P. 1
3. Manajemen Berbasis Sekolah

3. Manajemen Berbasis Sekolah

|Views: 1,590|Likes:
Published by jaoea78
Materi pelatihan MBS
Materi pelatihan MBS

More info:

Published by: jaoea78 on Jul 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN

PELATIHAN KKRPS PUTARAN 1

MATERI 3
MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN

MATERI 3 Manajemen Berbasis Sekolah
(Waktu : 90 menit)

A. PENGANTAR Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah Model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber daya sekolah meningkatkan partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepsek, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, masyarakat, ilmuwan dan pengusaha) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan dan perundang-undangan yang berlaku. Melalui MBS diharapkan terjadi perbaikan tata pengelolaan pendidikan di tingkat sekolah, baik partisipasi, transparansi, akuntabilitas, dan kemandirian dalam mpengembangan program dan pembiayaan. B. TUJUAN Tujuan Umum: Peserta pelatihan dapat mengidentifikasi ciri-ciri dan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Sekolah dan dapat menerapkannya di sekolah masing-masing Tujuan Khusus: 1. M engidentifikasi dan merumuskan kunci keberhasilan yang dicapai oleh suatu sekolah; 2. M engidentifikasi ciri-ciri manajemen berbasis sekolah; dan 3. M eningkatkan partisipasi orang tua dan masyarakat, serta kerja sama dengan masyarakat/lembaga/badan di luar sekolah. C. BAHAN DAN ALAT 1. ayangan presentasi power point (electronic file) 2. ahan untuk Peserta: Handout Sekolah yang Ber-MBS 3. andout bahan presentasi
4.

T B H

L embar Kerja: (1). Jaring Laba-laba untuk Pemetaan Konsep MBS, (2). LK_Identifikasi Ciri Sekolah yang Ber-MBS, (3) Format perumusan untuk mewujudkan MBS di sekolah masing-masing melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL).

2

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
D. LANGKAH KEGIATAN

Pengantar 5’ (1)

Brainstorming 10’ (2)

Jaring labalaba 10’ (3)

Presentasi 15’ (4) Penguatan I 10’

(10 ) Refleksi 5’ (9) Penguatan II 10’ (8) Presentasi Hasil Kerja Kelompok 10’ (7)

(5) Kerja Kelompok 15’ (6)

Berdasarkan gambar skema di atas, langkah-langkah kegiatan sesi ini adalah sebagai berikut: .1 Pengantar (5 menit) Fasilitator menjelaskan tentang kompetensi dasar dan indokator yang harus dikuasai peserta dengan sedikit ilustrasi tentang perkembangan pendidikan di Indonesia maupun local. Kemudian menjelaskan skenario atau tahapan kegiatan yang akan dilakukan dalam sesi ini, termasuk memberikan kegiatan ice breaker. M emberikan penjelasan pentingnya sesi ini dan kaitannya antara sesi ini dengan materi Pilar-piar Sekolah Efektif. Dengan harapan, peserta memahami bahwa konsep manajemen berbasis sekolah sama atau sejalan dengan konsep yang dianut dalam pilar-pilar sekolah efektif.
.2 Brainstorming (10 menit)

Pada tahap ini, pesera secara bergilir dan interaktif ditanya oleh fasilitator mengenai kondisi pendidikan di sekolah masing-masing. Pertanyaan yang diajukan adalah: Menurut Bapak/Ibu, bagaimana potret pendidikan sekolah? Berdasarkan pertanyaan ini, fasilitator mengharap adanya jawaban yang bisa menggambarkan perkembangan pendidikan dari masa dulu sampai sekarang, serta kemungkinan perkembangan pendidikan/ sekolah di masa depan. Fasilitator kemudian memberikan jawaban dan penegasan, bahwa untuk meningkatkan mutu pendidikan, baik secara nasional dan lokal, pada tataran kebijakan pemerintah telah ada suatu pendekatan atau model yang disebut MBS. .3 Jaring Laba-laba (10 menit) Setelah ada konsep dasar di masing-masing peserta tenang potret pendidikan saat ini dan model sebagai solusinya maka pada tahap ini fasilitator memberi tugas secara berpasangan kepada

