P. 1
Skripsi - Wagiman

Skripsi - Wagiman

4.0

|Views: 4,668|Likes:
Published by Indriyanto Sahja
IMPLIKASI MATA PELAJARAN FIQIH TEHADAP PRAKTEK SHALAT MURID MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH PANTIREJO KECAMATAN SUKODONO SRAGEN TAHUN PEL AJARAN 2009/2010
IMPLIKASI MATA PELAJARAN FIQIH TEHADAP PRAKTEK SHALAT MURID MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH PANTIREJO KECAMATAN SUKODONO SRAGEN TAHUN PEL AJARAN 2009/2010

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Indriyanto Sahja on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2015

pdf

text

original

Sections

1. Identitas sekolah

Nama

: Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo

NIS

: 11.00.00

NPSN

: 20312975

NSS

: 11231417033

Alamat : Kuyang, Desa Pantirejo, Kecamatan Sukodono, Kabupaten

Sragen1
.

2. Letak Geografis

Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo terletak di tengah-tengah

perkampungan padat penduduk, sebelah utara dan timur Perumahan Penduduk

Sebelah selatan jalan desa, sebelah barat jalan raya Sukodono- Sragen.

Letak sekolah ini sangat dekat dengan TK Aisyah Pantirejo, SDN 01

Pantirejo, dan SMP 4 Muhammadiyah Sukodono. Namun karena kesadaran

masyarakat untuk mengembangkan sekolah ini, maka sampai sekarang sekolah

ini masih mendapat minat dari masyarakat2
.

3. Visi sekolah

Madrasah Ibtidaiyah Pantirejo memiliki visi, yaitu memposisikan

Madrasah sebagai keunggulan yang mampu menyiapkan dan mengembangkan

sumber daya manusia yang berkualitas di bidang Iptek dan Imtaq.

1

Monografi tahun 2009/2010.

2

Wawancara. Samingan, A. Ma. Tgl. 4 Maret 2010.

44

4. Misi sekolah

Misi sekolah, yaitu memposisikan pendidikan yang berorientasi pada

mutu, baik secara keilmuan, moral maupun social sehingga mampu

menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas yang berkualitas di bidang

Iptek dan Imtaq.

5. Tujuan sekolah

Tujuan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo antara lain :

a. Mendidik siswa agar memiliki bekal ilmu untuk terjun dalam masyarakat

maupun melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

b. Mendidik siswa agar berakhlak mulia.

c. Mendidik siswa agar berjiwa social.

6. Sejarah Berdiri

Madrasah Ibtidaiyah Pantirejo berdiri tanggal 02 Juni 1959 keputusan

Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah, Kepala

Bidang Pendidikan Agama Islam nomor : Lk/3.c/1118/PCM.MI/1978. Kepala

Sekolahnya bapak Sudarmo sampai tahun 1970, kemudian tahun 1971 bapak

Samingan, A.Ma. di angkat oleh yayasan menjadi kepala sampai sekarang3
.

3

Wawancara. Samingan, A. Ma. Tgl. 4 Maret 2010.

45

7. Keadaan Guru

Guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo pada tahun

pelajaran 2009/2010 seperti pada TABEL : I

No. Nama

Mengajar

1. Dewi Retno Ningsih, SPd. I

Kelas I

2. Dani, A. Ma

Kelas II

3. Sa’adah Hayati, A. Ma

Kelas III

4. Eka Nur Rahmawati, S. Ag.

Kelas IV

5. Istianah, SPd.I

Kelas V

6. Ika Novia Yanti, SPd. I

Kelas VI

7. Heru Rokhim, SPd.I

Olah Raga

4

4

Monografi tahun 2009/2010. Tabel I.

46

8. Keadaan Siswa

Jumlah siswa pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo pada tahun

pelajaran 2009/2010 seperti pada TABEL : II

No. Kelas

Laki-laki

Perempuan Jumlah

1. I

6

8

14

2. II

7

7

14

3. III

7

3

10

4. IV

11

3

14

5. V

9

9

18

6. VI

5

9

14

JUMLAH

45

39

84

5

5

Monografi tahun 2009/2010. Tabel II.

47

9. Infentaris

Inventaris Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Pantirejo tahun pelajaran

2009/2010 pada Monografi TABEL III :

No. Jenis Barang

Jumlah

Keterangan

1.

Gedung

1

Baik

2.

Almari

6

Baik

3.

Papan tulis

6

Baik

4.

Papan rekap

8

Baik

5.

Rak

4

Baik

6.

Meja tulis guru

8

Baik

7.

Kursi guru

16

Baik

8.

Meja murid

4 untuk 4 anak

Baik

9.

Meja murid

8 untuk 8 anak

Baik

10. Meja murid

99

Baik

11. Kursi murid

138

Baik

12. Jam dinding

7

Baik

13. Radio tape

1

Baik

14. Kamera

1

Baik

15. Cap

5

Baik

16. Globe, Peta

1,2

Baik

48

17. Piala

2

Baik

18. Bendera

2

Baik

19. Tenda

3

Baik

20. Mistar

6

Baik

21. Lonceng

1

Baik

22. Gambar Presiden dan Wakil

7

Baik

6

B. Pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran fiqih MIM Pantirejo, sukodono

Mata pelajaran fiqih sebagaimana diutarakan di depan adalah menurut

standar kompetensi bahwa peserta didik diharapkan mampu memahami pokok-

pokok hokum Islam dan kemudian mengamalkan pemahaman tersebut ke dalam

kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pedoman silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP) Madrasah Ibtidaiyah yang memuat tentang ketentuan pokok sekaligus

rencana materi pembelajaran fiqih yang diajarkan di masing-masing kelas

Madrasah Ibtidaiyah dari kelas I-VI yang secara langsung memuat materi

pelajaran yang berhubungan dengan tata cara dan pelaksanaan ibadah shalat

adalah pada kelas I sampai III baik semester ganjil maupun genap.

Peserta didik yang berada di kelas I semester I dimulai dengan materi

pembelajaran syahadat dan kebersihan. Di dalam materi pembelajaran syahadat

tersebut bertujuan bahwa setelah selesai mengikuti pelajaran syahadat, peserta

6

Monografi tahun 2009/2010. Tabel III.

49

didik diharapkan mampu melafalkan syahadat, mengartikan dan berusaha

menghafalkan.

Kegitan pembelajaran meliputi : guru terlebih dahulu membuka

pertanyaan kepada peserta didik tentang syahadat, kemudian mengarahkan

peserta didik agar menyimak penjelasan tentang syahadat, menyebutkan dan

dapat mengenal syahadatain, mengapresiasi hal tersebut salah seorang guru

memberikan pernyataan sebagai berikut;

“ Penanaman terhadap syahadat sebagai rukun Islam yang pertama sudah

selazimnya dilakukan tehadap peserta yang belajar di Madrasah baik
yang di bawah naungan yayasan Muhammadiyah sebagaimana MIM
Pantirejo, Sukodono ini atau yang lainnya, karena syahadat adalah
sebagai wujud ikrar seorang muslim yang setia kepada Allah dan

Rasulnya”7

.

