P. 1
PENGANTAR KEPENDIDIKAN MODUL

PENGANTAR KEPENDIDIKAN MODUL

|Views: 1,889|Likes:

More info:

Published by: Aji Peramu Rempah-rempah on Jun 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/12/2013

pdf

text

original

PENGANTAR KEPENDIDIKAN

BAB I HAKIKAT PENDIDIKAN
1

A. Pendahuluan Tujuan: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami pendidikan sebagai bagian dari proses kehidupan manusia serta mampu memberikan penafsiran dan analisis terhadap kondisi pendidikan sesuai dengan pengalaman yang dimiliki. Sasaran: Setelah proses belajar mengajar, mahasiswa diharapkan mampu: 1) menjelaskan hakikat pendidikan yang dikaitkan dengan eksistensi manusia 2) menjelaskan definisi pendidikan 3) menjelaskan tujuan dan fungsi pendidikan 4) menyebutkan unsure-unsur dalam penyelenggaraan pendidikan 5) menjelaskan pendidikan sebagai suatu system B. Manusia dan Pendidikan Manusia sebagai mahluk yang memiliki akal pikiran, tentunya akan selalu berupaya menjadikan hidup dan kehidupannya menjadi lebih baik, lebih beradab, dan lebih sejahtera dari sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah salah satu bentuk kekuatan pikir manusia dalam menghadapi alam (lingkungan) di mana ia berada, manusia bertindak/berbuat bukan sekadar untuk survive (bertahan hidup) tetapi manusia terlahir sebagai sosok pembaharu bagi lingkungannya. Hal inilah yang membedakan antara manusia dan mahluk lain di muka bumi ini, betapapun hebatnya seekor Anjing dalam mengendus jejak kejahatan sebagaimana dilakukan oleh anjing pelacak, ternyata ia tidak mampu menjadikan hidupnya lebih baik atau dalam kasus yang lebih sederhana, tidak ada seekor anjing pun yang sadar mau berbagi dan bertukar makanan dengan kawannya, anjing tetaplah anjing yang tidak memiliki pikiran dan perasaan sebagaimana yang dimiliki manusia. Dengan akal pikiran yang dimilikinya, manusia mampu melangsungkan dan mengembangkan kehidupannya sesuai dengan waktu dan ruang yang ia tempati (hidup di segala zaman). Dalam hal ini manusia secara kolektif meyakini adanya nilai-nilai, budaya, doktrin dan kebenaran yang mesti dilestarikan dengan cara ditransfer kepada generasi berikutya. Pada generasi yang lahir kemudian akan melakukan verifikasi dan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
pengembangan ke arah yang lebih sesuai dengan kondisi zaman, tentunya dilakukan oleh sebuah kelompok atau lembaga yang bernama pendidikan. Sosok pendidikan sebagaimana juga manusia dapat dikatakan sangat kompleks, karena terkait dengan berbagai aspek kehidupan dan kepentingan-kepentingan seperti ideology, politik, social, budaya, agama, ekonomi, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Di sinilah terkadang kurikulum menjadi ajang berbagai kepentingan, ada sebagian kalangan yang menginginkan pendidikan itu berbasis kepada agama, sehingga memunculkan pendidikan yang berbasis atau bercorak agama tertentu, namun ada juga yang mengharapkan pendidikan itu bersifat profan (keduniaan). Di lain sisi, pemerintah sebagai manifest organisasi politik juga menginginkan pendidikan atau kurikulum yang dapat menopang dan mendukung ideology-ideologi politiknya. Oleh karena itu, karakter pendidikan pada hakikatnya merupakan pencerminan dari kondisi Negara (karakter-karakter manusia yang ada di dalamnya) yang menggambarkan ambisi-ambisi para pemimpin dan kekuatan-kekuatan social-politik yang sedang berkuasa. Dengan sendirinya pendidikan juga merupakan refleksi dari orde penguasa yang ada. Contohnya, dalam Negara yang bercorak demokratis yang warga negaranya menghargai sifat-sifat unik dari setiap person, akan Nampak system pendidikannya yang sangat memperhatikan dan mengembangkan keunikan masing-masing pribadi dan kebebasannya. Di sisi lain, di Negara totaliter dengan pemerintahan yang menguasai segala-galanya lewat kekuasaan absolutnya, pemerintah membatasi kebebasan individu dengan memberikan pendidikan yang uniform bagi semua anak didik. System pendidikannya Cuma satu, yaitu mencerminkan ide-ide politik untuk mendominir rakyat. Kartini Kartono (1977:77-82). Di samping itu, wujud pendidikan dapat dipahami sebagai lembaga atau institusi, system, administrasi dan birokrasi, perilaku dan proses belajar-mengajar, bangunan keilmuan, dan lain sebagainya. Ini semua mengindikasikan bahwa pendidikan itu tidak dapat berdiri sendiri, dan mengandung makna yang bias secara fenomenal. Pencarian terhadap esensi pendidikan seperti apa, bagaimana dan untuk apa pendidikan itu sebenarnya diselenggarakan telah dilakukan sejak ribuan tahun yang lalu, sampai saat ini, para ahli pendidikan memberikan kesimpulan terhadap unsure-unsur dasar dalam pendidikan yaitu: 1) adanya pemberi, 2) penerima, 3) tujuan baik, 4) cara
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

2

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
yang baik dan 5) konteks yang positif. Dengan adanya lima unsure dasar ini, pendidikan dapat dirumuskan sebagai aktivitas interaktif antara pemberi dan penerima untuk mencapai tujuan dengan cara yang baik dalam konteks yang positif (Muhadjir, 2000: 1-8) C. Pengertian Pendidikan Pendidikan atau pedagogi itu adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju kepada kedewasaan dan kemandirian (Langeveld, dalam Widodo, 2007:15). Sementara Kingsley mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses yang memungkinkan kekayaan budaya non fisik dipelihara atau dikembangkan dalam mengasuh anak-anak atau mengajar orang-orang dewasa (Kingsley, 1965:4) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:232), pendidikan berasal dari kata “didik’, lalu diberikan awalan kata “me” sehinggan menjadi “mendidik” yang artinya memelihara dan memberi latihan. dalam memeliahara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran. Beberapa definisi pendidikan yang lain, diantaranya adalah sebagai berikut. 1. John Dewey. Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual, emosional ke arah alam dan sesama manusia 2. M.J. Longeveled Pendidikan adalah usaha , pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak agar tertuju kepada kedewasaannya, atau lebih tepatnya membantu anaka agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. 3. Thompson Pendidikan adalah pengaruh lingkungan terhadap individu untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap dalam kebiasaan perilaku, pikiran dan sifatnya. 4. Frederick J. Mc Donald Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk merubah tabiat (behavior) manusia. 5. H. Horne
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

3

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Pendidikan adalah proses yang terus-menerus dari penyesuaian yang berkembang secara fisik dan mental yang sadar dan bebas kepada Tuhan. 6. J.J. Russeau Pendidikan adalah pembekalan yang tidak ada pada pada saat anak-anak, akan tetapi dibutuhkan pada saat dewasa. 7. Ki Hajar Dewantara Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. 8. Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. 9. Insan Kamil Pendidikan adalah usaha sadar yang sistematis dalam mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri manusia untuk menjadi manusia yang seutuhnya. 10. Ivan Illc Pendidikan adalah pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. 11. Edgar Dalle Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang. 12. Hartoto Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis, dan terus-menerus dalam upaya memanusiakan manusia. 13. Ngalim Purwanto Pendidikan adalah segala urusan orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

4

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
14. Driakara Pendidikan adalah memanusiakan manusia muda atau pengangkatan manusia. 15. W.P. Napitulu Pendidikan adalah kegiatan yang secara sadar, teratur, dan terencana dalam tujuan mengubah tingkah laku ke arah yang diinginkan. Definisi Pendidikan menurut undangundang dan GBHN 16. UU No. 2 tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang. 17. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional Pendidikan adalah usaha proses pembelajaran agar untuk memiliki kekuatan kecerdasan, akhlak mulia, bangsa, dan negara. 18. GBHN Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari beberapa definisi pendidikan di atas, pada dasarnya pengertian pendidikan yang dikemukakan memiliki kesamaan yaitu usaha sadar, terencana, sistematis, berlangsung terus-menerus, dan menuju kedewasaan. D. Tujuan Pendidikan Pendidikan, seperti sifat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Karena sifatnya yang kompleks itu, maka tidak sebuah batasanpun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Dibawah ini dikemukakan beberapa batasan tentang pendidikan yang bebeda berdasarkan fungsinya. 1. Pendidikan sebagai Proses Transformasi Budaya Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari suatu generasi ke generasi lainnya. Nilai-nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada 3 bentuk
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

5

sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat,

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggungjawab dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki misalnya tata cara perkawinan, dan tidak cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal. Disini tampak bahwa,proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan budaya secara estafet. Pendidikan justru mempunyai tugas kenyiapkan peserta didik untuk hari esok. 2. Sebagai Proses Pembentukan Pribadi Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai sutu kegiatan yang sistematis dan sitemik dan terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang belum dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terakhir disebut pendidikan diri sendiri. 3. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan warga Negara Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. 4. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja Pendidkan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memilki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. 5. Definisi Pendidikan Menurut GBHN GBHN 1988 (BP 7 Pusat, 1990:105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: Pensisikan Nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia Pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

6

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
6. Macam-macam tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Di dalam praktek pendidikan khususnya pada sistem persekolahan, di dalam rentangan antara tujuan umum dan tujuan yang sangat khusus terdapat sejumlah tujuan antara. Tujuan antara berfungsi untuk menjembatani pencapaian tujuan umum dari sejumlah tujuan rincian khusus. Umumnya ada 4 jenjang tujuan di dalamnya terdapat tujuan antara , yaitu tujuan umum, tujuan instruksional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. • Tujuan umum pendidikan nasional Indonesia adalah Pancasila. • Tujuan institusional yaitu tujuan yang menjadi tugas dari lembaga pendidikan tertentu untuk mencapainya. • Tujuan kurikuler, yaitu tujuan bidang studi atau tujuan mata pelajaran. • Tujuan instruksional , tujuan pokok bahasan dan sub pokok bahasan disebut tujuan instruksional, yaitu penguasaan materi pokok bahasan/sub pokok bahasan. E. Fungsi Pendidikan Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak didik secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar Dewantara lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah an lingkungan masyarakat, yang disebut tripusat pendidikan. 1. Keluarga Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat
7

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga berfungsi: Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak Menjamin kehidupan emosional anak Menanamkan dasar pendidikan moral Memberikan dasar pendidikan sosial. Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak. 2. Sekolah Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Oleh karena itu dikirimkan anak ke sekolah. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga terhadap pendidikan, diantaranya sebagai berikut; • • • Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam Sekolah melaqtih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan
8

yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik. masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah. seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. • Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya. 3. Masyarakat Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah mulai ketika anak-anak untuk beberapa waktu setelah lepas dari asuhan keluarga dan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam masyarakat banyak sekali, ini meliputi segala bidang, baik pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pembentukan pengertia-pengertian (pengetahuan), sikap dan minat, maupun pembentukan kesusilaan dan keagamaan. F. Pendidikan Sebagai Suatu Sistem E.1 Pengertian Sistem a. Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. b. c. tertentu. d. (Tatang Amirin, 1992:11) Sistem meruapakan himpunan komponen yang saling berkaitan Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. terorganisasikan dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai suatu tujuan
9

E.2 Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru), output(tamatan), instrumentalinput(guru, kurikulum), environmental input(budaya, kependudukan, politik dan keamanan). E.3Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sitem Lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem Sistem pendidikan dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari pendidikan sebagai sistem dan seterusnya. E.4 Pemecahan masalah pendidikan secara sistematik.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

bidang

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
a. Cara memandang sistem
10

Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sitem ataupunsebaliknya suatu sitem menjadi komponen dari sitem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sitem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan. b. Masalah berjenjang

Semua masalah tersebut satu sama lain saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat, alternatif maslah, dan latar belakang masalah. c. Analisis sitem pendidikan

Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam maslah pendidikan yang akan dipecahkan. d. Saling hubungan antarkomponen

Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhibungan secra fungsional dengan komponen lain. e. Hubungan sitem dengan suprasistem

Dalam ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sdangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaandan pengembangan. E.5 Keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah: a. pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing saling mengisi
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
b. c. Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan,
11

masing-masing dapat dipahami lebih baik. sebab pendidikan membentuk wadah, sedangkan pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah. E.6 Pendidikan prajabatan (preservice education) dan pendidikan dalam jabatan (inservice education) sebagai sebuah sistem. Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada oramg-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan prajabatan hanya memberikan bekal dasar, sedangkan bekal praktis yang siap pakai diberikan oleh pendidikan dalam jabatan. E.7 Pendidikan formal, non-formal, dan informal sebagai sebuah sistem. Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pedidikan yang telah baku, misalnya SD,SMP,SMA, dan PT. Pendidikan nonformal lebih difokuskan pada pemberian keahlian atau skill guna terjun ke masyarakat. Pendidikan informal adalah suatu fase pendidikan yang berada di samping pendidikan formal dan nonformal. Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumberdaya manusia sangat bergantung kepada sejauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
BAB II FILSAFAT PENDIDIKAN
12

