P. 1
Layanan Program Akselerasi

Layanan Program Akselerasi

|Views: 1,800|Likes:
Published by Fera Winda Sari

More info:

Published by: Fera Winda Sari on Jun 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

PROGRAM PERCEPATAN BELAJAR ( AKSELERASI) SEBAGAI SALAH SATU INOVASI LABSCHOOL DALAM MEMBERIKAN LAYANAN BELAJAR BAGI SISWA

CERDAS ISTIMEWA oleh : M. Fakhruddin*

(Prof. Dr. SC. Utami Munandar)

PENDAHULUAN Memasuki tahun pelajaran 2008/2009 ini, program percepatan belajar atau program akselerasi sebagaimana yang dikenal oleh para guru dan penyelenggara sekolah akan memasuki satu dasa warsa dari awal penyelenggaraannya di tahun 1998 atau sewindu dari saat program ini digagas dan dicobakan pertama kalinya oleh SMP SMA Labschool Jakarta. Program yang secara bottom up muncul dari para praktisi di tingkat sekolah ini dalam perjalanannya kemudian difasilitasi dan dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional menjadi salah satu program dari Direktorat Pendidikan Luar Biasa Ditje n Dikdasmen (sekarang Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Mandikdasmen). Bahkan, pada tahun 2000 program ini secara resmi ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional RI sebagai salah satu program nasional melalui ujicoba dan diseminasi penyelenggaraan program terhadap beberapa sekolah di seluruh Indonesia. Dari saat program ini digulirkan sampai ketika pihak Departemen Pendidikan Nasional menfasilitasi upaya kajian dan pengembangan lebih lanjut menjadi seperti yang saat ini banyak dilaksanakan, progr am ini tidak sepi dari berbagai kritik. Namun demikian, program layanan ini masih tetap berjalan dan bahkan semakin menunjukkan adanya peningkatan, baik dari segi jumlah sekolah penyelenggara dan jumlah siswa yang dapat dilayani, maupun berbagai program pe ngembangan yang dilakukan terutama oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa serta telah menghasilkan berbagai kajian yang dilakukan oleh berbagai kalangan akademisi terutama di berbagai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari kekurangannya, program akselerasi muncul sebagai salah satu alternatif dari model penyelenggaraan layanan belajar bagi siswa cerdas istimewa. Tulisan singkat ini sama sekali tidak berpretensi untuk dapat memotret berbagai hal yang menjadi dinamika penyelenggaraan program akselerasi selama ini. Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mengupas beberapa perkembangan isu yang membayangi seputar penyelenggaraan program akselerasi pada akhir -akhir ini. Di antara isu dimaksud adalah sepu tar pengembangan konsep keberbakatan, pengembangan alat identifikasi, berdirinya asosiasi CI/BI, dan model penyelenggaran akselerasi di tengah persiapan pengembangan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.

TINJAUAN HISTORIS PENYELENGGARAAN PROGRAM AKSELERASI Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1974 dengan pemberian beasiswa bagi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapi lemah kemampuan ekonomi dan keluarganya. Selanjutnya pada tahun 1982, Balitbang Dikbud memben tuk Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat (KKPPAB). Kelompok Kerja ini mewakili unsur-unsur struktural serta unsur -unsur keahlian seperti Balitbang Dikbud, Ditjen Dikdasmen, Ditjen Dikti, Perguruan Tinggi, serta unsur keahlian di bidang sain s, matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa dan humaniora, serta psikologi. Kelompok Kerja tersebut antara lain bertugas untuk mengembangkan ”Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat”, serta merencanakan, mengembangkan, menyelengga-rkan, dan menilai kegiatan -kegiatan yang sesuai dengan rencana induk pengembangan anak berbakat. Kemudian, pada tahun 1984 Balitbang Dikbud menyelenggarakan perintisan pelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat SD, SMP, dan SMA di satu daerah perkotaan (Jakarta) dan satu daerah pedesaan (Kabupaten Cianjur). Program pelayanan yang diberikan berupa pengayaan (enrichment) dalam bidang sains (Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa), matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa (Inggris dan Indonesia), humaniora, serta keterampilan membaca, menulis, dan meneliti. Pelayanan pendidikan dilakukan di kelas khusus di luar program kelas reguler pada waktu -waktu tertentu. Perintisan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat ini pada tahun 1986 dihentikan seiring dengan pergantian pimpinan dan kebijakan di jajaran Depdikbud. Selanjutnya, pada tahun 1994 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program Sekolah Unggul (Schools of Excellence) di seluruh propinsi sebagai langkah awal kembali untuk menyediakan program pelayanan khusus bagi peserta didik dengan cara mengembangkan aneka bakat dan kreativitas yang dimilikinya. Namun akhirnya, program ini dianggap tidak cukup memberikan dampak positif pada siswa berbakat untuk mengembangkan potensi intelektualnya yang tinggi. Keluhan yang muncul di lapangan secara bersamaan didukung oleh temuan studi terhadap 20 SMA Unggulan di Indonesia yang menunjukkan 21,75 % siswa SMA Unggulan hanya mempunyai kecerdasan umum yang berfungsi pada taraf di bawah rata-rata, sedangkan mereka yang tergolong anak memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa hanya 9,7 % (Reni H., dkk., 1998). Pada tahun 1998/1999, SMP dan SMA Labschool Jakarta serta SMA Al -Azhar Syifa Budi Cikarang mencoba memberikan pelayanan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam bentuk program percepatan belajar (akselerasi). Pada tahun 2000 program dimaksud dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada Rakernas Depdiknas menjadi program pendidikan nasional. Pada kesempatan tersebut Mendiknas melalui Dirjen Dikdasmen menyampaikan Surat Keputusan (SK) Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Percepatan Belajar kepada 11 (sebelas) sekolah yakni satu SD, l ima SMP, dan lima SMA di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kemudian pada tahun pelajaran 2001/2002 diputuskan penetapan kebijakan pendiseminasian program percepatan belajar pada beberapa sekolah di beberapa propinsi di Indonesia. Sejak itu upaya pendiseminasian program ini

dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota melalui berbagai tahapan seperti pemetaan, sosialisasi, penetapan program rintisan, serta berbagai program pembinaan. Pada tahun 2001, seiring perkembangan otonomi daerah maka Direktorat Pendidikan Luar Biasa membatasi ujicoba penyelenggaraan program akselerasi kepada 56 sekolah yang telah mendapatkan SK, dan selanjutnya penetapan sekolah penyelenggara program akselerasi diserahkan ke wenangannya kepada Dinas Pendidikan Propinsi dan Kabupaten /Kota. Patut dicatat pula bahwa bagi Labschool model penyelenggaraan akselerasi yang dilakukan mulai tahun 1998/1999 ini sebenarnya bukan kali yang pertama karena sebelumnya Labschool pernah mengem bangkan program maju berkelanjutan atas dasar prinsip belajar tuntas serta model layanan sistim TKR. Program maju berkelanjutan dengan sistim modul dilakukan pada saat Labschool berstatus sebagai Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1974 -1986 dan sistim Tambahan Kredit (dikenal dengan sebutan TKR) pada kurun waktu 1986 -1990 tatkala kurikulum 1984 yang diberlakukan kala itu menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS). Melalui model program maju berkelanjutan maupun sistem TKR, Labschool telah melaya ni siswa yang memiliki keberbakatan intelektual untuk dapat menyelesaikan masa belajarnya lebih awal dibandingkan dengan siswa lainnya.

PERKEMBANGAN JUMLAH SEKOLAH PENYELENGGARA PROGRAM AKSELERASI Merujuk kepada data yang dihimpun oleh Direktorat Pembi naan Sekolah Luar Biasa, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, perkembangan jumlah sekolah penyelenggara dan peserta didik yang mengikuti program akselerasi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun. Jika pada tahun 1998/1999 baru dilaksanakan oleh 3 sekolah dengan jumlah peserta didik kurang dari 45 orang, maka pada tahun 2008 ini jumlah sekolah penyelenggara program akselerasi di seluruh Indonesia tercatat sejumlah 228 sekolah yang terdiri 53 SD, 80 SMP, dan 95 SMA dengan jumlah peserta didik sebanyak 5.488 yang terdiri atas 472 peserta didik jenjang SD, 2.399 SMP, dan 2.617 jenjang SMA. Angka ini diprediksikan akan mengalami peningkatan pada tahun 2009 menjadi 242 sekolah penyel enggara dengan jumlah peserta didik sejumlah 5.724 orang. Selengkapnya data dan proyeksi jumlah siswa dan sekolah yang memberikan layanan program akselerasi dari tahun 2003 -2009 adalah sebagai berikut :

2003

2004
SISWA SD

2005
SEKOLA H SD SISWA SMP

2006
SEKOLA H SMP

2007
SISWA SMA

2008
SEKOLA H SMA

2009

: Direktorat Pembinaan PLB, 2008.

LANDASAN YURIDIS Kesungguhan pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa secara tegas telah dinyatakan sejak Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1983, yang menyebut kan : "… Demikian pula perhatian khusus perlu diberikan kepada anak -anak yang berbakat istimewa agar mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal". Tekad ini berlanjut terus dan dipertahankan dalam Garis -Garis Besar Haluan Negara berikutnya yaitu GBHN Tahun 1988, yang berbunyi: “Anak didik berbakat istimewa perlu mendapat perhatian khusus agar mereka dapat mengembangkan kemampuan sesuai dengan tingkat pertumbuhan pribadinya“; GBHN Tahun 1993 yang menyatakan “Peserta didik yang memiliki tingk at kecerdasan luar biasa perlu mendapat perhatian khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya"; dan selanjutnya GBHN Tahun 1998 mengamanatkan bahwa : "Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan luar biasa mendapat perhatian dan pelaja ran lebih khusus agar dapat dipacu perkembangan prestasi dan bakatnya tanpa mengabaikan potensi peserta didik lainnya. ” Demikian pula di dalam Undang –Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Pasal 8 ayat (2) menegaskan bahwa:"Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.” Begitu pula dalam Pasal 24 dinyatakan bahwa "setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak –hak sebagai berikut: (1) mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (2) mengikuti program pendidikan yang bersangkutan atas dasar pendidikan berkelanjutan, baik untuk mengembangkan kemampuan diri, maupun untuk memperoleh pengakuan tingkat pendidikan tertentu yang tela h dibakukan; (6) menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan”. Kesungguhan untuk mengembangkan pendidikan bagi anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa ditekankan pula oleh Presiden Republik Indonesia ketika menerima anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tanggal 19 Januari 1991, yang menyatakan bahwa: “ Agar lebih memperhatikan pelayanan pendidikan terhadap anak –anak yang mempunyai kemampuan dan kecerdasan luar biasa. ” Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional kembali menegaskan bahwa: “Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus ” (pasal 5 ayat 4). Begitu pula dalam pasal 12 ayat 1 dinyatakan bahwa: “setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak: (b) mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya; (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang da ri ketentuan batas waktu yang ditetapkan”. Demikian pula dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, hal tersebut juga diakomodir pada Bab III yang mengatur tentang beban belajar yang menggariskan bahwa “program per cepatan belajar dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”. Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 tahun 2006 tentang Pembinaan Prestasi Peserta Didik yang memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, yang secara lebih khusus merupakan payung hukum dan rujukan bagi lebih terbinanya proses seleksi, pembinaan berkelanjutan, dan pemberian penghargaan bagi peserta ajang kompetisi / olimpiade.