Karena itu kegiatan inti di MIM Pantorejo Sukodono dalam pembelajaran mata

pelajaran Fiqih di kelas I semester I ini adalah : pertama, peserta didik

mengucapkan dua kalimat syahadat; kedua, siswa atau peserta didik dilatih

menerjemahkan dua kalimat syahadat; ketiga, kemudian peserta didik menghafal

dua kalimat syahadat tersebut.

Di samping peserta didik diperkenalkan dengan kalimat syahadat, guru

juga telah terlebih dahulu mengucapkan semua rukun Islam yang lima: dari mulai

syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu. Hal ini sebagai starting

point bagi pembelajaran Mata pelajaran fiqih di kelas satu untuk mengajarkan

dan memahamkan kelima rukun yang notabene wajib melaksanakan bagi setiap

umat Islam yang beriman.

Selanjutnya peserta didik juga diajarkan dengan materi pembelajaran

tentang kebersihan. Kompetensi dasarnya adalah mampu membiasakan diri hidup

7

Wawancara dengan Ika Novia Yanti, SPd.I, tanggal 5 Maret 2010.

50

bersih. Tujuannya, setelah peserta didik selesai mengikuti pembelajaran

kebersihan, maka diharapkan mereka dapat membedakan mana yang bersih dan

mana yang kotor; memelihara kebersihan, membedakan suci dan najis,

menetapkan tata krama buang air, hafal do’a sebelum dan sesudah buang air.

Di dalam pelaksanaan materi pembelajaran tersebut, guru menggunakan

strategi atau metode pembelajaran melalui ceramah, demonstrasi, dan penugasan.

Di antara ketiga metode pembelajaran tersebut yang sering kali dan hamper pasti

setiap saat digunakan adalah metode ceramah. Bahkan ceramah di MIM

Pantirejo, Sukodono tersebut masih sangat mendominasi kreativitas para guru di

dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah, hal ini diakui secara jujur oleh

kepala MIM Pantirejo, Sukodono sebagai berikut;

“Kebanyakan guru di MIM Pantirejo Sukodono ini di dalam

menggunakan metode pembelajarannya masih didominasi dengan
metode ceramah, sekalipun mereka juga dalam satu waktu menggunakan

metode yang lain seperti demonstrasi dan pemaparan……………., tetapi
yang lebih menonjol mereka lebih sering memakai metode ceramah”8

.

Di dalam kegiatan pembelajaran kebersihan ini, kegiatan pembelajarannya adalah

meliputi kegiatan awal; yaitu guru terlebih dahulu bertanya kepada siswa tentang

kebersihan, mengarahkan peserta didik agar menyimak penjelasan tentang

perbedaan bersih dan kotor, memelihara kebersihan, membedakan suci dan najis,

hafal do’a masuk dan keluar WC. Kegiatan intinya adalah : pertama, peserta didik

membaca buku tentang kebersihan; kedua, peserta didik menjelaskan perbedaan

antara bersih dan kotor; ketiga, peserta didik menjelaskan antara suci dan najis;

keempat, peserta didik menjelaskan tentang tata krama buang air besar dan kecil;

kelima, peserta didik membersihkan tangan setelah buang air besar dan kecil; dan

8

Wawancara dengan Samingan, A.Ma. Tangga l 6 Maret 2010.

51

keenam, peserta didik menghafalkan do’a sebelum dan sesudah buang air,

kemudian kegiatan terakhir peserta didik diberi tugas agar dapat membedakan

bersih dan kotor, najis dan suci, dan hafal do’a sebelum dan sesudah buang air

(RPP MI Mapel Fiqih, 2010).

Masuk ke semester II di kelas I MIM Pantirejo, Sukodono, mulai

diperkenalkan materi pembelajaran tata cara melaksanakan wudhu. Tujuannya

agar peserta didik mampu secara benar melaksanakan wudhu sesuai dengan

tuntunan syariat Islam. Wudhu adalah ibadah yang dilakukan sebelum

melaksanakan shalat, baik shalat fardlu maupun shalat sunah, dalam bahasa yag

lain wudhu adalah media awal bagi seorang muslim yang hendak melakukan

shalat dengan benar, wudhu juga sebagai wujud dari simbolisasi pembersihan diri

seorang hamba terhadap dosa dan kesalahan yang selama ini dilakukan.

Di dalam kegiatan pembelajaran materi pembelajaran tentang wudhu ini,

yaitu pertama-tama menyampaikan salam pembuka, langsung berdo’a sebelum

belajar, kemudian bertanya kepada peserta didik tentang wudhu, guru juga

mengarahkan peserta didik agar menyimak penjelasan tentang berwudhu serta

mempraktekkannya ketika mau mengerjakan shalat.

Kegiatan intinya yaitu peserta didik diajarkan tata cara berniat yang

benar, peserta didik mempraktekkan melaksanakan wudhu dengan benar serta

peserta didik membiasakan berwudhu yang benar, kegiatan akhir biasanya guru

memberikan tugas agar dapat berwudhu dengan benar dan bisa

mempraktekkannya walaupun masih sangat sederhana (RPP, MI Mapel Fiqih,

2010).

Menanggapi hal tersebut seorang guru kelas I MIM Pantirejo, Sukodono

memberikan pernyataan sebagai berikut;

52

“ Kelas I MIM itukan baru saja keluar dari bangku Taman Kanak-kanak,
jadi yang namanya anak: kecenderungan untuk guyon, bermain-main
masih sangat mewarnai proses kegiatan belajar di MIM Pantirejo,
Sukodono, khususnya kelas I, ketika diajari tentang praktek wudhupun
mereka masih belum bisa mempraktekkan dengan penghayatan dan

kekhusyukan. Yah……………………..sekedar menuruti perintah dari
guru”9

.
Di dalam pembelajaran mengenai tata cara berwudhu tersebut pada umumnya

peserta didik baru mampu secara verbal yang nota bene juga masih banyak yang

harus disempurnakan dan diperbaiki. Paling tidak di sini peserta didik mampu

berwudhu dan mulai dikenalkan shalat fardhu. Karena sebagaimana kompetensi

dasarnya di dalam memberi pelajaran wudhu ini dalah peserta didik mampu

melaksanakan wudhu.

Setelah peserta didik dikenalkan dengan amalan wudhu, maka

selanjutnya peserta didik mulai dikenalkan tentang ibadah shalat fardlu,

kompetensi dasar dari materi pembelajaran ini adalah menyebutkan nama-nama

shalat fardlu, jumlah rakaat dan waktu pelaksanaannya, tujuannya adalah agar

peserta didik dapat menyebutkan nam-nama shalat fardlu, bilangan rakaatnya dan

waktu pelaksanaannya. Strategi yang diterapkan oleh guru mata pelajaran fiqih

mengenai shalat fardlu ini adalah menggunakan metode ceramah, demonstrasi

dan penugasan.

