P. 1
Modul Pelatihan Pedoman Pks Ampk

Modul Pelatihan Pedoman Pks Ampk

|Views: 722|Likes:
Published by acepputra

More info:

Published by: acepputra on Jul 02, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/28/2011

pdf

text

original

MODUL PELATIHAN PEKERJA SOSIAL PROGRAM KESEJAHTERAAN ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS (PKS AMPK

)

Kementerian Sosial RI Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Direktorat Pelayanan Sosial Anak Jakarta 2010

MODUL PELATIHAN PEKERJA SOSIAL PROGRAM KESEJAHTERAAN ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS (PKS AMPK)
A. Deskripsi Mata diklat ini membahas tentang latar belakang, maksud dan tujuan, bentuk-bentuk PKSAMPK, kriteria penerima bantuan PKSAMPK, pihakpihak yang terkait dalam pelaksanaan PKSAMPK, bantuan tunai bersyarat, kelembagaan PKSAMPK, proses pendampingan PKSAMPK. Selain itu juga membahas tentang monitoring dan terminasi kegiatan PKSAMPK sehingga pelayanan terhadap klien berakhir dengan optimal. B. TUJUAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Umum Peserta pelatihan memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang PKSAMPK sebagai bekal dalam melaksanakan tugas mereka selaku Sakti Peksos. 2. Tujuan Khusus a. Peserta mampu memahami dan menjelaskan tentang latar belakang, maksud dan tujuan, bentuk-bentuk pelayanan PKSAMPK. b. Peserta mampu memahami dan menjelaskan kriteria penerima bantuan PKSAMPK, pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaannya, dan bantuan tunai bersyarat . c. Peserta memahami dan menjelaskan aspek-aspek kelembagaan PKSAMPK, antara lain meliputi lembaga PKSAMPK, pendamping PKSAMPK, lembaga penyedia layanan.

2

d. Peserta mampu memahami dan menjelaskan proses pendampingan PKSAMPK; yaitu tahapan akses pelayanan, tahapan pelayanan pemulihan, tahapan pelayanan reunifikasi dan reintegrasi, tahapan monitoring dan terminasi dari program pelayanan tersebut. C. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 1. Informasi Umum; meliputi antara lain : 1.1 Latar Belakang 1.2 Maksud dan Tujuan 1.3 Bentuk-bentuk Pelayanan PKSAMPK 1.4 Kriteria Penerima Bantuan PKSAMPK 1.5 Pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan PKSAMPK 1.6 Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) 2. Kelembagaan dan Penyelenggaraan PKSAMPK 2.1 2.2 2.3 2.4 Aspek-aspek kelembagaan PKSAMPK Lembaga pelaksana PKSAMPK Pendamping PKSAMPK Lembaga Penyedia layanan PKSAMPK

3. Proses Pendampingan PKSAMPK 3.1 Tahap akses layanan 3.2 Tahap layanan pemilihan 3.3 Tahap layanan Reunifikasi dan Reintegrasi 3.4 Tahap Monitoring dan Terminasi

3

D. MATERI DAN DAFTAR KEPUSTAKAAN MATERI PANDUAN PENDAMPINGAN PROGRAM KESEJAHTERAAN SOSIAL ANAK YANG MEMBUTUHKAN PERLINDUNGAN KHUSUS I. INFORMASI UMUM 1. LATAR BELAKANG PKSAMPK dirancang yang sebagai upaya yang terarah, terpadu daerah dan dan berkelanjutan dilakukan pemerintah, pemerintah

masyarakat dalam bentuk pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Anak yang membutuhkan perlindungan khusus adalah anak yang terpaksa berada dalam kondisi dan situasi kehidupan tertentu yang membuatnya kesulitan untuk mendapatkan pemenuhan atau mengakses pemenuhan hak-hak dasarnya, sehingga kelangsungan hidup dan tumbuh-kembangnya terancam. Kondisi dan situasi kehidupan anak yang membutuhkan perlindungan khusus yang menjadi subjek PKSAMPK dikategorikan menjadi:
1.1. anak-anak yang hidup dalam situasi darurat akibat bencana alam

maupun bencana sosial; 1.2. anak yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang; 1.3. anak yang menjadi korban kekerasan dan eksploitasi ekonomi dan seksual; 1.4. anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif lain; 1.5. anak yang terinfeksi dan terdampak HIV/AIDS; serta
1.6. anak komunitas adat terpencil/terisolasi/minoritas;

4

PKSAMPK mengupayakan pemenuhan kebutuhan dan hak-hak dasar bagi anak-anak tersebut sehingga kelangsungan hidup dan proses tumbuh kembang anak dapat tetap berlangsung secara optimal.

2. MAKSUD DAN TUJUAN 2.1. Maksud Panduan Pendamping PKSAMPK ini merupakan dokumen tambahan sekaligus pelengkap atas Panduan Umum bagi Pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak yang disusun Kementerian Sosial, yang memuat sejumlah acuan khusus terkait pelayanan bagi kelompok anak yang menjadi subjek layanan PKSAMPK. Panduan Pendamping PKSAMPK ini juga dilengkapi dengan panduan lain yang lebih khusus untuk 6 (enam) kategori kelompok penerima manfaat yang berbeda. 2.2. Tujuan Panduan pendamping ini dimaksudkan untuk memberi kejelasan lebih lanjut bagi para pendamping PKSAMPK tentang kekhususan masalah, bentuk layanan dan dukungan, kelembagaan, serta mekanisme dan fungsi pelayanannya.

