P. 1
Rumus Mat Semester Genap Kls Xi Rpl Tkj Mrsukani Poenyadoc

Rumus Mat Semester Genap Kls Xi Rpl Tkj Mrsukani Poenyadoc

|Views: 1,310|Likes:
Published by MichaelHo

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: MichaelHo on Jun 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

GEOMETRI DIMENSI DUA

 Mengidentifikasi sudut 1. Satuan Sudut

Satuan sudut ada 3 macam, yaitu derajat, radian dan gradian (gon) a. Derajat Besar sudut α disebut satu derajat (1o), jika panjang busur 1 o lingkarannya sama dengan 360 dari keliling lingkarannya. 1 22 o Jadi : 1o = 360 . 2 π r, dengan π = 7 = 3,14159 Jika jari-jari r sama dengan satu satuan, maka besarnya 1 π o o 1o = 360 . 2π = 180 = 0.017 rad

O

α

Dari sistem satuan derajat dibagi lagi menjadi menit dan detik atau disebut sistem DMS (derajat, menit dan detik) dengan konversi : 1o = 60' (menit) 1' = 60" (detik) atau 1o = 3600" (detik) b. Radian Besar α disebut satu radian ditulis 1 rad, jika panjang busur lingkarannya sama dengan jari-jari lingkaran. O α ∠ AOB = α = 1 rad dengan ∩AB = r Untuk panjang busur r → sudut pusat = 1 rad Untuk panjang busur 2 π r → sudut pusat = 360o Terdapat hubungan : 2 π rad = 360o atau π rad = 180o 180o 1 rad = π = 57,3o c. Gradian (gon) 1 Besar α disebut satu gon dan ditulis 1g, jika panjang busur lingkarannya = 400 dari keliling lingkarannya. Jadi besar sudut pusat lingkaran = 400g. Hubungan : 360o = 2 π rad = 400g atau 180o = π rad = 200g 200 180 1o = 180 = 1,11g atau 1g = 200 = 0,9o 200 1 rad = π (gon)

π atau 1g = 200 rad

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

2. a.

Konversi Satuan Sudut

Derajat ke radian dan atau sebaliknya 135 3π 4 150 5π 6 180 π

Tabel Konversi satuan sudut derajat dengan radian Derajat 0 30 45 60 90 120 Radian 0

π 6

π 4

π 3

π 2

2π 3

b.

Derajat ke gradian (gon) dan atau sebaliknya

keliling lingkaran = 1 putaran = 360o = 400g atau 180o = 200g 200 1o = 180 x 1g = 1,11g 180 1g = 200 x 1o = 0,9o c. Radian ke gradian dan atau sebaliknya

1 putaran = 2π rad = 400 gon atau π rad = 200 gon 200 1 rad = π x 1g = 63,66g π 1g = 200 x 1 rad = 0,0157 rad  Keliling Dan Luas Daerah Bangun Datar 1. a. Rumus-rumus keliling dan luas bangun datar Segitiga (jumlah sudutnya 180o) Segitiga siku-siku L = ½ . alat . tinggi b c L=½.a.b Kel. = a + b + c a Segitiga sama kaki L = ½ . alas . tinggi L=½.a.t 1  (c)2 −  a  2 
2

b a

t

c

t=

; b=c

b α a

t

c

Segitiga sedmbarang dengan sudut diketahui L = ½ . a . t → t = b . sin α L = ½ . a . b . sin α

c

t

a

d Segitiga sembarang dengan semua sisi diketahui b a c L = s . (s − a) . (s − b) . (s − c) Keliling = a + b + c s = ½ . (a + b + c)

Hukum Pythagoras untuk segitiga siku-siku : " Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya " Dari hukum Pythagoras tersebut ada beberapa perbandingan untuk segitiga siku-siku, yaitu (3 : 4 : 5) ; (5 : 12 : 13) ; (7 : 24 : 25) ; (8 : 15 : 17) atau kelipatannya. b. 1. Segiempat (jumlah sudutnya 360o) Persegi panjang L = panjang . lebar l L=p.l Keliling = 2 . (p + l) p Bujur sangkar L = sisi . sisi L=a.a a Keliling = 4a a Jajaran genjang b θ 4. a Belah ketupat b a 5. Trapesium b jumlah sisi sejajar x tinggi 2 L= 1 L = 2 (a + b) . t Keliling = a + b + c + d 1 L = 2 . diagonal . diagonal Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com t L = panjang alas . tinggi L=a.t L = a . b . sin θ Keliling = 2 . (a + b) 1 L = 2 . diagonal . diagonal 1 L= 2 a.b

2.

3.

a 6. Layang-layang

b c. Lingkaran

1 L= 2 a.b

O

r

22 x jari - jari x jari - jari L= 7 22 2 .r L= 7 22 x2xr Keliling lingkaran = 7 L=π .a.b a = ½ sumbu panjang b = ½ sumbu pendek n 2 180o n 2 360 o . a . ctg . r . sin n n atau L = 2 L= 4 Untuk segi enam beraturan 3 2 3 2 .a . 3 .r . 3 L= 2 atau L = 2 a=r

d.

Ellips a b

e.

Segi n beraturan

r a 2.

