P. 1
eksistensialisme

eksistensialisme

|Views: 4,900|Likes:
Published by Siska Febri

More info:

Published by: Siska Febri on Jun 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

Latar Belakang

Filsafat adalah pikiran yang dilakukan, biasanya berupa pertanyaan kepada diri sendiri, demi memdapatkan kebijaksanaan, akar dari pemikiran tersebut. Metode kerja filsafat adalah mengajukan pertanyaan dan mengupasnya secara mendalam. Filsafat manusia merupakan bagian dari filsafat yang mengupas hakikat manusia. Filsafat manusia mempelajari inti dan gejala dari manusia itu sendiri. Para filosof semenjak ribuan tahun yang lalu bertanya apakah manusia itu, darimana datangnya manusia dan apa takdir yang dimiliki manusia. Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia adalah makhluk yang mempunyai kemampuan dan hak istimewa yang lebih daripada makhluk hidup lainnya serta memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk mencari tahu sedalam-dalamnya semua hal tentang manusia itu sendiri. Filsafat manusia menganggap bahwa watak manusia merupakan kumpulan corak yang khas atau rangkaian bentuk yang dinamis dan khas yang terdapat pada manusia. Filsafat Manusia secara umum bertujuan menyelidiki, menginterpretasi dan memahami gejala-gejala atau ekspresi-ekspresi manusia sebagaimana pula halnya dengan ilmu-ilmu tentang manusia (human studies). Adapun secara spesifik bermaksud memahami hakikat atau esensi manusia. Jadi, mempelajari filsafat manusia sejatinya adalah upaya untuk mencari dan menemukan jawaban tentang siapakah sesungguhnya manusia itu. Obyek kajiannya tidak terbatas pada gejala empiris yang bersifat observasional dan atau eksperimental, tetapi menerobos lebih jauh hingga kepada gejala apapun tentang manusia selama bisa atau memungkinkan untuk dipikirkan secara rasional. Terdapat beberapa aliran dalam filsafat manusia. Beberapa diantaranya adalah materialisme, idealisme, dualisme, eksistensialisme, dam strukturalisme. Dalam makalah ini, penulis akan membahas eksistensialisme dimana juga ikut mempengaruhi psikologi. Bagaimana eksistensialisme dalam memandang kedudukan manusia? Apa peranan eksistensialisme dalam kehidupan manusia saat ini? Apakah keunggulan eksistensialisme dibandingkan aliranaliran lainnya? Apakah ada kelemahannya?

I.

PENGERTIAN
Scribd | feika_5

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar. Berdasarkan etimologis, eksistensialisme berarti berdiri atau berada di (ke) luar. ³eks´ berarti ke (di) luar dan (s)istens berarti menempatkan atau berdiri. (Sutardjo, 2009, hal 80) Menurut Wikipedia, eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Existentialism is a 20th century philosophy concerned with human existence, finding self, and the meaning of life through free will, choice, and personal responsibility. The belief that people are searching to find out who and what they are throughout life as they make choices based on their experiences, beliefs, and outlook without the help of laws, ethnic rules, or traditions - Eksistensialisme adalah aliran filsafat abad ke-20 berkaitan dengan keberadaan manusia, menemukan diri sendiri, dan makna hidup melalui kehendak yang bebas, pilihan, dan tanggung jawab pribadi. Keyakinan orang-orang mencari untuk mengetahui siapa dan apa mereka sepanjang hidup mereka membuat mereka menentukan pilihan berdasarkan pengalaman mereka, keyakinan, dan pandangan tanpa bantuan hukum, peraturan etnis, atau tradisi. (http://www.allaboutphilosophy.org/existentialism-definition-faq.htm) Menurut Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi. dalam bukunya Pengantar Filsafat (2009), eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya. Menurut beliau lebih lanjut, eksistensialisme merupakan cara manusia berada atau lebih tepat mengada dan eksistensi ini hanya berlaku pada manusia. Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Umum(2000), eksistensialisme merupakan aliran dalam filsafat yang menunjukkan cara beradanya manusia di bumi yang
Scribd | feika_5

lahir sebagai reaksi terhadap materialisme, idealisme, dan situasi dunia pada umumnya yang tidak menentu. Soren Aabye Kiekeegaard Inti pemikirannya adalah eksistensi manusia bukanlah sesuatu yang statis tetapi senantiasa menjadi, manusia selalu bergerak dari kemungkinan menuju suatu kenyataan, dari cita-cita menuju kenyataan hidup saat ini. Jadi ditekankan harus ada keberanian dari manusia untuk mewujudkan apa yang ia cita-citakan atau apa yang ia anggap kemungkinan. Friedrich Nietzsche Menurutnya masuai yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri. Karl Jaspers Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi. Martin Heidegger Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda0benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka. Jean Paul Sartre Menekankan pada kebebasan manusia, manusia setelah diciptakan mempunyai kebebasan untuk menetukan dan mengatur dirinya. Konsep manusia yang bereksistensi adalah makhluk yang hidup dan berada dengan sadar dan bebas bagi diri sendiri
Scribd | feika_5

Berdasarkan definisi-definisi di atas serta pemahaman saya, saya mengartikan eksistensialisme sebagai salah satu aliran filsafat yang menekankan cara keberadaan manusia itu di dunia yang dihadirkan melalui kebebasan manusia yang bertanggung jawab terhadap kemauan individu yang bebas tanpa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah secara mendalam.

II.

SEJARAH EKSISTENSIALISME DAN PERKEMBANGANNYA

SEJARAH KELAHIRAN EKSISTENSIALISME Istilah eksistensialisme pertama kali digunakan oleh ahli filsafat Jerman yaitu Martin Heidegger (1889-1976). Akar metodelogi eksistensialisme ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Eksistensialisme lahir karena ketidakpuasan beberapa filosof terhadap filsafat pada masa Yunani hingga modern, seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan spekulatif tentang manusia. Intinya adalah penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik dan jauh dari kehidupan, juga pemberontakan terhadap alam yang impersonal yang memandang manu terbelenggu sia dengan aktivitas teknologi yang membuat manusia kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi. Eksistensialisme merupakan gerakan filosofis yang muncul di Jerman setelah perang dunia I dan berkembang di Perancis setelah perang dunia II. Bermula dari reaksi terhadap esensialisme Hegel, yang memandang bahwa konstruksi dipahami sebagai suatu lintasan dari sesuatu yang tidak eksis (No existence, not being) kepada µsesuatu yang eksis¶. Kierkegaard menentang pandangan tersebut dengan menyatakan tentang kebenaran subjektif, yaitu suatu bentuk penegasan keunikan dan sesuatu yang konkrit dan nyata sebagai sesuatu yang berlawanan dengan yang abstrak. Konsep tersebut merupakan perlawanan terhadap usaha untuk mengkonstruksi gambaran tentang dunia dengan memakai konsep kecukupan intelek pada dirinya sendiri. Apa pun yang eksis menjadi sesuatu yang dihadapi secara yakin sebagai sesuatu yang lebih aktual dibanding dengan sesuatu yang dipikirkan.
Scribd | feika_5

Eksistensialisme muncul sebagai reaksi terhadap pandangan materialisme. Paham materialisme ini memandang bahwa pada akhirnya manusia itu adalah benda, layaknya batu atau kayu, meski tidak secara eksplisit. Materialisme menganggap hakekat manusia itu hanyalah sesuatu yang material, betul-betul materi. Materialisme menganggap bahwa dari segi keberadaannya manusia sama saja dengan benda-benda lainnya, sementara eksistensialisme yakin bahwa cara berada manusia dengan benda lain itu tidaklah sama. Manusia dan benda lainnya sama-sama berada di dunia, tapi manusia itu mengalami beradanya dia di dunia, dengan kata lain manusia menyadari dirinya ada di dunia. Eksistensialisme menempatkan manusia sebagai subjek, artinya sebagai yang menyadari, sedangkan benda-benda yang disadarinya adalah objek. Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Idealisme dan materialisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakekat yang ekstrim. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek, dan hal ini dilebih -lebihkan pula oleh paham idealisme yang menganggap tidak ada benda lain selain pikiran. Idealisme memandang manusia hanya sebagai subjek, dan materialisme memandangnya sebagai objek. Maka muncullah eksistensialisme sebagai jalan keluar dari kedua paham tersebut, yang menempatkan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Manusia sebagai tema sentral dalam pemikiran. Munculnya eksistensialisme juga didorong oleh situasi dunia secara umum, terutama dunia Eropa barat. Pada waktu itu kondisi dunia pada umumnya tidak menentu akibat perang. Di mana-mana terjadi krisis nilai. Manusia menjadi orang yang gelisah, merasa eksistensinya terancam oleh ulahnya sendiri. Manusia melupakan individualitasnya. Dari sanalah para filosof berpikir dan mengharap adanya pegangan yang dapat mengeluarkan manusia dari krisis tersebut. Dari proses itulah lahir eksistensialisme. Kierkegaard seorang pemikir Denmark yang merupakan filsuf Eksistensialisme yang terkenal abad 19 berpendapat bahwa manusia dapat menemukan arti hidup sesungguhnya jika ia menghubungkan dirinya sendiri dengan sesuatu yang tidak terbatas dan merenungkan hidupnya untuk melakukan hal tersebut, walaupun dirinya memiliki keterbatasan untuk melakukan itu. Filsafatnya untuk menjawab pertanyaan mengenai ³Bagaimanakah aku menjadi seorang individu?´ Ia juga menganut prinsip Socrates yang mengatakan bahwa
Scribd | feika_5