Sedangkan yang masih dalam proses adalah Rancangan Peraturan Pemerintah yang akan menjadi dasar pelaksanaan Undang Undang Nomor 20 tahun 2003. Pada draft yang ada, dapat kita baca di bab VII pasal 109 tentang rumusan ” Pendidikan khusus merupakan pendidikan ba gi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, serta memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa ”. Kemudian pada Pasal 117 termaktub rumusan (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional (2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan (a.) membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecerdasan spiritual, emosional, sosial, dan intelektual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik; (b) membentuk manusia berkualitas yang kompeten dalam pengetahuan dan seni, berkeahlian dan berketerampilan, menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab, serta untuk mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan lebih lanjut dala m rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya pada pasal berikutnya yaitu 118 dinyatakan bahwa (1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan SD /MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat; (2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa program percepatan, program pengayaan; atau gabungan program percepatan dan program pengayaan (3) Penyeleng -garaan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam bentuk kelas inklusif, kelas khusus, satuan pen didikan khusus; atau, satuan pendidikan inklusi. PERKEMBANGAN KONSEPSI KEBERBAKATAN Keberbakatan hingga kini masih menjadi wacana yang sangat menarik, baik bagi yang terlibat langsung dengan persoalan keberbakatan maupun yang tidak. Bahkan menjadi lebih menarik lagi, karena banyak terjadi miskonsepsi terhadap keberbakatan. Layanan pendidikan khusus bagi anak berbakat diperlukan setidaknya atas empat pertimbangan faktor berikut ini : 1. Adanya bakat yang berbeda, perkembangan fisik, mental, dan sosial yang lebih cepat, juga minat intelektual serta perspektif masa depan yang jauh melampaui rata-rata orang. 2. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi potensi yang dimiliki seoptimal mungkin. 3. Merupakan aset masyarakat dan bangsa, serta peluang sebagai calon pemimpin 4. Mencegah kemubadziran potensi dan harapan kontribusi mereka nantinya kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Banyak istilah yang dapat dipakai untuk menyebut anak berbakat, di antaranya: anak unggul, anak berkemampuan istimewa, anak superior, anak genius, anak ce rdas istimewa, dan masih banyak sebutan lainnya. Secara konseptual pengertian anak berbakat juga berkembang dari tahun ke tahun. Di antara pendapat yang berkembang menyatakan bahwa anak berbakat adalah anak yang ditunjukkan dengan kemampuan tingkat kecerdasan atau kemampuan umum ( g factor) di atas rata-rata. Konsep ini diperkuat dengan teori faktor, bahwa kemampuan individu dapat dikategorikan

menjadi dua, yaitu kemampuan khusus ( s faktor) dan kemampuan umum ( g faktor). Berdasarkan konsep ini Komisi Pend idikan AS, Sidney P. Marland (1972) menetapkan definisi anak berbakat sebagai ” Gifted and talented children are those identified by professionally qualified persons who by virtue of outstanding abilities are capable of high performance. These are children who require differentiated eduacational programs and/or service beyond those normally provided by the regular school program in order to realize their contribution to self and society” artinya kurang lebih ”Anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi ole h orang-orang yang berkualifikasi profesional sebagai anak yang memiliki kemampuan luar biasa. Mereka menghendaki program pendidikan yang sesuai atau layanan melebihi sebagaimana diberikan secara normal oleh program sekolah reguler, sehingga dapat merealis asikan kontribusi secara bermakna bagi diri dan masyarakatnya”. Mengadopsi dari definisi United States Office of Education (USOE), Seminar Nasional mengenai “Alternatif Program Pendidikan bagi Anak Berbakat “ yang diselenggarakan oleh Balitbang Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tanggal 12 -14 Nopember 1981 telah mensepakati batasan pengertian Anak berbakat adalah mereka yang oleh orang -orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai presta si yang tinggi dalam salah satu atau beberapa dari 6 bidang berikut (Utami Munandar, 2002): 1. Kemampuan intelektual umum (kecerdasan atau intelegensi). 2. Kemampuan akademik khusus 3. Kemampuan berpikir kreatif -produktif. 4. Kemampuan memimpin. 5. Kemampuan dalam salah satu bidang seni. 6. Kemampuan psikomotorik, seperti dalam olahraga. Sementara itu Robert Stenberg dan Robert Wagner (1982) menyatakan pendapatnya bahwa keberbakatan adalah suatu jenis mental self management. Manajemen mental kehidupan seseorang dalam suat u cara yang konstruktif dan bertujuan memiliki tiga elemen dasar: mengadaptasikan dengan lingkungan, menyeleksi lingkungan baru, dan membentuk lingkungan. Sternberg dan Wagner menegaskan bahwa dasar psikologis yang sangat penting dari keberbakatan intelekt ual yang tersisa dalam kecakapan intuitif mencakup tiga proses utama, yaitu (1) memisahkan informasi yang relevan dan tidak relevan, (2) mengkombinasikan informasi yang terpisah ke dalam keseluruhan yang utuh, dan (3) mengaitkan informasi yang diperoleh pa da saat ini dengan informasi yang diperoleh pada masa lalu. Selanjutnya ditegaskan oleh Kitano dan Kirby (1985) bahwa anak berbakat adalah individu yang memiliki kemampuan potensial dan aktual di bidang akademik tertentu seperti sains, matematika, ilmu pe ngetahuan sosial, dan humaniora. Keunggulan bidang akademik yang ditunjukkan dapat juga hanya satu bidang atau dua bidang, bahkan dapat juga semua bidang. Tannenbaum (1986) memandang keberbakatan dari sisi psikologi sosial dan aspek keberbakatan ini ditinj au dari empat klasifikasi: 1. 2. 3. Kelangkaan (scarcity) -- menunjukkan sesuatu yang jarang ditemukan akan tetapi sangat bermanfaat. Keunggulan (surplus) -- mengacu pada sensibilitas serta sensitivitas yang lebih tinggi dari orang lain pada umumnya. Kuota (quota) -- menunjukkan keterbatasan jumlah