A. Pendahuluan Tujuan: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman kritis terhadap berbagai pendekatan dalam memahami dan memecahkan persoalan pendidikan yang mendasar dalam pendidikan. Sasaran: Setelah proses belajar mengajar mahasiswa diharapkan mampu: 1) Menjelaskan definisi filsafat pendidikan 2) Menjelaskan cabang-cabang filsafat dan mengkaitkannya dengan pendidikan 3) Menjelaskan hubungan filsafat dan pendidikan 4) Menjelaskan berbagai macam aliran filsafat pendidikan 5) Menganalisis secara kritis filsafat pendidikan di Indonesia dan penerapannya B. Filsafat Pendidikan Bila dirujuk dari akar kata pembentuknya, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu Philo yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Dengan demikian, filsafat dapat diartikan sebagai “cinta kepada kebijaksanaan”. Berfilsafat dengan demikian juga bertujuan hanya untuk mencari, mempertahankan dan melaksanakan kebenaran/kebijaksanaan atau ditujukan untuk kebenaran itu sendiri, berfilsafat tidak bertujuan untuk ketenaran, pujian, kekayaan, atau yang lainnya. Inilah yang kemudian dikenal dengan tradisi pemikiran filosofis Yunani yaitu suatu pemahaman atas “kebenaran-kebenaran pertama” (first truth), seperti baik, adil dan kebenaran itu sendiri, serta penerapan dari kebenaran-kebenaran pertama ini dalam problema-problema kehidupan. Namun dalam perkembangannya, pengertian ini banyak ditolak oleh filosoffilosof yang lainnya dengan lebih meyakini filsafat sebagai pemikiran “teoretik” secara keseluruhan daripada sekadar perhatian kepada petunjuk moral atau tingkah laku. Untuk lebih membenantu memahami filsafat, tentunya dapat dilihat dari tugas filsafat yang paling mendasar yaitu untuk menemukan konsep-konsep yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam ilmu pengetahuan, lalu menganalisisnya dan menentukan makna-makna yang tepat dan saling berhubungan. Artinya, pengetahuan yang jelas dan akurat tentang sesuatu didahulukan atas hal-hal yang secara umum masih
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
kabur. Ketiadaan pengetahuan yang jelas tentang arti dan hubungan-hubungan dari konsep-konsep yang kita gunakan, akan menjerumuskan kita kepada kekeliruan yang fatal dalam menghadapi persoalan-persoalan (masalah) tertentu. Selain itu, filsafat juga bertugas untuk membongkar secara kritis segala bentuk keyakinan-keyakinan yang kita miliki secara radikal, universal, konseptual, sistematik, bebas dan bertanggung jawab. Beberapa definisi filsafat yang dikemukakan oleh para filsuf berikut ini, mungkin akan lebih membantu untuk menafsirkan dan menjelaskan mengapa filsafat pendidikan dipelajari: 1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Definisi ini merupakan arti yang informal tentang filsafat. Filsafat dianggap sebagai sikap atau kepercayaan yang ia miliki. 2) Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi. Pengertian filsafat ini merefleksikan bentuk atau tugas dari filsafat kritik, khususnya dalam mengkritisi keyakinan-keyakinan dalam kehidupan kita sehari-hari. 3) Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Inilah yang menjadi tugas dari filsafat spekulatif dalam usahanya mentransendensikan pengalaman-pengalaman dan ilmu pengetahuan dalam visi atau gambaran yang komprehensif. 4) Filsafat adalah sebagai analisa logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan konsep. Pengertian ini termasuk dalam kategori kerja filsafat kritik sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa filsafat mempunyai tugas menganalisis konsep-konsep seperti substansi, gerak, waktu, dan sebagainya. 5) Filsafat adalah sekumpulan problema-problema yang langsung yang mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. Pengertian ini pada prinsipnya berada dalam pemikiran para filsuf dalam rangka menjawab berbagai problematika kehidupan dan tentunya terus berlangsung tanpa mengenal titik lelah (Widodo, 2007: 9)
13

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Cabang-Cabang Filsafat 1) Ontologi Ontologi atau sering juga disebut metafisika (meta = melampaui, fisik = dunia nyata/fisik) adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat segala sesuatu yang ada, atau membahas watak yang sangat mendasar (ultimate) dari benda atau realitas yang berada di belakang pengalaman yang langsung (immediate experience). Ontology berbicara tentang segala hal yang ada, pertanyaan-pertanyaan yang akan dibongkarnya tidak terbatas, misalnya apakah hakikat ruang, waktu, gerak, materi, dan perubahan itu? Apakah yang merupakan asal mula jagad raya ini? Dan lain sebagainya. Kaitannya dengan pendidikan, ontologi ilmu pendidikan membahas tentang hakikat substansi dan pola organisasi Ilmu pendidikan 2) Epistemologi Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metodemetode, dan sahnya pengetahuan. Pertanyaan yang mendasar adalah: Apakah mengetahui itu? Apakah yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimana cara kita mengetahui bila kita mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara kita memperoleh pengetahuan? Dan lain sebagainya. Dengan demikian, epistemologi membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmu pendidikan 3) Aksiologi Aksiologi berbicara tentang nilai dan kegunaan dari segala sesuatu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi ilmu pendidikan, membahas tentang hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu pendidikan 4) Logika Logika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang aturan-aturan berpikir agar dengan aturan-aturan tersebut dapat diambil kesimpulan yang benar. Dengan kata lain logika adalah pengkajian yang sistematis tentang aturan-aturan untuk menguatkan premis-premis atau sebab-sebab mengenai konklusi aturan-aturan itu, sehingga dapat kita pakai untuk membedakan argument yang baik dan yang tidak baik. Logika dibagi dalam dua cabang utama, yaitu logika deduktif dan logika induktif. Logika deduktif berusaha menemukan aturan-aturan yang dapat dipergunakan untuk
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

14

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat keharusan dari satu premis tertentu atau lebih, sedangkan logika induktif mencoba menarik kesimpulan tidak dari susunan proposisi-proposisi melainkan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati. Logika ini mencoba untuk bergerak dari suatu perangkat fakta yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian, atau bergerak dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kepada sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Tahapan Ontologi (hakikat ilmu pendidikan) • Obyek apa yang telah ditelaah ilmu pendidikan? • Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? • Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu pendidikan? • Bagaimana prosedurnya? Epistemologi • Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya (Cara pengetahuan yang berupa ilmu pendidikan? Mendapatkan • Bagaimana prosedurnya? Pengetahuan) • Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? • Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? • Apa kriterianya? • Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu pendidikan? Aksiologi • Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? (Guna • Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan Pengetahuan) kaidah-kaidah moral? • Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? • Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? diadopsi dari Suryasumantri, 1993 Dari uraian di atas, Widodo (2007:9. Lihat juga Mudyahardjo, 2004:5) kemudian mendefiniskan filsafat pendidikan sebagai suatu pendekatan dalam memahami dan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

15

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
memecahkan persoalan-persoalan yang mendasar dalam pendidikan, seperti dalam menentukan tujuan pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, manusia, masyarakat, dan kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan itu sendiri. Pendidikan tidak dapat terlepas dari aliran filsafat yang melandasinya, sebagaimana dilakukan oleh Amerika Serikat yang meletakkan filsafat pendidikan atas dasar pengkajian beberapa aliran filsafat tertentu, seperti pragmatisme, realisme, idealisme, dan eksistensialisme, lalu dikaji bagaimana konsekuensi dan implikasinya dalam dunia pendidikan. Begitu juga dengan pendidikan Indonesia yang tidak bisa terlepas dari filsafat Pancasila yang notabenenya merupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Mudyahardjo (2004:5) membedakan pendidikan dalam dua macam, yaitu (1) praktek pendidikan dan (2) ilmu pendidikan sebagai salah satu bentuk teori pendidikan. Yang selanjutnya, juga membedakan filsafat pendidikan ke dalam dua macam, yaitu (1) filsafat praktek pendidikan, dan (2) filsafat ilmu pendidikan. Filsafat praktek pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dan dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Filsafat praktek pendidikan dapat dibedakan menjadi: (1) filsafat proses pendidikan (biasanya disebut filsafat pendidikan) dan (2) filsafat sosial pendidikan. Filsafat proses pendidikan adalah analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya kegiatan pendidikan dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Filsafat proses pendidikan biasanya membahas tiga masalah pokok, yaitu (1) apakah sebenarnya pendidikan itu; (2) apakah tujuan pendidikan itu sebenarnya; dan (3) dengan cara bagaimana tujuan pendidikan dapat dicapai. (Henderson, 1959, sebagaimana dikutip Mudyahardjo, 2004:5). Sementara filsafat sosial pendidikan membahas hubungan antara penataan masyarakat manusia dengan pendidikan. Atau dapat pula dikatakan bahwa filsafat sosial pendidikan merupakan analisis kritis dan komprehensif tentang bagaimana seharusnya pendidikan diselenggarakan dalam mewujudkan tatanan masyarakat manusia idaman.
16

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Bagan 01 Status Filsafat Ilmu Pendidikan Sebagai Filsafat
Ontologi Metafisika Kosmologi Humanologi Teologi Filsafat Umum Epistemologi Induksi Logika Deduksi Aksiologi Etika Estetika Filsafat Proses Pendidikan FILSAFAT Filsafat Praktek Pendidikan Filsafat Sosial Pendidikan

17

Filsafat Pendidikan Filsafat Hukum Filsafat Sejarah Dan lainlainnya Filsafat Ilmu Pendidikan

Ontologi Ilmu Pendidikan Epistemologi Ilmu Pendidikan Metodologi Ilmu Pendidikan

Filsafat Khusus

Sumber: Mudyahardjo (2004:7)

Aksiologi Ilmu Pendidikan

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
C. Epistemologi Ilmu Pendidikan 1) Objek Formal Ilmu Pendidikan Objek formal ilmu pendidikan berkenaan dengan bidang yang menjadi keseluruhan ruang lingkup garapan ilmu pendidikan. Sedangkan objek material ilmu pendidikan berkenaan dengan aspek-aspek yang menjadi garapan penelidikan langsung ilmu pendidikan. Objek formal ilmu pendidikan menurut Mudyahardjo (2004:45) adalah pendidikan, yang dapat diartikan secara maha luas, sempit dan luas terbatas. Pendidikan dalam artian yang maha luas adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman belajar, yang oleh karenanya pendidikan dapat pula didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Sedangkan dalam pengertian pendidikan dalam arti sempit adalah sekolah atau persekolahan (schooling). Sekolah adalah lembaga pendidikan formal sebagai salah satu hasil rekaya dari peradaban manusia, di samping keluarga, dunia kerja, negara dan lembaga keagamaan. Oleh karena itu, pendidikan dalam arti sempit adalah pengaruh yang diupayakan dan direkayasa sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mereka mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial mereka. Definisi maha luas tentang pendidikan, antara lain mengandung kelemahan tidak dapat menggambarkan dengan tegas batas-batas pengaruh pendidikan dan bukan pendidikan terhadap pertumbuhan individu. Sedangkan kekuatannya, antara lain terletak pada menempatkan kegiatan atau pengalaman belajar sebagai inti dalam proses pendidikan yang berlangsung di mana pun dalam lingkungan hidup, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Definisi pendidikan dalam arti sempit juga memiliki kelemahan di antaranya terletak pada sangat kuatnya campur tangan pendidikan dalam proses pendidikan sehingga proses pendidikan lebih merupakan kegiatan mengajar daripada kegiatan belajar yang mengandung makna pendidik mempunyai otoritas sangat kuat, dan pendidikan terasing dari kehidupan sehingga lulusannya ditolak oleh masyarakat. Adapun kekuatannya, antara lain terletak
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

18

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
pada bentuk kegiatan pendidikannya yang dilaksanakan secara terprogram dan sistematis. Tabel 01: Perbandingan Konsep Pendidikan dalam arti Maha Luas, Sempit, dan Luas Terbatas
Tertium Komparison Definisi Maha Luas Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan hidup dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang Sempit Pendidikan adalah persekolahan. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakan oleh sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Pendidikan adalah segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak atau remaja yang diserahkan kepadanya, agar mempunyai kemampuan yang sempurna dan kesadaran penuh hubungan-hubungan dan tugas-tugas sosial. Tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar. Tujuan pendidikan terbatas pada pengembangan kemampuan tertentu. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masyarakat. Luas Terbatas Pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan secara tepat dalam berbagai lingkungan hidup. Tujuan pendidikan merupakan perpaduan antara perkembangan pribadi secara optimal dan tujuan sosial dapat memainkan peranan sosial secara tepat. Tujuan pendidikan mencakup tujuan-tujuan setiap bentuk kegiatan pendidikan (bimbingan/pengajaran/ latihan) dan satuan-satuan pendidikan (sekolah/luar sekolah). Pendidikan berlangsung dalam sebagian lingkungan hidup. pendidikan tidak berlangsung dalam lingkungan hidup yang terselenggarakan dengan sendirinya. Pendidikan berlangsung di sekolah dan satuan pendidikan luar sekolah. Kegiatan pendidikan dapat berbentuk pendidikan formal, non formal dan informal. Kegiatan

19

Tujuan

Tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan dari luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan. Tujuan pendidikan tidaklah terbatas. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup

Tempat Pendidikan

Pendidikan berlangsung dalam segala bentuk lingkungan hidup, baik khusus diciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun lingkungan yang ada dengan sendirinya.

Pendidikan berlangsung dalam lembaga pendidikan formal atau sekolah dalam segala bentuk

Bentuk kegiatan pendidikan

Pendidikan terentang dari kegiatan yang mistis atau tidak sengaja sampai dengan kegiatan

Isi pendidikan tersusun secara terprogram dalam bentuk kurikulum. Kegiatan pendidikan lebih

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
pendidikan yang terprogram. Pendidikan berbentuk segala macam pengalaman belajar dalam hidup. Pendidikan berlangsung dalam beraneka ragam bentuk, pola, dan lembaga. Pendidikan dapat terjadi di mana pun dalam hidup. Pendidikan lebih berorientasi pada peserta didik Masa Pendidikan Pendidikan berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan seseorang. Pendidikan berlangsung sejak lahir hingga meninggal dunia, dan berlangsung sembarang. Kaum humanis, kaum humanis radikal cenderung tidak percaya pada pendidikan di sekolah. Kaum moderat cenderung memperbaiki pendidikan sekolah berorientasi pada pendidik (guru). Sehingga guru mempunyai peranan yang sentral dan menentukan. Kegiatan pendidikan terjadwal dalam tenggang waktu tertentu. pendidikan dapat berbentuk bimbingan, pengajaran dan/atau latihan. Kegiatan pendidikan selalu merupakan usaha sadar yang tercakup di dalamnya pengelolaan pendidikan secara nasional dan pengelolaan dalam satuansatuan pendidikan di sekolah. Kegiatan pendidikan berorientasi pada komunikasi pendidikan peserta didik Pendidikan berlangsung seumur hidup, yang kegiatan-kegiatannya tidak berlangsung sembarang, tetapi terbatas pada adanya usaha sadar.

