P. 1
Kumpulan Tausiyah

Kumpulan Tausiyah

|Views: 9,208|Likes:

More info:

Published by: Mohamad Romzie Baharmi on Jun 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2015

pdf

text

original

KUMPULAN MATERI

TAUSIYAH

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
@ 2010 oleh Mohamad Romzie Hak cipta yang dilindungi undang-undang ada pada Penulis. Hak penerbitan ada pada Ozie’s Production. Cetakan I, Juni 2010 Penulis Mohamad Romzie Editor Mohamad Romzie Perancang Sampul & Penata Letak Mohamad Romzie Diterbitkan Oleh Ozie’s Production

PRAKATA

T

ausiyah merupakan salah satu sarana untuk kita nasihatmenasihati dalam kebenaran dan kesabaran seperti yang terkandung di dalam qur’an surah Al-‘Asr : 3 yang artinya, “kecuali orang-orang yzng beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran”. Mengingat bahwa begitu pentingnya tausiyah ini, maka kami menyiapkan beberapa kumpulan tausiyah untuk memudahkan pembaca dalam melaksanakan perintah Allah tersebut dalam hal nasihat-menasihati. Buku KUMPULAN MATERI TAUSIYAH ini hadir ke hadapan pembaca untuk membantu menjawab persoalan tersebut, khususnya untuk para mentor, guru ngaji, dan penceramah agar dalam penyampaian ilmunya bisa diselingi tausiyah ini. Selain itu, buku ini juga bermanfaat untuk meningkatkan semangat kita karena berisi tentang kisah-kisah Islami yang dapat menggugah hati-hati kita. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan buku ini, terutama kepada para ustad di daerah Jagakarsa dan sekitarnya yang telah memberikan inspirasi kepada penulis dari tausiyah-tausiyah yang disampaikannya. Semoga kita diberikan keistiqomahan dalam menjalani dakwah ini agar tercapainya masyarakat yang Islami. Jakarta, April 2010 Mohamad Romzie

iii

DAFTAR ISI
Prakata .............................................................................. Daftar Isi ............................................................................ Tausiyah 1 Allah, Sandaran dan Sumber Kekuatan ............................. Tausiyah 2 Adil itu Indah ....................................................................... Tausiyah 3 Agar Dapat Melihat Surga .................................................. Tausiyah 4 Allah Cinta Orang-Orang Sabar Di Tengah Bencana ......... Tausiyah 5 Al-Qur’an dan Kebebasan Berpikir ..................................... Tausiyah 6 Arif di Tengah Krisis ............................................................ Tausiyah 7 Bahwa Tak Ada Yang Abadi ................................................ Tausiyah 8 Belajar Bersyukur ............................................................... Tausiyah 9 Belajar dari Kematian ......................................................... Tausiyah 10 Berbuatlah... ....................................................................... Tausiyah 11 Menjadikan Shalat Sebagai Pencegah Perbuatan Keji Dan Munkar ........................................................................ iii iv 1 7 13 17 19 25 31 35 39 45 49

iv

TAUSIYAH 1
Allah, Sandaran Dan Sumber Kekuatan

P

ara pemburu surga itu mengerti kemana menyandarkan diri, untuk mengambil sumber kekuatan. Surga itu milik Allah. Maka kepada-Nya pula ia mohon kekuatan. Memburu surga justru sama artinya dengan memohon bantuan kepada pemilik-Nya. Sebab senyatanya, orang akan masuk surga karena rahmat Allah SWT. Pertama kali mereka melakukan ma’rifah kepada Allah. Mengenali-Nya, sifat-sifat-Nya, kebaikan-kebaikan-Nya. Lalu belajar bagaimana menunaikan kewajiban-kewajibannya. Seperti yang diajarkan oleh Buya Hamka. Dalam buku Tasawuf Modern, Hamka menukilkan sekelumit munajatnya,” Illahi! Sudah amat jauh tersesat perjalananku. Sekarang aku pulang! Karena aku tahu, tiap-tiap aku tersalah, dengan nikmat jua Tuhan balasi. Kata orang enak sekali berkenalan dengan Raja dari segala Raja! Yang tiada menutup pintunya kepada setiap orang yang akan menghadap! Hatiku telah bergembira, karena Engkaulah tujuan perjalananku…..” Begitulah Hamka mengenali Tuhannya. Lalu dari sana ia memulai menata lagak lagunya. Bahwa kepada Allah segala kekuatan dimohonkan. kepadaNya pula segala usaha disandarkan. Hamka menyadari betul, dari mana memulainya. Dari ingatannya akan kematian. Bahwa dari sana segalanya bermula. Saat segalanya berakhir menghadap Allah SWT. Barangkali 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

seperti yang diajarkan Ibnu Qayyim,” Ruh berada di dalam badan, laksana orang mukmin di sebuah negeri yang asing, karena ia memiliki negeri sendiri (yang bukan badan) dan tentu ia tidak akan mau menetap kecuali di negerinya sendiri. Tapi ruh ini dipaksa untuk bertempat tinggal dalam badan manusia yang tebalini, sehingga ia tetap mencari tempat itnggalnya di negeri yang tinggi dan selalu rindu kepadanya, sebagaimana rindunya burung pada sarangnya. Setiap ruh pasti mengalami keadaan seperti itu, hanya saja karena saking sibuknya dengan urusan badan ia menjadi langgeng di bumi dan melupakan tempat itnggal dan negerinya yang kenikmatan dan kenyamanannya tidak pernah ditemukan di negeri selainnya. Ibnu Qayyim menambahkan,”Oleh karena itulah seorang mukmin tidak pernah merasa betah (di dunia) kecuali setelah bertemu dengan Rabbnya, karena dunia adalah penjara baginya, maka tidak heran jika engkau menemukan ada seorang mukmin yang badannya di dunia tapi ruhnya berada di tempat yang tinggi (di sisi Rabbnya)”. Maka ketika Soekarno mati, Hamka mengimami sholat jenazahnya. Ada banyak inspirasi dari kematian orang nomer satu di negeri saat itu. Inspirasi itu nampak sekali merasuk di dalam sanubari Hamka, betapa sang proklamator yang juga orator ulung itu kini telah terbujur kaku. Tak bisa bergerak, tak lagi berteriak, bahkan sekedipan mata pun tak ada lagi yang bisa dilakukan. Di majalah Panji Masyarakat, Hamka menuangkan kesannya melihat Soekarno yang telah mati itu. Antara lain ia menulis,” Saya singkapkan kasa halus yang menutupi muka. Saya lihat wajah yang sekarang....ialah wajah dari setiap orang yang telah mati. Pucat kekuningan, terbayang di kening bekas kepayahan nyawa hendak cerai dengan badan. Dikocong dengan kain kafan putih, dibukakan sedikit untuk dilihat penghabisan karena nanti akan ditutup. Dan kapas melingkar leher”. ”Tak ada lagi bintang dan tanda jasa menghiasi dada. Tak ada lagi peci hitam miring menutup kepala yang kehabisan

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

rambut. Tak ada lagi tongkat komando Panglima Tertinggi. Mana dia pengiring yang dulu berkeliling kiri kanan, seorang pembawa kipas, seorang pembawa payung, seorang yang memegang kacamata... mana ia? Tak ada lagi! Yang ada hanya manusia berkeliling, termenung dan tafakur. Yang berbaring sekarang ialah seorang hamba Allah, yang dalam perjalanan menuju akhirat ke hadirat Allah. Sangkar yang telah kosong, karena burungnya telah terbang.....!” Selanjutnya Hamka menambahkan,”Melihat wajah itu, saya tertegun lama. Lama sekali. Karena saya teringat bahwa saya, dan bahwa kita semuanya pun akan mengalami begitu pula. Hari ini melawat jenazah, besok akan dilawat orang. Hari ini memikul, besok akan dipikul. Suatu kepastian. Sehingga betapapun besar upacara kenegaraan yang dilakukan untuk menghormati, namun ini adalah maut...”. Kematian adalah takdir Allah. Di tangan-Nya segala ketentuan. Ini mau tidak mau memberi pengaruh yang sangat dalam bagi seorang Hamka. Keyakinannya yang kuat bahwa pada akhirnya kematian juga akan menghampiri dirinya. Dan begitulah adanya, apa yang ia yakini memang telah ia buktikan sendiri. Ia telah pergi untuk selama-lamanya. Kematian telah memberinya arti tentang Allah sebagai sumber kekuatan dan tempat penyandaran. Dan kita pun kini mengenang Hamka dengan segala perjuangannya memburu surga. Inspirasi lain dari kematian itu adalah Hamka rela memaafkan Soekarno yang telah mati itu. Padahal di masa Bung Karno, Hamka dipenjarakan selama 10 tahun. Tapi pada saat meninggalnya Bung Karno, air matanya menitik jua. Setelah mengimami shalat jenazah, ia berkata pada jenazah Bung Karno,”Aku telah do’akan engkau dalam sholatku supaya Allah memberi ampun atas dosamu. Aku bergantung kepada janji Allah, bahwa walau pun sampai ke lawang langit timbunan dosa, asal memohon ampun dengan tulus, akan diampuniNya. Adapun dosamu pada diriku sendiri, menganiaya aku, menuduhku dengan tuduhan palsu, mengecewakanku dengan anak cucuku sampai kami menderita bertahun-tahun, di hari 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

