P. 1
Tugas Uas Sosiologi Kebudayaan

Tugas Uas Sosiologi Kebudayaan

|Views: 663|Likes:
Published by Fikri Riswandi
analisis film warkop DKI "BEBAS ATURAN MAIN", menggunakan konsep-konsep teori dalam sosiologi kebudayaan
analisis film warkop DKI "BEBAS ATURAN MAIN", menggunakan konsep-konsep teori dalam sosiologi kebudayaan

More info:

Published by: Fikri Riswandi on Jul 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2012

pdf

text

original

TUGAS UAS SOSIOLOGI KEBUDAYAAN Fikri Riswandi Sosiologi Pembangunan (Reguler 2007) 4825072313

Warkop DKI : Bebas Aturan Main

Pendahuluan Pengertian film Film merupakan gambar hidup, secara kolektif film sering disebut sebagai sinema. Secara harafiah film (sinema) adalah Cinemathographie, berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grhap (tulisan = gambar = citra), jadi artinya melukis gerak dengan cahaya. Maka karena itu, untuk memproduksi suatu film harus menggunakan alat khusus, yaitu kamera. Sedangkan film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, eletronik, dan atau lainnya.1 Kini film termasuk dalam salah satu cabang seni yang dapat dikatakan memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan modern. Seperti yang seorang kritikus film pernah katakan “closer to heaven or closer to hell” (lebih dekat ke surga atau lebih dekat ke neraka), artinya film memiliki pengaruh yang baik bagi kehidupan manusia, misalnya di bidang pendidikan, penerangan, hiburan yang sehat, dan juga seni. Film – film yang lebih menonjolkan bidang – bidang tersebut, pengaruhnya lebih bersifat konstruktif. Akan tetapi, film juga memiliki pengaruh yang buruk, seperti 1
http://bahasfilmbareng.blogspot.com/search?updated-min=2008-01 01T00:00:00%2B07:00&updated-max=2009-01-01T00:00:00%2B07:00&max-results=7

film-film yang menonjolkan porno dan kekerasaan, yang dapat merangsang nafsu – nafsu kebinatangan, dan yang dapat membawa penontonnya ke jalan yang sesat. Film – film seperti ini, pengaruhnya lebih bersifat destruktif.2 Dalam kenyataan sekarang, film yang merupakan produk industri budaya sudah menjadi bagian dari masa kehidupan modern, sehingga tidak dapat dielakkan dan harus diterima.3 Meskipun memang film memiliki pengaruh positif dan negatif yang besar terhadap kehidupan manusia. Maka karena itu, hidup di masa modern seperti sekarang tanpa film, sulit untuk dibayangkan. Film yang merupakan salah satu cabang seni adalah hasil dari produk budaya. Definisi seni sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, dan lain sebagainya).4 Produk budaya merupakan gabungan dari dua konsep, yakni barang budaya dan jasa budaya.5 Film dapat dikategorikan masuk jasa budaya juga karena secara umum jasa budaya juga mencakup jasa audiovisual (distribusi film, pertunjukan film, serta kepemilikan dan pengoperasian perfilman).6 Karena dalam pembuatan film terdapat peran dari jasa audiovisual maka karena itu film juga dikategorikan termasuk ke dalam jasa budaya.

Sejarah perfilman di Indonesia Setelah Indonesia dinyatakan merdeka pada tahun 1945, memasuki tahun 1950 pemerintah banyak melakukan pembangunan di berbagai sektor (ekonomi,
2 Gayus Siagian. Sejarah Film Indonesia Masa Kelahiran-Pertumbuhan, (Jakarta: Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, 2010), hlm. 1. 3 Istilah industri budaya berlaku pada industri yang menggabungkan daya cipta, produksi, serta komersialisasi produk yang bersifat tak kasat mata dan kultural. Ini dilindungi oleh hak cipta dan dapat berwujud barang atau jasa. Berdasarkan konteksnya, industri budaya disebut sebagai “industri kreatif”, “matahari terbit”, industri berorientasi masa depan” dalam istilah ekonomi, atau “content industries” dalam istilah teknik. Industri budaya umumnya meliputi penerbitan, percetakan, produksi multimedia, audio-visual, fonografi (rekaman suara), sinematografi, dan juga termasuk kerajinan dan desain. 4 Ely Setiadi dkk, 2006. Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana Predana Media Group), hlm. 160. 5 Istilah barang budaya mengacu pada barang – barang konsumen yang dapat menyampaikan gagasan, simbol, dan pandangan hidup yang memberikan informasi atau hiburan, membantu pembentukan identitas kelompok, dan mempengaruhi praktek – praktek budaya. Sebagai hasil daya cipta perorangan atau kelompok, ini memiliki hak cipta, diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya melalui proses industri dan distribusi global. Istilah jasa budaya dipahami sebagai aktivitas – aktivitas yang bertujuan memenuhi kepentingan atau kebutuhan budaya. Aktivitas ini khususnya meliputi semua tindakan dan sarana pendukung praktek – praktek budaya yang disediakan pemerintah, lembaga swasta dan semipublik, atau perusahaan yang khususnya disediakan untuk masyarakat. 6 Kanisius, 2005. Kebudayaan, perdagangan, dan globalisasi, hlm. 19.

