P. 1
SISTEM IMUNOLOGI

SISTEM IMUNOLOGI

|Views: 5,335|Likes:
Published by Alfian Nyerap Racun

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Alfian Nyerap Racun on Jul 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

SISTEM IMUNOLOGI

Kuliah Bidan Kabupaten Bulungan 2010 dr.alfian@yahoo.com

Pendahuluan Indonesia adalah salah satu Negara yang berada di daerah tropis. Terkait dengan itu maka penyakit infeksi adalah penyakit yang masih mendominasi 10 penyakit terbanyak di sarana layanan kesehatan baik rumah sakit, puskesmas, pustu, poskesdes serta praktek swasta. Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya patogen asing yang masuk ke dalam tubuh. Cara masuknya patogen asing tersebut bisa dari berbagai macam port de entry seperti kulit yang rusak, mulut, saluran cerna, saluran nafas, dll. Patogen yang dapat memicu terjadinya penyakit juga bermacam-macam, baik virus, bakteri, parasit, toksin, trauma dll. Patogen tersebut biasanya suatu yang mikroskopis dan tak kasat mata sehingga kita sering tidak sadar bahwa ada patogen yang masuk ke dalam tubuh kita. Pada dasarnya patogen tersebut ada disekitar kita (environment), berada mengitari dan mengelilingi kita serta siap melakukan penyerangan terhadap tubuh manusia. Saat patogen (agent) tersebut masuk tubuh, maka dia akan menginvasi tubuh manusia (host). Dia akan berkembang biak, menggandakan diri dalam tubuh, menyebabkan kerusakan dan gangguan pada sistem tubuh. Dia dapat berkembang biak dalam sel tubuh manusia, menggandakan diri didalamnya (patogen Endogen), maupun dia membuat kerusakan tanpa masuk ke dalam sel (Patogen Eksogen). Kerusakan serta gangguan tersebut yang dirasakan oleh sang penderita sebagai gejala sakit, baik demam, nyeri, bengkak, bernanah, gangguan gerak dan lainlain. Bila kerusakan itu lebih luas maka akan dapat menimbulkan infeksi yang lebih luas baik sepsis bahkan sampai kematian. Namun, disisi lain Tuhan Sang Pencipta telah menjadikan tubuh manusia dengan sempurna, diberi-Nya manusia pertahanan tubuh untuk melawan patogen asing tersebut. Pertahanan tubuh berupa kulit yang tidak mudah ditembus oleh patogen asing, mukosa beserta silia yang mengusir patogen asing, refleks batuk dan bersin yang mengusir patogen asing. Bukan itu saja, masih ada pertahanan dalam tubuh yang siap menghadang bila pertahanan lini pertama tersebut gagal. Pertahanan tersebut berada di dalam darah berupa Darah Putih (Lekosit) sebagai tentara pertahanan yang siap menghadang serta memusnahkan invader yang akan meneror tubuh seseorang. Sekedar mengingatkan bahwa dalam darah masih ada sel lain yaitu darah putih (Eritrosit) serta Keping darah (Trombosit/Platelet). Perbandingannya adalah sebagai berikut Eritrosit 4-5 juta/mL, Lekosit 4.000-11.000 sel/mL dan Trombosit 150.000-350.000 sel/mL. Tuhan menciptakan pertahanan tubuh tersebut berlapis-lapis, saat pertahanan pertama tidak dapat mengatasi ³teroris´ maka pertahanan lapis selanjutnya telah siap menghadapi musuh. Saat kulit yang terdiri dari lima lapisan ditembus patogen maka segera lekosit jaringan akan segera memakan patogen tersebut, dilahap secara mentahmentah. Makrofag serta Neutrofil akan memfagositosis patogen asing. Bukan itu saja masih ada sel Fagosit lain seperti Basofil, Eosinofil serta sel Dendrit yang juga akan melawan patogen asing. Selain itu Makrofag juga akan merilis (memproduksi) senyawa beracun untuk membunuh patogen asing (dikenal sebagai cytokine). Selain itu terdapat sistem komplemen yang akan teraktivasi oleh adanya patogen dan terjadi kaskade komplemen, dimana hasil akhir kaskade tersebut adalah MAC (Membrane Attack Complexes) yang berguna membuat lubang pada sel yang terinfeksi patogen sehingga sel akan lisis dan mati. Inilah yang dikenal dengan pertahanan tubuh/sistem immune innate (alami). Makrofag serta Dendrit selain membunuh patogen, dia juga memberikan ³alarm´ sinyal kepada kawannya (Sel T Limfosit). Keduanya berperan sebagai APC (Antigen Presenting Cell) untuk mengenali patogen sebagai Antigen yang ditandai untuk dapat dikenali oleh Sel T Limfosit (dalam hal ini yang berperan adalah T helper). APC memberitahukan bahwa ada patogen jenis tertentu (misalkan jenis A), informasi tersebut disampaikan kepada Sel T Limfosit (T Helper) untuk kenali. Sel T Helper akan mengenali patogen jenis A, lalu dia akan meneruskan informasi tersebut pada sel yang lain agar dapat lebih mudah mengenali patogen jenis A. Informasi disampaikan untuk menggandakan dan memperbanyak sel T Helper, membuat sel B berdifferensiasi menjadi Plasma sel (pabrik Antibodi), membuat makrofag lainya terkaktivasi sehingga lebih mudah membunuh patogen jenis A tersebut. Inilah yang disebut dengan pertahanan tubuh / sistem immune adaptive (didapat). Disebut didapat karena sel T helper pada awalnya tidak mengenali patogen jenis A, namun dengan adanya APC maka tubuh akan mengenali patogen jenis A sebagai antigen, pengenalan ini melalui suatu proses yang didapat karena terpapar oleh patogen jenis A. Bukan itu saja, antigen patogen jenis A akan disimpan dalam memori (baik sel T memori maupun sel B memori), bila suatu saat nanti seseorang terpapar lagi oleh patogen jenis A yang sama maka tubuh akan lebih mudah dan cepat dalam memberantas patogen tersebut.