Keliling dan luas daerah yang diarsir dari bangun datar

Untuk menentukan keliling daerah yang diarsir adalah dengan menjumlahkan semua garis yang terkena arsiran. Untuk menentukan luas daerah yang diarsir adalah luas yang di luar dikurangi luas yang di dalam.  Menerapkan transformasi bangun datar 1. a. Jenis-Jenis Transformasi Translasi (Pergeseran)

Translasi adalah suatu transformasi yang memindahkan setiap titik pada bidang datar yang jarak a      dan arahnya tertentu oleh translasi T =  b  . y P' (x', y') b P (x, y) b. a x Refleksi (Pencerminan) P (x, y) → P' (x + a, y + b)

Refleksi adalah transformasi yang memetakan setiap titik pada bidang datar dengan pencerminan

yang menggunakan sifat dari cermin datar. c. Rotasi (Perputaran)

Rotasi adalah suatu tarnsformasi yang memindahkan setiap titik dengan cara memutar setiap ttiik tersebut denganm besar dan arah yang telah ditentukan. y Pada rotasi terhadap titik O (0, 0) sebesar θ P' (x', y') dengan arah positif, maka titik P (x, y) menjadi titik P' (x', y') x' = x cos θ – y sin θ y' = x sin θ + y cos θ P (x, y) x 1.  0 − 1     Rotasi sejauh 90o, matriks transformasinya adalah : T =  1 0   x'   0 − 1  x      y'   1 0   y       =  .  −1 0     − 1 o, matriks transformasinya adalah : T =  0  Rotasi sejauh 180  x'   − 1 0   x      y '   0 − 1  y       =  .   0 1     o, matriks transformasinya adalah ; T =  − 1 0  Rotasi sejauh 270  x'   0 1   x      y'   − 1 0   y       =  .   cos θ − sin θ    sin θ cos θ    Rotasi sejauh θ derajat, matriks transformasinya adalah : T =   x'   cos θ − sin θ   x      y '   sin θ cos θ   y       =  .  Untuk perputaran berlawanan arah jarum jam θ positif dan searah jarum jam θ negatif. Dilatasi (perkalian)

2.

3.

4.

d.

Dilatasi adalah transformasi yang mengubah ukuran (memperbesar atau memperkecil) dengan suatu faktor skala. P (x, y) → P' (x', y') dengan x' = kx dan y' = ky 2. a. Komposisi Transformasi Komposisi dua Translasi berurutan Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

 a1   a2   a1   a 2          b  b       1  dan T =  2  → T o T =  b1  +  b 2  T1 = 2 2 1 (T2 o T1) A (x, y) → A" (x", y") dengan x" = x + (a1 + a2) dan y' = y + (b1 + b2) b. 1. Komposisi dua Refleksi berurutan Pencerminan terhadap garis x1 = k dan x2 = l M 2 x o M1 x P (x, y) x1 = k , x 2 = l P" (2 (l – k) + x , y) Pencerminan terhadap garis y1 = m dan y2 = n M 2 y o M1 y P (x, y) y1 = m , y 2 = n P" (x, 2 (n – m) + y) Komposisi dua Rotasi berurutan

2.

c.

Jika titik P (x, y) diputar sebesar θ1 dan diteruskan ke θ2 dengan arah positif sama dan titik pusat yang sama, maka bayangannya adalah : P" (x", y") Dimana : x" = x cos (θ1 + θ2) – y sin (θ1 + θ2) y" = x sin (θ1 + θ2) + y cos (θ1 + θ2)

GEOMETRI DIMENSI TIGA
 Mengidentifikasi bangun ruang dan unsur-unsurnya 1. a. Unsur-unsur bangun ruang Kubus

Kubus adalah suatu bangun ruang yang dibatasi oleh enam bidang datar, dimana masing-masing bidang datar berbentuk bujur sangkar. Kubus disebut juga dengan Hexaeder. H G Perhatikan gambar kubus ABCD - EFGH Enam bidang datar adalah : E F ABCD, EFGH, ABEF, CDGH, BCFG, dan ADEH Kubus mempunyai 12 rusuk, yaitu : AB, BC, CD, DA, EF, FG, GH, HE, CG, BF, AE, dan DH D C Kubus juga mempunyai 8 titik sudut, yaitu titik : A, B, C, D, E, F, G, dan H. A B Jika panjang sisi kubus = a, maka panjang diagonal bidangnya : BD2 = AB2 + AD2 → AB = AD = a BD2 = a2 + a2 = 2a2 BD = a 2 Panjang diagonal ruang : BH2 = BD2 + DH2 = 2a2 + a2 = 3a2 BH = a 3 b. Balok

Balok adalah suatu bangun yang dibatasi oleh enam bidang datar yang berbentuk persegi panjang. Pada balok ukuran rusuknya tidak sama, yaitu terdiri dari panjang, lebar dan tinggi. Panjang, semua rusuk yang sejajar dengan bidang gambar Lebar, semua rusuk yang arahnya ke belakang bidang gambar Tinggi, semua rusuk tegak. Perhatikan gambar balok ABCD – EFGH H G Panjang : AB, CD, EF, dan GH Lebar : BC, AD, FG, dan EH E F Tinggi : AE, BF, CG, dan DH D C Balok mempunyai 12 sisi diagonal yang tidak sama panjangnya. AC = BD = EG = FH A B BG = CF = AH = DE AF = BE = CH = DG Diagonal ruang balok ada 4 buah yang sama panjang, yaitu : AG, BH, CE, dan DF. Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

c.

Prisma

Prisma adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua bidang yang sejajar (bidang alas dan bidang atas) dan bidang tegak yang saling berpotongan menurut rusuk-rusuk sejajar.

Prisma tegak segi empat bentuknya sama dengan balok. d. Limas

Limas adalah bangun ruang yang dibatasi oleh bidang alas yang berbentuk segi-n dan bidang tegak yang berbentuk segitiga. Bentuk limas tergantung dari bentuk bidang alasnya. T T T

C D A A B C A B C E D

B Perhatikan gambar Limas segi empat T – ABCD Titik A, B, C, dan D merupakan titik sudut alas, sedangkan titik T merupakan titik puncak. ABCD disebut bidang alas, sedangkan TAB, TBC, TCD, dan TAD disebut bidang tegak. AB, BC, CD, dan DA disebut rusuk alas, TA, TB, TC, dan TD disebut rusuk tegak e. Tabung

Tabung adalah prisma yang bidang alasnya berbentuk lingkaran, yang dibatasi oleh dua bidang lingkaran sejajar (alas dan atas) dan sebuah bidang lengkung tegak r = jari-jari tabung t = tinggi tabung t r

f.

kerucut

Kerucut adalah bangun limas yang bidang alasnya berbentuk lingkaran dengan jari-jari r dan tinggi t. r = jari-jari kerucut t = tinggi kerucut t r g. Bola

Bola adalah bangun ruang yang dibatasi oleh bidang lengkung sebagai tempat kedudukan titiktitik yang berjarak sama erhadap suatu titik pusat

r

 Menghitung Luas Permukaan Bangun Ruang 1. Kubus H E D A B A E B F F E A F C G Jaring-jaring kubus H D G C G H D

Jika panjang sisi kubus adalah "a", maka : Panjang diagonal bidang = a 2 Luas bidang sisi L = a2 Luas bidang diagonal = a2 2 Luas permukaan kubus Lp = 6a2

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

2.