perpisahan terakhir ini aku jelaskan bahwa engkau telah kuberi maaf”. Karenanya, ketika pada tahun 1979 ada upaya untuk menghambat para da’i dan kecurigaan pada masjid tertentu, justru Hamka berkhutbah dan menegaskan bahwa siapa yang memusuhi masjid dan pada da’inya, ia akan berhadapan dengan Allah.”Mimbar ini dan tempat ini-masjid- adalah tempat kami para ulama dan tempat kita umat Muhammad saw yang beriman. Di sini kita menempa ilmu menyehatkan akhlak membina budi menebalkan iman dan tauhid dan itulah memang kerja kami para ulama yang hanya sekedar melaksanakan sunnah Rasulullah. Bila tempat ini dengan fungsi yang demikian akan dikenakan batasan, akan dirusak dari jalannya yang benar, akan diganggu dengan alasan apa pun, saya ingatkan tuantuan yang berkehendak mau melakukan hal itu, bahwa tuantuan bukan akan berhadapan dengan kami tapi dengan yang memiliki tempat ini - Allah subhanahu wa taala”. Begitulah. Jalan memburu surga itu memang rumit. Tetapi Allah akan menunjukkan permulaannya, menyertai di petualangannya, menyudahi dengan janji-Nya, bagi orangorang yang ditakdirkan-Nya. Maka seperti juga Hamka, ia menyadari bahwa memburu surga itu adalah pencarian yang panjang. Sebab di sanalah puncak kebahagiaan. Dan Hamka pun mendidik jiwanya dengan vitalitas pencarian itu. Maka, kata Hamka,”Memang amat tinggi letak bahagia itu. Tetapi kita harus menuju ke sana. Padahal mudah, sebab dimulai dari kita sendiri. Marilah kita tempuh, dan kita teruskan perjalanan, tak usah kita kaji jauh dan dekatnya, karena itu bergantung pada usaha kita juga. Kalau kita mati dalam perjalanan itu, dan gunung masih jauh juga, bukankah kita telah mati karena Ia? Demi bilamana kita kelak bertemu dengan yang menciptakannya, yakni dengan Allah, kita akan jawab terus terang, bahwa kita mati dalam mencari-Nya, mati di dalam gelombang cinta kepada-Nya! Tentu akan ditimbangNya! Allahu Akbar!”

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

Siapapun yang ingin memburu surga, tak ada pilihan lain kecuali dengan mendekat kepada Allah. Di sana sumber kekuatannya. Di sana pula kunci-kunci rahasianya. ----- end ----- 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

TAUSIYAH 2
Adil Itu Indah

S

ering dari kita bila sudah dihadapkan pada problematika kehidupan, lupa akan fitrah kemanusiaannya bahwa sesungguhnya manusia itu tidak dapat hidup sendirian. Kita butuh bantuan orang lain. Tapi sayang, bila mata sudah gelap, pikiran telah kalut, hati telah terisi dengan dendam dan benci segalanya menjadi serba gelap. Nasehat tak lagi diindahkan. Iman tertutup oleh hiasan syetan. Dan sering terjadi, agama sebagai pedoman tertinggi dalam kehidupan dicampakkan begitu saja. Astagfirullah. Ampunilah dosa-dosa kami ya Allah. Kami telah Engkau beri mata, tapi seringkali tertutupi oleh silaunya dunia. Kami telah Engkau beri telinga, tapi seringkali tersumbat oleh kepuasan dunia. Kami telah Engkau beri hati, tapi seringkali terkotori dan ternodai oleh lumpur kemaksiatan dunia. Sehingga sangat sulit untuk mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Mana jalan menuju keimanan dan mana jalan menuju kekufur- an. Dan mana jalan keadilan dan mana jalan kedhaliman. Dalam kondisi yang serba gelap seperti ini, kita hanya membutuhkan campur tangan Allah semata. Kita sudah tidak dapat lagi berharap kepada selain Allah. Dunia telah dilanda kemunafikan, dan hilangnya kesucian ruhani. Bahasa-bahasa indah, telah ternodai dengan bahasabahasa yang tercemari. Komunikasi ilahiah telah diganti dengan komunikasi syetaniah. Wa kafaa billahi syahida, wa kafaa billahi 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

waliya. (Dan cukup Allah yang menjadi saksi dan cukup Allah sebagai pelindung). Konon di negeri kita hukum adalah puncak keadilan. Tapi seringkali hukum itu dikotori oleh segelintir manusia yang dili- puti emosi dan nafsunya. Pelaksanaan hukum yang suci ternodai oleh sifat rakus dan serakah para pelaksana hukumnya. Sehingga penegakan hukum kembali mentah. Fungsi hukum bagaikan ‘sarang laba-laba’. Ia tidak lagi mampu menjaring yang besar-besar, melainkan hanya menangkap yang kecilkecil saja. Itu pun harus diikuti dengan tindakan dan sikap yang kurang mendidik. Bagaimana kasus Marsinah, Adi Andoyo, terbunuhnya warga Nipah dan sebagainya. Bandingkan dengan kasusnya Edy Tansil dan ‘ratu ecstasy’ Zarimah. Cukup hanya dengan ‘kabur’ seolah sega- lanya telah selesai. Lebih-lebih sekarang kasusnya ditutup dengan kasus PRD dan PDI. Bagaimana dengan kasusnya Hendra Sumampaw yang nyata-nyata membawa dan menyelundupkan pil ecstasy. Bila zaman sudah sedemikian keruhnya dengan segala kehancur- an akhlak dan hilangnya tata krama dalam kehidupan. Tak berbeda jauh, antara masyarakat jahiliyah dulu dengan masyarakat modern sekarang ini. Jikalau, keadaan sudah demikian, tidak ada lagi alternatif kecuali kita harus kembali kepada ajaran agama. Menghidupkan kembali dimensi transenden al-Qur’an sebagai blue print Ilahi. Dan mempraktekkan sirah nabawi sebagai sebaik-baik tauladan dalam praktek kehidupan seorang ummat manusia yang telah tercerahkan. Harus kita akui bahwa selama ini kita telah mengabaikannya. Ampunilah ketololan kami ya Allah. Kita mesti sadar bahwa keadilan itu indah. Keadilan sangat diperlukan dalam kehidupan. Tanpa keadilan jalannya kehidupan akan timpang. Keadilan adalah sebuah niat yang tulus dalam bera- mal. Keadilan adalah sebuah fikrah yang bersih dari segala kepen- tingan pribadi. Keadilan adalah sebuah hati yang telah tersucikan dari virus kemaksiatan dan kedhaliman.

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

Untuk membicarakan soal keadilan kiranya tepatlah, bila sebuah kejadian yang pernah dialami oleh Amirulmukmin Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dengan seorang Yahudi, dalam ‘Kasus Baju Besi’. Suatu kali Ali bin Abi Thalib menyatakan, bahwa baju besi yang dimiliki si Yahudi itu adalah miliknya. Menurutnya baju besi itu hilang ketika ia hendak pergi ke medan peperangan di Siffin. Ia tidak ragu-ragu lagi, meskipun baju besi seperti kepunyaannya itu banyak yang serupa. Tetapi terhadap miliknya, ia tidak akan pernah lupa karena baju besi itu sering dipakainya dalam setiap pertempuran. Dengan bersikukuh bahwa ia tidak akan lupa meski sulit untuk menunjukkan tanda-tanda pengenalnya yang pasti. Si Yahudi itu tetap menyangkalnya. Ia tetap bertahan dan mengatakan, bahwa baju besi itu adalah kepunyaannya. Dengan tak kalah sengitnya ia mengatakan, “dir’i wa fi yadii!” Ini baju besiku dan sekarang berada ditanganku!” Bahkan dengan sedikit agak ngotot si Yahudi itu minta dihadapkan ke hadapan Qadzi (hakim). Baginya, hakim adalah sebuah lembaga keadilan yang tertinggi, yang dengan adilnya mampu memutuskan manamana yang hak dan mana-mana yang batil. Ali bin Abi Thalib tatkala dalam mendatangi sidang tidak ada bedanya dengan yang lainnya atau dengan masyarakat awam. Tidak ada protokoler khusus dan pengawalan yang ketat. Ia selaku Amir- ulmukminin tidak melakukan kolusi dengan hakim yang menangani perkaranya. Walaupun hal itu sangat mungkin untuk dapat dilaku- kannya. Apa susahnya seorang Amirulmukminin memerintahkan hakim untuk memenangkan perkaranya. Tapi itulah akhlak Ali bin Abi Thalib yang alumnus ‘Madrasah Ilahiah Rasulullah’. Yang salah tetap salah dan harus disalahkan tanpa pandang bulu. Sebaliknya yang benar tetap benar dan harus dibenarkan. Itulah ajaran Islam, itulah pesan Rasulullah saw. Suatu ketika Rasulullah pernah mengatakan, jika Fatimah binti Rasulullah mencuri, maka beliau pasti akan memotong

