P. 1
Konsep Diri pada Wanita Dewasa Awal yang Melakukan Hubungan Seksual Pranikah

Konsep Diri pada Wanita Dewasa Awal yang Melakukan Hubungan Seksual Pranikah

|Views: 2,688|Likes:
Published by Bobby Hartanto

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Bobby Hartanto on Jul 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat

kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim

antara laki-laki dengan perempuan. Karakter seksual masing-masing jenis kelamin

memiliki spesifikasi yang berbeda.

Sexual characteristics are divided into two types. Primary sexual

characteristics are directly related to reproduction and include the sex organs

(genitalia). Secondary sexual characteristics are attributes other than the sex

organs that generally distinguish one sex from the other but are not essential

to reproduction, such as the larger breasts characteristic of women and the

facial hair and deeper voices characteristic of men (Microsoft Encarta

Encyclopedia, 2002).

Hurlock (1999) mengemukakan tentang tanda-tanda kelamin sekunder yang

penting pada laki-laki dan perempuan. Pada remaja putra tumbuh rambut kemaluan,

kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan lain,lain.

13

Sedangkan pada remaja putri ditandai dengan pinggul melebar, payudara mulai

tumbuh, tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid, dan lain-lain. Seiring

dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang

sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan

seksualnya. Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah

dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara

dua insan, sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.

Setiap manusia normal memiliki dan merasakan adanya dorongan seksual atau

gairah seksual. Dorongan seksual mulai dirasakan sejak masa remaja, akibat

pengaruh hormon seks. Pengertian dorongan seksual adalah suatu bentuk

keinginan yang bersifat erotis yang mendorong orang untuk melakukan aktivitas

seksual dan hubungan seksual. Dorongan seksual akan semakin kuat jika ada

rangsangan seksual dari luar, baik berupa rangsangan fisik maupun psikis. Berbagai

macam rangsangan seksual yang bersifat fisik, seperti ciuman dan rabaan, dapat

membangkitkan dorongan seksual. Demikian juga rangsangan yang bersifat psikis,

seperti rangsangan audio visual, dan gambar erotis (Pangkahila, 2001).

Dorongan seksual menyebabkan orang ingin melakukan aktivitas seksual,

bahkan hubungan seksual. Aktivitas seksual adalah segala bentuk perilaku yang

memberikan rangsangan seksual, sehingga dapat menimbulkan reaksi seksual,

kecuali hubungan seksual. Aktivitas itu seperti mulai dari melakukan ciuman,

pelukan, rabaan, sampai oral seks. Aktivitas ini dapat berlanjut sampai ke hubungan

seksual untuk mencapai orgasme. Hubungan seksual yang dilakukan dengan

14

banyak pasangan, cenderung dilakukan dengan siap saja yang disukai dan bersedia

melakukannya disebut dengan hubungan seksual bebas (Pangkahila, 2001).

Sarwono (2006) menambahkan bahwa perilaku seksual ialah perilaku yang

melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah

mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan

suami-istri. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari

perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek

seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam

khayalan atau diri sendiri. Sedangkan perilaku seks pranikah merupakan perilaku

seks yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum

maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu. Dorongan atau

hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena

itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha

untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut. Adapun faktor-

faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada

remaja, menurut Sarwono (1994) adalah (a) Perubahan-perubahan hormonal yang

meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja

membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu, (b) penyaluran

tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan,

baik secara hukum karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun

karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus

meningkat untuk perkawinan dan, (c) norma-norma agama yang berlaku, dimana

seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk

15

remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-

hal tersebut.

Pencegahan perilaku seksual pranikah dapat dilakukan dengan memberikan

pendidikan seksual bagi anak sedini mungkin. Beberapa hal penting dalam

memberikan pendidikan seksual, seperti yang diuraikan oleh Gunarsa (1995) berikut

ini, mungkin patut diperhatikan: (a) Cara menyampaikannya harus wajar dan

sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu; (b) isi uraian yang disampaikan

harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan

agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol

seperti misalnya proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan

bahwa uraiannya tetap rasional; (c) pendidikan seksual harus diberikan secara

pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap

perkembangan tidak sama untuk setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka

cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak dan; (d)

dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan

dengan tahap perkembangan anak. Pada anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu

menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan

kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum

mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam

mengenai masalah tersebut.

16

2.3Dewasa Awal

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->