Dengan adanya pertahanan tubuh tersebut maka seseorang secara alami dapat sembuh dari serangan patogen asing bila pertahanan tubuhnya berfungsi dengan baik. Inilah begitu rumit dan sempurnanya pertahanan tubuh yang Tuhan ciptakan, Maha Besar dan Sempurna Dia. Patogen asing tak kasat mata yang juga ciptaan-Nya masuk tubuh tanpa kita sadari. Pertahanan tubuh yang Dia ciptakan akan secara otomatis melindungi serta melawan patogen asing tanpa kita perintahkan. Berbagai cara sistem tubuh akan sebisa mungkin melakukan perlawanan terhadap patogen asing. Namun bila pertahanan tubuh tersebut tidak mampu melawan musuh maka pasien akan mengalami sakit yang kadang kala memerlukan bantuan obat dari luar tubuh. Musuh yang begitu kecilnya, mikroskopis serta tak kasat mata serta berupa sel yang sangat sederhana dapat membuat manusia yang diciptakan begitu sempurna dengan berbagai sistem organ dapat terjatuh sakit. Ini menunjukkan bahwa sebuah kelemahan manusia yang kadang sering sombong dan angkuh lupa akan keberadaan-Nya. Dialah yang memberi sakit, maka Dia pula yang menyembuhkannya. ³Sempurna, Rumit, Indah, Bukti Kekuasaan, Mengingatkan akan kelemahan´

Definisi Imunologi Imunologi berasal dari bahasa latin yaitu immunis: bebas dari beban kerja/pajak, logos: ilmu. Imunologi diartikan sebagai cabang mikrobiologi yang mempelajari semua aspek respon tubuh berupa kekebalan terhadap penyakit terutama infeksi. Perkembangan Imunologi: Tahap perkembangan imunologi terdiri dari 3 tahap: 1. Tahap empirik Mithridates Eupatoris VI, Dr. Edward Jenner (1749-1823) 2. Tahap ilmiah Louis Pasteur (1822-1895), Pfeifer (1889). Elie Metchnikoff (1845-1916): mekanisme efektor. Fodor (1886), Behring dan Kitasato (1890): imunitas humoral. Wright dan Douglas (1903): opsonin 3. Tahap modern: JF. A.P. Miller: peran sentral kelenjar timus. Muncul cabang-cabang baru dalam imunologi. 1980: Benacerraf, Dausset, dan Snell dapat Nobel dengan sistem HLA. 1984: Milstein dan Kohler memproduksi antibodi monoklonal. 1987: Susumu Tonegawa dapat Nobel dengan diversitas antibodi.

