P. 1
Etika Lingkungan Hidup dan Pengembangan Permukiman

Etika Lingkungan Hidup dan Pengembangan Permukiman

|Views: 5,060|Likes:
Published by Maya Kusfitri Yana
Dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan tempat dimana ia tinggal dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan dalam permukiman. Pengembangan permukiman merupakan pekerjaan rumah bersama, yang tentunya membutuhkan kesatuan kinerja dari semua pihak sehingga dapat saling mendukung.
Namun, dalam prosesnya, pengembangan permukiman ini tentu dapat membuat kehidupan lingkungan menjadi terganggu. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas bagaimana sikap manusia yang seharusnya dalam memperlakukan alam, seiring dengan pengembangan permukiman.
Dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan tempat dimana ia tinggal dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan dalam permukiman. Pengembangan permukiman merupakan pekerjaan rumah bersama, yang tentunya membutuhkan kesatuan kinerja dari semua pihak sehingga dapat saling mendukung.
Namun, dalam prosesnya, pengembangan permukiman ini tentu dapat membuat kehidupan lingkungan menjadi terganggu. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas bagaimana sikap manusia yang seharusnya dalam memperlakukan alam, seiring dengan pengembangan permukiman.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Maya Kusfitri Yana on Jun 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

Etika Lingkungan Hidup dan Pengembangan Permukiman

_________________________________________________________________________________________________

Pendidikan Lingkungan Hidup

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
Semester IV

Pendidikan matematika IV-D
Disusun oleh:

200813500370

IRFAN IRSANI

ANNISA ISNAINI

200813500394

200813500411

SRI WIDYASTUTI

MAYA KUSFITRI YANA

200813500424

KATA PENGANTAR

Segala puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah senantiasa memberikan kita berbagai nikmat, sehingga saat ini kita masih diberi kesempatan untuk terus menuntut ilmu dan mengembangkan wawasan kita. Semoga kita dapat mensyukuri segala nikmat yang di berikan-Nya dan menjadikannya sarana untuk selalu beribadah kepada-Nya. Adapun makalah ini bertujuan untuk melengkapi nilai tugas mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup. Makalah yang diberi judul ³Etika Lingkungan Hidup dan Pengembangan Permukiman´ ini mengulas tentang bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap lingkungannya, agar lingkungan tetap terjaga kelestarian, keindahan, serta keseimbangannya. Selain itu, makalah ini juga mengulas tentang pengembangan permukiman pada kota dan desa. Satu yang tidak dapat kami lupakan, bahwa penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai sumber. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu. Oleh karena kami merasa ada kekurangan dalam makalah ini, untuk itu kami mengharapkan segala kritik dan saran serta masukan -masukan yang bersifat membangun dari teman-teman. Semoga apa yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam pembelajaran maupun sebagai wawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Jakarta, Juni 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

i

DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii PENDAHULUAN. .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 PEMBAHASAN. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Etika Lingkungan Hidup. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2 Antroposentrisme. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2 Biosentrisme. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3

Ekosentrisme. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. 3 Manusia dan Krisis Ekologi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 Pengembangan Permukiman. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9 Program pengembangan permukiman kota. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10 Program pengembangan permukiman desa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12 Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dalam Pengembangan Permukiman. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13 PENUTUP. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Kesimpulan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 Saran. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16 DAFTAR PUSTAKA. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii

DAFTAR PUTAKA

http://aprillins.com/2010/1428/tiga-teori-etika-lingkungan-egosentris-homosentrisekosentris/

http://pipitkecilku.blogdrive.com/archive/95.html http://riveryogya.wordpress.com/2008/02/27/pembangunan-berwawasanlingkungan/
http://soera.wordpress.com/2009/02/12/ekologi-etika-pembangungan/ http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2009/08/12/deep-ecology/

http://www.scribd.com/doc/18661173/Lingkungan -hidup
http://www.scribd.com/doc/6330078/Manusia-Dan-Lingkungan-Hidup

Budiharjo, Eko. 1992. Sejumlah Masalah Permukiman Kota. Bandung: Alumni. Keraf, A. Sonny. 2002. Etika Lingkungan. Jakarta: Buku Kompas Marlina, Endy dkk. 2005. Perencanaan dan Pengembangan Perumahan . Yogyakarta: ANDI. Soemarwoto, Otto. 1985. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan . Jakarta: Djambatan. Supardi. 1994. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Bandung: Alumni.