10

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

tangannya. Kekayaan, kedudukan, ataupun kekeluargaan tidak dapat digunakan untuk tempat bersembunyi atau untuk menyembunyikan hak dan keadilan. Setelah Ali dan si Yahudi itu duduk di depan persidangan, hakim yang bernama Syuraih lantas bertanya kepada Ali, “ma tasya-u ya Amirulmukminin?” Apa yang saudara kehendaki, Wahai Amirulmukminin? Ali menjawab, “Itu soal baju besiku yang jatuh dari untaku, yang kemudian diambil oleh orang Yahudi ini!” Lalu Syuraih bertanya kepada orang Yahudi itu, “Apa yang hendak kau katakan?” Ia menjawab, “ini benar-benar baju besiku dan sekarang berada di tanganku!” Setelah itu sang hakim berkata, “Amirulmukminin benar, baju besi itu adalah milik saudara (Ali, red). Akan tetapi untuk mem- buktikan kebenaran pernyataan saudara harus didukung dengan dua orang saksi. Dan dari dua saksi itu harus benarbenar pernah menyaksikan, bila baju besi itu benar-benar milik saudara!” Maka, Ali pun mengajukan dua orang saksi, yaitu pembantunya yang bernama Qanbar dan putranya sendiri Hasan bin Ali. Syuriah mener- ima kesaksian Qanbar, tetapi ia tidak mau menerima kesaksian Hasan bin Ali, “Kesaksian Qanbar saya benarkan, tetapi kesaksian Hasan bin Ali tidak dapat saya terima karena ia adalah putra saudara sendiri!” Ali bin Abi Thalib lalu berkata, “Tidaklah saudara Hakim pernah mendengar bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, ‘al-Hasan dan Husein adalah pemimpin di surga’?” Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa Syuraih menjawab, “Allahumma na’am. Ya Allah, memang benar.” Kemudian Ali bertanya lagi dengan tutur kata yang indah, tanpa menunjukkan kejengkelan sedikitpun pada sang Hakim meski kesaksian putranya tidak diteri- ma. “Masihkah tidak dapat diterima kesaksian pemimpin pemuda di surga ini (Hasan, red)?” Namun, Syuraih masih tetap dalam pendiriannya bahwa ia tidak dapat menerima kesaksian Hasan bin Ali. Akhirnya hakim

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

11

itu menghukum Ali bin Abi Thalib tanpa melihat kedudukannya sebagai amirulmukminin. Dengan tegas ia katakan bahwa baju besi itu adalah kepunyaan si Yahudi itu. Ali tidak angkat bicara lagi. Ia tidak berdaya untuk melawan peraturan dan undang-undang. Ia terima keputusan hakim itu dengan senang hati. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat menghadirkan saksi yang mendukung pernyataannya. Lalu sambil tersenyum beliau berka- ta, “ashaba Syuraih ma lii bayyinatun!, Sahabatku Syuraih kamu sungguh benar, saya tidak mempunyai bukti yang kuat.” Si Yahudi itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa puasnya Ali bin Abi Thalib terhadap keputusan yang dijatuhkan hakim tersebut. Ia heran mengapa seorang Amirulmukminin mau tunduk terhadap peraturan dan undang-undang. Melihat adegan yang mengharukan itu, si Yahudi pun lalu berkata kepada majelis persidangan itu, “Baju besi ini benarbenar kepunyaan Amirulmukminin. Di mana aku memungutnya waktu baju besi itu terjatuh dari untanya, ketika ia hendak pergi ke medan peperangan di Siffin....” Selanjutnya orang Yahudi itu meneruskan ucapannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu alla ilaaha illah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Dari peristiwa yang baru saja dialaminya itulah, secepat kilat si Yahudi itu mendapatkan hidayah Allah swt. Lalu dengan kesadaran ia masuk Islam. Ia terpikat oleh keadilan yang merata dalam segenap lapisan rakyat tanpa terkecuali. Tatkala Ali mendengar si Yahudi telah membaca syahadat, dengan segera pula ia menyatakan, “Kalau begitu, baju besi itu kuhadiahkan kepadamu!” Kemudian orang Yahudi itu juga dihadiahi uang oleh Ali sebanyak sembilan ratus dirham. Demikianlah selanjutnya, orang Yahudi itu masuk Islam dan tidak pernah ketinggalan turut berji- had bersama-sama Amirulmukminin. Peristiwa “baju besi” di atas merupakan ibrah (pelajaran) yang mestinya untuk kita tauladani bersama. Bukan sekedar cerita pengantar tidur putra-putri kita. Ini sebuah cerita sekaligus

1

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

pesan bagi kita yang baru diberi amanah oleh rakyat untuk mengem- ban tugas tertinggi di bidang keadilan itu. Karena bagaimana pun, hakekatnya tugas itu juga merupakan amanah Allah yang ‘sementara’ dipercayakan-Nya. Marilah kita hidup di dunia ini, dengan niat yang tulus, pikiran yang bersih, dan hati yang suci. Sehingga mampu melaksa- nakan fungsi syariah secara benar dan konsekuen, karena ini merupakan keindahan tersendiri yang menjadi kebanggaan setiap insan. Dengan demikian, tidak ada lagi kemunafikan, dusta, iri, hasud, dengki, buta jabatan, penumpukan materi, dan menghalalkan segala cara dalam kehidupannya. Sebaliknya, hidup ini diisi dengan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran dalam rangka menegakkan keadilan. Semoga Allah menuntunnya. ----- end -----

TAUSIYAH 3
Agar Dapat Melihat Surga

S

eorang anak dengan gayanya yang lugu bertanya kepada ibunya, “bu, apa itu cinta?”. Cinta ada adalah kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari kenikmatan memberi dan kerelaan berkorban, jawab sang ibu. “Karena itukah banyak orang mengagungkan cinta?” tanya sang anak lagi. Dengan sabar dan penuh cinta ibunya menerangkan, bahwa keagungan cinta hanya berada pada cinta Sang Agung, Si pencipta cinta itu sendiri. Dan jika ada yang mengagungkan cinta diatas segalanya, sebenarnya ia tidaklah tengah mengagungkan cinta melainkan perasaan dan nafsunya yang tengah bergumul sehingga meluap menjadi nafsu berbaju cinta. Padahal jika mau membuka tabir sebenarnya, tentu mereka akan sadar kalau tengah terombang-ambing oleh arah cinta yang salah. “ini wajar nak, karena kebanyakan manusia hanya sebatas menggunakan mata kepala dan mengabaikan mata bathinnya, sehingga ia lupa bahwa cinta bersemayam dan bergetar-getar dihati, bukan di kepala, apalagi dimata. Cinta harus dilihat dengan mata bathin, dan kebanyakan manusia memandang cinta hanya berhenti di mata kepala, sehingga seringkali tidak mampu menangkap kemurnian jiwa, kesejukan bathin dari mencinta dan dicinta. Karena itu, mereka yang senantiasa mampu menggunakan mata bathinnya untuk melihat segala hal, ia akan melihat siapapun dan apapun dengan cinta. “Karena Allah pun teramat cinta kepada yang

1

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

mempersembahkan cinta kepada-Nya”. “Lalu kenapa ada orang yang saling membenci, bertengkar dan saling bermusuhan?” tanyanya lagi. Itulah kehebatan Allah. Dia ciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna sehingga dengan kesempurnaan yang dimilikinya itu, manusia bisa menangkap kesan yang lain, tidak hanya cinta. Ada benci, marah, kecewa, senang, tertawa, sedih dan masih banyak lagi. Tak perlu takut, semua itu salah satu anugerah dari-Nya yang patut kita syukuri. Sudah menjadi fitrah manusia tidak menyukai sesuatu yang tidak disenanginya, artinya sesuatu hal yang tidak berkenan, tidak sesuai dengan hati nuraninya, adalah sangat manusiawi jika dibenci. Dan adalah fitrah manusia juga untuk kecewa jika sesuatu tak seperti harapannya, tak seindah mimpinya. Masalahnya kemudian, bagaimana manusia mengkondisikan hatinya agar senantiasa condong kepada kebenaran, sehingga benci, marah dan kecewa serta sedihnya hanya kepada kebathilan, kesemena-menaan, kezhaliman, keserakahan dan bahkan kesombongan diri, juga dosa yang dilakukannya. “Bagaimana dengan tersenyum dan tertawa?” Senyum dan tawa adalah sebuah refleksi, sama seperti benci, marah dan sedih. Hanya bedanya, biasanya senyum dan tawa adalah cermin dari keberhasilan, kemenangan dan prestasi seseorang akan sesuatu. Tak perlu merasa bersalah hanya karena tersenyum dan tertawa. Mungkin Allah menciptakan rasa itu untuk melatih manusia. “Bukankah semua hamba-Nya yang sholeh kelak akan tersenyum di hadapan Allah yang menghadirkan keagungan wajah-Nya?” jelas sang Ibu sambil mengusap kening anaknya yang serap-serap mulai terbuai ke alam tidurnya. Lama ia dibuai cinta sang Ibu, dengan sentuhan lembut ibunya ia memainkan nyanyian dawai-dawai indah yang bergelung-gelung dialam mimpinya. Ia merasakan kehangatan hidup, keceriaan dunia. Mungkin karena usianya yang memang belum pantas merasakan kegetiran dan kepahitannya. Untuk sementara ibunya membiarkan mimpi anaknya tak terusik oleh