20

Pendidikan berlangsung dalam waktu terbatas, yaitu pada masa anak-anak dan remaja. Kegiatan pendidikan terbatas pada kegiatan bersekolah.

Pendukung

Kaum behavioris, mereka cenderung pada pelaksanaan pendidikan secara terprogram

Kaum realisme kritis, mereka mengupayakan perpaduan yang harmonis antara pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah

Sumber: Mudyahardjo (2004:62-63)

2) Objek Material Ilmu Pendidikan Sebagaimana telah diungkap di atas, bahwa objek material ilmu pendidikan adalah salah satu aspek pendidikan. Apabila dilihat dari segi ini, maka ilmu pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu 1) ilmu pendidikan makro, yaitu yang menyelidiki keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan nasional, dan 2) ilmu pendidikan mikro, atau ilmu pendidikan yang menyelidiki satuan pendidikan atau kegiatan pendidikan secara keseluruhan atau hanya satu satuan atau satu bentuk kegiatan pendidikan. Bagan berikut, diharapkan dapat membantu kita untuk lebih memahami bagian atau cabang-cabang dari ilmu pendidikan (objek material ilmu pendidikan).
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
21

Bagan 02 Klasifikasi Cabang-cabang Ilmu Pendidikan
Ilmu Pendidikan Administratif Ilmu Pendidikan Komparatif Ilmu Pendidikan Historis Ilmu Pendidikan Kependudukan Pedagogik Teoretis Ilmu Pendidikan Psikologis Ilmu Mendidik Umum Ilmu Pendidikan Sosiologis Ilmu Pendidikan Antropologis Ilmu Pendidikan Ekonomik

Ilmu Pendidikan Makro

ILMU PENDIDIKAN

Ilmu Pendidikan Mikro

Ilmu Persekolah Ilmu Mendidik Khusus Ilmu Pendidikan Luar Sekolah Ilmu Pendidikan Luar Biasa (Orthopedagogik

Mudyahardjo (2004: 87)

D. Aksiologi Ilmu Pendidikan 1) Aksiologi Ilmu Pendidikan (Nilai Kegunaan Teoretis)

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Meskipun status ilmiahnya masih belum sejajar dengan ilmu-ilmu yang sudah mapan, ilmu pendidikan dapat memberikan sumbangan teoretis terhadap perkembangan ilmu-ilmu sosial (Social Sciences) atau ilmu-ilmu tingkah laku (Behavioral Sciences). Sumbangan tersebut, antara lain berupa memperluas konsep-konsep ilmiah yang berkenaan dengan kehidupan sosial atau pada tingkah laku manusia. Ilmu pendidikan menghasilkan konsep-konsep ilmiah tentang pola tingkah laku dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di lingkungan hidup manusia. Konsep tersebut menambah rekanan konsep-konsep aspek sosialbudaya dalam kehidupan manusia. 2) Aksiologi Ilmu Pendidikan (Nilai Kegunaan Praktis) Konsep-konsep yang dihasilkan oleh ilmu pendidikan dapat memberi pedoman dasar kerja pendidikan/pengelola pendidikan dalam melaksanakan tugasnya. Konsep-konsep yang dikembangkan ilmu pendidikan, berkenaan dengan bagaimana proses pengelolaan dan pelaksanaan praktek pendidikan terselenggara. Dengan demikian konsep-konsep tersebut merupakan prinsip-prinsip tentang praktek-praktek pengelolaan dan kegiatan pendidikan (mendidik). Hasil penelitian Arora Kamla sebagaimana dikutip Mudyahardjo (2004:196) menyatakan bahwa karakteristik profesional yang sangat mempengaruhi efektivitas guru mengajar adalah berkenaan dengan kemampuan-kemampuan: 1) menerangkan dengan jelas topik-topik yang menjadi bahan ajaran, 2) menyajikan dengan jelas tentang mata pelajaran, 3) mengorganisasikan secara sistematis tentang mata pelajaran, 4) berekspresi, 5) membangkitkan minat dan dorongan siswa untuk belajar, dan 6) menyusun rencana dan persiapan mengajar. Penguasaan keenam kemampuan tersebut merupakan awal dan sangat mempengaruhi efektivitas guru mengajar. E. Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Persoalan bagaimana pendidikan akan diselenggarakan secara ideal/semestinya, sangat tergantung dari cara pandang masyarakat terhadap nilai-nilai moral dan politik yang kemudian melahirkan ideologi pendidikannya. Untuk itu perlu dipahami apa yang melandasi praktek-praktek pendidikan dewasa ini, sehingga kita tidak terjebak ke dalam
22

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
penafsiran yang keliru mengenai pendidikan sebagai sebuah sistem dan sebagai manifes dari kehidupan manusia itu sendiri. Rasionalisme menganggap bahwa kecerdasan yang terlatih adalah penyedia cara terbaik untuk hidup, pemikiran ini cenderung kearah pemerintahan yang terbuka dan liberal, serta ke arah corak yang serupa dengan (dan mendukung) system-sistem pemerintahan yang liberal. Sebaliknya, non-rasional menganggap bahwa kebanyakan kebenaran yang punya arti penting hanya bisa diakses melalui cara-cara non-rasional; misalnya lewat wahyu, iman, atau intuisi mistis, atau menganggap bahwa penalaran aktif, kurang dapat dipercaya ketimbang pola-pola keyakinan dan perilaku social yang konvensional. Orientasi-orientasi semacam itu hampir pasti memilih pula ‘pendidikan yang keras’ Konservatisme pendidikan menganggap bahwa nalar adalah baik, namun nalar mesti tetap menjadi subordinat atau bawahan dari pola-pola keyakinan dan perilaku social yang lebih dulu dinalar (atau yang memiliki potensi kenalaran), yang muncul dari penyesuaian-penyesuaian budaya terhadap keadaan-keadaan yang muncul sepanjang sejarah sebuah masyarakat yang sebelumnya tidak dinalat (namun yang diprakirakan berkualitas nalar). Liberalisme, Liberasionisme dan Anarkisme (ketiga-tiganya) menganggap bahwa kebaikan tertinggi adalah untuk hidup sedemikian rupa hingga memungkinkan pengungkapan sepenuh-penuhnya dari kecerdasan terlatih, yakni pemikiran kritis yang dipandang sebagai penerapan praktis dari proses-proses penyelesaian masalah personal maupun social secara ilmiah. Ketiganya berbeda dalam hal bagaimana mereka memandang kondisi-kondisi yang diperlukan bagi terjadinya pemikiran kritis semacam itu. Liberalisme menekankan pemikiran kritis individu sebagai asal-usul dan landasan bagi semua perubahan social yang tercerahkan. Seorang liberalis meragukan ideologyideologi social yang tidak lahir dari temuan penyelidikan yang berdasarkan objektivitas ilmiah. Dalam hal ini, ia memprioritaskan yang personal (individu) di atas yang social (termasuk yang politis). Sementara itu, seorang liberasionis merasa bahwa pemikiran kritis individual itu mustahil berlangsung dalam ketiadaan sebuah system politik yang mendorong dan memelihara kondisi-kondisi social dan intelektual yang merupakan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

23

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
prasyarat bagi kecerdasan umum yang sepenuhnya berkembang. Sebaliknya juga, seorang anarkis merasa bahwa, bias dikatakan semua system politik dan pendidikan pasti merupakan kekuatan yang mengasingkan dan menindas, dan berada di antara kecenderungan alamiah individu ke arah perwujudan diri, dengan kecenderungan yang juga sama alamiahnya untuk menjadi terlibat secara budaya (namun tidak secara social) dalam semua corak pemikiran kritis yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kehidupan social yang dihidupkan oleh kecerdasan dan kerjasama. Satu dari sekian problem yang berat dalam berbicara mengenai keterkaitan yang ada antara pendidikan dengan sudut pandang filosofis yang melandasinya adalah persoalan melacak pola yang relative jelas dan langsung mencerminkan hubungan antara berbagai perbedaan fundamental di wailayah etika serta filosofi politik di satu sisi dan berbagai perbedaan ideology pendidikan di sisi yang lain. Secara umum, O’neill (2002:125-126) menguraikan adanya tiga pola keterkaitan yang berlangsung antara posisi-posisi dasar dalam etika social serta teori pendidikan. 1. Keteraitan logis, yang terjadi di mana ada hubungan yang relative jelas dan perlu, yang tersimpul di antara posisi-posisi moral dan politis; atau keterkaitan yang jelas antara posisi-posisi itu (yang secara umum dipandang dalam perpaduan, sebagai etika social) dengan ideology pendidikan. Ada umpamanya, sebuah hubungan logis yang cukup jelas antara rasionalisme filosofis atau teologis di ranah moral dengan sebuah komitmen politis dalam salah satu bentuk meritokrasi, seperti juga ada hubungan yang cukup terbuka antara meritokrasi politis dengan pemakaian sekolah-sekolah untuk mengembangkan sebuah elit intelektual atau elit moral. 2. Keterkaitan psikologis yang terjadi di mana, seperti telah diungkapkan tadi, mungkin tidak ada kepastian hubungan logis antara sebuah filosofi sosial tertentu dengan pendirian tertentu di bidang pendidikan; namun ada hubungan timbal-balik yang cukup jelas terlihat antara keduanya, yang muncul dengan lebih dihubungkan dengan dinamika kejiwaan (psikodinamika) yang mengatur pilihan atas keduanya (atau mungkin ditentukan oleh sesuatu yang lain sama sekali, namun tetap bersifat penentu dari luar), ketimbang adanya hubungan alamiah apa pun yang inheren antara keduanya.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

24

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
3. Keterkaitan sosial adalah asosiasi yang nampak jelas yang ada di antara posisi moral dan filosofis di dalam budaya tertentu di suatu saat tertentu dalam sejarah. Posisi-posisi konservatif tertentu (seperti fundamentalisme secular dan jenis-jenis konservatisme secular) khususnya merumuskan diri sendiri dalam peristilahan ‘tradisi-tradisi budaya’ atau ‘pola-pola keyakinan dan perilaku yang lestari’. Keduanya terkenal sulit dirumuskan dengan ketepatan dan ketegasan, dan keduanya jelas sekali sangat dikondisikan oleh wajah budaya tertentu di suatu saat tertentu. Sudut pandang semacam itu hanya bias didiskusikan secara cerdas di dalam kerangka kerja batasan-batasan budaya dan sejarah yang dirumuskan lebih dulu dengan tegas. Jadi, program tertentu yang diajukan oleh banyak konservatifis social, dalam kaitannya dengan politik pendidikan, cenderung untuk jauh berbeda dalam budaya yang berbeda dan dalam era yang berbeda meski budaya pokoknya sama. Misalnya, seorang Amerika yang berpandangan politik konservatif di tahun 1783 akan menjadi seorang individu yang berlainan dengan seorang Amerika yang berpandangan konservatif di tahun 1876 atau 1978. Untuk itu kita perlu kembali kepada persoalan mendasar tentang pendidikan dan manusia. Pendidikan tidak lain (kalau boleh dikatakan demikian) menurut pandangan di atas, sebenarnya adalah proses perwujudan diri individu manusia untuk mencapai kebaikan dan kebahagiaan yang hakiki melalui garis intelektualitas dan moralitas yang dimilikinya. Ada tiga dalil pokok mengenai nilai sebagai perwujudan diri manusia, yaitu: 1) Petunjuk-petunjuk moral hanya berlaku tentang hal-hal yang bagi manusia adalah mungkin (untuk dilakukan atau tidak dilakukan, untuk menjadi atau untuk tidak menjadi); 2) Seluruh kemungkinan merujuk pada potensi-potensi tertentu dalam diri manusia, yang bisa dikenali, untuk bertindak atau untuk menjadi. 3) Dengan demikian, ‘hidup yang baik’ pada puncaknya bisa dirumuskan (meski perumusan ini dilakukan pada tingkat generalisasi yang tinggi) sehubungan dengan potensi-potensi manusia yang ada untuk disempurnakan atau diwujudkan.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

25

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Dari tiga dalil pokok ini, kita dapat membedakan mana perilaku yang termasuk mewujud (bermoral) yang dilakukan oleh seseorang dan mana yang tidak bermoral (potensi-potensi pada diri individu tidak mewujud-imoral). Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana mungkin manusia menjalani hidup yang baik, atau hidup di mana dirinya mewujud. Secara umum, ada enam sudut pandang fundamental tentang bagaimana caranya hidup secara baik, dan keenam sudut pandang ini juga merupakan dasar dari pandangan filosofis bagi munculnya aliran-aliran filsafat pendidikan (hal ini mendominasi kebudayaan Barat kontemporer), O’neill (2002:94-95): 1. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap berbagai tolok ukur (standar) intuitif dan/atau yang terungkap pada keyakinan dan perilaku. 2. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari pencerahan filosofis dan/atau keagamaan yang didasarkan pada penalaran spekulatif serta kebijaksanaan metafisis. 3. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap berbagai tolok ukur yang mapan (konvensional) tentang keyakinan dan perilaku. 4. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari kecerdasan praktis (yakni pemecahan masalah secara efektif) 5. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari pengembangan lembaga-lembaga sosial yang baru dan lebih manusiawi (humanistik). 6. Yang menganggap bahwa kebaikan tertinggi tumbuh dari penghapusan pembatasan-pembatasan kelembagaan, sebagai sebuah cara untuk memajukan perwujudan kebebasan personal yang sepenuh-penuhnya. Keenam filosofi moral di atas, kemudian dibagi lagi ke dalam ranah filosofi politik dasar, tiga diantaranya merupakan ungkapan politis mendasar dari sudut pandang Konservatif. 1) Konservatisme reaksioner (otoritarianisme anti-intelektual) 2) Konservatisme filosofis (otoritarianisme intelektual) 3) Konservatisme sosial (konvensionalisme otoritarian) Di samping itu ada tiga ungkapan politis dari sudut pandang Liberal, yaitu: 1) Liberalisme politis
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

