TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 (STUDY TERHADAP DEFINISI, MATERI

DAN PENYELESAIAN)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Disusun Oleh :

ADE SUNARDI
NPM : 106010175

Pembimbing : 1. H. Daman Pribadi, Drs. M.Ag. 2. Waluyadi, SH., MH.

FALKUTAS HUKUM UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010

TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 (STUDY TERHADAP DEFINISI, MATERI DAN PENYELESAIAN) Cirebon, Juni 2010

Disetujui Untuk Diajukan ke Muka Sidang Sarajana Lengkap Fakultas Hukum Unswagati Cirebon

Mengetahui :

Dekan Fakultas Hukum Unswagati Selaku Ketua Panitia Ujian

Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Unswagati Selaku Sekretaris Panitia Ujian

H. NENDAR DARKONI, SH., MH.

Hj. HASTUTI. KL, SH., MM. MH.

TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 (STUDY TERHADAP DEFINISI, MATERI DAN PENYELESAIAN)

Mengetahui :

Pembimbing I

Pembimbing II

H. DAWAM PRIBADI, Drs. M.Ag.

WALUYADI, SH., MH.

Kepala Bagian Hukum Publik Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon

MOH. SIGIT GUNAWAN, SH., MKn.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepa Allah SWT, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul : ³TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003 (STUDY TERHADAP DEFINISI, MATERI DAN PENYELESAIAN) ³. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan, baik dilihat dari cara menyajikan data maupun dalam menganalisanya, untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya, namun penulis tetap berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi semua pembaca. Perwujudan skripsi ini adalah berkat bantuan, pembimbing, petunjuk serta saran dari berbagai pihak yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu pada kesempatan ini perkenankanlah penulis untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Rektor Unswagati Cirebon, Bapak Dr. H. Djakaria Machmud, SE, SH., M.Si 2. Dekan Fakultas Hukum Unswagati Cirebon, Bapak H. Nendar Darkani, SH. MH. 3. Pembantu Dekan I Fakultas Unswagati Cirebon, Ibu Hj. Hastuti KL, SH. MM. MH. 4. Bapak Moh. Sigit Gunawan, SH. MKn. selaku Kepala Bagian Hukum Publik.

iv

5. Bapak Drs. H. Dawam Pribadi, M.Ag. selaku pembimbing satu, yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini. 6. Bapak Waluyadi, SH., MH., selaku pembimbing dua, yang telah banyak memberikan arahan, petunjuk serta semangat dalam menyelesaikan

penyusunan skripsi ini. 7. Para dosen di Fakultas Hukum Unswagati Cirebon, yang telah membimbing dan mengarahkan penulis selama perkuliahan. 8. Segenap karyawan dan seluruh staff Tata Usaha Fakul as Hukum Unswagati t Cirebon yang telah banyak membantu penulis. 9. Segenap teman-teman kampus yang telah sama-sama saling mendukung dan membantu dalam penyusunan skripsi ini. Kesempurnaan hanya milik Allah dan tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan penyusunan skripsi ini jauh dari sempurna, masih banyak penempatan dan penyusunan kata yang salah, untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu, membimbing dan memberikan dorongan baik secara moril maupun materiil, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga Tuhan Yang Maha Esa membalasnya dengan berlipat ganda.

Cirebon, Juni 2010 Penulis

iv

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ................................ ................................ ................ DAFTAR ISI ................................ ................................ .............................. ABSTRAK ................................ ................................ ................................ . BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ................................ ................................ ... B. Identifikasi Masalah ................................ ................................ ......... C. Kegunaan Penelitian ................................ ................................ ......... D. Kerangka Pemikiran ................................ ................................ ......... E. Metode Penelitian ................................ ................................ ............ F. Sistematika Penulisan ................................ ................................ ....... BAB II TERORISME DILIHAT DARI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Sejarah Terorisme ................................ ................................ ............ B. Pengertian Terorisme ................................ ................................ ....... C. Tipologi Terorisme dan Awal Timbulnya Terorisme ........................ D. Ciri-ciri Hukum Islam dan Perspektif Hukum Islam Terhadap Terorisme ................................ ................................ ......................... BAB 35 21 24 30 1 9 10 10 17 18 i iii v

III TERORISME DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003

A. Latar Belakang Munculnya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ................................ ................................ ...................... B. Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Positif Indonesia ............ C. Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Islam .............................. D. Unsur-unsur Dari Tindak Pidana Terorisme ................................ ..... 40 62 68 73

iv

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengertian Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 ................................ ................................ .... B. Materi Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 ................................ ................................ ..... C. Penyelesaian Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 ................................ ........... BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ................................ ................................ ....................... B. Saran ................................ ................................ ................................ . DAFTAR PUSTAKA ................................ ................................ ................. 104 106 108 97 89 83

iv

ABSTRAK

Tindak pidana terorisme yang timbul pada saat ini diakibatkan oleh tiga hal yaitu, kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan. Ketiga faktor ini merupakan persoalan yang cukup mendasar dalam teriadinya suatu tindak pidana terorisme, apalagi pada saat ini terorisme identik dengan Islam. Para teroris mengatasnamakan jihad sebagai dasar mereka melakukan tindak pidana terorisme, yang sebenarnya mereka telah melakukan kekeliruan dalam mengartikan makna dari pada jihad itu sendiri. Sementara dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menganggap bahwa terorisme itu merupakan perbuatan melawan hukum yang dapat membahayakan serta menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara, dengan menimbulkan suasana teror dan rasa takut serta menimbulkan korban yang bersifat masal. Untuk itu penulis ingin mengetahui bagaiman cara pandang hukum Islam mengenai tindak pidana terorisme yang teriadi sekarang ini, serta bagaiman cara penyelesaian dan penanganan tindak pidana terorisme menurut hukum Islam dan menurut Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, serta hal-hal apa saja yang menjadi hambatan dalam proses pemberantasan tindak pidana terorisme baik menurut hukum Islam maupun menurut Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. Adapun metode yang digunakan penulis adalah, metode deskriptif analitis dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, yang bertujuan menggambarkan fakta-fakta dari beberapa data yang diperoleh, dengan kegiatan mengumpulkan data sekunder tentang objek penelitian yang diperoleh dari hasil penelitian yang kemudian dianalisis dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Permasalahan yang dihadapi oleh hukum Islam dalam pemberantasan tindak pidana terorisme adalah, adanya salah mengartikan makna jihad oleh kaum muslim itu sendiri, dan Al-Quran yang merupakan sumber agama islam jelas sangat menentang terhadap aksi terorisme. Sedangkan menurut Undang -undang Nomor 15 Tahun 2003 masih adanya beberapa pasal yang terdapat dalam Undang-undang tersebut yang seharusnya diganti, karena menimbulkan kerancuan. Adapun proses penyelesaian dan penanganan tindak pidana terorisme menurut hukum Islam yaitu dengan menciptakan rasa cinta damai, kasih sayang, toleransi, serta adanya dialog antar umat beragama untuk tidak mengsalah artikan makna dari jihad itu sendiri dalam setiap pelaksanaanya. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 kita harus menegakkan supermasi hukum yang berlaku di negara Indonesia, sehingga tindak pidana terorisme dapat dihapuskan di negara Indonesia.

v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Peristiwa serangan teroris 11 September 2001 serta peristiwa lain yang mengikuti termasuk peristiwa Bali 12 Oktober 2002 memunculkan berbagai pertanyaan pelik yang belum memperoleh jawaban tuntas. Usaha berbagai pihak untuk memahami akar persoalan (root causes) dan terorisme umumnya menyimpulkan bahwa persoalan seperti kemiskinan (poverty), ketidakadilan (injustice) dan kesenjangan (inequality) merupakan persoalan paling mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu untuk memerangi terorisme.1 Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan bukan kemiskinan. Indonesia tidak memiliki identitas budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan

keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat kita memiliki kualitas produksi budaya yang luar biasa. Pada dasarnya, multikulturalisme sendiri menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial polltik yang sama dalam masyarakat modern.2 Hal ini berbeda dengan monokulturalisme yang lebih menghendaki kepada adanya kesatuan, yang cenderung homogen, bukan

1

Philips J Vermonte, Terorisme Definisi, Aksi, dan Regulasi, Imparsial, Jakarta, 2003, www.lebahmuda.multiply.com/journal/multi-culture

hlm.25.
2

1

2

persatuan yang menjadi cermin dari harmonisasi dalam pluralitas. Sila ketiga Pacasila, "Persatuan Indonesia", adalah jawaban sebenarnya atas persoalan 'pelik' mengenai kebudayaan Indonesia. Dalam hal ini, terorisme bisa dibaca sebagai bagian artikulasi benturan antar peradaban sehingga perlu diadakan dialog peradaban.3 Hanya saja, bila kemudian ditarik garis lurus dalam Barat dan Islam, adalah sebuah kekeliruan mendasar. Sebab, Barat tidak tunggal, Islam juga tidak tunggal. Salah satu buktinya adalah kasus invasi Amerika Serikat ke Irak, justru negara yang paling keras menentang invasi itu adalah Jerman, Perancis, dan Rusia yang Barat. Sebaliknya, tidak semua negara Arab membela Irak dari invasi Amerika Serikat, seperti Kuwait yang membela Amerika Serikat. Dalam tingkat lebih khusus, harus dibaca, bila memang terjadi benturan, ada dalam konteks kebijakan-kebijakan Amerika Serikat dengan umumnya kalangan Muslim. Meski umumnya dibayangkan oleh kalangan Muslim ada benturan, tetapi tidak semua kalangan Islam melakukan aksi terorisme untuk melawannya. Dari sinilah poin yang menunjukkan pemahaman yang harus didialogkan antara umat Islam dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Dengan catatan, yang melakukan terorisme dari mereka yang merasa ada benturan dibenak umum umat Islam, hanya sebagian kecil Muslim. Dalam hal ini, penting mengetahui "pembayangan perasaan" umat Islam atas Amerika Serikat dan sekutunya, sebagai kelompok besar yang di dalamnya ada kelompok kecil yang melakukan terorisme, sebagai pihak yang dianggap melakukan teror.

3

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0309/01/opini/521035.htm

3

"Pembayangan perasaan" di kalangan umat Islam, yang lalu dipandang ada ganjalan dalam benak mereka dengan Amerika Serikat dan sekutunya, sebenarnya bukan hal baru. Tetapi ini sering dilupakan. Pertama, ada perasaan ketidakadilan perlakuan Amerika Serikat atas umat Islam dalam kasus Afganistan-Irak, dibanding sikap Amerika Serikat atas IsraelPalestina. Tentu saja ini persoalan tidak baru, tetapi justru di sinilah persoalan sebenarnya yang ada dalam benak umat Islam, yang tidak pemah ditanggapi secara serius. Kebanyakan umat Islam melihat, kebijakan Amerika Serikat atas Israel yang sudah bertahun-tahun tidak berobah. Sebaliknya, saat Irak dan Afganistan yang melakukan kesalahan misalnya, bukan hanya dicarikan solusi damai, tetapi dibombardir. Tentu saja, ada imajinasi di kalangan umat Islam, negara Amerika Serikat dan sekutunya yang kuat ini, tengah melakukan politik diskriminasi. Kedua, ada perasaan di kalangan umat Islam sebagai negara-negara terbelakang yang tidak memiliki posisi menentukan dalam percaturan dunia. Di satu sisi, ini disebabkan keadaan umat Islam sendiri yang lemah meski umumnya memiliki geografis dan wilayah yang strategis dan subur. Di sisi lain, ada negaranegara besar secara ekonomi dan politik (meski wilayahnya amat kecil seperti Inggris) yang mampu menentukan peta politik-ekonomi dunia. Dalam hal ini, Amerika Serikat dan sekutunya dibayangkan sebagai negara kua tetapi sama t, sekali tidak memberi rangsangan positif bagi kemajuan negara-aegara terbelakang Muslim. Alih-alih memberi kebijakan simpatinya, yaag dilakukan adalah mendikte badan-badan dunia, seperti PBB, IMF, dan seterusnya untuk

4

memaksakan kehendak. Dua hal itu adalah masalah-masalah mendasar yang menjadi ganjalan hubungan kalangan Islam dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Sebagian kalangan Islam, menyikapi hal itu dengan antusias untuk belajar dari apa yang besar di Amerika Serikat dan sekutunya, seperti rasionalitas, demokrasi, hak asasi manusia, pembebasan perempuan, dan seterusnya. Untuk mengejar

ketertinggalannya, sembari tetap menahan kekecewaannya atas sikap Amerika Serikat dalam kasus Palestina. Sebagian Muslim lain, yang tidak puas dengan sikap moderat ini, menciptakan ideologi fundamentalis untuk mengejar ketertinggalan (sembari tetap kecewa dengan sikap Amerika Serikat atas Palestina) dan solidaritas atas Palestina, di antara sempalannya adalah ketompok Muslim teroris. Saat ini, himbauan untuk melakukan dialog antar peradaban nampaknya masih tetap relevan. Bahkan akan terus relevan selama umat manusia hidup dalam perbedaan. Namun, seruan tersebut harus lebih disederhanakan pada isu-isu yang lebih spesifik dan nyata. Pesan dialog antar peradaban mungkin akan lebih bermakna bila dipersempit lagi pada isu dialog antar budaya. Dialog antar peradaban, mungkin terdengar agak "general" dan tidak memiliki fokus. Sedangkan dialog antar budaya jelas sangat terfokus baik isu maupun result atau hasil yang ingin dicapainya. Budaya merupakan inti dari peradaban, atau dengan kata lain peradaban adalah cerminan dari suatu budaya. Bila kita menyebut peradaban barat misalnya maka pikiran kita akan langsung terasosiasi dengan bentuk kebudayaan barat.

5

Begitupun

dengan

peradaban-peradaban

lainnya.

Adapun

yang

mempengaruhi budaya secara dominan adalah agama yang hidup di dalamnya. Dialog antar budaya, dengan demikian, menjadi sangat penting untuk bisa membangun kesepahaman. Lebih jauh, fenomena globalisasi juga disebut sebagai faktor pemicu terorisme alasannya adalah karena globalisasi diyakini ikut menjadi faktor signifikan dalam teriadinya kemiskinan, ketidakadilan, dan kesenjangan global. Menurut Philips J Vermonte:4 "Selain itu, kedua peristiwa tersebut pun menunjukan sebuah dimensi baru yang dikembangkan kelompokkelompok teroris dimana aktivitasnya menjadi sedemikian rupa sehingga menjadi bersifat lintas batas dan lintas kewarganegaraan (transnasional)". Walaupun demikian, teknologi lama dan sederhana, sebagaimana terlihat dalam aksi peledakan born di tempat ibadah, tempat perbelanjaan di wilayah Indonesia, atau aksi teror yang pernah terjadi di Filipina Selatan misalnya, Pada 1972, Front Pembebasan Nasional Moro mengangkat senjata, memperjuangkan hak-hak tanah mereka. Pertempuran berdarah itu terjadi selama 30 tahun. Akibatnya ratusan ribu orang tewas dan yang lainnya kehilangan tempat tinggal mereka. Baru pada 1992, sebuah kesepakatan damai ditandatangi untuk daerah otonomi warga Moro. Kemudian berkembang menjadi wilayah Islam Mindanao atau ARMM di kepulauan Sulu. Pembentukan wilayah itu bertujuan untuk pembangunan dan penentuan nasib sendiri warga Islam di sana. Namun, semua pihak yakin hal itu gagal total. Bahkan para pemimpin Moro mengatakan mereka

4

Ibid,hlm.25-26

6

ditipu dan Manila tidak memenuhi janjinya. Di Basilan, Maya Ali, kepala kantor teknologi dan pembangunan lokal menilai gagasan otonomi itu sebuah lelucon. Walaupun dengan tekonologi lama dan sederhana, tetapi hal tersebut tetap dimaksimalkan pemanfaatan oleh kelompok-kelompok yang melakukannya. Singkatnya, ruang dan peluang yang dimiliki oleh kelompok teroris untuk menjalankan aksinya semakin meluas. Hal ini menjadikan terorisme sebagai sebuah ancaman serius karena relatif sulit menentukan kapan dan dimana kelompok teroris akan melakukan aksinya. Selanjutnya menurut Philips J Vermonte mengatakan:5 "Alasan kedua adalah tindak pidana terorisme berlaku indiskriminatif terhadap warga biasa yang tidak terkait langsung dengan tujuan politik yang hendak dicapai aksi teror yang dilakukan dan juga pada instansi negara yang dipandang sebagai target yang sah dalam pemahaman konvensional atas konsepsi perang. Alasan ketiga adalah kelompok-kelompok teroris tidak lagi bergerak dalam situasi isolasi dimana fakta-fakta menunjukan bahwa saat ini terorisme sulit dipisahkan dan berkembangnya organisasi kejahatan transnasional terorganisasi (transnational organized crime). "

Globalisasi sering dianggap sebagai penyebab meluasnya fenomena transnational organized crime ini. Globalisasi jelas mendorong meluasnya modul bisnis legal yang melintas batas negara, namun pada saat yang sama ia juga memberi peluang pada meluasnya bisnis illegal karena kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan pesat dalam teknologi, utamanya teknologi komunikasi dan transportasi.

5

Ibid., hlm. 26

7

Akibatnya konsumerisme dan komersialisme Barat yang dicitrakan melalui gaya hidup dan kemakmuran yang ditrasnfer melalui citra televisi, internet dan lain-lain, mendorong orang untuk mendapatkannya dengan cara mudah yakni melalui bisnis-bisnis illegal, yang sering disebut sebagai kelompok black dollar, yang jumlahnya meningkat pesat di berbagai tempat di dunia. Terorisme sebenarnya telah menjadi perdebatan publik internasional pasca terjadinya tragedi World Trade Center dan menimbulkan perbedaan dalam pemaknaannya. Perbedaan pemaknaan ini cenderung lebih disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan dari berbagai negara tersebut. Menurut Indriyanto Seno Aji, hal ini terjadi karena adanya dua paradigma yang berbeda dalam memahami istilah terorisme. "Pertama adalah pengertian awal terorisme yang dikategorikan sebagai perbuatan atau tindak pidana yang dijatuhkan terhadap negara atau crimes against state. Kedua adalah definisi terorisme yang diperluas menjadi crimes against humanity, yang meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan dan masyarakat umum dalam suasana teror dan ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil." 6

Penerapan standar ganda Barat dalam upaya memerangi aksi aksi terorisme saat ini justru menimbulkan ketidakpuasan berbagai pihak yang tidak menutup kemungkinan akan melahirkan aksi-aksi teroris lain di masa datang sebagai akibat tersumbatnya jalan damai dalam mengatasi berbagai perbedaan pandangan. Upaya perang terhadap terorisme yang dilakukan Barat sebena rnya tidak menyentuh kepada akar penyebab timbulnya aksi terorisme. Apalagi pelaku teroris dewasa ini cenderung identik dengan identitas muslim yang terjadi pada
6

Indriyanto Seno Adji, Bali, Terorisme dan Ham, Kompas, Selasa, 29 Oktober 2001,

hlm. 4.

8

pelaku teror Born Ball ataupun World Trade Center. Namun sebenarnya ada sisi menarik dari para pelaku teror tersebut terutama untuk kasus Bom Bali. Mereka melakukan teror tersebut atas dasar jihad untuk melawan ketidakadilan yang umat Islam rasakan terutama dari dunia Barat. Hal ini perlu segera diklarifikasi agar pelaku teror yang mengatasnamakan agama tersebut sebenarnya telah melakukan kekeliruan di dalam menerapkan konsep jihad sehingga anggapan islam sebagai agama yang penuh kekerasan dapat dibantah dengan tegas, padahal kita semua sepakat bahwa islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi segenap manusia yang tercermin dari qjarannya yang penuh akan nilai-nilai keadilan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia, masalah utama penyebab terjadinya aksi terorisme ialah masalah keadilan. Dalam prinsip dasar ajaran Islam pelaksanaan keadilan tidak boleh berat sebelah, tanpa membeda-bedakan status sosial, kekayaan, kelas, ras, pengaruh politik ataupun keyakinan agama. Namun demikian ketidakadilan inilah yang sesungguhnya membuat seseorang atau kelompok dapat diposisikan sebagai terorisme oleh orang atau kelompok lain seperti yang telah dituduhkan oleh Amerika Serikat kepada jaringan AL Qaeda, Jamaah Islamiyah atau pun Iraq. Penafsiran yang kabur tentang ketidakadilan pada akhirnya menimbulkan saling mengklaim bahwa dirinya yang paling benar dan orang lainlah yang bersalah sehingga mereka punya alasan melakukan tindakan terhadap orang lain. Karena merasa paling benar maka kebenaran tersebut dijadikan parameter untuk menilai orang lain yang belum tentu benar menurut pandangan yang lain. Kesalahan penggunaan parameter ini diakibatkan tersumbatnya saluran komunikasi, sehingga

9

penyesuaian pemikiran dan pemahaman masing-masing agar tercipta saling menghargai dan toleransi yang tidak terjadi. M. Abdul Gani mengutip AL-QUR'AN: "Islam mengajarkan melalui AL QUR'AN bahwa melaksanakan keadilan (hukum) merupakan bentuk ketakwaan terhadap ALLAH (QS, 5:8; 4: 135) sehingga orang adil dalam pandangan Islam memiliki posisi mulia dihadapan ALLAH."7

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan terorisme itu merupakan suatu kejahatan yang bersifat global dan dampaknya dapat merugikan kepentingan umat manusia, demikian juga tindak pidana terorisme itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, karena kadang perbuatan terorisme itu mengatasnamakan agama sebagai alasan untuk melakukan tindak pidana terorisme.