Sistem Pertahanan Tubuh
Sistem pertahanan tubuh diperankan oleh Darah Putih (Lekosit). Darah Putih sendiri dibagi menjadi 5 jenis, diantaranya: 1. Eosinofil 2. Basofil 3. Neutrofil (Stab, Segmen) 4. Limfosit 5. Monosit Sementara itu pertahanan tubuh manusia / system immune dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Innate immunity (alami) 2. Adaptive immunity (Acquired / didapat). Secara garis besar dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Perbedaan kedua system pertahanan tubuh dapat dilihat pada table berikut ini. Innate immune system Adaptive immune system Response tidak spesifik Respon Spesifik thd Patogen & antigen Paparan menimbulkan respon maksimal yang Ada jeda waktu antara eksposur & respon segera maksimal Tanpa memori imun Paparan memicu memori imun Ditemukan pada hampir semua makhluk Hanya ada pada Vertebra berahang Cell-mediated and Humoral components Kedua system immune tergantung pada kemampuan keduanya untuk membedakan molekul self-nonself. Self-Molecule Non-Self Molecule y Komponen normal dari tubuh y Dapat dibedakan dari substansi asing oleh sistem imun y Tidak merangsang respon imune y Dikenali tubuh sebagai bahan asing y Dikenali sebagai antigen (seperti mikroba: virus, bakteri, parasite; sel kanker; pollutant, dll) y Akan merangsang respon imune, karena adanya epitop

Antigen
Antigen adalah sebagai pemicu terjadinya respon immune dalam tubuh. Antigen adalah substansi yang berinteraksi dengan sel-sel sistem imun. Dikenal juga sebagai IMUNOGEN, yaitu substansi yang mampu memicu respon imun (humoral/seluler/ humoral & seluler). Kemampuan antigen untuk menstimuli respon imun sangat dipengaruhi : 1. Ukuran antigen Semakin besar ukuran molekul antigen, semakin kuat utk merangsang respon imun. Imunogen yang efektif menstimuli respon imun adalah protein dengan BM 100.000 Da sementara molekul dengan ukuran < 10.000 Da biasanya tidak imunogenik. 2. Komposisi kimiawi Semakin kompleks susunan kimiawi suatu antigen semakin potent (kuat) menstimuli respon imun. Paling potent adalah protein dan polisakharida sementara yang kurang potent adalah karbohidrat. Asam amino & asam lemak (murni) bukan merupakan imunogen, tapi jika berikatan dengan molekul lain yang potent maka asam amino & lemak dapat menstimuli respon imun. 3. Sifat µNon ± self¶ Secara normal, sistem imun mampu mengenal apakah suatu sel / substansi µself¶ atau µnon-self¶. Jika suatu substansi dikenali sebagai µnon-self¶, maka akan menstimuli respon imun. Semakin besar perbedaan phylogenetik akan timbul respon imun yang lebih kuat. 4. Cara kontak dengan antigen Suatu substansi jika diberikan secara injeksi iv/ sc menstimuli respon imun lebih kuat dibandingkan jika diberikan secara oral. Dosis imunogen yang diperlukan untuk memicu respon imun sangat bervariasi.

Imunogen atau antigen mempunyai bagian yang dapat dikenali oleh antibody / respon imun, bagian ini disebut EPITOP. Jumlah epitop per molekul antigen = valensi. Setiap 10000 Dalton = 1 epitop, bila 40000 Dalton = 4 epitop. Setiap epitop mampu menstimuli antibodi spesifik. Tampak gambar patogen yang memiliki epitop sebagai bagian yang akan dikenali oleh repon immune sebagai antigen. Bentuk umum antibodi (Ig G): Y, protein molekul yang memiliki 2 lengan. Lengan heavy (panjang) rantai polipeptida dan rantai polipeptida light (short). Rantai ini memiliki constant region, dimana sekuens asam amino diset dan variabel region, dimana terdapat sekuens variasi asam amino yang bervariasi antara antibodi. Pada variabel region terdapat antigen binding site yang spesifik pada antigen tertentu. Ikatan Antigen-antibodi bersifat µKomplemenary¶, artinya bentuk permukaan yang bersinggungan (antigen/antibodi) saling bersesuaian.Reaksi antigen antibodi dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Seperti kompleks antigen antibodi dengan neutrofil atau makrofag, komplemen membuat patogen mudah difagosit (opsonisasi). Efek dari ikatan antara antibodi dan antigen adalah sebagai berikut: 1) Sitotoksik 2) Menginaktifkan toksin 3) Antibodi thd virus akan menyelimuti virus, shg virus tdk dapat masuk dalam sel tubuh kita 4) Antibodi yg berikatan dg permukaan bakteri menarik makrofag fagositosis 5) Antibodi yg berikatan dg dinding sel bakteri komplemen lisis