3. BENTUK-BENTUK PELAYANAN PKSAMPK

PKSAMPK dirancang sebagai pelayanan kesejahteraan sosial bagi anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Pelayanan Kesejahteraan Sosial tersebut diberikan dalam 2 bentuk utama: 3.1. dukungan layanan perlindungan serta akses ke layanan rehabilitatif dan reintegrasi bagi anak yang membutuhkannya, diberikan untuk mendukung proses pemulihan fisik, psikis, dan sosial sebagai persiapan reintegrasi anak dengan keluarga. 3.2. layanan bantuan/dukungan pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak selama proses pemulihan dan reintegrasi, yang meliputi:

5

a. layanan kesejahteraan sosial berupa bimbingan psikososial dan motivasi membangun minat untuk mengikuti sistem pendidikan. b. bantuan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pemenuhan akan makanan bergizi/ nutrisi dan penyediaan alat-alat sekolah. c. layanan bridging course dan remedial. Selain itu pelayanan kesejahteraan sosial PKSAMPK juga diberikan dalam bentuk tambahan: 3.3. penguatan kemampuan orang tua/keluarga dalam menjalankan kewajibannya melindungi dan mengasuh anak 3.4. penguatan peran lembaga kesejahteraan sosial anak.

4. KRITERIA PENERIMA MANFAAT PKSAMPK

Kriteria penerima manfaat langsung PKSAMPK yang diprioritaskan adalah:
4.1. anak berusia 6 hingga kurang dari 18 tahun

4.2. berasal dari keluarga rumahtangga sangat miskin
4.3. membutuhkan perlindungan khusus karena hidup dalam situasi darurat

akibat bencana alam maupun bencana sosial; atau menjadi korban tindak pidana perdagangan orang; anak yang menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksual; atau menjadi korban penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif lain; atau yang terinfeksi dan terdampak HIV/AIDS; atau anak komunitas adat terpencil/terisolasi/minoritas. Selain itu, manfaat PKSAMPK dapat juga diberikan kepada: 4.4. keluarga atau orang dewasa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak yang membutuhkan perlindungan khusus yang mendapatkan layanan PKSAMPK

6

5. PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DALAM PELAKSANAAN PKSAMPK

Ada empat pihak yang langsung terlibat dalam penyelenggaraan layanan PKSAMPK, yaitu:
5.1. Penerima manfaat, yaitu anak yang membutuhkan perlindungan

khusus dan keluarga atau orang dewasa yang bertanggung jawab atas pengasuhan anak yang membutuhkan perlindungan khusus yang memenuhi kriteria sebagaimana dijelaskan dalam bagian C Bab.1 buku panduan ini.
5.2. Lembaga Pelaksana PKSAMPK, yaitu lembaga di tingkat lokal yang

secara

formal

ditunjuk

oleh

Kementerian

Sosial

RI

sebagai

penyelengara layanan PKSAMPK di wilayah kerjanya. Lembaga ini antara lain: LPKSAMPK, LPA , atau Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dan memiliki layanan di bidang perlindungan anak.
5.3. Pendamping PKSAMPK, adalah pekerja sosial terlatih yang bekerja

untuk Lembaga Pelaksana PKSAMPK yang telah memenuhi kriteria kompetensi tertentu dan secara formal mendapat penunjukan dari lembaganya untuk secara langsung menjalankan peran pendampingan bagi anak dan keluarga yang membutuhkan layanan PKSAMPK.
5.4. Penyedia Layanan (Service Providers), adalah lembaga-lembaga di

wilayah kerja atau di luar wilayah kerja Lembaga Pelaksana PKSAMPK, milik pemerintah maupun non-pemerintah, yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhan dasar anak atau memiliki layanan spesifik yang kepadanya anak (penerima layanan) dapat dirujuk. Lembaga-lembaga ini antara lain adalah: Sekolah atau lembaga penyelenggara pendidikan formal, non-formal, dan informal (seperti sekolah, PKBM, kursus); lembaga penyelenggara layanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas); lembaga layanan hukum (LBH); panti atau rumah perlindungan anak; dan lain-lain.