PENDAHULUAN

Alam yang indah dan lestari merupakan jaminan bagi kelangsungan hidup manusia dan segala lapisan kehidupan yang ada did alamnya. Untuk menjamin kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang diharapkan agar tetap memiliki kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang baik dan menyenangkan, banyak hal yang dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup alam semesta, setidaknya kita harus merubah sikap dalam memandang dan memperlakukan alam sebagai hal, bukan sebagai sumber kekayaan yang siap dieksploitasi, kapan dan dimana saja. Disamping itu, dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan tempat dimana ia tinggal dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan dalam permukiman. Pengembangan permukiman merupakan pekerjaan rumah bersama, yang tentunya membutuhkan kesatuan kinerja dari semua pihak sehingga dapat saling mendukung. Namun, dalam prosesnya, pengembangan permukiman ini tentu dapat membuat kehidupan lingkungan menjadi terganggu. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas bagaimana sikap manusia yang seharusnya dalam

memperlakukan alam, seiring dengan pengembangan permukiman.

PEMBAHASAN

Etika Lingkungan Hidup
Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh bagaimana pandangan seseorang terhadap sesuatu itu. Manusia memilki pandangan tertentu terhadap alam, dimana pandangan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap alam. Pandangan tersebut dibagi dalam tiga teori utama, yang dikenal sebagai Shallow Environmental Ethics, Intermediate Environmental Ethics, and Deep Environmental Ethics. Ketiga teori ini dikenal juga sebagai Antroposentrisme, Biosentrisme, dan

Ekosentrisme.

Antroposentrisme Dinamakan berdasar kata antropos = manusia, adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Karena pusat pemikiran adalah manusia, maka kebijakan terhadap alam harus diarahkan untuk mengabdi pada kepentingan manusia. Alam dilihat hanya sebagai objek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Dengan demikian alam dilihat tidak memiliki nilai dalam dirinya sendiri. Alam dipandang dan diperlakukan hanya sebagai alat bagi pencapaian tujuan manusia. Namun, dalam sikapnya yang dianggap semena-mena terhadap alam, pandangan ini juga peduli terhadap alam. Manusia membutuhkan lingkungan hidup yang baik, maka demi kepentingan hidupnya, manusia memiliki kewajiban memeliharan dan melestarikan alam lingkungannya. Kalaupun manusia bersifat peduli terhadap alam, hal itu dilakukan semata-mata demi menjamin kebutuhan dan kepentingan hidup manusia, dan bukan atas pertimbangan bahwa alam mempunyi nilai pada dirinya sendiri. Teori ini jelas bersifat egoistis, karena hanya

mengutamakan kepentingan manusia. Itulah sebabnya teori ini dianggap sebagai sebuah etika lingkungan yang dangkal dan sempit (Shallow Environmental Ethics).

Biosentrisme Adalah suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri, lepas dari kepentingan manusia. Dengan demikian, biosentrisme menolak teori antroposentrisme yang menyatakan bahwa hanya manusialah yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Teori biosentrisme berpandangan bahwa makhluk hidup bukan hanya manusia saja. Pandangam biosentrisme mendasarkan kehidupan sebagai pusat perhatian. Maka, kehidupan setiap makhluk dibumi ini patut dihargai, sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Biosentrisme melihat alam dan seluruh isinya memilki harkat dan nilai dalam dirinya sendiri. Alam memiliki nilai justru karena ada kehidupan yang terkandung didalamnya. Manusia hanya dilihat sebagai salah satu bagian saja dari seluruh kehidupan yang ada dimuka bumi, dan bukanlah merupakan pusat dari seluruh alam semesta. Maka secara biologis, manusia tidak ada bedanya dengan makhluk hidup lainnya.