B. Identifikasi Masalah 1. Bagaimanakah pengertian terorisme menurut Hukum Islam dan UndangUndang No15 Tahun 2003? 2. Bagaimanakah materi terorisme menurut Hukum Islam dan UndangUndang No15 Tahun 2003? 3. Bagaimanakah penyelesaian terorisme menurut Hukum Islam dan Undang-Undang No15 Tahun 2003?

M.Abdul Gani, Jurnal Ilmu Hukum, LITIGASI, Fak. Hukum Unpas Volume 4, Nomor 1 Februari 2003, hlm. 83-84

7

10

C. Kegunaan Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapkan akan diperoleh kegunaan penelitian, baik secara teoritis maupun praktis. 1. Kegunaan Teoritis Diharapkan penulisan hukum dalam bentuk skripsi ini secara ilmiah dapat memberikan konstribusi bagi perkembangan ilmu hukum pada umumnya, dan secara khusus tentang bagaimana perspektif hukum Islam dan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 untuk menyingkapi masalah terorisme. 2. Kegunaan Praktis Diharapkan dapat memberikan masukan bagi aparat penegak hukum dalam melaksanakan tugasnya agar dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya dalam menuntaskan kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberantasan tindak pidana terorisme.

D. Kerangka Pemikiran Di Indonesia yang berlandaskan Pancasila, tindak pidana terorisme itu sangat bertentangan dengan Pancasila khususnya sila ke 2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, karena didalam sila ke 2 memuat mengenai masalah:8 a. Butir ke 5 mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain; b. Butir 6 menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

8

Pancasila, Fokusmedia, Jakarta, hlm. 40.

11

Tindak pidana terorisme juga bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945. Hak Asasi Manusia yang dilanggar oleh para teroris didalam Undangundang Dasar 1945 sebagaimana diatur dalam pasal 28 G ayat (1). "Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi."9 Demikian juga pasal 28 I ayat (2). "Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif."10

Selama ini yang menjadi sasaran para teroris di Indonesia ialah kaum minoritas dan itu sangat bertentangan dengan hak asasi manusia. Dalam melakukan aksinya di Indonesia para teroris sering mengatasnamakan agama sebagai alasan mereka melakukan teror, dalam aksinya itu para teroris memakai alasan jihad sebagai landasan dasar mereka dalam melakukan perbuat n a terorisme. dalam hukum Islam jihad itu diatur dalam AL QUR'AN. Seperti yang dikemukakan Mochtar Naim dalam bukunya Kompendium Himpunan Ayat-ayat AL-QUR'AN yang berkaitan dengan HUKUM.11 "Perangilah di jalan ALLAH orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampau batas. Sesungguhnya ALLAH tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas (Q.S: 2 ayat 190)."
Undang-Undang Dasar 1945 Dan Amandemennya, Fokusmedia, hlm. 26. Ibid,hlm. 27. 11 Moctar Naim, Kompendium Himpunan Ayat-ayat AL-QUR¶AN yang berkaitan dengan HUKUM, HASANAH, Jakarta, 2001.
10

9

12

"Berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu dan bersikap keraslah terhadap mereka (Q.S: 9 ayat 73-74)." "orang-orang yang gugur pada jalan ALLAH akan masuk surga (Q.S: 47 ayat 4-6)." Menurut Hamka mengemukakan bahwa:12 "Maksudnya diizinkan berperang untuk mempertahankan diri, kalau pihak lawan yang memulai menyerang. Apalagi dalam masalah ibadah atau mempertahankan keyakinan aqidah, karena hidup seorang muslim adalah dengan niat menegakkan jalan Allah". Selanjutnya menurut Hamka mengemukakan bahwa:13 "Maksudnya Jihad artinya berjuang bersungguh-sungguh atau bekerja keras pada jalan Allah. Di dalam ayat ini Rasul disuruh berjihad kepada kafir dan munafik. Dengan ini sudah nyata bahwa kedudukan munafik sudah disamakan dengan kafir. Tingkah laku mereka adalah menentang Rasul dari dalam. Sedang orang kafir sudah nyata dari luar atau menentang secara terbuka. Hendaklah mereka itu dijihadi. Dilawan, dihadapi dan ditangkis tantangan mereka dengan berbagai cara. Satu diantaranya hendaklah bersikap keras atau gagah kepada mereka, artinya jangan mereka diberi hati". Hamka mengemukakan bahwa:14 "Maksud arti dalam ayat ini apabila jihad itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka jaminanya ialah surga, tetapi kenyataanya para teroris melakukan jihad secara salah caranya yaitu dengan banyak mengorbankan manusia yang tak berdosa dan itu menyalahi maksud dalam pandangan agama juga tujuan jihad yang selama ini dikobarkan para terons itu sangat tidak sesuai dengan ajaran agama sesunguhnya".

12
13

Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu X, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986, hlm. 118. Ibid. 14 Ibid.

13

Dalam

hal

ini

Islam

membolehkan

untuk

berperang

untuk

mempertahankan diri dari musuh yang mulai menyerang, pada saat ini umat Islam selalu disudutkan dan dipojokan oleh penerapan standar barat yang selalu menuduh bahwa umat Islam itu sebagai teroris. Oleh karena itu selalu diperlakukan tidak adil, sehingga timbulah perlawanan-perlawanan dari segolongan kelompok yang ingin menuntut ketidakadilan tersebut, maka timbulah bentuk perlawanan seperti peledakan Bom bunuh diri, dan lain-lain. Dalam Islam diperbolehkan berperang untuk mempertahankan diri, untuk membela agama dan aqidah yang diyakini, seperti di Palestina dan Libanon, tetapi jangan melampaui batas, dalam Islam boleh beperang tetapi jangan sampai membunuh rakyat sipil yang tidak berdosa seperti orang tua, jompo, dan juga anak-anak, apabila musuh sudah menyerah itu jangan sampai dibunuh. Jelas bahwa Islam sangat mulia dan adil terhadap sesama manusia, tetapi pada saat ini ada sebagian kelompok yang mengatasnamakan jihad dalam perjuangannya untuk menuntut ketidakadilan. Dalam Islam memang dikenal adannya jihad yaitu bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah untuk memerangi orang kafir. Pada saat ini umat Islam teraniaya oleh kebijakan dari barat seperti terjadi di Palestina dan Libanon dalam hal ini jihad dibolehkan untuk mempertahankan diri dan aqidah, jihad menurut Rosul kalau di lakukan dengan sunguh-sungguh akan mendapat jaminan surga. Pada saat ini banyak orang yang mengatasnamakan jihad tetapi pada pelaksanaannya bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri, karena mereka belum mengerti arti sebenarnya dari jihad itu apa.

14

Jadi arti perang (jihad) yang dimaksud para teroris itu tidak sesuai dengan yang ada pada penjelasan ayat-ayat di atas, mereka melakukan tindakan perangnya (jihad) dengan cara yang menyimpang, misalnya dengan cara bom bunuh diri yang mengakibatkan banyaknya korban yang terbunuh. Din Syamsudin berpendapat: "Bom bunuh diri itu amat sangat bertentangan dengan islam dan hukumnya haram. Bom bunuh diri adalah tindakan putus asa yang jelas-jelas bertentangan dengan AL QUR'AN, itu merupakan faham yang salah karena hal itu tidak terdapat atau tercantum di dalam AL QUR'AN dan Hadits. Kalau mereka menggunakan ayat-ayat AL QUR'AN, itu semata-mata karena kesalahpahaman atau ayat yang terpotong-potong."15 Ahmad Bagja juga berpendapat: "Para teroris yang menggunakan ajaran Islam sebagai landasan pembenaran tindakannya itu sesungguhnya belum lagi selesai belajar soal Islam. Pemahamannya baru setengah-setengah. Bom bunuh din itu tidak dapat dikategorikan sebagai mati sahid atau jihad dalam rangka untuk membela agama itu perbuatan haram."16 Tindakan para teroris yang banyak membunuh orang itu bertentangan dengan ajaran Islam sendiri karena dalam ajaran Islam tidak diperbolehkan membunuh. Di dalam kitab jinayah dalam hukum pidana islam dijelaskan mengenai sanksi bagi tindak pidana pembunuhan, membunuh orang adalah dosa besar. Pembunuhan yang dilakukan oleh para teroris ialah betul-betul disengaja yaitu dilakukan dengan cara orang yang akan dibunuhnya dengan

mempergunakan suatu senjata (Bom) yang dapat digunakan untuk membunuh orang. Hukum ini wajib di Qisas, berarti dia wajib dibunuh pula, kecuali apabila

Din Syamsudin, dalam bukunya, HD Haryo Sasongko, Terorisme, Dialog, dan Toleransi, Pustaka Grafiksi, Jakarta, 2006, hlm. 10. 16 Ibid.

15

15

dimaafkan oleh ahli waris yang terbunuh dengan membayar diyat (denda) atau dimaafkan sama sekali. Setelah menjelaskan hal-hal di atas mengenai tindak pidana terorisme yang telah banyak melanggar nilai-nilai kemanusiaan maupun nilai-nilai agama maka dapat diketahui bahwa perbuatan terorisme itu tidak diperbolehkan dalam ajaran agama Islam. Menurut pandangan As'ad Sahamrani hukum Islam (dari organisasi Fiqih dan ilmiah di Al Azhar) terorisme itu adalah: "Terorisme adalah tindakan menimbulkan rasa takut terhadap keamanan masyarakat, mengganggu kepentingan umum, memusnahkan harta, mengganggu kebebasan dan kemanusiaan karena ingin membuat kerusakan di Bumi. perang dalam syariat islam tidak boleh dilakukan kecuali karena faktor darurat yang terjadi pada dua kondisi berikut. Pertama, membela Negara dari penjajahan dan perampasan kekayaan Negara. Kedua, perang melawan upaya-upaya merusak keyakinan kaum muslimin."17 Sangat jelas sekali perbuatan terorisme itu bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan bangsa Indonesia, karena dalam prakteknya perbuatan terorisme itu banyak membunuh ribuan manusia dan perbuatan itu telah melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Dalam Pasal 6 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Bahwa yang dimaksud tindak pidana terorisme menurut peraturan perundang-undangan yang ditulis tim Perum Negotirto:

As¶ad As Sahamrani penerjemah Erwin Yuandani, Menyingkapi Terorisme Dunia, Era Intermedia, Solo, 2005, hlm. 13-14.

17

16

"Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang srategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas Internasional, dipidana dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun."18 Dari sini dapat dijelaskan bahwa tindak pidana terorisme itu merupakan suatu kejahatan yang banyak mengorbankan umat manusia, tindak pidana terorisme merupakan kejahatan yang paling berbahaya dalam abad ini, karena tindak pidana terorisme saat ini memakai teknologi tinggi dan berimplikasi sosial, budaya, politik, dan agama. Paradigma tentang kejahatan abad 21 bertemakan nilai-nilai universal tentang kemanusiaan, keadilan dan HAM. Terorisme merupakan suatu kejahatan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan HAM, oleh karena itu tindak pidana terorisme sangat dimusuhi oleh setiap umat manusia. Tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana intemasional yang mempunyai dampak global dan salah satu kejahatan yang memenuhi kriteria sebagai kejahatan Hostis Humanis Generis (kejahatan umat manusia). Perluasan konsep kejahatan Internasional dapat menempatkan kejahatan terorisme sebagai salah satu kejahatan Internasional dan terhadap kejahatan terorisme dapat diberlakukan asas au dedere aupunere.

Perum negotirto, Kumpulan Peratuan Perundangan Anti Terorisme, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2006, hlm. 15.

18

17

Asas dikemukakan oleh Hugo Grotius, yaitu: "Terhadap pelaku tindak pidana Internasional dapat di pidana oleh negara tempat Locus delicti terjadi dalam batas teritorial negara tersebut atau diserahkan atau di ekstradisi kepada negara peminta yang memiliki yurisdiksi untuk mengadili pelaku tersebut."19 Bassioumjuga mengungkapkan asas au dedere aujudicare yaitu: "Setiap negara berkewajiban untuk menuntut dan mengadili pelaku tindak pidana Internasional dan berkewajiban untuk melakukan kerjasama dengan negara lain didalam menangkap, menahan dan menuntut, serta mengadili pelaku untuk tindak pidana Internasional."20 E. Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut: 1. Metode Pendekatan Penelitian ini difokuskan pada masalah pokok terorisme dalam perspekif hukum islam dan Undang-Undang No.15 Tahun 2003. Study terhadap definisi, materi dan penyelesaian. Berangkat dari fokus penelitian diatas, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan penelitian hukum normatif atau disebut juga penelitian hukum doktrinal atau disebut juga penelitian kepustakaan yaitu penelitian hukum yang menggunakan data sekunder (data yang sudah tertulis).

Hugo Grotius, dalam bukunya, Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Pidana Internasional, refika ADITAMA, Bandung, 2000, hlm. 14. 20 Ibid.

19

18

2. Sumber dan Jenis Data Berpedoman dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal atau penelitian hukum kepustakaan maka data yang digunakan berupa data sekunder yang meliputi : 1) Al-Qur¶an 2) Buku-buku 3) Undang-Undang 4) Sumber Lain. 3. Teknik Pengumpulan Data Tehnik kepustakaan. 4. Analisis Data Data yang sudah terkumpul selanjutnya dianalisis dengan analisis normatif kualitatif untuk memperoleh gambaran definisi, materi dan penyelesaian tindak pidana terorisme. pengumpulan data dilakukan dengan cara study

F. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah pembahasan dan pemahaman skripsi ini, maka penulis menyusun sistematika penulisan sebagai berikut: Bab I Skripsi ini dimulai dengan Pendahuluan yang menguraikan mengenai Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Kegunaan Penelitian, Kerangka Pemikiran, Metode Penelitian, dan Sistematika penulisan.

19

Bab II

TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Bab ini akan membahas mengenai apa itu tindakan terorisme dan mengapa sampai terjadi tindak pidana terorisme. Pandangan Islam tentang terorisme yang menyatakan terorisme itu tidak dibenarkan dalam Islam dan merupakan tindakan yang salah. Bahwa dalam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia yang didasarkan atas hukum Islam adalah suatu pandangan yang salah, karena dalam hukum Islam sendiri tidak dibenarkan untuk melakukan aksi terorisme.

Bab III TERORISME

DALAM

PERSPEKTIF

UNDANG-UNDANG

NO.15 TAHUN 2003. Dalam bab ini akan dibahas mengenai peristiwa-peristiwa tentang peledakan bom di Indonesia terutama membahas tentang peledakan bom di Bali, serta membahas mengenai pengertian dan unsur-unsur dari tindak pidana terorisme. Bab IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN PENGERTIAN, MATERI DAN PENYELESAIAN TINDAK PIDANA

TERORISME. Bab ini akan membahas mengenai permasalahan ± permasalahan tindak pidana terorisme dalam perspektif hukum Islam, serta permasalahan-permasalahan terorisme menurut Undangundang Nomor 15 Tahun 2003, serta dalam hal terjadinya hambatanhambatan dalam proses penyelesaian dan penanganan tindak pidana terorisme, seperti kurang efisiennya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003, karena dalam Undang-undang tersebut masih terdapat banyak kerancuan. Selain itu dibahas pula mengenai upaya

20

penyelesaian atau solusi agar terorisme bisa diatasi misalnyadengan menciptakan rasa cinta damai, dialog, toleransi antar masyarakat dan antar umat beragama serta dengan menegakkan hukum dengan sebaik-baiknya. Bab V PENUTUP Pada Bab ini akan membahas mengenai latar belakang mengapa teriadi suatu tindak pidana terorisme, kemudian bagaimana pandangan hukum Islam dan pandangan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, serta bagaimana solusi agar tidak terjadi lagi tindak pidana terorisme dimasa yang akan datang.

BAB II TERORISME DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Sejarah Terorisme Sejarah tentang Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern.21 Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Perancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Perancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.22 Kata Terorisme berasal dari Bahasa Perancis Ie terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata
Loudewijk F. Paulus, Terorisme, http://buletinlitbang.dephan.go.id. Rikard Bangun, Indonesia di Peta Terorisme Global, http://www.polarhome.com, 17 November 2002
22 21

21

22

Terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata Terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.23 Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang teriadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia.24 Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.25 Sejarah mencatat pada tahun 1890-an aksi terorisme Armenia melawan pemerintah Turki, yang berakhir dengan bencana pembunuhan masal terhadap warga Armenia pada Perang Dunia I. Pada dekade tersebut, aksi Terorisme diidentikkan sebagai bagian dari gerakan sayap kiri yang berbasiskan ideologi.26 Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan "serangan yang bersifat acak" terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah "Terorisme Media", berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas.27
Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi FISIP UI, vol 2 no III, Desember 2002hlm, 30. 24 Loudewijk F Paulus, Loc. Cit. 25 History Of Terrorism, www.terrorismfiles.org/encyclopedia/history_of_terrorism. 26 Loudewijk F Paulus, Loc. Cit. 27 Muladi, Demokrasi, HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia, The Habibie Centre, Jakarta, 2002, hlm. 168.
23

23

Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu: 1. Kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM; 2. Pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota; 3. Kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas. Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan melalui tulisan mempunyai dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan "the philosophy of the bomb" yang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan.28 Pasca Perang Dunia H, dunia tidak pernah mengenal "damai". Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur - Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik Utara - Selatan. Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di seklan banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme. Fenomena terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an.

Muladi, Hakekat Terorisme dan Beberapa Prinsip Pengaturan dalam kriminalisasi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, no. III, Desember 2002, hlm. 1.

28

24

Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya.29

B. Pengertian Terorisme Hingga saat ini, definisi terorisme masih menjadi perdebatan meskipun sudah ada ahli yang merumuskan, dan dirumuskan di dalam peraturan perundangundangan yaitu Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Amerika Serikat sendiri yang pertama kali

mendeklarasikan perang melawan teroris belum mendefinisikan dengan gamblang dan jelas sehingga semua orang bisa memahami makna sesungguhnya tanpa dilanda keraguan, tidak merasa didiskriminasikan serta dimarjinalkan. Kejelasan definisi ini diperlukan agar tidak terjadi salah tangkap, dan berakibat merugikan kepentingan banyak pihak, disamping demi kepentingan atau target meresponsi hak asasi manusia yang seharusnya wajib dihormati oleh semua orang beradab. Memang tidak bisa disalahkan jika kata terorisme dikaitkan dengan persoalan pelanggaran hak asasi manusia, karena akibat terorisme, banyak kepentingan umat manusia yang dikorbankan, rakyat yang tidak bersalah dijadikan ongkos kebiadaban, dan kedamaian hidup antar umat manusia jelas-jelas dipertaruhkan. Namun demikian, ada komunitas sosial keagamaan yang mengenalkan bentuk implementasi keagamaan sebagai bagian dari strategi perjuangan. Strategi perjuangan ini dipopulerkan dalam kategori "jihad". Meskipun begitu, bukan berarti terorisme tidak termasuk kejahatan, khususnya

29

Loudewijk F Paulus, Loc. Cit.

25

jika dikaitkan dengan persoalan dampaknya secara makro. Meskipun dengan menggunakan kategori "jihad", tetapi jika manusia yang tidak berdosa menjadi korban dan kepentingan publik menjadi rusak berantakan serta negara dilanda disharmonisasi nasional, maka kategori jihad itu patut dipertanyakan. Ketiadaan definisi hukum internasional mengenai terorisme tidak sertamerta berarti meniadakan definisi hukum tentang terorisme itu. Menurut hukum nasional masing-masing Negara-negara, disamping bukan berarti meniadakan sifat jahat perbuatan itu dan dengan demikian lantas bisa diartikan bahwa pelaku terorisme bebas dari tuntutan hukum. Nullum crimen sine poena, begitu bunyi sebuah asas hukum tua, yang bermakna, bahwa tiada kejahatan yang boleh dibiarkan berlalu begitu saja tanpa hukuman, tetapi karena faktanya terorisme sudah bukan lagi sekadar internasional crime dan sudah menjadi internationally organized crime maka sangatlah sulit untuk memberantas kejahatan ini tanpa adanya kerjasama dan pemahaman yang sama dikalangan Negara-negara. Kata teroris dan terorisme berasal dari kata latin "terrere "yang kurang lebih berarti membuat gemetar atau menggetarkan. Kata "teror" juga bisa menimbulkan kengerian tentu saja, kengerian dihati korban dan pikiran korbannya. Akan tetapi, hingga kini tidak ada definisi terorisme yang bisa diterima secara universal. Pada dasarnya, istilah "terorisme" merupakan sebuah konsep yang memiliki konotasi yang sangat sensitif karena terorisme menyebabkan terjadinya pembunuhan dan penyengsaraan tehadap orang-orang yang tidak berdosa. Tidak ada negara yang ingin dituduh pendukung terorisme atau menjadi tempat perlindungan bagi kelompok-kelompok terorisme.

