‬ ً ً ً ‫.))متفق عليه‬ ً ‫،قال المام النووي تعليقا على قول النبي إن ل تسعة وتسعين اسما مائة إل واحدا‬ ً ً ‫قال: " واتفق العلماء على أن هذا الحديث ليس فيه حصر لسمائه سللبحانه والل، فليللس معنلاه: أنله‬ ‫ليس له أسماء غير هذه التسللعة والتسللعين، وإنمللا مقصللود الحللديث أن هللذه التسللعة والتسللعين مللن‬ ‫أحصاها دخل الجنة، فالمراد الخبار عن دخول الجنة بإحصائها ل الخبار بحصر السماء، ولهللذا‬

،"‫جاء في الحديث الخر: " أسألك بكل اسم سميت به نفسك أو استأثرت به فللي علللم الغيللب عنللدك‬ :‫وقد ذكر الحافظ أبو بكر بن العربي المالكي عن بعضهم أنه قال: ل ال ألف اسم، قال ابن العربللي‬ ‫.وهذا قليل فيها. وال أعلم‬ ‫وأما تعيين هذه السماء فقد جاء في الترمذي وغيره في بعللض أسللمائه خلف، وقيللل: إنهللا مخفيللة‬ ‫التعيين كالسم العظم، وليلة القدر ونظائرها. " أهل. من شرح صحيح مسلم‬ ‫وقد أيد كلم المام النووي قول الرسول في دعاء الحزن: "... أسألك بكل اسم هو لك، سميت به‬ ‫نفسك، أو أنزلته في كتابك، أو علمته احدا من خلقك، أو استاثرت به في علم الغيب عندك". رواه‬ ‫أحمد وهو حديث صحيح. فهذا الحديث يدل على أن ل أسماء أكثر من تسعة وتسعين‬ Kutipan dari Penafsiaran Hadist di atas adalah hadist yang shahih dengan kesepakatan para ulama ahli hadist. Akan tetapi menjadikan hadist tersebut sebagai dalil untuk membatasi nama-nama Allah hanya berjumlah 99 nama, adalah suatu kekeliruan. Walau pun demikian ada sebagian ulama yang berpendapat berbeda mengenai jumlah asma’ul husna diantaranya diungkapkan dalam Al Is’aad fi Syarhi Lum’atil I’tiqod, Syaikh Abu Musa ‘Abdur Rozaaq bin Musa Al Jazaairi bahwa Ibnu Hazm rahimahullah wa ghofarallahu pun berbeda pendapat dalam memahami hadist ini. Beliau berpendapat bahwa adanya batasan bilangan untuk nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau berkata, ”Seandainya Allah subhanaahu wa ta’ala memiliki nama selain 99 nama tersebut, maka perkataan Rasulullah “seratus kurang satu” menjadi perkataan yang sia-sia (tidak ada bermakna). Pendapat Ibnu Hazm ini disangkal oleh pendapat jumhur ‘ulama. Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa tidak adanya batasan bagi nama-nama Allah subhanaahu wa ta’ala. Mereka memahami bahwa pembatasan yang disebutkan dalam hadist Abu Hurairah adalah berkaitan dengan janji yang diberikan bagi orang yang menjaga nama-nama tersebut. Sehingga kalimat “jika seseorang

menjaganya”, menjadi penyempurna yang memiliki kaitan makna dengan kalimat sebelumnya.” Wacana tentang penafisiran hadits tentang jumlah asma’ul husna yang diungkapkan Ibnu Hazm R.A ternyata memiliki perbedaan dengan Syaikh

Al‘Alaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadist tersebut tidaklah menunjukkan pembatasan bagi nama-nama Allah dengan bilangan 99. Seandainya yang dimaksudkan dari hadist tersebut adalah pembatasan bagi nama-nama Allah tentu lafadz hadist tersebut berbunyi: “‫”إن أسماء ال تسعة وتسعون اسما من أحصاها دخل الجنة‬ ً “Sesungguhnya nama-nama Allah ada 99 nama, barangsiapa yang membacalmenghafalkannya akan masuk surga.” Dalam penafsiran hadits di atas Syaikh Al‘Alaamah Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menegaskan pendapatnya pada kitab Al