´pengetahuan akan diri adalah pengetahuan akan Tuhan´ . Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensialisme (manusia melupakan individualitasnya), sehingga manusia bisa menjadi manusia yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Jean-Paul Sartre, filsuf lain dari Eksistensialisme berpendapat eksistensi mendahului esensi, manusia adalah mahkluk eksistensi, memahami dirinya dan bergumul di dalam dunia. Tidak ada alam manusia, karena itu tidak ada Tuhan yang memiliki tentang konsepsi itu. Jean -paul Sartre kemudian menyimpulkan bahwa manusia tidak memiliki suatu apapun, namun dia dapat membuat sesuatu bagi dirinya sendiri. Neitzche, juga filosof Jerman (1844-1900) yang tujuan filsafatnya menjawab pertanyaan ´ Bagaimana menjadi manusia unggul?´ dan jawabannya adalah manusia bisa menjadi manusia unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.Kedua tokoh diatas muncul karena adanya perang dunia pertama dan situasi Eropa pada saat itu, sehingga mereka tampil untuk menjawab pandangan tentang manusia seperti yang sudah dijelaskan diatas. Disamping itu penyebab munculnya filsafat eksistensialisme ini yaitu adanya reaksi terhadap filsafat materialisme Marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatu yang primer dan idealisme Hegel yang bertolak bahwa eksistensi manusia sebagai yang konkret dan subjektif karena mereka hanya memandang manusia menurut materi atau ide dalam rumusan dan system-sistem umum (kolektivitas sosial). PERKEMBANGAN EKSISTENSIALISME SETELAH TAHUN 1980-AN Dalam budaya masa lalu, aliran eksistensialisme berkembang dengan sangat baik terutama setelah perang dunia kedua dimana banyak penulis Amerika termasuk wartawan berbondongbondong datang mencari filosof eksistensialisme untuk menganut aliran tersebut. Hal ini dikarenakan norma baru yang diperkenalkan dalam aliran ini dan keasliannya. Lalu bagaimana perkembangan eksistensialisme setelah 65 tahun berakhirnya perang dunia kedua? Kumpulan penganut Filsafat Fenomenologi dan Eksistensialisme dimana mereka juga mendukung teori Heidegger, Sartre, Merleau-Ponty, Jaspers, Beauvoir, dan para filosof Eksistensialisme lainnya menyediakan forum baik untuk berbagi sejarah maupun karya
Scribd | feika_5

ilmiah sering berbagi perkembangan teori baru yang memiliki keterkaitan dengan teori-teori yang telah ada seperti strukturalisme, dekonstruksi, hermeneutika, dan feminisme. Dalam studi yang dilakukan Judith Butler (1990) mengenai gender memperlihatkan bahwa terdapat eksistensial sebagaimana Lewis Gordon (1995) juga temukan dalam teori ras. Ketertarikan dalam konsep identitas diri, misalnya dalam karya Charles Taylo (1999), Paul Ricoeur, David Carr (1986), atau Charles Guignon memiliki konsep yang sama dengan eksistensial menurut Hegelian serta kritik rasionalismenya. Hubert Dreyfus (1979) mengembangkan suatu kritik berpengaruh dari program Inteligensi Buatan yang pada dasarnya didasarkan pada ide eksistensialis terutama yang dicetuskan oleh Heidegger dan Merleau-Ponty bahwa dunia manusia, dunia makna, harus dipahami sebagai fungsi yang diwujudkan ke dalam bentuk praktik dan tidak dapat dipresentasikan sebagai sistem logika yang terstruktur. Disebut sebagai eksistensialisme baru, John Haugeland (1998) telah mengeksplorasi peran dari eksistensi pada praktik ilmiah sebagai pengecek kebenaran. Sementara itu, Michael Gelven (1990, 1997) dalam serangkaian bukunya merefleksikan jarak antara eksistensi, moral, dan epistemologi; menunjukkan bagaimana standar yang sesuai untuk setiap jalin menjalin tanpa mengurangi satu apapun. Selain itu kebangkitan minat pada psikologi moral, membuat banyak penulis menanyakan tentang identitas diri dan tanggung jawab karena memilikih suatu hal yang merupakan suatu eksistensi dimana Christine Korsgaard (1996) menarik krusial untuk gagasan tentang " penciptaan diri "dan" praktis identitakal "; Richard Moran (2001) menekankan hubungan pengakuan diri sendiri dan perspektif orang pertama kali berkenalan dengan cara yang sebagian berasal dari Sartre, dan Thomas Nagel yang telah mengikuti garis eksistensialis dalam menghubungkan makna kesadaran kematian. Setelah bertahun-tahun berada dan berkembang di luar Perancis, eksistensialisme kembali diingat terkait pekerjaan yang melibatkan lebih banyak pikiran. Misalnya Foucault yang memiliki konsep kebebasan dan eksplorasi tentang ³perawatan diri´, mengadakan debat tentang eksistensialisme seperti halnya karya baru Derrida tentang agama tanpa Tuhan dan refleksinya tentang konsep mati, pilihan, dan tanggung jawab.
Scribd | feika_5

Dalam buku yang dikarang oleh Cooper (1999) dan Alan Schrift (1995) menunjukkan bahwa menjaga aliran filsafat eksistensialisme merupakan agenda penting yang mesti dilakukan. Dalam beberapa hal, eksistensialisme terkenal karena adanya perubahan dalam kebudayaan yang telah ada dan menghambat penerimaan filosofinya. Inilah hal yang menarik tentang eksistensialisme. Ketika kita menganggap kita sedang belajar filsafat maka sesungguhnya kita masih harus belajar eksistensialisme yang masih berada di depan. III. TOKOH-TOKOH EKSISTENSIALISME 1. Soren Aabye Kiekegaard Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan makanan. Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi gurunya di sana. Ada banyak tragedi yang di sekitar pria yang juga menguasai bahasa Latin, bahasa Yunani, sejarah, matematika, sains, dan filsafat ini. Tragedi pertama menyangkut ayahnya yang merasa tidak pernah lepas dari dosa mengutuk Tuhan. Hidupnya juga menyimpan skandal dengan pembantu rumah tangganya yang kemudian menjadi istri keduanya. Lalu, saudara-saudara Kierkegaard banyak yang meninggal ketika masih begitu muda. Dua kakaknya, satu lelaki dan satu perempuan, meninggal sebelum ia berusia sembilan tahun. Tiga kakaknya yang lain, dua perempuan dan satu lelaki, meninggal sebelum ia berusia 21 tahun. Kakak tertuanya, Peter, akhirnya memilih hidup sebagai seorang uskup. Kierkegaard sendiri tidak pernah menikah seumur hidupnya. Ia membatalkan pertunangannya dengan Regina Olsen. Meski demikian, talentanya yang luar biasa sudah muncul ketika menuliskan Journals, salah satu karya terbaiknya yang pernah diterbitkan. Salah satu karya Kierkegaard yang tajam dihasilkannya menjelang akhir hayatnya. Peter Vardy, seorang dosen Filsafat Agama di Heythrope College, University of London, menganggap tulisantulisan Kierkegaard yang dikumpulkan dalam buku Attack upon Christendom merupakan kecaman paling keras yang pernah ditulis. Setidaknya, sepuluh artikel termuat di

Scribd | feika_5

dalamnya sebagai kritik terhadap gereja yang dianggap Kierkegaard sudah melenceng dari hakikat gereja yang semestinya. Kecaman Kierkegaard tersebut dipicu oleh pernyataan Profesor Martensen dalam pemakaman Uskup Mynster yang dinilainya sebagai upaya menarik perhatian masyarakat guna mendapatkan posisi sebagai uskup. Kecamannya ini semula ditujukan bagi Martensen, namun berkembang menjadi kritik terhadap seluruh gereja. Dalam kecaman tersebut, Kierkegaard menganggap para imam dan gereja tidak lagi mewartakan Injil Kristus, tetapi mewartakan pesan kemapanan dan kegembiraan. Gereja justru memberikan rasa aman, penghargaan, dan kedudukan dalam masyarakat. Ia melihat gereja sudah mempermainkan Allah dengan memberitakan sesuatu yang menyimpang dari kekristenan Perjanjian Baru (PB). Kierkegaard banyak menghasilkan karya tulis di sepanjang hidupnya. Meskipun pada mulanya berbagai tulisannya tidak terlalu diperhatikan, pada masa-masa berikutnya, karya-karyanya tersebut memengaruhi banyak tokoh lain. Sebut saja Heidegger, Sartre, bahkan para teolog abad dua puluh seperti Karl Barth, Rudolf Bultmann, Paul Tillich, dan Dietriech Bonhoeffer. Meskipun melancarkan kritik yang sangat keras terhadap gereja, ia tetap berkunjung ke gereja. Tidak untuk menghadiri ibadah. Ia hanya duduk di luar gereja dengan tenang pada hari Minggu. Ketika ia hendak pulang ke rumah dengan uang terakhir yang dimilikinya, Kierkegaard terjatuh tak sadarkan diri. Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal lima minggu kemudian. Ia meninggal pada tanggal 11 November 1855. Pemakaman Kierkegaard tidak dihadiri oleh pendeta manapun. Hanya dua orang penting dalam hidupnya, Kierkegaard, Peter, saudara laki-lakinya yang telah menjadi uskup, dan dekan dari sebuah katedral. Pada dasarnya, karya-karya Kierkegaard dapat dikelompokkan dalam dua periode. Periode pertama ditulis antara 1841 dan 1845. Sebagian besar bernuansa filosofis dan estetis, beberapa ditulis dalam nama samaran, Johannes Climacus. Karya-karya dalam periode ini ialah The Concept of Irony with Constant Reference to Socrates (1841), Either/Or (1843), Fear and Trembling (1842), The Concept of Dread (1844), Stages on Life's Way (1844), Philosophical Fragments(1844), Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments (1846), dan sejumlah Edifying Discourses. Periode kedua dalam kepenulisannya lebih ditekankan pada kekristenan. Pada masa ini, tulisan-tulisannya banyak ditujukan pada gereja. Karya-karya yang ia hasilkan pada
Scribd | feika_5

masa ini ialah Works of Love (1847), Christian Discourses (1848), dan Training in Christianity (1850). Sementara itu, Journal terus ia tulis sampai akhir hayatnya. Berikut ringkasan sejumlah karyanya.
y