26

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
2) Liberasionisme politis 3) Anarkisme politis Dasar-dasar filosofis bagi landasan pendidikan sebagaimana diungkap di atas, dapat diringkas ke dalam bentuk bagan sebagaimana berikut. BAGAN 1: DASAR-DASAR FILOSOFIS BAGI IDEOLOGI PENDIDIKAN
27

Kebahagiaan Personal (perwujudan diri) Dapat dicapai dengan mengikuti sebuah filosofi moral yang didasarkan pada FILOSOFI MORAL

Ketaatan Terhadap Tolok Ukur Keyakinan dan Perilaku yang Intuitif dan/atau Diwahyukan Totalitarian Teleologis Nasionalisme Fundamentalis Amerika Populisme “Akal Sehat” Fundamentalisme Kristen dan Tradisi-tradisi yang terkait

Pencerahan filosofis dan/atau Religius Berdasarkan Penalaran Spekulatif dan Kebijaksanaan Metafisis Plato Aristoteles St. Thomas Aquinas Moses Maimonides St. Ignatius Loyola Rene Descartes Ralph Waldo Emerson

Ketaatan Terhadap Tolok Ukur Keyakinan dan Perilaku Yang Sudah Mapan

Santo Agustinus Aliran utama Kristen Protestan Berbasis Pembaharuan (Reformis) Thomas Hobbes Thomas Harrington John Adams James Madison John C. Calboun Niccola Machiavelli Herbert Spencer Georg W.F. Hegel Emile Durkheim Winston Churchill Charles de Gaulle Milton Friedman Ayn Rand

Yang mengungkapkan diri dalam tingkat politis sebagai

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
28

FILOSOFI POLITIK

Konservatisme Reaksioner (Otoritarianisme AntiIntelektual) Otoritarianisme Nasionalistis atau Religius

Konservatisme Filosofis (Absolutisme Intelektual) Meritokrasi Intelektual dan /atau Moral

Konservatisme Sosial Kapitalisme Demokratis (Demokrasi Konstitusional Tak Langsung, menekankan pemerintahan berdasarkan hukum, proses yang ditentukan dan hak milik di dalam sebuah ekonomi yang relatif tidak dikendalikan oleh negara

Yang pada gilirannya diterapkan pada pendidikan dalam bentuk

IDEOLOGI PENDIDIKAN

FUNDAMENTALISME PENDIDIKAN

INTELEKTUALISME PENDIDIKAN

KONSERVATISME PENDIDIKAN

LANJUTAN…..1

Kecerdasan Praktis (Pemecahan Masalah Secara Efektif)

Pembangunan LembagaLembaga Sosial yang Baru dan Lebih Manusiawi (Humanistik) Jeremy Bentham Robert Owen Henry Saint Simon William Morris Karl Marx Nicholai Lenin John M. Keynes Eugene Debs Mao Ze Dong (Mao Tse Tung) Herbert Marcuse Erich Fromm

Penghapusan PembatasanPembatasan Kelembagaan untuk Menumbuhkembangkan kebebasan personal William Godwin Peter Kropotkin Pierre Proudhon Henry David Thoreau Leo Tolstoi

John Dewey William H. Kilpatrick Boyd Bode Sidney Hook John Childs George Geiger

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Lanjutan….2
29

LIBERALISME Demokrasi Sosial (Demokrasi Perwakilan dalam sebuah sistem Ekonomi Campuran)

LIBERASIONISME Sosialisme Demokrasi (Demokrasi Perwakilan dalam Sebuah Ekonomi yang dikendalikan oleh Negara)

ANARKISME Kerjasama Bebas yang DiDeinstitusionalisasikan (Demokrasi Partisipasional Langsung dalam Sebuah Era Pasca-Sosialistis)

LANJUTAN….3

LIBERALISME PENDIDKKAN

LIBERASIONISME PENDIDIKAN

ANARKISME PENDIDIKAN

1. Fundamentalisme Pendidikan Fundamentalisme meliputi semua corak konservatisme politik yang pada dasarnya anti-intelektual dalam arti bahwa mereka ingin meminimalkan pertimbanganpertimbangan filosofis dan/atau intelektual, serta cenderung untuk mendasarkan diri mereka pada penerimaan yang relatif tanpa kritik terhadap kebenaran yang diwahyukan atau konsensus sosial yang sudah mapan (yang biasanya diabsahkan sebagai ‘akal sehat’) Dalam ungkapan politisnya, konservatisme reaksioner gagasan untuk kembali kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan atau kebijakan-kebijakan masa silam, baik yang benar-benar pernah ada ataupun yang sekadar dikhayalkan. Ada dua variasi dari sudut pandang semacam itu jika diterapkan dalam pendidikan. Variasi pertama, fundamentalisme pendidikan religius, yang tampak dalam pondok pesantren. Variasi kedua fundamentalisme pendidikan sekular, berciri mengembangkan komitmen yang sama tidak luwesnya dibanding yang disepakati, yang umumnya menjadi pandangan dunia ‘orang biasa’. Ideologi mendasar pendidikan fundamentalisme menurut O’neill (2002:249-253) adalah sebagai berikut.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
 Tujuan pendidikan secara menyeluruh
30

Tujuan utama pendidikan adalah untuk membangkitkan dan meneguhkan kembali cara-cara lama yang lebih baik, untuk memapankan kembali tolok ukur keyakinan dan perilaku tradisional.  Tujuan-tujuan sekolah Sekolah ada karena dua alasan mendasar: 1) untuk membantu membangun kembali masyarakat dengan cara mendorong langkah kembali ke tujuan-tujuan aslinya dan agar tetap konsisten dengan tujuan itu; 2) untuk menyalurkan informasi dan keterampilan-keterampilan yang perlu agar berhasil dalam tatanan sosial yang ada sekarang.  Ciri-ciri umum Fundamentalisme pendidikan dapat dikarakteristisasikan sebagai berikut. 1) Ia yakin bahwa pengetahuan terutama merupakan alat untuk membangun kembali masyarakat dalam mengejar pola kesempurnaan moral yang pernah ada di masa silam. 2) Ia menekankan bahwa manusia adalah agen moral, menekankan ketaatan terhadap aturan moral yang jelas dan lengkap, dan menekankan nilai patriotisme yang dirumuskan secara sempit. 3) Secara diam-diam ataupun terang-terangan anti-intelektual, menentang pengujian kritis terhadap pola-pola keyakinan dan perilaku yang mereka pilih. 4) Pendidikan pertama-tama dipandang sebagai proses regenerasi moral. 5) Memusatkan perhatian pada tujuan asli tradisi-tradisi serta lembaga-lembaga sosial yang ada, menekankan ‘kembali ke masa silam’ sebagai sebuah orientasi-ulang yang bersifat korektif terhadap pandangan modern yang terlalu menekankan masa kini dan masa depan. 6) Menekankan pengenalan kembali cara-cara lama yang sudah teruji oleh waktu, kebutuhan untuk kembali kepada kebaikan-kebaikan nyata atau yang dikhayalkan ada di era yang lalu. 7) Berdasarkan pada sistem sosial dan/atau keagamaan yang tertutup, yang menjadi ciri era sebelumnya, membela gerakan kembali kepada kondisikondisi yang lebih baik yang pernah berlangsung.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
8) Berlandaskan prakiraan-prakiraan yang tersirat dan/atau yang tidak pernah diuji kebenarannya tentang hakikat kenyataan, yang umumnya didasarkan pada ‘akal sehat’ atau kepastian intuitif atau iman keagamaan. 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi berada di tangan komunitas orang-orang yang memiliki iman sejati (the true believers), bahwa kebenaran ditentukan melalui sebuah kesepakatan di antara orang-orang yang telah mencapai pencerahan moral.  Anak-anak sebagai pelajar Anak-anak condong ke arah kekeliruan dan kejahatan jika tidak ada bimbingan yang kuat dan pengajaran yang baik. Kesamaan-kesamaan individual lebih penting ketimbang perbedaan-perbedaan di antara mereka, dan kesamaan-kesamaan ini secara tepat bersifat menentukan dalam memapankan program-program pendidikan yang baik. Anak-anak secara moral setara di sebuah jagat ketidaksetaraan kesempatan objektif. Mereka musti memiliki kesempatan-kesempatan setara supaya bisa berjuang untuk mendapatkan ganjaran yang terbatas yang tersedia, namun keberhasilan musti dikondisikan pada prestasi personal dalam dunia yang bercirikan persaingan keras bagi keberhasilan moral dan material. Seorang anak pada intinya mampu menentukan nasibnya sendiri; ia memiliki kehendak bebas yang personal, dalam arti tradisional dari istilah itu.  Administrasi dan kontrol Wewenang di bidang pendidikan harus diletakkan di tangan para manajer akademik terlatih, yang tidak musti merupakan kaum intelek ataupun pendidikan profesional. Wewenang guru harus didasarkan pada profil moral yang lebih tinggi dalam diri guru tersebut.  Hakikat kurikulum menjadi pribadi yang baik diukur dengan tolok ukur-tolok ukur perilaku moral tradisional.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

31

1) Sekolah harus menekankan karakter moral yang layak, melatih siswa untuk

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
2) Sekolah mesti memusatkan perhatian pada pembaharuan pola-pola budaya lama; ia harus membantu siswa untuk menemukan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi-tradisi budaya mendasar. 3) Penekanan harus diberikan pada regenerasi moral, dalam hal membangun kembali masyarakat menurut jalur-jalur pendekatan tradisional terhadap keyakinan dan perilaku. 4) Lapangan studi harus dipilih untuk mengarahkan siswa. 5) Tekanan mesti diletakkan di penyesuaian moral (indoktrinasi moral) melebihi pengetahuan akademik (yakni belajar tentang bagaimana caranya belajar, serta menguasai jenis pengetahuan dan keterampilan teknis yang hanya secara tidak langsung terkait dengan persoalan-persoalan manusia yang utama). Indoktrinasi moral juga harus lebih dipentingkan ketimbang penyesuaian praktis, yakni belajar tentang hal-hal yang segera berguna. Sekaligus meminimalkan penyesuaian intelektual (yakni yang ideasional, berurusan dengan teori penafsiran yang luas). 6) Sekolah musti menekankan latihan moral dan jenis keterampilan-keterampilan akademik serta praktis yang diperlukan untuk membantu siswa untuk menjadi anggota yang aktif dalam tatanan sosial yang diregenerasikan secara tepat: keterampilan-keterampilan belajar yang mendasar, pelatihan pembentukan karakter, pendidikan fisik (termasuk pelajaran kesehatan), sejarah nasional, kesusasteraan nasional, pelajaran agama, dan seterusnya.  Metode pengajaran dan penilaian hasil belajar yang tradisional, seperti misalnya ceramah, hapalan, belajar dengan diawasi dan dituntun, serta diskusi kelompok yang terstruktur secara ketat. 2) Ulangan/tes sesudah pelajaran diberikan, adalah cara terbaik untuk memapankan kebiasaan yang tepat di kelas-kelas yang rendah, namun ia harus dikembangkan supaya siswa lebih punya inisiatif sendiri dan dengan pendekatan-pendekatan yang lebih bersifat mengarahkan diri sendiri, di tingkat-tingkat pendidikan yang lebih tinggi; adalah perlu untuk melaksanakan ulangan serta hapalan yang banyak.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

32

1) Penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara pengajaran di dalam kelas

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
3) Yang terbaik adalah pembelajaran yang ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sebab, siswa tidak cukup tercerahkan untuk mengarahkan proses perkembangan intelektualnya sendiri. 4) Sang guru harus dipandang sebagai panutan dalam hal kesempurnaan moral dan akademik. 5) Tes-tes untuk mengukur keterampilan dan informasi yang dimiliki siswa lebih baik daripada tes-tes yang menekankan kemampuan analitis dan spekulasi abstrak siswa. 6) Persaingan antar-personal untuk mendapatkan nilai terbaik (dalam ujian, tes, kelakuan, dan sebagainya) dan peringkat nilai tertinggi di kelas antara para siswa adalah hal yang dikehendaki dan perlu diadakan demi memupuk kesempurnaan. 7) Penekanan harus diberikan pada yang kognitif (khususnya yang informasional) dengan tekanan kedua pada yang afektif dan interpersonal. 8) Penekanan harus diletakkan pada pemulihan kembali prinsip-prinsip dan praktik-praktik pendidikan tradisional (nasional dan/atau etnis). 9) Bimbingan dan penyuluhan pribadi serta terapi kejiwaan adalah fungsi-fungsi keluarga dan/atau gereja, bukan sekolah.  Pengendalian ruang kelas Para siswa mesti menjadi warganegara yang baik dalam penyesuaian diri dengan cita-cita masyarakat yang melakukan regenerasi moral. Para guru secara umum harus bersikap ketat, non-permisif, dalam tatacaratatacara pengendalian situasi di ruang kelas, sedangkan para siswa diharapkan menyesuaikan diri dengan wewenang yang telah ditetapkan. Pendidikan moral (latihan pembentukan watak) adalah dasar dan tujuan persekolahan. 2. Intelektualisme Pendidikan Intelektualisme lahir dari ungkapan-ungkapan konservatisme politik yang didasarkan pada sistem-sistem pemikiran filosofis atau religius yang pada dasarnya otoritarian. Secara umum, konservatisme filosofis ingin mengubah praktik-praktik politik yang ada (termasuk praktik-praktik pendidikan), demi menyesuaikannya secara lebih sempurna
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

