P. 1
Skripsi - Wagiman

Skripsi - Wagiman

4.0

|Views: 4,668|Likes:
Published by Indriyanto Sahja
IMPLIKASI MATA PELAJARAN FIQIH TEHADAP PRAKTEK SHALAT MURID MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH PANTIREJO KECAMATAN SUKODONO SRAGEN TAHUN PEL AJARAN 2009/2010
IMPLIKASI MATA PELAJARAN FIQIH TEHADAP PRAKTEK SHALAT MURID MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH PANTIREJO KECAMATAN SUKODONO SRAGEN TAHUN PEL AJARAN 2009/2010

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Indriyanto Sahja on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2015

pdf

text

original

Pembelajaran fiqih di MIM Pantirejo, Sukodono secara umum meliputi

materi-materi mengenai fiqih ibadah. Baru pada kelas V ataupun VI peserta didik

mulai dikenalkan terhadap materi-materi fiqih muamalah. Secara paradigmatik,

materi pelajaran fiqih di MIM Pantirejo, Sukodono disajikan dengan runtut dan

tematis yang pada pokoknya membicarakan tentang ibadah mahdhah dan ghairu

mahdhah.

Berbicara mengenai materi pembelajaran shalat di MIM Pantirejo,

Sukodono berdasarkan hasil observasi berperan serta (participant observation)

dan wawancara mendalam (indept interview) serta studi dokumentasi terhadap

para subyek dan informan, serta buku-buku panduan ataupun dokumen

pendukung lainnya, maka didapatkan hasil penelitian sebagai berikut.

Kompetensi dasar materi pembelajaran ilmu fiqih di MIM Pantirejo,

Sukodono adalah agar peserta didik mampu memahami pokok-pokok hokum

Islam yang fundamental yang dijadikan pedoman hidup dan diamalkan dalam

kehidupan sehari-hari. Karena itu sejak mulai dari kelas I tersebut peserta didik

sudah dikenalkan dengan aspek-aspek terpenting dari instrument hokum Islam

yang berkaitan dengan hokum ibadah (fiqihul ibadah) yang menjadi basis

pembelajaran (learning basic) materi fiqih di Madrasah Ibtidaiyah.

Secara lebih khusus tentang materi pembelajaran ibadah shalat dari

mulai wudlu sampai dzikir dan do’a dibahas dengan tematis sebagai kerangka

dasar memahamkan peserta didik terhadap masalah-masalah yang berkaitan

74

dengan ibadah mahdhah, khususnya ibadah shalat (fardlu maupun sunah). Materi

shalat fardlu bagi peserta didik kelas I MIM Pantirejo, Sukodono tidaklah terlalu

asing dan juga tidak merupakan materi pembelajaran baru bagi mereka. Karena

sebagian besar peserta didik bahkan semuanya yang duduk bi bangku kelas I

tersebut telah mulai dikenalkan ketika mereka belajar di Taman Kanak-Kanak

(TK) sehingga hal tersebut lebih mudah bagi guru MIM Pantirejo, Sukodono di

dalam proses kegiatan belajar mengajar.

Hanya yang menjadi problem dalam konteks ini adalah peserta didik

tersebut masih anak-anak, sehingga guru di sini dituntut untuk bisa

mengendalikan suasana pembelajaran yang arif dan bijaksana. Lebih-lebih secara

psikologis di antara masing-masing mereka terdapat keragaman (heterogenitas)

sikap dan perilaku yang secara tidak langsung juga membutuhkan penanganan

yang berbeda dan khusus pula.

Di dalam BAB III (penyajian data) telah diungkapkan mengenai perilaku

anak yang cenderung senang guyon dan bermain terutama peserta didik yang

duduk di kelas I ataupun II, bahkan III sekalipun. Tetapi hal tersebut tidak

menjadikan kendala yang berarti terutama secara kognitif bagi peserta didik

tersebut untuk mampu memahami materi pembelajaran fiqih yang diajarkan di

kelas.