26

Ada yang mengatakan seseorang bisa disebut sebagai teroris sekaligus juga sebagai pejuang kebebasan. Hal itu tergantung dari sisi mana masing-masing Negara mendefinisikan terorisme menurut kepentingan dan keyakinan mereka sendiri untuk mendukung kepentingan nasionalnya. Pengertian terorisme untuk pertama kali dibahas didalam European Convention on the suppression of terrorism (ECST) di Eropa tahun 1977 teriadi perluasam paradigma arti dari Crimes Against State menjadi Crimes Against Humanity, Crimes Against Humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan, dan masyarakat umum ada dalam suasana teror. Seruan diperlukannya suatu perundang-undangan terorisme pun disambut pro-kontra mengingat polemik definisi mengenai terorisme masih bersifat multi- interpretatif, umumnya lebih mengarah pada polemik kepentingan Negara atau state interested. Tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana mumi (mala perse) yang dibedakan dengan Administrative criminal law. Kriminalisasi tindak pidana terorisme sebagai bagian dari pekembangan hukum pidana dapat dilakukan dengan banyak cara seperti; melalui sistem revolusi misalnya amandemen terhadap pasal-pasal KUHP, melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap diluar KUHP kekhususan hukum acaranya, sistem kompromi dengan cara memasukan bab baru dalam KUHP "tentang kejahatan teorisme". Untuk memahami makna teroris lebih jauh dan mendalam kiranya perlu dikaji telebih dahulu pengertian atau definisi terorisme yang dikemukakan oleh baik beberapa lembaga maupun beberapa penulisan atau pakar ahli, yaitu:

27

Menurut US Central Inteligence agency (CM): "Terorisme intemasional adalah terorisme yang dilakukan dengan dukungan pemerintah atau organisasi asing dan/atau diarahkan untuk melawan negara, lembaga, atau pemerintah asing."30 Menurut US Federal Bureau Of Investigation (FBI): "Terorisme Adalah Penggunaan kekerasan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintah, penduduk sipil elemen-elemenya untuk mencapai tujuan sosial atau politik."31 Menurut A.C Manullang pengertian terorisme adalah: "Terorisme adalah suatu cara untuk merebut kekuasaan dari kelompok lain, dipicu antara lain karena adanya pertentangan agama, ideologi dan etnis serta kesenjangan ekonomi, serta tersumbatnya komunikasi rakyat dengan pemerintah, atau karena adanya paham separatisme dan ideologi fanatisme."32 Menurut Hadi al-Makdkhaly: "Terorisme adalah sebuah kalimat yang terbangun di atasnya makna yang mempunyai bentuk (modus) beraneka ragam yang intinya adalah gerakan intimidasi atau terror atau gerakan yang menebarkan rasa ketakutan kepada individu atau kelompok masyarakat." 33

Muladi, Demokrasi, HAM dan Reformasi Hukum di Indonesia,Op. Cit, hlm. 171. Ibid, hlm. 172. 32 A.C Manullang, Menguak Tabu Intelejen Teror, Motif dan Rezim, Panta Rhei, Jakarta, Januari 2001, hal. 151. 33 Al-Madkhaly, Muhammad, Terorisme dalam Tinjauan Islam, Makhtabah Salafy Press, Tegal, 2002, hlm. 1-2.
31

30

28

Menurut Salah Kansu: "Terorisme adalah perlawanan atau peperangan bukan pada serdadu (militer) melainkan terhadap orang-orang yang tidak berdosa dan masyarakat sipil. Mereka adalah pembunuh-pembunuh pengecut yang mengambil sikap dengan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, dengan target, yaitu menciptakan ketakutan. Teroris adalah menakut-nakuti dan mengancam. la tidak bisa diterima oleh akal manusia dan tidak dibenarkan oleh semua agama. Apa yang dilakukan oleh Al qaidah adalah nyata-nyata tindakan teroris dan tidak bisa dikatakan sebagai perjuangan di jalan Allah. la adalah aksi murahan, pengecut dan tidak jantan."34 Menurut Paul Wilkinson: "Terorisme adalah aksl terror yang sistematis, rapi dan dilakukan oleh organisasi tertentu."35 Menurut Syed Hussein Alatas: "Teroris adalah mereka yang merancang ketakutan sebagai senjata persengketaan terhadap lawan dengan serangan pada manusia yang tidak terlibat, atau harta benda tanpa menimbang salah satu benar dari segi agama atau moral, berdasarkan atas perhitungan bahwa segalanya itu boleh dilakukan bagi mencapai tujuan maklumat persengketaan."36 Menurut kamus besar bahasa Indonesia kontemporer: "Terorisme adalah penggunaan kekerasan atau ancaman untuk menurunkan semangat, menakut-nakuti, dan menakutkan, terutama untuk tujuan politik. "37

Abdul Wahid, Sunardi, Muhammad Imam Sidik, Kejahatan terorisme dal perspektif agama, HAM dan hukum, Refika Aditama, Bandung, 2004, hlm. 30. 35 Ibid, hlm. 29. 36 Ibid, hlm. 31. 37 Ibid.

34

29

Menurut Muhammad Mustofa pengertian terorisme adalah: "Terorisme adalah tindakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang ditujukan kepada sasaran secara acak (tidak ada hubungan langsung dengan pelaku) yang berakibat pada kerusakan, kematian, ketakutan, ketidakpastian dan keputusasaan massal. "38 Menurut Fauzan Al- Anshari: "Terorisme adalah tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berlatar belakang politik atau kekuasaan dalam suatu pemerintah Negara."39 Menurut Ustadz Abu Bakar Ba'asyir pengertian terorisme adalah: "Terorisme adalah tindakan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang berlatar belakang politik atau kekuasaan dalam suatu pemerintahan negara. Terorisme itu bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang melawan suatu pemerintahan yang sedang berkuasa untuk menjatuhkannya, tetapi bisa juga dilakukan oleh suatu pemerintahan terhadap rakyatnya atau kelompok oposisi untuk mempertahankan kekuasaannya".40 Dari pengertian-pengertian di atas jelas bahwa tindak pidana terorisme merupakan suatu kejahatan yang luas, karena selain menggunakan teknologi yang canggih, kekerasan dalam setiap pelaksanannya, terror terhadap masyarakat juga merupakan perbuatan melawan hukum, tetapi tindak pidana terorisme yang saat ini teriadi banyak yang berlatar belakang politik untuk mendapatkan suatu hal, orang rela mengorbankan kepentingan rakyat yang tidak berdosa seperti peristiwaperistiwa yang terjadi di tanah air, mereka tega mengorbankan rakyat yang tak berdosa demi mencapai tujuan yang mereka inginkan apapun bentuk dari

Muhammad Mustofa, Op. Cit. Fauzan, Saya Teroris (³Sebuah Pledoi´), Republika, Jakarta, 2002, hlm. 24. 40 Abu Bakar Baasyir, Terorisme di Indonesia, Forum Studi Islam Surakarta, Surakarta, 2004, hlm. 16.
39

38

30

tujuan dari para terroris itu ialah salah dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, HAM, karena banyak mengorbankan kepentingan orang lain.41

C. Tipologi Terorisme dan Awal Timbulnya Terorisme Dalam hal tipologi, tindak pidana terorisme dapat terbagi dalam beberapa tipologi terorisme atau terbagi ke dalam beberapa tipe sebagai berikut: 1. Tipologi terorisme terdiri dari: Tipe kesatu "Political terrorism adalah bentuk terorisme yang dirancang untuk menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat dengan tujuan politik secara umum, semua terorisme ditengarai bermuatan politik setidaknya, demikianlah pandangan klasik mengenai terorisme, karenanya tipe political terrorism menjadi sangat dominan, dan dengan mudah ditemukan dalam berbagai kasus. Tipe kedua Nonpolitical terrorism, kekerasan dan ancaman kekerasan dilakukan diluar motif politik. Jadi terorisme non politik adalah bentuk terorisme yang dilakukan untuk tujuantujuan tertentu, seperti motif ekonomi, balas dendam, penyelamatan, maupun semata-mata karena kegilaan. Tipe ketiga Quasi terrorism. Menggambarkan kegiatan incidental guna melakukan kejahatan kekerasan yang bentuk dan caranya menggunakan metode teror. Ilustrasi dari tipe ini dapat ditemukan pada kasus-kasus pembajakan pesawat atau penculikan tokoh yang tidak didasarkan pada motivasi idiologis. Dalam tipe quasi terrorism ini, para pelaku terror lebih tertarik untuk melakukan tindakan teror, semata-mata karena untuk memperoleh uang tebusan.

41

Abdul Wahid, Sunardi, Muhammad Imam Sidik Op. Cit. hlm. 31-32.

31

Tipe keempat Limited political terrorism pada tipe ini, terorisme jelas bermotifkan politik, meskipun dalam skala terbatas. Artinya, kegiatan teror dilakukan tidak menampakan bagian dari suatu gerakan untuk menyerang negara contoh dari tipe ini adalah pembunuhan politik. Tipe kelima ³State terrorism memang masih menjadi perdebatan sengit para pakar hukum internasional. Disatu sisi, state terrorism diartikan negara sebagai pelaku teror, dan sisi yang lain diartikan negara hanya menjadi sponsor dari kelompok atau negara yang melakukan aktivitas terorisme. Sejumlah negara sering disebut-sebut sebagai state terrorism.´ 42 2. Awal timbulnya terorisme Dalam mengkaji terorisme, satu hal yang perlu diingat adalah adanya perbedaan sudut pandang tentang terorisme. Lebih dari itu, terorisme hingga saat ini menjadi sebuah gejala sosial yang kompleks. Sudut pandang dan kepentingan para pihak larut dalam memaknai terorisme. Pemaknaan dari sudut pandang yang berbeda tersebut yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna terorisme dari masa kemasa. Terorisme pada awal kemunculannya berkonotasi positif, kini menjadi sebuah kejahatan berat dan kejahatan terhadap kemanusian crime againt humanity. Istilah teror (isme), pertama kali, populer pada masa Revolusi Perancis (1789-1794). Akan tetapi, praktik terorisme itu sendiri teriadi jauh sebelunmya. Dalam catatan sejarah, terorisme telah dipraktikkan manusia sejak zaman Yunani kuno. Xenophon (431-350 SM) misalnya, menuliskan dalam bukunya tentang terorisme dalam term "perang psikologis" untuk menaklukkan
42

musuh.

Pada

awal

abad

masehi

tercatat

nama

Luqman Hakim, Terorisme di Indonesia, Forum Studi Islam, Surakarta, hlm. 19-22.

32

Kaisar Rome Tiberius (14-37 M) dan Caligula (37-41 M) yang melakukan terorisme terhadap lawan-lawan politiknya. Aksi teror juga dilakukan Zealot (hidup pada 66-73 M), sebuah organisasi partai politik yang beroposisi dengan pemerintahan Herodes yang menentang penjajah Roma. Mereka menuntut kemumian religius dan menentang segala tindakan asusila dan tindakan yang bersifat anti Yahudi. Mereka menggunakan pisau kecil yang disebut sica yang disembunyikan di balik jaket. Dengan senjata sica tersebut, aksi Zealot sering disebut Sicarii. Aksi sicarii dilakukan dengan cara bercampur orang-orang dipasar. Jika mereka melihat suatu pelanggaran mereka langsung mengambil pisau dan menikam si pelanggar. Metode yang mereka gunakan adalah praktek pembunuhan teroganisir di zaman kuno. Tindakan ini bersifat acak dan menimbulkan ketakutan masyarakat. Motivasi kelompok Zealot adalah agama dan didukung oleh kitab suci. Teror sebagai sebuah aksi yang sistematis dikenal sejak Revolusi Perancis (1789-1794). Pada masa itu, muncul apa yang dikenal dengan French Revolution's terrorism atau regime de la terreur pimpinan Maximilien Robespierre. Regime de la terreur digunakan sebagai instrumen untuk mendirikan Revolusionary State yaitu membentuk sebuah masyarakat baru yang lebih baik. Selain mempunyai kaitan erat dengan revolusi, Maximilien Robespierre, sang pemimpin gerakan, mengaitkan teror dengan kebaikan (virtue) dan demokrasi (democracy). Robespierre menyebutkan : virtue, without which terror is evil; terror, without which virtue is helpless. ... terror is nothing but justice, prompt,severe and inflexible; its therefore an emanation of virtue.

33

Terdapat dua karakteristik utama dari French Revolution's terrorism. Pertama, regime de la terreur tidak dilakukan dengan acak (random) dan tidak juga indiskriminasi (neither random nor indiscriminate), tetapi dilakukan secara terorganisir (organized), terarah dan berhati-hati (deliberate), serta sistematis (systematic). Karakteristik ini yang membedakan regime de la terreur dengan aksi terror yang digambarkan saat ini. Kedua, tujuan French Revolution's terrorism (regime de la terreur) adalah untuk membentuk sebuah masyarakat baru yang lebih baik (a new and batter society). Pertengahan abad ke-19, di Eropa, revolusi Perancis mengilhami munculnya sentimentil anti monarki (anti penguasa). Pada abad ini, muncul aksi era terorisme baru di mana terorisme dikonotasikan dengan gerakan anti pemerintahan. Aksi-aksi teror digunakan sebagai taktik untuk menggulingkan orang-orang berkuasa. Carlo Pisacane, seorang extrim Republika Italia, melakukan gerakan revolusioner yang disandarkan pada teori "the propaganda by deed". Hingga menjelang perang dunia I, terrorisme berkonotasi revolutioner, bersamaan dengan perang dunia II dan semangat pergerakan kemerdekaan, penggunaan istilah terorisme digunakan dalam perspektif berbeda. Pertama, teroris dikonotasikan dengan gerakan revolusioner. Dan, kedua, mengacu pada pemberontakan yang dilakukan kaum nasionalis/anti-colonialis. Konotasi kedua memicu ketidaksenangan para pejuang kemerdekaan (negara dunia ketiga) dengan stigma teroris. mereka dengan tegas menolak stigma teroris yang melekat pada mereka. Bagi mereka (pejuang kemerdekaan) berjuang untuk kemerdekaan dan

34

kebebasan demi tanah air dari penjajahan bukan terorisme tetapi freedom fighters. Pada awal tahun 1990, muncul istilah narco terrorism dan istilah gray area phenomenon. Istilah Pertama muncul bersamaan dengan gerakan sekelompok orang dengan motivasi ekonomi yang bergelut dalam perdagangan obat terlarang. Narco terrorism muncul akibat pertemuan antara penjualan obat terlarang dengan penjualan senjata. Sedangkan istilah gray area phenomenon digunakan pada gerakan yang mengancam stabilitas nasional oleh orang atau kelompok bukan negara. Bila ditelaah lebih mendalam pada awalnya kata terror merupakan jargon politik yang berasal dari bahasa Perancis yang selanjutnya diserap kedalam bahasa Inggris yang merupakan ekses negatif teriadinya revolusi perancis, berupa lahirnya pemerintahan yang memiliki sifat teror terutama pada awal pasca revolusi perancis yang diawali oleh pemerintahan yang dipimpin Maximilian Robespierre yang diakhiri kudeta oleh Napoleon Bonaparte sehingga terbentuklah Republik Perancis. Bila pada masa pasca revolusi perancis terorisme dilakukan Negara dalam bentuk penekanan terhadap lawan politiknya, maka pada dewasa ini terminologi yang umum tentang terorisme adalah, bentuk kekerasan yang dilakukan oleh kelompok atau individu yang sebagian besar ditunjukan pada komunitas muslim terhadap kepentingan negara tertentu terutama terhadap nagara-negara barat. Pandangan ini ternyata tampak lebih nyata ketika dunia barat melakukan upaya penanggulangan terhadap aksi-aksi terorisme dengan melakukan standar ganda seperti terlihat dalam kasus Irak dan Korea Utara.

35

D. Ciri-ciri Hukum Islam dan Perpektif Hukum Islam Terhadap Terorisme 1. Ciri-ciri hukum Islam adalah sebagai berikut: 43 1) Mempakan bagian dan bersumber dari agama Islam; 2) Mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau kaidah atau aqidah dan kesusilaan atau aqhlak Islam; 3) Mempunyai dua istilah kunci yaitu: a. Syariat, b. Fiqih. 4) Terdiri dari dua bidang utama yaitu: a. Ibadah, b. Muamalah. 5) Strukturnya berlapis terdiri dari: a. Al'Quran, b. Hadist, c. Ijtihad. 6) Mendahulukan kewajiban daripada hak; 7) Menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani serta memelihara kemuliaan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan; 8) Pelaksanaanya dalam praktik digerakan oleh iman dan aqhlak umat Islam; 9) Berwatak universal, tidak terbatas pada umat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa saja.

43

Mohammad Daud Ali Hukum Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 52-54.

36

Dari uraian-uraian diatas Islam merupakan suatu agama yang sempurna bisa dilihat dad ciri-cirinya, Islam agama yang mendahulukan kewajiban daripada hak, dalam Islam kewajiban itu ialah suatu hal yang harus didahulukan seseorang, menurut Islam seperti halnya dalam contoh bekerja dulu baru menerima upah, Islam juga sangat menghargai dan menghomiati sesama umat manusia, Islam ialah agama pelindung bagi segenap mausia karena dalam prakteknya di gerakan oleh rasa keimanan dan akhlak yang terpuji.

2. Perspektif Hukum Islam Terhadap Terorisme Menurut pandangan As'ad As Sahamrani dari (Hukum Islam organisasi Fiqh dan ilmiah di Al Azhar) terorisme itu adalah: "Terorisme adalah tindakan menimbulkan rasa takut terhadap keamanan masyarakat, mengganggu kepentingan umum, memusnahkan harta, mengganggu kebebasan dan kemanusiaan karena ingin membuat kerusakan di Bumi. perang dalam syariat islam tidak boleh dilakukan kecuali karena faktor darurat yang terjadi pada dua kondisi berikut. Pertama, membela Negara dari penjajahan dan perampasan kekayaan Negara. Kedua, perang melawan upaya-upaya merusak keyakinan kaum muslimin."44

Sementara dari sudut pandang agama, bahwa terorisme sebagai kekerasan politik sepenuhnya bertentangan dengan etos kemanusiaan agama Islam. Agama Islam mengajarkan etos kemanusian yang sangat menekankan kemanusiaan universal, Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang

mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan. Akan tetapi, perjuangan

44

As¶ad As Sahamrani, Op. Cit.

37

itu haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Setiap perjuangan untuk keadilan harus dimulai dengan premis bahwa keadilan adalah konsep universal yang harus diperjuangkan dan dibela setiap manusia, Islam memang menganjurkan dan memberi justfikasi kepada muslim untuk berjuang dan berperang terhadap para penindas musuh-musuh Islam, dan pihak luar yang menunjukan sikap bermusuhan atau tidak mau hidup berdampingan secara damai dengan Islam dan kaum muslim. Islam sebagai agama yang rahmatan lilalamin, jelas menolak dan melarang penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan termasuk tujuan yang baik sekalipun, Islam menegaskan bahwa pembasmian suatu jenis kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran pula. Tidak ada alasan etik dan moral sedikit pun yang bisa membenarkan suatu tindakan kekerasan, terlebih teror. Kalau ada tindakan-tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu, maka sudah pasti alasannya bukan karena ajaran etika moral Islam, melainkan agenda lain yang tersembunyi di bank tempurung tindakan tersebut. Kita perlu menerapkan definisi terorisme dengan tepat supaya kita tidak mencemarkan pemikiran agama yang murni dengan unsur-unsur kebatilan dan kejahatan serta menganggap perjuangan tanpa moral sebagai jihad. Dimana dalam Islam diizinkan dengan sengaja membunuh atau mencederakan orang-orang yang tidak bersalah dan tidak terlibat. Dalam peperangan yang sah saja Islam tidak mengizinkan tindakan yang demikian

38

terhadap mereka yang tidak terlibat alasan yang berperang pun meski diperlakukan dengan kemanusian, termasuk si pengganas sendiri. Menurut Ali Mubarok pandangan Hukum Islam terhadap terorisme adalah: "Sebenarnya tidak ada urusan antara agama dan kekerasan (teroris). Agama dalam kasus-kasus kekerasan dimanapun tidak lebih hanya sebagai faktor yang menambah bobotnya saja kalau ditamsilkan, hanya sebagai bumbu penyedap yang hanya mempergawat situasi konflik yang sudah terjadi karena faktor-faktor lain. Memang sulit dijelaskan bahwa faktor itu dipicu secara independen antar agama. Apalagi Islam sendiri, sangat menjungjung tinggi perdamaian."45

Fenomena terorisme yang mengatakan agama bisa jadi merupakan akibat dari hubungan antar negara agama, ketika negara dipersepsikan sebagai representasi agama sehingga setiap konflik yang muncul antar negara disebut juga konflik agama seperti konflik antar negara-negara Arab dan Israel, padahal yang menjadi pelaku kekerasan atau teror berasal dari kelompok-kelompok dalam masyarakat yang memang memiliki perbedaan agama. Namun sulit untuk menarik hubungan bahwa agama merupakan sumber dari aksi terorisme. Kenyataan ini sedikit banyak memberikan pandangan kuat terhadap masyarakat internasional bahwa radikalisme dan ekstrimisme merambah ke Tanah air. Setidaknya gerakan Islam politik di Tanah air mempunyai kemiripan dan kedekatan idiologis dengan beberapa gerakan Islam politik di negara lain. Kedua pandangan tersebut memang sulit untuk diterima, tetapi di

45

Abdul Wahid, Sunardi, Muhammad Imam Sidik, Op. Cit, hlm. 43.