Either/Or (Enten/Eller) ± 1843 Buku ini terdiri dari dua bagian yang mempertentangkan pandangan hidup yang estetis dengan yang etis. Karya yang panjang ini menampilkan catatan -catatan pribadi, esai-esai dan percobaan-percobaan psikologis untuk menggoda ahli estetika serta serangkaian surat yang ditulis seorang hakim kepada ahli estetika yang menyanjung sisi positif pernikahan dan kehidupan etis. Struktur dialektis karya ini tidak memberikan penyelesaian, atau "sintesis" dalam konsep Hegelian , untuk dua pandangan hidup yang bertentangan. Karya ini berfungsi baik sebagai kritik maupun parodi terhadap filsafat Hegelian. Fear and Trembling (Frygt og Baeven) ± 1844 Mengambil contoh pegorbanan Ishak oleh Abraham untuk menyelidiki penundaan etika teleologi (ajaran atau kepercayaan bahwa segala tindakan disebabkan karena adanya tujuan yang ingin dicapai). Hal ini merupakan kebutuhan akan ketaatan mutlak terhadap perintah Allah meskipun perintah itu tidak masuk akal atau tidak bermoral. Philosophical Fragments (Philosophiske Smuler) - 1844 Melalui karya ini, Kierkegaard memerinci elemen subjektif yang diperlukan dalam mendapatkan pengetahuan dengan menelusuri doktrin inkarnasi dan apakah kebahagiaan abadi dapat didasarkan pada peristiwa sejarah. Concluding Unscientific Postscript (Afsluttende uvidenskabelig Efterskrift) ± 1845 Sambungan Philosophical Fragments yang berpendapat bahwa semua kebenaran harus secara subjektif cocok dan tidak ada jaminan adanya pengetahuan objektif. Kierkegaard mengangkat Kristus, tokoh yang penuh paradoks, yang adalah manusia dan Allah. Ia menekankan bahwa hal ini tidak dapat dipahami secara logis (sebagaimana dalam sintesa Hegel. Seseorang hanya bisa memiliki sebuah komitmen yang subjektif yang sungguh-sungguh terhadap kepercayaan ini atau kepercayaan lain. Works Of Love (Kjerlighedens Gjerninger) ± 1846
Scribd | feika_5

y

y

y

y

Sebuah esei yang meneliti perintah "Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri'. Karya itu menekankan kualitas cinta yang tak terlukiskan, meneliti siapakah 'sesama' dan bagaimana cinta sejati (tidak egois) hanya mungkin didapat jika kita mengenal Tuhan dan menjadi wujud alami iman.
y

Practice in Christianity (Indøvelse I Christendom) ± 1850 Karya ini merupakan serangan yang murni dilancarkan Kierkega ard, ditujukan kepada gereja mapan yang mencoba meminimalisir serangan dalam rangka melayani dunia. Melalui karya ini, ia hendak memperkenalkan kembali kekristenan PB kepada dunia Kristen. The Changelessness of God: A Discourse (Guds Uforanderlighed. En Tale) 1855 Karya yang didasarkan pada khotbah tentang Yakobus 1:17 ini memuji ketetapan Tuhan dan mendorong pembaca untuk mengikut Dia. Tapi pembaca juga diingatkan untuk berhati-hati dalam bertindak karena mereka akan diadili oleh Tuhan dengan ketetapan tak tergoyahkan yang sama.

y

Menurut Kierkegaard, ada 3 tahap eksistenis manusia, yakni:
y

Tahap estetis Tahap dimana orientasi hidup manusia sepenuhnya diarahkan untuk mendapatkan kesenangan. Pada tahap ini, manusia dikuasai oleh naluri seksual (libido), prinsip kesenangan yang hedonistik, dan bertindak menurut suasana hati (mood). Tahap etis Tahap dimana manusia bertobat dari pola hidup yang estetis. Pada tahap ini, manusia mulai menerima kebajikan moral, mengikatkan diri kepadanya, menerima dan menghayati nilai kemanusian yang bersifat universal, serta membuang jauh-jauh prinsip hedonisme (kesenangan). Tahap religius Tahap ini merupakan tahap tersulit yang akan dialami oleh manusia yang hendak melanjutkan dari tahap etis. Hal ini dikarenakan tahap religius didasari pemikiran yang subjektivitas transeden tanpa rasionalisasi dan tanpa ikatan yang bersifat duniawi atau mundane. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, diantaranya adalah kesulitan untuk lebur dalam kuasa Tuhan dan kecemasan yang mencekam dan menggetarkan.
Scribd | feika_5

y

y

2. Karl Jaspers Karl Jaspers lahir di kota Oldenburg, Jerman Utara, pada tahun 1883. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur bank. Sejak sekolah menengah, ia sudah tertarik pada filsafat, tetapi baru pada usia 38 tahun ia dapat sepenuhnya memenuhi panggilan filosofisnya. Selama tiga semester ia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan Munchen, tetapi ia mengubah haluan dengan memilih studi kedokteran yang dijalankan di Berlin, Gottingen dan Heidelberg. Di Universitas Heidelberg ia mengambil spesialiasi psikiatri. Tetapi ia tetap tertarik dengan filsafat, antara lain melalui Max Weber, ahli ekonomi, sejarawan dan sosiolog terkenal yang dikaguminya. Jaspers menulis buku Allgemeine Psychopathologie(Psikologi umum) pada tahun 1910. Di buku ini, ia tidak melukiskan penyakit-penyakit, tetapi menyoroti manusia yang sakit. Ia menggunakan metode deskripsi fenomenologis Husserl. Pada 1916 ia menjadi profesor psikologi di Heidelberg. Lalu pada 1919 ia menulis buku Psychologie der Weltanschauungen (Psikologi Tentang Pandangan-Pandangan Dunia). Di buku ini, ia melukiskan berbagai sikap yang diambil manusia terhadap kehidupan. Dua buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater dan menunjukkan betapa kentalnya ketertarikan Karl Jaspers pada filsafat. Karl Jaspers mencurahkan seluruh perhatiannya pada filsafat mulai tahun 1921, setelah ia menerima gelar profesorat filsafat di Heidelberg. Ada yang tak setuju dengan pemberian gelar ini, sebab ia dianggap bukan filsuf profesional. Namun, setelah menerima gelar penghargaan itu, ia menulis banyak sekali karya, antara lain karya besar yang terdiri dari tiga jilid, Philosophie (1932). Jilid I berjudul Weltorientierung (Orientasi Dalam Dunia), jilid II berjudul Existenzerhellung (Penerangan Eksistensi), dan jilid III Metaphysik (Metafisika). Pada tahun 1948, ia pindah ke Swiss dan menjadi profesor di Universitas Basel sampai 1961. Ia mendapat kewarganegaraan Swiss pada 1967 dan tetap tinggal di sana. Karl Jaspers meninggal di Basel pada 1969. Beberapa filsuf besar yang mempengaruhi Karl Jaspers adalah Immanuel Kant, Kierkegaard, Nietzsche dan tentu saja Max Weber. Filsafat Jasper dikenal sebagai ³filsafat eksistensi´, nama yang dipakai Jaspers sendiri sebagai judul salah satu bukunya: Existenzphilosophie (1938). Banyak orang menilai buku ini merupakan perkembangan dari gagasan Karl Jaspers yang sudah dituangkan dalam buku Philosophie. Bagian paling sentral dari buku Philosophie ini adalah Jilid II,
Scribd | feika_5

yakni Penerangan Eksistensi. Katanya, dengan menerangi eksistensi, kita mencapai inti ³aku´. Dengan menerangi eksistensi, si penanya dapat masuk pada dirinya sendiri. Cara pengenalan yang lain hanya membuat subyek menjadi obyek belaka dan karena itu tidak pernah mencapai aku yang sebenarnya. Bagi Karl Jaspers, eksistensi inilah yang paling berharga dan paling otentik dalam diri manusia. Eksistensi adalah aku yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak obyektif. Eksistensi itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan baru, terbuka bagi pengalaman-pengalaman baru. Eksistensi dapat dihayati, dapat diterangi melalui refleksi filsosofis dan dapat dikomunikasikan dengan orang lain. Dalam hidup konkrit, manusia tidak pernah lepas dari situasi-stuasi tertentu. Hidup dan bertindak sebagai manusia memang berarti mengubah dan menciptakan situasisituasi. Tetapi betapapun besar perubahan yang kita jalankan, selalu tinggal bahwa kita terikat pada situasi-situasi. Bahwa kita berada dalam situasi-situasi yang tak bisa ditiadakan. Hal itu merupakan suatu ³situasi batas´. Situasi yang tidak bisa dihindari. ³Situasi batas´ yang dimaksudkan Karl Jaspers adalah pengalaman seperti kematian, kesengsaraan, perjuangan, kebersalahan, ketergantungan pada nasib, dan sejenisnya. Di antara semua situasi batas ini, yang paling dramatis adalah kematian. Situasi batas kematian ini dialami secara konkrit pada kematian orang yang kita cintai serta kematian kita sendiri yang semakin mendekat. Kematian mengakibatkan rasa takut, tetapi sekaligus juga menyempurnakan eksistensi. Sebab keinsyafan akan kematian akan mendesak kita untuk hidup otentik. Keinsyafan terhadap kematian akan memberi kita keberanian dan integritas. Oleh karenanya manusia dapat memperoleh suatu pandangan otentik tentang hal-hal yang paling penting dalam hidup. Yang juga menarik dari pemikiran Karl Jaspers adalah pandangannya tentang Tuhan dan agama. Ia menolak teisme, panteisme, agama yang diwahyukan, dan juga ateisme. Ia menolak agama yang diwahyukan karena baginya tidak mungkin Tuhan berbicara dengan menggunakan bahasa manusia. Semua pendapat (mungkin maksudnya yang ada di Kitab Suci) hanya merupakan simbol-simbol (chiffren) yang melambangkan aspek-aspek ketuhanan, tetapi kita keliru jika kita memahaminya secara harafiah. Menurut Karl Jasper, terdapat sejumlah keyakinan dasar yang tidak dapat dibuktikan, tetapi harus diterima begitu saja. Antara lain bahwa di luar dunia ini terdapat Transendensi. Tetapi hal ini bukanlah kebenaran yang dapat dibuktikan, sebab pembuktian hanya mungkin di bidang ilmu pengetahuan.
Scribd | feika_5