Kegiatan awal dari pembelajaran ini adalah guru bertanya kepada peserta

didik tentang shalat fardlu dan mengarahkan peserta didik agar menyimak

penjelasan tentang nama-nama shalat fardlu, bilangan rakaatnya dan waktu

pelaksanaannya. Kegiatan intinya adalah peserta didik membaca buku tentang

tentang shalat fardlu, peserta didik menjelaskan nama-nama shalat fardlu, peserta

9

Wawancara dengan Dewi Retno Ningsih, SPd.I. Tanggal 6 Maret 2010.

53

didik mengidentifikasi bilangan rakaat shalat fardlu, dan peserta didik

menjelaskan waktu pelaksanaan shalat fardlu. Kegiatan akhirnya guru

memberikan tugas agar siswa dapat mempraktekkan shalat fardlu setiap orang di

depan kelas dan di waktu yang lain praktek ibadah shalat tersebut dilaksanakan di

masjid atau mushala MIM Pantirejo, Sukodono.

Guru senantiasa memantau pelaksanaan demonstrasi yang dilakukan

oleh peserta didik di dalam kelas. Jika ada salah seorang peserta didik yang tidak

tepat tata cara pelaksanaan sebagaimana yang telah diajarkan, maka guru sebagai

pembimbing, pengarah segera menegur dan memberikan petunjuk sesuai dengan

ketentuan yang ada. Kesesuaian antara bacaan dengan gerakan setiap peserta

didik menjadi perhatian utama bagi para guru, terutama bagi mereka peserta didik

yang sudah menginjak kelas II, kalau di kelas I lebih difokuskan pada pengenalan

shalat fardlu, jumlah rakaat, dan waktu-waktunya, tetapi untuk kelas II mereka

diharapkan mampu mengaplikasikan secara lebih sempurna antara bacaan do’a

yang dibaca ketika shalat dengan gerakan yang dilakukan.

Karena itulah salah seorang guru kelas II MIM Pantirejo, Sukodono

memberikan pernyataan sebagai berikut;

“Waktu di kelas I mungkin masih fokus pada pelajaran materi wudlu

dengan pengenalan awal tentang materi pembelajaran shalat, meliputi

jumlah rakaat, waktu shalat untuk lima shalat fardlu, tetapi……….. pada

kelas II ini siswa diharapkan mampu mempraktekkan shalat yang

benar.”10

.

Jadi indikatornya adalah peserta didik mampu berniat shalat fardlu,

memperagakan gerakan shalat fardlu, menserasikan gerakan dengan bacaan

10

Wawancara dengan Dani, A.Ma. Tanggal 11 Maret 2010.

54

shalat fardlu, mau melaksanakan shalat fardlu dengan benar dan terbiasa

melaksanakan shalat fardlu.

Kemudian, menginjak semester II, di kelas II mulai diajarkan dengan

materi adzan dan iqamah dengan maksud peserta didik dapat melafalkan adzan

dan iqamah, menerjemahkan bacaan adzan dan iqamah serta dapat melaksanakan

adzan dan iqamah.

Instrument yang tidak kalah penting dengan wudlu di dalam rangkaian

pelaksanaan ibadah shalat fardlu adalah adzan dan iqamah. Adzan untuk

pemanggilan terhadap kaum muslimin agar lekas menuju masjid menunaikan

ibadah shalat, dilanjutkan iqamah sebagai tanda waktu shlat akan dimulai.

Kegiatan pembelajaran didalam materi pembelejaran adzan dan iqamah

adalah diawali dengan guru bertanya kepada peserta didik tetapi adzan dan

iqamah mengarahkan peserta didik agar menyimak penjelasan tentang bacaan

adzan dan iqamah, serta do’a setelah adzan. Kegiatan intinya adalah peserta didik

mengucapkan lafal adzan dab iqamah, menjawab bacaan adzan dan iqamah,

berdo’a setelah mendengar adzan dan iqamah, serta peserta didik membiasakan

diri melaksanakan shalat fardlu.

Seringnya mendengar dan melihat lewat masjid dan mushala di tempat

mereka, ketika melaksanakan shalat, menjadikan peserta didik mengalami

kemudahan dalam melafalkan adzan dan iqamah. Kalimat yang pendek dan

sering terjadi pengulangan juga menjadi kemudahan tersendiri bagi peserta didik

kelas II MIM Pantirejo, Sukodono. Hal ini dibenarkan oleh seorang pengajar di

MIM Pantirejo, Sukodono, ia mengatakan sebagai berikut;

“ Sebanyak lima kali anak-anak bisa mendengar dan melihat muadzin
yang bertugas di masjid-masjid kampong mereka. Sehingga hal ini
menjadi cukup membantu bagi anak-anak untuk mengamalkan dan

55

mempraktekkan pelajaran adzan dan iqamah sebagaimana dianjurkan di

sekolah”11

.

Di sini guru berusaha memantau dan membimbing peserta didik dengan penuh

perhatian, mereka diarahkan untuk bisa mengenal adzan dan iqamah secara baik

dan benar. Ada ungkapan yang popular mengatakan bahwa “ belajar sewaktu

kecil bagai mengukir di atas batu dan sebaliknya belajar diwaktu usia tua bagai

mengukir di atas air”. Falsafah dari ungkapan tersebut sedikit banyak telah

mendorong para guru untuk secara serius mendidik peserta didik mereka,

sekalipun di lapangan tidak sedikit juga kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh

guru di dalam proses kegiatan belajar mengajar di MIM Pantirejo, Sukodono.

Setelah pesertan didik dikenalkan dengan adzan dan iqamah, hal yang

tidak kalah pentingnya di dalam kesempurnaan ibadah shalat fardlu ataupun

sunah adalah membiasakan dzikir dan do’a. Di dalam materi pembelajaran fiqih

di sini diharapkan peserta didik mampu mengamalkan do’a dan dzikir selepas

shalat; khususnya selepas shalat fardlu, doa untuk kedua orang tua, menghafal

do’a kebahagian dunia dan akhirat, dan do’a lain yang diperlukan untuk

meningkatkan kesempurnaan amalan ibadah.

Kegiatan inti dari kegiatan belajar mengajar di sini adalah peserta didik

menghafal bacaan istigfar, tasbih, tahmid, dan takbir, menghafal do’a untuk

kedua orang tua, menghafal do’a untuk kebahagiaan dunia akhirat, menjelaskan

cara mempraktekkan dzikir setelah shalat, mendemonstrasikan cara berdo’a

setelah shalat, melaksanakan dzikir dan do’a setelah shalat. Kemudian guru juga

memberikan tugas agar dapat melafalkan bacaan istigfar, tasbih, tahmid, dan

11

Wawancara dengan Heru Rokhim SPd., Tanggal 11 Maret 2010.

56

takbir, do’a untuk kedua orang tua, dan do’a untuk kebahagiaan dunia dan

akhirat.