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

1

kepayahan mencari sesuap nasi yang dijalaninya, juga hantaman kerikil di sepanjang jalan yang disusurinya. Terik dan hujan menjadi baluran tubuhnya sehari-hari, demi satu cita, tak kan membiarkan dimasa depan anaknya mengeluarkan keringat dan darah seperti yang dialaminya kini. Mungkin semua orangtua mempunyai mimpi yang sama. Hingga dengan demikian sang ibu semakin sadar bahwa hanya Tuhanlah yang selama ini menguatkan, mempertebal kesabaran serta menanamkan keyakinan dihatinya, bahwa esok matahari masih akan terbit. Dan menjelang fajar, seusai kesejukan membasuh seluruh tubuh untuk kemudian bersimpuh dihadapan-Nya. Tak terasa air bening mengalir membasahi pipi, untaian kata pinta yang tak pernah berhenti, yang tak pernah berhias putus asa, yang tak diiringi penyesalan akan beban hidup yang saat ini diamanahkan kepadanya. Terkadang ada tangis yang begitu keras sekeras benturan kehidupan yang menerpanya, hingga tak sadar tangisannya itu menyentuh relung bathin anaknya sampai terbangun. “Kenapa ibu menangis?” Menangis adalah satu anugerah Allah lainnya nak. Menangis adalah wujud dari kelemahan manusia yang jelas-jelas kekuatannya sangat terbatas. Menangis adalah pembuktian akan adanya Yang Maha Kuat yang memiliki kehendak diatas segala mau dan keinginan manusia. Tak perlu malu untuk menangis, karena dengan menangis kita tengah melunturkan kesombongan, kepekatan hati yang penuh noda hitam dari setiap detik hidup yang berlumur salah, juga menghilangkan penyakit-penyakit lainnya yang kerap hinggap di kalbu. Menangis tidak mesti dengan air mata, meski biasanya selalu dengan itu. Air bening yang membasahi mata akan membasuh dosa yang berawal dari penglihatan manusia. Kemudian airnya turun menyejukkan wajah kita. Itulah cara Allah membersihkan wajah manusia yang coreng-moreng oleh kekhilafannya. Maka dengan menangis setiap hari, wajah menjadi bersih, hati pun sejuk kembali dan kebeningan mata yang sudah terhapuskan pekatnya, memberikan keindahan tersendiri. Semua

1

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

itu, hanya agar manusia dapat melihat surga. Wallahu ‘a’lam bishshowaab ----- end -----

TAUSIYAH 4
Allah Cinta Orang-Orang Sabar Di Tengah Bencana

K

etika kita naik mobil angkutan umum di tengah kemacetan lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak boleh mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika kita berdesak-desakkan di kereta api kita juga dituntut sabar. Pada saat itu kita tidak boleh marah, kendati mungkin kaki kita terinjak. Demikian pula di saat negeri ini dibanjiri air yang melimpah kita pun harus sabar. Karena sumpah serapah yang kita arahkan kepada penguasa pun tak akan mengurangi volume banjir yang merendam hampir 30% wilayah Indonesia. Nah, dari air itulah kita tahu bahwa kehidupan dan kematian itu berasal dari air. Jadi, sabar itu memang tidak ada batasnya, sebagaimana iman itu sendiri. Pantaslah jika dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk selalu bersabar (tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir). Bahkan beliau mengatakan,”Sebagian dari iman adalah sabar”. Rasulullah yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Entah itu pemerintah, tetangga, atau orang lain. Anehnya, kita tak pernah menyalahkan diri kita. Padahal, jangan-jangan kesalahan negeri ini juga karena kesalahan kita yang tanpa sadar kita turut menyumbangnya. Kenapa kita diperintah untuk bersabar oleh Allah? Inilah

1

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita. Melalui sikap inilah kita disadarkan bahwa manusia itu tak mampu mengelola hidupnya secara pasti. Dialah Allah yang mengurus segala urusan kita. Itulah makna kita membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘alamien. Artinya, bahwa yang mengatur segala urusan kita itu adalah Dia. Dengan demikian, bersama sabar kita menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks. Untuk menjadi seorang penyabar tidak mudah, memang. Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli mengajak kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orangorang yang sabar). Lihatlah betapa sabarnya seekor unta yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban berat di punuknya. Simak juga kesabaran kerbau atau sapi ketika dengan tekunnya membajak lahan-lahan persawahan. Padahal kalau Allah mau, binatang-binatang itu menolak diperlakukan seperti itu oleh tuan-tuannya. Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah bin Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat tenggelamnya Fir’aun bersama serdadunya di laut Merah ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dan kita juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu. Kalau saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh Suraqah, Musa sudah dipenggal oleh algojo-algojo Fir’aun dan Yunus tidak dikeluarkan lagi dari perut ikan buas itu. Maka sangat wajar bila Allah mengabadikan mereka dalam al-Qur’an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Kuncinya apa? Mereka sabar dalam menjalani hidup ini, tanpa berharap materi di dunia. Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb mereka, Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki. Saudara-saudaraku yang dirundung derita, dan mereka yang sedang ditimpa nestapa, bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang sabar. ----- end -----

TAUSIYAH 5
Al-Qur’an dan Kebebasan Berpikir

A

l-Qur’an menyeru manusia untuk merenungkan kerajaan langit dan bumi serta semua keajaiban dan rahasia ciptaan Allah dalam hidup ini. Menyeru mereka untuk merenungkan semua ini agar mencapai kesimpulan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya “bahwa suatu karya mengharuskan adanya pencipta, suatu jejak pasti pelakunya. Oleh karena itu alam ini pasti memiliki Tuhan yang wajib adanya.” Coba kita simak firman Allah SWT berikut ini, “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gununggunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).” (QS. Qaaf: 6-8) Jika kita menelaah kenyataan-kenyataan dan buktibukti ini, tentu kita akan mengetahui siapa Tuhan yang harus disembah, maha pencipta dan pemberi rejeki? Siapa perencana, penggambar, pengatur dan penguasa? Allah telah mengingatkan kita dalam kisah Ibrahim AS, akan contoh-contoh yang hidup, yang menunjukkan kepada kita bagaimana cara berpikir yang sehat, dan bagaimana seorang mukmin memberikan penalaran yang sehat kepada orang- 

0

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

orang kafir dengan menggunakan sarana-sarana yang kongkrit dan dalil-dalil empiris. Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an, Ibrahim pernah menghancurkan patung-patung berhala sembahan orang-orang kafir. Patung yang paling besar sengaja tidak dirusak oleh Ibrahim. “Siapa yang melakukan terhadap tuhantuhan kita ini,” seru Raja Namrud marah. “Kami mendengar seorang anak muda yang menghancurkan tuhan-tuhan kita itu. Namanya Ibrahim,” kata salah seorang pengikut Namrud. Ibrahim lantas dipanggil, “Apakah kamu yang melakukan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?,” tanya Namrud. “Yang melakukan yang besar ini (Ibrahim menunjuk patung terbesar yang sengaja tidak dirusaknya). Cobalah tanya kepada dia,” Ibrahim menjawab. Terang saja patung itu tidak menjawab. Ibrahim berkata, “ Apakah kalian akan menyembah patung yang tidak dapat mendatangkan manfaat sedikitpun pada kalian dan juga tidak dapat mendatangkan mudharat. Celaka bagi kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Apakah kalian tidak menggunakan akal untuk tahu?” Allah mencela pada setiap orang yang tidak menggunakan akalnya untuk mencapai hakikat kebenaran. Allah juga mengecam kepada orang-orang taklid, yaitu orang-orang yang tidak menghargai nikmat akalnya, sehingga mereka tidak mau memikirkan tentang kekuasaan Tuhan yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan. Sebaliknya mereka berjalan di belakang kerusakan dan kemaksiatan yang mereka warisi dari nenek moyang mereka. “Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang diturunkan Allah”.Mereka menjawab:”(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.Dan apakah mereka (akan mengikuti bapakbapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman: 21). Allah pun tiak main-main menanggapi orang-orang musyrik itu. Firman-Nya:

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

1

“Katakanlah:”Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?” Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya . Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Katakanlah:”Unjukkanlah bukti kebenarannmu jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. An-Naml: 59-64). Allah telah menyampaikan bukti-bukti yang kuat dan mantap tentang keberadaan-Nya, keesaan-Nya. Allah menantang kepada orang-orang yang tidak percaya kepadaNya untuk mendatangkan dalil yang mendukung keyakinannya. Atau bukti yang memperkuat pengakuannya yang palsu itu. Ayat-ayat di atas tak syak lagi membicarakan puncak 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

kebebasan berpikir jauh dari keterikatan taklid dan kejumudan. Kebebasan berpikir di sini bukan berarti melepas kendali pandangan kita, sehingga kita berjalan ngawur dan tenggelam dalam kesesatan dan penyelewengan. Akan tetapi kebebasan berpikir yang dianjurkan Al-Qur’an adalah kebebasan berpikir yang berpegangan pada sinar yang menerangi jalan dan menjelaskan rambu-rambu. Kemudian membiarkan pandangan kita bebas memilih. Ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan mengevaluasi diri dan untuk mengetahui ke arah mana kita akan menuju dan jalan mana yang akan kita tempuh. Pada metode yang jelas lagi sehat inilah Al-Qur’an mengarahkan pemikiran manusia supaya terhindar dari gelombang fitnah, penyelewengan, kesesatan, jauh dari lembah ketaklidan dan kejumudan serta mengangkatnya ke tempat yang mulia, tempat Allah menampakkan kebenaran dan mencapai pantai keselamatan dengan aman dan damai. Di atas jalan yang lurus inilah Rasulullah SAW dan para sahabatnya berjalan. Rasulullah sangat menghargai pendapat yang benar dan melaksanakannya. Rasulullah memberi kelonggaran kepada sahabat yang berjauhan darinya untuk berijtihad dengan aklnya dalam masalah-masalah yang tidak ia dapatkan dalam nash Al-Qur’an atau Sunnah Nabi seraya mengumumkan, “Barangsiapa yang berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan barang siapa yang berijtihad dan slaah, maka baginya satu pahala”. Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah mengutus Mu’adz Ibnu Jabal sebagai hakim di Yaman. Nabi bertanya, “Wahai Mu’adz! Dengan apa engkau menghakimi? Muadz menjawab, “Dengan Kitab Allah.” “Jika engkau tidak mendapatkan dalam Kitab Allah?” Kata Mu’adz, “Dengan Sunnah Rasulullah”. “Dan jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah?” Mu’adz menjawab, “Aku berijtihad dengan pendapatku.” lalu Nabi menepuk dadanya seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik utusan Rasulullah.” Berangkat dari pemikiran yang sehat ini dapat kita katakan bahwa perbedaan mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Malikiyah dan