3. Martin Heidegger Martin Hiedegger (lahir di Meßkirch, Jerman, 26 September 1889 ± meninggal 26 Mei 1976 pada umur 86 tahun) merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari ³being´. Heidegger berpendapat bahwa ³Das Wesen des Daseins liegt in seiner Existenz´, adanya keberadaan itu terletak pada eksistensinya. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama sebagai ³being´ ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang ³being´ biasa disebut sebagai eksistensi manusia (Dasein). Dasein adalah tersusun dari da dan sein. ³Da´ disana (there), ³sein´ berarti berada (to be/being). Artinya manusia sadar dengan tempatnya. Ia belajar di Universitas Freiburg di bawah Edmund Husserl, penggagas fenomenologi, dan kemudian menjadi profesor di sana 1928. Ia mempengaruhi banyak filsuf lainnya, dan murid-muridnya termasuk Hans-Georg Gadamer, Hans Jonas, Emmanuel Levinas, Hannah Arendt, Leo Strauss, Xavier Zubiri dan Karl Löwith. Maurice Merleau-Ponty, Jean-Paul Sartre, Jacques Derrida, Michel Foucault, Jean-Luc Nancy, dan Philippe Lacoue-Labarthe juga mempelajari tulisan-tulisannya dengan mendalam. Selain hubungannya dengan fenomenologi, Heidegger dianggap mempunyai pengaruh yang besar atau tidak dapat diabaikan terhadap eksistentialisme, dekonstruksi, hermeneutika dan pasca-modernisme. Ia berusaha mengalihkan filsafat Barat dari pertanyaan-pertanyaan metafisis dan epistemologis ke arah pertanyaan-pertanyaan ontologis, artinya, pertanyaan-pertanyaan menyangkut makna keberadaan, atau apa artinya bagi manusia untuk berada. Heidegger juga merupakan anggota akademik yang penting dari Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei. Heidegger mulanya adalah seorang pengikut fenomenologi. Secara sederhana, kaum fenomenolog menghampiri filsafat dengan berusaha memahami pengalaman tanpa diperantarai oleh pengetahuan sebelumnya dan asumsi-asumsi teoretis abstrak. Edmund Husserl adalah pendiri dan tokoh utama aliran ini, sementara Heidegger adalah mahasiswanya dan hal inilah yang meyakinkan Heidegger untuk menjadi seorang fenomenolog. Heidegger menjadi tertarik akan pertanyaan tentang "Ada" (atau apa
Scribd | feika_5

artinya "berada"). Karyanya yang terkenal Being and Time (Ada dan Waktu) dicirikan sebagai sebuah ontologi fenomenologis. Gagasan tentang Ada berasal dari Parmenides dan secara tradisional merupakan salah satu pemikiran utama dari filsafat Barat. Persoalan tentang keberadaan dihidupkan kembali oleh Heidegger setelah memudar karena pengaruh tradisi metafisika dari Plato hingga Descartes, dan belakangan ini pada Masa Pencerahan. Heidegger berusaha mendasarkan Ada di dalam waktu, dan dengan demikian menemukan hakikat atau makna yang sesungguhnya dalam artian kemampuannya untuk kita pahami. Karya terpenting Heidegger adalah Being and Time (German Sein und Zeit, 1927). Meskipun karya yang terbit hanyalah sepertiga dari total rencana keseluruhan sebagaimana tampak dalam pengantarnya namun karya ini menunjukkan satu titik balik dalam filsafat kontinental. Karya ini berpengaruh besar dan luas serta masih menjadi salah satu karya yang paling banyak dibicarakan pada abad ke-20. Banyak paham filsafat, seperti eksistensialisme dan dekonstruksi, yang berhutang banyak pada Being and Time. Buku Being and Time memiliki dua proyek dasar. Yang pertama adalah proyek untuk merumuskan cara baru dalam menafsirkan seluruh sejarah filsafat. Yang kedua adalah klarifikasi konsep ada itu sendiri. Proyek yang kedua memang telah lama menjadi obsesi pribadi Heidegger. Dalam bahasa teknis Heidegger, kedua proyek itu disebut juga sebagai Ontological Analytic of Dasein as Laying Bare the Horizon for an Interpretation of the Meaning of Being in General danDestroying the History of Ontology. Menurut Heidegger seluruh sejarah metafisika dan ontologi di dalam filsafat barat mengalami apa yang disebutnya kelupaan akan ada (forgetfulness of being). Para filsuf berpikir bahwa ada itu tidak memiliki konsep yang konkret, dan juga bahwa ada hanya bisa dipahami melalui pengada-pengada, seperti manusia, tuhan, konsep-konsep, dan sebagainya. Cara berpikir ini sebenarnya sudah dimulai sejak Aristoteles. Bagi Aristoteles segala sesuatu yang tidak memiliki kategori-kategori ada, seperti kualitas, kuantitas, substansi, dan sebagainya, berarti tidak bisa diketahui. Maka dari itu seperti sudah ditulis sebelumnya, Ada hanya dapat diketahui melalui benda-benda konkret di dalam realitas. Heidegger juga tidak setuju dengan pandangan tradisional yang mengatakan bahwa ada merupakan konsep yang independen dari pikiran manusia. Baginya inilah sebab kebuntuan berbagai refleksi filsafat tentang ada di dalam sejarah, yakni ketika ada dipandang sebagai obyek yang keberadaannya dapat dilepaskan dari manusia sebagai sosok pengamat. Filsafat Descartes dan Kant, yang memang sangat berpusat pada subyek,
Scribd | feika_5

juga tidak mengurangi kesulitan di dalam memahami ada tersebut. Manusia seolah adalah subyek yang memandang dunia sebagai obyek secara berjarak. Jika manusia adalah subyek yang terpisah dari dunia sebagai obyeknya, maka bagaimana ia bisa tahu mengenai dunianya? Ini adalah salah satu tema penting di dalam epistemolo yakni gi, refleksi filsafat pengetahuan. Pertanyaan yang juga muncul dari argumen ini adalah, bagaimana kita bisa menjamin kebenaran, jika pengetahuan hanya merupakan impresi dari subyek atas dunia? Kant dengan filsafatnya hendak menjawab pertanyaan itu. Namun ia sendiri tampaknya masih terjebak pada konsep benda-pada-dirinya-sendiri. Konsep ini seolah tidak bisa dipahami, karena berada di luar pemahaman manusia. Jadi walaupun konsep benda-pada-dirinyasendiri tidak bisa diketahui, namun di dalam pemikiran Kant, konsep itu menempati peran yang sangat penting di dalam proses pembentukan realitas itu sendiri. Dengan tidak jelasnya konsep itu, bagi Heidegger, filsafat Kant belum secara radikal memberikan terobosan di dalam ontologi dan metafisika. Heidegger lebih jauh berpendapat, bahwa seluruh problem di dalam filsafat modern muncul, karena terpisahnya subyek, yakni manusia, dari obyek, yakni dunia yang dipersepsinya. Inilah yang disebut Heidegger sebagai µmembelah dan menghancurkan fenomena¶ (splitting asunder of the phenomena). Keterpisahan subyek manusia dan dunia obyektif yang dipersepsinya adalah penyebab utama dari begitu banyak problem di dalam filsafat yang tidak terselesaikan secara tuntas. Heidegger juga menyebut sikap ini sebagai sikap alamiah (natural way) yang mengisolasi obyek dari subyek, dan sebaliknya. Sikap berjarak memang diperlukan, baik di dalam refleksi filsafat yang mendalam maupun di dalam ilmu pengetahuan. Namun orang tetap harus ingat, bahwa sikap berjarak itu sifatnya artifisial, yakni hanya untuk memperoleh pengetahuan dari satu sisi saja, dan tidak dari keseluruhan aspek. Menurut Heidegger, tema-tema eksistensi manusia antara lain:
y y y y y y