Karena itulah, di MIM Pantirejo, Sukodono ini mulai kelas I sampai III

secara gradual diajarkan pada peserta didik untuk memahami tata cara

(khilafiyah) shalat menurut tuntunan syariat Islam yang diajarkan oleh Nabi

Muhammad SAW, standart kompetensinya yaitu mampu melaksanakan shalat

dengan bacaan dan gerakan yang benar. Data di lapangan mengindikasikan

bahwa perilaku peserta didik di dalam menerima pembelajaran yang diberikan

75

yaitu mata pelajaran fiqih tersebut sangat bervariasi, tetapi pada umumnya

peserta didik mampu menerima materi tersebut.

Metode pembelajaran yang digunakan guru disini berdasarkan

pengumpulan data di lapangan cenderung dominan menggunakan metode

ceramah, hal inilah yang berpengaruh terhadap kejenuhan para peserta didik,

sehingga mereka yang nota bene masih usia anak-anak relative lebih memilih

untuk guyon (bermain) dan kurang bisa focus terhadap materi yang diajarkan.

Karena jika ditilik dari psikologi kejiwaan, banyak juga peserta didik tersebut

lebih mudah bisa menerima materi pembelajaran bukan dari mendengarkan guru

berceramah, tetapi dengan demonstrasi ataupun dengan penugasan, diskusi serta

yang lainnya. Dan inilah yang harus ditangkap oleh guru sebagai peluang untuk

berkreasi memperkaya metode pembelajaran yang lebih actual dengan materi

yang diperbincangkan di dalam kegiatan belajar mengajar.

Terdapat implikasi yang signifikan materi tentang shalat ini dari mulai

kelas I semester I, diawali dari pembelajaran tentang syahadat, wudlu,

kebersihan, adzan, iqamah, dzikir dan do’a. Tema-tema tersebut tidak bisa

dilepaskan dari materi mengenai shalat, dan hal tersebut membutuhkan metode

ataupun strategi pembelajaran tersendiri berdasarkan kebutuhan di lapangan.

Rutinitas yang membelenggu seorang guru jangan sampai stagnan untuk

menciptakan suasana pembelajaran yng aktif, efektif dan mengenai sasaran.

Bila diamati lebih jauh terkait dengan pembahasan yang dipaparkan dari

bab sebelumnya, maka dapat dianalisis bahwa, model pendekatan seorang guru

dengan peserta didik yang masih duduk di bangku kelas I sampai III bahkan IV

adalah masih dominan pendekatan doktriner dan instruksi. Jadi di sini keberadaan

seorang guru masih berposisi sebagai determinan factor yang menjadi sentral

76

proses-proses pembelajaran di kelas. Bagaimana seorang guru bersikap terhadap

terhadap peserta didik yang masih anak-anak, cara memperlakukan peserta didik

ketika praktek wudlu atau shalat misalnya, para guru sepertinya harus lebih

proaktif memberikan bimbingan, arahan dan masukan terhadap peserta didik

tersebut, sehingga wajar jika yang muncul adalah perilaku ataupun sikap

pembelajaran yang identik dengan nuansa formal dan terstruktur sedemikian

rupa.

Inilah yang kemudian akan berdampak terhadap segi-segi psikomotorik

lebih-lebih afektif di dalam diri peserta didik, mereka akan cenderung

melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar secara procedural dan formal.

Pendekatan yang lazim dilakukan dalam konteks ini adalah bagaimana rambu-

rambu mata pelajaran fiqih di bab (kajian teori) yaitu pendekatan pembiasaan,

memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk senantiasa mengamalkan

ajaran Islam di mana dan kapanpun, jadi selagi masih usia anak-anak. Karena itu

perlu mendapatkan penekanan dan pengertian terhadap fungsi dan eksistensi

ibadah shalat bagi mereka. Kalau tidak demikian, maka dikemudian hari pula aka

nada kecenderungan untuk menganggap remeh dan enteng terhadap perintah

ibadah shalat tersebut.