Ekosentrisme Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa secara ekologis, baik makhluk hidup maupun benda-benda abiotik saling terkait satu sama lain. Air disungai, yang termasuk abiotik, sangat menentukan bagi kehidupan yang ada didalamnya. Udara, walaupun tidak termasuk makhluk hidup, namun sangat menentukan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Jadi, ekosentrisme selain sejalan dengan biosentrisme (dimana kedua-duanya sama-sama menentang teori antroposentrisme) juga mencakup komunitas yang lebih luas, yakni komunitas ekologis seluruhnya.

Ekosentrisme disebut juga Deep Environtmental Ethics. Deep ecology menganut prinsip biospheric egolitarian-ism, yaitu pengakuan bahwa seluruh organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait. Sehingga mempunyai suatu martabat yang sama. Ini menyangkut suatu pengakuan bahwa hak untuk hidup dan berkembang untuk semua makhluk (baik hayati maupun non-hayati) adalah sebuah hak universal yang tidak bisa diabaikan.

MANUSIA DAN KRISIS EKOLOGI Sonny Keraf, pemerhati lingkungan hidup serta mantan menteri lingkungan hidup. Beliau pernah berujar bahwa masalah lingkungan hidup memiliki kesatuan dengan masalah moral, atau persoalan perilaku manusia. Dengan demikian, krisis ekonomi global yang kita alami dewasa ini adalah juga merupakan persoalan moral, atau krisis moral secara global. Karena menjadi krisis moral kita perlu etika dan moralitas untuk mengatasinya. Krisis lingkungan dewasa ini hanya bisa diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Yang dibutuhkan adalah sebuah pola hidup atau gaya hidup baru yang tidak hanya menyangkut orang per orang, tetapi juga lingkungan masyarakat secara keseluruhan. Artinya dibutuhkan etika lingkungan hidup yang menuntut manusia untuk berinteraksi dalam alam semesta. Dengan ini bisa dikemukakan bahwa krisis lingkungan global yang kita alami saat ini sebenarnya bersumber pada kesalahan pemahaman atau cara

pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Manusia keliru memandang dan keliru menempatkan diri dalam konteks alam semesta seluruhnya. Dan inilah awal dari semua bencana lingkungan hidup yang kita alami sekarang. Oleh karena itu, pembenahan harus pula menyangkut pembenahan cara pandang dan perilaku manusia dalam berinteraksi baik dengan alam maupun dengan manusia lain dalam keseluruhan ekosistem.

Kesalahan cara pandang ini bersumber dari etika antroposentrisme, yang memandang bahwa manusia sebagai pusat alam semesta, dan hanya manusia yang mempunya nilai, sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kebutuhan dan kepentingan hidup manusia. Manusia dianggap berada diluar, diatas dan terpisah dari alam. Bahkan, manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa saja. Cara pandang seperti ini melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai pada diri sendiri. Oleh karena itu, dapat disampaikan beberapa prinsip yang relevan untuk lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini yang dilatar belakangi oleh krisis ekologi yang bersumber pada cara pandang dan perilaku manusia. 1. Prinsip sikap hormat terhadap alam (Respect for Nature) Dari ketiga teori lingkungan hidup, ketiganya sama-sama mengakui bahwa alam perlu dihormati. Hormat terhadap alam merupakan suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Dengan kata lain, alam mempunyai hak untuk dihormati, tidak saja karena kehidupan manusia bergantung pada alam, tetapi terutama karena kenyataan bahwa manusia adalah satu kesatuan dari alam.

2. Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility for Nature) Setiap bagian dan benda dialam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas dari apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak.Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta bertanggung jawab pula untuk menjaganya. Prinsip ini menuntut manusia untuk mengambil usaha, kebijakan dan tindakan bersama secara nyata untuk menjaga alam semesta dengan segala isinya. Itu berarti kelestarian dan kerusakan alam semesta merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia. Wujud konkretnya, semua orang harus bisa bekerja sama, bahumembahu untuk menjaga dan melestarikan alam, dan mencegah serta memulihkan kerusakan alam dan segala isinya. Hal ini juga akan terwujud

dalam bentuk mengingatkan, melarang dan menghukum siapa saja yang secara sengaja ataupun tidak sengaja merusak dan membahayakan keberadaan alam.

3. Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity) Terkait dengan kedua prinsip tersebut yakni prinsip solidaritas. Prinsip ini terbentuk dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta. Oleh karena itu, manusia mempunyai kedudukan yang sejajar dengan alam, maka akan membangkitkan perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain. Manusia lalu bisa merasakan apa yang dirasakan oleh makhluk hidup lain. Manusia bisa merasakan sedih dan sakit ketika berhadapan dengan kenyataan memilukan betapa rusak dan punahnya makhluk hidup tertentu. Ia ikut merasa apa yang terjadi dalam alam, karena ia merasa satu dengan alam. Prinsip ini lalu mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan dan semua kehidupan yang ada di alam semesta. Prinsip ini juga mencegah manusia untuk tidak merusak dan mencemari alam dan seluruh kehidupan didalamnya, sama seperti manusia tidak akan merusak kehidupannya serta merusak rumah tangganya sendiri. Prinsip ini berfungsi sebagai pengendali moral, yakni untuk mengontrol perilaku manusia dalam batas-batas keseimbangan kehidupan. Prinsip ini juga mendorong manusia untuk mengambil kebijakan yang pro-alam, prolingkungan, atau menentang setiap tindakan yang merusak alam. Khususnya mendorong manusia untuk mengutuk dan menentak pengrusakan alam dan kehidupan didalamnya. Hal ini semata-mata karena mereka merasa sakit sama seperti yang dialami oleh alam yang rusak.

4. Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulain terhadap Alam (Caring for Nature) Prinsip ini juga muncul dari kenyataan bahwa sesama anggota komunitas ekologis mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat. Prinsip kasih sayang dan kepedulian adalah prinsip tanpa mengharapkan balasan yang tidak didasarkan atas kepentingan pribadi tetapi

semata-mata karena kepentingan alam. Semakin mencintai dan peduli kepada alam, manusia semakin berkembang menjadi manusia yang matang, sebagai pribadi yang identitasnya kuat. Manusia semakin tumbuh berkembang bersama alam, dengan segala watak dan kepribadian yang tenang, damai, penuh kasih sayang, luas wawasannya seluas alam.

5. Prinsip ³No Harm´ Berdasarkan keempat prinsip moral tersebut, prinsip moral lainnya yang relevan adalah prinsip no harm. Artinya, karena manusia memilik kewajiban i moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan mau merugikan alam secara tidak perlu. Dengan mendasarkan diri pada biosentrisme dan ekosentrisme, manusia berkewajiban moral untuk

melindungi kehidupan dialam semesta ini. Sebagaimana juga dikatakan oleh Peter Singer, manusia diperkenankan untuk memanfaatkan segala isi alam semesta, termasuk binatang dan tumbuhan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu dilakukan dengan bijaksana untuk tetap menghargai hak binatang dan tumbuhan untuk hidup dan hanya dilakukan sejauh memenuhi kebutuhan hidup manusia yang paling vital. Jadi, pemenuhan kebutuhan hidup manusia yang bersifat kemewahan dan di luar batas-batas yang wajar ditentang karena dianggap merugikan kepentingan makhluk hidup lain (binatang dan tumbuhan). Dengan kata lain, kewajiban dan tanggung jawab moral bisa dinyatakan dalam bentuk maksimal dengan melakukan tindakan merawat (care), melindungi, menjaga dan melestarikan alam. Sebaliknya, kewajiban dan tanggung jawab moral yang sama bisa mengambil bentuk minimal dengan tidak melakukan tindakan yang merugikan alam semesta dan segala isinya : tidak menyakiti binatang, tidak meyebabkan musnahnya spesies tertentu, tidak menyebebkan keanekaragaman hayati di hutan terbakar, tidak membuang limbah seenaknya, dan sebagainya.

