P. 1
ALIRAN KEPERCAYAAN

ALIRAN KEPERCAYAAN

|Views: 3,163|Likes:
Published by Wirragaskins Wirra

More info:

Published by: Wirragaskins Wirra on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/03/2012

pdf

text

original

ALIRAN KEPERCAYAAN

Pertamakali lahirnya polemik -di tingkat nasional- sekitar aliran kepercayaan pada tahun 1967, saat opini politik negara diarahkan kepada pemberantasan PKI. Baik kaum muslimin maupun kaum gerejani sepakat untuk melarang dianutnya aliran kepercayaan, karena ia dicurigai sebagai tempat persembunyiannya para pengikut partai PKI. Mereka, oleh negara, diwajibkan memilih salah satu diantara lima agama resmi yang telah diakui di Indonesia. Dari dekrit ini, lahir polemik baru yang hingga kini masih kita rasakan dampaknya: semangat kompetitif kaum agamawan untuk menarik sebanyak mungkin pangikut aliran kepercayaan kedalam agamanya masing-masing. Kaum Muslimin kalah bersaing dengan kaum Nasrani, karena kaum Muslimin terlalu ekstrem dalam memerangi aliran kepercayaan. Makanya salah satu tokoh NU manyayangkan, bahwa arsitektur masjid di Indonesia terlalu berbau Arab, ia kurang akrab dengan budaya "abangan", sehingga kita kalah dalam berkompetisi. Pada tahun 1973, ketika undang-undang perkawinan dibicarakan kembali di parlemen, status aliran kepercayaan juga diangkat kembali. Para wakil-wakil partai Islam berhasil melarang perkawinan dengan cara yang diyakini oleh penganut aliran kepercayaan, namun pada tahun 1975, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan diizinkannya perkawinan cara 'aliran kepercayaan' di kantor catatan sipil. Dan pada tahun 1984, ketika pemerintah menerapkan "asas tunggal", keberadaan aliran kepercayaan semakin mendapatkan tempat di bumi nusantara.

1

Kementrian Agama, dalam berkompromi, hanya mampu menempatkan 'aliran kepercayaan' dibawah kementrian pendidikan dan kebudayaan. Kaum agamawan Indonesia tidak menerima diletakkannya aliran kepercayaan dibawah kementrian Agama. Sementara pada tataran teologis, dari debat di muka, dapat dibaca posisi 'aliran kepercayaan' dalam agama Islam. Menurut pandangan para ulama' ia adalah bentuk kepercayaan yang belum sempurna, atau kepercayaan yang masih dalam bentuknya yang primitif. KH. Bishri Syansuri, Rais Am NU, dalam sidang parlemen meminta agar aliran kepercayaan tidak diakui secara resmi, karena pengikutnya adalah "Musyrik". Ketika Golkar yang mendukung diakuinya aliran kepercayaan (menuju terciptanya asas tunggal) mengusulkan pemungutan suara, partai Islam (PPP), dipimpin langsung oleh KH. Bishri, melakukan walk out. Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam ajaran Islam, aliran kepercayaan tidak dapat dibenarkan secara teologis (akidati), walau dalam tinjauan HAM, kepercayaan demikian ini adalah sah-sah saja. Dalam ajaran Islam, sebagaimana dijelaskan al Qur an, telah ditentukan "tidak ada paksaan dalam agama". Adapun sikap dakwah (praksis) para ulama dapat dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama sikap purifikasi dan kedua adalah islamisasi. Sikap pertama cenderung menolak sama sekali terhadap budaya kejawen (misalnya) dan sikap kedua cenderung mengakomodir budaya "aliran" setelah melakukan improvisasi (islamisasi) terlebih dahulu. Tentu saja, kedua sikap ini ditempuh setelah terjalinnya kesepakatan akan kebatilan "aliran kepercayaan". Ketika Presiden Gus Dur berkunjung ke Kalimantan baru-baru ini, ada sebagian masyarakat di sana yang menyampaikan maksudnya agar pemerintah