Eksistensi sebagai ³milik pribadi´ dan berada dalam waktu Ada-Dalam-Dunia ³orang´ (Das Man atau Manusia Impersonal) Suasana Hati dan Faktisitas Kecemasan dan Ketiadaan Kematian dan hati Nurani
Scribd | feika_5

y y

Keprihatinan dan Temporalitas Historitas

4. Jean Paul Sartre Jean-Paul Sartre (lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 ± meninggal di Paris, 15 April 1980 pada umur 74 tahun) adalah seorang filsuf dan penulis Perancis. Ialah yang dianggap mengembangkan aliran eksistensialisme.Sartre menyatakan, eksistensi lebih dulu ada dibanding esensi (L'existence précède l'essence). Manusia tidak memiliki apaapa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih hasil kalkulasi dari komitmen komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia (L'homme est condamné à être libre). Pada tahun 1964 ia diberi Hadiah Nobel Sastra, namun Jean-Paul Sartre menolak dengan alasan akan mengurangi kebebasannya, dan enggan diidentikkan dengan kaum borjuis serta kapitalis. Pada sekitar periode itu pula ia menjelma sebagai eksistensialis nomor wahid, dan juru bicara humanisme yang paling depan. Pemikirannya membentangi tema-tema susastra, politik, kemanusiaan, kebebasan, dan lainnya. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang. Pasangannya adalah seorang filsuf wanita bernama Simone de Beauvoir. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan. Dekade 60-an abad lalu menjadi milik Sartre. Saat itu dunia dilanda demam yang membuat hampir tiap orang mengenal namanya, dan berbondong-bondong menahbiskan diri mengikuti alur pikirannya. Mungkin inilah kali pertama filsafat menjadi sebuah gaya hidup yang populer. Masalah ³Ada´ ³Eksistensi mendahului esensi´, begitulah selalu filosof-filosof eksistensialis berkata, ´dan cara manusia bereksistensi berbeda dengan cara beradanya benda-benda. Karenanya masalah ³Ada´ merupakan salah satu tema terpenting dalam tradisi eksistensialisme. Bagi Sartre, manusia menyadari Ada-nya dengan meniadakan (mengobjekkan) yang lainnya. Dari Edmund Husserl ia belajar tentang intensionalitas, yakni kesadaran manusia yang tidak pernah timbul dengan sendirinya, namun selalu merupakan ³kesadaran akan sesuatu´. Baik kita ajukan contoh: Saat ini saya menyadari tengah duduk dalam sebuah forum diskusi, bersama dengan orang lain, serta benda-benda lain, sekaligus menyadari
Scribd | feika_5

bahwa saya berbeda dengan orang lain, dan juga bukan sekedar benda. Saya meniadakan (mengobjekkan orang dan benda lain). Begitulah kira-kira titik tolak filsafat Sartre. Untuk memperjelas masalah ini filosof bermata juling ini menciptakan dua buah istilah; être-en-soi, dan être-pour-soi. Dengan ini pula ia membedakan cara ber-Adanya manusia dengan cara beradanya benda-benda. Benda-benda hadir di dunia setelah ditentukan lebih dulu identitas (esensi) nya, sifatnya être-en-soi. Dengan sifatnya yang seperti ini benda-benda tidak mempunyai potensi di luar konsepsi awalnya. Sebuah komputer sebelum dirakit, telah dikonsepsikan sebagai alat mempermudah pekerjaan manusia. Karena itu ia tergeletak begitu saja tanpa kesadaran, tak punya potensi untuk melampui keadaannya yang sekarang; eksistensinya mampat karena esensinya mendahului eksistensi. Sementara manusia, dengan Ada yang bersifat être-pour-soi, eksistensi yang mendahului esensi, selalu punya kapasitas untuk melampaui dirinya saat ini, dan menyadari Ada-nya. Misalnya seorang yang esensinya kita identifikasi sebagai pelajar, ketika ia lulus, maka esensinya sebagai pelajar menjadi tidak relevan lagi. Atau bisa jadi, esok hari ia kedapatan mencuri, maka ia kembali didefinisikan sebagai pencuri. Begitu seterusnya, sampai ia mati. Salah satu keinginan manusia adalah meng-Ada sebagaimana keberadaan bendabenda. Mempunyai identitas dan esensi yang pasti. Celakanya, manusia memiliki kesadaran yang tak dimiliki benda-benda, karenanya mustahil bagi manusia untuk mempertahankan esensinya terus menerus. Cara beradanya benda tak punya kaitan dengan cara ber-Ada manusia. Sementara manusia sebaliknya, karena sifatnya meniadakan terhadap hal lain, maka ia senantiasa berusaha untuk meniadakan orang dan benda lain. Dari konsepsi inilah Sartre kemudian mendapatkan pendasaran logis terhadap ateismenya. Ateisme Sarte Sudah kita bahas di atas tentang hubungan antara dua cara meng-Ada. Ada-nya benda, tidak mempunyai kesadaran, tidak memiliki potensi, dan tak ada hubungannya dengan Ada manusia yang dihayati lewat kesadaran, dan dengan cara meniadakan, atau menjadikan yang lain sebagai benda. Dalam konsepsi agama -misalnya Islam, Adam (manusia) diciptakan Tuhan dengan mengemban tugas tertentu. Dalam bahasa Sartre sebelum ia bereksistensi, ia lebih dulu direncanakan esensinya. Tapi pada kenyataannya pola esensi yang dimiliki manusia adalah yang sifatnya penuh dengan potensi. Ia tak pernah bisa didefinisikan esensinya
Scribd | feika_5

hingga kematiannya. Selain itu, karakteristik dasar dari kesadaran manusia adalah keterarahan kepada sesuatu (intensionalitas), sekaligus egois. Kontradiktif dengan konsepsi Tuhan sebagai penentu esensi manusia, atau dengan kata lain membuat manusia menjadi benda. Sebelum Sartre, dunia juga mengenal Friedrich Nietzsche, sang nihilis dari Prussia yang kondang dengan frasanya; ³Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getotet.´ Bedanya, jika Nietzsche mengumumkan kematian Tuhan dengan tiba-tiba, maka Sartre melakukannya dengan lebih dulu menunjukkan kerancuan logika mengenai keberadaan Tuhan. Kebebasan manusia Pertanyaannya, eksistensialisme adalah tradisi filsafat antropologis, yang memusatkan diri pada pertanyaan dan pernyataan tentang manusia. Lalu kenapa dua orang ini perlu repot-repot untuk membunuh Tuhan? Nietzsche dan Sartre punya jawaban yang hampir mirip; jika Tuhan telah mati, segala nilai-nilai menjadi absurd; tak ada artinya. Karena telah kehilangan landasannya yang suci. Maka manusia bebas untuk berkehendak; merdeka! Kebebasan bagi Sartre adalah kata kunci dalam filsafatnya. Kebebasan bukanlah rahmat bagi manusia, kebebasan juga bukanlah sebuah ciri yang membedakan manusia dengan yang lain, tapi manusia adalah kebebasan itu sendiri. Dengan modus keberadaannya yang bersifat être-pour-soi, manusia bebas untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Namun kebebasan manusia ini sifatnya ambigu. Di satu sisi hal itu berarti ia berhak untuk mewujudkan kemanusiaannya secara penuh, namun di sisi lain ia membuat kita merasakan kegelisahan. Karena itu filusuf yang juga aktivis kemanusiaan ini pernah berkata dengan sebuah kalimat yang provokatif; ³manusia dikutuk dengan kebebasannya!´ Perasaan gelisah ini bagi Sartre merupakan ciri dari kebebasan. Kegelisahan ini timbul dari beban tanggung jawab ketika menyadari bahwa Tuhan tak lagi relevan, dan ia sepenuhnya bebas untuk berkehendak serta berlaku. Dalam merealisasikan kehendak dan perbuatannya ini tak ada lagi landasan baginya, karena nilai-nilai ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebuah alegori yang terkenal dari Sartre untuk menggambarkan kebebasan yang menggelisahkan ini adalah tentang seseorang yang berdiri di tepi jurang yang tinggi dan terjal. Menoleh ke bawah akan menimbulkan rasa cemas, ka rena membayangkan apa yang akan terjadi. Semuanya tergantung pada diri sendiri, apakah akan terjun, atau
Scribd | feika_5

mundur untuk menyelamatkan diri. Tak ada orang yang menghalangi untuk terjun, segala yang kita perbuat akan kita pertanggungjawabkan sendiri. Masa depan saya seluruhnya tergantung keputusan saya. Orang lain adalah neraka bagi diri sendiri Satu tema yang paling menarik dalam lika-liku pemikiran Sartre adalah tentang relasi antar manusia. Karena kontroversinya, tema ini pula yang paling sering menjadi sasaran dari para kritikusnya. ´Dosa asal saya´ kata Sartre, ´adalah adanya orang lain´. Demikian kira menyimpulkan pandangan Sartre tentang hal ini. Bagi filusuf yang mengagumi ide-idenya Karl Marx ini, hubungan antara aku dengan orang lain, senantiasa berdasarkan konflik. Untuk membahas masalah ini kita harus mengingat kembali dua istilah yang diciptakan oleh Sartre untuk menggambarkan modus ber-Ada; être-en-soi, dan être-pour-soi, karena dari sini muasalnya asumsi Sartre. Mengingat doktrin tersebut, hakikat kesadaran manusia adalah intensionalitas, yakni kesadaran terhadap sesuatu, sekaligus mengobjekkan segala sesuatu. Sekarang bayangkan jika ³Aku´, bertemu dengan ³Aku-Aku´ yang lain, kesadaran yang menegasi, bertem dengan jenis yang sama. Dalam hal ini Sartre mengajukan sebuah contoh yang sangat bagus dan terkenal; saya sedang mengintip pada lubang kunci, ketika tiba-tiba mendengar langkah-langkah orang di belakang yang telah memergoki saya. Ketika tengah mengintip, apa yang dilihat adalah dunia yang berpusat pada saya, orang-orang yang tengah saya intip menjadi objek, dan sayalah subjeknya. Sementara, ketika seseorang memergoki saya, mendadak sayalah yang menjadi objek dalam kesadarannya. Mendadak saya didefinisikan (sebagai tukang ngintip, mau tahu urusan orang, dll). Bahkan menurutnya hubungan antara orang yang saling mencintai adalah relasi yang didasarkan atas sikap saling memperdaya. ³Aku berpura-pura menjadi objek cinta pacarku, dan menyerahkan diri sepenuhnya. Padahal, sebenarnya akulah yang mengobjekkan ia dan akulah subjeknya.´ Ada juga kemungkinan lain, misalnya ketika si A, B, dan C saling berselisih. Bisa jadi si A, akan melupakan konfliknya dengan B untuk sementara, dan bersama-sama menjadikan C sebagai objek. Begitulah filusuf ini menjelaskan bagaimana sebuah perkumpulan atau organisasi bisa terbentuk. 5. Friedrich Nietzsche
Scribd | feika_5