infrastruktur, sosial, dan budaya). Industri perfilman nasional yang termasuk dalam ranah industri hiburan di masa itu, tidak lepas dari pembangunan yang dilakukan pemerintah. Produksi film nasional yang dibuat pada awal tahun 1950an, makin banyak menggunakan artis – artis dari orang indonesia, mempergunakan bahasa Indonesia, meskipun lebih mirip bahasa Melayu Pasar. Akan tetapi tetap saja kedudukan orang – orang film Indonesia di masa itu tidak jauh berbeda dengan keadaan sebelum merdeka. Karena pimpinan, modal produksi, sarana – prasarana, distribusi, dan eksibisi berada di tangan orang – orang yang non-pribumi (terutama tionghoa). Sedangkan posisi kedudukan orang – orang Indonesia lebih banyak yang bekerja di bawah bangsa asing, tidak turut berbicara maupun ikut serta dalam menentukan kebijakan, dan ini terdapat dalam hampir semua bidang perdagangan. Berikut adalah kesimpulan umum yang menjadi ciri-ciri sejarah produksi film nasional pada tahun 1950, yaitu7 : Film sebagai lapangan baru dengan potensi atau presfektif yang menguntungkan atau komersial. Daya tarik barang baru bagi yang berjiwa perintis, maupun sebagai alat objek spekulasi atau petualangan. Tahap meniru belum ada gagasan yang jelas mengenai fungsinya, kecuali sebagai alat hiburan. Tidak didorong oleh idealisme seni dan corak khas Indonesia belum ada dan belum dipikirkan. Tenaga-tenaga belum terdidik non-intelektual, belum menguasai dasar-dasar simatografis. Mengarah ke industri barang dagang, bukan seni atau penerangan atau pendidikan. Film – film cerita, belum memikirkan pembuatan film – film non-theatrical, kecuali film – film yang dibuat sineas – sineas Belanda secara insidentil dalam kerja-sama dengan atau atas pesanan atau dukungan Pemerintah Hindia Belanda. Produksi di tangan Tionghoa, bersifat kepemilikan keluarga. Film yang dibuat oleh sineas Tionghoa berorientasi ke negeri Tiongkok, sedangkan
7 Gayus Siagian,. Sejarah Film Indonesia Masa Kelahiran-Pertumbuhan, (Jakarta: Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, 2010), hlm. 76 – 77.

yang dibuat oleh orang – orang Belanda menggambarkan kehidupan Indonesia. Orang – orang Indonesia sebagai pemain atau karyawan, tidak turut serta menentukan kebijaksanaan perusahaan atau pimpinan. Dimasa era masa peralihan (sekitar tahun 1948 – 1949), sudah ada beberapa pribumi yang menguasai seluk – beluk produksi film. Orang – orang inilah yang menjadi pelopor dari lahirnya produksi film nasional. Berdasarkan catatan sejarah, dimasa ini perfilman nasional mulai berkembang, diawali dengan berdirinya perusahaan Film Nasional Indonesia (PERFINI) pada tanggal 30 Maret 1950. Karena awal perkembangan film nasional dimulai dari sini, maka pada tanggal 30 Maret 1950 dijadikan sebagai tonggak penting sejarah film Indonesia, sehingga pada tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Film Nasioal, yang dijadikan ssebagai tradisi tahunan mengadakan Festival Film Indonesia (FFI) seperti yang kita ketahui sekarang. Setelah kelahiran PERFINI muncul organisasi – organisasi film lainnya, seperti PERSARI (Perseroan Artis Republik Indonesia), Perusahaan Film Negara (PFN), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat).8 Selain mulai banyak lahirnya organisasi perfilman, ternyata sudah mulai memproduksi film nasional seperti Darah dan Doa, The Long March of Siliwangi, Enam Jam di Yogya, Si Pincang, dan lain sebagainya. Pada masa tersebut memang merupakan masa yang cukup subur bagi perkebangan film nasional, tetapi ternyata juga terjadi kemunduran perfilman nasional. Kemuduran ini disebabkan oleh bebarapa faktor, yaitu mulai merambahnya film – film Indoa yang merupakan saingan berat bagi produksi film nasional, munculnya film – film bara yang dibuat dalam ukuran standar hitam-putih, disintegnasi politik dan dislokasi sosial ekonomi selama Orde Lama, dan munculnya LEKRA sebagai organisasi di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memonopoli perfilman nasional. Kemunduran ini mencapai titik terendah pada tahun 1959, lalu kemudian secara berkelanjutan menanjak naik. Namun, dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk dapat kembali pada harapan memajukan industri perfilman di Indonesia. Setelah mencapai titik terendah dengan hasil 17 judul film pada tahun 1959, industri film nasional mulai memperlihatkan kesegarannya kembali pada awal tahun 1960an. Ini ditandari dengan meningkatnya jumlah produksi film mencapai 36 judul film, seperti Pisau Surit. Pada tahun 1960-an pun juga diadakan ajang Festival Film
8 Ibid., hlm. 77 – 78.