2

menetapkan kepercayaan Kaharingan sebagai agama. Ketika itu Gus mengatakan, harus dipastikan dulu apakah Kaharingan itu agama ataukah sekedar aliran kepercayaan. Barangkali banyak diantara generasi muda kita yang saat ini tidak paham betul apa itu "Aliran Kepercayaan". Oleh karena itu, saya terdorong menuliskan tentang apa itu Aliran Kepercayaan. Sebenarnya sebutan "aliran kepercayaan" baru dikenal masyarakat pada tahun 1977, bersamaan dengan diajukannya Rancangan GBHN oleh Mandataris MPR. lstilah "aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa" itu ternyata nama lain dari apa yang dahulu dikenal sebagai "aliran kebatinan". Menurut apa yang bisa kita ketahui baik dari pihak "aliran kepercayaan" maupun pengertian umum, "aliran kepercayaan" merupakan suatu ajaran pandangan hidup berkepercayaan kepada Tuhan YME yang tidak bersandarkan sepenuhnya kepada ajaran agama-agama yang ada. Dengan kata lain, dalam kehidupan moralnya maupun dalam rangka "menembah kepada Tuhan" penganut paham "aliran kepercayaan" tidak berpegang ataupun tidak menganut pada suatu ajaran agama tertentu. Karena tidak menganut sesuatu ajaran agama tertentu, maka terbukalah suatu kondisi bagi para penganjur suatu gerakan "aliran kepercayaan" untuk merumuskan atau menafsirkan ajaran hidup moral dan "penembahan kepada Tuhan" sesuai dengan pendapat dan pengalaman hidupnya sendiri. Hal ini mengakibatkan berbagai gerakan kebatinan yang bernaung dalam sebutan "aliran kepercayaan kepada Tuhan YME" itu ternyata tidak mempunyai guru dan ajaran yang sama satu dengan lainnya.

3

Ajaran satu gerakan "aliran kepercayaan" yang satu akhirnya berbeda bahkan jauh bebrbeda dengan lainnya. Ada yang karena penganjurnya pernah mendalami agama lslam kemudian melahirkan suatu bentuk "aliran kepercayaan" yang mirip tasawuf atau tarekat dalam lslam. Ada pula "aliran kepercayaan" yang dalam ajarannya mencampur-adukkan pengertian ajaran lslam dengan agama Hindu dan Budha. Ada pula "aliran kepercayaan'' yang mengajarkan animisme dan tahyul. Ada pula yang akhirnya tenggelam dalam bentuk pemujaan seks, yang mebimbulkan ritual "menyembah Tuhan" yang pornografis dan sebagainya. Kita mengenal "Islam Murni", Pangestu, SUBUD, Ngelmu Sejati, "Islam Hak", dan bahkan ada yang menamakan diri "Agama Pancasila". Yang disebut "Agama Pancasila" itu muncul di desa Pamengpeuk, Bandung, yang ajarannya mengangkat lima dasar negara kita menjadi agama atau dasar kepercayaan seseorang. Tetapi sebagaimana ajaran yang tidak berpijak pada dasar yang kuat, "Agama Pancasila" sudah tidak ketahuan nasibnya. Melihat struktur dan kondisi ajaran yang tidak mempunyai pembakuan itu, maka "aliran kepercayaan" mudah disusupi atau dimunculkan pemikiranpemikiran tahyul, perdukunan, percabulan, ramalan-ramalan palsu dan

sebagainya. Untuk mengatasi kemungkinan-kemurigkinan negatif itu, pada masa Orde Lama Kejaksaan Agung membentuk Panitia Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM), guna mengawasi kegiatan "aliran kepercayaan" agar supaya tidak membahayakan kepentingan masyarakat dan negara. Menurut catatan resmi PAKEM, di Jawa Tengah terdapat 103 gerakan "aliran kepercayaan", sedangkan di Sumatera Timur terdapat 96 gerakan. Tentang

4

jumlah gerakannya mengingat struktur dan ajarannya tentu bisa bertambah atau berkurang mengingat mudah sekali seorang penganjur yang berpengaruh membangun suatu gerakan baru. Di lain pihak, gerakan lama bisa lenyap dan dilupakan apabila penganjurnya meninggal dunia dan tidak mempunyai murid yang punya cukup kharisma untuk meneruskan ajarannya. Disamping itu, tentu saja terdapat gerakan "aliran kepercayaan" yang kecil-kecil dan tidak terorganisir berupa praktek-praktek perdukunan macam-macam "orangtua" yang juga mempunyai murid-murid yang kepercayaan kepada agamanya kurang kuat. Di berbagai negara Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen atau Katholik itu, tidak seluruh penduduknya merupakan jemaat gereja yang setia.