Hapten adalah molekul berukuran kecil, TIDAK mampu menstimuli respon imun, TETAPI jika hapten berikatan dengan molekul lain yang berukuran lebih besar, maka ia dapat menstimuli respon imun. Antigen dibagi menjadi 3, yaitu: 1. AUTO ANTIGEN = antigen yang ada dalam tubuh suatu individu 2. ALLO ANTIGEN = antigen yang berasal dari spesies yang sama dengan host 3. HETERO ANTIGEN = antigen yang berasal dari spesies lain

Antibodi
Antibodi adalah suatu gama globulin yang dihasilkan oleh sel plasma, terdiri dari 2 jenis yaitu: 1. Imunoglobulin permukaan (sebagai reseptor antigen) 2. Imunoglobulin sekretori Struktur Antibodi terdiri dari dua rantai, yaitu: 1. Rantai berat (Hc ± High Chain) 2. Rantai ringan (Lc ± Light Chain): Rantai Kappa (LO) dan Lamda (LP)

Ada 5 jenis Antibodi dalam tubuh manusia:
Nama IgA Tipe 2 Deskripsi Ditemukan pada area mukosa seperti saluran cerna, saluran nafas, saluran kencing. Untuk mencegah kolonisasi patogen. Berfungsi terutama sebagai reseptor antigen pada sel B yang belum pernah terpapar antigen. Juga berperan dalam aktivasi basofil dan mast sel dalam memproduksi faktor antimikroba. Berikatan dengan allergen dan memicu mast sel dan basofil merilis histamine yang berperan dalam alergi. Juga berguna melawan parasit. Berupa 4 bentuk, menyediakan antibody utama untuk melawan patogen yang invasive. Mampu menembus plasenta sehingga memberi kekebalan pasif pada janin. Mengekspresikan diri pada permukaan sel B dan bentuk sekresi yang berkekuatan tinggi. Mengeliminir patogen pada stadium awal Humoral imunity (sel B mediated) sebelum munculnya IgG yang cukup. Tempat Ditemukan pada saliva, air mata, ASI. Di sirkulasi dan jumlahnya paling rendah Fungsi Mencegah patogen menyerang sel epitel traktus digestivus dan respiratori. Menandai kematuran sel B Antibodi komplek

IgD

1

IgE

1

IgG

4

Membran berikatan dengan reseptor basofil dan sel mast dalam jaringan Bentuk antibodi utama di sirkulasi

Bertanggung jawab dalam respon alergi dan melindungi dari serangan parasit cacing Mengikat patogen, mengaktifkan komplemen, meningkatkan fagositosis Aktifkan komplemen, menggumpalkan sel

IgM

1

Di sirkulasi, antibodi terbesar

Imunitas didapat
Imunitas didapat (adaptive / acquired) bisa berupa: 1. Aktif Bila tubuh membentuk antibodi karena : y Terinfeksi mikroorganisme y Imunisasi - Vaksinasi (pemberian Antigen dari luar yang dilemahkan/mati/toxinnya) 2. Pasif

Bila tubuh mendapat antibodi dari orang lain / binatang, misalnya: y Ab ibu ditransfer ke anaknya lewat plasenta berupa IgG/ ASI berupa IgA dapat bertahan beberapa bulan (Natural) y IVIG, Monoclonal antibodi (Artificial), pasien akan diberikan Antibodi dari luar namun pasien tidak akan membuat memori terhadap Antigennya sehingga dapat terjadi infeksi patogen ulangan.