3

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
peserta, menyangkut pertanyaan tentang: Apa, Mengapa, Bagaimana Manajemen Berbasis sekolah itu?
.4 Presentasi (15 menit)

Berdasarkan hasil undian atau penunjukkan/pemilihan oleh fasilitator, salah satu pasangan mempresentasikan hasil diskusinya. Diharapkan peserta lain dapat menanggapi atau memberi masukan seperlunya. Pada tahap ini diharapkan peserta aktif dan fasilitator dapat mendistribusikan kesempatan untuk mengemukakan pedapat, sharing gagasan atau komentar kepada peserta yang belum pernah bicara/mengemukakan endapat.
.5 Penguatan I (10 menit)

Pada tahap ini, fasilitator memberikan respon terhadap hasil presentasi dan jawaban peserta melalui pemaparan bahan penguatan tentang Apa, Mengapa, Bagaimana, Tujuan, Tahapan melaksanakan MBS. Untuk menegaskan adanya keutamaan penerapan MBS dalam pendidikan secara nasional, fasilitator memberikan gambaran bahwa munculnya MBS sejalan dengan adanya perubahan aradigma pengelolaan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik. Dari perubahan pola pengelolaan pendidikan lama ke pola baru, yaitu MBS.
.6 Kerja Kelompok (15 menit)

Dengan menggunakan lembar kerja, peserta bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi ciri-ciri sekolah yang telah menerapkan MBS. Lembar kerja tersebut adalah sbb: Organisasi Sekolah PBM SDM Administrasi Sekolah

.7 Presentasi (10 menit) Salah satu atau beberapa kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Peserta lain menanggapi atau memberi masukan seperlunya.
.8 Penguatan 2 (10 menit)

Melalui tayangan gambar-gambar, peserta diantarkan kepada konsep yang utuh dan menyeluruh tentang MBS melalui organisasi yang ada di sekolah, konteks pembelajaran, pengembangan Sumber Daya Manusia dan dalam kaitan Administrasi Sekolah. .9 Refleksi (5) Salah satu atau dua orang peserta menguraikan hikmah setelah melaksanakan kegiatan sesi MBS ini dan rencana tindak lanjut apa yang akan dilakukan di sekolahnya masing-masing.

4

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
.E BAHAN TAMBAHAN UNTUK FASILITATOR SEKOLAH BER-MBS/EFEKTIF Sistem pendidikan yang selama ini dikelola dalam suatu iklim birokratik dan sentralistik dianggap sebagai salah satu sebab yang telah membuahkan keterpurukan dalam mutu dan keunggulan pendidikan di tanah air. Mengapa demikian?, karena sistem birokrasi selalu menempatkan “kekuasaan” sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses pengambilan keputusan. Sekolah-sekolah saat ini telah terkungkung oleh kekuasaan birokrasi yang “menggurita” sejak kekuasaan tingkat pusat hingga daerah bahkan terkesan semakin buruk dalam era desentralisasi ini. Ironisnya, kepala sekolah dan guru-guru sebagai pihak yang paling memahami realitas pendidikan berada pada tempat yang “dikendalikan”. Merekalah seharusnya yang paling berperan sebagai pengambil keputusan dalam mengatasi berbagai persoalan sehari-hari yang menghadang upaya peningkatan mutu pendidikan. Namun, mereka ada dalam posisi tidak berdaya dan tertekan oleh berbagai pembakuan dalam bentuk juklak dan juknis yang “pasti” tidak sesuai dengan kenyataan obyektif di masingmasing sekolah. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kekuasaan birokrasi persekolahan telah membuat sistem pendidikan kita tak pernah terhenti dari keterpurukan. Kekuasaan birokrasi juga-lah yang menjadi faktor sebab dari menurunnya semangat partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dulu, sekolah sepenuhnya dimiliki oleh masyarakat, dan merekalah yang membangun dan memelihara sekolah, mengadakan sarana pendidikan, serta iuran untuk mengadakan biaya operasional sekolah. Jika sekolah telah mereka bangun, masyarakat hanya meminta guru-guru kepada pemerintah untuk diangkat pada sekolah mereka itu. Pada waktu itu, kita sebenarnya telah mencapai pembangunan pendidikan yang berkelanjutan (sustainable development), karena sekolah adalah sepenuhnya milik masyarakat yang senantiasa bertanggungjawab dalam pemeliharan serta operasional pendidikan sehari-hari. Pada waktu itu, Pemerintah berfungsi sebagai penyeimbang, melalui pemberian subsidi bantuan bagi sekolah-sekolah pada masyarakat yang benarbenar kurang mampu. Namun, keluarnya Inpres SDN No. 10/1973 adalah titik awal dari keterpurukan sistem pendidikan, terutama sistem persekolahan di tanah air. Pemerintah telah mengambil alih “kepemilikan” sekolah yang sebelumnya milik masyarakat menjadi milik pemerintah dan dikelola sepenuhnya secara birokratik bahkan sentralistik. Sejak itu, secara perlahan “rasa memiliki” dari masyarakat terhadap sekolah menjadi pudar bahkan akhirnya menghilang. Peran masyarakat yang sebelumnya “bertanggungjawab”, mulai berubah menjadi hanya “berpartisipasi” terhadap pendidikan, selanjutnya, masyarakat bahkan menjadi “asing” terhadap sekolah. Semua sumberdaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah dan seolah tidak ada alasan bagi masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi apalagi bertanggungjawab terhadap penyelengaraan pendidikan di sekolah. Manajemen berbasis sekolah (MBS) memang bisa disebut suatu pergeseran paradigma dalam pengelolaan pendidikan, namun, tidak berarti paradigma ini “baru” sama sekali,