Qowa’idul Mutslaa fi Shifatillahi wa Asmail Husna bahwasanya “Makna yang benar yang terkandung dalam hadist tersebut adalah barangsiapa yang menjaga (menghafalkan dan memahami) 99 nama tersebut maka Allah akan

memasukkannya ke dalam surga. Sehingga bilangan 99 bukanlah menunjukkan adanya pembatasan bagi nama-nama Allah. Untuk melengkapi uraian diatas maka Syaikh Abdur Rozaaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr hafidhohullahu menjelaskan dalam rekaman salah satu muhadhoroh beliau Syaikh Abdur Rozaaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr hafidhohullahu ketika beliau men-syarah kitab Faidatun Jaliilatun fi Qowa’idil Asmail Husnaa karya Ibnu Qayim Al Jauziyah hadist tersebut dengan memberikan penjelasan dan alnalogi yang sangat bagus. Beliau menjelaskan

bahwa hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tersebut adalah berupa satu kalimat utuh. Penggalan kalimat yang pertama ( sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama -seratus kurang satu) disempurnakan maknanya oleh penggalan kalimat yang kedua ( apabila seseorang menjaganya niscaya dia masuk surga). Artinya barangsiapa yang menghafalkan 99 nama tersebut maka orang tersebut akan masuk surga. Hadist tersebut bukanlah terdiri dari dua kalimat terpisah, yang masing-masing penggalan kalimat memiliki makna sendiri-sendiri. Kesalahan seseorang dalam memahami hadist ini adalah seseorang memahami, bahwa hadist tersebut terdiri dari dua kalimat terpisah. Penggalan kalimat yang pertama menunjukkan pembatasan nama-nama Allah, kemudian penggalan kalimat yang kedua adalah perintah untuk menjaga (menghafalkan) nama-nama tersebut. Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang keliru” Kemudian beliau Syaikh Abdur Rozaaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr hafidhohullahu mengungkapkan pendapat senada dengan Al-Khatabi dalam memberikan contoh untuk memudahkan pemahaman terhadap hadist ini. Beliau menggambarkan: “Sesungguhnya saya memiliki 100 kitab yang akan saya hadiahkan kepada Anda”. Apakah dengan pernyataan ini menunujukkan bahwa “saya hanya memiliki 100 kitab…?” Tentu jawabanya adalah “tidak”. Pemahaman yang benar adalah “hanya ada 100 kitab yang akan saya hadiahkan kepada Anda”. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa masih tersimpan lebih dari 100 kitab di maktabah saya. Begitu juga dengan hadits Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 Nama -seratus kurang satu- yang apabila seseorang

menjaganya niscaya dia masuk Surga, hal ini juga bukan menunjukkan adanya batasan nama Allah hanya 99 nama saja.”

Khusus mengenai pengenalan terhadap satu per satu asama Allah yang berjumlah 99, sebenarnya ditepuh melalui proses ijtihad. Pada akhir abad II hingga awal abad III Hijriyah, tiga perawi hadits yaitu Al-Walid bin Muslim, Abdul Malik As-shanani dan Abdul Aziz bin Hashin ber-ijtihad dalam mengungkap 99 ama’ul husna ini.(Mahmud Abdul Raziq Ar Ridhwani, 2008). Dari ketiga perawi diatas, Al-Walid bim muslim (wafat tahun 195 H) merupakan yang paling terkenal dengan susunan 99 asma seperti yang banyak dihadapi saat ini.(berawal dengan Ar-Rahman dan berakhir dengan As-Shabur) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kembali mengingatkan “ nama-nama Allah yang telah dikenal di kalangan umat islam adalah riwayat At-Tirmidzi yang diriwayatkan dari Al-Walid bin Muslim As-Syuaib dari abu hamzah. Lam Hadits berkata, “Penentuan (nama-nama Allah – pen) tersebut adalah hasil ijtihad AlWalid bin Muslim.” (Ibnu Fatimiyah Al-Fatawa Al-Kubra, 1/127) Kemudian sebagai khalshoh mengenai asma’ul husna berikut ini adalah point-poin penting Aqidah Ahlussunah mengenai asma’ul husna pada kitab AlAsna fi Syarh Asma' Allah Alhusna wa shifatihi yang juga bisa ditemui pada jejaring (http://forum.kku.edu.sa/archive/index.php/t-51.html) sebagai berikut: ‫: لسنى في شرح أسماء ال الحسنى وصفاته‬ ‫قول أهل السنة والجماعة، واعتقادهم يمكن إجماله في النقاط التالية‬ (1)(2).1 ‫اليمان بثبوت السماء الحسنى الواردة في القرآن والسنة من غير زيادة ول نقصان‬ ‫اليمان بأن ال هو الذي يسمي نفسه، ول يسميه أحد من خلقه، فال هو الذي تكلم بهذه, السماء‬ ‫وأسماؤه منه، وليست محدثة مخلوقة‬

(3) ‫اليمان بأن هذه السماء دالة على معاني في غاية الكمال، فهي أعلم وأوصاف، وليست‬ ‫كالعلم الجامدة التي لم توضع باعتبار معناها، كما يزعم المعتزلة .احترام معاني تلك السماء‬ ‫وحفظ مالها من حرمة في هذا الجانب وعدم التعرض لتلك المعاني بالتحريف والتعطيل كما هو‬ ‫شأن أهل الكلم‬ (4) ‫.اليمان بما تقتضيه تلك السماء من الثار وما ترتب عليها من الحكام‬ ‫وبالجملة فإن أهل السنة يؤمنون بأسماء ال إيمانا صحيحا وفق ما أمرت به نصوص القرآن‬ ،‫والسنة ووفق ما كان عليه فهم سلف المة، بخلف أهل الباطل الذين أنكروا ذلك وعطلوه‬ ‫.فألحدوا في أسماء ال إلحادا كليا أو جزئيا‬

a)