Untuk menambah kesempurnaan ibadah do’a dan dzikir di dalam

kehidupan seorang muslim, guru juga memberikan saran agar peserta didik

mengamalkan do’a dan dzikir tersebut tidak hanya pada amaliyah shalat saja,

tetapi di setiap gerak gerik setiap harinya harus diupayakan untuk berdzikir dan

berdo’a kepada Allah SWT, karena itulah salah seorang guru MIM Pantirejo,

Sukodono memberikan pernyataan sebagai berikut;

“Dzikir dan do’a adalahsari pati ibadah, karena itu di dalam aktivitas
keseharian kita harus diwarnai dengan dzikir dan do’a, peserta didik di

MIM Pantirejo, Sukodono ini diupayakan dan diajarkan untuk selalu

mempraktekkan dzikir dan do’a di setiap aktivitasnya, sekalipun hanya

sekedar membaca basmalas saat mau makan dan Alhamdulillah setelah
makan, hal-hal kecil dan sederhana tersebut harus mulai diperkenalkan

kepada anak, agar timbul kesadaran yang tinggi”12

.

Apabila lebih konkrit dari realisasi amaliyah dzikir tersebut bisa dilihat ketika

guru belum memulai memberikan materi pelajaran biasanya diawali dengan

terlebih dahulu berdo’a. Do’a tersebut dibaca secara bersama-sama baik peserta

didik maupun guru, hal ini secara rutin dilakikan sebelum memulai pelajaran.

Begitu juga sebelum proses kegiatan belajar mengajar diakhiri guru biasanya

menutup dengan do’a yang dibaca secara bersama-sama pula. Hal tersebut

dikuatkan dengan pernyataan kepala MIM Pantirejo, Sukodono sebagai berikut;

“Sudah merupakan peraturan yang dijalankan selamabertahun-tahun,
bahwa seorang guru sebelum memulai dan mengakhiri pelajaran harus

dibacakan do’a terlebih dahulu, ini sudah lama berjalan jadi
ya…………… udah jadi kultur di MIM Pantirejo, Sukodono ini”13

.

Ditambah lagi dengan kaligrafi-kaligrafi yang terpampang di ruang kelas

adalah membuktikan kalau di MIM Pantirejo, Sukodono ini benar-benar

12

Wawancara dengan Dani,A.Ma. Tanggal 17 Maret 2010.

13

Wawancara dengan Dani,A.Ma. Tanggal 17 Maret 2010.

57

mengkondisikan untuk amaliyah dzikir. Karena secara substansi amaliyah shalat

baik fardlu ataupun sunah adalah dzikir dan do’a di samping arti kata shalat

secara etimologis juga adalah do’a.

Menginjak kelas III semester I, peserta didik di MIM Pantirejo,

Sukodono sudah mulai dikenalkan dengan materi pembelajaran shalat jamaah. Di

sini standart kompetensinya adalah mampu memahami dan melaksanakan shalat

berjamaah, dengan tujuan pembelajaran setelah selesai mengikuti pembelajaran

shalat berjamaah, peserta didik dapat menyebutkan syarat syah menjadi imam

dan makmum, cara memberi tahu imam yang salah, praktik shalat berjamaah,

keutamaan shalat berjamaah dan melaksanakan shalat berjamaah. Metode

pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, demonstrasi, dan penugasan.

Kegiatan awal dari pembelajaran ini adalah guru bertanya kepada peserta

didik tentang shalat berjamaah, kemudian mengarahkan peserta didik agar

menyimak penjelasan tentang syarat menjadi imam dan makmum, cara member

tahu imam yang salah, praktik shalat berjamaah, keutamaan shalat berjamaah dan

kemudian mendemonstrasikan cara melaksanakan shalat berjamaah.

Kegiatan intinya adalah peserta didik menjelaskan syarat syah menjadi

imam dan makmum, menjelaskan cara member tahu imam yang salah, praktik

shalat berjamaah, kemudian guru juga member tugas kepada peserta didik yamh

berkaitan dengan materi tersebut di atas, agar benar-benar bisa dipahami oleh

peserta didik.

Dalam Islam shalat berjamaah adalah menduduki tempat yang amat

penting, melaksanakan shalat berjamaah disamping syariat menganjurkan

demikian secara social masyarakat, shalat berjamaah juga mengandung

pengertian filosofis yang dalam. Dalam shalat berjamaah tersebut terkandung

58

makna hidup social saling bergotong royong dan membantu di antara sesame,

karena itu salah satu guru MIM Pantirejo, Sukodono memberikan pernyataan

sebagai berikut;

“ Penanaman untuk shalat berjamaah harus benar-benar ditekankan
kepada eserta didik, anjuran tersebut di dalam khasanah keIslaman kita
hampir-hampir shalat berjamaah itu mendekati wajib, jadi sudah lazim
kalau mulai dini anak-anak harus ditekankan untuk melaksanakan shalat

berjamaah” 14

Di tambah lagi di sekolah, ketika masuk waktu dhuhur biasanya guru dan kepala

sekolah MIM Pantirejo, Sukodono menginstruksikan untuk menunaikan shalat

dhuhur berjamaah, tanpa terkecuali, khusus mereka yang berhalangan tentu dapat

rukhshah untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah. Misalnya lagi ada acara

amat urgen yang tidak bisa ditinggaluntuk jamaah bersama-sama di sekolah.

Di sela-sela melaksanakan dzikir dan do’a sehabis shalat jamaah ada

kegiatan rutin untuk melatih peserta didik yang kelas V dan VI untuk

menyampaikan kultum, sesekali juga kultum disampaikan oleh guru-guru dan

kepala sekolah untuk memberikan taushiah kepada mereka mereka agar

senantiasa rajin belajar dan beribadah kepada Allah SWT. Kegiatan ini cukup

bermanfaat untuk pemberdayaan kreativitas peserta didik di dalam berkomunikasi

dengan audiens melalui media kultum tersebut. Dengan shalat berjamaah akan

melahirkan kebersamaan dan ukhuwah islamiyah yang kokoh, karena dengan

interaksi yang dibangun ditengah-tengah melaksanakan shalat berjamaah tersebut

akan semakin menguatkan ikatan primodial sesame muslim.

Materi pembelajaran berikutnya adalah shalat Jum’at. Shalat Jum’at

sekaligus memberikan ketegasan bahwa shalat tersebut tidak boleh dilakukan

14

Wawancara dengan Sa’adah Hayati,A.Ma. Tanggal 17 Maret 2010.

59

secara sendirian. Shalat Jum’at sebagai gambaran bahwa shalat berjamaah itu

sedemikian pentingnya, sampai-sampai shalat Jum’at pun tidak syah bila

dilaksanakan secara sendirian.

Tujuan pembelajaran di dalam materi pembelajaran shalat Jum’at ini

adalah setelah selesai mengikuti pembelajaran shalat Jum’at, peserta didik dapat

menunjukkan bahwa shalat Jum’at, shalat wajib dan syah shalat Jum’at,

menunjukkan waktu shalat Jum’at, serta agar peserta didik terbiasa menunaikan

shalat Jum’at.

Karena itu kegiatan inti dari pembelajaran ini adalah peserta didik

menyebutkan hukum melakukan shalat Jum’at, menjelaskan syarat wajib dan

syarat syah melakukan shalat Jum’at, menyebutkan shalat Jum’at. Kemudian

untuk mempermudah dan menambah pemahaman peserta didik, guru

memberikan tugas kepada peserta didik sesuai dengan materi yang tersebut di

atas. Tugas ini bisa berbentuk pekerjaan rumah (PR) atau tugas lain yang

mendukung pemahaman peserta didik.