Indonesia VI, melanjutkan Festival Film Indonesia I yang pernah diadakan pada tahun 1955. Meskipun pada tahun – tahun 1956, 1957, 1958, dan 1959 tidak pernah diadakan.9 Pada masa 1946 – 1965 dipandang sebagai era kelam dalam perfilman nasional. Ini dikarenakan Panitia aksi Penggayangan Film film imperialisme Amerika Serikat (PARFIAS) yang dikendalikan LEKRA dan antek – anteknya menghantam film – film Indonesia yang tidak bertemakan “Manipol Usdek”. Selain itu ini juga dikarenakan adanya konflik terbuka antara PKI dengan golongan non-komunis / ABRI yang puncaknya pada peristiwa G30S/PKI yang berlangsung sampai bulan Maret 1966.10 Pada era tahun 1970an, perfilman nasional kembali bergairah. Masa ini ditandai dengan mulai banyaknya muncul film – film dari berbagai jenis, mulai dari yang bertema budaya lokal, nasionalisme, drama remaja dan dewasa, laga, komedi dan lain sebagainya. Namun, perkembangan Film Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1980 – 1990an. Ini dinilai dari mulai bertambah semakin banyaknya jenis – jenis film yang diproduksi, seperti film pop remaja seperti Lupus dan Catatan si Boy, komedi dengan Warkop DKI sebagai rajanya, laga dengan Barry Prima dan Eva Arnaz sebagai raja dan ratunya, horror dan misteri dengan Suzana sebagai ratunya, musikal dengan Rhoma Irama pada masa kejayaannya, drama percintaan, hingga film panas (film – film yang berbau sex dan kekerasan).11 Pada era tahun 2000 hingga kini, industri perfilman nasional banyak mengalami peningkatan. Ini dinilai dari mulai maraknya produksi film nasional yang bertemakan pendidikan, kritikan terhadap pemerintah, nasionalisme, film anak, hingga film – film religius dan film animasi. Antara lain seperti Film Laskar Pelangi, Garuda Di Dada Ku, King, Emak ingin naik Haji, Ketika Cinta Bertasbih, Naga Bonar jadi Dua, dan lain sebagainya. Namun, dalam penulisan ini saya bermaksud untuk menganalisis film yang berjudul “Bebas Aturan Main”. Film ini tentang perteman tiga orang dewasa yang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, meskipun harus melawan aturan yang ada.
9 Ibid., hlm. 112. 10 Ibid., hlm. 115 – 116. 11 http://lapanpuluhan.blogspot.com/2006/02/festival-film-indonesia-era-80.html tanggal 8 Juni 2010)

(diakses

pada

Review Film “Bebas Aturan Main” Film berjudul “Bebas Aturan Main” ini merupakan salah satu film ber-genre komedi yang dibintangi oleh kelompok lawak “Warkop DKI” yang digawangi oleh Dono, Kasino, dan Indro. Film “Bebas Aturan Main” juga dibintangi oleh beberapa artis cantik seperti Diah Permatasari, Gitty Srinita, Lela Anggraini. Film ini diproduksi oleh P.T. SORAYA INTERCINE FILM pada tahun 1993 dan disutradarai oleh Tjut Djalil.