Balok H E D A B F C C B F G C G G Jaring-jaring balok F

D H Luas permukaan balok : Lp = 2 {(p . l) + (p . t) + (l . t)} Volume balok : V = p . l . t 3. Prisma T R Q O P S T R

A E

E

H

D

Jaring-jaring prisma T S T

Q

O

P

Q

Q Luas selimut prisma segi-n = keliling bidang alas segi-n x tinggi prisma Luas permukaan prisma segi-n = luas selimut + luas alas + luas atas

A

D EH

F B G

C

4.

Limas T Jaring-jaring limas T C D A B T A B C T

D

T Luas selimut = n . luas bidang segitiga → n = jumlah segi bidang alas Luas permukaan = luas selimut + luas alas 5. Limas Terpancung Jaring-jaring limas terpancung

Luas selimut = n . luas bidang trapesium → n = jumlah segi bidang alas Luas permukaan = luas selimut + luas alas

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

6.

Kerucut T Jaringjaring T t s s A r B r B kerucut A

kel. lingkaran alas x luas lingkaran bidang tegak kel. lingkaran bidang tegak Luas selimut : Ls = 2π r x π s2 = 2π s =π rs Luas permukaan : Lp = luas selimut + luas alas = π r s + π r2 = π r (s + r) 7. Kerucut terpotong T s1 s1 r s R s r Jaring-jaring kerucut terpotong T

R

Luas selimut = π (R + r) s Luas permukaan = luas selimut + luas alas + luas atas

8.

Tabung Jaring-jaring tabung r t r t 2π r

Luas selimut : Ls = keliling lingkaran alas x tinggi tabung =2π .r.t Luas permukaan : Lp = luas selimut + luas alas + luas atas. 9. Bola Luas permukaan = 4 π . r2 Volume : V = 4/3 . π . r3 r

 Menerapkan konsep volum bangun ruang 1. Kubus s Volume kubus : V =s.s.s = s3

2.

Balok t l p Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com Volume balok : V = panjang x lebar x tinggi =pxlxt

A

Db a EH t

F B a G b C

3.

Prisma Volume prisma : V = luas alas x tinggi

4.

Limas T Volume limas : 1 V = 3 x luas alas x tinggi C M A B Limas Terpancung

D

5.

Volume limas terpancung : 1 V = 3 . t . (b . b + b . a + a . a) 6. Kerucut Volume kerucut 1 V = 3 x luas alas x tinggi 1 = 3 . π . r2 . t

7.

Kerucut terpotong

r t R 8. Tabung

Volume kerucut terpotong : 1 V = 3 . π . t . (R2 + R . r + r2)

Volume tabung : V = luas alas x tinggi V = π . r2 . t

9.

Bola Volume bola : 4π V = 3 . r3 atau π V = 6 . d3

 Menentukan hubungan antara unsur-unsur dalam bangun ruang 1. a. Jarak pada bangun ruang Jarak titik ke titik Jarak antara titik A ke titik B adalah penghubung terpendek antara A dan B, yaitu garis AB. B A b. Jarak titik ke garis Jarak titik P ke garis g adalah ruas garis terpendek yang menghubungkan antara titik P ke garis g. P PP' adalah jarak antara titik P ke garis g

P'

g

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

c.

Jarak titik ke bidang Jarak titik ke bidang adalah ruas garis terpendek yang menghubungkan titik P ke bidang. P

P' 2. a. Sudut pada bangun ruang Sudut dua garis bersilangan sudut pada dasarnya terbentuk oleh dua garis yang saling berpotongan. Dengan demikian sudut dua garis yang bersilangan sama artinya dengan membentuk sudut dua garis yang berpotongan. Sudut antara garis dan bidang Sudut antara garis dan bidang adalah sudut yang terbentuk oleh perpotongan antara garis dengan garis lain yang menempel pada bidang. Sudut antara dua bidang Sudut antara dua bidang adalah sudut yang dibentuk dari perpotongan dua garis yang terletak pada bidang.

b.

c.

KONSEP VEKTOR

271000000000000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f112000 000000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f112000000aa0300 0004000022f112000000aa0300b2fb0ebf03008000803f0500000100000010f004000000930100000 0000ff0000030004000022f112000000aa0300b2fb0ebf03008000803f0500000100000010f0040000 1000000000000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f11200000  Menerapkan konsep vektor pada bidang datar 1. a. Pengertian dan Jenis-Jenis Vektor Pengertian dan notasi vektor y P j a

O

i

x

Perhatikan gambar, sebuah vektor disajikan dalam bentuk garis lurus OP atau bisa juga dinyatakan dengan vektor tunggal a . Titik O disebut titik pangkal vektor, titik P disebut titik ujung vekor, OP disebut vektor OP aau vektor a , dan besarnya vektor atau panjang dari garis vektor dinyatakan dengan b. Penyajian vektor  a1      a dapat disajikan dalam bentuk matriks kolom a =  a 2  , atau dalam bentuk Vektor matriks baris a = (a1, a2), atau dinyatakan dalam bentuk matriks satuan a = a1 i + a2 j , dengan a1 komponen vektor horizontal (sumbu x), dan a2 komponen vektor verikal (sumbu y). i vektor satuan untuk sumbu x dan j vektor satuan untuk sumbu y. c. Besar vektor  a1      a =  a 2  = a i + a j , besarnya vektor atau panjang vektor a Misalkan vektor 1 2 dinotasikan dengan 2. a. Operasi Vektor Penjumlahan vektor Penjumlahan vektor dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara segitiga dan cara jajaran genjang. 1. Cara segitiga Vektor c = a + b adalah : a , yang besarnya adalah : a = a1 + a 2
2 2