4.

individu yang memiliki ketrampilan khusus pada lapangan kerja tertentu. Anomali (anomalais) -- mengacu pada berbagai keistimewaan bahkan keajaiban yang dapat dilakukan seseorang karena kemampuannya yang luar biasa, akan tetapi seringkali tidak dikenal atau tidak memperoleh pengakuan.

Konsepsi lain tentang keberbakatan yang banyak digunakan adalah “ threeRing Conception” atau Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1981, 2005) yang menyatakan bahwa tiga ciri po kok yang merupakan kriteria (persyaratan) keberbakatan (giftedness) adalah keterkaitan antara : 1. Kemampuan umum (kapasitas intelektual) dan / atau kemampuan khusus di atas rata-rata. 2. Kreativitas di atas rata-rata 3. Pengikatan diri terhadap tugas ( task commitment) yang cukup tinggi.

Gambar 1: Konsep Renzulli tentang keberbakatan Penggunaan model konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli, jika dalam identifikasinya lebih berorientasi pada psikotes dan prestasi, masih belum menyentuh seluruh populasi anak berbakat. Ada beberapa kelompok anak berbakat yang kemungkinan besar tidak terjaring dengan model identifikasi semacam itu, seperti mereka yang sebenarnya memi liki potensi kecerdasan istimewa namun tidak mampu menampilkan kinerja / prestasi yang memuaskan. Mereka itulah yang disebut underachiever. Padahal penelitian di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 15 -50 % dari peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa tergolong underachiever (Marland, dikutip Utama Munandar, 1999), sementara di Inggris angka underachiever mencapai 25 % (Pringle, dikutip Utami Munandar, 1999). Roe (Kitano dan Kirby, 1985) menegaskan bahwa peserta didik yang menunjukkan prestasi akademik unggul, ternyata tidak selamanya memiliki kecerdasan tinggi, padahal mereka yang memiliki bakat akademik pada umumnya berkecerdasan tinggi. Selain dari itu juga ada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa yang memiliki kesenjangan tinggi antara domain kemampuannya berdasarkan tes -tes kecerdasan yang baku, prestasi, maupun bakat dengan kemampuan kognisi dan kemapuan adaptif serta prestasi di lapangan. Kategori-kategori ini masih belum m emiliki tempat dalam konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan Renzulli (Adinugroho -Horstman, 2007)

Dalam upaya mengatasi kondisi tersebut, muncullah konsep The Triadich dari Renzulli-Monks yang merupakan pengembangan dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Monks ini disebut model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam model multifaktornya Monks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa ( giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli tidak ak an terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan dimana anak tinggal (Monks dan Ypenburg, 1995). Sekolah Keluarga

Lingkungan

Gambar 2: The Multi Factors Model Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari peran orangtua dan lingkungan dalam menangga pi gejala-gejala kecerdasan istimewa yang dimiliki, toleran terhadap berbagai karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuhkembangnya yang menjadi penghambat baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikan yang terbaik baginya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orangtua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan pendidikan di sekolah. Berkaitan dengan konsepsi keberbakatan ini, menarik pula mod el multiple intelligence dari Gardner. Gardner menjelaskan bahwa intelegensi bukan merupakan suatu konstruk unit tunggal namun merupakan konstruk sejumlah kemampuan yang masing-masing dapat berdiri sendiri (Gardner, 1983). Pendapatnya ini seiring dengan upaya dari sejumlah pakar psikologi yang giat meneliti kembali apa yang dimaksud dan bagaimana cara mengukur intelegensi dan mereka berpandangan bahwa intelegensi tidak dapat diukur melalui pengukuran kemampuan skolastik semata. Gardner berpendapat bahwa man usia memiliki 7 dimensi yang semi otonom, bahkan akhir-akhir ini berkembang lagi menjadi 9 dan bahkan 10 jenis intelegensi, yaitu : 1. Kecerdasan Matematik-logis (Logical Mathematical Intelligence ), yaitu kemampuan untuk menjajagi pola -pola, kategori-kategori dan hubunganhubungan dengan memanipulasi obyek -obyek atau simbol-simbol.akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual, pandangan hidupnya bersifat rasional. 2. Kecerdasan Linguistik (Linguistic Intelligence) adalah kecerdasan dalam hal mengolah kata. Ciri-cirinya: kemampuan berargumentasi, meyakinkan orang,