Friedrich Nietzshe lahir di Rohen Jerman pada tanggal 15 Oktober tahun 1844, lahir di Rocken, Prusia, Jerman Timur, di lingkungan keluarga Kristen yang taat. Ayahnya seorang pendeta Lutheran terkemuka dengan garis kependetaan yang terwaris dari turun temurun dari keluarga ayahnya. Kakeknya adalah pedeta Gereja Lutheran yang menduduki jabatan cukup tinggi, sementara ibunya juga seorang penganut Kristen yang taat. Nietzcshe menjadi anak yatim pada saat usianya 5 tahun, ibu, nenek, kakak -kakaknya serta tantenya yang memelihara dan mendidiknya. Sehingga dia tumbuh seperti pendeta cilik yang menghormati keteraturan, kerapihan dan kejujuran. Ia membenci teman-teman yang nakal, suka mencuri serta merusak milik orang lain. Di Univiersitas ia terkenal sebagai seorang peminat seni klasik dan mahasiswa filologi. Usia 18 tahun, ia mulai kehilangan kepercayaannya pada agama Kristen dan mulai mencari Tuhan dan kepercayaan baru. Sejalan dengan itu gaya hidupnya pun berubah total, ia mulai hidup bebas, tidak beraturan, pesta pora, mabuk-mabukan dan memuaskan hasrat seksualnya. Beberapa waktu kemudian, ia kembali menjadi seorang agamis, yang mengatakan bahwa orang yang minum bir dan menghisap tembakau tidak memiliki pangan yang jernih dan pemikiran yang mendalam. Tahun 1865, ia membeli buku Schopenhauer, Die Welt als Wille und Vorstellung (1818) atau The World as Will and Idea (Dunia sebagai kehendak dan Ide). Buku ini memberikan semangat dan menghasilkan pemikiran spektakuler. Usia 23 tahun, ia bergabung dengan tentara untuk ikut perang tapi karena kesehatannya tidak mendukung ia kembali ke dunia ilmiah dan akademik. Tahun 1869, usia 25 tahun, ia menjadi guru besar Filologi di Universitas Basel Swiss, ia sangat mengagumi musikus Richard Wagner. Disini dia bersahabat dengan Richard Wagner dan istrinya Cosima seorang komponis masyhur. Kemudian Nietzcshe membencinya karena Wagner dianggap tetap menjunjung tinggi agama. Tahun 1879, Nietzshe terpaksa pensiun karena sakit-sakitan lalu pindah ke Swiss. Sesudah itu, ia menggelandang di Swiss, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1889 ia sakit jiwa di Torino, Italia lalu dipelihara oleh ibu dan kakaknya. Pada tahun 1900 ia meninggal setelah 10 tahun menderita sakit. Filsafat Nietzsche banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang ia kagumi dan para filsuf sebelum dirinya. Selain itu, Filsafatnya juga dipengaruhi oleh unsur filologis yang berisi tentang Yunani. Hal ini dikarenakan oleh ketertarikannya terhadap filologi yang
Scribd | feika_5

bercerita tentang legenda-legenda Yunani. Dan juga Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme. Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra). Ia memprovokasi dan mengkritik kebudayaan Barat di zaman-nya (dengan peninjauan ulang semua nilai dan tradisi atau Umwertung aller Werten) yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan (keduanya mengacu kepada paradigma kehidupan setelah kematian, sehingga menurutnya anti dan pesimis terhadap kehidupan). Walaupun demikian dengan kematian Tuhan berikut paradigma kehidupan setelah kematian tersebut, filosofi Nietzsche tidak menjadi sebuah filosofi nihilisme. Justru sebaliknya yaitu sebuah filosofi untuk menaklukan nihilisme (Überwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung), dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Übermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht). Dalam filsafat Nietzsche dijelaskan bahwa hidup adalah penderitaan dan untuk menghadapinya kita memerlukan seni. Seni yang dimaksud oleh Nietzsche ada dua jenis, yaitu Apolline dan Dionysian. Sehingga Nitzsche mengagumi Richard Wagner yang ikut mempengaruhi gaya filsafatnya. Oleh karena itu Nietzsche dikenal sebagai filsuf seniman (Künstlerphilosoph) dan banyak mengilhami pelukis modern Eropa di awal abad ke-20, seperti Franz Marc, Francis Bacon,dan Giorgio de Chirico, juga para penulis seperti Robert Musil, dan Thomas Mann. Menurut Nietzsche kegiatan seni adalah kegiatan metafisik yang memiliki kemampuan untuk me-transformasi-kan tragedi hidup. 1. Tuhan Sudah Mati (God is Dead) Gilles Deleuze dalam bukunya, Filsafat Nietzcshe, 2002, mengemukakan bahwa frasa Nietzcshe yang terkenal Tuhan telah mati dan dianggap sebagai bukti bahwa Nietzcshe ateisme. Nietzcshe adalah seorang pemikir Jerman yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang pemikir yang terlalu awal lahir sehingga pemikir-pemikir tidak terkenal dan tidak dapat dipahami orang-orang dimasa hidupnya. Tuhan mati dan yang membunuhnya adalah manusia sendiri. Konsep ini sebenanrnya tidak aneh, karena memiliki persamaan dengan kematian Yesus.

Scribd | feika_5

"Gott ist tot! Gott bleib tot! Und wir haben ihn getotet!, lihat Aforisme No. 125: 95-96, Nietzcshe 1990: 181-182) "Tuhan sudah mati, Tuhan terus mati dan kita semua telah membunuhnya". Nietzcshe menganggap bahwa kepercayaan manusia Barat pad aTuhanlah yang merupakan pangkal semua kemunduran dan taglid buta masyarakat. De ngan mematikan Tuhan, Nietzcshe berharap dapat menjadikan manusia sebagai manusia unggul yang menentukan segalanya berdasarkan kemauannya sendiri. Setelah membunuh Tuhan akan timbul kekosongan nilai-nilai universal yang berlaku, kondisi kekosongan inilahyang disebut Nietzcshe dengan nihilisme. Untuk mengubah kondisi kekosongan nilai-nilai itu diperlukan keberanian untuk menjadikan semua potensi dan kemauan manusia untuk mengatasi semua keterbatasannya. Potensi dan semua kemampuan manusia yang ada di dalam dirinya itulah yang disebut Nietzcshe dengan Ubermensch. Kepercayaan pada Tuhan dalam pandangan Nietzcshe menunjukkan kelemahan manusia itu. 2. Nihilisme Nihilisme dapat diartikan sebagai ketiadaan makna serta penolakan pada nilai nilai absolut, karena itu yang ada adalah kekosongan nilai-nilai. "Nich ist wahr, alles ist erlaubt" Tidak ada sesuatu yang benar, segalanya diperbolehkan (Genecollogy, 1996: 121) sehingga pernyataan dan pengakuan akan kebenaran dalam pandangan Nietzcshe adalah palsu. Dalam mengatasi nihilisme manusia harus menciptakan nilai-nilainya sendiri dengan mengadakan pembalikan nilai-nilai (transvaluation of all values), pembalikan nilai-nilai ini sebagai bukti kekuatan semnagat untuk menjadi manusia unggul. Pemikiran Nietzsche bisa diringkaskan sebagai eksistensi manusia lama itu nihilisme, maka mesti diperbaharui. Nihilisme merupakan paham pemikiran yang menyatakan bahwa makna hidup manusia berakhir dalam ketanpaartian. Dalam pemikiran Nietzsche paham ini dipuncakkan dengan menunjukkan nihilisme nilainilai yang ada dan ia mewartakan nilai-nilai baru yang harus dihayati secara baru dengan moral baru yang bertolak pada manusia eksistensial secara baru pula. Jika ditelusuri, ada dua bentuk pemikiran dalam jalan pemikiran nihilisme Nietzsche. Di satu pihak, pemikirannya bersifat merombak, mendobrak, dan menghancurkan (una pars destruens). Di sini yang menonjol adalah pola pemikiran untuk memusnahkan nilai-nilai kekal, absolut dengan seluruh wujud-wujudnya yang
Scribd | feika_5

diketahui terutama moral, agama, dan filsafat yang mendukung sistem nilai absolut tersebut. Ia menyerangnya dengan sistematis dan garang. Di lain pihak pemikirannya mempunyai pola membangun (una pars construens) yang meliputi uraian teori baru tentang nilai-nilai lalu disusul konsepsi baru mengenai realitas (itu berarti konsepsi vital dan dionisius). Dari empat buku pokoknya, tiga buku ditulis untuk pola yang pertama, yaitu merombak nilai-nilai absolut dan satu buku untuk pola yang kedua, yaitu untuk membangun dasar nilai-nilai baru. Seluruh karyanya berjudul Volontadi Potenza (Kehendak untuk Berkuasa) atau Transvalutasi (Penggantian Semua Nilai). Ia merencanakan membagi Transvalutasi dalam : Buku I : Antichrist, sebagai usaha untuk mengritik habis-habisan Kristianisme. Buku II : Roh yang Merdeka (Lo Spirito Libero), sebagai kritik terhadap filsafat yang merupakan usaha yang nihil. Buku III :The Immoralist, sebagai kritik terhadap moral yang merupakan ketidaktahuan yang paling kekanak-kanakan. Buku IV: Dionisius, sebagai sebuah filsafat tentang kembalinya keabadian. 3. Kembalinya Segala Sesuatu Ada 2 konsep penting yang dikemukakan Nietzcshe melalui bukunya Thus Spake Zarathustra, 1884 yaitu Kembalinya Segala Sesuatu (eternal recurrence of the same) atau pengulangan abadi serta uberbermensch (overman, superman). Nietzcshe menyatakan bahwa segala sesuatu pergi segala sesuatu datang kembali berputarlah roda hakekat itu secara abadi. Konsep ini juga mengemukakan tentang alam yang tidak berawal dan berakhir. 4. Ubermensch Ubermensch adalah manusia super yang menentukan sendiri makna dan tujuan hidupnya, sebagai pengganti manusia yang ditentukan oleh Tuhan yang sudah mati. Ada istilah lain yang sama maksudnya dengan konsep ubermensch Nietzsche yaitu der letzte mensch atau the last man atau manusia terakhir. Manusia unggul adalah upaya untuk mencapai terus menerus keunggulan manusia. Untuk dapat mencapai manusia super, manusia mesti melewati metamorfosis ganda, yaitu: a. metamorfosis pertama, akan mengubah eksistensi unta berbeban dan mudah taat (yaitu manusia baik, rendah hati, tunduk, religius, moralis) menjadi singa yang
Scribd | feika_5