6. Prinsip Hidup Sederhana dan Selaras Dengan Alam Yang dimaksudkan dengan prinsip moral hidup sederhana dan selaras dengan alam adalah kualitas, cara hidup yang baik. Yang ditekankan adalah tidak rakus dan tamak dalam mengumpulkan harta dan memiliki sebanyakbanyaknya. Prinsip ini penting, karena krisis ekologis sejauh ini terjadi karena pandangan antroposentrisme yang hanya melihat alam sebagai objek eksploitasi dan pemuas kepentingan hidup manusia. Selain itu, pola dan gaya hidup manusia modern konsumtif, tamak dan rakus. Tentu saja tidak berarti bahwa manusia tidak boleh memanfaatkan alam untuk kepentingannya. Kalau manusia memahami dirinya sebagai bagian integral dari alam, ia harus memanfaatkan alam itu secara secukupnya. Ini berarti, pola konsumtif dan produksi manusia modern harus dibatasi. Harus ada titik batas yang bisa ditolerir oleh alam.

Pengembangan Permukiman
Menurut UU No. 4 Tahun 1992, permukiman mengandung pengertian sebagai bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Apabila dikaji dari segi makna, permukiman berasal dari terjemahan kata human settelments yang mengandung pengertian suatu proses bermukim. Dengan demikian terlihat jelas bahwa kata permukiman mengandung unsur dimensi waktu dalam prosesnya. Melalui kajian tersebut terlihat bahwa pengertian permukiman dan pemukiman berbeda. Kata pemukiman mempunyai makna yang lebih menunjuk kepada objek, yang dalam hal ini hanya merupakan unit tempat tinggal (hunian), contohnya seperti: rumah susun, apartemen, dan perumahan. Sebelum membahas mengenai pengembangan permukiman, ada baiknya kita mengetahui tingkatan kebutuhan manusia terhadap hunian yang dikategorikan sebagai berikut (Maslow, 1970): 1. Survival Needs Tingkat kebutuhan yang paling dasar ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pertama kali. Pada tingkatan ini hunian merupakan sarana untuk menunjang keselamatan hidup manusia. 2. Safety and Security Needs Kebutuhan terhadap keselmatan dan keamanan yang ada pada tingkat berikutnya ini terkait dengan keselamatan dari kecelakaan, keutuhan anggota badan, serta hak milik. 3. Affilitation Needs Pada tingkatan ini, hunian merupakan sarana agar dapat diakui sebagai anggota dalam golongan tertentu. Hunian disini berperan sebagai identitas seseorang untuk diakui dalam golongan masyarakat.

4. Esteem Needs Kebutuhan berikutnya terkait dengan aspek psikologis. Manusia butuh dihargai dan diakui eksistensinya. Terkait dengan hal ini, hunian merupakan sarana untuk mendpatkan pengakuan atas jati dirinya dri masyarakat dan lingkungan sekitarnya. 5. Cognitive and Aesthetic Needs Pada tingkatan ini, produk hunian tidak hanya sekedar untuk digunakan tetapi juga dapat memberi dampak kenikmatan (misalnya dinikmati secara visual) pada lingkungan sekitarnya. Dilihat dari tingkatan tersebut, tuntutan masyarakat kota terhadap hunian berada pada tingkatan 3, 4 , dan 5. Berbeda dengan tuntutan masyarakat desa terhadap hunian yang masih berada pada tingkatan 1, 2, dan 3. Oleh karena itu, dilakukan program untuk memenuhi kebutuhan hunian dengan dilakukannya pengembangan dalam permukiman. Pada dasarnya, pengembangan pemukiman berupa strategi pembangunan baik di kota maupun di desa. Berikut program-program pembangunan tersebut: Program Pengembangan Permukiman Kota 1. Program Pengadaan Perumahan Baru Pembangunan perumahan baru harus dilakukan dengan

mempertimbangkan beberapa hal, yaitu : a. Penyediaan infrastruktur, seperti jaringan jalan, saluran sanitasi dan drainase, jaringan air bersih, dan jaringan listrik. b. Penyediaan fasilitas pendukung, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, sosial masyarakat, serta fasilitas umum lainnya. c. Ketersediaan ruang terbuka sebagai fasilitas pendukung bagi kegiatan penghuninya, serta sebagai strategi mempertahankan ketersediaan air bersih dalam jangka panjang. Program pembangunan perumahan baru dapat dilaksanakan baik oleh pemerintah (PERUMNAS) maupun pihak swasta.