Iman terhadap ketetapan jumlah nama-nama ilahi yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah dengan tidak menambah dan tidak mengurangi..Keyakinan bahwa Allah yang menyebut dirinya, dan tidaklah boleh menamainya dengan nama makhluknya, Allah lah yang berbicara dengan namanya tetapi tidak boleh membuat nama baru baginya.

b)

Keyakinan bahwa nama-nama ini menunjukan pada maha kesempurnaan , dia yang maha tahu dan maha suci dan maha tahu dan bukan lah secara wujud dan tak ada perumpamaannya.

c)

Memuliakan terhadap makna nama-nama dan kesucian aspek ini menjaga segala dan non-paparan, dari penyimpangan arti dan arti berlawanan.

d)

beriman sebagaimana yang yang ditentukan dalam hadits dan hukum. Singkatnya, kaum Sunni percaya pada iman yang benar

dari nama-nama Allah seperti diperintahkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah, dan menurut kaum salafi (pendahulu) (Muhammad ibn Ahmad Qurtub, 2001)

g. Tidak ada penyelewengan dan pengingkaran kebenarannya Pemahaman asma’ul husna dengan benar tentu akan melahirkan keimanan yang benar pula. Maka dalam memahami asmal husna senantiasa menghidari ilhad (pengingkaran) dan setiap pengingkaran terhadap asama Allah tentu merupakan sebuah penyelewengan. Berikut ini adalah berbagai macam pengingkaran terhadap Asma Allah yang telah dirangkum oleh Syafie Antonio (2008:27): 1. mengingingkari sesuatu dari asma Allah, hokum dan sifat yang terkandung di dalamnya. Kaum Jahmiyah dan golongan ahli ta’thil, misalnya menyebut lafadz Allah dengan lafadz yang kosong, tidak mengandung sifat dan makna. Mereka memberi nama kepada-Nya: AsSami’, Al-Bashir, Al-Hayy. Tetapi mereka mengatakan; “tiada kehidupan bagi-Nya”, “Tida Pendengaran”, “Tiada Penglihatan”. Ini adalah ilhad paling besar pada asma Allah, baik secara akal, syara’, bahasa, dan fithrah. 2. Menjadikan Asma Allah memiliki indikasi (dalalah) yang serupa dengan sifa makhluk. Hal ini seperti pendapat Ahlu Tasybih (antrophomisme), yang mengingkari sifat Allah dan menolak sifat kesempurnaan-Nya.

3.

Menamai Allah dengan nama-nama yang tidak di sebutkan oleh-Nya, dan tidak pula dijelaskan oleh rasu-Nya dalam hadits yang shahih. Seperti halnya kaum Nasrani yang menamai Allah dengan “Bapak” dengan anggapan sebagai filosof yang menyebutnya ‘Al-Illah Al-

Faai’lah’(efficient Cause). Karena Asma allah adalah tauqifiyah maka menamai-Nya tetapi tidak bersumber dari-Nya atau dari rasul-Nya merupakan penyelewenganterhadap kebenaran Asma Allah 4. memberikan nama berhala dari Asma Allah . di jaman jahiliyah, kaum musyrikin menamai berhala mereka yang mereka sembah dengan nama ‘Uzza’. Padahal perkataan tersebut berasal dari kata Al-Aziz. 5. Menyifati Allah dengan sifat yang bertentangan. Hal ini seperti diungkapakan oleh orang yahudi: “Innahu Faqir “(bahwasanya dia fakir), atau perkataan mereka yang menegaskan bahwa “Dia berisirahat Demikianlah ilhad dengan segala macamnya adalah haram. Hal ni berdasar kepada Al-Quran yang menyatakan: َ َُ ْ َ ْ ُ َ َ َ ْ َ ْ ُ َ ِ ِ َ ْ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ِ ّ ْ ُ َ َ َ ِ ُ ُ ْ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ِ َ ‫ول السلماء الحسلنى فللادعوه بهللا وذروا اللذين يلحلدون فلي أسلمآئه سليجزون مللا كللانوا يعملللون‬ ّ 180 : ‫))العراف‬ “Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:252) C. Akhlak Kata “akhlak” secara etimologis berasal dari bahasa arab yaitu betuk jama dari kata “khuluq”. kata khuluq sering diartikan dengan moral, budi

pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat . Kalimat tersebut mengandung segisegi persesuaian dengan perkataan khalakun yang berarti kejadian, serta erat hubungan dengan Khaliq yang berarti pencipta dan makhluk yang berarti diciptakan. (M. Yunus, 1989 :120). Perumusan devinisi akhlak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik antara Khaliq dengan makhluk dan antara makhluk dengan makhluk seperti pada Risalah, 40/38. Seperti halnya ditemui dalam al-Quran, 4:‫)وإنك لعلى خلق عظيم )القلم‬ ٍ ِ َ ٍ ُُ ََ َ َ ّ َِ “Sesungguhnya engkau (muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang mulia.” (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:960) Salah satu komponen penting yang harus dibangun pada diri seorang muslim adalah akhlak. Allah SWT. mengutus Rasulullah SAW. salah satu tujuan utamanya adalah menyempurnakan akhlak manusia menjadi akhlak yang mulia. ‫عن أبى هريرة رضى ال عنه قال: قلللال رسول ال صلى ال عليه وسلم انملللا بعثت لتمم مكارم‬ ‫)الخلق )رواه البيهقي‬ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (Sokhi Huda, 2008:282) Ibnu Maskawih mengatakan bahwa yang disebut dengan akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatanperbuatan tanpa berfikir dan melalui pertimbangan terlebih dahulu (Humaidi, 1979:8). Sedangkan Arif Ali bin Muhammad Al-Jarjani memberkan definisi akhlak adalah sebagai berikut: ‫الخلق : عبارة عن هيئة لنفس راسخة تسدر عنها الفعال بسهولة ويسر من غير حاجة الى الفكر‬ ‫وروية‬

“Akhlak yaitu adalah suatu ibarat perilaku yang bersemi dalam jiwa seseorang hingga dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa pikiran dan renungan.” (Al-Jarjani, 101)

Pengertian akhlak lebih lanjut dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali tentang pengertian akhlak yakni sebagai berikut: “bahwa akhlak adalah suatu kemantapan (jiwa) yang meghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah dan tanpa harus direnungkan dan disengaja.jika ia menghasilkan amal-amal yang baik yaitu akhlak terpuji menurut akal dan syariah maka ini disebut akhlak yang baik, jika amal-amal yang tercelalah yang muncul dari keadaan (kemantapan) itu, maka dinamakan akhlak yang buruk.” (M. Abdul quasam: 1988:2) Mengaitkan arti kebahasaan dengan apa yang didefenisikan, Imam AlGhazali memberikan makna substantif yang saling melengkapi, yang di dalamnya kita akan menemukan setidaknya lima ciri perbuatan akhlak, yaitu: Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya. Kedua, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak adalah perbutan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara

Keempat, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan akhlak (khususnya akhlak yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keikhlasan semata-mata

karena Allah, bukan karena dipuji orang atau karena ingin mendapatkan suatu pujian. Kelima, akhlak memiliki sandaran yang jelas yaitu al-Quran dan sunnah. Sehingga ukuran baik tidaknya sebuah akhlak berdasarkan ketersesuiannya dengan al-quran dan sunnah. Meskipun akhlak memiliki kedekatan makna dengan moral, budi pekerti, tetapi pada dasarnya memiliki perbedaan dan ketidaksamaan. Antara lain 1. Akhlak dalam Islam senantiasa berdasarkan nilai-nilai al-Quran dan sunnah. Sebab itu, ia bersifat universal. Misalnya akhlak orang Islam Amerika sama dengan akhlaknya orang Islam di Arab, Afrika, maupun di Indonesia. Berbeda dengan moral, etika atau budi pekerti adalah kebaikan yang lahir dari kesepakatan budaya sekelompok manusia tertentu. Sebab itu, kadangkala ada perbuatan menurut orang Amerika adalah baik dan beretika, tetapi tidak bagi orang Asia. 2. Akhlak dilaksanakan dengan keikhlasan diri yang tujuannya semata mengharapkan ridha Allah swt. Sedangkan budi pekerti, etika tidak selamanya demikian. 3. Yang baik menurut akhlak adalah segala sesuatu yang berguna sesuai dengan nilai dan norma agama Islam dan memberikan kebaikan bagi diri dan orang lain. sedangkan yang menentukan baik buruknya suatu perbuatan menurut etika dan moral adalah adat istiadat dan kebiasaan sekelompok orang tertentu di waktu tertentu 4. Akhlak bersifat mutlak dan berlaku selamanya, sedangkan etika, moral dan budi pekerti bersifat nisbi atau relatif