Peserta didik diajarkan juga bahwa shalat Jum’at adalah shalat wajib

yang harus dilaksanakan orang Islam laki-laki, bagi perempuan bisa

meninggalkan shalat Jum’at tetapi tetap harus melaksanakan shalat dhuhur.

Apabila perempuan tersebut melaksanakan shalat Jum’at, maka secara otomatis

shalat Jum’at tersebut sebagai pengganti dari diwajibkannya shalat dhuhur,

karena sudah melaksanakan shalat Jum’at. Begitu pula dengan sangsi bagi siapa

yang meninggalkan shalat Jum’at selama tiga kali berturut-turut tanpa udzur

syar’I, maka orang tersebut sudah dianggap melecehkan Islam dan dalam

kerangka ajaran Islam persoalan tersebut layak dilakukan oleh orang-orang

munafiq.

60

Penanaman pentingnya shalat Jum’at ini diakui oleh Kepala Sekolah

MIM Pantirejo, Sukodono sebagai berikut;

“ Shalat Jum’at dilaksanakan dari hari mulia (Jum’at) adalah sebagai

wujud pengejawantahan dari muhasabah seorang muslim untuk
mengintropeksi selama sepekan apa saja yang diperbuat. Jadi di sini
(MIM Pantirejo, Sukodono) diberikan pemahaman terhadap anak didik

agar mereka tahu betul kalau ibadah shalat Jum’at itu wajib dilakukan
dan sekaligus shalat Jum’at itu sebagai media bermuhasabah bagi insan
beriman” 15

.

Pentingnya ibadah shalat Jum’at juga bisa dilihat dan diawali dengan banyaknya

institusi Islam atau perorangan yang meliburkan kerja atau aktivitas lain di hri

Jum’at tersebut, karena ingin menghormati dan memaknai hari Jum’at sebagai

hari agung di antara tujuh hari di dalam seminggu. Jum’at sebagai panglima

(sayyidul ayyam) hari sudah dipahami oleh masyarakat muslimin pada umumnya.

Hari Jum’at karena berkaitan dengan ibadah shalat Jum’at di dalam

Islam telah mendapat tersendiri, terlebih di Negara yang mayoritas penduduknya

beragama Islam seperti Indonesia ini.

Setelah shalat Jum’at di MIM Pantirejo, Sukodono kelas III semester I

juga diajarkan materi pembelajaran shalat bagi orang sakit. Standart kompetensi

materi pembelajaran ini adalah peserta didik mampu memahami tata cara shalat

bagi orang sakit. Tujuan pembelajaran ini adalah setelah selesai mengikuti

pembelajaran tentang cara shalat bagi orang sakit, peserta didik diharapkan dapat

mempraktekkan cara shalat dengan duduk dan berbaring. Karena itu kegiatan inti

dari materi pembelajaran ini adalah peserta didik mendemonstrasikan cara shalat

dengan duduk, cara shalat dengan berbaring, dan agar peserta didik membiasakan

tetap shalat sekalipun dalam keadaan sakit. Kegiatan akhir dari materi

15

Wawancara dengan Samingan, A.Ma. Tanggal 26 Maret 2010.

61

pembelajaran ini adalah memberikan tugas agar peserta didik dapat

mempraktekkan cara shalat dengan duduk dan berbaring.

Secara kognitif, psikomotorik ataupun afektif, di sini sempat

memperlihatkan tetap maha pentingnya ibadah shalat tersebut, karena di dalam

kondisi yang bagaimanapun seorang muslim tidak ada alasan untuk

meninggalkan shalat, bahkan sakit sekalipun, selagi nyawa masih dikandung

badan maka kewajiban shalat lima waktu tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Di sini juga member pelajaran kepada peserta didik, bahwa urusan

seorang hamba dengan Tuhannya adalah urusan yang maha penting dan harus

selalu dinomor satukan, segala keperluan apapun harus mengalah, jika keperluan

ibadah shalat tersebut tiba. Karena Allah SWT adalah segala-galanya bagi setiap

orang beriman.

Untuk mendukung realitas tersebut di atas, salah seorang Kepala MIM

Pantirejo, Sukodono menyatakan sebagai berikut;

“Shalatlah yang akan menentukan diterima atau ditolaknya amal

sesorang dimata Allah SWT, karena amalan yang pertama dihisab besok
di hari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik, maka baik pula amal
lainnya dan demikian pula sebaliknya dan hal yang demikian ini kami
selalu kami camkan kepada peserta didik untuk benar-benar

memperhatikan tentang masalah shalat” 16

.
Shalat adalah barometer terhadap setiap amalan yang diperbuat oleh

seseorang, sudah bisa dipastikan jika shalatnya baik dan benar dilakukan benar-

benar untuk memperoleh ridha Allah SWT, maka dengan sendirinya akan

berdampak kepada amalan keseharian seorang muslim. Karena itulah MIM

Pantirejo, Sukodono dengan berbagai macam upaya berusaha mengenalkan dan

mempraktekkan amaliyah shalat tersebut kepada setiap peserta didik tanpa

16

Wawancara dengan Samingan,A.Ma. tanggal 26 Maret 2010.

62

terkecuali, guru sebagai figure di sini memegang peranan kunci bagi

terlaksananya suasana religious ibadah shalat tersebut bisa diamalkan semestinya.

Ketika adzan dhuhur dikumandangkan sebisa mungkin untuk diakhiri

kegiatan belajar mengajar guna member kesempatan terhadap warga sekolah

untuk menunaikan shalat secara berjamaah, dari shalat yang tertib dan teratur

akan berimbas kepada semua aktivitas yang dilakukan oleh seseorang, di dalam

shalat terkandung sekian pelajran berharga, yang termasuk dari dalamnya adalah

keseriusan, kedisiplinan, kejujuran, ketulusan, kebersamaan dan lain sebagainya.

Kemudian untuk kelas III di MIM Pantirejo, Sukodono mulai

diperkenalkan tentang materi pembelajaran shalat sunah rawatib. Kompetensi

dasarnya adalah peserta didik mampu melaksanakan shalat sunah rawatib dengan

baik dan benar. Tujuan pembelajaran di sini adalah peserta didik setelah selesai

mengikuti pelajaran shalat rawatib, diharapkan hafal waktu pelaksanaan shalat

rawatib, bilangan rokaatnya, keutamaan dalam melaksanakanshalat rawatib.

Metode pembelajarannya adalah ceramah, demonstrasi dan penugasan.

Adapun kegiatan intinya dalam pembelajaran ini adalah peserta didik

membaca materi tentang shalat sunah rawatib, menjelaskan waktu shalat rawatib,

menyebutkan bilangan rakaat shalat sunah rawatib dan peserta didik diupayakan

melaksanakan shalat sunah rawatib.