2. Program Perbaikan Kampung Berdasarkan strukturnya, kampung merupakan salah satu elemen pembentuk kota. Secara fisik, kondisi kampung dikota-kota besar saat ini pada umumnya sangat buruk. Hal ini terutama dipicu karena masalah kepadatan. Tingginya angka kepadatan penduduk dikampung-kampung diperkotaan membawa berbagai dampak negatif bagi kondisi kampung tersebut, yaitu: a. Kehidupan sosial yang tidak teratur b. Tingkat ketersediaan fasilitas umum dan fasilitas sosial sangat rendah c. Kurangnya infrastruktur d. Tata guna lahan yang tidak teratur e. Kondisi rumah yang kurang sehat

3. Program Peremajaan Kota Pada program ini, dilakukan pengaturan kembali struktur kota yang tidak sesuai. Tujuan program ini adalah untuk memperbaiki, meningkatkan potensi yang telah ada dan untuk menumbuhkan potensi yang baru, khususnya yang terkait dengan aspek ekonomi. Sasaran kegiatan ini adalah peremajaan sarana prasarana yang bersifat strategis yang biasanya berupa: a. Sarana dan prasarana dengan kualitas yang sangat rendah b. Sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan suatu wilayah c. Sarana dan prasarana dikawasan yang sering mengalami bencana

4. Program Rumah Sewa Program ini merupakan solusi terbaik untuk mengatasi masalah hunian pada suatu wilayah perkotaan yang tingkat kepadatannya sudah sangat tinggi serta sulit untuk mendapatkan lahan yang kosong karena terbatasnya wilayah perkotaan tersebut. Rumah sewa disini, dapat berupa apartemen, ruman susun, maupun kontrakan.

Program Pengembangan Permukiman Desa 1. Program Perbaikan Desa Program ini merupakan Program Perbaikan Lingkungan Desa Terpadu (P2LDT). Tujuan P2LDT adalah menciptakan kondisi masyarakat desa yang memiliki kesadaran, kemampuan, dan keterampilan untuk memperbaiki rumah dan lingkungan desanya. 2. Pengembangan Pusat Pertumbuhan Kecil Adapun sasaran program pengembangan pusat pertumbuhan kecil ini adalah sebagai berikut: a. Memberikan infrastruktur desa dengan cara yang paling efisien untuk mendukung pertumbuhan ekonomi desa b. Menciptakan keterkaitan secara efektif antara ekonomi desa dan kota c. Mempergunakan sumber daya manusia dan alan yang tersedia didaerah secara maksimal d. Memberikan kualitas pelayanan ekonomi dan sosial yang tinggi untuk masyarakat desa

Pembangunan Berwawasan Lingkungan Dalam Pengembangan Permukiman
Untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengembangan lingkungan permukiman yang berkesinambungan, maka diperlukan adanya perhatian dan penanganan khusus bagi pengembangan lingkungan tersebut. Hal ini juga tersirat dalam hasil konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1972. Pada kesempatan itu disepakati bahwa tanggal 5 Juni merupakan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia. Selain itu, masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup juga dijadikan topic utama didalam KTT Bumi tahun 1992 di Rio de Janeiro (Brazilia). Berbekal kajian dari hasil referensi tersebut, maka bisa disebutkan bahwa pengembangan permukiman merupakan satu pasang dengan pembinaan lingkungan untuk mengatasi masalah lingkungan. Aktifitas pembangunan, dalam proses pengembangan permukiman, secara umum dapat menimbulkan dampak pada lingkungan. Dampak ini bisa positif ataupun negative. Dampak positif akan menguntungkan pembangunan, sementara dampak negative, menimbulkan resiko bagi lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkanlah pembangunan yang berwawasan pada lingkungan. Kunci pembangunan berwawasan lingkungan adalah AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). AMDAL mempunyai maksud sebagai alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktivitas pembangunan yang sedang direncanakan. Di Indonesia, AMDAL tertera dalam Undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1999. Pasal 15 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan (pembangunan) yang memungkinkan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan sekaligus sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.