agresif (yaitu roh kebebasan, otonom, tuan pada diri sendiri, penentu mutlak tindak-tanduk dan perbuatannya sendiri). b. metamorfosis kedua, akan mengubah manusia dari singa yang ganas tadi menjadi kanak-kanak murni yang selalu mengagumi dan mencintai realitas dalam semua ungkapannya dan sisinya. Ia akan berseru gembira dan menyatu dengan hidup. Hidup yang dipunyai manusia super dalam wujudnya yang paling penuh pada saat yang sama mempunyai pula hukum-hukumnya yang tegas yang oleh Nietzsche diungkap dengan istilah eterno ritorno (pulang ke keabadian). Artinya semua yang ada secara abadi kembali dan kita juga kembali. Kita sudah menyatu dengan semua dan semua ke kita. Hadirlah tahun menjadi yang sama dengan sebuah roda putar. Semua harus membalik lagi agar selalu dapat habis. 5. Skeptisisme Epistemologis Nietzcshe berpendapat bahwa kebenaran adalah hasil konstruksi atau ciptaan manusia sendiri, yang berjiwa bagi mereka untuk melestarikan diri sebagai spesis. Pengetahuan dan kebearan sebagai perangkat yang efektif untuk mencapai tujuan bukan entitas yang trasenden dari manusia. Kebenaran ilmiah tidak mungkin efektif karena hasil konstruksi manusia dan selalau upaya melayani kepentingan dan tujuan tertentu manusia. 6. Kritik Nietzcshe Terhadap Rasionalitas dan Kebenaran Nietzsche tidak menghargai rasionalitas, bahkan mendekonstruksi rasionalitas dan menghargai klaim-klaim dogmatisnya sendiri untuk meruntuhkan dasar-dasar miliknya dan lebih banyak lebih baik wissenschaft atau kebudayaan. Untuk mudahnya kita akan memulainya dengan melihat pars construensnya yang merupakan konsep yang hidup tentang realitas. Dalam visinya, realitas itu muncul sebagai ledakan dahsyat dari kekuatan hidup. Nietzsche menyebutnya sebagai "sebuah kekuatan hebat tanpa awal dan tanpa akhir, sang keindahan yang membebaskan diri dari kekuatan cinta dan kebencian, suka cita dan duka, keberanian dan ketakutan, kebebasan dan ketundukan yang menyeruak keluar, yang membebaskan diri secara dahsyat tanpa aturan, tanpa kontrol apa pun.

IV.

PEMIKIRAN INTI

1. Realitas tertinggi merupakan suatu perspektif yang dibuat oleh pilihan manusia

Scribd | feika_5

2.

Dunia diacuhkan, tak bermakna, absurd, tetapi kebebasan, yakni eksistensi manusia, merupakan suatu probabilitas yang penuh makna dan transenden. Manusia membuat dirinya sendiri (Sartre).

3. Eksistensi manusia merupakan suatu yang unik dalam dirinya, kontras terhadap masyarakat dan alam secara umum. Esensi ditentukan oleh pilihan. Esensi tidak dibangun, ditentukan dan dipastikan sebelumnya. 4. Tujuan pendidikan menurut eksistensialisme :
y y y y y

Memperbaiki keadaan manusia yang tanpa makna, utnuk memiliki tanggungjawab. Mendorong terhadap usaha kebebasan Menjadi diri sendiri atau kemungkinan untuk menuju keaslian Pengalaman terhadap kebenaran identik secara eksistensial Penekanan pada kesesuaian personal seseorang dengan tindakannya daripada sekadar intelektualitas Lebih bersifat humanistik daripada sainstifik.

y

5. Kebenaran bersifat eksistensial daripada proporsional atau faktual. Seperti halnya pragmatisme, kebenaran itu diciptakan, tidak ditemukan atau hidup (eksis), tidak dipikirkan, kontekstual dan relatif, tidak universal, tidak absolut, subyektif dan parsial. Pengetahuan juga tidak bersifat instrumental/praktis. Pengetahuan lebih merupakan sebuah keadaan dan kecenderungan seseorang. Jadi, manusia itu bebas dalam menentukan pilihan dalam hidupnya. Pilihan yang dipilihnya tentu saja ada konsekuensi dan mungkin konsekuensinya itu buruk. Di saat seperti inilah manusia yang bebas harus berjuang dalam hidupnya dengan disiplin dan tanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan. Eksistensialisme menganggap aturan -aturan tradisional dan di dalam masyarakat sebagai tindakan yang sewenang -wenang. Begitu juga dengan nilai-nilai sosial dan kontrol struktur individu. Eksistensialisme juga menganggap kekayaan, kesenangan ataupun kehormatan tidak menjamin hidup yang baik. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang dianggap tidak dapat menjamin semua akan berjalan lebih baik.

V.
y

KAITAN EKSISTENSIALISME DENGAN HAKIKAT MANUSIA
Kaitan Eksistensialisme dengan hakikat manusia sebagai makhluk individu
Scribd | feika_5

Manusia sebagai makhluk individu memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan milik.Menurut Allport, sebagai makhluk individu maka manusia memiliki sifat unik yang hanya dimiliki oleh dirinya sendiri, berdiri sendiri, dan bersifat otonom. Dari penjelasan-penjelasan ini dapat terlihat dengan jelas bahwa hakikat manusia sangat sesuai dengan filsafat eksistensialisme. Eksistensialisme yang mendukung kebebasan manusia sesuai dengan hak manusia untuk bebas hidup dan tinggal dimana saja sesuai keinginannya. Sebagai makhluk individu, terkadang manusia berpikir dirinya adalah pusat dunia. Ia adalah subjek dari setiap peristiwa yang terjadi. Pemikiran ini sangat didukung oleh pendukung eksistensialisme. Jadi dapat terlihat eksistensialisme mendukung dan berkaitan erat dengan hakikat manusia sebagai makhluk individu.
y

Kaitan Eksistensialisme dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial Manusia sebagai makhluk sosial harus dapat bertoleransi untuk dapat menjalin kehidupan yang harmoni dengan sesamanya, orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan manusia harus belajar untuk dapat menghormati keinginan orang lain yang berarti manusia harus bisa menekan sifat egonya. Eksistensialisme masih dapat berlaku dalam hal ini. Manusia dapat menentukan pilihannya secara bebas, sesuai pemikiran inti eksistensialisme, akan tetapi manusia harus ingat bahwa setiap pilihan itu ada konsekuensinya. Jika manusia ingin semua keinginannya dituruti maka ia tidak akan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Jadi menurut penulis, eksistensialisme masih dapat berpengaruh pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial, akan tetapi kebebasan yang dimiliki tersebut akan dipengaruhi oleh konsekuensi-konsekuensinya yang tidak bersifat mengikat hanya saja akan menjadi faktor pertimbangan dalam menentukan pilihan. Kaitan Eksistensialisme dengan hakikat manusia sebagai makhluk ekonomi Sebagai makhluk ekonomi, manusia akan selalu mencoba mereduksi martabat manusia yang hanya sekadar alat prosuksi dan hanya berm anfaat demi kepentingan kaum kapitalis serta mengkapitalisasi segala sumber daya dari sisi ekonomi. Dari hal ini terlihat bahwa manusia tidak ingin terkekang oleh kaum kapitalis. Manusia ingin bebas dalam mengelola ekonominya. Hal ini sesuai dengan eksistensialisme yang tidak mau menurut begitu saja, tetapi harus berjuang untuk mendapatkan kebebasannya.

y

VI.

KOMENTAR
Scribd | feika_5

Berdasarkan apa yang saya pahami di dalam filsafat ada istilah esensia dan eksistensia. Esensia itu membuat benda, tumbuhan, binatang dan manusia. Oleh esensia, sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya. Misalnya, oleh esensia, kursi menjadi kursi, pohon mangga menjadi pohon mangga, harimau menjadi harimau, dan manusia menjadi manusia. Namun, dengan esensia saja, segala yang ada belum tentu berada. Kita dapat membayangkan kursi, pohon mangga, harimau, atau manusia. Namun, belum pasti apakah semua itu sungguh-sungguh ada, sungguh-sungguh tampil, sungguh-sungguh hadir. Di sinilah peran eksistensia. Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada atau eksis. Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat. Pohon mangga dapat tertanam, tumbuh, berkembang. Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain. Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir. Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir. Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan. Tanpa eksistensia, segala sesuatu tidak nyata adanya, apalagi hidup dan berperan. Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menekankan eksistensia. Para pengamat eksistensialisme tidak mempersoalkan esensia dari segala yang ada. Karena memang sudah ada dan tak ada persoalan. Kursi adalah kursi. Pohon mangga adalah pohon mangga. Harimau adalah harimau. Manusia adalah manusia. Namun, mereka mempersoalkan bagaimana segala yang ada berada dan untuk apa berada. Oleh karena itu, mereka menyibukkan diri dengan pemikiran tentang eksistensia. Dengan mencari cara berada dan eksis yang sesuai, esensia pun akan ikut terpengaruhi. Dengan pengolahan eksistensia secara tepat, segala yang ada bukan hanya berada, tetapi berada dalam keadaan optimal. Untuk manusia, ini berarti bahwa dia tidak sekadar berada dan eksis, tetapi berada dan eksis dalam kondisi ideal sesuai dengan kemungkinaan yang dapat dicapai. Dalam kerangka pemikiran itu, menurut kaum eksistensialis, hidup ini terbuka. Nilai hidup yang paling tinggi adalah kemerdekaan. Dengan kemerdekaan itu, keterbukaan hidup dapat ditanggapi secara baik. Segala sesuatu yang menghambat, mengurangi, atau meniadakan kemerdekaan harus dilawan. Tata tertib, peraturan, hukum harus disesuaikan atau bila perlu dihapus dan ditiadakan. Karena adanya
Scribd | feika_5