39

sisi lain juga sangat sulit untuk ditolak. Sebab, dalam era teknologi seperti sekarang ini, sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sehingga mengaitkan peledakan Bom di Bali dengan jaringan terorisme intemasional bisa menjadi dugaan sementara hingga terdapat bukti-bukti atau sebaliknya nanti tidak terbukti pada titik ini, agama sering dijadikan bulan-bulanan dan objek tuduhan. Benarkah agama mendorong para terorisme. Pandangan negatif tehadap agama kian tersebar karena ada bau tidak sedap dan stigmasasi yang dimondialkan terhadap kelompok keagamaan tertentu, dan bahkan dianggap sebagai representasi yang paling absah terhadap sebagia n besar tindakan terorisme global, tudingan diarahkan kepada kelompok tersebut. Uraian di atas dengan sendirinya mengharuskan masyarakat supaya lebih giat mengembangkan cara-cara menyelesaikan masalah idiologi, sosial, kebenaran, dan ketidakadilan tanpa kekerasan dan pemaksaan. Cara-cara kekerasan, otoritarisme, dan pemaksaan lahan bagi cara-cara kekerasan masih harus disikapi dengan kearifan dan penuh kesabaran. Salah satu caranya dengan membina ruang publik sebagai strategi utama mengatasi ruang kematian. Bila kehidupan sosial, potitik, dan ekonomi diibaratkan sebagai ruang, kita tentu mengangankan ruang publik yang terbuka, toleran dan beradab.

BAB III TERORISME DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2003

A. Latar Belakang Munculnya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Peristiwa Peledakan dari Tahun 1984-2009 dalam angka Sebagaimana diketahui bersama bahwa teror dalam bentuk peledakan bom sebagaimana yang terjadi di Bali bukanlah yang pertama kali terjadi di IndonesiaTeror-teror tersebut seringkali terjadi seiring dengan moment-moment politik tertentu sehingga dengan mudah diduga bahwa pelaku teror adalah pihak -pihak yang berkepentingan dengan moment politik tersebut atau pihak yang berkepentingan dalam sebuah dinamika politik. Tetapi selain dengan motif tersebut, banyak yang melatar belakangi terjadinya tindak pidana terorisme yang terjadi di Negara Indonesia, untuk itu dibutuhkan kewaspadaan dari semua pihak, baik dari pihak pemerintah atau negara dan tentunya semua lapisan masyarakat, hal tersebut perlu dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan dari tindak pidana terorisme sangat merugikan dan akan menimbulkan kesengasaraan. Awal timbulnya terorisme di Indonesia, itu banyak dilakukan dengan beberapa peristiwa ledakan bom seperti yang terjadi berikut ini:46

46

Bambang Abimayu, Teror Bom Di indonesia, Grafindo, Jakarta, 2005, hlm. 82-90.

40

41

Kronologis Bom Di Indonesia 4 Oktober 1984 Ledakan terjadi di BCA Jl. Pecenongan, BCA kompleks pertokoan glodok, BCA Jl. Gadjah Mada. Para pelaku mengaku protes atas peristiwa tanjung priok. Lima pelaku ditangkap dan dipenjara. Desember 1984 Gedung seminari Alkitab Asia Tenggara di Jl. Margono, Malang, Jawa Timur, dilempari bom dan meledak. Motifnya diduga untuk memecah kerukunan antar umat beragama. Pelaku

berhasil diketahui. 20 Januari 1985 Peledakan terhadap Candi Borobudur yang dilakukan oleh seorang Mubaligh Husein Ali Alhabsby. Pada awalnya Husein mendapat ganjaran penjara seumur hidup, namun pada 23 maret 1999 mendapat grasi dari Habibie. 16 Maret 1985 bom meledak dal bus Pengemudi Ekspress di Banyuwangi, Jawa Timur. Tersangka pelaku Abdul Kadir Alhabsby, anggota majelis taklim. Kasus ini dikaitkan dengan kasus peladakan Candi Borobudur. 13 September 1991 Sebuah Bom meledak secara tidak sengaja di Demak, Jawa Tengah, Tiga pemuda Timor-

42

Timur sebagai tersangka, namun Xanana Gusmao menyatakan bertanggungjawab. 18 Januari 1998 Lagi-lagi Bom meledak dengan tidak sengaja di Rumah Susun Tanah Tinggi, Jakarta Barat, Agus Priono, anggota SMID, menjadi

tersangka dan dipenjara tujuh bulan. 15 dan 19 April 1999 Terjadi peledakan Bom di Plaza Hayam Wuruk (15 April 1999) dan Masjid Istiqlal (19 April 1999). Angkatan Mujahidin Islam Nusantara pimpinan pelaku. 15 Mei 2000 Ada Peledakan Bom Di Gereja Kristen Edy Rianto menjadi tersangka

Protestan, Indonesia Medan, Sumatra Utara. Kemungkinan Besar Bermotif Adu Domba Antar Umat Beragama. Sehari Kemudian Menyusul Ledakan Gereja Katholik Jl. Pemuda Medan. 4 Juli 2000 Sebuah Bom meledak di kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Bom

dikategorikan M-I buatan pindad, kasusnya belum terungkap. 12 Oktober 2002 Diskotik Paddy¶s Café dan Sari Club. Legian, Kuta, Bali. Meledak kurang lebih sebanyak 202

43

orang meninggal dunia, dan ratusan mengalami luka-luka. 5 Desember 2002 Restourant siap saji Mc Donal¶s Jl. Sam Ratulangi, Makasar. Meledak tiga orang tewas akibat Bom rakitan ini. 5 Agustus 2003 Hotel JW Marriott di Jl. Casablanca, Jakarta Pusat, diledakan. Sebanyak 10 orang tewas, dua diantaranya satpam dan supir. 9 September 2004 Terjadi ledakan dahsyat di depan Gedung Kedubes Australia, di Jl. HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Ledakan Bom yang terdengar sampai radius 4 Km itu juga memecahkan kaca sejumlah gedung pencakar langit di sekitar lokasi kejadian. Pintu depan Kedubes dan pohon-pohon disekitar rontok terbakar api akibat bom yang berdaya hulu tinggi itu. 21 Maret 2005 Ledakan Bom terjadi di Batu Merah,

Kecamatan Sirimau, Ambon, pada hari senin malam melukai 19 warga sipil.

8 Juni 2005

Sebuah Bom meledak dihalaman samping rumah salah seorang aktifis Islam, Abu Jibril,

44

Pemulang, Banten. Tidak ada korban dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 05.00 WIB itu. 17 Juli 2009 Bom Jakarta 2009, 17 Juli 2009, dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan RitzCarlton, Jakarta. Ledakan terjadi hamper bersamaan, sekitar pukul 7.00 WIB. Sebagai catatan saja selama kurun waktu 2005 -2009 semasa pemerintahan SBY-JK relatif tidak ada bom, namun di akhir masa

pemerintahan mereka diwarnai bom yang terjadi di tempat yang sama JW Marriott. Semoga di masa masa mendatang Indonesia diwarnai kedamaian tanpa adanya serangan teror dan pertikaian lagi seterusnya.

45 

Kronologis Peledakan Bom Di Bali Tanggal 12 Oktober 2002  Suasana Bali Sebelum Terjadinya Peledakan Bom 47 Bali telah menjadi kata kunci bagi gerbang kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Ketika negeri ini memasuki krisis ekonomi dan hamper semua wilayah menderita akibat krisis itu, Bali tetap tegak dengan tegar. Wisatawan asing yang datang membawa dollar menemukan Bali bagaikan the lost paradise, surga yang hilang, karena murahnya kehidupan yang diukur dengan dollar. Sebaliknya, bagi sebagian anak negeri yang mencari nafkah di pulau seribu dewa itu, Bali adalah the last paradise, surga yang terakhir. Wisatawan asing (selanjutnya disingkat Wisman) membawa dollar dan mengisi kantong orang Indonesia yang berhubungan dengan mereka, utamanya melalui pariwisata. Salah satu sebab dan sekaligus prasyarat mengapa Bali bagaikan the last resort yang tidak terganggu krisis adalah keamanannya. Sebagai pulau yang tidak terlalu besar, pencurian kendaraan bermotor frekuensinya rendah (apalagi mobil), karena Polisi akan dengan mudah menemukannya. Jumlah Polisi di Bali, dibandingkan dengan penduduknya (ratio) memang termasuk yang paling ideal dibandingkan di daerah-daerah lain di Indonesia, Ratio antara Polisi dengan penduduk tercatat 1 : 294. Ini jauh lebih baik dari angka nasional yang sebesar 1 : 1080. Namun, perlu dicatat, bahwa hingga Oktober 2002, Polda Bali berada pada status Kelas B-l. artinya, Polda dipimpin oleh seorang Kapolda

History Of Terrorism, http: // www.terrorismfiles.org/ encyclopedia/ history_of_ terrorism.html.

47

46

berpangkat Brigadir Jenderal Polisi dengan Wakapolda Komisaris Besar. Status ini sudah direncanakan untuk ditingkatkan menjadi lebih tinggi sebelum akhir 2002 (akhirnya setelah kasus bom Bali naik menjadi status Kelas A). Status ini berkaitan erat dengan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Polda, karena menyangkut alokasi dana (anggaran) yang lebih kecil dibanding Polda yang statusnya lebih tinggi (Kelas A). Kondisi ganda yang menampilkan dimensi kekuatan sekaligus kelemahan Polda Bali, juga agak terbantu oleh setidaknya dua faktor, yaitu : pertama, faktor exposure terhadap unsur-unsur eksternal, bahkan luar negeri, sangat intern dan ekstensif, sehingga membuat Polisi Bali relatif lebih terbuka terhadap orang luar, termasuk gagasan-gagasan dari luar institusi Polri. Kedua, banyak posisi kunci di dalam struktur organisasi, terutama yang bersifat kewilayahan (Polsek) dipegang oleh para perwira muda yang sangat potensial.48 Dengan ratio Polisi dibanding penduduk yang ideal, ditambah dengan lokasi geografis yang relatif tertutup (sehingga memudahkan pengamanan wilayah), serta infrastruktur keamanan yang mapan dan efektif (perangkat adat, terutama pecalang), maka situasi keamanan dan k etertiban masyarakat (kamtibmas) secara umum sangat kondusif. Suatu situasi yang pada satu sisi membentuk citra bagus, sebagaimana ditampilkan oleh Polisi Pariwisata, namun pada sisi lain juga menyebabkan kemampuan pengendalian kamtibmas yang kurang siap untuk kasus-kasus yang berskala besar.

48

Ibid.

47

Itulah wajah Bali hingga 12 Oktober 2002, ketika terjadi tiga kali peledakan bom, dengan dua diantaranya diledakkan di kawasan Legian, Kuta dan satu di kawasan Renon, Denpasar. Bom Bali bukan hanya mengubah wajah lokal, tetapi juga wajah nasional Indonesia. Pada tingkat dan skala lokal, dampak bom Bali bukan hanya sekedar mengejutkan atau membuat terkejut, tetapi membuat "terpana", baik bagi masyarakat Bali sendiri dan terlebih lagi bagi Kepolisian setempat. Bom Bali telah meluluhlantakkan rasa percaya diri aparat keamanan, masyarakat lokal, pemukim pendatang dan bahkan turis-turis asing maupun domestik. Suatu efek teror yang betul-betui mencapai sasaran teror, yaitu menyebarkan rasa ketakutan hingga maksimal. Kronologi peristiwa peledakan Bom di Bali dapat dilihat seperti berikut ini:  Pertemuan Persiapan Ada empat kali pertemuan yang dilakukan berturut-turut mulai tanggal 2 Agustus, 8 Agustus, 21 Agustus dan 28 Agustus 2002, dilanjutkan 12 September dan 20 September 2002. Pertemuan dilakukan secara bergantian di daerah Solo dan Lamongan. Rangkaian pertemuan itu diikuti berganti-ganti oleh Amrozi, Muhammad Ali Imron alias Alik (30), Umar alias Patek (35), Umar alias Wayan (35), Idris alias Joni Saputra alias Gembrot (35), Did Matin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Supriyanto (32) dan Fatih alias Fat alias Kudama alias Abu Umar alias Abdul Aziz alias Heri alias Imam Samudra (35).

48

Setelah perencanaan cukup matang, dengan dana yang memadai, mulai dilakukan berbagai persiapan teknis, seperti pembelian mobil L-300 dan pembelian sejumlah bahan peledak. Bahan peledak berupa Amonium Nitrat dibeli di toko Tidar Kimia dan Aneka Kimia. Kedua toko berada di Surabaya. Di took Tidar Kimia, Amrozi membeli satu ton Kalium Klorat (KC103), dua zak Sulfur, safu long bubuk Alumunium, 25 kilogram Tawas, dan satu ember Klorin. Karena jumlahnya banyak, pembelian dilakukan dalam beberapa kali. Dan toko Tidar Kimia menghubungi toko Aneka Kimia untuk membantu pengadaan. Mobil Mitsubishi L-300 dibeli Amrozi dari Anas. Mobil inilah yang akan digunakan untuk membawa bom yang akan diledakkan di Bali. Setelah pembelian, mobil mulai dimodifikasi di Lamongan guna mengganti dengan cara menggerinda dan memahat nomor palsu, nomor mesin dan nomor rangka. Tindakan ini merupakan tindakan antisipasi jika seandainya ledakan tersebut tidak menghancurkan seluruh mobil. Artinya, dengan mengubah atau mengganti nomor mesin dan nomor rangka, akan memutus kaitan dengan para pelaku, terutama pemilik mobil atau yang melakukan pembelian mobil. Di kemudian hari, tindakan antisipasif ini cukup efektif dalam mengecoh Kepolisian (dalam hal ini Laboratorium Forensik), bahkan termasuk Tim Forensik dari Kepolisian Australia (AFP, Australia Federal Police). Dana yang disalurkan untuk realiasasi rencana ini diperkirakan sebesar Rp. 120 juta rupiah. Uang yang dikumpulkan terdiri atas mata uang rupiah,

49

ringgit Malaysia, dollar Singapura dan dollar Amerika Serikat. Jumlah dana tersebut dengan perhitungan kebutuhan pembelian mobil, bahan peledak dan kebutuhan lainnya (yang nantinya termasuk pembelian sebuah sepeda motor Yamaha Fl-ZR). Setelah rangkaian pertemuan di luar Bali, kelompok tersebut berangkat ke Bali guna mempersiapkan teknis peledakan. Diperkirakan, kelompok ini berangkat secara terpisah dan semuanya berada di Bali tanggal 5 Oktober 2002. Tanggal tersebut merupakan kesepakatan kelompok penggagas untuk kembali bertemu di Bali. 

Persiapan Teknis Peledakan Pertemuan pertama kali diadakan di Bali dilakukan pada tanggal 5 Oktober 2002, lokasinya di Hotel Harum, Denpasar, yang membahas mengenai persiapan lebih teknis. Keberadaan bahan-bahan peledak, gambaran situasi lokasi yang akan diledakkan dan kesiapan kelompok eksekutor dibahas secara intensif. Diputuskan bahwa lokasi peledakan adalah Sari Club yang berada di Legian, Kuta. Diduga, pemilihan lokasi ini dilakukan oleh orang luar Bali yang tidak begitu mengetahui situasi. Dugaan ini berkaitan dengan banyaknya orang yang tewas justru bukan merupakan warga negara Amerika Serikat, namun Australia. Setelah pertemuan 5 Oktober tersebut, masih dilakukan pertemuan-pertemuan intensif (kemungkinan setiap hari) untuk membahas perkembangan situasi. Pada tanggal 10 Oktober 2002, dilakukan pembelian motor bekas yang dilakukan oleh Amrozi dan 2 orang lainnya dari "kelompok eksekutor" (diduga Idris alias Joni Saputra, sebagaimana disebutkan dalam kuitansi

50

pembelian, serta kemungkinan Umar alias Wayan). Pembelian dilakukan di sebuah Showroom Toko Mitra Motor di Jalan Gatot Subroto, Denpasar. Selain membeli sepeda motor, mereka juga menyewa mobil Kijang Grand Extra Nopol. DK-1435-CR, yang digunakan untuk melakukan pemindahan bahan peledak dari lokasi penyimpanan ke lokasi tempat perakitan bom, Pemindahan kemungkinan dilakukan dengan menempatkan bahan peledak (handak) di bawah jok sopir. Setelah melakukan pemindahan bahan campuran TNT tersebut, bom segera dirakit menggunakan peralatan (kunci-kunci) yang ada di bawah jok motor. Hal ini dikuatkan dengan penemuan residu peledak berupa HMX, Tetril, Nitrat dan PETN di bawah jok dan kunci-kunci sepeda motor Fl-ZR tersebut. Selain itu motor juga dipasangi 3 buah swicth yang nampaknya digunakan sebagai pemicu jarak jauh (remote) dari bom yang akan diledakkan. Meskipun demikian, besar kemungkinan bahwa switch detonator dari jarak jauh ini tidak digunakan, dan yang digunakan adalah handphone sebagai perangkat kontrol jarak jauh (remote control device). Alternatif ini diketahui karena dari ledakan kecil di Renon ditemukan serpihan handphone, Setelah semua siap, kemudian bom diletakkan dalam mobil Mitsubishi L-300. Tanggal 11 Oktober merupakan hari terakhir persiapan dan setelah mengecek persiapan peledakan. Pada tanggal ini, beberapa orang sudah meninggalkan Bali. Tetapi, kelompok yang bertugas untuk melakukan peledakan tetap tinggal di Denpasar.

51 

Malam Peledakan49 Tanggal 12 Oktober 2002, kelompok eksekutor yang sudah diserahi tanggung jawab mulai menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan lapangan. Malam harinya, mobil yang sudah dipasangi bom dan motor yang sudah dilengkapi dengan switch remote mulai bergerak meninggalkan tempat mereka berkumpul. Orang yang membawa motor, diperkirakan juga membawa bahan peledak siap pakai., namun tidak sebanyak dan sebesar yang diletakkan di dalam mobii L-300. Kemungkinan besar, motor melakukan pemantauan lokasi terakhir dengan melintasi jalan Legian, Kuta. Jalan Legian merupakan salah satu jalan paling ramai dan macet di daerah Kuta. Di sepanjang jalan ini banyak terdapat tempat-tempat hiburan semacam klub malam dan kafetaria. Kemacetan kian memuncak di atas pukul sepuluh malam. Biasanya dari pukul 10.00 WITA sampai pukul 04.00 WITA, kemacetan sangat parah karena malam Minggu (Sabtu malam). Sumber kemacetan adalah ramainya orang yang melintas di sepanjang jalan ini, ditambah dengan banyaknya kendaraan yang berhehti, terutama taksi untuk mengambil penumpang. Situasi ini sangat mendukung pelaksanaan peledakan. Kondisi macet dan ramai jelas menguntungkan pelaku karena tidak akan timbul kecurigaan orang-orang di sekitar lokasi. Banyak skenario yang bisa dikembangkan berdasarkan keterangan saksi-saksi di sekitar lokasi peledakan. Skenario tersebut berkembang karena pada saat yang bersamaan ada dua ledakan di jalan Legian, Kuta dan satu ledakan di Jalan Puputan, Renon.

49

Ibid.