Gambar 1.1 Cover VCD Film Warkop DKI “Bebas Aturan Main”

Sumber: http://img7.uploadhouse.com/fileuploads/3889/38897476ba9188428c21e475f8b8650626d9309.jpg

Film berjudul “Bebas Aturan Main” menceritakan tentang tiga orang sekawan yaitu Dono, Kasino, dan Indro yang menjadi salah satu tim penasehat dalam lomba pemilihan ratu pantai. Seperti kebanyakan film di era itu, banyak yang menonjolkan sisi pornografi untuk menarik penonton sehingga film ini dapat terjual lebih banyak. Ini terlihat pada saat adegan melihat penampilan gadis – gadis cantik yang mengenakan pakaian renang sexy, mereka langsung tertarik pada tiga gadis cantik yang ketiganya bersaudara. Ketiga gadis ini dalam setiap adegannya selalu mengenakan pakaian yang sexy dan minim. Sehingga sangat menarik perhatian selama film diputar. Dalam cerita ini ternyata di luar dugaan Dono, Kasino, Indro,

ketiga gadis itu adalah anak dari orang tua yang telah mereka kerjai waktu mereka kehilangan celana di WC. Pada waktu kehilangan celana, mereka merampas celana orang tua itu karena keadaan sedang kepepet. Sehingga terjadi perebutan celana dan kejar – kejaran diselingi dengan kejahilan – kejahilan Dono, Kasino, Indro (seperti: melempar petasan ke dalam WC, memasang bom di celana dalam orang tua tadi, merampas celana orang diam – diam, dan banyak lainnya). Dalam film ini selain menceritakan tentang usaha Dono, Kasino, Indro dalam mengejar wanita pujaannya, ternyata juga disuguhi adegan komedi dewasa yang memang banyak beredar di era 1980 – 1990an, seperti ketika Kasino mengantarkan surat ke rumah tetangganya, yang ternyata pemilik rumah tersebut bernama sama (yakni, Kasino) dan juga memiliki isteri yang cantik dan sexy. Pada adegan ini Kasino masuk ke kamar mandi tetangganya ketika isterinya sedang mandi, sehingga pas ketahuan ia langsung di hajar oleh tetangganya itu hingga babak belur. Adegan yang tidak jauh berbeda adalah ketika Dono kehilangan celananya saat berada di kolam renang umum. Ia terpaksa pulang berjalan telanjang bulat dengan papan pemberitahuan sebagai penutup kemaluannya. Pada adegan ketika ia diejek sekawanan gadis dalam bus, pantatnya betul – betul tampak telanjang bulat. Lalu, kembali ke cerita utama, dimana tiga sekawan ini berusaha untuk mengejar gadis pujaannya sehingga membuat mereka melakukan hal – hal yang dalam keadaan sebenarnya itu dilarang aturan oleh hukum, seperti malam – malam menyelinap ke rumah tiga gadis itu seperti maling, menipu ayah ketiga gadis itu dengan alasan sebagai tim pengawas kebersihan dari Dinas DKI, hingga menyamar jadi patung untuk dapat menyelinap ke dalam rumah tiga gadis tersebut untuk dapat memeras ayah mereka agar diijinkan ketiga anak gadisnya berhubungan dengan ketiga sekawan ini. Diakhir cerita, kebohongan mereka pun terungkap. Sehingga ayah ketiga gadis itu marah besar. Dan terjadilah kejar – kejaran antara ayah ketiga gadis itu, satpam mereka dengan ketiga sekawan ini (Dono, Kasino, Indro). Akhir film ini seperti kebanyakan akhir film mereka di era 1990an lainnya, ditutup dengan adegan mereka bertiga kecebur di danau atau sungai pinggir jalan.