Vaksin
Vaksin merupakan suatu sediaan biologis yang menimbulkan kekebalan terhadap penyakit. Vaksin umumnya mengandung sejumlah kecil bahan yang menyerupai organisme patogen. Agen tersebut menginduksi sistem imun sistem imun mengenali sebagai benda asing, mengahancurkannya dan mengingatnya terpapar, agen tersebut dapat dikenali dan dihancurkan. Vaksin adalah imunogen NON PATOGEN yang jika dimasukkan ke dalam tubuh akan menginduksi reaksi imun protektif terhadap suatu penyakit. Vaksin ini harus bersifat : y Efektif = protektif dlm jangka waktu lama y Praktis = aman, tidak mahal, mudah disimpan & diberikan Cara Pembuatan Vaksin: 1. Bakteri atau virus yg dimatikan (dengan cara dipanaskan atau diberi zat kimia). Respon imun yang timbul lebih lemah daripada pemberian vaksin hidup sehingga biasanya memerlukan imunisasi ulang mis : Bakteri dimatikan (Pertussis, Kolera, Tifoid), virus dimatikan (Polio-Salk (s.c.), Hepatitis A) 2. Bakteri atau virus yang dilemahkan (sehingga kehilangan kemampuan untuk menimbulkan penyakit pada manusia). Vaksin ini dapat berasal dari keseluruhan organisme atau bagaian dari organisme yang viabilitas dan daya infeksinya telah dilemahkan. mis : Bakteri dilemahkan (BCG), virus dilemahkan (Polio-Sabin (oral), Rubella, Influenza, dan Parotitis - MMR) 3. Toxoid (berasal dari toksin bakteri). Vaksin ini dibuat dari bahan toksin bakteri yang sudah tidak bersifat toksik. mis : Diphteri, Tetanus. 4. Subunit, yaitu mengambil sebagian kecil dari bakteri patogen kemudian dibuat vaksin dengan teknik rekombinant DNA. mis : Hepatitis B, Difteri, tetanus 5. Glycoconjugat, yaitu dengan cara menempelkan B-cell epitop polysaccharida kapsul mikroorganisme pada carrier yang imunogenik). mis : HIB (Hemophilus Influensa B), Meningokok 6. Vaccinia, Vaksin berasal dari bakteri non patogen tapi mempunyai struktur mirip bakteri patogen. mis : BCG. Vaksin hidup memiliki keuntungan dan kerugian dibandingkan dengan vaksin yang telah dimatikan Vaksin hidup yang dilemahkan Keuntungan Kerugian - Perlindungan yang diberikan lebih lama - Menimbulkan penyakit pada orang yang imunokompromais - Membentuk sistem imun secara luas - Virulensinya mampu meningkat - Mampu menimbulkan imunitas pada orang - Tidak dapat diberikan pada bayi yang masih mempunyai yang tidak divaksinasi antibodi dari ibunya - Membutuhkan suhu yang rendah dalam penyimpanan <4° C ( Vaksin Polio oral )

Vaksin yang dimatikan Keuntungan - Aman karena tidak ada risiko terjadinya virulensi - Dapat ditransfortasi dan disimpan dengan mudah - Dapat diberikan pada bayi

Kerugian - Memerlukan booster ( vaksinasi ulang ) - Kurang merangsang imunitas seluler dan mukosa - Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit - karena respon imun yang tidak seimbang

Reaksi Hipersensitivitas
Pada Keadaan Normal mekanisme pertahanan tubuh baik humoral maupun selular tergantung pada Sel B dan Sel T. Apabila terjadi aktivasi berlebihan oleh antigen atau gangguan mekanisme, akan menimbulkan suatu keadaan imunopatologi yang disebut Reaksi Hipersensitivitas. Menurut Gell dan Coombs, Reaksi Hipersensitivitas dibagi menjadi 4 tipe : 1. Tipe I Hipersensitif Anafilaktik

2. 3. 4. 5.