52 

Sampai dengan Pukul 23.00 W1TA Banyak alternatif skenario yang mungkin dilakukan oleh para pelaku beberapa saat menjelang ledakan, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
y

Skenario 1 Pelaku A (kemungkinan membawa motor Fl-ZR) menuju Jl. Legian dan menunggu pelaku yang membawa mobil L-300 (pelaku B). Setelah menunggu beberapa saat, mobil L-300 yang dibawa oleh pelaku B terlihat oleh Pelaku A. Pelaku A segera masuk ke dalam Paddy's Café dan meletakkan tas berisi bom di sebuah kursi (bisa juga meja) yang berada di antara bar tengah (lantai 1) dan meja DJ (Disc Jockey). Setelah itu Pelaku A keluar dan kembali menunggu pelaku B sampai pada posisi di depan Sari Club. Posisi mobil L-300 sudah di depan Sari Club dan Pelaku B telah melihat Pelaku A keluar dari Paddy's Cafe. Pelaku B kemudian mematikan mobil dan meninggalkan mobil tersebut menuju ke arah Pelaku A. kemudian keduanya segera meninggalkan lokasi.

y

Skenario 2 Pelaku A berangkat menuju Legian. Setelah tiba di depan Paddy's Cafe, sejenak menunggu mobil L-300 yang dibawa Pelaku B terlihat Setelah mobil L-300 terlihat di kejauhan, Pelaku A yang membawa tas berisi bom segera masuk dan mengambil posisi duduk di kursi yang ada di bar tengah (lantai 1). Beberapa saat kemudian, Pelaku A keluar meninggalkan Paddy's, namun meninggalkan tas

53

berisi bom tersebut di kursi yang didudukinya. Dengan demikian, pelaku tidak dicurigai dan dianggap hanya sebentar meninggalkan kursinya. Pelaku A segera meninggalkan lokasi. Sementara itu Pelaku B yang membawa mobil L-300 sudah berada di depan Sari Club. Kemudian mematikan mobil dan meninggalkannya. Pelaku B kemudian naik taksi yang berada tepat di depan mobil L-300 yang dikendarainya. Pelaku B segera

meninggalkan lokasi menggunakan taksi.
y

Skenario 3 Pelaku A menuju Paddy's dari arah Kuta membawa bom (kemungkinan di dalam tas). Setibanya di depan Paddy's, Pelaku A segera masuk ke Paddy's (lantai 1) dan mengambil posisi duduk di kursi yang berada di antara bar tengah dan meja DJ. Pelaku A tetap di dalam Paddy's sampai bom meledak (kemungkinan bom bunuh diri). Pelaku B telah sampai di depan Sari Club, kemudian mematikan mobil dan meninggalkannya. Kemudian Pelaku B segera meninggalkan lokasi.

y

Skenario 4 Pelaku A dengan membawa bom (kemungkinan di dalam tas) menuju Paddy's diantar oleh pelaku lainnya. Sesampainya di Paddy's, Pelaku A langsung masuk dan mengambil posisi duduk di kursi yang berada di antara bar tengah dan meja DJ. Pelaku A tetap di dalam Paddy's sampai bom meledak (kemungkinan bom bunuh diri).

54

Sementara Pelaku membawa mobil L-300 sampai di depan Sari Club, mematikan mobil dan meninggalkannya. 

Pukul 23.15 WITA Bom pertama meledak di dalam Paddy's Cafe. Ledakan ini memakan korban jiwa sebanyak 8 orang, satu orang tewas dengan kondisi Sangat mengenaskan karena berada sangat dekat dengan bom yang meledak. Hanya betis ke bawah dan dada, kepala yang utuh, sementara tubuhnya hancur terkena ledakan. Para saksi mata yang lolos dari maut menyebut ledakan berasal dari tengah-tengah kerumunan pengunjung yang sedang menari di lantai dansa. Begitu bom meledak, seluruh pengunjung Paddy's berhamburan. Ledakan itu segera disusul dengan nyala api dan kebakaran. Di lokasi kejadian ditemukan residu RDX dan THT. 

Pukul 23.15.03 Sementara itu, beberapa saat menjelang ledakan di Paddy's Cafe, mobil Mitsubishi L-300 yang ditinggal dalam keadaan mati di depan Sari Club mengundang perhatian pengunjung dan pejalan kaki yang melintasi Sari Club. Beberapa orang berkerumun di sekitar mobil tersebut. Tidak bergeraknya mobil L-300 membuat mobil dibelakangnya mengambil jalur kiri untuk mendahului.

55

Mobil Carry dan diikuti taksi yang berada di belakang L-300 bisa mendahului. Sementara di belakang kedua mobil yang berhasil mendahului ada Kijang Abu-abu DK-1738-CR yang tejebak di belakang L-300 mengambil ke kiri dan tidak bisa mundur karena ada Kijang Abu-abu Metalik DK-1257-JC dan Ford Laser Merah Metalik DK-8164-BX. Di jalur sebelah kiri, ada beberapa mobil yang sedang di parkir. Tercatat mobil Kijang Merah Metalik DK-1524-AC, Daihatsu Espass DK1706-BQ dan Timor Biru Metalik DK-53-GA serta beberapa mobil lainnya yang terparkir sekitar 13 meter dari mobil L-300. Setelah ledakan di Paddy's, banyak pengunjung Paddy's berlarian keluar. Ketika itulah, dalam jarak waktu hanya 3 detik, mobil Mitsubishi L-300 yang berada di depan Sari Club meledak. Ledakan sedemikian besar dan kerasnya, sehingga langsung membuat listrik padam. Ini terutama karena hancumya gardu tegangan rendah yang berada di samping Sari Club akibat ledakan. Ledakan menimbulkan kebakaran yang dengan cepat menghanguskan Sari Club beserta isinya (termasuk pengunjung yang berada didalamnya). Kebakaran bisa cepat terjadi karena Sari Club adalah bangunan semi permanen yang terbuat dari kayu. Beberapa orang tewas seketika dalam keadaan mengenaskan (banyak yang gendang telinganya hancur). Ledakan tersebut selain menimbulkan kebakaran dan kerusakan yang luas, juga sangat keras. Dari kondisi korban, dapat disimpulkan banyak yang tewas karena kerasnya suara (di samping rambatan hawa panas). Sampai

56

beberapa menit selanjutnya tidak ada yang bisa mendekati pusat ledakan (ground zero) karena panas. Pada saat evakuasi pertama dilakukan, tercatat 71 orang tewas dalam keadaan tubuh utuh, namun "hangus" karena terbakar. Pada lokasi ledakan ditemukan TNT, RDX, HMX, Tetril dan Nitrat. 

Pukul 23.15.33 Tiga puluh detik setelah ledakan kedua di jalan Legian, persis di depan Sari Club, terjadi ledakan ketiga di Jalan Puputan, Renon, Denpasar. Lokasi ledakan di trotoar jalan yang berjarak diagonal 100 meter dari Konsulat Amerika Serikat di Jalan Hayam Wuruk, Renon dan sekitar 300 meter dari Konsulat Australia di Jalan Puputan. Ledakan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kerusakan hanya pada beton trotoar dan dahan, ranting-ranting serta dedaunan pepohonan di sekitar trotoar yang berguguran. Pada lokasi ledakan di Renon ini ditemukan residu bahan peledak (handak) jenis TNT dan komponen elektronika yang kemudian diidentifikasi sebagai handphone merek Nokia dengan kode body DMC 00455-3. Para saksi yang mendengar ledakan tersebut melukiskan suara yang keras, meskipun efek ledakan tidak sekeras suaranya. Jika dihitung dari interval waktu yang sama dari ketiga ledakan, yaitu 30 detik, maka kemungkinan pengaktifan remote control dilakukan dari Pelaku yang sama di Legian, meskipun tidak tertutup kemungkinan pelaku peledakan di Renon adalah orang lain dari kelompok yang sama.

57 

Pasca Peledakan50 Kesibukan menanggulangi akibat ledakan dimanfaatkan pelaku untuk menghilangkan jejak. Setelah merealisasikan rencana peledakan, dua orang pelaku yang mengendarai sepeda Motor Yamaha Fl-ZR Nopol. DK-5228-PE menuju musholla Al-Ghuroba di Sanglah, Denpasar. Mereka memarkir motor di samping musholla, salah seorang melepas helm dan kaus tangan kulit, kemudian mengambil kain lap dari atas jok sepeda motor disebelahnya, dan kain lap tersebut ditutupkan di atas jok sepeda motor Yamaha yang diparkirnya. Salah seorang di antara kedua pelaku sempat mencuci muka, sementara lainnya menunggu di luar. Tampaknya pelaku yang menunggu diluar resah, sehingga pelaku yang telah selesai mencuci muka langsung menghampirinya dan keduanya meninggalkan musholla tersebut. Motor Yamaha Fl-ZR yang tadinya dibawa, dibiarkan tetap terparkir di samping musholla. Beberapa pelaku segera ke luar dari Bali pada keesokan harinya. Diperkirakan, paling lama dalam waktu empat hari setelah hari peledakan, seluruh pelaku sudah meninggalkan Bali, semuanya melalui jalur darat. 

Dampak Peristiwa51 Kasus bom Bali bukan sekedar menyisakan persoalan kemanusiaan dan perkara kriminal yang belum terselesaikan sepenuhnya, melainkan tetap memberikan dampak yang luar biasa, baik terhadap kehidupan masyarakat

50 51

Ibid. Ibid.

58

lokal Bali, bangsa Indonesia secara keseluruhan dan bahkan dunia internasional. Akibat dari pemboman itu sangat luas. Perubahan-perubahan struktural dan fungsional terjadi begitu cepat dan berlangsung dalam skala yang sangat besar. Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa dalam kilas balik mengenai seminggu pertama setelah pengeboman, sesungguhhya nasib bangsa Indonesia dipertaruhkan. Segera setelah pemboman 12 Oktober 2002 itu, potensi-potensi laten dari konflik horizontal berpeluang besar untuk muncul ke permukaan. Jika saja masyarakat Bali tidak mampu segera mengendalikan diri dari tindakantindakan penghancuran diri (self destruction), seperti sweeping kaum pendatang, khususnya yang beridentitas "Jawa", yaitu etnik Jawa-Madura yang Muslim. Setelah itu, berbagai dampak struktural dan fungsional mulai muncul di permukaan berurutan. Berbagai isu nasional telah menjadi wacana publik, mulai dari diterbitkannya Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang). Rancangan Undang-Undang Antiterorisme, sampai rekonstruksi ekonomi dan validasi organisasi Polri, bahkan hingga politik luar negeri Republik Indonesia, serta sikap dunia internasional terhadap Indonesia. Semuanya terpengaruh dan mengubah banyak asumsi mengenai situasi Indonesia menjelang peralihan tahun.

59 

Perpu dan Undang-Undang Anti Terorisme Dampak langsung lain dari bom Bali menyangkut aspek hukum. Pemerintah segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang (PERPU) dan menyegerakan proses pengesahan Rancangan Undang undang Antiterorisme ke DPR. Tetapi, kedua payung hukum ini segera pula menimbulkan kontroversi di masyarakat. Banyak kalangan, terutama ak tivis pro-demokrasi, yang menentang, dengan argumen, bahwa keduanya bisa-bisa dijadikan payung hukum bagi pemerintah untuk menindas dan mematikan oposisi. Misalnya, dapat digunakan laporan intelijen sebagai bukti permulaan yang cukup, sehingga dengan laporan tersebut seseorang dapat ditangkap atas kecurigaan terlibat dalam tindak pidana terorisme. Hal lain yang tidak lazim adalah kewajiban Hakim (Ketua/Wakil Ketua Pengadilan Negeri) untuk memeriksa laporan intelijen yang diajukan kepadanya. Hakim di sini tidak dilatih untuk mampu memeriksa seperti itu. Kontroversi lain, penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup untuk waktu paling lama 7 x 24 (tujuh kali duapuluh empat) jam (pasal 28 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme). Jadi seseorang dapat ditangkap tujuh hari tanpa kejelasan akan dilakukan penahanan atau tidak atas dirinya. Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, penangkapan dilakukan untuk waktu paling lama satu hari, dan selebihnya harus dengan surat penahanan (pasal 19 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).

60

Dalam hal Rancangan Undang-undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang sebelumnya terlihat lambat dibahas, mengalami percepatan pembahasan. Bom Bali telah menjadi pemicu terjadinya percepatan pembahasan tersebut Tekanan internasional atas keseriusan Indonesia dalam memberantas terorisme telah semakin kuat, sehingga perdebatan mengenai perlu tidaknya atau masalah isi menjadi berkurang banyak. Tidak hanya itu, tentangan juga semakin berkurang. Tokoh-tokoh yang biasanya bersuara keras, sudah ditahan Polisi atau memilih diam Mayoritas . akan mengambil posisi mengikuti arus. Dengan peristiwa Bali, penentang Rancangan Undang-undang ini bisa saja dianggap sebagai pendukung terorisme. Dengan demikian, melihat kompleksitas dampak yang muncul baik pada tingkat lokal, nasional dan internasional, maka bom Bali adalah sebuah ujian berat bagi kekuatan lokal, yaitu legitimasi adat dan agama Hindu.

Kerukunan antar umat beragama dan antar etnik sedang dipertaruhkan dalam kasus ini. Rangkaian peristiwa pengeboman yang terjadi di wilayah Negara Republik Indonesia telah menimbulkan rasa takut masyarakat secara luas, mengakibatkan hilangnya nyawa serta kerugian harta benda, sehingga menimbulkan pengaruh yang tidak menguntungkan bagi kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan hubungan Negara Indonesia dengan dunia internasional. Peledakan bom tersebut merupakan salah satu modus pelaku terorisme yang telah menjadi fenomena umum dibeberapa negara. Terorisme merupakan kejahatan lintas negara, terorganisasi, dan bahkan merupakan tindak pidana

61

internsaional yang mempunyai jaringan luas, yang mengancam perdamaian dan keamanan nasional maupun internasional. Pemerintah Indonesia sejalan dengan amanat sebagaimana ditentukan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 alinia ke 4 (empat) yakni, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam memeliha ketertiban ra dunia yang berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi dan keadilan sosial, berkewajiban untuk melindungi seluruh wargannya dari setiap ancaman kejahatan baik yang bersifat nasional, transnasional, maupun yang bersifat internasional. Pemerintah juga berkewajiban untuk mempertahankan kedaulatan serta memelihara keutuhan dan integritas nasional dari setiap bentuk ancaman baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Untuk itu, maka mutlak diperlukan penegakkan hukum dan ketertiban secara konsisten dan berkesinambungan. Untuk menciptakan suasana tertib dan aman, serta untuk memberikan landasan hukum yang kuat, dan kepastian hukum yang kuat, serta kepastian hukum dalam mengatasi permasalahan yang mendesak dalam hal

pemberantasan tindak pidana terorisme, Presiden Republik Indonesia telah menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Berdasarkan

pertimbangan tersebut maka perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

62

Terorisme menjadi Undang-undang, dalam hal ini menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

B. Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Positif Indonesia Seperti yang telah diterangkan, tindakan terorisme di Indonesia itu memiliki unsur membuat rasa takut kepada orang lain, dan rasa takut itu juga harus ditujukan kepada orang yang banyak atau massal. Seumpama tidak termasuk dari unsur ini, maka kejahatan tersebut hanya masuk di dalam ketentuan pidana biasa. Dalam hal ini, termasuk dari tindakan terorisme adalah kejahata yang n dilakukan berkaitan dengan transportasi penerbangan atau pesawat. Ketentuan ini diatur di dalam Pasal 8 Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Tindak Pidana Terorisme. Pasal 8 ini adalah merupakan usaha pencegahan berlakunya kejadian serupa dengan 9/11 di New York. Selanjutnya di Pasal 9 Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Tindak Pidana Terorisme, terdapat ketentuan pidana terorisme yaitu bagi orang yang membantu seorang teroris untuk mendapatkan bahan peledak, amunisi dan yang menyamainya. Hanya saja, seumpama orang melakukan tindakan yang sesuai dengan Pasal 6, maka ia akan dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. Sedangkan Pasal 9 menentukan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 20 (dua

63

puluh) tahun. Jadi bedanya hanya pidana penjara paling singkat yaitu antara 4 dan 3 tahun. Perlu diketahui, Pasal 6 dan 9 ini kejahatan tindakan pidana terorisme. Akan tetapi Undang-Undang No.15 Tahun 2003 ini tidak berhenti hanya pada tindakan terorisme yang berhasil. Ia juga memberi ketentuan bagi tindakan yang memiliki niat untuk tindak pidana terorisme, tapi tidak berhasil. Ini terdapat di Pasal 7 dengan pidana penjara paling lama seumur hidup. Ada juga tindak pidana lain dari tindak pidana terorisme, akan tetapi ia berkaitan dengan terorisme. Tindak pidana ini diatur dalam Pasal 20-24. Contoh dari tindak pidanan ini adalah seperti usaha mengintimidasi penyidik dalam penyidikan kasus teroris. Hanya saja, tindakan ini tidak dihukum seberat dengan tindakan kejahatan terorisme murni. Undang-Undang No.15 tahun 2003 Tindak Pidana Terorisme pula mengatur tentang kompensasi, restitusi, dan rehabilitasi. Undang-Undang No.15 Tahun 2003 ini memberikan pengaturan tentang perlindungan korban dan ahli warisnya akibat tindak pidana terorisme.52 Kompensasi pembiayaannya dibebankan kepada negara yang dilaksanakan oleh pemerintah, sedangkan restitusi merupakan gati kerugiannya diberikan oleh pelaku kepada ahli warisnya.53 Turut campurnya pemerintah dalam memberikan kompensasi kepada korban dan keluarganya merupakan salah satu perwujudan dari welfare state. Pemerintah berkewajiban untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya.

Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Pasal 36-42. 53 Dikdik, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, 131.

52

64

Apabila negara tidak mampu untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya (dalam hal ini melindungi warga negaranya dari aksi aksi terorisme) pemerintah harus bertanggung jawab untuk memulihkannya.54 Salah satu keistimewaan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Tindak Pidana Terorisme adalah ia memiliki ketentuan kerjasama internasional. Kerjasama internasional ini diatur di dalam Pasal 43 Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Tindak Pidana Terorisme.55 Wujudnya Pasal 43 ini mencerminkan bahwa kejahatan terorisme adalah sebuah kejahatan internasional dan seluruh rakyat internasional ingin melawannya.  Delik Tindak Pidana Terorisme Delik berasal dari bahasa Latin yakni kata delictum. Dalam bahasa Jerman disebut delict, dalam bahasa Perancis disebut delit, dan dalam bahasa Belanda disebut delict. Menurut Leden Marpaimg dalam bukunya Unsur-unsur Perbuatan Yang Dapat Dihukum (Delik ) yaitu secara umum oleh pakar hukum telah disetujui bahwa strafbaar feit disebut delict.56 Pengertian delik telah diterjemahkan oleh para sarjana menjadi berbagai macam arti dan para sarjana itu mempunyai batasan dan alasan tersendiri untuk menentukan pengertian delik. Untuk lebih jelasnya, penulis mengutip beberapa pengertian tentang delik menurut pakar dan ahli hukum pidana seperti tersebut di bawah ini: Sianturi dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana Dan Penerapannya, mengartikan istilah delik atau hot strafbaar feit ke dalam bahasa Indonesia menjadi:

54 55

Ibid. Undang-Undang No. 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme

Pasal 43: Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana dan Penerapannya, Alumni AHM-PTHM, Jakarta, 1990, hlm.32.
56

65

a. Perbuatan yang dapat atau boleh dihukum; b. Peristiwa pidana; c. Perbuatan pidana; d. Tindak pidana. Selanjutnya Sianturi mengutip pendapat Moeljatno bahwa delik

maksudnya adalah perbuatan pidana, yaitu: ³Hal itu dibuat oleh seseorang dan ada sebab maupun akibatnya, sedangkan pengertian peristiwa pidana tidak menunjukkan bahwa yang melakukan adalah seorang manusia, bisa hewan atau alam yang melakukannya.'' 57 Menurut Moeljatno dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana,

menerjemahkan delik dengan istilah perbuatan pidana adalah: "Perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan dilarang dan diancam pidana, asal saja dalam pidana itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan, yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditentukan oleh kelakuan atau perbuatan orang. Sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. " 58

Pengertian delik menurut Bambang Purnomo dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana adalah tindak pidana, yang mengatakan bahwa:

57 58

Ibid. Moeljanto, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 1993, hlm.54.