5

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
karena pernah kita miliki sebelum Inpres No. 10/1973. Sekolah-sekolah dikelola secara mikro dengan sepenuhnya diperankan oleh kepala sekolah dan guru-guru sebagai pengelola dan pelaksana pendidikan pada setiap sekolah yang juga tidak terpisahkan dari lingkungan masyarakatnya. MBS bermaksud “mengembalikan” sekolah kepada pemiliknya yaitu masyarakat, yang diharapkan akan merasa bertanggungjawab kembali sepenuhnya terhadap pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. Sisi moralnya adalah bahwa hanya sekolah dan masyarakatlah yang paling mengetahui berbagai persoalan pendidikan yang dapat menghambat peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian merekalah yang seharusnya menjadi pelaku utama dalam membangun pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakatnya. Hanya kepala sekolah yang paling mengetahui apakah guru bekerja baik, apakah bukubuku kurang, apakah perpustakaan digunakan, apakah sarana pendidikan masih layak pakai, dan sebagainya. Kepala sekolah dapat “berunding” dengan masyarakat untuk memecahkan berbagai persoalan pendidikan bersama-sama termasuk mengatasi kekurangan sarana-prasarana pendidikan. Di sisi lain, hanya guru-guru-lah yang paling memahami, mengapa prestasi belajar murid-muridnya menurun, mengapa sebagian murid bolos atau putus sekolah, metoda mengajar apakah yang efektif, apakah kurikulumnya dapat dilaksanakan, dan sebagainya. Guru-guru bersama kepala sekolah dapat bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah yang menyangkut proses pembelajaran tersebut. Untuk itu kepala sekolah dan guru-guru harus dikembangkan kemampuannya dalam melakukan kajian serta analisis agar semakin peka terhadap dan memahami dengan cepat cara-cara pemecahan masalah pendidikan di sekolahnya masing-masing. Menuju Otonomi pada Tingkat Sekolah-Sekolah Paradigma MBS beranggapan bahwa, satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi, partisipasi, dan akuntabilitas pendidikan. Kepala sekolah, guru, dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi dari ketiga pihak tersebut. Masyarakat adalah stakeholder pendidikan yang memiliki kepentingan akan berhasilan pendidikan di sekolah, karena mereka adalah pembayar pendidikan, baik melalui uang sekolah maupun pajak, sehingga sekolah-sekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap masyarakat. Namun demikian, entitas yang disebut “masyarakat” itu sangat kompleks dan tak berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah, konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu. Penyederhanaan konsep masyarakat itu dilakukan melalui “perwakilan” fungsi stakeholder, dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan Dewan Pendidikan (DP) di setiap kabupaten/kota. DP-KS sedapat mungkin bisa merepresentasikan keragaman yang ada agar benar-benar dapat mewakili masyarakat.