7

6. BANTUAN TUNAI BERSYARAT (BTB) Bantuan Tunai Bersyarat (Conditional Cash Transfer) adalah salah satu mekanisme utama penyaluran bantuan dalam penyelenggaraan layanan PKSAMPK. Dalam mekanisme ini, bantuan keuangan yang penggunaannya terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar anak seperti: makanan dan nutrisi serta mendapatkan akses layanan pendidikan dan kesehatan dasar, hanya akan diberikan bila anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat sanggup memenuhi beberapa syarat (conditionality) tertentu. Syarat atau kondisi tersebut umumnya terkait dengan kesungguhan memenuhi hak dasar anak, seperti kesertaan dalam pendidikan, kesungguhan mengakses layanan kesehatan dasar, dan kesediaan orangtua mengasuh anak dalam keluarga. Matrix 1. pada lampiran memuat antara lain bentuk-bentuk dukungan dalam PKSAMPK yang dilakukan dengan mekanisme Bantuan Tunai Bersyarat. (Terlampir)

8

II. KELEMBAGAAN DALAM PENYELENGGARAAN PKSAMPK 1. ASPEK KELEMBAGAAN PKSAMPK Aspek-aspek kelembagaan dalam penyelenggaraan PKSAMPK terdapat 3 aspek sebagai berikut : 1.1. Lembaga Pelaksana PKSAMPK 1.2. Pendamping PKSAMPK 1.3. Lembaga Penyedia Layanan

2. LEMBAGA PELAKSANA PKSAMPK (LPKSAMPK) LPKSAMPK adalah lembaga yang, atas penunjukan Kementerian Sosial, melaksanakan mekanisme pelayanan terhadap anak yang membutuhkan perlindungan khusus berupa langkah perlindungan dan dukungan akses layanan pemulihan dan reintegrasi, serta dukungan pemenuhan kebutuhan dasar dan pendidikan. Dalam prosesnya LPKSAMPK mengorganisasikan para pendamping yang bertugas mempersiapkan dan mendampingi anak dan keluarga yang menjadi penerima manfaat. Lembaga Pelaksana PKSAMPK terdiri dari Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) atau Lembaga Perlindungan Anak (LPA). 2.1. Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) adalah lembaga yang menyelenggarakan layanan perlindungan sementara kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus dalam bentuk: a. Temporary Shelter, yaitu unit pelayanan perlindungan pertama yang bersifat responsif dan segera bagi anak yang mengalami tindak kekerasan dan perlakuan salah, atau yang memerlukan perlindungan khusus.

9

b. Protection Home, yaitu unit pelayanan perlindungan lanjutan dari Temporary Shelter yang berfungsi memberikan perlindungan, pemulihan, rehabilitasi, dan reintegrasi bagi anak yang memerlukan perlindungan khusus sehingga anak dapat tumbuh kembang secara wajar. RPSA pada intinya memang dirancang untuk merespon masalah-masalah perlindungan anak, yaitu anak yang menjadi korban tindak kekerasan dan eksploitasi, termasuk anak-anak yang menjadi sasaran utama PKSAMPK ini. (Lihat manual SOP RPSA)

2.2. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) LPA adalah lembaga kemasyarakatan di tingkat provinsi dan

kabupaten/kota, yang umumnya memiliki hubungan semi-formal dengan pemerintah daerah, yang pemfungsiannya terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak-hak anak dan isu-isu perlindungan anak, advokasi kebijakan perlindungan anak, pemantauan pelaksanaan hak-hak anak, pendampingan anak-anak, dan juga bekerja untuk mengembangkan sistem rujukan bagi anak-anak korban kekerasan, eksploitasi. RPSA yang telah memiliki standar kelembagaan diupayakan bekerja sesuai SOP yang sama, sedangkan LPA cara operasi dan layanannya akan berbeda-beda antara wilayah satu dengan lainnya.

3. PENDAMPING PKSAMPK

Pendamping PKSAMPK adalah: 3.1. seseorang yang direkrut oleh dan bekerja untuk LPKSAMPK yang fungsinya adalah melaksanakan tugas-tugas pelayanan perlindungan khusus dan kesejahteraan sosial kepada anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

10

3.2. ditetapkan karena telah memenuhi kualifikasi dan kompetensi tertentu.

Panduan khusus mengenai tugas, kewajiban, dan kriteria bagi pendamping dapat dilihat pada: a. Pedoman Umum Pendamping PKS Anak b. SOP LPKSAMPK

4. LEMBAGA PENYEDIA LAYANAN Lembaga Penyedia Layanan adalah lembaga-lembaga yang memiliki

layanan tertentu yang dapat menjadi bagian dari sistem sumber pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan, dan reintegrasi bagi anak-anak dan keluarga penerima manfaat PKSAMPK, yang menjadi rujukan dan berperan meneruskan layanan atau mengembangkan kegiatan. LPKSAMPK dapat mengembangkan ikatan kerjasama penyelenggaraan layanan dengan jenis-jenis lembaga penyedia layanan seperti berikut: 4.1. Lembaga Pengasuhan/Perlindungan: a. Panti-panti sosial pengasuhan anak b. Rumah Singgah c. Lembaga Sosial Masyarakat yang bergerak dalam bidang usaha kesejahteraan sosial. 4.2. Lembaga penyelenggara layanan hukum: a. b. Kepolisian Lembaga Bantuan Hukum Pendidikan Formal dan/atau Nonformal yang