33

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
dengan cita-cita intelektual atau rohaniah yang sudah mapan dan tidak bervariasi. Dalam pendidikan kontemporer, konservatisme filosofis mengungkapkan diri sebagai intelektualisme pendidikan, di mana ada dua variasi mendasar: intelektualisme pendidikan, yang pada intinya bersifat sekular dan dapat diamati dalam pemikiran beberapa orang teoretisi pendidikan kontemporer seperti misalnya Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler. Dan Intelektualisme teologis, yang memiliki orientasi sebagaimana terpantul dalam tulisan-tulisan para filosof pendidikan Katolik Roma kontemporer seperti William McGucken dan John Donahue. Ideologi dasar intelektualisme pendidikan dirangkum O’neill (2002:287-290) berikut ini.  Tujuan Pendidikan Secara Meneyeluruh Tujuan utama pendidikan adalah untuk mengenali, merumuskan, melestarikan dan menyalurkan Kebenaran (yakni pengetahuan tentang makna dan nilai penting kehidupan secara mendasar).  Sasaran-sasaran Sekolah Sekolah diadakan karena dua alasan mendasar: 1) Untuk mengajar siswa tentang bagaimana cara menalar (bagaimana cara berpikir secara jernih dan tertata), dan 2) Untuk menyalurkan kebijaksanaan yang tahan lama dari masa silam.  Ciri-ciri Umum Intelektualisme Pendidikan bahwa ‘tahu’ bukanlah sekadar cara meningkatkan keefektifan perilaku praktis semata. 2) Menekankan manusia sebagai manusia, yakni bahwa manusia memiliki hakikat universal yang melampaui keadaan-keadaan tertentu di suatu saat/tempat. 3) Menekankan nilai-nilai intelektualisme tradisional, yakni pemupukan nalar serta penerusan kebijaksanaan spekulatif (filosofis). 4) Memandang pendidikan sebagai sebuah orientasi ke arah kehidupan secara umum, bukan sebagai hal penyesuaian situasional. 5) Berpusat pada sejarah intelektual manusia sebagaimana dirumuskan dengan tradisi intelektual Barat yang dominan (klasikisme).
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

34

1) Menganggap bahwa pengetahuan adalah sebuah tujuan dalam dirinya sendiri,

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
6) Menekankan stabilitas filosofis sebagai prioritas yang lebih tinggi ketimbang kebutuhan akan perubahan, menekankan stabilitas intelektual dan keberlanjutan (kontinuitas), apa yang biasa disebut ‘kebenaran-kebenaran kekal’ (perenial) yang melampaui ruang dan waktu. 7) Berdasarkan pada sistem ideologis tertutup yang berisi kemutlakankemutlakan filosofis. 8) Berdiri di atas landasan kebenaran-kebenaran yang terbukti dengan sendirinya, yang inheren di dalam nalar dan/atau kenyataan itu sendiri. 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada kecerdasan (intelek) itu sendiri, bahwa kebenaran dapat dipahami lewat cara penalaran murni.  Anak-anak sebagai Pelajar Seorang anak condong ke arah kebijaksanaan dan kebaikan, karena secara hakiki ia adalah mahluk yang rasional dan sosial. Kesamaan-kesamaan individual lebih penting ketimbang perbedaan-perbedaan individual, dan kesamaan-kesamaan itu secara tetap bersifat menentukan (determinatif) dalam memapankan program-program pendidikan yang layak. Anak-anak secara moral setara di dalam sebuah dunia ketidaksetaraan kesempatan-kesempatan objektif; mereka harus memperoleh kesempatan yang setara untuk mencapai keunggulan intelektual, meskipun kemampuan untuk mencapai keunggulan intelektual tersebut tidaklah tersebar secara merata ke seluruh populasi. Seorang anak pada dasarnya bersifat menentukan nasib sendiri; ia memiliki kehendak bebas yang personal dalam arti tradisional.  Administrasi dan Kontrol Wewenang pendidikan musti ditanamkan di tangan elit intelektual yang berpendidikan tinggi. Wewenang guru harus didasarkan kepada kebijaksanaan sang guru yang lebih tinggi dibanding para siswa.  Sifat-sifat Hakiki Kurikulum
35

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
1) Sekolah musti menekankan disiplin intelektual, melatih siswa supaya mampu menalarkan secara jelas dan tertata. 2) Sekolah harus memusatkan diri pada penalaran serta kebijaksanaan spekulatif. 3) Penekanan harus memusatkan pada gagasan-gagasan serta teori-teori abstrak. 4) Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus menjadi hampir sepenuhnya diarahkan atau mengikuti garis-garis yang telah ditetapkan. 5) Yang harus ditekankan adalah yang intelektual, (yakni yang bersifat ideasional, berkaitan dengan teori penafsiran yang luas). Ketimbang yang praktis, (yang segera berguna bagi siswa), ataupun yang akademis, (belajar tentang bagaimana caranya belajar, dan menguasai jenis pengetahuan teknis secara tidak langsung dengan persoalan-persoalan manusia yang nyata). 6) Sekolah harus menekankan filosofi dan/atau teologi, kesusastraan (khususnya sastra dan inetelektual klasik yang sudah mapan di dunia Barat), serta tafsir sejarah yang luas cakupannya, dalam tradisi Edward Gibbon, Oswald Spengler, dan Arnold Toynbee.  Metode-metode Pengajaran dan Penilaian Hasil Belajar Tekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara ruang kelas tradisional, seperti misalnya ceramah, hapalan, tes-tes Sokratik (diarahkan oleh guru), dan diskusi kelompok yang sangat terstruktur. Ulangan/latihan berdasarkan hapalan adalah cara terbaik untuk membiasakan kebiasaan yang tepat di tingkat pendidikan yang lebih rendah, namun mesti dikembangkan ke arah pendekatan-pendekatan yang lebih terbuka dan bersifat intelektual, menampilkan penalaran formal (deduktif/dari yang umum menuju khusus), selama tahap-tahap pendidikan lanjutan. Pembelajaran yang ditentukan dan diarahkan oleh guru adalah yang terbaik, namun sang guru musti selalu berusaha untuk bekerjasama dengan sifat-sifat yang hakiki siswa yang secara alamiah rasional, daripada menuntun kepatuhan membuta melalui tatacara-tatacara indoktrinasi. Guru harus dipandang sebagai sosok panutan keunggulan intelektual serta seorang ‘wasit atau juru penengah’ kebenaran.
36

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Tes-tes yang ditujukan untuk mengukur ketajaman intelektual (seperti ujian-ujian bercorak esai) lebih disukai ketimbang yang menekankan isi faktual (seperti dalam ujian-ujian yang bercorak ‘pilihan objektif’). Lantaran kemampuan intelektual tersebar secara tidak merata, dan keunggulan intelektual adalah sesuatu yang sulit dicapai, maka persaingan antar pribadi hingga taraf tertentu bisa dikatakan tersirat dalam situasi akademis manapun yang baik, dan persaingan dalam mengejar keunggulan intelektual dapat dimanfaatkan untuk memajukan sasaran-sasaran intelektual yang absah. Penekanan harus diletakkan pada yang kognitif, melebihi yang afektif dan yang bersifat antarpribadi. Penekanan harus pula diletakkan pada ketaatan terhadap prinsip-prinsip dan praktik-praktik pendidikan yang dikenali dan dirumuskan oleh para pemikir besar dari tradisi intelektual Barat. Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan bukanlah hal-hal yang diperhatikan oleh sekolah, dan seharusnya ditangani oleh agen-agen sosial lain yang lebih cocok untuk menyediakan tuntunan serta terapi semacam itu.  Kendali Ruang Kelas Siswa-siswi harus menjadi warganegara yang baik dalam ranah berbagai tolok ukur moral tertentu yang bersifat mutlak, dan mereka musti dianggap mampu secara moral untuk bertanggungjawab atas perilaku mereka sendiri. Para guru harus secara umum tidak bersikap ‘serba membolehkan’, (permisif), dalam tatacara-tatacara memegang kendali ruang kelas, namun wewenang harus selalu diabsahkan dan/atau bisa dibenarkan oleh nalar. Pendidikan moral (pelatihan watak) adalah aspek yang penting dan terelakkan dari persekolahan, namun sekolah musti memusatkan perhatiannya pada penjelasan dan pembuktian landasan intelektual dari prinsip-prinsip moral yang pokok. 3. Konservatisme Pendidikan Konservatisme pada dasarnya adalah posisi yang mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu (sudah cukup tua atau dan mapan), didampingi dengan rasa hormat mendalam terhadap hukum dan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

37

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
tatanan, sebagai landasan perubahan sosial yang konstruktif. Sejalan dengan itu, di tingkat politis, orang-orang konservatif cukup mewakili dalam tulisan-tulisan para tokoh seperti Edmund Burke, James Madison, dan para penulis The Federalis Paper. Dalam dunia pendidikan seorang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola-pola sosial serta tradisi-tradisi yang sudah mapan. Ada dua ungkapan dasar konservatif dalam pendidikan. Yang pertama adalah konservatisme pendidikan religius, yang menekankan peran sentral pelatihan rohaniah sebagai landasan pembangunan karakter moral yang tepat. Yang kedua adalah konservatisme pendidikan sekular, yang memusatkan perhatiannya pada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang sudah ada, sebagai cara untuk menjamin pertahanan hidup secara sosial serta efektivitas secara kuat oleh orientasi pendidikan yang bersifat lebih Al-kitabiah dan Evangelis (mendakwahkan agama) yang secara teologis jelas-jelas kurang liberal jika dibandingkan dengan berbagai aliran utama. Ideologi mendasar konservatisme pendidikan adalah (dengan tanpa membedakan antara konservatisme sekular dan teologis):  Tujuan Pendidikan Secara Keseluruhan Tujuan utama pendidikan adalah untuk melestarikan dan menyalurkan pola-pola perilaku sosial konvensional.  Sasaran-sasaran Sekolah Sekolah diadakan karena dua alasan: 1) Untuk mendorong tentang pemahaman dan penghargaan terhadap lembagalembaga, tradisi-tradisi, proses-proses budaya yang telah teruji oleh waktu, termasuk rasa hormat yang mendalam terhadap hukum dan tatanan. 2) Untuk menyalur dan menanamkan informasi serta keperluan informasi yang diperlukan supaya berhasil di dalam tatanan sosial yang ada.  Ciri-ciri umum Konservatisme Pendidikan bahwa pengetahuan adalah sebuah cara untuk mengajukan nilai-nilai sosial yang mapan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

38

1) Menganggap bahwa nilai dasar pengetahuan ada pada kegunaan sosialnya,

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
2) Menekankan peran manusia sebagai warganegara; manusia dalam perannya sebagai anggota sebuah negara yang mapan. 3) Menekankan penyesuaian diri yang bernalar; menyandarkan diri pada jawabanjawaban terbaik dari masa silam sebagai tuntunan yang paling bisa dipercaya untuk memandu tindakan di masa kini. 4) Memandang pendidikan sebagai sebuah pembelajaran (sosialisasi) nilai-nilai sistem yang mapan. 5) Memusatkan perhatian kepada tradisi-tradisi dan lembaga-lembaga sosial yang ada, menekankan situasi sekarang (yang dipandang melalui sudut pandang kesejarahan (etnosentris). 6) Menekankan stabilitas budaya, melebihi kebutuhan akan pembaharuan/perombakan budaya, hanya menerima perubahan-perubahan yang pada dasarnya cocok dengan tatanan sosial yang sudah mapan. 7) Berdasarkan sebuah sistem budaya tertutup (etnosentrisme), menekankan tradisi-tradisi sosial yang dominan, dan menekankan perubahan secara bertahap di dalam situasi sosial yang secara umum stabil. 8) Mengakar pada kepastian-kepastian yang sudah teruji oleh waktu, dan meyakini bahwa gagasan-gagasan serta praktik-praktik kemapanan lebih sahih dan berhasil ketimbang gagasan-gagasan serta praktik-praktik yang lahir dari spekulasi yang relatif tak terkendalikan. 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi adalah budaya dominan dengan segenap sistem keyakinan dan perilakunya yang mapan  Anak sebagai Pelajar Siswa memerlukan bimbingan yang ketat serta pengarahan yang jelas sebelum ia menjadi terbelajarkan (tersosialisasikan) secara efektif sebagai seorang warga negara yang bertanggung jawab. Kesamaan-kesamaan individual lebih penting ketimbang perbedaan-perbedaannya. Dan kesamaan-kesamaan itu menentukan dalam menetapkan program-program pendidikan yang tepat. yang relatif dangkaldan berpusat pada etnisnya sendiri
39