menghibur, gemar membaca, dapat menulis dengan jelas, dan dapat mengartikan bahasa tulisan secara luas. 3. Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence) adalah cerdas dalam bernyanyi dan memainkan alat-alat musik. Ciri-cirinya: menghargai dan menciptakan irama dan melodi, peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dan juga mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu. 4. Kecerdasan Visual Spasial (Visual Spatial Intelligence ), yaitu mencakup berpikir dalam gambar, kemampuan menyerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual. Mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu denga n begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas dan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi. 5. Kecerdasan Kinestetik Jasmani ( Bodily Kinesthetic Intelligence ), yaitu kemampuan mengendalikan gerak tubuh dan keterampilan dalam menang ani benda. Kemampuan menari, olahraga, cekatan, indera perabanya sangat peka, tidak bisa diam. 6. Kecerdasan Antar Pribadi (Interpersonal Social Intelligence ) yaitu kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain, tanggap terhadap suasana hati, perangai, niat dan hasrat orang lain, tanggungjawab sosial. 7. Kecerdasan Intra Pribadi (Intra-personal Intelligence) yaitu kecerdasan dalam diri memahami diri, dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, mandiri, f okus pada tujuan, sangat disiplin, lebih suka bekerja sendiri. 8. Kecerdasan Natural (Naturalis Intelligence) yaitu kemahiran dalam mengenali dan mengklasifikasikan banyak species flora dan fauna dalam lingkungannya. 9. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence) merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan dirinya dalam kaitannya dengan aspek spiritual (hal ini sama sekali tidak berarti melakukan ritual keagamaan melainkan peka terhadap kesejahteraan hidup spiritual seperti kedamaian, ketenteraman, dan la in-lain). 10. Kecerdasan Eksistensialis (eksistensial Intelligence) terkait dengan kemampuan menyadari keberadaan subyek tertentu yang bersifat hakiki. Sementara itu Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari Triadic Interdependence model Monks serta Multiple Intellegences dari Howard Gardner. Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain: (1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri, (2) faktor kinerja(performance), (3) faktor kepribadian, dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja. Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada di dalam individu dapat meramalkan aktualisasi kinerja ( performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh area yang masing -masing berdiri sendiri, yaitu : kemampuan intelektual, kemampuan kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan keterampilan psikomotor. Sementara itu faktor kinerja (performance) meliputi delapan area kinerja, yaitu matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni (musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial. Bakat (talent) dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stress, motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan -harapan akan

pengendalian, harapan akan keberhasilan atau ke gagalan, dan kehausan akan pengetahuan; serta (2) kondisi -kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga, jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orangtua, stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingku ngan belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa -peristiwa kritis. Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya, bakat yang ada pada anak dapat mempenga ruhi bagaimana orangtua atau guru memperlakukan -nya. Di dalam proses terwujudnya kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana anak tersebut menjadi semakin ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan berpengaruh terhadap sikap orangtua dan guru terhadap anak, sehingga berpengaruh terhadap cara memperlakukan anak. PERKEMBANGAN IDENTIFIKASI CALON AKSELERAN Sebagaimana telah dipahami selama ini, ada du a pendekatan atau acuan yang bisa digunakan untuk menemukenali peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan istimewa, yaitu dengan menggunakan acuan unidimensional, yang lebih dikenal sebagai batasan yang diberikan oleh Lewis Terman (1922), serta acuan multidimensional, yang disampaikan oleh Renzulli, Reis, dan Smith (1978) dengan Konsepsi Tiga Cincin (The Three Ring Conception ) beserta pengembangannya yaitu konsep the Triadich dan Renzulli -Monks (Monks dan Ypenburg, 1985). Untuk pendekatan unidimensional, kriteria yang digunakan hanya semata -mata skor kemampuan intelektual umum (IQ) saja. Secara operasional batasan kemampuan intelektual umum yang digunakan adalah mereka yang mempunyai skor IQ minimal 140 skala Weschler. Sedangkan untuk pendekatan multidimensional, kriteria yang digunakan lebih dari satu. Dalam hal ini batasan yang digunakan adalah mereka yang memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf cerdas (ditetapkan skor IQ 125 keatas skala Weschler), dimensi kreativitas cukup (ditetapkan skor CQ da lam nilai baku cukup), dan pengikatan diri terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku baik). Kriteria di atas oleh sementara ahli psikologi dan pakar keberbakatan sudah dianggap cukup berat untuk dapat menjaring calon akseleran di I ndonesia, lebih-lebih jika masih dipergunakan kriteria lain seperti seleksi administratif (yang meliputi nilai LHBS/Rapor, Nilai Ujian Nasional, serta skor tes kemampuan akademis), pertimbangan informasi data subyektif (nominasi diri, nominasi teman sebaya , rekomendasi guru, dan rekomendasi orangtua), serta ketentuan kesehatan fisik dan kesediaan calon peserta didik dan persetujuan orangtua. Namun dalam berbagai forum, tidak sedikit pihak yang menganggap kriteria tersebut cukup rendah, terutama banyak yang mempersoalkan syarat minimal IQ 125 terlalu rendah dan mengusulkan untuk dapat ditetapkan minimal IQ 130. Namun yang patut disayangkan, berbagai kritik tersebut seringkali tidak didasari argumentasi akademik yang memadai, sehingga tidak dapat dijelaskan landasan teoretisnya. Belum lagi didapati permasalahan tentang tidak adanya kesepakatan batteray tes yang digunakan pada waktu melakukan pemeriksaan psikologis oleh lembaga / biro yang bekerjasama dengan pihak sekolah.