4.3. Lembaga

menyelenggarakan layanan kesiapan belajar : a. Lembaga Pendidikan Formal

11

b. Sekolah Dasar (SD). c. Madrasyah Ibtidaiyah (MI). d. Sekolah Menengah Pertama (SMP). e. Madrasyah Tsanawiah (MTs). f. Sekolah Menengah Atas (SMA). g. Madrasah Aliyah (MA). h. Lembaga Pendidikan Non Formal i. BPKB (Balai Pengembangan Kegiatan Belajar). j. SKB (Sanggar Kegiatan Belajar). k. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). l. Lembaga Pendidikan informal: m. Penyelenggaraan sekolah mandiri di rumah (home schooling). n. Pendidikan dalam keluarga-keluarga. 4.4. Lembaga Pelayanan Kesehatan : a. Rumah sakit b. Puskesmas c. Posyandu Terpadu d. Poliklinik 4.5. Lembaga rujukan layanan lanjutan/khusus a. Penyelenggara layanan rehabilitasi khusus (narkoba, anak korban ESKA) b. Gugus Tugas Penanganan Korban Tindak Pidana

Perdagangan Orang c. Komisi Penanggulangan HIV/AIDs d. Badan Penanggulangan Narkoba

12

III. PROSES PENDAMPINGAN PKSAMPK
Acuan utama Pendamping PKSAMPK dalam menjalankan fungsinya adalah Pedoman Operasional PKSAMPK. Secara skematis, proses umum pelayanan tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar.1. Skema proses pelayanan bagi anak & keluarga, PKSA-MPK (sumber: SOP LPKSAMPK)
1. TAHAP AKSES LAYANAN

1.1. Penjangkauan

13

Penjangkauan adalah suatu proses kegiatan proaktif menjangkau klien yang dilakukan berdasarkan laporan yang diterima dari berbagai pihak seperti keluarga, anggota masyarakat, instansi pemerintah, instansi sosial, lembaga kepolisian, Rumah Sakit, Lembaga Swadaya Masyarakat lokal maupun internasional, dan lain-lain. Tujuan dasar penjangkauan adalah untuk mengetahui apakah anak berada dalam situasi terlindungi pada saat dilakukan penjangkauan. Apabila anak dinilai tidak aman di dalam lingkungan sosialnya, maka diupayakan langkah penyelamatan anak ke tempat aman seperti shelter LPKSAMPK atau rumah perlindungan lain yang ada. Penjangkauan dilakukan oleh pendamping atau tim penjangkauan yang ditugaskan oleh Pimpinan LPKSAMPK. Penjangkauan dilakukan paling lambat 24 jam setelah laporan diterima. Kegiatan dalam proses penjangkauan meliputi : a. Penelusuran atau konfirmasi laporan melalui telepon dan atau kunjungan ke lokasi kejadian. b. c. Koordinasi dengan pihak berwenang/terkait jika diperlukan. Melakukan asesmen tentang situasi keluarga inti, dan kerabat apakah mereka mampu atau siap memberikan perlindungan pada anak. d. Apabila berdasarkan hasil asesmen, keluarga dan kerabat mampu atau siap memberikan perlindungan pada anak, maka LPKSAMPK memberikan layanan perlindungan pada anak dalam keluarga. e. Apabila berdasarkan hasil asesmen keluarga inti dan kerabat belum siap memberikan perlindungan, maka dengan bekerja sama dengan pihak terkait anak dialihkan sementara perlindungannya ke tempat aman yang ada di dalam pengawasan LPKSAMPK. f. Perlengkapan yang diperlukan dalam penjangkauan :

14

• • • • •

Sarana transportasi. Sarana komunikasi. Sarana dokumentasi penjangkauan. Surat tugas dalam melakukan penjangkauan. Formulir penjangkauan.

1.2. Menerima Rujukan Lembaga Rujukan lembaga merupakan suatu proses pelimpahan penanganan kasus dari berbagai pihak seperti instansi pemerintah, instansi sosial, kepolisian, Rumah Sakit, Lembaga Swadaya Masyarakat lokal maupun internasional, masyarakat dan lain-lain. Tujuan rujukan adalah menindaklanjuti pelayanan sesuai dengan

kebutuhan klien dan kapasitas yang dimiliki LPKSAMPK. Penerima rujukan adalah pekerja sosial yang ditugaskan sebagai petugas penerima rujukan. Proses penerimaan rujukan harus selesai dalam waktu 1 x 24 jam dan perlengkapan yang diperlukan dalam rujukan yaitu formulir berita acara serah terima, dan dokumen-dokumen lain yang diperlukan seperti kartu identitas, informasi tentang lembaga perujuk, jenis pelayanan yang telah diterima dan informasi mengenai orang yang merujuk. Proses kegiatan rujukan : a. Memberi penjelasan tentang jenis pelayanan yang tersedia di LPKSAMPK b. Memberikan penjelasan tentang aturan lembaga c. Penandatanganan berita acara serah terima d. Menyerahkan salinan berita acara serah terima kepada lembaga perujuk.