OP

atau

a

.

a

b Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

000000000000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f112000000 030004000022f112000000aa0300b2fb0ebf03008000803f0500000100000010f0040000009301000 00ff0000030004000022f112000000aa0300b2fb0ebf03008000803f0500000100000010f0040000009 000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f112000000aa0300b2fb 00000000000000000000000004401040000007f0100000100bf0100001000d10101000000ff0000030004000022f112000000a 2. Cara jajaran genjang

a

b

b.

Pengurangan vektor Pengurangan vektor merupakan penjumlahan dengan vektor inversnya (vektor negatif). a – b = a + (– b ) b

a
–b a –b c. Perkalian skalar dengan vektor Misalkan skalar m dikalikan dengan vektor a , maka hasilnya adalah suatu vektor yang panjangnya merupakan k kali vektor a dan arahnya sama dengan arah vektor a .

a

2a

3a

Sifat-sifat perkalian vektor dengan skalar : 1. m . a = a . m 2. m . (– a ) = –m . a 3. m.a = m.a

4. m . ( a + b ) = m a + m b 5. (m + n) . a = m a + n a d. Resultan dua vektor P1 R

P2 Jika P1 adalah panjang vektor p1 , P2 adalah panjang vektor p 2 dan θ sudut yang dibentuk oleh kedua vektor p1 dan p 2 maka resultan kedua vektor tersebut adalah : R= ( P1 ) 2 + ( P2 ) 2 + 2( P1 )( P2 ). cos θ

e.

Perkalian skalar dua vektor Perkalian skalar dua vektor adalah perkalian dua vektor dengan bentuk perkalian titik (dot product) dan hasilnya skalar. Hasil kali vektor a dengan vektor b ditulis a . b (dibaca a dot b) adalah : a b

a.b =
a b

.

. cos θ → 0o ≤ θ ≤ 180o a b = = (a1 ) 2 + ( a 2 ) 2 (b1 ) 2 + (b2 ) 2

= besar (panjang) vektor a → = besar (panjang) vektor b →

θ = sudut yang dibentuk oleh vektor a dan b  Menerapkan konsep vektor pada bangun ruang 1. Panjang vektor Jika a = a1 i + a2 j + a3 k maka panjang vektor a adalah : a 2. = (a1 ) 2 + ( a 2 ) 2 + ( a3 ) 2

Operasi vektor Operasi vektor dalam ruang sama seperti operasi vektor pada bidang, yaitu penjumlahan, pengurangan dan perkalian vektor dangan skalar.

3.

Perbandingan vektor Misalkan titik P membagi garis Ab dengan perbandingan AP : PB = m : n dengan a dan b vektor posisi titik A dan B. Vektor posisi titik P adalah : A  1    p =  m + n  . (n a + m b ) m a p O b P n B

Koordinat titik P adalah : nx1 + mx 2 ny1 + my 2 nz1 + mz 2 m + n ; zp = m + n xp = m + n ; yp =

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

4.

Perkalian

skalar

dua vektor

Jika a = a1 i + a2 j + a3 k dan b = b1 i + b2 j + b3 k maka perkalian skalar dua vektor adalah perkalian dua vektor dengan bentuk perkalian titik (dot product) dan hasilnya skalar. Hasil kali vektor a dengan vektor b ditulis a . b (dibaca a dot b) adalah :

a.b =
a b

a

.

b

. cos θ

→ 0o ≤ θ ≤ 180o a b = = (a1 ) 2 + (a 2 ) 2 + (a3 ) 2 (b1 ) 2 + (b2 ) 2 + (b3 ) 2

= besar (panjang) vektor a → = besar (panjang) vektor b →

θ = sudut yang dibentuk oleh vektor a dan b Sifat-sifat perkalian skalar dua vektor : a. Jika θ = 0o maka a dan b sejajar dan searah → a . b = a . b

b. Jika θ = 90o maka a dan b saling tegak lurus → a . b = 0 c. Jika θ = 180o maka a dan b sejajar dan berlawanan arah → a . b = – d. a . b = b . a → sifat komutatif e. a .( b + c ) = a . b + a . c → sifat distributif Perkalian skalar dua vektor dalam bentuk komponen adalah : a . b = (a i + a j + a k ) . (b i + b j + b k )
1 2 3 1 2 3

a

.

b

i . i = 1, j . j = 1, k . k = 1, i . j = j . i = 0, i . k = k . i = 0 dan j . k = k . j = 0

a . b = a .b + 0 + 0 + 0 + a .b + 0 + 0 + 0 + a .b 1 1 2 2 3 3
= a1.b1 + a2.b2 + a3.b3 Sudut antara dua vektor : a.b

a.b =
5. a.

a

.

b

. cos θ

cos θ =

a.b

Proyeksi ortogonal sustu vektor pada vektor lain Proyeksi skalar ortogonal Gambar di samping adalah proyeksi dari a ke b diwakili oleh c , sehingga proyeksi skalar vektor pada b adalah c .

a

ffffffffffffffffffffff000003000400fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff 21008a0100000000ffffffff5cf31200040000000300040004000000f0010300030000000000000000000000000000000000000 e3300f439b2710000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000003000400

a.b c = b

b.

Proyeksi vektor ortogonal Pada gambar di samping, proyeksi vektor a pada b adalah c . a.b .b 2 b c =

6.