Dengan dasar tersebut yang akan bertanggung jawab penuh terhadap kerusakan yang mungkin terjadi akibat suatu proses pembangunan adalah pemilik atau pemrakarsa proyek pembangunan yang bersangkutan dengan sepenuhnya membiayai dan menyelenggarakan AMDAL.Pentingnya melibatkan peran serta masyarakat yang berdasarkan pula pada unsur-unsur nilai lingkungan sosiobudayanya sudah disyarakatkan pula dalam Bab VI Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Menurut peraturan ini, rencana usaha atau kegiatan wajib AMDAL harus diumumkan kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL, dan warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran, pendapat, dan tanggapan tentang rencana usaha atau kegiatan tersebut. Pada tahun 2000 Pemerintah RI pernah mengeluarkan Surat Keputusan Kepala Bapedal Nomor 08 Tahun 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL yang mengatur proses keterlibatan masyarakat secara lebih rinci. Masyarakat berhak tahu tentang perubahan lingkungannya, karena masyarakat terdiri dari berbagai orang yang memiliki beragam informasi, data, dan pengetahuan. Masyarakat harus sadar bahwa mereka memiliki pengetahuan yang jauh lebih baik tentang wilayahnya daripada sekumpulan tenaga ahli yang akan menggarap wilayahnya. Dalam hal ini, yang dapat dilakukan dalam proses pengembangan permukiman antara lain sebagai berikut : 1. Penggunaan teknologi bersih yang berwawasan lingkungan dengan segala perencanaan yang baik dan layak. Jadi disini, baik alat maupun bahan yang dipergunakan untuk mengembangkan permukiman haruslah yang ramah lingkungan. 2. Pemanfaatan lahan, bahan ataupun energy yang digunakan untuk

pengembangan permukiman haruslah sehemat mungkin. 3. Diperlukan adanya pengawasan dan pemantauan terhadap jalannya

pembangunan, sehingga sesuai dengan rencana dan tujuannya. 4. Penerapan etika-etika lingkungan dalam pengembangan permukiman.

5. Diperlukan adanya kesadaran instansi yang mengelola proyek-proyek untuk tetap memenuhi kewajibannya melaksanakan AMDAL 6. Peran serta masyarakat dalam mensukseskan pengembangan permukiman yang berwawasan lingkungan.

PENUTUP

Kesimpulan Dalam kehidupan ini manusia sepatutnya menjaga lingkungan agar tetap lestari guna tetap memilki kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang baik dan menyenangkan. Oleh karena itu dibuat prinsip etika-etika yang harus diperbuat manusia dalam memperlakukan makhluk hidup. Prinsip-prinsip itu antara lain : bersikap hormat terhadap alam, prinsip tanggung jawab, prinsip solidaritas, prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam, prinsip no harm, serta prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam. Disamping itu, dalam menjalani kehidupannya, manusia tidak pernah lepas dari hal-hal yang berhubungan dengan tempat dimana ia tinggal dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia, kebutuhan akan tempat tinggal merupakan kebutuhan dasar disamping kebutuhan pangan dan sandang. Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan dalam permukiman. Dalam proses pengembangan permukiman tersebut dibutuhkan adanya pembangunan yang berwawasan lingkungan disamping menjadikan prinsip-prinsip dalam etika lingkungan hidup sebagai pedoman.

Saran Guna menjamin kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang diharapkan agar tetap memiliki kehidupan dan lingkungan dalam suasana yang baik dan menyenangkan, banyak hal yang dilakukan untuk menjamin kelangsungan hidup alam semesta, setidaknya kita harus merubah sikap dalam memandang dan memperlakukan alam sebagai hal bukan sebagai sumber kekayaan yang siap dieksploitasi, kapan dan dimana saja.

Selain itu, dalam pembangunan pengembangan permukiman sepatutnya tetap memperhatikan etika-etika lingkungan hidup serta penerapan pembangunan yang berwawasan lingkungan, agar keseimbangan alam tetap terjaga seiring perkembangan teknologi, pertambahan penduduk, dan pertambahan jumlah pemenuhan kebutuhan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->