15

1.3. Identifikasi dan Registrasi Identifikasi adalah suatu proses megumpulan informasi dan pencatatan tentang sosialnya. Tujuan Identifikasi adalah untuk mengetahui secara pasti kondisi anak, situasi masalah, dan melengkapi data awal tentang klien dan keluarga bila memungkinkan. Proses identifikasi dilakukan bersamaan atau segera setelah penjangkauan atau penerimaan rujukan dilakukan. Registrasi adalah suatu proses pencatatan klien sebagai penerima layanan perlindungan dan dan pendokumentasian data awal berdasarkan informasi yang diterima dari klien maupun lembaga pengirim. Registrasi dilakukan terhadap anak baik yang mendapatkan pendampingan dalam keluarga maupun dalam shelter LPKSAMPK. Proses registrasi ditindaklanjuti dengan penandatanganan kesepakatan tertulis mengenai penempatan anak di LPKSAMPK yang ditandatangani oleh pihak orangtua/ lembaga perujuk, anak sendiri dan LPKSAMPK. Tujuan Registrasi adalah tercatatnya anak sebagai penerima layanan LPKSAMPK dalam buku registrasi klien. Petugas identifikasi dan registrasi adalah petugas yang mendapat penugasan dari pimpinan. Proses identifikasi dan registrasi dilakukan dalam waktu 1 x 24 jam. identitas klien dan masalah yang dihadapinya. Apabila memungkinkan, dilakukan pencatatan identitas keluarga dan lingkungan

Proses kegiatan identifikasi dan registrasi :

16

a. Analisa segera atas informasi-informasi awal mengenai kondisi anak dan permasalahannya hasil kegiatan penjangkauan/penerimaan rujukan. b. Mengisi formulir registrasi dengan melakukan wawancara c. Mencatat data klien ke dalam buku registrasi d. Pembuatan keputusan segera akan eligibilitas pemberian layanan e. Mendokumentasikan data klien ke dalam file, termasuk gambar diri/ photo klien. f. Penandatanganan kontrak pelayanan g. Penempatan klien di shelter, jika diperlukan. h. Penentuan manajer kasus dan pekerja sosial pendamping. i. Perlengkapan yang diperlukan dalam identifikasi dan registrasi adalah : • • • • Formulir registrasi Buku induk Formulir kontrak pelayanan Filing data klien

1.4. Layanan Kedaruratan Layanan kedaruratan adalah suatu proses layanan yang harus segera diberikan kepada klien sesuai dengan kebutuhan/kondisinya saat klien datang di LPKSAMPK. Tujuan layanan kedaruratan adalah memberikan pelayanan segera yang bisa mengurangi situasi krisis yang dialami anak baik yang bersifat fisik, psikologis, dan sosial. Petugas yang memberikan layanan kedaruratan adalah pekerja sosial dan/atau tim petugas lain yang mendapat penugasan dari manager kasus.

17

Pihak yang menentukan perlu tidaknya klien membutuhkan layanan kedaruratan adalah manager kasus. Proses layanan kedaruratan langsung dilakukan setelah terlihat adanya kebutuhan dan respon segera yang tidak melebih waktu 1 x 24 jam. Proses kegiatan layanan kedaruratan : a. Identifikasi kebutuhan darurat b. Mengakses tenaga profesional yang dibutuhkan c. Menindaklanjuti layanan atas rekomendasi tenaga professional d. Memantau perkembangan klien atas tindakan yang dilakukan tenaga profesional

2. TAHAP LAYANAN PEMULIHAN 2.1. Asesmen Kebutuhan Layanan Pemulihan Asesmen adalah suatu proses penelaahan masalah klien, potensi yang dimiliki klien, keluarga dan lingkungannya, serta kebutuhan yang harus dipenuhinya. Asesmen ini bisa dilakukan melalui kunjungan rumah, mendiskusikan dengan lembaga perujuk/wali/orang tua tentang masalah yang dihadapi klien, menelaah situasi kehidupan anak, keluarga dan lingkungannya. Selama proses asesmen pekerja sosial sangat berperan untuk tetap memberikan motivasi kepada klien dan meningkatkan kemampuan komunikasi khususnya dengan klien (partisipasi klien untuk terlibat dalam tahapan ini sangat penting agar pemahaman akan kekuatan/potensi/hambatan dapat diketahui dan dipahami klien). Tujuan asesmen adalah untuk memperoleh gambaran tentang masalah yang terjadi, situasi kritis yang dihadapi, pihak-pihak yang terlibat dalam situasi tersebut, dan kebutuhan nyata klien serta potensi diri klien dan keluarganya untuk dapat digunakan dalam upaya pemecahan masalah. Petugas yang melakukan asesmen adalah pekerja sosial dan tim profesi lain yang dibutuhkan dibawah koordinasi manajer kasus.

18

Proses asesmen dilakukan dalam waktu 1 sampai 4 minggu tergantung dari kompleksitas kasus. Kegiatan dalam proses asesmen : a. Pengumpulan data klien, keluarga dan orang-orang berpengaruh di lingkungannya, dengan cara wawancara, pengamatan, dokumentasi, dan cara atau metode lainnya. b. Verifikasi dan analisis data. c. Penyimpulan hasil analisis dan rekomendasi. d. Perlengkapan yang diperlukan dalam rujukan : • • • Formulir asesmen dan panduan penetapan keputusan Alat dokumentasi yang dibutuhkan Transportasi dan surat tugas bila diperlukan apabila asesmen dilakukan terhadap keluarga dan lingkungan sosialnya