tata tertib, peraturan, dan hukum dengan sendirinya sudah tidak sesuai dengan hidup yang terbuka dan hakikat kemerdekaan. Semua itu membuat orang terlalu melihat ke belakang dan mengaburkan masa depan, sekaligus membuat praktik kemerdekaan menjadi tidak leluasa lagi. Dalam hal etika, karena hidup ini terbuka, kaum eksistensialis memegang kemerdekaan sebagai norma. Bagi mereka, manusia mampu menjadi seoptimal mungkin. Untuk menyelesaikan proyek hidup itu, kemerdekaan mutlak diperlukan. Berdasarkan dan atas norma kemerdekaan, mereka berbuat apa saja yang dianggap mendukung penyelesaian proyek hidup. Sementara itu, segala tata tertib, peraturan, hukum tidak menjadi bahan pertimbangan. Karena adanya saja sudah mengurangi kemerdekaan dan isinya menghalangi pencapaian cita-cita proyek hidup. Sebagai ganti tata-tertib, peraturan, dan hukum, mereka berpegang pada tanggung jawab pribadi. Mereka tak mempedulikan segala peraturan dan hukum, dan tidak mengambil pusing akan sanksi-sanksinya. Yang mereka pegang adalah tanggung jawab pribadi dan siap menanggung segala konsekuensi yang datang dari masyarakat, negara, atau lembaga agama. Satu-satunya hal yang diperhatikan adalah situasi. Dalam menghadapi perkara untuk menyelesaikan proyek hidup dalam situasi tertentu, pertanyaan pokok mereka adalah apa yang paling baik yang menurut pertimbangan dan tanggung jawab pribadi seharusnya dilakukan dalam situasi itu. Yang baik adalah yang baik menurut pertimbangan norma mereka, bukan berdasarkan perkaranya dan norma masyarakat, negara, atau agama. Kelebihan etika eksistensialis adalah pandangan tentang hidup, sikap dalam hidup, penghargaan atas peran situasi, penglihatannya tentang masa depan. Berbeda dengan orang lain yang berpikiran bahwa hidup ini sudah selesai, yang harus diterima seperti adanya, dan tak perlu diubah, etika eksistensialis berpendapat bahwa hidup ini belum selesai, tidak harus diterima sebagai adanya, dan dapat diubah, bahkan harus diubah. Ini berlaku untuk hidup manusia sebagai pribadi, masyarakat, bangsa, dan dunia seanteronya. Dalam arti itulah hidup dimengerti sebagai proyek. Orang yang memandang hidup sebagai sudah selesai, mempunyai sikap pasrah dan "menerima", sementara kaum eksistensialis yang memahami hidup sebagai belum selesai mempunyai sikap berusaha dan berjuang. Hidup ini perlu dan harus diperbaiki. Faktor penting untuk perbaikan hidup itu adalah tanggung jawab. Setiap orang harus bertanggungjawab atas hidupnya dan dengan sungguh-sungguh berupaya untuk
Scribd | feika_5

mengembangkannya. Bagi orang yang merasa hidup sudah jadi, situasi hidup menjadi sama saja. Tidak ada situasi penting, mendesak, atau genting. Karena hidup selalu berjalan normal. Namun, bagi kaum eksistensialis yang memahami hidup belum selesai, setiap situasi membawa akibat untuk kemajuan kehidupan. Oleh karena itu, setiap situasi perlu dikendalikan, dimanfaatkan, diarahkan sehingga menjadi keuntungan bagi kemajuan hidup. Akhirnya, bagi orang yang menerima hidup sudah sampai titik dan puncak kesempurnaannya, masa depan tidak amat berperan karena masa depan pun keadaannya akan sama saja dengan masa yang ada sekarang. Namun, bagi kaum eksistensialis yang belum puas dengan hidup yang ada dan yang merasa perlu untuk mengubahnya, masa depan merupakan faktor yang penting. Karena hanya dengan adanya masa depan itu, perbaikan hidup dimungkinkan dan pada masa depan pula hidup baik itu terwujud. Dengan demikian, gaya hidup kaum eksistensialis menjadi serius, dinamis, penuh usaha, dan optimis menuju ke masa depan. Ada beberapa kelemahan etika eksistensialis. Pertama, etika eksistensialis terperosok ke dalam pendirian yang individualistis. Dengan pendirian itu, dibawah nama melaksanakan proyek hidup, bisa-bisa para pengikut aliran eksistensialis hanya mencari dan mengejar kepentingan diri. Karena yang baik ditentukan sendiri, bukan berdasarkan norma, maka yang dianggap baik bukanlah kebaikan sejati, melainkan baik menurut dan bagi diri mereka sendiri. Cara memandang kebaikan yang individualistis itu dapat merugikan sesama, masyarakat dan dunia. Kedua, dengan mengabaikan tata tertib, peraturan, hukum, kaum eksistensialis menjadi manusia yang anti-sosial. Tidak dapat disangkal bahwa ada norma masyarakat yang sudah usang. Namun, menyatakan segala norma tak berlaku sungguh melawan akal sehat. Karena norma masyarakat merupakan hasil perjalanan pencarian yang tidak begitu saja mudah ditiadakan. Jika tidak dapat dipergunakan sepenuhnya, paling sedikit masih dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan titik tolak pencarian nilai hidup lebih lanjut. Kecuali itu, sikap para penganut aliran eksistensialis yang asosial merugikan usaha perbaikan hidup dan dunia. Karena usaha itu merupakan usaha raksasa sehingga tidak dapat diselesaikan secara perorangan, melainkan harus digarap bersama seluruh masyarakat.

Ketiga, dengan mengambil sikap bebas merdeka, kaum eksistensialis memandang kemerdekaan sebagai tidak terbatas. Padahal, dalam hidup ini tidak ada kemerdekaan yang
Scribd | feika_5

tanpa batas. Karena dalam perwujudannya selalu akan dibatasi. Pembatasan itu berasal dari si pelaksana sendiri dan masyarakat. Seberapa "hebat"-nya manusia, tidak mungkinlah dia mampu mewujudkan kemerdekaannya secara penuh. Pembatasan juga datang dari masyarakat. Selama orang hidup dakam masyarakat, pelaksanaan kemerdekaan akan selalu dibatasi oleh pelaksanaan kebebasan orang lain. Mau tidak mau, dalam hidup masyarakat orang harus mau "memberi" dan "menerima", alias berkompromi. Keempat, kaum eksistensialis amat memperhitungkan situasi. Namun, situasi itu mudah goyah. Kelemahan ini masih diperkuat oleh sikap individualistis yang dipegang kaum eksistensialis. Bila orang bersandar pada situasi dan diri sendiri saja, pandangannya menjadi terbatas, lingkup perbuatannya dipersempit, dan pendiriannya rapuh. Begitulah, etika eksistensialis memiliki unsur-unsur kebaikan yang positif. Namun, bila tak mengurangi dan melepaskan kelemahan-kelemahannya, eksistensialisme akan melemahkan arti dan sumbangan-sumbangannya yang memang berharga. Kekurangan-kekurangan yang ada membuat filsafat eksistensialisme memiliki banyak celah untuk dipertanyakan. Salah satu akibatnya adalah berkembangnya aliran strukturalisme. Berdasarkan pemahaman saya strukturalisme adalah aliran filsafat dimana tingkah laku manusianya dilihat berdasarkan struktur. Dengan kata lain, manusia itu tidak bebas.

SUMBER PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2000. ³Filsafat Manusia´. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Tafsir, Ahmad. 2000. ³Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra´. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Wiramihardja, Sutardjo A. 2006. ³Pengantar Filsafat´. Bandung : PT Refika Aditama

----------------.2002. ³Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri´. Penyunting: Drs.
Zainal Abidin, M.Si. Bandung : PT Refika Aditama
http://www.allaboutphilosophy.org/existentialism-definition-faq.htm diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 20.05

Scribd | feika_5

http://biokristi.sabda.org/soren_kierkegaard_filsuf_eksistensialis_yang_menantang_gerejadiakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 21.35 http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 19.40 http://kacajendela.wordpress.com/2008/11/12/risalah-%E2%80%9Cada%E2%80%9D-kebebasanmanusia-dan-ateisme-jean-paul-sartre/ diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 22.20 http://koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/07/philosophy-of-karl-jasper.html diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 22.30 http://leuwiliang-bogor.blogspot.com/2009/10/friedrich-nietzsche.html diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 23.05 http://plato.stanford.edu/entries/existentialism/ diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 20.05 http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php diakses tanggal 5 Juni 2010 pukul 15.30 http://qym7882.blogspot.com/2009/04/hakikat-manusia-dan-pengembangannya.html diakses tanggal 5 Juni 2010 pukul 17.20 http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/239 diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 22.50 http://www.scribd.com/doc/19676208/EKSISTENSIALISME-DALAM-FILSAFAT diunduh tanggal 4 Juni 2010 pukul 20.10 http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/01/eksistensialisme/ diakses tanggal 4 Juni 2010 pukul 19.45

Scribd | feika_5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->