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

Hambaliyah hakekatnya melambangkan kebebasan berpikir. Kaum muslimin tidak statis di hadapan teks Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi kemudian berhenti pada makna lahiriyah tanpa rahasia-rahasianya. Akan tetapi setiap orang muslim mendalami dan menyelaminya sampai ia dapat mengambil dari ‘harta karun’ yang berharga ini sesuai dengan kemampuannya, dan menyingkap jaraknya yang sangat jauh sesuai dengan kemampuan pandangan mata hatinya. Sebagai akibat dari perbedaan kemampuan dalam lapangan akal pemikiran dan pandangan mata dan hati, timbullah perbedaan pendapat di kalangan ilmuwan-ilmuwan (ulama) agama, pakar-pakar fiqh dan pemikir Islam. Dan perbedaan pendapat itu tidak mungkin bertentangan dan bertolak belakang, karena berasal dari satu sumber, yaitu Kitab Allah yang tidak dapat dijamah kebatilan dari depan atau dari belakang. Dan Kitab Allah itu selalu mengarahkan kepada satu tujuan, yaitu membuat manusia berbahagia baik secara perseorangan maupun secara kelompok masyarakat. Mengarahkan energi manusia pada hal-hal yang bermakna dan bermanfaat serta menjauhkan manusia dari hukum rimba dan logika taring dan kuku binatang. Oleh karena itu kaum muslimin berlapang dada terhadap perbedaan yang timbul dari kebebasan berpikir karena perbedaan ini tidak akan melampaui lapangan kebenaran baku yang telah digariskan, tidak akan mengakibatkan lahirnya keburukan dan kerusakan, akan tetapi malah akan mewujudkan keadilan dan kesadaran. Sebab dengan adanya perbedaan ini jalan-jalan menuju keselamatan bertambah banyak, dan bertambah banyak pula pintu-pintu masuk keridhaan Allah dan rahmat-Nya. Maka seyogyanya kaum muslimin di seluruh tempat dan zaman untuk mengambil petunjuk tata cara Islam dan prinsipprinsipnya yang luhur lagi bijaksana. Seharusnya mereka juga belajar dari agamanya bahwa perbedaan pendapat tentang suatu persoalan atau pemikiran tidak sepatutnya menjadi penyebab putus hubungan atau sekat pemisah selama masih 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

ada Kitab Allah SWT berikut Sunnah Rasulullah berada di antara yang sedang kebingungan. Al-Qur’an dan Sunnah itu akan membimbing orang-orang yang sedang kebingungan dan membimbing orang-orang yang sesat menuju jalan kebajikan dan keberuntungan. Semoga. ----- end -----

TAUSIYAH 6
Arif di Tengah Krisis

A

kibat krisis yang berkepanjangan, Madinah ditimpa paceklik. Harga bahan pangan membumbung naik. Banyak penduduk hartawan, karena takut dihantui kelaparan, beramai-ramai menimbun gandum yang makin lama makin tipis persediaannya di pasar-pasar. Tidak demikian dengan rakyat kecil, mereka terpaksa berbelanja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari saja. Esoknya belum tahu bagaimana nasibnya. Ja’far Sadik, salah seorang cucu Ali bin Abi Thalib, termasuk salah seorang diantara yang hidupnya berkecukupan. Kepada Maktab, pengurus keluarganya, Jakfar bertanya,”Masih adakah persediaan pangan kita?” Maktab mejawab,” Masih banyak sekali, Tuan, gandum kelas satu yang paling lezat rasanya, dan di pasar hampir tidak dijual lagi karena yang tersisa di tempat umum hanya jewawut.” “Kalau begitu, semua gandum yang berada di gudang bawalah ke pasar dan juallah seluruhnya.” Maktab sangat heran mengikuti jalan pikiran Tuannya. Ia kembali menjelaskan,” Madinah sekarang sedang di landa kekurangan pangan, Tuan. Kalau gandum itu kita jual semuanya belum tentu kita bisa membelinya kembali besok pagi.” Ja’far bersikeras,”Bawa ke pasar dan jual seluruhnya. Kita harus berbelanja seperti rakyat kebanyakan. Kalau mereka berbelanja hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari, kita juga 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

harus begitu. Kalau mereka tidak mendapat makanan, apakah kita layak makan kenyang sendiri. Mengapa pula kita harus menimbunya di gudang?” Maktab menggeleng-geleng, memikirkan sifat tuannya yang begitu nekad. Belum habis kebingungannya, Ja’far kembali berkata,” Mulai besok, kita beli jewawut saja. Bila rakyat kecil masih kuat beribadah hanya dengan makan jewawut, mengapa kita tidak bisa?”

Ujian kaum muslimin

Apa yang sedang dialami oleh masyarakat Indonesia sekarang, tidak jauh berbeda dengan yang pernah dialami masyarakat kota Madinah ketika itu. Dari heri ke hari banyak masyarakat yang semakin panik menghadapi hidup. Di saat harga-harga kebutuhan pokok terus bergerak naik, banyak perusahaan yang gulung tikar. Akibatnya kini ribuan orang terkatung-ketung kehilangan mata pencaharian. Pengangguran semakin banyak. Tidak hanya para buruh bangunan, petani, karyawan-karyawan perusahaan dan buruh-buruh pabrik yang semakin pusing memikirkan nasibnya besok, tapi juga kalangan eksekutif, para bankir dan pengusaha. Mereka juga ikut puyeng membayar kredit yang sudah jatuh tempo, juga dengan jumlahnya yang besar. Adakah nasib akan lebih baik atau justru malah sebaliknya? Kegundahan itu melanda ke semua lapisan masyarakat dengan kadar yang berbeda-beda. Masing-masing mempersiapkan segala kemungkinan dengan versinya sendiri sendiri. Di masjid rumah Allah yang mulia ini, kita tidak bermaksud menghujat siapa-siapa. Sebab menghujat atau tidak, semuanya sudah terjadi. Krisis ini sedang kita alami bersama-sama. Kita terimalah sebagai teguran dari Tuhan dengan penuh kesabaran dan lapang dada. Semoga dengan demikian kita tidak kehilangan energi untuk menghadapi tantangan yang boleh jadi akan lebih besar lagi. Kita tidak perlu panik dengan turut memikirkan harga dolar yang terus melambung naik. Apalagi turut latah dengan beramai-ramai memborong dolar. Apapula itu dolar? Sedang melihat bentuknya saja sebagain bear kita tidak tahu. Ia boleh

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

7

jadi makhluk asing bagi sebagaian kita. Namun kini ia sedang bikin pusing banyak kalangan. Secara fisik bentuknya sama dengan rupiah, terdiri dari kertas dan diberi fariasi gambar. Tapi yang membuat gila adalah orang yang mempermainkan di balik itu semua. Manusia-manusia rakus yang berjiwa binatang.

Krisis Kemanusiaan

Jangan sampai kita terkikis keyakinan dan aqidah akibat cubitan Tuhan yang sebenarnya sudah sangat layak ditimpakan kepada kita ini. Krisis ekonomi, krisis moneter, krisis pangan, krisis sosial dan entah krisis apapun namanya tetaplah sebagai ujian Tuhan. Ia terangkai dalam satu krisis besar: krisis kemanusiaan, krisis aqidah. Oleh karenananya janganlah sampai krisis berubah menjadi Tuhan. Kita tidak perlu kehilangan kendali akibat musibah yang sedang menimpa kita sehingga komunikasi kita dengan Allah terganggu. Kita berputus asa. Tuhan terputus seolah terlepas antara kondisi yang terjadi dengan iradatnya, keinginannya. Allah swt, berkuasa atas segala sesuatu yang menjadi ciptaanNya. Allah swt berfirman: “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat(nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus ada dan tidak berterimakasih.” (QS. Huud: 9) Kita telah begitu banyak memperoleh kenikmatan, seiring dengan itu kita juga bergelimang dosa dan kemaksiatan. Pendidikan seks, penjualan kondom, minuman keras dan peredaran obat-obat terlarang yang sudah menyerupai penjual pisang goreng ini sudah bukan lagi barang baru. Mata kita, telinga, mulut dan dada kita sudah sesak mendengarkan dan menikmati informasi barang-barang yang menyesatkan itu. Di media-media massa, kita dapat menarik grafik ledakan peminat yang terus menjadi-jadi. Semakin kita meratap, kita bagai diserang dengan gumpalan air bah yang menyerang begitu kerasnya. Siapakah yang salah? Sudah barang tentu bukan petani.