2.2. Rencana Layanan Berdasarkan hasil asesmen disusunlah bentuk penanganan masalah yang tepat untuk anak. kasus Manager yang kasus menyusun rancangan rencana atau penanganan masalah ini dan kemudian membahasnya dalam suatu pembahasan melibatkan kelompok profesional pihak/lembaga terkait yang dapat memberikan konstribusi bagi penanganan kasus klien seperti psikolog, psikiater, pengacara, polisi, guru, dokter, dan tenaga lainnya. Rencana Penanganan disusun secara individual untuk setiap anak, dan anak yang dapat terlibat secara psikologis sangat membantu dalam proses intervensi. Kegiatan rencana intervensi membutuhkan proses 7 (tujuh) hari kerja. Beberapa poin yang dipertimbangkan dalam rencana intervensi yaitu;

19

a. Hasil asesmen, deskripsi masalah, dan kebutuhan yang dihadapi anak b. Menetapkan tujuan perubahan dan hasil-hasil kegiatan yang akan dicapai oleh klien dan orang-orang berpengaruh lainnya terhadap kasus. c. Menyusun indikator keberhasilan untuk mengetahui efektivitas pemberian layanan d. Menghitung sumber daya dan potensi yang tersedia e. Merencanakan kegiatan pelayanan yang akan dilakukan f. Membagi tugas/peran dengan profesi/lembaga lainnya g. Menyusun jadwal kegiatan pelayanan

2.3. Pelaksanaan Layanan Pada tahap ini manager kasus melakukan pemantauan untuk memastikan pelaksanaan intervensi selaras dengan rencana. Di LPKSAMPK selalu dilakukan diskusi antara tim mengenai berbagai perkembangan yang terjadi selama proses pelayanan berlangsung. Jenis pelayanan intervensi yang dapat diberikan meliputi; a. Pendamping memfasilitasi penyediaan layanan dan akses ke layanan pemulihan psikososial hingga kemungkinan terapi untuk pemulihan trauma ke psikolog, psikiater, ahli agama, terapis dan bidang lainnya sesuai dengan permasalahan anak. b. Pendamping memfasilitasi penyediaan layanan dan akses ke layanan advokasi/pendampingan hukum kepada klien yang menghadapi masalah hukum ke pihak atau lembaga lain yang menjadi rekan kerja LPKSAMPK, seperti Komnas PA, Komnas HAM, KPAI, LBH, LSM pendamping hukum, Kepolisian dan lain-lain. Beberapa kasus anak yang ada hubungannya dengan hukum seperti kasus trafiking, seksual

20

abuse dan lainnya, maka LPKSAMPK merujuk kasus hukumnya ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH), kepolisian, dan pengacara. c. Pelayanan pendampingan dan asuhan; pekerja Sosial dan tim setiap hari memberikan bimbingan dan pendidikan, kegiatan sosialisasi rekreasi edukatif, bimbingan moral dan agama baik secara individu maupun kelompok. Hal ini dilakukan berdasarkan rencana penanganan masalah yang telah disetujui. d. Pelayanan pemeriksaan kesehatan dan pemulihan kesehatan serta membantu akses layanan kesehatan dasar atau lanjutan yang dilakukan rutin setiap bulan dan sesuai kebutuhan klien. e. Pelayanan rekreatif edukatif seperti rekreasi, kegiatan pengisian waktu luang sesuai dengan minat klien dan rencana penanganan. f. Menyediakan layanan akses pendidikan selama anak berada di LPKSAMPK agar anak tidak ketinggalan dalam pelajaran formal yang diikutinya. g. proses penelusuran keluarga klien, serta kunjungan rumah bagi anak yang diketahui keluarganya. Kegiatan ini kadang dilakukan LPKSAMPK dengan Mitra atau lembaga perujuk anak. Selain itu bagi anak yang membutuhkan

2.4. Layanan Referal Referal/Rujukan adalah kegiatan pengalihan pelayanan klien ke lembaga penyedia layanan dasar atau layanan lanjutan lain, yang dibutuhkan dalam penanganan dan pemenuhan hak anak, karena pelayanan yang dibutuhkan tidak tersedia atau sudah selesai di LPKSAMPK. Pendamping memfasilitasi akses ke proses rujukan yang dilakukan oleh petugas dengan menyiapkan form yang tersedia, membawa surat tugas, alat dokumentasi dan akomodasi.

21

Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan lembaga terkait sesuai dengan akses layanan yang dibutuhkan klien seperti lembaga layanan pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pelayanan sosial, dan alternatif pelayanan lainnya. Penyerahan klien kepada lembaga yang menerimanya disertai dengan penjelasan mengenai kasus klien dan perubahan apa yang telah dicapai, sehingga mereka dapat menindaklanjutinya.