Tetapi, hal tersebut akan lain jika dari dini upaya serius untuk mendidik,

membimbing dan mengarahkan peserta didik yang masih duduk di kelas I, II

bahkan III, maka melatih pembiasaan untuk melaksanakan kewajiban perintah

shalat itu akan menjadi akhlak atau tradisi yang amat terpuji.

77

B. Implikasi Pembelajaran Fiqih Terhadap Praktek ShalatMurid MIM Pantirejo,

Sukodono.

Untuk membedakan karakteristik dari dampak pembelajaran materi

fiqih, utamanya mengenai persoalan praktek shalat, maka berdasarkan analisis

yang berkembang di bab ini dikelompokkan menjadi dua. Pertama, adalah peserta

didik yang masih duduk di kelas I sampai III dan kedua, mereka yang sudah

berada di kelas IV sampai VI. Karena hal tersebut ini sekaligus akan

mengalokasikan proses kegiatan belajar mengajar tersebut berkaitan dengan

implikasi materi fiqih terhadap praktek shalat peserta didik.

Bagi peserta didik yang masih berada di kelas I sampai dengan kelas III,

mereka secara target pemahaman mengenai meteri pembelajaran shalat sedikit

banyak sudah memenuhi harapan dari tujuan pembelajaran itu sendiri. Karena di

sini yang dominan adalah pendekatan doktriner dan instruktif, maka targetnya

adalah langsung menekankan kepada peserta didik untuk memperhatikan

pentingnya syariat shalat untuk diamalkan kepada hamba Allah yang beriman.

Kesan pertama yang dirasakan oleh seorang peserta didik adalah adanya

sedikit pressure ataupun sedikit paksaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk

benar-benar menjadikan suasana pembelajaran sesuai dengan target yang

diharapkan; mulai dari lafal bacaan shalat, gerakan dalam shalat sampai tertib

sesuai dengan tata urutan rukun shalat. Bagaimana posisi sedekap, I’tidal, duduk

iftirasyi, duduj diantara dua sujud, duduk tasyahud, sampai dengan salam, semua

harus dilakukan dengan tertib dan benar.

Di dalam proses demonstrasi praktek shalat, seorang guru harus terus

memantau dan memberikan bimbingan, jika tidak demikian, maka kecenderungan

mereka untuk berperilaku di luar ketentuan praktek akan rawan, karena suasana

78

psikologis anak-anak yang rentan dengan bermain bebas tanpa adanya aturan

yang mengikat. Mereka bisa dan mampu melaksanakan praktek tersebut, tetapi

sifatnya masih instruktif dan velum pada kesadaran akan proses-proses

pembelajaran yang dilakukan tersebut, apalagi jika secara lebih jauh dilihat dari

aspek perilaku keseharian mereka, hubungannya dengan amalan shalat

sebagaimana pantauan orang tua murid ketika di rumah, maka masih banyak

perlu arahan untuk bisa melaksanakan shalat sesuai dengan tuntunan dan hakikat

peribadatan ssalat itu sendiri.

Kedua, peserta didik yang yang sudah duduk di bangku kelas IV samapi

dengan kelas VI mereka sudah relative bisa diajak berfikir secara rasional.

Karena itu pendekatan yang digunakan oleh seorang guru juga berbeda dengan

mereka yang masih duduk di kelas bawahnya. Secara pemahaman pemaknaan

tentang ajaran shalat jelas berbeda dengan kelas I, II ataupun III, di sinilah factor

usia dan tingkat kelas melalui proses-proses yang dibangun baik ketika di sekolah

ataupun di luar sekolah menajdi penentu perbedaan-perbedaan tersebut.