Meningkatkan persaudaraan 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Yang kita kutuk adalah mereka yang selalu berpikir untuk kepentingan sendiri, keluarga dan kelompoknya tok. Kondisi yang tidak menentu ini mereka jadikan alasan untuk menimbun barang digudang istananya. Mereka cadangkan untuk kepentingnnya hingga beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan. Ketika masyarakat di sekelilingnya sedang bingung memikirkan apa yang akan dimakan besok hari, yang mereka hitung adalah jumlah keuntungan yang akan diperolehnya jika barang-barang yang ada sudah naik harga menjadi seratus kali lipat! Itulah saat yang dinanti-nantikannya. Rasulullah saw bersabda, “Penghuni neraka ialah orang yang buruk perilaku dan akhlaknya dan orang yang berjalan dengan sombong, sombong terhadap orang lain, menumpuk harta kekayaan ....”(HR.Al-Hakim dan Ahmad) Ada korelasi antara orang yang berperilaku buruk, sombong dengan orang yang gemar menumpuk kekayaan. Dan pada masa krisis orang seperti ini akan semakin menampakkan kekikiran dan ketamakannya. Orang-orang yang seperti ini makin kelihatan dengan tingkat kepanikannya. Kita kaum muslimin sungguh sangat disayangkan bila turut ikut-ikutan latah seperti itu. Alangkah indahnya bila kita mencontoh sikap yang telah ditunjukkan oleh Ja’far Sadik, cucunda Ali bin Abi Thalib, dalam menghadapi kasus serupa seperti kisah di atas. Di saat orang lain dalam keadaan susah, ada perasaan susah dan tidak bisa tidur karena memikirkan kesulitan yang sedang dihadapi oleh saudara-saudaranya. Yaitu kalangan miskin dan rakyat jelata. Inilah sebenarnya kesempatan yang paling tepat untuk menunjukkan rasa cinta kita dengan sesama, kepada saudarasaudara kita sebagai wujud iman yang telah tumbuh di dada. Kita pertautan hati antara kita dengan saudara seiman pada kesempatan penuh duka bersama seperti sekarang ini. Itu semua agar kita tidak terancam dalam kelompok orang yang bukan mukmin, seperti sabda Rasulullah saw, “Bukanlah seorang muslim orang yang bermalam dalam keadaan kenyang, padahal tetangganya berada dalam keadaan lapar, sedang ia

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

mengetahui keadaan itu.” Kita berlindung kepada Allah dari sifat tercela tersebut. ----- end ----- 

0

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

TAUSIYAH 7
Bahwa Tak Ada Yang Abadi

K

etika Matahari menampakkan diri di pagi hari, dan terus menerpakan sinarnya ke setiap sudut alam hingga puncaknya pada tengah hari. Menjelang senja, ia pun mulai bersiap-siap meninggalkan singgasananya untuk bertukar peran dengan rembulan yang akan bercahaya menerangi malam hingga fajar. Bulan tak sendiri, ia ditemani oleh bintang-bintang yang berkelipan, belum lagi lintasan-lintasan benda langit lainnya yang menjadikan alam atas teramat mengagumkan. Begitu seterusnya, tak pernah matahari menguasai sepanjang hari, bulan dan bintangpun demikian. Karena sesungguhnya, tak satupun mereka berhak memiliki hari sepenuhnya. Terkadang, langit cerah disertai mentari pagi yang menghangatkan menjadi mimpi terindah setiap makhluk di muka bumi. Tapi, tidak akan pernah mentari seterusnya berseri dan langit cerah, karena bukan tidak mungkin atap dunia itu berubah mendung dan menghitam, mencekam dan menebar ketakutan. Angin sejuk sepoi-sepoi yang terasa menyegarkan saat belaiannya menyentuh kulit, sesaat kemudian bisa berputar dan berputar membentuk tornado yang dalam sedetik meluluhlantakkan semua yang terhampar di bumi. Air laut yang tenang, pantai yang indah dengan ombak yang melambai indah, hamparan pasir yang halus, disaat yang lain bisa menjadi gelombang air dahsyat yang menenggelamkan sejuta harapan, meninggalkan bekas yang memilukan. 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Bunga-bunga yang hari ini terlihat indah merekah, satu dua hari kemudian akan layu dan memudar warnanya, bisa karena hempasan angin, sengatan matahari atau terusik unggas. Dedaunan akan tetap berwarna hijau bila ianya tetap menyatu dengan tangkainya, tatkala ia luruh dan jatuh ke tanah, mengeringlah ia. Embun pagi yang bening di ujung daun, dalam beberapa detik takkan lagi terlihat. Setelah jatuh, habislah ia. Tinggal menunggu esok pagi kan datang tuk bisa menikmati kembali beningnya. Unggas pagi, berteriak lantang pertanda dimulainya hari, tidak jarang, mereka membangunkan insan yang setengah malas dan kantuk masih di sudut mata. Ketika siang, saat manusia-manusia bergegas dalam segala bentuk aktifitas mereka, makhluk lain pun menjalankan perannya masing-masing. Menjelang senja, sinar merah kekuningan seperti meminta perhatian makhluk bumi untuk bersiap menyambut malam. Tak hanya manusia, hewan-hewan bahkan binatang melata pun beriringan menuju rumah mereka, menikmati malam, memandangi rembulan dan bintang-bintang, dan mendengarkan hewan-hewan malam bersahutan mewarnai malam yang panjang, hingga menanti datangnya fajar. Manusiamanusia aktif yang terkadang tak kenal lelah, terlelap dalam buaian selimut, mimpi, harapan serta do’a. Hingga esok, ada yang terbangun, dan ada yang tetap terlelap, menutup mata untuk selamanya. Tugasnya sebagai manusia telah selesai. Tak ada manusia yang memiliki sepenuhnya hari, tak ada makhluk yang memiliki sepenuhnya kehidupan. Dan tak ada jiwa yang memiliki sepenuhnya apapun yang sesungguhnya bukan berasal darinya. Semua perubahan, kejadian, dan perputaran peran itu meyakinkan kita, bahwa tak ada yang abadi. Bayi mungil, lucu dan menyenangkan saat lahir, beranjak dewasa, kemudian tua dan akhirnya mati. Kemudian, generasi berikutnya hadir, hingga diakhiri lagi dengan kematian. Itulah hidup. Seperti matahari yang tak pernah selamanya bersinar, seperti daun yang mengering saat tanggal dari tangkainya, seperti embun yang meski sedemikian indah, hanya sekian

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

detik saja umurnya. Seperti hujan yang mungkin setiap hari turun tak pernah berhenti, tak pernah setiap yang diciptakan Tuhan di alam ini, berkuasa untuk tetap memiliki kejadiannya seutuhnya. Karena mereka hanya makhluk, yang semuanya terus berubah dan berujung pada akhir. Tak seperti Pencipta semua makhluk itu sendiri, karena Ianya tak berawal, maka tak ada akhirnya pada-Nya. Sedangkan kita, atau makhluk lainnya, memiliki awal, dan sudah pasti tertulis sudah akhirnya. Kita hanya tinggal menunggu waktu. Sebagai makhluk, tak sekedar untuk hidup Allah menciptakannya. Setiap ciptaan Allah, memiliki peran yang menjadi amanahnya. Kita semua, berdiri, berdiam diri, tertidur, berjalan, berhenti sejenak, kemudian berjalan lagi, sesekali istirahat hanya untuk menorehkan catatan diri. Tinta merah atau biru yang hendak kita pakai untuk mengisi lembaran putih catatan itu, hak sepenuhnya ada di tangan kita. Jikalah matahari selalu mempunyai catatan biru dalam buku raport-nya, begitu juga dengan rembulan, langit dan semua benda yang menghiasinya, hewan-hewan yang senantiasa ikhlas menjadi bagian hidup manusia, tetumbuhan, bumi tempat berpijak, lalu kenapa kita tak pernah iri untuk senantiasa memperbaiki catatan merah kita di hadapan Allah? Makhluk-makhluk Allah yang lain, manusia-manusia yang berlomba menorehkan tinta biru dalam catatan akhirnya, sungguh teramat sadar bahwa waktu yang Allah berikan teramat singkat, hingga tak pernah terpikir olehnya untuk berbuat satu hal pun yang bisa menyebabkan lembaran putihnya ternoda oleh titik merah. Bersujud dan berdo’a, mencari keridhoan Allah di setiap detik, setiap langkah, dan jalan yang dilaluinya, agar tak ada sedikitpun kebencian di mata Allah keatasnya. Belajar dari manusia-manusia terdahulu yang telah mengukir nama mereka di hati Allah, semestinya saat ini, kita terus berjuang keras untuk bisa mendapatkan satu tempat di hati-Nya untuk menggoreskan nama kita. Harta yang banyak, bukan jalan untuk bisa mendapatkan tempat di hati Allah. Kendaraan yang bagus, jabatan tinggi, 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

status sosial terhormat, perhiasan dan berjuta keindahan dunia, juga tidak. Bukan semua itu yang akan menjadikan kita makhluk berarti di mata Dia. Karena sesuatu yang tak abadi, tak mungkin bisa menjadi bekal menuju keabadian untuk bertemu Yang Maha Abadi. Jiwa yang bersih, jiwa yang tenang, adalah jiwa yang pertama hadir dalam bentuk jasad manusia saat pertama ditiupkan. Hanya dengan kembali dengan kebersihan dan ketenangan semula, ia bisa diterima disisi Yang Maha Abadi. Maka, belajar dari semua ketidakabadian selain Allah, jangan pernah menghabiskan waktu (yang teramat sebentar ini) yang diberikan Allah ini, tanpa torehan tintas kebaikan. Mungkin besok, tak ada lagi waktu buat kita menggenggam tinta biru. ----- end -----