Dari penafisran Ibnu Maskawih dan Imam Ghazali mengenai akhlak maka tampak lah beberapa indikasi seseorang yang berakhlak: 1. Perbuatan Semata Mata Karena Allah Pada tatanan psikologis manusia pada umumnya akan bertindak sesuai dengan sesuatu yang dianggap benar dan diakuinya. Fenomena ini bersifat universal dan menembus sekat-sekat agama, bangsa, ras, da golongan. Inilah yang disebut dengan “universal agreement”: seluruh manusia mngakui dan menyukai sifat-sifat tersebut. Pengakuan tersebut berasal dari suara hati manusia yang pada dasarnya juga bersifat universal . dengan catatan manusia tersebut telah mencapai titik Zero dan terbebas dar belenggu fikiran (Ary Ginanjar Agustian : 2007: 86). Perbuatan yang semata-mata karena adalah devinsi akhlak makhluk yang erat kaitan dengan penciptanya yaitu Allah. (Halim Mahmud :456). Berikut ini adalah kutipannya : ‫ليس التصوف رسما ول علما، ولكنه خلق، لنه لو كان رسلما لحصلل بالمجاهلدة، وللو كلان علملا‬ ‫لحصل بللالتعليم، ولكنلله تخلللق بللأخلق اللل، ولللن تسللتطيع أن تقبللل علللى الخلق اللهيللة بعلللم أو‬ 426 ‫))رسم")عبد الحليم محمود وقضية التصوف، المدرسة الشاذلية، عبد الحليم محمود، ص‬ “Tashauf bukanlah gambaran (bentuk) dan keilmuan, tetapi ciptaan (tercipta) karena apabila ia adalah gambaran maka bisa diraih dengan mujahadah (usaha) dan apabila ia adalah keilmuan maka ia dapat diperoleh dengan belajar akan tetapi tashawuf hanya dengan

berakhlakhlak ilahi, yang tidak kompromi dengan (ijtihad keilmuan ) dan gambaran .” Hubungan yang erat antara makhluk dan khalik (Allah) juga ditemui pada Al-Quran mengenai penegasan Allah dalam firmanya:

4:‫)وإنك لعلى خلق عظيم )القلم‬ ِ َ ٍ ُُ ََ َ َ ّ َِ “Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang mulia.” (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:960): Atas dasar kedekatan hubungan makhluq dengan sang khalik (Allah) maka Imam Ghazali menjelaskan : ‫قرب العبد من ربه عز وجل في الصفات التي أمر فيها بالقتداء والتخلللق بللأخلق الربوبيللة، حللتى‬ (.4/324 ،‫قيل: تخلقوا بأخلق ال )الغزالي‬ “Adanya kedekatan hamba dari segi sifat-sifat rububiyah yang telah diperintahkan untuk menirunya dan berakhlak dengan akhlak rab (Allah). Sehingga ia berkata berkahlaklah dengan Akhlak Allah.”(Imam alGhazali,tt:4230) Dari kesimpulan Imam Ghazali tentang konsep berakhlak dengan akhlak Allah adalah bertolak dari penafsirannya. ‫فمن أحصى السماء الحسنى مع إدراك معانيها, والتخلق بأخلقها تجعل النسان المؤمن يعيش في‬ ‫الدنيا برضاه"ا.هل وكذا قال ص 411 "يعنللي حفظهللا مللع فهللم معناهللا والتخلللق بآدابهللا"ا.هلل وقيللد‬ ّ 114:‫.)كلمه في موضع آخر بالصفات التي يصح للنسان التخلق بها )الغزالي‬ “ Siapa saja yang memelihara serta menyelami maknanya dan berakhlak dengan akhlaknya maka niscaya kehidupan manusia tersebut berada pada ridha-Nya” Begitu pula di ungkapkn pada halaman 114 “yakni menghafalnya disertai pemahaman maknanya dan beakhlak dengan adabNya.” dan “siapa saja menghafal serta memahami maknanya dan

berakhlak (bertata cara hidup) sesuai dengan asma’ul husna.” kemudian

beliau memberikan qiyad tentang sifat sifat yang sah untuk di tiru oleh manusia”(Al-Gahazali, tt:114) Adapun dimensi lain dari berakhlaq dengan akhlaq Allah adalah untuk mengekspresikan potensi pada diri manusia dengan mengasah nilai keagungan tuhan dan nilai-nilai kasih sayang. Hal ini dikutip oleh Al-Jilli : ،‫تخلقوا بأخلق ال؛ لتبرز أسراره المودعة في الهياكل النسانية، فيظهر بذلك علو العزة الربانيللة‬ (2/19 ،‫ويعلم حق المرتبة الرحمانية"]النسان الكامل، الجيلي‬ Berakhlaklah dengan akhlak Allah, untuk menampakan rahasia Allah yang terpendam pada diri manusi hingga muncul dengan cara mengasah, nilai keagungan tuhan dan nilai-nilai kasih sayang.” (Al Jilli, Insan Kamil : 2/19) Sedangkan proses internalisasi nilai-nilai diatas terjadi karena adanya proses mencintainya seorang makhluk (manusia) kepada yang di cintainya (Allah) hal ini di ungkapkan Imam Al-Qusyairi : (615 :2) ‫سئل الجنيد عن المحبة، فقال: دخول صفات المحبوب على البدل من صفات المحب‬ “Ditanya Imam Al-Jundi tentang cinta maka ia menjawab :Internalisasi sifat yang dicintai atas duplikasi sifat yang mencintai.”(Imam Al-Jundi 2/615) ‫"الخلق" أمر متفق عليه بين الناس: مدحا، وطلبا‬ “Konteks akhlak merupakan hal telah menjadi kesepakatan tentangnya yakni memuji atau meminta”