Untuk mencari jalan keluar t erhadap masalah tersebut, maka Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa telah melakukan beberapa kali pertemuan yang melibatkan fakultas psikologi dan pusat -pusat keberbakatan yang dimiliki oleh beberapa universitas, serta beberapa biro atau lembaga psikol ogi dan para praktisi pendidikan di sekolah. Dalam satu kegiatan yang dilaksanakan di wisma Handayani Cipete Jakarta pada tahun 2005, bahkan telah menghasilkan terbentuknya satu wadah para psikolog yang berhimpun dalam satu organisasi yang disebut dengan A sosiasi Psikologi Indonesia (API). Namun sayang sampai berakhirnya kegiatan dan sekian waktu kemudian tidak diperoleh kesepakatan para psikolog tentang ketentuan alat identifikasi dari perspektif psikologis. Barulah pada kegiatan workshop penatalaksanaa n di Solo Mei 2007, tim yang tergabung dalam penatalaksanaan psikologi telah merumuskan draft Prosedur Operasional Standar (POS) Identifikasi Anak Cerdas Istimewa yang terkemudian naskah tersebut masuk sebagai bahan dalam buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan untuk Peserta Didik Ber -kecerdasan Istimewa (Program Akselerasi) edisi tahun 2007, khususnya tentang persyaratan psikologis peserta didik. Untuk aspek psikologis calon peserta didik, ada tiga jenis tes yang dilakukan yaitu Kemampuan Intelektual (I Q), Kreativitas , dan Keterikatan dengan tugas (task commitment). Peralatan yang digunakan untuk menjaring calon peserta untuk masing masing jenis tes psikologis dapat dilihat pada tabel berikut : Kemampuan Intelektual JENJANG PENJARINGAN SD / MI Colour Progressive Matrix (CPM) SMP / MTs Spearmen Progressive Matrix SMA / MA Culture Fair Intelegence Test Scale 3A/3B NO PENYARINGAN Weschler Intelelegence Scale for Children, Stanford Binet atau Culture Fair Intelegence Test Skala 2A/2B Weschler Intelelegence Scale for Children, atau Culture Fair Intelegence Test Skala 2A/2B Weschler Adult Intelelegence Scale atau Intellegence Structure Test

JENIS TES Culture Fair Intelegence Test Skala 2A/2B (SD/MI) Culture Fair Intelegence Test Skala 2A/2B (SMP/MTs) Culture Fair Intelegence Test Skala 3A/3B (SMA/MA) Colour Progressive Matrix (CPM) Stanford Bidet Test

IQ MINIMAL Very Superior = 130 Very Superior = 130

1.

Very Superior = 130

2. 3.

GRADE I --

Percentil 95

Very Superior = 140

NO

JENIS TES Weschler Intelelegence Scale for Children (SD / MI) Weschler Intelelegence Scale for Children (SMP / MTs) Weschler Adults Intelelegence Scale (SMA / MA)

IQ MINIMAL Very Superior = 140

Very Superior = 140

4.

Very Superior = 140

5.

Intellegence Structure Test ( SMA )

Very Superior = 140

Kreativitas TES KREATIVITAS Tes Kreativitas Figural (yang disusun oleh Utami Munandar) 2 SMP / MTs Tes Kreativitas Figural dan Tes Kreativitas Paralel (yang disusun oleh Utami Munandar) 3 SMA / MA Tes Kreativitas Figural dan Tes Kreativitas Paralel (yang disusun oleh Utami Munandar) Kriteria minimal 12 dari skala maksimal 20 atau (CQ = 113) Skala task commitment, yang mengacu pada indikator : a. b. c. d. e. f. g. h. Tangguh dan ulet (tidak mudah menyerah) ; Mandiri dan bertanggungjawab; Menetapkan tujuan aspirasi yang realistis dengan risiko sedang; Suka belajar, dan mempunyai orientasi pada tugas yang tinggi; konsentrasi baik mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri ( working improvement) mempunyai hastrat bekerja sebaik -baiknya (working the best they can) Mempunyai hasrat untuk berhasil dalam bidang akademis. NO 1 JENJANG SD / MI

Kriteria: tinggi ( 1 Standar Deviasi di atas mean) Tes Penunjang ( Tes Proyektif ) NO 1 2 3 JENJANG SD / MI SMP / MTs SMA / MA TES KREATIVITAS Draw A Person, House Tree Person Draw A Person, House Tree Person , Baum Draw A Person, Wartegg, Baum