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Anak-anak secara moral setara di dalam sebuah dunia kesempatan-kesempatan di dalam dunia objektif yang tak setara; mereka harus memiliki kesempatan setara untuk mengejar sejumlah ganjaran terbatas yang tersedia. Namun keberhasilan musti dikondisikan berdasarkan prestasi kebaikan personal. Seorang anak pada intinya menentukan nasibnya sendiri; ia memiliki kehendak bebas personal dalam arti yang tradisional.  Administrasi dan Pengendalian Wewenang pendidikan musti ditanamkan dalam diri para pendidikan profesional yang matang serta bertanggung jawab yang memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap proses yang telah ditetapkan dalam yang cukup bijaksana untuk menghindari perubahan-perubahan yang berlebih-lebihan dalam menanggapi tuntutan masyarakat luas. Wewenang guru mesti didasarkan pada peran dan status sosial yang dimilikinya.  a) b) c) d) e) f) Hakikat Kurikulum Sekolah mesti melakukan pembelajaran politis, melatih siswa untuk Sekolah harus memperhatikan pada pengkondisian sosial membantu siswa Penekanan harus diletakkan pada keterampilan-keterampilan dasar, Mata pelajaran apa saja yang akan diajarkan harus diarahkan sepenuhnya. Penekanan mesti diletakkan pada yang akademik melebihi yang praktis Sekolah harus menekankan pelatihan yang dasar dalam hal keterempilanmenjadi warga negara yang baik. untuk mencapai pemenuhan nilai-nilai budaya konvensional. pengetahuan praktis dan pelatihan watak.
40

dan yang intelek. keterampilan belajar yang fundamental (the three R’s). sebuah tinjauan sepintas mengenai ilmu-ilmu alam yang mendasar, pendidikan fisik (termasuk pelajaran tentang kesehatan), serta pendekatan yang relatif bersifat akademis kepada ilmuilmu pengetahuan sosial yang lebih konvensional (sejarah bangsa/negara, lembaga politik negara, sejarah dunia, dan sebagainya).  Metode-metode Pengajaran dan Penilaian Hasil Belajar

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
1) Harus ada penyesuaian praktis antara tatacara-tatacara di ruang kelas yang tradisional dengan yang progresif, sang guru mesti menggunakan metode apapun yang paling efektif dalam meningkatkan kegiatan belajar, namun ia harus lebih cenderung ke arah menyesuaikan tatacara-tatacara taradisional dengan cara-cara baru seperti misalnya peragaan, studi lapangan, penelitian di laboratorium, dan sejenisnya. Ketimbang condong ke arah yang menjauhi praktik-praktik pengajaran yang mapan (umpamanya sistem ‘sekolah bebas’, pengajaran tanpa diarahkan ataupun pengajaran indivdiual). 2) Pendisiplinan jasmani dan mental (lewat baris-berbaris, berhitung di luar kepala, menghapal, dan sebagainya) adalah cara terbaik untuk memapankan kebiasaan yang tepat di tingkat-tingkat pendidikan yang lebih rendah; namun harus dikembangkan ke arah pendekatan-pendekatan yang lebih terbuka dan lebih intelektual (misalnya ceramah dan diskusi terarah) di tahap-tahap pendidikan lanjut; hapalan dan belajar secara otomatis adalah perlu. 3) Yang terbaik adalah belajar dengan ditentukan dan diarahkan oleh guru. Namun para siswa mesti diijinkan berperans serta dalam aspek-aspek yang kurang penting dalam perencanaan pendidikan. 4) Sang guru harus dipandang sebagai seorang pakar ‘penyuntik’ pengetahuan serta keterampilan-keterampilan khusus. 5) Tes-tes untuk mengukur keterampilan serta informasi yang dikuasai siswa lebih baik ketimbang tes-tes yang diberikan untuk menguji kemampuan analitis atau spekulatif abstrak. 6) Persaingan antarpersonal untuk mengejar peringkat antara siswa-siswai adalah perlu sekaligus dikehendaki demi memupuk keunggulan. 7) Penekanan diletakkan kepada yang kognitif dengan penekanan kedua pada yang efektif serta yang bersifat antarpribadi. 8) Penekanan mesti diletakkan pada pelestarian prinsip-prinsip dan praktik-praktik pendidikan yang konvensional. 9) Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan harus dibatasi hanya untuk siswa-siswi yang mengalami problem emosional yang berat, yang
41

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar dalam situasi persekolahan yang normal  Kendali di Ruang Kelas Siswa-siswi harus menjadi warga negara yang baik dalam ranah pandangan budaya dominan mengenai kewarganegaraan yang baik dan perilaku yang baik. Pada guru secara umum harus bersifat non-permisif, tidak membolehkan segala hal dalam tatacara-tatacara memegang kendali di ruang kelas. Namun wewenang guru mesti disisipi dengan penalaran. Pendidikan moral (pelatihan watak) adalah satu dari aspek-aspek penting persekolahan. 4. Liberalisme Pendidikan Bagi seorang pendidik liberal, tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana caranya menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupannya sendiri secara efektif. Liberalisme pendidikan ini berbeda-beda dalam intensitasnya, dari yang relatif lunak, yakni liberalisme metodis yang diajukan oleh teoretisi seperti Maria Montessori, ke liberalisme direktif (liberalisme yang bersifat mengarahkan) yang barangkali paling sarat dengan muatan filosofi John Dewey hingga ke liberalisme nondirektif, atau ‘liberalisme laissez faire’ (liberalisme tanpa pengarahan) yang merupakan sudut pandang A.S. Neill atau Carl Rogers. Beberapa landasan pendidikan Liberal (O’neill, 2002:352-354) yaitu: 1) Seluruh kegiatan belajar bersifat relatif terhadap sifat-sifat dan isi pengalaman personal. Pengalaman personal melahirkan pengetahuan personal, dan seluruh pengetahuan personal dengan demikian merupakan keluaran dari pengalaman/perilaku personal sehubungan dengan sejumlah kondisi objektif tertentu. (inilah prinsip dasar relatifisme psikologis) 2) Begitu subjektivitas (yakni sebuah rasa kesadaran personal yang diniatkan, yang semakin berkembang ke arah sebuah sistem diri yang mekar secara penuh, atau disebut juga ‘kepribadian’) muncul dari proses-proses perkembangan personal, seluruh tindakan belajar yang punya arti penting cenderung untuk bersifat
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

42

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
subjektif, dalam arti bahwa ia sebagian besar diatur oleh yang volisional, dan karenanya merupakan perhatian yang bersifat pilih-pilih atau selektif. (landasan subjektifisme). 3) Seluruh kegiatan belajar pada puncaknya mengakar pada keterlibatan dalam pengertian-inderawi yang aktif. (ini adalah landasan berbagai prinsip filosofis yang terkait dengan empirisme, behaviorisme, materialisme, dan empirisme biogis). 4) Seluruh kegiatan belajar pada dasarnya merupakan proses pengujian gagasangagasan, dalam situasi-situasi pemecahan masalah secara praktis. (prinsip dasar pragmatisme dan instrumentalisme). 5) Cara terbaik untuk mempelajari sesuatu – dan, sebagai implikasinya, juga cara terbaik untuk hidup, karena belajar secara efektif adalah kunci ke kehidupan yang efektif – adalah dengan cara melakukan penyelidikan kritis yang diatur oleh pengertian-pengertian eksperimental, yang mencirikan cara berpikir ilmiah. (Landasan eksperimentalisme filosofis dan eksperimentalisme ilmiah). 6) Pengalaman kejiwaan yang paling dini – pengalaman yang dialami oleh orang yang belajar (the learner) pada waktu ia masih kanak-kanak, termasuk latihanlatihan emosional dan kognitif yang pertama-tama diterimanya – sangatlah penting karena pengalaman itu berlangsung lebih dulu ketimbang pengalamanpengalaman logis dan psikologis lanjutannya. Pengalaman paling dini tadi menjadi landasan pembentukan kemapanan sistem-diri yang kemudian ada (dan pada gilirannya melahirkan subjektifitas), seperti juga menjadi dasar bagi prosesproses kepribadian yang lebih jauh lagi, yang muncul di usia yang lebih tua. (dasar sudut pandang psikologis developmentalisme). 7) Tindakan belajar dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensi emosional dari perilaku personal – yakni prinsip penguatan (reinforcement). Jika hal-hal lain setara, individu hanya mempelajari tindakan-tindakan yang menghasilkan konsekuensi-konsekuensi hedonis (kenikmatan atau ketidaknikmatan), entah itu yang bersifat fisik ataukah psikologis. Tindakan-tindakan netral yang sifatnya afektif (hedonis) tidaklah dipelajari (demi segala tujuan praktis), sedangkan perilaku yang dikuatkan secara negatif (artinya, ditolak) biasanya ditinggalkan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

43

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
demi perilaku bercorak lain yang memunculkan (atau menjanjikan munculnya) corak-corak pergaulan yang lebih positif. Prinsip kesenangan/kenikmatan mengatur seluruh pengalaman manusia. Dalam kegiatan belajar, jika hal-hal lain setara, pengalaman kenikmatan menentukan apa yang harus dipelajari selanjutnya, dan penyelidikan eksperimental menjadi cara belajar yang efektif, dan karena itu berguna untuk memaksimalkan pengalaman kenikmatan/kesenangan selama mungkin. (landasan hedonisme psikologis). 8) Karena manusia adalah mahluk sosial yang bersandar pada orang-orang lain untuk bertahan hidup selama masa bayi dan kanak-kanak, dan bergantung kepada kondisi-kondisi budaya yang menjamin perilaku yang berhasil baik dalam persaingan antar-spesies, maupun dalam persaingan antar-masyarakat dalam spesies (manusia) itu sendiri, ataupun persaingan antar-individu dalam sebuah masyarakat; maka kegiatan belajar secara personal selalu berlangsung dalam konteks pengalaman sosial, dan hakikat serta isi pengalaman sosial itu, secara logis maupun psikologis, mendahului pengalaman yang murni bersifat personal. Dengan begitu, maka seluruh pengalaman personal sejalan dengan (atau cocok dengan) rumusan sosial mengenai kenyataan (rumus itu sudah ada lebih dulu dan sudah mendominasi). (Inilah landasan relatifisme budaya). 9) Penyelidikan eksperimental, seperti juga jenis persekolahan yang tersimpul di dalam orientasi nilai semacam itu, hanya bisa ada di bawah kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan dilakukannya penyelidikan eksperimental sejati, khususnya penerapan metode-metode penelitian ilmiah kepada berbagai persoalan personal dan sosial – bukan hanya sekadar diterapkan di wilayah ilmu-ilmu pengetahuan fisik yang bebas nilai saja. Singkatnya, sebuah proses penyelidikan personal yang bersifat terbuka dan kritis, jika diangkat menjadi sebuah sasaran/tujuan kolektif bagi masyarakat secara keseluruhan, menyiratkan adanya sejenis organisasi budaya yang mampu menyediakan berbagai prasyarat sosial, ekonomi, dan politik demi perwujudan pemikiran eksperimental. Penyelidikan personal apapun yang terbuka dan kritis memerlukan sebuah masyarakat yang terbuka (yang demokratis) yang berdiri di atas landasan pembagian kekuasaan ekonomis yang relatif merata, dan menampilkan hak-hak politik yang rinci dan gamblang, dalam
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

44

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
wilayah kebebasan berbicara, kebebasan berserikat, dan seterusnya. (Landasan cita-cita ‘demokrasi sosial’). 10) Berdasarkan kondisi-kondisi yang dipaparkan di atas, seorang anak dengan potensi rata-rata dapat menjadi efektif secara personal sekaligus bertanggungjawab secara sosial. Kecerdasan praktis terlatih, yang dipandang sebagai tujuan sosial, dapat menjadi dasar bagi lingkaran sinergisme positif sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, dan karena itu kecerdasan praktis yang terlatih mengabsahkan adanya sikap optimistis sehubungan dengan kemampuan manusia untuk mengatur dirinya sendiri secara cerdas. Ideologi mendasar liberalisme pendidikan dengan demikian dapat diuraikan sebagai berikut. • efektif. • Sasaran-sasaran Sekolah Sekolah ada lantaran dua alasan mendasar: 1) Menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan oleh siswa untuk belajar secara efektif bagi dirinya sendiri. 2) Untuk mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan masalah praktis lewat penerapan tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasarkan pada metode-metode ilmiah-rasional. • Ciri-ciri Umum Liberalisme Pendidikan untuk digunakan dalam pemecahan masalah secara praktis, bahwa pengetahuan adalah sebuah jalan ke arah tujuan berupa perilaku efektif dalam menangani situasi-situasi sehari-hari. 2) Menekankan kepribadian unik dalam diri tiap individu, atau ketunggalan (singularitas) setiap pribadi sebagai sebuah pribadi. 3) Menekankan pemikiran efektif (kecerdasan praktis), mengarahkan perhatian utamanya kepada kemampuan setiap individu untuk menyelesaikan persoalanpersoalan personalnya sendiri secara efektif.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

45

Tujuan Pendidikan Secara Keseluruhan

Tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang

1) Menganggap bahwa pengetahuan terutama berfungsi sebagai sebuah alat

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
4) Memandang pendidikan sebagai perkembangan dari keefektivan personal. 5) Memusatkan perhatian kepada tatacara-tatacara pemecahan masalah secara individual maupun berkelompok, menekankan situasi sekarang dan masa depan yang dekat sebagaimana dipahami berdasarkan kebutuhan-kebutuhan serta problem-problem individual yang ada. 6) Menekankan perubahan sosial secara tidak langsung, melalui perkembangan kemampuan tiap orang berperilaku praktis dan efektif, dalam mengejar sasaran-sasaran personalnya sendiri, menekankan perubahan-perubahan berskala kecil yang terus menerus/berkelanjutan, di dalam sebuah situasi yang pada umumnya stabil. 7) Berdasarkan kepada sebuah sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/atau prakiraan-prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan itu. 8) Dididirikan di atas tatacara-tatacara pembuktian secara ilmiah-rasional 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi terletak pada pengetahuan yang diperoleh dari pembuktian eksperimental dan/atau tatacara-tatacara pengambilan keputusan secara demokratis. • Anak Sebagai Pelajar Seorang anak pada umumnya cenderung untuk menjadi baik (yakni, untuk menginginkan/melakukan tindakan yang efektif dan tercerahkan) berdasarkan konsekuensi-konsekuensi berkelanjutan. Perbedaan-perbedaan individual lebih penting ketimbang persamaanpersamaannya, dan perbedaan-perbedaan itu bersifat menentukan (determinatif) dalam penetapan program-program pendidikan. Anak-anak secara moral setara, dan mereka mesti memiliki kesetaraan kesempatan untuk berjuang demi ganjaran-ganjaran sosial yang pada dasarnya disetarakan (dibagikan merata). Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan diri yang bersifat sosial itu menjadi dasar bagi seluruh penentuan ‘diri’ selanjutnya: si anak adalah ‘bebas’ hanya di dalam konteks determinisme sosial dan psikologis.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