Bahkan sekarang ini terdapat sejumlah besar penduduk yang walaupun tercatat sebagai beragama Kristen/Katholik tetapi tidak pernah datang ke gereja atau menjadi anggota jemaat gereja tertentu. Kekosongan rohani yang ditinggalkan oleh gereja ini, akhirnya diisi oleh ajaran--ajaran kerohanian yang apabila di Indonesia ini dinamakan "aliran kepercayaan". Gerakan-gerakan "aliran kepercayaan" ini tumbuh subur bagaikan jamur di musim hujan. Ajaran kerohanian seperti TM (Transcendental Meditation)

yang diajarkan oleh Maharesh-maharesh dari India mendapatkan puluhan ribu pengiikut yang fanatik. Bagi suatu negara demokratis, mengakui eksistensi suatu agama berarti bahwa negara itu mengakui agama tersebut telah membawa pengaruh yang positif

5

bagi warga-negaranya, baik ajarannya maupun way of life daripada penganutnya. Bagi suatu negara yang demokratis adalah sulit mensejajarkan suatu ajaran semacam "aliran kepercayaan" dengan agama, karena pada kenyataannya "aliran kepercayaan" tidak mempunyai ajaran atau sikap hidup tertentu bagi penganutnya. "Aliran Kepercayaan" bisa berarti ajaran tahyul, bisa ajaran moral, bisa juga

diartikan ajaran animisme. Pendeknya mengandung seribu macam ajaran, atau "ajaran seribu muka" yang berbeda satu dengan lainnya, bergantung dari siapa penganjurnya atau siapa "orangtua"-nya. Menempatkan "aliran kepercayaan" sejajar dengan agama berarti membiarkan masyarakat tenggelam dalam anarki kehidupan spiritual atau dengan perkataan lain masyarakat dianjurkan untuk hidup "semau gue" meninggalkan tatanan hidup beragama yang telah membuktikan diri dalam sejarah berhasil memajukan bangsa. Menempatkan "aliran kepercayaan" sejajar dengan agama hanyalah berarti pembodohan terhadap tata-nilai budaya dan spiritual dari masyarakat. Itu semua berarti kembali ke kondisi zaman purbakala yaitu menyamakan ajaran Nabi Ibrahim, nenek moyang agama-agama monotheisme dengan ajaran para dukundukun Kaisar Nimrod. Dengan meneliti sejarah, maka agama Hindu, Budha, Kristen, Katholik, dan

Islam, diakui oleh semua pihak telah atau pernah menghasilkan suatu peradaban dan suatu tatanan moral yang berpengaruh luas di masyarakat. Semua agama

6

besar itu telah dan pernah menjadi pendorong besar bagi kemajuan peradaban dunia. Posisi agama-agama itu bukanlah didapatkan dengan cara "semau gue'' tetapi dengan pengabdian dan pengorbanan besar dari penganut-penganutnya dalam membuktikan kebenaran ajaran agama-agama mereka. Tidaklah heran dari agama-agama besar itu muncul tokoh-tokoh sejarah yang telah memberikan suatu teladan hidup yang gemilang. Kita mengenal adanya nama "aliran kepercayaan kepada Tuhan YME" itu baru pada tahun 1977, yang kita ketahui adalah nama baru dari "alairan kebatinan". Ketika Indonesia baru saja merdeka dan UUD 1945 sedang disusun oleh pendiri negara kita, mereka tidak mengenal istilah "aliran kepercayaan". Jelas istilah itu sangat artifisial, dibuat-buat untuk mengelabui rakyat. Pada UUD 1945 terdapat hanya satu bab mengenai agama, apabila memang yang bernama "kepercayaan" itu mempunyai arti tersendiri di luar agama, tentulah

pada Bab XI tidak disebut Agama saja melainkan disebut Agama dan Kepercayaan. Barulah setelah 32 tahun Merdeka (1978) penguasa dengan sewenang-wenang mensejajarkan agama dengan kepercayaan yang di tahun 1945 tidak ada yang mengenalnya.

7

ALIRAN KEBATINAN
Aliran kebatinan menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Akibatnya, masih banyak aliran kebatinan yang mampu bertahan dalam kehidupan masyarakat modern Indonesia. Sumarah, Sapto Darmo, Pangestu, Bratakesawa, Prayana Suryadipura merupakan beberapa aliran kebatinan yang masih bertahan hingga saat ini. Selain aliran kebatinan yang tersebut, di beberapa daerah juga banyak berkembang aliran kebatinan lain yang jumlah dan pengikutnya beragam. Kebatinan berhubungan erat dengan soal batin manusia yang merupakan soal dalam, yang sangat subjektif dan sangat individual. Kebatinan yang berkembang di Indonesia lebih merupakan sistem yang sudah memiliki muatan tersendiri yang tidak mudah dipahami. Pengertian kebatinan selalu dipengaruhi sikap orang yang bersangkutan terhadap kebatinan, menerima atau menolak. Di Kabupaten Ponorogo, masih dijumpai Aliran Kebatinan "Perjalanan". Aliran kebatinan ini muncul pada tahun 1927 yang dipelopori oleh Mei Kartawinata. Mei Kartawinata adalah seorang keturunan dari Raja Majapahit yang mendapat wangsit untuk menyebarkan ajaran kebatinan Perjalanan. Dalam waktu satu tahun Mei Kartawinata berhasil menyebarkan ajarannya ke seluruh daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dibanding dengan aliran kebatinan pada umumnya, kebatinan Perjalanan memiliki beberapa keunikan. Pertama, aliran