Tipe II hipersensitif sitotoksik Tipe II Hipersensitif Komplek imun Tipe IV Hipersensitif Cell Mediated ( Hipersensitif tipe lambat ) Tipe V Stimulatory Hypersensitivity

Reaksi Hipersensitifitas tipe I Reaksi Hipersensitifitas tipe I dibagi menjadi 2: 1. Reaksi Anafilaktik ( tipe Ia ) 2. Reaksi Anafilaktoid ( tipe Ib ) Untuk terjadinya reaksi anafilaktik maka diperlukan interaksi antara IgE spesifik yang berikatan dengan reseptor IgE pada sel mast atau basofil dengan alergen yang bersangkutan. Proses aktivasi sel Mast terjadi bila IgE atau reseptor spesifik yang lain pada permukaan sel mengikat anafilaktoksin, antigen lengkap atau komplek kovalen hapten ± protein. Ini akan membebaskan berbagai mediator peradangan yang menimbulkan gejala alergi pada penderita. Contoh Reaksi Hipersensitifitas tipe I : reaksi anafilaktik terhadap penisilin, rinitis alergi akibat serbuk bunga

Reaksi Hipersensitifitas tipe II dan III Antibodi selain IgE, menyebabkan penyakit dengan berikatan pada target antigen yang ada pada permukaan sel atau jaringan (reaksi hipersensitiv tipe II) atau dengan membentuk komplek imun yang mengendap di pembuluh (reaksi hipersensitivitas tipe III). Antibodi terhadap sel atau permukaan luar sel dapat mengendap pada berbagai jaringan yang sesuai dengan target antigen. Komplek imun biasanya mengendap di pembuluh darah pada tempat turbulansi (cabang dari pembuluh darah) atau tekanan tinggi (glomerulus ginjal dan sinovium). Cenderung merupakan penyakit sistemik yang bermanifestasi sebagai Vaskulitis artritis dan nefritis

Reaksi Hipersensitivitas tipe IV Penyakit yang diakibatkan oleh reaksi ini lebih sering ditujukan pada kerusakan jaringan yang disebabkan terutama oleh sel Limfosit T. Kerusakan jaringan dapat disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang diperantarai oleh sel T CD4+ atau lisis oleh CD(+CTLs). Sel T CD4+ bereaksi terhadap antigen pada sel atau jaringan, terjadi sekresi sitokin yang menginduksi inflamasi dan mengaktivasi makrofag. Kerusakan jaringan disebabkan oleh sekresi sitokin dari makrofag dan sel-sel inflamasi lain.

Reaksi Hipersensitifitas tipe V Merupakan tipe tambahan, biasa dipakai di Inggris untuk membedakan dengan tipe 2. Termasuk tipe yang jarang, lebih sering diklasifikasikan sebagai tipe 2. Contohnya adalah Graves' disease dan Myasthenia gravis.
Tipe I Nama lain Alergy (immediate) Contoh Atopy Anaphylaxis Asthma Mediator IgE

II

Cytotoxic, antibodydependent

III

Immune complex disease

IV

V

Delayed-type hypersensitivity (DTH), cell-mediated immune memory response, antibody-independent Autoimmune disease, receptor mediated

Autoimmune hemolytic anemia Thrombocytopenia Erythroblastosis fetalis Goodpasture's syndrome Grave's disease Myasthenia Gravis Serum sickness Arthus reaction Systemic lupus erythematosus (SLE) Contact dermatitis Mantoux test Chronic transplant rejection Multiple sclerosis Grave's disease Myasthenia Gravis

IgM atau IgG (Komplemen)

IgG (Komplemen) Sel T

IgM atau IgG (Komplemen)

Penyakit Autoimmune
Penyakit Autoimmune adalah penyakit yang disebabkan karena tubuh memproduksi respon immune yang tidak sesuai sehingga melawan jaringan tubuhnya sendiri. Suatu ketika system immune akan berhenti mengenali unsur tubuh yang normal sebagai self dan akan memproduksi autoantibody (antibody yang akan menyerang sel, jaringan dan organ tubuh sendiri). Hal ini menyebabkan inflamasi dan kerusakan, ini mengarah pada Penyakit Autoimmune.