Perkalian vektor dua vektor Perkalian vektor dua vektor a dan b ditulis a x b (dibaca a cross b) atau disebut juga dengan perkalian silang (cross product). Hasil kalinya adalah :

axb =

a i a1 b1

.

b j a2 b2

. sin θ k a3 b3

axb =

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

KONSEP TEORI PELUANG
 Kaidah Pencacahan, Permutasi dan Kombinasi 1. a. Kaidah Pencacahan Pengisian tempat yang tersedia Jika pada kegiatan pertama dilakukan dengan x cara berbeda, kegiatan kedua dengan y cara berbeda dan kegiatan ketiga dengan z cara berbeda, dan seterusnya, maka banyaknya cara untuk melakukan kegiatan tersebut berturut-turut adalah x . y . z cara. 2. Permutasi Permutasi adalah susunan dari objek-objek atau unsur-unsur dengan memperhatikan urutannya. a. b. Macam- macam Permutasi Permutasi n unsur yang berbeda Pn = n ! = n . (n – 1) . (n – 2) . (n – 3) . (n – 4) . … . 1 Permutasi n unsur dengan unsur ada yang sama n! Pu = n1!. n 2!. n 3!. ... . n k ! Permutasi r unsur dari n unsur yang berbeda n! nPr = (n - r) ! ciri dari permutasi ini posisinya disebutkan sebagai apa. d. Permutasi melingkar n! Ps (n) = (n – 1) ! atau Ps (n) = n 2. Kombinasi Kombinasi adalah susunan dari objek-objek atau unsur-unsur dengan tidak memperhatikan urutannya. (posisi tidak disebutkan sebagai apa)

c.

Rumus Kombinasi : n! nCr = r!. (n - r) !  Menghitung peluang suatu kejadian a. Peluang dari suatu kejadian

Peluang dari suatu kejadian adalah perbandingan antara banyaknya titik sampel dan ruang sampel dari suatu kejadian dan dirumuskan dengan : n P= s n = titik sampel dan s = ruang sampel misal : uang logam memiliki s = 2 ; dadu memiliki s = 6 ; kartu bridge s = 52 2 uang logam s = 22 = 4 ; 2 dadu memiliki s = 62 = 36 b. Frekuensi Harapan

Frekuensi Harapan adalah harapan munculnya kemungkinan dari suatu kejadian dan dirumuskan dengan : Frekuensi Harapan = peluang kejadian x banyaknya percobaan : FH = P (A) . N c. Kejadian saling lepas ( kata penghubung "atau")

Jika P (A) adalah kejadian dari A dan P (B) adalah kejadian dari B, maka kejadian saling bebas antara A dan B adalah : P ( A U B ) = P (A) + P (B) d. Kejadian tidak saling lepas

Jika A adalah munculnya kejadian A dan B adalah munculnya kejadian B dimana A dan B tidak saling lepas karena ada anggota A yang juga anggota B, maka peluang A atau peluang B adalah : P ( A U B ) = P (A) + P (B) – P ( A ∩ B ) e. Kejadian saling bebas (kata penghubung "dan")

Jika P (A) adalah kejadian dari A dan P (B) adalah kejadian dari B, maka kejadian saling lepas antara A dan B adalah : P ( A ∩ B ) = P (A) x P (B) e. Kejadian tidak saling bebas (kata penghubung "dan")

Jika P (A) adalah kejadian dari A dan P (B) adalah kejadian dari B, dengan kejadian B sangat Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

dipengaruhi oleh kejadian A maka kejadian tidak saling lepas antara A dan B adalah : P ( A ∩ B/A ) = P (A) x P (B/A) Ciri dari kejadian tidak saling lepas adalah dengan kata hubung "dan" , pengambilan pertama tidak dikembalikan lagi untuk pengambilan ke dua. f. Penggunaan kombinasi dalam mencari peluang

Untuk peluang terambilnya objek lebih dari satu sekaligus. m Ca . C n b P(A∩B)=
m Ca ++bn

Untuk peluang sukses dan gagal dari suatu kejadian : P ( r ) = nCr . pn . qn – r p = peluang sukses dan q = peluang gagal, n = frekuensi percobaan dan r = pengambilan

STATISTIK
 Pengertian statistik, statistika, populasi dan sampel Statistik : adalah kumpulan data yang berbentuk angka-angka atau keterangan-keterangan yang disusun dan disajikan dalam bentuk tabel atau diagram. Statistika : adalah suatu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan metode ilmiah untuk mengumpulkan data, menyusun data, menyajikan data, berdasarkan methode analisis, sehingga dapat mengambil kesimpulan yang teliti serta keputusan yang rasional dan logis. Data : adalah keterangan tentang sesuatu hal dari hasil pengamatan atau penelitian baik yang berbentuk katagori maupun yang berbentuk bilangan. Menurut jenisnya data dibedakan menjadi ; a. Data Kuantitatif, yaitu data yang berbentuk bilangan. Berdasarkan nilainya, data kuantitatif ada dua macam yaitu 1. Data variabel diskrit (hasil menghitung/membilang) Contoh : Keluarga B sudah punya anak 2 laki-laki dan 3 perempuan 2. Data kontinu (hasil pengukuran) Contoh : Tinggi badan Budi 167 cm b. Data kualitatif, yaitu data yang berbentuk katagori (sifat) Contoh : sembuh, sehat, sukses, dan sebagainya Populasi : adalah seluruh data dari hasil perhitungan maupun pengukuran yang berbentuk data kuantitatif maupun kualitatif dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Sampel : adalah sebagian data yang diambil secara random/acak dari populasi.  Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram 1. Pengumpulan Data

Ada beberapa cara pengumpulan data, antara lain : 1. Penelitian lapangan (penelitian langsung) atau observasi Pengumpulan data dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung ke lapangan atau di laboratorium terhadap objek penelitian. Hasilnya dicatat, kemudian dianalisa. 2. Wawancara (interview) Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung kepada objek atau kepada orang yang mengetahui persoalan objek. 3. Angket (kuesioner) Pengumpulan data dengan menggunakan daftar atau isian atau pertanyaan yang telah disiapkan dan disusun sedemikian rupa sehingga objek tinggal mengisi atau menandai jawaban dari pertanyaan yang diberikan. 4. Dengan mengambil atau menggunakan sebagian atau seluruh data yang telah dicatat atau laporan dari penelitian sebelumnya. Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

2.