8

kebatinan Perjalanan mempunyai pedoman hidup sejarah diri dan dalam kehidupan bernegara yang harus sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 dan tidak boleh menyimpang dari dua dasar tersebut. Kedua, aliran kebatinan Perjalanan tidak mempunyai kitab seperti aliran kebatinan lainnya, misalnya kebatinan Pangestu memakai kitab Sasangko Jati, dan Sapto Darmo menggunakan Kitab Cendro. Aliran Kebatinan "Perjalanan" meyakini bahwa setiap manusia adalah kitab yang ditulis oleh Tuhan. Kebatinan "Perjalanan" berkembang pesat di Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini menyangkut (1) Bagaimana cara menjaga kemurnian ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, (2) Bagaimana cara penyampaian ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, (3) Bagaimana makna pendidikan dalam Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) Mendeskripsikan cara menjaga kemurnian ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, (2) Mendeskripsikan cara

penyampaian ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo, (3) Mendeskripsikan makna pendidikan dalam Aliran Kebatinan "Perjalanan" di Desa Purwosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan kualitatif. Deskriptif diartikan sebagai usaha mencatat, melukiskan, menguraikan

9

dan melaporkan tentang buah pikiran, sikap tindak dan perilaku manusia yang menyangkut agama atau religi dalam kenyataan yang implisit. Sedangkan data yang diperoleh menggunakan sumber lisan melalui wawancara dengan pelaku. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kemurnian ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" dijaga melalui interaksi langsung antara pengikut lama (sesepuh) dan pengikut baru melalui percakapan pergaulan informal, temuwicara, maupun sarasehan. Setelah terbentuk kelembagaan organisasi, upaya menjaga kemurnian ajaran aliran kebatinan dituangkan menjadi Pedoman yang disusun dengan tujuan utama untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya pandangan yang keliru tentang aliran kebatinan tersebut. (2) Pengajaran yang dilakukan mengacu pada sistem keluarga, nilai-nilai dalam keluarga tersebut akan disampaikan sebagai warisan bagi generasi berikutnya. Serasian digunakan sebagai cara penyampaian ajaran. Serasian merupakan metode penyampaian ajaran yang dirasa efektif dan efisien dan tetap dipertahankan hingga sekarang. (3) Makna pendidikan yang terkandung dalam Aliran Kebatinan "Perjalanan" mengarah kepada pembentukan moral yang menjadi watak khas dan karakter. Berkaitan dengan metode penyampaian ajaran yang bersifat

kekeluargaan, maka nilai-nilai pendidikan juga merefleksikan nilai pendidikan keluarga yang bersifat turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berdasarkan keseluruhan penelitian hingga tahap penyimpulan, saran yang dapat penulis ajukan adalah sebagai berikut (1) Untuk menjaga eksistensinya, Aliran Kebatinan "Perjalanan" sebaiknya turut berkembang dengan memanfaatkan penggunaan media teknologi untuk berkomunikasi antar pengikut dalam konteks

10

pendidikan dan pengajaran. (2) Peneliti lain sebaiknya menghubungi para informan yang telah dijadikan subjek penelitian ini. Sebagai masukan untuk fokus penelitian dengan sudut pandang yang lain, peneliti dapat menyertakan tentang praktek ajaran Aliran Kebatinan "Perjalanan" dalam kehidupan sehari hari, baik dalam lingkungan bermasyarakat modern seperti sekarang ini maupun relevansinya terhadap lingkungan kerja.

11

DAFTAR PUSTAKA
http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/035.shtml http://nurulhuda.wordpress.com/2006/11/28/aliran-kepercayaanagama-budaya/ http://www.scribd.com/doc/17484403/Aliran-Kebatinan-Di-Indonesia http://www.mail-archive.com/mediadakwah@yahoogroups.com/msg10707.html http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/sejarah/article/view/1386

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->