Dengan telah ditetapkannya persyaratan psikologis sebagaimana tersebut di atas, maka meskipun mungkin belum dapat menjawab seluruh persoalan yang menyangkut alat identifikasi calon akseleran, namun paling tidak telah ada acuan yang dapat digunakan oleh sekolah penyelenggara dalam menetapkan alat tes yang akan digunakan pada seleksi calon akseleran. Sisa permasalahan y ang ada saat ini

adalah menyangkut belum lengkapnya deskripsi alat tes untuk aspek kreativitas dan task commitment sesuai tahap seleksi (penjaringan dan penyaringan) sebagaimana deskripsi alat tes untuk aspek kemampuan intelektual, atau permasalahan lain menyangkut bagaimana seandainya tidak didapati alat tes dimaksud oleh lembaga psikologi yang diajak kerjasama oleh pihak sekolah di suatu daerah. Permasalahan lain yang dapat ditemukan pada buku pedoman yang baru (edisi 2007) yang masih terkait dengan id entifikasi calon akseleran selain aspek psikologis adalah belum memberi perhatian yang memadai tentang bentuk instrumen yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi data subyektif (dalam buku hanya disebut tes penilaian dari guru, orangtua, atau konselo r) yang meliputi data tentang nominasi diri, nominasi teman sebaya, rekomendasi guru, orangtua, maupun pihak -pihak lain (seperti konselor). Dalam hal ini Labschool telah menunjukkan kepeloporan -nya karena sejak tahun 2000 telah mengembangkan instrumen nominasi teman sebaya, angket nominasi/ rekomendasi guru, serta rekomendasi orangtua. Instrumen nominasi teman sebaya dikembangkan dari 14 ciri -ciri keberbakatan yang dikeluarkan oleh Balitbang Dikbud (1986). Sedangkan angket rekomendasi guru diadopsi deng an sedikit pengembangan dari model identifikasi non -tes yang ditawarkan oleh Hawadi (2001). Adapun instrumen rekomendasi orangtua, Labschool mengadopsi model yang dikembangkan oleh Niagara Catholic District School Board (2003), serta Ontario Ministry of Education and Diary (1999). MKS-PPA dan ASOSIASI CI/BI Sekolah penyelenggara program akselerasi di Jakarta, pada tahun 2000 telah membentuk satu forum yang disebut Musyawarah Kepala Sekolah Penyelenggara Program Akselerasi atau yang disingkat MKS -PPA. Melalui forum ini, sekolah penyelenggara akselerasi telah melakukan berbagai kegiatan diantaranya menyusun pedoman penyelenggaraan akselerasi (dalam perkembangannya pedoman ini kemudian menjadi bahan awal buku pedoman akselerasi yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa tahun 2001), menjadi mitra Direktorat PLB pada kegiatan diseminasi program akselerasi ke berbagai propinsi, menyelenggarakan berbagai seminar tentang akselerasi termasuk program gebyar keberbakatan yang dilaksanakan pada tahun 200 5. Seiring dengan perjalanan waktu, Direktorat Pembinaan Pendidikan Luar Biasa telah menfasilitasi terbentuknya Asosiasi Penyelenggara, Pengembang, dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Siswa Cerdas / Berbakat Istimewa (CI/BI). Organisasi yang didirikan pada tanggal 11 Desember 2007 di Semarang ini bertujuan untuk : 1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. 2. Meningkatkan peluang bagi peserta didik yang mem iliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan. 3. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan d an/atau bakat istimewa. 4. Mengembangkan jaringan informasi dan kerjasama.

Sebagai langkah awal, maka organisasi ini telah menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) CI/BI di Jakarta pada awal April 2007. pada kegiatan tersebut, disusun Renstra CI/BI serta program kerja dari masing-masing bidang. AKSELERASI DAN SISTEM SKS Membaca konsideran draft model pengembangan Sistem Kredit Semester (SKS) yang sedang dipersiapkan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, maka rencana pemerintah untuk menyelenggarakan Sistem Kredit Semester (SKS) sebagaimana diatur dalam PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya adalah sejalan dengan latar belakang penyelenggaraan program akselerasi. Dalam draft tersebut dinyatakan bahwa latar belakang penyelenggaraan SKS dimaksudkan untuk memenuhi azas demokratisasi pendidikan, yaitu memberikan kesempatan kepada “ setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya” serta “Peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar masing -masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan” (UU No. 20 tahun 2003 Pasal 12 ayat 1 butir (b) dan butir (f ) ). Dalam draft tersebut secara eksplisit juga ditegaskan bahwa “Program percepatan dapat diselenggarakan untuk mengakomodasi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa”. Dengan demikian, kekhawatiran bahwa program akselerasi sebagai model layanan akan hilang pada saat diberlakukannya Sistem Kredit Semester penyelenggaraan SKS menjadi tidak beralasan. Yang akan terjadi adalah adanya perubahan strategi dan model layanan penyelenggaraan dari model yang ada saat ini berlangsung. Model penyelen ggaraan yang dapat dipilih misalnya adalah model TKR sebagaimana yang pernah diterapkan oleh Labschool pada era kurun waktu tahun 1986 sampai dengan tahun 1990 -an.

PENUTUP Demikianlah tulisan singkat tentang perkembangan penyelenggaraan program akselerasi bagi peserta didik berkecerdasan istimewa ini penulis susun sebagai bagian dari bunga rampai pendidikan yang disusun dalam rangka memperingati 40 tahun Labschool. Sebagai bagian penutup dari tulisan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada para pakar, pejabat diknas dan praktisi pendidikan yang telah menjadi rujukan dan telah menfasilitasi upaya -upaya pengembangan model layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki kecerdasan istimewa melalui program akselerasi. Mereka ad alah Prof. Dr. Conny R. Semiawan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd., Dr. Reni Akbar Hawadi, dan Drs. H. Muhsin Lubis, M.Sc. Dari jajaran Diknas, terutama yang patut penulis sebutkan adalah Dr.Ir.Indrajati Sidi, Drs. Suci Har iyanto, MM., Drs. H. Darsana Setiawan, M.Si., serta teman -teman dari MKS-PPA propinsi DKI Jakarta terutama Dra. Ulya Latifah, MM.. Drs. H. Nur Alam, M.Ag., serta Drs. H. Edy Junaedi Sastradiharja, M.Pd.