‫‪Dalam pemaparan lebih lanjut mengenai kesepakatan di kalangan umat‬‬ ‫‪Islam pada analisa teoritik yang digunakan dalam penelitian ini dalam kontek‬‬ ‫‪memahami istilah “berakhlak dengan akhlak Allah”, maka berkut ini adalah‬‬ ‫‪tukilan yang di sajikan dengan teks asli dari Badai'i al-fawa'id., Muhammad ibn‬‬ ‫: ‪Abi Bakr Ibn Qayyim al-Jawziyah‬‬

‫ننننننن نننن ننن نننننننن:‬ ‫أن الل تعللالى، وهللو: الللله، والللرب، وللله اللوهيللة، والربوبيللة. للله أوصللاف تليللق بلله، ليسللت كأوصللاف‬‫المخلوقين.‬ ‫والنسان له أوصاف لئقة به، ليست كأوصلاف الل تعللالى.لقلوله تعلالى: (ليلس كمثللله شليء وهلو السللميع‬‫البصير). ]الشورى 11[‬ ‫ننننن نننن نن ننن ننننننن:‬ ‫أنها تقرر: اكتساب النسان صفات )= أخلق. بتعبيرهم( ال تعالى.‬ ‫-‬

‫ وأن هذه العملية الكتسابية التخلقية هي: موضوع التصوف.‬‫هذه النتيجة واضحة في كلم هؤلء الئمة، من دون استثناء، حتى في كلم الجنيد، وإن استعمل كلمات غيللر‬ ‫التي استعملها البقية.‬ ‫فتارة قالوا: أخلق الربيوبية. والربوبية ليست إل ل تعالى.‬ ‫وتارة قالوا: اللهية. واللهية له وحده، ل شريك له.‬ ‫وفي ثالثة قالوا: أخلق ال تعالى. مصرحين بالسم الخاص.‬ ‫وفي تعريف الجنيد: وصف لمحتوى هذه العملية: أنها عملية بدل، وليست تبللادل، فللالمحب يسللتبدل‬ ‫ٍ‬ ‫‬‫‬‫‬‫-‬

‫صفات المحبوب بصفاته؛ بمعنى أنه يترك صفاته ويتخلص منها، ليتلبس بصفات محبوبه، ويتخلق بهللا.‬ ‫والمحب هنا هو النسان، والمحبوب هو ال تعالى.فهاهنا أمران، احتوتهما هذه التعريفات:‬ ‫الول: اكتساب النسان صفات ال تعالى )= أخلقه. بتعبيرهم(. أو تركه صفاته، واكتسابه صفات ال تعالى.‬ ‫الثاني: أن هذه العملية الكتسابية، التخلقية، الستبدالية: عملية كاملة كلية، ليست ناقصة جزئية.‬