Dalam konteks ini peran guru yang mengampu mata pelajaran fiqih,

harus berusah menjelaskan kepada peserta didik akan pentingnya shalat sunah

rawatib tersebut, karena amalan shalat sunah itu akan sangat membantu

menyempurnakan bahkan melengkapi kekurangan-kekurangan di dalam

seseorang yang melaksanakan shalat wajib lima waktu yang belum atau terdapat

kekurangan-kekurangan, maka dengan shalat sunah rawatib diharapkan bisa

63

melengkapi kekurangan tersebut. Menanggapi hal tersebut Kepala Sekolah MIM

Pantirejo, Sukodono menyatakan sebagai berikut;

“Peserta didik harus dikasih wawasan mengenai pentingnya shalat sunah
rawatib tersebut, sehingga dengan demikian mereka akan
memperhatikan dan berusaha untuk mengenalkan shalat sunah rawatib
tersebut, terlebih waktunya adalah mengikuti dan mengiringi ibadah
fardlu, jadi efektif sekali untuk dilakukan” 17
.

Dikenalkan pula nama-nama shalat rawatib yang dikerjakan sebelum dan sesudah

shalat fardlu. Shalat rawatib yang dukerjakan sebelum shalat fardlu dinamakan

qobliyah sedangkan jika dilaksanakan sesudah shalat fardlu dinamakan ba’diyah.

Dari amaliyah shalat sunah sebagaimana shalat rawatib inilah justru

mengindikasikan kedalaman agama seseorang. Semakin rajin melakukan amalan-

amalan shalat sunah, maka semakin baik kualitas hidup seorang muslim tersebut.

Karena yang sunah saja mendapat apresiasi tersendiri dari dalam kehidupan

keberagamaan seseorang apalagi yang wajib justru akan mendapat perhatian

tersendiri.

Jika peserta didik berhasil mengusahakan amalan ibadah shalat rawatib

ini yang dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut akan menjadi latihan yang

cukup penting untuk pembentukan mental spiritual mereka ke depan.

Membiasakan sejak dini adalah upaya yang konstruktif positif untuk diupayakan

kepada setiap generasi penerus terlebih peserta didik di MIM Pantirejo,

Sukodono.

Materi pembelajaran berikutnya adalah mengenalkan shalat sunah Idain

(idul fitri dan idul adha). Shalat idul fitri dilaksanakan sebagai pertanda

selesainya ibadah puasa ramadhan yang dilakukan selam satu bulan oleh kaum

17

Wawancara dengan Samingan,A.Ma. Tanggal 26 Maret 2010.

64

muslim yang beriman, sedangkan idul adha dilaksanakan karena terkait dengan

ibadah idul qurban atau ibadah haji di bulan Dzulhijah. Setahun dilaksanakan

sekali oleh setiap muslim.

Kegiatan pembelajaran adalah diawali dengan guru bertanya kepada

peserta didik tentang shalat sunah idul fitri dan idul adha, lalu mengarahkan

peserta didik agar menyimak penjelasan tentang shalat idul fitri dan idul adha,

waktu pelaksanaan dan tata caranya.

Kegiatan inti dari pembelajaran ini adalah peserta didik menyebutkan

waktu shalat idul fitri dan idul adha, menjelaskan tata cara melaksanakan shalat

idul fitri dan idul adha kemudian kegiatan akhirnya adalah guru memberikan

tugas agar peserta didik dapat menyebutkan pelaksanaannya serta tata cara shalat

idul fitri dan idul adha.

C. Implikasi Pembelajaran Materi Fiqih Terhadap Praktek Shalat Peserta didik

Madrasah Ibtidayah Pantirejo, Sukodono

Materi pelajaran fiqih di MIM Pantirejo, Sukodono secara kognitif telah

memberikan muatan yang cukup untuk dipraktekkan (diamalkan) di dalam

kehidupan kehidupan sehari-hari, hanya saja masing-masing peserta didik

disamping factor kelas dan usia yang berbeda dari masing-masing kelas mulai

kelas I sampai IV. Kondisi seperti ini sangat wajar terjadi di setiap sekolah

termasuk di MIM Pantirejo, Sukodono, kenyataan seperti ini mengundang

komentar dari kepala sekolah MIM Pantirejo, Sukodono sebagai berikut;

“ Materi pembelajaran fiqih dari mulai kelas I sampai III utamanya

adalah memberikan muatan kognitif yang cukup bagi pengetahuan
mereka mengenai masalah-masalah yang berhubungan dengan tata cara
shalat, utamanya shalat fardlu, paling tidak menginjak kelas III dari
siswa MIM Pantirejo, Sukodono ini sudah mulai tertata dengan tata cara
ibadah shalat sebagai mana mestinya, karena yang masih kelas I maupun

65

II awal itu kebanyakan masih belum bisa sebagaimana yang diharapkan.
Kebanyakan guyon, ya………..namanya aja anak-anak” 18
.
Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang wali murid kelas I sebagai

berikut;

“Kalau masalah gerakan dan sebagainya, anak-anak kelas I utamanya
anak saya yang sebelumnya sudah pernah duduk di bangku TK, tentu

sudah tidak asing, tapi…………..kebanyakan praktek ibadah shalat
selama ini ya……….masih jauh dari standar layaknya ibadah shalat

yang dilakukan oleh orang dewasa, karena mungkin mereka belum
menganggap atau belum begitu sensitive terhadap soal-soal

kekhusyukan, ketenangan dan ketertiban”19

.

Pelaksanaan tata cara shalat dari mulai wudlu, niat menghadap kiblat dengaan

takbir sampai salam kemudian dilanjutkan dengan dzikir dan do’a secara teoritis

peserta didik mengenal hal tersebut, tetapi ketika hal tersebut direalisasikan ke

dalam praktek (perilaku) shalat sehari-hari baik di sekolah ataupun di luar

sekolah, di sana sini masih menyisakan problem, baik yang berkaitan dengan

ketertiban, ketenangan atau bahkan kekhusyukan.

Jika melihat realitas di lapangan peserta didik yang kelasnya sudah

berada di kelas V sampai VI MIM Pantirejo, Sukodono, rata-rata mereka sudah

mampu menunaikan ibadah shalat sebagaimana yang diharapkan sesuai dengan

etika dan aturan yang berlaku menurut syariat Islam. Karena itu salah seorang

guru kelas V memberikan pernyataan sehubungan dengan hal tersebut;

“Sebagian besar anak kelas V MIM Pantirejo, Sukodono, didalam

melaksanakan ibadah shalat, alhamdulillahmereka sudah mampu
mengerjakansebagaiman layaknya aturan shalat pada umumnya, yah!
Relative tertib dan lebih mudah dikondisikan, tidak seperti anak-anak
yang masih di kelas I-II MIM, wajarlah karena usianya saja berbeda” 20

18

Wawancara dengan Samingan, A.Ma. Tanggal 26 Maret 2010.

19

Wawancara dengan Suyanto. Tanggal 26 Maret 2010.

20

Wawancara dengan Istianah, SPd.I. tanggal 26 Maret 2010

66

Pernyataan yang disampaikan oleh guru kelas V tersebut relevan dengan

observasi yang dilakukan oleh peneliti di sela wawancara dengan informan

sebagai berikut;

“Ketika shalat berjamaah dimulai kelihatan di barisan yang umumnya

diisi kelas I dan II itu sering bergerak-gerak entah itu menggoyang-
goyangkan kepala, menekuk-nekuk tangan dan bisik-bisik serta yang
lainnya, tetapi bagi anak yang kelas VI teutama kelas V dan VI relative

bisa tertib sebagaimana mestinya” 21

.