2.5. Evaluasi Evaluasi dilakukan oleh Manajer kasus dan tim penanganan kasus untuk mereview kemajuan/hasil pelayanan dan perubahan anak serta orangoprang yang berpengaruh terhadapnya. Evaluasi ini harus disertai pemantauan secara teratur terhadap proses penanganan kasus dan pelayanan yang diterima anak sehingga proses penanganan kasus berlangsung sesuai dengan rencana. Dalam pemantauan dan evaluasi ini, klien secara langsung dilibatkan. Evaluasi mengacu pada hasil asesmen, rencana penanganan diciapai anak dan orang-orang yang berpengaruh terhadapnya. Hasil evaluasi disertai dengan rekomendasi penanganan lebih lanjut terhadap klien. Beberapa pihak baik orang maupun lembaga harus diidentifikasi dan disiapkan terkait dengan hal-hal apa yang direkomendasikan. kasus,

laporan perkembangan anak, dan tujuan perubahan apa yang harus

3. TAHAP LAYANAN REUNIFIKASI & REINTEGRASI

22

3.1. Reunifikasi Reunifikasi adalah mempertemukan dan menyatukan kembali klien kepada orangtua, anggota keluarga, atau kerabat, untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan. Keluarga asli (orangtua, pengasuh utama) anak adalah target pertama dalam reuinifikasi ini. Jika tidak memungkinkan maka dialihkan kepada kerabatnya, dan bentuk-bentuk alternatif pengasuhan lainnya yang berbasis keluarga. Tujuan reunifikasi adalah agar klien dapat hidup menyatu dalam keluarganya, atau kerabat, atau bentuk alternatif pengasuhan lainnya yang berbasis keluarga sehingga dapat tumbuh kembang secara wajar. Proses reunifikasi dilakukan oleh pekerja sosial dengan menyiapkan form yang tersedia, membawa surat tugas, alat dokumentasi dan akomodasi. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan aparat pemerintahan, LSM, dan institusi pemerintahan setempat yang terkait.

3.2. Reintegrasi Reintegrasi adalah penyatuan kembali klien dengan keluarga dan masyarakat yang dapat memberikan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan bagi klien, termasuk dengan sistem kekerabatan, lembaga pendidikan, sistem kesejahteraan sosial, perkawanan sebaya, dst. Tujuan reintegrasi adalah agar klien bisa kembali hidup di masyarakat dan tumbuh kembang secara wajar. Proses reintegrasi merupakan sebuah proses mengembalikan/ menyatukan kembali klien kepada lingkungan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan keberdayaan klien sehingga bisa menjalani kehidupan ‘normal’ dalam masyarakat. Kebutuhan keberhasilan proses integrasi adalah adanya kesiapan klien secara mental, dukungan keluarga dan masyarakat, keamanan serta peluang keberdayaan ekonomi dan

23

mendapatkan akses pendidikan, kesehatan. Untuk mencapai tujuan ini, sejumlah dukungan diperlukan untuk memudahkan proses integrasi ke dalam keluarga dan masyarakat. Proses reintegrasi dilakukan oleh petugas bekerjasama dengan aparat kelurahan, LSM, dan institusi pemerintah setempat.

3.3. Dukungan Sosial Dukungan sosial adalah dukungan-dukungan yang masih dibutuhkan klien dalam proses pelayanan lanjut. Dukungan ini ini bersifat psikososial, relasi sosial, akses, pengakuan, dan yang bersifat materi seperti dukungan keuangan maupun peralatan untuk melakukan suatu kegiatan. 4. TAHAP MONITORING & TERMINASI 4.1. Monitoring & Evaluasi Tujuan Monitoring adalah melakukan pemantauan untuk memastikan klien dapat hidup sesuai tumbuh kembangnya dalam keluarga atau institusi lembaga rujukan. Monitoring dilakukan setiap bulan jika anak dan keluarga menerima dukungan bantuan Tunai Bersyarat, atau jika tidak maka dilakukan 3 bulan, 6 bulan dan 1 tahun setelah pelayanan diakhiri di LPKSAMPK, kegiatan ini dilakukan atau dikendalikan oleh pendamping LPKSAMPK. Kegiatan tersebut diarahkan pada pencapaian keberhasilan program yang telah ditetapkan. Bentuk monitoring penggunaan BTB dilakukan langsung oleh pendamping dan LPKSAMPK melalui pertemuan langsung dengan anak/keluarga. Untuk dukungan yang tidak melalui mekanisme BTB, monitoring dapat dilakukan diantaranya melalui home visit, hubungan telepon dan kerjasama dengan lembaga terkait (LSM lokal/ Instansi Lokal (RT/RW/Tokoh Agama & Masyarakat/ Kepolisian/ Dinas Kota, Kabupaten atau propinsi) dalam melaksanakan monitoring rutin. Untuk kasus tertentu yang membutuhkan