TAUSIYAH 8
Belajar Bersyukur

S

eorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya. Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anakanaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang ... sayang... mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing. “Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18). Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na’udzubillahi min dzalik. Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup. Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah... alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na’udzubillah. Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin. Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

7

kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim). “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar). ----- end ----- 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

TAUSIYAH 9
Belajar dari Kematian

K

ematian adalah peristiwa akbar yang akan menimpa siapa saja yang bernama makhluk hidup. Cepat atau pun lambat, kematian itu pasti akan tiba. Yang membedakan hanya waktu, siapa yang akan dipanggil lebih dulu dan siapa yang masih ditangguhkan. Jatah untuk ke arah panggilan itu masing-masing sudah jelas. Dalam firman-Nya Allah swt menjelaskan urut-urutan kepastian ini, yang diawali dengan mengingatkan asal-muasal kejadian manusia sbb: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.” (QS Al-Mu’minun: 12-15). Kita semua ini tidak lain adalah makhluk-makhluk yang sedang pasrah menunggu datangnya al-maut. Suka atau tidak suka. Siap atau pun tidak. Kematian akan datang juga. Mungkin nanti, besok, lusa atau bahkan setelah kita menikmati tulisan 

0
ini.

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Karena kesibukan, orang sering dibuat lupa dengan sunatullah ini. Kesibukan sering mengantarkan orang lupa pada jadwal tetap yang pasti akan dialami. Kekagetan biasanya muncul setelah ada sanak-saudara atau tetangga yang meninggal. Pada saat itu baru kembali muncul kesadaran bahwa panggilan bergilir ke alam baka masih terus berlanjut. Undangan kematian masih tatap datang. Anehnya, banyak informasi kematian yang diterima baik melalui televisi, majalah, maupun koran, sering tidak menggetarkan hati. Bahkan bernilai seperti hiburan? Berita perihal kematian --yang mengerikan sekalipun-- tidak ubahnya dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan kriminalitas. Kematian Lady Diana, misalnya, ketika peristiwa itu baru terjadi hampir seluruh masyarakat dunia turut terbelalak, menangis, histeris. Seolah tidak yakin kalau hukum kepastian ini juga berlaku untuk seorang manusia bernama Diana. Mereka meraung dan meratap: “Ooh.. mengapa orang seperti dia harus mati. Mengapa di usia yang semuda itu harus meninggalkan dunia?” Lolongan itu justru aneh, karena lupa di balik itu masih ada jadwal panggilan untuk dirinya juga, sudah ada di depan matanya, sudah beberapa saat lagi tiba gilirannya. Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari peristiwa apapun di dunia ini. Tidak pula karena wafatnya orang terkenal, pemimpin dunia, public figure, atau apapun namanya dengan seorang TKW yang meninggal karena teraniaya. Semuanya kembali pada perjalanan akhir yang bersangkutan, adakah nilai iman dan taqwa di dalam hatinya. itulah bekal yang paling baik sekembalinya manusia setelah mengarungi hidup di dunia. Taqwa itulah bekal kembali yang paling baik setelah manusia berpulang ke alam baqa sana. Bila ada bekal takwa berarti ada bekal yang siap dibawanya untuk ‘melapor’ di hadapan Tuhan. Mengapa peristiwa kematian tidak banyak mengundang kesadaran? Padahal di sana lengkap terpampang sejumlah mayat yang bergelimpangan, juga dengan uraian-uraian

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

1

kejadian yang kadang didramatisir media massa sehingga nampak begitu negerikan? Mengapa jadi demikian? Kejadian seperti itu tidak lain karena manusia telah begitu lelah menghadapi kehidupan ini. Manusia telah disibukkan oleh berbagai kegiatan mencari penghidupan yang membuatnya lupa. Juga dipadatkan oleh masalah yang bertumpuk. Masalah itu setiap hari semakin bertambah banyak. Karena kelelahan itulah hingga informasi yang datangnya dari kampung akhirat bukan bernilai pendidikan dan peringatan lagi. Menyangkut hal ini, salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Nabi saw lalu bersabda, “Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul.” (HR AthThabrani) Ingat pada kematian akan membuat manusia punya kendali. Pangkal dari lupa dan keserakahan sebenarnya bermula dari sini, tidak ingat akan mati. Yang dibayangkan bagaimana bisa hidup lebih lama, bersenang-senang lebih banyak, dan dapat menghabiskan waktunya untuk bersuka-ria dengan leluasa. Kalau ada jatah, bahkan minta umurnya lebih lama hingga seribu tahun! Yang serakah bertambah keserakahannya, yang rakus semakin rakus dan yang zhalim semakin bertambah-tambah kezhalimannya. Kecenderungan ke arah sana dimiliki oleh siapa saja, lebih terkhusus oleh mereka yang lupa akan al-maut. Rasulullah saw bersabda, “Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan.” (HR AthThabrani) Seandainya kematian ini telah dipetik sebagai pendidik (guru) hati manusia secara otomatis akan terkendali. Kecurangan, kerakusan, kesombongan dan berbagai bentuk penyakit hati yang bersarang di dada akan dibunuh oleh takutnya pada mati. 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

Sebagus apapun rupa, pada akhirnya akan binasa. Secantik bagaimanapun istri yang kita miliki, anak yang kita sayangi, perhiasan dan istana yang ada, semua akan ditinggalkan juga. Semuanya akan diakhiri oleh kematian. Karena hukum pastinya ini Nabiyullah yang mulia saw mengingatkan agar dalam pergaulan kita tidak mudah tertipu oleh bayang-bayang. Kita tidak diperbolehkan memvonis seseorang itu baik atau jahat, beruntung atau celaka. Karena kunci dari semua itu adalah pada ujung perjalanannya. “Janganlah kamu mengagumi amal seorang sehingga kamu dapat menyaksikan hasil akhir kerjanya.” (Ath-Thusi AthThabrani) Boleh jadi kita sering heran. Tidak jarang orang yang kelihatan baik-baik, rajin beribadah dan bershiyam Ramadhan meninggal dalam keadaan bermaksiat. Sementara di sisi lain kita juga menjumpai kasus yang tidak masuk akal, karena orang yang semula kita katakan brengsek, suka mengganggu lingkungan, bahkan dalam kalkulasi kita tidak pernah ada bayangan bakal mencium bau syurga sekalipun, justru mengakhiri hidupnya dengan husnul-khatimah. Tapi kasus seperti itu bukan untuk membuat kita ragu dan plin-plan. Pegangan hidup harus jelas. Menegakkan kepribadian Islam sama sekali tidak boleh surut dengan menyebarkan nilainilai al-Qur’an dan hadits untuk diri kita dan lingkungan. Karena Allah tetap Maha adil. Kalau Dia memutuskan untuk memberi hidayah terhadap seseorang, maka tentulah ada dari seseorang itu nilai yang baik yang layak sebagai landasan pemberian petunjuk itu. Ketentuan dan kehendak Allah di luar kaidah apapun yang dikenal manusia, hanya saja Dia menunjukkan cara yang bisa dipahami, misalnya dengan kaidah sebabakibat. Semua itu terjadi karena kehendak Allah terhadap makhluk-Nya agar sunnah-Nya dipelajari, direnungkan, dan dihayati apa makna-maknanya. Dan yang terpenting agar kita dijauhkan dari akhir kehidupan yang rugi dan sia-sia, suulkhatimah. Marilah kita ingat sekali lagi, bahwa kita akan mati,

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH
dan mungkin saja itu terjadi besok pagi. ----- end -----  

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

TAUSIYAH 10
Berbuatlah...

W

alid bin Mughirah, Umayyah bin Khalaf, dan Al-`Ash bin Wail telah membelanjakan hartanya untuk memerangi risalah dan melawan kebenaran, “Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (QS Al-Anfal: 36) Namun kebanyakan kaum muslimin justru kikir dengan harta mereka, sehingga tidak terbangun menara keutamaan dan tugu keimanan, “Dan, barangsiapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri.” (QS Muhammad: 38) Demikianlah gambaran tekad kuat para durjana dan kelemahan orang-orang yang bisa dipercaya. Dalam memoar Golda Mier, mantan Perdana Menteri Israel, yang berjudul Malice, disebutkan bahwa dalam satu fase hidupnya dia harus bekerja selama enam belas jam tanpa istirahat demi mempertahankan prinsip-prinsipnya yang sesat dan pikiran-pikiran yang menyimpang itu, hingga akhirnya berhasil melahirkan negara Israel bersama-sama dengan Ben Gurion. Kalau mau silahkan membaca buku dimaksud. Saya sendiri sering menyaksikan generasi kaum muslimin yang sama sekali tidak pernah berbuat, meski hanya satu jam saja. Mereka larut dalam main, makan, minum, tidur, dan menghabiskan waktu percuma, Apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berjuang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