Analisis Sosiologi Kebudayaan Produksi Sosial Menurut Raymond William kebudayaan merupakan suatu konsep yang paling sulit untuk didefinisikan. Ia membagi empat definisi dari kebudayaan: 12 Kebiasaan individu (individual habit) Perkembangan pemikiran masyarakat (individual the hole of the society) Bentuk-bentuk kesenian (art from/ art) Cara hidup individu atau masyarakat (way of life the individual) Film sebagai suatu bagian dalam seni sarat akan nilai – nilai kebudayaan. Film sendiri kini sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Sehingga sesuatu yang tidak bisa lepas kehadirannya dalam mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam suatu film ada kegiatan komunikasi antara komunikator dengan komunikan. Dialog yang diucapkan sesama pemain menciptakan sebuah bentuk komunikasi. Komunikasi ini kemudian disiarkan ke masyarakat dalam bentuk adegan yang memiliki alur cerita untuk di nikmati penontonnya. Komunikasi yang ditujukan kepada orang atau kelompok merupakan sebuah proses pertukaran kebudayaan. Dalam proses tersebut mengandung unsur-unsur kebudayaan, salah satunya bahasa yang terkandung di dalam suatu film. Maka bahasa di dalam film dapat dikategorikan sebagai bagian dari kebudayaan. Film “Bebas Aturan Main” merupakan salah satu produk kebudayaan di era Orde Baru. Dimana film yang berbau kekerasan dan seksualitas masih banyak beredar. Namun, dalam film ini yang menjadi poros utamanya adalah perilaku jenaka dari tiga sekawan Warkop, yakni Dono, Kasino, Indro. Adegan – adegan sexy kebanyak hanya terdapat di awal sebagai pembuka dan di akhir sebagai penutup. Jadi terlihat bahwa adegan – adegan yang berbau pornografi dalam film “Bebas Aturan Main” hanya sebagai selingan untuk menarik penonton seperti yang diinginkan produsernya, dikarenakan mengikuti pasar pada masa itu. Menurut Raymond Williams ada tiga komponen pokok kebudayaan, yaitu : Lembaga-lembaga budaya
12 Handout perkuliahan sosiologi kebudayaan 18 Februari 2010

Isi budaya Efek budaya atau norma-norma Pada lembaga budaya dikaji tentang siapa yang menghasilkan budaya, siapa yang mengkontrol, dan bagaimana control itu dilakukan. Dalam film “Bebas Aturan Main”, film ini sesungguhnya hanya film untuk menghibur karena tema film ini adalah murni komedi, tidak ada berbau sex ataupun kekerasan. Namun, dalam film ini ditampilkan adegan – adegan gadis – gadis sexy dengan berbusana bikini, itu dikarenakan pada masa itu sedang maraknya film – film yang sarat akan seksualitas dari kaum wanita, sehingga untuk menarik lebih banyak penonton film “Bebas Aturan Main” diselipkan beberapa adegan dengan gadis – gadis sexy berpakaian minim. Dari hal tersebut akan menyebabkan efek budaya dalam perfilman nasional, bahwa film bukan lagi menjadi seni yang eksklusif tetapi sebagai hasil produksi yang mengikuti selera pasar. Menurut Light, Keller, dan Calhoun, media massa yang terdiri dari media massa cetak (surat kabar, majalah) maupun elektronik (radio, film, televise, internet) merupakan komunikasi yang menjangkau sejumlah besar orang (1989)13. Film sebagai hasil Produksi budaya mempengaruhi kehidupan penontonnya. Film “Bebas Aturan Main” dari dulu hingga kini masih tetap banyak penontonnya, ini dikarenakan film ini diperankan oleh pelawak – pelawak berkualitas yang legendaris seperti Dono, Kasino, dan Indro. Akan tetapi beberapa adegan yang menjadi penarik penonton di masa 1990an kurang cocok ditonton oleh anak – anak jika mereka tanpa bimbingan orang tua. Karena pengaruh perkebangan dari anak lebih besar melalui media komunikasi seperti film.

Relasi sosial Film “Bebas Aturan Main” yang digawangi oleh Warkop DKI ini memiliki relasi sosial dengan budaya masyarakat perkotaan di era 1990an. Terry Eagleton menungkapkan bahwa kebudayaan (culture) berasal dari bahasa latin yaitu (colere), artinya adalah In Habiten atau subjek yang menempati tempat tinggal. Untuk itu masyarakat harus membangun asosiasi tentang sebuah situs atau tempat tinggal14.
13 Sunanto Kamanto, Pengantar Sosiologi Edisi Revisi, (Jakarta :Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas indonesia,2000), hlm.28 14 Handout perkuliahan sosiologi kebudayaan 18 Februari 2010

Film “Bebas Aturan Main” mengandung nilai – nilai modernisasi pada era Orde Baru yang sulit dibendung. Dimana kebudayaan barat masuk mempengaruhi budaya perfilman nasional. Sehingga dalam banyak film di era 1989 – 1990an banyak film –film yang menyisipkan adegan – adegan panas atau sexy, baik itu film laga, horor/misteri, drama, maupun komedi. Hal itu dimaksudkan untuk lebih banyak menarik penonton agar film – film nasional tidak kalah saing dengan film – film barat yang beredar pada masa itu. Berikut adalah bentuk skema relasi sosial:

In Habiten

Colere/kebudayaan

Coloni/masyarakat

Education/pendidikan

Dalam film “Bebas Aturan Main” juga ditanamkan nilai – nilai hedonisme, dimana tiga sekawan ini dalam film “Bebas Aturan Main” berperilaku seenaknya dan sesantai mereka tanpa memikirkan sekitar mereka. Nilai-nilai kebudayaan hedonisme benar – benar ditayangkan dalam setiap adegan film “Bebas Aturan Main”.