6

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
Dengan demikian, interaksi antara sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan melalui mekanisme pengambilan keputusan antara sekolah-sekolah dengan Komite Sekolah, dan interaksi antara para pejabat pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dengan Dewan Pendidikan. Bukti tanggungjawab masyarakat terhadap pendidikan diwujudkan dalam fungsi yang melekat pada DP dan KS, yaitu fungsi pemberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, fungsi kontrol dan akuntabilitas publik, fungsi pendukungan (supports), serta fungsi mediator antara sekolah dengan masyarakat yang diwakilinya. Keberhasilan pendidikan di sekolah tidak diukur dari pendapat para birokrat, tetapi dari kepuasan masyarakat atau stakeholder. Fungsi pemerintah adalah fasilitator untuk mendorong sekolah-sekolah agar berkembang menjadi lembaga profesional dan otonom sehingga mutu pelayanan mereka memberi kepuasan terhadap komunitas basisnya, yaitu masyarakat. Perlu juga difahami bahwa pengembangan paradigma MBS, bukanlah kelanjutan apalagi “kemasan baru” dari Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). Adalah keliru jika DP dan KS adalah alat untuk “penarikan iuran”, karena “penarikan iuran” yang dilakukan oleh BP3 terbukti tidak berhasil memobilisasi partisipasi dan tanggungjawab masyarakat. Tetapi yang harus lebih difahami adalah fungsi Dewan dan Komite sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat. Sekolah yang hanya terbatas personalianya, akan sangat dibantu jika dibuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut memikirkan pendidikan di sekolah-sekolah. Sekolah yang sangat tertutup bagi kontribusi pemikiran dari masyarakat harus kita akhiri, dan dengan MBS, dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut serta memikirkan pendidikan di sekolah. Dengan konsep MBS, masyarakat akan merasa memiliki dan mereka akan merasa tanggungjawab untuk keberhasilan pendidikan di dalamnya. Jika ini dapat diwujudkan, jangankan “iuran” bahkan apapun yang mereka miliki (uang, barang, tenaga, fikiran bahkan kesempatan) akan mereka abdikan untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa yang berlangsung di sekolah-sekolah. Tahap capacity building dilakukan dengan strategi yang berbeda-beda antara kelompok satuan pendidikan satu dengan satuan pendidikan lainnya. Strategi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Terhadap kelompok satuan pendidikan pada Tahap Pra-formal, strategi capacity building dilakukan umumnya melalui upaya memperlengkapi satuan-satuan pendidikan dengan sarana-prasarana pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka secara minimal tetapi memadai untuk dapat mencapai Tahap perkembangan berikutnya. 2. Terhadap kelompok satuan pendidikan yang sudah mencapai Standar teknis (Tahap Formalitas), strategi capacity building dilakukan melalui pelatihan-pelatihan dan penegmebangan kemampuan tenaga kependidikan, seperti kepala sekolah agar mampu mendayagunakan sumber-sumber pendidikan secara optimal dengan tanpa banyak pemborosan. Bagi tenaga pengajar dikembangkan kemampuan mereka untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran secara kreatif dan inovatif, serta dapat melakukan penelitian terhadap pendekatan pembelajaran yang paling efektif. Jika satuan-satuan pendidikan sudah mencapai kemampuan ini, mereka dapat ditingkatkan ke tahapperkembangan berikutnya, yaitu Tahap Transisional.