Berdasarkan rambu-rambu mata pelajaran fiqih, maka fungsi pendekatan

yang relevan dengan kelas IV sampai kelas VI yaitu pendekatan emosional dan

rasional serta fungsional. Di mana pendekatan emosional ini untuk menggugah

perasaan dan emosi peserta didik dalam meyakini dan menghayati ajaran

agamanya, pendekatan rasional berarti usaha untuk memberikan rasio (akal)

dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agamanya. Dan pendekatan

fungsional untuk menyajikan ajaran agama Islam dalam menekankan kepada segi

pemanfaatan bagi peserta didik di dalam kehidupan mereka sehari-hari..

Di antara beberapa upaya dan kriteria tersebut, tidak semua harus

mampu dikuasai oleh peserta didik. Tetapi dari kesadaran dan rasa tanggung

79

jawab baik secara rasional maupun fungsional sebagai seorang hamba yang

beriman, sudah barang tentu hal ini sedikit banyak bisa difahami oleh peserta

didik yang duduk di bangku kelas IV, V, dan VI. Lebih-lebih kelas VI, tentu akan

lebih mudah bagi guru yang menyampaikan pembelajaran shalat yang sesuai

dengan tuntunan syari’at Islam yang dilakukan dengan ikhlas dan khusyu’.

Tidak mudah melaksanakan sesuatu ibadah terutama shalat dengan

khusyu’ dan ikhlas siapapun orangnya apalagi masih usia sekolah dasar,

membutuhkan latihan dan pembiasaan yang dibarengi dengan kesebaran dan

keistiqamahan. Tetapi di sini peserta didik tersebut diharapkan sudah mampu

memahami dan menghayati perintah shalat itu sebagai sebuah kewajiban yang

harus dilaksanakan oleh orang Islam yang beriman sebagai wujud syukur yang

tidak terhingga kepada Allah SWT yang telah tidak terhitung memberikansegala

karunia-Nya kepada manusia terutama orang muslim.

Jadi dari sini bisa dikatakan bahwa, pendekatan pembelajarannya sudah

lebih professional dan rasional, karena secara usia dan pengetahuan serta

pengalaman keagamaan antara mereka yang masih kelas I, II dan III, dengan

peserta didik yang sudah berada di kelas IV, V, dan VI. Tanpa diawasi pun

kesadaran itu sudah mulai timbul dengan sendirinya tanpa lebih jauh

mengintervensi hak-hak peserta didik untuk lebih mengembangkan kreativitasnya

secara lebih leluasa.

Begitu pula, dalam perilaku mereka sehari-hari, berdasarkan pengakuan

dari wali murid di depan, bahwa mereka yang masih di kelas I, II dan III tersebut

relative belum mampu menghayati amalan shalat itu sebagaimana tuntunan Islam

yang benar, walaupun ada juga yang diantara mereka yang sudah mulai bisa

berperilaku ke arah tersebut, terutama yang sudah kelas III, hanya secara umum

80

mereka masih belum bisa memasuki harapan dari tujuan pelaksanaan shalat itu

sendiri.

Lain dengan peserta didik yang sudah di kelas IV, V dan VI, terutama

yang berada di kelas VI MIM Pantirejo, Sukodono, mereka sudah mampu

mengaplikasikan ajaran fiqih shalat sebagaimana tuntunan yang diajarkan oleh

Islam, di samping juga masih tidak lepas dari segala kekurangan dan kelabilan

dari perilaku mereka, secara psikologis pun masih tergolong sebagai usia-usia

yang baru mau menuju dewasa.

Semua harus dilakukan secara bertahap dan terbimbing sehingga

kelabilan tersebut bisa diarahkan kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat

untuk diri mereka serta orang lain dalam batas-batas yang mereka mampu. Apa

yang bisa dan mampu mereka apresiasikan terhadap materi pelajaran fiqih

khususnya mengenai shalat dengan melakukan ibadah shalat tersebut secara tertib

dan benar dari segala lafal bacaan dan gerakan badan, maka hal itu sudah

memenuhi lebih dari standar kompetensi pembelajaran fiqih di MIM Pantirejo,

Sukodono, apalagi bisa lebih ditingkatkan ke jenjang yang lebih actual lagi.

81

BAB V

PENUTUP

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->