Penyajian Data

Dalam penyajian data dapat berbentuk tabel atau diagram. a. Tabel Penyajian data dalam bentuk tabel adalah data yang sudah diperoleh disusun dan disajikan dalam susunan baris dan kolom sehingga akan tampak lebih jelas dan cepat dibaca. b. Diagram Penyajian data dengan menggunakan diagram dapat dilakukan dengan : Diagram Batang, Diagram Lingkaran, Diagram Lambang, Diagram Garis, Diagram Histogram dan poligon frekuensi.  Menentukan ukuran pemusatan data 1. a. Rata-rata Rata-rata Hitung (Mean) Data tunggal : x1, x2, x3, x4, … xn x + x 2 + x 3 + x 4 + ... + x n X= 1 n Mean : → Data kelompok : X= Mean : b. X=

∑ xi
i

n

n
n

∑ fi . xi f1 . x1 + f 2 . x 2 + f 3 . x 3 + ... + f n . x n X= i f1 + f 2 + f 3 + ... + f n fi →

Rata-rata ukur Data tunggal : x1, x2, x3, x4, … xn Xu = n x1 . x 2 . x 3 . ... . x n

2. a.

Median dan Modus Median Median adalah nilai tengah dari kelompok data Syaratnya data diurut dulu dari yang kecil ke besar Data tunggal : x1, x2, x3, x4, … xn Untuk data n ganjil : Me =

X

n +1 2

X +X
n 2

n +1 2

Untuk data n genap : Me = Data kelompok : n p . ( − F) 2 Tb + fMe Me =

2

Tb = tepi bawah kelas median, p = interval kelas, n = banyaknya data

F = frekuensi kumulatif sebelum kelas median, fMe = frekuensi kelas median b. Modus Modus adalah data yang frekuensinya terbanyak atau data sering muncul. Data tunggal : lihat data yang paling sering muncul Data kelompok : Tb + p ( Mo = b1 b1 + b 2 )

Tb = tepi bawah kelas modus, p = interval kelas b1 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sebelum kelas modus b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas setelah kelas modus  Menentukan ukuran penyebaran data 1. Daerah Jangkauan (range)

Jangkauan data adalah selisih antara data tertinggi dengan data terendah. Jangkauan data biasa juga disebut dengan range, dengan rumus : R = Xmaks – Xmin 2. Rata-rata simpangan

Rata-rata simpangan atau deviasi rata-rata adalah ukuran seberapa jauh penyebaran nilai-nilai terhadap nilai rata-rata hiung (mean) Rata-rata simpangan dirumuskan :

∑ xi - X
i =1

n

∑f
i =1

n

1

. xi - X n (data kelompok)

n Rs = xi = data ke i

(data tunggal)

; Rs =

3. a.

X = rata-rata hitung (mean) fi = frekuensi data ke i n = banyaknya data Simpangan Baku dan Varians Simpangan Baku (Deviasi Standar)

∑ (x
i =1

n

i

− X)

2

∑ f . (x
i =1 i

n

i

− X) 2 (data kelompok)

Ds = b.

n

( data tunggal) ; Ds =

n

Varians sama dengan simpangan baku dipangkatkan dua (Ds2)

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

4. a.

Kuartil dan Jangkauan Semi Inter Kuartil Kuartil Kuatil adalah kelompok data dibagi menjadi empat bagian yang sama Syarat kuartil data harus diurut dari yang kecil ke besar Data tunggal : n +1 Letak kuartil bawah : Q1 = 4 2 (n + 1) 4 Letak kuartil tengah : Q2 = 3 (n + 1) 4 Letak kuartil atas : Q3 = Data kelompok :  i.n  - Fi    Tbi + p .  4  fQi      Qi =

Nilai kuartil :

Qi = nilai kuartil ke i, i = 1, 2, 3 ; Tbi = tepi bawah kelas kuartil ke I p = interval kelas n = banyaknya data Fi = frekuensi komulatif sebelum kelas kuartil ke I FQi = frekuensi kelas kuartil ke i b. Jangkauan semi inter kuartil 1 Qd = 2 ( Q3 – Q1 )

IRISAN KERUCUT
Irisan kerucut adalah irisan antara bidang datar dengan kerucut tegak. Irisan tersebut berupa lingkaran, parabola, ellips, dan hiperbola tergantung posisi perpotongan antara bidang datar dengan kerucut tegaknya, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Lingkaran

Parabola

Ellips

Hiperbola

Rumus dasar untuk menentukan rumus persamaan lingaran, parabola, ellips, dan hiperbola adalah : 1. Rumus jarak titik A (x1, y1) dan titik B (x2, y2) : AB = ( x 2 − x1 ) 2 + ( y 2 − y1 ) 2 2. Rumus jarak titik A (x1, y1) ke garis Ax + By + C = 0 : R= Ax1 + By1 + C A2 + B 2