66

"Perbuatan pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu pengertian dasar dalam ilmu hukum pidana sebagai istilah yang dibentuk dengan kesadaran dalam memberikan cirri tertentu pada peristiwa hukum pidana, perbuatan pidana mempunyai pengertian yang abstrak dari peristiwa-peristiwa konkrit dalam lapangan hukum pidana, sehingga perbuatan pidana haruslah diberikan arti yang bersifat ilmiah dan ditentukan dengan jelas untuk dapat memisahkan dengan istilah yang dipakai sehari-hari dalam kehidiyan masyarakat." 59

Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu, sampai saat ini belum ada keseragaman. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif.60 Tidak mudahnya untuk merumuskan definisi dari Terorisme itu sendiri, hal tersebut dapat dilihat dari usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad Hoc Committee on Terrorism pada tahun 1972 yang bersidang selama tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi.61 Pengertian paling otentik adalah pengertian yang diambil secara etimologis dari kamus dan ensiklopedia. Dari pengertian etimologis itu dapat diintepretasikan

pengembangannya yang biasanya tidak jauh dari pengertian dasar tersebut.62

Bambang Purnomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994, hlm.16. Indriyanto Seno Adji, Loc. Cit. 61 Muhammad Mustofa, Op. Cit, hlm. 35. 62 Kunarto, Intelejen Pengertian dan Pemahaman, Jakarta, Cipta Manunggal, 1999,
60

59

hlm.19.

67

Dalam pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU) Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sekarang telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1, Tindak Pidana Terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Mengenai perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme, diatur dalam ketentuan pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme), Pasal 6, pasal 7, bahwa setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika: 1. "Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas intrnasional (Pasal 6)." 63 2. "Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7)." 64

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Citra Umbara, Bandung, 2007, hlm. 215. 64 Ibid.

63

68

Dan seseorang juga dianggap melakukan Tindak Pidana Terorisme, berdasarkan ketentuan pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 11 dan pasal 12 Undang Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dari banyak definisi yang dikemukakan oleh banyak pihak, yang menjadi ciri dari suatu Tindak Pidana Terorisme adalah: 1) Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut; 2) Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu; 3) Menggunakan kekerasan; 4) Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud

mengintimidasi pemerintah; 5) Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama.

C. Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Islam Seperti yang telah diterangkan di pembahasan sebelumnya, bahwa dalam Islam kata terorisme tidak dibahas secara khusus sebagai ³terorisme´. Akan tetapi ia mengukuti bab jinâyah. Di sisi lain, karena melihat bentuk kejahatan terorisme itu banyak (seperti pembajakan, penculikan, pengeboman, dan lainlain), maka perlulah dibahas dari beberapa sisi. Tokoh terorisme yang terkenal di dunia dan dianggap sebagai teroris yang paling dicari oleh Amerika dan koalisi-koalisinya adalah Usamah bin Ladin. Aksi yang dilakukan termasuk mengebom dan aksi teror terhadap militer maupun sipil dari orang Amerika dan sekutunya.

69

Ini terbukti di dalam fatwa Usama bin Ladin yang menurut perspektifnya adalah jihad: 65 Bahwa hukum membunuh orang-orang Amerika dan sekutunya ± baik sipil maupun militer ± adalah wajib individual (fardl al-µain) bagi setiap muslim yang mampu melakukannya di setiap negara di mana mungkin untuk melaksanakannya, sampai al-Masjid al-Aqsha dan alMasjid al-Haram berhasil dibebaskan dari cengkeraman mereka, sampai tentera mereka keluar dari seluruh tanah Islam, tunduk dan tidak mampu lagi mengancam setiap muslim.66

Dalam fatwa yang diberikan Usamah di sini, dapat difahami bahwa target kejahatan yang akan dilancarkan adalah orang-orang Amerika dan sekutunya (seperti Inggris, Australia dan lain-lain) baik sipil maupun militer. Kenyataan ini menurut Islam pada dasarnya adalah salah. Menurut fiqh Islam, orang yang akan diperangi haruslah bebas dari 2 krateria: 1) Kafir yang diamankan (musta`manîn), yang memiliki perjanjian dengan Islam, atau kafir dzimmî; 2) Tidak membatas-batasi dakwah Islam, dan pemahaman tentang Islam.67 Maka, ketika orang tersebut bukan kafir dzimmî atau musta`manîn (yaitu ia adalah kafir harbî) dan menghalang-halangi dakwah Islam dan menentangnya, maka barulah ia boleh diperangi yang dalam hal ini disebut dengan jihad. Walau bagaimanapun kafir harbî masih harus dipilah-pilah.

Seumpama kafir harbî itu adalah militer, maka ia boleh diperangi. Jikalau kafir harbî itu adalah warga sipil, maka tidak diperkenankan untuk membunuh
µAbd Allah bin Husain Bâ¶alwî, `Is¶âd al-Rafîq wa Bughyah al-Shâdîq (Indonesia: Dâr `Ihyâ` al-Kutub al-µArabiyyah, t.t.), 138-139. 66 Usamah bin Ladin, Karya Asli Fatwa dan Wawancara Usamah bin Ladin (Jakarta: Ababil Press, 2001), 63. 67 Wahbah al-Zuhaylî, al-Fiqh al-`Islâmî wa `Adillatuh (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2004), vol. 8, 5855.
65

70

perempuan, anak kecil, orang gila, orang tua uzur, orang cacat, orang buta, bisu, yang tidak mampu berperang, agamawan (seperti rahib), atau petani, selagi mereka tidak ikut memerangi orang Islam. Ketika mereka memerangi orang Islam, maka barulah diperkenan membunuh mereka.68 Menurut ulama kontemporer, Syaikh Muhammad Afifi al-Akiti, bahwa dapat difahami (mafhûm muwâfaqah) seorang lelaki dewasa pun, selagi ia bukan militer (atau yang menyamainya) termasuk dari pelarangan untuk membunuh di sini. Ini disesuaikan dengan ruh-ruh syariat, bahwa warga sipil yang tidak ikut-ikut di dalam sebuah peperangan adalah dilarang untuk dibunuh.69 Sehingga, dalam hal ini, pada tahun 1980 M/1401 H di Damascus telah menetapkan Pasal 23 sebagai berikut: Ketika di dalam perang, tidak diperkenankan membunuh kanak-kanak, perempuan, orang tua, agamawan dan selainnya dari orang-orang yang tidak ikut di dalam peperangan. Dan tidak (diperkenankan) memotong pohon, menjarah harta, dan tidak (diperkenankan) merobohkan pembangunan tamadun, dan tidak boleh disamakan dengan orang yang diperangi. Bagi yang cedera berhak untuk mendapatkan obat, dan bagi tawanan harus diberi makan dan dilindungi. 70 Lebih-lebih lagi, persepsi jihad ini bertentangan dengan dasar paling awal di dalam Islam. Dalam Islam, jihad merupakan hak abosulut pemimpin bagi negara itu. Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi mana-mana bagian dari rakyatnya

al-Zuhaylî, al-Fiqh al-`Islâmî, vol. 8, 5855-6. Muhammad Afifi al-Akiti, Defending The Transgressed by Censuring The Reckless Against The Killing of Civilians (Germany: Warda Publication, 2005), 20. 70 Al-Zuhaylî, al-Fiqh al-`Islâmî, vol. 8, 6454-5.
69

68

71

untuk melakukan jihad tanpa ada perintah dari pemimpin negara tersebut.71 Ini dinyatakan oleh Syaikh Wahbah al-Zuhaylî dan dinukil juga oleh Syaikh Muhammad Afifi al-Akiti: Perintah jihad diwakilkan kepada pemimpin/presiden dan ijtihadnya. Wajib bagi rakyat untuk mentaati perintah imam tentang apa yang menjadi pemikirannya untuk masalah tersebut.72 Sedangkan kenyataan yang berlaku, para martir itu melakukan apa yang mereka klaim dengan jihad pada warga negara (sipil) yang tidak dalam keadaan perang bersama negara asal mereka. Ini adalah kesalahan besar mereka sehingga dapat dikategorikan sebagai teroris. Di sisi lain, teknik yang digunakan oleh para martir tersebut kebanyakannya salah di sisi Islam. Salah satu yang selalu dipakai oleh martir adalah praktek misi bunuh diri (martydom). Kalau dahulu, ketika masih dalam perang dunia kedua, tentera Jepang yang setia dengan Kaisar Jepang melakukan praktek kamikaze yaitu dengan menaiki pesawat terbang yang membawa bom besar, lalu pesawat tersebut dijatuhkan ke kapal perang Amerika beserta dengan pilotnya sekalian. Kematian ini membawa bangga tersendiri bagi para martir Jepang tersebut. Sedangkan di dunia modern ini, misi bunuh diri adalah dengan cara membajak pesawat, bom bunuh diri, dan lain-lain.73

Suheil Laher, ³Indiscriminate Killing´, dalam The State We Are In ± Identity, Terror and The Law of Jihad, ed. Aftab Ahmad Malik (Bristol: Amal Press, 2006), 53. 72 Al-Zuhaylî, al-Fiqh al-`Islâmî, vol. 8, 5852; Afifi al-Akiti, Defending The Transgressed, 21. 73 ³Suicide Attack´, Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide_attack, diakses tanggal 21 Mei 2010.

71

72

Praktek seperti ini adalah salah besar. Dalam Islam, segala jenis bunuh diri diharamkan dan ia termasuk dosa besar.74 Ini berdasarkan surah al-Nisâ` ayat 29 dan 30: Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Syaikh Muhammad Afifi al-Akiti telah menulis perincian metodemetode penyerangan bunuh diri yang diharamkan. Secara ringkasnya, semua metode yang dipakai oleh para martir di zaman sekarang adalah termasuk praktek bunuh diri yang diharamkan Ini mengecualikan sebuah misi yang . dapat berakibat mati karena dibunuh musuh, yang mana secara dasarnya bukan dengan sengaja membunuh diri sendiri. Seperti contoh, seorang mujahid yang masuk di barisan perang musuh dengan membunuh general musuh, lalu dia dibunuh oleh pasukan yang lain. Secara mendasar, walaupun ini seperti praktek membunuh diri, akan tetapi ini tidak termasuk dalam kategori membunuh diri yang diharamkan karena secara realnya ia tetap saja dibunuh oleh orang lain dan dalam aksinya masih memungkinkan ia tidak sampai dibunuh musuh dan hanya ditangkap.75

74 75

`Ahmad bin Muhammad `Ibn Hajar, al-Zawâjir (Beirut: Dâr al-Ma¶rifah, t.t.), vol. 2, 95 Afifi al-Akiti, Defending The Transgressed, 24.

73

D. Unsur-unsur Dari Tindak Pidana Terorisme Dari beberapa perumusan delik jelas bahwa adanya suatu perbuatan yang bersifat melawan hukum tersebut merupakan unsur-unsur yang sangat penting di dalam usaha mengemukakan adanya suatu tindak pidana. Unsur-unsur delik menurut Leden Marpaung, yaitu: 1. Unsur Pokok Subyektif Asas pokok hukum pidana " tak ada hukuman kalau tak ada kesalahan " (An act does not make a person gutty unless mind is guilty / actus non facitt reum, nisi mens sit red). Kesalahan dimaksud adalah sengaja ( The intention /Qpzet/dolus) dan kealpaan (the negligence/schuld). 1) Sengaja ( The Intention/ Dolus ) Menurut para pakar ada 3 (tiga ) bentuk sengaja yaitu : a) Sengaja sebagai maksud ( oogmerk); b) Sengaja dengan keinsafan pasti ( opset bijzekerheids bewusziJn); c) Sengaja dengan keinsafan akan kemungkinan ( dolus evantualis). 2) Kealpaan (The Negligence/ Culpa) Adalah merupakan bentuk kesalahan yang lebih ringan dari dolus (sengaja). Ada 2 (dua) bentuk kealpaan yakni: a) Tak berhati-hati; b) Dapat menduga akibat perbuatan itu.

74

2. Unsur Pokok Obyektif Unsur pokok obyektif terdiri dari : 1) Perbuatan manusia, berupa: a) Act yakni perbuatan aktif yang juga ada pakar yang menyebut perbuatan positif; b) Ommission yakni tidak aktif berbuat. Hal ini karena tidak aktif. Sebagian pakar menyebut dengan perbuatan negatif. Dengan perkataan lain ialah membiarkan, mendiamkan. 2) Akibat (result) perbuatan manusia Hal ini erat hubungannya dengan. causalitat. Akibat dimaksud adalah membahayakan atau merusak atau menghilangkan kepentingankepentingan yang dipertahankan oleh hukum, misalnya: nyawa, badan kemerdekaan, hak milik atau harta benda, kehormatan dan lain sebagainya. 3) Keadaan-keadaan ( The circumstences ) Pada umumnya keadaan-keadaan ini dibedakan antara: a) Keadaan pada saat perbuatan dilakukan; b) Keadaan setelah perbuatan melawan hukum. 4) Sifat yang dapat dihukum dan sifat melawan hukum Sifat dapat dihukum ini berkenaan dengan alasan-alasan yang membebaskan dari hukuman. Sifat melawan hukum adalah

bertentangan dengan hukum yakni berkenaan dengan larangan atau perintah.

75

Dalam bukunya tersebut Leden Marpaung juga menjelaskan mengenai unsur-unsur delik menurut para pakar hukum, antara lain: a. Menurut Satochid Kartanegara Menurut Satochid Kartanegara, unsur delik terdiri dari unsure obyektif dan unsur subyektif. 1) Unsur Obyektif Adalah unsur-unsur yang terdapat di mar manusia yang kesemuanya ini dilarang dan diancam dengan hukuman oleh Undang-undang yaitu berupa: a) Suatutindakan; b) Suatu akibat; c) Keadaan (omstandigheid). 2) Unsur Subyektif Yang juga termasuk " Algemene Leerstukken " adalah unsur-unsur subyektif dari perbuatan dan yang dapat berupa: a) Toerekeningsvatbaarheid (dapat dipertanggungjawabkan); b) Schuld (Kesalahan). b. Menurut Moeljatno Menurut Moeljatno, tiap-tiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur lahir, oleh karena perbuatan yang mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya, adalah suatu kejadian dalam alam lahir. Selanjutnya Moeljatno mengatakan, bahwa disamping kelakuan dan akibat untuk adanya

76

perbuatan pidana biasanya

diperlukan juga adanya, hal ihwal atau keadaan

tertentu yang menyertai perbuatan. c. Menurut P.A.F. Lamintang Menurut Lamintang unsur-unsur delik terdiri dari 2 macam yaitu: 1) Unsur-unsur subyektif Adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya. Unsur-unsur subyektif dari suatu tindakan itu adalah: a) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culfa);

b) Maksud atau vornemen pada suatu percobaan atau poging; c) Macam-macam maksud atau oogmerk;

d) Merencanakan teriebih dahulu atau voorbedacht6 food; e) Perasaan takut atau vrees.

2) Unsur-unsur obyektif Adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaankeadaan yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan. Unsur-unsur obyektif dari suatu tindak pidana: a. Sifat melawan hukum atau wederrechtelykfieid; b. Kualitas dari si pelaku, yakni hubungan antara tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.

77

Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sekarang telah disahkan menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang dijadikan sebagai dasar hukum dalam pemberantasan tindak pidana terorisme di Indonesia, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan tindak pidana terorisme sebagai berikut: tindak pidana terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini (pasal 1 ayat 1). Sedangkan yang dimaksudkan unsur-unsur terorisme dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme di atas adalah, perbuatan melawan hukum yang dilakukan secara sistematis dengan maksud untuk menghancurkan kedaulatan bangsa dan negara, dan membahayakan bagi kedaulatan bangsa dan negara yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, yang menimbulkan rasa takut dan teror terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan, atau kehancuran terhadap objekobjek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas Intemasional. Tindak pidana terorisme tersebut di atas terdapat dalam pasal 6 Undang undang Nomor 15 Tahun 2003 yang dikualifikasikan sebagai Delik materil. Disebutkan dalam pasal 6 Undang- undang Nomor 15 Tahun 2003: 76

76

Abdul Wahid,Sunardi,Muhammad Imam Sidik, Op. Cit., hlm. 76.

78

"Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau mengakibatkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik dan fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama dua puluh tahun." Pasal ini adalah termasuk delik materil yang ditekankan pada akibat yang dilarang yaitu hilangnya nyawa, hilangnya harta atau kerusakan dan kehancuran. Kalaupun yang dimaksud kerusakan dan kehancuran lingkungan hidup adalah tercemarnya atau rusaknya kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan mahluk hidup, termasuk manusia dan prilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan prikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk lainya. Termasuk merusak atau menghancurkan adalah dengan sengaja melepaskan atau membuang zat energi, dan atau komponen lain yang berbahaya dan beracun kedalam tanah, udara, air dan permukaan yang membahayakan terhadap orang atau barang. Berdasarkan beberapa pemahaman tersebut di atas, terorisme dapat diartikan sebagai penggunaan atau ancaman penggunaan kekerasan fisik yang direncanakan secara sistematis, menimbulkan suasana teror atau rasa takut, dilakukan oleh kelompok atau sendiri-sendiri, dilancarkan secara mendadak dan tiba-tiba terhadap sasaran langsung yang lazimnya untuk mencapai suatu tujuannya.

79

Dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme membatasi atau mengecualikan tindak pidana selain yang bermotif politik. Pengaturannya dirumuskan dalam Pasal 5, yang menyatakan bahwa, tindak pidana terorisme yang diatur dalam undang-undang ini dikecualikan dari tindak pidana politik, tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana politik, tindak pidana dengan motif politik, dan tindak pidana dengan tujuan politik, yang menghambat proses ekstradisi. Di dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, pasal 5 mengecualikan kegiatan terorisme terhadap kejahatan-kejahatan dengan motivasi-motivasi politik dengan alasan, supaya pihak-pihak gerakan atau aksi-aksi demonstrasi untuk melaksanakan hak-hak politik, sosial dan ekonomi dapat diwujudkan tanpa perlu adanya rasa takut dituduh sebagai teroris. Asas nondiskriminatif yang tidak mengaitkan perumusan tindak pidana terorisme memakai prinsip depolitisasi. Sebab, sekalipun citra tindak pidana terorisme selalu berkonotasi politik, tetapi penekanan lebih pada perbuatan dan akibatnya. Dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 dinyatakan bahwa, tindak pidana terorisme yang diatur dalam undang-undang ini bukan merupakan tindak pidana politik, atau tindak pidana dengan motif politik, atau tindak pidana dengan tujuan politik menghambat ekstradisi. Sedangkan yang mengenai delik formil tindak pidana terorisme terdapat dalam pasal 7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme.

80

Isi dari pasal 7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 adalah: 77 "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangriya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek objek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup." Dalam hal ini perbuatan yang dilarang dan dikategorikan sebagai kegiatan teorisme adalah, bermaksud untuk melakukan perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan dimana perbuatan tersebut dapat menimbulkan suasana teror ditengah-tengah masyarakat Sebenarnya terlalu berat sanksi bagi tindakan delik formil yang belum menimbulkan dampak apapun, kepada orang lain yang terlalu berlebihan. Pasal ini juga memungkinkan kepada aparat untuk melakukan tindakan refresif dengan alasan-alasan yang kurang akurat. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut di atas, bahwa adanya unsure batin dari pembuat hendak menjangkau secara luas yaitu rumusan "dengan maksud untuk menimbulkan teror." Delik formil lainnya, yang menyangkut suatu kejahatan yang dilakukan terhadap dan didalam pesawat udara. Misalnya pasal 8 menyebutkan bahwa dipidana melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, setiap orang yang menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan bangunan tersebut.

77

Ibid., hlm. 79.

81

Pasal 8 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di atas mengatur tentang tindak pidana terorisme yang dilakukan terhadap fasilitas umum yaitu fasilitas penerbangan. Hal ini sebagaimana diatur dalam BAB XXIX tentang Kejahatan Penerbangan dan Kejahatan Sarana/Prasarana Penerbangan pasal 479 KUHP disebutkan yaitu sebagai tindak pidana menghancurkan, mencelakakan, membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara, yang dilakukan karena sengaja maupun kealpaan: menimbulkan kebakaran, Ledakan, kecelakan, kehancuran dan lain sebagainya. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Pasal 9 Isinya sebagai berikut: 78 "Setiap orang yang secara melawan hukum memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan ke dan/atau dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau sesuatu bahan peledak dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama dua puluh tahun." Dipertegas dalam perumusan pasal 9 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme tersebut adalah unsurunsurnya: 1) Setiap orang (kelompok/korporasi); 2) Melawan hukum; 3) Memasukan ke Indonesia.

78

Ibid., hlm. 85.

82

Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif atau pencegahan yang dimaksudkan untuk mendeteksi sejak dini tentang kedudukan kepemilikan senjata api dan amunisi secara ilegal dalam artian kepemilikan senjata-senjata yang dimaksud dalam perundangan-undangan tersebut dimiliki oleh selain pihak-pihak yang diberi kewenangan oleh undang-undang. Pasal 10 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 isinya sebagai berikut: 79 "Dipidana dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, setiap orang yang dengan sengaja menggunakan senjata kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif atau komponennya, sehingga menimbulkan suasana teror, atau rasa takut terhadap orang secara meluas, menimbulkan korban yang bersifat massal, membahayakan terhadap kesehatan, terjadi kekacauan terhadap kehidupan, keamanan, dan hak-hak orang, atau terjadi kerusakan, kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional." Pasal di atas, juga termasuk dalam delik baru dan itu tergolong ke dalam delik formil yang titik tekannya menyangkut perbuatan yang dilarang, dan kaitannya dengan yang ada dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang sering disebut sebagai

technological terrorism (tindak pidana terorisme yang dalam perbuatan kejahatannya menggunakan teknologi) yaitu yang memanfaatkan bahan-bahan kimia, senjata biologis, radiologi, mikroorganisme, radioaktif, dan komponennya, dan yang lain ialah tindak pidana berupa dengan sengaja menyediakan atau mengumpulkan harta kekayaan dengan tujuan akan digunakan untuk kegiatan terorisme.