46

alamiah

dari

perilakunya

sendiri

yang

terus

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
• Administrasi dan Pengendalian Pendidikan
47

Wewenang pendidikan harus ditanamkan di tangan para pendidik yang telah memperoleh latihan tingkat tinggi, yang memiliki komitmen terhadap proses penyelidikan kritis dan yang mampu membuat perubahan-perubahan yang diperlukan sehubungan dengan informasi baru yang relevan. Wewenang guru harus didasarkan terutama pada keterampilan-keterampilan yang dimilikinya dalam bidang pendidikan. • Sifat-sifat Hakiki Kurikulum menyesuaikan diri secara efektif dengan tuntutan-tuntutan situasinya sendiri sebagaimana ia memahami situasi tersebut. 2) Sekolah mesti menekankan pemecahan masalah secara praktis 3) Penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara penyelesaian masalah secara praktis. 4) Pelajaran harus bersifat ditentukan lebih dulu/wajib sekaligus pilihan, dengan penekanan yang kira-kira seimbang/sama besar. 5) Penekanan harus diletakkan pada yang bersifat intelektual dan praktis melebihi yang akademik. 6) Sekolah harus menekankan penjelajahan yang terbuka dan kritis ke dalam masalah-masalah dan isu-isu kontemporer, sebagaimana itu semua dipahami sebagai hal-hal penting oleh para siswa sendiri. Penekanan utama mesti diarahkan ke pendekatan-pendekatan pemecahan masalah yang berdasarkan kegiatan kelompok serta bersifat antar-disiplin (keilmuan), melibatkan pelatihan dalam area-area tertentu seperti misalnya logika praktis, metode ilmiah, ilmu-ilmu pengetahuan sosial dan behavioral, sejarah, dans sebagian besar dari ilmu-ilmu alam serta humanistik. • Metode-metode Pengajaran dan Penilaian Hasil Belajar Guru harus menyandarkan diri terutama pada tatacara-tatacara pemecahan masalah secara individual maupun kelompok yang diterapkan pada persoalanpersoalan yang dikenali berdasarkan minat-minat personal para siswa sendiri,
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

1) Sekolah harus menekankan keefektifan pesonal, melatih anak untuk

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
penekanan harus diletakkan pada tatacara-tatacara di ruang kelas yang lebih terbuka dan bersifat eksperimental. Disiplin dan hapalan bisa bernilai jika ia diperlukan demi menguasai suatu keterampilan yang pada puncaknya akan diperlukan untuk menangani problema personal yang penting secara efektif. Namun kegiatan belajar cenderung untuk menjadi sebuah dampak sampingan dari sebuah kegiatan yang bermakna; dan disiplin serta hapalan harus ditekan hingga menjadi seminimal mungkin. Kegiatan belajar yang diarahkan oleh siswa, seiring dengan perencanaan pendidikan yang bersifat persekutuan (kolaboratif) antara guru dengan para siswa, adalah kegiatan belajar yang lebih baik ketimbang yang ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sang guru mesti dipandang sebagai pengorganisir dan penuntun kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalaman belajar. Ujian yang didasarkan pada peragaan aktif (simulasi) yang bersifat praktis di kelas dalam situasi-situasi yang mirip dengan kehidupan cenderung lebih baik ketimbang ujian biasa lewat kertas dan pensil. Persaingan antar pribadi serta penjenjangan atau penyusunan peringkat nilai siswa harus diminimalisir dan/atau dilenyapkan sama sekali karena yang seperti itu menyuburkan sikap-sikap buruk dan melemahkan motivasi diri siswa. Penekanan mesti diletakkan pada yang bersifat afektif (motivasi), yang membentuk dasar bagi yang kognitif; landasan-landasan inderawi, daya tangkap dan motorik-emosional juga penting artinya bagi kegiatan belajar. Penekanan mesti diletakkan pada penyesuaian prinsip-prinsip dan praktik-praktik yang ada sekarang dengan yang lebih baik. Bimbingan dan penyuluhan personal serta terapi kejiwaan adalah aspek pusat persekolahan yang normal, sebab keduanya menjamin kondisi-kondisi/syarat-syarat emosional yang diperlukan bagi berlangsungnya kegiatan belajar yang efektif. • Kendali Ruang Kelas Para siswa harus dianggap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri dalam arti seketika, namun haruslah diakui bahwa pertanggungjawaban siswa pada puncaknya tidak dapat dituntut dalam ranah konsep tradisional apapun tentang ‘kehendak bebas’
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

48

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Para guru secara umum harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolok ukur tingkah laku; ia harus meminta nasihat/usulan dan persetujuan siswa dalam memapankan aturan-aturan tentang perilaku di dalam kelas. Lantaran tindakan bermoral pada puncaknya adalah tindakan paling cerdas yang tersedia dalam situasi khusus yang manapun juga, maka pendidikan moral (pelatihan watak) pastilah merupakan keluaran sampingan dari tindakan guru membantu siswa untuk mengembangkan kemampuannya untuk memecahkan masalah secara efektif. 5. Liberasionisme Pendidikan Liberasionisme adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita mesti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Liberasionisme pendidikan mencakup sebuah spektrum pandangan yang luas, yang merentang dan liberasionisme pembaharuan yang relatif bersifat konservatif, yang diajukan dipertengahan 1960-an dalam berbagai protes menuntut hak-hak warga negara, ke komitmen yang kuat dan mendesak terhadap liberasionisme revolusioner (seringkali Marxis) dengan seruannya agar sistem pendidikan segera mengambil peran aktif dalam menggulingkan tatanan politik yang ada sekarang. Bagi pendidik liberasionis, sekolah haruslah bersifat obyektif (rasional-ilmiah), namun tidak sentral. Sekolah memiliki fungsi ideologis: ia ada bukan hanya untuk mengajarkan kepada siswa bagaimanakah cara berpikir yang efektif (secara rasional dan ilmiah), melainkan juga untuk membantu siswa mengenai kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan, yang tersedia sehubungan dengan berbagai problema manusia yang terpenting. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka, namun ia mencakup komitmen tertentu terhadap rangkaian tindakan apa pun yang didukung oleh kesepakatan yang sarat pengetahuan dan bersifat obyektif dalam komunitas intelektual di suatu saat tertentu. Pada puncaknya, liberasionisme pendidikan adalah sebuah orientasi ‘berpusat pada problem atau tatacara’. Namun ia juga meliputi komitmen kedua yang kuat terhadap jawaban-jawaban terbaik yang dibuat oleh
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

49

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
kecerdasan yang terlatih. Ia memandang bahwa sekolah secara moral berkewajiban untuk mengenali dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolah pun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Ideologi dasar liberasionisme pendidikan adalah sebagai berikut.  Tujuan Pendidikan secara Menyeluruh Tujuan utama pendidikan adalah untuk mendorong pembaharuan-pembaharuan sosial yang perlu, dengan cara memaksimalkan kemerdekaan personal di dalam sekolah, serta dengan cara membela kondisi-kondisi yang lebih manusiawi dan memanusiakan di dalam masyarakat scara umum.  Sasaran-sasaran Sekolah Sekolah ada lantaran tiga alasan utama: 1) Untuk membantu para siswa mengenali dan menanggapi kebutuhan akan pembaharuan/perombakan sosial 2) Untuk menyediakan informasi dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan siswa supaya bisa belajar secara efektif bagi dirinya sendiri. 3) Untuk mengajar para siswa tentang bagaimana caranya memecahkan masalah-masalah praktis melalui penerapan teknik-teknik penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok yang didasari oleh metodemetode ilmiah-rasional.  Ciri-ciri Umum Libersionisme Pendidikan melakukan pembaharuan/perombakan sosial. 2) Menekankan manusia sebagai sebentuk keluaran budaya, budaya merupakan penentu-sosial kedirian. 3) Menekankan analitis objektif (ilmiah-rasional) serta evaluasi/penilaian terhadap kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik sosial yang ada. 4) Menganggap pendidikan sebagai perujudan yang paling utuh dari potensipotensi khas tiap orang sebagai mahluk manusia.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

50

1) Menganggap bahwa pengetahuan adalah alat yang diperlukan untuk

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
5) Memusatkan perhatian kepada kondisi-kondisi sosial yang menghalanghalangi perujudan paling penuh dari potensi-potensi individu, menekankan masa depan (yakni, perubahan-perubahan dalam sistem yang ada sekarang, yang perlu untuk mendirikan masyarakat yang lebih manusiawi dan memanusiakan). 6) Menekankan perubahan-perubahan ruang lingkup besar yang segera harus dilakukan di dalam masyarakat yang ada sekarang, menekankan perubahanperubahan penting yang akan mempengaruhi sifat-sifat hakiki dan pelaksanaan sistem sosial yang mapan. 7) Didasarkan pada sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/atau prakiraanprakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan semacam itu. 8) Didirikan di atas landasan prakiraan-prakiraan Marxis atau Marxis baru tentang seluruh kesadaran personal yang ditentukan oleh faktor sosialekonomis 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual tertinggi ada di tangan mereka yang memahami konsekuensi-konsekuensi patologis (bersifat merusak/berpenyakit) dari kapitalisme kontemporer dan segenap sikap sosial yang dihubungkan dengannya.  Anak-anak Sebagai Pebelajar Anak-anak condong untuk menjadi baik (yakni, ke arah tindakan yang efektif dan tercerahkan) jika diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik (yakni bersifat rasional dan berkemanusiaan) Perbedaan-perbedaan individual lebih penting ketimbang kesamaan-kesamaan individual, dan perbedaan-perbedaan itu bersifat menentukan dalam penetapan program-program pendidikan. Anak-anak secara moral setara dan mereka mesti mendapatkan kesempatan yang setara untuk berjuang demi ganjaran-ganjaran sosial dan intelektual yang lebih luas, lebih mudah diakses, dan dibagikan secara lebih adil/merata.
51

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan dari yang bersifat sosial ini menjadi landasan bagi penentuan ‘diri’ lanjutan, anak hanya bebas di dalam konteks determinisme sosial dan psikologis.  Administrasi dan Pengendalian Wewenang pendidikan mesti ditanamkan di tangan minoritas yang tercerahkan, yang terdiri atas para intelektual yang bertanggung-jawab, yang sepenuhnya sadar akan kebutuhan objektif bagi perubahan-perubahan sosial yang konstruktif, dan yang mampu menanamkan perubahan-perubahan semacam itu melalui sekolah-sekolah. Wewenang guru mesti terutama didasari ketajaman intelektualnya serta kesadaran sosialnya yang tercerahkan.  Sifat-sifat Hakiki Kurikulum 1) Sekolah harus menekankan pembaharuan/perombakan sosio-ekonomis 2) Sekolah mesti memusatkan perhatian pada pemahaman diri serta tindakan sosial sekaligus. 3) Penekanan mesti diletakkan pada tindakan yang cerdas dalam mengejar keadilan sosial. 4) Mata pelajaran harus bersifat pilihan dalam batas-batas penentuan yang umum. 5) Penekanan harus diletakkan pada penerapan praktis dari yang sifatnya intelektual (praksis) melebihi apa yang secara sempit bersifat praktis ataupun akademis. 6) Sekolah mesti menekankan problema-problema sosial yang kontroversial, menekankan pengenalan dan analisis terhadap nilai-nilai dan prakiraanprakiraan dasar yang menggarisbawahi isu-isu sosial, dan memperagakan kepedulian khusus terhadap penerapan apa yang dipelajari di dalam ruang kelas kepada kegiatan-kegiatan yang punya arti penting secara sosial di luar sekolah; sekolah mesti secara tipikal menampilkan pendekatan-pendekatan antar-disiplin keilmuan yang berpusat pada problema, yang meliputi wilayah kajian seperti filosofi, psikologi, kesusasteraan kontemporer, sejarah, dan ilmu-ilmu behavioral dan sosial.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

52

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
 Metode-metode Pengajaran serta Penilaian Hasil Belajar
53