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

Tali busud CD O

 Menerapkan Konsep Lingkaran Lingkaran adalah tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama dari titik tertentu. Dimana titik tertentu tersebut disebut dengan titik pusat lingkaran, dan jarak yang sama disebut dengan jarijari. A. 1. 2. 3. 4. 5. 6 7. Unsur-unsur lingkaran Lingkaran adalah bangun bidang yang merupakan tempat kedudukan titik-titik yang berjarak sama terhadap titik pusat O. Jari-jari adalah garis lurus yang menghubungkan titik pusat dengan titik pada lingkaran. Tali busur adalah garis lurus yang menghubungkan dua buah titik lingkaran. Diameter adalah tali busur yang melalui titik pusat ( d = 2 . jari-jari ) Busur adalah bagian keliling dari titik yang terletak antara dua ujung tali busur. Juring adalah daerah yang dibatasi oleh dua buah jari-jari dan sebuah busur. Tembereng adalah laus daerah yang dibatasi oleh tali busur dan busur lingkaran. B Juring AOB Busur AB A

Tembereng lingkaran C D

22 Luas lingkaran : L = 7 . r2 22 Keliling lingkaran = 7 . 2r α 22 o Luas juring AOB (Lj) = 360 . 7 . r2 α 22 o Panjang busur AB = 360 . 7 . 2r Tali busur CD = 2 . t.(d − t ) → t = tinggi tembereng Luas tembereng (Lt) = Luas juring – luas segitiga r 2 α .π .( − sin α ) o Atau : Lt = 2 180

360o 180o .(n − 2) sudut pusat = n , sudut segi = n Jumlah sudut segi tiga = 180o dan segi empat = 360o B. Garis Singgung

Suatu garis dikatakan menyinggung lingkaran dan disebut dengan garis singgung adalah jika mempunyai satu titik persekutuan. Sifat-sifat garis singgung a. hanya mempunyai satu titik persekutuan b. tegak lurus jari-jari yang melalui titik singgung. P O R

Q OP = OQ = r ∠ OPR = ∠ OQR OR merupakan sumbu simetri dan PR = QR Garis singgung persekutuan dalam dan luar P P R r M Q garis singgung persekutuan dalam MN2 = PQ2 + (R + r)2 C. Sudut Pusat dan Sudut Keliling C C O A D ∠ AOD = 2 ∠ ACD , ∠ AOB = 2 ∠ ACB B A B ∠ ACB = ∠ ADB = ∠ AEB A D C C O D Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com D E garis singgung persekutuan luar MN2 = PQ2 + (R – r)2 N M R r N Q

A

B
O

∠ A + ∠ C = 180 , ∠ B + ∠ D = 180O D. a. Persamaan Lingkaran

B garis yang menyinggung lingkaran akan tegak lurus jika dari titik singgungnya ditarik ke titik pusat. ∠ AOB = 180O - ∠ ACB , ∠ AOB = 2 ∠ ADB

Persamaan lingkaran dengan titik pusatnya O (0, 0) dan jari-jarinya R
2 2 x2 + y2 = R2 atau R = x + y

b.

Persamaan lingkaran yang pusatnya P (a, b) dan berjari-jari R A (x, y) R • P (a, b) PA = R ( x − a ) 2 + ( y − b) 2 = R atau : (x – a)2 + (y – b)2 = R2

c.

Persamaan Umum Lingkaran x2 + y2 + Ax + By + C = 0 1 1 − Dengan pusat lingkaran P { 2 A , 2 B} dan jari-jari R = − 1 2 1 2 A + B −C 4 4

E. a.

Persamaan Garis Singgung Persamaan garis singgung pada lingkaran x2 + y2 = R2 di titik (x1, y1) adalah : x1 x + y1 y = r2

b.

Persamaan garis singgung lingkaran (x – a)2 + (y – b)2 = R2 dan melalui titik (x1, y1) adalah : (x1 – a) (x – a) + (y1 – b ) (y – b) = R2

c.

Persamaan garis singgung lingkaran x2 + y2 + Ax + By + C = 0 di titik (x1, y1) adalah : 1 1 1 1 x1x +y1y + 2 Ax1 + 2 Ax + 2 By1 + 2 By + C = 0  Menerapkan Konsep Parabola

Parabola adalah tempat kedudukan dari titik-titik yang jaraknya dari titik tertentu dan garis terentu sama. Titik tertentu iu disebut dengan fokus dan garis tertentu itu disebut direktriks. Garis yang membagi dua bagian yang sama disebut sumbu simetri, dan perpotongan antara sumbu simetri dengan kurva disebut puncak parabola.

A. 1. a.

Persamaan parabola Persamaan parabola dengan puncak P (0, 0) Persamaan parabola dengan sumbu simetri sumbu x Persamaan parabola dengan puncak P (0, 0) dengan sumbu simetri sumbu x dan parameter p adalah : y2 = 4px Dengan fokus F (p, 0) dan direktriks x = –p

2.

Persamaan parabola dengan puncak P (a, b)

Jika puncak parabola P (a, b), maka rumus-rumusnya adalah : a. Sumbu simetrinya sumbu x : Persaman parabola : (y – b)2 = 4p(x – a) Koordinat fokus : F {(p + a), b} Direktriks : x = a – p b. Sumbu simetrinya sumbu y : Persamaan parabola : (x – a)2 = 4p(y – b) Koordinat fokus : F {a, (p + b)} Direktriks : y = b – p 3. Bentuk Umum Persamaan Parabola Sumbu simetris di sumbu x (y – b)2 = 4p (x – a) y2 – 2by + b2 = 4px – 4pa y2 – 2by – 4px + b2 + 4pa y2 + Ay + Bx + C = 0 → A = –2b ; B = –4p ; C = b2 + 4pa

Sumbu simetris di sumbu y (x – a)2 = 4p (y – b) x2 – 2ax + a2 = 4py – 4pb x2 – 2ax – 4py + a2 + 4pb = 0 x2 + Ax + By + C = 0 B. → A = –2a ; B = –4p ; C = a2 + 4pb

Garis Singgung Parabola Persamaan parabola y2 = 4px x2 = 4py Garis singgung y1y = 2px1 + 2px x1x = 2py1 + 2py

Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

(y – b)2 = 4p (x – a) (x – a)2 = 4p (y – b) y2 + Ay + Bx + C = 0 x2 + Ax + By + C = 0