(QS At-Taubah: 38) Umar adalah sosok yang sangat giat bekerja siang malam. Dia hanya menyempatkan tidur sebentar. Sampaisampai keluarganya menegurnya, “Engkau tidak tidur?” Tapi teguran itu dijawab oleh Umar, “Jika aku tidur di malam hari maka sia-sialah diriku, dan jika aku tidur di siang hari maka siasialah rakyatku.” Dalam memoar seorang tiran, Mose Dayan, yang berjudul The Sword and Rule dituliskan bahwa dia harus terbang dari satu negara ke negara yang lain, dari kota satu ke kota yang lain, siang dan malam, terang-terangan dan sembunyisembunyi, harus menghadiri berbagai pertemuan, mengadakan konferensi, mengatur kesepakatan dan perjanjian, dan tak lupa menulis dalam catatannya. Sayang sekali memang, bahwa orang yang lebih pantas menjadi saudara kandung kera dan babi seperti dia, justru bisa menunjukkan keuletan seperti ini. Sebaliknya, kebanyakan kaum muslimin justru menunjukkan kemalasannya. Inilah tekad orang durjana dan kelemahan orang yang bisa dipercaya. *** Umar bin Khattab telah menyatakan perang terhadap semua bentuk pengangguran, kemalasan, dan ketidakgiatan. Bahkan Umar bin Khattab pernah menarik keluar para pemuda yang diam di dalam mesjid dan tidak melakukan apa-apa. Umar memukul mereka dan berkata, “Keluar kalian, cari rezeki. Langit tidak akan menurunkan emas dan perak.” Kemalasan dan ketidakgiatan hanya akan melahirkan pikiran-pikiran yang negatif, kesengsaraan, penyakit kejiwaan, kerapuhan jaringan syaraf, keresahan, dan kegundahan. Sedangkan kerja dan semangat akan mendatangkan kegembiraan, suka cita dan kebahagiaan. Segala kecemasan, keresahan, kegundahan, dan penyakit-penyakit intelektual, syaraf dan jiwa, akan berakhir bila masing-masing kita menjalankan peranannya dalam hidup ini. Sehingga semua lapangan kerja menjadi ramai. Pabrik-pabrik menjadi produktif, tempat-tempat kerja akan sibuk, lembaga-

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

7

lembaga sosial dan dakwah dibuka kembali, dan pusat-pusat kegiatan budaya dan ilmiah marak di mana-mana. Firman Allah, “Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu sekalian’.” “Menyebarlah di permukaan bumi.” “Bersegaralah!” “Cepat-cepatlah.” Juga sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Nabi Allah Daud akan makan dari hasil kerja tangannya.” Al-Rasyid memiliki sebuah buku yang berjudul Shin’atul Hayat (Merancang Kehidupan). Dalam buku ini ia berbicara banyak tentang masalah ini dan menyebutkan bahwa banyak orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini, “Mereka hidup, tapi seperti orang yang sudah mati. Mereka tidak menangkap apa rahasia dibalik kehidupan mereka, mereka tidak melakukan yang terbaik untuk masa depan, umat maupun diri mereka sendiri.” Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang. Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah. (QS An-Nisa’: 94) Seorang seorang perempuan kulit hitam yan menyapu mesjid Rasulullah telah memainkan perannya dalam kehidupan. Dan, dengan peran yang dia mainkan dia masuk surga. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. (QS Al-Baqarah: 221) Demikian pula budak yang mengerjakan mimbar Rasulullah, telah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Dan, dia memperoleh pahala atas apa yang dia lakukan, karena memang bakatnya di dunia pertukangan. Orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya. (QS At-Taubah: 79) ----- end ----- 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

TAUSIYAH 11
Menjadikan Shalat Sebagai Pencegah Perbuatan Keji Dan Munkar

S

etiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah SWT dalam Kitab dan Sunnah rasulNya. Pada akhirnya nilai-nilai keagungan Islam senantiasa mewarnai ruang kehidupan Muslim. Tidak hanya terbatas pada ruang kepribadian individu Muslim, namun nilai-nilai itu dapat ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat Muslim. Kita bisa merenungkan kembali ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan hal ini, sebagaimana salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. 2/Al-Baqarah: 183). Melalui ibadah puasa, Allah SWT menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa. Pribadi yang tidak pernah mengenal slogan hidup kecuali slogan yang agung ini: sami’naa wa atha’na. Pribadi yang senantiasa melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya dalam situasi dan kondisi apapun. Oleh karenanya, Nabiyullah agung Muhammad SAW telah bersabda: “Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu 

0

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

berada, ikuti keburukan dosa dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya dan gauli manusia dengan akhlak yang baik.” Dalam sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa faridlah (kewajiban) maka jangan sekalikali kamu menyia-nyiakannya, Dia telah menetapkan batasanbatasan maka jangan sekali-kali kamu melampui batas, Dia telah mengharamkan banyak hal maka jangan sekali-kali melanggarnya….” “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 9/At-Taubah: 103). Dengan ibadah zakat, Islam mengharapkan tumbuh subur sifat-sifat kebaikan dalam jiwa seorang Muslim dan mampu memberangus kekikiran dan cinta yang berlebihan kepada harta benda. Begitu juga ibadah shalat yakni ibadah yang jika seorang hamba melaksanakan dengan memelihara syaratsyarat, rukun-rukun, wajibat, adab-adab, dan kekhusyu`an di dalamnya, niscaya ibadah ini akan menjauhkannya dari perbuatan keji dan kemunkaran. Sebaliknya, ibadah ini akan mendekatkan seorang hamba yang melaksanakannya dengan sebenarnya kepada Sang Khalik dan mendekatkannya kepada kebaikan-kebaikan serta cahaya hidup. Perhatikan ayat berikut ini, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 29/Al-Ankabuut: 45). Muslim yang selalu menunaikan ibadah ini akan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kebaikan dan mampu menjadi cahaya di tengah-tengah masyarakatnya. Muslim yang memiliki hamasah yang menggelora dalam memperjuangkan kebenaran dan memberangus nilai-nilai kemunkaran, kelaliman,

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

1

dan perbuatan keji lainnya. Hatinya terasa tersayat di saat menyaksikan pornografi dan porno aksi mewabah di tengahtengah masyarakatnya. Jiwanya akan terus gelisah ketika melihat kelaliman yang dipermainkan para budak kekuasaan. Memang, ia harus menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah kegelapan zaman ini. Allah berfirman, “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. 6Al-An’am: 122)

Shalat Yang Berhikmah

Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan Allah SWT kepada umat ini pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Ibadah yang merupakan simbol dan tiang agama, “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR Muslim). Ibadah yang dijadikan Allah sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat, “Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (HR At-Thabrani). Ibadah shalat merupakan wasiat Nabi yang terakhir kepada umat ini dan yang paling terakhir dari urwatul islam (ikatan Islam) yang akan dihapus oleh Allah SWT. Selain ini, shalat juga penyejuk mata, waktu rehatnya sang jiwa, saat kebahagiaan hati, kedamaian jiwa dan merupakan media komunikasi antara hamba dan Rabbnya. Ibadah yang memiliki kedudukan atau manzilah yang agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita, tatkala kita lalai menjaga arkan, wajibat dan sunah yang inheren dengan ibadah ini. Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini maka kita tidak akan mampu menangkap untaian 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini. Tidakkah banyak di antara manusia Muslim yang ahli ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat namun masih suka melakukan kemaksiatan. Hal ini disebabkan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah sama sekali tidak mampu memberikan pesan-pesan ilahiah di luar shalat. Takbir yang dikumandangkan di saat beribadah tidak mampu melahirkan keagungan di luar shalat. Do’a iftitah “Inna shalaatii wa nusukii….” yang dilafazkan dalam shalat tidak mampu mengingatkan tujuan hidupnya. Ibadah ini seolah-olah hanya menjadi gerakan-gerakan ritual yang maknanya tidak pernah membumi dalam kehidupan orang yang melaksanakannya. Oleh karena itu, ibadah shalat yang mampu melahirkan hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran, hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, apabila dilakukan dengan penuh kekhusyukan, mentadabburkan gerakan dan ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan dengan tafakkur yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari ibadah dengan merasakan kenikmatannya, terkontaminasi dengan nilai-nilai keta’atan dan mendapatkan cahaya ma’rifatullah. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak seorangpun yang melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki wudlunya, khusyuk dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.” (H.R. Muslim) Inilah yang pernah dilakukan oleh salaf shalih termasuk di dalamnya Ibnu Zubair RA. Mereka laksana tiang yang berdiri tegak karena kekhusyukannya. Mereka terbius dengan kerinduannya akan Rabbnya dan mereka asyik berkomunikasi dengan Sang Khalik tanpa terganggu dengan suara makhlukNya.

Kiat-kiat memelihara hikmah shalat

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH 

terjaga. Pertama, menjaga arkan, wajibat dan sunah. Rasulullah SAW bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.” Kedua, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. 98/Al-Bayyinah: 5). Ketiga, memahami dan mentadabburi ayat, do’a dan makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. 107/ Al-Maa’uun: :4-5). Keempat, mengagungkan Allah SWT dan merasakan haibatullah. Rasulullah SAW bersabda, “…Kamu mengabdi kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat kamu…” (H.R. Muslim). Semoga kita semua mampu merenungkan kembali arti shalat dalam kehidupan dakwah dan memperbaikinya agar kita benar-benar mi’raj kepada Allah SWT. Wallahu A’lam Bishshawwab. ----- end ----- 

KUMPULAN MATERI TAUSIYAH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->