24

monitoring khusus dimana instansi lokal masih memerlukan informasi tambahan penting maka pihak LPKSAMPK melakukan monitoring pertama langsung ke lokasi, mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan jenis layanan dampingan yang akan dilanjutkan oleh lembaga lokal. Hasil monitoring /evaluasi sangat penting digunakan sebagai bahan untuk menentukan kelanjutan pemberian layanan/dukungan serta untuk memperbaiki pelayanan di LPKSAMPK. Hasil monitoring akan menjadi bahan pelajaran dalam penanganan kasus selanjutnya seperti: model, metode, atau teknik yang digunakan dalam penanganan kasus, khususnya dalam program reintegrasi, menjadi masukan dalam perencanaan kegiatan dan anggaran biaya kegiatan serta kebutuhan akan pengembangan model layanan LPKSAMPK selanjutnya. 4.2. Terminasi Terminasi merupakan tahap dimana kegiatan pelayanan terhadap klien telah berakhir. Berakhirnya pelayanan kepada penerima manfaat PKSAMPK karena: 1. Anak/keluarga dinilai tak lagi memerlukan dukungan PKSAMPK lanjutan setelah proses pelayanan kepada anak selesai dalam arti anak telah dapat kembali ke orang tuanya/wali, keluarga pengganti atau pengasuhan alternative lainnya yang berbasis keluarga, lembaga rujukan lainnya sebagai bentuk pelayanan lanjutan kepada anak. 2. Pelayanan dapat berakhir atas kemajuan klien/anak dan disetujui oleh lembaga perujuk/orang tua/wali anak. 3. Anak dan keluarga tidak atau gagal menjaga pemenuhan kondisi tertentu sebagai syarat penerima manfaat PKSAMPK

DAFTAR PUSTAKA

25

Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010, tentang Percepatan Prioritas Program Pembangunan Nasional 2010; Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010, tentang Program Pembangunan Yang Berkeadilan; Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 15.A/HUK/2010, tentang Panduan Umum Program Kesejahteraan Sosial Anak; Sirektorat Pelayanan Sosial Anak, Tahun 2010, Pedoman Operasional Program Kesejahteraan Sosial Anak Yang Membutuhkan Perlindungan Khusus Tahun 2010; Sirektorat Pelayanan Sosial Anak, Tahun 2010, Pedoman Pendamping Program Kesejahteraan Sosial Anak Yang Membutuhkan Perlindungan Khusus Tahun 2010.

E. PROSES PEMBELAJARAN
NO. 1 1. Fasilitator mengawali PROSES PEMBELAJARAN 2 pertemuan dengan penjelasan tentang judul materi, sub pokok bahasan dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 2. Fasilitator menunjukkan gambar-gambar tentang jenis-jenis dan karakteristik AMPK, dan ditanggapi oleh peserta. 3. Fasilitator memberikan penjelasan tentang jenis dan karakteristik AMPK. 4. Fasilitator meminta peserta untuk mengiventarisasi 15 20 5 WAKTU (menit) 3 5

permasalahan dan kebutuhan AMPK yang diketahui. 5. Fasilitator terhadap memberikan hasil diskusi penguatan tentang dan penjelasan dan 10

permasalahan

kebutuhan AMPK. 6. Fasilitator menjelaskan cara melakukan deteksi dini dan 10

26

intervensi dini pada AMPK. 7. Fasilitator mengajak peserta untuk bermain peran tentang deteksi dan intervensi dini. a. Peserta dibagi dalam 3 kelompok, Setiap kelompok mempersiapkan 1 Ketika 1 kelompok bermain peran, 30

b.
c.

kasus tentang jenis-jenis AMPK. kelompok lain diminta untuk memberikan anggapan tentang deteksi dan intervensi dini. d. Fasilitator memberikan tanggapannya pada akhir kegiatan . 8. Fasilitator menyimpulkan materi yang disampaikan dan menutup kegiatan ini. 9. Fasilitator menjelaskan Pelayanan dan Rehabititasi Sosial berbasis Keluarga dan Masyarakat. 10. Fasilitator mengajak peserta untuk menginventarisasi pelayanan atau rehabilitasi dalam keluarga dan masyarakat. Fasilitator membagi kertas warna kepada masimg-masing peserta untuk menuliskan pelayanan atau rehabilitasi yang dilakukan dalam keluarga dan masyakat. 11. Fasilitator menjelaskan Penguatan Tanggung Jawab Keluarga terhadap AMPK 12. Fasilitator mengajak peserta untuk bermain peran tentang Tanggung jawab keluarga atau orangtua terhadap AMPK. 30 20 10 10 10

a. Fasilitator meminta beberapa peserta secara sukarela
untuk memerankan orangtua AMPK dalam beberapa tanggujng jawab dan parenting skill (keterampilan pengasuhan) orangtua terhadap AMPK. b. Peserta lain melakukan refleksi terhadap permainan peran tersebur

27

13

Fasilitator menjelaskan Fungsi, Tugas,dan Peran Pendamping Sosial dalam Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial AMPK.

20

14

Energizer , ice breaking (sesuai dengan kondisi dan kebutuhan)

5

15

Penguatan Organisasi/Kelembagaan Kesejahteraan Sosial bagi AMPK

15

16

Review dan menyimpulkan hasil pembelajaran yang dicapai. Jumlah

10 225

F. METODE PEMBELAJARAN 1. Ceramah dan Tanya Jawab 2. Curah pendapat (brainstorming) 3. FGD 4. Penugasan/Diskusi Kelompok dan Diskusi Pleno 5. Role Playing G. MEDIA PEMBELAJARAN 1. 2. 3. 4. 5. OHP / LCD Whiteboard Flipchart Spidol Lembaran Kerja

H. EVALUASI PEMBELAJARAN 1. 2. 3. Keseriusan peserta dalam mengikuti pembelajaran, Keseriusan peserta dalam menjawab pertanyaan, Keseriusan peserta dalam menyelesaikan tugas dan partisipasinya dalam diskusi.

28

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->