Kontestasi Ideologi Sosiologi kebudayaan membahas tentang ideologi yang terdapat dalam kebudayaan, baik konkreat maupun abstrak. Kontestasi ideologi memberikan deskripsi bagaimana dan apa maksud dari sebuah kebudayaan muncul di masyarakat. Menurut Karl Marx analisa mengenai kebudayaan melalui proses ekonomi yaitu: 15 produksi distribusi konsumsi

Pada tahapan produksi, kebudayaan dalam film “Bebas Aturan Main” terdapat campur tangan kaum borjuis yaitu pemilik modal (produser) dalam menentukan isi film yang akan dibuat. Hal ini tampak dalam bagian film “Bebas Aturan Main”, bahwa akan ada adegan dimana banyak gadis – gadis cantik berpakaian sexy yang menari – nari ataupun bermain di pantai yang digunakan untuk menarik penonton terutama kaum lelaki. Namun dalam film ini adegan tersebut hanya disajikan di awal dan di akhir karena memang pada dasarnya film ini hanya film untuk komedi saja.
15 Handout perkuliahan sosiologi kebudayaan tanggal 04 Maret 2010

Pada tahapan distribusi, ada peran serta lembaga pemerintah seperti Lembaga Sensor Film (LSF) yang berhak menentukan suatu film layak disiarkan atau tidak. Namun pada era ORBA lembaga LSF dengan berani membiarkan film – film yang sarat akan gadis – gadis cantik dan berpakaian sexy untuk lulus sensor. Ini dikarenakan ada dukungan modal yang tinggi dari pemilik modal untuk menyokong filmnya agar lulus sensor dari lembaga tersebut. Pada tahapan terakhir, masyarakat yang menikmati hiburan komedi dari film “Bebas Aturan Main”. Disini penonton akan dibuat tertawa dengan banyolan dan perilaku jenaka dari Dono, Kasino, Indro. Masyarakat bebas untuk menonton film ini, karena film ini sudah banyak copy-annya, baik dalam bentuk dvd maupun vcd. Jika masyarakat ingin mendukung produksi film dalam negeri dapat membelinya dvd atau cd aslinya di toko dengan harga cukup mahal. Film “Bebas Aturan Main” adalah film komedi yang sarat akan perilaku jahil dari tiga sekawan Dono, Kasino, dan Indro. Namun dalam film ini terdapat beberapa adegan yang menyiarkan gadis – gadis sexy. Akan tetapi, adegan tersebut hanya sebagai faktor penarik yang disisipkan oleh pihak produksi agar dapat lebih banyak menarik penonton pada masa film ini diputar. Seperti kalimat yang diutarakan Indro ketika ditanyakan Dono dalam suatu film mereka lainnya, yaitu: Dono: Kenapa kita ada ke pantai mulu ya? Indro: yaa.. kalo ngak begini, ngak laku kita..

Daftar pustaka Handout perkuliahan sosiologi kebudayaan Kamanto, Sunanto. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi, (Jakarta :Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas indonesia). 2000. http://lapanpuluhan.blogspot.com/2006/02/festival-film-indonesia-era-80.html (diakses pada tanggal 8 Juni 2010) http://img7.uploadhouse.com/fileuploads/3889/38897476ba9188428c21e475f8b8

650626d9309.jpg (diakses pada tanggal 8 Juni 2010) http://bahasfilmbareng.blogspot.com/search?updated-min=2008-01 01T00:00:00%2B07:00&updated-max=2009-0101T00:00:00%2B07:00&max-results=7 (diakses pada tanggal 8 Juni 2010) Siagian, Gayus. Sejarah Film Indonesia Masa Kelahiran-Pertumbuhan, (Jakarta: Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, 2010), hlm. 1. Setiadi, Ely dkk. Ilmu Sosial Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana Predana Media Group) , 2006. Kanisius, Kebudayaan, perdagangan, dan globalisasi. 2005.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->