(y1 – b) (y – b) = 2p (x1 – a) + 2p (x – a) (x1 – a) (x – a) = 2p (y1 – b) + 2p (y – b) y1y + ½Ay1 + ½Ay + ½Bx1 + ½Bx + C = 0 x1x + ½Ax1 + ½Ax + ½By1 + ½By + C = 0

 Menerapkan Konsep Ellips Ellips adalah tempat kedudukan titik-titik yang jumlah jarak dari dua titik tertentu tetap. Kedua titik tertentu tersebut dinamakan fokus (F1 dan F2). Garis yang melalui kedua fokus disebut sumbu panjang atau sumbu mayor, sedangkan garis yang melalui tengah-tengah fokus disebut sumbu pendek atau sumbu minor. A. 1. Persamaan Ellips Ellips dengan pusat (0, 0) Jika titik fokus F1 (c, 0) dan F2 (-c, 0) serta panjang sumbu panjang 2a dan panjang sumbu pendek 2b maka persamaan ellips dengan pusat (0, 0) adalah : x2 y2 a 2 + b 2 = 1 → ellips horizontal x2 y2 b 2 + a 2 = 1 → ellips vertikal a = jari-jari sumbu panjang b = jari-jari sumbu pendek Fokus = c2 = a2 – b2 2. Ellips dengan pusat di titik (h, k) Persamaan ( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 a2 b2 ( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 b2 a2 3. Puncak (h ± a, k) (h, k ± b) (h, k ± a) (h ± b, k) Fokus (h ± c, k) (h, k ± c)

Bentuk umum persamaan ellips. Ellips horizontal : ( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 a2 b2 b2 (x – h)2 + a2 (y – k)2 = a2.b2 b2 (x2 – 2hx + h2) + a2 (y2 – 2ky + k2) – a2.b2 = 0 b2x2 – 2b2hx + b2.h2 + a2y2 – 2a2ky + a2.k2 – a2.b2 = 0 b2x2 + a2y2 – 2b2hx – 2a2ky + b2.h2 + a2.k2 – a2.b2 = 0 Ax2 + By2 + Cx + Dy + E = 0 A = b2 ; B = a2 ; C = –2b2h ; D = –2a2k ; E = b2.h2 + a2.k2 – a2.b2

Ellips vertikal : ( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 b2 a2 a2 (x – h)2 + b2 (y – k)2 = a2.b2 a2 (x2 – 2hx + h2) + b2 (y2 – 2ky + k2) – a2.b2 = 0 a2x2 – 2a2hx + a2.h2 + b2y2 – 2b2ky + b2.k2 – a2.b2 = 0 a2x2 + b2y2 – 2a2hx – 2b2ky + a2.h2 + b2.k2 – a2.b2 = 0 Ax2 + By2 + Cx + Dy + E = 0 A = a2 ; B = b2 ; C = –2a2h ; D = –2b2k ; E = a2.h2 + b2.k2 – a2.b2 B. Garis Singgung Ellips. Persamaan x2 a2 + x2 b2 + y2 b2 = 1 y2 a2 = 1 Garis Singgung x1 x + a2 x1 x + b2 y1 y =1 b2 y1 y =1 a2

( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 a2 b2 ( x − h) 2 ( y − k ) 2 + =1 b2 a2
Ax2 + By2 + Cx + Dy + E = 0

( x1 − h).( x − h) ( y1 − k ).( y − k ) + a2 b2 =1 ( x1 − h).( x − h) ( y1 − k ).( y − k ) + b2 a2 =1
A(x1 + x) + B(y1 + y) + ½C(x1 + x) + ½D(y1 + y) + E = 0

 Menerapkan Konsep Hiperbola Hiperbola adalah tempat kedudukan titik-titik yang selisih jaraknya dari dua titik tertentu tetap sebesar 2a. Kedua titik tertentu tesebut adalah F1 dan F2 dan disebut fokus. Garis yang membagi kurva menjadi dua bagian yang sama disebut sumbu. Sumbu yang melalui fokus disebut sumbu mayor (real) dan sumbu lainnya disebut sumbu minor (khayal). A. 1. Persamaan Hiperbola Persamaan Hiperbola dengan pusat (0, 0) x2 y2 − =1 a2 b2 → Hiperbola horizontal Puncak : (±a, 0) Fokus : c2 = a2 + b2 2a = panjang sumbu real dan 2b = panjang sumbu khayal Created by Sukani, S.Pd Email: likeny_rbg@yahoo.com

b Asimtot : y = ± a x y2 x2 − =1 a2 b2 → Hiperbola vertikal Puncak : (±a, 0) Fokus : c2 = a2 + b2 2a = panjang sumbu real dan 2b = panjang sumbu khayal a Asimtot : y = ± b x 2. Persamaan Hiperbola dengan Pusat (h, k) Persamaan ( x − h) 2 ( y − k ) 2 − =1 a2 b2 ( y − k ) 2 ( x − h) 2 − =1 a2 b2 B. Garis Singgung hiperbola Persamaan x2 a2 – y2 a2 – y2 b2 = 1 x2 b2 = 1 Garis Singgung x1 x y1 y − 2 =1 a2 b y1 y x1 x − 2 =1 a2 b ( x1 − h).( x − h) ( y1 − k ).( y − k ) − a2 b2 =1 ( y1 − k ).( y − k ) ( x1 − h).( x − h) − a2 b2 =1
A(x1 + x) + B(y1 + y) + ½C(x1 + x) + ½D(y1 + y) + E = 0

Puncak (h ± a, k)

Fokus (h ± c, k)

Asimtot b y – k = ± a (x – h) a y – k = ± b (x – h)

(h, k ± a)

(h, k ± c)

( x − h) 2 ( y − k ) 2 − =1 a2 b2 ( y − k ) 2 ( x − h) 2 − =1 a2 b2
Ax2 + By2 + Cx + Dy + E = 0

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->