Lebih tidak terkontrol lagi misalnya shalat jamaah tersebut tidak terpantau olah

para guru, sedangkan diawasi saja demikian. Secara formal amaliyah shalat

mampu mereka terapkan, tetapi amalan shalat dalam pengertian hakikat (batiniah)

masih harus terus mendapatkan arahan dan bimbingan. Karena itu untuk

melaksanakan shalat sunahpun mereka harus ters diberikan pengertian dan

pemahaman, bahkan seperti dzikir dan do’a setelah shalat bagi mereka yang

utamanya masih kelas I dan II atau III bahkan kelas di atasnya sekalipun masih

membutuhkan perhatian serius dari para guru dan orang tua.

Indikasi yang mencolok terlihat dari mereka adalah ketika shalat tersebut

baru diakhiri dengan salam, yang terjadi adalah mereka tergesa-gesa untuk

beranjak dari duduknya. Apa yang ada di benak mereka relative dominan oleh

pikiran dan keinginan untuk bermain dan bermain dengan teman sebayanya.

Karena itu apa yang disampaikan oleh salah seorang guru kelas I sebagai berikut

adalah membuktikan keobyektifan dari keadaan yang sesungguhnya.

“Sebagai guru yang mengajar kelas I ataupun kelas II memang harus
sabar………dan penuh perhatian, karena mereka itu pada hakekatnya

dunia mereka adalah dunia bermain dengan sesame teman sebayanya,
sebagai guru tentunya harus pinter-pinter member solusi untuk
mengkreasi sedemikian rupa agar anak-anak tidak jenuh dengan model-

model pembelajaran yang ada tersebut”22

.

21

Wawancara dengan Samingan, tanggal 26 Maret 2010.

22

Wawancara dengan Dewi Retnoningsih, S. Pd. I, Tanggal 26 Maret 2010

67

Di tambah lagi dengan pola pikir dan sikap sebagian guru yang lebih

mengutamakan pembelajaran pada ranah kognitif, para guru sudah merasa puas

dan berhasil jika peserta didiknya berhasil memperoleh nilai angka Sembilan atau

sepuluh di rapornya. Mereka beranggapan bahwa nilai rapor atau ijazah tersebut

merupakan bukti konkrit dari keberhasilan mengajar dan mendidik selama ini.

Kenyataan yang seperti ini mengundang kritik dari salah seorang anggota komite

sekolah dengan menyatakan sebagai berikut;

“ Secara umum guru dikatakan berhasil melaksanakan proses kegiatan
belajar mengajar apabila peserta didiknya telah memperoleh nilai tinggi
di rapor atau ijazahnya dan pola pikir seperti ini seakan-akan diamini
oleh sebagian warga sekolah termasuk wali murid sekalipun, padahal
cara berpikir demikian adalah sebuah jebakan atau perangkap yang

dikemudian hari bakal menjerumuskan.”23

.
Padahal jika ditilik lebih lanjut hubungannya dengan materi

pembelajaran fiqih, khususnya materi tentang shalat, maka sangat disayangkan

jika materi pembelajaran tersebut para guru hanya menekankan aspek formal

keberhasilan pembelajaran yang dilihat dari prestasi akademik belaka, tanpa lebih

jauh memperhatikan perilaku dan sikap peserta didik tersebut, lebih tragis lagi

kerena hal demikian dihubungkan dengan materi pembelajaran shalat yang

menjadi kunci dari setiap amalan lain yang dilaksanakan oleh seorang muslim.

Betapa ambivalennya jika didalam pembelajaran materi shalat ini secara

nilai tertulis peserta didik rata-rata bagus tetapi di sisi lain amaliyah keseharian

yang terwujud dalam perilaku dan sikap jauh panggang dari api, artinya terjadi

kesenjangan antara teori dan praktek di lapangan. Materi fiqih di MIM Pantirejo,

Sukodono dari kelas I sampai IV merupakan materi dasar tentang pengetahuan

syara’ atau hokum Islam, baik yang berhubungan dengan ibadah mahdhah

23

Wawancara dengan Sunarto, BA., Tanggal 26 Maret 2010.

68

ataupun ghairu mahdhah atau masalah yang berhubungan dengan social

kemanusiaan, perjanjian, perjual belian (muamalah) yang secara langsung

berhubungan dengan aspek-aspek kemasyarakatan.

Muatan-muatan pelajaran fiqih tersebut merupakan azas-azas terpenting

dari pengetahuan syariat Islam yang fundamental. Dari mulai pengenalan

syahadat, wudhu, shalat fardlu, adzan dan iqamah, dzikir dan do’a, shalat jamaah,

shalat sunah dan yang lainnya adalah bekal terpenting dari kehidupan keagamaan

seorang muslim. Hal tersebut secara langsung mendapat apresiasi dari peserta

didik kelas VI MIM Pantirejo, Sukodono sebagai berikut;

“Materi pembelajaran fiqih yang diajarka di Madrasah Ibtidaiyah itu

merupakan pembelajaran yang pokok dan mendasar yang harus
diketahui oleh orang Islam untuk pegangan melaksanakan kehidupan
keagamaan mereka termasuk saya, karena itu kami yang dikelas VI ini
marasa bersyukur banget dapat materi pembelajaran yang sedemikian
penting dalam kehidupan keagamaan ini”24
.

Pernyataan yang polos dan tanpa kepentingan apapun tersebut membuktikan

bahwa semakin tinggi tingkat kelas dan bertambahnya umur tersebut telah

menunjukkan pula perbedaan pola pikir dan pengalaman terhadap suatu hal.

Peserta didik di kelas VI di sini lebih Nampak rasional dan argumentative ketika

menanggapi dan merespon setiap persoalan, terutama yang terkait dengan materi

pembelajaran fiqih khususnya materi tentang shalat. Pada umumnya peserta didik

menganggap bahwa materi pembelajaran tentang shalat sangat memberikan bekal

keilmuan tersendiri terhadap kapasitas dan kualitas ibadah yang mereka lakukan

karena amal tanpa ilmu adalah ibarat seseorang yang berjalan di tengah

kegelapan yang tidak tahu mana arah barat dan timur.

24

Wawancara dengan SIswanto. Tanggal 26 Maret 2010.

69

Tuntunan yang di berikan melalui mata pelajaran fiqih tentang materi

pembelajaran shalat tersebut secara gradual tersistematis dengan begitu runtut

yang jika diruntut dari sub bagian-bagiannya, maka membutuhkan ketelitian dan

kecermatan agar praktek amaliyah ibadah tersebut benar-benar sesuai dengan

ajaran dan tuntunan Islam itu sendiri.