Penyebab penyakit Autoimmune tidak diketahui, tapi tampaknya disebabkan oleh predisposisi turunan pada beberapa kasus. Pada beberapa penyakit autoimmune (seperti Demam Rematik), bakteri atau virus memicu respon imun, sehingga Antibodi atau sel T menyerang sel normal disebabkan sel normal itu memiliki bagian struktur yang menyerupai struktur mikroorganisme yang menginfeksi tersebut. Dibagi menjadi 2 tipe: 1. Systemic Autoimmune Diseases 1. Rheumatoid arthritis (RA) dan Juvenile RA (JRA) (sendi, jarang pada paru dan kulit) 2. Lupus [Systemic Lupus Erythematosus] (kulit, sendi, ginjal, jantung, otak, darah merah dll) 3. Scleroderma (kulit, saluran cerna, jarang pada paru) 4. Sjögren's syndrome (salivary glands, tear glands, sendi) 5. Goodpasture's syndrome (paru, ginjal) 6. Wegener's granulomatosis (pembuluh darah, sinus, paru, ginjal) 7. Polymyalgia Rheumatica (otot secara menyeluruh) 8. Guillain-Barre syndrome (system syaraf) 2. Localized Autoimmune Diseases - Type 1 Diabetes Mellitus (pancreas islets) - Hashimoto's thyroiditis, Graves' disease (thyroid) - Celiac disease, Crohn's disease, Ulcerative colitis (GI tract) - Multiple sclerosis - Addison's disease (adrenal) - Primary biliary cirrhosis, Sclerosing cholangitis, Autoimmune hepatitis (liver) - Temporal Arteritis / Giant Cell Arteritis (arteri kepala dan leher)
Penyakit Imunodefisiensi Penyakit imunodefisiensi adalah kegagalan system immune untuk melindungi diri dari penyakit dan keganasan karena terjadinya defisiensi dari system imune. Imunodefisiensi dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Primer

Imunodefisiensi disebabkan oleh karena genetic atau adanya defect pada pertumbuhan immune system. Defect tersebut sudah ada sejak lahir namun dapat muncul gejalanya di kemudian hari. Defect tersebut dapat pada immune system spesifik maupun non-spesifik. Klasifikasinya berdasarkan pada lokasi lesi pertumbuhan atau differensiasi system immune. Seseorang dengan imunodefisiensi mudah terpapar oleh berbagai macam infeksi, dan tipe infeksinya tergantung pada letak immunodefisiensinya.
2. Sekunder (Acquired)

Hilangnya Fungsi immune disebabkan dari hasil paparan terhadap agen penyakit (infeksi), faktor lingkungan, immunosupresi ataupun penuaan. Keganasan termasuk salah satu jenis dari Immunodefisiensi Sekunder. Infeksi Bakteri, virus, protozoa, cacing dan jamur dapat disebabkan oleh defisiensi Sel B, sel T, PMN dan Makrofag. Yang paling dikenal adalah AIDS yang disebabkan oleh virus HIV (RNA retrovirus), dimana terjadi infeksi oportunistik seperti Pneumocystis carinii atau yang lainnya, disertai juga tumor kulit (Kaposi's sarcoma). Ada dua tipe utama HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV menyebar melalui hubungan seksual, darah cairan tubuh terinfeksi HIV, dari ibu pada janinnya.

SOAL LATIHAN 1. Penyakit yang mendominasi di Negara kita yang masih menjadi 10 besar penyakit, kecuali: a. ISPA b. Malaria c. Penyakit Gagal Ginjal Kronis d. Kecacingan e. Campak 2. Port de entry patogen asing ke dalam tubuh manusia, kecuali: a. Kulit b. Hidung c. Saluran Nafas d. Saluran Makanan e. Rambut 3. Sistem kekebalan manusia terdiri dari 2 jenis kekebalan, yang salah adalah: a. Kekebalan alami dan didapat b. Kekebalan innate dan adaptif c. Kekebalan innate dan acquired d. Kekebalan bawaan dan buatan e. Kekebalan adaptif dan acquired 4. Sel pertahanan tubuh manusia diperankan oleh: a. Darah merah b. Lekosit c. Keping Darah d. Kulit e. Mukosa 5. Yang tidak termasuk pertahanan tubuh innate adalah: a. Limfosit b. NK sel c. Sel Dendrit d. Komplemen e. Silia 6. Yang termasuk pertahanan tubuh adaptif adalah: a. Neutrofil, Makrofag, Limfosit b. T Helper, Antibody, Plasma Sel c. T Sitotoksik, Sel B, NK Sel d. Komplemen, Basofil, Eosinofil e. Sel Dendrit, Sel Langerhans, Monosit 7. Imunologi adalah: a. Cabang ilmu biokimia yang mempelajari semua aspek respon tubuh berupa kekebalan terhadap penyakit terutama infeksi b. Cabang ilmu mikrobiologi yang mempelajari beberapa aspek respon tubuh berupa kekebalan terhadap penyakit terutama infeksi c. Cabang mikrobiologi yang mempelajari semua aspek respon tubuh berupa kekebalan terhadap penyakit terutama infeksi d. Cabang ilmu biologi dasar yang mempelajari semua aspek perlawanan musuh berupa kekebalan terhadap kanker e. Cabang ilmu mikrobiologi dasar yang tidak mempelajari semua aspek respon tubuh berupa kekebalan terhadap penyakit terutama infeksi 8. Ilmu imunologi telah dipelajari pertama oleh: a. Louis Pasteur b. Dr.E Jenner c. Edward Junned d. Pfeifer e. Miller 9. Yang termasuk sel darah putih, kecuali: a. Limfosit T b. Plasma Sel c. Fibrinogen d. Sel Langerhans