Harus ada penekanan yang kurang lebih seimbang atau setara pada pemahaman problema (pengenalan dan analisis terhadap problema-problema secara tepat) serta pemecahan masalah. Disiplin dan hapalan mungkin kadang-kadang perlu supaya bisa menguasai sebuah keterampilan yang akan diperlukan demi manangani problema-problema personal atau sosial yang penting secara efektif, namun kegiatan belajar pada dasarnya adalah keluaran sampingan dari kegiatan yang bermakna, dan hapalan harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin. Kegiatan belajar mengajar yang diarahkan oleh siswa dalam kerangka kerja kurikulum yang ditentukan berdasarkan relevansi sosialnya adalah lebih tinggi/lebih baik daripada belajar dengan ditentukan dan diarahkan oleh guru. Sang guru dipandang sebagai panutan dalam hal komitmen intelektual serta keterlibatan sosialnya. Ujian yang didasarkan kepada perilaku para siswa yang tanpa dilatih/dipesiapkan lebih dulu sebagai tanggapan atas persoalan-persoalan sosial yang penting adalah lebih disukai ketimbang ujian yang dinilai berdasarkan testes biasa di ruang kelas. Persaingan antarpribadi dan penyusunan peringkat nilai siswa secara tradisional harus diminimalisir dan/atau dihapus sama sekali jika mungkin, sebab hal-hal semacam itu menuntun siswa pada sikap-sikap buruk dan motivasi diri yang merosot. Penekanan harus diletakkan pada perlunya lembaga-lembaga sosial yang baru (termasuk lembaga pendidikan). Bimbingan dan penyuluhan personal, serta terapi kejiwaan, sebagaimana ada di luar sekolah di saat ini, umumnya berfungsi sebagai bentuk tersembunyi dari kontrol sosial dan pelatihan penyesuaian diri anak, yang menghalangi kesadaran anak akan kondisi-kondisi sosial yang melatarbelakanginya, yang melahirkan problema-problema kejiwaan individual.  Kendali di Ruang Kelas Para siswa mesti dianggap bertanggungjawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri dalam arti seketika, namun mesti diakui bahwa pertanggungjawaban
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
siswa pada puncaknya tidak bisa dituntut dalam arti menurut konsep ‘kehendak bebas’ tradisional. Para guru harus bersifat demokratis dan objektif dalam menentukan tolok ukur perilaku, dan tolok ukur semacam itu harus ditentukan secara bersama-sama dengan para siswa, sebagai cara mengembangkan rasa tanggung-jawab moral mereka. Lantaran tindakan yang bermoral adalah tindakan yang paling cerdas, dalam situasi apapun, maka peningkatan kecerdasan praktis adalah corak pendidikan moral yang paling efektif. Di sisi lain, tindakan yang cerdas, sebagai sebuah cita-cita atau corak ideal secara sosial yang dianjurkan, memerlukan adanya masyarakat yang cerdas (yang objektif) di mana setiap orang diberi kesempatan yang setara untuk membuat pilihan-pilihan tercerahkan berdasarkan kesempatan-kesempatan pendidikan yang setara. 6. Anarkisme Pendidikan Penganut anarkisme pada umumnya menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah) sama halnya dengan pendidik liberal dan liberasionis, atau menerima prakiraan-prakiraan yang dianggap selaras dengan sistem pendidikan semacam itu. Perbedaannya terletak pada anggapan pendidik anarkisme yang menganggap bahwa kita harus menekankan perlunya meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa kita mesti, sejauh mungkin yang bisa kita lakukan mendeinstitusinalisasikan masyarakat, membuat masyarakat bebas-lembaga. Bagi mereka, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan. Pemikiran-pemikiran semacam ini terpancar dalam pemikiran-pemikiran Ivan Illich dan Paul Goodman. Sudut pandang anarkisme pendidikan meliputi berbagai posisi yang merentang dari anarkisme taktis, yang ingin melebur sekolah-sekolah sebagai cara untuk membebaskan kekayaan dan sumberdaya (yang terpakai di sana) untuk keperluan-keperluan sosial yang
54

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
mendesak, hingga ke anarkisme utopis, yang memimpikan terciptanya masyarakat yang secara permanen terbebaskan dari segala pembatasan kelembagaan. Dalam hal ini, ideologi dasar anarkisme pendidikan adalah:  Tujuan Pendidikan Secara Keseluruhan Tujuan utama pendidikan adalah untuk membawa pembaharuan/perombakan berskala besar dan segera, di dalam masyarakat, dengan cara menghilangkan persekolahan wajib.  Tujuan-tujuan Sekolah Sistem persekolahan formal yang ada sekarang harus dihapuskan sepenuhnya dan digantikan dengan sebuah pola belajar sukarela serta mengarahkan diri sendiri; akses yang bebas dan universal ke bahan-bahan pendidikan serta kesematankesempatan belajar mesti disediakan, namun tanpa sistem pengajaran wajib.  Ciri-ciri umum Anarkisme Pendidikan product) alamiah dari kehidupan sehari-hari. 2) Menganggap kepribadian individual sebagai sebuah nilai yang melampaui tuntutan-tuntutan masyarakat manapun. 3) Menekankan pilihan bebas dan penentuan nasib sendiri dalam sebuah latar belakang sosial yang waras dan humanistik (berorientasi pada pribadi). 4) Menganggap pendidikan sebagai sebuah fungsi alamiah dari kehidupan seharihari di dalam lingkungan sosial yang rasional dan produktif. 5) Memuaskan perhatian kepada perkembangan sebuah ‘masyarakat pendidikan’ yang melenyapkan atau secara radikal meminimalisir keperluan akan adanya sekolah-sekolah formal, juga seluruh kekangan terlembaga lainnya atau perilaku personal. Menekankan masa depan paska-kesejarahan (posthistorical) di mana orang akan mampu berfungsi sebagai mahluk-mahluk bermoral yang mengatur diri sendiri. 6) Menekankan perubahan berkelanjutan serta pembaharuan diri di dalam sebauh masyarakat yang secara lahir kembali, menekankan kebutuhan untuk meminimalkan dan/ atau mengenyahkan kekangan-kekangan terlembaga atas perilaku personal (deinstitusionalisasi).
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

55

1) Menganggap bahwa pengetahuan adalah sebuah keluaran-sampingan (by-

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
7) Didasarkan pada sebauh sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan secara ilmiah-rasional) dan/ atau berlandaskan prakiraan-prakiraan yang sesuai dengan sistem penyelidikan semacam itu. 8) Berdiri di atas prakiraan-prakiraan anarkistis atau semu-anarkistis mengenai bisa disempurnakannya moral manusia di bawah kondisi-kondisi sosial yang paling puncak. 9) Menganggap bahwa wewenang intelektual secara tepat ada di tangan mereka yang secara tepat telah mendiagnosis konflik dasar yang ada antara keperluankeperluan individual dengan tuntutan-tuntutan negara.  Anak sebagai Pebelajar Anak-anak cenderung menjadi baik (yakni, menginginkan tindakan yang efektif dan tercerahkan) ketika anak-anak itu diasuh dalam sebuah masyarakat yang baik (yakni rasional dan berkemanusiaan). Perbedaan-perbedaan setiap orang. Anak-anak secara moral setara, dan mereka mesti mendapatkan kesempatankesempatan untuk belajar apapun yang mereka pilih sendiri, demi memperoleh tujuan apapun yang mereka anggap layak dikejar. Kedirian (kepribadian) tumbuh dari pengkondisian sosial, dan diri yang bersifat sosial ini menjadi landasan bagi seluruh penentuan ‘diri’ selanjutnya. Anak bebas hanya dalam konteks determinisme sosial dan psikologis. Masyarakat dan negara tidaklah sama artinya (tidak sinonim). Masyarakat adalah perlu bagi pemenuhan diri. Tetapi negara menghalangi perujudan sepenuhnya masyarakat tersebut.  Administrasi dan Pengendalian Wewenang pendidikan mesti dikembalikan kepada rakyat dengan mengizinkan setiap orang untuk mengendalikan hakikat dan pelaksanaan perkembangan dirinya sendiri. Tidak perlu ada wewenang khusus yang diberikan pada guru sebagai guru  Sifat-sifat Hakikat Kurikulum 1) Sekolah harus dihapuskan demi memperbesar pilihan personal yang bebas.
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

56

antar-individu

bergerak

menentang

kebijaksanaan

meresepkan pengalaman-pengalaman pendidikan yang sama atau serupa bagi

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
2) Pendidikan tidak sama dengan persekolahan; satu-satunya kegiatan belajar yang sebenarnya hanyalah belajar yang ditentukan sendiri; dan ini hanya bisa berlangsung secara efektif di dalam sebuah masyarakat yang ‘tanpa sekolah’ 3) Penekanan harus diletakkan pada pemungkinan tiap individu untuk menentukan tujuan-tujuan belajarnya sendiri. 4) Di dalam tuntutan-tuntutan yang dikenakan oleh sistem keberadaan sosial manapun (yang mengisyaratkan perlunya pengalaman-pengalaman sosial tertentu dan dengan demikian juga kegiatan belajar bersama/umum), seluruh kegiatan belajar harus ditentukan sendiri oleh yang belajar. 5) Penekanan harus diletakkan pada apa yang relevan secara personal dengan mengorbankan pembedaan tradisional antara apa yang akademis, yang intelektual, dan yang praktis. 6) Setiap orang harus bebas untuk menentukan hakikat dan sejauhmana ia akan belajar.  Metode-metode Pengajaran dan Penilaian Hasil belajar mana yang paling sesuai dengan tujuan-tujuan dan rancangan-rancangan pendidikannya sendiri. b) Nilai disiplin dan hapalan serta lain-lainnya yang berkaitan dengan itu harus diberikan menjadi ‘rahasia’ orang yang belajar itu sendiri; mereka yang menghendaki pendekatan-pendekatan direktif atau otoritarian terhadap kegiatan belajar mesti bebas untuk memilih pendekatan seperti itu dengan dasar individual. c) Peran-peran tradisional guru dan siswa yang diterapkan oleh lembaga harus dihapuskan. d) Guru adalah sebuah aspek yang bisa dihapus/dibuang (atau paling banter; menjadi sebuah pilihan saja) dari proses pendidikan. e) Penilaian/evaluasi yang terbaik adalah penilaian diri sendiri, yang harus difungsikan hampir secara eksklusif untuk tujuan persaingan diri. f) Secara alamiah manusia bersifat sosial dan mau bekerjasama. Dan sejalan dengan itu, kegiatan belajar harus menekankan kerjasama meminimalkan
Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

57

a) Siswa secara individual mesti menjadi penentu metode-metode pengajaran

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
persaingan antarpribadi demi ganjaran-ganjaran. Lantaran individu secara alamiah bersifat mengujudkan diri, maka ia secara intrinsik memiliki persaingan-diri (bersaing dengan dirinya sendiri), serta tidak memerlukan dorongan dari luar untuk belajar. g) Pembedaan tradisional antara yang kognitif, afektif, dan interpersonal adalah pembedaan palsu/artifisial dan tidak produktif dalam memandang proses belajar yang sebenarnya bersifat total serta organis. h) Bisa dikatakan bahwa seluruh lembaga sosial yang berkelanjutan dan melestarikan diri sendiri (seperti sekolah-sekolah) harus dimusnahkan seluruhnya. i) Bimbingan dan penyuluhan individual, serta terapi kejiwaan, sebagaimana itu dilaksanakan melalui sekolah-sekolah, hanyalah satu bagian dari sistem pembatasan sosial yang dalam kenyataan menyebabkan timbulnya berbagai problema kejiwaan yang mereka pura-pura sembuhkan.  Kendali di ruang Kelas Anak-anak haruslah secara fundamental menentukan diri sendiri, dan gagasangagasan bahwa anak-anak sama dengan/sinonim dengan murid-murid adalah pelanggaran tersirat atas anggapan ini. Hakikat serta isi pengalaman-pengalaman sekolah (jika ada) harus ditentukan oleh individu-individu yang terlibat, dan tidak didiktekan oleh agen-agen dari luar. Hanya peran-peran tingkah laku yang tergantung situasi (situasional), yang diperoleh melalui kerjasama antara seluruh peserta dalam kondisi-kondisi yang ada, yang bisa diterima. Aturan-aturan umum yang diterapkan atas situasi-situasi tertentu tidaklah terkait secara organis dengan tuntutan-tuntutan situasi-situasi itu; dan dengan demikian salah dalam menampilkan jenis kendali yang dalam kenyataan mungkin diperlukan. Tindakan moral tak pelak lagi merupakan keluaran-sampingan dari kehidupan moral dalam sebuah masyarakat moral. Sekolah-sekolah hanya memainkan satu peranan insidental dalam menentukan tingkah laku bermoral.
58

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
59

BAB III PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURALISME, INSTRUMENTALISME DAN ESENSIALISME A. Pendidikan Strukturalisme B. Pendidikan Instrumentalisme C. Pendidikan Esensialisme BAB IV KARAKTERISTIK DAN POLA-POLA PENDIDIKAN A. Pendidikan di Eropa Abad ke-15 B. Karakteristik Pendidikan di Asia C. Karakteristik dan Pola Pendidikan di Negara Berkembang BAB V KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA A. Kebijakan Pendidikan Dasar Dan Menengah B. Otonomi Pendidikan Tinggi C. Otonomi Daerah dan Beberapa Kebijakan Mendasar D. Paradigma Baru Pendidikan Nasional BAB VI PENDIDIKAN DAN TANTANGAN MASA DEPAN A. Sumber Daya Manusia Indonesia B. Transformasi Pendidikan C. Pendidikan Nasional dan Globalisasi D. Mengkaji Ulang Sistem Pendidikan Nasional

DAFTAR PUSTAKA Jalal, Fasli & Dedi Supriadi. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa O’neil, William F. 2001. Ideologi-Ideologi Pendidikan, Alih Bahasa: Omi Intan Naomi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Sidi, Indra Djati, 2001. Menuju Masyarakat Belajar Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Jakarta: Paramadina.

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

PENGANTAR KEPENDIDIKAN
Thut, I.N & Don Adams, 2005. Pola-Pola Pendidikan Dalam Masyarakat Kontemporer. 60 Penerjemah: SPA Teamwork. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tilaar, H.A.R. 1997. Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Era Globalisasi Visi, Misi, dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020. Jakarta: PT. Grasindo -------,2002. Pendidikan Untuk Masyarakat Indonesia Baru 70 Tahun Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed. Jakarta: PT. Grasindo Tirtahardja, Umar & Lasulo. 1994. Pengantar Pendidikan, Jakarta: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud. Widodo, Sembodo Ardi, 2007. Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam. Jakarta: PT. Nimas Multima

Bahan ajar Pengantar Kependidikan program studi Pendidikan Matematika FKIP-UNIKAL Oleh: Muhammad Ali Gunawan, M.Pd.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->