‫هذا المعنى هو الجديد الملحظ في هذا التفسير؛ وللذا تقلدم أنله ليلس مجلرد تخللق، أو خللق. فمجلرد التخللق‬ ‫والخلق أمر مألوف، معروف. أما هذه المعاني الزائدة، ففيها من الغرابللة، وحللتى النللزاع مللا ل يخفللى. وهللذا‬ ‫العتراض نلخصه فيما يلي:‬ ‫أول : قولهم: "أخلق ال"، مصطلح جديد، منسوب إلى الشريعة، لم يعللرف قبللل المتصللوفة، الللذين انفللردوا‬ ‫به، فالمعروف استعمال مصطلحات من قبيل: أسماء ال، صفات ال. وهي قرآنية المللورد والمصللدر.‬ ‫تتضمن معاني لئقة بال تعالى. أما هذا فل يمتاز بذلك، بل هو منتزع من قول الفلسفة، بالتشبه بالله‬ ‫على قدر الطاقة. )انظر: التعريفات ص 37، بدائع الفوائد 461/1(‬ ‫ثانيا: أن التعبير عن الوصاف اللهية بالخلق فيله محلذور، هلو: أن الخلق، أحلوال مكتسلبة؛ فلالمتخلق‬ ‫مكتسب للخلق، هذا هو المعنى الغالب عليه، وعليه فل يليق أن ينسب إلى ال ل تعللالى؛ لن أوصللافه‬ ‫ذاتية، غير مكتسبة.‬ ‫ثالثا: أن هذا المصطلح يفيد: أن بقدرة النسان تحصيل جميللع الوصلاف اللهيللة اتصللافا، أو تخلقللا، بحسلب‬ ‫تعبيرهم، ليس فيه قيد، ول تخصيص، ول تحديد، بل إطلق وتعميم. والمحذور في هللذا ل يخفللى؛ فللإن‬ ‫أوصاف ال تعالى على ثلثة أنواع من جهة اتصاف العبد:‬ ‫1- نوع في قدرة النسان التصاف بمعناها، دون مماثلة، ويحمد عليه، مثل الرحمة.‬ ‫2- نوع في قدرة النسان التصاف بمعناها، دون مماثلة، ويذم عليه، كالتكبر.‬ ‫3- نوع يستحيل عللى النسلان التصلاف بمعناهللا، كلالخلق، واللبرء، والتصلوير. ) فتلح البلاري‬ ‫622/11، عدة الصابرين ص 382( وهذا المصطلح ل يفيد هللذا التفصلليل، فليللس فيلله إشللارة‬ ‫إلى ما يمكن التصاف به، وما ل يمكن، وما يحمد عليه، وما يذم، فهو عام شامل، وهللو بهللذا‬ ‫المعنى منحرف؛ لنه يفضي إللى المماثللة فلي الكلم؛ أي فلي علدد صلفاته، وهلو محلال. قلال‬ ‫ّ‬ ‫تعالى: }ولم يكن له كفوا أحد{. ]سورة الصمد[‬ ‫رابعا : أن هذا المصطلح يفيد كذلك: أن في قدرة النسان تحصيل الصفات اللهية نفسلها، فلي كيفهلا، فيكلون‬ ‫له نفس حدود كللل صللفة، كمللا هلي لل تعللالى، فتكللون رحمتلله كرحمتلله، ووجللوده كوجللوده، وقللدرته‬ ‫كقدرته..إلخ، وهذا المعنى فاسد، لبطلن المماثلة في الكيف؛ أي في كيفية وكنلله صللفاته، وال ل تعللالى‬ ‫يقول: }هل تعلم له سميا{. ]مريم 56[‬ ‫.2‬ ‫‪Akhlak selalu bersandar kepada Al-Quran dan As-Sunnah‬‬

Pemahaman Islam mengenai criteria Akhlak adalah selalu bersandar dari Al-Quran yang didemontrasikan dengan sempurna oleh nabi Muhammad SAW, hingga Siti Aisyah r.a berkata: ‫)كان خلقه القران )رواه عائشة‬ “ٍ sungguh akhlak rasulullah adalah Al-Quran” (Jalaluddin Rakhmat, 2007:143)

3.

Perbuatan yang sesungguhnya, bukan main-main Akhlak muhsinin sebagai cerminan asma’ul husna bukan hanya dilakukan tanpa motivasi dan keinginan, akan tetapi bersama ruhul jihad dan motivasi yang tinggi. Dalam konteks berakhlak dengan asma’ul husna ini maka ruhul jihad sebagai power sekaligus solusi untuk meraih petunjuk Allah. sehingga dalam hal ini Allah berfirman : (69 :‫والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن ال لمع المحسنين )العنكبوت‬ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ َ َ ّ ّ َِ َ َُ ُ ْ ُ ّ َ ِ ْ َ َ َ ِ ُ َ َ َ ِ ّ َ َ " Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benarbenar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik" (Departemen Agama RepublikIndonesia, 1987:636)

4.

Akhlak ialah sesuatu yang telah tertanam dalam jiwa sehingga telah menjadi kepribadiannya. Dalam dunia pendidikan akhlak merupakan sesuatu yang berusaha untuk di tanamkan dalam hati sehingga benar-benar memberi keyakinan yang mantap

(Nafsul Muthma’innah) hingga Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Fajr ayat 25-30) yang berbunyi : ‫فيومئذ ل يعذب عذابه أحد)52( ول يوثق وثاقه أحد )62( يا أيتها النف ُ المطمئنة )72( ارجعي‬ ِِ ْ ُ ّ ِ َ ْ ُ ْ ‫َ َ ّ ُ َ ّ ْس‬ ٌ َ َ ُ َ ََ ُ ِ ُ َ َ َ ُ َ َ َ ُ ّ َ ُ ٍ َِ ْ ََ 29-25 ‫)إلى ربك راضية مرضية )82( فادخلي في عبادي )92( وادخلي جنتي)03( )الفجر‬ ِ ّ َ ُِ ْ َ ِ َ ِ ِ ُِ ْ َ ً ّ ِ ْ َ ً َ ِ َ ِ ّ َ َِ “ Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya (25) dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya (26) Hai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya (28) Maka masuklah ke dalam jemaah hambahamba-Ku (29) dan masuklah ke dalam surga-Ku (30). “ (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:1059) Pembiasaan membaca asma’ul husna adalah sebuah proses sedangkan hasil yang kebiasaan yang di harapkan adalah terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian rabbani. Seperti yang di ungkapkan Fadil Yani (2007, 18) bahwa untuk mengatasi masalah kepribadian manusia dibutuhkan kepribadian rabbani. Istilah “rabbani” berasal dari kata “rabb” yang berarti tuhan yaitu tuhan yang memiliki, memperbaiki, mengatur, menambah, menunaikan menumbuhkan,