e. Sel Kuffer 10. Berikut yang membedakan pertahanan innate dan adaptif, kecuali: a. Respon immune spesifik-non spesifik b. Lag Respon terhadap paparan c. Memori immune d. Adanya komponen selular dan humoral e. Keberadaan pada makhluk hidup 11. Yang tidak termasuk non-self molekul: a. Sel Beta pankreas b. Sel Kanker c. Sel berisi virus d. Bakteri e. Cacing 12. Yang termasuk pertahanan tubuh innate humoral: a. Antibodi b. Plasma Sel c. T Helper d. Komplemen e. Makrofag 13. Yang tidak termasuk pertahanan tubuh innate cellular: a. Sel Kuffer b. Monosit c. Sel Langerhans d. Basofil e. Cytokine 14. Yang termasuk pertahanan tubuh adaptif humoral: a. Plasma sel b. T Helper c. T sitotoksik d. NK sel e. Komplemen 15. Yang termasuk pertahanan tubuh adaptif cellular, kecuali: a. Sel T sitotoksik b. Sel T helper c. Sel T plasma d. Sel T regulatorik e. Sel T memori 16. Patogen dikenali tubuh sebagai non-self karena memiliki: a. Reseptor permukaan b. Antigenik substance c. Epitop d. Spesifik Antigen e. Alien Mutation 17. Yang salah tentang Antibodi, yaitu: a. IgG dapat menembus plasenta b. Ikatan Antibodi Antigen bersifat spesifik c. Diproduksi oleh sel B Limfosit d. Mampu mengikat patogen e. IgA dapat diperoleh bayi pada ASI 18. Yang salah tentang Imunitas didapat adalah: a. Dapat dipicu oleh patogen asing b. Bayi tidak memperoleh dari Ibu yang tidak pernah memberinya ASI sejak lahir c. Dapat diperoleh dari Vaksin d. Bisa diperoleh secara aktif maupun pasif e. Bisa diperoleh dari toxin bakteri yang disuntikkan 19. Timbulnya penyakit karena adanya ketidakseimbangan antara: 1. Agent 2. Host 3. Environment

4. Human 20. Patogen yang bisa menyerang tubuh manusia diantaranya: 1. Kuman 2. Plasmodium 3. Parasit 4. Nyamuk 21. Yang dimaksud dengan non-self molekul: 1. Dikenal tubuh sebagai bahan asing 2. Epitel termasuk non-self molekul 3. Disebut juga imunogen 4. Tidak dapat merangsang respon imun 22. Yang mempengaruhi kemampuan antigen menstimulasi respon imun: 1. Cara kontak dengan antigen 2. Sifat Non-self 3. Ukuran antigen 4. Komposisi Kimiawi 23. Yang benar tentang IgG: 1. Dapat ditemukan pada ASI 2. Dapat menembus Placenta 3. Diproduksi segera setelah patogen menginvasi 4. Berbentuk Monomer 24. Yang berperan dalam proses inflamasi adalah, kecuali: 1. Makrofag 2. Sel T Memori 3. Histamin 4. Antibodi 25. Yang termasuk reaksi Hipersensitifitas adalah: 1. Tipe I Hipersensitif Anafilaktik 2. Tipe II hipersensitif Sitotoksik 3. Tipe II Hipersensitif Komplek imun 4. Tipe IV Hipersensitif Humoral Mediated ( Hipersensitif tipe lambat )

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->