DAFTAR BACAAN

Balitbang Depdikbud. Hasil Identifikasi Siswa Berbakat di Sembilan SMP/SMA. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986a. Balitbang Depdikbud Materi Penataran Lokakarya Pelayanan Pendidikan Untuk Anak Berbakat . Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986b. Balitbang Depdikbud. Penelitian Alat identifikasi Sederhana Siswa Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986c. Balitbang Depdikbud. Hasil Lokakarya Persiapan Pelaksanaan Program Pendidikan Untuk Anak Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986d. Balitbang Depdikbud. Penelitian Alat Identifikasi Sederhana Siswa Berbakat. Jakarta : Balitbang Depdikbud Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan, 1986e. Clark, Barbara Growing Up Gifted. Colomvus Ohio: Charles E. Merril Publishing Company, 1983. Djaafar, Tengku Zahara. Arah Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat . Jakarta: Universitas Negeri Padang. 2001. Feldhusen, J. Toward Excellence in Gifted Education . London: Love Publishing Company, 1985. Gallagher, JJ. Teaching the Gifted Child. Boston: Allyn & Bacon, 1975. Hawadi, L.F. Hubungan Antara Ciri-Ciri Keberbakatan Pada Alat Identifikasi Siswa Berbakat dengan Alat Tes Psikologik dan Prestasi belajar . Tesis. Depok: Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia, 1989. Hawadi, L.F. Melacak Bakat Intelektual Anak. Menurut Konsep Renzulli. Disertasi. Depok : Fakultas Pasca Sarja na Universitas Indonesia, 1993. Hawadi, Reni Akbar, R. Sihadi Darmo Wihardjo, dan Mardi Wiyono. Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo, 2001. Hawadi, Reni Akbar, R. Sihadi Darmo Wihardjo, dan Mardi Wiyono. Berdiferensiasi. Jakarta: Penerbit PT. Grasindo, 2001. Kurikulum

Hawadi, Reni Akbar. Identifikasi Keberbakatan Intelektual Mellaui Metode Non -Tes Dengan Pendekatan Konsep Keberbakatan Renzulli . Jakarta: Penerbit PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2002.

Hawadi, Reni Akbar (editor). Akselerasi : A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual . Jakarta : Penerbit PT Grasindo, 2004. Herry Widyastono. Sistem Percepatan Belajar bagi Siswa yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Oktober 2000, Tahun Ke-6, No. 026. Herry Widyastono, dkk. Profil Peserta Didik yang Memerlukan Perhatian Khusus di Sekolah Dasar. Jakarta: Balitbang Dikbud, 1997. Herry Widyastono, dkk. Profil Peserta Didik yang Memerlukan Perhatian Khusus di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Balitbang Dikbud., 1997. Jacob, A and Graham, B. Gifted Children : The Challenge Continues . Australia : NSW Association for Gifted and Talented Children, Inc. , 1996. Kepmendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi. Kepmendiknas RE No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Marland. Education of the Gifted and Talented. Washington: US Government Printing Office, 1972. Martinson, R.A. The Identification of the Gifted and Talented. California: Ventura, 1974 Milgram, R.M. Counseling Gifted and Talented Children. New Jersey : Ablex Publishing Corporation, 1991. Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar (SD, SLTP, SMA) : Satu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Dididk yang Memilik i Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa, (2001). Jakarta: Direktorat Pendidikan Luar Biasa, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Penyelenggaraan Program Percepatan Belajar SD, SMP, SMA (Satu Model Pelayanan Pendidikan Bagi Peserta Dididk yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa) (2003). Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan untuk Peserta Didik Berkecerdasa n Istimewa (Program Akselerasi) (2007). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Luar Biasa, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Renzulli, JS., SM Reis, LH Smith. The Revolving Door Identification Mo del. Connecticut: Creative Learning Press, 1981.

Renzulli, J.S. What Makes Giftedness? Los Angeles : National/State Leadership Training Institute on The Gifted Children. Reston, Virginia, The Councill for Exceptional Children, 1979. Semiawan, Conny. R. Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi. Jakarta : Grasindo, 1992. Terman, LM. The Discovery and Encoragement of Exceptional Talent. Standford University Press, 1959. Tirtonegoro, Sutratinah. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya . Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (1990). Jakarta : Dharma Bhakti. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (2003), Jakarta: Utami Munandar, SC. Pemanduan Anak Berbakat. Suatu Studi Penjajagan. Jakarta : CV Rajawali, 1982. Utami Munandar, SC. Bunga Rampai Anak Berbakat: Pembinaan dan Pendidikannya. Jakarta: Rajawali, 1989. Ward, VS. Differential Education for the Gifted. California: Ventura, 1980. Yaumil A. Achir. Bakat dan Prestasi. Disertasi. Jakarta: Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, 1990.

* Kepala SMA Labschool Jakarta Makalah pernah dimuat dalam buku “ Bunga Rampai Pendidikan : Memperingati 40 tahun Labschool Kado Persembahan Civitas Akademika (2008) “

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->