mengembangkan memelihara dan mematangkan sikap mental. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa Istilah rabbani dalam konteks ini memiliki ekuivalensi dengan istilah Illahi yang berarti ketuhanan. Kepribadian ini adalah kepribadan individu yang didapat setelah setelah mentransformasikan asma (nama-nama) dan sifat tuhan kedalam dirinya untuk kemudian dinternalisasi dan ditranformasikan dalam dunia nyata.

Pengertian akhlak rabbani secara sederhana di ungkapkan oleh al-Razi dalam Mujib (2006: 188:-189) adalah kepribadian individu yang mencerminkan sifat-sifat ketuhanan. 5. Akhlak berasal keinginan sendiri Manusia sebagai makhluk psikologis senantiasa bertindak sesuai dengan motifasi baik motif internal maupun motif eksternal (Muhammad Asrori,

2008:183). Sedangkan akhlaq adalah berada pada dimensi internal. Menurut pendapat para ahli tentang akhlak maka dalam penelitian ini motifasi di indikasikan kepada mahabbah atau kecintaan (Al-Jundi), tadzhir asshifatil Ilahiyah atau penampakan (Al-Jilli), thalban wa madahan atau meminta dan mengidolakan (ittifaq muslimin) Allah menjanjikan ketenangan secara psikologis bagi manusia yang konsisten dalam kebaikan sehingga dalam Al-Quran Allah berfirman : ْ ُ ْ ُ ِ ّ ِ ّ َ ْ ِ ُ ِ ْ ََ ُ َ ْ َ َ ُ َ َ َ ُ َ ِ َ ْ ُ ِ ْ ََ ُ ّ َ َ َ ُ َ َ ْ ّ ُ ّ َ ّ َ ُ َ َ ِ ّ ّ ِ ‫إن الذين قالوا ربنا ال ثم استقاموا تتنزل عليهم الملئكة أل تخافوا ول تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم‬ ُ َ ُ ّ َ َ َ ِ ْ ُ ََ ْ ُ ُ ُ ْ َ ِ َ ْ َ َ َ ِ ْ ُ ََ ِ َ ِ ‫توعدون)03( نحن أولياؤكم في الحياة الدنيا وفي الخرة ولكم فيها ما تشتهي أنفسكم ولكم فيها ماتدعون‬ ِ َ َ ْ ّ ِ َ َ ْ ِ ُ ُ َ ِْ َ ُ ْ َ َُ ُ 31-30:‫))الفصلت‬ “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan

(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (30) Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (31)” (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:777)

6. Akhlaq adalah semata-mata karena Allah Akhlak seseorang tidak terpaku pada ibadah mahdhah saja akan tetapi akhlak meluas kepada hal, tindakan dan ibadah ghair mahdoh yang tidak lepas dari tujuan untuk semata-mata mencari ridha Allah. Dalam hal ini Allah berfirman: ‫قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عمل صالحا ول‬ َ ً َِ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ِ َّ َ َ ِ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ ٌ ِ َ ٌ َِ ْ ُ ُ َِ َ ّ َ ّ َِ َ ُ ْ ُ ُْ ِ ٌ َ َ َ َ َ ِّ ْ ُ 110:‫)يشرك بعبادة ربه أحدا )الكهف‬ ً َ َ ِ َّ ِ َ َ ِ ِ ْ ِ ْ ُ Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:460) Akhlak yang menjadi salah satu misi untuk mencari ridha Allah harus bertujuan mencari keridhan Allah semata. Allah berfiman dalam Al-Quran: 5: ‫)وما أمروا إل ليعبدوا ال مخلصين له الدين )البينة‬ َ ّ ُ َ َ ِ ِْ ُ ّ َ ُ ُْ َِ ِ ُ ِ ُ َ َ “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”. (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:1084) Kemudian Allah tegaskan salah satu perintahnya adalah berindak dengan penuh permohonan dan ratapan melalui keagungan nama-Nya yakni asmaulhusna. Allah tegaskan kembali pada kitab suci Al-Quran : :‫ول السماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمآئه سيجزون ما كانوا يعملون )العراف‬ َ َُ ْ َ ْ ُ َ َ َ ْ َ ْ ُ َ ِ ِ َ ْ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ِ ّ ْ ُ َ َ َ ِ ُ ُ ْ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ِ َ ّ 180)

Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Departemen Agama Republik Indonesia, 1987:252)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->