79

Ibid.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 1. Kejahatan Terorisme Menurut Hukum Islam Seperti yang telah diterangkan di pembahasan sebelumnya, bahwa dalam Islam kata terorisme tidak dibahas secara khusus sebagai ³terorisme´. Akan tetapi ia mengukuti bab jinâyah. Di sisi lain, karena melihat bentuk kejahatan terorisme itu banyak (seperti pembajakan, penculikan, pengeboman, dan lain-lain), maka perlulah dibahas dari beberapa sisi. Kenyataan ini menurut Islam pada dasarnya adalah salah. Menurut fiqh Islam, orang yang akan diperangi haruslah bebas dari 2 krateria: 1) Kafir yang diamankan (musta`manîn), yang memiliki perjanjian dengan Islam, atau kafir dzimmî; 2) Tidak membatas-batasi dakwah Islam, dan pemahaman tentang Islam. Maka, ketika orang tersebut bukan kafir dzimmî atau musta`manîn (yaitu ia adalah kafir harbî) dan menghalang-halangi dakwah Islam dan

menentangnya, maka barulah ia boleh diperangi yang dalam hal ini disebut dengan jihad. Bilamana mengacu pada ajaran Islam, kita mendapati informasi yang melimpah ruah mengenai hal ini, dan kita menyaksikan bahwa para ahli hukum Islam telah mengkaji aspek-aspek yang berkaitan dengan persoalan ini. Kita memiliki pendapat mengenai al-baghi, yaitu pemberontakan bersenjata

83

84

menentang pemerintahan yang sah dan adil, intimidasi kepada khalayak banyak dan penyelidikan atas tujuan politik yang bermaksud memecah belah serta membahayakan keutuhan nasional. Kita juga memiliki pendapat mengenai al-harabah, yang berdefinisi ³penggunaan senjata, di darat dan di laut, siang atau malam hari, untuk mengintimidasi rakyat, kota-kota atau daerah lainnya, oleh laki-laki atau perempuan lemah dan kuat.´ Allah Swt berfirman dalam al-Quran:

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di atas bumi hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:33) Ayat tersebut menyebutkan subjek dan tujuan yaitu perang melawan masyarakat dan menyebarkan kerusakan di atas bumi. Juga disebutkan hukuman berat yang ditimpakan pada pelakunya, hal ini menunjukkan perhatian Islam pada permasalahan ini. Ada pula hukum-hukum tentang pencuri dan pembunuhan yang dapat disebutkan dalam masalah ini. Kita juga mendapati teks Islam yang berkenaan dengan ini, misalnya pembunuhan (al-fatk), penipuan (al-ghilah) dan persekongkolan jahat (al- I¶timar). Terdapat juga teks-teks yang menetapkan penghormatan mendalam atas perjanjian bahkan bila ditemukan kemudian bahwa perjanjian tersebut

85

menguntungkan orang lain. Selama dia taat pada ketetapan, perjanjian ini mesti diperhatikan. Lebih jauh lagi, kita juga mendapati persyaratan sistem moral Islam yang terdiri dari konsep-konsep yang tidak diketahui oleh hukum positif namun berakar secara mendalam pada sistem ini. Misalnya berbohong termasuk dosa besar dan begitu pula fitnah. Oleh karena itu, kita meyakini bahwa Islam benar-benar melindungi seluruh bentuk kebebasan manusia yang sebenarnya, dan melindungi harkat martabat individu dan masyarakat, juga kepaduan masyarakat dan integritas keluarga. Islam memandang segala bentuk penyerangan atas mereka sebagai kejahatan besar yang mesti dihukum seberatberatnya seperti hukuman mati, penyaliban dan sebagainya. Islam menegakkan prinsip tanggung jawab personal dan memandang serangan berupa apapun terhadap orang tak berdosa sebagai kejahatan besar. Islam berorientasi pada perlindungan pada si lemah, si tertindas dan menyeru jihad untuk melindungi mereka: ³Dan mengapakah engkau tidak berperang karena Allah, dan orang-orang tua laki-laki dan wanita yang tidak berdaya «´ (QS. 4:75). Umat Islam diharuskan senantiasa membela orang tertindas hingga mereka mendapatkan hak-hak mereka. Imam Ali as memberi nasehat pada kedua anak laki-lakinya: ³Jadilah kalian penentang para penindas dan pelindung para tertindas.´ Beliau juga berkata: ³Bagiku orang yang rendah adalah mulia hingga aku memperoleh hak-hak untuk mereka, dan orang yang kuat adalah lemah hingga aku memperoleh hak-hak dari mereka.´

86

Teror ini menyebabkan tertumpahnya darah orang tak berdosa, hilang dan terampasnya harta benda, terkoyaknya kehormatan, dan porak porandanya persatuan. Selain itu keadaan yang tenang bisa berubah menjadi fitnah dan bencana yang dahsyat dan munculah kerusakan di muka bumi. Lalu berembuslah angin fitnah yang busuk ke tengah masyarakat dan terbentanglah sayapnya yang mengerikan. Diantara tindak terorisme ini adalah pembajakan pesawat dan transportasi darat, penculikan penguasa, pengeboman, kudeta, penyerangan pusat-pusat perdagangan oleh kelompok-kelompok bersenjata dengan dalih dakwah islamiyyah, lalu membunuh dan merampas harta dan lain lain. Contoh konkritnya adalah usaha pembunuhan terhadap Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Faishol tahun 1353 H, penyerangan Masjidil Haram oleh Juhaiman bin Saif Al- Utaibi dan Muhamad bin Abdullah Al-Qohthoni tahun 1400H, demonstrasi yang dilakukan jama¶ah haji Iran pengikut Khomeini 1407H silam, penyerangan Saddam Husain ke Kuwait 1411 H dan lain lain. Termasuk tindakan terorisme adalah berbagai macam usaha menakut nakuti, gangguan, ancaman, dan perampokan. Semua tindak kekerasan atau ancaman sebagai realisasi tindak kriminal baik dari perorang atau kelompok dan bertujuan menyebarkan rasa ketakutan di tengah masyarakat, atau ancaman terror atau perbuatan yang dapat menyeret kehidupan bermasyarakat, kemerdekaan, atau ketentraman mereka ke situasi yang gawa, semua itu termasuk perbuatan kerusakan di muka bumi. Allah telah melarangnya dalam firman-Nya : ³Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.

87

Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.³ (QS Al-Qoshosh : 77). Allah telah menyiapkan balasan yang menakutkan bagi pelaku tindak teror dan kerusakan dan dikategorikan sebagai permusuhan kepada Allah dan rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman : ³Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya, dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang atau diasingkan. Yang demikian itu sebagai suatu penghinaan terhadap mereka di dunia dan di akhirat mereka memperoleh siksa yang besar.´ (QS Al-Maidah : 33) Termasuk tindakan terorisme adalah terror yang dilancarkan oleh suatu negara. Yang paling kejam adalah yang digencarkan oleh Yahudi terhadap muslimin Palstina, agresi dan pembantaian muslim Bosnia Herzegovina oleh Serbia. Maka tindakan pembelaan diri terhadap merka adalah jihad fisabilillah.

2. Menurut

Undang-Undang

Nomor

15

tahun

2003

te ntang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 1, Tindak Pidana Terorisme adalah segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Mengenai perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam Tindak Pidana Terorisme, diatur dalam ketentuan

88

pada Bab III (Tindak Pidana Terorisme), Pasal 6, 7, bahwa setiap orang dipidana karena melakukan Tindak Pidana Terorisme, jika: a. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 6)80 b. Dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan bermaksud untuk menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau menghilangkan nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional (Pasal 7)81 Dan seseorang juga dianggap melakukan Tindak Pidana Terorisme, berdasarkan ketentuan pasal 8, 9, 10, 11 dan 12 Undang -Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Dari banyak definisi yang dikemukakan oleh banyak pihak, yang menjadi ciri dari suatu Tindak Pidana Terorisme adalah: 1. 2. Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut. Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu.

80

Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Op. cit., Ibid., pasal 7.

pasal 6.
81

89

3. 4.

Menggunakan kekerasan. Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud mengintimidasi pemerintah.

5.

Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama.

B. Materi Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 Dalam kasus bom Bali tanggal 12 Oktober tahun 2002, apabila kita perhatikan bahwa kasus tersebut merupakan unsur sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan, telah menimbulkan rasa takut terhadap orang secara luas, dengan cara meledakan bahan peledak itu disebut sebagai tindak pidana terorisme karena ia telah melakukan perbuatan melawan hukum yaitu , membuat, menerima, mencoba, memperoleh, menyerahkan atau coba

menyerahkan, menguasai, membawa mempunyai persedian padanya, atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mempergunakan suatu senjata api, atau amunisi, atau suatu bahan peledak, atau bahan -bahan lainnya yang berbahaya, dengan maksud untuk melakukan tindak pidana terorisme. Penerapan standar ganda Barat dalam upaya memerangi aksi aksi terorisme saat ini justru menimbulkan ketidakpuasan berbagai pihak yang tidak menutup kemungkinan akan melahirkan aksi-aksi terorisme lain dimasa yang akan datang sebagai akibat tersumbatnya jalan damai dalam mengatasi berbagai perbedaan pandangan. Upaya perang terhadap terorisme yang dilakukan Ba rat sebenarnya tidak menyentuh kepada akar penyebab timbulnya aksi terorisme.

90

Apalagi pelaku teroris dewasa ini cenderung identik dengan identitas muslim yang terjadi pada pelaku teror Bom Bali ataupun World Trade Center. Namun sebenarnya ada sisi menarik dan para pelaku teror tersebut terutama untuk kasus Bom Bali. Mereka melakukan teror tersebut atas dasar jihad untuk melawan ketidakadilan yang umat Islam rasakan terutama dari dunia Barat. Hal ini per lu segera diklarifikasi agar pelaku teror yang mengatasnamakan agama tersebut sebenarnya telah melakukan kekeliruan di dalam menerapkan konsep jihad sehingga anggapan islam sebagai agama yang penuh kekerasan dapat dibantah dengan tegas, padahal kita semua sepakat bahwa islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi segenap manusia yang tercermin dari ajarannya yang penuh akan nilai-nilai keadilan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia, masalah utama penyebab terjadinya aksi terorisme ialah masalah keadilan. Masalah keadilan ini juga yang menyebabkan Amrozi, Imam Samudera dan rekan-rekannya yang tergabung dalam suatu kelompok melakukan beberapa peledakan Bom di Indonesia. Tujuan mereka adalah menuntut keadilan, tetapi keadilan yang bagaimana yang mereka inginkan, mereka bersembunyi dibalik nama agama dalam melakukan setiap aksinya dan mengatasnamakan jihad dalam setiap pelaksanaanya, tetapi apa yang mereka lakukan itu salah dan mereka telah melakukan kekeliruan terhadap makna dari jihad mereka melakukan terror dan ketakutan terhadap manusia dengan cara meledakan Bom dan membunuh banyak orang.

91

Fenomena terorisme yang mengatasnamakan agama bisa jadi merupakan akibat dari hubungan antar agama negara, ketika Negara dipersepsikan sebagai representasi agama.82 Sehingga setiap konflik yang muncul antar negara disebut juga konflik antar agama seperti konflik antara negara Arab dan Israel, padahal yang menjadi pelaku kekerasan atau teror berasal dari kelompok-kelompok dalam masyarakat yang memang memiiki perbedaan agama. Namun sulit untuk menarik hubungan bahwa agama merupakan sumber dari aksi terorisme. Kita perlu menerapkan definisi terorisme dengan tepat supaya kita tidak mencemarkan pemikiran agama yang murni dengan unsur-unsur kebatilan dan kejahatan serta menganggap perjuangan tanpa moral sebagai jihad. Dimana dalam Islam diizinkan dengan sengaja membunuh atau mencederakan orang-orang yang tidak bersalah dan tidak terlibat. Dalam peperangan yang sah saja Islam tidak mengizinkan tindakan yang demikian, terhadap mereka yang tidak terlibat dan yang berperang pun meski diperlakukan dengan kemanusian, termasuk si penggagas sendiri. Banyak orang mengatakan bahwa terorisme tidak ada kaitannya dengan Islam sebab tindakan kejahatan seseorang harus dibedakan dengan Islam. Islam adalah suatu ajaran yang suci sebagaiman tercantum dalam AL -QUR'AN dan di ajarkan oleh Rasullulah, sedangkan yang melakukan atau berbuat kejahatan adalah orangnya, jadi Islam harus dibedakan dengan orangnya. Cara yang proposional untuk menghindari kemungkinan adanya tindakan teror, bagi muslim adalah dengan cara memperbaiki pemahaman, penghayatan dan implementasi keislamanya. Pemahaman yang sempit dan dangkal harus

82

Ibid., hlm. 42.

92

diperluas dengan tafsir keagamaan yang inklusif dan esotolik harus sering digalakkan atau disosialisasikan. Bagaimanapun, dengan pemahaman keagamaan yang sempit akan sulit menjadi nalar cerdas dalam menyikapi pluralitas sosial dan demokratisasi dalam beragama Permasalahan terorisme ada 3 faktor yaitu kemiskinan, kesenjangan dan ketidakadilan dari ketiga faktor tersebut yang menjadi faktor utama timbulnya terorisme pada saat ini ialah faktor ketidakadilan, pada saat ini lahirnya ketidakadilan memandang sesuatu dengan parameter yang keliru yang tenyata parameter tersebut cenderung bersifat sepihak, dan akhirnya menimbulkan sifat fanatisme yang berlebihan.83 Sementara dari sudut pandang agama, bahwa terorisme sebagai kekerasan politik sepenuhnya bertentangan dengan etos kemanusiaan agama Islam. Agama Islam mengajarkan etos kemanusian yang sangat menekankan kemanusiaan universal, Islam mengajarkan umatnya untuk berjuang mewujudkan perdamaian, keadilan, dan kehormatan, akan tetapi, perjuangan itu haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Setiap perjuangan untuk keadilan harus dimulai dengan premis bahwa keadilan adalah konsep universal yang harus diperjuangkan dan dibela setiap manusia. Islam memang menganjurkan dan memberi justfikasi kepada muslim untuk berjuang dan berperang terhadap para penindas musuh-musuh Islam, dan pihak luar yang menunjukan sikap bermusuhan atau tidak mau hidup berdampingan secara damai dengan Islam dan kaum muslim. Islam sebagai agama yang rahmatan lilalamin, jelas menolak dan melarang penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan tennasuk tujuan yang baik sekalipun, Islam

83

Philip J Vermonte, Op. Cit., hlm. 250

93

menegaskan bahwa pembasmian suatu jenis kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran pula. Tidak ada alasan etik dan moral sedikit pun yang bisa membenarkan suatu tindakan kekerasan, terlebih teror. Dengan demikian kalau ada tindakan-tindakan teror yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu, maka sudah pasti alasanya bukan karena ajaran etik moral Islam, melainkan agenda lain yang tersembunyi di balik tempurung tindakan tersebut. Permasalahan tindak pidana terorisme menurut hukum pidana juga sama pada masalah ketidakadilan yang dirasakan oleh sekelompok orang. Kinerja pemerintah dan aparat hukum yang kurang meyakinkan atau belum professional dalam mengantisipasi dan menghadapi kejahatan-kejahatan berat, maka sulit dipungkiri kenyataan memprihatinkan, bahwa aparat penegak hukum yang sebenarnya punya misi mulia untuk menjaga kewibawaan negara hukum akhirnya dijadikan objek eksperimen oleh kalangan teroris. Teroris posisinya menjadi subjek yang menentukan, sedangkan penegak hukum menjadi objek yang menunggu dan ditentukan. Peristiwa serangan teroris 11 September 2001 serta peristiwa lain yang mengikuti termasuk peristiwa Bali 12 Oktober tahim 2002 memunculkan berbagai pertanyaan pelik yang belum memperoleh jawaban tuntas. Adanya Undangundang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang pemberantasan tindak pidana terorisme maka Amrozi, Imam Samudera dan para pelaku terorisme lainnya dapat dijerat dan dihukum, tapi pada praktek pelaksanaannya banyak hambatan-hambatan dalam proses penyelesaian dan penanganan tindak pidana terorisme oleh Undang-

94

undang nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ini. Hambatan yang harus dihadapi dalam proses penyelesaian dan penanganan mengenai tindak pidana terorisme, ialah mengajarkan rasa cinta damai dan kasih sayang serta dialog dan toleransi dalam menyelesaikan kasus terorisme, mungkinkah itu bisa terwujud, mengingat masyarakat Indonesia yang pluralistik ini, membangun wacana dialog serta keterbukaan yang penuh semangat toleransi, ketika truth claim dari suatu kalangan keagamaan tertentu masih dominan dan truth claim itu kemudiaan digulirkan dalam bentuk kekerasan untuk memvonis pihak lain yang dipandangnya salah satu bahkan sesat. Jawabannya sudah jelas, tidak mungkin. Kita tidak mungkin bergotong royong membangun sebuah jembatan, ketika yang akan gotong royong justru saling berbeda pendapat tentang satu sama lain mengenai perlu tidaknya jembatan itu dibangun. Apalagi yang akan dibangun adalah jembatan dengan fondasi agree in disagreement dengan kerangka pluralisme dan demokrasi sementara dipihak lain mereka mengusung fondasi dengan kerangka yang desain serta konstuksinya berbeda namun sudah diklaim bahwa itulah yang benar dan konstruksi itu pulalah yang harus diikuti. Hambatan atau permasalahan yang dihadapi oleh hukum pidana dalam hal ini oleh Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 dalam proses peyelesaian dan penanganan tindak pidana terorisme ialah :

95

1) Mengenai rumusan pasal bersifat karet Misalnya dalam rumusan definitif seperti dalam pasal 6 ini akan meyulitkan orang atau rakyat mengira apakah tindakanya merupakan tindakan terorisme atau bukan. Kesulitan dalam memprediksi sedari awal sebuah tindakan itu bisa dilihat dari suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas. Pengertian suasana teror dan tase, takut secara meluas itu sama sekali tidak ada kuantifikasinya dalam Undang-undang ini, jika sebuah definisi tidak mengandung kerincian dalam menunjukan unsurnya, maka terpenuhinya unsur pidana terorisme tersebut akan sangat ditentukan oleh kehendak dan pandangan subyektif penyelidik atau penyidik. Sehingga pengertiannya nantinya akan kabur dan tidak jelas batasanya yang pada giliranya akan sangat mudah diselewengkan oleh pihak-pihak tertentu. Dalam pasal 20 dan 22 terdapat tiga istilah yang sangat luas pengertiannya atau multi intepetatif, yaitu : pertama istilah, "mengintimidasi". Kedua, istilah "proses peradilan menjadi terganggu". Dan ketiga, istilah "tidak langsung". Istilah-istilah tersebut akan membuat orang sulit untuk memperkirakan apakah tindakannya melawan Undangundang ini atau tidak. Setiap orang dengan demikian akan khawatir atau takut aktifitasnya akan dikualifikasikan sebagai perbuatan terorisme.

96

2) Adanya delik-delik kealpaan Pertanyaan pertama yang sangat relevan berkaitan dengan masalah delik kealpaan ini adalah, apakah suatu kealpaan bisa dianggap suatu perbuatan terorisme. Contohnya terdapat dalam BAB III tentang Tindak Pidana Terorisme pasal 8 huruf d dan pasal 8 huruf g. 3) Penggunaan laporan intelejen Dalam rumusan ini mengindikasikan bahwa laporan intelejen bisa digunakan dan bisa tidak digunakan. Namun masalah yang perlu diperhatikan adalah, "untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap laporan intelijen" (pasal 26 ayat 1) ialah, apakah hanya dengan laporan intelejen saja sudah bisa dikulifikasikan sebagai bukti permulaan yang cukup atau laporan intelejen tersebut hanya merupakan tambahan saja dalam mengkualifikasikan sebagai bukti permulaan yang cukup. Hal itu tidak ada penjelasannya. 4) Mengandung justifikasi terhadap pelanggaran HAM Karena dalam Undang-undang ini masih terdapat penjatuhan pidana yang berupa pidana mati, sedangkan pidana mati sangat ditentang karena melanggar HAM. 5) Penulisan yang tidak cermat Karena dalam Undang-undang ini tidak sedikitpun mengatur secara khusus mengenai hak-hak tersangka maupun terdakwa. Selain itu

97

hal yang tidak kalah pentingnya adalah, tidak adanya pengertian atau definisi mengenai terorisme itu sendiri dalam Undang-undang ini. Tetapi dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 hanya menyebutkan mengenai pengertian atau definisi dari tindak pidana terorisme saja.