7

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
3. Terhadap satuan-satuan pendidikan yang sudah mencapai Tahap Transisional, perlu dikembangkan sistem manajemen berbasis sekolah yang didukung oleh partisipasi masyarakat dalam pendidikan serta mekanisme akuntabilitas pendidikan melalui fungsi Dewan Pendidikan dan komite Sekolah. Jika manajemen berbasis sekolah, partisipasi masyarakat dan akuntabilitas pendidikan dapat dikembangkan, maka satuan-satuan pendidikan sudah dapat dinaikan kelasnya ke Tahap Otonomi. 4. Strategi yang sangat mendasar dalam capacity building adalah pengembangan sistem indikator yang dapat mengukur ketercapaian standar teknis dan standar minimal pelayanan pendidikan di setiap satuan pendidikan. Sistem indikator ini perlu didukung oleh sistem pendataan pendidikan yang akurat, relevan, lengkap dan tepat waktu agar setiap saat dapat diukur dilakukan monitoring terhadap tahap perkembangan yang sudah dicapai oleh masing-masing satuan pendidikan. Sistem pendataan ini harus dilakukan sejak tingkat satuan pendidikan, kecamatan, kabupaten/ kota, propinsi sampai dengan tingkat nasional. Apakah Manajemen Berbasis Sekolah? Model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah, memberikan fleksibilitas/keluwesan lebih besar kepada sekolah untuk mengelola sumber daya sekolah meningkatkan partisipasi secara langsung warga sekolah (guru, siswa, kepsek, karyawan) dan masyarakat (orangtua siswa, masyarakat, ilmuwan dan pengusaha) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan dan perundang-undangan yang berlaku. Karena itu, esensi MBS adalah otonomi sekolah + fleksibilitas + partisipasi untuk meningkatkan mutu sekolah. Otonomi dapat diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian dalam mengatur dan mengurus sekolahnya sendiri, tidak tergantung kepada pihak lain. Kemandirian dalam program sekolah dan pendanaan merupakan tolak ukur utama kemandirian sekolah. Dengan kemandirian sekolah yang terus menerus diharapkan akan menjamin keberlanjutan sekolah (sustainabilitas) sekolah. Fleksibilitas dapat diartikan sebagai keluwesan yang diberikan kepada sekolah untuk mengelola, memanfaatkan, dan memberdayakan sumber daya sekolah seoptimal mungkin untuk meningkatkan mutu sekolah. Dengan cara sekolah akan lebih responsif dan lebih cepat dalam menanggapi tantangan yang dihadapi, namun harus tetap sesuai dengan peraturan yang berlaku. Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratik, dimana warga sekolah (guru, siswa, karyawan) dan masyarakat (orang tua, komite sekolah, tokoh masyarakat, usahawan atau ilmuwan dsb) terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pengambilan keputusan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa bila semua berpartisipasi maka semua

8

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
akan mempunyai rasa memiliki yang tinggi. Hal ini diharapkan akan menciptakan keterbukaan, akuntabilitas dan kerja tim yang kuat. Fungsi-fungsi apa yang menjadi wewenang sekolah? 1 Pengelolaan Proses Belajar Mengajar Sekolah mempunyai kewenangan mengelola pembelajaran yang berpusat pada siswa yang menekankan keaktifan siswa belajar. 1. Perencanaan, evaluasi, dan supervisi Sekolah berwenang untuk melakukan melakukan perencanaan sesuai kebutuhan. Sekolah juga berwenang mengadakan evaluasi khususnya yang dilakukan secara internal (evaluasi diri). Demikian pula supervisi yang direncanakan secara mandiri yang berkoordinasi dengan Pengawas terkait. 2. Pengelolaan kurikulum Sekolah berwenang mengembangkan (memperdalam, memperkaya, memodifikasi) agar lebih kontekstual tetapi tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional. Selain itu sekolah juga berwenang mengembangkan kurikulum muatan lokal. 3. Pengelolaan Ketenagaan Sekolah dapat mengelola ketenagaan, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, hubungan kerja, hadiah dan sanksi, evaluasi. Yang masih menjadi kewenangan pusat adalah sistem gaji dan rekrutmen. 4. Pengelolaan Fasilitas Sekolah diberi kewenangan mengadakan, memelihara dan memperbaiki, serta mengembangkan fasilitas sekolah terutama yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar. 5. Pengeloaan Keuangan Sekolah diberi kewenangan mengelola dana terutama pengalokasian dan melakukan kegiatan yang mendatangkan penghasilan.

6. Pelayanan siswa Pembinaan dan pembinaan siswa sebenarnya sudah menjadi wewenang sekolah sejak lama, yang perlu adalah peningkatan kualitasnya. 7. Peran Serta Masyarakat Sekolah berwenang meningkatkan ektensitas dan intensitasnya. 8. Pengelolaan Budaya sekolah Sekolah berwenang melakukan pembiasaan-pembiasan yang baik di sekolah, sehingga pembiasaan itu berkembang menjadi budaya sekolah yang positif.

9

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
Apa tujuan yang ingin dicapai sekolah ber-MBS/Efektif? Untuk memandirikan atau memberdayakan sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan atau mencapai sekolah efektif. Tujuan yang ingin dicapai secara lebih rinci: 1 Memberdayakan sumber daya yang tersedia 2 Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dengan mengambil keputusan bersama. 3 Meningkatkan tanggung jawab sekolah terhadap orangtua, masyarakat, dan pemerintah dalam hal mutu pendidikan. 4 Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah. 5 Meningkatkan efisiensi, relevansi, dan pemerataan pendidikan. Mengapa menerapkan Managemen Berbasis Sekolah? 1 2 Alasan Ekonomis, karena sekolah yang bersangkutan yang mempunyai informasi apa yang berlangsung di sekolahnya, apa yang menjadi keuntungan dan kerugian sekolah sehingga sekolah dapat memutuskan apa yang terbaik bagi sekolahnya. Alasan Profesional, sekolah mempunyai profesional yang memiliki keahlian dan pengalaman untuk memutuskan hal terbaik bagi sekolah dan siswa sehingga mereka bisa berkontribusi dalam bidang kurikulum, pedagogi, pembelajaran dan proses managemen dan apabila mereka terlibat dalam proses tersebut mereka akan lebih termotivasi dan berkomitmen tinggi. Alasan Politis, untuk meningkatkan demokrasi dan stabilitas politis. Alasan finansial, MBS juga merupakan alat untuk menggali income dari orang tua dan masyarakat. Bila mereka dilibatkan dalam pengambilan keputusan, diharapkan mereka akan termotivasi untuk berkomitmen meningkatkan partisipasi dalam pendanaan, menyumbangkan tenaga kerja dan pemikiran dan menggali sumbersumber daya lain untuk sekolah. Alasan Prestasi Siswa, peningkatan prestasi siswa merupakan alasan utama menerapkan MBS. Bila guru, kepsek, orang tua mempunyai kewenangan mengambil keputusan untuk sekolahnya maka iklim sekolah akan mendukung usaha peningkatan prestasi siswa. Alasan Akuntabilitas, pelaporan dapat meningkatkan lebih banyak perhatian sekolah pada usaha-usaha perbaikan. Alasan untuk mencapai Sekolah Efektif, pilar-pilar sekolah efektif dapat dipengaruhi dan dicapai melalui MBS.

3 4

5

6 7

Apa outcome/hasil yang diharapkan dari sekolah ber-MBS/efektif? Hasil yang diharapkan adalah sekolah yang berprestasi yang dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu prestasi akademik dan prestasi non-akademik. Prestasi akademik berupa nilai NUN, UAN yang tinggi, juara karya ilmiah, juara lomba akademik (Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, berfikir ilmiah, dll), sedangkan nonakademik berupa belajar seumur hidup, keingintahuan tinggi, toleransi, disiplin, taat beragama, kerajinan, kesenian, olah raga dll.

10

MODUL 3: MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHKERANGKA ACUAN
Bagaimana tahapan mewujudkan sekolah yang ber-MBS/Efektif? 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Melakukan sosialisasi tentang MBS. Merumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah Mengidentifikasi fungsi-fungsi yang diperlukan untuk mencapai sasaran Melakukan analisis SWOT Mengidentifikasi langkah-langkah pemecahan masalah Menyusun rencana dan Program peningkatan mutu Melaksanakan rencana peningkatan mutu Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Merumuskan sasaran mutu baru.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->