Berawal dari niat misalnya, bahwa melakukan aktivitas ibadah apapun

apalhi shalat tentunya harus diawali dengan niat yang tulus dan benar. Niat akan

menentukan ibadah seseorang diterima atau ditolak oleh Allah SWT. Mau

menghadap Allah SWT seyogyanya untuk mempersiapkan pikiran dan hati untuk

tertuju keharibaanNya. Niat adalah pekerjaan hati yang harus bisa memandu

pikiran dan anggota badan yang lain untuk bersama-sama satu tujuan di dalam

melaksanakan sebuah aktivitas peribadatan ataupun aktivitas yang lainnya.

Karena itulah peserta didik di MIM Pantirejo, Sukodono hendak

melaksanakan shalat sebelum takbir ataupun ketika berangkat dari tempat menuju

masjid jelas ada dorongan niat yang mengarah terhadap pekerjaan tersebut.

Mereka percaya bahwa segala hal yang dilakukan, lebih-lebih berupa shalat, jika

tidak dibarengi dengan niat, maka amalan tersebut tidak akan diterima dan

mendatangkan ridha dari Allah SWT. Salah seorang dari kelas V MIM Pantirejo,

Sukodono memberikan pernyataan sebagai berikut;

“Kata guru saya di sekolah mengatakan bahwa segala macam apapun

bentuknya perbuatan itu harus dibarengi dengan niat, karena menurut
guru saya, niatlah yang akan menjadi tolok ukuran diterimanya amal
kebajikan seseorang hamba terhadap Tuhannya” 25

Kedua setelah niat adalah takbiratul ihram pertanda gerakan awal shalat,

sebagaimana cara takbir yang diajarkan oleh para guru ketika memberikan materi

25

Wawancara dengan Rudi Hartono. Tanggal 26 Maret 2010.

70

tentang shalat, ketika Nabi takbir, beliau mengangkat kedua tangannya dengan

membuka jari-jarinya lurus ke atas (tidak merenggangkan dan tidak pula

menggenggamkannnya), ujar salah seorang guru mata pelajaran fiqih kelas II

semester I (Observasi, 17/2/2010).

Hal yang demikian di atas, ketika satu kesempatan mendemonstrasikan

di depan kelas, para peserta didik langsung mengikuti, hanya saja ada beberapa

yang masih membutuhkan perhatian tersendiri terkait dengan tata cara yang benar

menggerakkan tangan ketika takbir. Pada posisi sedekap sebagaimana

pembelajaran yang diberikan guru mereka, para peserta didik pun memperagakan

posisi untuk tangan kanan di atas punggung telapak, pergelangan dan lengan

bawah kirinya serta pandangan mata menuju ketempat sujud, kemudian setelah

itu langsung disusul dengan membaca do’a Iftitah terus membaca membaca Al

Fatihah disambung dengan surat dari salah satu ayat Al Qur’an, di tengah-tengah

imam ketika selesai membaca surat Al Fatihah maka Imam ataupun makmum

membaca amin sebagai pertanda minta dikabulkannnya permohonan do’a ketika

shalat tersebut, guru juga memberikan informasi tentang membaca ta’awudz

sebelum membaca Al Fatihah (Observasi, 15/2/2010).

Kemudian, masih di dalam kesempatan praktek shalat, jika berjamaah

pada saat imam membaca dengan keras, makmumnya tidak membaca hanya

menyimaknya, menurut salah seorang guru bahwa diamnya makmum untuk

mendengarkan merupakan kesempurnaan bermakmum “ untuk shalat yang

imamnya tidak bersuara, makmum tetap membaca Fatihah karena Fatihah adalah

bacaan yang wajib dibaca ketika shalat. Di sela-sela praktek tersebut guru

memperhatikan, menyimak, menelaah setiap gerakan dan bacaan yang dilakukan

71

oleh peserta didik. Karena dengan begitu akan lebih mudah membetulkan jika

terdapat kesalahan gerak ataupun ucapan dari bacaan do’a-do’a ketika shalat.

Setelah membaca Al Fatihah dan surat dari Al Qur’an lalu berhenti

sejenak, kemudian mengangkat tangan kanan dan tangan kiri sambil

mengucapkankan Allahu Akbar, lalu ruku’ dengan posisi meletakkan kedua

telapak tangannya pada kedua lututnya (seolah-olah menggenggam kedua

lututnya) dengan meluruskan dan meratakan punggung, sehingga benar-benar

lurus, sembari guru mengibaratkan bila air dituangkandi atas punggung , air

tersebut tidak akan bergerak sebagaiman keterangan hadits yang diriwayatkan

oleh Tabrani, demikian penjelasan dari guru pembimbing praktek shalat

(Observasi, 15/2/2010).

Setelah membaca do’a ruku’, maka para siswa dianjurkan untuk berdiri

I’tidal sembari mengucapkan sami Allahu liman hamidah, sambil berdiri tegak.

Ketika I’tidal peserta didik berdiri lurus sampai setiap ruas tulang belakangnya

kembali kepada tempatnya, sambil berdiri tersenut membaca Allahu Akbar,

kemudian sampai ruas tulang belakangnya kembali mapan. Ketika sujud tersebut

harus menyertakan tujuh anggota badannya yaitu wajah, kedua telapak tangan,

kedua lutut dan kedua kakinya. Setelah selesai membaca do’a sujud kemudian

duduk di antara dua sujud, selanjutnya setelah membaca do’a duduk di antara dua

sujud lantas sujud lagi sebagaimana semula do’anya juga sama dengan sujud

yang pertama, sampai kepada duduk istirahat menjelang mau berdiri pada rakaat

berikutnya.

Jika rakaatnya tiga ataupun empat, maka di sana terdapat tasyahud awal,

posisinya duduk tasyahud sambil membaca do’a mengarahkan jari telunjuk ketika

duduk tasyahud dilanjutkan dengan tasyahud akhir di rakaat ketiga ataupun rakaat

72

keempat dengan berdo’a yang telah tertera di dalam buku-buku pedoman

(Observasi, 15/2/2010).

Terakhir setelah selesai membaca tasyahud akhir ditutup dengan salam

dengan gerakan tengok ke kanan dan kekiri dengan sempurna. Begitu selesai

salah seorang pembimbing praktek shalat tersebut memberikan pernyataan

sebagai berikut;

“Ketika proses-proses praktek seperti ini dengan pantauan guru yang
ketat, mau tidak mau anak-anak mentaati semua perintah kami, dari
mulai gerakan dan bacaan yang dibaca ketika shalat. Tetapi lain lagi
kondisinya jika hal demikian dipraktekkan secara langsung melalui
ibadah shalat lain waktu, maka kecenderungan yang usia kelas I, II, dan
bahkan III, masih relative belum bisa memenuhi target gerakan dan

bacaan sebagaimana waktu praktek shalat dilakukan”26

.

Kecenderungan yang sudah relative memenuhi unsur-unsur shalat yang benar

berdasarkan pembelajaran materi pembelajaran shalat adalah mereka yang berada

di kelas V sampai VI, karena usia dengan pola pikir serta sikap cenderung bisa

memenuhi target-target awal, walaupun hanya atau bary sebatas shalat dalam

pengertian formal, belum actual.

26

Wawancara dengan Dani. A.Ma. Tanggal 26 Maret 2010.

73

BAB IV

ANALISIS DATA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->