C. Penyelesaian Tindak Pidana Terorisme Menurut Hukum Islam dan Undang-Undang No.15 Tahun 2003 1. Upaya Penyelesaian Masalah Terorisme Menurut Hukum Islam Terorisme adalah perlawanan atau peperangan bukan pada militer, melainkan pada orang-orang yang tidak berdosa dan masyarakat sipil. Teror adalah menakut-nakuti dan mengancam, terorisme tidak bisa diterima oleh akal manusia dan tidak dibenarkan oleh semua agama. Kejahatan terorisme merupakan produk perilaku kebiadaban, karena akibat yang ditimbulkan sangat terasa sebagai wujud pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM). Di dalam hukum Islam memang ada tindakan kekerasan yang dibenarkan tetapi hal tersebut sebagai wujud implementasi hukum (syari'ah), seperti masih diakuinya sanksi dalam bentuk hukuman mati. Tetapi cara-cara keji seperti yang dilakukan oleh para pelaku tindak pidana terorisme dengan mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah tidaklah dibenarkan dalam ajaran hukum Islam. Dalam pandangan hukum Islam solusi yang terbaik agar tidak terulang kembali terjadinya tindak pidana terorisme adalah dengan menciptakan rasa

98

cinta damai dikalangan masyarakat, hal ini sesuai dengan makna atau hakekat dari Islam itu sendiri. Rasa cinta damai ini menunjukan pula akan fitrah manusia sebenarnya, yang satu sama lainya adalah bersaudara sehingga pemikiran awal yang harus dimiliki oleh manusia adalah, bagaimana mempertahankan persaudaraan tersebut. Tentunya mempertahankan

persaudaraan memiliki arti dan aplikasi multi makna, persaudaraan seperti makna persaudaraan sesama muslim, makna persaudaraan sesama umat manusia dan lain sebagainya. Rasa cinta damai yang dimiliki oleh manusia berfungsi untuk mempertemukan manusia dalam kebaikan, dan menjauhkan manusia dari kerusakan sehingga bentuk kekerasan seperti terorisme dalam pandangan Islam sebenarnya dapat dihindarkan manakala umat manusia memiliki rasa ini, oleh karena itu usaha untuk menumbuhkembangkan rasa cinta damai di hati umat manusia merupakan langkah awal dalam memerangi terorisme bukan dengan langkah kekerasan yang justru akan menimbulkan aksi-aksi serupa dimasa yang akan datang. Untuk menciptakan rasa cinta damai terutama di lingkungan masyarakat dan negara tentunya diperlukan figur-figur yang memiliki komitmen untuk berlaku jujur dan tidak berat sebelah dalam membuat suatu keputusan. Perilaku ini penting karena dengan kemampuan inilah

permasalahan dari setiap perselisihan dapat diselesaikan dengan situasi kebijakan yang adil tanpa kekerasan termasuk dalam masalah terorisme. Keadilan yang dimaksud disini adalah keadilan hukum dan keadilan sosial.

99

Selain itu hal yang terpenting adalah, bahwa jangan ada lagi salah tafsir atau salah untuk mengartikan terorisme sebagai bagian dari "jihad", yang jelas-jelas bahwa agama Islam dan hukum Islam tidak pe rnah mengajarkan dan memerintahkan umatnya untuk saling membunuh,

melakukan teror, merugikan orang lain dan semua hal yang dapat mendatangkan kesengsaraan bagi umat manusia. Terlebih dengan adanya sifat atau sikap fanatisme yang terlalu berlebihan tanpa melihat suatu permasalahan dari sisi objektifhya, atau melihat pada ajaran atau hukum Islam yang sebenarnya, sehingga seseorang atau sekelompok orang tidak terjerumus dalam ajaran atau pandangan yang salah dengan melakukan tindak pidana terorisme yang bersembunyi di balik nama agama atau hukum islam yang mengatasnamakan "jihad".

2. Upaya Penyelesaian Masalah Terorisme Menurut Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Konflik timbul karena adanya ketidaksesuaian dalam hal proses-proses sosial. Secara teoretik konflik sering didefinisikan sebagai suatu kondisi yang menunjukkan adanya pertentangan antara dua pihak atau lebih yang saling berbeda pandangan atau kepentingan. Konflik juga merupakan suatu bentuk perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti: nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan sebagainya, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan tetapi juga untuk

100

menundukkan saingannya. Selain itu ada juga yang menganggap bahwa konflik timbul karena adanya ketidak sesuaian dalam hal proses-proses sosial. Konflik merupakan suatu bentuk perjuangan untuk memperoleh halhal yang langka seperti: nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan sebagainya, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan saingannya. Oleh karena itu, konflik lebih sering dipandang sebagai sesuatu yang bersifat negatif, hal ini karena orang melihat dampak dari konflik yang bersifat kekerasan (seperti perang, dan sebagainya) sering menunjukkan kerusakan dan kerugian yang bersifat materi maupun non materi. Konflik sering dianggap sebagai sesuatu yang bersifat traumatik, dan mengganggu stabilitas atau keseimbangan yang menjadi cita-cita ideal masyarakat. Teori resolusi konflik artinya menghentikan konflik dengan cara-cara yang analitis dan masuk ke akar permasalahan. Resolusi konflik, berbeda dengan sekedar 'manajemen' atau 'settlement', yang mengacu pada hasil, dalam pandangan pihak-pihak yang terlibat, merupakan solusi permanen terhadap suatu masalah.84 Resolusi konflik merupakan suatu terminologi ilmiah yang

menekankan kebutuhan untuk melihat perdamaian sebagai suatu proses terbuka dan membagi proses penyelesaian konflik dalam beberapa tahap sesuai dengan dinamika siklus konflik. Penjabaran tahapan proses resolusi konflik dibuat untuk empat tujuan. Pertama, konflik tidak boleh hanya dipandang sebagai suatu fenomena politik-militer, namun harus dilihat sebagai

84

Burton Jhon, Conflict Resolution and Prevention, Mac Milan Press, London, 1990.

101

suatu fenomena sosial. Kedua, konflik memiliki suatu siklus hidup yang tidak berjalan linear. Siklus hidup suatu konflik yang spesifik sangat tergantung dari dinamika lingkungan konflik yang spesifik pula. Ketiga, sebab-sebab suatu konflik tidak dapat direduksi ke dalam suatu variabel tunggal dalam bentuk suatu proposisi kausalitas bivariat. Suatu konflik sosial harus dilihat sebagai suatu fenomena yang terjadi karena interaksi bertingkat berbagai faktor. Terakhir, resolusi konflik hanya dapat diterapkan secara optimal jika dikombinasikan dengan beragam mekanisme penyelesaian konflik lain yang relevan. Suatu mekanisme resolusi konflik hanya dapat diterapkan secara efektif jika dikaitkan dengan upaya komprehensif untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng. Upaya penyelesaian masalah terorisme menurut Undang-undang atau hukum yang berlaku di negara Indonesia adalah dengan menegakkan hukum atau peraturan perundang-undangan tersebut dengan sebaik-baiknya, tanpa membedakan status atau kedudukan seseorang atau sekelompok orang. Selain itu, dalam pembentukan suatu peraturan atau perundang-undangan tidak boleh menimbulkan kontroversi, dan harus sesuai dengan keinginan masyarakat, serta tidak membingungkan bagi masyarakat, selain itu diperlukannya kedisiplinan dari para aparat penegak hukum agar berbuat adil dan bijaksana dalam setiap pengambilan keputusan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dalam hal penerapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yang telah disahkan menjadi

102

Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme harus dapat berlaku secara efektif, sehingga tercipta keadaan yang aman, damai, dan sejahtera. Upaya yuridis yang berupa pengaturan hukum harus disadari sebagai suatu hal yang penting, karena aturan hukum merupakan pedoman bagi aparat penegak hukum untuk bertindak secara proposional dan profesional. Dalam hal pemberantasan tindak pidana terorisme, dan diharapkan para penegak hukum dapat secara konsisten sehingga dapat tercipta ketertiban dan keadilan di masyarakat serta terlindungnya hak-hak asasi manusia. Selain itu, melalui produk hukum yang diberlakukan yang kemudian menjadi hukum positip, negara mempunyai kewajiban untuk melindungi harkat dan martabat manusia. Hak-hak asasi manusia, seperti hak bebas dari ketakutan, hak untuk dilindungi jiwa dan nyawanya, dan hak-hak lainnya yang menjadi tanggungjawab negara untuk melindunginya. Bentuk penghormatan dan perlindungan yang hams diberikan oleh negara adalah berupa penegakkan hukum terhadap segala perbuatan yang dikategorikan perbuatan yang melawan hukum termasuk tindak pidana terorisme. Penegakkan hukum tersebut akan menentukan citra dan jati diri Negara hukum, berarti bahwa dalam penyelenggaraan negara segala tindakan penguasa dan masyarakat harus berdasarkan atas hukum dan bukan berdasarkan atas kekuasaan belaka, dengan maksud untuk membatasi kekusaan penguasa dan melindungi kepentingan masyarakat yaitu

103

perlindungan terhadap hak asasi manusia dari tindakan yang sewenangwenang. Pelanggaran atau perbuatan melawan hukum yang telah diatur di dalam Undang-undang tersebut, maka pelaku atau para pelaku tindak pidana terorisme tersebut harus mendapat sanksi atau hukuman sebagaimana telah diatur di dalam bunyi pasal-pasal yang terdapat dalam undang-undang tersebut, sehingga diharapkan akan timbul efek jera, dan akan menekan bahkan diharapkan tidak terjadi lagi tindak pidana terorisme di Indonesia.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Kita perlu menerapkan definisi terorisme dengan tepat supaya kita tidak mencemarkan pemikiran agama yang murni dengan unsur-unsur kebatilan dan kejahatan, serta menganggap perjuangan tanpa moral sebagai jihad yang identik dengan kaum muslim, dimana dalam prakteknya mereka membunuh atau mencederakan orang-orang yang tidak bersalah. Sebagimana yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 190, At-Taubab ayat 5, 24, 16, 73, 74, 111, As-Shoffayat 10-11, Al-Anfal ayat 65, maupun yang terdapat di dalam hadist-hadist shohih, bahwa terorisme bukanlah jihad, sehingga terdapat kesalahan dalam pemaknaan jihad itu sendiri. Agama adalah pembawa kesejukan dan kedamaian entah agama apapun, bukan alat kekerasan yang tampil dengan sangar dan beringas. Tak satupun agama di dunia ini yang membenarkan tindakan terorisme meskipun untuk tujuan yang baik, dimana untuk mencapai suatu tujuan tidak dapat menghalalkan berbagai cara walaupun tujuan yang baik sekalipun. 2. Hambatan yang terjadi dalam proses penyelesaian dan penanganan terhadap tindak pidana terorisme yang dilakukan oleh hukum pidana, ialah dalam hal Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 dalam penerapan terhadap tindak pidana terorisme, terjadi pada beberapa pasal di dalam

104

105

Undang-undang tersebut yang mempunyai banyak kelemahan diantaranya: - Rumusan pasalnya bersifat karet (pasal 6, pasal 20, dan pasal 22); - Adanya delik kealpaan (pasal 8 huruf d, dan pasal 8 huruf g); - Penggunaan laporan intelijen (pasal 26 ayat 1); - Mengandung justifikasi terhadap pelanggaran HAM, (pasal 6, pasal 8, pasal 9, pasal 10, pasal 14); - Penulisan tidak cermat, dengan tidak adanya definisi terorisme dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. Hambatan yang terjadi dalam proses penyelesaian dan penanganan terhadap tindak pidana terorisme yang dilakukan juga ialah bahwa keanekaragaman suku, ras, agama di Indonesia melahirkan sifat ego dari masing-masing golongan tersebut, tiap golongan mengklaim bahwa dirinya yang paling benar. Jadi intinya hambatan untuk menciptakan tata cara dan kasih sayang, dialog serta toleransi itu terganjal oleh sifat pluralistik dari bangsa Indonesia. 3. Dalam pandangan hukum Islam solusi yang terbaik agar tidak terulang kembali terjadinya tindak pidana terorisme adalah dengan menciptakan rasa cinta damai dikalangan masyarakat. Adapun cara untuk menciptakan suasana cinta damai diantaranya adalah dengan usaha: a) Menciptakan silaturahmi secara terus-menerus, memelihara kasih sayang dan menghindarkan ucapan, sikap dan tingkah laku yang dapat menyinggung perselisihan; atau melukai perasaan apalagi menimbulkan

106

b) Bersedia untuk menciptakan suasana damai apabila ada pihak lain yang mengajak untuk berdamai, sehingga dengan bentuk-bentuk yang

penyelesaian

segala

perselisihan

kekerasan

menimbulkan kemudharatan dapat dihindarkan; c) Dengan cara berdialog dan mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama. Upaya penyelesaian masalah Terorisme menurut Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 adalah selain dengan menegakkan supermasi hukum di Negara Indonesia, dibutuhkan juga kesadaran dari seluruh lapisan masyarakat, bahwa tindak pidana terorisme tidak akan membawa pada suatu perubahan yang lebih baik. Terorisme hanya akan membawa kesengsaraan dan menimbulakan perpecahan. Tentunya sangat diharapkan bahwa Undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana terorisme ini dapat berlaku secara efektif, agar tidak terjadi lagi tindak pidana terorisme dimasa yang akan datang.

B. Saran 1. Bahwa tindak pidana terorisme yang mengatasnamakan jihad atas dasar hukum Islam adalah suatu kekeliruan yang besar, maka dari itu harus adanya suatu kesepahaman atas makna dari jihad itu sendiri, dengan kembali mengacu pada Al¶Quran dan Hadist, sehingga tidak ada lagi kesalahan penafsiran atas makna dari jihad yang sebenarnya.

107

2. Bahwa dalam Undang-undang Nomor

15 Tahun 2003 Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, masih terdapat kerancuandalam beberapa pasalnya, sehingga diperlukan perubahan untuk beberapa pasalnya atau dengan menambahkan penjelasan atas beberapa pasalnya, sehingga tidak ada penafsiran yang salah atas isi pasalnya, terutama memasukan satu pasal mengenai pengertian dari terorisme, sehingga jelas mengenai apa yang dimaksud dengan terorisme. 3. Agar solusi di atas dapat dilaksanakan hrus ada kerjasama dari setiap lapisan masyarakat dan pemerintah, dengan cara menolak dan menentang segala bentuk terorisme. Apa yang dihasilkan dari terorisme hanya ak an memupuk kenistaan, kesedihan, dan keresahan bagi masyarakat, karena watak dari terorisme yang identik dengan kekerasan dan teror. Peristiwa yang menimpa Bali dapat dijadikan momentum untuk merefleksi sejauh mana keberagamaan kita dalam kebangsaan. Dengan demikian akan tercipta satu kesatuan yang utuh diantara semuanya sehingga tidak terjadi lagi tindak pidana terorisme dimasa yang akan datang.

108

DAFTAR PUSTAKA

Buku-buku : Hamka, Tafsir Al-Azhar, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1986. Mochtar Naim, Kompendium Himpunan ayat-ayat AL-QUR¶AN yang berkaitan dengan hukum, Hukum Hasanah, Jakarta, 2001. A.C Manullang, Menguak Tabu Intelejen Teror, Motif dan Rezim, Panta Rhei, Jakarta, Januari 2001. Abdillah Toha, Islam dan Sikap Defensif, Republika, 15 Agustus 2003. Abdul Wahid, Sunardi, Muhammad Imam Sidik, Kejahatan Terorisme Perspektif Agama, HAM, dan Hukum, Refika Aditama, Bandung 2004. Al-Akiti, Muhammad Afifi. Defending The Transgressed by Censuring The Reckless Against The Killing of Civilians. Germany: Warda Publication, 2005. Al-Madkhly, Muhammad, Terorisme dalam Tinjauan Islam, Makhtabah Salafy Press, Tegal, 2002. Al-Zuhaylî, Wahbah. al-Fiqh al-`Islâmî wa `Adillatuh. Damaskus: Dâr al-Fikr, 2004. Amirudin, Terorisme, Definisi dan Aksi mengenai Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. As¶ad As-Sahamrani, Menyingkapi Teroris Dunia, Era Intermedia, Solo, 2005. Bambang Abimanyu, Teror Bom di Indonesia,Grafindo, Jakarta, 2005. Bambang Purnomo, Asas-asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1994. Burton Jhon, Conflict Resolution and Provention, MacMilan Press, London, 1990. Daud Ali, Islam Untuk Disiplin, Ilmu Hukum, Sosial dan Politik, Bulan Bintang, Jakarta, 1988. Daud Ali, Hukum Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998.

109

Haryo Sasongko, Terorisme, Dialog dan Toleransi, Pustaka Grafika, Jakarta, 2006. Hajar, `Ahmad bin Muhammad `Ibn. al-Zawâjir. Beirut: Dâr al-Ma¶rifah, t.t. ___________, Terorisme, Perpu No.1 Tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia. Jakarta: O.C. Kaligis dan Associates, 2001. Kunarto, Intelejen Pengertian dan Pemahamannya, Jakarta: Cipta Manunggal, 1999. Laher, Suheil. ³Indiscriminate Killing´. The State We Are In ± Identity, Terror and The Law of Jihad. ed. Aftab Ahmad Malik. Bristol: Amal Press, 2006. Luqman Hakim, Terorisme di Indonesia, Forum Studi Islam Surakarta, Surakarta, 2004. Mahfud MD, Politik Hukum Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1998. Mansur, Dikdik M. Arief. Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2007. Moeljanto, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 1993. Muhammad Afifi al-Akiti, Defending The Transgressed by Censuring The Reckless Against The Killing of Civilians (Germany: Warda Publication, 2005), 20. Philips J Vermonte, terorisme definisi, aksi, dan regulasi, imparsial, Jakarta, 2003. Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Pidana Internasional, Refika Aditama, Bandung, 2002. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana dan Penerapannya, Alumni AHM-PTHM, Jakarta, 1990. Wahbah al-Zuhaylî, al-Fiqh al-`Islâmî wa `Adillatuh (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2004), vol. 8, 5855.

110

Undang-Undang : ___________, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Asa Mandiri, 2006. ___________, Undang-undang Dasar 1945 dan Amandemennya, Fokusmedia, Jakarta. ___________, Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Pemberantasan Terorisme dan Pancasila, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2006. Yesmil Anwar, Undang-undang Dasar 1945 Amandemen ke 4, Citra Umbara, Bandung, 2000. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Sumber Lain : Azyumardi Azra, Jihad dan Terorisme: Konsep dan Perkembangan Histories, Dalam Jurnal Islamika, edisi 4, April-Juni 1994. Fauzan, Saya Teroris (³Sebuah Pledoi´), Republika, Jakarta, 2002. History Of Terorism, http: // history_of_terrorism.html. www.terrorisfiles.org/ encyclopedia/

http://akitiano.blogspot.com/2009/12/kejahatan-terorisme-kajian-prespektif.html http://abualitya.wordpress.com/2009/01/21/definisi-terorisme/ http: //alghuroba.org/index.php?read=54 http: //id.wikipedia.org/wiki/Terorisme http: //groups.yahoo.com/group/assunnah/message/32044 http: //www.detiknews.com/read/2008/11/09/015608/10337 10/10/kronologi-bombali-eksekusi-mati-amrozi-cs. http: //www.Kompas.Com/kompas-cetak/0211/13/opini/berb04.html. Indriyanto Seno Adji, Bali, Terorisme dan Ham, Kompas, Selasa, 29 Oktober 2001.

111

³Jangan

Cepat Menuding´. Utusan Online, (Online), (http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2009&dt=0919&pub=ut usan_malaysia&sec=Muka_Hadapan&pg=mh_01.htm&arc=hive, diakses tanggal 15 November 2009).

M. Abdul Gani, Jurnal Ilmu Hukum, Litigasi, Fakultas Hukum Pasundan Volume 4, Nomor 1 Februari 2003. Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III Desember 2002. ___________, Hakekat Terorisme dan Beberapa Prinsip Pengaturan dalam Kriminalisasi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI no III. Desember 2002. Rikard Bangun, Indonesia di Peta Terorism Global, http://www.polarhome.com, 17 November 2002. ³Suicide Attack´, Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Suicide_attack, diakses tanggal 21 Mei 2010. Usamah bin Ladin, Karya Asli Fatwa dan Wawancara Usamah bin Ladin (Jakarta: Ababil Press, 2001), 63. www.lebahmuda.multiply.com/journal/multi-culture.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful